Senin, 14 September 2026

Kata Alamsyah

 Kata Jend. Soemitro dan Letjen Alamsyah Prawiranegara tentang isu korupsi Soeharto


Mantan Menko Kesra Letjen TNI (Purn) Alamsyah Ratuperwiranegara menyebutkan bahwa pada awal tahun 1960 ia bertugas sebagai perwira yang diperbantukan kepada Deputi I KSAD Brigjen TNI Soeharto di MBAD. Pada masa-masa inilah terjalin hubungan yang baik antara dirinya dan Brigjen Soeharto. Keduanya sering bertukar pikiran mengenai pengalaman masing-masing di masa lalu. Alamsyah mengaku sejak awal sudah menaruh simpati pada Soeharto yang disebutnya sebagai seorang yang memiliki pembawaan tenang, memiliki visi yang luas, dan ramah pada bawahan. Ia mengaku selalu memperoleh nilai tambah usai berincang-bincang dengan Soeharto. Menurutnya Soeharto bukan saja sekedar atasan dalam tugas tetapi juga sebagai keluarga sendiri karena ada rasa senasib dan menjadi figur yang dituakan (Suparwan G. Parikesit 1995: 134–135).


Alamsyah menyebutkan bahwa sebagian perwira SUAD terutama yang berasal dari Jawa cenderung menjauhi Soeharto. Hal ini menimbulkan rasa penasaran pada diri Alamsyah untuk mencari tahu penyebabnya. Kelak diketahuinya bahwa hal itu berhubungan dengan masa lalu Soeharto yang pernah menjabat sebagai Panglima Divisi Diponegoro di Jawa Tengah. Soeharto dikenal sebagai figur yang sangat memperhatikan prajurit. Demi kesejahteraan prajurit, ia mendirikan berbagai yayasan di lingkungan Divisi Diponegoro yang justru menjadikan Soeharto sebagai sasaran fitnah. Ia difitnah macam-macam sehingga dicopot dari jabatannya sebagai panglima dan diperintahkan untuk mengikuti Kursus C di Seskoad. Walaupun demikian, persoalan di Divisi Diponegoro tidak berakhir hanya sampai pada pencopotan Soeharto sebagai panglima. Satu-satunya rumah Soeharto di Yogyakarta dan mobil Mercedes tahun 1958 bahkan akan disita oleh Jaksa Agung Muda Bidang Intelijen Kolonel Soenarjo (Suparwan G. Parikesit 1995: 134-135). 


Selain Alamsyah Ratuperwiranegara, mantan Pangkopkamtib Jenderal TNI (Purn) Soemitro juga tidak sependapat bila Soeharto dikatakan korup. Menurutnya Soeharto bukan pihak yang diuntungkan dari barter di Semarang. Soemitro berkata (Ramadhan K.H. 1994: 220):


“Saya tidak melihat Pak Harto korup. Saya tidak sependapat kalau Pak Harto dikatakan korup. Sewaktu beliau jadi panglima di Semarang memang ada barter, tapi yang untung orang lain. Dan beliau bisa membangun asrama untuk satuannya. Rumahnya di Semarang waktu itu, ya itu itu saja.” 


*****

Keterangan gambar: 

Jend. Soemitro saat masih brigjen dan menjabat Pangdam Mulawarman bersama Bung Karno (1965).

AH Nasution Putri Seorang Djenderal

 I n d o n e s i a 

Putri Seorang Djenderal 

Ia sering disapa Yanti. Merupakan putri sulung pasangan Johanna Sunarti dengan Djenderal TNI AH Nasution. Orang tua Yanti adalah Pasangan Pejuang '45 dimana keduanya mengalami suka duka Revolusi negeri ini dari 1945-1950 yang mana Palagan Djawa Barat dan pasukannya,Divisi Siliwangi menjadi sesuatu yang tidak dipisahkan. 

Sebenarnya Hendrianti Saharah Nasution mempunyai seorang adik perempuan yang bernama Ade Irma Suryani Nasution. Tetapi sayangnya adik Yanti harus terlebih dahulu menghadap Tuhan dibandingkan dirinya serta dalam usia sangat belia.

Irma menjadi salah satu korban dari keganasan peristiwa penculikan dalam Tragedi Nasional tersebut yang terjadi pada jelang subuh di tanggal 1 Oktober 1965.

Akibat dari tragedi tersebut,Yanti mengalami Trauma Berat dan berkepanjangan. Sepertinya apa yang dialami Yanti sama seperti dialami putra-putri Pahlawan Revolusi lainnya. Yanti menyaksikan sendiri bagaimana mencekamnya peristiwa penculikan yang mengancam sang Ayah serta penembakan membabi buta yang mengakibatkan san Adik terkena peluru nyasar di rumahnya sendiri.

Yanti juga sempat membangunkan Ajudan Ayahnya, Letnan Satu Piere Tendean yang ternyata sudah terjaga dimana pada ahirnya ikut dibawa ke suatu tempat yang dikenal Lubang Buaya. Beberapa hari kemudian diketahui bahwa Letnan Satu Piere Tendean menjadi korban pembunuhan bersama 6 Djenderal lainnya di tempat itu.

Sejak peristiwa Nasional itu Yanti diketahui harus berada dalam pengawasan psikiater Dr.Koesmanto agar bisa memulihkan traumanya kembali. Saat tragedi itu Yanti masih duduk di bangku SMP Kelas 2, sehingga ia membutuhkan penanganan khusus yang lebih lanjut demi keamanannya. 

Kedua orang tuanya sempat memutuskan untuk pindah sekolah untuk Yanti di Bandung dan tinggal bersama sang Nenek. 

Berbagai macam cara telah dilakukan oleh Ayah dan Ibu Yanti demi memperbaiki kondisi psikis putri satu-satunya tersebut. Beberapa diantaranya seperti membekalinya ilmu agama,mengikuti kursus keterampilan, hingga saat orang tuanya memutuskan untuk menerima pinangan dari kekasih anak perempuanya tersebut. 

Ia bernama Edward Nurdin seorang perwira dari korps Penerbang AURI(TNI-AU) yang berselisih usia 10 tahun lebih tua dari Yanti. 

Gelar pernikahan Mereka yang sederhana di tahun 1970 dimana waktu itu usia Yanti jelang 19 tahun. 

Hal itu dilakukan dengan harapan terbaik supaya dapat mengobati luka trauma psikologis Yanti dan menapaki kehidupan seperti orang  pada umumnya. Setelah bertahun-tahun peristiwa itu, Ibu Yanti Nurdin Nasution mengaku sering tidak tahan mendengan suara keras, dimana suara keras itu mengingatkan suara tembakan yang menggema di seluruh sudut rumahnya jelang subuh di tahun 1965 tersebut.

(Seperti ulasan dari Sketsa Nusantara dan sumber lain,;Memenuhi PanggilanTugas-AH Nasution 1973,;SejarahNasionalIndonesia,;SiliwangiDariMasaKeMasa,; Foto:Hendrianti Saharah Nasution sekitar 1969-1971,; Museum Sasmita Loka Jenderal Besar TNI Abdul Haris Nasution Jl.Teuku Umar JKT).

Tiga serangkai pendiri PKI (Semaoen, Darsono, Alimin)

SEMAUN, DARSONO, DAN ALIMIN — 

TIGA TOKOH AWAL KOMUNISME INDONESIA YANG AKHIRNYA TERPISAH DARI PKI AIDIT


Jauh sebelum nama D.N. Aidit, Njoto, dan M.H. Lukman dikenal sebagai wajah Partai Komunis Indonesia, ada generasi yang lebih awal membangun fondasi gerakan komunis di Hindia Belanda.


Nama mereka antara lain Semaun, Darsono, dan Alimin.


Ketiganya tumbuh dari lingkungan pergerakan yang berbeda. Semaun berasal dari gerakan buruh dan Sarekat Islam di Semarang. Darsono datang dari lingkungan pendidikan dan pengalaman pertanian. Sementara Alimin telah aktif dalam berbagai organisasi pergerakan sebelum akhirnya masuk ke lingkungan komunis.


Mereka kemudian berada dalam satu arus politik yang sama.


Tetapi sejarah akhirnya membawa mereka ke jalan yang berbeda. Ketika PKI bangkit kembali setelah kemerdekaan dan dipimpin generasi D.N. Aidit, ketiganya tidak lagi menjadi pusat kekuasaan partai.


Bahkan, Alimin meninggal pada 1964 sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional yang ditetapkan Presiden Sukarno, sementara Semaun dan Darsono menjalani tahun-tahun terakhir mereka di luar lingkaran PKI Aidit.


Ironisnya, ketiga orang yang pernah ikut membangun gerakan komunis Indonesia itu justru tidak menjadi bagian utama dari PKI yang kemudian menjadi salah satu kekuatan politik terbesar pada 1950-an dan 1960-an.


πŸ”³ SEBELUM ADA PKI, ADA ISDV


Untuk memahami kisah mereka, sejarahnya harus dimulai sedikit lebih awal.


Pada 9 Mei 1914, Henk Sneevliet bersama sejumlah aktivis sosialis Belanda mendirikan Indische Sociaal-Democratische Vereeniging (ISDV).


Sneevliet datang ke Hindia Belanda membawa gagasan sosialisme dan Marxisme. Namun ISDV pada awalnya belum mempunyai basis massa pribumi yang kuat.


Strategi kemudian berubah.


Para aktivis ISDV mendekati organisasi yang sudah mempunyai massa, terutama Sarekat Islam (SI).


Di Semarang, gagasan sosialisme menemukan ruang yang lebih besar melalui Semaun dan Darsono.


Semaun khususnya mempunyai posisi penting karena ia bukan sekadar aktivis politik. Ia juga seorang pengorganisasi buruh yang mempunyai hubungan kuat dengan serikat pekerja kereta api.


Dari sinilah komunisme Indonesia tidak tumbuh hanya sebagai gagasan yang dibawa orang Belanda. Ia mulai mempunyai kader dan jaringan pribumi sendiri.


πŸ”³ SEMAUN, BURUH MUDA YANG MENJADI KETUA PERTAMA


Semaun lahir pada 1899.


Ia berasal dari keluarga sederhana dan memperoleh pendidikan dasar sebelum bekerja sebagai juru tulis di perusahaan kereta api.


Pada masa mudanya, ia bergabung dengan Sarekat Islam dan kemudian mengenal Sneevliet.


Pertemuan itu mengubah arah hidupnya.


Semaun pindah ke Semarang dan semakin aktif dalam gerakan buruh. Ia kemudian menjadi salah satu tokoh penting Sarekat Islam Semarang sekaligus bergerak dalam ISDV dan serikat pekerja kereta api.


Semarang pada masa itu merupakan salah satu pusat gerakan buruh dan politik radikal.


Semaun memanfaatkan surat kabar dan organisasi buruh untuk menyebarkan gagasan tentang ketimpangan ekonomi, upah, dan hubungan antara buruh dengan pemilik modal.


Jadi, komunisme yang dibawa Semaun pada fase awal tidak muncul tiba-tiba sebagai gerakan bersenjata. Ia berkembang melalui serikat buruh, surat kabar, rapat politik, dan organisasi massa.


Pada 23 Mei 1920, ISDV berganti nama menjadi Perserikatan Komunis di Hindia (PKH). Semaun menjadi ketua dan Darsono wakil ketua. Nama PKI baru digunakan kemudian.


Perubahan tersebut menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah komunisme Indonesia.


Tetapi pada saat itu, Semaun masih mempunyai satu kaki di Sarekat Islam.


Keadaan seperti itu tidak bertahan lama.


πŸ”³ PERPECAHAN DENGAN SAREKAT ISLAM


Masalahnya bukan sekadar persoalan pribadi.


Di dalam Sarekat Islam berkembang perbedaan tajam mengenai agama, sosialisme, strategi politik, dan hubungan dengan organisasi komunis.


Kelompok Semaun dan kawan-kawannya semakin kuat di Semarang. Mereka menggunakan isu buruh dan ketimpangan sosial sebagai alat perjuangan.


Sementara kelompok lain di tubuh Sarekat Islam, termasuk H.O.S. Tjokroaminoto, Agus Salim, dan Abdul Muis, semakin khawatir terhadap pengaruh komunisme.


Pada 1921, aturan disiplin organisasi akhirnya memutus hubungan keanggotaan ganda.


Konflik itu kemudian dikenal melalui istilah SI Merah dan SI Putih.


Bagi sejarah Indonesia, perpecahan ini penting karena menunjukkan bahwa sejak awal komunisme tidak berdiri di ruang kosong. Ia tumbuh melalui persinggungan dengan gerakan nasionalis dan Islam yang sudah lebih dahulu mempunyai massa.


Semaun dan Darsono kemudian semakin fokus pada gerakan komunis.


