Sabtu, 01 Agustus 2026

Abdulrachman Saleh

 1. Buatkan gambar dan infografis tentang 

Masa Kecil Abdulrachman Saleh


Komodor Muda Udara (Anumerta) Abdulrachman Saleh (1 Juli 1909 – 29 Juli 1947) adalah seorang dokter dan penerbang Indonesia yang pesawatnya ditembak jatuh oleh Belanda selama Revolusi Nasional Indonesia. Ia juga merupakan salah satu pendiri Radio Republik Indonesia. 

Ia secara anumerta dinyatakan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia pada tahun 1974.

Abdulrachman lahir di Kampung Ketapang (Kwitang Barat), Batavia, Hindia Belanda (sekarang Jakarta, Indonesia) pada tanggal 1 Juli 1909. Orang tuanya adalah Mohammad Saleh, seorang dokter terkenal, dan Emma Naimah Saleh (née Moehsin).

Ia mengikuti jejak ayahnya dan belajar untuk menjadi dokter di sebuah perguruan tinggi kedokteran untuk orang Indonesia, 

School Tot Opleiding van Inlandsche Artsen (STOVIA). Karena STOVIA ditutup sebelum ia menyelesaikan studinya, ia melanjutkan studinya di perguruan tinggi kedokteran lain, Geneeskundige Hoge School (GHS). 

Karena rambutnya yang keriting, teman-temannya mulai memanggilnya "Karbol" yang diambil dari bahasa Belanda Krullebol yang berarti "rambut keriting".

Selama kuliah kedokteran, ia bergabung dengan berbagai organisasi pemuda seperti Jong Java, organisasi kepanduan Indonesische Padvinderij Organisatie, dan klub olahraga lainnya. 

Ia juga mengembangkan minatnya di bidang penyiaran radio dan penerbangan. 

Ia bergabung dengan klub penerbangan di Batavia dan berhasil memperoleh lisensi pilot.



2. Buatkan gambar dan infografis tentang 

Karier Abdulrachman Saleh


Setelah menamatkan pendidikan kedokteran pada tahun 1937, ia melanjutkan pendidikan di bidang fisiologi dan menjadi dosen di perguruan tinggi kedokteran Nederlandsch-Indische Artsen School (NIAS) di Surabaya pada tahun 1942.

Ia kemudian kembali ke Batavia sebagai dosen di almamaternya, GHS, dan dipromosikan menjadi profesor penuh.

Di luar karier medisnya, Saleh juga diangkat sebagai pimpinan organisasi penyiaran radio bernama Vereniging voor Oosterse Radio Omroep (VORO) dan kemudian terlibat dalam pendirian Lembaga Penyiaran Publik Indonesia (Radio Republik Indonesia/RRI) pada tanggal 11 September 1945.

Setelah merasa yakin bahwa lembaga radio Indonesia berada di tangan yang tepat, ia mengundurkan diri dari jabatannya di sana dan bergabung dengan Tentara Nasional Indonesia untuk membantu pembentukan TNI Angkatan Udara bersama Agustinus Adisoetjipto, mantan muridnya di GHS. 

Ia kemudian bertugas sebagai instruktur penerbangan di Sekolah Penerbangan yang baru didirikan di Yogyakarta, di Lapangan Udara Maguwo.

Dalam aksi pertama dari dua aksi polisionil Belanda terhadap Republik Indonesia, Agresi Militer Belanda I, Saleh dan Adisoetjipto diperintahkan untuk terbang ke India. Mereka berhasil menembus blokade udara yang dilakukan oleh Angkatan Udara Belanda, yang meliputi wilayah udara dari Indonesia ke India dan Pakistan. 

Namun, dalam perjalanan pulang dari Singapura, saat mengangkut bantuan obat-obatan sumbangan dari Palang Merah Malaya di Singapura, pesawat Dakota yang mereka tumpangi ditembak jatuh oleh dua pesawat P-40 Kittyhawk milik Belanda di Dusun Ngoto pada tanggal 29 Juli 1947, padahal Indonesia telah meminta izin dari Belanda untuk mengirimkan bantuan obat-obatan tersebut. Sisa-sisa pesawat Dakota VT-CLA dapat dilihat di Museum Dirgantara Mandala.

Dengan bantuan keluarga bangsawan setempat, ia dimakamkan di Pemakaman Kuncen di Yogyakarta, yang diperuntukkan bagi para bangsawan Jawa.



