Senin, 16 Februari 2026

REVISI warna HP Pahlawan Sumatera

 Buatlah Risalah dan Infografis tentang Pahlawan :

Laksamana Malahayati 

Nama Lengkap: Keumalahayati

Lahir di Aceh Besar, 1 Januari 1550

Meninggal di Aceh Besar, 30 Juni 1615 (gugur di perairan Selat Malaka)

Pahlawan nasional wanita dari Kesultanan Aceh, lahir di Aceh Besar pada 1 Januari 1550 dan gugur pada 30 Juni 1615. Beliau adalah laksamana perempuan pertama di dunia yang mendirikan pasukan Inong Balee dan gugur bertempur melawan Portugis di Selat Malaka. 

Pendidikan: Akademi Militer Ma'had Baitul Maqdis

Jabatan: Laksamana Angkatan Laut Kesultanan Aceh

Pasukan: Inong Balee (pasukan janda prajurit)

Gelar Pahlawan: Pahlawan Nasional Indonesia (ditetapkan 6 November 2017).

Fakta Penting:

Malahayati adalah putri dari Laksamana Mahmud Syah dan keturunan Sultan Aceh. Beliau dikenal karena keberaniannya, termasuk berhasil membunuh Cornelis de Houtman dalam duel satu lawan satu pada 11 September 1599. Makamnya terletak di Desa Lamreh, Kec. Mesjid Raya, Aceh Besar. 

Raja/Sultan Aceh Saat Itu:

Malahayati aktif bertugas sebagai laksamana, terutama pada masa pemerintahan Sultan Alauddin Riayat Syah al-Mukammil (1589-1604), Sultan ke-10 Kesultanan Aceh Darussalam. Ia juga menjalin hubungan diplomatik dan perlawanan pada masa transisi kekuasaan di Aceh.

Risalah & Infografis Pahlawan Nasional

Laksamana Malahayati

Nama Lengkap: Keumalahayati
Lahir: Aceh Besar, 1 Januari 1550
Gugur: Aceh Besar / Selat Malaka, 30 Juni 1615
Gelar: Pahlawan Nasional Indonesia (6 November 2017)
Jabatan: Laksamana Angkatan Laut Kesultanan Aceh
Pasukan: Inong Balee (pasukan janda prajurit)


๐Ÿงพ Profil Singkat

Laksamana Malahayati adalah pahlawan nasional perempuan dari Kesultanan Aceh dan dikenal sebagai laksamana perempuan pertama di dunia. Ia memimpin armada laut Aceh dan membentuk pasukan khusus perempuan bernama Inong Balee untuk melawan Portugis dan armada asing di Selat Malaka. Namanya dikenang sebagai simbol keberanian, strategi maritim, dan kepemimpinan perempuan Nusantara.


๐ŸŽ“ Pendidikan & Latar Militer

  • Dididik di Akademi Militer Ma’had Baitul Maqdis (Aceh)
  • Berasal dari keluarga bangsawan dan militer
  • Putri Laksamana Mahmud Syah
  • Terlatih dalam strategi perang laut dan diplomasi

⚔️ Perjuangan Utama

Pemimpin Pasukan Inong Balee

  • Membentuk dan memimpin pasukan janda syuhada
  • Basis pertahanan di wilayah pesisir Aceh
  • Pasukan dikenal disiplin dan militan

Perang Melawan Portugis & Armada Asing

  • Memimpin pertempuran laut di Selat Malaka
  • Menyerang kapal-kapal musuh yang mengancam Aceh

Duel Melawan Cornelis de Houtman (1599)

  • Mengalahkan dan menewaskan
    Cornelis de Houtman
    dalam duel satu lawan satu di geladak kapal
  • Peristiwa ini mengguncang ekspedisi Belanda saat itu

๐Ÿ‘‘ Masa Kesultanan

  • Aktif sebagai laksamana pada masa pemerintahan
    Sultan Alauddin Riayat Syah al-Mukammil
  • Terlibat dalam misi pertahanan dan diplomasi maritim Aceh
  • Menjadi tokoh penting kekuatan laut Kesultanan Aceh Darussalam

๐Ÿ•Œ Akhir Hayat

  • Gugur dalam pertempuran laut melawan Portugis di Selat Malaka (1615)
  • Dimakamkan di Desa Lamreh, Kecamatan Mesjid Raya, Aceh Besar
  • Makamnya menjadi situs ziarah sejarah perjuangan Aceh

⭐ Nilai Keteladanan

  • Kepemimpinan perempuan di bidang militer
  • Keberanian dan strategi maritim
  • Loyalitas pada kedaulatan negeri
  • Semangat jihad dan pengorbanan
  • Pelopor pasukan tempur perempuan



Buatlah Risalah dan Infografis tentang Pahlawan :
Sultan Mahmud Badaruddin II
Nama Lengkap: Raden Muhammad Hasan

Lahir di Palembang, 1 November 1767 (1 Rajab 1181 H)

Meninggal di Ternate, 26 September 1852 (diasingkan Belanda)

Sultan Mahmud Badaruddin II (lahir 1767 - wafat 1852) adalah Sultan Palembang Darussalam ke-7 (memerintah 1803–1821) dan Pahlawan Nasional Indonesia (sejak 1984) yang gigih melawan penjajahan Inggris dan Belanda. Lahir dengan nama Raden Hasan, beliau dikenal bijaksana, alim, dan ahli strategi perang dalam memimpin Perang Menteng. 

Masa Pemerintahan: 1803-1813 dan 1818-1821
Orang Tua: Sultan Muhammad Bahauddin (Ayah) dan Ratu Agung.
Perjuangan Utama: Memimpin Kesultanan Palembang melawan kolonialisme Inggris dan Belanda di Sumatera Selatan.
Penghargaan: Pahlawan Nasional Indonesia (1984), Nama Bandara Internasional di Palembang (SMB II), dan gambar pada uang kertas pecahan Rp10.000 (2005). 

Ditangkap Belanda: Setelah konflik panjang (Perang Menteng), Palembang jatuh ke tangan Belanda. Pada 14 Juli 1821, SMB II, keluarga, dan pengikutnya ditangkap oleh pasukan Belanda.

Hidup di Ternate: Meskipun dalam pengasingan, SMB II menolak berdamai atau tunduk pada Belanda. Beliau menetap di Ternate, mengisi waktunya dengan syiar Islam, dan menulis karya sastra seperti syair senior Costa, hikayat martalaya, dan syair burung nuri.

Wafat dan Makam: Setelah 31 tahun diasingkan, beliau wafat pada 26 November 1852 dan dimakamkan di Pemakaman Islam Kelurahan Makassar Barat, Ternate Tengah.

Risalah & Infografis Pahlawan Nasional

Sultan Mahmud Badaruddin II

Nama Lengkap: Raden Muhammad Hasan
Lahir: Palembang, 1 November 1767 (1 Rajab 1181 H)
Wafat: Ternate, 26 September 1852 (dalam pengasingan)
Jabatan: Sultan Palembang Darussalam ke-7
Masa Pemerintahan: 1803–1813 dan 1818–1821
Gelar: Pahlawan Nasional Indonesia (1984)


๐ŸŸซ RISALAH SINGKAT

Sultan Mahmud Badaruddin II adalah pemimpin Kesultanan Palembang Darussalam yang terkenal sebagai raja alim, bijaksana, dan ahli strategi perang. Ia memimpin perlawanan sengit terhadap kolonialisme Inggris dan Belanda dalam rangka mempertahankan kedaulatan Palembang. Perjuangan terbesarnya dikenal dalam rangkaian konflik yang disebut Perang Menteng.

Walau akhirnya ditangkap dan diasingkan oleh Belanda, beliau tetap menolak tunduk dan terus berdakwah serta menulis karya sastra hingga akhir hayatnya.


๐ŸŸซ DATA UTAMA TOKOH

  • Nama kecil: Raden Hasan
  • Ayah: Sultan Muhammad Bahauddin
  • Ibu: Ratu Agung
  • Kesultanan: Palembang Darussalam
  • Wilayah perjuangan: Sumatera Selatan
  • Status akhir: Ditangkap Belanda dan diasingkan

๐ŸŸซ PERJUANGAN MELAWAN KOLONIAL

⚔️ Melawan Inggris & Belanda

  • Memimpin pertahanan Palembang dari intervensi Inggris dan Belanda
  • Menolak dominasi dagang dan militer kolonial
  • Mengatur strategi pertahanan sungai dan benteng

⚔️ Perang Menteng

  • Serangkaian pertempuran melawan pasukan Belanda
  • Menjadi simbol perlawanan rakyat Palembang
  • Menunjukkan kepemimpinan militer dan moral yang kuat

⚔️ Penangkapan (1821)

  • 14 Juli 1821: Palembang jatuh
  • Sultan, keluarga, dan pengikut ditangkap Belanda
  • Kesultanan dibubarkan oleh pemerintah kolonial

๐ŸŸซ MASA PENGASINGAN

  • Diasingkan ke Ternate selama ±31 tahun
  • Tetap menolak bekerja sama dengan Belanda
  • Aktif dalam syiar Islam dan kegiatan keilmuan
  • Menghasilkan karya sastra dan religius

Karya yang dikenal:

  • Syair Perang Menteng / Syair Sinyor Kosta
  • Hikayat Martalaya
  • Syair Burung Nuri

๐ŸŸซ PENGHARGAAN & PENGABADIAN

  • ๐Ÿ… Pahlawan Nasional Indonesia (1984)
  • ✈️ Nama diabadikan menjadi Bandara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin II di Palembang
  • ๐Ÿ’ด Wajah ditampilkan pada uang kertas Rp10.000 (emisi 2005)
  • ๐Ÿ•Œ Dikenang sebagai sultan pejuang dan ulama

๐ŸŸซ INFOGRAFIS RINGKAS

Peran: Sultan & Panglima Perlawanan
Daerah: Palembang
Musuh utama: Inggris & Belanda
Konflik penting: Perang Menteng
Ditangkap: 1821
Diasingkan: Ternate
Wafat: 1852 dalam pengasingan
Warisan: Perlawanan, karya sastra, dan keteladanan kepemimpinan




Buatlah Risalah dan Infografis tentang Pahlawan :
Panglima Polem
Nama Lengkap: Teuku Panglima Polem Sri Muda Perkasa Muhammad Daud.
Gelar: Panglima Polem IX (gelar keturunan bangsawan untuk Panglima Sagoe XXII Mukim, Aceh Besar).

Lahir di Aceh Besar, sekitar tahun 1873.

Meninggal di Batavia (Jakarta), 13 September 1939.

Teuku Panglima Polem Sri Muda Perkasa Muhammad Daud (Panglima Polem IX) adalah bangsawan dan pemimpin perang Aceh terkemuka yang gigih melawan penjajahan Belanda di Aceh Besar (lahir sekitar 1873-1939). Ia memimpin Sagoe XXII Mukim, berjuang bersama Teuku Umar, dan menjadi simbol perlawanan yang disegani, sebelum akhirnya berdamai pada 1903 untuk menyelamatkan rakyatnya. 

Ayah: Panglima Polem VIII Raja Kuala.
Kakek: Teuku Panglima Polem Sri Imam Muda Mahmud Arifin (Cut Banta/Panglima Polem VII).
Masa Perjuangan: Akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.
Peran: Panglima perang yang memimpin perlawanan di wilayah Aceh Besar dan sekitarnya melawan Belanda.
Tindakan Terkenal: Berjuang bersama Teuku Umar, mengatur strategi gerilya, dan akhirnya melakukan perdamaian dengan Belanda pada tahun 1903 demi menghindari penderitaan rakyat.
Penghormatan: Namanya diabadikan sebagai nama jalan di berbagai kota di Indonesia, salah satunya Jalan Panglima Polim di Jakarta Selatan. 

Panglima Polem dikenal sebagai sosok yang religius, berani, dan tidak mudah menyerah dalam mempertahankan wilayah Aceh dari penjajahan Belanda. 

Makam: Kompleks makam beliau terletak di Desa Kuta Cot Glee, Aceh Besar.

Orang Belanda yang Menangkap/Menekan
Panglima Polem IX terpaksa menyerah/berdamai pada tahun 1903 setelah tekanan militer yang gencar dari Belanda, yang saat itu dipimpin oleh Gubernur Militer Belanda di Aceh, J.B. van Heutsz. Setelah menyerah, ia diasingkan namun kemudian diperbolehkan kembali ke Aceh Besar.


๐Ÿ“œ Risalah & Infografis Pahlawan Aceh

Panglima Polem IX

Teuku Panglima Polem Sri Muda Perkasa Muhammad Daud

Nama Lengkap: Teuku Panglima Polem Sri Muda Perkasa Muhammad Daud
Gelar: Panglima Polem IX – Panglima Sagoe XXII Mukim
Lahir: Aceh Besar, ± 1873
Wafat: Batavia (Jakarta), 13 September 1939
Wilayah Perjuangan: Aceh Besar dan sekitarnya
Makam: Kuta Cot Glee, Aceh Besar


๐Ÿงญ Profil Singkat

Panglima Polem IX adalah bangsawan sekaligus panglima perang Aceh yang memimpin perlawanan rakyat terhadap kolonial Belanda pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20. Ia dikenal sebagai pemimpin religius, ahli strategi gerilya, dan tokoh penting dalam jaringan perlawanan Aceh.

Ia memimpin wilayah Sagoe XXII Mukim dan menjadi salah satu simbol daya juang Aceh sebelum akhirnya melakukan perdamaian taktis tahun 1903 demi menyelamatkan rakyat dari korban berkepanjangan.