πŸ”³ DARSONO: BUKAN SEKADAR “WAKIL SEMAUN”


Darsono berasal dari Pati dan mempunyai latar belakang yang berbeda dari Semaun.


Ia pernah menempuh pendidikan pertanian dan bekerja di lingkungan perkebunan. Pengalaman tersebut membuatnya berhadapan langsung dengan persoalan ekonomi masyarakat pedesaan.


Ketertarikannya kepada sosialisme semakin kuat setelah menyaksikan persidangan Henk Sneevliet.


Darsono terkesan oleh seorang Eropa yang bersedia berhadapan dengan pemerintah kolonial demi gagasan yang dianggapnya membela kaum tertindas.


Ia kemudian masuk ke lingkungan pergerakan Semarang dan bekerja bersama Semaun.


Darsono juga dikenal sebagai penulis dan propagandis yang keras.


Melalui surat kabar, ia menyerang kebijakan pemerintah kolonial sekaligus mengkritik tokoh-tokoh pergerakan yang dianggapnya terlalu kompromistis.


Namun ada satu hal penting yang sering hilang dalam cerita tentang Darsono.


Ia tidak selalu sejalan dengan kecenderungan paling radikal dalam gerakan komunis.


Darsono mempunyai perbedaan pandangan mengenai penggunaan kekerasan dan strategi pemberontakan. Karena itu, perjalanan politiknya kemudian semakin menjauh dari kelompok yang menghendaki aksi revolusioner segera.


Ia beberapa kali bekerja untuk jaringan Komintern dan hidup lama di Eropa.


Ketika pemberontakan PKI 1926 meletus, Semaun dan Darsono tidak berada di Indonesia sebagai pemimpin yang mengendalikan jalannya pemberontakan.


Keduanya sudah berada di luar negeri.


Hal tersebut penting karena sering kali seluruh generasi awal PKI seolah-olah digambarkan sebagai satu kelompok yang sama-sama merencanakan pemberontakan 1926. Kenyataannya, terjadi perbedaan pendapat serius mengenai kesiapan, waktu, dan strategi pemberontakan. Sumber sejarah Indonesia juga mencatat bahwa Semaun menilai pemberontakan tersebut dilakukan sebelum waktunya.


πŸ”³ ALIMIN, TOKOH YANG MEMILIH JALAN LEBIH RADIKAL


Jika Semaun identik dengan gerakan buruh dan Darsono dengan propaganda serta organisasi, Alimin mempunyai perjalanan yang berbeda.


Ia lahir di Solo pada 1889 dan sejak muda sudah aktif dalam berbagai organisasi pergerakan.


Ia pernah berhubungan dengan Budi Utomo, Sarekat Islam, dan Insulinde.


Ia juga pernah tinggal di lingkungan rumah H.O.S. Tjokroaminoto.


Dari lingkungan itulah Alimin kemudian mengenal semakin banyak tokoh pergerakan.


Ketika masuk ke lingkungan komunis, ia berkembang menjadi salah satu tokoh yang lebih radikal.


Perbedaan ini kemudian terlihat jelas menjelang pemberontakan 1926.


Pada akhir 1925, para pemimpin PKI membahas rencana aksi revolusioner dalam pertemuan Prambanan.


Masalahnya: tidak semua pemimpin PKI menyetujui rencana tersebut.


Tan Malaka justru menentangnya.


Ia menilai PKI belum mempunyai kekuatan massa dan organisasi yang cukup untuk melakukan revolusi berskala nasional.


Alimin kemudian menemui Tan Malaka untuk meminta dukungan.


Tan menolak.


Penolakannya bukan berarti Tan Malaka mendukung pemerintah kolonial. Ia tetap menginginkan revolusi, tetapi menganggap pemberontakan saat itu terlalu dini.


Catatan mengenai perdebatan ini penting karena menunjukkan bahwa sejak sebelum 1926, gerakan komunis Indonesia sudah mengalami konflik strategi internal.


Alimin kemudian pergi ke luar negeri bersama Musso untuk mencari dukungan Komintern.

Tetapi dukungan yang mereka harapkan tidak diperoleh.


Komintern justru menilai kondisi Hindia Belanda belum memungkinkan untuk pemberontakan terbuka.


Namun rencana tidak berhenti.


Pada November 1926, pemberontakan pecah di sejumlah wilayah Jawa dan kemudian menjalar ke Sumatra Barat pada 1927.


Pemerintah kolonial berhasil menghancurkannya.


Akibatnya, banyak anggota PKI ditangkap, dipenjara, dan dibuang ke Boven Digul di Papua.


PKI kemudian dilarang.


πŸ”³ IRONI BESAR: TIGA TOKOH INI TIDAK BERADA DI GARIS YANG SAMA PADA 1926


Di sinilah cerita Semaun, Darsono, dan Alimin mulai benar-benar terpisah.


Alimin merupakan salah satu tokoh yang terkait erat dengan persiapan pemberontakan.


Sementara Semaun dan Darsono berada di luar negeri dan mempunyai pandangan yang lebih hati-hati terhadap aksi tersebut.


Dengan kata lain, menyebut ketiganya sebagai satu kelompok yang mempunyai sikap sama terhadap pemberontakan 1926 akan terlalu menyederhanakan sejarah.


Mereka memang berasal dari generasi awal gerakan komunis Indonesia, tetapi strategi politik mereka berbeda.


Kegagalan pemberontakan 1926 kemudian menghancurkan jaringan PKI lama.

Dan dari reruntuhan itulah muncul generasi baru.


πŸ”³ KETIKA PKI LAHIR KEMBALI, MEREKA SUDAH MENJADI GENERASI LAMA


Setelah kemerdekaan Indonesia, PKI muncul kembali.


Pada 1948, Musso kembali dan mengambil alih kepemimpinan partai dalam situasi politik yang berujung pada Peristiwa Madiun.


Setelah kegagalan 1948, PKI kembali dibangun.


Kali ini muncul generasi yang berbeda.


D.N. Aidit, M.H. Lukman, dan Njoto menjadi wajah baru partai.


Mereka membangun PKI dengan strategi yang jauh lebih besar: memperluas organisasi massa, mengembangkan organisasi buruh dan tani, menggunakan parlemen, serta membangun hubungan politik yang kuat dengan Presiden Sukarno.


PKI generasi Aidit kemudian berhasil menjadi salah satu partai terbesar dalam Pemilu 1955.


Pada tahap ini, Semaun, Darsono, dan Alimin tidak lagi menjadi pusat pengambilan keputusan.


Mereka adalah tokoh dari masa sebelumnya.

Dan hubungan mereka dengan PKI generasi Aidit tidak sama.


πŸ”³ SEMAUN: KEMBALI KE INDONESIA, TETAPI BUKAN LAGI PEMIMPIN PKI


Semaun kembali ke Indonesia pada 1950-an setelah puluhan tahun berada di luar negeri.


Ia pernah terlibat dalam kegiatan pemerintahan dan mengajar ekonomi.


Namun PKI yang ia lihat ketika pulang sudah bukan partai yang sama dengan organisasi yang pernah ia pimpin pada 1920-an.


Kepemimpinan Aidit tidak menempatkan Semaun kembali sebagai pemimpin utama.


Semaun akhirnya lebih banyak menjalani kehidupan sebagai akademisi dan pejabat pemerintah.


Ia meninggal pada 1971.


πŸ”³ DARSONO: MENJAUH DARI PKI


Darsono juga kembali ke Indonesia setelah lama berada di Eropa.

Namun ia tidak kembali sebagai pemimpin PKI.


Ia pernah menjadi penasihat di lingkungan Kementerian Luar Negeri.


Darsono meninggal di Semarang pada 1976.


Perjalanan keduanya menunjukkan sesuatu yang menarik: menjadi pendiri atau pemimpin awal sebuah organisasi tidak otomatis membuat seseorang tetap menjadi bagian dari organisasi itu selamanya.


PKI berubah, generasi berganti, dan strategi politiknya juga berubah.


πŸ”³ ALIMIN: TOKOH KOMUNIS YANG JUSTRU DIANGKAT SUKARNO SEBAGAI PAHLAWAN


Nasib Alimin bahkan lebih menarik.

Setelah kembali ke Indonesia pada 1946, ia memang kembali berhubungan dengan PKI.


Namun ketika Aidit membangun kembali PKI pada awal 1950-an, Alimin tidak menjadi pusat kepemimpinan.

Ia lebih merupakan tokoh senior dari generasi lama.


Dan pada 1964 terjadi sesuatu yang hampir tidak mungkin dibayangkan jika sejarah hanya dilihat dari sudut pandang setelah 1965.


Presiden Sukarno memberikan penghargaan kepada Alimin sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional melalui Keputusan Presiden Nomor 163 Tahun 1964, yang ditetapkan pada 26 Juni 1964.


Artinya, kurang dari dua tahun sebelum G30S, seorang tokoh komunis senior seperti Alimin secara resmi dihormati oleh negara Sukarno karena jasa-jasanya dalam perjuangan kemerdekaan.


Alimin meninggal pada 24 Juni 1964.


Ia tidak pernah menyaksikan G30S, tidak menyaksikan kehancuran PKI, dan tidak menyaksikan pelarangan komunisme setelah 1965.


DARI SEMAOEN KE AIDIT: PKI YANG SAMA, TETAPI GENERASINYA BERBEDA


Inilah bagian terpenting dari kisah tiga tokoh tersebut.


PKI tahun 1960-an tidak bisa begitu saja dianggap sebagai organisasi yang identik dengan PKI tahun 1920-an.


Ada kesinambungan organisasi dan ideologi, tetapi terdapat pergantian generasi, strategi, struktur, dan konteks politik.


Semaun adalah produk gerakan buruh dan Sarekat Islam Semarang.


Darsono tumbuh sebagai propagandis dan organisator yang banyak berhubungan dengan jaringan internasional.


Alimin berkembang menjadi tokoh yang lebih radikal dan terlibat dalam persiapan pemberontakan 1926.


Sementara puluhan tahun kemudian, Aidit membangun PKI dalam sistem politik Demokrasi Terpimpin dan berhasil membawa partai tersebut menjadi kekuatan massa raksasa.


Karena itu, kisah ketiganya bukan sekadar cerita tentang “pendiri PKI yang tidak terpakai”.


Lebih tepat jika dilihat sebagai perjalanan sebuah gerakan politik yang mengalami pergantian generasi berkali-kali.


Ironinya, ketika PKI berada di puncak kekuasaannya pada awal 1960-an, tiga nama yang pernah berada di fondasi awal gerakan itu justru sudah berada di luar lingkaran utama.


Alimin bahkan telah lebih dahulu wafat sebagai tokoh pergerakan yang dianugerahi penghargaan negara oleh Sukarno.


Semaun meninggal setelah melihat PKI Aidit tumbuh menjadi partai massa, tetapi tanpa dirinya di dalam struktur utama.


Darsono menjalani masa tuanya di luar kepemimpinan PKI.

Mereka membangun bab pertama. Generasi Aidit menulis bab yang sama sekali berbeda.


Dan sejarah kemudian memperlihatkan bahwa bab terakhir PKI justru ditutup bukan oleh para pendirinya, melainkan oleh generasi yang lahir puluhan tahun setelah mereka.


πŸ“Œ Sumber:

- Keputusan Presiden RI No. 163 Tahun 1964 tentang penghargaan kepada Alimin sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional. 

- Kementerian Kebudayaan RI, Ensiklopedia Alimin Prawirodirdjo, yang merujuk karya akademik seperti Ruth T. McVey dan M.C. Ricklefs. 

- Kementerian Pendidikan/Kebudayaan, Sejarah Pergerakan Nasional Indonesia, mengenai perbedaan pandangan di tubuh PKI menjelang pemberontakan 1926. 

- BBC Indonesia, kronologi kelahiran, perkembangan, dan keruntuhan PKI. 

- Kajian Kankan Xie, UnPreparing a Revolution: The Comintern in the Prelude to the 1926–1927 Uprisings in Indonesia, mengenai perdebatan internal PKI dan hubungan dengan Komintern. 

- Open Archief, ringkasan biografis Semaun dan Darsono serta perkembangan PKI awal. 


#Semaun #Darsono #Alimin #SejarahIndonesia #PKI #sariberita #KomunismeIndonesia #Sukarno #Aidit #Beranipedia





 Tiga serangkai pendiri PKI (Semaoen, Darsono, Alimin) yang nasibnya berbeda, yang sama: mereka "tak dipakai" lagi oleh PKI-nya DN Aidit dkk


Pada awalnya adalah Indische Sociaal-Democratische Vereeniging (ISDV) yang pertama berdiri pada 9 Mei 1914. Pada 23 Mei 1920 namanya berubah menjadi Perserikatan Komunis di Hindia lalu resmi menjadi Partai Komunis Indonesia pada 1924.


