Rabu, 30 September 2026

PMP ?

 Alasan Penting Mengapa Pelajaran Pendidikan Moral Pancasila (PMP) Perlu Diadakan Kembali

Di tengah perkembangan zaman yang semakin cepat, kemajuan teknologi yang luar biasa, dan perubahan perilaku generasi muda, pendidikan bukan hanya tentang kecerdasan akademik. Sekolah juga memiliki tanggung jawab besar dalam membentuk karakter, moral, dan kepribadian peserta didik.



Karena itulah, banyak orang mulai merasa bahwa pelajaran Pendidikan Moral Pancasila (PMP) perlu dihadirkan kembali secara lebih kuat dan bermakna di sekolah. Bukan sekadar hafalan sila, tetapi sebagai pendidikan kehidupan yang menanamkan nilai adab, tanggung jawab, dan rasa cinta kepada bangsa.


- Membentuk Karakter dan Adab Peserta Didik


Saat ini, banyak anak yang cerdas secara akademik tetapi lemah dalam sikap dan etika. PMP dahulu tidak hanya mengajarkan teori, tetapi juga membiasakan murid untuk menghormati guru, menghargai orang tua, disiplin, jujur, dan bertanggung jawab.


Pelajaran ini penting untuk mengingatkan bahwa pendidikan sejati bukan hanya soal nilai rapor, tetapi juga tentang bagaimana seseorang bersikap kepada orang lain. Bangsa yang maju tidak hanya membutuhkan orang pintar, tetapi juga manusia yang berkarakter baik.


- Menjadi Benteng di Era Digital dan Krisis Moral


Di era media sosial, anak-anak sangat mudah terpengaruh oleh konten negatif, ujaran kebencian, budaya instan, hingga hilangnya rasa hormat. Banyak generasi muda tumbuh dengan informasi yang melimpah, tetapi minim bimbingan moral.


PMP dapat menjadi benteng yang mengajarkan nilai kemanusiaan, sopan santun, toleransi, dan kemampuan membedakan mana yang benar dan salah. Dengan pendidikan moral yang kuat, murid tidak mudah terbawa arus pergaulan dan pengaruh negatif dunia digital.


- Menanamkan Nilai Pancasila dalam Kehidupan Nyata


Selama ini, banyak siswa hanya mengenal Pancasila sebagai hafalan. Padahal, nilai-nilai Pancasila seharusnya hidup dalam keseharian.

Melalui PMP, murid belajar:


-menghargai perbedaan,

-bekerja sama,

-mengutamakan musyawarah,

-mencintai keadilan,

-dan memiliki kepedulian sosial.


Jika nilai Pancasila benar-benar diterapkan sejak kecil, maka sekolah tidak hanya mencetak lulusan, tetapi juga melahirkan generasi yang memiliki jiwa kebangsaan dan rasa persatuan yang kuat.


- Mengurangi Perilaku Negatif di Lingkungan Sekolah


Kasus bullying, kurangnya sopan santun, perkelahian, hingga rendahnya empati antar siswa menjadi tantangan nyata di dunia pendidikan saat ini.

PMP penting karena mengajarkan kesadaran moral dan pengendalian diri. Murid diajak memahami akibat dari perilaku buruk serta belajar menghargai perasaan orang lain.


Ketika pendidikan moral diperkuat, sekolah akan menjadi tempat yang lebih aman, nyaman, dan penuh rasa saling menghormati. Hubungan guru dan murid pun akan menjadi lebih positif.


- Mempersiapkan Generasi yang Tidak Hanya Pintar, Tetapi Juga Bijaksana


Dunia masa depan membutuhkan generasi yang bukan hanya unggul dalam teknologi dan ilmu pengetahuan, tetapi juga memiliki hati nurani, empati, dan integritas.


PMP membantu murid memahami bahwa keberhasilan hidup tidak cukup hanya dengan kepintaran. Kejujuran, tanggung jawab, disiplin, dan kepedulian sosial adalah bekal penting untuk menjadi manusia yang bermanfaat bagi masyarakat.


Penutup Reflektif :


Karena itu, menghadirkan kembali PMP bukan berarti kembali ke masa lalu, tetapi menghidupkan kembali nilai-nilai luhur bangsa agar generasi muda tetap memiliki arah di tengah perubahan zaman.


Sebab pendidikan yang hebat bukan hanya melahirkan orang sukses, tetapi juga manusia yang berakhlak dan bermoral.

