Minggu, 12 Juli 2026

Pah Rev 10

 [6/7 21.51] rudysugengp@gmail.com: 1. Buatkan gambar dan infografis tentang 

Kehidupan Ahmad Yani 


Ahmad Yani lahir di Jenar, Purwodadi, Purworejo pada tanggal 19 Juni 1922 dari pasangan M. Wongsorejo dan istrinya Murtini. Keluarga ini bekerja di sebuah pabrik gula yang milik seorang Belanda. Mulanya Ahmad Yani menempuh pendidikan HIS di Purworejo hanya sampai kelas I, Ia pindah ke HIS Magelang sejak kelas II. Ahmad Yani menamatkan HIS pada 1935 di Bogor dan meneruskan hingga MULO. Ia pindah ke Jakarta untuk menempuh sekolah AMS tapi terhenti karena Perang Dunia II.


Pada tahun 1940, Yani meninggalkan sekolah menengah untuk menjalani pendidikan wajib militer sebagai tentara Hindia Belanda. Sebagai calon perwira, ia mengambil kecabangan/bidang topografi militer di Malang, Jawa Timur, tetapi pendidikan ini terputus karena invasi Jepang pada tahun 1942. Di tahun yang sama, Yani dan keluarganya pindah kembali ke Jawa Tengah.


Ketika Hindia Belanda jatuh ke tangan Jepang, Ia sempat ditangkap oleh pasukan Dai Nippon di Cimahi. Namun ia bebas dan Ahmad Yani kembali ke Purworejo. Pada tahun 1943, ia bergabung menjadi anggota PETA (Pembela Tanah Air) yang dibentuk oleh penguasa Jepang waktu itu dan menjalani pelatihan lanjut di Magelang. Setelah menyelesaikan pelatihan ini, Yani meminta untuk dilatih sebagai komandan peleton PETA dan menerima pendidikan di Bogor, Jawa Barat. Setelah selesai, ia dikirim kembali ke Magelang sebagai instruktur tentara.


Pada tanggal 5 Desember 1944, ia menikah dengan Bandiah Yayu Ruliah, yang dulu pernah menjadi guru mengetiknya. Dari perkawinan ini, mereka dianu­gerahi delapan orang anak.




2. Buatkan gambar dan infografis tentang 

Karier Militer Ahmad Yani 


Setelah Kemerdekaan Indonesia, Yani bergabung dengan tentara republik yang baru terbentuk untuk berjuang melawan Belanda yang membonceng sekutu. Selama bulan-bulan pertama setelah Proklamasi Kemerdekaan, Yani memimpin batalion tentara dan menang dalam pertempuran melawan tentara Inggris di Magelang. Yani kemudian juga mempertahankan Magelang dari tentara Belanda dan mendapat julukan "Juru selamat Magelang". Pencapaian yang juga menonjol dari karier Yani di masa ini adalah serangkaian serangan gerilya yang digencarkan pada awal tahun 1949 untuk mengalihkan perhatian tentara Belanda, sementara Sri Sultan Hamengkubuwono IX dan Letnan Kolonel Soeharto mempersiapkan rencana Serangan Umum 1 Maret 1949 di Yogyakarta.


Setelah pengakuan kedaulatan Indonesia oleh Belanda tahun 1949, Yani pindah ke Tegal, Jawa Tengah. Pada tahun 1952, ia mendapatkan tugas untuk memadamkan pemberontakan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) yang ingin mendirikan negara agama berdasarkan syariat Islam di Indonesia. Untuk menghadapi DI/TII, Yani membentuk pasukan khusus bernama Banteng Raiders. Dalam kurun waktu 3 tahun, pemberontakan DI/TII di Jawa Tengah berhasil dipadamkan.

Banteng Raiders juga berperan dalam hal lain, seperti memberantas PRRI, Permesta, dan pembebasan Irian Barat.


Pada Desember 1955, Yani berangkat ke Amerika Serikat untuk belajar di Komando dan Staf Umum College, Fort Leavenworth, Kansas. Kembali pada tahun 1956, Yani dipindahkan ke Markas Besar Angkatan Darat di Jakarta di mana ia menjadi anggota staf Umum untuk Abdul Haris Nasution. Di Markas Besar Angkatan Darat, Yani menjabat sebagai Asisten Logistik Kepala Staf Angkatan Darat sebelum menjadi Wakil Kepala Staf Angkatan Darat untuk Organisasi dan Kepegawaian.


Pada bulan Agustus tahun 1958, ia memerintahkan Operasi 17 Agustus terhadap Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia di Sumatera Barat. Pasukannya berhasil merebut kembali Padang dan Bukittinggi, dan keberhasilan ini menyebabkan ia dipromosikan menjadi wakil kepala Angkatan Darat ke-2 staf pada 1 September 1962, dan kemudian Kepala Angkatan Darat stafnya pada 28 Juni 1962 dan pada tanggal 21 Juli 1962 sebutan Kepala Staff Angkatan diubah menjadi Menteri/Panglima, sehingga menjadi Menteri/Panglima Angkatan Darat yang langsung bertanggung jawab kepada Presiden. Jenderal Abdul Haris Nasution sebagai pendahaulu Jenderal Yani diangkat menjadi Mengko hankam/KASAB - Menteri Koordinator Pertahanan Keamanan / Kepala Staff Angkatan Bersenjata. Ahmad Yani memegang posisi ini hingga ia gugur dalam G30S.




3. Buatkan gambar dan infografis tentang 

Akhir Hayat Ahmad Yani


Sebagai Presiden, Soekarno bergerak lebih dekat ke Partai Komunis Indonesia (PKI) di awal 60-an. Yani yang sangat antikomunisme, menjadi sangat waspada terhadap PKI, terutama setelah partai ini menyatakan dukungannya terhadap pembentukan Angkatan Kelima dan Soekarno mencoba untuk memaksakannya Nasakom doktrin di militer. Keduanya, Yani dan Nasution menunda-nunda ketika diperintahkan oleh Soekarno pada tanggal 31 Mei 1965 mempersiapkan rencana untuk mempersenjatai rakyat.


Pada dini hari 1 Oktober 1965, Gerakan 30 September mencoba untuk menculik tujuh anggota staf umum Angkatan Darat. Sebuah tim dari sekitar 200 orang mengepung rumah Yani di Jalan Latuhahary No. 6 di pinggiran Jakarta Menteng, Jakarta Pusat. Biasanya Yani memiliki sebelas tentara menjaga rumahnya. Istrinya kemudian melaporkan bahwa seminggu sebelumnya tambahan enam orang ditugaskan kepadanya. Orang-orang ini berasal dari komando Kolonel Latief, yang diketahui Yani, adalah salah satu komplotan utama dalam Komando Gerakan 30 September. Menurut istri Yani, orang-orang tambahan tersebut tidak muncul untuk bertugas pada malam itu. Yani dan anak-anaknya sedang tidur di rumahnya sementara istrinya keluar merayakan ulang tahunnya bersama sekelompok teman-teman dan kerabat. Dia kemudian menceritakan bahwa saat ia pergi dari rumah sekitar pukul 23.00, ia melihat seseorang duduk di seberang jalan seakan menjaga rumah di bawah pengawas. Dia tidak berpikir apa-apa pada saat itu, tetapi setelah peristiwa pagi itu ia bertanya-tanya berbeda. Juga, dari sekitar jam 9 pada malam 30 September ada sejumlah panggilan telepon ke rumah pada interval, yang ketika menjawab akan bertemu dengan keheningan atau suara akan bertanya apa waktu itu. Panggilan terus sampai sekitar 01.00 dan Ahmad Yani mengatakan dia memiliki firasat sesuatu yang salah malam itu.


Yani menghabiskan malam dengan beberapa pertemuan, pukul 7 malam ia menerima seorang kolonel dari KOTI, Komando Operasi Tertinggi. Jenderal Basuki Rahmat, komandan divisi di Jawa Timur, kemudian tiba dari markasnya di Surabaya. Basuki datang ke Jakarta untuk melaporkan kepada Yani pada keprihatinan tentang meningkatnya aktivitas komunis di Jawa Timur. Memuji laporannya, Yani memintanya untuk menemaninya ke pertemuan keesokan harinya dengan Presiden untuk menyampaikan laporannya.


Ketika para penculik datang ke rumah Yani dan mengatakan kepadanya bahwa ia akan dibawa ke hadapan presiden, ia meminta waktu untuk mandi dan berganti pakaian. Ketika penculik menolak ia menjadi marah, menampar salah satu prajurit penculik, dan mencoba untuk menutup pintu depan rumahnya. Salah satu penculik kemudian melepaskan tembakan, membunuhnya secara spontan. Tubuhnya dibawa ke Lubang Buaya di pinggiran Jakarta dan bersama-sama dengan orang-orang dari jenderal yang dibunuh lainnya, disembunyikan di sebuah sumur bekas.


Tubuh Yani, dan orang-orang korban lainnya, diangkat pada tanggal 4 Oktober, dan semua diberi pemakaman kenegaraan pada hari berikutnya, sebelum dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata. Pada hari yang sama, Yani dan rekan-rekannya resmi dinyatakan Pahlawan Revolusi dengan Keputusan Presiden Nomor 111/KOTI/1965 dan pangkatnya dinaikkan secara anumerta dari Letnan Jenderal untuk bintang ke-4 umum (Indonesia:Jenderal Anumerta).


Ibu Yani dan anak-anaknya pindah dari rumah setelah kematian Yani. Ibu Yani membantu membuat bekas rumah mereka ke Museum publik yang berdiri sebagian besar seperti itu pada Oktober 1965, termasuk lubang peluru di pintu dan dinding, dan dengan perabot rumah itu waktu itu. Saat ini, banyak kota di Indonesia memiliki jalan dengan nama Jenderal Ahmad Yani. Selain itu namanya diabadikan untuk Bandar Udara Jenderal Ahmad Yani di Semarang. Nama besar Jenderal Ahmad Yani juga digunakan sebagai nama 2 buah universitas di Indonesia yaitu Universitas Jenderal Achmad Yani yang berada di Cimahi, Universitas Jenderal Achmad Yani Yogyakarta yang berada di Sleman. Kedua Perguruan Tinggi tersebut berada di bawah naungan Yayasan Kartika Eka Paksi yang merupakan Yayasan yang dimiliki TNI Angkatan Darat di mana beliau mengabdi.

[6/7 21.53] rudysugengp@gmail.com: 1. Buatkan gambar dan infografis tentang 

Kehidupan Ahmad Yani 


Ahmad Yani lahir di Jenar, Purwodadi, Purworejo pada tanggal 19 Juni 1922 dari pasangan M. Wongsorejo dan istrinya Murtini. Keluarga ini bekerja di sebuah pabrik gula yang milik seorang Belanda. Mulanya Ahmad Yani menempuh pendidikan HIS di Purworejo hanya sampai kelas I, Ia pindah ke HIS Magelang sejak kelas II. Ahmad Yani menamatkan HIS pada 1935 di Bogor dan meneruskan hingga MULO. Ia pindah ke Jakarta untuk menempuh sekolah AMS tapi terhenti karena Perang Dunia II.


Pada tahun 1940, Yani meninggalkan sekolah menengah untuk menjalani pendidikan wajib militer sebagai tentara Hindia Belanda. Sebagai calon perwira, ia mengambil kecabangan/bidang topografi militer di Malang, Jawa Timur, tetapi pendidikan ini terputus karena invasi Jepang pada tahun 1942. Di tahun yang sama, Yani dan keluarganya pindah kembali ke Jawa Tengah.


Ketika Hindia Belanda jatuh ke tangan Jepang, Ia sempat ditangkap oleh pasukan Dai Nippon di Cimahi. Namun ia bebas dan Ahmad Yani kembali ke Purworejo. Pada tahun 1943, ia bergabung menjadi anggota PETA (Pembela Tanah Air) yang dibentuk oleh penguasa Jepang waktu itu dan menjalani pelatihan lanjut di Magelang. Setelah menyelesaikan pelatihan ini, Yani meminta untuk dilatih sebagai komandan peleton PETA dan menerima pendidikan di Bogor, Jawa Barat. Setelah selesai, ia dikirim kembali ke Magelang sebagai instruktur tentara.


Pada tanggal 5 Desember 1944, ia menikah dengan Bandiah Yayu Ruliah, yang dulu pernah menjadi guru mengetiknya. Dari perkawinan ini, mereka dianu­gerahi delapan orang anak.

[6/7 21.54] rudysugengp@gmail.com: 2. Buatkan gambar dan infografis tentang 

Karier Militer Ahmad Yani 


Setelah Kemerdekaan Indonesia, Yani bergabung dengan tentara republik yang baru terbentuk untuk berjuang melawan Belanda yang membonceng sekutu. Selama bulan-bulan pertama setelah Proklamasi Kemerdekaan, Yani memimpin batalion tentara dan menang dalam pertempuran melawan tentara Inggris di Magelang. Yani kemudian juga mempertahankan Magelang dari tentara Belanda dan mendapat julukan "Juru selamat Magelang". Pencapaian yang juga menonjol dari karier Yani di masa ini adalah serangkaian serangan gerilya yang digencarkan pada awal tahun 1949 untuk mengalihkan perhatian tentara Belanda, sementara Sri Sultan Hamengkubuwono IX dan Letnan Kolonel Soeharto mempersiapkan rencana Serangan Umum 1 Maret 1949 di Yogyakarta.


Setelah pengakuan kedaulatan Indonesia oleh Belanda tahun 1949, Yani pindah ke Tegal, Jawa Tengah. Pada tahun 1952, ia mendapatkan tugas untuk memadamkan pemberontakan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) yang ingin mendirikan negara agama berdasarkan syariat Islam di Indonesia. Untuk menghadapi DI/TII, Yani membentuk pasukan khusus bernama Banteng Raiders. Dalam kurun waktu 3 tahun, pemberontakan DI/TII di Jawa Tengah berhasil dipadamkan.

Banteng Raiders juga berperan dalam hal lain, seperti memberantas PRRI, Permesta, dan pembebasan Irian Barat.


Pada Desember 1955, Yani berangkat ke Amerika Serikat untuk belajar di Komando dan Staf Umum College, Fort Leavenworth, Kansas. Kembali pada tahun 1956, Yani dipindahkan ke Markas Besar Angkatan Darat di Jakarta di mana ia menjadi anggota staf Umum untuk Abdul Haris Nasution. Di Markas Besar Angkatan Darat, Yani menjabat sebagai Asisten Logistik Kepala Staf Angkatan Darat sebelum menjadi Wakil Kepala Staf Angkatan Darat untuk Organisasi dan Kepegawaian.


Pada bulan Agustus tahun 1958, ia memerintahkan Operasi 17 Agustus terhadap Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia di Sumatera Barat. Pasukannya berhasil merebut kembali Padang dan Bukittinggi, dan keberhasilan ini menyebabkan ia dipromosikan menjadi wakil kepala Angkatan Darat ke-2 staf pada 1 September 1962, dan kemudian Kepala Angkatan Darat stafnya pada 28 Juni 1962 dan pada tanggal 21 Juli 1962 sebutan Kepala Staff Angkatan diubah menjadi Menteri/Panglima, sehingga menjadi Menteri/Panglima Angkatan Darat yang langsung bertanggung jawab kepada Presiden. Jenderal Abdul Haris Nasution sebagai pendahaulu Jenderal Yani diangkat menjadi Mengko hankam/KASAB - Menteri Koordinator Pertahanan Keamanan / Kepala Staff Angkatan Bersenjata. Ahmad Yani memegang posisi ini hingga ia gugur dalam G30S.

[6/7 21.54] rudysugengp@gmail.com: 3. Buatkan gambar dan infografis tentang 

Akhir Hayat Ahmad Yani


Sebagai Presiden, Soekarno bergerak lebih dekat ke Partai Komunis Indonesia (PKI) di awal 60-an. Yani yang sangat antikomunisme, menjadi sangat waspada terhadap PKI, terutama setelah partai ini menyatakan dukungannya terhadap pembentukan Angkatan Kelima dan Soekarno mencoba untuk memaksakannya Nasakom doktrin di militer. Keduanya, Yani dan Nasution menunda-nunda ketika diperintahkan oleh Soekarno pada tanggal 31 Mei 1965 mempersiapkan rencana untuk mempersenjatai rakyat.


Pada dini hari 1 Oktober 1965, Gerakan 30 September mencoba untuk menculik tujuh anggota staf umum Angkatan Darat. Sebuah tim dari sekitar 200 orang mengepung rumah Yani di Jalan Latuhahary No. 6 di pinggiran Jakarta Menteng, Jakarta Pusat. Biasanya Yani memiliki sebelas tentara menjaga rumahnya. Istrinya kemudian melaporkan bahwa seminggu sebelumnya tambahan enam orang ditugaskan kepadanya. Orang-orang ini berasal dari komando Kolonel Latief, yang diketahui Yani, adalah salah satu komplotan utama dalam Komando Gerakan 30 September. Menurut istri Yani, orang-orang tambahan tersebut tidak muncul untuk bertugas pada malam itu. Yani dan anak-anaknya sedang tidur di rumahnya sementara istrinya keluar merayakan ulang tahunnya bersama sekelompok teman-teman dan kerabat. Dia kemudian menceritakan bahwa saat ia pergi dari rumah sekitar pukul 23.00, ia melihat seseorang duduk di seberang jalan seakan menjaga rumah di bawah pengawas. Dia tidak berpikir apa-apa pada saat itu, tetapi setelah peristiwa pagi itu ia bertanya-tanya berbeda. Juga, dari sekitar jam 9 pada malam 30 September ada sejumlah panggilan telepon ke rumah pada interval, yang ketika menjawab akan bertemu dengan keheningan atau suara akan bertanya apa waktu itu. Panggilan terus sampai sekitar 01.00 dan Ahmad Yani mengatakan dia memiliki firasat sesuatu yang salah malam itu.


Yani menghabiskan malam dengan beberapa pertemuan, pukul 7 malam ia menerima seorang kolonel dari KOTI, Komando Operasi Tertinggi. Jenderal Basuki Rahmat, komandan divisi di Jawa Timur, kemudian tiba dari markasnya di Surabaya. Basuki datang ke Jakarta untuk melaporkan kepada Yani pada keprihatinan tentang meningkatnya aktivitas komunis di Jawa Timur. Memuji laporannya, Yani memintanya untuk menemaninya ke pertemuan keesokan harinya dengan Presiden untuk menyampaikan laporannya.


Ketika para penculik datang ke rumah Yani dan mengatakan kepadanya bahwa ia akan dibawa ke hadapan presiden, ia meminta waktu untuk mandi dan berganti pakaian. Ketika penculik menolak ia menjadi marah, menampar salah satu prajurit penculik, dan mencoba untuk menutup pintu depan rumahnya. Salah satu penculik kemudian melepaskan tembakan, membunuhnya secara spontan. Tubuhnya dibawa ke Lubang Buaya di pinggiran Jakarta dan bersama-sama dengan orang-orang dari jenderal yang dibunuh lainnya, disembunyikan di sebuah sumur bekas.


Tubuh Yani, dan orang-orang korban lainnya, diangkat pada tanggal 4 Oktober, dan semua diberib pemakaman kenegaraan pada hari berikutnya, sebelum dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata. Pada hari yang sama, Yani dan rekan-rekannya resmi dinyatakan Pahlawan Revolusi dengan Keputusan Presiden Nomor 111/KOTI/1965 dan pangkatnya dinaikkan secara anumerta dari Letnan Jenderal untuk bintang ke-4 umum (Indonesia:Jenderal Anumerta).


Ibu Yani dan anak-anaknya pindah dari rumah setelah kematian Yani. Ibu Yani membantu membuat bekas rumah mereka ke Museum publik yang berdiri sebagian besar seperti itu pada Oktober 1965, termasuk lubang peluru di pintu dan dinding, dan dengan perabot rumah itu waktu itu. Saat ini, banyak kota di Indonesia memiliki jalan dengan nama Jenderal Ahmad Yani. Selain itu namanya diabadikan untuk Bandar Udara Jenderal Ahmad Yani di Semarang. Nama besar Jenderal Ahmad Yani juga digunakan sebagai nama 2 buah universitas di Indonesia yaitu Universitas Jenderal Achmad Yani yang berada di Cimahi, Universitas Jenderal Achmad Yani Yogyakarta yang berada di Sleman. Kedua Perguruan Tinggi tersebut berada di bawah naungan Yayasan Kartika Eka Paksi yang merupakan Yayasan yang dimiliki TNI Angkatan Darat di mana beliau mengabdi.