Tiga tokoh pentingnya di awal-awal adalah Semaoen, Alimin, dan Darsono. Tapi jangan lupakan sosok Henk Sneevliet yang pertama-tama memperkenalkan komunisme di Hindia Belanda.


Nama lengkapnya Hendricus Josephus Fransiscus Marie Sneevliet atau dikenal sebagai Henk Sneevliet adalah tokoh Belanda yang membawa komunisme ke Indonesia. Dialah yang mendirikan ISDV.


Meski menjadi orang-orang penting di fase PKI awal, ketiganya "tak dipakai" di fase PKI-nya DN Aidit, Lukman, dan Njoto. Nasib mereka juga berbeda.


Semaoen, di akhir hayatnya, setelah puluhan tahun dalam "pembuangan" akhirnya pulang ke Indonesia pada 1953. Dia sama sekali terputus dengan PKI dan lebih untuk mengajar ekonomi di Unpadj.


Sementara Darsono, etelah dua dekade lebih melanglang buana di Eropa, dia pulang ke Indonesia pada 1950. Meski begitu, dia sudah tak terikat sama sekali dengan PKI-nya DN Aidit, Njoto, dan generasi yang lebih baru. Darsono kemudian menjadi penasihat di Kementerian Luar Negeri Indonesia sampai 1960. Darsono mengembuskan napas terakhirnya pada 1976 di Semarang pada usia 79 tahun.


Lalu Alimin. Meski sempat bergabung dengan PKI setelah dari pembuangan, Alimin akhirnya "disingkirkan" oleh PKI baru. Dia kemudian digelari Pahlawan Nasional oleh Bung Karno pada 1964.


Baca artikel selengkapnya di sini https://intisari.grid.id/read/034412275/tiga-serangkai-pendiri-partai-komunis-indonesia-yang-tak-terpakai-di-pki-nya-dn-aidit


#partaikomunisindonesia #pki #semaoen #darsono #alimin #DNaidit



Njoto, Si Propagandis PKI


Namanya Njoto. Orangnya kurus, kerempeng, berkacamata dan pendiam. Dia wakil ketua II PKI. Aidit, Njoto, dan Lukman adalah triumvirat PKI. Tiga pucuk pimpinan utama PKI. 


Orang tak akan pernah menyangka bahwa dibalik tubuh kurusnya terdapat pemikiran bengis. Dia memang tidak pernah menumpahkan darah secara langsung lewat tangannya, tapi lewat otaknya. Tangannya tak pernah memegang parang ataupun arit untuk membantai, tapi tulisan tangannya mampu menggerakkan pembantaian.


Njoto adalah ketua Biro Agitasi dan propaganda PKI. Dia memimpin koran Harian Rakyat. Sebuah koran corong komunis di Indonesia. Dia juga yang membentuk Lekra, sebuah organisasi kebudayaan milik PKI. Lewat besutan tangannya, Lekra menjelma menjadi organisasi budaya yang mampu membungkam lawan-lawan politiknya.


 Njoto adalah seorang yang jenius. Tipe seorang pemikir berdarah dingin. Dia juga seorang seniman dan musikus. Mampu meniup saksofon dengan baik. Serta berbagai alat musik lainnya.


Laki-laki kerempeng itu menjadi salah satu otak utama PKI di negri ini. Tulisan tangannya mampu menggerakkan palu arit bergerak mencari korbannya. Njoto bersenjatakan pena. Senjatanya lebih tajam daripada senjata para jagal di lapangan.


Tulisan Njoto di koran Harian Rakyat sangat dijiwai komunis. Karena dia memang seorang komunis sejati hingga akhir hayatnya. Seorang ideolog sejati. Seorang penganut komunis hingga tulang sungsumnya.


Tahun 1950-an, Njoto dan Aidit menjadi darah baru dalam tubuh PKI. Anak-anak muda ini menggantikan posisi kepemimpinan PKI kaum tua. Mereka berhasil membersihkan diri, cuci tangan nama baik PKI dari kasus pemberontakan PKI tahun 1948. 


Pembantaian yang memakan ribuan nyawa itu seolah dilupakan begitu saja. Semua itu berkat kepiawaian tokoh muda, salah satunya Njoto membersihkan nama baik PKI. Melalui tulisan tangannya yang tajam, Njoto mampu membangun image bahwa PKI tidak bersalah. Dia memutar balik fakta.


PKI kembali mengalami masa kejayaan dibawah kepemimpinan triumvirat ini. Otak-otak mereka bekerja sedemikian rupa menyusun strategi jitu. Akhirnya di tahun 1960-an mereka menjadi kekuatan politik besar nomer empat di negri ini. Luka berdarah  mereka seakan hilang begitu saja. Orang-orang seakan melupakan kekejian pemberontakan mereka.


Mereka mendapat angin segar karena Soekarno menganut Nasakom. Bahwa komunis dibiarkan hidup demi pemikiran Soekarno yang ingin menggabungkan tiga elemen yaitu nasionalis, agama, dan komunis dalam kehidupan bernegara. Ide besar Nasakom Sang Bung Besar menjadikan PKI diberikan ruang politik. Bahkan semakin hari semakin tumbuh subur. Puncaknya adalah pemberontakan G30S PKI.


Saat pemberontakan G30S PKI gagal, Aidit langsung melarikan diri ke Jawa Tengah. Bersembunyi di kota-kota basis PKI. Dia bersembunyi di Semarang, Solo, Boyolali. Hingga akhirnya dia dieksekusi di sebuah sumur tua Boyolali. Aidit mati ditembak tentara. Sebelum dieksekusi, Aidit sempat pidato berapi-api tentang komunisme. Pidatonya terhenti begitu timah panas mengenai tubuhnya. Dia pun jatuh ke sebuah sumur tua. Di sumur itulah jasadnya dimakamkan.


Sedangkan Njoto yang saat itu menjabat sebagai menteri, tetap berada di Jakarta. Bahkan dia pernah ikut sidang kabinet. Dia merasa dekat dengan Soekarno, selama ini sering menulis pidato kenegaraan Soekarno. Makanya dia percaya diri tetap di Jakarta. 


Njoto bahkan terlihat pongah. Dia merasa otaknya yang cerdas mampu meloloskannya dari tanggung jawab pemberontakan G30S PKI.  Dia merasa tidak bersalah.


Tapi dugaan Njoto salah. Aidit sudah mati ditembak di Boyolali. Tak berapa lama kemudian Njoto juga ditangkap. Disebutkan sebelum menjelang eksekusinya, Njoto menyenandungkan puisi komunis. Sebuah bukti betapa Aidit dan Njoto menjiwai komunis hingga akhir hayatnya. 


Njoto, lelaki kerempeng ketua Biro Agitasi PKI itu telah pergi. Meninggalkan pemikiran komunis yang tiada pernah mati.

Fosil

 Jejak fosil purba di Sangiran dan Flores

Indonesia itu salah satu tempat paling penting di dunia untuk memahami evolusi manusia. Dua nama yang paling besar: Sangiran dan Flores.


1. Sangiran, Jawa Tengah - Gudangnya Homo erectus

Ini situs manusia purba paling lengkap di Asia, sudah jadi Warisan Dunia UNESCO.

• Kenapa penting: Lebih dari 50% fosil Homo erectus di seluruh dunia ditemukan di sini. Dari sini kita bisa melihat evolusi manusia selama hampir 1 juta tahun di satu tempat saja. • Temuan manusianya: Ditemukan pertama kali oleh G.H.R. von Koenigswald tahun 1936. Yang terkenal adalah Pithecanthropus erectus (sekarang disebut Homo erectus) dan Meganthropus palaeojavanicus - manusia dengan rahang super besar. Umurnya sekitar 1,2 juta sampai 500 ribu tahun lalu. • Maknanya: Membuktikan bahwa nenek moyang manusia sudah keluar dari Afrika dan berhasil bertahan lama di Asia Tenggara. Lapisan tanah di Sangiran itu seperti buku sejarah yang lengkap. 

2. Liang Bua, Flores, NTT - Rumah si Hobbit

Kalau Sangiran itu soal raksasa masa lalu, Flores itu soal kejutan.

• Kenapa penting: Di gua Liang Bua tahun 2003 ditemukan spesies manusia baru yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya. • Temuan manusianya: Homo floresiensis, dijuluki Hobbit Flores. Tingginya cuma sekitar 106 cm, otak sekecil jeruk, tapi bisa bikin alat batu dan berburu gajah kerdil purba Stegodon. Hidup sekitar 700 ribu sampai 60 ribu tahun lalu. • Maknanya: Ini mengubah semua teori. Membuktikan evolusi manusia tidak selalu jadi makin besar dan pintar. Di pulau terisolasi seperti Flores, manusia bisa mengalami island dwarfism atau pengerdilan - jadi kecil untuk bertahan hidup dengan sumber daya terbatas. Mereka hidup sezaman dengan Homo sapiens kita. 

Singkatnya: Sangiran menunjukkan akar tua dan panjangnya perjalanan Homo erectus di Indonesia, sementara Flores menunjukkan betapa liar dan tidak terduga jalur evolusi itu bisa bercabang.


Mau aku lanjutin briefing soal situs lain seperti Trinil tempat Homo erectus pertama ditemukan, atau Ngandong manusia purba terakhir di Jawa?


Siap. Kalau Sangiran dan Flores itu yang paling terkenal, ini 4 situs lain yang bikin puzzle manusia purba Indonesia makin lengkap:


3. Trinil, Ngawi - Titik Awal Sejarah

Ini tempat semuanya dimulai. Tahun 1891, dokter Belanda Eugène Dubois menemukan atap tengkorak dan tulang paha di tepi Bengawan Solo. Dia namakan Pithecanthropus erectus - manusia kera yang berjalan tegak. Ini fosil Homo erectus pertama yang ditemukan di luar Afrika dan Eropa, yang bikin dunia gempar dan membuktikan teori evolusi Darwin. Umurnya sekitar 900 ribu tahun.


4. Perning / Mojokerto, Jawa Timur - Si Bayi Tertua

Ditemukan tengkorak anak kecil tahun 1936. Sempat diklaim sebagai manusia paling tua di Indonesia (1,8 juta tahun) dengan nama Homo modjokertensis. Penelitian terbaru merevisi umurnya jadi sekitar 1,3 juta tahun, tapi tetap jadi salah satu fosil anak Homo erectus paling awal dan paling penting di Asia Tenggara.


5. Ngandong & Sambungmacan, Blora - Homo erectus Terakhir

Di tepi Bengawan Solo juga. Fosil di sini jauh lebih muda, sekitar 117 ribu - 108 ribu tahun lalu. Dikenal sebagai Homo erectus soloensis. Artinya, Homo erectus masih hidup di Jawa saat Homo sapiens seperti kita sudah muncul di Afrika. Mereka adalah populasi Homo erectus terakhir di bumi sebelum punah.


6. Wajak, Tulungagung - Manusia Modern Pertama

Beda dengan yang di atas. Dua tengkorak yang ditemukan tahun 1889 ini adalah Homo sapiens - spesies kita. Umurnya sekitar 40 ribu - 28 ribu tahun. Ini bukti perpindahan dari manusia purba ke manusia modern di Jawa. Wajahnya sudah datar, dahi tinggi, tidak seperti Homo erectus.


Kalau diurutkan jadi timeline Indonesia:


Mojokerto (1,3 jt) -> Sangiran (1,2 jt - 500 rb) -> Trinil (900 rb) -> Ngandong (117 rb) -> Flores / Hobbit (700 rb - 60 rb, hidup berdampingan) -> Wajak (40 rb - Homo sapiens)


Jadi Indonesia itu bukan cuma tempat lewat, tapi tempat manusia purba berevolusi, terjebak jadi kerdil di pulau, bertahan paling lama, sampai akhirnya digantikan oleh nenek moyang kita.


Mau aku bikinin peta visual jalur migrasi dan timeline-nya biar lebih gampang kebayang?



Sukendro dan Setiadi Reksoprodjo

AHMAD SUKENDRO — JENDERAL YANG LOLOS DARI G30S, MENGAKUI DEWAN JENDERAL, LALU DITAHAN ORDE BARU


Di antara nama-nama jenderal yang menjadi sasaran Gerakan 30 September 1965, ada satu sosok yang nyaris tidak banyak dikenal publik: Brigadir Jenderal Ahmad Sukendro.


Namanya berada dalam pusaran isu “Dewan Jenderal”, jaringan intelijen Angkatan Darat, hubungan rahasia dengan Amerika Serikat, hingga pergulatan politik antara Sukarno, Angkatan Darat, dan PKI.


Ia bahkan masuk dalam daftar orang yang hendak diciduk pada akhir September 1965. Namun ketika gerakan itu berlangsung, Sukendro tidak berada di Jakarta.


Ia sedang berada di Peking, Tiongkok.


