Bayangin lo hidup di zaman sekarang, tapi nama lo gak ada di database kependudukan mana pun. Lo gak punya NIK, gak punya kartu SIM, gak ada jejak transaksi bank, tapi pergerakan lo bisa bikin tiga dinas intelijen raksasa kelas dunia, Belanda, Inggris, sama Amerika kebakaran jenggot selama puluhan tahun. Nah, ini bukan plot film spionase Hollywood garapan Hollywood. Ini kisah nyata dari seorang pemuda asal Minangkabau bernama Ibrahim gelar Datuk Sutan Malaka, atau yang lebih kita kenal dengan nama Tan Malaka.
Kadang gue mikir, betapa absurdnya sejarah negeri ini. Kita sering dijejali narasi pahlawan yang sifatnya sangat prosedural dan rapi. Duduk di meja perundingan pakai setelan jas, atau mimpin orasi di lapangan terbuka sambil diteriaki ribuan massa. Tapi Tan Malaka beda total. Dia beroperasi di lorong-lorong gelap Asia Tenggara, Eropa, sampai Tiongkok. Dia bergerak bagaikan hantu yang punya seribu muka. Peneliti asal Belanda, Harry A. Poeze, bahkan butuh waktu lebih dari empat puluh tahun cuma buat merekonstruksi ulang jejak langkah manusia satu ini. Poeze sampai mengubrak-abrik arsip rahasia Politieke Inlichtingen Dienst (PID) dan dokumen Special Branch di berbagai negara. Dari situ baru kelihatan kalau Tan Malaka itu bukan cuma seorang ideolog yang cuma jago teori di atas kertas. Dia ini operator lapangan tingkat tinggi. Manusia yang bisa hidup bertahan di bawah tekanan pelarian tanpa henti.
Gue sempat geleng-geleng kepala waktu nemu data penyamarannya. Bayangin aja, waktu dia lagi dikejar-kejar agen kolonial di Filipina, dia memakai nama Elias Fuentes atau Estanislao Rivera, berbaur santai dengan kalangan intelektual lokal di Manila. Pas geser ke Amoy, Tiongkok, dia berubah identitas jadi Howard Law, ngajar bahasa Inggris ke anak-anak lokal sambil berpura-pura jadi warga Tionghoa kelahiran Hawaii. Begitu masuk ke Banten di masa pendudukan Jepang, dia nyamar jadi kuli dan juru tulis bernoda jelutung dengan nama Ilias Hussein. Bahkan demi ngecoh foto burokam PID yang disebar ke pelabuhan internasional, dia tega mencabut beberapa gigi aslinya sendiri terus diganti pakai gigi palsu dengan bentuk rahang yang beda, gilaa banget sih ini. Muka aslinya langsung berubah total. Disiplin operational security atau OpSec orang ini benar-benar gila. Dia memutus hubungan sama keluarga, gak pernah punya alamat tetap, dan menolak bikin lingkaran pertemanan yang terlalu dekat. Kesendirian itu dia bayar tuntas demi sebuah obsesi bernama kemerdekaan.
Jujur ya, kalau kita bedah sisi psikologisnya, hidup dalam pelarian selama dua dekade dari tahun 1922 sampai 1942 itu bukan hal yang gampang. Kebanyakan orang mungkin udah gila atau minimal kena depresi berat. Tapi Tan Malaka punya semacam stoikisme radikal yang bikin dia kebal sama rasa kesepian. Di dalam memoarnya, Dari Penjara ke Penjara, ada satu kalimat yang selalu bikin gue merinding kalau membacanya kembali. Dia pernah nulis begini:
"Saya ini manusia yang tidak punya rumah, tidak punya anak istri, harta saya cuma pakaian di badan dan buku-buku ini."
Coba lo resapi kata-kata itu. Di saat orang-orang sezamannya sibuk menata karir politik, membangun keluarga, atau menikmati status sosial sebagai kaum terpelajar bentukan kolonial, Tan Malaka justru membuang semua kenyamanan itu ke tong sampah. Dia memilih hidup menggelembara tanpa kepastian esok hari bakal makan apa atau tidur di mana.
