Selasa, 06 Oktober 2026

4 OKTOBER 1965

 4 OKTOBER 1965 - KETIKA SUMUR LUBANG BUAYA TERBUKA



Pagi itu, kawasan Lubang Buaya, Jakarta Timur, menjadi saksi salah satu tragedi paling kelam dalam sejarah Indonesia.


Setelah terjadinya Gerakan 30 September 1965, sejumlah perwira Angkatan Darat yang sebelumnya diculik dan dibunuh ditemukan di sebuah sumur tua di kawasan Lubang Buaya.


Mereka adalah:


Letjen Ahmad Yani


Mayjen R. Suprapto


Mayjen M.T. Haryono


Mayjen S. Parman


Brigjen D.I. Panjaitan


Brigjen Sutoyo Siswomiharjo


Lettu Pierre Andreas Tendean


Pada 4 Oktober 1965, jenazah para perwira tersebut berhasil dievakuasi dari sumur. Proses pengangkatan dilakukan oleh pasukan Angkatan Darat, termasuk unsur RPKAD, dalam kondisi yang sangat sulit. Dokumentasi penggalian dan pengangkatan jenazah kemudian menjadi bagian penting dari ingatan sejarah bangsa. (Garuda Kemdikbud)


Keesokan harinya, 5 Oktober 1965, jenazah para korban dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata. Mereka kemudian dikenal sebagai Pahlawan Revolusi. (Kebudayaan Kemdikbud) 


Sumur tersebut kini menjadi bagian dari Kompleks Monumen Pancasila Sakti dan ditetapkan sebagai cagar budaya nasional. (Referensi Data Kemdikbud)


Lubang Buaya bukan sekadar sebuah tempat.


la menjadi simbol dari sebuah tragedi yang meninggalkan luka mendalam dalam perjalanan sejarah Indonesia.


Sejarah mengajarkan kita bahwa di balik tanggal dan nama yang tertulis di buku, ada manusia, keluarga, dan sebuah bangsa yang pernah melewati masa yang sangat kelam.


"Jangan sekali-kali melupakan sejarah."

𝙎𝙊𝙀𝙆𝘼𝙍𝙉𝙊 DALAM: 72 𝙅𝘼𝙈

 🔥 PRESIDEN 𝙎𝙊𝙀𝙆𝘼𝙍𝙉𝙊 DALAM:  72 𝙅𝘼𝙈 ,



30 SEPTEMBER – 2 OKTOBER 1965


Dimanakah, Presiden Republik Indonesia berada, ketika para jenderalnya diculik?


Presiden secara konstitusional merupakan Panglima Tertinggi atas ABRI (Angkatan Bersenjata Republik Indonesia) malahan harus berpindah-pindah tempat ketika pusat kekuasaan militer sedang bergolak?


Apakah «“Soekarno tahu.”» 

atau

«“Soekarno tidak tahu.”»


🌙 30 SEPTEMBER 1965 — MALAM SEBELUM LEDAKAN


Siang hari, Soekarno masih menjalankan kegiatan kenegaraan. Secara kebetulan, pada malam harinya, ia tidak berada di Istana Merdeka.


Menurut kesaksian yang dikutip dari pengawal Presiden, Soekarno bermalam di Wisma Yaso, kediaman "Ratna Sari Dewi".


Sekitar pukul 23.00, ajudan Kolonel Bambang Widjanarko masih berkomunikasi mengenai agenda Presiden untuk 1 Oktober.


Salah satu agenda yang direncanakan adalah pertemuan dengan Wakil Perdana Menteri II Johannes Leimena dan Panglima Angkatan Darat 'Letjen Ahmad Yani".


Tetapi beberapa jam kemudian, Ternyata: Ahmad Yani sudah tidak ada, sehingga agenda yang seharusnya mempertemukan Presiden dengan Panglima Angkatan Darat itu tidak pernah terjadi.


🌅 1 OKTOBER — PRESIDEN MENCARI TEMPAT AMAN


Sekitar pukul 06.00, Soekarno meninggalkan Wisma Yaso menuju Istana Merdeka. Namun di tengah perjalanan itu berubah haluan.


Menurut kesaksian "Bambang Widjanarko", Presiden mendapat informasi bahwa kawasan Istana telah dikepung oleh pasukan bersenjata yang tidak dikenal.


Soekarno kemudian mengubah arah menuju rumah istri keempatnya: "Haryati" di Slipi - Grogol. Dari sana, muncul saran agar Presiden menuju Halim Perdanakusuma.


Ada salah satu teka-teki terbesar muncul.

Mengapa harus ke HALIM?