Ironisnya, setelah lolos dari operasi penculikan, perjalanan hidup Sukendro justru berakhir dengan penahanan oleh pemerintahan Soeharto. Pada 1967, ia ditahan selama sekitar sembilan bulan tanpa proses pengadilan. Alasan yang kemudian dikaitkan dengan penahanannya adalah pengakuannya mengenai keberadaan “Dewan Jenderal”.


Kisah Sukendro memperlihatkan bahwa politik Indonesia setelah 1965 tidak sesederhana pertentangan antara PKI dan antikomunis. Di tubuh Angkatan Darat sendiri terdapat persaingan, perbedaan kepentingan, dan perubahan hubungan kekuasaan yang kemudian menentukan siapa yang naik dan siapa yang tersingkir.


πŸ”³ DARI PERWIRA INTELIJEN MENJADI ORANG KEPERCAYAAN NASUTION


Ahmad Sukendro lahir di Banyumas pada 1923. Pada masa pendudukan Jepang, ia bergabung dengan PETA. Setelah Indonesia merdeka, karier militernya berkembang dan ia kemudian dikenal sebagai perwira intelijen yang memiliki kemampuan analisis politik.


Jenderal A.H. Nasution melihat kemampuan tersebut. Ketika Nasution memegang posisi penting dalam Angkatan Darat, Sukendro dipercaya menangani pekerjaan intelijen.


Pada akhir 1950-an, ketika hubungan pemerintah pusat dengan sejumlah perwira daerah memburuk, Sukendro juga mendapat tugas intelijen. Ketegangan itu kemudian berkembang menjadi PRRI di Sumatra dan Permesta di Sulawesi Utara.


Namun kiprah Sukendro tidak hanya berhubungan dengan persoalan dalam negeri.


Ia juga mempunyai hubungan dengan pejabat Amerika Serikat. Ketika kemudian menjalani masa belajar di University of Pittsburgh, kontaknya dengan kalangan Amerika semakin berkembang.


Hubungan inilah yang kelak membuat namanya muncul berulang kali dalam dokumen Amerika mengenai Indonesia.


πŸ”³ PERNAH BERHADAPAN DENGAN PKI, LALU DIASINGKAN SUKARNO


Salah satu bagian penting dari riwayat Sukendro terjadi pada 1960.


Ia dikenal sebagai salah satu perwira Angkatan Darat yang keras terhadap PKI. Menurut John Roosa, pada Juli–September 1960 Sukendro terlibat dalam upaya penindakan terhadap PKI. Sikap tersebut membuatnya berada di salah satu sisi paling keras dalam pertarungan politik Angkatan Darat dan PKI.


Namun Presiden Sukarno kemudian mendorong kompromi dengan Angkatan Darat. Sukendro pun tersingkir dan menjalani masa pengasingan sekitar tiga tahun.


Ironisnya, masa pengasingan itu justru memperluas jaringan internasionalnya. Di Amerika Serikat ia belajar sekaligus semakin dekat dengan pejabat Amerika dan jaringan yang kemudian dikaitkan dengan CIA.


Pada 1963, Sukendro dipanggil kembali ke Indonesia dan kembali masuk ke lingkungan Angkatan Darat.


Hubungannya dengan Amerika bukan sekadar rumor. Dokumen yang kemudian dibuka menunjukkan bahwa Sukendro memang menjadi salah satu penghubung penting antara pimpinan Angkatan Darat dan pihak Amerika. Bahkan pada November 1965, CIA mencatat adanya permintaan bantuan dari Sukendro atas nama pimpinan Angkatan Darat.


πŸ”³ “DEWAN JENDERAL”: ANTARA PERKUMPULAN NYATA DAN ISU POLITIK


Di sinilah kisah Sukendro menjadi rumit.


Pada 1965 beredar kabar mengenai adanya Dewan Jenderal, sebuah kelompok perwira tinggi Angkatan Darat yang dituduh sedang mempersiapkan kudeta terhadap Presiden Sukarno.


Isu itu bukan muncul begitu saja.


Di lingkungan Angkatan Darat memang terdapat kelompok perwira senior yang secara rutin membicarakan keadaan politik dan kemungkinan yang akan terjadi setelah Sukarno. John Roosa menyebut kelompok kecil tersebut sebagai “brain trust”, yang melibatkan S. Parman, M.T. Haryono, Suprapto, dan Sukendro.


Namun menyamakan kelompok tersebut begitu saja dengan sebuah “Dewan Jenderal” yang telah membentuk kabinet untuk menggulingkan Sukarno adalah persoalan lain.


Pada Mei 1965, isu Dewan Jenderal sudah sampai kepada Sukarno. Ahmad Yani kemudian diminta memberikan penjelasan. Yani membantah adanya sebuah dewan yang sedang mempersiapkan kudeta. Ia menjelaskan bahwa istilah tersebut mungkin merupakan kesalahpahaman terhadap Wanjakti, badan yang berkaitan dengan jabatan dan kepangkatan perwira tinggi.


Tetapi di luar penjelasan resmi tersebut, memang terdapat pembicaraan di kalangan perwira Angkatan Darat mengenai kemungkinan politik setelah Sukarno tidak lagi berkuasa.


Karena itu, “Dewan Jenderal” pada 1965 harus dipahami sebagai istilah yang mempunyai beberapa lapisan makna: ada kelompok nyata yang berdiskusi di lingkungan Angkatan Darat, tetapi gambaran tentang sebuah “kabinet bayangan” yang siap mengambil alih pemerintahan tidak memiliki dasar yang sesederhana propaganda yang beredar ketika itu.


πŸ”³ MENGAPA SUKENDRO MENJADI SASARAN?


Nama Sukendro menjadi penting karena ia bukan sekadar perwira biasa.


Ia adalah perwira intelijen, dikenal antikomunis, mempunyai hubungan dekat dengan Nasution dan Yani, serta mempunyai kontak dengan Amerika Serikat.


Dokumen intelijen Amerika yang baru dibuka bahkan memberikan informasi menarik: laporan Angkatan Darat pada 14 September 1965 telah menyebut adanya rencana pembunuhan terhadap pimpinan Angkatan Darat.


Dalam laporan tersebut, nama Sukendro termasuk di antara nama yang disebut sebagai sasaran, bersama sejumlah nama lain yang kemudian memang menjadi korban pada 1 Oktober. Bahkan Jenderal Soeharto dan Mursjid juga disebut dalam daftar tersebut, tetapi keduanya tidak menjadi korban.


Artinya, kabar mengenai ancaman terhadap para jenderal sudah beredar sebelum 30 September 1965.


Ini penting karena selama bertahun-tahun muncul anggapan bahwa ancaman tersebut baru diketahui setelah gerakan berlangsung. Dokumen tersebut menunjukkan bahwa aparat intelijen Angkatan Darat sudah menerima informasi mengenai kemungkinan penculikan atau pembunuhan pimpinan mereka beberapa minggu sebelumnya.


πŸ”³ SUKENDRO SELAMAT KARENA BERADA DI PEKING


Ketika operasi penculikan berlangsung, Sukendro tidak berada di Indonesia.


Ia sedang berada di Peking sebagai bagian dari delegasi Indonesia untuk menghadiri peringatan hari kelahiran Republik Rakyat Tiongkok pada 1 Oktober 1965.


Karena itu, ia tidak mengalami nasib seperti Ahmad Yani, S. Parman, Suprapto, M.T. Haryono, D.I. Pandjaitan, dan Sutoyo.


Beberapa sumber kemudian menyebut bahwa nama Sukendro dicoret dari daftar sasaran karena ia berada di luar negeri.


Tetapi ada detail lain yang menarik.


Dokumen CIA pada masa itu menunjukkan bahwa keberadaan Sukendro di luar Indonesia menjadi perhatian serius. Ia kemudian berusaha kembali ke Indonesia melalui jalur perjalanan yang tidak sederhana dan sempat melakukan kontak dengan jaringan Amerika sebelum pulang.


Dengan demikian, Sukendro bukan sekadar “jenderal yang kebetulan sedang berada di luar negeri”. Ia adalah salah satu perwira yang sejak sebelum G30S sudah berada dalam radar berbagai pihak.


πŸ”³ SETELAH G30S, SUKENDRO JUSTRU DEKAT DENGAN LINGKARAN SUKARNO


Ada sisi lain dari Sukendro yang sering terlupakan.


Meskipun dikenal sebagai antikomunis keras dan mempunyai hubungan dekat dengan Angkatan Darat, Sukarno justru memberinya tempat dalam pemerintahan.


Sukendro menjadi Menteri Negara yang diperbantukan pada Presidium Kabinet Dwikora. Ia bahkan dipercaya menangani sejumlah tugas pemerintahan.


Menurut David Jenkins, Sukarno juga pernah memanfaatkan Sukendro untuk mengawasi gerak-gerik Soeharto.


Jadi, hubungan Sukendro dengan Sukarno tidak bisa digambarkan sebagai hubungan antara seorang “orang Angkatan Darat” dengan presiden yang selalu bermusuhan. Hubungan mereka jauh lebih rumit.


Sukarno mengetahui bahwa Sukendro memiliki jaringan intelijen dan memahami cara kerja Angkatan Darat. Karena itu, orang yang pernah berhadapan keras dengan PKI tersebut justru dapat dipakai untuk membaca gerak lawan politik lain.


πŸ”³ 11 MARET 1966: SUKENDRO MELIHAT BAHAYA


Pada 11 Maret 1966, ketika situasi politik di Jakarta semakin genting dan Sukarno bergerak menuju Bogor, Sukendro berada di lingkungan istana.


Dalam kesaksian A.M. Hanafi, Sukendro mengingatkan agar Presiden tidak dibiarkan sendirian.


Pesan itu menunjukkan bahwa Sukendro melihat perubahan kekuasaan sedang berlangsung.


Beberapa jam kemudian, lahirlah Supersemar, yang memberikan Soeharto wewenang luas untuk mengambil tindakan demi memulihkan keamanan dan ketertiban.


Sejak saat itu, keseimbangan politik berubah drastis.

Sukarno semakin kehilangan kekuasaan.

Soeharto semakin kuat.

Dan posisi Sukendro justru semakin tidak aman.


πŸ”³ DARI ORANG PENTING MENJADI TAHANAN ORDE BARU


Setelah Soeharto semakin dominan, peran Sukendro perlahan tergeser.


Jaringan intelijen baru yang berkembang di bawah Soeharto, termasuk tokoh seperti Ali Moertopo, membuat posisi Sukendro tidak lagi sepenting sebelumnya.


Namun yang paling menarik justru terjadi pada 1967.


Dalam sebuah forum pendidikan perwira di Bandung, Sukendro disebut mengakui bahwa Dewan Jenderal memang ada.


Pengakuan ini berbeda dari penjelasan Ahmad Yani pada Mei 1965 yang membantah adanya Dewan Jenderal sebagai badan yang hendak melakukan kudeta.


Menurut memoar Jenderal Soemitro, laporan mengenai pernyataan Sukendro tersebut kemudian sampai kepadanya. Soemitro mengaku Sukendro memang mengakui pernah mengatakan bahwa Dewan Jenderal ada.


Namun konteksnya penting: pengakuan tersebut tidak otomatis berarti Sukendro membenarkan seluruh cerita tentang sebuah kabinet rahasia yang hendak menggulingkan Sukarno.


Justru persoalan inilah yang membuat kisahnya menarik.


Ada kemungkinan yang dimaksud Sukendro adalah keberadaan kelompok perwira yang memang berdiskusi dan melakukan koordinasi politik, bukan “Dewan Jenderal” dalam pengertian sebuah pemerintahan bayangan yang siap melakukan kudeta.


πŸ”³ SEMBILAN BULAN DI NIRBAYA


Setelah peristiwa tersebut, Sukendro ditahan pada 1967 atas perintah Pangkopkamtib Jenderal Soemitro.


Ia menjalani sekitar sembilan bulan penahanan di Nirbaya, Pondok Gede.


Tidak ada proses pengadilan yang kemudian menghasilkan putusan pidana terhadap dirinya.


Soemitro sendiri dalam memoarnya menjelaskan bahwa ia sebenarnya mengenal Sukendro sebagai teman lama. Keduanya bahkan sama-sama pernah berada dalam pendidikan staf Angkatan Darat generasi awal.


Tetapi dalam situasi politik Orde Baru, kedekatan pribadi tidak selalu cukup untuk menyelamatkan seseorang.


Sukendro akhirnya dilepaskan.


Ia kemudian mendapat tempat di Jawa Tengah dan dipercaya mengelola perusahaan daerah di bawah Gubernur Supardjo Rustam.


Ironisnya, meskipun pernah dipenjarakan, kemampuan intelijennya tetap dihargai. Dalam kesaksian yang dikutip mengenai Soemitro, Sukendro masih dianggap sebagai orang yang sangat mampu membaca gerakan politik sehingga tetap menjadi sosok yang diperhatikan ketika muncul dugaan gerakan antipemerintah.


