Buatlah Risalah dan Infografis tentang Perjanjian Kerajaan di Indonesia yaitu :
Perjanjian Giyanti.
Ditandatangani pada 13 Februari 1755, adalah perjanjian utama yang memecah belah Kerajaan Mataram Islam menjadi dua bagian: Kasunanan Surakarta Hadiningrat dan Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Ditandatangani di Desa Giyanti, perjanjian ini menandai berakhirnya perang saudara dan campur tangan VOC dalam membagi wilayah Mataram.
Pihak Terlibat:
Perjanjian Giyanti melibatkan VOC (diwakili Nicolaas Hartingh), Sunan Pakubuwana III, dan Pangeran Mangkubumi.
Isi Utama (Palihan Nagari):
Mataram dibagi menjadi dua wilayah (sering disebut Palihan Nagari). Bagian timur diserahkan kepada Pakubuwana III (Kasunanan Surakarta), dan bagian barat diberikan kepada Pangeran Mangkubumi, yang bergelar Sultan Hamengkubuwono I (Kasultanan Yogyakarta).
Dampak:
Mataram Islam secara permanen terpecah. Perjanjian ini memperkuat dominasi kolonial VOC di Jawa.
Perjanjian Lanjutan: Perpecahan berlanjut dengan Perjanjian Salatiga (1757) yang membagi wilayah Surakarta, melahirkan Mangkunegaran, dan kemudian pembagian Yogyakarta (Pakualaman) pada 1813.
Perjanjian Giyanti merupakan siasat devide et impera (politik adu domba) VOC untuk mengakhiri konflik internal keluarga kerajaan.
RISALAH PERJANJIAN KERAJAAN DI INDONESIA
PERJANJIAN GIYANTI (1755)
1. Identitas Perjanjian
Nama Perjanjian: Perjanjian Giyanti
Tanggal: 13 Februari 1755
Tempat: Desa Giyanti (wilayah Surakarta)
Jenis: Perjanjian politik–teritorial
Latar: Perang saudara dan konflik suksesi Kerajaan Mataram Islam
2. Latar Belakang
Perjanjian Giyanti lahir dari konflik internal keluarga Kerajaan Mataram Islam yang berkepanjangan. Pertentangan antara Sunan Pakubuwana III dan Pangeran Mangkubumi dimanfaatkan oleh VOC untuk memperkuat pengaruh kolonialnya di Jawa. VOC bertindak sebagai penengah, namun sesungguhnya menerapkan strategi devide et impera (politik adu domba).
3. Pihak-Pihak yang Terlibat
VOC (Vereenigde Oost-Indische Compagnie) Diwakili oleh Nicolaas Hartingh
Sunan Pakubuwana III Penguasa Mataram yang diakui VOC
Pangeran Mangkubumi Tokoh perlawanan internal Mataram → Kelak bergelar Sultan Hamengkubuwono I
4. Isi Utama Perjanjian (Palihan Nagari)
Perjanjian Giyanti menetapkan pembagian Kerajaan Mataram Islam menjadi dua wilayah:
Wilayah Timur → Kasunanan Surakarta Hadiningrat → Dipimpin oleh Pakubuwana III
Wilayah Barat → Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat → Dipimpin oleh Sultan Hamengkubuwono I
Pembagian ini dikenal sebagai Palihan Nagari (pembelahan negeri).
5. Dampak Perjanjian
Kerajaan Mataram Islam terpecah secara permanen
VOC semakin menguatkan dominasi politik dan ekonomi di Jawa
Otoritas raja-raja Jawa berada di bawah pengaruh kolonial
Menjadi preseden pembelahan wilayah kerajaan-kerajaan Nusantara
6. Perjanjian Lanjutan
Perjanjian Giyanti membuka jalan bagi perpecahan lanjutan:
Pembentukan Pakualaman (1813) → Pemecahan wilayah Kasultanan Yogyakarta
7. Makna Historis
Perjanjian Giyanti merupakan contoh nyata keberhasilan strategi kolonial VOC dalam:
Mengakhiri konflik internal kerajaan
Mengendalikan Jawa tanpa perlu penaklukan militer besar
Membentuk struktur politik Jawa yang bertahan hingga kini
RANCANGAN INFOGRAFIS (SIAP DIVISUALKAN)
Judul Besar 📜 Perjanjian Giyanti (1755) Pembelahan Kerajaan Mataram Islam
Bagian Visual Utama:
Ilustrasi peta Mataram → terbelah dua
Ikon tokoh: Pakubuwana III, Pangeran Mangkubumi, pejabat VOC
Garis pembatas wilayah Surakarta–Yogyakarta
Blok Informasi:
Tanggal & Lokasi
Pihak Terlibat
Palihan Nagari (diagram pembagian wilayah)
Dampak Politik
Kelanjutan Perjanjian
Devide et Impera VOC
Gaya Visual:
Nuansa Jawa klasik (cokelat, krem, emas)
Ornamen batik dan aksara Jawa
Ilustrasi manuskrip dan stempel VOC
Buatlah Risalah dan Infografis tentang Perjanjian Kerajaan di Indonesia yaitu :
Perjanjian Salatiga
Perjanjian Salatiga dan Musnahnya Cita-Cita Menyatukan Jawa
Perjanjian Salatiga adalah perjanjian damai penting yang ditandatangani pada 17 Maret 1757 di Salatiga, yang mengakhiri konflik panjang setelah Perjanjian Giyanti, memecah wilayah Mataram Islam menjadi tiga bagian: Kasunanan Surakarta, Kesultanan Yogyakarta, dan munculnya Kadipaten Mangkunegaran yang dipimpin oleh Raden Mas Said (Pangeran Sambernyawa), menjadikannya Pangeran Miji dengan gelar KGPAA Mangkunegara I, yang mengakhiri pemberontakan dan mengukuhkan kekuasaan VOC di Jawa.
Latar Belakang
Perjanjian ini lahir dari ketidakpuasan Raden Mas Said (Pangeran Sambernyawa) terhadap pembagian wilayah Mataram setelah Perjanjian Giyanti (1755) yang hanya membagi Mataram menjadi dua, Surakarta dan Yogyakarta.
Raden Mas Said, keturunan Mataram yang tidak mendapat bagian, terus melakukan perlawanan, yang akhirnya diakhiri dengan perjanjian ini.
Pihak yang Terlibat
VOC: (Vereenigde Oostindische Compagnie) sebagai mediator dan pengawas.
Pakubuwono III: (Kasunanan Surakarta).
Hamengkubuwono I: (Kesultanan Yogyakarta).
Raden Mas Said (Pangeran Sambernyawa).
Isi Utama Perjanjian Salatiga
Pengangkatan Raden Mas Said: Diangkat sebagai Pangeran Miji (Pangeran istimewa) dengan gelar Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara I (KGPAA Mangkunegara I).
Wilayah Kekuasaan: Diberikan tanah lungguh seluas 4000 karya (sekitar 4000 cacah/keluarga) yang mencakup wilayah seperti Karanganyar, Wonogiri, Ngawen, dan sebagian Gunung Kidul.
Hak dan Larangan:
Berhak menyelenggarakan upacara kerajaan dan memakai atribut raja, namun tidak boleh duduk di Dampar Kencana (singgasana utama).
Tidak boleh memiliki Balai Witana, alun-alun, dan sepasang beringin kembar.
Tidak diperbolehkan menjatuhkan hukuman mati.
Status:
Mangkunegaran berada di bawah pengawasan Surakarta dan VOC.
Dampak Terpecahnya Mataram menjadi Tiga: Mataram Islam secara resmi terbagi menjadi tiga kekuatan politik utama di Jawa.
Berdirinya Mangkunegaran:
Melahirkan sebuah kadipaten otonom baru, yaitu Praja Mangkunegaran.
Mengakhiri Pemberontakan:
Berhasil meredam konflik panjang yang dipimpin Raden Mas Said.
Penguatan VOC: Semakin memperbesar pengaruh VOC dalam urusan internal kerajaan-kerajaan Jawa.
Risalah Perjanjian Salatiga (1757)
Perjanjian Kerajaan dan Musnahnya Cita-Cita Penyatuan Jawa
Identitas Peristiwa
Nama Perjanjian: Perjanjian Salatiga
Tanggal: 17 Maret 1757
Tempat: Salatiga, Jawa Tengah
Masa: Jawa abad ke-18 (era Mataram Islam pasca-Giyanti)
Latar Belakang
Perjanjian Salatiga lahir sebagai kelanjutan konflik setelah Perjanjian Giyanti (1755) yang membagi Kerajaan Mataram Islam menjadi dua kekuasaan: Kasunanan Surakarta dan Kesultanan Yogyakarta. Pembagian ini menimbulkan ketidakpuasan Raden Mas Said (Pangeran Sambernyawa), seorang bangsawan Mataram yang tidak memperoleh wilayah kekuasaan.
Selama bertahun-tahun, Raden Mas Said memimpin perlawanan bersenjata terhadap VOC dan kerajaan-kerajaan Mataram hasil pembelahan. Konflik yang berkepanjangan akhirnya mendorong VOC untuk menyelesaikannya melalui jalur diplomasi.
Pihak-Pihak yang Terlibat
VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie) Bertindak sebagai mediator sekaligus penguasa politik de facto di Jawa.
Pakubuwono III Raja Kasunanan Surakarta.
Hamengkubuwono I Sultan Kesultanan Yogyakarta.
Raden Mas Said (Pangeran Sambernyawa) Pemimpin perlawanan, keturunan langsung Mataram.
Isi Pokok Perjanjian Salatiga
Pengangkatan Raden Mas Said
Diberi kedudukan sebagai Pangeran Miji
Bergelar Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara I (KGPAA Mangkunegara I)
Wilayah Kekuasaan
Mendapat tanah lungguh ± 4000 karya/cacah (keluarga)
Meliputi wilayah Karanganyar, Wonogiri, Ngawen, dan sebagian Gunung Kidul
Hak dan Pembatasan
✔ Boleh menggelar upacara kebesaran dan memakai simbol kebangsawanan
✖ Tidak boleh duduk di Dampar Kencana
✖ Tidak boleh memiliki Balai Witana, alun-alun, dan beringin kembar
✖ Tidak berhak menjatuhkan hukuman mati
Status Politik
Kadipaten Mangkunegaran berada di bawah pengawasan Kasunanan Surakarta dan VOC
Dampak Perjanjian Salatiga
Terpecahnya Mataram Islam menjadi Tiga Kekuatan
Kasunanan Surakarta
Kesultanan Yogyakarta
Kadipaten Mangkunegaran
Berdirinya Praja Mangkunegaran
Sebuah kadipaten otonom baru yang bertahan hingga masa kolonial dan kemerdekaan Indonesia.
Berakhirnya Pemberontakan Raden Mas Said
Konflik panjang di Jawa Tengah dan Timur berhasil diredam.
Menguatnya Dominasi VOC
VOC semakin leluasa mengatur politik internal kerajaan-kerajaan Jawa.
Kesimpulan
Perjanjian Salatiga menandai gagalnya cita-cita penyatuan Jawa di bawah Mataram Islam. Meskipun mengakhiri perang, perjanjian ini justru mengukuhkan politik pecah-belah VOC dan melemahkan kedaulatan kerajaan-kerajaan Jawa, menjadikan abad ke-18 sebagai titik balik dominasi kolonial di Nusantara.
Buatlah Risalah dan Infografis tentang Perjanjian Kerajaan di Indonesia yaitu :
Perjanjian Paku Alam.
Perjanjian Paku Alam adalah kontrak politik pada 17 Maret 1813 antara Pemerintah Inggris (diwakili Thomas Stamford Raffles) dan Pangeran Notokusumo, yang mendirikan Kadipaten Pakualaman di Yogyakarta. Perjanjian ini menetapkan Notokusumo sebagai Paku Alam I, penguasa wilayah independen (terpecah dari Kasultanan) yang mendapat perlindungan Inggris, hak atas tanah 4.000 cacah, dan pasukan.
