Rabu, 16 September 2026

Surabaya Berkalung Besi!

 Surabaya Berkalung Besi! 


Jaringan trem Surabaya jadi bukti kota ini sangat metropolis pada zamannya, bahkan disandingkan dengan kota-kota Eropa. Sejak akhir abad ke-19, rel trem sepanjang sekitar 32 km sudah mengitari kota, padahal penduduknya baru sekitar 150.000 jiwa (sensus 1920: 187.903 jiwa) dengan luas kota hanya seperempat dari sekarang. Angkutan ini datang setiap 30 menit dan menjangkau hampir semua permukiman dalam radius kurang dari 1 km jalan kaki.


Trem dibangun dan dioperasikan oleh perusahaan swasta Oost-Java Stoomtram Maatschappij (OJS), yang mendapat konsesi dari Pemerintah Hindia Belanda pada 1886 dan mulai beroperasi dengan trem uap pada 1889. Trayek awal terbagi tiga jalur (lijn): Ujung–Sepanjang(–Krian), Mojokerto–Ngoro, dan Gemekan–Dinoyo. OJS lalu menambah jalur dalam kota, termasuk sisi barat pusat kota (1913–1916), dan pada 1911 memperluas jaringan untuk persiapan trem listrik.


Trem listrik resmi beroperasi 15 Mei 1923 (jalur pertama Wonokromo–Ujung, panjang lintasan ±36 km), lalu 11 Februari 1924 seluruh rute mulai dilayani. Total rel pada 1924 mencapai 49,4 km hingga Krian, Sidoarjo. Rute-rute era listrik antara lain Simpang–Wonokromo Kota, Simpang–Gubeng, Tunjungan–Sawahan, dan Simpang–Kalimas  jadi sebutan "4 jalur" merujuk ke rute era trem listrik ini, bukan jumlah jalur sejak awal (yang sebenarnya tiga).


Jalur trem uap maupun listrik ini melingkupi jalan-jalan besar Surabaya dan menghubungkan stasiun-stasiun kota seperti Wonokromo, Semut, dan Pasar Turi, serta terintegrasi dengan angkutan massal lain pada masanya.


Sumber foto : KITLV, NIMH, Flickr milik Frank Stamford


#kinikunomedia #trem #sejarah #surabaya

Amir Sjarifuddin gamang

 Hukuman Mati Bagi Pemimpin PKI


Amir Sjarifuddin gamang. Perjalanan panjang tanpa keberadaan Musso di sisinya membuatnya banyak melamun. Terlebih lagi pertemuan terakhirnya dg Musso diisi dg pertengkaran, saling menyalahkan atas kegagalan pemberontakan PKI 1948 di Madiun.


Amir yg merupakan Mantan Perdana Menteri itu berada dalam rombongan besar long march pelarian PKI. Saat itu mereka sedang berhenti sejenak di suatu tanah datar yg kosong di suatu hutan. 


Perbekalan sudah habis sama sekali. Tanpa kenal jeri, mereka melahap dedaunan yg tumbuh di sekitar dan menyembelih kuda angkut. Mereka melakukannya secepat mungkin karena Pasukan Siliwangi sudah tak begitu jauh di belakang rombongan. Selesai dg urusan perut, semua diperintahkan berjalan dg cepat. Sedapat mungkin menempuh tujuh kilometer sejam.  


Rombongan long march PKI itu terlihat payah, hampir semuanya berwajah kusut nan letih. Mereka sudah menempuh jarak 500 km, longmarch dari Madiun selama dua bulan. 


Mereka memasuki daerah Grobogan, utara Purwodadi Jateng. Jumlah mereka semakin sedikit. Tibalah mereka di daerah Rawa Klambu. Jaraknya sudah sangat dekat dengan garis Van Mook. Sebentar lagi mereka akan memasuki wilayah Belanda. Tinggal menyeberangi Sungai Lusi saja, maka sampailah mereka ke wilayah Belanda dan merdekalah mereka dari kejaran tentara Republik.


Tapi sungguh malang, saat itu sungai Lusi sedang meluap dan banjir. Arusnya sangat deras. Tentara PKI yg berusaha menyeberangi sungai tsb akhirnya tenggelam. Terdapat sekitar 20 tentara PKI yg tenggelam di sungai ini.


Akhirnya rombongan longmarch memutuskan utk menunda penyeberangan, menunggu aliran sungai Lusi bersahabat kembali. Terpaksa rombongan bertahan di Rawa Klambu yg terkenal angker. Berhari-hari di Rawa dg bekal minim membuat Amir Lemah dan terserang disentri.


Di Rawa Kelambu yg sunyi senyap ini, ingatan Amir melayang di masa kejayaannya menjadi perdana menteri. Dia teringat ketika menandatangani Perjanjian Renville pada 17 Januari 1948. Sebuah perjanjian yg dikecam oleh pihak dan membuat kabinet Amir dalam krisis.


Perjanjian Renville ini sangat merugikan Indonesia krn wilayahnnya semakin sempit. Jika dalam perjanjian Linggarjati mengakui kedaulatan de facto Indonesia di Jawa, Sumatra, dan Madura. Maka perjanjian Renville hanya mengakui wilayah Indonesia tinggal beberapa di Jateng, Jatim serta Aceh. Bisa dikatakan perjanjian Renville ini adalah sebuah gol bunuh diri. Menyerahkan hampir seluruh wilayah Indonesia kepada Belanda. Akhirnya kabinet Amir bubar. Soekarno menunjuk Hatta sebagai Perdana Menteri.


Kabinet Hatta menerapkan kebijakan Re-Ra (Rekonstruksi-Rasionalisasi). Re-Ra menyebabkan banyak sekali pemangkasan di tubuh tentara. Pemberhentian dg paksa para tentara inilah yg menyebabkan banyak ketidakpuasan di kalangan militer. Mereka yg diberhentikan, mayoritas bergabung dg FDR (Front Demokrasi Rakyat) milik PKI. Dari cikal bakal inilah tentara PKI terbentuk.


Dan saat itu tentara PKI terjebak di Rawa Klambu. Mereka sudah dikepung oleh batalion "Kala Hitam" dari Brigade Siliwangi I di daerah Purwodadi. Pertempuran tak bisa dielakkan. Tentara PKI, meskipun terdesak, mereka tidak mau menyerah. Pertempuran berlangsung selama dua hari sebelum akhirnya PKI kalah.


Tanggal 28 Nov 1948, para petinggi PKI yaitu Djoko Soedjono, Maroeto Darusman, Sajogo dll tertangkap oleh satuan TNI di Desa Peringan dekat Klambu.


Kemudian tgl 29 Nov 1948, Amir Sjarifudin tertangkap. Mantan perdana menteri itu ditawan oleh Kompi Pasopati pimpinan Kapten Ranoe. Semua tentara PKI menyerah.


Berakhirlah pemberontakan PKI di tahun 1948 itu.  Operasi penumpasannya memakan waktu 72 hari. Terhitung sejak direbutnya Madiun pada tgl 19 Sep 1948 sampai pasukannya menyerah di hutan Klambu tgl 29 Nov 1948.


Pemerintah menjatuhkan hukuman mati kepada para pemimpin PKI. Hukuman mati itu dilaksanakan tgl 19 Des 1948. Tercatat ada 11 orang yg dihukum mati, termasuk Amir Sjarifuddin.


Hukuman mati para  pemimpin PKI ini dilaksanakan di Desa Ngalihan, Karanganyar Solo atas perintah Kolonel Gatot Subroto.

Purbaya dan Prabowo

 Purbaya dicopot 

SEMPAT PUKUL MEJA? KEJADIAN ITU BENAR dan terekam dalam rapat resmi.


Bukan hoax Tribun, tapi memang terjadi di rapat terakhirnya.


Ini kronologinya sesuai video sidang DPD RI Komite IV, Senin 14 September 2026 pagi (hanya beberapa jam sebelum beliau dicopot):


FAKTA RAPAT TERAKHIR:


Pak Purbaya Yudhi Sadewa sedang rapat gabungan dengan DPD, Bappenas, dan Bank Indonesia membahas RUU APBN 2027. Di tengah paparannya, beliau meledak kesal.


Penyebab beliau pukul meja:


1. Ada perusahaan asing (disebut pengusahanya dari China, tapi operasi di Indonesia) yang main curang. Mereka jualan baja dan produk lain secara cash basis - jual langsung cash ke klien biar tidak terdeteksi sistem pajak.


2. Tidak bayar PPN. Potensi kerugian negara dari 1 perusahaan saja bisa Rp4 Triliun per tahun, kata Pak Purbaya. Mereka jual tapi tidak setor PPN.


