Kamis, 14 Mei 2026

6 Relief Candi Jago

 *Cerita 6 Relief Candi Jago Malang, Kisah Siksa Neraka sampai Kura-Kura dan Angsa*


Setiap relief di Candi Jago Malang berisi cerita yang mengajarkan budi pekerti.


Zainul Arifin

Diterbitkan:

14 Februari 2023, 12:04 WIB.




Liputan6.com, Malang - Ada banyak candi di Malang, salah satunya adalah Candi Jago di Dusun Jago, Kecamatan Tumpang. Sebuah candi yang penuh dengan panel relief terpahat rapi mulai dari kaki sampai ke dinding ruangan teratas.


Salah satu candi di Malang ini memiliki nilai penting yang dapat memberikan sejarah peristiwa politik maupun keagamaan yang terjadi pada masa lalu, khususnya masa Kerajaan Singasari. Dalam kitab Negarakertagama, Candi Jago disebut dengan Jajaghu, yang berarti keagungan.


Candi Jago diperkirakan dibangun selama 1268 Masehi sampai 1280 Masehi sebagai penghormatan untuk Raja Singasari Sri Jaya Wisnuwardhana. Candi ini direnovasi pada masa Majapahit oleh raja Adityawarman sebagai bentuk bakti terhadap leluhurnya.


Denah dasar candi berbentuk bujur sangkar berukuran 23,71 x 14 meter, tinggi yang tersisa adalah 9,97 meter menghadap arah barat. Kaki candi berupa batur berundak 3 tingkatan, badan candi yang menyisakan ambang pintu saja dan atap candi yang telah hilang.


Keunikan salah satu candi di Malang ini adalah memiliki relief yang terpahat pada dinding timur teras I, teras II, teras III sampai di bagian tubuh candi. Masing – masing relief itu memiliki cerita penuh makna dan ajaran kehidupan.


Berikut ini jalinan cerita dari relief di Candi Jago Malang:


1. Relief Cerita Tantri


Relief ini dipahatkan pada bagian penampil menghadap selatan, terbagi dalam beberapa panil. Berisi fabel atau kumpulan cerita binatang yang susastra asalnya adalah cerita Tantri Kamandaka. Seperti kisah singa dan lembu, bangau mati oleh ketam, lembu dan buaya dan lainnya.


Salah satu yang relief yang terpahat dan ceritanya cukup terkenal adalah kisah angsa dan kura-kura. Menggambarkan angsa membawa terbang kura-kura dengan cara mengigit sebatang ranting di paruhnya, sedang kura-kura menggigit ranting di kanan-kirinya.


Seluruh kumpulan cerita binatang itu pada intinya adalah ajaran tentang budi pekerti. Binatang bisa saling bersahabat dan membalas budi, tapi sebaliknya manusia bisa saling merendahkan. Fabel tersebut populer pada masa itu, lalu jadi dongeng turun temurun.


2. Relief Kunjarakarna


Relief ini terpahat sudut timur laut kaki I sampai barat daya kaki II (teras II) candi. Berkisah tentang gambaran surga dan neraka lewat perjalanan Kunjarakarna, seorang Yaksa yang meditasi demi dibebaskan dari wataknya sebagai raksasa dalam inkarnasi kehidupan berikutnya.


Ia memohon kepada Dewa Wairocana (Budha) agar diajari mengenal dharma dan pemahaman berbagai nasib akhir para makluk di dunia ini. Sang dewa lalu memerintahkan Kunjarakarna mengunjungi daerah para orang mati, di bawah kekuasaan Dewa Yama (Yamaniloka).


Selama perjalanan, Kunjarakarna ditunjukkan jalan arwah menuju surga atau ke neraka sesuai perbuatannya pada masa lampau. Menyaksikan arwah orang mati disiksa, nasib yang menantikan pendosa. Serta memahami perbuatan lahiriah yang baik dapat menghasilkan ganjaran di surga.