Supersemar

 Pidato Kemerdekaan 1966, Soekarno : Soeharto telah Menjalankan Supersemar dengan Baik



17 Agustus 1966, Dalam pidato pada hari kemerdekaan didepan Khalayak Ramai, Soekarno berkata (Petikan) : 


"𝘿𝙞𝙠𝙞𝙧𝙖𝙣𝙮𝙖 𝙎𝙋 11 𝙈𝙖𝙧𝙚𝙩 𝙖𝙙𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙨𝙖𝙩𝙪 𝙥𝙚𝙣𝙮𝙚𝙧𝙖𝙝𝙖𝙣 𝙥𝙚𝙢𝙚𝙧𝙞𝙣𝙩𝙖𝙝𝙖𝙣! 𝘿𝙞𝙠𝙞𝙧𝙖𝙣𝙮𝙖 𝙎𝙋 11 𝙈𝙖𝙧𝙚𝙩 𝙞𝙩𝙪 𝙨𝙖𝙩𝙪 𝙩𝙧𝙖𝙣𝙨𝙛𝙚𝙧 𝙤𝙛 𝙖𝙪𝙩𝙝𝙤𝙧𝙞𝙩𝙮. 𝙋𝙖𝙙𝙖𝙝𝙖𝙡 𝙩𝙞𝙙𝙖𝙠! 𝙎𝙋 11 𝙈𝙖𝙧𝙚𝙩 𝙖𝙙𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙨𝙖𝙩𝙪 𝙥𝙚𝙧𝙞𝙣𝙩𝙖𝙝 𝙥𝙚𝙣𝙜𝙖𝙢𝙖𝙣𝙖𝙣. 


𝙋𝙚𝙧𝙞𝙣𝙩𝙖𝙝 𝙥𝙚𝙣𝙜𝙖𝙢𝙖𝙣𝙖𝙣 𝙟𝙖𝙡𝙖𝙣𝙣𝙮𝙖 𝙥𝙚𝙢𝙚𝙧𝙞𝙣𝙩𝙖𝙝𝙖𝙣, 𝙥𝙚𝙣𝙜𝙖𝙢𝙖𝙣𝙖𝙣 𝙟𝙖𝙡𝙖𝙣𝙣𝙮𝙖 𝙖𝙣𝙮 𝙥𝙚𝙢𝙚𝙧𝙞𝙣𝙩𝙖𝙝𝙖𝙣, 𝙙𝙚𝙢𝙞𝙠𝙞𝙖𝙣 𝙠𝙖𝙩𝙖𝙠𝙪 𝙥𝙖𝙙𝙖 𝙬𝙖𝙠𝙩𝙪 𝙢𝙚𝙡𝙖𝙣𝙩𝙞𝙠 𝙆𝙖𝙗𝙞𝙣𝙚𝙩. 𝙆𝙚𝙘𝙪𝙖𝙡𝙞 𝙞𝙩𝙪 𝙟𝙪𝙜𝙖 𝙥𝙚𝙧𝙞𝙣𝙩𝙖𝙝 𝙥𝙚𝙣𝙜𝙖𝙢𝙖𝙣𝙖𝙣 𝙠𝙚𝙨𝙚𝙡𝙖𝙢𝙖𝙩𝙖𝙣 𝙥𝙧𝙞𝙗𝙖𝙙𝙞 𝙋𝙧𝙚𝙨𝙞𝙙𝙚𝙣. 𝙋𝙚𝙧𝙞𝙣𝙩𝙖𝙝 𝙥𝙚𝙣𝙜𝙖𝙢𝙖𝙣𝙖𝙣 𝙬𝙞𝙗𝙖𝙬𝙖 𝙋𝙧𝙚𝙨𝙞𝙙𝙚𝙣. 𝙋𝙚𝙧𝙞𝙣𝙩𝙖𝙝 𝙥𝙚𝙣𝙜𝙖𝙢𝙖𝙣𝙖𝙣 𝙖𝙟𝙖𝙧𝙖𝙣 𝙋𝙧𝙚𝙨𝙞𝙙𝙚𝙣. 𝙋𝙚𝙧𝙞𝙣𝙩𝙖𝙝 𝙥𝙚𝙣𝙜𝙖𝙢𝙖𝙣𝙖𝙣 𝙗𝙚𝙗𝙚𝙧𝙖𝙥𝙖 𝙝𝙖𝙡. 


𝙅𝙚𝙣𝙙𝙚𝙧𝙖𝙡 𝙎𝙤𝙚𝙝𝙖𝙧𝙩𝙤 𝙩𝙚𝙡𝙖𝙝 𝙢𝙚𝙣𝙜𝙚𝙧𝙟𝙖𝙠𝙖𝙣 𝙥𝙚𝙧𝙞𝙣𝙩𝙖𝙝 𝙞𝙩𝙪 𝙙𝙚𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙗𝙖𝙞𝙠. 𝘿𝙖𝙣 𝙨𝙖𝙮𝙖 𝙢𝙚𝙣𝙜𝙪𝙘𝙖𝙥 𝙩𝙚𝙧𝙞𝙢𝙖 𝙠𝙖𝙨𝙞𝙝 𝙠𝙚𝙥𝙖𝙙𝙖 𝙅𝙚𝙣𝙙𝙚𝙧𝙖𝙡 𝙎𝙤𝙚𝙝𝙖𝙧𝙩𝙤 𝙖𝙠𝙖𝙣 𝙝𝙖𝙡 𝙞𝙣𝙞. 𝙋𝙚𝙧𝙞𝙣𝙩𝙖𝙝 𝙥𝙚𝙣𝙜𝙖𝙢𝙖𝙣𝙖𝙣, 𝙗𝙪𝙠𝙖𝙣 𝙥𝙚𝙣𝙮𝙚𝙧𝙖𝙝𝙖𝙣 𝙥𝙚𝙢𝙚𝙧𝙞𝙣𝙩𝙖𝙝𝙖𝙣! 𝘽𝙪𝙠𝙖𝙣 𝙩𝙧𝙖𝙣𝙨𝙛𝙚𝙧 𝙤𝙛 𝙖𝙪𝙩𝙝𝙤𝙧𝙞𝙩𝙮!