Karena pada hari itu Halim bukan sekadar pangkalan udara militer, tetapi berada di sekitar kawasan yang menjadi salah satu lokasi yang berkaitan dengan aktivitas kelompok Gerakan 30 September.


Presiden Soekarno, akhirnya berada di sebuah tempat yang secara politik menimbulkan persepsi yang kontroversial.


Apakah itu keputusan sendiri atau bukan?


Ataukah Presiden diarahkan untuk berada pada posisi yang aman, dan mudah untuk dilakukan dievakuasi menggunakan pesawat canggih, bilamana situasi darurat?


⚠️ DUA KEKUASAAN MULAI BERJALAN


Sementara Presiden berada di Halim, Ibukota Jakarta mengalami perubahan cepat dan drastis.


Gerakan 30 September menggunakan RRI untuk menyiarkan pengumuman mereka, hingga berkali-kali, tetapi dengan visi yang berbeda-beda.


Sekitar pukul 07.20, mereka menyatakan adanya gerakan terhadap apa yang disebut “Dewan Jenderal” dan kemudian menjelang Siang, mereka mengumumkan pembentukan Dewan Revolusi Indonesia.


Namun ada satu persoalan besar.


Presiden Soekarno tidak pernah memerintahkan hal tersebut, sebagai yang diumumkan oleh Letkol Untung melalui RRI.


Sebaliknya, pada saat yang bersamaan, keluar Perintah Harian Presiden.


Isinya sangat singkat namun penting:


".....Soekarno menyatakan, bahwa: Dirinya dalam kondisi sehat dan tetap memegang pimpinan negara dan revolusi....."


Bahkan pimpinan Angkatan Darat untuk sementara dinyatakan berada langsung di tangan Presiden, sementara Mayjen Pranoto Reksosamodro ditunjuk untuk menjalankan tugas sehari-hari, sebagai Panglima Angkatan Darat.


Kalimat ini membuka pertanyaan besar:


"....Kalau Presiden Soekarno masih memegang kendali, lalu siapa yang sebenarnya menjalankan kekuatan militer di Jakarta?"


🔥 Pangkostrad: Mayor jenderal Soeharto


Di Jakarta Pusat, Mayjen Soeharto bergerak.

RRI berhasil direbut kembali melalui RPKAD.


Pasukan tentara yang berada di sekitar pusat pemerintahan mulai ditekan dan diarahkan menuju Pangkalan Udara Halim.

Padahal Presiden masih berada disana, beserta para tokoh-tokoh nasional lainnya.


Maka, terjadilah sesuatu yang saling berhadapan, antara: 

-- Kekuasaan formal (Soekarno) dan kekuatan operasional dipegang (Soeharto)


Presiden masih tetap memegang otoritas politik, secara konstitusional. Sementara itu, Soeharto mulai memegang kendali operasional Angkatan Darat atas perintah dari Jenderal AH Nasution (KSAB)


Sehingga ada jarak di antara keduanya....


🌙 1 OKTOBER — 

SOEKARNO MENINGGALKAN HALIM


Situasi semakin tegang, sehingga Presiden Soekarno kemudian meninggalkan Halim dan menuju Istana Bogor.


Apakah ini sekadar langkah pengamanan?

Ataukah 

Soekarno ambil jarak dari pusat konflik?


Dengan harapan dari Bogor ia  akan mencoba kembali mengendalikan keadaan?


Mengenai hal tersebut diatas, perlu di dukung Dokumen dan kesaksian, agar tidak menimbulkan interpretasi berbeda-beda.


🌅 2 OKTOBER — 

PRESIDEN MASIH MEMEGANG KEKUASAAN?


Di Bogor, Soekarno memanggil para Panglima Angkatan Bersenjata bersama Waperdam II Leimena dan pejabat penting lainnya.


Tujuannya, dinyatakan dengan jelas:

"..... Untuk menciptakan suasana tenang dan tertib serta menghindari bentrokan bersenjata...."


Dalam amanat yang kemudian dibacakan melalui RRI, Soekarno menegaskan kembali bahwa: Ia tetap memegang tampuk pimpinan negara, pemerintahan, dan revolusi.


Tetapi pada saat yang sama...


Kekuatan militer di Jakarta (Kostrad + RPKAD) sudah bergerak jauh lebih cepat daripada keputusan politik Presiden tersebut.


Pada hari itu pula, operasi terhadap kawasan Halim semakin meningkat, kemudian melakukan pencarian korban penculikan jenderal, dalam tragedi G-30-S.


Arsip ANRI sendiri mencatat adanya kumpulan berita Angkatan Bersenjata mengenai G30S dan Dewan Revolusi serta catatan kronologis peristiwa G30S dalam arsip KOTI Oktober 1965.


🧩 SIAPA  PEMEGANG KENDALI?


