Jumat, 31 Juli 2026

P3nsiun 1969 - 2026

 Sumbu Dinyalakan Soeharto, Disiram Mesiu tambahan oleh para Kepala Daerah dan SBY, dioperkan ke Jokowi dan Prabowo.


Banyak yang tidak sadar, di balik jaminan hari tua para ASN, ada skema warisan era Orde Baru yang beban anggarannya membengkak mendekati 2.000% dalam dua dekade terakhir. Dan ledakan terbesarnya  justru baru akan dimulai antara tahun 2026 hingga 2030.  Apakah penahanan kenaikan pensiun pokok hari ini  oleh Prabowo akan sanggup membendung gelombang pensiun massal dalam 5 tahun ke depan?


1. Skema pensiun Pay-As-You-Go (PAYGO)—atau sistem di mana pekerja aktif saat ini membiayai para pensiunan saat ini—ditetapkan oleh pemerintah Soeharto melalui Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1969 tentang Pensiun Pegawai dan Pensiun Janda/Duda Pegawai dan Keppres Nomor 56 Tahun 1974. Peraturan ini diterbitkan sebagai bentuk penghargaan atas jasa Pegawai Negeri Sipil (PNS) sekaligus jaminan ketenangan hari tua bagi aparatur negara. 


Mekanisme utama PAYGO mengandalkan transfer dana antargenerasi secara langsung (intergenerational transfer). Sistem ini tidak menabung uang si pegawai untuk masa depan si pegawai sendiri. Gaji pegawai yang masih aktif bekerja dipotong setiap bulan.  Uang potongan dari pekerja aktif tidak disimpan atau diinvestasikan ke instrumen saham/obligasi untuk mereka nanti, melainkan langsung dicampur dengan dana APBN negara untuk langsung ditransfer membiayai para pensiunan yang ada saat ini.  Ketika pekerja aktif tersebut nantinya tua dan pensiun, gantian hidup mereka akan dibiayai oleh potongan gaji dari generasi penerus mereka yang baru masuk menjadi PNS aktif di masa depan.


2. Aturan Pengalihan Pensiun ke Istri/Suami dan Anak (UU 11/1969)

Apabila seorang ASN atau pensiunan ASN meninggal dunia, hak pensiunnya tidak hangus, sekitar 36-50% nya dialihkan menjadi Pensiun Janda/Duda atau Pensiun Anak kandung belum bekerja/menikah sd batas usia 25 tahun.

________________________

Ketika sumbu bom waktu sistem pensiun Pay-As-You-Go (PAYGO) dinyalakan lewat UU No. 11 Tahun 1969, daya ledaknya sebenarnya masih bisa diprediksi. Namun, masuknya dua gelombang kebijakan besar—yaitu Otonomi Daerah (2001) dan Kebijakan Kepegawaian SBY (2004–2014)—bertindak sebagai dua pasokan mesiu tambahan yang mengubah bom waktu fiskal tersebut menjadi ledakan berkekuatan "nuklir" bagi APBN hari ini sd 2030-2040.


Realisasi anggaran pensiun Indonesia pada APBN 1999 ada di kisaran Rp7,10 Triliun.


 Realisasi anggaran pensiun Indonesia pada tahun 2005 melonjak drastis hingga menyentuh angka Rp16,51 Triliun. 

Tahun 2006 melonjak mencapai Rp20,43 Triliun

Tahun 2007 adalah sebesar Rp24,32 Triliun

Tahun 2008 melonjak drastis hingga menyentuh angka Rp31,64 Triliun (mulai persiapan pemilu?). 


 Angka nominal 2008 ke bawah di atas adalah hasil patungan (sharing) antara kas APBN dengan saku dana investasi PT Taspen.


Tahun 2009 melonjak drastis hingga menyentuh angka Rp40,80 Triliun.

2009  inilah mulai Kembali penuh ke model 1969 (100% APBN) karena dana iuran di Taspen dinyatakan tidak cukup lagi untuk melakukan fungsi sharing. 


Realisasi anggaran pensiun Indonesia pada tahun 2013 mencapai Rp69,70 Triliun


Belum cukup, Sby masih membuat "wasiat mesiu tambahan" di 2014: 

UU A Nomor 5 Tahun 2014 tentang ASN.

Perpanjangan Batas Usia Pensiun (BUP) menjadi 58 dan 60 tahun yang dikunci dalam UU ini sukses menahan realisasi anggaran pensiun Indonesia pada tahun 2014 menjadi "hanya" di kisaran Rp68,43 triliun, Setelah tahun 2015, laju pertumbuhan beban pensiun Indonesia menjadi sangat mengerikan karena efek "bendungan" BUP yang dibuat SBY di tahun 2014 akhirnya jebol secara berantai. 


Berdasarkan Laporan Keuangan Pemerintah Pusat (LKPP) Audited Kementerian Keuangan, berikut adalah visualisasi laju "mesiu" pensiun yang meledak di era pemerintahan berikutnya: 

2015 (Awal Ledakan): Rp78,86 Triliun

2017  Rp89,04 Triliun

2019  Rp104,78 Triliun 

2020 Rp110,13 Triliun

2022 Rp117,50 Triliun

2024 : Rp144,26 Triliun

2025: Rp146,10 Triliun

Kenaikan yang terlihat "sedikit" pada tahun 2025 (dari RRp144,26 Triliun ke Rp146,10 Triliun) terjadi karena tidak adanya kebijakan kenaikan nilai nominal pensiun pokok dari pemerintahan Prabowo.

 

Dengan asumsi bahwa Prabowo terus tegas mengunci kebijakan tidak menaikkan nilai pensiun pokok— dan"berhasil" menahan tarif pembayaran per orang agar tetap datar pun, pemerintah tidak bisa membendung fakta bahwa volume penerima terus bertambah masif.  Pada rentang tahun 2026 hingga 2030, tetap akan ada ratusan ribu ASN dari gelombang rekrutmen massal era orde baru-honorer usia matang di era SBY yang serentak mencapai batas usia pensiun maksimal mereka (58–60 tahun).


Pada akhirnya, rumus fisika fiskal kita sederhana: "Orde Baru dan Reformasi yang menggelar pesta pengangkatan massal, para politisi masa lalu dan partai pengusung yang memetik bonus elektoralnya, pemerintah dan APBN hari ini yang ketiban tugas mulia... jadi tukang cuci piringnya."😇😇😇


NB: Yang PEJABAT NEGARA (bukan ASN) akan dibahas pada postingan berikutnya di akun The little grey cells ya.😇

Surat Ratna Sari Dewi

 Ada "aib nasional" yang disebut sengaja disembunyikan Soeharto, dibongkar istri ke-6 Bung Karno lewat surat terbukanya, apa itu?


Istri keenam Bung Karno, Ratna Sari Dewi pernah membuat pernyataan menghebohkan. Pernyataan itu dia tuangkan dalam sebuah surat terbuka.


Dalam surat itu wanita bernama asli Naoko Nemoto itu membongkar aib nasional yang sengaja disembunyikan oleh Soeharto. Benarkah?


Surat terbuka untuk Soeharto itu diunggah di laman resmi Perpustakaan Digital Sastra Belanda (DBNL). Surat itu dibuat pada April 1970 di Paris.


Di situ dia menyoroti apa yang terjadi di sekitar tahun 1965-1970, di masa-masa peralihan dari Orde Lama ke Orde Baru. Begini potongan surat terbuka Ratna Saridewi kepada Seoharto:


Yang Mulia, Presiden Soeharto,


Sekali-kali bukanlah maksud saya untuk mengingatkan Anda akan hal-hal yang rupanya ingin Anda lupakan. Tetapi karena saya mengikuti kejadian-kejadian di Indonesia dari dekat, saya anggap tugaskulah untuk berbicara. Mungkin akan lebih bijaksana untuk tetap membisu seperti sphinx. Pertanggungjawaban untuk melanggar tabu biasanya amat berat, karena itu saya juga sadar bahwa saya akan dikucilkan. Barangkali lebih berat daripada yang saya perkirakan. Baik di dunia maupun di Indonesia lambat laun beredar cerita-cerita yang dipalsukan bahwa saatnya sudah tiba saya membeberkan kejadian-kejadian dari sudut pandang saya. Saya telah memutuskan untuk menyampaikan surat kepada Anda sebagai warga negara Indonesia. 


