[22/7 13.01] rudysugengp@gmail.com: 1. Buatkan Gambar dan Infografis tentang
Kehidupan Awal dan Silsilah Pangeran Mohammad Noor
Ringkasan :
Pangeran Mohammad Noor[a] (24 Juni 1901 – 15 Januari 1979) adalah mantan Menteri Pekerjaan Umum dan gubernur Kalimantan pada 1945-1950. Ia lahir dari keluarga bangsawan Banjar, ia adalah intah (keturunan ke-4) dari Raja Banjar Sultan Adam al-Watsiq Billah.
Setelah lulus HIS tahun 1917, ia meneruskan ke jenjang MULO dan lulus tahun 1921, lalu lulus dari HBS tahun 1923, dan pada tahun 1923 masuk Technische Hoogeschool te Bandoeng (THS) - sekolah teknik tinggi di Bandung. Pada tahun 1927, ia berhasil meraih gelar Insinyur dalam waktu empat tahun sesuai masa studi, setahun setelah Ir. Soekarno (presiden RI pertama) lulus sebagai insinyur dari TH Bandung.
Pada tahun 1935-1939 ia menggantikan ayahnya Pangeran Muhammad Ali sebagai wakil Kalimantan dalam Volksraad pada masa pemerintahan kolonial Hindia Belanda. Tahun 1939, ia digantikan Mr. Tadjuddin Noor dalam Volksraad.
Ia juga merupakan tokoh pejuang yang berhasil mempersatukan pasukan pejuang kemerdekaan di Kalimantan ke dalam basis perjuangan yang diberi nama Divisi IV ALRI Pertahanan Kalimantan di bawah pimpinan Hasan Basry (1945-1949) dan juga sebagai anggota Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI).
Pada periode 24 Maret 1956 - 10 Juli 1959, ia ditunjuk oleh Presiden Soekarno sebagai Menteri Pekerjaan Umum. Ketika menjabat Menteri Pekerjaan Umum, ia mencanangkan sejumlah proyek, seperti Proyek Waduk Riam Kanan di Kalimantan Selatan dan Proyek Waduk Karangkates di Jawa Timur. Selain itu, ia juga menggagas Proyek Pasang Surut di Kalimantan dan Sumatra. Ia juga menggagas Proyek Pengembangan Wilayah Sungai Barito yang terbagi menjadi dua bagian, yaitu PLTA Riam Kanan dan Pengerukan Muara/Ambang Sungai Barito yang dilaksanakan pada akhir tahun 1970.
Ia menerima Anugerah Tanda Kehormatan Bintang Mahaputra Utama karena jasa dan pengabdian pada tahun 1973.
Pada tanggal 8 November 2018, Pemerintah Republik Indonesia melalui Presiden Ir. Joko Widodo menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional dengan diterbitkannya Keppres No 123/TK/Tahun 2018, tentang Penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional.
Informasi Pribadi :
Lahir :
24 Juni 1901
Martapura, Hindia Belanda
Meninggal :
15 Januari 1979 (umur 77)
Jakarta, Indonesia
Partai politik :
Mayumi
Istri :
Gusti Aminah
Silsilah :
Pangeran Muhammad Noor merupakan cicit dari mangkubumi Kesultanan Banjar Ratoe Anom Mangkoeboemi Kentjana bin Sultan Adam.
[22/7 13.01] rudysugengp@gmail.com: 2. Buatkan Gambar dan Infografis tentang
Perjuangan Pasca Kemerdekaan
Pangeran Mohammad Noor
Tentara Sekutu telah mendarat di Kalimantan lebih awal sebelum proklamasi kemerdekaan, yakni bulan Juli 1945 di Kalimantan Timur dan bulan Agustus 1945 di Kalimantan Barat. Di Kalimantan Selatan, Sekutu tiba pada 17 September 1945. Kedatangan Sekutu bertujuan untuk membebaskan tahanan perang serta melucuti senjata tentara Jepang. Turut pula tentara KNIL berada dibelakang tentara Sekutu.
Hari-hari pertama seperti di Kalimantan Selatan setelah proklamasi kemerdekaan memperlihatkan situasi dan kondisi yang tidak menentu, karena simpang siurnya berita. Radio-radio disita hingga dirusak oleh tentara Jepang. Agar dapat berita kekalahan Jepang tidak sampai terdengar oleh rakyat pada saat itu.
Menanggapi berbagai tantangan, Gubernur Kalimantan Pangeran Muhammad Noor melakukan beberapa langkah untuk menjamin bahwa rakyat Kalimantan berada di belakang Republik Indonesia. Dua langkah prioritas dan mendesak yang harus dilakukan adalah; Pertama, menyatukan seluruh komponen kekuatan, baik para pejuang yang berada di Kalimantan maupun berada di luarnya. Dan kedua, mempersiapkan organisasi yang dapat mendukung pemerintahan Provinsi Kalimantan.
Kantor Perwakilan di Yogyakarta :
Pangeran Muhammad Noor adalah salah satu pejuang dalam merebut kemerdekaan di tanah Borneo, sekaligus menjabat Gubernur Borneo (sebelum dimekarkan menjadi beberapa provinsi) pertama berkedudukan di Yogyakarta pada masa pemerintahan Sukarno. Untuk menjalankan tugas pemerintahan. Gubernur Pangeran Muhammad Noor membuka Kantor Perwakilan Gubernur Kalimantan yang pertama di Yogyakarta (Jalan Lapangan 2).
Pangeran Muhammad Noor juga pernah mengusulkan untuk mengirim pasukan terjun payung sebagai bentuk pencegahan blokade Belanda di laut. Usulan ini disetujui oleh Kepala Staf TNI Angkatan Laut yaitu Soerjadi Soerjadarma. Pangeran Muhammad Noor kemudian menugaskan Tjilik Riwut sebagai komandan pasukan terjun payung tersebut yang berjumlah 14 orang. Pasukan in terlebih dahulu mengadakan pelatihan di Bandara Maguwo dan berangkat pada tanggal 17 Oktober 1947. Mereka akhirnya melakukan terjun payung setelah tiba di Kota Waringin.
Pembentukan Organisasi :
Untuk menjalankan pemerintahan di tengah perang, pada 2 September 1945, Gubernur Pangeran Muhammad Noor membentuk sebuah badan yang berfungsi membantu tugas-tugas gubernur, yaitu Badan Pembantu Oesaha Gubernur (BPOG). Badan ini bertujuan;
Mempersatukan seluruh putra Kalimantan yang berada di Jawa untuk membantu perjuangan rakyat di Kalimantan, baik secara politik, militer, maupun ekonomi.
Membentuk cabang-cabang BPOG di daerah-daerah yang lain.
Membantu Gubernur Pangeran Muhammad Noor dalam melaksanakan tugasnya.
Agar memaksimalkan tugas BPOG, Gubernur Pangeran Muhammad Noor menempatkan markas utama BPOG di Surabaya (Jalan Embong Tanjung 17).
[22/7 13.01] rudysugengp@gmail.com: 3. Buatkan Gambar dan Infografis tentang
Akhir Hayat dan Penghargaan
Pangeran Mohammad Noor
Wafat :
Pangeran Muhammad Noor wafat pada tanggal 15 Januari 1979 dan dimakamkan di TPU Karet Bivak, Jakarta berdampingan dengan makam istrinya, Gusti Aminah binti Gusti Mohamad Abi.
Namun, pada tahun 2010 jenazahnya beserta istrinya dibawa pulang ke kampung halamannya di Martapura atas keputusan keluarga PM Noor.
Kemudian pada tanggal 18 Juni 2010 jenazah PM Noor dan Gusti Aminah dimakamkan di komplek pemakaman Sultan Adam Martapura dengan upacara militer.
Namanya diabadikan pada PLTA Waduk Riam Kanan, Kabupaten Banjar yang dinamakan Waduk Ir. H. Pangeran Muhammad Noor.
Akhir Hayat
Wafat:
Ir. H. Pangeran Mohammad Noor wafat pada tanggal 15 Januari 1979 di Rumah Sakit Pelni, Jakarta. meninggalkan warisan monumental sebagai gubernur pertama Kalimantan, pejuang kemerdekaan, dan perintis infrastruktur besar di Indonesia.
Pesan Terakhir:
Menjelang wafatnya, beliau menyampaikan pesan legendaris dalam bahasa Banjar terkait pembangunan daerah: “Teruskan... Gawi kita balum tuntung...!” yang berarti "Teruskan, kerja kita belum selesai...!".
Pemindahan Makam:
Awalnya dimakamkan di TPU Karet Bivak, Jakarta, berdampingan dengan istrinya, Gusti Aminah.
Pada tahun 2010, atas keputusan keluarga, jenazah keduanya dipindahkan ke kampung halaman mereka di Kompleks Pemakaman Sultan Adam, Martapura, Kalimantan Selatan.
Penghargaan
Pahlawan Nasional Indonesia:
Dianugerahi gelar Pahlawan Nasional oleh Presiden Joko Widodo pada tanggal 8 November 2018 berdasarkan Keputusan Presiden RI No. 123/TK/Tahun 2018 atas jasa luar biasanya dalam mempertahankan kemerdekaan.
Bintang Mahaputera Utama:
Menerima tanda kehormatan ini dari pemerintah Indonesia pada tahun 1973 atas pengabdian besar kepada bangsa.
Warisan (Legacy)
Bapak Pembangunan Kalimantan:
Sebagai Menteri Pekerjaan Umum (1956–1959), beliau menginisiasi proyek vital seperti Waduk Riam Kanan di Kalimantan Selatan dan Waduk Karangkates di Jawa Timur.
Nama Infrastruktur:
Nama beliau diabadikan sebagai nama PLTA Ir. Pangeran Mohammad Noor (PLTA Riam Kanan) serta berbagai nama jalan utama di kota-kota besar Kalimantan.
Integrasi Militer & Politik:
Berhasil mempersatukan berbagai laskar pejuang di Kalimantan ke dalam struktur resmi Divisi IV ALRI Pertahanan Kalimantan untuk menggagalkan rencana Belanda membentuk negara boneka Borneo.
[22/7 13.54] rudysugengp@gmail.com: 1. Buatkan Gambar dan Infografis tentang
Biodata dan Profil
Hajah Andi Depo
Biodata Andi Depu
Nama:
Andi Depu
Tempat Lahir: Tinambung, Kabupaten Polman, Sulawesi Barat
Tanggal Lahir:
Agustus 1908
Tanggal Wafat:
18 Juni 1985
Ayah: Lajju Kanna Doro
Ibu: Samaturu
Anak: Andi Parenrengi
Penghargaan: Pahlawan nasional.
Profil Andi Depu :
Di zaman revolusi, Andi Depu atau Haji Andi Depu dulunya diberi gelar sebagai Ibu Agung. Ia Lahir lahir pada bulan Agustus 1908 di Tinambung, Kabupaten Polman, Sulawesi Barat.
Ibu Agung diketahui memiliki garis keturunan bangsawan di Mandar, yang disebut sebagai Todziang Laiyyana (atau orang yang berdarah biru).
Ayahnya merupakan seorang Raja Balanipa Mandar ke-50 yang bernama Lajju Kanna Doro. Sedangkan ibunya bernama Samaturu atau biasa dipanggil Kinena.
Sejak kecil, Andi Depu telah mendapat pendidikan informal di dalam istana. Seperti belajar sopan santun, cara menggunakan bahasa dengan baik, menjamu tamu dan para pembesar kerajaan, serta cara-cara bergaul dengan orang banyak di dalam upacara-upacara.
Untuk pendidikan formal sendiri, ia bersekolah di Sekolah Dasar (SD) Volkschool di wilayah Kerajaan Balanipa. Namun, karena keterbatasan akses di wilayah Mandar, Andi Depu tidak melanjutkan pendidikannya.
Meskipun demikian, di dalam lingkungan istana, ia tetap memperoleh pendidikan Islam, baik pelajaran mengenai tajwid maupun kisah-kisah para nabi.
Pada saat menginjak usia 15 tahun, Andi Depu dijodohkan dan menikah dengan Andi Baso Pawiseang, seorang putra bangsawan bernama Pammase, keturunan dari Ibaso Boroa bergelar Tokape. Dari perkawinan itu, keduanya dikarunia seorang putra yang diberi nama Andi Parenrengi, yang lahir pada tahun 1925.
Setelah pernikahannya, beberapa tahun kemudian, Andi Baso Pawiseang kemudian diangkat menjadi pejabat Arayang Balanipa (raja) yang ke-51. Ia menggantikan mertuanya yang meninggal dunia saat melakukan perjalanan haji ke Makkah.
Namun, jabatan yang didudukinya itu tak berlangsung lama. Ketika Jepang kalah dan pemerintahan Afdeling kembali diambil alih oleh Belanda, rakyat dan sebagian besar Lembaga Hadat Sappulo Sokko mendesak Lembaga Adat Appe Banua Kaiyyang untuk meminta Andi Baso Pawiseang segera mengundurkan diri dari jabatannya.
Lembaga Adat Appe' Banua Kaiyyang bersama anggota Hadat Sappulo Sokko yang memihak kepada perjuangan lalu meminta Andi Depu untuk menjadi Arayang Balanipa ke-52. Atas desakan dari rakyat dan para pejuang, Ibu Agung Andi Depu pun setuju untuk menjabat sebagai Arayang Balanipa.
Pengangkatannya pun kemudian mengukir sejarah. Sebab, untuk pertama kalinya ada seorang wanita di Mandar khususnya di kerajaan Balanipa yang menjadi Maradia/Arayang.
Sayangnya, ketika Andi Depu menerima jabatan tersebut, ia harus bercerai dengan suaminya. Hal ini karena Andi Depu dan suaminya tidak sepaham dalam prinsip perjuangan.
Andi Baso Pawiseang berpendapat bahwa kaum penjajah tidak mungkin dapat dilawan dan dikalahkan hanya dengan semangat dan senjata bambu runcing. Sedangkan sang istri yakin bahwa semangat para perjuangan bangsa bisa mencapai kemerdekaan.
2. Buatkan Gambar dan Infografis tentang
Perjuangan melawan Belanda
Hajah Andi Depo
Perjuangan Andi Depu Melawan Belanda di Mandar :
Setelah kekalahan Jepang, Andi Depu turut menyebarkan berita kemerdekaan Indonesia di wilayah Mandar pada tahun 1945. Namun, pasca proklamasi, Sekutu kembali datang.
Ketika itu, sekitar tahun 1945, tentara Sekutu mendarat di Mandar dan melakukan berbagai aksi penggeledahan dan penangkapan. Salah satu wilayah yang menjadi target pihak Belanda adalah Tinambung Balanipa.
Wilayah yang berada di bawah kepemimpinan Andi Depu dan Kebaktian Rahasia Islam (KRIS) Muda.
Ketika tentara sekutu datang, mereka berniat untuk menurunkan bendera Merah putih yang berkibar di Istana Balanipa. Namun, hal itu segera dicegat oleh Andi Depu. Sebelum sang Merah Putih diturunkan, Depu bergegas lari ke tiang bendera dan memeluknya rapat-rapat.
Ibu Agung ini kemudian memberikan peringatan kepada tentara Belanda. Dengan suara lantang, ia berkata "Tuan-tuan jangan coba-coba menurunkan bendera ini, dan kalau tetap dipaksakan juga, tembaklah saya, baru bisa diturunkan".
Di sisi lain, rakyat yang mengetahui adanya insiden itu segera berdatangan. Akibat rasa takut berhadapan dengan massa, membuat tentara Belanda memutuskan untuk segera meninggalkan tempat.
Akhirnya, bendera Merah Putih tetap dipertahankan dan berkibar dengan megah. Namun kabar buruknya, setelah gagal di Tinambung, Belanda ternyata meneruskan aksinya tersebut ke Pambusuang dan Campalagian.
Di kedua tempat itu, Belanda berhasil menurunkan merah putih yang berkibar. Hal ini kemudian membuat para pemuda dan pejuang di Mandar murka. Dengan cepat situasi di Mandar menjadi buruk.
Pada Desember 1946, pasukan Kris Muda mengadakan penyerbuan ke Pamboang. Mereka melakukan penyerbuan tersebut bersama dengan pasukan Gapri.
Pertama-tama, mereka memutuskan hubungan kabel telepon di kediaman Raja Pamboang. Setelah itu, mereka menggempur pos NICA dan KNIL, yang kemudian mengakibatkan pertempuran sengit dan menewaskan seorang laskar Gapri bernama Yuddin.
Penyerangan kedua pasukan ini menyebabkan tentara NICA dan KNIL kewalahan, sebab taktik yang dimiliki pasukan KRIS Mudan dan Gapri dikenal sangat jitu.
Dengan demikian, untuk memberantas aksi penyerbuan para pejuang, NICA memutuskan melakukan penangkapan terhadap pimpinan pejuang kelompok tersebut, yakni Andi Depu. Perempuan dengan gelar Ibu Agung ini ditahan di Majene, lalu dipindahkan ke daerah lain, seperti Rappang, Polewali, Pinrang, Bantaeng, Jeneponto, hingga sampai Makassar.
Namun, dugaan NICA ternyata salah. Meski Andi Depu ditangkap, perjuangan rakyat Mandar ternyata tidak berhenti.
Perjuangan kelompok ini tetap dilanjutkan di bawah pimpinan putra Andi Depu, yakni Andi Parenrengi.
Atas perintah Parenrengi, 400 orang pasukan kemudian bergabung untuk bertempur melawan pasukan NICA. Dengan pasukan yang semakin banyak membuat KRIS Muda semakin gigih melakukan perlawanan bersenjata untuk menyelamatkan Andi Depu.
Hingga pada 1 Februari 1947, pasukan Kris Muda dapat mengalahkan pasukan Westerling di Simullu, Majene. (3) Dua tahun setelah kemenangan pasukan KRIS MUda, Andi Depu kemudian juga dibebaskan pasca penyerahan kedaulatan secara menyeluruh dalam Konferensi Meja Bundar (KMB) tahun 1949.
3. Buatkan Gambar dan Infografis tentang
Akhir Hayat dan Penghargaan
Hajah Andi Depo
Wafatnya Andi Depu :
Setelah masa Revolusi, Andi Depu keluar dari aktivitas militer. Sejak keluar, Andi Depu memutuskan untuk menetap di Makassar di tahun 1956 untuk mendapatkan perawatan kesehatan. Sebab, di Kota ini lebih banyak rumah sakit dan dokter spesialis yang dapat membantu pengobatannya.
Sayangnya, pada tanggal 18 Juni 1985, Ibu Agung Andi Depu dinyatakan meninggal dunia dalam usia 78 tahun setelah beberapa hari dirawat di rumah sakit Pelamonia. Ia kemudian dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Panaikang sebagai penghormatan atas jasa-jasanya.
Penghargaan Andi Depu :
Setelah wafat, Andi Depu dianugerahi sejumlah tanda jasa dan penghargaan dari pemerintah Republik Indonesia, di antaranya:
* Bintang Mahaputra RI kelas IV, dari Presiden Soekarno.
* Bintang Gerilya
* Satya Lencana Perang Kemerdekaan I
* Satya Lencana Perang Kemerdekaan II
* Satya Lencana Bhakti
* Satya Lencana Peringatan Perjuangan Kemerdekaan
* Satya Lencana GOM III
* Satya Lencana GOM IV
* Surat Penghargaan Angkatan Darat tanggal 5 Oktober 1958 NO. 01882.
Selain itu, nama Andi Depu juga dikukuhkan sebagai Pahlawan Nasional oleh Presiden Joko Widodo melalui Keputusan Presiden No.123/TK Tahun 2018 pada tanggal 6 November 2018.
Pada 10 November 2018, penghargaan gelar Pahlawan Nasional Indonesia diserahkan kepada Keluarga Ahli Waris oleh Presiden Joko Widodo bersama dengan Abdurrahman Baswedan, Kasman Singodimedjo, Depati Amir, Sjam'un dan Pangeran Muhammad Noor.
(detik.sulsel)
[22/7 14.16] rudysugengp@gmail.com: 1. Buatkan Gambar dan Infografis tentang
Kehidupan
Depati Amir
Ringkasan :
Depati Amir (lahir di Mendara, Bangka, 1805 - meninggal di Air Mata, Kota Lama, Kupang, Nusa Tenggara Timur, 28 September 1869) merupakan salah satu pahlawan nasional dari Bangka. Semangat kepahlawanannya menggema hampir di seluruh Pulau Bangka. Depati Amir aktif melawan penjajahan Belanda di Bangka yang saat itu memiliki kepentingan terhadap aktivitas tambang timah. Karena perlawanannya dinilai merugikan aktivitas tambang mereka, akhirnya ia diasingkan ke Air Mata, Kota Lama, Kupang, Nusa Tenggara Timur.
Namanya kini diabadikan di Bandar Udara Depati Amir dan Stadion Depati Amir, Pangkal Pinang. Pada tahun 2018, bersama lima tokoh lainnya, ia dianugerahi gelar pahlawan nasional.
Kehidupan Awal :
Depati Amir adalah seorang putra dari bangsawan Bangka yang bernama Depati Bahrin. Sebelum mendapat gelar depati, Amir telah menjadi tokoh berpengaruh di Bangka. Amir pernah memimpin masyarakat untuk menumpas perompak di sekitar perairan Bangka. Pada tahun 1830, Amir diangkat menjadi depati. Depati merupakan gelar yang mulanya diberikan oleh Kesultanan Palembang untuk seorang kepala sebuah atau beberapa kampung. Depati Bahrin sebelumnya memimpin Kampung Mendara dan Mentadai. Namun, gelar ini ditolak Amir lantaran keinginannya untuk menjadi rakyat biasa. Walau begitu, Amir tetap mempunyai pengaruh yang besar di Bangka.
2. Buatkan Gambar dan Infografis tentang
Perjuangan melawan Belanda
Depati Amir
Bangka :
Perjuangan Depati Amir bermula dari urusan keluarganya dengan Belanda. Saat itu, Belanda mulai membuat parit-parit tambang timah di Pulau Bangka dan berkonsi dengan Depati Bahrin untuk mengeruk timah di tanah miliknya. Namun, Belanda tidak memenuhi kewajibannya untuk membayarkan hasil tambangnya. Hal itu menyulut Depati Amir mengajukan tuntutan kepada perusahan Belanda tersebut dan mendapat dukungan dari masyarakat Bangka.
Tuntutan Depati Amir terdengar oleh Residen Belanda untuk Bangka yang bernama F. van Olden. Residen tersebut menilai bahwa tindakan Depati Amir dapat menyulut pergolakan di Bangka. Lalu, Pemerintah Belanda mengutus pejabat-pejabat penting untuk menangkapnya. Namun, usaha tersebut gagal. Depati Amir semakin mendapat dukungan masyarakat yang selama ini telah dipekerjakan oleh Belanda, baik dari kalangan Melayu Bangka maupun Tionghoa Bangka. Dukungan juga datang dari para pemimpin lokal yang juga merasa dirugikan akibat kehadiran Belanda. Akibat dukungan-dukungan ini, Depati Amir mendapat bantuan senjata baik dari lokal maupun dari Singapura. Perlawanan Depati Amir meluas di sepanjang pesisir timur Bangka.
Pengasingan :
Pada 7 Januari 1851, Depati Amir berhasil ditangkap oleh Belanda. Penangkapan itu dapat terjadi karena Belanda berhasil menyuap 7 orang panglima dan 36 pasukan Depati Amir yang sedang kesulitan logistik. Amir tertangkap dalam kondisi sakit.
Pada 11 Februari 1851, Depati Amir dikirim ke tempat pengasingan di Kupang, Timor. Walau dalam pengasingan, perjuangan Depati Amir melawan Belanda tidak juga padam.
Bersama adiknya, Hamzah atau dikenal juga sebagai Cing, ia menjadi penasihat bagi raja-raja di Timor dan juga turut aktif menyebarkan agama Islam di Pulau Timor.
3. Buatkan Gambar dan Infografis tentang
Akhir Hayat dan Penghargaan
Depati Amir
Akhir Hayat :
Setelah ditangkap oleh Belanda, Depati Amir diasingkan ke Air Mata, Kota Lama, Kupang pada pertengahan abad ke-19.
Meskipun berada di pembuangan, semangat perjuangannya tidak padam.
Ia menghabiskan sisa hidupnya dengan menyebarkan agama Islam dan menjadi penasihat strategi bagi raja-raja lokal di Timor dalam melawan penjajahan Belanda.
Depati Amir meninggal dunia dalam pengasingan di Kupang, Nusa Tenggara Timur pada 28 September 1869 akibat usia tua dan sakit.
Pahlawan Nasional
Pada tanggal 8 November 2018, Pemerintah Republik Indonesia melalui Presiden Ir. Joko Widodo menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional dengan diterbitkannya Keppres No 123/TK/Tahun 2018, tentang Penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional.