3. Relief Parthayajnya


Relief cerita ini dipahatkan mulai dari sudut barat daya kaki II hingga sudut barat daya kaki III. Mengisahkan tokoh-tokoh Pandawa yang diusir dari istana dan harus menjalani masa pembungan selama 12 tahun ke hutan usai kalah bermain dadu melawan Kurawa.


Pandawa harus menjalani lelaku hidup keprihatinan serta mencapai batin suka dan duka. Salah satu tokoh Pandawa, Arjuna, melakukan tapa brata di Gunung Indrakila hingga mendapat senjata sakti dari Dewa Siwa.


Dengan senjata itu pula, Arjuna mengalahkan para raksasa serta membantu Pandawa memenangkan Perang Bharatayudha melawan Kurawa. Relief ini adalah bagian dari kisah Mahabharata.


4. Relief Arjunawiwaha


Relief ini merupakan sambungan dari relief Parthayajnya mulai dari sudut barat daya hingga sudut barat laut. Menceritakan Arjuna yang diminta membantu mengalahkan raksasa sakti mandraguna yang hendak menghancurkan surga, kerajaan Dewa Indra.


Arjuna yang sedang bertapa di Gunung Indrakila lalu bisa melalui ujian dari para dewa sebelum menjalankan tugasnya. Ia juga diberi hadiah sebuah panah sakti bernama Pasupati oleh Siwa. Pada akhirnya, Arjuna mampu membunuh raksasa Niwatakawaca.


Karena keberhasilannya, Arjuna diberi hadiah berupa tujuh hari di surga (tujuh bulan di bumi) bagai raja di atas tahta Dewa Indra. Serta dinikahkan tujuh kali dengan tujuh bidadari. Setelah bulan ketujuh, Arjuna kembali ke bumi dan para bidadari yang ditinggal meratapi kepergiannya.


5. Relief Kresnawijaya

Relief Kresnawijaya (Kalayawanantaka) dipahatkan pada bagian tubuh candi, di sisi kanan dan kiri pintu masuk candi. Kakawin mengisahkan pertempuran antara Kresna melawan raksasa Kalayawana.


Dewa Wisnu turun ke dunia sebagai Kresna disertai Dewa Basuki sebagai adik Baladewa untuk memusnahkan para raksasa. Raksasa Kalayawana marah karena kematian saudaranya lalu membuat rencana memusnahkan kerajaan sekaligus membunuh Kresna dan Baladewa.


Singkat cerita, Kresna dengan tipu muslihat berhasil membunuh Kalayawana lewat mata berapi sang bijak Muchukunda (Mrcchukundha). Kakawin ini merupakan pengantar pada cerita Kresnayana.


6. Relief Angling Darma


Relief ini dipahatkan pada kaki I dimulai dari sudut barat daya dan berakhir pada sudut timur laut kaki I. Menceritakan raja agung Malawapati, Angling Darma diberi ilmu ‘Pesona Pancabumi’ oleh Raja Naga (Antaboga) sehingga mengerti bahasa binatang dengan syarat harus merahasiakannya.


Kukuh menjaga rahasia itu, membuat permaisurinya sakit hati lantas membakar diri. Setelah itu, dalam pengembaraannya Angling Darma tiba di suatu negara kecil yang rajanya suka minum darah dan makan manusia. Sang raja juga dikisahkan punya kesaktian berubah wujud.


Tim Redaksi

Zainul Arifin

Reporter


Yusron Fahmi

Editor

Rabu, 13 Mei 2026

8 Candi di Jatim

 *Candi di Jawa Timur, Lokasi, Sejarah, dan Peninggalan Kerajaannya*











 Kompas.com, 

10 Mei 2026, 21:00 WIB 


Afif Khoirul Muttaqin Penulis 


KOMPAS.COM – Jawa Timur memang nggak pernah habis kalau soal sejarah. Sebagai bekas pusat kerajaan-kerajaan besar seperti Singasari hingga Majapahit, provinsi ini menyimpan banyak "harta karun" berupa candi yang estetik dan sarat makna. 


