Selasa, 06 Oktober 2026

950 RW di Surabaya

 

950 RW di Surabaya Jalani Verifikasi Lomba Kampung Pancasila 2026

Lomba Kampung Pancasila.
Lomba Kampung Pancasila.

SURABAYA (Lentera) - Sebanyak 950 RW di Surabaya mulai menjalani verifikasi lapangan dalam Lomba Kampung Pancasila 2026. Tim penilai tidak hanya melihat kondisi fisik lingkungan, tetapi juga memastikan berbagai aktivitas yang dilaporkan peserta benar-benar berjalan di tengah masyarakat.

Verifikasi tersebut merupakan tahap lanjutan setelah 1.360 RW mendaftarkan diri melalui aplikasi Sayang Warga. Pemeriksaan dilakukan untuk mencocokkan kondisi di lapangan dengan data dan informasi yang telah diunggah peserta.

Proses verifikasi berlangsung hingga 1 Oktober 2026. Pemeriksaan dilakukan secara tertutup tanpa pemberitahuan sebelumnya kepada pihak RW.

Sebanyak 184 fasilitator yang terdiri atas koordinator wilayah, koordinator kecamatan, dan petugas lingkungan diterjunkan ke sejumlah lokasi. Mereka melihat langsung kondisi kampung sekaligus mencocokkannya dengan data yang disampaikan peserta.

Koordinator Pilar Lingkungan sekaligus Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Surabaya, M. Fikser mengatakan, verifikasi diperlukan untuk memastikan program yang dilaporkan peserta benar-benar diterapkan di lingkungan masing-masing.

“Karena kita harus menetapkan 500 RW, kini dilakukan verifikasi lapangan tahap pertama. Kita ingin memastikan apa yang diunggah di aplikasi benar-benar sesuai kenyataan di lapangan,” kata Fikser, Rabu (30/9/2026).

Dari 1.360 RW yang mendaftar, sebanyak 950 RW masuk dalam proses verifikasi tahap awal. Jumlah tersebut masih dapat berubah menyesuaikan hasil pemeriksaan hingga tahapan verifikasi ditutup.

Setelah 500 RW ditetapkan, peserta akan diberikan waktu sekitar satu bulan untuk melakukan persiapan sebelum mengikuti verifikasi tahap kedua. Dari tahapan tersebut, jumlah peserta kemudian akan disaring hingga tersisa 200 RW unggulan.

Fikser mengatakan, aspek lingkungan menjadi salah satu perhatian utama karena penilaiannya tidak hanya didasarkan pada kondisi kampung yang terlihat bersih. Tim juga melihat partisipasi warga serta keberlanjutan kegiatan pengelolaan lingkungan.

“Pemilahan sampah, inovasi pengelolaan sampah, serta ekosistem lingkungan yang terjaga itulah nilai yang paling besar kami perhatikan,” tuturnya.

Sejumlah indikator yang diperiksa antara lain keterlibatan warga dalam pemilahan sampah, keberadaan bank sampah, frekuensi kerja bakti, penerapan pola hidup bersih dan sehat (PHBS), serta upaya pemberantasan jentik nyamuk.

Artinya, kondisi kampung saat verifikasi bukan menjadi satu-satunya pertimbangan. Tim juga melihat apakah kebiasaan menjaga kebersihan dan lingkungan telah menjadi bagian dari aktivitas warga sehari-hari.

Antusiasme warga juga terlihat selama proses verifikasi. Sejumlah warga aktif berkonsultasi dengan dinas terkait untuk memahami indikator penilaian serta persiapan yang diperlukan di wilayah masing-masing.

“Antusiasme warga sudah luar biasa. Mereka datang bertanya dan berdiskusi mengenai apa yang perlu dipersiapkan. Ini menunjukkan kesadaran dan semangat berpartisipasi nyata,” ungkapnya.

Secara keseluruhan, Lomba Kampung Pancasila 2026 memiliki empat pilar penilaian, yakni lingkungan, ekonomi, sosial budaya, dan kemasyarakatan.

Pilar lingkungan dan ekonomi masing-masing memiliki bobot 35 persen. Sementara pilar sosial budaya dan kemasyarakatan masing-masing berbobot 15 persen.

Pada pilar ekonomi, penilaian mencakup kemandirian warga dan kepedulian terhadap masyarakat sekitar. Dukungan terhadap warga yang membutuhkan, akses pendidikan bagi keluarga kurang mampu, serta aktivitas kewirausahaan generasi muda menjadi sejumlah aspek yang diperhatikan.

Sementara pada pilar kemasyarakatan, penilaian meliputi keterlibatan warga dalam menjaga keamanan dan ketertiban lingkungan. Indikatornya antara lain keberadaan siskamling, kondisi keamanan wilayah, hingga penerapan pembatasan jam malam bagi anak-anak.

Adapun pilar sosial budaya mencakup delapan indikator, salah satunya upaya kampung dalam menangani sekaligus mencegah stunting. (*)

 

Reporter: Amanah
Editor: Lutfiyu Handi

500 RW Terbaik Berebut Tiket 200

 *500 RW Terbaik Berebut Tiket 200 Besar Lomba Kampung Pancasila 2026 Pemkot Surabaya*

Indra Wijayanto

Dipublikasikan Selasa, 6 Okt 2026 | 22:45 WIB


RADAR SURABAYA - Sebanyak 500 RW dinyatakan lolos ke tahap berikutnya dalam Lomba Kampung Pancasila 2026. Capaian tersebut merupakan hasil penyaringan dari 1.002 RW yang mengikuti proses verifikasi lapangan tahap sebelumnya. Seleksi dilakukan untuk menjaring kampung-kampung yang dinilai konsisten menghidupkan nilai-nilai Pancasila melalui berbagai program dan inovasi di lingkungan masyarakat.


