1. Buatkan Gambar dan Infografis tentang
Tokoh Peristiwa Rengasdengklok
Tokoh di balik peristiwa Rengasdengklok terbagi menjadi golongan muda yang merencanakan penculikan, golongan tua yang dibawa ke sana, serta tokoh penengah dan penyedia tempat.
Tokoh utama meliputi Soekarno, Mohammad Hatta, Sukarni, Wikana, Chaerul Saleh, Ahmad Soebardjo, Shodanco Singgih, dan Djiauw Kie Siong.
1. Golongan Muda (Penculik dan Perancang)
Sukarni: Pemimpin pemuda yang mendesak Soekarno-Hatta agar cepat merdeka.
Chaerul Saleh: Tokoh pemuda radikal dari Menteng 31 yang mengusulkan pengamanan Soekarno-Hatta.
Wikana: Pemuda yang aktif berdebat dan merundingkan waktu proklamasi dengan golongan tua di Jakarta.
Shodanco Singgih: Perwira PETA yang membantu pelaksanaan membawa Soekarno-Hatta ke Rengasdengklok.
Yusuf Kunto: Pemuda yang mengantar dan memetakan lokasi pengamanan di Karawang.
Dr. Muwardi: Pemimpin Barisan Pelopor yang ikut mengamankan Bung Karno dan Bung Hatta.
2. Golongan Tua dan Penengah
Ir. Soekarno & Mohammad Hatta: Dua tokoh proklamator yang dibawa dan didesak oleh para pemuda.
Ahmad Soebardjo: Tokoh golongan tua yang menjemput Soekarno-Hatta kembali ke Jakarta dan memberi jaminan proklamasi.
3. Pemilik Rumah Sejarah
Djiauw Kie Siong: Warga lokal pemilik rumah di Rengasdengklok tempat Soekarno dan Hatta diamankan.
2. Buatkan Gambar dan Infografis tentang
Penyusunan Naskah Proklamasi 16 dan 17 Agustus 1945
Penyusunan naskah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia terjadi mulai malam hari tanggal 16 Agustus 1945 hingga dini hari tanggal 17 Agustus 1945 di kediaman Laksamana Tadashi Maeda yang terletak di Jalan Imam Bonjol Nomor 1, Jakarta Pusat.
Peristiwa bersejarah ini merupakan kelanjutan langsung dari Peristiwa Rengasdengklok, di mana golongan pemuda sempat mengamankan Ir. Soekarno dan Mohammad Hatta agar terbebas dari pengaruh serta intervensi militer Jepang.
1. Kronologi Transisi Malam 16 Agustus 1945
Pukul 23.00 WIB: Rombongan Soekarno dan Hatta tiba kembali di Jakarta dari Rengasdengklok setelah mendapat jaminan keamanan dari Ahmad Soebardjo.
Pukul 23.30 WIB: Soekarno dan Hatta sempat menemui Mayor Jenderal Otoshi Nishimura selaku Kepala Pemerintahan Militer Jepang untuk menjajaki sikap mereka.
Namun, Nishimura menegaskan Jepang harus mempertahankan status quo dan melarang adanya perubahan politik.
Tengah Malam: Karena penolakan Jepang, para tokoh nasional menyadari kemerdekaan harus diambil atas keputusan bangsa Indonesia sendiri.
Rombongan bergerak menuju rumah Laksamana Maeda karena tempat tersebut memiliki hak imunitas/kekebalan dari intelijen Angkatan Darat (Rikugun) Jepang.
2. Proses Perumusan dan Penulisan Naskah
Proses perumusan teks dimulai sekitar pukul 02.00 hingga 03.00 WIB dini hari di ruang makan Laksamana Maeda.
Maeda sendiri memilih naik ke kamar tidurnya untuk menjaga netralitas dan membiarkan tokoh Indonesia merancang masa depan mereka secara mandiri.
Tiga Tokoh Utama: Ir. Soekarno, Mohammad Hatta, dan Ahmad Soebardjo duduk bersama mengitari meja makan untuk menyusun kalimat demi kalimat.
Pembagian Peran: Ir. Soekarno bertindak sebagai penulis draft konsep di atas selembar kertas, sementara Mohammad Hatta dan Ahmad Soebardjo menyumbangkan ide dan gagasan secara lisan.
Asal-usul Kalimat: Kalimat pertama ("Kami bangsa Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaan Indonesia") diusulkan oleh Ahmad Soebardjo yang menyadur dari konsep Piagam Jakarta.
Kalimat kedua ("Hal-hal yang mengenai pemindahan kekuasaan d.l.l., diselenggarakan dengan cara saksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya") merupakan rumusan dari Mohammad Hatta.
Saksi dari Golongan Pemuda: Proses ini turut disaksikan oleh tokoh muda seperti Sukarni, Sudiro, dan B.M. Diah yang menunggu di ruang depan.
3. Tahap Finalisasi dan Pengetikan
Setelah draf tulisan tangan Soekarno disepakati oleh seluruh hadirin yang berjumlah sekitar 40 orang, teks tersebut diserahkan kepada Sayuti Melik untuk diketik.
Sayuti Melik mengetik naskah proklamasi di ruang kecil di bawah tangga ditemani oleh B.M. Diah.
Dalam proses pengetikan tersebut, Sayuti Melik melakukan tiga perubahan redaksional penting:
a. Kata "Tempoh" diubah menjadi "Tempo".
b. Kata "Wakil-wakil bangsa Indonesia" diubah menjadi "Atas nama bangsa Indonesia".
c. Penulisan tanggal "Djakarta, 17-8-05" diubah menjadi "Djakarta, hari 17 boelan 8 tahoen 05" (mengikuti tahun swh/Jepang 2605).
Atas usulan Sukarni, naskah resmi tersebut akhirnya ditandatangani oleh Soekarno dan Hatta sebagai perwakilan autentik dari seluruh bangsa Indonesia.
Proses krusial ini selesai menjelang subuh tanggal 17 Agustus 1945, sebelum teks tersebut resmi dibacakan pada pukul 10.00 WIB di Jalan Pegangsaan Timur No. 56.
3. Buatkan Gambar dan Infografis tentang
Nasib Laksamana Tadashi Maeda setelah Kemerdekaan Indonesia
Setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, Laksamana Muda Tadashi Maeda ditangkap dan dipenjara oleh Tentara Sekutu (Inggris/NICA) karena dianggap sebagai pengkhianat dan melanggar aturan militer Jepang untuk menjaga status quo.
