Buatlah Risalah dan Infografis tentang Pahlawan :
Laksamana Malahayati
Nama Lengkap: Keumalahayati
Lahir di Aceh Besar, 1 Januari 1550
Meninggal di Aceh Besar, 30 Juni 1615 (gugur di perairan Selat Malaka)
Pahlawan nasional wanita dari Kesultanan Aceh, lahir di Aceh Besar pada 1 Januari 1550 dan gugur pada 30 Juni 1615. Beliau adalah laksamana perempuan pertama di dunia yang mendirikan pasukan Inong Balee dan gugur bertempur melawan Portugis di Selat Malaka.
Pendidikan: Akademi Militer Ma'had Baitul Maqdis
Jabatan: Laksamana An nogkatan Laut Kesultanan Aceh
Pasukan: Inong Balee (pasukan janda prajurit)
Gelar Pahlawan: Pahlawan Nasional Indonesia (ditetapkan 6 November 2017).
Fakta Penting:
Malahayati adalah putri dari Laksamana Mahmud Syah dan keturunan Sultan Aceh. Beliau dikenal karena keberaniannya, termasuk berhasil membunuh Cornelis de Houtman dalam duel satu lawan satu pada 11 September 1599. Makamnya terletak di Desa Lamreh, Kec. Mesjid Raya, Aceh Besar.
Raja/Sultan Aceh Saat Itu:
Malahayati aktif bertugas sebagai laksamana, terutama pada masa pemerintahan Sultan Alauddin Riayat Syah al-Mukammil (1589-1604), Sultan ke-10 Kesultanan Aceh Darussalam. Ia juga menjalin hubungan diplomatik dan perlawanan pada masa transisi kekuasaan di Aceh.
Risalah & Infografis Pahlawan Nasional
⚓ Laksamana Malahayati
Nama Lengkap: Keumalahayati
Lahir: Aceh Besar, 1 Januari 1550
Gugur: Aceh Besar / Selat Malaka, 30 Juni 1615
Gelar: Pahlawan Nasional Indonesia (6 November 2017)
Jabatan: Laksamana Angkatan Laut Kesultanan Aceh
Pasukan: Inong Balee (pasukan janda prajurit)
🧾 Profil Singkat
Laksamana Malahayati adalah pahlawan nasional perempuan dari Kesultanan Aceh dan dikenal sebagai laksamana perempuan pertama di dunia. Ia memimpin armada laut Aceh dan membentuk pasukan khusus perempuan bernama Inong Balee untuk melawan Portugis dan armada asing di Selat Malaka. Namanya dikenang sebagai simbol keberanian, strategi maritim, dan kepemimpinan perempuan Nusantara.
🎓 Pendidikan & Latar Militer
- Dididik di Akademi Militer Ma’had Baitul Maqdis (Aceh)
- Berasal dari keluarga bangsawan dan militer
- Putri Laksamana Mahmud Syah
- Terlatih dalam strategi perang laut dan diplomasi
⚔️ Perjuangan Utama
Pemimpin Pasukan Inong Balee
- Membentuk dan memimpin pasukan janda syuhada
- Basis pertahanan di wilayah pesisir Aceh
- Pasukan dikenal disiplin dan militan
Perang Melawan Portugis & Armada Asing
- Memimpin pertempuran laut di Selat Malaka
- Menyerang kapal-kapal musuh yang mengancam Aceh
Duel Melawan Cornelis de Houtman (1599)
- Mengalahkan dan menewaskan
Cornelis de Houtman
dalam duel satu lawan satu di geladak kapal
- Peristiwa ini mengguncang ekspedisi Belanda saat itu
👑 Masa Kesultanan
- Aktif sebagai laksamana pada masa pemerintahan
Sultan Alauddin Riayat Syah al-Mukammil
- Terlibat dalam misi pertahanan dan diplomasi maritim Aceh
- Menjadi tokoh penting kekuatan laut Kesultanan Aceh Darussalam
🕌 Akhir Hayat
- Gugur dalam pertempuran laut melawan Portugis di Selat Malaka (1615)
- Dimakamkan di Desa Lamreh, Kecamatan Mesjid Raya, Aceh Besar
- Makamnya menjadi situs ziarah sejarah perjuangan Aceh
⭐ Nilai Keteladanan
- Kepemimpinan perempuan di bidang militer
- Keberanian dan strategi maritim
- Loyalitas pada kedaulatan negeri
- Semangat jihad dan pengorbanan
- Pelopor pasukan tempur perempuan
Buatlah Risalah dan Infografis tentang Pahlawan :
Sultan Mahmud Badaruddin II
Nama Lengkap: Raden Muhammad Hasan
Lahir di Palembang, 1 November 1767 (1 Rajab 1181 H)
Meninggal di Ternate, 26 September 1852 (diasingkan Belanda)
Sultan Mahmud Badaruddin II (lahir 1767 - wafat 1852) adalah Sultan Palembang Darussalam ke-7 (memerintah 1803–1821) dan Pahlawan Nasional Indonesia (sejak 1984) yang gigih melawan penjajahan Inggris dan Belanda. Lahir dengan nama Raden Hasan, beliau dikenal bijaksana, alim, dan ahli strategi perang dalam memimpin Perang Menteng.
Masa Pemerintahan: 1803-1813 dan 1818-1821
Orang Tua: Sultan Muhammad Bahauddin (Ayah) dan Ratu Agung.
Perjuangan Utama: Memimpin Kesultanan Palembang melawan kolonialisme Inggris dan Belanda di Sumatera Selatan.
Penghargaan: Pahlawan Nasional Indonesia (1984), Nama Bandara Internasional di Palembang (SMB II), dan gambar pada uang kertas pecahan Rp10.000 (2005).
Ditangkap Belanda: Setelah konflik panjang (Perang Menteng), Palembang jatuh ke tangan Belanda. Pada 14 Juli 1821, SMB II, keluarga, dan pengikutnya ditangkap oleh pasukan Belanda.
Hidup di Ternate: Meskipun dalam pengasingan, SMB II menolak berdamai atau tunduk pada Belanda. Beliau menetap di Ternate, mengisi waktunya dengan syiar Islam, dan menulis karya sastra seperti syair senior Costa, hikayat martalaya, dan syair burung nuri.
Wafat dan Makam: Setelah 31 tahun diasingkan, beliau wafat pada 26 November 1852 dan dimakamkan di Pemakaman Islam Kelurahan Makassar Barat, Ternate Tengah.
Risalah & Infografis Pahlawan Nasional
Sultan Mahmud Badaruddin II
Nama Lengkap: Raden Muhammad Hasan
Lahir: Palembang, 1 November 1767 (1 Rajab 1181 H)
Wafat: Ternate, 26 September 1852 (dalam pengasingan)
Jabatan: Sultan Palembang Darussalam ke-7
Masa Pemerintahan: 1803–1813 dan 1818–1821
Gelar: Pahlawan Nasional Indonesia (1984)
🟫 RISALAH SINGKAT
Sultan Mahmud Badaruddin II adalah pemimpin Kesultanan Palembang Darussalam yang terkenal sebagai raja alim, bijaksana, dan ahli strategi perang. Ia memimpin perlawanan sengit terhadap kolonialisme Inggris dan Belanda dalam rangka mempertahankan kedaulatan Palembang. Perjuangan terbesarnya dikenal dalam rangkaian konflik yang disebut Perang Menteng.
Walau akhirnya ditangkap dan diasingkan oleh Belanda, beliau tetap menolak tunduk dan terus berdakwah serta menulis karya sastra hingga akhir hayatnya.
🟫 DATA UTAMA TOKOH
- Nama kecil: Raden Hasan
- Ayah: Sultan Muhammad Bahauddin
- Ibu: Ratu Agung
- Kesultanan: Palembang Darussalam
- Wilayah perjuangan: Sumatera Selatan
- Status akhir: Ditangkap Belanda dan diasingkan
🟫 PERJUANGAN MELAWAN KOLONIAL
⚔️ Melawan Inggris & Belanda
- Memimpin pertahanan Palembang dari intervensi Inggris dan Belanda
- Menolak dominasi dagang dan militer kolonial
- Mengatur strategi pertahanan sungai dan benteng
⚔️ Perang Menteng
- Serangkaian pertempuran melawan pasukan Belanda
- Menjadi simbol perlawanan rakyat Palembang
- Menunjukkan kepemimpinan militer dan moral yang kuat
⚔️ Penangkapan (1821)
- 14 Juli 1821: Palembang jatuh
- Sultan, keluarga, dan pengikut ditangkap Belanda
- Kesultanan dibubarkan oleh pemerintah kolonial
🟫 MASA PENGASINGAN
- Diasingkan ke Ternate selama ±31 tahun
- Tetap menolak bekerja sama dengan Belanda
- Aktif dalam syiar Islam dan kegiatan keilmuan
- Menghasilkan karya sastra dan religius
Karya yang dikenal:
- Syair Perang Menteng / Syair Sinyor Kosta
- Hikayat Martalaya
- Syair Burung Nuri
🟫 PENGHARGAAN & PENGABADIAN
- 🏅 Pahlawan Nasional Indonesia (1984)
- ✈️ Nama diabadikan menjadi Bandara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin II di Palembang
- 💴 Wajah ditampilkan pada uang kertas Rp10.000 (emisi 2005)
- 🕌 Dikenang sebagai sultan pejuang dan ulama
🟫 INFOGRAFIS RINGKAS
Peran: Sultan & Panglima Perlawanan
Daerah: Palembang
Musuh utama: Inggris & Belanda
Konflik penting: Perang Menteng
Ditangkap: 1821
Diasingkan: Ternate
Wafat: 1852 dalam pengasingan
Warisan: Perlawanan, karya sastra, dan keteladanan kepemimpinan
Buatlah Risalah dan Infografis tentang Pahlawan :
Panglima Polem
Nama Lengkap: Teuku Panglima Polem Sri Muda Perkasa Muhammad Daud.
Gelar: Panglima Polem IX (gelar keturunan bangsawan untuk Panglima Sagoe XXII Mukim, Aceh Besar).
Lahir di Aceh Besar, sekitar tahun 1873.
Meninggal di Batavia (Jakarta), 13 September 1939.
Teuku Panglima Polem Sri Muda Perkasa Muhammad Daud (Panglima Polem IX) adalah bangsawan dan pemimpin perang Aceh terkemuka yang gigih melawan penjajahan Belanda di Aceh Besar (lahir sekitar 1873-1939). Ia memimpin Sagoe XXII Mukim, berjuang bersama Teuku Umar, dan menjadi simbol perlawanan yang disegani, sebelum akhirnya berdamai pada 1903 untuk menyelamatkan rakyatnya.
Ayah: Panglima Polem VIII Raja Kuala.
Kakek: Teuku Panglima Polem Sri Imam Muda Mahmud Arifin (Cut Banta/Panglima Polem VII).
Masa Perjuangan: Akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.
Peran: Panglima perang yang memimpin perlawanan di wilayah Aceh Besar dan sekitarnya melawan Belanda.
Tindakan Terkenal: Berjuang bersama Teuku Umar, mengatur strategi gerilya, dan akhirnya melakukan perdamaian dengan Belanda pada tahun 1903 demi menghindari penderitaan rakyat.
Penghormatan: Namanya diabadikan sebagai nama jalan di berbagai kota di Indonesia, salah satunya Jalan Panglima Polim di Jakarta Selatan.
Panglima Polem dikenal sebagai sosok yang religius, berani, dan tidak mudah menyerah dalam mempertahankan wilayah Aceh dari penjajahan Belanda.
Makam: Kompleks makam beliau terletak di Desa Kuta Cot Glee, Aceh Besar.
Orang Belanda yang Menangkap/Menekan
Panglima Polem IX terpaksa menyerah/berdamai pada tahun 1903 setelah tekanan militer yang gencar dari Belanda, yang saat itu dipimpin oleh Gubernur Militer Belanda di Aceh, J.B. van Heutsz. Setelah menyerah, ia diasingkan namun kemudian diperbolehkan kembali ke Aceh Besar.

📜 Risalah & Infografis Pahlawan Aceh
Panglima Polem IX
Teuku Panglima Polem Sri Muda Perkasa Muhammad Daud
Nama Lengkap: Teuku Panglima Polem Sri Muda Perkasa Muhammad Daud
Gelar: Panglima Polem IX – Panglima Sagoe XXII Mukim
Lahir: Aceh Besar, ± 1873
Wafat: Batavia (Jakarta), 13 September 1939
Wilayah Perjuangan: Aceh Besar dan sekitarnya
Makam: Kuta Cot Glee, Aceh Besar
🧭 Profil Singkat
Panglima Polem IX adalah bangsawan sekaligus panglima perang Aceh yang memimpin perlawanan rakyat terhadap kolonial Belanda pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20. Ia dikenal sebagai pemimpin religius, ahli strategi gerilya, dan tokoh penting dalam jaringan perlawanan Aceh.
Ia memimpin wilayah Sagoe XXII Mukim dan menjadi salah satu simbol daya juang Aceh sebelum akhirnya melakukan perdamaian taktis tahun 1903 demi menyelamatkan rakyat dari korban berkepanjangan.
⚔️ Garis Keturunan
- Ayah: Panglima Polem VIII Raja Kuala
- Kakek: Panglima Polem VII (Sri Imam Muda Mahmud Arifin / Cut Banta)
- Berasal dari garis bangsawan dan panglima turun-temurun Aceh Besar
🔥 Perjuangan Utama
Perlawanan Aceh vs Belanda
- Memimpin perlawanan bersenjata di Aceh Besar
- Menggunakan strategi gerilya dan pertahanan mukim
- Menjadi tokoh yang disegani dalam struktur komando perlawanan Aceh
Kerja Sama Perlawanan
- Berjuang bersama tokoh besar Aceh seperti
Teuku Umar
- Mengatur pergerakan pasukan lokal dan jaringan dukungan rakyat
Tekanan Militer Belanda
- Menghadapi operasi besar kolonial di bawah pimpinan
J.B. van Heutsz
- Tahun 1903 melakukan perdamaian/penyerahan strategis untuk menghindari penderitaan rakyat yang lebih luas
- Sempat diasingkan, kemudian diizinkan kembali ke Aceh
🕌 Karakter & Kepemimpinan
- Religius dan dekat dengan ulama
- Panglima lapangan yang berani
- Mengutamakan keselamatan rakyat
- Teguh namun realistis dalam mengambil keputusan politik-militer
🏛️ Warisan & Penghormatan
- Namanya diabadikan menjadi nama jalan di berbagai kota
- Salah satunya: Jalan Panglima Polim
- Dikenang sebagai simbol perlawanan Aceh terhadap kolonialisme
🧾 Format Siap Infografis (Ringkas Blok Poster)
PANG LIMA POLEM IX
Teuku Panglima Polem Sri Muda Perkasa Muhammad Daud
- Lahir: Aceh Besar, ±1873
- Wafat: Batavia, 13 Sept 1939
- Panglima Sagoe XXII Mukim
- Pemimpin Perang Aceh
- Sekutu perjuangan Teuku Umar
- Strategi: Gerilya Mukim
- Tekanan Belanda: Operasi van Heutsz
- Perdamaian taktis: 1903
- Makam: Kuta Cot Glee, Aceh Besar
- Warisan nama jalan nasional
Buatlah Risalah dan Infografis tentang Pahlawan :
Raden Mattaher
Nama Lengkap: Raden Mattaher bin Pangeran Kusin bin Adi.
Lahir di Jambi, tahun 1871.
Meninggal di Dusun Muaro Jambi setelah terkepung oleh pasukan Belanda, 10 September 1907.
Asal Keluarga: Keturunan bangsawan Kesultanan Jambi; kakeknya adalah Sultan Thaha Syaifuddin.
Raden Mattaher adalah pahlawan nasional asal Jambi yang dikenal sebagai panglima perang yang gigih melawan penjajah Belanda pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20. Ia memiliki julukan "Singo Kumpeh" atau "Harimau Jambi" karena keberaniannya di medan tempur.
Sejarah Perjuangan
Raden Mattaher merupakan tokoh kunci dalam perlawanan rakyat Jambi terhadap kolonialisme Belanda. Berikut adalah poin-poin penting perjuangannya:
Panglima Perang Sultan Thaha: Ia menjabat sebagai panglima perang yang dipercaya oleh Sultan Thaha Syaifuddin untuk memimpin gerilya melawan Belanda.
Strategi Gerilya Sungai: Mattaher sangat ahli dalam memanfaatkan geografis sungai di Jambi. Ia mengintai lalu lintas kapal Belanda dan menyerang dari tempat-tempat strategis.
Menenggelamkan Kapal Belanda: Dalam perjuangannya, ia dilaporkan berhasil menenggelamkan sekitar 36 kapal milik Belanda yang membawa personel, logistik, dan amunisi.
Sumpah Melawan Penjajah: Ia bersumpah akan melawan Belanda hingga tetes darah penghabisan dan menolak keras segala bujukan Belanda untuk menyerah.
9 Kemenangan Besar: Selama menjadi panglima, ia tercatat berhasil memenangkan 9 pertempuran melawan pasukan Belanda.
Perjuangannya berakhir ketika rumahnya di Dusun Muaro Jambi dikepung oleh tentara Belanda dalam sebuah operasi pencarian. Beliau gugur dalam baku tembak bersama beberapa pengikut setianya. Namanya kini diabadikan sebagai nama Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Raden Mattaher di Provinsi Jambi.
Risalah & Infografis Pahlawan Nasional
Raden Mattaher
Nama Lengkap: Raden Mattaher bin Pangeran Kusin bin Adi
Lahir: Jambi, 1871
Wafat: Dusun Muaro Jambi, 10 September 1907 (gugur dalam pertempuran)
Asal: Bangsawan Kesultanan Jambi
Keturunan: Cucu dari Sultan Thaha Syaifuddin
Julukan: Singo Kumpeh / Harimau Jambi
Gelar: Pahlawan Nasional Indonesia
🕊️ RISALAH SINGKAT
Raden Mattaher adalah panglima perang dari tanah Jambi yang memimpin perlawanan rakyat terhadap kolonial Belanda pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20. Sebagai keturunan keluarga kesultanan, ia dipercaya memimpin pasukan gerilya dan menjadi tokoh kunci dalam strategi perlawanan berbasis sungai.
Keberaniannya di medan tempur membuatnya dijuluki Harimau Jambi. Ia terkenal dengan taktik serangan mendadak terhadap jalur logistik Belanda di sungai-sungai. Dalam berbagai catatan perjuangan lokal, ia berhasil menenggelamkan banyak kapal musuh dan memenangkan sejumlah pertempuran penting.
Perjuangannya berakhir ketika pasukan Belanda mengepung kediamannya di Muaro Jambi. Ia gugur dalam baku tembak bersama para pengikut setianya, menolak menyerah hingga akhir hayat.
Namanya kini diabadikan sebagai nama rumah sakit daerah di Provinsi Jambi sebagai bentuk penghormatan atas jasa dan keberaniannya.
📊 INFOGRAFIS RINGKAS
Identitas Tokoh
- Nama: Raden Mattaher
- Tahun lahir: 1871
- Wafat: 10 September 1907
- Daerah perjuangan: Jambi
- Garis keturunan: Kesultanan Jambi
Peran & Kedudukan
- Panglima perang kepercayaan Sultan Jambi
- Pemimpin gerilya anti-kolonial
- Komandan perlawanan sungai
Ciri Perjuangan
- ⚔️ Ahli strategi gerilya sungai
- 🚤 Menyerang jalur kapal & logistik Belanda
- 🌊 Menenggelamkan ±36 kapal musuh (catatan tradisi lokal)
- 🛡️ Memenangkan 9 pertempuran besar
- ✊ Bersumpah melawan hingga akhir hayat
Akhir Perjuangan
- Dikepung di Muaro Jambi
- Gugur dalam baku tembak
- Menolak menyerah
Penghormatan
- 🏅 Pahlawan Nasional Indonesia
- 🏥 Nama diabadikan menjadi RSUD Raden Mattaher Jambi
Buatlah Risalah dan Infografis tentang Pahlawan :
A.M Thalib
Nama Lengkap: Abdul Moethalib (A.M. Thalib).
Lahir di Palembang, Sumatera Selatan, 23 Februari 1922.
Meninggal di Taman Makam Pahlawan Ksatria Ksetra Siguntang, Palembang, Sumatera Selatan, 19 Agustus 2000.
Tokoh pejuang kemerdekaan Indonesia yang dikenal karena kontribusi besarnya di wilayah Sumatera Selatan. Beliau merupakan sosok nasionalis yang gigih dalam mempertahankan kedaulatan Republik Indonesia dari agresi Belanda.
Karier Utama: Tentara (TNI) dan Intelijen.
Perjuangan Utama
Perjuangan A.M. Thalib berfokus pada strategi militer dan diplomasi di wilayah Sumatera:
Strategi Bumi Hangus: Salah satu aksi heroiknya adalah keberanian untuk melakukan taktik bumi hangus terhadap fasilitas-fasilitas penting di Sumatera Selatan demi mencegah aset tersebut digunakan oleh pasukan Belanda selama agresi militer.
Peran di Sektor Intelijen: Ia dikenal sebagai salah satu perintis intelijen militer di Sumatera, yang bertugas memantau pergerakan musuh dan mengoordinasikan perlawanan rakyat.
Mempertahankan Kedaulatan: A.M. Thalib aktif terlibat dalam berbagai pertempuran melawan kelompok radikal serta upaya Belanda yang ingin kembali menjajah Indonesia pasca-Proklamasi 1945.
Kontribusi Pasca-Kemerdekaan: Setelah masa perang fisik, beliau terus berkontribusi dalam pembangunan daerah dan organisasi veteran di Sumatera Selatan.
Kisah perjuangannya sering dikaitkan dengan ketegasan dan loyalitasnya yang tinggi terhadap keutuhan wilayah Republik Indonesia di tanah Sumatera.

