Kamis, 17 September 2026

Tifa

 Dokter Tifa Pertanyakan Alasan Jokowi Marah: yang Kami Teliti Ijazah Unggahan Dian Sandi


Tifauzia Tyassuma atau dokter Tifa, terdakwa kasus dugaan pencemaran nama baik mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi) sehubungan dengan tudingan ijazah palsu, mempertanyakan penyebab Jokowi marah.


Tifa menyebut objek yang ditelitinya adalah ijazah digital yang diunggah oleh kader Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Dian Sandi Utama di media sosial.


“Jadi, kami sama sekali tidak melakukan pengkajian, penelitian apa pun, terhadap sebuah dokumen yang diaku sebagai ijazah milik Jokowi,” kata Tifa kepada awak media di Pengadilan Negeri Jakarta Timur, Kamis (17/9/2026).


Kepada wartawan yang mengerubunginya, Tifa menunjukkan foto ijazah yang diunggah oleh Dian Sandi.


“Ini perhatikan baik-baik. Kami sekarang menggunakan istilah Jokowi, bukan Joko Widodo ya. Jadi, yang marah itu adalah Pak Jokowi karena dia bilang bahwa ijazahnya dimanipulasi dan segala macam,” ujar Tifa.


“Padahal, kami sama sekali tidak pernah melihat ijazah Jokowi.”


Dia kembali menegaskan, objek yang dijadikan penelitian adalah foto ijazah unggahan Dian Sandi. Oleh karena itu, menurutnya, jika ada yang memprotes, harusnya Dian Sandi.


Tifa mengklaim setelah benda digital masuk ke internet, benda itu berubah menjadi benda publik, bukan benda privat lagi. Maka, setiap orang boleh berkomentar maupun meneliti benda itu.


“Yang kedua adalah apakah ini ijazah Jokowi? Ternyata ini saya spill ya, bahwa di dalam BAP (berita acara pemeriksaan) Dian Sandi, bukan dia yang memfoto secara langsung sesuatu yang mirip ijazah ini,” ujarnya.


Dokter itu menyampaikan, Dian Sandi mengunggah ulang postingan orang lain. Dian Sandi, kata Tifa, tidak datang ke rumah Jokowi untuk melihat ijazah dan memfotonya.


Menurut Tifa, seperti yang tercantum dalam BAP, pengunggah pertama sudah menghapus unggahan foto ijazah. Di samping itu, akun pengunggah juga sudah dinonaktifkan.


Tifa menyebut ketika Jokowi melaporkannya dengan Pasal 32 dan 35 Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE), hal itu memunculkan kebingungan.


“Kita sebut salah kamar karena kita sama sekali tidak melakukan utak-atik apa pun, manipulasi apa pun terhadap sesuatu yang diaku sebagai dokumen ijazah Joko Widodo,” kata dia.


Kawan Roy Suryo itu mengklaim ratusan juta rakyat Indonesia belum pernah melihat ijazah yang diaku sebagai ijazah milik Jokowi.


“Jadi, satu-satunya benda yang kami kaji itu ini. Maka kalau memang ini yang disebut sebagai ijazah, kami katakan berdasarkan penelitian kami. Kalau seandanya benda digital ini memuat sesuatu yang kelihatan seperti ijazah, kami bilang ini palsu,” ucap dia menegaskan.


“Yang menjadikan kajian kami ini, barang ini, palsu. Bukan ijazah Jokowi yang palsu.”


Tifa kembali mempertanyakan alasan Jokowi marah-marah.


“Yang kami teliti dan kemudian simpulan kami bahwa benda ini palsu, bukan ijazah Pak Jokowi. Pegang saja enggak. Kenapa Pak Jokowi marah-marah?”


Sidang pembacaan nota perlawanan

Pengadilan Negeri Jakarta Timur kembali melanjutkan sidang kasus dugaan pencemaran nama baik Jokowi dengan terdakwa Tifa, Kamis, (17/9/2026).


Adapun sidang lanjutan ini beragendakan pembacaan nota perlawanan dari kubu Tifa atas dakwaan yang sebelumnya dibacakan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU).


Dalam sidang tersebut sempat diwarnai perdebatan yang dipicu pernyataan JPU yang meminta waktu hingga tiga pekan untuk menyiapkan pembuktian atas perkara tersebut.


Hal itu bermula ketika Ketua Majelis Hakim Christina Endarwati mengumumkan putusan sela terhadap nota perlawanan kubu Tifa akan diputus berbarengan dengan putusan akhir.


Alhasil hakim pun menyatakan sidang tersebut akan dilanjutkan dengan tahap pembuktian.


Setelah menyatakan hal tersebut, hakim kemudian meminta tanggapan dari para pihak termasuk JPU.


"Apakah baiknya kita diberikan kesempatan untuk memberikan tanggapan terlebih dahulu sehingga majelis hakim punya pertimbangan pada saat di putusan akhir," kata JPU.


Namun menurut Hakim, berdasarkan Pasal 75 ayat 5 KUHAP tidak terdapat ketentuan bagi jaksa untuk kembali memberikan tanggapan atas nota perlawanan dari kubu terdakwa.


Sehingga hakim pun kembali menegaskan hal itu akan dipertimbangkan dalam putusan akhir.


"Di sana tidak ada ketentuan seperti itu, ketentuannya bahwa perlawanan kedua akan diputus bersama dengan putusan akhir, tidak ada tanggapan atau pendapat seperti yang diajukan pertama," jelas hakim.


Hakim kemudian meminta kepada penuntut umum untuk mempersiapkan rencana pembuktian termasuk siapa saja yang akan dihadirkan sebagai saksi.


Untuk menyikapi hal tersebut, JPU pun mengatakan, pihaknya masih membutuhkan waktu untuk mempersiapkan tahap pembuktian tersebut.


Dalam pernyataannya JPU mengatakan pihaknya membutuhkan waktu hingga tiga pekan untuk mempersiapkan tahap pembuktian tersebut.


"Karena kami dalam persiapan seharusnya akan mengajukan tanggapan atas eksepsi yang diajukan Terdakwa, maka kami masih membutuhkan waktu untuk menyusun siapa-siapa saja yang akan dihadirkan di persidangan, untuk itu kami meminta waktu tiga minggu," ucap JPU.


Permintaan itu pun tak langsung diakomodir oleh majelis hakim.


Hakim saat itu menskors sidang selama 10 menit untuk agar JPU dapat bermusyawarah guna mempersiapkan rencana pembuktian.


Setelah diskors selama 10 menit, kemudian JPU pada akhirnya meminta waktu dua pekan untuk menghadirkan para saksi di ruang sidang.


Dalam pernyataannya, JPU mengatakan akan menghadirkan tiga hingga lima saksi untuk memberikan keterangan di muka sidang.


"Kami berencana menghadirkan tiga sampai lima orang saksi terlebih dahulu dimana pada prinsipnya kami akan mengutamakan kehadiran pelapor. Oleh karenanya kami meminta waktu sampai dua Minggu untuk mempersiapkan saksi yang akan kami hadirkan," ucap Jaksa.


Permintaan JPU ini sontak mendapat penolakan dari kubu Tifa. 


Kuasa hukum Tifa, Abdullah Alkatiri beranggapan bahwa sidang pokok perkara ini hanya tinggal memeriksa saksi.


Dia pun meminta agar Jokowi selaku pelapor untuk dihadirkan lebih awal dalam sidang perkara tersebut.


"Satu, yang kami minta yang diperiksa adalah Pak Joko Widodo. Kedua, kami diberitahukan siapa saja yang akan dihadirkan tiga orang itu, kalau tidak kenapa gitu? Kenapa selalu ada hambatan-hambatan aneh," ujar kuasa hukum.


JPU pada akhirnya mengungkap siapa saja tiga saksi itu akan dihadirkan dalam sidang selanjutnya. 


Jaksa mengatakan, tiga orang saksi itu adalah Andi Kurniawan, Lechumanan, dan Maret Samuel Sueken 


Lagi-lagi kubu Tifa menyampaikan keberatannya usai mendengar deretan nama saksi yang akan dihadirkan tersebut.


Kuasa hukum menilai bahwa kasus ini merupakan delik absolut sehingga penting bagi pihaknya agar Jokowi dihadirkan terlebih dahulu di ruang sidang.


"Kami keberatan majelis, sekali lagi ini adalah delik aduan absolut. Kami keberatan," jelas Kuasa hukum.


Hakim pun coba menengahi ihwal keberatan dari kubu Tifa ini.


"Begini saudara advokat ya, tadi sudah disampaikan oleh penuntut umum tiga orang saksi minggu depan. Jadi nanti akan disampaikan juga, jadi masing-masing akan tahu siapa yang dipanggil," ujar Hakim.


"Nanti keberatan saudara dicatat," sambung hakim.