Berikut Daftar 500 Besar RW Lomba Kampung Pancasila:


001. RW 3 Dukuh Pakis

002. RW 1 Kebonsari

003. RW 1 Tambaksari

004. RW 12 Mojo

005. RW 5 Menanggal

006. RW 7 Rungkut Tengah

007. RW 8 Babatan

008. RW 2 Tambaksari

009. RW 4 Medokan Ayu

010. RW 2 Keputih

011. RW 2 Kebonsari

012. RW 4 Penjaringansari

013. RW 5 Siwalankerto

014. RW 1 Sawunggaling

015. RW 9 Banyu Urip

016. RW 6 Kedurus

017. RW 2 Medokan Semampir

018. RW 5 Lontar

019. RW 8 Rungkut Tengah

020. RW 6 Sambikerep

021. RW 5 Gundih

022. RW 8 Tanjung Perak

023. RW 5 Nginden Jangkungan

024. RW 8 Babat Jerawat

025. RW 8 Kedurus

026. RW 4 Banjar Sugihan

027. RW 3 Kendangsari

028. RW 3 Jambangan

029. RW 3 Kebraon

030. RW 4 Ngagel Rejo

031. RW 9 Manukan Kulon

032. RW 2 Kemayoran

033. RW 6 Pucang Sewu

034. RW 5 Ngagel

035. RW 4 Tanjung Perak

036. RW 7 Wonokromo

037. RW 6 Wonokusumo

038. RW 2 Banjar Sugihan

039. RW 3 Ngagel

040. RW 5 Morokrembangan

041. RW 9 Tanah Kali Kedinding

042. RW 4 Genteng

043. RW 1 Wonokromo

044. RW 1 Bulak Banteng

045. RW 4 Perak Barat

046. RW 2 Simolawang

047. RW 5 Keputran

048. RW 3 Kebonsari

049. RW 3 Perak Barat

050. RW 8 Wonorejo

051. RW 2 Tanjungsari

052. RW 3 Airlangga

053. RW 4 Rungkut Menanggal

054. RW 6 Mojo

055. RW 8 Baratajaya

056. RW 3 Simomulyo Baru

057. RW 10 Ploso

058. RW 9 Penjaringansari

059. RW 7 Wonokusumo

060. RW 4 Nginden Jangkungan

061. RW 4 Manukan Kulon

062. RW 1 Dukuh Kupang

063. RW 5 Mojo

064. RW 5 Sawunggaling

065. RW 3 Keputran

066. RW 6 Medokan Semampir

067. RW 6 Banyu Urip

068. RW 4 Kapasari

069. RW 5 Ploso

070. RW 3 Tambakrejo

071. RW 13 Embong Kaliasin

072. RW 3 Baratajaya

073. RW 5 Pakis

074. RW 14 Wonokusumo

075. RW 1 Beringin

076. RW 18 Petemon

077. RW 4 Kalirungkut

078. RW 8 Gading

079. RW 10 Rungkut Kidul

080. RW 5 Kapasari

081. RW 3 Kertajaya

082. RW 12 Krembangan Selatan

083. RW 3 Ketintang

084. RW 5 Bulak Banteng

085. RW 5 Peneleh

086. RW 12 Tanjung Perak

087. RW 4 Tembok Dukuh

088. RW 1 Simomulyo

089. RW 10 Ngagel Rejo

090. RW 4 Simomulyo

091. RW 7 Simomulyo Baru

092. RW 10 Sawunggaling

093. RW 3 Jagir

094. RW 1 Ngagel

095. RW 3 Kupang Krajan

096. RW 12 Manukan Kulon

097. RW 11 Wonokusumo

098. RW 4 Lidah Kulon

099. RW 9 Tambaksari

100. RW 9 Wonokusumo

101. RW 5 Kemayoran

102. RW 2 Kalirungkut

103. RW 15 Wonokusumo

104. RW 7 Tanjung Perak

105. RW 9 Tanjung Perak



106. RW 4 Sambikerep



107. RW 4 Tanjungsari



108. RW 1 Tanjung Perak



109. RW 13 Tanjung Perak



110. RW 6 Pacarkeling



111. RW 6 Wonorejo



112. RW 5 Kalirungkut



113. RW 3 Sememi



114. RW 8 Rangkah



115. RW 2 Simomulyo



116. RW 3 Simolawang



117. RW 11 Tanjung Perak



118. RW 9 Petemon



119. RW 3 Wonokromo



120. RW 5 Simomulyo Baru



121. RW 6 Morokrembangan



122. RW 16 Wonokusumo



123. RW 1 Pagesangan



124. RW 3 Tanjungsari



125. RW 5 Ngagel Rejo



126. RW 2 Gayungan



127. RW 15 Petemon



128. RW 6 Tanjung Perak



129. RW 4 Tenggilis Mejoyo



130. RW 1 Kandangan



131. RW 1 Kalirungkut



132. RW 12 Embong Kaliasin



133. RW 4 Rangkah



134. RW 4 Wonokromo



135. RW 1 Sambikerep



136. RW 2 Sonokwijenan



137. RW 1 Gundih



138. RW 5 Manukan Kulon



139. RW 6 Sidotopo Wetan



140. RW 4 Wonokusumo



141. RW 3 Gubeng



142. RW 4 Morokrembangan



143. RW 5 Sonokwijenan



144. RW 10 Tambakrejo



145. RW 10 Tanah Kali Kedinding



146. RW 3 Kalijudan



147. RW 8 Keputih



148. RW 4 Airlangga



149. RW 1 Bubutan



150. RW 2 Bulak


151. RW 7 Rungkut Kidul



152. RW 8 Bulak Banteng



153. RW 6 Sawunggaling



154. RW 11 Kedungdoro



155. RW 7 Bulak Banteng



156. RW 6 Ngagel Rejo



157. RW 1 Tanjungsari



158. RW 1 Baratajaya



159. RW 3 Kutisari



160. RW 2 Gubeng



161. RW 5 Wonokusumo



162. RW 4 Ploso



163. RW 4 Karang Pilang



164. RW 11 Karah



165. RW 2 Jambangan



166. RW 14 Simokerto



167. RW 6 Rungkut Tengah



168. RW 4 Medokan Semampir



169. RW 14 Kalirungkut



170. RW 13 Simokerto



171. RW 5 Jambangan



172. RW 4 Jambangan



172. RW 7 Ketabang



173. RW 4 Sumber Rejo



174. RW 5 Sumber Rejo



175. RW 7 Sambikerep



176. RW 13 Manukan Kulon



177. RW 7 Keputih



178. RW 8 Pucang Sewu



179. RW 10 Babat Jerawat



180. RW 6 Jemur Wonosari



181. RW 1 Banjar Sugihan



182. RW 5 Medokan Ayu



183. RW 5 Kedung Baruk



184. RW 5 Pucang Sewu



185. RW 1 Jambangan



186. RW 2 Bulak Banteng



187. RW 9 Kapasari



188. RW 9 Rungkut Tengah



189. RW 9 Rungkut Kidul



190. RW 6 Kandangan



191. RW 10 Kapasari



192. RW 2 Karang Pilang



193. RW 2 Sukomanunggal



194. RW 11 Ploso



195. RW 9 Rangkah



196. RW 10 Pacarkeling



197. RW 3 Gunung Anyar



198. RW 3 Medokan Semampir



199. RW 3 Pucang Sewu 