𝙈𝙚𝙧𝙚𝙠𝙖, – 𝙢𝙪𝙨𝙪𝙝 -, 𝙨𝙚𝙠𝙖𝙧𝙖𝙣𝙜 𝙠𝙚𝙘𝙚𝙡𝙚 𝙨𝙖𝙢𝙖 𝙨𝙚𝙠𝙖𝙡𝙞. 𝘿𝙖𝙣 𝙨𝙚𝙠𝙖𝙧𝙖𝙣𝙜 𝙥𝙪𝙣, 𝙥𝙖𝙙𝙖 𝙝𝙖𝙧𝙞 𝙋𝙧𝙤𝙠𝙡𝙖𝙢𝙖𝙨𝙞 𝙨𝙚𝙠𝙖𝙧𝙖𝙣𝙜 𝙞𝙣𝙞, 𝙢𝙚𝙧𝙚𝙠𝙖 𝙠𝙚𝙘𝙚𝙡𝙚 𝙡𝙖𝙜𝙞. 𝙇𝙝𝙤, 𝙎𝙤𝙚𝙠𝙖𝙧𝙣𝙤 𝙢𝙖𝙨𝙞𝙝 𝙋𝙧𝙚𝙨𝙞𝙙𝙚𝙣! 𝙇𝙝𝙤, 𝙎𝙤𝙚𝙠𝙖𝙧𝙣𝙤 𝙢𝙖𝙨𝙞𝙝 𝙋𝙚𝙢𝙞𝙢𝙥𝙞𝙣 𝘽𝙚𝙨𝙖𝙧 𝙍𝙚𝙫𝙤𝙡𝙪𝙨𝙞! 𝙇𝙝𝙤, 𝙎𝙤𝙚𝙠𝙖𝙧𝙣𝙤 𝙢𝙖𝙨𝙞𝙝 𝙈𝙖𝙣𝙙𝙖𝙩𝙖𝙧𝙞𝙨 𝙈𝙋𝙍𝙎! 𝙇𝙝𝙤, 𝙎𝙤𝙚𝙠𝙖𝙧𝙣𝙤 𝙢𝙖𝙨𝙞𝙝 𝙋𝙚𝙧𝙙𝙖𝙣𝙖 𝙈𝙚𝙣𝙩𝙚𝙧𝙞! 𝙇𝙝𝙤, 𝙎𝙤𝙚𝙠𝙖𝙧𝙣𝙤 𝙢𝙖𝙨𝙞𝙝 𝙗𝙚𝙧𝙙𝙞𝙧𝙞 𝙡𝙖𝙜𝙞 𝙙𝙞 𝙢𝙞𝙢𝙗𝙖𝙧 𝙞𝙣𝙞!


𝘿𝙚𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙠𝙚𝙩𝙚𝙧𝙖𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙞𝙣𝙞 𝙢𝙖𝙠𝙖 𝙟𝙚𝙡𝙖𝙨𝙡𝙖𝙝 𝙗𝙖𝙝𝙬𝙖 𝙖𝙣𝙩𝙖𝙧𝙖 𝙋𝙧𝙚𝙨𝙞𝙙𝙚𝙣 𝙙𝙖𝙣 𝙅𝙚𝙣𝙙𝙚𝙧𝙖𝙡 𝙎𝙤𝙚𝙝𝙖𝙧𝙩𝙤 𝙩𝙞𝙙𝙖𝙠 𝙖𝙙𝙖 𝙥𝙚𝙧𝙗𝙚𝙙𝙖𝙖𝙣 𝙖𝙩𝙖𝙪 𝙥𝙚𝙣𝙟𝙚𝙜𝙖𝙡𝙖𝙣, 𝙢𝙚𝙡𝙖𝙞𝙣𝙠𝙖𝙣 𝙢𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙖𝙙𝙖 𝙥𝙚𝙢𝙗𝙚𝙧𝙞𝙖𝙣 𝙩𝙚𝙣𝙖𝙜𝙖 𝙙𝙖𝙧𝙞 𝙋𝙧𝙚𝙨𝙞𝙙𝙚𝙣/𝙋𝙖𝙣𝙜𝙡𝙞𝙢𝙖 𝙏𝙚𝙧𝙩𝙞𝙣𝙜𝙜𝙞 𝙠𝙚𝙥𝙖𝙙𝙖 𝙥𝙚𝙖𝙘𝙚 𝙣𝙚𝙜𝙤𝙩𝙞𝙖𝙩𝙤𝙧-𝙣𝙮𝙖"


"


Setelah mendapat Supersemar pada tanggal 11 Maret 2026, Soeharto segera bergerak untuk Membubarkan PKI pada tanggal 12 Maret 1966, dan bukan untuk meng-Kudeta Soekarno.