πŸ”³ IRONI SEORANG JENDERAL YANG TERJEBAK DI ANTARA DUA KEKUASAAN


Kisah Ahmad Sukendro memperlihatkan ironi politik Indonesia pada 1960-an.


Ia pernah menjadi orang kepercayaan Nasution.


Ia pernah menjadi bagian dari lingkaran intelijen Angkatan Darat.


Ia dikenal keras terhadap PKI.


Ia mempunyai hubungan dengan pejabat Amerika dan CIA.


Ia menjadi bagian dari lingkungan perwira yang kemudian dikaitkan dengan isu Dewan Jenderal.


Ia lolos dari penculikan G30S karena sedang berada di luar negeri.


Tetapi setelah G30S dan jatuhnya Sukarno, ia justru tidak memperoleh tempat istimewa di bawah Soeharto.


Sebaliknya, ia tersingkir dari lingkaran kekuasaan dan akhirnya dipenjara.


Di sinilah kisah Sukendro berbeda dari gambaran sederhana bahwa semua perwira antikomunis otomatis menjadi pemenang setelah 1965.


Tidak semua orang yang berada di pihak yang sama dalam satu pertarungan politik akan menjadi pemenang ketika pertarungan itu selesai.


Sukendro adalah salah satu contohnya.


Ia selamat dari penculikan pada 1965, tetapi kemudian kehilangan ruang politiknya ketika rezim baru terbentuk.


Ia pernah menjadi penghubung penting dengan Amerika, tetapi akhirnya justru ditahan oleh pemerintahan yang tumbuh setelah kejatuhan Sukarno.


Dan yang paling ironis: pernyataannya mengenai keberadaan Dewan Jenderal—isu yang sejak 1965 menjadi salah satu pusat konflik politik Indonesia—kelak ikut menyeretnya ke penjara.


Ahmad Sukendro meninggal di Jakarta pada 11 Mei 1984, jauh setelah kekuasaan Soeharto terkonsolidasi.


Kisahnya menjadi pengingat bahwa sejarah G30S bukan hanya cerita tentang siapa yang diculik dan siapa yang selamat. Di baliknya terdapat perebutan pengaruh di antara kelompok-kelompok militer, pertarungan dengan PKI, hubungan dengan Amerika Serikat, serta persaingan internal yang terus berlangsung bahkan setelah Soekarno tersingkir.


πŸ“Œ CATATAN PENTING


Istilah “Dewan Jenderal” dalam tulisan ini tidak diperlakukan sebagai fakta tunggal yang sudah terbukti dalam bentuk sebuah organisasi kudeta.


Dokumen dan penelitian sejarah menunjukkan adanya kelompok perwira Angkatan Darat yang berdiskusi mengenai situasi politik dan kemungkinan masa depan setelah Sukarno. Tetapi apakah kelompok tersebut identik dengan “Dewan Jenderal” sebagaimana dituduhkan PKI, atau apakah ada rencana kudeta dalam bentuk yang digambarkan propaganda 1965, masih menjadi persoalan historiografis yang diperdebatkan.


Justru karena itulah pernyataan Sukendro pada 1967 menjadi penting: bukan karena otomatis membuktikan seluruh cerita tentang Dewan Jenderal, melainkan karena memperlihatkan bahwa di balik istilah tersebut memang terdapat aktivitas dan komunikasi politik di kalangan elite Angkatan Darat yang jauh lebih kompleks daripada versi hitam-putih yang selama puluhan tahun beredar.


πŸ“Œ Sumber: 

John Roosa, Dalih Pembunuhan Massal: Gerakan 30 September dan Kudeta Suharto; David Jenkins, Suharto and His Generals; Ramadhan K.H., Dari Pangdam Mulawarman sampai Pangkopkamtib; CIA, dokumen Indonesia—1965 dan President's Daily Brief Oktober 1965; Foreign Relations of the United States (FRUS), 1964–1968; Historia.id; Kompas; Tirto; serta dokumen intelijen Amerika yang telah dideklasifikasi.


#Beranipedia #AhmadSukendro #G30S #SejarahIndonesia #OrdeBaru #sariberita





 Kisah Brigjen Sukendro, lolos dari target G30S tapi disingkarkan Soeharto karena akui adanya Dewan Jenderal, 9 bulan dipenjara Orde Baru tanpa proses pengadilan


Brigjen Sukendro sejatinya adalah salah satu jenderal yang hendak diculik oleh Gerakan 30 September 1965. Tapi karena satu dan lain hal, nama pria asal Banyumas, Jawa Tengah, itu akhirnya dicoret dari daftar.


Ironisnya, di akhir kariernya sosok yang pernah jadi orang kepercayaan AH Nasution itu justru disingkirkan oleh Soeharto.


Brigjen Ahmad Sukendro turut menjadi target yang akan diculik oleh Gerakan 30 September. Tapi ketika itu Sukendro sedang ditugaskan negara, dalam hal ini Presiden Sukarno, untuk pergi ke Peking, jadi namanya dicoret.


Dalam pertemuan terakhir operasi penculikan mereka yang disebut sebagai Dewan Jenderal di rumah Sjam Kamaruzzaman, di Salemba Tengah, pada Hari-H, 30 September 1965, ternyata ditaklimatkan nama delapan jenderal yang akan dijemput.


Mereka adalah Jenderal AH Nasution, Letnan Jenderal Ahmad Yani, Mayjen Soewondo Parman, Mayjen R. Soeprapto, Mayjen Mas Tirtodarmo Harjono, Brigjen Donald Izacus Pandjaitan, Brigjen Soetojo Siswomihardjo, dan Brigjen Ahmad Sukendro. Tapi belakangan, nama Sukendro dicoret.


Achmad Sukendro dilahirkan di Banyumas tahun 1923. Seperti banyak anak muda seusianya, di zaman Jepang, ia memilih mendaftar menjadi anggota PETA.


Saat revolusi, Sukendro bergabung dengan Divisi Siliwangi. Nasution yang ‘menemukannya’ segera tahu dia bukan perwira biasa. Cara berpikir dan kemampuan analisis Sukendro di atas rata-rata perwira lainnya.


Karena itu saat Nasution menjadi KSAD, ia menarik Sukendro sebagai Asintel I KSAD. Nyatanya, Sukendro tak mengecewakan.


Pada 1957, saat perwira-perwira daerah resah dengan kebijakan Jakarta dan berniat menuntut opsi otonomi, Sukendro--atas perintah Pak Nas--menggelar operasi intelijen. Orang-orangnya masuk ke daerah dan menginfiltrasi pola pikir para perwira di daerah.


Hasilnya, saat suasana memuncak, praktis hanya komandan di Sumatra (PRRI) dan Sulut (Permesta) yang menyatakan diri berpisah dari Indonesia.


Tak hanya dalam lingkup nasional kiprah Sukendro. Seiring dengan tugas belajar yang diperolehnya di Amerika Serikat (AS), ia juga sukses menjalin kontak dengan CIA.


Beberapa program kerjasama TNI dan CIA, mampir lewat tangannya. Sampai-sampai ada anggapan pada masa itu, sosok Sukendro-lah temali utama yang menghubung Nasution dan juga Achmad Yani dengan CIA.


Bahkan dalam salah satu versi skenario Gestok, karena kecerdasan dan lobi baiknya dengan CIA, Sukendro disebut-sebut sebagai salah satu orang yang layak dicurigai sebagai dalang, seperti disebut dalam buku "Menguak Misteri Kekuasaan Soeharto" karangan FX. Baskara Tulus Wardaya


Tapi kenapa dia menjadi target G30S?


Sukendro termasuk sosok penting di tubuh militer. Namanya masuk dalam grup jenderal elite yang dekat dengan Nasution maupun Yani. Belakangan grup ini dikenal sebagai Dewan Jenderal.


Anggotanya 25 orang, namun empat motornya adalah Mayjen S Parman, Mayjen MT Haryono, Brigjen Sutoyo Siswomihardjo, dan Brigjen Sukendro sendiri.


Grup ini aktif melakukan counter politik untuk menandingi dominasi PKI. Bagi PKI, perwira intelektual yang satu ini adalah bahaya laten. Sayangnya, Sukarno meminta Sukendro menjadi anggota delegasi Indonesia untuk peringatan Hari Kelahiran Republik Cina, 1 Oktober 1965.


Selamatlah dia dari korban penculikan. Selepas peristiwa itu, peran Sukendro mulai tersisih oleh kiprah Ali Moertopo. Dia tidak bisa membendung jaring-jaring intelijen Ali yang kemudian mempercepat keruntuhan Sukarno.


Namun, setidaknya, Sukendro masih mencoba berupaya. Apa yang disebut mantan Dubes Kuba dan juga teman dekat Soekarno, AM Hanafi, dalam biografinya memperlihatkan hal itu.


Pada 11 Maret 1966, ketika Presiden diikuti para waperdam tergopoh-gopoh menuju Bogor karena takut dengan Pasukan Kemal Idris, Sukendro menyarankan AM Hanafi untuk mengejar presiden dan menempelnya di mana pun juga Soekarno berada.


“Jangan tinggalkan Bapak sendirian,” kata Sukendro. Sepertinya insting intelijen Sukendro masih cukup tajam untuk membaca arah zaman.


Sayang, AM Hanafi hanya bisa menyesal karena tak kebagian helikopter pada hari itu. Petang itu juga juga utusan Soeharto berhasil mendapatkan surat penyerahan kekuasaan (Supersemar).


Ketika Soeharto naik ke puncak kekuasaan, bintang Sukendro praktis redup. Namun, meski tenggelam ia tak lantas terdiam.


Dalam sebuah kursus perwira di Bandung, dia secara mengejutkan mengakui keberadaan Dewan Jenderal. Akibatnya, Soeharto yang notabene juga rekan dekatnya, lewat tangan Pangkopkamtib Jenderal Sumitro menggiringnya untuk ikut merasakan dinginnya sel RTM Nirbaya Cimahi selama 9 bulan. Tentunya tanpa pengadilan.


Lepas dari tahanan, Sukendro ditampung Gubernur Jateng, Supardjo Rustam. Dia diberi kepercayaan mengelola perusahaan daerah Jateng. 


Meski demikian, radar Soemitro tak serta merta mendepaknya. Setiap kali terdengar ada gerakan antipemerintah, Sukendro adalah orang pertama yang didatangi Soemitro.


Baca artikel selengkapnya di sini https://intisari.grid.id/read/033898672/brigjen-sukendro-lolos-jadi-target-g30s-tapi-disingkirkan-soeharto-karena-akui-adanya-dewan-jenderal


#ahmadsukendro #G30S #ordebaru #soeharto


Setiadi Reksoprodjo

Setiadi Reksoprodjo, menteri zaman Sukarno yang dipenjara Orde Baru pasca-G30S tanpa proses pengadilan karena setia pada Bung Karno, dapat rekor MURI sebagai menteri termuda di Indonesia


Setiadi Reksoprodjo dinobatkan sebagai menteri termuda sepanjang sejarah Indonesia. Dia jadi menteri di zaman Bung Karno saat usianya masih 25 tahun.


Tapi naas, seperti banyak pejabat di masa Orde Lama, Setiadi Reksoprodjo menjadi salah satu menteri di zaman Bung Karno yang kemudian dipenjara oleh Orde Baru ... tanpa proses pengadilan.


Pada 1976. Pemerintah Orde Baru, sebagaimana dikutip dari KompasID, membebaskan sekitar 550 ribu tahanan politik (tapol) golongan C. Setahun kemudian, atau tepatnya pada 20 Desember 1977, menyusul 10 ribu tapol yang bebas.


Tapol-tapol itu ditahan di sejumlah instalasi rehabilitasi (inrehab), termasuk tapol di Pulau Buru. 


Di antara mereka ada tiga mantan menteri era Kabinet Seratus Menteri yaitu A Astrawinata (Menteri Kehakiman), Soemardjo (Menteri Pendidikan Dasar dan Kebudayaan), dan S Reksoprodjo (Menteri Pekerjaan Umum Tenaga Listrik).


Setiadi Reksoprodjo, yang dikenal sebagai menteri termuda dalam sejarah Indonesia, adalah salah satu menteri era Bung Karno yang dipenjara oleh Orde Baru setelah huru-hara 30 September 1965.


Pada 3 Juli 1947, Amir Sjarifoeddin ditunjuk sebagai Perdana Menteri Indonesia. Setiadi yang ketika itu masih 25 tahun 7 bulan diangkat menjadi Menteri Penerangan dalam Kabinet Amir Sjarifuddin I yang menjadikannya sebagai menteri termuda dalam kabinet itu – dan termuda sepanjang sejarah Indonesia. 


