171 JKW
Buatlah Risalah dan Infografis tentang Pahlawan :
Laksamana Malahayati
Nama Lengkap: Keumalahayati.
Lahir di Aceh Besar, NAD, 1 Januari 1550
Meninggal di Aceh Besar, NAD, Juni 1615.
Dimakamkan di lereng Bukit Kota Dalam, Desa Lamreh, Aceh Besar.
Keluarga: Putri dari Laksamana Mahmud Syah, keturunan Sultan Aceh.
Pendidikan: Akademi Militer Mahad Baitul Makdis.
Laksamana Malahayati (Keumalahayati) adalah pahlawan nasional perempuan dari Aceh (lahir 1550) yang dikenal sebagai laksamana laut perempuan pertama di dunia. Ia memimpin pasukan Inong Balee (janda prajurit) melawan Belanda pada 11 September 1599, menewaskan Cornelis de Houtman. Malahayati gugur dalam pertempuran melawan Portugis dan dimakamkan di Lamreh, Aceh Besar, sekitar bulan Juni 1615.
Laksamana Angkatan Laut Kesultanan Aceh (Laksamana Perempuan Pertama di dunia).
Perjuangan dan Karir
* Pemimpin Inong Balee: Membentuk dan memimpin pasukan yang terdiri dari 2.000 janda prajurit Aceh yang suaminya gugur dalam pertempuran.
* Duel Lawan Cornelis de Houtman: Pada 11 September 1599, ia memimpin pertempuran laut dan berhasil menewaskan Cornelis de Houtman dalam duel satu lawan satu di geladak kapal.
* Jabatan Penting: Menjabat sebagai Kepala Barisan Pengawal Istana, Panglima Rahasia, dan Protokol Pemerintah pada masa Sultan Saidil Mukammil Alauddin Riayat Syah.
* Gugur: Gugur pada bulan Juni 1615 saat melindungi Teluk Krueng Raya dari serangan armada Portugis yang dipimpin Laksamana Alfonso de Castro.
Raja/Sultan yang Berkuasa:
Malahayati berkiprah terutama pada masa pemerintahan Sultan Alauddin Riayat Syah Al-Mukammil (1589–1604).
* Melawan Belanda (1599): Malahayati memimpin pasukan Inong Balee dan berhasil membunuh Cornelis de Houtman (penjelajah Belanda pertama) dalam duel satu lawan satu di atas geladak kapal pada 11 September 1599. Belanda berhasil dipukul mundur.
* Melawan Portugis: Pasukan Malahayati aktif menghalau Portugis di perairan Selat Malaka. Ia disegani karena keberaniannya menghancurkan kapal-kapal Portugis.
Namanya diabadikan sebagai nama pelabuhan (Pelabuhan Malahayati), kapal perang TNI AL (KRI Malahayati), serta Universitas Malahayati di Lampung
Gb. Asli 2๐ฎ๐ฉ RISALAH PAHLAWAN NASIONAL
⚓ Laksamana Malahayati
(Keumalahayati)
Lahir: Aceh Besar, NAD – 1 Januari 1550
Wafat: Aceh Besar, Juni 1615
Dimakamkan: Lereng Bukit Kota Dalam, Desa Lamreh, Aceh Besar
Jabatan: Laksamana Angkatan Laut Kesultanan Aceh
Julukan: Laksamana Perempuan Pertama di Dunia
๐ LATAR BELAKANG
- Nama lengkap: Keumalahayati
- Ayah: Laksamana Mahmud Syah (keturunan Sultan Aceh)
- Pendidikan: Akademi Militer Mahad Baitul Makdis
- Berkiprah pada masa pemerintahan Alauddin Riayat Syah Al-Mukammil
Malahayati tumbuh dalam lingkungan militer dan kerajaan, menjadikannya sosok perempuan tangguh dengan pendidikan strategi dan kepemimpinan maritim.
⚔️ PERJUANGAN & KARIER
๐ก Pemimpin Pasukan Inong Balee
Malahayati membentuk dan memimpin Pasukan Inong Balee, terdiri dari ±2.000 janda prajurit Aceh yang gugur di medan perang.
Pasukan ini bermarkas di Benteng Inong Balee dan menjadi kekuatan laut yang ditakuti di Selat Malaka.
⚓ Duel Melawan Belanda (11 September 1599)
Pada 11 September 1599, Malahayati memimpin pertempuran laut melawan armada Belanda.
Ia berhasil menewaskan Cornelis de Houtman dalam duel satu lawan satu di atas geladak kapal.
๐น Belanda dipukul mundur
๐น Aceh mempertahankan kedaulatan lautnya
Peristiwa ini menjadikannya simbol perlawanan perempuan Nusantara terhadap kolonialisme.
๐ข Perlawanan terhadap Portugis
Malahayati juga memimpin pertempuran melawan armada Portugis di Selat Malaka.
Ia gugur sekitar Juni 1615 saat mempertahankan Teluk Krueng Raya dari serangan armada Portugis yang dipimpin Alfonso de Castro.
๐ JABATAN PENTING
✔ Laksamana Angkatan Laut Kesultanan Aceh
✔ Kepala Barisan Pengawal Istana
✔ Panglima Rahasia
✔ Protokol Pemerintah Kesultanan
๐ INFOGRAFIS SINGKAT
๐️ TIMELINE PERJUANGAN
1550 – Lahir di Aceh Besar
1589–1604 – Masa Sultan Alauddin Riayat Syah Al-Mukammil
11 Sept 1599 – Menewaskan Cornelis de Houtman
1615 – Gugur melawan Portugis
Dimakamkan – Lamreh, Aceh Besar
๐ WARISAN & PENGHORMATAN
Nama Malahayati diabadikan sebagai:
⚓ Pelabuhan Malahayati
๐ข KRI Malahayati
๐ Universitas Malahayati
Ia dikenang sebagai simbol keberanian perempuan Indonesia dalam mempertahankan kedaulatan bangsa.
๐ NILAI KETELADANAN
✔ Keberanian luar biasa di medan perang
✔ Kepemimpinan perempuan pertama dalam armada laut
✔ Loyalitas kepada Kesultanan dan rakyat Aceh
✔ Semangat jihad dan patriotisme
Jika Anda ingin, saya bisa membuatkan:
๐จ Poster warna keemasan klasik
⚓ Desain maritim heroik berlatar laut
๐ Gaya arsip Kesultanan Aceh
๐ File PDF siap cetak ukuran A3/A2
Silakan pilih gaya desain yang diinginkan.
175 JKW
Buatlah Risalah dan Infografis tentang Pahlawan :
Ir. H. Pangeran Mohammad Noor
Lahir di Martapura, Kalimantan Selatan, 24 Juni 1901.
Meninggal di Jakarta, 15 Januari 1979.
Dimakamkan di Kompleks Makam Sultan Adam, Martapura.
Keturunan: Bangsawan Kesultanan Banjar (cicit Ratu Anom Mangkoeboemi Kentjana bin Sultan Adam)
Pendidikan: Technische Hoogeschool te Bandoeng (sekarang ITB), lulus 1927.
Ir. H. Pangeran Mohammad Noor (lahir di Martapura, 24 Juni 1901 – wafat 15 Januari 1979) adalah Pahlawan Nasional Indonesia dari Kalimantan Selatan, diangkat pada 2018. Sebagai Gubernur Kalimantan pertama (1945–1950), beliau berjuang mempertahankan kemerdekaan, memimpin pembentukan Divisi IV ALRI Pertahanan Kalimantan, dan berperan sebagai Menteri Pekerjaan Umum (1956–1959) yang membangun infrastruktur penting seperti Waduk Riam Kanan.
Perjuangan dan Kiprah
* Masa Kolonial & Jepang: Bekerja sebagai insinyur irigasi, anggota Volksraad (Dewan Rakyat) menggantikan ayahnya, dan menjadi wakil Kalimantan di BPUPKI/PPKI.
* Gubernur Pertama Kalimantan (1945-1950): Ditunjuk Soekarno sebagai Gubernur Kalimantan pertama yang berkedudukan di Yogyakarta karena situasi keamanan. Beliau aktif mengatur pertahanan, termasuk mengirim ekspedisi MN 1001 (dipimpin Tjilik Riwut) untuk membangkitkan perlawanan di Kalimantan.
* Menteri Pekerjaan Umum & Tenaga (1956-1959): Berperan penting dalam pembangunan nasional, terutama mencanangkan proyek Waduk Riam Kanan (Kalsel), Waduk Karangkates (Jatim), serta proyek pasang surut dan pengerukan Sungai Barito.
* Wasiat: Dikenal dengan semangat perjuangan "Teruskan... Gawi kita balum tuntung!" (Teruskan, kerja kita belum selesai !).
Pemindahan Makam
Jenazah Ir. H. Pangeran Mohammad Noor dipindahkan dari TPU Karet Bivak, Jakarta ke tanah kelahirannya di Kalimantan Selatan pada tahun 2010.
* Waktu Pemindahan: Proses pemindahan dilakukan pada bulan November 2010.
* Lokasi Baru: Jenazah beliau disemayamkan kembali di kompleks pemakaman keluarga di Martapura, Kalimantan Selatan.
* Alasan: Pemindahan ini dilakukan sebagai bentuk penghormatan atas jasa-jasanya dan bertepatan dengan penganugerahan gelar Pahlawan Nasional pada tahun 2018.
* Nama Ayah yang Digantikan di BPUPKI
Pangeran Mohammad Noor menggantikan ayahnya yang bernama Pangeran Muhammad Ali (Pangeran Ali) untuk duduk di dalam BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia).