200. RW 2 Kalijudan


201. RW 6 Sumber Rejo



202. RW 8 Kapasari



203. RW 4 Pagesangan 



204. RW 1 Panjang Jiwo



205. RW 8 Gunung Anyar Tambak 



206. RW 6 Tenggilis Mejoyo 



207. RW 2 Wonorejo



208. RW 2 Panjang Jiwo 



209. RW 9 Embong Kaliasin 



210. RW 8 Karah



211. RW 5 Balas Klumprik



212. RW 6 Jambangan 



213. RW 2 Sumurwelut 



214. RW 9 Karah 



215. RW 6 Baratajaya 



216. RW 4 Pucang Sewu



217. RW 1 Manukan Kulon



218. RW 1 Rungkut Tengah



219. RW 4 Babatan



220. RW 4 Jagir



221. RW 11 Bendul Merisi



222. RW 6 Sidosermo



223. RW 2 Rungkut Kidul



224. RW 15 Kalirungkut



225. RW 6 Panjang Jiwo



226. RW 1 Rungkut Menanggal



227. RW 7 Pucang Sewu



228. RW 7 Kertajaya



229. RW 5 Rungkut Tengah



230. RW 5 Menur Pumpungan



231. RW 6 Dukuh Pakis



232. RW 1 Karah



233. RW 2 Gunung Sari



234. RW 7 Sidosermo



235. RW 1 Tambak Oso Wilangun



236. RW 13 Peneleh



237. RW 8 Sawunggaling



238. RW 6 Simolawang



239. RW 6 Menur Pumpungan



240. RW 12 Simokerto



241. RW 5 Kendangsari



242. RW 2 Jeruk



243. RW 4 Dukuh Menanggal



244. RW 10 Manyar Sabrangan



245. RW 1 Simolawang



246. RW 2 Rangkah



247. RW 1 Sumurwelut



248. RW 3 Karang Pilang



249. RW 1 Gebang Putih



250. RW 6 Kapasari


251. RW 2 Rungkut Tengah



251. RW 7 Jambangan



251. RW 5 Genteng



251. RW 1 Rangkah



251. RW 2 Dukuh Pakis



251. RW 6 Airlangga



251. RW 1 Lidah Wetan



251. RW 6 Karah



251. RW 13 Kebraon



260. RW 4 Panjang Jiwo



261. RW 3 Panjang Jiwo



262. RW 10 Karah



263. RW 3 Rungkut Menanggal



264. RW 1 Margorejo



265. RW 3 Rungkut Tengah



266. RW 13 Mojo



267. RW 5 Tenggilis Mejoyo



268. RW 8 Peneleh



269. RW 1 Karang Pilang



270. RW 10 Penjaringansari



271. RW 1 Menur Pumpungan



272. RW 9 Simokerto



273. RW 8 Ujung



274. RW 5 Bubutan



275. RW 7 Dukuh Kupang



276. RW 6 Babatan



277. RW 7 Gayungan



278. RW 6 Bubutan



279. RW 4 Dukuh Pakis



280. RW 2 Bubutan



281. RW 4 Simolawang



282. RW 12 Karah



283. RW 7 Gunung Anyar Tambak



284. RW 3 Rangkah



285. RW 1 Kebraon



286. RW 10 Ketabang



287. RW 1 Kapasari



288. RW 6 Kalirungkut



289. RW 4 Kutisari



290. RW 7 Margorejo



291. RW 10 Mojo



292. RW 9 Dukuh Menanggal



293. RW 14 Lontar



294. RW 8 Simolawang



295. RW 5 Babatan



296. RW 3 Margorejo



297. RW 2 Balongsari



298. RW 4 Keputih



299. RW 1 Dukuh Menanggal



300. RW 2 Pagesangan


301. RW 4 Romokalisari



302. RW 7 Kapasari



303. RW 2 Pucang Sewu



304. RW 4 Ketintang



305. RW 2 Rungkut Menanggal



306. RW 12 Wonokusumo



307. RW 9 Bendul Merisi



308. RW 10 Kalirungkut



309. RW 11 Embong Kaliasin



310. RW 7 Sumber Rejo



311. RW 7 Dukuh Menanggal



312. RW 3 Lontar



313. RW 3 Kalirungkut



314. RW 5 Petemon



315. RW 1 Romokalisari



316. RW 7 Bubutan



317. RW 8 Bongkaran



318. RW 14 Babat Jerawat



319. RW 7 Penjaringansari



320. RW 2 Karah



321. RW 5 Bulak



322. RW 10 Simokerto



323. RW 8 Genteng



324. RW 5 Tegalsari



325. RW 12 Kapasari



326. RW 6 Rungkut Kidul



327. RW 1 Gunung Anyar Tambak



328. RW 2 Ngagel



329. RW 9 Kedurus



330. RW 4 Menanggal



331. RW 2 Sumber Rejo



332. RW 7 Simokerto



333. RW 5 Manukan Wetan



334. RW 10 Menur Pumpungan



335. RW 5 Semolowaru



336. RW 5 Kutisari



337. RW 2 Beringin



338. RW 3 Romokalisari



339. RW 8 Kalirungkut



340. RW 1 Kedung Baruk



341. RW 6 Sonokwijenan



342. RW 1 Menanggal



343. RW 2 Kedungdoro



344. RW 2 Sukolilo Baru



345. RW 6 Menanggal



346. RW 10 Wonorejo



347. RW 3 Menanggal



348. RW 1 Wonokusumo



349. RW 6 Lontar



350. RW 5 Lidah Wetan


351. RW 5 Made



352. RW 7 Kalirungkut



353. RW 9 Kapasan



354. RW 1 Pucang Sewu



355. RW 2 Morokrembangan



356. RW 4 Margorejo



357. RW 7 Gunung Sari



358. RW 8 Ketabang



359. RW 2 Tanjung Perak



360. RW 5 Tanjung Perak



361. RW 15 Peneleh



362. RW 1 Kapasan



363. RW 1 Kalijudan



364. RW 13 Sawahan



365. RW 18 Tanjung Perak



366. RW 4 Baratajaya



367. RW 3 Peneleh



368. RW 9 Genteng



369. RW 6 Rangkah



370. RW 6 Rangkah


371. RW 8 Simokerto



372. RW 11 Genteng



373. RW 5 Kalijudan



374. RW 5 Sidotopo Wetan



375. RW 9 Kalirungkut



376. RW 9 Simomulyo Baru



377. RW 12 Penjaringansari



378. RW 2 Menanggal



379. RW 5 Wonorejo



380. RW 17 Tanjung Perak



381. RW 4 Ngagel



382. RW 2 Kapasan



383. RW 7 Simolawang



384. RW 3 Simokerto



385. RW 11 Penjaringansari



386. RW 7 Baratajaya



387. RW 1 Dukuh Pakis



388. RW 3 Bulak Banteng



389. RW 8 Penjaringansari



390. RW 2 Tambak Oso Wilangun



391. RW 4 Pacarkeling



392. RW 11 Krembangan Selatan



393. RW 3 Pagesangan



