Minggu, 12 Juli 2026

AH Nasution

Abdul Haris Nasution (3 Desember 1918 – 6 September 2000) adalah seorang perwira Angkatan Darat dan politikus Indonesia. 

Ia bertugas di militer selama Revolusi Nasional Indonesia dan ia tetap di militer selama gejolak berikutnya dari demokrasi Parlementer dan Demokrasi Terpimpin. 

Setelah jatuhnya Presiden Soekarno dari kekuasaan, ia menjadi Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS) di bawah presiden Soeharto.


Pahlawan Nasional Indonesia :

S.K. Presiden No. 073/TK/2002 tanggal 6 November 2002.


Lahir dari keluarga Batak Mandailing, di desa Hutapungkut, ia belajar mengajar dan mendaftar di akademi militer di Bandung. Ia menjadi anggota Tentara Kerajaan Hindia Belanda (KNIL), tetapi setelah invasi Jepang, ia bergabung dengan Pembela Tanah Air (PETA) dengan membawa pesan, keinginannya tidak mau menjadi anggota PETA. Setelah proklamasi kemerdekaan, ia mendaftar di angkatan bersenjata Indonesia yang masih muda, dan bertempur selama Revolusi Nasional Indonesia. Pada tahun 1946, ia diangkat menjadi komandan Divisi Siliwangi, unit gerilya yang beroperasi di Jawa Barat. Setelah revolusi nasional berakhir, ia diangkat menjadi Kepala Staf Angkatan Darat, sampai ia diskors karena keterlibatannya dalam peristiwa 17 Oktober. Ia diangkat kembali ke posisi itu pada tahun 1955.


Nasution merupakan konseptor Dwifungsi ABRI yang disampaikan pada tahun 1958 yang kemudian diadopsi selama pemerintahan Soeharto. Konsep dasar yang ditawarkan tersebut merupakan jalan agar ABRI tidak harus berada di bawah kendali sipil, tetapi pada saat yang sama tidak boleh mendominasi sehingga menjadi sebuah kediktatoran militer.


Pada tahun 1965, terjadi percobaan kudeta yang dilakukan oleh Partai Komunis Indonesia (PKI). Rumah Nasution diserang, dan putrinya terbunuh, tetapi ia berhasil melarikan diri dengan memanjat tembok dan bersembunyi di kediaman duta besar Irak. Dalam gejolak politik berikutnya, ia membantu kenaikan Presiden Soeharto, dan diangkat sebagai Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara. Ia berselisih dengan Soeharto, yang melihatnya sebagai saingan, dan ia digulingkan dari kekuasaan pada tahun 1971. Begitu ia dicopot dari posisi kekuasaan, Nasution berkembang menjadi lawan politik Rezim Orde Baru Soeharto. Meskipun ia dan Soeharto mulai berdamai pada tahun 1990-an. Pada tanggal 5 Oktober 1997 saat ulang tahun ABRI, ia bersama Soeharto dan Soedirman dianugerahkan dengan menerima pangkat kehormatan sebagai Jenderal Besar TNI dalam pangkat terbesar pada masa itu.


Ia meninggal pada 6 September 2000 di Jakarta, setelah menderita strok dan koma. Jenazahnya dikebumikan di Taman Makam Pahlawan Kalibata. Dan juga pada tanggal 6 November 2002, Nasution resmi ditetapkan menjadi seorang Pahlawan nasional Indonesia dengan adanya surat Keputusan Presiden no. 073 tahun 2002.

Kamis, 09 Juli 2026

Rec Tengku Amir Hamzah

 Tengku Amir Hamzah adalah salah satu sastrawan terbesar Indonesia dari angkatan Pujangga Baru yang juga dianugerahi gelar Pahlawan Nasional Indonesia. Lahir dari keluarga bangsawan Kesultanan Langkat di Sumatera Utara, ia dikenal luas sebagai "Raja Penyair Zaman Pujangga Baru" karena sumbangsih besar dan keindahan karya-karyanya. 

