Senin, 14 September 2026

Kolonel Sarwo Edhie

 Jakarta, dini hari 1 Oktober 1965.

Langit masih gelap namun fajar sudah mulai menyingsing. Suara radio RRI menyiarkan pengumuman mengejutkan:

“Kami dari Gerakan 30 September telah menahan jenderal-jenderal yang menjadi Dewan Jenderal yang akan menggulingkan Presiden Sukarno…”


Di markas RPKAD, Kolonel Sarwo Edhie Wibowo sedang menatap peta besar Jakarta. Laporannya datang cepat — enam jenderal hilang, dan situasi ibu kota kacau.

Seorang perwira muda berlari masuk.

“Laporan, Pak! Jenderal Soeharto memanggil Bapak ke Kostrad sekarang juga!”


-Pertemuan Dua Prajurit


Di ruang komando Kostrad, Mayor Jenderal Soeharto menunggu. Ia terlihat tenang tapi tegas.

Soeharto: “Wo… keadaan genting. Mereka kuasai RRI, Telkom, dan Halim. Ini bukan sekadar pemberontakan kecil.”

Sarwo Edhie: (menatap lurus) “Saya siap, Jenderal. Pasukan RPKAD menunggu perintah.”

Soeharto: “Baik. Kita ambil alih Jakarta malam ini. Tidak ada keraguan, tidak ada kesalahan. Jalankan cepat dan bersih.”

Sarwo Edhie mengangguk, lalu berbalik kepada anak buahnya.

 “Kita bukan berperang melawan rakyat, tapi melawan pengkhianat bangsa. Laksanakan tugas dengan kehormatan!”


Operasi Malam di Jakarta


Menjelang tengah malam, truk-truk RPKAD meluncur dari markas ke seluruh penjuru kota.

RRI dan kantor telekomunikasi dikepung dalam sunyi.

Tanpa banyak temb4kan, pasukan elit itu berhasil mengambil alih gedung.

Di luar gedung, Sarwo Edhie berdiri tegak, mendengar kabar:

“Sasaran pertama aman, Pak!”

Ia hanya menjawab singkat,

“Baik. Sekarang Halim.”


-Pengepungan Halim Perdanakusuma


Fajar 2 Oktober. Kabut pagi menyelimuti Halim. Di kejauhan, bayangan pasukan yang loyal pada PKI masih berjaga.

Sarwo Edhie memegang teropong, memantau setiap gerakan.

 “Siapkan mortir. Kalau mereka menemb4k duluan, jangan ragu balas!”

Suara tembakan pertama pecah — pertempuran dimulai.

Pasukan RPKAD menyerbu dengan cepat, disiplin, tanpa panik. Dalam beberapa jam, Halim berhasil direbut.

DN Aidit dan para pemimpin G30SPKI sudah melarikan diri, tapi Sarwo Edhie tahu, perang belum selesai.


-Penemuan Lubang Buaya


Beberapa hari kemudian, seorang agen polisi melapor bahwa beliau mengetahui keberadaan para jenderal yang dicvlik dan berada di daerah Lubang Buaya.

Sarwo Edhie mendatangi lokasi, ditemani beberapa anak buahnya, setelah lokasi ditemukan, Sarwo Edhie melapor ke Soeharto. Sehingga keesokan harinya dilakukan proses pengangkatan dari sumur tua, mayat 6 jenderal dan 1 perwira muda oleh pasukan dari KKO Marinir AL.

Saat tali diturunkan dan tubuh pertama diangkat, semua terdiam.

 “Ya Allah… mereka para jenderal…” ucap Sarwo Edhie pelan.

Air matanya menetes, tapi wajahnya tetap keras.

 “Catat nama mereka. Bangsa ini harus tahu siapa yang mengkhianati para pahlawannya.”


- Ke Jawa Tengah – Perang Melawan Sisa PKI


Beberapa bulan kemudian, perintah baru datang: menumpas sisa PKI di daerah-daerah.

Dari Yogyakarta hingga Jawa Timur, Sarwo Edhie memimpin operasi demi operasi.

Ia tahu banyak di antara mereka hanyalah pengikut buta, tapi perintah harus dijalankan.

“Jangan dendam,” katanya kepada pasukannya. “Tapi jangan biarkan pengkhianatan tumbuh lagi.”


-Akhir Sang Komandan


Tahun-tahun berlalu. Indonesia kembali tenang.

Namun bayangan malam 1 Oktober 1965 tak pernah hilang dari ingatan Sarwo Edhie.

Ia jarang berbicara tentang dirinya, tapi kepada prajurit muda ia selalu berkata:

“Prajurit sejati tidak mencari nama, hanya menjalankan kewajiban pada bangsa.”

Pada 9 November 1989, Kolonel Sarwo Edhie Wibowo berpulang.

Negeri ini mengenangnya bukan sekadar sebagai penumpas PKI, tapi penjaga pertama bangsa di saat gelap gulita.

--

#Sejarah 

#penumpasPKI

#sarwoedhie 

#G30SPKI

#Soeharto

#LubangBuaya

Murid HOS

 Di awal tahun 1900-an, di Gang Peneleh, Surabaya, berdiri sebuah rumah sederhana milik H.O.S. Tjokroaminoto. Rumah itu bukan sekadar tempat kos. Di dalamnya tinggal anak-anak muda dari berbagai daerah, datang dengan satu keinginan yang sama, ingin belajar, ingin mengerti, dan diam-diam ingin ikut membebaskan tanah kelahiran mereka.


Tiga di antara penghuni rumah itu kelak dikenang sepanjang sejarah bangsa ini. Namanya Soekarno, Musso, dan Kartosoewirjo. Mereka makan di meja yang sama, tidur di kamar yang berdekatan, dan mendengarkan pidato guru yang sama setiap malam. Tidak ada yang menyangka, dari kedekatan itu akan lahir tiga jalan yang saling berlawanan.


Tjokroaminoto bukan orang sembarangan. Ia dipanggil Raja Jawa Tanpa Mahkota, sebuah julukan yang lahir dari rasa hormat, bukan dari gelar resmi. Ia disegani pribumi maupun orang-orang Belanda di Hindia. Ketika ia berpidato, ruangan yang penuh sesak bisa mendadak sunyi, seolah setiap kata yang keluar dari mulutnya punya bobot tersendiri.


Tapi di rumah kosnya, ia bukan tokoh yang berjarak. Ia duduk bersama murid-muridnya, berbagi meja makan, menjawab pertanyaan sampai larut malam. Dari cara itulah anak-anak muda seperti Soekarno belajar bukan hanya ilmu, tapi juga bagaimana rasanya dipercaya oleh seseorang yang mereka kagumi sepenuh hati.


