Selasa, 28 Juli 2026

BW Lapian Thok

1. Buatkan Gambar dan Infografis tentang 

Kehidupan Awal dan Kehidupan Pribadi

BW Lapian


Bernard Wilhelm Lapian (30 Juni 1892 – 5 April 1977) adalah seorang pejuang nasionalis berasal dari Minahasa, Sulawesi Utara. Perjuangannya dilakukan dalam berbagai bidang dan dalam rentang waktu sejak zaman pemerintahan Hindia Belanda, pendudukan Jepang, sampai pada zaman kemerdekaan Indonesia.


Informasi pribadi

Bernard Wilhelm Lapian

Lahir :

30 Juni 1892

Kawangkoan, Celebes, Hindia Belanda

Meninggal :

5 April 1977 (umur 84)

Jakarta, Indonesia

Istri :

Maria Adriana Pangkey

Anak :

6, termasuk Adrian B. Lapian


Kehidupan awal :

Bernard Wilhelm Lapian lahir di Kawangkoan, kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara, pada tanggal 30 Juni 1892. Ayahnya bernama Enos Lapian dan ibunya bernama Petronella Geertruida Mapaliey. 

Karena jabatan ayahnya sebagai kepala Sekolah Rakyat (volksschool) di Kawangkoan, Lapian bisa masuk sekolah dasar bahasa Belanda (Amurangse School) di Amurang, sekitar 40 kilometer dari Kawangkoan.

Ia kemudian mengambil kursus-kursus hingga tingkat sekolah menengah pertama (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs, MULO).

Kehidupan pribadi :

Lapian menikah dengan Maria Adriana Pangkey pada tanggal 30 Mei 1928 di Tomohon. Mereka mempunyai enam anak termasuk Adrian Bernard Lapian, seorang ahli dalam sejarah maritim Indonesia, dan Louisa Magdalena Lapian, seorang ahli hukum. Saudara laki-laki Lapian yakni Benjamin Julian 'Bert' Lapian, pernah juga menjabat sebagai wali kota Manado dari 1 Maret 1952 hingga 1 September 1953.

Salah satu cucunya adalah tokoh aktivis politik Indonesia Jack Boyd Lapian.



2. Buatkan Gambar dan Infografis tentang 

Karier sebagai Jurnalis, Politikus, dan Pemimpin gereja

BW Lapian


Publikasi :

Lapian berusia 17 pada tahun 1909 ketika ia mulai bekerja di perusahaan pelayaran Belanda KPM (Koninklijke Paketvaart Maatschappij). Ia bekerja untuk KPM selama 20 tahun. Pada awalnya ia bekerja di atas kapal, tapi pada tahun 1919 Lapian mendapat tanggung jawab sebagai hofmeester yang mengurus logistik kapal dan bekerja di Batavia (sekarang Jakarta). Pada saat berada di Batavia, ia mengirim artikel-artikel ke surat kabar Pangkal Kemadjoean dengan fokus untuk memerangi kolonialisme Belanda. Ia juga menerbitkan surat kabar bernama Fadjar Kemadjoean (1924–1928) yang berisi tulisan-tulisan berkaitan dengan memajukan kesejahteraan rakyat Indonesia. Kemudian pada tahun 1940, ia menerbitkan sebuah koran lokal di Kawangkoan bernama Semangat Hidoep.

Perwakilan Rakyat :

Lapian pernah menjadi wakil rakyat dalam dua kapasitas, yang satu dalam wilayah lokal dan satu lagi untuk seluruh Hindia Belanda. Dari 1930 hingga 1942, ia adalah anggota dewan lokal yang disebut Dewan Minahasa (Minahasaraad) di Manado. Anggota dewan ini mewakili orang-orang di seluruh wilayah Minahasa dan Lapian mewakili rakyat dari Kawangkoan. Pada tahun 1938, Lapian juga menjadi anggota Dewan Rakyat untuk Hindia Belanda (Volksraad) di Batavia. Ia bergabung dengan Fraksi Nasional yang dipimpin oleh Mohammad Husni Thamrin.

Kerapatan Gereja Protestan Minahasa :

Pada masa pemerintahan Hindia Belanda, di mana semua gereja Kristen berada di bawah naungan satu institusi Indische Kerk yang dikendalikan oleh pemerintah kolonial; Lapian bersama tokoh-tokoh lainnya, termasuk Sam Ratulangi dan A.A. Maramis, mendeklarasikan berdirinya Kerapatan Gereja Protestan Minahasa (KGPM) pada bulan Maret 1933. KGPM adalah suatu gereja mandiri hasil bentukan putra-putri bangsa sendiri yang tidak bernaung di dalam Indische Kerk. Pada mulanya, Lapian diangkat sebagai sekretaris. Ia kemudian diangkat sebagai ketua KGPM pada tahun 1938 dan dalam jabatannya ia membantu mendirikan 16 sekolah dasar dan 17 sekolah menengah.


3. Buatkan Gambar dan Infografis tentang 

Peristiwa Merah Putih 14 Februari 1946 dan Gubernur Sulawesi 

BW Lapian


Peristiwa Merah Putih 14 Februari 1946 :

Pada akhir Perang Dunia II, Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945. Namun, Belanda bertekad untuk kembali ke Indonesia dan upaya ini didukung oleh pasukan Sekutu yang memasuki Indonesia setelah Jepang menyerah. Pada tanggal 14 Februari 1946, sekelompok prajurit Tentara Kerajaan Hindia Belanda (KNIL) di Manado dengan bantuan pemuda setempat dan pejuang kemerdekaan menangkap para perwira KNIL yang berkebangsaan Belanda. Pada tanggal 16 Februari 1946, Lapian yang merupakan Residen Manado pada waktu itu ditunjuk menjadi kepala pemerintahan Republik Indonesia di Sulawesi Utara. Keadaan ini berlangsung hingga 10 Maret 1946, ketika Belanda berhasil menduduki kembali wilayah itu. Lapian ditangkap dan dipenjarakan di Manado. Ia dipindahkan ke Cipinang di Jakarta tahun 1947 dan kemudian ke Sukamiskin di Bandung tahun 1948. Ia dibebaskan pada tanggal 20 Desember 1949 setelah Konferensi Meja Bundar.

