Senin, 14 September 2026

Tiga serangkai pendiri PKI (Semaoen, Darsono, Alimin)

SEMAUN, DARSONO, DAN ALIMIN — 

TIGA TOKOH AWAL KOMUNISME INDONESIA YANG AKHIRNYA TERPISAH DARI PKI AIDIT


Jauh sebelum nama D.N. Aidit, Njoto, dan M.H. Lukman dikenal sebagai wajah Partai Komunis Indonesia, ada generasi yang lebih awal membangun fondasi gerakan komunis di Hindia Belanda.


Nama mereka antara lain Semaun, Darsono, dan Alimin.


Ketiganya tumbuh dari lingkungan pergerakan yang berbeda. Semaun berasal dari gerakan buruh dan Sarekat Islam di Semarang. Darsono datang dari lingkungan pendidikan dan pengalaman pertanian. Sementara Alimin telah aktif dalam berbagai organisasi pergerakan sebelum akhirnya masuk ke lingkungan komunis.


Mereka kemudian berada dalam satu arus politik yang sama.


Tetapi sejarah akhirnya membawa mereka ke jalan yang berbeda. Ketika PKI bangkit kembali setelah kemerdekaan dan dipimpin generasi D.N. Aidit, ketiganya tidak lagi menjadi pusat kekuasaan partai.


Bahkan, Alimin meninggal pada 1964 sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional yang ditetapkan Presiden Sukarno, sementara Semaun dan Darsono menjalani tahun-tahun terakhir mereka di luar lingkaran PKI Aidit.


Ironisnya, ketiga orang yang pernah ikut membangun gerakan komunis Indonesia itu justru tidak menjadi bagian utama dari PKI yang kemudian menjadi salah satu kekuatan politik terbesar pada 1950-an dan 1960-an.


🔳 SEBELUM ADA PKI, ADA ISDV


Untuk memahami kisah mereka, sejarahnya harus dimulai sedikit lebih awal.


Pada 9 Mei 1914, Henk Sneevliet bersama sejumlah aktivis sosialis Belanda mendirikan Indische Sociaal-Democratische Vereeniging (ISDV).


Sneevliet datang ke Hindia Belanda membawa gagasan sosialisme dan Marxisme. Namun ISDV pada awalnya belum mempunyai basis massa pribumi yang kuat.


Strategi kemudian berubah.


Para aktivis ISDV mendekati organisasi yang sudah mempunyai massa, terutama Sarekat Islam (SI).


Di Semarang, gagasan sosialisme menemukan ruang yang lebih besar melalui Semaun dan Darsono.


Semaun khususnya mempunyai posisi penting karena ia bukan sekadar aktivis politik. Ia juga seorang pengorganisasi buruh yang mempunyai hubungan kuat dengan serikat pekerja kereta api.


Dari sinilah komunisme Indonesia tidak tumbuh hanya sebagai gagasan yang dibawa orang Belanda. Ia mulai mempunyai kader dan jaringan pribumi sendiri.


🔳 SEMAUN, BURUH MUDA YANG MENJADI KETUA PERTAMA


Semaun lahir pada 1899.


Ia berasal dari keluarga sederhana dan memperoleh pendidikan dasar sebelum bekerja sebagai juru tulis di perusahaan kereta api.


Pada masa mudanya, ia bergabung dengan Sarekat Islam dan kemudian mengenal Sneevliet.


Pertemuan itu mengubah arah hidupnya.


Semaun pindah ke Semarang dan semakin aktif dalam gerakan buruh. Ia kemudian menjadi salah satu tokoh penting Sarekat Islam Semarang sekaligus bergerak dalam ISDV dan serikat pekerja kereta api.


Semarang pada masa itu merupakan salah satu pusat gerakan buruh dan politik radikal.


Semaun memanfaatkan surat kabar dan organisasi buruh untuk menyebarkan gagasan tentang ketimpangan ekonomi, upah, dan hubungan antara buruh dengan pemilik modal.


Jadi, komunisme yang dibawa Semaun pada fase awal tidak muncul tiba-tiba sebagai gerakan bersenjata. Ia berkembang melalui serikat buruh, surat kabar, rapat politik, dan organisasi massa.


Pada 23 Mei 1920, ISDV berganti nama menjadi Perserikatan Komunis di Hindia (PKH). Semaun menjadi ketua dan Darsono wakil ketua. Nama PKI baru digunakan kemudian.


