Minggu, 08 Maret 2026

34 PERS 9-12 Mar 26

 [9/3 09.28] rudysugengp@gmail.com: Mulai lagi Senin Malam

9 Maret 26 

Pk. 21.08

[9/3 09.28] rudysugengp@gmail.com: 52 SUH

Buatlah Risalah dan Infografis tentang Pahlawan :

Usman Janatin


Lahir di 


Meninggal di

[9/3 09.29] rudysugengp@gmail.com: 53 SUH

Buatlah Risalah dan Infografis tentang Pahlawan :

Tohir

Kopral Harun bin Said


Lahir di 


Meninggal di

[9/3 09.47] rudysugengp@gmail.com: 58 SUH

Buatlah Risalah dan Infografis tentang Pahlawan :

Supeno

Pekalongan Jawa Tengah 


Lahir di 


Meninggal di

[9/3 11.33] rudysugengp@gmail.com: 70 SUH

Buatlah Risalah dan Infografis tentang Pahlawan :

Otto Iskandar Dinata 


Lahir di 


Meninggal di

[9/3 11.34] rudysugengp@gmail.com: 73 SUH

Buatlah Risalah dan Infografis tentang Pahlawan :

Yos Sudarso 

Salatiga 


Lahir di 


Meninggal di

[9/3 11.36] rudysugengp@gmail.com: 75 SUH

Buatlah Risalah dan Infografis tentang Pahlawan :

Abdulrachman Saleh

Jakarta 


Lahir di 


Meninggal di

[9/3 11.39] rudysugengp@gmail.com: 86 SUH

Buatlah Risalah dan Infografis tentang Pahlawan :

Tengku Amir Hamzah 

Tanjung Pura, Langkat, Sumatera Timur 


Lahir di 


Meninggal di

[9/3 11.41] rudysugengp@gmail.com: 96 SUH

Buatlah Risalah dan Infografis tentang Pahlawan :

I Gusti Ketut Jelantik

Bali


Lahir di 


Meninggal di

[9/3 11.45] rudysugengp@gmail.com: Selasa, 10 Maret 26 

Pukul 21.10

[9/3 11.46] rudysugengp@gmail.com: 1 SUK 

Buatlah Risalah dan Infografis tentang Pahlawan :

Abdul Muis 


Lahir di 


Meninggal di

[9/3 11.48] rudysugengp@gmail.com: 7 SUK 

Buatlah Risalah dan Infografis tentang Pahlawan :

Ernest Douwes Dekker 

(Danudirdja Setyabudi)


Lahir di 


Meninggal di

[9/3 11.50] rudysugengp@gmail.com: 10 SUK 

Buatlah Risalah dan Infografis tentang Pahlawan :

Dokter Sutomo 


Lahir di 


Meninggal di

[9/3 11.52] rudysugengp@gmail.com: 14 SUK 

Buatlah Risalah dan Infografis tentang Pahlawan :

Sukarjo Wirryopranoto 

Cilacap Jawa Tengah 


Lahir di 


Meninggal di

[9/3 11.56] rudysugengp@gmail.com: 24 SUK 

Buatlah Risalah dan Infografis tentang Pahlawan :

dr. Cipto Mangunkusumo 


Lahir di 


Meninggal di

[9/3 11.58] rudysugengp@gmail.com: 31 SUK 

Buatlah Risalah dan Infografis tentang Pahlawan :

KH Mohammad Hasyim Asy'ari 

Jombang Jatim 


Lahir di 


Meninggal di

[9/3 11.59] rudysugengp@gmail.com: 32 SUK 

Buatlah Risalah dan Infografis tentang Pahlawan :

RMTA Suryo

Magetan 


Lahir di 


Meninggal di

[9/3 12.00] rudysugengp@gmail.com: 33 SUK 

Buatlah Risalah dan Infografis tentang Pahlawan :

Letjen Urip Sumoharjo 

Purworejo Jawa Tengah 


Lahir di 


Meninggal di

[9/3 12.07] rudysugengp@gmail.com: Rabu, 11 Maret 26 

Pukul 21.10

[9/3 12.07] rudysugengp@gmail.com: 34 SUK 

Buatlah Risalah dan Infografis tentang Pahlawan :

Jenderal Sudirman 

Probolinggo Jawa Tengah 


Lahir di 


Meninggal di

[9/3 12.12] rudysugengp@gmail.com: 139 SBY

Buatlah Risalah dan Infografis tentang Pahlawan :

Ide Anak Agung Gde Agung

Bali


Lahir di 


Meninggal di

[9/3 12.13] rudysugengp@gmail.com: 140 SBY

Buatlah Risalah dan Infografis tentang Pahlawan :

Mayjen TNI Prof. Dr. Moestopo 

Kediri


Lahir di 


Meninggal di

[9/3 12.14] rudysugengp@gmail.com: 141 SBY

Buatlah Risalah dan Infografis tentang Pahlawan :

Slamet Riyadi 

Surakarta Jawa Tengah 


Lahir di 


Meninggal di

[9/3 12.16] rudysugengp@gmail.com: 144 SBY

Buatlah Risalah dan Infografis tentang Pahlawan :

Sutomo (Bung Tomo)

Surabaya Jawa Timur 


Lahir di 


Meninggal di

[9/3 12.17] rudysugengp@gmail.com: 146 SBY

Buatlah Risalah dan Infografis tentang Pahlawan :

Herman Johannes 

Rote NTT


Lahir di 


Meninggal di

[9/3 12.18] rudysugengp@gmail.com: 147 SBY

Buatlah Risalah dan Infografis tentang Pahlawan :

Achmad Subardjo 

Karawang Jawa Barat 


Lahir di 


Meninggal di

[9/3 12.24] rudysugengp@gmail.com: 129 SBY

Buatlah Risalah dan Infografis tentang Pahlawan :

Andi Abdullah Bau Massepe 

Sulawesi Selatan 


Lahir di 


Meninggal di

[9/3 12.30] rudysugengp@gmail.com: 148 SBY

Buatlah Risalah dan Infografis tentang Pahlawan :

Dr. J. Leimena 

Papua 


Lahir di 


Meninggal di

[9/3 12.31] rudysugengp@gmail.com: 150 SBY

Buatlah Risalah dan Infografis tentang Pahlawan :

Syafruddin Prawiranegara 

Serang Banten 


Lahir di 


Meninggal di

[9/3 12.32] rudysugengp@gmail.com: 151 SBY

Buatlah Risalah dan Infografis tentang Pahlawan :

Idham Chalid 


Lahir di 


Meninggal di

[9/3 12.33] rudysugengp@gmail.com: 152 SBY

Buatlah Risalah dan Infografis tentang Pahlawan :

Haji Abdul Malik Karim Amrullah (HAMKA)

Maninjau Sumatera Barat 


Lahir di 


Meninggal di

[9/3 12.35] rudysugengp@gmail.com: 153 SBY

Buatlah Risalah dan Infografis tentang Pahlawan :

Ki Sarmidi Mangunsarkoro 


Lahir di 


Meninggal di

[9/3 12.37] rudysugengp@gmail.com: 154 SBY

Buatlah Risalah dan Infografis tentang Pahlawan :

I Gusti Ketut Pudjo


Lahir di 


Meninggal di

[9/3 12.38] rudysugengp@gmail.com: 159 SBY

Buatlah Risalah dan Infografis tentang Pahlawan :

Letjen TB Simatupang 

Sidokalang


Lahir di 


Meninggal di

Mata Hati

 [7/3 18.54] rudysugengp@gmail.com: Number of replies: 0

GAPI (Gabungan Politik Indonesia)


GAPI merupakan organisasi yang dibentuk pada tahun 1939 sebagai upaya untuk menyatukan berbagai partai politik dan organisasi nasionalis di Indonesia dalam satu wadah untuk memperjuangkan kemerdekaan. GAPI didirikan dengan tujuan untuk menekan pemerintah kolonial Belanda agar memberikan kebebasan politik dan partisipasi yang lebih besar bagi bangsa Indonesia.


 


Dinamika Politik:


 


GAPI melibatkan banyak tokoh penting pergerakan nasional, termasuk Sutan Sjahrir, Soekarno, dan tokoh-tokoh lainnya dari berbagai latar belakang ideologi. Hal ini menunjukkan adanya kesadaran akan pentingnya persatuan di kalangan para pemimpin pergerakan.


GAPI menuntut otonomi yang lebih besar untuk Indonesia, pengakuan terhadap hak-hak politik, dan peran yang lebih besar bagi bangsa Indonesia dalam pemerintahannya.


Namun, GAPI juga menghadapi tekanan dari pemerintah kolonial Belanda, yang tidak ingin memberikan terlalu banyak kekuasaan kepada rakyat Indonesia. Meskipun begitu, GAPI berhasil memperjuangkan kesatuan antara berbagai fraksi dan kelompok pergerakan, memperkuat solidaritas dalam memperjuangkan kemerdekaan.


Dampak Dinamika Politik Ini


Peningkatan Kesadaran Politik: Fraksi Nasional, Petisi Sutrajo, dan GAPI memperkuat kesadaran politik di kalangan rakyat Indonesia dan membangkitkan semangat untuk memperjuangkan hak-hak mereka. Ini mempersiapkan rakyat Indonesia untuk tuntutan yang lebih besar terhadap pemerintah kolonial.


 


Pemecahan Kekuasaan Kolonial: Meskipun Belanda tetap mempertahankan kekuasaan mereka, tekanan dari berbagai fraksi dan organisasi seperti GAPI dan petisi-petisi semacam Petisi Sutrajo menunjukkan bahwa terdapat potensi perlawanan yang terorganisir. Hal ini akhirnya berkontribusi pada penurunan kekuasaan kolonial Belanda di Indonesia.


 


Penyatuan Gerakan Perjuangan: Dengan munculnya organisasi seperti GAPI, para pemimpin pergerakan menyadari pentingnya bersatu dalam perjuangan untuk kemerdekaan. Meskipun terdapat perbedaan dalam pendekatan politik dan ideologi, upaya untuk bekerja sama membuka jalan bagi gerakan yang lebih besar, yang akhirnya menghasilkan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945.


 


Kesimpulan


Dinamika politik masa kolonial di Indonesia sangat dipengaruhi oleh fraksi-fraksi nasionalis dan gerakan seperti Petisi Sutrajo dan GAPI. Mereka memainkan peran penting dalam memperjuangkan hak politik dan kemerdekaan Indonesia. Upaya ini membantu memperkuat rasa kesatuan di antara berbagai kelompok pergerakan, meningkatkan kesadaran politik di kalangan rakyat, dan menciptakan momentum yang akhirnya mengarah pada proklamasi kemerdekaan Indonesia.

[8/3 10.36] rudysugengp@gmail.com: MATAH ATI:

Perempuan Biasa yang Mengubah Jalannya Sejarah

Dari bukit Wonogiri hingga panggung dunia, kisah cinta, perang, dan kekuatan spiritual seorang istri pangeran yang terlupakan sejarah arus utama.


Oleh M. Basyir Zubair


Bayangkan ini: seorang gadis desa yang baru berusia belasan tahun, putri seorang ulama dari pedalaman Wonogiri, suatu malam tampak bercahaya saat tidur di antara kerumunan penonton wayang. Seorang pangeran pelarian,  buronan Belanda, pemimpin gerilya yang bersembunyi di hutan, terpaku menatapnya. Bukan karena kecantikannya semata. Ada sesuatu yang tak bisa dijelaskan oleh akal biasa.


Itulah awal mula kisah yang kemudian menjadi salah satu sendratari paling megah dalam sejarah kebudayaan Jawa: Matah Ati. Sebuah kisah yang berakar dari peristiwa nyata abad ke-18, lalu diabadikan dalam seni oleh Mangkunegara IV, dan kini terus hidup di atas panggung-panggung besar hingga mancanegara.


Siapa Sesungguhnya Rubiyah?

Nama aslinya adalah Rubiah,  bukan nama yang terdengar heroik, bukan nama bangsawan, bukan nama yang lazim disebut dalam buku-buku sejarah formal. Ia lahir dan tumbuh di Dusun Matah, putri Kiai Kasan Nur Iman, seorang pemuka agama dan tokoh masyarakat di desa Puh Kuning, wilayah yang kini masuk Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah (Maryanto, 2026).


Dalam catatan Maryanto (2026), ayahnya adalah figur sentral dalam pembentukan karakter Rubiah. Sejak kecil, Rubiah ditempa oleh disiplin laku prihatin, sebuah tradisi Jawa yang menggabungkan pengendalian diri, latihan spiritual, dan ketahanan batin. Ayahnya bukan sekadar ayah biologis; ia adalah guru dalam arti seluas-luasnya.


Ada dua momen yang dicatat dalam tradisi lisan sekaligus berbagai sumber sejarah: ketika Rubiah berusia 9 tahun, Kiai Kasan Nur Iman melihat cahaya terang memancar di atas kepala putrinya. Peristiwa yang sama terulang ketika Rubiah menginjak usia 14 tahun. Bagi sang ayah, ini bukan sekadar keajaiban biasa, ini pertanda takdir besar yang menanti (Maryanto, 2026).


Secara akademik, narasi "cahaya" semacam ini dikenal luas dalam tradisi hagiografi Jawa dan Islam Nusantara, sebuah cara masyarakat pramodern untuk mengkomunikasikan keistimewaan spiritual seseorang kepada generasi berikutnya (Woodward, 1989; Ricklefs, 2006). Dalam konteks budaya Jawa, ini bukan mitos, ini adalah cara bertutur tentang realitas yang diyakini benar-benar terjadi.


Malam Wayang yang Mengubah Segalanya


Pertemuan antara Rubiah dan Raden Mas Said,  yang lebih dikenal dunia sebagai Pangeran Samber Nyawa,  terjadi di sebuah pesanggrahan dekat Sendang Siwani, di kaki perbukitan Wonogiri. Malam itu ada pagelaran wayang. Pangeran yang sedang bergerilya dan bersembunyi dari kejaran Belanda hadir di sana (Maryanto, 2026).


Di antara kerumunan penonton, mata sang Pangeran tertangkap oleh sesuatu yang tak biasa: cahaya lembut yang memancar dari tubuh seorang gadis yang tertidur lelap di antara teman-temannya. Alih-alih membangunkannya, sang Pangeran memilih cara yang puitis sekaligus berani: ia menyobek ujung kain jarik yang dipakai gadis itu, sebagai tanda.


Keesokan harinya, utusan sang Pangeran mencari pemilik kain bertanda itu. Perjalanan mereka berakhir di Dusun Puh Kuning, dan di sanalah Rubiah ditemukan. Lamaran sang Pangeran diterima Kiai Kasan Nur Iman dengan suka cita. Setelah menikah, Raden Mas Said menghadiahi istrinya sebuah nama baru yang indah: Bendara Raden Ayu Kusuma Matah Ati (Maryanto, 2026).


Nama itu bukan sekadar penghormatan. Desa Puh Kuning pun berganti nama menjadi Desa Matah, sebuah jejak cinta yang terpatri dalam geografi wilayah hingga hari ini.


MATAH ATI


hari itu surakarta langit begitu kelam

karena belanda sudah menguasai kota

pangeran samber nyawa sangat marah

sebagai penguasa praja mangkunegaran

ia harus terusir di hutan wonogiri


pangeran samber nyawa bergerilya

di sekitar hutan kota surakarta

belanda sangat kuat tak terkalahkan

sehingga seorang wanita biasa

mengumpulkan wanita wanita desa


wanita itu bernama rubiyah

ia melatih bela diri dan perang

wanita wanita yang dikumpulkannya

menyerang belanda dari mana mana

sehingga kocar kacir pasukan belanda


karena cintanya yang sangat besar

kepada pangeran samber nyawa

membuat rubiyah sangat teguh

berperang melawan pasukan belanda

pasukannya kuat tidak terkalahkan


kisah heroik dan cinta kasih

yang diciptakan Mangkunegoro IV 

dalam langendriyan kraton solo sekarang menjadi sendratari Matah Ati 

yang terkenal sampai kemana mana


sungguh budaya Jawa yang adiluhung

memikat hati dan menjadi semangat trah Mangkunegaran untuk menteladani kisah Rubiyah dan Pangeran Samber Nyawa 


05122020


Perempuan yang Memimpin Perang.


Kisah Matah Ati bukan hanya soal romance. Di balik kisah cintanya yang memukau, ada dimensi lain yang tak kalah menggugah: seorang perempuan yang memilih angkat senjata. Ketika Belanda menguasai Surakarta dan sang suami harus bergerilya di hutan-hutan Wonogiri, Rubiah tidak berdiam diri. Ia mengumpulkan perempuan-perempuan desa, melatih mereka dalam bela diri dan strategi perang, lalu memimpin mereka menyerang pos-pos Belanda.


Ini bukan fiksi. Peran perempuan dalam perjuangan bersenjata di Nusantara bukanlah hal yang asing. Dari Cut Nyak Dhien di Aceh hingga Martha Christina Tiahahu di Maluku, sejarah Indonesia penuh dengan perempuan yang memilih jalan perlawanan ketika situasi menuntutnya (Kartodirdjo, 1973). Matah Ati adalah bagian dari tradisi panjang ini, hanya saja, suaranya lebih sering terdengar dalam nada gamelan daripada dalam buku teks sejarah.


Peran Kiai Kasan Nur Iman juga tak bisa diabaikan. Ia bukan sekadar mertua sang Pangeran, ia adalah guru spiritual Raden Mas Said, yang menempa menantunya melalui tirakat dan tapa brata di sendang-sendang keramat. Guru dan mertua sekaligus: figur yang jarang mendapat porsi cukup dalam narasi populer tentang Mangkunegaran (Maryanto, 2026).


Dari Langendriyan ke Panggung Dunia

Kisah Matah Ati pertama kali diabadikan dalam bentuk seni oleh Mangkunegara IV melalui Langendriyan,  sebuah pertunjukan tari-nyanyian berbahasa Jawa yang menjadi salah satu puncak pencapaian seni Kraton Solo abad ke-19. Langendriyan adalah genre opera Jawa yang unik, menggabungkan tembang, gerak, dan narasi epik dalam satu pertunjukan (Soedarsono, 1984).


Jauh kemudian, kisah ini dihidupkan kembali dalam format sendratari yang lebih besar dan lebih aksesibel: Sendratari Matah Ati, yang dipentaskan di berbagai panggung bergengsi, termasuk di luar negeri. Inilah yang disebut dalam puisi yang menjadi sumber tulisan ini: "kisah heroik dan cinta kasih / yang diciptakan Mangkunegoro IV / dalam langendriyan kraton solo / sekarang menjadi sendratari Matah Ati / yang terkenal sampai kemana mana" (Embas, 2020).


Fenomena ini menarik dari perspektif kajian budaya: bagaimana sebuah kisah personal,  kisah cinta seorang pangeran dan putri desa,  mampu bertransformasi menjadi simbol identitas kolektif trah Mangkunegaran, bahkan lebih luas lagi menjadi representasi budaya Jawa yang "adiluhung" (Sears, 1996).


Astana Giri Gunung Wijil: Bukit yang Menyimpan Sejarah


Hari ini, makam Bendara Raden Ayu Kusuma Matah Ati berdiri tenang di puncak sebuah bukit kecil di Kelurahan Kaliancar, Kecamatan Selogiri, Wonogiri. Kompleks pemakaman ini dikenal sebagai Astana Giri Gunung Wijil.


Menurut Juru Kunci Astana Giri, Rukiman, nama "Gunung Wijil" sendiri adalah penghormatan posthumous. Sebelumnya, bukit itu bernama Gunung Pencil. Ketika Matah Ati dimakamkan di sana, nama itu berubah, seolah bumi pun ikut menghormati perempuan yang dikebumikan di atasnya (Maryanto, 2026).


Ada pula cerita tentang dua lokasi yang dipertimbangkan sebagai tempat peristirahatan terakhirnya, keduanya memiliki "tanah yang wangi." Motif tanah wangi dalam tradisi Jawa sering dikaitkan dengan kemuliaan spiritual seseorang yang dimakamkan di sana; ini adalah elemen yang konsisten muncul dalam berbagai sumber tentang makam tokoh-tokoh suci Jawa (Mulder, 1978).


Mengapa Matah Ati Masih Relevan Hari Ini?


Di era ketika diskusi tentang peran perempuan, warisan budaya, dan identitas lokal semakin menguat, kisah Matah Ati hadir sebagai sumber daya narasi yang kaya. Ia bukan sekadar "tokoh sejarah", ia adalah model teladan (role model) yang lahir dari tanah Jawa sendiri, tanpa perlu diimpor dari luar.


Pertama, Matah Ati menunjukkan bahwa kepemimpinan perempuan dalam tradisi Jawa bukanlah anomali, ia adalah kelanjutan logis dari sebuah sistem nilai yang menghargai kekuatan batin dan keberanian moral di atas segalanya.


Kedua, kisahnya mengintegrasikan dimensi spiritual dan politik dalam satu narasi yang utuh, sebuah sintesis yang justru terasa sangat modern dalam wacana kepemimpinan kontemporer.


Ketiga, dan ini yang paling penting, kisah Matah Ati mengingatkan kita bahwa sejarah besar sering kali bermula dari tempat-tempat kecil yang tidak ada dalam peta kekuasaan. Dari sebuah dusun bernama Matah, dari seorang gadis bernama Rubiah, lahirlah sebuah warisan budaya yang kini dipentaskan di hadapan dunia.


Sungguh budaya Jawa yang adiluhung, begitu kata puisi yang menjadi salah satu sumber tulisan ini. Dan memang demikianlah adanya. Matah Ati bukan hanya milik trah Mangkunegaran. Ia adalah milik siapa saja yang percaya bahwa cinta, keberanian, dan pengabdian adalah nilai-nilai yang melampaui zaman, melampaui dinasti, melampaui batas-batas kewilayahan.


Di bukit Wonogiri, di Astana Giri Gunung Wijil, seorang perempuan bernama Rubiah masih tidur dengan tenang. Tanahnya wangi. Dan kisahnya masih terus bergema.


Daftar Pustaka


Embas (2020). Matah Ati [Puisi]. Dipublikasikan 5 Desember 2020.


Kartodirdjo, S. (1973). Protest Movements in Rural Java. Oxford University Press.


Maryanto, D. A. (2020). Napak Tilas Jejak Sang Pangeran Samber Nyawa (2): Makam Bendara Raden Ayu Kusuma Matah Ati. Facebook. Diakses 2020.


Mulder, N. (1978). Mysticism and Everyday Life in Contemporary Java. Singapore University Press.


Ricklefs, M. C. (2006). Mystic Synthesis in Java: A History of Islamization from the Fourteenth to the Early Nineteenth Centuries. EastBridge.


Sears, L. J. (1996). Shadows of Empire: Colonial Discourse and Javanese Tales. Duke University Press.


Soedarsono, R. M. (1984). Wayang Wong: The State Ritual Dance Drama in the Court of Yogyakarta. Gadjah Mada University Press.

Woodward, M. R. (1989). Islam in Java: Normative Piety and Mysticism in the Sultanate of Yogyakarta. University of Arizona Press.


Ucapan Terima Kasih

Penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Daniel Agus Maryanto atas tulisannya yang diterbitkan melalui media sosial Facebook, yang menjadi salah satu sumber utama dan inspirasi penulisan artikel ini. Kedalaman riset dan kepekaan budaya yang beliau tuangkan dalam tulisan tersebut sangat berharga bagi pengembangan kajian ini ke ranah akademik populer.


Yogyakarta, 01032026


Sumber foto google dan Daniel Agus Maryanto

Kamis, 05 Maret 2026

Rev Pah 3

126 SBY

Buatlah Risalah dan Infografis tentang Pahlawan :

Ismail Marzuki 

Biodata Singkat

Nama: Ismail bin Marzuki

Lahir di Jakarta, 11 Mei 1914.

Meninggal di Jakarta, 25 Mei 1958 (usia 44 tahun).

Keluarga: Menikah dengan Eulis Zuraidah (1940), memiliki anak bernama Rachmi Aziah.

Pendidikan: HIS Idenburg (sekolah dasar Belanda) dan MULO.

Julukan: "Bing Crosby dari Kwitang".


A. Ismail Marzuki (lahir di Jakarta, 11 Mei 1914 – wafat 25 Mei 1958) adalah maestro musik dan Pahlawan Nasional (2004) yang berjuang lewat lagu-lagu nasional patriotik. Karya ikoniknya seperti Rayuan Pulau Kelapa, Gugur Bunga, dan Halo, Halo Bandung membakar semangat pejuang. Ia aktif di Orkes Lief Java dan RRI, menciptakan ratusan lagu. 

B. Perjuangan dan Karya

1. Lagu Perjuangan: Ismail menciptakan lebih dari 200 lagu, sebagian besar bertema perjuangan, romansa, dan keindahan alam, di antaranya O Sarinah (1931), Rayuan Pulau Kelapa (1944), Sepasang Mata Bola (1946), dan Melati di Tapal Batas (1947).

2. Sikap Politik: Ia menolak bekerja sama dengan Belanda dan keluar dari RRI saat Belanda kembali menguasai Jakarta, serta aktif di Orkes Studio Djakarta.

3. Inspirasi Nasionalisme: Lagu-lagunya, terutama Gugur Bunga, sering dinyanyikan untuk menghormati pahlawan yang gugur.

4. Penghargaan: Ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia pada 5 November 2004 oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, dan namanya diabadikan sebagai pusat kesenian Taman Ismail Marzuki (TIM) di Jakarta. 

C. Perjuangan Masa Muda (Sebelum/Selama Kemerdekaan):

1. Jalur Seni Melawan Penjajah: Ismail Marzuki tidak angkat senjata, melainkan menggunakan musik sebagai alat perjuangan untuk membangkitkan rasa nasionalisme rakyat.

2. Menciptakan Lagu Perjuangan: Pada usia 17 tahun, ia sudah mengarang lagu "O Sarinah" (1931) yang menggambarkan kehidupan rakyat yang tertindas.

3. Karya Ikonik: Ia menciptakan lagu-lagu yang membakar semangat, seperti Halo-Halo Bandung (peristiwa Bandung Lautan Api), Rayuan Pulau Kelapa, dan Gugur Bunga (dedikasi untuk pahlawan yang gugur).

4. Nasionalis Sejati (Anti-NICA): Saat Belanda kembali (NICA), ia menolak bekerja sama dan memilih hidup sederhana, bahkan pernah berjualan gado-gado bersama istrinya, Eulis Zuraidah, daripada harus bekerja untuk Belanda.

5. Bergabung dengan Orkes Radio: Ia aktif di Hoso Kanri Kyoku (radio Jepang) dan kemudian RRI, menggunakan media radio untuk menyebarkan lagu-lagu nasionalis.

D. Perjuangan Menghadapi Penjajah

Ismail Marzuki menggunakan lagu sebagai alat perjuangan untuk membakar semangat patriotisme rakyat Indonesia. 

1. Masa Penjajahan Belanda: Ia menciptakan lagu-lagu yang membangkitkan rasa cinta tanah air. Ia juga terlibat dalam orkestra yang menyebarkan semangat persatuan.

2. Masa Pendudukan Jepang: Pada masa Jepang, Ismail Marzuki terlibat di lembaga Keimin Bunka Sidosho (Pusat Kebudayaan) dan Radio Hoso Kanri Kyoku. Meskipun berada di bawah tekanan Jepang, ia tetap menyelipkan pesan nasionalisme dalam karya-karyanya, salah satunya menciptakan "Rayuan Pulau Kelapa" (1944) 

E. Perjuangan Pasca Kemerdekaan Indonesia

Setelah proklamasi kemerdekaan, Ismail Marzuki terus berjuang mempertahankan kemerdekaan melalui lagu-lagu heroik.

1. Radio Republik Indonesia (RRI): Pasca 1945, ia bekerja di RRI dan berkontribusi besar membesarkan radio tersebut.

2. Lagu Perjuangan: Ia menciptakan lagu "Gugur Bunga" (1945) untuk menghormati pejuang yang gugur, dan "Halo-Halo Bandung" (1946) sebagai lambang perjuangan Bandung Lautan Api.

3. Sikap Anti-Penjajah: Sebagai bentuk sikap anti-penjajah, ia sempat berhenti bekerja dari RRI pada tahun 1947 saat Belanda melancarkan Agresi Militer, dan kembali bekerja setelah situasi lebih aman (1950-1956).

F. Akhir Hayat dan Keluarga

1. Wafat: Ismail Marzuki wafat pada 25 Mei 1958 di rumahnya di Gang Tenabang, Tanah Abang, Jakarta, akibat penyakit paru-paru.

2. Keluarga: Ia meninggalkan seorang istri, Eulis Zuraidah, dan seorang anak angkat, Rachmi Aziah (Mia).

3. Kehidupan Setelahnya: Sepeninggal Ismail Marzuki, keluarganya hidup dalam kondisi ekonomi yang sulit. Sang istri bahkan sempat harus menjual piringan hitam karya-karya almarhum untuk mencukupi kebutuhan hidup. 

4. Warisan: Namanya diabadikan sebagai pusat kesenian di Jakarta, yaitu Taman Ismail Marzuki (TIM). 

G. Karya dan Royalti

Jumlah Karya: Ismail Marzuki menciptakan lebih dari 200 hingga 250 lagu selama 27 tahun berkarier.

1. Jenis Karya: Lagu-lagu perjuangan, lagu nasional, lagu cinta (romantis), dan lagu bertema pemandangan alam (contoh: Rayuan Pulau Kelapa, Juwita Malam, Sabda Alam).

2. Royalti: Pada masa hidupnya, sistem royalti belum berjalan maksimal. Namun, keluarga Ismail Marzuki di kemudian hari menerima royalti atas hak cipta karya-karyanya, terutama setelah dikelola oleh lembaga manajemen kolektif (Lembaga Hak Cipta) dan perlindungan hukum terhadap lagu-lagu nasional.

H. Lagu yang "Dibenci" (Ditentang) Belanda, Jepang, dan Sukarno

1. Dibenci Jepang: Lagu-lagu yang dianggap terlalu bernuansa Barat (jazz/orkestra) atau bertema kebangsaan Indonesia yang terlalu kuat, seringkali dilarang atau disensor oleh Jepang.

2. Dibenci Belanda: Lagu-lagu perjuangan, khususnya "Halo-Halo Bandung", sangat tidak disukai Belanda karena dianggap membakar semangat rakyat untuk melawan agresi militer mereka.

3. Pandangan Sukarno (Presiden): Presiden Sukarno pada era 1950-an pernah melarang lagu-lagu berirama "Ngak-Ngik-Ngok" (musik Barat/Barat-baratan) karena dianggap merusak budaya bangsa, yang secara tidak langsung berdampak pada beberapa lagu Ismail Marzuki yang berirama dansa atau keroncong kebarat-baratan, meskipun Sukarno tetap menghormati dedikasinya. 

I. Hubungan Lagu dengan "Sarinah"

Ya, nama Sarinah yang digunakan oleh Presiden Sukarno untuk pusat perbelanjaan dan juga dalam bukunya "Sarinah" memang terinspirasi oleh lagu ciptaan Ismail Marzuki yang berjudul "O Sarinah" (1931). Lagu tersebut berkisah tentang sosok perempuan kecil yang malang, dan Sukarno menggunakan nama itu untuk melambangkan rakyat kecil yang harus dimuliakan.



RISALAH PAHLAWAN NASIONAL

Ismail Marzuki

Maestro Lagu Perjuangan Indonesia

Biodata Singkat

  • Nama lengkap: Ismail bin Marzuki
  • Lahir: Jakarta, 11 Mei 1914
  • Wafat: Jakarta, 25 Mei 1958 (usia 44 tahun)
  • Istri: Eulis Zuraidah (menikah 1940)
  • Anak: Rachmi Aziah (Mia)
  • Pendidikan: HIS Idenburg dan MULO
  • Julukan: “Bing Crosby dari Kwitang”

Ismail Marzuki dikenal sebagai komponis besar Indonesia yang memperjuangkan kemerdekaan melalui seni musik. Lagu-lagunya membangkitkan semangat patriotisme rakyat Indonesia pada masa penjajahan hingga masa awal kemerdekaan.


Perjuangan dan Karya

Selama hidupnya, Ismail Marzuki menciptakan lebih dari 200–250 lagu dalam berbagai tema: perjuangan, cinta, dan keindahan alam Indonesia.

Lagu-lagu terkenal

  • Rayuan Pulau Kelapa (1944)
  • Gugur Bunga (1945)
  • Halo-Halo Bandung (1946)
  • Sepasang Mata Bola (1946)
  • Melati di Tapal Batas (1947)
  • O Sarinah (1931)

Lagu-lagu tersebut menjadi simbol perjuangan rakyat Indonesia dan sering dinyanyikan untuk mengenang para pahlawan.


Perjuangan Masa Penjajahan

Jalur Seni Melawan Penjajah

Ismail Marzuki tidak berjuang dengan senjata, tetapi dengan musik dan lagu nasionalis yang membakar semangat rakyat.

Masa Pendudukan Jepang

Ia aktif di lembaga kebudayaan Jepang dan radio Hoso Kanri Kyoku, namun tetap menyelipkan pesan nasionalisme dalam lagu-lagunya.

Masa Revolusi

Setelah kemerdekaan, ia aktif di Radio Republik Indonesia (RRI) untuk menyiarkan lagu-lagu perjuangan.

Saat Belanda kembali melalui NICA, ia menolak bekerja sama dengan penjajah dan memilih hidup sederhana bersama istrinya.


Sikap Nasionalisme

Ismail Marzuki dikenal sebagai seniman yang teguh memegang prinsip:

  • Menolak bekerja untuk penjajah
  • Menggunakan radio dan musik untuk membangkitkan semangat rakyat
  • Mengabdikan hidupnya untuk budaya dan perjuangan bangsa

Akhir Hayat

Ismail Marzuki wafat pada 25 Mei 1958 di Jakarta karena penyakit paru-paru.
Ia dimakamkan dengan penghormatan besar sebagai komponis nasional.

Sepeninggalnya, keluarga sempat mengalami kesulitan ekonomi, bahkan istrinya harus menjual piringan hitam karya-karya beliau untuk bertahan hidup.


Penghargaan dan Warisan

Pada 5 November 2004, pemerintah Indonesia menetapkan Ismail Marzuki sebagai Pahlawan Nasional oleh Presiden
Susilo Bambang Yudhoyono.

Namanya kemudian diabadikan sebagai pusat kesenian terkenal di Jakarta:

🏛 Taman Ismail Marzuki (TIM)

Tempat ini menjadi pusat kegiatan seni, teater, musik, dan budaya Indonesia.


Warisan Abadi

Lagu-lagu Ismail Marzuki menjadi bagian penting dalam sejarah bangsa.
Karya-karyanya tidak hanya menghibur, tetapi juga membangkitkan cinta tanah air dan semangat perjuangan.

“Melalui nada dan syair, Ismail Marzuki mengobarkan api nasionalisme Indonesia.”




130 SBY

Buatlah Risalah dan Infografis tentang Pahlawan :

Teuku Mohammad Hasan 

Nama Lahir: Teuku Sarong

Lahir di Sigli, Aceh, 4 April 1906.

Meninggal di Aceh, 21 September 1997.

Orang Tua: Teuku Bintara Pineung Ibrahim (Ulee Balang) dan Tjut Manyak.

Pendidikan: Leiden University, Belanda (Meester in de Rechten/Hukum).

Gelar: Pahlawan Nasional (SK Presiden No. 085/TK/Tahun 2006). 


A. Mr. Teuku Mohammad Hasan (4 April 1906 – 21 September 1997) adalah Pahlawan Nasional Indonesia asal Sigli, Aceh, yang menjabat sebagai Gubernur Sumatera pertama (1945) dan Menteri Pendidikan/Kebudayaan dalam Kabinet Darurat. Beliau berperan krusial dalam PPKI, mempertahankan proklamasi, dan mendirikan berbagai lembaga pendidikan di Aceh. 

B. Perjuangan dan Kiprah:

1. Masa Pergerakan: Aktif dalam Perhimpunan Indonesia di Belanda bersama Mohammad Hatta.

2. Pendidikan: Mendirikan Perguruan Taman Siswa di Kutaraja (Aceh) pada 1937.

3. PPKI (1945): Menjadi anggota Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia, mewakili Sumatera dalam merumuskan UUD 1945.

4. Gubernur Sumatera: Dilantik menjadi Gubernur pertama Sumatera pada 22 Agustus 1945.

5. PDRI: Menjabat Wakil Ketua Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) dan Menteri Dalam Negeri/Pendidikan pada 1948–1949.

6. Pengelolaan Minyak: Menjadi ketua panitia negara urusan pertambangan (1951) untuk menyusun UU perminyakan nasional. 

7. Teuku Mohammad Hasan adalah tokoh sentral yang gigih mempertahankan kemerdekaan Indonesia di wilayah Sumatera, baik melalui diplomasi, pendidikan, maupun struktur pemerintahan. 

C. Perjuangan Era Belanda

1. Pendidikan dan Pergerakan: Kembali ke Aceh tahun 1933, ia mendirikan sekolah Taman Siswa di Kutaraja (1937) untuk mencerdaskan bangsa.

2. Aktivitas Politik: Aktif di organisasi pergerakan, menentang penjajahan dengan kecerdasan hukum dan politik, serta bergabung dengan Perhimpunan Indonesia di Belanda.

3. Birokrasi: Bekerja di kantor Gubernur Sumatera (Medan) hingga 1942. 

D. Perjuangan Era Jepang

1. Melawan Propaganda: Meski bekerja di birokrasi, Hasan tetap konsisten berjuang untuk kemerdekaan.

2. Persiapan Kemerdekaan: Menjadi anggota Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) pada Agustus 1945, ikut merumuskan UUD 1945. 

E. Perjuangan Pasca Kemerdekaan

1. Gubernur Sumatra: Diangkat menjadi Gubernur Sumatra I (1945) dan memperjuangkan proklamasi di Sumatera.

2. Pemerintahan Darurat (PDRI): Menjabat sebagai Menteri Dalam Negeri, Menteri Pendidikan, dan Menteri Agama dalam Kabinet Darurat (PDRI) di bawah Sjafruddin Prawiranegara (1948-1949) untuk menyelamatkan RI dari agresi Belanda.

3. Pernah ditangkap Belanda. Pada masa Agresi Militer Belanda II (1948-1949), Teuku Mohammad Hasan ditangkap dan ditawan oleh Belanda saat bertugas di Sumatera, kemudian dibebaskan setelah pengakuan kedaulatan.

4. Diplomasi: Berperan dalam diplomasi dan menyatukan rakyat Sumatra mempertahankan RI. 

F. Akhir Hayat & Keluarga

1. Wafat: Beliau meninggal di usia 91 tahun karena sakit di Jakarta.

2. Warisan: Di akhir hayatnya, ia fokus pada dunia pendidikan dan mendirikan Universitas Serambi Mekkah di Banda Aceh pada tahun 1984.

3. Keluarga: Meninggalkan istri dan anak-anak yang beberapa di antaranya aktif melanjutkan yayasan pendidikan yang ia bangun.



RISALAH PAHLAWAN NASIONAL

TEUKU MOHAMMAD HASAN

Nama Lahir: Teuku Sarong
Lahir: Sigli, Aceh — 4 April 1906
Wafat: 21 September 1997 (usia 91 tahun)

Identitas Tokoh

  • Nama Lahir: Teuku Sarong
  • Tempat Lahir: Sigli, Aceh
  • Tanggal Lahir: 4 April 1906
  • Wafat: 21 September 1997
  • Orang Tua: Teuku Bintara Pineung Ibrahim (Ulee Balang) dan Tjut Manyak
  • Pendidikan:
    • Leiden University, Belanda
    • Gelar Meester in de Rechten (Sarjana Hukum)
  • Gelar: Pahlawan Nasional
    • SK Presiden No. 085/TK/Tahun 2006

Profil Singkat

Mr. Teuku Mohammad Hasan adalah tokoh perjuangan dari Aceh yang berperan besar dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Ia dikenal sebagai Gubernur pertama Sumatera serta tokoh penting dalam pembentukan pemerintahan Republik Indonesia.


Perjuangan dan Kiprah

1. Masa Pergerakan

Aktif dalam organisasi Perhimpunan Indonesia di Belanda bersama
Mohammad Hatta.

2. Pendidikan

Mendirikan sekolah Taman Siswa di Kutaraja (Aceh) pada tahun 1937 untuk mencerdaskan masyarakat.

3. PPKI (1945)

Menjadi anggota Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia yang merumuskan dasar negara dan konstitusi Indonesia.

4. Gubernur Sumatera

Dilantik sebagai Gubernur Sumatera pertama pada 22 Agustus 1945.

5. Pemerintah Darurat Republik Indonesia

Menjadi pejabat penting dalam Pemerintahan Darurat Republik Indonesia
di bawah pimpinan
Sjafruddin Prawiranegara.

Ia pernah menjabat:

  • Menteri Dalam Negeri
  • Menteri Pendidikan
  • Menteri Agama

6. Pengelolaan Minyak Nasional

Tahun 1951 menjadi ketua panitia negara urusan pertambangan untuk menyusun undang-undang perminyakan nasional.


Perjuangan Era Kolonial Belanda

  1. Pendidikan dan Pergerakan
    Setelah kembali dari Belanda (1933), ia aktif mengembangkan pendidikan dan mendirikan sekolah Taman Siswa.

  2. Perjuangan Politik
    Menggunakan kemampuan hukum dan politik untuk menentang penjajahan Belanda.

  3. Birokrasi
    Pernah bekerja di kantor Gubernur Sumatera di Medan hingga tahun 1942.


Perjuangan Era Jepang

  1. Tetap mempertahankan semangat nasionalisme walaupun bekerja dalam struktur pemerintahan Jepang.
  2. Ikut mempersiapkan kemerdekaan Indonesia melalui keterlibatan dalam PPKI.

Perjuangan Pasca Kemerdekaan

  1. Mempertahankan Republik di Sumatera
    Sebagai Gubernur Sumatera pertama.

  2. PDRI (1948–1949)
    Membantu mempertahankan pemerintahan Indonesia saat agresi Belanda.

  3. Diplomasi dan Konsolidasi
    Menyatukan rakyat Sumatera untuk mempertahankan kemerdekaan.


Akhir Hayat dan Warisan

  • Wafat pada 21 September 1997 dalam usia 91 tahun.
  • Berkontribusi besar dalam dunia pendidikan Aceh.
  • Mendirikan Universitas Serambi Mekkah pada tahun 1984.

Nilai Keteladanan

  • Nasionalisme
  • Pendidikan sebagai alat perjuangan
  • Kepemimpinan dalam masa krisis
  • Dedikasi terhadap persatuan Indonesia



131 SBY

Buatlah Risalah dan Infografis tentang Pahlawan :

RM Tirto Adhi Suryo

Nama Asli: Raden Mas Djokomono.

Lahir di Blora, Jawa Tengah, 20 Juli 1880.

Meninggal di Batavia, 7 Desember 1918.

Dikenal Sebagai: Bapak Pers Nasional, Pelopor Jurnalistik Bumiputra

Pendidikan: STOVIA (Sekolah Kedokteran Bumiputra di Batavia), namun tidak selesai karena lebih memilih dunia jurnalistik.

Karya Utama: Medan Prijaji (1907).

Gelar Pahlawan: Ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional pada 3 November 2006 melalui Keppres RI no 85/TK/2006.


A. Tirto Adhi Soerjo, Bapak Pers Indonesia, lahir pada 20 Juli 1880 di Blora, Jawa Tengah, dengan nama asli Raden Mas Djokomono. Beliau adalah tokoh pers dan perintis nasionalisme yang mendirikan surat kabar nasional pertama, Medan Prijaji. Ia wafat di Batavia pada 7 Desember 1918. 

B. Perjuangan dan Kepeloporan

1. Perjuangan Tirto Adhi Soerjo sangat menonjol di awal abad XX, berfokus pada kesadaran politik dan persamaan hak bagi kaum pribumi. 

2. Pendiri Surat Kabar Pribumi Pertama:

Tirto mendirikan surat kabar "Medan Prijaji" pada tahun 1907 di Bandung (kemudian pindah ke Batavia). Ini adalah surat kabar pertama yang dikelola, ditulis, dan diterbitkan oleh orang pribumi (bumiputra) menggunakan bahasa Melayu.

3. Jurnalistik Kritis dan Anti-Kolonial:

Gaya penulisannya tajam dan inovatif. Ia menggunakan pers untuk mengkritik kebijakan pemerintah kolonial Belanda yang dianggap tidak adil terhadap rakyat pribumi. Ia juga mendirikan Soenda Berita (1903–1905) dan Medan Prijaji sebagai media untuk mendidik rakyat.

4. Pelopor Organisasi dan Kesadaran Nasional:

Selain pers, Tirto mendirikan Sarekat Prijaji (1906), sebuah organisasi modern yang bertujuan memajukan pendidikan dan membantu pengusaha/intelektual bumiputra. Ia dianggap meletakkan dasar kesadaran kebangsaan sebelum era Budi Utomo.

Resiko Perjuangan (Pengasingan):

5. Akibat kritik tajamnya yang merugikan kepentingan Belanda, Tirto ditangkap dan dibuang (diasingkan) ke Pulau Bacan, Maluku, pada tahun 1914. Ia wafat dalam keadaan "mati dalam sunyi" pada tahun 1918 setelah masa pembuangannya.

C. Mengapa Disebut Bapak Pers Nasional?

Medan Prijaji (1907): Surat kabar pertama yang dimiliki dan dikelola bumiputra.

1. Jurnalistik Modern: Menggunakan pers sebagai alat pendidikan rakyat dan kritik sosial.

2. Pelopor Jurnalis Pribumi: Menginspirasi jurnalis pribumi lainnya untuk menggunakan media sebagai alat pergerakan. 

3. Kisah perjuangannya yang gigih diabadikan dalam buku "Sang Pemula" karya Pramoedya Ananta Toer.

D. Penangkapan oleh Belanda

Tirto ditangkap dan diasingkan oleh Belanda karena tulisan-tulisannya yang dinilai sangat kritis, tajam, dan membahayakan kedudukan pemerintah kolonial. 

1. Alasan Penangkapan: Tulisan di Medan Prijaji yang membongkar kasus-kasus ketidakadilan yang dilakukan oleh pejabat-pejabat Belanda dan bumiputera yang korup.

2. Tempat Pengasingan: Pada tahun 1914, ia diasingkan ke Pulau Bacan (Maluku).

3. Berapa Lama Diasingkan? Ia menjalani masa pembuangan sekitar 3 tahun, dari tahun 1914 hingga dibebaskan pada tahun 1917. 

4. Setelah masa pengasingannya usai, ia kembali ke Jawa dalam keadaan miskin dan sakit-sakitan, lalu wafat pada 7 Desember 1918 di Batavia dan dimakamkan di Bogor. 

E. Karya Saat Diasingkan

Meskipun dalam masa pengasingan dan ditekan secara fisik maupun mental, ia tetap produktif.

1. Karya: Selama masa pembuangan di Maluku, ia menghasilkan karya tulis yang menggambarkan penderitaan dan refleksi atas pengasingannya, yang sering dimuat setelah ia kembali atau diselundupkan.

2. Judul Karya: Di antaranya adalah "Sedjarah Hidup Tirto Adhi Soerjo" (catatan memoar) dan tulisan-tulisan lain yang mendokumentasikan pengalamannya yang kemudian diterbitkan dalam buku "Pers Progresif". 

F. Sastrawan dan Film Kisahnya

1. Sastrawan yang Menuliskan Kisahnya: Pramoedya Ananta Toer menulis tetralogi novel sejarah (Tetralogi Buru) yang tokoh utamanya, Minke, diinspirasi langsung dari sosok Raden Mas Tirto Adhi Soerjo. Novel tersebut terdiri dari Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca.

2. Film: Kisah ini difilmkan dalam judul "Bumi Manusia" (2019), disutradarai oleh Hanung Bramantyo, dengan sosok Minke (Tirto) diperankan oleh Iqbaal Ramadhan. 

3. Shooting Film: Lokasi utama syuting berada di Studio Alam Gamplong (Sleman, Yogyakarta) yang didesain ulang menjadi suasana Batavia awal abad ke-20. 

G. Akhir Hayat dan Keluarga

1. Akhir Hayat: Tirto wafat pada 7 Desember 1918 di sebuah hotel kecil (Hotel Samirono) di kawasan Kramat Raya, Batavia, dalam keadaan sakit, miskin, dan kesepian akibat depresi.

2. Keluarga: Ia sempat memiliki kehidupan keluarga, namun perjuangannya membuat ia terasing dari lingkungan bangsawan Jawa dan hidup susah di akhir hayatnya. Makamnya sempat tak terurus sebelum akhirnya dipindahkan oleh keluarga ke Pemakaman Blender, Bogor, pada 30 Desember 1973.



RISALAH PAHLAWAN NASIONAL

RM TIRTO ADHI SURYO

(Raden Mas Djokomono)
20 Juli 1880 – 7 Desember 1918

Bapak Pers Nasional – Pelopor Jurnalistik Bumiputra


A. IDENTITAS

Nama Asli: Raden Mas Djokomono
Lahir: Blora, Jawa Tengah, 20 Juli 1880
Wafat: Batavia, 7 Desember 1918

Dikenal sebagai:
Bapak Pers Nasional dan Pelopor Jurnalistik Bumiputra

Pendidikan:
STOVIA (Sekolah Kedokteran Bumiputra di Batavia) – tidak selesai karena memilih dunia jurnalistik.

Karya Utama:
Surat kabar Medan Prijaji (1907)

Gelar Pahlawan Nasional:
Ditetapkan pada 3 November 2006 melalui Keppres RI No. 85/TK/2006


B. PROFIL SINGKAT

RM Tirto Adhi Suryo adalah tokoh pers dan pelopor nasionalisme Indonesia pada awal abad ke-20.
Ia menggunakan media pers sebagai alat perjuangan politik dan pendidikan rakyat.

Melalui surat kabarnya Medan Prijaji, ia menyuarakan ketidakadilan yang dialami rakyat bumiputra di bawah pemerintahan kolonial Belanda.

Karena keberaniannya, ia sering mendapat tekanan dari pemerintah kolonial hingga akhirnya diasingkan oleh Belanda.


C. PERJUANGAN DAN KEPELOPORAN

1. Pendiri Surat Kabar Pribumi Pertama

Pada tahun 1907, Tirto mendirikan surat kabar Medan Prijaji.
Surat kabar ini merupakan media pertama yang dimiliki, ditulis, dan diterbitkan oleh bumiputra menggunakan bahasa Melayu.

2. Jurnalis Kritis dan Anti-Kolonial

Tulisan-tulisannya terkenal tajam, kritis, dan berani dalam mengkritik kebijakan pemerintah kolonial Belanda.

Pers ia gunakan sebagai alat perjuangan untuk menuntut keadilan dan persamaan hak bagi rakyat pribumi.

3. Pelopor Organisasi Modern

Tirto juga mendirikan Sarekat Prijaji (1906), organisasi yang bertujuan meningkatkan pendidikan dan kesejahteraan kaum bumiputra.

Organisasi ini dianggap sebagai salah satu awal kesadaran nasional Indonesia sebelum lahirnya organisasi besar seperti Budi Utomo.


D. MENGAPA DISEBUT BAPAK PERS NASIONAL?

1. Medan Prijaji (1907)
Surat kabar pertama yang dimiliki dan dikelola oleh pribumi.

2. Pelopor Jurnalistik Modern
Menggunakan pers sebagai sarana pendidikan rakyat dan kritik sosial.

3. Inspirasi Jurnalis Nasional
Mengilhami lahirnya banyak jurnalis pribumi yang menjadikan pers sebagai alat perjuangan nasional.


E. PENANGKAPAN DAN PENGASINGAN

Akibat tulisan-tulisannya yang keras mengkritik pemerintah kolonial, Tirto dianggap membahayakan kekuasaan Belanda.

Tahun 1914 ia ditangkap dan diasingkan ke Pulau Bacan, Maluku.

Ia menjalani masa pengasingan selama beberapa tahun hingga dibebaskan pada 1917.

Namun setelah kembali ke Jawa, ia hidup dalam keadaan sakit dan miskin.


F. WARISAN KEBUDAYAAN

Perjuangan dan kehidupannya menginspirasi karya sastra besar karya Pramoedya Ananta Toer dalam novel:

  • Bumi Manusia
  • Anak Semua Bangsa
  • Jejak Langkah
  • Rumah Kaca

Tokoh utama Minke dalam tetralogi tersebut terinspirasi dari sosok RM Tirto Adhi Suryo.

Kisah ini juga difilmkan dalam film “Bumi Manusia” (2019).


G. AKHIR HAYAT

RM Tirto Adhi Suryo wafat pada 7 Desember 1918 di Batavia dalam keadaan sakit dan hidup sederhana setelah masa pengasingannya.

Beliau kemudian dimakamkan di Bogor.


RM Tirto Adhi Suryo dikenang sebagai pelopor pers nasional dan tokoh yang menggunakan jurnalistik sebagai alat perjuangan kemerdekaan Indonesia.




132 SBY 

Buatlah Risalah dan Infografis tentang Pahlawan :

KH Noer Alie.

Lahir di Ujung Malang, Babelan, Bekasi, 15 Juli 1914.

Meninggal di Babelan, Bekasi, 29 Januari 1992 (dimakamkan di Ponpes Attaqwa, Babelan).

Orang Tua: H. Anwar bin Layu (ayah) dan Hj. Maimunah (ibu)

Pendidikan: Belajar agama dari ayah/kakak, Guru Maksum, Guru Mughni (Klender), dan menuntut ilmu di Mekkah (1934-1940)

Julukan: Singa Karawang-Bekasi

Gelar: Pahlawan Nasional (ditetapkan Presiden SBY pada 9 November 2006).