⚔️ Garis Keturunan

  • Ayah: Panglima Polem VIII Raja Kuala
  • Kakek: Panglima Polem VII (Sri Imam Muda Mahmud Arifin / Cut Banta)
  • Berasal dari garis bangsawan dan panglima turun-temurun Aceh Besar

๐Ÿ”ฅ Perjuangan Utama

Perlawanan Aceh vs Belanda

  • Memimpin perlawanan bersenjata di Aceh Besar
  • Menggunakan strategi gerilya dan pertahanan mukim
  • Menjadi tokoh yang disegani dalam struktur komando perlawanan Aceh

Kerja Sama Perlawanan

  • Berjuang bersama tokoh besar Aceh seperti
    Teuku Umar
  • Mengatur pergerakan pasukan lokal dan jaringan dukungan rakyat

Tekanan Militer Belanda

  • Menghadapi operasi besar kolonial di bawah pimpinan
    J.B. van Heutsz
  • Tahun 1903 melakukan perdamaian/penyerahan strategis untuk menghindari penderitaan rakyat yang lebih luas
  • Sempat diasingkan, kemudian diizinkan kembali ke Aceh

๐Ÿ•Œ Karakter & Kepemimpinan

  • Religius dan dekat dengan ulama
  • Panglima lapangan yang berani
  • Mengutamakan keselamatan rakyat
  • Teguh namun realistis dalam mengambil keputusan politik-militer

๐Ÿ›️ Warisan & Penghormatan

  • Namanya diabadikan menjadi nama jalan di berbagai kota
  • Salah satunya: Jalan Panglima Polim
  • Dikenang sebagai simbol perlawanan Aceh terhadap kolonialisme

๐Ÿงพ Format Siap Infografis (Ringkas Blok Poster)

PANG LIMA POLEM IX
Teuku Panglima Polem Sri Muda Perkasa Muhammad Daud

  • Lahir: Aceh Besar, ±1873
  • Wafat: Batavia, 13 Sept 1939
  • Panglima Sagoe XXII Mukim
  • Pemimpin Perang Aceh
  • Sekutu perjuangan Teuku Umar
  • Strategi: Gerilya Mukim
  • Tekanan Belanda: Operasi van Heutsz
  • Perdamaian taktis: 1903
  • Makam: Kuta Cot Glee, Aceh Besar
  • Warisan nama jalan nasional


Buatlah Risalah dan Infografis tentang Pahlawan :

Raden Mattaher 

Nama Lengkap: Raden Mattaher bin Pangeran Kusin bin Adi.

Lahir di Jambi, tahun 1871.

Meninggal di Dusun Muaro Jambi setelah terkepung oleh pasukan Belanda, 10 September 1907.

Asal Keluarga: Keturunan bangsawan Kesultanan Jambi; kakeknya adalah Sultan Thaha Syaifuddin.

Raden Mattaher adalah pahlawan nasional asal Jambi yang dikenal sebagai panglima perang yang gigih melawan penjajah Belanda pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20. Ia memiliki julukan "Singo Kumpeh" atau "Harimau Jambi" karena keberaniannya di medan tempur. 

Sejarah Perjuangan

Raden Mattaher merupakan tokoh kunci dalam perlawanan rakyat Jambi terhadap kolonialisme Belanda. Berikut adalah poin-poin penting perjuangannya: 

Panglima Perang Sultan Thaha: Ia menjabat sebagai panglima perang yang dipercaya oleh Sultan Thaha Syaifuddin untuk memimpin gerilya melawan Belanda.

Strategi Gerilya Sungai: Mattaher sangat ahli dalam memanfaatkan geografis sungai di Jambi. Ia mengintai lalu lintas kapal Belanda dan menyerang dari tempat-tempat strategis.

Menenggelamkan Kapal Belanda: Dalam perjuangannya, ia dilaporkan berhasil menenggelamkan sekitar 36 kapal milik Belanda yang membawa personel, logistik, dan amunisi.

Sumpah Melawan Penjajah: Ia bersumpah akan melawan Belanda hingga tetes darah penghabisan dan menolak keras segala bujukan Belanda untuk menyerah.

9 Kemenangan Besar: Selama menjadi panglima, ia tercatat berhasil memenangkan 9 pertempuran melawan pasukan Belanda. 

Perjuangannya berakhir ketika rumahnya di Dusun Muaro Jambi dikepung oleh tentara Belanda dalam sebuah operasi pencarian. Beliau gugur dalam baku tembak bersama beberapa pengikut setianya. Namanya kini diabadikan sebagai nama Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Raden Mattaher di Provinsi Jambi.

Risalah & Infografis Pahlawan Nasional

Raden Mattaher

Nama Lengkap: Raden Mattaher bin Pangeran Kusin bin Adi
Lahir: Jambi, 1871
Wafat: Dusun Muaro Jambi, 10 September 1907 (gugur dalam pertempuran)
Asal: Bangsawan Kesultanan Jambi
Keturunan: Cucu dari Sultan Thaha Syaifuddin
Julukan: Singo Kumpeh / Harimau Jambi
Gelar: Pahlawan Nasional Indonesia


๐Ÿ•Š️ RISALAH SINGKAT

Raden Mattaher adalah panglima perang dari tanah Jambi yang memimpin perlawanan rakyat terhadap kolonial Belanda pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20. Sebagai keturunan keluarga kesultanan, ia dipercaya memimpin pasukan gerilya dan menjadi tokoh kunci dalam strategi perlawanan berbasis sungai.

Keberaniannya di medan tempur membuatnya dijuluki Harimau Jambi. Ia terkenal dengan taktik serangan mendadak terhadap jalur logistik Belanda di sungai-sungai. Dalam berbagai catatan perjuangan lokal, ia berhasil menenggelamkan banyak kapal musuh dan memenangkan sejumlah pertempuran penting.

Perjuangannya berakhir ketika pasukan Belanda mengepung kediamannya di Muaro Jambi. Ia gugur dalam baku tembak bersama para pengikut setianya, menolak menyerah hingga akhir hayat.

Namanya kini diabadikan sebagai nama rumah sakit daerah di Provinsi Jambi sebagai bentuk penghormatan atas jasa dan keberaniannya.


๐Ÿ“Š INFOGRAFIS RINGKAS

Identitas Tokoh

  • Nama: Raden Mattaher
  • Tahun lahir: 1871
  • Wafat: 10 September 1907
  • Daerah perjuangan: Jambi
  • Garis keturunan: Kesultanan Jambi

Peran & Kedudukan

  • Panglima perang kepercayaan Sultan Jambi
  • Pemimpin gerilya anti-kolonial
  • Komandan perlawanan sungai

Ciri Perjuangan

  • ⚔️ Ahli strategi gerilya sungai
  • ๐Ÿšค Menyerang jalur kapal & logistik Belanda
  • ๐ŸŒŠ Menenggelamkan ±36 kapal musuh (catatan tradisi lokal)
  • ๐Ÿ›ก️ Memenangkan 9 pertempuran besar
  • ✊ Bersumpah melawan hingga akhir hayat

Akhir Perjuangan

  • Dikepung di Muaro Jambi
  • Gugur dalam baku tembak
  • Menolak menyerah

Penghormatan

  • ๐Ÿ… Pahlawan Nasional Indonesia
  • ๐Ÿฅ Nama diabadikan menjadi RSUD Raden Mattaher Jambi



Buatlah Risalah dan Infografis tentang Pahlawan :
A.M Thalib
Nama Lengkap: Abdul Moethalib (A.M. Thalib).

Lahir di Palembang, Sumatera Selatan, 23 Februari 1922.

Meninggal di Taman Makam Pahlawan Ksatria Ksetra Siguntang, Palembang, Sumatera Selatan,  19 Agustus 2000.

Tokoh pejuang kemerdekaan Indonesia yang dikenal karena kontribusi besarnya di wilayah Sumatera Selatan. Beliau merupakan sosok nasionalis yang gigih dalam mempertahankan kedaulatan Republik Indonesia dari agresi Belanda. 

Karier Utama: Tentara (TNI) dan Intelijen. 
Perjuangan Utama
Perjuangan A.M. Thalib berfokus pada strategi militer dan diplomasi di wilayah Sumatera: 
Strategi Bumi Hangus: Salah satu aksi heroiknya adalah keberanian untuk melakukan taktik bumi hangus terhadap fasilitas-fasilitas penting di Sumatera Selatan demi mencegah aset tersebut digunakan oleh pasukan Belanda selama agresi militer.
Peran di Sektor Intelijen: Ia dikenal sebagai salah satu perintis intelijen militer di Sumatera, yang bertugas memantau pergerakan musuh dan mengoordinasikan perlawanan rakyat.
Mempertahankan Kedaulatan: A.M. Thalib aktif terlibat dalam berbagai pertempuran melawan kelompok radikal serta upaya Belanda yang ingin kembali menjajah Indonesia pasca-Proklamasi 1945.
Kontribusi Pasca-Kemerdekaan: Setelah masa perang fisik, beliau terus berkontribusi dalam pembangunan daerah dan organisasi veteran di Sumatera Selatan. 

Kisah perjuangannya sering dikaitkan dengan ketegasan dan loyalitasnya yang tinggi terhadap keutuhan wilayah Republik Indonesia di tanah Sumatera.


Risalah & Infografis Pahlawan

A.M. Thalib

Nama Lengkap: Abdul Moethalib (A.M. Thalib)


๐Ÿ•Š️ Identitas Singkat

  • Lahir: Palembang, Sumatera Selatan — 23 Februari 1922
  • Wafat: Palembang — 19 Agustus 2000
  • Dimakamkan: TMP Ksatria Ksetra Siguntang, Palembang
  • Bidang Perjuangan: Militer & Intelijen
  • Peran Utama: Pejuang kemerdekaan wilayah Sumatera Selatan

๐ŸŽ–️ Profil Perjuangan

A.M. Thalib dikenal sebagai tokoh pejuang kemerdekaan di Sumatera Selatan yang berperan penting dalam mempertahankan kedaulatan Republik Indonesia setelah Proklamasi. Kiprahnya menonjol pada strategi militer, operasi intelijen, dan koordinasi perlawanan rakyat terhadap agresi Belanda.

Ia termasuk figur lapangan yang bekerja senyap namun strategis — memperkuat jaringan informasi dan pertahanan wilayah.


⚔️ Peran & Aksi Penting

๐Ÿ”ฅ Strategi Bumi Hangus

  • Menginisiasi dan melaksanakan taktik bumi hangus
  • Menghancurkan fasilitas vital agar tidak dimanfaatkan pasukan Belanda
  • Mengutamakan kepentingan strategis jangka panjang perjuangan

๐Ÿ•ต️ Perintis Intelijen Daerah

  • Aktif membangun jaringan intelijen militer di Sumatera Selatan
  • Memantau pergerakan musuh
  • Menyusun laporan dan peta situasi untuk komando perjuangan

๐Ÿ›ก️ Pertahanan Kedaulatan

  • Terlibat dalam perlawanan bersenjata pasca-1945
  • Menghadapi agresi Belanda dan gangguan keamanan wilayah
  • Menggalang dukungan rakyat untuk pertahanan daerah

๐Ÿ›️ Kontribusi Pasca Kemerdekaan

  • Aktif dalam organisasi veteran pejuang
  • Terlibat dalam pembinaan semangat kebangsaan
  • Mendukung pembangunan dan stabilitas daerah Sumatera Selatan

⭐ Karakter & Keteladanan

  • Tegas dan disiplin
  • Loyal terhadap NKRI
  • Pejuang lapangan yang tidak mencari popularitas
  • Mengutamakan strategi dan keselamatan perjuangan

๐Ÿงพ Format Siap Poster / Infografis (Ringkas Blok Visual)

A.M. THALIB (1922–2000)
Pejuang Militer & Intelijen Sumatera Selatan

  • ๐ŸŽ–️ Tokoh pertahanan daerah
  • ๐Ÿ”ฅ Pelaksana strategi bumi hangus
  • ๐Ÿ•ต️ Perintis intelijen militer Sumsel
  • ๐Ÿ›ก️ Pejuang agresi Belanda
  • ๐Ÿ‡ฎ๐Ÿ‡ฉ Loyalis kedaulatan RI
  • ⚰️ TMP Ksatria Ksetra Siguntang — Palembang


Buatlah Risalah dan Infografis tentang Pahlawan :

Mr. Sutan Muhammad Amin Nasution 

Nama Lengkap: Mr. Sutan Mohammad Amin Nasution (Nama lahir: Krueng Raba Nasution).

Lahir di Lhoknga, Aceh Besar, 22 Februari 1904.

Meninggal di Jakarta, 16 April 1993 (dimakamkan di TPU Tanah Kusir).

Pahlawan nasional Indonesia asal Aceh berdarah Mandailing, yang ditetapkan pada 10 November 2020. Beliau dikenal sebagai gubernur pertama Sumatera Utara (1947/1948) dan gubernur pertama Riau (1958), serta aktif dalam pergerakan Sumpah Pemuda 1928 dan pengacara handal.

 Pendidikan: Meester in de Rechten (Magister Hukum) dari Sekolah Tinggi Hukum di Batavia.

Organisasi: Aktif dalam Jong Sumatranen Bond, Jong Islamieten Bond, dan PPPI.

Karier:

Pengacara di Kutaraja (Aceh).

Hakim di Sigli (masa Jepang).

Gubernur Muda Sumatera Utara (1947).

Gubernur Sumatera Utara Pertama (1948).

Gubernur Riau Pertama (1958-1960).

Penghargaan: Pahlawan Nasional Indonesia (2020), Bintang Mahaputra (1998). 

SM Amin dikenal sebagai pejuang yang memperjuangkan otonomi daerah dan aktif dalam pergerakan nasional di Sumatera, bahkan sempat menjadi bagian penting dari persiapan Sumpah Pemuda.