Selain itu saya mengharapkan agar tidak timbul keragu-raguan bahwa keputusan saya untuk mengirimkan surat terbuka kepada Anda, maupun isinya, sepenuhnya menjadi tanggung jawab saya dan tidak ada sangkut pautnya dengan Soekarno, mantan Presiden Indonesia.


Sekarang sudah terlambat untuk membicarakan para perwira yang telah dihukum mati sebagai ‘kontra-revolusioner’ dan sebagai ‘pelaku makar terhadap negara’. Sudah sejak dahulu, sejak hari-hari Soekarno masih berkuasa, saya tidak setuju dengan pendapat bahwa ‘kekuasaan selalu menang’. Saya juga tidak setuju bila kepala negara mengelilingi dirinya dengan yes-man. Saya masih saja berpendapat bahwa di sekitar Anda masih terlalu banyak orang berkumpul, yang selalu bungkam, yang pura-pura setuju dan menaati Anda, agar mendapatkan lebih banyak kekuasaan untuk dirinya.


Yang pertama-tama saya kutuk ialah yang disebut proses-proses, di mana orang dihukum mati untuk ‘kejahatan-kejahatan yang dilakukan terhadap negara’ tanpa mengindahkan norma-norma yang lazim dilakukan dalam suatu proses di pengadilan. Proses-proses itu berlangsung dalam suasana kekerasan dan teror.


Mereka, yang di bawah pimpinan Soekarno hampir tidak punya suara, kemudian melampiaskan diri dengan sangat tidak bertanggung jawab dan membunuh dan menteror dari posisi kekuasaan yang baru mereka peroleh. 


Bila suatu waktu nanti tempat Anda akan kosong untuk diisi oleh orang lain, bisa saja terjadi, bahwa mereka yang menonjol dalam rezim Anda, termasuk di dalamnya tentu Anda sendiri dan sejumlah mitra militer Anda, akan dihukum mati karena pengkhianatan terhadap negara dan kejahatan-kejahatan lain, misalnya korupsi yang telah menyebar luas kemana-mana.


Mengapa Anda memberikan contoh seburuk itu kepada negara semuda Indonesia? Dalam hal ini yang saya maksud tidak hanya proses-proses politik yang telah Anda selenggarakan. Tetapi yang teringat olehku adalah orang-orang yang terbunuh oleh yang dinamakan ‘pembersihan merah’ menyusul peristiwa 30 September 1965. Berapa dari orang-orang ini hanyalah pengikut-pengikut Soekarno? Berita yang merebak menyebutkan bahwa tidak kurang dari 800.000 orang Indonesia, termasuk perempuan dan anak-anak, telah dibunuh karena mereka merupakan pengikut PKI (Partai Komunis Indonesia).


Januari 1966, London Times menulis, ‘Setelah kejadian-kejadian di Indonesia, tiga bulan yang lalu, telah dibunuh seratus ribu komunis, angka itu menurut diplomat-diplomat Barat amat rendah. Laporan itu selanjutnya menyebutkan ‘Para usahawan dan turis Eropa, yang baru kembali dari Indonesia mengabarkan bahwa mereka melihat sebuah sungai penuh dengan mayat tanpa kepala, sedangkan di desa-desa anak-anak bermain sepakbola dengan kepala korban’. Tiga bulan setelah peristiwa 30 September merupakan mimpi buruk dengan kekejaman-kekejaman yang tak terlukiskan yang diwarnai darah - tanpa tandingan dalam sejarah Indonesia. 


Seorang koresponden ‘Washington Post’ menulis dari Jakarta, bahwa di Jawa Timur saja telah dibunuh 250.000 orang menurut juru bicara pihak Islam. Koran itu kemudian memberitahukan bahwa ‘pembunuhan mencapai puncaknya pada bulan November. Kepala orang dipakai sebagai dekorasi di atas jembatan. Di tempat lain orang melihat jenazah-jenazah tanpa kepala berjajar di atas perahu-perahu di sungai. Apa yang terjadi di sini sungguh tak bisa dibayangkan. Rupanya seperti di neraka. ‘Bengawan Solo yang didendangkan dengan begitu indah telah memuat demikian banyaknya jenazah, sehingga airnya pun kadang-kadang tidak tampak. Beberapa pengamat berbicara tentang dasar sungai yang berwarna merah karena darah’, demikian Washington Post. Koran Inggris ‘The Economist’ memperkirakan korban pembunuhan massal berjumlah satu juta.


Mengapa harus terjadi pertumpahan darah besar-besaran terhadap orang-orang yang tak bersalah? Dan mengapa masyarakat dunia membisu seribu bahasa? Bila satu orang saja meninggal di sepanjang tembok Berlin, seluruh dunia gegap gempita. Tetapi bila 800.000 orang Asia dalam masa damai dibunuh secara terencana, adem-ayem saja di Barat.


Tentu, di antara yang terbunuh itu pasti ada yang komunis. Tetapi apa yang terjadi dengan kebebasan serta hak asasi manusia, bila mereka bekerja dengan mempergunakan cara-cara tertentu terhadap suatu gerakan di bawah tanah, yang tidak berkenan di hati pemerintah. Akan lebih bisa diterima bila cara-cara tertentu itu diambil, setelah PKI dilarang secara undang-undang dasar. Tetapi justru karena kebebasan manusia harus dihormati ditinjau dari sudut kemanusiaan, tidaklah dapat dibenarkan mengadakan pembantaian di antara pemberontak. Lepas dari persoalan ideologi, yang terjadi itu merupakan kejahatan nasional.


Tuan Soeharto, ke mana pun Anda berpaling untuk mengesahkan kejahatan ini, suatu kejahatan di mana orang yang tidak berdaya dan yang tak terlindung dibunuh dan sebagian lain seolah-olah dibebaskan, terus terang, saya tidak menyetujui apa yang telah terjadi. Bukankah suatu fakta bahwa pemerintah baru di bawah bendera Orde Baru mempergunakan slogan ‘menumpas PKI?’ Apakah Anda begitu ketakutan bahwa kekuasaan Soekarno akan kembali dan bahwa pengikut-pengikutnya akan muncul kembali, karena Anda tahu benar bahwa lebih dari separo orang Indonesia setia padanya? Hal ini tentu belum Anda lupakan, bukan?


Barangkali Anda telah berpendapat bahwa 30 September telah merupakan masa lalu. Menurut saya tidaklah demikian halnya karena sangat banyak pertanyaan yang belum jelas dan disembunyikan. Saya bersyukur bahwa saya mengalami kejadian-kejadian itu dari dekat dan mengambil hikmah darinya, bahwa kejadian-kejadian sebenarnya dalam sejarah selalu diinterpretasikan ulang oleh mereka yang sedang berkuasa, agar dapat memanfaatkannya untuk tujuan-tujuan politik mereka. Saya juga menyadari pengaruh yang amat besar dari media publisitas. 


Betapa mudahnya bagi pemimpin-pemimpin politik tergiur menerima propaganda yang akan menunjang tujuan-tujuan mereka. Marilah kita berhenti pada peristiwa 30 September, atau menurut fakta, pada dini hari 1 Oktober 1965. Inti dari insiden ini adalah kesimpulan, diperkuat oleh Dewan Revolusioner yang dipimpin oleh salah seorang anggota pengawal pribadi Soekarno, Letnan Kolonel Untung. ‘Sekelompok tertentu dari para jenderal berencana untuk menggulingkan pemerintah dan membunuh Presiden Soekarno. 


Mereka telah membentuk Dewan Jenderal yang dibentuk dengan tujuan membentuk kekuasaan militer. Lagipula coup itu akan dilaksanakan pada hari Angkatan Bersenjata yang akan diadakan pada 5 Oktober’. Untuk mencegahnya, enam jenderal dibunuh, satu diantaranya menteri pertahanan, yakni Jenderal Yani, demikian Dewan Revolusi. Anda telah membuat umat manusia percaya, bahwa komplotan yang melakukan peristiwa 30 September adalah anggota PKI. Bukankah pembunuh-pembunuh sebenarnya dari keenam jenderal itu adalah perwira-perwira Angkatan Bersenjata, Angkatan Laut, Angkatan Udara dan polisi nasional? 