Di sinilah sejarah G-30-S/ 1965 menjadi sangat menarik, dari tahun ke tahun selalu dibahas:


Secara formal:

Soekarno masih sebagai Presiden dan Kepala Negara sekaligus Panglima Tertinggi atas Angkatan Darat, Laut, Udara, Kepolisian.


Secara dokumen:

Soekarno menyatakan: "tetap memegang" pimpinan negara dan revolusi.


Secara operasional:

Soeharto semakin kuat dukungan dari para perwira untuk mengambil arah, tindakan dan kepemimpinan Angkatan Darat di Jakarta.


Secara politik:

Gerakan 30 September gagal memperoleh legitimasi terbuka dari Presiden.


Dan akhirnya muncul pertanyaan yang sampai sekarang terus diperdebatkan:


🔥 KONTROVERSI: "KEHADIRAN DI HALIM"


Ada yang melihat, bahwa: keberadaan Soekarno di Halim sebagai sesuatu yang sangat mencurigakan.


Ada pula yang melihatnya sebagai konsekuensi dari situasi keamanan yang kacau.


Ada yang menilai Perintah Harian 1 Oktober menunjukkan Presiden masih berusaha mengambil alih kendali Angkatan Darat.


Namun ada pula pertanyaan sebaliknya:


Jika Presiden benar-benar masih memegang kendali, mengapa keputusan militer di lapangan malahan ditentukan oleh Soeharto?


⚡ DAN INILAH BAGIAN PALING MENARIK


Pada pagi 1 Oktober:

- Soekarno berada di Halim.

- Soeharto berada di Kostrad.

- RRI berada di dalam kekuasaan G-30-S.


Ketika, Angkatan Darat kehilangan beberapa pimpinan utamanya,

Tapi, dalam beberapa jam...

Dikendalikan oleh Mayjen Soeharto.


Pada saat itu, "Pusat Gravitasi Kekuasaan" Indonesia mulai bergeser, sebab serangkaian keputusan presiden tidak mempan, sehingga terjadi perubahan-perubahan dalam hitungan jam.


PERTANYAAN: 


1). Apakah pada tanggal 1 Oktober 1965 adalah hari ketika Soekarno berhasil mempertahankan kekuasaan?


2) Apakah sejak tanggal 1 Oktober 1965, kekuasaan Soekarno mulai terlepas sedikit demi sedikit—meskipun-- ia sendiri masih memegang jabatan Presiden?


3) Apa respon yang dilakukan oleh Presiden Soekarno atas penemuan mayat dari para jenderal-jenderal nya di Lubang Buaya? 


4) Bagaimana tanggapan dari Keluarga Korban terkait bentuk Perhatian dan Rasa keprihatinan dari Soekarno selaku Presiden?


5) Bagaimana respon  dari istri-istri dan anak-anak presiden Soekarno, terhadap keluarga korban para jenderal yang terbunuh pada tanggal, 1 Oktober 1965?


#SejarahNusantara #G30S1965 #Soekarno #Soeharto #SejarahIndonesia

#MisteriSejarah

Pertempuran Surabaya November 1945

 Pertempuran Surabaya  November 1945

Pertempuran Surabaya terjadi antara tentara Indonesia pro-Kemerdekaan dan milisi melawan pasukan Inggris dan Belanda sebagai bagian dari Revolusi Nasional Indonesia. Puncak pertempuran adalah pada November 1945. Meskipun ada perlawanan sengit, pasukan Inggris dan India berhasil menaklukkan Surabaya, kota terbesar kedua di Indonesia, atas nama Belanda. Pertempuran adalah pertempuran tunggal terberat Revolusi dan menjadi simbol nasional perlawanan Indonesia. Dianggap sebagai upaya heroik oleh orang Indonesia, pertempuran ini membantu menggembleng dukungan Indonesia dan internasional untuk kemerdekaan Indonesia. Tanggal 10 November diperingati setiap tahun sebagai Hari Pahlawan. Pada saat pasukan Sekutu tiba pada akhir Oktober 1945, pijakan pemuda ('pemuda') di kota Surabaya digambarkan sebagai "benteng bersatu yang kuat". Pertempuran sengit meletus ketika 6.000 tentara India mendarat di kota itu untuk mengevakuasi tahanan Eropa. Setelah pembunuhan perwira Inggris Brigadir Mallaby pada 30 Oktober, Inggris membalas dengan penyisiran hukuman yang dimulai pada 10 November di bawah perlindungan serangan udara. Meskipun pasukan Eropa sebagian besar merebut kota dalam tiga hari, Partai Republik yang bersenjata buruk bertempur selama tiga minggu dan ribuan orang tewas saat penduduk melarikan diri ke pedesaan. Terlepas dari kekalahan militer yang diderita oleh Partai Republik dan hilangnya tenaga dan persenjataan yang akan sangat menghambat pasukan Republik selama sisa Revolusi, pertempuran dan pertahanan yang dilakukan oleh Indonesia menggembleng bangsa untuk mendukung kemerdekaan dan membantu mengumpulkan perhatian internasional. Bagi Belanda, itu menghilangkan keraguan bahwa Republik bukan sekadar sekelompok kolaborator tanpa dukungan rakyat. Itu juga memiliki efek meyakinkan Inggris bahwa kebijaksanaan berada di pihak netralitas dalam Revolusi; dalam beberapa tahun, pada kenyataannya, Inggris akan mendukung perjuangan Partai Republik di Perserikatan Bangsa-Bangsa. 