RISALAH PAHLAWAN NASIONAL
Pangeran Mohammad Noor
Lahir: Martapura, Kalimantan Selatan – 24 Juni 1901
Wafat: Jakarta – 15 Januari 1979
Dimakamkan: Kompleks Makam Sultan Adam, Martapura
Gelar: Pahlawan Nasional Indonesia (2018)
I. LATAR BELAKANG & PENDIDIKAN
Ir. H. Pangeran Mohammad Noor merupakan keturunan bangsawan Kesultanan Banjar, cicit Ratu Anom Mangkoeboemi Kentjana bin Sultan Adam.
Pendidikan:
๐ Lulusan Technische Hoogeschool te Bandoeng (1927)
(sekarang Institut Teknologi Bandung / ITB)
Sebagai insinyur teknik sipil, beliau memiliki keahlian di bidang irigasi dan pembangunan infrastruktur.
II. PERJUANGAN MASA KOLONIAL & PERSIAPAN KEMERDEKAAN
๐น Insinyur & Volksraad
- Bekerja sebagai insinyur irigasi pada masa kolonial
- Anggota Volksraad
- Menggantikan ayahnya, Pangeran Muhammad Ali (Pangeran Ali)
๐น Wakil Kalimantan di BPUPKI/PPKI
Beliau menjadi wakil Kalimantan dalam:
- BPUPKI
- PPKI
Berperan dalam proses perumusan dasar dan struktur negara Indonesia merdeka.
III. GUBERNUR PERTAMA KALIMANTAN (1945–1950)
Setelah Proklamasi, Presiden Sukarno menunjuk beliau sebagai Gubernur Kalimantan pertama.
Karena situasi keamanan, pemerintahan berkedudukan di Yogyakarta.
Kiprah Penting:
✔ Mengatur pertahanan wilayah Kalimantan
✔ Membentuk Divisi IV ALRI Pertahanan Kalimantan
✔ Mengirim ekspedisi MN 1001 yang dipimpin Tjilik Riwut untuk membangkitkan perlawanan di Kalimantan
Beliau berperan besar menjaga eksistensi Republik Indonesia di wilayah Kalimantan.
IV. MENTERI PEKERJAAN UMUM & TENAGA (1956–1959)
Sebagai Menteri Pekerjaan Umum, beliau memimpin proyek infrastruktur strategis nasional:
๐ Waduk & Infrastruktur:
- Waduk Riam Kanan (Kalimantan Selatan)
- Waduk Karangkates (Jawa Timur)
- Proyek pasang surut
- Pengerukan Sungai Barito
Pembangunan ini menjadi fondasi pengairan, listrik, dan pertanian nasional.
V. WASIAT PERJUANGAN
Beliau dikenal dengan semboyan Banjar:
“Teruskan… Gawi kita balum tuntung!”
(Teruskan, kerja kita belum selesai!)
Pesan ini mencerminkan semangat pengabdian tanpa henti bagi bangsa dan daerah.
VI. PEMINDAHAN MAKAM
Awalnya dimakamkan di TPU Karet Bivak, Jakarta.
Pada November 2010, jenazah beliau dipindahkan ke tanah kelahirannya di Martapura:
๐ Kompleks Makam Sultan Adam, Kalimantan Selatan
Pemindahan ini merupakan bentuk penghormatan atas jasa-jasanya dan memperkuat ikatan sejarah beliau dengan Banjar.
INFOGRAFIS RINGKAS
Nama: Ir. H. Pangeran Mohammad Noor
Lahir: 24 Juni 1901 – Martapura
Wafat: 15 Januari 1979 – Jakarta
Asal: Bangsawan Kesultanan Banjar
Profesi: Insinyur, Pejuang, Negarawan
Jabatan:
✔ Gubernur Pertama Kalimantan (1945–1950)
✔ Menteri Pekerjaan Umum & Tenaga (1956–1959)
Kontribusi Utama:
✔ Wakil Kalimantan di BPUPKI/PPKI
✔ Pembentuk Divisi IV ALRI Pertahanan Kalimantan
✔ Penggerak Ekspedisi MN 1001
✔ Pembangunan Waduk Riam Kanan
✔ Infrastruktur Sungai Barito
NILAI KEPAHLAWANAN
• Nasionalisme daerah & nasional
• Kepemimpinan di masa revolusi
• Insinyur pembangunan bangsa
• Kesetiaan pada Republik
• Semangat kerja tanpa pamrih
Ir. H. Pangeran Mohammad Noor dikenang sebagai Gubernur Pertama Kalimantan dan Insinyur Pejuang, yang menjaga kemerdekaan di tanah Borneo sekaligus membangun fondasi infrastruktur Indonesia modern.
176 JKW
Buatlah Risalah dan Infografis tentang Pahlawan :
Hajjah Andi Depo
Gelar: Ibu Agung Maradia Balanipa.
Lahir di Tinambung, Polewali Mandar, tahun 1907.
Meninggal di 18 Juni 1985
Dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Panaikang, Makassar.
Jabatan: Raja (Arayang) Balanipa ke-52.
Hj. Andi Depu (dikenal sebagai Ibu Agung) adalah Pahlawan Nasional pertama dari Sulawesi Barat yang ditetapkan oleh Presiden Joko Widodo pada 6 November 2018. Ia merupakan sosok pemimpin perempuan dari Tanah Mandar yang gigih melawan penjajahan Belanda dan Jepang.
Jejak Perjuangan
Perjuangan Andi Depu sangat kental dengan sikap nasionalisme dan nilai religius yang tinggi. Berikut adalah beberapa poin utama perjuangannya:
* Melawan Penjajahan Jepang: Ia secara terbuka menolak tunduk kepada tentara Jepang dan menolak melakukan penghormatan membungkuk (seikerei). Ia bahkan berani mengibarkan bendera Merah Putih di istananya sebelum proklamasi kemerdekaan resmi dikumandangkan.
* Memimpin Perlawanan Terhadap NICA: Pasca kemerdekaan, ia aktif memimpin rakyat Mandar melawan kembalinya kekuasaan Belanda (NICA). Ia menjadi pelindung bagi para pejuang serta menyediakan dukungan logistik dan tempat persembunyian bagi mereka.
* Kelasykaran Kris Muda Mandar: Andi Depu berperan penting dalam pembentukan dan kepemimpinan organisasi kelasykaran di Mandar untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
* Keteguhan Prinsip: Karena kegigihannya, ia sempat ditangkap dan disiksa oleh penjajah, namun semangatnya tidak pernah padam hingga akhir hayatnya.
Berikut Risalah dan Infografis Ringkas tentang Pahlawan Nasional Hajjah Andi Depu (Ibu Agung Maradia Balanipa).
๐ RISALAH PAHLAWAN NASIONAL
Hajjah Andi Depu
Ibu Agung Maradia Balanipa (1907–1985)
๐ท Identitas
- Lahir: Tinambung, Polewali Mandar, 1907
- Wafat: 18 Juni 1985
- Dimakamkan: Taman Makam Pahlawan Panaikang
- Jabatan: Raja (Arayang) Balanipa ke-52
- Gelar Kehormatan: Ibu Agung
- Pahlawan Nasional: Ditetapkan 6 November 2018 oleh Joko Widodo
- Daerah Asal: Polewali Mandar, Sulawesi Barat
๐ Sosok Pemimpin Perempuan Mandar
Hajjah Andi Depu dikenal sebagai pemimpin perempuan kharismatik dari Tanah Mandar. Sebagai Arayang (Raja) Balanipa ke-52, ia bukan hanya simbol adat, tetapi juga pemimpin perlawanan rakyat terhadap penjajahan.
Ia menjadi Pahlawan Nasional pertama dari Sulawesi Barat, sekaligus figur perempuan yang menunjukkan bahwa kepemimpinan tidak mengenal batas gender.
๐ฅ Jejak Perjuangan
๐ฏ๐ต 1. Melawan Penjajahan Jepang
- Menolak tunduk kepada tentara Jepang
- Menolak melakukan seikerei (penghormatan membungkuk kepada Kaisar Jepang)
- Berani mengibarkan Merah Putih di istananya sebelum proklamasi resmi
Keberaniannya membuat Jepang murka, namun ia tetap teguh pada prinsip nasionalisme dan iman.
๐ณ๐ฑ 2. Melawan Kembalinya Belanda (NICA)
- Memimpin rakyat Mandar melawan pasukan NICA
- Menjadi pelindung dan penyedia logistik bagi pejuang
- Menyediakan tempat persembunyian bagi laskar kemerdekaan
Ia menjadikan wilayah Balanipa sebagai basis perjuangan mempertahankan NKRI.
⚔ 3. Kelasykaran Kris Muda Mandar
- Berperan dalam pembentukan organisasi kelasykaran Mandar
- Menggerakkan pemuda dan rakyat untuk mempertahankan kemerdekaan
- Menanamkan semangat jihad dan nasionalisme
⛓ 4. Keteguhan Prinsip
Karena perlawanannya, ia:
- Ditangkap penjajah
- Mengalami penyiksaan
- Tetap teguh dan tidak pernah menyerah
Semangatnya tidak padam hingga akhir hayatnya.
๐ฟ Nilai Perjuangan
✔ Nasionalisme tinggi
✔ Religius dan berprinsip kuat
✔ Kepemimpinan perempuan inspiratif
✔ Berani melawan kekuasaan kolonial
๐ Warisan dan Pengakuan
Hj. Andi Depu dikenang sebagai:
- Ibu perjuangan rakyat Mandar
- Simbol keberanian perempuan Nusantara
- Pemimpin adat yang membela Republik
Penetapannya sebagai Pahlawan Nasional tahun 2018 menegaskan perannya dalam sejarah perjuangan Indonesia.