Saya meragukan apakah pembunuh-pembunuhnya khusus orang-orang komunis. Dan siapa sebenarnya orang yang mengobarkan perasaan dendam rakyat Indonesia dan menyulut api dengan menyatakan: ‘Itu adalah persekongkolah komunis!’. 


Dan ini malah terjadi sebelum ditemukan suatu bukti mengenai persengkongkolan komunis. Menteri Pertahanan, Jenderal Nasution, yang sebenarnya juga harus dibunuh oleh ‘Dewan Jenderal’, mengucapkan pidato yang mengharukan saat keenam jenderal dimakamkan pada Hari Angkatan Bersenjata, 5 Oktober 1965. 


Dikatakannya, ‘Sampai hari ini Hari Angkatan Bersenjata selalu merupakan peristiwa yang penuh rahmat, yang menyinarkan kemenangan. Tetapi hari ini dinodai oleh pengkhianatan dan penyiksaan ... Walaupun difitnah oleh para pengkhianat, di dalam hati kami percaya bahwa Anda sekalian termasuk pahlawan dan bahwa akhirnya kebenaran akan menang. Kami difitnah, tetapi kami tidak akan melakukannya terhadap musuh-musuh kami’. 


Di dalam pidato Nasution, tidak ditemukan petunjuk sekecil apa pun, bahwa pembunuhan terhadap keenam jenderal telah dilakukan oleh para komunis. Sebaliknya, segala sesuatu yang diucapkannya menunjukkan bahwa peristiwa itu terjadi karena adanya persengketaan di dalam kekuatan-kekuatan Angkatan Bersenjata sendiri.


Dan bolehkah saya bertanya, apa yang dimaksudkan Jenderal Nasution, dengan ucapannya ‘fitnah dari para pengkhianat’ dan ‘kami tidak akan melakukannya terhadap musuh-musuh kami?’ Tujuan utama lima puluh orang yang berseragam pasukan pengawal Presiden Soekarno ‘dan pembunuh-pembunuh yang Bersenjata berat dari PKI yang bergerak menuju rumah dinas Jenderal Nasution adalah untuk membunuhnya karena dia seorang antikomunis yang terkenal. Atau bukankah begitu? Tetapi sebagai gantinya mereka melihat ajudannya jenderal, yakni Letnan Tendean sebagai Jenderal Nasution. 


Saya yakin bahwa tiap anggota pasukan pengawal Presiden Soekarno dengan segera akan mengenali Jenderal Nasution. Teori yang mengatakan bahwa para anggota PKI yang katanya mendapat tugas penting untuk membunuh jenderal, tidak mengenali wajahnya, rasanya tidak masuk akal.


Sadarkah Anda bahwa masyarakat di Indonesia mempersoalkan dan curiga bahwa Anda sebagai satu-satunya anggota staf tertinggi dari Angkatan Bersenjata pada malam naas itu tidak diserang, karena para pembunuh dalam perjalanan ke rumah Anda tidak dapat menemukan alamatnya yang tepat? Dan lebih hebat lagi. Dini hari tanggal 1 Oktober 1965 itu Anda mengambil alih komando Angkatan Bersenjata dan dengan kecepatan yang hampir tidak manusiawi Anda bisa membungkam Dewan Revolusi.


Setelah Soekarno kehilangan Menteri Pertahanannya, Jenderal Yani, beliau mengangkat Anda, yang pada saat itu masih berpangkat mayor jenderal, sebagai Menteri Pertahanan, sekaligus pimpinan tertinggi Angkatan Bersenjata. Itu terjadi tanggal 14 Oktober 1965. 


Pada kesempatan itu Soekarno berkata, ‘Tidak bisa dihindarkan ketertiban dan keamanan harus dikembalikan untuk menciptakan suasana damai, agar emosi baik dari pihak kiri maupun dari pihak kanan bisa mereda... dan untuk menemukan jalan keluar politik dari peristiwa 30 September ini sangat perlu untuk mengetahui dan mengenali fakta-fakta umum dan fakta-fakta yang menyangkut berbagai hal mengenai peristiwa itu. Fakta-fakta itu tidak akan meresahkan saya, dengan warna politik mana pun mereka menampakkan diri, merah hijau atau pun kuning.’


Menurut instruksinya, Presiden Soekarno memerintahkan agar Anda mengumpulkan ‘fakta-fakta’ dan menyerahkannya kepadanya secara pribadi. Jadi, seharusnya Anda segera mulai mengadakan penyelidikan. Akan tetapi perintah Soekarno itu Anda interpretasikan sendiri dan Anda malah mengatakan, ‘Sekarang saya telah mendapatkan kepercayaan presiden. Sekarang saya akan melanjutkan mengenyahkan kekuatan-kekuatan yang masih tersisa dari insiden itu’. Ini semua mempunyai arti. Presiden Soekarno menghendaki dan mengharapkan dari Anda bahwa Anda akan setia dan akan loyal menaati perintahnya. Presiden telah bertekad untuk menemukan hukuman yang adil bagi pelaku-pelaku makar, siapa pun pelakunya, PKI atau militer. 


Anda tidak menyampaikan fakta-faktanya kepada presiden dan Anda juga tidak mendapatkan persetujuannya untuk menggerakkan Angkatan Bersenjata, dengan jenderal-jenderal seperti Sarwo Edhie. Dan segera setelah itu mulailah pembunuhan terhadap orang-orang yang tak bersalah, yakni yang disebut para komunis. Sudah menjadi fakta yang diketahui secara umum bahwa Angkatan Bersenjata Republik Indonesia atas perintah khusus dari Anda mulai dengan menyiksa, membakar, merampok dan memperkosa di seluruh negeri. Angkatan Bersenjata melakukan teror yang Anda lindungi. 


Dengan publikasi besar-besaran mengenai pembunuhan terhadap para jenderal, rakyat yang cinta damai terpicu sampai titik kemarahan yang memuncak. Rakyat mulai membenci PKI karena melakukan kekejian-kekejian tersebut dan sering Cina dianggap sebagai biang keladi peristiwa ini. Sebagian besar rakyat Indonesia tidak percaya bahwa pernah ada ‘Dewan Jenderal’. Selanjutnya Soekarno dipaksa menempatkan PKI di luar hukum dan menyatakan bahwa PKI-lah yang bertanggung jawab atas peristiwa 30 September. Selama satu tahun penuh para mahasiswa dan kelompok-kelompok lain yang tidak puas berdemonstrasi dengan cara melakukan kekerasan-kekerasan terhadap Soekarno, justru karena ia menolak untuk menyatakan PKI sebagai partai yang ilegal tanpa adanya bukti bahwa PKI adalah satu-satunya pihak yang bertanggung jawab atas insiden itu. 


Para pemimpin demonstrasi itu yang disebut para ‘mahasiswa’, yang usianya jauh di atas 30 tahun, yang menghadiahkan pada para pengikutnya perlengkapan-perlengkapan parasut yang bagus yang entah dari mana asalnya. Dan dari mana datangnya dana yang sungguh tidak sedikit untuk menyelenggarakan aksi-aksi para mahasiswa yang berdemonstrasi itu yang jelas-jelas dibiayai. Dan mengapa para ‘pemimpin’, para pembuat kerusuhan itu sekarang menduduki jabatan-jabatan yang penting dalam pemerintahan Anda? Kerusuhan yang dengan sengaja dikobarkan ini berlangsung selama kira-kira setahun. Sementara itu dilakukan serangan propaganda terhadap PKI, yang digambarkan sebagai biang keladi semua kerusuhan yang terjadi. Saya ingin bertanya kepada Anda, berapa banyak kejahatan dan kecurangan yang telah dilakukan atas nama PKI? Dan ini masih tetap berlangsung, sampai sekarang, empat tahun setelah gerakan 30 September. 