RISALAH & INFOGRAFIS PAHLAWAN NASIONAL

Sutan Muhammad Amin Nasution

Nama Lengkap: Mr. Sutan Mohammad Amin Nasution
Nama Lahir: Krueng Raba Nasution
Lahir: Lhoknga, Aceh Besar — 22 Februari 1904
Wafat: Jakarta — 16 April 1993
Pemakaman: TPU Tanah Kusir, Jakarta
Gelar: Pahlawan Nasional Indonesia (2020)
Penghargaan: Bintang Mahaputra (1998)


๐Ÿ›️ Profil Singkat

Mr. Sutan Muhammad Amin Nasution adalah tokoh pergerakan nasional, ahli hukum, dan administrator pemerintahan yang berperan penting dalam masa awal Republik Indonesia. Ia dikenal sebagai:

  • Gubernur pertama Sumatera Utara
  • Gubernur pertama Riau
  • Aktivis pergerakan pemuda nasional
  • Pengacara dan hakim pada masa transisi kolonial–kemerdekaan

Berasal dari Aceh berdarah Mandailing, ia menjadi salah satu figur penting dalam memperjuangkan pemerintahan daerah dan persatuan nasional.


๐ŸŽ“ Pendidikan

  • Sekolah hukum di Batavia
  • Gelar Meester in de Rechten (Mr.) — Magister Hukum
  • Terlatih dalam sistem hukum modern kolonial yang kemudian dipakai untuk memperkuat administrasi Republik

๐Ÿ‘ฅ Aktivitas Organisasi Pergerakan

Semasa muda aktif dalam organisasi pemuda nasional:

  • Anggota Jong Sumatranen Bond
  • Aktif di Jong Islamieten Bond
  • Terlibat dalam PPPI (Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia)
  • Ikut dalam arus gerakan yang mematangkan persatuan pemuda menuju Sumpah Pemuda 1928

⚖️ Karier & Jabatan Penting

Bidang Hukum & Peradilan

  • Pengacara di Kutaraja (Aceh)
  • Hakim di Sigli pada masa pendudukan Jepang

Pemerintahan Republik

  • Gubernur Muda Sumatera Utara (1947)
  • Gubernur Pertama Sumatera Utara (1948)
  • Gubernur Pertama Riau (1958–1960)

Berperan dalam:

  • Konsolidasi pemerintahan daerah awal RI
  • Penguatan struktur administrasi provinsi baru
  • Perjuangan otonomi dan stabilitas daerah

๐Ÿ‡ฎ๐Ÿ‡ฉ Peran Perjuangan Nasional

  • Aktif dalam jaringan pergerakan pemuda pra-kemerdekaan
  • Membantu menyiapkan kader dan gagasan persatuan nasional
  • Menguatkan pemerintahan daerah saat Republik masih rapuh
  • Menjembatani kepentingan pusat dan daerah di Sumatera

๐Ÿ… Penghargaan

  • Pahlawan Nasional Indonesia — 10 November 2020
  • Bintang Mahaputra — 1998
  • Dikenal sebagai pelopor tata kelola pemerintahan daerah di Sumatera

๐Ÿ“Œ INFOGRAFIS RINGKAS

Identitas

  • Nama: Sutan Muhammad Amin Nasution
  • Lahir: 22 Februari 1904 — Aceh Besar
  • Wafat: 16 April 1993 — Jakarta

Bidang

  • Hukum
  • Pemerintahan
  • Pergerakan Pemuda

Jabatan Kunci

  • Gubernur Pertama Sumatera Utara
  • Gubernur Pertama Riau

Kontribusi Utama

  • Perintis administrasi provinsi awal RI
  • Aktivis pergerakan pemuda nasional
  • Pejuang otonomi daerah



Buatlah Risalah dan Infografis tentang Pahlawan :
Tengku Chik Di Tiro 
Nama Asli: Muhammad Saman

Lahir di Dayah Jrueng, Cumbok Lamlo, Tiro, Pidie, Aceh, 1 Januari 1836.

Meninggal di Benteng Aneuk Galong, Aceh Besar, Aceh, 21 Januari 1891 (usia 55 tahun).

Ulama besar dan pahlawan nasional dari Aceh (1836–1891) yang memimpin perang gerilya melawan kolonial Belanda. Diangkat sebagai Pahlawan Nasional pada 6 November 1973, beliau terkenal karena taktik Perang Sabil yang berhasil mendesak Belanda, sebelum gugur diracun pada Januari 1891. 

Orang Tua: Teungku Syekh Ubaidillah (Ayah) dan Siti Aisyah (Ibu)
Agama: Islam
Penghargaan: Pahlawan Nasional (SK No. 087/TK/Tahun 1973) 

Perjuangan dan Karir:
Pendidikan: Memperdalam ilmu agama di Aceh dan menunaikan haji di Mekkah.
Perang Aceh: Pada tahun 1880, beliau menggerakkan kembali perlawanan rakyat Aceh yang mulai melemah melawan Belanda.
Taktik: Menggunakan strategi gerilya, berhasil merebut benteng Belanda di Indrapura (1881), Lambaro, dan Aneuk Galong.
Kematian: Belanda menggunakan siasat licik dengan meracuni makanannya pada awal tahun 1891. 

Teungku Chik Di Tiro adalah kakek buyut dari Hasan di Tiro, pendiri Gerakan Aceh Merdeka.


RISALAH & INFOGRAFIS PAHLAWAN NASIONAL

Tengku Chik Di Tiro

Nama Asli: Muhammad Saman

Lahir: Dayah Jrueng, Cumbok Lamlo, Tiro, Pidie, Aceh — 1 Januari 1836
Wafat: Benteng Aneuk Galong, Aceh Besar — 21 Januari 1891
Gelar: Pahlawan Nasional (1973)
Peran: Ulama & Panglima Perang Sabil Aceh


๐Ÿ“Œ Identitas Singkat

  • Nama kecil: Muhammad Saman
  • Orang Tua: Teungku Syekh Ubaidillah & Siti Aisyah
  • Agama: Islam
  • Basis perjuangan: Aceh Besar & Pidie
  • Dikenal sebagai: Pemimpin Perang Sabil melawan Belanda

๐ŸŽ“ Pendidikan & Pembentukan

  • Menempuh pendidikan agama di berbagai dayah di Aceh
  • Menunaikan ibadah haji dan memperdalam ilmu di Mekkah
  • Menjadi ulama kharismatik dengan pengaruh luas di masyarakat Aceh

⚔️ Perjuangan Utama

Kebangkitan Perlawanan (1880)

  • Mengobarkan kembali semangat jihad rakyat Aceh saat perlawanan melemah
  • Menggalang laskar berbasis ulama dan santri

Strategi Perang Sabil

  • Menggunakan taktik gerilya religius
  • Memadukan dakwah, komando militer, dan motivasi spiritual

Keberhasilan Militer

  • Merebut benteng Belanda di:
    • Indrapura (1881)
    • Lambaro
    • Aneuk Galong
  • Membuat pertahanan Belanda terdesak di beberapa wilayah Aceh

☠️ Gugur dalam Perjuangan

  • Wafat tahun 1891
  • Gugur akibat siasat racun oleh pihak kolonial
  • Wafat di Benteng Aneuk Galong
  • Dimakamkan di Aceh Besar

๐Ÿ… Penghargaan

  • Pahlawan Nasional Republik Indonesia
  • SK No. 087/TK/Tahun 1973
  • Salah satu simbol utama Perang Aceh

๐Ÿ‘ฃ Warisan Sejarah

  • Tokoh sentral Perang Aceh fase ulama
  • Menginspirasi perjuangan berbasis keimanan dan kemandirian
  • Kakek buyut dari Hasan di Tiro, pendiri Gerakan Aceh Merdeka

✨ Nilai Keteladanan

  • Kepemimpinan spiritual & militer
  • Keteguhan iman
  • Keberanian melawan penjajahan
  • Penggerak persatuan rakyat



Buatlah Risalah dan Infografis tentang Pahlawan :
Kiras Bangun
Julukan: Garamata (Si Mata Merah).

Lahir di Desa Batukarang, Kabupaten Karo, Sumatera Utara, tahun 1852.

Meninggal di  Desa Batukarang, Kecamatan Payung, Kabupaten Karo, Sumatera Utara,  22 Oktober 1942

Pahlawan nasional Indonesia dari Tanah Karo, Sumatera Utara, yang dikenal dengan julukan Garamata (bermata merah). Ia merupakan pemimpin perlawanan rakyat Karo yang gigih menentang upaya kolonial Belanda untuk menguasai wilayah tersebut demi kepentingan perkebunan. 
Perjalanan Perjuangan
Perjuangan Kiras Bangun berfokus pada mempertahankan kedaulatan Tanah Karo dari ekspansi kolonial Belanda: 
Penolakan Perkebunan Belanda: Kiras Bangun secara konsisten menolak permintaan Belanda untuk membuka lahan perkebunan di Tanah Karo, meskipun telah berkali-kali dibujuk.
Menggalang Kekuatan Lintas Agama: Ia berhasil menyatukan kekuatan lintas suku dan agama, mengumpulkan sekitar 3.000 pasukan yang dikenal sebagai Pasukan Urung untuk melawan Belanda sejak tahun 1905.
Pertempuran dan Penangkapan: Pasukannya terlibat dalam berbagai pertempuran sengit di wilayah Karo. Ia sempat ditangkap dan dibuang ke Riung (Nusa Tenggara Timur) sebelum akhirnya dibebaskan pada 1909.
Perlawanan Lanjutan: Antara tahun 1919 hingga 1926, Kiras bersama putra-putranya kembali memimpin pemberontakan melawan otoritas kolonial.
Pengasingan Terakhir: Ia kembali ditangkap dan dibuang ke Cipinang, namun ia tetap melanjutkan perjuangannya melalui gerakan kemanusiaan dan persatuan rakyat hingga masa tuanya. 

Kiras Bangun dimakamkan di kampung halamannya, Desa Batukarang, Sumatera Utara. 

Selama masa perjuangannya, Belanda beberapa kali menangkap dan mengasingkan Kiras Bangun untuk meredam pengaruhnya:
Riung, Nusa Tenggara Timur: Ia ditangkap dan dibuang ke Riung sebelum akhirnya dibebaskan pada tahun 1909.
Lembaga Pemasyarakatan Cipinang, Jakarta: Setelah kembali memimpin pemberontakan (1919-1926), ia ditangkap kembali dan dibuang ke Cipinang. Di sana, ia tetap aktif berjuang melalui pergerakan kemanusiaan dan menjaga persatuan rakyat hingga akhirnya diizinkan pulang ke kampung halamannya.


RISALAH & INFOGRAFIS PAHLAWAN NASIONAL

Kiras Bangun

Julukan: Garamata (Si Mata Merah)


๐Ÿงพ Profil Singkat

  • Nama: Kiras Bangun
  • Julukan: Garamata (Si Mata Merah)
  • Lahir: Desa Batukarang, Tanah Karo, Sumatera Utara — 1852
  • Wafat: Desa Batukarang, 22 Oktober 1942
  • Asal: Pejuang rakyat Karo
  • Status: Pahlawan Nasional Indonesia
  • Dikenal sebagai: Pemimpin perlawanan rakyat Karo melawan kolonial Belanda dan ekspansi perkebunan

⚔️ Latar Belakang Perjuangan

Kiras Bangun memimpin perlawanan rakyat di Tanah Karo saat pemerintah kolonial Belanda berupaya menguasai wilayah pegunungan untuk kepentingan perkebunan. Ia menolak kerja sama yang merugikan rakyat dan memilih jalur perlawanan terbuka serta gerilya.

Ia dihormati karena keberanian, keteguhan sikap, dan kemampuannya menyatukan rakyat lintas marga dan agama.


๐Ÿ›ก️ Perjalanan Perjuangan Utama

Penolakan Ekspansi Belanda

  • Menolak pembukaan lahan perkebunan kolonial di wilayah Karo
  • Menolak berbagai bujukan dan tekanan politik Belanda

Membentuk Kekuatan Rakyat

  • Menggalang ± 3.000 pasukan Urung sejak 1905
  • Menyatukan kekuatan lintas kampung, marga, dan agama

Pertempuran Melawan Belanda

  • Terlibat berbagai pertempuran sengit di wilayah pegunungan Karo
  • Menggunakan strategi medan dan jaringan kampung

Penangkapan & Pengasingan

  • Ditangkap dan dibuang ke Riung (NTT) → dibebaskan tahun 1909
  • Memimpin perlawanan lagi (1919–1926) bersama putra-putranya
  • Ditangkap kembali dan diasingkan ke Cipinang, Batavia/Jakarta

Perjuangan Non-Militer

  • Saat pengasingan tetap membina persatuan rakyat
  • Aktif dalam kegiatan sosial dan kemanusiaan

๐Ÿง  Nilai Keteladanan

  • Keteguhan mempertahankan tanah adat
  • Persatuan lintas kelompok
  • Kepemimpinan rakyat berbasis keberanian
  • Pantang tunduk pada tekanan kolonial
  • Setia berjuang hingga usia lanjut

๐Ÿ—บ️ Warisan & Penghormatan

  • Dikenang sebagai pemimpin besar Tanah Karo
  • Makam di Desa Batukarang menjadi lokasi penghormatan
  • Namanya diabadikan sebagai nama jalan & institusi daerah
  • Diingat dengan gelar kehormatan Garamata

Jika Anda mau, saya bisa langsung buatkan versi poster infografis hitam-putih atau krem historis siap cetak seperti seri risalah yang sebelumnya.


Buatlah Risalah dan Infografis tentang Pahlawan :

Sultan Iskandar Muda

Gelar: Memiliki gelar Perkasa Alam sebelum menjadi sultan.

Lahir di Banda Aceh, 1590/1593.

Meninggal di dimakamkan di Kompleks Pemakaman Sultan Aceh Kandang XII, Banda Aceh, 27 Desember 1636.

Sultan ke-12 Kesultanan Aceh yang memerintah tahun 1607–1636, membawa Aceh mencapai puncak kejayaan, kekayaan, dan wilayah terluas (mencakup sebagian besar Sumatera dan Semenanjung Malaya). Dikenal sebagai penakluk yang gigih melawan Portugis, ia menjadikan Aceh sebagai pusat perdagangan lada dan pengajaran Islam internasional. 