Pejabat Gubernur Sulawesi :

Setelah penyerahan kedaulatan Indonesia pada akhir 1949, B.W. Lapian dibebaskan dari pengasingan. Ia kemudian aktif dalam pemerintahan dan pembangunan bangsa. Ia menjabat sebagai Gubernur Sulawesi (sebelum dipecah menjadi provinsi-provinsi) pada tahun 1950, sebuah wilayah yang sangat luas meliputi seluruh Pulau Sulawesi.

Lapian menjadi Pejabat Gubernur Sulawesi pada tanggal 17 Agustus 1950 dan menjabat sampai 1 Juli 1951. Selama masa jabatannya sebagai pejabat gubernur, Lapian membuka dan mengembangkan daerah di sekitar Dumoga di Bolaang Mongondow untuk pemukiman dan pertanian. 

Ia membangun jalan yang menghubungkan Kotamobagu dan wilayah Molibago. Ia juga membentuk dewan perwakilan daerah di seluruh wilayah Sulawesi dan melakukan pemilihan pasca-kemerdekaan pertama di wilayah Minahasa pada tanggal 14 Juni 1951. Ia juga memulai upaya untuk mencapai perdamaian dengan pemberontakan yang dipimpin oleh Kahar Muzakar.



4. Buatkan Gambar dan Infografis tentang 

Akhir Hayat dan Penghargaan 

BW Lapian


Lapian meninggal pada tanggal 5 April 1977 di Jakarta dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata.

Pada tahun 1958, Lapian dianugerahi penghargaan Bintang Gerilya dan pada tahun 1976 ia menerima penghargaan Bintang Mahaputra Pratama.

Ia dinyatakan sebagai Pahlawan Nasional oleh Presiden Joko Widodo dalam sebuah upacara di Istana Negara pada tanggal 5 November 2015. 

Sebuah monumen didirikan di Kawangkoan untuk Lapian dan Ch. Ch. Taulu untuk memperingati keterlibatan mereka dalam peristiwa Merah Putih 14 Februari 1946 di Manado.

Penghargaan dari Angkatan Laut (AL): 

Diberikan atas kontribusi strategisnya dalam membantu operasi militer dan mempertahankan wilayah laut/pesisir selama masa revolusi kemerdekaan.

Mas Isman Thok

1. Buatkan Gambar dan Infografis tentang 

Kehidupan Awal

Mas Isman 


Mayor Jenderal TNI (Purn) Mas Isman (1 Januari 1924 – 12 Desember 1982) adalah seorang pejuang kemerdekaan menentang pemerintahan Hindia Belanda di Jawa Timur yang diangkat sebagai Pahlawan Nasional Indonesia oleh Presiden Joko Widodo pada tanggal 5 November 2015.


Informasi pribadi

Lahir :

1 Januari 1924

Bondowoso, Jawa Timur, Hindia Belanda

Meninggal :

12 Desember 1982 (umur 58)

Surabaya, Jawa Timur, Indonesia

Partai politik :

Golkar

Anak :

Hayono Isman

Hayani Isman


Riwayat Pendidikan

Mas Isman mengenyam pendidikan berpindah-pindah di beberapa kota di Jawa karena dinamika kehidupan dan masa pergerakan:

HIS (Hollandsch-Inlandsche School): 

Menempuh pendidikan dasar di HIS Purwokerto.

MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs): 

Melanjutkan sekolah tingkat menengah pertama di MULO Cirebon dan lulus sekitar tahun 1940.

SMP 2 Ketabang: 

Sempat mengenyam pendidikan sekolah menengah di Surabaya.

SMT (Sekolah Menengah Tinggi) Darmo: 

Melanjutkan pendidikan tingkat atas di SMT Darmo, Surabaya. Di masa-masa menjadi pelajar sekolah menengah inilah jiwa pergerakannya tumbuh hingga ia memimpin laskar Tentara Pelajar (TRIP).

Fakultas Hukum: 

Menempuh pendidikan tinggi di Fakultas Hukum Surabaya.



2. Buatkan Gambar dan Infografis tentang 

TRIP dan Pertempuran Surabaya 

Mas Isman 


Di masa penjajahan, ia dikenal sebagai sosok yang mampu memotivasi, menggerakkan dan memimpin para pemuda pelajar untuk bergabung dengan laskar bersenjata.

Keberaniannya terbukti dengan menggerakkan dan memimpin anak-anak muda untuk memelihara semangat persatuan, semangat kebangsaan, heroisme dan cinta Tanah Air.

Sebagai pelajar, dia pun turut berjuang merebut kemerdekaan Indonesia dari penjajah melalui Tentara Republik Indonesia Pelajar (TRIP).

"Setelah zaman kemerdekaan pun beliau tetap berjuang untuk rakyat sampai akhir hayat," ujar ahli waris almarhum Mas Isman, Hayono Isman.

Dengan pemikiran bahwa pelajar harus berjuang mengangkat senjata, pada 30 Agustus 1945 ia mendirikan organisasi pelajar, yang pada 22 September berikutnya dilantik oleh Sungkono di Sekolah Darmo-49 Surabaya.

Saat itu, Mas Iman ditunjuk sebagai komandan Badan Keamanan Rakyat (BKR) Pelajar dan perjuangannya dimulai 9 November 1945 dengan pernyataan "Soempah Keboelatan Tekad" mempertahankan kedaulatan bangsa dan Negara Indonesia.

Pada 1946-1951, Mas Isman tetap menjadi seorang pemimpin bagi anak-anak muda generasi bangsa dengan mendirikan Tentara Republik Indonesia Pelajar (TRIP).

Kehebatan pasukan TRIP dalam berbagai pertempuran dalam perang kemerdekaan di bawah kepemimpinan Mas Isman telah memberikan nama harum Indonesia ke pelosok dunia yang hanya sedikit Negara lain memiliki pasukan pemuda pelajar bersenjata.