Meski bukan anggota partai, pada 1954, Setiadi mencalonkan diri sebagai anggota Konstituante lewat PKI. Dia dapat nomor urut 22 untuk mewakili Jawa Barat dan akhirnya terpilih.


Setelah Dewan Konstituante dibubarkan oleh Bung Karno lewat Dekrit Presiden 5 Juli 1959, Setiadi diangkat oleh Bung Karno menjadi Delegasi Daerah Jakarta untuk Majelis Konsultatif Rakyat.


Setiadi dilantik pada 15 September 1960 dan menjabat hingga pengangkatannya sebagai menteri.


Pada 28 Mei 1965, Presiden Soekarno melakukan reorganisasi Kabinet Dwikora. Menteri Pekerjaan Umum dan Tenaga Listrik yang sebelumnya berada di bawah Kompartemen Pembangunan, ditingkatkan menjadi Kompartemen.


Dengan begitu, beberapa kementerian baru dibuat. Salah satunya adalah Kementerian Urusan Listrik dan Ketenagaan dan Setiadi Reksoprodjo ditunjuk sebagai menterinya.


Pada Kabinet Dwikora II, Setiadi ditunjuk lagi untuk jabatan yang sama – meski mendapat protes dari para pegawai di kementerian tersebut. Mereka menuntut Setiadi mundur.


Tuntutan tersebut muncul karena tim skrining militer menyebut Setiadi memberikan dukungan kepada Sentral Organisasi Buruh Seluruh Indonesia (SOSBI) dan aktivitasnya Himpunan Sarjana Indonesia (HIS) – dua organ yang dianggap berafiliasi dengan Partai Komunis Indonesia (PKI).


Lalu pada 18 Maret 1966, Setiadi bersama 14 menteri lainnya antara lain Subandrio (Wakil Perdana Menteri Pertama), Chaerul Saleh (Wakil Perdana Menteri Ketiga), A. Astrawinata (Menteri Kehakiman), Oei Tjoe Tat (Menteri Negara), Achadi (Menteri Transmigrasi/ Koperasi), dan Jusuf Muda Dalam (Gubernur Bank Indonesia) ditangkap oleh rezim Suharto karena kesetiaan mereka kepada Bung Karno.


Setiadi kemudian dipenjara di Rumah Tahanan Nirbaya tanpa proses pengadilan. Dia dibebaskan hampir 12 tahun kemudian, atau tepatnya pada 20 Desember 1977. Setelah bebas, Lurah Menteng menolak memberinya KTP.


Gubernur Jakarta saat itu, Ali Sadikin, sampai turun tangan dan menginstruksikan Lurah untuk mengunjungi Setiadi dan memberinya KTP.


Setiadi meninggal dunia pada 28 Juli 2010 di rumahnya di Menteng, Jakarta Pusat. Dia dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata.


Baca artikel selengkapnya di sini https://intisari.grid.id/read/034412413/setiadi-reksoprodjo-menteri-termuda-indonesia-yang-dipenjara-orde-baru-tanpa-proses-pengadilan-pasca-g30s


#setiadireksoprodjo #G30S #ordebaru

Profil Kaldam sejarah

 PROFIL KAMPUNG MOJO 2026


Pembuatan Profile Kampung Mojo RW 10 Kota Surabaya 

Profile Creation Of Mojo Village RW 10 Surabaya City

Rezzylina Dwi Akhirulyati 1

, Muhammad Yasin 2

1,2 Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya, Jawa Timur 

Korespondensi Penulis : rezzylina.sisk@gmail.com

Article History: 

Received: 02 Mei 2024 

Accepted: 09 Juni 2024 

Published: 30 Juni 2024 

Abstract: A village profile is needed to provide an accurate, 

comprehensive and integral picture of the village's potential and 

level of development. Through the University's Real Work Lecture 

activities on August 17 1945, we tried to help Kalidami RW 10 

Village located in Surabaya City, East Java Province in an effort to 

create a village profile. Based on problem identification, the profile 

of Mojo RW 10 Village contains some information on the number of 

existing UMKM. However, there is some data that is still not 

complete or updated. For example, data that has not been updated 

is about Waste Generation, Village Profile, Waste Savings, etc. 

Therefore, the objectives of this service activity are: 1) creating a 

profile of Mojo RW 10 Village which contains complete village 

potential data and 2) presenting profile data of Mojo RW 10 Village 

which can be accessed in printed and electronic versions. The 

methods used are secondary data collection, surveys and interviews. 

Evaluation of this activity is carried out directly during the profile 

creation activity, so that output can be produced that meets the 

wishes of the target audience. The output of this activity is a printed 

book on the profile of Mojo RW 10 Village which is one of the 

documents available at the RW 10 hall and a video profile of Mojo 

RW 10 Village which has been uploaded on social media. 

Keywords: Village Profile, Data 

Completeness, Potential, Planning, 

Development




Abstrak 

Profile kampung diperlukan untuk mengetahui gambaran potensi dan tingkat perkembangan kampung yang 

akurat, komprehensif, dan integral. Melalui kegiatan Kuliah Kerja Nyata Universitas 17 Agustus 1945 berusaha 

membantu Kampung Kalidami Rw. 10 yang terletak di Kota Surabaya Provinsi Jawa Timur dalam upaya 

pembuatan profil kampung. Berdasarkan identifikasi permasalahan, profil Kampung Mojo RW 10 telah memuat 

beberapa informasi data jumlah UMKM yang ada. Namun, terdapat beberapa data yang masih belum lengkap atau 

terbaharui. Sebagai contoh data belum terbaharui adalah data tentang Timbulan Sampah, data Profile Kampung, 

data Tabungan Sampah, dsb. Oleh karena itu, tujuan dari kegiatan pengabdian ini adalah: 1) pembuatan profil 

Kampung Mojo RW 10 yang memuat data potensi kampung secara lengkap dan 2) menyajikan data profil 

Kampung Mojo RW 10 yang dapat diakses dalam versi cetak maupun elektronik. Metode yang digunakan adalah 

pengumpulan data sekunder, survei, dan wawancara. Evaluasi dari kegiatan ini dilakukan secara langsung pada 

saat kegiatan pembuatan profil, sehingga dapat dihasilkan luaran yang sesuai dengan keinginan khalayak sasaran. 

Luaran dari kegiatan ini berupa hasil cetak buku profil Kampung Mojo RW 10 menjadi salah satu dokumen yang 

tersedia di balai RW 10 dan video profil kampung Mojo RW 10 yang telah diunggah di media social

Kata Kunci: Profil Desa, Kelengkapan Data, Potensi, Perencanaan, Pembangunan 

PENDAHULUAN 

Pembangunan merupakan suatu proses multidimensi yang diantaranya mencakup 

perubahan tatanan sosial, perubahan perilaku di masyarakat, dan perubahan di dunia 

kelembagaan nasional. Arah dan rencana yang matang sesuai dengan yang diinginkan 

merupakan hasil transformasi dari perumusan berbagai kebijakan dengan tujuan 

meningkatkan kualitas dan kesejahteraan hidup masyarakat adalah wujud perubahan sosial, 

ekonomi, budaya, dan keputusan politik dalam pembangunan (Koronakos et al., 2020;


Pratomo & Sumargo, 2016). Hal ini berdasarkan fakta bahwa dalam mengentaskan 

kemiskinan dan menaikkan laju pembangunan di masyarakat, para pengambil kebijakan 

diharapkan untuk memahami dan mempertimbangkan berbagai dimensi seperti dimensi 

sosial, politik, budaya, lingkungan, pendidikan, kesehatan, agama, dan perilaku. 

Pemanfaatan lahan, penataan kota dalam membantu memperbaiki degradasi 

lingkungan, penggunaan metode yang efektif dalam bisnis, pemberdayaan masyarakat 

adalah cara yang dapat dilakukan sehingga pembangunan tersebut dapat dinikmati dan 

tidak hanya pada saat pembangunan dilakukan, tetapi juga untuk jangka panjang, dan 

yang berkeadilan bagi masyarakat. Untuk tercapainya tujuan pembangunan yang berkelanjutan, 

sangat diperlukan adanya persiapan dan rencana yang memperhatikan ekologis dengan 

melaksanakan peninjauan terhadap kondisi diwilayah perkotaan tersebut. 

Promosi dan penyebaran informasi ke masyarakat luas merupakan hal yang harus 

diperhatikan karena menjadi salah satu faktor penunjang tercapainya pembangunan. Pada 

era globalisasi sekarang, teknologi informasi merupakan media yang sangat efektif sebagai 

sarana promosi, penyampaian informasi, dan edukasi masyarakat. Media promosi dan 

informasi berkembang dengan sangat pesat seiring dengan perkembangan teknologi, yaitu 

dengan semakin maraknya penggunaan Internet of Things (IoT). Penggunaan media visual 

menjadi prioritas karena pesan yang disampaikan tidak hanya melalui suara tetapi juga 

melalui gambar-gambar yang menarik. Juga tidak dapat dipungkiri bahwa hampir semua 

kalangan masyarakat memahami dan mencerna lebih baik semua informasi yang disampaikan 

melalui media komunikasi visual dibandingkan media audio, atau cetak (M. Budiarto et 

al., 2012;Guntoro et al., 2021; Rimayanti et al., 2019). 

Kebijakan pemerintah dalam upaya mengawasi pemerataan pembangunan sejak 

diberlakukan Otonomi Daerah melalui Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 13. Tahun 2012 

tentang monografi desa/ kelurahan dan Per mendagri No.12 Tahun 2007 tentang pedoman 

penyusunan dan pendayagunaan data profil desa dan kelurahan. Menimbang bahwa untuk 

mendapatkan gambaran potensi dan tingkat perkembangan desa yang akurat, lengkap dan 

holistik, perlu disusun data profil desa dan kelurahan (Budiman, 2016). Menteri Desa, 

Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi, mengeluarkan Peraturan Menteri Nomor 

21 Tahun 2020 tentang Pedoman Umum Pembangunan Desa dan Pemberdayaan Masyarakat 

Desa. 

Desa merupakan lembaga pemerintahan yang berada paling bawah dalam sistem 

pemerintahan Republik Indonesia. Asal mula kata desa berasal dari bahasa sansekerta Deshi 

yang berarti tanah kelahiran atau tanah tumpah darah, (Widodo, 2015). Desa atau dikenal


dengan istilah kampung di wilayah Kota Surabaya. Menurut Undang-undang nomor 6 Tahun 

2014 tentang Desa dapat diartikan bahwa desa adat atau yang disebut dengan nama lain 

selanjutnya disebut Desa adalah kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas wilayah 

yang berwenang untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintahan, kepentingan 

masyarakat setempat berdasarkan prakarsa masyarakat, hak asal usul, dan/atau hak 

tradisional yang diakui dan dihormati dalam sistem pemerintahan Negara Kesatuan 

Republik Indonesia, (Ilham, Muttaqin, & Idris 2020). 

Kelurahan Mojo merupakan sebuah kelurahan di wilayah Kecamatan Gubeng, Kota 

Surabaya, Provinsi Jawa Timur. Kelurahan Mojo menaungi 13 RW dan salah satunya ialah 

Kampung Kalidami Rw. 10 yang terletak di Kota Surabaya, Provinsi Jawa Timur dengan 

menaungi RT 01, RT 02, RT 03, RT 04, dan RT 05. Luas wilayah RW 10 yaitu sekitar 35.000 

??2

. Batas wilayah RW 10 di sebelah Utara dengan RW 08, di sebelah Timur dengan RW 12, 

di sebelah Selatan dengan RW 11, dan di sebelah Barat dengan RW 09. Jumlah KK di wilayah 

RW 10 sebanyak 272 KK dengan 819 jiwa (laki laki = 385 jiwa dan perempuan = 434 jiwa). 

Di wilayah RW 10 terdapat 34 UMKM di bidang ekonomi dengan 3 kategori yaitu kategori 

jasa sebanyak 7 usaha, kategori makanan dan minuman sebanyak 16 usaha, dan kategori 

produksi sebanyak 11 usaha. Di wilayah RW 10 dalam bidang kesehatan merupakan wilayah 

yang termasuk bebas Bayi Stunting, TBC, dan ODF. 

Profil desa dan kelurahan diperlukan untuk mengetahui gambaran potensi dan tingkat 

perkembangan desa dan kelurahan yang akurat, komprehensif dan integral seperti dinyatakan 

dalam Permendagri Nomor 12 Tahun 2007 tentang Pedoman Penyusunan dan Pendayagunaan 

Data Profil Desa dan Kelurahan. Profil desa dan kelurahan merupakan gambaran menyeluruh 

tentang karakter desa dan kelurahan yang meliputi data dasar keluarga, potensi sumber daya 

alam, sumber daya manusia, kelembagaan, prasarana dan sarana serta perkembangan kemajuan 

dan permasalahan yang dihadapi desa dan kelurahan. 