Ada satu cerita memilukan yang terjadi sekitar tahun 1942. Waktu itu dia lagi menyeberangi Selat Malaka pakai perahu kayu kecil dari Malaya buat balik ke Sumatera. Di tengah laut, cuaca mendadak buruk. Ombak gede menghantam perahunya sampai hampir karam. Demi menyelamatkan nyawa, koper yang dibawa Tan Malaka harus dilempar ke laut. Lo tahu apa isi koper itu? Isi koper itu adalah seluruh naskah tulisan, catatan riset, dan buku-buku referensi yang udah dia kumpulkan dengan susah payah selama dua puluh tahun pengasingan. Bayangin seluruh karya intelektual dan ingatan tertulis lo musnah begitu saja di telan samudra dalam hitungan detik. Kalau itu terjadi sama kita, mungkin kita udah nangis bombay dan nyerah. Tapi apa yang dilakukan Tan Malaka? Dia mendarat di Sumatera dengan baju basah kuyup, tanpa uang, tanpa dokumen, tapi kepalanya tetap tegak. Otaknya adalah perpustakaan hidup yang gak bisa ditenggelamkan oleh air laut.
Kondisi fisiknya sendiri sebenarnya jauh dari kata prima. Dia menderita tuberkulosis (TBC) dan malaria kronis gara-gara sering tidur di tempat-tempat lembap yang gak layak huni. Di Filipina, waktu dia kehabisan dana karena hubungan politiknya dengan Komintern pecah, fisik Tan Malaka runtuh. Dia gak sanggup kerja berat. Demi menyambung hidup agar tidak mati kelaparan, dia dibantu oleh kawan-kawan buruh lokal untuk bekerja halus sebagai penjahit sepatu. Seorang jenius lulusan Rijkskweekschool Haarlem Belanda, yang menguasai berbagai bahasa asing, duduk menyulam benang dan menusukkan jarum ke kulit sepatu di sudut kota Manila yang kumuh. Rendah hati tapi keras kepala.
Ini bagian yang paling bikin gue geregetan kalau ngomongin historiografi resmi sekolah. Selama puluhan tahun, kita diajarin seolah-olah gagasan tentang bentuk negara "Republik Indonesia" itu muncul mendadak di sekitar tahun 1945 atau paling mentok saat Sumpah Pemuda 1928. Padahal kenyataan sejarahnya gak seperti itu. Jauh sebelum Soekarno mendirikan PNI pada tahun 1927, dan jauh sebelum para pemuda berkumpul mengikrarkan Sumpah Pemuda, Tan Malaka udah merumuskan cetak biru negara ini secara konseptual. Pada bulan April 1925, pas dia lagi bersembunyi di Canton, Tiongkok, dia menulis sebuah buku monumental berjudul Naar de Republiek Indonesia (Menuju Republik Indonesia). Buku itu kemudian dicetak di Tokyo dan diselundupkan masuk ke Nusantara lewat jaringan pelaut klandestin.
Di dalam buku kecil itu, Tan Malaka bukan cuma sekadar menghujat penjajahan Belanda. Dia membedah secara ilmiah dan sistematis bagaimana struktur ekonomi kolonial bekerja, bagaimana garis batas wilayah Nusantara harus disatukan, dan kenapa bentuk negara masa depan kita harus berupa Republik, bukan monarki federasi. Buku itu dibaca secara sembunyi-sembunyi oleh tokoh-tokoh muda waktu itu, termasuk Soekarno dan Mohammad Hatta.
Bisa dibilang, Tan Malaka adalah arsitek konseptualnya, Soekarno adalah orator panggung yang mempopulerkannya ke massa, dan Hatta adalah administrator yang merapikan strukturnya. Tapi anehnya, nama sang arsitek justru pelan-pelan dihapus dari panggung utama.