Bisa dimengerti dan merupakan realitas politik, bahwa warga negara yang ramah, yang selalu hidup dalam ketakutan dan ketidak amanan, harus bersahabat dengan mereka yang memegang kekuasaan. Tetapi 2 Januari 1966, pada suatu rapat kabinet di Bogor, Soekarno telah memperingatkan Anda, ‘Situasi yang tidak menentu ini harus diakhiri tanpa saudara-saudara sebangsa saling membunuh. Bila pembunuhan massal terhadap sesama warga negara tetap berlangsung, akan timbul kekuatan-kekuatan balik yang buruk’. Tetapi dengan cara yang ‘menakjubkan ’ Anda memecahkan persoalan situasi yang tidak aman ini dengan cara Anda sendiri. Saya sama sekali tidak membenarkan aksi 30 September 1965 itu. Saya tidak menyalahkan siapa pun, dan saya tidak mengadili. Apalagi bila saya seorang komunis. Saya sama sekali tidak berharap seolah-olah saya seorang ‘simpatisan komunis’, yang secara pribadi menarik perhatian saya adalah apa yang sebenarnya terjadi.


Bila memang terbukti bahwa penyulut gerakan 30 September adalah mereka yang termasuk PKI, kita hanya bisa bertanya-tanya mengapa partai berkuasa yang terorganisasikan dengan ketat ini melakukan langkah-langkah yang tak berguna dan kurang terarah seperti itu dan untuk tujuan apa? 


Mengapa tentara mengabaikan kebakaran besar yang terjadi di markas besar PKI, yang disulut oleh pembuat onar itu. Bukankah yang bisa terjadi adalah bahwa di markas besar tersebut Anda bisa menemukan bukti-bukti campur tangan tentara yang bila ditemukan tidak akan menyenangkan pihak tentara? 


Bila biang keladi pencetus gerakan 30 September benar-benar anggota PKI, sudah sepantasnya bila pelaku-pelakunya diadili secara terbuka di depan seluruh rakyat Indonesia. Tetapi mengapa tentara menghilangkan nyawa Ketua PKI, DN Aidit, secara rahasia? (Baru berbulan-bulan kemudian pembunuhan ini Anda laporkan kepada Soekarno). Dan mengapa wakil ketua pertama dan kedua PKI, Njoto dan Lukman, juga dibunuh dengan cara yang sama?


Orang mengatakan bahwa Partai Nahdatul Ulama beranggotakan 6.000.000 orang. Tetapi mengapa di lingkungan ini orang begitu takut terhadap PKI, yang hanya beranggotakan 3.000.000 orang. Terlalu banyak hal yang tetap tidak dapat dijelaskan. Komunisme, yang sangat Anda takuti itu, akan hilang dengan sendirinya, bila kemiskinan teratasi. Teror dari ideologi PKI di bawah pimpinan Aidit (ketua kongres partai) didasarkan atas Pancasila (Soekarnoisme). PKI memegang peranan penting saat bangsa ini dilahirkan dan mereka memperjuangkan sosialisme Indonesia. 


Nasution, Ketua MPR-Sementara, menuduh PKI melakukan aksi-aksi yang telah merugikan negara, terutama di bidang ekonomi. Penyebab utama inflasi saat ini adalah hutang kepada luar negeri sebesar 2,5 miliar dolar AS. Diantaranya adalah utang kepada Uni Sovyet untuk impor senjata seharga satu miliar dolar. Orang yang menandatangani kontrak-kontrak itu adalah Jenderal Nasution sendiri, yang untuk tujuan itu dua kali pergi ke Moskow. Dan sekarang dia mengatakan bahwa dia tidak bertanggung jawab?


Bapak Soeharto, saya ingin melihat sejumlah fakta yang Anda sendiri laksanakan sebagai barang bukti untuk menuduh PKI. Mengapa Anda tidak membuka kembali penyelidikan tentang kejadian-kejadian pada 30 September 1965 dengan mengumpulkan fakta-fakta yang sebenarnya dan bukan kesaksian-kesaksian dan barang-barang bukti sepihak. Seluruh negeri mempunyai hak untuk mengetahui. Juga pemberitahuan mengenai pengalaman-pengalaman Anda sendiri. 


Cerita yang beredar malah mengatakan bahwa PKI tidak bekerja sendiri, tetapi bahwa Soekarno sendiri telah dicurigai bersekongkol dengan Dewan Revolusioner sebelum dipanggil. Ada pula dikatakan bahwa beberapa ribu anggota PKI menjelang gerakan 30 September mendapatkan pendidikan militer di suatu daerah sekitar Halim, di mana Soekarno pada pagi insiden itu terjadi, diselamatkan. Orang hanya bisa bertanya-tanya, bagaimana mungkin ribuan orang mendapatkan latihan militer secara rahasia tanpa diketahui orang. Dan mengapa Soekarno mencari perlindungan di tempat yang akan melibatkan dirinya? 


Berita-berita yang kami terima pada hari itu di Halim, bisa disimpulkan sebagai berikut, ‘Telah timbul konflik dalam tubuh tentara. Pribadi presiden tidak boleh dibahayakan oleh suatu kecelakan mendadak’. Saya sendiri secara rahasia pergi ke Halim untuk berada di samping suamiku pada saat-saat keresahan dan ketakutan yang mencekam itu. Kami tidak menyadari bahwa Jenderal Yani telah dibunuh. Kami tidak yakin apakah Bapak termasuk kawan atau lawan kita. Tetapi saya masih tetap berpendapat bahwa bila Jenderal Yani tidak meninggal dalam insiden ini, keadaan di Indonesia akan lain sama sekali saat itu. Soekarno sangat mengkhawatirkan keberadaan Yani.


Bapak Soeharto, untuk pertanyaan yang berikut ini saya mohon perhatian khusus Anda. Keberadaan ‘Dewan Jenderal’ yang Anda sangkal dengan sengit, diketahui Jenderal Yani (lepas dari fakta bahwa orang mengatakan Dewan ini dibentuk oleh jenderal-jenderal yang terbunuh). Hanya dua minggu sebelum insiden ini presiden menanyakan padanya berita-berita yang lebih lanjut mengenai hal itu. Yani menjawab, ‘Biarkanlah saya bertanggung jawab mengenai bawahan saya. Janganlah Anda memikirkan hal ini lagi’. Bagi saya beum dapat dipercaya bahwa juga Jenderal Yani pada hari naas itu terbunuh juga. Apabila Anda, yang mendapat tugas untuk menyelidiki gerakan 30 September, tidak mengadakan penyelidikan sepihak, maka Anda juga akan mengetahui bahwa sebenarnya Soekarno tidak terlibat perkara itu.


Bapak Soeharto, bolehkan saya mengajukan pertanyaan berikut: Jawaban apa yang akan Anda berikan kepada rakyat Indonesia yang menduga bahwa Anda sendiri yang melaksanakan rencana-rencana busuk ‘Dewan Jenderal’ setelah melihat betapa lihainya Anda mengembalikan ketertiban dari suatu situasi yang amat membingungkan (segera setelah insiden itu terjadi). 


Kekacauan yang amat sempurna yang terjadi di Indonesia saat itu, dimanfaatkan oleh Angkatan Bersenjata yang berorientasi kanan, bersama para mahasiswa yang pada gilirannya juga didorong pemimpin-pemimpin Islam dan politisi beraliran kanan, untuk menindas PKI. Untuk tujuan itu dibuat suatu skema yang jelas tentang pembunuhan dan pertumpahan darah. Mungkinkah wajah Angkatan Bersenjata yang sebenarnya berpaling ke Pentagon, Kementerian Pertahanan Amerika yang jadi pusat militer dari persekongkolan militer di dunia. Bukankah mereka menginginkan agar di sudut (dunia) ini PKI ditumpas dan hubungan dengan Cina diputuskan? 


