Senin, 02 Februari 2026

Perjanjian Lawas

 Buatlah Risalah dan Infografis tentang Perjanjian Kerajaan di  Indonesia yaitu :

Perjanjian Giyanti.

Ditandatangani pada 13 Februari 1755, adalah perjanjian utama yang memecah belah Kerajaan Mataram Islam menjadi dua bagian: Kasunanan Surakarta Hadiningrat dan Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Ditandatangani di Desa Giyanti, perjanjian ini menandai berakhirnya perang saudara dan campur tangan VOC dalam membagi wilayah Mataram. 

Pihak Terlibat:

 Perjanjian Giyanti melibatkan VOC (diwakili Nicolaas Hartingh), Sunan Pakubuwana III, dan Pangeran Mangkubumi.

Isi Utama (Palihan Nagari): 

Mataram dibagi menjadi dua wilayah (sering disebut Palihan Nagari). Bagian timur diserahkan kepada Pakubuwana III (Kasunanan Surakarta), dan bagian barat diberikan kepada Pangeran Mangkubumi, yang bergelar Sultan Hamengkubuwono I (Kasultanan Yogyakarta).

Dampak: 

Mataram Islam secara permanen terpecah. Perjanjian ini memperkuat dominasi kolonial VOC di Jawa.

Perjanjian Lanjutan: Perpecahan berlanjut dengan Perjanjian Salatiga (1757) yang membagi wilayah Surakarta, melahirkan Mangkunegaran, dan kemudian pembagian Yogyakarta (Pakualaman) pada 1813. 

Perjanjian Giyanti merupakan siasat devide et impera (politik adu domba) VOC untuk mengakhiri konflik internal keluarga kerajaan.




RISALAH PERJANJIAN KERAJAAN DI INDONESIA

PERJANJIAN GIYANTI (1755)

1. Identitas Perjanjian

  • Nama Perjanjian: Perjanjian Giyanti
  • Tanggal: 13 Februari 1755
  • Tempat: Desa Giyanti (wilayah Surakarta)
  • Jenis: Perjanjian politik–teritorial
  • Latar: Perang saudara dan konflik suksesi Kerajaan Mataram Islam

2. Latar Belakang

Perjanjian Giyanti lahir dari konflik internal keluarga Kerajaan Mataram Islam yang berkepanjangan. Pertentangan antara Sunan Pakubuwana III dan Pangeran Mangkubumi dimanfaatkan oleh VOC untuk memperkuat pengaruh kolonialnya di Jawa.
VOC bertindak sebagai penengah, namun sesungguhnya menerapkan strategi devide et impera (politik adu domba).


3. Pihak-Pihak yang Terlibat

  • VOC (Vereenigde Oost-Indische Compagnie)
    Diwakili oleh Nicolaas Hartingh
  • Sunan Pakubuwana III
    Penguasa Mataram yang diakui VOC
  • Pangeran Mangkubumi
    Tokoh perlawanan internal Mataram
    → Kelak bergelar Sultan Hamengkubuwono I

4. Isi Utama Perjanjian (Palihan Nagari)

Perjanjian Giyanti menetapkan pembagian Kerajaan Mataram Islam menjadi dua wilayah:

  • Wilayah Timur
    → Kasunanan Surakarta Hadiningrat
    → Dipimpin oleh Pakubuwana III

  • Wilayah Barat
    → Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat
    → Dipimpin oleh Sultan Hamengkubuwono I

Pembagian ini dikenal sebagai Palihan Nagari (pembelahan negeri).


5. Dampak Perjanjian

  • Kerajaan Mataram Islam terpecah secara permanen
  • VOC semakin menguatkan dominasi politik dan ekonomi di Jawa
  • Otoritas raja-raja Jawa berada di bawah pengaruh kolonial
  • Menjadi preseden pembelahan wilayah kerajaan-kerajaan Nusantara

6. Perjanjian Lanjutan

Perjanjian Giyanti membuka jalan bagi perpecahan lanjutan:

  • Perjanjian Salatiga (1757)
    → Melahirkan Kadipaten Mangkunegaran
  • Pembentukan Pakualaman (1813)
    → Pemecahan wilayah Kasultanan Yogyakarta

7. Makna Historis

Perjanjian Giyanti merupakan contoh nyata keberhasilan strategi kolonial VOC dalam:

  • Mengakhiri konflik internal kerajaan
  • Mengendalikan Jawa tanpa perlu penaklukan militer besar
  • Membentuk struktur politik Jawa yang bertahan hingga kini

RANCANGAN INFOGRAFIS (SIAP DIVISUALKAN)

Judul Besar
📜 Perjanjian Giyanti (1755)
Pembelahan Kerajaan Mataram Islam

Bagian Visual Utama:

  • Ilustrasi peta Mataram → terbelah dua
  • Ikon tokoh: Pakubuwana III, Pangeran Mangkubumi, pejabat VOC
  • Garis pembatas wilayah Surakarta–Yogyakarta

Blok Informasi:

  1. Tanggal & Lokasi
  2. Pihak Terlibat
  3. Palihan Nagari (diagram pembagian wilayah)
  4. Dampak Politik
  5. Kelanjutan Perjanjian
  6. Devide et Impera VOC

Gaya Visual:

  • Nuansa Jawa klasik (cokelat, krem, emas)
  • Ornamen batik dan aksara Jawa
  • Ilustrasi manuskrip dan stempel VOC


Buatlah Risalah dan Infografis tentang Perjanjian Kerajaan di  Indonesia yaitu :

Perjanjian Salatiga

Perjanjian Salatiga dan Musnahnya Cita-Cita Menyatukan Jawa

Perjanjian Salatiga adalah perjanjian damai penting yang ditandatangani pada 17 Maret 1757 di Salatiga, yang mengakhiri konflik panjang setelah Perjanjian Giyanti, memecah wilayah Mataram Islam menjadi tiga bagian: Kasunanan Surakarta, Kesultanan Yogyakarta, dan munculnya Kadipaten Mangkunegaran yang dipimpin oleh Raden Mas Said (Pangeran Sambernyawa), menjadikannya Pangeran Miji dengan gelar KGPAA Mangkunegara I, yang mengakhiri pemberontakan dan mengukuhkan kekuasaan VOC di Jawa.

Latar Belakang

Perjanjian ini lahir dari ketidakpuasan Raden Mas Said (Pangeran Sambernyawa) terhadap pembagian wilayah Mataram setelah Perjanjian Giyanti (1755) yang hanya membagi Mataram menjadi dua, Surakarta dan Yogyakarta.

Raden Mas Said, keturunan Mataram yang tidak mendapat bagian, terus melakukan perlawanan, yang akhirnya diakhiri dengan perjanjian ini.

Pihak yang Terlibat

VOC: (Vereenigde Oostindische Compagnie) sebagai mediator dan pengawas.

Pakubuwono III: (Kasunanan Surakarta).

Hamengkubuwono I: (Kesultanan Yogyakarta).

Raden Mas Said (Pangeran Sambernyawa).

Isi Utama Perjanjian Salatiga

Pengangkatan Raden Mas Said: Diangkat sebagai Pangeran Miji (Pangeran istimewa) dengan gelar Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara I (KGPAA Mangkunegara I).

Wilayah Kekuasaan: Diberikan tanah lungguh seluas 4000 karya (sekitar 4000 cacah/keluarga) yang mencakup wilayah seperti Karanganyar, Wonogiri, Ngawen, dan sebagian Gunung Kidul.

Hak dan Larangan:

Berhak menyelenggarakan upacara kerajaan dan memakai atribut raja, namun tidak boleh duduk di Dampar Kencana (singgasana utama).

Tidak boleh memiliki Balai Witana, alun-alun, dan sepasang beringin kembar. 

Tidak diperbolehkan menjatuhkan hukuman mati.

Status: 

Mangkunegaran berada di bawah pengawasan Surakarta dan VOC.

Dampak Terpecahnya Mataram menjadi Tiga: Mataram Islam secara resmi terbagi menjadi tiga kekuatan politik utama di Jawa.

Berdirinya Mangkunegaran: 

Melahirkan sebuah kadipaten otonom baru, yaitu Praja Mangkunegaran.

Mengakhiri Pemberontakan: 

Berhasil meredam konflik panjang yang dipimpin Raden Mas Said.

Penguatan VOC: Semakin memperbesar pengaruh VOC dalam urusan internal kerajaan-kerajaan Jawa.



Risalah Perjanjian Salatiga (1757)

Perjanjian Kerajaan dan Musnahnya Cita-Cita Penyatuan Jawa

Identitas Peristiwa

  • Nama Perjanjian: Perjanjian Salatiga
  • Tanggal: 17 Maret 1757
  • Tempat: Salatiga, Jawa Tengah
  • Masa: Jawa abad ke-18 (era Mataram Islam pasca-Giyanti)

Latar Belakang

Perjanjian Salatiga lahir sebagai kelanjutan konflik setelah Perjanjian Giyanti (1755) yang membagi Kerajaan Mataram Islam menjadi dua kekuasaan: Kasunanan Surakarta dan Kesultanan Yogyakarta.
Pembagian ini menimbulkan ketidakpuasan Raden Mas Said (Pangeran Sambernyawa), seorang bangsawan Mataram yang tidak memperoleh wilayah kekuasaan.

Selama bertahun-tahun, Raden Mas Said memimpin perlawanan bersenjata terhadap VOC dan kerajaan-kerajaan Mataram hasil pembelahan. Konflik yang berkepanjangan akhirnya mendorong VOC untuk menyelesaikannya melalui jalur diplomasi.


Pihak-Pihak yang Terlibat

  1. VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie)
    Bertindak sebagai mediator sekaligus penguasa politik de facto di Jawa.
  2. Pakubuwono III
    Raja Kasunanan Surakarta.
  3. Hamengkubuwono I
    Sultan Kesultanan Yogyakarta.
  4. Raden Mas Said (Pangeran Sambernyawa)
    Pemimpin perlawanan, keturunan langsung Mataram.

Isi Pokok Perjanjian Salatiga

  1. Pengangkatan Raden Mas Said

    • Diberi kedudukan sebagai Pangeran Miji
    • Bergelar Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara I (KGPAA Mangkunegara I)
  2. Wilayah Kekuasaan

    • Mendapat tanah lungguh ± 4000 karya/cacah (keluarga)
    • Meliputi wilayah Karanganyar, Wonogiri, Ngawen, dan sebagian Gunung Kidul
  3. Hak dan Pembatasan

    • ✔ Boleh menggelar upacara kebesaran dan memakai simbol kebangsawanan
    • ✖ Tidak boleh duduk di Dampar Kencana
    • ✖ Tidak boleh memiliki Balai Witana, alun-alun, dan beringin kembar
    • ✖ Tidak berhak menjatuhkan hukuman mati
  4. Status Politik

    • Kadipaten Mangkunegaran berada di bawah pengawasan Kasunanan Surakarta dan VOC

Dampak Perjanjian Salatiga

  1. Terpecahnya Mataram Islam menjadi Tiga Kekuatan

    • Kasunanan Surakarta
    • Kesultanan Yogyakarta
    • Kadipaten Mangkunegaran
  2. Berdirinya Praja Mangkunegaran

    • Sebuah kadipaten otonom baru yang bertahan hingga masa kolonial dan kemerdekaan Indonesia.
  3. Berakhirnya Pemberontakan Raden Mas Said

    • Konflik panjang di Jawa Tengah dan Timur berhasil diredam.
  4. Menguatnya Dominasi VOC

    • VOC semakin leluasa mengatur politik internal kerajaan-kerajaan Jawa.

Kesimpulan

Perjanjian Salatiga menandai gagalnya cita-cita penyatuan Jawa di bawah Mataram Islam. Meskipun mengakhiri perang, perjanjian ini justru mengukuhkan politik pecah-belah VOC dan melemahkan kedaulatan kerajaan-kerajaan Jawa, menjadikan abad ke-18 sebagai titik balik dominasi kolonial di Nusantara.



Buatlah Risalah dan Infografis tentang Perjanjian Kerajaan di  Indonesia yaitu :

Perjanjian Paku Alam.

Perjanjian Paku Alam adalah kontrak politik pada 17 Maret 1813 antara Pemerintah Inggris (diwakili Thomas Stamford Raffles) dan Pangeran Notokusumo, yang mendirikan Kadipaten Pakualaman di Yogyakarta. Perjanjian ini menetapkan Notokusumo sebagai Paku Alam I, penguasa wilayah independen (terpecah dari Kasultanan) yang mendapat perlindungan Inggris, hak atas tanah 4.000 cacah, dan pasukan. 