Risalah & Infografis Pahlawan
A.M. Thalib
Nama Lengkap: Abdul Moethalib (A.M. Thalib)
🕊️ Identitas Singkat
- Lahir: Palembang, Sumatera Selatan — 23 Februari 1922
- Wafat: Palembang — 19 Agustus 2000
- Dimakamkan: TMP Ksatria Ksetra Siguntang, Palembang
- Bidang Perjuangan: Militer & Intelijen
- Peran Utama: Pejuang kemerdekaan wilayah Sumatera Selatan
🎖️ Profil Perjuangan
A.M. Thalib dikenal sebagai tokoh pejuang kemerdekaan di Sumatera Selatan yang berperan penting dalam mempertahankan kedaulatan Republik Indonesia setelah Proklamasi. Kiprahnya menonjol pada strategi militer, operasi intelijen, dan koordinasi perlawanan rakyat terhadap agresi Belanda.
Ia termasuk figur lapangan yang bekerja senyap namun strategis — memperkuat jaringan informasi dan pertahanan wilayah.
⚔️ Peran & Aksi Penting
🔥 Strategi Bumi Hangus
- Menginisiasi dan melaksanakan taktik bumi hangus
- Menghancurkan fasilitas vital agar tidak dimanfaatkan pasukan Belanda
- Mengutamakan kepentingan strategis jangka panjang perjuangan
🕵️ Perintis Intelijen Daerah
- Aktif membangun jaringan intelijen militer di Sumatera Selatan
- Memantau pergerakan musuh
- Menyusun laporan dan peta situasi untuk komando perjuangan
🛡️ Pertahanan Kedaulatan
- Terlibat dalam perlawanan bersenjata pasca-1945
- Menghadapi agresi Belanda dan gangguan keamanan wilayah
- Menggalang dukungan rakyat untuk pertahanan daerah
🏛️ Kontribusi Pasca Kemerdekaan
- Aktif dalam organisasi veteran pejuang
- Terlibat dalam pembinaan semangat kebangsaan
- Mendukung pembangunan dan stabilitas daerah Sumatera Selatan
⭐ Karakter & Keteladanan
- Tegas dan disiplin
- Loyal terhadap NKRI
- Pejuang lapangan yang tidak mencari popularitas
- Mengutamakan strategi dan keselamatan perjuangan
🧾 Format Siap Poster / Infografis (Ringkas Blok Visual)
A.M. THALIB (1922–2000)
Pejuang Militer & Intelijen Sumatera Selatan
- 🎖️ Tokoh pertahanan daerah
- 🔥 Pelaksana strategi bumi hangus
- 🕵️ Perintis intelijen militer Sumsel
- 🛡️ Pejuang agresi Belanda
- 🇮🇩 Loyalis kedaulatan RI
- ⚰️ TMP Ksatria Ksetra Siguntang — Palembang
Buatlah Risalah dan Infografis tentang Pahlawan :
Mr. Sutan Muhammad Amin Nasution
Nama Lengkap: Mr. Sutan Mohammad Amin Nasution (Nama lahir: Krueng Raba Nasution).
Lahir di Lhoknga, Aceh Besar, 22 Februari 1904.
Meninggal di Jakarta, 16 April 1993 (dimakamkan di TPU Tanah Kusir).
Pahlawan nasional Indonesia asal Aceh berdarah Mandailing, yang ditetapkan pada 10 November 2020. Beliau dikenal sebagai gubernur pertama Sumatera Utara (1947/1948) dan gubernur pertama Riau (1958), serta aktif dalam pergerakan Sumpah Pemuda 1928 dan pengacara handal.
Pendidikan: Meester in de Rechten (Magister Hukum) dari Sekolah Tinggi Hukum di Batavia.
Organisasi: Aktif dalam Jong Sumatranen Bond, Jong Islamieten Bond, dan PPPI.
Karier:
Pengacara di Kutaraja (Aceh).
Hakim di Sigli (masa Jepang).
Gubernur Muda Sumatera Utara (1947).
Gubernur Sumatera Utara Pertama (1948).
Gubernur Riau Pertama (1958-1960).
Penghargaan: Pahlawan Nasional Indonesia (2020), Bintang Mahaputra (1998).
SM Amin dikenal sebagai pejuang yang memperjuangkan otonomi daerah dan aktif dalam pergerakan nasional di Sumatera, bahkan sempat menjadi bagian penting dari persiapan Sumpah Pemuda.
RISALAH & INFOGRAFIS PAHLAWAN NASIONAL
Sutan Muhammad Amin Nasution
Nama Lengkap: Mr. Sutan Mohammad Amin Nasution
Nama Lahir: Krueng Raba Nasution
Lahir: Lhoknga, Aceh Besar — 22 Februari 1904
Wafat: Jakarta — 16 April 1993
Pemakaman: TPU Tanah Kusir, Jakarta
Gelar: Pahlawan Nasional Indonesia (2020)
Penghargaan: Bintang Mahaputra (1998)
🏛️ Profil Singkat
Mr. Sutan Muhammad Amin Nasution adalah tokoh pergerakan nasional, ahli hukum, dan administrator pemerintahan yang berperan penting dalam masa awal Republik Indonesia. Ia dikenal sebagai:
- Gubernur pertama Sumatera Utara
- Gubernur pertama Riau
- Aktivis pergerakan pemuda nasional
- Pengacara dan hakim pada masa transisi kolonial–kemerdekaan
Berasal dari Aceh berdarah Mandailing, ia menjadi salah satu figur penting dalam memperjuangkan pemerintahan daerah dan persatuan nasional.
🎓 Pendidikan
- Sekolah hukum di Batavia
- Gelar Meester in de Rechten (Mr.) — Magister Hukum
- Terlatih dalam sistem hukum modern kolonial yang kemudian dipakai untuk memperkuat administrasi Republik
👥 Aktivitas Organisasi Pergerakan
Semasa muda aktif dalam organisasi pemuda nasional:
- Anggota Jong Sumatranen Bond
- Aktif di Jong Islamieten Bond
- Terlibat dalam PPPI (Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia)
- Ikut dalam arus gerakan yang mematangkan persatuan pemuda menuju Sumpah Pemuda 1928
⚖️ Karier & Jabatan Penting
Bidang Hukum & Peradilan
- Pengacara di Kutaraja (Aceh)
- Hakim di Sigli pada masa pendudukan Jepang
Pemerintahan Republik
- Gubernur Muda Sumatera Utara (1947)
- Gubernur Pertama Sumatera Utara (1948)
- Gubernur Pertama Riau (1958–1960)
Berperan dalam:
- Konsolidasi pemerintahan daerah awal RI
- Penguatan struktur administrasi provinsi baru
- Perjuangan otonomi dan stabilitas daerah
🇮🇩 Peran Perjuangan Nasional
- Aktif dalam jaringan pergerakan pemuda pra-kemerdekaan
- Membantu menyiapkan kader dan gagasan persatuan nasional
- Menguatkan pemerintahan daerah saat Republik masih rapuh
- Menjembatani kepentingan pusat dan daerah di Sumatera
🏅 Penghargaan
- Pahlawan Nasional Indonesia — 10 November 2020
- Bintang Mahaputra — 1998
- Dikenal sebagai pelopor tata kelola pemerintahan daerah di Sumatera
📌 INFOGRAFIS RINGKAS
Identitas
- Nama: Sutan Muhammad Amin Nasution
- Lahir: 22 Februari 1904 — Aceh Besar
- Wafat: 16 April 1993 — Jakarta
Bidang
- Hukum
- Pemerintahan
- Pergerakan Pemuda
Jabatan Kunci
- Gubernur Pertama Sumatera Utara
- Gubernur Pertama Riau
Kontribusi Utama
- Perintis administrasi provinsi awal RI
- Aktivis pergerakan pemuda nasional
- Pejuang otonomi daerah
Buatlah Risalah dan Infografis tentang Pahlawan :
Tengku Chik Di Tiro
Nama Asli: Muhammad Saman
Lahir di Dayah Jrueng, Cumbok Lamlo, Tiro, Pidie, Aceh, 1 Januari 1836.
Meninggal di Benteng Aneuk Galong, Aceh Besar, Aceh, 21 Januari 1891 (usia 55 tahun).
Ulama besar dan pahlawan nasional dari Aceh (1836–1891) yang memimpin perang gerilya melawan kolonial Belanda. Diangkat sebagai Pahlawan Nasional pada 6 November 1973, beliau terkenal karena taktik Perang Sabil yang berhasil mendesak Belanda, sebelum gugur diracun pada Januari 1891.
Orang Tua: Teungku Syekh Ubaidillah (Ayah) dan Siti Aisyah (Ibu)
Agama: Islam
Penghargaan: Pahlawan Nasional (SK No. 087/TK/Tahun 1973)
Perjuangan dan Karir:
Pendidikan: Memperdalam ilmu agama di Aceh dan menunaikan haji di Mekkah.
Perang Aceh: Pada tahun 1880, beliau menggerakkan kembali perlawanan rakyat Aceh yang mulai melemah melawan Belanda.
Taktik: Menggunakan strategi gerilya, berhasil merebut benteng Belanda di Indrapura (1881), Lambaro, dan Aneuk Galong.
Kematian: Belanda menggunakan siasat licik dengan meracuni makanannya pada awal tahun 1891.
Teungku Chik Di Tiro adalah kakek buyut dari Hasan di Tiro, pendiri Gerakan Aceh Merdeka.
RISALAH & INFOGRAFIS PAHLAWAN NASIONAL
Tengku Chik Di Tiro
Nama Asli: Muhammad Saman
Lahir: Dayah Jrueng, Cumbok Lamlo, Tiro, Pidie, Aceh — 1 Januari 1836
Wafat: Benteng Aneuk Galong, Aceh Besar — 21 Januari 1891
Gelar: Pahlawan Nasional (1973)
Peran: Ulama & Panglima Perang Sabil Aceh
📌 Identitas Singkat
- Nama kecil: Muhammad Saman
- Orang Tua: Teungku Syekh Ubaidillah & Siti Aisyah
- Agama: Islam
- Basis perjuangan: Aceh Besar & Pidie
- Dikenal sebagai: Pemimpin Perang Sabil melawan Belanda
🎓 Pendidikan & Pembentukan
- Menempuh pendidikan agama di berbagai dayah di Aceh
- Menunaikan ibadah haji dan memperdalam ilmu di Mekkah
- Menjadi ulama kharismatik dengan pengaruh luas di masyarakat Aceh
⚔️ Perjuangan Utama
Kebangkitan Perlawanan (1880)
- Mengobarkan kembali semangat jihad rakyat Aceh saat perlawanan melemah
- Menggalang laskar berbasis ulama dan santri
Strategi Perang Sabil
- Menggunakan taktik gerilya religius
- Memadukan dakwah, komando militer, dan motivasi spiritual
Keberhasilan Militer
- Merebut benteng Belanda di:
- Indrapura (1881)
- Lambaro
- Aneuk Galong
- Membuat pertahanan Belanda terdesak di beberapa wilayah Aceh
☠️ Gugur dalam Perjuangan
- Wafat tahun 1891
- Gugur akibat siasat racun oleh pihak kolonial
- Wafat di Benteng Aneuk Galong
- Dimakamkan di Aceh Besar
🏅 Penghargaan
- Pahlawan Nasional Republik Indonesia
- SK No. 087/TK/Tahun 1973
- Salah satu simbol utama Perang Aceh
👣 Warisan Sejarah
- Tokoh sentral Perang Aceh fase ulama
- Menginspirasi perjuangan berbasis keimanan dan kemandirian
- Kakek buyut dari Hasan di Tiro, pendiri Gerakan Aceh Merdeka
✨ Nilai Keteladanan
- Kepemimpinan spiritual & militer ko
- Keteguhan iman
- Keberanian melawan penjajahan
- Penggerak persatuan rakyat
Buatlah Risalah dan Infografis tentang Pahlawan :
Kiras Bangun
Julukan: Garamata (Si Mata Merah).
Lahir di Desa Batukarang, Kabupaten Karo, Sumatera Utara, tahun 1852.
Meninggal di Desa Batukarang, Kecamatan Payung, Kabupaten Karo, Sumatera Utara, 22 Oktober 1942
Pahlawan nasional Indonesia dari Tanah Karo, Sumatera Utara, yang dikenal dengan julukan Garamata (bermata merah). Ia merupakan pemimpin perlawanan rakyat Karo yang gigih menentang upaya kolonial Belanda untuk menguasai wilayah tersebut demi kepentingan perkebunan.
Perjalanan Perjuangan
Perjuangan Kiras Bangun berfokus pada mempertahankan kedaulatan Tanah Karo dari ekspansi kolonial Belanda:
Penolakan Perkebunan Belanda: Kiras Bangun secara konsisten menolak permintaan Belanda untuk membuka lahan perkebunan di Tanah Karo, meskipun telah berkali-kali dibujuk.
Menggalang Kekuatan Lintas Agama: Ia berhasil menyatukan kekuatan lintas suku dan agama, mengumpulkan sekitar 3.000 pasukan yang dikenal sebagai Pasukan Urung untuk melawan Belanda sejak tahun 1905.
Pertempuran dan Penangkapan: Pasukannya terlibat dalam berbagai pertempuran sengit di wilayah Karo. Ia sempat ditangkap dan dibuang ke Riung (Nusa Tenggara Timur) sebelum akhirnya dibebaskan pada 1909.
Perlawanan Lanjutan: Antara tahun 1919 hingga 1926, Kiras bersama putra-putranya kembali memimpin pemberontakan melawan otoritas kolonial.
Pengasingan Terakhir: Ia kembali ditangkap dan dibuang ke Cipinang, namun ia tetap melanjutkan perjuangannya melalui gerakan kemanusiaan dan persatuan rakyat hingga masa tuanya.
Kiras Bangun dimakamkan di kampung halamannya, Desa Batukarang, Sumatera Utara.
Selama masa perjuangannya, Belanda beberapa kali menangkap dan mengasingkan Kiras Bangun untuk meredam pengaruhnya:
Riung, Nusa Tenggara Timur: Ia ditangkap dan dibuang ke Riung sebelum akhirnya dibebaskan pada tahun 1909.
Lembaga Pemasyarakatan Cipinang, Jakarta: Setelah kembali memimpin pemberontakan (1919-1926), ia ditangkap kembali dan dibuang ke Cipinang. Di sana, ia tetap aktif berjuang melalui pergerakan kemanusiaan dan menjaga persatuan rakyat hingga akhirnya diizinkan pulang ke kampung halamannya.

RISALAH & INFOGRAFIS PAHLAWAN NASIONAL
Kiras Bangun
Julukan: Garamata (Si Mata Merah)
🧾 Profil Singkat
- Nama: Kiras Bangun
- Julukan: Garamata (Si Mata Merah)
- Lahir: Desa Batukarang, Tanah Karo, Sumatera Utara — 1852
- Wafat: Desa Batukarang, 22 Oktober 1942
- Asal: Pejuang rakyat Karo
- Status: Pahlawan Nasional Indonesia
- Dikenal sebagai: Pemimpin perlawanan rakyat Karo melawan kolonial Belanda dan ekspansi perkebunan
⚔️ Latar Belakang Perjuangan
Kiras Bangun memimpin perlawanan rakyat di Tanah Karo saat pemerintah kolonial Belanda berupaya menguasai wilayah pegunungan untuk kepentingan perkebunan. Ia menolak kerja sama yang merugikan rakyat dan memilih jalur perlawanan terbuka serta gerilya.
Ia dihormati karena keberanian, keteguhan sikap, dan kemampuannya menyatukan rakyat lintas marga dan agama.
🛡️ Perjalanan Perjuangan Utama
Penolakan Ekspansi Belanda
- Menolak pembukaan lahan perkebunan kolonial di wilayah Karo
- Menolak berbagai bujukan dan tekanan politik Belanda
Membentuk Kekuatan Rakyat
- Menggalang ± 3.000 pasukan Urung sejak 1905
- Menyatukan kekuatan lintas kampung, marga, dan agama
Pertempuran Melawan Belanda
- Terlibat berbagai pertempuran sengit di wilayah pegunungan Karo
- Menggunakan strategi medan dan jaringan kampung
Penangkapan & Pengasingan
- Ditangkap dan dibuang ke Riung (NTT) → dibebaskan tahun 1909
- Memimpin perlawanan lagi (1919–1926) bersama putra-putranya
- Ditangkap kembali dan diasingkan ke Cipinang, Batavia/Jakarta
Perjuangan Non-Militer
- Saat pengasingan tetap membina persatuan rakyat
- Aktif dalam kegiatan sosial dan kemanusiaan
🧠 Nilai Keteladanan
- Keteguhan mempertahankan tanah adat
- Persatuan lintas kelompok
- Kepemimpinan rakyat berbasis keberanian
- Pantang tunduk pada tekanan kolonial
- Setia berjuang hingga usia lanjut
🗺️ Warisan & Penghormatan
- Dikenang sebagai pemimpin besar Tanah Karo
- Makam di Desa Batukarang menjadi lokasi penghormatan
- Namanya diabadikan sebagai nama jalan & institusi daerah
- Diingat dengan gelar kehormatan Garamata
Buatlah Risalah dan Infografis tentang Pahlawan :
Sultan Iskandar Muda
Gelar: Memiliki gelar Perkasa Alam sebelum menjadi sultan.
Lahir di Banda Aceh, 1590/1593.
Meninggal di dimakamkan di Kompleks Pemakaman Sultan Aceh Kandang XII, Banda Aceh, 27 Desember 1636.
Sultan ke-12 Kesultanan Aceh yang memerintah tahun 1607–1636, membawa Aceh mencapai puncak kejayaan, kekayaan, dan wilayah terluas (mencakup sebagian besar Sumatera dan Semenanjung Malaya). Dikenal sebagai penakluk yang gigih melawan Portugis, ia menjadikan Aceh sebagai pusat perdagangan lada dan pengajaran Islam internasional.
Silsilah: Keturunan langsung dari Sultan Ali Mughayat Syah, pendiri Kesultanan Aceh, dan merupakan sultan terakhir dari Wangsa Meukuta Alam.
Orang Tua: Ayah: Sultan Mansur Syah, Ibu: Puteri Raja Indra Bangsa.
Istri: Putroe Phang (Putri dari Kesultanan Pahang).
Puncak Kejayaan dan Pemerintahan (1607-1636)
Perluasan Wilayah: Menaklukkan wilayah-wilayah penting seperti Deli, Johor, Pahang, dan Kedah, menjadikan Aceh mendominasi Selat Malaka.
Ekonomi dan Perdagangan: Menjadikan Aceh pusat perdagangan lada internasional dan menerapkan aturan ketat pada kapal dagang asing, termasuk Belanda dan Inggris.
Militer: Membangun angkatan perang yang sangat kuat, termasuk armada laut yang ditakuti, dan aktif menyerang Portugis di Malaka.
Hukum dan Pemerintahan: Menetapkan qanun (undang-undang) yang adil dan universal.
Warisan dan Penghargaan
Atas jasa-jasanya, Pemerintah Republik Indonesia menetapkannya sebagai Pahlawan Nasional.
Namanya diabadikan menjadi Bandar Udara Internasional Sultan Iskandar Muda, Kodam Iskandar Muda, dan Universitas Iskandar Muda di Aceh.
Beliau dikenal karena kegigihannya melawan Portugis dan mengatur pemerintahan berbasis syariat Islam. Dua angka tahun (1593/1583) muncul karena perbedaan sumber sejarah, namun 1593 lebih umum digunakan.
Sultan Iskandar Muda digantikan oleh menantunya, Sultan Iskandar Thani.
📜 Risalah & Infografis Pahlawan Nasional
Sultan Iskandar Muda
Nama & Gelar: Sultan Iskandar Muda (gelar muda: Perkasa Alam)
Lahir: Banda Aceh, ±1590/1593
Wafat: Banda Aceh, 27 Desember 1636
Makam: Kompleks Pemakaman Sultan Aceh Kandang XII, Banda Aceh
Kedudukan: Sultan ke-12 Kesultanan Aceh
Masa Pemerintahan: 1607–1636
Gelar Nasional: Pahlawan Nasional Indonesia
🧾 Identitas Singkat
- Silsilah: Keturunan langsung Sultan pendiri Aceh, Sultan Ali Mughayat Syah
- Ayah: Sultan Mansur Syah
- Ibu: Puteri Raja Indra Bangsa
- Istri: Putroe Phang (Putri Pahang)
- Dinasti: Wangsa Meukuta Alam (sultan terakhir dari wangsa ini)
⚔️ Puncak Kejayaan Aceh (1607–1636)
Perluasan Wilayah
- Menaklukkan Deli, Johor, Pahang, Kedah
- Menguasai jalur strategis perdagangan Selat Malaka
- Wilayah Aceh mencapai bentangan terluas dalam sejarahnya
Kekuatan Militer
- Membangun armada laut besar dan modern pada masanya
- Menyerang basis Portugis di Malaka
- Menjadikan Aceh kekuatan maritim utama Asia Tenggara barat
💰 Ekonomi & Perdagangan
- Menjadikan Aceh pusat perdagangan lada internasional
- Mengatur ketat kapal dagang asing
- Mengendalikan hubungan dagang dengan pedagang Belanda & Inggris
- Pelabuhan Aceh menjadi simpul dagang dunia Islam dan Asia
⚖️ Hukum & Pemerintahan
- Menetapkan qanun (undang-undang) kerajaan
- Sistem hukum berbasis syariat dan administrasi negara
- Penataan birokrasi dan militer yang disiplin
- Perlindungan terhadap ulama dan pusat pendidikan Islam
🕌 Peran Keilmuan & Dakwah
- Menjadikan Aceh pusat studi Islam internasional
- Mengundang ulama dan cendekia dari berbagai negeri
- Mendorong penulisan dan pengajaran agama
🏛️ Suksesi
- Digantikan oleh menantunya: Sultan Iskandar Thani
🏅 Warisan & Penghargaan
Nama beliau diabadikan menjadi:
- Bandar Udara Internasional Sultan Iskandar Muda
- Kodam Iskandar Muda
- Universitas Iskandar Muda
🌟 Nilai Keteladanan
- Kepemimpinan kuat & visioner
- Ketegasan menjaga kedaulatan
- Strategi militer dan maritim unggul
- Penguatan hukum dan tata negara
- Pelindung perdagangan & ilmu agama
Buatlah Risalah dan Infografis tentang Pahlawan :
K.H Ahmad Hanafiah
Lampung
Lahir di Sukadana, Lampung Timur, Lampung, 27 Agustus 1905.
Meninggal di Front Kemerung (perbatasan Baturaja dan Martapura), 17 Agustus 1947.
Ditangkap Belanda dan dieksekusi dengan cara dimasukkan ke dalam karung lalu ditenggelamkan di Sungai Ogan, Sumatera Selatan.
Ulama dan pejuang kemerdekaan asal Sukadana, Lampung Timur, yang resmi ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional oleh Presiden Joko Widodo pada 10 November 2023. Beliau dikenal sebagai pemimpin perlawanan fisik dan intelektual di tanah Lampung melawan penjajah Belanda.
Beliau adalah putra tertua dari KH Muhammad Nur, pendiri Pondok Pesantren Istishodiyah, pesantren pertama di Karesidenan Lampung.
Latar Belakang: Dibesarkan dalam keluarga santri dan menempuh pendidikan agama hingga ke luar negeri (Malaysia dan Mekkah).
Riwayat Perjuangan
Perjuangan Politik & Organisasi:
Menjadi anggota Sa-ingkai (dewan daerah) pada masa pendudukan Jepang.
Setelah proklamasi, beliau aktif sebagai anggota Komite Nasional Indonesia (KNI) Karesidenan Lampung (1945–1946) dan Ketua Partai Masyumi.
Kepemimpinan Militer:
Mendirikan dan memimpin Laskar Rakyat Hizbullah-Sabilillah dan Laskar Bergolok di Sukadana.
Pasukan ini menjadi wadah pendidikan militer bagi para santri untuk mempertahankan kemerdekaan.
Gugur sebagai Syuhada:
KH Ahmad Hanafiah gugur dalam penyergapan tersebut. Jasadnya tidak pernah ditemukan, sehingga beliau dikenal sebagai "pahlawan tanpa makam".
Untuk mengenang jasanya, didirikan monumen di lokasi penyergapannya di kawasan Batumarta (Baturaja-Martapura).
Karya Intelektual
Selain berjuang di medan laga, beliau meninggalkan warisan intelektual berupa kitab-kitab agama, di antaranya:
Kitab Al-Hujjad
Kitab Tafsir Ad-Dohri
Penganugerahan gelar Pahlawan Nasional pada tahun 2023 menjadikannya tokoh kedua dari Lampung yang mendapat gelar tersebut setelah Radin Inten II. Informasi lebih lanjut mengenai riwayat hidupnya dapat diakses melalui dokumen resmi Dinas Sosial Provinsi Lampung.