Latar

Pada 17 Agustus 1945, Soekarno dan Hatta mendeklarasikan kemerdekaan Indonesia di Jakarta, dua hari setelah Kaisar Jepang menyerah di Pasifik. Ketika berita tentang deklarasi kemerdekaan menyebar ke seluruh nusantara, masyarakat Indonesia biasa merasakan kebebasan yang membuat sebagian besar menganggap diri mereka sebagai pro-Republik Dalam minggu-minggu berikutnya, kekosongan kekuasaan ada, baik dari luar maupun di dalam Indonesia, menciptakan suasana ketidakpastian, tetapi juga peluang. Pada tanggal 19 September 1945, sekelompok tahanan Belanda yang didukung oleh Jepang mengibarkan bendera Belanda di luar Hotel Yamato (sebelumnya Hotel Oranje) di Surabaya, Jawa Timur. Hal ini memprovokasi milisi Nasionalis Indonesia, yang menyerbu Belanda dan Jepang, dan merobek bagian biru bendera Belanda, mengubahnya menjadi bendera Indonesia. Pemimpin kelompok Belanda, Pluegman, terbunuh karena kemarahan massal. Komandan senior Jepang di Surabaya, Wakil Laksamana Shibata Yaichoro, mendukung Partai Republik dan memberi orang Indonesia akses senjata. Pada tanggal 3 Oktober, ia menyerah kepada kapten angkatan laut Belanda, perwakilan Sekutu pertama yang tiba. Menyadari realitas penguasaan Indonesia atas kota, ia memerintahkan pasukannya untuk menyerahkan senjata mereka yang tersisa kepada Indonesia. Indonesia harus menyerahkannya kepada Sekutu, tetapi lalai untuk melakukannya. Pasukan Inggris membawa kontingen militer Belanda kecil yang disebut Administrasi Sipil Hindia Belanda (NICA). Inggris menjadi khawatir tentang meningkatnya keberanian dan kekuatan nasionalis, yang menyerang garnisun Jepang yang terdemoralisasi di seluruh nusantara dengan senjata dasar seperti tombak bambu untuk merebut senjata mereka. Tujuan utama pasukan Inggris di Surabaya adalah menyita senjata dari pasukan Jepang dan milisi Indonesia, mengurus mantan tawanan perang (POW), dan mengirim pasukan Jepang yang tersisa kembali ke Jepang. Pada bulan September dan Oktober 1945 serangkaian insiden terjadi yang melibatkan orang-orang Eurasia pro-Belanda, dan kekejaman dilakukan oleh massa Indonesia terhadap tahanan Eropa. Pada akhir Oktober dan awal November, pimpinan organisasi Muslim massa Nahdlatul Ulama dan Masyumi, menyatakan bahwa perang untuk membela tanah air Indonesia adalah Perang Suci, dan dengan demikian merupakan kewajiban bagi semua Muslim. Kyai dan murid-muridnya, mulai mengalir ke Surabaya dari pesantren di seluruh Jawa Timur. Bung Tomo yang karismatik memanfaatkan radio lokal untuk mendorong suasana semangat revolusioner fanatik di seluruh kota. 6.000 tentara India Inggris dikirim ke kota yang mudah meledak pada tanggal 25 Oktober untuk mengevakuasi tahanan Eropa dan dalam waktu tiga hari pertempuran dimulai. Pasukan India berada di ambang dimusnahkan oleh 10.000-20.000 tentara reguler Indonesia yang baru dibentuk dan massa 70.000-140.000 orang. Namun, Inggris menerbangkan Presiden Soekarno yang berpengaruh, dan menterinya Hatta dan Amir Sjarifuddin, dan gencatan senjata dicapai pada 30 Oktober. Pada tanggal 26 Oktober 1945, Brigadir A. W. S Mallaby mencapai kesepakatan dengan Suryo, gubernur Republik Indonesia di Jawa Timur bahwa Inggris tidak akan meminta pasukan/milisi Indonesia untuk menyerahkan senjata mereka. Kesalahpahaman yang jelas tentang kesepakatan antara pasukan Inggris di Jakarta (dipimpin oleh Letnan Jenderal Sir Philip Christison) dan pasukan Mallaby di Surabaya memiliki konsekuensi yang serius. 