Latar Belakang dan Pendidikan
  • Nama Lengkap: Tengku Amir Hamzah Pangeran Indera Putera. 
  • Kelahiran: Tanjung Pura, Langkat, Sumatera Utara pada tanggal 28 Februari 1911. 
  • Garis Keturunan: Merupakan bangsawan Melayu Langkat dan cicit dari Sultan Musa. Lingkungan ini menumbuhkan kecintaannya pada sastra Melayu dan agama Islam. 
  • Pendidikan: Menempuh pendidikan dasar di Sumatra sebelum melanjutkan sekolah menengah di Jawa (Surakarta). Ia kemudian melanjutkan studi hukum di Batavia (Rechtshoogeschool te Batavia).
Kiprah Sastra dan Perjuangan
  • Gerakan Nasionalis: Selama belajar di Jawa sekitar tahun 1930, ia aktif dalam pergerakan kebangsaan pemuda. Ia juga tercatat ikut berkontribusi sebagai salah satu konseptor Sumpah Pemuda.
  • Pelopor Pujangga Baru: Bersama Sutan Takdir Alisjahbana dan Armijn Pane, ia mendirikan majalah sastra ikonik Poedjangga Baroe pada tahun 1932.
  • Karya Monumental: Menulis lebih dari 50 puisi yang memadukan budaya Melayu, napas Islam, dan sastra Timur. Dua kumpulan sajaknya yang paling terkenal adalah Nyanyi Sunyi (1937) dan Buah Rindu (1941). Salah satu puisinya yang sangat melegenda berjudul Padamu Jua. 
Kisah Asmara dan Akhir Hayat
  • Tragedi Cinta: Saat bersekolah di Surakarta, Amir menjalin hubungan kasih yang mendalam dengan teman sekolahnya, Ilik Soendari. Namun, cinta mereka kandas pada tahun 1937 ketika Amir dipanggil pulang ke Sumatra untuk melakukan pernikahan adat dengan putri Sultan Langkat demi tanggung jawab keraton.
  • Karier Birokrasi: Setelah proklamasi kemerdekaan tahun 1945, ia diangkat menjadi wakil pemerintah RI untuk wilayah Langkat.
  • Gugur dalam Revolusi: Ketika meletus Revolusi Sosial di Sumatera Timur pada awal tahun 1946, faksi radikal menyasar kaum feodal dan bangsawan. Amir Hamzah ditangkap dan dieksekusi secara tragis di Kuala Begumit pada 20 Maret 1946 dalam usia 35 tahun. 
Jasadnya dimakamkan di kompleks pemakaman Masjid Azizi, Tanjung Pura, Langkat. Atas jasa-jasa besarnya terhadap bahasa dan kemerdekaan, pemerintah menganugerahinya gelar Pahlawan Nasional Indonesia pada tahun 1975. 

Rec KH ZAINAL MUSTAFA

Kiai Haji Zainal Mustafa adalah salah satu Pahlawan Nasional Indonesia asal Tasikmalaya, Jawa Barat, yang memimpin perlawanan bersenjata terkenal melawan pendudukan militer Jepang di Singaparna pada tahun 1944. Ia dikenal sebagai ulama yang teguh pendirian, berani, dan menolak keras segala bentuk kompromi yang merugikan agama dan martabat bangsanya.
Profil dan Latar Belakang
  • Nama Kecil: Dilahirkan dengan nama Umri, kemudian berganti nama menjadi Hudaemi. Nama Zainal Mustafa digunakan setelah ia menunaikan ibadah haji pada tahun 1927. 
  • Kelahiran: Lahir di Kampung Bageur, Desa Cimerah, Singaparna, Tasikmalaya pada tahun 1899 dari pasangan petani berkecukupan bernama Nawapi dan Ny. Ratmah. 
  • Pendidikan: Menempuh pendidikan dasar formal di Sekolah Rakyat, lalu mendalami ilmu agama selama 17 tahun di berbagai pesantren ternama di wilayah Jawa Barat. 
  • Pendiri Pesantren: Pada tahun 1927, ia mendirikan ⁠Pesantren Sukamanah di Tasikmalaya yang menjadi pusat penyebaran agama sekaligus basis pergerakan kemerdekaan. 
Masa Perjuangan melawan Belanda
Sebelum kedatangan Jepang, KH Zainal Mustafa aktif memanfaatkan mimbar ceramah dan khotbah untuk membangkitkan kesadaran nasionalisme rakyat. Akibat tindakan vokal tersebut, pada 17 November 1941, ia bersama beberapa ulama lainnya ditangkap oleh pemerintah Hindia Belanda atas tuduhan menghasut rakyat untuk memberontak dan ditahan di Penjara Tasikmalaya sebelum dipindahkan ke Sukamiskin, Bandung. Ia baru dibebaskan setelah Belanda jatuh ke tangan Jepang pada tahun 1942. 
Perlawanan Terhadap Jepang (Peristiwa Singaparna)
Perlawanan KH Zainal Mustafa memuncak pada masa pendudukan Jepang akibat kebijakan-kebijakan penjajah yang dinilai menyimpang dari ajaran Islam dan sangat menyengsarakan rakyat. 
  • Penolakan Seikerei: Alasan utama perlawanan adalah penolakan keras terhadap perintah Seikerei, yaitu kewajiban membungkukkan badan ke arah matahari terbit (Tokyo) sebagai bentuk penghormatan kepada Kaisar Jepang (Tenno Heika) yang dianggap syirik oleh para ulama.
  • Penolakan Romusha: Ia juga menentang keras eksploitasi tenaga kerja paksa (romusha) dan pemerasan hasil bumi rakyat oleh tentara Jepang.
  • Pertempuran Sukamanah: Pada tanggal 25 Februari 1944 (1 Rabi'ul Awwal 1363 H), tentara Jepang mengepung Pesantren Sukamanah. KH Zainal Mustafa bersama ratusan santrinya bersenjatakan golok dan bambu runcing melawan pasukan Jepang yang bersenjata modern. Pertempuran tidak seimbang ini menggugurkan puluhan syuhada dari pihak pesantren.
Akhir Hayat dan Penghargaan
Pasca-pertempuran di Singaparna, KH Zainal Mustafa ditangkap bersama puluhan pengikutnya yang tersisa. Setelah mengalami interogasi dan penahanan, ia dijatuhi vonis hukuman mati dan dieksekusi pada 25 Oktober 1944 di kawasan Ancol, Jakarta. 