Dalam Pidatonya Soekarno mengetahui adanya rayuan-rayuan kepada Soeharto untuk mengKudeta Soekarno lewat Supersemar, tapi Soeharto tidak melakukan hal itu.


Fakta sejarahnya Supersemar dipergunakan untuk membubarkan PKI, dan dari Pidatonya terlihat Soekarno berterima Kasih pada Soeharto karena telah membubarkan PKI dan malah mendukungnya (𝙥𝙚𝙢𝙗𝙚𝙧𝙞𝙖𝙣 𝙩𝙚𝙣𝙖𝙜𝙖 𝙙𝙖𝙧𝙞 𝙋𝙧𝙚𝙨𝙞𝙙𝙚𝙣).


Soekarno dijatuhkan bukan oleh Supersemar tapi oleh Sidang Istimewa Mprs tahun 1967, setelah Pidato Pertanggung Jawabanya ditolak Mprs.


Saat Dijatuhkan, banyak pihak yg ingin menyeret Soekarno ke Pengadilan atas tuduhan keterlibatan pada aksi G30spki dan juga dukungannya pada PKI.


Tapi Soeharto melindungi Soekarno, kompromi politik jalan tengah saat itu adalah Soekarno "diasingkan", jalan tengah ini disetujui pihak² anti Soekarno.  Sehingga mereka tidak lagi Mengejar² Soekarno agar diSeret ke Pengadilan. 


Soekarno sudah divonis bakal Wafat sebentar lagi oleh Dokter Austria dan Dokter China pada tahun 1965, 


Setelah "diasingkan" ke Wisma Yaso, untuk merawat Soekarno, Soeharto menugaskan Tim Kedokteran yaitu  Prof. Siwabessy, dr. Soeharto, dr.Tan Sin Hin, dan Kapten CPM dr. Soeroyo.


Untuk kesehariannya Soekarno dipantau oleh Kapten CPM dr. Soeroyo yaitu dokter lulusan UI, Ex anggota Tjakrabirawa.


Semua terkait obat diserahkan dengan persetujuan dr.Soeharto. 


Untuk masalah Gigi, diperayakan pada dr. Oei Hong Kian,


salah satu dokter gigi ternama di Jakarta kala itu.


"Mikul Dhuwur Mendhem Jero" kata Soeharto.


(Lintangangrem)

Istri Katamso

 Raden Roro (RR) Sri Wulan Murni adalah istri dari Brigadir Jenderal TNI (Anumerta) Katamso Dharmokusumo, salah satu Pahlawan Revolusi yang gugur dalam tragedi Gerakan 30 September (G30S) di Yogyakarta.




Berikut adalah biografi singkat dan catatan sejarah mengenai sosok beliau:


## 1. Kehidupan Keluarga dan Pernikahan


* Istri Setia Jenderal Militer: Sebagai seorang istri perwira menengah TNI AD, Sri Wulan Murni mendampingi karier militer suaminya yang penuh dinamika. Tugas suaminya berpindah-pindah mulai dari masa kemerdekaan, penumpasan pemberontakan PRRI/Permesta, hingga jabatan terakhir Katamso sebagai Komandan Korem 072/Pamungkas di Yogyakarta.

 

* Dikaruniai 7 Anak: Dari pernikahannya dengan Katamso, pasangan ini dikaruniai tujuh orang anak, yaitu:


1. Putut Kusdarwanto (lahir 3 Juli 1946)

   2. Puguh Murtamso (lahir 15 Agustus 1948)

   3. Endang Murtaningsih (lahir 21 April 1950)

   4. Heru Sutoko (lahir 10 Oktober 1951)

   5. Ery Muwanto (lahir 24 Maret 1953)

   6. Murni Ediyanti (lahir 12 Maret 1955)

   7. Tamso Muryanto (lahir 14 September 1956) 


## 2. Sejarah Terkait Tragedi G30S di Yogyakarta


* Peristiwa Penculikan Suami: Pada sore hari tanggal 1 Oktober 1965, kediaman resmi Brigjen Katamso di Yogyakarta didatangi oleh gerombolan tentara yang telah terpengaruh oleh sayap kiri G30S. Katamso diculik dan dibawa secara paksa menuju daerah Kentungan.

 

* Gugurnya Sang Jenderal: Di Kentungan, Brigjen Katamso beserta Kepala Staf Korem 072, Kolonel (Anumerta) Sugiyono Mangunwiyoto, dipukul menggunakan kunci mortar hingga tewas lalu jenazahnya dimasukkan ke dalam sumur/lubang tersembunyi. Jenazah mereka baru berhasil ditemukan pada 21 Oktober 1965 setelah pencarian intensif oleh pasukan yang setia kepada pemerintah. Sri Wulan Murni seketika menjadi janda dengan menanggung beban membesarkan tujuh orang anak yang saat itu anak sulungnya baru berusia sekitar 19 tahun.