Berulang kali Soekarno memperingatkan bahwa menuduh PKI bertentangan dengan kebenaran. Soekarno mengatakan, ‘Jangan meletakkan seluruh tanggung jawab itu pada PKI. Kebenarannya ada di tempat lain’. Saya akan selalu menghormati dan respek pada Soekarno, yang menjalani nasibnya. Yang menolak tunduk pada tekanan Angkatan Bersenjata, yang melakukan segala upaya untuk menyatakan PKI tidak layak hukum. Dia tidak goyah dalam kepercayaan dan cita-citanya di bawah tekanan seberat apa pun. Bila saat itu ia menyerah dan mengadakan kompromi, maka posisi Soekarno saat ini akan lain sama sekali. Tetapi Soekarno melambangkan keadilan.


Menteri Luar Negeri Adam Malik, pada tahun 1966 memberikan pidato penjelasan yang amat bodoh pada para mahasiswa Indonesia di Tokyo. Dia menjelaskan bahwa Soekarno yang bertanggung jawab atas pembunuhan ‘massal’ terhadap anggota-anggota ‘komunis’, yang menurutnya tidak akan terjadi bila saja Soekarno segera mengadili PKI. 


Kita hanya bisa bergidik bila membayangkan apa yang akan terjadi di Indonesia, bila Soekarno juga muncul di depan umum untuk menghujat PKI. Itu akan berarti bahwa presiden melegalisasi pengejaran terhadap para komunis yang memang telah dimulai dan akan berakibat pembantaian yang lebih hebat. Ungkapan Latin berbunyi ‘cui bono’ (siapa yang beruntung?). 


Dalam penyelidikan mencari fakta-fakta yang sebenarnya, yang penting tidak hanya apa yang sebenarnya terjadi. Yang tidak kalah penting adalah mencari fakta, siapa yang paling beruntung dalam kejadian ini. Bukankah Amerika Serikat yang jelas memperolah kemenangan dalam insiden 30 September ini? Jakarta yang sekarang dibanjiri oleh orang-orang Amerika yang akan ber-‘investasi’. Sebetulnya hal itu tidak akan menyebabkan keberatan, bila ini berarti bahwa aktivitas ekonomi ini terutama akan mendorong kesejahteraan rakyat Indonesia.


Selama hidupnya Soekarno selalu menolak bila ada yang ingin membuat patung dirinya. Setelah 22 tahun memimpin revolusi Indonesia, dengan amat segan ia menyetujui untuk mempublikasikan otobiografinya. Tetapi Anda, Bapak Soeharto, baru saja Anda memperoleh kekuasaan dan Anda telah mengeluarkan buku yang berjudul ‘The Smiling General’. Setelah itu, telah menjadi rahasia umum bahwa Anda berkeinginan untuk mencetak potret Anda pada uang kertas, yang berhasil dicegah oleh para penasihat Anda. Pada umumnya, di kedutaan-kedutaan di luar negeri dipasang potret-potret dari tokoh-tokoh sejarah negara yang bersangkutan. Soekarno adalah Bapak Indonesia. 


Tetapi mengapa di kedutaan-kedutaan Indonesia di luar negeri tidak ada sama sekali potret Soekarno sekecil apa pun? Anda, yang mengkritik diktator Soekarno, dengan khidmat berjanji untuk membimbing Indonesia ke arah demokrasi yang mewakili suara dan hati nurani rakyat. Sementara itu Anda telah merenggut hak-hak yang lebih besar daripada Soekarno. Langkah pertama ke arah demokrasi, yakni pemilihan presiden, selalu ditunda-tunda. Anda malah mengizinkan diadakannya diskusi-diskusi menggelikan apakah nama Soekarno layak ditulis di dalam buku-buku sejarah negara ini. Sementara Anda menjelaskan secara umum bahwa Anda melindungi Soekarno, Anda malah mengisolasinya dari dunia luar. 


Pengasingan yang tidak adil ini dengan dalih bahwa dia sedang sakit, justru akan membuatnya sakit. Bila ia membutuhkan perawatan medis, Anda malah menolak untuk memberikannya. Aparat-aparat medis yang tak dapat digunakan menghiasi kamar-kamarnya. Perawatan gigi yang dibutuhkannya, tidak diberikan. Orang telah menganjurkan agar tidak memberikan lagi suntikan-suntikan, karena tidak diketahui lagi, apakah ia menerima obat-obatan yang benar-benar dibutuhkannya. Saya hanya bisa berharap agar makanan yang disiapkan anak-anaknya, benar-benar sampai ke tangannya.


Soekarno sekarang menjalani hidup yang amat sulit. Hak-hak manusia yang paling minim pun tidak diberikan kepadanya. Satu-satunya saat ia bisa meninggalkan pengasingannya ialah untuk menghadiri upacara perkawinan anak-anaknya. Mobilnya kemudian dikawal oleh kendaraan panser dan siapa pun dicegah untuk mendekatinya. Ketika Soekarno pada upacara seperti itu, berdiri untuk mencium mempelai, yakni puterinya, dengan kasar ia ditarik kembali duduk di sofa oleh polisi militer yang mengawalnya, sementara matanya ditutup agar orang tidak bisa membuat foto. 


Bila saya mengalami perlakuan seperti itu, saya sudah lama akan musnah. Tetapi justru, oleh karena Soekarno memiliki kekuatan rohani yang amat dalam dan kemauan yang amat kuat, siksaan semacam ini masih bisa ditanggulanginya. Saya hanya sangat khawatir: bila di depan umum saja ia telah diperlakukan seperti itu, bagaimana dia diperlakukan bila dia sendiri? Secara fisik ia bisa dihancurkan, tetapi mereka tidak akan bisa memusnahkan jiwanya. Dalam hal ini ia tetap hidup.


Soekarno telah membebaskan Indonesia dari penjajahan Belanda selama 350 tahun. Dia adalah Bapak bangsa. Setelah menderita selama tiga belas tahun dalam tahanan dan penjara oleh orang Belanda, dia berhasil membebaskan Indonesia dari belenggu penjajahan setelah perang kemerdekaan tahun 1945 sampai 1949. Tanpa pimpinan dan bimbingan Soekarno, pada saat ini Anda tidak akan berada pada posisi Anda sekarang. Soekarno menciptakan undang-undang dasar yang demokratis dan mendirikan suatu lingua franka bagi Indonesia. Dia menjadi promotor seni dan kebudayaan Indonesia. Orang yang mengorbankan jiwa raganya untuk bangsanya, tidak layak diperlakukan seperti itu. Dia pantas dihormati sesuai dengan jasa-jasanya.


Soekarno tidak akan pernah mengizinkan dilakukan pengkhianatan, atau direncanakannya pembunuhan sesama saudara secara besar-besaran. Saya tidak bisa bungkam dan membisu, sementara suami saya menjadi pelampiasan kekerasan. Bagi saya nilai yang tertinggi adalah: kesucian. Saya sangat yakin bahwa tindakan yang paling rendah yang dilakukan seseorang terhadap sesamanya adalah membiarkan korbannya itu mati tersiksa. Kami ingat kepada pepatah Jepang yang bunyinya, ‘Mencekik seseorang dengan kaos sutera’. Dan Anda, Tuan Soeharto, membiarkan Soekarno disiksa secara rohani dan jasmani.


Tidak pernah saya memperdengarkan suara saya, baik langsung maupun tidak langsung, karena saya sadar betul betapa banyak dan beratnya problema yang harus Anda tangani. Tetapi sekarang saya berbicara secara umum dan terbuka, pertama-tama demi keselamatan jiwa Soekarno. Ketika Soekarno meng-alih-tugaskan jabatannya dan mengangkat Anda sebagai penggantinya 7 Maret 1967, dia melakukannya dengan tiga syarat. Salah satunya adalah agar Anda melindunginya dan keluarganya. Anda tidak menepati syarat itu dan mengingkari janji Anda.