394. RW 1 Babatan



395. RW 3 Kedung Cowek



396. RW 10 Tanjung Perak



397. RW 6 Simomulyo Baru



398. RW 4 Gundih



399. RW 2 Kapasari



400. RW 9 Lontar


401. RW 12 Kalirungkut



402. RW 4 Karah



403. RW 3 Manukan Wetan



404. RW 6 Penjaringansari



405. RW 3 Jeruk



406. RW 2 Penjaringansari



407. RW 3 Tambak Oso Wilangun



408. RW 5 Perak Barat



409. RW 8 Embong Kaliasin



410. RW 7 Sememi



411. RW 4 Klampis Ngasem



412. RW 6 Ujung



413. RW 6 Kedung Baruk



414. RW 16 Tanjung Perak



415. RW 1 Penjaringansari



416. RW 8 Kedungdoro



417. RW 2 Ujung



418. RW 1 Genteng



419. RW 3 Kapasari



420. RW 8 Sememi



421. RW 13 Kalirungkut



422. RW 6 Siwalankerto



423. RW 4 Gebang Putih



424. RW 9 Tandes



425. RW 3 Sonokwijenan



426. RW 14 Tanjung Perak



427. RW 7 Dukuh Setro



428. RW 5 Kapasan



429. RW 6 Krembangan Selatan



430. RW 11 Kebraon


431. RW 2 Kedung Baruk



432. RW 4 Bulak Banteng



433. RW 5 Simokerto



434. RW 4 Siwalankerto



435. RW 14 Peneleh



436. RW 6 Bulak



437. RW 1 Kedung Cowek



438. RW 5 Gunung Anyar



439. RW 2 Putat Gede



440. RW 1 Putat Jaya



441. RW 1 Sonokwijenan



442. RW 2 Sawunggaling



443. RW 4 Tambak Oso Wilangun



444. RW 3 Mulyorejo



445. RW 5 Rangkah



446. RW 4 Rungkut Kidul



447. RW 1 Sumber Rejo



448. RW 2 Balas Klumprik



449. RW 2 Jemur Wonosari



450. RW 3 Penjaringansari



451. RW 3 Sumber Rejo



452. RW 7 Karah



453. RW 15 Tanjung Perak



454. RW 4 Bendul Merisi



455. RW 2 Ketintang



456. RW 2 Lontar



457. RW 6 Dukuh Sutorejo



458. RW 4 Lontar



459. RW 1 Peneleh


460. RW 6 Simokerto


461. RW 5 Penjaringansari


462. RW 7 Genteng


463. RW 3 Dukuh Menanggal


464. RW 10 Genteng


465. RW 2 Made


466. RW 3 Sawunggaling


467. RW 2 Romokalisari


468. RW 12 Manyar Sabrangan


469. RW 6 Manukan Wetan


470. RW 11 Sidotopo Wetan


471. RW 16 Petemon


472. RW 1 Morokrembangan


473. RW 6 Dukuh Kupang


474. RW 3 Rungkut Kidul


475. RW 8 Pakis


476. RW 3 Ketabang


477. RW 4 Kandangan


478. RW 9 Gundih


479. RW 1 Ujung


480. RW 8 Semolowaru


481. RW 9 Peneleh


482. RW 2 Tenggilis Mejoyo


483. RW 5 Lidah Kulon


484. RW 4 Dukuh Sutorejo


485. RW 4 Tandes


486. RW 2 Kendangsari


487. RW 5 Baratajaya


488. RW 7 Manukan Wetan


489. RW 1 Simokerto


490. RW 2 Siwalankerto


491. RW 9 Nyamplungan


492. RW 7 Panjang Jiwo


493. RW 5 Balongsari


494. RW 8 Krembangan Selatan


495. RW 7 Balas Klumprik


496. RW 3 Krembangan Utara


497. RW 4 Rungkut Tengah


498. RW 5 Tambaksari


499. RW 11 Lontar


500. RW 3 Genteng

500 besar Kampung Pancasila

 500 besar Kampung Pancasila

Sebanyak 500 RW terbaik di Kota Surabaya telah resmi diumumkan lolos ke tahap berikutnya dalam Lomba Kampung Pancasila 2026 setelah melewati tahap verifikasi lapangan pertama dari total 1.360 RW yang mendaftar. [1, 2]
Info Penting Lomba Kampung Pancasila 2026
  • Tahap Saat Ini: Seleksi dan persiapan menuju verifikasi lapangan tahap kedua untuk menyaring 200 RW besar.
  • Empat Pilar Penilaian Utama: Penilaian mencakup pilar Lingkungan (35%), Ekonomi (35%), Kemasyarakatan (15%), dan Sosial Budaya (15%) dengan total bobot maksimal 400 poin. [1, 2]
Cara Cek Daftar 500 Besar RW
  • Pengumuman lengkap dan daftar RW yang lolos dapat diakses melalui aplikasi Sayang Warga, portal Jawa Pos, atau pemindaian barcode resmi Pemkot Surabaya. [1, 2]

4 OKTOBER 1965

 4 OKTOBER 1965 - KETIKA SUMUR LUBANG BUAYA TERBUKA



Pagi itu, kawasan Lubang Buaya, Jakarta Timur, menjadi saksi salah satu tragedi paling kelam dalam sejarah Indonesia.


Setelah terjadinya Gerakan 30 September 1965, sejumlah perwira Angkatan Darat yang sebelumnya diculik dan dibunuh ditemukan di sebuah sumur tua di kawasan Lubang Buaya.


Mereka adalah:


Letjen Ahmad Yani


Mayjen R. Suprapto


Mayjen M.T. Haryono


Mayjen S. Parman


Brigjen D.I. Panjaitan


Brigjen Sutoyo Siswomiharjo


Lettu Pierre Andreas Tendean


Pada 4 Oktober 1965, jenazah para perwira tersebut berhasil dievakuasi dari sumur. Proses pengangkatan dilakukan oleh pasukan Angkatan Darat, termasuk unsur RPKAD, dalam kondisi yang sangat sulit. Dokumentasi penggalian dan pengangkatan jenazah kemudian menjadi bagian penting dari ingatan sejarah bangsa. (Garuda Kemdikbud)


Keesokan harinya, 5 Oktober 1965, jenazah para korban dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata. Mereka kemudian dikenal sebagai Pahlawan Revolusi. (Kebudayaan Kemdikbud) 


Sumur tersebut kini menjadi bagian dari Kompleks Monumen Pancasila Sakti dan ditetapkan sebagai cagar budaya nasional. (Referensi Data Kemdikbud)


Lubang Buaya bukan sekadar sebuah tempat.


la menjadi simbol dari sebuah tragedi yang meninggalkan luka mendalam dalam perjalanan sejarah Indonesia.