## 3. Kehidupan Pasca-Tragedi


* Menjaga Martabat Keluarga: Setelah suaminya dianugerahi gelar Pahlawan Revolusi secara anumerta, Ny. Sri Wulan Murni kerap hadir dalam berbagai upacara resmi kenegaraan untuk mengenang para korban G30S, seperti peringatan Hari Kesaktian Pancasila. Foto pada dokumen tersebut diambil ketika beliau menghadiri salah satu peringatan bersejarah ini.

 

#EventSejarahSeptember

#RestorasiG30S

Kekejian PKI

 Mengenang Kekejian PKI 



Mengenang PKI artinya mengenang sejarah kelam. Mengenang banjir darah para santri, ulama, dan kaum muslimin. Mengenang kekejian sesama anak bangsa yang durjana. Sungguh luka itu sangat dalam dan tak mungkin terlupakan. Ada rongga  retak yang tak mungkin pulih seperti semula.


Mengenang PKI artinya mengenang kisah-kisah pilu para syuhada di masa lalu.  Mengajakku masuk ke lorong waktu untuk mengikuti kisah KH Ahmad Sahal dan KH Imam Zarkasyi pendiri Ponpes Gontor Ponorogo ketika melarikan diri ke Trenggalek. Tapi akhirnya rombongan sebanyak 70 santri itu tertawan PKI. Mereka disekap dan disiksa dalam satu ruangan berukuran 4x4 m. Saking sempitnya ruangan itu, mereka hanya bisa berdiri. 


Atau kisah Gorang-Gareng yang membuat bulu kuduk merinding. Sebanyak 200 santri diberondong tembakan di sebuah pabrik gula. Darah membanjiri ruangan itu hingga setumit.


Kisah pembantaian KH Hamid Dimyathi beserta 14 santrinya di Wonogiri membuatku bergidik. Aktifis Partai Masyumi itu harus meregang nyawa oleh celurit PKI.


Ada satu kisah yang baru kuketahui yaitu kisah Kutil dari Tegal. Dia kader komunis yang sangat militan dan bengis. Dia sudah memimpin pemberontakan PKI di tahun 1926. Kemudian berontak lagi pasca kemerdekaan. Dia membantai ulama, santri, Lurah, camat, wedana, Bupati area Tegal, Brebes, Pekalongan.


Si Kutil buruk rupa terkenal sangat sadis. Siapapun yang berani menentangnya maka akan disembelih. Sungguh sangat mengerikan membaca perjalanan berdarah-darah Si Kutil Lenggaong Tegal. Dia mencincang opsir kereta api. Menyembelih Suparto selaku camat  Adiwerna. Memecah kepala siapapun yang menentangnya. Serta mempermalukan RA Kardinah selaku ibu angkat Raden Sunaryo Bupati Tegal. RA Kardinah ini kakaknya RA Kartini.


Ada juga kisah pembantaian dan pemerkosaan Kesultanan Langkat di Sumatra Utara. Seluruh anggota keluarga kesultanan dibantai, termasuk Amir Hamzah sang putra mahkota. Amir Hamzah terkenal sebagai penyair di masanya.


Dan yang membuatku takjub adalah keberanian para tentara pelajar di Madiun. Mereka gigih melawan tentara FDR PKI ataupaun para warok Ponorogo. Meskipun secara persenjataan mereka kalah, tapi mereka tak mau takluk kepada Republik Soviet bentukan Muso. Para tentara pelajar yang masih belia itu rela bertarung hingga titik darah pemghabisan. Mereka gugur dengan gagah berani.


Jangan kau tanyakan keberanian Hizbullah. Pasukan Hizbullah yang berisi para santri maju gagah berani. Bersama dengan pasukan Divisi Siliwangi, mereka bertempur melawan pasukan PKI.


Teriakan takbir pasukan Hizbullah membuat bergetar siapapun yang mendengarnya. Terasa sekali mereka pasukan berani mati. Mereka membela kemuliaan para ulama, santri, serta seluruh penduduk negri.  Mereka berusaha menjaga kedaulatan negri ini dengan tetesan darah dan air mata. Sebuah perjuangan riil, tak sekedar slogan yang mengaku paling NKRI.

DI PANJAITAN

 JENDERAL YANG BERPAKAIAN LENGKAP MENUJU MAUT



Kronologi Penculikan, Kesaksian, dan Fakta Visum Brigjen D.I. Panjaitan


BAGIAN 1 — BERPAKAIAN RAPI UNTUK SEBUAH "UPACARA"


Subuh, 1 Oktober 1965, sekitar pukul 04.00 WIB. Dua truk berisi sekitar lima puluh personel gabungan Resimen Tjakrabirawa dan Batalyon 454 Diponegoro, di bawah pimpinan Sersan Mayor Soekardjo, mengepung rumah dua lantai milik Brigadir Jenderal Donald Isaac Panjaitan di Jalan Hasanuddin, Blok M, Kebayoran Baru, dari segala penjuru.