RISALAH & INFOGRAFIS TEKS
PAHLAWAN NASIONAL – KH AHMAD HANAFIAH (1905–1947)
Profil Singkat
- Nama: KH Ahmad Hanafiah
- Asal: Sukadana, Lampung Timur, Lampung
- Lahir: 27 Agustus 1905
- Wafat/Gugur: Front Kemerung (perbatasan Baturaja–Martapura), 17 Agustus 1947
- Status: Ulama dan pejuang kemerdekaan
- Penetapan Pahlawan Nasional: 10 November 2023 oleh Presiden Joko Widodo
Latar Belakang
K.H. Ahmad Hanafiah lahir di Sukadana dari keluarga santri.
Ia adalah putra tertua KH Muhammad Nur, pendiri Pondok Pesantren Istishodiyah — pesantren pertama di Karesidenan Lampung.
Sejak kecil dibesarkan dalam lingkungan religius dan menempuh pendidikan agama hingga ke luar negeri:
Pendidikan ini membentuknya sebagai ulama yang kuat secara intelektual sekaligus berjiwa pejuang.
Perjuangan Politik & Organisasi
Pada masa pendudukan Jepang dan awal kemerdekaan, ia aktif dalam gerakan politik dan organisasi:
- Anggota Sa-ingkai (dewan daerah) pada masa Jepang
- Anggota Komite Nasional Indonesia (KNI) Karesidenan Lampung (1945–1946)
- Ketua Partai Masyumi wilayah Lampung
- Penggerak konsolidasi umat dan santri untuk mempertahankan kemerdekaan
Kepemimpinan Militer & Laskar Santri
KH Ahmad Hanafiah memadukan kepemimpinan ulama dan komandan lapangan:
- Mendirikan dan memimpin:
- Laskar Rakyat Hizbullah–Sabilillah
- Laskar Bergolok di Sukadana
- Menjadikan pesantren sebagai pusat:
- Pendidikan militer santri
- Latihan fisik dan mental
- Pembinaan jihad kemerdekaan
Pasukan santri ini berperan dalam perlawanan fisik terhadap Belanda di wilayah Lampung dan sekitarnya.
Gugur sebagai Syuhada
Dalam sebuah penyergapan di Front Kemerung (1947):
- KH Ahmad Hanafiah tertangkap oleh Belanda
- Dieksekusi secara kejam:
- Dimasukkan ke dalam karung
- Ditenggelamkan di Sungai Ogan, Sumatera Selatan
- Jenazah tidak pernah ditemukan
➡️ Dikenal sebagai “Pahlawan tanpa makam”
Untuk mengenang jasanya, didirikan monumen di kawasan Batumarta (Baturaja–Martapura), lokasi penyergapan.
Karya Intelektual
Selain pejuang lapangan, beliau juga meninggalkan warisan keilmuan:
- Kitab Al-Hujjad
- Kitab Tafsir Ad-Dohri
Karya-karya ini menunjukkan perannya sebagai ulama pemikir dan pendidik umat.
Penghargaan & Arti Penting
- Resmi menjadi Pahlawan Nasional (2023)
- Menjadi tokoh kedua dari Lampung yang mendapat gelar ini setelah Radin Inten II
- Diakui sebagai:
- Pemimpin perlawanan fisik
- Penggerak intelektual umat
- Simbol perjuangan santri di Lampung
Buatlah Risalah dan Infografis tentang Pahlawan :
Bagindo Aziz Chan
Padang, Sumatra Barat
Lahir di Kampung Alang Laweh, Padang, Sumatra Barat, 30 September 1910.
Meninggal di Padang, Sumatera Barat,
19 Juli 1947 (usia 36 tahun), akibat bentrokan dengan Belanda.
Pendidikan: HIS Padang, MULO Surabaya, AMS Batavia, dan sekolah hukum RHS Batavia.
Jabatan: Walikota Padang (15 Agustus 1946 – 19 Juli 1947).
Keluarga: Menikah dengan Siti Zaura Oesman.
Jejak Kepahlawanan dan Perjuangan
Walikota Tegas: Bagindo Aziz Chan memimpin Kota Padang dalam situasi sulit saat Belanda berusaha kembali menguasai Indonesia. Ia dikenal revolusioner dan berpendirian teguh.
Semboyan Perjuangan: Ia menolak bujukan Belanda untuk bekerja sama dan melontarkan kalimat legendaris: “Langkahi dulu mayat saya, baru kalian bisa menduduki Kota Padang!”.
Melawan Propoganda: Mendirikan surat kabar "Cahaya Republik Indonesia" untuk melawan propaganda Belanda dan membakar semangat rakyat.
Gugur: Ia ditembak mati oleh tentara Belanda pada 19 Juli 1947, sesaat sebelum Agresi Militer Belanda Pertama.
Penghargaan: Jenazahnya dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Bahagia, Bukittinggi. Ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional pada 7 November 2005 melalui SK Presiden RI No. 082/TK/2005. Namanya diabadikan di Kota Padang, termasuk Tugu Simpang Tinju.
**RISALAH PAHLAWAN NASIONAL
BAGINDO AZIZ CHAN (1910–1947)**
Daerah Perjuangan: Padang – Sumatra Barat
Bidang: Pemerintahan & Perjuangan Revolusi
Jabatan: Walikota Padang (1946–1947)
Gelar Pahlawan Nasional: 7 November 2005
Bagindo Aziz Chan adalah pemimpin daerah dan pejuang revolusi yang dikenal tegas, berani, dan tidak mau berkompromi dengan kembalinya kekuasaan kolonial Belanda. Dalam masa genting pascakemerdekaan, ia memimpin Kota Padang dengan sikap revolusioner dan keberpihakan penuh kepada Republik Indonesia.
Sebagai walikota, ia menolak segala bentuk kerja sama dengan Belanda. Sikapnya yang keras tergambar dalam semboyan perjuangannya yang terkenal:
“Langkahi dulu mayat saya, baru kalian bisa menduduki Kota Padang!”
Untuk melawan propaganda kolonial, ia turut mendorong penerbitan surat kabar Cahaya Republik Indonesia guna membangkitkan semangat rakyat dan mempertahankan kemerdekaan melalui jalur informasi dan opini publik.
Bagindo Aziz Chan gugur ditembak tentara Belanda pada 19 Juli 1947, menjelang Agresi Militer Belanda I. Ia wafat dalam tugas perjuangan mempertahankan kedaulatan Republik.
Jenazahnya dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Bahagia, Bukittinggi, dan namanya diabadikan dalam berbagai penanda kota, termasuk Tugu Simpang Tinju di Padang.
INFOGRAFIS SINGKAT – BAGINDO AZIZ CHAN
Nama: Bagindo Aziz Chan
Lahir: Kampung Alang Laweh, Padang — 30 September 1910
Wafat: Padang — 19 Juli 1947 (gugur ditembak Belanda)
Pendidikan:
- HIS Padang
- MULO Surabaya
- AMS Batavia
- RHS Batavia (Sekolah Hukum)
Keluarga:
Menikah dengan Siti Zaura Oesman
Peran Utama:
- Walikota Padang masa revolusi
- Menolak kerja sama dengan Belanda
- Pemimpin sipil garis keras pro-Republik
- Penggerak pers perjuangan
Aksi Penting:
- Memimpin pertahanan moral kota
- Melawan propaganda kolonial
- Mendukung pers nasional perjuangan
Semboyan Legendaris:
“Langkahi dulu mayat saya, baru kalian bisa menduduki Kota Padang!”
Penghargaan:
- Pahlawan Nasional — SK Presiden RI No. 082/TK/2005
Buatlah Risalah dan Infografis tentang Pahlawan :
Depati Amir
Lahir di Mendara, Pulau Bangka, 1805
Meninggal di Dimakamkan di Pemakaman Muslim Batukadera, Kampung Air Mata, Kupang, NTT, 28 September 1869.
Pahlawan nasional dari Kepulauan Bangka Belitung yang gigih melawan penjajahan Belanda (1830–1851) akibat eksploitasi timah dan kerja rodi. Ia diasingkan ke Kupang, NTT, pada 1851, namun terus berjuang sebagai penasihat hingga wafat.
Orang Tua: Depati Bahrin (ayah) dan Dakim
Gelar: Pahlawan Nasional (dianugerahi tahun 2018)
Latar Belakang: Bangsawan Bangka yang mengabdi pada Kesultanan Palembang.
Adik: Hamzah (Cing).
Perjuangan dan Kepahlawanan
Pemimpin Perlawanan: Memimpin rakyat Bangka melawan monopoli timah Belanda dan kerja rodi.
Taktik Gerilya: Menggunakan perang gerilya dengan bantuan warga lokal dan kuli tambang Tionghoa.
Perlawanan di Pengasingan: Setelah ditangkap pada 7 Januari 1851 akibat pengkhianatan, ia diasingkan ke Kupang. Di sana, ia berjuang dengan mendirikan Masjid Al Ikhlas di Bonipoi, mendidik masyarakat tentang agama, sistem pengobatan tradisional, dan strategi perang.
Penghormatan: Namanya diabadikan sebagai nama Bandara Depati Amir dan Stadion Depati Amir di Pangkalpinang.
Depati Amir dikenal sebagai sosok yang cerdas, kharismatik, dan sangat dicintai rakyat Bangka karena keberaniannya melawan penjajah Belanda.
Perlawanan Bersenjata (1848-1850): Amir dan adiknya, Hamzah (Cing), memimpin perang gerilya di pantai timur Bangka yang berhasil menyulitkan Belanda.
Aliansi dengan Tionghoa: Amir didukung oleh kuli-kuli tambang timah asal Tionghoa (Parit 5) untuk mendapatkan senjata dan logistik, yang membuat Belanda kewalahan.
Penangkapan Akibat Pengkhianatan: Belanda baru bisa menangkap Amir pada 7 Januari 1851 setelah berhasil menyuap 7 orang panglima dan 35 pasukannya dalam kondisi logistik yang menipis.
Tempat Pengasingan
Setelah ditangkap, Belanda tidak berani menahan Amir di Bangka karena pengaruhnya yang kuat. Ia diasingkan ke Kupang, Timor.
Pengasingan di Kupang: Depati Amir diasingkan ke Kupang pada 11 Februari 1851. Meskipun diasingkan, ia tidak berhenti berjuang. Ia menjadi penasihat perang dan pemimpin komunitas Muslim di sana, bahkan membantu raja-raja setempat di Timor.
Kampung Air Mata: Tempat tinggal Amir di Kupang kini dikenal dengan nama Kampung Air Mata, di mana ia menyebarkan agama Islam hingga wafat.
Upaya Pemindahan: Pada tahun 1853, Amir pernah bersurat memohon dipindahkan ke Jawa karena kesulitan pangan di Timor, namun ditolak oleh Belanda.
Jasa dan Pahlawan Bangka Belitung
Depati Amir diakui sebagai pahlawan karena:
Memimpin perjuangan multietnik melawan penjajah (melibatkan rakyat lokal dan orang Tionghoa).
Menjadi simbol perlawanan rakyat Bangka melawan dominasi ekonomi Belanda atas timah.
Nama beliau kini diabadikan sebagai nama Bandara di Pangkal Pinang (Bandara Depati Amir).
RISALAH & INFOGRAFIS TEKS
PAHLAWAN NASIONAL – DEPATI AMIR (1805–1869)
Pemimpin Perlawanan Rakyat Bangka Melawan Monopoli Timah Belanda
Profil Utama
- Nama: Depati Amir
- Lahir: Mendara, Pulau Bangka, 1805
- Wafat: Kupang, 28 September 1869
- Dimakamkan: Pemakaman Muslim Batukadera, Kampung Air Mata, Kupang, NTT
- Asal: Kepulauan Bangka Belitung
- Orang Tua: Depati Bahrin & Dakim
- Saudara: Hamzah (Cing)
- Gelar: Pahlawan Nasional (2018)
Depati Amir dikenal sebagai bangsawan Bangka yang mengabdi pada Kesultanan Palembang dan menjadi tokoh utama perlawanan terhadap kolonial Belanda.
Latar Belakang Perjuangan
Perlawanan Depati Amir dipicu oleh:
- Monopoli tambang timah oleh Belanda
- Kerja rodi terhadap rakyat
- Penindasan ekonomi dan sosial
- Campur tangan kolonial dalam tatanan lokal Bangka
Ia tampil sebagai pemimpin kharismatik yang dicintai rakyat karena keberanian dan kecerdasannya.
Perjuangan Bersenjata (1830–1851)
Perang Gerilya Bangka
- Memimpin perlawanan rakyat Bangka di wilayah pantai timur
- Menggunakan taktik gerilya hutan dan pesisir
- Menguasai jalur logistik lokal
- Menyerang pos dan jalur suplai Belanda
Peran Adik & Pasukan
- Bersama adiknya Hamzah (Cing) memimpin laskar
- Menggalang kekuatan lintas kampung
Aliansi Multietnik
- Didukung kuli tambang timah Tionghoa (Parit 5)
- Mendapat bantuan:
- Senjata
- Logistik
- Informasi medan
➡️ Perlawanan ini membuat Belanda kewalahan selama beberapa tahun.
Penangkapan Karena Pengkhianatan
Belanda gagal menaklukkan Depati Amir secara terbuka.
Penangkapan terjadi melalui suap dan pengkhianatan:
- Tanggal: 7 Januari 1851
- 7 panglima dan 35 pasukan disuap
- Terjadi saat logistik pasukan Amir menipis
- Ia akhirnya tertangkap hidup-hidup
Pengasingan ke Kupang
Karena pengaruhnya sangat besar di Bangka, Belanda tidak berani menahannya di daerah asal.
- Diasingkan ke Kupang pada 11 Februari 1851
- Tinggal di kawasan yang kini dikenal sebagai Kampung Air Mata
Aktivitas di Pengasingan:
- Menjadi penasihat perang raja-raja setempat
- Membina komunitas Muslim
- Mengajarkan:
- Ilmu agama
- Pengobatan tradisional
- Strategi pertahanan
- Mendirikan Masjid Al Ikhlas di Bonipoi
Catatan Sejarah:
- Tahun 1853 pernah memohon dipindahkan ke Jawa karena kesulitan pangan
- Permohonan ditolak pemerintah kolonial
Wafat di Tanah Pengasingan
Depati Amir wafat pada 28 September 1869 di pengasingan.
Dimakamkan di Batukadera, Kampung Air Mata, Kupang.
Ia dikenang sebagai pejuang yang:
- Tidak pernah berhenti berjuang meski diasingkan
- Tetap membina umat dan perlawanan moral
Penghormatan & Warisan Nama
Namanya kini diabadikan menjadi:
- Bandara Depati Amir
- Stadion Depati Amir di Pangkalpinang
Makna historisnya:
- Simbol perlawanan rakyat Bangka terhadap eksploitasi timah
- Teladan perjuangan multietnik (pribumi–Tionghoa)
- Pemimpin lokal yang berani melawan dominasi ekonomi kolonial
Nilai Keteladanan
Depati Amir dikenang sebagai:
- Pemimpin gerilya yang strategis
- Tokoh pemersatu lintas etnis
- Pejuang gigih hingga pengasingan
- Ulama-pejuang pembina masyarakat
Buatlah Risalah dan Infografis tentang Pahlawan :
Sultan Thaha Syaifuddin
Nama Kecil: Raden Thaha Djayadiningrat.
Lahir di Keraton Tanah Pilih, Jambi, 1816.
Meninggal di Betung Bedarah, Tebo, Jambi, 26 April 1904.
Sultan Jambi ke-20 dan pahlawan nasional Indonesia (ditetapkan 1977) yang gigih melawan Belanda. Sebagai raja terakhir yang berdaulat, ia memimpin gerilya dari pedalaman Jambi setelah istana dikuasai Belanda (1858), menolak tunduk pada perjanjian yang merugikan rakyat, dan gugur pada 1904.
Orang Tua: Sultan Muhammad Fachrudin (ayah).
Masa Pemerintahan: Naik tahta pertama kali pada 1855, dan kedua kalinya hingga wafat.
Karakter: Dikenal sebagai pemimpin yang saleh, cerdas, pandai bergaul, dan diplomat ulung.
Perjuangan dan Kisah Pahlawan
Menolak Penjajahan: Sultan Thaha menolak memperbarui perjanjian dengan Belanda yang dibuat oleh pendahulunya, karena dianggap sangat merugikan kedaulatan rakyat Jambi.
Perlawanan Gerilya: Pada tahun 1858, Belanda menyerang istana. Sultan Thaha tidak menyerah, melainkan memindahkan pusat pemerintahan ke pedalaman (Uluan) dan memimpin perlawanan gerilya selama puluhan tahun.
Dukungan Rakyat: Meskipun Belanda berkali-kali melancarkan ekspedisi militer besar, Sultan Thaha selalu berhasil lolos dan bertahan berkat kesetiaan rakyatnya.
Wafat sebagai Kesuma Bangsa: Ia gugur pada 26 April 1904 dalam pertempuran melawan pasukan Belanda, meninggalkan semangat perlawanan yang dilanjutkan oleh pengikutnya.
Penghormatan: di Kota Jambi.

**RISALAH PAHLAWAN NASIONAL
Sultan Thaha Syaifuddin
(1816–1904)**
Nama Kecil: Raden Thaha Djayadiningrat
Kedudukan: Sultan Jambi ke-20
Bidang: Perlawanan Kerajaan & Perjuangan Anti-Kolonial
Gelar Pahlawan Nasional: 1977
Sultan Thaha Syaifuddin adalah sultan terakhir Jambi yang berdaulat penuh dan menjadi simbol perlawanan panjang terhadap kolonial Belanda. Ia dikenal sebagai pemimpin yang saleh, cerdas, pandai berdiplomasi, serta dekat dengan rakyat.
Naik tahta pertama kali pada tahun 1855, ia menolak memperbarui perjanjian dengan Belanda yang dibuat pendahulunya karena dianggap merugikan kedaulatan negeri dan rakyat Jambi. Sikap tegas ini memicu konflik terbuka dengan pemerintah kolonial.
Pada tahun 1858, Belanda menyerang istana. Sultan Thaha tidak menyerah. Ia memindahkan pusat kekuasaan ke pedalaman (Uluan) dan memimpin perang gerilya puluhan tahun. Dari hutan dan dusun, ia mengatur perlawanan, membangun jaringan dukungan rakyat, dan terus mengganggu kekuatan kolonial.
Berkat kesetiaan rakyat, ia berulang kali lolos dari pengejaran ekspedisi militer Belanda. Perjuangannya berakhir ketika ia gugur dalam pertempuran di wilayah pedalaman Jambi pada 26 April 1904. Semangatnya menjadikan ia dikenang sebagai kesuma bangsa dan lambang keteguhan kedaulatan.
INFOGRAFIS SINGKAT – SULTAN THAHA SYAIFUDDIN
Nama: Sultan Thaha Syaifuddin
Nama kecil: Raden Thaha Djayadiningrat
Lahir: Keraton Tanah Pilih, Jambi — 1816
Wafat: Betung Bedarah, Tebo — 26 April 1904 (gugur melawan Belanda)
Orang Tua:
- Ayah: Sultan Muhammad Fachrudin
Masa Pemerintahan:
- Naik tahta: 1855
- Memimpin kembali perlawanan hingga wafat
Karakter Kepemimpinan:
- Saleh dan berprinsip
- Cerdas dan strategis
- Diplomat ulung
- Dekat dengan rakyat
Jejak Perjuangan:
- Menolak perjanjian kolonial yang merugikan
- Menentang penguasaan Belanda
- Memimpin perang gerilya dari pedalaman sejak 1858
- Bertahan puluhan tahun dengan dukungan rakyat
Makna Sejarah:
- Sultan berdaulat terakhir Jambi
- Simbol perlawanan kerajaan terhadap kolonialisme
- Teladan keteguhan mempertahankan kedaulatan
Buatlah Risalah dan Infografis tentang Pahlawan :
Ferdinand Lumban Tobing
Tapanuli, Sumatera Utara
Lahir di Sibuluan, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, 19 Februari 1899
Meninggal di Jakarta, 7 Oktober 1962. (dimakamkan di Kolang, Tapanuli Tengah)
Dr. Ferdinand Lumban Tobing (F.L. Tobing) adalah dokter, politikus, dan pahlawan nasional Indonesia asal Tapanuli, Sumatera Utara. Ia ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional pada 17 November 1962 melalui SK Presiden No. 361 Tahun 1962 atas jasanya sebagai gubernur militer, pejuang rakyat, dan menteri.
Pendidikan: STOVIA (lulus 1924)
Orang Tua: Herman Lumban Tobing dan Laura Sitanggang
Perjuangan dan Karier
Dokter Rakyat: Setelah lulus STOVIA, ia mengabdi sebagai dokter, termasuk menangani penyakit menular, dan dikenal gigih memperjuangkan nasib rakyat.
Masa Jepang: Menjadi dokter pengawas romusha di Sibolga dan berani memprotes perlakuan kejam Jepang terhadap romusha.
Gubernur Militer: Menjabat sebagai Residen Tapanuli (1945) dan Gubernur Militer Tapanuli/Sumatera Timur (1948–1950) selama masa Agresi Militer Belanda.
Karier Politik: Menjabat sebagai Menteri Kesehatan ad interim (1953), Menteri Penerangan (1953–1955), dan Menteri Negara Urusan Transmigrasi (1958–1959).
Lokasi Makam: Jenazahnya dipindahkan dan dimakamkan di Desa Kolang, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara.
Kapan: Meskipun meninggal pada 7 Oktober 1962, pemindahan dan pemakaman di Kolang, Tapanuli Tengah, dilakukan untuk menghormati permintaan rakyat Tapanuli agar ia dimakamkan di tanah kelahirannya, tak lama setelah ia wafat pada tahun 1962.
Informasi Pemindahan Makam
Makam Awal di Jakarta: Sebelum dipindahkan ke Sumatera Utara, jenazah Ferdinand Lumban Tobing dimakamkan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, Jakarta.
Pemindahan ke Tapanuli: Jenazah dipindahkan dari Jakarta ke Tapanuli pada 17 Oktober 1962.
Lokasi Makam Sekarang: Makam beliau saat ini berada di Kelurahan Sibuluan Nalambok, Kecamatan Sarudik, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara.
Alasan Pemindahan: Pemindahan tersebut dilakukan untuk menghormati wasiat beliau yang ingin dimakamkan di tanah kelahirannya, serta permintaan rakyat Tapanuli yang mencintainya.
Penghormatan
Ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional pada 17 November 1962.
Namanya diabadikan menjadi Bandar Udara Dr. Ferdinand Lumban Tobing di Pinangsori, Tapanuli Tengah.
Namanya juga digunakan untuk Rumah Sakit Umum di Sibolga.
Ferdinand dikenal sebagai tokoh yang tegas, jujur, dan sangat memperhatikan rakyat kecil, menjadikannya salah satu sosok paling dihormati dari Sumatera Utara.
RISALAH & INFOGRAFIS TEKS
PAHLAWAN NASIONAL – FERDINAND LUMBAN TOBING (1899–1962)
Dokter Rakyat, Gubernur Militer, dan Menteri dari Tapanuli
Profil Utama
- Nama: Dr. Ferdinand Lumban Tobing (F.L. Tobing)
- Lahir: Sibuluan, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara — 19 Februari 1899
- Wafat: Jakarta — 7 Oktober 1962
- Pemakaman akhir: Kolang / Sibuluan Nalambok, Sarudik, Tapanuli Tengah
- Orang Tua: Herman Lumban Tobing & Laura Sitanggang
- Pendidikan: STOVIA — lulus 1924
- Gelar: Pahlawan Nasional (SK Presiden No. 361 Tahun 1962, 17 November 1962)
Latar Belakang & Pendidikan
Ferdinand Lumban Tobing berasal dari keluarga Batak Tapanuli yang menekankan pendidikan dan pengabdian.
Ia menempuh pendidikan kedokteran di STOVIA — sekolah dokter paling bergengsi di Hindia Belanda — dan lulus tahun 1924.
Sejak awal karier, ia memilih jalur dokter rakyat, bukan dokter elite, dengan fokus pelayanan kesehatan masyarakat luas.
Pengabdian sebagai Dokter Rakyat
Setelah lulus, ia dikenal sebagai dokter yang:
- Menangani penyakit menular di berbagai daerah
- Membela hak kesehatan rakyat kecil
- Terjun langsung ke lapangan
- Tegas terhadap ketidakadilan layanan kesehatan
Pada masa pendudukan Jepang:
- Menjadi dokter pengawas romusha di Sibolga
- Berani memprotes perlakuan kejam terhadap pekerja romusha
➡️ Sikap ini membuatnya dihormati sekaligus diawasi penguasa Jepang.
Peran dalam Perjuangan Kemerdekaan
Kepemimpinan Sipil–Militer
- Residen Tapanuli (1945)
- Gubernur Militer Tapanuli/Sumatera Timur (1948–1950)
- Berperan penting saat Agresi Militer Belanda
- Mengkoordinasikan:
- Pertahanan wilayah
- Dukungan logistik rakyat
- Stabilitas pemerintahan darurat
Ia dikenal sebagai pemimpin yang tenang, tegas, dan berpihak pada rakyat.
Karier Pemerintahan & Menteri
Dalam masa Republik Indonesia, ia memegang beberapa jabatan penting:
- Menteri Kesehatan ad interim (1953)
- Menteri Penerangan (1953–1955)
- Menteri Negara Urusan Transmigrasi (1958–1959)
Kebijakannya banyak menekankan:
- Akses kesehatan
- Penyebaran penduduk
- Informasi publik untuk persatuan nasional
Wafat & Riwayat Pemakaman
- Wafat di Jakarta, 7 Oktober 1962
- Awalnya dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata
Kemudian:
- Dipindahkan ke Tapanuli pada 17 Oktober 1962
- Dimakamkan di Sibuluan Nalambok / Kolang, Tapanuli Tengah
- Sesuai wasiat pribadi dan permintaan rakyat Tapanuli
➡️ Bentuk penghormatan terhadap tokoh yang sangat dicintai daerahnya
Penghormatan & Warisan Nama
Nama Ferdinand Lumban Tobing diabadikan menjadi:
- Bandar Udara Dr. Ferdinand Lumban Tobing ko
- Rumah Sakit Umum Dr. Ferdinand Lumban Tobing di Sibolga
Nilai Keteladanan
Tokoh ini dikenang sebagai:
- Dokter pejuang rakyat
- Pemimpin militer-sipil yang berani
- Menteri yang bersih dan tegas
- Pembela romusha dan rakyat kecil
- Putra Tapanuli yang sangat dihormati
Buatlah Risalah dan Infografis tentang Pahlawan :
Ilyas Ya'kub.
H. Ilyas Ya'kub (Ilyas Yacoub)
Lahir di Asam Kumbang, Bayang, Pesisir Selatan, Sumatera Barat, 14 Juni 1903
Meninggal di dimakamkan di halaman Masjid Almunawarah, Kenagarian Kapencong Lubuk Gambia, Kecamatan Bayang, Pesisir Selatan, 3 Agustus 1958 (usia 55 tahun).
Karena lokasi awal berada di lahan sempit dan untuk memberikan penghormatan yang layak, Pemkab Pesisir Selatan merelokasi (memindahkan) makam beliau ke tempat yang lebih representatif di kompleks makam pahlawan di Kenagarian Kapencong Lubuk Gambia, Kecamatan Bayang, Pesisir Selatan, Sumatera Barat.
Tanggal Pemindahan: Relokasi makam direncanakan dilaksanakan pada Minggu, 5 November 2012.
Lokasi Lama: Di pelataran Masjid Al-Munawarah, Kapencong, Koto Barapak.
Lokasi Baru: Dipindahkan ke lokasi yang lebih layak dan representatif di wilayah Bayang, Pesisir Selatan.
Pahlawan nasional Indonesia dari Pesisir Selatan, Sumatera Barat (bukan Sumatera Selatan), yang merupakan ulama, politisi, dan wartawan radikal anti-kolonial. Ia mendirikan partai PERMI (Persatuan Muslim Indonesia), diasingkan Belanda ke Boven Digul, Papua, pada tahun 1934, selama 10 tahun, dan berjuang mempertahankan kemerdekaan melalui jalur pendidikan serta politik Islam.
Orang Tua: Haji Ya'kub (pedagang kain) dan Siti Hajir
Pendidikan: Hollandsch-Inlandsche School (HIS) dan memperdalam ilmu agama di Universitas Al-Azhar, Mesir
Istri: Tinur
Makam: Koto Berapak, Bayang, Pesisir Selatan.
Pahlawan Nasional dan Perjuangan:
Gelar Pahlawan: Ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional berdasarkan SK-Mensos RI Nomor: Pol-61/PK/1968 (16 Desember 1968) dan diperkuat dengan Kepres-RI No. 074/TK/1999.
Pergerakan Politik: Mendirikan Partai Persatuan Muslim Indonesia (PERMI) pada 1930 yang berbasis pada pendidikan Islam dan kebangsaan.
Anti-Kolonialisme: Dikenal tegas menentang Belanda, sehingga diasingkan ke Boven Digul (1934-1944), lalu ke Australia, Kupang, Singapura, hingga kembali ke tanah air pada 1946.
Peran Pasca-Kemerdekaan: Menjadi Ketua DPR Sumatera Tengah pada 1948 dan penasihat Gubernur Sumatera Tengah.
Penghargaan: Menerima Bintang Mahaputra Adipradana.
Warisan: Namanya diabadikan sebagai nama jalan dan gedung olahraga di Painan, serta diabadikan dalam bentuk patung.