Poin-Poin Penting Perjanjian Paku Alam:

Berdirinya Kadipaten (1813): Kontrak ini ditandatangani pada 17 Maret 1813, menandai berdirinya Pakualaman sebagai monarki kecil yang setara dengan Mangkunegaran di bawah naungan Inggris.

Pengangkatan Penguasa: Pangeran Notokusumo diangkat menjadi Gusti Pangeran Adipati Paku Alam I.

Wilayah dan Hak: Paku Alam I diberikan tanah seluas 4.000 cacah (meliputi sebagian kota Yogyakarta dan Adikarto), serta hak memungut pajak.

Pasukan Militer: Inggris memberikan 100 pasukan lengkap dengan senjata dan seragam kepada Paku Alam.

Perjanjian Lanjutan (1831): Setelah Inggris pergi, Paku Alam II melakukan perjanjian dengan pemerintah Hindia Belanda pada 1831-1833 untuk mengukuhkan kedudukannya, yang membatasi hak Paku Alam untuk memiliki pasukan tanpa persetujuan Belanda.

Integrasi ke NKRI (1945): Melalui amanat 5 September 1945, Paku Alam VIII bersama Sultan Hamengkubuwono IX menyatakan wilayah Pakualaman bergabung dengan NKRI sebagai Daerah Istimewa. 

Perjanjian-perjanjian ini memosisikan Paku Alam sebagai kekuatan ketiga di Mataram Islam, setelah Kasultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta, yang sering kali menjaga keseimbangan politik di tanah Jawa.



RISALAH PERJANJIAN KERAJAAN DI INDONESIA

PERJANJIAN PAKU ALAM (1813)

Latar Belakang

Perjanjian Paku Alam merupakan kontrak politik yang ditandatangani pada 17 Maret 1813 antara Pemerintah Inggris di Jawa yang diwakili oleh Thomas Stamford Raffles dan Pangeran Notokusumo, seorang bangsawan Yogyakarta.
Perjanjian ini lahir dalam konteks melemahnya Kasultanan Yogyakarta akibat konflik internal serta intervensi kekuatan kolonial Eropa.

Melalui perjanjian ini, Inggris menerapkan strategi politik pecah-belah (divide et impera) dengan membentuk satu kekuatan baru di jantung Mataram Islam, yakni Kadipaten Pakualaman.


Pihak-Pihak yang Terlibat

  1. Pemerintah Inggris di Jawa
    Diwakili oleh Thomas Stamford Raffles sebagai Letnan Gubernur.

  2. Pangeran Notokusumo
    Adik Sultan Hamengkubuwono II, tokoh penting dalam konflik internal Keraton Yogyakarta.


Isi Pokok Perjanjian

  1. Pembentukan Kadipaten Pakualaman
    Perjanjian ini secara resmi mendirikan Kadipaten Pakualaman sebagai monarki kecil yang berdiri terpisah dari Kasultanan Yogyakarta.

  2. Pengangkatan Penguasa
    Pangeran Notokusumo diangkat sebagai Gusti Pangeran Adipati Paku Alam I.

  3. Wilayah dan Hak Kekuasaan
    Paku Alam I diberikan:

    • Tanah seluas 4.000 cacah
    • Wilayah di dalam dan sekitar Kota Yogyakarta
    • Daerah Adikarto
    • Hak memungut pajak dari wilayahnya
  4. Kekuatan Militer
    Pemerintah Inggris memberikan:

    • 100 pasukan bersenjata
    • Seragam dan perlengkapan militer resmi

Perjanjian Lanjutan

Setelah Inggris menyerahkan Jawa kembali kepada Belanda:

  • Perjanjian 1831–1833 antara Pakualaman dan Pemerintah Hindia Belanda
  • Kekuasaan Paku Alam tetap diakui, namun:
    • Hak memiliki pasukan dibatasi
    • Kebijakan militer harus mendapat persetujuan Belanda

Integrasi ke Negara Indonesia

Pada 5 September 1945,
Paku Alam VIII bersama Sri Sultan Hamengkubuwono IX menyatakan bergabung dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Sejak saat itu:

  • Pakualaman menjadi bagian dari Daerah Istimewa Yogyakarta
  • Status kadipaten tetap dihormati dalam sistem kenegaraan Indonesia

Signifikansi Sejarah

  • Menjadikan Paku Alam sebagai kekuatan ketiga di wilayah bekas Mataram Islam
  • Menunjukkan praktik politik kolonial Inggris di Jawa
  • Memperkuat fragmentasi politik kerajaan Jawa
  • Menjadi contoh bagaimana elite lokal bernegosiasi dengan kekuatan kolonial
  • Berperan penting dalam terbentuknya struktur politik DIY modern

NASKAH INFOGRAFIS (RINGKAS & VISUAL)

Judul:
Perjanjian Paku Alam (1813)
Kontrak Politik Inggris–Jawa

Tanggal:
17 Maret 1813

Tokoh Utama:

  • Thomas Stamford Raffles
  • Pangeran Notokusumo (Paku Alam I)

Hasil Utama:
✔ Berdirinya Kadipaten Pakualaman
✔ Wilayah 4.000 cacah
✔ Hak pajak & pasukan

Kelanjutan:
1831–1833 → Pengakuan Belanda
1945 → Bergabung dengan NKRI

Makna Sejarah:
Politik adu domba kolonial & keseimbangan kekuasaan Jawa





Minggu, 01 Februari 2026

Hari Bersejarah

Buatlah Risalah dan Infografis tentang Hari Pramuka yaitu :

Peringatan Hari Pramuka setiap 14 Agustus dilakukan untuk memperingati sejarah peresmian Gerakan Pramuka secara nasional pada 14 Agustus 1961, melalui pelantikan Mapinas dan penyerahan Panji Pramuka oleh Presiden Soekarno. Peringatan ini menegaskan pentingnya nilai kepanduan, karakter generasi muda, persatuan, serta patriotisme bagi bangsa. 

Berikut adalah alasan mendetail mengenai peringatan Hari Pramuka:

Penyatuan Organisasi Kepanduan: Sebelum 1961, terdapat lebih dari 100 organisasi kepanduan yang terpecah-pecah. Pada 14 Agustus 1961, seluruh organisasi tersebut melebur menjadi satu wadah, yaitu Gerakan Pramuka, untuk menyatukan semangat patriotisme.

Peresmian Gerakan Pramuka: Presiden Soekarno secara resmi memperkenalkan Gerakan Pramuka melalui Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 448 Tahun 1961, sekaligus menetapkan lambang Tunas Kelapa melalui Keppres Nomor 238 Tahun 1961.

Pembentukan Karakter Generasi Muda: Pramuka berperan krusial dalam membentuk karakter generasi muda yang disiplin, mandiri, berakhlak mulia, jujur, dan memiliki semangat kebangsaan yang tinggi (karakter Pancasila).

Momentum Mengenang Sejarah: Ini menjadi momen tahunan untuk mengenang peran tokoh-tokoh kepanduan, seperti Sri Sultan Hamengku Buwono IX, yang menjadi Ketua Kwartir Nasional pertama. 

Dengan demikian, peringatan Hari Pramuka lebih dari sekadar seremonial, melainkan pengingat akan pentingnya membina generasi penerus bangsa yang tangguh dan berdedikasi.



RISALAH HARI PRAMUKA INDONESIA

14 Agustus 1961

Pengantar

Hari Pramuka diperingati setiap 14 Agustus untuk mengenang peresmian Gerakan Pramuka secara nasional pada tahun 1961 oleh Presiden Ir. Soekarno. Peristiwa ini menjadi tonggak penting penyatuan seluruh organisasi kepanduan Indonesia dalam satu wadah demi membangun karakter generasi muda dan memperkuat persatuan bangsa.


Latar Belakang Sejarah

Sebelum tahun 1961, Indonesia memiliki lebih dari 100 organisasi kepanduan yang berdiri sendiri-sendiri dan tidak terkoordinasi. Kondisi ini dinilai melemahkan pembinaan generasi muda.

Melalui kebijakan nasional, Presiden Soekarno memprakarsai penyatuan gerakan kepanduan menjadi satu organisasi resmi negara yang bersifat pendidikan nonformal.


Peristiwa Penting 14 Agustus 1961

Pada 14 Agustus 1961, di Jakarta, berlangsung peristiwa bersejarah:

  • Pelantikan Majelis Pimpinan Nasional (Mapinas)
  • Penyerahan Panji Gerakan Pramuka oleh Presiden Soekarno
  • Peresmian Gerakan Pramuka sebagai satu-satunya organisasi kepanduan nasional

Peristiwa ini sekaligus menandai kelahiran Gerakan Pramuka Indonesia.


Landasan Hukum

  • Keputusan Presiden No. 448 Tahun 1961
    → Tentang pembentukan Gerakan Pramuka
  • Keputusan Presiden No. 238 Tahun 1961
    → Tentang penetapan lambang Tunas Kelapa sebagai simbol Pramuka

Tujuan dan Nilai Pramuka

Gerakan Pramuka bertujuan membentuk generasi muda yang:

  • Beriman dan berakhlak mulia
  • Disiplin, mandiri, dan bertanggung jawab
  • Cinta tanah air dan menjunjung persatuan
  • Berjiwa kepemimpinan dan gotong royong

Nilai-nilai ini terangkum dalam Tri Satya dan Dasa Darma Pramuka, yang sejalan dengan Pancasila.


Tokoh Penting

  • Ir. Soekarno – Penggagas dan pelindung Gerakan Pramuka
  • Sri Sultan Hamengku Buwono IX – Ketua Kwartir Nasional (Kwarnas) pertama
  • Para tokoh kepanduan nasional yang merumuskan sistem Pramuka Indonesia

Makna Hari Pramuka

Hari Pramuka bukan sekadar peringatan seremonial, tetapi:

  • Momentum pembinaan karakter bangsa
  • Sarana menanamkan nilai kebangsaan sejak dini
  • Pengingat peran Pramuka dalam sejarah dan masa depan Indonesia

KONSEP INFOGRAFIS (SIAP DIGAMBAR)

Judul:
🟤 HARI PRAMUKA INDONESIA – 14 AGUSTUS 1961

Elemen Visual Utama:

  • Ilustrasi Presiden Soekarno menyerahkan Panji Pramuka
  • Lambang Tunas Kelapa di tengah
  • Siluet anggota Pramuka (Siaga–Penegak)
  • Warna dominan cokelat, krem, hijau tua (nuansa kepanduan & sejarah)

Blok Informasi:

  1. Tanggal & Peristiwa
    14 Agustus 1961 – Peresmian Gerakan Pramuka
  2. Tokoh
    Soekarno & Sri Sultan HB IX
  3. Tujuan Pramuka
    Karakter – Persatuan – Patriotisme
  4. Landasan Hukum
    Keppres No. 448 & 238 Tahun 1961

Tagline:

“Pramuka Membentuk Karakter Bangsa, Menjaga Persatuan Indonesia”




Buatlah Risalah dan Infografis tentang Hari Pendidikan Nasional yaitu :

Latar belakang Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) adalah untuk memperingati hari lahir Ki Hadjar Dewantara pada 2 Mei 1889, sebagai Bapak Pendidikan Nasional, yang berjuang keras agar rakyat pribumi mendapatkan pendidikan layak di masa kolonial, mendirikan Taman Siswa, dan menginspirasi sistem pendidikan Indonesia dengan semboyan Ing Ngarsa Sung Tulada, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani. Penetapan ini resmi melalui Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 316 Tahun 1959, sebagai momentum menumbuhkan kesadaran dan kebanggaan nasional akan pentingnya pendidikan.  

Tokoh Penting: Ki Hadjar Dewantara

Nama Asli: R.M. Suwardi Suryadiningrat.

Perjuangan: Menentang kebijakan diskriminatif pemerintah kolonial Belanda yang hanya memberi pendidikan untuk elite, serta mendirikan Perguruan Nasional Taman Siswa untuk semua kalangan.

Semboyan: Menciptakan filosofi pendidikan yang relevan hingga kini:

Ing Ngarsa Sung Tulada: Di depan, pendidik memberi teladan.

Ing Madya Mangun Karsa: Di tengah, pendidik menciptakan prakarsa.