Panjaitan salah mengira kedatangan mereka sebagai panggilan resmi untuk menghadap Presiden Soekarno. Dengan tenang, ia justru berpakaian rapi dan lengkap — mengenakan seragam dinas beserta topi, layaknya hendak menghadiri sebuah upacara kenegaraan, bukan menghadapi maut.


Namun di luar dugaannya, pasukan itu mulai menembaki barang-barang di rumahnya hingga berantakan. Sebagai seorang yang taat beragama, Panjaitan menolak menggunakan kekuatan para penjaga bersenjata di rumahnya sendiri, meski sempat diperingatkan berkali-kali oleh orang-orang terdekatnya. Ia percaya sepenuhnya bahwa hanya Tuhan yang akan melindunginya malam itu.


BAGIAN 2 — DIPUKUL DAN DITEMBAK DI HALAMAN RUMAHNYA SENDIRI


Begitu keluar rumah dengan seragam lengkapnya, Panjaitan langsung dihadapkan pada kekerasan yang tidak terduga. Ia dipukuli terlebih dahulu oleh pasukan yang menjemputnya, sebelum akhirnya ditembak mati tepat di halaman rumahnya sendiri — menjadikannya salah satu dari tiga jenderal yang tidak sempat dibawa hidup-hidup ke Lubang Buaya, bersama Ahmad Yani dan M.T. Haryono.


Jasadnya kemudian diangkut bersama dua jenderal lain yang gugur di rumah masing-masing, dibawa menuju kawasan Lubang Buaya, Jakarta Timur, untuk digabungkan dengan empat korban lain yang diculik hidup-hidup.


BAGIAN 3 — SUMUR YANG SAMA, NASIB YANG SAMA


Seperti keenam rekannya, jasad Panjaitan dibuang ke sebuah sumur tua berkedalaman sekitar 12 meter dengan mulut sumur hanya selebar 0,75 meter, yang kemudian ditimbun sampah kering dan dedaunan agar tersamar sebagai tanah kosong biasa.


Sumur itu baru ditemukan pada 3 Oktober 1965, setelah kesaksian seorang polisi bernama Sukitman yang berhasil lolos dari Lubang Buaya dan melapor ke Markas RPKAD di Cijantung. Proses evakuasi yang rumit karena sempitnya sumur baru dituntaskan keesokan harinya, 4 Oktober, oleh pasukan Para Amfibi KKO-AL — dan dari catatan sejarah, jenazah D.I. Panjaitanlah yang terakhir berhasil diangkat ke permukaan dari ketujuh korban.


BAGIAN 4 — APA YANG DIKATAKAN FILM, APA YANG DIKATAKAN VISUM


Narasi Orde Baru menggambarkan proses kematian para jenderal — termasuk Panjaitan — dengan adegan penyiksaan sadis: dipukuli beramai-ramai, tubuh disayat, sebelum akhirnya ditembak di depan mata penonton yang mengamuk.


Namun dokumen visum et repertum RSPAD dan UI mencatat gambaran yang lebih presisi dan berbeda dari dramatisasi itu — kematian Panjaitan memang melibatkan kekerasan fisik, tapi bentuknya jauh lebih spesifik daripada mutilasi yang selama ini digambarkan.


BAGIAN 5 — YANG SEBENARNYA TERTULIS DI VISUM D.I. PANJAITAN


Tim forensik mencatat empat luka tembak di kepalanya: satu di alis kanan, satu di kepala bagian atas kanan, satu di kepala kanan belakang, dan satu lagi di kepala belakang kiri — pola yang konsisten dengan tembakan dari berbagai sudut saat ia sudah roboh di halaman rumahnya.


Selain luka tembak, ditemukan pula luka iris akibat senjata tajam di kedua tangannya, kanan dan kiri — pola luka yang umumnya muncul ketika seseorang berusaha menangkis serangan atau melindungi kepalanya dengan tangan kosong, sejalan dengan kesaksian bahwa ia dipukuli sebelum ditembak.


Sama seperti keenam rekannya, pemeriksaan menyeluruh pada jenazahnya tidak menemukan satu pun bukti mutilasi kelamin atau mata yang dicongkel paksa.


BAGIAN 6 — PENUTUP


D.I. Panjaitan menghadapi detik-detik terakhirnya dengan cara paling tenang dari semua korban — berpakaian rapi, percaya penuh bahwa Tuhan akan melindunginya, menolak perlindungan senjata dari para penjaganya sendiri. Empat peluru di kepala dan luka tangkisan di kedua tangannya mengakhiri hidupnya tepat di halaman rumah yang ia tinggali bersama keluarganya.


Jasadnya menjadi yang terakhir diangkat dari sumur Lubang Buaya, setelah tersimpan di sana bersama enam rekan lain selama hampir tiga hari — mengungkap kebenaran yang jauh lebih tenang dan jauh lebih manusiawi dari kisah kekejaman yang diceritakan berpuluh tahun kemudian.