Pejuang

Awalnya pasukan Inggris adalah 6.000 tentara India bersenjata ringan dari Brigade Infanteri ke-49 dari Divisi India ke-23. Ketika pertempuran mencapai puncaknya, Inggris mengirim pasukan tambahan yang terdiri dari 24.000 tentara bersenjata lengkap dari Divisi India ke-5, 24 tank Sherman, 24 pesawat bersenjata, 2 kapal penjelajah dan 3 kapal perusak. Pasukan Indonesia terdiri dari 20.000 tentara dari Tentara Keamanan Rakyat (TKR; Pasukan Keamanan Rakyat) dan diperkirakan 100.000-120.000 orang tidak teratur. TKR dibentuk oleh mantan anggota Peta, sebuah organisasi semi-militer selama pendudukan Jepang. Orang-orang tidak teratur terdiri dari massa pro-Kemerdekaan, dipersenjatai dengan senapan, pedang, dan tombak. Beberapa senjata mereka diambil dari pasukan Jepang yang terdemoralisasi. 

Pertempuran

Awal

Pada tanggal 27 Oktober 1945, sebuah pesawat Inggris dari Jakarta menjatuhkan selebaran di Surabaya yang mendesak semua pasukan dan milisi Indonesia untuk menyerahkan senjata mereka. Pemimpin pasukan dan milisi Indonesia itu marah, melihatnya sebagai pelanggaran kesepakatan yang dicapai dengan Mallaby sebelumnya. Pada 28 Oktober 1945, mereka menyerang pasukan Inggris di Surabaya dan menewaskan lebih dari 200 tentara Inggris yang tidak siap siap. Pada 30 Oktober, dalam keputusasaan, Inggris menerbangkan Sukarno (presiden RI), Mohammad Hatta (wakil presiden RI), dan Amir Syarifuddin Harahap (menteri penerangan Indonesia) ke Surabaya. Ketiganya dipandang sebagai satu-satunya pemimpin Indonesia yang kemungkinan mampu memadamkan pertempuran antara pasukan Republik dan India Inggris di mana Brigade Inggris kalah jumlah dan menghadapi pemusnahan. Gencatan senjata dinegosiasikan dengan Mayor Jenderal Hawthorn (komandan Divisi India ke-23) dan Brigadir Mallaby dan segera dipatuhi. Pertempuran, bagaimanapun, segera dimulai kembali setelah komunikasi yang membingungkan dan ketidakpercayaan antara kedua belah pihak, yang mengarah ke Pertempuran Surabaya yang terkenal. 

Kematian Brigadir Mallaby

Brigadir Mallaby terbunuh di Surabaya pada 30 Oktober 1945 dalam keadaan yang tidak jelas yang masih diperdebatkan hingga saat ini. Brigadir Mallaby menyebarkan berita tentang perjanjian baru itu kepada pasukannya di sekitar Surabaya. Ketika mobilnya mendekati pos pasukan Inggris di gedung Internasional dekat Jembatan Merah, mobilnya dikepung oleh milisi Republik Indonesia. Khawatir komandan mereka akan diserang oleh milisi, pasukan Inggris di gedung Internasional, yang dipimpin oleh Mayor Venu K. Gopal, menembak ke udara untuk membubarkan milisi Indonesia. Milisi, berpikir bahwa Inggris mengambil tindakan bermusuhan, membalas tembakan ke pasukan Inggris. Kapten R.C. Smith yang berada di dalam mobil stasioner melaporkan bahwa seorang pemuda republik menembak dan membunuh Mallaby setelah percakapan singkat. Smith kemudian melaporkan melemparkan granat dari mobil ke arah tempat dia pikir penembak bersembunyi. Meski tidak yakin apakah itu mengenai targetnya, ledakan itu menyebabkan kursi belakang mobil menyala. Laporan lain, menurut sumber yang sama, menyatakan bahwa itu adalah ledakan dan bukan penembak yang menewaskan Mallaby. Terlepas dari rincian pastinya, kematiannya adalah titik balik yang signifikan untuk permusuhan di Surabaya, dan katalis untuk pertempuran yang akan datang. Inggris memerintahkan Indonesia menyerah, dan pada 10 November mereka melancarkan serangan balasan besar-besaran. 