Soekarno selalu menjadi bayang-bayang Tjokroaminoto. Ke mana pun sang guru pergi berpidato, ia ikut, duduk di sudut ruangan, memperhatikan setiap jeda suara, setiap gerak tangan, bahkan setiap kelemahan yang luput disadari orang lain. Ia mencatat bahwa gaya bicara gurunya cenderung datar dan minim humor, lalu diam-diam menyimpan catatan itu untuk dirinya sendiri.


Ia tidak pernah berlatih di depan cermin seperti orator pada umumnya. Ia belajar langsung dari panggung sungguhan, dari suara Tjokroaminoto yang menggetarkan ruangan. Kelak kedekatan itu bertambah erat karena Soekarno menikahi putri gurunya sendiri. Dari rumah kos di Peneleh itulah, benih orator besar bangsa ini mulai tumbuh diam-diam.


Musso tumbuh dengan cara berpikir yang berbeda. Ia melihat penjajahan bukan hanya sebagai soal bangsa yang terjajah, tapi sebagai soal rakyat kecil yang diperas oleh sistem. Baginya, kemerdekaan tidak cukup berhenti pada bendera dan lagu kebangsaan. Ia mencari jalan yang menurutnya lebih adil bagi mereka yang selama ini berada di lapisan paling bawah.


Pilihan itu membawanya semakin jauh dari jalan yang ditempuh Soekarno. Ia memilih ideologi komunis, menempuh jalur perjuangan yang berbeda arah dari sahabat-sahabatnya sendiri. Dari satu rumah yang sama, ia berjalan ke arah yang membuatnya, bertahun-tahun kemudian, berdiri berseberangan dengan negara yang justru dibangun oleh teman sekamarnya dulu.


Kartosoewirjo memilih jalan yang lain lagi. Ia meyakini bahwa perjuangan sejati harus berakar pada agama, bahwa negara yang dicita-citakan harus berdiri di atas hukum Islam. Keyakinan itu tumbuh perlahan, dipupuk oleh kekecewaan pada arah pergerakan yang menurutnya mulai menjauh dari nilai yang ia pegang sejak di rumah gurunya dulu.


Dari keyakinan itu lahir perlawanan bersenjata, laskar yang ia bentuk sendiri, dan cita-cita mendirikan negara dengan wajah yang sama sekali berbeda dari yang dibayangkan Soekarno maupun Musso. Tiga murid, tiga peta jalan, dan satu guru yang mungkin tidak pernah menduga muridnya akan berjalan sejauh itu ke arah yang berlainan.


Di rumah Peneleh dulu, mereka bertiga saling mendukung. Berbagi makanan, berbagi keresahan, berbagi mimpi tentang tanah air yang bebas dari penjajahan. Tidak ada yang menduga bahwa perbedaan cara pandang, yang dulu terasa seperti diskusi malam biasa, akan tumbuh menjadi jurang yang tidak bisa lagi dijembatani oleh persahabatan.


Waktu membawa mereka semakin jauh dari meja makan yang sama. Soekarno menempuh jalan nasionalisme menuju kursi presiden. Musso menempuh jalan komunisme menuju pemberontakan. Kartosoewirjo menempuh jalan islam radikal menuju negara tandingan. Tiga jalan itu, pada akhirnya, dipastikan akan bertemu kembali, hanya saja bukan di meja makan seperti dulu.


Bertahun-tahun kemudian, di Gedung Agung, Soekarno yang sudah menjadi presiden bertemu kembali dengan Musso. Ia menyapa dengan hangat, memeluk sahabat lamanya itu erat-erat, seolah waktu tiga dekade lenyap begitu saja. Sejenak, keduanya kembali menjadi dua anak kos di Surabaya yang berbagi suka dan duka di bawah satu atap.


Tapi kehangatan itu tidak bertahan lama. Tak lama setelah pertemuan itu, jalan mereka justru berbenturan lebih keras dari sebelumnya. Presiden yang dulu adalah anak kesayangan Tjokroaminoto, kini berhadapan dengan sahabatnya sendiri yang memberontak. Sejarah, pada akhirnya, memaksa dua orang yang pernah saling mendukung untuk saling menumpas.


Musso tewas dalam pemberontakan yang ia pimpin sendiri. Bertahun-tahun setelahnya, Kartosoewirjo pun ditumpas, negara yang ia cita-citakan tidak pernah benar-benar berdiri. Dua murid yang dulu tumbuh di bawah asuhan guru yang sama, pada akhirnya jatuh oleh tangan negara yang dipimpin oleh murid ketiga dari rumah yang sama pula.


Ada satu perenungan dalam novel ini, tentang betapa berat rasanya seandainya ketiga murid itu mau menyatukan kecerdasan dan keberanian mereka, alih-alih membiarkan perbedaan memisahkan mereka sejauh itu. Barangkali begitulah jalan sejarah menuliskan takdirnya. Satu perenungan itu menyimpan seluruh kepedihan dari kisah tiga murid dan satu guru ini.


Tjokroaminoto mengajarkan cinta pada tanah air kepada tiga anak muda yang sama-sama tulus. Ia tidak pernah menduga bahwa ketulusan itu akan tumbuh menjadi tiga arah yang begitu jauh berbeda, bahkan saling berhadapan. Novel ini menghidupkan kembali bagian sejarah bangsa yang jarang diceritakan dari sisi paling manusiawi, dari sisi persahabatan yang retak.


Membaca kisah mereka bertiga membuat kita bertanya pada diri sendiri, seandainya berada di rumah Peneleh itu, jalan mana yang mungkin akan kita pilih. Ceritakan di kolom komentar, menurutmu, dari ketiga murid Tjokroaminoto ini, siapa yang paling berat perjuangannya, Soekarno, Musso, atau Kartosoewirjo.

Purbaya

 𝗧𝗶𝗴𝗮 𝗪𝗮𝗷𝗮𝗵, 𝗦𝗮𝘁𝘂 𝗞𝗲𝗯𝗼𝗵𝗼𝗻𝗴𝗮𝗻


Monday, Sept 14, 2026


.

Saya pernah menulis pada 8 September 2025, ketika Sri Mulyani dicopot dari jabatan Menteri Keuangan. Judulnya “𝗥𝗘𝗦𝗛𝗨𝗙𝗙𝗟𝗘: 𝗗𝗮𝗿𝗶 𝗙𝗲𝗿𝗿𝗮𝗿𝗶 𝗸𝗲 𝗣𝗮𝗷𝗲𝗿𝗼.” Saat itu, lima menteri diganti, termasuk Sri Mulyani, menteri keuangan yang menjadi jimat dua periode Jokowi.


Saya menyebut Sri sebagai Ferrari: cepat, presisi, disiplin, tetapi membutuhkan jalan yang tertata. Purbaya saya gambarkan sebagai Pajero: lebih tangguh, lebih berani masuk jalan rusak, dan lebih cocok untuk menghadapi medan politik yang keras.