[6/7 22.00] rudysugengp@gmail.com: 7 Pahlawan Revolusi Utama (Korban di Jakarta)Mereka diculik, disiksa, dan dibunuh di kawasan Lubang Buaya, Jakarta Timur:

1. Jenderal (Anumerta) Ahmad Yani Letjen (Anumerta) 

2. R. Suprapto Letjen (Anumerta) 

3. S. Parman Letjen (Anumerta) 

4. M.T. Haryono Mayjen (Anumerta) 

5. D.I. Panjaitan Mayjen (Anumerta) 

6. Sutoyo Siswomiharjo Kapten (Anumerta) 

7. Pierre Andreas Tendean Korban Lainnya (Jakarta & Yogyakarta)

8. Aipda K.S. Tubun (Gugur di Jakarta)

9. Brigjen (Anumerta) Katamso Darmokusumo (Gugur di Yogyakarta)

10. Kolonel (Anumerta) Sugiyono Mangunwiyoto (Gugur di Yogyakarta)

[7/7 00.16] rudysugengp@gmail.com: 1. Buatkan gambar dan infografis tentang 

Kehidupan S. Parman 


Informasi pribadi

Lahir : 4 Agustus 1918, Wonosobo, Hindia Belanda

Meninggal : 1 Oktober 1965 (umur 47), Lubang Buaya, Jakarta Timur, Indonesia

Istri : Sumirahaju ​


Parman lahir di Wonosobo, Jawa Tengah. Dia merupakan anak ke-6 dari 11 bersaudara. Dia mengenyam pendidikan HIS di Wonosobo. Setelah lulus, ia melanjutkan bersekolah dari tingkat MULO hingga lulus dari sekolah tinggi di kota Yogyakarta (AMS-B) pada tahun 1940.

Ia melanjutkan masuk sekolah kedokteran, tetapi harus meninggalkan ketika Jepang menyerang. Dia kemudian bekerja untuk polisi militer Kempeitai Jepang. Namun, ia ditangkap karena keraguan atas kesetiaannya, tetapi kemudian dibebaskan. Setelah dibebaskan, ia dikirim ke Jepang untuk pelatihan intelijen, dan bekerja lagi untuk Kempeitai pada kembali sampai akhir perang, bekerja sebagai penerjemah (kempeiho) di Yogyakarta.


Fakta menarik dari sejarahnya, Jenderal S. Parman ternyata merupakan adik kandung dari Ir. Sakirman, yang merupakan salah satu petinggi atau anggota Politbiro CC PKI.



2. Buatkan gambar dan infografis tentang 

Karier Militer S. Parman 


Setelah kemerdekaan Indonesia, Parman bergabung Tentara Keamanan Rakyat (TKR), cikal bakal Tentara Nasional Indonesia. Pada akhir Desember 1945, ia diangkat kepala staf dari Polisi Militer di Yogyakarta. Empat tahun kemudian ia menjadi kepala staf untuk gubernur militer Jabodetabek dan dipromosikan menjadi mayor. Dalam kapasitas ini, ia berhasil menggagalkan plot oleh "Hanya Raja Angkatan Bersenjata" (Angkatan Perang Ratu Adil, APRA), kelompok militer pemberontak yang dipimpin oleh Raymond Westerling, untuk membunuh komandan menteri pertahanan dan angkatan bersenjata. Ia memegang jabatan sebagai Corps Polisi Militer hingga Ketika Konferensi Meja Bundar berlangsung.


Siswondo Parman ikut bergerilya ketika Agresi Militer Belanda II Berlangsung. Ia juga memegang jabatan sebagai Kepala Staf Gubernur Militer Jakarta.


Pada tahun 1951, Parman dikirim ke Sekolah Polisi Militer di Amerika Serikat untuk pelatihan lebih lanjut, dan pada tanggal 11 November tahun itu, diangkat menjadi komandan Polisi Militer Jakarta. ia kemudian menduduki sejumlah posisi di Polisi Militer Nasional HQ, dan Departemen Pertahanan Indonesia sebelum dikirim ke London sebagai atase militer ke Kedutaan Indonesia di sana.  Pada tanggal 28 Juni, dengan pangkat Mayor Jenderal, ia diangkat menjadi asisten pertama dengan tanggung jawab untuk intelijen untuk Kepala Staf Angkatan Darat Letnan Jenderal Ahmad Yani.


Karier Intelijen: 

Setelah menempuh pendidikan militer di Amerika Serikat dan menjabat sebagai Atase Militer di London, ia diangkat menjadi Asisten I Menteri/Panglima Angkatan Darat (Men/Pangad) bidang intelijen pada tahun 1964.


Menentang PKI: 

Ia secara tegas menolak usulan Partai Komunis Indonesia (PKI) terkait pembentukan Angkatan Kelima. 

Latar belakangnya sebagai ahli intelijen menjadikannya salah satu target utama PKI karena pengetahuannya yang mendalam tentang gerakan dan rencana rahasia partai tersebut.


3. Buatkan gambar dan infografis tentang 

Akhir Hayat S. Parman


Makam Siswondo Parman di Taman Makam Pahlawan Nasional Utama Kalibata

Siswondo Parman adalah salah satu dari enam jenderal yang dibunuh oleh anggota Gerakan 30 September Partai komunis Indonesia ( PKI ) pada malam 30 September-1 Oktober 1965. Dia telah diperingatkan beberapa hari sebelum kemungkinan gerakan komunis. Pada malam 30 September-1 Oktober, tidak ada penjaga yang mengawasi rumah Parman di Jalan Syamsurizal no.32.


Berdasarkan istri Parman, pasangan itu terbangun dari tidur mereka di sekitar 04.10 pagi oleh suara sejumlah orang di samping rumah. Parman pergi untuk menyelidiki dan dua puluh empat pria dengan mengenakan seragam Tjakrabirawa (Pengawal Presiden) menuju ke ruang tamu. Orang-orang mengatakan bahwa dia dibawa ke hadapan Presiden sebagai "sesuatu yang menarik yang telah terjadi". Sekitar 10 orang pergi ke kamar tidur ketika Parman berpakaian. Istrinya lebih curiga dari orang-orang, dan mempertanyakan apakah mereka memiliki surat otorisasi, yang salah satu pria jawabnya memiliki surat sementara menyadap saku dadanya.


Parman meminta istrinya untuk menelpon apa yang terjadi pada komandannya, Yani, tetapi kabel telepon telah diputus. Parman dimasukkan ke dalam truk dan dibawa ke basis gerakan di Lubang Buaya. Malam itu, bersama dengan tentara lain yang telah ditangkap hidup-hidup, Parman ditembak mati dan tubuhnya dibuang di sebuah sumur tua. Dia bersama dua jenderal lain yaitu Sutoyo, dan R. Suprapto dan satu korban salah tangkap yaitu Pierre Tendean merupakan orang-orang yang masih hidup ketika diculik.


Jenazah Parman dan 6 korban lainnya ditemukan pada 4 Oktober dan diberi pemakaman kenegaraan pada hari berikutnya, Hari Angkatan Bersenjata pada tanggal 5 Oktober, sebelum dimakamkan di Taman Makam Pahlawan, Kalibata. Pada hari yang sama, melalui Keputusan Presiden Nomor 111 / KOTI / 1965, Presiden Soekarno secara resmi membuat Parman menjadi Pahlawan Revolusi.

[7/7 00.17] rudysugengp@gmail.com: 1. Buatkan gambar dan infografis tentang 

Kehidupan S. Parman 


Informasi pribadi

Lahir : 4 Agustus 1918, Wonosobo, Hindia Belanda

Meninggal : 1 Oktober 1965 (umur 47), Lubang Buaya, Jakarta Timur, Indonesia

Istri : Sumirahaju ​


Parman lahir di Wonosobo, Jawa Tengah. Dia merupakan anak ke-6 dari 11 bersaudara. Dia mengenyam pendidikan HIS di Wonosobo. Setelah lulus, ia melanjutkan bersekolah dari tingkat MULO hingga lulus dari sekolah tinggi di kota Yogyakarta (AMS-B) pada tahun 1940.

Ia melanjutkan masuk sekolah kedokteran, tetapi harus meninggalkan ketika Jepang menyerang. Dia kemudian bekerja untuk polisi militer Kempeitai Jepang. Namun, ia ditangkap karena keraguan atas kesetiaannya, tetapi kemudian dibebaskan. Setelah dibebaskan, ia dikirim ke Jepang untuk pelatihan intelijen, dan bekerja lagi untuk Kempeitai pada kembali sampai akhir perang, bekerja sebagai penerjemah (kempeiho) di Yogyakarta.


Fakta menarik dari sejarahnya, Jenderal S. Parman ternyata merupakan adik kandung dari Ir. Sakirman, yang merupakan salah satu petinggi atau anggota Politbiro CC PKI.

[7/7 00.18] rudysugengp@gmail.com: 2. Buatkan gambar dan infografis tentang 

Karier Militer S. Parman 


Setelah kemerdekaan Indonesia, Parman bergabung Tentara Keamanan Rakyat (TKR), cikal bakal Tentara Nasional Indonesia. Pada akhir Desember 1945, ia diangkat kepala staf dari Polisi Militer di Yogyakarta. Empat tahun kemudian ia menjadi kepala staf untuk gubernur militer Jabodetabek dan dipromosikan menjadi mayor. Dalam kapasitas ini, ia berhasil menggagalkan plot oleh "Hanya Raja Angkatan Bersenjata" (Angkatan Perang Ratu Adil, APRA), kelompok militer pemberontak yang dipimpin oleh Raymond Westerling, untuk membunuh komandan menteri pertahanan dan angkatan bersenjata. Ia memegang jabatan sebagai Corps Polisi Militer hingga Ketika Konferensi Meja Bundar berlangsung.


Siswondo Parman ikut bergerilya ketika Agresi Militer Belanda II Berlangsung. Ia juga memegang jabatan sebagai Kepala Staf Gubernur Militer Jakarta.


Pada tahun 1951, Parman dikirim ke Sekolah Polisi Militer di Amerika Serikat untuk pelatihan lebih lanjut, dan pada tanggal 11 November tahun itu, diangkat menjadi komandan Polisi Militer Jakarta. ia kemudian menduduki sejumlah posisi di Polisi Militer Nasional HQ, dan Departemen Pertahanan Indonesia sebelum dikirim ke London sebagai atase militer ke Kedutaan Indonesia di sana.  Pada tanggal 28 Juni, dengan pangkat Mayor Jenderal, ia diangkat menjadi asisten pertama dengan tanggung jawab untuk intelijen untuk Kepala Staf Angkatan Darat Letnan Jenderal Ahmad Yani.


Karier Intelijen: 

Setelah menempuh pendidikan militer di Amerika Serikat dan menjabat sebagai Atase Militer di London, ia diangkat menjadi Asisten I Menteri/Panglima Angkatan Darat (Men/Pangad) bidang intelijen pada tahun 1964.


Menentang PKI: 

Ia secara tegas menolak usulan Partai Komunis Indonesia (PKI) terkait pembentukan Angkatan Kelima. 

Latar belakangnya sebagai ahli intelijen menjadikannya salah satu target utama PKI karena pengetahuannya yang mendalam tentang gerakan dan rencana rahasia partai tersebut.

[7/7 00.18] rudysugengp@gmail.com: 3. Buatkan gambar dan infografis tentang 

Akhir Hayat S. Parman


Makam Siswondo Parman di Taman Makam Pahlawan Nasional Utama Kalibata

Siswondo Parman adalah salah satu dari enam jenderal yang dibunuh oleh anggota Gerakan 30 September Partai komunis Indonesia ( PKI ) pada malam 30 September-1 Oktober 1965. Dia telah diperingatkan beberapa hari sebelum kemungkinan gerakan komunis. Pada malam 30 September-1 Oktober, tidak ada penjaga yang mengawasi rumah Parman di Jalan Syamsurizal no.32.


Berdasarkan istri Parman, pasangan itu terbangun dari tidur mereka di sekitar 04.10 pagi oleh suara sejumlah orang di samping rumah. Parman pergi untuk menyelidiki dan dua puluh empat pria dengan mengenakan seragam Tjakrabirawa (Pengawal Presiden) menuju ke ruang tamu. Orang-orang mengatakan bahwa dia dibawa ke hadapan Presiden sebagai "sesuatu yang menarik yang telah terjadi". Sekitar 10 orang pergi ke kamar tidur ketika Parman berpakaian. Istrinya lebih curiga dari orang-orang, dan mempertanyakan apakah mereka memiliki surat otorisasi, yang salah satu pria jawabnya memiliki surat sementara menyadap saku dadanya.


Parman meminta istrinya untuk menelpon apa yang terjadi pada komandannya, Yani, tetapi kabel telepon telah diputus. Parman dimasukkan ke dalam truk dan dibawa ke basis gerakan di Lubang Buaya. Malam itu, bersama dengan tentara lain yang telah ditangkap hidup-hidup, Parman ditembak mati dan tubuhnya dibuang di sebuah sumur tua. Dia bersama dua jenderal lain yaitu Sutoyo, dan R. Suprapto dan satu korban salah tangkap yaitu Pierre Tendean merupakan orang-orang yang masih hidup ketika diculik.


Jenazah Parman dan 6 korban lainnya ditemukan pada 4 Oktober dan diberi pemakaman kenegaraan pada hari berikutnya, Hari Angkatan Bersenjata pada tanggal 5 Oktober, sebelum dimakamkan di Taman Makam Pahlawan, Kalibata. Pada hari yang sama, melalui Keputusan Presiden Nomor 111 / KOTI / 1965, Presiden Soekarno secara resmi membuat Parman menjadi Pahlawan Revolusi.

[7/7 00.41] rudysugengp@gmail.com: 1. Buatkan gambar dan infografis tentang 

Kehidupan M.T. Haryono


Informasi Pribadi :

Lahir : 20 Januari 1924, Surabaya, Hindia Belanda

Meninggal : 1 Oktober 1965 (umur 41), Lubang Buaya, Jakarta Timur, Indonesia

Makam : Taman Makam Pahlawan Nasional Utama Kalibata

Istri : Mariatne Martokoesoemo


Jenderal bintang tiga kelahiran Surabaya, 20 Januari 1924, ini sebelumnya memperoleh pendidikan di ELS (setingkat Sekolah Dasar) kemudian diteruskan ke HBS (setingkat Sekolah Menengah Umum). Setamat dari HBS, ia sempat masuk Ika Daigakko (Sekolah Kedokteran masa pendudukan Jepang) di Jakarta, tetapi tidak sampai tamat.


Masa Muda :

Gresik adalah kota pelabuhan yang tua dan bandar yang ramai pada zaman kuno. Pernah Gresik menjadi pusat agama Islam yang termashur di Indonesia ketika Waliullah Sunan Giri bersemayam di situ. Sampai sekarang keturunan Sunan Giri memakai gelar Mas di muka namanya. Pada tahun 1924 yang menjadi asisten wedana ( sekarang disebut camat ) di Kalitengah, Gresik, ialah Mas Harsono Tirtodarmo. Pada bulan Januari tahun itu ia dinaikkan pangkatnya menjadi jaksa di Sidoarjo. Karena itu ia berangkat pindah ke Sidoarjo meskipun isterinya ( Ibu Patimah ) sudah mengandung tua. Namun, dalam perjalanan ke Sidoarjo itu ibu Patimah merasa akan melahirkan kandungannya. Perjalanan ke Sidoarjo tidak diteruskan dan mereka menuju ke rumah M.Harsono Tirtodarmo di Nieuw Holland Straat (sekarang Jalan Gatotan) di Surabaya. Di situ, pada tanggal 20 Januari 1924, ibu Patimah melahirkan puteranya yang ketiga yang diberi nama Haryono, lengkapnya M.T.Haryono.


M.T. Haryono dilahirkan sebagai putra seorang Binnenlands Bestuur, "pemerintahan dalam negeri", disingkat "BB", salah satu bentuk birokrasi pemerintahan pada masa Hindia Belanda yang terdiri atas orang-orang Eropa. Kalangan BB pada waktu itu mempunyai kedudukan yang istimewa di antara pegawai-pegawai Belanda lainnya. Hanya BB lah yang di samping kedudukan istimewanya biasanya juga mampu menyekolahkan anak-anaknya sampai di Perguruan Tinggi. Karena nasionalisme itu boleh dikata timbul dan berkembang di antara orang-orang terpelajar, maka tidaklah mengherankan kalau putra-putra orang-orang BB ini tidak sedikit yang menjadi penggerak dan pemimpin nasionalisme, misalnya R.A. Kartini, Dewi Sartika, dr. Sutomo. Mr. Sartono, dan lain lain. Demikian halnya kelak dengan M.T. Haryono.


Pada masa kecilnya M.T. Haryono hidup sebagai putra seorang jaksa di Sidoarjo. Ketika umur empat tahun ayahnya diangkat menjadi wedana di Kertosono dan mereka pindah ke kota itu. Di sinilah ia ketika umur enam tahun masuk sekolah di HIS 6 (Hollandsch-Inlandsche School = Sekolah Dasar) ia suka berteman dan bermain-main dengan anak-anak lainnya dan selalu menjadi pemimpin mereka. Karena wataknya yang keras ia sebagai pemimpin dijuluki "Si Kepala Macan". Namun, walaupun demikian ia pada hakikatnya seorang pendiam dan bertindak hati-hati dalam segala hal. Ia belajar di HIS sampai kelas tiga dan kemudian, atas tanggungan seorang Belanda guru ELS (Europeesche Lagere School: Sekolah Dasar Belanda) dan teman ayahnya, ia pindah ke kelas empat ELS di kota itu sampai tamat pada tahun 1937.


Tamat dari ELS, M.T. Haryono meneruskan sekolahnya di HBS (Hogere Burgerschool: semacam SMP ditambah SMA yang disatukan dan hanya lima tahun, biasanya hanya untuk orang Belanda) di Bandung. Selama lima tahun ia harus berpisah dari orang tuanya dan menumpang pada orang lain di kota Bandung.


Sebagai pemuda pelajar ia suka berolahraga. Ia suka atletik, tenis dan baseball. Hanya dalam masa libur ia pulang ke orang tuanya yang sejak tahun 1939 telah dipindahkan menjadi wedana di Gorang-Gareng, Mangetan, Madiun. M.T. Haryono menyelesaikan studinya di HBS tepat dalam waktu lima tahun. Ia tamat dari HBS pada tahun l942 ketika Jepang masuk merebut dan menduduki Indonesia (Maret l942).


Ketika GHS (Geneeskundige Hogeschool: Perguruan Tinggi Kedokteran) di Jakarta dibuka kembali oleh Jepang sebagai Ika Dai Gakko, maka M.T. Haryono masuk Perguruan Tinggi Kedokteran tersebut untuk meneruskan studinya. Ia memang ingin menjadi seorang dokter. Baru tiga tahun lamanya M.T. Haryono belajar di lka Dai Gakko ketika tiba-tiba Jepang menyerah dan Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya. M.T. Haryono sebagai pemuda mahasiswa Ika Dai Gakko tidak mau ketinggalan. Segera menceburkan diri dalam kancah perjuangan militer.



2. Buatkan gambar dan infografis tentang 

Perjuangan M.T. Haryono


Perjuangan 

Ketika kemerdekaan RI diproklamirkan, ia yang sedang berada di Jakarta segera bergabung dengan pemuda lain untuk berjuang mempertahankan kemerdekaan. Perjuangan itu sekaligus dilanjutkannya dengan masuk Tentara Keamanan Rakyat (TKR). Awal pengangkatannya, ia memperoleh pangkat Mayor.


Selama terjadinya perang mempertahankan kemerdekaan yakni antara tahun 1945 sampai tahun 1950, ia sering dipindahtugaskan. Pertama-tama ia ditempatkan di Kantor Penghubung, kemudian sebagai Sekretaris Delegasi RI dalam perundingan dengan Inggris dan Belanda. Suatu kali ia juga pernah ditempatkan sebagai Sekretaris Dewan Pertahanan Negara dan di lain waktu sebagai Wakil Tetap pada Kementerian Pertahanan Urusan Gencatan Senjata. Dan ketika diselenggarakan Konferensi Meja Bundar (KMB), ia merupakan Sekretaris Delegasi Militer Indonesia.


Mayor M.T. Haryono pada masa perjuangan bersenjata belum sempat memikirkan kehidupan perkawinan. Setelah situasi relatif stabil, ia berkeinginan membangun kehidupan keluarga sebagaimana yang diidamkannya. Ia kemudian menjatuhkan pilihannya kepada Mariatne Martokoesoemo, putri dari Besar Martokoesoemo, seorang advokat pribumi pertama yang mendirikan kantor hukum di Indonesia. Besar Martokoesoemo juga pernah menjabat sebagai Wali Kota Tegal, Bupati Tegal, dan Wakil Residen Pekalongan. Pertunangan keduanya direncanakan berlangsung pada 2 Juli 1950.


Pada waktu yang hampir bersamaan, Pemerintah Republik Indonesia membutuhkan seorang atase militer untuk ditempatkan di Belanda. Pilihan tersebut jatuh kepada Mayor M.T. Haryono, mengingat latar belakang pendidikannya, penguasaannya atas bahasa Belanda, Inggris, dan Jerman, serta pengalamannya dalam berbagai perundingan dengan pihak Belanda, termasuk Konferensi Meja Bundar yang baru saja berlangsung. Pada Juli 1950, ia diangkat sebagai Atase Militer dan diwajibkan segera menempati posnya di Den Haag pada akhir bulan tersebut. Karena keberangkatan yang mendadak, rencana pertunangan pada 2 Juli 1950 diubah menjadi upacara pernikahan. Pasangan tersebut kemudian berangkat ke Belanda pada 24 Juli 1950. Sebagai pasangan pengantin baru, mereka untuk sementara waktu tinggal di gedung Kedutaan Besar Republik Indonesia di Den Haag, ibu kota Belanda.