Pertempuran besar

Letnan Jenderal Sir Philip Christison marah ketika mendengar bahwa Brigadir Mallaby tewas di Surabaya. Selama jeda dalam pertempuran, Inggris membawa bala bantuan dan mengevakuasi para tahanan. Dua brigade tambahan (India ke-9 dan ke-123) dari pasukan Divisi India ke-5 yang dipimpin oleh Mayor Jenderal Robert Mansergh dikerahkan dengan tank Sherman dan Stuart, 2 kapal penjelajah dan 3 kapal perusak sebagai dukungan. Di antara kapal perusak adalah HMS Cavalier, sekarang dilestarikan sebagai kapal museum di Chatham Historic Dockyard. Pada fajar tanggal 10 November, hari yang sekarang diperingati di Indonesia sebagai Hari Pahlawan, pasukan Inggris memulai kemajuan metodis melalui kota di bawah naungan pemboman angkatan laut dan udara. Pertempuran sangat berat dengan pasukan Inggris membersihkan bangunan ruangan demi ruangan dan mengkonsolidasikan keuntungan mereka. Terlepas dari perlawanan fanatik orang Indonesia, setengah kota ditaklukkan dalam tiga hari dan pertempuran berakhir dalam tiga minggu. Sedikitnya 6.000 orang Indonesia tewas dan mungkin 200.000 melarikan diri dari kota yang hancur itu. Korban Inggris dan India berjumlah sekitar 600. 

Konsekuensi dari pertempuran

Partai Republik kehilangan banyak tenaga mereka, tetapi hilangnya persenjataan yang akan sangat menghambat upaya militer Partai Republik selama sisa perjuangan kemerdekaan. Pertempuran untuk Surabaya adalah pertempuran tunggal paling berdarah dalam perang, dan menunjukkan tekad kekuatan nasionalis yang berantakan; perlawanan pengorbanan mereka menjadi simbol dan seruan untuk Revolusi. Itu juga membuat Inggris enggan tersedot ke dalam perang yang tidak dibutuhkannya, mengingat betapa luasnya sumber daya mereka di Asia Tenggara selama periode setelah Jepang menyerah; dalam beberapa tahun, pada kenyataannya, Inggris secara terbuka mendukung perjuangan Partai Republik di Perserikatan Bangsa-Bangsa. Itu juga merupakan titik balik bagi Belanda karena menghilangkan keraguan bahwa Republik bukan sekadar sekelompok kolaborator tanpa dukungan rakyat. Pada November 1946, pasukan Inggris terakhir meninggalkan Indonesia. Patung "Pahlawan 10 November" di Surabaya memperingati pertempuran ini. 10 November sekarang diperingati di Indonesia sebagai "Hari Pahlawan", untuk mengenang pertempuran tersebut.

Referensi

Ricklefs, MC (1993). Sejarah Indonesia Modern Sejak c.1300, Edisi ke-2. London: MacMillan. ISBN 0-333-57689-6. 

Woodburn Kirby, S (1965). Perang Melawan Jepang Vol. V. London: HMSO. ISBN 0-333-57689-6.

Sumber wikipedia

Prof. Dr. Sumitro Djojohadikusumo

 Dalam kabinet Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) yang diproklamasikan pada 15 Februari 1958, Prof. Dr. Sumitro Djojohadikusumo menjabat sebagai Menteri Ekonomi (atau dalam beberapa catatan sejarah disebut sebagai Menteri Perdagangan dan Perhubungan).



Selain memegang portofolio kementerian tersebut, peran krusial Prof. Sumitro dalam gerakan perlawanan terhadap pemerintah pusat ini meliputi:

• Pembuka Jaringan Internasional: Mengingat kapasitasnya sebagai ekonom senior yang diakui dunia, ia bertugas mencari dukungan diplomatik dan pendanaan di luar negeri.

• Penyedia Logistik dan Persenjataan: Ia menjadi perwakilan PRRI yang menjalin kontak dengan badan intelijen asing seperti CIA (Amerika Serikat), serta intelijen Prancis dan Korea untuk mengusahakan bantuan persenjataan bagi basis militer PRRI di Sumatra.

Karena perannya yang vital ini, setelah gerakan PRRI berhasil dipadamkan oleh pemerintah pusat, Prof. Sumitro bersama keluarganya terpaksa hidup berpindah-pindah dalam pengasingan di luar negeri selama hampir 10 tahun, sebelum akhirnya kembali ke Indonesia pada tahun 1967 di era Orde Baru

CITRALEKHA, JURU TULIS???

 Profesi Masa Kuna Eps 1

CITRALEKHA, JURU TULIS???


Kalau zaman sekarang kita mengenal tukang ketik, admin, editor, sampai tukang bikin caption Facebook... maka pada masa lalu ada yang namanya Citralékha ... Mereka inilah orang yang bertugas menuliskan teks prasasti sebelum akhirnya diabadikan pada batu, logam, atau media lain yang tahan lama...