Waktu itu saya mengira persoalannya hanya pergantian gaya. Ternyata tidak sesederhana itu. Duh, Purbaya hanya bertahan sekitar satu tahun. Hari ini, 14 September 2026, Prabowo menggantinya dengan Suahasil Nazara, orang lama Kementerian Keuangan yang sebelumnya menjabat wakil menteri.


Tidak ada alasan resmi yang mengatakan Purbaya gagal. Bahkan angka pertumbuhan ekonomi pada masa awal jabatannya tidak buruk. Pertumbuhan mencapai 5,39% pada kuartal IV 2025 dan naik menjadi 5,61% pada kuartal I 2026. Defisit 2025 juga berada di 2,81% dari PDB.


Jadi, kalau ukurannya sekadar angka, sulit mengatakan Purbaya gagal.


Lalu mengapa dia diganti? 


Begini ceritanya: Beberapa waktu sebelum pencopotan, Purbaya mengungkap bahwa Danantara keberatan menyerahkan sekitar Rp120 triliun kepada pemerintah. Purbaya juga menyebut adanya perintah Presiden terkait dana tersebut. Tidak lama kemudian, Purbaya dicopot.


Kita tentu tidak boleh mengatakan bahwa itulah penyebab pencopotan, karena pemerintah belum mengatakan demikian. Tetapi waktunya terlalu dekat untuk diabaikan.


Sekarang kita lihat persoalan yang lebih besar. Prabowo ingin pertumbuhan ekonomi tinggi. Ia punya banyak program besar: MBG, KDMP, pembangunan, investasi, hilirisasi, Danantara, dan berbagai agenda lainnya. Semua membutuhkan uang.


Masalahnya, pemerintah juga ingin menjaga defisit tetap di bawah 3 persen. Pemerintah tidak ingin pajak dinaikkan terlalu tinggi. Pemerintah juga tidak ingin rupiah melemah dan investor kehilangan kepercayaan.


Persoalannya sederhana. Kalau belanja ingin besar, uang harus tersedia. Kalau pajak tidak dinaikkan, defisit tidak boleh melebar, dan utang harus dijaga, uangnya dari mana?


Ini bukan teori ekonomi. Ini matematika sederhana. Uang negara tidak muncul karena Presiden menginginkannya.


Danantara kemudian menjadi penting. Pemerintah ingin Danantara tumbuh menjadi lembaga investasi negara raksasa. Gampangnya, Danantara ingin menjadi semacam “tabungan investasi negara”: aset dan keuntungan dikumpulkan, lalu diputar untuk menghasilkan keuntungan lebih besar.


Tetapi pemerintah juga membutuhkan uang untuk membiayai program sekarang. Di situlah kepentingannya bisa bertabrakan. Danantara ingin uangnya diputar untuk masa depan. Pemerintah membutuhkan uang untuk membiayai hari ini. Menteri Keuangan berada tepat di tengah-tengahnya.


Sri Mulyani menghadapi persoalan itu dengan cara berbeda. Ia dikenal sangat disiplin menjaga APBN. Ia menjadi semacam rem ketika pemerintah ingin bergerak terlalu cepat.


Purbaya datang dengan karakter berbeda. Ia lebih berani mendorong pertumbuhan dan mencari ruang agar pemerintah bisa bergerak lebih cepat. Untuk beberapa waktu, pendekatan itu terlihat berhasil.


Tetapi menjadi Menteri Keuangan bukan hanya soal membuat ekonomi tumbuh. Ia juga harus menjaga agar pasar percaya, rupiah tidak terguncang, defisit terkendali, dan APBN tetap dipercaya. Ketika semua kepentingan itu bertabrakan, Menteri Keuangan berada dalam posisi paling sulit.


Presiden boleh membuat target. Menteri Keuangan yang harus mencari uangnya. Dan ketika uangnya tidak cukup, Menteri Keuangan pula yang pertama kali ditanya.


Di sinilah saya melihat tiga wajah dalam satu tahun terakhir.


Sri Mulyani adalah wajah pertama. Ia menjaga disiplin fiskal. Ia membuat pasar percaya bahwa pemerintahan Prabowo tidak akan sembrono mengelola APBN. Tetapi pada saat yang sama, ia harus berhadapan dengan pemerintahan yang ingin bergerak lebih cepat dan membelanjakan lebih banyak. Akhirnya Ferrari masuk garasi.


Purbaya adalah wajah kedua. Ia mencoba membawa kendaraan berbeda. Lebih berani, lebih agresif, lebih siap melewati jalan rusak. Tetapi ada satu kesalahan yang mungkin paling mahal bagi seorang menteri: mengucapkan persoalan internal pemerintah di depan publik.


Ketika Purbaya mengatakan Danantara keberatan memberikan Rp120 triliun dan menyebut perintah Presiden, ia tidak lagi sekadar berbicara soal angka. Ia membuka dapur pemerintah. Dan dapur kekuasaan biasanya tidak suka dilihat orang.


Suahasil adalah wajah ketiga. Begitu dilantik, pesan yang keluar sangat sederhana: APBN harus kredibel dan defisit dijaga di bawah 3 persen.


Tidak ada pidato panjang tentang mengejar pertumbuhan 6 persen. Tidak ada perdebatan terbuka soal Danantara. Pesannya justru menenangkan. Pasar menyukai kalimat seperti itu.


Maka saya melihat pergantian ini bukan sekadar “Purbaya diganti Suahasil.” Ada sesuatu yang lebih besar. Pemerintah tampaknya sedang mengubah cara berbicara tentang ekonomi.


Dari “bagaimana kita bisa bergerak lebih cepat?” kembali menjadi “bagaimana kita menjaga agar APBN tetap dipercaya?” Dan itu membawa kita kembali kepada tulisan saya setahun lalu. Saya menulis Ferrari ke Pajero karena melihat adanya perbedaan karakter antara Sri Mulyani dan Purbaya.


Sekarang saya sadar, persoalannya bukan Ferrari atau Pajero. Persoalannya adalah siapa yang memegang setir, ke mana kendaraan diarahkan, dan siapa yang harus membayar bensinnya.


Presiden menentukan tujuan dan kecepatannya. Menteri Keuangan mencari uangnya. Pasar menilai apakah perjalanan itu masuk akal. Rakyat membayar akibatnya.


Karena itu, saya tidak akan mengatakan Purbaya gagal. Angkanya tidak mendukung kesimpulan sesederhana itu. Saya juga tidak akan mengatakan Suahasil pasti lebih hebat. Itu juga belum terbukti.


Tetapi ada satu hal yang semakin jelas. Menjadi Menteri Keuangan bukan hanya soal pandai menghitung. Ia juga harus tahu kapan harus bicara, kapan harus diam, dan terutama kapan angka tidak boleh bertentangan dengan keinginan politik.