๐ INFOGRAFIS RINGKAS (Format Poster)
HAJJAH ANDI DEPU
๐ Raja Balanipa ke-52
๐ฅ Pejuang Anti Penjajahan
๐ฎ๐ฉ Pahlawan Nasional (2018)
๐ Lahir: Tinambung, 1907
⚰ Wafat: 18 Juni 1985
๐ชฆ Dimakamkan: TMP Panaikang, Makassar
Peran Penting:
- Menolak tunduk pada Jepang
- Mengibarkan Merah Putih sebelum Proklamasi
- Memimpin perlawanan terhadap NICA
- Pelindung pejuang Mandar
- Penggerak Kris Muda Mandar
Julukan:
✨ Ibu Agung dari Tanah Mandar
Jika Anda ingin, saya bisa buatkan juga:
- ✅ Versi poster hitam putih klasik (tempo dulu)
- ✅ Versi infografis modern berwarna
- ✅ Versi siap cetak A4/A3
- ✅ Timeline visual perjalanan hidup beliau
182 JKW
Buatlah Risalah dan Infografis tentang Pahlawan :
Prof. M. Sardjito
Nama: Prof. dr. M. Sardjito, M.D., M.P.H.
Lahir di Purwodadi, Magetan, Jawa Timur, 13 Agustus 1889.
Meninggal di Yogyakarta 5 Mei 1970.
Sardjito mulai belajar mengaji Al-Quran dan belajar agama ketika berusia 6 tahun. Selain itu, ia juga sering mengikuti pendidikan umum Sekolah Rakyat di Purwodadi. Akan tetapi, karena pindah ke Kota Lumajang, Sardjito menamatkan sekolahnya di Sekolah Rakyat di Lumajang pada tahun 1901.
Sardjito kemudian melanjutkan sekolah menengahnya di Sekolah Belanda yang berlokasi di Lumajang hingga tahun 1907. Kemudian ia melanjutkan pendidikannya di Jakarta dengan memilih sekolah Stovia yang mempelajari pendidikan dokter. Sardjito lulus dengan mendapat juara pertama pada tahun 1915.
Berkuliah Kedokteran
Sekitar tahun 1915, Sardjito aktif mengurus 'Perkoempoelan Dokter Indonesia' dan menjadi anggota kehormatan. Ia juga menjadi dokter pada Rumah Sakit Djakarta dan Instituut Pasteur Djakarta.
Menginjak tahun 1920, Sardjito melanjutkan studi ke Belanda, tepatnya di Universitas Amsterdam dengan memilih Fakultas Kedokteran. Setelah selesai di tahun 1924, ia melanjutkan mempelajari penyakit-penyakit tropis di Leiden, Belanda. Di sana ia meraih gelar doktor dalam ilmu kedokteran.
Sardjito melanjutkan juga mempelajari ilmu-ilmu tentang hygiene di Baltimore, Amerika Serikat. Ia menjadi sosok sarjana Indonesia yang pertama kali belajar di Amerika Serikat
Bekerja dan Berpolitik
Setelah pulang dari Amerika, Sardjito menempati pos di Laboratorium Pusat Jakarta dan menjadi Asisten Kepala Sekolah Tinggi Kedokteran di Jakarta. Sardjito juga aktif dalam pergerakan politik melalui organisasi Boedi Oetomo dengan menjabat sebagai Ketua Cabang Jakarta dan anggota pengurus pusat. Bakatnya yang terlihat dalam bidang politik dan kesehatan membuatnya diangkat menjadi anggota Dewan Haminte Jakarta dan Wakil Wethouder.
Mulai tahun 1930-1944, Sardjito bekerja pada bidang laboratorium. Ia pernah selama setahun menjadi Kepala Laboratorium Makassar, kemudian bekerja di Laboratorium Reich-Gesundheitsamt di Berlin, jerman, dan menjadi Kepala Laboratorium Semarang sampai tahun 1944.
Di samping bekerja sebagai dokter dan meneliti di laboratorium, Sardjito terlibat aktif memimpin redaksi majalah Medische Berichten yang berisi berita kedokteran. Ia juga aktif dalam organisasi sosial Mardi Waloeja sebagai ketua dan dalam organisasi Izi Hokokai sebagai anggota pusat.
Sardjito berhasil mewujudkan tekadnya untuk mencerdaskan bangsa dengan terlibat mendirikan perguruan tinggi. Sardjito turut memberikan bantuan untuk mendirikan Universitas Hasanuddin, Universitas Airlangga, Universitas Andalas, Universitas Brawijaya, Universitas Sudirman, dan sebagainya.
Sardjito juga berperan besar dalam perkembangan Universitas Islam Indonesia (UII) dengan menjabat sebagai Rektor UII pada tahun 1964 di usianya yang sudah 75 tahun. Sardjito berhasil membuat beberapa fakultas di UII untuk dipersamakan nilai kesarjanaannya dengan universitas negeri.
Pendidikan: Lulusan terbaik STOVIA (1915) dan doktor dari Universitas Amsterdam (1924)
Jabatan Penting: Rektor pertama Universitas Gadjah Mada (UGM), Rektor ketiga Universitas Islam Indonesia (UII).
Membantu Dalam Perang
Pada tahun 1945, Sardjito menjadi bagian dari Palang Merah Indonesia dan memegang jabatan sebagai Ketua PMI Bandung. Korban-korban yang berjatuhan ketika perang dibantu dan ditolong olehnya.
Ketika penyerbuan Belanda ke Indonesia terjadi pada tahun 1948-1949, Sardjito berada di pedesaan Klaten untuk menyusun strategi dan taktik agar berhasil mendapat obat-obatan, uang, dan bahan untuk kepentingan memelihara kesehatan rakyat dan para gerilyawan. Ia juga membantu menolong korban-korban penjajahan yang ada di Wonosari dan Piyungan.
Prof. Dr. M. Sardjito (1889–1970) adalah pahlawan nasional, dokter, dan akademisi perintis pendidikan kedokteran Indonesia. Sebagai rektor pertama UGM (1949–1961), ia berjuang melawan penjajah melalui jalur kesehatan, memimpin Institute Pasteur di masa revolusi, menciptakan vaksin, serta membuat "Biskuit Sardjito" untuk tentara pelajar, menjadikannya pejuang ilmuwan sejati.
Perjuangan dan Dedikasi
* Pejuang Kesehatan & Vaksin: Pada masa revolusi, Sardjito memindahkan Institute Pasteur dari Bandung ke Klaten untuk menyelamatkan aset kesehatan. Ia memproduksi vaksin tifus, kolera, dan disentri, serta merintis Palang Merah Indonesia.
* Inovator "Biskuit Sardjito": Menciptakan ransum biskuit berkalori tinggi untuk tentara mahasiswa/pelajar yang bertempur melawan Belanda.
* Pelopor Pendidikan: Mendirikan UGM pada tahun 1949 dan menjadi Presiden Universiteit (Rektor) pertama (1949–1961). Ia juga berperan dalam pendirian berbagai universitas, termasuk UII, Unair, Unhas, Unand, dan Unibraw.
* Penemu Obat: Menemukan obat batu ginjal (kapsul Calcusol) dari daun Strobilantus sp.
RISALAH PAHLAWAN NASIONAL
M. Sardjito
(Prof. dr. M. Sardjito, M.D., M.P.H.)
I. Identitas Singkat
- Nama Lengkap: Prof. dr. M. Sardjito, M.D., M.P.H.
- Lahir: Purwodadi, Magetan, Jawa Timur, 13 Agustus 1889
- Wafat: Yogyakarta, 5 Mei 1970
- Profesi: Dokter, Ilmuwan, Akademisi, Pejuang Kesehatan
- Gelar: Pahlawan Nasional Indonesia
II. Pendidikan dan Awal Kehidupan
Sejak usia 6 tahun, Sardjito telah belajar mengaji dan pendidikan agama. Pendidikan formalnya dimulai di Sekolah Rakyat Purwodadi dan dilanjutkan di Lumajang.
๐ STOVIA (School tot Opleiding van Inlandsche Artsen) – Jakarta
Lulus sebagai juara pertama tahun 1915.
๐ Universitas Amsterdam
Meraih gelar doktor kedokteran tahun 1924.
๐ Studi penyakit tropis di Leiden dan ilmu hygiene di Baltimore, Amerika Serikat — menjadikannya sarjana Indonesia pertama yang belajar di AS.
III. Karier Kedokteran & Penelitian
- Dokter Rumah Sakit Jakarta
- Aktif di Institut Pasteur
- Kepala berbagai laboratorium (Makassar, Semarang, Berlin)
- Pemimpin redaksi majalah Medische Berichten
๐งช Penemu Obat Batu Ginjal (Calcusol)
Dari tanaman Strobilanthus sp., menunjukkan kepedulian pada pengobatan berbasis ilmiah dan lokal.
IV. Pejuang Kesehatan di Masa Revolusi
Tahun 1945, Sardjito aktif dalam Palang Merah Indonesia.
Saat Agresi Militer Belanda (1948–1949):
- Memindahkan Institut Pasteur ke Klaten demi keselamatan aset kesehatan
- Memproduksi vaksin tifus, kolera, dan disentri
- Menyusun strategi penyediaan obat bagi rakyat dan gerilyawan
๐ช Inovasi “Biskuit Sardjito”
Ransum berkalori tinggi untuk tentara pelajar dan mahasiswa.
Ia membuktikan bahwa perjuangan tidak selalu dengan senjata, tetapi juga melalui ilmu dan kesehatan.
V. Pelopor Pendidikan Tinggi Indonesia
๐ Rektor Pertama Universitas Gadjah Mada (1949–1961)
Memimpin universitas perjuangan yang lahir di masa revolusi.
๐ Rektor Ketiga Universitas Islam Indonesia (1964)
Turut membantu pendirian:
- Universitas Airlangga
- Universitas Hasanuddin
- Universitas Andalas
- Universitas Brawijaya
dan berbagai perguruan tinggi lainnya.
Ia percaya bahwa kemerdekaan harus dijaga dengan kecerdasan bangsa.