Menariknya, citralekha ini bukan sekadar orang yang bisa memahat huruf lalu selesai... sebab tulisan pada prasasti ternyata juga mempunyai karakter masing-masing... Sama seperti tulisan tangan kita sekarang... meskipun sama-sama belajar aksara yang sama, tulisan si A bisa saja miring ke kiri, si B terlalu besar, sedangkan si C seperti tulisan dokter yang membuat pembacanya harus bertapa dulu sebelum bisa membaca...Belum lagi kalau ada perang, saking terburu-buru bisa salah pahat atau sangat tipis guratannya. 


Karena itu, bentuk aksara menjadi salah satu hal penting dalam kajian epigrafi... Seorang epigraf tidak hanya membaca bunyi dan arti sebuah prasasti, tetapi juga memperhatikan bagaimana setiap aksara dibentuk... bentuk kepala aksara, lengkungan, proporsi, jarak, hingga kebiasaan tertentu dalam menuliskannya... Dari sini karakter seorang citralekha kadang dapat dikenali dan dibandingkan dengan prasasti lainnya...


Sebelum teks diguratkan secara permanen pada batu atau logam, tentu ada tahap persiapannya... Teks dapat terlebih dahulu dibuat sebagai rancangan blueprint kayane... Setelah dianggap benar, barulah tulisan tersebut diguratkan menggunakan tatah atau alat pemahat lainnya... Jadi, prasasti yang sekarang kita lihat sebagai benda kuna sebenarnya bukan pekerjaan asal congkel batu lalu jadi... ada proses penulisan, pemeriksaan, dan pemahatan di belakangnya...


Yang lebih menarik lagi... beberapa prasasti bahkan menyebut nama atau identitas orang yang terlibat dalam proses tersebut, seperti pada prasasti Mantyasih tertulis Punta Tarka (apale ya gur ini soale)... Artinya, citralekha tidak selalu menjadi manusia anonim yang hilang ditelan zaman... kadang namanya ikut masuk ke dalam catatan prasasti yang justru ia bantu tulis sendiri...


Dan sebagai manusia yang bekerja... tentu ada bayarannya juga... Dalam beberapa prasasti dikenal pemberian pasek-pasek (hadiah atau pisungsung atau berkatan lah), yang dapat berupa uang perak maupun sepasang wdihan, yaitu kain bernilai yang diberikan sebagai bentuk penghargaan... Jadi jangan dibayangkan citralekha bekerja hanya bermodalkan idealisme dan cinta kepada aksara kuna... ternyata sejak zaman dahulu pun kerja profesional mengenal istilah... "honornya mana"...


Dengan demikian... sebuah prasasti sebenarnya bukan cuma batu yang penuh coretan aksara kuna... di baliknya ada orang yang menyusun teks, ada citralekha yang menuliskannya, ada orang yang memahatnya, ada pihak yang memberikan penghargaan, dan tentu saja ada pejabat atau penguasa yang merasa perlu memastikan perkataannya tidak hilang begitu saja... Bedanya dengan zaman sekarang hanya satu... kalau kita salah ketik tinggal tekan tombol hapus... kalau salah pahat di batu... ya kemungkinan besar harus pasrah kepada arkeolog beberapa abad kemudian...


Dah ah, saya mau kabur saja sebelum dibandem tatah sama sang Citrakekha itu... Ssttt jangan bilang-bilang lho yess, nek ndak bolo ndak saya kandani ini. 


#KaburAjaDulu


Sumber :


Brandes, J. L. A. 1913. Oud-Javaansche Oorkonden. Batavia: Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen.


Boechari. 2012. Melacak Sejarah Kuno Indonesia Lewat Prasasti. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.


Damais, Louis-Charles. 1970. Études d’épigraphie indonésienne. Paris: École française d’Extrême-Orient.


Holt, Claire. 1967. Art in Indonesia: Continuities and Change. Ithaca: Cornell University Press.


Krom, N. J. 1923. Inleiding tot de Hindoe-Javaansche Kunst. Den Haag: Martinus Nijhoff.


Sarkar, H. B. 1971. Corpus of the Inscriptions of Java, Volume I: Up to 928 A.D. Calcutta: Firma K. L. Mukhopadhyay.


Zoetmulder, P. J. 1982. Old Javanese-English Dictionary. 2 jilid. The Hague: Martinus Nijhoff.


Hilang Anak Agung Bagus Sutedja

 Empat orang berseragam militer

datang di kediamannya di Jakarta. 



Ia ikut pergi bersama mereka.


Tidak ada yang pernah melihatnya lagi.