Silsilah: Keturunan langsung dari Sultan Ali Mughayat Syah, pendiri Kesultanan Aceh, dan merupakan sultan terakhir dari Wangsa Meukuta Alam.

Orang Tua: Ayah: Sultan Mansur Syah, Ibu: Puteri Raja Indra Bangsa.

Istri: Putroe Phang (Putri dari Kesultanan Pahang).

Puncak Kejayaan dan Pemerintahan (1607-1636) 

Perluasan Wilayah: Menaklukkan wilayah-wilayah penting seperti Deli, Johor, Pahang, dan Kedah, menjadikan Aceh mendominasi Selat Malaka.

Ekonomi dan Perdagangan: Menjadikan Aceh pusat perdagangan lada internasional dan menerapkan aturan ketat pada kapal dagang asing, termasuk Belanda dan Inggris.

Militer: Membangun angkatan perang yang sangat kuat, termasuk armada laut yang ditakuti, dan aktif menyerang Portugis di Malaka.

Hukum dan Pemerintahan: Menetapkan qanun (undang-undang) yang adil dan universal. 

Warisan dan Penghargaan

Atas jasa-jasanya, Pemerintah Republik Indonesia menetapkannya sebagai Pahlawan Nasional.

Namanya diabadikan menjadi Bandar Udara Internasional Sultan Iskandar Muda, Kodam Iskandar Muda, dan Universitas Iskandar Muda di Aceh. 

Beliau dikenal karena kegigihannya melawan Portugis dan mengatur pemerintahan berbasis syariat Islam. Dua angka tahun (1593/1583) muncul karena perbedaan sumber sejarah, namun 1593 lebih umum digunakan. 

Sultan Iskandar Muda digantikan oleh menantunya, Sultan Iskandar Thani.

๐Ÿ“œ Risalah & Infografis Pahlawan Nasional

Sultan Iskandar Muda

Nama & Gelar: Sultan Iskandar Muda (gelar muda: Perkasa Alam)
Lahir: Banda Aceh, ±1590/1593
Wafat: Banda Aceh, 27 Desember 1636
Makam: Kompleks Pemakaman Sultan Aceh Kandang XII, Banda Aceh
Kedudukan: Sultan ke-12 Kesultanan Aceh
Masa Pemerintahan: 1607–1636
Gelar Nasional: Pahlawan Nasional Indonesia


๐Ÿงพ Identitas Singkat

  • Silsilah: Keturunan langsung Sultan pendiri Aceh, Sultan Ali Mughayat Syah
  • Ayah: Sultan Mansur Syah
  • Ibu: Puteri Raja Indra Bangsa
  • Istri: Putroe Phang (Putri Pahang)
  • Dinasti: Wangsa Meukuta Alam (sultan terakhir dari wangsa ini)

⚔️ Puncak Kejayaan Aceh (1607–1636)

Perluasan Wilayah

  • Menaklukkan Deli, Johor, Pahang, Kedah
  • Menguasai jalur strategis perdagangan Selat Malaka
  • Wilayah Aceh mencapai bentangan terluas dalam sejarahnya

Kekuatan Militer

  • Membangun armada laut besar dan modern pada masanya
  • Menyerang basis Portugis di Malaka
  • Menjadikan Aceh kekuatan maritim utama Asia Tenggara barat

๐Ÿ’ฐ Ekonomi & Perdagangan

  • Menjadikan Aceh pusat perdagangan lada internasional
  • Mengatur ketat kapal dagang asing
  • Mengendalikan hubungan dagang dengan pedagang Belanda & Inggris
  • Pelabuhan Aceh menjadi simpul dagang dunia Islam dan Asia

⚖️ Hukum & Pemerintahan

  • Menetapkan qanun (undang-undang) kerajaan
  • Sistem hukum berbasis syariat dan administrasi negara
  • Penataan birokrasi dan militer yang disiplin
  • Perlindungan terhadap ulama dan pusat pendidikan Islam

๐Ÿ•Œ Peran Keilmuan & Dakwah

  • Menjadikan Aceh pusat studi Islam internasional
  • Mengundang ulama dan cendekia dari berbagai negeri
  • Mendorong penulisan dan pengajaran agama

๐Ÿ›️ Suksesi

  • Digantikan oleh menantunya: Sultan Iskandar Thani

๐Ÿ… Warisan & Penghargaan

Nama beliau diabadikan menjadi:

  • Bandar Udara Internasional Sultan Iskandar Muda
  • Kodam Iskandar Muda
  • Universitas Iskandar Muda

๐ŸŒŸ Nilai Keteladanan

  • Kepemimpinan kuat & visioner
  • Ketegasan menjaga kedaulatan
  • Strategi militer dan maritim unggul
  • Penguatan hukum dan tata negara
  • Pelindung perdagangan & ilmu agama




Buatlah Risalah dan Infografis tentang Pahlawan :
K.H Ahmad Hanafiah 
Lampung 

Lahir di  Sukadana, Lampung Timur,  Lampung, 27 Agustus 1905.

Meninggal di Front Kemerung (perbatasan Baturaja dan Martapura),  17 Agustus 1947.
Ditangkap Belanda dan dieksekusi dengan cara dimasukkan ke dalam karung lalu ditenggelamkan di Sungai Ogan, Sumatera Selatan.

Ulama dan pejuang kemerdekaan asal Sukadana, Lampung Timur, yang resmi ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional oleh Presiden Joko Widodo pada 10 November 2023. Beliau dikenal sebagai pemimpin perlawanan fisik dan intelektual di tanah Lampung melawan penjajah Belanda.
Beliau adalah putra tertua dari KH Muhammad Nur, pendiri Pondok Pesantren Istishodiyah, pesantren pertama di Karesidenan Lampung.

Latar Belakang: Dibesarkan dalam keluarga santri dan menempuh pendidikan agama hingga ke luar negeri (Malaysia dan Mekkah). 
Riwayat Perjuangan
Perjuangan Politik & Organisasi:
Menjadi anggota Sa-ingkai (dewan daerah) pada masa pendudukan Jepang.
Setelah proklamasi, beliau aktif sebagai anggota Komite Nasional Indonesia (KNI) Karesidenan Lampung (1945–1946) dan Ketua Partai Masyumi.

Kepemimpinan Militer:
Mendirikan dan memimpin Laskar Rakyat Hizbullah-Sabilillah dan Laskar Bergolok di Sukadana.
Pasukan ini menjadi wadah pendidikan militer bagi para santri untuk mempertahankan kemerdekaan.

Gugur sebagai Syuhada:
KH Ahmad Hanafiah gugur dalam penyergapan tersebut. Jasadnya tidak pernah ditemukan, sehingga beliau dikenal sebagai "pahlawan tanpa makam".
Untuk mengenang jasanya, didirikan monumen di lokasi penyergapannya di kawasan Batumarta (Baturaja-Martapura). 

Karya Intelektual
Selain berjuang di medan laga, beliau meninggalkan warisan intelektual berupa kitab-kitab agama, di antaranya: 
Kitab Al-Hujjad
Kitab Tafsir Ad-Dohri 
Penganugerahan gelar Pahlawan Nasional pada tahun 2023 menjadikannya tokoh kedua dari Lampung yang mendapat gelar tersebut setelah Radin Inten II. Informasi lebih lanjut mengenai riwayat hidupnya dapat diakses melalui dokumen resmi Dinas Sosial Provinsi Lampung.





RISALAH & INFOGRAFIS TEKS

PAHLAWAN NASIONAL – KH AHMAD HANAFIAH (1905–1947)

Profil Singkat

  • Nama: KH Ahmad Hanafiah
  • Asal: Sukadana, Lampung Timur, Lampung
  • Lahir: 27 Agustus 1905
  • Wafat/Gugur: Front Kemerung (perbatasan Baturaja–Martapura), 17 Agustus 1947
  • Status: Ulama dan pejuang kemerdekaan
  • Penetapan Pahlawan Nasional: 10 November 2023 oleh Presiden Joko Widodo

Latar Belakang

K.H. Ahmad Hanafiah lahir di Sukadana dari keluarga santri.
Ia adalah putra tertua KH Muhammad Nur, pendiri Pondok Pesantren Istishodiyah — pesantren pertama di Karesidenan Lampung.

Sejak kecil dibesarkan dalam lingkungan religius dan menempuh pendidikan agama hingga ke luar negeri:

  • Malaysia
  • Mekkah

Pendidikan ini membentuknya sebagai ulama yang kuat secara intelektual sekaligus berjiwa pejuang.


Perjuangan Politik & Organisasi

Pada masa pendudukan Jepang dan awal kemerdekaan, ia aktif dalam gerakan politik dan organisasi:

  • Anggota Sa-ingkai (dewan daerah) pada masa Jepang
  • Anggota Komite Nasional Indonesia (KNI) Karesidenan Lampung (1945–1946)
  • Ketua Partai Masyumi wilayah Lampung
  • Penggerak konsolidasi umat dan santri untuk mempertahankan kemerdekaan

Kepemimpinan Militer & Laskar Santri

KH Ahmad Hanafiah memadukan kepemimpinan ulama dan komandan lapangan:

  • Mendirikan dan memimpin:
    • Laskar Rakyat Hizbullah–Sabilillah
    • Laskar Bergolok di Sukadana
  • Menjadikan pesantren sebagai pusat:
    • Pendidikan militer santri
    • Latihan fisik dan mental
    • Pembinaan jihad kemerdekaan

Pasukan santri ini berperan dalam perlawanan fisik terhadap Belanda di wilayah Lampung dan sekitarnya.


Gugur sebagai Syuhada

Dalam sebuah penyergapan di Front Kemerung (1947):

  • KH Ahmad Hanafiah tertangkap oleh Belanda
  • Dieksekusi secara kejam:
    • Dimasukkan ke dalam karung
    • Ditenggelamkan di Sungai Ogan, Sumatera Selatan
  • Jenazah tidak pernah ditemukan
    ➡️ Dikenal sebagai “Pahlawan tanpa makam”

Untuk mengenang jasanya, didirikan monumen di kawasan Batumarta (Baturaja–Martapura), lokasi penyergapan.


Karya Intelektual

Selain pejuang lapangan, beliau juga meninggalkan warisan keilmuan:

  • Kitab Al-Hujjad
  • Kitab Tafsir Ad-Dohri

Karya-karya ini menunjukkan perannya sebagai ulama pemikir dan pendidik umat.


Penghargaan & Arti Penting

  • Resmi menjadi Pahlawan Nasional (2023)
  • Menjadi tokoh kedua dari Lampung yang mendapat gelar ini setelah Radin Inten II
  • Diakui sebagai:
    • Pemimpin perlawanan fisik
    • Penggerak intelektual umat
    • Simbol perjuangan santri di Lampung

Jika mau, saya bisa ubah teks ini menjadi layout poster risalah satu halaman atau naskah infografis siap cetak (versi krem historis / hitam-putih).



Buatlah Risalah dan Infografis tentang Pahlawan :

Bagindo Aziz Chan

Padang, Sumatra Barat 

Lahir di Kampung Alang Laweh, Padang, Sumatra Barat, 30 September 1910.

Meninggal di Padang, Sumatera Barat, 

 19 Juli 1947 (usia 36 tahun), akibat bentrokan dengan Belanda.

Pendidikan: HIS Padang, MULO Surabaya, AMS Batavia, dan sekolah hukum RHS Batavia.

Jabatan: Walikota Padang (15 Agustus 1946 – 19 Juli 1947).

Keluarga: Menikah dengan Siti Zaura Oesman. 

Jejak Kepahlawanan dan Perjuangan

Walikota Tegas: Bagindo Aziz Chan memimpin Kota Padang dalam situasi sulit saat Belanda berusaha kembali menguasai Indonesia. Ia dikenal revolusioner dan berpendirian teguh.

Semboyan Perjuangan: Ia menolak bujukan Belanda untuk bekerja sama dan melontarkan kalimat legendaris: “Langkahi dulu mayat saya, baru kalian bisa menduduki Kota Padang!”.

Melawan Propoganda: Mendirikan surat kabar "Cahaya Republik Indonesia" untuk melawan propaganda Belanda dan membakar semangat rakyat.

Gugur: Ia ditembak mati oleh tentara Belanda pada 19 Juli 1947, sesaat sebelum Agresi Militer Belanda Pertama.

Penghargaan: Jenazahnya dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Bahagia, Bukittinggi. Ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional pada 7 November 2005 melalui SK Presiden RI No. 082/TK/2005. Namanya diabadikan di Kota Padang, termasuk Tugu Simpang Tinju.


Berikut Risalah dan Infografis Pahlawan Nasional berlatar perjuangan revolusi kemerdekaan dari Sumatra Barat, disusun siap pakai untuk poster atau lembar risalah.


**RISALAH PAHLAWAN NASIONAL

BAGINDO AZIZ CHAN (1910–1947)**

Daerah Perjuangan: Padang – Sumatra Barat
Bidang: Pemerintahan & Perjuangan Revolusi
Jabatan: Walikota Padang (1946–1947)
Gelar Pahlawan Nasional: 7 November 2005

Bagindo Aziz Chan adalah pemimpin daerah dan pejuang revolusi yang dikenal tegas, berani, dan tidak mau berkompromi dengan kembalinya kekuasaan kolonial Belanda. Dalam masa genting pascakemerdekaan, ia memimpin Kota Padang dengan sikap revolusioner dan keberpihakan penuh kepada Republik Indonesia.

Sebagai walikota, ia menolak segala bentuk kerja sama dengan Belanda. Sikapnya yang keras tergambar dalam semboyan perjuangannya yang terkenal:

“Langkahi dulu mayat saya, baru kalian bisa menduduki Kota Padang!”

Untuk melawan propaganda kolonial, ia turut mendorong penerbitan surat kabar Cahaya Republik Indonesia guna membangkitkan semangat rakyat dan mempertahankan kemerdekaan melalui jalur informasi dan opini publik.

