Kamis, 01 Oktober 2026

Tan Malaka

 Bayangin lo hidup di zaman sekarang, tapi nama lo gak ada di database kependudukan mana pun. Lo gak punya NIK, gak punya kartu SIM, gak ada jejak transaksi bank, tapi pergerakan lo bisa bikin tiga dinas intelijen raksasa kelas dunia, Belanda, Inggris, sama Amerika kebakaran jenggot selama puluhan tahun. Nah, ini bukan plot film spionase Hollywood garapan Hollywood. Ini kisah nyata dari seorang pemuda asal Minangkabau bernama Ibrahim gelar Datuk Sutan Malaka, atau yang lebih kita kenal dengan nama Tan Malaka.



​Kadang gue mikir, betapa absurdnya sejarah negeri ini. Kita sering dijejali narasi pahlawan yang sifatnya sangat prosedural dan rapi. Duduk di meja perundingan pakai setelan jas, atau mimpin orasi di lapangan terbuka sambil diteriaki ribuan massa. Tapi Tan Malaka beda total. Dia beroperasi di lorong-lorong gelap Asia Tenggara, Eropa, sampai Tiongkok. Dia bergerak bagaikan hantu yang punya seribu muka. ​Peneliti asal Belanda, Harry A. Poeze, bahkan butuh waktu lebih dari empat puluh tahun cuma buat merekonstruksi ulang jejak langkah manusia satu ini. Poeze sampai mengubrak-abrik arsip rahasia Politieke Inlichtingen Dienst (PID) dan dokumen Special Branch di berbagai negara. Dari situ baru kelihatan kalau Tan Malaka itu bukan cuma seorang ideolog yang cuma jago teori di atas kertas. Dia ini operator lapangan tingkat tinggi. Manusia yang bisa hidup bertahan di bawah tekanan pelarian tanpa henti.


​Gue sempat geleng-geleng kepala waktu nemu data penyamarannya. Bayangin aja, waktu dia lagi dikejar-kejar agen kolonial di Filipina, dia memakai nama Elias Fuentes atau Estanislao Rivera, berbaur santai dengan kalangan intelektual lokal di Manila. Pas geser ke Amoy, Tiongkok, dia berubah identitas jadi Howard Law, ngajar bahasa Inggris ke anak-anak lokal sambil berpura-pura jadi warga Tionghoa kelahiran Hawaii. Begitu masuk ke Banten di masa pendudukan Jepang, dia nyamar jadi kuli dan juru tulis bernoda jelutung dengan nama Ilias Hussein. ​Bahkan demi ngecoh foto burokam PID yang disebar ke pelabuhan  internasional, dia tega mencabut beberapa gigi aslinya sendiri terus diganti pakai gigi palsu dengan bentuk rahang yang beda, gilaa banget sih ini. Muka aslinya langsung berubah total. Disiplin operational security atau OpSec orang ini benar-benar gila. Dia memutus hubungan sama keluarga, gak pernah punya alamat tetap, dan menolak bikin lingkaran pertemanan yang terlalu dekat. Kesendirian itu dia bayar tuntas demi sebuah obsesi bernama kemerdekaan.


Jujur ya, kalau kita bedah sisi psikologisnya, hidup dalam pelarian selama dua dekade dari tahun 1922 sampai 1942 itu bukan hal yang gampang. Kebanyakan orang mungkin udah gila atau minimal kena depresi berat. Tapi Tan Malaka punya semacam stoikisme radikal yang bikin dia kebal sama rasa kesepian. Di dalam memoarnya, Dari Penjara ke Penjara, ada satu kalimat yang selalu bikin gue merinding kalau membacanya kembali. Dia pernah nulis begini:

"Saya ini manusia yang tidak punya rumah, tidak punya anak istri, harta saya cuma pakaian di badan dan buku-buku ini."

Coba lo resapi kata-kata itu. Di saat orang-orang sezamannya sibuk menata karir politik, membangun keluarga, atau menikmati status sosial sebagai kaum terpelajar bentukan kolonial, Tan Malaka justru membuang semua kenyamanan itu ke tong sampah. Dia memilih hidup menggelembara tanpa kepastian esok hari bakal makan apa atau tidur di mana.


Ada satu cerita memilukan yang terjadi sekitar tahun 1942. Waktu itu dia lagi menyeberangi Selat Malaka pakai perahu kayu kecil dari Malaya buat balik ke Sumatera. Di tengah laut, cuaca mendadak buruk. Ombak gede menghantam perahunya sampai hampir karam. Demi menyelamatkan nyawa, koper yang dibawa Tan Malaka harus dilempar ke laut. Lo tahu apa isi koper itu? Isi koper itu adalah seluruh naskah tulisan, catatan riset, dan buku-buku referensi yang udah dia kumpulkan dengan susah payah selama dua puluh tahun pengasingan. Bayangin seluruh karya intelektual dan ingatan tertulis lo musnah begitu saja di telan samudra dalam hitungan detik. Kalau itu terjadi sama kita, mungkin kita udah nangis bombay dan nyerah. Tapi apa yang dilakukan Tan Malaka? Dia mendarat di Sumatera dengan baju basah kuyup, tanpa uang, tanpa dokumen, tapi kepalanya tetap tegak. Otaknya adalah perpustakaan hidup yang gak bisa ditenggelamkan oleh air laut.


Kondisi fisiknya sendiri sebenarnya jauh dari kata prima. Dia menderita tuberkulosis (TBC) dan malaria kronis gara-gara sering tidur di tempat-tempat lembap yang gak layak huni. Di Filipina, waktu dia kehabisan dana karena hubungan politiknya dengan Komintern pecah, fisik Tan Malaka runtuh. Dia gak sanggup kerja berat. Demi menyambung hidup agar tidak mati kelaparan, dia dibantu oleh kawan-kawan buruh lokal untuk bekerja halus sebagai penjahit sepatu. Seorang jenius lulusan Rijkskweekschool Haarlem Belanda, yang menguasai berbagai bahasa asing, duduk menyulam benang dan menusukkan jarum ke kulit sepatu di sudut kota Manila yang kumuh. Rendah hati tapi keras kepala.


Ini bagian yang paling bikin gue geregetan kalau ngomongin historiografi resmi sekolah. Selama puluhan tahun, kita diajarin seolah-olah gagasan tentang bentuk negara "Republik Indonesia" itu muncul mendadak di sekitar tahun 1945 atau paling mentok saat Sumpah Pemuda 1928. Padahal kenyataan sejarahnya gak seperti itu. Jauh sebelum Soekarno mendirikan PNI pada tahun 1927, dan jauh sebelum para pemuda berkumpul mengikrarkan Sumpah Pemuda, Tan Malaka udah merumuskan cetak biru negara ini secara konseptual. Pada bulan April 1925, pas dia lagi bersembunyi di Canton, Tiongkok, dia menulis sebuah buku monumental berjudul Naar de Republiek Indonesia (Menuju Republik Indonesia). Buku itu kemudian dicetak di Tokyo dan diselundupkan masuk ke Nusantara lewat jaringan pelaut klandestin.