Dalam suatu wawancara dengan pers Jepang mengenai korupsi di Indonesia, Anda antara lain mengatakan, ‘Mengenai pertanyaan tentang korupsi, orang mengatakan bahwa itu masih tetap terjadi. Tetapi itu adalah akibat dari sisa-sisa rezim Soekarno. Dan untuk sementara masih tetap akan berlangsung, karena hal itu sejak dulu sudah terjadi’. Apabila kata-kata yang Anda ucapkan itu benar-benar datang dari lubuk hati Anda, maka itu merupakan suatu pembelaan. Hanya seorang pengecut dan seorang yang berjiwa rendah yang berlindung di belakang Soekarno saat menjelaskan korupsi yang terjadi sekarang. Ketika Anda melakukan ini, hilanglah sudah rasa hormat saya yang terakhir kepada Anda.


Selama ada manusia, wajar bahwa mereka yang menang otomatis berada di pihak yang benar dan mereka yang kalah bisa dituduh melakukan apa saja. Apabila Anda secara jujur benar-benar mau menyelidiki korupsi, sebagai warga negara Indonesia, saya bersedia dengan sungguh-sungguh untuk membantu Anda dalam tugas itu. Saya bersedia menghadiri pengadilan terbuka, apalagi saya bisa bertindak sebagai penuntut. Tetapi proses seperti ini harus disalurkan lewat undang-undang dan norma-norma yang berlaku dan tidak diatur secara tertutup dalam suasana ketakutan, kekerasan dan penyalahgunaan wewenang. Itu akan menjadi syarat mutlak bagiku.


Soekarno adalah pahlawan Revolusi Indonesia. Tetapi menurut pendapatku yang sederhana, hal ini tidak perlu berarti bahwa orang ini juga akan menjadi pemimpin nasional yang baik dalam waktu damai. Saya kira, bila Soekarno melewatkan masa remaja dan masa mahasiswanya di luar negeri, dia pasti akan lebih berhasil mendapatkan perasaan dan kesadaran ekonomi dan menambahkannya pada kapasitas kepemimpinannya yang istimewa itu. Menurutku rupanya suatu kesalahan bahwa dia menyuruh menasionalisasikan sarana produksi.


Tambahan pula, Soekarno tidak pernah merasakan mempunyai ‘rumah’ dalam arti yang sebenarnya. Andaikata dia pernah mengalami kehidupan berkeluarga dalam arti moral dan etis yang sebenarnya, seperti yang lazimnya dianggap masyarakat, maka ia barangkali akan menjadi seorang presiden yang lebih baik dari sebuah negara yang dipimpin secara sosialis. Tetapi keadaanlah yang mengubahnya menjadi seorang figur kaisar. Dan dengan demikian dia akan menjadi korban dari kekuasannya sendiri yang mahadahsyat itu. Soekarno selalu saya kagumi dan hormati sebagai seorang tokoh yang besar, tetapi seperti juga Anda ketahui benar, 


Bapak Soeharto, saya tidak selalu setuju dengan pendapatnya. Misalnya saja pendapat saya bahwa Pancasila, ciptaan Soekarno (agama, kemanusiaan, demokrasi, nasionalisme dan keadilan sosial) adalah suatu bentuk idealisme murni. Walaupun idealisme barangkali sangat diharapkan, namun belum tentu dapat dipraktekkan dalam abad kedua puluh ini. Indonesia jelas belum matang untuk bentuk demokrasi Barat. Dengan alasan itulah Soekarno menganjurkan ‘demokrasi terpimpin’, terutama juga karena sebagian besar penduduk belum mencapai tingkat pendidikan dan tingkat sosial yang sama. Dalam hal ini saya setuju dengan pendapatnya. Tetapi di pihak lain, Soekarno mengarahkan politiknya ke cita-cita yang lebih tinggi. Maka tak dapat dihindarkan bahwa dia kemudian mendapatkan kritik tajam, terutama mengenai pandangannya dalam memperbaiki nasib masyarakat secara keseluruhan. 


Soekarno seharusnya berpikir lebih realistis. Di dalam suatu kurun waktu, di mana dia bisa menjadi penguasa tunggal dia tentu bisa memaksa orang untuk menuruti cita-citanya. Tetapi sebagian besar rakyat lebih peduli untuk memperbaiki kehidupan sehari-hari daripada mengikuti idealismenya. Orang haus akan kenikmatan-kenikmatan materialistis dan orang makin tidak tertarik untuk mendengarkan pidato-pidato, yang tidak mengisi perut. Soekarno berpendapat bahwa dunia dikuasai oleh dua blok kekuasaan besar. Dia mencoba menghidupkan kekuatan ketiga yang akan memperbaiki keseimbangan. Di dalam pertikaian ini Indonesia mempengaruhi Dunia Ketiga: Asia, Afrika dan Amerika Latin. Sementara itu permainan diplomatik ini berarti bahwa Indonesia lambat laun dikucilkan. Dan itu sama sekali tidak dimaksudkannya.


Dia berpendapat bahwa perdamaian dunia baru bisa dicapai bila kebebasan yang mutlak telah dicapai oleh tiap ras dan tiap bangsa. Tetapi keadaan terisolasi dari negara ini menyebabkannya mundur dari Perseriktatan Bangsa-Bangsa, Bank Dunia dan misalnya ketidakhadiran kita di Olimpiade di Tokyo. Indonesia meninggalkan PBB setelah terjadinya konflik mengenai pembebasan Iran Barat dan konfrontasi dengan Malaysia. Soekarno berpendapat bahwa PBB tidak bertindak adil terhadap tiap-tiap negara anggotanya. Karena Indonesia tidak akan pernah mendapatkan pinjaman dari Bank Dunia tanpa tunduk terhadap syarat-syarat tertentu dan tekanan politik, Indonesia kehilangan perhatian terhadap pemberian bantuan secara itu. 


Sudah sebelum kegiatan Olimpiade di Tokyo saat berlangsungnya Asian Games di Jakarta, Indonesia dituduh dipengaruhi oleh pertimbangan-pertimbangan politik di bidang olahraga. Karenanya Indonesia tidak diperbolehkan mengikutinya. Terhadap perlakuan ini Soekarno menandaskan bahwa Olimpiade sendiri tidak luput dari pengaruh politik, karena buktinya negara-negara komunis tertentu tidak diizinkan mengikutinya.


Bapak Soeharto, bila Anda pada hari-hari itu sungguh-sungguh berpikir secara mendalam mengenai hari depan negara ini, Anda pasti mempunyai pendapat lain daripada cita-cita Soekarno, yang akhirnya sering mempunyai dampak seperti angin puyuh. Saya sendiri, setidaknya, menyaksikan dengan hati berdebar bagaimana diplomasi Indonesia makin mengarah ke kiri.


Tidak ada seorang pun yang sempurna. Tanpa kecuali Soekarno. Namun saya berpendapat bahwa Soekarno tidak pernah melakukan sesuatu untuk memperbaiki dirinya, tetapi selalu melakukan sesuatu dengan jujur dengan keyakinan penuh itu semua untuk kepentingan cinta tunggalnya, yakni Indonesia. Selama hidupnya ia sedapat mungkin mencegah rekan-rekan senegaranya saling membunuh. Dibandingkan dengan Soekarno, Anda dan sejumlah rekan kerja Anda memerintah negara dengan jalan membakar emosi dan pertumpahan darah. Anda dan antek-antek Anda yang seharusnya dituntut atas tuduhan membunuh orang-orang yang tak bersalah dalam jumlah yang tak terhitung banyaknya atas nama perburuan PKI.


Siapa lagi yang masih percaya kepada Tuhan? Dalam hal ini, Indonesia seharusnya tidak layak memiliki seorang presiden yang tangannya berlumuran darah.


Bapak Soeharto, Soekarno sungguh-sungguh mencintai negara dan rakyatnya. Termasuk pula mereka, yang berniat untuk membunuhnya, bisa dia dekati dengan lembut bila mereka minta maaf. Dibandingkan dengan beliau, Anda menyimpan hati yang kejam di balik senyum Anda. Anda telah menyuruh membunuh ratusan ribu orang. Bolehkah saya bertanya sekali lagi, ‘Apakah Anda tidak mampu mempertahankan posisi dan kekuasaan Anda kecuali dengan kelicikan dan pertumpahan darah?’