Menanggapi keberatan itu, JPU pun memastikan akan kembali mengumumkan siapa saja saksi selanjutnya yang nantinya akan dipanggil ke ruang sidang.


"Perlu kami sampaikan sekali lagi majelis, untuk agenda pembuktian selanjutnya kami akan menyampaikan tiga orang saksi, apabila nanti akan ada saksi selanjutnya akan kami sampaikan kembali di agenda selanjutnya," kata JPU


Setelah terjadi perdebatan cukup alot akhirnya hakim pun menetapkan agenda sidang selanjutnya, yakni tahap pemeriksaan saksi akan digelar pada Kamis 1 Oktober 2026.


Sumber: Tribunnews.com


#sidangijazahpalsu #jokowi #doktertifa #roysuryo

Leran Gresik

 Kedung Leran: Pelabuhan Abad ke-9 yang Terancam Perumahan


Desa Leran, Kecamatan Manyar, Kabupaten Gresik, menyimpan jejak peradaban maritim yang jauh lebih tua dari yang selama ini diakui. Di area yang dikenal sebagai Kedung Leran, penelitian arkeologi pada 1998 dan 2022 telah meyakinkan bahwa di kawasan tersebut pernah berkembang sebuah pelabuhan dan permukiman sejak abad ke-9 Masehi—dua abad lebih tua dari Makam Fatimah binti Maimun, situs Islam bertulis tertua di Asia Tenggara. Namun, pesatnya pengembangan perumahan yang dipicu oleh beroperasinya Kawasan Ekonomi Khusus JIIPE (Java Integrated Industrial and Ports Estate) kini mengancam kelestarian situs yang belum sepenuhnya tuntas diteliti ini.


Ekskavasi yang dilakukan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) pada Oktober 2022 di area makam Kedung, Desa Leran, mengungkap kekayaan situs ini. Tim menemukan pecahan keramik dan gerabah purbakala dalam jumlah yang sangat banyak—"kalau semua dikumpulkan, bisa satu kontainer lebih," ujar Ketua Tim BRIN, Irfanuddin. Temuan ini bukan berasal dari masyarakat sekitar, melainkan barang dagangan dari luar, yang memperkuat dugaan bahwa lokasi tersebut merupakan pelabuhan perdagangan masa lampau. Berdasarkan temuan tersebut, Desa Leran disimpulkan sebagai pelabuhan penghubung jalur pedalaman Gresik pada abad ke-9 hingga ke-11 dan kemudian berpindah ke Bandar Gresik di era Majapahit.


Penelitian yang tercatat dalam Berita Penelitian Arkeologi No. 48 juga mengungkap bahwa survei di lahan tambak di sekitar Kedung menemukan sebaran artefak yang sangat padat, terutama di pematang tambak akibat penggalian pembuatan tambak. Persebaran sisa permukiman kuna tidak hanya terbatas di Desa Leran, tetapi meluas hingga Desa Banjarsari. Data ini menunjukkan bahwa situs Kedung Leran bukanlah sekadar lokasi temuan sporadis, melainkan sebuah lanskap permukiman dan pelabuhan kuno yang luas dan kompleks.


Sejak beroperasinya KEK JIIPE, kawasan Manyar mengalami transformasi besar-besaran. JIIPE merupakan kawasan industri terintegrasi yang mencakup pelabuhan seluas 400 hektare, kawasan industri 1.761 hektare, dan kawasan permukiman seluas 800 hektare. Pembangunan jembatan Manyar yang dibuka pada 2026 semakin memperlancar akses menuju kawasan ini, memicu pertumbuhan perumahan di sekitarnya. Tekanan pembangunan inilah yang kini mengancam situs Kedung Leran.


Yang memperparah situasi adalah masih minimnya data riset pada situs pelabuhan abad ke-9 hingga ke-11 Masehi ini. Semua ekskavasi yang dilakukan belum berhasil mencapai lapisan steril dari data arkeologi. Artinya, masih ada lapisan-lapisan budaya yang belum tergali dan berpotensi memberikan informasi berharga tentang sejarah maritim Nusantara. Bahkan situs ini diprediksi berpotensi naik ke periode sejaman situs Bongal di pantai barat Sumatra. Jika pembangunan perumahan terus berlangsung tanpa kendali, lapisan-lapisan ini akan hilang selamanya sebelum sempat diteliti.


Menyiasati keterancaman situs Kedung Leran memerlukan pendekatan yang bijak dan terpadu, bukan sekadar memilih antara pembangunan atau pelestarian. Beberapa langkah konkret dapat diambil.


Pertama, moratorium pembangunan di zona inti situs. Pemerintah perlu segera menetapkan batas-batas situs Kedung Leran berdasarkan data survei yang sudah ada dan mempertimbangkan kembali perizinan pembangunan di area tersebut. Langkah ini mendesak karena pembangunan yang sudah berjalan akan semakin sulit dihentikan. 


Kedua, penyelamatan data arkeologi sebelum pembangunan. Untuk area yang sudah terlanjur masuk dalam rencana pengembangan, perlu dilakukan ekskavasi penyelamatan (rescue excavation) yang menyeluruh dan terdokumentasi dengan baik. Data yang tidak sempat diselamatkan secara fisik setidaknya dapat direkam dan didokumentasikan untuk kepentingan ilmu pengetahuan. Prinsipnya, setiap lapisan tanah adalah arsip yang tidak dapat dipulihkan—sekali hilang, hilang selamanya.


Ketiga, zonasi berbasis pelestarian. Penataan ruang di sekitar situs harus mengadopsi sistem zonasi yang membagi area menjadi zona inti (dilindungi mutlak), zona penyangga (pengembangan terbatas), dan zona pengembangan (perumahan diizinkan dengan syarat). Studi pelestarian merekomendasikan "pemintakatan (zoning) dengan sistem sel" untuk mencegah perluasan pemanfaatan lahan situs yang merusak. Zonasi ini harus diintegrasikan ke dalam Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Gresik dan ditegakkan secara konsisten.


Keempat, percepatan penelitian terhadap situs Kedung Leran oleh Kementrian kebudayaan, BRIN dan kerjasama Universitas. Langka ini urgent utk di segerakan mengingat potensi data pelabuhan abad 9 bahkan 7 Masehi yg ada di Jawa masih belum muncul selain situs Kedung. Dengan demikian kita tidak akan kehilangan bukti perdagangan abad tersebut yang sudah skala internasional. Secara logika, teknologi pelayaran pada masa tersebut tidak memungkinkan bagi sebuah kapal berpenggerak layar utk perjalanan direct dari pantai barat Sumatra langsung ke situs situs pantai Utara Bali. Situs Kedung Leran sangat potensial untuk mengukuhkan interpretasi jalur perdagangan ini. Apalagi letak situs Kedung di muara Bengawan Solo juga memungkinkan transportasi air jalur sungai untuk mengkoneksikan pusat kerajaan Mataram kuno di pedalaman yang telah membangun candi dalam skala megah. 


Kelima, penguatan kerangka hukum dan kelembagaan. Zonasi Situs Kedung dan kubur fatimah Leran harus segera ditetapkan sebagai Cagar Budaya sesuai Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya. Penetapan ini akan memberikan landasan hukum yang kuat untuk perlindungan dan pengelolaan. Selain itu, perlu dibentuk tim terpadu yang melibatkan BRIN, Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Timur, Pemerintah Kabupaten Gresik, dan perwakilan masyarakat untuk mengawasi pelestarian situs secara berkelanjutan.


Kedung Leran adalah jendela yang membuka pemahaman kita tentang masa lalu maritim Nusantara yang jauh lebih panjang dan kompleks dari yang selama ini kita sadari. Pelabuhan abad ke-9 yang tertimbun di bawah tambak dan permukiman ini menyimpan cerita tentang jaringan perdagangan yang menghubungkan Gresik dengan Tiongkok, Timur Tengah, dan Nusantara bagian timur. Keramik dinasti Tang, botol kaca Timur Tengah, pala, kemiri, pasak kayu, dan tali ijuk adalah saksi bisu dari peradaban kosmopolitan yang telah lama ada di pesisir utara Jawa.


Pembangunan tidak harus menjadi musuh pelestarian. Dengan perencanaan yang bijak, situs Kedung Leran dapat menjadi aset yang memperkaya identitas Gresik sebagai kota pelabuhan yang bersejarah—bukan sekadar kenangan yang terkubur di bawah fondasi rumah. Pilihan ada di tangan kita: menyelamatkan warisan yang tak tergantikan, atau membiarkannya hilang demi keuntungan jangka pendek. Sejarah akan mencatat keputusan kita.


Catatan foto:

Lingkaran warna merah merupakan lokasi penelitian tahun 1998. Sedangkan warna kuning di utaranya merupakan lokasi penelitian tahun 2022. Blok blok perumahan memanjang di sisi selatan hingga ke sisi barat situs.