Berikut Risalah dan Infografis Pahlawan Nasional yang siap dijadikan poster/lembar edukasi.
**RISALAH PAHLAWAN NASIONAL
Ilyas Ya'kub
(1903–1958)**
Nama: H. Ilyas Ya’kub (Ilyas Yacoub)
Daerah Asal: Pesisir Selatan, Sumatera Barat
Bidang: Ulama, Politik, Pers & Pendidikan
Gelar Pahlawan Nasional: 1968 (diperkuat 1999)
Ilyas Ya’kub adalah ulama, politisi, dan wartawan radikal anti-kolonial dari Pesisir Selatan, Sumatera Barat. Ia dikenal sebagai tokoh pergerakan Islam modern yang memadukan pendidikan, politik, dan pers sebagai alat perjuangan kemerdekaan.
Sejak muda ia menempuh pendidikan Barat dan agama, lalu memperdalam studi Islam di Universitas Al-Azhar, Mesir. Sepulangnya ke tanah air, ia menjadi penggerak kebangkitan politik Islam dan nasionalisme.
Pada 1930 ia mendirikan Partai Persatuan Muslim Indonesia (PERMI), yang menekankan pendidikan, kesadaran politik, dan kemerdekaan bangsa. Aktivitasnya yang keras menentang kolonialisme membuatnya ditangkap dan diasingkan Belanda ke kamp tahanan politik Boven Digul selama sekitar sepuluh tahun, lalu dipindah ke berbagai tempat pengasingan hingga kembali ke Indonesia pada 1946.
Setelah kemerdekaan, ia tetap berperan dalam pemerintahan dan pendidikan politik, menjadi Ketua DPR Sumatera Tengah serta penasihat gubernur. Keteguhan sikap dan pengorbanannya menjadikannya salah satu tokoh penting pergerakan Islam kebangsaan.
Ia wafat tahun 1958 dan kemudian dimakamkan kembali secara lebih layak di kawasan makam pahlawan Kenagarian Kapencong Lubuk Gambia, Bayang, Pesisir Selatan.
INFOGRAFIS SINGKAT – ILYAS YA’KUB
Nama Lengkap: H. Ilyas Ya’kub
Lahir: Asam Kumbang, Bayang, Pesisir Selatan — 14 Juni 1903
Wafat: Bayang, Pesisir Selatan — 3 Agustus 1958
Orang Tua:
- Ayah: Haji Ya’kub (pedagang kain)
- Ibu: Siti Hajir
Pendidikan:
- HIS (Hollandsch-Inlandsche School)
- Studi agama di Universitas Al-Azhar, Mesir
Keluarga:
Perjuangan Utama:
- Pendiri PERMI (1930)
- Penggerak politik Islam & nasionalisme
- Wartawan dan orator anti-kolonial
- Menggerakkan pendidikan sebagai alat perjuangan
Pengasingan Kolonial:
- Ditangkap Belanda
- Dibuang ke Boven Digul (1934–1944)
- Dipindah ke Australia, Kupang, Singapura
- Kembali ke Indonesia tahun 1946
Peran Pasca-Kemerdekaan:
- Ketua DPR Sumatera Tengah (1948)
- Penasihat Gubernur Sumatera Tengah
Penghargaan:
- Pahlawan Nasional — SK Mensos RI No. Pol-61/PK/1968
- Diperkuat Kepres No. 074/TK/1999
- Penerima Bintang Mahaputra Adipradana
Warisan:
- Nama jalan & gedung olahraga di Painan
- Patung dan penanda sejarah daerah
Buatlah Risalah dan Infografis tentang Pahlawan :
Rohana Kudus
Nama Lengkap: Roehana Koeddoes (ejaan lama)
Lahir di Koto Gadang, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, 20 Desember 1884
Meninggal di Jakarta, 17 Agustus 1972,
dimakamkan di TPU Karet Bivak, Jakarta Pusat.
Meskipun makamnya tidak dipindahkan, warisan perjuangannya diabadikan dalam museum dan Yayasan Amai Setia di Koto Gadang, Sumatra Barat.
Wartawan wanita pertama di Indonesia dan pahlawan nasional asal Koto Gadang, Sumatera Barat (ditetapkan 2019). Ia mempelopori pendidikan perempuan melalui sekolah Amai Setia (1911) dan mendirikan surat kabar perempuan pertama, Sunting Melayu (1912), berjuang melawan ketidakadilan, serta aktif mengedukasi perempuan.
Orang Tua: Mohamad Rasjad Maharadja Sutan (Ayah)
Saudara: Kakak tiri Sutan Sjahrir (Perdana Menteri pertama Indonesia)
Suami: Abdul Qudus (menikah 1908, seorang notaris)
Keahlian: Jurnalis, pendidik, penulis, dan aktif dalam kerajinan tangan.
Jasa dan Perjuangan sebagai Pahlawan:
Pelopor Jurnalisme Perempuan: Mendirikan Sunting Melayu pada 10 Juli 1912, koran pertama yang dikelola dan ditujukan khusus untuk perempuan, yang memuat konten pendidikan, perjuangan, dan keterampilan.
Pendidikan Perempuan: Mendirikan sekolah kerajinan Amai Setia di Koto Gadang (1911) untuk mengajar perempuan membaca, menulis, berhitung, hingga keterampilan tangan agar mandiri secara ekonomi.
Perjuangan Melalui Tulisan: Menjadi redaktur di berbagai surat kabar (Putri Hindia, Radio, Cahaya Sumatera) untuk menyuarakan emansipasi, melawan ketidakadilan, dan mendorong perjuangan melawan kolonialisme.
Pergerakan Politik: Membantu perjuangan kemerdekaan dengan menyelundupkan senjata melalui Ngarai Sianok dan mendirikan dapur umum untuk gerilyawan.
Gelar Pahlawan: Dianugerahi gelar Pahlawan Nasional oleh Presiden Joko Widodo pada 8 November 2019 atas jasa-jasanya dalam pers dan pendidikan.
Sekolah yang Didirikan
Rohana Kudus mendirikan sekolah perempuan dengan tujuan memberikan keterampilan teknis dan literasi agar perempuan Minangkabau berdaya dan mandiri.
Sekolah Kerajinan Amai Setia (1911): Didirikan di Koto Gadang pada tahun 1911. Sekolah ini mengajarkan kerajinan tangan (menyulam, merenda), baca tulis, berhitung, dan manajemen rumah tangga.
Ruhana School (1916): Setelah pindah ke Bukittinggi pada tahun 1916, beliau mendirikan sekolah perempuan yang dikenal sebagai "Ruhana School".
📜 Risalah & Infografis Pahlawan Nasional — Rohana Kudus
🧕 Profil Tokoh
Nama: Rohana Kudus
Nama lengkap: Roehana Koeddoes (ejaan lama)
Lahir: Koto Gadang, Kabupaten Agam, Sumatera Barat — 20 Desember 1884
Wafat: Jakarta — 17 Agustus 1972
Makam: TPU Karet Bivak, Jakarta Pusat
Bidang: Jurnalis, pendidik, penulis, pelopor pers perempuan
Tokoh: Rohana Kudus
Saudara tiri: Sutan Sjahrir
Gelar Pahlawan Nasional: Ditetapkan tahun 2019 oleh Presiden Joko Widodo
🏵️ Ringkasan Peran Sejarah
Rohana Kudus dikenal sebagai wartawan perempuan pertama di Indonesia dan pelopor pendidikan perempuan Minangkabau. Ia membuka akses literasi, keterampilan, dan kesadaran sosial bagi kaum perempuan melalui sekolah dan media pers.
Perjuangannya tidak hanya di bidang pendidikan dan jurnalistik, tetapi juga mendukung logistik perjuangan kemerdekaan.
📰 Pelopor Jurnalisme Perempuan
- Mendirikan surat kabar perempuan pertama: Sunting Melayu (10 Juli 1912)
- Dikelola dan ditujukan khusus untuk pembaca perempuan
- Memuat:
- pendidikan
- keterampilan praktis
- gagasan emansipasi
- kritik sosial
- Menjadi redaktur di beberapa media lain: Putri Hindia, Radio, Cahaya Sumatera
Dampak: Membuka ruang suara perempuan di dunia pers Hindia Belanda.
🎓 Pelopor Pendidikan Perempuan
Sekolah Kerajinan Amai Setia — 1911 (Koto Gadang)
Didirikan untuk memberdayakan perempuan agar mandiri.
Materi ajar:
- membaca & menulis
- berhitung
- manajemen rumah tangga
- kerajinan tangan (menyulam, merenda, keterampilan produksi)
Warisan lembaganya kini diabadikan melalui Museum & Yayasan Amai Setia di Koto Gadang.
Ruhana School — 1916 (Bukittinggi)
- Pengembangan sekolah perempuan setelah beliau pindah ke Bukittinggi
- Fokus pada literasi dan keterampilan ekonomi
✊ Peran dalam Perjuangan Kemerdekaan
- Membantu jaringan pejuang secara diam-diam
- Terlibat dukungan logistik gerilya
- Disebut membantu penyelundupan senjata melalui jalur Ngarai Sianok
- Mendirikan dapur umum untuk pejuang
👨👩👧 Data Keluarga
- Ayah: Mohamad Rasjad Maharadja Sutan
- Suami: Abdul Qudus (notaris, menikah 1908)
🧵 Keahlian Utama
- Jurnalisme
- Pendidikan perempuan
- Penulisan sosial
- Kerajinan tangan produktif
- Pengorganisasian komunitas perempuan
⭐ Nilai Keteladanan
- Memperjuangkan literasi perempuan sejak masa kolonial
- Menggunakan media sebagai alat perubahan sosial
- Mendorong kemandirian ekonomi perempuan
- Menggabungkan pendidikan, pers, dan aksi sosial
Buatlah Risalah dan Infografis tentang Pahlawan :
Raden Intan II.
Raden Intan II (sering ditulis Radin Inten II).
Lahir di Desa Kuripan, Lampung Selatan, 1 Januari 1834.
Meninggal di Desa Gedung Harta, Lampung Selatan, 5 Oktober 1856 (usia 22 tahun).
Pahlawan Nasional dari Lampung yang gigih melawan kolonialisme Belanda di usia muda, dinobatkan sebagai Ratu Lampung pada usia 16 tahun. Ia memimpin perlawanan gerilya di Lampung Selatan, memperkuat benteng pertahanan, dan gugur pada 5 Oktober 1856 akibat pengkhianatan, kemudian ditetapkan sebagai pahlawan pada 1986.
Orang Tua: Ayah Raden Imba II (Kesuma Ratu) dan Ibu Ratu Mas.
Gelar: Ratu Pemimpin Keratuan Darah Putih.
Keturunan: Keturunan dari Fatahillah/Sunan Gunung Jati.
Penganugerahan Pahlawan: SK No. 082/1986 tanggal 23 Oktober 1986.
Kisah Perjuangan dan Kepahlawanan
Latar Belakang: Lahir saat ayahnya dibuang Belanda ke Pulau Timor, Raden Intan II mewarisi semangat anti-Belanda dan dibesarkan dengan didikan agama serta ilmu bela diri.
Perlawanan (1850-1856): Setelah dilantik menjadi Ratu pada 1850, ia menolak tunduk pada Belanda. Ia memperkuat benteng (seperti Benteng Cempaka) dan menambah persenjataan untuk melawan serbuan Belanda.
Taktik Gerilya: Menghadapi pasukan besar Kolonel Wilson pada 1856, ia menggunakan strategi gerilya yang membuat Belanda frustrasi selama bertahun-tahun.
Gugur: Ia gugur dalam pertempuran yang tidak seimbang di Way Seputih setelah disergap akibat pengkhianatan.
Pengkhianatan
Radin Inten II diketahui keberadaannya oleh Belanda akibat pengkhianatan dari dalam.
Siapa Pengkhianatnya: Paman dari Radin Inten II sendiri yang bernama Radin Ngarapat.
Kronologi: Radin Ngarapat menjebak Radin Inten II agar keluar dari daerah persembunyian/gerilyanya. Ia menghasut atau memberikan informasi tempat persembunyian Radin Inten II kepada pasukan Belanda di kawasan Way Seputih.
Akibat: Akibat pengkhianatan tersebut, pada 5 Oktober 1856, Radin Inten II disergap oleh pasukan Belanda tanpa persiapan maksimal dan gugur dalam pertempuran yang tidak seimbang.
Area makam ini dikenal sebagai Benteng Cempaka, yang dulunya merupakan gundukan tanah pertahanan. Makam ini kini menjadi situs wisata sejarah dan religi yang dikelola, dan telah dibangun pemugaran (cungkup) sebagai penghormatan.
Penghormatan
Nama Radin Inten II diabadikan sebagai nama Bandara Internasional di Lampung (Bandar Udara Radin Inten II).
Nama universitas Islam di Lampung: Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung.
Raden Intan II dikenal sebagai pemimpin cerdas yang menggunakan Doktrin Perang Wilayah, memanfaatkan potensi geografis dan dukungan rakyat Lampung untuk mempertahankan kedaulatan.

📜 Risalah & Infografis Pahlawan
Raden Intan II
Nama kecil: Raden Intan
Nama lain: Radin Inten II
Lahir: Desa Kuripan, Lampung Selatan — 1 Januari 1834
Wafat: Desa Gedung Harta, Lampung Selatan — 5 Oktober 1856 (usia 22 tahun)
Gelar: Ratu Pemimpin Keratuan Darah Putih
Orang tua: Raden Imba II (Kesuma Ratu) & Ratu Mas
Keturunan: Trah dakwah Fatahillah / Sunan Gunung Jati
Pahlawan Nasional: SK No. 082/1986 (23 Oktober 1986)
🛡️ Profil Singkat
Raden Intan II adalah Pahlawan Nasional dari Lampung yang memimpin perlawanan bersenjata melawan kolonial Belanda pada usia sangat muda. Dinobatkan sebagai pemimpin pada usia 16 tahun, ia membangun pertahanan wilayah dan menerapkan strategi gerilya berbasis kekuatan rakyat dan medan geografis.
⚔️ Perjuangan Utama
▪️ Naik Kepemimpinan (1850)
Diangkat sebagai pemimpin Keratuan Darah Putih. Sejak awal menolak tunduk pada kekuasaan kolonial.
▪️ Perlawanan 1850–1856
Memperkuat sistem pertahanan dan benteng rakyat, termasuk kawasan Benteng Cempaka sebagai pusat pertahanan tanah dan logistik.
▪️ Strategi Gerilya
Menggunakan taktik mobil, serangan cepat, dan penguasaan wilayah hutan–sungai (doktrin perang wilayah) sehingga pasukan Belanda kesulitan menundukkan basis perlawanan.
▪️ Serangan Belanda 1856
Pasukan kolonial melakukan operasi besar dipimpin perwira militer Belanda. Pertahanan rakyat membuat operasi berlangsung lama dan mahal.
⚠️ Pengkhianatan Internal
Nama pengkhianat: Radin Ngarapat (paman sendiri)
Peristiwa: Memberi informasi lokasi persembunyian kepada Belanda
Dampak: Raden Intan II disergap di kawasan Way Seputih dalam kondisi tidak siap tempur penuh
Hasil: Gugur dalam pertempuran tidak seimbang — 5 Oktober 1856
🕯️ Wafat & Warisan
- Gugur pada usia 22 tahun
- Dimakamkan di kawasan Benteng Cempaka
- Area makam kini menjadi situs sejarah & religi Lampung
- Dikenang sebagai simbol keberanian pemimpin muda
🏛️ Penghormatan Nasional
- Nama diabadikan menjadi Bandar Udara Radin Inten II
- Menjadi nama perguruan tinggi: Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung
- Tokoh utama sejarah perjuangan Lampung Selatan
📊 Infografis Ringkas (Siap Desain Hitam–Putih)
Raden Intan II — Pahlawan Muda Lampung
- 👤 Lahir: 1834 — Kuripan
- 👑 Pemimpin sejak usia 16
- 🛡️ Benteng Cempaka
- 🌿 Strategi gerilya wilayah
- ⚔️ Perang 6 tahun
- ⚠️ Gugur akibat pengkhianatan
- 🕯️ Wafat: 5 Okt 1856
- 🇮🇩 Pahlawan Nasional: 1986
- ✈️ Nama bandara & universitas
Buatlah Risalah dan Infografis tentang Pahlawan :
Cut Meutia
Nama Lengkap: Tjoet Nja' Meuthia.
Lahir di Keureutoe, Pirak, Aceh Utara, Provinsi Nangroe Aceh Darussalam, 15 Februari 1870
Meninggal di Alue Kurieng, Aceh/NAD, 24 Oktober 1910 (usia 40 tahun).
Pahlawan nasional wanita dari Aceh yang gigih melawan penjajahan Belanda dengan taktik gerilya. Lahir di Pirak, Aceh Utara, beliau dikenal sebagai pemimpin perlawanan yang pantang menyerah meski suami-suaminya gugur dalam pertempuran. Beliau gugur syahid pada 24 Oktober 1910 di Alue Kurieng dengan rencong di tangan.
Orang Tua: Teuku Ben Daud Pirak (ayah) dan Cut Jah (ibu).
Gelar: Pahlawan Nasional Indonesia (SK Presiden No. 107/1964).
Suami: Teuku Syamsarif (bercerai), Teuku Chik Tunong (gugur), Pang Nanggroë (gugur).
Anak: Teuku Raja Sabi (dari Teuku Chik Tunong).
Perjuangan dan Kepahlawanan:
Perlawanan Gerilya: Meutia melanjutkan perjuangan suami keduanya, Teuku Chik Tunong, dan kemudian Pang Nanggroe, melawan Belanda di wilayah Aceh Utara.
Taktik Pertempuran: Dikenal ahli mengatur strategi perang, menggunakan metode serang-dan-lari, serta memanfaatkan medan hutan Aceh untuk menyergap pasukan Belanda.
Pantang Menyerah: Setelah suaminya gugur, Meutia mengambil alih kepemimpinan pasukan dan menolak bujukan Belanda untuk menyerah.
Gugur Syahid: Pada 24 Oktober 1910, dalam pertempuran di Alue Kurieng (hulu Sungai Peutoe), Cut Meutia gugur setelah tertembak pasukan Marechausée Belanda, namun tetap melawan hingga akhir.
gugur pada 24 Oktober 1910 di Alue Kurieng setelah disergap oleh pasukan Belanda Marsose (Marechaussee) di bawah pimpinan Christoffel atau Mosselman.
Hubungan dengan Cut Nyak Dien, Teuku Umar, dan Panglima Polem adalah sebagai rekan seperjuangan dalam Perang Aceh.
Penghargaan: Wajahnya diabadikan dalam uang kertas Rupiah pecahan Rp1.000 (emisi 2016).
Gb. Asli 2