Ia mendekam di penjara Glodok dan Gang Tengah hingga dibebaskan pada tahun 1947.
1. Penahanan dan Pemulangan
Ditahan Sekutu: Dianggap membangkang dan membantu kaum nasionalis Indonesia merumuskan teks proklamasi di rumahnya.
Menutup Rahasia: Selama diinterogasi, Maeda dan rekannya konsisten menyatakan bahwa kemerdekaan Indonesia adalah murni hasil perjuangan bangsa Indonesia sendiri, bukan buatan Jepang.
Kembali ke Jepang: Setelah bebas tahun 1947, ia pulang ke Jepang dan hak pensiun militer aslinya dicabut akibat keterlibatannya dengan kemerdekaan Indonesia.
2. Hubungan Lanjutan dengan Indonesia
Bisnis dan Usaha: Sempat kembali ke Indonesia pada tahun 1950-an hingga 1960-an untuk merintis bisnis dan proyek, seperti usaha minyak serta rencana pabrik gula di Maluku, namun sebagian besar usahanya tidak berjalan mulus.
Reuni dengan Bung Karno: Saat Presiden Soekarno berkunjung ke Jepang pada tahun 1958, keduanya sempat bertemu kembali dan mempertahankan hubungan baik.
Akhir Hayat: Maeda menghabiskan sisa hidupnya di Jepang dalam kondisi ekonomi yang relatif biasa saja hingga wafat pada tahun 1977, serta jasanya dalam kemerdekaan kemudian diakui secara resmi oleh pemerintah Indonesia.
4. Buatkan Gambar dan Infografis tentang
Kegiatan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945
Kegiatan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dilaksanakan secara sederhana namun khidmat pada Jumat, 17 Agustus 1945 pukul 10.00 WIB di serambi depan rumah Ir. Soekarno, Jalan Pegangsaan Timur No. 56, Jakarta. Momen bersejarah ini menandai berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia yang merdeka secara de jure dan de facto.
1. Persiapan Singkat dan Sederhana
Penyusunan Teks: Naskah proklamasi dirumuskan secara mendadak pada dini hari 17 Agustus 1945 oleh Ir. Soekarno, Mohammad Hatta, dan Ahmad Soebardjo di rumah Laksamana Maeda.
Pengetikan Naskah: Sayuti Melik mengetik teks proklamasi menggunakan mesin tik.
Persiapan Lokasi: Halaman rumah Soekarno dipersiapkan dengan tiang bendera bambu yang dipasang secara gotong royong serta mikrofon sederhana untuk pengeras suara.
Pembuatan Bendera: Fatmawati Soekarno menjahit sendiri kain Merah Putih yang akan dikibarkan.
2. Susunan Acara Puncak (Pukul 10.00 WIB)
Pidato Pembuka: Ir. Soekarno memberikan pengantar singkat mengenai perjuangan panjang bangsa Indonesia melawan penjajah.
Pembacaan Naskah: Ir. Soekarno membacakan teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dengan didampingi oleh Mohammad Hatta.
Pengibaran Bendera: Latief Hendraningrat dan S. Suhud mengibarkan bendera Merah Putih.
Lagu Kebangsaan: Seluruh hadirin menyanyikan lagu Indonesia Raya secara spontan tanpa iringan musik.
Sambutan Tokoh Daerah: Wali Kota Jakarta, Soewirjo, dan dr. Muwardi menyampaikan pidato sambutan singkat pasca-upacara.
3. Penyebaran Berita Proklamasi
Media Massa: Teks proklamasi disebarkan dengan cepat melalui siaran radio kantor berita Domei (sekarang Antara) oleh tokoh pers.
Surat Kabar: Koran Soeara Asia di Surabaya menjadi media cetak pertama yang menerbitkan naskah kemerdekaan.
Mulut ke Mulut: Para pemuda menyebarkan pamflet dan menyebarkan berita dari rumah ke rumah ke seluruh penjuru Nusantara.
5. Buatkan Gambar dan Infografis tentang
Tokoh tokoh yang hadir saat Teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dibacakan 17 Agustus 1945
Peristiwa pembacaan Teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945 di Jalan Pegangsaan Timur No. 56, Jakarta, dihadiri oleh sejumlah tokoh penting dari golongan tua, golongan muda, serta ratusan masyarakat Indonesia.
1. Tokoh Utama dan Petugas Upacara
Ir. Soekarno: Membacakan teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia kepada seluruh rakyat yang hadir.
Drs. Mohammad Hatta: Mendampingi Ir. Soekarno selama proses pembacaan teks proklamasi.
Latief Hendraningrat & Suhud Sastro Kusumo: Bertugas sebagai pengibar bendera Merah Putih untuk pertama kalinya.
Suhud juga bertugas mempersiapkan tiang bendera.
S.K. Trimurti: Menemani Latief dan Suhud dalam prosesi pengibaran bendera Merah Putih.
Wali Kota Suwiryo: Wakil Wali Kota Jakarta saat itu yang bertugas menyampaikan pidato sambutan pembuka sebelum proklamasi dibacakan.
dr. Muwardi: Bertugas memimpin pengamanan lokasi dan menjaga ketertiban selama upacara berlangsung.
Frans Mendur & Alex Mendur: Fotografer dari IPPHOS yang mengabadikan momen-momen bersejarah pembacaan proklamasi dan pengibaran bendera.
2. Tokoh Nasional & Anggota PPKI yang Hadir
Beberapa anggota Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI), tokoh senior, serta tokoh pemuda yang ikut merumuskan naskah di rumah Laksamana Maeda semalam sebelumnya juga turut hadir di Pegangsaan Timur:
Ahmad Soebardjo
Ki Hajar Dewantara
Sayuti Melik (juru ketik naskah proklamasi asli)
Soekarni Karto Diwiryo
B.M. Diah
Mr. A.A. Maramis
dr. Buntaran Martoatmojo
Mr. Latuharhary
Abikusno Cokrosuyoso
Otto Iskandardinata
Sam Ratulangi
A.G. Pringgodigdo
6. Buatkan Gambar dan Infografis tentang
Tempat Awal dibacakan Teks Proklamasi dan Kepindahan Tempat
Awalnya, naskah Teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia direncanakan untuk dibacakan di Lapangan Ikada (Ikatan Atletik Djakarta), yang sekarang menjadi area sekitar Monumen Nasional (Monas) di Jakarta Pusat
Alasan Pemindahan Lokasi
1. Faktor Keamanan: Lapangan Ikada dijaga ketat oleh tentara Jepang yang curiga dan bersiaga menghadapi kerumunan massa.
2. Mencegah Bentrokan: Bung Karno khawatir jika pembacaan dilakukan di lapangan terbuka yang luas, akan terjadi pertumpahan darah atau bentrokan antara rakyat dan tentara Jepang.