#PAMONGBUDAYA

#TETAPMUDA

W.R. Supratman

 W.R. Supratman: Sang Pencipta “Indonesia Raya” yang Tak Pernah Menyaksikan Indonesia Merdeka


Wage Rudolf Supratman, yang kemudian lebih dikenal sebagai W.R. Supratman, lahir pada 9 Maret 1903 di Dukuh Somongari, Purworejo, Jawa Tengah. Ia tumbuh bukan sebagai bangsawan atau tokoh dari keluarga terpandang, melainkan sebagai seorang pemuda yang kelak menjalani hidup sebagai wartawan, musisi, dan pencipta lagu. Di tengah keterbatasan hidup, ia justru menemukan jalan perjuangannya melalui tulisan dan musik.


Supratman pernah bekerja sebagai jurnalis dan menulis untuk sejumlah surat kabar, antara lain Kaoem Moeda, Kaoem Kita, dan Sin Po. Pekerjaannya sebagai wartawan membuatnya dekat dengan denyut pergerakan nasional. Ia tidak hanya menulis berita, tetapi juga menyaksikan langsung tumbuhnya kesadaran di kalangan pemuda yang mulai membayangkan sebuah tanah air yang bersatu. 


Ketertarikannya pada musik kemudian menemukan bentuk yang lebih besar ketika ia membaca tulisan yang mempertanyakan apakah ada komponis Indonesia yang mampu menciptakan sebuah lagu kebangsaan yang dapat membangkitkan semangat rakyat. Gagasan tersebut mengusik pikirannya. Pada sekitar 1926, Supratman mulai menuangkan gagasan musikalnya ke dalam notasi. Dari proses itulah lahir sebuah karya yang kelak mengubah perjalanan sejarah Indonesia: “Indonesia Raya.” 


Namun, menciptakan lagu yang berbicara tentang persatuan dan kemerdekaan pada masa pemerintahan kolonial bukanlah perkara sederhana. Lagu tersebut membawa gagasan tentang Indonesia sebagai bangsa yang merdeka, sesuatu yang berhadapan langsung dengan kepentingan pemerintah Hindia Belanda. Karena itu, ketika “Indonesia Raya” pertama kali diperdengarkan di hadapan para pemuda pada Kongres Pemuda II, 28 Oktober 1928, Supratman memainkannya dengan biola dan tanpa menyanyikan lirik, untuk menghindari kemungkinan represi dari pemerintah kolonial. Momen itu berlangsung di Gedung Indonesische Clubgebouw, Jalan Kramat Raya 106, Jakarta. 


Peristiwa tersebut menjadi salah satu momen penting dalam sejarah pergerakan nasional. “Indonesia Raya” tidak sekadar menjadi sebuah lagu, tetapi perlahan berubah menjadi simbol persatuan. Setelah Kongres Pemuda II, konsep lirik dan notasinya semakin dikenal di kalangan pergerakan. Lagu itu kemudian beredar melalui berbagai jaringan pers dan organisasi pemuda, meskipun pemerintah kolonial berusaha mengawasi dan membatasi penyebarannya.


Tekanan terhadap Supratman tidak hanya berkaitan dengan musik. Sebagai wartawan dan bagian dari lingkungan pergerakan, ia berada dalam pengawasan pemerintah kolonial. Ia juga menulis novel ** Perawan Desa ** yang kemudian diberedel pada 1929. Pemerintah kolonial memandang karya tersebut sebagai tulisan yang dapat membangkitkan kesadaran dan perlawanan terhadap kolonialisme. Penelitian mengenai novel itu mencatat bahwa cetakannya disita dan dibakar, sementara peredarannya menjadi sangat terbatas. 


Di balik sosok pencipta “Indonesia Raya”, Supratman sebenarnya adalah seorang manusia yang hidup dalam tekanan. Ia tidak mempunyai kekuasaan politik, pasukan, ataupun kedudukan tinggi. Senjata yang dimilikinya hanyalah pena dan biola. Namun, justru melalui dua benda sederhana itulah ia ikut menyuarakan gagasan tentang sebuah bangsa yang belum memiliki negara.


Tahun-tahun terakhir kehidupannya pun jauh dari kemegahan. Kondisi kesehatannya semakin memburuk setelah berada di bawah tekanan dan pengawasan. Supratman kemudian meninggal dunia di Surabaya pada 17 Agustus 1938, dalam usia 35 tahun. Saat itu Indonesia belum merdeka, dan ia belum pernah menyaksikan “Indonesia Raya” menjadi lagu kebangsaan sebuah negara.


Ironisnya, tepat tujuh tahun setelah kematiannya, Indonesia memproklamasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945. “Indonesia Raya” kemudian mengambil tempat yang sangat penting sebagai lagu kebangsaan Republik Indonesia. Negara yang selama hidupnya hanya bisa ia bayangkan melalui tulisan dan nada akhirnya benar-benar berdiri. 


Ada sesuatu yang begitu getir dalam perjalanan hidup W.R. Supratman. Ia menciptakan lagu untuk sebuah Indonesia yang belum ada. Ia memainkan lagu itu ketika kemerdekaan masih berupa cita-cita. Ia menghadapi tekanan kolonial tanpa pernah mengetahui bagaimana akhir perjuangan bangsa yang ia dukung.


Supratman pergi terlalu cepat untuk menyaksikan kemenangan itu. Namun, karya yang ditinggalkannya justru hidup jauh lebih lama daripada dirinya.


Setiap kali “Indonesia Raya” berkumandang, nama W.R. Supratman seolah kembali hadir—bukan sebagai seorang tokoh yang berdiri di atas panggung kemenangan, melainkan sebagai seorang pemuda dengan biola di tangannya, yang pada 1928 berani memperdengarkan suara sebuah bangsa yang belum merdeka.


Dan mungkin di situlah keabadian seorang pencipta lagu kebangsaan: ia tidak sempat melihat Indonesia merdeka, tetapi ia telah membantu Indonesia menemukan suaranya.


#WRSupratman #IndonesiaRaya #SejarahIndonesia #PahlawanNasional

Rabu, 16 September 2026

Surabaya Berkalung Besi!

 Surabaya Berkalung Besi! 


Jaringan trem Surabaya jadi bukti kota ini sangat metropolis pada zamannya, bahkan disandingkan dengan kota-kota Eropa. Sejak akhir abad ke-19, rel trem sepanjang sekitar 32 km sudah mengitari kota, padahal penduduknya baru sekitar 150.000 jiwa (sensus 1920: 187.903 jiwa) dengan luas kota hanya seperempat dari sekarang. Angkutan ini datang setiap 30 menit dan menjangkau hampir semua permukiman dalam radius kurang dari 1 km jalan kaki.


Trem dibangun dan dioperasikan oleh perusahaan swasta Oost-Java Stoomtram Maatschappij (OJS), yang mendapat konsesi dari Pemerintah Hindia Belanda pada 1886 dan mulai beroperasi dengan trem uap pada 1889. Trayek awal terbagi tiga jalur (lijn): Ujung–Sepanjang(–Krian), Mojokerto–Ngoro, dan Gemekan–Dinoyo. OJS lalu menambah jalur dalam kota, termasuk sisi barat pusat kota (1913–1916), dan pada 1911 memperluas jaringan untuk persiapan trem listrik.


Trem listrik resmi beroperasi 15 Mei 1923 (jalur pertama Wonokromo–Ujung, panjang lintasan ±36 km), lalu 11 Februari 1924 seluruh rute mulai dilayani. Total rel pada 1924 mencapai 49,4 km hingga Krian, Sidoarjo. Rute-rute era listrik antara lain Simpang–Wonokromo Kota, Simpang–Gubeng, Tunjungan–Sawahan, dan Simpang–Kalimas  jadi sebutan "4 jalur" merujuk ke rute era trem listrik ini, bukan jumlah jalur sejak awal (yang sebenarnya tiga).


Jalur trem uap maupun listrik ini melingkupi jalan-jalan besar Surabaya dan menghubungkan stasiun-stasiun kota seperti Wonokromo, Semut, dan Pasar Turi, serta terintegrasi dengan angkutan massal lain pada masanya.


Sumber foto : KITLV, NIMH, Flickr milik Frank Stamford


#kinikunomedia #trem #sejarah #surabaya

Amir Sjarifuddin gamang

 Hukuman Mati Bagi Pemimpin PKI


Amir Sjarifuddin gamang. Perjalanan panjang tanpa keberadaan Musso di sisinya membuatnya banyak melamun. Terlebih lagi pertemuan terakhirnya dg Musso diisi dg pertengkaran, saling menyalahkan atas kegagalan pemberontakan PKI 1948 di Madiun.


Amir yg merupakan Mantan Perdana Menteri itu berada dalam rombongan besar long march pelarian PKI. Saat itu mereka sedang berhenti sejenak di suatu tanah datar yg kosong di suatu hutan. 