📜 Risalah & Infografis Pahlawan Nasional — Cut Meutia
Identitas Tokoh
- Nama lengkap: Tjoet Nja’ Meuthia
- Lahir: Keureutoe, Pirak, Aceh Utara — 15 Februari 1870
- Wafat/Gugur: Alue Kurieng, Aceh — 24 Oktober 1910 (usia 40 tahun)
- Orang tua: Teuku Ben Daud Pirak & Cut Jah
- Anak: Teuku Raja Sabi
- Gelar: Pahlawan Nasional Indonesia
- Penetapan: SK Presiden No. 107 Tahun 1964
🛡️ Ringkasan Perjuangan
Cut Meutia adalah pahlawan nasional wanita dari Aceh yang memimpin perlawanan gerilya melawan Belanda di Aceh Utara. Ia dikenal sebagai pemimpin tangguh, ahli strategi serang-dan-lari, dan memanfaatkan hutan sebagai basis perlawanan. Setelah suaminya gugur, ia mengambil alih komando pasukan dan tetap bertempur hingga akhir hayatnya.
Ia gugur syahid dalam pertempuran di Alue Kurieng setelah disergap pasukan Marechaussee Belanda, tetap melawan dengan rencong di tangan.
⚔️ Perjuangan & Taktik
- Memimpin pasukan gerilya di wilayah Aceh Utara
- Menggunakan strategi hit and run
- Menyerang pos Belanda secara mendadak
- Memanfaatkan medan hutan dan sungai
- Menolak negosiasi dan ajakan menyerah dari Belanda
- Tetap memimpin walau dua suaminya gugur di medan perang
👤 Keluarga & Rekan Perjuangan
- Suami:
- Teuku Syamsarif (bercerai)
- Teuku Chik Tunong (gugur)
- Pang Nanggroë (gugur)
- Rekan seperjuangan Perang Aceh:
- Cut Nyak Dien
- Teuku Umar
- Panglima Polem
🏅 Penghargaan & Pengabadian
- Ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional (1964)
- Namanya diabadikan menjadi berbagai jalan dan institusi di Aceh
- Wajahnya diabadikan pada uang Rupiah Rp1.000 emisi 2016
- Diingat sebagai simbol keberanian perempuan Aceh
🧾 Naskah Siap Pakai Infografis (Layout Poster)
Judul Besar:
PAHLAWAN NASIONAL — CUT MEUTIA
Subjudul:
Pemimpin Gerilya Perempuan dari Aceh
Blok 1 — Profil Singkat
- Lahir: 15 Feb 1870 — Aceh Utara
- Gugur: 24 Okt 1910 — Alue Kurieng
- Orang Tua: Teuku Ben Daud Pirak & Cut Jah
- Anak: Teuku Raja Sabi
Blok 2 — Perjuangan
- Pemimpin perang gerilya
- Strategi serang-dan-lari
- Basis hutan Aceh
- Tolak menyerah
Blok 3 — Kepahlawanan
- Lanjutkan perjuangan suami
- Pimpin pasukan sendiri
- Gugur dalam pertempuran
Blok 4 — Penghargaan
- Pahlawan Nasional (1964)
- Wajah di uang Rp1.000 (2016)
Buatlah Risalah dan Infografis tentang Pahlawan :
Sultan Mahmud Riwayat Syah
Nama: Sultan Mahmud Riayat Syah III
Lahir di Hulu, Riau, 24 Maret 1756
Meninggal di Daik, Lingga, Riau, 12 Januari 1812
Sultan Johor-Riau-Lingga-Pahang ke-15 yang ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia. Ia gigih melawan VOC/Belanda (1770–1811) dengan taktik gerilya laut yang cemerlang, memindahkan pusat pemerintahan ke Daik, Lingga, dan membebaskan perairan Riau dari penjajahan, menjadikannya ikon perlawanan maritim Melayu.
Pemerintahan: Memerintah Kesultanan Johor-Riau-Lingga-Pahang (1761–1812).
Orang Tua: Putra dari Sultan Abdul Jalil Muazzam Syah dan Tengku Puteh.
Gelar: Singa Laut Riau Lingga.
Masa Jabatan: Naik takhta pada 1761 (usia 5 tahun/dalam pengasuhan) dan berkuasa penuh hingga wafat.
Pahlawan Nasional & Perjuangan:
Perang Gerilya Laut: Mengembangkan strategi gerilya laut yang menyulitkan VOC, memaksa Belanda keluar dari perairan Riau pada tahun 1787.
Julukan: "Singa Laut" karena kepiawaiannya dalam perang gerilya laut melawan Belanda (VOC).
Perang Riau (1782-1784): Memimpin perlawanan melawan Belanda bersama Yang Dipertuan Muda Raja Haji Fisabilillah, termasuk dalam pertempuran sengit di Teluk Ketapang.
Memindahkan Pusat Pemerintahan: Memindahkan ibu kota kerajaan dari Hulu Riau ke Daik, Lingga pada tahun 1787 untuk menghindari dominasi Belanda.
Menyatukan Kekuatan: Menjalin kerja sama dengan berbagai kerajaan di Sumatera dan Semenanjung Melayu untuk memperkuat pertahanan melawan kolonial.
Warisannya: Dikenal sebagai Sultan yang pantang menyerah, meletakkan dasar pertahanan maritim, dan berhasil menjaga kedaulatan wilayah Kesultanan Riau-Lingga hingga akhir hayatnya.
Orang Belanda yang paling gigih memimpin serangan terhadap Kesultanan Riau pada masa itu adalah Pieter Jacob van Braam. Ia adalah pimpinan pasukan Belanda yang memimpin serangan ke Tanjungpinang pada 22 Juni 1784, yang memicu perlawanan panjang Sultan Mahmud.
Pusat Perdagangan: Meskipun dalam keadaan perang, Riau tetap menjadi pelabuhan bebas yang ramai, menarik pedagang dari berbagai bangsa (Inggris, Cina, Melayu).
Hasil Laut dan Hutan: Terutama kayu, damar, dan hasil laut.
Pajak Perdagangan: Bea cukai kapal-kapal yang melintas dan berlabuh.
Pertambangan Timah: Riau memiliki kontrol atas wilayah penghasil timah, termasuk Pulau Bangka dan Belitung pada masa tertentu.
Berdasarkan hasil penelusuran, Sultan Mahmud Riayat Syah (1756-1812) yang merupakan pahlawan nasional berasal dari Kesultanan Riau-Lingga-Johor, bukan Kesultanan Aceh.
📜 Risalah & Infografis Pahlawan Nasional
👑 Sultan Mahmud Riayat Syah III
Sultan Mahmud Riayat Syah III adalah Sultan Johor–Riau–Lingga–Pahang ke-15 dan Pahlawan Nasional Indonesia yang dikenal sebagai tokoh perlawanan maritim Melayu. Ia memimpin perjuangan panjang melawan kekuatan kolonial VOC dengan strategi gerilya laut yang cemerlang dan berhasil mempertahankan kedaulatan wilayah perairan Riau.
🧾 Identitas Singkat
- Nama: Sultan Mahmud Riayat Syah III
- Lahir: Hulu, Riau — 24 Maret 1756
- Wafat: Daik, Lingga, Riau — 12 Januari 1812
- Orang Tua: Sultan Abdul Jalil Muazzam Syah & Tengku Puteh
- Kedudukan: Sultan Johor–Riau–Lingga–Pahang ke-15
- Masa Pemerintahan: 1761–1812
- Naik Takhta: Usia 5 tahun (di bawah pengasuhan), lalu memerintah penuh
- Julukan: Singa Laut Riau–Lingga
- Status: Pahlawan Nasional Indonesia
⚔️ Perjuangan & Kepahlawanan
1️⃣ Perang Gerilya Laut (1770–1811)
Mengembangkan taktik gerilya laut untuk menyerang jalur suplai dan armada VOC. Strategi ini membuat Belanda kesulitan menguasai perairan Riau.
2️⃣ Perang Riau (1782–1784)
Berkolaborasi dengan panglima besar Melayu Raja Haji Fisabilillah dalam perlawanan sengit, termasuk pertempuran di Teluk Ketapang.
3️⃣ Mengusir VOC dari Perairan Riau (1787)
Serangan gerilya terkoordinasi memaksa VOC keluar dari pusat-pusat strategis perairan Riau.
4️⃣ Pemindahan Ibu Kota Kerajaan
Memindahkan pusat pemerintahan ke Daik Lingga untuk menghindari dominasi dan tekanan kolonial.
5️⃣ Perlawanan terhadap Serangan Belanda
Tokoh Belanda yang memimpin ekspedisi besar ke Riau adalah Pieter Jacob van Braam, penyerang Tanjungpinang (1784), yang memicu fase perlawanan panjang Sultan Mahmud.
🌊 Strategi Kekuatan Maritim
- ⚓ Gerilya laut & mobilitas armada kecil
- 🛶 Serangan cepat ke kapal dan pangkalan musuh
- 🗺️ Penguasaan selat & jalur perdagangan
- 🤝 Aliansi dengan kerajaan Melayu & Sumatera
- 🛡️ Pertahanan berbasis pulau dan pesisir
💰 Kekuatan Ekonomi Kerajaan
- 🚢 Pelabuhan bebas & pusat perdagangan internasional
- 💎 Kontrol wilayah timah (Bangka–Belitung pada masa tertentu)
- 🌲 Hasil hutan: kayu & damar
- 🐟 Hasil laut
- 📦 Pajak & bea cukai perdagangan kapal asing
🏛️ Warisan Sejarah
- Ikon perlawanan maritim Melayu
- Peletak dasar pertahanan laut Riau–Lingga
- Menjaga kedaulatan wilayah hingga akhir hayat
- Dikenang sebagai sultan pejuang yang pantang menyerah
78 Era Suh
Buatlah Risalah dan Infografis tentang Pahlawan :
K.H. Zainal Mustafa
Nama Kecil: Hudaemi.
Lahir di Kampung Bageur, Desa Cimerah, Kecamatan Singaparna, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, 1 Januari 1899.
Meninggal di 25 Oktober 1944.
Dieksekusi Jepang di Jakarta
Pendidikan: Santri kelana (belajar ke berbagai pesantren, termasuk Gunung Pari, Cilenga, Leuwisari, dan Sukamiskin).
Karier: Pendiri Pesantren Sukamanah (1927), Asisten Dewan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (NU) Tasikmalaya.
K.H. Zainal Mustafa (1899–1944) adalah Pahlawan Nasional Indonesia asal Singaparna, Tasikmalaya, yang memimpin perlawanan santri melawan penjajahan Jepang. Pendiri Pesantren Sukamanah ini dikenal gigih menolak seikerei (menunduk ke arah matahari/Tokyo) dan gugur dieksekusi Jepang,
Perjuangan Melawan Penjajah
1. Perlawanan terhadap Belanda: Sebelum Jepang datang, KH Zainal Mustafa aktif mengkritik kebijakan kolonial Belanda melalui ceramah. Akibatnya, beliau pernah ditahan di Penjara Tasikmalaya dan Sukamiskin, Bandung, hingga Januari 1942.
2. Menentang Seikerei Jepang: Pada masa pendudukan Jepang, beliau menentang keras perintah seikerei, yaitu memberi penghormatan kepada Kaisar Jepang dengan membungkukkan badan ke arah Tokyo. KH Zainal Mustafa menganggapnya perbuatan syirik karena menyerupai ruku' dan melanggar ajaran Islam.
3. Perlawanan Fisik (Pemberontakan Sukamanah): Akibat kekejaman Jepang, KH Zainal Mustafa memimpin perlawanan fisik pada Februari 1944 di Pesantren Sukamanah. Para santri dipersenjatai dengan bambu runcing dan golok.
4. Eksekusi dan Syahid: Akibat perlawanan tersebut, Jepang melakukan pembersihan pada 26 Februari 1944. KH Zainal Mustafa ditangkap dan dibawa ke Jakarta. Beliau beserta pengikutnya dieksekusi oleh tentara Jepang di Cilincing, Tanjung Priok, Jakarta pada 25 Oktober 1944.
Nilai Perjuangan
1. Keberanian: Berani menentang kezaliman meskipun harus bertaruh nyawa.
2. Patriotisme: Membela agama dan tanah air dari penindasan.
3. Keteguhan Iman: Menolak aturan yang merusak tauhid.
A. Perjuangan Melawan Penjajah Belanda
1. Anti-Belanda: K.H. Zainal Mustafa sangat teguh pendirian, menolak bekerja sama dengan Belanda, dan pernah dipenjara di Sukamiskin pada 1941.
2. Melawan Jepang: Pada masa Jepang (mulai 1942), ia menolak kebijakan Seikerei (penghormatan kepada Kaisar Jepang dengan membungkuk ke arah Tokyo) karena dianggap bertentangan dengan ajaran tauhid Islam.
3. Puncak Perlawanan (1944): Pada 25 Februari 1944, ia dan santrinya melakukan perlawanan bersenjata (menggunakan bambu runcing dan golok) terhadap pasukan Kempeitai Jepang di Sukamanah, Singaparna.
B. Eksekusi oleh Jepang
1. Mengapa: K.H. Zainal Mustafa dieksekusi karena memimpin pemberontakan melawan penjajah Jepang, menolak Seikerei, dan menggerakkan massa untuk menentang militer Jepang.
2. Cara dan Waktu: Ia ditangkap setelah pertempuran, ditahan, dan dieksekusi mati oleh tentara Jepang pada 25 Oktober 1944 di Ancol, Jakarta.
3. Makam: Jenazahnya ditemukan di pemakaman umum Ancol, Jakarta Utara pada tahun 1970.
4. Pemindahan Makam: Atas jasa-jasanya, makamnya dipindahkan dari Ancol ke Kompleks Pondok Pesantren Sukamanah, Tasikmalaya, pada 25 Agustus 1973.
RISALAH PAHLAWAN NASIONAL
K. H. Zainal Mustafa
(Nama kecil: Hudaemi)
Lahir: Kampung Bageur, Desa Cimerah, Singaparna, Tasikmalaya, Jawa Barat — 1 Januari 1899
Wafat: Dieksekusi Jepang, Jakarta — 25 Oktober 1944
Makam: Kompleks Pesantren Sukamanah, Tasikmalaya
Profil Singkat
K.H. Zainal Mustafa adalah ulama pejuang dari Singaparna yang memimpin perlawanan santri melawan penjajahan Jepang. Ia dikenal sebagai pendiri Pesantren Sukamanah (1927) dan tokoh Nahdlatul Ulama di Tasikmalaya.
Keteguhannya menolak praktik seikerei menjadikannya simbol perjuangan akidah dan kemerdekaan.
Pendidikan & Perjalanan Dakwah
- Santri kelana (belajar dari berbagai pesantren: Gunung Pari, Cilenga, Leuwisari, Sukamiskin)
- Aktif dalam kepengurusan cabang Nahdlatul Ulama Tasikmalaya
- Mendirikan Pesantren Sukamanah sebagai pusat pendidikan dan perlawanan moral
PERJUANGAN MELAWAN PENJAJAH
A. Melawan Kolonial Belanda
1️⃣ Anti-Kompromi terhadap Belanda
- Mengkritik kebijakan kolonial melalui ceramah agama
- Ditahan di Penjara Tasikmalaya dan Sukamiskin (hingga Januari 1942)
- Menolak bekerja sama dengan pemerintah kolonial
B. Melawan Pendudukan Jepang
1️⃣ Menolak Seikerei
Pada masa pendudukan Jepang (1942–1945), rakyat diwajibkan melakukan seikerei (membungkuk ke arah Tokyo sebagai penghormatan kepada Kaisar Jepang).
K.H. Zainal Mustafa menolak keras karena dianggap menyerupai ruku’ dan bertentangan dengan tauhid Islam.
2️⃣ Puncak Perlawanan – Pemberontakan Sukamanah (Februari 1944)
- 25 Februari 1944: Perlawanan bersenjata terjadi di Sukamanah, Singaparna
- Santri bersenjata bambu runcing dan golok
- Menghadapi tentara Jepang dan Kempeitai
Jepang melakukan penindakan besar-besaran pada 26 Februari 1944.
Eksekusi & Kesyahidan
- Ditangkap setelah perlawanan
- Dibawa ke Jakarta
- Dieksekusi oleh tentara Jepang pada 25 Oktober 1944 di wilayah Ancol / Cilincing, Tanjung Priok
Jenazah beliau ditemukan kembali di pemakaman umum Ancol pada tahun 1970.
Pada 25 Agustus 1973, makamnya dipindahkan ke Kompleks Pesantren Sukamanah, Tasikmalaya.
INFOGRAFIS SINGKAT
📌 IDENTITAS
- Nama kecil: Hudaemi
- Lahir: 1 Januari 1899
- Wafat: 25 Oktober 1944
- Asal: Singaparna, Tasikmalaya
- Ulama & Pendiri Pesantren Sukamanah
⚔ PERJUANGAN
- Dipenjara Belanda
- Menolak Seikerei Jepang
- Memimpin Pemberontakan Sukamanah (1944)
- Dieksekusi Jepang
🌟 NILAI KETELADANAN
✔ Keberanian melawan tirani
✔ Keteguhan menjaga tauhid
✔ Patriotisme berbasis keimanan
✔ Kepemimpinan ulama dalam perjuangan
WARISAN SEJARAH
- Simbol perlawanan ulama terhadap penjajah
- Inspirasi perjuangan berbasis iman dan pendidikan
- Diakui sebagai Pahlawan Nasional Indonesia
93 Suh
Buatlah Risalah dan Infografis tentang Pahlawan :
Mangkunegara I
Nama Lahir: Raden Mas Said.
Gelar: Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (KGPAA) Mangkunegara I.
Julukan: Pangeran Sambernyawa (karena keganasannya dalam pertempuran membawa kematian bagi musuh).
Lahir di Kartasura, 7 April 1725.
Meninggal di Surakarta, 28 Desember 1795 (usia 70 tahun).
Orang Tua: Ayahnya adalah Kanjeng Pangeran Arya Mangkunegara (putra tertua Amangkurat IV) yang dibuang Belanda ke Sri Lanka, ibunya bernama R.A. Wulan.
Mangkunegara I (Raden Mas Said), lahir 7 April 1725, adalah pendiri Kadipaten Mangkunegaran dan Pahlawan Nasional Indonesia yang dijuluki "Pangeran Sambernyawa" oleh VOC. Ia berjuang selama hampir 16 tahun melawan VOC dan Kesunanan Surakarta untuk kedaulatan Jawa. Perjuangan berakhir melalui Perjanjian Salatiga 1757, mendirikan praja sendiri.
Perjuangan Mangkunegara I
1. Melawan VOC & Mataram: Mas Said melawan campur tangan VOC di kerajaan Mataram dan menolak perpecahan kerajaan yang dipaksakan Belanda.
2. Perang Gerilya (1741-1757): Selama hampir 20 tahun, ia memimpin pasukan kecil melawan VOC dan kekuatan gabungan Kasunanan Surakarta-VOC.
3. Semboyan "Tiji Tibèh": Memiliki semboyan Mati siji, mati kabèh; mukti siji, mukti kabèh (gugur satu, gugur semua; sejahtera satu, sejahtera semua) untuk menjaga loyalitas dan moral pasukannya.
4. Perjanjian Salatiga (1757): Kegigihannya memaksa VOC menandatangani perjanjian yang mengakui Raden Mas Said sebagai penguasa sebagian wilayah Surakarta, yang kemudian dikenal sebagai Praja Mangkunegaran.
Peran saat Perjanjian Giyanti (1755)
Dalam Perjanjian Giyanti (13 Februari 1755), perannya adalah sebagai pihak yang menentang keras perjanjian tersebut.
1. Alasan Menentang: Perjanjian Giyanti membagi Mataram menjadi dua (Kasunanan Surakarta dan Kesultanan Yogyakarta) dan dianggap sebagai bentuk rekayasa VOC yang memecah belah rakyat Jawa.
2. Tindakan: Pasca-Giyanti, RM Said tidak bergabung dengan salah satu kubu, melainkan memilih melanjutkan perjuangan sendirian melawan VOC dan dua kerajaan hasil Giyanti tersebut.
Pembentukan Mangkunegaran
Perlawanan panjang RM Said akhirnya berakhir melalui Perjanjian Salatiga (17 Maret 1757).
1. Hasil: VOC dan Pakubuwana III mengakui kedaulatan RM Said dan memberinya wilayah yang kemudian dikenal sebagai Kadipaten Mangkunegaran.
2. Ia resmi bergelar KGPAA Mangkunegara I dan daerah otonomnya berhak memiliki tentara independen.
Selain ahli strategi perang, Mangkunegara I adalah seorang budayawan yang menciptakan tari-tarian sakral seperti Bedhaya Mataram.
Tarian yang Diciptakan/Dikembangkan
Pangeran Sambernyawa dikenal sangat memperhatikan seni budaya, terutama tari-tarian yang menggambarkan semangat perjuangan dan keprajuritan.
1. Tari Jaran Gedrug: Tarian yang bersumber dari sejarah kepahlawanan Pangeran Sambernyawa dalam mengusir penjajah, yang menggambarkan semangat prajurit berkuda.
2. Wireng (Tari Prajurit): Mangkunegara I dikenal mengembangkan tarian bertema keprajuritan (Wireng) yang gagah dan dinamis.
3. Tari Adaninggar Kelaswara: Tarian ini sering dikaitkan dengan tradisi di Mangkunegaran.
Karya Sastra
Sebagai raja yang bijak, Mangkunegara I juga dikenal memiliki keahlian dalam olah sastra.
1. Serat Paliwara: Karya yang ditulis oleh Mangkunegara I, yang memuat nasihat, prinsip kepemimpinan, dan etika Jawa.
2. Karya sastra lisan dan ajaran: Selain tulisan, ajaran-ajarannya yang termuat dalam filosofi perjuangannya (seperti tiji tibeh) menjadi warisan nilai-nilai luhur kepemimpinan Jawa.
Hubungan dengan Geger Pecinan
Geger Pecinan (1740-1743) adalah pemberontakan Tionghoa-Jawa melawan VOC. Hubungan RM Said dengan peristiwa ini sangat erat:
* Aliansi: Saat masih muda, RM Said bersekutu dengan Raden Mas Garendi (Sunan Kuning) dan para pedagang Tionghoa yang melawan VOC.
* Awal Perlawanan: RM Said muda mendukung aliansi Jawa-Tionghoa ini karena Belanda membantai etnis Tionghoa di Batavia (1740) dan campur tangan VOC dalam urusan Mataram.
* Dampak: Peristiwa ini menjadi awal RM Said terjun dalam kancah perlawanan bersenjata melawan VOC yang berlangsung sepanjang hidupnya.

RISALAH PAHLAWAN NASIONAL
Mangkunegara I
Nama Lahir: Raden Mas Said
Gelar: Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (KGPAA) Mangkunegara I
Julukan: Pangeran Sambernyawa
Lahir: Kartasura, 7 April 1725
Wafat: Surakarta, 28 Desember 1795 (usia 70 tahun)
Ayah: Kanjeng Pangeran Arya Mangkunegara (putra Amangkurat IV, dibuang ke Sri Lanka oleh VOC)
Ibu: R.A. Wulan
Pendiri: Kadipaten Mangkunegaran (1757)
Pahlawan Nasional Indonesia
I. LATAR BELAKANG & AWAL PERJUANGAN
Mangkunegara I lahir di tengah konflik politik Kerajaan Mataram dan campur tangan VOC.
Ayahnya dibuang oleh Belanda ke Sri Lanka, membentuk jiwa perlawanan dalam diri Raden Mas Said sejak muda.
✦ Hubungan dengan Geger Pecinan (1740–1743)
Ia bersekutu dengan Raden Mas Garendi (Sunan Kuning) dan kelompok Tionghoa-Jawa melawan VOC setelah tragedi pembantaian Tionghoa di Batavia (1740).
Peristiwa ini menjadi awal perjuangan bersenjatanya melawan kolonialisme.
II. PERLAWANAN MELAWAN VOC & MATARAM (1741–1757)
Selama hampir 16–20 tahun, Raden Mas Said memimpin perang gerilya melawan VOC dan kekuatan gabungan Kesunanan Surakarta.
Bentuk Perjuangan:
✔ Menolak campur tangan VOC dalam Mataram
✔ Menentang pemecahan kerajaan oleh Belanda
✔ Memimpin pasukan kecil dengan taktik gerilya efektif
✔ Mendapat julukan “Pangeran Sambernyawa” karena keganasannya di medan perang
Semboyan Perjuangan:
“Tiji Tibèh”
Mati siji, mati kabèh; mukti siji, mukti kabèh.
(Gugur satu, gugur semua; sejahtera satu, sejahtera semua)
Semboyan ini memperkuat loyalitas dan solidaritas pasukannya.
III. PERAN SAAT PERJANJIAN GIYANTI (1755)
Perjanjian Giyanti
Tanggal: 13 Februari 1755
Perjanjian ini membagi Mataram menjadi:
- Kesunanan Surakarta
- Kesultanan Yogyakarta
Sikap Mangkunegara I:
✖ Menentang keras perjanjian
✖ Menganggapnya sebagai rekayasa VOC untuk memecah belah Jawa
✖ Tidak bergabung dengan dua kubu hasil perjanjian
✖ Melanjutkan perjuangan secara mandiri
IV. PERJANJIAN SALATIGA & LAHIRNYA MANGKUNEGARAN (1757)
Perjanjian Salatiga
Tanggal: 17 Maret 1757
Perlawanan panjangnya memaksa VOC dan Pakubuwana III mengakui kekuasaannya.
Hasil:
✔ Diakui sebagai penguasa wilayah tersendiri
✔ Berdirinya Kadipaten Mangkunegaran
✔ Resmi bergelar KGPAA Mangkunegara I
✔ Memiliki tentara independen
V. MANGKUNEGARA I SEBAGAI BUDAYAWAN
Selain ahli strategi perang, ia juga pelindung seni dan budaya Jawa.
Tarian yang Diciptakan/Dikembangkan:
✔ Tari Jaran Gedrug
✔ Tari Wireng (tari keprajuritan)
✔ Tari Adaninggar Kelaswara
✔ Bedhaya Mataram (dikembangkan dalam tradisi Mangkunegaran)
Karya Sastra:
✔ Serat Paliwara — berisi nasihat kepemimpinan dan etika Jawa
✔ Ajaran moral dan filosofi perjuangan “Tiji Tibèh”
INFOGRAFIS RINGKAS
Nama: Mangkunegara I
Nama Lahir: Raden Mas Said
Julukan: Pangeran Sambernyawa
Lahir: 7 April 1725 – Kartasura
Wafat: 28 Desember 1795 – Surakarta
Pendiri: Kadipaten Mangkunegaran
Peran Utama:
✔ Pejuang anti-VOC
✔ Pemimpin perang gerilya 1741–1757
✔ Penentang Perjanjian Giyanti
✔ Pendiri Praja Mangkunegaran
✔ Pelindung seni & sastra Jawa
NILAI KEPAHLAWANAN
• Keberanian luar biasa dalam perang gerilya
• Teguh mempertahankan kedaulatan Jawa
• Konsisten melawan politik adu domba VOC
• Mengedepankan solidaritas dan persatuan
• Pemimpin visioner yang memadukan militer dan budaya
Mangkunegara I dikenang sebagai simbol keteguhan, keberanian, dan persatuan Jawa, sekaligus pendiri kekuasaan Mangkunegaran yang bertahan dalam sejarah Nusantara.
94 Suh
Buatlah Risalah dan Infografis tentang Pahlawan :
Hamengku Buwono IX
Nama Kecil: Gusti Raden Mas Dorodjatun.
Lahir di Ngasem, Yogyakarta, 12 April 1912.
Meninggal di Washington DC, AS., 2 Oktober 1988,
Dimakamkan di Imogiri.
Penobatan Sultan: 18 Maret 1940 dengan gelar Ngarsa Dalem Sampeyan Dalem Ingkang Sinuwun Kangjeng Sultan Hamengku Buwono Senopati-ing-Ngalaga Abdurrahman Sayidin Panatagama Kalifatullah ingkang Jumeneng Kaping Sanga ing Ngayogyakarta Hadiningrat.
Pendidikan: ELS, HBS, dan Universitas Leiden, Belanda.
Jabatan Penting: Sultan Yogyakarta, Gubernur DIY pertama, Wakil Presiden RI (1973-1978), Ketua Kwartir Nasional Pramuka pertama, sekaligus sebagai Bapak Pramuka Indonesia.
Sri Sultan Hamengku Buwono IX (1912–1988) adalah Raja Yogyakarta ke-9, Wakil Presiden RI ke-2, dan Pahlawan Nasional yang berperan besar dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Dikenal sebagai pemimpin bersahaja, beliau mengintegrasikan Yogyakarta ke RI, membiayai pemerintahan saat ibu kota pindah, serta dijuluki Bapak Pramuka Indonesia.
Perjuangan dan Peran Penting
1. Mendukung Kemerdekaan RI (1945): Segera setelah proklamasi, beliau mengirim telegram kepada Soekarno-Hatta yang menyatakan dukungan penuh dan menetapkan Yogyakarta sebagai bagian dari Republik Indonesia.
2. Menyelamatkan Ibu Kota (1946): Saat Jakarta genting, Sultan HB IX mengundang pemerintah RI pindah ke Yogyakarta, serta membiayai seluruh kebutuhan operasional pemerintahan dari kas keraton.
3. Melawan Penjajahan Jepang & Belanda: Menolak kerja sama dengan Jepang untuk Romusa dengan mengadakan proyek lokal, serta menginisiasi ide Serangan Umum 1 Maret 1949 untuk memukul balik Belanda.
4. Menolak Jabatan dari Belanda: Beliau dengan tegas menolak tawaran Belanda untuk menjadi "Raja Jawa" yang independen dari Republik.
5. Bapak Pramuka Indonesia: Menjabat sebagai Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka pertama (1961-1974) dan berkontribusi besar pada perkembangan kepanduan.
Peran di Zaman Jepang (1942-1945)
Masa Jepang adalah masa-masa sulit. Meskipun tertekan, HB IX menggunakan posisinya untuk melindungi rakyat dan mempersiapkan kemerdekaan.
* Menolak Romusha: HB IX menolak keras perintah Jepang untuk mengirim rakyat Yogyakarta menjadi pekerja paksa (romusha) ke luar Jawa.
* Membangun Selokan Mataram: Untuk menghindari pengiriman rakyat sebagai romusha, HB IX mengalihkan tenaga rakyat untuk proyek pembangunan "Selokan Mataram" (menghubungkan Sungai Progo dan Sungai Opak). Ini menyelamatkan ribuan nyawa sekaligus meningkatkan pertanian Yogyakarta untuk ketahanan pangan.
* Menjaga Kedaulatan Keraton: Beliau bersikap tegas namun diplomatis, sehingga Jepang tidak berani sembarangan mengambil alih keraton atau menindas keraton secara ekstrem, berbeda dengan wilayah lain.
Perjuangan dan Peran di Yogyakarta
1. Maklumat 5 September 1945: Sultan menyatakan Kesultanan Yogyakarta merupakan bagian integral dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
2. Penyokong Dana & Logistik: Saat ibu kota RI pindah ke Yogyakarta (1946) akibat situasi Jakarta tidak kondusif, Sultan HB IX menyumbangkan dana pribadi sekitar 6.000.000 Gulden, serta menyediakan fasilitas keraton untuk pemerintahan.
3. Ketahanan Pangan & Administrasi: Beliau menjamin jalannya roda pemerintahan Republik, termasuk kebutuhan pangan bagi pegawai dan pemimpin negara selama di Yogyakarta.
4. Peran saat Agresi Militer Belanda:
* Menolak keras kerja sama dengan Belanda (NICA).
* Mendukung penuh perjuangan TNI dengan menyediakan sarana dan prasarana.
* Menjadi penggerak utama di balik Serangan Umum 1 Maret 1949 untuk merebut kembali Yogyakarta.
* Instruksikan PNS untuk tetap membantu TNI dan melakukan perlawanan gerilya.
RISALAH PAHLAWAN NASIONAL
Hamengkubuwono IX
Nama Kecil: Gusti Raden Mas Dorodjatun
Identitas Singkat
📍 Lahir : Ngasem, Yogyakarta, 12 April 1912
📍 Wafat : Washington DC, Amerika Serikat, 2 Oktober 1988
📍 Dimakamkan : Imogiri, Bantul, Yogyakarta
👑 Penobatan Sultan (18 Maret 1940)
Bergelar lengkap:
Ngarsa Dalem Sampeyan Dalem Ingkang Sinuwun Kangjeng Sultan Hamengku Buwono Senopati-ing-Ngalaga Abdurrahman Sayidin Panatagama Kalifatullah ingkang Jumeneng Kaping Sanga ing Ngayogyakarta Hadiningrat.
Pendidikan
🎓 ELS (Europeesche Lagere School)
🎓 HBS (Hogere Burgerschool)
🎓 Universitas Leiden, Belanda
Pendidikan Barat yang tinggi tidak menghilangkan jiwa nasionalismenya — justru memperkuat visi kebangsaannya.
Jabatan Penting
- Sultan Yogyakarta ke-9
- Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta pertama
- Wakil Presiden RI ke-2 (1973–1978)
- Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka pertama (1961–1974)
- Dijuluki Bapak Pramuka Indonesia
Perjuangan & Peran Penting
1️⃣ Mendukung Kemerdekaan RI (1945)
Segera setelah Proklamasi 17 Agustus 1945, Sri Sultan mengirim telegram kepada Soekarno dan Mohammad Hatta menyatakan:
✔ Yogyakarta bagian dari Republik Indonesia
✔ Mendukung penuh pemerintahan RI
📜 Maklumat 5 September 1945
Menegaskan Kesultanan Yogyakarta sebagai bagian integral NKRI.
2️⃣ Menyelamatkan Ibu Kota (1946)
Saat Jakarta tidak aman akibat tekanan Belanda, Sultan:
✔ Mengundang pemerintah RI pindah ke Yogyakarta
✔ Menyediakan fasilitas Keraton
✔ Menyumbangkan dana pribadi ±6.000.000 Gulden
Langkah ini menyelamatkan eksistensi Republik Indonesia.
3️⃣ Perjuangan di Masa Jepang (1942–1945)
Pada masa pendudukan Jepang, beliau bersikap tegas namun diplomatis.
❌ Menolak Romusha
Beliau menolak keras pengiriman rakyat sebagai pekerja paksa.
🌾 Membangun Selokan Mataram
Sebagai solusi, beliau menggagas pembangunan Selokan Mataram (menghubungkan Sungai Progo dan Sungai Opak).
Tujuannya:
- Menyelamatkan rakyat dari romusha
- Meningkatkan pertanian dan ketahanan pangan
4️⃣ Peran Saat Agresi Militer Belanda
Beliau:
✔ Menolak tawaran Belanda menjadi “Raja Jawa”
✔ Menolak kerja sama dengan NICA
✔ Mendukung penuh perjuangan TNI
📌 Menjadi penggerak utama di balik:
Serangan Umum 1 Maret 1949
Serangan ini membuktikan kepada dunia bahwa Indonesia masih ada dan TNI masih kuat.
5️⃣ Wakil Presiden RI (1973–1978)
Menjadi Wakil Presiden RI ke-2 mendampingi Soeharto.
Dikenal sebagai pemimpin yang:
✔ Bersahaja
✔ Jujur
✔ Mengutamakan kepentingan bangsa
6️⃣ Bapak Pramuka Indonesia
Sebagai Ketua Kwartir Nasional pertama (1961–1974), beliau membangun fondasi kuat Gerakan Pramuka Indonesia.
Karena jasanya, beliau dikenang sebagai Bapak Pramuka Indonesia.
Nilai Keteladanan
⭐ Nasionalisme tinggi
⭐ Rela berkorban demi Republik
⭐ Tegas namun bijaksana
⭐ Mendahulukan rakyat daripada kekuasaan
⭐ Integritas dan kesederhanaan
Kesimpulan
Sri Sultan Hamengku Buwono IX adalah contoh pemimpin visioner yang mampu memadukan tradisi dan modernitas.
Sebagai Sultan, beliau mempertahankan martabat kerajaan.
Sebagai negarawan, beliau menyelamatkan Republik.
Sebagai pendidik bangsa, beliau membangun karakter generasi muda melalui Pramuka.
Beliau bukan hanya Raja Yogyakarta — tetapi juga penjaga dan penyelamat Republik Indonesia.
107 Habibie
Buatlah Risalah dan Infografis tentang Pahlawan :
La Madukelleng
Gelar: Sultan Pasir (1726–1736), Arung Matowa Wajo (1736–1754), Arung Singkang, Arung Peneki.
Julukan: Petta Pammadekaenggi Wajo (Tuan yang memerdekakan Wajo).
Lahir di Paneki, Wajo, Sulawesi Selatan, sekitar tahun 1700.
Meninggal di
Tahun 1765.
Terletak di Jalan Andi Pangerang Petarani, Sengkang, Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan, di dalam kompleks DPC Legiun Veteran Republik Indonesia.
Orang Tua: Ayah: Arung Peneki La Mataesso To Maddettia, Ibu: We Tenriangka Arung Singkang.
Perjuangan La Maddukelleng:
* Melawan VOC: La Maddukelleng dikenal tegas tidak pernah mau berdamai atau membuat perjanjian dengan pemerintah kolonial Belanda.
* Taktik Gerilya Laut: Ia menggunakan taktik memutuskan jalur perdagangan Belanda dengan menguasai daerah-daerah yang sering bertransaksi dengan VOC.
* Membebaskan Wajo: Ia berhasil membebaskan Kerajaan Wajo dari penjajahan dan penguasaan Belanda serta sekutunya.
* Perjuangan di Kalimantan: Selain di Sulawesi, ia juga berperan dalam merebut wilayah di Kalimantan dari pengaruh Belanda.
* Warisan: Namanya diabadikan sebagai nama jalan di Makassar dan perguruan tinggi di Wajo, serta dijuluki sebagai simbol perlawanan rakyat Bugis.
La Maddukelleng berjuang bersama menantunya, Sultan Aji Muhammad Idris (Sultan Kutai ke-14).
Sultan Aji Muhammad Idris adalah menantu La Maddukelleng yang datang dari Kutai ke Tanah Bugis untuk membantu perjuangan La Maddukelleng melawan VOC.
Sultan Aji Muhammad Idris gugur dalam pertempuran melawan Belanda di Wajo pada tahun 1739 dan makamnya juga berada di Wajo.
Kesimpulan
La Maddukelleng adalah pahlawan yang berhasil mengusir Belanda (menang) dan tidak gugur di tangan penjajah. Atas jasa-jasanya, ia dianugerahi gelar Pahlawan Nasional Indonesia.