Dalam kehidupan pribadinya, M.T. Haryono dikenal memiliki watak sederhana dan berhati-hati. Pola pikirnya yang praktis membuatnya tidak terpengaruh oleh gaya hidup mewah yang pada masa itu berkembang di kalangan masyarakat yang dianggap sebagai “kelas atas”. Keluarganya menjalani kehidupan sederhana, baik selama berada di luar negeri maupun setelah kembali ke Indonesia pada 1954. Rumah tinggalnya di Jalan Prambanan Nomor 8, Jakarta, mencerminkan kesederhanaan dan sikap hidup yang bertanggung jawab.


Di lingkungan rumah, M.T. Haryono memiliki kegemaran menanam dan merawat anggrek. Di sekitar rumahnya terdapat deretan pot berisi berbagai jenis dan warna anggrek. Kegiatan tersebut mencerminkan ketekunan, kesabaran, serta perhatian yang tinggi terhadap perawatan tanaman.


M.T. Haryono dikenal sebagai pribadi yang pendiam, namun ia menaruh perhatian besar terhadap pendidikan dan keselamatan anak-anaknya. Ia memiliki lima orang anak. Dua anak tertua lahir di Den Haag saat ia menjabat sebagai Atase Militer di Belanda, yaitu Bob Haryanto dan Haryanti Mirya. Tiga anak lainnya, yakni Rianto Nurhadi, Adri Prambanto, dan Endah Marina, lahir setelah keluarga tersebut kembali ke Indonesia. Demi menjaga keselamatan keluarga, khususnya anak-anaknya, M.T. Haryono tidak pernah membawa senjata dinas ke rumah. Sikap kehati-hatian ini menjadi bagian dari prinsip hidupnya sebagai seorang suami dan ayah yang bertanggung jawab.


3. Buatkan gambar dan infografis tentang 

Akhir Hayat M.T. Haryono


Pada dini hari 1 Oktober 1965, sejumlah anggota Pasukan Tjakrabirawa yang menamakan diri sebagai Gerakan 30 September mendatangi kediaman R. Suprapto Haryono di Jalan Prambanan Nomor 8, Jakarta. Istri Haryono terbangun oleh kedatangan sekelompok orang yang menyatakan bahwa suaminya dipanggil oleh Presiden Soekarno. Setelah kembali ke kamar tidur dan mengunci pintu, ia menyampaikan hal tersebut kepada Haryono serta menyarankan agar ia tidak memenuhi panggilan tersebut dan meminta para prajurit untuk kembali pada pukul 08.00.


Haryono merasa curiga terhadap kedatangan mereka. Ia mematikan lampu dan meminta istrinya beserta anak-anak untuk berpindah ke kamar sebelah. Tidak lama kemudian, pasukan Tjakrabirawa melepaskan tembakan menembus pintu kamar tidur yang terkunci. Haryono menjatuhkan diri ke lantai dan bersembunyi sambil menunggu penyerang pertama yang memasuki kamar dengan membawa kertas yang dibakar sebagai penerangan. Ia berusaha merebut senjata salah seorang prajurit, namun upaya tersebut gagal. Dalam keadaan kacau, Haryono berlari keluar rumah dan ditembak hingga tewas. Jenazahnya kemudian diseret melalui kebun dan dimasukkan ke dalam sebuah truk.


Jenazah Haryono dibawa ke Lubang Buaya, sebuah lokasi di wilayah selatan Jakarta yang digunakan oleh Gerakan 30 September. Di tempat tersebut, jenazahnya disembunyikan di sebuah sumur bekas bersama dengan jenazah para perwira TNI Angkatan Darat lainnya yang juga menjadi korban.


Seluruh jenazah ditemukan pada 4 Oktober 1965 dan para korban kemudian diberikan pemakaman kenegaraan. Haryono dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta, pada 5 Oktober 1965. Pada hari yang sama, berdasarkan keputusan Presiden Soekarno, ia secara anumerta dinaikkan pangkatnya dan dianugerahi gelar Pahlawan Revolusi.


Gelar Pahlawan :

Ditetapkan sebagai Pahlawan Revolusi dengan SK Presiden/Pangti ABRI/KOTI No. lll/KOTI/1965. Ditetapkan menjadi Letnan Jenderal TNI Anumerta dengan SK Presiden/Pangti ABRI/KOTI No. I IO/KOTI/1965.

[7/7 00.42] rudysugengp@gmail.com: 1. Buatkan gambar dan infografis tentang 

Kehidupan M.T. Haryono


Informasi Pribadi :

Lahir : 20 Januari 1924, Surabaya, Hindia Belanda

Meninggal : 1 Oktober 1965 (umur 41), Lubang Buaya, Jakarta Timur, Indonesia

Makam : Taman Makam Pahlawan Nasional Utama Kalibata

Istri : Mariatne Martokoesoemo


Jenderal bintang tiga kelahiran Surabaya, 20 Januari 1924, ini sebelumnya memperoleh pendidikan di ELS (setingkat Sekolah Dasar) kemudian diteruskan ke HBS (setingkat Sekolah Menengah Umum). Setamat dari HBS, ia sempat masuk Ika Daigakko (Sekolah Kedokteran masa pendudukan Jepang) di Jakarta, tetapi tidak sampai tamat.


Masa Muda :

Gresik adalah kota pelabuhan yang tua dan bandar yang ramai pada zaman kuno. Pernah Gresik menjadi pusat agama Islam yang termashur di Indonesia ketika Waliullah Sunan Giri bersemayam di situ. Sampai sekarang keturunan Sunan Giri memakai gelar Mas di muka namanya. Pada tahun 1924 yang menjadi asisten wedana ( sekarang disebut camat ) di Kalitengah, Gresik, ialah Mas Harsono Tirtodarmo. Pada bulan Januari tahun itu ia dinaikkan pangkatnya menjadi jaksa di Sidoarjo. Karena itu ia berangkat pindah ke Sidoarjo meskipun isterinya ( Ibu Patimah ) sudah mengandung tua. Namun, dalam perjalanan ke Sidoarjo itu ibu Patimah merasa akan melahirkan kandungannya. Perjalanan ke Sidoarjo tidak diteruskan dan mereka menuju ke rumah M.Harsono Tirtodarmo di Nieuw Holland Straat (sekarang Jalan Gatotan) di Surabaya. Di situ, pada tanggal 20 Januari 1924, ibu Patimah melahirkan puteranya yang ketiga yang diberi nama Haryono, lengkapnya M.T.Haryono.


M.T. Haryono dilahirkan sebagai putra seorang Binnenlands Bestuur, "pemerintahan dalam negeri", disingkat "BB", salah satu bentuk birokrasi pemerintahan pada masa Hindia Belanda yang terdiri atas orang-orang Eropa. Kalangan BB pada waktu itu mempunyai kedudukan yang istimewa di antara pegawai-pegawai Belanda lainnya. Hanya BB lah yang di samping kedudukan istimewanya biasanya juga mampu menyekolahkan anak-anaknya sampai di Perguruan Tinggi. Karena nasionalisme itu boleh dikata timbul dan berkembang di antara orang-orang terpelajar, maka tidaklah mengherankan kalau putra-putra orang-orang BB ini tidak sedikit yang menjadi penggerak dan pemimpin nasionalisme, misalnya R.A. Kartini, Dewi Sartika, dr. Sutomo. Mr. Sartono, dan lain lain. Demikian halnya kelak dengan M.T. Haryono.


Pada masa kecilnya M.T. Haryono hidup sebagai putra seorang jaksa di Sidoarjo. Ketika umur empat tahun ayahnya diangkat menjadi wedana di Kertosono dan mereka pindah ke kota itu. Di sinilah ia ketika umur enam tahun masuk sekolah di HIS 6 (Hollandsch-Inlandsche School = Sekolah Dasar) ia suka berteman dan bermain-main dengan anak-anak lainnya dan selalu menjadi pemimpin mereka. Karena wataknya yang keras ia sebagai pemimpin dijuluki "Si Kepala Macan". Namun, walaupun demikian ia pada hakikatnya seorang pendiam dan bertindak hati-hati dalam segala hal. Ia belajar di HIS sampai kelas tiga dan kemudian, atas tanggungan seorang Belanda guru ELS (Europeesche Lagere School: Sekolah Dasar Belanda) dan teman ayahnya, ia pindah ke kelas empat ELS di kota itu sampai tamat pada tahun 1937.


Tamat dari ELS, M.T. Haryono meneruskan sekolahnya di HBS (Hogere Burgerschool: semacam SMP ditambah SMA yang disatukan dan hanya lima tahun, biasanya hanya untuk orang Belanda) di Bandung. Selama lima tahun ia harus berpisah dari orang tuanya dan menumpang pada orang lain di kota Bandung.


Sebagai pemuda pelajar ia suka berolahraga. Ia suka atletik, tenis dan baseball. Hanya dalam masa libur ia pulang ke orang tuanya yang sejak tahun 1939 telah dipindahkan menjadi wedana di Gorang-Gareng, Mangetan, Madiun. M.T. Haryono menyelesaikan studinya di HBS tepat dalam waktu lima tahun. Ia tamat dari HBS pada tahun l942 ketika Jepang masuk merebut dan menduduki Indonesia (Maret l942).


Ketika GHS (Geneeskundige Hogeschool: Perguruan Tinggi Kedokteran) di Jakarta dibuka kembali oleh Jepang sebagai Ika Dai Gakko, maka M.T. Haryono masuk Perguruan Tinggi Kedokteran tersebut untuk meneruskan studinya. Ia memang ingin menjadi seorang dokter. Baru tiga tahun lamanya M.T. Haryono belajar di lka Dai Gakko ketika tiba-tiba Jepang menyerah dan Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya. M.T. Haryono sebagai pemuda mahasiswa Ika Dai Gakko tidak mau ketinggalan. Segera menceburkan diri dalam kancah perjuangan militer.

[7/7 00.43] rudysugengp@gmail.com: 2. Buatkan gambar dan infografis tentang 

Perjuangan M.T. Haryono


Ketika kemerdekaan RI diproklamirkan, ia yang sedang berada di Jakarta segera bergabung dengan pemuda lain untuk berjuang mempertahankan kemerdekaan. Perjuangan itu sekaligus dilanjutkannya dengan masuk Tentara Keamanan Rakyat (TKR). Awal pengangkatannya, ia memperoleh pangkat Mayor.


Selama terjadinya perang mempertahankan kemerdekaan yakni antara tahun 1945 sampai tahun 1950, ia sering dipindahtugaskan. Pertama-tama ia ditempatkan di Kantor Penghubung, kemudian sebagai Sekretaris Delegasi RI dalam perundingan dengan Inggris dan Belanda. Suatu kali ia juga pernah ditempatkan sebagai Sekretaris Dewan Pertahanan Negara dan di lain waktu sebagai Wakil Tetap pada Kementerian Pertahanan Urusan Gencatan Senjata. Dan ketika diselenggarakan Konferensi Meja Bundar (KMB), ia merupakan Sekretaris Delegasi Militer Indonesia.


Mayor M.T. Haryono pada masa perjuangan bersenjata belum sempat memikirkan kehidupan perkawinan. Setelah situasi relatif stabil, ia berkeinginan membangun kehidupan keluarga sebagaimana yang diidamkannya. Ia kemudian menjatuhkan pilihannya kepada Mariatne Martokoesoemo, putri dari Besar Martokoesoemo, seorang advokat pribumi pertama yang mendirikan kantor hukum di Indonesia. Besar Martokoesoemo juga pernah menjabat sebagai Wali Kota Tegal, Bupati Tegal, dan Wakil Residen Pekalongan. Pertunangan keduanya direncanakan berlangsung pada 2 Juli 1950.


Pada waktu yang hampir bersamaan, Pemerintah Republik Indonesia membutuhkan seorang atase militer untuk ditempatkan di Belanda. Pilihan tersebut jatuh kepada Mayor M.T. Haryono, mengingat latar belakang pendidikannya, penguasaannya atas bahasa Belanda, Inggris, dan Jerman, serta pengalamannya dalam berbagai perundingan dengan pihak Belanda, termasuk Konferensi Meja Bundar yang baru saja berlangsung. Pada Juli 1950, ia diangkat sebagai Atase Militer dan diwajibkan segera menempati posnya di Den Haag pada akhir bulan tersebut. Karena keberangkatan yang mendadak, rencana pertunangan pada 2 Juli 1950 diubah menjadi upacara pernikahan. Pasangan tersebut kemudian berangkat ke Belanda pada 24 Juli 1950. Sebagai pasangan pengantin baru, mereka untuk sementara waktu tinggal di gedung Kedutaan Besar Republik Indonesia di Den Haag, ibu kota Belanda.


Dalam kehidupan pribadinya, M.T. Haryono dikenal memiliki watak sederhana dan berhati-hati. Pola pikirnya yang praktis membuatnya tidak terpengaruh oleh gaya hidup mewah yang pada masa itu berkembang di kalangan masyarakat yang dianggap sebagai “kelas atas”. Keluarganya menjalani kehidupan sederhana, baik selama berada di luar negeri maupun setelah kembali ke Indonesia pada 1954. Rumah tinggalnya di Jalan Prambanan Nomor 8, Jakarta, mencerminkan kesederhanaan dan sikap hidup yang bertanggung jawab.


Di lingkungan rumah, M.T. Haryono memiliki kegemaran menanam dan merawat anggrek. Di sekitar rumahnya terdapat deretan pot berisi berbagai jenis dan warna anggrek. Kegiatan tersebut mencerminkan ketekunan, kesabaran, serta perhatian yang tinggi terhadap perawatan tanaman.


M.T. Haryono dikenal sebagai pribadi yang pendiam, namun ia menaruh perhatian besar terhadap pendidikan dan keselamatan anak-anaknya. Ia memiliki lima orang anak. Dua anak tertua lahir di Den Haag saat ia menjabat sebagai Atase Militer di Belanda, yaitu Bob Haryanto dan Haryanti Mirya. Tiga anak lainnya, yakni Rianto Nurhadi, Adri Prambanto, dan Endah Marina, lahir setelah keluarga tersebut kembali ke Indonesia. Demi menjaga keselamatan keluarga, khususnya anak-anaknya, M.T. Haryono tidak pernah membawa senjata dinas ke rumah. Sikap kehati-hatian ini menjadi bagian dari prinsip hidupnya sebagai seorang suami dan ayah yang bertanggung jawab.

[7/7 00.44] rudysugengp@gmail.com: 3. Buatkan gambar dan infografis tentang 

Akhir Hayat M.T. Haryono


Pada dini hari 1 Oktober 1965, sejumlah anggota Pasukan Tjakrabirawa yang menamakan diri sebagai Gerakan 30 September mendatangi kediaman R. Suprapto Haryono di Jalan Prambanan Nomor 8, Jakarta. Istri Haryono terbangun oleh kedatangan sekelompok orang yang menyatakan bahwa suaminya dipanggil oleh Presiden Soekarno. Setelah kembali ke kamar tidur dan mengunci pintu, ia menyampaikan hal tersebut kepada Haryono serta menyarankan agar ia tidak memenuhi panggilan tersebut dan meminta para prajurit untuk kembali pada pukul 08.00.


Haryono merasa curiga terhadap kedatangan mereka. Ia mematikan lampu dan meminta istrinya beserta anak-anak untuk berpindah ke kamar sebelah. Tidak lama kemudian, pasukan Tjakrabirawa melepaskan tembakan menembus pintu kamar tidur yang terkunci. Haryono menjatuhkan diri ke lantai dan bersembunyi sambil menunggu penyerang pertama yang memasuki kamar dengan membawa kertas yang dibakar sebagai penerangan. Ia berusaha merebut senjata salah seorang prajurit, namun upaya tersebut gagal. Dalam keadaan kacau, Haryono berlari keluar rumah dan ditembak hingga tewas. Jenazahnya kemudian diseret melalui kebun dan dimasukkan ke dalam sebuah truk.


Jenazah Haryono dibawa ke Lubang Buaya, sebuah lokasi di wilayah selatan Jakarta yang digunakan oleh Gerakan 30 September. Di tempat tersebut, jenazahnya disembunyikan di sebuah sumur bekas bersama dengan jenazah para perwira TNI Angkatan Darat lainnya yang juga menjadi korban.


Seluruh jenazah ditemukan pada 4 Oktober 1965 dan para korban kemudian diberikan pemakaman kenegaraan. Haryono dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta, pada 5 Oktober 1965. Pada hari yang sama, berdasarkan keputusan Presiden Soekarno, ia secara anumerta dinaikkan pangkatnya dan dianugerahi gelar Pahlawan Revolusi.


Gelar Pahlawan :

Ditetapkan sebagai Pahlawan Revolusi dengan SK Presiden/Pangti ABRI/KOTI No. lll/KOTI/1965. Ditetapkan menjadi Letnan Jenderal TNI Anumerta dengan SK Presiden/Pangti ABRI/KOTI No. I IO/KOTI/1965.

[7/7 01.15] rudysugengp@gmail.com: 1. Buatkan gambar dan infografis tentang 

Kehidupan Awal D.I Panjaitan 


Informasi Pribadi :

Nama : Donald Isaac Pandjaitan

Lahir : 9 Juni 1925, Balige, Keresidenan Tapanuli, Hindia Belanda

Meninggal : 1 Oktober 1965 (umur 40), Lubang Buaya, Jakarta Timur, Indonesia

Istri : Marieke br. Tambunan

Hubungan : Maraden Panggabean (adik ipar)

Anak : 6, termasuk Hotmangaraja Panjaitan

Orang tua :Raja Herman Pandjaitan (ayah)

Dina boru Napitupulu (ibu)


D.I. Pandjaitan lahir pada tanggal 9 Juni 1925 di Lumbantor Natolutali, wilayah yang sekarang termasuk ke dalam Kecamatan Silaen, Kabupaten Toba, Sumatera Utara. Ia lahir pada pukul 3.30 dini hari dan diberi nama Donald Isac Pandjaitan setelah disambut dengan acara syukuran yang dipimpin oleh kakeknya, Raja Malintang. Pendidikan formalnya diawali di sekolah dasar yang dikelola oleh Zending. Setelah dua tahun bersekolah di situ, ayahnya mendaftarkannya ke Christelijke HIS di Narumonda. Setamatnya dari Christelijke HIS, Donald melanjutkan pendidikannya di Christelijke MULO di Tarutung.


Pada tanggal 13 Maret 1942, Pasukan Jepang mendarat di Medan dan segera menyebar hingga ke Tapanuli. Beberapa hari kemudian, Pasukan Jepang telah menduduki Tarutung. Oleh karena antipati terhadap sekolah yang bernuansa Barat, Jepang menutup Christelijke MULO di Tarutung. Pada saat itu, Donald masih menempuh pendidikan di kelas 3. Akibatnya, ia harus putus sekolah dan beralih menjadi pedagang bawang dan lembu asal Tarutung di Barus.


Merantau ke Riau :

Dengan berbekalkan rapor MULO, ijazah HIS, dan kemampuan berbahasa Belanda, Inggris, dan Jerman, Donald memutuskan untuk merantau ke Pekanbaru. Dalam perjalanan, ia sempat ditahan oleh polisi di Bangkinang. Ia dicurigai sebagai mata-mata Blok Sekutu karena kamus bahasa Belanda-Inggris yang dibawanya. Kesalahpahaman itu kemudian dapat diselesaikan oleh atasan kerabatnya yang datang langsung ke Bangkinang dan menjemput Donald ke Pekanbaru. Pada saat itu, Matsumura, Kepala Perusahaan Ataka Sanyo Kabushiki Kaisha, yang merupakan atasan tempat kerabatnya bekerja, sedang membutuhkan pegawai baru yang menguasai bahasa Inggris dan Jepang. Dua bulan sejak kejadian itu, Matsumura memanggil Donald untuk bekerja di perusahaannya. Donald bekerja di sana selama dua bulan. Setelah itu, ia dipindahkan ke kantor cabang perusahaan di Siak Sri Indrapura.


Pada tahun 1943, Donald bekerja untuk perusahaan kayu yang dikelola seorang Jepang bernama Oba. Perusahaan itu didirikan di Buatan, daerah hilir Sungai Siak, dan diberi nama L.40 atau Panglong 40. Donald ditunjuk sebagai wakil manajer yang mengawasi 80 orang pekerja. Semua pekerja diwajibkan mengikuti pelajaran baris berbaris dan latihan dasar kemiliteran Jepang. Latihan itu dipimpin oleh Donald dengan menggunakan aba-aba berbahasa Jepang. Pada saat itulah, Donald ingin menjadi prajurit militer. Ia mulai mengikuti berita-berita tentang penerimaan calon opsir Gyugun. Ketika pendaftaran dibuka, Donald segera memberitahukan niatnya kepada Oba. Awalnya, Oba sangat keberatan, tetapi karena Donald bersikeras ingin mendaftar, Oba akhirnya menerima keputusan Donald dan mengadakan acara perpisahan yang meriah untuknya.