3. Meremehkan & Menghina Aturan Indonesia. Ini yang bikin beliau paling kesal. Kata Pak Purbaya, perusahaan itu terang-terangan bilang: _"Tidak ada gunanya ikut peraturan di Indonesia, semua bisa diselesaikan dengan bayar orang."_


Mereka menganggap hukum Indonesia bisa dibeli.


Makanya Pak Purbaya bilang: _"Saya merasa dihina"_ dan gesturnya memukul meja sambil berkata: _"Saya akan sikat. Tidak ada toleransi!"_ 


---


TULISAN EDUKASI DARI KEJADIAN INI


JUDUL: Meja Dipukul, Bukan Orang - Ketika Seorang Menteri Tersinggung Demi Harga Diri Bangsa


Banyak orang lihat videonya lalu fokus ke "pukul mejanya". Padahal yang lebih penting adalah kenapa beliau sampai harus pukul meja.


Ini bukan soal emosi, ini soal harga diri.


1. Pajak adalah Harga Diri Bangsa.

Perusahaan asing itu datang ke Indonesia, pakai jalan kita, pakai listrik kita, pakai pekerja kita, tapi saat disuruh bayar pajak malah bilang "aturan Indonesia tidak berguna".

Kalau kita diam, kita yang rugi. Uang PPN Rp4 Triliun itu bisa untuk bangun berapa ribu sekolah di Sumatera Barat? Bisa untuk berapa beasiswa MABA seperti anak kita yang tergolong ekonomi menengah ke bawah?


Pak Purbaya marah bukan karena benci asing, tapi karena dia sayang negara.


2. Jangan Bangga Jika Lolos Pajak, Itu Bukan Pintar, Itu Merugikan Tetangga.

Di sekitar kita juga banyak yang bangga "Saya bisa akali pajak". Padahal perusahaan asing yang cash basis itu contoh buruknya. Mereka kaya sendiri, tapi kas negara kosong. Akhirnya yang susah siapa? Kita juga, karena subsidi dicabut, harga naik.


Edukasi untuk kita semua: Taat pajak bukan soal takut petugas, tapi soal gotong royong.


3. Marah yang Benar, di Tempat yang Benar.

Pak Purbaya tidak maki-maki orangnya di medsos. Beliau marah di forum resmi, di depan DPD, dengan data. Pukul meja sebagai simbol ketegasan, bukan kekerasan.


Ini pelajaran untuk kita: Kalau merasa dihina, jangan balas dengan hinaan di Instagram Story. Bawa ke forum yang benar, dengan data dan solusi.


Hari itu beliau pukul meja untuk membela aturan Indonesia. Sore harinya, jabatannya berakhir lewat satu telepon. Tapi ketegasannya menolak perusahaan yang menghina Indonesia itu akan tetap diingat.


Karena jabatan bisa selesai dalam 1 telepon, tapi keberanian membela negara tidak akan pernah dicopot.


***


Nah ini... orang pintar pasti sudah bisa menebak apa alasan sampai dia di copot, terlalu berani bela negara.


#PurbayaYudhiSadewa #EdukasiPajak #HargaDiriBangsa #TaatPajak #Menkeu #RapatDPD #JanganRemehkanAturan #BelajarDariMenteri



Prabowo dicopot 


Sedikit kembali membaca sejarah, ternyata copot jabatan itu biasa, yang tidak biasa itu caranya masing-masing berbeda-beda.


***


22 MEI 1998: PERINTAH 7 KATA YANG MENYELAMATKAN JAKARTA DARI PERANG SAUDARA - 


"Sebelum Matahari Terbenam!".


Jakarta, 22 Mei 1998. 


Asap kerusuhan Trisakti masih tebal. Presiden Soeharto baru mundur 24 jam. B.J. Habibie baru dilantik jadi Presiden ke-3 kemarin sore.


Istana masih rapuh. Di luar, harga beras naik, mahasiswa masih di DPR, dan di dalam tubuh ABRI sendiri ada keretakan.


Kronologinya dalam 5 jam yang mencekam:


Pukul 10.00 WIB - Laporan di atas meja.


Panglima ABRI Jenderal Wiranto lapor ke Presiden baru di Istana: "Ada pergerakan pasukan Kostrad tanpa sepengetahuan Panglima ABRI, bergerak menuju titik vital: Istana Negara dan kediaman Presiden di Kuningan Patra."


Menurut buku Habibie, jalan depan rumah Kuningan sudah penuh personel, Kopassus dan Paspampres berhadap-hadapan. Paspampres saat itu hanya pegang peluru hampa, Kopassus peluru tajam.


Pukul 11.00 WIB - Habibie konsultasi.


Habibie tidak langsung menuduh itu kudeta. Tapi beliau paham, jika dibiarkan ada dua matahari kembar komando: satu di Panglima ABRI, satu di Pangkostrad. Itu bisa memicu bentrokan berdarah sesama tentara di Jakarta yang sedang rapuh. Beliau telepon Letjen (Purn) Sintong Panjaitan, penasehat militernya.


Pukul 13.00 WIB - Ultimatum 7 kata.


Habibie perintahkan Wiranto: Ganti Pangkostrad Letjen Prabowo Subianto dengan Mayjen Johny Lumintang.


Wiranto minta waktu sampai besok pagi. Habibie menolak keras dan menjatuhkan perintah bersejarah yang Ibu tulis:


"Perintah ini harus dilaksanakan segera, sebelum matahari terbenam!".


Pukul 15.00 WIB - Prabowo masuk Istana.


Prabowo datang ke Istana dengan seragam loreng PDL, bawa 12 pengawal, 3 Land Rover. Di pintu, Paspampres atas perintah Sintong minta dengan hormat: "Tolong lepas senjata."


Prabowo melepas kopelrim, pistol, dan pisau rimba Kostradnya. Lalu masuk ke ruang Habibie. Terjadi dialog tegang dalam Bahasa Inggris. Prabowo bertanya kenapa dicopot, menyebut itu penghinaan keluarga dan mertuanya. 


Habibie jawab tenang:


"Anda tidak dipecat, tapi jabatan Anda diganti. 


Ini adalah keinginan Presiden." dan "Masa bodoh, saya Presiden dan harus membereskan keadaan."


Pukul 17.00 WIB - Menjelang Maghrib.


Prabowo menerima keputusan. Jabatan diserahkan ke Mayjen Johny Lumintang. Jakarta selamat. Johny Lumintang sendiri tercatat hanya menjabat 17 jam, rekor tersingkat Pangkostrad, sebelum diganti Mayjen Djamari Chaniago keesokan harinya. 


EDUKASI SEJARAH UNTUK KITA:


Kenapa cerita ini harus kita ajarkan ke anak cucu?


1. Pelajaran Supremasi Sipil: Presiden adalah Panglima Tertinggi.


Di hari pertama kerja, Presiden sipil yang latar belakangnya insinyur pesawat, bukan jenderal, harus memecat jenderal bintang tiga. Dan tentara patuh. Itulah fondasi reformasi: ABRI di bawah Presiden, bukan di atasnya.


2. Pelajaran Menahan Diri: Kepatuhan Mencegah Perang Saudara.


Fakta paling penting: Prabowo patuh meski marah. Beliau tidak melawan, tidak menggerakkan pasukan lebih besar. Jika malam itu beliau menolak dan terjadi tembak-menembak Kopassus vs Paspampres di Kuningan, republik yang baru lahir itu bisa hancur. Kepatuhan satu orang menyelamatkan jutaan orang.


3. Pelajaran Sejarah Tidak Hitam-Putih.


Sampai hari ini ada 3 versi:

- Versi Habibie: Itu upaya kudeta yang harus dicegah.

- Versi Prabowo: Itu pengamanan Presiden, bukan kudeta.

- Versi Wiranto: Tidak ada kudeta sama sekali.


Sebagai rakyat, tugas kita bukan menghakimi, tapi belajar: Di saat genting, butuh 2 hal: 


Ketegasan pemimpin dan kedewasaan yang dipimpin. Habibie tegas dengan "sebelum matahari terbenam", Prabowo dewasa dengan menerima.


Jika hari itu matahari terbenam tanpa keputusan, mungkin sejarah Indonesia hari ini akan sangat berbeda.


Itulah 7 kata yang menyelamatkan Jakarta.


Mohon maaf jika ada kesalahan dalam penulisan, karena ini sejarah dan masanya juga sudah panjang, itu murni kesalahan dalam menulisnya.