Tut Wuri Handayani: Di belakang, pendidik memberi dorongan.

Dasar Hukum dan Tujuan

Dasar: Keppres No. 316 Tahun 1959.

Tujuan: Mengenang jasa Ki Hadjar Dewantara, meningkatkan kesadaran, memperkuat kepribadian bangsa, dan mempertebal rasa kebanggaan nasional melalui pendidikan.

Peringatan Hardiknas

Diperingati setiap 2 Mei, bertepatan dengan hari kelahiran beliau.

Menjadi momen refleksi untuk memajukan pendidikan nasional dan mencerdaskan kehidupan bangsa.



**RISALAH

HARI PENDIDIKAN NASIONAL (HARDIKNAS)**

Pendahuluan

Hari Pendidikan Nasional diperingati setiap 2 Mei sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Hadjar Dewantara, tokoh pelopor pendidikan nasional Indonesia. Peringatan ini menjadi momentum refleksi perjuangan mencerdaskan kehidupan bangsa serta peneguhan bahwa pendidikan adalah fondasi utama kemerdekaan dan peradaban.


Latar Belakang

Pada masa penjajahan Belanda, pendidikan bersifat diskriminatif dan hanya dapat diakses oleh kalangan tertentu. Rakyat pribumi sebagian besar tidak memperoleh hak belajar yang layak. Kondisi inilah yang mendorong R.M. Suwardi Suryadiningrat, yang kemudian dikenal sebagai Ki Hadjar Dewantara, memperjuangkan pendidikan yang merdeka, adil, dan berakar pada kebudayaan bangsa.

Tanggal 2 Mei 1889, hari kelahiran Ki Hadjar Dewantara, kemudian ditetapkan sebagai Hari Pendidikan Nasional melalui Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 316 Tahun 1959.


Tokoh Utama: Ki Hadjar Dewantara

  • Nama asli: R.M. Suwardi Suryadiningrat
  • Lahir: 2 Mei 1889
  • Wafat: 26 April 1959
  • Julukan: Bapak Pendidikan Nasional

Beliau mendirikan Perguruan Nasional Taman Siswa (1922) sebagai wadah pendidikan rakyat yang menekankan kemerdekaan berpikir, kepribadian, dan karakter bangsa.


Filosofi Pendidikan Ki Hadjar Dewantara

Ki Hadjar Dewantara merumuskan falsafah pendidikan yang masih relevan hingga kini:

Ing Ngarsa Sung Tulada
Di depan, pendidik harus memberi teladan.

Ing Madya Mangun Karsa
Di tengah, pendidik membangun semangat dan prakarsa.

Tut Wuri Handayani
Di belakang, pendidik memberi dorongan dan dukungan.

Filosofi ini menempatkan pendidikan sebagai proses humanis, membebaskan, dan membangun karakter.


Dasar Hukum

  • Keppres RI No. 316 Tahun 1959
  • Menetapkan tanggal 2 Mei sebagai Hari Pendidikan Nasional.

Tujuan Peringatan Hardiknas

  1. Mengenang jasa Ki Hadjar Dewantara.
  2. Menumbuhkan kesadaran akan pentingnya pendidikan bagi kemajuan bangsa.
  3. Memperkuat kepribadian dan karakter nasional.
  4. Meneguhkan pendidikan sebagai alat pembebasan dan pembangunan peradaban.

Makna Hardiknas bagi Bangsa Indonesia

Hari Pendidikan Nasional bukan sekadar peringatan seremonial, melainkan ajakan untuk terus memperjuangkan pendidikan yang:

  • Merata dan inklusif
  • Berkarakter kebangsaan
  • Membebaskan pikiran dan martabat manusia

Pendidikan adalah jalan panjang menuju Indonesia yang berdaulat, berkeadilan, dan beradab.


TEKS SINGKAT INFOGRAFIS (VERSI POSTER)

HARI PENDIDIKAN NASIONAL
📅 2 Mei

Ki Hadjar Dewantara
Bapak Pendidikan Nasional
(1889–1959)

Latar Belakang

  • Pendidikan kolonial bersifat diskriminatif
  • Taman Siswa didirikan untuk rakyat

Filosofi Pendidikan

  • Ing Ngarsa Sung Tulada
  • Ing Madya Mangun Karsa
  • Tut Wuri Handayani

Dasar Hukum Keppres No. 316 Tahun 1959

Makna Pendidikan adalah kunci kemerdekaan, karakter, dan masa depan bangsa.




Buatlah Risalah dan Infografis tentang Hari Guru Nasional yaitu :

Hari Guru Nasional diperingati setiap 25 November untuk menghormati jasa, dedikasi, dan peran krusial guru dalam mencerdaskan kehidupan bangsa serta membentuk karakter generasi muda Indonesia. Pemilihan tanggal ini didasarkan pada sejarah berdirinya Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) pada 25 November 1945, yang menandai persatuan tenaga pendidik pascakemerdekaan. 

Berikut adalah poin-poin utama mengapa Hari Guru Nasional ada:

Apresiasi dan Penghormatan: Bentuk pengakuan negara atas perjuangan guru sebagai "pahlawan tanpa tanda jasa" yang berdedikasi mendidik dari generasi ke generasi.

Sejarah Kelahiran PGRI: Tanggal 25 November 1945 merupakan momen Kongres Guru Indonesia di Surakarta, di mana berbagai organisasi guru bersatu menjadi PGRI, disahkan oleh Keputusan Presiden Nomor 78 Tahun 1994.

Peningkatan Kualitas Pendidikan: Menjadi momentum untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya kualitas pendidikan dan profesionalisme guru.

Penghormatan Perjuangan: Mengenang peran guru yang tetap mengajar meski dalam situasi sulit (misalnya saat agresi militer Belanda) sebagai benteng perjuangan kemerdekaan. 

Peringatan ini menegaskan bahwa guru adalah pilar utama dalam pembangunan karakter dan peradaban bangsa Indonesia.



RISALAH HARI GURU NASIONAL

25 November

Pendahuluan

Hari Guru Nasional diperingati setiap 25 November sebagai bentuk penghormatan bangsa Indonesia terhadap jasa, pengabdian, dan peran strategis para guru dalam mencerdaskan kehidupan bangsa serta membentuk karakter generasi penerus. Peringatan ini berakar pada sejarah lahirnya Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) pada 25 November 1945, tidak lama setelah Indonesia merdeka.

Latar Belakang Sejarah

Pada 25 November 1945 di Surakarta, diselenggarakan Kongres Guru Indonesia yang berhasil menyatukan berbagai organisasi guru ke dalam satu wadah perjuangan, yaitu PGRI. Persatuan ini menegaskan sikap guru Indonesia yang setia pada Negara Kesatuan Republik Indonesia dan Pancasila.

Hari Guru Nasional kemudian ditetapkan secara resmi melalui Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 78 Tahun 1994.

Makna dan Tujuan Peringatan

  1. Penghormatan Jasa Guru
    Guru diakui sebagai pahlawan tanpa tanda jasa yang berjuang melalui pendidikan, sering kali dalam keterbatasan dan situasi sulit.

  2. Pembentukan Karakter Bangsa
    Guru berperan menanamkan nilai moral, etika, disiplin, nasionalisme, dan semangat kebangsaan.

  3. Peningkatan Mutu Pendidikan
    Menjadi momentum refleksi untuk meningkatkan profesionalisme guru dan kualitas pendidikan nasional.

  4. Mengenang Perjuangan Guru
    Guru tetap mengajar di masa revolusi, agresi militer, dan krisis nasional, menjadikan pendidikan sebagai benteng kemerdekaan.

Peran Strategis Guru

  • Agen perubahan dan pencerahan
  • Penjaga nilai Pancasila
  • Pembentuk sumber daya manusia unggul
  • Pilar peradaban dan masa depan bangsa

Penutup

Hari Guru Nasional bukan sekadar peringatan seremonial, melainkan pengingat bahwa masa depan Indonesia ditentukan di ruang-ruang kelas, oleh dedikasi para guru yang tulus mendidik dengan ilmu dan keteladanan.


INFOGRAFIS – HARI GURU NASIONAL

Judul:
🖋️ Hari Guru Nasional – 25 November

Fakta Utama:

  • 📅 Tanggal: 25 November
  • 📜 Dasar Hukum: Keppres No. 78 Tahun 1994
  • 🏛️ Peristiwa Penting: Berdirinya PGRI (1945)

Tokoh & Lembaga:

  • Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI)
  • Guru-guru pejuang pascakemerdekaan

Makna Utama:

  • 🎓 Pendidikan
  • 🇮🇩 Nasionalisme
  • 🌱 Pembentukan Karakter
  • 🧠 Pencerahan Bangsa

Pesan Utama:

“Guru adalah arsitek masa depan bangsa.”




Buatlah Risalah dan Infografis tentang Hari Santri Nasional yaitu :

Hari Santri Nasional diperingati setiap 22 Oktober untuk menghormati peran besar santri dan ulama dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Penetapan melalui Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 2015 ini merujuk pada peristiwa Resolusi Jihad pada 22 Oktober 1945 oleh KH Hasyim Asy'ari, yang memicu semangat jihad mempertahankan NKRI dari penjajah. 

Berikut adalah poin-poin penting mengapa ada Hari Santri Nasional:

Menghormati Resolusi Jihad 1945: Tanggal 22 Oktober 1945, KH Hasyim Asy'ari bersama para kiai mengeluarkan fatwa bahwa membela tanah air dari penjajah adalah kewajiban agama (fardu ain).

Peran dalam Perjuangan Kemerdekaan: Santri dan pondok pesantren memiliki andil besar dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan, terutama memicu pertempuran 10 November 1945 di Surabaya.

Pengakuan Sejarah: Penetapan ini merupakan bentuk pengakuan resmi pemerintah atas kontribusi kaum santri dalam sejarah perjuangan bangsa.

Meneladani Semangat Kebangsaan: Peringatan ini bertujuan agar masyarakat meneladani semangat jihad (dalam konteks modern: semangat kebangsaan, mencerdaskan bangsa, dan menjaga persatuan). 

Hari Santri Nasional bukan hanya untuk mengenang masa lalu, tetapi juga momentum untuk meneguhkan peran santri dalam mengawal NKRI dan membangun peradaban dunia.



**RISALAH

HARI SANTRI NASIONAL**

Pendahuluan

Hari Santri Nasional diperingati setiap 22 Oktober sebagai bentuk penghormatan negara terhadap peran santri, kiai, dan pesantren dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Penetapan ini menegaskan bahwa perjuangan bangsa tidak hanya dilakukan di medan diplomasi dan militer, tetapi juga melalui fatwa, doa, dan perjuangan moral-keagamaan.


Latar Belakang Sejarah

Pasca Proklamasi 17 Agustus 1945, bangsa Indonesia belum sepenuhnya bebas dari ancaman penjajahan. Pasukan Sekutu yang diboncengi NICA Belanda kembali masuk ke Indonesia, khususnya di Jawa Timur.

Dalam situasi genting tersebut, KH Hasyim Asy’ari, Rais Akbar Nahdlatul Ulama, bersama para ulama mengeluarkan Resolusi Jihad pada 22 Oktober 1945 di Surabaya. Resolusi ini menegaskan bahwa:

Membela tanah air dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia dari penjajah hukumnya fardu ain (wajib bagi setiap Muslim).

Fatwa inilah yang membakar semangat santri dan rakyat, hingga meletus Pertempuran 10 November 1945 di Surabaya.


Resolusi Jihad 22 Oktober 1945

Resolusi Jihad berisi seruan:

  • Wajib mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
  • Haram bekerja sama dengan penjajah.
  • Santri dan umat Islam diwajibkan turun membela NKRI.

Peristiwa ini menjadi tonggak penting keterlibatan pesantren dalam perjuangan fisik mempertahankan kemerdekaan.


Peran Santri dalam Perjuangan Kemerdekaan

  1. Kekuatan Moral dan Spiritual
    Santri berjuang dengan keyakinan agama, doa, dan semangat jihad membela tanah air.

  2. Kekuatan Militer Rakyat
    Banyak santri tergabung dalam laskar-laskar perjuangan seperti Hizbullah dan Sabilillah.

  3. Benteng Ideologi Bangsa
    Pesantren menjadi pusat pendidikan kebangsaan, akhlak, dan persatuan.


Penetapan Hari Santri Nasional

  • Tanggal: 22 Oktober
  • Dasar Hukum: Keputusan Presiden Republik Indonesia
    Nomor 22 Tahun 2015

Penetapan ini merupakan pengakuan resmi negara atas jasa besar santri dan ulama dalam sejarah perjuangan Indonesia.