Poin-Poin Penting Perjanjian Paku Alam:
Berdirinya Kadipaten (1813): Kontrak ini ditandatangani pada 17 Maret 1813, menandai berdirinya Pakualaman sebagai monarki kecil yang setara dengan Mangkunegaran di bawah naungan Inggris.
Pengangkatan Penguasa: Pangeran Notokusumo diangkat menjadi Gusti Pangeran Adipati Paku Alam I.
Wilayah dan Hak: Paku Alam I diberikan tanah seluas 4.000 cacah (meliputi sebagian kota Yogyakarta dan Adikarto), serta hak memungut pajak.
Pasukan Militer: Inggris memberikan 100 pasukan lengkap dengan senjata dan seragam kepada Paku Alam.
Perjanjian Lanjutan (1831): Setelah Inggris pergi, Paku Alam II melakukan perjanjian dengan pemerintah Hindia Belanda pada 1831-1833 untuk mengukuhkan kedudukannya, yang membatasi hak Paku Alam untuk memiliki pasukan tanpa persetujuan Belanda.
Integrasi ke NKRI (1945): Melalui amanat 5 September 1945, Paku Alam VIII bersama Sultan Hamengkubuwono IX menyatakan wilayah Pakualaman bergabung dengan NKRI sebagai Daerah Istimewa.
Perjanjian-perjanjian ini memosisikan Paku Alam sebagai kekuatan ketiga di Mataram Islam, setelah Kasultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta, yang sering kali menjaga keseimbangan politik di tanah Jawa.
RISALAH PERJANJIAN KERAJAAN DI INDONESIA
PERJANJIAN PAKU ALAM (1813)
Latar Belakang
Perjanjian Paku Alam merupakan kontrak politik yang ditandatangani pada 17 Maret 1813 antara Pemerintah Inggris di Jawa yang diwakili oleh Thomas Stamford Raffles dan Pangeran Notokusumo, seorang bangsawan Yogyakarta. Perjanjian ini lahir dalam konteks melemahnya Kasultanan Yogyakarta akibat konflik internal serta intervensi kekuatan kolonial Eropa.
Melalui perjanjian ini, Inggris menerapkan strategi politik pecah-belah (divide et impera) dengan membentuk satu kekuatan baru di jantung Mataram Islam, yakni Kadipaten Pakualaman.
Pihak-Pihak yang Terlibat
Pemerintah Inggris di Jawa Diwakili oleh Thomas Stamford Raffles sebagai Letnan Gubernur.
Pangeran Notokusumo Adik Sultan Hamengkubuwono II, tokoh penting dalam konflik internal Keraton Yogyakarta.
Isi Pokok Perjanjian
Pembentukan Kadipaten Pakualaman Perjanjian ini secara resmi mendirikan Kadipaten Pakualaman sebagai monarki kecil yang berdiri terpisah dari Kasultanan Yogyakarta.
Pengangkatan Penguasa Pangeran Notokusumo diangkat sebagai Gusti Pangeran Adipati Paku Alam I.
Wilayah dan Hak Kekuasaan Paku Alam I diberikan:
Tanah seluas 4.000 cacah
Wilayah di dalam dan sekitar Kota Yogyakarta
Daerah Adikarto
Hak memungut pajak dari wilayahnya
Kekuatan Militer Pemerintah Inggris memberikan:
100 pasukan bersenjata
Seragam dan perlengkapan militer resmi
Perjanjian Lanjutan
Setelah Inggris menyerahkan Jawa kembali kepada Belanda:
Perjanjian 1831–1833 antara Pakualaman dan Pemerintah Hindia Belanda
Kekuasaan Paku Alam tetap diakui, namun:
Hak memiliki pasukan dibatasi
Kebijakan militer harus mendapat persetujuan Belanda
Integrasi ke Negara Indonesia
Pada 5 September 1945, Paku Alam VIII bersama Sri Sultan Hamengkubuwono IX menyatakan bergabung dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Sejak saat itu:
Pakualaman menjadi bagian dari Daerah Istimewa Yogyakarta
Status kadipaten tetap dihormati dalam sistem kenegaraan Indonesia
Signifikansi Sejarah
Menjadikan Paku Alam sebagai kekuatan ketiga di wilayah bekas Mataram Islam
Menunjukkan praktik politik kolonial Inggris di Jawa
Memperkuat fragmentasi politik kerajaan Jawa
Menjadi contoh bagaimana elite lokal bernegosiasi dengan kekuatan kolonial
Berperan penting dalam terbentuknya struktur politik DIY modern
NASKAH INFOGRAFIS (RINGKAS & VISUAL)
Judul: Perjanjian Paku Alam (1813) Kontrak Politik Inggris–Jawa
Tanggal: 17 Maret 1813
Tokoh Utama:
Thomas Stamford Raffles
Pangeran Notokusumo (Paku Alam I)
Hasil Utama: ✔ Berdirinya Kadipaten Pakualaman ✔ Wilayah 4.000 cacah ✔ Hak pajak & pasukan
Kelanjutan: 1831–1833 → Pengakuan Belanda 1945 → Bergabung dengan NKRI
Makna Sejarah: Politik adu domba kolonial & keseimbangan kekuasaan Jawa
Buatlah Risalah dan Infografis tentang Hari Pramuka yaitu :
Peringatan Hari Pramuka setiap 14 Agustus dilakukan untuk memperingati sejarah peresmian Gerakan Pramuka secara nasional pada 14 Agustus 1961, melalui pelantikan Mapinas dan penyerahan Panji Pramuka oleh Presiden Soekarno. Peringatan ini menegaskan pentingnya nilai kepanduan, karakter generasi muda, persatuan, serta patriotisme bagi bangsa.
Berikut adalah alasan mendetail mengenai peringatan Hari Pramuka:
Penyatuan Organisasi Kepanduan: Sebelum 1961, terdapat lebih dari 100 organisasi kepanduan yang terpecah-pecah. Pada 14 Agustus 1961, seluruh organisasi tersebut melebur menjadi satu wadah, yaitu Gerakan Pramuka, untuk menyatukan semangat patriotisme.
Peresmian Gerakan Pramuka: Presiden Soekarno secara resmi memperkenalkan Gerakan Pramuka melalui Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 448 Tahun 1961, sekaligus menetapkan lambang Tunas Kelapa melalui Keppres Nomor 238 Tahun 1961.
Pembentukan Karakter Generasi Muda: Pramuka berperan krusial dalam membentuk karakter generasi muda yang disiplin, mandiri, berakhlak mulia, jujur, dan memiliki semangat kebangsaan yang tinggi (karakter Pancasila).
Momentum Mengenang Sejarah: Ini menjadi momen tahunan untuk mengenang peran tokoh-tokoh kepanduan, seperti Sri Sultan Hamengku Buwono IX, yang menjadi Ketua Kwartir Nasional pertama.
Dengan demikian, peringatan Hari Pramuka lebih dari sekadar seremonial, melainkan pengingat akan pentingnya membina generasi penerus bangsa yang tangguh dan berdedikasi.
RISALAH HARI PRAMUKA INDONESIA
14 Agustus 1961
Pengantar
Hari Pramuka diperingati setiap 14 Agustus untuk mengenang peresmian Gerakan Pramuka secara nasional pada tahun 1961 oleh Presiden Ir. Soekarno. Peristiwa ini menjadi tonggak penting penyatuan seluruh organisasi kepanduan Indonesia dalam satu wadah demi membangun karakter generasi muda dan memperkuat persatuan bangsa.
Latar Belakang Sejarah
Sebelum tahun 1961, Indonesia memiliki lebih dari 100 organisasi kepanduan yang berdiri sendiri-sendiri dan tidak terkoordinasi. Kondisi ini dinilai melemahkan pembinaan generasi muda.
Melalui kebijakan nasional, Presiden Soekarno memprakarsai penyatuan gerakan kepanduan menjadi satu organisasi resmi negara yang bersifat pendidikan nonformal.
Peristiwa Penting 14 Agustus 1961
Pada 14 Agustus 1961, di Jakarta, berlangsung peristiwa bersejarah:
Pelantikan Majelis Pimpinan Nasional (Mapinas)
Penyerahan Panji Gerakan Pramuka oleh Presiden Soekarno
Peresmian Gerakan Pramuka sebagai satu-satunya organisasi kepanduan nasional
Peristiwa ini sekaligus menandai kelahiran Gerakan Pramuka Indonesia.
Landasan Hukum
Keputusan Presiden No. 448 Tahun 1961 → Tentang pembentukan Gerakan Pramuka
Keputusan Presiden No. 238 Tahun 1961 → Tentang penetapan lambang Tunas Kelapa sebagai simbol Pramuka
Tujuan dan Nilai Pramuka
Gerakan Pramuka bertujuan membentuk generasi muda yang:
Beriman dan berakhlak mulia
Disiplin, mandiri, dan bertanggung jawab
Cinta tanah air dan menjunjung persatuan
Berjiwa kepemimpinan dan gotong royong
Nilai-nilai ini terangkum dalam Tri Satya dan Dasa Darma Pramuka, yang sejalan dengan Pancasila.
Tokoh Penting
Ir. Soekarno – Penggagas dan pelindung Gerakan Pramuka
Sri Sultan Hamengku Buwono IX – Ketua Kwartir Nasional (Kwarnas) pertama
Para tokoh kepanduan nasional yang merumuskan sistem Pramuka Indonesia
Makna Hari Pramuka
Hari Pramuka bukan sekadar peringatan seremonial, tetapi:
Momentum pembinaan karakter bangsa
Sarana menanamkan nilai kebangsaan sejak dini
Pengingat peran Pramuka dalam sejarah dan masa depan Indonesia
KONSEP INFOGRAFIS (SIAP DIGAMBAR)
Judul: 🟤 HARI PRAMUKA INDONESIA – 14 AGUSTUS 1961
Elemen Visual Utama:
Ilustrasi Presiden Soekarno menyerahkan Panji Pramuka
Lambang Tunas Kelapa di tengah
Siluet anggota Pramuka (Siaga–Penegak)
Warna dominan cokelat, krem, hijau tua (nuansa kepanduan & sejarah)
Blok Informasi:
Tanggal & Peristiwa 14 Agustus 1961 – Peresmian Gerakan Pramuka
Tokoh Soekarno & Sri Sultan HB IX
Tujuan Pramuka Karakter – Persatuan – Patriotisme
Landasan Hukum Keppres No. 448 & 238 Tahun 1961
Tagline:
“Pramuka Membentuk Karakter Bangsa, Menjaga Persatuan Indonesia”
Buatlah Risalah dan Infografis tentang Hari Pendidikan Nasional yaitu :
Latar belakang Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) adalah untuk memperingati hari lahir Ki Hadjar Dewantara pada 2 Mei 1889, sebagai Bapak Pendidikan Nasional, yang berjuang keras agar rakyat pribumi mendapatkan pendidikan layak di masa kolonial, mendirikan Taman Siswa, dan menginspirasi sistem pendidikan Indonesia dengan semboyan Ing Ngarsa Sung Tulada, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani. Penetapan ini resmi melalui Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 316 Tahun 1959, sebagai momentum menumbuhkan kesadaran dan kebanggaan nasional akan pentingnya pendidikan.
Tokoh Penting: Ki Hadjar Dewantara
Nama Asli: R.M. Suwardi Suryadiningrat.
Perjuangan: Menentang kebijakan diskriminatif pemerintah kolonial Belanda yang hanya memberi pendidikan untuk elite, serta mendirikan Perguruan Nasional Taman Siswa untuk semua kalangan.
Semboyan: Menciptakan filosofi pendidikan yang relevan hingga kini:
Ing Ngarsa Sung Tulada: Di depan, pendidik memberi teladan.
Ing Madya Mangun Karsa: Di tengah, pendidik menciptakan prakarsa.
Tut Wuri Handayani: Di belakang, pendidik memberi dorongan.
Dasar Hukum dan Tujuan
Dasar: Keppres No. 316 Tahun 1959.