Perubahan tersebut menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah komunisme Indonesia.


Tetapi pada saat itu, Semaun masih mempunyai satu kaki di Sarekat Islam.


Keadaan seperti itu tidak bertahan lama.


🔳 PERPECAHAN DENGAN SAREKAT ISLAM


Masalahnya bukan sekadar persoalan pribadi.


Di dalam Sarekat Islam berkembang perbedaan tajam mengenai agama, sosialisme, strategi politik, dan hubungan dengan organisasi komunis.


Kelompok Semaun dan kawan-kawannya semakin kuat di Semarang. Mereka menggunakan isu buruh dan ketimpangan sosial sebagai alat perjuangan.


Sementara kelompok lain di tubuh Sarekat Islam, termasuk H.O.S. Tjokroaminoto, Agus Salim, dan Abdul Muis, semakin khawatir terhadap pengaruh komunisme.


Pada 1921, aturan disiplin organisasi akhirnya memutus hubungan keanggotaan ganda.


Konflik itu kemudian dikenal melalui istilah SI Merah dan SI Putih.


Bagi sejarah Indonesia, perpecahan ini penting karena menunjukkan bahwa sejak awal komunisme tidak berdiri di ruang kosong. Ia tumbuh melalui persinggungan dengan gerakan nasionalis dan Islam yang sudah lebih dahulu mempunyai massa.


Semaun dan Darsono kemudian semakin fokus pada gerakan komunis.


🔳 DARSONO: BUKAN SEKADAR “WAKIL SEMAUN”


Darsono berasal dari Pati dan mempunyai latar belakang yang berbeda dari Semaun.


Ia pernah menempuh pendidikan pertanian dan bekerja di lingkungan perkebunan. Pengalaman tersebut membuatnya berhadapan langsung dengan persoalan ekonomi masyarakat pedesaan.


Ketertarikannya kepada sosialisme semakin kuat setelah menyaksikan persidangan Henk Sneevliet.


Darsono terkesan oleh seorang Eropa yang bersedia berhadapan dengan pemerintah kolonial demi gagasan yang dianggapnya membela kaum tertindas.


Ia kemudian masuk ke lingkungan pergerakan Semarang dan bekerja bersama Semaun.


Darsono juga dikenal sebagai penulis dan propagandis yang keras.


Melalui surat kabar, ia menyerang kebijakan pemerintah kolonial sekaligus mengkritik tokoh-tokoh pergerakan yang dianggapnya terlalu kompromistis.


Namun ada satu hal penting yang sering hilang dalam cerita tentang Darsono.


Ia tidak selalu sejalan dengan kecenderungan paling radikal dalam gerakan komunis.


Darsono mempunyai perbedaan pandangan mengenai penggunaan kekerasan dan strategi pemberontakan. Karena itu, perjalanan politiknya kemudian semakin menjauh dari kelompok yang menghendaki aksi revolusioner segera.


Ia beberapa kali bekerja untuk jaringan Komintern dan hidup lama di Eropa.


Ketika pemberontakan PKI 1926 meletus, Semaun dan Darsono tidak berada di Indonesia sebagai pemimpin yang mengendalikan jalannya pemberontakan.


Keduanya sudah berada di luar negeri.


Hal tersebut penting karena sering kali seluruh generasi awal PKI seolah-olah digambarkan sebagai satu kelompok yang sama-sama merencanakan pemberontakan 1926. Kenyataannya, terjadi perbedaan pendapat serius mengenai kesiapan, waktu, dan strategi pemberontakan. Sumber sejarah Indonesia juga mencatat bahwa Semaun menilai pemberontakan tersebut dilakukan sebelum waktunya.


🔳 ALIMIN, TOKOH YANG MEMILIH JALAN LEBIH RADIKAL


Jika Semaun identik dengan gerakan buruh dan Darsono dengan propaganda serta organisasi, Alimin mempunyai perjalanan yang berbeda.


Ia lahir di Solo pada 1889 dan sejak muda sudah aktif dalam berbagai organisasi pergerakan.


Ia pernah berhubungan dengan Budi Utomo, Sarekat Islam, dan Insulinde.


Ia juga pernah tinggal di lingkungan rumah H.O.S. Tjokroaminoto.