A. KH Noer Alie (1914-1992) adalah Pahlawan Nasional asal Bekasi, Jawa Barat, yang dijuluki "Singa Karawang-Bekasi". Sebagai ulama kharismatik dan pendiri Pesantren At-Taqwa, beliau memimpin laskar rakyat melawan penjajah Belanda dan Jepang (1945-1947), serta aktif dalam perjuangan politik mempertahankan kemerdekaan NKRI. Beliau wafat pada 29 Januari 1992. 

B. Perjuangan KH Noer Alie

1. Pendidikan dan Dakwah: Sepulang dari Mekkah pada 1940, beliau mendirikan Pesantren At-Taqwa di Ujung Malang untuk mendidik pemuda dengan semangat nasionalisme dan agama, menjadikannya pusat perlawanan moral.

2. Membentuk Laskar Rakyat: Pada 1945, beliau membentuk laskar rakyat beranggotakan 200 pemuda untuk menghadapi Jepang dan Sekutu.

3. Memimpin Medan Laga (Karawang-Bekasi): Beliau memimpin pertempuran melawan Belanda pada 1947. Beliau dikenal gagah berani dalam pertempuran Sasak Kapuk (Pondok Ungu) dan pertempuran lainnya di wilayah Karawang-Bekasi.

4. Komandan Hizbullah: KH Noer Alie pernah menjabat sebagai Komandan Batalyon Tentara Hizbullah Bekasi.

5. Perjuangan Diplomatik & Politik:

* Ketua Panitia Amanat Rakyat Bekasi (menuntut Bekasi bergabung NKRI).

* Ketua Masyumi Cabang Jatinegara.

* Anggota Dewan Konstituante (1956).

* Ketua MUI Jawa Barat (1971-1975). 

C. Masa Muda dan Belajar di Luar Negeri (Mekkah)

1. Pendidikan Awal: Sejak kecil, Noer Alie sudah mandiri dan belajar agama dari guru-guru setempat di Bekasi.

2. Belajar di Jakarta: Beliau belajar di Pondok Guru Marzuki (Guru Marzuki bin Mirshod) di Jakarta, yang terkenal dengan penanaman kedisiplinan dan kemandirian.

3. Belajar di Mekkah (Luar Negeri): Pada tahun 1930-an, Noer Alie melanjutkan studi ke Mekkah, Arab Saudi. Di sana, beliau memperdalam ilmu agama selama sekitar 6 tahun, termasuk mempelajari taktik perjuangan dan kepemimpinan. Beliau juga mendirikan Persatuan Pelajar Betawi di Mekkah untuk menyatukan pelajar-pelajar dari tanah air. 

D. Perjuangan Melawan Jepang dan Belanda

1. Masa Jepang: Mengaktifkan pendidikan Islam sebagai alat perjuangan dan membentuk mental pemuda. Ia juga terlibat memimpin laskar rakyat di Bekasi-Karawang.

2. Pertempuran Sasak Kapuk (1945): KH Noer Alie memimpin perlawanan rakyat melawan tentara Inggris (sekutu) dan Belanda di Bekasi.

3. Komandan Hizbullah: Menjadi Komandan Batalyon Hizbullah Bekasi yang aktif bergerilya melawan Agresi Militer Belanda I (1947).

4. Taktik Gerilya: Membentuk Markas Pusat Hizbullah Sabilillah di Tanjung Karekok, Cikampek, setelah Bekasi dikuasai Belanda.

5. Perjanjian Renville: Pasca perjanjian 1948, ia hijrah ke Banten, sempat ditangkap Belanda di Cipayung namun berhasil meloloskan diri. 

E. Perjuangan Pasca Kemerdekaan (Indonesia Merdeka)

1. Penyatuan NKRI: Menjadi Ketua Panitia Amanat Rakyat Bekasi untuk membawa kembali wilayah Bekasi ke dalam pangkuan NKRI dari negara pasundan (RIS).

2. Politik: Ketua Masyumi Cabang Jatinegara (1950) dan Ketua Masyumi Bekasi.

3. Dewan Konstituante: Menjadi anggota Dewan Konstituante pada tahun 1956.

4. Pendidikan & Sosial: Mendirikan lembaga pendidikan Attaqwa dan memimpin Badan Kerja Sama Pondok Pesantren (BKSPP) Jawa Barat.

5. Penumpasan PKI: Ikut aktif menumpas pergerakan G30S/PKI di wilayah Bekasi dan Jakarta.

6. Ketua MUI: Menjadi Ketua MUI Jawa Barat (1971–1975). 

F. Akhir Hayat dan Keluarga

1. Wafat: KH Noer Alie wafat pada 29 Januari 1992.

2. Gelar Pahlawan: Pemerintah Indonesia menetapkannya sebagai Pahlawan Nasional pada tahun 2006 atas jasa-jasanya yang besar terhadap bangsa.

3. Keluarga: Beliau meninggalkan keluarga besar yang meneruskan perjuangannya dalam bidang pendidikan melalui Yayasan Attaqwa di Bekasi. 

G. Karakter dan Warisan

KH Noer Alie dikenal tidak hanya sebagai pejuang militer, tetapi juga pendamai yang toleran dan memiliki hubungan baik dengan berbagai kalangan (NU, Muhammadiyah, Persis). Perjuangan beliau tidak hanya fisik, tetapi juga membangun madrasah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.



RISALAH PAHLAWAN NASIONAL

KH NOER ALIE

“Singa Karawang–Bekasi”

Nama: KH Noer Alie
Lahir: Ujung Malang, Babelan, Bekasi — 15 Juli 1914
Wafat: Babelan, Bekasi — 29 Januari 1992
Dimakamkan: Pondok Pesantren Attaqwa, Babelan

Orang Tua:

  • Ayah: H. Anwar bin Layu
  • Ibu: Hj. Maimunah

Gelar: Pahlawan Nasional Indonesia (2006)


PROFIL SINGKAT

KH Noer Alie adalah ulama pejuang dari Bekasi yang dijuluki “Singa Karawang–Bekasi”.
Ia memimpin laskar rakyat melawan penjajah Jepang dan Belanda, sekaligus mengembangkan pendidikan Islam melalui Pesantren Attaqwa.

Perjuangannya meliputi perlawanan fisik, dakwah, pendidikan, dan politik demi mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).


PENDIDIKAN DAN MASA MUDA

Pendidikan Awal

Sejak kecil belajar agama dari:

  • Ayahnya sendiri
  • Guru Maksum
  • Guru Mughni (Klender)

Belajar di Jakarta

Belajar di pesantren Guru Marzuki bin Mirshod yang terkenal dengan pendidikan disiplin dan kemandirian.

Studi di Timur Tengah

Pada 1934–1940 beliau menuntut ilmu di Mecca.

Di sana beliau:

  • Memperdalam ilmu agama
  • Belajar kepemimpinan dan strategi perjuangan
  • Mendirikan Persatuan Pelajar Betawi di Mekkah

PERJUANGAN MELAWAN PENJAJAH

1. Pendidikan & Dakwah

Sepulang dari Mekkah (1940) beliau mendirikan:

Pesantren At-Taqwa di Ujung Malang, Bekasi.

Pesantren ini menjadi:

  • pusat pendidikan Islam
  • pusat pembinaan pemuda
  • basis semangat nasionalisme

2. Membentuk Laskar Rakyat

Pada tahun 1945 beliau membentuk laskar rakyat beranggotakan sekitar 200 pemuda untuk melawan penjajah.


3. Pertempuran Karawang–Bekasi

Beliau memimpin berbagai pertempuran melawan Belanda, antara lain:

  • Pertempuran Sasak Kapuk (Pondok Ungu)
  • Perlawanan rakyat di wilayah Bekasi dan Karawang

Karena keberaniannya ia dijuluki:

“Singa Karawang–Bekasi”


4. Komandan Hizbullah

Beliau menjadi Komandan Batalyon Tentara Hizbullah Bekasi yang berjuang dalam perang kemerdekaan Indonesia.

Setelah Bekasi dikuasai Belanda, markas gerilya dipindahkan ke:

Tanjung Karekok, Cikampek


PERJUANGAN POLITIK DAN DIPLOMASI

Setelah kemerdekaan Indonesia, KH Noer Alie tetap aktif membangun negara.

Perjuangan NKRI

Menjadi Ketua Panitia Amanat Rakyat Bekasi yang menuntut Bekasi kembali masuk wilayah NKRI dari Negara Pasundan.

Aktivitas Politik

  • Ketua Cabang Masyumi Jatinegara
  • Anggota Dewan Konstituante (1956)

Aktivitas Keagamaan

Menjadi Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Barat
tahun 1971–1975.


PERAN DALAM KEHIDUPAN SOSIAL

KH Noer Alie juga aktif dalam:

  • Pengembangan pesantren dan madrasah
  • Pendirian Yayasan Attaqwa
  • Penguatan pendidikan Islam
  • Penumpasan gerakan Gerakan 30 September 1965 di wilayah Bekasi

AKHIR HAYAT

KH Noer Alie wafat pada:

29 Januari 1992

Beliau dimakamkan di Pesantren Attaqwa Babelan, Bekasi.

Atas jasa perjuangannya, pemerintah Indonesia menetapkan beliau sebagai:

PAHLAWAN NASIONAL
pada 9 November 2006


KARAKTER DAN WARISAN

KH Noer Alie dikenal sebagai:

  • Ulama pejuang
  • Pemimpin yang berani
  • Pendamai yang toleran
  • Tokoh pendidikan Islam

Beliau memiliki hubungan baik dengan berbagai organisasi Islam seperti:

  • NU
  • Muhammadiyah
  • Persis

Warisan terbesarnya adalah pendidikan dan dakwah melalui jaringan Pesantren Attaqwa yang terus berkembang hingga kini.


Nilai Keteladanan KH Noer Alie

  • Keberanian membela bangsa
  • Keteguhan iman
  • Kepemimpinan yang kuat
  • Dedikasi terhadap pendidikan
  • Persatuan umat



135 SBY

Buatlah Risalah dan Infografis tentang Pahlawan :

Izaak Huru Doko

Lahir di Sabu, Kupang, NTT, 20 November 1913.

Meninggal di Kupang, 29 Juli 1985 (Usia 71 tahun).

Pendidikan: Menempuh pendidikan guru di Kweekschool (Sekolah Guru) di Muntilan, Jawa Tengah.

Orang Tua: Kitu Huru Doko (Ayah) dan Loni Doko (Ibu).

Gelar Pahlawan: Ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional pada 3 November 2006 berdasarkan Keppres No. 85/TK/2006. 


A. Izaak Huru Doko adalah Pahlawan Nasional asal Nusa Tenggara Timur (NTT) yang dijuluki "Ayam Jantan dari Timor" karena keberaniannya menentang penjajah dan memperjuangkan hak menentukan nasib sendiri (zelfbeschikkingsrecht) bagi bangsa Indonesia. 

B. Perjuangan dan Kiprah

Perjuangan Izaak Huru Doko mencakup bidang organisasi pemuda, politik, hingga pendidikan di wilayah NTT:

1. Pendiri Timorsche Jongeren: Pada tahun 1932, ia mendirikan organisasi pemuda Timorsche Jongeren (Pemuda Timor) yang bertujuan mempersatukan pelajar asal Timor untuk menumbuhkan rasa kebangsaan Indonesia.

2. Perjuangan Politik:

* Mendirikan Partai Demokrasi Indonesia (PDI) di Timor untuk melawan pengaruh Belanda pasca-kemerdekaan.

* Menolak pembentukan Negara Indonesia Timur (NIT) bentukan Belanda dan tetap setia pada kesatuan Negara Republik Indonesia (NKRI).

3. Bidang Pendidikan dan Pers:

* Ia dikenal sebagai "Guru Pejuang" yang aktif mendirikan sekolah-sekolah di NTT untuk meningkatkan kecerdasan rakyat.

* Bersama rekan-rekannya, ia menerbitkan surat kabar untuk menyebarkan semangat perjuangan kemerdekaan di wilayah Indonesia Timur.

* Jabatan Strategis: Pernah menjabat sebagai Menteri Muda Penerangan Negara Indonesia Timur dan anggota DPR setelah pengakuan kedaulatan. 

C. Era Penjajahan Belanda

Izaak aktif dalam pergerakan pemuda saat menempuh pendidikan di Bandung. Ia mendirikan Timorsche Jongeren (Pemuda Timor) yang bertujuan mempersatukan pelajar asal Timor di berbagai kota di Indonesia untuk menumbuhkan semangat kebangsaan. Ia juga terlibat dalam organisasi politik lokal seperti Perserikatan Kebangsaan Timor (PKT). 

D. Era Penjajahan Jepang

Selama pendudukan Jepang, Izaak tetap aktif dalam kegiatan sosial dan politik di Kupang. Menjelang akhir kekuasaan Jepang, ia merupakan salah satu tokoh yang menerima penyerahan kekuasaan dari pihak Jepang di Kupang pada 24 Agustus 1945, bersama Tom Pello dan Dr. Gabeler. 

E. Era Pasca Kemerdekaan

Perjuangan Izaak berlanjut untuk mempertahankan kemerdekaan dan membangun daerah:

1. Politik: Mendirikan Partai Demokrasi Indonesia (PDI) di Timor sebagai penjelmaan dari PKT.

2. Negara Indonesia Timur (NIT): Menjadi anggota parlemen NIT pada 1947 dan menjabat sebagai Menteri Pengajaran pada 1950. Ia juga sempat menjabat Menteri Muda Penerangan NIT.

3. Pendidikan & Sosial: Ia menolak berbagai jabatan tinggi lainnya demi fokus mengabdikan diri di bidang pendidikan di NTT. Ia menjabat sebagai Kepala Inspeksi Pengajaran Sunda Kecil (1950–1958) dan mendirikan institusi pendidikan tinggi di Kupang, termasuk menjadi salah satu tokoh di balik berdirinya Universitas Udayana dan Universitas Nusa Cendana.

4. Kemanusiaan: Aktif menyelesaikan masalah pemulangan tenaga heiho dan romusha asal NTT. 

F. Akhir Hayat dan Keluarga

1. Wafat: Izaak Huru Doko wafat pada tanggal 29 Juli 1985.

2. Keluarga: I.H. Doko meninggalkan istri dan anak-anaknya. Istrinya adalah Maria Doko-Lekatompessy.



RISALAH PAHLAWAN NASIONAL

Izaak Huru Doko

Pejuang Pendidikan dan Persatuan dari Nusa Tenggara Timur


Biodata Singkat

  • Nama: Izaak Huru Doko
  • Lahir: Sabu, Kupang, Nusa Tenggara Timur, 20 November 1913
  • Wafat: Kupang, 29 Juli 1985 (usia 71 tahun)
  • Ayah: Kitu Huru Doko
  • Ibu: Loni Doko
  • Istri: Maria Doko-Lekatompessy
  • Pendidikan: Kweekschool (Sekolah Guru) Muntilan, Jawa Tengah
  • Gelar: Pahlawan Nasional Indonesia (3 November 2006)

Izaak Huru Doko dikenal sebagai tokoh pergerakan dari NTT yang memperjuangkan persatuan Indonesia dan kemajuan pendidikan rakyat. Karena keberaniannya, ia dijuluki “Ayam Jantan dari Timor.”


Perjuangan dan Kiprah

1. Pergerakan Pemuda

Pada tahun 1932, Izaak Huru Doko mendirikan organisasi Timorsche Jongeren (Pemuda Timor).
Organisasi ini bertujuan menyatukan para pelajar asal Timor dan menanamkan semangat nasionalisme Indonesia.

Ia juga aktif dalam organisasi Perserikatan Kebangsaan Timor (PKT) yang memperjuangkan kesadaran kebangsaan di wilayah Indonesia Timur.


2. Perjuangan Politik

Setelah kemerdekaan Indonesia, Izaak Huru Doko tetap aktif dalam perjuangan politik.

Beberapa perannya antara lain:

  • Mendirikan Partai Demokrasi Indonesia (PDI) di Timor.
  • Menolak pembentukan Negara Indonesia Timur (NIT) yang dibentuk Belanda.
  • Mempertahankan kesetiaan wilayah Timor kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Ia juga pernah menjadi anggota parlemen NIT dan menjabat sebagai Menteri Pengajaran serta Menteri Muda Penerangan.


Perjuangan pada Masa Penjajahan

Masa Penjajahan Belanda

Saat menempuh pendidikan, Izaak aktif dalam pergerakan pemuda untuk membangun kesadaran nasional di kalangan pelajar dari wilayah Timor.

Melalui organisasi pemuda, ia berupaya menyatukan pelajar agar memiliki identitas sebagai bangsa Indonesia, bukan sekadar penduduk wilayah kolonial Belanda.


Masa Pendudukan Jepang

Selama pendudukan Jepang, Izaak tetap aktif dalam kegiatan sosial dan politik di Kupang.

Pada 24 Agustus 1945, ia bersama tokoh-tokoh lain seperti Tom Pello dan Dr. Gabeler menerima penyerahan kekuasaan dari pihak Jepang di Kupang menjelang kemerdekaan Indonesia.


Perjuangan Pasca Kemerdekaan

Setelah Indonesia merdeka, Izaak Huru Doko mengabdikan dirinya terutama pada bidang pendidikan dan pembangunan masyarakat.

Bidang Pendidikan

Ia dikenal sebagai “Guru Pejuang.”

Beberapa kontribusinya:

  • Mendirikan sekolah-sekolah di wilayah NTT
  • Menjabat Kepala Inspeksi Pengajaran Sunda Kecil (1950–1958)
  • Berperan dalam berdirinya perguruan tinggi di wilayah Indonesia Timur

Ia juga menjadi tokoh yang membantu lahirnya:

  • Universitas Udayana
  • Universitas Nusa Cendana

Bidang Sosial dan Kemanusiaan

Izaak Huru Doko juga aktif membantu masyarakat NTT, termasuk dalam proses pemulangan tentara Heiho dan romusha yang berasal dari wilayah Nusa Tenggara Timur.


Akhir Hayat

Izaak Huru Doko wafat pada 29 Juli 1985 di Kupang.
Ia meninggalkan keluarga serta warisan perjuangan besar dalam bidang pendidikan, persatuan, dan pembangunan masyarakat NTT.


Penghargaan

Atas jasa-jasanya kepada bangsa Indonesia, pemerintah menetapkan Izaak Huru Doko sebagai Pahlawan Nasional pada 3 November 2006 melalui Keputusan Presiden No. 85/TK/2006.


Warisan Perjuangan

Izaak Huru Doko dikenang sebagai tokoh yang:

  • Memperjuangkan persatuan Indonesia di wilayah Timur
  • Mengembangkan pendidikan bagi rakyat NTT
  • Membela hak menentukan nasib sendiri bagi bangsa Indonesia

Perjuangannya menunjukkan bahwa pendidikan, organisasi pemuda, dan persatuan bangsa adalah kekuatan besar dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.


.


136 SBY

Buatlah Risalah dan Infografis tentang Pahlawan :

Sri Sultan Hamengku Buwono I 

Nama Asli: Raden Mas Sujana.

Gelar Sebelumnya: Pangeran Mangkubumi.

Lahir di Surakarta, Jawa Tengah, 6 Agustus 1717.

Meninggal di Yogyakarta, 24 Maret 1792.

Ayah: Amangkurat IV (Susuhunan Mataram).

Ibu: Selir Mas Ayu Tejawati.

Pendirian Keraton: Mendirikan Kasultanan Yogyakarta pada tahun 1755 melalui Perjanjian Giyanti. 


A. Sri Sultan Hamengku Buwono I (lahir 1717, wafat 1792) adalah pendiri dan raja pertama Kesultanan Yogyakarta (1755–1792) sekaligus Pahlawan Nasional. Lahir sebagai Raden Mas Sujana (Pangeran Mangkubumi), beliau adalah putra Amangkurat IV yang gigih melawan dominasi VOC dan memecah dominasi Mataram untuk mendirikan keraton Yogyakarta, menegakkan kedaulatan Jawa. 

Sultan Hamengku Buwono I adalah raja bijaksana yang berhasil membangun fondasi pemerintahan dan budaya di Yogyakarta, menciptakan stabilitas pasca perang saudara yang panjang. 

B. Perjuangan Sri Sultan Hamengku Buwono I

1. Pemberontakan melawan VOC: Sakit hati dengan intervensi VOC, Mangkubumi keluar dari Surakarta pada 1746 dan memimpin perang melawan Belanda serta Pakubuwana II.

2. Kepemimpinan Militer: Dikenal sebagai pejuang yang tangguh, ia memimpin 3.000 prajurit (1746) yang meningkat hingga 13.000 prajurit (1747) dan didukung penuh masyarakat.

3. Perjanjian Giyanti (1755): Berhasil memecah Mataram menjadi dua, di mana beliau berdaulat atas wilayah Yogyakarta dengan gelar Sultan Hamengku Buwono I.

4. Pembangun Utama: Arsitek utama Keraton Yogyakarta, membangun benteng, tata kota, dan menanamkan nilai-nilai budaya Jawa yang kuat sebagai simbol martabat.

C. Perjuangan Melawan VOC (Perang Mangkubumen)

1. Perjuangan HB I melawan VOC didorong oleh intervensi Belanda yang semakin dalam di internal kerajaan Mataram. 

2. Memimpin Perang Mangkubumen (1746–1755): Pangeran Mangkubumi melakukan perlawanan gerilya melawan VOC dan sekutunya (Pakubuwana II/III) selama bertahun-tahun. Perang ini membuat VOC kewalahan dan menghabiskan banyak biaya.

3. Perang Takhta Jawa III: Mangkubumi bersekutu dengan Pangeran Sambernyawa melawan VOC dan Pakubuwana II (kakaknya) yang dianggap tunduk pada Belanda.

4. Memecah Mataram (Perjanjian Giyanti): Akibat kegigihan perlawanan, VOC terpaksa melakukan perundingan. Perjanjian Giyanti ditandatangani pada 13 Februari 1755, yang membagi Mataram menjadi dua: Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta.

5. Mendirikan Kesultanan Yogyakarta: Setelah perjanjian, Pangeran Mangkubumi diangkat menjadi Sultan Hamengku Buwono I. Beliau segera membangun Keraton Yogyakarta dan menjadikan Yogyakarta sebagai pusat pertahanan, budaya, dan politik yang berdaulat, terpisah dari pengaruh Belanda di Surakarta.

6. Strategi Mandiri: HB I membangun tata kota dan keraton yang dirancang untuk pertahanan, sekaligus menegakkan kedaulatan Jawa dari intervensi asing. 

D. Tindakan Setelah Menjadi Raja Yogyakarta

1. Setelah mendirikan Yogyakarta, Sultan HB I fokus pada pembangunan kerajaan dan pertahanan budaya.

2. Membangun Keraton Yogyakarta: Mendirikan kompleks Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat yang pembangunannya dimulai pada tahun 1755 dan selesai pada tahun 1756.

3. Tata Kota (Urban Planning): Merancang tata kota Yogyakarta dengan konsep Sumbu Filosofis yang menghubungkan Tugu Pal Putih, Keraton, dan Panggung Krapyak.

4. Pembangunan Benteng: Membangun Benteng Baluwerti untuk melindungi keraton dari serangan luar.

5. Pembangunan Budaya: Peletak dasar budaya Mataram Islam di Yogyakarta, menciptakan berbagai tarian suci seperti Bedhaya Semang, dan mengembangkan seni wayang serta karawitan.

6. Pertahanan Wilayah: Memperkuat wilayah Yogyakarta dari pengaruh Belanda yang terus berusaha mengintervensi, meskipun ia sudah berdamai melalui perjanjian. 

E. Hasil Karya Budaya dan Peninggalan

Keraton Yogyakarta: Arsitektur keraton yang unik.

1. Taman Sari: Situs pemandian dan benteng.

2. Nilai Filosofis: Hamemayu Hayuning Bawono (memperindah keindahan dunia/menjaga alam) dan Manunggaling Kawula Gusti (penyatuan rakyat dan raja/Tuhan).

3. Pakaian Adat & Tari: Peletak dasar budaya Mataram gaya Yogyakarta, termasuk gaya busana keraton. 

F. Mengapa Muncul Perjanjian Giyanti (13 Februari 1755)?

Perjanjian Giyanti disepakati karena:

1. Perang Terlalu Lama: VOC mengalami kerugian besar secara finansial dan militer dalam menghadapi Mangkubumi.

2. Perselisihan internal: Terjadi perselisihan taktik antara Mangkubumi dan Pangeran Sambernyawa.

3. Strategi Pecah Belah (Devide et Impera): VOC menawarkan perdamaian dengan membagi kerajaan Mataram Islam menjadi dua, yaitu Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta, untuk melemahkan kekuatan Mataram secara keseluruhan.

4. Raja Mataram Saat Itu: Raja yang bertahta di Surakarta (Mataram) sebelum perjanjian adalah Pakubuwana II, dan setelah ia wafat digantikan oleh Pakubuwana III. 

G. Akhir Hayat dan Keluarga:

1. Wafat pada 24 Maret 1792.

2. Dimakamkan di Astana Kasuwargan, Pajimatan, Imogiri.

3. Istri yang Ditinggalkan: Beliau memiliki beberapa garwa (istri), namun dalam sejarah, permaisuri (garwa padmi) utamanya adalah Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Kencana (dalam beberapa sumber dirujuk sebagai permaisuri pembangun pondasi).

4. Digantikan oleh putranya, Sultan Hamengku Buwono II. 

5. Pangeran Sambernyawa: Sekutunya, Pangeran Sambernyawa (Raden Mas Said), tidak ikut Perjanjian Giyanti. Ia melanjutkan perjuangan hingga akhirnya diakui sebagai raja di wilayah timur melalui Perjanjian Salatiga (1757) dengan Belanda dan Surakarta, menjadi Mangkunegara I.



RISALAH PAHLAWAN NASIONAL

SRI SULTAN HAMENGKU BUWONO I

Nama Asli: Raden Mas Sujana
Gelar Sebelumnya: Pangeran Mangkubumi

Lahir: Surakarta, Jawa Tengah — 6 Agustus 1717
Wafat: Yogyakarta — 24 Maret 1792

Ayah: Amangkurat IV
Ibu: Mas Ayu Tejawati

Pendiri: Kesultanan Yogyakarta (1755)


Profil Singkat

Sri Sultan Hamengku Buwono I adalah pendiri dan raja pertama Kesultanan Yogyakarta yang memerintah dari 1755 hingga 1792.

Lahir sebagai Raden Mas Sujana, beliau kemudian dikenal sebagai Pangeran Mangkubumi, seorang pemimpin tangguh yang memimpin perlawanan terhadap dominasi VOC di tanah Jawa.

Perjuangannya akhirnya menghasilkan berdirinya Kesultanan Yogyakarta melalui Perjanjian Giyanti.


Perjuangan Sri Sultan Hamengku Buwono I

1. Pemberontakan Melawan VOC

Pada tahun 1746, Pangeran Mangkubumi keluar dari Surakarta dan memimpin perlawanan terhadap Vereenigde Oostindische Compagnie yang terlalu jauh mencampuri urusan Kerajaan Mataram.

2. Kepemimpinan Militer

Ia memimpin ribuan pasukan rakyat:

  • Tahun 1746: sekitar 3.000 prajurit
  • Tahun 1747: meningkat hingga 13.000 prajurit

Perlawanan ini mendapat dukungan luas dari rakyat Jawa.

3. Perang Mangkubumen

Perlawanan ini dikenal sebagai Perang Mangkubumen (1746–1755) yang menjadi bagian dari konflik perebutan takhta Mataram.

4. Sekutu Perjuangan

Ia bersekutu dengan
Mangkunegara I
yang terkenal dengan julukan Pangeran Sambernyawa.


Perjanjian Giyanti (1755)

Karena perang berkepanjangan dan kerugian besar, VOC akhirnya mengadakan perundingan.

13 Februari 1755 ditandatangani Perjanjian Giyanti, yang membagi Kerajaan Mataram menjadi dua:

  1. Kasunanan Surakarta dipimpin oleh
    Pakubuwono III

  2. Kasultanan Yogyakarta dipimpin oleh
    Sri Sultan Hamengku Buwono I

Perjanjian ini menjadi awal berdirinya Yogyakarta sebagai kerajaan baru.


Pembangunan Kesultanan Yogyakarta

Setelah menjadi sultan, beliau fokus membangun kerajaan.

Keraton Yogyakarta

Beliau membangun
Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat
pada tahun 1755–1756 sebagai pusat pemerintahan dan budaya.

Tata Kota Filosofis

Ia merancang tata kota Yogyakarta dengan Sumbu Filosofis yang menghubungkan:

  • Tugu Yogyakarta
  • Keraton Yogyakarta
  • Panggung Krapyak

Konsep ini melambangkan hubungan manusia dengan Tuhan dan alam semesta.

Benteng Pertahanan

Keraton dilindungi oleh Benteng Baluwerti untuk menjaga keamanan kerajaan.


Peninggalan Budaya

Beberapa warisan penting beliau antara lain:

Taman Sari

Taman Sari
kompleks taman air dan benteng pertahanan kerajaan.

Budaya Keraton

Beliau meletakkan dasar berbagai tradisi budaya Yogyakarta:

  • Tari Bedhaya Semang
  • Seni wayang dan karawitan
  • Busana adat keraton

Nilai Filosofis

Beberapa ajaran penting:

Hamemayu Hayuning Bawono
→ menjaga keindahan dan keseimbangan dunia.

Manunggaling Kawula Gusti
→ persatuan antara rakyat, raja, dan Tuhan.


Akhir Hayat

Sri Sultan Hamengku Buwono I wafat pada 24 Maret 1792.

Beliau dimakamkan di
Makam Raja-Raja Imogiri.

Tahta kemudian dilanjutkan oleh putranya:

Hamengkubuwono II


Nilai Keteladanan

✔ Kepemimpinan yang kuat
✔ Perjuangan mempertahankan kedaulatan
✔ Pelestarian budaya Jawa
✔ Kebijaksanaan dalam pemerintahan




138 SBY

Buatlah Risalah dan Infografis tentang Pahlawan :

Adenan Kapau Gani  

Nama Lengkap: Dr. Adnan Kapau Gani.

Lahir di Palembayan, Agam, Sumatera Barat, 16 September 1905.

Meninggal di Palembang, Sumatera Selatan, 23 Desember 1968.

(Dimakamkan di TMP Ksatria Siguntang).

Pendidikan: STOVIA (terhenti) dan Geneeskundige Hoge School (GHS/Sekolah Tinggi Kedokteran) Jakarta, lulus 1940.

Karier: Dokter, Wakil Perdana Menteri (Kabinet Amir Sjarifuddin), Gubernur Militer Sumatera Selatan, Diplomat, dan Anggota Konstituante.

Penghargaan: Pahlawan Nasional (2007), Bintang Mahaputera Adipradana, Bintang Gerilya. 


A. Dr. Adnan Kapau Gani (A.K. Gani) (1905–1968) adalah pahlawan nasional dari Palembayan, Agam, Sumatera Barat, yang menjadi pejuang gigih di Sumatera Selatan. Dokter, politikus, dan Gubernur Militer ini berperan penting dalam mempertahankan kemerdekaan, membentuk TKR Sumatera, serta memimpin gerilya melawan Belanda. Ia dihormati atas jasa diplomasinya dan pengabdiannya. 

B. Perjuangan dan Peran Penting

1. Masa Pergerakan Nasional: Aktif di Jong Sumatranen Bond (sekretaris pusat) dan Pemuda Indonesia. Ia juga berperan penting sebagai penyumbang dana dan peserta dalam Kongres Pemuda Kedua tahun 1928.

2. Masa Proklamasi di Sumatera Selatan: Menggerakkan pemuda Palembang untuk mengambil alih kekuasaan dari Jepang pada 18 Agustus 1945. Membentuk organisasi perlawanan "Mata Ronda".

3. Tokoh Militer dan Pemerintahan: Koordinator Badan Keamanan Rakyat (BKR) Sumatera Selatan (1945-1946) dan Gubernur Militer Sumatera Selatan. Ia memimpin perlawanan gerilya yang gigih melawan Agresi Militer Belanda, sehingga dijuluki "Pemimpin Gerilya Agung".

4. Diplomasi Internasional: Anggota delegasi Indonesia dalam Perundingan Linggarjati (1946) dan Renville (1948) untuk memperjuangkan pengakuan kedaulatan Indonesia di tingkat internasional. 

C. Perjuangan Era Belanda (Pergerakan):

1. Aktif dalam Jong Sumatranen Bond dan terpilih menjadi Sekretaris Dewan Eksekutif Pusat pada 1927.

2. Berperan penting sebagai peserta dan penyumbang dana dalam Kongres Pemuda Kedua 1928 (Sumpah Pemuda).

3. Bergabung dengan Partindo pada 1931, aktif dalam pergerakan intelektual menentang penjajahan. 

D. Perjuangan Era Jepang:

1. Pada zaman pendudukan Jepang, AK Gani—yang hijrah dari Jakarta ke Palembang pada 1941— pernah dipenjara selama satu tahun akibat sikap politiknya yang anti fasisme. Selain menolak berkolaborasi, AK Gani juga memasang bendera merah putih, spanduk, dan poster perjuangan. Karena alasan itulah menurut beberapa sumber ia disiksa oleh polisi militer Jepang (kempeitai). Berkat campur tangan Sukarno (yang kelak menjadi Presiden RI pertama) kemudian AK Gani dibebaskan.

2. Diangkat menjadi anggota Sumatra Chuo Sangi In pada Maret 1945.

3. Aktif dalam organisasi persiapan kemerdekaan dan merupakan salah satu tokoh yang mengibarkan Bendera Merah Putih pertama di Palembang. 

E. Perjuangan Pasca Kemerdekaan & Mempertahankan Kemerdekaan:

1. Gubernur Militer: Menjabat Gubernur Muda dan Gubernur Militer Sumatera Selatan, menyusun badan pemerintahan RI di Sumatra Selatan.

2. Raja Penyelundup: Melakukan penyelundupan senjata (melalui Singapura) ke Sumatra untuk keperluan gerilya, membuat Belanda kesal.

3. Menteri: Menjabat Menteri Kemakmuran dalam Kabinet Sjahrir III dan Kabinet Amir Sjarifuddin, serta Menteri Perhubungan di Kabinet Ali Sastroamidjojo I.

4. Pemimpin Gerilya: Diberi gelar Pemimpin Agung Gerilya oleh rakyat Sumsel (1950).

5. Akademisi: Menjadi Rektor Universitas Sriwijaya, Palembang. 

F. Akhir Hayat dan Keluarga

1. Akhir Hayat: A.K. Gani wafat di Rumah Sakit Charitas Palembang pada 23 Desember 1968 karena sakit.

2. Keluarga: Istrinya bernama Masturah, yang berperan penting dalam mendirikan Museum Dr. A.K. Gani untuk mengenang jasa-jasa suaminya. 

3. A.K. Gani dikenal sebagai sosok serba bisa (polimath)—dokter, politikus, artis film, dan militer—yang mendedikasikan seluruh hidupnya untuk kemerdekaan Indonesia.

G. Karir Film

Apakah Pernah Bermain Film: Ya, A.K. Gani pernah bermain film.

Film dan Peran: Ia bermain dalam film berjudul "Asmara Moerni" produksi Tan's Film pada tahun 1941, di mana ia berperan sebagai aktor. 

Catatan Nama: Nama yang benar adalah Adenan Kapau Gani, sering disingkat A.K. Gani. Istrinya bernama Masturah.



RISALAH PAHLAWAN NASIONAL

ADENAN KAPAU GANI

(Dr. Adnan Kapau Gani / A.K. Gani)
16 September 1905 – 23 Desember 1968

Dokter • Diplomat • Pejuang Kemerdekaan • Pemimpin Gerilya


A. IDENTITAS

Nama Lengkap: Dr. Adnan Kapau Gani
Nama Populer: A.K. Gani

Lahir:
Palembayan, Agam, Sumatera Barat
16 September 1905

Wafat:
Palembang, Sumatera Selatan
23 Desember 1968

Dimakamkan:
Taman Makam Pahlawan Ksatria Siguntang, Palembang

Pendidikan:

  • STOVIA (tidak selesai)
  • Geneeskundige Hoge School (GHS), Jakarta – Lulus 1940

Karier:
Dokter, Politikus, Diplomat, Gubernur Militer, Wakil Perdana Menteri

Gelar:
Pahlawan Nasional Indonesia (2007)

Penghargaan:

  • Bintang Mahaputera Adipradana
  • Bintang Gerilya

B. PROFIL SINGKAT

Dr. A.K. Gani adalah salah satu tokoh penting dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia, khususnya di wilayah Sumatera Selatan.

Ia dikenal sebagai tokoh serba bisa (polimath) yang berperan sebagai dokter, pemimpin militer, diplomat, hingga tokoh pemerintahan.

Selain berjuang di medan perang, ia juga berjuang melalui diplomasi internasional dan pemerintahan untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia.


C. PERJUANGAN MASA PERGERAKAN NASIONAL

Pada masa muda, A.K. Gani aktif dalam berbagai organisasi pergerakan nasional.

1. Jong Sumatranen Bond
Ia aktif sebagai anggota dan pernah menjadi Sekretaris Dewan Eksekutif Pusat (1927).

2. Kongres Pemuda 1928
Ia turut membantu pelaksanaan Kongres Pemuda II yang melahirkan Sumpah Pemuda.

3. Aktivis Nasionalis
Bergabung dengan Partai Indonesia (Partindo) dan aktif dalam gerakan intelektual melawan kolonialisme Belanda.


D. PERJUANGAN MASA PENDUDUKAN JEPANG

Pada masa pendudukan Jepang, A.K. Gani tetap menunjukkan sikap nasionalisme yang kuat.

  • Ia dipenjara oleh Jepang karena sikap politiknya yang menolak bekerja sama dengan pemerintah militer Jepang.
  • Ia juga pernah disiksa oleh Kempeitai (polisi militer Jepang).
  • Berkat campur tangan Presiden Soekarno, ia akhirnya dibebaskan.

Pada tahun 1945, ia juga diangkat menjadi anggota Sumatra Chuo Sangi In.


E. PERJUANGAN MEMPERTAHANKAN KEMERDEKAAN

Setelah Proklamasi 17 Agustus 1945, A.K. Gani memainkan peran penting di Sumatera Selatan.

1. Mengambil Alih Kekuasaan dari Jepang

Pada 18 Agustus 1945, ia memimpin pemuda Palembang untuk mengambil alih kekuasaan dari Jepang.

2. Pembentukan Organisasi Perlawanan

Ia membentuk kelompok perlawanan bernama Mata Ronda untuk menjaga keamanan dan melawan upaya Belanda kembali menjajah.

3. Pemimpin Militer

Ia menjadi:

  • Koordinator BKR Sumatera Selatan
  • Gubernur Militer Sumatera Selatan

Ia memimpin perang gerilya melawan Belanda dan dijuluki rakyat sebagai:

“Pemimpin Gerilya Agung.”

4. Raja Penyelundup

Untuk mendukung perjuangan, ia melakukan penyelundupan senjata dari Singapura untuk membantu pasukan gerilya Indonesia.


F. PERAN DIPLOMASI DAN PEMERINTAHAN

Selain sebagai pejuang militer, A.K. Gani juga berperan besar dalam pemerintahan.

Delegasi Diplomasi:

  • Perundingan Linggarjati (1946)
  • Perundingan Renville (1948)

Jabatan Pemerintahan:

  • Wakil Perdana Menteri (Kabinet Amir Sjarifuddin)
  • Menteri Kemakmuran
  • Menteri Perhubungan
  • Anggota Konstituante

Ia juga pernah menjadi Rektor Universitas Sriwijaya di Palembang.


G. KARIER DI DUNIA FILM

Selain menjadi dokter dan pejuang, A.K. Gani juga pernah terlibat dalam dunia perfilman.

Ia bermain dalam film:

“Asmara Moerni” (1941)
Produksi Tan's Film

Film ini termasuk film Indonesia pada masa awal industri perfilman nasional.


H. AKHIR HAYAT

Dr. A.K. Gani wafat pada:

23 Desember 1968
di Rumah Sakit Charitas, Palembang

Beliau dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Ksatria Siguntang.


I. KELUARGA DAN WARISAN

Istrinya bernama Masturah.

Ia berperan penting dalam mendirikan Museum Dr. A.K. Gani untuk mengenang jasa perjuangan suaminya.


J. WARISAN SEJARAH

Dr. A.K. Gani dikenang sebagai tokoh perjuangan yang:

  • Memimpin perlawanan gerilya di Sumatera Selatan
  • Memperjuangkan kemerdekaan melalui diplomasi internasional
  • Berperan dalam pemerintahan Republik Indonesia

Namanya kini diabadikan sebagai:

  • Rumah sakit
  • Jalan
  • Museum
  • Tokoh sejarah Sumatera Selatan

Dr. A.K. Gani dikenang sebagai pejuang kemerdekaan yang mengabdikan hidupnya bagi bangsa melalui perjuangan militer, diplomasi, dan pemerintahan.




142 SBY

Buatlah Risalah dan Infografis tentang Pahlawan :

Mohammad Natsir 

Lahir di Alahan Panjang, Lembah Gumanti, Solok, Sumatera Barat, 17 Juli 1908.

Meninggal di Jakarta, 6 Februari 1993 (usia 84 tahun).


A. Mohammad Natsir (1908–1993) adalah Pahlawan Nasional dari Alahan Panjang, Solok, Sumatera Barat, yang dikenal sebagai negarawan bersahaja, ulama, dan Perdana Menteri ke-5 Indonesia. Ia berjasa menyatukan kembali NKRI melalui Mosi Integral 1950, memimpin Partai Masyumi, dan dikenal atas integritas jujur serta pemikiran Islam-Politik yang moderat. 

Orang Tua: Mohammad Idris Sutan Saripado (Ayah) & Khadijah (Ibu).

Pendidikan: HIS Solok, MULO, dan AMS Bandung.

Karier Utama: Menteri Penerangan (1946–1949), Perdana Menteri RI (1950–1951), Ketua Umum Masyumi.

Gelar: Pahlawan Nasional Indonesia (ditetapkan 10 November 2008). 

B. Perjuangan dan Peran Penting

1. Mosi Integral Natsir (3 April 1950): Langkah terbesarnya yang menyatukan negara-negara bagian RIS (Republik Indonesia Serikat) kembali menjadi NKRI, yang dianggap sebagai "Proklamasi Kedua".

2. Pemimpin Masyumi dan Parlemen: Menjadi ketua partai Islam terbesar (Masyumi) dan terpilih anggota DPR pada Pemilu 1955.

3. Pendidikan dan Dakwah: Aktif dalam dunia pendidikan Islam di Bandung (Persatuan Islam) dan mendirikan Sekolah Pendidikan Islam.

4. Diplomasi Internasional: Aktif dalam Liga Muslim Dunia dan vokal membela isu Palestina. 

5. Kepribadian dan Integritas

Natsir dikenal sangat bersahaja, jauh dari kemewahan. Ia menolak fasilitas rumah dinas mewah dan mobil dinas, bahkan jasnya terkenal bertambal. Sebagai politisi, ia dikenal santun namun teguh pada prinsip, menjadikannya salah satu tokoh paling dihormati dalam sejarah Indonesia. 

C. Perjuangan Era Belanda (Pra-Kemerdekaan)

Pada masa kolonial, Natsir berjuang melalui jalur pendidikan dan tulisan. 

1. Pendidikan & Jurnalistik: Natsir aktif menulis artikel tentang Islam dan politik di berbagai surat kabar sejak tahun 1930-an. Ia menolak bekerja sama dengan Belanda dan memilih mendirikan lembaga pendidikan Islam.

2. Jong Islamieten Bond: Aktif dalam organisasi pergerakan pemuda Islam di Bandung.

3. Persatuan Islam (Persis): Bergabung dan menjadi pengurus Persis, aktif dalam kajian intelektual Islam. 

D. Perjuangan Era Jepang

Selama pendudukan Jepang, Natsir tetap aktif dalam pergerakan Islam dan pendidikan. 

1. Pendidikan Islam: Ia aktif mengelola sekolah-sekolah Islam dan berupaya menjaga kurikulum agar tetap memiliki jiwa nasionalisme.

2. Komunikasi dengan Jepang: Natsir memiliki hubungan diplomasi yang cukup baik dengan beberapa tokoh Jepang untuk melindungi kepentingan pendidikan dan organisasi Islam. Bahkan di era setelahnya (Orde Baru), kedekatannya dengan tokoh Jepang membantu pemulihan ekonomi Indonesia.

E. Perjuangan Pasca Kemerdekaan (Era Indonesia Merdeka)

Natsir memiliki peran sangat krusial dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia. 

1. Menteri Penerangan (1946-1948): Menjadi Menteri Penerangan dalam beberapa kabinet. Ia berhasil mempertahankan eksistensi Republik Indonesia di tengah agresi militer Belanda melalui siaran dan tulisan.

2. Mosi Integral NKRI (3 April 1950): Ini adalah perjuangan terbesar Natsir. Ketika Indonesia berbentuk Republik Indonesia Serikat (RIS) yang dipecah-pecah Belanda, Natsir mengajukan Mosi Integral di parlemen untuk menyatukan kembali negara-negara bagian menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Tindakan ini disetujui dan berhasil mengembalikan bentuk negara ke NKRI.

3. Perdana Menteri (1950-1951): Menjadi Perdana Menteri pertama di era NKRI setelah Mosi Integral. Ia memimpin kabinet dengan prinsip kesederhanaan dan demokrasi.

4. Konflik & PRRI: Hubungannya dengan Soekarno merenggang karena ketidaksetujuan terhadap konsep Nasakom. Akibatnya, ia terlibat dalam PRRI dan Masyumi dibubarkan. Natsir sempat dipenjara pada tahun 1960-an.

5. Orde Baru: Tetap bersikap kritis terhadap pemerintah, terutama melalui Petisi 50.

F. Akhir Hayat dan Keluarga

1. Akhir Hayat: Natsir wafat di Jakarta pada 6 Februari 1993 setelah sempat mengalami sakit, dan dimakamkan di Taman Pemakaman Umum Karet Bivak.

2. Keluarga: Natsir menikah dengan Nurnahar pada tahun 1934 dan dikaruniai 6 orang anak.

3. Penghargaan: Mohammad Natsir dikukuhkan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 135/TK/Tahun 2008. 

4. Mohammad Natsir dikenang sebagai sosok yang sederhana, jujur, dan berintegritas tinggi, meskipun ia pernah "disingkirkan" oleh dua orde (Lama dan Baru). 

5. Masa Pensiun Sempat berbeda pandangan dengan Soekarno dan terlibat dalam PRRI, ia pernah dipenjara (1960-1966). Setelah bebas, ia fokus pada dakwah dan penulisan pemikiran Islam hingga wafat pada tahun 1993.



RISALAH PAHLAWAN NASIONAL

MOHAMMAD NATSIR

(1908 – 1993)

Identitas Singkat

  • Nama Lengkap: Mohammad Natsir
  • Lahir: Alahan Panjang, Lembah Gumanti, Solok, Sumatera Barat, 17 Juli 1908
  • Wafat: Jakarta, 6 Februari 1993 (usia 84 tahun)
  • Orang Tua: Mohammad Idris Sutan Saripado & Khadijah
  • Karier Utama: Perdana Menteri ke-5 Republik Indonesia, Menteri Penerangan
  • Gelar: Pahlawan Nasional Indonesia (ditetapkan 10 November 2008)

A. Profil Singkat

Mohammad Natsir adalah Pahlawan Nasional dari Sumatera Barat yang dikenal sebagai negarawan bersahaja, ulama, dan Perdana Menteri ke-5 Indonesia.

Perjuangannya dilakukan melalui jalur pendidikan, dakwah, politik, dan diplomasi untuk mempertahankan serta menyatukan Negara Kesatuan Republik Indonesia.


B. Perjuangan dan Peran Penting

1. Mosi Integral Natsir (3 April 1950)

Langkah besar yang menyatukan kembali negara-negara bagian Republik Indonesia Serikat (RIS) menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Peristiwa ini sering disebut sebagai “Proklamasi Kedua NKRI.”

2. Pemimpin Masyumi dan Parlemen

Menjadi Ketua Partai Masyumi, partai Islam terbesar pada masa itu, dan terpilih sebagai anggota DPR hasil Pemilu 1955.

3. Pendidikan dan Dakwah

Aktif mengembangkan pendidikan Islam di Bandung dan mendirikan sekolah serta lembaga pendidikan Islam.

4. Diplomasi Internasional

Aktif dalam Liga Muslim Dunia dan memperjuangkan kepentingan umat Islam di dunia, termasuk mendukung perjuangan Palestina.


C. Perjuangan Era Belanda (Pra-Kemerdekaan)

1. Pendidikan dan Jurnalistik

Sejak tahun 1930-an Natsir aktif menulis artikel tentang Islam, politik, dan kemerdekaan di berbagai surat kabar.

2. Organisasi Pemuda Islam

Aktif dalam Jong Islamieten Bond dan kegiatan intelektual Islam di Bandung.

3. Persatuan Islam (Persis)

Menjadi tokoh penting dalam organisasi Persatuan Islam (Persis) yang mengembangkan pemikiran Islam modern.


D. Perjuangan Era Jepang

Pada masa pendudukan Jepang, Natsir tetap aktif di dunia pendidikan.

  • Mengelola sekolah-sekolah Islam
  • Menjaga semangat nasionalisme dalam pendidikan
  • Menjalin komunikasi diplomatik untuk melindungi kepentingan pendidikan Islam

E. Perjuangan Pasca Kemerdekaan

1. Menteri Penerangan (1946–1948)

Berperan mempertahankan eksistensi Republik Indonesia melalui propaganda, radio, dan tulisan saat agresi militer Belanda.

2. Mosi Integral NKRI (1950)

Mengajukan mosi di parlemen yang berhasil mengembalikan bentuk negara Indonesia dari RIS menjadi NKRI.

3. Perdana Menteri RI (1950–1951)

Memimpin kabinet dengan prinsip demokrasi, kesederhanaan, dan integritas.

4. Konflik Politik

Berbeda pandangan dengan Presiden Soekarno, kemudian terkait dengan PRRI sehingga Masyumi dibubarkan dan Natsir sempat dipenjara pada tahun 1960-an.

5. Masa Orde Baru

Tetap bersikap kritis terhadap pemerintah melalui Petisi 50.


F. Akhir Hayat dan Keluarga

Akhir Hayat

Mohammad Natsir wafat pada 6 Februari 1993 di Jakarta dan dimakamkan di TPU Karet Bivak.

Keluarga

Menikah dengan Nurnahar (1934) dan dikaruniai 6 orang anak.

Penghargaan

Ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia melalui Keputusan Presiden No. 135/TK/Tahun 2008.


Nilai Keteladanan Mohammad Natsir

  • Kesederhanaan dalam kehidupan
  • Integritas dan kejujuran dalam politik
  • Komitmen pada persatuan bangsa
  • Keteguhan prinsip dalam memperjuangkan nilai agama dan demokrasi



143 SBY

Buatlah Risalah dan Infografis tentang Pahlawan :

KH Abdul Halim 

Nama Asli: Otong Syatori.

Lahir di Desa Cibolerang, Jatiwangi, Majalengka, Jawa Barat,  

26 Juni 1887.

Meninggal di Majalengka, Jawa Barat, 

7 Mei 1962 (umur 74 tahun).

Orang Tua: K.H. Muhammad Iskandar (penghulu) dan Hj. Siti Mutmainah.

Pendidikan: Mempelajari ilmu agama di berbagai pesantren di Jawa Barat dan Jawa Tengah, kemudian memperdalam ilmu ke Mekkah.

Gelar: Pahlawan Nasional (Keputusan Presiden RI Nomor: 041/TK/Tahun 2008 tanggal 6 November 2008). 


A. KH Abdul Halim (Otong Syatori) adalah Pahlawan Nasional asal Majalengka, Jawa Barat (lahir 26 Juni 1887 – wafat 7 Mei 1962), pendiri Perserikatan Ulama (kini PUI) dan Pesantren Santi Asromo. Beliau adalah pejuang pendidikan, sosial-ekonomi, dan kemerdekaan yang aktif di BPUPKI, menentang penjajahan melalui pergerakan Islam, dan gigih melawan agresi militer Belanda. 

 B. Perjuangan dan Kiprah

1. KH Abdul Halim dikenal sebagai ulama pergerakan yang memadukan pendidikan keagamaan dengan kebangsaan. 

2. Bidang Pendidikan dan Organisasi (PUI):

3. Mendirikan Hayatul Qulub (1911) yang fokus pada pembaruan pendidikan dan ekonomi masyarakat.

4. Mendirikan organisasi Persyarikatan Ulama (1917), yang kemudian bertransformasi menjadi Persatuan Umat Islam (PUI).

5. Mendirikan pesantren Santi Asromo (1932) di Desa Pasirayu, Sindang, Majalengka, yang menerapkan kurikulum campuran ilmu agama, umum, pertanian, dan bahasa asing.

C. Pergerakan Nasional dan Politik:

1. Aktif memimpin Sarekat Islam (SI) cabang Majalengka.

2. Menjadi anggota Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) pada tahun 1945, tergabung dalam Panitia Pembelaan Negara.

3. Aktif dalam MIAI (Majlis Islam A'la Indonesia) dan Masyumi.

4. Menentang gerakan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) Kartosuwiryo.

5. Perjuangan Fisik:

Saat agresi militer Belanda ke-II (19 Desember 1948), beliau membantu logistik pasukan TNI dan gerilyawan.

6. Diangkat oleh Residen Cirebon menjadi Bupati Majalengka pada masa perang kemerdekaan. 

E. Peninggalan

Organisasi: Persatuan Umat Islam (PUI) yang berfokus pada pendidikan, sosial, dan budaya.