Semangat tinggi perjuangan TRIP pimpinan Mas Isman disertai kemampuan bergaul dan menyatu dengan rakyat telah melengkapi strategi perang gerilya yang dimiliki TRIP pada khususnya dan Tentara Republik Indonesia pada umumnya.

Perlawanan paling sengit yang dilakukan TRIP terhadap Belanda terjadi di Jalan Salak (kini Jalan TRIP), Kota Malang, yang mana para tentara pelajar berusaha menghadang dan merampas kendaraan lapis baja sampai terjadi pertempuran heroik hingga mengorbankan 45 jiwa tentara pelajar.

TRIP Jawa Timur yang dipimpin Isman mendapatkan legitimasi langsung oleh Tentara Republik Indonesia (TRI) dan diakui sebagai kekuatan militer resmi dan memiliki jenjang kepangkatan, garis komando dan markas yang jelas.

Mas Isman adalah ayah dari mantan Menteri Pemuda dan Olahraga, Hayono Isman dan ayah dari mantan Anggota DPR RI Hayani Isman. Mas Isman juga merupakan tokoh Tentara Pelajar Indonesia dan pernah menjabat sebagai Komandan TRIP Jawa Timur dalam era revolusi fisik Indonesia pada tahun 1945—1949, secara resmi TRIP Jawa Timur dibubarkan melalui upacara demobilisasi pelajar pada tahun 1951 oleh Presiden Soekarno.

Sosok Mas Isman memang dikenal sebagai pendiri organisasi Tentara Republik Indonesia Pelajar (TRIP) yang kemudian menyesuaikan diri dari brigade pertempuran pasca-kemerdekaan. Rumah Mas Isman di Jalan Pandan No 5 Kota Malang kini menjadi kantor Kosgoro Malang. Dari beberapa sumber, Mas Isman mendirikan TRIP Jawa Timur pada 1945-1951. Lalu ia mendapatkan tugas di Kantor Perdana Menteri Indonesia pada 1956-1958 dengan pangkat Letnan Kolonel. Duta Besar sejak 1959-1967 di Rangoon, Bangkok dan Kairo itu dengan pangkat Brigjen juga pernah diembannya. Tak lama kemudian, Mas Isman berkecimpung di dunia politik dengan menjadi anggota DPR/MPR pada 1978.

 


3. Buatkan Gambar dan Infografis tentang 

Berdirinya Kosgoro

Mas Isman 


Usai Kemerdekaan

Usai perang kemerdekaan, di bawah pimpinan Mas Isman, anak-anak pelajar pejuang kemerdekaan dengan cepat mampu menyesuaikan diri untuk beralih dari brigade pertempuran menjadi brigade pembangunan.

Dengan mendirikan Kesatuan Organisasi Serbaguna Gotong Royong (KOSGORO) pada 10 November 1957 sebagai koperasi, dinilai merupakan pilihan cerdas Mas Isman untuk memberikan wadah tepat bagi penyaluran para pelajar pejuang kemerdekaan waktu itu yang tidak betah lagi berkiprah dalam partai politik.

Ketua tim pelaksana usulan Mas Isman sebagai Pahlawan Nasional Triyanto mengatakan bahwa setelah perang kemerdekaan, Mas Isman tetap menjadi panutan tidak hanya bagi teman-temannya, tapi juga oleh masyarakat luas dari setiap langkah dan ucapannya.

"Mas Isman dengan kepakaan sosial tinggi membuat usaha-usaha yang bermanfaat bagi masyarakat dan hasilnya dinikmati oleh orang banyak, khususnya rakyat kecil," ucapnya ketika ditemui di Surabaya saat proses pengusulan gelar Pahlawan Nasional beberapa waktu lalu.

Semasa hidupnya, lanjut dia, Mas Isman telah memberikan kontribusi dalam banyak hal, baik dalam skala nasional maupun internasional, yang semuanya demi kepentingan rakyat.

Mas Isman merupakan tokoh utama dalam berdiri dan berkembang nya Kosgoro, sebuah koperasi yang menghimpun eks tentara pelajar era revolusi fisik, hingga berkembang dan manfaat nya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat Indonesia yang baru saja merdeka. Di Kosgoro Mas Isman menjabat sebagai Ketua Umum PPK Kosgoro sejak 1957 hingga 1982.

Mas Isman juga sebagai pendiri Kosgoro, sebagai salah satu perjuangan di bidang ekonomi bagi masyarakat sehingga Presiden Soekarno memberikan hadiah tanah di Jl MH Thamrin 53 Jakarta yang kini menjadi Wisma Kosgoro. Di penghujung 2015, Presiden Joko Widodo secara resmi memberikan gelar Pahlawan Nasional untuk lima pejuang bangsa. Salah satunya adalah Mas Isman. Kelima pahlawan nasional itu adalah Bernard Wilhem Lapian (Sulawesi Utara), Mas Isman (Malang, Jatim), Komjen Pol Dr Moehammad Jasin (Surabaya, Jatim), I Gusti Ngurah Made Agung (Bali), dan Ki Bagoes Hadikoesoemo (Jogjakarta).



4. Buatkan Gambar dan Infografis tentang 

Akhir Hayat dan Penghargaan 

Mas Isman 


Tahun 1982 Mas Isman masih aktif sebagai anggota DPR RI, sebagai Pimpinan KOSGORO, dan Pimpinan KOSGORO Business Group. Namun kesehatannya terus menurun. Setiap akhir Minggu, Mas Isman ke Surabaya, dan menginap di Elmi Hotel miliknya. Namun, pada tanggal 12 Desember 1982 beliau wafat dalam usia 58 tahun di Hotel Elmi Surabaya.

Mas Isman juga dikenal sebagai tokoh militer yang egaliter, ketika menghembuskan nafas terakhirnya pada 1982 di Surabaya, Mas Isman berwasiat kepada keluarga agar dimakamkan di tempat pemakaman umum, agar keluarga dan rakyat mudah dalam berziarah ke makamnya. Mas Isman dimakamkan di TPU Tanah Kusir, berdekatan dengan makam Moh Hatta Wakil Presiden Pertama Indonesia.