Penghargaan dan Peninggalan Sejarah
Untuk mengenang jasa sang Pahlawan Nasional pertama asal Bangka Belitung tersebut, pemerintah dan masyarakat telah melakukan berbagai bentuk penghormatan, antara lain:
Gelar Pahlawan Nasional:
Diberikan secara resmi oleh Presiden Joko Widodo.
Bandar Udara Depati Amir:
Nama beliau diabadikan sebagai bandara utama di Kota Pangkal Pinang, Kepulauan Bangka Belitung.
Stadion Depati Amir:
Fasilitas olahraga kebanggaan masyarakat Pangkal Pinang.
Makam Bersejarah:
Makam Depati Amir yang terletak di Pekuburan Air Mata, Kupang telah direnovasi dan dirawat sebagai situs bersejarah.
[22/7 14.53] rudysugengp@gmail.com: 1. Buatkan Gambar dan Infografis tentang
Biodata dan Kehidupan Awal
Mr. Kasman Singodimejo
Ringkasan :
Mr. R. H. Kasman Singodimedjo (25 Februari 1904 – 25 Oktober 1982) adalah Jaksa Agung Indonesia periode 1945 sampai 1946 dan juga mantan Menteri Muda Kehakiman pada Kabinet Amir Sjarifuddin II. Selain itu ia juga adalah Ketua KNIP (Komite Nasional Indonesia Pusat) yang menjadi cikal bakal dari DPR. Selain itu ia juga pernah menjadi Rektor pertama Universitas Islam Indonesia dan Anggota Konstituante Republik Indonesia.
Informasi Pribadi
Lahir :
25 Februari 1904
Purworejo, Jawa Tengah, Hindia Belanda
Meninggal :
25 Oktober 1982 (umur 78)
Jakarta, Indonesia
Makam :
Taman Pemakaman Umum Tanah Kusir, Jakarta.
Almamater :
RHS, STOVIA, MULO, GMS, AMS, HIS, ELS
Kehidupan awal :
Kasman Singodimedjo lahir di Purworejo, Jawa Tengah, pada tanggal 25 Februari 1904. Ayahnya adalah H. Singomedja pernah menjabat sebagai penghulu, carik (sekretaris desa) dan polisi pamong praja di Lampung Tengah. Kasman Singodimedjo wafat di Jakarta, pada tanggal 25 Oktober 1982 dan dimakamkan di Pemakaman Umum Tanah Kusir, Jakarta. Dilahirkan dari orangtua yang bernama H. Singodimedjo dan ibu yang bernama Kartini. Memiliki seorang istri yang bernama Soepinah Kasiyati (menikah pada tanggal 17 September 1928) serta dikaruniai 6 orang anak; Siam Saputro, Ir. Muhammad Sulaiman Wibisono, Bambang Bagus Toko, Ny. Kabul SH, NC, dan Ny. Dewi Nurul Mustaqimah.
Kasman Singodimedjo mengenyam pendidikan awal di sekolah desa di Purworejo. Selanjutnya dia masuk Holland Indische School (HIS) di Kwitang, Jakarta. Ia pindah ke HIS Kutoarjo, kemudian ke Meer uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) di Magelang. Setelah menyelesaikan pendidikannya di MULO, Kasman Singodimedjo sempat masuk School Tot Opleiding Voor Indische Artsen (STOVIA) di Jakarta. Saat di STOVIA inilah dia mulai berorganisasi dalam hal ini Jong Java. Bersama dengan Syamsuridjal, Ki Musa al-Mahfudz dan Suhodo, Kasman Singodimedjo mendirikan Jong Islamieten Bond (JIB) pada 1925. Dia menjadi Ketua Umum JIB pada tahun 1930 – 1935. Tidak menyelesaikan pendidikan di STOVIA, ia beralih ke Recht Hoge School (Sekolah Tinggi Hukum) Jakarta hingga memperoleh gelar Meester in Rechter (Mr). eksistensi Kasman Singodimedjo sejak masa pergerakan nasional, masa pendudukan Belanda hingga paska kemerdekaan sangat beragam, hingga beliau wafat pada 25 Oktober 1982.
[23/7 01.35] rudysugengp@gmail.com: 1. Buatkan Gambar dan Infografis tentang
Kehidupan Awal
Syam'un
Syam'un lahir di kampung Beji pada tanggal 15 April 1883. Lokasi kelahirannya masuk dalam wilayah Desa Bojonegara, Kecamatan Cilegon, Kabupaten Serang, Keresidenan Banten. Nama ibunya adalah Siti Hajar, sedangkan ayahnya bernama Alwiyan. Keluarganya merupakan keturunan kyai asal Banten. Kakek dari jalur keluarga ibunya bernama Wasyid merupakan salah satu tokoh dalam peristiwa Geger Cilegon 1888. Peristiwa ini terjadi sebagai bentuk perjuangan melawan Pemerintah Kolonial Belanda.
Pada umur 11 Tahun, KH. Syam’un melanjutkan studi ke Mekkah (1905—1910) dan berguru di Masjid Al-Haram tempat ahli-ahli ke-Islaman terbaik di dunia berkumpul membagi ilmu. Pendidikan akademinya dilalui di Al-Azhar University Cairo Mesir (1910—1915).
Pada tahun 1916, Syam’un mendirikan Pondok Pesantren Al-Khairiyah di Citangkil, Desa Warnasari, Kecamatan Grogol, Kabupaten Serang, Keresidenan Banten. Namanya kemudian diubah menjadi Perguruan Islam Al-Khairiyah.
2. Buatkan Gambar dan Infografis tentang
Pesantren dan Karier Perjuangan
Syam'un
Mengembangkan Pesantren :
Dalam artikel 'Riwayat Hidup dan Perjuangan KH Syam'un' yang ditulis oleh Abdullah Alawi dalam laman NU Online dijelaskan. KH Syam'un sebagai orang yang lahir dan dibesarkan di lingkungan pesantren, ketika pulang ke tempat kelahirannya, ia mengembangkan pesantren juga. KH Syam’un pulang ke Hindia Belanda pada 1915.
Kemungkinan karena merasa satu visi dengan kiai-kiai asal pesantren, di dalam berorganisasi ia memilih aktif di Nahdlatul Ulama. Ia tercatat sebagai salah seorang syuriyah dari NU Serang. Buktinya sebagai pengurus, menurut data yang ditemukan di Majalah Swara Nahdlatoel Oelama dan Berita Nahdlatoel Oelama, ia hadir di muktamar NU. Paling tidak, di Muktamar NU kelima di Pekalongan pada 1930 dan Banjarmasin 1936.
KH Syam'un melanjutkan reputasi keilmuan ulama Banten. Pada tahun 1916, KH Syam'un mendirikan pesantren di daerah Citangkil. Nama Al-Khairiyah terinspirasi oleh sebuah bendungan di Mesir. Awalnya hanya pengajaran pesantren pada umumnya. Santrinya pun hanya berjumlah puluhan. Seiring perkembangan pesantren Citangkil, KH Syam'un memasukan unsur materi pendidikan modern menyesuaikan zaman.
Dalam mengasuh pesantren Al-Khairiyah Citangkil. KH Syam'un memadukan kurikulum pesantren dengan ilmu modern seperti sekolah umumnya. Ia juga menerapkan pembelajaran dalam ruangan kelas secara berjenjang sesuai umur. Dari sebuah pesantren, Al-Khairiyah berkembang tersebar hingga ke Sumatera Selatan, Lampung, Jawa Barat, dan Jakarta. Untuk pembiayaan Madrasah yang mulai berkembang cukup pesat, pada tahun 1927 didirikanlah sebuah koperasi dengan nama 'Koperasi Bumi Putera Citangkil l' yang Diketuai oleh KH. Abdul Aziz.
Disamping itu, KH Syam'un juga cukup produktif dalam menulis. Ada 3 kitab yang dituliskan olehnya. Diantaranya, Kitab Al-Djami’ah Fi Aqidil Muslimin wal Muslimat, Kitab Aqidatoel Al-Faal, dan Kitab Mujmalussiratti Muhammadiyyah. Ditulis dengan berbahasa Arab-Jawa. Meskipun hanya terbatas untuk pendidikan pesantren miliknya. Nilai-nilai yang ditanamkan pada santrinya itu menularkan semangat dan membentuk pribadi sejak dini.
Masa Pendudukan Jepang :
Setelah kekuasaan pemerintah kolonial berakhir pada 1942, KH Syam’un menjadi salah satu tokoh berpengaruh. Kemudian didekati oleh pemerintah pendudukan Jepang untuk merebut simpati rakyat Banten. Kiprah KH Syam’un di ranah pendidikan terekam oleh pemerintah pendudukan Jepang. Namanya muncul dalam buku Orang Indonesia Jang Terkemoeka di Djawa terbitan Gunseikanbu tahun 1944.
KH Syam'un diajak bergabung dengan Pembela Tanah Air (PETA) oleh Jepang pada tahun November 1943. Diplot sebagai daidanco atau komandan Batalyon. Masa pendudukan Jepang di semua wilayah selalu mengajak Tokoh Agama, Pamong Desa atau Sultan sebagai pimpinan pasukan. Fungsinya adalah menjadi tambahan pasukan Jepang dalam menghalau kekuatan pasukan sekutu.
Tergabungnya KH Syam'un dalam PETA sempat memunculkan keraguan. Dalam keadaan terpaksa ia bergabung, karena Jepang waktu itu membredel habis tokoh yang menolak untuk bergabung. Kemudian KH Syam'un memandang perlu bergabung untuk mengamankan lembaga pendidikan yang sudah dibangun. Disamping itu juga untuk mempelajari strategi militer Jepang.
“Bahwa pendidikan Islam sesuai dengan kemiliteran. Ini baik bagi pemuda-pemuda kita. Dan saya sering menceritakan pada mereka tentang penghidupan dan perjuangan pahlawan-pahlawan Islam,” kata KH Syam’un dalam Asia Raja No. 35, 8 Februari 2604 (1944).
Masa Kemerdekaan Indonesia :
Pasca kemerdekaan 17 Agustus 1945. Banten menjadi wilayah Karesidenan, atau daerah administratif yang dikepalai oleh Residen (Setara Gubernur). Meliputi daerah Pandeglang, Serang, Cilegon, Lebak dan Tangerang. Pada akhir Agustus 1945, masyarakat Banten beramai-ramai dari banyak golongan Ulama, Jawara, dan Pemuda berkumpul di rumah Raden Dzolkarnaen Soeria Karta Legawa. Memilih seseorang untuk menjadi Residen memimpin Banten.
Suharto menjelaskan dalam Banten Masa Revolusi 1945-1949 disertasinya di Universitas Indonesia. “Pertemuan secara aklamasi memilih KH Tb Achmad Chatib sebagai Residen Banten yang menangani pemerintahan sipil. Untuk itu, mereka mendesak Pemerintah Pusat agar segera mengangkatnya dan untuk menangani urusan militer diserahkan kepada KH. Syam’un,”.
KH Tb Achmad Chatib direstui oleh Soekarno. Diangkat menjadi Residen pada 19 September 1945. Kemudian mempunyai tugas menyusun personalia pemerintahan daerah Banten. Lalu membentuk Komite Nasional Indonesia Daerah (KNID), semacam lembaga parlemen daerah. Soal kemiliteran, KH Tb Achmad Chatib memberi kepercayaan kepada KH Syam'un.
KH Syam'un punya pengalaman militer yang mumpuni. Karena sarat pengalaman dan memang pernah dilatih oleh Jepang. Sebagai Ulama, atas kewibawaannya ia disegani dikalangan masyarakat Banten. KH Syam'un dipilih menjadi Panglima Badan Keamanan Rakyat (BKR). Lalu menjadi Komandan Brigade I Tirtayasa yang kemudian berubah nama menjadi Tentara Keamanan Rakyat (TKR) dan berpangkat Kolonel.
Mulai tahun 1942 hingga tahun 1945, Syam’un bergabung menjadi anggota Pembela Tanah Air (PETA). Organisasi ini merupakan gerakan pemuda bentukan Jepang. Dalam PETA, jabatan KH. Syam’un adalah Dai Dan Tyo yang membawahi seluruh Dai Dan I PETA wilayah Serang.
Selama menjadi Dai Dan Tyo KH. Syam’un sering mengajak anak buahnya untuk memberontak dan mengambil alih kekuasaan Jepang. Keterlibatan KH. Syam’un dalam dunia militer mengantarkannya menjadi pimpinan Brigade I Tirtayasa Badan Keamanan Rakyat (BKR) yang berubah menjadi Tentara Keamanan Rakyat (TKR), yang kemudian berganti menjadi TNI Divisi Siliwangi.
Karier KH. Syam’un diketentaraan terbilang gemilang hingga diangkat menjadi Bupati Serang periode 1945—1949. Pada awal Kemerdekaan, KH.Syam'un berhasil meredam gejolak sosial di Banten, peristiwa itu terkenal dengan peristiwa Dewan Rakyat pimpinan ce Mamat.
Pada Tahun 1948 meletus Agresi Militer Belanda II yang mengharuskan KH. Syam’un bergerilya dari Gunung Karang Kab. Pandeglang hingga kampung Kamasan Kecamatan Cinangka Kab. Serang. Daerah ini menjadi tempat tinggal salah satu gurunya KH. Jasim.
3. Buatkan Gambar dan Infografis tentang
Akhir Hayat dan Penghargaan
Syam'un
Gugur dalam Perjuangan :
Agresi Militer Belanda pertama pada 21 Juli 1947 terjadi, KH Syam’un saat itu menjabat sebagai Bupati di Serang. Tentara Belanda berhasil memblokade wilayah Banten sehingga pasokan kebutuhan pokok dan uang Republik berkurang. KH Syam’un menyumbangkan mesin cetaknya untuk memproduksi uang khusus yang disetujui oleh pemerintah Indonesia.
Agresi Militer Belanda kedua pada Desember 1948 turut menyasar kota Serang. Tentara Belanda berhasil memasuki kota dan menangkap beberapa pejabat. Tetapi KH Syam’un lolos dari sergapan tentara Belanda. Dia berpindah-pindah tempat untuk memimpin perlawanan terhadap tentara Belanda. Di banyak tempat dia singgah, dia bertemu dengan gerilyawan Republik dan memberi mereka semangat.
KH Syam’un wafat di Gunung Cacaban Anyer pada 2 Maret 1949. Ia turut dalam pasukan yang berjuang di Hutan Cacaban. Atas peran dan jasanya kepada bangsa dan negara, KH Syam’un ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional oleh Presiden Jokowi pada 8 November 2018.
Wafat
Brigjen KH. Syam’un meninggal pada tanggal 2 Maret 1949 sekitar pukul 4:45 subuh. Ia wafat di Desa Kamasan Anyer. Sebelumnya, ia mengalami sakit selama 4 hari sejak tanggal 27 Februari 1949. Menjelang wafatnya, ia ditemani oleh istrinya. Pada saat meninggal, pangkat militer KH Syam'un adalah Kolonel, kerena jasa jasanya, kemudian mendapat kenaikan pangkat anumerta menjadi Brigadir Jenderal Anumerta.
Penghargaan :
Pahlawan Nasional
Pada tanggal 8 November 2018, Pemerintah Republik Indonesia melalui Presiden Ir. Joko Widodo menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional dengan diterbitkannya Keppres No 123/TK/Tahun 2018, tentang Penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional.
[23/7 02.13] rudysugengp@gmail.com: 1. Buatkan Gambar dan Infografis tentang
Biodata dan Latar Belakang
Ruhana Kudus
Informasi Pribadi
Nama asli :
Siti Roehana
Lahir :
20 Desember 1884
Koto Gadang, Agam, Sumatera Barat, Hindia Belanda
Meninggal :
16 Agustus 1972 (umur 87)
Jakarta, Indonesia
Pekerjaan :
Pengajar, wartawan
Pasangan :
Abdoel Koeddoes
Orang tua :
Mohamad Rasjad Maharadja Soetan (ayah)
Kiam (ibu)
Kerabat :
Soetan Noeralamsjah
Soetan Sjahrir (adik tiri)
Agoes Salim (sepupu)
Chairil Anwar (kemenakan)
Latar belakang :
Ia dilahirkan sebagai Siti Ruhana pada tanggal 20 Desember 1884 di desa (nagari) Koto Gadang, Kabupaten Agam, di pedalaman Sumatera Barat, Hindia Belanda. Ayahnya Mohammad Rasjad Maharadja Soetan adalah kepala jaksa Karesidenan Jambi dan kemudian Medan. Ruhana adalah saudara tiri Sutan Sjahrir, dan sepupu Agus Salim, baik intelektual dan politikus penting dalam gerakan kemerdekaan Indonesia. Dia juga bibi (mak tuo) penyair Indonesia Chairil Anwar. Ruhana cerdas meski tidak mengenyam pendidikan formal. Dia sering belajar dengan ayahnya, yang mengajarinya membaca dan studi bahasa. Ketika ayahnya ditugaskan di Alahan Panjang, Sumatera Barat, dia meminta tetangganya (termasuk istri jaksa lain) untuk mengajarinya membaca dan menulis dalam aksara Jawi dan Latin, dan keterampilan rumah tangga seperti membuat renda.
Setelah kematian ibunya pada tahun 1897, ia kembali ke Koto Gadang dan menjadi semakin tertarik untuk mengajar gadis-gadis di sana untuk belajar kerajinan tangan dan membaca Al-Qur'an, meskipun ia sendiri masih anak-anak.
Roehana adalah seorang perempuan yang mempunyai komitmen yang kuat pada pendidikan terutama untuk kaum perempuan. Pada zamannya Roehana termasuk salah satu dari segelintir perempuan yang percaya bahwa diskriminasi terhadap perempuan, termasuk kesempatan untuk mendapat pendidikan adalah tindakan semena-semena dan harus dilawan. Dengan kecerdasan, keberanian, pengorbanan serta perjuangannya Roehana melawan ketidakadilan untuk perubahan nasib kaum perempuan.
Walaupun Roehana tidak bisa mendapat pendidikan secara formal namun ia rajin belajar dengan ayahnya, seorang pegawai pemerintah Belanda yang selalu membawakan Roehana bahan bacaan dari kantor. Keinginan dan semangat belajarnya yang tinggi membuat Roehana cepat menguasai materi yang diajarkan ayahnya. Dalam Umur yang masih sangat muda Roehana sudah bisa menulis dan membaca, dan berbahasa Belanda. Selain itu ia juga belajar abjad Arab, Latin, dan Arab-Melayu. Saat ayahnya ditugaskan ke Alahan Panjang, Roehana bertetangga dengan pejabat Belanda atasan ayahnya. Dari istri pejabat Belanda itu Roehana belajar menyulam, menjahit, merenda, dan merajut yang merupakan keahlian perempuan Belanda. Di sini ia juga banyak membaca majalah terbitan Belanda yang memuat berbagai berita politik, gaya hidup, dan pendidikan di Eropa yang sangat digemari Roehana.
2. Buatkan Gambar dan Infografis tentang
Pendidikan dan wirausaha
Ruhana Kudus
Upaya awal Ruhana pada bentuk pendidikan yang lebih terorganisasi datang pada 1905 ketika ia mendirikan sekolah artisanal di Koto Gadang.
Berbekal semangat dan pengetahuan yang dimilikinya ia kembali ke kampung. Pada 1908, pada usia 24 tahun, Ruhana menikah dengan Abdoel Koeddoes, seorang notaris, dan dikenal sebagai Roehana Koeddoes. Abdoel Koeddoes mendukung upaya istrinya dalam mendidik perempuan.
Pada Februari 1911, Ruhana memutuskan untuk mendirikan suatu perkumpulan pendidikan perempuan yang lebih terorganisasi, bernama Kerajinan Amai Setia, dengan sekolah yang secara khusus bertujuan untuk mengajarkan keterampilan dan keterampilan di luar tugas rumah tangga biasa, serta membaca tulisan Jawi dan Latin serta mengelola rumah tangga.
Selama ini, ia menghadapi tentangan dari berbagai sumber yang menentang perubahan dan kemajuan perempuan. Dengan dukungan suaminya, Ruhana bertahan dan akhirnya membujuk orang untuk berpihak padanya, akhirnya merekrut sekitar enam puluh siswa.
Sekolah ini mendapat pengakuan resmi dari pemerintah Hindia Belanda pada 1915, dan menjadi pusat perajin untuk bekerja sama dengan pemerintah Belanda dalam penjualan karya mereka di kota-kota besar dan luar negeri. Itu adalah satu-satunya produsen kerajinan yang memenuhi standar pembelian internasional. Sekolah ini terletak di Nagari Koto Gadang, Kecamatan IV Koto, Kabupaten Agam dan bangunannya masih berdiri sampai sekarang.
Sekolah Kerajinan Amai Setia berbagai keterampilan untuk perempuan, keterampilan mengelola keuangan, tulis-baca, budi pekerti, pendidikan agama dan Bahasa Belanda. Banyak sekali rintangan yang dihadapi Roehana dalam mewujudkan cita-citanya. Jatuh bangun memperjuangkan nasib kaum perempuan penuh dengan benturan sosial menghadapi pemuka adat dan kebiasaan masyarakat Koto Gadang, bahkan fitnahan yang tak kunjung menderanya seiring dengan keinginannnya untuk memajukan kaum perempuan. Namun gejolak sosial yang dihadapinya justru membuatnya tegar dan semakin yakin dengan apa yang diperjuangkannya.
Selain berkiprah di sekolahnya, Roehana juga menjalin kerja sama dengan pemerintah Belanda karena ia sering memesan peralatan dan kebutuhan jahit-menjahit untuk kepentingan sekolahnya. Di samping itu juga Roehana menjadi perantara untuk memasarkan hasil kerajinan muridnya ke Eropa yang memang memenuhi syarat ekspor. Ini menjadikan sekolah Roehana berbasis industri rumah tangga serta koperasi simpan pinjam dan jual beli yang anggotanya semua perempuan yang pertama di Minangkabau.
Banyak petinggi Belanda yang kagum atas kemampuan dan kiprah Roehana. Selain menghasilkan berbagai kerajinan, Roehana juga menulis puisi dan artikel serta fasih berbahasa Belanda. Tutur katanya setara dengan orang yang berpendidikan tinggi, wawasannya juga luas. Kiprah Roehana menjadi topik pembicaraan di Belanda. Berita perjuangannya ditulis di surat kabar terkemuka dan disebut sebagai perintis pendidikan perempuan pertama di Sumatera Barat.
Dia terus bekerja di bidang pendidikan bahkan saat menjadi jurnalis. Pada 1916 ia diangkat sebagai guru di sebuah sekolah untuk orang Indonesia di Payakumbuh, Sumatera Barat.
3. Buatkan Gambar dan Infografis tentang
Mendirikan surat kabar
Ruhana Kudus
Terampil menulis, Roehana Koeddoes tidak berhenti mengajar kerajinan perempuan. Dia percaya dalam mendidik wanita secara keseluruhan. Tahun berikutnya, ia mengirim surat kepada Soetan Maharadja, pemimpin redaksi Oetoesan Melajoe (EBI: Utusan Melayu), mengusulkan untuk memulai sebuah surat kabar berorientasi perempuan.
Maharadja telah mendengar tentang kegiatan pendidikan Ruhana, dan pada tanggal 10 Juli 1912, terbitan pertama Soenting Melajoe (EBI: Sunting Melayu), sebuah surat kabar berbahasa Melayu dengan pembaca yang dituju, diluncurkan. Nama surat kabar tersebut mengacu pada Sunting, hiasan kepala tradisional yang dikenakan oleh perempuan, tetapi juga merupakan plesetan dari kata lain yang berarti menyunting atau mengoreksi. Ruhana menjadi pemimpin redaksi, dibantu oleh putri Soetan Maharadja, Zoebaidah Ratna Djoewita.
Ia menyatakan bahwa surat kabar tersebut bertujuan untuk meningkatkan tingkat pendidikan perempuan Indonesia, terutama karena sedikit dari mereka yang bisa membaca bahasa Belanda dan materi pendidikan modern yang tersedia dalam bahasa Melayu (Indonesia) relatif sedikit. Surat kabar itu membahas isu-isu sosial hari itu, termasuk tradisionalisme, poligami, perceraian, dan pendidikan anak perempuan. Sebagian besar penyumbang adalah istri pejabat pemerintah atau bangsawan. Akhirnya penerbitan surat kabar yang berkelanjutan mengilhami penciptaan lebih banyak masyarakat pendidikan seperti yang telah diciptakan Ruhana pada tahun 1911.
Keinginan untuk berbagi cerita tentang perjuangan memajukan pendidikan kaum perempuan di kampungnya ditunjang kebiasaannya menulis berujung dengan diterbitkannya surat kabar perempuan yang diberi nama Soenting Melajoe pada tanggal 10 Juli 1912. Soenting Melajoe merupakan surat kabar yang terbit tiga kali dalam seminggu. Soenting Melajoe tercatat dalam sejarah sebagai surat kabar perempuan pertama di Indonesia yang pemimpin redaksi, redaktur dan penulisnya adalah perempuan.