Tujuan: Mengenang jasa Ki Hadjar Dewantara, meningkatkan kesadaran, memperkuat kepribadian bangsa, dan mempertebal rasa kebanggaan nasional melalui pendidikan.
Peringatan Hardiknas
Diperingati setiap 2 Mei, bertepatan dengan hari kelahiran beliau.
Menjadi momen refleksi untuk memajukan pendidikan nasional dan mencerdaskan kehidupan bangsa.
**RISALAH
HARI PENDIDIKAN NASIONAL (HARDIKNAS)**
Pendahuluan
Hari Pendidikan Nasional diperingati setiap 2 Mei sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Hadjar Dewantara, tokoh pelopor pendidikan nasional Indonesia. Peringatan ini menjadi momentum refleksi perjuangan mencerdaskan kehidupan bangsa serta peneguhan bahwa pendidikan adalah fondasi utama kemerdekaan dan peradaban.
Latar Belakang
Pada masa penjajahan Belanda, pendidikan bersifat diskriminatif dan hanya dapat diakses oleh kalangan tertentu. Rakyat pribumi sebagian besar tidak memperoleh hak belajar yang layak. Kondisi inilah yang mendorong R.M. Suwardi Suryadiningrat, yang kemudian dikenal sebagai Ki Hadjar Dewantara, memperjuangkan pendidikan yang merdeka, adil, dan berakar pada kebudayaan bangsa.
Tanggal 2 Mei 1889, hari kelahiran Ki Hadjar Dewantara, kemudian ditetapkan sebagai Hari Pendidikan Nasional melalui Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 316 Tahun 1959.
Tokoh Utama: Ki Hadjar Dewantara
Nama asli: R.M. Suwardi Suryadiningrat
Lahir: 2 Mei 1889
Wafat: 26 April 1959
Julukan: Bapak Pendidikan Nasional
Beliau mendirikan Perguruan Nasional Taman Siswa (1922) sebagai wadah pendidikan rakyat yang menekankan kemerdekaan berpikir, kepribadian, dan karakter bangsa.
Filosofi Pendidikan Ki Hadjar Dewantara
Ki Hadjar Dewantara merumuskan falsafah pendidikan yang masih relevan hingga kini:
Ing Ngarsa Sung Tulada
Di depan, pendidik harus memberi teladan.
Ing Madya Mangun Karsa
Di tengah, pendidik membangun semangat dan prakarsa.
Tut Wuri Handayani
Di belakang, pendidik memberi dorongan dan dukungan.
Filosofi ini menempatkan pendidikan sebagai proses humanis, membebaskan, dan membangun karakter.
Dasar Hukum
Keppres RI No. 316 Tahun 1959
Menetapkan tanggal 2 Mei sebagai Hari Pendidikan Nasional.
Tujuan Peringatan Hardiknas
Mengenang jasa Ki Hadjar Dewantara.
Menumbuhkan kesadaran akan pentingnya pendidikan bagi kemajuan bangsa.
Memperkuat kepribadian dan karakter nasional.
Meneguhkan pendidikan sebagai alat pembebasan dan pembangunan peradaban.
Makna Hardiknas bagi Bangsa Indonesia
Hari Pendidikan Nasional bukan sekadar peringatan seremonial, melainkan ajakan untuk terus memperjuangkan pendidikan yang:
Merata dan inklusif
Berkarakter kebangsaan
Membebaskan pikiran dan martabat manusia
Pendidikan adalah jalan panjang menuju Indonesia yang berdaulat, berkeadilan, dan beradab.
TEKS SINGKAT INFOGRAFIS (VERSI POSTER)
HARI PENDIDIKAN NASIONAL
📅 2 Mei
Ki Hadjar Dewantara
Bapak Pendidikan Nasional
(1889–1959)
Latar Belakang
Pendidikan kolonial bersifat diskriminatif
Taman Siswa didirikan untuk rakyat
Filosofi Pendidikan
Ing Ngarsa Sung Tulada
Ing Madya Mangun Karsa
Tut Wuri Handayani
Dasar Hukum
Keppres No. 316 Tahun 1959
Makna
Pendidikan adalah kunci kemerdekaan, karakter, dan masa depan bangsa.
Buatlah Risalah dan Infografis tentang Hari Guru Nasional yaitu :
Hari Guru Nasional diperingati setiap 25 November untuk menghormati jasa, dedikasi, dan peran krusial guru dalam mencerdaskan kehidupan bangsa serta membentuk karakter generasi muda Indonesia. Pemilihan tanggal ini didasarkan pada sejarah berdirinya Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) pada 25 November 1945, yang menandai persatuan tenaga pendidik pascakemerdekaan.
Berikut adalah poin-poin utama mengapa Hari Guru Nasional ada:
Apresiasi dan Penghormatan: Bentuk pengakuan negara atas perjuangan guru sebagai "pahlawan tanpa tanda jasa" yang berdedikasi mendidik dari generasi ke generasi.
Sejarah Kelahiran PGRI: Tanggal 25 November 1945 merupakan momen Kongres Guru Indonesia di Surakarta, di mana berbagai organisasi guru bersatu menjadi PGRI, disahkan oleh Keputusan Presiden Nomor 78 Tahun 1994.
Peningkatan Kualitas Pendidikan: Menjadi momentum untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya kualitas pendidikan dan profesionalisme guru.
Penghormatan Perjuangan: Mengenang peran guru yang tetap mengajar meski dalam situasi sulit (misalnya saat agresi militer Belanda) sebagai benteng perjuangan kemerdekaan.
Peringatan ini menegaskan bahwa guru adalah pilar utama dalam pembangunan karakter dan peradaban bangsa Indonesia.
RISALAH HARI GURU NASIONAL
25 November
Pendahuluan
Hari Guru Nasional diperingati setiap 25 November sebagai bentuk penghormatan bangsa Indonesia terhadap jasa, pengabdian, dan peran strategis para guru dalam mencerdaskan kehidupan bangsa serta membentuk karakter generasi penerus. Peringatan ini berakar pada sejarah lahirnya Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) pada 25 November 1945, tidak lama setelah Indonesia merdeka.
Latar Belakang Sejarah
Pada 25 November 1945 di Surakarta, diselenggarakan Kongres Guru Indonesia yang berhasil menyatukan berbagai organisasi guru ke dalam satu wadah perjuangan, yaitu PGRI. Persatuan ini menegaskan sikap guru Indonesia yang setia pada Negara Kesatuan Republik Indonesia dan Pancasila.
Hari Guru Nasional kemudian ditetapkan secara resmi melalui Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 78 Tahun 1994.
Makna dan Tujuan Peringatan
Penghormatan Jasa Guru
Guru diakui sebagai pahlawan tanpa tanda jasa yang berjuang melalui pendidikan, sering kali dalam keterbatasan dan situasi sulit.
Pembentukan Karakter Bangsa
Guru berperan menanamkan nilai moral, etika, disiplin, nasionalisme, dan semangat kebangsaan.
Peningkatan Mutu Pendidikan
Menjadi momentum refleksi untuk meningkatkan profesionalisme guru dan kualitas pendidikan nasional.
Mengenang Perjuangan Guru
Guru tetap mengajar di masa revolusi, agresi militer, dan krisis nasional, menjadikan pendidikan sebagai benteng kemerdekaan.
Peran Strategis Guru
Agen perubahan dan pencerahan
Penjaga nilai Pancasila
Pembentuk sumber daya manusia unggul
Pilar peradaban dan masa depan bangsa
Penutup
Hari Guru Nasional bukan sekadar peringatan seremonial, melainkan pengingat bahwa masa depan Indonesia ditentukan di ruang-ruang kelas, oleh dedikasi para guru yang tulus mendidik dengan ilmu dan keteladanan.
INFOGRAFIS – HARI GURU NASIONAL
Judul:
🖋️ Hari Guru Nasional – 25 November
Fakta Utama:
📅 Tanggal: 25 November
📜 Dasar Hukum: Keppres No. 78 Tahun 1994
🏛️ Peristiwa Penting: Berdirinya PGRI (1945)
Tokoh & Lembaga:
Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI)
Guru-guru pejuang pascakemerdekaan
Makna Utama:
🎓 Pendidikan
🇮🇩 Nasionalisme
🌱 Pembentukan Karakter
🧠 Pencerahan Bangsa
Pesan Utama:
“Guru adalah arsitek masa depan bangsa.”
Buatlah Risalah dan Infografis tentang Hari Santri Nasional yaitu :
Hari Santri Nasional diperingati setiap 22 Oktober untuk menghormati peran besar santri dan ulama dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Penetapan melalui Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 2015 ini merujuk pada peristiwa Resolusi Jihad pada 22 Oktober 1945 oleh KH Hasyim Asy'ari, yang memicu semangat jihad mempertahankan NKRI dari penjajah.
Berikut adalah poin-poin penting mengapa ada Hari Santri Nasional:
Menghormati Resolusi Jihad 1945: Tanggal 22 Oktober 1945, KH Hasyim Asy'ari bersama para kiai mengeluarkan fatwa bahwa membela tanah air dari penjajah adalah kewajiban agama (fardu ain).
Peran dalam Perjuangan Kemerdekaan: Santri dan pondok pesantren memiliki andil besar dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan, terutama memicu pertempuran 10 November 1945 di Surabaya.
Pengakuan Sejarah: Penetapan ini merupakan bentuk pengakuan resmi pemerintah atas kontribusi kaum santri dalam sejarah perjuangan bangsa.
Meneladani Semangat Kebangsaan: Peringatan ini bertujuan agar masyarakat meneladani semangat jihad (dalam konteks modern: semangat kebangsaan, mencerdaskan bangsa, dan menjaga persatuan).
Hari Santri Nasional bukan hanya untuk mengenang masa lalu, tetapi juga momentum untuk meneguhkan peran santri dalam mengawal NKRI dan membangun peradaban dunia.
**RISALAH
HARI SANTRI NASIONAL**
Pendahuluan
Hari Santri Nasional diperingati setiap 22 Oktober sebagai bentuk penghormatan negara terhadap peran santri, kiai, dan pesantren dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Penetapan ini menegaskan bahwa perjuangan bangsa tidak hanya dilakukan di medan diplomasi dan militer, tetapi juga melalui fatwa, doa, dan perjuangan moral-keagamaan.
Latar Belakang Sejarah
Pasca Proklamasi 17 Agustus 1945, bangsa Indonesia belum sepenuhnya bebas dari ancaman penjajahan. Pasukan Sekutu yang diboncengi NICA Belanda kembali masuk ke Indonesia, khususnya di Jawa Timur.
Dalam situasi genting tersebut, KH Hasyim Asy’ari, Rais Akbar Nahdlatul Ulama, bersama para ulama mengeluarkan Resolusi Jihad pada 22 Oktober 1945 di Surabaya. Resolusi ini menegaskan bahwa:
Membela tanah air dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia dari penjajah hukumnya fardu ain (wajib bagi setiap Muslim).
Fatwa inilah yang membakar semangat santri dan rakyat, hingga meletus Pertempuran 10 November 1945 di Surabaya.
Resolusi Jihad 22 Oktober 1945
Resolusi Jihad berisi seruan:
Wajib mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Haram bekerja sama dengan penjajah.
Santri dan umat Islam diwajibkan turun membela NKRI.
Peristiwa ini menjadi tonggak penting keterlibatan pesantren dalam perjuangan fisik mempertahankan kemerdekaan.
Peran Santri dalam Perjuangan Kemerdekaan
Kekuatan Moral dan Spiritual
Santri berjuang dengan keyakinan agama, doa, dan semangat jihad membela tanah air.
Kekuatan Militer Rakyat
Banyak santri tergabung dalam laskar-laskar perjuangan seperti Hizbullah dan Sabilillah.
Benteng Ideologi Bangsa
Pesantren menjadi pusat pendidikan kebangsaan, akhlak, dan persatuan.
Penetapan Hari Santri Nasional
Tanggal: 22 Oktober
Dasar Hukum: Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2015
Penetapan ini merupakan pengakuan resmi negara atas jasa besar santri dan ulama dalam sejarah perjuangan Indonesia.