Sumber:

1. Tribunnewswiki.com — "G30S 1965 - Penculikan Brigjen DI Pandjaitan"

2. Tribunnews.com — "Sejarah G30S 1965: Penculikan Brigjen DI Pandjaitan, Dipukul dan Ditembak Mati di Halaman Rumah"

3. Beritamerdeka.net — "Peristiwa G30S/PKI: Malam Kelam Penculikan Tujuh Jenderal"

4. Kompas.com — "Dokumen Otopsi Ungkap Tidak Ada Luka Penyiksaan pada Jenderal dan Korban G30S"


Foto :

Restorasi AI, Brigjen D. I Panjaitan


#SejarahIndonesia #G30SPKI #JangkauanLuas

PKI DI YOGYA

 Laporan P. Swantoro untuk Majalah Intisari terkait kondisi Yogyakarta sekitar Gerakan 30 September 1965



Dalam bulan April 1965, tepatnya tanggal 12, di rumah Judopawiro di desa Madu Kidul, daerah Boyolali, 12 orang tokoh PKI Jawa Tengah mengadakan rapat rahasia. Hasil kesimpulannya: PKI akan mendesak Presiden untuk mengadakan open-war dengan Malaysia dan kemudian PKI akan melakukan pengacauan dari dalam.


Selain itu, didesakkan pula agar buruh tani dipersenjatai dan supaya Indonesia makin merapat dengan RRT. Lagipula, komunisme supaya disebarluaskan untuk mengubur Pancasila.


Bukan hanya sekali itu tokoh-tokoh PKI mengadakan rapat rahasia. Yang jelas, pada tanggal 17 Mei di rumah Hardjosutomo, lurah Mojosari juga diadakan rapat gelap.


Tetapi betapapun rahasianya, namun ada juga orang luar yang dapat mengetahuinya. Antara lain polisi Sujoto, yang telah melaporkannya ke Jakarta dalam bulan Mei. Akan tetapi tak terlihat adanya tanggapan. Sebaliknya, suasana masyarakat terasa makin memanas.


Ganyang-mengganyang antara organisasi-organisasi politik, organisasi-organisasi masyarakat, makin menjadi-jadi, persaingan makin meningkat, aksi-aksi sepihak dengan segala akibatnya semakin memuncak, kerusuhan makin hebat, khususnya di kota besar seperti Jakarta.


Di awal bulan Agustus 1965 terjadinya peristiwa yang menggemparkan di Jl. Surabaya yang dikatakan soal perampokan dan mengakibatkan gugurnya pejabat keamanan kepolisian Drs. Fadillah. Ini bukan peristiwa yang kebetulan, akan tetapi direncanakan. Drs. Fadillah sebagai tokoh pimpinan security dipandang “mengetahui terlalu banyak”, sehingga harus dilenyapkan. Mungkinkah almarhum juga mengetahui laporan dari Boyolali?


Orang bias cuma dapat merasakan tegangnya suasana. Akan terjadikah sesuatu yang menggoncangkan?


DALAM suasana semacam itu, banyak orang prihatin. Di Jogja, orang kalangan “dalam” menanggapinya dengan mengadakan pawai mengelilingi benteng (tembok kuno yang mengelilingi istana). Tidak dengan drumband sebagaimana mana umumnya pawai orpol dan ormas di tengah-tengah suasana panas itu, melainkan justru dengan tutup-mulut tidak bicara sepatah kata pun. Tidak di siang hari, melainkan di malam hari.


Jam 22.00 pawai bergerak. Istimewanya, justru banyak putri yang ikut-serta. Dan kita yang menyaksikan turut terdiam.


Hingga kini banyak orang yang percaya, bahwa pawai-doa mohon selamat dari bencana dengan keliling benteng itulah yang menyebabkan tidak banyak pembunuhan terjadi di kota dan wilayah Jogja pada zaman Gestapu…


Padahal kalau pemimpin Gestapu Jogja, bekas Mayor Mulyono, cepat bertindak, dia dan kawan-kawannya pasti dapat menghabisi siapa saja yang dipandang sebagai lawannya. Karena Jogja khususnya, dan Jawa Tengah umumnya memang dalam keadaan tidak siaga pada hari-hari sekitar pembentukan “Dewan Revolusi”. Justru keadaan inilah antara lain yang memungkinkan Muljono dapat mengumumkan pembentukan “Derev”.


Tanggal 2 Oktober, tanggal mendaratnya DN Aidit di Yogyakarta (dia bertolak dari lapangan terbang Halim jam 1.30 malam dan tiba di Jogja jam 03.00 pagi), Pemuda Rakyat, CGMI, dan sebangsanya menempelkan plakat di mana-mana, yang pada pokoknya mendukung “Dewan Revolusi” dan mengutuk apa yang disebutnya “Dewan Jenderal”.


RRI yang dikuasai Muljono pada 2 Oktober itu juga mengumumkan larangan mendengarkan Radio Jakarta. Suasana umum takur-khawatir-takur. Ada apa? Banyak orang tidak tahu keadaan yang sesungguhnya.


Sekali lagi, seandainya Muljono cepat bertindak …. mungkin di antara tokoh-tokoh yang sekarang masih hidup, banyak yang sudah ditimbun di lobang-lobang buatan PKI.