Jenazah Mas Isman di terbangkan dari Surabaya ke Jakarta dan seharusnya di makamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, namun atas permintaan keluarga, jenazah Mas Isman dikebumikan di Pemakaman Umum Tanah Kusir, agar lebih dekat dengan rakyat.

Dalam situs berita Universitas Negeri Malang (UM) disebutkan pengusulan Mas Isman sebagai Pahlawan Nasional diajukan oleh UM bekerjasama dengan ARA Indonesia Institute dan keluarga Besar Mas Isman. Diceritakan bahwa perjuangan Mas Isman sebagai inisiator dan komandan dalam TRIP Jawa timur saat itu benar-benar heroik. Mas Isman selalu mengikuti perkembangan TNI dan situasi politik saat itu. Sepak terjang Mas Isman saat perang kemerdekaan bersama rekan-rekannya dalam mempersiapkan perjuangan jangka panjang patut diacungi jempol.

Menurut Gatot Dwi Purnomo, Ketua Generasi Penerus TRIP di Malang yang mengusulkan Mas Isman ditetapkan menjadi Pahlawan adalah Triyanto, salah satu keponakan Mas Isman. Bahkan, untuk mengenang pertempuran di Jalan Salak, 31 Juli 1947, Pemerintah Kota Malang mendirikan sebuah monumen tak jauh dari makam para pelajar pejuang yang gugur dalam pertempuran tersebut. Markas TRIP di Jawa Timur ada di beberapa wilayah seperti Malang, Bondowoso, Tulungagung, Kediri, dan Blitar. Dia menginformasikan, saat ini masih ada sekira 20 orang TRIP yang tersebar di Malang. Sedangkan anak-anaknya sebanyak 150 orang.

Pada tahun 2024, perjalanan hidup dan pemikiran Mas Isman ditulis menjadi sebuah buku yang berjudul "Manifesto Mas Isman" Oleh Tommy Wibawa Mukti Sitorus.


Muhammad Jasin Thok

  1. Buatkan Gambar dan Infografis tentang 

Kehidupan Awal

Muhammad Jasin


Muhammad Jasin (9 Juni 1920 – 3 Mei 2012) yang dikenal sebagai "Bapak Brimob Polri". Moehammad Jasin menghembuskan nafas terakhir pada hari Kamis tanggal 3 Mei 2012 pukul 15.30 WIB, dalam usia 91 tahun di RS Polri Kramat Jati dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata.


Informasi pribadi

Lahir :

9 Juni 1920

Baubau, Sulawesi Tenggara

Meninggal :

3 Mei 2012 (umur 91)

Jakarta

Makam :

Taman Makam Pahlawan Kalibata

Istri :

Siti Aliyah Kessing

Anak :

4


Latar Belakang dan Pendidikan Awal

M. Jasin lahir pada 9 Juni 1920 di Bau-Bau, Buton, Sulawesi. Ayahnya, Haji Mekah, berasal dari Bone, sementara ibunya, Siti Rugayah, berasal dari Maros. Ia merupakan anak laki-laki satu-satunya dalam keluarga. Sejak kecil, Jasin menunjukkan semangat belajar tinggi. Ia memulai pendidikan di Volkschool (Sekolah Rakyat) di Bau-Bau, lalu melanjutkan ke Hollands Inlandsche School (HIS) di Makassar, dan terakhir ke Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO), setingkat sekolah menengah atas pada masa itu.

Pada tahun 1941, setelah menamatkan pendidikan, Jasin masuk Sekolah Polisi di Sukabumi, Jawa Barat. Walaupun sempat merasa tidak cocok dan mencoba mengikuti pelatihan penerbangan militer di Bandung, orang tuanya tidak merestui. Akhirnya, ia kembali menekuni pendidikan kepolisian hingga meraih pangkat Hoofd Agent (setingkat bintara). Masa pendudukan Jepang membuat pendidikan polisi lebih diarahkan pada pelatihan militer, sehingga membentuk dasar kepemimpinannya di kemudian hari.

 


2. Buatkan Gambar dan Infografis tentang 

Brigade Mobil dan Pertempuran Surabaya 

Muhammad Jasin


Peran dalam Pertempuran Surabaya :

Surabaya menjadi salah satu pusat pertempuran sengit setelah proklamasi. Jasin berperan langsung dalam perebutan senjata dari Jepang di gudang Don Bosco dan markas Kempeitai. Dengan keberanian besar, ia memimpin negosiasi hingga berhasil mendapatkan senjata untuk pejuang Indonesia.

Ketika pertempuran 10 November 1945 meletus, Jasin mengumumkan bahwa pasukan Polisi Istimewa telah dimiliterisasi dan ikut bertempur melawan Sekutu. Pasukan yang dipimpinnya turut serta di berbagai front pertempuran. Setelah Surabaya jatuh, Jasin memindahkan markas ke Sidoarjo dan bahkan bergerilya di sekitar Gunung Wilis saat Agresi Militer Belanda berlangsung

Pada 21 Agustus 1945, Inspektur Polisi Moehammad Yasin, Komandan Tokubetsu Keisatsutai (Polisi Istimewa) Surabaya, menyatakan bahwa Tokubetsu Keisatsutai Surabaya menjadi Kepolisian Negara Republik Indonesia dan segera melakukan tindakan-tindakan untuk mempertahankan kemerdekaan RI. Sosok kelahiran Sulawesi ini menunjukkan semangat juang dan prestasi cemerlang ketika menjalan- kan tugas dari Kapolri Jenderal Raden Said Soekanto Tjokrodiatmodjo untuk membentuk Brigade Mobil. Saat itu, 1946, Muhammad Yasin menjabat Kepala Kepolisian di Karesidenan Malang. Kesatuan yang diresmikan pada 14 November 1946 di Purwokerto ini sejak awal berdirinya berjasa mengatasi ancaman keamanan dan ketertiban seperti pada peristiwa Agresi Militer Belanda dan APRA (Angkatan Perang Ratu Adil) di Bandung, serta peng- amanan jalan di wilayah Jawa Barat dari ancaman gerombolan DI/TII . Muhammad Jasin diangkat sebagai Bapak Brimob Kepolisian RI.