Perbekalan sudah habis sama sekali. Tanpa kenal jeri, mereka melahap dedaunan yg tumbuh di sekitar dan menyembelih kuda angkut. Mereka melakukannya secepat mungkin karena Pasukan Siliwangi sudah tak begitu jauh di belakang rombongan. Selesai dg urusan perut, semua diperintahkan berjalan dg cepat. Sedapat mungkin menempuh tujuh kilometer sejam.  


Rombongan long march PKI itu terlihat payah, hampir semuanya berwajah kusut nan letih. Mereka sudah menempuh jarak 500 km, longmarch dari Madiun selama dua bulan. 


Mereka memasuki daerah Grobogan, utara Purwodadi Jateng. Jumlah mereka semakin sedikit. Tibalah mereka di daerah Rawa Klambu. Jaraknya sudah sangat dekat dengan garis Van Mook. Sebentar lagi mereka akan memasuki wilayah Belanda. Tinggal menyeberangi Sungai Lusi saja, maka sampailah mereka ke wilayah Belanda dan merdekalah mereka dari kejaran tentara Republik.


Tapi sungguh malang, saat itu sungai Lusi sedang meluap dan banjir. Arusnya sangat deras. Tentara PKI yg berusaha menyeberangi sungai tsb akhirnya tenggelam. Terdapat sekitar 20 tentara PKI yg tenggelam di sungai ini.


Akhirnya rombongan longmarch memutuskan utk menunda penyeberangan, menunggu aliran sungai Lusi bersahabat kembali. Terpaksa rombongan bertahan di Rawa Klambu yg terkenal angker. Berhari-hari di Rawa dg bekal minim membuat Amir Lemah dan terserang disentri.


Di Rawa Kelambu yg sunyi senyap ini, ingatan Amir melayang di masa kejayaannya menjadi perdana menteri. Dia teringat ketika menandatangani Perjanjian Renville pada 17 Januari 1948. Sebuah perjanjian yg dikecam oleh pihak dan membuat kabinet Amir dalam krisis.


Perjanjian Renville ini sangat merugikan Indonesia krn wilayahnnya semakin sempit. Jika dalam perjanjian Linggarjati mengakui kedaulatan de facto Indonesia di Jawa, Sumatra, dan Madura. Maka perjanjian Renville hanya mengakui wilayah Indonesia tinggal beberapa di Jateng, Jatim serta Aceh. Bisa dikatakan perjanjian Renville ini adalah sebuah gol bunuh diri. Menyerahkan hampir seluruh wilayah Indonesia kepada Belanda. Akhirnya kabinet Amir bubar. Soekarno menunjuk Hatta sebagai Perdana Menteri.


Kabinet Hatta menerapkan kebijakan Re-Ra (Rekonstruksi-Rasionalisasi). Re-Ra menyebabkan banyak sekali pemangkasan di tubuh tentara. Pemberhentian dg paksa para tentara inilah yg menyebabkan banyak ketidakpuasan di kalangan militer. Mereka yg diberhentikan, mayoritas bergabung dg FDR (Front Demokrasi Rakyat) milik PKI. Dari cikal bakal inilah tentara PKI terbentuk.


Dan saat itu tentara PKI terjebak di Rawa Klambu. Mereka sudah dikepung oleh batalion "Kala Hitam" dari Brigade Siliwangi I di daerah Purwodadi. Pertempuran tak bisa dielakkan. Tentara PKI, meskipun terdesak, mereka tidak mau menyerah. Pertempuran berlangsung selama dua hari sebelum akhirnya PKI kalah.


Tanggal 28 Nov 1948, para petinggi PKI yaitu Djoko Soedjono, Maroeto Darusman, Sajogo dll tertangkap oleh satuan TNI di Desa Peringan dekat Klambu.


Kemudian tgl 29 Nov 1948, Amir Sjarifudin tertangkap. Mantan perdana menteri itu ditawan oleh Kompi Pasopati pimpinan Kapten Ranoe. Semua tentara PKI menyerah.


Berakhirlah pemberontakan PKI di tahun 1948 itu.  Operasi penumpasannya memakan waktu 72 hari. Terhitung sejak direbutnya Madiun pada tgl 19 Sep 1948 sampai pasukannya menyerah di hutan Klambu tgl 29 Nov 1948.


Pemerintah menjatuhkan hukuman mati kepada para pemimpin PKI. Hukuman mati itu dilaksanakan tgl 19 Des 1948. Tercatat ada 11 orang yg dihukum mati, termasuk Amir Sjarifuddin.


Hukuman mati para  pemimpin PKI ini dilaksanakan di Desa Ngalihan, Karanganyar Solo atas perintah Kolonel Gatot Subroto.

Purbaya dan Prabowo

 Purbaya dicopot 

SEMPAT PUKUL MEJA? KEJADIAN ITU BENAR dan terekam dalam rapat resmi.


Bukan hoax Tribun, tapi memang terjadi di rapat terakhirnya.


Ini kronologinya sesuai video sidang DPD RI Komite IV, Senin 14 September 2026 pagi (hanya beberapa jam sebelum beliau dicopot):


FAKTA RAPAT TERAKHIR:


Pak Purbaya Yudhi Sadewa sedang rapat gabungan dengan DPD, Bappenas, dan Bank Indonesia membahas RUU APBN 2027. Di tengah paparannya, beliau meledak kesal.


Penyebab beliau pukul meja:


1. Ada perusahaan asing (disebut pengusahanya dari China, tapi operasi di Indonesia) yang main curang. Mereka jualan baja dan produk lain secara cash basis - jual langsung cash ke klien biar tidak terdeteksi sistem pajak.


2. Tidak bayar PPN. Potensi kerugian negara dari 1 perusahaan saja bisa Rp4 Triliun per tahun, kata Pak Purbaya. Mereka jual tapi tidak setor PPN.


3. Meremehkan & Menghina Aturan Indonesia. Ini yang bikin beliau paling kesal. Kata Pak Purbaya, perusahaan itu terang-terangan bilang: _"Tidak ada gunanya ikut peraturan di Indonesia, semua bisa diselesaikan dengan bayar orang."_


Mereka menganggap hukum Indonesia bisa dibeli.


Makanya Pak Purbaya bilang: _"Saya merasa dihina"_ dan gesturnya memukul meja sambil berkata: _"Saya akan sikat. Tidak ada toleransi!"_ 


---


TULISAN EDUKASI DARI KEJADIAN INI


JUDUL: Meja Dipukul, Bukan Orang - Ketika Seorang Menteri Tersinggung Demi Harga Diri Bangsa


Banyak orang lihat videonya lalu fokus ke "pukul mejanya". Padahal yang lebih penting adalah kenapa beliau sampai harus pukul meja.


Ini bukan soal emosi, ini soal harga diri.


1. Pajak adalah Harga Diri Bangsa.

Perusahaan asing itu datang ke Indonesia, pakai jalan kita, pakai listrik kita, pakai pekerja kita, tapi saat disuruh bayar pajak malah bilang "aturan Indonesia tidak berguna".

Kalau kita diam, kita yang rugi. Uang PPN Rp4 Triliun itu bisa untuk bangun berapa ribu sekolah di Sumatera Barat? Bisa untuk berapa beasiswa MABA seperti anak kita yang tergolong ekonomi menengah ke bawah?


Pak Purbaya marah bukan karena benci asing, tapi karena dia sayang negara.


2. Jangan Bangga Jika Lolos Pajak, Itu Bukan Pintar, Itu Merugikan Tetangga.

Di sekitar kita juga banyak yang bangga "Saya bisa akali pajak". Padahal perusahaan asing yang cash basis itu contoh buruknya. Mereka kaya sendiri, tapi kas negara kosong. Akhirnya yang susah siapa? Kita juga, karena subsidi dicabut, harga naik.


Edukasi untuk kita semua: Taat pajak bukan soal takut petugas, tapi soal gotong royong.


3. Marah yang Benar, di Tempat yang Benar.

Pak Purbaya tidak maki-maki orangnya di medsos. Beliau marah di forum resmi, di depan DPD, dengan data. Pukul meja sebagai simbol ketegasan, bukan kekerasan.


Ini pelajaran untuk kita: Kalau merasa dihina, jangan balas dengan hinaan di Instagram Story. Bawa ke forum yang benar, dengan data dan solusi.


Hari itu beliau pukul meja untuk membela aturan Indonesia. Sore harinya, jabatannya berakhir lewat satu telepon. Tapi ketegasannya menolak perusahaan yang menghina Indonesia itu akan tetap diingat.


Karena jabatan bisa selesai dalam 1 telepon, tapi keberanian membela negara tidak akan pernah dicopot.


***


Nah ini... orang pintar pasti sudah bisa menebak apa alasan sampai dia di copot, terlalu berani bela negara.