Bagindo Aziz Chan gugur ditembak tentara Belanda pada 19 Juli 1947, menjelang Agresi Militer Belanda I. Ia wafat dalam tugas perjuangan mempertahankan kedaulatan Republik.

Jenazahnya dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Bahagia, Bukittinggi, dan namanya diabadikan dalam berbagai penanda kota, termasuk Tugu Simpang Tinju di Padang.



INFOGRAFIS SINGKAT – BAGINDO AZIZ CHAN

Nama: Bagindo Aziz Chan
Lahir: Kampung Alang Laweh, Padang — 30 September 1910
Wafat: Padang — 19 Juli 1947 (gugur ditembak Belanda)

Pendidikan:

  • HIS Padang
  • MULO Surabaya
  • AMS Batavia
  • RHS Batavia (Sekolah Hukum)

Keluarga:
Menikah dengan Siti Zaura Oesman

Peran Utama:

  • Walikota Padang masa revolusi
  • Menolak kerja sama dengan Belanda
  • Pemimpin sipil garis keras pro-Republik
  • Penggerak pers perjuangan

Aksi Penting:

  • Memimpin pertahanan moral kota
  • Melawan propaganda kolonial
  • Mendukung pers nasional perjuangan

Semboyan Legendaris:
“Langkahi dulu mayat saya, baru kalian bisa menduduki Kota Padang!”

Penghargaan:

  • Pahlawan Nasional — SK Presiden RI No. 082/TK/2005

Jika diinginkan, saya bisa langsung ubah menjadi layout poster risalah warna krem historis seperti seri sebelumnya — tinggal tulis: Gambar sekarang.



Buatlah Risalah dan Infografis tentang Pahlawan :

Depati Amir 

Lahir di Mendara, Pulau Bangka, 1805

Meninggal di  Dimakamkan di Pemakaman Muslim Batukadera, Kampung Air Mata, Kupang, NTT, 28 September 1869.

Pahlawan nasional dari Kepulauan Bangka Belitung yang gigih melawan penjajahan Belanda (1830–1851) akibat eksploitasi timah dan kerja rodi. Ia diasingkan ke Kupang, NTT, pada 1851, namun terus berjuang sebagai penasihat hingga wafat.

 Orang Tua: Depati Bahrin (ayah) dan Dakim

Gelar: Pahlawan Nasional (dianugerahi tahun 2018)

Latar Belakang: Bangsawan Bangka yang mengabdi pada Kesultanan Palembang.

Adik: Hamzah (Cing).

Perjuangan dan Kepahlawanan

Pemimpin Perlawanan: Memimpin rakyat Bangka melawan monopoli timah Belanda dan kerja rodi.

Taktik Gerilya: Menggunakan perang gerilya dengan bantuan warga lokal dan kuli tambang Tionghoa.

Perlawanan di Pengasingan: Setelah ditangkap pada 7 Januari 1851 akibat pengkhianatan, ia diasingkan ke Kupang. Di sana, ia berjuang dengan mendirikan Masjid Al Ikhlas di Bonipoi, mendidik masyarakat tentang agama, sistem pengobatan tradisional, dan strategi perang.

Penghormatan: Namanya diabadikan sebagai nama Bandara Depati Amir dan Stadion Depati Amir di Pangkalpinang. 

Depati Amir dikenal sebagai sosok yang cerdas, kharismatik, dan sangat dicintai rakyat Bangka karena keberaniannya melawan penjajah Belanda. 

Perlawanan Bersenjata (1848-1850): Amir dan adiknya, Hamzah (Cing), memimpin perang gerilya di pantai timur Bangka yang berhasil menyulitkan Belanda.

Aliansi dengan Tionghoa: Amir didukung oleh kuli-kuli tambang timah asal Tionghoa (Parit 5) untuk mendapatkan senjata dan logistik, yang membuat Belanda kewalahan.

Penangkapan Akibat Pengkhianatan: Belanda baru bisa menangkap Amir pada 7 Januari 1851 setelah berhasil menyuap 7 orang panglima dan 35 pasukannya dalam kondisi logistik yang menipis. 

Tempat Pengasingan

Setelah ditangkap, Belanda tidak berani menahan Amir di Bangka karena pengaruhnya yang kuat. Ia diasingkan ke Kupang, Timor. 

Pengasingan di Kupang: Depati Amir diasingkan ke Kupang pada 11 Februari 1851. Meskipun diasingkan, ia tidak berhenti berjuang. Ia menjadi penasihat perang dan pemimpin komunitas Muslim di sana, bahkan membantu raja-raja setempat di Timor.

Kampung Air Mata: Tempat tinggal Amir di Kupang kini dikenal dengan nama Kampung Air Mata, di mana ia menyebarkan agama Islam hingga wafat.

Upaya Pemindahan: Pada tahun 1853, Amir pernah bersurat memohon dipindahkan ke Jawa karena kesulitan pangan di Timor, namun ditolak oleh Belanda. 

Jasa dan Pahlawan Bangka Belitung

Depati Amir diakui sebagai pahlawan karena:

Memimpin perjuangan multietnik melawan penjajah (melibatkan rakyat lokal dan orang Tionghoa).

Menjadi simbol perlawanan rakyat Bangka melawan dominasi ekonomi Belanda atas timah.

Nama beliau kini diabadikan sebagai nama Bandara di Pangkal Pinang (Bandara Depati Amir).


RISALAH & INFOGRAFIS TEKS

PAHLAWAN NASIONAL – DEPATI AMIR (1805–1869)
Pemimpin Perlawanan Rakyat Bangka Melawan Monopoli Timah Belanda


Profil Utama

  • Nama: Depati Amir
  • Lahir: Mendara, Pulau Bangka, 1805
  • Wafat: Kupang, 28 September 1869
  • Dimakamkan: Pemakaman Muslim Batukadera, Kampung Air Mata, Kupang, NTT
  • Asal: Kepulauan Bangka Belitung
  • Orang Tua: Depati Bahrin & Dakim
  • Saudara: Hamzah (Cing)
  • Gelar: Pahlawan Nasional (2018)

Depati Amir dikenal sebagai bangsawan Bangka yang mengabdi pada Kesultanan Palembang dan menjadi tokoh utama perlawanan terhadap kolonial Belanda.


Latar Belakang Perjuangan

Perlawanan Depati Amir dipicu oleh:

  • Monopoli tambang timah oleh Belanda
  • Kerja rodi terhadap rakyat
  • Penindasan ekonomi dan sosial
  • Campur tangan kolonial dalam tatanan lokal Bangka

Ia tampil sebagai pemimpin kharismatik yang dicintai rakyat karena keberanian dan kecerdasannya.


Perjuangan Bersenjata (1830–1851)

Perang Gerilya Bangka

  • Memimpin perlawanan rakyat Bangka di wilayah pantai timur
  • Menggunakan taktik gerilya hutan dan pesisir
  • Menguasai jalur logistik lokal
  • Menyerang pos dan jalur suplai Belanda

Peran Adik & Pasukan

  • Bersama adiknya Hamzah (Cing) memimpin laskar
  • Menggalang kekuatan lintas kampung

Aliansi Multietnik

  • Didukung kuli tambang timah Tionghoa (Parit 5)
  • Mendapat bantuan:
    • Senjata
    • Logistik
    • Informasi medan

➡️ Perlawanan ini membuat Belanda kewalahan selama beberapa tahun.


Penangkapan Karena Pengkhianatan

Belanda gagal menaklukkan Depati Amir secara terbuka.
Penangkapan terjadi melalui suap dan pengkhianatan:

  • Tanggal: 7 Januari 1851
  • 7 panglima dan 35 pasukan disuap
  • Terjadi saat logistik pasukan Amir menipis
  • Ia akhirnya tertangkap hidup-hidup

Pengasingan ke Kupang

Karena pengaruhnya sangat besar di Bangka, Belanda tidak berani menahannya di daerah asal.

  • Diasingkan ke Kupang pada 11 Februari 1851
  • Tinggal di kawasan yang kini dikenal sebagai Kampung Air Mata

Aktivitas di Pengasingan:

  • Menjadi penasihat perang raja-raja setempat
  • Membina komunitas Muslim
  • Mengajarkan:
    • Ilmu agama
    • Pengobatan tradisional
    • Strategi pertahanan
  • Mendirikan Masjid Al Ikhlas di Bonipoi

Catatan Sejarah:

  • Tahun 1853 pernah memohon dipindahkan ke Jawa karena kesulitan pangan
  • Permohonan ditolak pemerintah kolonial

Wafat di Tanah Pengasingan

Depati Amir wafat pada 28 September 1869 di pengasingan.
Dimakamkan di Batukadera, Kampung Air Mata, Kupang.

Ia dikenang sebagai pejuang yang:

  • Tidak pernah berhenti berjuang meski diasingkan
  • Tetap membina umat dan perlawanan moral

Penghormatan & Warisan Nama

Namanya kini diabadikan menjadi:

  • Bandara Depati Amir
  • Stadion Depati Amir di Pangkalpinang

Makna historisnya:

  • Simbol perlawanan rakyat Bangka terhadap eksploitasi timah
  • Teladan perjuangan multietnik (pribumi–Tionghoa)
  • Pemimpin lokal yang berani melawan dominasi ekonomi kolonial

Nilai Keteladanan

Depati Amir dikenang sebagai:

  • Pemimpin gerilya yang strategis
  • Tokoh pemersatu lintas etnis
  • Pejuang gigih hingga pengasingan
  • Ulama-pejuang pembina masyarakat

Jika diinginkan, saya bisa ubah teks ini menjadi poster risalah satu halaman, infografis krem historis, atau versi hitam-putih siap cetak.



Buatlah Risalah dan Infografis tentang Pahlawan :
Sultan Thaha Syaifuddin 
Nama Kecil: Raden Thaha Djayadiningrat.

Lahir di Keraton Tanah Pilih, Jambi,    1816.

Meninggal di Betung Bedarah, Tebo, Jambi, 26 April 1904.

Sultan Jambi ke-20 dan pahlawan nasional Indonesia (ditetapkan 1977) yang gigih melawan Belanda. Sebagai raja terakhir yang berdaulat, ia memimpin gerilya dari pedalaman Jambi setelah istana dikuasai Belanda (1858), menolak tunduk pada perjanjian yang merugikan rakyat, dan gugur pada 1904. 

Orang Tua: Sultan Muhammad Fachrudin (ayah).
Masa Pemerintahan: Naik tahta pertama kali pada 1855, dan kedua kalinya hingga wafat.
Karakter: Dikenal sebagai pemimpin yang saleh, cerdas, pandai bergaul, dan diplomat ulung. 

Perjuangan dan Kisah Pahlawan
Menolak Penjajahan: Sultan Thaha menolak memperbarui perjanjian dengan Belanda yang dibuat oleh pendahulunya, karena dianggap sangat merugikan kedaulatan rakyat Jambi.
Perlawanan Gerilya: Pada tahun 1858, Belanda menyerang istana. Sultan Thaha tidak menyerah, melainkan memindahkan pusat pemerintahan ke pedalaman (Uluan) dan memimpin perlawanan gerilya selama puluhan tahun.
Dukungan Rakyat: Meskipun Belanda berkali-kali melancarkan ekspedisi militer besar, Sultan Thaha selalu berhasil lolos dan bertahan berkat kesetiaan rakyatnya.
Wafat sebagai Kesuma Bangsa: Ia gugur pada 26 April 1904 dalam pertempuran melawan pasukan Belanda, meninggalkan semangat perlawanan yang dilanjutkan oleh pengikutnya.
Penghormatan:  di Kota Jambi.



Berikut Risalah dan Infografis Pahlawan Nasional siap pakai untuk poster/lembar edukasi.


**RISALAH PAHLAWAN NASIONAL

Sultan Thaha Syaifuddin
(1816–1904)**

Nama Kecil: Raden Thaha Djayadiningrat
Kedudukan: Sultan Jambi ke-20
Bidang: Perlawanan Kerajaan & Perjuangan Anti-Kolonial
Gelar Pahlawan Nasional: 1977

Sultan Thaha Syaifuddin adalah sultan terakhir Jambi yang berdaulat penuh dan menjadi simbol perlawanan panjang terhadap kolonial Belanda. Ia dikenal sebagai pemimpin yang saleh, cerdas, pandai berdiplomasi, serta dekat dengan rakyat.

Naik tahta pertama kali pada tahun 1855, ia menolak memperbarui perjanjian dengan Belanda yang dibuat pendahulunya karena dianggap merugikan kedaulatan negeri dan rakyat Jambi. Sikap tegas ini memicu konflik terbuka dengan pemerintah kolonial.

Pada tahun 1858, Belanda menyerang istana. Sultan Thaha tidak menyerah. Ia memindahkan pusat kekuasaan ke pedalaman (Uluan) dan memimpin perang gerilya puluhan tahun. Dari hutan dan dusun, ia mengatur perlawanan, membangun jaringan dukungan rakyat, dan terus mengganggu kekuatan kolonial.

Berkat kesetiaan rakyat, ia berulang kali lolos dari pengejaran ekspedisi militer Belanda. Perjuangannya berakhir ketika ia gugur dalam pertempuran di wilayah pedalaman Jambi pada 26 April 1904. Semangatnya menjadikan ia dikenang sebagai kesuma bangsa dan lambang keteguhan kedaulatan.