Misteri Makam :
Misteri keberadaan makamnya baru terungkap pada tahun 1973 di kompleks pemakaman sekitar penjara Ancol. Pada bulan Agustus 1973, kerangka jenazah KH Zainal Mustafa beserta 18 pengikutnya dipindahkan secara militer ke Taman Makam Pahlawan Sukamanah, Tasikmalaya. Atas jasa besar dan keberaniannya, Pemerintah Indonesia menganugerahinya gelar Pahlawan Nasional Indonesia pada 6 November 1972 melalui Keppres RI No. 064/TK/Tahun 1972. [1, 2]

Rec Sultan Ageng Tirtayasa

 Sultan Ageng Tirtayasa (lahir di Banten, 1631 – wafat di Batavia, 1692) adalah Sultan Banten ke-6 yang berhasil membawa Kesultanan Banten mencapai puncak kejayaan. Ia memerintah pada tahun 1651–1683 dan dikenal sebagai salah satu pahlawan nasional Indonesia yang paling gigih melawan penjajahan Vereeniging Oostindische Compagnie (VOC) Belanda. 


Profil Singkat
  • Nama Asli: Nama kecilnya adalah Pangeran Surya, dan ia memiliki gelar resmi Sultan Abdul Fath Abdul Fattah.
  • Asal-usul Nama: Julukan "Tirtayasa" berasal dari nama keraton/dusun tempat tinggalnya di Serang, di mana ia membuat sistem pengairan (tirta berarti air).
  • Naik Takhta: Ia naik takhta pada usia 20 tahun (1651) menggantikan kakeknya, Sultan Abdul Mafakhir. 
Puncak Kejayaan Kesultanan Banten
Di bawah kepemimpinannya, Banten berkembang menjadi pelabuhan internasional yang mandiri dan bersaing ketat dengan Batavia milik VOC. Keberhasilan utamanya meliputi: 
  • Sektor Ekonomi: Menjadikan lada sebagai komoditas utama dan membuka perdagangan bebas dengan pedagang dari Inggris, Prancis, Denmark, Arab, Persia, India, dan Tiongkok.
  • Pertanian & Irigasi: Membangun kanal-kanal air besar untuk mengairi ribuan hektar sawah sekaligus mempermudah jalur transportasi.
  • Kekuatan Militer: Membangun armada laut yang kuat untuk melindungi jalur perdagangan Nusantara. 
Perlawanan Terhadap VOC
Sultan Ageng Tirtayasa dengan tegas menolak kerja sama dan monopoli perdagangan yang ditawarkan oleh VOC. Strategi perlawanannya meliputi: 
  • Melakukan taktik sabotase dan perang gerilya darat.
  • Membakar perkebunan tebu dan merusak pos-pos militer milik VOC di sekitar Batavia.
  • Membantu perjuangan tokoh daerah lain, seperti menyokong pemberontakan Trunojoyo di Mataram. 
Akhir Perjuangan dan Pengkhianatan
Tragisnya, keruntuhan takhta Sultan Ageng bukan runtuh akibat serangan luar, melainkan karena politik adu domba (devide et impera) VOC terhadap keluarganya: 
  • Konflik Internal: Putranya sendiri, Sultan Haji (Abu an-Nasr), merasa cemas takhtanya akan direbut dan memilih bersekutu dengan VOC untuk mengudeta ayahnya. 
  • Penangkapan: Setelah perang saudara yang melelahkan, Sultan Ageng Tirtayasa berhasil ditangkap oleh VOC pada tahun 1681. 
  • Wafat: Beliau dibawa ke Batavia, dipenjara hingga akhir hayatnya pada tahun 1692, dan dimakamkan di Kompleks Pemakaman Raja-Raja Banten.

AH Nasution

Abdul Haris Nasution (3 Desember 1918 – 6 September 2000) adalah seorang perwira Angkatan Darat dan politikus Indonesia.  Ia bertugas di mil...