Sejarah mengajarkan kita bahwa di balik tanggal dan nama yang tertulis di buku, ada manusia, keluarga, dan sebuah bangsa yang pernah melewati masa yang sangat kelam.


"Jangan sekali-kali melupakan sejarah."

π™Žπ™Šπ™€π™†π˜Όπ™π™‰π™Š DALAM: 72 π™…π˜Όπ™ˆ

 πŸ”₯ PRESIDEN π™Žπ™Šπ™€π™†π˜Όπ™π™‰π™Š DALAM:  72 π™…π˜Όπ™ˆ ,



30 SEPTEMBER – 2 OKTOBER 1965


Dimanakah, Presiden Republik Indonesia berada, ketika para jenderalnya diculik?


Presiden secara konstitusional merupakan Panglima Tertinggi atas ABRI (Angkatan Bersenjata Republik Indonesia) malahan harus berpindah-pindah tempat ketika pusat kekuasaan militer sedang bergolak?


Apakah «“Soekarno tahu.”» 

atau

«“Soekarno tidak tahu.”»


πŸŒ™ 30 SEPTEMBER 1965 — MALAM SEBELUM LEDAKAN


Siang hari, Soekarno masih menjalankan kegiatan kenegaraan. Secara kebetulan, pada malam harinya, ia tidak berada di Istana Merdeka.


Menurut kesaksian yang dikutip dari pengawal Presiden, Soekarno bermalam di Wisma Yaso, kediaman "Ratna Sari Dewi".


Sekitar pukul 23.00, ajudan Kolonel Bambang Widjanarko masih berkomunikasi mengenai agenda Presiden untuk 1 Oktober.


Salah satu agenda yang direncanakan adalah pertemuan dengan Wakil Perdana Menteri II Johannes Leimena dan Panglima Angkatan Darat 'Letjen Ahmad Yani".


Tetapi beberapa jam kemudian, Ternyata: Ahmad Yani sudah tidak ada, sehingga agenda yang seharusnya mempertemukan Presiden dengan Panglima Angkatan Darat itu tidak pernah terjadi.


πŸŒ… 1 OKTOBER — PRESIDEN MENCARI TEMPAT AMAN


Sekitar pukul 06.00, Soekarno meninggalkan Wisma Yaso menuju Istana Merdeka. Namun di tengah perjalanan itu berubah haluan.


Menurut kesaksian "Bambang Widjanarko", Presiden mendapat informasi bahwa kawasan Istana telah dikepung oleh pasukan bersenjata yang tidak dikenal.


Soekarno kemudian mengubah arah menuju rumah istri keempatnya: "Haryati" di Slipi - Grogol. Dari sana, muncul saran agar Presiden menuju Halim Perdanakusuma.


Ada salah satu teka-teki terbesar muncul.

Mengapa harus ke HALIM?


Karena pada hari itu Halim bukan sekadar pangkalan udara militer, tetapi berada di sekitar kawasan yang menjadi salah satu lokasi yang berkaitan dengan aktivitas kelompok Gerakan 30 September.


Presiden Soekarno, akhirnya berada di sebuah tempat yang secara politik menimbulkan persepsi yang kontroversial.


Apakah itu keputusan sendiri atau bukan?


Ataukah Presiden diarahkan untuk berada pada posisi yang aman, dan mudah untuk dilakukan dievakuasi menggunakan pesawat canggih, bilamana situasi darurat?


⚠️ DUA KEKUASAAN MULAI BERJALAN


Sementara Presiden berada di Halim, Ibukota Jakarta mengalami perubahan cepat dan drastis.


Gerakan 30 September menggunakan RRI untuk menyiarkan pengumuman mereka, hingga berkali-kali, tetapi dengan visi yang berbeda-beda.


Sekitar pukul 07.20, mereka menyatakan adanya gerakan terhadap apa yang disebut “Dewan Jenderal” dan kemudian menjelang Siang, mereka mengumumkan pembentukan Dewan Revolusi Indonesia.


Namun ada satu persoalan besar.


Presiden Soekarno tidak pernah memerintahkan hal tersebut, sebagai yang diumumkan oleh Letkol Untung melalui RRI.


Sebaliknya, pada saat yang bersamaan, keluar Perintah Harian Presiden.


Isinya sangat singkat namun penting:


".....Soekarno menyatakan, bahwa: Dirinya dalam kondisi sehat dan tetap memegang pimpinan negara dan revolusi....."


Bahkan pimpinan Angkatan Darat untuk sementara dinyatakan berada langsung di tangan Presiden, sementara Mayjen Pranoto Reksosamodro ditunjuk untuk menjalankan tugas sehari-hari, sebagai Panglima Angkatan Darat.


Kalimat ini membuka pertanyaan besar:


"....Kalau Presiden Soekarno masih memegang kendali, lalu siapa yang sebenarnya menjalankan kekuatan militer di Jakarta?"


πŸ”₯ Pangkostrad: Mayor jenderal Soeharto


Di Jakarta Pusat, Mayjen Soeharto bergerak.

RRI berhasil direbut kembali melalui RPKAD.


Pasukan tentara yang berada di sekitar pusat pemerintahan mulai ditekan dan diarahkan menuju Pangkalan Udara Halim.

Padahal Presiden masih berada disana, beserta para tokoh-tokoh nasional lainnya.


Maka, terjadilah sesuatu yang saling berhadapan, antara: 

-- Kekuasaan formal (Soekarno) dan kekuatan operasional dipegang (Soeharto)


Presiden masih tetap memegang otoritas politik, secara konstitusional. Sementara itu, Soeharto mulai memegang kendali operasional Angkatan Darat atas perintah dari Jenderal AH Nasution (KSAB)


Sehingga ada jarak di antara keduanya....


πŸŒ™ 1 OKTOBER — 

SOEKARNO MENINGGALKAN HALIM


Situasi semakin tegang, sehingga Presiden Soekarno kemudian meninggalkan Halim dan menuju Istana Bogor.


Apakah ini sekadar langkah pengamanan?

Ataukah 

Soekarno ambil jarak dari pusat konflik?


Dengan harapan dari Bogor ia  akan mencoba kembali mengendalikan keadaan?