3. Buatkan gambar dan infografis tentang 

Pengakuan dan Penghargaan Abdurrahman Saleh 

Pada tanggal 17 Agustus 1952, Angkatan Udara Indonesia mengganti nama Pangkalan Udara Abdulrachman Saleh di Malang, Jawa Timur dengan namanya. Pangkalan Angkatan Udara ini juga melayani penerbangan sipil di kota tersebut.

Pada tanggal 5 Desember 1958, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia menganugerahinya sebagai Bapak Fisiologi Indonesia. 

Kompetisi Biologi Umum dan Kedokteran tahunan ini disebut Piala Abdulrachman Saleh.

Mulai bulan Agustus 1965, Akademi Angkatan Udara Indonesia secara resmi mengadopsi nama panggilan Saleh yakni Karbol untuk menyebut seluruh taruna Akademi sebagai bentuk penghormatan atas jasanya.

Pada tanggal 9 November 1974, atas jasa-jasanya bagi negara sebelum dan sesudah kemerdekaan Indonesia, Abdulrachman Saleh dipromosikan secara anumerta menjadi Marsekal Muda Udara dan ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia oleh Presiden atas nama negara.

Pada tahun 2000, atas inisiatif TNI Angkatan Udara dan persetujuan keluarga, makamnya dipindahkan dari pemakaman Kuncen ke Ngoto, dekat lokasi jatuhnya pesawat. Banyak sahabat dan pendukung yang datang untuk memakamkannya dan mengucapkan terima kasih atas jasanya. 

Makam baru tersebut merupakan bagian dari Monumen Perjuangan TNI AU Ngoto, bersama dengan makam Ny. Ismudiati Abdulrachman Saleh, Agustinus Adisoetjipto, dan Ny. Adisoetjipto.

Di kompleks kantor pusat LPP RRI di Jakarta Pusat, DKI Jakarta, terdapat Auditorium Abdulrachman Saleh di Gedung B yang kerap digunakan untuk acara-acara besar, baik dari RRI maupun eksternal.



Zainul Arifin

 1. Buatkan gambar dan infografis tentang 

Riwayat hidup KH Zainul Arifin 


Masa Kanak-Kanak dan Pendidikan

Zainul Arifin lahir di Barus, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, sebagai anak tunggal dari pasangan Raja Barus, Sultan Ramali bin Tuangku Raja Barus Sultan Sahi Alam Pohan (ayah) dengan ibunya bangsawan asal Kotanopan, Mandailing Natal, Siti Baiyah br. Nasution. Ketika Zainul masih balita, kedua orang tuanya bercerai dan ia dibawa pindah oleh ibunya ke Kotanopan, kemudian ke Kerinci, Jambi.

Di sana ia menyelesaikan Hollandsch-Inlandsche School (HIS) dan sekolah menengah calon guru, Normal School. 

Selain itu, Arifin juga memperdalam pengetahuan agama di madrasah dan surau saat menjalani pelatihan seni bela diri Pencak Silat. 

Arifin juga seorang pecinta kesenian yang aktif dalam kegiatan seni sandiwara musikal Melayu, Stambul Bangsawan sebagai penyanyi dan pemain biola. 

Stambul Bangsawan merupakan awal perkembangan seni panggung sandiwara modern Indonesia. Dalam usia 16 tahun, Zainul merantau ke Batavia (Jakarta).



2. Buatkan gambar dan infografis tentang 

Karier KH Zainul Arifin 


Dari Gemeente ke GP

Berbekal ijazah HIS Arifin diterima bekerja di pemerintahan kotapraja kolonial (Gemeente) sebagai pegawai di Perusahaan Air Minum (PAM) di Pejompongan, Jakarta Pusat. 

Di sana ia sempat bekerja selama lima tahun, sebelum akhirnya terkena PHK saat resesi global yang bermula di AS dan berdampak hingga ke wilayah Hindia Belanda. Keluar dari gemeente, Arifin kemudian memilih bekerja sebagai guru sekolah dasar dan mendirikan pula balai pendidikan untuk orang dewasa, Perguruan Rakyat, di kawasan Meester Cornelis (Jatinegara). Zainul juga sering memberi bantuan hukum bagi masyarakat Betawi yang membutuhkan sebagai tenaga Pokrol Bambu, pengacara tanpa latar belakang pendidikan Hukum tetapi menguasai Bahasa Belanda. 

Selain itu ia pun aktif kembali dalam kegiatan seni sandiwara musikal tradisional Betawi yang berasal dari tradisi Melayu, Samrah.

Ia sempat mendirikan kelompok Samrah bernama Tonil Zainul. Dari kegiatan kesenian itu, ia berkenalan dan selanjutnya sangat akrab bersahabat dengan tokoh perfilman nasional, Djamaluddin Malik yang kala itu juga bergiat dalam kegiatan Samrah. Keduanya kemudian bergabung dengan Gerakan Pemuda Ansor yang ketika itu memang aktif merekrut tenaga-tenaga muda.

Selama menjadi anggota GP Ansor inilah Arifin kemudian makin meningkatkan pengetahuan agama dan keterampilan berdakwahnya sebagai mubalig muda lewat pelatihan-pelatihan khas Ansor. Kepiawaian Zainul dalam berpidato, berdebat dan berdakwah ternyata menarik perhatian tokoh-tokoh Nahdlatul Ulama, organisasi induk Ansor, termasuk: Wahid Hasyim, Mahfudz Shiddiq, Muhammad Ilyas, dan Abdullah Ubaid. 

Hanya dalam beberapa tahun saja, Zainul Arifin sudah menjadi Ketua Cabang NU Jatinegara dan berikutnya sebagai Ketua Majelis Konsul NU Batavia hingga datangnya tentara Jepang tahun 1942. Pada saat itu ia juga bekerja di Perusahaan Air Minum (PAM) pemerintah kotapraja (gemeente). 

Di kota ini ia juga sempat menjadi guru sekolah di daerah Jatinegara dan Bukit Duri Tanjakan.

Menjadi Panglima Hizbullah Masyumi

Selama era pendudukan militer Jepang, Zainul Arifin ikut mewakili NU dalam kepengurusan Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi) dan terlibat dalam pembentukan pasukan semi militer Hizbullah.

Untuk menarik simpati warga hingga ke pedesaan, organisasi-organisasi Islam (utamanya NU) diberi kesempatan untuk lebih aktif terlibat dalam pemerintahan di bawah pendudukan militer Jepang. 

Zainul Arifin ditugaskan untuk membentuk model kepengurusan tonarigumi, cikal bakal Rukun Tetangga, di kawasan Jatinegara yang kemudian dibentuk hingga pelosok-pelosok desa di Pulau Jawa. 

Ketika Perang Asia Pasifik semakin memanas, Jepang mengizinkan dibentuknya laskar-laskar semi militer rakyat. Pemuda-pemuda Islam direkrut lewat jalur tonarigumi membentuk Hizbullah (Tentara Allah). Arifin dipercaya sebagai Panglima Hizbullah dengan tugas utama mengoordinasi pelatihan-pelatihan semi militer di Cibarusah, Bekasi, dekat Bogor. 

Dalam puncak kesibukan latihan perang guna mengantisipasi terjadinya Perang Asia Pasifik, Kemerdekaan Indonesia diproklamasikan Sukarno-Hatta pada 17 Agustus 1945 di Jakarta.

Pasca-Proklamasi Kemerdekaan

Zainul kemudian bertugas mewakili partai Masyumi di Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Pusat (BP-KNIP), cikal bakal DPR-MPR, sambil terus memegang tampuk pimpinan Hizbullah yang sudah menjelma menjadi pasukan bersenjata. Selama masa revolusi, selain mengikuti sidang-sidang BP KNIP yang berpindah-pindah tempat karena kegawatan situasi, Arifin juga memimpin gerakan-gerakan gerilya Laskar Hizbullah di Jawa Tengah dan Jawa Timur selama Agresi Militer I dan II.

Dalam memimpin Laskar Hizbullah, Zainul menggunakan jalur tonarigumi atau Rukun Tetangga yang dulu dibinanya hingga meliputi desa-desa terpencil di Jawa. Saat terjadi Agresi Militer Belanda II, Belanda berhasil menduduki Yogyakarta dan menawan Soekarno-Hatta. Dalam keadaan darurat, BP KNIP praktis tidak berfungsi. Arifin lantas terlibat sebagai anggota Komisariat Pemerintah Pusat di Jawa (KPPD), bagian dari Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) yang berkedudukan di Bukit Tinggi, Sumatera Barat.

Tugas utama Zainul melakukan konsolidasi atas badan-badan perjuangan yang melancarkan taktik gerilya di bawah komandan Jenderal Sudirman. 

Saat pemerintah melebur segenap pasukan bersenjata ke dalam satu wadah Tentara Nasional Indonesia, Zainul Arifin sempat dipercaya sebagai Sekertaris Pucuk Pimpinan TNI. Namun akhirnya, ketika banyak mantan anggota laskar Hizbullah yang dinyatakan tidak bisa diterima menjadi anggota TNI karena tidak berpendidikan "modern" dan hanya lulusan Madrasah, ia memilih mengundurkan diri dan berkonsentrasi meneruskan perjuangan sipil di jalur politik.

Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia

Sejak proklamasi kemerdekaan Zainul Arifin langsung duduk dalam Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Pusat (BP KNIP), cikal bakal lembaga legislatif MPR/DPR.

Wakil Partai Masyumi di DPRS

Setelah Belanda akhirnya mengakui kedaulatan RI akhir tahun 1949, Zainul Arifin kembali ke Parlemen sebagai wakil Partai Masyumi di DPRS.

Wakil Partai NU

Kemudian menjadi wakil Partai NU ketika akhirnya partai yang dianggap representasi kiai tradisionalis ini memisahkan diri dari Masyumi pada tahun 1952.

Wakil Perdana Menteri (Waperdam) Kabinet Ali Sastroamijoyo I

Zainul Arifin sebagai tokoh NU pertama menjabat sebagai waperdam tahun 1953–1955 kabinet Ali-Arifin - Kabinet Ali Sastroamidjojo I Zainul terlibat dalam badan eksekutif. 

Kabinet pada era Demokrasi Parlementer ini sukses menyelenggarakan Konferensi Asia-Afrika di Bandung pada tahun 1955.

Dalam tahun 1955 itu pula Zainul berangkat haji untuk pertama dan terakhir kali ke Tanah Suci bersama Presiden Sukarno. 

Di sana ia dihadiahi sebilah pedang berlapis emas oleh Raja Arab Saudi, Raja Saud.

Wakil Ketua I DPR-RI & Majelis Konstituante

Sekembalinya dari sana Zainul merupakan salah satu tokoh penting yang berhasil menempatkan partai NU ke dalam "tiga besar" pemenang Pemilu legislatif 1955, di mana jumlah kursi NU di DPR meningkat dari hanya 8 menjadi 45 kursi.

Pemilu pertama 1955 mengantar Zainul Arifin sebagai anggota Majelis Konstituante sekaligus wakil ketua I DPR RI sampai kedua lembaga dibubarkan Sukarno melalui Dekret Presiden 5 Juli 1959. karena dipandang gagal merumuskan UUD baru.

Pasca Dekrit, Indonesia dinyatakan kembali ke UUD 1945 dan memasuki era Demokrasi Terpimpin. Pada masa itu terjadi pemusatan kekuasaan pada diri Presiden yang berkeras untuk menerapkan paham NASAKOM (Nasionalis, Agama, dan Komunis) yang menyudutkan partai-partai agama yang tidak ingin Partai Komunis Indonesia (PKI) berkembang di Indonesia.

Ketua DPR Gotong Royong (DPRGR)

Memasuki era Demokrasi Terpimpin itu, Arifin bersedia mengetuai DPR Gotong Royong (DPRGR) sebagai upaya partai NU membendung kekuatan Partai Komunis Indonesia (PKI) di parlemen.



3. Buatkan gambar dan infografis tentang 

Akhir Hayat KH Zainul Arifin 


KH Zainul Arifin Tertembak

Pada masa awal demokrasi terpimpin di Indonesia, terjadi beberapa percobaan pembunuhan Presiden Sukarno dengan adanya peningkatan suhu politik saat itu.

Masjid Baiturrahim, Istana Negara14 Mei 1962, saat salat Iduladha Zainul sholat di saf terdepan di samping kiri Presiden Sukarno dan Jenderal Abdul Haris Nasution di samping kanan Presiden Sukarno, Zainul tertembak peluru yang diarahkan seorang pemberontak DI/TII dalam percobaannya membunuh presiden. Penembakan dilakukan dari jarak kurang lebih 5-6 meter dan mengenai bahu kiri Zainul bahkan simpul dasinya terputus karena terkena peluru.

Wafat

Zainul Arifin wafat pada tanggal 2 Maret 1963 setelah menderita luka bekas tembakan di bahunya selama sepuluh bulan. 

Ia dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta.




77 Rasuna Said

 1. Buatkan gambar dan infografis tentang 

Kehidupan Awal dan Pendidikan Rasuna Said 

Hajjah Rangkayo Rasuna Said adalah Pahlawan Nasional dari Sumatera Barat yang gigih memperjuangkan emansipasi perempuan dan kemerdekaan. Dijuluki "Singa Betina" karena kepiawaiannya berpidato, ia adalah wanita pertama yang dihukum Speek Delict oleh Belanda akibat mengecam kolonialisme di depan umum.

Rasuna Said lahir pada 14 September 1910 di Desa Panyinggahan, Maninjau, Kabupaten Agam, Sumatera Barat.

Ia merupakan keturunan bangsawan Minang. Ayahnya bernama Muhamad Said, seorang saudagar Minangkabau, aktivis pergerakan, dan guru yang menjadi tokoh Taman Siswa.

Keluarga Rasuna Said adalah keluarga beragama Islam yang taat. Dia dibesarkan di rumah pamannya karena pekerjaan ayahnya yang membuat ayahnya sering tidak berada di rumah. Tidak seperti saudara-saudaranya, dia bersekolah di sekolah agama, bukan sekuler, dan kemudian pindah ke Padang Panjang, di mana dia bersekolah di Diniyah School, yang menggabungkan mata pelajaran agama dan mata pelajaran khusus. Pada tahun 1923, ia menjadi asisten guru di Sekolah Diniyah Putri yang baru didirikan, tetapi kembali ke kampung halamannya tiga tahun kemudian setelah sekolah itu hancur karena gempa. Dia kemudian belajar selama dua tahun di sekolah yang terkait dengan aktivisme politik dan agama, dan menghadiri pidato yang diberikan oleh direktur sekolah tentang nasionalisme dan kemerdekaan Indonesia.

Setelah menamatkan jenjang pendidikan Sekolah Dasar (SD), Rasuna Said remaja dikirimkan sang ayah untuk melanjutkan pendidikan di pesantren Ar-Rasyidiyah. Saat itu, ia merupakan satu-satunya santri perempuan. Ia dikenal sebagai sosok yang pandai, cerdas, dan pemberani. Rasuna Said kemudian melanjutkan pendidikan di Diniyah Putri Padang Panjang, dan bertemu dengan Rahmah El Yunusiyyah, seorang tokoh gerakan Thawalib. Gerakan Thawalib adalah gerakan yang dibangun kaum reformis Islam di Sumatera Barat. Banyak pemimpin gerakan ini dipengaruhi oleh pemikiran nasionalis-Islam Turki, Mustafa Kemal Atatürk.[butuh rujukan]

Rasuna Said sangatlah memperhatikan kemajuan dan pendidikan kaum wanita, ia sempat mengajar di Diniyah Putri sebagai guru. Namun pada tahun 1930, Rasuna Said berhenti mengajar karena memiliki pandangan bahwa kemajuan kaum wanita tidak hanya bisa didapat dengan mendirikan sekolah, tetapi harus disertai perjuangan politik. Rasuna Said ingin memasukkan pendidikan politik dalam kurikulum sekolah Diniyah School Putri, tetapi ditolak. Rasuna Said kemudian mendalami agama pada Haji Rasul atau Dr H Abdul Karim Amrullah yang mengajarkan pentingnya pembaruan pemikiran Islam dan kebebasan berpikir yang nantinya banyak memengaruhi pandangan Rasuna Said.

Pendidikan: 

Aktif mengajar di sekolah PERMI (Persatuan Muslimin Indonesia), mendirikan Sekolah Thawalib di Padang, dan memimpin Kursus Putri di Bukittinggi.



2. Buatkan gambar dan infografis tentang 

Politik, Organisasi dan Hukum Rasuna Said

 

Politik dan Organisasi: Bergabung dengan Sarekat Rakyat (SR) sebagai sekretaris dan mendirikan PERMI pada tahun 1930.

Ia konsisten menyuarakan hak pilih bagi perempuan.

Perjuangan Hukum: Karena keberaniannya mengecam kebijakan kolonial, ia menjadi wanita pertama yang terkena hukum kolonial Belanda (Speek Delict) yang melarang berbicara menentang pemerintah.



3. Buatkan gambar dan infografis tentang 

Perjuangan Pasca Kemerdekaan dan Akhir Hayat Rasuna Said 


Setelah kemerdekaan Indonesia, Rasuna Said aktif di Badan Penerangan Pemuda Indonesia dan Komite Nasional Indonesia. Rasuna Said duduk dalam Dewan Perwakilan Sumatra mewakili daerah Sumatera Barat setelah Proklamasi Kemerdekaan. 

Ia diangkat sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia Serikat (DPR RIS), kemudian menjadi anggota Dewan Pertimbangan Agung setelah Dekret Presiden 5 Juli 1959 sampai akhir hayatnya.

Setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945, Rasuna bekerja dengan organisasi-organisasi pro-republik, dan pada tahun 1947 menjadi anggota senior dan ketua bagian perempuan Front Pertahanan Nasional. Dia kemudian bergabung dengan Volksfront, yang merupakan bagian dari Serikat Perjuangan yang didirikan oleh nasionalis-komunis Tan Malaka. 

Akibat gesekan antara organisasi ini dengan pemerintah daerah, Rasuna ditempatkan dalam tahanan rumah selama seminggu. Rasuna juga pernah menjadi anggota Dewan Perwakilan Sumatera, dan pada Juli 1947 menjadi anggota Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP), badan legislatif sementara. Menjelang sidang keenam KNIP pada tahun 1949, ia diangkat menjadi Badan Pekerja KNIP mewakili Sumatra. Pada tahun 1950, ia menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat Sementara. Pada tahun 1959 ia diangkat menjadi anggota Dewan Pertimbangan Agung, posisi yang dipegangnya sampai kematiannya di Jakarta pada tahun 1965.

Kampanye hak-hak perempuan

Seorang Muslim yang taat, Rasuna secara aktif berkampanye untuk hak-hak pendidikan dan politik perempuan, percaya bahwa keyakinan reformisnya memberikan dasar untuk mengadvokasi perempuan. Keyakinan agamanya meyakinkannya bahwa perempuan harus terdidik. Ketika dia pindah ke Padang pada tahun 1931, dia kecewa ketika mengetahui bahwa perempuan dilarang mengenyam pendidikan dan politik aktif. Di sana ia mendirikan sekolah dan mendirikan bagian Permi untuk perempuan dan anak perempuan. Pada tahun 1933, Permi, yang didirikan oleh para aktivis muda yang mendukung hak perempuan atas pendidikan agama, memiliki ribuan anggota perempuan. Tidak seperti organisasi Islam lainnya, perempuan tidak dikesampingkan di bagian bawahan, tetapi memiliki peran kunci dalam kepemimpinan partai. Namun, dia membela hukum perkawinan Islam, termasuk poligami, dengan alasan bahwa masalah yang ditimbulkannya adalah akibat dari masalah masyarakat, bukan hukum itu sendiri.


Kehidupan pribadi

Pada tahun 1929, Rasuna menikah dengan Duski Samad, seorang rekan pengajar dan aktivis politik. Orang tuanya tidak merestui pernikahan tersebut. Mereka memiliki seorang putri, tetapi pernikahan itu berakhir dengan perceraian pada awal tahun 1930-an. Dia kemudian diam-diam menikah dengan Bariun AS, meskipun dia mengatakan bahwa perjuangan kemerdekaan lebih penting daripada suaminya.

Meninggal dunia

Rasuna meninggal di Jakarta karena kanker darah pada 2 November 1965. Ia meninggalkan seorang putri (Auda Zaschkya Duski) dan 6 cucu (Kurnia Tiara Agusta, Anugerah Mutia Rusda, Moh. Ibrahim, Moh. Yusuf, Rommel Abdillah dan Natasha Quratul'Ain). Jenazahnya dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta Selatan.

Penghormatan

Pada tanggal 13 November 1974, berdasarkan Surat Keputusan Presiden RI No. 084/TK/Tahun 1974, ia diangkat sebagai Pahlawan Nasional Indonesia atas jasa-jasanya dalam perjuangan kemerdekaan oleh presiden Soeharto, perempuan kesembilan yang dianugerahi kehormatan ini.

Sebuah jalan arteri utama di Jakarta (Jalan HR Rasuna Said), Padang, dan Payakumbuh, dinamai menurut namanya.

Di Jakarta, salah satu turunan nama yang berasal dari Jalan HR Rasuna Said adalah Stasiun LRT Rasuna Said, salah satu stasiun LRT Jabodebek.


Abdulrachman Saleh

 1. Buatkan gambar dan infografis tentang  Masa Kecil Abdulrachman Saleh Komodor Muda Udara (Anumerta) Abdulrachman Saleh (1 Juli 1909 – 29 ...