VI. Warisan Kepahlawanan
✔ Pejuang kesehatan dan vaksin nasional
✔ Perintis pendidikan kedokteran modern Indonesia
✔ Ilmuwan yang mengabdi di masa perang
✔ Rektor universitas perjuangan
✔ Teladan integritas, ilmu, dan pengabdian
Prof. Dr. M. Sardjito dikenang sebagai pejuang ilmuwan sejati — mengangkat martabat bangsa melalui kesehatan dan pendidikan.
KONSEP INFOGRAFIS POSTER
(Hitam Putih Klasik – Gaya Edukatif Historis)
Tata Letak Poster:
๐ผ Bagian Atas
Judul Besar:
RISALAH PAHLAWAN NASIONAL
PROF. DR. M. SARDJITO
๐ง⚕️ Ilustrasi potret klasik hitam-putih (gaya arsip 1940-an)
Kolom Kiri:
๐ Riwayat Hidup & Pendidikan
๐ STOVIA – 1915
๐ Universitas Amsterdam – 1924
Kolom Tengah:
๐งช Perjuangan Kesehatan
- Produksi vaksin
- Institut Pasteur Klaten
- Biskuit Sardjito
Kolom Kanan:
๐ Pelopor Pendidikan
- Rektor Pertama UGM
- Rektor UII
- Pendiri berbagai universitas
Bagian Bawah:
✨ Kutipan Inspiratif:
"Kemerdekaan harus dijaga dengan ilmu pengetahuan dan kesehatan rakyat."
Jika Bapak Rudy ingin langsung dibuatkan:
๐ Poster Hitam Putih Klasik
๐ Poster Krem Vintage
๐ Infografis Modern Edukasi
Silakan ketik: “Gambar sekarang” ๐จ
Batal dan belum
23 Suk
Buatlah Risalah dan Infografis tentang Pahlawan :
R.A Kartini
Nama Lengkap: Raden Ajeng Kartini Djojo Adhiningrat
Lahir di Jepara, Jawa Tengah, 21 April 1879
Meninggal di Rembang, Jawa Tengah, 17 September 1904 (Usia 25 tahun)
Orang Tua: RM Adipati Ario Sosroningrat (Ayah) dan MA Ngasirah (Ibu)
Suami: KRM Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat (Bupati Rembang)
Pendidikan: Europeesche Lagere School (ELS) hingga usia 12 tahun.
Raden Ajeng Kartini (lahir di Jepara, 21 April 1879) adalah pahlawan nasional Indonesia pelopor emansipasi perempuan. Putri Bupati Jepara RM Ario Sosroningrat ini berjuang lewat surat-surat mengenai pendidikan dan kesetaraan hak perempuan Jawa, meski dipingit. Ia wafat di usia 25 tahun (1904) setelah mendirikan sekolah wanita, suratnya dibukukan sebagai Habis Gelap Terbitlah Terang.
Perjuangan dan Pemikiran
* Emansipasi dan Pendidikan: Kartini menentang adat kolot yang mengekang perempuan, terutama pingitan dan larangan bersekolah. Ia memperjuangkan agar perempuan mendapatkan pendidikan agar setara dengan laki-laki.
* Korespondensi (Surat-menyurat): Selama dipingit, ia aktif menulis surat kepada teman-temannya di Belanda (seperti Rosa Abendanon) yang berisi pemikiran progresif mengenai ketidakadilan sosial, feodalisme, dan poligami.
* Mendirikan Sekolah: Setelah menikah, ia mendirikan sekolah untuk perempuan pribumi di kompleks kantor kabupaten Rembang.
* Karya Sastra: Surat-suratnya dikumpulkan oleh J.H. Abendanon dan diterbitkan pada 1911 dengan judul Door Duisternis tot Licht, yang kemudian diterjemahkan menjadi Habis Gelap Terbitlah Terang.
Sekolah yang Didirikan oleh R.A. Kartini
Kartini mendirikan sekolah untuk anak perempuan di Jepara dan kemudian Rembang. Sekolah ini dikenal dengan nama Sekolah Kartini (Kartini School), yang dikelola oleh Yayasan Kartini (Kartini Vereniging) dan didirikan pertama kali pada tahun 1913 di Semarang.
Belajar pada Kiai Sholeh Darat
R.A. Kartini pernah belajar agama kepada Kiai Sholeh Darat (KH. Sholeh Darat) dari Semarang.
* Konteks: Kartini merasa gelisah dan mencari makna Islam, hingga akhirnya meminta Kiai Sholeh Darat menerjemahkan Al-Qur'an ke dalam bahasa Jawa.
* Dari pertemuan tersebut, terinspirasi oleh ajaran Kiai Sholeh Darat mengenai makna ayat Al-Fatihah, Kartini semakin terdorong untuk memperjuangkan hak-hak perempuan, yang sebelumnya ia kira Islam membatasi perempuan.
Kartini Berapa Bersaudara?
R.A. Kartini adalah anak ke-5 dari 11 bersaudara, baik kandung maupun tiri. Ia adalah anak perempuan tertua dari 11 bersaudara tersebut. Kartini memiliki saudara kandung yang juga aktif berjuang, yaitu Kardinah dan Roekmini.
Hubungan dengan RM Sosrokartono
RM Sosrokartono adalah kakak kandung RA Kartini.
Nama lengkapnya Drs. Raden Mas Panji Sosrokartono.
Ia adalah tokoh terpelajar, poliglot (menguasai banyak bahasa), dan wartawan perang.
Sosrokartono sangat mendukung perjuangan Kartini dan menjadi sosok yang memberi inspirasi serta wawasan luas kepada Kartini.
Nama Anak RA Kartini
Kartini menikah dengan Bupati Rembang, K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat.
Beliau dikaruniai satu orang anak laki-laki bernama Soesalit Djojoadhiningrat.
RISALAH PAHLAWAN NASIONAL
Raden Ajeng Kartini
Nama Lengkap: Raden Ajeng Kartini Djojo Adhiningrat
Lahir: Jepara, Jawa Tengah – 21 April 1879
Wafat: Rembang, Jawa Tengah – 17 September 1904 (usia 25 tahun)
Orang Tua:
- Ayah: R.M. Adipati Ario Sosroningrat
- Ibu: M.A. Ngasirah
Suami: K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat
Anak: Soesalit Djojoadhiningrat
I. LATAR BELAKANG & PENDIDIKAN
R.A. Kartini adalah putri bangsawan Jawa dan anak ke-5 dari 11 bersaudara. Ia merupakan anak perempuan tertua.
Saudara kandungnya yang turut aktif dalam perjuangan pendidikan perempuan:
- Kardinah
- Roekmini
Kakak kandungnya adalah:
R.M. Sosrokartono
Tokoh terpelajar, poliglot, dan wartawan perang yang sangat memengaruhi wawasan Kartini.
Pendidikan:
๐ Europeesche Lagere School (ELS) hingga usia 12 tahun.
Setelah itu, ia dipingit sesuai adat Jawa, namun tetap belajar secara mandiri melalui membaca dan surat-menyurat.
II. PERJUANGAN & PEMIKIRAN
1️⃣ Emansipasi & Pendidikan Perempuan
Kartini menentang adat pingitan dan keterbatasan akses pendidikan bagi perempuan.
Ia berkeyakinan:
Perempuan harus memperoleh pendidikan agar setara dan mampu memajukan bangsa.
2️⃣ Korespondensi dengan Sahabat Belanda
Selama dipingit, Kartini aktif menulis surat kepada sahabat-sahabatnya di Belanda, termasuk:
- Rosa Abendanon
Surat-suratnya membahas:
✔ Ketidakadilan sosial
✔ Feodalisme
✔ Poligami
✔ Pendidikan perempuan
✔ Makna kebebasan
3️⃣ Karya Sastra
Surat-surat Kartini dihimpun oleh:
- J.H. Abendanon
Diterbitkan tahun 1911 dengan judul:
๐ Door Duisternis tot Licht
Yang kemudian dikenal di Indonesia sebagai:
๐ Habis Gelap Terbitlah Terang
Buku ini menjadi simbol kebangkitan perempuan Indonesia.
4️⃣ Mendirikan Sekolah Perempuan
Setelah menikah, Kartini mendirikan sekolah perempuan pribumi di kompleks Kabupaten Rembang.
Kemudian berdiri:
๐ซ Sekolah Kartini (Kartini School)
Didirikan tahun 1913 di Semarang oleh Yayasan Kartini (Kartini Vereniging).
Sekolah ini menjadi tonggak pendidikan perempuan Indonesia.
III. BELAJAR AGAMA & INSPIRASI SPIRITUAL
Kartini pernah belajar agama kepada:
K.H. Sholeh Darat
Beliau meminta agar Al-Qur’an diterjemahkan ke dalam bahasa Jawa agar dapat dipahami masyarakat.
Dari penafsiran Surah Al-Fatihah oleh Kiai Sholeh Darat, Kartini memahami bahwa Islam menjunjung tinggi keadilan dan kemuliaan perempuan.
Pemahaman ini semakin menguatkan semangat perjuangannya.
IV. KEHIDUPAN KELUARGA
Kartini menikah dengan Bupati Rembang dan dikaruniai satu orang anak:
๐ถ Soesalit Djojoadhiningrat
Namun, tak lama setelah melahirkan, Kartini wafat pada usia 25 tahun.
INFOGRAFIS RINGKAS
Nama: R.A. Kartini
Lahir: 21 April 1879 – Jepara
Wafat: 17 September 1904 – Rembang
Julukan: Pelopor Emansipasi Perempuan Indonesia
Kontribusi Utama:
✔ Pelopor pendidikan perempuan
✔ Penulis surat-surat emansipasi
✔ Pendirian Sekolah Kartini
✔ Inspirator gerakan perempuan nasional
NILAI KEPAHLAWANAN
• Emansipasi & kesetaraan
• Pendidikan sebagai kunci kemajuan
• Keberanian melawan adat kolot
• Pemikiran progresif di usia muda
• Inspirasi lintas generasi
R.A. Kartini dikenang sebagai Pelopor Kebangkitan Perempuan Indonesia, yang melalui pena dan pemikirannya menyalakan cahaya emansipasi bagi bangsa.
