148 SBY
Buatlah Risalah dan Infografis tentang Pahlawan :
Dr. Johannes Leimena (dikenal sebagai Oom Jo).
Lahir di Ambon, Maluku, 6 Maret 1905.
Meninggal di Jakarta, 29 Maret 1977.
(dimakamkan di TMP Kalibata)
Pendidikan: STOVIA (Sekolah Dokter Bumiputera)
Jabatan Penting: Menteri Kesehatan (1946-1966), Wakil Menteri Pertama, Wakil Ketua Presidium Kabinet
Organisasi: Partai Kristen Indonesia (Parkindo), Dewan Gereja Indonesia (PGI).
Julukan: "Menteri Abadi" karena menjabat menteri selama 20 tahun berturut-turut (1945–1966) di berbagai kabinet era Sukarno.
A. Dr. Johannes Leimena (1905–1977) adalah pahlawan nasional, dokter, dan politisi ulung asal Maluku yang dikenal sebagai "Bapak Puskesmas" Indonesia. Sebagai menteri kesehatan terlama (1946–1966) dan perunding diplomatik ulung, ia berjasa besar dalam mempertahankan kemerdekaan, menjaga keutuhan NKRI, dan menginisiasi sistem pelayanan kesehatan dasar.
B. Perjuangan dan Kontribusi
1. Diplomat Ulung: Leimena terlibat aktif dalam berbagai perundingan krusial mempertahankan kemerdekaan, seperti Perjanjian Linggarjati (1946), Renville (1948), Roem-Royen (1948), dan Konferensi Meja Bundar (1949).
2. Penggagas Puskesmas: Ia mencetuskan Bandung Plan pada 1936, yang kemudian diwujudkan sebagai Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) untuk melayani masyarakat hingga tingkat desa.
3. Pemerintahan Soekarno: Leimena adalah orang kepercayaan Soekarno, menjabat menteri selama 20 tahun berturut-turut, dan sempat menjadi Penjabat Presiden sebanyak tujuh kali.
4. Tokoh Oikumene: Pendiri Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) pada 1950 dan Wakil Ketua Dewan Gereja Indonesia.
5. Penyelesaian Sengketa Papua: Pada 1962, Leimena berperan dalam Komando Operasi Tertinggi (KOTI) terkait pembebasan Irian Barat dan diberi pangkat Laksamana Madya Tituler TNI-AL.
6. Dedikasi : Leimena dikenal sebagai pemimpin yang jujur, hidup sederhana, dan tidak pernah menggunakan fasilitas negara untuk kepentingan pribadi, bahkan dikenal enggan menggunakan mobil dinas. Ia dianugerahi gelar Pahlawan Nasional pada tahun 2010.
C. Perjuangan Era Belanda (Pra-Kemerdekaan)
Perjuangan Leimena dimulai dari pergerakan pemuda dan intelektual:
1. Tokoh Sumpah Pemuda: Sebagai mahasiswa STOVIA, ia aktif dalam organisasi pemuda seperti Jong Ambon dan merupakan salah satu tokoh penting dalam Kongres Sumpah Pemuda tahun 1928 yang mencetuskan semangat persatuan Indonesia.
2. Dokter Sosial: Setelah lulus, ia memilih menjadi dokter yang mengabdi pada rakyat kecil, bukan hanya bekerja untuk kolonial. Ia bekerja sebagai dokter selama 11 tahun di berbagai daerah, termasuk di Rumah Sakit CBZ (sekarang RSCM).
D. Perjuangan Era Jepang
Pada masa pendudukan Jepang, Leimena terus mengabdi sebagai tenaga medis dan merawat pasien-pasien di tengah keterbatasan fasilitas, sambil tetap menjaga jaringan perjuangan nasionalisme.
E. Perjuangan Pasca Kemerdekaan Indonesia
Leimena memiliki peran sentral dalam mempertahankan kemerdekaan dan membangun negara:
1. Delegasi Perundingan: Leimena adalah delegasi Indonesia dalam berbagai perundingan penting dengan Belanda untuk mempertahankan kemerdekaan, termasuk Perundingan Linggajati (1946) dan Perundingan Renville (1947-1948).
2. Menteri Kesehatan (8 Kali Menjabat): Beliau menjabat sebagai Menteri Muda Kesehatan hingga Menteri Penuh di kabinet Amir Syarifuddin. Leimena menggagas konsep "Puskesmas" (Pusat Kesehatan Masyarakat) pada tahun 1952, yang bertujuan memberikan pelayanan kesehatan merata hingga ke pelosok desa.
3. Integritas Tinggi: Dikenal sangat jujur, Leimena sering menolak fasilitas mewah negara. Konon, saat menjadi delegasi di Renville, beliau meminjam jas temannya karena tidak memiliki jas yang layak.
4. Menteri Era Sukarno: Leimena dipercaya menjabat sebagai menteri atau wakil perdana menteri selama 20 tahun berturut-turut, menjadi orang kepercayaan Presiden Sukarno.
5. Leimena adalah teladan negarawan yang menggabungkan keahlian medis dengan dedikasi politik untuk kemanusiaan dan kemerdekaan Indonesia.
F. Mengapa Lolos saat G30S/PKI?
Dr. J. Leimena lolos dari upaya penculikan saat peristiwa G30S/PKI (1 Oktober 1965 dini hari) karena rumahnya bertetangga langsung dengan Jenderal A.H. Nasution.
1. Target Sebenarnya: Pasukan Cakrabirawa yang diperintahkan untuk menculik menyasar Jenderal Nasution di rumah sebelah.
2. Situasi di Lokasi: Saat pasukan penculik datang, fokus mereka tertuju pada rumah Nasution. Beberapa sumber menyebutkan situasi yang kacau membuat tim penculik tidak mengeksekusi rencana di rumah Leimena atau memang tidak menargetkan Leimena secara utama, melainkan fokus pada petinggi TNI AD.
3. Posisi: Saat kejadian, Leimena diketahui berada di istana atau dalam perlindungan, mengingat beliau adalah wakil perdana menteri yang sangat dekat dengan Presiden Soekarno.
4. Dr. J. Leimena dikenal sebagai salah satu dari sedikit politisi era tersebut yang memiliki integritas tinggi dan tidak terlibat dalam faksi-faksi ekstrem yang bertentangan.
G. Ajudan yang Tertembak
Ajudan J. Leimena yang tertembak saat malam G30S PKI adalah Karel Satsuit Tubun (K.S. Tubun).
1. Siapa Penembaknya: KS Tubun ditembak oleh pasukan Pasukan Tjakrabirawa (pengawal presiden) yang melakukan penculikan pada malam tersebut.
2. Kronologi: KS Tubun adalah anggota kepolisian (Brimob) yang ditugaskan menjaga rumah Dr. J. Leimena. Saat mendengar keributan di rumah Jenderal Nasution, ia bertarung melawan pasukan Tjakrabirawa yang menyerang rumah Leimena sebelum akhirnya tertembak dan gugur.
3. Catatan: Sering terjadi kerancuan. Ajudan Jenderal A.H. Nasution yang gugur adalah Pierre Tendean, sedangkan ajudan yang menjaga rumah Dr. J. Leimena yang gugur adalah K.S. Tubun.
H. Akhir Hayat dan Keluarga
1. Akhir Hayat: Dr. J. Leimena wafat pada 29 Maret 1977 di Jakarta karena sakit.
2. Keluarga: Ia menikah dengan Wihelmina Christina Jacob. Ia dikenal sebagai sosok yang hidup sederhana meskipun menjabat posisi tinggi selama dua dekade.
I. Warisan untuk Bangsa Indonesia
1. Konsep Puskesmas: Warisan terbesarnya adalah konsep Bandung Plan (1951), yang meletakkan dasar bagi sistem Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) di seluruh Indonesia.
2. Dokter untuk Semua: Leimena memperjuangkan kesehatan yang merata dan terjangkau, bukan hanya untuk kaum elit.
3. Negosiator Tangguh: Berperan dalam diplomasi yang memperkokoh kedaulatan Indonesia di dunia internasional.
4. Pahlawan Nasional: Ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia berdasarkan Keputusan Presiden No. 52/TK/2010.
RISALAH & INFOGRAFIS PAHLAWAN NASIONAL
Johannes Leimena
(Dr. Johannes Leimena – “Oom Jo”)
IDENTITAS TOKOH
- Nama lengkap: Dr. Johannes Leimena
- Julukan: Oom Jo
- Lahir: Ambon, Maluku, 6 Maret 1905
- Wafat: Jakarta, 29 Maret 1977
- Dimakamkan: Taman Makam Pahlawan Kalibata
Pendidikan:
- STOVIA (Sekolah Dokter Bumiputera)
Jabatan penting:
- Menteri Kesehatan Republik Indonesia (1946–1966)
- Wakil Menteri Pertama
- Wakil Ketua Presidium Kabinet
Organisasi:
- Partai Kristen Indonesia
- Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia
Julukan:
“Menteri Abadi” karena menjabat sebagai menteri selama 20 tahun berturut-turut pada masa pemerintahan Presiden Sukarno.
A. Tokoh Dokter, Negarawan, dan Diplomat
Dr. Johannes Leimena adalah salah satu tokoh penting dalam sejarah Indonesia. Ia dikenal sebagai:
- dokter yang mengabdi pada rakyat kecil
- negarawan yang setia kepada negara
- diplomat yang terlibat dalam berbagai perundingan penting
Ia juga dikenal sebagai “Bapak Puskesmas Indonesia” karena gagasannya tentang sistem pelayanan kesehatan rakyat.
B. Perjuangan dan Kontribusi Besar
1. Diplomat Kemerdekaan
Leimena terlibat dalam berbagai perundingan internasional penting mempertahankan kemerdekaan Indonesia, seperti:
- Linggadjati Agreement
- Renville Agreement
- Roem–Van Roijen Agreement
- Dutch–Indonesian Round Table Conference
Perundingan tersebut menjadi bagian penting dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia.
2. Penggagas Sistem Puskesmas
Leimena mencetuskan Bandung Plan (1951) yang menjadi dasar lahirnya:
Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas).
Program ini bertujuan:
- memberikan pelayanan kesehatan hingga desa
- memperluas akses kesehatan bagi rakyat kecil
- membangun sistem kesehatan nasional.
3. Orang Kepercayaan Presiden Soekarno
Leimena menjadi salah satu tokoh yang sangat dipercaya oleh Presiden Sukarno.
Ia bahkan pernah menjadi penjabat presiden sementara sebanyak tujuh kali ketika Presiden Sukarno sedang berada di luar negeri.
4. Tokoh Oikumene Indonesia
Leimena juga aktif dalam dunia gereja dan gerakan mahasiswa.
Ia berperan dalam pendirian:
- Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (1950)
Ia juga menjadi tokoh penting dalam gerakan persatuan gereja di Indonesia.
5. Perjuangan Irian Barat
Pada tahun 1962 ia ikut dalam Komando Operasi Tertinggi (KOTI) untuk pembebasan Irian Barat dari Belanda.
Ia bahkan mendapat pangkat kehormatan:
Laksamana Madya Tituler TNI Angkatan Laut.
6. Integritas dan Kesederhanaan
Leimena dikenal sebagai pemimpin yang sangat jujur.
Ia sering menolak fasilitas negara dan hidup sederhana meskipun menjabat posisi tinggi selama puluhan tahun.
C. Perjuangan Masa Belanda
Perjuangan Leimena dimulai sejak masa mahasiswa di STOVIA.
Ia aktif dalam organisasi pemuda seperti:
Ia juga terlibat dalam peristiwa bersejarah:
yang melahirkan semboyan:
Satu Nusa, Satu Bangsa, Satu Bahasa Indonesia.
Dokter untuk Rakyat
Setelah lulus dari STOVIA, Leimena bekerja sebagai dokter selama lebih dari 11 tahun.
Ia pernah bekerja di:
- Cipto Mangunkusumo Hospital
dan berbagai daerah untuk melayani rakyat kecil.
D. Masa Pendudukan Jepang
Pada masa Jepang, Leimena tetap bekerja sebagai dokter.
Ia merawat masyarakat yang sakit di tengah kondisi perang dan kekurangan obat-obatan.
Di balik itu, ia tetap menjaga hubungan dengan jaringan perjuangan nasional.
E. Perjuangan Pasca Kemerdekaan
Setelah Indonesia merdeka, Leimena memiliki peran penting dalam pemerintahan.
Menteri Kesehatan
Ia menjabat Menteri Kesehatan selama delapan kali kabinet berbeda.
Konsep Puskesmas yang ia gagas bertujuan:
- pemerataan kesehatan
- pelayanan hingga desa
- peningkatan kesejahteraan rakyat.
Negarawan Era Sukarno
Selama masa pemerintahan Presiden Sukarno, Leimena dipercaya sebagai:
- Menteri
- Wakil Perdana Menteri
- Wakil Ketua Presidium Kabinet
Selama 20 tahun berturut-turut ia tetap berada dalam pemerintahan.
F. Peristiwa G30S 1965
Pada malam terjadinya:
30 September Movement
rumah Leimena berada di dekat rumah Jenderal:
Abdul Haris Nasution.
Pasukan penculik yang menyerang rumah Nasution juga sempat berada di sekitar rumah Leimena.
Namun Leimena tidak menjadi target utama sehingga ia selamat dari peristiwa tersebut.
G. Ajudan yang Gugur
Ajudan yang menjaga rumah Leimena adalah:
Karel Satsuit Tubun
seorang anggota Brimob.
Ia gugur ketika melawan pasukan penculik yang datang pada malam peristiwa G30S.
Tokoh ini kemudian juga diangkat sebagai Pahlawan Revolusi.
H. Akhir Hayat dan Keluarga
Dr. Johannes Leimena wafat pada:
29 Maret 1977 di Jakarta.
Ia dimakamkan di:
Taman Makam Pahlawan Kalibata.
Ia menikah dengan:
Wihelmina Christina Jacob.
Meski pernah memegang jabatan tinggi selama puluhan tahun, ia tetap hidup sederhana hingga akhir hayatnya.
I. Warisan Besar bagi Indonesia
Warisan terbesar Dr. Johannes Leimena adalah:
1. Sistem Puskesmas
Program pelayanan kesehatan yang menjangkau seluruh desa di Indonesia.
2. Konsep Kesehatan untuk Semua
Ia memperjuangkan sistem kesehatan yang tidak hanya untuk kalangan elit, tetapi untuk seluruh rakyat.
3. Diplomasi Kemerdekaan
Perannya dalam berbagai perundingan internasional membantu menjaga kedaulatan Indonesia.
Penghargaan
Atas jasa besarnya bagi bangsa Indonesia, pemerintah menetapkan:
Johannes Leimena sebagai
Pahlawan Nasional Indonesia pada tahun 2010.
150 SBY
Buatlah Risalah dan Infografis tentang Pahlawan :
Syafruddin Prawiranegara
(Mr. Syafruddin Prawiranegara).
Lahir di Anyer Kidul, Serang, Banten, 28 Februari 1911.
Meninggal di Jakarta, 15 Februari 1989 (usia 77 tahun).
Orang Tua: Raden Arsyad Prawiraatmadja (Ayah) & Noeraini (Ibu)
Pendidikan: Rechtshoogeschool (Sekolah Tinggi Hukum) di Jakarta
Gelar: Pahlawan Nasional (7 November 2011)
A. Syafruddin Prawiranegara (lahir di Serang, Banten, 28 Februari 1911 – meninggal 15 Februari 1989) adalah Pahlawan Nasional Indonesia, ekonom, dan politisi Masyumi. Ia dikenal sebagai pemimpin Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) di Sumatera Barat (1948-1949) saat pemimpin RI ditawan Belanda, serta Gubernur Bank Indonesia pertama.
B. Perjuangan dan Karir:
1. Ketua PDRI (1948-1949): Saat Agresi Militer Belanda II, Soekarno-Hatta ditangkap. Syafruddin menerima mandat mendirikan PDRI di Sumatera Barat, menyelamatkan kelangsungan pemerintahan RI.
2. Ekonom & Gubernur BI: Sebagai Menteri Keuangan, ia menggagas "Gunting Syafruddin" (pemotongan uang) untuk menyehatkan moneter. Ia menjabat Gubernur Bank Indonesia pertama (1952-1958).
3. Jabatan Strategis: Menteri Kemakmuran, Menteri Keuangan pada masa Kabinet Sjahrir II, Sjahrir III, dan Hatta I.
4. Intelektual Islam: Aktif di partai Masyumi dan berjuang melalui jalur politik serta dakwah, menekankan sosialisme religius.
5. Syafruddin Prawiranegara diakui sebagai sosok amanah dan berintegritas tinggi yang setia kepada negara.
C. Perjuangan Era Belanda & Jepang
1. Era Belanda: Aktif dalam pergerakan intelektual, menentang Petisi Soetardjo yang ingin Indonesia menjadi bagian Belanda, serta bekerja di departemen keuangan.
2. Era Jepang: Bekerja sebagai kepala kantor pajak di Kediri dan Bandung, sambil secara diam-diam melontarkan kritik terhadap kebijakan militer Jepang yang dinilai tidak memuaskan.
D. Perjuangan Pasca Kemerdekaan & Mempertahankan Kemerdekaan
1. Menteri & Ekonomi: Menjabat Menteri Keuangan, Perdagangan, dan Pertanian. Ia mendesak penerbitan mata uang sendiri sebagai atribut kemerdekaan.
2. PDRI (1948-1949): Ditunjuk oleh Soekarno-Hatta untuk membentuk pemerintahan darurat di Bukittinggi (PDRI) saat Agresi Militer Belanda II. Sebagai Ketua PDRI/Perdana Menteri, ia berhasil mempertahankan kelangsungan Republik secara de facto.
3. Gubernur BI: Menjadi Gubernur Bank Indonesia pertama (1953-1958) setelah nasionalisasi De Javasche Bank.
E. Gunting Syafruddin: Kapan, Alasan, dan Dampak
"Gunting Syafruddin" adalah kebijakan moneter ekstrem yang dilakukan oleh Syafruddin Prawiranegara saat menjabat Menteri Keuangan (pada masa pemerintahan Hatta).
1. Kapan: Diberlakukan pada 20 Maret 1950.
2. Alasan: Untuk mengatasi inflasi yang sangat tinggi dan mengurangi jumlah uang yang beredar. Saat itu, terjadi kekacauan mata uang karena uang NICA (Belanda) dan uang De Javasche Bank beredar bersamaan dengan ORI.
3. Dampak: Uang NICA dan De Javasche Bank pecahan Rp 5 ke atas digunting menjadi dua bagian.
* Bagian kiri tetap berlaku sebagai alat pembayaran sah dengan nilai setengah dari nominal asli.
* Bagian kanan ditukar dengan surat obligasi negara (pinjaman wajib).
* Dampak ekonominya, jumlah uang yang beredar berkurang drastis, inflasi berhasil ditekan, namun kebijakan ini sangat kontroversial dan membuat panik masyarakat pada awalnya.
F. Mengapa Terlibat PRRI dan Permesta (Era Bung Karno)
Syafruddin terlibat dalam Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) pada era Bung Karno bukan untuk meruntuhkan NKRI, melainkan karena alasan berikut:
1. Ketidakpuasan terhadap Pusat: Terjadi ketimpangan fiskal dan ekonomi antara pusat (Jakarta) dan daerah, khususnya di Sumatera dan Sulawesi.
2. Dominasi Komunis: Syafruddin mengkhawatirkan pengaruh Partai Komunis Indonesia (PKI) yang semakin kuat dalam pemerintahan Soekarno (era Demokrasi Terpimpin).
3. Menuntut Pemerintahan Adil: PRRI menuntut pemerintah pusat agar lebih adil dalam pembangunan dan mematuhi konstitusi.
4. Akibat: Gerakan ini ditumpas oleh pusat pada 1961, dan Syafruddin menyerah.
G. Dipenjara
1. Dipenjara Oleh: Pemerintahan Soekarno (Orde Lama).
2. Mengapa: Karena keterlibatannya sebagai salah satu pemimpin dalam gerakan PRRI (Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia).
3. Waktu: Ia dipenjara tanpa pengadilan dari tahun 1958 hingga dibebaskan pada 26 Juli 1966, setelah Orde Lama jatuh. Meskipun diberikan amnesti oleh Presiden Soekarno pada tahun 1961, ia baru benar-benar dibebaskan pada era Soeharto.
H. Era Suharto dan Petisi 50
1. Apakah Dipenjara: Tidak dipenjara, namun ia bersikap kritis terhadap kebijakan otoriter Presiden Suharto.
2. Keterlibatan Petisi 50: Syafruddin adalah tokoh kunci dan salah satu penandatangan Petisi 50 pada Mei 1980. Petisi ini merupakan kelompok purnawirawan militer dan tokoh masyarakat (termasuk M. Natsir) yang mengkritik Suharto karena menganggap dwifungsi ABRI disalahgunakan untuk mempertahankan kekuasaan dan menganggap diri sebagai penafsir tunggal Pancasila.
3. Konsekuensi: Akibat keterlibatan di Petisi 50, Syafruddin dicekal, dilarang berdakwah, dan diawasi ketat oleh rezim Orde Baru.
4. Syafruddin Prawiranegara dikenal sebagai sosok yang teguh pendirian, amanah, dan berani mengambil risiko demi kesetiaan pada negara, meski harus berhadapan dengan penguasa (baik Soekarno maupun Suharto).
I. Akhir Hayat dan Nasib Keluarga
1. Akhir Hayat: Setelah lepas dari kancah politik praktis, ia fokus pada dakwah, melawan korupsi, dan aktif dalam kepengurusan Yayasan Pesantren Islam Al-Azhar. Ia wafat pada 15 Februari 1989 karena serangan jantung.
2. Nasib Keluarga: Saat terlibat PRRI, rumahnya di Jakarta diambil paksa oleh pemerintah, memaksa keluarganya hidup menumpang di garasi mobil dan kamar pembantu. Namun, pada akhirnya, jasa-jasanya diakui sebagai Pahlawan Nasional.
RISALAH PAHLAWAN NASIONAL
SYAFRUDDIN PRAWIRANEGARA
(Mr. Syafruddin Prawiranegara)
Lahir: Anyer Kidul, Serang, Banten, 28 Februari 1911
Wafat: Jakarta, 15 Februari 1989 (usia 77 tahun)
Orang Tua:
Raden Arsyad Prawiraatmadja (Ayah)
Noeraini (Ibu)
Pendidikan:
Rechtshoogeschool (Sekolah Tinggi Hukum) Batavia / Jakarta
Gelar: Pahlawan Nasional Indonesia (7 November 2011)
Tokoh utama:
Syafruddin Prawiranegara adalah seorang ekonom, negarawan, dan tokoh politik yang berjasa besar menyelamatkan kelangsungan Republik Indonesia saat masa krisis revolusi.
Ia dikenal sebagai pemimpin Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) di Sumatera Barat pada tahun 1948–1949 ketika para pemimpin Republik ditawan Belanda.
A. Pemimpin Pemerintahan Darurat Republik Indonesia
Pada peristiwa Dutch Military Aggression II, Belanda menyerbu Yogyakarta dan menawan Presiden Sukarno serta Wakil Presiden Mohammad Hatta.
Dalam situasi kritis tersebut, Syafruddin menerima mandat untuk membentuk Pemerintahan Darurat Republik Indonesia di Sumatera Barat.
Sebagai ketua PDRI, ia berhasil:
- Menjaga keberlangsungan pemerintahan Republik
- Mengkoordinasikan perjuangan diplomasi dan militer
- Membuktikan kepada dunia bahwa Republik Indonesia masih ada
PDRI kemudian menyerahkan kembali mandat kepada Presiden Soekarno setelah para pemimpin dibebaskan.
B. Karier Ekonomi dan Pemerintahan
Syafruddin dikenal sebagai ekonom yang cerdas dan berani mengambil kebijakan penting.
Beberapa jabatan penting yang pernah dipegangnya:
• Menteri Keuangan
• Menteri Kemakmuran
• Menteri Pertanian
• Menteri Perdagangan
• Gubernur pertama Bank Indonesia
Ia menjabat Gubernur Bank Indonesia pada tahun 1953–1958 setelah nasionalisasi De Javasche Bank.
C. Kebijakan Ekonomi: Gunting Syafruddin
Salah satu kebijakan ekonomi paling terkenal adalah Gunting Syafruddin.
1. Waktu Pelaksanaan
20 Maret 1950
2. Tujuan
Mengatasi inflasi tinggi dan mengurangi jumlah uang yang beredar setelah perang kemerdekaan.
3. Cara Pelaksanaan
Uang kertas pecahan Rp5 ke atas digunting menjadi dua bagian.
• Bagian kiri tetap berlaku sebagai alat pembayaran dengan nilai setengah.
• Bagian kanan ditukar dengan obligasi negara.
4. Dampak
Kebijakan ini berhasil mengurangi jumlah uang yang beredar dan menstabilkan ekonomi, meskipun sempat menimbulkan kepanikan masyarakat.
D. Perjuangan Era Belanda dan Jepang
Masa Kolonial Belanda
Syafruddin aktif dalam kegiatan intelektual dan politik. Ia menentang gagasan Petisi Soetardjo yang menginginkan Indonesia tetap berada dalam Kerajaan Belanda.
Masa Pendudukan Jepang
Ia bekerja sebagai kepala kantor pajak di Kediri dan Bandung, sambil secara diam-diam mengkritik kebijakan militer Jepang.
E. Perjuangan Mempertahankan Kemerdekaan
Setelah Indonesia merdeka, Syafruddin berperan penting dalam menjaga stabilitas negara.
Peran pentingnya antara lain:
• Mendesak penggunaan mata uang nasional ORI
• Mengelola kebijakan ekonomi negara
• Menjaga kelangsungan pemerintahan melalui PDRI
Perannya dalam PDRI dianggap sebagai salah satu faktor penting yang menyelamatkan Republik Indonesia dari kehancuran.
F. Keterlibatan dalam PRRI
Pada akhir 1950-an, Syafruddin terlibat dalam gerakan PRRI Rebellion.
Alasan keterlibatannya antara lain:
- Ketimpangan ekonomi antara pusat dan daerah
- Kekhawatiran terhadap meningkatnya pengaruh komunisme
- Tuntutan agar pemerintah kembali menjalankan konstitusi secara demokratis
Gerakan tersebut akhirnya ditumpas o itu jileh pemerintah pusat.
G. Masa Penjara
Karena keterlibatannya dalam PRRI, Syafruddin dipenjara oleh pemerintah pada masa Orde Lama.
Ia dipenjara tanpa pengadilan dari 1958 hingga 1966.
Meskipun telah mendapat amnesti pada tahun 1961, ia baru benar-benar bebas setelah perubahan politik nasional.
H. Kritik terhadap Orde Baru
Pada masa pemerintahan Suharto, Syafruddin tetap bersikap kritis terhadap kekuasaan.
Ia menjadi salah satu tokoh yang menandatangani Petisi 50, sebuah pernyataan yang mengkritik penyalahgunaan Pancasila untuk mempertahankan kekuasaan.
Akibatnya:
• Ia dicekal
• Dilarang berdakwah
• Diawasi ketat oleh pemerintah
I. Akhir Hayat
Setelah meninggalkan dunia politik praktis, Syafruddin aktif dalam kegiatan dakwah dan pendidikan Islam, terutama melalui Yayasan Pesantren Islam Al-Azhar.
Ia wafat di Jakarta pada 15 Februari 1989 karena serangan jantung.
J. Warisan dan Penghargaan
Atas jasa-jasanya kepada bangsa Indonesia, Syafruddin Prawiranegara dianugerahi gelar Pahlawan Nasional Indonesia pada tahun 2011.
Ia dikenang sebagai tokoh yang:
✔ Jujur dan berintegritas tinggi
✔ Setia kepada Republik Indonesia
✔ Berani mengambil keputusan sulit demi negara
151 SBY
Buatlah Risalah dan Infografis tentang Pahlawan :
KH. Idham Chalid.
Lahir di Satui, Kalimantan Selatan, 27 Agustus 1921.
Meninggal di Jakarta, 11 Juli 2010 (dimakamkan di Cisarua, Bogor).
Pendidikan: Pondok Modern Gontor
Organisasi: Nahdlatul Ulama (Ketua Umum 1956-1984)
Jabatan: Wakil Perdana Menteri II, Ketua MPR/DPR, Menteri Utama/Kesejahteraan Rakyat
Gelar Pahlawan: Ditetapkan berdasarkan Keputusan Presiden No. 113/TK/Tahun 2011 tanggal 7 November 2011.
A. KH Idham Chalid (1921–2010) adalah pahlawan nasional Indonesia dari Kalimantan Selatan, ulama karismatik NU, dan politisi ulung yang menjabat Ketua MPR/DPR (1972-1977) serta Ketua Umum Tanfidziyah NU terlama (28 tahun). Beliau dikenal jujur, bersahaja, aktif berjuang di masa kemerdekaan, serta pendidik melalui lembaga pesantren Darul Maarif.
B. Perjuangan dan Kiprah
Perjuangan Fisik (Masa Kemerdekaan):
1. Berjuang di Kalimantan Selatan melawan NICA/Belanda.
2. Bergabung dengan Serikat Muslim Indonesia (Sermi) dan Sentral Organisasi Pemberontak Indonesia Kalimantan (SOPIK).
3. Mendirikan Fonds Nasional Indonesia Kalimantan bersama Letkol Hassan Basri, serta bergerilya bersama Divisi IV ALRI.
4. Ditangkap Belanda pada Maret 1949 dan dibebaskan November 1949.
5. Perjuangan Pendidikan dan Agama:
6. Aktif dalam organisasi pemuda (Seinendan dan Hizbullah) pada masa Jepang.
7. Mendirikan Pesantren Darul Ma'arif di Jakarta (1956) dan Pondok Pesantren Darul Qur'an di Cisarua, Bogor.
8. Mendirikan Ittihad Al Ma'ahid Al islamiyyah (perhimpunan pesantren).
9. Perjuangan Politik dan Negarawan:
10. Menjadi pemimpin tertinggi Nahdlatul Ulama (NU) selama 28 tahun dan membawa NU menjadi partai politik yang disegani pada Pemilu 1955.
11. Menjabat Wakil Perdana Menteri II dalam kabinet Ali Sastroamidjojo.
12. Ketua DPR/MPR periode 1971-1977.
13. Mendapat julukan "Ketua DPR Termiskin" karena kesederhanaannya dan kejujurannya, di mana ia melarang keluarga menggunakan fasilitas negara.
14. Ketua Panitia Pembangunan Masjid Istiqlal.
15. Atas jasanya, wajah KH Idham Chalid diabadikan dalam uang kertas pecahan Rp 5.000 emisi 2016. Idham Chalid diabadikan dalam uang kertas pecahan Rp 5.000 emisi 2016.
C. Perjuangan Era Belanda (NICA)
Perlawanan Fisik dan Diplomasi: Idham Chalid aktif dalam menyebarkan semangat cinta tanah air melalui ceramah keagamaan di Kalimantan Selatan.
1. Menentang NICA: Saat NICA (Belanda) kembali ke Indonesia, ia menjadi tokoh sentral yang menentang kehadiran mereka.
2. Dipenjara Belanda: Karena perannya yang vokal dalam melawan Belanda, ia ditangkap dan ditahan oleh NICA pada Maret 1949.
D. Perjuangan Era Jepang
1. Pendidikan dan Pengajaran: Selama masa pendudukan Jepang, Idham aktif dalam dunia pendidikan, menjadi guru, dan meningkatkan kecerdasan masyarakat sebagai modal kemerdekaan.
2. Perjuangan Melalui Dakwah: Ia menggunakan jalur dakwah untuk membangun mentalitas rakyat agar tetap tegar dan anti-kolonial.
E. Perjuangan Pasca Kemerdekaan Indonesia
Setelah proklamasi, Idham Chalid menjadi tokoh penting dalam mempertahankan kemerdekaan dan membangun negara:
1. Anggota Parlemen (RIS/NKRI): Pada Maret 1950, ia menjadi anggota parlemen RIS sebagai wakil Kalimantan Selatan (Banjar).
2. Ketua Umum PBNU Terlama: Ia memimpin NU selama 28 tahun (1956-1984), membawa NU ke ranah politik praktis untuk memperjuangkan kepentingan umat.
3. Negarawan dan Kabinet: Ia menjabat Wakil Perdana Menteri II pada Kabinet Ali Sastroamidjojo dan berlanjut ke berbagai kabinet lainnya (demokrasi terpimpin/orde baru).
4. Ketua DPR/MPR: Menjadi Ketua DPR dan MPRS (1959-1960).
5. Diplomasi Haji: Ditugaskan pemerintah untuk menjalin hubungan diplomatik dengan Arab Saudi terkait manajemen haji.
6. KH. Idham Chalid dikenal sebagai politisi yang santun, hidup sederhana, dan tidak menggunakan fasilitas negara untuk kepentingan peribadi. Ia wafat pada tahun 2010 dan diakui sebagai salah satu tokoh bangsa paling berpengaruh.
F. Penahanan oleh Penjajah
KH Idham Chalid pernah ditahan oleh Belanda.
1. Kapan: Masa perjuangan kemerdekaan (sekitar era agresi militer atau pra-kemerdekaan).
2. Mengapa: Ia ditahan karena aktivitasnya yang dianggap membahayakan posisi Belanda, terutama perannya sebagai orator dan pemimpin yang aktif membangkitkan semangat rakyat untuk merdeka dan melawan NICA (Netherlands Indies Civil Administration).
3. Cerita Penjara: Selama di penjara, ia dikisahkan teguh pendirian, bahkan mendapatkan kekuatan spiritual melalui amalan-amalan agama di tengah keji-nya perlakuan Belanda.
G. Akhir Hayat dan Nasib Keluarga
1. Akhir Hayat: KH Idham Chalid wafat pada 11 Juli 2010 akibat penurunan kesehatan karena faktor usia. Beliau dimakamkan di Kompleks Pondok Pesantren Darul Qur’an, Cisarua, Bogor.
2. Nasib Keluarga: Beliau dikenal sebagai pejabat yang sangat sederhana (termasuk ketua DPR termiskin dalam hal kekayaan harta, namun kaya teladan). Istri beliau, Nyai Hj Mastura, wafat pada tahun 2017 dan dimakamkan di sisi beliau. Anak-anak beliau dikenal aktif di organisasi keagamaan dan kemasyarakatan.
H. Warisan untuk Bangsa Indonesia
1. Pahlawan Nasional: Ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia berdasarkan Keppres No. 113/TK/2011.
2. Ulama-Negarawan: Menjadi teladan bagaimana ulama dapat berkontribusi maksimal dalam negara (politisi santri) tanpa meninggalkan prinsip-prinsip Islam.
3. Integrasi Nasional: Berperan aktif menyatukan berbagai kelompok politik dalam wadah NKRI.
4. Organisasi NU: Membawa Nahdlatul Ulama menjadi kekuatan sosial-politik yang moderat dan toleran di Indonesia.
RISALAH PAHLAWAN NASIONAL
KH. IDHAM CHALID
(1921–2010)
A. Profil Singkat
KH. Idham Chalid adalah ulama besar, pemimpin organisasi Islam, sekaligus negarawan Indonesia yang berasal dari Kalimantan Selatan. Ia dikenal sebagai tokoh Nahdlatul Ulama yang memimpin organisasi tersebut selama hampir tiga dekade serta menjadi salah satu politisi paling berpengaruh pada masa awal kemerdekaan hingga era Orde Baru.
Ia terkenal karena kesederhanaan, kejujuran, dan pengabdian kepada bangsa, bahkan pernah dijuluki sebagai “Ketua DPR Termiskin” karena tidak memanfaatkan fasilitas negara untuk kepentingan pribadi.
B. Biodata
- Nama lengkap: KH. Idham Chalid
- Lahir: Satui, Kalimantan Selatan, 27 Agustus 1921
- Wafat: Jakarta, 11 Juli 2010
- Dimakamkan: Cisarua, Bogor
- Pendidikan: Pondok Modern Gontor
- Organisasi: Nahdlatul Ulama (Ketua Umum 1956–1984)
- Gelar: Pahlawan Nasional Indonesia
C. Perjuangan Masa Kemerdekaan
Pada masa perjuangan melawan penjajah, Idham Chalid aktif dalam gerakan perlawanan di Kalimantan Selatan.
Beberapa perannya antara lain:
- Berjuang melawan pasukan NICA Belanda yang kembali ke Indonesia setelah Proklamasi.
- Bergabung dengan Serikat Muslim Indonesia (Sermi) dan SOPIK.
- Bersama Letkol Hassan Basri mendirikan Fonds Nasional Indonesia Kalimantan.
- Ikut bergerilya bersama Divisi IV ALRI Kalimantan.
- Ditangkap Belanda pada Maret 1949, kemudian dibebaskan pada November 1949.
D. Perjuangan Pendidikan dan Dakwah
Selain berjuang secara fisik, Idham Chalid juga memperjuangkan kemerdekaan melalui pendidikan dan dakwah.
Kontribusinya antara lain:
- Aktif dalam organisasi pemuda seperti Seinendan dan Hizbullah pada masa Jepang.
- Mendirikan Pesantren Darul Ma’arif di Jakarta (1956).
- Mendirikan Pesantren Darul Qur’an di Cisarua, Bogor.
- Mendirikan organisasi pesantren Ittihad Al Ma’ahid Al Islamiyyah.
Melalui pesantren dan dakwah, ia menanamkan semangat nasionalisme dan keislaman kepada generasi muda.
E. Kiprah Politik dan Kenegaraan
Idham Chalid menjadi salah satu tokoh politik penting Indonesia.
Beberapa jabatan penting yang pernah diemban:
- Ketua Umum PB Nahdlatul Ulama (1956–1984) – pemimpin NU terlama.
- Wakil Perdana Menteri II pada Kabinet Ali Sastroamidjojo.
- Ketua DPR/MPR RI (1972–1977).
- Menteri Kesejahteraan Rakyat / Menteri Utama dalam berbagai kabinet.
Ia juga dipercaya menjadi Ketua Panitia Pembangunan Masjid Istiqlal, masjid nasional Indonesia di Jakarta.
F. Keteladanan dan Kesederhanaan
Idham Chalid dikenal sebagai pemimpin yang sangat sederhana.
Beberapa sikap teladannya:
- Dijuluki “Ketua DPR Termiskin” karena hidup sederhana.
- Melarang keluarga menggunakan fasilitas negara.