#FaktaSejarah #22Mei1998 #Habibie #Prabowo #Reformasi1998 #SebelumMatahariTerbenam #EdukasiSejarah #SupremasiSipil #JasMerah



Purbaya dicopot 

SEMPAT PUKUL MEJA? KEJADIAN ITU BENAR dan terekam dalam rapat resmi.


Bukan hoax Tribun, tapi memang terjadi di rapat terakhirnya.


Ini kronologinya sesuai video sidang DPD RI Komite IV, Senin 14 September 2026 pagi (hanya beberapa jam sebelum beliau dicopot):


FAKTA RAPAT TERAKHIR:


Pak Purbaya Yudhi Sadewa sedang rapat gabungan dengan DPD, Bappenas, dan Bank Indonesia membahas RUU APBN 2027. Di tengah paparannya, beliau meledak kesal.


Penyebab beliau pukul meja:


1. Ada perusahaan asing (disebut pengusahanya dari China, tapi operasi di Indonesia) yang main curang. Mereka jualan baja dan produk lain secara cash basis - jual langsung cash ke klien biar tidak terdeteksi sistem pajak.


2. Tidak bayar PPN. Potensi kerugian negara dari 1 perusahaan saja bisa Rp4 Triliun per tahun, kata Pak Purbaya. Mereka jual tapi tidak setor PPN.


3. Meremehkan & Menghina Aturan Indonesia. Ini yang bikin beliau paling kesal. Kata Pak Purbaya, perusahaan itu terang-terangan bilang: _"Tidak ada gunanya ikut peraturan di Indonesia, semua bisa diselesaikan dengan bayar orang."_


Mereka menganggap hukum Indonesia bisa dibeli.


Makanya Pak Purbaya bilang: _"Saya merasa dihina"_ dan gesturnya memukul meja sambil berkata: _"Saya akan sikat. Tidak ada toleransi!"_ 


---


TULISAN EDUKASI DARI KEJADIAN INI


JUDUL: Meja Dipukul, Bukan Orang - Ketika Seorang Menteri Tersinggung Demi Harga Diri Bangsa


Banyak orang lihat videonya lalu fokus ke "pukul mejanya". Padahal yang lebih penting adalah kenapa beliau sampai harus pukul meja.


Ini bukan soal emosi, ini soal harga diri.


1. Pajak adalah Harga Diri Bangsa.

Perusahaan asing itu datang ke Indonesia, pakai jalan kita, pakai listrik kita, pakai pekerja kita, tapi saat disuruh bayar pajak malah bilang "aturan Indonesia tidak berguna".

Kalau kita diam, kita yang rugi. Uang PPN Rp4 Triliun itu bisa untuk bangun berapa ribu sekolah di Sumatera Barat? Bisa untuk berapa beasiswa MABA seperti anak kita yang tergolong ekonomi menengah ke bawah?


Pak Purbaya marah bukan karena benci asing, tapi karena dia sayang negara.


2. Jangan Bangga Jika Lolos Pajak, Itu Bukan Pintar, Itu Merugikan Tetangga.

Di sekitar kita juga banyak yang bangga "Saya bisa akali pajak". Padahal perusahaan asing yang cash basis itu contoh buruknya. Mereka kaya sendiri, tapi kas negara kosong. Akhirnya yang susah siapa? Kita juga, karena subsidi dicabut, harga naik.


Edukasi untuk kita semua: Taat pajak bukan soal takut petugas, tapi soal gotong royong.


3. Marah yang Benar, di Tempat yang Benar.

Pak Purbaya tidak maki-maki orangnya di medsos. Beliau marah di forum resmi, di depan DPD, dengan data. Pukul meja sebagai simbol ketegasan, bukan kekerasan.


Ini pelajaran untuk kita: Kalau merasa dihina, jangan balas dengan hinaan di Instagram Story. Bawa ke forum yang benar, dengan data dan solusi.


Hari itu beliau pukul meja untuk membela aturan Indonesia. Sore harinya, jabatannya berakhir lewat satu telepon. Tapi ketegasannya menolak perusahaan yang menghina Indonesia itu akan tetap diingat.


Karena jabatan bisa selesai dalam 1 telepon, tapi keberanian membela negara tidak akan pernah dicopot.


***


Nah ini... orang pintar pasti sudah bisa menebak apa alasan sampai dia di copot, terlalu berani bela negara.


#PurbayaYudhiSadewa #EdukasiPajak #HargaDiriBangsa #TaatPajak #Menkeu #RapatDPD #JanganRemehkanAturan #BelajarDariMenteri


Purbaya Selamat 

Gue coba ngebedah dan nguliti habis-habisan gimana vulgar-nya permainan gelap birokrasi di republik ini. Gue bakal ngasih lo "kacamata tembus pandang" buat ngelihat gimana sebuah sistem raksasa kartel birokrasi yang udah berkarat puluhan tahun bekerja sama untuk membunuh karakter dan menyingkirkan satu-satunya anomali yang berani ngacak-ngacak piring makan mereka.


 Kita mulai dari sebuah unggahan Facebook yang viral di tanggal 14 September 2026, tepat di hari Purbaya ditendang dari kabinet. Istrinya, Ida Yulidina, nulis sebuah curhatan yang bikin bulu kuduk merinding: "Emang negara kita tidak bisa diperbaiki... Memang 2 bulan kebelakang bapak kayak orang gelisah dan ragu mau mutasi kan orang2 mengerikan... Pada berontak 300 org pajak dan beacukai."

​Media arus utama langsung nge- framing ini seolah-olah 300 orang itu adalah penjahat murni, dan netizen langsung ribut. 


Tapi dokumen investigasi yg gue terima ini ngasih kita kejernihan nalar. Ini bukan wawancara resmi, ini cuma jeritan hati seorang istri yang ngelihat suaminya stres berat. Tapi, coba lo garis bawahi frasa "orang-orang mengerikan".

​Dalam bahasa birokrasi, "mengerikan" itu bukan berarti mereka bawa celurit ke kantor. Mengerikan di sini merujuk pada power atau kekuasaan menggurita yang mereka pegang. Siapa sih 300 (atau sampai 400) orang ini? Mereka adalah Pejabat Eselon II, III, dan IV di Direktorat Jenderal Pajak (DJP) dan Bea Cukai (DJBC). Buat lo yang nggak paham struktur pemerintahan, menteri itu jabatannya politis, dia bisa datang dan pergi. Tapi Eselon II, III, dan IV? Mereka adalah Deep State-nya kementerian. Mereka adalah penguasa teknis lapangan. Mereka yang tahu di mana celah pajak bisa dinegosiasikan, mereka yang pegang kunci kontainer di pelabuhan, mereka yang duduk manis di posisi-posisi yang oleh Purbaya disebut secara gamblang sebagai "tempat-tempat gemuk".

​Sekarang, mari kita bedah manuver "bunuh diri" yang dilakuin Purbaya.


​Di kementerian, lo nggak bisa main pecat PNS seenaknya jidat. Aturannya ketat banget. Jadi, apa yang dilakuin Purbaya buat motong jalur mafia ini? Dia pakai taktik shock therapy. Tanggal 10 September 2026, dia mutasi ratusan pejabat ini. Strateginya brilian sekaligus nekat: "Saya kocok ulang, saya pindahin yang kurang baik ke daerah, yang baik ke pusat." Dia secara harfiah mengambil pejabat-pejabat dari lahan basah, memutus rantai "diskusi dengan wajib pajak tertentu", dan membuang mereka ke tempat yang "sepi".

​Lo harus paham, bagi seorang birokrat yang udah bertahun-tahun nyaman dapet kickback atau setoran gelap dari lahan basah, dipindah ke daerah sepi itu ibarat kiamat finansial. Purbaya nggak cuma mindahin meja kerja mereka, dia lagi memutus urat nadi aliran uang haram yang mungkin udah menghidupi ekosistem tak kasat mata di bawah sana.


​Dan apa hasilnya? Dokumen ini nyatet pernyataan Purbaya yang sangat krusial: "Sampai dengan akhir Juli tahun ini (2026), tumbuhnya hampir 30 persen daripada tahun lalu... Itu terjadi tanpa kenaikan tax rate."

​Mindblowing, kan? Penerimaan pajak naik 30 persen tanpa pemerintah harus naikin tarif PPN atau pajak lainnya! Logika ekonominya simpel banget, Bos: uang yang selama ini bocor ke kantong-kantong pribadi, berhasil dipaksa masuk ke kas negara cuma gara-gara Purbaya "menyapu" para penjaga gerbangnya.

​Tapi di sinilah letak tragedinya, dan di sinilah permainan gelap itu mulai dipertontonkan secara vulgar di depan mata kita.