Donald diterima di Sekolah Opsir Gyugun di Pekanbaru pada tanggal 14 Februari 1944. Selesai latihan, ia ditugaskan sebagai anggota Gyugun di Pekanbaru, Riau hingga Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya.


Ketika Indonesia sudah meraih kemerdekaan, ia bersama para pemuda lainnya membentuk Tentara Keamanan Rakyat (TKR) yang kemudian menjadi TNI. Di TKR, ia pertama kali ditugaskan menjadi komandan batalyon, kemudian menjadi Komandan Pendidikan Divisi IX/Banteng di Bukittinggi pada tahun 1948. Seterusnya menjadi Kepala Staf Umum IV (Supplay) Komandemen Tentara Sumatera. Dan ketika Pasukan Belanda melakukan Agresi Militernya yang Ke II, ia diangkat menjadi Pimpinan Perbekalan Perjuangan Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI).


Catatan :

Nama lahir tokoh ini adalah Donald Isac Pandjaitan dan sering disalahejakan sebagai Donald Isaac Pandjaitan. Sejak tahun 1943, ia dikenal sebagai Donald Izakus Pandjaitan karena dilafalkan demikian oleh atasannya, seorang pengusaha Jepang. Nama ini kemudian dieja sebagai Donald Izacus Pandjaitan.

[7/7 01.17] rudysugengp@gmail.com: 2. Buatkan gambar dan infografis tentang 

Perjuangan dan Karier Militer D.I Panjaitan


Seiring dengan berakhirnya Agresi Militer Belanda II, Indonesia pun memperoleh pengakuan kedaulatan. Pandjaitan sendiri kemudian diangkat menjadi Kepala Staf Operasi Tentara dan Teritorium (T&T) I Bukit Barisan di Medan. Selanjutnya dipindahkan lagi ke Palembang menjadi Kepala Staf T & T II/Sriwijaya.


Setelah mengikuti kursus Militer Atase (Milat) tahun 1956, ia ditugaskan sebagai Atase Militer RI di Bonn, Jerman Barat. Ketika masa tugasnya telah berakhir sebagai Atase Militer, ia pun pulang ke Indonesia. Namun tidak lama setelah itu yakni pada tahun 1962, perwira yang pernah menimba ilmu pada Associated Command and General Staff College, Amerika Serikat ini, ditunjuk menjadi Asisten IV Menteri/Panglima Angkatan Darat (Men/Pangad). Jabatan inilah terakhir yang diembannya saat peristiwa Gerakan 30 September terjadi.


Ketika menjabat Asisten IV Men/Pangad, ia membongkar rahasia pengiriman senjata dari Republik Rakyat Tiongkok (RRT) untuk Partai Komunis Indonesia (PKI). Dari situ diketahui bahwa senjata-senjata tersebut dimasukkan ke dalam peti-peti bahan bangunan yang akan dipakai dalam pembangunan gedung CONEFO (Conference of the New Emerging Forces). Senjata-senjata itu diperlukan PKI yang sedang giatnya mengadakan persiapan untuk mempersenjatai angkatan kelima yang terdiri dari para buruh dan petani.


D.I Pandjaitan memulai karier militernya saat ia mengikuti pendidikan Giyugun di Bukitinggi, Sumatera Barat dan lulus dengan pangkat Shoi (Letnan Dua), kemudian ia ditugaskan di Pekanbaru sampai indonesia memproklamirkan kemerdekaannya. Pasca proklamasi kemerdekaan, Pandjaitan bergabung dengan TKR (Tentara Keamanan Rakyat) yang nantinya menjadi TNI (Tentara Nasional Indonesia) dan menjabat sebagai Komandan Batalyon I merangkap Kepala Latihan Resimen IV Divisi III / Banteng hingga pada puncaknya menjabat sebagai Asisten IV Menteri / Panglima Angkatan Darat.


Shodancho (Komandan Pleton) Giyugun di Pekanbaru (1944-1945).

Anggota BKR di Riau (1945).

Komandan Batalyon I merangkap Kepala Latihan TKR Resimen IV Divisi IX / Banteng (1945-1947).

Kepala Staf Resimen IV Riau Utara Divisi IX / Banteng (1947-1948).

Kepala Bagian IV / Supply Komando Tentara Teritorium Sumatra merangkap Kepala Pusat Perbekalan PDRI (1948-1949).

Kepala Bagian II / Operasi Komando Tentara Teritorium Sumatera Utara kemudian menjadi KO TT I / Bukit Barisan (1949-1952).

Kepala Bagian III / Organisasi KO TT I / Bukit Barisan (1950-1952).

Wakil Kepala Staf merangkap Pelaksana Kepala Staf TT II / Sriwijaya (1952-1956).

Mendapat tugas mengikuti pendidikan di Kursus Militer Atase Gelombang I dan Senior Officer Courses of the Infantry School, India (1956).

Asisten Atase Militer di Bonn, Jerman Barat (1956-1960).

Atase Militer di Bonn, Jerman Barat (1960-1962).

Asisten IV/Logistik Menteri Panglima Angkatan Darat (1962-1965).

Perwira Siswa di Associate Courses pada U.S Army General and Command Staff College (1963-1964).

Gugur dalam Peristiwa G30S/PKI dan kemudian dianugerahi kenaikan pangkat menjadi Mayor Jenderal TNI Anumerta (1965).

 

Kepangkatan :

Mayor (30 Oktober 1945- 30 Oktober 1948).

Kapten (30 Oktober 1948-1 Oktober 1952), Pangkat diturunkan karena adanya Kebijakan Re-Ra (Reorganisasi dan Rasionalisasi) TNI.

Mayor (1 Oktober 1952-1 Juni 1956).

Letnan Kolonel (1 Juni 1956-1 Juli 1960).

Kolonel (1 Juli 1960-1 Juli 1963)

Brigadir Jenderal TNI (1 Juli 1963-5 Oktober 1965).

Mayor Jenderal TNI Anumerta (5 Oktober 1965).

[7/7 01.17] rudysugengp@gmail.com: 3. Buatkan gambar dan infografis tentang 

Akhir Hayat D.I Panjaitan


Pada tengah malam tanggal 1 Oktober 1965, sekelompok anggota Gerakan 30 September memaksa masuk dan melancarkan tembakan ke rumah Pandjaitan di Jalan Hasanuddin, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Pandjaitan ditembak di kepala ketika ia sedang berdoa. Jasadnya dibawa menggunakan truk menuju Lubang Buaya dan baru ditemukan pada tanggal 4 Oktober. Sehari kemudian, Pandjaitan mendapat promosi anumerta sebagai Mayor Jenderal dan diberi gelar Pahlawan Revolusi.


Rumah kediaman :

Rumah Kediaman D.I. Pandjaitan merupakan salah satu bangunan cagar budaya Indonesia. Dalam pembagian administratif Indonesia, Rumah Kediaman D.I. Pandjaitan berada di Kota Adminstrasi Jakarta Selatan, Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta. Penetapannya sebagai cagar budaya berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor PM.13/PW.007/MKP/05. Surat keputusan ini diterbitkan pada tanggal 25 April 2005.

Alamatnya secara lengkap di Jalan Hasanuddin Nomor 53 kawasan Blok M, Kebayoran Baru. Pembangunan rumah ini sekitar tahun 1956 bersamaan dengan masa pengembangan kota satelit Kebayoran di Jakarta Selatan. Jumlah lantai bangunan ada dua. Nilai sejarah yang dimiliki oleh rumah ini adalah upaya penculikan D.I. Pandjaitan pada dini hari tanggal 1 Oktober 1965. Saat itu, Pandjaitan menjabat sebagai Asisten IV Menteri atau Panglima Angkatan Darat bidang logistik. Rumah kediaman ini juga menjadi salah satu bagian dari sejarah pemberontakan Gerakan 30 September. Peristiwa lain yang pernah terjadi di rumah kediaman ini adalah kematian D.I. Pandjaitan akibat tertembak. Rumah Kediaman D.I. Pandjaitan pernah digunakan untuk pembuatan film pada tahun 1980-an. Judul film tersebut adalah Penumpasan Pengkhianatan G 30 S PKI. Film ini dikerjakan oleh sutradara bernama Arifin C. Noer. Noer menggunakan rumah ini untuk membuat adegan penculikan D.I. Pandjaitan.

[7/7 11.44] rudysugengp@gmail.com: 1. Buatkan gambar dan infografis tentang 

Kehidupan Sutoyo Siswomiharjo 


Informasi pribadi

Lahir : 28 Agustus 1922, Karanganyar, Kebumen, Keresidenan Kedu, Hindia Belanda

Meninggal : 1 Oktober

1965 (umur 43), Lubang Buaya, Jakarta Timur, Indonesia

Makam : Taman Makam Pahlawan Nasional Utama Kalibata

Istri :

Sri Rochjati ​(meninggal)

Raden Ayu Suparmi 

Anak : 3, termasuk Agus Widjojo

Julukan : Toyota


Kehidupan awal :

Sutoyo lahir di Karanganyar, Kebumen, Jawa Tengah. Ia menyelesaikan sekolahnya sebelum invasi Jepang pada tahun 1942, dan selama masa pendudukan Jepang, ia belajar administrasi pemerintahan di Jakarta. Ia kemudian bekerja sebagai pegawai negeri di Purworejo, tetapi mengundurkan diri pada tahun 1944.


Masa Muda dan Pendidikan: 

Lahir di Kebumen pada 28 Agustus 1922, ia menempuh pendidikan di HIS dan AMS Semarang sebelum melanjutkan ke Kenkoku Gakuin di Jakarta.


Karier militer :

Setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945, Sutoyo bergabung ke dalam bagian Polisi Tentara Keamanan Rakyat (TKR), cikal bakal Tentara Nasional Indonesia. Hal ini kemudian menjadi Polisi Militer Indonesia. Pada Juni 1946, ia diangkat menjadi ajudan Kolonel Gatot Soebroto, komandan Polisi Militer. Ia terus mengalami kenaikan pangkat di dalam Polisi Militer, dan pada tahun 1954 ia menjadi kepala staf di Markas Besar Polisi Militer. Dia memegang posisi ini selama dua tahun sebelum diangkat menjadi asisten atase militer di kedutaan besar Indonesia di London. Setelah pelatihan di Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat di Bandung dari tahun 1959 hingga 1960, ia diangkat menjadi Inspektur Kehakiman Angkatan Darat, kemudian karena pengalaman hukumnya, pada tahun 1961 ia menjadi inspektur kehakiman/jaksa militer utama.


Operasi Budi: 

Sebagai Inspektur Kehakiman, ia sukses menjalankan Operasi Budi pada tahun-tahun menjelang 1965, sebuah program penertiban dan disiplin yang berhasil menyelamatkan keuangan negara sebesar Rp 11 miliar.



2. Buatkan gambar dan infografis tentang 

Karier Militer Sutoyo Siswomiharjo 




3. Buatkan gambar dan infografis tentang 

Akhir Hayat Sutoyo Siswomiharjo


Kematian :

Pada dini hari tanggal 1 Oktober 1965, anggota Gerakan 30 September yang dipimpin oleh Sersan Mayor Surono masuk ke dalam rumah Sutoyo di Jalan Sumenep, Menteng, Jakarta Pusat. Mereka masuk melalui garasi di samping rumah. Mereka memaksa pembantu untuk menyerahkan kunci, masuk ke rumah itu dan mengatakan bahwa Sutoyo telah dipanggil oleh Presiden Soekarno. Mereka kemudian membawanya ke markas mereka di Lubang Buaya. Di sana, dia dibunuh dan tubuhnya dilemparkan ke dalam sumur yang tak terpakai. Seperti rekan-rekan lainnya yang dibunuh, mayatnya ditemukan pada 4 Oktober dan dia dimakamkan pada hari berikutnya. Dia secara anumerta dipromosikan menjadi Mayor Jenderal dan menjadi Pahlawan Revolusi.


4. Buatkan gambar dan infografis tentang 

Kesaksian putra Sutoyo Siswomiharjo


Letjen (Purn) Agus Widjojo masih berusia 18 tahun ketika peristiwa G30S/PKI itu terjadi. Masih terekam jelas di ingatannya bagaimana perjumpaan terakhir dengan sang ayah, Mayjen Sutoyo Siswomiharjo, pada 1 Oktober 1965 dini hari. 


Saat itu, dini hari 1 Oktober, Agus masih tertidur pulas. Bersama dua orang adiknya dan seorang sepupunya, Agus tidur di sebuah kamar di kediaman ayahnya, Mayjen Sutoyo yang terletak di kawasan Menteng. Dalam lelap tidurnya, ternyata ada pasukan yang merangsek masuk ke dalam rumah Mayjen Sutoyo. 


"Kebetulan garasi kami sedang direnovasi jadi memang terbuka sekali. Mereka masuk lewat situ, lalu langsung ke belakang. Di belakang ada kamar pembantu. Mereka gedor untuk mendapatkan kunci untuk bisa masuk ke dalam rumah," ujar Agus kepada kumparan (kumparan.com) di Gedung Lemnhanas, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Rabu (20/9 2017).


Gubernur Lemhanas ini mengakui tak ada penjagaan berarti di kediamannya, tak seperti kediaman Jenderal Ahmad Yani. Saat itu, praktis tidak ada pasukan yang berjaga apalagi senjata. Dengan mudah pasukan itu memenuhi tiap sudut rumah Agus. 


Rasa takut menyergap, tapi Agus bersama kedua saudara dan sepupunya tak diizinkan untuk ke luar kamar. Mereka hanya mendengar suara ayah mereka yang keluar dari kamarnya untuk meladeni para 'penculiknya'.


"Hanya terdengar suara sepatu boots. Ayah saya tahu tidak mungkin ada perlawanan, kalau dipaksakan perlawanan, mungkin akan membawa akibat lebih parah," kenangnya. 


"Setelah tanya jawab sebentar, siapa ini, tujuannya apa, mereka lalu mengatakan 'Ikut kami, dipanggil Presiden' kepada ayah saya. Lalu ayah keluar. Itulah terakhir kali saya melihat dan mengetahui ayah saya. Setelah itu tak ditemukan kembali," tutur Agus.


Agus tak mengetahui dengan pasti berapa jumlah pasukan yang menyergap rumahnya. Pertama, ruangan memang gelap dan kedua, ia tak diperbolehkan keluar. Namun, dari pengakuan para tetangga usai kejadian itu, ada dua truk yang menyergap rumahnya. 


Di peristiwa dini hari itulah untuk terakhir kalinya Agus melihat sang ayah. Selang tiga hari, ia tak mendengar kabar apapun dari sang ayah. Kabar mengenai sang ayah baru didapat pada 4 Oktober 1965. Ia membaca dari media massa bahwa terjadi pembantaian terhadap sejumlah petinggi dan perwira AD. Mayjen Sutoyo adalah salah satunya. 


Memaknai peristiwa itu, Wakil Ketua MPR dari Fraksi TNI/Polri periode 2001-2003 itu mengaku tak kaget. Saat itu, politik Tanah Air memang sudah panas. Perebutan kekuasaan antara TNI AD dan PKI sudah jelas tergambar. 


"Dari surat kabar kita sudah bisa mengikuti dan dari dinamika politik yang ada kita juga sudah bisa menilai. Jadi ini pasti adalah peristiwa politik dan kalau sampai ada peristiwa seperti ini ya saya harus siap menghadapi kemungkinan terburuk," tutupnya.

[7/7 13.54] rudysugengp@gmail.com: 1. Buatkan gambar dan infografis tentang 

Kehidupan Sutoyo Siswomiharjo 


Informasi pribadi

Lahir : 28 Agustus 1922, Karanganyar, Kebumen, Keresidenan Kedu, Hindia Belanda

Meninggal : 1 Oktober

1965 (umur 43), Lubang Buaya, Jakarta Timur, Indonesia

Makam : Taman Makam Pahlawan Nasional Utama Kalibata

Istri :

Sri Rochjati ​(meninggal)

Raden Ayu Suparmi 

Anak : 3, termasuk Agus Widjojo

Julukan : Toyota


Kehidupan awal :

Sutoyo lahir di Karanganyar, Kebumen, Jawa Tengah. Ia menyelesaikan sekolahnya sebelum invasi Jepang pada tahun 1942, dan selama masa pendudukan Jepang, ia belajar administrasi pemerintahan di Jakarta. Ia kemudian bekerja sebagai pegawai negeri di Purworejo, tetapi mengundurkan diri pada tahun 1944.


Masa Muda dan Pendidikan: 

Lahir di Kebumen pada 28 Agustus 1922, ia menempuh pendidikan di HIS dan AMS Semarang sebelum melanjutkan ke Kenkoku Gakuin di Jakarta.

[7/7 13.54] rudysugengp@gmail.com: 4. Buatkan gambar dan infografis tentang 

Kesaksian putra Sutoyo Siswomiharjo


Letjen (Purn) Agus Widjojo masih berusia 18 tahun ketika peristiwa G30S/PKI itu terjadi. Masih terekam jelas di ingatannya bagaimana perjumpaan terakhir dengan sang ayah, Mayjen Sutoyo Siswomiharjo, pada 1 Oktober 1965 dini hari. 


Saat itu, dini hari 1 Oktober, Agus masih tertidur pulas. Bersama dua orang adiknya dan seorang sepupunya, Agus tidur di sebuah kamar di kediaman ayahnya, Mayjen Sutoyo yang terletak di kawasan Menteng. Dalam lelap tidurnya, ternyata ada pasukan yang merangsek masuk ke dalam rumah Mayjen Sutoyo. 


"Kebetulan garasi kami sedang direnovasi jadi memang terbuka sekali. Mereka masuk lewat situ, lalu langsung ke belakang. Di belakang ada kamar pembantu. Mereka gedor untuk mendapatkan kunci untuk bisa masuk ke dalam rumah," ujar Agus kepada kumparan (kumparan.com) di Gedung Lemnhanas, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Rabu (20/9 2017).


Gubernur Lemhanas ini mengakui tak ada penjagaan berarti di kediamannya, tak seperti kediaman Jenderal Ahmad Yani. Saat itu, praktis tidak ada pasukan yang berjaga apalagi senjata. Dengan mudah pasukan itu memenuhi tiap sudut rumah Agus. 


Rasa takut menyergap, tapi Agus bersama kedua saudara dan sepupunya tak diizinkan untuk ke luar kamar. Mereka hanya mendengar suara ayah mereka yang keluar dari kamarnya untuk meladeni para 'penculiknya'.


"Hanya terdengar suara sepatu boots. Ayah saya tahu tidak mungkin ada perlawanan, kalau dipaksakan perlawanan, mungkin akan membawa akibat lebih parah," kenangnya. 


"Setelah tanya jawab sebentar, siapa ini, tujuannya apa, mereka lalu mengatakan 'Ikut kami, dipanggil Presiden' kepada ayah saya. Lalu ayah keluar. Itulah terakhir kali saya melihat dan mengetahui ayah saya. Setelah itu tak ditemukan kembali," tutur Agus.


Agus tak mengetahui dengan pasti berapa jumlah pasukan yang menyergap rumahnya. Pertama, ruangan memang gelap dan kedua, ia tak diperbolehkan keluar. Namun, dari pengakuan para tetangga usai kejadian itu, ada dua truk yang menyergap rumahnya. 


Di peristiwa dini hari itulah untuk terakhir kalinya Agus melihat sang ayah. Selang tiga hari, ia tak mendengar kabar apapun dari sang ayah. Kabar mengenai sang ayah baru didapat pada 4 Oktober 1965. Ia membaca dari media massa bahwa terjadi pembantaian terhadap sejumlah petinggi dan perwira AD. Mayjen Sutoyo adalah salah satunya. 


Memaknai peristiwa itu, Wakil Ketua MPR dari Fraksi TNI/Polri periode 2001-2003 itu mengaku tak kaget. Saat itu, politik Tanah Air memang sudah panas. Perebutan kekuasaan antara TNI AD dan PKI sudah jelas tergambar. 


"Dari surat kabar kita sudah bisa mengikuti dan dari dinamika politik yang ada kita juga sudah bisa menilai. Jadi ini pasti adalah peristiwa politik dan kalau sampai ada peristiwa seperti ini ya saya harus siap menghadapi kemungkinan terburuk," tutupnya.