INFOGRAFIS SINGKAT – SULTAN THAHA SYAIFUDDIN

Nama: Sultan Thaha Syaifuddin
Nama kecil: Raden Thaha Djayadiningrat

Lahir: Keraton Tanah Pilih, Jambi — 1816
Wafat: Betung Bedarah, Tebo — 26 April 1904 (gugur melawan Belanda)

Orang Tua:

  • Ayah: Sultan Muhammad Fachrudin

Masa Pemerintahan:

  • Naik tahta: 1855
  • Memimpin kembali perlawanan hingga wafat

Karakter Kepemimpinan:

  • Saleh dan berprinsip
  • Cerdas dan strategis
  • Diplomat ulung
  • Dekat dengan rakyat

Jejak Perjuangan:

  • Menolak perjanjian kolonial yang merugikan
  • Menentang penguasaan Belanda
  • Memimpin perang gerilya dari pedalaman sejak 1858
  • Bertahan puluhan tahun dengan dukungan rakyat

Makna Sejarah:

  • Sultan berdaulat terakhir Jambi
  • Simbol perlawanan kerajaan terhadap kolonialisme
  • Teladan keteguhan mempertahankan kedaulatan

Jika diinginkan, saya bisa langsung ubah menjadi poster risalah hitam-putih atau krem historis seperti seri sebelumnya — tinggal tulis: Gambar sekarang.



Buatlah Risalah dan Infografis tentang Pahlawan :

Ferdinand Lumban Tobing 

Tapanuli, Sumatera Utara 

Lahir di Sibuluan, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, 19 Februari 1899

Meninggal di Jakarta, 7 Oktober 1962. (dimakamkan di Kolang, Tapanuli Tengah)

Dr. Ferdinand Lumban Tobing (F.L. Tobing) adalah dokter, politikus, dan pahlawan nasional Indonesia asal Tapanuli, Sumatera Utara.  Ia ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional pada 17 November 1962 melalui SK Presiden No. 361 Tahun 1962 atas jasanya sebagai gubernur militer, pejuang rakyat, dan menteri. 

Pendidikan: STOVIA (lulus 1924)

Orang Tua: Herman Lumban Tobing dan Laura Sitanggang 

Perjuangan dan Karier

Dokter Rakyat: Setelah lulus STOVIA, ia mengabdi sebagai dokter, termasuk menangani penyakit menular, dan dikenal gigih memperjuangkan nasib rakyat.

Masa Jepang: Menjadi dokter pengawas romusha di Sibolga dan berani memprotes perlakuan kejam Jepang terhadap romusha.

Gubernur Militer: Menjabat sebagai Residen Tapanuli (1945) dan Gubernur Militer Tapanuli/Sumatera Timur (1948–1950) selama masa Agresi Militer Belanda.

Karier Politik: Menjabat sebagai Menteri Kesehatan ad interim (1953), Menteri Penerangan (1953–1955), dan Menteri Negara Urusan Transmigrasi (1958–1959). 

Lokasi Makam: Jenazahnya dipindahkan dan dimakamkan di Desa Kolang, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara.

Kapan: Meskipun meninggal pada 7 Oktober 1962, pemindahan dan pemakaman di Kolang, Tapanuli Tengah, dilakukan untuk menghormati permintaan rakyat Tapanuli agar ia dimakamkan di tanah kelahirannya, tak lama setelah ia wafat pada tahun 1962. 

Informasi Pemindahan Makam

Makam Awal di Jakarta: Sebelum dipindahkan ke Sumatera Utara, jenazah Ferdinand Lumban Tobing dimakamkan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, Jakarta.

Pemindahan ke Tapanuli: Jenazah dipindahkan dari Jakarta ke Tapanuli pada 17 Oktober 1962.

Lokasi Makam Sekarang: Makam beliau saat ini berada di Kelurahan Sibuluan Nalambok, Kecamatan Sarudik, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara.

Alasan Pemindahan: Pemindahan tersebut dilakukan untuk menghormati wasiat beliau yang ingin dimakamkan di tanah kelahirannya, serta permintaan rakyat Tapanuli yang mencintainya. 

Penghormatan

Ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional pada 17 November 1962.

Namanya diabadikan menjadi Bandar Udara Dr. Ferdinand Lumban Tobing di Pinangsori, Tapanuli Tengah.

Namanya juga digunakan untuk Rumah Sakit Umum di Sibolga. 

Ferdinand dikenal sebagai tokoh yang tegas, jujur, dan sangat memperhatikan rakyat kecil, menjadikannya salah satu sosok paling dihormati dari Sumatera Utara.



RISALAH & INFOGRAFIS TEKS

PAHLAWAN NASIONAL – FERDINAND LUMBAN TOBING (1899–1962)
Dokter Rakyat, Gubernur Militer, dan Menteri dari Tapanuli


Profil Utama

  • Nama: Dr. Ferdinand Lumban Tobing (F.L. Tobing)
  • Lahir: Sibuluan, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara — 19 Februari 1899
  • Wafat: Jakarta — 7 Oktober 1962
  • Pemakaman akhir: Kolang / Sibuluan Nalambok, Sarudik, Tapanuli Tengah
  • Orang Tua: Herman Lumban Tobing & Laura Sitanggang
  • Pendidikan: STOVIA — lulus 1924
  • Gelar: Pahlawan Nasional (SK Presiden No. 361 Tahun 1962, 17 November 1962)

Latar Belakang & Pendidikan

Ferdinand Lumban Tobing berasal dari keluarga Batak Tapanuli yang menekankan pendidikan dan pengabdian.
Ia menempuh pendidikan kedokteran di STOVIA — sekolah dokter paling bergengsi di Hindia Belanda — dan lulus tahun 1924.

Sejak awal karier, ia memilih jalur dokter rakyat, bukan dokter elite, dengan fokus pelayanan kesehatan masyarakat luas.


Pengabdian sebagai Dokter Rakyat

Setelah lulus, ia dikenal sebagai dokter yang:

  • Menangani penyakit menular di berbagai daerah
  • Membela hak kesehatan rakyat kecil
  • Terjun langsung ke lapangan
  • Tegas terhadap ketidakadilan layanan kesehatan

Pada masa pendudukan Jepang:

  • Menjadi dokter pengawas romusha di Sibolga
  • Berani memprotes perlakuan kejam terhadap pekerja romusha
    ➡️ Sikap ini membuatnya dihormati sekaligus diawasi penguasa Jepang.

Peran dalam Perjuangan Kemerdekaan

Kepemimpinan Sipil–Militer

  • Residen Tapanuli (1945)
  • Gubernur Militer Tapanuli/Sumatera Timur (1948–1950)
  • Berperan penting saat Agresi Militer Belanda
  • Mengkoordinasikan:
    • Pertahanan wilayah
    • Dukungan logistik rakyat
    • Stabilitas pemerintahan darurat

Ia dikenal sebagai pemimpin yang tenang, tegas, dan berpihak pada rakyat.


Karier Pemerintahan & Menteri

Dalam masa Republik Indonesia, ia memegang beberapa jabatan penting:

  • Menteri Kesehatan ad interim (1953)
  • Menteri Penerangan (1953–1955)
  • Menteri Negara Urusan Transmigrasi (1958–1959)

Kebijakannya banyak menekankan:

  • Akses kesehatan
  • Penyebaran penduduk
  • Informasi publik untuk persatuan nasional

Wafat & Riwayat Pemakaman

  • Wafat di Jakarta, 7 Oktober 1962
  • Awalnya dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata

Kemudian:

  • Dipindahkan ke Tapanuli pada 17 Oktober 1962
  • Dimakamkan di Sibuluan Nalambok / Kolang, Tapanuli Tengah
  • Sesuai wasiat pribadi dan permintaan rakyat Tapanuli
    ➡️ Bentuk penghormatan terhadap tokoh yang sangat dicintai daerahnya

Penghormatan & Warisan Nama

Nama Ferdinand Lumban Tobing diabadikan menjadi:

  • Bandar Udara Dr. Ferdinand Lumban Tobing
  • Rumah Sakit Umum Dr. Ferdinand Lumban Tobing di Sibolga

Nilai Keteladanan

Tokoh ini dikenang sebagai:

  • Dokter pejuang rakyat
  • Pemimpin militer-sipil yang berani
  • Menteri yang bersih dan tegas
  • Pembela romusha dan rakyat kecil
  • Putra Tapanuli yang sangat dihormati

Jika diinginkan, saya bisa langsung ubah menjadi poster risalah + infografis satu halaman versi hitam-putih atau krem historis siap cetak.


 Buatlah Risalah dan Infografis tentang Pahlawan :
Ilyas Ya'kub.

H. Ilyas Ya'kub (Ilyas Yacoub)

Lahir di Asam Kumbang, Bayang, Pesisir Selatan, Sumatera Barat, 14 Juni 1903

Meninggal di  dimakamkan di halaman Masjid Almunawarah, Kenagarian Kapencong Lubuk Gambia, Kecamatan Bayang, Pesisir Selatan, 3 Agustus 1958 (usia 55 tahun).
Karena lokasi awal berada di lahan sempit dan untuk memberikan penghormatan yang layak, Pemkab Pesisir Selatan merelokasi (memindahkan) makam beliau ke tempat yang lebih representatif di kompleks makam pahlawan di Kenagarian Kapencong Lubuk Gambia, Kecamatan Bayang, Pesisir Selatan, Sumatera Barat.

Tanggal Pemindahan: Relokasi makam direncanakan dilaksanakan pada Minggu, 5 November 2012.
Lokasi Lama: Di pelataran Masjid Al-Munawarah, Kapencong, Koto Barapak.
Lokasi Baru: Dipindahkan ke lokasi yang lebih layak dan representatif di wilayah Bayang, Pesisir Selatan. 

Pahlawan nasional Indonesia dari Pesisir Selatan, Sumatera Barat (bukan Sumatera Selatan), yang merupakan ulama, politisi, dan wartawan radikal anti-kolonial. Ia mendirikan partai PERMI (Persatuan Muslim Indonesia), diasingkan Belanda ke Boven Digul, Papua, pada tahun 1934,  selama 10 tahun, dan berjuang mempertahankan kemerdekaan melalui jalur pendidikan serta politik Islam. 

Orang Tua: Haji Ya'kub (pedagang kain) dan Siti Hajir
Pendidikan: Hollandsch-Inlandsche School (HIS) dan memperdalam ilmu agama di Universitas Al-Azhar, Mesir
Istri: Tinur
Makam: Koto Berapak, Bayang, Pesisir Selatan.

Pahlawan Nasional dan Perjuangan:
Gelar Pahlawan: Ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional berdasarkan SK-Mensos RI Nomor: Pol-61/PK/1968 (16 Desember 1968) dan diperkuat dengan Kepres-RI No. 074/TK/1999.
Pergerakan Politik: Mendirikan Partai Persatuan Muslim Indonesia (PERMI) pada 1930 yang berbasis pada pendidikan Islam dan kebangsaan.
Anti-Kolonialisme: Dikenal tegas menentang Belanda, sehingga diasingkan ke Boven Digul (1934-1944), lalu ke Australia, Kupang, Singapura, hingga kembali ke tanah air pada 1946.
Peran Pasca-Kemerdekaan: Menjadi Ketua DPR Sumatera Tengah pada 1948 dan penasihat Gubernur Sumatera Tengah.
Penghargaan: Menerima Bintang Mahaputra Adipradana.
Warisan: Namanya diabadikan sebagai nama jalan dan gedung olahraga di Painan, serta diabadikan dalam bentuk patung.



Berikut Risalah dan Infografis Pahlawan Nasional yang siap dijadikan poster/lembar edukasi.


**RISALAH PAHLAWAN NASIONAL

Ilyas Ya'kub
(1903–1958)**

Nama: H. Ilyas Ya’kub (Ilyas Yacoub)
Daerah Asal: Pesisir Selatan, Sumatera Barat
Bidang: Ulama, Politik, Pers & Pendidikan
Gelar Pahlawan Nasional: 1968 (diperkuat 1999)

Ilyas Ya’kub adalah ulama, politisi, dan wartawan radikal anti-kolonial dari Pesisir Selatan, Sumatera Barat. Ia dikenal sebagai tokoh pergerakan Islam modern yang memadukan pendidikan, politik, dan pers sebagai alat perjuangan kemerdekaan.

Sejak muda ia menempuh pendidikan Barat dan agama, lalu memperdalam studi Islam di Universitas Al-Azhar, Mesir. Sepulangnya ke tanah air, ia menjadi penggerak kebangkitan politik Islam dan nasionalisme.

Pada 1930 ia mendirikan Partai Persatuan Muslim Indonesia (PERMI), yang menekankan pendidikan, kesadaran politik, dan kemerdekaan bangsa. Aktivitasnya yang keras menentang kolonialisme membuatnya ditangkap dan diasingkan Belanda ke kamp tahanan politik Boven Digul selama sekitar sepuluh tahun, lalu dipindah ke berbagai tempat pengasingan hingga kembali ke Indonesia pada 1946.

Setelah kemerdekaan, ia tetap berperan dalam pemerintahan dan pendidikan politik, menjadi Ketua DPR Sumatera Tengah serta penasihat gubernur. Keteguhan sikap dan pengorbanannya menjadikannya salah satu tokoh penting pergerakan Islam kebangsaan.

Ia wafat tahun 1958 dan kemudian dimakamkan kembali secara lebih layak di kawasan makam pahlawan Kenagarian Kapencong Lubuk Gambia, Bayang, Pesisir Selatan.


INFOGRAFIS SINGKAT – ILYAS YA’KUB

Nama Lengkap: H. Ilyas Ya’kub
Lahir: Asam Kumbang, Bayang, Pesisir Selatan — 14 Juni 1903
Wafat: Bayang, Pesisir Selatan — 3 Agustus 1958

Orang Tua:

  • Ayah: Haji Ya’kub (pedagang kain)
  • Ibu: Siti Hajir

Pendidikan:

  • HIS (Hollandsch-Inlandsche School)
  • Studi agama di Universitas Al-Azhar, Mesir

Keluarga:

  • Istri: Tinur

Perjuangan Utama:

  • Pendiri PERMI (1930)
  • Penggerak politik Islam & nasionalisme
  • Wartawan dan orator anti-kolonial
  • Menggerakkan pendidikan sebagai alat perjuangan

Pengasingan Kolonial:

  • Ditangkap Belanda
  • Dibuang ke Boven Digul (1934–1944)
  • Dipindah ke Australia, Kupang, Singapura
  • Kembali ke Indonesia tahun 1946

Peran Pasca-Kemerdekaan:

  • Ketua DPR Sumatera Tengah (1948)
  • Penasihat Gubernur Sumatera Tengah

Penghargaan:

  • Pahlawan Nasional — SK Mensos RI No. Pol-61/PK/1968
  • Diperkuat Kepres No. 074/TK/1999
  • Penerima Bintang Mahaputra Adipradana

Warisan:

  • Nama jalan & gedung olahraga di Painan
  • Patung dan penanda sejarah daerah

Jika diinginkan, saya bisa langsung ubah menjadi poster risalah hitam-putih atau krem historis — tinggal tulis: Gambar sekarang.