- Menjunjung tinggi kejujuran dan integritas dalam politik.
G. Penghargaan
Atas jasa dan pengabdiannya kepada bangsa:
H. Akhir Hayat
KH. Idham Chalid wafat pada 11 Juli 2010 di Jakarta karena faktor usia.
Beliau dimakamkan di Kompleks Pondok Pesantren Darul Qur’an, Cisarua, Bogor.
Istrinya Nyai Hj. Mastura wafat pada tahun 2017 dan dimakamkan di samping beliau.
I. Warisan untuk Bangsa
Warisan besar KH. Idham Chalid bagi Indonesia antara lain:
- Teladan ulama yang menjadi negarawan.
- Peran penting dalam memperkuat Nahdlatul Ulama sebagai kekuatan sosial keagamaan.
- Kontribusi dalam persatuan bangsa dan pembangunan negara.
- Keteladanan dalam kejujuran, kesederhanaan, dan pengabdian kepada rakyat.
152 SBY
Buatlah Risalah dan Infografis tentang Pahlawan :
Haji Abdul Malik Karim Amrullah (HAMKA).
Lahir di Sungai Batang, Maninjau, Sumbar / 17 Februari 1908.
Meninggal di Jakarta, 24 Juli 1981.
Ayah: Syekh Abdul Karim Amrullah (Haji Rasul), tokoh pembaharu Islam
Pendidikan: Pendidikan formal rendah, lebih banyak belajar otodidak (membaca buku, berguru pada ulama di Sumatra Barat hingga Mekkah)
Karier: Ulama, Penulis/Sastrawan, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) pertama, Pejuang
A. Prof. Dr. Haji Abdul Malik Karim Amrullah (Hamka), lahir 17 Februari 1908 di Sungai Batang, Maninjau, Sumbar, adalah pahlawan nasional, ulama besar, sastrawan, dan politikus ulung. Sebagai putra tokoh pembaharu Islam, Hamka bergerilya melawan Belanda, memimpin pertahanan di Sumbar, serta aktif menulis tafsir Al-Azhar dan novel bermuatan moral.
B. Perjuangan dan Kiprah Hamka
1. Perjuangan Bersenjata: Selama masa perang kemerdekaan, Hamka memimpin Barisan Pengawal Nagari dan Kota (BPNK) di Sumatera Barat untuk menggerilyai Belanda. Ia juga ditunjuk Hatta sebagai pimpinan Front Pertahanan Nasional (FPN) di Sumbar.
2. Tabligh Revolusi: Hamka mengelilingi nagari-nagari di Sumbar dan Riau, menggunakan kemampuan retorikanya untuk mengobarkan semangat jihad dan perjuangan kemerdekaan di kalangan rakyat dan ulama.
3. Pendidikan dan Pemikiran: Hamka membawa gagasan modernis Islam (tajdid), giat dalam Muhammadiyah, dan menekankan pentingnya akal serta pengalaman dalam memahami agama.
4. Sastrawan dan Penulis Produktif: Ia menulis lebih dari 118 buku, termasuk roman terkenal seperti Di Bawah Lindungan Ka'bah dan Tenggelamnya Kapal Van der Wijck, serta karya tafsir monumental Tafsir Al-Azhar.
5. Ketua MUI Pertama: Hamka dipilih sebagai ketua pertama Majelis Ulama Indonesia (MUI) pada tahun 1975, menegaskan perannya sebagai pemersatu umat.
6. Hamka dikukuhkan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 113/TK/Tahun 2011.
C. Riwayat Berguru (Masa Muda)
1. Hamka muda dikenal sebagai perantau yang belajar secara mandiri (otodidak) dan melalui berbagai halaqah tradisional:
2. Pendidikan Dasar & Agama (Minangkabau): Pada usia 7 tahun belajar mengaji di surau, kemudian masuk Sekolah Desa. Ia juga belajar agama kepada ayahnya (Haji Rasul) dan ulama lain seperti Syekh Ibrahim Musa.
3. Berguru ke Jawa (1924-1925): Saat remaja, ia merantau ke Jawa dan berguru ke tokoh-tokoh pembaharu Islam, termasuk Ki Bagus Hadikusumo (Muhammadiyah) di Yogyakarta, serta HOS Tjokroaminoto.
4. Belajar Mandiri: Hamka banyak membaca buku-buku sastra, sejarah, dan filsafat barat maupun timur di perpustakaan secara otodidak.
5. Menunaikan Haji & Belajar di Mekkah (1927): Pada usia 19 tahun, ia berangkat ke Mekkah untuk menunaikan ibadah haji sekaligus menuntut ilmu. Selama di sana, ia bekerja di percetakan dan belajar bahasa Arab serta sejarah Islam.
D. Perjuangan Era Belanda, Jepang, dan Pasca Kemerdekaan.
1. Era Penjajahan Belanda: Hamka berjuang melalui tulisan di majalah Pedoman Masyarakat (Medan) dan aktif di Muhammadiyah, menyerukan semangat anti-penjajah dan pemurnian akidah.
2. Era Pendudukan Jepang: Hamka menolak bekerja sama dengan Jepang, meskipun ia pernah diminta menjadi penasihat Jepang. Ia memilih fokus mendidik dan menulis, serta meramalkan kejatuhan Jepang dalam tulisan-tulisannya.
3. Pasca Kemerdekaan (Indonesia Merdeka):
* Perjuangan Fisik & Politik: Saat Agresi Militer Belanda II, ia memimpin Front Pertahanan Nasional di Sumatera Barat.
* Pemerintahan: Menjadi anggota Konstituante Masyumi (1956).
* Dakwah & Sastra: Mendirikan Masjid Agung Al-Azhar (Jakarta) sebagai pusat dakwah, serta menulis lebih dari 118 karya, termasuk Tafsir Al-Azhar yang ditulis saat ia ditahan.
E. Penahanan:
Buya Hamka pernah ditahan selama kurang lebih 2 tahun 4 bulan (Februari 1964 hingga Mei 1966) oleh pemerintah Orde Lama (Era Soekarno).
1. Siapa: Ditahan oleh rezim Soekarno/Orde Lama.
2. Mengapa: Hamka difitnah terlibat dalam upaya pembunuhan Soekarno dan dituduh berkhianat karena sikap politiknya di partai Masyumi (yang berseberangan dengan Nasakom/PKI). Ia ditahan tanpa proses pengadilan resmi.
3. Sisi Lain: Meskipun ditahan, Hamka justru menyelesaikan karya terbesarnya, Tafsir Al-Azhar, di dalam penjara. Uniknya, setelah Soekarno wafat, Hamka pula yang menjadi imam shalat jenazah Soekarno atas permintaan keluarga, menunjukkan kelapangan hati dan tidak adanya dendam.
F. Karya Sastra dan Karya Lainnya
Hamka adalah penulis produktif dengan lebih dari 118 buku. Meskipun tidak secara khusus dikenal sebagai "pencipta lagu" (melodi), ia menciptakan karya tulis bernada sastra yang sangat puitis dan sering diadaptasi.
1. Novel/Sastra: Tenggelamnya Kapal Van der Wijck, Di Bawah Lindungan Ka'bah, Merantau ke Deli, Laila Majnun (saduran).
2. Agama/Tasawuf: Tafsir Al-Azhar (30 Juz), Tasawuf Modern, Falsafah Hidup, Lembaga Hidup.
3. Sejarah/Filsafat: Sejarah Umat Islam, Adat Minangkabau dan Agama Islam.
4. Lagu/Karya Suara: Salah satu karya yang sering dianggap ciptaannya dan sering diputar (terutama di RRI dan radio dakwah) adalah lagu "Panggilan Jihad".
G. MUI (Majelis Ulama Indonesia)
1. Mulai Ada: MUI dibentuk pada 26 Juli 1975.
2. Ketua Pertama: Prof. Dr. Hamka (Buya Hamka) menjabat sebagai Ketua Umum MUI pertama (1975-1981). Ia mundur dari jabatan ini karena teguh pada prinsipnya, menolak mencabut fatwa haram perayaan Natal bersama bagi umat Islam.
H. Akhir Hayat dan Keluarga
1. Wafat: 24 Juli 1981 karena sakit.
2. Keluarga: Ditinggalkan oleh anak-anak dan keturunannya (dari istri Siti Raham). Salah satu anaknya yang dikenal adalah Rusydi Hamka.
RISALAH & INFOGRAFIS PAHLAWAN NASIONAL
Abdul Malik Karim Amrullah (HAMKA)
Ulama – Sastrawan – Pejuang Kemerdekaan
IDENTITAS TOKOH
- Nama lengkap: Prof. Dr. Haji Abdul Malik Karim Amrullah
- Nama populer: HAMKA / Buya Hamka
- Lahir: Sungai Batang, Maninjau, Sumatera Barat, 17 Februari 1908
- Wafat: Jakarta, 24 Juli 1981
Ayah:
- Abdul Karim Amrullah (Haji Rasul), tokoh pembaharu Islam Minangkabau
Pendidikan:
- Pendidikan formal relatif rendah
- Belajar secara otodidak melalui membaca buku dan berguru kepada ulama di Sumatra Barat hingga Mekkah
Karier:
- Ulama
- Penulis / sastrawan
- Tokoh dakwah
- Ketua pertama Majelis Ulama Indonesia
Gelar:
- Pahlawan Nasional Indonesia (2011)
A. Tokoh Ulama, Sastrawan, dan Pejuang
Prof. Dr. Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau HAMKA adalah ulama besar Indonesia yang juga dikenal sebagai sastrawan dan pemikir Islam modern.
Ia adalah putra dari tokoh pembaharu Islam Minangkabau, Haji Rasul, yang mempengaruhi pemikiran modernisnya.
Hamka berjuang melalui:
- dakwah
- tulisan
- pendidikan
- perjuangan fisik melawan penjajah
Karya monumentalnya adalah:
Tafsir Al-Azhar
yang menjadi salah satu tafsir Al-Qur’an paling penting di Indonesia.
B. Perjuangan dan Kiprah HAMKA
1. Perjuangan Bersenjata
Pada masa perang kemerdekaan, Hamka ikut berjuang di Sumatera Barat.
Ia memimpin:
Barisan Pengawal Nagari dan Kota (BPNK)
yang melakukan perlawanan gerilya terhadap Belanda.
Ia juga dipercaya oleh
Mohammad Hatta
untuk memimpin Front Pertahanan Nasional di Sumatera Barat.
2. Tabligh Revolusi
Hamka mengelilingi berbagai nagari di Sumatera Barat dan Riau.
Melalui ceramah dan khutbahnya, ia:
- membangkitkan semangat jihad
- mengobarkan semangat kemerdekaan
- mempersatukan ulama dan rakyat
Kemampuan retorikanya menjadikan Hamka sebagai pendakwah revolusi.
3. Pendidikan dan Pemikiran
Hamka aktif dalam organisasi:
Ia membawa gagasan tajdid (pembaruan Islam) yang menekankan:
- penggunaan akal
- pemahaman kontekstual terhadap agama
- kemajuan pendidikan umat.
4. Sastrawan dan Penulis Produktif
Hamka menulis lebih dari 118 buku yang meliputi:
- sastra
- agama
- sejarah
- filsafat
Beberapa karya terkenalnya adalah:
- Tenggelamnya Kapal Van der Wijck
- Di Bawah Lindungan Ka'bah
- Merantau ke Deli
5. Ketua Pertama Majelis Ulama Indonesia
Pada tahun 1975 dibentuk:
Majelis Ulama Indonesia
Hamka dipilih sebagai Ketua Umum pertama (1975–1981).
Ia dikenal sangat teguh pada prinsip.
Hamka bahkan mengundurkan diri dari jabatan tersebut karena menolak mencabut fatwa tentang perayaan Natal bersama.
C. Riwayat Berguru (Masa Muda)
Hamka dikenal sebagai perantau pencari ilmu.
Pendidikan Awal
Sejak usia 7 tahun ia belajar mengaji di surau dan sekolah desa di Minangkabau.
Ia juga belajar kepada ayahnya dan ulama seperti:
Berguru ke Jawa (1924–1925)
Saat remaja Hamka merantau ke Jawa dan belajar kepada tokoh besar:
- Ki Bagus Hadikusumo
- Oemar Said Tjokroaminoto
Di sana ia mengenal ide-ide pembaharuan Islam dan nasionalisme.
Belajar di Mekkah
Pada tahun 1927 Hamka berangkat ke:
Mecca
Selain menunaikan ibadah haji, ia juga belajar bahasa Arab, sejarah Islam, dan bekerja di percetakan.
D. Perjuangan Era Belanda, Jepang, dan Kemerdekaan
Masa Belanda
Hamka menulis di majalah:
Pedoman Masyarakat (Medan)
Tulisan-tulisannya menyerukan:
- semangat anti-penjajahan
- pemurnian akidah
- kebangkitan umat Islam.
Masa Pendudukan Jepang
Pada masa Jepang, Hamka menolak bekerja sama secara politik dengan Jepang.
Ia memilih fokus pada:
- pendidikan
- dakwah
- menulis karya keislaman.
Masa Indonesia Merdeka
Setelah kemerdekaan, Hamka aktif dalam:
- perjuangan mempertahankan kemerdekaan
- politik nasional
Ia menjadi anggota Konstituante dari Partai Masyumi.
Selain itu, ia mengembangkan dakwah di:
Masjid Agung Al-Azhar Jakarta
yang kemudian menjadi pusat kegiatan intelektual Islam.
E. Masa Penahanan
Hamka pernah ditahan oleh pemerintah Orde Lama pada masa pemerintahan:
Sukarno
Lama Penahanan
Februari 1964 – Mei 1966.
Tuduhan
Ia difitnah terlibat dalam rencana pembunuhan Presiden dan dituduh berkhianat karena sikap politiknya di Partai Masyumi.
Hamka dipenjara tanpa proses pengadilan.
Karya di Penjara
Justru pada masa penahanan ini ia menyelesaikan karya besar:
Tafsir Al-Azhar
Sikap Besar Hati
Setelah Presiden Sukarno wafat, keluarga meminta Hamka menjadi imam shalat jenazah.
Hamka menerima permintaan tersebut tanpa menyimpan dendam.
F. Karya-Karya Penting
Karya Sastra
- Tenggelamnya Kapal Van der Wijck
- Di Bawah Lindungan Ka'bah
- Merantau ke Deli
Karya Agama
- Tafsir Al-Azhar
- Tasawuf Modern
- Falsafah Hidup
- Lembaga Hidup
Karya Sejarah
- Sejarah Umat Islam
- Adat Minangkabau dan Agama Islam
G. Peran dalam MUI
Organisasi:
Majelis Ulama Indonesia
- Dibentuk: 26 Juli 1975
- Ketua pertama: Buya Hamka
Ia memimpin lembaga ini hingga tahun 1981.
H. Akhir Hayat dan Keluarga
Buya Hamka wafat pada:
24 Juli 1981 di Jakarta
Ia meninggalkan keluarga dari istrinya:
Siti Raham
Salah satu anaknya yang dikenal luas adalah:
Warisan Besar Buya HAMKA
Warisan Hamka bagi bangsa Indonesia meliputi:
- Tafsir Al-Azhar sebagai karya tafsir monumental
- Karya sastra besar yang memperkaya literatur Indonesia
- Pemikiran Islam modern yang memadukan agama, akal, dan kemajuan
- Keteladanan moral dan keberanian prinsip
Penghargaan
Pemerintah Indonesia menetapkan:
Abdul Malik Karim Amrullah (HAMKA)
sebagai Pahlawan Nasional Indonesia pada tahun 2011.
153 SBY
Buatlah Risalah dan Infografis tentang Pahlawan :
Ki Sarmidi Mangunsarkoro (S. Mangoensarkoro).
Lahir di Surakarta, 23 Mei 1904.
Meninggal di Jakarta, 8 Juni 1957.
(dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata).
Dikenal Sebagai: Tokoh Pendidikan, Pendidik Taman Siswa, Menteri Pendidikan.
Gelar: Pahlawan Nasional (ditetapkan 11 November 2011)
Pendidikan: Sekolah Guru Arjuna (Jakarta)
A. Ki Sarmidi Mangunsarkoro (1904-1957) adalah pahlawan nasional dari Surakarta, pejuang pendidikan, dan tokoh Pergerakan Nasional. Beliau mendirikan Perguruan Tamansiswa Jakarta, aktif dalam Kongres Pemuda II 1928, serta menjabat sebagai Menteri Pendidikan, Pengajaran, dan Kebudayaan (1949-1950), yang ikut membantu mendirikan Universitas Gadjah Mada.
B. Perjuangan Ki Sarmidi Mangunsarkoro
1. Pendidikan Berbasis Kebangsaan (Tamansiswa): Setelah lulus dari sekolah guru, ia mengabdi pada Tamansiswa Yogyakarta, lalu mendirikan Perguruan Tamansiswa di Jakarta pada 1930 atas restu Ki Hadjar Dewantara. Beliau menekankan pendidikan yang berlandaskan hidup dan penghidupan bangsa.
2. Tokoh Sumpah Pemuda 1928: Ia menjadi salah satu pembicara dalam kongres yang melahirkan Sumpah Pemuda, di mana ia menegaskan pentingnya pendidikan kebangsaan dan keseimbangan pendidikan di sekolah dan rumah.
3. Menteri Pendidikan dan Tokoh PNI: Sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan pada tahun 1949-1950, beliau merumuskan dasar-dasar pendidikan nasional. Beliau juga terlibat dalam pembentukan Serikat Rakyat Indonesia (Serindo) yang kemudian menjadi PNI.
4. Mendirikan Institusi Pendidikan: Berperan penting dalam pendirian Universitas Gadjah Mada (UGM) di Yogyakarta, Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI), dan Konservatori Karawitan.
5. Perjuangan Melalui Pemikiran: Aktif menulis buku tentang pendidikan, kebudayaan, sosial, dan ekonomi. Selama hidupnya, ia dikenal sangat sederhana, bahkan menolak rumah dinas menteri.
6. Ki Sarmidi Mangunsarkoro dikenal sebagai figur yang tak kenal kompromi dengan Belanda dan berjuang gigih demi pendidikan yang memerdekakan.
C. Masa Muda dan Berguru (Pendidikan)
Sebagai pemuda yang haus ilmu, Sarmidi berguru di tempat-tempat yang menanamkan kesadaran kebangsaan, antara lain:
1. Sekolah Dasar: Menempuh pendidikan di Sekolah Angka Dua dan Sekolah Menengah Rakyat.
2. Pendidikan Guru: Berguru di Kweekschool (Sekolah Guru) di Jetis, Yogyakarta.
3. Ideologi Nasionalisme: Sarmidi aktif dalam pergerakan muda di Surakarta dan Yogyakarta, serta memperdalam ilmu kebangsaan dan pendidikan di lingkungan Taman Siswa, di mana beliau berguru langsung pada Ki Hadjar Dewantara.
D. Perjuangan Era Belanda
1. Sumpah Pemuda: Sarmidi adalah tokoh penting dalam Kongres Pemuda I dan II, yang menghasilkan Sumpah Pemuda.
2. Guru & Pendidikan Nasional: Menjadi guru di Taman Siswa dan berusaha membebaskan pendidikan dari sistem kolonial yang diskriminatif. Beliau memperjuangkan kurikulum yang berbasis kebudayaan nasional.
3. Politik: Aktif di Persatuan Pemuda Indonesia dan menyebarkan ide-ide kemerdekaan melalui jalur pendidikan.
E. Perjuangan Era Jepang
1. Mempertahankan Taman Siswa: Ketika Jepang berusaha menutup sekolah-sekolah, termasuk Taman Siswa, Sarmidi berjuang mempertahankan sekolah tersebut agar tetap bisa menanamkan jiwa kebangsaan kepada siswa.
2. Bahasa Indonesia: Aktif dalam mempromosikan dan mempertahankan penggunaan bahasa Indonesia di tengah tekanan budaya Jepang.
F. Perjuangan Pasca Kemerdekaan
1. Menteri Pendidikan: Sarmidi Mangunsarkoro menjabat sebagai Menteri Pendidikan, Pengajaran, dan Kebudayaan (PPK) pada periode Kabinet Hatta (1949-1950) dan Kabinet Halim (1950) saat masa Republik Indonesia Serikat (RIS).
2. Pejuang Pendidikan Nasional: Berhasil meletakkan dasar-dasar pendidikan nasional yang bernapaskan kebangsaan dan kebudayaan Indonesia, serta berjuang memberantas buta huruf.
3. Karakter: Dikenal sebagai sosok yang bersahaja, sering disebut "Menteri Bersarung" karena kesederhanaannya.
G. Akhir Hayat dan Keluarga
1. Akhir Hayat: Sarmidi wafat pada 8 Juni 1957 di Jakarta karena sakit.
2. Keluarga: Ki Sarmidi dikenal hidup dalam kesederhanaan. Ia merupakan sosok pahlawan yang tidak memiliki rumah pribadi hingga akhir hayatnya, hidup menumpang di sekolah-sekolah atau rumah Taman Siswa.
3. Warisan: Ia meninggalkan warisan berharga berupa sistem pendidikan yang mengutamakan karakter dan kebangsaan.
RISALAH PAHLAWAN NASIONAL
KI SARMIDI MANGUNSARKORO
(S. Mangoensarkoro)
Lahir: Surakarta, 23 Mei 1904
Wafat: Jakarta, 8 Juni 1957
Dimakamkan: Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta
Tokoh utama:
Ki Sarmidi Mangunsarkoro
Dikenal sebagai:
Tokoh Pendidikan Nasional, Pendidik Taman Siswa, Menteri Pendidikan
Pendidikan:
Sekolah Guru Arjuna (Jakarta)
Gelar:
Pahlawan Nasional Indonesia (11 November 2011)
A. Tokoh Pendidikan dan Pergerakan Nasional
Ki Sarmidi Mangunsarkoro adalah pejuang pendidikan Indonesia yang mengabdikan hidupnya untuk membangun sistem pendidikan nasional yang berjiwa kebangsaan.
Ia merupakan tokoh penting dalam gerakan pendidikan Taman Siswa, yang didirikan oleh
Ki Hajar Dewantara.
Selain itu, ia juga aktif dalam pergerakan nasional serta pernah menjabat sebagai Menteri Pendidikan, Pengajaran, dan Kebudayaan Republik Indonesia.
B. Perjuangan dalam Dunia Pendidikan
1. Pendidikan Berbasis Kebangsaan
Setelah menyelesaikan pendidikan guru, Mangunsarkoro mengabdikan diri di Taman Siswa Yogyakarta.
Pada tahun 1930, ia mendirikan Perguruan Taman Siswa di Jakarta dengan tujuan menanamkan pendidikan yang berlandaskan kebudayaan bangsa Indonesia.
Prinsip pendidikan yang diperjuangkannya adalah:
• Pendidikan harus sesuai dengan kehidupan bangsa
• Sekolah harus membentuk karakter dan kesadaran nasional
• Pendidikan harus memerdekakan manusia
2. Tokoh Kongres Pemuda
Mangunsarkoro merupakan salah satu tokoh yang berperan dalam
Kongres Pemuda II
yang melahirkan peristiwa bersejarah:
Sumpah Pemuda
Dalam kongres tersebut ia menegaskan bahwa pendidikan kebangsaan harus menjadi dasar pembentukan identitas bangsa Indonesia.
C. Perjuangan Masa Muda dan Pendidikan
Sebagai pemuda yang haus ilmu, Sarmidi Mangunsarkoro menempuh berbagai pendidikan:
- Sekolah Angka Dua dan Sekolah Menengah Rakyat
- Kweekschool (Sekolah Guru) di Jetis, Yogyakarta
- Berguru pada tokoh pendidikan nasional
Ki Hajar Dewantara
Di lingkungan Taman Siswa, ia memperdalam gagasan pendidikan nasional yang bebas dari pengaruh kolonial.
D. Perjuangan Era Kolonial Belanda
Pada masa penjajahan Belanda, Mangunsarkoro aktif dalam berbagai kegiatan pergerakan.
Perjuangannya antara lain:
• Menjadi guru dan pendidik di Taman Siswa
• Menyebarkan semangat kemerdekaan melalui pendidikan
• Mengembangkan kurikulum yang berbasis kebudayaan Indonesia
• Aktif dalam organisasi pergerakan pemuda
Ia berusaha membebaskan pendidikan dari sistem kolonial yang diskriminatif.
E. Perjuangan Era Pendudukan Jepang
Pada masa pendudukan Jepang, Mangunsarkoro berusaha mempertahankan keberadaan sekolah Taman Siswa.
Perjuangannya antara lain:
• Menjaga agar sekolah Taman Siswa tidak ditutup oleh Jepang
• Tetap menanamkan jiwa kebangsaan kepada para siswa
• Mempertahankan penggunaan Bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar pendidikan
F. Perjuangan Pasca Kemerdekaan
Setelah Indonesia merdeka, Mangunsarkoro berperan besar dalam pembangunan sistem pendidikan nasional.
Ia menjabat sebagai:
Menteri Pendidikan, Pengajaran, dan Kebudayaan
pada masa Kabinet Hatta dan Kabinet Halim (1949–1950).
Kontribusinya antara lain:
• Merumuskan dasar pendidikan nasional
• Mengembangkan pendidikan rakyat
• Berperan dalam pendirian
Universitas Gadjah Mada
Selain itu ia juga membantu mendirikan:
• Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI)
• Konservatori Karawitan
G. Tokoh yang Sederhana
Ki Sarmidi Mangunsarkoro dikenal sebagai sosok yang sangat sederhana.
Ia bahkan dijuluki “Menteri Bersarung” karena kesederhanaannya dalam kehidupan sehari-hari.
Ia menolak berbagai fasilitas mewah, termasuk rumah dinas menteri, dan lebih memilih hidup sederhana bersama lingkungan pendidikan Taman Siswa.
H. Akhir Hayat
Ki Sarmidi Mangunsarkoro wafat di Jakarta pada 8 Juni 1957 karena sakit.
Ia dimakamkan di:
Taman Makam Pahlawan Kalibata
I. Warisan dan Penghargaan
Atas jasa-jasanya dalam dunia pendidikan dan perjuangan kemerdekaan, ia dianugerahi gelar:
Pahlawan Nasional Indonesia (2011).
Warisan terbesarnya adalah:
✔ Pendidikan yang berjiwa kebangsaan
✔ Pendidikan yang membentuk karakter bangsa
✔ Pendidikan yang memerdekakan manusia
154 SBY
Buatlah Risalah dan Infografis tentang Pahlawan :
I Gusti Ketut Pudjo.
Lahir di Singaraja, Bali, 19 Mei 1908.
Meninggal di Jakarta, 4 Mei 1977.
Orang Tua: Putra kelima dari I Gustinyo Manraka (penggawa di Sukasada, Buleleng) dan Jero Ratna Kusuma.
Pendidikan: Sarjana Hukum (Meester in de Rechten) dari Rechtshoogeschool Batavia.
Jabatan Penting: Anggota PPKI, Gubernur Sunda Kecil (1945).
Gelar: Pahlawan Nasional (ditetapkan 2011)
A. I Gusti Ketut Pudja (1908–1977) adalah Pahlawan Nasional Indonesia asal Bali, penggerak kemerdekaan, anggota PPKI, dan Gubernur Sunda Kecil pertama yang berperan krusial dalam menyatukan Bali dan Nusa Tenggara ke dalam NKRI. Ia hadir dalam perumusan naskah proklamasi dan diabadikan dalam uang logam Rp1.000.
B. Perjuangan dan Peran:
1. Anggota PPKI (1945): Mewakili Sunda Kecil (Bali dan Nusa Tenggara) dalam sidang Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia.
2. Saksi Proklamasi: Hadir di rumah Laksamana Maeda saat perumusan teks proklamasi kemerdekaan.
3. Gubernur Sunda Kecil: Diangkat oleh Soekarno pada 22 Agustus 1945, bertugas menyebarkan berita kemerdekaan dan menegakkan pemerintahan RI di wilayahnya.
4. Diplomasi & Perjuangan Fisik: Melawan upaya Belanda yang ingin memisahkan Bali, sempat ditangkap Jepang dan Belanda, serta aktif dalam perundingan di masa revolusi.
5. Menteri dan Jabatan Tinggi: Menjabat Menteri Kehakiman NIT (Negara Indonesia Timur) untuk mempercepat likuidasi federasi ke NKRI, serta Ketua Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) hingga 1968.
6. I Gusti Ketut Pudja dihormati atas integritasnya dalam mempertahankan kedaulatan Indonesia, terutama di wilayah timur, dan jasanya diabadikan pada pecahan uang logam Rp1.000 emisi 2016.
C. Kehidupan Masa Muda dan Pendidikan
Pudja lahir dari keluarga bangsawan, namun menempuh pendidikan modern Belanda yang menempanya menjadi intelektual.
1. Pendidikan Dasar/Menengah: Ia menempuh pendidikan di Hollandsch-Inlandsche School (HIS) dan Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) di Bali.
2. Pendidikan Tinggi: Melanjutkan studi di Rechtshoogeschool (Sekolah Tinggi Hukum) di Batavia dan berhasil meraih gelar Meester in de Rechten (Mr.) atau Sarjana Hukum.
3. Pudja merupakan salah satu dari sedikit putra Bali yang berpendidikan tinggi pada masa kolonial Belanda, yang memungkinkannya masuk dalam birokrasi pemerintahan.
D. Perjuangan Era Belanda (Pra-Kemerdekaan)
1. Sebelum proklamasi, Pudja aktif dalam birokrasi dan pergerakan intelektual.
2. Karier Birokrasi: Pudja bekerja di kantor pemerintahan Belanda, yang memungkinkannya memahami struktur pemerintahan dan berinteraksi dengan tokoh-tokoh pergerakan nasional.
3. Menjelang Proklamasi: Ia terpilih sebagai anggota Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan (BPUPKI) dan kemudian Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) mewakili Sunda Kecil (Bali dan Nusa Tenggara). Ia turut menyaksikan proklamasi kemerdekaan di Jakarta.
E. Perjuangan Era Jepang
Pada masa pendudukan Jepang, Pudja tetap menjalankan perannya sebagai intelektual yang berjuang untuk kemerdekaan.
1. Menghadapi Jepang: Pudja berjuang meyakinkan Jepang untuk melepaskan kekuasaan kepada pemerintah Indonesia pasca menyerahnya Jepang.
2. Negosiasi: Ia gigih melakukan upaya diplomasi untuk menegakkan kekuasaan Republik Indonesia di wilayah Sunda Kecil.
F. Perjuangan Pasca Kemerdekaan
Setelah proklamasi, peran Pudja semakin krusial dalam mempertahankan kemerdekaan, terutama di Bali.
1. Gubernur Sunda Kecil: Pada 22 Agustus 1945, Presiden Soekarno mengangkat I Gusti Ketut Pudja sebagai Gubernur Sunda Kecil.
2. Menegakkan Republik: Ia kembali ke Bali untuk melucuti tentara Jepang dan membentuk pemerintahan daerah Republik Indonesia di tengah tekanan kedatangan kembali NICA (Belanda).
3. Diplomasi: Pudja menghadapi situasi sulit di mana NICA berusaha menancapkan kembali kekuasaannya. Ia berjuang diplomatis dan mengorganisir pemuda untuk mempertahankan kemerdekaan, meskipun akhirnya Bali menjadi bagian dari Negara Indonesia Timur (NIT) dalam taktik pecah belah Belanda.
G. Akhir Hayat dan Keluarga
1. Mr. I Gusti Ketut Pudja wafat pada 4 Mei 1977 dan dimakamkan di Bali.
2. Ia dikenal sebagai sosok yang penyayang keluarga. Cucu-cucunya yang dikenal antara lain Ratna Maharani dan Sri Dewi Laksmi.
3. Tempat kelahirannya di Puri Sukasada, Buleleng, kini dilestarikan sebagai situs sejarah.
H. Warisan untuk Bangsa Indonesia
1. Pahlawan Nasional: Pemerintah Indonesia mengukuhkannya sebagai Pahlawan Nasional atas jasa-jasanya.
2. Gambar di Mata Uang: Wajahnya diabadikan dalam mata uang rupiah, khususnya pada uang koin pecahan Rp1.000 emisi 2016.
3. Integrasi Wilayah: Perjuangannya menyatukan Bali ke dalam naungan NKRI di tengah tekanan Belanda.
4. Museum Sunda Kecil: Jejak perjuangannya diabadikan di Museum Sunda Kecil, Buleleng.
5. Nilai perjuangan Mr. I Gusti Ketut Pudja, yang memadukan kecerdasan intelektual (hukum) dengan patriotisme, menjadikannya salah satu tokoh kunci dalam mempertahankan kemerdekaan, khususnya di wilayah timur Indonesia
RISALAH PAHLAWAN NASIONAL
I GUSTI KETUT PUDJA
(1908–1977)
A. Profil Singkat
I Gusti Ketut Pudja adalah tokoh perjuangan kemerdekaan Indonesia dari Bali yang berperan penting dalam proses lahirnya Republik Indonesia. Ia merupakan anggota Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) dan menjadi Gubernur Sunda Kecil pertama setelah kemerdekaan.
Ia dikenal sebagai intelektual hukum, diplomat, dan negarawan yang berjuang mempertahankan wilayah Bali dan Nusa Tenggara agar tetap menjadi bagian dari Indonesia.
B. Biodata
- Nama lengkap: Mr. I Gusti Ketut Pudja
- Lahir: Singaraja, Bali, 19 Mei 1908
- Wafat: Jakarta, 4 Mei 1977
- Orang tua: I Gustinyo Manraka dan Jero Ratna Kusuma
- Pendidikan: Sarjana Hukum (Meester in de Rechten) dari Rechtshoogeschool Batavia
- Jabatan penting:
- Anggota PPKI
- Gubernur Sunda Kecil (1945)
- Gelar: Pahlawan Nasional Indonesia (2011)
C. Kehidupan Masa Muda dan Pendidikan
I Gusti Ketut Pudja berasal dari keluarga bangsawan Bali, namun memilih menempuh pendidikan modern.
Riwayat pendidikannya antara lain:
- Hollandsch-Inlandsche School (HIS) di Bali
- Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO)
- Rechtshoogeschool Batavia (Sekolah Tinggi Hukum)
Ia menjadi salah satu putra Bali yang berhasil meraih pendidikan tinggi pada masa kolonial Belanda.
D. Perjuangan Menjelang Kemerdekaan
Menjelang kemerdekaan Indonesia, Pudja terlibat aktif dalam persiapan kemerdekaan.
Perannya antara lain:
- Menjadi anggota PPKI yang mewakili wilayah Sunda Kecil (Bali dan Nusa Tenggara).
- Hadir dalam perumusan teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia di rumah Tadashi Maeda.
- Ikut menyaksikan momen bersejarah proklamasi kemerdekaan Indonesia.
E. Perjuangan Era Jepang
Pada masa pendudukan Jepang, Pudja tetap aktif memperjuangkan kemerdekaan melalui jalur diplomasi.
Perannya antara lain:
- Mendorong Jepang agar menyerahkan kekuasaan kepada bangsa Indonesia setelah kekalahan Jepang.
- Berusaha mempersiapkan pemerintahan Indonesia merdeka di wilayah Sunda Kecil.
F. Perjuangan Pasca Kemerdekaan
Setelah proklamasi, peran Pudja semakin penting dalam mempertahankan kedaulatan Indonesia.
Beberapa kontribusinya:
- Diangkat oleh Soekarno sebagai Gubernur Sunda Kecil pada 22 Agustus 1945.
- Menyebarkan berita kemerdekaan dan membentuk pemerintahan Republik di Bali dan Nusa Tenggara.
- Melawan upaya Netherlands Indies Civil Administration (NICA) yang ingin memisahkan wilayah tersebut dari Indonesia.
- Menjadi Menteri Kehakiman dalam pemerintahan Negara Indonesia Timur untuk mempercepat integrasi ke NKRI.
- Pernah menjabat Ketua Badan Pemeriksa Keuangan hingga tahun 1968.
G. Akhir Hayat
Mr. I Gusti Ketut Pudja wafat pada 4 Mei 1977.
Beliau dimakamkan di Bali dan dikenang sebagai tokoh yang berjasa besar dalam mempertahankan wilayah Indonesia bagian timur.
Tempat kelahirannya di Puri Sukasada, Buleleng kini menjadi situs sejarah.
H. Warisan untuk Bangsa Indonesia
Beberapa warisan perjuangan I Gusti Ketut Pudja bagi bangsa Indonesia:
- Pahlawan Nasional Indonesia (ditetapkan tahun 2011).
- Wajahnya diabadikan pada uang logam Rp1.000 emisi 2016.
- Berperan penting dalam integrasi Bali dan Nusa Tenggara ke NKRI.
- Menjadi teladan pemimpin yang menggabungkan ilmu hukum, diplomasi, dan nasionalisme.
159 SBY
Buatlah Risalah dan Infografis tentang Pahlawan :
Letjen TB Simatupang
(Tahi Bonar Simatupang).
Lahir di Sidikalang, Sumatera Utara, 28 Januari 1920.
Meninggal di Jakarta, 1 Januari 1990 (Dimakamkan di TMP Kalibata).
Pendidikan Militer: Koninklijke Militaire Academie (KMA) Bandung (1940-1942)
Pangkat Terakhir: Letnan Jenderal (Purn.)
Penghargaan: Pahlawan Nasional (8 November 2013)
A. Letjen TNI (Purn.) Tahi Bonar (TB) Simatupang (1920–1990) adalah pahlawan nasional dan ahli strategi militer asal Sidikalang, Sumatera Utara. Sebagai Kepala Staf Angkatan Perang (KSAP) setelah Jenderal Soedirman, beliau berperan besar dalam perang gerilya dan perundingan KMB. Tokoh intelektual militer ini dianugerahi gelar Pahlawan Nasional pada 2013.
B. Perjuangan dan Karier:
1. Masa Revolusi Fisik (1945-1949): Bergabung dengan Tentara Keamanan Rakyat (TKR). Menjadi Wakil Kepala Staf Angkatan Perang (WKSAP) dan delegasi aktif dalam perundingan dengan Belanda (KMB).
2. Pemimpin Angkatan Perang (1950-1954): Diangkat menjadi Kepala Staf Angkatan Perang RI (KSAP) menggantikan Jenderal Soedirman yang wafat. Beliau berperan penting dalam restrukturisasi angkatan perang Indonesia.