RISALAH PAHLAWAN NASIONAL
La Maddukelleng
Gelar:
- Sultan Pasir (1726–1736)
- Arung Matowa Wajo (1736–1754)
- Arung Singkang
- Arung Peneki
Julukan: Petta Pammadekaengngi Wajo
(Tuan yang Memerdekakan Wajo)
Lahir: Paneki, Wajo, Sulawesi Selatan, ±1700
Wafat: 1765
Makam: Sengkang, Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan
(dalam kompleks DPC Legiun Veteran RI, Jl. Andi Pangerang Petarani)
Ayah: Arung Peneki La Mataesso To Maddettia
Ibu: We Tenriangka Arung Singkang
Gelar Pahlawan Nasional Indonesia
I. LATAR BELAKANG & KEPEMIMPINAN
La Maddukelleng lahir dari keluarga bangsawan Bugis di Wajo.
Sejak muda ia dikenal tegas, berani, dan berprinsip kuat menentang campur tangan VOC di wilayah Bugis.
Ia kemudian menjadi Arung Matowa Wajo (1736–1754), pemimpin tertinggi Kerajaan Wajo.
II. PERJUANGAN MELAWAN VOC
Pada abad ke-18, VOC berusaha menguasai jalur perdagangan dan kerajaan-kerajaan di Sulawesi Selatan, termasuk Wajo.
Sikap Tegas:
✖ Tidak pernah mau berdamai atau membuat perjanjian dengan VOC
✖ Menolak tunduk pada kekuasaan kolonial Belanda
III. TAKTIK PERANG & STRATEGI
✦ Gerilya Laut
La Maddukelleng menggunakan strategi memutus jalur perdagangan Belanda dengan:
✔ Menguasai pelabuhan strategis
✔ Mengganggu kapal-kapal dagang VOC
✔ Mengendalikan wilayah transaksi penting
Strategi ini melemahkan ekonomi VOC di kawasan timur Nusantara.
✦ Membebaskan Wajo
Ia berhasil membebaskan Kerajaan Wajo dari dominasi dan pengaruh Belanda serta sekutunya.
Karena jasanya itulah ia dijuluki:
Petta Pammadekaengngi Wajo
(Tuan yang memerdekakan Wajo)
✦ Perjuangan di Kalimantan
Selain di Sulawesi Selatan, La Maddukelleng juga berperan dalam perjuangan merebut wilayah di Kalimantan dari pengaruh VOC.
IV. PERJUANGAN BERSAMA MENANTU
La Maddukelleng berjuang bersama menantunya:
Sultan Aji Muhammad Idris
Sultan Kutai ke-14 yang datang dari Kutai ke Tanah Bugis untuk membantu perlawanan melawan VOC.
Sultan Aji Muhammad Idris gugur dalam pertempuran melawan Belanda di Wajo pada tahun 1739.
Makamnya juga berada di Wajo.
V. WARISAN & PENGHORMATAN
✔ Berhasil mengusir Belanda dari Wajo
✔ Tidak gugur di tangan penjajah
✔ Dianugerahi gelar Pahlawan Nasional Indonesia
✔ Namanya diabadikan sebagai nama jalan di Makassar
✔ Namanya digunakan sebagai nama perguruan tinggi di Wajo
✔ Dikenang sebagai simbol perlawanan rakyat Bugis
INFOGRAFIS RINGKAS
Nama: La Maddukelleng
Julukan: Petta Pammadekaengngi Wajo
Lahir: ±1700 – Paneki, Wajo
Wafat: 1765 – Sengkang, Wajo
Jabatan: Arung Matowa Wajo (1736–1754)
Peran Utama:
✔ Pemimpin perlawanan Bugis melawan VOC
✔ Ahli taktik gerilya laut
✔ Membebaskan Wajo dari kolonialisme
✔ Berjuang bersama Sultan Kutai
NILAI KEPAHLAWANAN
• Teguh mempertahankan kemerdekaan
• Tidak pernah berkompromi dengan penjajah
• Strategis dalam perang laut
• Menjaga harga diri dan kedaulatan Bugis
• Pemimpin pemberani dan berintegritas
La Maddukelleng dikenang sebagai simbol keberanian dan kemerdekaan rakyat Bugis, pemimpin yang berhasil membebaskan negerinya dari penjajahan VOC dan meninggalkan warisan perjuangan yang abadi dalam sejarah Nusantara.
141 SBY
Buatlah Risalah dan Infografis tentang Pahlawan :
Slamet Riyadi
Nama Lahir: Soekamto.
Lahir di Surakarta (Solo), 26 Juli 1927.
Meninggal di Ambon, 4 November 1950, Gugur.
Pendidikan: HIS Ardjoeno, MULO Broederan, Sekolah Pelayaran Tinggi di Cilacap.
Karier: Komandan Batalyon TKR di usia 19 tahun, Komandan Resimen Infanteri, Komandan Operasi di Ambon.
Pangkat Terakhir: Brigadir Jenderal (Anumerta).
Brigjen TNI (Anumerta) Ignatius Slamet Riyadi (lahir di Solo, 26 Juli 1927 – gugur di Ambon, 4 November 1950) adalah pahlawan nasional termuda yang melegenda. Ia memimpin pasukan gerilya melawan Belanda di Jawa Tengah dan memimpin operasi penumpasan RMS di Ambon, wafat di usia 23 tahun dan diabadikan sebagai nama jalan utama di Kota Solo.
Perjuangan Utama:
* Perlawanan terhadap Jepang & Belanda: Memimpin serangan terhadap Kempeitai Jepang di Solo, aktif dalam Agresi Militer Belanda I dan II di Jawa Tengah.
* Serangan Umum Surakarta: Menjadi tokoh kunci dalam serangan umum 4 hari di Solo (7-10 Agustus 1949) untuk merebut kembali kota tersebut dari tangan Belanda.
* Penumpasan RMS: Ditugaskan sebagai Komandan Komando Operasi Senopati untuk menumpas pemberontakan Republik Maluku Selatan (RMS) di Ambon pada tahun 1950.
* Gugur: Wafat pada 4 November 1950 di depan Benteng Victoria, Ambon, terkena tembakan saat memimpin operasi melawan RMS.
Proses Gugurnya :
1. Bagaimana Ia Gugur?
Slamet Riyadi memimpin operasi pertempuran memperebutkan benteng Nieuw Victoria dan wilayah Ambon. Ia tertembak di bagian perut/dada saat berada di dalam panser/kendaraan taktis di dekat benteng. Ia sempat dibawa ke rumah sakit, namun nyawanya tidak tertolong karena luka tembak yang parah.
2. Apakah dengan Semua Pasukan?
Ia gugur bersama pasukan pimpinanannya saat berupaya merebut Ambon dari tangan RMS. Ia tewas memimpin di garis depan, bukan di belakang meja.
3. Siapa yang Membunuhnya?
Penembak jitu (sniper) dari pasukan pemberontak RMS (pasukan KNIL yang membelot ke RMS). Beberapa sumber menyebutkan ia ditembak dari salah satu rumah di sekitar lokasi.
Makam Slamet Riyadi
Slamet Riyadi dimakamkan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kapahaha, Ambon, Maluku.
Gb. Asli 2


RISALAH PAHLAWAN NASIONAL
Ignatius Slamet Riyadi
(Nama lahir: Soekamto)
Lahir: Surakarta (Solo), 26 Juli 1927
Gugur: Ambon, 4 November 1950
Makam: Taman Makam Pahlawan Kapahaha
Pangkat Terakhir: Brigadir Jenderal TNI (Anumerta)
Profil Singkat
Brigjen TNI (Anumerta) Ignatius Slamet Riyadi adalah salah satu pahlawan nasional termuda dalam sejarah Indonesia.
Di usia 19 tahun ia telah menjadi Komandan Batalyon TKR, memimpin gerilya di Jawa Tengah, dan kemudian memimpin operasi militer di Ambon. Ia gugur pada usia 23 tahun saat memimpin langsung pertempuran di garis depan.
Namanya kini diabadikan sebagai jalan utama di Kota Surakarta.
Pendidikan & Karier Militer
🎓 Pendidikan
- HIS Ardjoeno
- MULO Broederan
- Sekolah Pelayaran Tinggi, Cilacap
🪖 Karier
- Komandan Batalyon TKR (usia 19 tahun)
- Komandan Resimen Infanteri
- Komandan Operasi Senopati di Ambon
PERJUANGAN UTAMA
1️⃣ Melawan Jepang & Belanda
- Memimpin serangan terhadap Kempeitai Jepang di Solo
- Aktif dalam Agresi Militer Belanda I dan II
- Memimpin pasukan gerilya di Jawa Tengah
2️⃣ Serangan Umum Surakarta (7–10 Agustus 1949)
Slamet Riyadi menjadi tokoh kunci dalam serangan umum empat hari di Surakarta untuk merebut kota dari Belanda.
Operasi ini menunjukkan bahwa TNI tetap kuat dan mampu menguasai wilayah strategis.
3️⃣ Penumpasan RMS (1950)
Pada tahun 1950, ia ditugaskan sebagai Komandan Komando Operasi Senopati untuk menumpas pemberontakan:
Republik Maluku Selatan
Target utama operasi adalah menguasai Ambon dan merebut Benteng Nieuw Victoria.
PROSES GUGURNYA
⚔️ Bagaimana Ia Gugur?
Pada 4 November 1950, saat memimpin serangan di depan Benteng Nieuw Victoria (Ambon):
- Ia berada di dalam panser/kendaraan taktis
- Tertembak di bagian perut/dada
- Diduga ditembak sniper pasukan RMS (bekas KNIL)
- Sempat dibawa ke rumah sakit, namun wafat karena luka parah
🛡️ Gugur di Garis Depan
Slamet Riyadi gugur bersama pasukannya saat memimpin langsung operasi, bukan dari belakang komando.
Ia wafat dalam usia 23 tahun — menjadi simbol keberanian pemimpin muda di medan tempur.
INFOGRAFIS SINGKAT
📌 IDENTITAS
- Nama lahir: Soekamto
- Lahir: 26 Juli 1927 – Solo
- Gugur: 4 November 1950 – Ambon
- Pangkat: Brigjen TNI (Anumerta)
🔥 AKSI HEROIK
- Serangan terhadap Jepang di Solo
- Agresi Militer Belanda I & II
- Serangan Umum Surakarta (1949)
- Operasi Penumpasan RMS (1950)
🌟 NILAI KETELADANAN
✔ Kepemimpinan di usia muda
✔ Keberanian memimpin dari garis depan
✔ Loyalitas pada NKRI
✔ Jiwa pengorbanan total
WARISAN SEJARAH
- Dimakamkan di TMP Kapahaha, Ambon
- Namanya diabadikan sebagai jalan utama di Solo
- Dikenang sebagai pahlawan nasional termuda yang gugur di medan tempur
173 JKW
Buatlah Risalah dan Infografis tentang Pahlawan :
Prof. Drs. H. Lafran Pane
Meninggal di Yogyakarta, 25 Januari 1991.
Keluarga: Putra dari Sutan Pangurabaan Pane, sastrawan dan tokoh Muhammadiyah.
Pendidikan: Sekolah Tinggi Islam (STI) Yogyakarta (sekarang UII).
Prof. Drs. H. Lafran Pane (1922-1991) adalah pahlawan nasional Indonesia pendiri Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) pada 5 Februari 1947 di Yogyakarta. Sebagai akademisi, ia menjadi Guru Besar Tata Negara di UIN Sunan Kalijaga dan dikenal berkat pemikiran Islam-Keindonesiaan yang progresif, serta kontribusinya dalam mempertahankan kemerdekaan melalui jalur pemikiran dan pergerakan mahasiswa.
Perjuangan dan Kiprah
* Pendiri HMI: Mendirikan HMI di Yogyakarta pada 5 Februari 1947 sebagai respon terhadap minimnya organisasi mahasiswa berlandaskan keislaman dan keindonesiaan, dengan tujuan mempertahankan NKRI serta mengembangkan ajaran Islam.
* Pejuang Intelektual: Terlibat aktif dalam mempertahankan kemerdekaan, termasuk ikut dalam pergerakan pemuda pada masa revolusi.
* Akademisi & Guru Besar: Menjadi dosen di berbagai perguruan tinggi seperti UGM, UII, dan IAIN Sunan Kalijaga. Ia diangkat menjadi Guru Besar Ilmu Tata Negara pada 1 Desember 1966.
* Pemikir Islam-Kebangsaan: Merumuskan konsep bahw Islam dan keindonesiaan tidak bertentangan, melainkan saling melengkapi, serta menekankan pentingnya Islam dalam kehidupan berbangsa.
Hubungan dengan Sanusi Pane dan Armijn Pane
Lafran Pane memiliki hubungan darah langsung dengan sastrawan Angkatan Pujangga Baru, Sanusi Pane dan Armijn Pane. Mereka adalah anak dari Sutan Pangurabaan Pane, seorang sastrawan dan seniman Batak Angkola.
* Sanusi Pane: Kakak kandung Lafran, dikenal sebagai sastrawan dan sejarawan.
* Armijn Pane: Kakak kandung Lafran, sastrawan yang terkenal dengan novel Belenggu.
* Keluarga Seniman: Keluarga Pane dikenal sebagai keluarga yang aktif dalam bidang sastra, pendidikan, dan perjuangan pergerakan nasional.
Meskipun kakak-kakaknya bergelut di bidang sastra dan kebudayaan, Lafran Pane lebih fokus pada pergerakan pemuda/mahasiswa dan pemikiran politik Islam-nasionalis.

RISALAH PAHLAWAN NASIONAL
Lafran Pane
Nama Lengkap: Prof. Drs. H. Lafran Pane
Lahir: 1922
Wafat: Yogyakarta, 25 Januari 1991
Pendidikan: Sekolah Tinggi Islam (STI) Yogyakarta (kini UII)
Jabatan Akademik: Guru Besar Ilmu Tata Negara
Pendiri: Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) – 5 Februari 1947
Gelar: Pahlawan Nasional Indonesia
I. LATAR BELAKANG KELUARGA
Lafran Pane berasal dari keluarga intelektual dan sastrawan.
Ayah: Sutan Pangurabaan Pane – sastrawan dan tokoh Muhammadiyah.
Ia adalah adik dari dua sastrawan besar Angkatan Pujangga Baru:
- Sanusi Pane – sastrawan dan sejarawan
- Armijn Pane – pengarang novel Belenggu
Keluarga Pane dikenal sebagai keluarga yang aktif dalam sastra, pendidikan, dan perjuangan nasional.
Berbeda dari kakak-kakaknya, Lafran memilih jalur pergerakan mahasiswa dan pemikiran politik Islam-kebangsaan.
II. PENDIRI HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM (HMI)
Pada 5 Februari 1947 di Yogyakarta, Lafran Pane mendirikan:
Himpunan Mahasiswa Islam
Latar Belakang Pendirian:
- Minimnya organisasi mahasiswa berbasis Islam dan kebangsaan
- Situasi revolusi mempertahankan kemerdekaan
- Ancaman disintegrasi bangsa
Tujuan HMI:
✔ Mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia
✔ Mengembangkan ajaran Islam
✔ Membina kader intelektual muslim
✔ Mengintegrasikan Islam dan keindonesiaan
HMI kemudian menjadi salah satu organisasi mahasiswa terbesar dan berpengaruh di Indonesia.
III. PEJUANG INTELEKTUAL MASA REVOLUSI
Lafran Pane aktif dalam pergerakan pemuda selama masa revolusi kemerdekaan.
Perjuangannya bukan melalui senjata, melainkan melalui:
✔ Organisasi mahasiswa
✔ Pendidikan dan kaderisasi
✔ Pemikiran kebangsaan
Ia menekankan bahwa perjuangan mempertahankan kemerdekaan juga harus dilakukan melalui penguatan intelektual dan moral generasi muda.
IV. AKADEMISI & GURU BESAR
Lafran Pane mengabdikan hidupnya sebagai pendidik.
Ia mengajar di berbagai perguruan tinggi:
- Universitas Gadjah Mada (UGM)
- Universitas Islam Indonesia (UII)
- IAIN Sunan Kalijaga (kini UIN Sunan Kalijaga)
Pada 1 Desember 1966, ia diangkat menjadi Guru Besar Ilmu Tata Negara di UIN Sunan Kalijaga.
Sebagai akademisi, ia dikenal tegas, sederhana, dan berintegritas.
V. PEMIKIRAN ISLAM-KEINDONESIAAN
Lafran Pane merumuskan gagasan penting bahwa:
Islam dan keindonesiaan bukanlah dua hal yang bertentangan,
melainkan saling melengkapi dalam kehidupan berbangsa.
Ia menegaskan pentingnya nilai-nilai Islam dalam membangun negara yang adil, demokratis, dan bermoral.
Konsep ini menjadi fondasi ideologis bagi kaderisasi HMI dan pemikiran Islam moderat di Indonesia.
INFOGRAFIS RINGKAS
Nama: Prof. Drs. H. Lafran Pane
Lahir: 1922
Wafat: 25 Januari 1991 – Yogyakarta
Pendiri: HMI (5 Februari 1947)
Profesi: Akademisi, Guru Besar Tata Negara
Peran Utama:
✔ Pendiri HMI
✔ Pejuang intelektual masa revolusi
✔ Guru Besar Tata Negara
✔ Pemikir Islam-Kebangsaan
NILAI KEPAHLAWANAN
• Integritas dan keteguhan prinsip
• Nasionalisme berbasis nilai keislaman
• Dedikasi dalam pendidikan dan kaderisasi
• Konsisten menjaga NKRI melalui jalur pemikiran
• Mengedepankan persatuan umat dan bangsa
Prof. Drs. H. Lafran Pane dikenang sebagai arsitek gerakan mahasiswa Islam Indonesia, pemikir yang menjembatani Islam dan kebangsaan, serta pendidik yang membentuk generasi intelektual muslim demi kemajuan bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
71 Suh
Buatlah Risalah dan Infografis tentang Pahlawan :
Robert Wolter Monginsidi
Panggilan Kecil: Bote.
Lahir di Malalayang, Manado, Sulawesi Utara, 14 Februari 1925.
Meninggal di Makassar, Sulawesi Selatan, 5 September 1949 (Usia 24 tahun).
Orang Tua: Petrus Mongisidi dan Lina Suawa.
Robert Wolter Mongisidi (1925-1949) adalah Pahlawan Nasional dari Manado, Sulawesi Utara, yang gigih melawan NICA di Sulawesi Selatan. Sebagai pemimpin LAPRIS, ia melakukan gerilya berani melawan Belanda, menolak menyerah, dan dieksekusi mati di Makassar pada usia 24 tahun (5 September 1949) dengan memegang Alkitab, menegaskan semboyan "Setia Hingga Terakhir".
Perjuangan Robert Wolter Mongisidi
1. Perlawanan di Makassar: Setelah proklamasi, Mongisidi aktif melawan pasukan NICA (Belanda) yang ingin kembali menjajah Indonesia melalui perlawanan bersenjata di Sulawesi Selatan.
2. LAPRIS: Ia ikut mendirikan Laskar Pemberontak Rakyat Indonesia Sulawesi (LAPRIS) pada 1946 dan menjabat sebagai sekretaris jenderal, memimpin operasi gerilya yang sangat merepotkan Belanda.
3. Aksi Heroik: Dikenal cerdik dan berani, ia pernah menyamar sebagai tentara Belanda untuk merampas senjata dan mobil jeep Belanda, serta menempelkan plakat ancaman di markas polisi militer Belanda.
4. Keteguhan Hati: Ditangkap Belanda dua kali, Mongisidi tetap menolak untuk bekerja sama atau memohon grasi meskipun dijatuhi hukuman mati.
5. Gugur sebagai Patriot: Eksekusi dilakukan di Pacinang, Makassar. Sebelum ditembak, ia menolak ditutup matanya dan memegang kitab Injil, serta berteriak "Merdeka!".
Robert Wolter Mongisidi dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Panaikang, Makassar, dan namanya diabadikan sebagai bandara di Kendari serta jalan-jalan utama di Indonesia.
Proses Gugur dan Eksekusi
* Vonis Mati: Robert Wolter Monginsidi dijatuhi vonis mati oleh pengadilan militer Belanda (NICA) atas tuduhan terlibat pembunuhan dan aksi teror terhadap pemerintah Belanda.
* Penolakan Grasi: Meskipun ada upaya permintaan grasi, pemerintah NICA menolaknya. Ia tidak pernah meminta ampun kepada Belanda.
* Eksekusi: Ditembak mati oleh regu tembak Belanda pada 5 September 1949 di Pacinang, Makassar.
* Detik-detik Terakhir: Sebelum ditembak, ia berteriak "Merdeka!" sebanyak tiga kali dan menolak menutup matanya.
* Penembak: Eksekusi dilakukan oleh tim tembak militer Belanda (NICA) di Sulawesi Selatan. Berdasarkan catatan sejarah, eksekusi dilakukan oleh regu tembak serdadu NICA di bawah perintah otoritas militer Belanda.
Jenazahnya kemudian dipindahkan ke Taman Makam Pahlawan Panaikang, Makassar. Sebagai penghormatan, namanya diabadikan menjadi nama bandara di Sulawesi Utara (Bandara Robert Wolter Mongisidi). Muncul pada uang kertas pecahan Rp10.000 tahun emisi 2016 (seri pahlawan nasional, warna dominan ungu)
RISALAH PAHLAWAN NASIONAL
Robert Wolter Monginsidi
Panggilan Kecil: Bote
Lahir: Malalayang, Manado, Sulawesi Utara – 14 Februari 1925
Wafat: Makassar, Sulawesi Selatan – 5 September 1949 (usia 24 tahun)
Orang Tua: Petrus Monginsidi & Lina Suawa
Dimakamkan: Taman Makam Pahlawan Panaikang, Makassar
Semboyan: Setia Hingga Terakhir
I. LATAR BELAKANG PERJUANGAN
Setelah Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, Belanda melalui NICA berusaha kembali menguasai Indonesia, termasuk Sulawesi Selatan.
Robert Wolter Monginsidi tampil sebagai pemuda pemberani dari Manado yang memimpin perlawanan bersenjata di Makassar dan sekitarnya.
II. LAPRIS & PERANG GERILYA
Pada tahun 1946, ia ikut mendirikan:
Laskar Pemberontak Rakyat Indonesia Sulawesi (LAPRIS)
Ia menjabat sebagai Sekretaris Jenderal dan memimpin operasi gerilya melawan NICA.
Aksi Heroik:
✔ Menyamar sebagai tentara Belanda untuk merampas senjata
✔ Merebut mobil jeep militer Belanda
✔ Menempelkan plakat ancaman di markas polisi militer Belanda
✔ Mengacaukan jalur patroli dan logistik musuh
Keberaniannya membuat Belanda sangat kewalahan.
III. PENANGKAPAN & VONIS MATI
Robert Wolter Monginsidi ditangkap dua kali oleh Belanda.
Ia dijatuhi vonis mati oleh pengadilan militer NICA atas tuduhan aksi bersenjata dan pembunuhan terhadap aparat Belanda.
Keteguhan Sikap:
✖ Menolak bekerja sama dengan Belanda
✖ Tidak pernah meminta grasi
✖ Menolak menyerah demi keselamatan pribadi
IV. DETIK-DETIK EKSEKUSI (5 SEPTEMBER 1949)
Eksekusi dilakukan oleh regu tembak militer Belanda (NICA) di Pacinang, Makassar.
Saat Terakhir:
✔ Menolak ditutup matanya
✔ Memegang Alkitab (Injil)
✔ Berteriak “Merdeka!” tiga kali sebelum ditembak
Ia gugur pada usia 24 tahun sebagai patriot sejati.
Jenazahnya kemudian dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Panaikang, Makassar.
V. PENGHORMATAN & WARISAN
✔ Ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia
✔ Namanya diabadikan sebagai bandara di Kendari:
Bandar Udara Haluoleo (dahulu bernama Bandara Robert Wolter Monginsidi)
✔ Namanya diabadikan sebagai jalan utama di berbagai kota
✔ Wajahnya tercetak pada uang kertas Rp10.000 emisi 2016 (seri pahlawan nasional)
INFOGRAFIS RINGKAS
Nama: Robert Wolter Monginsidi
Panggilan: Bote
Lahir: 14 Februari 1925 – Manado
Wafat: 5 September 1949 – Makassar
Organisasi: LAPRIS
Usia Gugur: 24 tahun
Peran Utama:
✔ Pemimpin gerilya melawan NICA di Sulawesi Selatan
✔ Pendiri dan Sekjen LAPRIS
✔ Menolak grasi dan tetap setia pada Republik
✔ Gugur sebagai simbol keberanian pemuda Indonesia
NILAI KEPAHLAWANAN
• Keberanian luar biasa di usia muda
• Kesetiaan tanpa kompromi kepada NKRI
• Keteguhan iman dan prinsip
• Semangat pantang menyerah
• Rela berkorban hingga titik darah terakhir
Robert Wolter Monginsidi dikenang sebagai pahlawan muda yang setia hingga akhir, simbol keberanian generasi revolusi yang mempertahankan kemerdekaan dengan nyawa sebagai taruhan.
78 Suh
Buatlah Risalah dan Infografis tentang Pahlawan :
Nyi Ageng Serang
Nama Asli: Raden Ajeng (RA) Kustiyah Wulaningsih Retno Edhi.
Lahir di Serang, Purwodadi, Jawa Tengah, 1752.
Meninggal di Yogyakarta, 1828 di (usia 76 tahun).
Makam: Ia dimakamkan di Desa Beku, Banjarharjo, Kalibawang, Kulon Progo, Yogyakarta.
Keluarga: Putri dari Pangeran Noto Prodjo (Panglima perang Sultan Hamengkubuwono I).
Keturunan: Keturunan Sunan Kalijaga; merupakan nenek dari Ki Hajar Dewantara.
Makam: Banjarharjo, Kalibawang, Kulon Progo, Yogyakarta.
Pernikahan: Sempat menikah dengan Raden Masundoro, lalu menikah dengan Pangeran Kusumawijaya (Pangeran Serang I).
Nyi Ageng Serang (1752–1828) adalah pahlawan nasional wanita dari Jawa Tengah-Yogyakarta yang gigih melawan Belanda, terkenal sebagai ahli siasat perang gerilya dan penasihat Pangeran Diponegoro. Lahir sebagai R.A. Kustiyah Wulaningsih Retno Edi, ia memimpin pasukan melawan VOC meski harus ditandu pada usia senja, menggunakan taktik kamuflase daun talas.
Perjuangan dan Kisah Hidup
1. Pemimpin Militer: Setelah ayahnya gugur melawan VOC, Kustiyah mengambil alih kepemimpinan pasukan di wilayah Serang (Grobogan).
2. Perang Diponegoro (1825–1830): Di usia 73 tahun, ia bergabung dengan Pangeran Diponegoro melawan Belanda, bertindak sebagai panglima sekaligus penasihat strategis.
3. Taktik Gerilya: Terkenal dengan taktik menggunakan "daun talas" (lumbu) untuk menyamar dan mengecoh pasukan Belanda.
4. Karena gerakannya yang cepat dan mematikan, ia dijuluki "lonjong mimis" (seperti peluru) dan "diraja meta" (angin topan)
5. Pejuang Tangguh: Meski sakit-sakitan dan harus ditandu dalam pertempuran, semangatnya tidak pernah surut hingga akhir hayatnya.
Nyi Ageng Serang adalah sosok yang memadukan keahlian perang, spiritualitas, dan jiwa nasionalisme tinggi dalam mempertahankan tanah air dari penjajahan.
Rekan Seperjuangan
Nyi Ageng Serang berjuang bersama-sama dengan:
* Pangeran Diponegoro: Ia bertindak sebagai penasihat perang utama Pangeran Diponegoro.
* Sentot Alibasyah Prawirodirdjo: Ya, Nyi Ageng Serang berjuang bersama Sentot Alibasyah, yang merupakan Panglima Muda Pangeran Diponegoro.
* Kiyai Mojo: Sebagai penasihat utama, Nyi Ageng Serang berjuang dalam satu kubu melawan Belanda bersama Kiyai Mojo dan tokoh-tokoh Perang Jawa lainnya.
* Pangeran Serang (Suami): Ia berjuang bersama suaminya, Pangeran Serang/Kusumawijaya.
* Pangeran Notoprojo (Ayah): Sebelum Perang Diponegoro, ia melanjutkan perjuangan ayahnya melawan VOC.