Di dalam buku kecil itu, Tan Malaka bukan cuma sekadar menghujat penjajahan Belanda. Dia membedah secara ilmiah dan sistematis bagaimana struktur ekonomi kolonial bekerja, bagaimana garis batas wilayah Nusantara harus disatukan, dan kenapa bentuk negara masa depan kita harus berupa Republik, bukan monarki federasi. Buku itu dibaca secara sembunyi-sembunyi oleh tokoh-tokoh muda waktu itu, termasuk Soekarno dan Mohammad Hatta.

Bisa dibilang, Tan Malaka adalah arsitek konseptualnya, Soekarno adalah orator panggung yang mempopulerkannya ke massa, dan Hatta adalah administrator yang merapikan strukturnya. Tapi anehnya, nama sang arsitek justru pelan-pelan dihapus dari panggung utama.


Kenapa dia bisa terusir dan dimusuhi banyak pihak? Karena Tan Malaka itu manusia yang gak mau didekte dogma. Waktu dia jadi agen Komintern (Komunis Internasional) untuk wilayah Asia Tenggara, dia menghadiri Kongres Komintern IV di Moskow pada tahun 1922. Di depan tokoh-tokoh komunis dunia seperti Leon Trotsky dan Nikolai Bukharin, pemuda kurus dari Minangkabau ini berdiri dan berani interupsi. Dia memprotes keras doktrin komunis Eropa yang memusuhi gerakan Pan-Islamisme di Asia.

Tan Malaka bilang dengan lantang:

"Tuan-tuan, kalau umat Islam berang pada kita karena kita tidak menghormati agama mereka, maka kita tidak akan pernah bisa menarik mereka ke dalam barisan perjuangan!" Dia paham betul sosiologi masyarakat Nusantara. Bagi dia, Marxisme itu cuma alat analisis ekonomi, bukan agama baru yang harus menghancurkan fondasi keagamaan lokal. Keberaniannya mengkritik pimpinan Moskow ini bikin dia dicap membelot. Nanti di tahun 1926, waktu faksi PKI Musso dan Alimin kebelet mau bikin pemberontakan konyol tanpa perhitungan matang di Prambanan, Tan Malaka mati-matian menolak dari tempat persembunyiannya di Singapura. Dia tahu rakyat belum siap dan aksi itu cuma bakal jadi aksi bunuh diri massa. Buntutnya? Musso menuduh Tan Malaka sebagai pengkhianat, sementara pemerintah kolonial Belanda tetap menuding Tan Malaka sebagai otak kerusuhan. Dia dijepit dari dua sisi sekaligus.


Ada fase kehidupan Tan Malaka yang menurut gue paling dramatis sekaligus jenius. Tahun 1942, saat Jepang masuk menguasai Indonesia, Tan Malaka menyusup balik ke Jawa. Dia mendapati masyarakat kita berada dalam kondisi yang sangat mengenaskan. Bukan cuma ditindas secara fisik oleh tentara Jepang, tapi juga lumpuh secara mental.

Dia melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana rakyat Indonesia dipaksa jadi Romusha kuli paksa yang disiksa sampai mati di tambang-tambang batu bara. Tan Malaka sendiri nyamar jadi juru tulis bernama Ilias Hussein di tambang batu bara Bayah, Banten. Di sana, dia bukan cuma mencatat angka-angka. Dia memanfaatkan posisinya buat diam-diam menolong para Romusha. Dia mengatur ransum makanan agar mereka gak kelaparan, memberi pengobatan seadanya, dan menjadi tempat curhat para kuli yang sekarat. Gak ada satu pun kuli atau tentara Jepang di Bayah yang tahu kalau pria berpenampilan lusuh dan pendiam itu adalah figur legendaris yang dicari-cari intelijen internasional.


Nah, di sela-sela waktu malam dalam gubuk reot di Rawajati, Jakarta, sambil mendengarkan langkah sepatu boot tentara Jepang yang berpatroli di luar, dia menulis karya terbesarnya: Madilog (Materialisme, Dialektika, Logika).

Gue sering mikir, betapa edannya kapasitas otak orang ini. Dia menulis sebuah buku filosofi dan epistemologi sains setebal ratusan halaman murni dari ingatannya! Gak ada perpustakaan referensi, gak ada akses internet, gak ada buku catatan pendukung. Cuma mengandalkan memorinya yang luar biasa.

Kenapa dia kebelet banget menulis Madilog di tengah situasi perang yang kacau? Karena Tan Malaka gelisah luar biasa melihat bangsa Indonesia terbelenggu oleh apa yang dia sebut sebagai "Logika Mistika". Bangsa kita terlalu percaya sama jimat, mantra, takhayul, nasib pasrah, dan figur penyelamat gaib seperti Ratu Adil. Bagi Tan Malaka, kemerdekaan fisik dari penjajah itu gak ada gunanya kalau cara berpikir rakyatnya masih terjajah oleh mistisisme.


Salah satu kutipannya di Madilog yang paling nampol adalah:

"Selama bangsa Indonesia masih mengandalkan jimat dan mantra, selama itu pula bangsa ini akan terus menjadi kuli di antara bangsa-bangsa."

Dia mau ngajarin pemuda Indonesia buat berpikir rasional. Menggunakan sains buat melihat realita (Materialisme), melihat bahwa sejarah itu selalu berubah dan bergerak melalui pertentangan (Dialektika), dan menyusun argumen berdasarkan kenyataan yang terukur (Logika). Dia pengen bangsa ini punya otak yang merdeka, bukan cuma bendera yang merdeka.


Setelah proklamasi ditandatangani pada 17 Agustus 1945, keberadaan Tan Malaka masih jadi misteri. Soekarno dan Hatta sudah ada di panggung kekuasaan, tapi sosok pencetus gagasan Republik itu sendiri masih mengendap-endap di kegelapan Jakarta. Baru pada tanggal 9 September 1945, Ahmad Subardjo kawan lamanya sejak zaman kuliah di Belanda membawa seorang pria berpenampilan sederhana dan misterius untuk menemui Presiden Soekarno di rumahnya. Ruangan tempat mereka bertemu cuma diterangi lampu minyak remang-remang karena situasi keamanan masih rawan. Soekarno, yang sangat mengagumi buku Massa Actie karya Tan Malaka, menatap pria asing itu dengan penuh selidik.

Soekarno bertanya, "Siapa engkau sebenarnya?"

Pria itu menjawab pelan, "Saya Tan Malaka."


Bisa dibayangkan betapa kagetnya Soekarno malam itu. Tokoh mitos yang dikira sudah mati di pengasingan atau ditangkap intelijen asing, tiba-tiba berdiri hidup-hidup di hadapannya. Pertemuan gelap itu kemudian berlanjut pada sebuah peristiwa historis yang sampai sekarang masih dipenuhi kontroversi: pembuatan "Testamen Politik 1 Oktober 1945".

Waktu itu, posisi Republik masih sangat rawan. Pasukan Sekutu dan Inggris mulai mendarat diboncengi NICA (Belanda) yang mau merebut kembali kekuasaan. Soekarno dan Hatta sadar, kalau mereka berdua ditangkap atau ditembak mati oleh Belanda, kepemimpinan Republik bisa langsung vakum dan runtuh. Oleh karena itu, dibuatlah sebuah surat wasiat rahasia. Isinya menyatakan bahwa jika Soekarno dan Hatta ditangkap atau mati, maka kekuasaan pemerintahan Republik Indonesia diserahkan kepada Tan Malaka dan beberapa tokoh lainnya.

Meskipun fisik naskah asli surat wasiat itu belakangan raib dan bikin banyak sejarawan berdebat, fakta bahwa Soekarno mempertimbangkan Tan Malaka sebagai ahli waris legitiem Republik membuktikan betapa besarnya pengaruh intelektual dan wibawa moral orang ini di mata para pendiri bangsa.


Tapi persahabatan politik itu gak bertahan lama. Ketika Perdana Menteri Sutan Sjahrir memilih jalur diplomasi dan kompromi dengan Belanda yang rela menyerahkan sebagian wilayah Republik demi pengakuan de facto kanan-kiri Tan Malaka meradang. Dia mendirikan Persatuan Perjuangan di Purwokerto pada awal 1946 yang didukung oleh 141 organisasi politik dan laskar bersenjata.

Prinsip Tan Malaka cuma satu dan gak bisa ditawar: "Merdeka 100%!"

Dia menolak keras segala bentuk perundingan selama tentara asing masih menginjakkan kaki di tanah air. Bagi Tan Malaka, berunding dengan penjajah yang masih memegang senjata itu sama saja dengan menyerah secara halus. Posisinya yang terlalu radikal ini bikin pemerintah Kabinet Sjahrir ketakutan. Tan Malaka dianggap sebagai ancaman stabilitas domestik. Tanpa proses peradilan yang sah, Tan Malaka ditangkap dan dijebloskan ke dalam penjara oleh pemerintah Republik sendiri selama dua setengah tahun, dari tahun 1946 sampai 1948.

Sungguh sebuah ironi yang bikin elus dada. Pria yang menghabiskan dua puluh tahun hidupnya dikejar-kejar polisi rahasia asing, justru harus merasakan dinginnya sel penjara di negeri yang ia ciptakan sendiri dalam pikirannya.


Bebasnya Tan Malaka dari penjara pada September 1948 terjadi karena situasi darurat. Pemerintah butuh figur sosialis non-ortodoks buat meredam dampak Pemberontakan PKI Musso di Madiun. Tapi ketika Agresi Militer Belanda II pecah pada Desember 1948 dan Soekarno-Hatta ditawan di Yogyakarta, Tan Malaka gak tinggal diam. Dia mendirikan Partai Murba dan bergerak ke pedalaman Jawa Timur untuk memimpin perang gerilya secara independen. Dia berjalan kaki menembus hutan, naik-turun gunung, sambil terus mengobarkan semangat perlawanan rakyat. Namun di tengah kekacauan perang gerilya itu, garis komando militer menjadi sangat kabur dan penuh prasangka. Faksi-faksi dalam militer terpecah. Keberadaan Tan Malaka yang karismatik dan terus mengkritik diplomasi pemerintah dinilai oleh beberapa pimpinan militer lokal sebagai ancaman revolusi tandingan.


Tanggal 21 Februari 1949 menjadi titik hitam dalam sejarah Indonesia. Di sebuah desa terpencil di kaki Gunung Wilis, yaitu Desa Selopanggung, Kediri, langkah kaki sang hantu akhirnya terhenti. Tan Malaka ditangkap oleh patroli Batalyon Sikatan Divisi Brawijaya. Tanpa ada proses pengadilan militer formal, tanpa ada kesempatan buat membela diri, perintah eksekusi dikeluarkan. Di tepi sungai yang sunyi, dengan kedua tangan terikat ke belakang, Ibrahim gelar Datuk Sutan Malaka ditembak mati oleh peluru tentara Republik. Jasadnya dimasukkan ke dalam lubang tanah tanpa nisan, tanpa penghormatan militer, dan tanpa ada catatan resmi yang dipublikasikan. Negara memilih untuk bungkam dan mengubur cerita itu rapat-rapat selama enam puluh tahun.


Nanti pada tahun 2009, berkat kerja keras tim peneliti Harry A. Poeze bersama ahli forensik, makam misterius di Selopanggung itu dibongkar. Analisis osteologi dan bukti sirkumstansial mengonfirmasi bahwa kerangka tubuh di dalam tanah asam itu memiliki ciri-ciri fisik yang cocok 99% dengan Tan Malaka: tinggi badan, struktur rahang, dan kerusakan gigi yang khas.

Kisah hidup Tan Malaka adalah sebuah tragedi klasik tentang seorang pencipta yang dihancurkan oleh ciptaannya sendiri. Dia adalah manusia tanpa rumah, yang mencintai negerinya dengan cara yang begitu ekstrem hingga negeri itu sendiri merasa takut padanya.


Namun kalau kita ingat kembali salah satu ramalan ikonik yang pernah dia tuliskan sebelum wafat:

"Suara saya akan lebih keras daripada saat saya masih hidup."

Kata-kata itu terbukti benar. Walaupun namanya sempat dihapus dari buku-buku pelajaran sekolah selama era Orde Baru, pemikirannya tetap hidup dan membakar semangat setiap generasi muda yang haus akan keadilan dan kebebasan berpikir. Tan Malaka mengajarkan kita satu hal penting: bahwa tubuh seorang revolusioner bisa diputus oleh tiga butir peluru di tepi sungai yang sepi, tapi gagasan murni yang lahir dari kejujuran berpikir gak akan pernah bisa dibunuh oleh siapapun

Rabu, 30 September 2026

PMP ?

 Alasan Penting Mengapa Pelajaran Pendidikan Moral Pancasila (PMP) Perlu Diadakan Kembali

Di tengah perkembangan zaman yang semakin cepat, kemajuan teknologi yang luar biasa, dan perubahan perilaku generasi muda, pendidikan bukan hanya tentang kecerdasan akademik. Sekolah juga memiliki tanggung jawab besar dalam membentuk karakter, moral, dan kepribadian peserta didik.



Karena itulah, banyak orang mulai merasa bahwa pelajaran Pendidikan Moral Pancasila (PMP) perlu dihadirkan kembali secara lebih kuat dan bermakna di sekolah. Bukan sekadar hafalan sila, tetapi sebagai pendidikan kehidupan yang menanamkan nilai adab, tanggung jawab, dan rasa cinta kepada bangsa.


- Membentuk Karakter dan Adab Peserta Didik


Saat ini, banyak anak yang cerdas secara akademik tetapi lemah dalam sikap dan etika. PMP dahulu tidak hanya mengajarkan teori, tetapi juga membiasakan murid untuk menghormati guru, menghargai orang tua, disiplin, jujur, dan bertanggung jawab.


Pelajaran ini penting untuk mengingatkan bahwa pendidikan sejati bukan hanya soal nilai rapor, tetapi juga tentang bagaimana seseorang bersikap kepada orang lain. Bangsa yang maju tidak hanya membutuhkan orang pintar, tetapi juga manusia yang berkarakter baik.


- Menjadi Benteng di Era Digital dan Krisis Moral


Di era media sosial, anak-anak sangat mudah terpengaruh oleh konten negatif, ujaran kebencian, budaya instan, hingga hilangnya rasa hormat. Banyak generasi muda tumbuh dengan informasi yang melimpah, tetapi minim bimbingan moral.


PMP dapat menjadi benteng yang mengajarkan nilai kemanusiaan, sopan santun, toleransi, dan kemampuan membedakan mana yang benar dan salah. Dengan pendidikan moral yang kuat, murid tidak mudah terbawa arus pergaulan dan pengaruh negatif dunia digital.


- Menanamkan Nilai Pancasila dalam Kehidupan Nyata


Selama ini, banyak siswa hanya mengenal Pancasila sebagai hafalan. Padahal, nilai-nilai Pancasila seharusnya hidup dalam keseharian.

Melalui PMP, murid belajar:


-menghargai perbedaan,

-bekerja sama,

-mengutamakan musyawarah,

-mencintai keadilan,

-dan memiliki kepedulian sosial.


Jika nilai Pancasila benar-benar diterapkan sejak kecil, maka sekolah tidak hanya mencetak lulusan, tetapi juga melahirkan generasi yang memiliki jiwa kebangsaan dan rasa persatuan yang kuat.


- Mengurangi Perilaku Negatif di Lingkungan Sekolah


Kasus bullying, kurangnya sopan santun, perkelahian, hingga rendahnya empati antar siswa menjadi tantangan nyata di dunia pendidikan saat ini.

PMP penting karena mengajarkan kesadaran moral dan pengendalian diri. Murid diajak memahami akibat dari perilaku buruk serta belajar menghargai perasaan orang lain.


Ketika pendidikan moral diperkuat, sekolah akan menjadi tempat yang lebih aman, nyaman, dan penuh rasa saling menghormati. Hubungan guru dan murid pun akan menjadi lebih positif.


- Mempersiapkan Generasi yang Tidak Hanya Pintar, Tetapi Juga Bijaksana


Dunia masa depan membutuhkan generasi yang bukan hanya unggul dalam teknologi dan ilmu pengetahuan, tetapi juga memiliki hati nurani, empati, dan integritas.


PMP membantu murid memahami bahwa keberhasilan hidup tidak cukup hanya dengan kepintaran. Kejujuran, tanggung jawab, disiplin, dan kepedulian sosial adalah bekal penting untuk menjadi manusia yang bermanfaat bagi masyarakat.


Penutup Reflektif :


Karena itu, menghadirkan kembali PMP bukan berarti kembali ke masa lalu, tetapi menghidupkan kembali nilai-nilai luhur bangsa agar generasi muda tetap memiliki arah di tengah perubahan zaman.


Sebab pendidikan yang hebat bukan hanya melahirkan orang sukses, tetapi juga manusia yang berakhlak dan bermoral.

Supersemar

 Pidato Kemerdekaan 1966, Soekarno : Soeharto telah Menjalankan Supersemar dengan Baik



17 Agustus 1966, Dalam pidato pada hari kemerdekaan didepan Khalayak Ramai, Soekarno berkata (Petikan) : 


"𝘿𝙞𝙠𝙞𝙧𝙖𝙣𝙮𝙖 𝙎𝙋 11 𝙈𝙖𝙧𝙚𝙩 𝙖𝙙𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙨𝙖𝙩𝙪 𝙥𝙚𝙣𝙮𝙚𝙧𝙖𝙝𝙖𝙣 𝙥𝙚𝙢𝙚𝙧𝙞𝙣𝙩𝙖𝙝𝙖𝙣! 𝘿𝙞𝙠𝙞𝙧𝙖𝙣𝙮𝙖 𝙎𝙋 11 𝙈𝙖𝙧𝙚𝙩 𝙞𝙩𝙪 𝙨𝙖𝙩𝙪 𝙩𝙧𝙖𝙣𝙨𝙛𝙚𝙧 𝙤𝙛 𝙖𝙪𝙩𝙝𝙤𝙧𝙞𝙩𝙮. 𝙋𝙖𝙙𝙖𝙝𝙖𝙡 𝙩𝙞𝙙𝙖𝙠! 𝙎𝙋 11 𝙈𝙖𝙧𝙚𝙩 𝙖𝙙𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙨𝙖𝙩𝙪 𝙥𝙚𝙧𝙞𝙣𝙩𝙖𝙝 𝙥𝙚𝙣𝙜𝙖𝙢𝙖𝙣𝙖𝙣. 


𝙋𝙚𝙧𝙞𝙣𝙩𝙖𝙝 𝙥𝙚𝙣𝙜𝙖𝙢𝙖𝙣𝙖𝙣 𝙟𝙖𝙡𝙖𝙣𝙣𝙮𝙖 𝙥𝙚𝙢𝙚𝙧𝙞𝙣𝙩𝙖𝙝𝙖𝙣, 𝙥𝙚𝙣𝙜𝙖𝙢𝙖𝙣𝙖𝙣 𝙟𝙖𝙡𝙖𝙣𝙣𝙮𝙖 𝙖𝙣𝙮 𝙥𝙚𝙢𝙚𝙧𝙞𝙣𝙩𝙖𝙝𝙖𝙣, 𝙙𝙚𝙢𝙞𝙠𝙞𝙖𝙣 𝙠𝙖𝙩𝙖𝙠𝙪 𝙥𝙖𝙙𝙖 𝙬𝙖𝙠𝙩𝙪 𝙢𝙚𝙡𝙖𝙣𝙩𝙞𝙠 𝙆𝙖𝙗𝙞𝙣𝙚𝙩. 𝙆𝙚𝙘𝙪𝙖𝙡𝙞 𝙞𝙩𝙪 𝙟𝙪𝙜𝙖 𝙥𝙚𝙧𝙞𝙣𝙩𝙖𝙝 𝙥𝙚𝙣𝙜𝙖𝙢𝙖𝙣𝙖𝙣 𝙠𝙚𝙨𝙚𝙡𝙖𝙢𝙖𝙩𝙖𝙣 𝙥𝙧𝙞𝙗𝙖𝙙𝙞 𝙋𝙧𝙚𝙨𝙞𝙙𝙚𝙣. 𝙋𝙚𝙧𝙞𝙣𝙩𝙖𝙝 𝙥𝙚𝙣𝙜𝙖𝙢𝙖𝙣𝙖𝙣 𝙬𝙞𝙗𝙖𝙬𝙖 𝙋𝙧𝙚𝙨𝙞𝙙𝙚𝙣. 𝙋𝙚𝙧𝙞𝙣𝙩𝙖𝙝 𝙥𝙚𝙣𝙜𝙖𝙢𝙖𝙣𝙖𝙣 𝙖𝙟𝙖𝙧𝙖𝙣 𝙋𝙧𝙚𝙨𝙞𝙙𝙚𝙣. 𝙋𝙚𝙧𝙞𝙣𝙩𝙖𝙝 𝙥𝙚𝙣𝙜𝙖𝙢𝙖𝙣𝙖𝙣 𝙗𝙚𝙗𝙚𝙧𝙖𝙥𝙖 𝙝𝙖𝙡. 


𝙅𝙚𝙣𝙙𝙚𝙧𝙖𝙡 𝙎𝙤𝙚𝙝𝙖𝙧𝙩𝙤 𝙩𝙚𝙡𝙖𝙝 𝙢𝙚𝙣𝙜𝙚𝙧𝙟𝙖𝙠𝙖𝙣 𝙥𝙚𝙧𝙞𝙣𝙩𝙖𝙝 𝙞𝙩𝙪 𝙙𝙚𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙗𝙖𝙞𝙠. 𝘿𝙖𝙣 𝙨𝙖𝙮𝙖 𝙢𝙚𝙣𝙜𝙪𝙘𝙖𝙥 𝙩𝙚𝙧𝙞𝙢𝙖 𝙠𝙖𝙨𝙞𝙝 𝙠𝙚𝙥𝙖𝙙𝙖 𝙅𝙚𝙣𝙙𝙚𝙧𝙖𝙡 𝙎𝙤𝙚𝙝𝙖𝙧𝙩𝙤 𝙖𝙠𝙖𝙣 𝙝𝙖𝙡 𝙞𝙣𝙞. 𝙋𝙚𝙧𝙞𝙣𝙩𝙖𝙝 𝙥𝙚𝙣𝙜𝙖𝙢𝙖𝙣𝙖𝙣, 𝙗𝙪𝙠𝙖𝙣 𝙥𝙚𝙣𝙮𝙚𝙧𝙖𝙝𝙖𝙣 𝙥𝙚𝙢𝙚𝙧𝙞𝙣𝙩𝙖𝙝𝙖𝙣! 𝘽𝙪𝙠𝙖𝙣 𝙩𝙧𝙖𝙣𝙨𝙛𝙚𝙧 𝙤𝙛 𝙖𝙪𝙩𝙝𝙤𝙧𝙞𝙩𝙮!


𝙈𝙚𝙧𝙚𝙠𝙖, – 𝙢𝙪𝙨𝙪𝙝 -, 𝙨𝙚𝙠𝙖𝙧𝙖𝙣𝙜 𝙠𝙚𝙘𝙚𝙡𝙚 𝙨𝙖𝙢𝙖 𝙨𝙚𝙠𝙖𝙡𝙞. 𝘿𝙖𝙣 𝙨𝙚𝙠𝙖𝙧𝙖𝙣𝙜 𝙥𝙪𝙣, 𝙥𝙖𝙙𝙖 𝙝𝙖𝙧𝙞 𝙋𝙧𝙤𝙠𝙡𝙖𝙢𝙖𝙨𝙞 𝙨𝙚𝙠𝙖𝙧𝙖𝙣𝙜 𝙞𝙣𝙞, 𝙢𝙚𝙧𝙚𝙠𝙖 𝙠𝙚𝙘𝙚𝙡𝙚 𝙡𝙖𝙜𝙞. 𝙇𝙝𝙤, 𝙎𝙤𝙚𝙠𝙖𝙧𝙣𝙤 𝙢𝙖𝙨𝙞𝙝 𝙋𝙧𝙚𝙨𝙞𝙙𝙚𝙣! 𝙇𝙝𝙤, 𝙎𝙤𝙚𝙠𝙖𝙧𝙣𝙤 𝙢𝙖𝙨𝙞𝙝 𝙋𝙚𝙢𝙞𝙢𝙥𝙞𝙣 𝘽𝙚𝙨𝙖𝙧 𝙍𝙚𝙫𝙤𝙡𝙪𝙨𝙞! 𝙇𝙝𝙤, 𝙎𝙤𝙚𝙠𝙖𝙧𝙣𝙤 𝙢𝙖𝙨𝙞𝙝 𝙈𝙖𝙣𝙙𝙖𝙩𝙖𝙧𝙞𝙨 𝙈𝙋𝙍𝙎! 𝙇𝙝𝙤, 𝙎𝙤𝙚𝙠𝙖𝙧𝙣𝙤 𝙢𝙖𝙨𝙞𝙝 𝙋𝙚𝙧𝙙𝙖𝙣𝙖 𝙈𝙚𝙣𝙩𝙚𝙧𝙞! 𝙇𝙝𝙤, 𝙎𝙤𝙚𝙠𝙖𝙧𝙣𝙤 𝙢𝙖𝙨𝙞𝙝 𝙗𝙚𝙧𝙙𝙞𝙧𝙞 𝙡𝙖𝙜𝙞 𝙙𝙞 𝙢𝙞𝙢𝙗𝙖𝙧 𝙞𝙣𝙞!


𝘿𝙚𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙠𝙚𝙩𝙚𝙧𝙖𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙞𝙣𝙞 𝙢𝙖𝙠𝙖 𝙟𝙚𝙡𝙖𝙨𝙡𝙖𝙝 𝙗𝙖𝙝𝙬𝙖 𝙖𝙣𝙩𝙖𝙧𝙖 𝙋𝙧𝙚𝙨𝙞𝙙𝙚𝙣 𝙙𝙖𝙣 𝙅𝙚𝙣𝙙𝙚𝙧𝙖𝙡 𝙎𝙤𝙚𝙝𝙖𝙧𝙩𝙤 𝙩𝙞𝙙𝙖𝙠 𝙖𝙙𝙖 𝙥𝙚𝙧𝙗𝙚𝙙𝙖𝙖𝙣 𝙖𝙩𝙖𝙪 𝙥𝙚𝙣𝙟𝙚𝙜𝙖𝙡𝙖𝙣, 𝙢𝙚𝙡𝙖𝙞𝙣𝙠𝙖𝙣 𝙢𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙖𝙙𝙖 𝙥𝙚𝙢𝙗𝙚𝙧𝙞𝙖𝙣 𝙩𝙚𝙣𝙖𝙜𝙖 𝙙𝙖𝙧𝙞 𝙋𝙧𝙚𝙨𝙞𝙙𝙚𝙣/𝙋𝙖𝙣𝙜𝙡𝙞𝙢𝙖 𝙏𝙚𝙧𝙩𝙞𝙣𝙜𝙜𝙞 𝙠𝙚𝙥𝙖𝙙𝙖 𝙥𝙚𝙖𝙘𝙚 𝙣𝙚𝙜𝙤𝙩𝙞𝙖𝙩𝙤𝙧-𝙣𝙮𝙖"


"


Setelah mendapat Supersemar pada tanggal 11 Maret 2026, Soeharto segera bergerak untuk Membubarkan PKI pada tanggal 12 Maret 1966, dan bukan untuk meng-Kudeta Soekarno.


Dalam Pidatonya Soekarno mengetahui adanya rayuan-rayuan kepada Soeharto untuk mengKudeta Soekarno lewat Supersemar, tapi Soeharto tidak melakukan hal itu.


Fakta sejarahnya Supersemar dipergunakan untuk membubarkan PKI, dan dari Pidatonya terlihat Soekarno berterima Kasih pada Soeharto karena telah membubarkan PKI dan malah mendukungnya (𝙥𝙚𝙢𝙗𝙚𝙧𝙞𝙖𝙣 𝙩𝙚𝙣𝙖𝙜𝙖 𝙙𝙖𝙧𝙞 𝙋𝙧𝙚𝙨𝙞𝙙𝙚𝙣).


Soekarno dijatuhkan bukan oleh Supersemar tapi oleh Sidang Istimewa Mprs tahun 1967, setelah Pidato Pertanggung Jawabanya ditolak Mprs.


Saat Dijatuhkan, banyak pihak yg ingin menyeret Soekarno ke Pengadilan atas tuduhan keterlibatan pada aksi G30spki dan juga dukungannya pada PKI.


Tapi Soeharto melindungi Soekarno, kompromi politik jalan tengah saat itu adalah Soekarno "diasingkan", jalan tengah ini disetujui pihak² anti Soekarno.  Sehingga mereka tidak lagi Mengejar² Soekarno agar diSeret ke Pengadilan. 


Soekarno sudah divonis bakal Wafat sebentar lagi oleh Dokter Austria dan Dokter China pada tahun 1965, 


Setelah "diasingkan" ke Wisma Yaso, untuk merawat Soekarno, Soeharto menugaskan Tim Kedokteran yaitu  Prof. Siwabessy, dr. Soeharto, dr.Tan Sin Hin, dan Kapten CPM dr. Soeroyo.


Untuk kesehariannya Soekarno dipantau oleh Kapten CPM dr. Soeroyo yaitu dokter lulusan UI, Ex anggota Tjakrabirawa.


Semua terkait obat diserahkan dengan persetujuan dr.Soeharto. 


Untuk masalah Gigi, diperayakan pada dr. Oei Hong Kian,


salah satu dokter gigi ternama di Jakarta kala itu.


"Mikul Dhuwur Mendhem Jero" kata Soeharto.


(Lintangangrem)

Istri Katamso

 Raden Roro (RR) Sri Wulan Murni adalah istri dari Brigadir Jenderal TNI (Anumerta) Katamso Dharmokusumo, salah satu Pahlawan Revolusi yang gugur dalam tragedi Gerakan 30 September (G30S) di Yogyakarta.




Berikut adalah biografi singkat dan catatan sejarah mengenai sosok beliau:


## 1. Kehidupan Keluarga dan Pernikahan


* Istri Setia Jenderal Militer: Sebagai seorang istri perwira menengah TNI AD, Sri Wulan Murni mendampingi karier militer suaminya yang penuh dinamika. Tugas suaminya berpindah-pindah mulai dari masa kemerdekaan, penumpasan pemberontakan PRRI/Permesta, hingga jabatan terakhir Katamso sebagai Komandan Korem 072/Pamungkas di Yogyakarta.

 

* Dikaruniai 7 Anak: Dari pernikahannya dengan Katamso, pasangan ini dikaruniai tujuh orang anak, yaitu:


1. Putut Kusdarwanto (lahir 3 Juli 1946)

   2. Puguh Murtamso (lahir 15 Agustus 1948)

   3. Endang Murtaningsih (lahir 21 April 1950)

   4. Heru Sutoko (lahir 10 Oktober 1951)

   5. Ery Muwanto (lahir 24 Maret 1953)

   6. Murni Ediyanti (lahir 12 Maret 1955)

   7. Tamso Muryanto (lahir 14 September 1956) 


## 2. Sejarah Terkait Tragedi G30S di Yogyakarta


* Peristiwa Penculikan Suami: Pada sore hari tanggal 1 Oktober 1965, kediaman resmi Brigjen Katamso di Yogyakarta didatangi oleh gerombolan tentara yang telah terpengaruh oleh sayap kiri G30S. Katamso diculik dan dibawa secara paksa menuju daerah Kentungan.

 

* Gugurnya Sang Jenderal: Di Kentungan, Brigjen Katamso beserta Kepala Staf Korem 072, Kolonel (Anumerta) Sugiyono Mangunwiyoto, dipukul menggunakan kunci mortar hingga tewas lalu jenazahnya dimasukkan ke dalam sumur/lubang tersembunyi. Jenazah mereka baru berhasil ditemukan pada 21 Oktober 1965 setelah pencarian intensif oleh pasukan yang setia kepada pemerintah. Sri Wulan Murni seketika menjadi janda dengan menanggung beban membesarkan tujuh orang anak yang saat itu anak sulungnya baru berusia sekitar 19 tahun.


## 3. Kehidupan Pasca-Tragedi


* Menjaga Martabat Keluarga: Setelah suaminya dianugerahi gelar Pahlawan Revolusi secara anumerta, Ny. Sri Wulan Murni kerap hadir dalam berbagai upacara resmi kenegaraan untuk mengenang para korban G30S, seperti peringatan Hari Kesaktian Pancasila. Foto pada dokumen tersebut diambil ketika beliau menghadiri salah satu peringatan bersejarah ini.

 

#EventSejarahSeptember

#RestorasiG30S

Kekejian PKI

 Mengenang Kekejian PKI 



Mengenang PKI artinya mengenang sejarah kelam. Mengenang banjir darah para santri, ulama, dan kaum muslimin. Mengenang kekejian sesama anak bangsa yang durjana. Sungguh luka itu sangat dalam dan tak mungkin terlupakan. Ada rongga  retak yang tak mungkin pulih seperti semula.


Mengenang PKI artinya mengenang kisah-kisah pilu para syuhada di masa lalu.  Mengajakku masuk ke lorong waktu untuk mengikuti kisah KH Ahmad Sahal dan KH Imam Zarkasyi pendiri Ponpes Gontor Ponorogo ketika melarikan diri ke Trenggalek. Tapi akhirnya rombongan sebanyak 70 santri itu tertawan PKI. Mereka disekap dan disiksa dalam satu ruangan berukuran 4x4 m. Saking sempitnya ruangan itu, mereka hanya bisa berdiri. 


Atau kisah Gorang-Gareng yang membuat bulu kuduk merinding. Sebanyak 200 santri diberondong tembakan di sebuah pabrik gula. Darah membanjiri ruangan itu hingga setumit.


Kisah pembantaian KH Hamid Dimyathi beserta 14 santrinya di Wonogiri membuatku bergidik. Aktifis Partai Masyumi itu harus meregang nyawa oleh celurit PKI.


Ada satu kisah yang baru kuketahui yaitu kisah Kutil dari Tegal. Dia kader komunis yang sangat militan dan bengis. Dia sudah memimpin pemberontakan PKI di tahun 1926. Kemudian berontak lagi pasca kemerdekaan. Dia membantai ulama, santri, Lurah, camat, wedana, Bupati area Tegal, Brebes, Pekalongan.


Si Kutil buruk rupa terkenal sangat sadis. Siapapun yang berani menentangnya maka akan disembelih. Sungguh sangat mengerikan membaca perjalanan berdarah-darah Si Kutil Lenggaong Tegal. Dia mencincang opsir kereta api. Menyembelih Suparto selaku camat  Adiwerna. Memecah kepala siapapun yang menentangnya. Serta mempermalukan RA Kardinah selaku ibu angkat Raden Sunaryo Bupati Tegal. RA Kardinah ini kakaknya RA Kartini.


Ada juga kisah pembantaian dan pemerkosaan Kesultanan Langkat di Sumatra Utara. Seluruh anggota keluarga kesultanan dibantai, termasuk Amir Hamzah sang putra mahkota. Amir Hamzah terkenal sebagai penyair di masanya.


Dan yang membuatku takjub adalah keberanian para tentara pelajar di Madiun. Mereka gigih melawan tentara FDR PKI ataupaun para warok Ponorogo. Meskipun secara persenjataan mereka kalah, tapi mereka tak mau takluk kepada Republik Soviet bentukan Muso. Para tentara pelajar yang masih belia itu rela bertarung hingga titik darah pemghabisan. Mereka gugur dengan gagah berani.


Jangan kau tanyakan keberanian Hizbullah. Pasukan Hizbullah yang berisi para santri maju gagah berani. Bersama dengan pasukan Divisi Siliwangi, mereka bertempur melawan pasukan PKI.


Teriakan takbir pasukan Hizbullah membuat bergetar siapapun yang mendengarnya. Terasa sekali mereka pasukan berani mati. Mereka membela kemuliaan para ulama, santri, serta seluruh penduduk negri.  Mereka berusaha menjaga kedaulatan negri ini dengan tetesan darah dan air mata. Sebuah perjuangan riil, tak sekedar slogan yang mengaku paling NKRI.

DI PANJAITAN

 JENDERAL YANG BERPAKAIAN LENGKAP MENUJU MAUT



Kronologi Penculikan, Kesaksian, dan Fakta Visum Brigjen D.I. Panjaitan


BAGIAN 1 — BERPAKAIAN RAPI UNTUK SEBUAH "UPACARA"


Subuh, 1 Oktober 1965, sekitar pukul 04.00 WIB. Dua truk berisi sekitar lima puluh personel gabungan Resimen Tjakrabirawa dan Batalyon 454 Diponegoro, di bawah pimpinan Sersan Mayor Soekardjo, mengepung rumah dua lantai milik Brigadir Jenderal Donald Isaac Panjaitan di Jalan Hasanuddin, Blok M, Kebayoran Baru, dari segala penjuru.


Panjaitan salah mengira kedatangan mereka sebagai panggilan resmi untuk menghadap Presiden Soekarno. Dengan tenang, ia justru berpakaian rapi dan lengkap — mengenakan seragam dinas beserta topi, layaknya hendak menghadiri sebuah upacara kenegaraan, bukan menghadapi maut.


Namun di luar dugaannya, pasukan itu mulai menembaki barang-barang di rumahnya hingga berantakan. Sebagai seorang yang taat beragama, Panjaitan menolak menggunakan kekuatan para penjaga bersenjata di rumahnya sendiri, meski sempat diperingatkan berkali-kali oleh orang-orang terdekatnya. Ia percaya sepenuhnya bahwa hanya Tuhan yang akan melindunginya malam itu.


BAGIAN 2 — DIPUKUL DAN DITEMBAK DI HALAMAN RUMAHNYA SENDIRI


Begitu keluar rumah dengan seragam lengkapnya, Panjaitan langsung dihadapkan pada kekerasan yang tidak terduga. Ia dipukuli terlebih dahulu oleh pasukan yang menjemputnya, sebelum akhirnya ditembak mati tepat di halaman rumahnya sendiri — menjadikannya salah satu dari tiga jenderal yang tidak sempat dibawa hidup-hidup ke Lubang Buaya, bersama Ahmad Yani dan M.T. Haryono.


Jasadnya kemudian diangkut bersama dua jenderal lain yang gugur di rumah masing-masing, dibawa menuju kawasan Lubang Buaya, Jakarta Timur, untuk digabungkan dengan empat korban lain yang diculik hidup-hidup.


BAGIAN 3 — SUMUR YANG SAMA, NASIB YANG SAMA


Seperti keenam rekannya, jasad Panjaitan dibuang ke sebuah sumur tua berkedalaman sekitar 12 meter dengan mulut sumur hanya selebar 0,75 meter, yang kemudian ditimbun sampah kering dan dedaunan agar tersamar sebagai tanah kosong biasa.


Sumur itu baru ditemukan pada 3 Oktober 1965, setelah kesaksian seorang polisi bernama Sukitman yang berhasil lolos dari Lubang Buaya dan melapor ke Markas RPKAD di Cijantung. Proses evakuasi yang rumit karena sempitnya sumur baru dituntaskan keesokan harinya, 4 Oktober, oleh pasukan Para Amfibi KKO-AL — dan dari catatan sejarah, jenazah D.I. Panjaitanlah yang terakhir berhasil diangkat ke permukaan dari ketujuh korban.


BAGIAN 4 — APA YANG DIKATAKAN FILM, APA YANG DIKATAKAN VISUM


Narasi Orde Baru menggambarkan proses kematian para jenderal — termasuk Panjaitan — dengan adegan penyiksaan sadis: dipukuli beramai-ramai, tubuh disayat, sebelum akhirnya ditembak di depan mata penonton yang mengamuk.


Namun dokumen visum et repertum RSPAD dan UI mencatat gambaran yang lebih presisi dan berbeda dari dramatisasi itu — kematian Panjaitan memang melibatkan kekerasan fisik, tapi bentuknya jauh lebih spesifik daripada mutilasi yang selama ini digambarkan.


BAGIAN 5 — YANG SEBENARNYA TERTULIS DI VISUM D.I. PANJAITAN


Tim forensik mencatat empat luka tembak di kepalanya: satu di alis kanan, satu di kepala bagian atas kanan, satu di kepala kanan belakang, dan satu lagi di kepala belakang kiri — pola yang konsisten dengan tembakan dari berbagai sudut saat ia sudah roboh di halaman rumahnya.


Selain luka tembak, ditemukan pula luka iris akibat senjata tajam di kedua tangannya, kanan dan kiri — pola luka yang umumnya muncul ketika seseorang berusaha menangkis serangan atau melindungi kepalanya dengan tangan kosong, sejalan dengan kesaksian bahwa ia dipukuli sebelum ditembak.


Sama seperti keenam rekannya, pemeriksaan menyeluruh pada jenazahnya tidak menemukan satu pun bukti mutilasi kelamin atau mata yang dicongkel paksa.


BAGIAN 6 — PENUTUP


D.I. Panjaitan menghadapi detik-detik terakhirnya dengan cara paling tenang dari semua korban — berpakaian rapi, percaya penuh bahwa Tuhan akan melindunginya, menolak perlindungan senjata dari para penjaganya sendiri. Empat peluru di kepala dan luka tangkisan di kedua tangannya mengakhiri hidupnya tepat di halaman rumah yang ia tinggali bersama keluarganya.


Jasadnya menjadi yang terakhir diangkat dari sumur Lubang Buaya, setelah tersimpan di sana bersama enam rekan lain selama hampir tiga hari — mengungkap kebenaran yang jauh lebih tenang dan jauh lebih manusiawi dari kisah kekejaman yang diceritakan berpuluh tahun kemudian.


Sumber:

1. Tribunnewswiki.com — "G30S 1965 - Penculikan Brigjen DI Pandjaitan"

2. Tribunnews.com — "Sejarah G30S 1965: Penculikan Brigjen DI Pandjaitan, Dipukul dan Ditembak Mati di Halaman Rumah"

3. Beritamerdeka.net — "Peristiwa G30S/PKI: Malam Kelam Penculikan Tujuh Jenderal"

4. Kompas.com — "Dokumen Otopsi Ungkap Tidak Ada Luka Penyiksaan pada Jenderal dan Korban G30S"


Foto :

Restorasi AI, Brigjen D. I Panjaitan


#SejarahIndonesia #G30SPKI #JangkauanLuas

PKI DI YOGYA

 Laporan P. Swantoro untuk Majalah Intisari terkait kondisi Yogyakarta sekitar Gerakan 30 September 1965



Dalam bulan April 1965, tepatnya tanggal 12, di rumah Judopawiro di desa Madu Kidul, daerah Boyolali, 12 orang tokoh PKI Jawa Tengah mengadakan rapat rahasia. Hasil kesimpulannya: PKI akan mendesak Presiden untuk mengadakan open-war dengan Malaysia dan kemudian PKI akan melakukan pengacauan dari dalam.


Selain itu, didesakkan pula agar buruh tani dipersenjatai dan supaya Indonesia makin merapat dengan RRT. Lagipula, komunisme supaya disebarluaskan untuk mengubur Pancasila.


Bukan hanya sekali itu tokoh-tokoh PKI mengadakan rapat rahasia. Yang jelas, pada tanggal 17 Mei di rumah Hardjosutomo, lurah Mojosari juga diadakan rapat gelap.


Tetapi betapapun rahasianya, namun ada juga orang luar yang dapat mengetahuinya. Antara lain polisi Sujoto, yang telah melaporkannya ke Jakarta dalam bulan Mei. Akan tetapi tak terlihat adanya tanggapan. Sebaliknya, suasana masyarakat terasa makin memanas.


Ganyang-mengganyang antara organisasi-organisasi politik, organisasi-organisasi masyarakat, makin menjadi-jadi, persaingan makin meningkat, aksi-aksi sepihak dengan segala akibatnya semakin memuncak, kerusuhan makin hebat, khususnya di kota besar seperti Jakarta.


Di awal bulan Agustus 1965 terjadinya peristiwa yang menggemparkan di Jl. Surabaya yang dikatakan soal perampokan dan mengakibatkan gugurnya pejabat keamanan kepolisian Drs. Fadillah. Ini bukan peristiwa yang kebetulan, akan tetapi direncanakan. Drs. Fadillah sebagai tokoh pimpinan security dipandang “mengetahui terlalu banyak”, sehingga harus dilenyapkan. Mungkinkah almarhum juga mengetahui laporan dari Boyolali?


Orang bias cuma dapat merasakan tegangnya suasana. Akan terjadikah sesuatu yang menggoncangkan?


DALAM suasana semacam itu, banyak orang prihatin. Di Jogja, orang kalangan “dalam” menanggapinya dengan mengadakan pawai mengelilingi benteng (tembok kuno yang mengelilingi istana). Tidak dengan drumband sebagaimana mana umumnya pawai orpol dan ormas di tengah-tengah suasana panas itu, melainkan justru dengan tutup-mulut tidak bicara sepatah kata pun. Tidak di siang hari, melainkan di malam hari.


Jam 22.00 pawai bergerak. Istimewanya, justru banyak putri yang ikut-serta. Dan kita yang menyaksikan turut terdiam.


Hingga kini banyak orang yang percaya, bahwa pawai-doa mohon selamat dari bencana dengan keliling benteng itulah yang menyebabkan tidak banyak pembunuhan terjadi di kota dan wilayah Jogja pada zaman Gestapu…


Padahal kalau pemimpin Gestapu Jogja, bekas Mayor Mulyono, cepat bertindak, dia dan kawan-kawannya pasti dapat menghabisi siapa saja yang dipandang sebagai lawannya. Karena Jogja khususnya, dan Jawa Tengah umumnya memang dalam keadaan tidak siaga pada hari-hari sekitar pembentukan “Dewan Revolusi”. Justru keadaan inilah antara lain yang memungkinkan Muljono dapat mengumumkan pembentukan “Derev”.


Tanggal 2 Oktober, tanggal mendaratnya DN Aidit di Yogyakarta (dia bertolak dari lapangan terbang Halim jam 1.30 malam dan tiba di Jogja jam 03.00 pagi), Pemuda Rakyat, CGMI, dan sebangsanya menempelkan plakat di mana-mana, yang pada pokoknya mendukung “Dewan Revolusi” dan mengutuk apa yang disebutnya “Dewan Jenderal”.


RRI yang dikuasai Muljono pada 2 Oktober itu juga mengumumkan larangan mendengarkan Radio Jakarta. Suasana umum takur-khawatir-takur. Ada apa? Banyak orang tidak tahu keadaan yang sesungguhnya.


Sekali lagi, seandainya Muljono cepat bertindak …. mungkin di antara tokoh-tokoh yang sekarang masih hidup, banyak yang sudah ditimbun di lobang-lobang buatan PKI.


Kekosongan kekuatan fisik di Yogyakarta dapat kiranya dilihat dari kenyataan bahwa sampai minggu terakhir bulan Oktober orang-orang PKI masih berkeliaran dengan bebasnya. Jadi sebenarnya berani sekali saat Orpol dan Ormas yang mengadakan Rapat Besar di Alun-Alun Utara pada tanggal 20 Oktober dengan tuntutan utama supaya PKI dibubarkan. Rapat ini diadakan di tengah-tengah sorotan mata orang-orang PKI. Banyak di antara mereka yang menyaksikannya.


Mengapa Muljono tidak bertindak? Mungkin orang-orang PKI yang sekarang diamankan dengan penuh rasa kecewa saat-saat itu.


Mungkinkah dia bimbang dengan cepat gagalnya coup di Jakarta…? Sungguh tragis, bahwa dia sendirilah akhirnya yang ditangkap di daerah Boyolali, daerah yang dijadikan titik-tolak untuk membuka kenang-kenangan ini.


Sekarang dia tidak dapat mengelakkan tanggung jawab atas pembunuhan kejam terhadap atasannya: Komandan Korem 72 Brigjen Anumerta Katamso dan Kepala Stafnya Kolonel Anumerta Sugiyono.


Baca artikel selengkapnya di sini https://intisari.grid.id/read/034416542/kilasan-kenangan-dari-jogja-pasca-g30s-1965-oleh-p-swantoro-seandainya-muljono-cepat-bertindak


#G30S #yogyakarta #aksisepihak

Tan Malaka

 Bayangin lo hidup di zaman sekarang, tapi nama lo gak ada di database kependudukan mana pun. Lo gak punya NIK, gak punya kartu SIM, gak ada...