3. Ahli Strategi & Intelektual: Dikenal sebagai "Penerus Jenderal Sudirman" yang merumuskan konsep militer. Karyanya yang terkenal antara lain Laporan dari Banaran (1960) dan Pengantar Ilmu Perang di Indonesia (1969).
4. Pensiun Dini & Pelayanan: Pensiun pada 1959 pada usia 39 tahun akibat perbedaan prinsip dengan Presiden Soekarno. Setelah itu, aktif sebagai pemimpin gereja (Ketua PGI, Dewan Gereja se-Dunia) dan berjuang di bidang pendidikan (Ketua Yayasan UKI).
5. Peninggalan:
Nama TB Simatupang diabadikan sebagai jalan utama di Jakarta Selatan dan wajahnya terdapat pada uang logam Rp500,00.
C. Kehidupan Masa Muda dan Sekolah
TB Simatupang lahir dari keluarga Batak Protestan. Sejak muda, ia dikenal sebagai siswa yang cerdas.
1. MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs): Ia menempuh pendidikan menengah di MULO dan dikenal sebagai siswa yang sangat cerdas.
2. AMS (Algemeene Middelbare School): Ia melanjutkan ke sekolah menengah atas (setingkat SMA) yaitu AMS.
3. KMA (Koninklijk Militair Academie): Pada usia 17 tahun, ia merantau ke Jakarta untuk melanjutkan pendidikan di akademi militer Belanda, KMA, yang saat itu berada di Bandung, untuk mengejar karir militer.
D. Perjuangan Era Jepang
Pada masa pendudukan Jepang, TB Simatupang yang merupakan lulusan akademi militer Belanda (KMA) ikut serta dalam upaya-upaya yang diperbolehkan pada masa itu, sebelum akhirnya bergabung dengan angkatan perang Indonesia setelah proklamasi.
E. Perjuangan Era Belanda (Masa Revolusi)
Setelah proklamasi kemerdekaan, TB Simatupang langsung terjun ke dalam militer muda (TKR/TNI).
1. Perang Gerilya: Ia berperan penting sebagai salah satu perwira tinggi yang mendampingi Jenderal Soedirman selama perang gerilya melawan Agresi Militer Belanda.
2. Perumus Taktik: Simatupang berperan dalam merumuskan taktik gerilya, mobilisasi pasukan, dan mengatur strategi pertahanan dalam keterbatasan logistik.
3. Diplomat Militer: Ia juga terlibat aktif dalam berbagai perundingan, termasuk perundingan dengan Belanda untuk mempertahankan kedaulatan RI.
F. Perjuangan Pasca Kemerdekaan (Era Indonesia Merdeka)
1. KASAP Termuda: Pada usia 30 tahun (1950), ia diangkat menjadi Kepala Staf Angkatan Perang (KASAP), menjadikannya jenderal intelek yang memimpin struktur tertinggi angkatan perang di masa awal negara.
2. Konseptor TNI: Ia berperan sentral dalam membentuk struktur, organisasi, dan doktrin militer TNI Angkatan Darat.
3. Penyelesaian Konflik: Pada masa awal kemerdekaan, ia harus menangani berbagai konflik internal dan pembentukan angkatan perang yang profesional.
4. Konflik dengan Sukarno: Ia sempat berseberangan dengan Presiden Sukarno terkait arah kebijakan militer dan konflik 17 Oktober 1952, yang menyebabkan ia akhirnya dinonaktifkan dari jabatan KASAP pada tahun 1953-1954.
5. Masa Pensiun: Setelah keluar dari militer, ia aktif sebagai cendekiawan, pemikir, dan pemimpin gereja, menulis banyak buku tentang sejarah dan peran TNI.
G. Akhir Hayat dan Keluarga
1. Akhir Hayat: T.B. Simatupang meninggal dunia pada 1 Januari 1990 di Jakarta karena serangan jantung dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata.
2. Keluarga: Beliau menikah dengan Sumartini. Pasangan ini dikaruniai putra-putri, di antaranya yang dikenal adalah Tigor Simatupang.
H. Warisan untuk Bangsa Indonesia
T.B. Simatupang dikenal sebagai "Jenderal Intelek" dan "Jenderal Dunia Akhirat" karena kontribusinya tidak hanya di militer, tetapi juga pemikirannya.
1. Konseptor Militer: Meletakkan dasar-dasar organisasi TNI dan strategi pertahanan rakyat semesta.
2. Sipil-Militer: Menekankan pentingnya supremasi sipil dalam negara demokrasi dan posisi militer yang profesional.
3. Tokoh Oikumene: Pasca aktif di militer, ia berkontribusi besar bagi gereja, menjadi Ketua Dewan Gereja-gereja di Indonesia (DGI/PGI).
4. Pemikiran Tertulis: Menulis banyak buku, seperti "Pelopor dalam Perang, Pelopor dalam Damai" yang mencerminkan pemikirannya tentang sejarah dan peran TNI.
5. Nama Jalan: Namanya diabadikan sebagai salah satu jalan arteri utama di Jakarta Selatan (Jl. T.B. Simatupang).
RISALAH PAHLAWAN NASIONAL
LETJEN T.B. SIMATUPANG
(Tahi Bonar Simatupang)
Tokoh utama:
Tahi Bonar Simatupang
Lahir: Sidikalang, Sumatera Utara, 28 Januari 1920
Wafat: Jakarta, 1 Januari 1990
Dimakamkan:
Taman Makam Pahlawan Kalibata
Pendidikan Militer:
Koninklijke Militaire Academie (KMA) Bandung (1940–1942)
Pangkat Terakhir: Letnan Jenderal (Purn.)
Gelar: Pahlawan Nasional Indonesia (8 November 2013)
A. Jenderal Intelektual Indonesia
Tahi Bonar Simatupang merupakan salah satu tokoh militer terpenting dalam sejarah Indonesia.
Ia dikenal sebagai ahli strategi militer, pemikir pertahanan, dan pemimpin Angkatan Perang Republik Indonesia pada masa awal kemerdekaan.
Ia juga merupakan penerus kepemimpinan militer setelah tokoh besar TNI:
Sudirman.
Karena kecerdasannya, ia sering dijuluki “Jenderal Intelek”.
B. Masa Muda dan Pendidikan
Simatupang lahir dari keluarga Batak Protestan di Sidikalang, Sumatera Utara.
Pendidikan yang ditempuhnya antara lain:
- MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs)
- AMS (Algemeene Middelbare School)
- Koninklijke Militaire Academie (KMA) di Bandung
Pada usia muda ia sudah dikenal sebagai siswa yang cerdas, disiplin, dan memiliki kemampuan analisis militer yang kuat.
C. Perjuangan Masa Revolusi (1945–1949)
Setelah kemerdekaan Indonesia diproklamasikan, Simatupang bergabung dengan tentara nasional.
Ia menjadi perwira dalam:
Tentara Keamanan Rakyat
yang kemudian berkembang menjadi TNI.
Perannya dalam revolusi antara lain:
• Mendampingi Jenderal Sudirman dalam perang gerilya
• Merumuskan strategi pertahanan menghadapi Belanda
• Mengorganisasi pasukan dalam kondisi logistik yang terbatas
Ia juga ikut berperan dalam diplomasi internasional yang menghasilkan:
Konferensi Meja Bundar
yang mengakui kedaulatan Indonesia.
D. Kepala Staf Angkatan Perang
Pada tahun 1950, Simatupang diangkat sebagai:
Kepala Staf Angkatan Perang Republik Indonesia (KSAP)
Pada usia 30 tahun, ia menjadi salah satu pemimpin militer termuda dalam sejarah Indonesia.
Tugas utamanya:
• Menyusun organisasi angkatan perang
• Mengintegrasikan berbagai laskar rakyat
• Membentuk struktur militer nasional yang profesional
Ia berperan besar dalam membangun dasar-dasar doktrin militer Indonesia.
E. Konflik Politik dan Pensiun Dini
Pada awal 1950-an terjadi ketegangan antara militer dan pemerintah sipil.
Simatupang memiliki perbedaan pandangan dengan Presiden:
Sukarno
Peristiwa penting yang terjadi saat itu adalah:
Peristiwa 17 Oktober 1952
Akibat konflik tersebut, Simatupang akhirnya dinonaktifkan dari jabatan KSAP dan kemudian pensiun pada tahun 1959 pada usia 39 tahun.
F. Cendekiawan dan Pemimpin Gereja
Setelah pensiun dari militer, Simatupang tetap aktif dalam kehidupan nasional.
Ia menjadi tokoh penting dalam organisasi gereja:
Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia
Ia juga aktif dalam pendidikan sebagai Ketua Yayasan:
Universitas Kristen Indonesia
Selain itu, ia menulis berbagai buku tentang militer dan sejarah, antara lain:
• Laporan dari Banaran (1960)
• Pengantar Ilmu Perang di Indonesia (1969)
G. Warisan Pemikiran
Pemikiran Simatupang memberikan pengaruh besar bagi perkembangan militer Indonesia.
Beberapa gagasannya antara lain:
✔ Militer profesional yang tunduk pada pemerintahan sipil
✔ Strategi pertahanan rakyat semesta
✔ Peran TNI sebagai pelindung negara, bukan penguasa politik
Karena pemikirannya tersebut ia sering disebut sebagai arsitek konseptual militer Indonesia modern.
H. Akhir Hayat
Tahi Bonar Simatupang wafat pada 1 Januari 1990 di Jakarta akibat serangan jantung.
Ia dimakamkan di:
Taman Makam Pahlawan Kalibata
I. Penghargaan dan Pengabdian
Atas jasa-jasanya kepada bangsa dan negara, ia dianugerahi gelar:
Pahlawan Nasional Indonesia (2013)
Namanya juga diabadikan menjadi:
Jalan TB Simatupang
Bahkan wajahnya pernah digunakan pada uang logam Rp500 sebagai bentuk penghormatan kepada jasanya.
✔ Tokoh Militer Strategis
✔ Pemikir Pertahanan Nasional
✔ Pejuang Revolusi Kemerdekaan
Letjen T.B. Simatupang dikenang sebagai “Jenderal Intelektual Indonesia” yang berjuang tidak hanya dengan senjata, tetapi juga dengan pemikiran.
62 SUH
Buatlah Risalah dan Infografis tentang Pahlawan :
KH Zainal Mustafa
Nama Kecil: Hudaemi.
Lahir di Kampung Bageur, Desa Cimerah, Singaparna, Tasikmalaya, Jawa Barat, tahun 1899.
Meninggal di Dieksekusi Jepang di Jakarta (Cilincing/Ancol) pada 25 Oktober 1944.
Makam: Awalnya di Ancol, dipindahkan ke Taman Makam Pahlawan Tasikmalaya (Sukamanah) pada 25 Agustus 1973.
Pendidikan: Belajar di berbagai pesantren di Tasikmalaya (santri kelana).
Pendidikan Terakhir: Menunaikan ibadah haji tahun 1927, setelah itu mengganti namanya menjadi Zainal Mustafa.
Organisasi: Aktif di Nahdlatul Ulama (NU) cabang Tasikmalaya sebagai Wakil Ro'is Syuriah.
Penghargaan: Pahlawan Nasional Indonesia berdasarkan SK Presiden RI No. 064/TK/Tahun 1972.
A. KH Zainal Mustafa (1899–1944) adalah pahlawan nasional dari Singaparna, Tasikmalaya, pendiri Pesantren Sukamanah (1927), dan ulama karismatik yang gigih melawan penjajahan Belanda dan Jepang. Ia memimpin pemberontakan Sukamanah (1944) melawan Jepang karena menolak Seikerei (membungkuk ke arah Tokyo), yang berujung eksekusi dirinya di Jakarta.
B. Perjuangan Melawan Penjajah
1. Mendirikan Pesantren Sukamanah (1927): Sepulang dari Mekkah, ia mendirikan pesantren di Sukamanah, yang selain menjadi pusat penyebaran Islam, juga digunakan untuk membangkitkan kesadaran patriotisme santri dan masyarakat melawan kolonialisme.
2. Menentang Belanda (1940-an): Terang-terangan mengecam kebijakan Belanda dalam ceramahnya, menyebabkan ia sempat ditangkap Belanda dan dipenjara di Tasikmalaya hingga Bandung (1941-1942).
C. Melawan Penjajahan Jepang (1942-1944):
1. Menolak Seikerei: Menolak keras perintah Jepang melakukan Seikerei (membungkukkan badan ke arah Timur/Tokyo) karena dianggap syirik dan bertentangan dengan ajaran Islam.
2. Pemberontakan Sukamanah (25 Februari 1944): Memimpin perlawanan fisik rakyat/santri Sukamanah melawan tentara Jepang. Pemberontakan ini berhasil dipadamkan Jepang karena keunggulan persenjataan.
3. Eksekusi: Ditangkap, ditahan di Tasikmalaya, dipindahkan ke Sukamiskin, lalu dibawa ke Jakarta. Ia dieksekusi oleh Jepang pada akhir 1944.
D. Akhir Hayat dan Makam
KH Zainal Mustafa dieksekusi oleh tentara Jepang pada 25 Oktober 1944 di kawasan Cilincing, Jakarta. Jasadnya awalnya dimakamkan di Ancol, namun kemudian dipindahkan ke Taman Makam Pahlawan Tasikmalaya pada 25 Agustus 1973. Ia dianugerahi gelar Pahlawan Pergerakan Nasional berdasarkan SK Presiden No. 064/TK/Tahun 1972.
E. Nasib Keluarga
Setelah peristiwa 1944, keluarga KH Zainal Mustafa sempat mengalami penderitaan akibat penindasan Jepang. Namun, perjuangan dan nama baiknya tetap dikenang, dan Pesantren Sukamanah yang didirikannya tetap berlanjut. Meskipun detail anak-anaknya jarang diberitakan secara mendalam, ia diakui sebagai syuhada yang dihormati.
RISALAH PAHLAWAN NASIONAL
KH Zainal Mustafa
(Nama kecil: Hudaemi)
BIODATA SINGKAT
Nama Lengkap:
KH Zainal Mustafa
Nama Kecil:
Hudaemi
Tempat, Tahun Lahir:
Singaparna, Tasikmalaya, Jawa Barat, 1899
Wafat:
Dieksekusi tentara Jepang di Jakarta (Cilincing / Ancol)
25 Oktober 1944
Makam:
Taman Makam Pahlawan Sukamanah
(dipindahkan dari Ancol pada 25 Agustus 1973)
Pendidikan:
Belajar di berbagai pesantren di Tasikmalaya (santri kelana)
Pendidikan Terakhir:
Menunaikan ibadah haji tahun 1927 dan mengganti nama menjadi Zainal Mustafa
Organisasi:
Nahdlatul Ulama (NU) – Wakil Ro’is Syuriah cabang Tasikmalaya
Penghargaan:
Pahlawan Nasional Indonesia
(SK Presiden RI No. 064/TK/Tahun 1972)
A. RIWAYAT SINGKAT
KH Zainal Mustafa adalah ulama karismatik dari Tasikmalaya yang terkenal karena keberaniannya menentang penjajahan.
Ia mendirikan Pesantren Sukamanah pada tahun 1927 yang tidak hanya menjadi pusat pendidikan Islam tetapi juga pusat pembinaan semangat perjuangan melawan kolonialisme.
Perlawanan terbesarnya terjadi saat ia menentang perintah Jepang melakukan Seikerei, yaitu membungkukkan badan ke arah Tokyo sebagai penghormatan kepada Kaisar Jepang.
Karena penolakannya tersebut, ia memimpin pemberontakan rakyat Sukamanah tahun 1944 dan akhirnya dieksekusi oleh Jepang.
B. PERJUANGAN MELAWAN PENJAJAH
1. Mendirikan Pesantren Sukamanah (1927)
Sepulang dari Mekkah, KH Zainal Mustafa mendirikan pesantren di Sukamanah.
Pesantren ini berfungsi sebagai:
- pusat pendidikan Islam
- tempat pembinaan santri
- pusat penyadaran rakyat terhadap penjajahan
Di pesantren ini beliau menanamkan semangat kemerdekaan dan jihad melawan penindasan.
2. Menentang Penjajahan Belanda
Pada awal tahun 1940-an, beliau secara terbuka mengecam kebijakan kolonial Belanda melalui ceramah-ceramahnya.
Akibat sikapnya tersebut, ia pernah:
- ditangkap oleh pemerintah kolonial
- dipenjara di Tasikmalaya
- kemudian dipindahkan ke Bandung (1941–1942)
C. PERLAWANAN TERHADAP JEPANG (1942–1944)
1. Menolak Seikerei
Pada masa pendudukan Jepang, rakyat diwajibkan melakukan Seikerei, yaitu membungkuk ke arah Tokyo sebagai penghormatan kepada Kaisar Jepang.
KH Zainal Mustafa menolak keras praktik ini karena:
- dianggap syirik
- bertentangan dengan ajaran Islam
2. Pemberontakan Sukamanah (1944)
Pada 25 Februari 1944, KH Zainal Mustafa memimpin perlawanan rakyat dan santri Sukamanah melawan tentara Jepang.
Peristiwa ini dikenal sebagai:
Pemberontakan Sukamanah 1944
Meskipun para santri berjuang dengan keberanian besar, pemberontakan ini akhirnya dapat dipadamkan oleh Jepang yang memiliki persenjataan lebih lengkap.
3. Penangkapan dan Eksekusi
Setelah pemberontakan tersebut:
- KH Zainal Mustafa ditangkap tentara Jepang
- dipenjara di Tasikmalaya
- dipindahkan ke Penjara Sukamiskin Bandung
- kemudian dibawa ke Jakarta
Pada 25 Oktober 1944, beliau dieksekusi oleh Jepang di kawasan Ancol.
D. AKHIR HAYAT DAN MAKAM
KH Zainal Mustafa wafat sebagai syuhada pada 25 Oktober 1944.
Awalnya jasadnya dimakamkan di Ancol, Jakarta.
Namun pada tahun 1973 jenazahnya dipindahkan ke:
Taman Makam Pahlawan Sukamanah
Sebagai bentuk penghormatan atas perjuangannya bagi bangsa dan agama.
E. NASIB KELUARGA
Setelah peristiwa pemberontakan tahun 1944:
- keluarga KH Zainal Mustafa mengalami tekanan dari pemerintah Jepang
- pesantrennya sempat diawasi secara ketat
Namun setelah Indonesia merdeka, perjuangannya semakin dihargai dan dikenang oleh masyarakat.
Pesantren Sukamanah tetap berdiri hingga kini sebagai warisan perjuangan beliau.
F. PENGHARGAAN
Atas jasa dan pengorbanannya, pemerintah Republik Indonesia menganugerahkan gelar:
PAHLAWAN NASIONAL
melalui:
SK Presiden RI No. 064/TK/Tahun 1972.
NILAI KETELADANAN
Perjuangan KH Zainal Mustafa memberikan teladan:
- keberanian melawan penjajah
- keteguhan mempertahankan akidah
- kepemimpinan ulama dalam perjuangan bangsa
- pengorbanan demi kemerdekaan
78 SUH
Buatlah Risalah dan Infografis tentang Pahlawan :
Nyi Ageng Serang
Nama Asli: Raden Ajeng Kustiah Retno Adi (dikenal juga sebagai Nyi Ageng Serang atau Puteri Serang).
Lahir di Serang, Purwodadi, Jawa Tengah, 1752.
Meninggal di dimakamkan di Kalibawang, Kulon Progo, Yogyakarta, 1828 (usia 76 tahun.
Keluarga: Putri dari Pangeran Notoprojo (Panglima Perang Sultan Hamengkubuwono I) dan merupakan keturunan Sunan Kalijaga.
Gelar: Pahlawan Nasional Indonesia berdasarkan SK Presiden No. 084/TK/1974 tanggal 13 Desember 1974.
Kaitan Keluarga: Nenek dari Ki Hajar Dewantara.
A. Nyi Ageng Serang (lahir 1752 – wafat 1828) adalah Pahlawan Nasional Indonesia perempuan asal Serang, Purwodadi, Jawa Tengah, yang ahli siasat perang dan menjadi penasihat Pangeran Diponegoro. Ia terkenal dengan strategi penyamaran menggunakan daun talas (strategi lembu) dan memimpin pasukan di usia senja melawan Belanda, khususnya di wilayah Jawa Tengah dan Yogyakarta.
B. Perjuangan dan Peran:
1. Panglima Perang: Nyi Ageng Serang mengambil alih kedudukan ayahnya sebagai pemimpin wilayah Serang dan menjadi panglima perang wanita yang disegani.
2. Perang Diponegoro (1825-1830): Bersama menantunya, ia bergabung dengan Pangeran Diponegoro melawan Belanda, memimpin pasukan di daerah Demak, Kudus, Rembang, dan Purwodadi.
3. Taktik Penyamaran (Strategi Lembu): Terkenal menggunakan taktik penyamaran di mana pasukannya menutupi kepala dengan daun talas (daun lumbu) untuk menyamarkan diri sebagai kebun, guna mengecoh penjajah.
4. Gerilya: Meskipun berusia 73 tahun saat perang pecah, ia tetap memimpin perlawanan menggunakan tandu di wilayah perbukitan Menoreh, Yogyakarta.
5. Penasihat Perang: Di akhir hayatnya, ia menjadi penasihat Sultan Sepuh (Hamengku Buwono II) dan Pangeran Diponegoro karena kepiawaiannya dalam taktik perang.
6. Nyi Ageng Serang diabadikan sebagai nama jalan, gedung, dan monumen di Yogyakarta serta Purwodadi atas jasa-jasanya dalam mempertahankan tanah air.
C. Perjuangan Masa Muda
1. Tumbuh di Lingkungan Militer: Karena puteri seorang panglima, Kustiyah tumbuh dengan pemahaman mendalam tentang strategi perang dan bela diri.
2. Tekad Membebaskan Rakyat: Sejak muda, ia bertekad mengikuti jejak ayahnya melawan Kompeni Belanda untuk membebaskan rakyat dari tekanan ekonomi dan perbudakan.
3. Pelatihan Kemiliteran: Ia memperdalam ilmu bela diri di Kadilangu dan menunjukkan kecerdasan serta ketangkasan tinggi.
4. Menikah: Ia menikah dengan Raden Mas Sundoro (Pangeran Serang) dan aktif mendampingi perjuangan di wilayah Serang, Jawa Tengah.
D. Usaha Mengusir Belanda (Perang Diponegoro)
Saat Perang Diponegoro (1825–1830) pecah, Nyi Ageng Serang yang saat itu sudah berusia lanjut (sekitar 73 tahun) tidak surut semangat dan langsung turun ke medan laga.
1. Panglima Sektor Utara: Nyi Ageng Serang memimpin pasukan gerilya di sektor utara Jawa, mencakup wilayah Purwodadi, Demak, Semarang, Juwana, Kudus, hingga Rembang.
2. Strategi Kamuflase "Godhong Lumbu": Siasat paling terkenal darinya adalah menggunakan daun talas hijau (godhong lumbu) sebagai penyamaran. Taktik ini digunakan untuk mengecoh pasukan Belanda di medan vegetasi, membuat pasukannya sulit terdeteksi.
3. Penasihat Perang: Karena kecerdikannya, ia dipercaya oleh Pangeran Diponegoro sebagai penasihat perang dan pengatur siasat perang Jawa.
4. Tangguh dalam Pertempuran: Pasukan yang dipimpinnya dikenal cepat dan tangkas, sering kali berhasil merampas senjata dan amunisi Belanda, serta menimbulkan kerugian besar bagi pihak lawan.
5. Perjuangan Sampai Akhir: Meskipun kondisi fisik melemah, ia tetap berjuang melawan Belanda hingga akhir hayatnya.
6. Nyi Ageng Serang dikenang sebagai "Angin Topan Perang Jawa" dan simbol keberanian perempuan Indonesia.
E. Akhir Hayat dan Keluarga yang Ditinggalkan
1. Akhir Perjuangan: Pada 21 Juni 1827, Nyi Ageng Serang terpaksa menyerah kepada Belanda akibat melemahnya kekuatan pasukan setelah pertempuran di Demak.
2. Wafat: Nyi Ageng Serang wafat pada tahun 1828 (sebagian sumber menyebutkan 1838 atau 10 Agustus 1855 dalam usia 93 tahun) di Yogyakarta.
3. Makam: Ia dimakamkan di Banjarharjo, Kalibawang, Kulon Progo, Yogyakarta.
4. Keluarga: Ia menikah dengan Pangeran Kusumawijaya (Pangeran Serang). Salah satu keturunannya yang paling menonjol adalah cucunya, Ki Hajar Dewantara.
F. Apakah Pernah Ditangkap Belanda?
1. Nyi Ageng Serang tidak ditangkap langsung dalam pertempuran. Namun, setelah perlawanan yang berlangsung selama tiga tahun dalam Perang Diponegoro, ia dan pasukannya (termasuk putranya, Pangeran Serang II) memutuskan untuk menyerah pada 21 Juni 1827.
2. Setelah menyerah, ia diperbolehkan kembali ke Yogyakarta tetapi dalam pengawasan ketat Belanda selama sisa hidupnya.
G. Warisan untuk Bangsa Indonesia
1. Gelar Pahlawan Nasional: Diakui secara resmi atas jasa-jasanya dalam melawan penjajah.
2. Simbol Keberanian Perempuan: Menjadi ikon pejuang perempuan yang ahli strategi perang.
3. Monumen: Patung Nyi Ageng Serang menunggang kuda membawa tombak didirikan di Wates, Kulon Progo untuk mengenang jasanya.
4. Nama Jalan/Gedung: Namanya diabadikan di berbagai tempat, salah satunya Gedung Nyi Ageng Serang di Jakarta.
5. Perjuangan Nyi Ageng Serang terkenal dengan semangat yang tidak pernah padam, di mana ia mampu memimpin pasukan semut ireng melawan Belanda, menyebabkan kerugian besar bagi pemerintah kolonial.

RISALAH PAHLAWAN NASIONAL
NYI AGENG SERANG
(1752 – 1828)
A. Profil Singkat
Nyi Ageng Serang adalah pahlawan nasional perempuan dari Jawa Tengah yang terkenal sebagai ahli strategi perang dan pemimpin gerilya dalam melawan penjajahan Belanda.
Ia menjadi salah satu penasihat perang penting bagi Pangeran Diponegoro dalam Perang Diponegoro (1825–1830).
Keberaniannya luar biasa karena tetap memimpin pasukan walaupun telah berusia lebih dari 70 tahun. Ia dikenal dengan strategi penyamaran menggunakan daun talas (godhong lumbu) untuk mengecoh musuh.
B. Biodata
- Nama asli: Raden Ajeng Kustiah Retno Adi
- Nama dikenal: Nyi Ageng Serang / Puteri Serang
- Lahir: Serang, Purwodadi, Jawa Tengah, 1752
- Wafat: 1828
- Makam: Kalibawang, Kulon Progo, Yogyakarta
Keluarga
- Ayah: Pangeran Notoprojo, panglima perang Hamengkubuwono I
- Keturunan dari Sunan Kalijaga
- Keturunannya termasuk tokoh pendidikan nasional Ki Hajar Dewantara
Gelar
- Pahlawan Nasional Indonesia
- SK Presiden No. 084/TK/1974
C. Masa Muda dan Pendidikan Militer
Sejak kecil, Kustiah tumbuh dalam lingkungan keluarga militer dan bangsawan Jawa.
Beberapa hal yang membentuk karakternya:
- Belajar strategi perang dari ayahnya yang merupakan panglima kerajaan.
- Mendalami ilmu bela diri dan taktik militer di wilayah Kadilangu.
- Memiliki kecerdasan strategi dan keberanian yang membuatnya dihormati oleh para prajurit.
Ia kemudian menikah dengan Pangeran Serang (Raden Mas Sundoro) dan aktif mendampingi perjuangan melawan Belanda.
D. Perjuangan Melawan Belanda
Ketika Perang Diponegoro pecah pada tahun 1825, Nyi Ageng Serang yang sudah berusia sekitar 73 tahun tetap turun ke medan perang.
Perannya antara lain:
1. Panglima Pasukan
Ia memimpin pasukan gerilya di wilayah:
- Purwodadi
- Demak
- Kudus
- Rembang
- Semarang
2. Strategi Kamuflase “Godhong Lumbu”
Strategi terkenal yang digunakannya adalah menyamarkan pasukan dengan daun talas hijau di kepala.
Tujuannya:
- Menyamarkan pasukan sebagai tanaman di ladang
- Menghindari pengintaian tentara Belanda
Strategi ini membuat pasukan Belanda kesulitan mendeteksi keberadaan pasukan Diponegoro.
3. Perang Gerilya
Walaupun sudah lanjut usia, ia tetap memimpin pasukan menggunakan tandu di wilayah Perbukitan Menoreh.
4. Penasihat Strategi
Karena kecerdikannya, ia dipercaya sebagai penasihat perang oleh Pangeran Diponegoro dan tokoh-tokoh perlawanan Jawa lainnya.
E. Akhir Perjuangan
Setelah perlawanan yang berlangsung lama dalam Perang Diponegoro:
- Pada 21 Juni 1827, pasukannya melemah dan ia terpaksa menyerah kepada Belanda.
- Ia kemudian hidup dalam pengawasan Belanda di wilayah Yogyakarta.
Nyi Ageng Serang wafat pada tahun 1828 dan dimakamkan di Kalibawang, Kulon Progo.
F. Warisan untuk Bangsa Indonesia
Perjuangan Nyi Ageng Serang meninggalkan warisan besar bagi bangsa Indonesia.
- Pahlawan Nasional Indonesia sejak tahun 1974.
- Menjadi simbol keberanian perempuan dalam perjuangan kemerdekaan.
- Namanya diabadikan sebagai nama jalan, gedung, dan monumen.
- Patung Nyi Ageng Serang berdiri di Kulon Progo sebagai penghormatan atas jasanya.
G. Nilai Keteladanan
Nilai perjuangan Nyi Ageng Serang yang dapat diteladani:
- Keberanian dan keteguhan melawan penjajah
- Kecerdasan dalam strategi perang
- Semangat juang yang tidak pernah padam meskipun usia lanjut
- Pengabdian kepada bangsa dan rakyat
80 SUH
Buatlah Risalah dan Infografis tentang Pahlawan :
Abdul Halim Perdanakusuma.
Lahir di Sampang, Madura, Jawa Timur, 18 November 1922.
Meninggal di Labuhan Bilik Besar, Pantai Lumut, Malaysia, 14 Desember 1947 (usia 25 tahun).
Pendidikan: HIS, MULO, MOSVIA, Akademi Angkatan Laut Surabaya
Gelar: Pahlawan Nasional RI (SK Presiden No 063/TK/1975)
Orang Tua: Haji Abdulgani Wongsotaruno (Patih).
A. Marsekal Muda TNI (Anumerta) Abdul Halim Perdanakusuma (18 November 1922 – 14 Desember 1947) adalah pahlawan nasional dari Sampang, Madura, yang berjasa besar dalam merintis Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI). Beliau gugur saat menjalankan misi menembus blokade Belanda di Malaysia.
Sebelumnya pernah sebagai navigator andal, ia menerbangkan 44 misi pengeboman di Eropa selama PD II sebelum kembali membangun kekuatan udara Indonesia pada era revolusi.
B. Perjuangan dan Kiprah:
1. Pengalaman Internasional: Sebelum bergabung ke TNI, ia pernah bertugas di Royal Canadian Air Force dan Royal Air Force (Inggris) sebagai navigator selama Perang Dunia II, mencatat 44 misi pengeboman di Eropa.
2. Membangun AURI: Setelah kemerdekaan, ia kembali ke Indonesia dan bergabung dengan Jawatan Penerbangan TKR. Ia berperan sebagai instruktur navigasi di sekolah penerbangan yang didirikan Adisutjipto.
3. Misi Sumatera & Kalimantan: Pada tahun 1947, ia menjabat sebagai Komodor Muda Udara dan ditugaskan membangun cabang AURI di Bukittinggi. Ia juga memimpin pasukan penerjun di Kalimantan.
4. Misi Pembelian Senjata: Halim gugur saat menerbangkan pesawat Avro Anson RI-003 dari Thailand membawa obat-obatan dan perlengkapan medis. Pesawatnya jatuh di Malaysia akibat cuaca buruk.
5. Nama beliau diabadikan sebagai bandara internasional di Jakarta, Bandar Udara Halim Perdanakusuma, dan KRI Abdul Halim Perdanakusuma.
C. Perjuangan Masa Muda & Era Jepang/Belanda:
1. Pendidikan & Militer: Ia menempuh pendidikan di MOSVIA (Magelang) namun keluar untuk masuk Akademi Angkatan Laut di Surabaya, bergabung dengan KNIL bagian penerangan.
2. Perang Dunia II: Saat Jepang menduduki Indonesia, Halim dikirim ke luar negeri, lalu bergabung dengan Royal Canadian Air Force (RCAF) dan Royal Air Force (RAF) di Inggris.
3. The Black Mascot: Ia menjadi navigator ulung dengan pangkat Wing Commander dan menerbangkan 44 misi pengeboman di atas Eropa, dijuluki The Black Mascot karena militansinya.
D. Perjuangan Pasca Kemerdekaan Indonesia:
1. Kembali ke Tanah Air: Pasca PD II, ia menolak kesempatan di Belanda dan memilih kembali ke Indonesia untuk bergabung dengan p. Tentara Keamanan Rakyat (TKR) Jawatan Penerbangan.
2. Membangun AURI: Menjadi Komodor Udara dan Wakil Kepala Staf AURI, serta berperan penting membangun pangkalan AURI di Bukittinggi.
3. Misi Terakhir: Memimpin pasukan penerjun di Kalimantan dan terlibat dalam operasi pengebDman di Ambarawa, Salatiga, dan Semarang. Ia gugur saat menerbangkan pesawat Avro Anson RI-003 dari Thailand membawa obat-obatan untuk Indonesia.
4. Jasadnya sempat dimakamkan di Malaysia sebelum dipindahkan ke Taman Makam Pahlawan Kalibata pada 10 November 1975. Namanya diabadikan sebagai Bandar Udara Halim Perdanakusuma di Jakarta.
E. Apakah Ditembak Belanda?
Halim Perdanakusuma TIDAK ditembak langsung oleh Belanda dalam pertempuran udara, melainkan gugur akibat kecelakaan pesawat.
1. Pada 14 Desember 1947, pesawat Avro Anson RI-003 yang dikemudikannya bersama Marsma Iswahyudi jatuh di pantai Lumut, Perak, Malaysia.
2. Kecelakaan tersebut terjadi karena cuaca buruk saat menjalankan misi menembus blokade Belanda untuk membeli perlengkapan senjata di Thailand.
F. Akhir Hayat dan Misi Kemanusiaan
1. Abdul Halim Perdanakusuma tidak ditembak langsung oleh Belanda. Beliau gugur karena kecelakaan pesawat saat menjalankan tugas misi kemanusiaan.
2. Kronologi: Pada 14 Desember 1947, Halim bersama Opsir Iswahyudi ditugaskan menerbangkan pesawat AVRO ANSOR RI-003 dari Muang Thai (Thailand) menuju Indonesia untuk misi logistik dan obat-obatan.
3. Kecelakaan: Pesawat terjebak dalam cuaca buruk di sekitar Malaysia. Pesawat menabrak pohon di pantai Labuan Bilik Besar, Perak, Malaysia, mengakibatkan sayap patah dan meledak.
4. Makam: Awalnya dimakamkan di Malaysia, jenazahnya kemudian dipindahkan ke Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta, pada 10 November 1975.
5. Nasib Keluarga
Setelah gugurnya Halim, pemerintah Indonesia memberikan penghargaan sebagai Pahlawan Nasional atas dedikasi dan pengorbanannya yang tinggi di usia muda (25 tahun). Namanya kemudian diabadikan sebagai Pangkalan Udara (Lanud) Halim Perdanakusuma di Jakarta Timur.
G. Catatan :
Terdapat potensi kerancuan dengan KH Abdul Halim (pendiri PUI Majalengka), namun pahlawan dari Sampang Madura yang gugur dalam kecelakaan pesawat adalah Abdul Halim Perdanakusuma (Penerbang AURI).

RISALAH & INFOGRAFIS PAHLAWAN NASIONAL
Abdul Halim Perdanakusuma
Perintis Angkatan Udara Republik Indonesia
IDENTITAS TOKOH
- Nama: Abdul Halim Perdanakusuma
- Lahir: Sampang, Madura, Jawa Timur, 18 November 1922
- Wafat: Labuhan Bilik Besar, Pantai Lumut, Perak, Malaysia, 14 Desember 1947 (usia 25 tahun)
Orang Tua:
- Haji Abdulgani Wongsotaruno (Patih)
Pendidikan:
- HIS (Hollandsch-Inlandsche School)
- MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs)
- MOSVIA (Middelbare Opleiding School Voor Inlandsche Ambtenaren)
- Akademi Angkatan Laut Surabaya
Pangkat:
- Marsekal Muda TNI (Anumerta)
Gelar:
- Pahlawan Nasional Republik Indonesia
(Keppres No. 063/TK/1975)
A. Tokoh Perintis Angkatan Udara Indonesia
Abdul Halim Perdanakusuma adalah salah satu perintis Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI) yang berperan penting pada masa Revolusi Kemerdekaan.
Sebelum kembali ke Indonesia, Halim telah memiliki pengalaman militer internasional sebagai navigator pesawat pengebom dalam Perang Dunia II.
Ia dikenal sebagai penerbang pemberani yang melakukan 44 misi pengeboman di Eropa.
B. Perjuangan dan Kiprah
1. Pengalaman Internasional
Sebelum bergabung dengan tentara Indonesia, Halim bertugas di:
- Royal Canadian Air Force
- Royal Air Force
Sebagai navigator pesawat pengebom, ia menjalankan 44 misi operasi udara di Eropa selama Perang Dunia II.
Karena keberanian dan ketangguhannya, ia mendapat julukan:
“The Black Mascot.”
2. Membangun Angkatan Udara Republik Indonesia
Setelah Indonesia merdeka, Halim kembali ke tanah air dan bergabung dengan:
Tentara Keamanan Rakyat
melalui Jawatan Penerbangan.
Ia berperan sebagai:
- instruktur navigasi
- perintis sekolah penerbangan
- pengembang kekuatan udara Indonesia
Ia bekerja bersama tokoh penerbang lain seperti:
Agustinus Adisutjipto.