Purbaya mungkin tidak kalah dalam menghitung. Ia mungkin hanya kalah dalam satu hal: mengatakan terlalu terang apa yang sedang terjadi di balik angka. Kalau itu benar, maka ada ironi besar di sini.


Purbaya mungkin bukan sedang menerima azab rezim Prabowo. Ia justru mungkin sedang diselamatkan dari azab berikutnya.


Karena kalau janji terlalu banyak, uang terbatas, defisit harus dijaga, pajak tidak ingin dinaikkan, Danantara ingin terus berkembang, sementara semua program harus tetap berjalan, pada akhirnya seseorang harus menjelaskan ketika angka-angka itu tidak lagi bisa dipaksa cocok. Dan biasanya orang itu adalah Menteri Keuangan.


Jadi, siapa pun Menteri Keuangannya, masalahnya tetap sama: pemerintah punya banyak janji dan program, tetapi uang untuk membiayainya terbatas.


Jadi, persoalannya bukan Ferrari atau Pajero. Persoalannya adalah pemerintah ingin pergi jauh, tetapi belum jelas apakah bahan bakarnya cukup.


Ferrari bisa diganti Pajero. Pajero bisa diganti Ferrari. Tetapi kalau bensinnya tidak cukup, keduanya tetap akan berhenti di tengah jalan.


.

#PurbayaDiCopot


https://www.facebook.com/photo/?fbid=1546209293423222&set=a.653144949396332

Nyai Dasima

 NYAI DASIMA


Kisah Perempuan Kuripan yang Menjadi Legenda Tragis Batavia


Ada kisah yang begitu kuat hidup di tengah masyarakat, sampai-sampai batas antara sejarah dan legenda menjadi sulit dibedakan.


Salah satunya adalah kisah Nyai Dasima.


Namanya telah melekat dalam ingatan masyarakat Betawi selama lebih dari satu abad. Kisahnya bukan sekadar cerita tentang cinta, kecantikan, dan pengkhianatan. Di balik tragedinya terdapat gambaran kehidupan perempuan pribumi pada masa kolonial, hubungan antara orang Eropa dan pribumi, persoalan agama, status seorang “nyai”, serta bagaimana sebuah cerita dapat berubah mengikuti zaman dan siapa yang menceritakannya.


Karena itu, kisah Nyai Dasima tidak cukup dibaca hanya sebagai cerita cinta.


Ia juga merupakan bagian dari sejarah perkembangan sastra populer, kebudayaan Betawi, panggung sandiwara, bahkan sejarah awal perfilman Indonesia.


Siapakah Nyai Dasima?


Menurut versi cerita yang paling tua dan paling terkenal, Nyai Dasima adalah perempuan pribumi yang berasal dari Kampung Kuripan, sebuah tempat yang dalam berbagai sumber dikaitkan dengan wilayah Bogor.


Sekitar tahun 1813, Dasima dikisahkan hidup bersama seorang pria Inggris bernama Edward W. atau Edward William. Dalam cerita G. Francis, Edward merupakan seorang Eropa yang tinggal dan bekerja di wilayah Batavia.


Dasima digambarkan sebagai perempuan yang cantik, terampil, dan hidup berkecukupan. Ia bukan sekadar pendamping Edward, tetapi dipercaya mengurus berbagai harta milik tuannya.


Mereka bahkan dikisahkan mempunyai seorang anak perempuan bernama Nancy atau Nanci.


Namun, kedudukan Dasima tetap berada dalam posisi yang khas pada masyarakat kolonial saat itu: ia adalah seorang perempuan pribumi yang menjadi nyai, yaitu pasangan atau gundik tidak resmi seorang laki-laki Eropa.


Istilah “nyai” sendiri mempunyai sejarah sosial yang kompleks. Ia tidak selalu menggambarkan kehidupan yang sama pada setiap kasus. Sebagian perempuan berada dalam hubungan tersebut karena pilihan, tetapi banyak pula yang berada dalam kondisi sosial dan ekonomi yang sangat terbatas.


Dari Kuripan ke Batavia


Dalam kisah G. Francis, kehidupan Dasima kemudian berpindah dari wilayah Tangerang menuju Batavia.


Edward bekerja di sebuah toko Inggris di kawasan Kota. Sementara Dasima tinggal di rumah mereka dan menjalani kehidupan yang relatif makmur.


Kecantikan dan kekayaan Dasima akhirnya menarik perhatian orang-orang di sekitarnya.


Salah satunya adalah Samiun, seorang pribumi yang telah mempunyai istri bernama Hayati.


Samiun tertarik kepada Dasima.


Namun, dalam cerita G. Francis, ketertarikan itu bukan semata-mata karena cinta.


Kekayaan Dasima menjadi salah satu daya tarik utama.


Di sinilah tragedi mulai berkembang.


Bujukan yang Mengatasnamakan Agama


Bagian paling menarik sekaligus kontroversial dari cerita Nyai Dasima adalah persoalan agama.


Dalam versi G. Francis, Dasima dibujuk agar meninggalkan Edward.


Salah satu alasan yang digunakan adalah persoalan kedudukannya sebagai perempuan Muslim yang hidup bersama laki-laki Eropa non-Muslim.


Dasima dibuat merasa bersalah atas kehidupannya.


Ia kemudian diyakinkan bahwa dengan meninggalkan Edward dan menjadi istri seorang laki-laki Muslim, kehidupannya akan kembali berada dalam jalan yang benar.


Namun, di balik bujukan tersebut terdapat kepentingan lain.


Samiun menginginkan Dasima.


Dan kekayaan Dasima menjadi bagian penting dari keinginannya.


Kajian akademik yang membandingkan versi G. Francis dan S.M. Ardan menunjukkan bahwa persoalan Islam memang menjadi salah satu unsur penting dalam kedua versi cerita, tetapi cara menggambarkan Islam dan masyarakat pribumi sangat berbeda.


Dasima Meninggalkan Edward


Akhirnya Dasima meninggalkan Edward.


Ia kemudian hidup bersama Samiun sebagai istri kedua.


Keputusan itu ternyata menjadi awal dari kehancurannya.


Setelah Dasima hidup bersama Samiun, kehidupan yang dibayangkannya tidak sesuai dengan kenyataan.


Dalam cerita, kekayaan Dasima justru menjadi sumber persoalan.


Samiun tidak mendapatkan kehidupan rumah tangga yang ia bayangkan, sementara Dasima perlahan menyadari bahwa dirinya telah menjadi korban bujukan.


Dalam beberapa versi cerita, Dasima kemudian berusaha mempertahankan sisa harta yang masih dimilikinya.


Hubungannya dengan Samiun semakin memburuk.