Mengenai hal tersebut diatas, perlu di dukung Dokumen dan kesaksian, agar tidak menimbulkan interpretasi berbeda-beda.


πŸŒ… 2 OKTOBER — 

PRESIDEN MASIH MEMEGANG KEKUASAAN?


Di Bogor, Soekarno memanggil para Panglima Angkatan Bersenjata bersama Waperdam II Leimena dan pejabat penting lainnya.


Tujuannya, dinyatakan dengan jelas:

"..... Untuk menciptakan suasana tenang dan tertib serta menghindari bentrokan bersenjata...."


Dalam amanat yang kemudian dibacakan melalui RRI, Soekarno menegaskan kembali bahwa: Ia tetap memegang tampuk pimpinan negara, pemerintahan, dan revolusi.


Tetapi pada saat yang sama...


Kekuatan militer di Jakarta (Kostrad + RPKAD) sudah bergerak jauh lebih cepat daripada keputusan politik Presiden tersebut.


Pada hari itu pula, operasi terhadap kawasan Halim semakin meningkat, kemudian melakukan pencarian korban penculikan jenderal, dalam tragedi G-30-S.


Arsip ANRI sendiri mencatat adanya kumpulan berita Angkatan Bersenjata mengenai G30S dan Dewan Revolusi serta catatan kronologis peristiwa G30S dalam arsip KOTI Oktober 1965.


🧩 SIAPA  PEMEGANG KENDALI?


Di sinilah sejarah G-30-S/ 1965 menjadi sangat menarik, dari tahun ke tahun selalu dibahas:


Secara formal:

Soekarno masih sebagai Presiden dan Kepala Negara sekaligus Panglima Tertinggi atas Angkatan Darat, Laut, Udara, Kepolisian.


Secara dokumen:

Soekarno menyatakan: "tetap memegang" pimpinan negara dan revolusi.


Secara operasional:

Soeharto semakin kuat dukungan dari para perwira untuk mengambil arah, tindakan dan kepemimpinan Angkatan Darat di Jakarta.


Secara politik:

Gerakan 30 September gagal memperoleh legitimasi terbuka dari Presiden.


Dan akhirnya muncul pertanyaan yang sampai sekarang terus diperdebatkan:


πŸ”₯ KONTROVERSI: "KEHADIRAN DI HALIM"


Ada yang melihat, bahwa: keberadaan Soekarno di Halim sebagai sesuatu yang sangat mencurigakan.


Ada pula yang melihatnya sebagai konsekuensi dari situasi keamanan yang kacau.


Ada yang menilai Perintah Harian 1 Oktober menunjukkan Presiden masih berusaha mengambil alih kendali Angkatan Darat.


Namun ada pula pertanyaan sebaliknya:


Jika Presiden benar-benar masih memegang kendali, mengapa keputusan militer di lapangan malahan ditentukan oleh Soeharto?


⚡ DAN INILAH BAGIAN PALING MENARIK


Pada pagi 1 Oktober:

- Soekarno berada di Halim.

- Soeharto berada di Kostrad.

- RRI berada di dalam kekuasaan G-30-S.


Ketika, Angkatan Darat kehilangan beberapa pimpinan utamanya,

Tapi, dalam beberapa jam...

Dikendalikan oleh Mayjen Soeharto.


Pada saat itu, "Pusat Gravitasi Kekuasaan" Indonesia mulai bergeser, sebab serangkaian keputusan presiden tidak mempan, sehingga terjadi perubahan-perubahan dalam hitungan jam.


PERTANYAAN: 


1). Apakah pada tanggal 1 Oktober 1965 adalah hari ketika Soekarno berhasil mempertahankan kekuasaan?


2) Apakah sejak tanggal 1 Oktober 1965, kekuasaan Soekarno mulai terlepas sedikit demi sedikit—meskipun-- ia sendiri masih memegang jabatan Presiden?


3) Apa respon yang dilakukan oleh Presiden Soekarno atas penemuan mayat dari para jenderal-jenderal nya di Lubang Buaya? 


4) Bagaimana tanggapan dari Keluarga Korban terkait bentuk Perhatian dan Rasa keprihatinan dari Soekarno selaku Presiden?


5) Bagaimana respon  dari istri-istri dan anak-anak presiden Soekarno, terhadap keluarga korban para jenderal yang terbunuh pada tanggal, 1 Oktober 1965?


#SejarahNusantara #G30S1965 #Soekarno #Soeharto #SejarahIndonesia

#MisteriSejarah

Pertempuran Surabaya November 1945

 Pertempuran Surabaya  November 1945

Pertempuran Surabaya terjadi antara tentara Indonesia pro-Kemerdekaan dan milisi melawan pasukan Inggris dan Belanda sebagai bagian dari Revolusi Nasional Indonesia. Puncak pertempuran adalah pada November 1945. Meskipun ada perlawanan sengit, pasukan Inggris dan India berhasil menaklukkan Surabaya, kota terbesar kedua di Indonesia, atas nama Belanda. Pertempuran adalah pertempuran tunggal terberat Revolusi dan menjadi simbol nasional perlawanan Indonesia. Dianggap sebagai upaya heroik oleh orang Indonesia, pertempuran ini membantu menggembleng dukungan Indonesia dan internasional untuk kemerdekaan Indonesia. Tanggal 10 November diperingati setiap tahun sebagai Hari Pahlawan. Pada saat pasukan Sekutu tiba pada akhir Oktober 1945, pijakan pemuda ('pemuda') di kota Surabaya digambarkan sebagai "benteng bersatu yang kuat". Pertempuran sengit meletus ketika 6.000 tentara India mendarat di kota itu untuk mengevakuasi tahanan Eropa. Setelah pembunuhan perwira Inggris Brigadir Mallaby pada 30 Oktober, Inggris membalas dengan penyisiran hukuman yang dimulai pada 10 November di bawah perlindungan serangan udara. Meskipun pasukan Eropa sebagian besar merebut kota dalam tiga hari, Partai Republik yang bersenjata buruk bertempur selama tiga minggu dan ribuan orang tewas saat penduduk melarikan diri ke pedesaan. Terlepas dari kekalahan militer yang diderita oleh Partai Republik dan hilangnya tenaga dan persenjataan yang akan sangat menghambat pasukan Republik selama sisa Revolusi, pertempuran dan pertahanan yang dilakukan oleh Indonesia menggembleng bangsa untuk mendukung kemerdekaan dan membantu mengumpulkan perhatian internasional. Bagi Belanda, itu menghilangkan keraguan bahwa Republik bukan sekadar sekelompok kolaborator tanpa dukungan rakyat. Itu juga memiliki efek meyakinkan Inggris bahwa kebijaksanaan berada di pihak netralitas dalam Revolusi; dalam beberapa tahun, pada kenyataannya, Inggris akan mendukung perjuangan Partai Republik di Perserikatan Bangsa-Bangsa. 