#PurbayaYudhiSadewa #EdukasiPajak #HargaDiriBangsa #TaatPajak #Menkeu #RapatDPD #JanganRemehkanAturan #BelajarDariMenteri



Prabowo dicopot 


Sedikit kembali membaca sejarah, ternyata copot jabatan itu biasa, yang tidak biasa itu caranya masing-masing berbeda-beda.


***


22 MEI 1998: PERINTAH 7 KATA YANG MENYELAMATKAN JAKARTA DARI PERANG SAUDARA - 


"Sebelum Matahari Terbenam!".


Jakarta, 22 Mei 1998. 


Asap kerusuhan Trisakti masih tebal. Presiden Soeharto baru mundur 24 jam. B.J. Habibie baru dilantik jadi Presiden ke-3 kemarin sore.


Istana masih rapuh. Di luar, harga beras naik, mahasiswa masih di DPR, dan di dalam tubuh ABRI sendiri ada keretakan.


Kronologinya dalam 5 jam yang mencekam:


Pukul 10.00 WIB - Laporan di atas meja.


Panglima ABRI Jenderal Wiranto lapor ke Presiden baru di Istana: "Ada pergerakan pasukan Kostrad tanpa sepengetahuan Panglima ABRI, bergerak menuju titik vital: Istana Negara dan kediaman Presiden di Kuningan Patra."


Menurut buku Habibie, jalan depan rumah Kuningan sudah penuh personel, Kopassus dan Paspampres berhadap-hadapan. Paspampres saat itu hanya pegang peluru hampa, Kopassus peluru tajam.


Pukul 11.00 WIB - Habibie konsultasi.


Habibie tidak langsung menuduh itu kudeta. Tapi beliau paham, jika dibiarkan ada dua matahari kembar komando: satu di Panglima ABRI, satu di Pangkostrad. Itu bisa memicu bentrokan berdarah sesama tentara di Jakarta yang sedang rapuh. Beliau telepon Letjen (Purn) Sintong Panjaitan, penasehat militernya.


Pukul 13.00 WIB - Ultimatum 7 kata.


Habibie perintahkan Wiranto: Ganti Pangkostrad Letjen Prabowo Subianto dengan Mayjen Johny Lumintang.


Wiranto minta waktu sampai besok pagi. Habibie menolak keras dan menjatuhkan perintah bersejarah yang Ibu tulis:


"Perintah ini harus dilaksanakan segera, sebelum matahari terbenam!".


Pukul 15.00 WIB - Prabowo masuk Istana.


Prabowo datang ke Istana dengan seragam loreng PDL, bawa 12 pengawal, 3 Land Rover. Di pintu, Paspampres atas perintah Sintong minta dengan hormat: "Tolong lepas senjata."


Prabowo melepas kopelrim, pistol, dan pisau rimba Kostradnya. Lalu masuk ke ruang Habibie. Terjadi dialog tegang dalam Bahasa Inggris. Prabowo bertanya kenapa dicopot, menyebut itu penghinaan keluarga dan mertuanya. 


Habibie jawab tenang:


"Anda tidak dipecat, tapi jabatan Anda diganti. 


Ini adalah keinginan Presiden." dan "Masa bodoh, saya Presiden dan harus membereskan keadaan."


Pukul 17.00 WIB - Menjelang Maghrib.


Prabowo menerima keputusan. Jabatan diserahkan ke Mayjen Johny Lumintang. Jakarta selamat. Johny Lumintang sendiri tercatat hanya menjabat 17 jam, rekor tersingkat Pangkostrad, sebelum diganti Mayjen Djamari Chaniago keesokan harinya. 


EDUKASI SEJARAH UNTUK KITA:


Kenapa cerita ini harus kita ajarkan ke anak cucu?


1. Pelajaran Supremasi Sipil: Presiden adalah Panglima Tertinggi.


Di hari pertama kerja, Presiden sipil yang latar belakangnya insinyur pesawat, bukan jenderal, harus memecat jenderal bintang tiga. Dan tentara patuh. Itulah fondasi reformasi: ABRI di bawah Presiden, bukan di atasnya.


2. Pelajaran Menahan Diri: Kepatuhan Mencegah Perang Saudara.


Fakta paling penting: Prabowo patuh meski marah. Beliau tidak melawan, tidak menggerakkan pasukan lebih besar. Jika malam itu beliau menolak dan terjadi tembak-menembak Kopassus vs Paspampres di Kuningan, republik yang baru lahir itu bisa hancur. Kepatuhan satu orang menyelamatkan jutaan orang.


3. Pelajaran Sejarah Tidak Hitam-Putih.


Sampai hari ini ada 3 versi:

- Versi Habibie: Itu upaya kudeta yang harus dicegah.

- Versi Prabowo: Itu pengamanan Presiden, bukan kudeta.

- Versi Wiranto: Tidak ada kudeta sama sekali.


Sebagai rakyat, tugas kita bukan menghakimi, tapi belajar: Di saat genting, butuh 2 hal: 


Ketegasan pemimpin dan kedewasaan yang dipimpin. Habibie tegas dengan "sebelum matahari terbenam", Prabowo dewasa dengan menerima.


Jika hari itu matahari terbenam tanpa keputusan, mungkin sejarah Indonesia hari ini akan sangat berbeda.


Itulah 7 kata yang menyelamatkan Jakarta.


Mohon maaf jika ada kesalahan dalam penulisan, karena ini sejarah dan masanya juga sudah panjang, itu murni kesalahan dalam menulisnya.


#FaktaSejarah #22Mei1998 #Habibie #Prabowo #Reformasi1998 #SebelumMatahariTerbenam #EdukasiSejarah #SupremasiSipil #JasMerah



Purbaya dicopot 

SEMPAT PUKUL MEJA? KEJADIAN ITU BENAR dan terekam dalam rapat resmi.


Bukan hoax Tribun, tapi memang terjadi di rapat terakhirnya.


Ini kronologinya sesuai video sidang DPD RI Komite IV, Senin 14 September 2026 pagi (hanya beberapa jam sebelum beliau dicopot):


FAKTA RAPAT TERAKHIR:


Pak Purbaya Yudhi Sadewa sedang rapat gabungan dengan DPD, Bappenas, dan Bank Indonesia membahas RUU APBN 2027. Di tengah paparannya, beliau meledak kesal.


Penyebab beliau pukul meja:


1. Ada perusahaan asing (disebut pengusahanya dari China, tapi operasi di Indonesia) yang main curang. Mereka jualan baja dan produk lain secara cash basis - jual langsung cash ke klien biar tidak terdeteksi sistem pajak.


2. Tidak bayar PPN. Potensi kerugian negara dari 1 perusahaan saja bisa Rp4 Triliun per tahun, kata Pak Purbaya. Mereka jual tapi tidak setor PPN.


3. Meremehkan & Menghina Aturan Indonesia. Ini yang bikin beliau paling kesal. Kata Pak Purbaya, perusahaan itu terang-terangan bilang: _"Tidak ada gunanya ikut peraturan di Indonesia, semua bisa diselesaikan dengan bayar orang."_


Mereka menganggap hukum Indonesia bisa dibeli.


Makanya Pak Purbaya bilang: _"Saya merasa dihina"_ dan gesturnya memukul meja sambil berkata: _"Saya akan sikat. Tidak ada toleransi!"_ 


---


TULISAN EDUKASI DARI KEJADIAN INI


JUDUL: Meja Dipukul, Bukan Orang - Ketika Seorang Menteri Tersinggung Demi Harga Diri Bangsa


Banyak orang lihat videonya lalu fokus ke "pukul mejanya". Padahal yang lebih penting adalah kenapa beliau sampai harus pukul meja.


Ini bukan soal emosi, ini soal harga diri.


1. Pajak adalah Harga Diri Bangsa.

Perusahaan asing itu datang ke Indonesia, pakai jalan kita, pakai listrik kita, pakai pekerja kita, tapi saat disuruh bayar pajak malah bilang "aturan Indonesia tidak berguna".

Kalau kita diam, kita yang rugi. Uang PPN Rp4 Triliun itu bisa untuk bangun berapa ribu sekolah di Sumatera Barat? Bisa untuk berapa beasiswa MABA seperti anak kita yang tergolong ekonomi menengah ke bawah?


Pak Purbaya marah bukan karena benci asing, tapi karena dia sayang negara.


2. Jangan Bangga Jika Lolos Pajak, Itu Bukan Pintar, Itu Merugikan Tetangga.

Di sekitar kita juga banyak yang bangga "Saya bisa akali pajak". Padahal perusahaan asing yang cash basis itu contoh buruknya. Mereka kaya sendiri, tapi kas negara kosong. Akhirnya yang susah siapa? Kita juga, karena subsidi dicabut, harga naik.


Edukasi untuk kita semua: Taat pajak bukan soal takut petugas, tapi soal gotong royong.