 Buatlah Risalah dan Infografis tentang Pahlawan :
Rohana Kudus
Nama Lengkap: Roehana Koeddoes (ejaan lama)

Lahir di Koto Gadang, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, 20 Desember 1884

Meninggal di Jakarta, 17 Agustus 1972, 
dimakamkan di TPU Karet Bivak, Jakarta Pusat.
Meskipun makamnya tidak dipindahkan, warisan perjuangannya diabadikan dalam museum dan Yayasan Amai Setia di Koto Gadang, Sumatra Barat.

Wartawan wanita pertama di Indonesia dan pahlawan nasional asal Koto Gadang, Sumatera Barat (ditetapkan 2019). Ia mempelopori pendidikan perempuan melalui sekolah Amai Setia (1911) dan mendirikan surat kabar perempuan pertama, Sunting Melayu (1912), berjuang melawan ketidakadilan, serta aktif mengedukasi perempuan. 

Orang Tua: Mohamad Rasjad Maharadja Sutan (Ayah)
Saudara: Kakak tiri Sutan Sjahrir (Perdana Menteri pertama Indonesia)
Suami: Abdul Qudus (menikah 1908, seorang notaris)
Keahlian: Jurnalis, pendidik, penulis, dan aktif dalam kerajinan tangan.

Jasa dan Perjuangan sebagai Pahlawan:
Pelopor Jurnalisme Perempuan: Mendirikan Sunting Melayu pada 10 Juli 1912, koran pertama yang dikelola dan ditujukan khusus untuk perempuan, yang memuat konten pendidikan, perjuangan, dan keterampilan.
Pendidikan Perempuan: Mendirikan sekolah kerajinan Amai Setia di Koto Gadang (1911) untuk mengajar perempuan membaca, menulis, berhitung, hingga keterampilan tangan agar mandiri secara ekonomi.
Perjuangan Melalui Tulisan: Menjadi redaktur di berbagai surat kabar (Putri Hindia, Radio, Cahaya Sumatera) untuk menyuarakan emansipasi, melawan ketidakadilan, dan mendorong perjuangan melawan kolonialisme.
Pergerakan Politik: Membantu perjuangan kemerdekaan dengan menyelundupkan senjata melalui Ngarai Sianok dan mendirikan dapur umum untuk gerilyawan.
Gelar Pahlawan: Dianugerahi gelar Pahlawan Nasional oleh Presiden Joko Widodo pada 8 November 2019 atas jasa-jasanya dalam pers dan pendidikan. 

Sekolah yang Didirikan
Rohana Kudus mendirikan sekolah perempuan dengan tujuan memberikan keterampilan teknis dan literasi agar perempuan Minangkabau berdaya dan mandiri. 
Sekolah Kerajinan Amai Setia (1911): Didirikan di Koto Gadang pada tahun 1911. Sekolah ini mengajarkan kerajinan tangan (menyulam, merenda), baca tulis, berhitung, dan manajemen rumah tangga.
Ruhana School (1916): Setelah pindah ke Bukittinggi pada tahun 1916, beliau mendirikan sekolah perempuan yang dikenal sebagai "Ruhana School".

๐Ÿ“œ Risalah & Infografis Pahlawan Nasional — Rohana Kudus

๐Ÿง• Profil Tokoh

Nama: Rohana Kudus
Nama lengkap: Roehana Koeddoes (ejaan lama)
Lahir: Koto Gadang, Kabupaten Agam, Sumatera Barat — 20 Desember 1884
Wafat: Jakarta — 17 Agustus 1972
Makam: TPU Karet Bivak, Jakarta Pusat
Bidang: Jurnalis, pendidik, penulis, pelopor pers perempuan

Tokoh: Rohana Kudus
Saudara tiri: Sutan Sjahrir
Gelar Pahlawan Nasional: Ditetapkan tahun 2019 oleh Presiden Joko Widodo


๐Ÿต️ Ringkasan Peran Sejarah

Rohana Kudus dikenal sebagai wartawan perempuan pertama di Indonesia dan pelopor pendidikan perempuan Minangkabau. Ia membuka akses literasi, keterampilan, dan kesadaran sosial bagi kaum perempuan melalui sekolah dan media pers.

Perjuangannya tidak hanya di bidang pendidikan dan jurnalistik, tetapi juga mendukung logistik perjuangan kemerdekaan.


๐Ÿ“ฐ Pelopor Jurnalisme Perempuan

  • Mendirikan surat kabar perempuan pertama: Sunting Melayu (10 Juli 1912)
  • Dikelola dan ditujukan khusus untuk pembaca perempuan
  • Memuat:
    • pendidikan
    • keterampilan praktis
    • gagasan emansipasi
    • kritik sosial
  • Menjadi redaktur di beberapa media lain: Putri Hindia, Radio, Cahaya Sumatera

Dampak: Membuka ruang suara perempuan di dunia pers Hindia Belanda.


๐ŸŽ“ Pelopor Pendidikan Perempuan

Sekolah Kerajinan Amai Setia — 1911 (Koto Gadang)

Didirikan untuk memberdayakan perempuan agar mandiri.

Materi ajar:

  • membaca & menulis
  • berhitung
  • manajemen rumah tangga
  • kerajinan tangan (menyulam, merenda, keterampilan produksi)

Warisan lembaganya kini diabadikan melalui Museum & Yayasan Amai Setia di Koto Gadang.

Ruhana School — 1916 (Bukittinggi)

  • Pengembangan sekolah perempuan setelah beliau pindah ke Bukittinggi
  • Fokus pada literasi dan keterampilan ekonomi

✊ Peran dalam Perjuangan Kemerdekaan

  • Membantu jaringan pejuang secara diam-diam
  • Terlibat dukungan logistik gerilya
  • Disebut membantu penyelundupan senjata melalui jalur Ngarai Sianok
  • Mendirikan dapur umum untuk pejuang

๐Ÿ‘จ‍๐Ÿ‘ฉ‍๐Ÿ‘ง Data Keluarga

  • Ayah: Mohamad Rasjad Maharadja Sutan
  • Suami: Abdul Qudus (notaris, menikah 1908)

๐Ÿงต Keahlian Utama

  • Jurnalisme
  • Pendidikan perempuan
  • Penulisan sosial
  • Kerajinan tangan produktif
  • Pengorganisasian komunitas perempuan

⭐ Nilai Keteladanan

  • Memperjuangkan literasi perempuan sejak masa kolonial
  • Menggunakan media sebagai alat perubahan sosial
  • Mendorong kemandirian ekonomi perempuan
  • Menggabungkan pendidikan, pers, dan aksi sosial

Jika mau, saya bisa langsung ubah materi ini menjadi layout poster risalah krem-historis atau infografis hitam-putih siap cetak seperti seri risalah pahlawan yang sudah Anda buat sebelumnya.



Buatlah Risalah dan Infografis tentang Pahlawan :
Raden Intan II.

Raden Intan II (sering ditulis Radin Inten II).

Lahir di Desa Kuripan, Lampung Selatan, 1 Januari 1834.

Meninggal di Desa Gedung Harta, Lampung Selatan, 5 Oktober 1856 (usia 22 tahun).

Pahlawan Nasional dari Lampung yang gigih melawan kolonialisme Belanda di usia muda, dinobatkan sebagai Ratu Lampung pada usia 16 tahun. Ia memimpin perlawanan gerilya di Lampung Selatan, memperkuat benteng pertahanan, dan gugur pada 5 Oktober 1856 akibat pengkhianatan, kemudian ditetapkan sebagai pahlawan pada 1986. 

Orang Tua: Ayah Raden Imba II (Kesuma Ratu) dan Ibu Ratu Mas.
Gelar: Ratu Pemimpin Keratuan Darah Putih.
Keturunan: Keturunan dari Fatahillah/Sunan Gunung Jati.
Penganugerahan Pahlawan: SK No. 082/1986 tanggal 23 Oktober 1986. 

Kisah Perjuangan dan Kepahlawanan
Latar Belakang: Lahir saat ayahnya dibuang Belanda ke Pulau Timor, Raden Intan II mewarisi semangat anti-Belanda dan dibesarkan dengan didikan agama serta ilmu bela diri.
Perlawanan (1850-1856): Setelah dilantik menjadi Ratu pada 1850, ia menolak tunduk pada Belanda. Ia memperkuat benteng (seperti Benteng Cempaka) dan menambah persenjataan untuk melawan serbuan Belanda.
Taktik Gerilya: Menghadapi pasukan besar Kolonel Wilson pada 1856, ia menggunakan strategi gerilya yang membuat Belanda frustrasi selama bertahun-tahun.
Gugur: Ia gugur dalam pertempuran yang tidak seimbang di Way Seputih setelah disergap akibat pengkhianatan. 

Pengkhianatan
Radin Inten II diketahui keberadaannya oleh Belanda akibat pengkhianatan dari dalam. 
Siapa Pengkhianatnya: Paman dari Radin Inten II sendiri yang bernama Radin Ngarapat.
Kronologi: Radin Ngarapat menjebak Radin Inten II agar keluar dari daerah persembunyian/gerilyanya. Ia menghasut atau memberikan informasi tempat persembunyian Radin Inten II kepada pasukan Belanda di kawasan Way Seputih.
Akibat: Akibat pengkhianatan tersebut, pada 5 Oktober 1856, Radin Inten II disergap oleh pasukan Belanda tanpa persiapan maksimal dan gugur dalam pertempuran yang tidak seimbang. 

Area makam ini dikenal sebagai Benteng Cempaka, yang dulunya merupakan gundukan tanah pertahanan. Makam ini kini menjadi situs wisata sejarah dan religi yang dikelola, dan telah dibangun pemugaran (cungkup) sebagai penghormatan. 

Penghormatan
Nama Radin Inten II diabadikan sebagai nama Bandara Internasional di Lampung (Bandar Udara Radin Inten II).
Nama universitas Islam di Lampung: Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung. 
Raden Intan II dikenal sebagai pemimpin cerdas yang menggunakan Doktrin Perang Wilayah, memanfaatkan potensi geografis dan dukungan rakyat Lampung untuk mempertahankan kedaulatan.


๐Ÿ“œ Risalah & Infografis Pahlawan

Raden Intan II

Nama kecil: Raden Intan
Nama lain: Radin Inten II
Lahir: Desa Kuripan, Lampung Selatan — 1 Januari 1834
Wafat: Desa Gedung Harta, Lampung Selatan — 5 Oktober 1856 (usia 22 tahun)
Gelar: Ratu Pemimpin Keratuan Darah Putih
Orang tua: Raden Imba II (Kesuma Ratu) & Ratu Mas
Keturunan: Trah dakwah Fatahillah / Sunan Gunung Jati
Pahlawan Nasional: SK No. 082/1986 (23 Oktober 1986)


๐Ÿ›ก️ Profil Singkat

Raden Intan II adalah Pahlawan Nasional dari Lampung yang memimpin perlawanan bersenjata melawan kolonial Belanda pada usia sangat muda. Dinobatkan sebagai pemimpin pada usia 16 tahun, ia membangun pertahanan wilayah dan menerapkan strategi gerilya berbasis kekuatan rakyat dan medan geografis.


⚔️ Perjuangan Utama

▪️ Naik Kepemimpinan (1850)
Diangkat sebagai pemimpin Keratuan Darah Putih. Sejak awal menolak tunduk pada kekuasaan kolonial.

▪️ Perlawanan 1850–1856
Memperkuat sistem pertahanan dan benteng rakyat, termasuk kawasan Benteng Cempaka sebagai pusat pertahanan tanah dan logistik.

▪️ Strategi Gerilya
Menggunakan taktik mobil, serangan cepat, dan penguasaan wilayah hutan–sungai (doktrin perang wilayah) sehingga pasukan Belanda kesulitan menundukkan basis perlawanan.

▪️ Serangan Belanda 1856
Pasukan kolonial melakukan operasi besar dipimpin perwira militer Belanda. Pertahanan rakyat membuat operasi berlangsung lama dan mahal.


⚠️ Pengkhianatan Internal

Nama pengkhianat: Radin Ngarapat (paman sendiri)
Peristiwa: Memberi informasi lokasi persembunyian kepada Belanda
Dampak: Raden Intan II disergap di kawasan Way Seputih dalam kondisi tidak siap tempur penuh
Hasil: Gugur dalam pertempuran tidak seimbang — 5 Oktober 1856


๐Ÿ•ฏ️ Wafat & Warisan

  • Gugur pada usia 22 tahun
  • Dimakamkan di kawasan Benteng Cempaka
  • Area makam kini menjadi situs sejarah & religi Lampung
  • Dikenang sebagai simbol keberanian pemimpin muda

๐Ÿ›️ Penghormatan Nasional

  • Nama diabadikan menjadi Bandar Udara Radin Inten II
  • Menjadi nama perguruan tinggi: Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung
  • Tokoh utama sejarah perjuangan Lampung Selatan

๐Ÿ“Š Infografis Ringkas (Siap Desain Hitam–Putih)

Raden Intan II — Pahlawan Muda Lampung

  • ๐Ÿ‘ค Lahir: 1834 — Kuripan
  • ๐Ÿ‘‘ Pemimpin sejak usia 16
  • ๐Ÿ›ก️ Benteng Cempaka
  • ๐ŸŒฟ Strategi gerilya wilayah
  • ⚔️ Perang 6 tahun
  • ⚠️ Gugur akibat pengkhianatan
  • ๐Ÿ•ฏ️ Wafat: 5 Okt 1856
  • ๐Ÿ‡ฎ๐Ÿ‡ฉ Pahlawan Nasional: 1986
  • ✈️ Nama bandara & universitas

Jika Anda mau, saya bisa langsung buatkan poster/risalah visual versi hitam-putih siap cetak dengan layout krem historis atau monokrom arsip.