​Lo pikir, ekosistem raksasa yang kehilangan akses ke uang triliunan rupiah bakal diam aja ngelihat periuk nasinya ditendang? Absolutely not. Sistem yang terancam akan selalu mencari cara untuk mempertahankan eksistensinya. Di birokrasi kita, ketika bawahan "berontak", mereka nggak demo bakar ban di depan Monas. Pemberontakan birokrasi itu bentuknya adalah bisikan, sabotase administratif, dan lobi-lobi politik tingkat tinggi di ruang-ruang gelap kekuasaan.


​Hanya butuh waktu EMPAT HARI bagi sistem untuk bereaksi. Tanggal 10 September Purbaya merombak 300+ pejabat itu. Tanggal 14 September, saat Purbaya lagi rapat resmi di DPD RI bela APBN, sebuah telepon dari sosok yang dia sebut "Bapak" masuk. Beberapa jam kemudian, namanya lenyap dari daftar kabinet. Digantikan oleh Suahasil Nazara, seorang birokrat karier yang aman, patuh, dan merepresentasikan status quo.

​Ketika wartawan nanya ke Purbaya, apakah pencopotannya ini berkaitan dengan perombakan 300 pejabat itu, jawaban Purbaya sangat jujur, dingin, dan telanjang: "Sebagian ada. Sebagian iya."


​Ini adalah konfirmasi paling epik dari seorang mantan menteri bahwa dia baru saja dihabisi oleh sistem yang ingin dia bersihkan.

​Tapi, kalau lo ngerasa pencopotan itu udah cukup vulgar, lo harus lihat apa yang terjadi dua hari setelahnya. Ini adalah bagian yang paling bikin gue muak, sekaligus membuktikan betapa liciknya orkestrasi kartel birokrasi ini.

​Tanggal 16 September 2026, dua hari setelah Purbaya lengser, tiba-tiba Dirjen Pajak Bimo Wijayanto dan Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama muncul ke publik. Mereka dengan lantangnya mengusulkan agar mutasi 300+ pejabat itu "ditunda atau dibatalkan".


 Alasannya? Mereka tiba-tiba bilang menemukan "nama-nama ajaib" dalam daftar mutasi tersebut yang katanya tidak melalui proses assessment dan talent management.

​Gue mau ngajak lo mikir pakai nalar yang sehat. Ke mana aja dua Dirjen ini waktu Purbaya masih berkuasa? Kenapa waktu SK itu digodok dan ditandatangani pada 10 September, mereka diam seribu bahasa dan bantah ada konflik? Jawabannya jelas: mereka nggak berani head-to-head sama Purbaya. Mereka tahu Purbaya itu ibarat buldoser. Jadi, mereka wait and see. Mereka menunggu eksekutor tak kasat mata (tekanan politik ke Istana) bekerja menyingkirkan Purbaya.

​Begitu Purbaya resmi out, barulah para petinggi birokrasi ini keluar dari sarangnya, berlindung di balik tameng "prosedur administrasi" dan "talent management", lalu berusaha mengembalikan bidak-bidak catur mereka ke posisi semula. Alasan "nama ajaib" itu adalah bahasa politis yang sangat halus untuk bilang: "Tolong batalkan mutasi ini, karena orang-orang kami yang pegang lahan basah ikut terbuang ke daerah."


​Sistem ini bener-bener bekerja dengan sangat sempurna. Suahasil Nazara, sang Menteri baru, dengan gaya khas birokrat konservatif, menyatakan bahwa dia masih "membahas" dan "menunggu usulan" dari unit Eselon I terkait nasib SK mutasi tersebut. Lo udah bisa nebak kan ending-nya bakal ke mana? SK itu kemungkinan besar bakal direvisi, dibatalkan, atau disesuaikan agar tidak lagi mengganggu zona nyaman para elit pajak dan bea cukai.

​Investigasi ini ngajarin kita satu realita yang sangat pahit tapi harus kita telan: di negara ini, reformasi birokrasi itu cuma indah di atas kertas makalah dan pidato kenegaraan. Di lapangan, kalau lo berani motong kompas, kalau lo berani mindahin ratusan orang yang jadi "pengepul" di tempat-tempat gemuk, lo lagi ngedatengin death warrant (surat kematian) buat karier lo sendiri.


​Gue nggak marah Purbaya dipecat. Sebaliknya, gue justru melihat pemecatan ini sebagai medali kehormatan tertinggi buat dia. Purbaya Yudhi Sadewa telah berhasil membuktikan bahwa sistem ini sebenarnya bisa dibersihkan, kebocoran itu sebenarnya bisa ditambal, dan penerimaan negara itu sebenarnya bisa naik 30 persen tanpa harus mencekik rakyat dengan pajak baru.


​Sayangnya, dia lupa satu hal fundamental tentang politik Indonesia: keberhasilan yang terlalu telanjang dalam memberantas kebocoran uang gelap, adalah ancaman eksistensial bagi mereka yang hidup dari kebocoran tersebut. Purbaya tidak dipecat karena dia gagal. Purbaya dipecat karena dia terlalu berhasil menakut-nakuti "orang-orang mengerikan" di dalam labirin Kemenkeu.

​Pada akhirnya, sandiwara pembatalan mutasi dengan dalih "nama ajaib" pasca-lengsernya Purbaya ini adalah bukti paling vulgar bahwa negara kita memang sedang sakit parah. Kartel birokrasi telah menang, status quo telah pulih, dan para pejabat gemuk kini bisa kembali tidur nyenyak di atas kasur lahan basah mereka.

​Game over. Purbaya mungkin kalah, tapi dia kalah dengan cara yang menelanjangi kemunafikan republik ini sampai ke tulang-tulangnya.


Pak Harto disuruh Mundur 


Yoga Soegama, jenderal yang berani suruh Pak Harto tak maju lagi jadi presiden pada 1985


Tak banyak orang yang berani menyuruh Pak Harto agar tak maju lagi sebagai presiden. Dari sedikit itu, salah satunya adalah Jenderal Yoga Soegama.


Kejadian itu terjadi pada Mei 1985, tiga tahun sebelum Soeharto terpilih lagi sebagai presiden pada 1988.


Sebagaimana disampaikan oleh Bambang Wiwoho, mantan wartawan Suara Karya yang juga menulis biografi Yoga Soegama, Jenderal Yoga: Loyalis di Balik Layar, pada kanal YouTube Obor Rakyat Reborn, malam itu Yoga bertemu dengan Presiden Soeharto di Jalan Cendana untuk rutinan Jumat Malam, sebuah pertemuan di mana dia harus memberi laporan intelijen terkait apa yang terjadi dalam seminggu sebelumnya sekaligus memetakan apa yang akan terjadi seminggu kemudian.


Selain memberi laporan, malam itu, Yoga juga menyarankan supaya Presiden Soeharto tidak maju sebagai presiden pada 1988. Ketika itu, Yoga adalah Kepala Badan Koordinasi Intelijen Negara (BAKIN).


Hadir juga malam itu Menteri Sekretaris Negara Sudharmono dan Panglima ABRI LB Benny Moerdani.


Saat itu Yoga menyarankan supaya Pak Harto tak maju lagi sebagai presiden. Dia juga berjanji akan mendukung siapa pun yang dipilih oleh Soeharto sebagai penggantinya.


Salah satu alasan atau pertimbangan Yoga memberi saran itu adalah ketika itu sudah berkuasa lebih dari 20 tahun. Jadi, saat 1988, Soeharto sudah jadi presiden selama 23 tahun.


Jadi secara alamiah, menurut Yoga, sebagaimana dituturkan Bambang, Pak Harto akan sampai pada tingkat jenuh. “Nah, kalau jenuh itu berbahaya dan tidak bagus dalam memimpin negara,” kata Bambang.


Yang kedua, orang-orang yang berada di sekeliling Soeharto sudah mulai berbeda generasi. Jika pada awal-awal 1960-an, Soeharto dianggap masih kenal dekat dengan orang-orang yang ada di sekitarnya, tahu persis baik-buruknya; sementara pada 1980-an, generasinya sudah berbeda.


Selain itu, pada waktu itu, bisnis anak-anak Soeharto sudah mulai membesar. Dan itu, menurut Yoga, bisa memancing pembicaraan, rumor-rumor, yang tidak bagus, yang akan merugikan nama Soeharto.


Menurut Bambang, dalam pertemuan itu, Soeharto diam. Sementara, Benny Moerdani dan Sudharmono menolak usul Yoga – kelak, pada 1988, Benny rupanya sepakat dengan usulan Yoga dan dalam sebuah kesempatan bermain billiard bersama dia meminta Soeharto untuk tidak maju lagi sebagai presiden di mana Pria Kemusuk itu akhirnya marah.