Pada tahun 1913 ia menemani keluarga Westenenk ke Belanda untuk sementara waktu guna meningkatkan pendidikannya. Setelah kembali ke Hindia, ia terus menyunting Soenting Melajoe.
Kisah sukses Roehana di sekolah kerajinan Amai Setia tak berlangsung lama pada tanggal 22 Oktober 1916 seorang muridnya yang telah didiknya hingga pintar menjatuhkannya dari jabatan Direktris dan Peningmeester karena tuduhan penyelewengan penggunaan keuangan. Roehana harus menghadapi beberapa kali persidangan yang diadakan di Bukittinggi didampingi suaminya, seorang yang mengerti hukum dan dukungan seluruh keluarga. Setelah beberapa kali persidangan tuduhan pada Roehana tidak terbukti, jabatan di sekolah Amai Setia kembali diserahkan padanya, tetapi dengan halus ditolaknya karena dia berniat pindah ke Bukittinggi.
Di Bukittinggi Roehana mendirikan sekolah dengan nama “Roehana School”. Roehana mengelola sekolahnya sendiri tanpa minta bantuan siapa pun untuk menghindari masalah yang tak diinginkan terulang kembali. Roehana School sangat terkenal muridnya banyak, tidak hanya dari Bukittinggi tetapi juga dari daerah lain. Hal ini disebabkan Roehana sudah cukup populer dengan hasil karyanya yang bermutu dan juga jabatannya sebagai Pemimpin Redaksi Sunting Melayu membuat eksistensinya tidak diragukan.
Tak puas dengan ilmunya, di Bukittinggi Roehana memperkaya keterampilannya dengan belajar membordir pada orang Cina dengan menggunakan mesin jahit Singer. Karena jiwa bisnisnya juga kuat, selain belajar membordir Roehana juga menjadi agen mesin jahit untuk murid-murid di sekolahnya sendiri. Roehana adalah perempuan pertama di Bukittinggi yang menjadi agen mesin jahit Singer yang sebelumnya hanya dikuasai orang Tionghoa.
Dengan kepandaian dan kepopulerannya Roehana mendapat tawaran mengajar di sekolah Dharma Putra. Di sekolah ini muridnya tidak hanya perempuan tetapi ada juga laki-laki. Roehana diberi kepercayaan mengisi pelajaran keterampilan menyulam dan merenda. Semua guru di sini adalah lulusan sekolah guru kecuali Roehana yang tidak pernah menempuh pendidikan formal. Namun Roehana tidak hanya pintar mengajar menjahit dan menyulam melainkan juga mengajar mata pelajaran agama, budi pekerti, Bahasa Belanda, politik, sastra, dan teknik menulis jurnalistik.
Roehana menghabiskan waktu sepanjang hidupnya dengan belajar dan mengajar. Mengubah paradigma dan pandangan masyarakat Koto Gadang terhadap pendidikan untuk kaum perempuan yang menuding perempuan tidak perlu menandingi laki-laki dengan bersekolah segala. Namun dengan bijak Roehana menjelaskan “Perputaran zaman tidak akan pernah membuat perempuan menyamai laki-laki. Perempuan tetaplah perempuan dengan segala kemampuan dan kewajibanya. Yang harus berubah adalah perempuan harus mendapat pendidikan dan perlakukan yang lebih baik. Perempuan harus sehat jasmani dan rohani, berakhlak dan berbudi pekerti luhur, taat beribadah yang kesemuanya hanya akan terpenuhi dengan mempunyai ilmu pengetahuan”. Emansipasi yang ditawarkan dan dilakukan Roehana tidak menuntut persamaan hak perempuan dengan laki-laki tetapi lebih kepada pengukuhan fungsi alamiah perempuan itu sendiri secara kodratnya. Untuk dapat berfungsi sebagai perempuan sejati sebagaimana mestinya juga butuh ilmu pengetahuan dan keterampilan untuk itulah diperlukannya pendidikan untuk perempuan.
Pada awal tahun 1921 Roehana meninggalkan Soenting Melajoe untuk alasan yang tidak diketahui dan Soetan Maharadja menunjuk putrinya sendiri Retna Tenoen sebagai editor baru.
Namun, Soenting Melajoe tidak bertahan lama setelah itu dan ternyata terbitan terakhirnya pada Januari 1921 bersama dengan surat kabar Soetan Maharadja lainnya, Oetoesan Melajoe.
4. Buatkan Gambar dan Infografis tentang
Pergerakan Melawan Penjajah
Ruhana Kudus
Perputaran zaman tidak akan pernah membuat wanita menyamai laki-laki. Wanita tetaplah wanita dengan segala kemampuan dan kewajibannya. Yang harus berubah adalah wanita harus mendapat pendidikan dan perlakukan yang lebih baik. Wanita harus sehat jasmani dan rohani, berakhlak dan berbudi pekerti luhur, taat beribadah yang kesemuanya hanya akan terpenuhi dengan mempunyai ilmu pengetahuan.
Roehana Koeddoes
Saat Belanda meningkatkan tekanan dan serangannya terhadap kaum pribumi, Roehana bahkan turut membantu pergerakan politik dengan tulisannya yang membakar semangat juang para pemuda. Roehana pun mempelopori berdirinya dapur umum dan badan sosial untuk membantu para gerilyawan. Dia juga mencetuskan ide bernas dalam penyelundupan senjata dari Kotogadang ke Bukittinggi melalui Ngarai Sianok dengan cara menyembunyikannya dalam sayuran dan buah-buahan yang kemudian dibawa ke Payakumbuh dengan kereta api.
Hingga ajalnya menjemput, dia masih terus berjuang. Termasuk ketika merantau ke Lubuk Pakam dan Medan. Di sana dia mengajar dan memimpin surat kabar Perempuan Bergerak. Kembali ke Padang, ia menjadi redaktur surat kabar Radio yang diterbitkan Tionghoa-Melayu di Padang dan surat kabar Cahaya Sumatra.
5. Buatkan Gambar dan Infografis tentang
Akhir Hayat, Penghargaan, dan Peninggalan
Ruhana Kudus
Wafat dan Penghargaan :
Roehana Koeddoes meninggal di Jakarta pada tanggal 16 Agustus 1972, sehari sebelum Hari Kemerdekaan Indonesia ke-27. Ia dimakamkan di Taman Pemakaman Umum Karet Bivak.
Pada tahun 1974, pemerintah daerah Sumatera Barat memberikan penghargaan kepadanya sebagai Wartawati Pertama.
Ia juga mendapatkan penghargaan sebagai Perintis Pers Indonesia pada tahun 1987 dan Bintang Jasa Utama pada tahun 2007.
Sejak 7 November 2019, pemerintah Indonesia mendeklarasikan Roehana Koeddoes sebagai Pahlawan Nasional Indonesia melalui Keputusan Presiden No. 120/TK/2019 dan diberikan kepada cucunya sebagai ahli waris pada hari berikutnya. Dua tahun kemudian, dia dirayakan di Google Doodle.
Peninggalan :
Namanya dipakai (dengan versi populer) untuk sebuah aula di Kompleks Olahraga Gelanggang Olahraga Haji Agus Salim, sebagai nama jalan di Padang, termasuk merek dagang keripik sanjai yang terletak di jalan yang sama.
Bacaan lanjutan
[23/7 23.35] rudysugengp@gmail.com: 1. Buatkan Gambar dan Infografis tentang
Masa Muda dan Julukan La Karambau
Sultan Himayatuddin Muhammad Saidi (Oputa Yii Ko)
*Berjuluk La Karambau*
Semua Sultan Buton masih satu garis keturunan dengan generasi awal Kerajaan Buton. Nama Buton telah tercatat dalam Kakawin Negarakertagama. “Sebagai salah satu daerah taklukan Majapahit pada 1365,” catat Susanto Zuhdi dan Muslimin A.R Effendy dalam Perang Buton vs Kompeni-Belanda 1752-1776 : mengenang kepahlawanan LaKarambau. Raja pertamanya bernama Wa Khaa-Khaa.
Kedatangan Islam di Buton pada abad ke-15 menandai tonggak sejarah baru Buton. Raja keenam Buton memeluk Islam dan bernama La Kilaponto Muhammad Kaimuddin I. Dia meletakkan Islam sebagai jiwa Kesultanan Buton.
“Islam sebagai dasar falsafah negara. Sistem pemerintahan diatur dalam Undang-Undang Dasar yang bernama Martabat Tujuh serta undang-undang pelaksanaannya yang dinamakan Istiadatul Azali,” ungkap Susanto dan Muslimin.
Selain lini politik dan pemerintahan, Islam juga merasuk ke lingkup sosial dan budaya. “Islam mempunyai pengaruh besar dalam pembentukan watak dan akhlak bagi masyarakat Buton,” terang Susanto Zuhdi, G.A. Ohorella, dan M. Said D. dalam Kerajaan Tradisional Sulawesi Tenggara: Kesultanan Buton.
Setiap anak pembesar Kesultanan pun memperoleh pendidikan akhlak dan budi pekerti berlandas Islam. Pendidiknya langsung para orangtua di lingkungan keraton Buton. Dari luar keraton, anak-anak pembesar Kesultanan menerima pendidikan baca-tulis Alquran, baca-tulis aksara Buri-Wolio, dan seni beladiri. Himayatuddin juga menerima pola pendidikan semacam itu.
Beranjak remaja, fisik Himayatuddin tumbuh lebih cepat dari teman seusianya. “Memiliki postur badan yang tinggi, besar, serta tegap,” terang Susanto dan Muslimin. Orang di sekelilingnya pun menyebutnya sebagai La Karambau atau Kerbau.
2. Buatkan Gambar dan Infografis tentang
Memutus Perjanjian dan Melawan VOC
Sultan Himayatuddin Muhammad Saidi (Oputa Yii Ko)
*Memutus Perjanjian*
Himayatuddin mengemban tugas pemerintahan pertamanya sebagai Lakina Kambowa atau kepala wilayah desa. Tugas ini memungkinkan dia berinteraksi langsung dengan rakyat sekaligus mendengarkan masalah keseharian mereka. Antara lain perdagangan dengan orang-orang VOC (Kongsi Dagang Hindia Timur) dan perilakunya.
Orang Buton dan VOC telah berinteraksi sejak awal abad ke-17. Bahkan hubungan dagang dan politik Kesultanan Buton dan VOC terikat secara resmi oleh perjanjian pada 5 Januari 1613 (Pajanji Awwalina). Perjanjian ini membolehkan VOC menggunakan pelabuhan Baubau, mengendalikan penanaman serta perdagangan rempah, dan memperoleh budak.
Atas penerimaan terhadap VOC, Kesultanan Buton berhak atas bantuan keamanan dari VOC jika sewaktu-waktu Kesultanan Gowa dan Ternate menyerang Buton. Dua Kesultanan ini memiliki ambisi politik dan ekonomi terhadap wilayah perdagangan rempah di perairan timur Hindia.
Ambisi Gowa dan Ternate berhadapan dengan keinginan Kesultanan Buton memperluas wilayahnya. Selain itu, La Elangi, Sultan Buton 1578—1615, berkeinginan menjaga kekuasaan tetap berada pada lingkaran keturunannya.
Tiap kekuatan dagang dan politik di kepulauan timur Hindia berupaya menjalin aliansi strategis dengan pihak lain untuk mengamankan kepentingannya masing-masing. Hubungan mereka tidak selamanya kawan seiring. Pernah pula hubungannya menegang. Berubah sesuai dengan keadaan politik, pertahanan, dan ekonomi masing-masing pihak.
Ada kalanya Kesultanan Buton berkeberatan terhadap perjanjian baru dengan VOC. Ini terjadi setelah VOC berhasil melepaskan Buton dari ancaman Gowa pada 1655.
Sementara Kesultanan Ternate mengurungkan niatnya memperluas pengaruh politik dan ekonominya ke Buton. Ternate justru tetap mengakui kedaulatan Buton dan turut dengan perjanjian baru VOC dengan Buton.
VOC merasa berjasa terhadap Buton. Karena itu, mereka meminta lebih banyak dari Buton. Dalam perjanjian baru pada 25 Juni 1667, VOC menuntut Kesultanan Buton untuk memusnahkan suplai berlebih atas cengkeh dan pala, dua komoditas rempah paling laku. Tujuannya agar harga rempah tetap tinggi. Suplai berlebih akan menyebabkan harga rempah turun dan merugikan VOC.
Kesultanan Buton juga harus mengirim upeti bahan makanan kepada VOC. Kedaulatan mereka pun terancam. Sebab hubungan ekonomi dan politik dengan pihak luar harus seizin VOC dan Kesultanan Ternate.
Melihat kekuatan militer dan ekonomi VOC, Kesultanan Buton terpaksa menerima perjanjian ini. Penerimaan perjanjian ini juga berpunca pada pikiran untuk menjaga stabilitas kehidupan politik, ekonomi, dan keamanan negeri Buton.
Tetapi perjanjian Buton dan VOC mulai goyah pada masa Himayatuddin berkuasa. Sultan ini menerima banyak laporan dari rakyat Buton tentang perilaku congkak orang-orang VOC dalam berdagang. Sikap ini lahir dari porsi istimewa dan besar pedagang VOC di perairan timur.
Himayatuddin menimbang ulang perjanjian Buton dengan VOC. Dia berkesimpulan bahwa perjanjian ini membelenggu Buton dan lebih banyak menguntungkan VOC.
“Himayatuddin telah menyadari betapa peranan dan campur tangan Kompeni Belanda dalam urusan pemerintahan kerajaan, sehingga Kerajaan Buton seperti kehilangan kedaulatannya,” terang Husein A. Chalik dalam Sejarah Perlawanan Terhadap Imperialisme dan Kolonialisme di Daerah Sulawesi Tenggara.
3. Buatkan Gambar dan Infografis tentang
Proses Usulan Pahlawan
Sultan Himayatuddin Muhammad Saidi (Oputa Yii Ko)
Usulan Pahlawan :
Pahlawan Nasional pertama dari Buton. Berani memutus perjanjian dengan VOC.
Himayatuddin Muhammad Saidi, Sultan Buton (1751-1752 dan 1760-1763).
Warga Buton, Sulawesi Tenggara, boleh berbangga. Himayatuddin Muhammad Saidi kini telah resmi menjadi Pahlawan Nasional setelah terbit Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 120/TK/2019 tanggal 7 November 2019. Himayatuddin adalah Sultan ke-20 dalam sejarah Kesultanan Buton. Dia berkuasa selama dua periode: 1751—1752 dan 1760—1763.
Susanto Zuhdi, guru besar sejarah Universitas Indonesia, mengatakan ikhtiar pengusulan Sultan Himayatuddin sebagai Pahlawan Nasional dimulai 14 tahun lalu. “Pada 2005, suatu tim yang dibentuk oleh Pemerintah Kota Baubau (sebuah kota di Pulau Buton) memulai pekerjaannya untuk melakukan riset dan penulisan,” kata Susanto, yang mendalami sejarah Kesultanan Buton sebagai tema disertasinya, kepada Historia.
Anggota tim silih berganti. Susanto menjadi ketua tim pengusulnya pada 2011. Tugasnya menyusun perbaikan naskah akademis karya tim sebelumnya. Tim Susanto merampungkan naskah itu pada 2012 dan mengajukannya ke Kementerian Sosial. Naskah itu lolos seleksi. Penetapan Sultan Himayatuddin sebagai Pahlawan Nasional pun tinggal menunggu giliran.
Naskah karya Susanto mengungkap hayat dan pengabdian Sultan Himayatuddin. Himayatuddin lahir pada awal abad ke-18. Tak ada keterangan pasti tentang waktunya. Tapi silsilah dan hayatnya semasa kecil terjabarkan secara terang. Dia anak La Umati Sultan Liauddin Ismail, Sultan ke-13 Buton.
4. Buatkan Gambar dan Infografis tentang
Akhir Hayat dan Penghargaan
Sultan Himayatuddin Muhammad Saidi (Oputa Yii Ko)
*Bergerilya di Gunung*
Himayatuddin berada dalam dilema. Melawan VOC berarti harus siap dengan segala kemungkinan terburuk. Kekuatan militer VOC cukup besar. Menyerang secara langsung kedudukan mereka akan berakibat buruk. Tetapi tunduk pada perjanjian VOC juga akan menenggelamkan martabat Buton lebih dalam.
Akhirnya Himayatuddin memilih jalan perlawanan. Bentuk perlawanannya berupa pembiaran terhadap kasus perompakan kapal VOC pada 17 September 1750. Yang menarik, kepala perompak adalah seorang bangsa Eropa. Tersebab itu dia berpendapat perompakan adalah urusan internal VOC. Dia menolak tuntutan ganti rugi dari VOC.
Karuan pejabat VOC naik darah. VOC menyebut Himayatuddin tidak taat lagi pada perjanjian sebelumnya dan mengancam akan menggunakan kekuatan militernya untuk menyerang Buton.
Himayatuddin menyongsong ancaman itu dengan mempersiapkan benteng dan pasukannya. Tetapi sebelum pertempuran pecah, Sara (Dewan Penasihat Kesultanan Buton) mempunyai siasat jitu untuk meredam serangan VOC. Mereka meminta Himayatuddin menyingkir sementara waktu sembari menyusun kekuatan perlawanan. Jabatannya diambil-alih oleh iparnya, Sultan Sakiyuddin.
VOC menerima baik suksesi ini. Sultan baru berjanji memberi VOC kompensasi atas kasus perompakan kapalnya. Tetapi Sultan baru pun enggan memenuhi semua permintaan kompensasi dari VOC. Akibatnya VOC pun menyerang Buton. Perang pecah. Orang Buton menyebutnya sebagai Zaman Kaheruna Walanda atau zaman huru-hara Belanda.
Himayatuddin memimpin perlawanan dari sebuah benteng. Tetapi pasukan VOC berhasil mendesak rakyat Buton. Sakiyuddin dan Himayatuddin pun menyingkir ke pedalaman. Perang pun berakhir. VOC mencoba memperbaiki hubungan dengan Buton.
Himayatuddin tetap menolak menjalin hubungan dengan VOC dan memilih bergerilya di hutan dan gunung. Dia sempat kembali ke keraton dan menjadi sultan lagi serentang 1760—1763. Tapi tak banyak keterangan tentang apa yang dilakukannya dalam rentang waktu itu.
Himayatuddin turun takhta kembali pada 1763 dan memulai lagi perjuangan gerilyanya bersama rakyat. Selama gerilya, dia menekankan pentingnya pewarisan lingkungan kepada generasi setelahnya untuk melestarikan hidup bersama.
Himayatuddin wafat pada 1776 di Gunung Siontapina. Atas ikhtiarnya menentang VOC dan melindungi rakyatnya, dia ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional.
Akhir Hayat dan Penghargaan :
Sultan Himayatuddin Muhammad Saidi wafat pada tahun 1776 di puncak Gunung Siontapina setelah puluhan tahun memimpin perang gerilya melawan VOC, dan dianugerahi gelar Pahlawan Nasional Indonesia pada tanggal 7 November 2019 oleh Presiden Joko Widodo.
Gerilya di Hutan:
Setelah melepaskan takhta Kesultanan Buton demi melindungi rakyatnya dari tekanan VOC, Himayatuddin memilih masuk ke dalam hutan bersama pasukannya.
Durasi Perjuangan:
Perang gerilya menentang pemerintah Hindia Belanda di wilayah Kesultanan Buton dilakukannya secara konsisten selama sekitar 21 tahun, yakni sejak tahun 1755.
Makam:
Jenazahnya dimakamkan langsung di puncak Gunung Siontapina. Karena wafat di dalam perasingan hutan saat bergerilya, beliau dianugerahi gelar anumerta Oputa Yi Koo oleh pihak kesultanan, yang berarti "raja yang bergerilya melawan penjajah di dalam hutan".
Ikon Daerah:
Untuk mengenang jasa besar sang sultan bagi masyarakat Sulawesi Tenggara, sebuah Patung Besar Sultan Himayatuddin berbahan perunggu didirikan sebagai ikon sejarah dan wisata baru di Kota Baubau, Pulau Buton.
[24/7 00.21] rudysugengp@gmail.com: 1. Buatkan Gambar dan Infografis tentang
Biodata dan Pendidikan
Sarjito
Ringkasan :
Pada masa perang kemerdekaan, ia ikut serta dalam proses pemindahan Institute Pasteur dari Bandung ke Klaten. Selanjutnya ia menjadi Presiden Universiteit (sekarang disebut rektor) Universitas Gadjah Mada (UGM) yang pertama dari awal berdirinya UGM tahun 1949 sampai 1961, selanjutnya menjadi Rektor ketiga Universitas Islam Indonesia (UII).
Namanya diabadikan sebagai nama sebuah rumah sakit umum pusat rujukan provinsi di Daerah Istimewa Yogyakarta yaitu Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Sardjito.
Pada tanggal 8 November 2019, Sardjito dianugerahi gelar Pahlawan Nasional Indonesia oleh Presiden Joko Widodo dalam sebuah upacara di Istana Negara. Yang menerima penghargaan mewakili keluarga ahli waris adalah Dyani Poedjioetomo, Cucu dari Sardjito.
Informasi pribadi
Lahir :
13 Agustus 1889
Purwodadi, Magetan, Keresidenan Madiun, Hindia Belanda
Meninggal :
5 Mei 1970 (umur 80)
Yogyakarta, Indonesia
Istri :
RAy. Soeko Emi
Anak : 1
Almamater :
STOVIA
Universitas Amsterdam
Pendidikan :
* Sekolah Rakyat di Purwodadi dan Lumajang (1895—1901)
* Sekolah Belanda di Lumajang (1901—1907)
* Sekolah STOVIA di Jakarta (1907—1915)
* Fakultas Kedokteran Universitas Amsterdam (1921—1922)
* Mempelajari penyakit-penyakit iklim panas di Leiden (memperoleh gelar Dokter, 1923).
2. Buatkan Gambar dan Infografis tentang
Pergerakan politik dan Peran Profesional
Sarjito
Pergerakan politik :
Ketua Boedi Oetomo Cabang Jakarta dan anggota Pengurus Pusat (1925)
Ketua Palang Merah Indonesia Klaten, di mana saat Agresi Militer Belanda ia mengatur cara mendapatkan obat-obatan dan uang untuk Pejuang dan Masyarakat umum.
Anggota Haminte Jakarta dan Wakil Wethouder.
Peran Profesional :
Setelah lulus dari STOVIA, Sardjito menjadi dokter di Rumah Sakit Djakarta dan ikut dalam riset mengenai penyakit influenza pada tahun 1918 hingga 1919. Sebelum melanjutkan studi ke Universitas Amsterdam, Ia juga menjadi dokter di Institute Pasteur Djakarta dari tahun 1916 hingga 1920.
Sepulangnya dari Amsterdam dan Leiden, Sardjito diberikan kepercayaan sebagai dokter di Laboratorium Pusat Djakarta (1924-1929), Kepala Laboratorium di Makasar (1930). Ia juga mempunyai kesempatan untuk bekerja di Laboratorium Reichsgesundheitsamt (Kantor Kesehatan Reich) Berlin, Jerman pada tahun 1931.
Pulang dari Jerman, ia diberi tanggung jawab untuk memimpin Laboratorium Semarang (1931-1944) dan menjadi Kepala Institute Pasteur Bandung (1945). Dengan adanya pemindahan Institute Pasteur dari Bandung ke Klaten, akhirnya Sardjito pindah ke Klaten pada tahun 1946. Di mana 3 tahun setelahnya (1949), ia bersama Hamengkubuwana IX, Prof.Dr. Prijono, Prof.Ir. Wreksodiningrat, Prof. Ir. Harjono dan lain-lain sepakat untuk membentuk Universitas Gadjah Mada.
Sardjito terpilih menjadi rektor pertama UGM dari tahun 1949 hingga 1961.
1. Perjuangan Kesehatan dan Vaksin di Masa Perang
* Penyelamat Vaksin Cacar: Saat terjadi peristiwa Bandung Lautan Api, beliau berhasil memindahkan virus cacar dari Institut Pasteur Bandung ke Klaten menggunakan kerbau agar produksi vaksin untuk rakyat tidak terhenti.
* Riset Medis untuk Pejuang: Mengembangkan obat penyakit batu ginjal, penurun kolesterol, serta menciptakan vaksin penyakit menular seperti tipes, kolera, dan disentri.
* Pendiri Palang Merah Indonesia (PMI): Aktif mendirikan pos-pos kesehatan darurat serta organisasi palang merah di daerah Klaten dan Yogyakarta guna merawat prajurit yang terluka di medan laga.
2. Penemu Biskuit Ransum Militer
* Biskuit Sardjito: Menciptakan biskuit formula khusus berkandungan energi tinggi sebagai ransum para tentara.