1. Lembaga Pendidikan: Pesantren Santi Asromo.

2. Karya Tulis: Beberapa buku seperti Tarich Islam, Neratja Hidoep, dan Tafsir Juz'amma. 

3. KH Abdul Halim adalah sosok yang sederhana namun visioner, mengutamakan jalur perdamaian dan mencerdaskan kehidupan bangsa melalui pendidikan. 

F. Perjuangan Era Belanda:

1. Pendidikan dan Sosial: Sekembalinya dari Mekkah, beliau mendirikan lembaga pendidikan dan Hayatul Qulub (1911) untuk membangkitkan kesadaran sosial-ekonomi masyarakat dan melawan pemikiran kolonial.

2. Organisasi: Aktif memimpin Sarekat Islam cabang Majalengka pada 1912. Beliau menolak bekerja dalam birokrasi pemerintahan kolonial Belanda.

3. Pergerakan: Mengembangkan Persyarikatan Oelama (PUI) sebagai wadah perjuangan melalui pendidikan, sosial, dan dakwah.

G. Perjuangan Era Jepang:

1. Organisasi Islam: Aktif dalam MIAI (Majlis Islam A'la Indonesia) pada 1937 dan kemudian menjadi pengurus Masyumi (Majlis Syuro Muslimin Indonesia) setelah MIAI diganti pada 1943.

2. BPUPKI: Menjadi anggota Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) pada 1945, ikut serta dalam merumuskan dasar negara. 

H. Perjuangan Pasca Kemerdekaan (Indonesia Merdeka):

1. Pertahanan Negara: Saat Agresi Militer Belanda II (1948), beliau membantu logistik pasukan TNI dan gerilyawan.

2. Pemerintahan: Ditunjuk oleh Residen Cirebon menjadi Bupati Majalengka.

3. Politik & Ideologi: Menentang gerakan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) Kartosuwiryo, meskipun wilayah tempat tinggalnya dikuasai oleh gerakan tersebut, serta menuntut pembubaran Negara Pasundan ciptaan Belanda.

4. Konstituante: Menjadi anggota Konstituante pada 1955 dan terus membina pendidikan melalui organisasi PUI. 

I. Akhir Hayat dan Keluarga

1. Wafat: KH Abdul Halim wafat pada tanggal 7 Mei 1962 di Majalengka.

2. Keluarga: Beliau meninggalkan istri dan keturunan yang melanjutkan perjuangannya di bidang pendidikan dan pengajaran PUI. Perjuangan beliau dilanjutkan oleh para kader PUI yang didirikannya. 

J. Apakah Sama dengan Pahlawan KH Abdul Chalim?

1. Tidak sama. KH Abdul Halim (Majalengka) adalah tokoh yang berbeda dengan KH Abdul Chalim (Leuwimunding/NU).

2. KH Abdul Halim (Pahlawan 2008): Pendiri Persjarikatan Oelama (PUI).

3. KH Abdul Chalim (Pahlawan 2023): Tokoh pendiri Nahdlatul Ulama (NU) asal Leuwimunding, Majalengka.

Keduanya adalah pahlawan nasional yang berasal dari Majalengka tetapi bergerak di jalur organisasi yang berbeda.



RISALAH PAHLAWAN NASIONAL

KH ABDUL HALIM

(Otong Syatori)
1887 – 1962


Identitas Tokoh

  • Nama Asli: Otong Syatori
  • Nama: KH Abdul Halim
  • Lahir: Desa Cibolerang, Jatiwangi, Majalengka, Jawa Barat, 26 Juni 1887
  • Wafat: Majalengka, Jawa Barat, 7 Mei 1962 (usia 74 tahun)
  • Orang Tua: KH Muhammad Iskandar & Hj. Siti Mutmainah
  • Pendidikan: Pesantren di Jawa Barat dan Jawa Tengah, kemudian melanjutkan studi ke Mekkah
  • Gelar: Pahlawan Nasional Indonesia
    (Keppres No. 041/TK/Tahun 2008, 6 November 2008)

Profil Singkat

KH Abdul Halim adalah ulama, pejuang pendidikan, dan tokoh pergerakan nasional dari Majalengka, Jawa Barat.

Beliau dikenal sebagai pendiri Perserikatan Ulama (kini Persatuan Umat Islam/PUI) serta pendiri Pesantren Santi Asromo.

Perjuangannya menekankan pendidikan, dakwah, ekonomi umat, dan perlawanan terhadap penjajahan.


Perjuangan dan Kiprah

1. Pendidikan dan Organisasi

KH Abdul Halim memadukan pendidikan agama dengan semangat kebangsaan.

Beberapa langkah pentingnya:

1911 — Hayatul Qulub
Organisasi yang bergerak dalam pembaruan pendidikan dan ekonomi masyarakat.

1917 — Persyarikatan Ulama
Organisasi Islam yang kemudian berkembang menjadi Persatuan Umat Islam (PUI).

1932 — Pesantren Santi Asromo
Didirikan di Pasirayu, Sindang, Majalengka dengan kurikulum modern:

  • Ilmu agama
  • Ilmu umum
  • Pertanian
  • Bahasa asing

Pergerakan Nasional dan Politik

KH Abdul Halim aktif dalam berbagai organisasi nasional.

  • Memimpin Sarekat Islam cabang Majalengka
  • Aktif dalam MIAI (Majlis Islam A’la Indonesia)
  • Pengurus Masyumi
  • Anggota BPUPKI (1945) dalam Panitia Pembelaan Negara

Beliau ikut terlibat dalam upaya persiapan kemerdekaan Indonesia.


Perjuangan Melawan Penjajahan

Era Belanda

  • Mengembangkan pendidikan Islam sebagai sarana perlawanan intelektual.
  • Menolak bekerja dalam pemerintahan kolonial Belanda.
  • Mengorganisasi masyarakat melalui Persjarikatan Oelama.

Era Jepang

  • Aktif dalam organisasi Islam nasional.
  • Berperan dalam BPUPKI (1945) untuk merumuskan kemerdekaan Indonesia.

Perjuangan Setelah Kemerdekaan

Pertahanan Negara

Saat Agresi Militer Belanda II (1948) beliau membantu logistik bagi pasukan TNI dan pejuang gerilya.

Pemerintahan

Beliau ditunjuk menjadi Bupati Majalengka pada masa perang kemerdekaan.

Politik dan Ideologi

  • Menentang gerakan DI/TII Kartosuwiryo
  • Menolak Negara Pasundan bentukan Belanda
  • Menjadi anggota Konstituante (1955)

Peninggalan dan Warisan

Organisasi

Persatuan Umat Islam (PUI)
Bergerak dalam bidang:

  • pendidikan
  • sosial
  • dakwah
  • budaya

Lembaga Pendidikan

Pesantren Santi Asromo, Majalengka

Karya Tulis

Beberapa karya beliau antara lain:

  • Tarich Islam
  • Neratja Hidoep
  • Tafsir Juz Amma

Karakter dan Keteladanan

KH Abdul Halim dikenal sebagai:

  • Ulama yang visioner dan sederhana
  • Pejuang yang mengutamakan pendidikan sebagai jalan kemerdekaan
  • Tokoh yang menggabungkan agama, nasionalisme, dan pembangunan masyarakat

Akhir Hayat

KH Abdul Halim wafat pada
7 Mei 1962 di Majalengka, Jawa Barat.

Atas jasa-jasanya bagi bangsa Indonesia, beliau dianugerahi gelar
Pahlawan Nasional pada tahun 2008.


Catatan Penting

KH Abdul Halim berbeda dengan KH Abdul Chalim.

Tokoh Organisasi Tahun Pahlawan
KH Abdul Halim Pendiri PUI 2008
KH Abdul Chalim Tokoh pendiri NU 2023

Keduanya berasal dari Majalengka, namun memiliki jalur organisasi yang berbeda.




155 SBY

Buatlah Risalah dan Infografis tentang Pahlawan :

Pakubuwana X

Nama Lahir: Gusti Raden Mas (GRM) Sayyidin Malikul Kusna.

Lahir di Surakarta, 29 November 1866.

Meninggal di Surakarta, 20 Februari 1939 (dimakamkan di Imogiri).

Masa Pemerintahan: 1893–1939 (46 tahun).

Ayah: Pakubuwana IX.

Gelar: Sampeyandalem Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan Pakubuwana X. 


A. Sri Susuhunan Pakubuwana X (1866–1939) adalah Raja Kesunanan Surakarta yang memerintah terlama (1893–1939) dan dikukuhkan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia (SK Presiden No. 113/TK/2011). Beliau berjuang melawan penjajah Belanda secara diplomatis dan kultural melalui modernisasi, membangun infrastruktur, pendidikan rakyat, serta mendukung gerakan Budi Utomo dan Sarekat Islam. 

B. Perjuangan dan Kiprah Pakubuwana X

1. Pelopor Pendidikan & Sosial: Mendirikan sekolah untuk rakyat (seperti Pamardi Putri) dan memberikan beasiswa. Beliau juga mendirikan panti jompo dan panti yatim piatu.

2. Modernisasi Infrastruktur: Membangun Pasar Gedhe Harjonagoro, merenovasi stasiun kereta api (Solo Jebres/Sangkrah), Stadion Sriwedari, dan membangun Kebun Binatang Jurug.

3. Dukungan Pergerakan Nasional: Mendukung Sarekat Islam (SI) pimpinan H. Samanhudi dan organisasi Budi Utomo. Beliau memberikan perlindungan moral dan finansial, serta mendorong pers pribumi.

4. Strategi Kebudayaan: Menggunakan posisinya untuk membangkitkan nasionalisme melalui seni, budaya, dan pembangunan fisik tanpa perlawanan terbuka, menjaga hubungan baik untuk melindungi rakyat.

5. Pakubuwana X dikenal sebagai sosok yang sangat dihormati, modern, dan berhasil membawa Keraton Surakarta menjadi pusat pergerakan nasional. 

C. Perjuangan Melawan Belanda

1. Perjuangan Pakubuwana X tidak dilakukan dengan angkat senjata secara langsung, melainkan melalui strategi "dua muka" (politik oportunisme). Di satu sisi ia bersikap kooperatif agar tetap duduk di tahta, namun di sisi lain secara diam-diam mendukung pergerakan nasional untuk memerdekakan rakyat dari Belanda. 

2. Dukungan Finansial pada Pergerakan Nasional: PB X dikenal membantu pendanaan berbagai organisasi pergerakan nasional yang melawan Belanda, seperti Sarekat Islam (SI) dan Budi Utomo.

3. Modernisasi Rakyat: Beliau berfokus pada pendidikan dan meningkatkan taraf hidup rakyat untuk mengurangi ketergantungan pada Belanda, termasuk membangun infrastruktur sosial.

4. Lihai Mengecoh Belanda: Pakubuwana X menggunakan wibawanya untuk melindungi tokoh-tokoh pergerakan dari penangkapan Belanda.

5. Menolak Tekanan Belanda: Meskipun ditekan, beliau berusaha keras menjaga kedaulatan keraton dan meminimalkan campur tangan Belanda dalam urusan internal pemerintahan Kasunanan.

6. Strategi Taktis: PB X sangat lihai dalam "politik oportunisme", di mana ia selalu menaati Korte Verklaring (perjanjian pendek) yang ditandatanganinya saat naik tahta, namun memanfaatkannya untuk kepentingan rakyat.

7. Wibawa Raja: Belanda segan untuk menangkapnya karena wibawa PB X di mata rakyat sangat tinggi, sehingga penangkapan berisiko memicu pemberontakan besar di Jawa Tengah. 

D. Akhir Hayat dan Keluarga

1. Akhir Hayat: Pakubuwana X wafat pada 22 Februari 1939 karena sakit. Wafatnya sang raja membawa duka mendalam bagi rakyat dan tokoh pergerakan nasional karena dianggap kehilangan pelindung.

2. Makam: Ia dimakamkan di kompleks makam raja-raja Imogiri.

3. Keluarga: PB X dikenal memiliki banyak istri (permaisuri dan selir) dan putra-putri. Di antara permaisurinya yang terkenal adalah GKR Hemas dan GKR Maduretno. 

E. Karya dan Peninggalan Monumental

Pakubuwana X dikenal sebagai raja pembangun. Karya monumental dan warisannya meliputi:

Karya Monumental (Infrastruktur):

1. Stadion Sriwedari: Stadion sepak bola pertama di Jawa.

2. Kebun Binatang Jurug (Taman Satwataru Jurug).

3. Jembatan Jurug & Jembatan Pasarpon.

4. Rumah Sakit Kadipolo.

5. Pasar Pasargede (Pasar Gede Hardjonagoro).

6. Pasar Klewer:  Pasar Klewer (sebagai kawasan perdagangan) berkembang pesat di zamannya, meskipun bentuk fisik yang ikonik saat ini merupakan pembangunan lanjutannya.

7. Masjid: Ia merenovasi dan memperindah Masjid Agung Surakarta (termasuk menara dan lingkungan sekitar).

8. Karya Budaya dan Tari: Ia aktif mengembangkan seni tari klasik Jawa, termasuk Bedhaya Ketawang yang disakralkan, serta menata ulang tata upacara keraton.

9. Karya Tulis: Beberapa naskah dan babad yang mendokumentasikan sejarah dan tata cara adat Mataram. 

10. Simbol Perlawanan: PB X sering dijuluki "Raja Jawa Mengantar Revolusi" karena perannya membuka jalan bagi kemerdekaan.



RISALAH PAHLAWAN NASIONAL

PAKUBUWANA X

Raja Pembangun dan Pendukung Pergerakan Nasional dari Surakarta


BIODATA SINGKAT

Nama Lahir: Gusti Raden Mas (GRM) Sayyidin Malikul Kusna
Lahir: Surakarta, 29 November 1866
Wafat: Surakarta, 20 Februari 1939
Dimakamkan: Kompleks Makam Raja Imogiri

Ayah: Pakubuwana IX

Masa Pemerintahan:
1893 – 1939 (46 Tahun)

Gelar Lengkap:
Sampeyandalem Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan Pakubuwana X

Pakubuwana X dikenal sebagai raja Kesunanan Surakarta yang memerintah paling lama dan menjadi tokoh penting dalam kebangkitan nasional Indonesia.


PERJUANGAN DAN KIPRAH

1. Pelopor Pendidikan dan Sosial

Pakubuwana X sangat memperhatikan pendidikan rakyat.
Beliau mendirikan berbagai sekolah bagi masyarakat serta memberikan beasiswa bagi pelajar pribumi.

Ia juga mendirikan lembaga sosial seperti panti asuhan dan panti jompo untuk membantu rakyat kecil.


2. Modernisasi Infrastruktur

Pakubuwana X dikenal sebagai raja pembangunan di Surakarta.
Beberapa proyek pembangunan penting pada masa pemerintahannya antara lain:

  • Pasar Gede Hardjonagoro
  • Renovasi Stasiun Solo Jebres dan Sangkrah
  • Stadion Sriwedari
  • Kebun Binatang Jurug
  • Jembatan Jurug dan Pasarpon
  • Rumah Sakit Kadipolo

Pembangunan tersebut bertujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.


3. Dukungan Pergerakan Nasional

Pakubuwana X memberikan dukungan moral dan finansial kepada organisasi pergerakan nasional seperti:

  • Budi Utomo
  • Sarekat Islam pimpinan Haji Samanhudi

Ia juga melindungi tokoh-tokoh pergerakan dari tekanan pemerintah kolonial Belanda.


4. Strategi Kebudayaan

Perjuangan Pakubuwana X dilakukan melalui jalur kebudayaan.

Ia mengembangkan seni dan budaya Jawa seperti:

  • Tari Bedhaya Ketawang
  • Tata upacara Keraton
  • Pengembangan sastra dan babad sejarah

Melalui budaya, beliau menumbuhkan rasa kebangsaan dan kebanggaan terhadap identitas bangsa.


PERJUANGAN MELAWAN BELANDA

Perlawanan Pakubuwana X terhadap Belanda dilakukan secara diplomatis dan strategis.

Strateginya dikenal sebagai politik oportunisme, yaitu:

  • Bersikap kooperatif kepada Belanda secara formal
  • Namun diam-diam mendukung pergerakan nasional

Langkah-langkah perjuangannya antara lain:

  • Memberi dukungan dana kepada organisasi pergerakan
  • Melindungi tokoh pergerakan dari penangkapan
  • Mengembangkan pendidikan rakyat
  • Memperkuat ekonomi masyarakat

Belanda sangat berhati-hati terhadap Pakubuwana X karena wibawanya sangat besar di mata rakyat Jawa.


AKHIR HAYAT DAN WARISAN

Pakubuwana X wafat pada 20 Februari 1939 setelah memerintah selama 46 tahun.

Beliau dimakamkan di Kompleks Makam Raja Imogiri, Yogyakarta.

Wafatnya Pakubuwana X membawa duka mendalam bagi rakyat dan tokoh-tokoh pergerakan nasional karena beliau dianggap sebagai pelindung dan pendukung kebangkitan bangsa.


KARYA DAN PENINGGALAN MONUMENTAL

Beberapa peninggalan penting dari masa pemerintahan Pakubuwana X antara lain:

  1. Stadion Sriwedari (stadion sepak bola pertama di Jawa)
  2. Pasar Gede Hardjonagoro
  3. Kebun Binatang Jurug
  4. Rumah Sakit Kadipolo
  5. Pengembangan kawasan Pasar Klewer
  6. Renovasi Masjid Agung Surakarta
  7. Pengembangan seni tari klasik Jawa

Karena perannya dalam membangun masyarakat dan mendukung kebangkitan nasional, Pakubuwana X dianugerahi gelar:

Pahlawan Nasional Indonesia
berdasarkan Keputusan Presiden No. 113/TK/2011.




156 SBY

Buatlah Risalah dan Infografis tentang Pahlawan :

IJ Kasimo Hendrowahyono

Nama: Ignatius Joseph Kasimo Hendrowahyono (I.J. Kasimo).

Lahir di Yogyakarta, 10 April 1900.

Meninggal di Jakarta, 

1 Agustus 1986 (Dimakamkan di TMP Kalibata).

Pendidikan: Sekolah Guru Muntilan (dididik Romo van Lith), Middelbare Landbouw School (Sekolah Pertanian) Bogor.

Gelar: Pahlawan Nasional (2011). 


A. Ignatius Joseph (IJ) Kasimo Hendrowahyono (lahir Yogyakarta, 10 April 1900 - wafat 1 Agustus 1986) adalah Pahlawan Nasional Indonesia, politikus Katolik pendiri Partai Katolik, dan menteri yang gigih memperjuangkan kedaulatan serta ketahanan pangan melalui "Kasimo Plan". Ia berjuang melalui jalur parlemen, diplomasi, dan pemberdayaan pertanian. 

B. Perjuangan dan Kontribusi:

1. Pendiri Partai Katolik: Mendirikan Katholiek Djawi (1923) yang kemudian menjadi Partai Katolik Indonesia (PKI). Ia menekankan politik yang bermartabat dan religius.

2. Anggota Volksraad (1930-1942): Aktif menyuarakan kemerdekaan Indonesia di parlemen kolonial dan ikut menandatangani Petisi Soetardjo.

3. Kasimo Plan (1948): Sebagai Menteri Persediaan Makanan Rakyat, ia mencetuskan Kasimo Plan, rencana produksi tiga tahun untuk mencapai swasembada pangan (intensifikasi dan ekstensifikasi).

4. Diplomasi & Perjuangan Fisik: Ikut bergerilya saat Agresi Militer Belanda II, menjadi anggota Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP), dan berperan dalam diplomasi pembebasan Irian Barat.

5. Pendidik & Tokoh Pertanian: Guru pertanian di Tegalgondo dan dijuluki "Bapak Tebu Rakyat" karena peraturan yang menguntungkan petani tebu. 

C. Perjuangan di Era Jepang dan Belanda

1. Masa Belanda (Kolonial): Kasimo aktif dalam pergerakan nasional dengan menjunjung tinggi kepentingan rakyat. Ia menolak feodalisme dan kolonialisme. Sebagai wakil Katolik di Volksraad (Dewan Rakyat), ia dikenal berani bersuara moderat namun tegas memperjuangkan hak-hak pribumi.

2. Masa Jepang: Pada masa pendudukan Jepang, aktivitas politik dibatasi ketat, namun Kasimo tetap bertahan dan memperkuat basis pergerakan Katolik secara hati-hati, berfokus pada solidaritas nasionalisme-religius.

D. Perjuangan Pasca Kemerdekaan

1. Pendiri Partai: Ia adalah salah satu pendiri Partai Katolik yang berkomitmen penuh pada NKRI (nasionalisme-religius).

2. Kasimo Plan: Sebagai Menteri Persediaan Makanan Rakyat, ia mencetuskan Kasimo Plan (1948-1950) yang berfokus pada meningkatkan produksi pangan melalui intensifikasi, penanaman bibit unggul, dan menanami tanah kosong/tanah terlantar untuk ketahanan pangan nasional.

3. Jabatan Menteri: Ia menjabat sebagai Menteri Muda Pangan (Kabinet Amir Sjarifuddin II), Menteri Persediaan Makanan Rakyat (Kabinet Hatta I & II), serta Menteri Perdagangan dan Perindustrian (Kabinet RIS).

4. Prinsip Politik: Ia dikenal dengan moto "Salus Populi Suprema Lex" (kepentingan rakyat adalah hukum tertinggi) dan menekankan bahwa berpolitik adalah pengorbanan tanpa pamrih.

5. IJ Kasimo dikenal sebagai tokoh yang jujur, bersahaja, dan setia pada perjuangan negara hingga akhir hayatnya. 

E. Akhir Hayat dan Keluarga.

1. I.J. Kasimo meninggal dunia di Jakarta pada tanggal 1 Agustus 1986.

2. Makam: Ia dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kusumanegara, Yogyakarta.

3. Keluarga: Ia menikah dengan Agnes N. Kasimo. Selama hidupnya, ia dikenal sebagai sosok yang sederhana, jujur, dan berpegang teguh pada prinsip (beginsel) dalam berpolitik. 

4. I.J. Kasimo dihormati karena mencontohkan bahwa berpolitik adalah bentuk pengorbanan tanpa pamrih (salus populi suprema lex - kepentingan rakyat adalah hukum tertinggi).



RISALAH PAHLAWAN NASIONAL

I.J. KASIMO HENDROWAHYONO

(Ignatius Joseph Kasimo Hendrowahyono)

Lahir : Yogyakarta, 10 April 1900
Wafat : Jakarta, 1 Agustus 1986
Dimakamkan : TMP Kalibata, Jakarta

Pendidikan :

  • Sekolah Guru Muntilan (dididik oleh Frans van Lith)
  • Middelbare Landbouw School (Sekolah Pertanian), Bogor

Gelar :
Pahlawan Nasional Indonesia (2011)


PROFIL SINGKAT

Ignatius Joseph Kasimo Hendrowahyono atau I.J. Kasimo adalah tokoh politik Katolik Indonesia yang dikenal sebagai pendiri Partai Katolik, pejuang kemerdekaan melalui jalur politik, serta perintis kebijakan ketahanan pangan nasional melalui “Kasimo Plan.”

Ia memperjuangkan kemerdekaan Indonesia melalui parlemen, diplomasi, pendidikan pertanian, serta perjuangan fisik ketika negara menghadapi agresi militer Belanda.


PERJUANGAN DAN KONTRIBUSI

1. Pendiri Partai Katolik

  • Tahun 1923 mendirikan Katholiek Djawi yang kemudian berkembang menjadi Partai Katolik Indonesia.
  • Mengembangkan gagasan politik yang bermoral dan religius untuk memperjuangkan kepentingan rakyat.

2. Anggota Volksraad (1930–1942)

  • Menjadi anggota Volksraad.
  • Aktif memperjuangkan hak rakyat Indonesia.
  • Menandatangani Petisi Soetardjo yang menuntut pemerintahan sendiri bagi Indonesia.

3. Pencetus Kasimo Plan (1948)

Sebagai Menteri Persediaan Makanan Rakyat, ia mencetuskan Kasimo Plan, yaitu program produksi pangan nasional selama tiga tahun dengan tujuan:

  • Intensifikasi pertanian
  • Penggunaan bibit unggul
  • Pembukaan lahan baru
  • Pemanfaatan tanah kosong

Program ini bertujuan mencapai swasembada pangan nasional.

4. Perjuangan Diplomasi dan Fisik

  • Anggota Komite Nasional Indonesia Pusat.
  • Ikut bergerilya saat Agresi Militer Belanda II.
  • Berperan dalam diplomasi untuk pembebasan Irian Barat.

5. Tokoh Pendidikan dan Pertanian

  • Guru pertanian di Tegalgondo.
  • Dijuluki “Bapak Tebu Rakyat” karena kebijakan yang memperkuat kesejahteraan petani tebu.

PERJUANGAN DI ERA KOLONIAL DAN JEPANG

Masa Kolonial Belanda

  • Aktif dalam gerakan nasional melalui parlemen.
  • Menentang kolonialisme dan feodalisme.
  • Memperjuangkan hak rakyat pribumi secara moderat tetapi tegas.

Masa Pendudukan Jepang

  • Aktivitas politik dibatasi, namun ia tetap memperkuat jaringan nasionalis Katolik.
  • Mengembangkan solidaritas nasionalisme dan nilai religius.

PERJUANGAN PASCA KEMERDEKAAN

Pendiri Partai

Ia menjadi tokoh penting dalam Partai Katolik Indonesia yang berkomitmen pada NKRI.

Jabatan Menteri

Ia pernah menjabat sebagai:

  • Menteri Muda Pangan (Kabinet Amir Sjarifuddin II)
  • Menteri Persediaan Makanan Rakyat (Kabinet Hatta I & II)
  • Menteri Perdagangan dan Perindustrian (Kabinet RIS)

Prinsip Politik

Moto perjuangannya:

“Salus Populi Suprema Lex”
(Kepentingan rakyat adalah hukum tertinggi).


AKHIR HAYAT

Ignatius Joseph Kasimo Hendrowahyono wafat di Jakarta pada 1 Agustus 1986.

Ia dikenang sebagai tokoh politik yang:

  • Jujur
  • Sederhana
  • Berprinsip kuat
  • Mengabdikan hidupnya untuk kepentingan rakyat dan negara.

WARISAN PERJUANGAN

I.J. Kasimo meninggalkan warisan penting dalam sejarah Indonesia:

  • Politik berlandaskan moral dan pengabdian
  • Gagasan ketahanan pangan nasional
  • Perjuangan demokrasi melalui parlemen

Namanya diabadikan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia (2011).




157 SBY

Buatlah Risalah dan Infografis tentang Pahlawan :

KRT Radjiman Wedyodiningrat

(Dr. Kanjeng Raden Tumenggung (KRT) Radjiman Wedyodiningrat)

Lahir di Yogyakarta, 21 April 1879.

Meninggal di Ngawi, 20 September 1952 (Dimakamkan di Yogyakarta).

Pendidikan: STOVIA (Sekolah Dokter Jawa), lulus 1899, serta studi medis lanjutan di Belanda, Prancis, Inggris, dan Jerman

Pekerjaan: Dokter Keraton Solo, Dokter Ahli Penyakit.

Organisasi: Budi Utomo

Jabatan Penting: Ketua BPUPKI.

Gelar: Pahlawan Nasional Indonesia (dianugerahkan 8 November 2013) 


A. Dr. KRT Radjiman Wedyodiningrat (21 April 1879 – 20 September 1952) adalah dokter, tokoh Boedi Oetomo, dan ketua BPUPKI yang memimpin perumusan dasar negara (Pancasila) dan UUD 1945. Sebagai dokter keraton Surakarta yang humanis, ia berjuang melalui jalur politik untuk kemerdekaan dan menjadi anggota DPR pertama di Indonesia. 

B. Perjuangan dan Kiprah

1. Dokter Rakyat & Keraton: Memulai karir sebagai dokter yang melayani rakyat kecil dan menjadi dokter pribadi Pakubuwono X di Surakarta, yang memberinya gelar KRT.

2. Pergerakan Nasional: Aktif dalam organisasi Boedi Oetomo sejak awal berdiri (1908) dan sempat menjadi ketua pada 1914-1915.

3. Ketua BPUPKI: Pada 1945, Radjiman terpilih sebagai ketua Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan (BPUPKI). Ia memimpin sidang-sidang krusial yang merumuskan dasar negara (Pancasila) dan konstitusi.

4. Menjelang Kemerdekaan: Bersama Soekarno dan Hatta, ia diterbangkan ke Saigon pada 9 Agustus 1945 untuk menemui Marsekal Terauchi terkait kemerdekaan Indonesia.

5. Pascakemerdekaan: Menjadi anggota Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP), Dewan Pertimbangan Agung (DPA), dan memimpin sidang pleno pertama DPR pada 1950. 

6. Radjiman dikenal sebagai sosok yang berpandangan jauh ke depan, mengayomi, dan berpegang pada musyawarah-mufakat. 

C. Perjuangan di Era Belanda

Perjuangan Radjiman di era kolonial Belanda lebih banyak dilakukan melalui pergerakan intelektual, sosial, dan budaya:

1. Tokoh Pergerakan Budi Utomo: Radjiman merupakan salah satu tokoh senior dan pendiri Budi Utomo (organisasi pergerakan pertama di Indonesia) yang aktif memelihara dan membina organisasi tersebut.

2. Ketua Budi Utomo (1914-1915): Ia sempat memimpin organisasi ini dan mengusulkan pembentukan milisi rakyat di setiap daerah, terutama setelah pecahnya Perang Dunia I, sebagai bentuk kesadaran pertahanan diri.

3. Dokter Rakyat dan Keraton: Sebagai dokter di Keraton Solo, ia tidak hanya mengobati keluarga keraton tetapi juga dikenal sebagai dokter yang merakyat, sering memberikan pengobatan gratis kepada masyarakat yang tidak mampu.

4. Pendidikan bagi Bumiputera: Aktif mendorong pendidikan bagi pribumi untuk mencerdaskan bangsa agar mampu melawan kolonialisme melalui kecerdasan intelektual.

D. Perjuangan di Era Jepang

Di masa pendudukan Jepang, perjuangan Radjiman memasuki babak paling krusial dalam sejarah persiapan kemerdekaan:

1. Ketua BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia): Pada tahun 1945, Jepang membentuk BPUPKI, dan Radjiman dipilih sebagai ketua karena sosoknya yang dihormati, bijaksana, dan menjadi penengah di antara berbagai golongan.

2. Peletak Dasar Negara: Radjiman memimpin sidang-sidang penting BPUPKI yang membahas rumusan dasar negara (Pancasila) dan rancangan Undang-Undang Dasar (UUD). Ia yang mengajukan pertanyaan mendasar kepada anggota sidang: "Apa dasar negara Indonesia yang akan kita bentuk?".

3. Menjemput Kemerdekaan: Radjiman sempat terbang ke Vietnam bersama Soekarno dan Hatta untuk menemui Marsekal Terauchi pada Agustus 1945 untuk membicarakan kemerdekaan Indonesia.

E. Perjuangan Pasca Kemerdekaan (Indonesia Merdeka)

Setelah proklamasi kemerdekaan, Radjiman tetap berkontribusi pada negara:

1. Anggota Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP): Menjadi anggota KNIP yang bertugas sebagai parlemen sementara sebelum pemilu.

2. Anggota Dewan Pertimbangan Agung: Membantu memberikan pertimbangan kepada pemerintah dalam masa-masa awal berdirinya negara.

3. Ketua Sidang DPR Pertama: Memimpin sidang DPR pertama yang dihadiri oleh perwakilan dari seluruh wilayah Indonesia.

4. Tetap Menjadi Dokter: Radjiman kembali ke kediamannya di Ngawi dan tetap melayani masyarakat sebagai dokter, menunjukkan dedikasinya yang konsisten pada kemanusiaan.

F. Akhir Hayat dan Keluarga

1. Wafat: Beliau wafat pada tanggal 20 September 1952 karena sakit dan dimakamkan di Yogyakarta.

2. Peninggalan Keluarga: Radjiman dikenal sebagai sosok yang sangat sederhana. Beliau meninggalkan keluarga, namun catatan sejarah lebih banyak menonjolkan dedikasinya sebagai "dokter rakyat" yang tidak memungut biaya, serta perannya sebagai sosok kebapakan dalam pergerakan. 

3. Radjiman Wedyodiningrat adalah keponakan dari dr. Wahidin Soedirohoesodo.



RISALAH PAHLAWAN NASIONAL

Dr. Kanjeng Raden Tumenggung (KRT) Radjiman Wedyodiningrat

Lahir: Yogyakarta, 21 April 1879
Wafat: Ngawi, 20 September 1952
(Dimakamkan di Yogyakarta)

Pendidikan:
STOVIA (Sekolah Dokter Jawa), lulus 1899
Studi medis lanjutan di Belanda, Prancis, Inggris, dan Jerman

Profesi:
Dokter Keraton Surakarta – Ahli Penyakit

Organisasi:
Boedi Oetomo

Jabatan Penting:
Ketua BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia)

Gelar:
Pahlawan Nasional Indonesia
(8 November 2013)


TOKOH PERUMUS DASAR NEGARA

Dr. KRT Radjiman Wedyodiningrat merupakan dokter, tokoh pergerakan nasional, serta Ketua BPUPKI yang memimpin sidang-sidang penting dalam merumuskan dasar negara Indonesia.

Sebagai dokter keraton Surakarta yang dikenal humanis dan merakyat, Radjiman memperjuangkan kemerdekaan Indonesia melalui jalur intelektual dan politik.

Ia juga dikenal sebagai sosok yang bijaksana, menjunjung tinggi musyawarah, serta mampu menjadi penengah berbagai golongan dalam pergerakan nasional.


PERJUANGAN DAN KIPRAH

1. Dokter Rakyat dan Keraton
Memulai karier sebagai dokter yang melayani masyarakat kecil dan kemudian menjadi dokter pribadi Pakubuwono X di Keraton Surakarta.

2. Tokoh Pergerakan Nasional
Aktif dalam organisasi Boedi Oetomo sejak berdiri tahun 1908 dan pernah menjadi ketua pada tahun 1914–1915.

3. Ketua BPUPKI (1945)
Memimpin sidang-sidang penting yang merumuskan dasar negara Indonesia (Pancasila) dan rancangan UUD 1945.

4. Pertanyaan Bersejarah
Dalam sidang BPUPKI ia mengajukan pertanyaan penting:
"Apa dasar negara Indonesia yang akan kita bentuk?"

5. Menjelang Kemerdekaan
Pada 9 Agustus 1945, bersama Soekarno dan Mohammad Hatta diterbangkan ke Saigon untuk menemui Marsekal Terauchi guna membahas kemerdekaan Indonesia.


PERAN SETELAH KEMERDEKAAN

Setelah Indonesia merdeka, Radjiman tetap berperan penting dalam pemerintahan negara:

• Anggota Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP)
• Anggota Dewan Pertimbangan Agung (DPA)
• Memimpin sidang pleno pertama DPR tahun 1950

Walau aktif di pemerintahan, beliau tetap dikenal sebagai dokter yang sederhana dan terus membantu masyarakat.


AKHIR HAYAT

Dr. KRT Radjiman Wedyodiningrat wafat pada 20 September 1952 di Ngawi.

Beliau dikenang sebagai dokter rakyat, tokoh pergerakan nasional, dan pemimpin BPUPKI yang berjasa besar dalam merumuskan dasar negara Indonesia.




158 SBY

Buatlah Risalah dan Infografis tentang Pahlawan :

LN Palar

Nama Lengkap: Lambertus Nicodemus Palar

Lahir di Rurukan, Tomohon, Sulawesi Utara, 5 Juni 1900.

Meninggal di Jakarta, 13 Februari 1981.

MULO di Tondano.

AMS (setingkat SMA) di Yogyakarta.

Technische Hoogeschool (sekarang ITB), lalu pindah ke Universitas Amsterdam, Belanda, jurusan Sosiologi dan Ekonomi.

Wafat: 

Gelar: Pahlawan Nasional Indonesia (ditetapkan tahun 2013). 


A. Lambertus Nicodemus Palar (akrab disapa Babe Palar) adalah diplomat ulung dan pahlawan nasional asal Minahasa, Sulawesi Utara, yang menjadi kunci pengakuan kedaulatan Indonesia di dunia internasional. 

B. Jejak Perjuangan

Perjuangan LN Palar fokus pada jalur diplomasi internasional, terutama di markas besar PBB: 

1. Diplomasi di Belanda: Saat tinggal di Belanda, ia aktif dalam organisasi pergerakan dan menjadi anggota parlemen Belanda (Tweede Kamer) dari Partai Buruh (PvdA). Ia menggunakan posisinya untuk mendesak pemerintah Belanda agar mengakui kemerdekaan Indonesia.

2. Wakil Tetap RI Pertama di PBB: Setelah mengundurkan diri dari parlemen Belanda, ia diutus oleh Soekarno-Hatta menjadi juru bicara Indonesia di PBB pada tahun 1947.

3. Lobi Kedaulatan: Selama Agresi Militer Belanda, Palar melakukan lobi-lobi intensif di PBB untuk mengecam tindakan Belanda. Usahanya membuahkan hasil dengan dikeluarkannya berbagai resolusi Dewan Keamanan PBB yang menguntungkan Indonesia, termasuk yang mendorong pelaksanaan Konferensi Meja Bundar (KMB).

4. Pengibaran Bendera: Ia adalah tokoh yang berhasil mengantarkan Indonesia menjadi anggota ke-60 PBB pada 28 September 1950, sekaligus menjadi orang pertama yang mengibarkan bendera Merah Putih di depan markas PBB.

5. Perlawanan Terhadap Fasisme: Di masa Perang Dunia II, ia juga tercatat terlibat dalam gerakan bawah tanah di Belanda untuk melawan pendudukan Nazi Jerman. 

C.Era Perjuangan Melawan Jepang (Perang Dunia II)

Selama pendudukan Jepang, Palar berada di Belanda sebagai bagian dari gerakan bawah tanah.

1. Anti-Nazi & Anti-Fasis: LN Palar terlibat aktif dalam perlawanan bawah tanah melawan Nazi Jerman yang menduduki Belanda.

2. Membela Belanda: Dalam konteks PD II, ia membela Belanda (yang saat itu terjajah oleh Nazi) karena ia menganggap fasisme Nazi lebih berbahaya, sembari tetap menyuarakan kemerdekaan Indonesia dari penjajahan Belanda.

D. Era Perjuangan Melawan Belanda (Masa Penjajahan & Revolusi)

1. LN Palar berjuang dari dalam negeri penjajah (Belanda) untuk kepentingan kemerdekaan Indonesia. 

2. Anggota Parlemen Belanda: Pada 1945, ia berhasil menjadi anggota Parlemen Belanda (Tweede Kamer) dari Partai Sosialis.

3. Menentang Agresi Militer Belanda: Saat Belanda melakukan Agresi Militer I ke Indonesia pada 1947, Palar langsung mengundurkan diri dari kursi parlemen sebagai bentuk protes keras dan berbalik melawan kebijakan Belanda.

4. Diplomat di PBB: Palar ditugaskan sebagai Wakil Indonesia di PBB pada tahun 1947, di mana ia melakukan lobi dan negosiasi gigih untuk mendapatkan dukungan internasional, yang pada akhirnya membawa isu Indonesia ke meja perundingan (Konferensi Meja Bundar/KMB).

E. Era Pasca Kemerdekaan (Diplomat Utama)

1. Setelah proklamasi kemerdekaan, Palar adalah kunci pengakuan kedaulatan Indonesia secara global.

2. Wakil Tetap Pertama di PBB: Ia menjabat sebagai Wakil Tetap Republik Indonesia pertama di PBB dengan pangkat Duta Besar (Oktober 1950 - 1953).

3. Sah Kedaulatan Indonesia: Ia berhasil membawa Indonesia masuk sebagai anggota PBB ke-60 pada tahun 1950, yang menjadikan Indonesia merdeka 100% dan diakui secara sah oleh dunia internasional.

4. Duta Besar di Berbagai Negara: Setelah masa baktinya di PBB, ia menjadi duta besar Indonesia untuk India, Jerman Timur, Uni Soviet, Kanada, dan Amerika Serikat.

5. Palar menetap dan berjuang di Belanda (dan Eropa) selama kurun waktu 1928 hingga Indonesia merdeka, di mana ia bahkan menjadi anggota parlemen Belanda sebelum akhirnya mengundurkan diri untuk membela Indonesia.

F. Perjuangan Pasca Kemerdekaan & di PBB

Palar adalah perwakilan Indonesia pertama di PBB (1947-1953). 

1. Membela Indonesia di PBB: Palar menjadi juru bicara utama Indonesia di sidang Dewan Keamanan PBB. Ia berhasil membuat dunia internasional (terutama AS) menekan Belanda untuk menghentikan agresi militer.

2. Diplomasi Pengakuan Kemerdekaan: Berkat diplomasi gigihnya, ia berhasil membawa Indonesia menjadi anggota PBB ke-60 pada 28 September 1950.

3. Menolak Belanda: Ia menegaskan bahwa Indonesia tidak sudi bergabung dengan Uni Indonesia-Belanda.

4. Membawa Kembali Indonesia ke PBB: Setelah sempat keluar pada 1965, Palar berperan dalam membawa kembali Indonesia menjadi anggota PBB pada era Soeharto. 

G. Akhir Hayat dan Keluarga

1. Akhir Hayat: LN Palar wafat pada 13 Februari 1981.

2. Keluarga: Selama berjuang di Eropa, ia menikah dengan seorang wanita Belanda bernama Johanna Charlotta Wilhelmina (Yoke) Bakker pada tahun 1930. Mereka dikaruniai keluarga yang mendukung kiprah diplomatik Palar.

3. Penghormatan: Atas jasa-jasanya, ia ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional pada 6 November 2013, sebuah pengakuan yang dinilai cukup terlambat namun penting bagi sejarah Minahasa dan Indonesia. 

4. LN Palar dijuluki "duri dalam diplomasi Belanda" karena kecerdasannya dalam mematahkan argumen Belanda di forum PBB.



RISALAH PAHLAWAN NASIONAL

LAMBERTUS NICODEMUS PALAR

(LN Palar / Babe Palar)

Identitas Tokoh

  • Nama Lengkap: Lambertus Nicodemus Palar
  • Lahir: Rurukan, Tomohon, Sulawesi Utara, 5 Juni 1900
  • Wafat: Jakarta, 13 Februari 1981
  • Pendidikan:
    • MULO di Tondano
    • AMS di Yogyakarta
    • Technische Hoogeschool (sekarang ITB)
    • Universitas Amsterdam, Belanda (Sosiologi dan Ekonomi)
  • Gelar: Pahlawan Nasional Indonesia (2013)

A. Profil Singkat

Lambertus Nicodemus Palar, yang akrab disapa Babe Palar, adalah diplomat ulung dan tokoh perjuangan Indonesia asal Minahasa, Sulawesi Utara. Ia dikenal sebagai arsitek diplomasi internasional Indonesia pada masa revolusi kemerdekaan.

Melalui kecerdasan diplomasi dan jaringan internasionalnya, Palar berhasil membawa isu kemerdekaan Indonesia ke forum dunia, terutama di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Ia berperan besar dalam mendapatkan pengakuan kedaulatan Indonesia dari masyarakat internasional.


B. Jejak Perjuangan

Perjuangan LN Palar terutama dilakukan melalui jalur diplomasi internasional, khususnya di forum PBB.

1. Diplomasi di Belanda

Saat tinggal di Belanda, Palar aktif dalam organisasi pergerakan. Ia kemudian menjadi anggota Parlemen Belanda (Tweede Kamer) dari Partai Buruh (PvdA). Dari dalam parlemen itulah ia mendesak pemerintah Belanda agar mengakui kemerdekaan Indonesia.

2. Wakil Indonesia di PBB

Pada tahun 1947, ia diutus oleh pemerintah Indonesia menjadi perwakilan Indonesia di PBB untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia melalui jalur diplomasi internasional.

3. Lobi Kedaulatan Indonesia

Ketika Belanda melakukan Agresi Militer terhadap Indonesia, Palar melakukan lobi intensif di PBB untuk mengecam tindakan Belanda. Upaya ini menghasilkan berbagai resolusi Dewan Keamanan PBB yang mendukung penyelesaian konflik Indonesia-Belanda.

4. Pengibaran Bendera Indonesia di PBB

Palar berhasil mengantarkan Indonesia menjadi anggota ke-60 Perserikatan Bangsa-Bangsa pada 28 September 1950. Pada saat itu ia menjadi tokoh yang mengibarkan bendera Merah Putih pertama kali di markas besar PBB.

5. Perlawanan terhadap Fasisme

Pada masa Perang Dunia II, Palar juga ikut dalam gerakan bawah tanah di Belanda untuk melawan pendudukan Nazi Jerman.


C. Era Perjuangan Melawan Jepang (Perang Dunia II)

Selama masa pendudukan Jepang, Palar berada di Belanda dan terlibat dalam gerakan bawah tanah.

  1. Anti-Nazi dan Anti-Fasis
    Ia aktif dalam perlawanan terhadap pendudukan Nazi Jerman di Belanda.

  2. Melawan Fasisme
    Palar menilai ideologi fasisme sebagai ancaman besar bagi kemanusiaan, sehingga ia ikut memperjuangkan kebebasan sambil tetap menyuarakan kemerdekaan Indonesia.


D. Era Perjuangan Melawan Belanda

  1. Palar berjuang dari dalam negeri penjajah untuk kepentingan kemerdekaan Indonesia.
  2. Tahun 1945 ia menjadi anggota Parlemen Belanda (Tweede Kamer) dari Partai Sosialis.
  3. Ketika Belanda melancarkan Agresi Militer I tahun 1947, Palar mengundurkan diri dari parlemen sebagai bentuk protes.
  4. Setelah itu ia diutus menjadi wakil Indonesia di PBB, memperjuangkan kemerdekaan Indonesia melalui diplomasi internasional.

E. Era Pasca Kemerdekaan

Setelah Indonesia merdeka, LN Palar menjadi diplomat utama Indonesia di dunia internasional.

  1. Wakil Tetap RI Pertama di PBB
    Ia menjabat sebagai Wakil Tetap Indonesia di PBB dengan pangkat duta besar pada 1950–1953.

  2. Pengakuan Kedaulatan Indonesia
    Melalui diplomasi gigihnya, Indonesia berhasil menjadi anggota resmi PBB pada tahun 1950.

  3. Duta Besar Indonesia
    Setelah bertugas di PBB, Palar menjadi duta besar Indonesia untuk berbagai negara seperti:

    • India
    • Uni Soviet
    • Jerman Timur
    • Kanada
    • Amerika Serikat

F. Perjuangan Diplomasi di PBB

  1. Palar menjadi juru bicara utama Indonesia dalam sidang Dewan Keamanan PBB.
  2. Ia berhasil menarik perhatian dunia internasional terhadap perjuangan Indonesia.
  3. Negara-negara besar seperti Amerika Serikat akhirnya menekan Belanda untuk menghentikan agresinya.
  4. Diplomasi tersebut membuka jalan menuju Konferensi Meja Bundar (KMB) yang mengakui kedaulatan Indonesia.

G. Akhir Hayat dan Keluarga

  1. Wafat: 13 Februari 1981 di Jakarta.
  2. Keluarga:
    Palar menikah dengan seorang wanita Belanda bernama Johanna Charlotta Wilhelmina (Yoke) Bakker pada tahun 1930.
  3. Penghargaan:
    Atas jasanya bagi bangsa Indonesia, ia dianugerahi gelar Pahlawan Nasional pada 6 November 2013.
  4. Ia dikenal sebagai “duri dalam diplomasi Belanda” karena kecerdasannya dalam mematahkan argumen Belanda di forum internasional.

LN Palar dikenang sebagai diplomat besar yang membawa Indonesia ke panggung dunia dan memastikan kemerdekaan Indonesia diakui oleh masyarakat internasional.




207 Prab

Buatlah Risalah dan Infografis tentang Pahlawan :

K.H. Abdurrahman Wahid.

(lahir dengan nama Abdurrahman ad-Dakhil).

Lahir di Jombang, Jawa Timur, 7 September 1940.

Meninggal di Jakarta, 30 Desember 2009 (dimakamkan di Tebuireng, Jombang).

Panggilan: Gus Dur (Gus = putra kiai).

Orang Tua: KH. Wahid Hasyim (Menteri Agama RI ke-1) dan Hj. Sholichah (putri pendiri Pesantren Denanyar, KH. Bisri Syansuri).

Istri: Sinta Nuriyah.

Kakek: K.H. Hasyim Asy'ari (pendiri NU). 

Pendidikan: Pesantren Krapyak (Yogyakarta), Magelang, Pesantren Tambakberas (Jombang), Universitas Al-Azhar (Mesir), dan Universitas Baghdad (Irak). 


A. K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) adalah Presiden ke-4 RI (1999–2001) dan tokoh pluralisme asal Jombang, Jawa Timur (lahir 7 Sept 1940 - wafat 30 Des 2009). Cucu pendiri NU KH. Hasyim Asy'ari ini dikenal sebagai pejuang demokrasi, hak minoritas, dan toleransi beragama. Ia dimakamkan di kompleks Pesantren Tebuireng, Jombang. 

B. Perjuangan dan Kebijakan Monumental

1. Bapak Pluralisme: Gus Dur konsisten membela hak-hak minoritas dan keberagaman suku, agama, serta ras di Indonesia.

2. Mendobrak Diskriminasi Tionghoa: Mencabut Inpres No. 14 Tahun 1967, mengakui Konghucu sebagai agama resmi, dan menetapkan Tahun Baru Imlek sebagai hari libur.

3. Ketua Umum PBNU: Memimpin Nahdlatul Ulama selama 3 periode (1984–1999), membawa NU ke arah pemikiran yang lebih moderat dan terbuka.

4. Reformasi dan Demokrasi: Aktif dalam pergerakan Reformasi 1998 dan mendirikan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) sebagai wadah politik.

5. Presiden Ke-4 RI (1999–2001): Meskipun singkat, pemerintahannya berhasil menstabilkan ekonomi (rasio gini turun hingga 0,31) dan merangkul Papua dengan mengubah nama Irian Jaya menjadi Papua. 

6. Gus Dur dikenal sebagai sosok humoris, cerdas, dan merakyat. Warisan pemikirannya tentang "Islam Damai" dan toleransi tetap hidup. Ia diakui sebagai salah satu tokoh sentral yang meletakkan dasar transisi demokrasi di Indonesia.

C. Kehidupan Masa Kecil dan Remaja (Sekolah)

1. Masa Kecil: Tumbuh dalam nuansa pesantren, pada usia 4 tahun sudah diajarkan Al-Qur'an dan Bahasa Arab oleh ibunya.

2. Pendidikan Dasar: Pindah ke Jakarta mengikuti ayahnya. Sempat masuk SD KRIS, lalu pindah ke SD Matraman Perwari.

3. Pendidikan Menengah: Masuk SMP pada 1954 (tahun ayahnya wafat) dan sempat tidak naik kelas, namun ia dikenal sangat cerdas dan gemar membaca buku apa saja.

4. Pendidikan Pesantren: Melanjutkan ke Pesantren Krapyak Yogyakarta (asuhan KH. Ali Maksum). Selanjutnya belajar di Pesantren Tegalrejo, Magelang (1957) dan Pesantren Tambakberas, Jombang (1959).

5. Pendidikan Luar Negeri: Sempat berkuliah di Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir (1963) dan Universitas Baghdad, Irak (1970). 

D. Kiprah Saat Orde Lama (1959–1966)

1. Guru dan Pendidik: Sejak muda, Gus Dur sudah aktif mendidik. Ia menjadi guru di Madrasah Mu'alimat Bahrul Ulum, Tambak Beras, Jombang, pada 1959.

2. Aktif Organisasi: Semasa mahasiswa, ia aktif di organisasi mahasiswa, termasuk menjabat Ketua Perhimpunan Mahasiswa Indonesia di Timur Tengah (1964–1970). 

E. Kiprah Saat Orde Baru (1966–1998)

1. Intelektual Muda dan Jurnalis: Sekembalinya ke tanah air pada 1971, ia berperan aktif mengembangkan pendidikan Islam dan menjadi jurnalis yang kritis terhadap pemerintah Orde Baru.

2. Memimpin NU: Gus Dur terpilih sebagai Ketua Umum PBNU (Pengurus Besar Nahdlatul Ulama) pada 1984 dan menjabat selama 3 periode (hingga 1999), membawa NU menjadi organisasi yang moderat dan pluralis.

3. Tokoh Reformasi: Ia dikenal konsisten menjaga kebhinnekaan, membela hak minoritas, dan menjadi tokoh sentral penggerak Reformasi untuk menjatuhkan rezim Orde Baru.

F. Perjuangan dan Kiprah Pasca-Orde Baru 

1. Presiden ke-4 RI: Menjabat sebagai presiden pada 20 Oktober 1999 hingga 23 Juli 2001.

2. Bapak Pluralisme: Kebijakan monumental meliputi mencabut larangan perayaan Imlek, menjadikan Tahun Baru Imlek hari libur, dan mencabut TAP MPRS tentang larangan budaya Tionghoa.

3. Humanis: Mengubah nama Irian Jaya menjadi Papua dan menunjung tinggi keberagaman. 

G. Menjadi Presiden dan Alasan Lengser

Gus Dur terpilih sebagai presiden pada 20 Oktober 1999 hasil Pemilu 1999. Ia menjabat hanya sekitar 20 bulan (hingga 23 Juli 2001). 

1. Mengapa Sebentar? Terjadi konflik tajam antara Gus Dur dengan parlemen (MPR/DPR). Kebijakan memecat menteri/Kapolri tanpa konsultasi, serta isu "Buloggate" dan "Bruneigate" (meski tidak terbukti secara hukum) melemahkan posisinya.