Semangatnya terus hidup setiap 21 April, diperingati sebagai Hari Kartini. ๐ธ
25 Suk
Buatlah Risalah dan Infografis tentang Pahlawan :
Kiai Haji Fakhrudin
Nama Kecil: Muhammad Jazuli.
Lahir di Yogyakarta, 1890.
Meninggal di Yogyakarta, 28 Februari 1929 (usia 39 tahun). Dimakamkan di Pakuncen.
Orang Tua: H. Hasyim (Lurah Keraton Yogyakarta).
Pendidikan: Pesantren Wonokromo, Bantul, dan Imogiri.
Karakter: Tegas, mandiri, tidak menyukai feodalisme.
KH Fakhrudin (Muhammad Jazuli, 1890–1929) adalah tokoh Muhammadiyah, jurnalis, dan pejuang pergerakan kemerdekaan dari Yogyakarta. Sebagai "Begawan Jurnalistik Muhammadiyah," ia aktif di Suara Muhammadiyah dan merintis Badan Penolong Haji, serta diutus ke Kairo sebagai wakil umat Islam Indonesia.
Perjuangan dan Peran:
* Tokoh Muhammadiyah & Jurnalis: Tulang punggung redaksi Suara Muhammadiyah, menggunakan tulisan untuk menyuarakan kebenaran, keadilan, dan pendidikan.
* Pelopor Badan Penolong Haji: Diutus ke Mekah (1921) selama 8 tahun untuk menyelidiki nasib jemaah haji Indonesia yang mendapat perlakuan buruk, kemudian membentuk badan tersebut untuk melindungi mereka.
* Tokoh Pergerakan Nasional: Aktif dalam Centraal Sarekat Islam (CSI) sebagai pengurus.
* Diplomat Islam: Diutus ke Kairo sebagai wakil umat Islam Indonesia dalam Konferensi Islam.
Hubungan dengan KH Ahmad Dahlan
KH Fakhruddin memiliki hubungan yang sangat erat dengan KH Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah:
* Santri/Kader Kiri KH Ahmad Dahlan: Haji Fachruddin adalah salah satu santri atau murid terdekat KH Ahmad Dahlan di Kauman.
* Satu Kampung (Kauman): Keduanya tumbuh di lingkungan Kauman, Yogyakarta, yang merupakan pusat dakwah Islam yang kuat.
* Utusan Kepercayaan: Karena kecerdasannya dan dedikasinya, KH Ahmad Dahlan mengutus Haji Fachruddin untuk urusan penting, yaitu meneliti nasib jemaah haji ke Arab Saudi pada tahun 1921.
* Penerus Gagasan: KH Fakhruddin dianggap sebagai salah satu penerus pemikiran pembaruan KH Ahmad Dahlan dalam bidang organisasi dan sosial-keagamaan.
Catatan Penting: Perlu dibedakan bahwa KH Fakhruddin (Muhammad Jazuli) yang hidup sezaman dengan KH Ahmad Dahlan berbeda dengan KH A.R. Fachruddin (Pak AR) yang menjadi Ketua Umum PP Muhammadiyah terlama (1968-1990).
Berikut Risalah dan Infografis Ringkas tentang Pahlawan Pergerakan Islam dan Nasional:
๐ RISALAH TOKOH PERGERAKAN
Kiai Haji Fakhrudin
(Muhammad Jazuli, 1890–1929)
๐ท Identitas Singkat
- Nama Kecil: Muhammad Jazuli
- Lahir: Yogyakarta, 1890
- Wafat: Yogyakarta, 28 Februari 1929 (usia 39 tahun)
- Dimakamkan: Pakuncen, Yogyakarta
- Orang Tua: H. Hasyim (Lurah Keraton Yogyakarta)
- Pendidikan: Pesantren Wonokromo (Bantul) & Imogiri
- Karakter: Tegas, mandiri, anti-feodalisme
๐ฟ Sosok dan Kepribadian
KH Fakhrudin dikenal sebagai ulama muda yang progresif. Ia tidak menyukai feodalisme dan sangat menjunjung tinggi nilai kesetaraan, pendidikan, dan pembaruan Islam.
Karena kiprahnya di dunia tulis-menulis dan dakwah modern, ia dijuluki:
✨ “Begawan Jurnalistik Muhammadiyah”
๐ Tokoh Muhammadiyah & Jurnalis
KH Fakhrudin adalah kader utama dan murid dekat Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah.
Perannya meliputi:
- Tulang punggung redaksi Suara Muhammadiyah
- Menggunakan pers sebagai alat dakwah dan perjuangan
- Menyuarakan pendidikan, keadilan sosial, dan pembaruan Islam
Ia membuktikan bahwa pena adalah alat perjuangan.
๐ Pelopor Badan Penolong Haji
Pada tahun 1921, atas kepercayaan KH Ahmad Dahlan, ia diutus ke Mekah selama ±8 tahun untuk:
- Menyelidiki nasib jemaah haji Indonesia
- Mengatasi perlakuan tidak adil terhadap jemaah
- Merintis pembentukan Badan Penolong Haji
Langkah ini menjadi fondasi perlindungan jamaah haji Indonesia di kemudian hari.
๐ Diplomat Islam & Tokoh Pergerakan
- Aktif sebagai pengurus Sarekat Islam (Centraal Sarekat Islam/CSI)
- Diutus ke Kairo sebagai wakil umat Islam Indonesia dalam Konferensi Islam
- Menjadi representasi suara Islam Indonesia di dunia internasional
๐ค Hubungan dengan KH Ahmad Dahlan
Hubungan keduanya sangat erat:
✔ Santri dan kader inti di Kauman
✔ Satu lingkungan dakwah (Kauman, Yogyakarta)
✔ Utusan kepercayaan untuk misi internasional
✔ Penerus gagasan pembaruan Muhammadiyah
⚠ Catatan Penting:
KH Fakhrudin (Muhammad Jazuli, 1890–1929) berbeda dengan A. R. Fachruddin (Pak AR), Ketua Umum PP Muhammadiyah periode 1968–1990.
๐ Wafat dan Warisan
KH Fakhrudin wafat dalam usia muda (39 tahun), namun meninggalkan warisan besar dalam:
- Dunia jurnalistik Islam
- Pembaruan organisasi Muhammadiyah
- Perlindungan jamaah haji
- Pergerakan nasional Islam modern
๐ INFOGRAFIS RINGKAS (Format Poster)
K.H. FAKHRUDIN
(Muhammad Jazuli, 1890–1929)
๐ Tokoh Muhammadiyah
๐ฐ Begawan Jurnalistik
๐ Pelopor Badan Penolong Haji
๐ Diplomat Islam
๐ Lahir: Yogyakarta, 1890
⚰ Wafat: 28 Februari 1929
๐ชฆ Dimakamkan: Pakuncen
Peran Penting:
- Redaktur Suara Muhammadiyah
- Utusan Mekah (1921–1929)
- Pengurus CSI
- Wakil Islam Indonesia di Kairo
Nilai Perjuangan:
✔ Tegas & mandiri
✔ Anti-feodalisme
✔ Dakwah melalui tulisan
✔ Modernis & pembaru
Jika Anda ingin, saya bisa buatkan juga:
- ✅ Poster hitam putih klasik tempo dulu
- ✅ Infografis modern berwarna
- ✅ Timeline perjalanan hidup
- ✅ Versi siap cetak A4/A3
26 Suk
Buatlah Risalah dan Infografis tentang Pahlawan :
Kiai Haji Mas Mansur
Nama Lengkap: KH. Mas Mansur (dieja juga Mas Mansoer/Mansyur).
Lahir di Surabaya, Jawa Timur, 25 Juni 1896
Meninggal di Surabaya, 25 April 1946 (Penjara Kalisosok, Surabaya).
Orang Tua: KH. Mas Ahmad Marzuqi (Imam Masjid Sunan Ampel) dan Raudhah (keluarga Pesantren Sidoresmo).
Pendidikan: Pesantren Demangan (Bangkalan), Mekkah, dan Universitas Al-Azhar (Kairo, Mesir).
Kiai Haji Mas Mansur (lahir di Surabaya, 25 Juni 1896 – wafat di Kalisosok, 25 April 1946) adalah Pahlawan Nasional Indonesia, ulama moderat, dan Ketua Besar Muhammadiyah (1937–1943) yang aktif melawan penjajah. Sebagai bagian dari "Empat Serangkai", ia berjuang melalui jalur pendidikan, organisasi Islam, hingga BPUPKI.
Perjuangan dan Kiprah
* Tokoh Muhammadiyah & Pendidikan: Sepulang dari Mesir (1915), ia bergabung dengan Muhammadiyah dan menjadi Ketua Pengurus Besar Muhammadiyah periode 1937-1943. Ia dikenal sebagai "sapu kawat Jawa Timur" karena ketegasannya merapikan organisasi dan menggagas Majelis Tarjih.
* Empat Serangkai & Politik: Bersama Soekarno, Hatta, dan Ki Hajar Dewantara, ia tergabung dalam Empat Serangkai, memimpin organisasi Putera (Pusat Tenaga Rakyat) untuk perjuangan kemerdekaan.
* Persatuan Umat: Aktif mendirikan Majelis Islam A'la Indonesia (MIAI) untuk menyatukan organisasi Islam dan aktif di BPUPKI.