3. Marah yang Benar, di Tempat yang Benar.

Pak Purbaya tidak maki-maki orangnya di medsos. Beliau marah di forum resmi, di depan DPD, dengan data. Pukul meja sebagai simbol ketegasan, bukan kekerasan.


Ini pelajaran untuk kita: Kalau merasa dihina, jangan balas dengan hinaan di Instagram Story. Bawa ke forum yang benar, dengan data dan solusi.


Hari itu beliau pukul meja untuk membela aturan Indonesia. Sore harinya, jabatannya berakhir lewat satu telepon. Tapi ketegasannya menolak perusahaan yang menghina Indonesia itu akan tetap diingat.


Karena jabatan bisa selesai dalam 1 telepon, tapi keberanian membela negara tidak akan pernah dicopot.


***


Nah ini... orang pintar pasti sudah bisa menebak apa alasan sampai dia di copot, terlalu berani bela negara.


#PurbayaYudhiSadewa #EdukasiPajak #HargaDiriBangsa #TaatPajak #Menkeu #RapatDPD #JanganRemehkanAturan #BelajarDariMenteri


Purbaya Selamat 

Gue coba ngebedah dan nguliti habis-habisan gimana vulgar-nya permainan gelap birokrasi di republik ini. Gue bakal ngasih lo "kacamata tembus pandang" buat ngelihat gimana sebuah sistem raksasa kartel birokrasi yang udah berkarat puluhan tahun bekerja sama untuk membunuh karakter dan menyingkirkan satu-satunya anomali yang berani ngacak-ngacak piring makan mereka.


 Kita mulai dari sebuah unggahan Facebook yang viral di tanggal 14 September 2026, tepat di hari Purbaya ditendang dari kabinet. Istrinya, Ida Yulidina, nulis sebuah curhatan yang bikin bulu kuduk merinding: "Emang negara kita tidak bisa diperbaiki... Memang 2 bulan kebelakang bapak kayak orang gelisah dan ragu mau mutasi kan orang2 mengerikan... Pada berontak 300 org pajak dan beacukai."

​Media arus utama langsung nge- framing ini seolah-olah 300 orang itu adalah penjahat murni, dan netizen langsung ribut. 


Tapi dokumen investigasi yg gue terima ini ngasih kita kejernihan nalar. Ini bukan wawancara resmi, ini cuma jeritan hati seorang istri yang ngelihat suaminya stres berat. Tapi, coba lo garis bawahi frasa "orang-orang mengerikan".

​Dalam bahasa birokrasi, "mengerikan" itu bukan berarti mereka bawa celurit ke kantor. Mengerikan di sini merujuk pada power atau kekuasaan menggurita yang mereka pegang. Siapa sih 300 (atau sampai 400) orang ini? Mereka adalah Pejabat Eselon II, III, dan IV di Direktorat Jenderal Pajak (DJP) dan Bea Cukai (DJBC). Buat lo yang nggak paham struktur pemerintahan, menteri itu jabatannya politis, dia bisa datang dan pergi. Tapi Eselon II, III, dan IV? Mereka adalah Deep State-nya kementerian. Mereka adalah penguasa teknis lapangan. Mereka yang tahu di mana celah pajak bisa dinegosiasikan, mereka yang pegang kunci kontainer di pelabuhan, mereka yang duduk manis di posisi-posisi yang oleh Purbaya disebut secara gamblang sebagai "tempat-tempat gemuk".

​Sekarang, mari kita bedah manuver "bunuh diri" yang dilakuin Purbaya.


​Di kementerian, lo nggak bisa main pecat PNS seenaknya jidat. Aturannya ketat banget. Jadi, apa yang dilakuin Purbaya buat motong jalur mafia ini? Dia pakai taktik shock therapy. Tanggal 10 September 2026, dia mutasi ratusan pejabat ini. Strateginya brilian sekaligus nekat: "Saya kocok ulang, saya pindahin yang kurang baik ke daerah, yang baik ke pusat." Dia secara harfiah mengambil pejabat-pejabat dari lahan basah, memutus rantai "diskusi dengan wajib pajak tertentu", dan membuang mereka ke tempat yang "sepi".

​Lo harus paham, bagi seorang birokrat yang udah bertahun-tahun nyaman dapet kickback atau setoran gelap dari lahan basah, dipindah ke daerah sepi itu ibarat kiamat finansial. Purbaya nggak cuma mindahin meja kerja mereka, dia lagi memutus urat nadi aliran uang haram yang mungkin udah menghidupi ekosistem tak kasat mata di bawah sana.


​Dan apa hasilnya? Dokumen ini nyatet pernyataan Purbaya yang sangat krusial: "Sampai dengan akhir Juli tahun ini (2026), tumbuhnya hampir 30 persen daripada tahun lalu... Itu terjadi tanpa kenaikan tax rate."

​Mindblowing, kan? Penerimaan pajak naik 30 persen tanpa pemerintah harus naikin tarif PPN atau pajak lainnya! Logika ekonominya simpel banget, Bos: uang yang selama ini bocor ke kantong-kantong pribadi, berhasil dipaksa masuk ke kas negara cuma gara-gara Purbaya "menyapu" para penjaga gerbangnya.

​Tapi di sinilah letak tragedinya, dan di sinilah permainan gelap itu mulai dipertontonkan secara vulgar di depan mata kita.


​Lo pikir, ekosistem raksasa yang kehilangan akses ke uang triliunan rupiah bakal diam aja ngelihat periuk nasinya ditendang? Absolutely not. Sistem yang terancam akan selalu mencari cara untuk mempertahankan eksistensinya. Di birokrasi kita, ketika bawahan "berontak", mereka nggak demo bakar ban di depan Monas. Pemberontakan birokrasi itu bentuknya adalah bisikan, sabotase administratif, dan lobi-lobi politik tingkat tinggi di ruang-ruang gelap kekuasaan.


​Hanya butuh waktu EMPAT HARI bagi sistem untuk bereaksi. Tanggal 10 September Purbaya merombak 300+ pejabat itu. Tanggal 14 September, saat Purbaya lagi rapat resmi di DPD RI bela APBN, sebuah telepon dari sosok yang dia sebut "Bapak" masuk. Beberapa jam kemudian, namanya lenyap dari daftar kabinet. Digantikan oleh Suahasil Nazara, seorang birokrat karier yang aman, patuh, dan merepresentasikan status quo.

​Ketika wartawan nanya ke Purbaya, apakah pencopotannya ini berkaitan dengan perombakan 300 pejabat itu, jawaban Purbaya sangat jujur, dingin, dan telanjang: "Sebagian ada. Sebagian iya."


​Ini adalah konfirmasi paling epik dari seorang mantan menteri bahwa dia baru saja dihabisi oleh sistem yang ingin dia bersihkan.

​Tapi, kalau lo ngerasa pencopotan itu udah cukup vulgar, lo harus lihat apa yang terjadi dua hari setelahnya. Ini adalah bagian yang paling bikin gue muak, sekaligus membuktikan betapa liciknya orkestrasi kartel birokrasi ini.

​Tanggal 16 September 2026, dua hari setelah Purbaya lengser, tiba-tiba Dirjen Pajak Bimo Wijayanto dan Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama muncul ke publik. Mereka dengan lantangnya mengusulkan agar mutasi 300+ pejabat itu "ditunda atau dibatalkan".


 Alasannya? Mereka tiba-tiba bilang menemukan "nama-nama ajaib" dalam daftar mutasi tersebut yang katanya tidak melalui proses assessment dan talent management.

​Gue mau ngajak lo mikir pakai nalar yang sehat. Ke mana aja dua Dirjen ini waktu Purbaya masih berkuasa? Kenapa waktu SK itu digodok dan ditandatangani pada 10 September, mereka diam seribu bahasa dan bantah ada konflik? Jawabannya jelas: mereka nggak berani head-to-head sama Purbaya. Mereka tahu Purbaya itu ibarat buldoser. Jadi, mereka wait and see. Mereka menunggu eksekutor tak kasat mata (tekanan politik ke Istana) bekerja menyingkirkan Purbaya.

​Begitu Purbaya resmi out, barulah para petinggi birokrasi ini keluar dari sarangnya, berlindung di balik tameng "prosedur administrasi" dan "talent management", lalu berusaha mengembalikan bidak-bidak catur mereka ke posisi semula. Alasan "nama ajaib" itu adalah bahasa politis yang sangat halus untuk bilang: "Tolong batalkan mutasi ini, karena orang-orang kami yang pegang lahan basah ikut terbuang ke daerah."


​Sistem ini bener-bener bekerja dengan sangat sempurna. Suahasil Nazara, sang Menteri baru, dengan gaya khas birokrat konservatif, menyatakan bahwa dia masih "membahas" dan "menunggu usulan" dari unit Eselon I terkait nasib SK mutasi tersebut. Lo udah bisa nebak kan ending-nya bakal ke mana? SK itu kemungkinan besar bakal direvisi, dibatalkan, atau disesuaikan agar tidak lagi mengganggu zona nyaman para elit pajak dan bea cukai.