Tragedi di Ujung Kisah


Ketika Dasima menyadari bahwa dirinya telah ditipu, ia berniat kembali meminta pertolongan kepada Edward.


Bagi Samiun, hal itu menjadi ancaman.


Jika Dasima kembali kepada Edward, maka bukan hanya hubungan mereka yang terancam, tetapi juga kesempatan Samiun untuk menguasai harta Dasima.


Samiun kemudian meminta bantuan seorang lelaki bernama Bang Puasa atau Puasa.


Malam itu menjadi akhir kehidupan Nyai Dasima.


Dalam kisah yang berkembang kemudian, Dasima keluar rumah dan akhirnya berhadapan dengan Puasa.


Terjadi perlawanan.


Dasima berteriak.


Puasa panik.


Dan tragedi pun terjadi.


Dasima dibunuh.


Jenazahnya kemudian dibuang dan ditemukan di sekitar aliran sungai di Batavia.


Samiun dan Puasa akhirnya ditangkap dan harus mempertanggungjawabkan perbuatan mereka.


Versi cerita film tahun 1932 juga menggambarkan alur serupa: Dasima dibujuk meninggalkan Edward, kemudian disia-siakan oleh Samiun dan akhirnya dibunuh setelah Samiun meminta bantuan Bang Puasa.


Benarkah Nyai Dasima Pernah Hidup?


Inilah pertanyaan yang sampai sekarang menarik perhatian.


Apakah Nyai Dasima benar-benar manusia yang pernah hidup?


Ataukah ia hanya tokoh cerita?


Jawabannya tidak sesederhana “ya” atau “tidak”.


Catatan tertua yang berhasil diketahui secara jelas adalah karya Gijsbert Francis berjudul:


Tjerita Njai Dasima: Soewatoe Korban dari pada Pemboedjoek.


Buku tersebut terbit di Batavia pada 1896.


Naskah aslinya menyebut kisah tersebut berlangsung sekitar tahun 1813. Artinya, cerita itu baru diterbitkan sekitar delapan puluh tiga tahun setelah waktu kejadian yang diklaim dalam cerita.


Karena itu, tidak tepat jika seluruh isi kisah langsung diperlakukan sebagai fakta sejarah tanpa kritik sumber.


Badan Bahasa bahkan mencatat bahwa bentuk asal cerita Nyai Dasima sulit ditelusuri dan sumber pertama ceritanya tidak sepenuhnya jelas. Ada kemungkinan cerita tersebut telah beredar dalam bentuk lisan, syair, atau pertunjukan sebelum dituliskan dalam bentuk prosa oleh G. Francis.


Jadi, lebih tepat menyebut Nyai Dasima sebagai legenda urban atau cerita populer Betawi yang berlatar dunia kolonial, dengan kemungkinan memiliki hubungan dengan kisah atau peristiwa yang pernah beredar di masyarakat.


Mengapa Kisah Ini Menjadi Kontroversial?


Salah satu alasan penting adalah karena versi G. Francis memperlihatkan pandangan kolonial terhadap masyarakat pribumi dan Islam.


Tokoh-tokoh pribumi dalam cerita awal banyak digambarkan secara negatif.


Sebaliknya, tokoh Eropa seperti Edward mendapatkan posisi yang lebih positif.


Karena itu, sejumlah kajian melihat Tjerita Njai Dasima sebagai karya yang tidak dapat dilepaskan dari konteks kolonial ketika cerita tersebut ditulis.


Badan Bahasa bahkan menyebut versi G. Francis sebagai karya yang bernada antimuslim, yang dalam konteks masyarakat kolonial saat itu juga berkaitan dengan gambaran negatif terhadap pribumi.


Namun cerita tersebut tidak berhenti pada versi G. Francis.


Seiring perubahan zaman, kisah Dasima terus ditulis ulang.


Dan setiap pengarang memberikan sudut pandang yang berbeda.


Dari G. Francis hingga S.M. Ardan


Setelah G. Francis, kisah Nyai Dasima berkembang melalui berbagai bentuk.


Cerita tersebut pernah disadur menjadi syair oleh Lie Kim Hok dan O.S. Tjiang. Pada 1926, A.Th. Manusama juga membuat versi berbahasa Belanda.


Kemudian datang S.M. Ardan, sastrawan dan budayawan Betawi.


Pada sekitar 1960-an, Ardan menulis kembali kisah Nyai Dasima dengan pendekatan yang berbeda.


Versi Ardan tidak lagi menempatkan tokoh Eropa dan pribumi dengan cara yang sama seperti G. Francis.


Edward Williams justru digambarkan sebagai sosok yang kasar terhadap Dasima, sementara sejumlah tokoh pribumi mendapatkan posisi yang lebih positif.


Karena itu, para peneliti melihat adanya perubahan besar dari versi kolonial G. Francis menuju versi yang lebih bersifat pascakolonial.


Dengan kata lain, cerita Nyai Dasima ikut berubah mengikuti perubahan masyarakat Indonesia.


Nyai Dasima Naik ke Panggung


Popularitas kisah ini kemudian melampaui buku.


Nyai Dasima dipentaskan dalam berbagai pertunjukan sandiwara dan teater rakyat.


Cerita tersebut bahkan menjadi bagian dari repertoar komedi stambul, rombongan Miss Riboet, Dardanella, dan lenong Betawi.


Menurut catatan yang dikutip dalam kajian sastra, rombongan Miss Riboet pernah mementaskan cerita Nyai Dasima sebanyak 127 kali.


Hal ini menunjukkan betapa kuatnya daya tarik kisah tersebut bagi masyarakat pada masa itu.


Nyai Dasima tidak lagi hanya menjadi tokoh dalam buku.


Ia berubah menjadi tokoh budaya.


Dari Panggung ke Layar Lebar


Ketika industri film mulai berkembang di Hindia Belanda, kisah Nyai Dasima ikut dibawa ke layar.


Salah satu adaptasi yang paling terkenal dibuat oleh Tan's Film pada 1929.


Film bisu tersebut menjadi salah satu film penting dalam sejarah awal perfilman Indonesia dan mendapat sambutan besar.


Cerita kemudian dilanjutkan melalui film-film berikutnya, termasuk Njai Dasima II dan Nancy Bikin Pembalesan pada 1930.


Pada 1932, kisah tersebut kembali dibuat dalam bentuk film dengan suara.


Kemudian pada 1940 muncul adaptasi lain.


Setelah Indonesia merdeka, kisah Nyai Dasima kembali diangkat ke layar melalui film Samiun dan Dasima pada 1970.


Dengan demikian, satu legenda telah melewati berbagai zaman:


dari cerita lisan,


menjadi buku,


menjadi syair,


naik ke panggung,


kemudian masuk ke layar bioskop,


dan akhirnya terus hidup dalam ingatan masyarakat.