Penolakan dari dua sejawatnya itu rupanya membuat Yoga marah. Menurut Bambang, marahnya Yoga bahkan tidak tanggung-tanggung. “Banyak hal yang menunjukkan dia marah, termasuk membeli senjata dan segala macam," jelasnya.


Sejak malam itu, Yoga, menurut beberapa sumber, berhenti melakukan pertemuan rutin pada Jumat malam dengan Soeharto di Jalan Cendana yang sudah mereka lakukan sejak 1974. Hubungan Yoga dengan Benny Moerdani juga memburuk.


Baca artikel selengkapnya di sini https://intisari.grid.id/read/034413066/yoga-soegama-jenderal-yang-berani-suruh-pak-harto-tak-maju-lagi-jadi-presiden


#yogasoegama #yogasugama #bennymoerdani #PakHarto #soeharto


Purbaya Legowo 


Saya Sedih, Tapi Sekarang Tidak Terlalu Buruk" - Seni Menerima Kehilangan Ala Purbaya


Foto ini bukan foto pejabat kalah. Ini foto manusia yang sedang belajar berdamai.


Bayangkan: Setahun mengelola uang negara Rp3.000 triliun, tiba-tiba Senin jam 14.33 disuruh berhenti lewat telepon saat rapat. Selasa harus serah terima jabatan cuma 35 detik. Siapa yang tidak sedih?


Purbaya Yudhi Sadewa mengakui itu. "Saya sedih..."


Beliau tidak jaim bilang "Saya baik-baik saja". Beliau jujur. Sedih itu wajar. Manusiawi.


Tapi beliau lanjutkan: "...tapi sekarang tidak terlalu buruk."


Kenapa tidak terlalu buruk? Karena beliau menemukan 3 hal yang lebih besar dari jabatan:


1. Tidur yang tenang lebih mahal dari jabatan yang tinggi.


Selama jadi Menteri, beliau bilang semalam masih mikir-mikir, susah tidur. Mikirin pajak yang bocor Rp5 triliun dari pabrik baja, mikirin MBG Rp268 triliun, mikirin rupiah. Sekarang bisa tidur tenang. Bu, apa artinya jabatan tinggi kalau tidurnya tidak tenang?


2. Kolam di belakang rumah lebih jujur dari ruang rapat.


Setelah sertijab beliau bilang: _"Habis ini mau pulang, mancing di belakang rumah. Mancing ikan mujair, nila. Bisa sambil ngelamun 'kenapa dipecat?'"_ Sambil ketawa.


Di kolam, ikan tidak peduli kita mantan Menteri atau bukan. Mereka tetap makan pelet kita. Di situlah beliau menemukan bahwa kebahagiaan itu sederhana.


3. Sedih itu sehari, hidup harus terus berjalan.


Kalimat "Saya sedih, tapi sekarang tidak terlalu buruk" adalah rumus _resilience_ (ketahanan mental) yang diajarkan psikolog:


Akui sedihnya (jangan ditahan), lalu cari satu hal baik hari ini (tidur tenang, bisa mancing, bisa kumpul keluarga). Maka sedih itu tidak jadi depresi, tapi jadi pelajaran.


Buat Ibu yang hari ini juga sedang di fase "sedih, tapi tidak terlalu buruk" - baru di-PHK, baru gagal panen, baru ditinggal, baru diganti - ingat kalimat ini.


Boleh sedih hari ini. Tapi besok harus bilang, "tidak terlalu buruk", karena masih ada kolam di belakang rumah, masih ada keluarga yang menunggu, masih ada tidur tenang yang bisa kita nikmati.


Jabatan hanya sementara. Kemampuan untuk bilang "tidak terlalu buruk" setelah kehilangan, itu yang selamanya.


#SayaSedihTapiTidakTerlaluBuruk #PurbayaYudhiSadewa #EdukasiMental #Resilience #IkhlasSetelahJabatan #TidurTenang #PelajaranHidup #MantanMenkeu #BahagiaSederhana




Vulgar

 DARI SKANDAL 40 PABRIK BAJA HINGGA RIMA KELAM 1998: MEMBONGKAR TEKANAN MAHADAHYSYAT DI BALIK PERGANTIAN MENKEU!


"Sejarah tidak pernah benar-benar mengulang dirinya sendiri, tetapi ia sering kali berima (berulang dengan kemiripan tertentu)." — Mark Twain


Awal pekan pertengahan September 2026 menyajikan plot twist paling kolosal di panggung politik-ekonomi republik. Di media sosial, orang-orang ramai menepuk dada lalu mencibir: "Presiden bodoh! Baru mau berantas korupsi, eh jam 4 sore kursinya malah hilang!"

Apa gunanya mencalonkan diri 4 kali kalau memang tak bisa mengubah bangsa ini?


Aduhai, betapa mudahnya orang yang tidak pernah memegang kendali negara berlagak menjadi panglima perang di kolom komentar. 


Kita urutkan kembali timeline nya ...

Mari kita lihat fakta yang terjadi pada Senin siang, 14 September 2026, dalam rapat kerja Komite IV DPD RI di Kompleks Parlemen, Senayan.


Di hadapan para senator, Pak Purbaya Yudhi Sadewa membongkar mega-kebocoran penerimaan negara yang membuat bulu kuduk berdiri: sedikitnya 40 pabrik baja asal China beroperasi bebas tanpa membayar pajak secara penuh melalui transaksi tunai (cash basis). Beliau menunjuk satu pabrik di Pulogadung yang tunggakannya mencapai Rp 200 miliar hingga berpotensi menembus Rp 1 triliun per perusahaan!


Pak Purbaya meradang karena perintah pemeriksaan yang ia turunkan ke Direktorat Jenderal Pajak ternyata tidak dijalankan sama sekali. Ada indikasi oknum "orang dalam" bermain mata melindungi para pengemplang. Beliau berikrar akan menyapu bersih kebocoran itu tanpa kompromi.


Namun, di tengah rapat yang memanas sekitar pukul 13.00 WIB, sebuah panggilan darurat masuk. HP Pak Purbaya bergetar menerima telepon dari sosok yang ia sebut takzim: "Bapak". Rapat seketika diskors. Pak Purbaya melangkah keluar ruangan... dan tidak pernah kembali lagi. Tak lama berselang, staf Kemenkeu tampak sibuk mengemasi barang-barang sang menteri yang tertinggal di meja sidang.


Membongkar kebocoran triliunan rupiah butuh nyali setebal baja, tapi menghadapi realitas politik istana butuh ketabahan tingkat tinggi: baru membocorkan nama oknum jam 1 siang, jam 4 sore posisi menteri di Istana Negara sudah berganti nama!


Sekarang analisis Rima Kelam 1998!


Apakah Presiden mencopot Purbaya karena tunduk pada mafia? Di sinilah pentingnya memahami rima sejarah.


Mundurkan waktu ke akhir 1997. Presiden Soeharto membuat Barat murka karena hendak membeli armada jet tempur Sukhoi dari Rusia demi melepas ketergantungan militer dari Amerika Serikat, serta menolak resep maut IMF dengan merancang sistem patok kurs (Currency Board System). Respons kekuatan finansial global sangat instan dan kejam: Bill Clinton menelepon langsung, Michel Camdessus berdiri pongah bersendekap dada mengawasi penyerahan diri Indonesia, likuiditas dicekik, bank ditutup, dan berujung kerusuhan sosial terdahsyat.


Kini di era Prabowo, polanya berulang dengan akurasi menakutkan. Prabowo melakukan manuver geopolitik berani: mengamankan 150 juta barel minyak mentah dari Vladimir Putin di Moskow di tengah ancaman perang AS-Iran (diumumkan Hashim Djojohadikusumo pada 20 Mei 2026), mengintegrasikan Indonesia ke aliansi BRICS, dan konsisten menolak resep utang Barat.


Hukum internasional tak memungkinkan pengiriman armada perang ke Jakarta, maka senjatanya adalah Perang Ekonomi Asimetris

(Dari pengamatan dan riset ya ...) :


1). Serangan Indeks MSCI: Dimulai April 2026 saat MSCI membekukan rebalancing indeks saham Indonesia, disusul 13 Mei 2026 dengan mendepak massal 18 saham andalan (termasuk emiten hilirisasi raksasa seperti AMMN, BREN, TPIA, DSSA, CUAN, dan AMRT).