Karier Diplomasi dan Politik :

Selain di dunia kepolisian, M. Jasin juga aktif dalam bidang diplomasi dan politik. Ia pernah menjabat sebagai Duta Besar Indonesia untuk Tanzania (1967-1970), anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR), anggota Dewan Pertimbangan Agung (DPA), serta pimpinan di berbagai organisasi veteran. Kiprahnya tidak hanya terbatas pada medan pertempuran, tetapi juga dalam menjaga eksistensi negara di forum internasional.

Ringkasan 

Walaupun sempat mengalami pasang surut karier, termasuk pembuangan politik ke Jerman pada akhir 1950-an, M. Jasin tetap konsisten memperjuangkan integritas kepolisian dan kedaulatan Indonesia.

Proklamasi Polisi Istimewa

Memisahkan Diri dari Jepang: 

Pada 21 Agustus 1945, M. Jasin memproklamasikan Tokubetsu Keisatsutai (Polisi Istimewa) Surabaya menjadi Polisi Republik Indonesia.

Langkah Berani: 

Tindakan ini menjadikannya salah satu institusi bersenjata pertama yang menyatakan setia kepada NKRI pasca-proklamasi.

Pertempuran 10 November di Surabaya

Mobilisasi Pasukan: 

M. Jasin memimpin langsung pasukan Polisi Istimewa dalam pertempuran sengit melawan tentara Sekutu di Surabaya.

Pasokan Senjata: 

Pasukannya aktif melucuti senjata tentara Jepang dan membagikannya kepada para milisi serta pemuda pejuang di Surabaya.

Inspirasi Perjuangan: 

Keberanian pasukannya menjadi salah satu pemicu utama berkobarnya semangat arek-arek Suroboyo.

Cikal Bakal Korps Brimob

Pendiri Institusi: 

Polisi Istimewa yang dibentuk dan dipimpin oleh Jasin nantinya berkembang menjadi Mobile Brigade, yang kini dikenal sebagai Korps Brimob Polri.

Penumpasan Gerakan Separatis :

Operasi Militer: 

M. Jasin memimpin pasukannya dalam memadamkan berbagai gejolak keamanan pasca-kemerdekaan.

Pendekatan Damai: 

Ia terlibat dalam penanggulangan pemberontakan DI/TII di Aceh dengan mengutamakan dialog damai guna menghindari pertumpahan darah berlebih.



3. Buatkan Gambar dan Infografis tentang 

Akhir Hayat dan Penghargaan 

Muhammad Jasin


Wafat :

Komisaris Jenderal Polisi Dr H. Moehammad Jasin yang dikenal sebagai Bapak Brimob Polri menghembuskan nafas terakhir pada hari Kamis tanggal 3 Mei 2012 pukul 15.30 WIB. Almarhum tutup usia dalam usia 91 tahun di RS Polri Kramat Jati. Dan Almarhum dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata.

Diabadikan Nama Jalan :

Tak banyak yang tahu jika Surabaya memiliki Polisi yang menjadi pahlawan saat pertempuran Hari Pahlawan, 10 Nopember 1945, di Surabaya. 

Dia adalah Moehammad Jasin. Mungkin warga Surabaya lebih mengenal dengan sebutan Tokubetsu Keisatsutai atau Polisi Istimewa, tanpa mengetahui siapa nama sesungguhnya polisi istimewa itu. Sebelumnya Nama Jalan Mohammad Jasin, akan ditempatkan untuk menggantikan Jl. Menganti tapi Polrestabes Surabaya tidak sepakat jika ditempatkan disana.

Di Kota Depok, sebuah jalan di mana lokasi Markas Komando Brigade Mobil berada, dinamai Jalan Komjen Pol. M. Jasin.

Gelar Pahlawan :

Setelah melalui tahapan pengusulan, akhirnya gelar Pahlawan Nasional diberikan berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 116/TK/Tahun 2015 pafa tanggal 5 November 2015. Gelar Pahlawan Nasional dianugerahkan kepada:


Alm. Bernard Wilhem Lapian

Alm. Mas Isman

Alm. Komisaris Jenderal Polisi. Dr. H. Moehammad Jasin

Alm. I Gusti Ngurah Made Agung

Alm. Ki Bagus Hadikusumo

Presiden Republik Indonesia, Ir. Joko Widodo memimpin upacara penganugerahan gelar Pahlawan Nasional kepada 5 putra terbaik bangsa Indonesia. Pemberian gelar ini seiring dengan peringatan Hari Pahlawan tahun 2015 yang mengusung tema “Semangat Kepahlawanan adalah Jiwa Ragaku”.

Pahlawan Polisi Pertama :

Ia menjadi polisi pertama dalam sejarah Republik Indonesia yang memperoleh gelar tersebut. Penghargaan ini menegaskan perannya sebagai tokoh pejuang, pendiri Brimob, serta sosok polisi teladan yang tidak hanya berjuang di medan tempur, tetapi juga di panggung diplomasi dan kenegaraan.


I Gusti Ngurah Made Agung Thok

1. Buatkan Gambar dan Infografis tentang 

Biodata dan Penobatan 

I Gusti Ngurah Made Agung


I Gusti Ngurah Made Agung atau yang setelah gugur bergelar Ida Tjokorda Mantuk Ring Rana (5 April 1876 – 20 September 1906) adalah Raja Badung atau Raja Denpasar ke-VI dan seorang pejuang yang menentang pemerintahan Hindia Belanda di Bali yang diangkat sebagai Pahlawan Nasional Indonesia oleh Presiden Joko Widodo pada tanggal 5 November 2015. Ia merupakan putra dari I Gusti Gede Ngurah Pemecutan, raja Badung ke-IV.