Barangkali kesalahan Anda terbesar adalah, tidak segera menyuruh membunuh Soekarno tahun 1965 itu. Dengan mudah Anda bisa menuduh para komunis melakukan pembunuhan itu. Bila Anda mau, dengan cara itu Anda bisa mencegah dilakukannya pembunuhan massal pada rakyat. Dan sementara itu pula, Anda bisa mempertahankan kedamaian jiwa jutaan pengagum Soekarno. Para pengagum yang sekarang hanya bisa memandang tanpa daya nasib yang menimpa pemimpin mereka.


Selanjutnya akan sia-sia saja melampiaskan rasa rendah diri Anda terhadap Soekarno. Itu akan merupakan kematian yang lebih terhormat bagi Pemimpin Besar Revolusi, daripada seperti sekarang disiksa sampai dijemput maut. Merupakan aib nasional untuk Indonesia bahwa Soekarno tidak diperlakukan dengan lebih terhormat yang patut diterimanya setelah mengabdikan seluruh hidupnya bagi nusa dan bangsanya. Izinkanlah saya mengakhiri surat ini dengan menyatakan sekali lagi kesetiaan saya yang mendalam untuk Bapak kita. Hidup Bung Karno!


 Ratna Sari Dewi Soekarno


Paris, April 1970


Itulah surat terbuka Ratna Sari Dewi kepada Soeharto yang menyinggung soal aib nasional yang sengaja disembunyikan Presiden Kedua Republik Indonesia itu.


Baca artikel selengkapnya di sini https://intisari.grid.id/read/033986496/terbongkar-inilah-aib-nasional-yang-sengaja-disembunyikan-soeharto-yang-dibocorkan-istri-ke-6-bung-karno


#RatnaSariDewi #sukarno #soeharto

216 Zainal Abidin Syah

 1. Buatkan Gambar dan Infografis tentang

Kehidupan awal

Zainal Abidin Syah


Informasi Pribadi 

Lahir :

5 Agustus 1912

Soasio, Tidore, Hindia Belanda

Meninggal :

4 Juli 1967 (umur 54)

Ambon, Maluku, Indonesia

Ayah :

Do Husain Do Sangaji

Ibu :

Do Salma Do Yusup

Wangsa :

Kesultanan Tidore

Agama :

Islam


Kehidupan awal

Zainal Abidin Syah Alting lahir di Soasio, kota utama Pulau Tidore, pada tahun 1912. Ayahnya, Dano Husain, adalah cicit Sultan Ahmad Saifuddin Alting (wafat 1865). Nama keluarga kerajaan Maluku sering diambil dari nama kota dan pejabat Belanda, dalam hal ini Gubernur Jenderal Willem Arnold Alting. Ibunya bernama Salma dan saudara-saudaranya adalah Amir, Halni, dan Idris. Pada masa itu, Kesultanan sedang kosong sejak wafatnya penguasa terakhir pada tahun 1905, dan urusan zelfbesturende landschap (wilayah otonom) ditangani oleh dewan kabupaten. Setelah menempuh pendidikan di Batavia dan Makassar, Zainal Abidin menjabat sebagai pejabat di birokrasi kolonial Belanda di Ternate, Manokwari, dan Sorong. Ketika Jepang menginvasi dan menduduki Hindia Belanda pada tahun 1942, Zainal Abidin diangkat menjadi kepala pemerintahan daerah di Tidore untuk sementara waktu. Menjelang akhir perang ia membangkitkan ketidaksenangan Jepang dan diasingkan ke Halmahera.

Kehidupan pribadi :

Zainal Abidin Syah merupakan Sultan Tidore periode 1947—1967, ia mempunyai peranan penting di dalam sejarah perebutan kembali Papua Barat. Pada tanggal 17 Agustus 1956 Presiden Soekarno mengumumkan pembentukan Propinsi Perjuangan Irian Barat dengan Ibu kota sementara di Soa-Sio Tidore. Keputusan tersebut diambil oleh Presiden Soekarno dengan alasan Papua serta pulau-pulau sekitarnya merupakan wilayah kekuasaan Kesultanan Tidore sejak ratusan tahun lalu. Sultan Zainal Abidin Syah kemudian ditetapkan sebagai Gubernur sementara propinsi perjuangan Irian Barat pada tanggal 23 September 1956 di Soa-Sio Tidore (SK Presiden RI No. 142/ Tahun 1956, Tanggal 23 September 1956). Selanjutnya sesuai SK Presiden RI No. 220/ Tahun 1961, Tanggal 4 Mei 1962, ia ditetapkan sebagai gubernur tetap Propinsi Irian Barat. Sebagai gubernur Sultan Zainal Abidin Syah diperbantukan pada Operasi Mandala di Makassar (TRIKORA) Perjuangan Pembebasan Irian Barat.

Sultan Zainal Abidin Syah memegang jabatan gubernur Irian Barat sampai tahun 1961, Selanjutnya beliau menetap di Ambon hingga wafat pada tanggal 4 Juli 1967 dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kapahaha Ambon, selanjutnya pada tanggal 11 Maret 1986, pihak keluarga kesultanan Tidore memindahkan kerangka Sultan Zainal Abidin ke Soa Sio Tidore dan disemayamkan di Sonyine Salaka (Pelataran Emas) Kedaton Kie Soa-Sio Kesultanan Tidore.



2. Buatkan Gambar dan Infografis tentang

Sultan Tidore

Zainal Abidin Syah


Sultan Tidore

Sebagai pewaris tahta, Zainal Abidin Syah akhirnya dilantik sebagai Sultan Tidore pada tanggal 16 Desember 1946 oleh GGNI (Governor General van Nederlands Indies) di Bali. Meskipun terikat aturan adat, ia tetap menjaga kedekatan dengan rakyat dan aktif berinteraksi tanpa memandang status sosial.

Setelah Jepang menyerah, Belanda mencoba membangun kembali posisi mereka di Hindia Timur dan mendirikan negara semu, Negara Indonesia Timur, pada tahun 1946. Negara ini mencakup Maluku, Sulawesi, dan Kepulauan Sunda Kecil. Sebagai orang yang berpengalaman dalam administrasi, Zainal Abidin diangkat menjadi Sultan Tidore pada akhir tahun 1946 dan mulai menjabat pada Februari 1947. Dengan demikian, Kesultanan Tidore bangkit kembali setelah masa transisi kekuasaan selama 42 tahun.

Terlepas dari latar belakang kolonial yang melatarbelakangi jabatannya, ia dihormati oleh pemerintahan republik Soekarno setelah tahun 1949. Pada tahun 1952, ia diangkat menjadi kepala wilayah Maluku Utara dengan kedudukannya di Ternate. Pada saat yang sama, atmosfer anti-feodalisme di Indonesia pasca-pembebasan membuat kerajaan-kerajaan lama tampak semakin anakronistis, dan lambat laun digantikan oleh fungsi-fungsi birokrasi modern.



3. Buatkan Gambar dan Infografis tentang

Gubernur Pertama Irian Barat dan Sengketa Papua
Zainal Abidin Syah


Perjuangan Diplomasi Irian Barat

Penentu Arah Papua: 

Secara historis, wilayah Papua berada di bawah kekuasaan Kesultanan Tidore. Sultan Zainal Abidin Syah menggunakan legitimasi ini untuk mematahkan klaim kolonial Belanda yang ingin memisahkan Papua dari Indonesia.

Gubernur Pertama Irian Barat: 

Pada 17 Agustus 1956, Presiden Soekarno membentuk Provinsi Perjuangan Irian Barat dengan ibu kota sementara di Soasiu, Tidore. Sultan Zainal Abidin Syah kemudian dilantik sebagai gubernur pertamanya untuk menegaskan kedaulatan NKRI atas wilayah tersebut.

Kontribusi Militer dan Trikora

Operasi Mandala: Selama menjabat sebagai gubernur, ia terlibat aktif dalam mendukung aspek logistik dan strategi Operasi Mandala. Operasi militer ini merupakan bagian dari gerakan Tri Komando Rakyat (Trikora) untuk membebaskan Irian Barat dari cengkeraman Belanda.