2). Eksodus Dolar & Serangan Kurs: Penjualan paksa memicu pelarian modal asing hingga USD 1,7 miliar (setara Rp 31 triliun), menghempaskan rupiah menembus level psikologis Rp 17.676 per dolar AS, dan memaksa Bank Indonesia mengerek BI Rate demi membendung pelarian valas.


3). Borok Rp 15.400 Triliun & Pertempuran DSI

Serangan luar memanfaatkan borok internal kita sendiri. Selama 34 tahun, kejahatan manipulasi faktur ekspor (under-invoicing) pada kelapa sawit, batu bara, dan mineral telah merampok devisa negara hingga Rp 15.400 triliun. Dokumen kepabeanan sengaja ditekan murah, volume riil disamarkan, dan laba dolarnya diparkir permanen di luar negeri.


4). Untuk menyumbat perampokan devisa ini, Presiden Prabowo mendirikan PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) sebagai pintu tunggal ekspor mineral dan energi nasional: Fase 1 (Juni–Desember 2026) sebagai penilai dan perantara harga riil, disusul Fase 2 (Januari 2027) bertransformasi menjadi pedagang penuh yang menjamin 100% devisa kembali ke tanah air.


Inilah simpul persekutuannya: kartel komoditas domestik bersekutu dengan sentimen pasar global. Mereka memanfaatkan kepanikan indeks modal untuk mengguncang pasar keuangan, demi memaksa Presiden membatalkan ekspor satu pintu DSI sebelum Fase 2 berjalan penuh di 2027!


Dilema Kepemimpinan Prabowo:


Menyelamatkan Kapal Induk

Coba bayangkan beban di pundak Presiden Prabowo pada Senin sore, 14 September 2026:


Rupiah dihantam spekulasi di level Rp 17.676 per dolar AS.


Harga minyak dunia melonjak ke US$ 101 per barel, membakar alokasi subsidi kas negara.


Sengketa setoran dividen Danantara Rp 120 triliun memanas di ruang publik.


Pecahnya Rantai Komando: Mutasi massal ratusan pejabat yang dieksekusi Pak Purbaya memicu pembangkangan internal terbuka, ditandai terbitnya surat edaran penolakan mutasi oleh jajaran Ditjen Pajak.


Di depan mata Presiden, kapal perang ekonomi Republik Indonesia sedang dihujani torpedo dari luar oleh spekulan indeks global, sementara di dalam ruang mesin, para perwira pencari uang negara justru saling todong senjata.


Jika Pak Purbaya dipertahankan malam itu, pasar global akan membaca adanya kelumpuhan total administrasi keuangan di Jakarta. Modal akan kabur serentak, rupiah terjun bebas, dan Indonesia dipaksa bertekuk lutut memanggil IMF persis tragedi 1998!


Presiden Prabowo menarik tuas darurat: memasang Prof. Suahasil Nazara yang berkarakter tenang untuk memulihkan retakan komando birokrasi, mengamankan penagihan pajak, dan meredam kepanikan pasar obligasi. Ini bukan tanda kebodohan, melainkan manuver penyelamatan kapal agar tidak karam dihantam badai.


Panggilan Perang Literasi 👀🧠💕


Pak Purbaya adalah ksatria yang membuka borok 40 pabrik baja dan pembocor devisa negara. Keberaniannya membela kehormatan bangsa wajib kita hormati setinggi langit.


Namun, menuduh Presiden "bodoh" hanya memperlihatkan ketidaktahuan kita terhadap perangkap perang ekonomi modern. Jangan biarkan energi kita habis untuk mencaci di linimasa.


Rapatkan barisan! Dukung ekspor satu pintu DSI, desak Kejaksaan Agung dan BPKP menuntaskan audit 40 pabrik baja nakal, dan kawal Menkeu baru agar menutup celah kebocoran pajak lewat integrasi sistem yang permanen. Kedaulatan bangsa ini dipertaruhkan!


Salam Literasi Numerasi Geopolitik,

Bu Guru 💕

Senin, 14 September 2026

Kolonel Sarwo Edhie

 Jakarta, dini hari 1 Oktober 1965.

Langit masih gelap namun fajar sudah mulai menyingsing. Suara radio RRI menyiarkan pengumuman mengejutkan:

“Kami dari Gerakan 30 September telah menahan jenderal-jenderal yang menjadi Dewan Jenderal yang akan menggulingkan Presiden Sukarno…”


Di markas RPKAD, Kolonel Sarwo Edhie Wibowo sedang menatap peta besar Jakarta. Laporannya datang cepat — enam jenderal hilang, dan situasi ibu kota kacau.

Seorang perwira muda berlari masuk.

“Laporan, Pak! Jenderal Soeharto memanggil Bapak ke Kostrad sekarang juga!”


-Pertemuan Dua Prajurit


Di ruang komando Kostrad, Mayor Jenderal Soeharto menunggu. Ia terlihat tenang tapi tegas.

Soeharto: “Wo… keadaan genting. Mereka kuasai RRI, Telkom, dan Halim. Ini bukan sekadar pemberontakan kecil.”

Sarwo Edhie: (menatap lurus) “Saya siap, Jenderal. Pasukan RPKAD menunggu perintah.”

Soeharto: “Baik. Kita ambil alih Jakarta malam ini. Tidak ada keraguan, tidak ada kesalahan. Jalankan cepat dan bersih.”

Sarwo Edhie mengangguk, lalu berbalik kepada anak buahnya.

 “Kita bukan berperang melawan rakyat, tapi melawan pengkhianat bangsa. Laksanakan tugas dengan kehormatan!”


Operasi Malam di Jakarta


Menjelang tengah malam, truk-truk RPKAD meluncur dari markas ke seluruh penjuru kota.

RRI dan kantor telekomunikasi dikepung dalam sunyi.

Tanpa banyak temb4kan, pasukan elit itu berhasil mengambil alih gedung.

Di luar gedung, Sarwo Edhie berdiri tegak, mendengar kabar:

“Sasaran pertama aman, Pak!”

Ia hanya menjawab singkat,

“Baik. Sekarang Halim.”


-Pengepungan Halim Perdanakusuma


Fajar 2 Oktober. Kabut pagi menyelimuti Halim. Di kejauhan, bayangan pasukan yang loyal pada PKI masih berjaga.

Sarwo Edhie memegang teropong, memantau setiap gerakan.

 “Siapkan mortir. Kalau mereka menemb4k duluan, jangan ragu balas!”

Suara tembakan pertama pecah — pertempuran dimulai.

Pasukan RPKAD menyerbu dengan cepat, disiplin, tanpa panik. Dalam beberapa jam, Halim berhasil direbut.

DN Aidit dan para pemimpin G30SPKI sudah melarikan diri, tapi Sarwo Edhie tahu, perang belum selesai.


-Penemuan Lubang Buaya


Beberapa hari kemudian, seorang agen polisi melapor bahwa beliau mengetahui keberadaan para jenderal yang dicvlik dan berada di daerah Lubang Buaya.

Sarwo Edhie mendatangi lokasi, ditemani beberapa anak buahnya, setelah lokasi ditemukan, Sarwo Edhie melapor ke Soeharto. Sehingga keesokan harinya dilakukan proses pengangkatan dari sumur tua, mayat 6 jenderal dan 1 perwira muda oleh pasukan dari KKO Marinir AL.

Saat tali diturunkan dan tubuh pertama diangkat, semua terdiam.

 “Ya Allah… mereka para jenderal…” ucap Sarwo Edhie pelan.

Air matanya menetes, tapi wajahnya tetap keras.

 “Catat nama mereka. Bangsa ini harus tahu siapa yang mengkhianati para pahlawannya.”


- Ke Jawa Tengah – Perang Melawan Sisa PKI


Beberapa bulan kemudian, perintah baru datang: menumpas sisa PKI di daerah-daerah.

Dari Yogyakarta hingga Jawa Timur, Sarwo Edhie memimpin operasi demi operasi.

Ia tahu banyak di antara mereka hanyalah pengikut buta, tapi perintah harus dijalankan.

“Jangan dendam,” katanya kepada pasukannya. “Tapi jangan biarkan pengkhianatan tumbuh lagi.”


-Akhir Sang Komandan


Tahun-tahun berlalu. Indonesia kembali tenang.

Namun bayangan malam 1 Oktober 1965 tak pernah hilang dari ingatan Sarwo Edhie.

Ia jarang berbicara tentang dirinya, tapi kepada prajurit muda ia selalu berkata:

“Prajurit sejati tidak mencari nama, hanya menjalankan kewajiban pada bangsa.”

Pada 9 November 1989, Kolonel Sarwo Edhie Wibowo berpulang.