Makna Hari Santri Nasional
Hari Santri Nasional bukan hanya mengenang masa lalu, tetapi juga:
Meneguhkan semangat nasionalisme religius
Menguatkan peran santri dalam menjaga persatuan
Menafsirkan jihad dalam konteks modern: jihad ilmu, akhlak, persatuan, dan pengabdian bangsa
Santri adalah penjaga moral, budaya, dan masa depan Indonesia.
Penutup
Hari Santri Nasional mengingatkan bahwa NKRI berdiri atas doa, darah, dan pengorbanan ulama serta santri. Dari pesantren lahir kekuatan yang menyatukan iman dan kebangsaan demi Indonesia merdeka dan bermartabat.
TEKS INFOGRAFIS (VERSI POSTER RINGKAS)
HARI SANTRI NASIONAL
📅 22 Oktober
Latar Sejarah
Resolusi Jihad KH Hasyim Asy’ari
22 Oktober 1945
Isi Resolusi Jihad
Membela NKRI = Fardu Ain
Peran Santri
Pejuang kemerdekaan
Laskar rakyat
Penjaga moral bangsa
Dasar Hukum
Keppres RI No. 22 Tahun 2015
Makna Hari Santri
Jihad kebangsaan:
Ilmu • Akhlak • Persatuan • Pengabdian
Buatlah Risalah dan Infografis dari Peringatan Hari Bersejarah yaitu:
Hari ABRI diperingati setiap 5 Oktober, berakar dari pembentukan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) pada 5 Oktober 1945 untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Istilah ABRI (Angkatan Bersenjata Republik Indonesia) muncul pada 1962, menyatukan angkatan perang (AD, AL, AU) dan Polri di bawah satu komando. Setelah reformasi, institusi ini dipisah pada 1999 dan kembali menjadi TNI.
Berikut adalah poin-poin penting sejarah perkembangan ABRI:
Pembentukan Awal (1945): Setelah proklamasi, dibentuk Badan Keamanan Rakyat (BKR) pada 22 Agustus 1945. Pada 5 Oktober 1945, pemerintah mendirikan TKR untuk mengatasi ancaman Belanda, yang kemudian berkembang menjadi TNI.
Era Penyatuan (1962-1999): Pada 1962, Presiden Sukarno menyatukan TNI dan Polri ke dalam satu wadah yaitu Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) untuk efektivitas komando.
Peran di Orde Baru: Pada masa ini, ABRI memiliki peran dominan dalam pemerintahan, yang dikenal dengan dwifungsi.
Pemisahan dan Kembali ke TNI: Pasca reformasi 1998, ABRI dikembalikan fungsinya sebagai pertahanan negara. Polri dipisahkan dari ABRI pada 1 April 1999, dan istilah ABRI berubah kembali menjadi Tentara Nasional Indonesia (TNI).
Meskipun nomenklatur berubah menjadi TNI, tanggal 5 Oktober tetap diperingati sebagai hari lahir militer Indonesia, menghormati sejarah panjang perjuangan dari BKR hingga ABRI.
🪖 RISALAH PERINGATAN HARI ABRI
5 Oktober – Hari Lahir Militer Indonesia
Pendahuluan
Hari ABRI diperingati setiap 5 Oktober sebagai tonggak lahirnya kekuatan militer nasional Indonesia. Peringatan ini berakar pada pembentukan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) pada 5 Oktober 1945, sebagai alat negara untuk mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia yang baru diproklamasikan.
Dalam perjalanan sejarahnya, institusi militer Indonesia mengalami perubahan bentuk dan nomenklatur, dari BKR, TKR, TNI, ABRI, hingga kembali menjadi TNI setelah Reformasi. Meskipun istilah ABRI tidak lagi digunakan, tanggal 5 Oktober tetap dikenang sebagai hari kelahiran militer Indonesia.
📜 LATAR BELAKANG SEJARAH
1. Awal Pembentukan (1945)
22 Agustus 1945: Pemerintah membentuk Badan Keamanan Rakyat (BKR) sebagai organisasi keamanan awal pasca-proklamasi.
5 Oktober 1945: BKR ditingkatkan menjadi Tentara Keamanan Rakyat (TKR) melalui maklumat pemerintah, menandai lahirnya tentara nasional Indonesia.
TKR kemudian berkembang menjadi Tentara Nasional Indonesia (TNI).
2. Era Penyatuan: Lahirnya ABRI (1962)
Pada 1962, Presiden Soekarno menyatukan:
Angkatan Darat (AD)
Angkatan Laut (AL)
Angkatan Udara (AU)
Kepolisian Negara (Polri)
Penyatuan ini melahirkan Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI).
Tujuan utama: efektivitas komando dan stabilitas nasional di tengah dinamika politik dan keamanan.
3. Peran ABRI di Masa Orde Baru
ABRI menjalankan Dwifungsi ABRI:
Fungsi pertahanan dan keamanan
Fungsi sosial-politik
ABRI memiliki peran besar dalam pemerintahan dan kehidupan politik nasional.
4. Reformasi dan Kembali ke TNI (1999)
Pasca Reformasi 1998:
1 April 1999: Polri resmi dipisahkan dari ABRI
ABRI dibubarkan sebagai nomenklatur
Militer kembali menggunakan nama Tentara Nasional Indonesia (TNI)
Fokus TNI dikembalikan pada fungsi utama: pertahanan negara.
🏛️ MAKNA PERINGATAN HARI ABRI / TNI
Menghormati sejarah panjang perjuangan militer Indonesia
Mengenang pengabdian prajurit sejak masa revolusi hingga kini
Meneguhkan jati diri TNI sebagai:
Tentara rakyat
Tentara pejuang
Tentara profesional
Menanamkan nilai nasionalisme, disiplin, dan pengabdian kepada bangsa dan negara
📊 INFOGRAFIS (TEKS RINGKAS)
Hari ABRI / Hari Lahir TNI
🗓️ 5 Oktober
Linimasa Sejarah:
1945 → BKR → TKR
1947 → TNI
1962 → ABRI (TNI + Polri)
1999 → Polri dipisah
Kini → TNI
Tokoh Penting:
Presiden Soekarno
Panglima-panglima TNI awal
Nilai Utama:
🇮🇩 Patriotisme
🛡️ Pengabdian
🤝 Kesetiaan pada NKRI
✨ PENUTUP
Hari ABRI bukan sekadar peringatan institusi, melainkan penghormatan atas sejarah perjuangan bersenjata bangsa Indonesia. Dari rakyat bersenjata hingga tentara profesional, perjalanan panjang ini menjadi fondasi pertahanan NKRI hingga hari ini.
Buatlah Risalah dan Infografis dari Peringatan Hari Bersejarah yaitu:
Hari Musik Nasional diperingati setiap 9 Maret, ditetapkan melalui Keputusan Presiden No. 10 Tahun 2013 oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Tanggal ini dipilih bertepatan dengan hari kelahiran Wage Rudolf (W.R.) Supratman, pencipta lagu kebangsaan "Indonesia Raya," sebagai bentuk penghormatan atas jasanya serta upaya meningkatkan apresiasi terhadap musik nasional.
Berikut adalah poin-poin penting sejarah Hari Musik Nasional:
Pencetus dan Awal Usulan: Usulan ini diajukan oleh Persatuan Artis Penyanyi, Pencipta, dan Rekaman Musik Indonesia (PAPPRI) sejak tahun 2003 (era Presiden Megawati), namun baru diresmikan satu dekade kemudian.
Alasan Pemilihan Tanggal: 9 Maret merujuk pada hari lahir WR Supratman (1903), yang dianggap sebagai simbol semangat perjuangan melalui musik.
Tujuan Penetapan: Meningkatkan apresiasi terhadap musik Indonesia, meningkatkan kepercayaan diri musisi lokal, serta memperkuat identitas budaya bangsa.
Status Peringatan: Meskipun diperingati secara nasional, Hari Musik Nasional bukan merupakan hari libur nasional.
Meskipun terdapat catatan sejarah mengenai perdebatan tanggal lahir asli W.R. Supratman (9 Maret atau 19 Maret), pemerintah melalui Keppres tetap menetapkan tanggal 9 Maret sebagai Hari Musik Nasional.
RISALAH PERINGATAN HARI MUSIK NASIONAL
Hari Musik Nasional
Diperingati setiap 9 Maret
Hari Musik Nasional diperingati setiap tanggal 9 Maret sebagai bentuk penghormatan terhadap peran musik dalam perjalanan sejarah, kebudayaan, dan perjuangan bangsa Indonesia. Peringatan ini ditetapkan melalui Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 2013 oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
Tanggal 9 Maret dipilih karena bertepatan dengan hari kelahiran Wage Rudolf (W.R.) Supratman, pencipta lagu kebangsaan “Indonesia Raya”, yang menjadi simbol bahwa musik tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai alat perjuangan, pemersatu bangsa, dan peneguh identitas nasional.
Latar Belakang Penetapan
Gagasan Hari Musik Nasional telah diusulkan sejak tahun 2003 oleh PAPPRI (Persatuan Artis Penyanyi, Pencipta, dan Rekaman Musik Indonesia) pada masa pemerintahan Presiden Megawati Soekarnoputri. Setelah melalui proses panjang, usulan tersebut akhirnya diresmikan satu dekade kemudian pada tahun 2013.
Makna dan Tujuan
Peringatan Hari Musik Nasional bertujuan untuk:
Meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap musik Indonesia
Mendorong kreativitas dan kepercayaan diri musisi nasional
Melestarikan kekayaan musik tradisional dan modern Indonesia
Menegaskan musik sebagai bagian dari identitas dan diplomasi budaya bangsa
Status Peringatan
Hari Musik Nasional bukan hari libur nasional, namun diperingati secara luas melalui kegiatan seni, konser, edukasi musik, dan refleksi sejarah musik Indonesia.
Catatan Sejarah
Meskipun terdapat perbedaan pendapat mengenai tanggal kelahiran asli W.R. Supratman (9 Maret atau 19 Maret 1903), pemerintah secara resmi menetapkan 9 Maret sebagai Hari Musik Nasional melalui Keppres, demi kepentingan simbolik dan nasional.
INFOGRAFIS TEKS – HARI MUSIK NASIONAL
Judul Utama
HARI MUSIK NASIONAL 9 Maret
Tokoh Sentral
🎼 W.R. Supratman (1903–1938)
Pencipta lagu “Indonesia Raya”
Dasar Penetapan
📜 Keppres No. 10 Tahun 2013
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono
Sejarah Singkat
1903 → Kelahiran W.R. Supratman
1928 → Indonesia Raya dikumandangkan
2003 → Usulan Hari Musik oleh PAPPRI
2013 → Diresmikan sebagai Hari Musik Nasional
Tujuan Peringatan
🎶 Apresiasi Musik Nasional
🎶 Penguatan Identitas Budaya
🎶 Dukungan untuk Musisi Indonesia
🎶 Pelestarian Musik Tradisional & Modern
Status
📌 Peringatan Nasional
📌 Bukan Hari Libur Nasional
Pesan Utama
Musik adalah suara jiwa bangsa, pemersatu perbedaan, dan warisan budaya Indonesia.
Buatlah Risalah dan Infografis dari Peringatan Hari Bersejarah yaitu:
Hari Lahir Pancasila diperingati setiap 1 Juni untuk mengenang momen saat Ir. Soekarno menyampaikan pidato gagasan dasar negara dalam sidang BPUPKI pada 1 Juni 1945. Peringatan ini menegaskan Pancasila sebagai landasan negara yang menyatukan keberagaman, diperingati melalui upacara dan refleksi nilai-nilai dasar. Hari ini berbeda dengan Hari Kesaktian Pancasila pada 1 Oktober.
Awal Mula: Pada 1 Juni 1945, di sidang pertama BPUPKI, Ir. Soekarno menyampaikan usulan dasar negara yang ia sebut Pancasila (lima prinsip).