Cocok banget buat kamu yang ingin jalan-jalan sambil belajar sejarah atau sekadar cari spot foto yang ikonik. Menyadur informasi dari laman beberapa sumber, Jawa Timur memiliki deretan candi dengan arsitektur unik yang berbeda dari candi-candi di Jawa Tengah. 


Penasaran candi mana saja yang wajib masuk bucket list kamu? 

Yuk, kita intip 8 wisata candi pilihan di Jawa Timur! Berikut adalah rangkuman lokasi dan sejarah singkatnya:


1. Candi Penataran (Blitar)  Ini adalah kompleks candi termegah dan terluas di Jawa Timur. Berlokasi di lereng barat Gunung Kelud, candi ini merupakan peninggalan lintas kerajaan, mulai dari Kediri hingga Majapahit. Fungsinya dahulu adalah sebagai tempat pemujaan untuk menangkal bahaya dari Gunung Kelud. 


2. Candi Singasari (Malang)  Terletak di Kecamatan Singosari, candi ini merupakan peninggalan Kerajaan Singasari. Uniknya, candi ini terlihat seolah belum selesai dibangun. Candi ini juga dikenal sebagai tempat pendarmaan Raja Kertanegara, raja terakhir Singasari. 


3. Candi Jawi (Pasuruan)  Berlokasi di kaki Gunung Welirang, Candi Jawi punya pemandangan yang sangat indah. Dibangun pada abad ke-13, candi ini merupakan tempat pendarmaan Raja Kertanegara yang unik karena memadukan unsur Hindu dan Buddha dalam arsitekturnya. 


4. Candi Tikus (Mojokerto)  Terletak di kompleks Trowulan, candi ini punya bentuk yang unik menyerupai petirtaan atau kolam pemandian. Diyakini sebagai peninggalan Kerajaan Majapahit, candi ini ditemukan terkubur di bawah tanah sebelum akhirnya dipugar kembali. 


5. Candi Bajang Ratu (Mojokerto)  Masih di Mojokerto, candi ini berbentuk gapura besar yang menjulang tinggi. Bajang Ratu diyakini sebagai pintu masuk menuju bangunan suci untuk memperingati wafatnya Raja Jayanegara dari Majapahit. Arsitekturnya sangat megah untuk dijadikan latar foto. 


6. Candi Badut (Malang)  Jangan tertawa karena namanya ya! Candi Badut adalah candi tertua di Jawa Timur yang berasal dari masa Kerajaan Kanjuruhan (sekitar tahun 760 Masehi). Lokasinya berada di kawasan Tidar, Kota Malang, dan memiliki ciri khas gaya bangunan peralihan dari Jawa Tengah ke Jawa Timur. 


7. Candi Kidal (Malang)  Candi ini merupakan peninggalan Kerajaan Singasari yang dibangun sebagai penghormatan untuk Raja Anusapati. Candi Kidal sangat terkenal dengan relief Garudeya yang menceritakan tentang pembebasan perbudakan—kisah yang sangat legendaris di Nusantara. 


8. Candi Brahu (Mojokerto)  Candi Brahu adalah salah satu candi tertua di kompleks Trowulan. Terbuat dari bata merah, candi ini diyakini sebagai tempat pembakaran jenazah para raja Majapahit, meskipun beberapa penelitian menyebutkan fungsinya sebagai bangunan suci Buddha. 


Jika ingin berkunjung,waktu terbaik adalah saat pagi hari atau sore hari saat matahari tidak terlalu terik.


Pastikan untuk selalu menjaga kebersihan dan menghormati aturan di area situs sejarah karena tempat-tempat ini merupakan warisan budaya yang sangat berharga.

6 Relief Candi Jago

 *Cerita 6 Relief Candi Jago Malang, Kisah Siksa Neraka sampai Kura-Kura dan Angsa* Setiap relief di Candi Jago Malang berisi cerita yang me...