* Penjara & Akhir Hayat: Karena sikapnya yang teguh melawan penjajah, ia ditangkap Belanda (NICA) dan wafat di penjara Kalisosok, Surabaya, pada 25 April 1946, kemudian dimakamkan di dekat Masjid Ampel.
Keaktifan di Muhammadiyah
Ya, KH Mas Mansur sangat aktif di Muhammadiyah. Bahkan, puncak karier organisasinya adalah menjabat sebagai Ketua Pengurus Besar Muhammadiyah periode 1937-1942/1943. Ia dikenal sebagai tokoh modernis yang menggerakkan pemikiran Islam maju dan memprakarsai Langkah Muhammadiyah 1938-1949.
Alasan Ikut Organisasi PUTERA (Masa Jepang)
KH Mas Mansur tergabung dalam empat serangkai dan memimpin PUTERA (Pusat Tenaga Rakyat) yang dibentuk Jepang pada 16 April 1943. Alasan keterlibatannya:
* Desakan Tokoh Nasional: Awalnya enggan, namun menerima ajakan Ir. Soekarno untuk memimpin PUTERA guna memanfaatkan organisasi tersebut demi perjuangan kemerdekaan.
* Strategi Perjuangan: Sebagai perwakilan kelompok Islam (bersama Soekarno, Hatta, Ki Hajar Dewantara), ia menggunakan PUTERA untuk menggerakkan potensi rakyat, bukan untuk membantu Jepang, melainkan menyemai benih kemerdekaan.
* Representasi Umat: Mewakili kepentingan umat Islam dalam kancah pergerakan nasional di bawah pengawasan militer Jepang.
* Catatan: Karena kekejaman Jepang, KH Mas Mansur akhirnya mundur dari empat serangkai dan kembali ke Surabaya, posisinya digantikan oleh Ki Bagoes Hadikoesoemo.
Mengapa Dipenjara Belanda di Kalisosok?
Beliau dipenjara oleh Belanda (NICA) di Penjara Kalisosok, Surabaya, karena perjuangan gigihnya mempertahankan kemerdekaan pasca-1945.
* Aktivitas Pasca-Proklamasi: Setelah proklamasi, beliau aktif mengobarkan semangat "Arek Suroboyo" untuk melawan kembalinya penjajah Belanda (NICA) yang membonceng Sekutu.
* Tokoh Perlawanan: Karena kharismanya yang tinggi dan posisi sebagai penasihat para pejuang, Belanda menganggapnya ancaman serius. Beliau ditangkap, ditahan di Kalisosok, dan wafat di sana akibat sakit yang tidak diobati dengan layak oleh Belanda.
Mengapa Dimakamkan di Dekat Ampel?
* Mas Mansur dimakamkan di Makam Gipo (Gipo Pandean), yang berdekatan dengan area Masjid Ampel, Surabaya.
* Alasannya karena beliau merupakan keturunan bangsawan Surabaya dan tokoh yang sangat dihormati di kawasan Ampel, serta makam keluarga berada di sana.
Pendidikan
K.H. Mas Mansur mendapat pendidikan langsung dari ayahnya K.H. Mas Achmad Marzuqi di Pesantren Sawahan. Selain belajar agama langsung dari ayahnya, ia juga pernah belajar kitab kuning di Pesantren Sidoresmo, yaitu Pondok Pesantren Salafiyah An-Najiyah, yang diasuh oleh K.H. Mas Muhammad Thoha.
Pada 1908, saat K.H. Mas Mansur berusia 12 tahun, ia melanjutkan pendidikannya ke Mekah bersama K.H. Wahab Hasbullah, yang nantinya akan menjadi tokoh NU di kemudian hari.
Pada 1910, Mekah mengalami pergolakan politik yang cukup besar. Akhirnya K.H. Mas Mansur memutuskan untuk melanjutkan pendidikannya ke Mesir, yaitu di Universitas Al-Azhar, Kairo. Tepatnya di Fakultas Al-Din yang mempelajari ilmu-ilmu Ubudiyah dan Siyasatul Islamiyah.
Selama di Mesir pula, K.H. Mas Mansur pernah bertemu dan berdiskusi bersama dengan Rasyid Ridha, tokoh pembaharu asal Mesir, yang merupakan murid Muhammad Abduh.
Di tahun 1914, bulan Agustus Perang Dunia I meletus. Pecahnya perang dunia tersebut mengakibatkan suasana Mesir menjadi tidak kondusif dan karenanya K.H. Mas Mansur memutuskan untuk pulang ke Surabaya pada tahun 1915.
RISALAH PAHLAWAN NASIONAL
Mas Mansur
(KH. Mas Mansur / Mas Mansoer / Mansyur)
I. Identitas Singkat
- Nama Lengkap: KH. Mas Mansur
- Lahir: Surabaya, 25 Juni 1896
- Wafat: Penjara Kalisosok, Surabaya, 25 April 1946
- Orang Tua:
- KH. Mas Ahmad Marzuqi (Imam Masjid Sunan Ampel)
- Raudhah (keluarga Pesantren Sidoresmo)
- Gelar: Pahlawan Nasional Indonesia
- Profesi: Ulama, Pemimpin Organisasi, Tokoh Pergerakan Nasional
II. Pendidikan dan Pembentukan Pemikiran
Sejak kecil belajar agama langsung dari ayahnya di Surabaya dan Pesantren Sidoresmo.
๐ Pesantren Demangan (Bangkalan)
๐ Belajar di Mekkah (1908) bersama Wahab Hasbullah
๐ Universitas Al-Azhar, Kairo (1910)
Di Mesir, ia berdiskusi dengan pembaharu Islam Rashid Rida, murid Muhammad Abduh.
Pemikirannya terbentuk sebagai ulama modernis, yang menggabungkan keislaman dan semangat kebangsaan.
III. Tokoh Muhammadiyah & Pembaru Organisasi
Sekembali dari Mesir (1915), ia aktif di Muhammadiyah.
๐ข Ketua Pengurus Besar Muhammadiyah (1937–1943)
๐ข Menggagas Majelis Tarjih
๐ข Dikenal sebagai “Sapu Kawat Jawa Timur” karena ketegasannya membenahi organisasi
Ia mendorong Islam berkemajuan melalui pendidikan, tajdid (pembaruan), dan disiplin organisasi.
IV. Empat Serangkai & PUTERA
Mas Mansur tergabung dalam Empat Serangkai bersama:
- Soekarno
- Mohammad Hatta
- Ki Hajar Dewantara
Mereka memimpin PUTERA (Pusat Tenaga Rakyat) pada 1943.
๐ฏ Strateginya:
Memanfaatkan organisasi bentukan Jepang untuk membangun kesadaran nasional dan menyiapkan kemerdekaan.
Namun karena kekejaman Jepang, Mas Mansur akhirnya mengundurkan diri dan kembali ke Surabaya.
V. Perjuangan Pasca Proklamasi
Setelah Proklamasi 1945, ia aktif membakar semangat Arek Suroboyo melawan kembalinya Belanda (NICA).
Karena pengaruh dan kharismanya besar, Belanda menganggapnya ancaman.
⚖ Ia ditangkap dan dipenjara di Kalisosok.
๐ Wafat pada 25 April 1946 akibat sakit yang tidak ditangani dengan layak.
⚰ Dimakamkan di kawasan Ampel, Surabaya, dekat makam keluarga.
VI. Warisan Kepahlawanan
✔ Ulama modernis dan pemersatu umat
✔ Pemimpin Muhammadiyah di masa sulit
✔ Pejuang strategi politik kemerdekaan
✔ Tokoh Islam dalam BPUPKI dan MIAI
✔ Syahid perjuangan di penjara penjajah
KH. Mas Mansur dikenang sebagai ulama yang tidak hanya berdakwah, tetapi juga berjuang demi kemerdekaan bangsa.
KONSEP INFOGRAFIS POSTER
(Hitam Putih Klasik – Gaya Sejarah Perjuangan)
๐ผ Bagian Atas:
RISALAH PAHLAWAN NASIONAL
KH. MAS MANSUR
Ilustrasi potret ulama klasik (sorban/peci, jubah sederhana)
๐ Kolom 1 – Pendidikan & Pemikiran
- Pesantren & Mekkah
- Universitas Al-Azhar
- Pengaruh Rasyid Ridha
๐ข Kolom 2 – Muhammadiyah
- Ketua Besar (1937–1943)
- Majelis Tarjih
- Gerakan Islam berkemajuan
๐ฎ๐ฉ Kolom 3 – Politik & Perjuangan
- Empat Serangkai
- PUTERA
- BPUPKI
- Ditangkap NICA
✨ Kutipan Inspiratif:
"Islam dan kemerdekaan berjalan seiring dalam perjuangan bangsa."
Jika ingin langsung dibuatkan:
๐ Poster Hitam Putih Klasik
๐ Poster Vintage Krem
๐ Infografis Modern Edukasi
Silakan ketik: “Gambar sekarang” ๐จ
29 Suk
Buatlah Risalah dan Infografis tentang Pahlawan :
Wahid Hasyim
Nama: KH. Abdul Wahid Hasyim.
Lahir di Jombang, 1 Juni 1914
Meninggal di kecelakaan mobil di Cimahi, Jawa Barat, 19 April 1953.
Orang Tua: KH. Hasyim Asy'ari (Ayah), Nyai Nafiqah (Ibu)
Istri: Sholehah binti KH. Bisri Syansuri
Anak: Salah satunya adalah KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur)
Pendidikan: Pesantren (Siwalan, Lirboyo) dan belajar mandiri (Bahasa Arab, Inggris, Belanda)
Makam: Kompleks Pesantren Tebuireng, Jombang.