Proses Perumusan: Setelah pidato Soekarno, dibentuklah Panitia Sembilan untuk menyempurnakan rumusan Pancasila sebelum akhirnya disahkan pada 18 Agustus 1945.
Penetapan Libur Nasional: Berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 24 Tahun 2016, 1 Juni ditetapkan sebagai libur nasional Hari Lahir Pancasila, sebagaimana dijelaskan oleh DISDUKCAPIL - KOTA LHOKSEUMAWE.
Peringatan 2025: Pada tahun 2025, peringatan mengusung tema "Memperkokoh Ideologi Pancasila, Menuju Indonesia Raya", yang menekankan penguatan nilai-nilai Pancasila di era modern.
Perbedaan Hari Lahir dan Hari Kesaktian:
Hari Lahir Pancasila (1 Juni): Mengenang perumusan ideologi dasar negara oleh Bung Karno.
Hari Kesaktian Pancasila (1 Oktober): Mengenang pertahanan ideologi Pancasila dari ancaman G30S/PKI.
RISALAH PERINGATAN HARI LAHIR PANCASILA
1 Juni 1945 – 1 Juni Kini
Pendahuluan
Hari Lahir Pancasila diperingati setiap 1 Juni untuk mengenang momen bersejarah ketika Ir. Soekarno menyampaikan pidato tentang dasar negara dalam Sidang BPUPKI pada 1 Juni 1945. Pidato tersebut menjadi tonggak lahirnya Pancasila sebagai ideologi dan dasar negara Republik Indonesia.
Peringatan ini menegaskan Pancasila sebagai perekat kebhinekaan, fondasi kehidupan berbangsa, dan pedoman moral dalam bernegara.
Awal Mula Lahirnya Pancasila
Pada sidang pertama Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), Ir. Soekarno menyampaikan pidato monumental yang berisi lima prinsip dasar negara, yang kemudian ia beri nama Pancasila, yaitu:
Kebangsaan Indonesia
Internasionalisme atau Perikemanusiaan
Mufakat atau Demokrasi
Kesejahteraan Sosial
Ketuhanan Yang Maha Esa
Pidato ini menjadi fondasi ideologis bagi negara Indonesia yang merdeka.
Proses Perumusan Pancasila
Setelah pidato 1 Juni 1945:
Dibentuk Panitia Sembilan untuk menyempurnakan rumusan dasar negara.
Lahir Piagam Jakarta (22 Juni 1945) sebagai tahap kompromi politik dan ideologis.
Pancasila kemudian disahkan secara resmi sebagai dasar negara pada 18 Agustus 1945 oleh PPKI.
Penetapan Hari Lahir Pancasila
Melalui Keputusan Presiden Nomor 24 Tahun 2016, pemerintah menetapkan 1 Juni sebagai Hari Lahir Pancasila sekaligus hari libur nasional, sebagai bentuk pengakuan negara terhadap pentingnya momen historis ini.
Tema Peringatan Tahun 2025
“Memperkokoh Ideologi Pancasila, Menuju Indonesia Raya”
Tema ini menekankan pentingnya:
Penguatan nilai Pancasila di tengah globalisasi
Menjaga persatuan dalam keberagaman
Menjadikan Pancasila sebagai pedoman etika sosial, politik, dan budaya
Perbedaan Hari Lahir dan Hari Kesaktian Pancasila
Aspek
Hari Lahir Pancasila
Hari Kesaktian Pancasila
Tanggal
1 Juni
1 Oktober
Makna
Lahirnya gagasan Pancasila
Keteguhan Pancasila dari ancaman
Peristiwa
Pidato Soekarno di BPUPKI
Peristiwa G30S/PKI
Fokus
Perumusan ideologi
Pertahanan ideologi
Makna Historis dan Aktual
Hari Lahir Pancasila bukan sekadar peringatan seremonial, melainkan ajakan untuk:
Menghidupkan nilai gotong royong
Menjunjung keadilan sosial
Menjaga persatuan nasional
Mengamalkan Pancasila dalam kehidupan sehari-hari
INFOGRAFIS – RINGKASAN ISI
Judul:
🟥 HARI LAHIR PANCASILA – 1 JUNI
Timeline Utama:
1 Juni 1945 → Pidato Soekarno di BPUPKI
22 Juni 1945 → Piagam Jakarta
18 Agustus 1945 → Pancasila disahkan
2016 → 1 Juni ditetapkan libur nasional
Tokoh Utama:
Ir. Soekarno – Panitia Sembilan – BPUPKI
Nilai Inti:
Persatuan • Kebhinekaan • Keadilan • Ketuhanan • Kemanusiaan
Tema 2025:
“Memperkokoh Ideologi Pancasila, Menuju Indonesia Raya”
Buatlah Risalah dan Infografis dari Peringatan Hari Bersejarah yaitu:
Hari Kesaktian Pancasila diperingati setiap 1 Oktober untuk mengenang Pancasila sebagai ideologi yang kokoh dalam menghadapi ancaman, terutama pasca peristiwa G30S/PKI. Momen ini menekankan pentingnya mempertahankan dasar negara dari ideologi transnasional serta menghayati nilai-nilai Pancasila. Peringatan ini diisi dengan upacara, termasuk di Monumen Pancasila Sakti.
Sejarah: Ditetapkan berdasarkan Keppres No. 153 Tahun 1967 oleh Presiden Soeharto untuk menghormati para jenderal yang gugur dalam peristiwa G30S/PKI.
Makna: Mengingatkan kembali bahwa Pancasila adalah pemersatu bangsa dan fondasi kehidupan bernegara yang tidak dapat digantikan.
Tujuan: Menginternalisasi nilai-nilai luhur Pancasila dalam kehidupan sehari-hari dan mencegah ancaman terhadap ideologi negara.
Kegiatan: Dilaksanakan upacara bendera, baik di tingkat pusat maupun daerah, yang berfokus pada penghormatan pahlawan revolusi dan pembacaan ikrar setia pada Pancasila.
Hari Kesaktian Pancasila berbeda dengan Hari Lahir Pancasila (1 Juni).
RISALAH PERINGATAN HARI KESAKTIAN PANCASILA
1 Oktober
Pendahuluan
Hari Kesaktian Pancasila diperingati setiap 1 Oktober sebagai momentum nasional untuk meneguhkan Pancasila sebagai ideologi negara yang kokoh dan tak tergantikan. Peringatan ini lahir dari pengalaman sejarah bangsa Indonesia dalam menghadapi ancaman ideologi yang berupaya menggantikan dasar negara, terutama pasca peristiwa Gerakan 30 September 1965 (G30S/PKI).
Latar Sejarah
Setelah peristiwa G30S/PKI tahun 1965 yang menewaskan para perwira tinggi TNI AD (Pahlawan Revolusi), bangsa Indonesia menghadapi ujian besar terhadap persatuan dan ideologi negara.
Untuk menegaskan bahwa Pancasila tetap tegak dan tidak tergoyahkan, Presiden Soeharto menetapkan Hari Kesaktian Pancasila melalui Keppres No. 153 Tahun 1967.
Pusat peringatan nasional biasanya dilaksanakan di Monumen Pancasila Sakti, Lubang Buaya, Jakarta.
Makna Hari Kesaktian Pancasila
Pancasila terbukti mampu bertahan dari ancaman ideologi ekstrem dan radikal
Menjadi pemersatu bangsa di tengah keberagaman suku, agama, dan budaya
Menegaskan bahwa Pancasila adalah fondasi kehidupan berbangsa dan bernegara
Tujuan Peringatan
Menginternalisasi nilai-nilai luhur Pancasila dalam kehidupan sehari-hari
Menumbuhkan kesadaran sejarah dan kewaspadaan ideologis
Mencegah masuknya ideologi yang bertentangan dengan Pancasila
Menghormati jasa Pahlawan Revolusi
Bentuk Peringatan
Upacara bendera nasional (pusat dan daerah)
Penghormatan kepada Pahlawan Revolusi
Pembacaan ikrar setia kepada Pancasila
Edukasi sejarah di sekolah, instansi, dan masyarakat
Catatan Penting
📌 Hari Kesaktian Pancasila (1 Oktober)
≠
📌 Hari Lahir Pancasila (1 Juni)
Keduanya memiliki makna berbeda, namun sama-sama menegaskan pentingnya Pancasila bagi NKRI.
INFOGRAFIS – HARI KESAKTIAN PANCASILA
Judul Utama
HARI KESAKTIAN PANCASILA
📅 1 Oktober
Fakta Utama
Dasar Hukum: Keppres No. 153 Tahun 1967
Latar Peristiwa: G30S/PKI 1965
Lokasi Ikonik: Monumen Pancasila Sakti, Lubang Buaya
Tokoh Dihormati: Pahlawan Revolusi
Makna Inti
🛡️ Pancasila Tidak Pernah Tumbang
🇮🇩 Ideologi Pemersatu Bangsa
🔥 Benteng NKRI
Tujuan
✔ Menjaga ideologi negara
✔ Menguatkan nasionalisme
✔ Menanamkan nilai Pancasila
✔ Menghormati pengorbanan pahlawan
Pesan Utama
“Pancasila Sakti,
Bangsa Indonesia Berdiri Tegak.”
Buatlah Risalah dan Infografis dari Peringatan Hari Bersejarah yaitu:
Hari Anak Nasional (HAN)
Diperingati setiap 23 Juli berdasarkan Keputusan Presiden RI No. 44 Tahun 1984, yang bertujuan meningkatkan kepedulian terhadap pemenuhan hak dan kesejahteraan anak. Tanggal ini dipilih bertepatan dengan pengesahan Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1979 tentang Kesejahteraan Anak, yang menandai tonggak sejarah perlindungan anak di Indonesia.
Gagasan Awal (1950-an): Cikal bakal HAN bermula dari ide Kongres Wanita Indonesia (Kowani) pada tahun 1951 untuk memperingati "Hari Kanak-Kanak". Pada tahun 1952, Pekan Kanak-Kanak digelar dengan pawai di Istana Merdeka.
Perubahan Tanggal: Peringatan ini awalnya sempat berubah-ubah, dari minggu kedua Juli, kemudian sempat diubah menjadi 1-3 Juni pada tahun 1959.
Penetapan Resmi (1984): Presiden Soeharto menetapkan tanggal 23 Juli sebagai Hari Anak Nasional secara resmi melalui Keppres No. 44 Tahun 1984, bertepatan dengan pengesahan UU No. 4 Tahun 1979.
Makna dan Dasar Hukum: HAN dimaknai sebagai momen refleksi untuk menghormati hak-hak anak agar tumbuh dan berkembang optimal. Dasar hukumnya diperkuat dengan UU No. 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak.
Setiap tahun, HAN diperingati dengan tema berbeda untuk menyoroti isu perlindungan, pendidikan, dan partisipasi anak dalam pembangunan bangsa.
RISALAH HARI ANAK NASIONAL (HAN)
23 Juli
Pengantar
Hari Anak Nasional (HAN) diperingati setiap 23 Juli sebagai momentum nasional untuk menegaskan komitmen negara dalam menjamin hak, perlindungan, dan kesejahteraan anak Indonesia. Peringatan ini menempatkan anak sebagai generasi penerus bangsa yang harus tumbuh sehat, cerdas, aman, dan berkarakter.
Penetapan HAN didasarkan pada Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 44 Tahun 1984, yang bertepatan dengan pengesahan Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1979 tentang Kesejahteraan Anak, sebuah tonggak penting dalam sejarah perlindungan anak di Indonesia.
Sejarah dan Latar Belakang
Gagasan Hari Anak di Indonesia telah muncul sejak awal kemerdekaan:
1951 – Kongres Wanita Indonesia (KOWANI) mengusulkan peringatan Hari Kanak-Kanak sebagai bentuk kepedulian terhadap masa depan anak bangsa.
1952 – Diselenggarakan Pekan Kanak-Kanak yang ditandai pawai anak-anak di Istana Merdeka.