2. Mengapa Lengser? Puncaknya, Gus Dur mengeluarkan Dekrit Presiden (23 Juli 2001) untuk membubarkan DPR/MPR. Langkah ini dianggap inkonstitusional oleh militer dan elite politik, yang kemudian memicu Sidang Istimewa MPR untuk memakzulkannya. 

H. Skandal & Tuduhan

1. Skandal: Muncul tuduhan "Buloggate" (dana Yayasan Bulog) dan "Bruneigate" (bantuan Sultan Brunei).

2. Sidang & Bukti: Meskipun disidangkan melalui mekanisme politik (interpelasi/memorandum), tuduhan tersebut tidak terbukti secara hukum di pengadilan. Isu ini lebih banyak digunakan sebagai alat politik untuk melemahkan posisinya. 

I. Kisah Kecelakaan Ayah

Gus Dur pernah berada dalam satu mobil dengan ayahnya, KH Wahid Hasyim, ketika kecelakaan tragis terjadi di Cimahi pada April 1953. Gus Dur saat itu masih remaja (sekitar 12-13 tahun) dan duduk di bangku belakang. Ayahnya meninggal dunia akibat luka parah, sementara Gus Dur selamat.

J. Akhir Hayat & Keluarga: Wafat pada 30 Desember 2009 di RSCM Jakarta dan dimakamkan di Tebuireng, Jombang. Ia meninggalkan istri, Hj. Sinta Nuriyah, dan empat putri: Alissa Wahid, Yenny Wahid, Anita Wahid, dan Inayah Wahid.



RISALAH PAHLAWAN NASIONAL

K.H. ABDURRAHMAN WAHID (GUS DUR)

Bapak Pluralisme dan Presiden ke-4 Republik Indonesia


BIODATA SINGKAT

Nama Lahir: Abdurrahman ad-Dakhil
Panggilan: Gus Dur

Lahir: Jombang, Jawa Timur, 7 September 1940
Wafat: Jakarta, 30 Desember 2009

Dimakamkan: Kompleks Pesantren Tebuireng, Jombang

Orang Tua:

  • KH. Wahid Hasyim (Menteri Agama RI)
  • Hj. Sholichah

Kakek: KH. Hasyim Asy’ari (Pendiri Nahdlatul Ulama)

Istri: Sinta Nuriyah

Anak:

  • Alissa Wahid
  • Yenny Wahid
  • Anita Wahid
  • Inayah Wahid

PENDIDIKAN

Perjalanan pendidikan Gus Dur sangat luas, baik di pesantren maupun luar negeri.

Pesantren yang pernah ditempuh:

  • Pesantren Krapyak, Yogyakarta
  • Pesantren Tegalrejo, Magelang
  • Pesantren Tambakberas, Jombang

Pendidikan luar negeri:

  • Universitas Al-Azhar, Kairo (Mesir)
  • Universitas Baghdad, Irak

Sejak kecil Gus Dur dikenal sangat gemar membaca dan memiliki wawasan luas tentang agama, budaya, politik, dan filsafat.


PERJUANGAN DAN KIPRAH

1. Bapak Pluralisme Indonesia

Gus Dur dikenal sebagai tokoh yang sangat kuat memperjuangkan:

  • Toleransi beragama
  • Hak minoritas
  • Kebebasan berpendapat
  • Kehidupan demokrasi

Ia selalu menegaskan bahwa Indonesia adalah rumah bersama bagi semua agama dan suku bangsa.


2. Mendobrak Diskriminasi terhadap Etnis Tionghoa

Salah satu kebijakan penting Gus Dur adalah menghapus diskriminasi terhadap warga keturunan Tionghoa.

Kebijakan pentingnya antara lain:

  • Mencabut Inpres No. 14 Tahun 1967 yang melarang budaya Tionghoa
  • Mengakui Konghucu sebagai agama resmi
  • Menetapkan Tahun Baru Imlek sebagai hari libur nasional

Kebijakan ini membuka kembali ruang kebudayaan bagi masyarakat Tionghoa di Indonesia.


3. Ketua Umum PBNU

Gus Dur memimpin Nahdlatul Ulama (NU) selama tiga periode (1984–1999).

Di bawah kepemimpinannya, NU berkembang menjadi organisasi Islam yang:

  • Moderat
  • Demokratis
  • Terbuka terhadap dialog antaragama

Ia juga mengembangkan konsep Islam Nusantara yang damai dan toleran.


4. Tokoh Reformasi

Gus Dur menjadi salah satu tokoh penting dalam gerakan Reformasi 1998 yang mengakhiri kekuasaan Orde Baru.

Ia kemudian mendirikan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) sebagai wadah politik warga Nahdliyin dan kelompok pluralis.


MENJADI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

Gus Dur terpilih menjadi Presiden ke-4 Republik Indonesia pada:

20 Oktober 1999

Ia memimpin Indonesia hingga:

23 Juli 2001

Walaupun masa pemerintahannya relatif singkat, ia berhasil melakukan beberapa langkah penting:

  • Menstabilkan kondisi politik pasca-Reformasi
  • Menguatkan demokrasi
  • Menjalin dialog dengan daerah konflik
  • Mengubah nama Irian Jaya menjadi Papua

MENGAPA GUS DUR LENGSER?

Masa jabatan Gus Dur berakhir lebih cepat karena konflik politik dengan DPR dan MPR.

Beberapa faktor yang memicu krisis politik antara lain:

  • Perselisihan dengan parlemen
  • Tuduhan kasus Buloggate dan Bruneigate
  • Kebijakan memecat beberapa pejabat negara

Pada 23 Juli 2001, Gus Dur mengeluarkan Dekrit Presiden untuk membubarkan DPR/MPR.

Langkah ini dianggap inkonstitusional oleh elite politik sehingga Sidang Istimewa MPR memutuskan memberhentikan Gus Dur dari jabatan presiden.

Namun hingga kini, tuduhan kasus tersebut tidak pernah terbukti secara hukum di pengadilan.


MASA KECIL DAN KISAH KELUARGA

Gus Dur tumbuh dalam keluarga ulama besar.

Kakeknya adalah KH. Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama.

Pada tahun 1953, Gus Dur mengalami peristiwa tragis ketika mobil yang ditumpanginya bersama ayahnya mengalami kecelakaan di Cimahi.

Ayahnya, KH. Wahid Hasyim, meninggal dunia akibat kecelakaan tersebut, sementara Gus Dur selamat.

Peristiwa ini sangat mempengaruhi perjalanan hidupnya.


AKHIR HAYAT

K.H. Abdurrahman Wahid wafat pada:

30 Desember 2009

di RSCM Jakarta.

Ia dimakamkan di kompleks Pesantren Tebuireng, Jombang, yang kini menjadi salah satu lokasi ziarah terbesar di Indonesia.


WARISAN PEMIKIRAN

Gus Dur meninggalkan warisan besar bagi bangsa Indonesia, antara lain:

  • Demokrasi yang inklusif
  • Toleransi antaragama
  • Perlindungan hak minoritas
  • Islam yang damai dan ramah budaya

Karena jasa-jasanya bagi bangsa dan negara, ia dianugerahi gelar:

PAHLAWAN NASIONAL INDONESIA
berdasarkan Keputusan Presiden No. 22/TK/2014.




208 Prab

Buatlah Risalah dan Infografis tentang Pahlawan :

Jenderal Besar TNI H.M. Soeharto

Haji Muhammad Soeharto.

Lahir di Kemusuk, Desa Argomulyo, Sedayu, Bantul, Yogyakarta, 8 Juni 1921.

Meninggal di Jakarta, 27 Januari 2008 (dimakamkan di Astana Giribangun, Karanganyar).


Orang Tua: Kertosudiro (ayah) dan Sukirah (ibu).

Istri: Siti Hartinah (Ibu Tien Soeharto).

Pangkat Terakhir: Jenderal Besar TNI (bintang lima).

Jabatan Presiden: 1967–1998 (masa jabatan terlama di Indonesia).

Julukan: The Smiling General.

Gelar Pahlawan: Resmi dianugerahi Gelar Pahlawan Nasional pada November 2025. 


A. Jenderal Besar TNI (Purn.) H.M. Soeharto (1921–2008) adalah Presiden ke-2 RI (1966-1998) asal Yogyakarta yang dijuluki "Bapak Pembangunan". Lahir di Kemusuk, Bantul, ia berkarier dari KNIL hingga PETA, memimpin Serangan Umum 1 Maret 1949, dan memimpin Orde Baru, menciptakan stabilitas politik serta pembangunan ekonomi signifikan sebelum mundur tahun 1998.

B. Jejak Perjuangan Militer dan Politik

Masa Muda & Awal Karier: Meniti karir militer sejak masa penjajahan Belanda, bergabung dengan KNIL, dan kemudian Pembela Tanah Air (PETA) pada Oktober 1943 sebagai komandan peleton.

Perjuangan Kemerdekaan: Berperan aktif dalam melawan penjajah, termasuk memimpin pelucutan senjata Jepang di Yogyakarta pada 1945 sebagai wakil komandan BKR.

Serangan Umum 1 Maret 1949: Letkol Soeharto adalah komandan brigade yang memimpin pasukan dalam serangan monumental tersebut, berhasil menduduki Yogyakarta selama enam jam untuk membuktikan ke dunia internasional bahwa TNI masih ada.

Pembebasan Irian Barat: Pada 1962, diangkat menjadi Panglima Komando Mandala untuk operasi pembebasan Irian Barat.

Transisi Orde Baru (1965-1966): Mengambil alih pimpinan Angkatan Darat pasca G30S/PKI dan menumpas gerakan tersebut, kemudian menerima Supersemar pada 11 Maret 1966 yang menjadi landasan berdirinya Orde Baru.

C. Kontribusi dan Pembangunan

Sebagai Presiden, Soeharto memfokuskan pemerintahannya pada pembangunan ekonomi dan stabilitas politik: 

Bapak Pembangunan: Memulai program Repelita (Rencana Pembangunan Lima Tahun) untuk industrialisasi dan stabilitas ekonomi.

Swasembada Pangan: Berhasil membawa Indonesia mencapai swasembada beras pada tahun 1980-an.

Program Sosial: Meluncurkan program Keluarga Berencana (KB), wajib belajar, dan Puskesmas, yang meningkatkan taraf hidup masyarakat.

Infrastruktur: Pembangunan monumental seperti jalan tol Jagorawi, TMII, dan Bandara Soekarno-Hatta.

D. Perjuangan di Masa Pendudukan Jepang (1942–1945)

Karier militer Soeharto dimulai pada masa Jepang. Setelah sebelumnya sempat menjadi anggota polisi Belanda (KNIL) sebentar di tahun 1940, ia bergabung dengan pasukan pertahanan bentukan Jepang, yaitu PETA (Pembela Tanah Air) pada tahun 1943.

1. Posisi: Soeharto dididik menjadi komandan kompi (Chudancho) di PETA.

2. Aktivitas: Ia mendapatkan pelatihan militer intensif yang menjadi dasar keahlian taktisnya.

3. Akhir Masa Jepang: Menjelang kemerdekaan, Soeharto ikut aktif dalam persiapan militer Indonesia bersama pasukan PETA lainnya. 

E. Perjuangan di Masa Belanda (Perang Kemerdekaan 1945–1949) 

Setelah proklamasi, Soeharto bergabung dengan Badan Keamanan Rakyat (BKR) dan menonjol sebagai pemimpin lapangan di wilayah Yogyakarta. 

1. Pelucutan Senjata Jepang: Soeharto berperan aktif memimpin BKR Yogyakarta dalam melucuti senjata tentara Jepang di Kota Baru, Yogyakarta, pada tahun 1945.

2. Serangan Umum 1 Maret 1949: Perjuangan terbesarnya pada masa Belanda adalah sebagai Komandan Brigade X/Wehrkreise III yang memimpin Serangan Umum 1 Maret 1949. Serangan ini berhasil menguasai Yogyakarta selama enam jam, menunjukkan kepada dunia internasional bahwa TNI dan negara Indonesia masih kuat.

3. Taktik Gerilya: Soeharto dikenal sebagai ahli taktik gerilya yang merepotkan Belanda di pedalaman Yogyakarta. 

F. Perjuangan Pasca Kemerdekaan (1950-an - 1960-an)

Setelah pengakuan kedaulatan, Soeharto tetap meniti karier militer dan menduduki posisi strategis.

1. Penumpasan Pemberontakan: Ia terlibat dalam berbagai operasi militer penumpasan pemberontakan di dalam negeri.

2. Panglima Komando Mandala (1962): Soeharto diangkat menjadi Panglima Komando Mandala untuk membebaskan Irian Barat dari Belanda. Operasi ini berhasil dan mengembalikan Irian Barat ke pangkuan RI.

3. Operasi G30S/PKI (1965): Saat menjabat sebagai Panglima Kostrad, Soeharto mengambil alih komando angkatan darat untuk menumpas G30S/PKI dan mengembalikan stabilitas keamanan nasional.

G. Menghadapi G30S PKI (1965)

1. Peran Soeharto dalam peristiwa G30S/PKI adalah krusial dalam peralihan dari Orde Lama ke Orde Baru: 

2. Panglima Kostrad: Saat peristiwa meletus pada 1 Oktober 1965, Soeharto menjabat sebagai Panglima Komando Strategis Angkatan Darat (Kostrad).

3. Mengambil Alih Komando: Dengan gugurnya pimpinan tertinggi TNI AD, Soeharto mengambil alih kendali militer karena merasa bertanggung jawab menumpas kudeta.

4. Penumpasan PKI: Ia memimpin operasi cepat untuk menumpas gerakan G30S/PKI dalam hitungan hari, termasuk menguasai RRI dan markas besar AD.

5. Supersemar (1966): Setelah situasi kondusif, Soeharto menerima Surat Perintah 11 Maret (Supersemar) dari Presiden Soekarno yang memberinya wewenang untuk mengambil tindakan pengamanan negara, yang kemudian melanggengkan kekuasaannya sebagai Presiden. 

H. Wakil Presiden Selama Masa Jabatan (Orde Baru) 

Selama menjabat sebagai Presiden (1967-1998), Soeharto didampingi oleh beberapa Wakil Presiden: 

Hamengkubuwono IX (1973–1978)

Adam Malik (1978–1983)

Umar Wirahadikusumah (1983–1988)

Sudharmono (1988–1993)

Try Sutrisno (1993–1998)

B.J. Habibie (1998).

I. Peristiwa Penting Selama Menjadi Presiden (Orde Baru)

Masa pemerintahan Soeharto (Orde Baru) fokus pada stabilitas politik dan pembangunan ekonomi. 

1. Swasembada Pangan: Indonesia berhasil mencapai swasembada beras pada tahun 1980-an, mendapat penghargaan dari FAO.

2. Repelita (Rencana Pembangunan Lima Tahun): Pembangunan infrastruktur gencar dilakukan.

3. Program Keluarga Berencana (KB): Sukses menekan laju pertumbuhan penduduk.

4. Integrasi Timor Timur: Masuknya Timor Timur ke Indonesia (1976).

5. Krisis Moneter & Kejatuhan (1997-1998): Krisis ekonomi melanda, memicu kerusuhan Mei 1998, demonstrasi mahasiswa, dan pengunduran diri Soeharto pada 21 Mei 1998. 

J. Peristiwa Penting dan Pelanggaran HAM (Orde Baru)

Era Orde Baru ditandai dengan stabilitas politik dan pembangunan ekonomi yang pesat, namun juga diwarnai dengan pembatasan demokrasi dan pelanggaran HAM. 

1. Peristiwa Penting: Repelita (Rencana Pembangunan Lima Tahun), Swasembada Pangan, Program KB, dan Krisis Moneter 1997/1998 yang mengakhiri kekuasaannya.

2. Pelanggaran HAM yang Sering Dikaitkan (Orde Baru):

* Penumpasan PKI (1965-1966): Pembunuhan massal terhadap anggota/simpatisan PKI.

* Penembakan Misterius (Petrus) 1982-1985: Eksekusi tanpa pengadilan terhadap tersangka kriminal.

* Peristiwa Tanjung Priok (1984).

* Peristiwa Talangsari (1989).

* Kasus Penghilangan Orang Secara Paksa (1997-1998).

* Kerusuhan Mei 1998: Terjadi kekerasan, kerusuhan, dan pembakaran yang memicu kejatuhan Soeharto. 

I. Masa Orde Baru dan Akhir Hayat.

1. Presiden RI: MPRS melantik Soeharto sebagai Pejabat Presiden pada 1967, dan secara resmi menjadi Presiden pada 27 Maret 1968.

2. Pembangunan Ekonomi: Selama 32 tahun memerintah, fokusnya adalah pembangunan ekonomi dan stabilitas politik, yang membawa Indonesia pada kemajuan infrastruktur dan swasembada pangan (Orde Baru).

3. Akhir Jabatan: Mundur dari jabatan presiden pada Mei 1998 setelah krisis moneter dan gerakan reformasi. 

4. Akhir Hayat: Soeharto wafat pada 27 Januari 2008 akibat kegagalan multi-organ. Ia dimakamkan dengan penghormatan militer penuh di Astana Giribangun, Karanganyar, Jawa Tengah, di samping makam istrinya, Ibu Tien.

5. Keturunan: Soeharto meninggalkan 6 orang anak:

Siti Hardijanti Rukmana (Tutut)

Sigit Harjojudanto

Bambang Trihatmodjo

Siti Hediati Hariyadi (Titiek)

Hutomo Mandala Putra (Tommy)

Siti Hutami Endang Adiningsih (Mamiek)



RISALAH PAHLAWAN NASIONAL

JENDERAL BESAR TNI H.M. SOEHARTO

Haji Muhammad Soeharto

Lahir: Kemusuk, Desa Argomulyo, Sedayu, Bantul, Yogyakarta, 8 Juni 1921
Wafat: Jakarta, 27 Januari 2008
Dimakamkan: Astana Giribangun, Karanganyar, Jawa Tengah

Orang Tua: Kertosudiro (ayah) dan Sukirah (ibu)
Istri: Siti Hartinah (Ibu Tien Soeharto)
Pangkat Terakhir: Jenderal Besar TNI (Bintang Lima)
Jabatan: Presiden Republik Indonesia ke-2 (1967–1998)
Julukan: The Smiling General
Gelar: Pahlawan Nasional (2025)


A. PROFIL SINGKAT

Jenderal Besar TNI (Purn.) H.M. Soeharto adalah Presiden kedua Republik Indonesia yang memimpin pada masa Orde Baru selama lebih dari tiga dekade. Ia dikenal sebagai Bapak Pembangunan karena fokusnya pada stabilitas nasional dan pembangunan ekonomi.


B. MASA MUDA DAN KARIER MILITER

  • Memulai karier sebagai anggota KNIL pada masa kolonial Belanda.
  • Bergabung dengan PETA (Pembela Tanah Air) pada tahun 1943 sebagai komandan peleton.
  • Setelah Proklamasi 1945, bergabung dalam Badan Keamanan Rakyat (BKR) di Yogyakarta.

C. PERJUANGAN KEMERDEKAAN

1. Pelucutan Senjata Jepang (1945)

Memimpin pasukan BKR untuk melucuti tentara Jepang di wilayah Yogyakarta.

2. Serangan Umum 1 Maret 1949

Sebagai Komandan Brigade X, Soeharto memimpin serangan terhadap Yogyakarta dan berhasil menguasai kota selama 6 jam, membuktikan kepada dunia bahwa TNI masih ada.

3. Taktik Gerilya

Dikenal sebagai komandan lapangan yang mahir dalam strategi gerilya melawan Belanda.


D. KARIER MILITER PASCA KEMERDEKAAN

Panglima Komando Mandala (1962)

Memimpin operasi militer untuk membebaskan Irian Barat dari Belanda.

Panglima Kostrad (1965)

Mengambil alih komando Angkatan Darat saat peristiwa G30S/PKI dan memimpin operasi penumpasan gerakan tersebut.

Supersemar (1966)

Menerima Surat Perintah 11 Maret dari Presiden Soekarno yang kemudian menjadi dasar lahirnya pemerintahan Orde Baru.


E. MASA KEPEMIMPINAN (ORDE BARU)

Soeharto diangkat menjadi Presiden RI pada tahun 1967 dan resmi dilantik pada 27 Maret 1968.

Fokus utama pemerintahannya:

1. Pembangunan Ekonomi

Melalui program Repelita (Rencana Pembangunan Lima Tahun).

2. Swasembada Pangan

Indonesia berhasil mencapai swasembada beras pada 1980-an dan mendapat penghargaan dari FAO.

3. Program Sosial

  • Program Keluarga Berencana (KB)
  • Pembangunan Puskesmas
  • Program Wajib Belajar

4. Infrastruktur Nasional

  • Jalan Tol Jagorawi
  • Bandara Soekarno-Hatta
  • Taman Mini Indonesia Indah (TMII)

F. WAKIL PRESIDEN PADA MASA ORDE BARU

  1. Sri Sultan Hamengkubuwono IX (1973–1978)
  2. Adam Malik (1978–1983)
  3. Umar Wirahadikusumah (1983–1988)
  4. Sudharmono (1988–1993)
  5. Try Sutrisno (1993–1998)
  6. B.J. Habibie (1998)

G. AKHIR MASA PEMERINTAHAN

Pada tahun 1997–1998, Indonesia mengalami krisis moneter yang memicu demonstrasi besar dan gerakan reformasi.

Pada 21 Mei 1998, Soeharto menyatakan mengundurkan diri dari jabatan Presiden RI setelah memimpin selama 32 tahun.


H. AKHIR HAYAT

H.M. Soeharto wafat pada 27 Januari 2008 di Jakarta akibat kegagalan multi-organ.
Ia dimakamkan dengan penghormatan militer di Astana Giribangun, Karanganyar, Jawa Tengah.


NILAI KETELADANAN

✔ Pemimpin militer yang tegas dan strategis
✔ Fokus pada pembangunan dan stabilitas nasional
✔ Berperan besar dalam modernisasi ekonomi Indonesia
✔ Memiliki pengaruh besar dalam sejarah politik Indonesia




209 Prab

Buatlah Risalah dan Infografis tentang Pahlawan :

Marsinah 

Lahir di Desa Nglundo, Kec. Sukomoro, Kab. Nganjuk, Jawa Timur, 10 April 1969.

Meninggal di ditemukan di hutan Dusun Jegong, Kec. Wilangan, Nganjuk, 8 Mei 1993 (usia 24 tahun).

Pendidikan: SD Negeri Karangasem 189, SMP Negeri 5 Nganjuk, SMA Muhammadiyah Nganjuk

Pekerjaan: Buruh PT Catur Putra Surya (CPS) Porong, Sidoarjo.


A. Marsinah (10 April 1969 – 8 Mei 1993) adalah aktivis buruh perempuan tangguh asal Nglundo, Nganjuk, Jawa Timur, yang gugur memperjuangkan kenaikan upah buruh PT Catur Putra Surya (CPS) di Sidoarjo pada Mei 1993. Dikenal cerdas dan vokal, ia diculik dan ditemukan tewas mengenaskan pasca memimpin aksi mogok. Atas keberaniannya, ia dianugerahi gelar Pahlawan Nasional oleh Presiden Prabowo Subianto pada 10 November 2025. 

B. Perjuangan dan Kisah Tragis:

1. Aktivis Hak Buruh: Marsinah adalah buruh yang vokal menuntut hak-hak pekerja, termasuk menuntut kenaikan upah dari Rp 1.700 menjadi Rp 2.250 per hari sesuai imbauan Gubernur Jawa Timur,

2. Memimpin Mogok Kerja: Pada 3-4 Mei 1993, ia memimpin aksi mogok kerja dan negosiasi dengan manajemen PT CPS di Porong, Sidoarjo

3. Tragedi: Pada 5 Mei 1993, Marsinah menghilang setelah berupaya mencari rekan-rekannya yang dipanggil ke Kodim Sidoarjo

4. Gugur sebagai Pahlawan: 8 Mei 1993, jasadnya ditemukan di hutan Wilangan, Nganjuk dalam kondisi penuh luka penyiksaan berat

5. Simbol Perlawanan: Kisahnya menjadi simbol perlawanan buruh terhadap penindasan hak asasi manusia dan ketidakadilan, yang kemudian diakui negara sebagai pahlawan nasional pada 10 November 2025.

6. Marsinah dikenal sebagai pribadi yang mandiri, gemar membaca, dan berani menanggung risiko demi membela rekan-rekan buruhnya. 

C. Perjuangan dan Cara Membela Buruh:

Marsinah dikenal vokal dan berani membela hak-hak buruh perempuan yang diperlakukan tidak adil, seperti gaji rendah dan kondisi kerja yang buruk. Pada awal Mei 1993, ia memimpin aksi mogok kerja dan unjuk rasa menuntut kenaikan upah pokok dan tunjangan tetap. Ia juga bertindak sebagai negosiator perwakilan 500 pekerja yang menuntut penerapan upah minimum dan kebebasan berserikat. 

D. Pihak yang Dihadapi:

Dalam perjuangannya, Marsinah harus berhadapan dengan:

1. Manajemen PT Catur Putra Surya (CPS): Terkait tuntutan kenaikan upah dan perbaikan nasib pekerja.

2. Oknum Militer/Aparat Keamanan: Pada 5 Mei 1993, 13 rekan Marsinah dipaksa mengundurkan diri di Kodim 0816/Sidoarjo. Marsinah sendiri mendatangi Kodim untuk mencari rekan-rekannya sebelum akhirnya diculik. 

E. Eksekutor dan Kematian:

Marsinah diculik pada 5 Mei 1993 malam dan ditemukan tewas mengenaskan pada 9 Mei 1993 di gubuk daerah Wilangan, Nganjuk, dengan tanda-tanda penyiksaan berat (kasus pelanggaran HAM berat). Meskipun sempat ada penangkapan terhadap petinggi PT CPS, hasil persidangan hingga Mahkamah Agung (1995) membebaskan para terdakwa, sehingga eksekutor sebenarnya tidak pernah terungkap secara hukum. 

F. Anggota ABRI/Manajemen PT yang Dihukum

Kasus ini penuh dengan rekayasa (kasus salah tangkap):

1. Tersangka Kasus: Pada tahun 1993, sembilan orang manajemen PT CPS dan staf (termasuk Mutiari/kepala personalia) ditangkap dan sempat divonis penjara.

2. Hasil Persidangan: Pada tingkat kasasi di Mahkamah Agung, semua terdakwa dibebaskan dari segala dakwaan karena kurang bukti dan adanya dugaan penyiksaan oleh aparat selama proses penyidikan.

3. ABRI/KODIM: Meskipun laporan YLBHI menunjukkan adanya keterlibatan aparat (Den Intel Kodam Brawijaya) dalam penangkapan para buruh dan manajemen, tidak ada oknum aparat yang dihukum secara hukum atas pembunuhan Marsinah. 

4. Dengan demikian, meskipun ada manajemen yang sempat dihukum, mereka kemudian dibebaskan karena dianggap tidak bersalah (salah tangkap), sementara pelaku yang sebenarnya (termasuk keterlibatan aparat) belum pernah diadili secara adil.

G.  Nasib Sanak Saudara dan Teman Seperjuangan

1. Teman Seperjuangan: 13 rekan kerja Marsinah sempat diculik dan disiksa oleh aparat militer (Den Intel) untuk mengakui pembunuhan. Mereka ditahan dan disiksa (dipukul, disetrum, dipaksa minum air seni sendiri).

2. Keluarga: Keluarga Marsinah, termasuk adik-adiknya, terus menuntut keadilan, namun kasus tersebut selama puluhan tahun tidak menemui titik terang. Pada tahun 2025, keluarga menerima gelar pahlawan sebagai bentuk pengakuan atas perjuangannya. 

3. Kisah Marsinah mencerminkan perjuangan melawan dwifungsi ABRI dan rezim Orde Baru yang represif terhadap gerakan buruh. 

4. Siapa Saudara yang Masih Ada? Kakak dan adik perempuan Marsinah masih ada, salah satunya yang sering diwawancarai media terkait perjuangan mendapatkan keadilan untuk Marsinah adalah Wijiati. 

H. Penghargaan sebagai Pahlawan

1. Marsini (kakak Marsinah) dan Wijiati (adik Marsinah) diundang ke Istana Negara untuk menghadiri upacara penganugerahan gelar pahlawan nasional. "Saya mengucapkan terima kasih kepada Bapak Presiden Prabowo. Terima kasih banget, terima kasih sebesar-besarnya untuk anugerah yang diberikan untuk adik saya, Marsinah," kata Marsini.

2. Menteri Sosial Saifullah Yusuf menerangkan, Pemerintah memberikan tunjangan kehormatan sebesar Rp 57 juta per tahun bagi keluarga penerima gelar pahlawan nasional sebagai bentuk penghormatan negara kepada para pejuang bangsa.

3. Pemerintah Provinsi Jawa Timur menggelar syukuran atas penganugerahan gelar pahlawan Nasional untuk Marsinah di Gedung Negara Grahadi, Selasa, 11 November 2025. Acara yang dipimpin Gubernur Khofifah Indar Parawansa itu dihadiri oleh kakak Marsinah, Marsini. 

4. Dalam sambutannya, Khofifah mengenang perjuangan panjang untuk mengakui Marsinah sebagai pahlawan. Ia menuturkan, proses pengusulan berjalan cepat berkat doa masyarakat dan kerja keras mencari data primer peristiwa Mei 1993 itu. "Data primer itu menjadi penguat dari proses pencalonan Pahlawan Nasional seorang ibu Marsinah," ujar Khofifah.

5. "Alhamdulillah, apa yang kami usulkan membawa berkah dan barokah. Kami senang dan bersyukur, akhirnya Marsinah diakui sebagai pahlawan nasional," ujar Bupati Nganjuk, Marhaen Djumadi, saat menghadiri Tasyakuran Pemberian Gelar Pahlawan Nasional kepada Marsinah di Gedung Negara Grahadi, Surabaya. 

6. Pemkab Nganjuk bersama keluarga Marsinah mengusulkan nama Marsinah sebagai pahlawan nasional. Setelah dibahas oleh Tim Peneliti dan Pengkaji Gelar Daerah (TP2GD) Kab Nganjuk, usulan itu diteruskan kepada Pemprov Jatim. Lalu, Pemprov Jatim menyampaikan usulan tersebut kepada Kementerian Sosial. Usai dikaji Kemensos, usulan itu diajukan kepada Dewan Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan (GTK), kemudian ditetapkan oleh Presiden.

7. Pada saat yang sama, Menteri Hak Asasi Manusia, Natalius Pigai, mengabadikan nama Marsinah sebagai nama ruang pelayanan HAM di lantai satu kantor Kementerian Hak Asasi Manusia RI. Pigai menyebut semangat Marsinah sebagai "semangat kemanusiaan", dan dengan penamaan ini kementeriannya ingin memastikan "dedikasi dan pengorbanannya tidak hilang ditelan waktu".

8. Monumen Pahlawan Buruh Marsinah dibangun sebagai pahlawan buruh nasional di Nganjuk, Jawa Timur.



RISALAH PAHLAWAN NASIONAL

MARSINAH

Pejuang Buruh Pemberani dari Nganjuk


BIODATA SINGKAT

Nama: Marsinah

Lahir:
Desa Nglundo, Kecamatan Sukomoro, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur
10 April 1969

Wafat:
Ditemukan di hutan Dusun Jegong, Kecamatan Wilangan, Nganjuk
8 Mei 1993 (usia 24 tahun)

Pendidikan:

  • SD Negeri Karangasem 189
  • SMP Negeri 5 Nganjuk
  • SMA Muhammadiyah Nganjuk

Pekerjaan:
Buruh PT Catur Putra Surya (CPS) Porong, Sidoarjo

Marsinah dikenal sebagai buruh perempuan yang berani memperjuangkan hak-hak pekerja dan menjadi simbol perjuangan buruh di Indonesia.


PERJUANGAN DAN KISAH TRAGIS

1. Aktivis Hak Buruh

Marsinah merupakan buruh yang cerdas dan vokal memperjuangkan hak-hak pekerja.

Ia menuntut kenaikan upah buruh dari:

Rp 1.700 menjadi Rp 2.250 per hari

sesuai imbauan Gubernur Jawa Timur pada saat itu.

Marsinah juga menuntut kondisi kerja yang lebih manusiawi serta kebebasan berserikat bagi para pekerja.


2. Memimpin Mogok Kerja

Pada 3–4 Mei 1993, Marsinah memimpin aksi mogok kerja para buruh di PT Catur Putra Surya (CPS) di Porong, Sidoarjo.

Ia juga menjadi perwakilan negosiator sekitar 500 buruh untuk menyampaikan tuntutan kepada manajemen perusahaan.


3. Tragedi Penculikan

Pada 5 Mei 1993, Marsinah menghilang setelah mencari rekan-rekannya yang dipanggil ke Kodim Sidoarjo.

Ia diduga diculik setelah mencoba menuntut penjelasan mengenai penahanan rekan-rekan buruh tersebut.


4. Gugur sebagai Pahlawan

Pada 8 Mei 1993, jasad Marsinah ditemukan di daerah Wilangan, Nganjuk.

Tubuhnya menunjukkan tanda-tanda penyiksaan berat, yang kemudian menjadi salah satu kasus pelanggaran hak asasi manusia paling terkenal dalam sejarah perburuhan Indonesia.

Kisahnya menjadi simbol perjuangan melawan ketidakadilan terhadap buruh.


PIHAK YANG DIHADAPI

Dalam perjuangannya, Marsinah berhadapan dengan:

1. Manajemen PT Catur Putra Surya (CPS)

Terkait tuntutan kenaikan upah dan perbaikan kesejahteraan buruh.

2. Aparat Keamanan

Pada saat aksi mogok, beberapa buruh dipanggil dan dipaksa mengundurkan diri di Kodim 0816 Sidoarjo.

Marsinah mendatangi Kodim untuk mencari rekan-rekannya sebelum akhirnya ia menghilang.


PROSES HUKUM DAN KONTROVERSI

Kasus pembunuhan Marsinah sempat menjerat beberapa pihak.

Beberapa manajemen PT CPS sempat ditangkap dan divonis bersalah.

Namun pada putusan kasasi Mahkamah Agung tahun 1995, semua terdakwa dibebaskan karena kurangnya bukti dan adanya dugaan rekayasa kasus.

Sampai sekarang, pelaku sebenarnya tidak pernah terungkap secara hukum.


NASIB TEMAN DAN KELUARGA

Sebanyak 13 rekan kerja Marsinah sempat mengalami penahanan dan penyiksaan oleh aparat untuk mengakui pembunuhan tersebut.

Mereka dipaksa memberikan pengakuan melalui berbagai bentuk tekanan.

Sementara itu keluarga Marsinah selama puluhan tahun terus memperjuangkan keadilan.

Salah satu adik Marsinah yang aktif menyuarakan perjuangan tersebut adalah Wijiati.


PENGHARGAAN SEBAGAI PAHLAWAN NASIONAL

Pada 10 November 2025, pemerintah Indonesia menganugerahkan gelar:

PAHLAWAN NASIONAL

kepada Marsinah sebagai pengakuan atas keberaniannya memperjuangkan hak-hak buruh.

Keluarga Marsinah diundang ke Istana Negara untuk menerima penghargaan tersebut.


WARISAN PERJUANGAN

Marsinah dikenang sebagai:

  • simbol perjuangan buruh Indonesia
  • pejuang hak asasi manusia
  • perempuan pemberani melawan ketidakadilan

Untuk mengenang jasanya, dibangun Monumen Pahlawan Buruh Marsinah di Nganjuk, Jawa Timur.

Semangat perjuangannya terus menginspirasi gerakan buruh dan perjuangan keadilan sosial di Indonesia.




210 Prab

Buatlah Risalah dan Infografis tentang Pahlawan :

Prof Dr Mochtar Kusumaatmadja

Nama: Prof. Dr. Mochtar Kusumaatmadja, S.H., LL.M.

Lahir di Batavia (Jakarta), 17 Februari 1929.

Meninggal di Jakarta, 6 Juni 2021 (dimakamkan di TMP Kalibata).

Pendidikan: Fakultas Hukum Universitas Indonesia (1955), Master of Laws di Yale University (1956), dan Doktor Hukum di Universitas Padjadjaran (1962).

Karier Utama: Guru Besar Hukum Internasional UNPAD, Menteri Kehakiman (1974–1978), dan Menteri Luar Negeri (1978–1988). 


A. Prof. Dr. Mochtar Kusumaatmadja (17 Februari 1929 – 6 Juni 2021) adalah akademisi, diplomat, dan ahli hukum internasional terkemuka yang ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia. Sebagai "Bapak Hukum Laut Indonesia," beliau memperjuangkan konsep Negara Kepulauan (Wawasan Nusantara) dan Teori Hukum Pembangunan melalui negosiasi panjang di PBB. 

B. Perjuangan dan Kontribusi:

1. Konseptor Wawasan Nusantara: Mochtar adalah tokoh kunci yang merumuskan konsep Negara Kepulauan, yang menegaskan bahwa laut di antara pulau-pulau Indonesia adalah wilayah kedaulatan, bukan laut bebas. Konsep ini memperkuat Deklarasi Djuanda 13 Desember 1957.

2. Diplomasi Laut Internasional (UNCLOS 1982): Selama 25 tahun, beliau berjuang di konferensi PBB tentang Hukum Laut, yang akhirnya membuahkan hasil diakui dunia melalui konvensi UNCLOS di Montego Bay, Jamaika, pada 1982.

3. Menteri Luar Negeri (Diplomasi Ulung): Sebagai Menlu, beliau dikenal cerdas dalam mencairkan suasana perundingan yang tegang dan mempromosikan diplomasi budaya untuk meningkatkan citra Indonesia di mata dunia.

4. Teori Hukum Pembangunan: Ia menggagas hukum bukan sekadar aturan, melainkan alat untuk mencapai keadilan sosial dan kemajuan bangsa. 

5. Atas dedikasinya, beliau ditetapkan sebagai salah satu Pahlawan Nasional Indonesia, dan namanya diabadikan sebagai jalan utama di Bandung (Jalan Layang Pasopati) serta gedung di Universitas Padjadjaran. 

C. Perjuangan di Era Jepang, Belanda, dan Awal Kemerdekaan

Mochtar Kusumaatmadja muda terlibat langsung dalam masa-masa transisi kemerdekaan:

1. Era Revolusi Kemerdekaan: Pasca proklamasi 1945, ia bergabung dengan Tentara Pelajar (TP) dan Tentara Keamanan Rakyat (TKR), ikut serta dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan.

2. Pendidikan Pasca-Kemerdekaan: Setelah revolusi, ia melanjutkan studi hukum di UI dan Yale untuk membangun dasar intelektual negara yang baru merdeka. 

D. Perjuangan Pasca Kemerdekaan (Diplomasi & Hukum Laut)

Perjuangan utama Mochtar Kusumaatmadja adalah menegakkan kedaulatan wilayah Indonesia melalui diplomasi hukum: 

1. Konseptor Wawasan Nusantara & Deklarasi Djuanda (1957): Mochtar adalah orang di balik layar yang merumuskan konsep Negara Kepulauan, yang dituangkan dalam Deklarasi Djuanda 13 Desember 1957. Konsep ini menegaskan bahwa laut di antara pulau-pulau Indonesia adalah pemersatu, bukan pemisah, sehingga laut teritorial Indonesia diukur dari garis dasar pulau terluar.

2. Diplomasi Laut di UNCLOS (1982): Sebagai ahli hukum laut, ia berjuang keras selama puluhan tahun di berbagai konferensi hukum laut internasional. Kegigihannya berhasil membuat konsep Negara Kepulauan diakui dalam Konvensi PBB tentang Hukum Laut (UNCLOS) 1982.

3. Menteri Luar Negeri (1978-1988): Sebagai Menlu, ia piawai mencairkan ketegangan diplomatik, salah satunya dalam konflik Kamboja melalui pendekatan cocktail party.

4. Akademisi & Bapak Hukum: Sebagai Guru Besar FH Unpad, ia meletakkan dasar pengajaran hukum internasional di Indonesia dan merumuskan Pola Ilmiah Pokok (PIP) Unpad "Bina Mulia Hukum dan Lingkungan Hidup". 

E. Akhir Hayat dan Keluarga

1. Akhir Hayat: Prof. Mochtar Kusumaatmadja meninggal dunia pada Minggu, 6 Juni 2021, di Jakarta dalam usia 92 tahun.

2. Keluarga: Beliau meninggalkan istri (Siti Sarah Kusumaatmadja) dan anak-anak. Beliau adalah bagian dari keluarga besar Kusumaatmadja yang berdedikasi (saudara dari Sarwono Kusumaatmadja).

3. Penghargaan: Atas jasanya, beliau ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia, sebuah penghormatan atas kontribusinya dalam memperluas wilayah kedaulatan NKRI tanpa pertumpahan darah.



RISALAH PAHLAWAN NASIONAL

PROF. DR. MOCHTAR KUSUMAATMADJA, S.H., LL.M.

Nama Lengkap: Prof. Dr. Mochtar Kusumaatmadja, S.H., LL.M.
Lahir: Batavia (Jakarta), 17 Februari 1929
Wafat: Jakarta, 6 Juni 2021
Dimakamkan: Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta

Profesi: Akademisi, Diplomat, Ahli Hukum Internasional
Julukan: Bapak Hukum Laut Indonesia
Jabatan Penting:

  • Menteri Kehakiman RI (1974–1978)
  • Menteri Luar Negeri RI (1978–1988)
  • Guru Besar Hukum Internasional Universitas Padjadjaran

Tokoh ini dikenal sebagai perumus konsep negara kepulauan Indonesia yang memperkuat kedaulatan wilayah NKRI di dunia internasional.


A. IDENTITAS DAN PENDIDIKAN

  • Sarjana Hukum – Universitas Indonesia (1955)
  • Master of Laws – Yale University (1956)
  • Doktor Hukum – Universitas Padjadjaran (1962)

Sebagai akademisi, ia menjadi Guru Besar Hukum Internasional di Universitas Padjadjaran dan salah satu tokoh penting dalam pengembangan pendidikan hukum di Indonesia.


B. PROFIL SINGKAT

Prof. Dr. Mochtar Kusumaatmadja (1929–2021) adalah akademisi, diplomat, dan ahli hukum internasional yang berperan besar dalam memperjuangkan konsep Negara Kepulauan Indonesia di dunia internasional.

Melalui diplomasi dan pemikiran hukumnya, Indonesia berhasil mendapatkan pengakuan internasional atas wilayah lautnya tanpa perang atau konflik bersenjata.

Beliau juga dikenal sebagai pencetus Teori Hukum Pembangunan, yang menekankan bahwa hukum harus menjadi alat untuk mencapai kemajuan bangsa dan kesejahteraan masyarakat.


C. PERJUANGAN PADA MASA REVOLUSI

1. Masa Revolusi Kemerdekaan

Setelah Proklamasi 1945, Mochtar muda bergabung dengan Tentara Pelajar (TP) dan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

2. Generasi Intelektual Pasca Kemerdekaan

Setelah revolusi, ia memilih jalur pendidikan hukum untuk membangun fondasi intelektual bagi negara yang baru merdeka.


D. PERJUANGAN DAN KONTRIBUSI BESAR

1. Konseptor Wawasan Nusantara

Mochtar Kusumaatmadja merupakan tokoh penting di balik konsep Negara Kepulauan yang menjadi dasar Deklarasi Djuanda (13 Desember 1957).

Konsep ini menyatakan bahwa:

Laut di antara pulau-pulau Indonesia adalah wilayah kedaulatan negara, bukan laut bebas.

Konsep ini menjadi dasar Wawasan Nusantara yang mempersatukan wilayah Indonesia.


2. Diplomasi Hukum Laut Internasional

Selama lebih dari 25 tahun, Mochtar memperjuangkan pengakuan konsep negara kepulauan dalam forum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Perjuangan ini akhirnya berhasil melalui:

United Nations Convention on the Law of the Sea

yang disepakati di Montego Bay pada tahun 1982.

Konvensi ini mengakui secara resmi konsep negara kepulauan (archipelagic state) yang menjadi dasar kedaulatan laut Indonesia.


3. Menteri Luar Negeri (1978–1988)

Sebagai Menteri Luar Negeri, Mochtar dikenal sebagai diplomat ulung.

Beberapa ciri diplomasi beliau:

  • Mengutamakan dialog dan pendekatan budaya
  • Mencairkan suasana diplomasi yang tegang
  • Mengembangkan metode diplomasi santai seperti “cocktail diplomacy”

Pendekatan ini terbukti efektif dalam berbagai perundingan internasional, termasuk konflik di Asia Tenggara.


4. Teori Hukum Pembangunan

Mochtar Kusumaatmadja mengembangkan konsep penting dalam ilmu hukum:

Teori Hukum Pembangunan

Gagasan utamanya:

  • Hukum bukan hanya aturan
  • Hukum harus menjadi alat perubahan sosial
  • Hukum harus mendorong keadilan dan kemajuan bangsa

Teori ini sangat berpengaruh dalam sistem hukum Indonesia.


5. Akademisi dan Pendidik Bangsa

Sebagai Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran, ia:

  • Mengembangkan pendidikan hukum internasional
  • Menyusun Pola Ilmiah Pokok (PIP) UNPAD
  • Membentuk generasi ahli hukum Indonesia

Namanya diabadikan menjadi:

  • Gedung di Universitas Padjadjaran
  • Jalan Layang Mochtar Kusumaatmadja (Pasopati) di Bandung

E. AKHIR HAYAT DAN KELUARGA

1. Wafat

Prof. Mochtar Kusumaatmadja meninggal dunia pada:

6 Juni 2021 di Jakarta dalam usia 92 tahun.

Beliau dimakamkan di TMP Kalibata dengan penghormatan negara.

2. Keluarga

Ia meninggalkan:

  • Istri: Siti Sarah Kusumaatmadja
  • Anak-anak dan keluarga besar Kusumaatmadja

Ia juga merupakan saudara dari tokoh nasional Sarwono Kusumaatmadja.


F. PENGHARGAAN DAN JASA

Atas kontribusinya yang luar biasa, beliau dianugerahi gelar:

Pahlawan Nasional Indonesia

Penghargaan ini diberikan karena jasanya:

  • Memperjuangkan kedaulatan laut Indonesia
  • Menguatkan posisi Indonesia dalam hukum internasional
  • Memperluas wilayah kedaulatan NKRI tanpa peperangan

NILAI KETELADANAN

✔ Pemikir hukum kelas dunia
✔ Diplomat cerdas dan berwawasan luas
✔ Memperjuangkan kedaulatan Indonesia melalui diplomasi
✔ Mengabdikan hidupnya pada pendidikan dan pembangunan hukum




211 Prab

Buatlah Risalah dan Infografis tentang Pahlawan :

Hajjah Rahmah El Yunusiyyah

Syekhah Hajjah Rangkayo Rahmah El Yunusiyah.

Lahir di Bukit Surungan, Padang Panjang, 26 Oktober 1900.

Meninggal di Padang Panjang, 26 Februari 1969.

Orang Tua: Syekh Muhammad Yunus (Qadi/ulama) dan Rafi'iah.

Pendidikan: Belajar agama dari ayah dan abangnya (Zainuddin Labay El Yunusy) serta mengikuti pendidikan di sekolah umum.

Gelar: Pahlawan Nasional (2025), Syaikhah dari Universitas Al-Azhar (1957). 


A. Hajjah Rahmah El Yunusiyyah (1900–1969) adalah pahlawan nasional Indonesia dan reformator pendidikan Islam asal Padang Panjang, Sumatra Barat. Ia mendirikan Diniyyah Puteri (1923), sekolah Islam khusus perempuan pertama di Indonesia, serta berperan aktif dalam memperjuangkan kemerdekaan melalui jalur pendidikan dan logistik TKR, menjadikannya ikon pemberdayaan perempuan Islam.

B. Perjuangan dan Dedikasi:

1. Pelopor Pendidikan Perempuan: Mendirikan Madrasah Diniyah Lil al-Banat (Diniyyah Puteri) pada 1 November 1923 untuk mengangkat harkat martabat perempuan melalui pendidikan Islam, memadukan ilmu agama dan keterampilan praktis.

2. Inspirasi Al-Azhar: Sistem pendidikannya menginspirasi Universitas Al-Azhar Mesir untuk mendirikan fakultas khusus perempuan (Kulliyatul Banat) pertama, sehingga ia dianugerahi gelar Syaikhah.

3. Perjuangan Fisik & Sosial: Saat masa Jepang dan revolusi, ia mengubah sekolahnya menjadi rumah sakit darurat, memelopori dapur umum, serta membentuk unit perbekalan TKR (Tentara Keamanan Rakyat) di Padang Panjang.

4. Aktivis Politik: Aktif dalam pergerakan nasional, menentang penjajah Belanda, dan menjadi anggota parlemen (Masyumi) pada 1955.

C. Perjuangan di 

Era Penjajahan Belanda

Pada masa ini, Rahmah melihat ketimpangan pendidikan di mana perempuan pribumi sulit mendapatkan pendidikan formal. 

1. Mendirikan Diniyyah Puteri (1923): Rahmah mendirikan sekolah ini untuk memberikan pendidikan agama dan umum khusus bagi perempuan agar tidak hanya berfokus pada dapur.

2. Mendirikan KMI (1941): Mendirikan Kulliyyatul Mualimat el Islamiyyah (KMI) untuk mencetak guru-guru perempuan yang terdidik.

3. Perlawanan Aktif: Rahmah pernah ditahan oleh Belanda karena aktivitasnya yang dinilai membahayakan pemerintah kolonial. 

D. Era Pendudukan Jepang

Selama masa Jepang, Rahmah menunjukkan jiwa kepemimpinan dan perjuangan yang gigih.

1. Mempertahankan Sekolah: Meski dalam kondisi sulit, Diniyyah Puteri tetap bertahan meskipun gedung sekolahnya sempat dijadikan rumah sakit darurat oleh Jepang.

2. Mengibarkan Merah Putih: Rahmah dikenal sebagai salah satu pengibar Bendera Merah Putih pertama di Padang Panjang setelah berita kemerdekaan sampai, menentang larangan Jepang.

3. Membela Rakyat: Rahmah aktif membela hak-hak rakyat yang ditindas oleh tentara Jepang, bahkan sempat mengancam tentara Jepang yang merampas hasil tani. 

E. Pasca Kemerdekaan & Indonesia Merdeka

Setelah proklamasi, perjuangan Rahmah berlanjut di bidang politik dan sosial. 

1. Aktif di Pemerintahan: Menjadi anggota DPR/Konstituante (1956) mewakili Masyumi.

2. Mengembangkan Pendidikan: Pasca revolusi, beliau kembali memimpin Diniyyah Puteri (1950) dan mengembangkannya menjadi salah satu institusi pendidikan Islam terkemuka.

3. Kerjasama Internasional: Pada tahun 1957, beliau mendapat gelar Syaikhah dari Universitas Al-Azhar, Mesir, karena keberhasilannya mendirikan lembaga pendidikan perempuan, yang kemudian menginspirasi Al-Azhar membuka Kulliyyatul Banat (fakultas khusus putri).

F. Ditangkap Belanda: Rahmah pernah ditangkap dan ditawan oleh Belanda. Pada 7 Januari 1949, ia ditangkap di persembunyiannya di Gunung Singgalang dan dipenjara selama sembilan bulan di Padang karena dianggap berbahaya dan memotivasi perlawanan rakyat.

G. Pengakuan Internasional (Al-Azhar)

Perjuangan Rahmah diakui dunia internasional. Pada tahun 1957, ia berkunjung ke Universitas Al-Azhar, Mesir. Terkesan dengan konsep pendidikan Diniyah Putri, Al-Azhar meniru kurikulum sekolahnya untuk mendirikan kuliah untuk perempuan (Kulliyatul Banat) dan memberikan gelar Syaikhah kepada Rahmah. 

H. Akhir Hayat dan Keluarga

1. Rahmah El Yunusiyyah wafat pada 26 Februari 1969 di Padang Panjang.

2. Meskipun tidak memiliki anak kandung, ia mengabdikan hidupnya sepenuhnya untuk mendidik ribuan perempuan di Diniyyah Puteri. Ia menikah dengan H. Baharuddin, namun bercerai, dan kemudian menikah kembali dengan Abbas, seorang pejuang, namun tidak memiliki keturunan.

3. Diniyyah Puteri terus berlanjut di bawah pengelolaan keluarganya dan yayasan yang ia dirikan. 

I. Warisan untuk Bangsa Indonesia

1. Diniyyah Puteri: Institusi pendidikan yang didirikannya menjadi pelopor sekolah perempuan Islam di Indonesia.

2. Penyetaraan Perempuan: Ia membuktikan bahwa perempuan Muslim mampu berpendidikan tinggi dan berperan aktif dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

3. Tokoh Emansipasi: Sering dijuluki sebagai "Kartini dari Padang Panjang" karena perjuangannya memajukan perempuan. 

4. Gelar Pahlawan Nasional: Ditetapkan pada November 2025 oleh Presiden Prabowo Subianto atas jasanya dalam pendidikan dan kemerdekaan.

RISALAH PAHLAWAN NASIONAL

SYEKHAH HAJJAH RAHMAH EL YUNUSIYYAH

Nama Lengkap: Syekhah Hajjah Rangkayo Rahmah El Yunusiyyah
Lahir: Bukit Surungan, Padang Panjang — 26 Oktober 1900
Wafat: Padang Panjang, Sumatra Barat — 26 Februari 1969

Orang Tua:

  • Ayah: Syekh Muhammad Yunus (ulama dan Qadi)
  • Ibu: Rafi’iah

Pendidikan:
Belajar agama dari ayahnya serta dari kakaknya, Zainuddin Labay El Yunusy, serta mengikuti pendidikan sekolah umum.