Kekosongan kekuatan fisik di Yogyakarta dapat kiranya dilihat dari kenyataan bahwa sampai minggu terakhir bulan Oktober orang-orang PKI masih berkeliaran dengan bebasnya. Jadi sebenarnya berani sekali saat Orpol dan Ormas yang mengadakan Rapat Besar di Alun-Alun Utara pada tanggal 20 Oktober dengan tuntutan utama supaya PKI dibubarkan. Rapat ini diadakan di tengah-tengah sorotan mata orang-orang PKI. Banyak di antara mereka yang menyaksikannya.


Mengapa Muljono tidak bertindak? Mungkin orang-orang PKI yang sekarang diamankan dengan penuh rasa kecewa saat-saat itu.


Mungkinkah dia bimbang dengan cepat gagalnya coup di Jakarta…? Sungguh tragis, bahwa dia sendirilah akhirnya yang ditangkap di daerah Boyolali, daerah yang dijadikan titik-tolak untuk membuka kenang-kenangan ini.


Sekarang dia tidak dapat mengelakkan tanggung jawab atas pembunuhan kejam terhadap atasannya: Komandan Korem 72 Brigjen Anumerta Katamso dan Kepala Stafnya Kolonel Anumerta Sugiyono.


Baca artikel selengkapnya di sini https://intisari.grid.id/read/034416542/kilasan-kenangan-dari-jogja-pasca-g30s-1965-oleh-p-swantoro-seandainya-muljono-cepat-bertindak


#G30S #yogyakarta #aksisepihak

PANGKOPKAMTIB

 Pasca meletusnya Peristiwa G30S/PKI, situasi Indonesia berada dalam pusaran ketegangan politik dan keamanan yang genting. Di tengah keadaan yang serba tidak pasti itu, Presiden Soekarno menunjuk Pangkostrad Mayor Jenderal Soeharto sebagai Panglima Komando Operasi Keamanan dan Ketertiban (Pangkopkamtib).



Namun, alih-alih segera menerima jabatan strategis tersebut sebagai sebuah kehormatan, Soeharto justru memilih mengambil langkah yang mencerminkan kehati-hatian seorang prajurit. Ia meminta pertemuan dengan Menteri Pertahanan/Kepala Staf Angkatan Bersenjata Jenderal TNI A.H. Nasution dan Panglima Kodam Siliwangi Mayor Jenderal Ibrahim Adjie.


Dalam pertemuan itu, Soeharto menyampaikan sebuah usul yang justru menempatkan dirinya di luar jabatan yang baru saja dipercayakan Presiden. Ia mengusulkan agar Jenderal A.H. Nasution atau Mayjen Ibrahim Adjie yang mengemban tugas sebagai Pangkopkamtib. 


Sikap tersebut memperlihatkan cara Soeharto memandang jabatan bukan semata sebagai kekuasaan, melainkan sebagai amanah yang harus ditempatkan pada orang yang dianggap memiliki posisi dan kewenangan paling tepat. Nasution ketika itu menduduki posisi Menteri Pertahanan/Kepala Staf Angkatan Bersenjata, sedangkan Ibrahim Adjie merupakan Panglima Kodam Siliwangi dengan pengaruh teritorial yang kuat di Jawa Barat.


Namun, kedua tokoh senior tersebut tidak menerima usulan Soeharto. Nasution maupun Ibrahim Adjie memiliki pandangan yang hampir sama: penunjukan Pangkopkamtib merupakan perintah langsung Presiden Soekarno. Karena itu, persoalan siapa yang memegang jabatan tersebut bukanlah sesuatu yang dapat diputuskan oleh mereka sendiri. 


Mengubah atau mengganti Pangkopkamtib merupakan kewenangan Presiden. Dengan demikian, keputusan Presiden harus dihormati dan dijalankan, sekalipun orang yang ditunjuk justru datang dengan sikap rendah hati dan menawarkan agar tugas itu diberikan kepada tokoh lain.


Di tengah badai politik yang mengguncang republik, sikap Soeharto dalam pertemuan itu menjadi gambaran menarik tentang gaya kepemimpinannya: tenang, berhitung, tidak tergesa-gesa mengejar jabatan, tetapi juga tidak menghindar ketika tanggung jawab akhirnya diletakkan di pundaknya. Ia terlebih dahulu memastikan posisi, kewenangan, dan legitimasi keputusan sebelum melangkah. 


Dan ketika Nasution serta Ibrahim Adjie menegaskan bahwa mandat itu adalah keputusan Presiden, Soeharto pun menerima kenyataan tersebut. Sejarah kemudian mencatat, jabatan Pangkopkamtib menjadi salah satu titik penting dalam perjalanan Soeharto dari seorang Panglima Kostrad menuju pusat kekuasaan negara.

PMP ?

 Alasan Penting Mengapa Pelajaran Pendidikan Moral Pancasila (PMP) Perlu Diadakan Kembali Di tengah perkembangan zaman yang semakin cepat, k...