3. Keputusan Akhir: Lokasi kemudian dipindahkan secara mendadak ke teras rumah kediaman Ir. Soekarno di Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56, Jakarta Pusat, yang dinilai lebih aman dan terkendali.
7. Buatkan Gambar dan Infografis tentang
Asal usul Rumah Rengasdengklok tempat Penculikan Bung Karno dan Bung Hatta
Rumah Sejarah Rengasdengklok yang menjadi tempat "penculikan" (pengamanan) Bung Karno dan Bung Hatta pada 16 Agustus 1945 adalah milik Djiaw Kie Siong, seorang petani lokal keturunan Tionghoa Hakka. Rumah sederhana ini memegang peran krusial sebagai tempat tinggal sementara Dwi Tunggal sekaligus lokasi awal perumusan naskah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.
1. Profil Pemilik Rumah
Nama Pemilik: Djiaw Kie Siong (lahir tahun 1880 di Pisangsambo, Karawang).
Profesi: Beliau adalah warga sipil yang sehari-harinya bekerja sebagai petani palawija (menanam timun, singkong, kacang, dan terong) di sekitar bantaran Sungai Citarum, sekaligus seorang pengrajin peti mati.
Sifat: Djiaw Kie Siong dikenal sebagai sosok yang bersahaja, rela berkorban, dan sangat menghormati para pejuang kemerdekaan. Ketika rumahnya dipilih, ia dengan sukarela mengungsi ke rumah kerabatnya agar Bung Karno dan Bung Hatta bisa beristirahat dengan aman.
2. Alasan Pemilihan Rumah
Rencana awal golongan muda (seperti Sukarni, Chaerul Saleh, dan Wikana) sebenarnya adalah menempatkan Soekarno-Hatta di markas tentara Pembela Tanah Air (PETA) Rengasdengklok.
Namun, demi menjaga kerahasiaan dan kenyamanan—terutama karena Bung Karno membawa istrinya, Fatmawati, dan putranya, Guntur, yang saat itu masih bayi—dipilihlah rumah warga sipil.
Rumah Djiaw Kie Siong dipilih karena memenuhi kriteria strategis berikut:
Lokasi Tersembunyi: Berada di wilayah terpencil di pinggiran Karawang dan tertutup rimbunnya pohon.
Jaraknya sekitar 81 km dari Jakarta, membuat tempat ini luput dari jangkauan dan pengawasan tentara Jepang.
Keamanan Wilayah: Rengasdengklok merupakan wilayah yang sudah relatif aman karena dikuasai oleh tentara PETA yang berpihak pada perjuangan kemerdekaan.
Kondisi Rumah yang Layak: Dibandingkan dengan rumah penduduk sekitar yang saat itu rata-rata masih beratap rumbia dan berdinding anyaman bambu, rumah Djiaw Kie Siong tergolong paling luas, berdinding kayu, dan berlantai terakota.
3. Pemindahan Bangunan Akibat Abrasi
Secara historis, bangunan rumah asli ini didirikan oleh kakek dari garis keluarga Djiaw Kie Siong pada tahun 1920.
Lokasi Asli: Awalnya rumah ini terletak di Dusun Bojong, tepat di tepian Sungai Citarum.
Relokasi (1957/1958): Karena lokasi aslinya terus-menerus terkena abrasi sungai dan ancaman banjir tahunan, bangunan kayu ini akhirnya dipindahkan sekitar 150 meter dari lokasi semula ke Kampung Kalijaya, Rengasdengklok.
Proses Pemindahan: Struktur kayu dan komponen rumah dibongkar satu per satu secara teliti, kemudian dipasang kembali di lokasi baru untuk mempertahankan bentuk dan nilai keasliannya.
4. Kondisi Rumah Saat In
Meskipun telah ditetapkan sebagai Cagar Budaya Nasional, rumah bersejarah ini tidak diubah menjadi museum milik pemerintah.
Rumah ini tetap dimiliki dan dirawat secara turun-temurun oleh pihak keluarga/keturunan Djiaw Kie Siong yang tinggal di sana.
Di dalam rumah, pengunjung masih bisa melihat pembagian dua bilik kamar yang dulu digunakan oleh Bung Karno (kamar sebelah kanan) dan Bung Hatta (kamar sebelah kiri).
Bagian dalam rumah juga dipenuhi foto-foto dokumentasi sejarah serta replika ranjang kayu jati dan meja segi empat yang menjadi saksi bisu persiapan teks proklamasi sebelum disempurnakan di Jakarta.
8. Buatkan Gambar dan Infografis tentang
Asal usul Rumah di Jalan Pegangsaan Timur No. 56 Jakarta, tempat Pembacaan Teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia
Rumah di Jalan Pegangsaan Timur No. 56, Cikini, Jakarta Pusat (sekarang beralih nama menjadi Jalan Proklamasi) adalah kediaman tempat tinggal Ir. Soekarno menjelang kemerdekaan yang menjadi lokasi pembacaan teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945.
Rumah bergaya kolonial ini memiliki halaman yang sangat luas, menjadikannya pilihan tempat darurat yang paling aman setelah rencana awal di Lapangan Ikada dibatalkan demi menghindari bentrokan dengan tentara Jepang.
1. Asal-Usul dan Era Pendudukan Jepang
Rumah Dinas dari Jepang: Sebelum ditempati Bung Karno, bangunan ini merupakan sebuah landhuis (rumah tipe vila kolonial Belanda) berkamar 12 yang dimiliki oleh warga Belanda bernama M. Provate.
Pengambilalihan Lahan: Saat Jepang masuk, pemilik aslinya diinternir (ditahan). Kantor propaganda Jepang melalui tokoh pemuda Chairul Basri mencari rumah berpekarangan luas untuk akomodasi Soekarno yang ditunjuk sebagai anggota Chuo Sangi-in (Dewan Pertimbangan Pusat).