Profil desa dan kelurahan harus dapat berfungsi sebagai sumber informasi potensi desa 

dan kelurahan. Oleh karena itu, data profil haruslah tersedia, lengkap dan akuntabel. 

Ketersediaan, kelengkapan dan akuntabilitas data merupakan indikator evaluasi terhadap 

kualitas data profil (Achsin, dkk., 2015). Lebih lanjut, Putra dan Parwata (2013) menambahkan 

bahwa ketersediaan data. yang lengkap, benar adanya dan dapat dipertanggung jawabkan 

merupakan suatu elemen penting dalam perencanaan program pembangunan dan 

pemberdayaan masyarakat. 

Penyusunan profil Kampung Mojo RW 10 ini sangat penting dan bermanfaat bagi 

kampung setempat dalam upaya pembaharuan data. Dapat diketahui, bahwa ketersediaan data


yang terdapat di kampung masih cenderung lawas. Berdasarkan penelusuran pada situs resmi 

Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia Direktorat Jenderal Bina Pemerintahan Desa 

Data Pokok Desa/ Kelurahan belum ditemukan data Kampung Mojo RW 10 sehingga 

terkadang data  data yang ada sudah tidak sesuai dengan kondisi terkini di lapangan. Hal ini 

disebabkan terbatasnya Sumber Daya Manusia (SDM) dalam pemanfaatan teknologi yang 

sudah semakin canggih. Sehingga dari kegiatan pendampingan ini dapat menghasilkan profil 

Kampung Mojo RW 10 terbaru. 

Dengan profil kampung Mojo RW 10, Perangkat Kelurahan/Kampung dan 

masyarakat dapat memahami semua aspek data yang relevan dengan permusyawaratan 

kampung atau tentang rencana pembangunan kampung Mojo RW 10 yang sesuai dengan 

aspirasi dan kepentingan masyarakat. Tidak ada atau minimnya data kampung, membuat 

kampung gagal menyusun perencanaan pembangunan yang baik dan berkualitas sehingga desa 

sulit merumuskan kebijakan, program dan kegiatan yang sesuai dengan aspirasi dan 

kepentingan masyarakat. Agar masyarakat dapat mengawasi, sehingga pembangunan kampung 

tak hanya bersandar pada kehendak kepala RW dan perangkat lainnya. 

METODE 

Kegiatan dilaksanakan di Kelurahan Kelurahan Mojo Rw.10 Rt.02, Kecamatan 

Gubeng, Kota Surabaya Jawa Timur. Kegiatan dilaksanakan pada tanggal 12 November 2023 

secara offline. Peserta yang mengikuti kegiatan adalah perwakilan dari setiap RT yang ada di 

RW 10 Kampung Mojo dan juga perwakilan Karang Taruna RW 10 Kampung Mojo. Kegiatan 

yang berupa pengumpulan data sekunder, survei, dan wawancara dilakukan mulai minggu 

terakhir bulan Oktober 2023 hingga minggu pertama bulan November 2023. Kegiatan FGD 

dilakukan pada tanggal 05 November 2023 di Balai RW 10 Kampung Mojo yang dihadiri oleh 

perwakilan dari setiap RT yang ada di RW 10 Kampung Mojo dan juga perwakilan Karang 

Taruna RW 10 Kampung Mojo. 

Khalayak Sasaran 

Khalayak Sasaran dari kegiatan ini adalah masyarakat Kampung Mojo RW 10 Kota 

Surabaya pada umumnya dan perangkat Kampung pada khususnya. Dalam pelaksanaan 

pengabdian, tim pengabdian akan bermitra dengan Perangkat Kampung beserta Karang Taruna 

RW 10 Kampung Mojo RW 10 Kota Surabaya. 

Metode Pengabdian 

Permendagri Nomor 12 Tahun 2007 menyebutkan bahwa profil desa dan kelurahan 

terdiri atas data dasar keluarga, potensi desa dan kelurahan, dan tingkat perkembangan desa


dan kelurahan. Potensi desa dan kelurahan terdiri atas data sumber daya alam, sumber daya 

manusia, kelembagaan, prasarana dan sarana Langkah-langkah dalam penyusunan profil desa 

dan kelurahan adalah sebagai berikut: 

1. penyiapan instrumen pengumpulan data; 

2. persiapan untuk kelompok kerja tentang pembuatan profil desa/kelurahan; 

3. pelaksanaan pengumpulan data; 

4. pengolahan data; dan 

5. publikasi data profil desa dan kelurahan 

Sesuai dengan Permendagri tersebut, langkah pertama dalam kegiatan pengabdian 

masyarakat ini dilakukan dengan mengumpulkan data yang telah tersedia untuk kemudian 

diidentifikasi kekurangan data yang diperlukan. Langkah kedua dilakukan dengan persiapan 

kelompok kerja mahasiswa dalam pembuatan profile kampung/kelurahan. Langkah ketiga 

hingga keempat dilakukan oleh tim mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) dan Dosen 

Pembimbing Lapangan (DPL) pengabdian serta dukungan dari perangkat Kampung Mojo RW 

10. Langkah kelima diwujudkan dengan membuat profil desa dalam dua versi, yaitu versi cetak 

dan versi video yang dapat disebarluaskan melalui media sosial dan Platform Digital Kampung 

Mojo RW 10 Kota Surabaya. 

Indikator Keberhasilan 

Indikator dan target capaian dari kegiatan pengabdian ini terdiri dari dokumen profil 

kampung, video profil kampung, laporan akhir pengabdian dan publikasi hasil pengabdian 

dengan indikator capaian sebagai berikut:

No Jenis Luaran Indikator Capaian 

1. Dokumen Profile Kampung Versi Cetak Dokumen Profil Kampung (Buku) 

2. Video Profil Kampung Video Profil Kampung 

3. Laporan Akhir Pengabdian Presentasi Hasil Pengabdian Dalam Seminar 

4. Publikasi Hasil Pengabdian Naskah Publikasi Hasil Pengabdian 

HASIL DAN PEMBAHASAN 

Kegiatan 1 

Berdasarkan identifikasi permasalahan, profil Kampung Mojo RW 10 Kota Surabaya 

terbaru telah memuat beberapa data dan informasi data jumlah UMKM yang ada di Kampung 

Mojo RW 10. Namun, terdapat beberapa data yang masih belum lengkap atau terbaharui. 

Sebagai contoh data belum terbaharui adalah data tentang Timbulan Sampah, data tentang 

Profile Kampung, data tentang Tabungan Sampah, dsb. Beberapa data yang tidak lengkap maka


dapat dilengkapi dengan data yang diperoleh dari wawancara dan survei di lapangan. 

Konfirmasi data ke kepala RW 10 Kampung Mojo dan kader kampung dilakukan setelah draft 

buku profil kampung dibuat agar diperoleh dokumen cetak profile kampung yang memuat datadata terbaru dan valid. 

Dokumen cetak profil kampung terdiri dari 70 halaman dengan ukuran kertas B5 yang 

dicetak dalam bentuk buku. Buku profil memuat data yang telah diperbaiki dan beberapa 

tambahan informasi sebagai hasil dari FGD, yaitu data tentang Profile Kampung, Data 

Timbulan Sampah, Data Tabungan Sampah, Data Tanaman, Data UMKM, dsb. Foto dan 

gambar sebagai ilustrasi dalam buku profil juga dipilih berdasarkan masukan peserta FGD. 

Dengan demikian dapat dihasilkan buku profil yang lebih baik sebagai pengembangan draft 

buku sebelum FGD dan mampu memenuhi keinginan perangkat kampung beserta kadernya. 

Kegiatan 2 

Seperti halnya pembuatan profil kampung versi cetak, pembuatan profil kampung 

dalam bentuk video juga dilakukan dengan menggunakan data dari Profil Kampung dan 

Kelurahan serta dengan langkah-langkah yang sama. Sebagai langkah tambahan adalah survei 

untuk melakukan pengambilan gambar untuk dimuat dalam video. File video profil kampung 

memuat wawancara dengan Kepala RW 10 Kampung Mojo, kondisi wilayah desa, serta datadata yang dinarasikan. Durasi video adalah 3 menit. Video akhir telah memuat perbaikan data 

dan tambahan informasi dari usulan usulan kader pengurus kampung Mojo RW 10. Perbaikan 

video meliputi pengambilan gambar lokasi yang disarankan oleh pengurus kampung, yaitu 

lokasi-lokasi yang menjadi penanda desa, terutama lokasi wisata. Dengan demikian, dapat 

dihasilkan video yang lebih akurat dalam memberikan gambaran tentang Kampung Mojo RW 

10 Kota Surabaya. 

Gambar Video Profile Kampung Mojo RW 10


Keberhasilan 

Kepala RW 10 Kampung Mojo Kota Surabaya menyatakan bahwa Kampung Mojo 

memerlukan profil kampung yang lengkap sebagai dasar penentuan tingkat potensi umum dan 

pengembangan kampung serta sarana publikasi data. Ditambahkan bahwa data kampung masih 

tergolong tidak lengkap terutama disebabkan lemahnya administrasi data di tingkat dusun. 

Oleh karena itu, pembuatan buku dan video profil ini disambut baik oleh masyarakat Kampung 

Mojo RW 10 Kota Surabaya pada umumnya dan perangkat kampung beserta kadernya. 

KESIMPULAN 

Secara keseluruhan program pengabdian kepada masyarakat Pembuatan Profil 

Kampung Mojo RW 10 Kota Surabaya telah berlangsung sesuai dengan jadwal yang telah 

ditentukan. Luaran berupa buku profil dan video telah disesuaikan dengan data, saran serta 

masukan-masukan dari masyarakat, kepala RW 10 dan Kader kadernya sehingga diharapkan 

dapat mengakomodasi keinginan dan kebutuhan akan profil kampung yang lengkap dan 

mendukung sistem informasi. Hasil cetak buku profil Kampung Mojo RW 10 Kota Surabaya 

telah menjadi salah satu dokumen yang tersedia di kantor pengurus RW. Video profil desa 

telah diunggah di media sosial yang dapat diakses oleh umum. Sebagai langkah selanjutnya, 

administrasi data di tingkat RW perlu ditingkatkan. Perlu dilakukan pelatihan dan 

pendampingan administrasi data di tingkat RW yang dimulai dari survei hingga pengarsipan 

agar dapat diperoleh data yang valid dan mencerminkan kondisi yang sebenarnya.



DAFTAR REFERENSI 

Aprilia, N. S., & Chandra, O. S. A. (2013). Aplikasi web pada Desa Wisata Tambi Yogyakarta 

sebagai media promosi. AMIKOM Yogyakarta. 

Rahman, A., Hidayat, M. T., & Mustika, F. (2020). Pelatihan dan pendampingan masyarakat 

desa dalam pembuatan video profil Kampung Kota Lintang Kabupaten Aceh Tamiang. 

Pengabdian, 2, 231239. 

Sugiarti, Resti Septikasari, & Amanah, D. A. (2023). Pendampingan masyarakat melalui 

kegiatan pembuatan website dan profil Desa Rejo Mulya dalam KKN tematik 

Universitas Nurul Huda. ENGAGEMENT: Jurnal Pengabdian Masyarakat, 2(1), 22

27. https://doi.org/10.58355/engagement.v2i1.16 

Wahyuni, N., Djonnaidi, S., Miladiyenti, F., & Ramadhani, A. P. (2023). Pemanfaatan video 

profil Kampung Kerajinan Daur Ulang Sampah dan Seribu Keripik sebagai sarana 

promosi dan pengembangan kampung tematik Kelurahan Batu Gadang Kecamatan 

Lubuk Kilangan Padang. J-ABDI: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat, 2(11), 6867

6874. https://doi.org/10.53625/jabdi.v2i11.5400 

Yumame, J., Ilham, I., Renyaan, D., & Sapioper, H. (2020). Membangun kampung berbasis 

data (Pendampingan penyusunan monografi dan profil Kampung Yobeh Distrik 

Sentani Kabupaten Jayapura). Community Development Journal: Jurnal Pengabdian 

Masyarakat, 1(3), 246253. https://doi.org/10.31004/cdj.v1i3.965




ASAL USUL KAMPUNG KALIDAMI

RW X MOJO KEC. GUBENG SURABAYA


Sebelum tahun 1950, Kalidami merupakan hamparan tanah yang terdiri dari Rawa dan Persawahan. Kondisi ini diperkuat adanya Sungai yang merupakan area untuk pengairan sawah. Pada akhirnya sungai yang diberi nama Kalidami ini membelah perkampungan menjadi dua Wilayah atau RW yang dulunya disebut RK (Rukun Kampung).

RW IX sebagai kampung terbentuk dari hasil pengurukan Sampah. Bahkan di sisi Sebelah Selatan yang juga dekat dengan sungai terdapat perumahan pegawai KMS (Kotamadya Madya Surabaya).