​Investigasi ini ngajarin kita satu realita yang sangat pahit tapi harus kita telan: di negara ini, reformasi birokrasi itu cuma indah di atas kertas makalah dan pidato kenegaraan. Di lapangan, kalau lo berani motong kompas, kalau lo berani mindahin ratusan orang yang jadi "pengepul" di tempat-tempat gemuk, lo lagi ngedatengin death warrant (surat kematian) buat karier lo sendiri.


​Gue nggak marah Purbaya dipecat. Sebaliknya, gue justru melihat pemecatan ini sebagai medali kehormatan tertinggi buat dia. Purbaya Yudhi Sadewa telah berhasil membuktikan bahwa sistem ini sebenarnya bisa dibersihkan, kebocoran itu sebenarnya bisa ditambal, dan penerimaan negara itu sebenarnya bisa naik 30 persen tanpa harus mencekik rakyat dengan pajak baru.


​Sayangnya, dia lupa satu hal fundamental tentang politik Indonesia: keberhasilan yang terlalu telanjang dalam memberantas kebocoran uang gelap, adalah ancaman eksistensial bagi mereka yang hidup dari kebocoran tersebut. Purbaya tidak dipecat karena dia gagal. Purbaya dipecat karena dia terlalu berhasil menakut-nakuti "orang-orang mengerikan" di dalam labirin Kemenkeu.

​Pada akhirnya, sandiwara pembatalan mutasi dengan dalih "nama ajaib" pasca-lengsernya Purbaya ini adalah bukti paling vulgar bahwa negara kita memang sedang sakit parah. Kartel birokrasi telah menang, status quo telah pulih, dan para pejabat gemuk kini bisa kembali tidur nyenyak di atas kasur lahan basah mereka.

​Game over. Purbaya mungkin kalah, tapi dia kalah dengan cara yang menelanjangi kemunafikan republik ini sampai ke tulang-tulangnya.


Pak Harto disuruh Mundur 


Yoga Soegama, jenderal yang berani suruh Pak Harto tak maju lagi jadi presiden pada 1985


Tak banyak orang yang berani menyuruh Pak Harto agar tak maju lagi sebagai presiden. Dari sedikit itu, salah satunya adalah Jenderal Yoga Soegama.


Kejadian itu terjadi pada Mei 1985, tiga tahun sebelum Soeharto terpilih lagi sebagai presiden pada 1988.


Sebagaimana disampaikan oleh Bambang Wiwoho, mantan wartawan Suara Karya yang juga menulis biografi Yoga Soegama, Jenderal Yoga: Loyalis di Balik Layar, pada kanal YouTube Obor Rakyat Reborn, malam itu Yoga bertemu dengan Presiden Soeharto di Jalan Cendana untuk rutinan Jumat Malam, sebuah pertemuan di mana dia harus memberi laporan intelijen terkait apa yang terjadi dalam seminggu sebelumnya sekaligus memetakan apa yang akan terjadi seminggu kemudian.


Selain memberi laporan, malam itu, Yoga juga menyarankan supaya Presiden Soeharto tidak maju sebagai presiden pada 1988. Ketika itu, Yoga adalah Kepala Badan Koordinasi Intelijen Negara (BAKIN).


Hadir juga malam itu Menteri Sekretaris Negara Sudharmono dan Panglima ABRI LB Benny Moerdani.


Saat itu Yoga menyarankan supaya Pak Harto tak maju lagi sebagai presiden. Dia juga berjanji akan mendukung siapa pun yang dipilih oleh Soeharto sebagai penggantinya.


Salah satu alasan atau pertimbangan Yoga memberi saran itu adalah ketika itu sudah berkuasa lebih dari 20 tahun. Jadi, saat 1988, Soeharto sudah jadi presiden selama 23 tahun.


Jadi secara alamiah, menurut Yoga, sebagaimana dituturkan Bambang, Pak Harto akan sampai pada tingkat jenuh. “Nah, kalau jenuh itu berbahaya dan tidak bagus dalam memimpin negara,” kata Bambang.


Yang kedua, orang-orang yang berada di sekeliling Soeharto sudah mulai berbeda generasi. Jika pada awal-awal 1960-an, Soeharto dianggap masih kenal dekat dengan orang-orang yang ada di sekitarnya, tahu persis baik-buruknya; sementara pada 1980-an, generasinya sudah berbeda.


Selain itu, pada waktu itu, bisnis anak-anak Soeharto sudah mulai membesar. Dan itu, menurut Yoga, bisa memancing pembicaraan, rumor-rumor, yang tidak bagus, yang akan merugikan nama Soeharto.


Menurut Bambang, dalam pertemuan itu, Soeharto diam. Sementara, Benny Moerdani dan Sudharmono menolak usul Yoga – kelak, pada 1988, Benny rupanya sepakat dengan usulan Yoga dan dalam sebuah kesempatan bermain billiard bersama dia meminta Soeharto untuk tidak maju lagi sebagai presiden di mana Pria Kemusuk itu akhirnya marah.


Penolakan dari dua sejawatnya itu rupanya membuat Yoga marah. Menurut Bambang, marahnya Yoga bahkan tidak tanggung-tanggung. “Banyak hal yang menunjukkan dia marah, termasuk membeli senjata dan segala macam," jelasnya.


Sejak malam itu, Yoga, menurut beberapa sumber, berhenti melakukan pertemuan rutin pada Jumat malam dengan Soeharto di Jalan Cendana yang sudah mereka lakukan sejak 1974. Hubungan Yoga dengan Benny Moerdani juga memburuk.


Baca artikel selengkapnya di sini https://intisari.grid.id/read/034413066/yoga-soegama-jenderal-yang-berani-suruh-pak-harto-tak-maju-lagi-jadi-presiden


#yogasoegama #yogasugama #bennymoerdani #PakHarto #soeharto


Purbaya Legowo 


Saya Sedih, Tapi Sekarang Tidak Terlalu Buruk" - Seni Menerima Kehilangan Ala Purbaya


Foto ini bukan foto pejabat kalah. Ini foto manusia yang sedang belajar berdamai.


Bayangkan: Setahun mengelola uang negara Rp3.000 triliun, tiba-tiba Senin jam 14.33 disuruh berhenti lewat telepon saat rapat. Selasa harus serah terima jabatan cuma 35 detik. Siapa yang tidak sedih?


Purbaya Yudhi Sadewa mengakui itu. "Saya sedih..."


Beliau tidak jaim bilang "Saya baik-baik saja". Beliau jujur. Sedih itu wajar. Manusiawi.


Tapi beliau lanjutkan: "...tapi sekarang tidak terlalu buruk."


Kenapa tidak terlalu buruk? Karena beliau menemukan 3 hal yang lebih besar dari jabatan:


1. Tidur yang tenang lebih mahal dari jabatan yang tinggi.


Selama jadi Menteri, beliau bilang semalam masih mikir-mikir, susah tidur. Mikirin pajak yang bocor Rp5 triliun dari pabrik baja, mikirin MBG Rp268 triliun, mikirin rupiah. Sekarang bisa tidur tenang. Bu, apa artinya jabatan tinggi kalau tidurnya tidak tenang?


2. Kolam di belakang rumah lebih jujur dari ruang rapat.


Setelah sertijab beliau bilang: _"Habis ini mau pulang, mancing di belakang rumah. Mancing ikan mujair, nila. Bisa sambil ngelamun 'kenapa dipecat?'"_ Sambil ketawa.


Di kolam, ikan tidak peduli kita mantan Menteri atau bukan. Mereka tetap makan pelet kita. Di situlah beliau menemukan bahwa kebahagiaan itu sederhana.


3. Sedih itu sehari, hidup harus terus berjalan.


Kalimat "Saya sedih, tapi sekarang tidak terlalu buruk" adalah rumus _resilience_ (ketahanan mental) yang diajarkan psikolog:


Akui sedihnya (jangan ditahan), lalu cari satu hal baik hari ini (tidur tenang, bisa mancing, bisa kumpul keluarga). Maka sedih itu tidak jadi depresi, tapi jadi pelajaran.


Buat Ibu yang hari ini juga sedang di fase "sedih, tapi tidak terlalu buruk" - baru di-PHK, baru gagal panen, baru ditinggal, baru diganti - ingat kalimat ini.


Boleh sedih hari ini. Tapi besok harus bilang, "tidak terlalu buruk", karena masih ada kolam di belakang rumah, masih ada keluarga yang menunggu, masih ada tidur tenang yang bisa kita nikmati.


Jabatan hanya sementara. Kemampuan untuk bilang "tidak terlalu buruk" setelah kehilangan, itu yang selamanya.