Raja Kerajaan Badung ke-6

Bertakhta :

1902 – 20 September 1906

Penobatan :

1902

Pendahulu :

I Gusti Alit Ngurah Pemecutan

Penerus :

I Gusti Alit Ngurah (Tjokorda Alit Ngurah)

Kelahiran :

5 April 1876

Puri Agung Denpasar, Kerajaan Badung

Kematian :

20 September 1906 (umur 30)

Badung, Bali

Ayah :

I Gusti Gede Ngurah Pemecutan (Raja Badung IV)

Agama :

Hindu


Penobatan :

Pada tahun 1902, I Gusti Ngurah Made Agung dilantik sebagai Raja ke-VI menggantikan Raja sebelumnya, yakni I Gusti Alit Ngurah Pemecutan.

Sebenarnya, yang berhak menggantikan mendiang I Gusti Alit Ngurah Pemecutan adalah I Gusti Alit Ngurah (Tjokorda Alit Ngurah) yang merupakan putra mahkota dari Raja Denpasar V, akan tetapi karena umurnya pada saat itu baru berusia 6 tahun dan belum cukup umur untuk dinobatkan sebagai Raja, maka untuk sementara jabatan Raja dipegang oleh I Gusti Ngurah Made Agung yang merupakan saudara tiri Raja Denpasar V.



2. Buatkan Gambar dan Infografis tentang 

Persng Puputan Badung hingga Wafat

I Gusti Ngurah Made Agung


Meletusnya Puputan Badung :

I Gusti Ngurah Made Agung menentang penjajahan Hindia Belanda ketika terjadi peristiwa kandasnya sebuah kapal dagang berbendera Hindia Belanda milik seorang pedagang Tionghoa bernama Kwee Tek Tjiang yang berlayar dari Banjarmasin di pantai Sanur pada tahun 1904. Kapal tersebut bernama Sri Komala. Peristiwa kandasnya kapal dagang tersebut membuat prahaya besar di Kerajaan Badung karena Raja Badung tidak mau mengikuti kehendak pemilik kapal yang didukung oleh Pemerintah Hindia Belanda di Batavia. Pada peristiwa tersebut, rakyat Sanur dituduh mencuri isi kapal hingga menyebabkan kerugian di pihak pemilik kapal. Pemilik kapal melaporkan kejadian tersebut ke Pemerintah Hindia Belanda dan Pemerintah Hindia Belanda menuntut Raja Badung untuk bertanggung Jawab terhadap pencurian tersebut mengingat peristiwa tersebut berada di wilayah Kerajaan Badung. Raja Badung dituntut untuk membayar ganti rugi atas kejadian tersebut sebesar 3.000 dolar perak. Raja Badung menolak klaim sepihak Pemerintah Hindia Belanda karena berdasarkan pengakuan Rakyat Sanur, klaim tersebut tidak benar dan rakyat sanur merasa difitnah oleh Pemerintah Hindia Belanda.

Pada September 1906, Pemerintah Hindia Belanda membentuk pasukan besar di bawah pimpinan Jenderal Mayor M. B. Rost van Tonningen karena blokade ekonomi tidak berhasil menghancurkan Kerajaan Badung. Pembentukan pasukan ini tidak membuat I Gusti Ngurah Made Agung menyerah. Sebaliknya, ia memilih untuk berperang melawan pasukan Belanda tersebut hingga gugur di medan pertempuran pada 20 September 1906. Pertempuran ini lebih dikenal dengan nama Puputan Badung.



3. Buatkan Gambar dan Infografis tentang 

Penghargaan dan Karya

I Gusti Ngurah Made Agung


Penghargaan :

Atas jasanya tersebut, I Gusti Ngurah Made Agung ditetapkan menjadi Pahlawan Nasional Indonesia pada tanggal 5 November 2015 berdasarkan Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 116/TK/Tahun 2015 yang ditandatangani pada Rabu, 4 November 2015 oleh Presiden Joko Widodo.

Pemkot Denpasar mengabadikan nama I Gusti Ngurah Made Agung melalui nama lapangan yang dulunya bernama "Lapangan Puputan Badung" kini bernama "Lapangan I Gusti Ngurah Made Agung", di mana ditempat tersebut terjadi perang Puputan Badung tahun 1906.

Sosok I Gusti Ngurah Made Agung juga diabadikan dalam monumen patung yang berada di perempatan jalan Veteran-jalan Patimura.

Karya Sastra :

Selain sebagai Raja Badung, I Gusti Ngurah Made Agung dikenal pula sebagai seorang sastrawan besar pada masanya. Adapun karya-karya sastra beliau diantaranya Geguritan Dharma Sasana, Geguritan Niti Raja Sasana, Geguritan Nengah Jimbaran, Kidung Loda, Kakawin Atlas, dan Geguritan Hredaya Sastra.

I Gusti Ngurah Made Agung juga diketahui merupakan sosok dibalik sebuah lagu yang sangat legendaris dan terkenal di kalangan masyarakat Bali, yakni Ratu Anom.

Pangeran Antasari Thok

1. Buatkan gambar dan infografis tentang 

Sejarah Awal Pahlawan 

Pangeran Antasari 


Pangeran Antasari (lahir di Kayu Tangi, Kesultanan Banjar, sekitar tahun 1797 atau 1809 – meninggal di Bayan Begok, 11 Oktober 1862) adalah Sultan Banjar dan Pahlawan Nasional Indonesia yang memimpin Perang Banjar pada abad ke-19 melawan penjajahan Belanda.

Ia sangat gigih dan pantang menyerah.

Awal Kehidupan dan Perjuangan

Terlahir dengan nama Gusti Inu Kartapati, beliau dikenal sebagai sosok yang dekat dengan rakyat biasa dan sangat mendalami ilmu agama. 

Pangeran Antasari menjadi motor utama pecahnya Perang Banjar pada April 1859 ketika rakyat dan para tokoh menentang campur tangan Belanda dalamb urusan internal kesultanan.



2. Buatkan gambar dan infografis tentang 

Perjuangan Pangeran Antasari hingga Wafat 

Dinobatkan sebagai Sultan

Ketika perjuangan semakin meluas, pada 14 Maret 1862, Pangeran Antasari dinobatkan sebagai pemimpin pemerintahan tertinggi Kesultanan Banjar dengan gelar Panembahan Amiruddin Khalifatul Mukminin. 