RISALAH PAHLAWAN NASIONAL
👑 Nyi Ageng Serang
Nama Asli: Raden Ajeng (RA) Kustiyah Wulaningsih Retno Edhi
📜 IDENTITAS
- Lahir: Serang, Purwodadi, Grobogan – 1752
- Wafat: Yogyakarta – 1828 (usia 76 tahun)
- Makam: Desa Beku, Banjarharjo, Kalibawang, Kulon Progo
- Ayah: Pangeran Noto Prodjo
- Keturunan: Trah Sunan Kalijaga
- Keturunan keluarga: Nenek dari Ki Hajar Dewantara
🌺 PROFIL SINGKAT
Nyi Ageng Serang adalah pahlawan nasional wanita dari Jawa Tengah–Yogyakarta yang terkenal sebagai ahli strategi perang gerilya dan penasihat utama dalam Perang Jawa.
Ia tetap memimpin pasukan meskipun di usia senja dan dalam kondisi sakit, bahkan harus ditandu ke medan perang. Semangatnya menjadikannya simbol ketangguhan perempuan Nusantara.
⚔️ PERJUANGAN DAN KISAH HIDUP
1️⃣ Pemimpin Militer Pewaris Perjuangan
Setelah ayahnya gugur melawan VOC, Kustiyah mengambil alih kepemimpinan pasukan di wilayah Serang (Grobogan). Ia melanjutkan perjuangan keluarga melawan kolonialisme.
2️⃣ Perang Jawa (1825–1830)
Dalam perang besar yang dipimpin oleh:
- 👑 Pangeran Diponegoro
- ⚔ Sentot Alibasyah Prawirodirdjo
- 🕌 Kiai Mojo
Di usia 73 tahun, Nyi Ageng Serang bertindak sebagai panglima dan penasihat strategi perang.
3️⃣ Taktik “Daun Talas” (Lumbu)
Ia terkenal menggunakan taktik kamuflase daun talas (lumbu) untuk menyamarkan pasukan di sawah dan hutan, mengecoh Belanda.
Karena gerakannya cepat dan mematikan, ia dijuluki:
- “Lonjong Mimis” (secepat peluru)
- “Diraja Meta” (angin topan)
4️⃣ Pejuang di Usia Senja
Meski sakit dan harus ditandu, ia tetap memimpin pasukan dari garis depan. Semangat juangnya tidak pernah padam hingga akhir hayatnya pada 1828.
💍 KEHIDUPAN PRIBADI
- Pernah menikah dengan Raden Masundoro
- Kemudian menikah dengan Pangeran Kusumawijaya (Pangeran Serang I)
- Berjuang bersama suaminya dalam melawan Belanda
🛡️ NILAI KETELADANAN
✔ Kepemimpinan perempuan dalam peperangan
✔ Strategi gerilya cerdas dan adaptif
✔ Keteguhan spiritual dan nasionalisme
✔ Semangat juang tanpa batas usia
📊 INFOGRAFIS SINGKAT
🧾 DATA PENTING
- Lahir: 1752 – Serang, Grobogan
- Wafat: 1828 – Yogyakarta
- Usia: 76 tahun
- Makam: Banjarharjo, Kalibawang, Kulon Progo
⚔ PERAN UTAMA
- Pemimpin pasukan pasca gugurnya ayah
- Panglima & penasihat Perang Diponegoro
- Ahli taktik gerilya “Daun Talas”
🤝 REKAN SEPERJUANGAN
- Pangeran Diponegoro
- Sentot Alibasyah
- Kiai Mojo
- Pangeran Serang
🌟 WARISAN SEJARAH
Nyi Ageng Serang dikenang sebagai simbol keberanian perempuan dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia.
Namanya diabadikan sebagai nama jalan dan sekolah di berbagai daerah, serta resmi ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia.
205 JKW
Buatlah Risalah dan Infografis tentang Pahlawan :
K.H. Abdul Chalim
Lahir di Leuwimunding, Majalengka, Jawa Barat, 2 Juni 1898
Meninggal di Leuwimunding, Majalengka, Jawa Barat, 12 Juni 1972.
Orang Tua: Mbah Kedung Wangsagama (Kepala Desa) dan Nyai Suntamah.
Silsilah: Kakeknya adalah keturunan Pangeran Cirebon, terhubung dengan Sunan Gunung Jati.
Pendidikan: HIS Cirebon, berbagai pesantren di Majalengka dan Cirebon, serta menuntut ilmu di Mekkah.
K.H. Abdul Chalim (1898–1972) adalah ulama besar, pendiri Nahdlatul Ulama (NU), dan Pahlawan Nasional dari Majalengka yang berperan penting dalam perjuangan kemerdekaan melalui jalur organisasi, pendidikan, dan pergerakan santri. Sebagai sekretaris pertama (Katib Tsani) NU, beliau penggerak utama Komite Hijaz dan pembina paramiliter Hizbullah.
Perjuangan dan Kiprah
Pendiri Nahdlatul Ulama (NU): Bersama KH Abdul Wahab Chasbullah, beliau aktif dalam organisasi pra-NU seperti Taswirul Afkar dan Syubbanul Wathan. Beliau berperan krusial sebagai mediator ulama untuk mendirikan NU.
Penggerak Komite Hijaz: Menjadi tokoh kunci yang mengorganisasi pertemuan ulama se-Jawa Madura, mendokumentasikan, dan mendirikan Komite Hijaz untuk memperjuangkan kebebasan bermazhab dan kemerdekaan Indonesia.
Perjuangan Fisik dan Hizbullah: Membina laskar Hizbullah di wilayah Majalengka dan Cirebon, serta memimpin gerilya melawan penjajah.
Pendidikan dan Sosial: Aktif mendirikan madrasah di berbagai daerah (Surabaya, Semarang, Cirebon) dan mengembangkan pendidikan Islam untuk memberdayakan masyarakat.
Politik: Anggota DPR mewakili NU dari Jawa Barat pada Pemilu 1955.
Perjuangan Melawan/Menghadapi Jepang:
Kiprahnya menonjol dalam mempertahankan kemerdekaan dari intervensi Jepang.
Beliau aktif menggerakkan santri dan kiai di Majalengka untuk tidak tunduk pada kebijakan penjajah yang merugikan rakyat, sekaligus membangun kekuatan di tingkat lokal.
Kiprah Lain
Pendidikan: Mendirikan dan membantu mengelola organisasi pendidikan, seperti Nahdatul Wathan (kemudian Syubanul Wathan) bersama KH. Abdul Wahab Hasbullah.
Politik: Pernah diangkat menjadi Bupati Majalengka.

RISALAH PAHLAWAN NASIONAL
K.H. Abdul Chalim
Lahir: Leuwimunding, Majalengka, Jawa Barat – 2 Juni 1898
Wafat: Leuwimunding, Majalengka, Jawa Barat – 12 Juni 1972
Orang Tua: Mbah Kedung Wangsagama & Nyai Suntamah
Silsilah: Keturunan Pangeran Cirebon, terhubung dengan Sunan Gunung Jati
Profesi: Ulama, pejuang kemerdekaan, pendidik, politisi
I. LATAR BELAKANG KEHIDUPAN
K.H. Abdul Chalim lahir dari keluarga religius dan terpandang di Majalengka. Ayahnya adalah kepala desa, sementara garis keturunannya bersambung kepada bangsawan dan ulama Cirebon.
Pendidikan formal ditempuh di HIS Cirebon, kemudian memperdalam ilmu agama di berbagai pesantren di Majalengka dan Cirebon, hingga menuntut ilmu ke Mekkah. Pengalaman intelektual dan spiritual ini membentuk karakter kepemimpinan dan semangat perjuangannya.
II. PERAN DALAM LAHIRNYA NU
Beliau merupakan salah satu pendiri:
Nahdlatul Ulama (NU)
Sebagai Katib Tsani (Sekretaris Kedua) pertama, ia berperan besar dalam merumuskan administrasi dan jaringan organisasi.
Bersama:
- KH Abdul Wahab Chasbullah
Beliau aktif dalam organisasi pra-NU seperti:
- Taswirul Afkar
- Syubbanul Wathan
Ia menjadi mediator penting antar-ulama sehingga berdirilah NU pada tahun 1926.
III. PENGGERAK KOMITE HIJAZ
K.H. Abdul Chalim menjadi tokoh kunci dalam pembentukan:
Komite Hijaz
Komite ini dibentuk untuk memperjuangkan kebebasan bermazhab di Tanah Suci serta memperkuat posisi ulama Nusantara dalam percaturan dunia Islam.
Beliau mengorganisasi pertemuan ulama se-Jawa dan Madura serta mendokumentasikan hasil musyawarah yang menjadi tonggak sejarah NU.
IV. PERJUANGAN MELAWAN PENJAJAH
1️⃣ Menghadapi Jepang
Pada masa pendudukan Jepang, beliau menggerakkan santri dan kiai di Majalengka agar tidak tunduk pada kebijakan yang merugikan rakyat. Ia membangun kekuatan sosial-keagamaan di tingkat lokal sebagai benteng pertahanan moral bangsa.
2️⃣ Pembina Hizbullah
Beliau membina laskar Hizbullah di wilayah Majalengka dan Cirebon serta turut memimpin gerilya melawan penjajah demi mempertahankan kemerdekaan.
V. PENDIDIKAN & PENGABDIAN SOSIAL
K.H. Abdul Chalim aktif mendirikan dan mengembangkan madrasah di Surabaya, Semarang, Cirebon, dan Majalengka.
Ia berperan dalam pengembangan organisasi pendidikan seperti Nahdlatul Wathan (kemudian berkembang menjadi Syubbanul Wathan).
Melalui pendidikan Islam, beliau memberdayakan masyarakat dan membangun kesadaran kebangsaan.
VI. PERAN POLITIK
- Anggota DPR mewakili NU dari Jawa Barat pada Pemilu 1955
- Pernah diangkat menjadi Bupati Majalengka
Melalui jalur politik, beliau tetap memperjuangkan aspirasi umat dan nilai-nilai keislaman dalam kehidupan bernegara.
INFOGRAFIS RINGKAS
Nama: K.H. Abdul Chalim
Lahir: 2 Juni 1898 – Majalengka
Wafat: 12 Juni 1972 – Majalengka
Organisasi: Nahdlatul Ulama (NU)
Jabatan: Katib Tsani pertama NU
Peran: Ulama, pendidik, pejuang, politisi
Kontribusi Utama:
✔ Pendiri NU
✔ Penggerak Komite Hijaz
✔ Pembina Hizbullah
✔ Pengembang pendidikan Islam
✔ Wakil rakyat dari NU
NILAI KEPAHLAWANAN
• Keteguhan dalam menjaga tradisi Ahlussunnah wal Jamaah
• Kepemimpinan ulama dalam perjuangan kemerdekaan
• Perpaduan dakwah, pendidikan, dan pergerakan politik
• Dedikasi sepanjang hayat untuk umat dan bangsa
K.H. Abdul Chalim dikenang sebagai ulama pejuang yang memadukan ilmu, organisasi, dan perjuangan fisik demi kemerdekaan dan kemajuan umat Islam Indonesia.
165 JKW
Buatlah Risalah dan Infografis tentang Pahlawan :
Mas Isman
Lahir di Bondowoso, Jawa Timur, 1 Januari 1924 (Beberapa sumber juga menyebutkan asal Malang).
Meninggal di Jakarta, 12 Desember 1982 (usia 58 tahun).
Lokasi Makam: Beliau dimakamkan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Nasional Utama Kalibata, Jakarta Selatan.
Pangkat Terakhir: Mayor Jenderal TNI.
Pendidikan Terakhir: Mengikuti berbagai pendidikan militer dan umum di masa awal kemerdekaan.
Karier Lain: Pendiri organisasi Kosgoro (10 November 1957) dan pernah menjabat sebagai Duta Besar RI di berbagai negara (Mesir, Myanmar, Thailand).
Mayor Jenderal TNI (Purn.) Mas Isman adalah seorang pejuang kemerdekaan Indonesia yang dikenal sebagai komandan pelajar dan pendiri organisasi kemasyarakatan. Beliau secara resmi dianugerahi gelar Pahlawan Nasional oleh Presiden Joko Widodo pada 4 November 2015.
Perjuangan dan Jasa
Mas Isman memiliki peran krusial baik di medan perang maupun dalam pembangunan organisasi sosial-politik:
* Komandan TRIP: Beliau adalah pendiri dan komandan Tentara Republik Indonesia Pelajar (TRIP) di Jawa Timur selama masa revolusi fisik melawan Belanda. TRIP merupakan pasukan yang terdiri dari siswa-siswa SMP dan SMA yang ikut mengangkat senjata demi mempertahankan kemerdekaan.
* Pendiri Kosgoro: Pada 10 November 1957, beliau mendirikan Kesatuan Organisasi Serbaguna Gotong Royong (Kosgoro). Organisasi ini awalnya dibentuk sebagai wadah bagi eks-pejuang pelajar untuk berkontribusi dalam pembangunan ekonomi dan sosial masyarakat melalui koperasi dan pendidikan.
* Karier Diplomatik dan Militer: Selain aktif di militer, Mas Isman juga pernah menjabat sebagai Duta Besar luar biasa dan berkuasa penuh untuk beberapa negara, termasuk Kamboja dan Mesir.
Peranan TRIP (Tentara Republik Indonesia Pelajar)
Mas Isman merupakan tokoh kunci di balik terbentuknya kesatuan tentara dari kalangan pelajar.
UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten
UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten
* Inisiator: Ia memimpin rapat pembentukan organisasi pelajar bersenjata di Surabaya pada 30 Agustus 1945.
* Komandan: Ia dilantik menjadi Komandan Badan Keamanan Rakyat (BKR) Pelajar Surabaya pada September 1945, yang kemudian menjadi cikal bakal TRIP Jawa Timur.
* Misi: TRIP di bawah kepemimpinannya bertugas di garis depan pertempuran, membuktikan bahwa kaum muda pelajar sanggup mengangkat senjata demi kedaulatan negara.
Perjuangan dalam Peristiwa 10 November 1945
Mas Isman terlibat aktif dalam rangkaian Pertempuran Surabaya 1945.
* Menjelang Pertempuran: Pada 9 November 1945, ia secara resmi dikukuhkan sebagai Komandan BKR Pelajar Surabaya.
* Aksi Nyata: Pasukan pelajar yang dipimpinnya turut bertempur melawan pasukan Sekutu di Surabaya. Keterlibatan Mas Isman dan para pelajar menunjukkan semangat persatuan rakyat Surabaya dalam mempertahankan kemerdekaan saat itu.
* Pasca-Pertempuran: Setelah Surabaya jatuh, Mas Isman memimpin pasukannya mundur ke daerah pedalaman Jawa Timur (seperti Malang dan Kediri) untuk melanjutkan perang gerilya.
Hubungan dengan Hayono Isman
Ya, terdapat hubungan keluarga langsung. Hayono Isman (mantan Menteri Pemuda dan Olahraga) adalah putra kandung dari Mas Isman. Hayono Isman juga aktif melanjutkan kepemimpinan di organisasi yang didirikan ayahnya, KOSGORO
Peranan Terhadap Lahirnya KOSGORO
Mas Isman adalah pendiri utama KOSGORO (Kesatuan Organisasi Serbaguna Gotong Royong). Perannya meliputi:
* Inisiator Pembentukan: Beliau mendirikan KOSGORO pada 10 November 1957 sebagai bentuk pengabdian lanjutan bagi mantan anggota TRIP di masa damai.
* Visi Ekonomi Kerakyatan: Mas Isman menggagas KOSGORO dengan landasan Koperasi Simpan Pinjam Gotong Royong untuk memberdayakan ekonomi rakyat dan meningkatkan kesejahteraan anggotanya melalui semangat kerja sama.
* Cikal Bakal Politik: Di bawah kepemimpinannya, KOSGORO berkembang menjadi salah satu organisasi kemasyarakatan (Ormas) besar yang kemudian menjadi salah satu pilar pendiri (Hasta Karya) Partai Golkar.
KOSGORO didirikan atas semangat "Pengabdian, Kerakyatan, dan Solidaritas" yang diwariskan dari perjuangan militer masa pelajar ke dalam bentuk pembangunan sosial-ekonomi bangsa.
RISALAH PAHLAWAN NASIONAL
Mas Isman
Identitas Singkat
📍 Lahir : Bondowoso, Jawa Timur, 1 Januari 1924
(Beberapa sumber menyebutkan Malang sebagai asal)
📍 Wafat : Jakarta, 12 Desember 1982 (usia 58 tahun)
📍 Dimakamkan : Taman Makam Pahlawan Nasional Utama Kalibata
🎖 Pangkat Terakhir : Mayor Jenderal TNI
🎓 Pendidikan : Pendidikan militer dan umum di masa awal kemerdekaan
🏅 Gelar Pahlawan Nasional
Dianugerahkan oleh Presiden Joko Widodo pada 4 November 2015.
Sekilas Tentang Mas Isman
Mayor Jenderal TNI (Purn.) Mas Isman adalah pejuang kemerdekaan yang dikenal sebagai Komandan Pelajar dan tokoh pembangun organisasi kemasyarakatan pasca-kemerdekaan.
Beliau tidak hanya berjuang di medan perang, tetapi juga membangun kekuatan sosial-ekonomi rakyat melalui semangat gotong royong.
Perjuangan & Jasa
1️⃣ Komandan TRIP Jawa Timur
Mas Isman adalah pendiri dan komandan:
TRIP (Tentara Republik Indonesia Pelajar)
TRIP merupakan pasukan yang terdiri dari siswa SMP dan SMA yang mengangkat senjata demi mempertahankan kemerdekaan.
📌 30 Agustus 1945
Memimpin rapat pembentukan organisasi pelajar bersenjata di Surabaya.
📌 September 1945
Dilantik sebagai Komandan BKR Pelajar Surabaya (cikal bakal TRIP).
🎯 Misi TRIP
- Bertempur di garis depan
- Membuktikan pemuda pelajar siap mempertahankan kedaulatan bangsa
2️⃣ Peran dalam Pertempuran 10 November 1945
Mas Isman terlibat aktif dalam:
Pertempuran Surabaya
📌 9 November 1945
Dikukuhkan sebagai Komandan BKR Pelajar Surabaya.
📌 10 November 1945
Pasukan pelajar bertempur melawan Sekutu.
Setelah Surabaya jatuh, beliau memimpin pasukan mundur ke Malang dan Kediri untuk melanjutkan perang gerilya.
Semangat juang pelajar di bawah kepemimpinannya menjadi simbol keberanian generasi muda Indonesia.
3️⃣ Pendiri KOSGORO (1957)
Pada 10 November 1957, Mas Isman mendirikan:
Kesatuan Organisasi Serbaguna Gotong Royong (KOSGORO)
🎯 Tujuan awal:
Wadah bagi eks-pejuang pelajar untuk membangun bangsa di masa damai.
💡 Visi Ekonomi Kerakyatan
- Koperasi simpan pinjam
- Pemberdayaan ekonomi rakyat
- Pendidikan dan pelatihan
KOSGORO berkembang menjadi salah satu organisasi besar dan menjadi bagian dari Hasta Karya pendiri Partai Golkar.
4️⃣ Karier Militer & Diplomatik
Selain sebagai pejuang, Mas Isman juga:
✔ Mayor Jenderal TNI
✔ Duta Besar RI untuk Mesir, Myanmar, Thailand, dan Kamboja
Beliau menunjukkan bahwa perjuangan tidak hanya di medan perang, tetapi juga melalui diplomasi internasional.
Hubungan Keluarga
Putra kandungnya adalah:
Hayono Isman
Mantan Menteri Pemuda dan Olahraga yang juga melanjutkan kepemimpinan di KOSGORO.
Nilai Keteladanan
⭐ Kepemimpinan sejak usia muda
⭐ Keberanian pelajar mempertahankan negara
⭐ Semangat gotong royong
⭐ Konsisten dari medan perang ke pembangunan bangsa
⭐ Integritas dan dedikasi tinggi
Kesimpulan
Mas Isman adalah simbol perjuangan generasi muda Indonesia.
Sebagai Komandan TRIP, ia memimpin pelajar bertempur di garis depan revolusi.
Sebagai pendiri KOSGORO, ia membangun fondasi ekonomi kerakyatan.
Sebagai jenderal dan diplomat, ia mengabdikan diri sepenuhnya untuk Republik.
Beliau membuktikan bahwa semangat pemuda dapat menjadi kekuatan besar bagi kemerdekaan dan pembangunan bangsa.
169 JKW
Buatlah Risalah dan Infografis tentang Pahlawan :
Kiai Haji As'ad Syamsul Arifin
Situbondo
Lahir di Desa Syiib Ali, dekat Masjidil Haram, Mekkah, Arab Saudi, 1897
Meninggal di Situbondo, Jawa Timur, 4 Agustus 1990.
Orang Tua: K.H. Syamsul Arifin (ayah) dan Nyai Siti Maimunah (ibu).
Jabatan: Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo (1951-1990), Mustasyar PBNU.
Penghargaan: Pahlawan Nasional (Keputusan Presiden Nomor 90/TK/Tahun 2016).
Kiai Haji (K.H.) R. As'ad Syamsul Arifin (1897-1990) adalah Pahlawan Nasional dari Situbondo, Jawa Timur, yang berperan vital sebagai penghubung dalam berdirinya Nahdlatul Ulama (NU) dan pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo. Beliau dikenal sebagai ulama kharismatik, pejuang gerilya melawan penjajah, dan tokoh pendidik yang gigih.
Perjuangan dan Peran Penting
1. Wasilah (Perantara) Berdirinya NU
Kiai As'ad adalah santri Syaikhona Kholil Bangkalan. Beliau dipercaya menghantarkan tongkat dan ayat Al-Qur'an (ayat
) kepada K.H. Hasyim Asy'ari sebagai isyarat restu berdirinya Nahdlatul Ulama pada 1926.
2. Pejuang Gerilya dan Pemimpin Laskar Pelopor
Pada masa revolusi (1945-1949), beliau memimpin perang gerilya di Karesidenan Besuki. Kiai As'ad membentuk laskar Pelopor yang terdiri dari santri dan jawara (termasuk mantan kaum bromocorah) untuk melawan penjajah Belanda.
3. Pencurian Senjata Gudang Dabasah
Beliau memimpin taktik berani dengan mencuri senjata dari Gudang Mesiu Dabasah Bondowoso pada 1947 untuk memperkuat barisan pejuang.
4. Tokoh Pendidikan dan Agama
Mengembangkan Pesantren Sukorejo menjadi pusat pendidikan besar yang menggabungkan sistem tradisional dan modern, serta mendirikan Ma'had Aly pertama di Indonesia.
Perjuangan Melawan Jepang (1942-1945)
Perjuangan melawan Jepang ditandai dengan keberanian dan karomah yang membuat tentara Jepang gemetar:
* Mengusir Penjajah: Kiai As'ad bersama para santrinya di Situbondo dikenal berani melawan tindakan semena-mena tentara Jepang. Beliau pernah memberi peringatan 3 hari kepada Jepang untuk pergi atau dihancurkan.
* Melumpuhkan Tentara Jepang: Kisah masyhur menceritakan bagaimana Kiai As'ad membuat para preman kebal senjata dan melucuti pasukan Jepang di Desa Garahan, Jember, menggunakan doa dan wirid (Ratibul Haddad).
* Gertakan Spiritual: Keberanian Kiai As'ad membuat tentara Jepang ketakutan dan akhirnya meninggalkan lokasi.
Perjuangan Melawan Belanda (Masa Revolusi)
Saat Agresi Militer Belanda, Kiai As'ad berperan sebagai motor penggerak perlawanan:
* Pemimpin Laskar: Beliau memimpin para santri dan rakyat dalam pertempuran melawan penjajah di wilayah Situbondo, Bondowoso, dan Jember.
* Gerilya dan Fisik: Beliau merupakan penggerak massa dalam pertempuran revolusi fisik, termasuk peran dalam pertempuran 10 November 1945.
* Karomah "Pasir": Salah satu kisah perjuangan yang diyakini adalah saat melawan Belanda, beliau diberitakan menggunakan pasir yang didoakan dan berubah menjadi bom atau senjata penghancur yang membuat Belanda kocar-kacir.
Selain perjuangan fisik, Kiai As'ad juga dikenal sebagai penengah dan tokoh yang menyatukan NU, serta memastikan Pancasila tidak bertentangan dengan nilai keislaman, menjadikan pondok pesantrennya pusat pergerakan kebangsaan.
RISALAH PAHLAWAN NASIONAL
Kiai Haji As'ad Syamsul Arifin
Pahlawan Nasional dari Situbondo
I. Identitas Singkat
- Lahir: Desa Syiib Ali, dekat Masjidil Haram, Mekkah, 1897
- Wafat: Situbondo, Jawa Timur, 4 Agustus 1990
- Orang Tua: K.H. Syamsul Arifin & Nyai Siti Maimunah
- Jabatan:
- Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo (1951–1990)
- Mustasyar Nahdlatul Ulama
- Penghargaan: Pahlawan Nasional (Keppres No. 90/TK/Tahun 2016)
II. Peran Vital dalam Sejarah NU
1️⃣ Wasilah Berdirinya NU (1926)
Sebagai santri Kholil Bangkalan, Kiai As’ad dipercaya menghantarkan tongkat dan isyarat ayat Al-Qur’an kepada Hasyim Asy'ari.
Peristiwa ini menjadi simbol restu spiritual berdirinya Nahdlatul Ulama pada 1926.
III. Perjuangan Melawan Jepang (1942–1945)
✨ Mengusir Penjajah
Beliau memberi ultimatum 3 hari kepada tentara Jepang agar meninggalkan Situbondo.
✨ Melumpuhkan Tentara Jepang
Di Desa Garahan, Jember, melalui doa dan wirid (Ratibul Haddad), para santri dan jawara berani melucuti pasukan Jepang.
✨ Gertakan Spiritual
Karomah dan kewibawaannya membuat pasukan Jepang gentar dan mundur.
IV. Perjuangan Melawan Belanda (1945–1949)
🔥 Pemimpin Laskar Pelopor
Membentuk laskar dari santri dan rakyat di wilayah Besuki, Situbondo, Bondowoso, dan Jember.
🔥 Gerilya & Revolusi Fisik
Terlibat dalam perlawanan rakyat Jawa Timur, termasuk gelora perjuangan 10 November 1945.
🔥 Aksi Gudang Dabasah (1947)
Memimpin pengambilan senjata dari Gudang Mesiu Dabasah Bondowoso demi memperkuat barisan pejuang.
🔥 Karomah “Pasir”
Kisah heroik menyebutkan beliau menggunakan pasir yang didoakan hingga membuat musuh kocar-kacir — simbol keberanian dan keyakinan spiritual.
V. Tokoh Pendidikan & Kebangsaan
📚 Mengembangkan Pesantren Sukorejo menjadi pusat pendidikan besar yang memadukan sistem tradisional dan modern.
📖 Mendirikan Ma’had Aly pertama di Indonesia.
🇮🇩 Menjadi penengah internal NU dan memastikan Pancasila selaras dengan nilai Islam.
VI. Warisan Perjuangan
- Ulama kharismatik dan pejuang gerilya
- Penghubung berdirinya NU
- Motor pergerakan santri dalam revolusi
- Pemersatu umat dan bangsa
Beliau wafat pada 4 Agustus 1990 di Situbondo, namun semangatnya tetap hidup dalam tradisi pesantren dan perjuangan kebangsaan Indonesia.
[22/2 22.50] rudysugengp@gmail.com: 61 Suh
Buatlah Risalah dan Infografis tentang Pahlawan :
Nyai Ahmad Dahlan
Nama Asli: Siti Walidah
Lahir di Kauman, Yogyakarta, 3 Januari 1872.
Meninggal di Karangkajen, Yogyakarta, 31 Mei 1946.
Suami: KH Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah)
Ayah: Kyai Haji Muhammad Fadli (penghulu Keraton Yogyakarta)
Gelar: Pahlawan Nasional (SK Presiden No. 042/TK/Tahun 1971).
Nyai Ahmad Dahlan (Siti Walidah), lahir di Kauman, Yogyakarta pada 3 Januari 1872, adalah pahlawan nasional perempuan pendiri organisasi wanita {'Aisyiyah} pada 1917. Istri KH Ahmad Dahlan ini gigih memperjuangkan pendidikan dan pemberdayaan perempuan Islam, mendirikan sekolah perempuan, dan pengajian, menjadikannya pelopor emansipasi perempuan berbasis agama.
Perjuangan dan Kiprah
* Mendirikan 'Aisyiyah: Pada 22 April 1917, Siti Walidah mendirikan 'Aisyiyah, organisasi wanita Muhammadiyah, untuk meningkatkan taraf hidup dan pendidikan perempuan.
* Pendidikan Perempuan: Ia mendirikan pengajian perempuan, termasuk Sopo Tresno (cinta sejati), Wal’Ashri, dan Maghribi School untuk mengajarkan literasi, agama, dan keterampilan.
* Emansipasi Berbasis Agama: Ia memperjuangkan hak perempuan untuk bersekolah dan berorganisasi, di tengah adat yang membatasi perempuan saat itu.
* Masa Penjajahan: Meski 'Aisyiyah sempat dilarang Jepang pada 1943, ia tetap berjuang mendidik anak-anak Indonesia melalui sekolah-sekolah yang tersisa.
* Kunjungan Dakwah: Aktif berkeliling daerah, bahkan menggunakan kuda di usia senja, untuk mendirikan cabang 'Aisyiyah di berbagai kota.
Nyai Ahmad Dahlan wafat pada 31 Mei 1946 setelah mendedikasikan hidupnya untuk pendidikan Islam dan pemberdayaan perempuan Indonesia.
Perjuangan dengan Harta
Nyai Ahmad Dahlan berjuang dengan mengorbankan harta benda pribadi demi pendidikan dan dakwah:
* Menggunakan Harta Pribadi untuk 'Aisyiyah: Beliau merintis organisasi 'Aisyiyah tanpa dana yang cukup, melainkan menggunakan harta kekayaan pribadinya dan suaminya untuk mendirikan sekolah dan mengadakan pengajian.
* Mendirikan Asrama dan Sekolah: Harta digunakan untuk membangun fasilitas pendidikan bagi anak-anak perempuan di Kauman, Yogyakarta, agar mereka tidak tertinggal.
* Kunjungan Dakwah Mandiri: Setelah suaminya wafat, Nyai Ahmad Dahlan terus aktif berdakwah, bahkan berkeliling ke luar kota (seperti Batur) dengan biaya sendiri, sering kali mengendarai kuda meskipun usianya sudah lanjut.
* Pelayanan pada Masa Perang: Pada masa revolusi, ketika organisasi sempat dilarang Jepang, beliau mengalihkan harta dan tenaganya untuk melayani pejuang kemerdekaan.
Apakah Ikut Kongres Perempuan 22 Desember 1928?
Berdasarkan catatan sejarah, Nyai Ahmad Dahlan tidak hadir secara langsung sebagai peserta aktif atau pengurus dalam Kongres Perempuan Indonesia I yang dilaksanakan pada 22-25 Desember 1928 di Yogyakarta.
Namun, 'Aisyiyah sebagai organisasi yang ia dirikan memiliki peran sentral dalam peristiwa tersebut:
* Perwakilan 'Aisyiyah: Tokoh yang mewakili 'Aisyiyah dalam Kongres Perempuan Indonesia I adalah Siti Hajinah dan Siti Munjiyah.
* Tokoh Kunci: Siti Munjiyah dari 'Aisyiyah menjadi salah satu pimpinan kongres dan berbicara mengenai pentingnya pendidikan bagi perempuan.
* Dominasi 'Aisyiyah: Anggota 'Aisyiyah mendominasi peserta Kongres Perempuan I, menegaskan bahwa gerakan Nyai Ahmad Dahlan telah menjadi bagian penting dari pergerakan perempuan nasional.
* Sebagai ringkasan, Nyai Ahmad Dahlan adalah penggerak utama 'Aisyiyah yang meletakkan dasar perjuangan, sementara perwakilan organisasinya ('Aisyiyah) ikut serta dalam kongres yang melahirkan Hari Ibu tersebut.