Pria itu bernama


Anak Agung Bagus Sutedja.


Pejuang kemerdekaan.


Gubernur pertama Bali.


Selama bertahun-tahun,

ia memimpin Bali.


Sampai situasi politik

setelah G30S

mengubah segalanya.


Konflik di tubuh PNI

membuat namanya

dikaitkan dengan PKI.


Keluarganya

membantah tuduhan itu.


Menurut putranya,

Anak Agung Gede Agung

Bagus Sutedja,

ayahnya tidak terlibat

Gerakan 30 September.


Bahkan beberapa bulan

sebelum ia menghilang,

Presiden Soekarno

masih memanggilnya

ke Istana Negara.


Ia diminta membantu

urusan negara.


Ia masih dipercaya.


Lalu datang


_29 Juli 1966.


Empat anggota militer

berseragam datang

ke rumahnya.


Mereka membawa

senjata laras panjang

dan pistol.


Sebuah mobil Nissan

berwarna abu-abu

menunggu di luar.


Sutedja ikut pergi.


Sejak saat itu,

keluarganya

tidak pernah melihatnya lagi.


Tidak ada pengadilan.


Tidak ada putusan

yang menyatakan

ia bersalah.


Tahun-tahun berlalu.


Nama Sutedja tetap berada

di dalam catatan sejarah Bali.


Kemudian..


_1989,


pemerintah akhirnya 

menerbitkan 

surat keterangan resmi 

yang menyatakan bahwa 

Anak Agung Bagus Sutedja 

TIDAK terlibat G30S.


Pemulihan nama baik itu 

datang terlambat. 


Namun Sutedja

tidak pernah kembali.


Jejaknya raib.


Ia tidak pernah

membela dirinya

di hadapan pengadilan.


Ia tidak pernah

menjalani hukuman.


Ia hanya menghilang.


_


by AJRaharjo

Senin, 05 Oktober 2026

PRASASTI ANJUK LADANG

 PRASASTI ANJUK LADANG : MELURUSKAN POLA PIKIR MENYIMPANG DARI SEJARAWAN KARBITAN YANG MENYEBUT BAHWA P.A.L BERISI PENAKLUKAN MEDANG



Menurut J.G. de Casparis, penduduk Desa Anjukladang mendapat anugerah raja dikarenakan telah berjasa membantu pasukan raja di bawah pimpinan Pu Sindok untuk menghalau serangan tentara Malayu (Sumatra) ke Mataram Kuno yang pada saat itu telah bergerak sampai dekat Nganjuk. Atas jasanya yang besar, maka Pu Sindok kemudian diangkat menjadi raja. Selain itu, prasasti ini juga berisi tentang adanya sebuah bangunan suci.


Dalam makalahnya yang berjudul Some Notes on Transfer of Capitals in Ancient Sri Lanka and Southeast Asia, de Casparis mengatakan bahwa dalam prasasti itu disebutkan bahwa Raja Pu Sindok mendirikan tugu kemenangan (jayastambha) setelah berhasil menahan serangan raja Malayu, dan pada tahun 937 M, tunggu tersebut digantikan oleh sebuah candi. Kemungkinan besar bangunan suci yang disebutkan dalam prasasti ini adalah bangunan Candi Lor yang terbuat dari bata yang terletak di Desa Candirejo.


Kutipan isi prasasti Anjuk Ladang yang menyebutkan hal itu: A. 14 – 15: … parnnaha nikanaŋ lmah uŋwana saŋ hyaŋ prasada atêhêra jaya[sta]mbha wiwit matêwêkniraŋlahakan satru[nira] [haj]ja[n] ri [ma]layu ( di tempat ini [yang telah terpilih] agar menjadi tempat didirikannya bangunan suci, sebagai pengganti tugu kemenangan, [di sanalah] pertamakali menandai saat ia [raja] mengalahkan musuhnya raja dari Malayu).


Dari bukti ini sangat jelas bahwa P. A. L adalah PRASASTI KEMENANGAN Desa Sima Anjuk/Nganjuk dari serangan Melayu. Bukan prasasti yang berkaitan dengan PERTAHANAN apalagi KEKALAHAN Medang. Perlunya literasi Ahli Sejarah SEMENANJUNG untuk mencermati dan merevisi jurnal dan artikelnya sebelum publish dimasyarakat. 


#medang #jawa #sunda #melayu #sriwijaya #champa #khmer #tiongkok #sejarah #indonesia #sorotan #semua #pengikut #fbpro #fyp

4 OKTOBER 1965

 4 OKTOBER 1965 - KETIKA SUMUR LUBANG BUAYA TERBUKA Pagi itu, kawasan Lubang Buaya, Jakarta Timur, menjadi saksi salah satu tragedi paling k...