* Solusi Kelaparan: Biskuit ini menjadi penyelamat logistik yang sangat krusial bagi TNI saat bergerilya dan menghadapi kelangkaan bahan pangan di medan pertempuran.
3. Kepeloporan Pendidikan Nasional
* Rektor Pertama UGM: Menjadi perintis sekaligus Presiden Universiteit (Rektor) pertama Universitas Gadjah Mada (UGM) dari tahun 1949 hingga 1961.
* Pondasi Pancasila: Menjadi tokoh pertama yang meletakkan Pancasila sebagai dasar dan kepribadian perguruan tinggi di Indonesia.
* Rektor Ketiga UII: Memimpin Universitas Islam Indonesia (UII) dan membawa universitas tersebut berkembang pesat.
* Bidan Kampus Daerah: Turut andil dalam membidani lahirnya beberapa universitas besar lain seperti Universitas Airlangga, Universitas Hasanuddin, dan Universitas Andalas.
4. Pergerakan Politik dan Budaya
* Tokoh Budi Utomo: Terlibat sejak masa mahasiswa di STOVIA dan pernah menjabat sebagai Ketua Budi Utomo Cabang Jakarta pada tahun 1925.
* Diplomasi Budaya: Mengintegrasikan nilai sosial-budaya, perdamaian, dan seni rupa ke dalam dunia pendidikan tinggi demi memanusiakan manusia.
3. Buatkan Gambar dan Infografis tentang
Akhir Hayat dan Penghargaan
Sarjito
Akhir Hayat
Wafat pada tanggal 5 Mei 1970 di Rumah Sakit Panti Rapih, Yogyakarta, pada usia 80 tahun.
Ia meninggalkan seorang istri dan seorang putra dengan dua orang cucu. Begitu banyak jasanya terhadap ilmu pengetahuan, kemanusiaan, dan perjuangan kemerdekaan Indonesia. Ia dimakamkan dengan upacara militer dengan diberangkatkan dari Balairung UGM ke Taman Makam Pahlawan Kusuma Negara.
Sebelum wafat, beliau masih memikirkan gagasan besar untuk membangun rumah sakit pendidikan.
Penghargaan dan Gelar :
* Resmi dianugerahi gelar Pahlawan Nasional Indonesia oleh Presiden Joko Widodo pada 8 November 2019.
* Namanya diabadikan menjadi nama rumah sakit besar, yaitu RSUP Dr. Sardjito di Yogyakarta.
* Sebelumnya, beliau juga telah menerima berbagai tanda jasa dari pemerintah pada tahun 1958 atas sumbangsihnya di bidang kesehatan dan pendidikan.
[24/7 09.44] rudysugengp@gmail.com: 1. Buatkan Gambar dan Infografis tentang
Kehidupan awal, pendidikan, dan keluarga
Abdul Kahar Muzakkir
Kehidupan awal dan pendidikan :
Abdul Kahar Mudzakkir lahir pada 16 April 1907 di Kotagede. Ayahnya, Kyai Haji Mudzakkir, adalah seorang ulama di Masjid Gedhe Kauman Keraton Yogyakarta. Ibunya, Khotijah, adalah putri seorang pedagang pakaian yang berasal dari Kotagede. Paman dari pihak ayah, Kyai Haji Muhammad Munawwir bin Abdullah Rosyad adalah tokoh pendiri Pondok Pesantren Al-Munawwir, Krapyak, Yogyakarta. Nenek moyang dari pihak ayah adalah Kyai Hasan Besari, salah satu pengikut Pangeran Diponegoro. Nama masa kecil Abdul Kahar Mudzakkir adalah Dalhar.
Mudzakkir menempuh pendidikan sekolah dasar di SD Muhammadiyah Selokraman di Kotagede, Yogyakarta, kemudian melanjutkan studi Islam di beberapa lembaga pendidikan, di antaranya Madrasah Mamba'ul Ulum dan Pondok Jamsaren di Surakarta, Pesantren Krapyak di Yogyakarta dan Pesantren Termas di Pacitan.
Pada 1924, Mudzakkir menunaikan ibadah haji ke Mekah bersama kakak laki-lakinya. Ia berencana melanjutkan studi agamanya di sana, tetapi karena adanya peristiwa konflik bersenjata di wilayah tersebut, meskipun ia telah memiliki kesempatan untuk belajar di bawah bimbingan Muhammady Al Baqir, ia terpaksa pindah ke Mesir. Pada 1925, Mudzakkir mendaftar ke Universitas Al-Azhar, tetapi hanya setengah tahun dalam menjalani studinya, karena ia merasa bahwa kurikulumnya tidak sesuai bagi dirinya. Kemudian ia mendaftar ke Al-Mu'alimin dan menjalani pendidikan di sana sejak 1926 hingga 1930. Mudzakkir lalu melanjutkan pendidikan pascasarjana bidang pedagogi, bahasa Arab dan bahasa Ibrani di Darul Ulum (kelak menjadi bagian dari salah satu fakultas di Universitas Kairo tahun 1946).
Pada 1928, Mudzakkir tercatat merupakan anggota aktif perkumpulan mahasiswa Indonesia di Kairo. Kemudian bersama teman-temannya, ia mendirikan organisasi Perhimpunan Indonesia Raya di Kairo pada 1933 dan ia menjadi ketua pertamanya. Organisasi ini bekerja sama dengan Perhimpunan Indonesia di Belanda. Ia juga merupakan anggota Jamiyah Chairiyah Jawiyah, sebuah organisasi perkumpulan pemuda Indonesia dan Melayu.
Mudzakkir juga sebagai anggota pendiri organisasi Jamiyatul Syubban Muslimin dan berkontribusi dalam publikasi yang disebut Seruan Azhar.
Selama berada di Mesir, Mudzakkir aktif menulis artikel ke surat kabar Al-Ahram, Al-Balagh, Al-Fatayat dan Al-Hayat, dengan tujuan untuk menginformasikan para pembaca di Timur Tengah, tentang gerakan kemerdekaan Indonesia. Pada 1936, Muhammad Ali Al-Tahir meminta Mudzakkir untuk menjadi kontributor bagi surat kabarnya Al-Shura, karena melihat karyanya dalam bidang jurnalistik.
Mudzakkir bersama temannya mendirikan Indonesia Raya, sebuah agen korespondensi untuk memasok berita ke surat kabar-surat kabar di Timur Tengah dan dalam negeri. Atas permintaan Mufti Palestina Amin al-Husayni, ia ditunjuk sebagai perwakilan Hindia Belanda di Kongres Islam Dunia di Palestina pada 1931. Selain sebagai anggota termuda yang baru berusia 24 tahun, Mudzakkir juga terpilih sebagai sekretaris pendamping Mufti Palestina. Kesempatan tersebut dimanfaatkan oleh Mudzakkir untuk meminta dukungan kongres bagi perjuangan Indonesia menuju kemerdekaan.
Mudzakkir menikah dengan Bunayah dan dikaruniai tujuh putra dan putri.
2. Buatkan Gambar dan Infografis tentang
Kembali ke Indonesia
Abdul Kahar Muzakkir
Kembali ke Indonesia :
Setelah menamatkan studinya pada 1936, Mudzakkir kembali ke kampung halamannya di Yogyakarta pada 1937. Kepulangannya ke tanah air, diberitakan oleh surat kabar kolonial Belanda terbitan 21 Juni 1937. Menurut sejarawan Amini, hal ini tidaklah biasa, karena pada waktu itu, Mudzakkir telah dianggap sebagai tokoh penting.
Organisasi dan pendidikan Islam :
Pada 1938, Mudzakkir aktif dalam organisasi Pemuda Muhammadiyah dan menjadi direktur Madrasah Mualimin dan anggota majelis Pembina Kesejahteraan Umat Muhammadiyah. Ia juga menjadi anggota organisasi Majelis Islam A'la Indonesia (MIAI) dan mewakili MIAI dalam acara Pekan Raya Islam di Osaka dan Tokyo pada November 1939.
Pada 1943, ia diangkat menjadi anggota panitia pendiri Sekolah Tinggi Islam (STI) di Jakarta atas inisiatif Masyumi. Kemudian, pada 8 Juli 1945, perguruan tinggi tersebut resmi didirikan dengan Mudzakkir sebagai rektor pertamanya. Pada April 1946, ketika Mudzakkir pindah ke Yogyakarta karena agresi militer Belanda, ia masih menjabat sebagai rektor, pun ketika status perguruan tinggi tersebut ditingkatkan statusnya menjadi universitas dan resmi bernama Universitas Islam Indonesia (UII) pada 1948. Kelak, ia digantikan oleh Kasmat Bahoewinangoen, rekannya dari PII dan MIAI pada 1960.
Politik :
Mudzakkir pernah bergabung menjadi anggota Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII), tetapi karena perbedaan ideologi, partai tersebut pecah menjadi beberapa organisasi tahun 1938, lalu ia bergabung ke Partai Islam Indonesia (PII) dan ditunjuk sebagai unsur pimpinan pusat PII pada 1940. Namun, PII akhirnya dibubarkan selama masa pendudukan Jepang.
Setelah kemerdekaan Indonesia, Mudzakkir ditunjuk menjadi ketua pimpinan cabang Masyumi Yogyakarta pada 1950 dan masih menjabat sebagai ketua hingga Pemilihan umum legislatif Indonesia 1955. Setelah pemilu, pada 1956, Mudzakkir menjadi anggota Majelis Konstituante, hingga akhirnya majelis tersebut dibubarkan oleh Soekarno melalui dekrit tahun 1959.
Prakemerdekaan :
Di bawah pemerintah Jepang, Mudzakkir bekerja di kantor Urusan Ekonomi Kesultanan Yogyakarta hingga 1943. Kemudian ia dipilih oleh Badan Intelijen Jepang (Beppan), sebagai komentator berita internasional berbahasa Arab dan Inggris di Jakarta. Mudzakkir juga menjabat sebagai pimpinan di Kantor Urusan Agama (Gunsheikanbu Shumubu Zhico), hingga menjelang berakhirnya pemerintahan Jepang, Mudzakkir duduk dalam Lembaga Pertimbangan Pusat (Chuo Sangi-In).
Menjelang kemerdekaan Indonesia, Mudzakkir aktif sebagai anggota Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan (BPUPKI) hingga ditunjuk menjadi anggota Panitia Sembilan yang kelak menghasilkan Piagam Jakarta.
3. Buatkan Gambar dan Infografis tentang
Gagasan dan pandangan
Abdul Kahar Muzakkir
Gagasan dan pandangan
Dalam upayanya memajukan dunia pendidikan, Mudzakkir pernah mengemukakan gagasan untuk mendirikan institusi pendidikan berupa Universitas Islam Asia Tenggara, sebagaimana yang ia kemukakan pada 9 November 1973. Pada 1958, Mudzakkir juga memelopori pendirian Akademi Tabligh Muhammadiyah Yogyakarta yang berada dalam pengawasan langsung PP Muhammadiyah Majelis Tabligh dan ia terpilih sebagai dekannya.
Sejarawan Amini berpendapat mengenai tulisan-tulisan Mudzakkir, bahwa "Bagi seorang Abdul Kahar Mudzakkir, memahami islam bukan hanya tentang iman dan ibadah, tetapi tentang bagaimana memahaminya sebagai keseluruhan makna kehidupan". Beberapa ulama mengklasifikasikan pemikirannya tentang nasionalisme Mudzakkir sebagai "nasionalisme religius".
4. Buatkan Gambar dan Infografis tentang
Akhir hayat dan Penghargaan
Abdul Kahar Muzakkir
Akhir hayat
Sepanjang kariernya, Mudzakkir pernah menjabat sebagai dekan Fakutas Hukum UII, anggota pimpinan pusat Muhammadiyah dan anggota Dewan Da'wah Islamiyah Indonesia.
Akhir Hayat Abdul Kahar Muzakkir
Waktu Wafat:
Beliau mengembuskan napas terakhirnya pada tanggal 2 Desember 1973, karena serangan jantung.
Tempat Wafat:
Tokoh bangsa ini meninggal dunia di kota kelahirannya, Yogyakarta.Kondisi dan Reputasi: Hingga akhir hayatnya, beliau dikenal sebagai pribadi yang sangat sederhana, ulet, penuh komitmen, serta dihormati luas oleh masyarakat.
Warisan Pendidikan:
Sebelum wafat, dedikasi terbesarnya dicurahkan untuk dunia pendidikan, termasuk memimpin Sekolah Tinggi Islam (STI) yang kini menjadi Universitas Islam Indonesia (UII) sebagai Rektor Magnificus pertama.
Penghargaan sebagai Pahlawan Nasional
Tahun Penganugerahan:
Gelar Pahlawan Nasional resmi diberikan pada tanggal 8 November 2019.
Pejabat Pemberi:
Penghargaan tertinggi ini dianugerahkan langsung oleh Presiden Joko Widodo di Istana Negara, berdasarkan Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 120/TK/Tahun 2019 yang ditetapkan pada 7 November 2019.
Dasar Pertimbangan:
Pemerintah memberikan gelar tersebut atas jasa besar beliau sebagai anggota BPUPKI dan Panitia Sembilan yang ikut merumuskan dasar negara dan Piagam Jakarta.
Representasi Organisasi:
Penganugerahan ini melengkapi deretan tokoh pergerakan dari Muhammadiyah yang diangkat menjadi pahlawan nasional atas pengorbanan jiwa dan raganya bagi integrasi bangsa.
(Catatan:
Jangan keliru dengan nama "Abdul Kahar Muzakkar", tokoh militer asal Sulawesi Selatan yang tewas dalam operasi penumpasan pemberontakan DI/TII pada tahun 1965).
[24/7 10.39] rudysugengp@gmail.com: 1. Buatkan Gambar dan Infografis tentang
Biodata, Keluarga, dan Kehidupan Awal
A.A Maramis
Informasi Pribadi
Lahir :
20 Juni 1897
Manado, Hindia Belanda
Meninggal :
31 Juli 1977 (umur 80)
Jakarta, Indonesia
Partai politik :
PNI
Istri :
Elizabeth Marie Diena Veldhoedt
Orang tua :
Andries Alexander Maramis (ayah)
Charlotte Ticoalu (ibu)
Kerabat :
Maria Walanda Maramis (tante)
Almamater :
Universitas Leiden
Keluarga :
Maramis menikah dengan Elizabeth Marie Diena Veldhoedt. Ayah Elizabeth adalah orang Belanda sedangkan ibunya berasal dari Bali. Perkawinan Maramis dan Veldhoedt tidak menghasilkan anak, tetapi Veldhoedt memiliki seorang putra dari pernikahan sebelumnya. Anak itu diterima dengan baik oleh Maramis bahkan ia diberi nama Lexy Maramis.
Kehidupan awal :
Alexander Andries Maramis lahir di Manado, Sulawesi Utara pada tanggal 20 Juni 1897. Ayahnya bernama Andries Alexander Maramis (nama pertama dan tengah dibalik) dan ibunya bernama Charlotte Ticoalu. Tantenya adalah Pahlawan Nasional Indonesia Maria Walanda Maramis. Alex Maramis belajar di sekolah dasar bahasa Belanda (Europeesche Lagere School, ELS) di Manado. Dia kemudian masuk sekolah menengah Belanda (Hogere burgerschool, HBS) di Batavia (sekarang Jakarta) di mana dia bertemu dan berteman dengan Arnold Mononutu yang juga dari Minahasa dan Achmad Soebardjo.
Pada tahun 1919, Maramis berangkat ke Belanda dan belajar hukum di Universitas Leiden. Selama di Leiden, Maramis terlibat dalam organisasi mahasiswa Perhimpunan Indonesia (Indische Vereeniging). Pada tahun 1924, ia terpilih sebagai sekretaris perhimpunan tersebut. Maramis lulus dengan gelar "Meester in de Rechten" (Mr.) pada tahun 1924. Ia kemudian kembali ke Indonesia dan memulai kariernya sebagai pengacara di Pengadilan Negeri di Semarang pada tahun 1925. Setahun kemudian ia pindah ke Pengadilan Negeri di Palembang.
2. Buatkan Gambar dan Infografis tentang
Perjuangan dan Karier
A.A Maramis
Persiapan kemerdekaan Indonesia :
Maramis diangkat sebagai anggota Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan (BPUPK) yang dibentuk pada tanggal 1 Maret 1945. Di badan ini, Maramis termasuk dalam Panitia Sembilan. Panitia ini ditugaskan untuk merumuskan dasar negara dengan berusaha menghimpun nilai-nilai utama dari prinsip ideologis Pancasila yang digariskan oleh Soekarno dalam pidatonya pada tanggal 1 Juni 1945. Rumusan ini dikenal dengan nama Piagam Jakarta. Pada tanggal 11 Juli 1945 dalam salah satu rapat pleno BPUPKI, Maramis ditunjuk sebagai anggota Panitia Perancang Undang-Undang Dasar yang ditugaskan untuk membuat perubahan-perubahan tertentu sebelum disetujui oleh semua anggota BPUPKI. Pada tahun 1976 bersama Hatta, A.G. Pringgodigdo, Sunario Sastrowardoyo, dan Soebardjo, Maramis termasuk dalam "Panitia Lima" yang ditugaskan Presiden Suharto untuk mendokumentasikan perumusan Pancasila.
Menteri Keuangan :
Maramis diangkat sebagai Menteri Keuangan dalam kabinet Indonesia pertama pada tanggal 26 September 1945. Ia menggantikan Samsi Sastrawidagda yang pada awalnya diberi jabatan tersebut pada waktu kabinet dibentuk pada tanggal 2 September 1945. Sastrawidagda mengundurkan diri setelah hanya menjabat selama dua minggu karena sakit. Sastrawidagda adalah orang pertama yang ditunjuk sebagai Menteri Keuangan Indonesia, tetapi karena waktunya yang sangat singkat, Maramis dapat dianggap, secara de facto, sebagai Menteri Keuangan Indonesia pertama.
Sebagai Menteri Keuangan, Maramis berperan penting dalam pengembangan dan pencetakan uang kertas Indonesia pertama atau Oeang Republik Indonesia (ORI). Dibutuhkan waktu satu tahun sebelum uang kertas ini bisa dikeluarkan secara resmi pada tanggal 30 Oktober 1946. Nota-nota ini menggantikan uang kertas Jepang yang diedarkan oleh pemerintah Hindia Belanda (NICA). Uang dikeluarkan untuk denominasi 1, 5, dan 10 sen, dengan ditambah ½, 1, 5, 10, dan 100 rupiah. Tanda tangan Maramis sebagai Menteri Keuangan terdapat dalam cetakan uang-uang kertas ini.
Maramis menjabat sebagai Menteri Keuangan beberapa kali lagi, secara berurutan dalam Kabinet Amir Sjarifuddin I pada tanggal 3 Juli 1947, Kabinet Amir Sjarifuddin II pada tanggal 12 November 1947, dan Kabinet Hatta I pada tanggal 29 Januari 1948. Pada tanggal 19 Desember 1948, Belanda memulai Agresi Militer Belanda II pada saat pemerintahan Hatta. Soekarno, Hatta, dan pejabat pemerintahan lainnya yang berada di Yogyakarta ditangkap dan diasingkan ke Pulau Bangka. Maramis pada saat itu sedang berada di New Delhi, India. Dia menerima kawat dari Hatta sebelum Hatta ditangkap dengan instruksi untuk membentuk pemerintahan darurat di pengasingan di India seandainya Sjafruddin Prawiranegara tidak dapat membentuk pemerintahan darurat di Sumatra. Prawiranegara mampu membentuk Pemerintah Darurat Republik Indonesia dan Kabinet Darurat di mana Maramis diangkat sebagai Menteri Luar Negeri. Setelah Soekarno dan Hatta dibebaskan, Prawiranegara mengembalikan pemerintahan kepada Hatta pada tanggal 13 Juli 1949 dan Maramis kembali menjabat sebagai Menteri Keuangan.
Duta Besar :
antara tahun 1950 dan 1960, Maramis pernah mewakili Indonesia sebagai Duta Besar untuk empat negara: Filipina, Finlandia, Jerman Barat, dan Uni Soviet. Sebelumnya pada tanggal 1 Agustus 1949, ia diangkat sebagai Duta Istimewa yang bertanggung jawab untuk mengawasi perwakilan-perwakilan Indonesia di luar negeri. Pada saat itu, perwakilan Indonesia terdapat di Bangkok, Canberra, Kabul, Kairo, Karachi, London, Manila, New Delhi, Penang, Rangoon, Singapura, Washington, D.C., dan di kantor Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Lake Success di Amerika Serikat. Karena Maramis dalam tugas pengawasannya terus berada di luar negeri, ia diikutsertakan dalam delegasi Republik Indonesia untuk Konferensi Meja Bundar sebagai penasehat.
Pada tanggal 25 Januari 1950, Maramis diangkat sebagai Duta Besar Indonesia untuk Filipina terhitung mulai tanggal 1 Februari 1950. Maramis menjabat sebagai duta besar Indonesia di Manila selama tiga tahun. Pada tanggal 10 April 1953, Maramis diangkat sebagai Duta Besar Indonesia untuk Jerman Barat terhitung mulai tanggal 1 Mei 1953. Pada awal tahun 1956, Maramis kembali ke Jakarta dan menjabat sebagai Kepala Direktorat Asia/Pasifik di Kementerian Luar Negeri. Jabatan ini hanya diembannya selama beberapa bulan, karena ia diberi tugas baru sebagai Duta Besar Indonesia untuk Uni Soviet terhitung tanggal 1 Oktober 1956. Dua tahun kemudian, Maramis mendapat tugas perangkapan sebagai Duta Besar Indonesia untuk Finlandia dengan kedudukan tetap di Moskow. Setelah menyelesaikan tugasnya sebagai duta besar untuk Uni Soviet dan Finlandia, Maramis dan keluarganya menetap di Swiss. Dia menetap di Lugano sebelum kembali ke Indonesia pada 1976.
3. Buatkan Gambar dan Infografis tentang
Akhir Hayat dan Penghargaan
A.A Maramis
Wafat :
Setelah hampir 20 tahun tinggal di luar Indonesia, Maramis menyatakan keinginannya untuk kembali ke Indonesia. Pemerintah Indonesia mengatur agar ia bisa kembali dan pada tanggal 27 Juni 1976 ia tiba di Jakarta.
Di antara para penyambut di bandara adalah teman-teman lamanya Soebardjo dan Mononutu, dan juga Rahmi Hatta (istri Mohammad Hatta). Pada bulan Mei 1977, ia dirawat di rumah sakit setelah mengalami pendarahan. Maramis meninggal dunia pada tanggal 31 Juli 1977 di Rumah Sakit Angkatan Darat Gatot Soebroto, hanya 13 bulan setelah ia kembali ke Indonesia. Jenazahnya disemayamkan di Ruang Pancasila Departemen Luar Negeri dan dilanjutkan dengan upacara militer dan kemudian pemakaman di Taman Makam Pahlawan Kalibata.
Penghargaan :
Pada saat menjabat sebegai Duta Besar Indonesia untuk Filipina, Maramis menerima gelar Doktor Honoris Causa dari Universitas Far Eastern di Manila pada tahun 1950. Pada tanggal 15 Februari 1961, Maramis dianugerahi penghargaan Bintang Mahaputra Utama dan pada tanggal 5 Oktober 1963 ia dianugerahi penghargaan Bintang Gerilya. Maramis secara anumerta dianugerahi Bintang Republik Indonesia Utama pada tanggal 12 Agustus 1992. Pada tanggal 30 Oktober 2007, Maramis diakui oleh Museum Rekor Dunia Indonesia sebagai Menteri Keuangan yang tanda tangannya tertera pada uang kertas yang paling banyak. Di antara tahun 1945 dan 1947, tanda tangannya tertera pada 15 uang kertas yang berbeda.
Pada tanggal 8 November 2019, Alexander Andries Maramis dianugerahi gelar Pahlawan Nasional oleh Presiden Joko Widodo dalam sebuah upacara di Istana Negara. Yang menerima penghargaan mewakili keluarga ahli waris adalah Joan Maramis, cucu dari A. A. Maramis.
4. Buatkan Gambar dan Infografis tentang
Ringkasan Perjuangan
A.A Maramis
Mr. Alexander Andries Maramis (A.A. Maramis) adalah pahlawan nasional asli Minahasa yang memiliki peran krusial sebagai peletak dasar sistem keuangan Indonesia dan perumus dasar negara. Perjuangan diplomat sekaligus Menteri Keuangan pertama ini berfokus pada kedaulatan politik, hukum, ekonomi, serta persatuan Indonesia di masa awal kemerdekaan.
Rekam jejak perjuangan A.A. Maramis :
1. Perumus Dasar Negara dan Konstitusi (BPUPKI & PPKI)
Anggota Panitia Sembilan:
Maramis merupakan salah satu tokoh penting di BPUPKI yang ikut merumuskan Piagam Jakarta pada 22 Juni 1945.