Gelar dan Penghargaan:

  • Pahlawan Nasional Indonesia (2025)
  • Gelar Syaikhah dari Universitas Al-Azhar (1957)

A. PROFIL SINGKAT

Hajjah Rahmah El Yunusiyyah (1900–1969) adalah tokoh pendidikan Islam dan pejuang kemerdekaan Indonesia dari Padang Panjang, Sumatra Barat.

Ia dikenal sebagai pelopor pendidikan perempuan Islam di Indonesia melalui pendirian sekolah Diniyyah Puteri pada tahun 1923.

Melalui pendidikan, perjuangan sosial, serta dukungan terhadap kemerdekaan, Rahmah El Yunusiyyah menjadi simbol pemberdayaan perempuan Muslim di Indonesia.


B. PERJUANGAN DAN DEDIKASI

1. Pelopor Pendidikan Perempuan

Pada 1 November 1923, Rahmah mendirikan:

Diniyyah Puteri

Sekolah ini merupakan sekolah Islam khusus perempuan pertama di Indonesia.

Tujuan pendirian sekolah ini adalah:

  • Memberikan pendidikan agama kepada perempuan
  • Mengajarkan ilmu umum dan keterampilan
  • Mengangkat martabat perempuan melalui pendidikan

2. Inspirasi bagi Dunia Islam

Sistem pendidikan Diniyyah Puteri menarik perhatian dunia Islam.

Pada tahun 1957, Rahmah diundang ke Mesir oleh Universitas Al-Azhar.

Terinspirasi oleh sistem pendidikan Rahmah, Al-Azhar kemudian mendirikan fakultas khusus perempuan:

Kulliyatul Banat

Sebagai penghormatan, Rahmah dianugerahi gelar Syaikhah, sebuah gelar kehormatan yang sangat jarang diberikan kepada perempuan.


3. Perjuangan Fisik dan Sosial

Pada masa revolusi kemerdekaan, Rahmah juga aktif membantu perjuangan bangsa.

Kontribusinya antara lain:

  • Mengubah sekolah menjadi rumah sakit darurat
  • Membentuk dapur umum untuk pejuang
  • Mengorganisasi unit perbekalan bagi Tentara Keamanan Rakyat (TKR)

Ia membantu para pejuang dengan logistik, obat-obatan, dan dukungan moral.


4. Aktivis Politik

Rahmah juga aktif dalam dunia politik.

Ia menjadi anggota parlemen dari partai:

Masyumi

pada tahun 1955 dan berperan dalam memperjuangkan kepentingan rakyat serta pendidikan perempuan.


C. PERJUANGAN DI ERA PENJAJAHAN BELANDA

Pada masa penjajahan Belanda, pendidikan bagi perempuan pribumi sangat terbatas.

Rahmah melihat kondisi ini sebagai ketidakadilan.

1. Mendirikan Diniyyah Puteri (1923)

Sekolah ini memberikan pendidikan agama dan ilmu umum bagi perempuan agar mereka mampu berperan dalam masyarakat.


2. Mendirikan KMI (1941)

Rahmah mendirikan:

Kulliyyatul Mu’allimat al-Islamiyyah (KMI)

Tujuannya adalah mencetak guru-guru perempuan yang terdidik.


3. Perlawanan terhadap Belanda

Karena aktivitasnya yang membangkitkan kesadaran rakyat, Rahmah pernah ditahan oleh pemerintah kolonial Belanda.


D. ERA PENDUDUKAN JEPANG

Pada masa pendudukan Jepang, Rahmah menunjukkan kepemimpinan yang kuat.

1. Mempertahankan Sekolah

Meskipun dalam kondisi sulit, Diniyyah Puteri tetap beroperasi, walaupun gedungnya sempat digunakan sebagai rumah sakit darurat oleh tentara Jepang.


2. Mengibarkan Bendera Merah Putih

Setelah berita kemerdekaan sampai ke Padang Panjang, Rahmah termasuk tokoh yang berani mengibarkan Bendera Merah Putih, meskipun saat itu masih dilarang.


3. Membela Rakyat

Rahmah sering membela rakyat yang ditindas tentara Jepang dan bahkan pernah menegur tentara Jepang yang merampas hasil tani masyarakat.


E. PERJUANGAN PASCA KEMERDEKAAN

Setelah kemerdekaan Indonesia, Rahmah melanjutkan perjuangannya di bidang pendidikan dan politik.

1. Anggota Parlemen

Pada tahun 1956, ia menjadi anggota DPR/Konstituante mewakili partai Masyumi.


2. Mengembangkan Pendidikan

Rahmah kembali memimpin Diniyyah Puteri dan mengembangkannya menjadi salah satu lembaga pendidikan Islam terkemuka di Indonesia.


3. Kerja Sama Internasional

Pada tahun 1957, ia menerima gelar Syaikhah dari Universitas Al-Azhar, yang menjadi pengakuan internasional atas keberhasilannya memajukan pendidikan perempuan Islam.


F. PENANGKAPAN OLEH BELANDA

Pada 7 Januari 1949, Rahmah ditangkap oleh Belanda di persembunyiannya di Gunung Singgalang.

Ia kemudian dipenjara selama sembilan bulan di Padang karena dianggap menggerakkan perlawanan rakyat terhadap kolonialisme.


G. AKHIR HAYAT

Rahmah El Yunusiyyah wafat pada:

26 Februari 1969 di Padang Panjang

Walaupun tidak memiliki anak kandung, beliau mengabdikan seluruh hidupnya untuk mendidik ribuan perempuan melalui Diniyyah Puteri.


H. WARISAN UNTUK BANGSA

Warisan besar Rahmah El Yunusiyyah antara lain:

1. Diniyyah Puteri

Institusi pendidikan yang menjadi pelopor sekolah Islam perempuan di Indonesia.

2. Kesetaraan Pendidikan

Ia membuktikan bahwa perempuan Muslim dapat berpendidikan tinggi dan berperan dalam masyarakat.

3. Tokoh Emansipasi Perempuan

Karena perjuangannya, Rahmah sering dijuluki sebagai “Kartini dari Padang Panjang.”

4. Pahlawan Nasional

Pada November 2025, pemerintah Indonesia secara resmi menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional atas jasanya dalam pendidikan dan perjuangan kemerdekaan.


NILAI KETELADANAN

✔ Pelopor pendidikan perempuan Islam
✔ Pejuang kemerdekaan melalui pendidikan
✔ Tokoh emansipasi perempuan Indonesia
✔ Pemimpin yang berani dan visioner




213 Prab

Buatlah Risalah dan Infografis tentang Pahlawan :

Sultan Muhammad Salahuddin.

Lahir di Bima, Nusa Tenggara Barat, 1888 (atau 15 Zulhijjah 1306 H).

Meninggal di 11 Juli 1951 di Jakarta.

Ayah: Sultan Ibrahim bin Abdullah

Masa Jabatan: Memerintah Kesultanan Bima dari tahun 1915 hingga 1951

Gelar: Pahlawan Nasional Indonesia (ditetapkan November 2025)


A. Sultan Muhammad Salahuddin adalah Sultan Bima ke-14 dan resmi dianugerahi gelar Pahlawan Nasional oleh Pemerintah Indonesia pada 10 November 2025. Beliau dikenal sebagai tokoh yang teguh mendukung kemerdekaan Indonesia dan pejuang di bidang pendidikan serta perlindungan perempuan. 

B. Perjuangan dan Jasa

Sultan Muhammad Salahuddin memiliki kontribusi besar dalam berbagai bidang selama masa penjajahan Belanda dan Jepang: 

1. Dukungan untuk Republik Indonesia: Pasca kemerdekaan, beliau secara tegas mengeluarkan maklumat pada 22 November 1945 yang menyatakan bahwa Kerajaan Bima berdiri di belakang Republik Indonesia dan menolak tawaran Belanda untuk kembali berkuasa.

2. Gerakan Nikah Baronta: Di masa pendudukan Jepang, beliau memerintahkan gerakan nikah massal (Nikah Baronta) untuk menyelamatkan perempuan Bima agar tidak dijadikan jugun ianfu (budak seks tentara Jepang). Strategi ini berhasil membuat Bima menjadi satu-satunya wilayah pendudukan Jepang tanpa kasus jugun ianfu.

3. Pembangunan Peradaban & Pendidikan:

4. Mendirikan sekolah-sekolah modern dan mengirim banyak pelajar ke berbagai daerah di Nusantara.

5. Mendukung pemberdayaan perempuan dengan membantu berdirinya organisasi Aisyiyah dan Rukun Wanita.

6. Mewakafkan sebuah rumah di Makkah (Rumah Bima) untuk asrama bagi pelajar dan jemaah haji asal Indonesia.

7. Sikap Toleransi: Beliau dikenal sangat inklusif dengan mendukung pembangunan gereja bagi umat nonmuslim dan membuka pintu bagi semua golongan di wilayahnya. 

8. Berkat dedikasinya, saat wafat pada tahun 1951, jenazahnya disemayamkan di Gedung Proklamasi dan dimakamkan secara kenegaraan sebagai bentuk penghormatan tertinggi dari negara. 

C. Perjuangan di Berbagai Era

1. Era Kolonial Belanda:

Meskipun berada di bawah tekanan politik Hindia Belanda, Sultan tetap berupaya membangun peradaban Bima melalui pendidikan modern dan penguatan nilai Islam untuk membendung pengaruh kolonial.

2. Era Pendudukan Jepang:

Beliau melakukan perlawanan cerdas terhadap kebijakan Jepang yang ingin menjadikan perempuan Bima sebagai jugun ianfu (wanita penghibur militer). Sultan mencetuskan gerakan "Nikah Baronta", yaitu pernikahan massal secara kilat agar para gadis memiliki status bersuami sehingga terhindar dari pemaksaan Jepang. Berkat strategi ini, Bima tercatat sebagai wilayah yang relatif bebas dari praktik jugun ianfu.

3. Pasca Kemerdekaan Indonesia:

Hanya beberapa bulan setelah proklamasi, tepatnya pada 22 November 1945, Sultan mengeluarkan maklumat resmi yang menyatakan bahwa Kesultanan Bima berdiri di belakang Republik Indonesia. Beliau menolak rayuan Belanda untuk membentuk negara boneka dan tetap setia pada NKRI hingga akhir hayatnya.

D. Akhir Hayat dan Keluarga

1. Wafat: Beliau wafat pada tanggal 11 Juni 1951 di Jakarta dalam kondisi sedang memperjuangkan status daerah Bima di tingkat nasional.

2. Keluarga: Beliau meninggalkan istri (Sitti Maryam) dan putra-putri yang terus melanjutkan dedikasinya. Salah satu putrinya, Siti Maryam Salahuddin, menjadi tokoh budaya dan sejarah Bima yang sangat dihormati.

E. Warisan untuk Bangsa

1. Integritas Nasionalisme: Beliau adalah contoh pemimpin tradisional yang dengan rela menanggalkan kekuasaan absolut kesultanannya demi bergabung dengan Republik Indonesia yang baru lahir.

2. Pendidikan dan Agama: Beliau mewariskan sistem pendidikan yang memadukan nilai Islam dan pengetahuan umum di wilayah Bima.

3. Simbol Pemersatu: Namanya kini diabadikan sebagai nama Bandara Sultan Muhammad Salahuddin di Bima dan beliau telah dianugerahi gelar Pahlawan Nasional oleh pemerintah Indonesia sebagai penghormatan atas jasanya.



RISALAH PAHLAWAN NASIONAL

SULTAN MUHAMMAD SALAHUDDIN

Sultan Bima ke-14 (1915–1951)


Identitas Tokoh

  • Nama Lengkap: Sultan Muhammad Salahuddin
  • Lahir: Bima, Nusa Tenggara Barat, 1888 (15 Zulhijjah 1306 H)
  • Wafat: Jakarta, 11 Juli 1951
  • Ayah: Sultan Ibrahim bin Abdullah
  • Masa Jabatan: Sultan Bima ke-14 (1915–1951)
  • Gelar: Pahlawan Nasional Indonesia (ditetapkan 10 November 2025)

A. Profil Singkat

Sultan Muhammad Salahuddin adalah Sultan Bima ke-14 yang dikenal sebagai pemimpin yang berwawasan maju dan sangat mendukung perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Beliau tidak hanya berperan dalam bidang politik, tetapi juga aktif dalam pembangunan pendidikan, perlindungan perempuan, dan penguatan nilai agama serta toleransi di wilayah Bima.

Atas jasa besarnya bagi bangsa Indonesia, pemerintah secara resmi menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional pada 10 November 2025.


B. Perjuangan dan Jasa

Sultan Muhammad Salahuddin memberikan kontribusi besar dalam berbagai bidang selama masa penjajahan Belanda dan Jepang.

1. Dukungan untuk Republik Indonesia

Setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia, Sultan Muhammad Salahuddin mengeluarkan maklumat pada 22 November 1945 yang menyatakan bahwa Kesultanan Bima berdiri di belakang Republik Indonesia.

Beliau menolak tawaran Belanda untuk kembali berada di bawah kekuasaan kolonial.


2. Gerakan Nikah Baronta

Pada masa pendudukan Jepang, Sultan mencetuskan gerakan Nikah Baronta, yaitu pernikahan massal bagi perempuan Bima.

Tujuannya adalah melindungi para perempuan dari ancaman dijadikan jugun ianfu (budak seks tentara Jepang).

Berkat strategi ini, wilayah Bima tercatat sebagai daerah yang hampir tidak memiliki kasus jugun ianfu selama masa pendudukan Jepang.


3. Pembangunan Peradaban dan Pendidikan

Sultan Muhammad Salahuddin juga dikenal sebagai pelopor pembangunan pendidikan di Bima.

Usahanya antara lain:

  • Mendirikan sekolah-sekolah modern
  • Mengirim banyak pelajar Bima belajar ke berbagai daerah di Nusantara
  • Mendorong kemajuan pendidikan masyarakat

4. Pemberdayaan Perempuan

Beliau sangat mendukung peran perempuan dalam masyarakat.

Sultan membantu berdirinya organisasi perempuan seperti:

  • Aisyiyah
  • Rukun Wanita

Organisasi tersebut berperan dalam pendidikan dan kegiatan sosial perempuan.


5. Wakaf Rumah Bima di Makkah

Sultan Muhammad Salahuddin juga mewakafkan sebuah rumah di Makkah yang dikenal sebagai Rumah Bima.

Rumah ini digunakan sebagai asrama bagi pelajar dan jemaah haji Indonesia.


6. Sikap Toleransi

Beliau dikenal sebagai pemimpin yang inklusif dan toleran.

Sultan mendukung pembangunan gereja bagi umat non-Muslim dan membuka ruang kehidupan yang harmonis bagi semua golongan masyarakat di wilayah Bima.


C. Perjuangan di Berbagai Era

1. Era Kolonial Belanda

Pada masa kolonial Belanda, Sultan Muhammad Salahuddin berusaha memperkuat masyarakat Bima melalui pendidikan modern dan nilai agama.

Langkah ini bertujuan untuk membendung pengaruh kolonial serta membangun kesadaran masyarakat.


2. Era Pendudukan Jepang

Pada masa pendudukan Jepang, Sultan melakukan perlawanan cerdas terhadap kebijakan Jepang yang ingin menjadikan perempuan Bima sebagai jugun ianfu.

Melalui gerakan Nikah Baronta, perempuan Bima dilindungi dengan memberikan status pernikahan sehingga tidak dapat dipaksa oleh tentara Jepang.


3. Era Pasca Kemerdekaan Indonesia

Beberapa bulan setelah proklamasi kemerdekaan, Sultan Muhammad Salahuddin secara tegas menyatakan dukungan kepada Republik Indonesia.

Melalui Maklumat 22 November 1945, beliau menyatakan bahwa Kesultanan Bima setia kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia dan menolak pembentukan negara boneka Belanda.


D. Akhir Hayat dan Keluarga

1. Wafat

Sultan Muhammad Salahuddin wafat pada 11 Juli 1951 di Jakarta.

Beliau meninggal dalam keadaan masih memperjuangkan kepentingan daerah Bima di tingkat nasional.

Sebagai bentuk penghormatan negara, jenazah beliau disemayamkan di Gedung Proklamasi dan dimakamkan secara kenegaraan.


2. Keluarga

Beliau meninggalkan istri bernama Sitti Maryam serta putra-putri yang melanjutkan perjuangannya.

Salah satu putrinya, Siti Maryam Salahuddin, dikenal sebagai tokoh budaya dan sejarah Bima.


E. Warisan untuk Bangsa

1. Integritas Nasionalisme

Sultan Muhammad Salahuddin merupakan contoh pemimpin tradisional yang rela menanggalkan kekuasaan absolut kesultanan demi bergabung dengan Republik Indonesia.


2. Pendidikan dan Agama

Beliau mewariskan sistem pendidikan yang menggabungkan ilmu pengetahuan modern dengan nilai-nilai Islam.


3. Simbol Pemersatu

Nama beliau kini diabadikan sebagai Bandara Sultan Muhammad Salahuddin di Bima.

Gelar Pahlawan Nasional Indonesia (2025) menjadi penghormatan atas jasa besar beliau dalam memperjuangkan kemerdekaan, pendidikan, dan kemanusiaan.




214 Prab

Buatlah Risalah dan Infografis tentang Pahlawan :

Syaikhona Muhammad Kholil

Nama Lengkap: Muhammad Kholil bin Abdul Lathif.

Lahir di Kampung Senen, Bangkalan, Madura, 25 Mei 1835 (9 Safar 1251 H).

Meninggal di Bangkalan, Madura, Jawa Timur, 24 April 1925 (29 Ramadhan 1343 H).

Gelar: Pahlawan Nasional (Kepres 2025).


A. Syaikhona Muhammad Kholil (1835–1925) adalah ulama karismatik dari Bangkalan, Madura, yang diakui sebagai Pahlawan Nasional dan guru bagi para ulama besar Indonesia, termasuk pendiri NU KH Hasyim Asy'ari. Beliau berjuang melawan penjajahan Belanda melalui pendidikan pesantren (Demangan), menyebarkan nasionalisme, serta dikenal memiliki karamah luar biasa. 

B. Perjuangan Syaikhona Muhammad Kholil

1. Pendidikan dan Dakwah: Menjadi pelopor pendidikan pesantren yang mencetak ulama besar Nusantara. Lebih dari 500 ribu santri tercatat pernah berguru kepadanya, menjadikannya pusat keilmuan Islam klasik di Jawa-Madura.

2. Melawan Penjajahan: Aktif berjuang melawan Belanda, bahkan pernah ditahan karena dituduh melindungi pejuang anti-kolonial. Pesantrennya menjadi tempat penyemaian semangat nasionalisme dan mencintai bangsa adalah bagian dari iman.

3. Guru Pahlawan Nasional: Murid-murid beliau, seperti KH Hasyim Asy'ari, KH Wahab Hasbullah, dan tokoh kebangsaan lainnya, menjadi pilar penting berdirinya NU dan perjuangan kemerdekaan RI.

4. Karamah: Dikenal memiliki karamah (kelebihan) yang diakui, termasuk kisah pintu penjara yang tidak bisa dikunci saat beliau ditahan oleh Belanda.

5. Syaikhona Kholil adalah sosok yang menyatukan ilmu agama mendalam dengan nasionalisme, menjadikannya rujukan spiritual dan penggerak perlawanan terhadap penjajah di Tanah Air. 

C. Riwayat Pendidikan (Masa Muda)

Syaikhona Kholil dikenal memiliki semangat belajar yang luar biasa. Beliau berkelana ke berbagai pesantren di Jawa sebelum akhirnya ke Mekah. 

1. Pendidikan Awal: Beliau belajar dasar-dasar agama langsung dari ayahnya, KH Abdul Lathif, di Bangkalan.

2. Pesantren di Jawa:

* Pesantren Langitan: Tuban, di bawah asuhan KH Muhammad Nur.

* Pesantren Cangaan: Bangil, Pasuruan.

* Pesantren Keboncandi: Pasuruan.

* Pesantren Sidogiri: Pasuruan, di bawah asuhan KH Noerhasan. Selama nyantri, beliau sering bekerja sebagai pemetik kelapa untuk membiayai pendidikannya.

D. Pendidikan di Mekah:

Beliau berangkat ke Mekah sekitar tahun 1859-1860-an untuk memperdalam ilmu.

Guru-guru di Mekah: Beliau berguru kepada ulama besar seperti Syekh Nawawi al-Bantani, Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi, dan Syekh Ahmad Zaini Dahlan.

E. Perjuangan Melawan Belanda

Perjuangan Mbah Kholil tidak hanya melalui pengajaran agama, tetapi juga perlawanan secara politik dan spiritual: 

1. Basis Perlawanan: Pesantrennya menjadi tempat berkumpul dan strategi bagi para pejuang. Beliau memberikan restu dan suwuk (doa) kepada para santrinya yang akan berperang.

2. Hubungan dengan Tokoh Nasional: Beliau memiliki peran penting dalam memberi isyarat berdirinya Nahdlatul Ulama (NU) dan dikabarkan pernah memberikan isyarat spiritual kepada Soekarno sebelum kemerdekaan. 

F. Penangkapan oleh Belanda 

Syaikhona Kholil pernah ditangkap dan dipenjara oleh Belanda. 

1. Alasan Penangkapan: Belanda mencurigai aktivitas beliau di pesantren yang dianggap menyebarkan semangat perlawanan dan melindungi pelarian pejuang (pemberontak).

2. Kisah di Penjara: Terdapat kisah masyhur (karomah) saat beliau dipenjara; konon pintu penjara tidak bisa dikunci, dan para sipir Belanda kewalahan karena banyaknya orang yang datang menjenguk beliau di tahanan untuk memberikan makanan dan penghormatan, hingga akhirnya Belanda melepaskannya karena khawatir akan memicu kerusuhan massa yang lebih besar. 

G. Kontribusi dalam Pendirian Nahdlatul Ulama (NU)

Syaikhona Kholil sering disebut sebagai penentu atau restu utama berdirinya NU pada tahun 1926. 

1. Restu dan Isyarat: Ketika KH Hasyim Asy'ari ragu untuk mendirikan organisasi, Syaikhona Kholil mengirimkan muridnya, Kiai As'ad Syamsul Arifin, untuk menyampaikan isyarat berupa sebuah tongkat dan tasbih beserta ayat-ayat Al-Qur'an.

2. Simbol Persetujuan: Pemberian tongkat dan tasbih ini diartikan sebagai perintah dan restu spiritual bagi KH Hasyim Asy'ari untuk segera mendirikan Nahdlatul Ulama (NU). 

3. Guru Para Pendiri: Beliau adalah guru langsung dari KH Hasyim Asy'ari (pendiri NU) dan KH Wahab Hasbullah. 

H. Akhir Hayat dan Warisan

1. Keluarga: Beliau meninggalkan keturunan yang hingga kini terus mengasuh Pondok Pesantren Syaichona Cholil di Bangkalan.

2. Warisan untuk Bangsa:

* Jaringan Ulama: Beliau berhasil mencetak generasi ulama pejuang yang menjadi pilar kemerdekaan Indonesia.

* Pahlawan Nasional: Pada November 2025, pemerintah secara resmi menganugerahi gelar Pahlawan Nasional atas jasa-jasanya dalam membela tanah air dan membangun fondasi intelektual bangsa.

* Kitab dan Ajaran: Warisan pemikiran keislaman moderat (Ahlussunnah wal Jama'ah) yang menjadi landasan organisasi NU.


RISALAH PAHLAWAN NASIONAL

SYAIKHONA MUHAMMAD KHOLIL

Nama Lengkap: Syaikhona Muhammad Kholil bin Abdul Lathif
Lahir: Kampung Senen, Bangkalan, Madura — 25 Mei 1835 (9 Safar 1251 H)
Wafat: Bangkalan, Madura, Jawa Timur — 24 April 1925 (29 Ramadhan 1343 H)
Gelar: Pahlawan Nasional Indonesia (Kepres 2025)
Profesi: Ulama, Guru Pesantren, Tokoh Perjuangan

Syaikhona Muhammad Kholil adalah ulama karismatik dari Madura yang dikenal sebagai guru para ulama Nusantara. Melalui pendidikan pesantren dan dakwahnya, beliau menanamkan semangat keislaman, nasionalisme, serta perlawanan terhadap penjajahan Belanda.


A. PROFIL SINGKAT

Syaikhona Muhammad Kholil (1835–1925) adalah ulama besar dari Bangkalan yang memiliki pengaruh sangat luas di dunia pesantren Indonesia.

Beliau dikenal sebagai:

  • Guru dari banyak ulama besar Indonesia
  • Tokoh spiritual yang berperan dalam perjuangan kemerdekaan
  • Pemberi restu berdirinya organisasi Islam terbesar di Indonesia, yaitu Nahdlatul Ulama

Melalui pesantrennya di Bangkalan, beliau mendidik ratusan ribu santri yang kemudian menjadi tokoh agama dan pemimpin masyarakat.


B. PERJUANGAN DAN KONTRIBUSI

1. Pendidikan dan Dakwah Pesantren

Syaikhona Kholil mengembangkan sistem pendidikan pesantren yang kuat di Bangkalan.

Pesantrennya menjadi pusat pendidikan Islam di wilayah Jawa dan Madura.

Diperkirakan lebih dari 500.000 santri pernah belajar kepadanya.

Santri-santri tersebut kemudian menyebarkan dakwah Islam serta semangat perjuangan di seluruh Nusantara.


2. Melawan Penjajahan Belanda

Beliau tidak hanya berdakwah, tetapi juga aktif menanamkan semangat perlawanan terhadap penjajah.

Pesantrennya menjadi tempat:

  • Berkumpulnya para pejuang
  • Penyemaian semangat nasionalisme
  • Tempat meminta doa dan restu sebelum berjuang

Beliau bahkan pernah ditangkap oleh pemerintah kolonial Belanda karena dicurigai melindungi para pejuang anti-kolonial.


3. Guru Para Tokoh Nasional

Banyak tokoh penting Indonesia merupakan muridnya, antara lain:

  • Hasyim Asy'ari
  • Abdul Wahab Hasbullah

Para muridnya inilah yang kemudian menjadi tokoh utama dalam perjuangan kemerdekaan dan perkembangan Islam di Indonesia.


4. Karamah dan Pengaruh Spiritual

Syaikhona Kholil dikenal memiliki karamah (keistimewaan spiritual).

Salah satu kisah terkenal terjadi saat beliau dipenjara oleh Belanda:

  • Pintu penjara konon tidak dapat dikunci
  • Banyak orang datang menjenguk dan memberikan makanan
  • Situasi tersebut membuat Belanda khawatir akan terjadi kerusuhan

Akhirnya beliau dibebaskan dari penjara.


C. RIWAYAT PENDIDIKAN

1. Pendidikan Awal

Beliau belajar ilmu agama langsung dari ayahnya:

KH Abdul Lathif di Bangkalan.


2. Menuntut Ilmu di Pesantren Jawa

Syaikhona Kholil berkelana ke berbagai pesantren di Jawa:

  • Pesantren Langitan – Tuban
  • Pesantren Cangaan – Bangil, Pasuruan
  • Pesantren Keboncandi – Pasuruan
  • Pesantren Sidogiri – Pasuruan

Ketika menuntut ilmu, beliau hidup sederhana dan bahkan bekerja sebagai pemetik kelapa untuk membiayai pendidikannya.


D. PENDIDIKAN DI MEKAH

Sekitar tahun 1859–1860, beliau berangkat ke Mekah untuk memperdalam ilmu agama.

Di sana beliau berguru kepada ulama besar, seperti:

  • Nawawi al-Bantani
  • Ahmad Khatib al-Minangkabawi
  • Ahmad Zaini Dahlan

Ilmu yang beliau pelajari kemudian dibawa pulang ke Nusantara dan diajarkan kepada para santri.


E. PERJUANGAN MELAWAN BELANDA

Perjuangan beliau dilakukan melalui jalur:

1. Pendidikan Pesantren

Pesantren menjadi pusat pendidikan dan pembentukan karakter bangsa.

2. Dukungan kepada Pejuang

Beliau sering memberikan doa dan restu (suwuk) kepada para santri yang akan berjuang melawan penjajah.

3. Perlawanan Spiritual

Pengaruh spiritual beliau membuat masyarakat semakin berani melawan penjajah.


F. PERAN DALAM BERDIRINYA NU

Syaikhona Kholil memiliki peran penting dalam berdirinya Nahdlatul Ulama pada tahun 1926.

Ketika Hasyim Asy'ari ragu untuk mendirikan organisasi ulama, Syaikhona Kholil memberikan isyarat spiritual.

Beliau mengirimkan muridnya:

As'ad Syamsul Arifin

dengan membawa:

  • Tongkat
  • Tasbih
  • Ayat Al-Qur'an

Isyarat tersebut dimaknai sebagai restu untuk mendirikan Nahdlatul Ulama.


G. PENANGKAPAN OLEH BELANDA

Beliau pernah ditangkap oleh pemerintah kolonial Belanda.

Alasan penangkapan:

  • Pesantrennya dianggap menyebarkan semangat perlawanan
  • Dituduh melindungi para pejuang

Namun karena dukungan masyarakat sangat besar, akhirnya Belanda melepaskan beliau.


H. AKHIR HAYAT DAN WARISAN

1. Wafat

Syaikhona Muhammad Kholil wafat pada:

24 April 1925 (29 Ramadhan 1343 H)
di Bangkalan, Madura.


2. Warisan Besar untuk Bangsa

Warisan beliau antara lain:

1. Jaringan Ulama Nusantara
Beliau melahirkan banyak ulama yang menjadi pemimpin pesantren dan tokoh bangsa.

2. Pendidikan Pesantren
Pesantren beliau masih berdiri hingga sekarang di Bangkalan.

3. Pemikiran Islam Moderat
Ajarannya menjadi dasar pemahaman Islam Ahlussunnah wal Jama'ah di Indonesia.

4. Pahlawan Nasional Indonesia
Pada tahun 2025, pemerintah Indonesia menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional atas jasanya dalam perjuangan melalui dakwah dan pendidikan.


NILAI KETELADANAN

✔ Ulama yang berilmu tinggi dan rendah hati
✔ Pejuang yang melawan penjajahan melalui pendidikan
✔ Guru bagi generasi ulama dan tokoh bangsa
✔ Menggabungkan spiritualitas, ilmu, dan nasionalisme




215 Prab

Buatlah Risalah dan Infografis tentang Pahlawan :

Tuan Rondahaim Saragih.

Nama Lengkap: Tuan Rondahaim Saragih Garingging.

Lahir di Pematang Raya, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara, 1828.

Meninggal di Pematang Raya, Simalungun, Sumatera Utara. Makam Raja Raya Tuan Rondahaim Saragih Garingging, Juli 1891.

Ayah : Tuan Jinmahadim Saragih Garingging gelar Tuan Huta Dolog

Ibu :Puang Ramonta br. Purba Dasuha.

Wilayah: Simalungun, Sumatera Timur.

Masa Perjuangan: Aktif melawan Belanda sekitar tahun 1880 hingga 1891.

Jabatan: Raja Raya ke-14 (Penguasa Adat Simalungun).

Julukan: Napoleon der Bataks (Napoleon dari Tanah Batak). 


A. Tuan Rondahaim Saragih Garingging adalah seorang pejuang asal Simalungun, Sumatera Utara, yang baru saja dianugerahi gelar Pahlawan Nasional oleh Presiden Prabowo Subianto pada 10 November 2025. Ia dikenal sebagai sosok pemberani yang menjabat sebagai Raja Raya ke-14 dan dijuluki sebagai "Napoleon dari Tanah Batak" karena ketangguhannya di medan perang. 

B. Perjuangan dan Jasa

Perjuangan Tuan Rondahaim terfokus pada perlawanan bersenjata melawan kolonialisme Belanda di wilayah Sumatera Timur antara tahun 1880 hingga 1891. Berikut adalah poin-poin utama perjuangannya: 

1. Menentang Ekspansi Perkebunan: Ia dengan tegas menolak pembukaan perkebunan oleh perusahaan-perusahaan Belanda di tanah kelahirannya untuk melindungi kedaulatan rakyat Simalungun.

2. Keberhasilan Militer: Di bawah kepemimpinannya, pasukan Raya berhasil memukul mundur pasukan Belanda dalam berbagai pertempuran, yang membuatnya sangat disegani oleh musuh.

3. Pertahanan Mandiri: Ia mampu mengorganisir kekuatan lokal secara mandiri untuk mempertahankan wilayah Simalungun dari infiltrasi asing hingga akhir hayatnya. 

C. Perjuangan Melawan Belanda

1. Tuan Rondahaim merupakan satu-satunya penguasa di Simalungun yang tidak pernah dapat ditaklukkan oleh Belanda selama masa hidupnya. Bentuk perjuangannya meliputi: 

2. Penyatuan Kekuatan: Ia berhasil menyatukan kerajaan-kerajaan kecil di Simalungun untuk membentuk front pertahanan bersama melawan Belanda.

3. Strategi Militer: Ia memperkuat pasukan militernya dan menyusun strategi pertahanan yang sangat kuat di wilayah Pamatang Raya, sehingga pasukan Belanda berulang kali gagal menembus wilayahnya.

4. Penolakan Tunduk: Ia secara konsisten menolak menandatangani perjanjian yang akan menyerahkan kedaulatan wilayahnya kepada pemerintah kolonial Belanda.

5. Pukul Mundur Pasukan: Pasukan Tuan Rondahaim tercatat berhasil memukul mundur pasukan ekspedisi Belanda yang mencoba masuk ke wilayah pedalaman Simalungun. 

D. Taktik ketika diundang Belanda 

1. Suatu ketika, Belanda mengajak Tuan Rondahaim untuk berunding di Pelabuhan Matapao. Tuan Rondahaim mencurigai ajakan tersebut. Lalu, ia mengumpulkan pasukannya dan memilih orang yang paling mirip dengannya. Orang itu juga dipakaikan baju raja.

2. Sesaat sebelum sampai di tempat perundingan, orang yang menyamar menjadi Tuan Rondahaim itu ditembak mati oleh tentara Belanda.

E. Penghargaan dan Penghormatan

1. Pahlawan Nasional: Ditetapkan pada 10 November 2025 atas jasa-jasanya di bidang angkatan bersenjata.

2. Bintang Jasa Utama: Dianugerahkan oleh Presiden B.J. Habibie pada 13 Agustus 1999.

3. RSUD Tuan Rondahaim Saragih: Pemerintah Kabupaten Simalungun mengabadikan namanya sebagai nama rumah sakit daerah.

4. Nama Jalan: Digunakan sebagai nama salah satu ruas jalan di Kota Pematangsiantar.

F. Hubungan dengan Pahlawan Batak dan Aceh

Perjuangan Tuan Rondahaim Saragih merupakan bagian dari rangkaian perlawanan rakyat di Sumatera terhadap kolonialisme Belanda, yang memiliki kaitan konteks perjuangan: 

1. Pahlawan Batak (Sisingamangaraja XII): Meskipun beroperasi di wilayah yang berbeda (Simalungun vs Tapanuli), Tuan Rondahaim, bersama dengan Sisingamangaraja XII, sama-sama berjuang mempertahankan kedaulatan Tanah Batak dari perluasan pengaruh Belanda. Perjuangan mereka menginspirasi pejuang di Tanah Batak lainnya.

2. Pahlawan Aceh: Perjuangan Tuan Rondahaim terjadi di era yang sama dengan Perang Aceh (1873–1904). Konteks perjuangan di Sumatera Timur (Simalungun) dan Aceh sama-sama bertujuan mengusir Belanda dari wilayah Pantai Timur Sumatera, di mana mereka membangun jaringan untuk melawan dominasi kolonial.

G. Akhir Hayat dan Keluarga

1. Akhir Hayat: Tuan Rondahaim Saragih wafat pada tahun 1891. Sampai akhir hayatnya, ia tetap berdiri teguh melawan penjajahan.

2. Ahli Waris: Perjuangan dan penghormatan terhadapnya diteruskan oleh keturunannya. Pada penganugerahan gelar Pahlawan Nasional, ahli warisnya, termasuk Bungaran Saragih, menerima plakat dari Presiden. 

3. Sampai akhir hayatnya, Tuan Rondahaim tidak pernah ditangkap dan tidak pernah menyerah pada kekuasaan Belanda. Namun, setelah Tuan Rondahaim meninggal, tidak ada lagi perlawanan besar dari Simalungun. Raja-raja lokal di Simalungun akhirnya menyatakan tunduk pada Belanda, menjadi bagian dari birokrasi kolonial dan akhirnya menerima uang konsesi dari hasil perkebunan yang digarap perusahaan Belanda.



RISALAH PAHLAWAN NASIONAL

TUAN RONDAHAIM SARAGIH GARINGGING

Raja Raya ke-14 Simalungun – “Napoleon dari Tanah Batak”


Identitas Tokoh

  • Nama Lengkap: Tuan Rondahaim Saragih Garingging
  • Lahir: Pematang Raya, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara, 1828
  • Wafat: Pematang Raya, Simalungun, Juli 1891
  • Ayah: Tuan Jinmahadim Saragih Garingging (Tuan Huta Dolog)
  • Ibu: Puang Ramonta br. Purba Dasuha
  • Wilayah Perjuangan: Simalungun, Sumatera Timur
  • Jabatan: Raja Raya ke-14 (Penguasa Adat Simalungun)
  • Masa Perjuangan: ±1880 – 1891
  • Julukan: Napoleon der Bataks (Napoleon dari Tanah Batak)
  • Gelar: Pahlawan Nasional Indonesia (10 November 2025)

A. Profil Singkat

Tuan Rondahaim Saragih Garingging adalah seorang pemimpin adat dan pejuang dari Simalungun yang terkenal karena keberanian dan strategi militernya dalam melawan kolonial Belanda.

Sebagai Raja Raya ke-14, ia memimpin rakyat Simalungun mempertahankan wilayahnya dari ekspansi kolonial Belanda yang ingin menguasai tanah dan sumber daya daerah Sumatera Timur.

Ketangguhannya dalam menghadapi pasukan kolonial membuatnya dijuluki “Napoleon dari Tanah Batak.”

Pada 10 November 2025, Presiden Indonesia menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional atas jasa-jasanya dalam mempertahankan kedaulatan rakyat Simalungun.


B. Perjuangan dan Jasa

Perjuangan Tuan Rondahaim Saragih berfokus pada perlawanan bersenjata terhadap kolonial Belanda.

1. Menentang Ekspansi Perkebunan Belanda

Belanda berusaha membuka perkebunan besar di wilayah Sumatera Timur.

Tuan Rondahaim dengan tegas menolak penyerahan tanah rakyat Simalungun kepada perusahaan perkebunan Belanda.

Langkah ini bertujuan melindungi tanah adat dan kedaulatan masyarakat Simalungun.


2. Keberhasilan Militer

Pasukan yang dipimpin Tuan Rondahaim beberapa kali berhasil memukul mundur pasukan Belanda yang mencoba memasuki wilayah Simalungun.

Keberanian ini membuatnya sangat disegani oleh Belanda.


3. Pertahanan Mandiri

Ia mampu mengorganisasi pasukan lokal secara mandiri.

Pertahanan wilayah Pematang Raya diperkuat dengan strategi militer yang efektif sehingga Belanda kesulitan menembus wilayah tersebut.


C. Perjuangan Melawan Belanda

Tuan Rondahaim dikenal sebagai satu-satunya penguasa Simalungun yang tidak pernah ditaklukkan Belanda selama hidupnya.

Bentuk perjuangannya antara lain:

1. Penyatuan Kekuatan

Ia berhasil menyatukan kerajaan-kerajaan kecil di wilayah Simalungun untuk membentuk pertahanan bersama.


2. Strategi Militer

Benteng pertahanan diperkuat di wilayah Pematang Raya, sehingga pasukan Belanda beberapa kali mengalami kegagalan dalam ekspedisi militernya.


3. Penolakan Tunduk

Tuan Rondahaim secara konsisten menolak menandatangani perjanjian politik dengan Belanda yang dapat menghilangkan kedaulatan wilayahnya.


4. Mengusir Pasukan Belanda

Pasukan Tuan Rondahaim tercatat beberapa kali memukul mundur ekspedisi militer Belanda yang mencoba menguasai wilayah pedalaman Simalungun.


D. Taktik Ketika Diundang Belanda

Suatu ketika Belanda mengundang Tuan Rondahaim untuk melakukan perundingan di Pelabuhan Matapao.

Namun Tuan Rondahaim mencurigai rencana tersebut sebagai perangkap pembunuhan.

Ia kemudian melakukan strategi cerdas:

  1. Mengumpulkan pasukannya.
  2. Memilih seorang prajurit yang sangat mirip dengannya.
  3. Prajurit tersebut dipakaikan pakaian raja untuk menyamar.

Ketika rombongan tiba di lokasi, orang yang menyamar sebagai Tuan Rondahaim ditembak oleh tentara Belanda.

Peristiwa ini membuktikan bahwa Belanda memang berniat menghabisi sang raja.

Strategi tersebut menyelamatkan nyawa Tuan Rondahaim.


E. Penghargaan dan Penghormatan

Sebagai bentuk penghormatan atas jasanya:

  1. Pahlawan Nasional Indonesia
    Ditetapkan pada 10 November 2025.

  2. Bintang Jasa Utama
    Dianugerahkan oleh Presiden B.J. Habibie pada 13 Agustus 1999.

  3. RSUD Tuan Rondahaim Saragih
    Namanya diabadikan sebagai rumah sakit daerah di Kabupaten Simalungun.

  4. Nama Jalan
    Namanya digunakan sebagai nama jalan di Kota Pematangsiantar.


F. Hubungan dengan Perjuangan di Tanah Batak dan Aceh

Perjuangan Tuan Rondahaim merupakan bagian dari perlawanan rakyat Sumatera terhadap kolonialisme Belanda.

1. Hubungan dengan Pahlawan Batak

Perjuangan Tuan Rondahaim memiliki kesamaan dengan perjuangan Sisingamangaraja XII yang mempertahankan Tanah Batak dari penjajahan Belanda.

Walaupun wilayah perjuangannya berbeda, keduanya memiliki tujuan yang sama: mempertahankan kedaulatan tanah Batak.


2. Hubungan dengan Perjuangan Aceh

Perjuangan Tuan Rondahaim terjadi pada masa yang sama dengan Perang Aceh.

Di berbagai wilayah Sumatera, rakyat melakukan perlawanan terhadap ekspansi kolonial Belanda.


G. Akhir Hayat dan Keluarga

1. Akhir Hayat

Tuan Rondahaim Saragih wafat pada Juli 1891 di Pematang Raya, Simalungun.

Sampai akhir hayatnya, ia tidak pernah menyerah kepada Belanda dan tidak pernah tertangkap oleh kolonial.


2. Ahli Waris

Perjuangan dan penghormatan terhadapnya diteruskan oleh keturunannya.

Pada penganugerahan gelar Pahlawan Nasional tahun 2025, keturunannya termasuk Bungaran Saragih menerima penghargaan dari Presiden Indonesia.


3. Setelah Wafat

Setelah Tuan Rondahaim meninggal, perlawanan besar di wilayah Simalungun mulai mereda.

Sebagian raja lokal akhirnya menyatakan tunduk kepada Belanda dan wilayah tersebut kemudian dimasukkan ke dalam sistem kolonial perkebunan Belanda.


Warisan untuk Bangsa

Tuan Rondahaim Saragih dikenang sebagai:

  • Pemimpin adat yang berani
  • Pejuang kemerdekaan di Tanah Batak
  • Simbol perlawanan rakyat Simalungun terhadap kolonialisme

Julukan “Napoleon dari Tanah Batak” mencerminkan kecerdasan strategi dan keberaniannya dalam mempertahankan kedaulatan wilayahnya.





216 Prab

Buatlah Risalah dan Infografis tentang Pahlawan :

Sultan Zainal Abidin Syah.

Lahir di Soa Sio, Tidore, 15 Agustus 1912.

Meninggal di Ambon, 4 Juli 1967.

Gelar Kerajaan: Sultan Tidore ke-37 (beberapa sumber menyebut ke-35 atau 26, namun literatur terbaru penganugerahan menyebut ke-37).

Julukan: "Penjaga Timur Indonesia".

Pendidikan: Memiliki latar belakang pendidikan modern di zaman kolonial (OSVIA di Makassar) yang membantunya dalam perjuangan diplomasi. 


A. Sultan Zainal Abidin Syah adalah Sultan Tidore ke-37 yang baru saja dianugerahi gelar Pahlawan Nasional pada 10 November 2025 oleh Presiden Prabowo Subianto. Ia dikenal sebagai tokoh sentral yang memperjuangkan kembalinya Irian Barat (sekarang Papua) ke dalam pangkuan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). 

B. Perjuangan dan Jasa Utama

1. Sultan Zainal Abidin Syah memiliki peran krusial dalam kedaulatan wilayah Indonesia Timur: 

2. Gubernur Pertama Irian Barat: Diangkat oleh Presiden Soekarno sebagai Gubernur Irian Barat pertama pada tahun 1956 (beribu kota di Soasiu, Tidore) saat wilayah tersebut masih dalam sengketa dengan Belanda.

3. Integrasi Papua ke NKRI: Beliau menggunakan otoritasnya sebagai Sultan Tidore—yang secara historis memiliki pengaruh hingga wilayah Papua—untuk menegaskan bahwa Papua adalah bagian tak terpisahkan dari Indonesia.

4. Diplomasi Internasional: Aktif dalam perjuangan politik dan diplomasi untuk mendukung klaim Indonesia atas Irian Barat di forum internasional.

5. Menolak Bujukan Belanda: Meskipun ditawari kedudukan tinggi oleh Belanda melalui pembentukan Negara Indonesia Timur (NIT), beliau tetap setia dan memilih bergabung dengan Republik Indonesia.

6. Penyatuan Sabang sampai Merauke: Jasa besarnya membuat semboyan "Indonesia dari Sabang sampai Merauke" menjadi nyata; tanpa peran Kesultanan Tidore, integrasi Papua akan jauh lebih sulit dilakukan. 

7. Gelar Pahlawan Nasional diberikan kepadanya atas dedikasi luar biasa dalam menjaga keutuhan wilayah NKRI melalui jalur politik dan diplomasi di kawasan Timur Indonesia. 

C. Perjuangan Era Belanda & Jepang

1. Masa Belanda: Menempuh pendidikan dan bekerja di birokrasi kolonial, namun menolak mengakui kedaulatan Belanda di wilayah timur setelah kemerdekaan.

2. Masa Jepang: Diangkat menjadi kepala pemerintahan daerah di Tidore sementara, namun diasingkan oleh Jepang ke Halmahera pada 1944 karena dianggap mengancam.

3. Pasca Proklamasi: Setelah Indonesia merdeka, ia berjuang menegaskan bahwa Papua adalah bagian dari wilayah Kesultanan Tidore dan sah masuk wilayah RI, menentang pembentukan Negara Indonesia Timur (NIT) oleh Belanda.

D. Perjuangan Pasca Kemerdekaan (Integrasi Irian Barat)

1. Gubernur Irian Barat (1956-1961): Ditunjuk oleh Presiden Soekarno pada 23 September 1956 sebagai Gubernur Provinsi Perjuangan Irian Barat, dengan pusat pemerintahan di Soa-Sio, Tidore.

2. Sikap Tegas: Secara konsisten menolak hasil Konferensi Meja Bundar (KMB) yang memisahkan Papua Barat dari Indonesia dan menolak klaim Belanda.

3. Operasi Trikora: Berpartisipasi aktif dalam mendukung Operasi Tri Komando Rakyat (Trikora) tahun 1961-1962 untuk membebaskan Irian Barat dari penjajahan.

E. Akhir Hayat dan Keluarga

1. Akhir Hayat: Sultan Zainal Abidin Syah wafat pada 4 Juli 1967 di usia 54 tahun. Beliau dimakamkan di Tidore.

2. Keluarga: Hasil pencarian tidak menyebutkan detail spesifik mengenai istri dan anak-anak yang ditinggalkan, namun perjuangan beliau dilanjutkan oleh Kesultanan Tidore.

3. Warisan: Perjuangan beliau dikenang sebagai pilar penting integrasi Papua ke dalam NKRI dan beliau diakui sebagai salah satu Pahlawan Nasional terkemuka asal Maluku Utara. 

4. Sultan Zainal Abidin Syah wafat di Ambon dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kapahaha sebelum akhirnya kerangkanya dipindahkan ke Tidore pada 1986.



RISALAH PAHLAWAN NASIONAL

SULTAN ZAINAL ABIDIN SYAH

Sultan Tidore ke-37 – “Penjaga Timur Indonesia”


Identitas Tokoh

  • Nama: Sultan Zainal Abidin Syah
  • Lahir: Soa Sio, Tidore, 15 Agustus 1912
  • Wafat: Ambon, 4 Juli 1967
  • Gelar Kerajaan: Sultan Tidore ke-37
  • Julukan: Penjaga Timur Indonesia
  • Pendidikan: OSVIA (Opleidingsschool Voor Inlandsche Ambtenaren) di Makassar
  • Gelar: Pahlawan Nasional Indonesia (10 November 2025)

A. Profil Singkat

Sultan Zainal Abidin Syah adalah Sultan Tidore yang memiliki peran penting dalam mempertahankan dan memperjuangkan wilayah Indonesia di kawasan timur.

Beliau dikenal sebagai tokoh yang memperjuangkan integrasi wilayah Papua ke dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. Atas dedikasi tersebut, pemerintah Indonesia pada masa Presiden
Prabowo Subianto
menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional pada 10 November 2025.

Dalam sejarah Indonesia Timur, Sultan Zainal Abidin Syah dikenang sebagai tokoh yang menjaga keutuhan wilayah Indonesia dari Maluku hingga Papua.


B. Perjuangan dan Jasa Utama

Sultan Zainal Abidin Syah memiliki peran penting dalam menjaga kedaulatan wilayah Indonesia Timur.

1. Gubernur Pertama Irian Barat

Pada tahun 1956, Presiden
Sukarno
mengangkat Sultan Zainal Abidin Syah sebagai Gubernur Provinsi Perjuangan Irian Barat.

Ibu kota pemerintahan saat itu berada di Soa-Sio, Tidore, karena wilayah Papua masih diduduki Belanda.


2. Memperjuangkan Integrasi Papua ke NKRI

Sebagai Sultan Tidore, beliau memiliki hubungan historis dengan wilayah Papua sejak masa Kesultanan Tidore.

Ia menegaskan bahwa wilayah
Papua
merupakan bagian dari wilayah Indonesia.


3. Diplomasi Internasional

Sultan Zainal Abidin Syah aktif melakukan perjuangan politik dan diplomasi internasional untuk memperkuat klaim Indonesia atas Irian Barat.

Perjuangan tersebut menjadi bagian dari upaya besar pemerintah Indonesia dalam memperjuangkan kedaulatan wilayah timur.


4. Menolak Bujukan Belanda

Belanda pernah mencoba membujuknya untuk bergabung dengan proyek negara federal yang disebut Negara Indonesia Timur (NIT).

Namun Sultan menolak dan tetap setia kepada Republik Indonesia.


5. Mewujudkan Indonesia dari Sabang sampai Merauke

Peran Kesultanan Tidore dalam sejarah wilayah Papua membuat semboyan “Indonesia dari Sabang sampai Merauke” menjadi nyata.

Tanpa dukungan Sultan Tidore, perjuangan integrasi Papua akan jauh lebih sulit.


C. Perjuangan pada Masa Belanda dan Jepang

1. Masa Pemerintahan Belanda

Pada masa kolonial Belanda, Sultan Zainal Abidin Syah memperoleh pendidikan modern di sekolah administrasi kolonial.

Meskipun bekerja dalam birokrasi kolonial, ia tetap memiliki sikap nasionalis dan menolak dominasi Belanda setelah Indonesia merdeka.


2. Masa Pendudukan Jepang

Pada masa pendudukan Jepang, ia sempat diangkat sebagai kepala pemerintahan daerah di Tidore.

Namun pada tahun 1944, pemerintah Jepang menganggapnya berbahaya sehingga mengasingkannya ke Halmahera.


3. Setelah Proklamasi Kemerdekaan

Setelah Indonesia merdeka pada tahun 1945, Sultan Zainal Abidin Syah menyatakan dukungan penuh kepada Republik Indonesia.

Ia juga menolak rencana Belanda membentuk negara federal di wilayah timur Indonesia.


D. Perjuangan Pasca Kemerdekaan (Integrasi Irian Barat)

1. Gubernur Irian Barat (1956–1961)

Pada 23 September 1956, ia resmi diangkat menjadi Gubernur Provinsi Perjuangan Irian Barat oleh Presiden Soekarno.

Walaupun wilayah tersebut masih diduduki Belanda, pemerintahan simbolik dijalankan dari Tidore.


2. Menolak Pemisahan Papua

Sultan Zainal Abidin Syah secara tegas menolak keputusan
Konferensi Meja Bundar
yang memisahkan Papua dari Indonesia.


3. Mendukung Operasi Trikora

Beliau juga memberikan dukungan terhadap
Operasi Trikora
yang diluncurkan pada tahun 1961 untuk membebaskan Irian Barat dari Belanda.

Operasi ini akhirnya membuka jalan bagi pengembalian Papua kepada Indonesia.


E. Akhir Hayat dan Keluarga

1. Wafat

Sultan Zainal Abidin Syah wafat pada 4 Juli 1967 di Ambon dalam usia 54 tahun.

Awalnya beliau dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kapahaha di Ambon.

Pada tahun 1986, jenazahnya dipindahkan ke Tidore sebagai penghormatan dari masyarakat.


2. Keluarga

Informasi rinci mengenai keluarga inti tidak banyak tercatat dalam literatur sejarah, namun perjuangannya diteruskan oleh Kesultanan Tidore dan masyarakat Maluku Utara.


3. Warisan

Sultan Zainal Abidin Syah dikenang sebagai tokoh penting yang menjaga keutuhan wilayah Indonesia di kawasan timur.