Makna Hari Santri Nasional

Hari Santri Nasional bukan hanya mengenang masa lalu, tetapi juga:

  • Meneguhkan semangat nasionalisme religius
  • Menguatkan peran santri dalam menjaga persatuan
  • Menafsirkan jihad dalam konteks modern:
    jihad ilmu, akhlak, persatuan, dan pengabdian bangsa

Santri adalah penjaga moral, budaya, dan masa depan Indonesia.


Penutup

Hari Santri Nasional mengingatkan bahwa NKRI berdiri atas doa, darah, dan pengorbanan ulama serta santri. Dari pesantren lahir kekuatan yang menyatukan iman dan kebangsaan demi Indonesia merdeka dan bermartabat.


TEKS INFOGRAFIS (VERSI POSTER RINGKAS)

HARI SANTRI NASIONAL

📅 22 Oktober

Latar Sejarah Resolusi Jihad KH Hasyim Asy’ari
22 Oktober 1945

Isi Resolusi Jihad Membela NKRI = Fardu Ain

Peran Santri

  • Pejuang kemerdekaan
  • Laskar rakyat
  • Penjaga moral bangsa

Dasar Hukum Keppres RI No. 22 Tahun 2015

Makna Hari Santri Jihad kebangsaan:
Ilmu • Akhlak • Persatuan • Pengabdian




Buatlah Risalah dan Infografis dari Peringatan Hari Bersejarah yaitu:

Hari ABRI diperingati setiap 5 Oktoberberakar dari pembentukan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) pada 5 Oktober 1945 untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Istilah ABRI (Angkatan Bersenjata Republik Indonesia) muncul pada 1962, menyatukan angkatan perang (AD, AL, AU) dan Polri di bawah satu komando. Setelah reformasi, institusi ini dipisah pada 1999 dan kembali menjadi TNI. 
Berikut adalah poin-poin penting sejarah perkembangan ABRI:
  • Pembentukan Awal (1945): Setelah proklamasi, dibentuk Badan Keamanan Rakyat (BKR) pada 22 Agustus 1945. Pada 5 Oktober 1945, pemerintah mendirikan TKR untuk mengatasi ancaman Belanda, yang kemudian berkembang menjadi TNI.
  • Era Penyatuan (1962-1999): Pada 1962, Presiden Sukarno menyatukan TNI dan Polri ke dalam satu wadah yaitu Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) untuk efektivitas komando.
  • Peran di Orde Baru: Pada masa ini, ABRI memiliki peran dominan dalam pemerintahan, yang dikenal dengan dwifungsi.
  • Pemisahan dan Kembali ke TNI: Pasca reformasi 1998, ABRI dikembalikan fungsinya sebagai pertahanan negara. Polri dipisahkan dari ABRI pada 1 April 1999, dan istilah ABRI berubah kembali menjadi Tentara Nasional Indonesia (TNI). 
Meskipun nomenklatur berubah menjadi TNI, tanggal 5 Oktober tetap diperingati sebagai hari lahir militer Indonesia, menghormati sejarah panjang perjuangan dari BKR hingga ABRI. 



🪖 RISALAH PERINGATAN HARI ABRI

5 Oktober – Hari Lahir Militer Indonesia

Pendahuluan

Hari ABRI diperingati setiap 5 Oktober sebagai tonggak lahirnya kekuatan militer nasional Indonesia. Peringatan ini berakar pada pembentukan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) pada 5 Oktober 1945, sebagai alat negara untuk mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia yang baru diproklamasikan.

Dalam perjalanan sejarahnya, institusi militer Indonesia mengalami perubahan bentuk dan nomenklatur, dari BKR, TKR, TNI, ABRI, hingga kembali menjadi TNI setelah Reformasi. Meskipun istilah ABRI tidak lagi digunakan, tanggal 5 Oktober tetap dikenang sebagai hari kelahiran militer Indonesia.


📜 LATAR BELAKANG SEJARAH

1. Awal Pembentukan (1945)

  • 22 Agustus 1945: Pemerintah membentuk Badan Keamanan Rakyat (BKR) sebagai organisasi keamanan awal pasca-proklamasi.
  • 5 Oktober 1945: BKR ditingkatkan menjadi Tentara Keamanan Rakyat (TKR) melalui maklumat pemerintah, menandai lahirnya tentara nasional Indonesia.
  • TKR kemudian berkembang menjadi Tentara Nasional Indonesia (TNI).

2. Era Penyatuan: Lahirnya ABRI (1962)

  • Pada 1962, Presiden Soekarno menyatukan:
    • Angkatan Darat (AD)
    • Angkatan Laut (AL)
    • Angkatan Udara (AU)
    • Kepolisian Negara (Polri)
  • Penyatuan ini melahirkan Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI).
  • Tujuan utama: efektivitas komando dan stabilitas nasional di tengah dinamika politik dan keamanan.

3. Peran ABRI di Masa Orde Baru

  • ABRI menjalankan Dwifungsi ABRI:
    • Fungsi pertahanan dan keamanan
    • Fungsi sosial-politik
  • ABRI memiliki peran besar dalam pemerintahan dan kehidupan politik nasional.

4. Reformasi dan Kembali ke TNI (1999)

  • Pasca Reformasi 1998:
    • 1 April 1999: Polri resmi dipisahkan dari ABRI
    • ABRI dibubarkan sebagai nomenklatur
    • Militer kembali menggunakan nama Tentara Nasional Indonesia (TNI)
  • Fokus TNI dikembalikan pada fungsi utama: pertahanan negara.

🏛️ MAKNA PERINGATAN HARI ABRI / TNI

  • Menghormati sejarah panjang perjuangan militer Indonesia
  • Mengenang pengabdian prajurit sejak masa revolusi hingga kini
  • Meneguhkan jati diri TNI sebagai:
    • Tentara rakyat
    • Tentara pejuang
    • Tentara profesional
  • Menanamkan nilai nasionalisme, disiplin, dan pengabdian kepada bangsa dan negara

📊 INFOGRAFIS (TEKS RINGKAS)

Hari ABRI / Hari Lahir TNI
🗓️ 5 Oktober

Linimasa Sejarah:

  • 1945 → BKR → TKR
  • 1947 → TNI
  • 1962 → ABRI (TNI + Polri)
  • 1999 → Polri dipisah
  • Kini → TNI

Tokoh Penting:

  • Presiden Soekarno
  • Panglima-panglima TNI awal

Nilai Utama: 🇮🇩 Patriotisme
🛡️ Pengabdian
🤝 Kesetiaan pada NKRI


✨ PENUTUP

Hari ABRI bukan sekadar peringatan institusi, melainkan penghormatan atas sejarah perjuangan bersenjata bangsa Indonesia. Dari rakyat bersenjata hingga tentara profesional, perjalanan panjang ini menjadi fondasi pertahanan NKRI hingga hari ini.



Buatlah Risalah dan Infografis dari Peringatan Hari Bersejarah yaitu:

Hari Musik Nasional diperingati setiap 9 Maret, ditetapkan melalui Keputusan Presiden No. 10 Tahun 2013 oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Tanggal ini dipilih bertepatan dengan hari kelahiran Wage Rudolf (W.R.) Supratman, pencipta lagu kebangsaan "Indonesia Raya," sebagai bentuk penghormatan atas jasanya serta upaya meningkatkan apresiasi terhadap musik nasional. 
Berikut adalah poin-poin penting sejarah Hari Musik Nasional:
  • Pencetus dan Awal Usulan: Usulan ini diajukan oleh Persatuan Artis Penyanyi, Pencipta, dan Rekaman Musik Indonesia (PAPPRI) sejak tahun 2003 (era Presiden Megawati), namun baru diresmikan satu dekade kemudian.
  • Alasan Pemilihan Tanggal: 9 Maret merujuk pada hari lahir WR Supratman (1903), yang dianggap sebagai simbol semangat perjuangan melalui musik.
  • Tujuan Penetapan: Meningkatkan apresiasi terhadap musik Indonesia, meningkatkan kepercayaan diri musisi lokal, serta memperkuat identitas budaya bangsa.
  • Status Peringatan: Meskipun diperingati secara nasional, Hari Musik Nasional bukan merupakan hari libur nasional. 
Meskipun terdapat catatan sejarah mengenai perdebatan tanggal lahir asli W.R. Supratman (9 Maret atau 19 Maret), pemerintah melalui Keppres tetap menetapkan tanggal 9 Maret sebagai Hari Musik Nasional. 



RISALAH PERINGATAN HARI MUSIK NASIONAL

Hari Musik Nasional

Diperingati setiap 9 Maret

Hari Musik Nasional diperingati setiap tanggal 9 Maret sebagai bentuk penghormatan terhadap peran musik dalam perjalanan sejarah, kebudayaan, dan perjuangan bangsa Indonesia. Peringatan ini ditetapkan melalui Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 2013 oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Tanggal 9 Maret dipilih karena bertepatan dengan hari kelahiran Wage Rudolf (W.R.) Supratman, pencipta lagu kebangsaan “Indonesia Raya”, yang menjadi simbol bahwa musik tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai alat perjuangan, pemersatu bangsa, dan peneguh identitas nasional.

Latar Belakang Penetapan

Gagasan Hari Musik Nasional telah diusulkan sejak tahun 2003 oleh PAPPRI (Persatuan Artis Penyanyi, Pencipta, dan Rekaman Musik Indonesia) pada masa pemerintahan Presiden Megawati Soekarnoputri. Setelah melalui proses panjang, usulan tersebut akhirnya diresmikan satu dekade kemudian pada tahun 2013.

Makna dan Tujuan

Peringatan Hari Musik Nasional bertujuan untuk:

  • Meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap musik Indonesia
  • Mendorong kreativitas dan kepercayaan diri musisi nasional
  • Melestarikan kekayaan musik tradisional dan modern Indonesia
  • Menegaskan musik sebagai bagian dari identitas dan diplomasi budaya bangsa

Status Peringatan

Hari Musik Nasional bukan hari libur nasional, namun diperingati secara luas melalui kegiatan seni, konser, edukasi musik, dan refleksi sejarah musik Indonesia.

Catatan Sejarah

Meskipun terdapat perbedaan pendapat mengenai tanggal kelahiran asli W.R. Supratman (9 Maret atau 19 Maret 1903), pemerintah secara resmi menetapkan 9 Maret sebagai Hari Musik Nasional melalui Keppres, demi kepentingan simbolik dan nasional.


INFOGRAFIS TEKS – HARI MUSIK NASIONAL

Judul Utama

HARI MUSIK NASIONAL
9 Maret

Tokoh Sentral

🎼 W.R. Supratman (1903–1938)
Pencipta lagu “Indonesia Raya”

Dasar Penetapan

📜 Keppres No. 10 Tahun 2013
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono

Sejarah Singkat

  • 1903 → Kelahiran W.R. Supratman
  • 1928 → Indonesia Raya dikumandangkan
  • 2003 → Usulan Hari Musik oleh PAPPRI
  • 2013 → Diresmikan sebagai Hari Musik Nasional

Tujuan Peringatan

🎶 Apresiasi Musik Nasional
🎶 Penguatan Identitas Budaya
🎶 Dukungan untuk Musisi Indonesia
🎶 Pelestarian Musik Tradisional & Modern

Status

📌 Peringatan Nasional
📌 Bukan Hari Libur Nasional

Pesan Utama

Musik adalah suara jiwa bangsa, pemersatu perbedaan, dan warisan budaya Indonesia.



Buatlah Risalah dan Infografis dari Peringatan Hari Bersejarah yaitu:

Hari Lahir Pancasila diperingati setiap 1 Juni untuk mengenang momen saat Ir. Soekarno menyampaikan pidato gagasan dasar negara dalam sidang BPUPKI pada 1 Juni 1945. Peringatan ini menegaskan Pancasila sebagai landasan negara yang menyatukan keberagaman, diperingati melalui upacara dan refleksi nilai-nilai dasar. Hari ini berbeda dengan Hari Kesaktian Pancasila pada 1 Oktober. 

Awal Mula: Pada 1 Juni 1945, di sidang pertama BPUPKI, Ir. Soekarno menyampaikan usulan dasar negara yang ia sebut Pancasila (lima prinsip).