Tukar Guling: Rumah di Pegangsaan Timur ini ditukar dengan rumah lain di Jalan Lembang, sehingga resmi disiapkan oleh otoritas Jepang untuk menjadi kediaman Bung Karno sejak tahun 1942.
2. Kontroversi Kepemilikan: Peran Faradj Martak
Terdapat dua narasi sejarah yang sering diperbincangkan mengenai kepemilikan rumah ini:
Klaim Hibah Faradj Martak: Narasi populer menyebutkan bahwa rumah ini dibeli dan diwakafkan oleh saudagar kaya keturunan Yaman, Syekh Faradj bin Said bin Awad Martak, yang juga memberikan madu Arab untuk memulihkan kesehatan Bung Karno saat demam menjelang proklamasi.
Catatan Administrasi Negara: Hasil riset sejarawan dan dokumen resmi Kementerian Pekerjaan Umum dan Perhubungan tahun 1950 menunjukkan bahwa pemerintah Indonesia membeli bangunan tersebut pasca-kemerdekaan. Faradj Martak diakui memiliki jasa sangat besar karena membantu mendanai dan mengurus proses pembelian/nasionalisasi sejumlah gedung penting untuk pemerintah RI, termasuk penyelesaian administrasi rumah Pegangsaan Timur 56.
3. Fungsi Pasca-Kemerdekaan
Kediaman Presiden: Bung Karno menempati rumah ini sebagai Presiden pertama RI hingga pemerintah hijrah ke Yogyakarta pada 4 Januari 1946.
Rumah Dinas Perdana Menteri: Setelah kosong, rumah ini sempat digunakan sebagai kediaman resmi Perdana Menteri Sutan Sjahrir hingga tahun 1948.
4. Alasan Pembongkaran dan Kondisi Saat Ini
Dirobohkan atas Perintah Bung Karno: Pada tahun 1960, rumah bersejarah ini secara mengejutkan dibongkar total atas perintah langsung Presiden Soekarno.
Alasan Ideologis: Bung Karno menganggap rumah tersebut berarsitektur kolonial, sudah mulai rapuh, dan ia ingin membangun sebuah gedung monumental masa depan di atas lahan tersebut, yaitu Gedung Pola (Gedung Pola Pembangunan Nasional Semesta Berencana).
Taman Proklamasi: Saat ini, area bekas rumah tersebut telah diubah menjadi Taman Proklamasi.
Di lokasi teras tempat Bung Karno berdiri membaca teks kini ditandai oleh Tugu Petir, serta dilengkapi dengan Monumen Pahlawan Proklamator Soekarno-Hatta.
9. Buatkan Gambar dan Infografis tentang
Tokoh yang Menyebarluaskan Berita Proklamasi Kemerdekaan Indonesia
1. Jalur Radio (Siaran Udara)
Yusuf Ronodipuro & Bachtiar Lubis: Penyiar radio Hoso Kyoku (sekarang RRI) yang secara sembunyi-sembunyi membacakan teks proklamasi ke udara agar didengar masyarakat luas.
Syahrudin: Seorang wartawan dari kantor berita Domei yang berhasil menyelinap masuk ke ruang siaran radio untuk menyerahkan teks proklamasi agar segera mengudara.
Wawan (Soekarno) & para teknisi: Merakit pemancar radio baru di Menteng 31 setelah pemancar resmi disegel oleh pihak Jepang.
2. Jalur Pers dan Media Cetak
B.M. Diah (Burhanuddin Mohammad Diah): Wartawan senior yang ditugaskan oleh Mohammad Hatta untuk menggandakan salinan naskah proklamasi hingga ribuan lembar menggunakan percetakan Asia Raya.
Adam Malik: Tokoh pemuda dan jurnalis senior yang mengoordinasikan penyebaran berita melalui jaringan kantor berita Domei ke berbagai daerah dan luar negeri.
Supardjo: Pegawai Balai Pustaka yang membantu mencetak puluhan ribu pamflet proklamasi untuk ditempel di tempat strategis.
3. Utusan Anggota PPKI dan Sukarelawan Daerah
Untuk menyebarkan berita ke luar Pulau Jawa, beberapa utusan dikirim secara langsung membawa salinan naskah:
Sumatera: M. Zaelani, Uteh Riza Yahya, Sulistio, dan Ahmad Tahir.
Kalimantan: Masri, Munir, dan Moh. Noor.
Sulawesi & Maluku: Diinisiasi oleh tokoh pergerakan daerah setempat seperti E.U. Pupella dan Willem Reawaru di Ambon.
10. Buatkan Gambar dan Infografis tentang
Tokoh yang mengabadikan Pembacaan Teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945
Tokoh yang berjasa mengabadikan momen pembacaan teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945 adalah kakak beradik wartawan foto, yaitu Alex Impurung Mendur (Alex Mendur) dan Frans Soemarto Mendur (Frans Mendur).
Peran Mendur Bersaudara
Frans Mendur: Berhasil mengabadikan detik-detik Bung Karno membaca naskah proklamasi di Jalan Pegangsaan Timur No. 56, Jakarta.
Ia menyelamatkan rol filmnya dari sitaan tentara Jepang dengan cara menguburnya di dalam tanah dekat kantor harian Asia Raya.
Alex Mendur: Kepala bagian fotografi surat kabar Tjahaja yang turut hadir dan memotret peristiwa sakral tersebut, meskipun kemudian hasil pelat atau foto miliknya sempat dirampas atau dimusnahkan oleh tentara Jepang.
11. Buatkan Gambar dan Infografis tentang
Kisah penyelamatan roll film dari kejaran tentara Jepang
Kisah penyelamatan roll film dari kejaran tentara Jepang yang paling monumental dalam sejarah Indonesia dilakukan oleh Mendur Bersaudara (Alex Impurung Mendur dan Frans Soemarto Mendur). Mereka adalah fotografer yang berhasil mengabadikan detik-detik Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 1945 di Jalan Pegangsaan Timur No. 56, Jakarta.
1. Suasana Mencekam Pasca-ProklamasiPada
Jumat pagi itu, Alex dan Frans Mendur datang ke kediaman Sukarno setelah mendengar kabar dari para pemuda bahwa proklamasi akan dibacakan.
Berbekal kamera merek Leica, mereka menjadi satu-satunya fotografer yang berhasil memotret momen pembacaan teks proklamasi oleh Sukarno, pengibaran bendera Merah Putih, serta suasana massa yang hadir.