Dari lingkungan itulah Alimin kemudian mengenal semakin banyak tokoh pergerakan.


Ketika masuk ke lingkungan komunis, ia berkembang menjadi salah satu tokoh yang lebih radikal.


Perbedaan ini kemudian terlihat jelas menjelang pemberontakan 1926.


Pada akhir 1925, para pemimpin PKI membahas rencana aksi revolusioner dalam pertemuan Prambanan.


Masalahnya: tidak semua pemimpin PKI menyetujui rencana tersebut.


Tan Malaka justru menentangnya.


Ia menilai PKI belum mempunyai kekuatan massa dan organisasi yang cukup untuk melakukan revolusi berskala nasional.


Alimin kemudian menemui Tan Malaka untuk meminta dukungan.


Tan menolak.


Penolakannya bukan berarti Tan Malaka mendukung pemerintah kolonial. Ia tetap menginginkan revolusi, tetapi menganggap pemberontakan saat itu terlalu dini.


Catatan mengenai perdebatan ini penting karena menunjukkan bahwa sejak sebelum 1926, gerakan komunis Indonesia sudah mengalami konflik strategi internal.


Alimin kemudian pergi ke luar negeri bersama Musso untuk mencari dukungan Komintern.

Tetapi dukungan yang mereka harapkan tidak diperoleh.


Komintern justru menilai kondisi Hindia Belanda belum memungkinkan untuk pemberontakan terbuka.


Namun rencana tidak berhenti.


Pada November 1926, pemberontakan pecah di sejumlah wilayah Jawa dan kemudian menjalar ke Sumatra Barat pada 1927.


Pemerintah kolonial berhasil menghancurkannya.


Akibatnya, banyak anggota PKI ditangkap, dipenjara, dan dibuang ke Boven Digul di Papua.


PKI kemudian dilarang.


🔳 IRONI BESAR: TIGA TOKOH INI TIDAK BERADA DI GARIS YANG SAMA PADA 1926


Di sinilah cerita Semaun, Darsono, dan Alimin mulai benar-benar terpisah.


Alimin merupakan salah satu tokoh yang terkait erat dengan persiapan pemberontakan.


Sementara Semaun dan Darsono berada di luar negeri dan mempunyai pandangan yang lebih hati-hati terhadap aksi tersebut.


Dengan kata lain, menyebut ketiganya sebagai satu kelompok yang mempunyai sikap sama terhadap pemberontakan 1926 akan terlalu menyederhanakan sejarah.


Mereka memang berasal dari generasi awal gerakan komunis Indonesia, tetapi strategi politik mereka berbeda.


Kegagalan pemberontakan 1926 kemudian menghancurkan jaringan PKI lama.

Dan dari reruntuhan itulah muncul generasi baru.


🔳 KETIKA PKI LAHIR KEMBALI, MEREKA SUDAH MENJADI GENERASI LAMA


Setelah kemerdekaan Indonesia, PKI muncul kembali.


Pada 1948, Musso kembali dan mengambil alih kepemimpinan partai dalam situasi politik yang berujung pada Peristiwa Madiun.


Setelah kegagalan 1948, PKI kembali dibangun.


Kali ini muncul generasi yang berbeda.


D.N. Aidit, M.H. Lukman, dan Njoto menjadi wajah baru partai.


Mereka membangun PKI dengan strategi yang jauh lebih besar: memperluas organisasi massa, mengembangkan organisasi buruh dan tani, menggunakan parlemen, serta membangun hubungan politik yang kuat dengan Presiden Sukarno.


PKI generasi Aidit kemudian berhasil menjadi salah satu partai terbesar dalam Pemilu 1955.


Pada tahap ini, Semaun, Darsono, dan Alimin tidak lagi menjadi pusat pengambilan keputusan.


Mereka adalah tokoh dari masa sebelumnya.

Dan hubungan mereka dengan PKI generasi Aidit tidak sama.


🔳 SEMAUN: KEMBALI KE INDONESIA, TETAPI BUKAN LAGI PEMIMPIN PKI


Semaun kembali ke Indonesia pada 1950-an setelah puluhan tahun berada di luar negeri.


Ia pernah terlibat dalam kegiatan pemerintahan dan mengajar ekonomi.


Namun PKI yang ia lihat ketika pulang sudah bukan partai yang sama dengan organisasi yang pernah ia pimpin pada 1920-an.


Kepemimpinan Aidit tidak menempatkan Semaun kembali sebagai pemimpin utama.


Semaun akhirnya lebih banyak menjalani kehidupan sebagai akademisi dan pejabat pemerintah.


Ia meninggal pada 1971.


🔳 DARSONO: MENJAUH DARI PKI


Darsono juga kembali ke Indonesia setelah lama berada di Eropa.

Namun ia tidak kembali sebagai pemimpin PKI.


Ia pernah menjadi penasihat di lingkungan Kementerian Luar Negeri.


Darsono meninggal di Semarang pada 1976.


Perjalanan keduanya menunjukkan sesuatu yang menarik: menjadi pendiri atau pemimpin awal sebuah organisasi tidak otomatis membuat seseorang tetap menjadi bagian dari organisasi itu selamanya.


PKI berubah, generasi berganti, dan strategi politiknya juga berubah.


🔳 ALIMIN: TOKOH KOMUNIS YANG JUSTRU DIANGKAT SUKARNO SEBAGAI PAHLAWAN


Nasib Alimin bahkan lebih menarik.

Setelah kembali ke Indonesia pada 1946, ia memang kembali berhubungan dengan PKI.


Namun ketika Aidit membangun kembali PKI pada awal 1950-an, Alimin tidak menjadi pusat kepemimpinan.

Ia lebih merupakan tokoh senior dari generasi lama.


Dan pada 1964 terjadi sesuatu yang hampir tidak mungkin dibayangkan jika sejarah hanya dilihat dari sudut pandang setelah 1965.


Presiden Sukarno memberikan penghargaan kepada Alimin sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional melalui Keputusan Presiden Nomor 163 Tahun 1964, yang ditetapkan pada 26 Juni 1964.


Artinya, kurang dari dua tahun sebelum G30S, seorang tokoh komunis senior seperti Alimin secara resmi dihormati oleh negara Sukarno karena jasa-jasanya dalam perjuangan kemerdekaan.


Alimin meninggal pada 24 Juni 1964.


Ia tidak pernah menyaksikan G30S, tidak menyaksikan kehancuran PKI, dan tidak menyaksikan pelarangan komunisme setelah 1965.


DARI SEMAOEN KE AIDIT: PKI YANG SAMA, TETAPI GENERASINYA BERBEDA


Inilah bagian terpenting dari kisah tiga tokoh tersebut.


PKI tahun 1960-an tidak bisa begitu saja dianggap sebagai organisasi yang identik dengan PKI tahun 1920-an.


Ada kesinambungan organisasi dan ideologi, tetapi terdapat pergantian generasi, strategi, struktur, dan konteks politik.


Semaun adalah produk gerakan buruh dan Sarekat Islam Semarang.


Darsono tumbuh sebagai propagandis dan organisator yang banyak berhubungan dengan jaringan internasional.


Alimin berkembang menjadi tokoh yang lebih radikal dan terlibat dalam persiapan pemberontakan 1926.


Sementara puluhan tahun kemudian, Aidit membangun PKI dalam sistem politik Demokrasi Terpimpin dan berhasil membawa partai tersebut menjadi kekuatan massa raksasa.


Karena itu, kisah ketiganya bukan sekadar cerita tentang “pendiri PKI yang tidak terpakai”.


Lebih tepat jika dilihat sebagai perjalanan sebuah gerakan politik yang mengalami pergantian generasi berkali-kali.


Ironinya, ketika PKI berada di puncak kekuasaannya pada awal 1960-an, tiga nama yang pernah berada di fondasi awal gerakan itu justru sudah berada di luar lingkaran utama.


Alimin bahkan telah lebih dahulu wafat sebagai tokoh pergerakan yang dianugerahi penghargaan negara oleh Sukarno.


Semaun meninggal setelah melihat PKI Aidit tumbuh menjadi partai massa, tetapi tanpa dirinya di dalam struktur utama.


Darsono menjalani masa tuanya di luar kepemimpinan PKI.

Mereka membangun bab pertama. Generasi Aidit menulis bab yang sama sekali berbeda.


Dan sejarah kemudian memperlihatkan bahwa bab terakhir PKI justru ditutup bukan oleh para pendirinya, melainkan oleh generasi yang lahir puluhan tahun setelah mereka.


📌 Sumber:

- Keputusan Presiden RI No. 163 Tahun 1964 tentang penghargaan kepada Alimin sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional. 

- Kementerian Kebudayaan RI, Ensiklopedia Alimin Prawirodirdjo, yang merujuk karya akademik seperti Ruth T. McVey dan M.C. Ricklefs. 

- Kementerian Pendidikan/Kebudayaan, Sejarah Pergerakan Nasional Indonesia, mengenai perbedaan pandangan di tubuh PKI menjelang pemberontakan 1926. 

- BBC Indonesia, kronologi kelahiran, perkembangan, dan keruntuhan PKI. 

- Kajian Kankan Xie, UnPreparing a Revolution: The Comintern in the Prelude to the 1926–1927 Uprisings in Indonesia, mengenai perdebatan internal PKI dan hubungan dengan Komintern. 

- Open Archief, ringkasan biografis Semaun dan Darsono serta perkembangan PKI awal. 


#Semaun #Darsono #Alimin #SejarahIndonesia #PKI #sariberita #KomunismeIndonesia #Sukarno #Aidit #Beranipedia





 Tiga serangkai pendiri PKI (Semaoen, Darsono, Alimin) yang nasibnya berbeda, yang sama: mereka "tak dipakai" lagi oleh PKI-nya DN Aidit dkk


Pada awalnya adalah Indische Sociaal-Democratische Vereeniging (ISDV) yang pertama berdiri pada 9 Mei 1914. Pada 23 Mei 1920 namanya berubah menjadi Perserikatan Komunis di Hindia lalu resmi menjadi Partai Komunis Indonesia pada 1924.


Tiga tokoh pentingnya di awal-awal adalah Semaoen, Alimin, dan Darsono. Tapi jangan lupakan sosok Henk Sneevliet yang pertama-tama memperkenalkan komunisme di Hindia Belanda.


Nama lengkapnya Hendricus Josephus Fransiscus Marie Sneevliet atau dikenal sebagai Henk Sneevliet adalah tokoh Belanda yang membawa komunisme ke Indonesia. Dialah yang mendirikan ISDV.


Meski menjadi orang-orang penting di fase PKI awal, ketiganya "tak dipakai" di fase PKI-nya DN Aidit, Lukman, dan Njoto. Nasib mereka juga berbeda.


Semaoen, di akhir hayatnya, setelah puluhan tahun dalam "pembuangan" akhirnya pulang ke Indonesia pada 1953. Dia sama sekali terputus dengan PKI dan lebih untuk mengajar ekonomi di Unpadj.


Sementara Darsono, etelah dua dekade lebih melanglang buana di Eropa, dia pulang ke Indonesia pada 1950. Meski begitu, dia sudah tak terikat sama sekali dengan PKI-nya DN Aidit, Njoto, dan generasi yang lebih baru. Darsono kemudian menjadi penasihat di Kementerian Luar Negeri Indonesia sampai 1960. Darsono mengembuskan napas terakhirnya pada 1976 di Semarang pada usia 79 tahun.


Lalu Alimin. Meski sempat bergabung dengan PKI setelah dari pembuangan, Alimin akhirnya "disingkirkan" oleh PKI baru. Dia kemudian digelari Pahlawan Nasional oleh Bung Karno pada 1964.


Baca artikel selengkapnya di sini https://intisari.grid.id/read/034412275/tiga-serangkai-pendiri-partai-komunis-indonesia-yang-tak-terpakai-di-pki-nya-dn-aidit


#partaikomunisindonesia #pki #semaoen #darsono #alimin #DNaidit



Njoto, Si Propagandis PKI


Namanya Njoto. Orangnya kurus, kerempeng, berkacamata dan pendiam. Dia wakil ketua II PKI. Aidit, Njoto, dan Lukman adalah triumvirat PKI. Tiga pucuk pimpinan utama PKI. 


Orang tak akan pernah menyangka bahwa dibalik tubuh kurusnya terdapat pemikiran bengis. Dia memang tidak pernah menumpahkan darah secara langsung lewat tangannya, tapi lewat otaknya. Tangannya tak pernah memegang parang ataupun arit untuk membantai, tapi tulisan tangannya mampu menggerakkan pembantaian.


Njoto adalah ketua Biro Agitasi dan propaganda PKI. Dia memimpin koran Harian Rakyat. Sebuah koran corong komunis di Indonesia. Dia juga yang membentuk Lekra, sebuah organisasi kebudayaan milik PKI. Lewat besutan tangannya, Lekra menjelma menjadi organisasi budaya yang mampu membungkam lawan-lawan politiknya.


 Njoto adalah seorang yang jenius. Tipe seorang pemikir berdarah dingin. Dia juga seorang seniman dan musikus. Mampu meniup saksofon dengan baik. Serta berbagai alat musik lainnya.


Laki-laki kerempeng itu menjadi salah satu otak utama PKI di negri ini. Tulisan tangannya mampu menggerakkan palu arit bergerak mencari korbannya. Njoto bersenjatakan pena. Senjatanya lebih tajam daripada senjata para jagal di lapangan.


Tulisan Njoto di koran Harian Rakyat sangat dijiwai komunis. Karena dia memang seorang komunis sejati hingga akhir hayatnya. Seorang ideolog sejati. Seorang penganut komunis hingga tulang sungsumnya.


Tahun 1950-an, Njoto dan Aidit menjadi darah baru dalam tubuh PKI. Anak-anak muda ini menggantikan posisi kepemimpinan PKI kaum tua. Mereka berhasil membersihkan diri, cuci tangan nama baik PKI dari kasus pemberontakan PKI tahun 1948. 


Pembantaian yang memakan ribuan nyawa itu seolah dilupakan begitu saja. Semua itu berkat kepiawaian tokoh muda, salah satunya Njoto membersihkan nama baik PKI. Melalui tulisan tangannya yang tajam, Njoto mampu membangun image bahwa PKI tidak bersalah. Dia memutar balik fakta.


PKI kembali mengalami masa kejayaan dibawah kepemimpinan triumvirat ini. Otak-otak mereka bekerja sedemikian rupa menyusun strategi jitu. Akhirnya di tahun 1960-an mereka menjadi kekuatan politik besar nomer empat di negri ini. Luka berdarah  mereka seakan hilang begitu saja. Orang-orang seakan melupakan kekejian pemberontakan mereka.


Mereka mendapat angin segar karena Soekarno menganut Nasakom. Bahwa komunis dibiarkan hidup demi pemikiran Soekarno yang ingin menggabungkan tiga elemen yaitu nasionalis, agama, dan komunis dalam kehidupan bernegara. Ide besar Nasakom Sang Bung Besar menjadikan PKI diberikan ruang politik. Bahkan semakin hari semakin tumbuh subur. Puncaknya adalah pemberontakan G30S PKI.


Saat pemberontakan G30S PKI gagal, Aidit langsung melarikan diri ke Jawa Tengah. Bersembunyi di kota-kota basis PKI. Dia bersembunyi di Semarang, Solo, Boyolali. Hingga akhirnya dia dieksekusi di sebuah sumur tua Boyolali. Aidit mati ditembak tentara. Sebelum dieksekusi, Aidit sempat pidato berapi-api tentang komunisme. Pidatonya terhenti begitu timah panas mengenai tubuhnya. Dia pun jatuh ke sebuah sumur tua. Di sumur itulah jasadnya dimakamkan.


Sedangkan Njoto yang saat itu menjabat sebagai menteri, tetap berada di Jakarta. Bahkan dia pernah ikut sidang kabinet. Dia merasa dekat dengan Soekarno, selama ini sering menulis pidato kenegaraan Soekarno. Makanya dia percaya diri tetap di Jakarta. 


Njoto bahkan terlihat pongah. Dia merasa otaknya yang cerdas mampu meloloskannya dari tanggung jawab pemberontakan G30S PKI.  Dia merasa tidak bersalah.


Tapi dugaan Njoto salah. Aidit sudah mati ditembak di Boyolali. Tak berapa lama kemudian Njoto juga ditangkap. Disebutkan sebelum menjelang eksekusinya, Njoto menyenandungkan puisi komunis. Sebuah bukti betapa Aidit dan Njoto menjiwai komunis hingga akhir hayatnya. 


Njoto, lelaki kerempeng ketua Biro Agitasi PKI itu telah pergi. Meninggalkan pemikiran komunis yang tiada pernah mati.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tifa

 Dokter Tifa Pertanyakan Alasan Jokowi Marah: yang Kami Teliti Ijazah Unggahan Dian Sandi Tifauzia Tyassuma atau dokter Tifa, terdakwa kasus...