Buatlah Risalah dan Infografis tentang Pahlawan :
Cut Meutia 
Nama Lengkap: Tjoet Nja' Meuthia.

Lahir di Keureutoe, Pirak, Aceh Utara, Provinsi Nangroe Aceh Darussalam, 15 Februari 1870

Meninggal di Alue Kurieng, Aceh/NAD, 24 Oktober 1910 (usia 40 tahun).

Pahlawan nasional wanita dari Aceh yang gigih melawan penjajahan Belanda dengan taktik gerilya. Lahir di Pirak, Aceh Utara, beliau dikenal sebagai pemimpin perlawanan yang pantang menyerah meski suami-suaminya gugur dalam pertempuran. Beliau gugur syahid pada 24 Oktober 1910 di Alue Kurieng dengan rencong di tangan. 

Orang Tua: Teuku Ben Daud Pirak (ayah) dan Cut Jah (ibu).
Gelar: Pahlawan Nasional Indonesia (SK Presiden No. 107/1964).
Suami: Teuku Syamsarif (bercerai), Teuku Chik Tunong (gugur), Pang Nanggroรซ (gugur).
Anak: Teuku Raja Sabi (dari Teuku Chik Tunong). 

Perjuangan dan Kepahlawanan:
Perlawanan Gerilya: Meutia melanjutkan perjuangan suami keduanya, Teuku Chik Tunong, dan kemudian Pang Nanggroe, melawan Belanda di wilayah Aceh Utara.
Taktik Pertempuran: Dikenal ahli mengatur strategi perang, menggunakan metode serang-dan-lari, serta memanfaatkan medan hutan Aceh untuk menyergap pasukan Belanda.
Pantang Menyerah: Setelah suaminya gugur, Meutia mengambil alih kepemimpinan pasukan dan menolak bujukan Belanda untuk menyerah.
Gugur Syahid: Pada 24 Oktober 1910, dalam pertempuran di Alue Kurieng (hulu Sungai Peutoe), Cut Meutia gugur setelah tertembak pasukan Marechausรฉe Belanda, namun tetap melawan hingga akhir.

gugur pada 24 Oktober 1910 di Alue Kurieng setelah disergap oleh pasukan Belanda Marsose (Marechaussee) di bawah pimpinan Christoffel atau Mosselman.

Hubungan dengan Cut Nyak Dien, Teuku Umar, dan Panglima Polem adalah sebagai rekan seperjuangan dalam Perang Aceh. 

Penghargaan: Wajahnya diabadikan dalam uang kertas Rupiah pecahan Rp1.000 (emisi 2016).

Gb. Asli 2



๐Ÿ“œ Risalah & Infografis Pahlawan Nasional — Cut Meutia

Identitas Tokoh

  • Nama lengkap: Tjoet Nja’ Meuthia
  • Lahir: Keureutoe, Pirak, Aceh Utara — 15 Februari 1870
  • Wafat/Gugur: Alue Kurieng, Aceh — 24 Oktober 1910 (usia 40 tahun)
  • Orang tua: Teuku Ben Daud Pirak & Cut Jah
  • Anak: Teuku Raja Sabi
  • Gelar: Pahlawan Nasional Indonesia
  • Penetapan: SK Presiden No. 107 Tahun 1964

๐Ÿ›ก️ Ringkasan Perjuangan

Cut Meutia adalah pahlawan nasional wanita dari Aceh yang memimpin perlawanan gerilya melawan Belanda di Aceh Utara. Ia dikenal sebagai pemimpin tangguh, ahli strategi serang-dan-lari, dan memanfaatkan hutan sebagai basis perlawanan. Setelah suaminya gugur, ia mengambil alih komando pasukan dan tetap bertempur hingga akhir hayatnya.

Ia gugur syahid dalam pertempuran di Alue Kurieng setelah disergap pasukan Marechaussee Belanda, tetap melawan dengan rencong di tangan.


⚔️ Perjuangan & Taktik

  • Memimpin pasukan gerilya di wilayah Aceh Utara
  • Menggunakan strategi hit and run
  • Menyerang pos Belanda secara mendadak
  • Memanfaatkan medan hutan dan sungai
  • Menolak negosiasi dan ajakan menyerah dari Belanda
  • Tetap memimpin walau dua suaminya gugur di medan perang

๐Ÿ‘ค Keluarga & Rekan Perjuangan

  • Suami:
    • Teuku Syamsarif (bercerai)
    • Teuku Chik Tunong (gugur)
    • Pang Nanggroรซ (gugur)
  • Rekan seperjuangan Perang Aceh:
    • Cut Nyak Dien
    • Teuku Umar
    • Panglima Polem

๐Ÿ… Penghargaan & Pengabadian

  • Ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional (1964)
  • Namanya diabadikan menjadi berbagai jalan dan institusi di Aceh
  • Wajahnya diabadikan pada uang Rupiah Rp1.000 emisi 2016
  • Diingat sebagai simbol keberanian perempuan Aceh

๐Ÿงพ Naskah Siap Pakai Infografis (Layout Poster)

Judul Besar:
PAHLAWAN NASIONAL — CUT MEUTIA

Subjudul:
Pemimpin Gerilya Perempuan dari Aceh

Blok 1 — Profil Singkat

  • Lahir: 15 Feb 1870 — Aceh Utara
  • Gugur: 24 Okt 1910 — Alue Kurieng
  • Orang Tua: Teuku Ben Daud Pirak & Cut Jah
  • Anak: Teuku Raja Sabi

Blok 2 — Perjuangan

  • Pemimpin perang gerilya
  • Strategi serang-dan-lari
  • Basis hutan Aceh
  • Tolak menyerah

Blok 3 — Kepahlawanan

  • Lanjutkan perjuangan suami
  • Pimpin pasukan sendiri
  • Gugur dalam pertempuran

Blok 4 — Penghargaan

  • Pahlawan Nasional (1964)
  • Wajah di uang Rp1.000 (2016)

Jika diinginkan, saya bisa langsung buatkan versi gambar infografis hitam-putih atau krem historis dengan format risalah seperti seri yang sudah Anda kerjakan sebelumnya. Mau versi hitam putih juga sekarang?



Buatlah Risalah dan Infografis tentang Pahlawan :

Sultan Mahmud Riwayat Syah

Nama: Sultan Mahmud Riayat Syah III 

Lahir di Hulu, Riau, 24 Maret 1756

Meninggal di Daik, Lingga, Riau, 12 Januari 1812

Sultan Johor-Riau-Lingga-Pahang ke-15 yang ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia. Ia gigih melawan VOC/Belanda (1770–1811) dengan taktik gerilya laut yang cemerlang, memindahkan pusat pemerintahan ke Daik, Lingga, dan membebaskan perairan Riau dari penjajahan, menjadikannya ikon perlawanan maritim Melayu. 

Pemerintahan: Memerintah Kesultanan Johor-Riau-Lingga-Pahang (1761–1812).

Orang Tua: Putra dari Sultan Abdul Jalil Muazzam Syah dan Tengku Puteh.

Gelar: Singa Laut Riau Lingga.

Masa Jabatan: Naik takhta pada 1761 (usia 5 tahun/dalam pengasuhan) dan berkuasa penuh hingga wafat. 

Pahlawan Nasional & Perjuangan:

Perang Gerilya Laut: Mengembangkan strategi gerilya laut yang menyulitkan VOC, memaksa Belanda keluar dari perairan Riau pada tahun 1787.

Julukan: "Singa Laut" karena kepiawaiannya dalam perang gerilya laut melawan Belanda (VOC).

Perang Riau (1782-1784): Memimpin perlawanan melawan Belanda bersama Yang Dipertuan Muda Raja Haji Fisabilillah, termasuk dalam pertempuran sengit di Teluk Ketapang.

Memindahkan Pusat Pemerintahan: Memindahkan ibu kota kerajaan dari Hulu Riau ke Daik, Lingga pada tahun 1787 untuk menghindari dominasi Belanda.

Menyatukan Kekuatan: Menjalin kerja sama dengan berbagai kerajaan di Sumatera dan Semenanjung Melayu untuk memperkuat pertahanan melawan kolonial.

Warisannya: Dikenal sebagai Sultan yang pantang menyerah, meletakkan dasar pertahanan maritim, dan berhasil menjaga kedaulatan wilayah Kesultanan Riau-Lingga hingga akhir hayatnya. 

Orang Belanda yang paling gigih memimpin serangan terhadap Kesultanan Riau pada masa itu adalah Pieter Jacob van Braam. Ia adalah pimpinan pasukan Belanda yang memimpin serangan ke Tanjungpinang pada 22 Juni 1784, yang memicu perlawanan panjang Sultan Mahmud. 

Pusat Perdagangan: Meskipun dalam keadaan perang, Riau tetap menjadi pelabuhan bebas yang ramai, menarik pedagang dari berbagai bangsa (Inggris, Cina, Melayu).

Hasil Laut dan Hutan: Terutama kayu, damar, dan hasil laut.

Pajak Perdagangan: Bea cukai kapal-kapal yang melintas dan berlabuh.

Pertambangan Timah: Riau memiliki kontrol atas wilayah penghasil timah, termasuk Pulau Bangka dan Belitung pada masa tertentu.

Berdasarkan hasil penelusuran, Sultan Mahmud Riayat Syah (1756-1812) yang merupakan pahlawan nasional berasal dari Kesultanan Riau-Lingga-Johor, bukan Kesultanan Aceh.


๐Ÿ“œ Risalah & Infografis Pahlawan Nasional

๐Ÿ‘‘ Sultan Mahmud Riayat Syah III

Sultan Mahmud Riayat Syah III adalah Sultan Johor–Riau–Lingga–Pahang ke-15 dan Pahlawan Nasional Indonesia yang dikenal sebagai tokoh perlawanan maritim Melayu. Ia memimpin perjuangan panjang melawan kekuatan kolonial VOC dengan strategi gerilya laut yang cemerlang dan berhasil mempertahankan kedaulatan wilayah perairan Riau.


๐Ÿงพ Identitas Singkat

  • Nama: Sultan Mahmud Riayat Syah III
  • Lahir: Hulu, Riau — 24 Maret 1756
  • Wafat: Daik, Lingga, Riau — 12 Januari 1812
  • Orang Tua: Sultan Abdul Jalil Muazzam Syah & Tengku Puteh
  • Kedudukan: Sultan Johor–Riau–Lingga–Pahang ke-15
  • Masa Pemerintahan: 1761–1812
  • Naik Takhta: Usia 5 tahun (di bawah pengasuhan), lalu memerintah penuh
  • Julukan: Singa Laut Riau–Lingga
  • Status: Pahlawan Nasional Indonesia

⚔️ Perjuangan & Kepahlawanan

1️⃣ Perang Gerilya Laut (1770–1811)
Mengembangkan taktik gerilya laut untuk menyerang jalur suplai dan armada VOC. Strategi ini membuat Belanda kesulitan menguasai perairan Riau.

2️⃣ Perang Riau (1782–1784)
Berkolaborasi dengan panglima besar Melayu Raja Haji Fisabilillah dalam perlawanan sengit, termasuk pertempuran di Teluk Ketapang.

3️⃣ Mengusir VOC dari Perairan Riau (1787)
Serangan gerilya terkoordinasi memaksa VOC keluar dari pusat-pusat strategis perairan Riau.

4️⃣ Pemindahan Ibu Kota Kerajaan
Memindahkan pusat pemerintahan ke Daik Lingga untuk menghindari dominasi dan tekanan kolonial.

5️⃣ Perlawanan terhadap Serangan Belanda
Tokoh Belanda yang memimpin ekspedisi besar ke Riau adalah Pieter Jacob van Braam, penyerang Tanjungpinang (1784), yang memicu fase perlawanan panjang Sultan Mahmud.


๐ŸŒŠ Strategi Kekuatan Maritim

  • ⚓ Gerilya laut & mobilitas armada kecil
  • ๐Ÿ›ถ Serangan cepat ke kapal dan pangkalan musuh
  • ๐Ÿ—บ️ Penguasaan selat & jalur perdagangan
  • ๐Ÿค Aliansi dengan kerajaan Melayu & Sumatera
  • ๐Ÿ›ก️ Pertahanan berbasis pulau dan pesisir

๐Ÿ’ฐ Kekuatan Ekonomi Kerajaan

  • ๐Ÿšข Pelabuhan bebas & pusat perdagangan internasional
  • ๐Ÿ’Ž Kontrol wilayah timah (Bangka–Belitung pada masa tertentu)
  • ๐ŸŒฒ Hasil hutan: kayu & damar
  • ๐ŸŸ Hasil laut
  • ๐Ÿ“ฆ Pajak & bea cukai perdagangan kapal asing

๐Ÿ›️ Warisan Sejarah

  • Ikon perlawanan maritim Melayu
  • Peletak dasar pertahanan laut Riau–Lingga
  • Menjaga kedaulatan wilayah hingga akhir hayat
  • Dikenang sebagai sultan pejuang yang pantang menyerah

Jika Anda mau, saya bisa langsung ubah risalah ini menjadi poster infografis hitam–putih siap cetak seperti seri risalah pahlawan yang sebelumnya.



REVISI warna HP Pahlawan Sumatera

 Buatlah Risalah dan Infografis tentang Pahlawan : Laksamana Malahayati  Nama Lengkap: Keumalahayati Lahir di Aceh Besar, 1 Januari 1550 Men...