1959 – Peringatan sempat dipindahkan ke tanggal 1–3 Juni, namun belum memiliki dasar hukum yang kuat.
1984 – Presiden Soeharto secara resmi menetapkan 23 Juli sebagai Hari Anak Nasional melalui Keppres No. 44 Tahun 1984, bertepatan dengan pengesahan UU Kesejahteraan Anak.
Dasar Hukum
UU No. 4 Tahun 1979 tentang Kesejahteraan Anak
Keppres No. 44 Tahun 1984 tentang Hari Anak Nasional
UU No. 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak (penguatan dari UU No. 23 Tahun 2002)
Makna Hari Anak Nasional
Hari Anak Nasional dimaknai sebagai:
Pengakuan bahwa anak adalah subjek hak asasi manusia
Refleksi bersama atas pemenuhan hak anak: hidup, tumbuh, berkembang, dan terlindungi
Pengingat bahwa keberhasilan pembangunan bangsa sangat bergantung pada kualitas generasi anak hari ini
Tujuan Peringatan HAN
Meningkatkan kepedulian seluruh elemen bangsa terhadap perlindungan anak
Menjamin pemenuhan hak anak tanpa diskriminasi
Mendorong partisipasi anak dalam pembangunan
Menguatkan peran keluarga, sekolah, dan negara dalam menciptakan lingkungan ramah anak
Peringatan Tahunan
Setiap tahun, Hari Anak Nasional diperingati dengan tema berbeda, menyesuaikan isu strategis seperti:
Perlindungan anak dari kekerasan
Akses pendidikan yang setara
Kesehatan dan gizi anak
Partisipasi anak dalam kehidupan sosial dan budaya
INFOGRAFIS HARI ANAK NASIONAL (HAN)
Judul Utama:
🎈 HARI ANAK NASIONAL
📅 23 Juli
Subjudul: Anak Terlindungi, Indonesia Maju
Panel Infografis
🧒 Sejarah Singkat
1951: Gagasan KOWANI
1984: Resmi ditetapkan HAN
📜 Dasar Hukum
UU No. 4 Tahun 1979
Keppres No. 44 Tahun 1984
UU No. 35 Tahun 2014
🎯 Makna HAN
Anak = aset masa depan bangsa
Hak anak adalah tanggung jawab bersama
🎨 Tujuan
Perlindungan
Pendidikan
Kesejahteraan
Partisipasi anak
🌱 Pesan Utama
“Setiap anak berhak bahagia, belajar, dan tumbuh dalam perlindungan negara.”
Buatlah Risalah dan Infografis dari Peringatan Hari Bersejarah yaitu:
Hari Olahraga Nasional (Haornas)
Diperingati setiap 9 September, berawal dari penyelenggaraan Pekan Olahraga Nasional (PON) I pada 9-12 September 1948 di Stadion Sriwedari, Solo. PON I diadakan sebagai ajang unjuk kemandirian bangsa di bidang olahraga. Penetapan resmi Haornas dilakukan oleh Presiden Soeharto pada 9 September 1983, yang kemudian diperkuat melalui Keputusan Presiden Nomor 67 Tahun 1985.
Latar Belakang (1948): PON I diselenggarakan pada 9-12 September 1948 di Solo. Hal ini dipicu karena atlet Indonesia tidak bisa berpartisipasi dalam Olimpiade London 1948 karena kedaulatan Indonesia belum diakui secara internasional.
Ajang Persatuan: PON I menjadi bukti kemandirian dan semangat persatuan bangsa dalam bidang olahraga, diikuti oleh 600 atlet dari 13 kota/karasidenan.
Pencetusan Haornas (1983): Presiden Soeharto meresmikan kembali Stadion Sriwedari dan mencanangkan tanggal 9 September sebagai Hari Olahraga Nasional pada 9 September 1983.
Pengukuhan Resmi (1985): Melalui Keputusan Presiden No. 67 Tahun 1985, 9 September ditetapkan sebagai Hari Olahraga Nasional secara resmi untuk memasyarakatkan olahraga dan meningkatkan prestasi nasional.
Tujuan: Haornas diperingati untuk mengenang momen bersejarah tersebut, meningkatkan kebugaran masyarakat, serta meningkatkan prestasi olahraga nasional di kancah internasional.
**RISALAH PERINGATAN
HARI OLAHRAGA NASIONAL (HAORNAS)** 9 September
Pendahuluan
Hari Olahraga Nasional (HAORNAS) diperingati setiap 9 September sebagai penghormatan terhadap sejarah kebangkitan olahraga nasional Indonesia. Peringatan ini berakar pada penyelenggaraan Pekan Olahraga Nasional (PON) I tahun 1948 di Solo, yang menjadi simbol kemandirian, persatuan, dan semangat juang bangsa Indonesia di tengah situasi revolusi mempertahankan kemerdekaan.
Latar Belakang Sejarah
Pada tahun 1948, Indonesia belum diakui sepenuhnya sebagai negara berdaulat oleh dunia internasional. Akibatnya, atlet Indonesia tidak dapat mengikuti Olimpiade London 1948. Sebagai respons atas situasi tersebut, pemerintah dan tokoh olahraga Indonesia menggagas penyelenggaraan Pekan Olahraga Nasional (PON) I.
PON I dilaksanakan pada:
Tanggal: 9–12 September 1948
Tempat: Stadion Sriwedari, Surakarta (Solo)
Peserta: ±600 atlet dari 13 kota/karesidenan
Ajang ini menjadi bukti bahwa Indonesia mampu berdiri sejajar sebagai bangsa merdeka melalui olahraga.
PON I sebagai Simbol Persatuan
PON I tidak sekadar kompetisi olahraga, melainkan:
Sarana pemersatu bangsa di tengah agresi militer Belanda
Wujud kemandirian nasional di bidang olahraga
Manifestasi semangat nasionalisme dan persaudaraan antardaerah
Pencanangan Hari Olahraga Nasional
Pada 9 September 1983, Presiden Soeharto meresmikan kembali Stadion Sriwedari sekaligus mencanangkan 9 September sebagai Hari Olahraga Nasional.
Penetapan ini kemudian diperkuat secara hukum melalui:
Keputusan Presiden Nomor 67 Tahun 1985
Sejak saat itu, HAORNAS diperingati secara nasional setiap tahun.
Tujuan Peringatan HAORNAS
Peringatan Hari Olahraga Nasional bertujuan untuk:
Mengenang sejarah PON I sebagai tonggak olahraga nasional
Mendorong budaya hidup sehat dan bugar di masyarakat
Memasyarakatkan olahraga dan mengolahragakan masyarakat
Meningkatkan prestasi olahraga Indonesia di tingkat internasional
Memperkuat persatuan dan karakter bangsa melalui olahraga
Makna Hari Olahraga Nasional
HAORNAS menegaskan bahwa olahraga bukan sekadar aktivitas fisik, melainkan:
Sarana pembangunan karakter bangsa
Media persatuan nasional
Alat diplomasi dan kebanggaan bangsa di dunia internasional
INFOGRAFIS – HARI OLAHRAGA NASIONAL
Judul Utama:
🟦 HARI OLAHRAGA NASIONAL
🟥 9 September
Fakta Sejarah:
🏟️ PON I: 9–12 September 1948
📍 Stadion Sriwedari, Solo
🏃 600 atlet – 13 daerah
🌍 Indonesia belum ikut Olimpiade London 1948
Tokoh & Penetapan:
👤 Presiden Soeharto
📜 Keppres No. 67 Tahun 1985
Makna Utama:
🇮🇩 Olahraga sebagai pemersatu bangsa
💪 Bangsa sehat, bangsa kuat
🏅 Prestasi untuk kehormatan negara
Tujuan HAORNAS:
✔ Masyarakat sehat dan bugar
✔ Prestasi olahraga nasional
✔ Persatuan dan nasionalisme
Slogan Reflektif:
“Olahraga Membangun Jiwa,
Menguatkan Raga,
dan Memperkokoh Bangsa.”
Buatlah Risalah dan Infografis dari Peringatan Hari Bersejarah yaitu:
Hari Kartini
Diperingati setiap 21 April untuk mengenang jasa R.A. Kartini, pelopor kebangkitan perempuan Indonesia, yang lahir pada tanggal tersebut (21 April 1879) dan ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional melalui Keppres No. 108 Tahun 1964 oleh Presiden Soekarno, menandai perjuangannya untuk emansipasi wanita, pendidikan, dan kesetaraan hak-hak perempuan yang diwujudkan melalui surat-suratnya yang inspiratif, kemudian dibukukan dalam
Habis Gelap Terbitlah Terang
(Door Duisternis tot Licht)
.
Latar Belakang Singkat R.A. Kartini
Lahir: 21 April 1879 di Jepara, Jawa Tengah, dari keluarga bangsawan Jawa.
Pendidikan: Kartini bersekolah hingga usia 12 tahun, kemudian menjalani pingitan, namun ia memanfaatkan waktu dengan membaca buku dan surat-surat dari teman-temannya di Belanda yang membuka wawasannya tentang isu perempuan dan feminisme.
Perjuangan: Melalui surat-suratnya, ia mengemukakan gagasan tentang pentingnya pendidikan bagi perempuan pribumi dan menentang adat istiadat yang membatasi kaum wanita, seperti poligami dan pernikahan paksa.
Penetapan Hari Kartini
Dasar Hukum: Presiden Soekarno menetapkan 21 April sebagai Hari Kartini melalui Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 108 Tahun 1964 pada 2 Mei 1964.
Makna: Untuk menghormati jasa-jasanya dalam memperjuangkan hak-hak perempuan dan menjadikannya simbol emansipasi wanita Indonesia.
Peringatan dan Warisan
Kegiatan: Peringatan tahunan diisi dengan kegiatan seperti mengenakan kebaya dan baju adat, lomba, seminar, serta kegiatan edukatif untuk terus menyalakan semangat Kartini.
Warisan: Gagasan Kartini menjadi fondasi gerakan perempuan Indonesia dan terus menjadi inspirasi bagi perempuan untuk berkarya dan meraih cita-cita, memperjuangkan kesetaraan di berbagai bidang.
RISALAH HARI KARTINI
21 April – Mengenang Perjuangan R.A. Kartini
Pengantar
Hari Kartini diperingati setiap 21 April untuk mengenang jasa Raden Ajeng Kartini, tokoh pelopor kebangkitan perempuan Indonesia. Peringatan ini berangkat dari hari kelahiran Kartini pada 21 April 1879 dan ditetapkan secara resmi melalui Keputusan Presiden RI No. 108 Tahun 1964 oleh Presiden Soekarno. Kartini dikenang sebagai simbol perjuangan emansipasi perempuan, pendidikan, dan kesetaraan hak di tengah masyarakat kolonial dan feodal.
Latar Belakang R.A. Kartini
Nama lengkap: Raden Ajeng Kartini
Lahir: 21 April 1879, Jepara, Jawa Tengah
Wafat: 17 September 1904
Kartini lahir dari keluarga bangsawan Jawa. Ia sempat mengenyam pendidikan formal hingga usia 12 tahun, sebelum harus menjalani pingitan sesuai adat saat itu. Namun, keterbatasan fisik tidak menghentikan semangat intelektualnya. Kartini aktif membaca buku-buku Eropa dan menjalin korespondensi dengan sahabat-sahabatnya di Belanda.
Gagasan dan Perjuangan
Melalui surat-suratnya, Kartini menyuarakan:
Pentingnya pendidikan bagi perempuan pribumi
Penolakan terhadap adat yang mengekang perempuan
(poligami, pernikahan paksa, dan ketidakadilan sosial)
Harapan akan kesetaraan martabat antara laki-laki dan perempuan
Pemikiran-pemikiran ini kemudian dibukukan dalam karya monumental Habis Gelap Terbitlah Terang (Door Duisternis tot Licht), yang menjadi tonggak pemikiran emansipasi di Indonesia.
Penetapan Hari Kartini
Tanggal: 21 April
Dasar hukum: Keppres RI No. 108 Tahun 1964
Makna penetapan:
Menghormati Kartini sebagai Pahlawan Nasional dan menjadikannya simbol perjuangan perempuan Indonesia.