Negeri ini mengenangnya bukan sekadar sebagai penumpas PKI, tapi penjaga pertama bangsa di saat gelap gulita.

--

#Sejarah 

#penumpasPKI

#sarwoedhie 

#G30SPKI

#Soeharto

#LubangBuaya

Murid HOS

 Di awal tahun 1900-an, di Gang Peneleh, Surabaya, berdiri sebuah rumah sederhana milik H.O.S. Tjokroaminoto. Rumah itu bukan sekadar tempat kos. Di dalamnya tinggal anak-anak muda dari berbagai daerah, datang dengan satu keinginan yang sama, ingin belajar, ingin mengerti, dan diam-diam ingin ikut membebaskan tanah kelahiran mereka.


Tiga di antara penghuni rumah itu kelak dikenang sepanjang sejarah bangsa ini. Namanya Soekarno, Musso, dan Kartosoewirjo. Mereka makan di meja yang sama, tidur di kamar yang berdekatan, dan mendengarkan pidato guru yang sama setiap malam. Tidak ada yang menyangka, dari kedekatan itu akan lahir tiga jalan yang saling berlawanan.


Tjokroaminoto bukan orang sembarangan. Ia dipanggil Raja Jawa Tanpa Mahkota, sebuah julukan yang lahir dari rasa hormat, bukan dari gelar resmi. Ia disegani pribumi maupun orang-orang Belanda di Hindia. Ketika ia berpidato, ruangan yang penuh sesak bisa mendadak sunyi, seolah setiap kata yang keluar dari mulutnya punya bobot tersendiri.


Tapi di rumah kosnya, ia bukan tokoh yang berjarak. Ia duduk bersama murid-muridnya, berbagi meja makan, menjawab pertanyaan sampai larut malam. Dari cara itulah anak-anak muda seperti Soekarno belajar bukan hanya ilmu, tapi juga bagaimana rasanya dipercaya oleh seseorang yang mereka kagumi sepenuh hati.


Soekarno selalu menjadi bayang-bayang Tjokroaminoto. Ke mana pun sang guru pergi berpidato, ia ikut, duduk di sudut ruangan, memperhatikan setiap jeda suara, setiap gerak tangan, bahkan setiap kelemahan yang luput disadari orang lain. Ia mencatat bahwa gaya bicara gurunya cenderung datar dan minim humor, lalu diam-diam menyimpan catatan itu untuk dirinya sendiri.


Ia tidak pernah berlatih di depan cermin seperti orator pada umumnya. Ia belajar langsung dari panggung sungguhan, dari suara Tjokroaminoto yang menggetarkan ruangan. Kelak kedekatan itu bertambah erat karena Soekarno menikahi putri gurunya sendiri. Dari rumah kos di Peneleh itulah, benih orator besar bangsa ini mulai tumbuh diam-diam.


Musso tumbuh dengan cara berpikir yang berbeda. Ia melihat penjajahan bukan hanya sebagai soal bangsa yang terjajah, tapi sebagai soal rakyat kecil yang diperas oleh sistem. Baginya, kemerdekaan tidak cukup berhenti pada bendera dan lagu kebangsaan. Ia mencari jalan yang menurutnya lebih adil bagi mereka yang selama ini berada di lapisan paling bawah.


Pilihan itu membawanya semakin jauh dari jalan yang ditempuh Soekarno. Ia memilih ideologi komunis, menempuh jalur perjuangan yang berbeda arah dari sahabat-sahabatnya sendiri. Dari satu rumah yang sama, ia berjalan ke arah yang membuatnya, bertahun-tahun kemudian, berdiri berseberangan dengan negara yang justru dibangun oleh teman sekamarnya dulu.


Kartosoewirjo memilih jalan yang lain lagi. Ia meyakini bahwa perjuangan sejati harus berakar pada agama, bahwa negara yang dicita-citakan harus berdiri di atas hukum Islam. Keyakinan itu tumbuh perlahan, dipupuk oleh kekecewaan pada arah pergerakan yang menurutnya mulai menjauh dari nilai yang ia pegang sejak di rumah gurunya dulu.


Dari keyakinan itu lahir perlawanan bersenjata, laskar yang ia bentuk sendiri, dan cita-cita mendirikan negara dengan wajah yang sama sekali berbeda dari yang dibayangkan Soekarno maupun Musso. Tiga murid, tiga peta jalan, dan satu guru yang mungkin tidak pernah menduga muridnya akan berjalan sejauh itu ke arah yang berlainan.


Di rumah Peneleh dulu, mereka bertiga saling mendukung. Berbagi makanan, berbagi keresahan, berbagi mimpi tentang tanah air yang bebas dari penjajahan. Tidak ada yang menduga bahwa perbedaan cara pandang, yang dulu terasa seperti diskusi malam biasa, akan tumbuh menjadi jurang yang tidak bisa lagi dijembatani oleh persahabatan.


Waktu membawa mereka semakin jauh dari meja makan yang sama. Soekarno menempuh jalan nasionalisme menuju kursi presiden. Musso menempuh jalan komunisme menuju pemberontakan. Kartosoewirjo menempuh jalan islam radikal menuju negara tandingan. Tiga jalan itu, pada akhirnya, dipastikan akan bertemu kembali, hanya saja bukan di meja makan seperti dulu.


Bertahun-tahun kemudian, di Gedung Agung, Soekarno yang sudah menjadi presiden bertemu kembali dengan Musso. Ia menyapa dengan hangat, memeluk sahabat lamanya itu erat-erat, seolah waktu tiga dekade lenyap begitu saja. Sejenak, keduanya kembali menjadi dua anak kos di Surabaya yang berbagi suka dan duka di bawah satu atap.


Tapi kehangatan itu tidak bertahan lama. Tak lama setelah pertemuan itu, jalan mereka justru berbenturan lebih keras dari sebelumnya. Presiden yang dulu adalah anak kesayangan Tjokroaminoto, kini berhadapan dengan sahabatnya sendiri yang memberontak. Sejarah, pada akhirnya, memaksa dua orang yang pernah saling mendukung untuk saling menumpas.


Musso tewas dalam pemberontakan yang ia pimpin sendiri. Bertahun-tahun setelahnya, Kartosoewirjo pun ditumpas, negara yang ia cita-citakan tidak pernah benar-benar berdiri. Dua murid yang dulu tumbuh di bawah asuhan guru yang sama, pada akhirnya jatuh oleh tangan negara yang dipimpin oleh murid ketiga dari rumah yang sama pula.


Ada satu perenungan dalam novel ini, tentang betapa berat rasanya seandainya ketiga murid itu mau menyatukan kecerdasan dan keberanian mereka, alih-alih membiarkan perbedaan memisahkan mereka sejauh itu. Barangkali begitulah jalan sejarah menuliskan takdirnya. Satu perenungan itu menyimpan seluruh kepedihan dari kisah tiga murid dan satu guru ini.


Tjokroaminoto mengajarkan cinta pada tanah air kepada tiga anak muda yang sama-sama tulus. Ia tidak pernah menduga bahwa ketulusan itu akan tumbuh menjadi tiga arah yang begitu jauh berbeda, bahkan saling berhadapan. Novel ini menghidupkan kembali bagian sejarah bangsa yang jarang diceritakan dari sisi paling manusiawi, dari sisi persahabatan yang retak.


Membaca kisah mereka bertiga membuat kita bertanya pada diri sendiri, seandainya berada di rumah Peneleh itu, jalan mana yang mungkin akan kita pilih. Ceritakan di kolom komentar, menurutmu, dari ketiga murid Tjokroaminoto ini, siapa yang paling berat perjuangannya, Soekarno, Musso, atau Kartosoewirjo.

Purbaya

 𝗧𝗶𝗴𝗮 𝗪𝗮𝗷𝗮𝗵, 𝗦𝗮𝘁𝘂 𝗞𝗲𝗯𝗼𝗵𝗼𝗻𝗴𝗮𝗻


Monday, Sept 14, 2026


.

Saya pernah menulis pada 8 September 2025, ketika Sri Mulyani dicopot dari jabatan Menteri Keuangan. Judulnya “𝗥𝗘𝗦𝗛𝗨𝗙𝗙𝗟𝗘: 𝗗𝗮𝗿𝗶 𝗙𝗲𝗿𝗿𝗮𝗿𝗶 𝗸𝗲 𝗣𝗮𝗷𝗲𝗿𝗼.” Saat itu, lima menteri diganti, termasuk Sri Mulyani, menteri keuangan yang menjadi jimat dua periode Jokowi.