Warisan untuk Bangsa

Sultan Zainal Abidin Syah dikenang sebagai:

  • Pemimpin tradisional yang nasionalis
  • Pejuang diplomasi integrasi Papua
  • Penjaga wilayah Indonesia Timur

Julukan “Penjaga Timur Indonesia” menggambarkan perannya dalam memastikan bahwa wilayah timur Nusantara tetap menjadi bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia.




212 Prab

Buatlah Risalah dan Infografis tentang Pahlawan :

Jenderal TNI (Purn) Sarwo Edhie Wibowo.

Lahir di Purworejo, Jawa Tengah, 25 Juli 1925.

Meninggal di Jakarta, 9 November 1989 (usia 62 tahun).

Dimakamkan di Purworejo, Jawa Tengah.

Jabatan Penting: Komandan RPKAD (1964–1967), Pangdam XVII/Cenderawasih, Duta Besar RI untuk Korea Selatan, Gubernur AKABRI

Keluarga: Ayah dari Kristiani Herrawati (Ani Yudhoyono) dan Pramono Edhie Wibowo

Gelar: Pahlawan Nasional (ditetapkan 10 November 2025).


A. Jenderal TNI (Purn.) Sarwo Edhie Wibowo (1925–1989) adalah tokoh militer Indonesia, komandan RPKAD (sekarang Kopassus), dan Pahlawan Nasional yang berperan kunci menumpas G30S/PKI tahun 1965. Ayah dari Ani Yudhoyono ini memimpin pemulihan keamanan dan penumpasan simpatisan PKI, serta pernah menjabat Duta Besar Korea Selatan dan Gubernur AKABRI. 

B. Perjuangan dan Karier Militer:

1. Masa Awal & Kemerdekaan: Memulai karier di PETA (Pembela Tanah Air) pada masa Jepang, kemudian bergabung dengan TKR (Tentara Keamanan Rakyat) setelah proklamasi.

2. Komandan RPKAD (1964–1967): Ditunjuk Ahmad Yani menjadi komandan pasukan elite RPKAD. Ia memodernisasi dan membentuk karakter pasukan khusus.

3. Penumpasan G30S/PKI (1965): Peran paling krusialnya adalah memimpin RPKAD mengambil alih RRI dan TVRI serta memulihkan keamanan di Jakarta, Jawa Tengah, dan Timur pasca-peristiwa G30S/PKI.

4. Karier Pasca-1965: Sempat dipinggirkan dari lingkaran kekuasaan inti Soeharto karena dianggap terlalu ambisius, ia kemudian ditugaskan sebagai Pangdam di Papua, Duta Besar, dan Gubernur AKABRI. 

5. Sarwo Edhie dikenal sebagai jenderal yang tegas dalam operasi militer dan memiliki dedikasi tinggi pada stabilitas nasional, menjadikannya salah satu tokoh legendaris TNI AD. 

C. Perjuangan Era Jepang dan Belanda

1. Perjuangan Sarwo Edhie dimulai sejak masa muda di era pendudukan Jepang hingga mempertahankan kemerdekaan.

2. Era Jepang: Ia mengikuti pelatihan militer PETA (Pembela Tanah Air), satuan yang dibentuk Jepang namun menjadi cikal bakal kekuatan militer Indonesia.

3. Pasca-Proklamasi (Belanda): Setelah Indonesia merdeka, ia bergabung dengan Badan Keamanan Rakyat (BKR) dan TNI. Ia aktif berjuang di wilayah Jawa Tengah melawan agresor Belanda yang ingin menguasai kembali Indonesia.

4. Masa Awal Kemerdekaan: Ia terlibat dalam berbagai operasi menumpas pemberontakan dalam negeri, yang mengasah kemampuan kepemimpinan militer khususnya di satuan infanteri dan komando. 

D. Perjuangan Pasca Kemerdekaan (Era Orde Lama & Baru)

Peran Sarwo Edhie paling menonjol terjadi pada periode transisi 1965-1967. 

1. Komandan RPKAD & Penumpasan G30S/PKI (1965): Sebagai Komandan Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD), Kolonel Sarwo Edhie memimpin pasukan untuk merebut kembali objek vital seperti RRI dan Kantor Telekomunikasi dari tangan pendukung gerakan 30 September. Ia memimpin operasi penumpasan PKI di Jakarta dan Jawa Tengah.

2. Perintis Orde Baru: Peran kritisnya dalam mengamankan ibu kota dan Jawa Tengah menjadikannya tokoh kunci dalam peralihan kekuasaan dari Soekarno ke Soeharto.

3. Penumpasan Resistensi Papua (1967-1968): Ia menjabat Pangdam XVII/Cendrawasih dan memimpin Operasi Sadar serta Penentuan Pendapat Rakyat (PEPERA) di Irian Barat (Papua), di mana ia berhasil mengamankan wilayah tersebut di bawah NKRI.

4. Diplomat dan Pendidik: Setelah pensiun dari militer, ia menjabat sebagai Duta Besar Indonesia untuk Korea Selatan dan menjadi Gubernur AKABRI (Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia), mendidik perwira-perwira muda TNI.

5. Sarwo Edhie dikenal sebagai jenderal lapangan yang berani, berintegritas, dan disegani, menjadikan sosoknya teladan dalam sejarah militer Indonesia. 

E. Kisah Merebut RRI (20 Menit)

Salah satu aksi paling heroik Sarwo Edhie adalah merebut kembali Gedung Radio Republik Indonesia (RRI) dari tangan pasukan G30S/PKI pada 1 Oktober 1965 sore.

1. Situasi: RRI Jakarta dikuasai oleh pasukan pro-Letkol Untung, yang digunakan untuk menyiarkan pengumuman "Dewan Revolusi" dan memaksa masyarakat tunduk pada gerakan tersebut.

2. Perintah: Soeharto memerintahkan Sarwo Edhie untuk merebut RRI dan kantor telekomunikasi tanpa pertumpahan darah yang besar (tanpa merusak gedung).

3. Tindakan 20 Menit:

* Pasukan RPKAD di bawah komando Kolonel Sarwo Edhie bergerak cepat menuju lokasi.

* Pasukan RPKAD melakukan pengepungan dan memberikan ultimatum kepada anggota pasukan G30S/PKI yang menguasai gedung.

* Karena kepiawaian taktis dan gertakan mental, pasukan lawan menyerah.

* RPKAD berhasil mengambil alih RRI kembali ke pangkuan TNI AD. Proses penguasaan ini dilaporkan berlangsung cepat, sekitar 20 menit.

4. Dampak: Setelah RRI dikuasai, RPKAD menyiarkan pengumuman bahwa Jakarta telah dikendalikan kembali oleh TNI AD, yang mematahkan propaganda G30S/PKI. 

F. Akhir Hayat dan Keluarga

1. Wafat: Sarwo Edhie meninggal dunia pada 9 November 1989 akibat sakit dan dimakamkan di Purworejo.

2. Keluarga yang Ditinggalkan: Ia meninggalkan istri dan anak-anaknya. Putri pertamanya, Ani Yudhoyono, menikah dengan SBY, menjadikan Sarwo Edhie kakek dari AHY. Putranya, Pramono Edhie Wibowo, juga merupakan seorang Jenderal TNI (mantan KSAD). 

G. Warisan untuk Bangsa Indonesia

1. Pahlawan Nasional: Diakui secara resmi atas jasa-jasanya dalam mempertahankan Pancasila dan menumpas G30S/PKI.

2. Penegak Nilai Pancasila: Dikenal sebagai prajurit yang tegas dan loyal, berani mengambil keputusan dalam situasi krisis demi keutuhan NKRI.

3. Pendidikan Prajurit: Dikenal sebagai Komandan RPKAD yang membentuk disiplin dan kemampuan tinggi pada pasukan khusus.

4. Trah Kemiliteran: Mewariskan nilai-nilai keprajuritan yang diteruskan oleh generasi berikutnya di TNI (AHY dan mendiang Pramono Edhie Wibowo).



RISALAH PAHLAWAN NASIONAL

JENDERAL TNI (PURN.) SARWO EDHIE WIBOWO

Komandan RPKAD dan Tokoh Penumpasan G30S/PKI


BIODATA SINGKAT

Nama: Sarwo Edhie Wibowo

Lahir:
Purworejo
25 Juli 1925

Wafat:
Jakarta
9 November 1989 (usia 62 tahun)

Dimakamkan:
Purworejo

Jabatan Penting:

  • Komandan Resimen Para Komando Angkatan Darat (1964–1967)
  • Pangdam XVII/Cenderawasih
  • Duta Besar RI untuk Korea Selatan
  • Gubernur Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia

Keluarga:

  • Ayah dari Ani Yudhoyono
  • Ayah dari Pramono Edhie Wibowo

Gelar:
Pahlawan Nasional (ditetapkan 10 November 2025)


A. RIWAYAT SINGKAT

Sarwo Edhie Wibowo (1925–1989) adalah tokoh militer Indonesia yang dikenal sebagai Komandan RPKAD dan salah satu figur penting dalam penumpasan Gerakan 30 September 1965.

Ia dikenal sebagai perwira tegas, disiplin, dan berani dalam operasi militer. Perannya dalam mengamankan Jakarta dan Jawa Tengah setelah peristiwa G30S menjadikannya salah satu tokoh penting dalam sejarah militer Indonesia.


B. PERJUANGAN DAN KARIER MILITER

1. Masa Awal dan Perjuangan Kemerdekaan

Karier militer Sarwo Edhie dimulai pada masa pendudukan Jepang.

Ia mengikuti pelatihan militer di Pembela Tanah Air, sebuah organisasi militer yang dibentuk Jepang tetapi kemudian menjadi cikal bakal kekuatan militer Indonesia.

Setelah kemerdekaan Indonesia tahun 1945, ia bergabung dengan:

  • Tentara Keamanan Rakyat
  • Badan Keamanan Rakyat (BKR)

Ia turut berjuang melawan agresi Belanda yang ingin kembali menguasai Indonesia.


2. Komandan RPKAD (1964–1967)

Pada tahun 1964, Sarwo Edhie diangkat menjadi Komandan RPKAD oleh Panglima TNI AD:

Ahmad Yani

Sebagai komandan, ia membentuk karakter pasukan khusus yang disiplin, profesional, dan memiliki kemampuan tempur tinggi.

RPKAD kemudian berkembang menjadi satuan elite yang sekarang dikenal sebagai:

Komando Pasukan Khusus


3. Penumpasan G30S/PKI (1965)

Peran Sarwo Edhie paling terkenal terjadi setelah peristiwa Gerakan 30 September 1965.

Sebagai Komandan RPKAD, ia memimpin operasi untuk:

  • mengamankan Jakarta
  • merebut objek vital
  • menumpas simpatisan Partai Komunis Indonesia

Ia memimpin operasi militer di Jakarta, Jawa Tengah, dan Jawa Timur untuk memulihkan stabilitas nasional.


C. AKSI HEROIK MEREBUT RRI (20 MENIT)

Salah satu operasi paling terkenal yang dipimpin Sarwo Edhie terjadi pada 1 Oktober 1965.

Pasukan pro-G30S menguasai gedung:

Radio Republik Indonesia

yang digunakan untuk menyiarkan propaganda “Dewan Revolusi”.


Jalannya Operasi

  1. Panglima Kostrad Soeharto memerintahkan Sarwo Edhie untuk merebut kembali RRI.

  2. Pasukan RPKAD bergerak cepat mengepung gedung RRI.

  3. Mereka memberikan ultimatum kepada pasukan yang menduduki gedung.

  4. Tanpa pertempuran besar, pasukan lawan menyerah.

Seluruh operasi dilaporkan selesai hanya dalam sekitar 20 menit.


Dampak

Setelah RRI dikuasai, TNI AD menyiarkan pengumuman bahwa Jakarta telah kembali berada di bawah kendali pemerintah.

Hal ini mematahkan propaganda G30S.


D. KARIER PASCA-1965

Setelah peristiwa 1965, Sarwo Edhie menjalani berbagai jabatan penting.

1. Pangdam XVII/Cenderawasih

Ia ditugaskan memimpin wilayah militer di Papua.

Di sana ia terlibat dalam operasi pengamanan menjelang:

Penentuan Pendapat Rakyat 1969

yang menentukan integrasi Papua ke Indonesia.


2. Diplomat

Ia kemudian diangkat menjadi:

Duta Besar Republik Indonesia untuk Korea Selatan

dan menjalankan tugas diplomatik bagi Indonesia.


3. Gubernur AKABRI

Sarwo Edhie juga menjabat sebagai Gubernur AKABRI, tempat pendidikan calon perwira TNI dan Polri.

Di sana ia mendidik generasi baru perwira militer Indonesia.


E. AKHIR HAYAT DAN KELUARGA

Sarwo Edhie Wibowo wafat pada:

9 November 1989 di Jakarta

Jenazahnya dimakamkan di kampung halamannya di Purworejo, Jawa Tengah.

Ia meninggalkan keluarga besar yang juga dikenal dalam dunia militer dan politik.

Putrinya Ani Yudhoyono menikah dengan Presiden RI ke-6:

Susilo Bambang Yudhoyono

Sementara putranya Pramono Edhie Wibowo menjadi Jenderal TNI dan pernah menjabat KSAD.


F. WARISAN UNTUK INDONESIA

Sarwo Edhie dikenang sebagai:

  • tokoh militer penting dalam sejarah TNI
  • komandan legendaris pasukan khusus
  • perwira yang berperan dalam menjaga stabilitas nasional

Pada 10 November 2025, pemerintah Indonesia secara resmi menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional atas jasa-jasanya.




21 SUK

Buatlah Risalah dan Infografis tentang Pahlawan :

Cut Nyak Dhien.

Lahir di Lampadang, Kerajaan Aceh, 1848.

Meninggal di Sumedang, Jawa Barat, 6 November 1908.

Julukan: Srikandi Aceh, Ratu Aceh, Ibu Perbu (saat diasingkan).

Orang Tua: Teuku Nanta Seutia (ayah, seorang Uleebalang).

Suami: Teuku Cek Ibrahim Lamnga (gugur 1878), Teuku Umar (menikah 1880, gugur 1899).

Penetapan Pahlawan: 2 Mei 1964 (Kepres No. 106 Tahun 1964). 


A. Cut Nyak Dhien (1848–1908) adalah pahlawan nasional wanita tangguh dari Aceh yang memimpin gerilya melawan Belanda. Lahir dari keluarga bangsawan agamis di Lampadang, ia bersumpah menghancurkan Belanda setelah suami pertamanya, Teuku Cek Ibrahim Lamnga, gugur. Bersama suami kedua, Teuku Umar, ia melanjutkan perlawanan gigih hingga wafat di pengasingan Sumedang. 

B. Perjuangan Cut Nyak Dhien:

1. Awal Perlawanan (1873-1878): Membakar semangat rakyat Aceh melawan Belanda setelah Perang Aceh pecah. Ia berjuang setelah suaminya, Ibrahim Lamnga, gugur di Gle Tarum pada 29 Juni 1878.

2. Strategi Bersama Teuku Umar (1880-1899): Menikah dengan Teuku Umar dan memimpin gerilya. Teuku Umar sempat pura-pura tunduk pada Belanda untuk mendapatkan senjata, namun kembali melawan dengan persenjataan lengkap.

3. Gerilya Sendiri (1899-1901): Setelah Teuku Umar gugur di Meulaboh, Cut Nyak Dhien memimpin pasukan kecil di pedalaman Meulaboh. Meski menderita encok dan rabun di usia senja, ia menolak menyerah.

4. Penangkapan dan Pengasingan: Ditangkap pada 1901 akibat laporan salah satu pasukannya, Pang Laot, yang iba dengan kondisinya. Ia diasingkan ke Sumedang, Jawa Barat, dan dikenal sebagai sosok yang religius (hafidzah) sebelum wafat. 

5. Cut Nyak Dhien merupakan simbol keteguhan hati, patriotisme, dan keberanian perempuan dalam membela tanah air melawan penjajahan. 

C. Perjuangan dan Alasan Melawan Belanda:

1. Alasan: Dendam atas kematian suami pertamanya, Ibrahim Lamnga, serta semangat menegakkan agama Islam dan membebaskan tanah Aceh dari penjajahan Belanda.

2. Awal Perjuangan: Mulai aktif memimpin perlawanan gerilya sejak suaminya gugur pada tahun 1878. Ia terus bergerilya meskipun dalam keadaan sakit dan rabun di usia lanjut.

3. Strategi: Bersama suami kedua, Teuku Umar, ia menggunakan taktik pura-pura tunduk pada Belanda untuk mendapatkan senjata, sebelum akhirnya menyerang balik.

D. Penangkapan:

Cut Nyak Dhien ditangkap pada tahun 1901 (beberapa sumber menyebutkan 1905 atau 1907 sebagai masa pengasingan/akhir perjuangan). Ia ditangkap oleh Belanda karena pengkhianatan orang dekatnya, Pang Laot, yang tidak tega melihat kondisi fisik Cut Nyak Dhien yang sakit-sakitan dan renta di hutan. Belanda yang menangkapnya saat itu di bawah pimpinan Jenderal Van Heutsz. 

Ia diasingkan ke Sumedang, Jawa Barat, dan di sana ia dikenal sebagai "Ibu Perbu" karena mengajarkan agama Islam hingga wafatnya pada 6 November 1908.

Pemelihara Makam:

Makam Cut Nyak Dhien di Gunung Puyuh, Sumedang, dipelihara oleh pemerintah daerah Sumedang dan warga setempat. Identitasnya sebagai "Ibu Perbu" (Ibu Suci) baru terungkap lama setelah wafatnya. 

E. Kegiatan di Sumedang Usai Ditangkap

Setelah ditangkap, Belanda takut kehadirannya akan terus memicu perlawanan rakyat Aceh, sehingga ia diasingkan ke Sumedang, Jawa Barat, pada tahun 1907. Di Sumedang: 

1. Ia ditempatkan di rumah Bupati Sumedang, Pangeran Aria Suriaatmadja.

2. Dikenal sebagai "Ibu Perbu" atau "Ibu Suci" karena pengetahuannya yang dalam tentang agama Islam dan ketegarannya.

3. Mengajar mengaji dan baca tulis Al-Qur'an kepada penduduk setempat, meskipun dalam kondisi pengasingan dan rabun. 

F. Akhir Hayat: 

1. Wafat pada 6 November 1908 di Sumedang dan dimakamkan di Gunung Puyuh, Sumedang.  Makam: Makamnya dipelihara oleh warga lokal dan pemerintah daerah Sumedang, yang menjadi situs ziarah.

2. Keluarga: Ia memiliki anak bernama Cut Gambang dari pernikahan pertamanya, yang juga gigih melanjutkan perjuangan.



RISALAH PAHLAWAN NASIONAL

CUT NYAK DHIEN

Srikandi Aceh Pejuang Kemerdekaan


BIODATA SINGKAT

Nama: Cut Nyak Dhien

Lahir:
Lampadang, Kerajaan Aceh, 1848

Wafat:
Sumedang, 6 November 1908

Julukan:

  • Srikandi Aceh
  • Ratu Aceh
  • Ibu Perbu (saat di pengasingan)

Orang Tua:
Teuku Nanta Seutia (ayah, seorang uleebalang)

Suami:

  • Teuku Cek Ibrahim Lamnga (gugur 1878)
  • Teuku Umar (gugur 1899)

Penetapan Pahlawan Nasional:
2 Mei 1964 melalui Kepres No. 106 Tahun 1964


A. RIWAYAT SINGKAT

Cut Nyak Dhien (1848–1908) adalah pahlawan nasional perempuan dari Aceh yang memimpin perlawanan gerilya melawan Belanda dalam Aceh War.

Ia lahir dari keluarga bangsawan yang religius di Lampadang. Setelah suami pertamanya gugur dalam perang melawan Belanda, ia bersumpah akan terus berjuang hingga penjajah diusir dari tanah Aceh.

Bersama suami keduanya, Teuku Umar, ia memimpin perlawanan sengit melalui strategi gerilya di pedalaman Aceh hingga akhirnya ditangkap dan diasingkan ke Sumedang.


B. PERJUANGAN CUT NYAK DHIEN

1. Awal Perlawanan (1873–1878)

Ketika Perang Aceh meletus pada tahun 1873, Cut Nyak Dhien mulai aktif membakar semangat rakyat Aceh untuk melawan penjajah Belanda.

Pada 29 Juni 1878, suaminya Teuku Cek Ibrahim Lamnga gugur dalam pertempuran di Gle Tarum. Peristiwa ini membuat Cut Nyak Dhien bersumpah untuk melanjutkan perjuangan melawan Belanda.


2. Strategi Bersama Teuku Umar (1880–1899)

Pada tahun 1880, Cut Nyak Dhien menikah dengan Teuku Umar.

Mereka menggunakan strategi yang cerdik:

Teuku Umar berpura-pura bekerja sama dengan Belanda untuk mendapatkan senjata dan perlengkapan militer.

Setelah memperoleh persenjataan lengkap, ia kembali ke pihak Aceh dan menyerang Belanda dengan kekuatan yang lebih besar.

Strategi ini membuat pasukan Aceh kembali kuat dalam melawan penjajah.


3. Gerilya Sendiri (1899–1901)

Pada tahun 1899, Teuku Umar gugur dalam pertempuran di Meulaboh.

Setelah itu Cut Nyak Dhien tetap melanjutkan perjuangan dengan memimpin pasukan kecil di pedalaman Aceh.

Walaupun pada usia tua ia menderita penyakit encok dan penglihatannya mulai rabun, ia tetap menolak menyerah kepada Belanda.


4. Penangkapan dan Pengasingan

Pada tahun 1901, Cut Nyak Dhien akhirnya tertangkap oleh Belanda.

Penangkapan ini terjadi setelah salah satu pasukannya, Pang Laot, melaporkan keberadaannya karena tidak tega melihat kondisi Cut Nyak Dhien yang semakin sakit dan lemah.

Penangkapan tersebut dipimpin oleh pasukan Belanda di bawah komando J. B. van Heutsz.


C. ALASAN MELAWAN BELANDA

Perjuangan Cut Nyak Dhien didorong oleh beberapa hal:

  1. Dendam atas gugurnya suami pertamanya, Teuku Cek Ibrahim Lamnga.
  2. Semangat membela agama Islam.
  3. Keinginan membebaskan tanah Aceh dari penjajahan Belanda.

Ia tetap memimpin perlawanan gerilya meskipun dalam keadaan sakit dan usia lanjut.


D. KEGIATAN DI SUMEDANG SETELAH DIASINGKAN

Setelah ditangkap, Belanda khawatir kehadirannya akan terus membangkitkan perlawanan rakyat Aceh.

Karena itu ia diasingkan ke Sumedang.

Di sana:

  1. Ia ditempatkan di rumah Bupati Sumedang
    Pangeran Aria Suriaatmadja

  2. Ia dikenal dengan julukan “Ibu Perbu” atau “Ibu Suci” karena kesalehan dan keteguhannya.

  3. Ia mengajarkan agama Islam serta mengajari masyarakat membaca Al-Qur'an.

Walaupun berada dalam pengasingan dan kondisi rabun, ia tetap mengabdikan diri kepada masyarakat.


E. AKHIR HAYAT

Cut Nyak Dhien wafat pada:

6 November 1908
di Sumedang, Jawa Barat

Ia dimakamkan di:

Makam Cut Nyak Dhien Gunung Puyuh

Makam tersebut kini dipelihara oleh pemerintah daerah Sumedang dan masyarakat setempat serta menjadi tempat ziarah sejarah.


F. WARISAN PERJUANGAN

Cut Nyak Dhien dikenang sebagai:

  • simbol keberanian perempuan Indonesia
  • pejuang kemerdekaan Aceh
  • teladan keteguhan iman dan patriotisme

Semangatnya menginspirasi banyak perempuan Indonesia untuk berani memperjuangkan keadilan dan kemerdekaan.




56 SUH

Buatlah Risalah dan Infografis tentang Pahlawan :

Martha Christina Tiahahu.

Lahir di Desa Abubu, Pulau Nusalaut, Maluku Tengah, 4 Januari 1800.

Meninggal di Laut Banda, Maluku, 2 Januari 1818 (usia 17 tahun).

Orang Tua: Kapitan Paulus Tiahahu (ayah).

Julukan: "Mutiara dari Nusa Laut".

Kematian: Gugur di atas kapal perang Evertsen setelah mogok makan dan menolak pengobatan saat hendak diasingkan ke Pulau Jawa. 

Penghargaan: Pahlawan Nasional (SK Presiden No. 012/TK/Tahun 1969).


A. Martha Christina Tiahahu (1800–1818) adalah pahlawan nasional wanita dari Maluku yang gigih melawan Belanda sejak usia 17 tahun. Lahir di Abubu, Nusa Laut, ia adalah putri dari Kapitan Paulus Tiahahu dan mendampingi ayahnya dalam Perang Pattimura (1817). Dikenal berani, ia wafat pada 2 Januari 1818 di Laut Banda setelah mogok makan saat ditawan. 

B. Perjuangan Martha Christina Tiahahu

1. Pejuang Remaja: Sejak usia 17 tahun, ia aktif mendampingi ayahnya, Kapitan Paulus Tiahahu, dalam Perang Pattimura melawan kolonial Belanda.

2. Medan Tempur: Martha dikenal pemberani, ikut bertempur di Pulau Saparua dan membantu mengatur strategi bersama Kapitan Pattimura.

3. Serangan Benteng: Ia terlibat dalam pertempuran di desa Ouw dan Ulath, serta ikut serta dalam perlawanan merebut Benteng Duurstede dan Benteng Beverwijk.

4. Penangkapan dan Pengasingan: Setelah ayahnya tertangkap dan dieksekusi oleh Belanda, Martha ditangkap pada Desember 1817 dalam operasi pembersihan. Ia diasingkan ke Pulau Jawa dengan kapal Eversten.

5. Gugur sebagai Patriot: Selama di atas kapal, Martha melakukan aksi mogok makan dan menolak pengobatan Belanda. Ia wafat pada 2 Januari 1818 dan jenazahnya dilarung di Laut Banda.

C. Mengapa Melawan Belanda?

Martha dan rakyat Maluku melawan karena penjajahan Belanda yang kejam, meliputi: 

1. Kerja Paksa: Rakyat dipaksa bekerja untuk kepentingan Belanda.

2. Monopoli Perdagangan: Belanda menguasai rempah-rempah Maluku.

3. Penyerahan Wajib: Kewajiban menyerahkan hasil bumi (kopi, dendeng, ikan asin) kepada Belanda.

4. Tindakan Sewenang-wenang: Penindasan dan kekejaman Belanda terhadap penduduk lokal. 

C. Hubungan dengan Patimura :

1. Satu Pasukan: Martha Christina Tiahahu (17 tahun) adalah pejuang perempuan tangguh yang ikut bertempur dalam pasukan yang dipimpin oleh Kapitan Pattimura.

2. Kawan Seperjuangan: Ia adalah anak dari Paulus Tiahahu, yang merupakan salah satu kapitan pembantu yang ditugaskan Pattimura mengatur pertahanan di Nusalaut.

3. Semangat yang Sama: Martha sering mendampingi Pattimura dalam perang gerilya, melawan dengan parang dan tombak, serta menginspirasi perempuan Maluku untuk ikut berjuang.

D. Martha Christina Tiahahu adalah simbol pejuang wanita termuda dari Maluku yang gigih melawan penjajahan Belanda pada periode yang sama (1817). 

1. Penangkapan dan Waktu: Martha Christina Tiahahu tidak tertangkap bersamaan dengan Pattimura.

2. Pattimura tertangkap lebih dulu (November 1817) dan dieksekusi 16 Desember 1817. Martha terus bergerilya setelah ayahnya dieksekusi Belanda, lalu tertangkap kemudian dalam operasi pembersihan Belanda pada Desember 1817.

3. Nasib Martha: Martha Christina Tiahahu ditangkap dan diasingkan ke Pulau Jawa. Selama perjalanan, ia mogok makan dan pengobatan, lalu meninggal dunia pada 2 Januari 1818.

4. Jenazahnya disemayamkan dengan penghormatan militer dan dibuang ke Laut Banda.

5. Ayah Martha Christina Tiahahu: Ayah Martha bernama Kapitan Paulus Tiahahu. Ia ditangkap oleh Belanda dan dieksekusi mati dengan cara tembak (bukan gantung) di Nusalaut pada November 1817.

6. Tempat Pembuangan Jenazah: Martha Christina Tiahahu meninggal di atas kapal perang Eversten saat hendak diasingkan ke Pulau Jawa. Jenazahnya disemayamkan dengan penghormatan militer dan dibuang ke Laut Banda pada 2 Januari 1818.

E. Penangkapan: Martha Christina Tiahahu ditangkap oleh tentara Belanda sebanyak dua kali.

1. Penangkapan Pertama: Terjadi dalam operasi pembersihan Belanda pada tahun 1817. Ia sempat dibebaskan karena usianya yang masih sangat muda.

2. Penangkapan Kedua (Final): Setelah ayahnya dieksekusi, Martha kembali bergerilya, tertangkap lagi, dan kali ini dibawa dengan kapal Eversten untuk diasingkan ke Jawa.

F. Siapa yang Menangkap?

1. Pasukan Komandan Vermeulen Kringer dan Laksamana Buyskes.

2. Akhir Hayat: Martha jatuh sakit saat akan dibuang ke Pulau Jawa untuk kerja paksa di perkebunan kopi. Ia menolak makan dan obat-obatan dari Belanda sebagai bentuk protes terakhir. Ia wafat pada 2 Januari 1818 di atas kapal Eversten dan jasadnya dilarung di Laut Banda.

3. Keluarga: Martha kehilangan ayahnya yang dieksekusi mati oleh Belanda di depan matanya sendiri sebelum ia dibuang ke Jawa.

G. Warisan Sejarah

Pemerintah mengabadikan namanya dalam berbagai bentuk, termasuk patung monumen di Karang Panjang, Kota Ambon, dan monumen di desanya, Abubu.



RISALAH NASIONAL

MARTHA CHRISTINA TIAHAHU

Nama: Martha Christina Tiahahu
Lahir: Desa Abubu, Pulau Nusalaut, Maluku Tengah – 4 Januari 1800
Wafat: Laut Banda, Maluku – 2 Januari 1818 (usia 17 tahun)

Orang Tua: Kapitan Paulus Tiahahu (ayah)
Julukan: “Mutiara dari Nusa Laut”

Kematian:
Gugur di atas kapal perang Evertsen setelah melakukan mogok makan dan menolak pengobatan saat hendak diasingkan ke Pulau Jawa oleh Belanda.

Penghargaan:
Pahlawan Nasional Indonesia (SK Presiden No. 012/TK/Tahun 1969)


A. Profil Singkat

Martha Christina Tiahahu (1800–1818) adalah pahlawan nasional wanita dari Maluku yang terkenal karena keberaniannya melawan penjajahan Belanda pada usia yang sangat muda.

Ia adalah putri dari Kapitan Paulus Tiahahu, salah satu pemimpin perlawanan rakyat Maluku dalam Perang Pattimura 1817.
Sejak usia 17 tahun ia sudah ikut berjuang bersama ayahnya di medan perang.


B. Perjuangan Martha Christina Tiahahu

1. Pejuang Remaja

Pada usia 17 tahun, Martha aktif mendampingi ayahnya dalam perjuangan melawan Belanda dalam Perang Pattimura.

2. Medan Tempur

Ia ikut bertempur di wilayah Pulau Saparua dan membantu menyusun strategi bersama pemimpin perlawanan Maluku yaitu Thomas Matulessy (Kapitan Pattimura).

3. Serangan Benteng

Martha ikut serta dalam pertempuran di desa Ouw dan Ulath serta dalam upaya merebut:

  • Benteng Duurstede
  • Benteng Beverwijk

4. Penangkapan dan Pengasingan

Setelah ayahnya tertangkap dan dieksekusi oleh Belanda, Martha ditangkap dalam operasi militer Belanda pada Desember 1817.
Ia kemudian dibawa dengan kapal perang Evertsen untuk diasingkan ke Pulau Jawa.

5. Gugur sebagai Patriot

Selama perjalanan menuju pengasingan, Martha melakukan aksi mogok makan dan menolak pengobatan dari Belanda.
Ia wafat pada 2 Januari 1818 di Laut Banda, dan jasadnya dilarung ke laut.


C. Mengapa Melawan Belanda?

Rakyat Maluku melakukan perlawanan karena berbagai penindasan kolonial Belanda, antara lain:

  1. Kerja Paksa
    Rakyat dipaksa bekerja untuk kepentingan Belanda.

  2. Monopoli Rempah-rempah
    Belanda menguasai seluruh perdagangan rempah di Maluku.

  3. Penyerahan Wajib
    Rakyat diwajibkan menyerahkan hasil bumi kepada Belanda.

  4. Penindasan dan Kekerasan
    Banyak tindakan sewenang-wenang terhadap rakyat Maluku.


D. Hubungan dengan Pattimura

  • Martha merupakan pejuang perempuan yang bertempur dalam pasukan yang dipimpin Thomas Matulessy (Kapitan Pattimura).
  • Ayahnya, Kapitan Paulus Tiahahu, adalah salah satu kapitan yang membantu mengatur pertahanan wilayah Nusalaut.
  • Martha sering ikut dalam strategi perang gerilya melawan Belanda.

E. Penangkapan

Martha Christina Tiahahu ditangkap dua kali oleh Belanda.

Penangkapan pertama

Ia sempat ditangkap pada tahun 1817 tetapi dilepaskan karena masih sangat muda.

Penangkapan kedua

Setelah ayahnya dieksekusi, Martha kembali melawan Belanda sehingga akhirnya ditangkap lagi dan dibawa ke kapal Evertsen untuk diasingkan.


F. Siapa yang Menangkap?

Pasukan Belanda yang melakukan operasi penangkapan dipimpin oleh:

  • Komandan Vermeulen Kringer
  • Laksamana Buyskes

Martha wafat di atas kapal saat menuju pengasingan.


G. Warisan Sejarah

Nama Martha Christina Tiahahu diabadikan dalam berbagai bentuk penghormatan, antara lain:

  • Patung pahlawan di Ambon
  • Monumen di Desa Abubu, Pulau Nusalaut
  • Nama jalan, sekolah, dan institusi pendidikan di Indonesia

Nilai Keteladanan

✔ Keberanian melawan penjajahan
✔ Semangat pantang menyerah
✔ Patriotisme sejak usia muda
✔ Pengorbanan demi kemerdekaan bangsa




59 SUH

Buatlah Risalah dan Infografis tentang Pahlawan :

Sultan Ageng Tirtayasa 

Nama Asli: Abdul Fatah (Abu al-Fath Abdulfattah).

Lahir di Banten, 1631.

Meninggal di Batavia, 1692.

Gelar: Pangeran Surya (kecil), Pangeran Dipati (Sultan Muda), Sultan Banten ke-6.

Orang Tua: Sultan Abdul Maali Ahmad (ayah) dan Ratu Martakusuma (ibu).

Keturunan: Sunan Gunung Jati. 


A. Sultan Ageng Tirtayasa (1631–1692) adalah Sultan Banten ke-6 (1651-1683) bergelar Abdul Fatah yang gigih melawan monopoli VOC Belanda. Ia memimpin puncak kejayaan Banten, membangun armada laut kuat, dan memajukan pertanian melalui sistem irigasi. Ia dianugerahi gelar Pahlawan Nasional pada 1 Agustus 1970. 

B. Perjuangan Sultan Ageng Tirtayasa

1. Anti-Monopoli VOC: Sultan Ageng Tirtayasa dengan tegas menolak perjanjian monopoli VOC Belanda yang merugikan perdagangan Banten.

2. Gerilya Laut dan Darat: Ia melancarkan taktik perang gerilya, menyabotase kapal-kapal kompeni, dan menyerang markas Belanda di Batavia.

3. Modernisasi Banten: Ia membangun armada laut yang kuat untuk melindungi perdagangan Banten di wilayah Sumatera dan Kalimantan. Ia juga membangun sistem irigasi untuk meningkatkan hasil pertanian.

4. Kejayaan Ekonomi & Pendidikan: Di masa pemerintahannya, Banten menjadi pusat perdagangan internasional yang maju. Ia juga menggalakkan pendidikan agama melalui pondok pesantren.

5. Perlawanan Akhir: Konflik internal dengan anaknya sendiri, Sultan Haji, yang bersekutu dengan Belanda (politik devide et impera), menyebabkan Sultan Ageng Tirtayasa tertangkap pada 1683 dan wafat sebagai tawanan di Batavia. Sultan Ageng Tirtayasa dimakamkan di Komplek Pemakaman Raja-raja Banten, dekat Masjid Agung Banten. 

C. Terbentuknya Kerajaan Banten hingga Sultan Ageng Tirtayasa 

1. Awal Mula (Abad ke-16): Banten awalnya adalah bagian dari Kerajaan Pajajaran, namun berhasil diislamkan oleh Sunan Gunung Jati.

2. Pendirian: Sultan Maulana Hasanuddin (putra Sunan Gunung Jati) dinobatkan menjadi sultan pertama pada 1526, menandai berdirinya Kesultanan Banten dan keraton Surosowan.

3. Perkembangan: Banten berkembang pesat menjadi pusat perdagangan lada internasional.

4. Puncak Kejayaan: Sultan Ageng Tirtayasa naik takhta pada 1651 menggantikan kakeknya, membawa Banten ke puncak kejayaan ekonomi dan politik sebelum akhirnya melemah akibat adu domba internal (perang saudara antara Sultan Ageng dan Sultan Haji) yang dimanfaatkan VOC. 

D. Mengapa Melawan VOC Belanda?

1. Sultan Ageng Tirtayasa melawan VOC karena alasan berikut:

2. Monopoli Dagang VOC: VOC memaksakan perjanjian monopoli perdagangan rempah-rempah, khususnya lada, yang merugikan pedagang Banten dan pedagang asing lainnya.

3. Menjadikan Banten Pelabuhan Terbuka: Sultan Ageng menolak monopoli tersebut dan menegaskan Banten sebagai pelabuhan bebas/terbuka, yang menjadi saingan berat bagi VOC di Batavia.

4. Adu Domba (Devide et Impera): VOC ikut campur dalam konflik internal antara Sultan Ageng dan anaknya, Sultan Haji, yang membuat Sultan Ageng ditangkap pada 1683. 

E. Siasat Belanda Menangkap Sultan Ageng Tirtayasa

1. Politik Devide et Impera (Adu Domba): VOC memanfaatkan konflik internal antara Sultan Ageng dan putranya, Sultan Haji (Pangeran Abdul Kahar), yang cenderung ingin berdamai dengan Belanda.

2. Persekutuan dengan Sultan Haji: Belanda membantu Sultan Haji merebut takhta, memaksa Sultan Ageng mundur ke pedalaman (Tirtayasa).

3. Penangkapan: Setelah Sultan Ageng mengepung pasukan Sultan Haji dan VOC di Sorosowan, Belanda mengirim bantuan pasukan besar dipimpin Kapten Tack dan Saint-Martin. Akibat terkepung dan terjepit, Sultan Ageng Tirtayasa akhirnya ditangkap pada 1683 dan dipenjara di Batavia hingga wafat.

F. Akhir Hayat dan Keluarga

1. Wafat: Sultan Ageng Tirtayasa dipenjara di Batavia hingga wafat pada tahun 1692.

2. Makam: Dimakamkan di Komplek Pemakaman Raja-raja Banten (Sultan Maulana Hasanuddin), Serang.

3. Keluarga: Perlawanan dilanjutkan oleh pengikutnya dan putranya yang lain, seperti Pangeran Purbaya dan Pangeran Kulon, setelah Sultan Haji tunduk di bawah kontrol VOC.



RISALAH PAHLAWAN NASIONAL

SULTAN AGENG TIRTAYASA

Sultan Banten ke-6 – Melawan Monopoli VOC (1651–1683)

IDENTITAS TOKOH

  • Nama Asli: Abdul Fatah (Abu al-Fath Abdulfattah)
  • Lahir: Banten, 1631
  • Wafat: Batavia, 1692
  • Gelar: Pangeran Surya (kecil), Pangeran Dipati (Sultan Muda), Sultan Banten ke-6
  • Orang Tua: Sultan Abdul Maali Ahmad dan Ratu Martakusuma
  • Keturunan: Sunan Gunung Jati
  • Gelar Pahlawan Nasional: 1 Agustus 1970

A. PROFIL SINGKAT

Sultan Ageng Tirtayasa (1631–1692) adalah Sultan Banten ke-6 yang memimpin pada masa kejayaan Banten (1651–1683). Ia dikenal sebagai pemimpin yang tegas menentang monopoli perdagangan VOC Belanda.
Di masa pemerintahannya, Banten berkembang menjadi pusat perdagangan internasional yang maju serta memiliki armada laut yang kuat.


B. PERJUANGAN SULTAN AGENG TIRTAYASA

1. Anti Monopoli VOC

Sultan Ageng menolak perjanjian monopoli VOC, khususnya perdagangan lada yang merugikan pedagang Banten.

2. Gerilya Laut dan Darat

Ia melancarkan perang gerilya dengan menyerang kapal-kapal VOC dan markas Belanda di Batavia.

3. Modernisasi Banten

Sultan Ageng membangun armada laut yang kuat serta mengembangkan sistem irigasi untuk meningkatkan hasil pertanian.

4. Kejayaan Ekonomi dan Pendidikan

Banten menjadi pusat perdagangan internasional dan pusat pendidikan Islam melalui pesantren.


C. SEJARAH KESULTANAN BANTEN

1. Awal Mula

Banten awalnya wilayah Kerajaan Pajajaran yang kemudian diislamkan oleh Sunan Gunung Jati.

2. Pendirian Kesultanan

Sultan Maulana Hasanuddin dinobatkan sebagai Sultan Banten pertama pada 1526.

3. Puncak Kejayaan

Sultan Ageng Tirtayasa membawa Banten ke masa kejayaan ekonomi dan politik.


D. MENGAPA MELAWAN VOC BELANDA?

1. Monopoli Dagang

VOC memaksakan monopoli perdagangan lada yang merugikan Banten.

2. Pelabuhan Terbuka

Sultan Ageng menjadikan Banten sebagai pelabuhan bebas yang terbuka bagi pedagang dunia.

3. Adu Domba

VOC memanfaatkan konflik antara Sultan Ageng dan putranya Sultan Haji.


E. AKHIR HAYAT DAN WARISAN

  • Sultan Ageng Tirtayasa ditangkap oleh Belanda pada 1683.
  • Ia dipenjara di Batavia hingga wafat pada 1692.
  • Dimakamkan di Komplek Pemakaman Raja-raja Banten, dekat Masjid Agung Banten.

Perjuangan Sultan Ageng Tirtayasa dikenang sebagai simbol perlawanan terhadap kolonialisme dan perjuangan mempertahankan kedaulatan perdagangan Nusantara.


Jika kamu mau, saya juga bisa membuat versi infografis hitam-putih klasik yang lebih rapi (seperti poster sejarah museum) dengan:

  • tulisan lebih jelas
  • struktur seperti buku pelajaran sejarah
  • gambar tokoh lebih realistis.

85 SUH

Buatlah Risalah dan Infografis tentang Pahlawan :

Untung Surapati 

Nama Asli: Surawiraaji.

Lahir di Bali, 1660.

Meninggal di Bangil, Pasuruan, Jawa Timur, 17 Oktober 1706.

Asal: Diyakini berasal dari Bali, bahkan beberapa literatur menyebutkan ia keturunan bangsawan yang yatim piatu.

Julukan: "Si Untung" (dianggap membawa keberuntungan bagi majikan VOC-nya, Moor).

Gelar: Tumenggung Wiranegara (Bupati Pasuruan). 

Untung Surapati dikukuhkan sebagai Pahlawan Nasional pada 3 November 1975 melalui SK Presiden No. 106/TK/1975. 


A. Untung Surapati (1660–1706) adalah pahlawan nasional asal Bali bernama asli Surawiraaji yang berjuang melawan VOC. Diambil sebagai budak di Batavia, ia melarikan diri, menjadi perwira VOC, lalu memberontak dan membangun kerajaan di Pasuruan sebagai Adipati Aria Wiranegara. Ia gugur setelah bertempur melawan VOC di Bangil pada 1706. 

B. Perjuangan dan Kisah Hidup

1. Masa Budak & Pelarian: Surawiraaji kecil dijual kepada perwira VOC bernama Moor di Batavia. Karena jatuh cinta dengan putri Moor, Suzane, ia dipenjara. Ia berhasil kabur bersama tahanan lain dan menjadi buronan VOC.

2. Menjadi Perwira VOC & Berbalik Arah: Karena keahliannya, VOC menawarkan pengampunan dan menjadikannya letnan. Ia ditugaskan menjemput Pangeran Purbaya (Banten). Melihat kekejaman VOC terhadap Pangeran Purbaya, Untung berbalik melawan VOC di Sungai Cikalong (1684).

3. Membunuh Kapten Tack: Pada 1686, ia merencanakan serangan di Kartasura dan berhasil membunuh Kapten Francois Tack, perwira tinggi Belanda, yang membuat namanya semakin legendaris.

4. Membangun Kekuatan di Jawa Timur: Ia melarikan diri ke timur dan membangun kerajaan di Pasuruan (di bawah Mataram saat itu). Ia memerintah sebagai Adipati Aria Wiranegara selama 20 tahun (1686-1706).

5. Gugur Melawan Kompeni: Pada tahun 1706, ia gugur dalam pertempuran melawan gabungan pasukan VOC di Bangil. Untuk menghindari kemarahan VOC, makamnya dirahasiakan dan jenazahnya disembunyikan.

C. Masa Kecil dan Remaja (Kehidupan Awal)

1. Asal-usul: Lahir di Bali tahun 1660 dengan nama Surawiraaji. Tumbuh menjadi yatim piatu pada usia 7 tahun setelah orang tuanya tewas akibat kekacauan VOC.

2. Budak VOC: Diambil dan dijadikan budak oleh perwira VOC, Kapten van Beber di Makassar, lalu dijual ke perwira lain bernama Moor di Batavia.

3. Nama "Untung": Moor merasa kariernya meroket sejak membeli Surawiraaji, sehingga ia dijuluki "Si Untung".

4. Masa Remaja: Bertugas sebagai pelayan dan tukang kebun di rumah Moor. Di masa remaja/dewasa muda, ia menjalin hubungan asmara dengan Suzanne, putri angkat Moor.

5. Penjara: Akibat hubungan asmara tersebut, Moor memenjarakan Untung pada usia 20 tahun. Di penjara, ia berhasil menghimpun tahanan dan kabur, memicu perlawanan terhadap VOC.

D. Perjuangan dan Karier Militer

1. Menjadi Prajurit VOC: Setelah kabur, ia sempat ditangkap kembali namun ditawari menjadi anggota militer VOC (Letnan) untuk menjemput Pangeran Purbaya dari Banten.

2. Pembelotan: Merasa muak dengan kekejaman Belanda, ia berbalik melawan VOC. Ia membunuh Kapten Francois Tack pada 1686 di Kartasura.

3. Penguasa Pasuruan: Melarikan diri ke Jawa Timur dan mendirikan pemerintahan di Pasuruan dengan gelar Adipati Aria Wiranegara.

4. Gugur: Untung Surapati gugur dalam pertempuran di Bangil, Pasuruan, pada 17 Oktober 1706 melawan pasukan gabungan VOC.

E. Kisah Cinta Untung Surapati

1. Kisah cinta Untung Surapati cukup menggemparkan pada masanya karena berbau "cinta beda kasta" dan melanggar aturan VOC. 

2. Suzanne: Saat masih menjadi budak di Batavia, Untung menjalin asmara dengan seorang gadis Belanda (Noni Belanda) bernama Suzanne, yang merupakan anak dari majikannya sendiri.

3. Pernikahan: Hubungan ini memicu kemarahan VOC, namun Untung akhirnya menikah dengan Suzanne.

4. Istri di Jawa: Setelah melarikan diri dari Batavia dan berjuang di Jawa, Untung Surapati menikahi Gusik Kusumo, yang di beberapa versi disebutkan sebagai putri dari keluarga bangsawan/pangeran, dan menemani perjuangannya di Pasuruan.

F. Novel/Buku Tentang Untung Surapati

Beberapa literatur yang mengangkat kisah hidupnya antara lain:

1. "Untung Surapati" karya Yudhi Herwibowo (Genre: Roman Sejarah, terbit tahun 2011).

2. "Untung Surapati" karya Ny. Ratnawati Anhar (Buku sejarah/biografi).

3. "Babad Untung Surapati" (Naskah klasik yang disunting/disalin ulang oleh Komari, diterbitkan Perpustakaan Nasional RI, 2015). 

4. Untung Surapati: Budak Belian dari Bali: Cheva Lestari. 

G. Akhir Hayat dan Keluarga

1. Akhir Hayat: Untung Surapati gugur dalam pertempuran melawan pasukan gabungan VOC di Benteng Bangil, Pasuruan, pada tanggal 17 Oktober 1706.

2. Keluarga: Untuk menghindari kemarahan VOC, makamnya dirahasiakan oleh pengikutnya selama bertahun-tahun. Keturunannya, seperti Adipati Malayakusuma, melanjutkan perjuangan melawan VOC di wilayah Malang hingga tahun 1768.



RISALAH PAHLAWAN NASIONAL

UNTUNG SURAPATI

Pejuang Anti-VOC dari Bali


BIODATA SINGKAT

Nama Asli: Surawiraaji

Lahir:
Bali, 1660

Wafat:
Bangil
17 Oktober 1706

Asal Usul:
Dipercaya berasal dari Bali dan dalam beberapa literatur disebut sebagai keturunan bangsawan yang kemudian menjadi yatim piatu.

Julukan:
“Si Untung” — karena majikannya menganggap kehadirannya membawa keberuntungan.

Gelar:
Tumenggung Wiranegara / Adipati Aria Wiranegara (Bupati Pasuruan)

Penetapan Pahlawan Nasional:
3 November 1975 melalui SK Presiden No. 106/TK/1975


A. RIWAYAT SINGKAT

Untung Surapati (1660–1706) adalah tokoh pejuang yang terkenal karena keberaniannya melawan kekuasaan VOC.

Ia lahir di Bali dengan nama Surawiraaji, kemudian dijadikan budak di Batavia. Setelah mengalami berbagai perlakuan tidak adil, ia melarikan diri, menjadi prajurit VOC, lalu berbalik melawan mereka.

Di Jawa Timur ia membangun kekuatan sendiri dan memerintah di Pasuruan dengan gelar Adipati Aria Wiranegara sebelum gugur dalam pertempuran melawan VOC.


B. MASA KECIL DAN KEHIDUPAN AWAL

1. Asal Usul

Untung Surapati lahir di Bali tahun 1660 dengan nama Surawiraaji.

Pada usia sekitar 7 tahun ia menjadi yatim piatu setelah orang tuanya meninggal akibat kekacauan yang melibatkan kekuatan VOC.


2. Menjadi Budak VOC

Ia kemudian ditangkap dan dijadikan budak oleh perwira VOC bernama Kapten van Beber di Makassar.

Selanjutnya ia dijual kepada perwira VOC lain bernama Moor di Batavia.

Karena sejak membeli Surawiraaji karier Moor meningkat, ia kemudian dijuluki “Si Untung”.


3. Masa Remaja

Di rumah Moor ia bekerja sebagai pelayan dan tukang kebun.

Pada masa remaja ia menjalin hubungan dengan seorang gadis Belanda bernama Suzanne, putri angkat Moor.

Hubungan ini membuat Moor marah sehingga Untung dipenjara.

Namun di penjara ia berhasil mengorganisasi para tahanan dan melarikan diri.


C. PERJUANGAN DAN KARIER MILITER

1. Menjadi Prajurit VOC

Setelah melarikan diri, Untung sempat tertangkap kembali.

Karena kemampuan militernya, VOC kemudian memberinya pengampunan dan mengangkatnya menjadi letnan.

Ia ditugaskan menjemput seorang tokoh Banten yaitu
Pangeran Purbaya.


2. Berbalik Melawan VOC

Melihat kekejaman VOC terhadap Pangeran Purbaya, Untung akhirnya berbalik melawan VOC.

Peristiwa ini terjadi di daerah Sungai Cikalong sekitar tahun 1684, yang menjadi awal pemberontakan Untung Surapati terhadap Belanda.


3. Membunuh Kapten Tack

Pada tahun 1686 ia merencanakan serangan terhadap VOC di Kartasura.

Dalam peristiwa tersebut ia berhasil membunuh perwira tinggi Belanda:

Francois Tack

Kematian Kapten Tack membuat nama Untung Surapati terkenal sebagai musuh utama VOC.


4. Membangun Kekuatan di Jawa Timur

Setelah peristiwa Kartasura, Untung Surapati melarikan diri ke Jawa Timur.

Di sana ia membangun kekuatan di Pasuruan dan memerintah sebagai:

Adipati Aria Wiranegara

Ia memimpin wilayah tersebut selama sekitar 20 tahun (1686–1706).


D. GUGUR MELAWAN VOC

Pada tahun 1706 VOC melancarkan serangan besar ke wilayah Pasuruan.

Pertempuran terjadi di daerah Bangil.

Dalam pertempuran tersebut Untung Surapati akhirnya gugur pada:

17 Oktober 1706

Untuk menghindari kemarahan VOC, para pengikutnya merahasiakan makamnya.


E. KISAH CINTA UNTUNG SURAPATI

Kisah cinta Untung Surapati cukup terkenal dalam sejarah.

1. Suzanne

Saat menjadi budak di Batavia ia menjalin hubungan dengan gadis Belanda bernama Suzanne.

Hubungan ini dianggap melanggar aturan VOC karena perbedaan status sosial.