3. Misi Sumatera dan Kalimantan
Pada tahun 1947 Halim menjabat sebagai:
Komodor Muda Udara
Ia ditugaskan membangun cabang AURI di:
Bukittinggi.
Selain itu ia memimpin pasukan penerjun yang dikirim ke Kalimantan untuk mendukung perjuangan kemerdekaan.
C. Perjuangan Masa Muda dan Perang Dunia II
Pendidikan Militer
Awalnya Halim belajar di:
MOSVIA Magelang
Namun ia keluar dan memilih masuk Akademi Angkatan Laut Surabaya.
Ia kemudian bergabung dalam dinas militer yang berhubungan dengan penerbangan.
Perang Dunia II
Ketika Perang Dunia II berlangsung, Halim bergabung dengan pasukan udara Sekutu.
Ia bertugas sebagai navigator pesawat pengebom di Eropa.
Selama perang ia menjalankan 44 misi pengeboman melawan pasukan Jerman.
Pengalaman ini membuatnya menjadi salah satu navigator paling berpengalaman ketika kembali ke Indonesia.
D. Perjuangan Pasca Kemerdekaan Indonesia
Setelah Indonesia merdeka pada tahun 1945, Halim menolak tawaran untuk tetap bekerja di luar negeri.
Ia memilih kembali ke tanah air dan bergabung dengan:
Tentara Nasional Indonesia.
Perannya antara lain:
- Wakil Kepala Staf Angkatan Udara
- Instruktur navigasi penerbang
- Pengembang pangkalan udara di Sumatera
Ia juga terlibat dalam operasi militer di:
- Ambarawa
- Salatiga
- Semarang
E. Misi Terakhir
Pada tahun 1947 Indonesia menghadapi blokade Belanda yang menghambat pasokan senjata dan obat-obatan.
Halim ditugaskan melakukan misi rahasia.
Ia menerbangkan pesawat:
Avro Anson RI-003
bersama:
Iswahyudi.
Pesawat tersebut membawa:
- obat-obatan
- perlengkapan medis
- logistik perjuangan
dari Thailand menuju Indonesia.
F. Apakah Ditembak Belanda?
Halim tidak gugur karena ditembak Belanda.
Pada 14 Desember 1947, pesawat Avro Anson RI-003 mengalami kecelakaan akibat cuaca buruk di wilayah:
Lumut Perak.
Pesawat menabrak pepohonan di daerah pantai dan meledak.
Dalam kecelakaan tersebut:
- Abdul Halim Perdanakusuma gugur
- Opsir Iswahyudi juga gugur
G. Pemakaman dan Penghargaan
Awalnya Halim dimakamkan di Malaysia.
Pada 10 November 1975, jenazahnya dipindahkan ke:
Taman Makam Pahlawan Kalibata.
Pada tahun yang sama pemerintah menetapkan beliau sebagai:
Pahlawan Nasional Republik Indonesia.
H. Nama yang Diabadikan
Untuk mengenang jasa besarnya, nama Halim digunakan untuk berbagai fasilitas nasional, antara lain:
- Bandar Udara Halim Perdanakusuma
- Lanud Halim Perdanakusuma
- Kapal perang KRI Abdul Halim Perdanakusuma
I. Warisan bagi Indonesia
Jasa besar Abdul Halim Perdanakusuma antara lain:
- Perintis kekuatan Angkatan Udara Indonesia
- Navigator berpengalaman dalam Perang Dunia II
- Pejuang revolusi yang berani menembus blokade Belanda
- Gugur dalam misi kemanusiaan membawa obat-obatan untuk rakyat Indonesia
✨ Abdul Halim Perdanakusuma dikenang sebagai salah satu penerbang muda paling berani dalam sejarah Indonesia, yang mengorbankan hidupnya demi kemerdekaan bangsa pada usia sangat muda: 25 tahun.
101 SUH
Buatlah Risalah dan Infografis tentang Pahlawan :
Tuanku Tambusai
Nama Kecil: Muhammad Saleh.
Lahir di Dalu-Dalu, Rokan Hulu, Riau, 5 November 1784.
Meninggal di Seremban, Negeri Sembilan, Malaya, 12 November 1882.
Orang Tua: Ayahnya berasal dari Rambah (keturunan Mandailing-Harahap) dan ibunya dari Tambusai.
Peran: Pemimpin kaum Padri, Ulama, dan Pejuang Anti-Belanda.
Gelar: Pahlawan Nasional Indonesia (ditetapkan 7 Agustus 1995).
A. Tuanku Tambusai, salah satu pahlawan nasional Indonesia dari Sumatera yang terkenal dengan julukan "Harimau Paderi dari Rokan".
B. Perjuangan Tuanku Tambusai
Masa Muda dan Pendidikan
1. Pendidikan Agama: Sejak kecil mendapat pendidikan agama dari ayahnya yang merupakan seorang guru agama Islam asal Rambah, serta ibunya yang berasal dari Tambusai.
2. Merantau dan Berguru: Beliau merantau ke Bonjol dan Rao di Sumatera Barat untuk mendalami ilmu agama Islam. Di sana, beliau berkenalan dan berguru dengan ulama-ulama Paderi terkemuka, termasuk Tuanku Imam Bonjol.
3. Dakwah: Beliau mendapat gelar Fakih dan giat menyebarkan ajaran pemurnian Islam di tanah kelahirannya, Rokan Hulu, dan sekitarnya (Mandailing, Toba, Air Bangis).
C. Era Belanda (Perang Padri)
1. Pemimpin Padri: Tuanku Tambusai menjadi tulang punggung perjuangan kaum Padri di Riau melawan Belanda, terutama setelah perang berkecamuk di Minangkabau.
2. Harimau Padri dari Rokan: Belanda menjulukinya De Padriesche Tijger van Rokan karena kegigihannya yang sulit dikalahkan dan menolak tawaran damai Belanda.
3. Strategi Benteng: Beliau membangun pusat pertahanan yang kuat di benteng Dalu-Dalu. Beliau memimpin pertempuran melawan Belanda di Rokan Hulu, Natal, dan Rao sejak tahun 1826.
4. Membantu Bonjol: Ketika Benteng Bonjol melemah, Tuanku Tambusai memimpin serangan balik yang mematikan, menghancurkan benteng Belanda (Fort Amerongen) dan merebut kembali Bonjol.
5. Akhir Perang Padri: Meskipun benteng Dalu-Dalu akhirnya jatuh ke tangan Belanda pada tahun 1838 setelah masa perang panjang, Tuanku Tambusai berhasil meloloskan diri ke Negeri Sembilan, Malaya.
D. Usaha Bersekutu dengan Pejuang Lain
Tuanku Tambusai menyadari perlunya persatuan untuk melawan Belanda, terutama di wilayah Sumatera:
1. Dengan Tuanku Imam Bonjol: Tuanku Tambusai adalah pemimpin generasi kedua gerakan Padri bersama Imam Bonjol. Mereka berkoordinasi, terutama setelah bersatunya Kaum Padri dan Kaum Adat pada 1832, untuk menyerang posisi Belanda secara serentak di Minangkabau dan Riau.
2. Perjuangan Lintas Wilayah: Perjuangan Tambusai meluas hingga Tapanuli, Air Bangis, dan Padang Lawas, membangun aliansi dengan pejuang lokal, yang kemudian berlanjut pada perlawanan pejuang Batak di bawah Sisingamangaraja XII.
3. Aliansi Padri-Aceh: Meskipun tidak ada catatan spesifik pertempuran langsung, jaringan dakwah dan perlawanan Padri yang dipimpin Tambusai memiliki basis yang kuat di Tapanuli bagian utara, yang berbatasan dengan Aceh, memperkuat tekanan terhadap posisi Belanda di utara.
E. Akhir Hayat dan Keluarga
1. Kekalahan dan Pengungsian: Setelah Benteng Dalu-Dalu jatuh ke tangan Belanda pada tahun 1838, Tuanku Tambusai tidak menyerah. Ia meloloskan diri ke Negeri Sembilan, Malaya.
2. Akhir Hayat: Ia menghabiskan sisa hidupnya di Malaya dan wafat pada 12 November 1882 di sana.
3. Keluarga: Ia meninggalkan warisan semangat perjuangan. Beberapa catatan sejarah menyebutkan keterlibatan waris keluarga, seperti yang tercatat dalam narasi sejarah yang disusun oleh kerabatnya, Mohd Yaser Bin Abdul Rahman.
4. Julukan: Belanda menjulukinya "Padriesche Tijger van Rokan" (Harimau Paderi dari Rokan) karena keberaniannya yang sulit ditaklukkan.
F. Keistimewaan Tuanku Tambusai
1. Sulit Dikalahkan: Belanda sangat kesulitan menangkapnya. Bahkan setelah perang Padri berakhir, beliau tidak menyerah melainkan mundur ke Malaya.
2. Pemersatu: Berhasil menyatukan kekuatan kaum Padri dan kaum adat di wilayah Rokan pada tahun 1832.
3. Tokoh Multiregional: Perjuangannya meliputi Riau, Sumatera Barat, hingga Sumatera Utara (Mandailing).

RISALAH PAHLAWAN NASIONAL
TUANKU TAMBUSAI
(Nama kecil: Muhammad Saleh)
Tokoh utama:
Tuanku Tambusai
Lahir: Dalu-Dalu, Rokan Hulu, Riau — 5 November 1784
Wafat: Seremban, Negeri Sembilan, Malaya — 12 November 1882
Orang Tua:
Ayah dari Rambah (keturunan Mandailing-Harahap)
Ibu berasal dari Tambusai
Peran: Ulama, Pemimpin Kaum Padri, Pejuang Anti-Belanda
Gelar: Pahlawan Nasional Indonesia
(ditetapkan 7 Agustus 1995)
A. Harimau Paderi dari Rokan
Tuanku Tambusai dikenal sebagai salah satu tokoh besar perjuangan di Sumatera pada abad ke-19.
Beliau dijuluki oleh Belanda:
“De Padriesche Tijger van Rokan”
yang berarti “Harimau Paderi dari Rokan” karena kegigihan dan keberaniannya dalam melawan kolonial Belanda.
Ia merupakan salah satu pemimpin penting dalam:
Perang Padri
B. Masa Muda dan Pendidikan
Sejak kecil Muhammad Saleh memperoleh pendidikan agama Islam dari keluarganya.
Perjalanan pendidikannya meliputi:
1. Pendidikan Agama
Ia belajar agama Islam dari ayahnya yang merupakan seorang guru agama dari Rambah.
2. Merantau dan Berguru
Ia kemudian merantau ke wilayah Minangkabau seperti:
• Bonjol
• Rao
Di sana ia berguru kepada ulama-ulama gerakan Padri, termasuk tokoh besar:
Tuanku Imam Bonjol
3. Dakwah
Setelah menjadi ulama, ia aktif berdakwah di berbagai daerah:
• Rokan Hulu
• Mandailing
• Toba
• Air Bangis
Ia mendapat gelar Fakih karena kedalaman ilmu agamanya.
C. Pemimpin Perang Padri
Dalam perjuangan melawan Belanda, Tuanku Tambusai menjadi salah satu pemimpin utama kaum Padri di wilayah Riau dan sekitarnya.
Perjuangannya meliputi:
1. Pemimpin Perlawanan
Ia memimpin pasukan Padri melawan Belanda sejak sekitar tahun 1826.
2. Strategi Benteng
Ia membangun pusat pertahanan kuat di:
Dalu-Dalu, Rokan Hulu.
Benteng ini menjadi basis utama perjuangan melawan Belanda.
3. Serangan Balik
Ketika pasukan Belanda menyerang wilayah Minangkabau, Tuanku Tambusai melakukan serangan balik.
Ia bahkan berhasil menghancurkan benteng Belanda:
Fort Amerongen
dan membantu memperkuat pertahanan Bonjol.
D. Kerja Sama dengan Pejuang Lain
Tuanku Tambusai menyadari pentingnya persatuan dalam melawan kolonial Belanda.
Beberapa kerja sama perjuangannya antara lain:
1. Bersama Tuanku Imam Bonjol
Ia merupakan pemimpin generasi kedua gerakan Padri setelah:
Tuanku Imam Bonjol
Pada tahun 1832, kaum Padri dan kaum adat bersatu melawan Belanda.
2. Perjuangan Lintas Wilayah
Perjuangan Tuanku Tambusai meluas hingga:
• Tapanuli
• Padang Lawas
• Air Bangis
Ia juga membangun jaringan perlawanan hingga wilayah Batak yang kelak dipimpin oleh:
Sisingamangaraja XII
E. Kejatuhan Benteng Dalu-Dalu
Perang Padri berlangsung sangat lama dan sengit.
Pada tahun 1838, benteng utama Tuanku Tambusai di Dalu-Dalu akhirnya berhasil direbut oleh Belanda.
Namun Tuanku Tambusai tidak tertangkap.
Ia berhasil meloloskan diri dan mengungsi ke wilayah:
Negeri Sembilan
F. Akhir Hayat
Setelah meninggalkan Sumatera, Tuanku Tambusai menetap di Malaya.
Ia wafat pada:
12 November 1882
di wilayah Seremban, Negeri Sembilan.
Walaupun hidup jauh dari tanah kelahirannya, semangat perjuangannya tetap dikenang oleh masyarakat Indonesia.
G. Keistimewaan Tuanku Tambusai
Beberapa hal yang membuat Tuanku Tambusai dikenang dalam sejarah Indonesia:
✔ Pejuang yang sangat sulit ditangkap Belanda
✔ Pemimpin militer sekaligus ulama
✔ Berhasil mempersatukan kekuatan Padri dan adat di Rokan
✔ Tokoh perlawanan lintas wilayah Sumatera
H. Warisan untuk Bangsa
Atas jasa-jasanya dalam perjuangan melawan penjajahan Belanda, pemerintah Indonesia menetapkan:
Tuanku Tambusai
sebagai Pahlawan Nasional Indonesia pada tahun 1995.
Ia dikenang sebagai:
Ulama pejuang yang mempertahankan kehormatan bangsa dan agama dari penjajahan.
102 SUH
Buatlah Risalah dan Infografis tentang Pahlawan :
Syech Yusuf Tajul Khalwali
Nama Lengkap: Syekh Muhammad Yusuf bin Abdullah Abul Mahasin Tajul Khalwati al-Makassari al-Bantani.
Lahir di Gowa, Sulawesi Selatan, 3 Juli 1626.
Meninggal di Kaapstad, Afrika Selatan, 23 Mei 1699.
Atas permintaan Sultan Gowa, jenazahnya dipindahkan kembali ke Gowa, Sulawesi Selatan, pada 5 April 1705.
Latar Belakang: Tumbuh di lingkungan istana Gowa dan mendalami ilmu agama sejak kecil.
Pendidikan: Belajar agama di Sulawesi Selatan, lalu merantau ke Yaman, Makkah, Madinah, dan Damaskus selama hampir 20 tahun.
Gelar: Pahlawan Nasional Indonesia (dianugerahi 1995) dan Pahlawan Nasional Afrika Selatan (dianugerahi 2005).
A. Syekh Yusuf Tajul Khalwati (3 Juli 1626 – 23 Mei 1699) adalah pahlawan nasional dari Gowa, Sulawesi Selatan, yang dijuluki Tuanta Salamaka ri Gowa. Ulama besar dan pejuang ini melawan VOC Belanda melalui pengajaran agama, dakwah perlawanan, dan taktik gerilya, yang membuatnya diasingkan ke Ceylon dan Afrika Selatan.
B. Perjuangan Masa Muda dan Menuntut Ilmu
1. Pendidikan Awal: Sejak usia 15 tahun, ia belajar agama di Cikoang, Sulawesi Selatan, di bawah bimbingan Daeng Ri Tassamang.
2. Pengembaraan Ilmu: Usia 18 tahun, ia merantau ke Banten, Aceh, Yaman, hingga Damaskus untuk memperdalam ajaran Islam dan tarekat.
3. Keterlibatan di Gowa: Sekembalinya ke tanah air, beliau menjadi penasihat Sultan Gowa dan menikah dengan putri Sultan, aktif memperkuat mentalitas rakyat melawan dominasi VOC.
C. Usaha Melawan Belanda
1. Penasihat Sultan Banten: Pindah ke Banten karena Gowa kalah dari Belanda, ia diangkat menjadi Mufti (penasihat agama) oleh Sultan Ageng Tirtayasa.
2. Gerilya: Memimpin perlawanan gerilya melawan Belanda bersama Sultan Ageng dan Pangeran Purbaya.
3. Pengasingan: Ditangkap pada 1684 karena dianggap ancaman besar, ia diasingkan ke Ceylon (Sri Lanka).
4. Perlawanan dari Pembuangan: Di Ceylon, ia tetap menyebarkan Islam dan pesan perjuangan kepada jemaah haji yang singgah, menyebabkan Belanda ketakutan hingga ia diasingkan kembali ke Capetown, Afrika Selatan.
D. Proses Pengasingan oleh Belanda
Karena perlawanannya yang gigih, Belanda menangkap Syekh Yusuf setelah Sultan Ageng Tirtayasa tertangkap pada Maret 1683.
1. Ditangkap: Syekh Yusuf tertangkap pada Desember 1683.
2. Pengasingan ke Sri Lanka (Ceylon): Belanda yang takut akan pengaruhnya di nusantara, mengasingkan beliau ke Sri Lanka (Ceylon) pada tahun 1684. Di sana, beliau tetap berdakwah dan mendirikan komunitas Muslim.
3. Pengasingan ke Afrika Selatan: Karena masih dianggap berbahaya dan tetap bisa berkomunikasi dengan dunia luar, Belanda memindahkan beliau ke Kaapstad (Cape Town), Afrika Selatan pada tahun 1693.
4. Wafat dan Dimakamkan: Syekh Yusuf wafat di Afrika Selatan pada 23 Mei 1699. Jenazahnya kemudian dipindahkan ke Lakiung, Gowa pada 6 April 1705.
E. Akhir Hayat dan Keluarga
1. Wafat: Syekh Yusuf wafat pada tanggal 23 Mei 1699 di Cape Town dalam usia 72-73 tahun.
2. Makam: Jenazahnya awalnya dimakamkan di Cape Town, namun atas permintaan Sultan Gowa, jenazahnya dipindahkan kembali ke Gowa, Sulawesi Selatan, pada 5 April 1705.
3. Keluarga: Syekh Yusuf diketahui menikah beberapa kali (hingga 7 kali), salah satunya adalah Sitti Daeng Nisanga, puteri Raja Gowa Manga'rangi Daeng Manrabbia.
F. Nasib Sekutu
1. Sultan Ageng Tirtayasa: Ditangkap Belanda pada 1683 dan dipenjara hingga wafat.
2. Perlawanan Banten: Kekalahan Sultan Ageng dan penangkapan Syekh Yusuf membuat Sultan Haji (anak Sultan Ageng) naik tahta, namun Banten sepenuhnya menjadi daerah kekuasaan VOC.
3. Pengikut di Afrika: Para pengikut dan keluarganya yang diasingkan bersamanya di Cape Town mendirikan komunitas Muslim pertama yang signifikan di sana, yang keturunannya masih ada hingga saat ini.
G. Syekh Yusuf memberikan contoh perlawanan total, baik melalui pengajaran agama maupun perjuangan bersenjata, menjadikannya sosok yang disegani, bahkan dihormati oleh Nelson Mandela di Afrika Selatan.

RISALAH PAHLAWAN NASIONAL
SYEKH YUSUF TAJUL KHALWATI AL-MAKASSARI
(1626 – 1699)
A. Profil Singkat
Syekh Yusuf atau Syekh Muhammad Yusuf bin Abdullah Abul Mahasin Tajul Khalwati al-Makassari al-Bantani adalah ulama besar, pejuang anti-kolonial, serta tokoh penyebar Islam dari Gowa, Sulawesi Selatan.
Ia dikenal dengan julukan Tuanta Salamaka ri Gowa (Tuan Guru Penyelamat dari Gowa).
Melalui dakwah, pendidikan agama, serta perjuangan gerilya, ia menentang kekuasaan Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC).
Karena pengaruhnya yang besar, Belanda mengasingkannya hingga ke Cape Town, Afrika Selatan.
B. Biodata
Nama Lengkap
Syekh Muhammad Yusuf bin Abdullah Abul Mahasin Tajul Khalwati al-Makassari al-Bantani
Lahir
Gowa, Sulawesi Selatan – 3 Juli 1626
Wafat
Cape Town, Afrika Selatan – 23 Mei 1699
Pemindahan Jenazah
Dipindahkan kembali ke Gowa pada 5 April 1705 atas permintaan Sultan Gowa.
Gelar Penghormatan
- Pahlawan Nasional Indonesia (1995)
- Pahlawan Nasional Afrika Selatan (2005)
C. Masa Muda dan Pengembaraan Ilmu
1. Pendidikan Awal
Sejak kecil, Syekh Yusuf tumbuh di lingkungan istana Kesultanan Gowa.
Pada usia sekitar 15 tahun, ia belajar ilmu agama di Cikoang di bawah bimbingan ulama Daeng Ri Tassamang.
2. Pengembaraan Ilmu
Pada usia 18 tahun, ia melakukan perjalanan panjang menuntut ilmu.
Wilayah yang pernah ia kunjungi antara lain:
- Banten
- Aceh
- Yaman
- Mekkah
- Madinah
- Damaskus
Selama hampir 20 tahun, ia mempelajari ilmu fiqh, tasawuf, dan berbagai tarekat Islam.
3. Kembali ke Nusantara
Sekembalinya ke tanah air, ia menjadi penasihat Sultan Gowa dan memperkuat semangat rakyat untuk melawan dominasi Belanda.
D. Perjuangan Melawan Belanda
1. Penasihat Kesultanan Banten
Setelah Gowa kalah dari Belanda, Syekh Yusuf pindah ke Kesultanan Banten.
Ia diangkat sebagai Mufti oleh Sultan Ageng Tirtayasa.
2. Perang Melawan VOC
Bersama:
- Sultan Ageng Tirtayasa
- Pangeran Purbaya
ia memimpin perlawanan gerilya melawan VOC Belanda.
Syekh Yusuf tidak hanya memimpin perjuangan bersenjata tetapi juga menguatkan semangat jihad dan perlawanan melalui dakwah.
E. Proses Pengasingan oleh Belanda
Karena dianggap sangat berbahaya, Belanda akhirnya menangkap Syekh Yusuf.
1. Penangkapan
Syekh Yusuf ditangkap pada Desember 1683, setelah kekalahan pasukan Sultan Ageng Tirtayasa.
2. Pengasingan ke Ceylon
Tahun 1684, ia diasingkan ke Sri Lanka (Ceylon).
Di sana ia tetap berdakwah dan membangun komunitas Muslim.
3. Pengasingan ke Afrika Selatan
Karena pengaruhnya masih besar, Belanda memindahkannya ke Cape Town pada tahun 1693.
Di tempat pengasingan ini ia kembali mengajarkan Islam kepada masyarakat dan para budak Muslim.
F. Akhir Hayat dan Keluarga
Wafat
Syekh Yusuf wafat pada 23 Mei 1699 di Cape Town dalam usia sekitar 72–73 tahun.
Pemindahan Jenazah
Atas permintaan Sultan Gowa, jenazahnya dipindahkan kembali ke Lakiung, Gowa pada 5 April 1705.
Keluarga
Syekh Yusuf diketahui menikah beberapa kali.
Salah satu istrinya adalah Sitti Daeng Nisanga, putri Raja Gowa Manga’rangi Daeng Manrabbia.
G. Nasib Sekutu Perjuangan
1. Sultan Ageng Tirtayasa
Sultan Ageng Tirtayasa ditangkap oleh Belanda pada tahun 1683 dan dipenjara hingga wafat.
2. Kesultanan Banten
Setelah kekalahan Sultan Ageng, Sultan Haji naik tahta dengan dukungan VOC sehingga Banten jatuh di bawah pengaruh Belanda.
3. Komunitas Muslim Afrika Selatan
Para pengikut Syekh Yusuf yang diasingkan bersamanya di Cape Town mendirikan komunitas Muslim pertama yang besar di Afrika Selatan.
Keturunan mereka masih ada hingga sekarang.
H. Warisan dan Pengaruh Dunia
Perjuangan Syekh Yusuf meninggalkan warisan besar:
- Ulama besar penyebar Islam Nusantara.
- Pejuang anti kolonial VOC.
- Tokoh penting dalam sejarah Islam di Afrika Selatan.
- Diakui sebagai Pahlawan Nasional Indonesia dan Pahlawan Nasional Afrika Selatan.
Tokoh Afrika Selatan seperti Nelson Mandela juga menghormati Syekh Yusuf sebagai simbol perjuangan melawan penindasan.
103 SUH
Buatlah Risalah dan Infografis tentang Pahlawan :
Siti Hartinah
Nama Lengkap: Raden Ayu Hj. Fatimah Siti Hartinah Soeharto (Ibu Tien).
Lahir di Desa Jaten, Karanganyar, Jawa Tengah, 23 Agustus 1923.
Meninggal di Jakarta, 28 April 1996 (dimakamkan di Astana Giri Bangun, Jawa Tengah).
Orang Tua: RM Soemoharjomo dan Raden Ayu Hatmanti Hatmohoedojo.
Suami: Soeharto (Menikah 26 Desember 1947)
Anak: Siti Hardijanti Rukmana (Tutut), Sigit Harjojudanto, Bambang Trihatmodjo, Siti Hediati Hariyadi (Titiek), Hutomo Mandala Putra (Tommy), dan Siti Hutami Endang Adiningsih (Mamiek)
A. Siti Hartinah (Ibu Tien Soeharto) adalah Ibu Negara Indonesia ke-2, lahir di Jaten, Karanganyar, Jawa Tengah pada 23 Agustus 1923, dan diangkat sebagai Pahlawan Nasional pada 30 Juli 1996. Ia berjasa dalam perjuangan kemerdekaan melalui Laskar Putri Indonesia serta menginisiasi gerakan sosial-budaya penting seperti PKK, Posyandu, dan TMII.
B. Perjuangan dan Kiprah
1. Masa Perjuangan Kemerdekaan: Saat revolusi, ia terlibat aktif dalam Laskar Putri Indonesia, mengelola dapur umum, dan membantu logistik untuk pejuang di Solo dan sekitarnya.
2. Pemberdayaan Keluarga (PKK): Menginisiasi gerakan Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) pada tahun 1970-an, mendorong peran aktif perempuan desa dalam pembangunan, gizi keluarga, dan kesehatan melalui Posyandu.
3. Pelopor Sosial dan Budaya: Memprakarsai pembangunan Taman Mini Indonesia Indah (TMII) untuk pelestarian budaya, serta mendirikan yayasan sosial seperti Yayasan Harapan Kita, RS Anak & Bersalin Harapan Kita, dan RS Kanker Dharmais.
4. Perjuangan Hak Perempuan: Berperan dalam penyusunan UU Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, yang salah satu poin pentingnya adalah membatasi dan mengatur ketat poligami bagi PNS.
C. Perjuangan dan Usaha di Masa Muda
1. Sejak muda, Siti Hartinah dikenal sebagai sosok yang tangguh dan memiliki jiwa nasionalisme. Berikut adalah beberapa perjuangannya:
2. Aktif dalam Organisasi Perempuan: Di masa mudanya di Solo, ia terlibat aktif dalam pergerakan perempuan dan penggerak Kongres Wanita Indonesia.
3. Gadis Tomboi yang Berani: Beberapa sumber menyebutkan ia adalah sosok yang tangguh, berani, dan setia pada nilai-nilai kebangsaan, bahkan sering digambarkan sebagai gadis tomboi saat masa perjuangan.
4. Masa Pendudukan Jepang & Revolusi: Aktif dalam berbagai kegiatan sosial yang bertujuan mendukung perjuangan kemerdekaan, terutama di wilayah Surakarta.
D. Usaha Perjuangan Masa Muda (Belanda - Jepang)
1. Masa Pendudukan Jepang: Siti Hartinah dikenal sebagai sosok muda yang tangguh dan aktif. Ia bergabung dalam Barisan Pemuda Puteri di bawah naungan Fujinkai, organisasi perempuan yang diizinkan beroperasi saat penjajahan Jepang.
2. Jiwa Kebangsaan: Ia menanamkan semangat kemerdekaan sejak usia muda dan dikenal sebagai sosok yang berani di tengah ketatnya pengawasan Jepang.
E. Perjuangan Pasca Kemerdekaan dan Revolusi
1. Perang Kemerdekaan: Siti Hartinah turut serta membantu perjuangan kemerdekaan dengan aktif di dapur umum untuk mendukung pasukan militer.
2. Dukungan Istri Prajurit: Setelah menikah dengan Soeharto pada tahun 1947, di tengah situasi revolusi fisik, ia setia mendampingi suaminya sebagai prajurit. Beliau memainkan peran penting dalam memberikan dukungan moril dan mengurus kebutuhan keluarga di masa-masa sulit.
F. Peran Penting (Masa Orde Baru)
1. Sebagai istri seorang prajurit dan kemudian Presiden, perjuangannya berlanjut melalui inisiatif sosial yang dampaknya dirasakan secara nasional:
2. Inisiator PKK (Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga): Menginisiasi gerakan PKK pada tahun 1970-an untuk memberdayakan perempuan desa agar berani keluar rumah, aktif dalam pembangunan, serta mengelola kesehatan gizi keluarga.
3. Penggerak Posyandu: Melalui PKK, Ibu Tien mendorong terciptanya Posyandu sebagai simbol solidaritas perempuan desa dan untuk menurunkan angka kematian bayi.
4. Pendukung Gerakan Pramuka: Menjabat sebagai Wakil Ketua Kwartir Nasional (Kwarnas) Gerakan Pramuka selama lima periode berturut-turut (1970–1993) dan menginisiasi pembangunan Bumi Perkemahan Wiladatika Cibubur.
5. Prakarsa Taman Mini Indonesia Indah (TMII): Menggagas pembangunan TMII pada tahun 1970 untuk memperkenalkan dan melestarikan keragaman budaya Indonesia.
6. Pilar Pendukung Soeharto: Menjadi pilar moral bagi Pak Harto, terutama saat masa-masa bimbang dalam karier militer pada awal 1960-an, dengan memberikan dukungan penuh agar tetap bertahan di militer.
G. Akhir Hayat dan Keluarga
1. Wafat: Ibu Tien wafat pada Minggu, 28 April 1996 pukul 05.10 WIB di RSPAD Gatot Subroto karena serangan jantung.
2. Makam: Dimakamkan di Astana Giribangun, Karanganyar, Jawa Tengah.
3. Keluarga: Beliau meninggalkan suami, Soeharto (wafat 2008), dan 6 orang anak:
* Siti Hardijanti Rukmana (Tutut)
* Sigit Harjojudanto
* Bambang Trihatmodjo
* Siti Hediati Hariyadi (Titiek)
* Hutomo Mandala Putra (Tommy)
* Siti Hutami Endang Adiningsih (Mamiek).
4. Ibu Tien Soeharto ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia pada tanggal 30 Juli 1996.
H. Kontroversi Penetapan Pahlawan Nasional
Siti Hartinah ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional berdasarkan Keputusan Presiden No. 060/TK/Tahun 1996 tanggal 30 Juli 1996. Penetapan ini menuai kontroversi pada saat itu karena:
1. Waktu Penetapan: Ditetapkan hanya berselang tiga bulan setelah wafatnya, dianggap terlalu cepat oleh sebagian pihak.
2. Posisi Suami: Sebagai istri Presiden yang masih menjabat (Soeharto), penetapan tersebut menimbulkan persepsi adanya nepotisme atau keinginan untuk memperkuat citra kekuasaan Orde Baru, bukan semata-mata berdasarkan kontribusi perjuangan fisik melawan penjajah.
3. Pro-Kontra: Meskipun pendukungnya menyoroti jasa sosialnya yang luas (seperti TMII dan sosial kemasyarakatan), pengkritik merasa gelar tersebut lebih layak diberikan kepada pejuang yang gugur di medan perang.

RISALAH & INFOGRAFIS PAHLAWAN NASIONAL
Siti Hartinah
“Ibu Tien Soeharto” – Tokoh Sosial, Budaya, dan Pemberdayaan Perempuan
IDENTITAS TOKOH
- Nama lengkap: Raden Ayu Hj. Fatimah Siti Hartinah Soeharto
- Nama populer: Ibu Tien Soeharto
- Lahir: Jaten, Karanganyar, Jawa Tengah, 23 Agustus 1923
- Wafat: Jakarta, 28 April 1996
Makam:
Astana Giribangun
Orang Tua:
- RM Soemoharjomo
- Raden Ayu Hatmanti Hatmohoedojo
Suami:
- Suharto
Menikah: 26 Desember 1947
Anak-anak:
- Siti Hardijanti Rukmana
- Sigit Harjojudanto
- Bambang Trihatmodjo
- Siti Hediati Hariyadi
- Hutomo Mandala Putra
- Siti Hutami Endang Adiningsih
Gelar:
- Pahlawan Nasional Indonesia (30 Juli 1996)
A. Ibu Negara dan Tokoh Sosial Nasional
Siti Hartinah yang dikenal sebagai Ibu Tien Soeharto adalah Ibu Negara Indonesia ke-2.
Ia dikenal sebagai tokoh yang aktif dalam:
- pembangunan sosial
- pemberdayaan perempuan
- pelestarian budaya nasional
Selama menjadi Ibu Negara, ia banyak menggagas program sosial yang berdampak luas bagi masyarakat Indonesia.
B. Perjuangan dan Kiprah
1. Masa Perjuangan Kemerdekaan
Pada masa revolusi kemerdekaan, Ibu Tien aktif dalam:
Laskar Putri Indonesia
Kegiatannya meliputi:
- membantu dapur umum
- menyediakan logistik bagi pejuang
- membantu kebutuhan tentara di wilayah Surakarta dan sekitarnya.
2. Gerakan PKK
Ia dikenal sebagai penggagas gerakan:
Pembinaan Kesejahteraan Keluarga
Gerakan ini bertujuan:
- meningkatkan kesejahteraan keluarga
- memberdayakan perempuan desa
- memperbaiki gizi dan kesehatan masyarakat.
3. Penggerak Posyandu
Melalui PKK, Ibu Tien mendorong pembentukan:
Posyandu
Tujuannya adalah:
- menurunkan angka kematian bayi
- meningkatkan kesehatan ibu dan anak
- memberikan pelayanan kesehatan dasar bagi masyarakat desa.
4. Pelestarian Budaya Nasional
Salah satu gagasan besarnya adalah pembangunan:
Taman Mini Indonesia Indah
TMII didirikan untuk:
- memperkenalkan keragaman budaya Indonesia
- melestarikan tradisi dari seluruh daerah
- menjadi pusat pendidikan budaya nasional.
5. Pendirian Lembaga Sosial
Ia juga berperan dalam mendirikan berbagai lembaga sosial, antara lain:
- Yayasan Harapan Kita
- RS Anak dan Bunda Harapan Kita
- RS Kanker Dharmais
Lembaga-lembaga tersebut memberikan layanan kesehatan penting bagi masyarakat.
C. Perjuangan Masa Muda
Sejak muda, Siti Hartinah dikenal sebagai perempuan yang:
- berani
- tangguh
- memiliki semangat nasionalisme.
Di Surakarta ia aktif dalam berbagai kegiatan perempuan dan organisasi sosial.
Beberapa sumber juga menggambarkan dirinya sebagai gadis yang cukup tomboi dan berani pada masa mudanya.
D. Masa Pendudukan Jepang
Pada masa pendudukan Jepang, ia terlibat dalam organisasi perempuan:
Fujinkai
Organisasi ini menjadi wadah bagi perempuan Indonesia untuk melakukan kegiatan sosial di masa pendudukan Jepang.
Di dalam organisasi tersebut ia menumbuhkan semangat kebangsaan dan solidaritas sosial.
E. Perjuangan Pasca Kemerdekaan
Setelah menikah dengan:
Suharto
pada tahun 1947, ia menjalani kehidupan sebagai istri prajurit di masa revolusi.
Pada masa itu ia:
- mengurus keluarga di tengah situasi perang
- memberikan dukungan moral kepada suaminya
- membantu kegiatan sosial di masyarakat.
F. Peran pada Masa Orde Baru
Ketika Soeharto menjadi Presiden Indonesia, peran Ibu Tien semakin luas.
Beberapa kontribusinya antara lain:
1. Penggerak PKK
Mendorong perempuan desa untuk aktif dalam pembangunan.
2. Pengembangan Posyandu
Program kesehatan ibu dan anak di seluruh Indonesia.
3. Gerakan Pramuka
Ia menjabat sebagai Wakil Ketua Kwartir Nasional:
Gerakan Pramuka Indonesia
selama lima periode (1970–1993).
Ia juga menggagas pembangunan:
Bumi Perkemahan Cibubur.
G. Akhir Hayat
Ibu Tien wafat pada:
28 April 1996
di:
RSPAD Gatot Subroto
karena serangan jantung.
Jenazahnya dimakamkan di:
Astana Giribangun.
H. Penetapan sebagai Pahlawan Nasional
Pada 30 Juli 1996, pemerintah Indonesia menetapkan beliau sebagai Pahlawan Nasional.
Namun penetapan ini sempat menimbulkan pro dan kontra karena:
- Waktu penetapan yang sangat dekat dengan wafatnya.
- Statusnya sebagai istri Presiden yang masih menjabat saat itu.
- Perdebatan tentang kriteria kepahlawanan.
Meski demikian, banyak pihak menilai jasa sosial dan budaya Ibu Tien sangat besar bagi masyarakat Indonesia.
Warisan Ibu Tien bagi Indonesia
Warisan penting dari Siti Hartinah antara lain:
- Gerakan PKK yang masih aktif hingga sekarang
- Jaringan Posyandu di seluruh Indonesia
- Taman Mini Indonesia Indah sebagai pusat budaya nasional
- Berbagai rumah sakit dan yayasan sosial.
145 SBY
Buatlah Risalah dan Infografis tentang Pahlawan :
John Lie
Nama Lahir: John Lie Tjeng Tjoan (kemudian menjadi Jahja Daniel Dharma).
Lahir di Manado, Sulawesi Utara, 9 Maret 1911.
Meninggal di Jakarta, 27 Agustus 1988 (dimakamkan di TMP Kalibata).
Pendidikan/Karier Awal: Pelaut pada maskapai Belanda (KPM), mendapatkan keahlian navigasi dan taktik laut dari Royal Navy Inggris.