Proses Perumusan: Setelah pidato Soekarno, dibentuklah Panitia Sembilan untuk menyempurnakan rumusan Pancasila sebelum akhirnya disahkan pada 18 Agustus 1945.

Penetapan Libur Nasional: Berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 24 Tahun 2016, 1 Juni ditetapkan sebagai libur nasional Hari Lahir Pancasila, sebagaimana dijelaskan oleh DISDUKCAPIL - KOTA LHOKSEUMAWE.

Peringatan 2025: Pada tahun 2025, peringatan mengusung tema "Memperkokoh Ideologi Pancasila, Menuju Indonesia Raya", yang menekankan penguatan nilai-nilai Pancasila di era modern. 

Perbedaan Hari Lahir dan Hari Kesaktian:

Hari Lahir Pancasila (1 Juni): Mengenang perumusan ideologi dasar negara oleh Bung Karno.

Hari Kesaktian Pancasila (1 Oktober): Mengenang pertahanan ideologi Pancasila dari ancaman G30S/PKI.



RISALAH PERINGATAN HARI LAHIR PANCASILA

1 Juni 1945 – 1 Juni Kini

Pendahuluan

Hari Lahir Pancasila diperingati setiap 1 Juni untuk mengenang momen bersejarah ketika Ir. Soekarno menyampaikan pidato tentang dasar negara dalam Sidang BPUPKI pada 1 Juni 1945. Pidato tersebut menjadi tonggak lahirnya Pancasila sebagai ideologi dan dasar negara Republik Indonesia.

Peringatan ini menegaskan Pancasila sebagai perekat kebhinekaan, fondasi kehidupan berbangsa, dan pedoman moral dalam bernegara.


Awal Mula Lahirnya Pancasila

Pada sidang pertama Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), Ir. Soekarno menyampaikan pidato monumental yang berisi lima prinsip dasar negara, yang kemudian ia beri nama Pancasila, yaitu:

  1. Kebangsaan Indonesia
  2. Internasionalisme atau Perikemanusiaan
  3. Mufakat atau Demokrasi
  4. Kesejahteraan Sosial
  5. Ketuhanan Yang Maha Esa

Pidato ini menjadi fondasi ideologis bagi negara Indonesia yang merdeka.


Proses Perumusan Pancasila

Setelah pidato 1 Juni 1945:

  • Dibentuk Panitia Sembilan untuk menyempurnakan rumusan dasar negara.
  • Lahir Piagam Jakarta (22 Juni 1945) sebagai tahap kompromi politik dan ideologis.
  • Pancasila kemudian disahkan secara resmi sebagai dasar negara pada 18 Agustus 1945 oleh PPKI.

Penetapan Hari Lahir Pancasila

Melalui Keputusan Presiden Nomor 24 Tahun 2016, pemerintah menetapkan 1 Juni sebagai Hari Lahir Pancasila sekaligus hari libur nasional, sebagai bentuk pengakuan negara terhadap pentingnya momen historis ini.


Tema Peringatan Tahun 2025

“Memperkokoh Ideologi Pancasila, Menuju Indonesia Raya”

Tema ini menekankan pentingnya:

  • Penguatan nilai Pancasila di tengah globalisasi
  • Menjaga persatuan dalam keberagaman
  • Menjadikan Pancasila sebagai pedoman etika sosial, politik, dan budaya

Perbedaan Hari Lahir dan Hari Kesaktian Pancasila

Aspek Hari Lahir Pancasila Hari Kesaktian Pancasila
Tanggal 1 Juni 1 Oktober
Makna Lahirnya gagasan Pancasila Keteguhan Pancasila dari ancaman
Peristiwa Pidato Soekarno di BPUPKI Peristiwa G30S/PKI
Fokus Perumusan ideologi Pertahanan ideologi

Makna Historis dan Aktual

Hari Lahir Pancasila bukan sekadar peringatan seremonial, melainkan ajakan untuk:

  • Menghidupkan nilai gotong royong
  • Menjunjung keadilan sosial
  • Menjaga persatuan nasional
  • Mengamalkan Pancasila dalam kehidupan sehari-hari

INFOGRAFIS – RINGKASAN ISI

Judul:
🟥 HARI LAHIR PANCASILA – 1 JUNI

Timeline Utama:

  • 1 Juni 1945 → Pidato Soekarno di BPUPKI
  • 22 Juni 1945 → Piagam Jakarta
  • 18 Agustus 1945 → Pancasila disahkan
  • 2016 → 1 Juni ditetapkan libur nasional

Tokoh Utama:
Ir. Soekarno – Panitia Sembilan – BPUPKI

Nilai Inti:
Persatuan • Kebhinekaan • Keadilan • Ketuhanan • Kemanusiaan

Tema 2025:
“Memperkokoh Ideologi Pancasila, Menuju Indonesia Raya”



Buatlah Risalah dan Infografis dari Peringatan Hari Bersejarah yaitu:

Hari Kesaktian Pancasila diperingati setiap 1 Oktober untuk mengenang Pancasila sebagai ideologi yang kokoh dalam menghadapi ancaman, terutama pasca peristiwa G30S/PKI. Momen ini menekankan pentingnya mempertahankan dasar negara dari ideologi transnasional serta menghayati nilai-nilai Pancasila. Peringatan ini diisi dengan upacara, termasuk di Monumen Pancasila Sakti. 

Sejarah: Ditetapkan berdasarkan Keppres No. 153 Tahun 1967 oleh Presiden Soeharto untuk menghormati para jenderal yang gugur dalam peristiwa G30S/PKI.

Makna: Mengingatkan kembali bahwa Pancasila adalah pemersatu bangsa dan fondasi kehidupan bernegara yang tidak dapat digantikan.

Tujuan: Menginternalisasi nilai-nilai luhur Pancasila dalam kehidupan sehari-hari dan mencegah ancaman terhadap ideologi negara.

Kegiatan: Dilaksanakan upacara bendera, baik di tingkat pusat maupun daerah, yang berfokus pada penghormatan pahlawan revolusi dan pembacaan ikrar setia pada Pancasila. 

Hari Kesaktian Pancasila berbeda dengan Hari Lahir Pancasila (1 Juni).



RISALAH PERINGATAN HARI KESAKTIAN PANCASILA

1 Oktober

Pendahuluan

Hari Kesaktian Pancasila diperingati setiap 1 Oktober sebagai momentum nasional untuk meneguhkan Pancasila sebagai ideologi negara yang kokoh dan tak tergantikan. Peringatan ini lahir dari pengalaman sejarah bangsa Indonesia dalam menghadapi ancaman ideologi yang berupaya menggantikan dasar negara, terutama pasca peristiwa Gerakan 30 September 1965 (G30S/PKI).


Latar Sejarah

Setelah peristiwa G30S/PKI tahun 1965 yang menewaskan para perwira tinggi TNI AD (Pahlawan Revolusi), bangsa Indonesia menghadapi ujian besar terhadap persatuan dan ideologi negara.
Untuk menegaskan bahwa Pancasila tetap tegak dan tidak tergoyahkan, Presiden Soeharto menetapkan Hari Kesaktian Pancasila melalui Keppres No. 153 Tahun 1967.

Pusat peringatan nasional biasanya dilaksanakan di Monumen Pancasila Sakti, Lubang Buaya, Jakarta.


Makna Hari Kesaktian Pancasila

  • Pancasila terbukti mampu bertahan dari ancaman ideologi ekstrem dan radikal
  • Menjadi pemersatu bangsa di tengah keberagaman suku, agama, dan budaya
  • Menegaskan bahwa Pancasila adalah fondasi kehidupan berbangsa dan bernegara

Tujuan Peringatan

  • Menginternalisasi nilai-nilai luhur Pancasila dalam kehidupan sehari-hari
  • Menumbuhkan kesadaran sejarah dan kewaspadaan ideologis
  • Mencegah masuknya ideologi yang bertentangan dengan Pancasila
  • Menghormati jasa Pahlawan Revolusi

Bentuk Peringatan

  • Upacara bendera nasional (pusat dan daerah)
  • Penghormatan kepada Pahlawan Revolusi
  • Pembacaan ikrar setia kepada Pancasila
  • Edukasi sejarah di sekolah, instansi, dan masyarakat

Catatan Penting

📌 Hari Kesaktian Pancasila (1 Oktober)

📌 Hari Lahir Pancasila (1 Juni)

Keduanya memiliki makna berbeda, namun sama-sama menegaskan pentingnya Pancasila bagi NKRI.


INFOGRAFIS – HARI KESAKTIAN PANCASILA

Judul Utama

HARI KESAKTIAN PANCASILA
📅 1 Oktober


Fakta Utama

  • Dasar Hukum: Keppres No. 153 Tahun 1967
  • Latar Peristiwa: G30S/PKI 1965
  • Lokasi Ikonik: Monumen Pancasila Sakti, Lubang Buaya
  • Tokoh Dihormati: Pahlawan Revolusi

Makna Inti

🛡️ Pancasila Tidak Pernah Tumbang
🇮🇩 Ideologi Pemersatu Bangsa
🔥 Benteng NKRI


Tujuan

✔ Menjaga ideologi negara
✔ Menguatkan nasionalisme
✔ Menanamkan nilai Pancasila
✔ Menghormati pengorbanan pahlawan


Pesan Utama

“Pancasila Sakti,
Bangsa Indonesia Berdiri Tegak.”




Buatlah Risalah dan Infografis dari Peringatan Hari Bersejarah yaitu:

Hari Anak Nasional (HAN)
Diperingati setiap 23 Juli berdasarkan Keputusan Presiden RI No. 44 Tahun 1984, yang bertujuan meningkatkan kepedulian terhadap pemenuhan hak dan kesejahteraan anak. Tanggal ini dipilih bertepatan dengan pengesahan Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1979 tentang Kesejahteraan Anak, yang menandai tonggak sejarah perlindungan anak di Indonesia.
  • Gagasan Awal (1950-an): Cikal bakal HAN bermula dari ide Kongres Wanita Indonesia (Kowani) pada tahun 1951 untuk memperingati "Hari Kanak-Kanak". Pada tahun 1952, Pekan Kanak-Kanak digelar dengan pawai di Istana Merdeka.
  • Perubahan Tanggal: Peringatan ini awalnya sempat berubah-ubah, dari minggu kedua Juli, kemudian sempat diubah menjadi 1-3 Juni pada tahun 1959.
  • Penetapan Resmi (1984): Presiden Soeharto menetapkan tanggal 23 Juli sebagai Hari Anak Nasional secara resmi melalui Keppres No. 44 Tahun 1984, bertepatan dengan pengesahan UU No. 4 Tahun 1979.
  • Makna dan Dasar Hukum: HAN dimaknai sebagai momen refleksi untuk menghormati hak-hak anak agar tumbuh dan berkembang optimal. Dasar hukumnya diperkuat dengan UU No. 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak.
Setiap tahun, HAN diperingati dengan tema berbeda untuk menyoroti isu perlindungan, pendidikan, dan partisipasi anak dalam pembangunan bangsa.




RISALAH HARI ANAK NASIONAL (HAN)

23 Juli

Pengantar

Hari Anak Nasional (HAN) diperingati setiap 23 Juli sebagai momentum nasional untuk menegaskan komitmen negara dalam menjamin hak, perlindungan, dan kesejahteraan anak Indonesia. Peringatan ini menempatkan anak sebagai generasi penerus bangsa yang harus tumbuh sehat, cerdas, aman, dan berkarakter.

Penetapan HAN didasarkan pada Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 44 Tahun 1984, yang bertepatan dengan pengesahan Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1979 tentang Kesejahteraan Anak, sebuah tonggak penting dalam sejarah perlindungan anak di Indonesia.


Sejarah dan Latar Belakang

Gagasan Hari Anak di Indonesia telah muncul sejak awal kemerdekaan:

  • 1951 – Kongres Wanita Indonesia (KOWANI) mengusulkan peringatan Hari Kanak-Kanak sebagai bentuk kepedulian terhadap masa depan anak bangsa.
  • 1952 – Diselenggarakan Pekan Kanak-Kanak yang ditandai pawai anak-anak di Istana Merdeka.
  • 1959 – Peringatan sempat dipindahkan ke tanggal 1–3 Juni, namun belum memiliki dasar hukum yang kuat.
  • 1984 – Presiden Soeharto secara resmi menetapkan 23 Juli sebagai Hari Anak Nasional melalui Keppres No. 44 Tahun 1984, bertepatan dengan pengesahan UU Kesejahteraan Anak.