Latar

Pada 17 Agustus 1945, Soekarno dan Hatta mendeklarasikan kemerdekaan Indonesia di Jakarta, dua hari setelah Kaisar Jepang menyerah di Pasifik. Ketika berita tentang deklarasi kemerdekaan menyebar ke seluruh nusantara, masyarakat Indonesia biasa merasakan kebebasan yang membuat sebagian besar menganggap diri mereka sebagai pro-Republik Dalam minggu-minggu berikutnya, kekosongan kekuasaan ada, baik dari luar maupun di dalam Indonesia, menciptakan suasana ketidakpastian, tetapi juga peluang. Pada tanggal 19 September 1945, sekelompok tahanan Belanda yang didukung oleh Jepang mengibarkan bendera Belanda di luar Hotel Yamato (sebelumnya Hotel Oranje) di Surabaya, Jawa Timur. Hal ini memprovokasi milisi Nasionalis Indonesia, yang menyerbu Belanda dan Jepang, dan merobek bagian biru bendera Belanda, mengubahnya menjadi bendera Indonesia. Pemimpin kelompok Belanda, Pluegman, terbunuh karena kemarahan massal. Komandan senior Jepang di Surabaya, Wakil Laksamana Shibata Yaichoro, mendukung Partai Republik dan memberi orang Indonesia akses senjata. Pada tanggal 3 Oktober, ia menyerah kepada kapten angkatan laut Belanda, perwakilan Sekutu pertama yang tiba. Menyadari realitas penguasaan Indonesia atas kota, ia memerintahkan pasukannya untuk menyerahkan senjata mereka yang tersisa kepada Indonesia. Indonesia harus menyerahkannya kepada Sekutu, tetapi lalai untuk melakukannya. Pasukan Inggris membawa kontingen militer Belanda kecil yang disebut Administrasi Sipil Hindia Belanda (NICA). Inggris menjadi khawatir tentang meningkatnya keberanian dan kekuatan nasionalis, yang menyerang garnisun Jepang yang terdemoralisasi di seluruh nusantara dengan senjata dasar seperti tombak bambu untuk merebut senjata mereka. Tujuan utama pasukan Inggris di Surabaya adalah menyita senjata dari pasukan Jepang dan milisi Indonesia, mengurus mantan tawanan perang (POW), dan mengirim pasukan Jepang yang tersisa kembali ke Jepang. Pada bulan September dan Oktober 1945 serangkaian insiden terjadi yang melibatkan orang-orang Eurasia pro-Belanda, dan kekejaman dilakukan oleh massa Indonesia terhadap tahanan Eropa. Pada akhir Oktober dan awal November, pimpinan organisasi Muslim massa Nahdlatul Ulama dan Masyumi, menyatakan bahwa perang untuk membela tanah air Indonesia adalah Perang Suci, dan dengan demikian merupakan kewajiban bagi semua Muslim. Kyai dan murid-muridnya, mulai mengalir ke Surabaya dari pesantren di seluruh Jawa Timur. Bung Tomo yang karismatik memanfaatkan radio lokal untuk mendorong suasana semangat revolusioner fanatik di seluruh kota. 6.000 tentara India Inggris dikirim ke kota yang mudah meledak pada tanggal 25 Oktober untuk mengevakuasi tahanan Eropa dan dalam waktu tiga hari pertempuran dimulai. Pasukan India berada di ambang dimusnahkan oleh 10.000-20.000 tentara reguler Indonesia yang baru dibentuk dan massa 70.000-140.000 orang. Namun, Inggris menerbangkan Presiden Soekarno yang berpengaruh, dan menterinya Hatta dan Amir Sjarifuddin, dan gencatan senjata dicapai pada 30 Oktober. Pada tanggal 26 Oktober 1945, Brigadir A. W. S Mallaby mencapai kesepakatan dengan Suryo, gubernur Republik Indonesia di Jawa Timur bahwa Inggris tidak akan meminta pasukan/milisi Indonesia untuk menyerahkan senjata mereka. Kesalahpahaman yang jelas tentang kesepakatan antara pasukan Inggris di Jakarta (dipimpin oleh Letnan Jenderal Sir Philip Christison) dan pasukan Mallaby di Surabaya memiliki konsekuensi yang serius. 

Pejuang

Awalnya pasukan Inggris adalah 6.000 tentara India bersenjata ringan dari Brigade Infanteri ke-49 dari Divisi India ke-23. Ketika pertempuran mencapai puncaknya, Inggris mengirim pasukan tambahan yang terdiri dari 24.000 tentara bersenjata lengkap dari Divisi India ke-5, 24 tank Sherman, 24 pesawat bersenjata, 2 kapal penjelajah dan 3 kapal perusak. Pasukan Indonesia terdiri dari 20.000 tentara dari Tentara Keamanan Rakyat (TKR; Pasukan Keamanan Rakyat) dan diperkirakan 100.000-120.000 orang tidak teratur. TKR dibentuk oleh mantan anggota Peta, sebuah organisasi semi-militer selama pendudukan Jepang. Orang-orang tidak teratur terdiri dari massa pro-Kemerdekaan, dipersenjatai dengan senapan, pedang, dan tombak. Beberapa senjata mereka diambil dari pasukan Jepang yang terdemoralisasi. 

Pertempuran

Awal

Pada tanggal 27 Oktober 1945, sebuah pesawat Inggris dari Jakarta menjatuhkan selebaran di Surabaya yang mendesak semua pasukan dan milisi Indonesia untuk menyerahkan senjata mereka. Pemimpin pasukan dan milisi Indonesia itu marah, melihatnya sebagai pelanggaran kesepakatan yang dicapai dengan Mallaby sebelumnya. Pada 28 Oktober 1945, mereka menyerang pasukan Inggris di Surabaya dan menewaskan lebih dari 200 tentara Inggris yang tidak siap siap. Pada 30 Oktober, dalam keputusasaan, Inggris menerbangkan Sukarno (presiden RI), Mohammad Hatta (wakil presiden RI), dan Amir Syarifuddin Harahap (menteri penerangan Indonesia) ke Surabaya. Ketiganya dipandang sebagai satu-satunya pemimpin Indonesia yang kemungkinan mampu memadamkan pertempuran antara pasukan Republik dan India Inggris di mana Brigade Inggris kalah jumlah dan menghadapi pemusnahan. Gencatan senjata dinegosiasikan dengan Mayor Jenderal Hawthorn (komandan Divisi India ke-23) dan Brigadir Mallaby dan segera dipatuhi. Pertempuran, bagaimanapun, segera dimulai kembali setelah komunikasi yang membingungkan dan ketidakpercayaan antara kedua belah pihak, yang mengarah ke Pertempuran Surabaya yang terkenal. 