Namun, kebahagiaan mereka tidak bertahan lama karena pergerakan mereka tercium oleh tentara Kempeitai (polisi militer Kekaisaran Jepang) yang saat itu masih memegang status status quo dan melarang adanya aktivitas penyebaran berita kemerdekaan.
2. Nasib Sial Alex Mendur
Setelah upacara selesai, tentara Jepang langsung memburu kedua fotografer tersebut. Alex Mendur tertangkap lebih dulu. Kamera miliknya disita, dan roll film yang baru saja dicuci dan sedang dijemur langsung dirampas serta dihancurkan (dibakar) oleh tentara Jepang.
Beruntung, Jepang mengira bahwa roll film dari kamera Alex adalah satu-satunya dokumentasi yang ada hari itu.
3. Siasat Cerdik Frans Mendur Mengubur Film
Melihat sang kakak tertangkap, Frans Mendur bergerak cepat.
Mengutip catatan sejarah dari Museum Benteng Vredeburg, Frans segera mengeluarkan roll film negatif dari kameranya dan menguburnya di bawah pohon di halaman kantor harian Asia Raya (dekat Tugu Proklamasi saat ini).
Ketika tentara Jepang menyergap dan menggeledah Frans, mereka tidak menemukan apa pun. Frans dengan berani mengelabui tentara Jepang dengan mengaku bahwa kamera dan negatif filmnya telah dirampas lebih dulu oleh Barisan Pelopor (organisasi pemuda pendukung Sukarno) sebelum tentara Jepang datang.
4. Proses Pencetakan Rahasia di Kamar Gelap.
Setelah situasi dirasa aman dan tentara Jepang pergi, Mendur Bersaudara kembali ke tempat persembunyian film tersebut.
Mereka menggali tanah, mengambil kembali roll film negatif yang selamat, dan menyelinap di malam hari untuk mencari laboratorium foto.
Mereka harus melompati pagar dan memanjat pohon secara diam-diam demi masuk ke ruang kerja kamar gelap (dark room) di Kantor Berita Domei (sekarang Kantor Berita Antara).
Di sana, mereka mencetak film tersebut dengan penuh ketegangan, karena jika tertangkap basah, mereka bisa dieksekusi mati oleh Jepang sebagai pengkhianat.
5. Akhir Cerita dan Warisan Sejarah
Melalui pengorbanan bertaruh nyawa tersebut, tiga buah foto legendaris berhasil diselamatkan. Foto-foto tersebut akhirnya terbit untuk pertama kalinya ke publik pada 20 Februari 1946 di Harian Merdeka.
Berkat keberanian mereka, dunia internasional dan seluruh rakyat Indonesia bisa melihat bukti autentik bahwa Indonesia telah resmi merdeka.
12. Buatkan Gambar dan Infografis tentang
Kapan Indonesia memiliki Presiden Pertama Kali
Indonesia memiliki presiden untuk pertama kalinya pada tanggal 18 Agustus 1945, yaitu sehari setelah Proklamasi Kemerdekaan.
Tokoh yang menjabat sebagai presiden pertama adalah Ir. Soekarno, didampingi oleh Mohammad Hatta sebagai wakil presiden.
Proses Pemilihan Presiden Pertama
Sidang PPKI:
Ir. Soekarno dipilih secara aklamasi oleh Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI).
Pengesahan UUD 1945:
Pemilihan ini dilakukan dalam sidang yang juga mengesahkan Undang-Undang Dasar 1945 sebagai dasar hukum negara.
13. Buatkan Gambar dan Infografis tentang
Kapan Indonesia memiliki UUD Pertama Kali
Indonesia memiliki Undang-Undang Dasar (UUD) untuk pertama kalinya pada tanggal 18 Agustus 1945. Dokumen ini disahkan dan ditetapkan sebagai UUD 1945 oleh Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI), sehari setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia.
Proses Pembentukan UUD Pertama
Perancangan (29 Mei – 16 Juni 1945): Naskah awal dirancang oleh BPUPKI dalam masa sidang kedua.
Piagam Jakarta (22 Juni 1945): Panitia Sembilan menyusun rancangan Pembukaan UUD yang dikenal sebagai Piagam Jakarta.
Pengesahan (18 Agustus 1945): PPKI mengesahkan naskah tersebut sebagai UUD 1945 setelah melakukan beberapa perubahan penting, termasuk pada sila pertama dasar negara.
14. Buatkan Gambar dan Infografis tentang
Kapan Indonesia memiliki Pancasila Pertama Kali sebagai Dasar Negara
Indonesia memiliki Pancasila pertama kali sebagai dasar negara yang sah pada tanggal 18 Agustus 1945. Pada tanggal tersebut, Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) mengesahkan Undang-Undang Dasar (UUD) 1945, di mana rumusan resmi Pancasila tercantum di dalam bagian Pembukaan (Mukadimah) alinea keempat.
* 1 Juni 1945 (Hari Lahir Pancasila): Istilah "Pancasila" pertama kali diperkenalkan oleh Ir. Soekarno dalam pidatonya di sidang Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) sebagai usulan konsep dasar negara.
* 22 Juni 1945 (Piagam Jakarta): Rumusan Pancasila mulai dimatangkan oleh Panitia Sembilan dalam dokumen yang dikenal sebagai Piagam Jakarta. Pada dokumen ini, sila pertama masih berbunyi "Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya".
* 18 Agustus 1945 (Pengesahan Konstitusional): Demi menjaga persatuan bangsa, sila pertama diubah menjadi "Ketuhanan Yang Maha Esa". PPKI kemudian menetapkannya secara resmi dan mengikat sebagai dasar negara Republik Indonesia bersamaan dengan disahkannya UUD 1945.
Kesimpulannya, secara gagasan Pancasila lahir pada 1 Juni 1945, namun secara hukum negara, Indonesia resmi memilikinya sebagai dasar negara pada 18 Agustus 1945.
15. Buatkan Gambar dan Infografis tentang
Kapan Indonesia pertama kali memiliki Bendera Merah Putih
Bendera Merah Putih pertama kali dikibarkan sebagai bendera kebangsaan resmi Republik Indonesia pada 17 Agustus 1945, saat pembacaan naskah Proklamasi Kemerdekaan di Jalan Pegangsaan Timur No. 56, Jakarta. Bendera bersejarah tersebut dijahit tangan oleh Fatmawati.