[7/7 13.55] rudysugengp@gmail.com: 3. Buatkan gambar dan infografis tentang 

Akhir Hayat Sutoyo Siswomiharjo


Pada dini hari tanggal 1 Oktober 1965, anggota Gerakan 30 September yang dipimpin oleh Sersan Mayor Surono masuk ke dalam rumah Sutoyo di Jalan Sumenep, Menteng, Jakarta Pusat. Mereka masuk melalui garasi di samping rumah. Mereka memaksa pembantu untuk menyerahkan kunci, masuk ke rumah itu dan mengatakan bahwa Sutoyo telah dipanggil oleh Presiden Soekarno. Mereka kemudian membawanya ke markas mereka di Lubang Buaya. Di sana, dia dibunuh dan tubuhnya dilemparkan ke dalam sumur yang tak terpakai. Seperti rekan-rekan lainnya yang dibunuh, mayatnya ditemukan pada 4 Oktober dan dia dimakamkan pada hari berikutnya. Dia secara anumerta dipromosikan menjadi Mayor Jenderal dan menjadi Pahlawan Revolusi

[7/7 13.56] rudysugengp@gmail.com: 2. Buatkan gambar dan infografis tentang 

Karier Militer Sutoyo Siswomiharjo 


Karier militer :

Setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945, Sutoyo bergabung ke dalam bagian Polisi Tentara Keamanan Rakyat (TKR), cikal bakal Tentara Nasional Indonesia. Hal ini kemudian menjadi Polisi Militer Indonesia. Pada Juni 1946, ia diangkat menjadi ajudan Kolonel Gatot Soebroto, komandan Polisi Militer. Ia terus mengalami kenaikan pangkat di dalam Polisi Militer, dan pada tahun 1954 ia menjadi kepala staf di Markas Besar Polisi Militer. Dia memegang posisi ini selama dua tahun sebelum diangkat menjadi asisten atase militer di kedutaan besar Indonesia di London. Setelah pelatihan di Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat di Bandung dari tahun 1959 hingga 1960, ia diangkat menjadi Inspektur Kehakiman Angkatan Darat, kemudian karena pengalaman hukumnya, pada tahun 1961 ia menjadi inspektur kehakiman/jaksa militer utama.


Operasi Budi: 

Sebagai Inspektur Kehakiman, ia sukses menjalankan Operasi Budi pada tahun-tahun menjelang 1965, sebuah program penertiban dan disiplin yang berhasil menyelamatkan keuangan negara sebesar Rp 11 miliar.

[7/7 14.17] rudysugengp@gmail.com: 1. Buatkan gambar dan infografis tentang 

Biodata dan Kehidupan Awal  Pierre Andreas Tendean


Informasi pribadi

Lahir :

21 Februari 1939

Batavia, Hindia Belanda

Meninggal :

1 Oktober 1965 (umur 26)

Jakarta, Indonesia

Makam :

Taman Makam Pahlawan Nasional Utama Kalibata


Kehidupan awal :

Pierre lahir pada tanggal 21 Februari 1939 di Batavia (sekarang Jakarta), Hindia Belanda, di sebuah rumah sakit rakyat bernama Centrale Burgerlijke Ziekeninrichting (CBZ) (sekarang RSUPN dr. Cipto Mangunkusumo). Ayah Pierre yang bernama Aurelius Lammert Tendean adalah seorang dokter berdarah Minahasa yang pada saat kelahiran Pierre sedang bekerja di CBZ. Dr. Tendean kemudian sempat menjadi wakil kepala Rumah Sakit Jiwa Keramat di Magelang (sekarang Rumah Sakit Jiwa Soerojo) dan kepala Rumah Sakit Jiwa Pusat Semarang (sekarang Rumah Sakit Jiwa Daerah Amino Gondohutomo). Ibu Pierre yang bernama Maria Elizabeth Cornet adalah seorang keturunan Prancis yang berasal dari Leiden, Belanda. Nama Pierre sendiri diambil dari kakek pihak ibunya sedangkan Andries diambil dari kakek pihak ayahnya. Pierre adalah anak kedua dari tiga bersaudara; kakaknya bernama Mitze Farre Tendean dan adiknya bernama Rooswidiati Tendean.


Tendean mengenyam pendidikan dasar di Sekolah Rakyat Boton (sekarang ditempati SMP Negeri 4) di Magelang. Dia lalu melanjutkan pendidikan SMP dan SMA di Semarang pada saat ayahnya tugas di sana. Pada tahun 1952, Tendean mulai belajar di SMP Negeri 1 dan kemudian pada tahun 1955 di SMA bagian B (sekarang SMA Negeri I). Setelah lulus SMA, Tendean ingin menjadi tentara, tetapi orang tuanya ingin dia menjadi dokter atau insinyur. Atas permintaan orang tuanya dia mendaftar ujian masuk di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) dan di Institut Teknologi Bandung (ITB), tapi Tendean dengan sengaja tidak serius menyelesaikan ujian masuk kedua sekolah tersebut sehingga dia dinyatakan tidak lulus. Melihat hasil ini, akhirnya orang tuanya memperbolehkan dia mengikuti ujian masuk Akademi Militer Nasional (AMN). Tendean dianjurkan untuk memilih satuan Zeni yang merupakan cabang teknis militer angkatan darat, supaya dia di kemudian hari mempunyai kesempatan untuk melanjutkan studi ke ITB. Setelah diterima menjadi taruna AMN, Tendean memilih untuk masuk Akademi Teknik Angkatan Darat (ATEKAD). Tendean diterima sebagai calon taruna ATEKAD angkatan ke-6 pada bulan November 1958 dan dilantik pada tanggal 26 November 1958 di Stadion Siliwangi.

[7/7 14.17] rudysugengp@gmail.com: 3. Buatkan gambar dan infografis tentang 

Akhir Hayat dan Penghargaan Pierre Andreas Tendean


Pada dini hari tanggal 1 Oktober 1965, pasukan Gerakan 30 September (G30S) mendatangi rumah dinas Nasution dengan tujuan untuk menculiknya. Tendean yang sedang tidur di paviliun yang berada di belakang rumah dinas Jenderal Nasution dibangunkan oleh Yanti Nasution (putri sulung Nasution) setelah dia mendengar suara tembakan dan keributan. Tendean pun mengambil senjata garandnya dan keluar untuk memeriksa keadaan di luar. Menurut kesaksian AKP Hamdan Mansjur, ajudan Nasution yang bertugas bersama Tendean pada malam itu, dan Alpiah, pengasuh Ade Irma Nasution (putri bungsu Nasution), pada waktu Tendean keluar dia disergap oleh penculik. Dia kemudian berkata, "Saya ajudan Nasution". Yang mendengar pernyataan Tendean tersebut mungkin tidak sepenuhnya mendengar kata "ajudan" dan ditambah keadaan penerangan yang gelap sehingga mereka mengira Tendean adalah Nasution sendiri. Nasution sendiri berhasil melarikan diri dengan melompati pagar.


Tendean lalu dibawa ke sebuah rumah di daerah Lubang Buaya. Dia ditembak mati dan mayatnya dibuang ke sebuah sumur tua bersama keenam perwira lainnya. Pada tanggal 4 Oktober 1965, jenazah-jenazah dalam sumur di Lubang Buaya diangkat oleh prajurit-prajurit KKO dan RPKAD. Kopral Anang dari RPKAD ditugaskan mengangkat jenazah yang paling atas di dalam sumur. Jenazah pertama yang diangkat itu adalah jenazah Pierre Tendean. Jenazah-jenazah kemudian dibawa ke Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) untuk dilakukan pemeriksaan berdasarkan perintah Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (KOSTRAD) Mayjen Soeharto. Dr. Lim Tjoe Thay (kemudian dikenal dengan nama Indonesia dr. Arief Budianto) yang memeriksa jenazah Tendean. Pada waktu itu, dr. Budianto adalah seorang lektor Ilmu Kedokteran Kehakiman di Universitas Indonesia. Hasil visum et repertum menyatakan bahwa pada jenazah Tendean terdapat empat luka tembak yang masuk dari bagian belakang dan dua luka tembak yang keluar pada bagian muka. Selain itu, luka-luka lecet terdapat di dahi dan tangan kiri, dan pada kepala terdapat tiga luka menganga karena kekerasan tumpul.


Pada tanggal 5 Oktober 1965, Tendean bersama keenam perwira lainnya dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata. Prosesi pemakaman dimulai dari Markas Besar AD. Peti jenazah Tendean diangkut di atas panser Saracen dengan dikawal oleh Direktur Zeni AD Brigjen Dandi Kadarsan.


Penghargaan :

Untuk menghargai jasa-jasanya, pada tanggal 5 Oktober 1965 Tendean bersama enam orang perwira tinggi Angkatan Darat yang gugur diberikan kenaikan pangkat secara anumerta. Tendean sendiri dipromosikan menjadi kapten berdasarkan Keputusan Presiden/Panglima Tertinggi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia/Komando Operasi Tertinggi (Keppres) No. 110/KOTI/1965. 

Pada hari itu juga, berdasarkan Keppres No. 111/KOTI/1965, Tendean dianugerahi gelar Pahlawan Revolusi Indonesia. Kemudian pada Hari Pahlawan tanggal 10 November 1965, Tendean dianugerahi Bintang Republik Indonesia Adipradana berdasarkan Keppres No. 50/BTK/1965.


Patung yang didirikan untuk mengenang Tendean terdapat di Lubang Buaya yaitu Monumen Pahlawan Revolusi, di Manado (bersama patung Robert Wolter Mongisidi), dan di Semarang. Sejumlah jalan juga dinamai sesuai namanya di berbagai kota di Indonesia.


Dalam budaya populer :

Dalam film Penumpasan Pengkhianatan G 30 S PKI (1982), Pierre Tendean diperankan oleh Wawan Wanisar.

[7/7 14.19] rudysugengp@gmail.com: 2. Buatkan gambar dan infografis tentang 

Karier Militer Pierre Andreas Tendean


Karier Militer :

Operasi 17 Agustus :

Setelah menyelesaikan pelatihan dasar militer (basic training), pada tanggal 23 Januari 1959 Tendean dikukuhkan menjadi prajurit taruna. Kemudian pada tanggal 1 April 1959, Tendean dinaikkan pangkatnya menjadi kopral taruna. Dalam rangka penumpasan gerakan Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI), satu batalyon taruna Zeni dibentuk untuk mendukung Operasi 17 Agustus. Tendean ditempatkan di Peleton 3 Kompi I Batalyon Taruna Zeni dan setelah melakukan latihan persiapan di Pusat Latihan Pertempuran (sekarang Depo Pendidikan Bela Negara) di Cikole, para taruna diberangkatkan ke Sumatra pada tanggal 6 Oktober 1959. Batalyon ini diperbantukan pada Resimen Tim Pertempuran (RTP) III/Diponegoro. Setelah tiba di Pelabuhan Teluk Bayur pada tanggal 8 Oktober 1959, Tendean bersama taruna Zeni lainnya diberangkatkan ke daerah Danau Singkarak dan ditugaskan untuk merehabilitasi jalur kereta api yang dirusak PRRI. Setelah tugas Batalyon Taruna Zeni berakhir pada tanggal 31 Desember 1959, Tendean kembali ke Jakarta bersama taruna ATEKAD lainnya pada tanggal 6 Januari 1960. Bulan itu juga, Tendean mendapat penghargaan Satya Lencana Sapta Marga atas jasanya dalam operasi militer di Sumatra. Selain itu, dia dan rekan-rekannya naik pangkat ke sersan taruna.


Operasi Dwikora :

Pada tanggal 19 Desember 1961, Tendean dilantik menjadi perwira muda dengan pangkat letnan dua (Czi). Dia masih melanjutkan studinya di ATEKAD selama satu tahun lagi untuk menyelesaikan kursus aplikasi bidang teknik konstruksi. Setelah menyelesaikan kursus aplikasi, pada tanggal 13 Desember 1962 Tendean ditugaskan ke Batalyon Zeni Tempur 1 Daerah Militer II/Bukit Barisan. Batalyon ini terdiri dari empat Kompi Zeni Tempur (Kizipur) dan Tendean dipercayakan untuk menjadi Komandan Peleton (Danton) 1 Kizipur A. Setahun kemudian, dia dipanggil untuk mengikuti pendidikan di sekolah intelijen TNI AD di Bogor. Setamat dari sana, ia ditugaskan di Dinas Pusat Intelijen Angkatan Darat (DIPIAD) untuk memimpin pasukan gerilya sukarelawan untuk menjadi mata-mata ke Malaysia sehubungan dengan konfrontasi antara Indonesia dengan Malaysia. Mereka bermarkas di Selat Panjang, Riau. Tendean berhasil menyusup ke wilayah Malaysia tiga kali. Pada penyusupan yang ketiga, kapal motor yang ditumpangi Tendean bersama anak buahnya dikejar oleh sebuah kapal perusak milik Inggris. Mereka berhasil lolos dari kejaran kapal Inggris dengan meninggalkan kapal motor dan berenang menuju sebuah kapal nelayan. Mereka bersembunyi dengan cara bergantungan di belakang kapal nelayan tersebut.


Ajudan Nasution :

Pada tanggal 15 April 1965, Tendean dipromosikan menjadi letnan satu dan ditugaskan sebagai ajudan Jenderal Nasution yang pada saat itu menjabat sebagai Menteri Koordinator Pertahanan dan Keamanan/Kepala Staf Angkatan Bersenjata (Menko Hankam/Kasab). Dia menggantikan Kapten Kav Adolf Gustaf Manullang, ajudan Nasution yang gugur dalam misi perdamaian di Republik Demokratik Kongo Afrika tahun 1963. Nasution sebelumnya telah kenal baik dengan keluarga Tendean. Pada saat Tendean mengikuti ujian masuk FKUI di Jakarta, dia menumpang di rumah Nasution di Jl. Teuku Umar No. 40.

Dan Nasutionlah yang menganjurkan agar Tendean memilih satuan Zeni pada saat dia diterima di AMN.

[7/7 14.35] rudysugengp@gmail.com: 1. Buatkan gambar dan infografis tentang 

Kehidupan Awal K.S Tubun


Informasi pribadi :

Nama : Karel Sadsuitubun, 

Lahir : 14 Oktober 1928

Tual, Maluku Tenggara, Hindia Belanda

Meninggal : 1 Oktober 1965 (umur 36), Jakarta, Indonesia

Istri : Margaretha Waginah

Anak : 3

Pekerjaan : Polisi


Biografi :

Karel Sadsuitubun lahir di Tual, Maluku Tenggara pada tanggal 14 Oktober 1928. Ketika telah dewasa ia memutuskan untuk masuk menjadi anggota POLRI. Ia pun diterima, lalu mengikuti Pendidikan Polisi, setelah lulus, ia ditempatkan di Kesatuan Brimob Ambon dengan Pangkat Agen Polisi Kelas Dua atau sekarang Bhayangkara Dua Polisi. Ia pun ditarik ke Jakarta dan memiliki pangkat Agen Polisi Kelas Satu atau sekarang Bhayangkara Satu Polisi.


Pada saat Bung Karno mengumandangkan Trikora yang isinya menuntut pengembalian Irian Barat kepada Indonesia dari tangan Belanda. Seketika pula dilakukan Operasi Militer, ia pun ikut serta dalam perjuangan itu. Setelah Irian barat berhasil dikembalikan, ia diberi tugas untuk mengawal kediaman Wakil Perdana Menteri, Dr. J. Leimena di Jakarta. Berangsur-angsur pangkatnya naik menjadi Brigadir Polisi.

[7/7 14.35] rudysugengp@gmail.com: 2. Buatkan gambar dan infografis tentang 

Akhir Hayat dan Penghormatan K.S Tubun


Karena mengganggap para pimpinan Angkatan Darat sebagai penghalang utama cita-citanya. Maka PKI merencanakan untuk melakukan penculikan dan pembunuhan terhadap sejumlah Perwira Angkatan Darat yang dianggap menghalangi cita-citanya. Salah satu sasarannya adalah Jenderal A.H. Nasution yang bertetangga dengan rumah Dr. J. Leimena. Gerakan itu pun dimulai, ketika itu ia kebagian tugas jaga pagi setelah Tugas Yohanes Narahawrin selesai. Maka, ia menyempatkan diri untuk tidur. Para penculik pun datang, pertama-tama mereka menyekap para pengawal rumah Dr. J. Leimena. Karena mendengar suara gaduh maka K. Sadsuitubun pun terbangun dengan membawa senjata ia mencoba menembak para gerombolan PKI tersebut. Malang, gerombolan itu pun juga menembaknya. Karena tidak seimbang K. Sadsuitubun pun tewas seketika setelah peluru penculik menembus tubuhnya.


Pemberian gelar :

Atas segala jasa-jasanya selama ini, serta turut menjadi korban Gerakan 30 September maka pemerintah memasukannya sebagai salah satu Pahlawan Revolusi Indonesia, bersama dengan Jenderal Ahmad Yani, Letjen R. Suprapto, Letjen M.T. Haryono, Letjen S. Parman, Mayjen Sutoyo, Mayjen D.I. Pandjaitan, Brigjen Katamso, Kolonel Sugiono dan Kapten CZI Pierre Tendean. 

Selain itu pula pangkatnya dinaikkan menjadi Ajun Inspektur Polisi Dua. 

Namanya juga kini diabadikan menjadi nama sebuah Kapal Perang Republik Indonesia dari fregat kelas Ahmad Yani dengan nama KRI Karel Sadsuitubun.


Penghormatan :

Pemerintah Indonesia memberi penghormatan atas jasa dan perjuangan Karel Sadsuitubun, dengan menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional dan mengabadikan namanya pada Bandar Udara Karel Sadsuitubun di Ibra, Kei Kecil, Maluku Tenggara. Pemerintah juga mengabadikan namanya pada kapal perang KRI Karel Satsuit Tubun.

[7/7 15.43] rudysugengp@gmail.com: 1. Buatkan gambar dan infografis tentang 

Biografi dan Masa Muda R. Suprapto


Informasi pribadi

Lahir : 20 Juni 1920, Purwokerto, Keresidenan Banyumas, Hindia Belanda

Meninggal : 1 Oktober 1965 (umur 45), Lubang Buaya, Jakarta Timur, Indonesia

Makam : Taman Makam Pahlawan Nasional Utama Kalibata

Istri : Yulie Suparti ​

Anak : 5


Biografi :

Suprapto yang lahir di Purwokerto, 20 Juni 1920, Pendidikan formalnya setelah tamat MULO (setingkat SLTP) adalah AMS (setingkat SMU) Bagian B di Yogyakarta yang diselesaikannya pada tahun 1941.


Sekitar tahun itu pemerintah Hindia Belanda mengumumkan milisi sehubungan dengan pecahnya Perang Dunia Kedua. Ketika itulah ia memasuki pendidikan militer pada Koninklijke Militaire Akademie di Bandung. Pendidikan ini tidak bisa diselesaikannya sampai tamat karena Pasukan Jepang sudah keburu mendarat di Indonesia. Oleh Jepang, ia ditawan dan dipenjarakan, tetapi kemudian ia berhasil melarikan diri.


Selepas pelariannya dari penjara, ia mengisi waktunya dengan mengikuti kursus Pusat Latihan Pemuda, latihan keibodan, seinendan, dan syuisyintai. Dan setelah itu, ia bekerja di Kantor Pendidikan Masyarakat.


Masa Muda :

Letnan Jenderal TNI Anumerta R Suprapto atau yang akrab disapa Suprapto lahir dan besar di Purwokerto, Jawa Tengah.  Lingkungan tempat dirinya bertumbuh ini penuh diliputi dengan suasana religius yang memberikan pengaruh terhadap watak Suprapto.  Ajaran-ajaran agama yang ia dapatkan membentuk Suprapto menjadi seorang yang lembut dan tenang.  Kelembutan itu pun didukung oleh bakat seni yang ia miliki. Suprapto sendiri merupakan anak terakhir dari 10 bersaudara. 


Suprapto mengawali pendidikannya di Hollandsch Inlandsche School (HIS) atau sekolah dasar zaman Hindia Belanda di Purwokerto. Setamatnya dari HIS, ia melanjutkan pendidikan di MULO atau Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (setingkat SLTP).  Kemudian setelah lulus dari MULO, ia lanjut ke AMS (setingkat SMU) di Yogyakarta dan lulus tahun 1941.  Pada tahun yang sama, pemerintah Hindia Belanda mengumumkan milisi sehubungan dengan pecahnya Perang Dunia Kedua.  

Saat itulah Suprapto mulai terjun ke pendidikan militer. 


Organisasi :

Ia tergabung dalam Koninklijke Militaire Akademie di Bandung.  Namun, Suprapto tidak dapat menyelesaikan pendidikan militernya, karena Jepang sudah lebih dulu menduduki Indonesia.  Oleh Jepang, Suprapto ditawan dan dipenjarakan. Tetapi, ia berhasil melarikan diri dari rumah tahanan.  Berhasil kabur, Suprapto pun kembali ke kampung halamannya, Purwokerto. Di sana ia pun mengikuti kursus Cuo Seinen Kunrensyo atau Pusat Latihan Pemuda.  Suprapto merasa tertarik terhadap masalah-masalah sosial, terutama yang berhubungan dengan pemuda.  Dalam kegiatan bidang sosialnya ini, Suprapto berkenalan dengan pemuda Soedirman, seorang pemimpin muda.  Keduanya memiliki pemikiran yang sama tentang bagaimana cara untuk memajukan pemuda. Suprapto dan Soedirman pun menyumbangkan tenaga mereka di bidang yang sama.  Selain aktif dalam kegiatan sosial, Suprapto juga mengikuti latihan pemuda lain, seperti keibodan, seinendan, dan suisyintai. Ketiga hal itu adalah organisasi bentukan Jepang.