Makna Peringatan Hari Kartini
Hari Kartini bukan sekadar peringatan simbolik, tetapi:
Momentum refleksi perjuangan perempuan
Dorongan untuk meningkatkan pendidikan, partisipasi, dan kepemimpinan perempuan
Pengingat bahwa kesetaraan adalah bagian dari kemajuan bangsa
Peringatan dan Warisan
Bentuk peringatan:
Mengenakan kebaya dan busana adat
Lomba, seminar, diskusi, dan kegiatan edukatif
Kampanye kesetaraan dan pemberdayaan perempuan
Warisan Kartini:
Gagasan Kartini menjadi fondasi gerakan perempuan Indonesia dan terus menginspirasi generasi masa kini untuk berani berpikir, berkarya, dan berkontribusi bagi bangsa.
INFOGRAFIS – HARI KARTINI (RINGKAS VISUAL)
Judul:
🪷 Hari Kartini – 21 April
Tokoh:
R.A. Kartini (1879–1904)
Dasar Hukum:
Keppres RI No. 108 Tahun 1964
Gagasan Utama:
Emansipasi perempuan
Pendidikan wanita
Kesetaraan hak
Karya Penting: Habis Gelap Terbitlah Terang
Makna:
Perempuan berdaya, bangsa berjaya
Buatlah Risalah dan Infografis dari Peringatan Hari Bersejarah yaitu:
Hari Pahlawan
Diperingati setiap 10 November untuk mengenang Pertempuran Surabaya tahun 1945, di mana rakyat Surabaya berjuang melawan pasukan Sekutu. Pertempuran hebat yang dipicu tewasnya Brigadir Jenderal Mallaby ini menjadi simbol perlawanan dan persatuan nasional dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia, yang ditetapkan pemerintah melalui Keppres Nomor 316 Tahun 1959.
Latar Belakang: Pasca Proklamasi 17 Agustus 1945, situasi keamanan Surabaya memanas akibat kehadiran pasukan Sekutu (AFNEI) yang diboncengi NICA (Belanda) yang ingin kembali menjajah.
Insiden Hotel Yamato (19 September 1945): Pemuda Surabaya merobek warna biru bendera Belanda di Hotel Yamato, menjadikannya Merah Putih.
Tewasnya Jenderal Mallaby (30 Oktober 1945): Tewasnya komandan Inggris, Brigadir Jenderal A.W.S. Mallaby, memicu kemarahan Inggris.
Ultimatum Inggris: Inggris mengeluarkan ultimatum agar rakyat Surabaya menyerahkan senjata paling lambat 10 November 1945 pukul 06.00 pagi. Ultimatum ini ditolak keras oleh arek-arek Suroboyo.
Pertempuran 10 November: Pertempuran pecah dan berlangsung selama 3 minggu, yang dipimpin oleh tokoh seperti Bung Tomo. Sekitar 20.000 rakyat gugur dalam peristiwa heroik yang membuat Surabaya dijuluki sebagai Kota Pahlawan.
Hari Pahlawan ditetapkan untuk menghormati jasa para pahlawan yang gugur dan meneladani semangat patriotisme dalam menjaga kedaulatan NKRI.
RISALAH HARI PAHLAWAN
10 November – Mengenang Pertempuran Surabaya 1945
Hari Pahlawan diperingati setiap 10 November untuk mengenang Pertempuran Surabaya tahun 1945, salah satu pertempuran terbesar dan paling heroik dalam sejarah Revolusi Indonesia. Peristiwa ini menjadi simbol perlawanan rakyat terhadap upaya penjajahan kembali oleh Sekutu dan Belanda setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.
Penetapan Hari Pahlawan secara resmi dilakukan melalui Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 316 Tahun 1959, sebagai bentuk penghormatan kepada para pejuang yang gugur mempertahankan kemerdekaan.
Latar Belakang
Pasca Proklamasi 17 Agustus 1945, Surabaya menjadi kota dengan situasi keamanan paling genting. Pasukan Sekutu (AFNEI) yang masuk ke Indonesia untuk melucuti Jepang, justru diboncengi oleh NICA (Belanda) yang ingin kembali berkuasa. Hal ini memicu kemarahan rakyat Surabaya.
Rangkaian Peristiwa Penting
Insiden Hotel Yamato (19 September 1945)
Pemuda Surabaya merobek warna biru bendera Belanda di Hotel Yamato (kini Hotel Majapahit), menjadikannya Merah Putih, sebagai simbol penolakan penjajahan.
Tewasnya Brigjen A.W.S. Mallaby (30 Oktober 1945)
Tewasnya komandan pasukan Inggris ini memperuncing konflik dan menjadi alasan Inggris melancarkan serangan besar-besaran.
Ultimatum Inggris
Inggris mengeluarkan ultimatum agar rakyat Surabaya menyerahkan senjata paling lambat 10 November 1945 pukul 06.00 WIB. Ultimatum ini ditolak mentah-mentah oleh rakyat.
Pertempuran 10 November 1945
Pertempuran besar pecah dan berlangsung sekitar tiga minggu, dipimpin semangat perlawanan rakyat, salah satunya melalui pidato membakar semangat dari Bung Tomo. Sekitar 20.000 rakyat Indonesia gugur dalam pertempuran ini.
Makna Hari Pahlawan
Hari Pahlawan menjadi pengingat bahwa kemerdekaan Indonesia ditebus dengan pengorbanan jiwa dan raga. Semangat keberanian, persatuan, dan rela berkorban para pahlawan menjadi teladan dalam menjaga keutuhan NKRI.
INFOGRAFIS HARI PAHLAWAN (KONSEP VISUAL)
Judul Utama:
🟥 HARI PAHLAWAN – 10 NOVEMBER
Subjudul: “Surabaya 1945: Api Perlawanan Bangsa”
Bagian Infografis:
Latar Waktu & Tempat
10 November 1945
Surabaya, Jawa Timur
Ikon Visual Utama
Ilustrasi Bung Tomo berpidato
Kobaran api dan asap pertempuran
Bendera Merah Putih berkibar
Siluet rakyat bersenjata bambu runcing
Timeline Singkat
19 Sept 1945: Insiden Hotel Yamato
30 Okt 1945: Mallaby tewas
10 Nov 1945: Pertempuran besar pecah
Fakta Penting
± 20.000 pejuang gugur
Pertempuran ± 3 minggu
Surabaya dijuluki Kota Pahlawan
Dasar Penetapan
Keppres No. 316 Tahun 1959
Slogan Penutup:
✨ “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati jasa pahlawannya.”
Buatlah Risalah dan Infografis dari Peringatan Hari Bersejarah yaitu:
Peristiwa Malari (Malapetaka 15 Januari 1974)
Gelombang demonstrasi mahasiswa dan kerusuhan sosial besar di Jakarta yang menentang dominasi modal asing, khususnya Jepang, serta kebijakan ekonomi Orde Baru. Dipicu kunjungan PM Jepang Kakuei Tanaka, aksi ini menuntut pemberantasan korupsi (KKN) dan pengurangan ketergantungan investasi asing.
Latar Belakang dan Penyebab
Dominasi Ekonomi Jepang: Mahasiswa menilai modal Jepang mendominasi industri dalam negeri (tekstil, otomotif, elektronik), menyebabkan produk lokal kalah saing.
Kebijakan Pro-Investor: Pemerintah Orde Baru dinilai terlalu berpihak pada investor asing dan abai terhadap kepentingan rakyat.
Kunjungan PM Tanaka: Kunjungan PM Jepang Kakuei Tanaka pada 14-17 Januari 1974 dijadikan simbol ketundukan Indonesia terhadap kekuatan asing, memicu amarah mahasiswa.
Korupsi dan KKN: Tuntutan pembubaran Asisten Pribadi (Aspri) Presiden Soeharto yang dianggap sebagai pusat korupsi.
Kronologi dan Kerusuhan
14-15 Januari 1974: Mahasiswa dari berbagai universitas (terutama UI, dipimpin Hariman Siregar) melakukan long march dan aksi demonstrasi di Jakarta.
Kerusuhan Sosial: Demonstrasi berubah ricuh. Terjadi pembakaran ribuan mobil/motor buatan Jepang, perusakan gedung, dan penjarahan di berbagai titik (Senin, Sudirman, Blok M).
Korban dan Penangkapan: Peristiwa ini mengakibatkan 11 orang tewas, ratusan luka-luka, dan lebih dari 700 orang ditahan.
Dampak Peristiwa Malari
Penindakan Tegas: Pemerintah bertindak represif, membredel 12 surat kabar (termasuk Indonesia Raya), dan menangkap tokoh mahasiswa seperti Hariman Siregar.
Restrukturisasi Pemerintahan: Presiden Soeharto membubarkan lembaga Aspri dan mencopot Jenderal Sumitro (Pangkokamtib).
Perubahan Kebijakan: Pemerintah mulai memberlakukan peraturan yang mewajibkan kemitraan bagi investor asing dengan pengusaha lokal (pribumi).
Peristiwa Malari menjadi lembaran hitam yang menunjukkan titik kritis perlawanan terhadap otoritarianisme dan dominasi ekonomi asing pada awal Orde Baru.
RISALAH PERISTIWA MALARI (MALAPETAKA 15 JANUARI 1974)
Perlawanan Mahasiswa terhadap Dominasi Modal Asing di Era Orde Baru
Pendahuluan
Peristiwa Malari (Malapetaka Lima Belas Januari) merupakan salah satu gejolak sosial–politik terbesar pada masa awal Orde Baru. Peristiwa ini mencerminkan keresahan mahasiswa dan rakyat terhadap arah pembangunan nasional yang dinilai terlalu berpihak kepada modal asing serta sarat praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN).
Latar Belakang dan Penyebab
Dominasi Modal Asing (Jepang)
Modal Jepang mendominasi sektor industri strategis seperti otomotif, elektronik, dan tekstil, sehingga industri nasional sulit berkembang.
Kebijakan Ekonomi Orde Baru
Pemerintah dinilai pro-investor asing dan kurang memperhatikan pemerataan kesejahteraan rakyat.
Kunjungan PM Jepang Kakuei Tanaka
Kunjungan resmi pada 14–17 Januari 1974 dianggap simbol ketergantungan Indonesia terhadap kekuatan ekonomi asing.
Isu Korupsi dan KKN
Mahasiswa menuntut pembubaran Asisten Pribadi (Aspri) Presiden Soeharto yang dianggap sebagai pusat praktik korupsi.
Kronologi Peristiwa
14–15 Januari 1974
Mahasiswa dari berbagai universitas, terutama Universitas Indonesia, melakukan demonstrasi dan long march di Jakarta.
Aksi Memanas
Demonstrasi berubah menjadi kerusuhan sosial di berbagai titik (Senen, Sudirman, Blok M).
Kerusakan Besar
Ribuan kendaraan buatan Jepang dibakar, gedung dirusak, dan terjadi penjarahan.
Korban
11 orang tewas, ratusan luka-luka, dan lebih dari 700 orang ditahan aparat.
Tokoh Penting
Hariman Siregar – Ketua Dewan Mahasiswa UI, simbol gerakan mahasiswa Malari
Presiden Soeharto – Kepala negara Orde Baru
PM Kakuei Tanaka – Perdana Menteri Jepang
Jenderal Sumitro – Pangkopkamtib yang kemudian dicopot
Dampak Peristiwa Malari
Represi Politik
Pemerintah membredel 12 surat kabar (termasuk Indonesia Raya) dan menangkap aktivis mahasiswa.
Restrukturisasi Kekuasaan
Lembaga Aspri dibubarkan, Jenderal Sumitro dicopot dari jabatannya.
Pengetatan Kebebasan
Ruang gerak mahasiswa dan pers dibatasi lebih ketat.
Perubahan Kebijakan Ekonomi
Investor asing diwajibkan bermitra dengan pengusaha nasional.