Kenapa dia bisa terusir dan dimusuhi banyak pihak? Karena Tan Malaka itu manusia yang gak mau didekte dogma. Waktu dia jadi agen Komintern (Komunis Internasional) untuk wilayah Asia Tenggara, dia menghadiri Kongres Komintern IV di Moskow pada tahun 1922. Di depan tokoh-tokoh komunis dunia seperti Leon Trotsky dan Nikolai Bukharin, pemuda kurus dari Minangkabau ini berdiri dan berani interupsi. Dia memprotes keras doktrin komunis Eropa yang memusuhi gerakan Pan-Islamisme di Asia.
Tan Malaka bilang dengan lantang:
"Tuan-tuan, kalau umat Islam berang pada kita karena kita tidak menghormati agama mereka, maka kita tidak akan pernah bisa menarik mereka ke dalam barisan perjuangan!" Dia paham betul sosiologi masyarakat Nusantara. Bagi dia, Marxisme itu cuma alat analisis ekonomi, bukan agama baru yang harus menghancurkan fondasi keagamaan lokal. Keberaniannya mengkritik pimpinan Moskow ini bikin dia dicap membelot. Nanti di tahun 1926, waktu faksi PKI Musso dan Alimin kebelet mau bikin pemberontakan konyol tanpa perhitungan matang di Prambanan, Tan Malaka mati-matian menolak dari tempat persembunyiannya di Singapura. Dia tahu rakyat belum siap dan aksi itu cuma bakal jadi aksi bunuh diri massa. Buntutnya? Musso menuduh Tan Malaka sebagai pengkhianat, sementara pemerintah kolonial Belanda tetap menuding Tan Malaka sebagai otak kerusuhan. Dia dijepit dari dua sisi sekaligus.
Ada fase kehidupan Tan Malaka yang menurut gue paling dramatis sekaligus jenius. Tahun 1942, saat Jepang masuk menguasai Indonesia, Tan Malaka menyusup balik ke Jawa. Dia mendapati masyarakat kita berada dalam kondisi yang sangat mengenaskan. Bukan cuma ditindas secara fisik oleh tentara Jepang, tapi juga lumpuh secara mental.
Dia melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana rakyat Indonesia dipaksa jadi Romusha kuli paksa yang disiksa sampai mati di tambang-tambang batu bara. Tan Malaka sendiri nyamar jadi juru tulis bernama Ilias Hussein di tambang batu bara Bayah, Banten. Di sana, dia bukan cuma mencatat angka-angka. Dia memanfaatkan posisinya buat diam-diam menolong para Romusha. Dia mengatur ransum makanan agar mereka gak kelaparan, memberi pengobatan seadanya, dan menjadi tempat curhat para kuli yang sekarat. Gak ada satu pun kuli atau tentara Jepang di Bayah yang tahu kalau pria berpenampilan lusuh dan pendiam itu adalah figur legendaris yang dicari-cari intelijen internasional.
Nah, di sela-sela waktu malam dalam gubuk reot di Rawajati, Jakarta, sambil mendengarkan langkah sepatu boot tentara Jepang yang berpatroli di luar, dia menulis karya terbesarnya: Madilog (Materialisme, Dialektika, Logika).
Gue sering mikir, betapa edannya kapasitas otak orang ini. Dia menulis sebuah buku filosofi dan epistemologi sains setebal ratusan halaman murni dari ingatannya! Gak ada perpustakaan referensi, gak ada akses internet, gak ada buku catatan pendukung. Cuma mengandalkan memorinya yang luar biasa.
Kenapa dia kebelet banget menulis Madilog di tengah situasi perang yang kacau? Karena Tan Malaka gelisah luar biasa melihat bangsa Indonesia terbelenggu oleh apa yang dia sebut sebagai "Logika Mistika". Bangsa kita terlalu percaya sama jimat, mantra, takhayul, nasib pasrah, dan figur penyelamat gaib seperti Ratu Adil. Bagi Tan Malaka, kemerdekaan fisik dari penjajah itu gak ada gunanya kalau cara berpikir rakyatnya masih terjajah oleh mistisisme.