[7/7 15.43] rudysugengp@gmail.com: 2. Buatkan gambar dan infografis tentang 

Karier Militer R. Suprapto


Era Kemerdekaan :

Di awal kemerdekaan, ia merupakan salah seorang yang turut serta berjuang dan berhasil merebut senjata pasukan Jepang di Cilacap. Selepas itu, ia kemudian masuk menjadi anggota Tentara Keamanan Rakyat di Purwokerto. Itulah awal dirinya secara resmi masuk sebagai tentara, sebab sebelumnya walaupun ia ikut dalam perjuangan melawan tentara Jepang seperti di Cilacap, tetapi perjuangan itu hanyalah sebagai perjuangan rakyat yang dilakukan oleh rakyat Indonesia pada umumnya.


Selama di Tentara Keamanan Rakyat (TKR), ia mencatatkan sejarah dengan ikut menjadi salah satu yang turut dalam pertempuran di Ambarawa melawan tentara Inggris. Ketika itu, pasukannya dipimpin langsung oleh Panglima Besar Sudirman. Ia juga salah satu yang pernah menjadi ajudan dari Panglima Besar tersebut.


Pertempuran Ambarawa :

Di awal kemerdekaan, Suprapto merupakan salah satu pejuang yang berhasil merebut senjata pasukan Jepang di Cilacap.  Selepas itu, ia pun bergabung menjadi anggota Tentara Keamanan Rakyat (TKR) di Purwokerto.  Karena kemampuannya dinilai cukup baik, Suprapto dipercayai menduduki jabatan sebagai Kepala Bagian II Divisi V dan diberi pangkat kapten.  Divisi V dipimpin oleh Kolonel Soedirman, tokoh yang sudah ia kenal sejak zaman Jepang.  Pada 12 - 15 Desember 1945, terjadi Pertempuran Ambarawa. Dalam perang ini, Suprapto turut mendampingi Komandan Divisi V.  Peristiwa dimulai dengan pertempuran di Magelang, terjadi perebutan benteng Banyubiru. Akhir dari pertempuran ini yaitu jatuhnya benteng Willem I di Ambarawa ke tangan TKR.  TKR berhasil mengungguli pasukan Serikat yang memiliki persenjataan lengkap. Pasukan Serikat dipukul mundur sampai akhirnya mereka melarikan diri ke Semarang.  


Ajudan Soedirman : 

Setelah Pertempuran Ambarawa berakhir, Kolonel Soedirman dilantik oleh pemerintah menjadi Panglima Besar TKR.  Karena sudah menjalin hubungan baik dengan Suprapto, maka Soedirman pun memilih Suprapto untuk menjadi ajudannya.  Tugas yang harus ia emban sebagai ajudan tentulah tidak mudah.  Suprapto turut menyempurnakan TKR dan harus menghadapi berbagai ancaman musuh.  Hampir dua tahun Suprapto menjadi ajudan Jenderal Soedirman.  

Pada 1948, setelah Markas Komando Jawa terbentuk, Suprapto tidak lagi menjadi ajudan Jenderal Soedirman.  Suprapto diangkat menjadi Kepala Bagian II Markas Komando Jawa yang dipimpin oleh A.H. Nasution.

[7/7 15.57] rudysugengp@gmail.com: 3. Buatkan gambar dan infografis tentang 

Akhir Hayat dan Penghargaan R. Suprapto


MASIH ingat film Pengkhianatan G30S/PKI? Dalam salah satu adegannya, ada seorang jenderal kesulitan tidur karena sakit kepala. Sang jenderal lalu membuat sketsa di atas kertas putih. Ketika istrinya menanyakannya sedang menggambar apa, jenderal tersebut menjawab sedang menggambar rencana Museum Perjuangan di Yogyakarta. Namun karena gambarnya dianggap aneh, sang istri pun berkomentar. “Kok kaya kuburan?”


Jenderal yang digambarkan dalam film itu pun terdiam. Dialah Jenderal (Anumerta) Suprapto, satu dari enam perwira tinggi yang gugur oleh sepasukan Tjakrabirawa beberapa jam setelah adegan tersebut. 


Pada 30 September 1965, Suprapto tengah mencabut giginya yang sedang sakit.  

Karena pada malam itu ia merasa tidak enak badan, Suprapto menghabiskan waktunya dengan membuat sebuah lukisan yang akan disumbangkan ke Museum Perjuangan di Yogyakarta. 

Sehari kemudian, pada 1 Oktober 1965, pasukan Cakrabirawa masuk ke dalam kediaman Suprapto.  Suprapto pun terbangun, karena anjing peliharaannya menggonggong.  

Ia pun menanyakan siapa yang ada di luar dan terdengar jawaban "Cakrabirawa".  Mendengar jawaban tersebut Suprapto tidak curiga, karena Cakrabirawa adalah pasukan terpercaya sebagai pengawas Istana dan Presiden. Salah satu penculik ini mengatakan bahwa Suprapto perlu untuk menemui Presiden.  

Sebagai seorang perwira yang patuh, Suprapto pun bersedia untuk pergi.  Suprapto meminta waktu untuk berganti pakaian terlebih dahulu, namun para penculik tidak mengizinkannya. 

Setelah itu, Suprapto pun ditodong dengan senjata dan dibawa dengan paksa ke luar pekarangan.  

Ia pun dibawa ke Lubang Buaya dan dieksekusi. Jenazahnya pun dilemparkan begitu saja ke dalam sumur tua yang sempit bersama dengan jenazah para perwira lain yang diculik oleh eksekutor G30S. Suprato dituduh tergabung dalam Dewan Jenderal yang akan menggulingkan Soekarno, oleh karena itu perlu diculik.


Akhir Hayat : 

R. Suprapto disebut sebagai salah satu penentang rencana Partai Komunis Indonesia (PKI) dalam membentuk Angkatan Kelima. 

Angkatan Kelima adalah unsur pertahanan keamanan Republik Indonesia yang diusulkan PKI, diambil dari kalangan buruh dan petani yang dipersenjatai.


Penghargaan :

Berdasarkan SK Presiden RI No. III/Koti/Tahun 1965, pada 5 Oktober 1965, Letnan Jenderal Anumerta Suprapto dinobatkan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia.


Berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 050/BTK/TH/1965 pada tanggal 10 November 1965, Letjen TNI (Anumerta) R. Suprapto dianugrahi tanda kehormatan Bintang Republik Indonesia Adipradana.

[7/7 22.29] rudysugengp@gmail.com: 1. Buatkan gambar dan infografis tentang 

Biodata dan Kehidupan Awal Katamso Darmokusumo


Informasi pribadi

Lahir :

5 Februari 1923

Sragen, Kasunanan Surakarta, Hindia Belanda

Meninggal :

1 Oktober 1965 (umur 42)

Sleman, Indonesia

Makam :

Taman Makam Pahlawan Kusuma Negara


Latar belakang :

Katamso Darmokusumo dilahirkan pada hari Senin, 5 Februari 1923 di Sragen, Jawa Tengah, dari keluarga Ki Sastrosudarmo.

Ia menamatkan pendidikan di Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah, sebelum bergabung dengan pendidikan militer Pembela Tanah Air (PETA) di Bogor pada masa pendudukan Jepang, yang menjadi landasan awal karir militernya.

[7/7 22.29] rudysugengp@gmail.com: 2. Buatkan gambar dan infografis tentang 

Karier Militer Katamso Darmokusumo


Ia melanjutkan pada pendidikan tentara PETA di Bogor. Setelah masa kemerdekaan Indonesia, Ia bergabung dengan TKR yang berangsur-angsur berubah menjadi TNI. Ketika terjadi agresi militer belanda, ia memimpin pasukan untuk berkali-kali melakukan pertempuran mengusir Belanda dari Indonesia. Pada masa awal kedaulatan Republik Indonesia masih sering dirongrong dengan berbagai peristiwa baik dalam maupun luar negeri.


Setelah kedaulatan Negara Indonesia di akui di mata Internasional, terjadi Pemberontakan Batalyon 426 di Jawa Tengah. Brigjen Katamso dan pasukannya diserahi tugas untuk menumpas pemberontakan tersebut. Pada Biografi Brigadir Jenderal Katamso Darmokusumo disebutkan, bahwa pada tahun 1958 ia menjabat sebagai Komandan batalyon ``A`` yang tergabung dalam pasukan Komando Operasi 17 Agustus yang dipimpin oleh Kolonel Ahmad Yani. Pasukan ini bertugas menumpas pemberontakan yang dilakukan oleh PRRI/Permesta.


Pada tahun 1963 Brigjen Katamso diamanahi jabatan sebagai Komandan Korem 072 Kodam VII/Diponegoro yang berkedudukan di Yogyakarta. Pada masa itu ideologi PKI telah menyebar luas dilapisan masyarakat. PKI juga menyasar kalangan terpelajar untuk bergabung dengan mereka dan diharapkan menjadi kekuatan intelektual mereka. Brigjen Katamso mencium gelagat sangat kuat terkait penyebaran PKI di daerah Solo sehingga Ia memutuskan untuk melakukan pembinaan kepada para mahasiswa di daerah Solo. Para Mahasiswa tersebut diberi Pelatihan Militer guna meningkatkan kecintaan kepada Negara Republik Indonesia di atas kelompok dan golongan.


Riwayat jabatan :

Shodanco Peta di Solo

Komandan Kompi di Klaten

Komandan Kompi Batalyon 28 Divisi IV

Komandan Batalyon "A" Komando Operasi 17 Agustus

Kepala Staf Resimen Team Pertempuran (RTP) II Diponegoro

Kepala Staf Resimen Riau Daratan Kodam III/17 Agustus

Komando Pendidikan dan Latihan (Koplat) merangkap Komandan Pusat

Pendidikan Infanteri (Pusdikif) di Bandung

Komandan Resor Militer Korem 072, Komando Daerah Militer (Kodam) VII Diponegoro di Yogyakarta.

[7/7 22.30] rudysugengp@gmail.com: 3. Buatkan gambar dan infografis tentang 

Akhir Hayat dan Penghargaan Katamso Darmokusumo


Brigadir Jenderal TNI Katamso Darmokusumo tertangkap dengan jelas akan aksi pemberontakan dan penculikan G 30 S/ PKI tidak hanya berjalan di Jakarta. PKI juga membidik para perwira di daerah termasuk di wilayah Kodam VII/Diponegoro. PKI dengan menghasud beberapa anggota TNI di Yogyakarta, mereka berhasil menguasai RRI Yogyakarta. Atas insiden tersebut, Markas Korem 072 dibawah Komando Brigjen Katamso mengumumkan pembentukan Dewan Revolusi. Brigjen Katamso termasuk perwira yang sangat tidak menyetujui keberadaan PKI, maka ia juga termasuk salah satu perwira yang menjadi sasaran dari penculikan PKI.


Makam Katamso : Darmokusumo di TMP Kusuma Negara, Yogyakarta

PKI melancarkan penculikan terhadap komandan Korem 072/Pamungkas dan Kepala Staf Korem Letnan Kolonel Sugiono pada tanggal 1 Oktober 1965 sore hari. Katamso dan Sugiono dibawa ke daerah Kentungan, dan sesampainya ditempat, mereka dipukul pakai kunci mortir hingga tewas. PKI telah mempersiapkan segala sesuatunya di daerah tersebut. Lubang telah disiapkan khusus untuk menyembunyikan jasad kedua perwira tersebut yang memang sudah menjadi target pembunuhan. Jenazah keduanya baru diketemukan pada 21 Oktober 1965 dalam keadaan rusak setelah dilakukan pencarian secara besar-besaran semenjak peristiwa hilangnya mereka berdua. Kemudian pada tanggal 22 Oktober 1965 jenazah mereka berdua dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Semaki Yogyakarta. Biografi Brigadir Jenderal Katamso Darmokusumo menjelaskan, atas jasa dan perjuangannya, pemerintah menganugerahkan sebagai Pahlawan Revolusi berdasarkan SK Presiden RI No. 118/KOTI/ tahun 1965 yang tertanggal 19 Oktober 1965.

[7/7 23.02] rudysugengp@gmail.com: 1. Buatkan gambar dan infografis tentang 

Biodata dan Kehidupan Sugiyono Mangunwiyoto


Informasi pribadi

Lahir : 12 Agustus 1926, Gunungkidul, Yogyakarta, Indonesia

Meninggal :  1 Oktober 1965 (umur 39)

Sleman, Yogyakarta, Indonesia

Makam : Taman Makam Pahlawan Kusuma Negara

Istri : Supriyati

Anak : 7

Pekerjaan : TNI


Latar belakang :

Kolonel Inf (Anumerta) R. Sugiyono Mangunwiyoto lahir di Gedaren Sumbergiri, Ponjong, Kabupaten Gunungkidul pada tanggal 12 Agustus 1926 dari pasangan Kasan Sumitrorejo seorang petani sekaligus perangkat desa dan R. Ngt. Sutiyah Semito Rejo dari Semanu, Kabupaten Gunungkidul. 

Sugiyono anak ke-11 dari 14 bersaudara dan hanya dia yang menganut agama Kristen di keluarganya.


Keluarga :

Kolonel Inf (Anumerta) Sugiyono menikah dengan Supriyati, seorang perawat di RS Bethesda. Pertemuannya dengan istrinya itu terjadi saat Kolonel Inf Sugiyono dirawat di RS Bethesda karena cedera atau sakit saat bertugas di medan perang. Lalu mereka menikah dan memiliki anak enam orang laki-laki:


1. R. Erry Guthomo (l. 1954)

2. R. Agung Pramuji (l. 1956)

3. R. Haryo Guritno (l. 1958)

4. R. Danny Nugroho (l. 1960)

5. R. Budi Winoto (l. 1962)

6. R. Ganis Priyono (l. 1963)

7. Seorang anak perempuan, Rr. Sugiarti Takarina (l. 1965), yang lahir 20 hari setelah jasad ayahnya ditemukan. 

Nama Sugiarti Takarina diberikan oleh Presiden Soekarno.

[7/7 23.02] rudysugengp@gmail.com: 2. Buatkan gambar dan infografis tentang 

Karier Militer Sugiyono Mangunwiyoto


Karier militer :

Sugiyono sebenarnya memiliki cita-cita menjadi seorang guru. Guna mewujudkan cita-citanya itu, ia dengan tekun menempuh pendidikan di Sekolah Guru Pertama di Wonosari, Kabupaten Gunungkidul. Namun, sebelum ia selesai dalam pendidikan di Sekolah Guru, Tentara Jepang menduduki Tanah Air dan memberlakukan wajib militer bagi anak-anak muda. Ia terpaksa mengubur impiannya untuk menjadi seorang guru, dan mengikuti pendidikan sebagai tentara di Pembela Tanah Air (PETA). Selepas menyelesaikan pendidikan di PETA, ia diangkat sebagai Budancho (Komandan Peleton) di Wonosari, Kabupaten Gunungkidul. Selepas masa proklamasi, ia tergabung dalam Tentara Keamanan Rakyat (TKR), dan mengawali karier sebagai komandan seksi. Ia kemudian diangkat menjadi ajudan Komandan Brigade 10 di bawah Letnan Kolonel Suharto pada tahun 1947.


Pada 1 Maret 1949 terjadi serangan umum terhadap Yogyakarta saat peristiwa Agresi Militer II. Ia turut serta dalam keberhasilan pasukan menghentikan agresi militer II tersebut yang mampu mengubah penilaian dunia internasional terhadap kekuatan RI.


Penugasan militer :

Keikutsertaan dia dalam Gerakan Operasi Militer (GOM) III dalam rangka memadamkan pemberontakan KNIL di wilayah Sulawesi Selatan yang dipimpin oleh Andi Aziz. Berpindah tempat dan berganti jabatan adalah hal yang lumrah dalam karier kemiliteran. Kariernya terus menanjak, hingga pada bulan Juni tahun 1965 ia berpangkat Letnan Kolonel, dan menjadi Kepala Staf Komando Resort Militer (Korem) 072/Pamungkas Kodam VII/Diponegoro di Yogyakarta, yang sekarang menjadi Kodam IV/Diponegoro. Saat itu Komandan Korem 072/Pamungkas adalah Kolonel Inf Katamso Darmokusumo.


Riwayat jabatan :

* Danton (1945)

* Komandan Seksi

* Ajudan Danbrigade 10 Letnan Kolonel Suharto (1947)

* Kastaf Korem 072/Pamungkas (1965)

[7/7 23.02] rudysugengp@gmail.com: 3. Buatkan gambar dan infografis tentang 

Akhir Hayat Sugiyono Mangunwiyoto


Gugur: 

Sugiyono menjadi salah satu korban penculikan dan pembunuhan oleh oknum pemberontak di Yogyakarta. 

Bersama atasannya, Brigjen Katamso, jenazah Sugiyono ditemukan di kompleks Batalyon L di Kentungan, Yogyakarta.

Ia dimakamkan di TMP Semaki, Yogyakarta.


Gelar Pahlawan: 

Ia dianugerahi gelar Pahlawan Nasional/Revolusi melalui Keputusan Presiden pada 5 Oktober 1965.


Sugiyono Mangunwiyoto merupakan pahlawan revolusi RI yang menjadi korban kekejaman komunis. Pada tanggal 1 Oktober 1965, Sugiyono meninggalkan Yogyakarta untuk menuju Pekalongan. Di perjalanan ia bersinggah di Semarang dan mendapatkan kabar bahwa atasannya yaitu Brigjen Katamso berada di Kentungan, akhirnya Sugiyono kembali ke Yogyakarta. 

Saat Sugiyono tiba di Yogyakarta ternyata Kolonel Katamso telah diculik dan ia pun dikepung oleh para penghianat di Markas Korem 072 lalu dibawa ke Kentungan. 

Saat di Kentungan, Sugiyono dipukul menggunakan kunci mortar peluru kendali yang memiliki ukuran besar hingga tewas dan jasadnya dimasukkan ke dalam sumur bersama jasad Brigjen Katamso. Kolonel Sugiyono dan Brigjen Katamso tewas setelah dikhianati anak buahnya yang telah terpengaruh oleh komunis.


Jasad dari kedua pahlawan ini baru ditemukan setelah 21 hari. lalu disemayamkan di Taman Makam Pahlawan Semaki, Yogyakarta. Sugiyono pun diberi gelar Pahlawan Nasional pada tanggal 5 Oktober 1965. Kolonel Sugiyono adalah sosok yang cerdas, pintar, dan pemberani. Selama ia menjabat sebagai ajudan Komandan Brigade 10, Sugiyono menunjukkan kontribusinya dalam membela tanah air salah satunya saat peristiwa Agresi Militer II di Yogyakarta pada 1 Maret 1949. Sugiyono semasa hidupnya aktif memberikan latihan militer pada anggota resimen mahasiswa. Anggota resimen mahasiswa yang dilatih kebanyakan dari kalangan anggota GMNI dan PMKRI. 


Adanya peristiwa G30SPKI memberikan wadah tersendiri bagi sejarah Indonesia. Sudah menjadi tugas generasi muda penerus bangsa untuk menghargai jasa para pahlawan, salah satunya dengan mengetahui sosok pahlawan Indonesia. Kolonel Sugiyono bagi beberapa orang terasa asing namanya, untuk itu mari mengenal sosok pahlawan Indonesia.

[7/7 23.39] rudysugengp@gmail.com: 1. Buatkan gambar dan infografis tentang 

Kehidupan Awal Abdul Kadir Gelar Raden Temenggung Setia


Abdul Kadir Gelar Raden Temenggung Setia Pahlawan (lahir: Sintang, Kalimantan Barat, 1771 - wafat: Tanjung Suka Dua, Melawi, 1875) adalah seorang pahlawan nasional Indonesia dari Melawi. Pada tahun 1845, ia diangkat sebagai Kepala Pemerintahan Melawi yang merupakan bagian dari Kerajaan Sintang. Sebagai pejabat kerajaan ia mendapat gelar Raden Temenggung. Ia berhasil mengembangkan potensi perekonomian wilayah ini dan mempersatukan suku Dayak dengan Melayu. Selain itu ia juga berjuang menentang Belanda yang ingin menguasai wilayah ini.


Asal Usul :

Abdul Kadir Raden Tumenggung Setia Pahlawan lahir di Sintang, Kalimantan Barat pada tahun 1771 Masehi. Ayahnya bernama Oerip dan ibunya bernama Siti Safriyah. Ayah Abdul Kadir bekerja sebagai hulubalang atau pemimpin pasukan Kerajaan Sintang.


Masa Muda :

Abdul Kadir sudah mengabdi sebagai pegawai Kerajaan Sintang pada saat usianya masih sangat muda. Selama mengabdi di Kerajaan Sintang, ia mampu melaksanakan tugasnya dengan baik. Ia pernah mendapat tugas dari Raja Sintang untuk mengamankan Kerajaan Sintang dari gangguan pengacau dan perampok. Tugas tersebut dapat dilaksanakannya dengan baik. Abdul Kadir kemudian diangkat menjadi pembantu ayahnya yang menjabat sebagai Kepala Pemerintahan kawasan Melawi. Setelah ayahnya wafat, pada tahun 1845, ia diangkat sebagai kepala pemerintahan Melawi menggantikan kedudukan ayahnya. Karena jabatannya itu Abdul Kadir mendapatkan gelar Raden Tumenggung yang diberikan oleh Raja Sintang.