Namun, akar penggunaan warna merah dan putih sebagai lambang identitas sudah ada sejak zaman kerajaan Nusantara seperti Kediri dan Majapahit, serta pertama kali dikibarkan dalam gerakan pemuda modern pada Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928.
Perkembangan Sejarah Singkat
Zaman Kerajaan: Panji atau lambang merah putih digunakan oleh Kerajaan Kediri (abad ke-13) dan Kerajaan Majapahit (dikenal sebagai Sang Saka Getih-Getah).
Masa Pergerakan Nasional: Warna merah putih dipakai oleh organisasi pergerakan kebangsaan dan pertama kali dikibarkan secara luas pada Kongres Pemuda II tahun 1928.
Proklamasi 1945: Resmi berkibar sebagai bendera negara Indonesia merdeka yang dijahit oleh Ibu Fatmawati.
16. Buatkan Gambar dan Infografis tentang
Kapan Indonesia pertama kali memiliki Lagu Kebangsaan
Indonesia pertama kali memiliki lagu kebangsaan "Indonesia Raya" pada tanggal 28 Oktober 1928. Lagu ini diciptakan dan diperkenalkan oleh Wage Rudolf (W.R.) Soepratman.
Sejarah Singkat
Pengenalan Pertama: Diperdengarkan secara instrumental dengan gesekan biola oleh W.R. Soepratman.
Lokasi: Diputar pada penutupan Kongres Pemuda II di Batavia (Jakarta).
Penyebaran: Teks dan notasi lagu dipublikasikan oleh surat kabar Sin Po.
Pengesahan Resmi: Ditetapkan secara resmi sebagai lagu kebangsaan setelah Indonesia merdeka.
17. Buatkan Gambar dan Infografis tentang
Sosok Berkerudung di Foto Proklamasi
*Sosok Berkerudung di Foto Proklamasi, Siapa Dia?*
Sosok perempuan berkerudung dalam foto pengibaran bendera 17 Agustus 1945 kerap menimbulkan pertanyaan. Siapa dia?
Diterbitkan:
16 Agustus 2026, 08:03 WIB
Prosesi pengibaran bendera pusaka pertama saat proklamasi kemerdekaan RI digelar. (Istimewa)
Jadi Intinya
* Perempuan berkerudung di foto 17 Agustus 1945 adalah Fatmawati, bukan SK Trimurti.
* Fatmawati menjahit sendiri bendera Merah Putih yang dikibarkan saat proklamasi kemerdekaan.
* Fatmawati hadir dan mengingat momen pengibaran bendera pertama yang sederhana bersama SK Trimurti.
Liputan6.com, Jakarta - Di tengah suasana pengibaran bendera Merah Putih pada 17 Agustus 1945, ada satu sosok perempuan berkerudung yang menarik perhatian.
Ia berdiri tak jauh dari tiang bendera dalam foto bersejarah yang diabadikan fotografer Mendur bersaudara.
Siapa perempuan tersebut?
“Itu Ibu Fatmawati,” kata pemerhati sejarah Hendi Jo saat dihubungi merdeka.com.
Nama Fatmawati memang tidak bisa dipisahkan dari kisah bendera pusaka dan upacara kemerdekaan pertama Indonesia. Istri Soekarno itu dikenal sebagai sosok yang menjahit sendiri bendera Merah Putih yang kemudian dikibarkan dalam upacara 17 Agustus 1945.
Fatmawati juga kerap tampil mengenakan kerudung dalam berbagai kesempatan publik. Karena itu, Hendi memastikan sosok perempuan dalam foto tersebut bukanlah SK Trimurti, sebagaimana kerap disebut dalam sejumlah keterangan.
“Di acara-acara publik, Fatmawati tampil dengan kerudung. Sosok tersebut adalah Fatmawati, bukan SK Trimurti,” ujar Hendi.
Kesaksian Fatmawati dalam catatan biografinya juga membawa kita kembali ke pagi 17 Agustus 1945.
Saat itu, ratusan orang telah berkumpul di halaman rumah Soekarno di Pegangsaan Timur, Jakarta. Soekarno dan Mohammad Hatta bersiap membacakan teks proklamasi yang akan menandai lahirnya Indonesia sebagai negara merdeka.
Namun, ada satu persoalan yang muncul menjelang upacara.
Belum ada bendera Merah Putih.
*Bendera yang Dijahit Fatmawati*
Cerita Tersembunyi Seputar Soekarno-Jakarta
Dalam buku Samudera Merah Putih 19 September 1945, Jilid 1 (1984) karya Lasmidjah Hardi, alasan Presiden Sukarno memilih tanggal 17 Agustus sebagai waktu proklamasi kemerdekaan adalah karena Bung Karno mempercayai mistik. (Dok.Arsip Nasional RI)
Fatmawati kemudian kembali ke kamarnya untuk mengambil bendera Merah Putih yang sebelumnya ia jahit dengan tangan.
Di saat yang sama, Shodanco Latief Hendraningrat mempersiapkan upacara pengibaran bendera.
Sebelum pembacaan proklamasi, Soekarno menyampaikan pidato singkat. Bagi Fatmawati, pidato tersebut terasa berbeda dibandingkan pidato-pidato Bung Karno pada hari-hari sebelumnya maupun sesudahnya.
“Pidato Bung Karno saat itu lebih berapi-api daripada pidato-pidato hari-hari sebelumnya, atau hari-hari sesudahnya,” kenang Fatmawati dalam buku Catatan Kecil Bersama Bung Karno.
Setelah teks proklamasi dibacakan, upacara pengibaran bendera pun dimulai.
Tak ada kemegahan seperti upacara kenegaraan yang dikenal sekarang. Tiang bendera dibuat sederhana. Shodanco Latief baru saja menancapkannya. Bahannya bambu, bentuknya kasar, dan ukurannya tidak terlalu tinggi.
Di tengah kesederhanaan itulah, Merah Putih untuk pertama kalinya dikibarkan dalam upacara kemerdekaan Republik Indonesia.
Fatmawati turut berada di sana.
Dalam kesaksiannya, ia mengingat kembali momen ketika berjalan menuju tiang bendera bersama SK Trimurti.
“Aku bersama-sama SK Trimurti menuju ke tiang bendera. Upacara dipimpin Pak Latief, dengan diiringi lagu Indonesia Raya, tanpa musik,” kenang Fatmawati.