Jabatan Terakhir: Laksamana Muda TNI Angkatan Laut.
Gelar: Pahlawan Nasional Indonesia (dianugerahi 2009).
A. Laksamana Muda TNI (Purn.) John Lie Tjeng Tjoan (Jahja Daniel Dharma) adalah pahlawan nasional Indonesia keturunan Tionghoa kelahiran Manado, 9 Maret 1911. Ia dijuluki "Hantu Selat Malaka" karena keberaniannya menembus blokade Belanda menggunakan kapal The Outlaw untuk menyelundupkan senjata demi mempertahankan kemerdekaan RI.
B. Perjuangan John Lie:
1. Penembus Blokade Belanda: Pada 1947, ia ditugaskan memimpin operasi penyelundupan senjata dan komoditas (karet) dari Singapura/Malaya ke Sumatra/Jawa untuk membiayai perjuangan RI.
2. Komandan The Outlaw: Ia menggunakan kapal kecil cepat bernama The Outlaw untuk menyelundupkan senjata melewati patroli ketat Belanda.
3. Hantu Selat Malaka: Sering kali kepergok, namun selalu lolos, menjadikannya legenda di perairan Selat Malaka.
4. Penumpasan Separatis: Setelah kemerdekaan, ia berperan aktif menumpas gerakan separatis seperti Republik Maluku Selatan (RMS) dan PRRI/Permesta.
C. Perjuangan Masa Muda dan Latar Belakang
1. Hasrat Melaut Sejak Kecil: Lahir di Kanaka, Manado, John Lie kecil gemar bermain di laut dan Sungai Tondano. Pada usia sekitar 10 tahun, ia nekat berenang mendekati kapal eskader Belanda di pelabuhan karena tidak memiliki uang untuk naik ke atasnya, memicu tekadnya menjadi pelaut.
2. Pendidikan dan Keahlian: Bersekolah di Holland Chinese School (HCS) dan Christelijke Lagere School (CLS), ia dikenal pemberani dan memiliki jiwa nasionalisme tinggi meski beretnis Tionghoa.
3. Pengalaman Maritim: Pada umur 17 tahun, ia kabur ke Batavia untuk bekerja di pelayaran Koninklijke Paketvaart Maatschappij (KPM), di mana ia belajar navigasi dan teknik kelautan.
4. Masa Perang Dunia II: John Lie bertugas di Logistics Task Force Royal Navy Inggris di Teluk Persia (1942–1944), mendapatkan keahlian taktik perang laut, komunikasi Morse, dan pengelolaan senjata yang kelak digunakan untuk Indonesia.
D. Perjuangan Melawan Jepang dan Belanda
1. Masa Jepang (1942-1945): John Lie ikut serta dalam upaya-upaya perlawanan di lautan dan aktif dalam pelayaran, terutama menyuplai kebutuhan di tengah situasi perang.
2. Melawan Belanda (1945-1949):
* Penyelundup Senjata: Setelah proklamasi, Belanda memblokade laut untuk menghancurkan ekonomi dan militer RI. John Lie dipercaya memimpin misi penyelundupan senjata dan bahan pangan dari Singapura/Malaya ke Sumatra/Jawa untuk menembus blokade Belanda.
* Komandan The Outlaw: Ia menggunakan kapal cepat bernama The Outlaw untuk membawa senjata, obat-obatan, dan logistik perjuangan.
* Hantu Selat Malaka: John Lie berkali-kali lolos dari kepungan kapal perang Belanda yang jauh lebih besar. Ia sering dianggap dilindungi kekuatan Tuhan, terutama saat cuaca cerah tiba-tiba berubah menjadi hujan deras yang membantunya lolos dari kejaran Belanda.
E. Perjuangan Pasca Kemerdekaan
1. Penugasan Baru: Setelah Belanda mengakui kedaulatan RI di akhir 1949, John Lie diterima di Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI).
2. Komandan Kapal Perang: Ia dipercaya menjadi komandan pertama kapal perang jenis korvet eks-Belanda, yaitu KRI Rajawali (kemudian Hr.Ms. Witte de With).
3. Menumpas Pemberontakan: John Lie aktif memimpin operasi penumpasan pemberontakan dalam negeri, seperti RMS (Republik Maluku Selatan), PRRI, dan Permesta, hingga pensiun pada 1966.
4. Pangkat Laksamana Muda: Ia mengakhiri karier dengan pangkat Laksamana Muda.
F. Perjuangan Mempertahankan Kemerdekaan
1. Penyelundup Ulung: Setelah kemerdekaan, ia bergabung dengan ALRI dan memimpin kapal The Outlaw, menyelundupkan hasil bumi (karet/minyak) untuk dibarter dengan senjata di Singapura guna dipasok ke Sumatera.
2. Lolos Blokade: Dijuluki "Hantu Selat Malaka" karena keahliannya lolos dari patroli ketat Belanda, bahkan seringkali lolos meski dihadang pesawat patroli.
3. Komandan Armada: Setelah perang, ia diangkat menjadi komandan KRI Rajawali dan terlibat dalam penumpasan pemberontakan RMS (Maluku) dan PRRI/Permesta (Sulawesi).
G. Perjuangan Pasca Kemerdekaan (Menumpas Pemberontakan)
Setelah pengakuan kedaulatan, John Lie terus mengabdi di ALRI dan berperan penting dalam menumpas berbagai gerakan separatis atau pemberontakan di Indonesia:
1. Pemberontakan RMS (Republik Maluku Selatan): Terlibat dalam operasi penumpasan di Maluku (sekitar tahun 1950).
2. Pemberontakan DI/TII (Darul Islam/Tentara Islam Indonesia): Ikut serta dalam upaya mengatasi pemberontakan yang terjadi di berbagai daerah.
3. Pemberontakan PRRI (Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia): Terlibat dalam operasi laut untuk menumpas gerakan PRRI di Sumatera.
H. Akhir Hayat dan Keluarga
1. Wafat: John Lie meninggal dunia pada 27 Agustus 1988 karena sakit di Jakarta.
2. Makam: Jenazahnya dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata dengan penghormatan militer.
3. Keluarga: John Lie meninggalkan istri, Margaretha Dharma Angkuw (Margaretha Dharma), yang selalu setia mendampinginya.
4. Penghormatan: Namanya diabadikan menjadi salah satu kapal perang Indonesia, KRI John Lie-358. John Lie adalah bukti nyata bahwa nasionalisme tidak memandang etnis atau agama. Ia diakui sebagai pahlawan sejati yang membawa senjata untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.

RISALAH PAHLAWAN NASIONAL INDONESIA
JOHN LIE
(Nama lahir: John Lie Tjeng Tjoan – kemudian dikenal sebagai Jahja Daniel Dharma)
Lahir : Manado, Sulawesi Utara, 9 Maret 1911
Wafat : Jakarta, 27 Agustus 1988
Dimakamkan : Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta
Pendidikan / Karier Awal :
Pelaut pada maskapai Belanda Koninklijke Paketvaart Maatschappij (KPM), memperoleh keahlian navigasi dan taktik laut dari **Royal Navy Inggris.
Jabatan Terakhir : Laksamana Muda TNI Angkatan Laut
Gelar : Pahlawan Nasional Indonesia (dianugerahkan tahun 2009)
A. HANTU SELAT MALAKA
Laksamana Muda TNI (Purn.) John Lie Tjeng Tjoan adalah pahlawan nasional Indonesia keturunan Tionghoa yang lahir di Manado.
Ia dijuluki “Hantu Selat Malaka” karena keberaniannya menembus blokade laut Belanda dengan kapal kecil bernama The Outlaw untuk menyelundupkan senjata bagi perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia.
B. PERJUANGAN JOHN LIE
1. Penembus Blokade Belanda
Pada tahun 1947 ia memimpin operasi rahasia menyelundupkan senjata dan komoditas seperti karet dari Singapura dan Malaya menuju Sumatra dan Jawa untuk membiayai perjuangan Republik Indonesia.
2. Komandan Kapal The Outlaw
Ia menggunakan kapal cepat The Outlaw untuk membawa senjata, obat-obatan, serta logistik perjuangan melalui jalur laut yang diawasi ketat Belanda.
3. “Hantu Selat Malaka”
John Lie berkali-kali lolos dari pengejaran kapal perang Belanda yang jauh lebih besar, sehingga namanya menjadi legenda di perairan Selat Malaka.
4. Penumpasan Separatis
Setelah kemerdekaan, ia turut memimpin operasi militer untuk menumpas berbagai gerakan separatis di Indonesia.
C. MASA MUDA DAN LATAR BELAKANG
1. Kecintaan pada Laut
Sejak kecil di Manado, John Lie gemar bermain di laut dan Sungai Tondano.
Pada usia sekitar 10 tahun ia pernah berenang mendekati kapal perang Belanda di pelabuhan karena tidak memiliki uang untuk naik kapal.
2. Pendidikan
Ia menempuh pendidikan di:
- Holland Chinese School (HCS)
- Christelijke Lagere School (CLS)
Sejak kecil ia dikenal berani dan memiliki jiwa nasionalisme yang tinggi.
3. Pengalaman Maritim
Pada usia 17 tahun ia pergi ke Batavia dan bekerja di perusahaan pelayaran KPM, tempat ia mempelajari navigasi dan teknik pelayaran.
4. Masa Perang Dunia II
Pada masa Perang Dunia II, ia bertugas dalam Logistics Task Force Royal Navy Inggris di Teluk Persia (1942–1944).
Di sana ia mempelajari:
- taktik perang laut
- komunikasi Morse
- penggunaan senjata
Keahlian ini kelak sangat berguna bagi perjuangan Indonesia.
D. PERJUANGAN MELAWAN JEPANG DAN BELANDA
Masa Pendudukan Jepang (1942–1945)
John Lie tetap aktif di dunia pelayaran dan membantu suplai logistik di tengah situasi perang.
Masa Revolusi Kemerdekaan (1945–1949)
Setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia 1945, Belanda melakukan blokade laut untuk menghancurkan ekonomi Republik Indonesia.
John Lie dipercaya memimpin misi rahasia penyelundupan senjata dari Singapura dan Malaya ke wilayah Indonesia.
Kapal The Outlaw yang dipimpinnya sering dikejar kapal perang Belanda namun berhasil lolos.
E. PERJUANGAN PASCA KEMERDEKAAN
Setelah pengakuan kedaulatan Indonesia tahun 1949, John Lie resmi bergabung dengan Angkatan Laut Republik Indonesia.
Komandan Kapal Perang
Ia menjadi komandan pertama kapal perang korvet KRI Rajawali (bekas kapal Belanda Hr.Ms. Witte de With).
Menumpas Pemberontakan
Ia ikut memimpin operasi militer untuk menumpas beberapa pemberontakan, antara lain:
- Republik Maluku Selatan (RMS)
- PRRI
- Permesta
- Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII)
Ia pensiun pada tahun 1966 dengan pangkat Laksamana Muda TNI.
F. AKHIR HAYAT
John Lie wafat pada 27 Agustus 1988 di Jakarta.
Jenazahnya dimakamkan dengan penghormatan militer di Taman Makam Pahlawan Kalibata.
Ia meninggalkan istri tercinta Margaretha Dharma Angkuw yang setia mendampinginya selama masa perjuangan.
G. WARISAN UNTUK INDONESIA
Sebagai bentuk penghormatan:
- Namanya diabadikan menjadi kapal perang KRI John Lie-358 milik TNI Angkatan Laut.
- Tahun 2009 ia dianugerahi gelar Pahlawan Nasional Indonesia.
John Lie menjadi simbol bahwa nasionalisme Indonesia tidak memandang etnis atau agama, melainkan keberanian dan pengabdian kepada bangsa.
162 JKW
Buatlah Risalah dan Infografis tentang Pahlawan :
KH Wahab Chasbullah
(Mbah Wahab).
Lahir di Tambakberas, Jombang, 31 Maret 1888.
Meninggal di dimakamkan di Tambakberas, Jombang, 29 Desember 1971.
Orang Tua: KH Hasbullah Said (Ayah) dan Nyai Latifah (Ibu).
Gelar: Pahlawan Nasional (ditetapkan 7 November 2014).
A. KH Abdul Wahab Chasbullah (1888–1971) adalah Pahlawan Nasional asal Jombang, pendiri Nahdlatul Ulama (NU), dan ulama visioner yang memadukan semangat kebangsaan dengan pendidikan pesantren. Sebagai pelopor organisasi pergerakan seperti Nahdlatul Wathan dan pendiri Laskar Hizbullah, beliau gigih berjuang melawan penjajah serta aktif dalam merumuskan dasar negara.
B. Perjuangan dan Peran Penting.
Pendiri Organisasi Pergerakan:
1. Mendirikan Tashwirul Afkar (1914), forum diskusi pemikiran pemuda Islam.
2. Mendirikan Nahdlatul Wathan (1916), organisasi pendidikan dan nasionalisme.
3. Mendirikan Nahdlatul Tujar (1918), kelompok saudagar untuk menopang ekonomi pergerakan.
4. Menjadi penggerak utama pendirian Nahdlatul Ulama (NU) pada 1926 bersama KH Hasyim Asy'ari.
C. Riwayat Mencari Ilmu (Berguru ke Mana Saja)
Mbah Wahab dikenal memiliki semangat belajar yang tinggi dan mengembara ke berbagai pesantren terkemuka, baik di Jawa maupun di Mekah.
1. Tambakberas, Jombang: Pendidikan awal didapat langsung dari ayahnya, KH Hasbullah Said, selama kurang lebih enam tahun, dididik ilmu al-Qur'an dan dasar agama.
2. Pesantren Langitan, Tuban: Belajar selama satu tahun.
3. Pesantren Mojosari, Nganjuk: Memperdalam ilmu agama.
4. Pesantren Tawangsari, Sepanjang.
5. Pesantren Kademangan, Bangkalan (Madura): Berguru langsung kepada KH Kholil Bangkalan, salah satu ulama terkemuka di Jawa Timur saat itu.
6. Pesantren Tebuireng, Jombang: Berguru kepada KH Hasyim Asy'ari.
7. Mekah, Arab Saudi: Atas saran KH Hasyim Asy'ari, beliau memperdalam ilmu di Mekah selama kurang lebih lima tahun. Di sana, beliau berguru kepada ulama-ulama besar, di antaranya:
* Syaikh Mahfudz at-Tirmasi (termashur dengan Kiai Mahfudz Termas).
* Syaikh Ahmad Khotib Minangkabau.
* Syaikh Sa'id Al-Yamani.
* Syaikh Muchtarom Banyumas.
* Syaikh Ahmad Abu Bakri Sata.
D. Era Belanda sebelum Proklamasi.
Sekembalinya dari Mekah, Kiai Wahab tidak hanya menetap di pesantren, tetapi aktif di pergerakan nasional:
1. Organisator & Modernisator Pesantren (1916-1919): Mendirikan Nahdlatul Wathan (Kebangkitan Tanah Air) untuk pendidikan, dan Tashwirul Afkar (wahana diskusi kebangsaan) di Surabaya.
2. Ekonomi Umat (1918): Mendirikan koperasi Nahdlatut Tujjar (Kebangkitan Saudagar) bersama KH Hasyim Asy'ari untuk memperkuat ekonomi santri dan rakyat.
3. Pendiri NU (1926): Menjadi konseptor utama dan sekretaris pertama dalam pendirian Nahdlatul Ulama, sebagai wadah persatuan ulama dan perlawanan terhadap penjajah.
4. Komite Hijaz (1928): Memimpin Komite Hijaz ke Mekah untuk memperjuangkan kebebasan bermazhab kepada Raja Ibnu Saud.
E. Usaha Perjuangan Era Jepang
1. Panglima Hizbullah: Aktif dalam pergerakan melawan penjajah Jepang dan tercatat pernah menjadi Panglima Laskar Mujahidin (Hizbullah).
2. Barisan Kiai: Mengorganisir para kiai untuk membentuk Barisan Kiai sebagai bentuk perlawanan dari kalangan ulama.
F. Usaha Perjuangan Pasca Kemerdekaan
1. Mempertahankan Kemerdekaan: Melibatkan diri dan mengoordinasi rekrutmen/pelatihan santri dalam perang mempertahankan kemerdekaan, termasuk pertempuran 10 November 1945.
2. Perjuangan Politik: Menjadi penggerak dalam mempertahankan NKRI, berperan dalam memisahkan NU dari Masyumi untuk menjadi partai politik sendiri, dan menjadi Rais Aam PBNU.
3. Mendukung Soekarno: Mendukung pemerintah Indonesia yang terdesak saat agresi militer Belanda dan berperan dalam penerbitan Dekrit Presiden 5 Juli 1959.
4. Pencipta Lagu: Menciptakan lagu Yalal Watan yang menyerukan bahwa cinta tanah air adalah sebagian dari iman.
G. Usaha Nyata dalam Pertempuran 10 November 1945
1. Mbah Wahab memiliki peran krusial dalam pertempuran di Surabaya melalui:
2. Penggerak Resolusi Jihad: Fatwa Jihad yang diinisiasi Mbah Wahab dan KH Hasyim Asy'ari menjadi "bahan bakar" mental santri dan masyarakat Surabaya untuk tidak takut melawan sekutu (NICA/Belanda-Inggris).
3. Mobilisasi Laskar Hizbullah: Ia mengerahkan santri-santri dari Tambakberas dan daerah lain di Jombang untuk turun langsung bertempur di garis depan Surabaya dan Sidoarjo.
4. Masa Perang Kemerdekaan: Terjun langsung dalam perjuangan fisik, memprakarsai bergabungnya Laskar Hizbullah Jombang ke barisan Tentara Republik Indonesia (TRI) untuk melawan Belanda dan Jepang.
5. Dikenal sebagai ahli diplomasi yang selalu meyakini kemerdekaan Indonesia.
H. Akhir Hayat dan Keluarga
1. Wafat: KH. Abdul Wahab Chasbullah wafat pada tanggal 29 Desember 1971 dalam usia 83 tahun.
2. Makam: Beliau dimakamkan di komplek Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang.
3. Keluarga: Beliau meninggalkan warisan perjuangan melalui Pondok Pesantren Tambakberas (Bahrul Ulum) yang dilanjutkan oleh putra-putri dan keluarganya. Salah satu putra beliau yang aktif dalam sejarah perjuangan adalah Wahib Wahab.

RISALAH PAHLAWAN NASIONAL
KH WAHAB CHASBULLAH
(1888 – 1971)
A. Profil Singkat
Abdul Wahab Chasbullah, yang akrab dikenal sebagai Mbah Wahab, adalah ulama besar dari Jombang, Jawa Timur, sekaligus salah satu pendiri Nahdlatul Ulama (NU).
Beliau dikenal sebagai ulama visioner yang memadukan pendidikan pesantren, semangat kebangsaan, dan perjuangan politik dalam melawan penjajahan.
Selain menjadi penggerak organisasi pergerakan Islam, Mbah Wahab juga berperan dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia dan menjadi tokoh penting dalam perkembangan NU.
B. Biodata
Nama lengkap
KH Abdul Wahab Chasbullah
Lahir
Tambakberas, Jombang – 31 Maret 1888
Wafat
Tambakberas, Jombang – 29 Desember 1971
Orang Tua
- Ayah: KH Hasbullah Said
- Ibu: Nyai Latifah
Gelar
- Pahlawan Nasional Indonesia (7 November 2014)
C. Riwayat Pendidikan dan Pengembaraan Ilmu
1. Pendidikan Awal
Pendidikan agama pertama diperoleh di Tambakberas, Jombang, dari ayahnya KH Hasbullah Said, selama sekitar enam tahun.
2. Pengembaraan Pesantren
Mbah Wahab kemudian menuntut ilmu di berbagai pesantren besar di Jawa:
- Pesantren Langitan, Tuban
- Pesantren Mojosari, Nganjuk
- Pesantren Tawangsari
- Pesantren Kademangan, Bangkalan (berguru kepada Kiai Kholil Bangkalan)
- Pesantren Tebuireng, Jombang (berguru kepada Hasyim Asy'ari)
3. Studi ke Mekah
Atas saran KH Hasyim Asy'ari, beliau melanjutkan belajar ke Mekkah selama sekitar lima tahun.
Di sana ia berguru kepada ulama besar seperti:
- Mahfudz at-Tirmasi
- Ahmad Khatib al-Minangkabawi
- Syaikh Sa'id Al-Yamani
- Syaikh Muchtarom Banyumas
- Syaikh Ahmad Abu Bakri Sata
D. Pendiri Organisasi Pergerakan
Mbah Wahab dikenal sebagai arsitek organisasi pergerakan ulama.
1. Tashwirul Afkar (1914)
Forum diskusi pemikiran pemuda Islam yang berkembang di Surabaya.
2. Nahdlatul Wathan (1916)
Organisasi pendidikan yang bertujuan menumbuhkan semangat kebangsaan.
3. Nahdlatut Tujjar (1918)
Organisasi para saudagar Muslim untuk menguatkan ekonomi umat.
4. Pendiri Nahdlatul Ulama (1926)
Bersama KH Hasyim Asy'ari, ia menjadi penggerak utama berdirinya Nahdlatul Ulama, dan menjadi sekretaris pertama organisasi tersebut.
E. Perjuangan Era Kolonial Belanda
Sekembalinya dari Mekah, Mbah Wahab aktif dalam pergerakan nasional:
-
Modernisasi Pesantren
Mengembangkan pendidikan pesantren agar mampu menjawab tantangan zaman.
-
Penguatan Ekonomi Umat
Bersama KH Hasyim Asy'ari mendirikan Nahdlatut Tujjar untuk memperkuat ekonomi rakyat.
-
Komite Hijaz (1928)
Memimpin delegasi ulama Nusantara ke Mekah untuk memperjuangkan kebebasan bermazhab kepada Raja Ibn Saud.
F. Perjuangan pada Masa Jepang
Pada masa pendudukan Jepang:
-
Panglima Laskar Hizbullah
Mengorganisasi para santri dalam kekuatan militer Islam yang dikenal sebagai Laskar Hizbullah.
-
Barisan Kiai
Menggerakkan para ulama untuk membangun kekuatan moral dan perlawanan terhadap penjajah.
G. Perjuangan Pasca Kemerdekaan
1. Pertempuran Surabaya 1945
Peran Mbah Wahab sangat penting dalam Pertempuran Surabaya 10 November 1945.
Ia turut mendorong Resolusi Jihad, yang memotivasi rakyat dan santri untuk melawan pasukan Sekutu.
2. Mobilisasi Santri
Santri dari Jombang dan sekitarnya digerakkan untuk bertempur di Surabaya dan Sidoarjo.
3. Perjuangan Politik
Mbah Wahab kemudian aktif dalam politik nasional:
- Mendukung pemerintah Soekarno
- Menguatkan posisi Nahdlatul Ulama dalam politik nasional
- Menjadi Rais Aam PBNU
4. Pencipta Lagu Nasionalis
Ia juga menciptakan lagu Ya Lal Wathan, yang mengandung pesan bahwa cinta tanah air adalah bagian dari iman.
H. Akhir Hayat
Abdul Wahab Chasbullah wafat pada 29 Desember 1971 dalam usia 83 tahun.
Beliau dimakamkan di Kompleks Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang.
Perjuangannya diteruskan oleh keluarga dan para santri, termasuk putranya Wahib Wahab, yang juga aktif dalam kehidupan nasional.
I. Warisan Perjuangan
Warisan terbesar Mbah Wahab bagi bangsa Indonesia:
- Pendiri dan penggerak Nahdlatul Ulama.
- Penggagas pendidikan pesantren yang modern dan nasionalis.
- Tokoh penting dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia.
- Inspirator gerakan santri dalam mempertahankan NKRI.
163 JKW
Buatlah Risalah dan Infografis tentang Pahlawan :
HR Mohammad
Nama Lengkap: HR Mohammad Mangundiprojo.
Lahir di Sragen, Jawa Tengah, 15 September 1905.
Meninggal di Bandar Lampung, Lampung, 13 Desember 1988.
Pendidikan: Tamatan sekolah pamong praja Belanda (MOSVIA).
Pangkat: Mayor Jenderal (Purn).
Karier Utama: Pejuang kemerdekaan, Perwira Militer, Kepala Divisi TKR Jawa Timur, Bupati Ponorogo, Residen Lampung.
Jabatan Penting: Residen Lampung, Pejuang Pertempuran Surabaya 10 November 1945.
Gelar: Pahlawan Nasional Indonesia (ditetapkan 2014).
A. Mayjen (Purn) HR Mohammad Mangundiprojo adalah seorang tokoh militer Indonesia dan pejuang kemerdekaan yang ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional pada tahun 2014 oleh Presiden Joko Widodo. Beliau dikenal karena perannya dalam pertempuran Surabaya dan memiliki keterkaitan sejarah dengan wilayah Jawa Tengah.
B. Perjuangan HR Mohammad Mangundiprojo
1. Awal Karier & Masa Penjajahan: Mangundiprojo memulai karier sebagai pegawai pemerintah di masa Belanda, namun kemudian beralih menjadi pejuang kemerdekaan.
2. Pertempuran Surabaya 10 November: Peran paling menonjolnya adalah sebagai pemimpin militer di Surabaya. Beliau menjabat sebagai pimpinan tertinggi BKR (Badan Keamanan Rakyat) Jawa Timur.
3. Perundingan dengan Inggris: Mangundiprojo berperan aktif dalam perundingan antara pihak Indonesia dan Inggris (Brigadir Jenderal Mallaby) untuk meredakan ketegangan di Surabaya sebelum pecah perang besar 10 November.
4. Residen Lampung: Setelah kemerdekaan, beliau juga menjabat sebagai Residen Lampung dan berjuang mempertahankan kedaulatan RI di sana.
C. Era Penjajahan Belanda
Pada masa kolonial Belanda, Mohammad Mangundiprojo memulai kariernya sebagai pegawai pemerintah, yang merupakan jalan yang umum diambil oleh kalangan bangsawan/terpelajar Jawa saat itu. Meskipun bekerja dalam sistem pemerintahan Belanda, ia menanamkan semangat nasionalisme dan tidak berpihak sepenuhnya pada kepentingan penjajah, mempersiapkan diri untuk momen kemerdekaan.
D. Era Pendudukan Jepang
Saat Jepang menduduki Indonesia (mulai 1942), Mangundiprojo tetap aktif dalam struktur pemerintahan. Masa ini ia gunakan untuk konsolidasi kekuatan dan membangun jaringan dengan tokoh-tokoh pergerakan lainnya. Ia memanfaatkan posisinya untuk melindungi kepentingan rakyat di tengah ketatnya aturan militer Jepang dan mempersiapkan pemuda Indonesia menghadapi masa depan pasca-Jepang.
E. Pasca Kemerdekaan Indonesia (Perjuangan Surabaya 1945)
Ini adalah puncak perjuangan Mangundiprojo. Setelah proklamasi, ia memiliki peran krusial:
1. Wakil Indonesia dalam Kontak Biro: Ia ditunjuk menjadi wakil Indonesia untuk bernegosiasi dengan tentara Inggris (Sekutu) di Surabaya yang membonceng NICA/Belanda.
2. Penyanderaan oleh Gurkha (29 Oktober 1945): Saat berpatroli bersama Brigjen Mallaby di depan Gedung Internatio (Jembatan Merah), Mangundiprojo masuk ke gedung untuk bernegosiasi dengan tentara Gurkha (Inggris) yang dikepung pejuang Indonesia. Ia disandera dan hampir tewas. Insiden ini memicu pertempuran besar.
3. Pemimpin TKR: Beliau menjabat sebagai Kepala Divisi Tentara Keamanan Rakyat (TKR) Jawa Timur ke-1. TKR di bawah komandonya memainkan peran penting dalam pertempuran 10 November 1945 melawan Sekutu.
F. Masa Setelahnya (Bupati & Residen)
Setelah pertempuran Surabaya, ia melanjutkan perjuangannya di bidang pemerintahan:
1. Menjadi Bupati Ponorogo ke-4.
2. Menjadi Residen (Gubernur) pertama Lampung, di mana ia terus berjuang mempertahankan kedaulatan RI di Sumatera.
G. Sahabat dan Tokoh yang Berperan
Dalam pertempuran 10 November, beliau bekerja sama dengan tokoh-tokoh pejuang lainnya, di antaranya:
1. Bung Tomo (Sutomo): Mengobarkan semangat melalui radio.
2. Raden Mas Tumenggung Ario Soerjo (Gubernur Suryo): Gubernur Jawa Timur yang merencanakan strategi pertahanan kota.
3. Arek-Arek Suroboyo: Pemuda dan rakyat yang ikut bertempur.
H. Akhir Hayat dan Keluarga
1. Akhir Hayat: Setelah masa perang, beliau mengabdi sebagai Bupati dan Residen. HR Mohammad Mangoendiprodjo meninggal dunia di Bandar Lampung pada tahun 1988.
2. Makam: Beliau dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Bandar Lampung.
3. Keluarga: Beliau meninggalkan keluarga yang juga bangga atas jasa-jasanya dalam mempertahankan kemerdekaan, dan secara anumerta, negara memberikan penghargaan tertinggi sebagai Pahlawan Nasional pada 7 November 2014.
I. Warisan untuk Bangsa Indonesia
1. Keteladanan dalam Perundingan: Keberanian menemui musuh demi mencegah korban jiwa yang lebih besar.
2. Pahlawan Nasional: Diakui sebagai Pahlawan Nasional (2015) yang jasanya setara dengan tokoh-tokoh penting Surabaya lainnya dalam mempertahankan kemerdekaan.
3. Simbol Pertahanan: Sosoknya menjadi simbol militer dan rakyat yang bahu-membahu dalam pertempuran 10 November.
4. Nama Jalan Raya di kota Surabaya.
Asli ada 2


RISALAH PAHLAWAN NASIONAL
HR MOHAMMAD MANGUNDIPROJO
(1905 – 1988)
A. Profil Singkat
HR Mohammad Mangundiprojo adalah tokoh militer Indonesia dan pejuang kemerdekaan yang berperan penting dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia, terutama dalam Pertempuran Surabaya 10 November 1945.
Ia dikenal sebagai pemimpin militer yang berani, diplomat yang mampu bernegosiasi dengan pihak Sekutu, serta tokoh pemerintahan yang kemudian mengabdi sebagai Bupati Ponorogo dan Residen Lampung.
Pada tahun 2014, pemerintah Indonesia menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional atas jasa-jasanya bagi bangsa.
B. Biodata
Nama lengkap
HR Mohammad Mangundiprojo
Lahir
Sragen, Jawa Tengah – 15 September 1905
Wafat
Bandar Lampung – 13 Desember 1988
Pendidikan
MOSVIA (Middelbare Opleidingsschool voor Inlandsche Ambtenaren), sekolah pamong praja pada masa Belanda.
Pangkat Militer
Mayor Jenderal (Purnawirawan)
Karier
- Pejuang kemerdekaan
- Perwira militer TKR
- Kepala Divisi TKR Jawa Timur
- Bupati Ponorogo
- Residen Lampung
Gelar
- Pahlawan Nasional Indonesia (2014)
C. Masa Awal Karier
Pada masa penjajahan Belanda, Mangundiprojo memulai karier sebagai pegawai pemerintahan setelah menyelesaikan pendidikan di MOSVIA.
Walaupun bekerja dalam sistem pemerintahan kolonial, ia tetap menanamkan semangat nasionalisme dan menjalin hubungan dengan tokoh-tokoh pergerakan kemerdekaan.
Pengalaman administratif ini kemudian sangat membantu ketika ia memimpin pemerintahan dan organisasi militer setelah Indonesia merdeka.
D. Masa Pendudukan Jepang
Ketika Jepang menduduki Indonesia pada tahun 1942, Mangundiprojo tetap aktif dalam pemerintahan.
Pada masa ini ia:
- membangun jaringan dengan tokoh nasionalis
- membantu melindungi rakyat dari kebijakan militer Jepang
- mempersiapkan pemuda Indonesia menghadapi masa kemerdekaan.
Periode ini menjadi fase penting dalam konsolidasi kekuatan nasional.
E. Perjuangan pada Masa Kemerdekaan
1. Pemimpin Militer Jawa Timur
Setelah proklamasi kemerdekaan, Mangundiprojo menjadi salah satu tokoh penting dalam militer.
Ia menjabat sebagai Kepala Divisi Tentara Keamanan Rakyat (TKR) Jawa Timur.
2. Perundingan dengan Sekutu
Mangundiprojo ditunjuk sebagai wakil Indonesia dalam Kontak Biro, yaitu tim yang bernegosiasi dengan pasukan Inggris di Surabaya yang dipimpin A. W. S. Mallaby.
Tujuan perundingan ini adalah untuk mencegah konflik bersenjata besar di Surabaya.
3. Insiden Gedung Internatio
Pada 29 Oktober 1945, saat berpatroli bersama Brigjen Mallaby di sekitar Gedung Internatio Surabaya di kawasan Jembatan Merah Surabaya, Mangundiprojo masuk ke gedung untuk bernegosiasi dengan tentara Gurkha.
Namun ia justru disandera oleh tentara Inggris, dan hampir terbunuh.
Peristiwa ini menjadi salah satu pemicu meningkatnya konflik yang kemudian meledak menjadi Pertempuran Surabaya 10 November 1945.
F. Perjuangan Bersama Tokoh Surabaya
Dalam perjuangan mempertahankan Surabaya, Mangundiprojo bekerja sama dengan tokoh-tokoh besar lainnya, antara lain:
- Bung Tomo, pemimpin propaganda radio yang membakar semangat rakyat
- R. M. T. A. Soerjo, Gubernur Jawa Timur
- Para pemuda Arek-Arek Suroboyo, yang menjadi tulang punggung perlawanan rakyat.
G. Masa Setelah Perang
Setelah pertempuran Surabaya, Mangundiprojo melanjutkan pengabdiannya dalam pemerintahan.
Beberapa jabatan penting yang pernah diembannya:
- Bupati Ponorogo ke-4
- Residen Lampung pertama
Di Lampung, ia berperan penting dalam menjaga stabilitas wilayah serta mempertahankan kedaulatan Republik Indonesia.
H. Akhir Hayat
HR Mohammad Mangundiprojo wafat pada 13 Desember 1988 di Bandar Lampung.
Beliau dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Bandar Lampung.
Sebagai penghormatan atas jasa-jasanya, pemerintah Indonesia menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional pada 7 November 2014.
I. Warisan Perjuangan
Jasa HR Mohammad Mangundiprojo bagi bangsa Indonesia antara lain:
- Tokoh militer penting dalam Pertempuran Surabaya 1945.
- Pejuang yang berani melakukan diplomasi dengan pihak musuh demi menyelamatkan rakyat.
- Pemimpin pemerintahan yang membantu mempertahankan kedaulatan Republik Indonesia.
- Namanya diabadikan sebagai nama jalan di Surabaya sebagai penghormatan atas perjuangannya.
166 JKW
Buatlah Risalah dan Infografis tentang Pahlawan :
Moehammad Jasin (Mohammad Yasin)
Lahir di Bau-bau, Buton, Sulawesi Tenggara, 9 Juni 1920.
Meninggal di Jakarta, 3 Mei 2012 (usia 91), RS Polri Kramat Jati, dimakamkan di TMP Kalibata.
Jabatan Penting: Komandan Polisi Istimewa Surabaya
Garis Keturunan: Keturunan keenam Raja Bone ke-22 dan memiliki garis keturunan Ahlul Bait.
Pendidikan: HIS, MULO, Pendidikan Kepolisian
Gelar: Pahlawan Nasional (dianugerahi 5 November 2015).
A. Jenderal Polisi (Purn.) Moehammad Jasin (lahir di Bau-Bau, Buton, 9 Juni 1920) adalah Pahlawan Nasional Indonesia yang dijuluki "Bapak Brimob Polri". Ia berperan krusial memproklamasikan Polisi Istimewa menjadi Polisi Republik Indonesia pada 21 Agustus 1945 dan memimpin pertempuran 10 November 1945 di Surabaya.
B. Perjuangan Mohammad Jasin:
1. Proklamasi Polisi RI: Pada 21 Agustus 1945, Jasin memproklamasikan kepolisian di Surabaya sebagai Polisi Republik Indonesia, melepaskan diri dari ikatan Jepang, dan membentuk cikal bakal Brimob (Mobile Brigade/Mobbrig).
2. Pertempuran 10 November 1945: Ia memimpin pasukan Polisi Istimewa di garis depan, melucuti senjata Jepang, dan bertempur melawan sekutu di Surabaya.
3. Perang Gerilya: Pasca-jatuhnya Surabaya, ia memimpin gerilya di Mojokerto, Kediri, dan Blitar, serta aktif dalam menumpas pemberontakan PKI di Madiun.
4. Komandan Mobiele Brigade (MBB): Pada 1946, ia diangkat sebagai Komandan MBB Jawa Timur, menjadikan Brimob pasukan elite Polri.
5. Moehammad Jasin dikenal tegas dan berdedikasi, menjadikannya polisi pertama yang ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional.
C. Perjuangan Saat Muda dan Bersekolah
Perjuangan Jasin dimulai dengan disiplin dan kecemerlangan akademik selama masa pendidikan:
1. Masa Kecil dan Pendidikan Dasar: Jasin kehilangan ibunya saat usia 3 tahun dan dibesarkan oleh ayahnya, seorang pedagang kelontong. Ia kemudian pindah ke Makassar untuk bersekolah.
2. Pendidikan MULO: Jasin menempuh pendidikan di Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO), setingkat SMP, dan tamat pada tahun 1941.
3. Pendidikan Kepolisian: Setelah MULO, ia melanjutkan ke Sekolah Polisi di Sukabumi, Jawa Barat. Meskipun bercita-cita menjadi penerbang, ayahnya melarang, dan Jasin justru menunjukkan kecemerlangan di bidang kepolisian, bahkan sejak masa penjajahan Belanda.
4. Kecerdasan dan Keberanian: Sejak di bangku sekolah dan pendidikan polisi, Jasin dikenal memiliki jiwa kepemimpinan yang kuat dan berani. Saat masa pendudukan Jepang, Jasin bekerja di kepolisian dan mulai menunjukkan sikap tidak tunduk pada aturan penjajah.
D. Zaman Belanda (Sebelum 1942)
Meskipun tidak terjun langsung dalam perlawanan senjata masif di awal, Jasin mengenyam pendidikan kepolisian bentukan Belanda sebelum masa Jepang.