Pada tahun 1970-an, Kota Surabaya mengalami masa transisi besar dari tata kota peninggalan kolonial menuju era modern. Pemerintah kota mulai memperluas kawasan pemukiman, menata ulang pusat industri, serta menghentikan operasional moda transportasi lama secara bertahap untuk digantikan oleh kendaraan bermotor jalan raya. Transportasi dan Akhir Era TremAkhir trayek trem: Jalur trem uap dan listrik yang sudah ada sejak zaman Belanda resmi berhenti total pada tahun 1978 akibat kalah saing dengan mobil serta bus.

Dominasi jalan raya: Transportasi pribadi dan bus kota mulai mendominasi jalan-jalan protokol Surabaya. Perumahan dan Tata Kota Proyek perumahan rakyat: Pemerintah kota membuka dan membangun area pemukiman baru, salah satunya di Kelurahan Mojo untuk menampung warga.

Awal mula kawasan real estat: Era 1970-an menjadi titik awal perkembangan perumahan swasta atau real estat di wilayah pinggiran. Industri dan Ekonomi Pusat industri baru: Kawasan industri mulai tumbuh dan menjamur di berbagai sudut kota seiring fokus pembangunan nasional.

Perubahan ejaan: Penulisan nama kota resmi disederhanakan dari Soerabaja atau Surabaja menjadi Surabaya yang baku.


Berbeda dengan Kampung RW X yang terbentuk dari hasil pengurukan oleh gragal/bangunan. Saat itu kampung di RW X belum ada akses jalan untuk dilalui oleh kendaraan Roda 4.

Secara permanen Jembatan penghubung Kalidami Barat (RW IX) dan Kalidami Timur (RW X), dapat diakses oleh Roda 4 sejak CV HSS sukses menyelesaikan pembangunan Jembatan Kalidami di Surabaya dalam waktu tepat 77 hari, terhitung sejak tanggal 30 Agustus 1974 hingga 15 November 1974.Proyek infrastruktur bersejarah ini merupakan salah satu bagian penting dari penataan jaringan jalan dan aksesibilitas di kawasan Kalidami, Surabaya pada era 1970-an.

Ringkasan Informasi 

Proyek Pelaksana: CV HSS

Nama Proyek: Pembangunan Jembatan Kalidami

Lokasi: Surabaya, Jawa Timur

Tanggal Mulai: 30 Agustus 1974

Tanggal Selesai: 15 November 1974

Total Durasi: 75 hari kalender


Kampung Kaldam sejarah

 [24/7 15.00] rudysugengp@gmail.com: Jumat, 24 Juli 2025


Menurut Penuturan pak Trimo, usai Jumatan di pos RT 4, sambil berdiri, " Saya lahir 1938, tapi umur lahir dibuat tahun 1943.

Datang ke Kampung Kalidami Sawah dan tegalan tahun 1953.

Saya pindahan dari Driyorejo, Tenaru.


Saat 1955, Pemilu I sudah ikut mencoblos."


Pegawai Dinas Kebersihan yang diangkat di KMS sejak 1961 ini baru mengakhiri tugasnya tahun 1997.


Beliau tidak ikut menempati rumah Pegawai KMS di RW IX, karena menurut Beliau, rumah Dinas itu untuk Pegawai kelas atas.


Masih menurut pak Trimo, awalnya terdapat RT 1 sampai RT V yang dimulai dari jalan paling Utara hingga Selatan, di RW X.


"Kondisi RW IX, Mojo Kalidami masih dalam posisi Urukan sampah.


Penghubung berupa Jembatan Kayu.


Berbeda dengan RW X, berupa urukan tanah yang saat itu, posisinya miring dari Barat ke Timur", cerita pak Andi


"Kampung Jojoran, merupakan kebon dengan tanaman keras (pohon-pohon besar).

Jojoran Baru, masih sawah," kenang pak Trimo.


Keberadaan kampung Kalidami di RW X, lebih tua secara hunian yaitu sejak tahun 1950.


Pak Andi (Ketua RT 01 Mojo,  Kalidami, RW X), saat melayat di rumah Ibu Alim, Kalidami No. 59, 7 Juli 2026 bercerita, "Dulu Bapaknya merupakan salah satu orang yang membagi Kavling di RW X sekitar 1950. Bapaknya bersama pak Mardi Kromo (RT 6 No.2) membuat lotre untuk penempatan rumah di lokasi ini !"


"Ada Jembatan kayu, penghubung Gang VII dengan RW IX.

Jembatan ini terpaksa dirobohkan karena, anak kecil ada yang masuk ke Sungai Kalidami saat melintas", kenang pak ....(Rumah VII/2).


Jembatan ini sepakat tidak ada sejak 1970.

[24/7 15.30] rudysugengp@gmail.com: Surabaya

*Sekilas Cerita Kampung-Kampung di Surabaya yang Bernilai Sejarah*


Sejarah kampung di Surabaya tidak lepas dari peraturan Wijkenstelsel yang dibuat oleh kolonial Belanda.


Liputan6.com

Diterbitkan:

30 Oktober 2020, 04:00 WIB


(Foto: Liputan6.com/Dian Kurniawan)

Jalan MERR IIC Surabaya, Jawa Timur. (Foto: Liputan6.com/Dian Kurniawan)

Advertisement



Liputan6.com, Jakarta - Sebuah lokasi atau wilayah pasti bisa saja mendapatkan bahkan juga memiliki nama atau 'julukan' yang unik, bisa saja karena sejarah, keseragaman penduduknya, arsitektur bangunan, atau bisa juga karena upaya dari warga yang ingin membuat ciri khas untuk wilayahnya.


Salah satu wilayah di Indonesia memiliki segudang sejarah dan budaya di dalamnya yaitu Surabaya, Jawa Timur.  Kota Pahlawan ini juga memiliki sejumlah nama kampung yang khas.


Sejarah kampung di Surabaya tidak lepas dari peraturan Wijkenstelsel yang dibuat oleh kolonial Belanda, mengharuskan setiap etnis harus mempunyai kampung sesuai etnisnya dan harus mendiami kampung masing-masing.


Sampai akhirnya tercipta kampung Eropa, kampung Arab, Kampung Pecinan dan kampung Bumiputera. Bahkan juga ada kampung-kampung yang juga memiliki julukan tersendiri karena sejarah dari lokasinya.


Berikut sejumlah kampung-kampung di Surabaya yang dikutip dari berbagai sumber antara lain instagram @suroboyo.ku, lovesuroboyo, dan lainnya, ditulis Jumat, (30/10/2020):


1.Kampung Surabayan


Berada di Jalan Surabaya, Kelurahan Kedungdoro, Tegalsari. Merupakan kampung yang sudah ada sejak zaman Majapahit. Bahkan, kampung Surabayan disebut sebagai cikal bakal kota Surabaya.


Kampung Surabayan tercatat sebagai kampung tertua di Surabaya. Namanya termaktub dalam dua kitab, yaitu kitab Sutasoma dan Negarakertagama zaman Kerajaan Majapahit.


*Kampung Ningrat*


Kampung tua Botoputih Surabaya yang berada di Jalan Pegirian, sebelah timur Kampung Ampel ini dulunya merupakan kampung hunian para ningrat. Disebut sebagai Kampung Ningrat karena keberadaannya sangat bersinggungan dengan sejarah Keraton Kerajaan Surabaya.


Di kampung inilah, terdapat Pesarean Sentono Botoputih kebanyakan yang dimakamkan di sini adalah para pemilik darah biru. Mulai dari kyai, Bupati Surabaya zaman dulu, hingga sultan.


*Kampung Pecinan* 


Salah satunya ialah klenteng tertua yang ada di Surabaya. Klenteng ini bernama Hong Tiek Hian yang terletak di terletak di Jl. Dukuh, di Surabaya Utara, di daerah Pecinan. Selain sebagai tempat ibadah klenteng ini pun menjadi tempat menyelenggarakan pertunjukan wayang.

 (Liputan6.com/IG/@surabaya)


Pecinan atau Kampung Cina merujuk kepada sebuah wilayah kota yang mayoritas penghuninya adalah orang keturunan Tionghoa. Kampung Pecinan di Surabaya tersebar di empat kawasan, yaitu Karet, Kapasan, Tambak Bayan, kya kya atau Kembang Jepun, tetapi yang lebih terkenal sebagai kawasan Chinatownnya Surabaya adalah kawasan Kembang Jepun.


Kampung-kampung pecinan di Surabaya tersebut mempunyai keunikan dan kekhasan masing-masing. Sehingga berkembang menjadi tempat wisata terkenal yang kental dengan nuansa Tiongkok.


*Kampung Arab*


Beduk Misterius di Masjid Peninggalan Sunan Ampel (Buat Yahoo)

(Dhimas Prasaja/Liputan6.com)

Kampung Ampel berada di sebuah kawasan dulunya bernama Kampemenstraat, sebelum diubah menjadi jalan KH. Mansyur. Kampung ini termasuk salah satu kampung tua yang ada di Surabaya. 


Kampung ini juga menjadi saksi sejarah penyebaran agama Islam oleh Sunan Ampel di Pulau Jawa dan menjadikan Ampel sebagai pusat penyebaran agama Islam di Surabaya dan Jawa Timur.


Mayoritas penduduknya keturunan Arab dari Hadramaut (Yaman Selatan) yang melakukan migrasi besar-besaran ke Surabaya pada awal tahun 1900an.


*Kampung Eropa*


Kawasan kampung Eropa di Surabaya pada meliputi Jalan Rajawali (Heerenstraat), Jalan Jembatan Merah (Willemstraat) dan Jalan Veteran (Societeitstraat). 


Di kampung tersebut tidak akan lagi ditemukan satu kampung lengkap dengan warga keturunan Eropa di dalamnya. Yang tersisa hanyalah bangunan-bangunan tua bergaya Eropa. 


*Kampung Peneleh*


Kampung Peneleh terletak di kawasan Jalan Peneleh, Surabaya, merupakan salah satu perkampungan tertua yang ada di Kota Pahlawan. 


Kampung Peneleh masih dikenal hingga sekarang karena memiliki berbagai jenis daya tarik. Mulai dari keberadaan rumah tinggal Hadji Oemar Said Tjokroaminoto dan juga ada Masjid Jami' Peneleh yang merupakan peninggalan Sunan Ampel. Di kampung ini juga terdapat makam-makam di tengah pemukiman warga.


*Kampung Keraton*


Kekuasaan Keraton Surabaya resmi berakhir pada 1743. Setelah saat Pakubuwono II menandatangani perjanjian dengan Belanda. Keraton Surabaya berkuasa selama 375 tahun.


Di Surabaya, hampir tidak dijumpai lagi bangunan-bangunan bekas Keraton Surabaya. Dikarenakan dulu Belanda menghancurkan bangunan-bangunan Keraton dan menggantinya dengan bangunan-bangunan bercorak kolonial.


Kampung Keraton berlokasi di Jalan Kramat Gantung Gang Keraton II. Di kampung ini terdapat sisa-sisa bangunan Keraton meskipun tidak banyak. Kampung Keraton juga sudah ditetapkan sebagai salah satu cagar budaya di Surabaya.


*Kampung Dinoyo*


Kampung Dinoyo terletak di pertengahan pusat kota Surabaya merupakan salah satu kampung tua di Surabaya. Sebagai kampung tua sejak zaman kolonial Belanda 1920 kampung Dinoyo hingga kini masih berdiri sebagai bukti sejarah. 


Kampung Dinoyo berdekatan dengan Keputran yang dulu merupakan tempat tinggal puteri-puteri kerajaan atau keraton “Keputren”. Beberapa situs di kampung Dinoyo yang masih ada hingga saat ini, seperti makam Mbah Djojo Prawiro (sesepuh Dinoyo), Balai Rakyat hingga Ponten zaman Belanda.


*Kampung Lawas*

*MASPATI*(+)

Kampung Lawas Maspati berlokasi di dekat Tugu Pahlawan. Kawasan ini dulunya merupakan tempat tinggal para punggawa keraton. Meskipun saat ini telah dikelilingi beberapa bangunan modern, akan tetapi nilai budayanya masih melekat.


Dalam kampung tersebut berdiri rumah milik Raden Soemomihardjo, yang merupakan seorang tokoh Keraton Surakarta yang pernah menjadi ndoro mantri alias mantri kesehatan bagi warga Maspati.


Ada juga Ongko Loro, yaitu bangunan bekas Sekolah Rakyat pada zaman Belanda, atau Rumah 1907 yang dulunya digunakan para pemuda Surabaya untuk menyusun strategi dalam pertempuran 10 November 1945.


(Ihsan Risniawan-FIS UNY)

Tifa

 Dokter Tifa Pertanyakan Alasan Jokowi Marah: yang Kami Teliti Ijazah Unggahan Dian Sandi Tifauzia Tyassuma atau dokter Tifa, terdakwa kasus...