RISALAH PAHLAWAN NASIONAL
Nyai Ahmad Dahlan
Nama Asli: Siti Walidah
Lahir: Kauman, Yogyakarta – 3 Januari 1872
Wafat: Karangkajen, Yogyakarta – 31 Mei 1946
Suami: Ahmad Dahlan
Ayah: Kyai Haji Muhammad Fadli (Penghulu Keraton Yogyakarta)
Gelar: Pahlawan Nasional (SK Presiden No. 042/TK/Tahun 1971)
I. LATAR BELAKANG
Nyai Ahmad Dahlan lahir dari keluarga ulama terpandang di Kauman, Yogyakarta. Sejak kecil ia memperoleh pendidikan agama yang kuat.
Sebagai istri pendiri Muhammadiyah, ia tidak hanya mendampingi perjuangan suami, tetapi juga tampil sebagai pemimpin perempuan Islam yang mandiri dan visioner.
II. PENDIRI ‘AISYIYAH
Pada 22 April 1917, ia mendirikan:
'Aisyiyah
Organisasi perempuan Muhammadiyah ini bertujuan meningkatkan pendidikan, martabat, dan peran sosial perempuan Muslim.
Melalui ‘Aisyiyah, ia membuka ruang bagi perempuan untuk:
✔ Belajar agama dan ilmu umum
✔ Berorganisasi
✔ Berperan aktif dalam masyarakat
III. PERJUANGAN PENDIDIKAN PEREMPUAN
Nyai Ahmad Dahlan mendirikan berbagai pengajian dan sekolah perempuan, antara lain:
- Sopo Tresno (cinta sejati)
- Wal’Ashri
- Maghribi School
Ia mengajarkan:
✔ Literasi (membaca & menulis)
✔ Ilmu agama
✔ Keterampilan rumah tangga dan sosial
Di tengah adat yang membatasi perempuan, beliau memperjuangkan hak perempuan untuk bersekolah dan berorganisasi.
IV. PERJUANGAN DENGAN HARTA & TENAGA
Nyai Ahmad Dahlan berjuang dengan pengorbanan nyata:
✔ Menggunakan harta pribadi untuk mendirikan sekolah dan pengajian
✔ Membangun asrama dan fasilitas pendidikan perempuan
✔ Berdakwah keliling daerah dengan biaya sendiri, bahkan menaiki kuda di usia lanjut
✔ Mengalihkan tenaga dan harta untuk membantu pejuang kemerdekaan saat masa revolusi
Ketika Jepang melarang organisasi pada 1943, ia tetap mendidik generasi muda melalui sekolah-sekolah yang masih bertahan.
V. KONGRES PEREMPUAN 1928
Pada Kongres Perempuan Indonesia I (22–25 Desember 1928 di Yogyakarta), Nyai Ahmad Dahlan tidak hadir secara langsung sebagai peserta.
Namun, ‘Aisyiyah memiliki peran sentral:
✔ Diwakili oleh Siti Hajinah dan Siti Munjiyah
✔ Siti Munjiyah menjadi salah satu pimpinan kongres
✔ Anggota ‘Aisyiyah mendominasi peserta kongres
Gerakan yang dirintisnya menjadi fondasi lahirnya Hari Ibu (22 Desember).
INFOGRAFIS RINGKAS
Nama: Nyai Ahmad Dahlan (Siti Walidah)
Lahir: 3 Januari 1872 – Yogyakarta
Wafat: 31 Mei 1946 – Yogyakarta
Organisasi: ‘Aisyiyah
Peran: Pelopor pendidikan & emansipasi perempuan Islam
Kontribusi Utama:
✔ Pendiri ‘Aisyiyah (1917)
✔ Pelopor pendidikan perempuan berbasis Islam
✔ Penggerak dakwah dan pemberdayaan sosial
✔ Mengorbankan harta demi pendidikan
✔ Fondasi gerakan perempuan nasional
NILAI KEPAHLAWANAN
• Keberanian menembus batas adat
• Keteguhan dalam dakwah dan pendidikan
• Pengorbanan harta dan tenaga
• Kepemimpinan perempuan berbasis agama
• Dedikasi seumur hidup untuk umat dan bangsa
98 Suh
Buatlah Risalah dan Infografis tentang Pahlawan :
Silas Papare
Nama: Silas Ayari Donrai Papare.
Lahir di Serui, Kepulauan Yapen, Papua, 18 Desember 1918.
Meninggal di Jakarta, 7 Maret 1978 (dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kusuma Trikora, Serui).
Pendidikan: Sekolah Juru Rawat (1931-1935).
Pekerjaan: Perawat, pegawai polisi kolonial Belanda (sempat menjadi intelijen Belanda sebelum membelot ke Indonesia).
Istri: Regina Aibui.
Silas Papare (18 Desember 1918 – 7 Maret 1978) adalah pahlawan nasional Indonesia asal Serui, Papua, yang gigih memperjuangkan integrasi Irian Barat ke dalam NKRI. Ia mendirikan Komite Indonesia Merdeka (KIM) pada 1945 dan aktif dalam perjuangan diplomasi, termasuk KMB 1949, serta menentang Belanda hingga ditetapkan sebagai pahlawan pada 1993.
Perjuangan dan Peran
1. Mendirikan KIM (1945): Setelah proklamasi, Silas mendirikan Komite Indonesia Merdeka (KIM) di Papua untuk menghimpun kekuatan melawan Belanda dan mendukung integrasi ke Indonesia.
2. Dipenjara Belanda: Karena aktivitas perjuangannya, ia ditangkap dan dipenjarakan oleh Belanda di Biak, namun berhasil melarikan diri ke Yogyakarta.
3. Badan Perjuangan Irian (1949): Di Yogyakarta, ia membentuk Badan Perjuangan Irian untuk membantu pemerintah RI memasukkan Papua ke wilayah NKRI.
4. Konferensi Meja Bundar (KMB): Menjadi wakil Papua dalam KMB di Den Haag tahun 1949 dan dengan tegas menyuarakan tuntutan agar Papua bergabung dengan Indonesia.
5. Perjuangan Diplomatik: Aktif dalam Front Nasional Pembebasan Irian Barat (FNPIB) dan mendukung Trikora. Ia juga terlibat dalam perjuangan diplomasi yang menghasilkan New York Agreement pada 1962.
6. Anggota Parlemen: Menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat Sementara (DPRS) dan Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS) mewakili Papua.
Kisah Lolos dari Penjara dan Perjuangan:
1. Ditangkap Belanda: Akibat aktivitas pro-Indonesia, Silas Papare ditangkap dan dipenjara oleh Belanda di Jayapura (dulu Hollandia).
2. Melarikan Diri: Silas berhasil meloloskan diri dari penjara di Jayapura dan kembali ke Serui, tempat ia kembali menggerakkan perlawanan.
3. Menuju Yogyakarta: Pada tahun 1949, dalam situasi pengejaran Belanda yang intens, ia berhasil meninggalkan Papua dan menuju Yogyakarta. Perjalanan ini didorong keinginan kuat untuk berkoordinasi langsung dengan pemerintah Republik Indonesia di ibu kota perjuangan tersebut.
4. Perjuangan Lanjutan: Di Jawa, ia membentuk Komite Indonesia Merdeka (KIM) dan berjuang agar Papua menjadi bagian sah dari NKRI.
Perjuangan Diplomasi:
Silas Papare menjadi delegasi Indonesia dalam perundingan yang berujung pada New York Agreement pada 15 Agustus 1962, yang menentukan penyerahan Irian Barat dari Belanda ke Indonesia.
Penghormatan:
Namanya diabadikan menjadi KRI Silas Papare (386), Pangkalan Udara TNI AU di Sentani, Universitas/STISIPOL Silas Papare di Jayapura, dan monumen di Serui.
RISALAH PAHLAWAN NASIONAL
Silas Papare
Nama Lengkap: Silas Ayari Donrai Papare
Identitas Singkat
📍 Lahir : Serui, Kepulauan Yapen, Papua — 18 Desember 1918
📍 Wafat : Jakarta — 7 Maret 1978
📍 Dimakamkan : Taman Makam Pahlawan Kusuma Trikora
🎓 Pendidikan : Sekolah Juru Rawat (1931–1935)
💼 Pekerjaan Awal : Perawat & pegawai polisi kolonial Belanda
👩❤️👨 Istri : Regina Aibui
🏅 Gelar Pahlawan Nasional : Ditetapkan tahun 1993
Sekilas Tentang Silas Papare
Silas Papare adalah pejuang asal Papua yang gigih memperjuangkan integrasi Irian Barat ke dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Dari seorang perawat dan aparat kolonial, ia berbalik membela Republik dan menjadi tokoh penting perjuangan diplomasi serta perlawanan terhadap Belanda.
Perjuangan & Peran Penting
1️⃣ Mendirikan KIM (1945)
Setelah Proklamasi 17 Agustus 1945, Silas mendirikan:
Komite Indonesia Merdeka (KIM)
Tujuan:
✔ Menghimpun kekuatan rakyat Papua
✔ Melawan kolonial Belanda
✔ Mendukung integrasi Papua ke Indonesia
2️⃣ Ditangkap & Lolos dari Penjara
Karena aktivitas pro-Indonesia:
📌 Ditangkap Belanda di Jayapura (Hollandia)
📌 Dipenjara di Biak
Namun dengan keberanian luar biasa, ia berhasil melarikan diri dan kembali mengobarkan semangat perjuangan.
Pada 1949, ia berhasil menuju Yogyakarta untuk berkoordinasi langsung dengan pemerintah Republik Indonesia.
3️⃣ Badan Perjuangan Irian (1949)
Di Yogyakarta, Silas membentuk Badan Perjuangan Irian guna memperkuat diplomasi dan memastikan Papua masuk wilayah NKRI.
Ia menjadi wakil Papua dalam:
Konferensi Meja Bundar
Di Den Haag tahun 1949, ia secara tegas menyuarakan agar Papua menjadi bagian Indonesia.
4️⃣ Perjuangan Diplomatik & Trikora
Silas Papare aktif dalam:
✔ Front Nasional Pembebasan Irian Barat (FNPIB)
✔ Mendukung penuh Trikora
✔ Delegasi Indonesia dalam perundingan yang menghasilkan:
New York Agreement
(15 Agustus 1962)
Perjanjian ini menjadi jalan penyerahan Irian Barat dari Belanda kepada Indonesia.
5️⃣ Anggota Parlemen
Beliau juga berperan dalam pemerintahan sebagai:
✔ Anggota DPRS
✔ Anggota MPRS
Mewakili aspirasi rakyat Papua dalam sistem kenegaraan Indonesia.
Nilai Keteladanan
⭐ Nasionalisme tanpa batas wilayah
⭐ Keberanian melawan kolonialisme
⭐ Setia pada NKRI
⭐ Perjuangan melalui senjata dan diplomasi
⭐ Konsisten dari daerah ke tingkat internasional
Penghormatan & Warisan
Nama Silas Papare diabadikan menjadi:
⚓ KRI Silas Papare (386)
✈ Pangkalan TNI AU Silas Papare
🎓 Universitas Silas Papare
🗿 Monumen Silas Papare di Serui
Kesimpulan
Silas Papare adalah simbol perjuangan rakyat Papua untuk Indonesia.
Ia membuktikan bahwa cinta tanah air tidak mengenal batas geografis.
Dari penjara kolonial hingga meja diplomasi internasional, ia konsisten memperjuangkan satu cita-cita: Papua bagian sah dari NKRI.
Beliau adalah jembatan sejarah antara Papua dan Indonesia.
99 Suh
Buatlah Risalah dan Infografis tentang Pahlawan :
Marthen Indey
Lahir di Doromena, Papua, 14 Maret 1912.
Meninggal di Jayapura, 17 Juli 1986.
Pendidikan: Sekolah Angkatan Laut di Makassar (Kweekschool voor Indische Schepelingen) dan Akademi Polisi di Sukabumi.
Gelar Pahlawan: Ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional pada 14 September 1993 melalui SK Presiden No. 077/TK/1993.
Mayor TNI Marthen Indey adalah pahlawan nasional Indonesia asal Papua yang dikenal karena kegigihannya memperjuangkan integrasi Papua ke dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Perjalanan Perjuangan
Awalnya, Marthen Indey bekerja sebagai anggota kepolisian Belanda (NICA), namun pandangan politiknya berubah setelah berinteraksi dengan para tahanan politik Indonesia di Digul.
* Melawan Jepang: Turut berjuang membantu Sekutu mengusir pasukan Jepang dari tanah Papua selama Perang Dunia II.
* Pemberontakan Melawan Belanda: Pada tahun 1946, ia bersama Silas Papare memengaruhi Batalyon Papua untuk memberontak terhadap pemerintah Belanda, yang menyebabkan dirinya ditangkap dan dipenjara di Hollandia (sekarang Jayapura).
* Ketua Komite Indonesia Merdeka (KIM): Setelah bebas, ia aktif memimpin KIM dan terus menggalang kekuatan untuk mendukung kemerdekaan Indonesia di tanah Papua.
* Operasi Militer 1962: Marthen membantu merumuskan taktik gerilya bagi pasukan Indonesia yang mendarat di Irian Barat dan turut menyelamatkan anggota RPKAD (sekarang Kopassus) selama operasi pembebasan tersebut.
* Piagam Kotabaru: Ia menyampaikan "Piagam Kotabaru" yang berisi pernyataan tegas penduduk Papua untuk tetap setia dan bergabung dengan NKRI.
* Diplomasi Internasional: Ia dikirim ke New York untuk berpartisipasi dalam negosiasi yang menghasilkan Perjanjian New York, langkah kunci kembalinya Papua ke Indonesia.
Mengapa Ditahan di Digul?
Meskipun Marthen Indey awalnya adalah seorang anggota polisi Belanda (Polisi Pamong Praja), ia dikirim ke Boven Digul bukan sebagai tahanan politik pada awalnya, melainkan untuk bertugas menjaga para tahanan politik asal Indonesia yang dibuang di sana.
Namun, selama bertugas di Digul, ia justru banyak berinteraksi dengan para tokoh pergerakan nasional (seperti Sugoro Atmoprasojo) yang sedang diasingkan. Interaksi inilah yang menumbuhkan benih-benih nasionalisme dalam dirinya, sehingga ia berbalik arah melawan Belanda dan mendukung kemerdekaan Indonesia.
Belakangan, ia sempat ditangkap dan dipenjara oleh Belanda di Jayapura (saat itu bernama Hollandia) pada Desember 1945 karena dianggap mempengaruhi Batalyon Papua untuk memberontak terhadap pemerintah kolonial.
RISALAH PAHLAWAN NASIONAL
Marthen Indey
Putra Papua Penggerak Integrasi NKRI
I. Identitas Singkat
- Lahir: Doromena, Papua, 14 Maret 1912
- Wafat: Jayapura, 17 Juli 1986
- Pendidikan:
- Kweekschool voor Indische Schepelingen (Sekolah Angkatan Laut) – Makassar
- Akademi Polisi – Sukabumi
- Pangkat: Mayor TNI
- Gelar Pahlawan Nasional: SK Presiden No. 077/TK/1993 (14 September 1993)
II. Awal Perjalanan: Dari Aparat Kolonial ke Nasionalis
Awalnya, Marthen Indey bekerja sebagai anggota kepolisian Belanda (NICA). Ia pernah ditugaskan ke Boven Digul, tempat pengasingan para tokoh pergerakan nasional Indonesia.
Di sanalah titik balik terjadi. Interaksinya dengan tokoh-tokoh seperti Sugoro Atmoprasojo menumbuhkan kesadaran nasionalisme dalam dirinya. Dari penjaga tahanan politik, ia berubah menjadi pejuang kemerdekaan.
III. Perjuangan Melawan Jepang (1942–1945)
Saat Perang Dunia II, Marthen Indey membantu Sekutu melawan pendudukan Jepang di Papua. Keberaniannya menunjukkan komitmen pada kebebasan dan penolakan terhadap penjajahan dalam bentuk apa pun.
IV. Melawan Belanda & Mendorong Integrasi Papua
🔥 1. Pemberontakan 1946
Bersama Silas Papare, ia memengaruhi Batalyon Papua untuk memberontak terhadap Belanda.
Akibatnya, ia ditangkap dan dipenjara di Hollandia (kini Jayapura).
🇮🇩 2. Ketua Komite Indonesia Merdeka (KIM)
Setelah bebas, ia aktif memimpin gerakan politik untuk mendukung kemerdekaan Indonesia di tanah Papua.
⚔ 3. Operasi Militer 1962
Ia membantu merumuskan taktik gerilya bagi pasukan Indonesia dalam operasi pembebasan Irian Barat, serta menyelamatkan anggota RPKAD (kini Kopassus).
📜 4. Piagam Kotabaru
Marthen Indey menyampaikan “Piagam Kotabaru” yang menegaskan kesetiaan rakyat Papua untuk bergabung dengan NKRI.
🌍 5. Diplomasi Internasional
Ia turut serta dalam proses diplomasi menuju Perjanjian New York di New York, yang menjadi tonggak kembalinya Papua ke Indonesia.
V. Mengapa Digul Menjadi Titik Balik?
Marthen Indey tidak dikirim ke Digul sebagai tahanan, melainkan sebagai petugas penjaga. Namun, perjumpaan dengan para tokoh nasionalis mengubah arah hidupnya.
Belakangan, ia justru ditahan oleh Belanda pada Desember 1945 karena dianggap membahayakan kepentingan kolonial.
VI. Warisan Perjuangan
- Simbol nasionalisme Papua
- Penggerak integrasi Irian Barat ke NKRI
- Pejuang fisik sekaligus diplomat
- Teladan keberanian melawan arus kekuasaan kolonial
Marthen Indey wafat pada 17 Juli 1986 di Jayapura. Namanya kini diabadikan sebagai bandara di Papua dan dikenang sebagai tokoh pemersatu bangsa dari timur Indonesia.