Ia memimpin sekitar 6.000 pasukan yang terdiri dari pejuang dan suku Dayak untuk menyerang pos-pos penting Belanda, termasuk tambang batu bara di Pengaron dan menenggelamkan kapal Belanda.

Wafat dan Warisan

Pangeran Antasari wafat pada 11 Oktober 1862 akibat penyakit paru-paru dan cacar di tengah pertempuran. 

Ia gugur di pedalaman hutan tanpa pernah menyerah kepada penjajah.

Perjuangan beliau dikenang melalui semboyannya yang melegenda:"Haram manyarah, waja sampai kaputing!"(Artinya: Tidak akan pernah menyerah, terus berjuang hingga titik darah penghabisan).



3. Buatkan gambar dan infografis tentang 

Warisan Pangeran Antasari 

Pangeran Antasari telah dianugerahi gelar sebagai Pahlawan Nasional dan Kemerdekaan oleh pemerintah Republik Indonesia berdasarkan SK No. 06/TK/1968 di Jakarta, tertanggal 27 Maret 1968.

Nama Antasari diabadikan pada Korem 101/Antasari dan julukan untuk Kalimantan Selatan yaitu "Bumi Antasari". Kemudian untuk lebih mengenalkan Pangeran Antasari kepada masyarakat nasional.

Pemerintah melalui Bank Indonesia (BI) telah mencetak dan mengabadikan nama dan gambar Pangeran Antasari dalam uang kertas nominal Rp 2.000,00.

Uang kertas pecahan Rp2.000 pertama kali resmi diluncurkan oleh Bank Indonesia pada 9 Juli 2009 dan mulai berlaku sebagai alat pembayaran yang sah sejak 10 Juli 2009.

Tahun Emisi 2009: Bergambar Pangeran Antasari di bagian depan.

Sultan Thaha Syaifuddin Thok

1. Buatkan gambar dan infografis tentang 

Latar belakang dan Kepemimpinan 

Sultan Thaha Syaifuddin


Sultan Thaha Syaifuddin (1816–1904) adalah sultan terakhir Kesultanan Jambi dan Pahlawan Nasional Indonesia yang memimpin perlawanan bersenjata terhadap Belanda selama hampir setengah abad. 

Ia diangkat menjadi Pahlawan Nasional melalui ⁠Keputusan Presiden Nomor 79/TK/1977.

Lahir di Keraton Tanah Pilih (Kampung Gedang, Jambi) pada pertengahan tahun 1816 dengan nama Raden Thaha Ningrat. Sebelum menjadi sultan, ia pernah menjabat sebagai Perdana Menteri pada tahun 1841, di mana ia banyak berfokus pada perluasan sektor pertanian, pendidikan baca tulis Al-Qur'an, dan penertiban administrasi pemerintahan. 

Ia resmi naik takhta pada tahun 1855 dengan gelar Sultan Thaha Saifuddin.



2. Buatkan gambar dan infografis tentang 

Akar Perlawanan dan Taktik Perang Gerilya Sultan Thaha Syaifuddin

Akar Perlawanan terhadap Belanda

Konflik dengan kolonial Belanda bermula ketika Sultan Thaha menolak keras untuk memperbarui atau menandatangani perjanjian yang dibuat oleh para pendahulunya. 

Ia menolak klaim Belanda bahwa tanah Jambi adalah milik mereka dan hanya "dipinjamkan" kepada sultan. 

Sikap tegasnya memicu invasi Belanda yang menyerang keraton pada tahun 1858. 

Taktik Perang Gerilya

Saat keraton jatuh, Sultan Thaha tidak menyerah dan tidak sudi tunduk kepada penjajah. 

Ia menyingkir ke pedalaman dan mendirikan pusat pemerintahan darurat, serta memimpin perlawanan dengan strategi perang gerilya. Karena sangat sulit ditaklukkan, perlawanan beliau ini tercatat berlangsung sangat gigih dan terus menyulitkan Belanda selama puluhan tahun.



3. Buatkan gambar dan infografis tentang 

Akhir Hayat dan Warisan Sultan Thaha Syaifuddin


Akhir Hayat

Sultan Thaha gugur pada 26 April 1904 dalam sebuah pertempuran sengit dan serangan mendadak yang dilancarkan oleh pasukan Belanda di wilayah Tebo Ilir, Betung Bedarah, Kabupaten Tebo. 

Meskipun beliau wafat, semangat perjuangan beliau menjadi simbol keteguhan rakyat Jambi.

Warisan Sejarah

Untuk mengenang jasa besarnya, pemerintah mengabadikan namanya menjadi beberapa institusi penting di Provinsi Jambi:⁠

* Universitas Islam Negeri (UIN) Sultan Thaha Saifuddin

* Bandar Udara Sultan Thaha Syaifuddin di Kota Jambi

* Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sultan Thaha Saifuddin di Kabupaten Tebo.

Ki Bagus Hadikusumo Thok

 1. Buatkan Gambar dan Infografis tentang

Kehidupan Awal

Ki Bagus Hadikusumo 


Ringkasan :

Ki Raden Bagus Hadikusumo (Ejaan Lama: Bagoes Hadikoesoemo) (24 November 1890 – 4 November 1954) adalah seorang pemuka agama dan politikus berkebangsaan Indonesia yang dikenal sebagai salah satu anggota Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI). Di dunia politik, ia merupakan pendiri Partai Islam Indonesia (PII) pada 1938 dan Partai Masyumi di Yogyakarta pada 1943.

Dia sebagai tokoh Muhammadiyah yang disemat penghargaan sebagai pahlawan nasional oleh Presiden ke-7 Indonesia, Joko Widodo pada 2015.