E. Zaman Jepang (1942-1945)
1. Instruktur Polisi Khusus: Jasin bergabung dengan Tokubetsu Keisatsutai (Polisi Khusus) bentukan Jepang di Surabaya.
2. Melatih Taktik: Ia melatih polisi dan Seinendan taktik kepolisian dan kemiliteran, yang kemudian digunakan untuk melawan Jepang.
F. Masa Proklamasi dan Pertempuran Surabaya (1945)
1. Proklamasi Polisi RI: 21 Agustus 1945, Jasin memproklamasikan bahwa kepolisian yang dipimpinnya adalah Polisi Republik Indonesia, lepas dari pengaruh Jepang.
2. Melucuti Jepang: Jasin memimpin aksi berani mengambil alih markas Kempeitai dan gudang senjata Don Bosco di Surabaya, senjata tersebut kemudian dibagikan ke pejuang.
3. Pertempuran 10 November: Ia memiliterisasi Polisi Istimewa (cikal bakal Brimob) dan ikut bertempur melawan Inggris, bahkan memindahkan markas ke Sidoarjo saat Surabaya jatuh.
G. Pasca Kemerdekaan/10 November 1945:
1. Peran: Sebagai Komandan Polisi Istimewa, Jasin merebut senjata dari gudang Don Bosco dan markas Kempeitai Jepang untuk pejuang.
2. Pertempuran Surabaya: Pada 10 November 1945, ia memiliterisasi Polisi Istimewa dan memimpin mereka di garis depan melawan pasukan Sekutu/Inggris.
3. Alasan Ikut Serta: Dorongan kuat untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia dan melindungi rakyat, serta memastikan kepolisian menjadi alat pelindung negara.
H. Teman Seperjuangan
1. Abu Baeda: Rekan yang membujuknya masuk kepolisian.
2. Bung Tomo: Tokoh pertempuran Surabaya (Jasin berkoordinasi dalam perebutan senjata).
3. Pasukan Tokubetsu Keisatsu Tai (Polisi Istimewa): Pasukan yang ia militerisasi.
I. Pasca Kemerdekaan dan Agresi Militer
1. Pendiri Brimob: November 1946, ia diangkat sebagai Komandan Mobiele Brigade Besar (MBB) Jawa Timur.
2. Gerilya: Saat Agresi Militer Belanda, Jasin memimpin pasukan gerilya di sekitar Gunung Wilis.
3. enumpasan DI/TII: Memimpin batalyon Brimob untuk menumpas pemberontakan DI/TII di Aceh dan menempuh pendekatan damai dengan Daud Beureueh
4. Ikut menumpang pemberontakan PKI Madiun.
5. Diplomasi: Pernah bertugas sebagai Duta Besar RI untuk Tanzania (1967-1970).
J. Akhir Hayat dan Keluarga
1. Meninggal pada 3 Mei 2012 di RS Polri Kramat Jati, Jakarta, dalam usia 91 tahun dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata.
2. Istri: Almarhumah Siti Aliyah Kessing.
3. Anak: Rubyanti Jasin, Djuahar Jasin, Djuanda Jasin, dan Djuwaitar Jasin.
J. Warisan untuk Bangsa Indonesia
1. Mendirikan dan membentuk satuan Brimob Polri (mobiele brigade).
2. Menegaskan kepolisian sebagai pelindung rakyat, bukan sekadar alat negara.
3. Polisi pertama yang dianugerahi gelar Pahlawan Nasional (5 November 2015).
RISALAH & INFOGRAFIS PAHLAWAN NASIONAL
Moehammad Jasin
“Bapak Brimob Polri”
A. Profil Singkat
Nama: Jenderal Polisi (Purn.) Moehammad Jasin
Nama lain: Mohammad Yasin
Lahir: Bau-Bau, Buton, Sulawesi Tenggara, 9 Juni 1920
Wafat: Jakarta, 3 Mei 2012 (usia 91 tahun) – RS Polri Kramat Jati
Dimakamkan: TMP Kalibata, Jakarta
Gelar: Pahlawan Nasional (5 November 2015)
Julukan: Bapak Brimob Polri
Tokoh kepolisian Indonesia ini dikenal sebagai perintis Polisi Republik Indonesia dan pelopor pembentukan Brigade Mobil (Brimob). Ia memimpin pasukan Polisi Istimewa Surabaya dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
B. Biodata Singkat
- Asal: Bau-Bau, Buton, Sulawesi Tenggara
- Keturunan:
- Keturunan keenam Raja Bone ke-22
- Memiliki garis keturunan Ahlul Bait
- Pendidikan:
- HIS (Hollandsch Inlandsche School)
- MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) – lulus 1941
- Sekolah Polisi Sukabumi
- Jabatan penting:
- Komandan Polisi Istimewa Surabaya
- Komandan Mobiele Brigade Jawa Timur
- Duta Besar RI untuk Tanzania (1967–1970)
C. Masa Muda dan Pendidikan
Sejak kecil, Jasin dikenal cerdas, disiplin, dan berjiwa kepemimpinan.
-
Masa kecil
- Ibunya wafat saat ia berusia 3 tahun.
- Ia dibesarkan oleh ayahnya yang bekerja sebagai pedagang kelontong.
-
Pendidikan di Makassar
- Menempuh pendidikan dasar hingga menengah.
- Lulus MULO tahun 1941.
-
Sekolah Polisi
- Melanjutkan pendidikan di Sekolah Polisi Sukabumi.
- Awalnya bercita-cita menjadi penerbang, tetapi akhirnya memilih jalur kepolisian.
-
Kepribadian
- Cerdas dan berani
- Tegas terhadap penjajah
- Memiliki jiwa kepemimpinan kuat sejak muda.
D. Masa Pemerintahan Belanda
Sebelum tahun 1942, Jasin telah menjalani pendidikan kepolisian bentukan pemerintah Hindia Belanda.
Walaupun belum terlibat perlawanan bersenjata secara langsung, pengalaman ini membentuk keahlian kepolisian dan kedisiplinannya yang kemudian sangat berguna dalam perjuangan kemerdekaan.
E. Masa Pendudukan Jepang (1942–1945)
Pada masa Jepang, Jasin bergabung dengan Tokubetsu Keisatsutai (Polisi Khusus) di Surabaya.
Perannya antara lain:
- Instruktur polisi khusus
- Melatih anggota kepolisian dan Seinendan
- Mengajarkan taktik militer dan kepolisian
Pengetahuan militer yang ia peroleh kemudian dipakai untuk melawan penjajah setelah kemerdekaan.
F. Masa Proklamasi dan Pertempuran Surabaya
Peran terbesar Jasin terjadi setelah kemerdekaan Indonesia.
1. Proklamasi Polisi Republik Indonesia
21 Agustus 1945
Ia memproklamasikan bahwa polisi di Surabaya menjadi Polisi Republik Indonesia, tidak lagi berada di bawah Jepang.
Peristiwa ini menjadi awal lahirnya Brimob Polri.
2. Melucuti Senjata Jepang
Jasin memimpin aksi:
- Merebut markas Kempeitai Jepang
- Mengambil senjata dari gudang Don Bosco Surabaya
- Membagikan senjata kepada para pejuang
3. Pertempuran Surabaya
Ia memimpin Polisi Istimewa dalam
Battle of Surabaya
Pasukannya bertempur melawan tentara Sekutu/Inggris bersama para pejuang Surabaya.
Ia juga berkoordinasi dengan tokoh perlawanan seperti
Bung Tomo.
G. Perang Gerilya
Setelah Surabaya jatuh, Jasin melanjutkan perjuangan dengan perang gerilya di berbagai wilayah Jawa Timur:
- Mojokerto
- Kediri
- Blitar
- Lereng Gunung Wilis
Ia juga terlibat dalam operasi melawan pemberontakan seperti:
H. Pendiri Brimob
Pada November 1946, Jasin diangkat menjadi:
Komandan Mobiele Brigade Besar (MBB) Jawa Timur
Pasukan ini kemudian berkembang menjadi Brimob Polri, satuan elite kepolisian Indonesia.
Brimob memiliki tugas:
- Operasi tempur kepolisian
- Penanggulangan pemberontakan
- Pengamanan negara
Karena perannya ini, Jasin dijuluki “Bapak Brimob Polri.”
I. Perjuangan Pasca Kemerdekaan
Setelah kemerdekaan, Jasin tetap aktif menjaga stabilitas negara.
Beberapa perannya:
- Memimpin operasi Brimob dalam berbagai konflik keamanan.
- Ikut menumpas pemberontakan DI/TII di Aceh dan berdialog dengan
Daud Beureueh.
- Memimpin pasukan dalam berbagai operasi keamanan nasional.
- Menjadi Duta Besar Republik Indonesia untuk Tanzania (1967–1970).
J. Keluarga
Istri:
Siti Aliyah Kessing (almarhumah)
Anak-anak:
- Rubyanti Jasin
- Djuahar Jasin
- Djuanda Jasin
- Djuwaitar Jasin
K. Akhir Hayat
Jenderal Polisi (Purn.) Moehammad Jasin wafat pada:
3 Mei 2012
RS Polri Kramat Jati, Jakarta.
Beliau dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata.
Sebagai penghargaan atas jasanya, pemerintah Indonesia menganugerahkan gelar:
Pahlawan Nasional (5 November 2015).
L. Warisan Perjuangan
Warisan besar Moehammad Jasin bagi Indonesia:
- Pendiri Brigade Mobil (Brimob) Polri
- Memproklamasikan Polisi Republik Indonesia
- Memimpin perjuangan polisi dalam Pertempuran Surabaya
- Menegaskan bahwa polisi adalah pelindung rakyat
- Polisi pertama yang mendapat gelar Pahlawan Nasional
✨ Motto perjuangannya:
“Polisi harus berdiri bersama rakyat untuk mempertahankan kemerdekaan bangsa.”
167 JKW
Buatlah Risalah dan Infografis tentang Pahlawan :
I Gusti Ngurah Made Agung
(Ida Tjokorda Mantuk Ring Rana).
Lahir di Denpasar, Bali, 5 April 1876.
Meninggal di Badung, Denpasar, Bali, 20 September 1906
(gugur dalam Perang Puputan Badung).
Jabatan: Raja Badung ke-VI (Denpasar).
Orang Tua: I Gusti Gede Ngurah Pemecutan (Raja Badung ke-IV).
Gelar: Pahlawan Nasional Indonesia (ditetapkan 5 November 2015 oleh Presiden Joko Widodo).
A. I Gusti Ngurah Made Agung (Ida Tjokorda Mantuk Ring Rana) adalah Raja Badung ke-VI (1902-1906) dan Pahlawan Nasional Indonesia (sejak 2015) yang gugur dalam perang puputan melawan Belanda. Ia dikenal pantang menyerah menentang penjajahan Belanda di Bali, terutama terkait pelanggaran adat tawan karang, hingga memimpin perlawanan fisik terakhir pada 20 September 1906.
B. Perjuangan Melawan Kolonial
1. Penolakan Perjanjian Kuta: Menentang keras pemerintah Hindia Belanda yang mencoba ikut campur dalam urusan internal kerajaan dan melanggar hukum adat setempat.
2. Menolak Tuntutan Belanda: Pada tahun 1904, ia menolak membayar ganti rugi atas kandasnya kapal dagang Belanda di Sanur yang dituduhkan sebagai pencurian, karena merasa rakyat Sanur difitnah.
3. Puputan Badung (1906): Pada 20 September 1906, ia memilih bertempur habis-habisan (puputan) daripada tunduk. Ia gugur di medan perang melawan pasukan besar Belanda di Puri Agung Denpasar.
4. Perjuangan Literasi (Non-Fisik): Selain fisik, ia melawan penjajah melalui karya sastra, seperti Geguritan Dharma Sasana, Geguritan Niti Raja Sasana, dan Geguritan Purwa Sanghara, untuk membangkitkan semangat rakyat.
C. Mengapa Terjadi Puputan Badung Bali (1906)?
Puputan Badung terjadi pada 20 September 1906 akibat akumulasi konflik antara Kerajaan Badung dan pemerintah kolonial Hindia Belanda. Latar belakang utamanya adalah:
1. Konflik Tawan Karang: Belanda menuduh kerajaan merampas kapal dagang Sri Kumala milik warga Tionghoa yang terdampar di Pantai Sanur pada tahun 1904. Belanda menuntut ganti rugi yang besar, namun Raja Badung menolak karena menganggap kapal tersebut berbendera Belanda (melanggar kedaulatan).
2. Blokade Ekonomi: Belanda melakukan blokade ekonomi terhadap Badung karena raja menolak membayar denda.
3. Ekspedisi Militer Belanda: Belanda mengirim pasukan militer (Ekspedisi V) ke Bali untuk memaksa kepatuhan raja-raja Bali.
4. Pilihan Terhormat: Raja I Gusti Ngurah Made Agung memilih melakukan Puputan—perang habis-habisan hingga titik darah penghabisan—daripada hidup dalam penindasan penjajah.
D. Siapa Orang Belanda yang Menembak?
1. Berdasarkan catatan sejarah mengenai Puputan Badung 1906, I Gusti Ngurah Made Agung gugur akibat tembakan serdadu Belanda saat pasukan Belanda melakukan serangan massal dengan meriam dan senapan mesin, didukung oleh pasukan infanteri.
2. Peristiwa ini adalah pertempuran, di mana ribuan rakyat Badung gugur oleh rentetan tembakan pasukan Belanda, sehingga tidak merujuk pada satu nama individu penembak spesifik, melainkan oleh kekuatan militer Belanda yang dipimpin oleh Gubernur Jenderal JB van Heutsz (perintah ekspedisi). Raja gugur bersama laskar-laskarnya di sekitar Puri Denpasar setelah diserang dari arah Sanur.
E. Akhir Hayat dan Keluarga
1. Pada 20 September 1906, Raja I Gusti Ngurah Made Agung memimpin barisan terdepan rakyat Badung yang berpakaian serba putih menuju medan laga di depan Puri Denpasar.
2. Setelah Raja gugur, keluarga kerajaan dan pengikutnya mengalami nasib tragis:
3. Keluarga: Sebagian besar keluarga kerajaan, termasuk istri dan anak-anak, ikut dalam barisan puputan dan gugur.
4. Pengikut: Pengikut setia (laskar) dan rakyat yang selamat ditangkap. Belanda menawan sisa keluarga raja dan pejabat kerajaan yang tidak gugur dalam perang.
5. Pengasingan: Belanda mengasingkan anggota keluarga kerajaan yang masih hidup ke wilayah lain, seperti Lombok atau Jawa, untuk mematahkan perlawanan.
F. Catatan:
1. I Gusti Ngurah Made Agung berbeda dengan I Gusti Ngurah Rai (pahlawan Puputan Margarana 1946).
2. Saat ini, lokasi tempat pertempuran itu kini menjadi Taman Puputan Badung yang juga bernama Lapangan I Gusti Ngurah Made Agung di Denpasar.
RISALAH & INFOGRAFIS PAHLAWAN NASIONAL
I Gusti Ngurah Made Agung
(Ida Tjokorda Mantuk Ring Rana)
Raja Badung – Pemimpin Puputan Badung 1906
IDENTITAS TOKOH
- Nama: I Gusti Ngurah Made Agung
- Gelar Kebangsawanan: Ida Tjokorda Mantuk Ring Rana
- Lahir: Denpasar, Bali, 5 April 1876
- Wafat: Denpasar, Bali, 20 September 1906
- Wafat dalam: Puputan Badung 1906
Jabatan:
- Raja Badung ke-VI (Denpasar)
Orang Tua:
- I Gusti Gede Ngurah Pemecutan
Gelar:
- Pahlawan Nasional Indonesia
(ditetapkan 5 November 2015 oleh
Joko Widodo)
A. Raja Badung yang Memimpin Perlawanan Terakhir
I Gusti Ngurah Made Agung adalah Raja Badung ke-VI yang memimpin perlawanan rakyat Bali terhadap kolonial Belanda pada awal abad ke-20.
Ia dikenal sebagai raja yang teguh mempertahankan adat dan kedaulatan kerajaan serta menolak intervensi pemerintah kolonial Hindia Belanda.
Perlawanan tersebut mencapai puncaknya dalam peristiwa heroik:
Puputan Badung 1906
di Denpasar.
B. Perjuangan Melawan Kolonial
1. Penolakan Campur Tangan Belanda
Pemerintah kolonial Belanda berusaha memaksa kerajaan-kerajaan Bali menandatangani perjanjian politik.
Raja Badung menolak perjanjian tersebut karena dianggap:
- melanggar kedaulatan kerajaan
- mengancam adat Bali
- merugikan rakyat Badung.
2. Menolak Tuntutan Ganti Rugi (1904)
Pada tahun 1904, sebuah kapal dagang terdampar di pantai Sanur.
Belanda menuduh rakyat Badung merampas kapal tersebut dan menuntut ganti rugi besar.
Namun raja menolak karena:
- kapal dianggap berada dalam wilayah hukum adat Bali
- rakyat Sanur dianggap difitnah.
Konflik ini memperuncing ketegangan antara kerajaan Badung dan Belanda.
3. Blokade Ekonomi Belanda
Karena penolakan tersebut, pemerintah kolonial Belanda melakukan:
- blokade ekonomi
- tekanan politik
- ancaman militer terhadap kerajaan Badung.
Hal ini menjadi salah satu penyebab terjadinya perang terbuka.
4. Puputan Badung 1906
Pada 20 September 1906, pasukan kolonial Belanda menyerang Denpasar.
Raja Badung memilih melakukan:
Puputan (perang sampai mati).
Raja bersama rakyat Badung mengenakan pakaian putih sebagai simbol keberanian dan kesucian perjuangan.
Mereka berjalan menuju medan perang di depan Puri Agung Denpasar.
Dalam pertempuran tersebut:
- raja gugur
- ribuan rakyat Badung ikut gugur
- kerajaan Badung jatuh ke tangan Belanda.
C. Perjuangan Melalui Sastra
Selain perlawanan fisik, Raja Badung juga melakukan perjuangan intelektual melalui sastra Bali.
Beberapa karya yang ditulisnya antara lain:
- Geguritan Dharma Sasana
- Geguritan Niti Raja Sasana
- Geguritan Purwa Sanghara
Karya-karya ini berisi ajaran:
- kepemimpinan
- moral kerajaan
- semangat perjuangan rakyat.
D. Mengapa Terjadi Puputan Badung?
Beberapa faktor utama yang memicu Puputan Badung:
1. Konflik Tawan Karang
Tradisi Bali memperbolehkan rakyat mengambil barang dari kapal yang karam di wilayah pantai.
Belanda menganggap tradisi ini sebagai perampasan kapal.
2. Kasus Kapal Sri Kumala
Pada tahun 1904 kapal Sri Kumala terdampar di Sanur.
Belanda menuntut kerajaan Badung membayar ganti rugi.
Namun raja menolak karena:
- kapal berada di wilayah adat Bali
- rakyat Sanur tidak bersalah.
3. Ekspedisi Militer Belanda
Belanda kemudian mengirim pasukan ekspedisi militer besar ke Bali untuk memaksa raja-raja Bali tunduk kepada pemerintah kolonial.
4. Pilihan Terhormat
Daripada menyerah, Raja Badung memilih puputan, yaitu:
perlawanan sampai titik darah penghabisan.
E. Siapa yang Menembak Raja?
Dalam catatan sejarah, tidak ada satu nama individu yang diketahui sebagai penembak langsung raja.
Raja gugur akibat serangan pasukan kolonial Belanda yang menggunakan:
- meriam
- senapan mesin
- pasukan infanteri.
Operasi militer ini merupakan bagian dari kebijakan kolonial yang dijalankan pada masa:
Joannes Benedictus van Heutsz.
F. Akhir Hayat dan Nasib Keluarga
Setelah Raja gugur dalam Puputan Badung, keluarga kerajaan mengalami nasib tragis.
1. Keluarga Kerajaan
Sebagian besar keluarga kerajaan ikut dalam barisan puputan dan gugur.
2. Rakyat dan Laskar
Banyak pengikut setia dan rakyat Badung yang ikut gugur dalam pertempuran tersebut.
3. Penangkapan dan Pengasingan
Anggota keluarga kerajaan yang selamat:
- ditawan oleh Belanda
- sebagian diasingkan ke wilayah lain seperti Lombok dan Jawa.
Tujuannya untuk mematahkan perlawanan rakyat Bali.
G. Warisan Sejarah
Untuk mengenang perjuangan Raja Badung, lokasi pertempuran kini menjadi:
Taman Puputan Badung
atau Lapangan I Gusti Ngurah Made Agung di Denpasar.
Tempat ini menjadi simbol:
- keberanian rakyat Bali
- perlawanan terhadap penjajahan
- semangat pengorbanan demi kehormatan.
H. Catatan Sejarah
Tokoh ini berbeda dengan:
I Gusti Ngurah Rai
yang memimpin Puputan Margarana tahun 1946 melawan Belanda.
Keduanya adalah pahlawan Bali yang berasal dari masa perjuangan yang berbeda.
Makna Puputan bagi Bangsa Indonesia
Perjuangan I Gusti Ngurah Made Agung menunjukkan bahwa:
- kehormatan bangsa lebih penting daripada penindasan
- rakyat Bali memiliki tradisi keberanian luar biasa
- semangat perlawanan terhadap kolonialisme tidak pernah padam.
206 JKW
Buatlah Risalah dan Infografis tentang Pahlawan :
Ahmad Hanafiah
Nama Lengkap: K.H. Ahmad Hanafiah (sering dipanggil Ali).
Lahir di Sukadana, Lampung Timur, 27 Agustus 1905.
Meninggal di di front pertempuran Baturaja, Lampung, 17 Agustus 1947.
Pendidikan:
Belajar agama dari ayahnya di Sukadana.
Sekolah pemerintah kolonial Belanda.
Pendidikan Islam di Jamiatul Khair, Batavia.
Menuntut ilmu di Mekah (1920), Madinah, India, dan Malaysia selama bertahun-tahun.
Karya Intelektual: Penulis kitab Al-Hujjah dan Tafsir Sir Ad-Dahr.
Jabatan: Ketua Partai Masyumi Kawedanan Sukadana dan Wakil Kepala Kantor Jawatan Agama Karesidenan Lampung (1947).
A. K.H. Ahmad Hanafiah adalah seorang ulama dan pejuang kemerdekaan asal Lampung yang dianugerahi gelar Pahlawan Nasional oleh Presiden Joko Widodo pada 10 November 2023. Beliau dikenal sebagai pemimpin Laskar Hizbullah yang gigih melawan penjajah Belanda, terutama di wilayah Sumatera Selatan dan Lampung.
B. Perjuangan dan Pengabdian
Perjuangan K.H. Ahmad Hanafiah mencakup aspek intelektual, politik, dan militer:
1. Pendidikan dan Dakwah: Sekembalinya dari Arab Saudi (1930-1936), beliau aktif mengajar di pondok pesantren dan menulis karya ilmiah untuk mencerdaskan umat di bidang agama.
2. Kepemimpinan Laskar: Saat Agresi Militer Belanda I (1947), beliau menjabat sebagai Panglima Komando Jihad Hizbullah dan Sabilillah wilayah Lampung. Beliau mengoordinasikan para pejuang untuk menghadang masuknya tentara Belanda dari Palembang menuju Lampung.
3. Pertempuran di Front Baturaja: Beliau memimpin serangan gerilya untuk merebut kembali kota Baturaja dari tangan Belanda. Pasukannya dikenal dengan sebutan "Laskar Golok" karena keberanian mereka menghadapi senjata modern Belanda hanya dengan senjata tajam.
4. Gugur sebagai Syuhada: Pada pertengahan Agustus 1947, beliau disergap oleh Belanda di wilayah Kemarung, dekat Baturaja. Karena pengaruhnya yang besar, Belanda mengeksekusinya dengan cara keji: beliau dimasukkan ke dalam karung dan ditenggelamkan hidup-hidup ke dalam Sungai Ogan pada malam menjelang peringatan kemerdekaan, 17 Agustus 1947. Jasadnya tidak pernah ditemukan hingga saat ini.
C. Perjuangan Era Belanda & Jepang
1. Masa Belanda (Sebelum 1942): Aktif sebagai mubaligh dan Ketua Serikat Dagang Islam (SDI) di Sukadana (1937-1942) untuk memperkuat ekonomi umat.
2. Masa Jepang (1942-1945): Menjadi anggota Chuo Sangi Kai (Dewan Pertimbangan Karesidenan) Lampung, yang ia manfaatkan untuk membangun kekuatan dan konsolidasi ulama/rakyat.
D. Perjuangan Pasca Kemerdekaan (Pertahankan Kemerdekaan)
1. Ketua KNID & Masyumi: Menjadi Ketua Komite Nasional Indonesia Daerah (KNID) Sukadana dan pemimpin Masyumi setempat untuk memperkokoh nasionalisme.
2. Pimpinan Laskar Hizbullah: Mengorganisir Laskar Hizbullah-Sabilillah di Lampung. Ia memimpin perang gerilya melawan Agresi Militer Belanda I.
3. Pertempuran Baturaja (1947): Memimpin laskar bersenjatakan golok (Laskar Golok) melawan pasukan Belanda di Baturaja, Sumatera Selatan.
4. Gugur: Ditangkap Belanda di Kemarung, kemudian dieksekusi dengan cara dimasukkan karung dan ditenggelamkan ke Sungai Ogan pada 17 Agustus 1947.
E. Mengapa Belanda Tega Menghabisi Pejuang
Belanda melakukan tindakan brutal terhadap KH. Ahmad Hanafiah dan banyak pejuang lainnya karena beberapa alasan strategis:
1. Ketetapan Hati Menolak Penjajahan: KH. Ahmad Hanafiah adalah tokoh intelektual yang disegani. Belanda menganggapnya ancaman serius karena mampu menggerakkan rakyat dan ulama dalam skala besar (Laskar Hizbullah).
2. Tindakan Balasan (Agresi Militer): Eksekusi dilakukan saat Agresi Militer Belanda I, di mana Belanda berusaha keras merebut kembali kekayaan SDA Indonesia. Pejuang yang tertangkap dianggap pembangkang yang harus dimusnahkan.
3. Cara Memutus Komando: Dengan menenggelamkan pemimpin seperti KH. Ahmad Hanafiah, Belanda berharap perlawanan gerilya di Lampung akan patah dan padam.
4. Keganasan Eksekusi: Penenggelaman di Sungai Ogan adalah bentuk intimidasi (teror) agar rakyat Lampung takut dan tunduk kepada penjajah.
F. Akhir Hayat (Syahid)
KH Ahmad Hanafiah gugur dalam usia 42 tahun pada tanggal 17 Agustus 1947.
1. Penyergapan: Saat berada di Kemarung (perbatasan Lampung-Baturaja), laskar pimpinannya disergap oleh tentara Belanda yang memiliki persenjataan lebih modern dan lengkap.
2. Eksekusi: Ia ditangkap hidup-hidup oleh Belanda. Karena ketenarannya sebagai penggerak perlawanan, Belanda mengeksekusinya secara kejam dengan cara memasukkannya ke dalam karung dan menenggelamkannya di Sungai Ogan.
3. Makam: Jasad KH Ahmad Hanafiah tidak pernah ditemukan, membuatnya dikenal sebagai "Pahlawan Tanpa Makam".
G. Nasib Keluarga dan Pengikut
1. Keluarga: Pada masa Agresi Militer II, keluarga KH Ahmad Hanafiah terus diinterogasi dan diburu oleh Belanda yang sempat mengira ia masih hidup. Ia meninggalkan istri bernama Raden Ayu dan tiga orang anak, salah satunya Umi Hani.
2. Pengikut (Laskar): Setelah penangkapan Hanafiah, laskar Hizbullah sempat tidak diizinkan maju ke front pertempuran sebelum mendapat latihan yang cukup, dan banyak dari mereka yang gugur di medan Kemarung.
RISALAH PAHLAWAN NASIONAL INDONESIA
K.H. AHMAD HANAFIAH
(Sering dipanggil: Ali)
Tokoh utama:
Ahmad Hanafiah
Lahir : Sukadana, Lampung Timur — 27 Agustus 1905
Wafat : Front pertempuran Baturaja, Sumatera Selatan — 17 Agustus 1947
Gelar : Pahlawan Nasional Indonesia
(dianugerahkan oleh Presiden
Joko Widodo pada 10 November 2023)
Jabatan Penting :
- Ketua Partai Masyumi Kawedanan Sukadana
- Wakil Kepala Kantor Jawatan Agama Karesidenan Lampung (1947)
Karya Intelektual :
- Kitab Al-Hujjah
- Tafsir Sir Ad-Dahr
A. ULAMA DAN PEJUANG DARI LAMPUNG
Ahmad Hanafiah adalah ulama besar sekaligus pejuang kemerdekaan dari Lampung.
Ia dikenal sebagai pemimpin Laskar Hizbullah yang gigih melawan penjajah Belanda pada masa Revolusi Kemerdekaan.
Perjuangannya banyak terjadi di wilayah:
- Lampung
- Sumatera Selatan
- Baturaja
Ia gugur sebagai syuhada dalam pertempuran mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
B. PENDIDIKAN DAN KEILMUAN
Sejak kecil Ahmad Hanafiah memperoleh pendidikan agama dari ayahnya di Sukadana.
Perjalanan pendidikannya sangat luas:
1. Pendidikan Awal
- Belajar agama dari ayahnya di Sukadana
- Bersekolah di sekolah pemerintah kolonial Belanda
2. Pendidikan Islam
Ia melanjutkan studi di lembaga pendidikan Islam terkenal di Batavia:
Jamiatul Khair
3. Menuntut Ilmu ke Timur Tengah
Pada tahun 1920 ia berangkat ke:
Ia juga menuntut ilmu di:
Selama bertahun-tahun ia mendalami ilmu tafsir, hadis, dan fiqih.
Sekembalinya ke Indonesia ia menjadi ulama, guru, dan penulis kitab.
C. PERJUANGAN ERA BELANDA DAN JEPANG
1. Masa Kolonial Belanda
Pada masa sebelum 1942, Ahmad Hanafiah aktif dalam kegiatan dakwah dan organisasi.
Ia pernah menjadi pemimpin:
Serikat Dagang Islam
di Sukadana (1937–1942).
Organisasi ini bertujuan memperkuat ekonomi umat serta menumbuhkan kesadaran nasional.
2. Masa Pendudukan Jepang
Pada masa pendudukan Jepang (1942–1945), Ahmad Hanafiah menjadi anggota:
Chuo Sangi Kai
di Karesidenan Lampung.
Posisi ini ia gunakan untuk:
- mengonsolidasikan ulama
- memperkuat jaringan rakyat
- menyiapkan kekuatan perjuangan kemerdekaan
D. PERJUANGAN MEMPERTAHANKAN KEMERDEKAAN
Setelah Indonesia merdeka pada:
Proklamasi Kemerdekaan Indonesia
Ahmad Hanafiah aktif dalam perjuangan politik dan militer.
1. Pemimpin KNID dan Masyumi
Ia menjadi Ketua:
- Komite Nasional Indonesia Daerah (KNID) Sukadana
- Partai Masyumi wilayah Lampung
Tujuannya memperkuat nasionalisme dan organisasi rakyat.
2. Panglima Laskar Hizbullah
Saat terjadi:
Agresi Militer Belanda I
Ahmad Hanafiah diangkat sebagai Panglima Komando Jihad Hizbullah-Sabilillah Lampung.
Ia memimpin perang gerilya melawan Belanda yang bergerak dari Palembang menuju Lampung.
3. Pertempuran Baturaja
Pada tahun 1947 ia memimpin serangan gerilya di wilayah:
Baturaja
Pasukannya dikenal sebagai “Laskar Golok” karena mereka bertempur dengan senjata sederhana seperti golok melawan tentara Belanda yang memiliki senjata modern.
E. MENGAPA BELANDA MENARGETKANNYA
Belanda menganggap Ahmad Hanafiah sebagai ancaman besar karena:
-
Tokoh Ulama Berpengaruh
Ia mampu menggerakkan rakyat dan ulama dalam skala besar.
-
Pemimpin Perlawanan Gerilya
Ia memimpin Laskar Hizbullah yang aktif melawan Belanda.
-
Strategi Memutus Komando
Dengan menangkap pemimpin gerilya, Belanda berharap perlawanan rakyat Lampung melemah.
F. GUGUR SEBAGAI SYUHADA
Pada pertengahan Agustus 1947, pasukan Ahmad Hanafiah disergap Belanda di daerah Kemarung dekat Baturaja.
Ia ditangkap hidup-hidup oleh tentara Belanda.
Karena pengaruhnya yang besar, Belanda mengeksekusinya secara kejam:
- dimasukkan ke dalam karung
- ditenggelamkan ke dalam Sungai Ogan
Peristiwa itu terjadi pada malam menjelang 17 Agustus 1947.
Jasadnya tidak pernah ditemukan.
Karena itu ia sering disebut sebagai “Pahlawan Tanpa Makam.”
G. NASIB KELUARGA DAN PENGIKUT
Setelah kematian Ahmad Hanafiah:
1. Keluarga
Keluarganya terus diinterogasi oleh Belanda yang mengira ia masih hidup.
Ia meninggalkan:
- seorang istri bernama Raden Ayu
- tiga orang anak, salah satunya Umi Hani
2. Para Pengikut
Laskar Hizbullah yang dipimpinnya tetap melanjutkan perjuangan.
Namun banyak di antara mereka yang gugur dalam pertempuran di wilayah Kemarung dan Baturaja.
H. WARISAN UNTUK INDONESIA
Atas jasa dan pengorbanannya, pemerintah Indonesia menetapkan:
Ahmad Hanafiah
sebagai Pahlawan Nasional Indonesia pada tahun 2023.
Ia dikenang sebagai:
✔ Ulama pejuang
✔ Panglima Laskar Hizbullah
✔ Pahlawan tanpa makam yang gugur mempertahankan kemerdekaan
2 SUK
Buatlah Risalah dan Infografis tentang Pahlawan :
Ki Hajar Dewantara
Raden Mas Soewardi Soerjaningrat (melepas gelar bangsawan pada usia 40 tahun).
Lahir di Pakualaman, Yogyakarta, 2 Mei 1889.
Meninggal di Yogyakarta, 26 April 1959.
Orang Tua: Pangeran Soerjaningrat (cucu Paku Alam III).
Kakaknya : RM Suryaningrat.
Istri: Nyi Hajar Dewantara.
Pendidikan: ELS (Sekolah Dasar Eropa), STOVIA (Sekolah Dokter Jawa) (tidak selesai).
Julukan: Bapak Pendidikan Nasional.
Penghargaan: Pahlawan Nasional dan Hari Kelahiran (2 Mei) diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional.
A. Ki Hajar Dewantara (lahir 2 Mei 1889 - wafat 26 April 1959), dengan nama asli Raden Mas Soewardi Soerjaningrat, adalah bangsawan Yogyakarta yang menjadi Bapak Pendidikan Nasional. Ia mendirikan Taman Siswa (1922), menciptakan semboyan Tut Wuri Handayani, dan gigih melawan kolonialisme melalui pendidikan dan jurnalistik, berjuang agar pribumi mendapatkan hak pendidikan setara.
B. Perjuangan Ki Hajar Dewantara:
1. Aktivis Jurnalis: Menjadi wartawan tajam di surat kabar seperti De Expres dan Kaoem Moeda, menyuarakan kritik anti-kolonial.
2. Kritik Keras (1913): Menulis artikel fenomenal "Als ik eens Nederlander was" (Seandainya Aku Seorang Belanda), yang membuat dirinya diasingkan ke Belanda.
3. Tiga Serangkai: Bersama Douwes Dekker dan Cipto Mangunkusumo mendirikan Indische Partij, partai politik pertama yang menuntut kemerdekaan Indonesia.
4. Taman Siswa (3 Juli 1922): Mendirikan lembaga pendidikan Taman Siswa di Yogyakarta untuk menanamkan jiwa nasionalisme bagi rakyat pribumi.
5. Trilogi Pendidikan: Mencetuskan semboyan terkenal:
* Ing Ngarsa Sung Tuladha (di depan memberi contoh).
* Ing Madya Mangun Karsa (di tengah membangun semangat).
* Tut Wuri Handayani (di belakang memberi dorongan).
6. Menteri Pertama: Menjadi Menteri Pengajaran Indonesia pertama.
C. Sekolah dan Masa Muda
1. Pendidikan Dasar: Sekolah Dasar Belanda (ELS).
2. Pendidikan Lanjutan: Sempat melanjutkan ke STOVIA (Sekolah Dokter Bumiputera), namun tidak tamat karena sakit.
3. Kegiatan Masa Muda: Soewardi muda dikenal kritis terhadap kebijakan pemerintah kolonial Belanda. Ia terjun ke dunia jurnalistik sebagai wartawan di beberapa surat kabar seperti Sedyotomo, Midden Java, De Express, Oetoesan Hindia, Kaoem Moeda, Tjahaja Timoer, dan Poesara.
4. Aktivitas Politik: Aktif dalam organisasi pergerakan nasional, termasuk Boedi Oetomo dan mendirikan Indische Partij (partai politik pertama yang secara terang-terangan menuntut kemerdekaan Indonesia) pada 25 Desember 1912 bersama dr. Cipto Mangun Kusumo dan Danudir Setiabudi.
D. Kegiatan Politik dan Perjuangan Era Belanda
Ki Hajar Dewantara dikenal kritis terhadap pemerintah kolonial Belanda.
1. Indische Partij (1912): Mendirikan partai politik pertama di Indonesia yang beraliran nasionalis bersama Douwes Dekker dan Tjipto Mangoenkoesoemo (dikenal sebagai "Tiga Serangkai").
2. Tulisan Kritis: Menulis artikel terkenal "Als ik eens Nederlander was" ("Seandainya Aku Seorang Belanda") yang diterbitkan De Express pada 1913, mengkritik rencana Belanda merayakan 100 tahun kemerdekaannya di tanah jajahan.
3. Pengasingan: Akibat tulisan tersebut, ia diasingkan ke Belanda (1913-1919). Di sana, ia memanfaatkan waktu untuk mempelajari pendidikan dan pengajaran.