Representasi Indonesia Timur:
Ia bertindak sebagai tokoh moderat yang mewakili suara kelompok minoritas Kristen dari wilayah Indonesia Timur.
Perekat Persatuan:
Bersama Mohammad Hatta dan tokoh lainnya, ia ikut mengusulkan perubahan butir pertama Pancasila demi menjaga keutuhan NKRI.
2. Peletak Dasar Ekonomi dan Pencetak Uang Pertama (ORI)
Menteri Keuangan Pertama:
Maramis ditunjuk memimpin Kementerian Keuangan RI saat Indonesia baru saja memproklamasikan kemerdekaan.
Penerbitan ORI:
Ia adalah inisiator di balik pembentukan panitia pencetakan Oeang Republik Indonesia (ORI) yang resmi beredar pada 30 Oktober 1946.
Simbol Kedaulatan Ekonomi:
Penerbitan ORI bertujuan menghapus mata uang kolonial Belanda dan Jepang, sekaligus menegaskan kedaulatan ekonomi Indonesia kepada dunia.
Rekor Tanda Tangan: Tanda tangan Maramis tertera di 15 pecahan uang kertas ORI yang berbeda sepanjang tahun 1945–1947.
3. Pencari Dana Revolusi dan Pertahanan Negara
Pendanaan Angkatan Perang:
Di tengah blokade ketat ekonomi oleh militer Belanda, Maramis berpikir keras untuk mencari sumber pendanaan dan menggalang dana demi membiayai kebutuhan militer serta operasional pemerintah RI.
Pemerintah Darurat (PDRI):
Saat agresi militer Belanda melumpuhkan Yogyakarta, ia mengabdi sebagai Menteri Luar Negeri merangkap Menteri Keuangan dalam Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) yang berbasis di luar negeri.
4. Perjuangan Diplomasi Internasional
Delegasi KMB:
Ia menjadi salah satu delegasi Indonesia yang ikut berunding dalam Konferensi Meja Bundar (KMB) untuk memaksa Belanda mengakui kedaulatan penuh Indonesia.
Duta Besar:
Selepas masa revolusi phisik, ia ditugaskan menjadi duta besar Indonesia untuk beberapa negara kunci, seperti Filipina, Jerman Barat, Uni Soviet, dan Finlandia.
Atas jasa-jasanya yang sangat besar, pemerintah mengabadikan namanya sebagai nama gedung pusat Kementerian Keuangan RI di Jakarta
Gelar Pahlawan :
Nasional dari Presiden Joko Widodo pada 8 November 2019 melalui Keppres Nomor 120/TK/2019.
[24/7 10.52] rudysugengp@gmail.com: detikJatim
*Biografi KH Masykur, Panglima Laskar Sabilillah*
Nabila Meidy Sugita - detikJatim
Senin, 16 Okt 2023 16:31 WIB
Surabaya - KH Masykur merupakan ulama asal Malang. Selain kegigihannya mempelajari Islam, ia juga berkontribusi memperjuangkan kemerdekaan Indonesia lewat Laskar Sabilillah.
Berkat kegigihannya melawan sekutu dan memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, KH Masykur diberi amanah untuk terjun di bidang pemerintahan. Ia menjabat sebagai Menteri Agama hingga empat periode.
Seperti apa riwayat hidup KH Masykur? Berikut ulasan singkat mengenai biografi KH Masykur, dikutip dari situs resmi Nahdlatul Ulama (NU).
Biografi KH Masykur:
1. Masa Kecil dan Riwayat Pendidikan
KH Masykur lahir di Singosari, Malang pada 30 Desember 1902. Ia merupakan anak dari pasangan KH Maksum dan Ny Maemunah.
Di usia 9 tahun, Masykur kecil menunaikan ibadah haji bersama kedua orang tuanya di Tanah Suci. Pulang beribadah haji, ia melanjutkan pendidikan di Pondok Pesantren Bungkuk yang dipimpin KH Thahir.
Tak berhenti di itu, KH Masykur kemudian melanjutkan pendidikannya di Pesantren Sono, Buduran, Sidoarjo. Di sana, ia mendalami ilmu nahwu sharaf.
Empat tahun berselang, KH Masykur kemudian mendalami ilmu fiqih di Pesantren Siwalan, Panji, Sidoarjo. Ia pun kemudian berguru pada Hadratus Syaikh Hasyim Asy'ari di Pesantren Tebuireng untuk mempelajari ilmu tafsir dan hadis.
KH Masykur melanjutkan perjalanannya ke Madura. Ia singgah di Pesantren KH Khalil Bangkalan dan berguru kepada Syaichona Cholil untuk mempelajari Qiraat Al-Qur'an.
Terakhir, KH Masykur menempuh pendidikan di Solo selama 7 tahun. Ia belajar di Madrasah Mamba'ul Ulum Jamrasen.
2. KH Masykur Melepas Masa Lajang dan Mendirikan Madrasah
Setelah perjalanan panjang menimba ilmu, KH Masykur kembali ke tanah kelahirannya di Singosari, Malang. Di sana, ia mendirikan madrasah dengan nama Misbahul Wathan atau Pelita Tanah Air.
KH Masykur melepas masa lajang dengan menikahi cucu KH Nachrowi Thohir, sang guru di Pesantren Bungkuk, Malang. Menginjak usia 16 tahun pernikahan, sang istri meninggal dan belum dikaruniai keturunan. Atas saran dari Kiai Kholil Genteng, KH Masykur kemudian menikahi adik istrinya, Fatimah.
3. KH Masykur Tokoh Penting Laskar Sabilillah Ketika Berjuang demi Kemerdekaan
Berkat pengabdian dan kepemimpinannya pada masyarakat dan agama, KH Masykur pun diamanahi untuk menjadi Ketua Nahdlatul Ulama Cabang Malang. Tak hanya itu, ia juga menjadi tokoh penting dalam jaringan paramiliter santri.
KH Masykur memimpin Laskar Sabilillah. Adapun peran Laskar Sabilillah ialah menyerukan semangat perjuangan kemerdekaan.
Semangat perjuangan Laskar Sabilillah berkobar saat peristiwa perlawanan Arek Suroboyo pada November 1945. Ketika tentara Inggris mendarat di Surabaya pada 25 Oktober 1945, KH Masykur kemudian merapatkan barisan Laskar Sabilillah.
Barisan tersebut juga meliputi beberapa kiai pesantren. Seperti KH Wahid Hasyim, Kiai Wahab Chasbullah, Kiai Mas Mansyur, dan masih banyak lagi.
KH Masykur dan pasukan Laskar Hizbullah yang dipimpin Kiai Zainul Arifin bertekad dengan niat: isy kariman au mut syahidan (hidup mulia atau mati syahid). Alhasil, berkat perjuangan tersebut, Indonesia bisa mempertahankan kemerdekaan.
4. Karier KH Masykur di Pemerintahan
Dua tahun berselang pascaperlawanan terhadap sekutu, KH Masykur diberi amanah untuk menjadi Menteri Agama, pada akhir masa Kabinet Amir Syarifuddin ke-2. Ia pun menjabat sebagai Menteri Agama hingga empat periode.
Kemudian di tahun 1952, KH Masykur juga diberi posisi sebagai Ketua Dewan Presidium Pengurus Besar Nahdlatul Ulama. Lewat organisasi PBNU, ia juga menjadi salah satu tokoh pengawal, pencetus lahirnya Sarbumusi (Serikat Buruh Muslimin Indonesia).
Kariernya di pemerintahan tak berhenti di situ. Ada beberapa jabatan yang pernah dipegangnya yakni anggota Syou Sangkai (DPRD) ketika masa pendudukan Jepang, anggota PPKI dan Konstituante, hingga Wakil Ketua DPR (1978-1983).
Di usia senja, KH Masykur kemudian menjadi Ketua Yayasan Universitas Islam Malang. KH Masykur mengembuskan napas terakhir pada tanggal 19 Desember 1992.
(detik.com)
[24/7 11.07] rudysugengp@gmail.com: 1. Buatkan Gambar dan Infografis tentang
Masa Kecil dan Riwayat Pendidikan
KH Masykur
KH Masykur lahir di Singosari, Malang pada 30 Desember 1902. Ia merupakan anak dari pasangan KH Maksum dan Ny Maemunah.
Di usia 9 tahun, Masykur kecil menunaikan ibadah haji bersama kedua orang tuanya di Tanah Suci. Pulang beribadah haji, ia melanjutkan pendidikan di Pondok Pesantren Bungkuk yang dipimpin KH Thahir.
Tak berhenti di itu, KH Masykur kemudian melanjutkan pendidikannya di Pesantren Sono, Buduran, Sidoarjo. Di sana, ia mendalami ilmu nahwu sharaf.
Empat tahun berselang, KH Masykur kemudian mendalami ilmu fiqih di Pesantren Siwalan, Panji, Sidoarjo. Ia pun kemudian berguru pada Hadratus Syaikh Hasyim Asy'ari di Pesantren Tebuireng untuk mempelajari ilmu tafsir dan hadis.
KH Masykur melanjutkan perjalanannya ke Madura. Ia singgah di Pesantren KH Khalil Bangkalan dan berguru kepada Syaichona Cholil untuk mempelajari Qiraat Al-Qur'an.
Terakhir, KH Masykur menempuh pendidikan di Solo selama 7 tahun. Ia belajar di Madrasah Mamba'ul Ulum Jamrasen.
detikJatim
*Biografi KH Masykur, Panglima Laskar Sabilillah*
Nabila Meidy Sugita - detikJatim
Senin, 16 Okt 2023 16:31 WIB
Surabaya - KH Masykur merupakan ulama asal Malang. Selain kegigihannya mempelajari Islam, ia juga berkontribusi memperjuangkan kemerdekaan Indonesia lewat Laskar Sabilillah.
Berkat kegigihannya melawan sekutu dan memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, KH Masykur diberi amanah untuk terjun di bidang pemerintahan. Ia menjabat sebagai Menteri Agama hingga empat periode.
Seperti apa riwayat hidup KH Masykur? Berikut ulasan singkat mengenai biografi KH Masykur, dikutip dari situs resmi Nahdlatul Ulama (NU).
2. Buatkan Gambar dan Infografis tentang
Melepas Masa Lajang dan Mendirikan Madrasah
KH Masykur
Setelah perjalanan panjang menimba ilmu, KH Masykur kembali ke tanah kelahirannya di Singosari, Malang. Di sana, ia mendirikan madrasah dengan nama Misbahul Wathan atau Pelita Tanah Air.
KH Masykur melepas masa lajang dengan menikahi cucu KH Nachrowi Thohir, sang guru di Pesantren Bungkuk, Malang. Menginjak usia 16 tahun pernikahan, sang istri meninggal dan belum dikaruniai keturunan. Atas saran dari Kiai Kholil Genteng, KH Masykur kemudian menikahi adik istrinya, Fatimah.
3. Buatkan Gambar dan Infografis tentang
Tokoh Penting Laskar Sabilillah untuk Kemerdekaan
KH Masykur
Berkat pengabdian dan kepemimpinannya pada masyarakat dan agama, KH Masykur pun diamanahi untuk menjadi Ketua Nahdlatul Ulama Cabang Malang. Tak hanya itu, ia juga menjadi tokoh penting dalam jaringan paramiliter santri.
KH Masykur memimpin Laskar Sabilillah. Adapun peran Laskar Sabilillah ialah menyerukan semangat perjuangan kemerdekaan.
Semangat perjuangan Laskar Sabilillah berkobar saat peristiwa perlawanan Arek Suroboyo pada November 1945. Ketika tentara Inggris mendarat di Surabaya pada 25 Oktober 1945, KH Masykur kemudian merapatkan barisan Laskar Sabilillah.
Barisan tersebut juga meliputi beberapa kiai pesantren. Seperti KH Wahid Hasyim, Kiai Wahab Chasbullah, Kiai Mas Mansyur, dan masih banyak lagi.
KH Masykur dan pasukan Laskar Hizbullah yang dipimpin Kiai Zainul Arifin bertekad dengan niat: isy kariman au mut syahidan (hidup mulia atau mati syahid). Alhasil, berkat perjuangan tersebut, Indonesia bisa mempertahankan kemerdekaan.
5. Buatkan Gambar dan Infografis tentang
Karier Pasca Kemerdekaan
KH Masykur
Dua tahun berselang pascaperlawanan terhadap sekutu, KH Masykur diberi amanah untuk menjadi Menteri Agama, pada akhir masa Kabinet Amir Syarifuddin ke-2. Ia pun menjabat sebagai Menteri Agama hingga empat periode.
Kemudian di tahun 1952, KH Masykur juga diberi posisi sebagai Ketua Dewan Presidium Pengurus Besar Nahdlatul Ulama. Lewat organisasi PBNU, ia juga menjadi salah satu tokoh pengawal, pencetus lahirnya Sarbumusi (Serikat Buruh Muslimin Indonesia).
Kariernya di pemerintahan tak berhenti di situ. Ada beberapa jabatan yang pernah dipegangnya yakni anggota Syou Sangkai (DPRD) ketika masa pendudukan Jepang, anggota PPKI dan Konstituante, hingga Wakil Ketua DPR (1978-1983).
6. Buatkan Gambar dan Infografis tentang
Akhir Hayat dan Penghargaan
KH Masykur
Akhir Hayat KH Masykur
Wafat:
Di usia senja, KH Masykur kemudian menjadi Ketua Yayasan Universitas Islam Malang. KH Masykur mengembuskan napas terakhir pada tanggal 19 Desember 1992.
Aktivitas Terakhir: Menghabiskan masa tua dengan memimpin lembaga pendidikan Islam dan aktif di Yayasan Universitas Islam Malang (Unisma).
Penghargaan dan Gelar Pahlawan
Gelar Pahlawan Nasional:
Resmi dianugerahkan oleh Presiden Joko Widodo pada 8 November 2019.
Dasar Hukum:
Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 120/TK/Tahun 2019.
Jasa Utama:
Berperan sebagai Panglima Laskar Sabilillah, anggota BPUPKI, dan Menteri Agama RI yang gigih mempertahankan kemerdekaan.
[24/7 13.49] rudysugengp@gmail.com: 1. Buatkan Gambar dan Infografis tentang
Kehidupan Awal
Sultan Baabullah
Kehidupan awal
Masa muda :
Menurut tradisi, Baabullah dilahirkan pada 10 Februari 1528. Meski begitu, tanggal ini mungkin terlalu awal, karena ayahnya, Sultan Khairun Jamil (memerintah 1535–1570), lahir pada sekitar tahun 1522 menurut catatan Portugis. Kaicili (pangeran) Baab merupakan putra tertua, atau setidaknya salah satu yang tertua, dari Sultan Khairun dan permaisurinya Boki Tanjung, putri Sultan Alauddin I dari Bacan. Menurut satu catatan hikayat yang disusun jauh di kemudian hari oleh penulis Ternate Naidah, Baab juga merupakan anak angkat dari Sultan Bacan. Tak banyak yang diketahui mengenai masa kecilnya, kecuali bahwa ayahnya memberikan pendidikan dalam hal-hal keagamaan; ia diajari untuk "berdakwah kepada masyarakat", yang ditafsirkan sebagai tanda bahwa ia memiliki pengetahuan yang menyeluruh tentang al-Qur'an. Kaicili Baab dan saudara-saudaranya kemungkinan mendapatkan pemahaman ilmu agama dari mubalig dan ilmu peperangan dari ahli militer.
Sejak kecil, ia menemani ayahnya kemana-mana, termasuk ketika sang sultan diasingkan untuk sementara ke Goa pada tahun 1545 hingga 1546. Beranjak dewasa, ia membantu ayahnya menjalankan pemerintahan kesultanan, dan ikut menandatangani surat perjanjian vasalisasi Ternate kepada Portugis pada tahun 1560—surat Indonesia tertua dengan stempel kesultanan yang masih bertahan. Sumber-sumber Portugis semasa mengenali Baab sebagai calon pewaris takhta (herdeiro do reino) Ternate, walaupun ada pula sumber lain yang menyebut bahwa ia memiliki satu atau dua saudara dengan klaim takhta yang lebih kuat.
2. Buatkan Gambar dan Infografis tentang
Hubungan Ternate-Portugis
Sultan Baabullah
Hubungan Ternate-Portugis :
Ternate yang merupakan pusat utama perdagangan cengkeh memiliki ketergantungan erat pada Portugis sejak mereka mendirikan benteng di sana pada tahun 1522. Pada awalnya, elit Ternate menganggap bahwa Portugis yang memegang kuasa atas bandar persinggahan di Melaka serta memiliki persenjataan yang relatif lebih unggul dapat dijadikan sebagai sekutu yang berguna. Namun, setelah beberapa waktu, perilaku para serdadu Portugis yang tidak disukai masyarakat setempat memicu penolakan. Hubungan antara Sultan Khairun dan kapten-kapten Portugis tidak begitu mulus, walaupun mereka tetap membantunya mengalahkan negeri-negeri lain di Maluku, seperti Kesultanan Tidore dan Jailolo.
Konflik antara Ternate dan Portugis pecah pada tahun 1560-an, ketika Muslim di Ambon meminta bantuan dari Sultan untuk mencegah orang-orang Eropa yang mencoba mengkristenkan daerah tersebut. Sultan Khairun pun mengirimkan sebuah armada di bawah pimpinan Kaicili Baab untuk mengepung desa Kristen Nusaniwi pada tahun 1563. Namun, pengepungan ini dibatalkan setelah tiga kapal Portugis datang. Selama beberapa waktu setelah tahun 1564, orang-orang Portugis terpaksa meninggalkan Ambon secara keseluruhan, walaupun mereka kembali menetap di sana pada tahun 1569. Baab juga ikut andil dalam sebuah ekspedisi ke bagian utara Sulawesi pada 1563 untuk membawa wilayah tersebut ke dalam kuasa kesultanan pimpinan ayahnya. Petinggi Portugis memahami bahwa penaklukan semacam ini akan diikuti dengan penyebaran agama Islam yang dapat menggoyahkan posisi mereka di Nusantara, sehingga mereka pun berusaha mendahuluinya dengan usaha pengkristenan penduduk Manado, Pulau Siau, Kaidipang, dan Toli-Toli, antara lain.
Terlepas dari segala perselisihan ini, hubungan Ternate-Portugis tidak sepenuhnya rusak. Saat Gonçalo Pereira mengirimkan sebuah ekspedisi ke Filipina pada tahun 1569, misalnya, penguasa Tidore, Bacan dan Ternate diminta untuk ikut menyertai. Dari Ternate, Kaicili Baab memimpin armada dengan lima belas kora-kora (perahu bercadik besar). Namun, karena Ternate tidak begitu tertarik pada ekspedisi ini, Baab membelokkan armadanya di tengah perjalanan untuk menuju Selat Melaka dan melakukan aksi bajak laut di sana. Terlepas dari desersinya, ia tetap kehilangan sekitar 300 orang dalam perjalanan ini. Ekspedisi Portugis pun berakhir dengan kegagalan, yang diam-diam disyukuri oleh Sultan Khairun. Meski begitu, Baab tetap merasa tidak senang ayahnya terlalu ramah dengan orang-orang Eropa.
Kematian Sultan Khairun :
Selepas perselisihan mengenai kepemilikan Pulau Ambon, Khairun semakin meningkatkan kekuatan Ternate hari demi hari. Perkembangan ini membuat pemimpin-pemimpin Portugis khawatir. Wilayah pengaruh Portugis di Halmahera diserang oleh pasukan-pasukannya. Sebagai penguasa jalur laut, Khairun juga dapat menghentikan pengiriman suplai bahan pangan yang vital dari Moro di Halmahera ke pemukiman Portugis di Ternate. Pada tahun 1570 Kapten Diogo Lopes de Mesquita (1566-1570) secara resmi melakukan rekonsiliasi dengan sang Sultan, tetapi hal ini tidak menurunkan ketegangan antar kedua pihak.
Lopes de Mesquita mengundang Khairun ke kediamannya di São João Baptista (Benteng Kastela) pada tanggal 25 Februari 1570 untuk sebuah jamuan, dengan dalih bahwa ia hendak mengajak sang sultan mendiskusikan masalah serius. Khairun menyanggupi undangan ini dan datang sendiri ke dalam benteng, sebab pengawal tidak diperbolehkan masuk. Martim Afonso Pimentel, keponakan sang kapten, diperintahkan untuk berjaga di sisi dalam gerbang. Begitu Khairun hendak beranjak keluar, Pimentel menikamnya dengan belati hingga sang sultan gugur. iqbal jendol.
3. Buatkan Gambar dan Infografis tentang
Masa pemerintahan
Sultan Baabullah
Masa pemerintahan
Kenaikan takhta
Kematian Sultan Khairun memicu kemurkaan orang-orang Ternate serta raja-raja Maluku lainnya. Dewan diraja Ternate, yang didukung oleh para kaicili dan sangaji (penguasa daerah), mengadakan musyawarah di Pulau Hiri dan menetapkan Kaicili Baab sebagai Sultan Ternate berikutnya, dengan gelar Sultan Baabullah Datu Syah. Menurut satu riwayat yang tercatat di kemudian hari, pada pertemuan itu mereka berikrar: "Apa yang mesti kita segani dari Portugis jika kita menyadari kekuatan kita sendiri? Apa yang mesti kita takuti, apa yang dapat membuat kita putus asa? Bangsa Portugis memuliakan orang yang merampok paling banyak, dan yang bergelimang kejahatan serta dosa-dosa besar ... Negeri kita adalah tanggungan kita, dan begitu pula perlindungan akan orang tua, istri, anak-anak dan kemerdekaan kita." Sultan bermaksud untuk berperang demi menegakkan kembali agama Islam di Maluku, membawa Kesultanan Ternate menjadi kekuatan utama, dan mengusir orang-orang Portugis dari negerinya.
Tak lama setelah penobatannya, Sultan Baabullah menyumpahkan permusuhan yang tak dapat lagi didamaikan kepada orang-orang Portugis di seluruh wilayah kekuasaannya. Untuk menguatkan posisinya, Baabullah menikahi saudari Sultan Gapi Baguna dari Tidore. Beberapa raja Maluku lainnya menyisihkan sejenak perselisihan mereka dan bergabung di bawah pasukan Baabullah dan bendera Ternate. Begitu pula sejumlah penguasa daerah di sekitar Maluku. Baabullah juga didukung oleh beberapa panglima yang cakap dalam peperangan, seperti Sultan Jailolo, penguasa Sula Kapita Kapalaya, dan juga panglima laut Ambon Kapita Rubohongi beserta anaknya Kapita Kalasinka.
Pengusiran Portugis :
Sebagai balasan atas pembunuhan Khairun, Baabullah meminta agar Lopes de Mesquita dibawa ke hadapannya untuk diadili. Benteng-benteng Portugis di Ternate, yaitu Tolucco, Santa Lucia, dan Santo Pedro jatuh dalam waktu singkat, menyisakan São João Baptista (kediaman Mesquita) sebagai pertahanan terakhir. Di bawah komando Baabullah, pasukan Ternate mengepung São João Baptista dan memutuskan hubungan benteng tersebut dengan dunia luar; suplai makanan dari luar tidak diperbolehkan masuk kecuali sejumlah kecil sagu yang hampir-hampir tidak dapat membantu penduduk benteng bertahan hidup. Walaupun begitu, pasukan Ternate sesekali memperbolehkan pertemuan antara penduduk benteng yang dikepung dengan masyarakat pulau lainnya—sebab banyak penduduk asli Ternate kala itu yang memiliki hubungan kekerabatan dengan Portugis melalui pernikahan. Dalam kondisi tertekan seperti ini, orang-orang Portugis mengangkat Alvaro de Ataide sebagai kapten baru mereka menggantikan Lopes de Mesquita. Namun, pergantian kepemimpinan ini tidak menggoyahkan niat Baabullah untuk mengusir orang-orang Eropa.
Selagi pengepungan tersebut berlangsung, pasukannya menyerang wilayah-wilayah yang menjadi pusat misi Yesuit di Halmahera, dan memaksa penguasa Bacan yang sudah dibaptis untuk beralih kembali ke Islam pada sekitar tahun 1571. Pada tahun 1571 sebuah armada Ternate dengan enam kora-kora besar di bawah pimpinan Kapita Kalasinka menyerbu Ambon. Pasukan Ternate juga berhasil menaklukkan wilayah Hoamoal (di Seram), Ambelau, Manipa, Kelang dan Boano. Tentara Portugis yang dikomandoi Sancho de Vasconcellos berusaha dengan susah payah untuk mempertahankan benteng-benteng mereka, dan kehilangan kuasa mereka di laut atas perdagangan cengkih. Dengan bantuan penduduk setempat yang sudah masuk Kristen, Vasconcellos sempat berhasil menangkal serangan Ternate di Pulau Buru selama beberapa waktu, akan tetapi wilayah tersebut jatuh ke Ternate tak lama setelah serangan baru dilancarkan di bawah pimpinan Kapita Rubohongi.