2. Istri di Jawa

Setelah melarikan diri ke Jawa, Untung Surapati menikah dengan Gusik Kusumo, yang disebut berasal dari keluarga bangsawan.

Istrinya ini mendampingi perjuangannya selama memimpin Pasuruan.


F. AKHIR HAYAT DAN KELUARGA

Untung Surapati gugur pada tahun 1706 setelah melawan pasukan VOC.

Untuk menghindari penghinaan terhadap jasadnya, para pengikutnya merahasiakan tempat pemakamannya.

Beberapa keturunannya melanjutkan perjuangan melawan VOC, salah satunya adalah:

Adipati Malayakusuma, yang berjuang di wilayah Malang hingga tahun 1768.


G. BUKU DAN LITERATUR TENTANG UNTUNG SURAPATI

Beberapa karya yang mengangkat kisah hidupnya antara lain:

  1. “Untung Surapati” karya Yudhi Herwibowo (roman sejarah).
  2. “Untung Surapati” karya Ny. Ratnawati Anhar (biografi sejarah).
  3. “Babad Untung Surapati” naskah klasik yang disunting Komari (Perpustakaan Nasional RI, 2015).
  4. “Untung Surapati: Budak Belian dari Bali” karya Cheva Lestari.

H. WARISAN PERJUANGAN

Untung Surapati dikenang sebagai:

  • simbol perlawanan terhadap penjajahan VOC
  • pemimpin pemberani dari kalangan rakyat biasa
  • tokoh yang berhasil membangun kekuatan sendiri melawan kolonialisme

Perjuangannya menjadi bagian penting dari sejarah perlawanan Nusantara terhadap penjajah.




137 SBY

Buatlah Risalah dan Infografis tentang Pahlawan :

H. Andi Sultan Daeng Raja


Lahir di Matekko, Gantarang, Bulukumba, Sulawesi Selatan, 20 Mei 1894.

Meninggal di Makassar, 17 Mei 1963 (dimakamkan di TMP Bulukumba).


Orang Tua: Passari Petta Tanra (Ayah) dan Andi Ninong (Ibu)

Pendidikan: Volksschool (1902), ELS Bantaeng, dan OSVIA Makassar (lulus 1913)

Gelar: Pahlawan Nasional (SK Presiden RI No. 085/TK/Tahun 2006, 3 November 2006) 


A.Haji Andi Sultan Daeng Raja (lahir di Bulukumba, 20 Mei 1894 – wafat 17 Mei 1963) adalah tokoh pejuang kemerdekaan Indonesia asal Sulawesi Selatan yang gigih melawan penjajahan Belanda dan NICA. Sebagai pejuang berlatar belakang pamong praja, ia aktif di Muhammadiyah, PPKI, dan memimpin perlawanan bersenjata melawan NICA, menjadikannya Pahlawan Nasional. 

B. Perjuangan dan Peran

1. Awal Perjuangan: Menentang kesewenang-wenangan Belanda sejak masa sekolah di OSVIA Makassar dan aktif dalam pergerakan pemuda.

2. Pergerakan Politik: Menjadi utusan Sulawesi Selatan dalam rapat Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) di Jakarta bersama Dr. Ratulangi.

3. Melawan NICA: Menolak bekerja sama dengan Belanda (NICA) setelah proklamasi. Pada 2 Desember 1945, ia ditangkap karena perlawanannya di Bulukumba.

4. Laskar Pemberontak: Meski dipenjara dan diasingkan ke Menado (1945-1950), ia tetap memantau perjuangan dan menjadi "Bapak Agung" bagi Laskar Pemberontak Bulukumba Angkatan Rakyat (PBAR).

5. Pasca Kemerdekaan: Menjabat sebagai Kepala Adat Gantarang, Bupati Bantaeng (1955), residen yang diperbantukan pada Gubernur Sulsel (1956), dan anggota Konstituante.

C. Perjuangan di Era Belanda

1. Perjuangan Andi Sultan Daeng Raja melawan Belanda dilakukan dengan cara pergerakan nasional:

2. Organisasi Pergerakan: Ia aktif dalam organisasi kemasyarakatan yang bertujuan meningkatkan taraf hidup rakyat dan membangun kesadaran nasional. Beliau pernah menjabat sebagai ketua pergerakan Sarikat Islam (SI) di Bulukumba.

3. Sumpah Pemuda: Daeng Radja secara diam-diam mengikuti Kongres Pemuda Indonesia di Batavia (Jakarta) untuk mendukung persatuan Indonesia, sebuah tindakan yang berisiko tinggi saat itu.

4. Perlawanan Politik: Beliau menolak bekerja sama dengan pemerintah kolonial Belanda dan aktif menggerakkan perlawanan sosial serta memboikot kebijakan penjajah yang merugikan rakyat Bulukumba.

D. Perjuangan di Era Jepang

1. Di masa pendudukan Jepang (1942-1945), perjuangan Daeng Radja bertransformasi menjadi perjuangan bawah tanah:

2. Penolakan Kebijakan: Meskipun di bawah tekanan Jepang, ia tetap menunjukkan sikap tidak tunduk. Ia menolak kebijakan romusha (kerja paksa) dan tindakan Jepang yang merampas hasil pertanian rakyat.

3. Mempersiapkan Kemerdekaan: Bersama tokoh pemuda lainnya, ia menyebarkan semangat kebangsaan secara diam-diam dan mempersiapkan rakyat Sulawesi Selatan untuk memproklamirkan kemerdekaan jika saatnya tiba.

E. Era Pasca Kemerdekaan (Mempertahankan Kemerdekaan)

1. Setelah proklamasi 17 Agustus 1945, perjuangan Andi Sultan Daeng Raja berfokus pada mempertahankan kemerdekaan dari kembalinya Belanda (NICA):

2. Badan Pemerintah: Ia diangkat menjadi Bestuur Commissaris (Komisaris Pemerintahan) untuk wilayah Sulawesi Selatan, sebuah jabatan strategis untuk menjaga keamanan dan kedaulatan RI di daerah.

3. Perjuangan Bersenjata & Politik: Ia aktif mengorganisir pasukan lokal, memberikan dukungan logistik, dan memimpin perlawanan terhadap NICA di Bulukumba dan sekitarnya. Akibat aktivitasnya, ia sempat ditangkap dan dipenjara oleh Belanda di Makassar.

4. Pejuang di Balik Jeruji: Meskipun dipenjara, semangatnya tidak padam dan tetap memimpin perlawanan rakyat dari balik jeruji penjara.

F. Akhir Hayat

1. Haji Andi Sultan Daeng Raja wafat pada tanggal 17 Mei 1963 di Bulukumba. Atas jasa-jasanya, pemerintah Indonesia memberinya gelar Pahlawan Nasional.

2. Beliau meninggalkan warisan semangat perjuangan yang sangat tinggi, dengan prinsip pantang menyerah dalam membela bangsa dan negara.



RISALAH PAHLAWAN NASIONAL

H. ANDI SULTAN DAENG RAJA

Pejuang Kemerdekaan dari Bulukumba


BIODATA SINGKAT

Nama: Haji Andi Sultan Daeng Raja

Lahir:
Matekko, Gantarang
20 Mei 1894

Wafat:
Makassar
17 Mei 1963

Dimakamkan:
Taman Makam Pahlawan Bulukumba

Orang Tua:

  • Passari Petta Tanra (ayah)
  • Andi Ninong (ibu)

Pendidikan:

  • Volksschool (1902)
  • ELS Bantaeng
  • OSVIA Makassar (lulus 1913)

Gelar:
Pahlawan Nasional
(SK Presiden RI No. 085/TK/2006 – 3 November 2006)


A. RIWAYAT SINGKAT

Andi Sultan Daeng Raja (1894–1963) adalah tokoh perjuangan dari Sulawesi Selatan yang dikenal karena keberaniannya melawan penjajahan Belanda dan pasukan Netherlands Indies Civil Administration setelah kemerdekaan Indonesia.

Ia berasal dari keluarga bangsawan di Bulukumba dan memiliki latar belakang pendidikan pamong praja. Selain sebagai tokoh pemerintahan daerah, ia juga aktif dalam organisasi keagamaan dan pergerakan nasional.


B. AWAL PERJUANGAN

Semangat perjuangan Andi Sultan Daeng Raja sudah muncul sejak masa sekolah di OSVIA Makassar.

Ia menentang berbagai bentuk ketidakadilan pemerintah kolonial Belanda terhadap rakyat Sulawesi Selatan.

Pada masa ini ia mulai aktif dalam pergerakan pemuda dan organisasi masyarakat yang bertujuan meningkatkan kesadaran nasional.


C. PERGERAKAN POLITIK NASIONAL

Dalam perjalanan menuju kemerdekaan Indonesia, Andi Sultan Daeng Raja ikut terlibat dalam proses politik nasional.

Ia menjadi utusan dari Sulawesi Selatan dalam rapat:

Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia

di Jakarta bersama tokoh Sulawesi lainnya yaitu:

Sam Ratulangi

Kehadirannya dalam pertemuan tersebut menunjukkan peran penting tokoh-tokoh daerah dalam proses kemerdekaan Indonesia.


D. PERJUANGAN MELAWAN BELANDA

Setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945, Belanda melalui NICA berusaha kembali menguasai Indonesia.

Andi Sultan Daeng Raja menolak bekerja sama dengan Belanda.

Ia memimpin rakyat Bulukumba untuk melakukan perlawanan terhadap pasukan NICA yang datang ke Sulawesi Selatan.


Penangkapan oleh Belanda

Pada 2 Desember 1945, ia ditangkap oleh Belanda karena aktivitas perlawanannya.

Ia kemudian dipenjara dan diasingkan ke:

Manado

Pengasingan tersebut berlangsung sekitar tahun 1945–1950.


E. MEMIMPIN PERJUANGAN RAKYAT

Walaupun berada dalam penjara dan pengasingan, semangat perjuangan Andi Sultan Daeng Raja tidak pernah padam.

Ia tetap memantau perkembangan perjuangan rakyat dan menjadi tokoh yang dihormati oleh para pejuang lokal.

Ia dikenal sebagai “Bapak Agung” bagi pasukan rakyat:

Laskar Pemberontak Bulukumba Angkatan Rakyat (PBAR)

yang terus berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia di daerah Sulawesi Selatan.


F. PERAN SETELAH KEMERDEKAAN

Setelah Indonesia memperoleh pengakuan kedaulatan, Andi Sultan Daeng Raja kembali mengabdi kepada negara melalui berbagai jabatan pemerintahan.

Beberapa jabatan yang pernah diembannya antara lain:

  • Kepala Adat Gantarang
  • Bupati Bantaeng (1955)
  • Residen yang diperbantukan pada Gubernur Sulawesi Selatan (1956)
  • Anggota Konstituante Republik Indonesia

Melalui jabatan-jabatan tersebut ia terus memperjuangkan kesejahteraan rakyat.


G. AKHIR HAYAT

Haji Andi Sultan Daeng Raja wafat pada:

17 Mei 1963

di wilayah Sulawesi Selatan.

Sebagai bentuk penghormatan atas jasa-jasanya, ia dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Bulukumba.


H. PENGHARGAAN DAN WARISAN

Pada 3 November 2006, pemerintah Indonesia secara resmi menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada Andi Sultan Daeng Raja.

Ia dikenang sebagai:

  • tokoh pergerakan nasional dari Sulawesi Selatan
  • pemimpin perlawanan rakyat melawan penjajahan
  • pejuang yang setia membela kemerdekaan Indonesia

Semangat perjuangannya menjadi teladan bagi generasi muda Indonesia.





52 SUH

Buatlah Risalah dan Infografis tentang Pahlawan :

Usman Janatin

Usman bin Haji Muhamad Ali alias Janatin.

Lahir di Desa Jatisaba, Purbalingga, Jawa Tengah, 18 Maret 1943.

Meninggal di Dihukum gantung di Singapura pada 17 Oktober 1968.

Orang Tua: Haji Muhammad Ali (Ayah) dan Rukiyah (Ibu).

Pendidikan/Karier: Lulus SMP, masuk Korps Komando Operasi (KKO AL/Marinir) pada 1 Juni 1962.

Jabatan: Sersan Dua KKO (Anumerta).


A. Sersan Dua KKO (Anumerta) Usman Janatin (1943-1968) adalah pahlawan nasional Indonesia dari Purbalingga yang gugur dalam konfrontasi Indonesia-Malaysia. Sebagai prajurit KKO (Marinir), ia menjalankan misi sabotase di Singapura (1965), tertangkap, dan dihukum gantung pada 17 Oktober 1968, kemudian dimakamkan di TMP Kalibata. 

B. Perjuangan dan Kisah Heroik

1. Operasi Dwikora: Usman ditugaskan dalam konfrontasi Indonesia-Malaysia (Operasi Dwikora) sebagai bagian dari Komando Siaga.

2. Sabotase di Singapura: Bersama Harun bin Said (Harun Thohir) dan Gani bin Arup, Usman diperintahkan melakukan infiltrasi (menyusup) ke Singapura untuk membuat sabotase.

3. Peledakan McDonald House: Pada 10 Maret 1965, mereka meledakkan bom di bangunan MacDonald House, Singapura.

4. Penangkapan: Saat berusaha kembali ke pangkalan di Pulau Sambu, Riau, perahu boat mereka rusak dan Usman bersama Harun ditangkap oleh otoritas Singapura.

5. Gugur sebagai Pahlawan: Meskipun didukung upaya diplomatik, keduanya divonis hukuman mati dan digantung pada 17 Oktober 1968. 

C. Masa Muda

1. Lahir di Era Penjajahan: Usman lahir pada masa susah, yaitu zaman pendudukan Jepang.

2. Pendidikan: Ia tumbuh di pedesaan Banyumas dan menyelesaikan pendidikan SMP pada masa konfrontasi Trikora (pembebasan Irian Barat).

3. Jiwa Patriotik: Setelah lulus SMP, Usman mendaftarkan diri menjadi prajurit KKO AL karena semangatnya yang tinggi untuk membela negara. 

D. Perjuangan dan Konfrontasi (Dwikora)

1. Perjuangan Usman Janatin terjadi pada masa konfrontasi Indonesia dengan Federasi Malaysia (yang didukung Inggris) pada tahun 1963-1966. 

2. Tugas Operasi Dwikora: Usman bersama dua rekannya, Harun bin Tohir dan Gani bin Andu, ditugaskan dalam operasi sabotase di Singapura.

3. Pengeboman MacDonald House: Pada 10 Maret 1965, Usman dan Harun meledakkan bom MacDonald House di Orchard Road, Singapura. Misi ini bertujuan untuk mengguncang kekuatan Inggris/Malaysia yang dianggap mengancam kedaulatan Indonesia.

4. Penangkapan dan Pengadilan: Usman dan Harun tertangkap saat mencoba melarikan diri kembali ke Indonesia melalui jalur laut. Mereka disidang di Singapura dan dijatuhi hukuman mati oleh pengadilan Singapura atas dakwaan pembunuhan (tiga orang tewas).

5. Gugur sebagai Pahlawan: Meskipun pemerintah Indonesia di bawah Presiden Soeharto telah melakukan berbagai upaya diplomatik untuk menyelamatkan mereka, Usman dan Harun tetap dieksekusi gantung pada 17 Oktober 1968.

E. Akhir Hayat (Eksekusi)

1. Usman dan Harun dipenjara dan diajukan ke persidangan di Singapura. Meski pemerintah Indonesia berusaha melakukan pembelaan hukum, hakim memutuskan keduanya bersalah atas pembunuhan dan divonis hukuman gantung.

2. Usman Janatin gugur di tiang gantungan di Penjara Changi, Singapura, pada 17 Oktober 1968.

3. Jenazah mereka dipulangkan ke Indonesia dan dimakamkan dengan penghormatan militer di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta. 

F. Keluarga yang Ditinggalkan

1. Usman berasal dari keluarga sederhana. Saat ia dieksekusi, ia meninggalkan orang tua dan saudara-saudaranya di Purbalingga.

2. Pemerintah Indonesia memberikan gelar Pahlawan Nasional kepada Usman dan Harun sebagai bentuk penghormatan atas pengorbanan mereka demi negara.

G. Penghormatan

1. Dianugerahi gelar Pahlawan Nasional Indonesia berdasarkan Keputusan Presiden No. 050/TK/Tahun 1968.

2. Namanya diabadikan menjadi nama kapal perang KRI Usman Harun-359.

3. Terdapat taman kota Usman Janatin City Park dan Museum Usman Janatin di Purbalingga.



RISALAH PAHLAWAN NASIONAL

USMAN JANATIN

Sersan Dua KKO (Anumerta)


BIODATA SINGKAT

Nama: Usman bin Haji Muhammad Ali alias Janatin
Tempat, Tanggal Lahir: Desa Jatisaba, Purbalingga, Jawa Tengah, 18 Maret 1943
Wafat: Dihukum gantung di Singapura, 17 Oktober 1968

Orang Tua:

  • Haji Muhammad Ali (Ayah)
  • Rukiyah (Ibu)

Pendidikan: Lulus SMP

Karier Militer:
Masuk Korps Komando Operasi Angkatan Laut (KKO AL / Marinir) pada 1 Juni 1962

Pangkat:
Sersan Dua KKO (Anumerta)

Gelar:
Pahlawan Nasional Indonesia


A. RIWAYAT SINGKAT

Sersan Dua KKO (Anumerta) Usman Janatin (1943–1968) adalah pahlawan nasional Indonesia dari Purbalingga, Jawa Tengah. Ia dikenal sebagai prajurit Korps Komando Operasi (KKO) Angkatan Laut yang gugur dalam perjuangan Konfrontasi Indonesia–Malaysia.

Dalam menjalankan tugas negara, Usman bersama rekannya melakukan misi sabotase di Singapura pada tahun 1965. Ia kemudian tertangkap dan dijatuhi hukuman mati oleh pemerintah Singapura. Usman dieksekusi dengan hukuman gantung pada 17 Oktober 1968 dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta.


B. PERJUANGAN DAN KISAH HEROIK

1. Operasi Dwikora

Usman Janatin ditugaskan dalam operasi militer Dwikora (Dwi Komando Rakyat) pada masa konfrontasi Indonesia dengan Federasi Malaysia.

2. Sabotase di Singapura

Usman bersama dua rekannya yaitu Harun bin Said (Harun Thohir) dan Gani bin Arup diperintahkan melakukan misi infiltrasi atau penyusupan ke wilayah Singapura.

3. Peledakan MacDonald House

Pada 10 Maret 1965, mereka melakukan peledakan bom di gedung MacDonald House di Orchard Road, Singapura.

4. Penangkapan

Saat berusaha kembali ke Indonesia melalui Pulau Sambu, Riau, perahu yang mereka gunakan rusak. Usman dan Harun akhirnya tertangkap oleh aparat Singapura.

5. Gugur sebagai Pahlawan

Setelah melalui persidangan panjang, keduanya dijatuhi hukuman mati. Meski pemerintah Indonesia melakukan berbagai upaya diplomatik, Usman dan Harun tetap dieksekusi pada 17 Oktober 1968.


C. MASA MUDA

1. Lahir pada Masa Penjajahan

Usman Janatin lahir pada masa sulit, yaitu saat pendudukan Jepang di Indonesia.

2. Pendidikan

Ia tumbuh di daerah pedesaan Banyumas dan berhasil menyelesaikan pendidikan hingga SMP.

3. Jiwa Patriotik

Setelah lulus SMP, Usman memutuskan menjadi prajurit KKO Angkatan Laut karena memiliki semangat tinggi untuk membela bangsa dan negara.


D. PERJUANGAN DALAM KONFRONTASI (DWIKORA)

Konfrontasi Indonesia dengan Federasi Malaysia terjadi pada 1963–1966. Pemerintah Indonesia menilai pembentukan Federasi Malaysia didukung Inggris dan dianggap mengancam kepentingan Indonesia.

Usman Janatin bersama rekannya menjalankan operasi sabotase di Singapura sebagai bagian dari strategi militer Indonesia.

Misi tersebut berujung pada peledakan MacDonald House yang menewaskan tiga orang warga sipil. Akibatnya mereka ditangkap dan diadili di Singapura.


E. AKHIR HAYAT

Usman dan Harun menjalani persidangan di Singapura. Mereka divonis bersalah atas tuduhan pembunuhan dan dijatuhi hukuman gantung.

Pada 17 Oktober 1968, Usman Janatin dieksekusi di Penjara Changi, Singapura.

Jenazahnya kemudian dipulangkan ke Indonesia dan dimakamkan secara militer di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta.


F. KELUARGA YANG DITINGGALKAN

Usman berasal dari keluarga sederhana di Purbalingga. Setelah kematiannya, ia meninggalkan orang tua serta keluarganya.

Sebagai bentuk penghormatan atas pengorbanannya, pemerintah Indonesia kemudian memberikan gelar Pahlawan Nasional.


G. PENGHORMATAN

Beberapa bentuk penghormatan kepada Usman Janatin antara lain:

  1. Dianugerahi Gelar Pahlawan Nasional melalui Keputusan Presiden No. 050/TK/Tahun 1968.
  2. Namanya diabadikan sebagai nama Kapal Perang Republik Indonesia KRI Usman Harun-359.
  3. Terdapat Usman Janatin City Park dan Museum Usman Janatin di Purbalingga.



53 SUH

Buatlah Risalah dan Infografis tentang Pahlawan :

Kopral Harun bin Said

Nama Lahir: Tohir bin Mandar (sering disebut Harun Tohir).

Lahir di Pulau Bawean, Gresik, Jawa Timur, 4 April 1947.

Meninggal di Singapura, 17 Oktober 1968 (gantung).

Orang Tua: Mandar (ayah) dan Aswiyani (ibu).

Pangkat: Kopral Dua KKO (Korps Komando/Marinir).

Pendidikan/Keahlian: Sekolah menengah, terampil sebagai pelaut/anak buah kapal dagang.

Gelar: Pahlawan Nasional (SK Presiden RI No. 050/TK/Tahun 1968).


A. Kopral Dua KKO Anumerta Harun bin Said (lahir di Bawean, 4 April 1947–meninggal 17 Oktober 1968) adalah Pahlawan Nasional Indonesia dari Gresik yang gugur dalam konfrontasi dengan Malaysia. Ia anggota KKO (Korps Marinir) yang meledakkan MacDonald House di Singapura (1965) sebagai sabotase, lalu dihukum gantung di Singapura. 

B. Perjuangan dan Kisah

1. Konfrontasi Indonesia-Malaysia: Harun bergabung dengan KKO dan ditugaskan dalam Komando Operasi Tertinggi (KOTI) pada masa konfrontasi "Ganyang Malaysia".

2. Sabotase di Singapura: Pada 10 Maret 1965, bersama Usman Janatin dan Gani bin Arup, Harun meledakkan gedung MacDonald House di Orchard Road, Singapura. Aksi ini merupakan sabotase terhadap objek vital musuh.

3. Tertangkap: Setelah peledakan, Harun berusaha kabur menggunakan perahu motor, namun mesinnya rusak. Ia ditangkap patroli Singapura pada 13 Maret 1965.

4. Hukuman Mati: Meskipun ada upaya banding dan permohonan pengampunan dari pemerintah Indonesia, pengadilan Singapura menjatuhkan hukuman mati. Harun dan Usman dieksekusi gantung pada 17 Oktober 1968.

5. Penghormatan: Jenazahnya dipulangkan ke Indonesia dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta, serta ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional. 

C. Masa Muda Harun bin Said

Harun menghabiskan masa kecil dan remajanya di Pulau Bawean. Profesi masa kecilnya membuat ia banyak menghabiskan waktu di pelabuhan, yang kemudian membuatnya hafal daratan serta jalur pelayaran, terutama rute menuju Singapura. Pengalaman ini menjadi modal dasar keberanian dan keahliannya saat ia bergabung dengan Angkatan Laut Indonesia (KKO) ketika menginjak dewasa. 

D. Perjuangan dalam Konfrontasi (Operasi Klandestin)

1. Harun bersama Usman Janatin ditugaskan dalam operasi klandestin (intelijen) pada Konfrontasi Indonesia-Malaysia (1963-1966). 

2. Tugas: Menyusup ke Singapura untuk melakukan sabotase, guna melawan pembentukan Federasi Malaysia yang dianggap sebagai perpanjangan tangan Inggris.

3. Pengeboman: Pada 10 Maret 1965, Harun, Usman, dan Gani meledakkan bangunan MacDonald House di Orchard Road, Singapura.

4. Penangkapan: Setelah aksi tersebut, saat berusaha kembali ke Indonesia, kapal yang ditumpangi ketiganya mengalami kerusakan mesin dan tertangkap oleh otoritas Singapura.

5. Hukuman: Harun dan Usman dijatuhi hukuman gantung oleh pemerintah Singapura dan dieksekusi pada 17 Oktober 1968.

E. Nasib Gani bin Arup

1. Gani bin Arup adalah rekan Usman dan Harun dalam misi pengeboman MacDonald House. Namun, nasibnya berbeda dengan kedua rekannya tersebut: 

2. Tidak Tertangkap: Saat penangkapan oleh otoritas Singapura, Gani bin Arup tidak ikut tertangkap.

3. Misterius: Gani berhasil lolos dan jejaknya menjadi misterius setelah kejadian tersebut.

4. Kabar Terakhir: Berdasarkan penelusuran sejarah, dilaporkan bahwa Gani bin Arup sudah meninggal dunia, namun informasi mendetail mengenai kapan dan di mana ia wafat tidak terdokumentasikan secara publik layaknya Usman dan Harun. 

F. Akhir Hayat dan Keluarga

1. Vonis: Usman dan Harun ditangkap, disidang, dan dijatuhi hukuman gantung oleh pemerintah Singapura atas tuduhan pembunuhan.

2. Eksekusi: Hukuman gantung dilaksanakan pada 17 Oktober 1968 di Penjara Changi, Singapura.

3. Keluarga: Harun meninggalkan keluarga di Bawean. Sebelum digantung, Harun sempat menulis surat yang menyatakan keteguhannya dan meminta keluarga untuk ikhlas.

4. Makam: Jenazah mereka dipulangkan dan dimakamkan dengan penghormatan militer sebagai Pahlawan Nasional di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta. 

G. Usaha Pemerintah Indonesia 

1. Pemerintah Indonesia melakukan upaya maksimal untuk membebaskan keduanya sebelum hukuman gantung dilaksanakan:

2. Upaya Hukum & Diplomatik: Pemerintah Indonesia mengajukan banding hingga ke tingkat tertinggi (Privy Council di London) dan meminta grasi kepada Presiden Singapura, namun ditolak.

3. Tekanan: Presiden Soeharto dan pejabat tinggi Indonesia berulang kali meminta agar hukuman gantung ditunda atau dibatalkan, namun Singapura tetap mengeksekusi mereka.

4. Penghargaan: Meskipun dihukum gantung, pemerintah Indonesia tetap memberikan gelar Pahlawan Nasional kepada Harun Thohir dan Usman bin Haji Muhammad Ali atas jasa mereka membela kehormatan nusa dan bangsa.



RISALAH PAHLAWAN NASIONAL

KOPRAL HARUN BIN SAID

Pahlawan Nasional dari Pulau Bawean
Eksekusi Gantung di Singapura (1947–1968)


IDENTITAS TOKOH

  • Nama Lahir: Tohir bin Mandar (sering disebut Harun Tohir)
  • Lahir: Pulau Bawean, Gresik, Jawa Timur, 4 April 1947
  • Meninggal: Singapura, 17 Oktober 1968 (eksekusi gantung)
  • Orang Tua: Mandar (ayah) dan Aswiyani (ibu)
  • Pangkat: Kopral Dua KKO (Korps Komando / Marinir)
  • Keahlian: Terampil sebagai pelaut dan anak buah kapal dagang
  • Gelar: Pahlawan Nasional Indonesia
    (SK Presiden RI No. 050/TK/Tahun 1968)

A. PROFIL SINGKAT

Kopral Dua KKO Anumerta Harun bin Said (nama lahir Tohir bin Mandar) adalah seorang prajurit Korps Komando Angkatan Laut Indonesia (sekarang Korps Marinir) yang berasal dari Pulau Bawean, Gresik, Jawa Timur.

Ia dikenal sebagai salah satu prajurit yang terlibat dalam operasi sabotase MacDonald House di Singapura pada 10 Maret 1965 dalam rangka Konfrontasi Indonesia–Malaysia.

Setelah tertangkap, Harun dijatuhi hukuman mati oleh pemerintah Singapura dan dieksekusi dengan cara digantung pada 17 Oktober 1968 di Penjara Changi.
Atas pengorbanannya membela kehormatan bangsa, pemerintah Indonesia menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepadanya.


B. PERJUANGAN DAN PENGORBANAN

1. Operasi Sabotase di Singapura

Harun bersama Usman Janatin dan Gani bin Arup menjalankan misi sabotase terhadap objek vital di Singapura sebagai bagian dari operasi militer Indonesia pada masa konfrontasi.

2. Pengeboman MacDonald House

Pada 10 Maret 1965, mereka berhasil meledakkan gedung MacDonald House di Orchard Road, Singapura yang menjadi sasaran operasi.

3. Penangkapan

Setelah melakukan operasi tersebut, mereka mencoba kembali ke Indonesia menggunakan perahu motor.
Namun mesin perahu mengalami kerusakan dan mereka akhirnya ditangkap patroli Singapura pada 13 Maret 1965.

4. Hukuman Mati

Pengadilan Singapura menjatuhkan hukuman mati kepada Harun dan Usman.
Upaya banding dan permohonan pengampunan dari pemerintah Indonesia tidak berhasil.


C. OPERASI KLANDESTIN MASA KONFRONTASI INDONESIA–MALAYSIA

  • Harun dan Usman merupakan bagian dari operasi rahasia (klandestin) yang dijalankan oleh militer Indonesia.
  • Tujuannya adalah melawan pembentukan Federasi Malaysia yang dianggap sebagai proyek politik Inggris di Asia Tenggara.
  • Operasi ini dilakukan dengan cara penyusupan, sabotase, dan pengumpulan intelijen.

D. AKHIR HAYAT DAN WARISAN

  • Eksekusi: 17 Oktober 1968 di Penjara Changi, Singapura.
  • Pemulangan Jenazah: Setelah eksekusi, jenazah Harun dan Usman dipulangkan ke Indonesia.
  • Pemakaman: Dimakamkan dengan upacara militer di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta.

Pengorbanan Harun bin Said dikenang sebagai simbol keberanian dan kesetiaan prajurit Indonesia dalam mempertahankan kehormatan bangsa.


WARISAN UNTUK BANGSA

Harun bin Said dikenang sebagai:

  • Prajurit muda yang berani dan setia pada negara
  • Simbol pengorbanan dalam membela NKRI
  • Teladan keberanian bagi generasi penerus bangsa



58 SUH

Buatlah Risalah dan Infografis tentang Pahlawan :

Supeno

(Ejaan lama : Soepeno).

Lahir di Pekalongan, Jawa Tengah, 12 Juni 1916.

Meninggal di Ganter, 

Nganjuk, Jawa Timur, 24 Februari 1949. 

(Ditembak Belanda).

Pendidikan: Algemeene Middelbare School (AMS) Semarang, Sekolah Tinggi Teknik Bandung, dan Sekolah Tinggi Hukum (Rechtshoogeschool) Batavia.

Karier: Tokoh pergerakan pemuda (Ketua PPPI), Menteri Pembangunan dan Pemuda dalam Kabinet Hatta I (1948).

Gelar: Pahlawan Nasional Indonesia (SK Presiden No. 039/TK/1970).

Makam: Taman Makam Pahlawan Semaki, Yogyakarta (dipindahkan dari Nganjuk). 


A. Soepeno (1916–1949) adalah pahlawan nasional dari Pekalongan, Jawa Tengah, yang gugur sebagai Menteri Pembangunan dan Pemuda dalam gerilya melawan Belanda (Agresi Militer II). Ia adalah pejuang muda cerdas, mantan ketua PPPI, dan menteri termuda yang gigih menentang Belanda, gugur ditembak di Nganjuk pada 24 Februari 1949. 

B. Perjuangan dan Akhir Hayat

1. Gerilya: Saat Belanda menyerang Yogyakarta pada 19 Desember 1948, Soepeno menolak menyerah dan memilih bergerilya. Ia dikenal sebagai "Menteri Gerilya" yang terus bergerak memimpin perlawanan.

2. Penangkapan: Setelah berbulan-bulan di hutan, Soepeno tertangkap Belanda pada 24 Februari 1949 di Desa Ganter, Nganjuk, Jawa Timur.

3. Gugur: Ia ditembak oleh tentara Belanda setelah interogasi di Desa Ganter dalam usia 32 tahun.

C. Perjuangan Era Jepang

1. Pada masa pendudukan Jepang, Supeno aktif dalam pergerakan pemuda dan tidak bekerja sama dengan pemerintah Jepang (non-kooperasi). 

2. Aktif di Pendidikan dan Organisasi: Supeno muda aktif dalam dunia pendidikan dan kepanduan, menanamkan rasa nasionalisme pada pemuda.

3. Gerakan Bawah Tanah: Supeno bergerak dalam gerakan bawah tanah (rahasia) untuk mempersiapkan kemerdekaan dan menghindari pengawasan Jepang yang ketat.

4. Fokus pada Pemuda: Ia menekankan pentingnya peran pemuda dalam perjuangan bangsa, mempersiapkan mental dan fisik pemuda untuk merebut kemerdekaan. 

D. Perjuangan Era Belanda (Agresi Militer)

1. Setelah kemerdekaan, Supeno menjabat sebagai Menteri Pembangunan dan Pemuda. Perjuangan terbesarnya terjadi saat Agresi Militer Belanda II (Desember 1948). 

2. Menolak Menyerah: Ketika Yogyakarta jatuh ke tangan Belanda pada Agresi Militer II, Supeno menolak untuk menyerah. Ia memutuskan untuk keluar dari kota dan memimpin gerilya di pedalaman.

3. Bergerilya di Jawa Tengah/Jawa Timur: Supeno bertugas untuk mengonsolidasikan kekuatan rakyat dan pejuang di Jawa Tengah dan Jawa Timur.

4. Gugur di Tangan Belanda: Pada tanggal 24 Februari 1949, Supeno ditangkap oleh tentara Belanda di Desa Ganter, Nganjuk, Jawa Timur. Ia ditembak mati saat masih menjabat sebagai menteri dalam masa pelarian gerilya. 

E. Detik-Detik Kematian dan Isu Pengkhianatan

1. Siapa yang Menembaknya? Soepeno ditembak mati oleh pasukan komando Belanda (pasukan baret hijau/KST). Meskipun identitas prajurit penembaknya seringkali dirujuk sebagai bagian dari unit militer Belanda secara kolektif, eksekusi dilakukan saat beliau tertangkap dalam persembunyian di Dusun Ganten.

2. Apakah Ada Pengkhianatan? Penangkapan Soepeno terjadi karena lokasi persembunyiannya terendus oleh intelijen Belanda selama pengepungan di wilayah Nganjuk. Beberapa catatan sejarah menyebutkan adanya kecurigaan informasi dari mata-mata lokal atau penduduk yang terpaksa memberikan informasi di bawah tekanan Belanda, namun faktor utama adalah intensitas patroli militer Belanda yang melacak jalur gerilya para menteri. 

3. Beliau dieksekusi bersama ajudannya tanpa proses pengadilan. 

F. Akhir Hayat dan Penembakan

1. Waktu dan Lokasi: Gugur pada 24 Februari 1949 di Desa Ganter, Nganjuk, Jawa Timur.

2. Kronologi & Penembak: Pasukan Belanda mengepung tempat persembunyiannya. Supeno ditangkap dan diminta mengaku sebagai penduduk biasa, namun ia dengan tegas menyatakan dirinya adalah Menteri Republik Indonesia. Ia ditembak mati di tempat oleh tentara Belanda dalam jarak dekat.

3. Pengkhianatan: Keberadaan rombongan Supeno di Dusun Ganter diketahui Belanda diduga karena adanya informasi dari informan atau mata-mata setempat yang membantu pelacakan patroli Belanda. 

G. Keluarga dan Teman Seperjuangan

1. Keluarga: Ia meninggalkan seorang istri bernama Kustiah dan seorang putri yang masih kecil saat itu.

2. Teman Seperjuangan: Supeno gugur bersama beberapa rekan setianya dalam rombongan gerilya tersebut, termasuk Arie Heratono (ajudan) dan beberapa staf kementerian lainnya yang juga dieksekusi oleh Belanda di lokasi yang sama.



RISALAH NASIONAL

SUPENO (SOEPENO)

Nama: Supeno (Soepeno)
Lahir: Pekalongan, Jawa Tengah — 12 Juni 1916
Wafat: Desa Ganter, Nganjuk, Jawa Timur — 24 Februari 1949

Pendidikan:

  • Algemeene Middelbare School (AMS) Semarang
  • Sekolah Tinggi Teknik Bandung
  • Rechtshoogeschool (Sekolah Tinggi Hukum) Batavia

Karier:

  • Ketua PPPI (Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia)
  • Menteri Pembangunan dan Pemuda dalam Kabinet Hatta I (1948)

Penghargaan:
Pahlawan Nasional Indonesia (SK Presiden No. 039/TK/1970)

Makam:
Taman Makam Pahlawan Semaki, Yogyakarta
(jenazah dipindahkan dari Nganjuk)


A. Profil Singkat

Supeno (1916–1949) adalah pahlawan nasional dari Pekalongan yang dikenal sebagai menteri termuda Republik Indonesia yang gugur dalam perjuangan melawan Belanda.

Ia aktif dalam pergerakan pemuda sejak masa muda dan kemudian menjadi Menteri Pembangunan dan Pemuda dalam pemerintahan Republik Indonesia.

Saat terjadi Agresi Militer Belanda II tahun 1948, Supeno memilih ikut bergerilya bersama para pejuang daripada menyerah kepada Belanda.


B. Perjuangan dan Akhir Hayat

1. Menteri Gerilya

Ketika Belanda menyerang Yogyakarta pada 19 Desember 1948, Supeno menolak menyerah dan memilih ikut bergerilya di pedalaman Jawa.

Karena keberaniannya memimpin perjuangan di lapangan, ia dikenal sebagai “Menteri Gerilya.”

2. Penangkapan

Setelah berbulan-bulan bergerilya di hutan dan desa-desa di Jawa Tengah dan Jawa Timur, Supeno akhirnya tertangkap oleh tentara Belanda.

Ia ditangkap pada 24 Februari 1949 di Desa Ganter, Nganjuk.

3. Gugur

Setelah ditangkap dan diinterogasi, Supeno ditembak oleh tentara Belanda.
Ia gugur pada usia 32 tahun saat masih menjabat sebagai menteri Republik Indonesia.


C. Perjuangan pada Masa Pendudukan Jepang

Pada masa penjajahan Jepang, Supeno aktif dalam kegiatan pergerakan pemuda.

Beberapa perjuangannya antara lain:

  1. Non-kooperasi dengan Jepang
    Ia tidak bekerja sama dengan pemerintah Jepang.

  2. Aktif dalam organisasi pemuda dan pendidikan
    Supeno mengajak pemuda untuk menumbuhkan semangat nasionalisme.

  3. Gerakan bawah tanah
    Ia ikut dalam kegiatan rahasia untuk mempersiapkan kemerdekaan Indonesia.

  4. Mempersiapkan pemuda bangsa
    Supeno menekankan pentingnya peran generasi muda dalam perjuangan kemerdekaan.


D. Perjuangan Melawan Belanda

Setelah Indonesia merdeka, Supeno menjadi Menteri Pembangunan dan Pemuda.

Perjuangan terbesarnya terjadi ketika Belanda melancarkan:

Agresi Militer Belanda II (1948).

Perjuangannya antara lain:

  1. Menolak menyerah ketika Yogyakarta diduduki Belanda.
  2. Keluar dari kota dan memimpin gerilya di pedalaman.
  3. Mengonsolidasikan kekuatan rakyat dan pejuang di Jawa Tengah dan Jawa Timur.
  4. Terus bergerilya hingga akhirnya tertangkap di Nganjuk.

E. Detik-Detik Penangkapan

Penangkapan Supeno terjadi di Dusun Ganter, Nganjuk.

Beberapa hal yang terjadi:

  • Pasukan Belanda mengepung tempat persembunyian Supeno.
  • Lokasi persembunyian diduga diketahui melalui intelijen Belanda atau informan lokal.
  • Supeno ditangkap bersama beberapa anggota rombongannya.

Ia tidak mengaku sebagai rakyat biasa, tetapi dengan tegas menyatakan bahwa dirinya adalah Menteri Republik Indonesia.


F. Eksekusi oleh Belanda

Setelah ditangkap:

  • Supeno diinterogasi oleh tentara Belanda.
  • Ia kemudian ditembak mati tanpa proses pengadilan.
  • Eksekusi dilakukan pada 24 Februari 1949.

Supeno gugur bersama beberapa rekannya, termasuk ajudannya Arie Heratono.


G. Keluarga dan Rekan Perjuangan

Supeno meninggalkan:

  • Seorang istri bernama Kustiah
  • Seorang putri yang masih kecil

Ia juga gugur bersama beberapa staf kementerian dan pejuang yang setia menemaninya dalam gerilya.


H. Nilai Keteladanan

Perjuangan Supeno memberikan banyak teladan bagi bangsa Indonesia:

✔ Berani melawan penjajah
✔ Mengutamakan kepentingan negara
✔ Setia pada perjuangan sampai akhir hayat
✔ Menginspirasi pemuda untuk berjuang bagi bangsa




70 SUH

Buatlah Risalah dan Infografis tentang Pahlawan :

Otto Iskandar Dinata 

(Raden Otto Iskandar Dinata)

Lahir di Bojongsoang, Kabupaten Bandung, 31 Maret 1897.

Meninggal di Pantai Mauk, Tangerang, Banten, 20 Desember 1945 (dibunuh).

Julukan: Si Jalak Harupat (ayam jantan yang kuat dan berani)

Pendidikan: Sekolah Guru Atas.

Organisasi: Paguyuban Pasundan (Ketua), Budi Utomo, Volksraad. 


A. Otto Iskandar Dinata (1897–1945), dijuluki "Si Jalak Harupat", adalah Pahlawan Nasional Indonesia dari Jawa Barat. Ia merupakan pejuang kemerdekaan, anggota BPUPKI/PPKI, dan Menteri Negara pertama yang aktif dalam organisasi Paguyuban Pasundan, Budi Utomo, serta jurnalisme. Perjuangannya berani, tanpa menyerah, dan diculik pada masa revolusi. 

B. Perjuangan dan Peran

1. Pendidik & Aktivis: Memulai karier sebagai guru, aktif di Paguyuban Pasundan untuk memajukan pendidikan rakyat, serta menjadi Wakil Ketua Budi Utomo cabang Pekalongan.

2. Anggota Volksraad: Menjadi anggota Dewan Rakyat (Volksraad) pada 1930-1941, berani mengkritik kebijakan kolonial Belanda yang merugikan rakyat pribumi.

3. Pers & Masa Jepang: Memimpin surat kabar Tjahaja dan bergabung dengan Pusat Tenaga Rakyat (Putera) serta Peta.

4. BPUPKI/PPKI: Aktif merumuskan dasar negara dan berperan penting dalam mempersiapkan kemerdekaan Indonesia.

5. Menteri Negara: Menjabat sebagai Menteri Negara pada kabinet pertama setelah proklamasi kemerdekaan.

C. Perjuangan di Era Belanda:

1. Anggota Volksraad (1930-1941): Otto dikenal sebagai anggota Dewan Rakyat yang berani mengecam pemerintah kolonial Belanda. Ia rajin menyuarakan kritik terhadap perlakuan tidak adil pengusaha perkebunan Belanda terhadap pribumi.

2. Pemimpin Paguyuban Pasundan: Menjadi ketua (1929-1942) dan membawa organisasi ini bergerak di bidang politik, pendidikan (mendirikan Sekolah Kartini), ekonomi (Bank Pasundan), dan sosial-budaya.

3. Kritis di Dewan Kota: Aktif di Gemeenteraad Pekalongan, sering mengkritik diskriminasi pendidikan dan sosial.

D. Perjuangan di Era Jepang:

1. Pemimpin Surat Kabar Tjahaja (1942-1945): Menggunakan media untuk menyuarakan kepentingan rakyat dan menjaga semangat nasionalisme di tengah ketatnya sensor Jepang.

2. Organisasi Bentukan Jepang: Menjadi anggota Jawa Hokokai dan Pembela Tanah Air (Peta) untuk memperkuat posisi pribumi.

3. BPUPKI & PPKI: Berperan aktif dalam perumusan dasar negara dan persiapan kemerdekaan. 

E. Perjuangan Pasca Kemerdekaan:

1. Menteri Negara (1945): Menjadi Menteri Negara dalam kabinet pertama RI, bertugas merumuskan Badan Keamanan Rakyat (BKR) dari laskar-laskar rakyat.

2. Wafat: Gugur akibat diculik oleh kelompok yang disebut Laskar Hitam dan jasadnya tidak pernah ditemukan. 

F. Mengapa Diculik Laskar Hitam?

1. Setelah proklamasi kemerdekaan, Otto diangkat menjadi Menteri Negara dalam kabinet pertama RI. Namun, ia diculik oleh kelompok yang disebut Laskar Hitam pada Desember 1945. 

2. Apa itu Laskar Hitam? Laskar Hitam adalah kelompok bersenjata liar yang muncul di masa awal kemerdekaan, seringkali bergerak di luar komando resmi pemerintah. Beberapa referensi mengaitkan kelompok ini dengan ketidakpuasan faksi tertentu terhadap situasi politik saat itu.

3. Alasan Penculikan: Otto diculik karena posisinya yang tegas dalam mendukung pembentukan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) dan menolak penggabungan laskar-laskar liar ke dalam TKR tanpa seleksi. Selain itu, ia dituduh sebagai "mata-mata" oleh faksi tertentu yang tidak suka dengan langkah-langkah moderatnya, meskipun hal ini tidak terbukti.

4. Kematian: Otto dibunuh oleh anggota Laskar Hitam bernama Mujitaba di Pantai Mauk, Tangerang, dan jasadnya tidak pernah ditemukan.

G. Pekik Merdeka dan Peran Otto

1. Otto Iskandar Dinata adalah tokoh yang sangat berperan dalam mengusulkan dan memopulerkan pekik "Indonesia Merdeka". 

2. Konteks: Sebagai pimpinan Paguyuban Pasundan dan tokoh pergerakan, ia merasa perlu ada semboyan penyemangat yang tegas.

3. Tanggal: Usulan ini menguat pada masa-masa krusial menjelang kemerdekaan (1945), di mana ia mendorong penggunaan pekik tersebut untuk membakar semangat perlawanan. 

H. Ringkasan Akhir Hayat

1. Otto Iskandardinata diculik pada 19 Desember 1945 (bukan 1 September 1945, 1 September adalah masa awal persiapan struktur pemerintahan).

2. Ia dinyatakan tewas dibunuh pada 20 Desember 1945 di Mauk, Tangerang.

3. Pemerintah Indonesia memberikan penghormatan sebagai Pahlawan Nasional atas jasanya yang besar bagi negara.


RISALAH PAHLAWAN NASIONAL

Otto Iskandar Dinata

“Si Jalak Harupat” – Pejuang dari Tanah Sunda


BIODATA SINGKAT

Nama Lengkap: Raden Otto Iskandar Dinata
Julukan: Si Jalak Harupat (ayam jantan yang kuat dan berani)

Tempat, Tanggal Lahir:
Bojongsoang, Kabupaten Bandung, 31 Maret 1897

Wafat:
Pantai Mauk, Tangerang, Banten, 20 Desember 1945 (dibunuh)

Pendidikan:
Sekolah Guru Atas

Organisasi:

  • Paguyuban Pasundan (Ketua)
  • Budi Utomo
  • Volksraad (Dewan Rakyat)

Jabatan Penting:
Menteri Negara pada kabinet pertama Republik Indonesia


A. RIWAYAT SINGKAT

Otto Iskandar Dinata (1897–1945) adalah seorang tokoh pergerakan nasional dan Pahlawan Nasional Indonesia dari Jawa Barat. Ia dikenal dengan julukan “Si Jalak Harupat”, yang menggambarkan keberaniannya dalam memperjuangkan hak rakyat.

Ia aktif dalam berbagai organisasi pergerakan seperti Paguyuban Pasundan, Budi Utomo, serta menjadi anggota Volksraad pada masa kolonial Belanda. Selain itu, Otto juga berperan dalam BPUPKI dan PPKI dalam mempersiapkan kemerdekaan Indonesia.

Setelah Indonesia merdeka, ia menjabat sebagai Menteri Negara dalam kabinet pertama Republik Indonesia. Namun pada masa revolusi, ia diculik dan dibunuh pada tahun 1945.


B. PERJUANGAN DAN PERAN

1. Pendidik dan Aktivis

Otto memulai kariernya sebagai guru. Ia kemudian aktif di organisasi Paguyuban Pasundan yang bertujuan memajukan pendidikan dan kesejahteraan rakyat Sunda.

2. Anggota Volksraad

Pada tahun 1930–1941, Otto menjadi anggota Volksraad. Ia dikenal sebagai tokoh yang berani mengkritik kebijakan pemerintah kolonial Belanda yang merugikan rakyat pribumi.

3. Tokoh Pers

Ia juga memimpin surat kabar Tjahaja, menggunakan media sebagai sarana untuk menyuarakan kepentingan rakyat dan membangkitkan kesadaran nasional.

4. BPUPKI dan PPKI

Otto turut berperan dalam merumuskan dasar negara dan mempersiapkan kemerdekaan Indonesia melalui keanggotaannya dalam BPUPKI dan PPKI.

5. Menteri Negara

Setelah Proklamasi Kemerdekaan 1945, Otto diangkat sebagai Menteri Negara dalam kabinet pertama Republik Indonesia.


C. PERJUANGAN DI ERA BELANDA

1. Anggota Volksraad (1930–1941)

Otto sering menyuarakan kritik keras terhadap kebijakan kolonial Belanda, terutama terkait ketidakadilan terhadap rakyat pribumi.

2. Ketua Paguyuban Pasundan

Sebagai ketua Paguyuban Pasundan (1929–1942), ia mengembangkan organisasi tersebut di berbagai bidang:

  • Pendidikan (mendirikan Sekolah Kartini)
  • Ekonomi (mendirikan Bank Pasundan)
  • Sosial dan budaya

3. Aktivis Dewan Kota

Otto juga aktif di Gemeenteraad Pekalongan dan sering mengkritik diskriminasi pendidikan serta kebijakan sosial yang merugikan rakyat.


D. PERJUANGAN DI ERA JEPANG

1. Pemimpin Surat Kabar

Pada masa pendudukan Jepang (1942–1945), Otto memimpin surat kabar Tjahaja untuk menjaga semangat nasionalisme rakyat.

2. Organisasi Bentukan Jepang

Ia bergabung dengan beberapa organisasi bentukan Jepang seperti:

  • Jawa Hokokai
  • PETA (Pembela Tanah Air)

Tujuannya adalah memperkuat posisi rakyat Indonesia dalam perjuangan kemerdekaan.

3. BPUPKI dan PPKI

Otto menjadi anggota BPUPKI dan PPKI yang merancang dasar negara dan mempersiapkan kemerdekaan Indonesia.


E. PERJUANGAN SETELAH KEMERDEKAAN

1. Menteri Negara (1945)

Otto menjabat sebagai Menteri Negara dalam kabinet pertama Republik Indonesia.

Ia terlibat dalam upaya membentuk Badan Keamanan Rakyat (BKR) yang kemudian menjadi cikal bakal tentara nasional Indonesia.

2. Wafat

Pada masa revolusi, Otto diculik oleh kelompok bersenjata yang dikenal sebagai Laskar Hitam. Ia kemudian dibunuh di Pantai Mauk, Tangerang, pada 20 Desember 1945. Jasadnya tidak pernah ditemukan.


F. MENGAPA OTTO DICULIK?

1. Situasi Politik

Pada awal kemerdekaan, banyak kelompok bersenjata muncul di luar kendali pemerintah.

2. Laskar Hitam

Laskar Hitam adalah kelompok bersenjata liar yang muncul pada masa revolusi dan sering bertindak di luar komando pemerintah.

3. Alasan Penculikan

Otto diculik karena:

  • Mendukung pembentukan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) secara resmi
  • Menolak penggabungan laskar liar tanpa seleksi

Akibat sikap tegas tersebut, ia dituduh oleh beberapa pihak sebagai mata-mata, meskipun tuduhan ini tidak pernah terbukti.

4. Kematian

Otto akhirnya dibunuh oleh anggota Laskar Hitam bernama Mujitaba di Pantai Mauk.


G. PERAN DALAM PEKIK “INDONESIA MERDEKA”

Otto Iskandar Dinata merupakan salah satu tokoh yang memopulerkan pekik “Indonesia Merdeka!” sebagai semboyan perjuangan rakyat.

Sebagai pemimpin Paguyuban Pasundan, ia mendorong penggunaan semboyan tersebut untuk membangkitkan semangat nasionalisme dan perjuangan kemerdekaan.


H. RINGKASAN AKHIR HAYAT

  • Otto Iskandar Dinata diculik pada 19 Desember 1945
  • Ia dibunuh pada 20 Desember 1945 di Pantai Mauk, Tangerang
  • Jasadnya tidak pernah ditemukan
  • Pemerintah Indonesia kemudian memberikan gelar Pahlawan Nasional

Nilai Keteladanan Otto Iskandar Dinata

  • Berani menyuarakan kebenaran
  • Cinta tanah air
  • Berjuang melalui pendidikan, politik, dan pers
  • Rela berkorban demi kemerdekaan Indonesia



73 SUH

Buatlah Risalah dan Infografis tentang Pahlawan :

Yos Sudarso 

(Yosaphat Sudarso)

Lahir di Salatiga, Jawa Tengah, 24 November 1925.

