Said Aqil Siroj Luncurkan 11 Jilid Buku Historiografi Islam Nusantara di Surabaya
Di tengah tajamnya konflik peradaban dan ketegangan geopolitik global, Indonesia kini menjadi pusat perhatian dunia. Letaknya yang strategis di persimpangan jalur dunia serta posisinya sebagai negara demokrasi berpenerapan mayoritas Muslim menjadikan rekam jejak sejarah Nusantara sangat memikat untuk dipelajari.
Ketua Umum LPOI sekaligus Anggota Wantimpres, Prof. Dr. KH. Said Aqil Siroj, MA, menegaskan, memahami Islam Nusantara membutuhkan kesadaran sejarah yang lebih mendalam, tidak sekadar melacak awal kedatangan atau tokoh penyebarnya. Hal tersebut disampaikannya saat membuka acara Launching dan Bedah Buku Historiografi Islam Nusantara di Hotel Deka, Surabaya, Jawa Timur.
Penulis buku Historiografi Islam Nusantara sebanyak 11 jilid ini menjelaskan bahwa gagasan utama karyanya dirancang untuk mengajak masyarakat memandang sejarah Islam Nusantara sebagai ruang kajian ilmiah yang dinamis dan terbuka bagi ragam sudut pandang.
Fakta sejarah dapat ditafsirkan secara bervariasi bergantung pada metode, sumber, dan kerangka analisis yang digunakan—sebuah dinamika yang memperkaya diskusi ilmiah terkait asal-usul hingga kontribusi Islam di tanah air.
“Dilihat dari perspektif sejarah, Islam di Nusantara tidak hanya hadir sebagai agama yang dianut oleh mayoritas penduduk Indonesia. Islam juga berperan dalam membentuk jaringan pendidikan, perdagangan, hukum, diplomasi, bahasa, sastra, kebudayaan, serta berbagai institusi sosial dan politi,” katanya.
Sumbangan besar tersebut tercermin dari rekam jejak lembaga pendidikan Islam, tradisi keilmuan, jejaring ulama, manuskrip, hingga pergerakan sosial umat Muslim. Kehadiran organisasi Islam modern seperti Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, dan ormas lainnya sejak era pra-kemerdekaan turut membuktikan bahwa dinamika Islam berkembang melampaui ritus keagamaan semata, melainkan menyatu dalam pelayanan publik dan pemikiran sosial.
Dalam kacamata historiografi, ormas Islam sepatutnya tidak dipandang sekadar sebagai objek penelitian, melainkan sebagai subjek aktif yang menyimpan memori kolektif serta melestarikan catatan sejarah melalui arsip, manuskrip, dan kesaksian internal.
Kang Said yang juga menjabat sebagai Ketua Umum Majelis Islam A’la Indonesia (MIAI) menekankan pengembangan historiografi Islam Nusantara merupakan upaya memperluas sumber, perspektif, dan pelaku dalam penulisan sejarah Indonesia.
“Tujuannya bukan membangun sejarah yang bersifat apologetik atau mengunggulkan kelompok tertentu, melainkan menghadirkan kajian ilmiah yang menempatkan masyarakat Muslim Nusantara sebagai pelaku sejarah yang aktif, kreatif, dan memiliki kontribusi nyata terhadap perkembangan peradaban,” ungkapnya.
Pada kesempatan yang sama, Sekretaris Jenderal LPOI sekaligus co-penulis buku, Imam Pituduh, menyampaikan, penerbitan karya ini ditujukan untuk menyambut Hari Santri 2026 sekaligus merajut kembali narasi sejarah Islam Nusantara bagi generasi penerus. Surabaya dipilih sebagai lokasi peluncuran perdana guna mengenang napak tilas revolusi kemerdekaan, sejarah Nusantara, serta menyerap spirit perjuangan para wali dan kejayaan kerajaan masa lalu.
Imam Pituduh menyoroti tantangan ruang publik modern yang kerap menyajikan narasi sejarah secara dangkal, terfragmentasi, bahkan terdistorsi akibat arus informasi yang terlalu cepat. Fenomena penyederhanaan dan manipulasi masa lalu berpotensi mengaburkan pemahaman masyarakat terhadap identitas bangsa.
“Masyarakat perlu dibekali kemampuan untuk membedakan fakta sejarah, interpretasi, dan opini; memeriksa sumber; memahami konteks; serta menilai suatu narasi secara kritis dan bertanggung jawab,” tegasnya.
Helatan peluncuran karya literatur ini turut dihadiri oleh Anggota Wantimpres H. Soekarwo (Pakde Karwo), Wakil Gubernur Jawa Timur Dr. H. Emil Dardak, jajaran pengurus LPOI, para rektor perguruan tinggi negeri dan swasta, perwakilan pondok pesantren, serta jajaran tokoh masyarakat Jawa Timur.