KH Abdul Wahid Hasyim (lahir di Jombang, 1 Juni 1914 – wafat 19 April 1953) adalah pahlawan nasional, ulama, dan negarawan visioner putra pendiri NU, KH Hasyim Asy'ari. Sebagai anggota termuda BPUPKI/PPKI, beliau berperan krusial dalam perumusan Pancasila dan Piagam Jakarta, serta menjabat Menteri Agama RI pertama dan berdedikasi memodernisasi pendidikan pesantren.
Perjuangan dan Kiprah
* Pembaruan Pendidikan: Memasukkan pelajaran umum ke dalam kurikulum pesantren dan mendirikan taman bacaan.
* Tokoh NU & Islam: Memimpin Maarif NU, menjabat Ketua Umum PBNU (1951), dan menjadi tokoh penting di MI serta Masyumi.
* Perumusan Dasar Negara: Anggota BPUPKI dan PPKI. Tokoh kunci dalam Panitia 9 yang merumuskan Piagam Jakarta, serta mengusulkan perubahan sila pertama demi persatuan bangsa (menjadi Ketuhanan Yang Maha Esa).
* Menteri Agama RI: Menjabat selama tiga periode (Kabinet RIS, Natsir, Sukiman), memelopori kewajiban pelajaran agama di sekolah umum, dan mendirikan Perguruan Tinggi Agama Islam.
* Gelar Pahlawan: Ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional pada tahun 1964
Peran dalam Resolusi Jihad di Surabaya
KH Wahid Hasyim berperan sangat penting dan tidak terpisahkan dalam peristiwa Resolusi Jihad 22 Oktober 1945.
* Pemrakarsa dan Penggerak: Resolusi Jihad yang dikeluarkan oleh KH Hasyim Asy'ari (Ayahnya) pada 22 Oktober 1945 merupakan hasil pertemuan para kiai NU se-Jawa dan Madura. KH Wahid Hasyim sebagai salah satu tokoh muda NU pusat, turut merumuskan fatwa wajib jihad membela Tanah Air.
* Pemantik Pertempuran 10 November: Fatwa ini menjadi landasan moral bagi Laskar Hizbullah dan Sabilillah untuk bertempur di Surabaya melawan Sekutu/Belanda, yang memicu Pertempuran 10 November 1945.
* Penyambung Lidah Pesantren dan Politik: Sebagai tokoh yang aktif dalam pemerintahan awal, ia menghubungkan aspirasi ulama pesantren dengan perjuangan politik di ibu kota untuk mempertahankan kemerdekaan.
Beliau berperan dalam Panitia 9 & Dasar Negara (1945).
* Anggota BPUPKI & Panitia Sembilan: Wahid Hasyim adalah salah satu tokoh kunci dalam perumusan dasar negara.
* Piagam Jakarta (22 Juni 1945): Beliau anggota Panitia Sembilan yang merumuskan Piagam Jakarta (Jakarta Charter), yang merupakan cikal bakal Pembukaan UUD 1945.
* Moderator Islam-Nasionalis: Beliau berperan besar dalam menjembatani kelompok Islam yang menginginkan dasar negara Islam dengan kelompok Nasionalis yang menginginkan negara sekuler, sehingga mencapai kompromi yang melahirkan Pancasila.
Hubungannya dengan Gus Dur?
* Ayah dan Anak: KH. Abdul Wahid Hasyim adalah ayah kandung dari KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Presiden ke-4 Republik Indonesia.
* Gus Dur adalah putra sulung dari pasangan KH. Wahid Hasyim dan Nyai Hajjah Sholehah (putri KH. Bisri Syansuri, salah satu pendiri NU).
Kecelakaan dan Wafat (April 1953)
Pada 18 April 1953, KH Wahid Hasyim mengalami kecelakaan mobil di Cimahi saat hendak menghadiri pertemuan NU.
* Yang Wafat: KH. Wahid Hasyim. Beliau mengalami luka parah dan wafat keesokan harinya, 19 April 1953 di Rumah Sakit di Cimahi.
* Yang Hidup/Selamat: Di dalam mobil tersebut, Gus Dur (saat itu masih remaja) ikut serta namun selamat, begitu juga dengan sopir dan penumpang lain, meski mengalami luka-luka.
RISALAH PAHLAWAN NASIONAL
Abdul Wahid Hasyim
(KH. Abdul Wahid Hasyim)
I. Identitas Singkat
- Nama Lengkap: KH. Abdul Wahid Hasyim
- Lahir: Jombang, 1 Juni 1914
- Wafat: Cimahi, Jawa Barat, 19 April 1953 (kecelakaan mobil)
- Orang Tua:
- Hasyim Asy'ari
- Nyai Nafiqah
- Istri: Sholehah binti KH. Bisri Syansuri
- Anak: Abdurrahman Wahid (Gus Dur)
- Makam: Kompleks Pesantren Tebuireng, Jombang
- Gelar: Pahlawan Nasional (1964)
II. Pendidikan & Pembaruan Pesantren
Dididik di lingkungan pesantren sejak kecil (Siwalan, Lirboyo) dan belajar mandiri bahasa Arab, Inggris, serta Belanda.
๐ Pembaruan Pendidikan:
- Memasukkan pelajaran umum ke kurikulum pesantren
- Mendirikan taman bacaan
- Membuka wawasan santri terhadap dunia modern
Ia menjadi pelopor modernisasi pendidikan Islam tanpa meninggalkan tradisi pesantren.
III. Tokoh NU & Resolusi Jihad
Sebagai tokoh muda Nahdlatul Ulama, Wahid Hasyim berperan penting dalam:
๐ฅ Resolusi Jihad 22 Oktober 1945
Bersama para kiai NU, termasuk ayahnya, ia turut merumuskan fatwa wajib jihad mempertahankan kemerdekaan.
Fatwa ini menjadi landasan moral Pertempuran 10 November 1945 di Surabaya melawan Sekutu dan Belanda.
Ia menjadi penyambung lidah pesantren dan pemerintahan pusat.
IV. Perumus Dasar Negara
๐ฎ๐ฉ Anggota BPUPKI & PPKI (Termuda)
Terlibat dalam Panitia Sembilan yang merumuskan Piagam Jakarta (22 Juni 1945).
Ia berperan sebagai moderator antara kelompok Islam dan nasionalis, demi menjaga persatuan bangsa.
✨ Berkontribusi dalam perubahan sila pertama menjadi:
“Ketuhanan Yang Maha Esa”
Sikapnya menunjukkan kedewasaan politik dan jiwa pemersatu.
V. Menteri Agama Republik Indonesia
Menjabat sebagai Menteri Agama dalam beberapa kabinet (RIS, Natsir, Sukiman).
Kontribusi besar:
✔ Mewajibkan pelajaran agama di sekolah umum
✔ Mendirikan Perguruan Tinggi Agama Islam
✔ Menguatkan sistem administrasi keagamaan nasional
Ia meletakkan fondasi kuat bagi Kementerian Agama RI.
VI. Wafat & Warisan
Pada 18 April 1953, ia mengalami kecelakaan mobil di Cimahi dan wafat pada 19 April 1953.
Putranya, Gus Dur, yang saat itu masih remaja, turut berada dalam mobil dan selamat.
Warisan beliau:
- Ulama visioner dan negarawan moderat
- Penjembatan Islam dan nasionalisme
- Pelopor pendidikan modern pesantren
- Peletak dasar kebijakan keagamaan negara
KH. Abdul Wahid Hasyim dikenang sebagai ulama pemersatu bangsa dan arsitek spiritual negara.
KONSEP INFOGRAFIS POSTER
(Hitam Putih Klasik – Nuansa Sejarah Kemerdekaan)
๐ผ Bagian Atas:
RISALAH PAHLAWAN NASIONAL
KH. ABDUL WAHID HASYIM
Potret ulama muda dengan latar pesantren Tebuireng.
๐ Kolom 1 – Pendidikan & Modernisasi
- Pesantren Siwalan & Lirboyo
- Pembaruan kurikulum
- Taman bacaan
๐ฎ๐ฉ Kolom 2 – Perumusan Dasar Negara
- BPUPKI & PPKI
- Panitia 9
- Piagam Jakarta
- Perubahan sila pertama
๐ Kolom 3 – Menteri Agama
- Pendidikan agama nasional
- PT Agama Islam
- Administrasi keagamaan
✨ Kutipan Inspiratif:
"Persatuan bangsa adalah amanah yang harus dijaga dengan kebijaksanaan dan iman."
Jika ingin dibuatkan:
๐ Poster Hitam Putih Klasik
๐ Poster Vintage Krem
๐ Infografis Modern Edukatif
Silakan ketik: “Gambar sekarang” ๐จ
30 Suk
Buatlah Risalah dan Infografis tentang Pahlawan :
Sri Susuhunan Pakubuwana VI
Nama Asli: Raden Mas Sapardan.
Lahir di Surakarta, Jawa Tengah, 26 April 1807.
Meninggal di Ambon, Maluku, 2 Juni 1849 (Usia 42 tahun).
Masa Pemerintahan: 1823 – 1830.
Julukan: Sinuhun Bangun Tapa (karena sering melakukan tapa brata).
Makam: Awalnya di Ambon, dipindahkan ke Astana Imogiri, Yogyakarta, pada 8 Maret 1957.
Sri Susuhunan Pakubuwana VI (lahir 1807, memerintah 1823–1830) adalah raja Kasunanan Surakarta yang ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional (SK Presiden No. 294/1964) karena perjuangan gigihnya melawan Belanda. Dikenal sebagai Sinuhun Bangun Tapa, ia secara diam-diam mendukung Pangeran Diponegoro dalam Perang Jawa (1825–1830) sebelum akhirnya ditangkap dan diasingkan ke Ambon.
Perjuangan Melawan Belanda
* Dukungan Terhadap Diponegoro: Meskipun terikat perjanjian dengan Belanda, PB VI adalah pendukung utama perjuangan Pangeran Diponegoro yang memberontak terhadap pemerintah Hindia Belanda sejak 1825.