Meninggal di  perairan Laut Aru,15 Januari 1962. (gugur dalam Perang Trikora).

Orang Tua: Sukarno Darmoprawiro dan Mariyam

Agama: Katolik

Istri: Siti Kustini (menikah tahun 1955)

Pendidikan: Hollandsch Inlandsch School (HIS), MULO, dan Sekolah Pelayaran (NIAS)

Pangkat Terakhir: Laksamana Madya (Anumerta) 


A. Laksamana Madya TNI (Anumerta) Yosaphat Sudarso, lahir di Salatiga 24 November 1925, adalah pahlawan nasional yang gugur pada 15 Januari 1962 dalam Pertempuran Laut Aru saat Operasi Trikora. Sebagai Deputi I KASAL, ia tewas di KRI Macan Tutul demi memecah konsentrasi kapal Belanda. 

B. Perjuangan dan Karier:

1. Karier Awal: Bergabung dengan BKR Laut setelah kemerdekaan dan aktif dalam operasi militer, termasuk mengatasi berbagai pemberontakan di Indonesia.

2. Peran di Laut Aru: Sebagai Komodor, Yos memimpin KRI Macan Tutul, KRI Harimau, dan KRI Macan Kumbang dalam misi infiltrasi ke Irian Barat.

3. Detik-detik Gugur: Saat KRI Macan Tutul diserang kapal Belanda, Yos Sudarso memerintahkan kapal lain untuk mundur sementara ia menahan serangan agar awak lainnya selamat. Kata-kata terakhirnya yang terkenal adalah, "Kobarkan semangat pertempuran".

4. Penghormatan: Pemerintah memberikan gelar Pahlawan Nasional dan nama Yos Sudarso diabadikan sebagai nama pulau, teluk, serta kapal KRI.

C. Perjuangan di Era Jepang dan Belanda (Masa Awal Karier)

1. Era Jepang: Yos Sudarso menempuh pendidikan pelayaran dan mulai berkarier di bidang maritim.

2. Era Pasca-Kemerdekaan/Belanda (Agresi Militer): Setelah kemerdekaan 1945, Yos Sudarso bergabung dengan Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI). Ia aktif mempertahankan kemerdekaan dari agresi militer Belanda.

3. Tugas Operasi: Ia dikenal berani memimpin kapal-kapal perang seperti KRI Rajawali, KRI Alu, KRI Gajah Mada, dan KRI Pattimura untuk mengatasi berbagai pemberontakan dan menjaga keamanan perairan NKRI. 

D. Perjuangan Pasca-Kemerdekaan (Pembebasan Irian Barat)

1. Operasi Trikora: Puncak perjuangan Yos Sudarso terjadi pada awal 1960-an saat konfrontasi Indonesia-Belanda mengenai Irian Barat.

2. Wakil Kepala Staf AL: Ia diangkat menjadi Deputi Operasi/Wakil KSAL dan berperan penting dalam merencanakan operasi pembebasan Irian Barat.

3. Pertempuran Laut Aru (15 Januari 1962): Yos Sudarso memimpin gugus tugas (armada kecil) yang terdiri dari KRI Macan Tutul, KRI Harimau, dan KRI Macan Kumbang untuk melakukan patroli di perairan Irian Barat. 

E. Gugur dalam Tugas (Pertempuran Laut Aru) 

1. Pada 15 Januari 1962, ketiga KRI tersebut diserang oleh kapal perusak dan pesawat terbang Belanda yang lebih modern di Laut Aru. Dalam kondisi terdesak, Yos Sudarso berada di KRI Macan Tutul. 

2. Aksi Heroik: Untuk menyelamatkan dua kapal lainnya (KRI Harimau dan KRI Macan Kumbang), Yos Sudarso mengambil keputusan berani dengan memancing tembakan musuh ke arah KRI Macan Tutul.

3. Pesan Terakhir: Sebelum tenggelam, Yos Sudarso meneriakkan perintah: "Kobarkan terus semangat pertempuran!".

4. Wafat: KRI Macan Tutul terbakar dan tenggelam. Yos Sudarso gugur bersama kapal tersebut. Tindakan kepahlawanannya berhasil menyelamatkan awak kapal lain dan meningkatkan semangat perjuangan untuk merebut kembali Irian Barat. 

5. Gugur: KRI Macan Tutul terbakar dan tenggelam, Yos Sudarso gugur bersama sebagian anak buahnya

F. Keluarga yang Ditinggalkan

1. Yos Sudarso dikenal sebagai sosok yang sangat menyayangi keluarganya. Beliau meninggalkan seorang istri, Siti Sukarti, dan lima orang anak. 

2. Nasib Anak Buah

Dalam pertempuran Laut Aru tersebut, tidak semua anak buah gugur. Beberapa anggota awak KRI Macan Tutul berhasil selamat setelah kapal mereka tenggelam, meskipun harus mengalami penyiksaan dan ditawan oleh pihak Belanda. Kejadian ini memicu duka mendalam sekaligus semangat membara dalam upaya Trikora.

3. Untuk mengenang keberaniannya, tanggal 15 Januari diperingati sebagai Hari Dharma Samudera.



RISALAH PAHLAWAN NASIONAL

YOS SUDARSO

(Yosaphat Sudarso)

Laksamana Madya TNI (Anumerta)
Gugur dalam Pertempuran Laut Aru – Operasi Trikora (1925–1962)


IDENTITAS TOKOH

  • Nama: Yosaphat Sudarso (Yos Sudarso)
  • Lahir: Salatiga, Jawa Tengah, 24 November 1925
  • Wafat: Laut Aru, 15 Januari 1962
  • Orang Tua: Sukarno Darmoprawiro dan Mariyam
  • Agama: Katolik
  • Istri: Siti Kustini (menikah tahun 1955)
  • Pendidikan:
    • Hollandsch Inlandsch School (HIS)
    • MULO
    • Sekolah Pelayaran (NIAS)
  • Pangkat Terakhir: Laksamana Madya TNI (Anumerta)

A. PROFIL SINGKAT

Laksamana Madya TNI (Anumerta) Yosaphat Sudarso adalah pahlawan nasional Indonesia yang gugur dalam Pertempuran Laut Aru pada 15 Januari 1962 saat menjalankan Operasi Trikora untuk membebaskan Irian Barat dari Belanda.

Sebagai Deputi I Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL), ia memimpin gugus tugas kapal perang Indonesia.
Ia gugur saat memimpin KRI Macan Tutul dalam pertempuran melawan armada Belanda.


B. PERJUANGAN DAN KARIER

1. Karier Awal

Setelah kemerdekaan Indonesia tahun 1945, Yos Sudarso bergabung dengan Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI).
Ia aktif dalam berbagai operasi militer untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

2. Pengalaman Memimpin Kapal

Yos Sudarso pernah memimpin beberapa kapal perang Indonesia, seperti:

  • KRI Rajawali
  • KRI Alu
  • KRI Gajah Mada
  • KRI Pattimura

Ia dikenal sebagai pemimpin yang berani dan disiplin dalam menjaga kedaulatan laut Indonesia.

3. Peran di Operasi Trikora

Pada awal 1960-an, Indonesia melancarkan Operasi Trikora untuk merebut kembali Irian Barat dari Belanda.
Yos Sudarso diangkat sebagai Deputi Operasi/Wakil Kepala Staf Angkatan Laut dan memimpin operasi di laut.


C. PERJUANGAN DI LAUT ARU

1. Misi Infiltrasi

Pada 15 Januari 1962, Yos Sudarso memimpin tiga kapal perang:

  • KRI Macan Tutul
  • KRI Harimau
  • KRI Macan Kumbang

Mereka melakukan patroli dan infiltrasi di wilayah perairan Irian Barat.

2. Diserang Armada Belanda

Di Laut Aru, armada kecil Indonesia diserang oleh kapal perusak dan pesawat Belanda yang memiliki persenjataan lebih modern.

3. Aksi Heroik

Untuk menyelamatkan dua kapal lainnya, Yos Sudarso memancing serangan musuh ke arah KRI Macan Tutul sehingga kapal lain dapat mundur.


D. GUGUR DALAM TUGAS

  • KRI Macan Tutul terbakar dan tenggelam dalam pertempuran.
  • Yos Sudarso gugur bersama sebagian awak kapal.
  • Pengorbanannya berhasil menyelamatkan banyak prajurit Indonesia.

Sebelum gugur, ia menyampaikan pesan terakhir yang terkenal:

“Kobarkan semangat pertempuran!”


E. AKHIR HAYAT DAN WARISAN

Pengorbanan Yos Sudarso memberikan semangat besar bagi perjuangan pembebasan Irian Barat.

Untuk mengenang jasanya:

  • Namanya diabadikan sebagai Pulau Yos Sudarso di Papua.
  • Namanya digunakan sebagai nama jalan dan kapal perang TNI AL.
  • 15 Januari diperingati sebagai Hari Dharma Samudera untuk mengenang Pertempuran Laut Aru.



75 SUH

Buatlah Risalah dan Infografis tentang Pahlawan :

Abdulrachman Saleh.

Lahir di Jakarta (Kampung Ketapang/Kwitang Barat), 1 Juli 1909.

Meninggal di Maguwoharjo, Sleman, 29 Juli 1947 (usia 38 tahun).

Julukan: Pak Karbol (saat menjadi dosen).

Pendidikan: HIS, MULO, AMS, dan STOVIA/GHS (Sekolah Kedokteran).

Karier: Dokter, Pendidik, Penerbang, Tokoh Radio, Komodor Muda Udara.

Gelar: Pahlawan Nasional (1974), Bapak Ilmu Faal Indonesia.


A. Marsekal Muda TNI (Anumerta) Abdulrachman Saleh (1909–1947) adalah Pahlawan Nasional Indonesia multitalenta asal Jakarta, dikenal sebagai bapak fisiologi kedokteran, pendiri RRI, dan perintis AURI. Ia gugur pada 29 Juli 1947 saat pesawat bantuan obat-obatan yang dikemudikannya ditembak jatuh Belanda di Yogyakarta. 

B. Perjuangan dan Peran Penting:

1. Radio Republik Indonesia (RRI): Memelopori siaran radio "Suara Indonesia Merdeka" pada 17 Agustus 1945 untuk menyebarkan berita proklamasi ke dunia internasional, sekaligus tokoh pendiri RRI.

2. Perintis Angkatan Udara (AURI): Aktif mengembangkan penerbangan, memperbaiki pesawat peninggalan Jepang, dan menjadi instruktur penerbang.

3. Misi Kemanusiaan: Gugur dalam tugas membawa bantuan obat-obatan dari Singapura untuk PMI di Yogyakarta, yang pesawatnya (VT-CLA) ditembak jatuh oleh Belanda di dekat Pangkalan Udara Maguwo.

4. Akademi Angkatan Udara: Nama julukannya, "Karbol", diabadikan sebagai sebutan untuk taruna/taruni Akademi Angkatan Udara. 

C. Perjuangan Era Belanda (Pra-1942)

1. Pendidikan dan Pengabdian: Abdulrachman aktif dalam pergerakan pemuda sejak masa sekolah di STOVIA. Sebagai dokter, ia dikenal tidak hanya mengobati fisik, tetapi juga membangkitkan semangat nasionalisme.

2. Organisasi: Ia aktif di organisasi pemuda seperti Jong Java dan Indonesia Muda.

3. Kesehatan Masyarakat: Ia bekerja sebagai dokter dan aktif dalam penelitian faal (fisiologi) di Batavia (Jakarta). 

D. Perjuangan Era Jepang (1942–1945)

1. Mengajar dan Mengabdi: Selama pendudukan Jepang, ia menjadi dosen di Ika Daigaku (Sekolah Tinggi Kedokteran) Jakarta.

2. Penyelundupan Obat-obatan: Ia berani menyelundupkan obat-obatan untuk pejuang Indonesia dari gudang Jepang.

3. Radio Gelap: Ia menggunakan keahlian teknisnya untuk mengoperasikan "radio gelap" (radio ilegal) untuk mendengarkan siaran luar negeri guna memantau perkembangan Perang Pasifik. 

E. Perjuangan Pasca Kemerdekaan (1945–1947)

1. Pendiri RRI: Pada 11 September 1945, ia memelopori berdirinya Radio Republik Indonesia (RRI) Jakarta. RRI menjadi alat komunikasi vital untuk menyebarkan berita proklamasi ke seluruh dunia.

2. Perintis TNI AU: Ia merupakan salah satu pendiri Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI) dan menjadi Komodor Muda Udara.

3. Membangun Pendidikan AURI: Ia mendirikan sekolah penerbang di Yogyakarta (Maguwo).

4. Diplomasi Udara: Ia berhasil menerbangkan pesawat Dakota VT-CLA dari Singapura ke Yogyakarta pada 1946 untuk menembus blokade Belanda, membawa obat-obatan. 

F. Akhir Hayat

Pesawat Dakota VT-CLA yang ditumpangi Abdulrachman Saleh ditembak jatuh oleh dua pesawat P-40 Kittyhawk Belanda di dekat Pangkalan Udara Maguwo, Yogyakarta, pada sore hari tanggal 29 Juli 1947. Seluruh awak pesawat gugur. Ia dimakamkan di Makam Pahlawan Kuncen, Yogyakarta, sebelum akhirnya dipindahkan ke Makam Pahlawan Semaki. 

1. Korban: Dalam pesawat tersebut terdapat 9 orang (beberapa sumber menyebutkan total 9 orang termasuk kru dan penumpang). Korban gugur termasuk Abdulrachman Saleh, Adisutjipto, Adisumarmo Wiryokusumo, dan kru lainnya. 

2. Keluarga

Abdulrachman Saleh meninggalkan seorang istri bernama Ismudiati dan beberapa orang anak. 

3. Teman Seperjuangan

Halim Perdana Kusuma: Rekan penerbang yang gugur bersama beliau di pesawat Dakota VT-CLA.

Agustinus Adisutjipto: Perintis Angkatan Udara yang juga gugur dalam rangkaian perjuangan yang sama.

Jusuf Ronodipuro: Teman dalam merintis radio RRI.

G. Atas jasa-jasanya, ia ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia pada tahun 1974. Namanya diabadikan menjadi nama bandara di Malang, Jawa Timur, dan nama Jalan di Jakarta.



RISALAH NASIONAL

ABDULRACHMAN SALEH (1909–1947)

Nama: Abdulrachman Saleh
Lahir: Jakarta (Kampung Ketapang/Kwitang Barat) — 1 Juli 1909
Wafat: Maguwoharjo, Sleman — 29 Juli 1947 (usia 38 tahun)

Julukan: “Pak Karbol” (saat menjadi dosen)

Pendidikan:

  • HIS
  • MULO
  • AMS
  • STOVIA / Geneeskundige Hogeschool (Sekolah Kedokteran)

Karier:
Dokter, pendidik, penerbang, tokoh radio, Komodor Muda Udara.

Gelar:
Pahlawan Nasional Indonesia (1974)
Bapak Ilmu Faal (Fisiologi) Indonesia.


A. Profil Singkat

Marsekal Muda TNI (Anumerta) Abdulrachman Saleh adalah tokoh nasional multitalenta dari Jakarta yang berperan besar dalam bidang kedokteran, radio, dan penerbangan militer Indonesia.

Ia dikenal sebagai:

  • Perintis Radio Republik Indonesia
  • Perintis Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI)
  • Bapak Ilmu Faal Indonesia

Ia gugur pada 29 Juli 1947 ketika pesawat Dakota yang membawa bantuan obat-obatan ditembak jatuh oleh Belanda di dekat Pangkalan Udara Maguwo, Yogyakarta.


B. Perjuangan dan Peran Penting

1. Radio Republik Indonesia (RRI)

Abdulrachman Saleh memelopori siaran radio “Suara Indonesia Merdeka” setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia 1945.

Ia juga menjadi salah satu tokoh pendiri Radio Republik Indonesia pada 11 September 1945.

Radio ini sangat penting untuk menyebarkan berita kemerdekaan Indonesia ke seluruh dunia.


2. Perintis Angkatan Udara

Ia aktif mengembangkan penerbangan Indonesia dan menjadi salah satu perintis Angkatan Udara Republik Indonesia.

Ia juga:

  • memperbaiki pesawat peninggalan Jepang
  • menjadi instruktur penerbang
  • mengembangkan pendidikan penerbang.

3. Misi Kemanusiaan

Abdulrachman Saleh gugur ketika menjalankan misi kemanusiaan membawa obat-obatan dari Singapura untuk PMI di Yogyakarta.

Pesawat Dakota VT-CLA yang ditumpanginya ditembak jatuh oleh pesawat Belanda di dekat Pangkalan Udara Maguwo pada 29 Juli 1947.


4. Akademi Angkatan Udara

Julukan “Karbol” yang melekat padanya kemudian diabadikan sebagai sebutan untuk taruna Akademi Angkatan Udara.


C. Perjuangan Era Belanda (Pra-1942)

Pada masa sebelum Perang Dunia II, Abdulrachman Saleh aktif dalam pendidikan dan pergerakan pemuda.

Perannya antara lain:

  1. Aktif di dunia pendidikan sebagai dokter dan peneliti fisiologi.
  2. Organisasi pemuda, seperti Jong Java dan Indonesia Muda.
  3. Kesehatan masyarakat, membantu pengobatan masyarakat di Batavia.

D. Perjuangan Era Jepang (1942–1945)

Saat Jepang menduduki Indonesia, ia tetap berjuang melalui pendidikan dan kegiatan rahasia.

Perjuangannya antara lain:

  1. Mengajar di Ika Daigaku (Sekolah Tinggi Kedokteran) Jakarta.
  2. Menyelundupkan obat-obatan dari gudang Jepang untuk membantu pejuang.
  3. Mengoperasikan radio gelap untuk mendengarkan berita luar negeri tentang perkembangan perang.

E. Perjuangan Pasca Kemerdekaan (1945–1947)

Setelah Indonesia merdeka, Abdulrachman Saleh semakin aktif dalam perjuangan negara.

Perannya meliputi:

  1. Pendiri RRI sebagai alat komunikasi perjuangan bangsa.
  2. Perintis AURI, membangun kekuatan udara Indonesia.
  3. Mendirikan sekolah penerbang di Maguwo (Yogyakarta).
  4. Diplomasi udara, menembus blokade Belanda dengan pesawat Dakota dari Singapura.

F. Akhir Hayat

Pada 29 Juli 1947, pesawat Dakota VT-CLA yang membawa obat-obatan ditembak jatuh oleh dua pesawat Belanda P-40 Kittyhawk di dekat Pangkalan Udara Maguwo.

Seluruh awak pesawat gugur.

Korban gugur antara lain:

  • Abdulrachman Saleh
  • Agustinus Adisutjipto
  • Adisumarmo Wiryokusumo
  • serta kru lainnya.

Ia kemudian dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Semaki, Yogyakarta.


G. Keluarga dan Rekan Perjuangan

Abdulrachman Saleh meninggalkan:

  • seorang istri bernama Ismudiati
  • beberapa orang anak.

Beberapa rekan seperjuangannya:

  • Halim Perdanakusuma – penerbang AURI
  • Agustinus Adisutjipto – perintis AURI
  • Jusuf Ronodipuro – tokoh perintis RRI

H. Warisan dan Penghargaan

Atas jasa-jasanya, Abdulrachman Saleh dianugerahi gelar Pahlawan Nasional pada tahun 1974.

Namanya diabadikan menjadi:

  • **Bandar Udara Abdul Rachman Saleh di Malang
  • berbagai nama jalan di Indonesia.

Nilai Keteladanan

✔ Ilmuwan yang mengabdi untuk bangsa
✔ Berani dan rela berkorban
✔ Memadukan ilmu pengetahuan dengan perjuangan
✔ Patriot yang gugur dalam tugas kemanusiaan




86 SUH

Buatlah Risalah dan Infografis tentang Pahlawan :

Tengku Amir Hamzah

Nama Lengkap: Tengku Amir Hamzah Pangeran Indra Poetera.

Lahir di Tanjung Pura, Langkat, Sumatera Timur, 28 Februari 1911.

Meninggal di Kuala Begumit, Langkat, Sumatera Timur, 20 Maret 1946 (usia 35 tahun).

Pendidikan: MULO Medan, Christelijk MULO Batavia, AMS Jawa.

Karya Terkenal: Nyanyi Sunyi (1937), Buah Rindu (1941), Setanggi Timur.

Gelar: Pahlawan Nasional Indonesia (SK Presiden No. 106/1975). 


A. Tengku Amir Hamzah (lahir di Tanjung Pura, Langkat, 28 Februari 1911 – wafat 20 Maret 1946) adalah sastrawan besar Angkatan Pujangga Baru dan Pahlawan Nasional Indonesia (1975). Bangsawan Langkat ini berjuang melalui sastra dan pendidikan, serta menjadi Wakil Pemerintah RI di Langkat sebelum gugur tragis akibat revolusi sosial. 

B. Perjuangan dan Kiprah:

1. Pelopor Sastra: Amir Hamzah dijuluki "Raja Penyair Pujangga Baru" yang berperan besar memodernisasi sastra Melayu dan memperkokoh bahasa Indonesia. Ia adalah penyair, prosa liris, dan penerjemah handal.

2. Perjuangan Melalui Pendidikan: Aktif di Taman Siswa (Perguruan Rakyat) di Jakarta untuk mencerdaskan bangsa.

3. Wakil Pemerintah RI: Pasca kemerdekaan, ia diangkat menjadi Wakil Pemerintah Republik Indonesia untuk Langkat (berkedudukan di Binjai) pada 29 Oktober 1945.

4. Korban Revolusi Sosial: Di tengah situasi revolusi sosial di Sumatera Timur, ia difitnah dan tewas dipancung pada 20 Maret 1946. Belakangan terbukti ia hanyalah korban salah sasaran yang tidak bersalah.

C. Perjuangan Era Belanda (Pra-Kemerdekaan)

1. Pada masa penjajahan Belanda, perjuangan Amir Hamzah berfokus pada jalur budaya, pendidikan, dan pergerakan pemuda: 

2. Pelopor Sastra: Bersama Sutan Takdir Alisjahbana dan Armijn Pane, ia mendirikan majalah Poedjangga Baroe pada tahun 1933.

3. Bahasa Indonesia: Ia konsisten menggunakan bahasa Melayu yang kemudian berevolusi menjadi bahasa Indonesia, memperkuat semangat persatuan sesuai amanat Kongres Pemuda II 1928.

4. Taman Siswa: Amir pernah menjadi guru di Perguruan Rakyat (bagian dari Taman Siswa) di Jakarta, aktif mendidik pemuda.

5. Tekanan Belanda: Belanda sempat berupaya memisahkannya dari pergerakan nasional dengan memaksanya kembali ke Langkat untuk menikahi putri sultan, yang menjauhkannya dari teman-teman perjuangannya di Jawa.

D. Perjuangan Era Jepang

1. Saat Jepang menduduki Indonesia, ruang gerak politik terbatas.

2. Berkarya: Amir Hamzah tetap berkarya meskipun situasi sulit.

3. Kiprah: Meskipun informasi pada periode ini terbatas, ia tetap berada di lingkaran bangsawan yang berusaha mempertahankan posisi adat, namun secara pribadi mendukung kemerdekaan Indonesia. 

E. Perjuangan Pasca Kemerdekaan Indonesia

Setelah proklamasi 17 Agustus 1945, Amir Hamzah berpihak penuh pada Republik Indonesia: 

1. Jabatan: Ia diangkat oleh pemerintah RI sebagai Lareh (Wakil Pemerintah Republik Indonesia) di Langkat.

2. Tragedi: Perjuangannya berakhir tragis ketika meletus Revolusi Sosial di Sumatera Timur pada awal 1946. Kelompok sosialist/ekstremis menganggap bangsawan sebagai perpanjangan tangan Belanda. Amir Hamzah diculik dan dipancung pada 20 Maret 1946 di Kuala Begumit. 

F. Karya Sastra

Amir Hamzah dikenal dengan gaya bahasanya yang tinggi, halus, namun tajam. 

1. Kumpulan Puisi: Nyanyi Sunyi (1937) dan Buah Rindu (1941).

2. Karya Lain: Sastra Melayu Lama dengan Tokoh-Tokohnya (1941), serta berbagai sajak dan terjemahan yang tersebar di majalah Pandji Poestaka (seperti "Di Tepi Pantai", "Bonda", "Kemboja").

G. Mengapa Dibunuh Bangsanya Sendiri?

Amir Hamzah dibunuh oleh kaum revolusionis dalam peristiwa Revolusi Sosial Sumatera Timur pada 20 Maret 1946. Penyebab utamanya adalah: 

1. Fitnah dan Salah Sasaran: Ia difitnah sebagai antek Belanda.

2. Status Bangsawan: Sebagai keluarga Kesultanan Langkat, Amir Hamzah dianggap bagian dari feodalisme oleh kaum revolusionis/kiri yang ingin menghapus sistem kerajaan.

3. Kambing Hitam: Revolusi sosial saat itu ditujukan untuk membunuh elit bangsawan. Amir Hamzah, meski nasionalis, menjadi korban dalam kekacauan politik tersebut. 

4. Ia ditangkap, ditahan, dan dipancung di Kuala Begumit, Binjai, lalu dimakamkan di kuburan massal sebelum akhirnya dipindahkan ke Masjid Azizi, Tanjung Pura. 

5. Keluarga yang Ditinggalkan

6. Istri: Tengku Kamaliah (putri Sultan Langkat).

7. Anak: Tengku Tahura Azizah (putri tunggal). 

H. Sahabat dan Tokoh Terkait

Sebagai bagian dari Pujangga Baru, Amir Hamzah bersahabat dengan:

* Sutan Takdir Alisjahbana

* Armijn Pane

* H.B. Jassin (yang memberikan julukan "Raja Penyair Pujangga Baru"). 

Amir Hamzah dikenang sebagai penyair berkelas internasional dan salah satu korban terkelam dalam masa transisi revolusi Indonesia.




RISALAH PAHLAWAN NASIONAL

Tengku Amir Hamzah

“Raja Penyair Pujangga Baru”


BIODATA SINGKAT

Nama Lengkap: Tengku Amir Hamzah Pangeran Indra Poetera

Tempat, Tanggal Lahir:
Tanjung Pura, Langkat, Sumatera Timur, 28 Februari 1911

Wafat:
Kuala Begumit, Langkat, Sumatera Timur, 20 Maret 1946 (usia 35 tahun)

Pendidikan:

  • MULO Medan
  • Christelijk MULO Batavia
  • AMS Jawa

Karya Terkenal:

  • Nyanyi Sunyi (1937)
  • Buah Rindu (1941)
  • Setanggi Timur

Gelar:
Pahlawan Nasional Indonesia
(SK Presiden No. 106 Tahun 1975)


A. RIWAYAT SINGKAT

Tengku Amir Hamzah (1911–1946) adalah seorang sastrawan besar Indonesia dari Sumatera Timur dan tokoh penting dalam Angkatan Pujangga Baru. Ia dikenal sebagai “Raja Penyair Pujangga Baru” karena perannya yang besar dalam perkembangan sastra Indonesia modern.

Sebagai seorang bangsawan Langkat, Amir Hamzah tidak hanya berjuang melalui sastra, tetapi juga melalui pendidikan dan pemerintahan. Setelah Indonesia merdeka, ia diangkat sebagai Wakil Pemerintah Republik Indonesia di Langkat.

Namun perjuangannya berakhir tragis ketika ia menjadi korban Revolusi Sosial di Sumatera Timur dan tewas pada 20 Maret 1946.


B. PERJUANGAN DAN KIPRAH

1. Pelopor Sastra Indonesia

Amir Hamzah dikenal sebagai penyair besar Angkatan Pujangga Baru yang memodernisasi sastra Melayu dan memperkuat penggunaan bahasa Indonesia dalam karya sastra.

Ia juga dikenal sebagai penyair, prosa liris, dan penerjemah yang memiliki gaya bahasa tinggi dan penuh makna.

2. Perjuangan Melalui Pendidikan

Amir Hamzah pernah aktif sebagai guru di Perguruan Rakyat (Taman Siswa) di Jakarta, dengan tujuan mencerdaskan generasi muda Indonesia.

3. Wakil Pemerintah Republik Indonesia

Setelah proklamasi kemerdekaan, pada 29 Oktober 1945 Amir Hamzah diangkat sebagai Wakil Pemerintah Republik Indonesia untuk wilayah Langkat yang berkedudukan di Binjai.

4. Korban Revolusi Sosial

Pada masa Revolusi Sosial Sumatera Timur tahun 1946, Amir Hamzah difitnah sebagai pendukung Belanda dan akhirnya ditangkap serta dibunuh secara tragis.


C. PERJUANGAN ERA BELANDA (PRA-KEMERDEKAAN)

Pada masa penjajahan Belanda, perjuangan Amir Hamzah dilakukan melalui budaya, pendidikan, dan pergerakan pemuda.

1. Pelopor Sastra

Bersama tokoh sastra seperti:

  • Sutan Takdir Alisjahbana
  • Armijn Pane

ia mendirikan majalah Poedjangga Baroe pada tahun 1933, yang menjadi wadah perkembangan sastra Indonesia modern.

2. Bahasa Indonesia

Amir Hamzah secara konsisten menggunakan bahasa Melayu yang berkembang menjadi bahasa Indonesia, memperkuat semangat persatuan bangsa setelah Sumpah Pemuda 1928.

3. Taman Siswa

Ia juga menjadi guru di Perguruan Rakyat (Taman Siswa) dan aktif dalam pendidikan nasional.

4. Tekanan Belanda

Pemerintah kolonial Belanda berusaha menjauhkannya dari dunia pergerakan nasional dengan memaksanya kembali ke Langkat untuk menikahi putri sultan.


D. PERJUANGAN ERA JEPANG

Pada masa pendudukan Jepang (1942–1945), ruang gerak politik sangat terbatas.

Namun Amir Hamzah tetap:

  • Menulis dan berkarya di bidang sastra
  • Berada di lingkungan bangsawan yang tetap mendukung semangat kemerdekaan Indonesia

E. PERJUANGAN PASCA KEMERDEKAAN

Setelah Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, Amir Hamzah menyatakan dukungan penuh kepada Republik Indonesia.

Ia diangkat menjadi Lareh (Wakil Pemerintah Republik Indonesia) di Langkat.

Namun situasi politik yang tidak stabil di Sumatera Timur menyebabkan pecahnya Revolusi Sosial pada awal 1946.

Dalam peristiwa tersebut, Amir Hamzah diculik dan dipancung pada 20 Maret 1946 di Kuala Begumit, Binjai.


F. KARYA SASTRA

Amir Hamzah dikenal memiliki gaya bahasa halus, puitis, dan penuh makna filosofis.

Beberapa karya terkenalnya adalah:

1. Kumpulan Puisi

  • Nyanyi Sunyi (1937)
  • Buah Rindu (1941)

2. Karya Lain

  • Setanggi Timur
  • Sastra Melayu Lama dengan Tokoh-Tokohnya (1941)

Ia juga menulis berbagai puisi dan terjemahan yang dimuat di majalah Pandji Poestaka, seperti:

  • Di Tepi Pantai
  • Bonda
  • Kemboja

G. MENGAPA DIBUNUH BANGSANYA SENDIRI?

Tengku Amir Hamzah dibunuh dalam Revolusi Sosial Sumatera Timur tahun 1946.

Beberapa penyebabnya antara lain:

1. Fitnah dan Salah Sasaran

Ia difitnah sebagai pendukung Belanda, padahal sebenarnya mendukung Republik Indonesia.

2. Status Bangsawan

Sebagai keluarga Kesultanan Langkat, ia dianggap sebagai bagian dari sistem feodalisme oleh kelompok revolusioner.

3. Kambing Hitam

Pada masa itu banyak bangsawan yang menjadi sasaran kekerasan. Amir Hamzah akhirnya menjadi korban kekacauan politik dan sosial.

Ia ditangkap dan dipancung di Kuala Begumit, kemudian dimakamkan di kuburan massal sebelum akhirnya dipindahkan ke Masjid Azizi, Tanjung Pura.


H. KELUARGA YANG DITINGGALKAN

Istri:
Tengku Kamaliah (putri Sultan Langkat)

Anak:
Tengku Tahura Azizah


I. SAHABAT DAN TOKOH TERKAIT

Sebagai tokoh Angkatan Pujangga Baru, Amir Hamzah bersahabat dengan beberapa tokoh sastra terkenal, seperti:

  • Sutan Takdir Alisjahbana
  • Armijn Pane
  • H. B. Jassin

H.B. Jassin bahkan memberikan julukan kepada Amir Hamzah sebagai “Raja Penyair Pujangga Baru.”


Nilai Keteladanan Tengku Amir Hamzah

  • Cinta tanah air melalui budaya dan sastra
  • Memajukan bahasa Indonesia
  • Mengutamakan pendidikan bangsa
  • Setia kepada Republik Indonesia



96 SUH

Buatlah Risalah dan Infografis tentang Pahlawan :

I Gusti Ketut Jelantik.

Lahir di Karangasem, Bali, sekitar tahun 1800.

Meninggal di Gunung Batur, Kintamani, 1849.

Jabatan: Patih Agung Kerajaan Buleleng

Gelar: Pahlawan Nasional Indonesia (SK Presiden No. 077/TK/1993).


A. I Gusti Ketut Jelantik (1800–1849) adalah Patih Agung Kerajaan Buleleng, Bali, dan Pahlawan Nasional Indonesia yang memimpin perlawanan sengit terhadap Belanda. Dikenal karena keberaniannya dalam Perang Bali (1846-1849), ia mempertahankan kedaulatan Bali dari kolonialisme dengan semboyan pantang tunduk pada Belanda, hingga gugur dalam pertempuran di Gunung Batur. 

B. Perjuangan dan Perang

I Gusti Ketut Jelantik merupakan sosok kunci dalam mempertahankan Bali dari invasi Belanda, terutama karena penolakannya terhadap penghapusan hak "Tawan Karang" (hak raja Bali menyita kapal terdampar). 

1. Perang Bali I (1846): Belanda menyerang Buleleng karena menolak mematuhi perintah kolonial. Jelantik memimpin perlawanan dan mundur ke Jagaraga untuk mengatur strategi.

2. Perang Jagaraga (Perang Bali II - 1848): Jelantik berhasil memimpin pasukan Bali mengalahkan serangan Belanda di Benteng Jagaraga.

3. Perang Bali III (1849) & Puputan: Belanda kembali dengan pasukan besar. Jelantik mundur ke perbukitan, namun akhirnya gugur dalam pertempuran, menandai berakhirnya perlawanan terorganisir di Buleleng.

C. Asal Usul Kerajaan Buleleng dan Peran Patih

1. Kerajaan Buleleng: Didirikan oleh I Gusti Anglurah Panji Sakti pada abad ke-17. Pada abad ke-19, kerajaan ini didominasi oleh pengaruh dari Karangasem, namun tetap memiliki patih kuat seperti I Gusti Ketut Jelantik.

2. Raja Buleleng: Raja yang berkuasa saat itu adalah I Gusti Ngurah Karangasem.

3. Patih yang Pejuang: Jelantik adalah penasihat Raja yang tegas menolak tuntutan Belanda menghapus "Tawan Karang" (hak mengambil kapal karam di perairan Bali) dan menuntut pengakuan kedaulatan Belanda di Bali. Keberaniannya menjadikannya sosok kunci perlawanan Bali.

D. Kisah Perjuangan Heroik: Perang Jagaraga

1. Penyebab: Belanda ingin menghapuskan Hak Tawan Karang (hak raja Bali merampas muatan kapal Belanda yang karam di pantai Bali). Jelantik menolak keras tuntutan ini dan berpegang teguh bahwa hak tersebut adalah adat Bali.

2. Strategi: Jelantik menyusun strategi pertahanan yang dikenal sebagai Benteng Supit Urang di desa Jagaraga, yang dirancang untuk menjebak pasukan Belanda.

3. Kisah Heroik: Meskipun Belanda memiliki persenjataan lebih modern, Jelantik dan rakyat Buleleng, termasuk didukung oleh Jero Jempiring (pejuang wanita), berhasil memukul mundur Belanda pada Perang Jagaraga I (1848).

4. Puputan: Pada tahun 1849, Belanda kembali dengan kekuatan lebih besar (Perang Jagaraga II). Meski bertempur habis-habisan (Puputan), benteng Jagaraga jatuh pada 15 April 1849 karena kalah jumlah dan persenjataan.

E. Akhir Hayat dan Keluarga

1. Gugur di Medan Perempuan : Setelah benteng Jagaraga jatuh, I Gusti Ketut Jelantik dan Raja Buleleng melarikan diri ke pegunungan. Namun, mereka dikejar hingga ke wilayah Gunung Seraya.

2. Gugur: I Gusti Ketut Jelantik gugur dalam pertempuran terakhir tersebut pada tahun 1849.

3. Keluarga: Perjuangan Ketut Jelantik meninggalkan warisan keberanian bagi keluarga dan rakyat Buleleng. Meskipun pewarisnya sempat mengalami masa sulit akibat kekalahan tersebut, semangat Puputan tetap dihormati sebagai simbol harga diri.

4. Makam: Hingga saat ini, lokasi pasti jasad atau makam I Gusti Ketut Jelantik tidak dipublikasikan secara spesifik untuk menghindari penghormatan berlebihan oleh rakyat Bali oleh Belanda saat itu. Namun, semangat dan namanya diabadikan sebagai pahlawan, dan terdapat monumen atau patung perjuangannya di Buleleng, seperti di Desa Jagaraga.

5. Belanda yang Mengalahkannya

Pihak Belanda yang memimpin serangan untuk mengalahkan I Gusti Ketut Jelantik dan meruntuhkan Buleleng adalah Mayor Jenderal Andreas Victor Michiels (sering disebut Jenderal Michiels) pada Perang Bali II.



RISALAH PAHLAWAN NASIONAL

I GUSTI KETUT JELANTIK

Patih Agung Kerajaan Buleleng – Pemimpin Perlawanan Bali

Lahir: sekitar tahun 1800 di Karangasem
Wafat: 1849 di Gunung Batur
Jabatan: Patih Agung Kerajaan Buleleng
Gelar: Pahlawan Nasional Indonesia (SK Presiden No. 077/TK/1993)


A. PROFIL SINGKAT

I Gusti Ketut Jelantik adalah Patih Agung Kerajaan Buleleng yang terkenal sebagai pemimpin perlawanan rakyat Bali terhadap kolonial Belanda pada abad ke-19.

Ia dikenal sebagai tokoh yang sangat berani, tegas, dan pantang menyerah. Dalam Perang Bali (1846–1849), ia memimpin rakyat Buleleng melawan pasukan Belanda yang ingin menguasai Bali dan menghapuskan hak adat kerajaan.

Perjuangannya menjadi simbol harga diri dan kedaulatan rakyat Bali dalam menghadapi kolonialisme.


B. PERJUANGAN DAN PERANG MELAWAN BELANDA

Perlawanan I Gusti Ketut Jelantik dipicu oleh penolakan terhadap kebijakan Belanda yang ingin menghapus Hak Tawan Karang.

1. Perang Bali I (1846)

Belanda menyerang Buleleng karena kerajaan menolak tunduk pada perintah kolonial.
Pasukan yang dipimpin Jelantik melakukan perlawanan sengit namun akhirnya mundur ke daerah Jagaraga untuk menyusun strategi baru.


2. Perang Jagaraga / Perang Bali II (1848)

Di benteng Jagaraga, Jelantik menyusun strategi pertahanan yang kuat.

Benteng ini menggunakan sistem pertahanan yang disebut Supit Urang, yaitu taktik menjepit musuh dari dua sisi.

Dalam pertempuran ini, pasukan Bali berhasil memukul mundur tentara Belanda meskipun mereka memiliki persenjataan lebih modern.


3. Perang Bali III dan Puputan (1849)

Belanda kembali menyerang dengan pasukan yang jauh lebih besar dipimpin oleh
Andreas Victor Michiels.

Benteng Jagaraga akhirnya jatuh pada 15 April 1849 setelah pertempuran besar.
Pasukan Bali tetap bertempur hingga titik terakhir dalam semangat Puputan (berjuang sampai mati demi kehormatan).


C. KERAJAAN BULELENG DAN PERAN PATIH

Kerajaan Buleleng didirikan pada abad ke-17 oleh I Gusti Anglurah Panji Sakti dan berkembang menjadi kerajaan penting di Bali Utara.

Pada abad ke-19, raja Buleleng saat itu adalah I Gusti Ngurah Karangasem.

Sebagai Patih Agung, Jelantik memiliki peran besar:

  • penasihat utama raja
  • pemimpin militer kerajaan
  • pengatur strategi perang
  • pelindung adat dan kedaulatan Bali

Ia menolak keras tuntutan Belanda untuk menghapus Hak Tawan Karang, karena dianggap bagian dari hukum adat Bali.


D. KISAH HEROIK PERANG JAGARAGA

Perang Jagaraga menjadi salah satu perlawanan paling terkenal dalam sejarah Bali.

Penyebab utama: Belanda menuntut agar Bali menghapus Hak Tawan Karang, yaitu hak kerajaan untuk mengambil kapal asing yang karam di perairan Bali.

Strategi Jelantik:

  • membangun Benteng Supit Urang di Jagaraga
  • mengatur pasukan rakyat dan prajurit kerajaan
  • menggunakan taktik perang gerilya

Dalam pertempuran tersebut, rakyat Bali termasuk pejuang wanita seperti Jero Jempiring ikut bertempur.

Walaupun kalah persenjataan, mereka berhasil memukul mundur Belanda pada tahun 1848.


E. AKHIR HAYAT

Setelah Benteng Jagaraga jatuh pada tahun 1849, Jelantik bersama raja Buleleng mundur ke daerah pegunungan Bali.

Pasukan Belanda terus mengejar hingga ke daerah sekitar
Gunung Batur.

Dalam pertempuran terakhir tersebut, I Gusti Ketut Jelantik gugur pada tahun 1849.


F. WARISAN DAN PENGHORMATAN

Perjuangan Jelantik menjadi simbol keberanian rakyat Bali melawan penjajahan.

Warisan perjuangannya antara lain:

  • Semangat Puputan (berjuang sampai akhir)
  • Simbol harga diri dan kedaulatan Bali
  • Inspirasi perjuangan melawan kolonialisme

Namanya kini diabadikan dalam berbagai tempat dan monumen di Bali, terutama di wilayah Buleleng seperti Monumen Perang Jagaraga.

Pada tahun 1993, pemerintah Indonesia resmi menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada I Gusti Ketut Jelantik.




1 SUK 

Buatlah Risalah dan Infografis tentang Pahlawan :

Abdul Muis 

Lahir di Bukittinggi, Sumatera Barat, 3 Juli 1883.

Meninggal di Bandung, 17 Juni 1959 (Dimakamkan di Taman Pahlawan Cikutra).

Pendidikan: ELS (Europeesche Lagere School) dan STOVIA.

Karier: Wartawan (Bintang Hindia, Kaum Muda), Politisi (Sarekat Islam), Sastrawan.

Karya Terkenal: Novel Salah Asuhan (1928), Roman Sejarah Surapati. 


A. Abdul Muis (1883–1959) adalah sastrawan, wartawan, dan politisi asal Bukittinggi yang diakui sebagai Pahlawan Nasional Indonesia pertama (30 Agustus 1959). Ia berjuang menentang kolonialisme melalui tulisan tajam di surat kabar, keterlibatan aktif di Sarekat Islam (SI), serta karya sastra ikonik, termasuk novel "Salah Asuhan". 

B. Perjuangan Abdul Muis:

1. Jurnalistik & Anti-Kolonial: Ia menggunakan pena sebagai senjata di surat kabar, menentang penindasan Belanda dengan tulisan yang tegas, bahkan menjabat pemimpin redaksi harian Kaum Muda.

2. Perjuangan Politik: Bergabung dengan Sarekat Islam (SI) dan dikenal sebagai "Napoleon Sarikat Islam" karena keberaniannya berdiplomasi dan melawan kebijakan Belanda.

3. Pengasingan: Akibat aktivitas politiknya, ia diasingkan ke Garut, Jawa Barat pada 1926 dan dilarang meninggalkan wilayah tersebut selama 13 tahun, namun tetap berjuang melalui tulisan dan memimpin pergerakan lokal.

4. Karya Sastra: Melalui Salah Asuhan, Muis menyoroti konflik sosial dan budaya akibat kolonialisme, menjadikannya sastrawan terkemuka angkatan 1920-an.

C. Era Penjajahan Belanda 

1. Pada masa Belanda, perjuangan Abdul Muis berfokus pada kritik jurnalistik dan pergerakan organisasi:

2. Jurnalis Vokal: Ia bekerja di harian De Express milik Douwes Dekker dan memimpin harian Neratja. Tulisannya tajam mengkritik kebijakan Belanda, terutama perayaan 100 tahun kemerdekaan Belanda dari Prancis yang dibiayai dengan uang rakyat jajahan (Hindia Belanda).

3. Serikat Islam (SI): Aktif bersama HOS Cokroaminoto di SI. Ia memperjuangkan nasib buruh dan melawan perlakuan semena-mena perusahaan Eropa/Belanda.

4. Utusan ke Belanda (Parlemen): Pada 1913, ia diutus ke Belanda untuk menuntut pembentukan parlemen (Volksraad) bagi pribumi.

5. Pembuangan: Akibat aktivitas politiknya yang dinilai membahayakan, ia dilarang beraktivitas politik dan diasingkan ke Garut pada 1926. Di masa pengasingan, ia menulis novel legendaris Salah Asuhan.

D. Era Pendudukan Jepang

1. Pada era Jepang, perjuangan fisik dan politik terbuka sangat terbatas karena ketatnya pengawasan.

2. Fokus Pendidikan: Abdul Muis lebih banyak berfokus pada bidang pendidikan dan sastra.

3. Tetap Menulis: Ia menggunakan kemampuannya dalam berbahasa Belanda dan pengetahuannya untuk memantau situasi global, sambil tetap menanamkan semangat kebangsaan meski tidak secara frontal melawan Jepang seperti di era Belanda. 

E. Pasca Kemerdekaan (Indonesia Merdeka)

1. Setelah kemerdekaan, Abdul Muis tetap berjuang untuk mempertahankan kemerdekaan dan mendidik bangsa:

2. Diplomasi: Terlibat dalam upaya perundingan untuk mempertahankan kedaulatan Indonesia dari upaya kembalinya Belanda.

3. Membangun Pendidikan di Garut: Setelah Proklamasi, ia banyak menghabiskan waktu di Garut, Jawa Barat, mendirikan sekolah-sekolah dan aktif dalam organisasi kemasyarakatan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.

4. Diakui Negara : Dedikasinya dihargai dengan gelar Pahlawan Nasional yang diberikan langsung oleh pemerintah di tahun yang sama dengan tahun wafatnya, 1959. 

5. Abdul Muis adalah sosok serba bisa yang menggunakan sastra dan jurnalistik untuk menyuarakan harga diri bangsa melawan penjajahan.

F. Karya Monumental

1. Abdul Muis menghasilkan karya sastra yang melegenda, yang mengkritik adat istiadat yang kaku dan kawin paksa serta menonjolkan konflik budaya:

2. Salah Asuhan (1928): Novel paling monumental yang menjadi salah satu karya sastra terpenting Indonesia, menceritakan konflik cinta dan budaya antara tokoh pribumi dan barat.

3. Pertemuan Jodoh (1933)

4. Robert Anak Suropati

5. Demam Berandal Anak Gudang

6. Terjemahan: Tom Sawyer Anak Amerika. 

G. Akhir Hayat dan Keluarga

1. Wafat: Abdul Muis meninggal dunia pada tanggal 17 Juni 1959 di Bandung dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Cikutra, Bandung.

2. Gelar: Dua bulan setelah wafat, beliau dianugerahi gelar Pahlawan Nasional pertama.

3. Keluarga: Abdul Muis menikah dengan gadis Priangan bernama Soenarsih pada tahun 1925. Pasangan ini dikaruniai 12 orang anak.



7 SUK 

Buatlah Risalah dan Infografis tentang Pahlawan :

Ernest François Eugène Douwes Dekker (Danudirdja Setyabudi).

Lahir di Pasuruan, Jawa Timur, 8 Oktober 1879.

Meninggal di Bandung, 28 Agustus 1950 (dimakamkan di TMP Cikutra).


Orang Tua: Auguste Henri Edoeard Douwes Dekker (Ayah) dan Louisa Neumann (Ibu, keturunan campuran Jawa-Jerman).

Keluarga: Cucu dari kakak kandung Edward Douwes Dekker (penulis Max Havelaar / Multatuli).

Nama Panggilan: Nes, Douwes Dekker, Danudirdja Setyabudi (diberikan Soekarno). 


A. Ernest Douwes Dekker (Danudirdja Setyabudi), lahir di Pasuruan 8 Oktober 1879, adalah pahlawan nasional keturunan Indo-Belanda yang berjiwa Indonesia. Tokoh "Tiga Serangkai" ini mendirikan Indische Partij (partai politik pertama) dan menggunakan jurnalisme serta pendidikan (Ksatrian Instituut) untuk melawan kolonialisme, membuatnya sering dipenjara/diasingkan sebelum wafat pada 1950. 

B. Perjuangan dan Karier

1. Kritikus Keturunan Indo: Meskipun keturunan Belanda, ia merasa sebagai orang Indonesia dan menentang diskriminasi kolonial Belanda terhadap pribumi.

2. Tokoh Tiga Serangkai: Bersama dr. Cipto Mangunkusumo dan Suwardi Suryaningrat (Ki Hajar Dewantara), mendirikan Indische Partij pada 1912, organisasi yang pertama kali menyuarakan kemerdekaan Indonesia.

3. Jurnalis Kritis: Aktif menulis di surat kabar De Expres, mengkritik keras pemerintah Hindia Belanda, dan sempat terlibat dalam protes buruh tani di Klaten.

4. Pendidikan (Ksatrian Instituut): Mendirikan lembaga pendidikan Ksatrian Instituut di Bandung, yang bertujuan menanamkan nasionalisme dan antikolonialisme.

5. Pengasingan dan Penjara: Akibat tulisannya, ia diasingkan ke Belanda, bahkan pernah dibuang ke Suriname pada masa Perang Dunia II.

6. Menteri Negara: Setelah kemerdekaan, ia mengganti namanya menjadi Danudirdja Setyabudi dan menjabat sebagai Menteri Negara tanpa portofolio dalam Kabinet Sjahrir II dan III.

C. Kegiatan Semasa Muda:

1. Pendidikan & Pengalaman: Menempuh pendidikan di HBS dan Gymansium Koning Willem III, Batavia.

2. Kritik Sosial: Bekerja di perkebunan kopi "Soember Doeren" (Malang) dan laboratorium pabrik gula (Probolinggo), di mana ia menyaksikan eksploitasi pribumi oleh Belanda.

3. Perang Boer: Pergi ke Afrika Selatan pada 1899 untuk ikut Perang Boer Kedua melawan Inggris.

4. Jurnalisme: Kembali ke Hindia Belanda (1902), ia aktif sebagai wartawan yang kritis terhadap pemerintah kolonial, memimpin koran De Express yang bergaris radikal-progresif. 

D. Perjuangan Era Belanda (1912-1942):

1. Indische Partij: Mendirikan partai politik pertama yang menuntut kemerdekaan Indonesia (1912).

2. Pengasingan: Ditangkap dan diasingkan ke Belanda (1913) karena tulisan-tulisan tajam dan kegiatan politiknya.

3. Pendidikan: Di Eropa, ia menempuh studi doktor di Universitas Zurich, Swiss.

4. Ksatrian Instituut: Sekembalinya ke Indonesia, ia mendirikan Ksatrian Instituut di Bandung, sekolah yang menanamkan semangat nasionalisme anti-kolonial. 

E. Perjuangan Era Jepang (1942-1945):

1. Ditangkap oleh pemerintah pendudukan Jepang karena aktivitas anti-kolonialnya yang dianggap berbahaya.

2. Diasingkan dan dipenjarakan di Suriname, Amerika Selatan, hingga mendekati akhir perang. 

F. Perjuangan Pasca Kemerdekaan (1945-1950):

1. Kembali ke Indonesia dan mengubah namanya menjadi Danudirdja Setiabudi (pemberian Soekarno).

2. Jabatan: Menjadi Menteri Negara tanpa portofolio, anggota Dewan Pertimbangan Agung (DPA), dan perwakilan Indonesia dalam negosiasi dengan Belanda.

3. Penangkapan: Sempat diciduk Belanda dalam Agresi Militer Belanda II (1948) di Yogyakarta, namun dibebaskan karena alasan kesehatan. 

G. Pengasingan

Douwes Dekker berkali-kali diasingkan karena aktivitas politiknya:

1. 1913: Dibuang ke Belanda bersama Tiga Serangkai karena tulisan "Als Ik Eens Nederlander Was".

2. 1941: Diasingkan oleh Belanda ke Suriname (Kamp Jodensavanne) karena dituduh menjadi agen Jepang. Ia baru kembali ke Indonesia pada 1947. 

H. Akhir Hayat & Keluarga

1. Wafat: Meninggal dunia di Bandung karena sakit pada tahun 1950.

2. Keluarga: Menikah tiga kali. Istri pertamanya adalah Clara Ampht (bercerai), kemudian Johanna Petronella Mossel (Melly), dan terakhir Harumi Wanasita (nama asli Nelly Alberta Gertzema) yang mendampinginya hingga akhir hayat.



34 PERS 9-12 Mar 26

 [9/3 09.28] rudysugengp@gmail.com: Mulai lagi Senin Malam 9 Maret 26  Pk. 21.08 [9/3 09.28] rudysugengp@gmail.com: 52 SUH Buatlah Risalah d...