4. Taman Siswa (1922): Setelah kembali, ia mendirikan Nationaal Onderwijs Instituut Taman Siswa pada 3 Juli 1922 di Yogyakarta. Ini adalah wadah perjuangan melalui pendidikan untuk membebaskan rakyat dari kebodohan dan penindasan.
E. Taman Siswa dan Sistem Pendidikan
Pada 3 Juli 1922, ia mendirikan Nationaal Onderwijs Instituut Taman Siswa di Yogyakarta sebagai wujud perjuangan budaya.
1. Tujuan Pendidikan: Memerdekakan manusia secara lahir dan batin, membentuk karakter nasional, dan membebaskan rakyat pribumi dari keterbelakangan pendidikan.
2. Sistem Pendidikan ("Sistem Among"):
* Pendidikan yang didasarkan pada kekeluargaan dan kebudayaan.
* Menolak pendidikan kolonial yang hanya berbasis "perintah dan sanksi".
* Tiga semboyan utama (Trilogi Pendidikan):
a. Ing Ngarso Sung Tulodo (di depan memberi teladan).
b. Ing Madyo Mangun Karso (di tengah membangun semangat).
c. Tut Wuri Handayani (di belakang memberi dorongan).
3. Pengajar (Pamong): Pendidik bertugas "menuntun" tumbuh kembang anak sesuai kodrat alam dan zamannya, bukan memaksakan kehendak.
4. Siswa: Mengutamakan persamaan derajat, menghilangkan feodalisme, dan memberikan pendidikan kepada seluruh anak pribumi tanpa memandang status sosial.
F. Organisasi dan Perjuangan (Jaman Jepang)
1. Putera (Pusat Tenaga Rakyat): Pada era Jepang, Ki Hajar Dewantara menjadi salah satu pengurus Pusat Tenaga Rakyat (Putera) yang dibentuk Jepang pada tahun 1943 untuk menggerakkan semangat nasionalisme Indonesia, bersama Soekarno, Hatta, dan KH Mas Mansyur (Empat Serangkai).
2. Taman Siswa: Selama masa pendudukan Jepang, Taman Siswa tetap berjuang, meskipun mengalami tekanan berat dari pemerintah militer Jepang.
3. Fokus Pendidikan: Berbeda dengan masa Belanda, di jaman Jepang perjuangannya lebih pada mempertahankan kebudayaan dan menanamkan rasa kebangsaan melalui pendidikan, karena kegiatan politik praktis dibatasi secara ketat.
G. Penangkapan & Pengasingan:
1. Kapan: 1913 - 1919.
2. Di mana: Belanda (pembuangan), setelah sempat ditahan di Pulau Bangka.
3. Kegiatan di Pengasingan: Mendalami pendidikan hingga memperoleh ijazah Europeesche Akta, ijazah pendidikan bergengsi di Eropa.
H. Karya Monumental untuk Bangsa Indonesia.
Karya Monumental:
1. Perguruan Taman Siswa (1922).
2. Semboyan "Tut Wuri Handayani" (menjadi slogan Kemendikbud).
3. Menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan pertama Indonesia.
I. Karya Monumental yang Dibenci Belanda :
1. Artikel "Als ik eens Nederlander was" (Seandainya Aku Seorang Belanda).
2. Mendirikan Taman Siswa, yang dianggap sekolah liar yang mengancam kekuasaan kolonial.
3. Undang-Undang Sekolah Liar (Wilde Scholen Ordonnantie) dikeluarkan Belanda pada 1930 untuk mengekang Taman Siswa.
J Teman Seperjuangan era Belanda:
1. Tiga Serangkai (Indische Partij):
E.F.E Douwes Dekker (Danudirdja Setyabudi).
Dr. Tjipto Mangoenkoesoemo.
2. Paguyuban Sloso Kliwon: Kelompok pendiri Taman Siswa.
3. Pinisepuh Taman Siswa: Ki Cokraerjo, Nyi Hajar, Ki Prono Wido, dan Ki Sutap Wonoboyo.
K. Organisasi era Jepang :
1. Organisasi yang Diikuti/Dipimpin: Putera (Pusat Tenaga Rakyat) pada tahun 1943.
2. Teman Seperjuangan di Putera: "Empat Serangkai" (Sukarno, Moh. Hatta, Ki Hajar Dewantara, dan K.H. Mas Mansyur).
3. Tujuan di Putera: Memanfaatkan organisasi bentukan Jepang untuk membangun nasionalisme dan mempersiapkan kemerdekaan Indonesia, meskipun di bawah pengawasan Jepang.
L. Paska Kemerdekaan
1. Diangkat menjadi Menteri Pendidikan, Pengajaran, dan Kebudayaan pertama Indonesia.
2. Tanggal lahirnya, 2 Mei, ditetapkan sebagai Hari Pendidikan Nasional.
3. Keppres: Ditetapkan oleh Presiden Soekarno melalui Keppres No. 316 Tahun 1959 tanggal 28 November 1959, bersamaan dengan penganugerahan gelar Pahlawan Nasional.
M. Akhir Hayat dan Keluarga
1. Akhir Hayat: Meninggal dunia pada 26 April 1959 di Yogyakarta.
2. Istri: Nyi Hajar Dewantara (Sutartinah).
3. Saudara: Berasal dari keluarga bangsawan Pakualaman, Yogyakarta.
4. Makam: Dimakamkan di Taman Wijaya Brata, Yogyakarta. Ia dimakamkan di kompleks pemakaman keluarga Taman Siswa, bukan bersama kakaknya, melainkan bersama para pendidik/tokoh Taman Siswa.
5. Ki Hajar Dewantara dikukuhkan sebagai Pahlawan Nasional ke-2 oleh Presiden Soekarno pada tanggal 28 November 1959.
RISALAH & INFOGRAFIS PAHLAWAN NASIONAL
Ki Hajar Dewantara
Bapak Pendidikan Nasional Indonesia
A. Profil Singkat
Nama asli: Raden Mas Soewardi Soerjaningrat
Nama setelah melepas gelar bangsawan: Ki Hajar Dewantara
Lahir: Pakualaman, 2 Mei 1889
Wafat: Yogyakarta, 26 April 1959
Orang tua: Pangeran Soerjaningrat (cucu Paku Alam III)
Saudara: RM Suryaningrat
Istri: Nyi Hajar Dewantara
Julukan: Bapak Pendidikan Nasional
Penghargaan: Pahlawan Nasional
Tanggal kelahirannya 2 Mei diperingati sebagai
Hari Pendidikan Nasional.
Ki Hajar Dewantara adalah tokoh besar yang memperjuangkan hak pendidikan bagi rakyat Indonesia melalui gerakan pendidikan dan kebudayaan.
B. Perjuangan Ki Hajar Dewantara
1. Aktivis Jurnalis
Ki Hajar Dewantara aktif sebagai wartawan di berbagai surat kabar seperti:
- De Express
- Kaoem Moeda
- Oetoesan Hindia
- Midden Java
- Tjahaja Timoer
Melalui tulisan-tulisannya, ia mengkritik keras pemerintah kolonial Belanda.
2. Kritik Keras kepada Belanda (1913)
Ia menulis artikel terkenal:
“Als ik eens Nederlander was”
(“Seandainya Aku Seorang Belanda”)
Artikel ini mengecam rencana Belanda merayakan kemerdekaannya di tanah jajahan.
Akibat tulisan tersebut, Ki Hajar Dewantara ditangkap dan diasingkan ke Belanda.
3. Tiga Serangkai
Ki Hajar Dewantara mendirikan
Indische Partij
bersama:
- Ernest Douwes Dekker
- Tjipto Mangoenkoesoemo
Mereka dikenal sebagai Tiga Serangkai, tokoh pergerakan nasional yang menuntut kemerdekaan Indonesia.
4. Mendirikan Taman Siswa (1922)
Pada 3 Juli 1922, Ki Hajar Dewantara mendirikan:
Perguruan Taman Siswa
di Yogyakarta.
Tujuannya:
- Memberikan pendidikan kepada rakyat pribumi
- Menanamkan semangat nasionalisme
- Membebaskan rakyat dari kebodohan akibat penjajahan.
5. Trilogi Pendidikan
Ki Hajar Dewantara menciptakan semboyan pendidikan terkenal:
Ing Ngarsa Sung Tuladha
(di depan memberi teladan)
Ing Madya Mangun Karsa
(di tengah membangun semangat)
Tut Wuri Handayani
(di belakang memberi dorongan)
Semboyan ini menjadi falsafah pendidikan nasional Indonesia.
6. Menteri Pendidikan Pertama
Setelah Indonesia merdeka, Ki Hajar Dewantara diangkat menjadi:
Menteri Pendidikan, Pengajaran, dan Kebudayaan pertama Republik Indonesia.
Ia berperan besar dalam membangun sistem pendidikan nasional.
C. Sekolah dan Masa Muda
Pendidikan
-
ELS
(Europese Lagere School – Sekolah Dasar Belanda)
-
STOVIA
(Sekolah Dokter Bumiputera) di Batavia
Namun tidak selesai karena sakit.
Aktivitas Masa Muda
Sejak muda, Soewardi dikenal:
- kritis terhadap kolonialisme
- aktif menulis di surat kabar
- aktif dalam organisasi nasional.
Ia pernah menulis di media:
- Sedyotomo
- Midden Java
- De Express
- Oetoesan Hindia
- Kaoem Moeda
- Tjahaja Timoer
- Poesara.
D. Kegiatan Politik Era Belanda
Ki Hajar Dewantara aktif dalam gerakan nasional.
Organisasi Pergerakan
- Boedi Oetomo
- Indische Partij
Indische Partij adalah partai politik pertama yang secara terbuka menuntut kemerdekaan Indonesia.
Pengasingan ke Belanda (1913–1919)
Akibat tulisan kritisnya, ia diasingkan ke Belanda.
Di sana ia mempelajari ilmu pendidikan dan memperoleh:
Europeesche Akta
(Ijazah pendidikan bergengsi di Eropa).
Ilmu ini kemudian menjadi dasar pendirian Taman Siswa.
E. Taman Siswa dan Sistem Pendidikan
Perguruan Taman Siswa didirikan untuk membebaskan rakyat dari penindasan melalui pendidikan.
Sistem Pendidikan: Sistem Among
Prinsipnya:
- pendidikan berbasis kekeluargaan
- menghormati kebudayaan nasional
- menuntun anak sesuai kodrat alamnya.
Peran Guru
Guru disebut Pamong, yaitu pendidik yang menuntun, bukan memaksa.
Prinsip Pendidikan
- persamaan derajat
- menolak feodalisme
- pendidikan untuk semua rakyat.
F. Perjuangan di Masa Jepang
Pada masa pendudukan Jepang, Ki Hajar Dewantara terlibat dalam organisasi:
PUTERA (1943)
Bersama tokoh yang dikenal sebagai Empat Serangkai:
- Soekarno
- Mohammad Hatta
- Ki Hajar Dewantara
- KH Mas Mansyur
Tujuan mereka adalah membangun semangat nasionalisme rakyat Indonesia.
G. Penangkapan dan Pengasingan
Tahun: 1913 – 1919
Tempat pengasingan:
- Belanda
- sebelumnya sempat ditahan di Pulau Bangka.
Selama di Belanda, ia:
- mendalami ilmu pendidikan
- mempelajari sistem pendidikan Barat
- merumuskan konsep pendidikan nasional Indonesia.
H. Karya Monumental
- Perguruan Taman Siswa (1922)
- Semboyan pendidikan Tut Wuri Handayani
- Sistem pendidikan Among
- Konsep pendidikan nasional Indonesia.
I. Karya yang Dibenci Belanda
- Artikel “Als ik eens Nederlander was”
- Pendirian Taman Siswa
- Pemerintah Belanda mengeluarkan:
Wilde Scholen Ordonnantie
Undang-undang ini bertujuan menekan sekolah nasional seperti Taman Siswa.
J. Teman Seperjuangan Era Belanda
Tokoh pergerakan yang bekerja bersama Ki Hajar Dewantara:
- Ernest Douwes Dekker
- Tjipto Mangoenkoesoemo
Kelompok ini dikenal sebagai Tiga Serangkai.
K. Masa Setelah Kemerdekaan
Setelah Indonesia merdeka:
- Ki Hajar Dewantara diangkat menjadi Menteri Pendidikan pertama Indonesia.
- Ia terus mengembangkan pendidikan nasional.
- Tanggal lahirnya 2 Mei ditetapkan sebagai Hari Pendidikan Nasional.
L. Akhir Hayat
Ki Hajar Dewantara wafat pada:
26 April 1959 di Yogyakarta.
Ia dimakamkan di:
Taman Wijaya Brata – Yogyakarta
(kompleks pemakaman keluarga Taman Siswa).
M. Penghargaan Negara
Presiden
Soekarno
memberikan gelar Pahlawan Nasional melalui:
Keppres No. 316 Tahun 1959
(28 November 1959).
Warisan Besar Ki Hajar Dewantara
Warisan terbesar bagi bangsa Indonesia:
- Sistem pendidikan nasional
- Perguruan Taman Siswa
- Falsafah pendidikan Indonesia
- Hari Pendidikan Nasional.
✨ Semboyan Abadi Pendidikan Indonesia
Ing Ngarsa Sung Tuladha
Ing Madya Mangun Karsa
Tut Wuri Handayani
60 SUH
Buatlah Risalah dan Infografis tentang Pahlawan :
WR Supratman
(Wage Rudolf Supratman).
Lahir di 19 Maret 1903, di Desa Somongari, Kaligesing, Purworejo, Jawa Tengah (sesuai putusan PN Purworejo 2007).
Awalnya lahir di Batavia (Jakarta), 9 Maret 1903.
Meninggal di Surabaya, Jawa Timur, 17 Agustus 1938.
Awalnya di Kuburan Rangkah.
Tahun 1951 dipindahkan tersendiri di Sebelah Selatan, Jalan Kenjeran, Surabaya. (dimakamkan secara Islam).
Orang Tua: Jumeno Senen Sastrosuharjo (ayah) dan Senen (ibu).
Pendidikan: Sekolah Angka Dua (Tweede Inlandscheschool) dan Sekolah Pendidikan Guru (Normaalschool).
Rumah Wafat : Jl. Mangga No. 21 sekarang menjadi Museum WR Supratman, 2017 oleh Walikota Surabaya (Ir. Tri Rismaharini)
Profesi: Komponis, Wartawan (Sin Po), Guru, Musisi.
A. Wage Rudolf (WR) Supratman (1903–1938) adalah pahlawan nasional Indonesia pencipta lagu kebangsaan "Indonesia Raya". Lahir di Purworejo, Jawa Tengah, ia berjuang melalui musik dan jurnalisme, membangkitkan semangat nasionalisme pada Kongres Pemuda II 1928, hingga akhirnya wafat dalam pengawasan Belanda di Surabaya sebelum kemerdekaan Indonesia.
B. Perjuangan WR Supratman
1. Musik sebagai Perlawanan: WR Supratman menggunakan biolanya untuk menciptakan lagu-lagu perjuangan. Ia berbakat musik otodidak dan sempat membentuk grup jazz Black and White.
2. Penciptaan Indonesia Raya: Terinspirasi dari semangat politik dan pergerakan, ia menciptakan lagu "Indonesia Raya". Lagu ini pertama kali diperdengarkan secara instrumental pada Kongres Pemuda II, 28 Oktober 1928, yang menandai Sumpah Pemuda.
3. Jurnalisme & Tekanan Belanda: Sebagai wartawan Sin Po, ia aktif meliput pergerakan nasional. Akibat lagu "Indonesia Raya" yang membangkitkan semangat kemerdekaan, ia diburu oleh polisi rahasia Belanda (PID) hingga masa akhir hidupnya.
4. Wafat dalam Kesederhanaan: WR Supratman wafat karena sakit di Surabaya, berjuang dalam sunyi tanpa pernah melihat Indonesia merdeka secara fisik, namun lagunya tetap menjadi simbol abadi persatuan Indonesia.
5. Pemerintah Indonesia menetapkan 9 Maret (hari ulang tahunnya) sebagai Hari Musik Nasional.
C. Proses Terciptanya Lagu "Indonesia Raya".
1. Inspirasi: Lagu ini tercipta tahun 1928 setelah Supratman tergerak oleh semangat kebangkitan nasional dan cita-cita "Satu Nusa, Satu Bangsa" yang didengarnya dalam Kongres Pemuda I
2. Penulisan: Lirik dan nada disusun dengan penuh kehati-hatian, mencerminkan semangat perlawanan dan persatuan
3. Awal Mula: Lagu ini pertama kali dimainkan secara instrumental (gesekan biola) oleh Supratman sendiri, tanpa lirik yang dinyanyikan, pada malam penutupan Kongres Pemuda II
D. Peluncuran dan Cara Penyanyian
1. Kapan & Di mana: Dikumandangkan pertama kali pada Kongres Pemuda II, 28 Oktober 1928, di Gedung Kramat 106, Jakarta
2. Cara: WR Supratman memainkannya menggunakan biola di hadapan tokoh-tokoh pemuda secara instrumental (tanpa vokal) untuk menghindari kecurigaan polisi Belanda. Meskipun demikian, naskah lirik sudah dibagikan kepada hadirin
3. Penyebarluasan: Lagu ini disebarkan melalui surat kabar Sin Po edisi November 1928.
E. Proses Penciptaan Lagu "Ibu Kita Kartini"
1. Tujuan: Diciptakan oleh WR Supratman sebagai bentuk penghormatan dan kekaguman atas perjuangan RA Kartini dalam emansipasi wanita Indonesia.
2. Proses: Lagu ini dibuat untuk mengenang jasa Kartini dan menginspirasi wanita Indonesia.
3. WR Supratman Mengenal RA Kartini: WR Supratman mengenal RA Kartini melalui tulisan-tulisan dan riwayat hidupnya, terutama buku "Habis Gelap Terbitlah Terang" yang memuat surat-surat Kartini. Meskipun tidak bertemu langsung (karena Kartini wafat tahun 1904, setahun setelah Supratman lahir), perjuangan Kartini sangat mempengaruhi pandangan Supratman akan pentingnya emansipasi.
E. Lagu-lagu Lain Ciptaan WR Supratman
Selain Indonesia Raya dan Ibu Kita Kartini, WR Supratman menciptakan beberapa lagu perjuangan lain, di antaranya:
Bendera Kita
Indonesia Ibuku
Di Timur Matahari (1931)
Matahari Terbit (1938 - lagu terakhir)
Pahlawan Merdeka
Selamat Tinggal
Mars Parindra.
F. Alasan Dikejar Belanda dan Penjara
1. WR Supratman selalu diawasi dan dikejar Belanda karena lirik lagu "Indonesia Raya" yang memuat kata "Merdeka" dianggap membahayakan posisi kolonial Belanda.
2. Penangkapan: Ia pernah ditangkap oleh Intel Belanda (PID) dan dipenjara karena lagu Matahari Terbit dianggap sebagai sambutan kedatangan Jepang.
3. Tempat Penjara: Dipenjara di Kalisosok, Surabaya.
4. Di penjara, ia disiksa hingga sakit dan meninggal pada 17 Agustus 1938 dalam usia muda.
G. Tokoh yang Didatangi WR Supratman
Sebagai wartawan dan aktivis, ia aktif mendatangi dan menjalin relasi dengan tokoh pergerakan, di antaranya:
Sugondo Joyopuspito (Ketua Kongres Pemuda II).
Yo Kim Tjan (Sahabat yang membantu merekam lagu Indonesia Raya).
Tokoh-tokoh di Sin Po (media pergerakan).
Kakak iparnya, W.M. Van Eldik (di Surabaya).
H. Akhir Hayat, Pemindahan Makam, dan Museum
1. Akhir Hayat: Wafat pada 17 Agustus 1938 malam di Jalan Mangga, Tambaksari, Surabaya, karena sakit (sesak napas/penyakit paru-paru).
2. Nasib Keluarga: Keluarga besar WR Supratman sempat hidup dalam kesulitan, namun warisan perjuangannya diakui sebagai Pahlawan Nasional.
3. Tidak menikah dan memiliki keturunan.
4. Pemindahan Makam: Jenazahnya awalnya dimakamkan di Kuburan Rangkah, Surabaya. Pada 13 Maret 1956, makamnya dipindahkan ke tempat yang sekarang di Jalan Kenjeran, Surabaya (Pemakaman Umum Rangkah, namun area khusus pahlawan), atas inisiatif pemerintah.
5. Rumah Menjadi Museum: Rumah peninggalan WR Supratman di Jl. Mangga No. 21, Tambaksari, Surabaya, resmi dijadikan cagar budaya dan museum pada tahun 2017.
RISALAH & INFOGRAFIS PAHLAWAN NASIONAL
Wage Rudolf Supratman
Pencipta Lagu Kebangsaan “Indonesia Raya”
IDENTITAS TOKOH
-
Nama: Wage Rudolf Supratman (WR Supratman)
-
Lahir: 19 Maret 1903
Desa Somongari, Kaligesing, Purworejo, Jawa Tengah
(penetapan sesuai putusan PN Purworejo tahun 2007)
-
Versi lama kelahiran:
Batavia (Jakarta), 9 Maret 1903
-
Wafat:
Surabaya, Jawa Timur, 17 Agustus 1938
-
Makam:
Makam WR Supratman
Jalan Kenjeran, Surabaya
Orang Tua:
- Jumeno Senen Sastrosuharjo (ayah)
- Senen (ibu)
Pendidikan:
- Tweede Inlandsche School (Sekolah Angka Dua)
- Normaalschool (Sekolah Pendidikan Guru)
Profesi:
- Komponis
- Wartawan
- Guru
- Musisi
A. Tokoh Musik Nasionalisme Indonesia
Wage Rudolf Supratman adalah tokoh penting dalam sejarah Indonesia yang menciptakan lagu kebangsaan:
Indonesia Raya
Lagu tersebut pertama kali diperdengarkan pada peristiwa bersejarah:
Kongres Pemuda II
yang melahirkan Sumpah Pemuda.
Melalui musik dan tulisan jurnalistiknya, ia membangkitkan semangat nasionalisme rakyat Indonesia pada masa penjajahan Belanda.
B. Perjuangan WR Supratman
1. Musik sebagai Perlawanan
WR Supratman adalah musisi otodidak yang sangat berbakat memainkan biola.
Ia pernah membentuk kelompok musik jazz bernama:
Black and White Jazz Band
Melalui musik, ia menyisipkan semangat kebangsaan dan kemerdekaan.
2. Pencipta Lagu “Indonesia Raya”
Lagu Indonesia Raya diciptakan sekitar tahun 1928.
Inspirasi lagu tersebut muncul dari semangat kebangkitan nasional dan gagasan:
Satu Nusa, Satu Bangsa, Satu Bahasa.
Pada malam penutupan Kongres Pemuda II tahun 1928, ia memainkan lagu tersebut menggunakan biola secara instrumental.
C. Proses Terciptanya Lagu Indonesia Raya
1. Inspirasi
Semangat kebangsaan yang berkembang di kalangan pemuda mendorong WR Supratman menciptakan lagu perjuangan.
2. Penulisan
Lirik dan nada disusun dengan sangat hati-hati agar tetap menyampaikan pesan kemerdekaan.
3. Penampilan Perdana
Lagu dimainkan pertama kali secara instrumental pada:
Gedung Kramat 106
tanggal 28 Oktober 1928.
Untuk menghindari kecurigaan pemerintah Belanda, lagu tersebut tidak dinyanyikan, hanya dimainkan dengan biola.
D. Penyebaran Lagu Indonesia Raya
Setelah kongres, lagu tersebut dipublikasikan oleh surat kabar:
Sin Po
pada edisi November 1928.
Media ini berperan besar menyebarkan lagu tersebut ke seluruh Nusantara.
E. Lagu “Ibu Kita Kartini”
Selain Indonesia Raya, WR Supratman juga menciptakan lagu:
Ibu Kita Kartini
Lagu ini dibuat sebagai penghormatan kepada:
Raden Ajeng Kartini
yang memperjuangkan emansipasi perempuan Indonesia.
Inspirasi lagu ini muncul dari buku Kartini:
Habis Gelap Terbitlah Terang
F. Lagu-lagu Lain Ciptaan WR Supratman
Selain Indonesia Raya dan Ibu Kita Kartini, ia juga menciptakan beberapa lagu perjuangan lain:
- Bendera Kita
- Indonesia Ibuku
- Di Timur Matahari (1931)
- Matahari Terbit (1938)
- Pahlawan Merdeka
- Selamat Tinggal
- Mars Parindra
G. Dikejar dan Dipenjara Belanda
Lagu Indonesia Raya membuat pemerintah kolonial Belanda khawatir.
Kata “Merdeka” dalam lirik lagu dianggap membahayakan kekuasaan kolonial.
WR Supratman kemudian diawasi oleh polisi rahasia Belanda (PID).
Ia bahkan pernah ditangkap dan dipenjara di:
Penjara Kalisosok.
Di penjara ia mengalami penyiksaan yang memperburuk kesehatannya.
H. Tokoh yang Berhubungan dengan WR Supratman
Dalam aktivitasnya sebagai wartawan dan aktivis, ia berhubungan dengan tokoh-tokoh pergerakan seperti:
Ia juga memiliki hubungan keluarga dengan kakak iparnya:
W.M. Van Eldik di Surabaya.
I. Akhir Hayat
WR Supratman wafat pada:
17 Agustus 1938
di rumahnya di Surabaya karena penyakit paru-paru.
Rumah tersebut kini menjadi:
Museum WR Supratman
di Jalan Mangga No. 21, Tambaksari, Surabaya.
Museum ini diresmikan pada tahun 2017 oleh:
Tri Rismaharini.
J. Pemindahan Makam
Awalnya WR Supratman dimakamkan di:
Kuburan Rangkah Surabaya.
Kemudian pada tahun 1956 makamnya dipindahkan ke lokasi khusus pahlawan di:
Makam WR Supratman
di Jalan Kenjeran Surabaya.
K. Warisan bagi Indonesia
Warisan terbesar dari
Wage Rudolf Supratman adalah lagu:
Indonesia Raya
yang hingga kini menjadi simbol:
- persatuan bangsa
- kemerdekaan Indonesia
- identitas nasional.
Untuk menghormatinya, pemerintah Indonesia menetapkan:
9 Maret sebagai Hari Musik Nasional.
174 JKW
Buatlah Risalah dan Infografis tentang Pahlawan :
Abdurrahman Baswedan (A.R. Baswedan).
Lahir di Surabaya, Jawa Timur, 9 September 1908.
Meninggal di Jakarta, 16 Maret 1986.
Peran: Jurnalis, Diplomat, Politikus (Masyumi), Wakil Menteri Penerangan
Relasi: Kakek dari Anies Baswedan
A. Abdurrahman Baswedan (A.R. Baswedan) adalah pahlawan nasional Indonesia (dianugerahi 2018), jurnalis, dan diplomat ulung kelahiran Surabaya (9 Sept 1908 - 16 Mar 1986). Perjuangan utamanya meliputi penyatuan keturunan Arab dalam ikrar Indonesia sebagai tanah air, diplomasi penting mendapatkan pengakuan kedaulatan RI pertama dari Mesir/Arab, serta anggota BPUPKI.
B. Perjuangan dan Peran Penting:
1. Persatuan Arab-Indonesia (PAI): Pada 1934, ia mendirikan PAI dan mendorong keturunan Arab di Indonesia untuk berikrar: "Di mana saya lahir, di situlah tanah airku." Ia menyatukan mereka untuk berjuang bersama melawan penjajah Belanda.
2. Jurnalisme Nasionalis: Ia berani mengkritik kolonialisme melalui tulisan di berbagai media, termasuk menjadi redaktur harian Matahari dan Sin Tit Po.
3. Diplomat Kemerdekaan: A.R. Baswedan adalah utusan khusus negara yang berhasil melobi negara-negara Arab (terutama Mesir pada 1947) untuk memberikan pengakuan de facto dan de jure pertama bagi kemerdekaan Republik Indonesia.
4. Anggota BPUPKI & Parlemen: Ia terlibat aktif dalam merumuskan dasar negara sebagai anggota Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI).
5. Perjuangan Fisik & Diplomasi: Ia pernah ditahan Jepang, aktif di Partai Masyumi, serta menempuh risiko tinggi menyelundupkan dokumen pengakuan kemerdekaan dari Mesir di dalam kaos kaki saat kembali ke Indonesia yang dikuasai Belanda.
C. Perjuangan Masa Belanda
1. Jurnalis Militan: Menggunakan tulisannya di surat kabar Matahari dan Sin Tit Po untuk mengkritik kolonialisme Belanda.
2. Sumpah Pemuda Keturunan Arab: Menginisiasi Sumpah Pemuda Keturunan Arab pada tahun 1934 di Semarang, yang menegaskan keturunan Arab adalah bagian dari bangsa Indonesia.
3. Mendirikan PAI: Mendirikan Persatuan Arab Indonesia (PAI) untuk menyatukan peranakan Arab dan mendukung pergerakan nasional.
D. Perjuangan Masa Jepang
1. Aktif di BPUPKI: Menjadi anggota Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) untuk merumuskan dasar negara dan UUD 1945.
2. Aktivitas Bawah Tanah: Tetap aktif dalam gerakan pemuda bawah tanah, seringkali menghadapi risiko penahanan.
E. Perjuangan Pasca Kemerdekaan (Indonesia Merdeka)
1. Diplomat ke Mesir (1947): Menjadi salah satu diplomat pertama Indonesia di bawah Agus Salim yang berhasil memperoleh pengakuan de jure dan de facto atas kemerdekaan RI dari Mesir dan negara-negara Arab lainnya.
2. Menyelamatkan Dokumen Pengakuan: Berhasil menyelundupkan surat pengakuan kedaulatan dari Mesir dengan menyembunyikannya di dalam kaus kaki di tengah penjagaan ketat Belanda.
3. Wakil Menteri Penerangan: Menjabat sebagai Wakil Menteri Muda Penerangan pada Kabinet Sjahrir III.
4. Anggota Parlemen: Aktif di Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) dan menjadi anggota Dewan Konstituante.
F. Akhir Hayat, Keluarga, dan Sahabat
1. Akhir Hayat: Beliau wafat pada 16 Maret 1986 di Jakarta.
2. Keluarga: AR Baswedan adalah kakek dari Anies Baswedan, mantan Gubernur DKI Jakarta.
3. Sahabat/Rekan Perjuangan: Salah satu sahabat karibnya adalah Liem Koen Hian, pendiri Partai Tionghoa Indonesia (PTI). Keduanya bekerja di harian Sin Tit Po dan berjuang bersama untuk persamaan hak dan kemerdekaan.
G. Warisan untuk Bangsa Indonesia
1. Konsep Nasionalisme: Menyatukan komunitas peranakan Arab agar berikrar menjadi Bangsa Indonesia.
2. Diplomasi Internasional: Membuka jalan pengakuan kemerdekaan Indonesia oleh negara-negara Arab.
3. Jurnalisme dan Tulisan: Warisan pemikiran melalui buku dan tulisan tentang kebangsaan.
4. Pahlawan Nasional: Diakui negara atas jasa-jasanya dalam mempersatukan dan memperjuangkan kedaulatan RI.
Asli Gb ada 2 ;
RISALAH INDONESIA
ABDURRAHMAN BASWEDAN
(A.R. Baswedan)
Pahlawan Nasional Indonesia (Dianugerahi 2018)
Lahir : Surabaya, Jawa Timur – 9 September 1908
Wafat : Jakarta – 16 Maret 1986
Peran :
Jurnalis, Diplomat, Politikus (Masyumi), Wakil Menteri Penerangan
Relasi :
Kakek dari Anies Baswedan
A. TOKOH PERSATU & DIPLOMAT KEMERDEKAAN
Abdurrahman Baswedan adalah seorang jurnalis, diplomat, dan pejuang kemerdekaan Indonesia.
Ia dikenal sebagai tokoh yang menyatukan keturunan Arab di Indonesia agar mengikrarkan Indonesia sebagai tanah air mereka.
Selain itu, ia juga berperan penting dalam diplomasi internasional yang berhasil memperoleh pengakuan kemerdekaan Republik Indonesia dari negara-negara Arab.
B. PERJUANGAN & PERAN PENTING
1. Persatuan Arab-Indonesia (PAI) – 1934
- Mendirikan organisasi Persatuan Arab Indonesia (PAI).
- Mengajak keturunan Arab di Indonesia berikrar:
“Di mana saya lahir, di situlah tanah airku.”
2. Jurnalisme Nasionalis
- Aktif menulis di berbagai surat kabar.
- Menjadi redaktur Harian Matahari dan Sin Tit Po.
- Tulisan-tulisannya keras mengkritik kolonialisme Belanda.
3. Diplomat Kemerdekaan (1947)
- Melobi negara-negara Arab untuk mengakui kemerdekaan Indonesia.
- Berhasil memperoleh pengakuan de facto dan de jure pertama dari Mesir.
4. Anggota BPUPKI & Parlemen
- Menjadi anggota Badan Penyelidik Usaha‑Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia.
- Turut merumuskan dasar negara Indonesia.
5. Perjuangan Fisik & Diplomasi
- Pernah ditahan Jepang.
- Berjuang melalui politik dan diplomasi internasional.
C. PERJUANGAN MASA BELANDA
Jurnalis Militan
Menulis kritik tajam terhadap pemerintah kolonial Belanda melalui surat kabar.
Sumpah Pemuda Keturunan Arab (1934)
Menggagas sumpah yang menegaskan bahwa keturunan Arab adalah bagian dari bangsa Indonesia.
Mendirikan Persatuan Arab Indonesia
Organisasi ini memperkuat dukungan komunitas Arab terhadap gerakan nasional Indonesia.
D. PERJUANGAN MASA JEPANG & BPUPKI
Anggota BPUPKI
Terlibat dalam perumusan dasar negara dan konstitusi Indonesia.
Aktivis Bawah Tanah
Tetap aktif dalam gerakan pemuda meskipun berada di bawah pengawasan Jepang.
E. DIPLOMASI PASCA KEMERDEKAAN
Diplomat ke Mesir (1947)
Bersama tokoh diplomasi seperti
Agus Salim
ia berhasil mendapatkan pengakuan kemerdekaan Indonesia dari Mesir.
Menyelamatkan Dokumen Pengakuan
Ia menyelundupkan surat pengakuan kemerdekaan dari Mesir dengan menyembunyikannya di dalam kaos kaki agar tidak disita Belanda.
Wakil Menteri Penerangan
Menjabat Wakil Menteri Muda Penerangan pada Kabinet Sjahrir III.
Anggota Parlemen
Aktif di KNIP dan menjadi anggota Dewan Konstituante.
F. AKHIR HAYAT & KELUARGA
- Wafat di Jakarta pada 16 Maret 1986.
- Dikenal sebagai tokoh persatuan bangsa.
- Merupakan kakek dari tokoh nasional Anies Baswedan.
Sahabat perjuangannya antara lain:
Liem Koen Hian
pendiri Partai Tionghoa Indonesia, yang bersama-sama memperjuangkan kesetaraan dan kemerdekaan Indonesia.
G. WARISAN UNTUK BANGSA INDONESIA
✓ Persatuan Arab-Indonesia
✓ Diplomasi internasional kemerdekaan RI
✓ Warisan pemikiran melalui tulisan jurnalistik
✓ Teladan nasionalisme lintas etnis
Pada tahun 2018, pemerintah Indonesia menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada
Abdurrahman Baswedan
atas jasa besarnya bagi bangsa dan negara.
“A.R. Baswedan – Pejuang Persatuan, Jurnalis Ulung, dan Diplomat Kemerdekaan.”
172 JKW
Buatlah Risalah dan Infografis tentang Pahlawan :
Sultan Mahmud Riayat Syah III
(Sultan Mahmud Syah III).
Lahir di Hulu Sungai Carang, Riau, 24 Maret 1756.
Meninggal di Riau,
12 Januari 1812 (dimakamkan di Daik, Lingga).
Ayah: Sultan Abdul Jalil Muazzam Syah.
Ibu: Tengku Puteh.
Pemerintahan: Naik takhta pada usia sangat muda (sekitar 2-5 tahun, dikukuhkan kembali usia 14).
A. Sultan Mahmud Riayat Syah III (1756–1812) adalah Sultan Johor-Riau-Lingga-Pahang ke-15 (memerintah 1761–1812) yang gigih melawan kolonialisme Belanda (VOC). Dikenal sebagai "Singa Laut," ia memimpin perlawanan bersenjata dan taktik gerilya laut untuk mempertahankan kedaulatan Nusantara, menjadikan Lingga sebagai pusat perlawanan, dan dikukuhkan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia.
B. Perjuangan dan Kebijakan:
1. Perlawanan terhadap Belanda: Sultan Mahmud berupaya keras mengusir Belanda dari Riau, terutama setelah gugurnya Raja Haji Fisabilillah pada 1784.
2. Taktik "Hantu Laut" (Gerilya Laut): Ia menggunakan taktik gerilya, bersekutu dengan raja-raja lokal dan bajak laut (lanun) untuk mengganggu pelayaran dan menyerang benteng Belanda.
3. Pemindahan Pusat Pemerintahan: Ia memindahkan pusat kesultanan dari Riau ke Daik, Lingga, untuk menghindari tekanan Belanda dan membangun basis pertahanan yang lebih kuat.
4. Memperkuat Tanah Melayu: Selama masa pemerintahannya, Lingga menjadi pusat perdagangan dan kebudayaan Melayu yang mandiri dari pengaruh Barat.
C. Mengapa Sultan Mahmud Riayat Syah Melawan VOC?
Sultan Mahmud Riayat Syah melawan VOC Belanda karena beberapa alasan utama:
1. Penolakan Monopoli Dagang: Belanda melalui VOC berusaha memaksakan monopoli perdagangan di wilayah Kesultanan Riau-Lingga yang merugikan pedagang lokal dan pedagang asing lainnya.
2. Campur Tangan Belanda: Belanda terlalu jauh mencampuri urusan internal kerajaan, terutama berusaha memecah belah antara kaum Melayu dan Bugis.
3. Melanggar Perjanjian: VOC seringkali tidak menepati janji dalam berbagai perjanjian, yang merusak kedaulatan kerajaan.
D. Usaha Mengusir VOC Belanda
Perjuangan Sultan Mahmud Riayat Syah dicatat sangat gigih dengan berbagai strategi:
1. Strategi Gerilya Laut (1788-1793): Ia menggagas perang gerilya di lautan, berbeda dengan kebanyakan perlawanan di Indonesia yang berbasis darat. Strategi ini berhasil mengacaukan jalur perdagangan VOC di Selat Malaka dan Kepulauan Riau.