* Siasat Ganda (Politik Dua Muka): Secara resmi ia tampak tunduk pada Belanda, namun secara rahasia memberikan bantuan logistik, moral, dan informasi kepada pasukan Diponegoro.
* Pertemuan Rahasia: PB VI pernah melakukan pertemuan rahasia dengan Pangeran Diponegoro untuk membahas strategi melawan Belanda.
* Penangkapan: Akibat persekutuannya tercium Belanda, ia dijebak dan ditangkap di Mancingan pada Juni 1830 setelah berakhirnya Perang Diponegoro.
* Pengasingan dan Wafat: Ia dibuang ke Ambon pada 8 Juli 1830. Bukti sejarah menunjukkan ia wafat bukan karena kecelakaan, melainkan diduga ditembak di bagian dahi oleh Belanda, dibuktikan dengan penemuan tengkorak berlubang saat pemindahan makam.
Pengasingan:
Tempat: Ambon, Maluku.
Waktu: Ditangkap pada Juni 1830, diasingkan mulai 8 Juli 1830, dan menetap di sana hingga wafatnya pada 2 Juni 1849.
Lama: Sekitar 19 tahun.
Pengganti:
Setelah diturunkan oleh Belanda, tahta Surakarta diserahkan kepada pamannya, Raden Mas Malikis Solikin, yang bergelar Sri Susuhunan Pakubuwana VII.
Alasan Anak Tidak Langsung Menggantikan:
Anak Masih dalam Kandungan: Saat Pakubuwana VI diasingkan ke Ambon pada tahun 1830, istrinya, Ratu Ayu Sakti, sedang mengandung. Anak tersebut kelak menjadi Pakubuwana IX.
Intervensi Belanda: Belanda menyingkirkan garis keturunan langsung (anak kandung) karena takut akan mewarisi semangat perlawanan ayahnya. Belanda memilih raja yang dianggap lebih mudah dikendalikan (kooperatif).
Berikut Risalah dan Infografis Ringkas tentang Pahlawan Nasional:
๐ RISALAH PAHLAWAN NASIONAL
Sri Susuhunan Pakubuwana VI
(Raden Mas Sapardan, 1807–1849)
๐ Raja Kasunanan Surakarta (1823–1830)
๐ท Identitas Singkat
- Nama Asli: Raden Mas Sapardan
- Lahir: Surakarta, Jawa Tengah, 26 April 1807
- Wafat: Ambon, Maluku, 2 Juni 1849 (usia 42 tahun)
- Julukan: Sinuhun Bangun Tapa
- Masa Pemerintahan: 1823–1830
- Pahlawan Nasional: SK Presiden No. 294 Tahun 1964
- Makam: Awalnya di Ambon, dipindahkan ke Astana Imogiri (8 Maret 1957)
๐ Raja yang Taat Spiritual dan Patriotik
Sebagai raja ke-6 Kasunanan Surakarta, beliau dikenal tekun bertapa dan menjalani laku spiritual, sehingga dijuluki Sinuhun Bangun Tapa. Namun di balik kesalehan itu, ia menyimpan keberanian politik melawan penjajahan Belanda.
⚔ Perjuangan Melawan Belanda
๐ฅ Dukungan kepada Diponegoro
Saat meletus Perang Jawa (1825–1830), PB VI diam-diam menjadi pendukung utama perjuangan Diponegoro melawan pemerintah Hindia Belanda.
๐ญ Politik Dua Muka (Siasat Ganda)
- Secara resmi tampak tunduk pada Belanda
- Secara rahasia memberi bantuan logistik, moral, dan informasi
- Mengadakan pertemuan rahasia untuk strategi perlawanan
Strategi ini dilakukan karena posisi Surakarta terikat perjanjian politik dengan Belanda.
⛓ Penangkapan dan Pengasingan
- Dijebak dan ditangkap di Mancingan (Juni 1830)
- Diasingkan ke Ambon mulai 8 Juli 1830
- Masa pengasingan: ±19 tahun
Ia wafat pada 2 Juni 1849.
Penelitian saat pemindahan makam menunjukkan adanya lubang pada tengkorak, memunculkan dugaan kuat bahwa beliau wafat akibat tembakan.
๐ Pengganti Tahta
Setelah diturunkan, Belanda mengangkat pamannya menjadi:
๐ Pakubuwana VII
Mengapa Putranya Tidak Menggantikan?
- Putra kandungnya masih dalam kandungan (kelak menjadi Pakubuwana IX)
- Belanda menghindari garis keturunan langsung karena khawatir mewarisi semangat perlawanan
- Memilih raja yang dianggap lebih mudah dikendalikan
๐ Warisan Sejarah
✔ Raja spiritual sekaligus pejuang
✔ Pendukung utama Perang Jawa
✔ Simbol perlawanan aristokrasi Jawa terhadap kolonialisme
✔ Diakui sebagai Pahlawan Nasional (1964)
๐ INFOGRAFIS RINGKAS (Format Poster)
SRI SUSUHUNAN PAKUBUWANA VI
(Raden Mas Sapardan, 1807–1849)
๐ Raja Surakarta (1823–1830)
๐ฅ Pendukung Perang Jawa
⛓ Diasingkan 19 Tahun
๐
Pahlawan Nasional (1964)
๐ Lahir: Surakarta, 26 April 1807
⚰ Wafat: Ambon, 2 Juni 1849
๐ชฆ Makam: Astana Imogiri
Peran Penting:
- Mendukung perjuangan Diponegoro
- Politik dua muka melawan Belanda
- Pertemuan rahasia strategi perang
- Ditangkap & diasingkan
Julukan:
✨ Sinuhun Bangun Tapa
Jika Anda ingin, saya bisa buatkan:
- ✅ Poster hitam putih klasik tempo kolonial
- ✅ Versi infografis kerajaan bergaya Jawa klasik
- ✅ Timeline Perang Jawa & keterlibatan PB VI
- ✅ Versi siap cetak A3/A4
Silakan pilih gaya desain yang diinginkan.
Belum
49 Suk
Buatlah Risalah dan Infografis tentang Pahlawan :
Dewi Sartika
(Raden Dewi Sartika)
Lahir di Cicalengka, Bandung, Jawa Barat, 4 Desember 1884
Meninggal di Cinean, Tasikmalaya, Jawa Barat, 11 September 1947.
Orang Tua: Raden Rangga Somanegara (Ayah) & Raden Ayu Rajapermas (Ibu)
Gelar: Pahlawan Nasional (1966).
Raden Dewi Sartika (1884–1947) adalah pahlawan nasional perintis pendidikan perempuan dari Jawa Barat yang mendirikan Sakola Istri (1904) untuk mencerdaskan wanita pribumi, memberdayakan mereka melalui keterampilan keterampilan membaca, menulis, dan rumah tangga agar mandiri. Ia gigih memperjuangkan kesetaraan gender meskipun menghadapi tentangan adat dan kolonial Belanda.
Perjuangan dan Kisah Hidup:
Pendidikan Dini: Meski lahir dari keluarga bangsawan, Dewi Sartika dididik dalam lingkungan yang menanamkan karakter mandiri. Sejak kecil, ia gemar bermain sekolah-sekolahan dan mengajar anak-anak pembantu membaca dan menulis.
Mendirikan Sekolah (1904): Didorong keinginan memajukan perempuan Sunda, ia mendirikan Sakola Istri (Sekolah Perempuan) pertama di Bandung, 16 Januari 1904. Sekolah ini mengajarkan membaca, menulis, menjahit, merenda, menyulam, dan pendidikan agama.
Tantangan: Perjuangannya melawan adat konservatif yang membatasi perempuan.
Perkembangan: Sekolahnya berkembang pesat dan berganti nama menjadi Sakola Kautamaan Istri (1910), yang kemudian menyebar ke berbagai wilayah di Jawa Barat.
Penentangan oleh Adat/Masyarakat Tradisional:
* Pandangan Gender: Adat saat itu memandang perempuan hanya terbatas pada urusan domestik ("dapur, sumur, kasur").
* Pendidikan Tidak Penting: Ada anggapan bahwa pendidikan tinggi bagi perempuan adalah sia-sia dan menentang kodrat.
* Ketakutan akan Perubahan: Pendidikan dianggap akan membuat perempuan "terlalu pandai" dan sulit diatur, sehingga mengganggu tatanan adat yang ada.
Penentangan/Hambatan oleh Belanda:
* Takut Pergerakan Politik: Pemerintah Belanda awalnya curiga bahwa sekolah tersebut dapat menjadi sarana penyebaran ide-ide kebangsaan yang melawan pemerintah kolonial.
* Ketidaksetaraan Akses: Belanda membatasi pendidikan bagi kaum pribumi, terutama perempuan, untuk menjaga hierarki sosial.
* Catatan: Meskipun sempat dipandang curiga, seiring berjalannya waktu dan melihat kontribusi positif sekolah tersebut dalam keterampilan praktis, Belanda akhirnya memberikan sedikit kelonggaran dan dukungan, seperti membangun sekolah yang lebih besar.
* Dewi Sartika terus berjuang melawan penolakan tersebut dengan prinsip bahwa "wanita cerdas akan melahirkan bangsa yang kuat".
Fakta wafatnya adalah:
* Dewi Sartika meninggal karena sakit saat masa pengungsian pada masa perang mempertahankan kemerdekaan (Agresi Militer Belanda I).
* Beliau mengungsi dari Bandung ke Tasikmalaya. Kondisi kesehatan menurun drastis karena usia, kelelahan, dan sakit, lalu wafat di Cineam, Tasikmalaya, pada 11 September 1947.
* Jadi, beliau wafat sebagai pahlawan yang gigih di masa perjuangan fisik, bukan akibat eksekusi atau ditembak secara langsung oleh penjajah.