Saya menyebut Sri sebagai Ferrari: cepat, presisi, disiplin, tetapi membutuhkan jalan yang tertata. Purbaya saya gambarkan sebagai Pajero: lebih tangguh, lebih berani masuk jalan rusak, dan lebih cocok untuk menghadapi medan politik yang keras.


Waktu itu saya mengira persoalannya hanya pergantian gaya. Ternyata tidak sesederhana itu. Duh, Purbaya hanya bertahan sekitar satu tahun. Hari ini, 14 September 2026, Prabowo menggantinya dengan Suahasil Nazara, orang lama Kementerian Keuangan yang sebelumnya menjabat wakil menteri.


Tidak ada alasan resmi yang mengatakan Purbaya gagal. Bahkan angka pertumbuhan ekonomi pada masa awal jabatannya tidak buruk. Pertumbuhan mencapai 5,39% pada kuartal IV 2025 dan naik menjadi 5,61% pada kuartal I 2026. Defisit 2025 juga berada di 2,81% dari PDB.


Jadi, kalau ukurannya sekadar angka, sulit mengatakan Purbaya gagal.


Lalu mengapa dia diganti? 


Begini ceritanya: Beberapa waktu sebelum pencopotan, Purbaya mengungkap bahwa Danantara keberatan menyerahkan sekitar Rp120 triliun kepada pemerintah. Purbaya juga menyebut adanya perintah Presiden terkait dana tersebut. Tidak lama kemudian, Purbaya dicopot.


Kita tentu tidak boleh mengatakan bahwa itulah penyebab pencopotan, karena pemerintah belum mengatakan demikian. Tetapi waktunya terlalu dekat untuk diabaikan.


Sekarang kita lihat persoalan yang lebih besar. Prabowo ingin pertumbuhan ekonomi tinggi. Ia punya banyak program besar: MBG, KDMP, pembangunan, investasi, hilirisasi, Danantara, dan berbagai agenda lainnya. Semua membutuhkan uang.


Masalahnya, pemerintah juga ingin menjaga defisit tetap di bawah 3 persen. Pemerintah tidak ingin pajak dinaikkan terlalu tinggi. Pemerintah juga tidak ingin rupiah melemah dan investor kehilangan kepercayaan.


Persoalannya sederhana. Kalau belanja ingin besar, uang harus tersedia. Kalau pajak tidak dinaikkan, defisit tidak boleh melebar, dan utang harus dijaga, uangnya dari mana?


Ini bukan teori ekonomi. Ini matematika sederhana. Uang negara tidak muncul karena Presiden menginginkannya.


Danantara kemudian menjadi penting. Pemerintah ingin Danantara tumbuh menjadi lembaga investasi negara raksasa. Gampangnya, Danantara ingin menjadi semacam “tabungan investasi negara”: aset dan keuntungan dikumpulkan, lalu diputar untuk menghasilkan keuntungan lebih besar.


Tetapi pemerintah juga membutuhkan uang untuk membiayai program sekarang. Di situlah kepentingannya bisa bertabrakan. Danantara ingin uangnya diputar untuk masa depan. Pemerintah membutuhkan uang untuk membiayai hari ini. Menteri Keuangan berada tepat di tengah-tengahnya.


Sri Mulyani menghadapi persoalan itu dengan cara berbeda. Ia dikenal sangat disiplin menjaga APBN. Ia menjadi semacam rem ketika pemerintah ingin bergerak terlalu cepat.


Purbaya datang dengan karakter berbeda. Ia lebih berani mendorong pertumbuhan dan mencari ruang agar pemerintah bisa bergerak lebih cepat. Untuk beberapa waktu, pendekatan itu terlihat berhasil.


Tetapi menjadi Menteri Keuangan bukan hanya soal membuat ekonomi tumbuh. Ia juga harus menjaga agar pasar percaya, rupiah tidak terguncang, defisit terkendali, dan APBN tetap dipercaya. Ketika semua kepentingan itu bertabrakan, Menteri Keuangan berada dalam posisi paling sulit.


Presiden boleh membuat target. Menteri Keuangan yang harus mencari uangnya. Dan ketika uangnya tidak cukup, Menteri Keuangan pula yang pertama kali ditanya.


Di sinilah saya melihat tiga wajah dalam satu tahun terakhir.


Sri Mulyani adalah wajah pertama. Ia menjaga disiplin fiskal. Ia membuat pasar percaya bahwa pemerintahan Prabowo tidak akan sembrono mengelola APBN. Tetapi pada saat yang sama, ia harus berhadapan dengan pemerintahan yang ingin bergerak lebih cepat dan membelanjakan lebih banyak. Akhirnya Ferrari masuk garasi.


Purbaya adalah wajah kedua. Ia mencoba membawa kendaraan berbeda. Lebih berani, lebih agresif, lebih siap melewati jalan rusak. Tetapi ada satu kesalahan yang mungkin paling mahal bagi seorang menteri: mengucapkan persoalan internal pemerintah di depan publik.


Ketika Purbaya mengatakan Danantara keberatan memberikan Rp120 triliun dan menyebut perintah Presiden, ia tidak lagi sekadar berbicara soal angka. Ia membuka dapur pemerintah. Dan dapur kekuasaan biasanya tidak suka dilihat orang.


Suahasil adalah wajah ketiga. Begitu dilantik, pesan yang keluar sangat sederhana: APBN harus kredibel dan defisit dijaga di bawah 3 persen.


Tidak ada pidato panjang tentang mengejar pertumbuhan 6 persen. Tidak ada perdebatan terbuka soal Danantara. Pesannya justru menenangkan. Pasar menyukai kalimat seperti itu.


Maka saya melihat pergantian ini bukan sekadar “Purbaya diganti Suahasil.” Ada sesuatu yang lebih besar. Pemerintah tampaknya sedang mengubah cara berbicara tentang ekonomi.


Dari “bagaimana kita bisa bergerak lebih cepat?” kembali menjadi “bagaimana kita menjaga agar APBN tetap dipercaya?” Dan itu membawa kita kembali kepada tulisan saya setahun lalu. Saya menulis Ferrari ke Pajero karena melihat adanya perbedaan karakter antara Sri Mulyani dan Purbaya.


Sekarang saya sadar, persoalannya bukan Ferrari atau Pajero. Persoalannya adalah siapa yang memegang setir, ke mana kendaraan diarahkan, dan siapa yang harus membayar bensinnya.


Presiden menentukan tujuan dan kecepatannya. Menteri Keuangan mencari uangnya. Pasar menilai apakah perjalanan itu masuk akal. Rakyat membayar akibatnya.


Karena itu, saya tidak akan mengatakan Purbaya gagal. Angkanya tidak mendukung kesimpulan sesederhana itu. Saya juga tidak akan mengatakan Suahasil pasti lebih hebat. Itu juga belum terbukti.


Tetapi ada satu hal yang semakin jelas. Menjadi Menteri Keuangan bukan hanya soal pandai menghitung. Ia juga harus tahu kapan harus bicara, kapan harus diam, dan terutama kapan angka tidak boleh bertentangan dengan keinginan politik.


Purbaya mungkin tidak kalah dalam menghitung. Ia mungkin hanya kalah dalam satu hal: mengatakan terlalu terang apa yang sedang terjadi di balik angka. Kalau itu benar, maka ada ironi besar di sini.


Purbaya mungkin bukan sedang menerima azab rezim Prabowo. Ia justru mungkin sedang diselamatkan dari azab berikutnya.


Karena kalau janji terlalu banyak, uang terbatas, defisit harus dijaga, pajak tidak ingin dinaikkan, Danantara ingin terus berkembang, sementara semua program harus tetap berjalan, pada akhirnya seseorang harus menjelaskan ketika angka-angka itu tidak lagi bisa dipaksa cocok. Dan biasanya orang itu adalah Menteri Keuangan.


Jadi, siapa pun Menteri Keuangannya, masalahnya tetap sama: pemerintah punya banyak janji dan program, tetapi uang untuk membiayainya terbatas.


Jadi, persoalannya bukan Ferrari atau Pajero. Persoalannya adalah pemerintah ingin pergi jauh, tetapi belum jelas apakah bahan bakarnya cukup.


Ferrari bisa diganti Pajero. Pajero bisa diganti Ferrari. Tetapi kalau bensinnya tidak cukup, keduanya tetap akan berhenti di tengah jalan.


.

#PurbayaDiCopot


https://www.facebook.com/photo/?fbid=1546209293423222&set=a.653144949396332

Surabaya Berkalung Besi!

 Surabaya Berkalung Besi!  Jaringan trem Surabaya jadi bukti kota ini sangat metropolis pada zamannya, bahkan disandingkan dengan kota-kota ...