Dasar Hukum

  • UU No. 4 Tahun 1979 tentang Kesejahteraan Anak
  • Keppres No. 44 Tahun 1984 tentang Hari Anak Nasional
  • UU No. 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak (penguatan dari UU No. 23 Tahun 2002)

Makna Hari Anak Nasional

Hari Anak Nasional dimaknai sebagai:

  • Pengakuan bahwa anak adalah subjek hak asasi manusia
  • Refleksi bersama atas pemenuhan hak anak: hidup, tumbuh, berkembang, dan terlindungi
  • Pengingat bahwa keberhasilan pembangunan bangsa sangat bergantung pada kualitas generasi anak hari ini

Tujuan Peringatan HAN

  • Meningkatkan kepedulian seluruh elemen bangsa terhadap perlindungan anak
  • Menjamin pemenuhan hak anak tanpa diskriminasi
  • Mendorong partisipasi anak dalam pembangunan
  • Menguatkan peran keluarga, sekolah, dan negara dalam menciptakan lingkungan ramah anak

Peringatan Tahunan

Setiap tahun, Hari Anak Nasional diperingati dengan tema berbeda, menyesuaikan isu strategis seperti:

  • Perlindungan anak dari kekerasan
  • Akses pendidikan yang setara
  • Kesehatan dan gizi anak
  • Partisipasi anak dalam kehidupan sosial dan budaya

INFOGRAFIS HARI ANAK NASIONAL (HAN)

Judul Utama:
🎈 HARI ANAK NASIONAL
📅 23 Juli

Subjudul:
Anak Terlindungi, Indonesia Maju

Panel Infografis

🧒 Sejarah Singkat

  • 1951: Gagasan KOWANI
  • 1984: Resmi ditetapkan HAN

📜 Dasar Hukum

  • UU No. 4 Tahun 1979
  • Keppres No. 44 Tahun 1984
  • UU No. 35 Tahun 2014

🎯 Makna HAN

  • Anak = aset masa depan bangsa
  • Hak anak adalah tanggung jawab bersama

🎨 Tujuan

  • Perlindungan
  • Pendidikan
  • Kesejahteraan
  • Partisipasi anak

🌱 Pesan Utama

“Setiap anak berhak bahagia, belajar, dan tumbuh dalam perlindungan negara.”




Buatlah Risalah dan Infografis dari Peringatan Hari Bersejarah yaitu:

Hari Olahraga Nasional (Haornas)
Diperingati setiap 9 September, berawal dari penyelenggaraan Pekan Olahraga Nasional (PON) I pada 9-12 September 1948 di Stadion Sriwedari, Solo. PON I diadakan sebagai ajang unjuk kemandirian bangsa di bidang olahraga. Penetapan resmi Haornas dilakukan oleh Presiden Soeharto pada 9 September 1983, yang kemudian diperkuat melalui Keputusan Presiden Nomor 67 Tahun 1985.
  • Latar Belakang (1948): PON I diselenggarakan pada 9-12 September 1948 di Solo. Hal ini dipicu karena atlet Indonesia tidak bisa berpartisipasi dalam Olimpiade London 1948 karena kedaulatan Indonesia belum diakui secara internasional.
  • Ajang Persatuan: PON I menjadi bukti kemandirian dan semangat persatuan bangsa dalam bidang olahraga, diikuti oleh 600 atlet dari 13 kota/karasidenan.
  • Pencetusan Haornas (1983): Presiden Soeharto meresmikan kembali Stadion Sriwedari dan mencanangkan tanggal 9 September sebagai Hari Olahraga Nasional pada 9 September 1983.
  • Pengukuhan Resmi (1985): Melalui Keputusan Presiden No. 67 Tahun 1985, 9 September ditetapkan sebagai Hari Olahraga Nasional secara resmi untuk memasyarakatkan olahraga dan meningkatkan prestasi nasional.
  • Tujuan: Haornas diperingati untuk mengenang momen bersejarah tersebut, meningkatkan kebugaran masyarakat, serta meningkatkan prestasi olahraga nasional di kancah internasional.


**RISALAH PERINGATAN

HARI OLAHRAGA NASIONAL (HAORNAS)**
9 September

Pendahuluan

Hari Olahraga Nasional (HAORNAS) diperingati setiap 9 September sebagai penghormatan terhadap sejarah kebangkitan olahraga nasional Indonesia. Peringatan ini berakar pada penyelenggaraan Pekan Olahraga Nasional (PON) I tahun 1948 di Solo, yang menjadi simbol kemandirian, persatuan, dan semangat juang bangsa Indonesia di tengah situasi revolusi mempertahankan kemerdekaan.


Latar Belakang Sejarah

Pada tahun 1948, Indonesia belum diakui sepenuhnya sebagai negara berdaulat oleh dunia internasional. Akibatnya, atlet Indonesia tidak dapat mengikuti Olimpiade London 1948. Sebagai respons atas situasi tersebut, pemerintah dan tokoh olahraga Indonesia menggagas penyelenggaraan Pekan Olahraga Nasional (PON) I.

PON I dilaksanakan pada:

  • Tanggal: 9–12 September 1948
  • Tempat: Stadion Sriwedari, Surakarta (Solo)
  • Peserta: ±600 atlet dari 13 kota/karesidenan

Ajang ini menjadi bukti bahwa Indonesia mampu berdiri sejajar sebagai bangsa merdeka melalui olahraga.


PON I sebagai Simbol Persatuan

PON I tidak sekadar kompetisi olahraga, melainkan:

  • Sarana pemersatu bangsa di tengah agresi militer Belanda
  • Wujud kemandirian nasional di bidang olahraga
  • Manifestasi semangat nasionalisme dan persaudaraan antardaerah

Pencanangan Hari Olahraga Nasional

Pada 9 September 1983, Presiden Soeharto meresmikan kembali Stadion Sriwedari sekaligus mencanangkan 9 September sebagai Hari Olahraga Nasional.

Penetapan ini kemudian diperkuat secara hukum melalui:

  • Keputusan Presiden Nomor 67 Tahun 1985

Sejak saat itu, HAORNAS diperingati secara nasional setiap tahun.


Tujuan Peringatan HAORNAS

Peringatan Hari Olahraga Nasional bertujuan untuk:

  1. Mengenang sejarah PON I sebagai tonggak olahraga nasional
  2. Mendorong budaya hidup sehat dan bugar di masyarakat
  3. Memasyarakatkan olahraga dan mengolahragakan masyarakat
  4. Meningkatkan prestasi olahraga Indonesia di tingkat internasional
  5. Memperkuat persatuan dan karakter bangsa melalui olahraga

Makna Hari Olahraga Nasional

HAORNAS menegaskan bahwa olahraga bukan sekadar aktivitas fisik, melainkan:

  • Sarana pembangunan karakter bangsa
  • Media persatuan nasional
  • Alat diplomasi dan kebanggaan bangsa di dunia internasional

INFOGRAFIS – HARI OLAHRAGA NASIONAL

Judul Utama:
🟦 HARI OLAHRAGA NASIONAL
🟥 9 September

Fakta Sejarah:

  • 🏟️ PON I: 9–12 September 1948
  • 📍 Stadion Sriwedari, Solo
  • 🏃 600 atlet – 13 daerah
  • 🌍 Indonesia belum ikut Olimpiade London 1948

Tokoh & Penetapan:

  • 👤 Presiden Soeharto
  • 📜 Keppres No. 67 Tahun 1985

Makna Utama:

  • 🇮🇩 Olahraga sebagai pemersatu bangsa
  • 💪 Bangsa sehat, bangsa kuat
  • 🏅 Prestasi untuk kehormatan negara

Tujuan HAORNAS: ✔ Masyarakat sehat dan bugar
✔ Prestasi olahraga nasional
✔ Persatuan dan nasionalisme

Slogan Reflektif:

“Olahraga Membangun Jiwa,
Menguatkan Raga,
dan Memperkokoh Bangsa.”




Buatlah Risalah dan Infografis dari Peringatan Hari Bersejarah yaitu:

Hari Kartini
Diperingati setiap 21 April untuk mengenang jasa R.A. Kartini, pelopor kebangkitan perempuan Indonesia, yang lahir pada tanggal tersebut (21 April 1879) dan ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional melalui Keppres No. 108 Tahun 1964 oleh Presiden Soekarno, menandai perjuangannya untuk emansipasi wanita, pendidikan, dan kesetaraan hak-hak perempuan yang diwujudkan melalui surat-suratnya yang inspiratif, kemudian dibukukan dalam 
Habis Gelap Terbitlah Terang
 (Door Duisternis tot Licht)
.
Latar Belakang Singkat R.A. Kartini
  • Lahir: 21 April 1879 di Jepara, Jawa Tengah, dari keluarga bangsawan Jawa.
  • Pendidikan: Kartini bersekolah hingga usia 12 tahun, kemudian menjalani pingitan, namun ia memanfaatkan waktu dengan membaca buku dan surat-surat dari teman-temannya di Belanda yang membuka wawasannya tentang isu perempuan dan feminisme.
  • Perjuangan: Melalui surat-suratnya, ia mengemukakan gagasan tentang pentingnya pendidikan bagi perempuan pribumi dan menentang adat istiadat yang membatasi kaum wanita, seperti poligami dan pernikahan paksa.
Penetapan Hari Kartini
  • Dasar Hukum: Presiden Soekarno menetapkan 21 April sebagai Hari Kartini melalui Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 108 Tahun 1964 pada 2 Mei 1964.
  • Makna: Untuk menghormati jasa-jasanya dalam memperjuangkan hak-hak perempuan dan menjadikannya simbol emansipasi wanita Indonesia.
Peringatan dan Warisan
  • Kegiatan: Peringatan tahunan diisi dengan kegiatan seperti mengenakan kebaya dan baju adat, lomba, seminar, serta kegiatan edukatif untuk terus menyalakan semangat Kartini.
  • Warisan: Gagasan Kartini menjadi fondasi gerakan perempuan Indonesia dan terus menjadi inspirasi bagi perempuan untuk berkarya dan meraih cita-cita, memperjuangkan kesetaraan di berbagai bidang.



RISALAH HARI KARTINI

21 April – Mengenang Perjuangan R.A. Kartini

Pengantar

Hari Kartini diperingati setiap 21 April untuk mengenang jasa Raden Ajeng Kartini, tokoh pelopor kebangkitan perempuan Indonesia. Peringatan ini berangkat dari hari kelahiran Kartini pada 21 April 1879 dan ditetapkan secara resmi melalui Keputusan Presiden RI No. 108 Tahun 1964 oleh Presiden Soekarno. Kartini dikenang sebagai simbol perjuangan emansipasi perempuan, pendidikan, dan kesetaraan hak di tengah masyarakat kolonial dan feodal.


Latar Belakang R.A. Kartini

  • Nama lengkap: Raden Ajeng Kartini
  • Lahir: 21 April 1879, Jepara, Jawa Tengah
  • Wafat: 17 September 1904

Kartini lahir dari keluarga bangsawan Jawa. Ia sempat mengenyam pendidikan formal hingga usia 12 tahun, sebelum harus menjalani pingitan sesuai adat saat itu. Namun, keterbatasan fisik tidak menghentikan semangat intelektualnya. Kartini aktif membaca buku-buku Eropa dan menjalin korespondensi dengan sahabat-sahabatnya di Belanda.


Gagasan dan Perjuangan

Melalui surat-suratnya, Kartini menyuarakan:

  • Pentingnya pendidikan bagi perempuan pribumi
  • Penolakan terhadap adat yang mengekang perempuan
    (poligami, pernikahan paksa, dan ketidakadilan sosial)
  • Harapan akan kesetaraan martabat antara laki-laki dan perempuan

Pemikiran-pemikiran ini kemudian dibukukan dalam karya monumental
Habis Gelap Terbitlah Terang (Door Duisternis tot Licht), yang menjadi tonggak pemikiran emansipasi di Indonesia.


Penetapan Hari Kartini

  • Tanggal: 21 April
  • Dasar hukum: Keppres RI No. 108 Tahun 1964
  • Makna penetapan:
    Menghormati Kartini sebagai Pahlawan Nasional dan menjadikannya simbol perjuangan perempuan Indonesia.