18. Buatkan Gambar dan Infografis tentang
Dilema Laksamana Maeda di Malam 17 Agustus
Dilema Laksamana Maeda di Malam 17 Agustus
Rumah seorang perwira Jepang menjadi tempat dirumuskannya naskah Proklamasi, tetapi kisah Maeda ternyata jauh lebih panjang dari sekadar menyediakan tempat.
Luqman Rimadi
Diterbitkan:
16 Agustus 2026, 06:03 WIB
Jadi Intinya :
Naskah Proklamasi dirumuskan di rumah Laksamana Maeda pada 17 Agustus 1945 dini hari.
Maeda memfasilitasi pengetikan naskah dan menjamin keamanan para tokoh perumus Proklamasi.
Maeda mendukung kemerdekaan Indonesia, meskipun berisiko, dan dihormati atas jasanya.
Liputan6.com, Jakarta - Jumat, 17 Agustus 1945 dini hari. Kesibukan luar biasa terlihat di sebuah rumah di Jalan Imam Bonjol No. 1, Jakarta Pusat.
Di luar rumah, puluhan pemuda bergerombol. Wajah mereka serius, sebagian tampak tegang. Mereka menunggu apa yang akan diputuskan para tokoh senior yang berada di dalam rumah.
Rumah itu bukan milik seorang tokoh pergerakan Indonesia. Pemiliknya adalah Laksamana Muda Tadashi Maeda, seorang perwira Angkatan Laut Jepang.
Di dalam rumah, suasana juga tak kalah tegang. Menjelang santap sahur pada 9 Ramadan 1364 Hijriah itu, Soekarno, Mohammad Hatta, dan Achmad Soebardjo merumuskan sebuah teks yang kelak menjadi salah satu dokumen paling penting dalam sejarah Indonesia.
Naskah itulah yang kemudian dikenal sebagai Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.
Ada satu persoalan ketika konsep naskah selesai dirumuskan. Teks tersebut harus segera diketik, tetapi tidak tersedia mesin tik di rumah Maeda. Untungnya, Satsuki Mishima, salah satu orang yang berada di lingkungan rumah Maeda, mengetahui tempat yang memungkinkan untuk meminjam mesin tik.
Mishima kemudian pergi menggunakan Jeep milik Maeda untuk meminjam mesin tik dari kantor perwakilan Angkatan Laut Jerman atau Kriegsmarine di Indonesia.
Mesin tik itu akhirnya sampai di kediaman Maeda. Sayuti Melik kemudian mengetik naskah Proklamasi di ruangan dekat dapur.
Pagi harinya, naskah yang sudah diketik itu dibawa ke rumah Soekarno di Jalan Pegangsaan Timur No. 56. Di sanalah teks tersebut dibacakan kepada rakyat Indonesia.
Rumah Maeda pun menjadi salah satu tempat yang tidak bisa dilepaskan dari rangkaian detik-detik lahirnya Indonesia merdeka.
Namun, kisah Maeda bersama Indonesia sebenarnya telah dimulai jauh sebelum malam itu.
Dari Den Haag hingga Jakarta
(Foto lawas Laksamana Maeda dan keluarganya saat berada di Indonesia. (kebudayaanindonesia.net))
Tadashi Maeda lahir di Kagoshima, Kyushu, Jepang, pada 3 Maret 1898. Sebelum ditempatkan di Indonesia, ia pernah bertugas sebagai atase militer Jepang di Den Haag dan Berlin pada era 1930-an.
Di Belanda itulah hubungan Maeda dengan sejumlah tokoh pergerakan Indonesia mulai terjalin. Ia berhubungan dengan para pelajar dan mahasiswa Indonesia, antara lain Nazir Pamuntjak, Ahmad Soebardjo, Mohammad Hatta, dan AA Maramis.
Ketika kembali ke Jepang, Maeda kemudian mendapat penugasan ke Indonesia pada 1942.
Di Jakarta, kedekatannya dengan tokoh-tokoh pergerakan Indonesia semakin kuat.
Pada Oktober 1944, Maeda menjadi salah satu tokoh di balik berdirinya Asrama Indonesia Merdeka. Sekolah politik tersebut diperuntukkan bagi para pemuda Indonesia.
Ahmad Soebardjo bersama Wikana menjadi penggeraknya, sedangkan Maeda menjadi sponsor. Sekolah tersebut mula-mula berada di kawasan Gunung Sahari sebelum kemudian dipindahkan ke Jalan Kebon Sirih 80.
Sejumlah tokoh nasionalis bahkan menjadi pengajar di sana. Soekarno mengajarkan politik, Hatta ekonomi, Sanusi Pane sejarah Indonesia, Sutan Sjahrir sosialisme, Iwa Kusuma Sumantri hukum pidana, dan Ahmad Soebardjo hukum internasional.
Angkatan pertama yang berjumlah sekitar 30 orang menyelesaikan pendidikan selama enam bulan pada April 1945. Angkatan kedua yang berjumlah sekitar 80 orang mulai belajar pada Mei 1945, tetapi tidak sempat menyelesaikan pendidikan karena Jepang menyerah kepada Sekutu.
Jawaban Maeda yang Mengubah Suasana
(Museum Perumusan Naskah Proklamasi
Sempat digunakan sebagai tempat tinggal Laksamana Maeda, gedung ini punya peran penting bagi bangsa indonesia dalam mencapai kemerdekaan.)
Memasuki pertengahan Agustus 1945, kabar mengenai kekalahan Jepang semakin santer terdengar. Namun, kabar itu belum sepenuhnya jelas bagi para pemimpin Indonesia.
Pada 15 Agustus 1945, Soekarno, Hatta, dan Achmad Soebardjo mendatangi Maeda untuk memastikan kabar tersebut.
Dalam Memoir (2002), Hatta merekam percakapan itu.
"Sukarno menanyakan terus terang, 'Apa benarkah berita yang tersiar sekarang dalam masyarakat, bahwa Jepang sudah minta damai kepada Sekutu?' Maeda tidak terus menjawab dan menekur kira-kira satu menit lamanya. Aku beri isyarat kepada Sukarno, bahwa berita yang disampaikan Sjahrir itu memang benar. Dan Sukarno mengangguk," ujar Hatta.
"Setelah begitu lama berdiam diri dan wajah muka yang kelihatan sedih, Admiral Mayeda menjawab, bahwa berita itu memang disiarkan oleh Sekutu. Tetapi, di sini belum lagi memperoleh berita dari Tokyo. Kami meninggalkan kantor Rear-Admiral Mayeda dengan keyakinan, bahwa Jepang sungguh-sungguh menyerah," imbuh Hatta.