Kematian Brigadir Mallaby

Brigadir Mallaby terbunuh di Surabaya pada 30 Oktober 1945 dalam keadaan yang tidak jelas yang masih diperdebatkan hingga saat ini. Brigadir Mallaby menyebarkan berita tentang perjanjian baru itu kepada pasukannya di sekitar Surabaya. Ketika mobilnya mendekati pos pasukan Inggris di gedung Internasional dekat Jembatan Merah, mobilnya dikepung oleh milisi Republik Indonesia. Khawatir komandan mereka akan diserang oleh milisi, pasukan Inggris di gedung Internasional, yang dipimpin oleh Mayor Venu K. Gopal, menembak ke udara untuk membubarkan milisi Indonesia. Milisi, berpikir bahwa Inggris mengambil tindakan bermusuhan, membalas tembakan ke pasukan Inggris. Kapten R.C. Smith yang berada di dalam mobil stasioner melaporkan bahwa seorang pemuda republik menembak dan membunuh Mallaby setelah percakapan singkat. Smith kemudian melaporkan melemparkan granat dari mobil ke arah tempat dia pikir penembak bersembunyi. Meski tidak yakin apakah itu mengenai targetnya, ledakan itu menyebabkan kursi belakang mobil menyala. Laporan lain, menurut sumber yang sama, menyatakan bahwa itu adalah ledakan dan bukan penembak yang menewaskan Mallaby. Terlepas dari rincian pastinya, kematiannya adalah titik balik yang signifikan untuk permusuhan di Surabaya, dan katalis untuk pertempuran yang akan datang. Inggris memerintahkan Indonesia menyerah, dan pada 10 November mereka melancarkan serangan balasan besar-besaran. 

Pertempuran besar

Letnan Jenderal Sir Philip Christison marah ketika mendengar bahwa Brigadir Mallaby tewas di Surabaya. Selama jeda dalam pertempuran, Inggris membawa bala bantuan dan mengevakuasi para tahanan. Dua brigade tambahan (India ke-9 dan ke-123) dari pasukan Divisi India ke-5 yang dipimpin oleh Mayor Jenderal Robert Mansergh dikerahkan dengan tank Sherman dan Stuart, 2 kapal penjelajah dan 3 kapal perusak sebagai dukungan. Di antara kapal perusak adalah HMS Cavalier, sekarang dilestarikan sebagai kapal museum di Chatham Historic Dockyard. Pada fajar tanggal 10 November, hari yang sekarang diperingati di Indonesia sebagai Hari Pahlawan, pasukan Inggris memulai kemajuan metodis melalui kota di bawah naungan pemboman angkatan laut dan udara. Pertempuran sangat berat dengan pasukan Inggris membersihkan bangunan ruangan demi ruangan dan mengkonsolidasikan keuntungan mereka. Terlepas dari perlawanan fanatik orang Indonesia, setengah kota ditaklukkan dalam tiga hari dan pertempuran berakhir dalam tiga minggu. Sedikitnya 6.000 orang Indonesia tewas dan mungkin 200.000 melarikan diri dari kota yang hancur itu. Korban Inggris dan India berjumlah sekitar 600. 

Konsekuensi dari pertempuran

Partai Republik kehilangan banyak tenaga mereka, tetapi hilangnya persenjataan yang akan sangat menghambat upaya militer Partai Republik selama sisa perjuangan kemerdekaan. Pertempuran untuk Surabaya adalah pertempuran tunggal paling berdarah dalam perang, dan menunjukkan tekad kekuatan nasionalis yang berantakan; perlawanan pengorbanan mereka menjadi simbol dan seruan untuk Revolusi. Itu juga membuat Inggris enggan tersedot ke dalam perang yang tidak dibutuhkannya, mengingat betapa luasnya sumber daya mereka di Asia Tenggara selama periode setelah Jepang menyerah; dalam beberapa tahun, pada kenyataannya, Inggris secara terbuka mendukung perjuangan Partai Republik di Perserikatan Bangsa-Bangsa. Itu juga merupakan titik balik bagi Belanda karena menghilangkan keraguan bahwa Republik bukan sekadar sekelompok kolaborator tanpa dukungan rakyat. Pada November 1946, pasukan Inggris terakhir meninggalkan Indonesia. Patung "Pahlawan 10 November" di Surabaya memperingati pertempuran ini. 10 November sekarang diperingati di Indonesia sebagai "Hari Pahlawan", untuk mengenang pertempuran tersebut.

Referensi

Ricklefs, MC (1993). Sejarah Indonesia Modern Sejak c.1300, Edisi ke-2. London: MacMillan. ISBN 0-333-57689-6. 

Woodburn Kirby, S (1965). Perang Melawan Jepang Vol. V. London: HMSO. ISBN 0-333-57689-6.

Sumber wikipedia

Prof. Dr. Sumitro Djojohadikusumo

 Dalam kabinet Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) yang diproklamasikan pada 15 Februari 1958, Prof. Dr. Sumitro Djojohadikusumo menjabat sebagai Menteri Ekonomi (atau dalam beberapa catatan sejarah disebut sebagai Menteri Perdagangan dan Perhubungan).



Selain memegang portofolio kementerian tersebut, peran krusial Prof. Sumitro dalam gerakan perlawanan terhadap pemerintah pusat ini meliputi:

• Pembuka Jaringan Internasional: Mengingat kapasitasnya sebagai ekonom senior yang diakui dunia, ia bertugas mencari dukungan diplomatik dan pendanaan di luar negeri.

• Penyedia Logistik dan Persenjataan: Ia menjadi perwakilan PRRI yang menjalin kontak dengan badan intelijen asing seperti CIA (Amerika Serikat), serta intelijen Prancis dan Korea untuk mengusahakan bantuan persenjataan bagi basis militer PRRI di Sumatra.

Karena perannya yang vital ini, setelah gerakan PRRI berhasil dipadamkan oleh pemerintah pusat, Prof. Sumitro bersama keluarganya terpaksa hidup berpindah-pindah dalam pengasingan di luar negeri selama hampir 10 tahun, sebelum akhirnya kembali ke Indonesia pada tahun 1967 di era Orde Baru

950 RW di Surabaya

  950 RW di Surabaya Jalani Verifikasi Lomba Kampung Pancasila 2026 30 September 2026 Lomba Kampung Pancasila. SURABAYA (Lentera) - Sebanyak...