2. Perang Riau I (1782-1784): Bersama Yang Dipertuan Muda IV Raja Haji, Sultan Mahmud berhasil mengalahkan armada Belanda dalam perang Riau I.
3. Pemindahan Pusat Pemerintahan: Pada tahun 1787, ia secara taktis memindahkan pusat kerajaan dari Hulu Riau (Tanjung Pinang) ke Daik, Lingga, untuk menghindari serangan langsung Belanda dan membangun kekuatan dari pusat baru.
4. Siasat Hadiah Sultan: Sultan menggunakan strategi berpura-pura damai dengan memberikan hadiah kepada Belanda (siasat hadiah sultan), untuk kemudian menyerang saat Belanda lengah.
5. Bantuan ke Sumatera Timur/Bangka: Tahun 1811, ia mengirim bantuan kapal perang untuk membantu perlawanan di Sumatera Timur, Sumatera Selatan, dan Bangka Belitung melawan ekspansi Belanda.
E. Pihak yang Membantu Perjuangan
Sultan Mahmud Riayat Syah tidak berjuang sendiri. Ia didukung oleh koalisi yang kuat:
1. Raja Haji Fisabilillah: Yang Dipertuan Muda IV Riau yang menjadi pimpinan militer andalan, meskipun gugur dalam pertempuran.
2. Engku Puteri Raja Hamidah: Istrinya, yang memiliki pengaruh besar dalam memobilisasi rakyat.
3. Pasukan Koalisi Nusantara: Terdiri dari pejuang Melayu, Bugis, dan penduduk lokal lainnya di wilayah Riau-Lingga.
4. Pedagang Cina: Mendapat perlindungan dan bersekutu dengan sultan untuk melawan VOC.
5. Akibat dari perjuangan gigih tersebut, Sultan Mahmud Riayat Syah berhasil membuat Belanda dan Inggris mengakui kedaulatan Kesultanan Riau-Lingga-Johor-Pahang.
F. Akhir Hayat dan Bertahan
Sultan Mahmud Riayat Syah III tidak ditembak Belanda maupun Inggris. Beliau tetap bertahan dan tidak pernah tunduk pada penjajah Belanda hingga akhir hayatnya. Beliau wafat karena usia tua/sakit pada 12 Januari 1812 di Daik, Lingga, dan dimakamkan di sana.
G. Keluarga dan Sahabat
1. Keluarga: Beliau diasuh oleh emak saudaranya, Engku Hitam. Permaisurinya yang terkenal adalah Engku Puteri Raja Hamidah, putri dari Raja Haji Fisabilillah.
2. Sahabat/Panglima: Yang Dipertuan Muda Raja Haji Fisabilillah (paman/panglima), serta para bangsawan Riau yang setia menjaga kedaulatan di Daik, Lingga.
3. Sultan Mahmud Riayat Syah III diakui sebagai pahlawan nasional karena berhasil mempertahankan kedaulatan wilayahnya dari pengaruh kolonial Belanda, bahkan berhasil memaksa Belanda mengakui eksistensi kerajaan Riau-Lingga.
H. Warisan untuk Bangsa Indonesia
1. Pahlawan Nasional: Diakui oleh pemerintah Indonesia sebagai pahlawan nasional atas kegigihannya melawan penjajah.
2. Strategi Maritim: Mengajarkan pentingnya pertahanan maritim (gerilya laut) dalam melawan penjajah yang mengandalkan angkatan laut.
3. Pemersatu: Memperkokoh persatuan antara puak Melayu, Bugis, dan Tionghoa di Riau dalam melawan kolonialisme.
4. Pusat Kebudayaan: Memindahkan pusat pemerintahan ke Daik yang menjadi pusat perkembangan budaya Melayu dan Islam.
RISALAH PAHLAWAN NASIONAL INDONESIA
SULTAN MAHMUD RIAYAT SYAH III
(Sultan Mahmud Syah III)
Sultan Mahmud Riayat Syah III
Julukan : Singa Laut Nusantara
Lahir : Hulu Sungai Carang, Riau – 24 Maret 1756
Wafat : Daik, Lingga – 12 Januari 1812
Ayah : Sultan Abdul Jalil Muazzam Syah
Ibu : Tengku Puteh
Jabatan :
Sultan ke-15 Kesultanan Johor–Riau–Lingga–Pahang
Memerintah : 1761 – 1812
Naik takhta sejak masih sangat muda dan kemudian dikukuhkan kembali ketika berusia sekitar 14 tahun.
A. TOKOH PERLAWANAN MARITIM NUSANTARA
Sultan Mahmud Riayat Syah III dikenal sebagai pemimpin Melayu yang gigih melawan kolonialisme Belanda melalui VOC.
Ia dijuluki “Singa Laut” karena kemampuannya memimpin perang maritim dan gerilya laut untuk mempertahankan kedaulatan wilayahnya di Selat Malaka dan Kepulauan Riau.
Sultan ini menjadikan Daik Lingga sebagai pusat kekuatan politik, militer, dan kebudayaan Melayu.
B. PERJUANGAN DAN KEBIJAKAN
1. Perlawanan terhadap Belanda
Sultan Mahmud terus berusaha mengusir Belanda setelah gugurnya panglima besar
Raja Haji Fisabilillah pada tahun 1784.
2. Taktik “Hantu Laut”
Menggunakan gerilya laut, menyerang kapal dagang dan benteng Belanda di Selat Malaka.
3. Memindahkan Pusat Kerajaan
Pada tahun 1787, pusat pemerintahan dipindahkan dari Riau ke Daik Lingga agar lebih aman dari serangan Belanda.
4. Memperkuat Tanah Melayu
Lingga berkembang menjadi pusat perdagangan dan kebudayaan Melayu yang kuat dan mandiri.
C. ALASAN MELAWAN VOC BELANDA
Sultan Mahmud Riayat Syah menentang
Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) karena:
- Monopoli perdagangan yang merugikan pedagang lokal.
- Campur tangan Belanda dalam urusan kerajaan.
- Pelanggaran perjanjian oleh VOC.
- Politik adu domba antara kaum Melayu dan Bugis.
D. STRATEGI MENGUSIR BELANDA
1. Gerilya Laut (1788–1793)
Perang maritim yang mengganggu jalur pelayaran VOC di Selat Malaka.
2. Perang Riau I (1782–1784)
Bersama
Raja Haji Fisabilillah
armada kerajaan berhasil melawan kekuatan Belanda.
3. Pemindahan Pusat Kerajaan
Memindahkan kerajaan ke Daik Lingga untuk membangun kekuatan baru.
4. Siasat Hadiah Sultan
Berpura-pura berdamai dengan Belanda untuk kemudian menyerang saat mereka lengah.
5. Bantuan ke Sumatera
Pada tahun 1811 mengirim kapal perang membantu perlawanan di Sumatera Timur, Bangka, dan Sumatera Selatan.
E. SEKUTU DAN PENDUKUNG PERJUANGAN
Perjuangan Sultan Mahmud Riayat Syah didukung oleh berbagai kekuatan Nusantara:
• Raja Haji Fisabilillah – Panglima utama Kesultanan
• Engku Puteri Raja Hamidah – Permaisuri yang berpengaruh
• Pasukan Melayu dan Bugis
• Pedagang Tionghoa yang dilindungi kerajaan
• Bangsawan dan rakyat Riau-Lingga
Koalisi ini menjadikan kesultanan tetap kuat menghadapi tekanan kolonial.
F. AKHIR HAYAT
Sultan Mahmud Riayat Syah III tidak pernah tunduk kepada Belanda maupun Inggris.
Beliau wafat pada 12 Januari 1812 di Daik, Lingga, dan dimakamkan di sana.
G. KELUARGA DAN SAHABAT
Diasuh oleh emak saudaranya
Engku Hitam.
Permaisuri terkenal:
Engku Puteri Raja Hamidah.
Sahabat dan panglima setianya adalah
Raja Haji Fisabilillah.
H. WARISAN UNTUK INDONESIA
- Pahlawan Nasional Indonesia
- Pelopor strategi perang maritim Nusantara
- Pemersatu Melayu, Bugis, dan komunitas Tionghoa
- Mengembangkan Daik Lingga sebagai pusat kebudayaan Melayu dan Islam
Perjuangannya membuktikan bahwa kekuatan maritim Nusantara mampu menantang kolonialisme di Selat Malaka.
“Singa Laut Nusantara yang menjaga kedaulatan Melayu dari penjajah.”
195 JKW
Buatlah Risalah dan Infografis tentang Pahlawan :
Sultan Aji Muhammad Idris
Lahir di Jembayan, Kutai Kartanegara, 1667.
Meninggal di Wajo, Sulawesi Selatan, 1739.
Jabatan: Sultan ke-14 Kesultanan Kutai Kartanegara ing Martadipura (bertahta 1735–1739).
Keluarga: Menantu Sultan Wajo La Maddukelleng.
Gelar: Sultan pertama di Kutai yang menggunakan nama bernuansa Islam.
A. Sultan Aji Muhammad Idris (1667–1739) adalah Sultan ke-14 Kesultanan Kutai Kartanegara dan Pahlawan Nasional dari Kalimantan Timur yang gigih melawan VOC. Ia memimpin perlawanan bersenjata bersama rakyat Bugis di Sulawesi Selatan, membantu mertuanya, La Maddukelleng, dan gugur di medan perang Wajo pada 1739.
B. Perjuangan & Perlawanan
1. Melawan VOC: Sultan Aji Muhammad Idris dikenal sebagai penentang keras kekejaman VOC (Belanda). Ia menolak tunduk pada kolonialisme.
2. Ekspedisi Wajo: Pada tahun 1736, ia meninggalkan tahta Kutai, menyerahkan pemerintahan ke Dewan Perwalian, dan berangkat ke Sulawesi Selatan membawa prajurit untuk membantu mertuanya, La Maddukelleng, melawan VOC di Wajo.
3. Pertempuran: Ia memimpin serangan ke benteng VOC, termasuk Fort Rotterdam, dan bertempur bersama rakyat Bugis selama bertahun-tahun.
4. Gugur: Sultan Aji Muhammad Idris gugur di tanah Wajo dalam pertempuran pada tahun 1739.
C. Perjuangan dan Usaha Mengusir VOC Belanda
Sultan Aji Muhammad Idris dikenal sebagai pemimpin yang anti-kolonial dan menolak tunduk pada dominasi VOC, baik di wilayah Kalimantan maupun Sulawesi.
1. Memperkuat Pertahanan di Tanah Kutai (Pesaruan/Muara)
2. Sultan Aji Muhammad Idris memastikan VOC tidak bisa masuk ke wilayah Kutai Kartanegara dengan cara memperkuat penjagaan di muara Sungai Mahakam.
3. Membantu Perang Wajo di Sulawesi Selatan (1736-1739)
4. Perjuangan terbesar Sultan Idris terjadi ketika ia membantu mertuanya, La Maddukelleng, Raja Wajo, yang tengah berjuang melawan VOC. Beliau mengambil langkah berani dengan meninggalkan takhta kesultanan pada tahun 1736 demi membantu perjuangan di Sulawesi.
5. Memimpin Langsung Pasukan Laskar Negeri Serikat
6. Sultan Idris memimpin armada angkatan laut Kutai Kartanegara dengan sekitar 200 personel ke Wajo. Beliau diangkat menjadi panglima "Laskar Negeri Serikat" yang terdiri dari kerajaan-kerajaan di Sulawesi Selatan (Wajo, Paneki, Soppeng, Mallusetasi, dan Sidenreng) untuk bersatu melawan VOC.
7. Kontak Senjata dan Pertempuran
* Selama bertahun-tahun (1736-1739), Sultan Idris memimpin pertempuran melawan Belanda di tanah Sulawesi Selatan.
* Gugur di Medan Laga
* Sultan Aji Muhammad Idris gugur dalam pertempuran sengit melawan pasukan Belanda yang bersenjata modern pada tahun 1739. Beliau dimakamkan di Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan.
D. Akhir Hayat
Sultan Aji Muhammad Idris wafat pada tahun 1739 di Wajo, Sulawesi Selatan, dalam pertempuran melawan VOC.
1. Gugur di Medan Laga: Terdapat versi sejarah yang menyatakan beliau gugur dalam pertempuran sengit melawan Belanda.
2. Luka-luka: Versi lain menyebutkan beliau terluka parah dan wafat dalam masa perawatan.
3. Makam: Meskipun merupakan raja Kutai, makam Sultan Aji Muhammad Idris berada di Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan.
E. Keluarga dan Sahabat
1. Keluarga: Beliau memiliki hubungan kekerabatan yang kuat dengan Kerajaan Wajo, Sulawesi Selatan. Beliau menikah dengan cucu dari La Madukelleng, pemimpin Wajo.
2. Sahabat/Sekutu: Sahabat sekaligus sekutu terdekatnya adalah mertuanya sendiri, La Madukelleng (Raja Wajo), bersama-sama mereka mempertahankan Selat Makassar dari penguasaan VOC.
RISALAH & INFOGRAFIS PAHLAWAN NASIONAL
Sultan Aji Muhammad Idris
Sultan ke-14 Kesultanan Kutai Kartanegara ing Martadipura
A. Profil Singkat
Nama: Sultan Aji Muhammad Idris
Lahir: Jembayan, 1667
Wafat: Wajo, 1739
Jabatan:
Sultan ke-14 dari
Kesultanan Kutai Kartanegara ing Martadipura
Masa pemerintahan: 1735 – 1739
Keluarga:
Menantu dari
La Maddukelleng
(Raja dan pemimpin perlawanan rakyat Wajo)
Ciri penting:
Sultan pertama Kutai yang menggunakan nama bernuansa Islam.
B. Perjuangan dan Perlawanan
Sultan Aji Muhammad Idris dikenal sebagai pemimpin yang menentang keras kolonialisme Belanda.
1. Melawan VOC
Ia menolak tunduk kepada
VOC
yang berusaha menguasai perdagangan dan wilayah Nusantara.
Ia berupaya menjaga kedaulatan Kutai dari pengaruh kolonial Belanda.
2. Ekspedisi ke Wajo (1736)
Pada tahun 1736, Sultan Idris mengambil keputusan besar:
- meninggalkan takhta sementara
- menyerahkan pemerintahan kepada Dewan Perwalian
- memimpin pasukan ke Sulawesi Selatan.
Tujuannya adalah membantu perjuangan mertuanya:
La Maddukelleng
melawan VOC.
3. Memimpin Laskar Negeri Serikat
Sultan Idris memimpin pasukan sekitar 200 prajurit Kutai.
Ia diangkat menjadi panglima Laskar Negeri Serikat, yaitu gabungan pasukan kerajaan-kerajaan Bugis:
- Wajo
- Soppeng
- Sidenreng
- Mallusetasi
- Paneki
Koalisi ini bertujuan mengusir VOC dari Sulawesi Selatan.
4. Serangan terhadap Benteng VOC
Pasukan Sultan Idris terlibat dalam berbagai pertempuran melawan Belanda.
Salah satu target serangan adalah benteng Belanda:
Fort Rotterdam
di Makassar.
Benteng ini merupakan pusat kekuatan VOC di Sulawesi Selatan.
C. Usaha Mengusir VOC
Perjuangan Sultan Idris dilakukan di dua wilayah besar:
1. Pertahanan di Kutai
Di wilayah Kutai, beliau:
- memperkuat pertahanan di muara Sungai Mahakam
- memastikan VOC tidak dapat memasuki wilayah kerajaan.
Sungai Mahakam
menjadi jalur strategis yang dijaga ketat.
2. Perang Wajo (1736–1739)
Di Sulawesi Selatan, beliau:
- memimpin armada laut Kutai
- membantu kerajaan Wajo
- melawan VOC bersama rakyat Bugis.
Perjuangan ini berlangsung selama tiga tahun penuh pertempuran.
D. Gugur di Medan Perang
Pada tahun 1739, Sultan Aji Muhammad Idris gugur di tanah Wajo.
Terdapat dua versi sejarah:
1️⃣ Gugur langsung dalam pertempuran sengit melawan Belanda.
2️⃣ Terluka parah dalam perang dan wafat saat menjalani perawatan.
Walau berasal dari Kutai, beliau dimakamkan di:
📍 Wajo
E. Keluarga dan Sekutu
Keluarga
Sultan Idris memiliki hubungan erat dengan Kerajaan Wajo melalui pernikahan.
Ia menikah dengan cucu dari:
La Maddukelleng.
Sahabat dan Sekutu
Sekutu utamanya dalam perjuangan melawan VOC adalah:
- rakyat Bugis
- kerajaan-kerajaan Sulawesi Selatan
- pasukan Laskar Negeri Serikat.
Bersama-sama mereka mempertahankan wilayah strategis:
Selat Makassar
dari dominasi Belanda.
F. Warisan Perjuangan
Sultan Aji Muhammad Idris dikenang sebagai:
- pemimpin yang berani meninggalkan takhta demi perjuangan
- simbol persatuan kerajaan-kerajaan Nusantara
- tokoh anti-kolonial dari Kalimantan Timur.
Perjuangannya menunjukkan bahwa perlawanan terhadap penjajahan terjadi di berbagai wilayah Nusantara.
✨ Nilai Teladan Sultan Aji Muhammad Idris
- Keberanian melawan kolonialisme
- Pengorbanan demi persatuan Nusantara
- Kesetiaan terhadap rakyat dan kehormatan bangsa
187 JKW
Buatlah Risalah dan Infografis tentang Pahlawan :
Mahmud Singgirei Rumagesan
Lahir di Kokas, Fakfak, Papua Barat, 27 Desember 1885.
Meninggal di Jakarta, 5 Juli 1964.
Gelar Adat: Raja Sekar ke-7 (wilayah Fakfak).
Julukan: "Jago Tua dari Irian Barat"
Gelar: Pahlawan Nasional Indonesia (Ditetapkan oleh Presiden Jokowi pada 10 November 2020)
A. Haji Machmud Singgirei Rumagesan adalah pahlawan nasional pertama dari Papua Barat yang dikenal dengan julukan "Jago Tua Irian Barat". Beliau ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional oleh Presiden Joko Widodo pada 10 November 2020.
B. Perjuangan dan Kontribusi
Perjuangan Machmud Singgirei Rumagesan berfokus pada perlawanan terhadap kolonialisme Belanda dan upaya integrasi Papua ke dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI):
1. Perlawanan Terhadap Belanda: Sejak tahun 1930-an, beliau secara vokal menolak kebijakan kolonial Belanda. Akibat sikap kritisnya, beliau berkali-kali dipenjara oleh Belanda di berbagai tempat, termasuk Fakfak, Saparua, Sorong, hingga Manokwari.
2. Gerakan Tjendrawasih Revolusioner Irian Barat (GTRIB): Pada tahun 1953, beliau mendirikan dan memimpin organisasi GTRIB untuk mengoordinasikan perlawanan rakyat Papua melawan penjajahan Belanda.
3. Penolakan Bendera Belanda: Beliau dikenal sangat teguh dalam menolak pengibaran bendera Belanda di tanah Papua, yang mencerminkan semangat kemerdekaannya.
4. Anggota DPA: Setelah penyerahan kedaulatan, beliau sempat menjabat sebagai anggota Dewan Pertimbangan Agung (DPA) RI masa jabatan 1959–1964 sebagai wakil dari Irian Barat.
C. Zaman Belanda (Kolonial)
1. Perlawanan Adat: Sebagai Raja Sekar, Rumagesan menolak tunduk pada pemerintah kolonial Belanda. Beliau menentang kebijakan Belanda yang menindas rakyat Papua, seperti kerja paksa dan pajak yang tinggi.
2. Penolakan Bendera: Beliau dikenal sebagai tokoh yang menolak keras pengibaran bendera Belanda (merah-putih-biru) di wilayah adatnya.
3. Pemenjaraan: Akibat perlawanannya, Rumagesan pernah dipenjara oleh Belanda karena dianggap membahayakan posisi mereka di Papua.
D. Zaman Jepang
1. Perlawanan terhadap Jepang: Rumagesan juga melawan pendudukan Jepang yang dinilai kejam dan tidak jauh berbeda dengan Belanda dalam hal penindasan rakyat.
2. Gerakan Bawah Tanah: Beliau tetap konsisten mempertahankan kedaulatan wilayahnya dan menolak bekerjasama dengan penjajah Jepang.
E. Era Indonesia Merdeka (Pasca 1945)
1. Mendukung RI: Setelah proklamasi 1945, Rumagesan dengan tegas menyatakan Papua Barat adalah bagian dari Republik Indonesia.
2. Mendirikan GTRIB: Beliau mendirikan Gerakan Revolusi Tjendrawasih Irian Barat (GTRIB) pada tahun 1953 di Fakfak untuk memperjuangkan integrasi Papua ke Indonesia.
3. Pengaruh di Papua: Beliau menyadarkan tentara dan masyarakat Papua yang awalnya dipengaruhi Belanda untuk berontak dan memilih bergabung dengan NKRI.
F. Saat Trikora (1961-1962)
1. Saat Presiden Soekarno mengumumkan Trikora (Tri Komando Rakyat) untuk membebaskan Irian Barat, Rumagesan mendukung penuh langkah tersebut.
2. Beliau aktif mengorganisir rakyat untuk membantu gerilyawan Indonesia yang masuk ke Papua Barat.
3. Perjuangannya memastikan rakyat tidak terpengaruh oleh pembentukan negara boneka Papua buatan Belanda, sesuai dengan poin pertama Trikora.
G. Akhir Hayat dan Keluarga
1. Machmud Singgirei Rumagesan wafat pada 5 Juli 1964 di Makassar, tak lama setelah integrasi awal Irian Barat dimulai.
2. Beliau meninggalkan keluarga yang juga turut berjuang dalam pergerakan integrasi Papua.
3. Pemerintah Indonesia, melalui Kementerian Sosial, memberikan perhatian dan bantuan kepada keluarga/ahli waris pejuang sebagai bentuk penghargaan.
H. Warisan untuk Bangsa Indonesia
1. Pahlawan Nasional Pertama Papua Barat: Menjadi simbol nasionalisme Papua Barat dalam NKRI.
2. Semangat Integrasi: Menunjukkan bahwa Papua adalah bagian tak terpisahkan dari NKRI sejak awal kemerdekaan.
3. Penyatuan Raja-Raja: Menggerakkan kekuasaan adat (Raja) untuk tunduk pada Negara Kesatuan.
4. GTRIB: Warisan perjuangan organisasional untuk mendukung NKRI.
RISALAH & INFOGRAFIS PAHLAWAN NASIONAL
Machmud Singgirei Rumagesan
“Jago Tua dari Irian Barat”
A. Profil Singkat
Nama: Haji Machmud Singgirei Rumagesan
Lahir: Kokas, 27 Desember 1885
Wafat: Jakarta, 5 Juli 1964
Gelar Adat: Raja Sekar ke-7
Julukan: “Jago Tua dari Irian Barat”
Gelar Kehormatan:
Pahlawan Nasional Indonesia
Ditetapkan oleh
Joko Widodo
pada 10 November 2020.
Machmud Singgirei Rumagesan dikenal sebagai pahlawan nasional pertama dari Papua Barat yang memperjuangkan integrasi Papua ke dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia.
B. Perjuangan dan Kontribusi
Perjuangan Rumagesan berfokus pada:
- melawan kolonialisme Belanda
- memperjuangkan kemerdekaan rakyat Papua
- mendukung integrasi Papua dengan Indonesia.
1. Perlawanan terhadap Belanda
Sejak tahun 1930-an, Rumagesan secara terbuka menentang kekuasaan kolonial Belanda.
Ia menolak:
- pajak tinggi
- kerja paksa
- penindasan terhadap rakyat Papua.
Akibat sikapnya, ia berkali-kali dipenjara oleh pemerintah kolonial.
Tempat pemenjaraan antara lain:
- Fakfak
- Saparua
- Sorong
- Manokwari
2. Gerakan Tjendrawasih Revolusioner Irian Barat
Pada tahun 1953, Rumagesan mendirikan organisasi:
Gerakan Tjendrawasih Revolusioner Irian Barat
(GTRIB).
Tujuan organisasi ini adalah:
- mengoordinasikan perlawanan rakyat Papua
- menentang kekuasaan Belanda
- memperjuangkan integrasi Papua dengan Indonesia.
3. Penolakan Bendera Belanda
Rumagesan dikenal sebagai tokoh yang menolak keras pengibaran bendera Belanda di wilayah adatnya.
Bagi Rumagesan, tindakan itu merupakan simbol penolakan terhadap kolonialisme dan penindasan rakyat Papua.
4. Anggota Dewan Pertimbangan Agung
Setelah Indonesia merdeka, Rumagesan diangkat menjadi anggota:
Dewan Pertimbangan Agung
masa jabatan 1959–1964 sebagai wakil dari wilayah Irian Barat.
C. Masa Kolonial Belanda
Sebagai Raja Sekar ke-7, Rumagesan memimpin rakyatnya melawan penindasan kolonial.
Bentuk perjuangannya:
- Menolak tunduk kepada pemerintah kolonial Belanda.
- Menentang kebijakan pajak dan kerja paksa.
- Menggerakkan rakyat Papua untuk mempertahankan wilayah adat.
Ia juga terkenal menolak pengibaran bendera merah-putih-biru Belanda di wilayah kekuasaannya.
D. Masa Pendudukan Jepang
Ketika Jepang menduduki Indonesia (1942-1945), Rumagesan tetap melakukan perlawanan.
Bentuk perjuangannya:
- menolak bekerja sama dengan pemerintah Jepang
- mempertahankan kedaulatan wilayah adat
- melakukan gerakan bawah tanah untuk melindungi rakyatnya.
E. Era Indonesia Merdeka
Setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia pada 1945, Rumagesan dengan tegas menyatakan bahwa:
Papua Barat adalah bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Langkah perjuangannya:
- Mendukung pemerintah Republik Indonesia.
- Mendirikan GTRIB pada tahun 1953.
- Menggerakkan masyarakat Papua agar bergabung dengan NKRI.
Ia juga menyadarkan banyak tentara dan masyarakat Papua yang sebelumnya dipengaruhi Belanda.
F. Peran Saat Trikora
Ketika Presiden
Soekarno
mengumumkan:
Trikora
(Tri Komando Rakyat) pada tahun 1961,
Rumagesan memberikan dukungan penuh.
Perannya antara lain:
- membantu gerilyawan Indonesia di Papua
- mengorganisir rakyat untuk mendukung perjuangan
- menolak pembentukan negara boneka Papua oleh Belanda.
G. Akhir Hayat
Machmud Singgirei Rumagesan wafat pada:
5 Juli 1964
di
Jakarta.
Beliau meninggalkan keluarga serta warisan perjuangan besar bagi rakyat Papua dan Indonesia.
H. Warisan untuk Bangsa Indonesia
Machmud Singgirei Rumagesan dikenang sebagai:
1. Pahlawan Nasional Pertama dari Papua Barat
Simbol nasionalisme rakyat Papua dalam NKRI.
2. Pelopor Integrasi Papua
Menunjukkan bahwa Papua adalah bagian dari Indonesia.
3. Penyatuan Raja-Raja Papua
Menggerakkan kekuatan adat untuk mendukung negara Indonesia.
4. Pendiri GTRIB
Organisasi perjuangan rakyat Papua untuk integrasi dengan Indonesia.
✨ Nilai Teladan Machmud Singgirei Rumagesan
- keberanian melawan penjajahan
- kesetiaan kepada NKRI
- kepemimpinan adat yang melindungi rakyat
- semangat persatuan Nusantara.
199 JKW
Buatlah Risalah dan Infografis tentang Pahlawan :
Haji Salahuddin bin Talabuddin.
Lahir di Desa Gemia, Patani, Halmahera Tengah, sekitar tahun 1874.
Meninggal di Ternate, Maluku Utara, 6 Juni 1948.
(di depan regu tembak Belanda di Skep, Ternate, Maluku Utara).
Asal: Maluku Utara.
Gelar Pahlawan: Pahlawan Nasional (Keputusan Presiden No. 96/TK/Tahun 2022).
A. Haji Salahuddin bin Talabuddin adalah seorang pejuang kemerdekaan asal Halmahera Tengah, Maluku Utara, yang dianugerahi gelar Pahlawan Nasional oleh Pemerintah Indonesia pada 7 November 2022. Ia dikenal dengan julukan "Haji Merah" karena keberaniannya dan keterlibatannya dalam organisasi politik yang dianggap radikal oleh Belanda.
B. Rekam Jejak Perjuangan
1. Perjuangan Haji Salahuddin mencakup perlawanan fisik, politik, hingga diplomasi lintas negara demi mengusir penjajah:
2. Pergerakan Politik: Ia aktif dalam Sarekat Islam (SI) dan kemudian bergabung dengan Partai Komunis Indonesia (PKI) pada masa itu karena sejalan dengan visi anti-kolonialismenya yang radikal.
3. Perlawanan di Halmahera (1928): Memimpin perlawanan rakyat di Patani dan Weda melawan pemerintah kolonial Belanda. Akibatnya, ia ditangkap dan dibuang ke Boven Digoel, Papua, selama bertahun-tahun.
4. Jaringan Internasional: Setelah dari Digoel, ia sempat melarikan diri ke Singapura dan Malaysia untuk membangun jaringan perjuangan internasional guna mendukung kemerdekaan Indonesia.
5. Masa Pendudukan Jepang: Terus melakukan konsolidasi perjuangan di Maluku Utara untuk mempersiapkan kemerdekaan.
6. Pasca Proklamasi (1945): Ia merupakan tokoh pertama yang mengibarkan bendera Merah Putih di semenanjung Patani. Ia juga gigih menolak pembentukan Negara Indonesia Timur (NIT) bentukan Belanda.
C. Era Kolonial Belanda
Haji Salahuddin aktif dalam pergerakan politik nasional sejak tahun 1920-an.
Sarekat Islam (SI) & PKI: Ia bergabung dengan Sarekat Islam dan kemudian menjadi pimpinan Partai Komunis Indonesia (PKI) di wilayah Maluku Tengah dan Utara, yang saat itu merupakan salah satu instrumen perlawanan terhadap kolonialisme.
Pemberontakan 1928: Ia memimpin perlawanan bersenjata melawan pemerintah kolonial Belanda di wilayah Patani dan Weda pada tahun 1928.
Pembuangan: Akibat aktivitas revolusionernya, ia ditangkap berkali-kali oleh Belanda dan dibuang ke penjara Sawahlunto, Sumatera Barat, hingga ke kamp tawanan politik di Boven Digoel, Papua.
D. Era Pendudukan Jepang
Selama masa pendudukan Jepang, ia terus menyebarkan paham nasionalisme. Haji Salahuddin memanfaatkan posisinya untuk tetap menggalang kekuatan rakyat agar tidak tunduk pada penjajah baru dan tetap berorientasi pada kemerdekaan Indonesia.
E. Pasca Kemerdekaan & Agresi Militer Belanda
Inilah periode paling heroik sekaligus tragis dalam perjalanan hidupnya:
1. Mempertahankan Kedaulatan: Setelah proklamasi 17 Agustus 1945, ia gencar mensosialisasikan kemerdekaan Indonesia di Halmahera dan menentang upaya Belanda (NICA) yang ingin kembali berkuasa melalui pembentukan Negara Indonesia Timur (NIT)
2. Pengibaran Merah Putih: Ia dikenal sebagai tokoh yang berani mengibarkan bendera Merah Putih di tengah ancaman pasukan Belanda di Maluku Utara.
3. Gugur di Depan Regu Tembak: Pada tahun 1948, Haji Salahuddin ditangkap oleh pasukan NICA di hutan Patani. Karena menolak bekerja sama dan tetap teguh memihak Republik Indonesia, ia dieksekusi mati di depan regu tembak Belanda di Skep, Ternate.
F. Akhir Hayat
Beliau ditangkap kembali oleh Belanda dan dieksekusi oleh regu tembak pada tanggal 6 Juni 1948 di Ternate, Maluku Utara. Beliau wafat sebagai pejuang dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
G. Warisan untuk Bangsa Indonesia
Gelar Pahlawan Nasional: Diberikan oleh Presiden Joko Widodo pada 7 November 2022 atas jasanya yang luar biasa.
Simbol Keteguhan Hati: Haji Salahuddin adalah simbol perlawanan yang tak kenal menyerah dari wilayah Timur Indonesia.
Saksi Sejarah: Kisah perjuangannya menjadi bukti bahwa kemerdekaan Indonesia diusahakan dari seluruh pelosok nusantara, bukan hanya di Jawa.
H. Kisah perjuangannya sering dikaitkan dengan perjuangan "mesianisme" (keyakinan akan datangnya keadilan/pembebas) di Maluku, di mana Haji Salahuddin memposisikan diri sebagai pemimpin pejuang yang berjuang di depan perlawanan regu tembak Belanda.
RISALAH PAHLAWAN NASIONAL INDONESIA
HAJI SALAHUDDIN BIN TALABUDDIN
“Haji Merah dari Halmahera”
Haji Salahuddin bin Talabuddin
Lahir : Desa Gemia, Patani, Halmahera Tengah – sekitar tahun 1874
Wafat : Ternate, Maluku Utara – 6 Juni 1948
Asal : Maluku Utara
Gelar :
Pahlawan Nasional Indonesia
(Keputusan Presiden No. 96/TK/Tahun 2022)
A. TOKOH PERLAWANAN DARI MALUKU UTARA
Haji Salahuddin bin Talabuddin merupakan pejuang kemerdekaan dari Halmahera Tengah yang dikenal dengan julukan “Haji Merah”.
Julukan tersebut diberikan karena keberanian dan sikapnya yang radikal dalam melawan penjajahan Belanda serta keberaniannya memimpin rakyat dalam perjuangan kemerdekaan.
Ia adalah salah satu tokoh penting dari Indonesia Timur yang memperjuangkan kemerdekaan melalui perlawanan politik, perjuangan bersenjata, dan jaringan internasional.
B. REKAM JEJAK PERJUANGAN
Perjuangan Haji Salahuddin meliputi berbagai bentuk perlawanan terhadap kolonialisme.
1. Pergerakan Politik
Ia aktif dalam organisasi nasional seperti:
- Sarekat Islam
- Partai Komunis Indonesia
Keterlibatannya bertujuan memperkuat gerakan anti-kolonial di wilayah Maluku.
2. Perlawanan di Halmahera (1928)
Pada tahun 1928 ia memimpin perlawanan rakyat di wilayah Patani dan Weda melawan pemerintah kolonial Belanda.
Akibatnya ia ditangkap dan dibuang ke kamp tahanan politik di
Boven Digoel.
3. Jaringan Internasional
Setelah keluar dari pembuangan, ia sempat menuju Singapura dan Malaya untuk membangun jaringan perjuangan internasional demi mendukung kemerdekaan Indonesia.
C. PERJUANGAN PADA MASA KOLONIAL BELANDA
Pada masa penjajahan Belanda, Haji Salahuddin menjadi tokoh perlawanan politik di Maluku.
Beberapa perjuangannya antara lain:
- Mengorganisasi rakyat melawan kolonialisme
- Menyebarkan gagasan kemerdekaan Indonesia
- Menggalang kekuatan politik rakyat
Akibat aktivitas revolusionernya, ia beberapa kali ditangkap dan dipenjara, termasuk di penjara Sawahlunto dan kamp tahanan politik di Papua.
D. MASA PENDUDUKAN JEPANG
Pada masa pendudukan Jepang (1942–1945), Haji Salahuddin tetap menyebarkan semangat nasionalisme.
Ia memanfaatkan situasi tersebut untuk:
- Mengkonsolidasikan kekuatan rakyat
- Menanamkan gagasan kemerdekaan
- Mempersiapkan perjuangan setelah Jepang kalah
E. PERJUANGAN SETELAH PROKLAMASI
Setelah
Proklamasi Kemerdekaan Indonesia
Haji Salahuddin menjadi tokoh penting dalam mempertahankan kemerdekaan di Maluku Utara.
1. Menolak Negara Indonesia Timur
Ia menentang rencana Belanda yang ingin membentuk
Negara Indonesia Timur
sebagai strategi memecah belah Indonesia.
2. Mengibarkan Merah Putih
Ia dikenal sebagai tokoh yang berani mengibarkan Bendera Merah Putih di Patani sebagai simbol kemerdekaan Indonesia.
3. Memimpin Perlawanan Rakyat
Ia terus menggalang perlawanan terhadap pasukan Belanda yang kembali datang bersama NICA.
F. GUGUR DI DEPAN REGU TEMBAK
Pada tahun 1948, Haji Salahuddin ditangkap oleh pasukan Belanda di hutan Patani.
Karena menolak bekerja sama dengan Belanda dan tetap setia kepada Republik Indonesia, ia dijatuhi hukuman mati.
Pada 6 Juni 1948, beliau dieksekusi di depan regu tembak Belanda di Skep, Ternate.
Ia gugur sebagai pejuang yang mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
G. WARISAN UNTUK INDONESIA
Perjuangan Haji Salahuddin meninggalkan warisan besar bagi bangsa Indonesia:
1. Pahlawan Nasional
Pada 7 November 2022, pemerintah Indonesia secara resmi menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional.
Penganugerahan tersebut dilakukan oleh Presiden
Joko Widodo.
2. Simbol Keteguhan Perjuangan
Ia menjadi simbol keberanian dan keteguhan rakyat Indonesia Timur dalam melawan penjajah.
3. Bukti Perjuangan dari Daerah
Kisahnya menunjukkan bahwa kemerdekaan Indonesia diperjuangkan dari seluruh wilayah Nusantara.
H. TOKOH PERLAWANAN RAKYAT MALUKU
Dalam sejarah Maluku, Haji Salahuddin sering dikaitkan dengan gerakan mesianisme rakyat, yaitu keyakinan akan datangnya pemimpin pembebas yang memperjuangkan keadilan.
Haji Salahuddin tampil sebagai pemimpin yang berdiri di garis depan perlawanan, bahkan hingga menghadapi regu tembak Belanda dengan keberanian.
“Lebih baik gugur mempertahankan kemerdekaan, daripada hidup di bawah penjajahan.”
Jika Anda ingin, saya juga bisa membuat:
- Poster risalah warna krem historis (seperti seri sebelumnya)
- Gambar nyata hitam putih klasik Haji Salahuddin untuk infografis pahlawan.