Lebih dari Sekadar Kisah Cinta


Jika kita membaca Nyai Dasima hanya sebagai cerita seorang perempuan cantik yang diperebutkan dua laki-laki, kita akan kehilangan bagian terpenting dari kisah ini.


Nyai Dasima sesungguhnya memperlihatkan gambaran masyarakat kolonial yang kompleks.


Ada persoalan hubungan antara perempuan pribumi dan laki-laki Eropa.


Ada status sosial seorang nyai.


Ada persoalan agama.


Ada kepentingan ekonomi.


Ada relasi kekuasaan antara kolonial dan pribumi.


Ada pula bagaimana sebuah cerita dapat digunakan untuk menggambarkan kelompok masyarakat tertentu sesuai dengan sudut pandang pengarangnya.


Itulah sebabnya kisah Nyai Dasima terus menarik untuk dibicarakan.


Legenda yang Bertahan Lebih dari Satu Abad


Lebih dari satu abad telah berlalu sejak nama Nyai Dasima pertama kali tercatat dalam bentuk prosa oleh G. Francis pada 1896.


Namun namanya belum hilang.


Masyarakat masih mengenalnya.


Kisahnya masih dibicarakan.


Buku-bukunya masih ditelusuri.


Naskahnya masih dipelajari.


Film-filmnya menjadi bagian dari sejarah perfilman Indonesia.


Dan yang paling menarik, sampai hari ini masih muncul pertanyaan:


Apakah Nyai Dasima benar-benar pernah hidup?


Mungkin kita tidak akan pernah mendapatkan jawaban yang benar-benar pasti.


Sebab sumber tertua yang kita miliki adalah karya sastra yang terbit puluhan tahun setelah waktu kejadian yang dikisahkan.


Namun satu hal jelas:


Nyai Dasima memang pernah hidup dalam ingatan masyarakat.


Dan kadang-kadang, sebuah legenda dapat bertahan jauh lebih lama daripada nama orang-orang yang benar-benar hidup pada zamannya.


Nyai Dasima bukan hanya kisah tentang seorang perempuan.


Ia adalah cermin dari zamannya.


Sebuah cerita tentang cinta, harta, agama, kekuasaan, kolonialisme, dan tragedi seorang perempuan yang kemudian berubah menjadi salah satu legenda paling terkenal dari Batavia.


Catatan penting:


•Kisah Nyai Dasima memiliki beberapa versi dan tidak seluruh detailnya dapat dianggap sebagai fakta sejarah. Artikel ini terutama merujuk pada versi G. Francis serta membandingkannya dengan sumber-sumber sastra dan kajian mengenai perkembangan kisah Nyai Dasima. Karena itu, bagian yang bersifat cerita atau legenda sebaiknya tidak disamakan dengan fakta sejarah yang telah terverifikasi.


•Bila ada kekurangan atau kekeliruan dalam tulisan ini, silakan  dikoreksi dan di betul kan dengan rujukan yang dapat dipertanggung jawabkan.


•Foto di postingan ini Foto hasil dari Editan restorasi foto. Dan Foto asli Hitam putih yang sudah saya sertakan di kolom komentar.sekali lagi mohon maaf nya bila mana banyak kesalahan dan kekurangan, salam santun, salam budaya, salam silaturahmi terima kasih 🙏 🇮🇩 


#NyaiDasima #SejarahJakarta #SejarahBetawi #Batavia #CeritaBetawi #SejarahIndonesia #GFrancis #SMArdan #SastraIndonesia #LegendaBetawi

HB XI

 GKR MANGKUBUMI DAN MASA DEPAN TAKHTA YOGYAKARTA: BENARKAH SEJARAH AKAN DIPIMPIN SEORANG SULTANAH?


Selama berabad-abad, takhta Keraton Yogyakarta identik dengan raja laki-laki.

Kini, untuk pertama kalinya dalam sejarah modern Kesultanan Yogyakarta, nama seorang perempuan berada begitu dekat dengan pembicaraan tentang suksesi.

Namanya GKR Mangkubumi.

Putri sulung Sri Sultan Hamengku Buwono X itu bukan sekadar menerima gelar baru.

Pada 5 Mei 2015, melalui Dhawuh Raja, GKR Pembayun berganti nama dan gelar menjadi Gusti Kanjeng Ratu Mangkubumi Hamemayu Hayuning Bawono Langgeng ing Mataram.

Sejak saat itu, pertanyaan besar muncul:

Apakah inilah perempuan yang dipersiapkan untuk meneruskan takhta Yogyakarta?


GELAR YANG MEMICU PERTANYAAN

Nama “Mangkubumi” bukan nama sembarangan dalam sejarah Yogyakarta.

Gelar tersebut memiliki akar sejarah yang sangat kuat. Pangeran Mangkubumi adalah pendiri Kesultanan Yogyakarta setelah Perjanjian Giyanti 1755 membelah Mataram menjadi dua kekuasaan besar.

Karena itu, ketika gelar Mangkubumi disematkan kepada putri sulung Sultan HB X, publik membaca langkah tersebut sebagai sinyal penting mengenai masa depan Keraton.

Sejumlah pemberitaan bahkan langsung menyebut GKR Mangkubumi sebagai putri mahkota.

Namun ada satu persoalan penting.

Sultan HB X sendiri ketika itu tidak secara tegas mengatakan bahwa GKR Mangkubumi telah ditetapkan sebagai penerus takhta.

Dalam pernyataannya pada Mei 2015, Sultan mengatakan perubahan gelar tersebut dilakukan karena dawuh atau perintah yang diterimanya.

Artinya, sejak awal terdapat jarak antara apa yang dibaca publik dan apa yang secara eksplisit dinyatakan Sultan.


LIMA  PUTRI, TANPA PUTRA

Di sinilah persoalan suksesi menjadi jauh lebih menarik.

Sri Sultan Hamengku Buwono X dan GKR Hemas memiliki lima putri. Tidak ada putra.

Sri Sultan Hamengku Buwono X dan Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Hemas memiliki 5 orang anak, yang semuanya adalah perempuan (putri).Berikut adalah daftar lengkap kelima putri Sri Sultan Hamengku Buwono X berurutan dari yang tertua hingga yang termuda:GKR Mangkubumi (Putri Sulung)Nama kecil: Gusti Raden Ajeng (GRAj) Nurmalitasari.Status: Putri Mahkota Keraton Yogyakarta. GKR Condrokirono (Putri Kedua)Nama kecil: GRAj Nurmagupita. GKR Maduretno (Putri Ketiga) Nama kecil: GRAj Nurkamnari Dewi. GKR Hayu (Putri Keempat)Nama kecil: GRAj Nurabra Juwita. GKR Bendara (Putri Bungsu) Nama kecil: GRAj Nurastuti Wijareni.