Pada tahun 1575 sebagian besar tanah Portugis di Maluku telah diambil alih oleh Ternate, dan suku-suku serta negeri-negeri yang mendukung Portugis telah benar-benar tersudut. Hanya São João Baptista saja yang masih dalam pengepungan. Selama lima tahun sebelumnya orang Portugis beserta keluarga mereka mengalami kesulitan hidup di dalam benteng yang terputus dari dunia luar tersebut. Sultan Baabullah menuntut agar orang-orang Portugis di dalam benteng segera menyerahkan diri untuk meninggalkan Ternate, dan berjanji akan memberikan kapal serta suplai agar mereka dapat mencapai Ambon. Sementara itu penduduk benteng yang berasal dari Ternate diperbolehkan tinggal selama mereka mengakui pemerintahan kesultanan. Kapten Nuno Pereira de Lacerda menerima persyaratan tersebut.
Maka, orang-orang Portugis pun menyerah dan pergi meninggalkan Ternate tak lama kemudian. Sultan Baabullah memegang janjinya dan tidak ada satu pun dari mereka yang dilukai. Ia menyatakan bahwa orang-orang Portugis tetap dapat berkunjung sebagai pedagang dan harga cengkih untuk mereka tidak akan berubah. Sebuah kapal dari Melaka datang menjemput sisa-sisa orang Portugis di Ternate dan membawa mereka berlayar menuju Ambon. Sebagian dari mereka melanjutkan perjalanan ke Melaka sementara yang lain pergi menuju Solor dan Timor untuk berpartisipasi dalam perdagangan kayu cendana. Baabullah menahan sejumlah kecil orang Portugis di dalam benteng dan baru membiarkan mereka pergi setelah mereka yang terlibat dalam pembunuhan Khairun dihukum.
Kunjungan Francis Drake :
Pertemuan antara Francis Drake dan Pada tanggal 3 November 1579, Sultan Baabullah menerima kunjungan dari penjelajah Inggris Francis Drake, yang kala itu sedang memimpin sebuah ekspedisi pelayaran keliling dunia (ekspedisi keliling dunia kedua yang berhasil diselesaikan setelah Ekspedisi Magellan-Elcano). Drake menggambarkan Baabullah sebagai pria yang "berperawakan tinggi, sangat gemuk dan kuat, dengan wajah yang terkesan ramah dan layaknya bangsawan". Baabullah menerima tamunya dengan gembira, mendatangi armada Drake untuk menyambut mereka di sana. Sang sultan menyatakan pertemanan abadinya dengan Ratu Elizabeth, dengan maksud untuk mengajak serta Inggris dalam perseteruan melawan Portugis. Drake sendiri memang sengaja memilih berlabuh di Ternate karena mengetahui bahwa Ternate merupakan musuh Portugis.
Meski begitu, Drake menahan diri dari menyanggupi ajakan Baabullah untuk menyerbu orang-orang Portugis yang kini menetap di Tidore.
Setelah perbincangan babak pertama berakhir, Baabullah mengirimkan hidangan mewah bagi Drake dan para awaknya di kapal. Hidangan yang disajikan mencakup nasi, ayam, tebu, air gula, buah-buahan, dan sagu. Drake merasa terkesan dengan Baabullah, dan menggambarkannya sebagai figur yang populer di kalangan rakyatnya. Namun, ia tidak berhasil menegosiasikan hak dagang eksklusif bagi Inggris karena penolakannya atas permintaan Baabullah untuk membantu Ternate menyerang Portugis. Sumber Spanyol bahkan menyatakan bahwa sempat terjadi cekcok antara dirinya dan Baabullah, sebab ia menolak untuk membayar bea ekspor sebesar 10% yang telah ditetapkan oleh Sultan untuk hasil bumi Ternate. Kedua pihak baru berdamai setelah Drake mengirimkan sejumlah hadiah untuk Sultan dan berjanji akan memberikan bantuan persenjataan bagi Ternate. Drake pun bersegera meninggalkan Ternate pada tanggal 9 November dengan sejumlah kecil cengkih berkualitas tinggi, dan melanjutkan perjalanan melalui Sulawesi, Barativa (kemungkinan di Nusa Tenggara Timur?) dan Jawa.
4. Buatkan Gambar dan Infografis tentang
Masa keemasan Ternate
Sultan Baabullah
Masa keemasan Ternate :
Selepas kepergian Portugis, Sultan Baabullah mengambil alih São João Baptista dan memanfaatkannya sebagai benteng sekaligus istana kediamannya. Ia merenovasi serta memperkuat pertahanan benteng tersebut dan mengganti namanya menjadi Gammalamo. Di bawah perlindungan Baabullah, kapal-kapal dagang dari Melaka diperbolehkan singgah di Ternate setiap tahunnya, untuk memastikan bahwa arus niaga dengan kawasan sekitar serta Eropa tetap berlangsung dengan baik. Hanya saja, hak-hak istimewa kini ditiadakan, sehingga pedagang Barat diperlakukan serupa pedagang dari negeri lainnya dan mendapatkan pengawasan yang ketat. Sultan Baabullah bahkan mengeluarkan peraturan yang mengharuskan setiap orang Eropa yang singgah ke Ternate untuk melepaskan topi dan sepatu mereka, sebagai pengingat agar mereka tahu diri dan menjaga sikap.
Sultan Baabullah merawat dan merintis jejaring persekutuan dengan penguasa-penguasa dan negeri-negeri lain di Nusantara. Muslim Jawa dari negeri-negeri pasisir (pantai utara) Jawa menjadi sekutu utama Ternate. Beberapa misi dikirimkan kepada wilayah-wilayah yang diklaim oleh Ternate untuk menuntut kesetiaan mereka kepada kebijakan-kebijakan Sultan. Pada tahun 1580 Baabullah disebut memimpin sebuah ekspedisi pelayaran besar-besaran (hongi) yang mengunjungi sejumlah tempat di Sulawesi. Sang sultan sempat pula singgah ke Makassar dan bertemu dengan raja Gowa, Tunijalloʼ. Kedua penguasa ini mengikat perjanjian persekutuan. Kemudian, Baabullah mengajak Tunijalloʼ untuk masuk Islam, tetapi Tunijalloʼ menolak permintaan tersebut secara halus. Walaupun begitu, sebagai tanda pertemanan, Baabullah menawarkan untuk membantu renovasi Benteng Somba Opu di pantai timur Gowa. Setelah beranjak dari Gowa, armada Ternate menaklukkan wilayah Selayar di selatan Sulawesi.
Di bawah kepemimpinan Baabullah, Kesultanan Ternate menggapai masa jayanya. Kombinasi dari pengaruh sosiopolitik agama Islam, imbas dari keberadaan Portugis (yang sebelumnya menyuplai persenjataan serta mendorong penyeragaman pertanian cengkih demi efisiensi), serta harga cengkih yang semakin melonjak, memperkuat dan memperluas cengkeraman Ternate atas jalur perdagangan rempah. Pada awal masa pemerintahannya, Sultan mengirimkan armada untuk menaklukan Buru, Seram, dan sebagian wilayah Ambon. Pada ekspedisi tahun 1580 negeri-negeri di Sulawesi Utara juga ditaklukkan. Tradisi setempat menyebutkan bahwa Ternate menggabungkan strategi interferensi atas persaingan kekuasaan internal dan politik perkawinan untuk mendapatkan pengaruh. Raja Humonggilu dari Limboto, misalnya, meminta bantuan Ternate untuk mengalahkan saingannya, Raja Pongoliwu dari Gorontalo. Humonggilu lalu menikahi adik Baabullah, Jou Mumin. Sementara, saudari dari raja yang dikalahkan dibawa ke Ternate untuk dinikahkan dengan seorang bangsawan. Baabullah sendiri dsiebut-sebut menikahi seorang putri dari Teluk Tomini bernama Owutango, yang memiliki peran penting dalam penyebaran agama Islam di kawasan tersebut. Dalam ekspedisi yang sama, wilayah Banggai, Tobungku (keduanya di Sulawesi Timur), Tiworo (Sulawesi Tenggara) dan Buton juga jatuh ke dalam kuasa Sultan. Pengaruh Ternate bahkan mencapai Solor, yang menjadi gerbang bagi perdagangan cendana di Timor, serta Kepulauan Banda tempat penghasil pala.
Daftar wilayah jajahan Ternate yang disusun oleh sumber Spanyol pada sekitar tahun 1590 juga menyebut Mindanao, Kepulauan Papua (Raja Ampat) serta Bima dan Kore di Sumbawa, walaupun sepertinya wilayah-wilayah ini tidak terlalu terikat dengan Ternate. Meski kawasan-kawasan yang jauh dari Ternate hanya merupakan negara pembayar upeti yang lumayan merdeka, banyak pula wilayah yang diperintah oleh wakil (bergelar sangaji) yang ditunjuk langsung oleh Sultan. Karena luas wilayah kekuasaannya, Baabullah juga dijuluki sebagai "Penguasa 72 Pulau", sebagaimana dicatat oleh sejarawan dan ahli geografi Belanda François Valentijn (1724). Pada masa ini, Ternate merupakan negara terkuat dan termakmur di kawasan timur Nusantara. Menurut sumber-sumber Spanyol, Baabullah bahkan memiliki kekuatan untuk memanggil 2.000 kora-kora dan 133.300 tentara dari Sulawesi hingga Papua di bawah panjinya.
Hubungan dengan negeri lain :
Ternate di bawah Baabullah tidak sepenuhnya tanpa lawan. Sultan Tidore, Gapi Baguna, mendukung Baabullah melawan Portugis untuk membalas pembunuhan Khairun, tetapi begitu perang usai, Ternate dan Tidore kembali bermusuhan. Gapi Baguna berlayar menuju Ambon pada tahun 1576 untuk merundingkan persekutuan strategis dengan Portugis. Dalam perjalanan pulang ia dijebak oleh sebuah armada Ternate dan tertangkap, tetapi ia berhasil dibebaskan melalui penyerbuan yang dilakukan oleh kerabatnya, Kaicili Salama. Pada tahun 1578, Gapi Baguna mengizinkan Portugis membangun benteng di Tidore, dengan harapan agar perdagangan rempah beralih ke sana dan agar Portugis memberikan sokongan militer untuk menghadapi Ternate. Setelah penyatuan Portugal dengan Spanyol menjadi Uni Iberia pada tahun 1581, pasukan dari daerah jajahan Spanyol di Filipina dikirimkan untuk menguatkan posisi Iberia di Maluku. Sepasukan armada Spanyol mencapai Tidore pada tahun 1582, dan berusaha untuk melemahkan Baabullah melalui penyerangan ke Ternate. Akan tetapi, sebuah wabah yang terjadi kala itu berdampak parah pada pasukan Spanyol hingga mereka harus pulang kembali ke Manila dengan tangan kosong.
Baabullah melanjutkan kebijakan ayahnya yang menjalin hubungan dengan negeri-negeri Muslim dari segala penjuru. Pada periode sekitar tahun 1570 terjadi serbuan serempak terhadap wilayah jajahan Portugis oleh negeri-negeri Muslim di India Selatan dan Aceh dengan dukungan Utsmaniyah, yang mungkin saja berkaitan dengan upaya perlawanan yang dilakukan oleh Baabullah. Hanya di Maluku penyerbuan ini berhasil; seluruh serangan di Samudra Hindia berhasil dipatahkan oleh Portugis dan berakhir dengan kekalahan bagi negeri-negeri Muslim. Baabullah mengirim Kaicili Naik ke Lisbon sebagai utusan kepada Felipe II, Raja Spanyol dan Portugal, untuk menuntut hukuman bagi mereka yang terlibat dalam pembunuhan Sultan Khairun. (Pimentel, pelaku utama pembunuhan, sebetulnya sudah terbunuh dalam sebuah insiden di Jawa.
Perundingan di Lisbon berakhir tanpa kepastian; hanya saja, tujuan utama perjalanan utusan ini adalah untuk berdiplomasi dan menjalin persekutuan dengan negeri-negeri Muslim di sepanjang jalan, termasuk Brunei, Aceh dan Sunda (Banten?). Ketika Kaicili Naik sampai kembali ke Ternate setelah misi yang sukses ini, Baabullah telah mangkat.
Selama pemerintahannya, pedagang-pedagang dari negeri Muslim yang jauh seperti Turki Utsmani sempat singgah di istana, dan Portugis mencatat adanya kontak erat antara Ternate dan tokoh-tokoh Muslim dari Aceh, Tanah Melayu, dan bahkan Mekkah. Orang-orang Jawa dari Jepara dan negara bandar lainnya juga membantu Ternate secara militer melalui Ambon. Kepergian Portugis dan pembukaan kembali bandar Ternate untuk perdagangan bebas membangkitkan jalur-jalur dagang lama yang mempertalikan wilayah-wilayah Asia sejak abad ke-15, beserta jalinan budaya dan agama yang dibawa melaluinya. Penyebaran Islam sendiri mengalami kemajuan pesat pada zaman Baabullah, sebagian alasannya kemungkinan sebagai respons terhadap penyebaran agama Kristen.
5. Buatkan Gambar dan Infografis tentang
Akhir Hayat, Penghargaan, dan Penerus
Sultan Baabullah
Akhir Hayat Sultan Baabullah :
Wafat pada tanggal 25 Mei 1583 dalam usia 55 tahun di Ternate.
Dimakamkan di daerah Foramadiahi, Ternate.
Penyebab pasti kematiannya masih menjadi perdebatan dalam sumber sejarah, sebagian ada yang menyebutkan wafat secara wajar, sementara versi lain mengaitkannya dengan cerita hilangnya sang sultan.
Selepas kepemimpinannya, Kesultanan Ternate mulai menghadapi tantangan besar dari kekuatan asing seperti Spanyol.
Penghargaan Pahlawan Nasional
Ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional pada 10 November 2020 oleh Presiden Joko Widodo di Istana Negara, Jakarta.
Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 117/TK/2020 yang diteken pada 6 November 2020.
Penghargaan diberikan atas jasa besar beliau dalam memimpin perlawanan dan berhasil mengusir penjajah Portugis dari Ternate, serta membawa kesultanan ke puncak kejayaan sebagai "Penguasa 72 Pulau".
Versi Kematian :
Sultan Baabullah mangkat pada tahun 1583. Terdapat versi yang berbeda-beda mengenai penyebab dan tempat kematiannya.
Menurut sebuah riwayat meragukan yang muncul jauh di kemudian hari (catatan François Valentijn, 1724), ia diperangkap oleh Portugis dalam kapal mereka dan dibawa ke Goa, tetapi meninggal di perjalanan.
Riwayat-riwayat lainnya menyatakan bahwa ia dibunuh ketika berada di kediamannya, entah melalui racun atau sihir.
Penerus Baabullah sebagai Sultan adalah putranya Said Barakati (memerintah 1583-1606) alih-alih saudaranya Mandar, walaupun ibunda Mandar memiliki status yang lebih tinggi.
Baabullah secara khusus meminta saudaranya yang lain, Kaicili Tulo, untuk mendukung Said sebagai sultan.
Sultan Said melanjutkan upaya perlawanan terhadap Portugis dan Spanyol dan terus menjalin hubungan dengan negeri-negeri lainnya.
[24/7 21.18] rudysugengp@gmail.com: 1. Buatkan Gambar dan Infografis tentang
Biodata, Kehidupan Awal, dan Keluarga
Machmud Singgirei Rumagesan
Informasi Pribadi
Berkuasa :
1915
Pendahulu :
Raja Kabituwar: Pandai/Congan
Raja Sekar: Saban Pipi Rumagesan
Penerus :
Amir Syahdan Rumagesan
Kelahiran :
27 Desember 1885
Kokas, Afdeling Fakfak
Kematian :
5 Juli 1964 (umur 78)
Jakarta, Indonesia
Pemakaman :
Taman Makam Pahlawan Kokas, Kabupaten Fakfak
Pasangan :
Noen, Putri Laha
Janiba, Putri Kesultanan Gowa
Keturunan :
Amir Syahdan
Amina
Hadidja
Regaija
Boke Salha
Masdjab
Rustuty, Ratu Petuanan Tanah Rata Kokoda
Wangsa :
Rumagesan
Ayah :
Saban Pipi Rumagesan
Agama :
Islam Sunni
Kehidupan awal :
Machmud Singgirei Rumagesan lahir pada tanggal 28 Desember 1885 di Kokas, Fakfak, adalah anak dari rajamuda bernama Saban Pipi Rumagesan, sebetulnya secara keturunan Pipi bukan seorang berdarah biru. Namun hanya seorang anak dari Dimin, anak angkat dari Raja Komisi Kabituwar pertama yang bernama Paduri, ayah dari Pandai yang disebut juga Congan, Raja Kabituwar berikutnya. Saat Pandai meninggal, ia tidak memiliki saudara atau keturunan yang cocok untuk memimpin karena anaknya, Abdulrachim masih kecil. Karena saat itu kekosongan kekuasaan maka Pipi sementara diangkat menjadi raja muda walaupun secara hukum adat seharusnya tidak diperbolehkan. Lalu akibat intervensi Belanda, Pipi diangkat menjadi Raja Sekar tahun 1911, sedangkan Singgirei diangkat menjadi raja muda untuk membantu ayahnya. Saat Pipi meninggal tahun 1915, Singgirei diangkat menjadi raja penerusnya.
Kehidupan pribadi :
Ketika Raja Rumagesan sedang mengunjungi Sulawesi bersama Presiden Sukarno, ia disambut oleh tarian tradisional lokal. Salah satu penari tersebut adalah Janiba, Putri 17 tahun Kerajaan Gowa, yang kemudian menikah dengan Raja Rumagesan dan memiliki anak ke-enam Raja Rumagesan bernama Rustuty Rumagesan.
Raja Rumagesan dilanjutkan oleh putranya, tetapi setelah meninggal ada konflik suksesi di mana Rustuty akhirnya disetujui menjadi raja akan tetapi ia menolak menggunakan gelar Raja dan menggunakan gelar "Ratu Petuanan Tanah Rata Kokoda". Rustuty menikah dengan Tjitro Soeksoro, bangsawan keturunan Mangkunegara III. Ketika Rustuty meninggal raja Sekar selanjutnya adalah PYM. Arief Rumagesan, cucu kelima Raja Machmud Singgirei Rumagesan bergelar "Raja Petuanan Pikpik Sekar".
2. Buatkan Gambar dan Infografis tentang
Konflik dengan Belanda
Machmud Singgirei Rumagesan
Awal konflik dengan Belanda :
Raja Singgirei Rumagesan terlibat konflik dengan sebuah perusahaan maskapai perminyakan asal Belanda, Maatschappij Colijn. Pada mulanya tahun 1934 saat perusahaan itu datang mereka difasilitasi oleh Raja Rumagesan dengan bantuan rakyatnya. Sehingga perusahaan tersebut menyetujui ketika pembayaran diberikan kepada Raja Rumagesan untuk didistribusikan, hal ini berlaku 2-3 bulan. Akan tetapi bestuur assistent hukum meminta agar uang pembayaran diberikan kepadanya ketika ditolak, ia mengadu ke Kontrolir G. van den Terwijk. Kemudian kontrolir tersebut marah kepada Raja Rumagesan, ia lalu terlibat adu mulut yang berlanjut menjadi pertengkaran. Mendengar peristiwa ini rakyatnya turut marah dan mencoba membunuh van den Terwijk dan bestuur hukum. Keadaan ini dilaporkan bestuur hukum dan Raja Rumbati, Abu Bakar ke pemerintah di Fakfak. Pada malam itu juga jam 8, sebuh kapal yang memuat pasukan mendarat di Kokas dan mengepung rumah Rumagesan. Raja Rumagesan lalu ditangkap dan dijebloskan ke penjara di Fakfak. Selang tiga hari kemudian rakyat yang berencana membunuh kontrolir dikumpulkan berjumlah 73 orang, di antaranya ada 5 kepala kampung. Dengan mendapatkan siksaan, mereka juga dipenjarakan dengan hukuman yang berbeda-beda dari dua sampai sepuluh tahun. Sedangkan Raja Rumagesan mendapat hukuman limabelas tahun. Dia dikirim ke Pulau Saparua atas perintah Landschap Rabahan di Fakfak. Disana ia dapat mengirim surat meminta bantuan kepada Mohammad Husni Thamrin yang merupakan anggota Volksraad, untuk menuliskan rekes kepada Hoofd-Djaksa Tantua. Rumagesan menang di pengadilan karena diluar suratnya tertulis nama Abu Bakar Tan, jadi bukan namanya. Terpaksa A.R. Jansen mengirim jaksa untuk ke Ambon untuk menghitung ongkos dan gaji Raja Rumagesan selama di penjara, yang kurang lebih berjumlah 17.000 Rupiah (tahun 1957). Sebelum Jepang datang, ia sudah dibebaskan pada tahun 1941.
3. Buatkan Gambar dan Infografis tentang
Setelah Perang Dunia II dan Indonesia Merdeka
Machmud Singgirei Rumagesan
Setelah Perang Dunia II :
Pada masa transisi Jepang, Raja Rumagesan dicari dan diberikan sebuah gelar "Minanu Tokyo", yang berarti "Tokyo Selatan" dan mendapatkan surat kuasa. Gelar ini kemungkinan merupakan hinaan terhadap Raja Rumagesan dikarenakan ia dianggap tidak bisa membaca. Ia kemudian menumpang kapal yang dibeli dari Raja Asilolo Illi untuk pulang ke Kokas. Akan tetapi kemudian Jepang datang lagi dan memintanya untuk tunduk kepada pemerintah Jepang. Saat Jepang kalah pada tahun 1945, pasukan sekutu mulai mendarat san meminta Raja-raja Papua untuk mengibarkan bendera Belanda. Pada tanggal 1 Maret 1946, Raja Rumagesan meminta rakyatnya untuk menurunkan bendera Belanda. Beberapa usaha menentang Belanda ini juga dilakukan oleh Raja-raja Papua lainnya seperti di Kaimana oleh Raja Aituarauw dengan MBKIB. Atas tindakan ini terjadi pertempuran besar di mana pemerintah Belanda membawa pasukan bantuan dari Sorong. Raja Rumagesan sendiri ditangkap dan dibawa ke Pulau Doom, Sorong.
Disanapun Raja Rumagesan tetap memiliki pengaruh yang besar sehingga ia berhasil melakukan pemberontakan lagi dengan dibantu Tipan dan Sangaji lokal, seperti Sangaji Malan. Mereka berhasil mengumpulkan pasukan dari mantan anggota Hei-Ho, anggota dari organisasi Perintis Kemerdekaan bentukan Sangaji Malan, dan berhasil mengumpulkan hingga 40 pucuk senjata. Rencananya penyerangan akan dilakukan jam 5 pagi, dan pada saat itu Raja Rumagesan sedang sembahyang di mesjid, ia ditangkap otoritas belanda disana. Raja Rumagesan lalu dipenjara di tangsi komandan irian di Manokwari.
Setelah Indonesia merdeka :
Diperjalanan menuju Manokwari, Raja Rumagesan berhasil lagi melakukan pemberontakan kali ini dibantu pemuda-pemuda Papua seperti Hawai, S.D. Kawab, dan Nihkawi. Direncanakan mereka akan membakar tangsi Manokwari. Akan tetapi kali ini upaya itu gagal dan Rumagesan kemudian jdipenjara di Hollandia. Pemuda-pemuda tersebut juga dimasukkan kedalam penjara.
Disana ia sering berpidato di Kampung Baru. Dengan surat tgl 2 Mei 1949, No 125/49 oleh hakim pemerintah Hindia Belanda, beliau dijatuhi hukuman mati. Keputusan tersebut ditentang keras oleh sesama tahanan sehingga diganti menjadi hukuman seumur hidup atas pembelaan Advokat Laparan yang datang dari Surabaya, pada tanggal 5 Desember 1949. Raja Rumagesan lalu dipindahkan ke penjara di Makassar lalu penjara Nusakambangan. Atas surat keputusan Pemerintah Agung Republik Indonesia tanggal 2 Mei 1950, No 44/A, ia akhirnya dibebaskan.
4. Buatkan Gambar dan Infografis tentang
Upaya pembebasan Irian Barat
Machmud Singgirei Rumagesan
Upaya pembebasan Irian Barat :
Pada tanggal 24 Juni 1950, ia diantar oleh Albert Karubuy untuk bertemu dengan Presiden Sukarno, berdasarkan pengakuan sekretarisnya bernama A. W. Rambitan, Raja Rumagesan berkenalan dengan Sukarno sebagai Raja asli Irian; ia mengucapkan terima kasih karena rakyat Indonesia bisa merdeka; tetapi kecewa karena awalnya pidato Sukarno terdengar dari "Sabang sampai Merauke", tetapi sejak 1950 hanya menjadi "Sabang sampai Dobo" saja; Ia menyatakan setia dibelakang pemerintah RI, tetapi tunduk pada perjanjian Den Haag yang akan membahas masalah Irian satu tahun kemudian, akan tetapi sudah dua setengah tahun masih saja dijajah Belanda.