Salah satu kutipannya di Madilog yang paling nampol adalah:
"Selama bangsa Indonesia masih mengandalkan jimat dan mantra, selama itu pula bangsa ini akan terus menjadi kuli di antara bangsa-bangsa."
Dia mau ngajarin pemuda Indonesia buat berpikir rasional. Menggunakan sains buat melihat realita (Materialisme), melihat bahwa sejarah itu selalu berubah dan bergerak melalui pertentangan (Dialektika), dan menyusun argumen berdasarkan kenyataan yang terukur (Logika). Dia pengen bangsa ini punya otak yang merdeka, bukan cuma bendera yang merdeka.
Setelah proklamasi ditandatangani pada 17 Agustus 1945, keberadaan Tan Malaka masih jadi misteri. Soekarno dan Hatta sudah ada di panggung kekuasaan, tapi sosok pencetus gagasan Republik itu sendiri masih mengendap-endap di kegelapan Jakarta. Baru pada tanggal 9 September 1945, Ahmad Subardjo kawan lamanya sejak zaman kuliah di Belanda membawa seorang pria berpenampilan sederhana dan misterius untuk menemui Presiden Soekarno di rumahnya. Ruangan tempat mereka bertemu cuma diterangi lampu minyak remang-remang karena situasi keamanan masih rawan. Soekarno, yang sangat mengagumi buku Massa Actie karya Tan Malaka, menatap pria asing itu dengan penuh selidik.
Soekarno bertanya, "Siapa engkau sebenarnya?"
Pria itu menjawab pelan, "Saya Tan Malaka."
Bisa dibayangkan betapa kagetnya Soekarno malam itu. Tokoh mitos yang dikira sudah mati di pengasingan atau ditangkap intelijen asing, tiba-tiba berdiri hidup-hidup di hadapannya. Pertemuan gelap itu kemudian berlanjut pada sebuah peristiwa historis yang sampai sekarang masih dipenuhi kontroversi: pembuatan "Testamen Politik 1 Oktober 1945".
Waktu itu, posisi Republik masih sangat rawan. Pasukan Sekutu dan Inggris mulai mendarat diboncengi NICA (Belanda) yang mau merebut kembali kekuasaan. Soekarno dan Hatta sadar, kalau mereka berdua ditangkap atau ditembak mati oleh Belanda, kepemimpinan Republik bisa langsung vakum dan runtuh. Oleh karena itu, dibuatlah sebuah surat wasiat rahasia. Isinya menyatakan bahwa jika Soekarno dan Hatta ditangkap atau mati, maka kekuasaan pemerintahan Republik Indonesia diserahkan kepada Tan Malaka dan beberapa tokoh lainnya.
Meskipun fisik naskah asli surat wasiat itu belakangan raib dan bikin banyak sejarawan berdebat, fakta bahwa Soekarno mempertimbangkan Tan Malaka sebagai ahli waris legitiem Republik membuktikan betapa besarnya pengaruh intelektual dan wibawa moral orang ini di mata para pendiri bangsa.
Tapi persahabatan politik itu gak bertahan lama. Ketika Perdana Menteri Sutan Sjahrir memilih jalur diplomasi dan kompromi dengan Belanda yang rela menyerahkan sebagian wilayah Republik demi pengakuan de facto kanan-kiri Tan Malaka meradang. Dia mendirikan Persatuan Perjuangan di Purwokerto pada awal 1946 yang didukung oleh 141 organisasi politik dan laskar bersenjata.
Prinsip Tan Malaka cuma satu dan gak bisa ditawar: "Merdeka 100%!"
Dia menolak keras segala bentuk perundingan selama tentara asing masih menginjakkan kaki di tanah air. Bagi Tan Malaka, berunding dengan penjajah yang masih memegang senjata itu sama saja dengan menyerah secara halus. Posisinya yang terlalu radikal ini bikin pemerintah Kabinet Sjahrir ketakutan. Tan Malaka dianggap sebagai ancaman stabilitas domestik. Tanpa proses peradilan yang sah, Tan Malaka ditangkap dan dijebloskan ke dalam penjara oleh pemerintah Republik sendiri selama dua setengah tahun, dari tahun 1946 sampai 1948.