Dalam tradisi lama Keraton Yogyakarta, suksesi takhta dikenal sangat kuat dengan garis patriarki. Salah satu pemahaman mengenai paugeran menyebut penerus takhta berasal dari keturunan laki-laki.

Jika aturan tradisional itu diterapkan secara ketat, maka persoalannya sederhana:

Siapa yang akan meneruskan takhta ketika Sultan tidak mempunyai putra?

Tetapi Yogyakarta bukan hanya kerajaan tradisional.

Kesultanan ini juga memiliki kedudukan khusus dalam sistem ketatanegaraan Republik Indonesia.

Sri Sultan yang bertahta sekaligus memiliki posisi khusus sebagai Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta.

Karena itu, persoalan siapa penerus takhta tidak hanya menjadi urusan keluarga Keraton.

Ia bersinggungan dengan sejarah, adat, politik, hukum, dan masa depan pemerintahan daerah istimewa.


PEREMPUAN DAN TAKHTA: DUA DUNIA YANG BERTEMU

Perubahan gelar GKR Mangkubumi pada 2015 kemudian menjadi salah satu titik penting dalam perdebatan tersebut.

Sebagian kalangan melihat langkah Sultan sebagai upaya membuka jalan bagi perempuan untuk menjadi penerus takhta.

Sebagian lainnya berpandangan bahwa langkah itu berhadapan dengan paugeran atau aturan adat yang selama ini dipahami mengutamakan garis laki-laki.

Perdebatan bahkan tidak berhenti di lingkungan Keraton.

Ketika isu perempuan sebagai penerus takhta muncul, persoalannya merembet ke pertanyaan lain:

Jika kelak seorang perempuan menjadi Sultan, apakah ia juga dapat menjadi Gubernur DIY?

Pertanyaan tersebut menjadi semakin penting karena posisi Sultan dan Gubernur DIY memiliki hubungan yang sangat erat dalam konstruksi keistimewaan Yogyakarta.

Mahkamah Konstitusi kemudian melalui Putusan Nomor 88/PUU-XIV/2016 menghapus pembatasan yang dinilai mendiskriminasi calon gubernur berdasarkan status tertentu, sehingga secara hukum peluang perempuan menjadi Gubernur DIY terbuka.

Namun, persoalan siapa yang menjadi penerus takhta Keraton tetap merupakan persoalan tersendiri.

Hukum negara dan paugeran Keraton tidak selalu berbicara dalam bahasa yang sama.


GKR MANGKUBUMI: SEBUAH SINYAL?

Sepuluh tahun setelah pemberian gelar tersebut, nama GKR Mangkubumi tetap muncul dalam pemberitaan mengenai calon penerus takhta.

ANTARA pada 2025 menyebut GKR Mangkubumi sebagai sosok yang digadang-gadang menjadi calon penerus takhta, tetapi juga menegaskan bahwa belum ada pernyataan resmi yang memastikan dirinya akan menjadi penerus Sultan HB X. (Antaranews)

Ini penting.

Sebab dalam persoalan kerajaan, antara sinyal, persiapan, dan penetapan resmi terdapat perbedaan yang sangat besar.

GKR Mangkubumi memang memiliki posisi yang sangat kuat secara simbolik.

Ia adalah putri sulung Sultan.

Ia menyandang gelar Mangkubumi.

Dan sejak 2015 namanya terus dikaitkan dengan masa depan Keraton Yogyakarta.

Namun, apakah itu otomatis berarti ia akan menjadi Sultanah?

Belum tentu.


JIKA BENAR TERJADI, SEJARAH AKAN BERUBAH

Apabila kelak GKR Mangkubumi benar-benar meneruskan takhta, Yogyakarta akan memasuki babak sejarah baru.

Bukan sekadar pergantian seorang raja.

Tetapi perubahan paradigma mengenai siapa yang dapat menjadi pemimpin Kesultanan.

Seorang perempuan akan berada di puncak kekuasaan tradisional Mataram Yogyakarta.

Dan karena Kesultanan Yogyakarta memiliki hubungan historis dengan jabatan Gubernur DIY, pertanyaan berikutnya pun tak terhindarkan:

Apakah Yogyakarta akan memiliki Sultanah sekaligus Gubernur perempuan?

Di titik inilah suksesi Keraton Yogyakarta menjadi jauh lebih besar daripada persoalan pergantian nama dan gelar.

Ia menjadi pertemuan antara tradisi dan perubahan zaman.

Antara paugeran dan hukum negara.

Antara sejarah Mataram dan demokrasi Indonesia modern.


TAKHTA YANG BELUM TERISI

Satu hal harus dicatat dengan hati-hati.

Sri Sultan Hamengku Buwono X masih bertahta.

Pada 2026, usia pemerintahannya telah memasuki tahun ke-37 sejak jumenengan pada 7 Maret 1989. 

Dengan demikian, pembicaraan mengenai suksesi adalah pembicaraan tentang masa depan, bukan tentang pergantian takhta yang sedang berlangsung.

GKR Mangkubumi boleh disebut sebagai figur yang paling sering dikaitkan dengan suksesi tersebut.

Tetapi sejarah belum menutup bukunya.

Keputusan terakhir mengenai siapa yang kelak duduk di singgasana Keraton Yogyakarta tetap menjadi bagian dari dinamika internal Kesultanan.

Dan justru karena itulah kisah ini menarik.

Sebab di balik tembok Keraton Yogyakarta, sebuah pertanyaan besar masih menggantung:

Ketika saat pergantian takhta itu tiba, akankah Yogyakarta mengikuti paugeran lama atau menulis babak baru dengan seorang perempuan sebagai Sultanah?

Jawabannya mungkin belum hari ini.

Tetapi satu hal sudah terjadi sejak 2015:

nama GKR Mangkubumi telah ditempatkan di tengah panggung sejarah suksesi Keraton Yogyakarta.

Dan dari sinilah babak baru itu mulai dibaca publik.

#GKRMangkubumi #KeratonYogyakarta #SriSultanHBX #SuksesiKeraton #KesultananYogyakarta #PutriMahkota #SultanahYogyakarta #Mataram #KeistimewaanYogyakarta #Yogyakarta #SejarahJawa #PaugeranKeraton #GKRHemas #FBPro

Kata Alamsyah

 Kata Jend. Soemitro dan Letjen Alamsyah Prawiranegara tentang isu korupsi Soeharto


Mantan Menko Kesra Letjen TNI (Purn) Alamsyah Ratuperwiranegara menyebutkan bahwa pada awal tahun 1960 ia bertugas sebagai perwira yang diperbantukan kepada Deputi I KSAD Brigjen TNI Soeharto di MBAD. Pada masa-masa inilah terjalin hubungan yang baik antara dirinya dan Brigjen Soeharto. Keduanya sering bertukar pikiran mengenai pengalaman masing-masing di masa lalu. Alamsyah mengaku sejak awal sudah menaruh simpati pada Soeharto yang disebutnya sebagai seorang yang memiliki pembawaan tenang, memiliki visi yang luas, dan ramah pada bawahan. Ia mengaku selalu memperoleh nilai tambah usai berincang-bincang dengan Soeharto. Menurutnya Soeharto bukan saja sekedar atasan dalam tugas tetapi juga sebagai keluarga sendiri karena ada rasa senasib dan menjadi figur yang dituakan (Suparwan G. Parikesit 1995: 134–135).