#SayaSedihTapiTidakTerlaluBuruk #PurbayaYudhiSadewa #EdukasiMental #Resilience #IkhlasSetelahJabatan #TidurTenang #PelajaranHidup #MantanMenkeu #BahagiaSederhana




Vulgar

 DARI SKANDAL 40 PABRIK BAJA HINGGA RIMA KELAM 1998: MEMBONGKAR TEKANAN MAHADAHYSYAT DI BALIK PERGANTIAN MENKEU!


"Sejarah tidak pernah benar-benar mengulang dirinya sendiri, tetapi ia sering kali berima (berulang dengan kemiripan tertentu)." — Mark Twain


Awal pekan pertengahan September 2026 menyajikan plot twist paling kolosal di panggung politik-ekonomi republik. Di media sosial, orang-orang ramai menepuk dada lalu mencibir: "Presiden bodoh! Baru mau berantas korupsi, eh jam 4 sore kursinya malah hilang!"

Apa gunanya mencalonkan diri 4 kali kalau memang tak bisa mengubah bangsa ini?


Aduhai, betapa mudahnya orang yang tidak pernah memegang kendali negara berlagak menjadi panglima perang di kolom komentar. 


Kita urutkan kembali timeline nya ...

Mari kita lihat fakta yang terjadi pada Senin siang, 14 September 2026, dalam rapat kerja Komite IV DPD RI di Kompleks Parlemen, Senayan.


Di hadapan para senator, Pak Purbaya Yudhi Sadewa membongkar mega-kebocoran penerimaan negara yang membuat bulu kuduk berdiri: sedikitnya 40 pabrik baja asal China beroperasi bebas tanpa membayar pajak secara penuh melalui transaksi tunai (cash basis). Beliau menunjuk satu pabrik di Pulogadung yang tunggakannya mencapai Rp 200 miliar hingga berpotensi menembus Rp 1 triliun per perusahaan!


Pak Purbaya meradang karena perintah pemeriksaan yang ia turunkan ke Direktorat Jenderal Pajak ternyata tidak dijalankan sama sekali. Ada indikasi oknum "orang dalam" bermain mata melindungi para pengemplang. Beliau berikrar akan menyapu bersih kebocoran itu tanpa kompromi.


Namun, di tengah rapat yang memanas sekitar pukul 13.00 WIB, sebuah panggilan darurat masuk. HP Pak Purbaya bergetar menerima telepon dari sosok yang ia sebut takzim: "Bapak". Rapat seketika diskors. Pak Purbaya melangkah keluar ruangan... dan tidak pernah kembali lagi. Tak lama berselang, staf Kemenkeu tampak sibuk mengemasi barang-barang sang menteri yang tertinggal di meja sidang.


Membongkar kebocoran triliunan rupiah butuh nyali setebal baja, tapi menghadapi realitas politik istana butuh ketabahan tingkat tinggi: baru membocorkan nama oknum jam 1 siang, jam 4 sore posisi menteri di Istana Negara sudah berganti nama!


Sekarang analisis Rima Kelam 1998!


Apakah Presiden mencopot Purbaya karena tunduk pada mafia? Di sinilah pentingnya memahami rima sejarah.


Mundurkan waktu ke akhir 1997. Presiden Soeharto membuat Barat murka karena hendak membeli armada jet tempur Sukhoi dari Rusia demi melepas ketergantungan militer dari Amerika Serikat, serta menolak resep maut IMF dengan merancang sistem patok kurs (Currency Board System). Respons kekuatan finansial global sangat instan dan kejam: Bill Clinton menelepon langsung, Michel Camdessus berdiri pongah bersendekap dada mengawasi penyerahan diri Indonesia, likuiditas dicekik, bank ditutup, dan berujung kerusuhan sosial terdahsyat.


Kini di era Prabowo, polanya berulang dengan akurasi menakutkan. Prabowo melakukan manuver geopolitik berani: mengamankan 150 juta barel minyak mentah dari Vladimir Putin di Moskow di tengah ancaman perang AS-Iran (diumumkan Hashim Djojohadikusumo pada 20 Mei 2026), mengintegrasikan Indonesia ke aliansi BRICS, dan konsisten menolak resep utang Barat.


Hukum internasional tak memungkinkan pengiriman armada perang ke Jakarta, maka senjatanya adalah Perang Ekonomi Asimetris

(Dari pengamatan dan riset ya ...) :


1). Serangan Indeks MSCI: Dimulai April 2026 saat MSCI membekukan rebalancing indeks saham Indonesia, disusul 13 Mei 2026 dengan mendepak massal 18 saham andalan (termasuk emiten hilirisasi raksasa seperti AMMN, BREN, TPIA, DSSA, CUAN, dan AMRT).


2). Eksodus Dolar & Serangan Kurs: Penjualan paksa memicu pelarian modal asing hingga USD 1,7 miliar (setara Rp 31 triliun), menghempaskan rupiah menembus level psikologis Rp 17.676 per dolar AS, dan memaksa Bank Indonesia mengerek BI Rate demi membendung pelarian valas.


3). Borok Rp 15.400 Triliun & Pertempuran DSI

Serangan luar memanfaatkan borok internal kita sendiri. Selama 34 tahun, kejahatan manipulasi faktur ekspor (under-invoicing) pada kelapa sawit, batu bara, dan mineral telah merampok devisa negara hingga Rp 15.400 triliun. Dokumen kepabeanan sengaja ditekan murah, volume riil disamarkan, dan laba dolarnya diparkir permanen di luar negeri.


4). Untuk menyumbat perampokan devisa ini, Presiden Prabowo mendirikan PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) sebagai pintu tunggal ekspor mineral dan energi nasional: Fase 1 (Juni–Desember 2026) sebagai penilai dan perantara harga riil, disusul Fase 2 (Januari 2027) bertransformasi menjadi pedagang penuh yang menjamin 100% devisa kembali ke tanah air.


Inilah simpul persekutuannya: kartel komoditas domestik bersekutu dengan sentimen pasar global. Mereka memanfaatkan kepanikan indeks modal untuk mengguncang pasar keuangan, demi memaksa Presiden membatalkan ekspor satu pintu DSI sebelum Fase 2 berjalan penuh di 2027!


Dilema Kepemimpinan Prabowo:


Menyelamatkan Kapal Induk

Coba bayangkan beban di pundak Presiden Prabowo pada Senin sore, 14 September 2026:


Rupiah dihantam spekulasi di level Rp 17.676 per dolar AS.


Harga minyak dunia melonjak ke US$ 101 per barel, membakar alokasi subsidi kas negara.


Sengketa setoran dividen Danantara Rp 120 triliun memanas di ruang publik.


Pecahnya Rantai Komando: Mutasi massal ratusan pejabat yang dieksekusi Pak Purbaya memicu pembangkangan internal terbuka, ditandai terbitnya surat edaran penolakan mutasi oleh jajaran Ditjen Pajak.


Di depan mata Presiden, kapal perang ekonomi Republik Indonesia sedang dihujani torpedo dari luar oleh spekulan indeks global, sementara di dalam ruang mesin, para perwira pencari uang negara justru saling todong senjata.


Jika Pak Purbaya dipertahankan malam itu, pasar global akan membaca adanya kelumpuhan total administrasi keuangan di Jakarta. Modal akan kabur serentak, rupiah terjun bebas, dan Indonesia dipaksa bertekuk lutut memanggil IMF persis tragedi 1998!


Presiden Prabowo menarik tuas darurat: memasang Prof. Suahasil Nazara yang berkarakter tenang untuk memulihkan retakan komando birokrasi, mengamankan penagihan pajak, dan meredam kepanikan pasar obligasi. Ini bukan tanda kebodohan, melainkan manuver penyelamatan kapal agar tidak karam dihantam badai.


Panggilan Perang Literasi 👀🧠💕


Pak Purbaya adalah ksatria yang membuka borok 40 pabrik baja dan pembocor devisa negara. Keberaniannya membela kehormatan bangsa wajib kita hormati setinggi langit.


Namun, menuduh Presiden "bodoh" hanya memperlihatkan ketidaktahuan kita terhadap perangkap perang ekonomi modern. Jangan biarkan energi kita habis untuk mencaci di linimasa.


Rapatkan barisan! Dukung ekspor satu pintu DSI, desak Kejaksaan Agung dan BPKP menuntaskan audit 40 pabrik baja nakal, dan kawal Menkeu baru agar menutup celah kebocoran pajak lewat integrasi sistem yang permanen. Kedaulatan bangsa ini dipertaruhkan!


Salam Literasi Numerasi Geopolitik,

Bu Guru 💕

Tifa

 Dokter Tifa Pertanyakan Alasan Jokowi Marah: yang Kami Teliti Ijazah Unggahan Dian Sandi Tifauzia Tyassuma atau dokter Tifa, terdakwa kasus...