Makna Peringatan Hari Kartini

Hari Kartini bukan sekadar peringatan simbolik, tetapi:

  • Momentum refleksi perjuangan perempuan
  • Dorongan untuk meningkatkan pendidikan, partisipasi, dan kepemimpinan perempuan
  • Pengingat bahwa kesetaraan adalah bagian dari kemajuan bangsa

Peringatan dan Warisan

Bentuk peringatan:

  • Mengenakan kebaya dan busana adat
  • Lomba, seminar, diskusi, dan kegiatan edukatif
  • Kampanye kesetaraan dan pemberdayaan perempuan

Warisan Kartini: Gagasan Kartini menjadi fondasi gerakan perempuan Indonesia dan terus menginspirasi generasi masa kini untuk berani berpikir, berkarya, dan berkontribusi bagi bangsa.


INFOGRAFIS – HARI KARTINI (RINGKAS VISUAL)

Judul:
🪷 Hari Kartini – 21 April

Tokoh:
R.A. Kartini (1879–1904)

Dasar Hukum:
Keppres RI No. 108 Tahun 1964

Gagasan Utama:

  • Emansipasi perempuan
  • Pendidikan wanita
  • Kesetaraan hak

Karya Penting:
Habis Gelap Terbitlah Terang

Makna:
Perempuan berdaya, bangsa berjaya




Buatlah Risalah dan Infografis dari Peringatan Hari Bersejarah yaitu:
Hari Pahlawan 
Diperingati setiap 10 November untuk mengenang Pertempuran Surabaya tahun 1945, di mana rakyat Surabaya berjuang melawan pasukan Sekutu. Pertempuran hebat yang dipicu tewasnya Brigadir Jenderal Mallaby ini menjadi simbol perlawanan dan persatuan nasional dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia, yang ditetapkan pemerintah melalui Keppres Nomor 316 Tahun 1959.
  • Latar Belakang: Pasca Proklamasi 17 Agustus 1945, situasi keamanan Surabaya memanas akibat kehadiran pasukan Sekutu (AFNEI) yang diboncengi NICA (Belanda) yang ingin kembali menjajah.
  • Insiden Hotel Yamato (19 September 1945): Pemuda Surabaya merobek warna biru bendera Belanda di Hotel Yamato, menjadikannya Merah Putih.
  • Tewasnya Jenderal Mallaby (30 Oktober 1945): Tewasnya komandan Inggris, Brigadir Jenderal A.W.S. Mallaby, memicu kemarahan Inggris.
  • Ultimatum Inggris: Inggris mengeluarkan ultimatum agar rakyat Surabaya menyerahkan senjata paling lambat 10 November 1945 pukul 06.00 pagi. Ultimatum ini ditolak keras oleh arek-arek Suroboyo.
  • Pertempuran 10 November: Pertempuran pecah dan berlangsung selama 3 minggu, yang dipimpin oleh tokoh seperti Bung Tomo. Sekitar 20.000 rakyat gugur dalam peristiwa heroik yang membuat Surabaya dijuluki sebagai Kota Pahlawan.
Hari Pahlawan ditetapkan untuk menghormati jasa para pahlawan yang gugur dan meneladani semangat patriotisme dalam menjaga kedaulatan NKRI.


RISALAH HARI PAHLAWAN

10 November – Mengenang Pertempuran Surabaya 1945

Hari Pahlawan diperingati setiap 10 November untuk mengenang Pertempuran Surabaya tahun 1945, salah satu pertempuran terbesar dan paling heroik dalam sejarah Revolusi Indonesia. Peristiwa ini menjadi simbol perlawanan rakyat terhadap upaya penjajahan kembali oleh Sekutu dan Belanda setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.

Penetapan Hari Pahlawan secara resmi dilakukan melalui Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 316 Tahun 1959, sebagai bentuk penghormatan kepada para pejuang yang gugur mempertahankan kemerdekaan.

Latar Belakang

Pasca Proklamasi 17 Agustus 1945, Surabaya menjadi kota dengan situasi keamanan paling genting. Pasukan Sekutu (AFNEI) yang masuk ke Indonesia untuk melucuti Jepang, justru diboncengi oleh NICA (Belanda) yang ingin kembali berkuasa. Hal ini memicu kemarahan rakyat Surabaya.

Rangkaian Peristiwa Penting

  1. Insiden Hotel Yamato (19 September 1945)
    Pemuda Surabaya merobek warna biru bendera Belanda di Hotel Yamato (kini Hotel Majapahit), menjadikannya Merah Putih, sebagai simbol penolakan penjajahan.

  2. Tewasnya Brigjen A.W.S. Mallaby (30 Oktober 1945)
    Tewasnya komandan pasukan Inggris ini memperuncing konflik dan menjadi alasan Inggris melancarkan serangan besar-besaran.

  3. Ultimatum Inggris
    Inggris mengeluarkan ultimatum agar rakyat Surabaya menyerahkan senjata paling lambat 10 November 1945 pukul 06.00 WIB. Ultimatum ini ditolak mentah-mentah oleh rakyat.

  4. Pertempuran 10 November 1945
    Pertempuran besar pecah dan berlangsung sekitar tiga minggu, dipimpin semangat perlawanan rakyat, salah satunya melalui pidato membakar semangat dari Bung Tomo. Sekitar 20.000 rakyat Indonesia gugur dalam pertempuran ini.

Makna Hari Pahlawan

Hari Pahlawan menjadi pengingat bahwa kemerdekaan Indonesia ditebus dengan pengorbanan jiwa dan raga. Semangat keberanian, persatuan, dan rela berkorban para pahlawan menjadi teladan dalam menjaga keutuhan NKRI.


INFOGRAFIS HARI PAHLAWAN (KONSEP VISUAL)

Judul Utama:
🟥 HARI PAHLAWAN – 10 NOVEMBER

Subjudul:
“Surabaya 1945: Api Perlawanan Bangsa”

Bagian Infografis:

  1. Latar Waktu & Tempat

    • 10 November 1945
    • Surabaya, Jawa Timur
  2. Ikon Visual Utama

    • Ilustrasi Bung Tomo berpidato
    • Kobaran api dan asap pertempuran
    • Bendera Merah Putih berkibar
    • Siluet rakyat bersenjata bambu runcing
  3. Timeline Singkat

    • 19 Sept 1945: Insiden Hotel Yamato
    • 30 Okt 1945: Mallaby tewas
    • 10 Nov 1945: Pertempuran besar pecah
  4. Fakta Penting

    • ± 20.000 pejuang gugur
    • Pertempuran ± 3 minggu
    • Surabaya dijuluki Kota Pahlawan
  5. Dasar Penetapan

    • Keppres No. 316 Tahun 1959

Slogan Penutup:
“Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati jasa pahlawannya.”





Buatlah Risalah dan Infografis dari Peringatan Hari Bersejarah yaitu:
Peristiwa Malari (Malapetaka 15 Januari 1974)
Gelombang demonstrasi mahasiswa dan kerusuhan sosial besar di Jakarta yang menentang dominasi modal asing, khususnya Jepang, serta kebijakan ekonomi Orde Baru. Dipicu kunjungan PM Jepang Kakuei Tanaka, aksi ini menuntut pemberantasan korupsi (KKN) dan pengurangan ketergantungan investasi asing.
Latar Belakang dan Penyebab
  • Dominasi Ekonomi Jepang: Mahasiswa menilai modal Jepang mendominasi industri dalam negeri (tekstil, otomotif, elektronik), menyebabkan produk lokal kalah saing.
  • Kebijakan Pro-Investor: Pemerintah Orde Baru dinilai terlalu berpihak pada investor asing dan abai terhadap kepentingan rakyat.
  • Kunjungan PM Tanaka: Kunjungan PM Jepang Kakuei Tanaka pada 14-17 Januari 1974 dijadikan simbol ketundukan Indonesia terhadap kekuatan asing, memicu amarah mahasiswa.
  • Korupsi dan KKN: Tuntutan pembubaran Asisten Pribadi (Aspri) Presiden Soeharto yang dianggap sebagai pusat korupsi.
Kronologi dan Kerusuhan
  • 14-15 Januari 1974: Mahasiswa dari berbagai universitas (terutama UI, dipimpin Hariman Siregar) melakukan long march dan aksi demonstrasi di Jakarta.
  • Kerusuhan Sosial: Demonstrasi berubah ricuh. Terjadi pembakaran ribuan mobil/motor buatan Jepang, perusakan gedung, dan penjarahan di berbagai titik (Senin, Sudirman, Blok M).
  • Korban dan Penangkapan: Peristiwa ini mengakibatkan 11 orang tewas, ratusan luka-luka, dan lebih dari 700 orang ditahan.
Dampak Peristiwa Malari
  • Penindakan Tegas: Pemerintah bertindak represif, membredel 12 surat kabar (termasuk Indonesia Raya), dan menangkap tokoh mahasiswa seperti Hariman Siregar.
  • Restrukturisasi Pemerintahan: Presiden Soeharto membubarkan lembaga Aspri dan mencopot Jenderal Sumitro (Pangkokamtib).
  • Perubahan Kebijakan: Pemerintah mulai memberlakukan peraturan yang mewajibkan kemitraan bagi investor asing dengan pengusaha lokal (pribumi).
Peristiwa Malari menjadi lembaran hitam yang menunjukkan titik kritis perlawanan terhadap otoritarianisme dan dominasi ekonomi asing pada awal Orde Baru.


RISALAH PERISTIWA MALARI (MALAPETAKA 15 JANUARI 1974)

Perlawanan Mahasiswa terhadap Dominasi Modal Asing di Era Orde Baru

Pendahuluan

Peristiwa Malari (Malapetaka Lima Belas Januari) merupakan salah satu gejolak sosial–politik terbesar pada masa awal Orde Baru. Peristiwa ini mencerminkan keresahan mahasiswa dan rakyat terhadap arah pembangunan nasional yang dinilai terlalu berpihak kepada modal asing serta sarat praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN).


Latar Belakang dan Penyebab

  1. Dominasi Modal Asing (Jepang)
    Modal Jepang mendominasi sektor industri strategis seperti otomotif, elektronik, dan tekstil, sehingga industri nasional sulit berkembang.

  2. Kebijakan Ekonomi Orde Baru
    Pemerintah dinilai pro-investor asing dan kurang memperhatikan pemerataan kesejahteraan rakyat.

  3. Kunjungan PM Jepang Kakuei Tanaka
    Kunjungan resmi pada 14–17 Januari 1974 dianggap simbol ketergantungan Indonesia terhadap kekuatan ekonomi asing.

  4. Isu Korupsi dan KKN
    Mahasiswa menuntut pembubaran Asisten Pribadi (Aspri) Presiden Soeharto yang dianggap sebagai pusat praktik korupsi.


Kronologi Peristiwa

  • 14–15 Januari 1974
    Mahasiswa dari berbagai universitas, terutama Universitas Indonesia, melakukan demonstrasi dan long march di Jakarta.
  • Aksi Memanas
    Demonstrasi berubah menjadi kerusuhan sosial di berbagai titik (Senen, Sudirman, Blok M).
  • Kerusakan Besar
    Ribuan kendaraan buatan Jepang dibakar, gedung dirusak, dan terjadi penjarahan.
  • Korban
    11 orang tewas, ratusan luka-luka, dan lebih dari 700 orang ditahan aparat.

Tokoh Penting

  • Hariman Siregar – Ketua Dewan Mahasiswa UI, simbol gerakan mahasiswa Malari
  • Presiden Soeharto – Kepala negara Orde Baru
  • PM Kakuei Tanaka – Perdana Menteri Jepang
  • Jenderal Sumitro – Pangkopkamtib yang kemudian dicopot

Dampak Peristiwa Malari

  1. Represi Politik
    Pemerintah membredel 12 surat kabar (termasuk Indonesia Raya) dan menangkap aktivis mahasiswa.
  2. Restrukturisasi Kekuasaan
    Lembaga Aspri dibubarkan, Jenderal Sumitro dicopot dari jabatannya.
  3. Pengetatan Kebebasan
    Ruang gerak mahasiswa dan pers dibatasi lebih ketat.
  4. Perubahan Kebijakan Ekonomi
    Investor asing diwajibkan bermitra dengan pengusaha nasional.

Makna Sejarah

Peristiwa Malari menjadi simbol perlawanan awal terhadap otoritarianisme Orde Baru dan kritik tajam atas dominasi ekonomi asing. Peristiwa ini juga menandai berakhirnya era kebebasan mahasiswa di awal pemerintahan Orde Baru.