[7/7 23.40] rudysugengp@gmail.com: 2. Buatkan gambar dan infografis tentang 

Perjuangan Abdul Kadir Gelar Raden Temenggung Setia


Dalam perjuangannya, ia berhasil mempersatukan suku-suku Dayak dengan Melayu serta dapat mengembangkan potensi ekonomi daerah Melawi. Namun, ia juga berjuang keras menghadapi ambisi Belanda (datang di Sintang pada tahun 1820) yang ingin memperluas wilayah kekuasaannya ke daerah Melawi. Dalam menghadapi Belanda, ia memakai strategi peran ganda, yaitu sebagai pejabat pemerintah Melawi ia tetap bersikap setia pada Raja Sintang yang berarti setia pula pada pemerintahan Belanda. Namun, secara diam-diam ia juga menghimpun kekuatan rakyat untuk melawan Belanda. Ia membentuk kesatuan-kesatuan bersenjata di daerah Melawi dan sekitarnya untuk menghadapi pasukan Belanda. Pada tahun 1866, Belanda memberikan hadiah uang dan gelar Setia Pahlawan kepada Abdul Kadir Raden Tumenggung agar sikapnya melunak dan mau bekerjasama dengan Belanda. Namun Abdul Kadir tidak mengubah sikap dan pendiriannya. Ia tetap melakukan persiapan untuk melawan pemerintahan Belanda. Pada akhirnya di daerah Melawi sering terjadi gangguan keamanan terhadap Belanda yang dilakukan oleh pengikut Abdul Kadir Raden Tumenggung. Pada tahun 1868, Belanda yang marah akibat sering mendapat gangguan keamanan kemudian melancarkan operasi militer ke daerah Melawi. Pertempuran pun tidak bisa dihindari antara pasukan Belanda melawan pengikut Abdul Kadir Raden Tumenggung. Dalam menghadapi Belanda, Abdul Kadir tidak memimpin pertempuran secara langsung, melainkan ia hanya mengatur strategi perlawanan. Sebagai kepala pemerintahan Melawi, ia bisa memperoleh berbagai informasi tentang rencana-rencana operasi militer pemerintah Belanda. Berkat informasi itulah, para pemimpin perlawanan dapat mengacaukan operasi militer Belanda.

[7/7 23.40] rudysugengp@gmail.com: 3. Buatkan gambar dan infografis tentang 

Akhir Hayat Abdul Kadir Gelar Raden Temenggung Setia


Akhir Hidup :

Selama tujuh tahun (1868-1875) Abdul Kadir Raden Tumenggung berhasil menerapkan strategi peran ganda, tetapi akhirnya pemerintah Belanda mengetahuinya. Pada tahun 1875 ia ditangkap dan dipenjarakan di Benteng Saka Dua milik Belanda di Nanga Pinoh. Tiga minggu kemudian ia meninggal dunia dalam usia 104 tahun. Jenazahnya dimakamkan di Natali Mangguk Liang daerah Melawi. Abdul Kadir Raden Tumenggung Setia Pahlawan adalah satu satunya pahlawan yang meninggal dunia pada usia di atas 100 tahun. Tokoh pejuang yang mampu menghimpun serta menggerakkan rakyat untuk melawan Belanda. Pemikirannya untuk melawan penjajah Belanda menjadi contoh bagi perlawanan rakyat selanjutnya.


Atas jasa-jasanya dalam perjuangan menghadapi penjajah Belanda, maka pada tahun 1999 berdasarkan Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 114/TK/Tahun 1999 tertanggal 13 Oktober 1999, pemerintah Indonesia menganugerahkan Abdul Kadir Raden Tumenggung Setia Pahlawan sebagai Pahlawan Nasional.

[8/7 22.28] rudysugengp@gmail.com: 1. Buatkan gambar dan infografis tentang 

Biografi dan Masa Muda R. Suprapto


Informasi pribadi

Lahir : 20 Juni 1920, Purwokerto, Keresidenan Banyumas, Hindia Belanda

Meninggal : 1 Oktober 1965 (umur 45), Lubang Buaya, Jakarta Timur, Indonesia

Makam : Taman Makam Pahlawan Nasional Utama Kalibata

Istri : Yulie Suparti ​

Anak : 5


Biografi :

Suprapto yang lahir di Purwokerto, 20 Juni 1920, Pendidikan formalnya setelah tamat MULO (setingkat SLTP) adalah AMS (setingkat SMU) Bagian B di Yogyakarta yang diselesaikannya pada tahun 1941.


Sekitar tahun itu pemerintah Hindia Belanda mengumumkan milisi sehubungan dengan pecahnya Perang Dunia Kedua. Ketika itulah ia memasuki pendidikan militer pada Koninklijke Militaire Akademie di Bandung. Pendidikan ini tidak bisa diselesaikannya sampai tamat karena Pasukan Jepang sudah keburu mendarat di Indonesia. Oleh Jepang, ia ditawan dan dipenjarakan, tetapi kemudian ia berhasil melarikan diri.


Selepas pelariannya dari penjara, ia mengisi waktunya dengan mengikuti kursus Pusat Latihan Pemuda, latihan keibodan, seinendan, dan syuisyintai. Dan setelah itu, ia bekerja di Kantor Pendidikan Masyarakat.


Masa Muda :

Letnan Jenderal TNI Anumerta R Suprapto atau yang akrab disapa Suprapto lahir dan besar di Purwokerto, Jawa Tengah.  Lingkungan tempat dirinya bertumbuh ini penuh diliputi dengan suasana religius yang memberikan pengaruh terhadap watak Suprapto.  Ajaran-ajaran agama yang ia dapatkan membentuk Suprapto menjadi seorang yang lembut dan tenang.  Kelembutan itu pun didukung oleh bakat seni yang ia miliki. Suprapto sendiri merupakan anak terakhir dari 10 bersaudara. 


Suprapto mengawali pendidikannya di Hollandsch Inlandsche School (HIS) atau sekolah dasar zaman Hindia Belanda di Purwokerto. Setamatnya dari HIS, ia melanjutkan pendidikan di MULO atau Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (setingkat SLTP).  Kemudian setelah lulus dari MULO, ia lanjut ke AMS (setingkat SMU) di Yogyakarta dan lulus tahun 1941.  Pada tahun yang sama, pemerintah Hindia Belanda mengumumkan milisi sehubungan dengan pecahnya Perang Dunia Kedua.  

Saat itulah Suprapto mulai terjun ke pendidikan militer. 


Organisasi :

Ia tergabung dalam Koninklijke Militaire Akademie di Bandung.  Namun, Suprapto tidak dapat menyelesaikan pendidikan militernya, karena Jepang sudah lebih dulu menduduki Indonesia.  Oleh Jepang, Suprapto ditawan dan dipenjarakan. Tetapi, ia berhasil melarikan diri dari rumah tahanan.  Berhasil kabur, Suprapto pun kembali ke kampung halamannya, Purwokerto. Di sana ia pun mengikuti kursus Cuo Seinen Kunrensyo atau Pusat Latihan Pemuda.  Suprapto merasa tertarik terhadap masalah-masalah sosial, terutama yang berhubungan dengan pemuda.  Dalam kegiatan bidang sosialnya ini, Suprapto berkenalan dengan pemuda Soedirman, seorang pemimpin muda.  Keduanya memiliki pemikiran yang sama tentang bagaimana cara untuk memajukan pemuda. Suprapto dan Soedirman pun menyumbangkan tenaga mereka di bidang yang sama.  Selain aktif dalam kegiatan sosial, Suprapto juga mengikuti latihan pemuda lain, seperti keibodan, seinendan, dan suisyintai. Ketiga hal itu adalah organisasi bentukan Jepang.

[8/7 22.28] rudysugengp@gmail.com: 2. Buatkan gambar dan infografis tentang 

Karier Militer R. Suprapto


Era Kemerdekaan :

Di awal kemerdekaan, ia merupakan salah seorang yang turut serta berjuang dan berhasil merebut senjata pasukan Jepang di Cilacap. Selepas itu, ia kemudian masuk menjadi anggota Tentara Keamanan Rakyat di Purwokerto. Itulah awal dirinya secara resmi masuk sebagai tentara, sebab sebelumnya walaupun ia ikut dalam perjuangan melawan tentara Jepang seperti di Cilacap, tetapi perjuangan itu hanyalah sebagai perjuangan rakyat yang dilakukan oleh rakyat Indonesia pada umumnya.


Selama di Tentara Keamanan Rakyat (TKR), ia mencatatkan sejarah dengan ikut menjadi salah satu yang turut dalam pertempuran di Ambarawa melawan tentara Inggris. Ketika itu, pasukannya dipimpin langsung oleh Panglima Besar Sudirman. Ia juga salah satu yang pernah menjadi ajudan dari Panglima Besar tersebut.


Pertempuran Ambarawa :

Di awal kemerdekaan, Suprapto merupakan salah satu pejuang yang berhasil merebut senjata pasukan Jepang di Cilacap.  Selepas itu, ia pun bergabung menjadi anggota Tentara Keamanan Rakyat (TKR) di Purwokerto.  Karena kemampuannya dinilai cukup baik, Suprapto dipercayai menduduki jabatan sebagai Kepala Bagian II Divisi V dan diberi pangkat kapten.  Divisi V dipimpin oleh Kolonel Soedirman, tokoh yang sudah ia kenal sejak zaman Jepang.  Pada 12 - 15 Desember 1945, terjadi Pertempuran Ambarawa. Dalam perang ini, Suprapto turut mendampingi Komandan Divisi V.  Peristiwa dimulai dengan pertempuran di Magelang, terjadi perebutan benteng Banyubiru. Akhir dari pertempuran ini yaitu jatuhnya benteng Willem I di Ambarawa ke tangan TKR.  TKR berhasil mengungguli pasukan Serikat yang memiliki persenjataan lengkap. Pasukan Serikat dipukul mundur sampai akhirnya mereka melarikan diri ke Semarang.  


Ajudan Soedirman : 

Setelah Pertempuran Ambarawa berakhir, Kolonel Soedirman dilantik oleh pemerintah menjadi Panglima Besar TKR.  Karena sudah menjalin hubungan baik dengan Suprapto, maka Soedirman pun memilih Suprapto untuk menjadi ajudannya.  Tugas yang harus ia emban sebagai ajudan tentulah tidak mudah.  Suprapto turut menyempurnakan TKR dan harus menghadapi berbagai ancaman musuh.  Hampir dua tahun Suprapto menjadi ajudan Jenderal Soedirman.  

Pada 1948, setelah Markas Komando Jawa terbentuk, Suprapto tidak lagi menjadi ajudan Jenderal Soedirman.  Suprapto diangkat menjadi Kepala Bagian II Markas Komando Jawa yang dipimpin oleh A.H. Nasution.

[8/7 22.28] rudysugengp@gmail.com: 3. Buatkan gambar dan infografis tentang 

Akhir Hayat dan Penghargaan R. Suprapto


MASIH ingat film Pengkhianatan G30S/PKI? Dalam salah satu adegannya, ada seorang jenderal kesulitan tidur karena sakit kepala. Sang jenderal lalu membuat sketsa di atas kertas putih. Ketika istrinya menanyakannya sedang menggambar apa, jenderal tersebut menjawab sedang menggambar rencana Museum Perjuangan di Yogyakarta. Namun karena gambarnya dianggap aneh, sang istri pun berkomentar. “Kok kaya kuburan?”


Jenderal yang digambarkan dalam film itu pun terdiam. Dialah Jenderal (Anumerta) Suprapto, satu dari enam perwira tinggi yang gugur oleh sepasukan Tjakrabirawa beberapa jam setelah adegan tersebut. 


Pada 30 September 1965, Suprapto tengah mencabut giginya yang sedang sakit.  

Karena pada malam itu ia merasa tidak enak badan, Suprapto menghabiskan waktunya dengan membuat sebuah lukisan yang akan disumbangkan ke Museum Perjuangan di Yogyakarta. 

Sehari kemudian, pada 1 Oktober 1965, pasukan Cakrabirawa masuk ke dalam kediaman Suprapto.  Suprapto pun terbangun, karena anjing peliharaannya menggonggong.  

Ia pun menanyakan siapa yang ada di luar dan terdengar jawaban "Cakrabirawa".  Mendengar jawaban tersebut Suprapto tidak curiga, karena Cakrabirawa adalah pasukan terpercaya sebagai pengawas Istana dan Presiden. Salah satu penculik ini mengatakan bahwa Suprapto perlu untuk menemui Presiden.  

Sebagai seorang perwira yang patuh, Suprapto pun bersedia untuk pergi.  Suprapto meminta waktu untuk berganti pakaian terlebih dahulu, namun para penculik tidak mengizinkannya. 

Setelah itu, Suprapto pun ditodong dengan senjata dan dibawa dengan paksa ke luar pekarangan.  

Ia pun dibawa ke Lubang Buaya dan dieksekusi. Jenazahnya pun dilemparkan begitu saja ke dalam sumur tua yang sempit bersama dengan jenazah para perwira lain yang diculik oleh eksekutor G30S. Suprato dituduh tergabung dalam Dewan Jenderal yang akan menggulingkan Soekarno, oleh karena itu perlu diculik.


Akhir Hayat : 

R. Suprapto disebut sebagai salah satu penentang rencana Partai Komunis Indonesia (PKI) dalam membentuk Angkatan Kelima. 

Angkatan Kelima adalah unsur pertahanan keamanan Republik Indonesia yang diusulkan PKI, diambil dari kalangan buruh dan petani yang dipersenjatai.


Penghargaan :

Berdasarkan SK Presiden RI No. III/Koti/Tahun 1965, pada 5 Oktober 1965, Letnan Jenderal Anumerta Suprapto dinobatkan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia.


Berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 050/BTK/TH/1965 pada tanggal 10 November 1965, Letjen TNI (Anumerta) R. Suprapto dianugrahi tanda kehormatan Bintang Republik Indonesia Adipradana.

[8/7 22.29] rudysugengp@gmail.com: 1. Buatkan gambar dan infografis tentang 

Kehidupan Awal K.S Tubun


Informasi pribadi :

Nama : Karel Sadsuitubun, 

Lahir : 14 Oktober 1928

Tual, Maluku Tenggara, Hindia Belanda

Meninggal : 1 Oktober 1965 (umur 36), Jakarta, Indonesia

Istri : Margaretha Waginah

Anak : 3

Pekerjaan : Polisi


Biografi :

Karel Sadsuitubun lahir di Tual, Maluku Tenggara pada tanggal 14 Oktober 1928. Ketika telah dewasa ia memutuskan untuk masuk menjadi anggota POLRI. Ia pun diterima, lalu mengikuti Pendidikan Polisi, setelah lulus, ia ditempatkan di Kesatuan Brimob Ambon dengan Pangkat Agen Polisi Kelas Dua atau sekarang Bhayangkara Dua Polisi. Ia pun ditarik ke Jakarta dan memiliki pangkat Agen Polisi Kelas Satu atau sekarang Bhayangkara Satu Polisi.


Pada saat Bung Karno mengumandangkan Trikora yang isinya menuntut pengembalian Irian Barat kepada Indonesia dari tangan Belanda. Seketika pula dilakukan Operasi Militer, ia pun ikut serta dalam perjuangan itu. Setelah Irian barat berhasil dikembalikan, ia diberi tugas untuk mengawal kediaman Wakil Perdana Menteri, Dr. J. Leimena di Jakarta. Berangsur-angsur pangkatnya naik menjadi Brigadir Polisi.

[8/7 22.29] rudysugengp@gmail.com: 2. Buatkan gambar dan infografis tentang 

Akhir Hayat dan Penghormatan K.S Tubun


Karena mengganggap para pimpinan Angkatan Darat sebagai penghalang utama cita-citanya. Maka PKI merencanakan untuk melakukan penculikan dan pembunuhan terhadap sejumlah Perwira Angkatan Darat yang dianggap menghalangi cita-citanya. Salah satu sasarannya adalah Jenderal A.H. Nasution yang bertetangga dengan rumah Dr. J. Leimena. Gerakan itu pun dimulai, ketika itu ia kebagian tugas jaga pagi setelah Tugas Yohanes Narahawrin selesai. Maka, ia menyempatkan diri untuk tidur. Para penculik pun datang, pertama-tama mereka menyekap para pengawal rumah Dr. J. Leimena. Karena mendengar suara gaduh maka K. Sadsuitubun pun terbangun dengan membawa senjata ia mencoba menembak para gerombolan PKI tersebut. Malang, gerombolan itu pun juga menembaknya. Karena tidak seimbang K. Sadsuitubun pun tewas seketika setelah peluru penculik menembus tubuhnya.


Pemberian gelar :

Atas segala jasa-jasanya selama ini, serta turut menjadi korban Gerakan 30 September maka pemerintah memasukannya sebagai salah satu Pahlawan Revolusi Indonesia, bersama dengan Jenderal Ahmad Yani, Letjen R. Suprapto, Letjen M.T. Haryono, Letjen S. Parman, Mayjen Sutoyo, Mayjen D.I. Pandjaitan, Brigjen Katamso, Kolonel Sugiono dan Kapten CZI Pierre Tendean. 

Selain itu pula pangkatnya dinaikkan menjadi Ajun Inspektur Polisi Dua. 

Namanya juga kini diabadikan menjadi nama sebuah Kapal Perang Republik Indonesia dari fregat kelas Ahmad Yani dengan nama KRI Karel Sadsuitubun.


Penghormatan :

Pemerintah Indonesia memberi penghormatan atas jasa dan perjuangan Karel Sadsuitubun, dengan menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional dan mengabadikan namanya pada Bandar Udara Karel Sadsuitubun di Ibra, Kei Kecil, Maluku Tenggara. Pemerintah juga mengabadikan namanya pada kapal perang KRI Karel Satsuit Tubun.

[8/7 22.31] rudysugengp@gmail.com: 1. Buatkan gambar dan infografis tentang 

Biodata dan Kehidupan Awal  Pierre Andreas Tendean


Informasi pribadi

Lahir :

21 Februari 1939

Batavia, Hindia Belanda

Meninggal :

1 Oktober 1965 (umur 26)

Jakarta, Indonesia

Makam :

Taman Makam Pahlawan Nasional Utama Kalibata


Kehidupan awal :

Pierre lahir pada tanggal 21 Februari 1939 di Batavia (sekarang Jakarta), Hindia Belanda, di sebuah rumah sakit rakyat bernama Centrale Burgerlijke Ziekeninrichting (CBZ) (sekarang RSUPN dr. Cipto Mangunkusumo). Ayah Pierre yang bernama Aurelius Lammert Tendean adalah seorang dokter berdarah Minahasa yang pada saat kelahiran Pierre sedang bekerja di CBZ. Dr. Tendean kemudian sempat menjadi wakil kepala Rumah Sakit Jiwa Keramat di Magelang (sekarang Rumah Sakit Jiwa Soerojo) dan kepala Rumah Sakit Jiwa Pusat Semarang (sekarang Rumah Sakit Jiwa Daerah Amino Gondohutomo). Ibu Pierre yang bernama Maria Elizabeth Cornet adalah seorang keturunan Prancis yang berasal dari Leiden, Belanda. Nama Pierre sendiri diambil dari kakek pihak ibunya sedangkan Andries diambil dari kakek pihak ayahnya. Pierre adalah anak kedua dari tiga bersaudara; kakaknya bernama Mitze Farre Tendean dan adiknya bernama Rooswidiati Tendean.


Tendean mengenyam pendidikan dasar di Sekolah Rakyat Boton (sekarang ditempati SMP Negeri 4) di Magelang. Dia lalu melanjutkan pendidikan SMP dan SMA di Semarang pada saat ayahnya tugas di sana. Pada tahun 1952, Tendean mulai belajar di SMP Negeri 1 dan kemudian pada tahun 1955 di SMA bagian B (sekarang SMA Negeri I). Setelah lulus SMA, Tendean ingin menjadi tentara, tetapi orang tuanya ingin dia menjadi dokter atau insinyur. Atas permintaan orang tuanya dia mendaftar ujian masuk di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) dan di Institut Teknologi Bandung (ITB), tapi Tendean dengan sengaja tidak serius menyelesaikan ujian masuk kedua sekolah tersebut sehingga dia dinyatakan tidak lulus. Melihat hasil ini, akhirnya orang tuanya memperbolehkan dia mengikuti ujian masuk Akademi Militer Nasional (AMN). Tendean dianjurkan untuk memilih satuan Zeni yang merupakan cabang teknis militer angkatan darat, supaya dia di kemudian hari mempunyai kesempatan untuk melanjutkan studi ke ITB. Setelah diterima menjadi taruna AMN, Tendean memilih untuk masuk Akademi Teknik Angkatan Darat (ATEKAD). Tendean diterima sebagai calon taruna ATEKAD angkatan ke-6 pada bulan November 1958 dan dilantik pada tanggal 26 November 1958 di Stadion Siliwangi.