Pada tanggal 26 Januari 1951, anak perempuan ke-limanya bernama Boke Salha ikut berpidato mendukung upaya pembebasan Irian di Balikpapan dengan menceritakan usaha ayahnya melawan Belanda tahun 1936.
Pada tahun 1953, Raja Rumagesan membentuk Gerakan Tjendrawasih Revolusioner Irian Barat (GTRIB) dan bersama Abbas Iha, Gerakan Organisasi Pemuda Cendrawasih Muda. Dia bersama Raja Rumbati, Ibrahim Bauw, yang mendirikan organisasi Kesatuan Islam New Guinea (KING) memproklamirkan Jihad Fisabililah di masjid-masjid Papua. Pada tahun yang sama, terjadi pemberontakan melawan Belanda di Fakfak yang dipimpin oleh Abutalib bin Paris dari Kokas.
Sejak tahun 1950, Raja Rumagesan bersama N.L. Suwages merupakan perwakilan Irian Barat di Dewan Pertimbangan Agung.
Pada saat inilah rumah dinasnya juga ditinggali oleh pejuang asal Papua, J.A. Dimara, ketika ia sedang pemulihan akibat tertembak saar Invasi Pulau Buru terhadap RMS.
Raja Rumagesan berkolaborasi langsung dengan Pemerintah seperti Kabinet Presiden dalam usaha pembebasan Irian seperti tahun 1954, permintaannya dikabulkan mendirikan pasukan batalyon untuk Irian yang bernama Batalyon Rumagessan dibawah T&T VII/Wirabuana untuk keperluan infiltrasi ke Nugini Belanda, pembentukan Biro Irian cikal bakal Provinsi Papua dan anggota pimpinannya, walaupun usulannya ada yang ditolak.
Front Nasional Pembebasan Irian Barat (FNPIB) dibentuk tanggal 31 December 1959 untuk menyatukan seluruh usaha nasional untuk pembebasan Irian Barat. Operasi A dipimpin oleh Kol. Magenda bertujuan untuk melatih pasukan asal Papua untuk menginfiltrasi Nugini Belanda dari Maluku Utara, Operasi B akan fokus akan edukasi untuk Orang Papua, dan Operasi C dipimpin oleh Uyeng Suwargana bertujuan untuk mendekati kelompok di Belanda untuk ikut mendukung. Pada tanggal 13-15 April 1961, pada pemuda Papua yang berhasil kabur Nugini Belanda ke Indonesia melaksanakan Konferensi Cibogo, Bogor, dengan tujuan menggabungkan usaha sipil dan militer pembebasan Irian Barat dan untuk menyaingi Dewan Nugini. Beberapa partisipan terkenal termasuk Rumagesan, N.L. Suwages, Silas Papare, Soegoro Atmoprasojo, Abdul Haris Nasution, dan Adrianus Leonard Marani. Pada Desember 1961, puncak berbagai usaha ini dengan deklarasi Tri Komando Rakyat oleh Presiden Sukarno pada tanggal 19 Desember 1961.
Sebagai pemimpin GTRIB, Rumagesan diberikan penghargaan oleh Kodam VII/Wirabuana Resimen Infanteri-25 dan dari kepala staff TNI AD.
5. Buatkan Gambar dan Infografis tentang
Akhir Hayat dan Penghargaan
Machmud Singgirei Rumagesan
Akhir Hayat
Wafat di usia 78 tahun pada tanggal 5 Juli 1964.
Menghabiskan tahun-tahun akhirnya setelah berjuang aktif dalam pergerakan pro-integrasi dan Dewan Penasihat Tertinggi.
Penghargaan Pahlawan Nasional
Ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional berdasarkan Keputusan Presiden pada 10 November 2020.
Keppres Pahlawan: Keppres RI Nomor 117/TK/Tahun 2020 tentang Penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional.
Menjadi tokoh dan pahlawan nasional pertama yang berasal dari wilayah Papua Barat.
Diabadikan jasanya karena mendirikan Gerakan Tjendrawasih Revolusioner Irian Barat (GTRIB) untuk melawan Belanda.
[24/7 21.50] rudysugengp@gmail.com: 1. Buatkan Gambar dan Infografis tentang
Kehidupan Pribadi dan Pendidikan
Raden Said Sukanto Cokrodiatmojo
Kehidupan pribadi :
Raden Said Soekanto Tjokrodiatmodjo merupakan anak sulung dari enam bersaudara dari pasangan R. Martomihardjo, seorang pamong praja yang berasal dari Ketangi, Purworejo, Jawa Tengah dan Kasmirah dari Ciawi, Bogor, Jawa Barat. Soekanto lahir di rumah uak dari ibunya yang menikah dengan Ermeling, perwira KNIL yang tinggal di Bogor. Pada tahun 1908, Martomihardjo bekerja di Jasinga, Bogor, sebagai asisten wedana bersama keluarga kecilnya. Mereka tinggal di rumah keluarga Ermeling. Belum genap setahun usianya, Soekanto bersama orang tuanya meninggalkan Bogor dan pindah ke Balaraja, Serang karena Martomihardjo diangkat sebagai wedana di sana. Pada tahun 1910, Wedana Martomihardjo berpindah lagi ke tempat tugasnya yang baru di Tangerang. Tumbuh kembang Soekanto diwarnai oleh kehidupan penuh disiplin yang diterapkan ayahnya. Jabatan ayahnya sebagai pamong praja, terutama wedana, memberikan pengaruh besar bagi kehidupan Soekanto karena ayahnya memiliki kewibawaan tersendiri di mata masyarakat setempat.
Soekanto menikah dengan Hadidjah Lena Mokoginta, teman sekolah adik Soekanto di MULO, yakni Soenarti. Lena Mokoginta gadis dari Bolaang Mongondow, menetap di Jakarta setelah orang tuanya dikucilkan Belanda dari daerahnya. Lena Mokoginta adalah putri mantan Jogugu (pepatih dalam) Kerajaan Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara (Korteverklaring), yang dikenal tidak menyukai kebijakan-kebijakan pemerintah kolonialisme Belanda. Mereka menikah pada tanggal 21 April 1932.
Kehidupannya sangat sederhana sehingga menjadi panutan bagi bawahannya.
Pendidikan :
Soekanto termasuk sebagian kecil dari kaum pribumi yang memperoleh pendidikan Barat yang hanya terbuka bagi kalangan priyayi. Kondisi sosial tersebut memudahkannya dapat mengenyam pendidikan, seperti di Frobel School (Taman Kanak-kanak), ELS, HBS, dan RHS. Pendidikan Belanda yang dialaminya telah memberikan pengaruh penting terhadap proses kultural dalam peningkatan intelektualitas dan disiplin dalam dirinya, yang telah ditanamkan keluarga. Walaupun demikian, pendidikan Barat tersebut tidak menjadikan Soekanto terpengaruh oleh budaya Belanda. Pertahanannya dalam memegang teguh jati dirinya terlihat sejak sekolah di ELS Bogor. Ketika itu Soekanto menolak diberi nama Belanda sebagai kebanggaan kalangan kaum pribumi yang mendapat pendidikan dan pengasuhan orang-orang Belanda. Penolakan ini atas nasihat yang diberikan ayahnya untuk tidak mengganti nama Soekanto dengan panggilan nama Belanda. Penolakan Soekanto terhadap pemberian nama Belanda terulang kembali ketika tinggal di asrama HBS, Bandung.
Waktu kuliah di RHS tahun 1928, Soekanto berkenalan dengan tokoh-tokoh pergerakan, seperti Mr. Sartono dan Iwa Kusumasumantri. Mereka saling berdiskusi tentang perjuangan kemerdekaan Indonesia. Soekanto juga meminta pendapat mereka ketika harus meninggalkan kuliah di RHS dan berencana masuk Comissarisen Cursus, lembaga pendidikan tinggi kepolisian yang memberi kesempatan kepada anak-anak pejabat pribumi yang terpilih. Dia terpaksa meninggalkan RHS karena kondisi perekonomian ayahnya yang telah pensiun dari jabatan wedana Tangerang.
Pada 1930, Soekanto diterima sebagai siswa Aspirant Commisaris van Politie dengan lama pendidikan tiga tahun. Soekanto lulus pada tahun 1933 dan mendapat pangkat Komisaris Polisi kelas III. Sejak itu dimulailah karier Soekanto di kepolisian.
2. Buatkan Gambar dan Infografis tentang
Karier
Raden Said Sukanto Cokrodiatmojo
Menjadi Kepala Kepolisian Negara RI Pertama :
Tanggal 29 September 1945, R.S. Soekanto ditetapkan oleh Presiden Soekarno sebagai Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia. Soekarno berpesan agar R.S. Soekanto membangun Kepolisian Nasional. Kepolisian Nasional berarti mengubah mental kepolisian kolonial, yang juga berarti "sistem kepolisian nasional", yaitu yang bertugas di seluruh wilayah Republik Indonesia dan mengemban seluruh fungsi kepolisian yang terpecah-pecah pada masa Hindia Belanda untuk kepentingan pemerintah kolonial.
Soekanto memulai kariernya sebagai Kepala Kepolisian Negara RI yang baru saja diproklamasikan dengan "modal nol", tidak punya kantor, tidak punya staf, dan formal tidak punya wewenang karena melanjutkan Hoofd van de Dienst der Algemene Politie. Segala perundang-undangan Hindia Belanda dengan tugas dan wewenang kepolisian yang terpecah-pecah dianggap berlaku, bahkan sampai era Demokrasi Liberal, Demokrasi Terpimpin, dan sampai era Orde Baru.
Dalam sistem parlementer yang diberlakukan sejak November 1945 sampai 5 Juli 1959, dengan pemerintahan perdana menteri yang silih berganti, Soekanto tetap dipercaya menjabat Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia.
Sejak dilantik, Soekanto mengonsolidasi aparat kepolisian dengan mengemban pesan Presiden Soekarno membentuk Kepolisian Nasional.
Soekanto menjabat sebagai Kapolri sampai tanggal 15 Desember 1959. Keesokan harinya, tugas beliau dijabat oleh Soekarno Djojonagoro sebagai Pejabat Kapolri.
Orde Baru :
Pada masa Orde Baru, Soekanto sebagai tokoh nasional ditunjuk dan kemudian dilantik oleh Presiden Soeharto untuk menjadi anggota Dewan Pertimbangan Agung bersama 11 anggota lainnya dengan ketuanya Mr. Wilopo dan wakilnya Alamsyah Ratu Perwiranegara pada 8 Agustus 1973. Sebagai anggota DPA, Soekanto menduduki jabatan sebagai Ketua Seksi Kesejahteraan Rakyat. Tugas tersebut dia tekuni dengan segala kemampuan. Namun, dunia Orhiba yang ia besarkan hingga mancanegara tidak bisa ditinggalkan begitu saja. Selama menjadi anggota DPA, Soekanto sering melatih Orhiba sesama rekan anggota DPA, dan mereka pun merasakan manfaatnya. Salah satu contohnya, mereka selalu menolak pemeriksaan kesehatan bila hendak dinas ke luar negeri, tapi setelah mengikuti program latihan Orhiba, hasilnya menunjukkan tes kesehatan mereka pun baik. Setelah lima tahun menjadi anggota DPA, pada 23 Maret 1978, Soekanto diberhentikan dengan hormat, dan ia meninggalkan tugas tersebut dengan penuh kepuasan, bahwa pemerintah masih memercayai dirinya untuk mengabdikan diri guna kepentingan rakyat dan negara lewat jalur formal.
Kapolri :
R.S. Soekanto Tjokrodiatmodjo, Kepala Kepolisian RI pertama dan terlama (sejak 1945 sampai 1959), dikenal visioner, disiplin, jujur, dan konsisten terhadp komitmen dalam membentuk dan membangun Kepolisian Nasional. Dalam hal ini, Soekanto telah membuktikan komitmen dan profesionalismenya dalam melaksanakan fungsi dan tugas kepolisian yang memegang teguh politik negara selama 14 tahun menjabat Kepala Kepolisian Negara RI. Pengalaman tentang pergumulan, baik berupa pemikiran-pemikiran maupun tindakan-tindakannya yang terkonstruksi sebagai remembered history, menjadikan kehadirannya telah membawa warna dan pengaruh yang harus diingat dan dicatat sebagai bagian dari perjalanan unik sejarah Kepolisian Negara khususnya dan sejarah bangsa Indonesia umumnya.
3. Buatkan Gambar dan Infografis tentang
Akhir Hayat dan Penghargaan
Raden Said Sukanto Cokrodiatmojo
Penghargaan
Pada tahun 1961, Soekanto mendapat penghargaan berupa Satyalancana berdasarkan Keputusan Presiden RI tertanggal 18 Mei 1961, yakni Satyalancana Peringatan Perjuangan, Satyalancana Karya Bhakti, Satyalancana Jana Utama dan Satyalancana Karya Setia Kelas I. Menjelang peringatan Hari Bhayangkara 1 Juli 1968, Sekretaris Presiden menemui Soekanto di kediamannya untuk menyampaikan Keputusan Presiden No.168/ABRI/1968 tanggal 28 Juni 1968 tentang Kenaikan Pangkat Kehormatan bagi Soekanto menjadi Jenderal Polisi. Juga Keputusan Presiden No.025/TK/1968 tanggal 1 Juni 1968 tentang penganugerahan Bintang Mahaputra Adipradana bagi jasa-jasa Soekanto selama ini. Sekretaris Presiden, Moehono, menyampaikan berita bahwa penyematan bintang tersebut akan dilaksanakan bertepatan dengan Hari Bhayangkara 1 Juli 1968. Namun, Soekanto menyatakan bahwa dirinya sudah tidak memiliki baju dinas dan sipil yang baru, yang layak untuk dikenakan dalam upacara besar. Dan ketika hal itu disampaikan kepada Presiden Soeharto, beliau juga menyatakan bahwa akan menggunakan baju dinas lama dalam upacara tersebut.
Bertepatan dengan Peringatan Hari Bhayangkara XXII pada 1 Juli 1968 di Lapangan MABAK, Presiden Soeharto menyematkan Bintang Mahaputra Adipradana kepada Jenderal Polisi Kehormatan R.S. Soekanto Tjokrodiatmodjo. Sebagai ungkapan terima kasih kepada Tuhan Yang Maha Esa, Soekanto menundukkan kepala dan mengucap syukur pada-Nya. Ironisnya, orang pertama setelah upacara tersebut yang memberikan selamat adalah Djen Mohammad, mantan Kepala Komisariat Polisi Jakarta yang saat menjelang pemberhentian Soekanto adalah pejabat yang berapi-api mengadakan perubahan pimpinan Kepolisian Negara RI.
Pengakuan pemerintah pada jasa-jasa Soekanto selanjutnya diberikan dalam Keputusan Menhankam/Pangab No. Kep/B/367.1968 tanggal 17 September 1968 tentang Penganugerahan Satyalancana PK I dan Satyalancana PK II, Satyalancana GOM I sampai VII dan Satyalancana Sapta Marga. Pada tanggal 5 Oktober 1968, bertepatan dengan Hari ABRI, melalui Keputusan Presiden No.94/43/1968 tanggal 4 Oktober 1968, Soekanto dianugerahi Bintang Dharma sebagai penghormatan atas darma baktinya terhadap bangsa dan negara. Pada tanggal 1 Juli 1969, berdasarkan Keputusan Presiden RI No.020/TK/69 dan 022/TK/69 tanggal 1 Juli 1969, Soekanto dianugerahi Bintang Bhayangkara Utama Kelas I dan Satya Lencana Dasa Warsa yang disematkan oleh Hoegeng Imam Santoso selaku Kapolri waktu itu. Demikianlah pengembalian nama baik Soekanto yang akhirnya diperoleh setelah menerima perlakuan kurang wajar selaku Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia pertama.
Wafat :
Soekanto wafat pada tanggal 25 Agustus 1993. Beliau dimakamkan satu liang lahat dengan istrinya di TPU Tanah Kusir, Jakarta. Untuk menghormati jasa-jasanya, namanya diabadikan dalam nama sebuah rumah sakit di Jakarta, Rumah Sakit Polri Soekanto di Kramat Jati, Jakarta Timur.
Pada tanggal 10 November 2020 secara anumerta Soekanto memperoleh anugerah gelar Pahlawan Nasional Indonesia dari Presiden RI Joko Widodo.
Ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional melalui Keppres No. 117/TK/2020 yang ditandatangani pada tanggal 6 November 2020.
[24/7 22.36] rudysugengp@gmail.com: 1. Buatkan Gambar dan Infografis tentang
Kehidupan awal dan Sewaktu di Belanda
Arnold Mononutu
Kehidupan awal :
Mononutu lahir di Manado pada tanggal 4 Desember 1896. Ayahnya bernama Karel Charles Wilson Mononutu dan ibunya bernama Agustina van der Slot. Baik ayah dan kakeknya adalah tokoh terkemuka dalam masa-masa mereka. Ayahnya adalah seorang pegawai negeri (ambtenaar) Hindia Belanda. Kakeknya yang juga bernama Arnold Mononutu adalah orang Minahasa pertama yang menyelesaikan studi di sekolah untuk pelatihan dokter pribumi (School tot Opleiding van Inlandsche Artsen, STOVIA) di Batavia.
Ketika Mononutu berusia dua tahun, ayahnya ditugaskan ke Gorontalo. Empat adiknya lahir di Gorontalo, tetapi sayangnya keempatnya meninggal antara lima dan enam bulan. Pada tahun 1903, Mononutu mengikuti sekolah dasar bahasa Belanda (Europeesche Lagere School, ELS) di Gorontalo. Ia melanjutkan studinya di tingkat sekolah yang sama di Manado setelah ayahnya dipindahtugaskan ke Manado. Pada tahun 1913, Mononutu belajar di sekolah menengah Belanda (Hogere burgerschool, HBS) di Batavia di mana ia bertemu dan berteman dengan AA Maramis yang juga dari Minahasa dan Achmad Subardjo.
Sewaktu di Belanda :
Pada tahun 1920, Mononutu berangkat ke Eropa untuk memulai studinya di Belanda. Setelah beberapa tahun mengambil kursus persiapan untuk mendaftar di universitas, ia memutuskan untuk mendaftar di Akademi Hukum Internasional Den Haag (Académie de droit internasional de La Haye di Den Haag). Pada awalnya, Mononutu tidak memiliki jiwa nasionalisme. Namun, setelah menghadiri rapat-rapat Perhimpunan Indonesia (Indische Vereeniging) di Belanda, rasa nasionalisme untuk Indonesia mulai bertumbuh dalam dirinya. Dia menjadi lebih terlibat dalam organisasi tersebut dan terpilih sebagai wakil ketua pada periode yang sama di mana Mohammad Hatta terpilih sebagai bendahara.
Ketika Soekiman Wirjosandjojo menjadi ketua Perhimpunan Indonesia, Mononutu diminta untuk mewakili organisasi ini di antara organisasi-organisasi mahasiswa di Paris. Selama berada di Paris, unsur-unsur dari Dinas Intelijen Politik Belanda (Politieke Inlichtingen Dienst) menjadi curiga terhadap kegiatan-kegiatan Mononutu. Pemerintah kolonial di Indonesia menyebarkan desas-desus palsu kepada ayahnya bahwa dia bersimpati kepada gerakan komunis. Ayahnya diancam akan dipindahkan dari posisinya jika ia terus mengirimkan uang kepada anaknya. Ketika ayahnya berhenti membiayainya, Mononutu menjadi tergantung pada teman-temannya. Dia kembali ke Belanda dari Prancis dan tinggal bersama Ali Sastroamidjojo dan keluarganya. Setelah diam-diam menerima uang dari ayahnya melalui pamannya yang datang ke Belanda, Mononutu dapat membayar semua hutangnya dan ia kembali ke Indonesia pada bulan September 1927.
2. Buatkan Gambar dan Infografis tentang
Kembali ke Indonesia
Arnold Mononutu
Kembali ke Indonesia :
Setelah kembali ke Indonesia, Mononutu segera terlibat dalam upaya nasionalisme. Ia menjadi anggota Partai Nasional Indonesia (PNI) yang baru dibentuk. Ia juga bertemu dengan pendirinya, Soekarno, untuk pertama kalinya. Mononutu menyewa sebuah kamar di rumah yang sama dengan Suwirjo dan Sugondo Djojopuspito yang keduanya adalah pemimpin Perhimpunan Pelajar Pelajar Indonesia. Organisasi ini adalah bagian dari Kongres Pemuda Indonesia Kedua pada tahun 1928 yang menghasilkan Sumpah Pemuda.
Pada mulanya, Mononutu bekerja untuk sebuah perusahaan eksplorasi minyak Jepang bernama Mitsui Buissan Kaisha, tetapi kemudian memutuskan untuk bekerja di Perguruan Rakyat yang baru didirikan walaupun dengan gaji yang lebih rendah. Ia mengelola dan mengajar di sekolah-sekolah yang didirikan oleh Perguruan Rakyat. Guru-guru lain termasuk Mohammad Yamin dan Gunawan Mangunkusumo (saudara Tjipto Mangoenkoesoemo). Sekolah-sekolah tersebut memiliki total sekitar 300 siswa yang terdaftar. Pada tahun 1930, Mononutu harus meninggalkan posisinya di Perguruan Rakyat dan kembali ke Manado, karena dia menerima kabar bahwa ibunya sakit.
Waktu di Manado dan Ternate :
Mononutu tinggal di Manado selama 12 tahun dari 1930 hingga 1942. Selama waktu ini, ia menjadi direktur koperasi kopra. Koperasi ini memiliki sekitar 500 anggota yang tersebar di seluruh wilayah Minahasa dan Bolaang Mongondow. Mononutu berhasil mendapatkan kredit dari Bank Kredit Umum Rakyat (Algemene Volkscredietbank) yang sekarang Bank Rakyat Indonesia untuk membayar hutang-hutang para petani kopra. Ini memungkinkan para petani untuk menjual kopra mereka ke koperasi, yang menawarkan harga lebih stabil dan sesuai dengan standar. Kopra itu kemudian diekspor melalui Nationale Handelsbank yakni sebuah bank yang didirikan Belanda untuk membiayai perdagangan antara Belanda dan Hindia Belanda.
Pada awal pendudukan Jepang pada tahun 1942, Mononutu dicari oleh Jepang karena sikap nasionalisnya dan hubungannya dengan organisasi-organisasi nasionalis. Dengan bantuan seorang Jepang yang bersimpatik bernama Yamanishi, Mononutu melarikan diri ke pulau Ternate di Kepulauan Maluku dan menetap di sana sampai akhir pendudukan Jepang.
3. Buatkan Gambar dan Infografis tentang
Keterlibatan dalam Negara Indonesia Timur
Arnold Mononutu
Keterlibatan dalam Negara Indonesia Timur :
Setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, Mononutu memfokuskan usahanya untuk membantu rakyat Maluku Utara untuk menentukan respon mereka yang terbaik. Dia adalah salah seorang yang mendirikan organisasi politik bernama Persatuan Indonesia. Sebuah koran bernama Menara Merdeka diterbitkan untuk mempromosikan cita-cita Persatuan Indonesia. Koran ini memberikan pesan-pesan pro-republik dan mengkritik upaya-upaya Belanda untuk membentuk sebuah negara yang terpisah dari Republik Indonesia yang baru saja diproklamasikan.
Upaya Belanda untuk menemukan solusi federalis untuk Indonesia termasuk diantaranya pembentukan Negara Indonesia Timur (NIT) pada tahun 1946. Mononutu menjadi anggota parlemen NIT dan memimpin kelompok anggota parlemen yang pro-republik. Dia memfokuskan usahanya untuk membujuk anggota parlemen lain untuk mendukung gagasan menyatukan NIT dengan Republik Indonesia. Setelah Agresi Militer Belanda I pada tahun 1947, Mononutu mendirikan Gabungan Perjuangan Kemerdekaan Indonesia. Organisasi ini berusaha menyoroti tindakan Belanda yang berupaya untuk kembali menjajah Indonesia. Pada bulan Februari 1948, ia memimpin sebuah delegasi NIT untuk mengunjungi dan bertemu dengan para pemimpin Republik Indonesia di Yogyakarta. Pada tahun 1949, NIT menjadi konstituen dari Republik Indonesia Serikat (RIS), yang kemudian dibubarkan pada 17 Agustus 1950 dan digantikan oleh Republik Indonesia yang bersatu.