RANGKUMAN INFOGRAFIS (SIAP POSTER)

Judul:
PERISTIWA MALARI 1974
Malapetaka 15 Januari

Tanggal:
15 Januari 1974

Lokasi:
Jakarta

Pemicu:

  • Dominasi modal Jepang
  • Kunjungan PM Tanaka
  • Korupsi & KKN

Aktor Utama:
Mahasiswa (UI & kampus lain)

Korban:
11 tewas | Ratusan luka | 700+ ditahan

Dampak:

  • Pembredelan pers
  • Penangkapan aktivis
  • Pembubaran Aspri
  • Kebijakan kemitraan asing-lokal

Pesan Sejarah:
Kritik terhadap ketimpangan pembangunan dan dominasi modal asing




Buatlah Risalah dan Infografis tentang :
Sejarah "Petrus".
Merujuk pada Penembakan Misterius, serangkaian eksekusi di luar hukum terhadap ribuan orang yang dituduh penjahat atau "preman" oleh aparat negara (militer/polisi) antara tahun 1983-1985 di bawah rezim Orde Baru Presiden Soeharto, bertujuan menciptakan efek jera, namun menjadi pelanggaran HAM berat karena tanpa pengadilan dan korban sering kali ditemukan tewas dengan tanda-tanda penyiksaan. Operasi ini dimulai di Yogyakarta dan meluas ke seluruh Indonesia, menewaskan ratusan hingga ribuan orang, termasuk pelaku kejahatan dan diduga juga lawan politik, tanpa ada penyelesaian hukum yang adil hingga kini. 
Latar Belakang:
  • Kriminalitas Merajalela: 
    Maraknya kejahatan jalanan (gali/preman) membuat pemerintah Orde Baru ingin menciptakan efek jera yang ekstrem.
  • Inisiatif Militer: 
    Dimulai di Yogyakarta dengan Operasi Pemberantasan Kejahatan oleh Garnisun Militer, menargetkan "gali" atau residivis.
Pelaksanaan:
  • Eksekusi Tanpa Pengadilan: 
    Target ditangkap, diinterogasi, lalu dieksekusi mati di tempat tersembunyi atau umum tanpa proses hukum.
  • Modus Operandi: 
    Mayat sering ditinggalkan di tempat umum dengan luka tembak dan tangan terikat, serta ditemukan di pinggir jalan, sawah, atau dimasukkan karung.
  • Pelaku: 
    Aparat keamanan yang beroperasi tanpa seragam dan surat tugas, kemungkinan atas perintah, seperti yang terungkap dalam investigasi BBC.
  • Penyebaran: 
    Meluas ke Jawa (Bandung, Surabaya) dan Sumatera, dengan variasi modus operasi.
Dampak & Kontroversi:
  • Penurunan Kriminalitas: 
    Pemerintah mengklaim berhasil menekan kejahatan dan menguatkan wibawa negara.
  • Pelanggaran HAM Berat: 
    Komnas HAM menemukan bukti pelanggaran HAM berat, namun pelaku tidak pernah diadili dan korban tidak mendapatkan keadilan.
  • Korban Jiwa: 
    Diperkirakan ratusan hingga ribuan orang tewas, jumlah pastinya tidak diketahui.
  • Munculnya "Petrus": 
    Istilah "Petrus" (Penembak Misterius) menjadi momok dan simbol penegakan hukum di luar jalur yang memakan banyak korban jiwa.
Peninggalan:
  • Peristiwa ini menjadi catatan kelam sejarah Indonesia di bawah Orde Baru, di mana keamanan dicapai dengan mengorbankan nyawa dan HAM.
  • Kasus ini belum pernah terselesaikan secara hukum, meski menjadi bagian dari sejarah yang diakui sebagai pelanggaran HAM


RISALAH SEJARAH “PETRUS” (1983–1985)

Penembakan Misterius dalam Sejarah Indonesia

Pendahuluan

“Petrus” adalah istilah populer untuk menyebut Penembakan Misterius, sebuah operasi kekerasan negara di luar proses hukum yang terjadi di Indonesia pada awal 1980-an (±1983–1985). Operasi ini menargetkan orang-orang yang dicap sebagai penjahat, preman, atau residivis, dan dilakukan secara rahasia oleh aparat keamanan pada masa Orde Baru di bawah Presiden Soeharto.

Peristiwa ini menjadi salah satu catatan kelam pelanggaran hak asasi manusia dalam sejarah Indonesia modern.


Latar Belakang

  1. Kriminalitas Tinggi
    Pada awal 1980-an, kejahatan jalanan meningkat tajam, terutama di kota-kota besar. Pemerintah memandang situasi ini sebagai ancaman stabilitas nasional.

  2. Pendekatan Keamanan Orde Baru
    Negara memilih pendekatan represif untuk menciptakan efek jera dan mengembalikan wibawa aparat, tanpa mengedepankan proses hukum.

  3. Inisiatif Militer
    Operasi ini pertama kali muncul di Yogyakarta, kemudian meluas ke berbagai wilayah Indonesia.


Pelaksanaan Operasi Petrus

  • Tanpa Proses Hukum
    Target ditangkap, diinterogasi, lalu dieksekusi tanpa pengadilan.

  • Modus Operandi
    Korban ditemukan:

    • Tewas dengan luka tembak
    • Tangan terikat
    • Dibuang di pinggir jalan, sawah, sungai, atau dalam karung
  • Pelaku
    Diduga dilakukan oleh aparat keamanan (militer/polisi) tanpa seragam dan identitas resmi, beroperasi secara rahasia.


Penyebaran Wilayah

Setelah Yogyakarta, operasi Petrus meluas ke:

  • Jawa Tengah
  • Jawa Barat (Bandung)
  • Jawa Timur (Surabaya)
  • Sumatera dan wilayah lain

Dampak & Kontroversi

Dampak yang Diklaim Pemerintah

  • Penurunan drastis angka kriminalitas
  • Meningkatnya rasa takut di kalangan pelaku kejahatan

Dampak Nyata

  • Ratusan hingga ribuan korban jiwa
  • Banyak korban tidak pernah diadili
  • Keluarga korban tidak memperoleh keadilan

Pelanggaran HAM

  • Komnas HAM mengategorikan Petrus sebagai pelanggaran HAM berat
  • Tidak pernah ada proses peradilan terhadap pelaku

Warisan Sejarah

Peristiwa Petrus:

  • Menjadi simbol penegakan hukum di luar hukum
  • Menunjukkan bagaimana stabilitas dicapai dengan kekerasan negara
  • Hingga kini belum pernah diselesaikan secara hukum
  • Tetap menjadi trauma kolektif masyarakat

INFOGRAFIS – SEJARAH “PETRUS”

Judul Utama

PENEMBAKAN MISTERIUS (PETRUS)
Operasi Kekerasan Negara di Indonesia (1983–1985)


Timeline

  • 1983 – Operasi dimulai di Yogyakarta
  • 1984 – Menyebar ke kota-kota besar
  • 1985 – Operasi mereda, tanpa pertanggungjawaban hukum

Aktor Utama

  • Aparat keamanan (diduga militer & polisi)
  • Pemerintah Orde Baru

Target Operasi

  • Preman
  • Residivis
  • Orang yang dicap “mengganggu stabilitas”
  • Dugaan lawan politik

Modus

  • Penangkapan rahasia
  • Eksekusi tanpa pengadilan
  • Mayat ditinggalkan di ruang publik

Korban

  • Ratusan – ribuan orang tewas
  • Jumlah pasti tidak pernah diumumkan

Dampak

✔ Turunnya kriminalitas
✖ Pelanggaran HAM berat
✖ Trauma sosial
✖ Tidak ada keadilan hukum


Catatan Sejarah

“Keamanan yang dibangun di atas ketakutan akan selalu meninggalkan luka sejarah.”




Buatlah Risalah dan Infografis dari Peristiwa yaitu :

Tragedi Trisakti pada 12 Mei 1998 
Adalah peristiwa penembakan mahasiswa Universitas Trisakti, Jakarta, yang menuntut reformasi dan turunnya Presiden Soeharto akibat krisis moneter Asia. Empat mahasiswa gugur akibat peluru tajam aparat di dalam kampus, memicu kerusuhan Mei 1998 dan mempercepat jatuhnya Orde Baru pada 21 Mei 1998.
Latar Belakang dan Kronologi
  • Krisis Moneter: Dipicu oleh krisis finansial Asia 1997 yang membuat rupiah anjlok dan harga barang melambung tinggi.
  • Demonstrasi Damai: Mahasiswa Trisakti menggelar aksi damai pada 12 Mei 1998, berjalan dari kampus menuju Gedung Nusantara (DPR/MPR), namun dihadang aparat kepolisian dan militer.
  • Penembakan: Saat massa mundur ke dalam kampus, aparat melepaskan tembakan peluru tajam, karet, dan gas air mata dari berbagai arah.
  • Korban: Empat mahasiswa yang gugur adalah Elang Mulia LesmanaHeri HertantoHafidin Royan, dan Hendriawan Sie.
  • Dampak: Peristiwa ini memicu kerusuhan massa yang lebih besar (Kerusuhan Mei 1998) dan gelombang protes nasional, memaksa Soeharto mengundurkan diri sembilan hari kemudian.
Keempat mahasiswa tersebut dianugerahi gelar Pahlawan Reformasi pada 2005 atas perjuangan mereka melawan korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN).



Buatlah Risalah dan Infografis dari Peristiwa yaitu:
Reformasi Indonesia 1998.
Adalah gerakan mahasiswa dan masyarakat untuk meruntuhkan rezim Orde Baru, yang mencapai puncaknya dengan mundurnya Presiden Soeharto pada 21 Mei 1998. Dipicu krisis moneter 1997, KKN (Korupsi, Kolusi, Nepotisme), dan represi politik, gerakan ini menuntut perubahan total menuju pemerintahan demokratis, supremasi hukum, dan kebebasan sipil.
Latar Belakang dan Penyebab
  • Krisis Moneter 1997-1998: Rupiah merosot, harga kebutuhan pokok melambung, dan ekonomi lumpuh, memicu ketidakpuasan sosial.
  • Praktik KKN: Pemerintahan Orde Baru selama 32 tahun identik dengan nepotisme dan korupsi yang merajalela.
  • Represi Politik: Terbatasnya kebebasan pers dan berpendapat, serta dominasi militer dalam pemerintahan (dwifungsi ABRI).
Kronologi dan Peristiwa Penting
  • Aksi Mahasiswa: Sepanjang awal 1998, demonstrasi mahasiswa meluas menuntut reformasi.
  • Tragedi Trisakti (12 Mei 1998): Empat mahasiswa Trisakti gugur tertembak, memicu kerusuhan massal pada 13-15 Mei 1998.
  • Pendudukan Gedung DPR/MPR: Ribuan mahasiswa menduduki gedung parlemen, mendesak Soeharto turun.
  • Pengunduran Diri Soeharto (21 Mei 1998): Soeharto resmi mundur dan BJ Habibie dilantik sebagai Presiden, menandai dimulainya era Reformasi.
Tuntutan dan Agenda Reformasi
Gerakan ini membawa enam agenda utama:
  1. Adili Soeharto dan kroni-kroninya.
  2. Amandemen UUD 1945.
  3. Penghapusan Dwifungsi ABRI.
  4. Otonomi daerah seluas-luasnya.
  5. Tegakkan supremasi hukum.
  6. Pemerintahan yang bersih dari KKN.
Dampak dan Perubahan Pasca-Reformasi
  • Demokratisasi: Pemilu lebih demokratis, kebebasan pers, dan lahirnya banyak partai politik.
  • Amandemen UUD 1945: Pembatasan masa jabatan presiden dan penguatan HAM.
  • Otonomi Daerah: Desentralisasi kekuasaan dari pusat ke daerah.
  • Pemberantasan KKN: Pembentukan lembaga seperti KPK.
Era ini menjadi transisi krusial dari otoritarianisme menuju demokrasi yang lebih terbuka di Indonesia.




Buatlah Risalah dan Infografis dari Peringatan Hari Bersejarah yaitu:




Buatlah Risalah dan Infografis dari Peringatan Hari Bersejarah yaitu:

Perjanjian Lawas

 Buatlah Risalah dan Infografis tentang Perjanjian Kerajaan di  Indonesia yaitu : Perjanjian Giyanti. Ditandatangani pada 13 Februari 1755, ...