Jawaban Maeda itu semakin memperkuat keyakinan para pemimpin pergerakan bahwa Jepang telah kalah.
Situasi kemudian bergerak cepat.
Dorongan agar Indonesia segera memproklamasikan kemerdekaan semakin kuat. Peristiwa Rengasdengklok terjadi. Setelah itu, Soekarno dan Hatta kembali ke Jakarta.
Dan ketika malam tiba, rumah Maeda menjadi tempat berkumpulnya para tokoh yang hendak merumuskan teks Proklamasi.
"Itu Kewajiban Saya"
Maeda sebenarnya berada dalam posisi yang rumit.
Sebagai perwira Jepang, ia seharusnya menjalankan perintah untuk mempertahankan status quo setelah Jepang menyerah. Artinya, tidak boleh ada perubahan politik maupun pemerintahan yang dilakukan sebelum kedatangan Sekutu.
Namun, Maeda memberikan kediamannya untuk digunakan sebagai tempat pertemuan.
Rumah di Jalan Imam Bonjol No. 1 itu dipilih karena Maeda memberikan jaminan keselamatan kepada Soekarno dan tokoh-tokoh lainnya.
Setelah peristiwa Rengasdengklok berakhir, Hatta mencatat pertemuan mereka dengan Maeda.
Maeda disebut sangat gembira ketika bertemu Soekarno dan Hatta.
Soekarno kemudian mengucapkan terima kasih atas kesediaan Maeda meminjamkan rumahnya untuk pertemuan malam itu.
Jawaban Maeda singkat, tetapi kelak menjadi salah satu bagian paling terkenal dari kisahnya:
"Itu kewajiban saya yang mencintai Indonesia merdeka."
Sikap Maeda bukan berarti mewakili seluruh kebijakan Jepang. Ia tetap seorang perwira Jepang yang terikat pada struktur militernya.
Namun, pilihan pribadinya pada malam menjelang Proklamasi memberikan ruang bagi para pemimpin Indonesia untuk menyusun langkah menuju kemerdekaan.
Setelah Indonesia Merdeka
(Museum yang sebelumnya merupakan kediaman perwira Jepang Laksamana Tadashi Maeda dan menjadi tempat perumusan naskah Proklamasi Kemerdekaan RI itu kini dapat digunakan sebagai sarana pembelajaran sejarah bagi masyarakat tentang detik-detik Kemerdekaan Indonesia.(Liputan6.com/Faizal Fanani))
Kisah Maeda tidak berakhir setelah Proklamasi dibacakan. Pada 1946, ia ditangkap Sekutu dan dipenjara di Gang Tengah selama sekitar satu tahun sebelum akhirnya dikembalikan ke Jepang.
Dalam interogasi di Changi Gaol, Singapura, pada 31 Mei hingga 14 Juni 1946, Maeda menjelaskan sikapnya terhadap kemerdekaan Indonesia.
Sebagaimana dikutip R.E. Elson dalam The Idea of Indonesia: Sejarah Pemikiran dan Gagasan, Maeda mengatakan:
"Jalan menuju kemerdekaan telah ditempuh begitu jauh sehingga [bangsa Indonesia] tidak mau melepaskan kemajuan yang telah didapat."
Di Indonesia, Maeda dan orang-orang yang berada di sekelilingnya juga berupaya menjaga agar kemerdekaan Indonesia tidak dianggap sebagai produk Jepang.
Nishijima, yang pernah dekat dengan Maeda, menceritakan pengalamannya saat ditahan di Penjara Gang Tengah. Kesaksiannya dimuat dalam buku Kisah Istimewa Bung Karno (2010).
"Laksamana Muda Maeda dan saya berusaha sekeras-kerasnya untuk menjaga nama baik Republik Indonesia, agar jangan sampai Belanda bisa mengatakan RI itu sebagai bikinan Jepang. Biarpun pemeriksa berturut-turut 4 hari menekan saya sampai akhirnya mengeluarkan air kencing berdarah, saya tetap tidak mengaku. Umur saya waktu itu hampir 36 tahun dan masih bisa tahan," jelas Nishijima.
Namun, kepulangan Maeda ke Jepang tidak disambut sebagai kepulangan seorang pahlawan.
Ia justru mendapat kecaman dan perlakuan buruk. Pilihannya membantu proses menuju kemerdekaan Indonesia membuat karier dan kehidupannya setelah perang menjadi sulit.
Ia kehilangan banyak akses dan hidup dalam kondisi yang jauh dari kemewahan seorang mantan perwira tinggi.
Kembali ke Indonesia
Bertahun-tahun kemudian, Indonesia tidak melupakan peran Maeda.
Pada 1973, pemerintah Indonesia mengundangnya menghadiri perayaan Proklamasi 17 Agustus. Dalam kesempatan itu, Maeda kembali bertemu Mohammad Hatta.
Pemerintah Indonesia juga memberikan Bintang Jasa Nararya kepadanya.
Maeda meninggal dunia pada 13 Desember 1977 dalam usia 79 tahun.
Mengenang kepergian Maeda, Ahmad Soebardjo menulis:
"Pada detik-detik terpenting dalam melaksanakan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, Laksamana menunjukkan sifat Samurai Jepang, yang mengorbankan diri dengan rela demi tercapainya cita-cita luhur dari rakyat Indonesia, yakni Indonesia Merdeka"
19. Buatkan Gambar dan Infografis tentang
Tokoh Proklamasi Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945 yang belum diangkat menjadi Pahlawan
Tokoh Penting Proklamasi Tanpa Gelar Pahlawan Nasional
Wikana:
Tokoh golongan muda yang aktif mendesak Soekarno-Hatta, berperan dalam persiapan teknis di laksamana Maeda, dan menteri muda yang hilang pada masa transisi 1965–1966.
Chaerul Saleh:
Pemimpin kelompok pemuda Menteng 31 yang menjadi penggerak utama penculikan ke Rengasdengklok dan kemudian menjabat petinggi negara di masa Sukarno.
Burhanuddin Mohammad Diah (B.M. Diah):
Tokoh pers dan diplomat yang berjasa besar menyelamatkan naskah asli teks proklamasi dari tong sampah serta ikut menyebarkan berita kemerdekaan.