Sungguh sebuah ironi yang bikin elus dada. Pria yang menghabiskan dua puluh tahun hidupnya dikejar-kejar polisi rahasia asing, justru harus merasakan dinginnya sel penjara di negeri yang ia ciptakan sendiri dalam pikirannya.
Bebasnya Tan Malaka dari penjara pada September 1948 terjadi karena situasi darurat. Pemerintah butuh figur sosialis non-ortodoks buat meredam dampak Pemberontakan PKI Musso di Madiun. Tapi ketika Agresi Militer Belanda II pecah pada Desember 1948 dan Soekarno-Hatta ditawan di Yogyakarta, Tan Malaka gak tinggal diam. Dia mendirikan Partai Murba dan bergerak ke pedalaman Jawa Timur untuk memimpin perang gerilya secara independen. Dia berjalan kaki menembus hutan, naik-turun gunung, sambil terus mengobarkan semangat perlawanan rakyat. Namun di tengah kekacauan perang gerilya itu, garis komando militer menjadi sangat kabur dan penuh prasangka. Faksi-faksi dalam militer terpecah. Keberadaan Tan Malaka yang karismatik dan terus mengkritik diplomasi pemerintah dinilai oleh beberapa pimpinan militer lokal sebagai ancaman revolusi tandingan.
Tanggal 21 Februari 1949 menjadi titik hitam dalam sejarah Indonesia. Di sebuah desa terpencil di kaki Gunung Wilis, yaitu Desa Selopanggung, Kediri, langkah kaki sang hantu akhirnya terhenti. Tan Malaka ditangkap oleh patroli Batalyon Sikatan Divisi Brawijaya. Tanpa ada proses pengadilan militer formal, tanpa ada kesempatan buat membela diri, perintah eksekusi dikeluarkan. Di tepi sungai yang sunyi, dengan kedua tangan terikat ke belakang, Ibrahim gelar Datuk Sutan Malaka ditembak mati oleh peluru tentara Republik. Jasadnya dimasukkan ke dalam lubang tanah tanpa nisan, tanpa penghormatan militer, dan tanpa ada catatan resmi yang dipublikasikan. Negara memilih untuk bungkam dan mengubur cerita itu rapat-rapat selama enam puluh tahun.
Nanti pada tahun 2009, berkat kerja keras tim peneliti Harry A. Poeze bersama ahli forensik, makam misterius di Selopanggung itu dibongkar. Analisis osteologi dan bukti sirkumstansial mengonfirmasi bahwa kerangka tubuh di dalam tanah asam itu memiliki ciri-ciri fisik yang cocok 99% dengan Tan Malaka: tinggi badan, struktur rahang, dan kerusakan gigi yang khas.
Kisah hidup Tan Malaka adalah sebuah tragedi klasik tentang seorang pencipta yang dihancurkan oleh ciptaannya sendiri. Dia adalah manusia tanpa rumah, yang mencintai negerinya dengan cara yang begitu ekstrem hingga negeri itu sendiri merasa takut padanya.
Namun kalau kita ingat kembali salah satu ramalan ikonik yang pernah dia tuliskan sebelum wafat:
"Suara saya akan lebih keras daripada saat saya masih hidup."
Kata-kata itu terbukti benar. Walaupun namanya sempat dihapus dari buku-buku pelajaran sekolah selama era Orde Baru, pemikirannya tetap hidup dan membakar semangat setiap generasi muda yang haus akan keadilan dan kebebasan berpikir. Tan Malaka mengajarkan kita satu hal penting: bahwa tubuh seorang revolusioner bisa diputus oleh tiga butir peluru di tepi sungai yang sepi, tapi gagasan murni yang lahir dari kejujuran berpikir gak akan pernah bisa dibunuh oleh siapapun