Makna Sejarah
Peristiwa Malari menjadi simbol perlawanan awal terhadap otoritarianisme Orde Baru dan kritik tajam atas dominasi ekonomi asing. Peristiwa ini juga menandai berakhirnya era kebebasan mahasiswa di awal pemerintahan Orde Baru.
RANGKUMAN INFOGRAFIS (SIAP POSTER)
Judul: PERISTIWA MALARI 1974 Malapetaka 15 Januari
Tanggal:
15 Januari 1974
Lokasi:
Jakarta
Pemicu:
Dominasi modal Jepang
Kunjungan PM Tanaka
Korupsi & KKN
Aktor Utama:
Mahasiswa (UI & kampus lain)
Korban:
11 tewas | Ratusan luka | 700+ ditahan
Dampak:
Pembredelan pers
Penangkapan aktivis
Pembubaran Aspri
Kebijakan kemitraan asing-lokal
Pesan Sejarah: Kritik terhadap ketimpangan pembangunan dan dominasi modal asing
Buatlah Risalah dan Infografis tentang :
Sejarah "Petrus".
Merujuk pada Penembakan Misterius, serangkaian eksekusi di luar hukum terhadap ribuan orang yang dituduh penjahat atau "preman" oleh aparat negara (militer/polisi) antara tahun 1983-1985 di bawah rezim Orde Baru Presiden Soeharto, bertujuan menciptakan efek jera, namun menjadi pelanggaran HAM berat karena tanpa pengadilan dan korban sering kali ditemukan tewas dengan tanda-tanda penyiksaan. Operasi ini dimulai di Yogyakarta dan meluas ke seluruh Indonesia, menewaskan ratusan hingga ribuan orang, termasuk pelaku kejahatan dan diduga juga lawan politik, tanpa ada penyelesaian hukum yang adil hingga kini.
Latar Belakang:
Kriminalitas Merajalela:
Maraknya kejahatan jalanan (gali/preman) membuat pemerintah Orde Baru ingin menciptakan efek jera yang ekstrem.
Inisiatif Militer:
Dimulai di Yogyakarta dengan Operasi Pemberantasan Kejahatan oleh Garnisun Militer, menargetkan "gali" atau residivis.
Pelaksanaan:
Eksekusi Tanpa Pengadilan:
Target ditangkap, diinterogasi, lalu dieksekusi mati di tempat tersembunyi atau umum tanpa proses hukum.
Modus Operandi:
Mayat sering ditinggalkan di tempat umum dengan luka tembak dan tangan terikat, serta ditemukan di pinggir jalan, sawah, atau dimasukkan karung.
Pelaku:
Aparat keamanan yang beroperasi tanpa seragam dan surat tugas, kemungkinan atas perintah, seperti yang terungkap dalam investigasi BBC.
Penyebaran:
Meluas ke Jawa (Bandung, Surabaya) dan Sumatera, dengan variasi modus operasi.
Dampak & Kontroversi:
Penurunan Kriminalitas:
Pemerintah mengklaim berhasil menekan kejahatan dan menguatkan wibawa negara.
Pelanggaran HAM Berat:
Komnas HAM menemukan bukti pelanggaran HAM berat, namun pelaku tidak pernah diadili dan korban tidak mendapatkan keadilan.
Korban Jiwa:
Diperkirakan ratusan hingga ribuan orang tewas, jumlah pastinya tidak diketahui.
Munculnya "Petrus":
Istilah "Petrus" (Penembak Misterius) menjadi momok dan simbol penegakan hukum di luar jalur yang memakan banyak korban jiwa.
Peninggalan:
Peristiwa ini menjadi catatan kelam sejarah Indonesia di bawah Orde Baru, di mana keamanan dicapai dengan mengorbankan nyawa dan HAM.
Kasus ini belum pernah terselesaikan secara hukum, meski menjadi bagian dari sejarah yang diakui sebagai pelanggaran HAM
RISALAH SEJARAH “PETRUS” (1983–1985)
Penembakan Misterius dalam Sejarah Indonesia
Pendahuluan
“Petrus” adalah istilah populer untuk menyebut Penembakan Misterius, sebuah operasi kekerasan negara di luar proses hukum yang terjadi di Indonesia pada awal 1980-an (±1983–1985). Operasi ini menargetkan orang-orang yang dicap sebagai penjahat, preman, atau residivis, dan dilakukan secara rahasia oleh aparat keamanan pada masa Orde Baru di bawah Presiden Soeharto.
Peristiwa ini menjadi salah satu catatan kelam pelanggaran hak asasi manusia dalam sejarah Indonesia modern.
Latar Belakang
Kriminalitas Tinggi
Pada awal 1980-an, kejahatan jalanan meningkat tajam, terutama di kota-kota besar. Pemerintah memandang situasi ini sebagai ancaman stabilitas nasional.
Pendekatan Keamanan Orde Baru
Negara memilih pendekatan represif untuk menciptakan efek jera dan mengembalikan wibawa aparat, tanpa mengedepankan proses hukum.
Inisiatif Militer
Operasi ini pertama kali muncul di Yogyakarta, kemudian meluas ke berbagai wilayah Indonesia.
Pelaksanaan Operasi Petrus
Tanpa Proses Hukum
Target ditangkap, diinterogasi, lalu dieksekusi tanpa pengadilan.
Modus Operandi
Korban ditemukan:
Tewas dengan luka tembak
Tangan terikat
Dibuang di pinggir jalan, sawah, sungai, atau dalam karung
Pelaku
Diduga dilakukan oleh aparat keamanan (militer/polisi) tanpa seragam dan identitas resmi, beroperasi secara rahasia.
Penyebaran Wilayah
Setelah Yogyakarta, operasi Petrus meluas ke:
Jawa Tengah
Jawa Barat (Bandung)
Jawa Timur (Surabaya)
Sumatera dan wilayah lain
Dampak & Kontroversi
Dampak yang Diklaim Pemerintah
Penurunan drastis angka kriminalitas
Meningkatnya rasa takut di kalangan pelaku kejahatan
Dampak Nyata
Ratusan hingga ribuan korban jiwa
Banyak korban tidak pernah diadili
Keluarga korban tidak memperoleh keadilan
Pelanggaran HAM
Komnas HAM mengategorikan Petrus sebagai pelanggaran HAM berat
Tidak pernah ada proses peradilan terhadap pelaku
Warisan Sejarah
Peristiwa Petrus:
Menjadi simbol penegakan hukum di luar hukum
Menunjukkan bagaimana stabilitas dicapai dengan kekerasan negara
Hingga kini belum pernah diselesaikan secara hukum
Tetap menjadi trauma kolektif masyarakat
INFOGRAFIS – SEJARAH “PETRUS”
Judul Utama
PENEMBAKAN MISTERIUS (PETRUS) Operasi Kekerasan Negara di Indonesia (1983–1985)
Timeline
1983 – Operasi dimulai di Yogyakarta
1984 – Menyebar ke kota-kota besar
1985 – Operasi mereda, tanpa pertanggungjawaban hukum
Aktor Utama
Aparat keamanan (diduga militer & polisi)
Pemerintah Orde Baru
Target Operasi
Preman
Residivis
Orang yang dicap “mengganggu stabilitas”
Dugaan lawan politik
Modus
Penangkapan rahasia
Eksekusi tanpa pengadilan
Mayat ditinggalkan di ruang publik
Korban
Ratusan – ribuan orang tewas
Jumlah pasti tidak pernah diumumkan
Dampak
✔ Turunnya kriminalitas
✖ Pelanggaran HAM berat
✖ Trauma sosial
✖ Tidak ada keadilan hukum
Catatan Sejarah
“Keamanan yang dibangun di atas ketakutan akan selalu meninggalkan luka sejarah.”
Buatlah Risalah dan Infografis dari Peristiwa yaitu :
Tragedi Trisakti pada 12 Mei 1998
Adalah peristiwa penembakan mahasiswa Universitas Trisakti, Jakarta, yang menuntut reformasi dan turunnya Presiden Soeharto akibat krisis moneter Asia. Empat mahasiswa gugur akibat peluru tajam aparat di dalam kampus, memicu kerusuhan Mei 1998 dan mempercepat jatuhnya Orde Baru pada 21 Mei 1998.
Latar Belakang dan Kronologi
Krisis Moneter: Dipicu oleh krisis finansial Asia 1997 yang membuat rupiah anjlok dan harga barang melambung tinggi.
Demonstrasi Damai: Mahasiswa Trisakti menggelar aksi damai pada 12 Mei 1998, berjalan dari kampus menuju Gedung Nusantara (DPR/MPR), namun dihadang aparat kepolisian dan militer.
Penembakan: Saat massa mundur ke dalam kampus, aparat melepaskan tembakan peluru tajam, karet, dan gas air mata dari berbagai arah.
Korban: Empat mahasiswa yang gugur adalah Elang Mulia Lesmana, Heri Hertanto, Hafidin Royan, dan Hendriawan Sie.
Dampak: Peristiwa ini memicu kerusuhan massa yang lebih besar (Kerusuhan Mei 1998) dan gelombang protes nasional, memaksa Soeharto mengundurkan diri sembilan hari kemudian.
Keempat mahasiswa tersebut dianugerahi gelar Pahlawan Reformasi pada 2005 atas perjuangan mereka melawan korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN).
Buatlah Risalah dan Infografis dari Peristiwa yaitu:
Reformasi Indonesia 1998.
Adalah gerakan mahasiswa dan masyarakat untuk meruntuhkan rezim Orde Baru, yang mencapai puncaknya dengan mundurnya Presiden Soeharto pada 21 Mei 1998. Dipicu krisis moneter 1997, KKN (Korupsi, Kolusi, Nepotisme), dan represi politik, gerakan ini menuntut perubahan total menuju pemerintahan demokratis, supremasi hukum, dan kebebasan sipil.
Latar Belakang dan Penyebab
Krisis Moneter 1997-1998: Rupiah merosot, harga kebutuhan pokok melambung, dan ekonomi lumpuh, memicu ketidakpuasan sosial.
Praktik KKN: Pemerintahan Orde Baru selama 32 tahun identik dengan nepotisme dan korupsi yang merajalela.
Represi Politik: Terbatasnya kebebasan pers dan berpendapat, serta dominasi militer dalam pemerintahan (dwifungsi ABRI).
Kronologi dan Peristiwa Penting
Aksi Mahasiswa: Sepanjang awal 1998, demonstrasi mahasiswa meluas menuntut reformasi.
Tragedi Trisakti (12 Mei 1998): Empat mahasiswa Trisakti gugur tertembak, memicu kerusuhan massal pada 13-15 Mei 1998.
Pendudukan Gedung DPR/MPR: Ribuan mahasiswa menduduki gedung parlemen, mendesak Soeharto turun.
Pengunduran Diri Soeharto (21 Mei 1998): Soeharto resmi mundur dan BJ Habibie dilantik sebagai Presiden, menandai dimulainya era Reformasi.
Tuntutan dan Agenda Reformasi Gerakan ini membawa enam agenda utama:
Adili Soeharto dan kroni-kroninya.
Amandemen UUD 1945.
Penghapusan Dwifungsi ABRI.
Otonomi daerah seluas-luasnya.
Tegakkan supremasi hukum.
Pemerintahan yang bersih dari KKN.
Dampak dan Perubahan Pasca-Reformasi
Demokratisasi: Pemilu lebih demokratis, kebebasan pers, dan lahirnya banyak partai politik.
Amandemen UUD 1945: Pembatasan masa jabatan presiden dan penguatan HAM.
Otonomi Daerah: Desentralisasi kekuasaan dari pusat ke daerah.
Pemberantasan KKN: Pembentukan lembaga seperti KPK.
Era ini menjadi transisi krusial dari otoritarianisme menuju demokrasi yang lebih terbuka di Indonesia.
Buatlah Risalah dan Infografis dari Peringatan Hari Bersejarah yaitu:
Buatlah Risalah dan Infografis dari Peringatan Hari Bersejarah yaitu: