Senin, 19 Oktober 2026

​Said Aqil Siroj Luncurkan 11 Jilid Buku Historiografi Islam Nusantara di Surabaya

 

HomengopiDAERAHJawa Timur
Jawa Timur

​Said Aqil Siroj Luncurkan 11 Jilid Buku Historiografi Islam Nusantara di Surabaya

Jawa Timur
Peluncuran buku Historiografi Islam Nusantara karya KH Said Aqil Siroj di Surabaya soroti kontribusi Islam dalam peradaban bangsa. (Foto: Istimewa)


Baca di TerasBaca di Teras

Minggu, 18 Oktober 2026

Rupanya, butuh waktu berbulan-bulan

 Rupanya, butuh waktu berbulan-bulan bagi ABRI untuk menumpas "orang-orang terakhir" PKI di Blitar Selatan pada 1968, apa alasannya?



Peristiwa Gerakan 30 September 1965 membuat anggota Partai Komunis Indonesia (PKI) kocar-kocir lalu bersembunyi. Mereka diburu terutama oleh Angkatan Bersenta Republik Indonesia (ABRI), dalam hal ini Angkatan Darat (AD).


Salah satu persembunyian para anggota PKI yang paling akhir-akhir "dibereskan" adalah di Blitar Selatan, Jawa Timur. Dibutuhkan waktu berbulan-bulan bagi ABRI untuk menumpas "orang-orang terakhir" ini.


Puncak dari operasi penumpasan itu dikenal sebagai Operasi Trisula yang terjadi pada 1968.


Meski begitu, ABRI membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk menumpas seluruh sisa-sisa PKI yang ada di sana. Tentu karena ada beberapa sebab, di antaranya adalaha kondisi geografis yang sulit, mengingat banyak sisa-sisa anggota PKI yang bersumbi di gua-gua yang ada di sana.


Pada 18 Mei 1968, Panglima Kodam VIII/Brawijaya Mayjen TNI M. Yasin melantik Komando Satuan Tugas (Satgas) Trisula yang dipimpin oleh Kolonel Witarmin. Dalam pelaksanaan Operasi Trisula, Kodam Brawijaya mengerahkan Batalion Infanteri 531/Para, Batalion Infanteri 511, Batalion Infanteri 513, Batalion Infanteri 521, dan Batalion Infanteri 527.


Ada juga Kodim 0808 Blitar, Kodim 0807 Tulungagung, Kodim 0818 Malang serta beberapa Koramil. Resimen Pasukan Komando Angkatan Darat (RPKAD) dan TNI AU juga diterjunkan untuk membantu jalannya operasi.


Untuk mendukung operasi ini, Panglima Komando Wilayah Udara (Kowilu) IV, Komodor Udara Suwoto Sukendar mengeluarkan Surat Perintah pada 6 Juni 1968 tentang pembentukan Satuan Tugas Operasi Udara (Satgas Opsud) Elang dipimpin oleh Mayor Udara Sugiantoro.


Mayor Udara Sugiantoro dibantu pasukan yang dipimpin oleh Komandan Kompi LU Wim Mustamu, Wadan Ki SMU J. Rantijo, Dan Ton I SMU Jumari, Dan Ton II SMU Sjamsuri, dan Dan Tom III SMU Sugimin. Kekuatan Satgasud Elang terdiri atas 2 pesawat pembom B-26 Invader, 3 pesawat P-51 Mustang, beberapa pesawat C-130 Hercules, 3 pesawat Harvard, Helikopter Mi-4 dan Kompi Kopasgat. Operasi Trisula resmi dilaksanakan pada 1 Juni 1968


Baca artikel selengkapnya di sini https://intisari.grid.id/read/034325935/ketika-abri-susah-payah-menumpas-sisa-sisa-pki-di-blitar-selatan


#blitarselatan #abri #tni #partaikomunisindonesia #pki

Cerita di balik panel relief eps 3.

 Cerita di balik panel relief eps 3.

Dalam kisah yang lalu kita telah menerangkan bahwa Dewa Wisnu akan turun kebumi menitis ( menjelma ) ke raga Rama dari ayodha.

      Next ke cerita. 



Kerajaan Mantili di bawah raja janaka mengadakan sayembara pengangkatan Busur pusaka Dewa Siwa, dan siapa yang menang akan mendapatkan Dewi Sinta.. Lomba ini di ikuti dari berbagai raja dan Ksatria dari negara negara sekitar.,, Dari ayodha ada seorang Tampan rupawan bernama RAMA,, dan dari Ngalengka ada RAHWANA atau DOSO MOKO. Dalam perlombambaan ini ternyata Rama si tampan Rupawan menjadi pemenangnya. Sejak saat itulah permusuhan Rahwana dan Rama terjadi.,. Setelah memenangkan sayembara itu akhirnya Dewi Sinta dan Rama menikah., setelah beberapa waktu tertentu Rama dan Sinta pulang ke Ayodha tempat negara Rama., 

  Pengusiran ( pengasingan) Rama Sinta dan Laksmana oleh Raja ayodha Bharata., 

 Dengan  perginya Rama dan Sinta di ikuti Laksmana di sini kisah berlanjut ke pengembaraan RAMA DAN SINTA yang di ikuti Adik nya Laksmana. Dalam pengembaraan atau boleh dikata pengasingan di situ selanjutnya di terangkan bahwa Rama Sinta dan Laksmana akan menemui cobaan baru yang sangat berat.,, ini cobaan terberat mereka berdua.. 

  

       Sambung lagi.. 

 Terima kasih matur nuwun.


BERSATU DALAM MENUNTUT ILMU

 BERSATU DALAM MENUNTUT ILMU


Oleh: Abdurrahman Wahid

(TEMPO, 11 Oktober 1980)



Kiai Fatah dan Kiai Masduki adalah dua orang di antara sekian orang kiai yang hidup di desa Tambakberas. Bersama-sama, kesemua kiai itu menghidupkan kegiatan keagamaan dan mengelola pesantren di desa tersebut, sebagai amanat Kiai Wahab Chasbullah..


Kiai Fatah tinggal di kompleks utama pesantren Bahrul Ulum itu, di sebelah timur sungai yang membelah dua desa yang terletak dua kilometer di utara kota Jombang itu. Kiai Masduki tinggal di sebelah barat sungai.


Kiai Fatah jadi pemimpin formal kompleks utama dengan ratusan santri yang tinggal, termasuk mengelola semua jenis pendidikan di lingkungan tersebut. Kiai Masduki hanya mengurusi beberapa belas santri saja, itu pun di waktu mereka tidak bersekolah di kompleks utama.


Kiai Fatah menjadi agamawan penuh, dalam artian tidak memiliki pekerjaan apa pun selain menjadi kiai di pesantrennya. Kiai Masduki adalah petani yang mengerjakan sawahnya sendiri dengan susah payah, dan mengusahakan pekarangan rumah yang ditanaminya dengan tanaman kebun.


Kiai Fatah mengajar di madrasah, menggunakan peralatan sekolah dengan jam pelajaran teratur. Balaghah (retorika) adalah mata pelajaran kesayangannya, juga usul fiqh. Lain dari itu, tidak mau ia mengajarkannya di sekolah. Paling-paling di luar jam sekolah, sebagai pengajian 'weton' yang diikuti para santri tanpa memandang kelas sekolah masing-masing. Semacam kuliah umum, atau 'courses' menurut bahasa program purna sarjana di universitas modern.


Kiai Masduki sebaliknya tidak mengajar di kelas. Ia mengajar di suraunya sendiri, menunggu santri yang akan mengaji kepadanya. Seperti dokter praktek yang menunggu kedatangan pasien.


Lima kali sehari ia buka praktek. Sehabis salat subuh pada dinihari, sehabis salat zuhur di tengah hari, sehabis salat 'asar di sore hari, sehabis salat maghrib di senja hari, dan sehabis salat 'isya di malam hari.


Siklus kehidupan ini tidak mengenal nilai waktu secara modern, tidak dipagari oleh batasan waktu yang umum digunakan di luar. Pengajian siang berhenti kalau kereta api ke jurusan kota Babat melalui desa Tambakberas. Kalau peluit kereta tidak kunjung terdengar pengajian tidak selesai secara cepat.


Tiap santri yang mengaji menunggu giliran masing-masing. Kalau tiba gilirannya, seorang santri akan meletakkan teks yang ingin dipelajarinya di atas meja yang terletak di muka sang kiai. Kiai Masduki akan membaca halaman yang dibuka oleh si santri, walaupun teks itu diletakkan secara terbalik, Sang Kiai membaca teks itu dari atas, santrinya memberikan catatan di bawah baris yang dibaca itu.


Habis sebuah subyek dibacakan dan diterangkan, sang Kiai beralih kepada santri yang lain. Lagi-lagi seperti dokter yang berpraktek. Kalau dokter tidak menampik pasien yang berpenyakit apa pun, Kiai Masduki tidak pernah menolak santri yang membawa kitab teks apa pun.


Kiai Fatah pandai berpidato, bahkan termasuk orator yang memikat hati. Bermacam-macam ilustrasi sejarah dikemukakannya untuk menggambarkan pesan yang disampaikannya secara hidup. Banyak lelucon diceritakannya untuk mencegah datangnya kantuk pada para hadirin, dan banyak hafalan ayat Qur'an, hadith dan sya'ir-sya'ir Arab dilontarkannya untuk meyakinkan orang banyak.


Kiai Masduki, sebaliknya, mungkin tidak pernah berpidato di muka umum seumur hidupnya. Kalaupun 'berperan' dalam majelis-majelis keagamaan di muka umum, paling-paling hanya untuk membacakan do'a penutup atau memimpin tahlil.


Kiai Fatah sering menggoda dengan mempersilakan Kiai Masduki memberikan sambutan. Dan Kiai Masduki selamanya akan menjawab 'nanti saja, sehabis sampeyan memimpin tahlilan'. Maklumlah, Kiai Fatah terkenal sebagai orang yang tidak pernah urut dan runtut kalau memimpin tahlil.


Perbedaan gaya, cara hidup dan pola pembagian kegiatan antara keduanya ternyata tidak menutupi kenyataan akan persamaan yang mendasar antara keduanya: keteguhan hati untuk mengabdikan diri kepada tugas hidup mengajarkan ilmu-ilmu agama di lingkungan pesantren. Kiai Fatah dalam bahasa kini dapat dikatakan 'kiai fulltimer', sedangkan Kiai Masduki 'kiai parttimer' (karena merangkap bertani). Tetapi keduanya mengkhususkan pengabdian mereka kepada upaya 'menuntut ilmu’.


Tidak heran jika keduanya lalu juga diarahkan jalan pikiran mereka oleh tugas hidup 'menuntut ilmu' itu, watak mereka dibentuk oleh kecintaan kepada ilmu-ilmu agama, dan sikap hidup mereka sepenuhnya ditentukan oleh kaidah-kaidah yang ditetapkan oleh ilmu-ilmu agama itu sendiri.


Mereka menjadi orang yang tulus dalam mengarungi lautan hidup tulus kepada panggilan hidupnya, tulus kepada orang lain (tidak pernah mengemukakan buruk sangka mereka kepada orang lain) dan tulus kepada kebenaran yang datang dari keputusan yang diambil bersama.


Tidak heranlah jika mereka tidak pernah menyerang pihak lain, berusaha sejauh mungkin tidak menyakiti hati golongan lain, dan lebih-lebih lagi bersikap toleran dalam persoalan yang menyangkut kepentingan umum.


Ya, kebersamaan yang datang dari kesamaan tata nilai dan sikap hidup yang bersumber pada kecintaan mereka kepada ilmu-ilmu agama. Mereka menganggap kesemuanya itu sebagai bagian dari upaya 'menuntut ilmu' yang mereka yakini kebenarannya.


Kiai Fatah telah tiada, Kiai Masduki sudah tua renta (tetapi tetap mengajar, walaupun tidak lagi ke sawah). Dapatkah mereka wariskan pola kehidupan saling berbeda tetapi sama-sama bersemangat 'menuntut ilmu' itu?


Sumber: TEMPO, 11 Oktober 1980

Giri Kedaton

 Giri Kedaton

Ada beberapa cerita bahwa pelataran di situs giri kedaton ini dulunya di gunakan oleh para wali songo sebagai tempat musyawarah atau rapat.



Menurut beberapa versi sumber se jarah tradisional, situs ini merupakan kedaton (istana) atau pusat pemerin tahan era Giri I yakni Sunan Giri atau Raden Paku atau Raden Ainul Yaqin yang juga di sebut sebagai prabu satmata. Tempat ini kemudian diteruskan secara turun temurun oleh para keturunannya.


Giri Kedaton didirikan oleh Sunan Giri pada sekitar tahun 1487 M. Dipilihnya lokasi tersebut sebagai Kedaton Giri berdasarkan petunjuk Syeck Maulana Iskhak (Ayah Sunan Giri) atas dasar ke samaan segenggam tanah yang dibawa dari Samudra Pasai.


Bangunan yang awalnya adalah pesantren tempat Sunan Giri mengajarkan ajaran Agama Islam kepada para santrinya itu kemudian dikenal dengan GIRI KEDATON.


Situs ini banyak didatangi peziarah maupun wisatawan umum sebagai tempat bermunajad dan belajar sejarah bangunan kuno. Menurut cerita tempat ini merupakan tempat pengukuhan Raja-raja Islam Demak sampai Pajang.


Ditempat ini pula dibangun Masjid / Pondok Pesantren yang pertama di Giri, yang kesemuanya tinggal nampak bekas-bekasnya, termasuk kelengkapan Kedaton lainnya berupa batu pelinggihan, kolam wudhu dan dinding pagar kuno. Dibelakang masjid terdapat pula. makam Raden Supeno (putera Sunan Giri yang meninggal ketika masih remaja).


Situs Giri Kedaton ini terletak di puncak sebuah bukit, tepatnya di wilayah Kelurahan Sidomukti Kecamatan Kebomas, Gresik sekitar 200 M sebelah. selatan dari kompleks makam Sunan Giri.


Sabtu, 17 Oktober 2026

Ekspedisi Sultan Agung

 Gambar dokumentasi VoC (Belanda) saat serbuan kedua Mataram tahun 1629 ke Batavia. Prajurit Mataram dilengkapi oleh kavaleri berkuda, Infantri bertombak, divisi meriam & pasukan bergajah. 



Saat itu Sultan Agung tdk turun langsung, tapi menunjuk 4 Panglima/Adipati dengan 15-20 rb prajurit utk memimpin serangan ke Batavia :


💂 Pangeran Purbaya

💂 Patih Singaranu

💂 Pangeran Puger

💂 Pangeran Juminah


Prajurit VoC berhasil dipukul mundur hingga hanya sanggup bertahan di dalam benteng. Pengepungan terjadi selama 42 hari/6 minggu (21 Agustus 1629 - 2 Oktober 1629).


Sejarawan asing yg mendalami tentang Kasultanan Mataram seperti H.j.de graaf masih memiliki pertanyaan yg masih belum terjawab mengenai penarikan prajurit Mataram oleh Sultan Agung pada oktober 1629. 


Karena sejatinya Mataram di medan peperangan telah unggul baik itu dari sisi psikologis maupun penguasaan wilayah.


Selama pengepungan, orang nomor satu VoC Gubernur Jendral Pieter zoencoen tewas terkena penyakit kolera akibat blokade aliran sungai Batavia oleh Prajurit Mataram. 


Dalam benteng moril prajurit VoC sudah runtuh, logistik pangan jg semakin tipis. Dua dari tiga benteng utama VoC di Batavia sudah dihancurkan & direbut prajurit Mataram (Benteng Hollandia & Bommel). Pertahanan praktis hanya terpusat di benteng/kasteel Batavia.


Namun Sultan Agung memerintahkan untuk mundur pada 2 Oktober 1629. Logistik prajurit Mataram sejatinya masih tersedia di sepanjang pantai utara Jawa, tak semuanya sempat dihancurkan VoC. 


Ada pendapat lain yg menyatakan, puluhan tahun ekspedisi militer penyatuan Jawa oleh Sultan Agung membuat banyak prajurit diliputi rasa penat & kebosanan. Tidak hadirnya Sultan Agung dlm kampanye militer ke Batavia jg melemahkan moril prajurit.

​Said Aqil Siroj Luncurkan 11 Jilid Buku Historiografi Islam Nusantara di Surabaya

  Terbaru ngopiDAERAH Nasional ngopiSPORT Kesehatan ngopiTAINMENT Daftar Kanal Home ngopiDAERAH Jawa Timur Jawa Timur ​Said Aqil Siroj Luncu...