4. Buatkan Gambar dan Infografis tentang
Menteri Penerangan dan
Rektor Universitas Hasanuddin
Arnold Mononutu
Menteri Penerangan :
Mononutu ditunjuk sebagai Menteri Penerangan dalam pemerintahan Indonesia pada tiga kesempatan terpisah:
Di Kabinet Republik Indonesia Serikat mulai 20 Desember 1949 hingga 6 September 1950.
Di Kabinet Sukiman-Suwirjo dari 27 April 1951 hingga April 1952.
Di Kabinet Wilopo dari 3 April 1952 hingga 30 Juli 1953.
Selama menjabat sebagai menteri penerangan, beberapa daerah di Indonesia diguncang oleh pemberontakan-pemberontakan termasuk di Jawa Barat (Angkatan Perang Ratu Adil), Sulawesi Selatan (oleh Andi Azis), dan Maluku (oleh Chris Soumokil). Mononutu bersama dengan Soekarno mengunjungi daerah-daerah ini dan dalam rapat-rapat terbuka mempromosikan cita-cita sebuah bangsa yang bersatu.
Pada tahun 1949 sesudah berlangsungnya Konferensi Meja Bundar di Den Haag, Belanda, yang menghasilkan kesepakatan pembentukan RIS, dalam suatu tim kerja dengan kolega terdekatnya sesama Diplomat, Mr. Soedibjo Wirjowerdojo (yang kemudian mendampinginya selaku charge d'affaires/Wakil Duta Besar di RRT tahun 1953–1955), ia yang pertama kali mengumumkan nama Batavia menjadi Jakarta. Sedangkan Mr. Soedibjo Wirjowerdojo mengumumkannya di Belanda.
Rektor Universitas Hasanuddin :
Pada tahun 1960, Mononutu diminta oleh Soekarno untuk menjadi rektor Universitas Hasanuddin. Dalam lima tahun jabatannya sebagai rektor, jumlah mahasiswa bertumbuh dari 4000 mahasiswa menjadi 8000 mahasiswa. Pada awal jabatannya, universitas ini hanya memiliki tiga fakultas yaitu Fakultas Ekonomi, Fakultas Hukum, dan Fakultas Kedokteran. Selama masa jabatannya, enam fakultas baru didirikan yakni Fakultas Ilmu Pasti dan Alam, Fakultas Pertanian, Fakultas Peternakan, Fakultas Sastra, Fakultas Sosial Politik, dan Fakultas Teknik.
5. Buatkan Gambar dan Infografis tentang
Akhir Hayat dan Penghargaan
Arnold Mononutu
Meninggal :
Nama lengkap Arnoldus Isaac Zacharias Mononutu.
Pada tanggal 5 September 1983 (usia 86 tahun), Mononutu wafat dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata Nasional Utama, Jakarta Selatan.
Penghargaan :
Pada tanggal 15 Februari 1961, Mononutu dianugerahi Bintang Mahaputra Utama yaitu penghargaan tertinggi yang diberikan kepada seorang warga sipil oleh pemerintah Indonesia.
Penghargaan juga diberikan atas jasa luar biasa dalam perjuangan politik, mempertahankan kemerdekaan, serta mengumumkan pertama kali nama Batavia menjadi Jakarta pada tahun 1949.
Sebelumnya, Mantan Pejabat Gubernur Sulawesi Utara, Dr Soni Sumarsono MDM memang pernah mengusulkan Mononutu dan pejuang Indonesia lainnya, Bataha Santiago menjadi pahlawan nasional. Pengusulan mereka sempat dibahas dalam seminar nasional yang dilaksanakan oleh Pemerintah Kabupaten Minut bersama DPP Korps Pembangunan Merah Putih di Aula Pemkab Minut pada 24 April 2015.
Pada tanggal 10 November 2020, ia dianugerahi gelar Pahlawan Nasional oleh Presiden Joko Widodo dalam sebuah upacara di Istana Negara, berdasarkan Keppres RI Nomor 117/TK Tahun 2020.
[24/7 23.20] rudysugengp@gmail.com: 1. Buatkan Gambar dan Infografis tentang
Biodata dan Kehidupan awal
Sutan Muhammad Amin Nasution
Informasi pribadi
Lahir :
Krueng Raba Nasution
22 Februari 1904
Lhoknga, Aceh Besar, Aceh
Meninggal :
16 April 1993 (umur 89)
Jakarta, Indonesia
Makam :
Taman Pemakaman Umum Tanah Kusir, Jakarta
Istri :
Cut Maryam
Anak :
4, termasuk Aida Zulaika Nasution
Orang tua :
Muhammad Taif
Siti Madina
Kehidupan awal :
Nasution lahir pada tanggal 22 Februari 1904 di Lhoknga, Aceh Besar, dengan nama Krueng Raba Nasution. Ia lahir sebagai anak dari Muhammad Taif gelar Raja Aminuddin dan Siti Madinah, dari etnis Suku Mandailing. Dia adalah anak kelima dari enam bersaudara yang dimiliki orang tuanya.
Nasution belajar di Europeesche Lagere School (ELS, Sekolah Dasar Eropa) di Sabang pada tahun 1912. Tiga tahun kemudian, pada tahun 1915, ia pindah ke ELS di Solok, dan pada tahun 1916, ia pindah lagi ke ELS di Sibolga dan ELS di Tanjung Pinang hingga akhirnya lulus pada tahun 1918.
Setelah lulus dari sekolah tersebut, ia melanjutkan studi di sekolah kedokteran STOVIA di Batavia pada tahun 1919. Di STOVIA, ia aktif dalam gerakan kemahasiswaan dan bergabung dengan Jong Sumatranen Bond (Persatuan Pelajar Sumatra). Ia hanya belajar di STOVIA selama dua tahun, sampai ia keluar pada tahun 1921.
Pada tahun 1921, Nasution bersekolah di Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO, Sekolah Menengah Pertama). Prestasi akademisnya di sekolah menengah tersebut membuatnya diterima sebagai siswa di Algemeene Middelbare School (AMS, Sekolah Menengah Atas) di Jogjakarta. Selama di AMS, dia dikenalkan dengan ideologi nasionalis oleh temannya Mohammad Yamin. Pada pertengahan 1927, ia lulus dari AMS dengan nilai bagus, dan melanjutkan studinya di Rechtschoogeschool (Sekolah Tinggi Hukum) di Batavia.
Selama masa studinya di Rechtschoogeschool, ia menjadi salah satu pendiri organisasi Pemuda Indonesia. Organisasi tersebut kemudian menggelar Kongres Pemuda Kedua di Batavia.
2. Buatkan Gambar dan Infografis tentang
Karier dan Gubernur Muda Sumatera Utara
Sutan Muhammad Amin Nasution
Karier :
Setelah lulus akhirnya ia memperoleh gelar Meester in de Rechten (Mr., Magister Hukum) dan pada tanggal 16 Juli 1934, ia memulai kariernya sebagai pengacara di Kutaraja, Aceh. Dia menentang ayahnya, yang ingin dia bekerja sebagai pegawai negeri sipil di pemerintah Hindia Belanda.
Sekitar tujuh tahun setelah kariernya dimulai, pasukan Jepang menduduki Aceh. Selama pendudukan Jepang, dia bekerja sebagai hakim di Sigli.
Setahun setelah diangkat sebagai hakim, ia dimutasi sebagai direktur Sekolah Menengah Atas Kutaraja. Ia juga menjadi guru di sana.
Selama waktu ini, ia menjadi anggota Partai Indonesia Raya.
Sebagai Gubernur Muda Sumatera Utara :
Setelah Jepang menyerah pada tanggal 15 Agustus 1945, kemerdekaan Indonesia diproklamasikan pada tanggal 17 Agustus 1945. Pemerintah Indonesia dengan cepat membentuk provinsi dan mengangkat gubernur untuk provinsi. Provinsi Sumatera yang terdiri dari Karesidenan Sumatera Utara, Sumatera Tengah, dan Sumatera Selatan dibentuk, dan Teuku Mohammad Hasan dilantik sebagai Gubernur provinsi pada tanggal 29 September 1945. Sumatera Utara terdiri dari Aceh, Tapanuli, dan Karesidenan Sumatera Timur.
Sebagai Gubernur Sumatera, Hasan menunjuk tiga gubernur muda untuk bertindak sebagai wakilnya di Karesidenan. Nasution dilantik oleh Hasan sebagai Gubernur Muda Sumatera Utara pada tanggal 14 April 1947. Pelantikannya bertempat di Gedung Divisi Gajah II Siantar, dan dihadiri oleh Teuku Muhammad Daud Syah, Residen Aceh, Ferdinand Lumban Tobing, Residen Sumatera Utara, dan Abubakar Jaar, Residen Sumatera Timur.
Pada awalnya diputuskan bahwa ibukota karesidenan Sumatera Utara adalah Medan, namun karena pendudukan Medan oleh tentara Belanda, diputuskan lokasi pelantikan Nasution, Siantar, sebagai ibu kota karesidenan. Beberapa waktu kemudian, Siantar diduduki oleh tentara Belanda, sehingga pemerintah kabupaten memutuskan untuk memindahkan ibu kota ke Kutaraja, Aceh.
Meskipun Siantar diduduki tentara Belanda, Nasution serampangan mendatangi rumah ibunya di Desa Mandailing, Siantar. Ketika Nasution datang, rumah ibunya dikepung oleh tentara Belanda. Dia ditangkap dan dibawa ke Medan dengan pengawalan ketat. Dia dimasukkan ke dalam tahanan rumah di bawah pengawasan ketat di sebuah rumah milik seorang pria bernama Yusuf.
Dalam masa tahanan rumahnya, Nasution mengamati persiapan pembentukan Negara Sumatera Timur yang dihadiri tokoh-tokoh di Sumatera Timur. Ia mencatat, ada beberapa simpatisan Republik Indonesia yang turut serta dalam persiapan tersebut. Dia juga menemukan gerakan bawah tanah yang melawan negara.
Setelah 40 hari menjalani tahanan rumah, Nasution melarikan diri dari rumah tersebut. Ia meninggalkan Medan menuju Penang, dan setelah beberapa hari di Penang, ia kembali ke Aceh.
Pada 17 Januari 1948, ia diberhentikan sementara dari jabatannya sebagai Gubernur Muda Sumatera Utara, dan diangkat sebagai anggota Mahkamah Agung Angkatan Darat dan diberi pangkat mayor jenderal, meskipun tidak memiliki pengalaman militer.
3. Buatkan Gambar dan Infografis tentang
Kiprah di Pemerintahan
Sutan Muhammad Amin Nasution
Sebagai Gubernur Sumatera Utara :
Dengan Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1948 tanggal 15 April 1948 Provinsi Sumatera dihapuskan, dan Karesidenan Sumatera Utara, Sumatera Tengah, dan Sumatera Selatan menjadi Provinsi. Nasution dilantik oleh Presiden Sukarno sebagai Gubernur Sumatera Utara pada tanggal 19 Juni 1948. Pelantikannya dimulai pukul 20.00, dan dihadiri oleh Daud Beureu'eh, Gubernur Militer Aceh, Langkat, dan Karo.
Pada masa jabatannya, ia mulai mencetak uang daerah untuk provinsi Sumatera Utara, yaitu Uang Republik Indonesia Sumatera Utara (URIPSU, Uang Republik Indonesia untuk Sumatera Utara). Kebijakan ini diterapkan untuk memperbaiki ekonomi yang dilanda perang, dan uang tersebut secara resmi dikeluarkan pada tanggal 1 Maret 1949 dengan tanda tangan Nasution di atasnya.
Komisaris Pemerintah Sumatera Utara :
Setelah pendudukan Jogjakarta, pusat pemerintahan Indonesia di Jawa dibubarkan. Untuk mengatasi masalah tersebut, Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) dibentuk pada tanggal 22 Desember 1948 di Bukittinggi, Sumatera Tengah (sekarang Sumatera Barat). Selama pemerintahan darurat ini, posisi gubernur dihapuskan, dan kekuasaan sipil dan militer diserahkan kepada gubernur militer.
Di Sumatera Utara, Nasution menyerahkan kekuasaannya kepada Gubernur Militer Ferdinand Lumbantobing (untuk wilayah Tapanuli dan Sumatra Tenggara) dan Daud Beureu'eh (untuk Kabupaten Langkat dan Karo). Nasution sendiri menjadi Komisioner Pemerintah Pusat untuk Sumatera Utara pada 17 Mei 1949, dengan keputusan PDRI No. 23.
Pasca terbentuknya Republik Indonesia Serikat, maka dibentuk Panitia Persiapan Negara Kesatuan Sumatera Timur (PPKNST) pada 14 Juli 1950 dengan Surat Keputusan Menteri Dalam Negeri. Tugas pokok panitia adalah mengintegrasikan Negara Sumatera Timur ke dalam Republik Indonesia. Nasution diangkat sebagai anggota komite.
Dengan pembubaran resmi Negara Sumatera Timur pada 13 Agustus 1950, maka jabatan Gubernur Sumatera Utara ditetapkan pada 14 Agustus 1950. Sarimin Reksodihardjo, ketua PPKNST, diangkat sebagai penjabat Gubernur Sumatera Utara. Nasution kemudian menyerahkan posisinya kepada Sarimin.
Setelah penyerahan kekuasaan kepada Sarimin, Nasution pindah ke Jakarta dan bekerja sebagai pengacara.
Periode kedua :
Pada tanggal 23 Oktober 1953, Nasution dipilih kembali sebagai Gubernur Sumatera Utara oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Sumatera Utara.
Pada masa jabatan keduanya, Nasution dihadapkan pada tuntutan Karesidenan Aceh untuk menjadi daerah otonom. Tuntutan ini meningkat menjadi pemberontakan bersenjata ketika mantan Gubernur Militer Aceh, Daud Beureu'eh, mendeklarasikan Aceh sebagai bagian dari Negara Islam Indonesia pada tanggal 20 September 1953. Sejak itu, masalah lain bermunculan dari pemberontakan ini, seperti konflik antara ulama yang tergabung dalam Persatuan Ulama Seluruh Aceh (PUSA) dan ulama non-PUSA, dan gerakan Sayid Ali.
Setelah masa jabatannya sebagai Gubernur Sumatera Utara berakhir pada 12 Maret 1956, ia pindah lagi ke Jakarta dan bekerja di bawah Kementerian Dalam Negeri.
Di Kementerian Dalam Negeri :
Selama bekerja di Kementerian Dalam Negeri, Amin menjadi penggerak utama konsep otonomi daerah. Ia menjadi Ketua Panitia Divisi Regional Indonesia. Dia menduduki posisi tersebut sampai 31 Agustus 1956.
4. Buatkan Gambar dan Infografis tentang
Akhir Hayat dan Penghargaan
Sutan Muhammad Amin Nasution
Wafat :
Pukul 12.15 tanggal 16 April 1993, Nasution meninggal dunia di Rumah Sakit Angkatan Laut Indonesia di Jakarta. Ia dimakamkan di Taman Pemakaman Umum Tanah Kusir pada pukul 12:00 siang tanggal 17 April 1993.
Penghargaan :
* Pahlawan Nasional Indonesia, dari Presiden Joko Widodo, 10 November 2020. (Keputusan Presiden Nomor 117/TK/Tahun 2020)
* Bintang Mahaputera Adipradana, dari Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono, 10 November 2009.
* Bintang Mahaputera, dari Presiden B.J. Habibie 1998
* Bintang Jasa Utama, dari Presiden Soeharto 1991
* Bintang Legiun Veteran Republik Indonesia, 1991
* Satyalancana Peringatan Kemerdekaan RI, 1961.
Peninggalan :
Pemerintah Sumatera Utara telah berkampanye untuk menjadikan Nasution sebagai Pahlawan Nasional Indonesia.
Sebuah jalan di Pekanbaru, ibu kota Riau, dinamai menurut namanya.
Peran dan Riwayat Singkat
Deklarator Sumpah Pemuda:
Ikut serta aktif dalam Kongres Pemuda II pada 28 Oktober 1928.
Gubernur Pertama:
Pernah menjabat sebagai Gubernur Muda Sumatera Utara dan Gubernur Riau pertama.
Tokoh Pejuang:
Berperan besar dalam mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia di wilayah Sumatera.
[24/7 23.51] rudysugengp@gmail.com: 1. Buatkan Gambar dan Infografis tentang
Informasi Pribadi dan Latar belakang
Raden Mattaher
Informasi Pribadi
Raden Mohammad Tahir
Lahir :
1871
Dusun Sekamis, Kesultanan Jambi
Meninggal :
10 September 1907 (umur 35–36)
Dusun Muaro Jambi, Keresidenan Jambi, Hindia Belanda
Nama lain :
Pangeran Mattahir
Dikenal atas
Pejuang Kemerdekaan Indonesia dari Jambi, dan Pahlawan Nasional Indonesia
Orang tua :
Raden Kusin (ayah)
Ratumas Esa (ibu)
Kerabat :
Sultan Thaha Syaifuddin (kakek)
Latar belakang :
Mattaher lahir pada tahun 1871 di Dusun Sekamis, Kasau Melintang Pauh, Air Hitam, Batin VI, Jambi dan meninggal di Dusun Muaro Jambi, 10 September 1907. Ayahnya bernama Pangeran Kusin yang wafatnya di Mekkah, sedangkan ibunya adalah Ratumas Esa (Ratumas Tija) kelahiran Mentawak Air Hitam Pauh, dahulunya adalah daerah tempat berkuasanya Temenggung Merah Mato.
Mattaher silsilahnya adalah Raden Mattaher bin Raden Kusin dengan gelar Pangeran Jayoningrat bin Pangeran Adi bin Raden Mochamad gelar Sultan Mochammad Fachruddin. Ia sendiri adalah cucu dari Sultan Thaha Saifuddin yang merupakan salah satu Pahlawan Nasional. Hubungannya kakek dari Raden Mattaher yang bernama Pangeran Adi adalah saudara kandung dari Sultan Thaha Saifuddin.
2. Buatkan Gambar dan Infografis tentang
Perjuangan Melawan Belanda
Raden Mattaher
Raden Mattaher lebih dikenal pula sebagai seorang panglima perang, la telah bergabung dengan laskar perjuangan sejak usia muda. Ia menjadi panglima menggantikan ayahnya Raden Kusen yang meninggal dunia ketika menunaikan ibadah haji. Selama menjadi panglima, ia telah memimpin perjuangan rakyat Jambi melawan kolonial Belanda. Raden Mattaher setidaknya telah memimpin sembilan pertempuran melawan kolonial Belanda. Sepanjang hidup beliau sampai meninggal, Raden Mattaher hidup dalam perjuangan melawan Belanda, bahkan lebih banyak hidup dalam pelarian sehingga jarang berkumpul bersama keluarga.
Raden Mattaher tidak bisa dipisahkan dari Sultan Thaha Syaifuddin. Sebab, beliau merupakan sosok panglima perang tangguh yang dimiliki Sultan Thaha masa itu. Sosoknya dengan segudang taktik gerilya, Mattaher mampu menggempur serdadu Belanda. Oleh prajurit dan masyarakatnya pada masa itu, ia mendapat gelar Singo Kumpeh. Julukan itu diberikan karena keberingasannya layaknya singa dalam menumpas penjajah.
Raden Mattaher bertugas sebagai panglima perang. Ia membentuk kantong-kantong dan barisan pertahanan serta barisan perlawanan yang bergerak di terotirial dari Muara Tembesi sampai ke Muaro Kumpeh. Pola serangan yang difokuskan Mattaher adalah dengan menyerang kapal-kapal perang Belanda yang masuk ke Jambi lewat jalur sungai. Kapal-kapal perang Belanda itu membawa personil, obat medis dan amunisinya.
Berkat taktik perangnya yang memfokuskan pada pola menyerang kapal yang bermuatan personil tentara dan amunisinya itu, Mattaher paling ditakuti oleh tentara Belanda. Pada tahun 1885 Sultan Thaha dan Raden Mattaher berhasil menenggelamkan kapal perang Belanda di perairan Sungai Kumpeh Muaro Jambi. Peristiwa (penenggalaman kapal) itulah menjadi tonggak sejarah dan membuatnya digelari sebagai Singo Kumpeh. Akibatnya perang Kumpeh ini berlanjut menjadi perang berkepanjangan yang berlangsung dari tahun 1890-1906.
Di awal tahun 1900, Raden Mattaher bersama Pangeran Maaji di Tanjung Penyaringan melakukan penyerangan terhadap konvoi 8 jukung Belanda yang ditarik oleh kapal Musi. Kapal Musi dan jukung Belanda membawa senjata, perlengkapan perang, dan perbekalan, untuk dibawa dari Muara Tembesi menuju Sarolangun. Persenjataan ini diperuntukkan Belanda untuk membantu militer Belanda yang sedang bertempur di benteng Tanjung Gagak. Pasukan Raden Mattaher dan Pangeran Karto serta Panglima Tudak Alam dari Mentawak menyerang iringan jukung dan kapal Musi Belanda. Semua serdadu Belanda mati terbunuh dan semua senjata berhasil dirampas.
Pada pertengahan April 1901 pasukan Raden Mattaher, Raden Pamuk dan Raden Perang bergerak/menyerang Pos Pasukan Belanda di Banyu Lincir (Bayung Lincir). Kepala Bea Cukai dan pengawalnya mati terbunuh. Banyak senjata pendek Belanda dapat dirampas. Pada penyerangan itu uang sebesar 5.000 gulden dan uang 30.000 ringgit cap tongkat di dalam brangkas milik perusahaan minyak berhasil dirampas pasukan Raden Mattaher. Peti kas baja berisi uang tersebut dibawa oleh pasukan Suku Anak Dalam Pimpinan Raden Perang ke Bahar dan lalu dibongkar. Dalam penyerangan itu seorang pasukan Raden Mat Tahir tewas dan 3 orang luka-luka.
Dalam tahun 1901 pula, pasukan Raden Mattaher melakukan penyerangan lagi terhadap pasukan Belanda di Sungai Bengkal. Pasukan Raden Mattaher banyak merampas senjata Belanda dan karaben. Dari Sungai Bengkal pasukan Raden Mattaher dibantu pasukan Raden Usman dan Puspo Ali terus bergerak menyerang Belanda di Merlung. Dari Merlung pasukan Raden Mattaher terus bergerak ke Labuhan Dagang, Tungkal Ulu. Dari Tungkal Ulu pasukan Raden Mattaher bersama 40 orang pasukannya lewat Pematang Lumut bergerak menuju Sengeti, lalu menuju Pijoan. Di Pijoan bivak Belanda diserang, pasukan Raden Mattaher memperoleh banyak senjata kerabin.
Pada tahun 1902 Pasukan Raden Mattaher di Tanjung Gedang Sungai Alai melakukan penyerangan terhadap 30 buah perahu jukung berisi serdadu Belanda. Perahu jukung berhasil ditenggelamkan dan semua serdadu Belanda mati terbunuh.
Setelah Sultan Thaha Saifuddin gugur pada tanggal 23 April 1904 itu, perlawanan terus ditingkatkan di mana-mana, Raden Mattahir di bagian Ilir Jambi, dengan Umar dibagian Ulu. Mattaher beserta panglima-panglima yang lain terus menerus disana ada kesempatan yang baik, menyerbu, menghadang, dan menyergap patrol-patroli Belanda di mana-mana dalam daerah hukumnya, daerah teriteorial yang telah dtetapkan Sultan kepadanya.
3. Buatkan Gambar dan Infografis tentang
Akhir Hayat dan Penghargaan
Raden Mattaher
Kematian :
Perjuangan Raden Mattaher berakhir pada 10 September 1907. Ia ditembak mati di rumahnya sendiri dalam sebuah operasi militer Belanda. Setelah tahu Mattaher mati terbunuh, pasukan Belanda langsung membawa mayatnya ke Kota Jambi dengan menggunakan kapal. Atas permintaan para pemuka agama, maka Raden Mattaher dimakamkan secara Islam di komplek pemakaman raja-raja Jambi di tepi Danau Sipin Kota Jambi. Selain itu jari kelingking Mattaher juga dimakamkan di sebuah desa di Muaro Jambi.
Masih ada lobang bekas tembakan peluru pada tiang-tiang kayu rumah. Rumah tersebut berukuran 6 x 12 meter persegi, berada sekitar 30 meter dari lokasi Candi Astano di Kompleks Candi Muaro Jambi. Pada peristiwa tembak-menebak di Muaro Jambi tersebut, selain Raden Mattaher, gugur pula Raden Pamuk dan seorang pengawal bernama Gabuk. Keduanya tewas ditembus timah panas serdadu Belanda.
Penghargaan :
Nama besar Raden Mattaher diabadikan menjadi nama Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Provinsi Jambi, beberapa nama jalan, nama lapangan tembak dan nama yayasan di Kota Jambi.
Pada tanggal 10 November 2020, Raden Mattaher dianugerahi gelar pahlawan nasional dari Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo, ditetapkan melalui Keputusan Presiden Nomor 117/TK/Tahun 2020 pada tanggal 6 November 2020.