Alamsyah menyebutkan bahwa sebagian perwira SUAD terutama yang berasal dari Jawa cenderung menjauhi Soeharto. Hal ini menimbulkan rasa penasaran pada diri Alamsyah untuk mencari tahu penyebabnya. Kelak diketahuinya bahwa hal itu berhubungan dengan masa lalu Soeharto yang pernah menjabat sebagai Panglima Divisi Diponegoro di Jawa Tengah. Soeharto dikenal sebagai figur yang sangat memperhatikan prajurit. Demi kesejahteraan prajurit, ia mendirikan berbagai yayasan di lingkungan Divisi Diponegoro yang justru menjadikan Soeharto sebagai sasaran fitnah. Ia difitnah macam-macam sehingga dicopot dari jabatannya sebagai panglima dan diperintahkan untuk mengikuti Kursus C di Seskoad. Walaupun demikian, persoalan di Divisi Diponegoro tidak berakhir hanya sampai pada pencopotan Soeharto sebagai panglima. Satu-satunya rumah Soeharto di Yogyakarta dan mobil Mercedes tahun 1958 bahkan akan disita oleh Jaksa Agung Muda Bidang Intelijen Kolonel Soenarjo (Suparwan G. Parikesit 1995: 134-135). 


Selain Alamsyah Ratuperwiranegara, mantan Pangkopkamtib Jenderal TNI (Purn) Soemitro juga tidak sependapat bila Soeharto dikatakan korup. Menurutnya Soeharto bukan pihak yang diuntungkan dari barter di Semarang. Soemitro berkata (Ramadhan K.H. 1994: 220):


“Saya tidak melihat Pak Harto korup. Saya tidak sependapat kalau Pak Harto dikatakan korup. Sewaktu beliau jadi panglima di Semarang memang ada barter, tapi yang untung orang lain. Dan beliau bisa membangun asrama untuk satuannya. Rumahnya di Semarang waktu itu, ya itu itu saja.” 


*****

Keterangan gambar: 

Jend. Soemitro saat masih brigjen dan menjabat Pangdam Mulawarman bersama Bung Karno (1965).

AH Nasution Putri Seorang Djenderal

 I n d o n e s i a 

Putri Seorang Djenderal 

Ia sering disapa Yanti. Merupakan putri sulung pasangan Johanna Sunarti dengan Djenderal TNI AH Nasution. Orang tua Yanti adalah Pasangan Pejuang '45 dimana keduanya mengalami suka duka Revolusi negeri ini dari 1945-1950 yang mana Palagan Djawa Barat dan pasukannya,Divisi Siliwangi menjadi sesuatu yang tidak dipisahkan. 

Sebenarnya Hendrianti Saharah Nasution mempunyai seorang adik perempuan yang bernama Ade Irma Suryani Nasution. Tetapi sayangnya adik Yanti harus terlebih dahulu menghadap Tuhan dibandingkan dirinya serta dalam usia sangat belia.

Irma menjadi salah satu korban dari keganasan peristiwa penculikan dalam Tragedi Nasional tersebut yang terjadi pada jelang subuh di tanggal 1 Oktober 1965.

Akibat dari tragedi tersebut,Yanti mengalami Trauma Berat dan berkepanjangan. Sepertinya apa yang dialami Yanti sama seperti dialami putra-putri Pahlawan Revolusi lainnya. Yanti menyaksikan sendiri bagaimana mencekamnya peristiwa penculikan yang mengancam sang Ayah serta penembakan membabi buta yang mengakibatkan san Adik terkena peluru nyasar di rumahnya sendiri.

Yanti juga sempat membangunkan Ajudan Ayahnya, Letnan Satu Piere Tendean yang ternyata sudah terjaga dimana pada ahirnya ikut dibawa ke suatu tempat yang dikenal Lubang Buaya. Beberapa hari kemudian diketahui bahwa Letnan Satu Piere Tendean menjadi korban pembunuhan bersama 6 Djenderal lainnya di tempat itu.

Sejak peristiwa Nasional itu Yanti diketahui harus berada dalam pengawasan psikiater Dr.Koesmanto agar bisa memulihkan traumanya kembali. Saat tragedi itu Yanti masih duduk di bangku SMP Kelas 2, sehingga ia membutuhkan penanganan khusus yang lebih lanjut demi keamanannya. 

Kedua orang tuanya sempat memutuskan untuk pindah sekolah untuk Yanti di Bandung dan tinggal bersama sang Nenek. 

Berbagai macam cara telah dilakukan oleh Ayah dan Ibu Yanti demi memperbaiki kondisi psikis putri satu-satunya tersebut. Beberapa diantaranya seperti membekalinya ilmu agama,mengikuti kursus keterampilan, hingga saat orang tuanya memutuskan untuk menerima pinangan dari kekasih anak perempuanya tersebut. 

Ia bernama Edward Nurdin seorang perwira dari korps Penerbang AURI(TNI-AU) yang berselisih usia 10 tahun lebih tua dari Yanti. 

Gelar pernikahan Mereka yang sederhana di tahun 1970 dimana waktu itu usia Yanti jelang 19 tahun. 

Hal itu dilakukan dengan harapan terbaik supaya dapat mengobati luka trauma psikologis Yanti dan menapaki kehidupan seperti orang  pada umumnya. Setelah bertahun-tahun peristiwa itu, Ibu Yanti Nurdin Nasution mengaku sering tidak tahan mendengan suara keras, dimana suara keras itu mengingatkan suara tembakan yang menggema di seluruh sudut rumahnya jelang subuh di tahun 1965 tersebut.

(Seperti ulasan dari Sketsa Nusantara dan sumber lain,;Memenuhi PanggilanTugas-AH Nasution 1973,;SejarahNasionalIndonesia,;SiliwangiDariMasaKeMasa,; Foto:Hendrianti Saharah Nasution sekitar 1969-1971,; Museum Sasmita Loka Jenderal Besar TNI Abdul Haris Nasution Jl.Teuku Umar JKT).

Kolonel Sarwo Edhie

 Jakarta, dini hari 1 Oktober 1965. Langit masih gelap namun fajar sudah mulai menyingsing. Suara radio RRI menyiarkan pengumuman mengejutka...