Informasi pribadi

Lahir :

Raden Hidajat

24 November 1890

Kauman, Yogyakarta, Hindia Belanda

Meninggal :

4 November 1954 (umur 63)

Jakarta, Indonesia

Makam :

Taman Pemakaman Umum Pakuncen

Istri :

Siti Fatimah ​(menukah 1910)​

Mursilah

Siti Mardiah

Hubungan :

Fakhruddin (kakak)

Anak :

Siti Fatimah: 6 anak (termasuk Djarnawi)

Mursilah: 3 anak

Siti Mardiah: 5 anak

Orang tua :

Raden Haji Lurah Hasjim (ayah)

Nyi Hajjah Khadijah (ibu)

Pendidikan :

Pondok Pesantren Wonokromo

Profesi :

Ulama

Dikenal karena :

Anggota BPUPKI, 1945

Keturunan Abdi Dalam Kraton Yogyakarta :

Lahir dengan nama Raden Hidajat di Kampung Kauman, Yogyakarta pada 24 November 1890 (dalam penanggalan Hijriah: Senin, 11 Rabiul Akhir 1308) di pagi hari. Ia merupakan anak ketiga dari lima bersaudara. Ayahnya, Raden Haji Lurah Hasjim adalah seorang abdi dalem di Keraton Yogyakarta.



2. Buatkan Gambar dan Infografis tentang

Pendidikan dan Kiprah Perjuangan 

Ki Bagus Hadikusumo 


Ia mendapat pendidikan sekolah rakyat (sekarang SD) dan pendidikan agama di pondok pesantren tradisional Wonokromo Yogyakarta. Kemahirannya dalam sastra Jawa, Melayu, dan Belanda didapat dari seorang yang bernama Ngabehi Sasrasoeganda, dan Ki Bagus juga belajar bahasa Inggris dari seorang tokoh Ahmadiyyah yang bernama Mirza Wali Ahmad Baig.

Selanjutnya Ki Bagus pernah menjadi Ketua Majelis Tabligh (1922), Ketua Majelis Tarjih, anggota Komisi MPM Hoofdbestuur Muhammadijah (1926), dan Ketua PP Muhammadiyah (1942-1953). Ia sempat pula aktif mendirikan perkumpulan sandiwara dengan nama Setambul. Selain itu, bersama kawan-kawannya ia mendirikan klub bernama Kauman Voetbal Club (KVC), yang kelak dikenal dengan nama Persatuan Sepak Bola Hizbul Wathan (PSHW).

Pada tahun 1937, Ki Bagus diajak oleh Mas Mansoer untuk menjadi Wakil Ketua PP Muhammadiyah. Pada tahun 1942, ketika KH Mas Mansoer dipaksa Jepang untuk menjadi ketua Putera (Pusat Tenaga Rakyat), Ki Bagus menggantikan posisi ketua umum Muhammadiyah yang ditinggalkannya. Posisi ini dijabat hingga tahun 1953. Semasa menjadi pemimpin Muhammadiyah, ia termasuk dalam anggota BPUPKI dan PPKI. Ia pernah berdebat sengit terkait dasar negara terutama terkait Piagam Jakarta.



3. Buatkan Gambar dan Infografis tentang

Akhir Hayat, Penghargaan, dan Karya Sastra

Ki Bagus Hadikusumo 


Akhir Hayat dan Pemakaman

Wafat di Ibu Kota: 

Setelah mendedikasikan hidupnya untuk dakwah Islam dan kemerdekaan, Ki Bagus mengembuskan napas terakhirnya di Jakarta.

Tempat Peristirahat Terakhir: 

Jenazah beliau dipulangkan ke tanah kelahirannya dan dimakamkan di Taman Pemakaman Umum (TPU) Pakuncen, Yogyakarta.

Kesederhanaan hingga Akhir: 

Hingga akhir hayatnya, mantan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah (periode 1942–1953) ini dikenal tetap memegang teguh prinsip hidup yang sangat bersahaja dan anti-protokoler.

Penghargaan sebagai Pahlawan dan Negara

Pemerintah Republik Indonesia memberikan sejumlah penghargaan tertinggi sebagai bentuk penghormatan atas jiwa negarawan Ki Bagus:

Gelar Pahlawan Nasional (2015): 

Dianugerahkan secara resmi setelah melalui proses pengajuan oleh keluarga besar ⁠Muhammadiyah sejak tahun 2012.

Beliau dianugerahi gelar Pahlawan Nasional oleh Presiden Joko Widodo pada tanggal 5 November 2015 melalui Keppres Nomor 116/TK/2015.

Bintang Republik Indonesia Utama (1995): 

Diberikan oleh Presiden Soeharto melalui Kepres RI No. 072/TK/Tahun 1995 atas jasa besarnya sebagai Tokoh Perancang Pembukaan UUD 1945.

Bintang Mahaputera Adipradana (1992): 

Tanda kehormatan yang dianugerahkan berdasarkan Kepres RI No. 048/TK/Tahun 1992 atas kontribusi luar biasanya bagi bangsa.

Alasan Utama Penganugerahan Gelar

Tim pengusul gelar kepahlawanan mencatat tiga pilar utama yang membuat Ki Bagus sangat layak dihormati oleh negara:

Pahlawan Perintis Kemerdekaan: 

Beliau aktif memimpin pergerakan Islam dan berani menentang kebijakan asimilasi paksa tentara Jepang (seperti ritual Seikerei menghadap matahari).

Perumus Fondasi Negara: 

Sebagai anggota BPUPKI dan PPKI, beliau merupakan arsitek utama yang melahirkan kompromi historis kalimat "Ketuhanan Yang Maha Esa" sebagai sila pertama Pancasila demi menjaga keutuhan NKRI.

Visi Kenegaraan yang Luas: 

Sikap lapang dadanya dalam menghapus "tujuh kata" Piagam Jakarta demi merangkul wilayah Indonesia Timur dinilai sebagai puncak keteladanan seorang negarawan sejati.


Karya sastra :

Ki Bagus aktif membuat karya tulis, antara lain:

Islam Sebagai Dasar Negara dan Achlaq Pemimpin,

Risalah Katresnan Djati (1935),

Poestaka Hadi (1936), Poestaka Islam (1940),

Poestaka Ichsan (1941), dan

Poestaka Iman (1954).

BW Lapian Thok

1. Buatkan Gambar dan Infografis tentang  Kehidupan Awal dan Kehidupan Pribadi BW Lapian Bernard Wilhelm Lapian (30 Juni 1892 – 5 April 1977...