[8/7 22.31] rudysugengp@gmail.com: 2. Buatkan gambar dan infografis tentang 

Karier Militer Pierre Andreas Tendean


Karier Militer :

Operasi 17 Agustus :

Setelah menyelesaikan pelatihan dasar militer (basic training), pada tanggal 23 Januari 1959 Tendean dikukuhkan menjadi prajurit taruna. Kemudian pada tanggal 1 April 1959, Tendean dinaikkan pangkatnya menjadi kopral taruna. Dalam rangka penumpasan gerakan Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI), satu batalyon taruna Zeni dibentuk untuk mendukung Operasi 17 Agustus. Tendean ditempatkan di Peleton 3 Kompi I Batalyon Taruna Zeni dan setelah melakukan latihan persiapan di Pusat Latihan Pertempuran (sekarang Depo Pendidikan Bela Negara) di Cikole, para taruna diberangkatkan ke Sumatra pada tanggal 6 Oktober 1959. Batalyon ini diperbantukan pada Resimen Tim Pertempuran (RTP) III/Diponegoro. Setelah tiba di Pelabuhan Teluk Bayur pada tanggal 8 Oktober 1959, Tendean bersama taruna Zeni lainnya diberangkatkan ke daerah Danau Singkarak dan ditugaskan untuk merehabilitasi jalur kereta api yang dirusak PRRI. Setelah tugas Batalyon Taruna Zeni berakhir pada tanggal 31 Desember 1959, Tendean kembali ke Jakarta bersama taruna ATEKAD lainnya pada tanggal 6 Januari 1960. Bulan itu juga, Tendean mendapat penghargaan Satya Lencana Sapta Marga atas jasanya dalam operasi militer di Sumatra. Selain itu, dia dan rekan-rekannya naik pangkat ke sersan taruna.


Operasi Dwikora :

Pada tanggal 19 Desember 1961, Tendean dilantik menjadi perwira muda dengan pangkat letnan dua (Czi). Dia masih melanjutkan studinya di ATEKAD selama satu tahun lagi untuk menyelesaikan kursus aplikasi bidang teknik konstruksi. Setelah menyelesaikan kursus aplikasi, pada tanggal 13 Desember 1962 Tendean ditugaskan ke Batalyon Zeni Tempur 1 Daerah Militer II/Bukit Barisan. Batalyon ini terdiri dari empat Kompi Zeni Tempur (Kizipur) dan Tendean dipercayakan untuk menjadi Komandan Peleton (Danton) 1 Kizipur A. Setahun kemudian, dia dipanggil untuk mengikuti pendidikan di sekolah intelijen TNI AD di Bogor. Setamat dari sana, ia ditugaskan di Dinas Pusat Intelijen Angkatan Darat (DIPIAD) untuk memimpin pasukan gerilya sukarelawan untuk menjadi mata-mata ke Malaysia sehubungan dengan konfrontasi antara Indonesia dengan Malaysia. Mereka bermarkas di Selat Panjang, Riau. Tendean berhasil menyusup ke wilayah Malaysia tiga kali. Pada penyusupan yang ketiga, kapal motor yang ditumpangi Tendean bersama anak buahnya dikejar oleh sebuah kapal perusak milik Inggris. Mereka berhasil lolos dari kejaran kapal Inggris dengan meninggalkan kapal motor dan berenang menuju sebuah kapal nelayan. Mereka bersembunyi dengan cara bergantungan di belakang kapal nelayan tersebut.


Ajudan Nasution :

Pada tanggal 15 April 1965, Tendean dipromosikan menjadi letnan satu dan ditugaskan sebagai ajudan Jenderal Nasution yang pada saat itu menjabat sebagai Menteri Koordinator Pertahanan dan Keamanan/Kepala Staf Angkatan Bersenjata (Menko Hankam/Kasab). Dia menggantikan Kapten Kav Adolf Gustaf Manullang, ajudan Nasution yang gugur dalam misi perdamaian di Republik Demokratik Kongo Afrika tahun 1963. Nasution sebelumnya telah kenal baik dengan keluarga Tendean. Pada saat Tendean mengikuti ujian masuk FKUI di Jakarta, dia menumpang di rumah Nasution di Jl. Teuku Umar No. 40.

Dan Nasutionlah yang menganjurkan agar Tendean memilih satuan Zeni pada saat dia diterima di AMN.

[8/7 22.32] rudysugengp@gmail.com: 3. Buatkan gambar dan infografis tentang 

Akhir Hayat dan Penghargaan Pierre Andreas Tendean


Pada dini hari tanggal 1 Oktober 1965, pasukan Gerakan 30 September (G30S) mendatangi rumah dinas Nasution dengan tujuan untuk menculiknya. Tendean yang sedang tidur di paviliun yang berada di belakang rumah dinas Jenderal Nasution dibangunkan oleh Yanti Nasution (putri sulung Nasution) setelah dia mendengar suara tembakan dan keributan. Tendean pun mengambil senjata garandnya dan keluar untuk memeriksa keadaan di luar. Menurut kesaksian AKP Hamdan Mansjur, ajudan Nasution yang bertugas bersama Tendean pada malam itu, dan Alpiah, pengasuh Ade Irma Nasution (putri bungsu Nasution), pada waktu Tendean keluar dia disergap oleh penculik. Dia kemudian berkata, "Saya ajudan Nasution". Yang mendengar pernyataan Tendean tersebut mungkin tidak sepenuhnya mendengar kata "ajudan" dan ditambah keadaan penerangan yang gelap sehingga mereka mengira Tendean adalah Nasution sendiri. Nasution sendiri berhasil melarikan diri dengan melompati pagar.


Tendean lalu dibawa ke sebuah rumah di daerah Lubang Buaya. Dia ditembak mati dan mayatnya dibuang ke sebuah sumur tua bersama keenam perwira lainnya. Pada tanggal 4 Oktober 1965, jenazah-jenazah dalam sumur di Lubang Buaya diangkat oleh prajurit-prajurit KKO dan RPKAD. Kopral Anang dari RPKAD ditugaskan mengangkat jenazah yang paling atas di dalam sumur. Jenazah pertama yang diangkat itu adalah jenazah Pierre Tendean. Jenazah-jenazah kemudian dibawa ke Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) untuk dilakukan pemeriksaan berdasarkan perintah Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (KOSTRAD) Mayjen Soeharto. Dr. Lim Tjoe Thay (kemudian dikenal dengan nama Indonesia dr. Arief Budianto) yang memeriksa jenazah Tendean. Pada waktu itu, dr. Budianto adalah seorang lektor Ilmu Kedokteran Kehakiman di Universitas Indonesia. Hasil visum et repertum menyatakan bahwa pada jenazah Tendean terdapat empat luka tembak yang masuk dari bagian belakang dan dua luka tembak yang keluar pada bagian muka. Selain itu, luka-luka lecet terdapat di dahi dan tangan kiri, dan pada kepala terdapat tiga luka menganga karena kekerasan tumpul.


Pada tanggal 5 Oktober 1965, Tendean bersama keenam perwira lainnya dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata. Prosesi pemakaman dimulai dari Markas Besar AD. Peti jenazah Tendean diangkut di atas panser Saracen dengan dikawal oleh Direktur Zeni AD Brigjen Dandi Kadarsan.


Penghargaan :

Untuk menghargai jasa-jasanya, pada tanggal 5 Oktober 1965 Tendean bersama enam orang perwira tinggi Angkatan Darat yang gugur diberikan kenaikan pangkat secara anumerta. Tendean sendiri dipromosikan menjadi kapten berdasarkan Keputusan Presiden/Panglima Tertinggi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia/Komando Operasi Tertinggi (Keppres) No. 110/KOTI/1965. 

Pada hari itu juga, berdasarkan Keppres No. 111/KOTI/1965, Tendean dianugerahi gelar Pahlawan Revolusi Indonesia. Kemudian pada Hari Pahlawan tanggal 10 November 1965, Tendean dianugerahi Bintang Republik Indonesia Adipradana berdasarkan Keppres No. 50/BTK/1965.


Patung yang didirikan untuk mengenang Tendean terdapat di Lubang Buaya yaitu Monumen Pahlawan Revolusi, di Manado (bersama patung Robert Wolter Mongisidi), dan di Semarang. Sejumlah jalan juga dinamai sesuai namanya di berbagai kota di Indonesia.


Dalam budaya populer :

Dalam film Penumpasan Pengkhianatan G 30 S PKI (1982), Pierre Tendean diperankan oleh Wawan Wanisar.

[8/7 22.33] rudysugengp@gmail.com: 1. Buatkan gambar dan infografis tentang 

Biodata dan Kehidupan Awal Katamso Darmokusumo


Informasi pribadi

Lahir :

5 Februari 1923

Sragen, Kasunanan Surakarta, Hindia Belanda

Meninggal :

1 Oktober 1965 (umur 42)

Sleman, Indonesia

Makam :

Taman Makam Pahlawan Kusuma Negara


Latar belakang :

Katamso Darmokusumo dilahirkan pada hari Senin, 5 Februari 1923 di Sragen, Jawa Tengah, dari keluarga Ki Sastrosudarmo.

Ia menamatkan pendidikan di Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah, sebelum bergabung dengan pendidikan militer Pembela Tanah Air (PETA) di Bogor pada masa pendudukan Jepang, yang menjadi landasan awal karir militernya.

[8/7 22.33] rudysugengp@gmail.com: 2. Buatkan gambar dan infografis tentang 

Karier Militer Katamso Darmokusumo


Ia melanjutkan pada pendidikan tentara PETA di Bogor. Setelah masa kemerdekaan Indonesia, Ia bergabung dengan TKR yang berangsur-angsur berubah menjadi TNI. Ketika terjadi agresi militer belanda, ia memimpin pasukan untuk berkali-kali melakukan pertempuran mengusir Belanda dari Indonesia. Pada masa awal kedaulatan Republik Indonesia masih sering dirongrong dengan berbagai peristiwa baik dalam maupun luar negeri.


Setelah kedaulatan Negara Indonesia di akui di mata Internasional, terjadi Pemberontakan Batalyon 426 di Jawa Tengah. Brigjen Katamso dan pasukannya diserahi tugas untuk menumpas pemberontakan tersebut. Pada Biografi Brigadir Jenderal Katamso Darmokusumo disebutkan, bahwa pada tahun 1958 ia menjabat sebagai Komandan batalyon ``A`` yang tergabung dalam pasukan Komando Operasi 17 Agustus yang dipimpin oleh Kolonel Ahmad Yani. Pasukan ini bertugas menumpas pemberontakan yang dilakukan oleh PRRI/Permesta.


Pada tahun 1963 Brigjen Katamso diamanahi jabatan sebagai Komandan Korem 072 Kodam VII/Diponegoro yang berkedudukan di Yogyakarta. Pada masa itu ideologi PKI telah menyebar luas dilapisan masyarakat. PKI juga menyasar kalangan terpelajar untuk bergabung dengan mereka dan diharapkan menjadi kekuatan intelektual mereka. Brigjen Katamso mencium gelagat sangat kuat terkait penyebaran PKI di daerah Solo sehingga Ia memutuskan untuk melakukan pembinaan kepada para mahasiswa di daerah Solo. Para Mahasiswa tersebut diberi Pelatihan Militer guna meningkatkan kecintaan kepada Negara Republik Indonesia di atas kelompok dan golongan.


Riwayat jabatan :

Shodanco Peta di Solo

Komandan Kompi di Klaten

Komandan Kompi Batalyon 28 Divisi IV

Komandan Batalyon "A" Komando Operasi 17 Agustus

Kepala Staf Resimen Team Pertempuran (RTP) II Diponegoro

Kepala Staf Resimen Riau Daratan Kodam III/17 Agustus

Komando Pendidikan dan Latihan (Koplat) merangkap Komandan Pusat

Pendidikan Infanteri (Pusdikif) di Bandung

Komandan Resor Militer Korem 072, Komando Daerah Militer (Kodam) VII Diponegoro di Yogyakarta.

[8/7 22.33] rudysugengp@gmail.com: 3. Buatkan gambar dan infografis tentang 

Akhir Hayat dan Penghargaan Katamso Darmokusumo


Brigadir Jenderal TNI Katamso Darmokusumo tertangkap dengan jelas akan aksi pemberontakan dan penculikan G 30 S/ PKI tidak hanya berjalan di Jakarta. PKI juga membidik para perwira di daerah termasuk di wilayah Kodam VII/Diponegoro. PKI dengan menghasud beberapa anggota TNI di Yogyakarta, mereka berhasil menguasai RRI Yogyakarta. Atas insiden tersebut, Markas Korem 072 dibawah Komando Brigjen Katamso mengumumkan pembentukan Dewan Revolusi. Brigjen Katamso termasuk perwira yang sangat tidak menyetujui keberadaan PKI, maka ia juga termasuk salah satu perwira yang menjadi sasaran dari penculikan PKI.


Makam Katamso : Darmokusumo di TMP Kusuma Negara, Yogyakarta

PKI melancarkan penculikan terhadap komandan Korem 072/Pamungkas dan Kepala Staf Korem Letnan Kolonel Sugiono pada tanggal 1 Oktober 1965 sore hari. Katamso dan Sugiono dibawa ke daerah Kentungan, dan sesampainya ditempat, mereka dipukul pakai kunci mortir hingga tewas. PKI telah mempersiapkan segala sesuatunya di daerah tersebut. Lubang telah disiapkan khusus untuk menyembunyikan jasad kedua perwira tersebut yang memang sudah menjadi target pembunuhan. Jenazah keduanya baru diketemukan pada 21 Oktober 1965 dalam keadaan rusak setelah dilakukan pencarian secara besar-besaran semenjak peristiwa hilangnya mereka berdua. Kemudian pada tanggal 22 Oktober 1965 jenazah mereka berdua dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Semaki Yogyakarta. Biografi Brigadir Jenderal Katamso Darmokusumo menjelaskan, atas jasa dan perjuangannya, pemerintah menganugerahkan sebagai Pahlawan Revolusi berdasarkan SK Presiden RI No. 118/KOTI/ tahun 1965 yang tertanggal 19 Oktober 1965.

[8/7 22.35] rudysugengp@gmail.com: 1. Buatkan gambar dan infografis tentang 

Biodata dan Kehidupan Sugiyono Mangunwiyoto


Informasi pribadi

Lahir : 12 Agustus 1926, Gunungkidul, Yogyakarta, Indonesia

Meninggal :  1 Oktober 1965 (umur 39)

Sleman, Yogyakarta, Indonesia

Makam : Taman Makam Pahlawan Kusuma Negara

Istri : Supriyati

Anak : 7

Pekerjaan : TNI


Latar belakang :

Kolonel Inf (Anumerta) R. Sugiyono Mangunwiyoto lahir di Gedaren Sumbergiri, Ponjong, Kabupaten Gunungkidul pada tanggal 12 Agustus 1926 dari pasangan Kasan Sumitrorejo seorang petani sekaligus perangkat desa dan R. Ngt. Sutiyah Semito Rejo dari Semanu, Kabupaten Gunungkidul. 

Sugiyono anak ke-11 dari 14 bersaudara dan hanya dia yang menganut agama Kristen di keluarganya.


Keluarga :

Kolonel Inf (Anumerta) Sugiyono menikah dengan Supriyati, seorang perawat di RS Bethesda. Pertemuannya dengan istrinya itu terjadi saat Kolonel Inf Sugiyono dirawat di RS Bethesda karena cedera atau sakit saat bertugas di medan perang. Lalu mereka menikah dan memiliki anak enam orang laki-laki:


1. R. Erry Guthomo (l. 1954)

2. R. Agung Pramuji (l. 1956)

3. R. Haryo Guritno (l. 1958)

4. R. Danny Nugroho (l. 1960)

5. R. Budi Winoto (l. 1962)

6. R. Ganis Priyono (l. 1963)

7. Seorang anak perempuan, Rr. Sugiarti Takarina (l. 1965), yang lahir 20 hari setelah jasad ayahnya ditemukan. 

Nama Sugiarti Takarina diberikan oleh Presiden Soekarno.

[8/7 22.35] rudysugengp@gmail.com: 2. Buatkan gambar dan infografis tentang 

Karier Militer Sugiyono Mangunwiyoto


Karier militer :

Sugiyono sebenarnya memiliki cita-cita menjadi seorang guru. Guna mewujudkan cita-citanya itu, ia dengan tekun menempuh pendidikan di Sekolah Guru Pertama di Wonosari, Kabupaten Gunungkidul. Namun, sebelum ia selesai dalam pendidikan di Sekolah Guru, Tentara Jepang menduduki Tanah Air dan memberlakukan wajib militer bagi anak-anak muda. Ia terpaksa mengubur impiannya untuk menjadi seorang guru, dan mengikuti pendidikan sebagai tentara di Pembela Tanah Air (PETA). Selepas menyelesaikan pendidikan di PETA, ia diangkat sebagai Budancho (Komandan Peleton) di Wonosari, Kabupaten Gunungkidul. Selepas masa proklamasi, ia tergabung dalam Tentara Keamanan Rakyat (TKR), dan mengawali karier sebagai komandan seksi. Ia kemudian diangkat menjadi ajudan Komandan Brigade 10 di bawah Letnan Kolonel Suharto pada tahun 1947.


Pada 1 Maret 1949 terjadi serangan umum terhadap Yogyakarta saat peristiwa Agresi Militer II. Ia turut serta dalam keberhasilan pasukan menghentikan agresi militer II tersebut yang mampu mengubah penilaian dunia internasional terhadap kekuatan RI.


Penugasan militer :

Keikutsertaan dia dalam Gerakan Operasi Militer (GOM) III dalam rangka memadamkan pemberontakan KNIL di wilayah Sulawesi Selatan yang dipimpin oleh Andi Aziz. Berpindah tempat dan berganti jabatan adalah hal yang lumrah dalam karier kemiliteran. Kariernya terus menanjak, hingga pada bulan Juni tahun 1965 ia berpangkat Letnan Kolonel, dan menjadi Kepala Staf Komando Resort Militer (Korem) 072/Pamungkas Kodam VII/Diponegoro di Yogyakarta, yang sekarang menjadi Kodam IV/Diponegoro. Saat itu Komandan Korem 072/Pamungkas adalah Kolonel Inf Katamso Darmokusumo.


Riwayat jabatan :

* Danton (1945)

* Komandan Seksi

* Ajudan Danbrigade 10 Letnan Kolonel Suharto (1947)

* Kastaf Korem 072/Pamungkas (1965)

[8/7 22.35] rudysugengp@gmail.com: 3. Buatkan gambar dan infografis tentang 

Akhir Hayat Sugiyono Mangunwiyoto


Gugur: 

Sugiyono menjadi salah satu korban penculikan dan pembunuhan oleh oknum pemberontak di Yogyakarta. 

Bersama atasannya, Brigjen Katamso, jenazah Sugiyono ditemukan di kompleks Batalyon L di Kentungan, Yogyakarta.

Ia dimakamkan di TMP Semaki, Yogyakarta.


Gelar Pahlawan: 

Ia dianugerahi gelar Pahlawan Nasional/Revolusi melalui Keputusan Presiden pada 5 Oktober 1965.


Sugiyono Mangunwiyoto merupakan pahlawan revolusi RI yang menjadi korban kekejaman komunis. Pada tanggal 1 Oktober 1965, Sugiyono meninggalkan Yogyakarta untuk menuju Pekalongan. Di perjalanan ia bersinggah di Semarang dan mendapatkan kabar bahwa atasannya yaitu Brigjen Katamso berada di Kentungan, akhirnya Sugiyono kembali ke Yogyakarta. 

Saat Sugiyono tiba di Yogyakarta ternyata Kolonel Katamso telah diculik dan ia pun dikepung oleh para penghianat di Markas Korem 072 lalu dibawa ke Kentungan. 

Saat di Kentungan, Sugiyono dipukul menggunakan kunci mortar peluru kendali yang memiliki ukuran besar hingga tewas dan jasadnya dimasukkan ke dalam sumur bersama jasad Brigjen Katamso. Kolonel Sugiyono dan Brigjen Katamso tewas setelah dikhianati anak buahnya yang telah terpengaruh oleh komunis.


Jasad dari kedua pahlawan ini baru ditemukan setelah 21 hari. lalu disemayamkan di Taman Makam Pahlawan Semaki, Yogyakarta. Sugiyono pun diberi gelar Pahlawan Nasional pada tanggal 5 Oktober 1965. Kolonel Sugiyono adalah sosok yang cerdas, pintar, dan pemberani. Selama ia menjabat sebagai ajudan Komandan Brigade 10, Sugiyono menunjukkan kontribusinya dalam membela tanah air salah satunya saat peristiwa Agresi Militer II di Yogyakarta pada 1 Maret 1949. Sugiyono semasa hidupnya aktif memberikan latihan militer pada anggota resimen mahasiswa. Anggota resimen mahasiswa yang dilatih kebanyakan dari kalangan anggota GMNI dan PMKRI. 


Adanya peristiwa G30SPKI memberikan wadah tersendiri bagi sejarah Indonesia. Sudah menjadi tugas generasi muda penerus bangsa untuk menghargai jasa para pahlawan, salah satunya dengan mengetahui sosok pahlawan Indonesia. Kolonel Sugiyono bagi beberapa orang terasa asing namanya, untuk itu mari mengenal sosok pahlawan Indonesia.

Pah Rev 10

 [6/7 21.51] rudysugengp@gmail.com: 1. Buatkan gambar dan infografis tentang  Kehidupan Ahmad Yani  Ahmad Yani lahir di Jenar, Purwodadi, Pu...