Melawan Penjajahan: 

Jauh sebelum penyerahan kedaulatan, ia konsisten menolak tunduk pada tekanan politik kolonial Belanda maupun siksaan saat sempat ditangkap oleh pasukan pendudukan Jepang karena dituduh menjadi mata-mata sekutu.

Sengketa Papua :

Sebagian wilayah Nugini Barat telah berada di bawah kendali Sultan Tidore setidaknya sejak abad ke-17, tetapi setelah tahun 1949, Belanda mempertahankan kekuasaan kolonialnya atas setengah pulau tersebut demi sumber daya yang menguntungkan dan kepentingan strategisnya, untuk mengamankan kepentingan ekonominya di Indonesia, dan untuk mengisinya kembali dengan orang-orang Indo yang melarikan diri.

Pemerintahan Soekarno berusaha keras untuk menggabungkan sisa wilayah Hindia Belanda ini ke dalam Republik Indonesia untuk melengkapi Revolusi. Pada tanggal 17 Agustus 1956, Presiden Sukarno mengumumkan pembentukan Provinsi Perjuangan Irian Barat dengan ibu kotanya di Soasiu, Tidore. Pemerintah Indonesia berargumen bahwa Papua dan pulau-pulau di sekitarnya telah menjadi milik Kesultanan Tidore yang kini menjadi wilayah Indonesia selama ratusan tahun. Oleh karena itu, ia mengangkat Sultan Zainal Abidin sebagai Gubernur pada tanggal 23 September 1956 (Keputusan Presiden 142/1956).

Sebagai kepala daerah Maluku Utara, ia digantikan oleh Sultan Bacan.

Masa jabatannya bertepatan dengan memburuknya hubungan Indonesia-Belanda. Hubungan diplomatik diputus pada tahun 1960 dan pemerintah Soekarno mulai membeli senjata untuk dapat menghadapi posisi Belanda di Nugini.

Operasi militer Trikora dimulai pada bulan Desember 1961, dan akhirnya menghasilkan solusi politik di mana Indonesia mencaplok Nugini Barat (1963). Sementara operasi berlangsung, masa jabatan Zainal Abidin berakhir, dan ia digantikan sebagai gubernur oleh P. Pamuji pada tahun 1962. Setelah masa jabatannya, Zainal Abidin mengundurkan diri ke Ambon, di mana ia meninggal pada tanggal 4 Juli 1967 dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kapahaha Ambon. Meskipun ia meninggalkan seorang putra, Mahmud Raimadoya, tidak ada sultan baru yang diangkat, karena kesultanan tersebut praktis telah mati sejak beberapa tahun. Dengan adanya undang-undang tentang pemerintahan daerah pada tahun 1965, para bangsawan tradisional di Maluku tidak lagi diberi posisi dalam pemerintahan formal.

Lama setelah itu, jenazahnya dipindahkan ke Tidore, dan dimakamkan kembali pada tanggal 11 Maret 1986 di Sonyine Salaka (Halaman Emas) yang dulunya merupakan lokasi istana lama. Seorang Sultan tituler dari cabang dinasti lain akhirnya dipilih pada tahun 1999.



4. Buatkan Gambar dan Infografis tentang

Akhir Hayat dan Penghargaan

Zainal Abidin Syah


Usulan Pahlawan :

Perjuangan panjang pengusulan Sultan Zainal Abidin Syah, Sultan Tidore sekaligus tokoh pejuang kemerdekaan Maluku Utara, sebagai Pahlawan Nasional  akhirnya berbuah hasil pada masa kepemimpinan Gubernur Sherly Tjoanda.

Usulan penganugerahan gelar Pahlawan Nasional terhadap Sultan Zainal Abidin Syah pertama kali diajukan oleh Pemerintah Kota Tidore Kepulauan melalui Tim Peneliti dan Pengkaji Gelar Daerah (TP2GD) pada tahun 2021. Setelah melewati tahapan verifikasi di tingkat provinsi dan nasional, nama beliau sempat diajukan ke Kementerian Sosial RI, namun belum ditetapkan oleh Presiden RI.

Pada tahun 2022, pengusulan kembali dilakukan bersama beberapa tokoh lain, namun yang ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional adalah almarhum Salahuddin Bin Talabudin, Sementara itu, tahun 2024 menjadi masa moratorium, di mana pemerintah pusat tidak melakukan penetapan Pahlawan Nasional.

Memasuki tahun 2025, di bawah kepemimpinan Gubernur Sherly Tjoanda, Pemerintah Provinsi Maluku Utara kembali mengajukan rekomendasi resmi kepada Menteri Sosial RI melalui Surat Gubernur Maluku Utara Nomor : 400.9/1/1452/G tanggal 20 Maret 2025, dengan dukungan penuh dari TP2GD Provinsi Maluku Utara.

Perjuangan panjang tersebut akhirnya mencapai puncaknya pada 10 November 2025, bertepatan dengan peringatan Hari Pahlawan ke-80, ketika Presiden Republik Indonesia menetapkan Sultan Zainal Abidin Syah sebagai Pahlawan Nasional  melalui Keputusan Presiden Nomor : 116. TK/ Tahun 2025 tentang Penganugrahan Gelar Pahlawan Nasional yang ditetapkan di Jakarta pada 6 November 2025.

Sejarah singkat pengusulan ini dibacakan langsung dalam Upacara Hari Pahlawan Nasional di halaman kantor Gubernur, Sofifi, Senin (10/11).

Penganugerahan ini menjadi momen bersejarah bagi masyarakat Maluku Utara, khususnya Kesultanan Tidore, sebagai bentuk penghargaan negara atas jasa dan perjuangan Sultan Zainal Abidin Syah dalam mempertahankan kedaulatan dan memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.

(Sumber : Pemerintah Provinsi Maluku Utara).

Kamis, 30 Juli 2026

215 Tuan Rondahaim Saragih

 1. Buatkan Gambar dan Infografis tentang 

Biodata dan Kehidupan Awal 

Tuan Rondahaim Saragih


Tuan Rondahaim Saragih Garingging gelar Tuan Raja Raya Namabajan[a] (1828–1891) adalah penguasa keempatbelas Partuanan Raya yang dijuluki Pemerintah Kolonial Belanda sebagai Napoleon der Bataks (bahasa Indonesia: Napoleon-nya orang-orang Batak) karena perlawanannya hingga akhir hayat terhadap upaya penaklukan Raya oleh Belanda. 

Partuanan Raya tercatat tidak pernah takluk kepada Belanda pada masa pemerintahan Tuan Rondahaim Saragih Garingging. 


Barulah pada tahun 1901, sepuluh tahun setelah wafatnya Tuan Rondahaim, Partuanan Raya takluk kepada pemerintah kolonial Belanda. Pada saat itu, Partuanan Raya dipimpin oleh putra Tuan Rondahaim yang bernama Sumayan gelar Tuan Kapoltakan Saragih Garingging.


Informasi Pribadi 


Lahir :

1828

Meninggal :

Juli 1891

Pemakaman :

Pematang Raya, Simalungun, Sumatera Utara, 

Makam Raja Raya Tuan Rondahaim Saragih Garingging 

Ayah :

Tuan Jinmahadim Saragih Garingging gelar Tuan Huta Dolog

Ibu :

Puang Ramonta br. Purba Dasuha

Nama lengkap :

Tuan Rondahaim Saragih Garingging

1848–1891

Wangsa :

Partuanan Raya


Kehidupan awal :


Rondahaim Saragih Garingging lahir pada tahun 1828 di Juma Simandei, Sinondang, Pamatang Raya, ibu kota Partuanan Raya. Ayahnya, Tuan Jinmahadim Saragih Garingging gelar Tuan Huta Dolog, adalah penguasa Partuanan Raya. Ibunya, Puang Ramonta boru Purba Dasuha, adalah putri dari Guru Raya. Oleh karena Puang Ramonta hanyalah selir dari Tuan Jimmahadim, kehidupan Rondahaim dan ibunya serba kekurangan.

Pada masa kecilnya, Rondahaim telah diperkenalkan oleh keempat pamannya, yakni Guru Murjama, Guru Onding, Guru Nuan, dan Guru Juhang, kepada Raja Padang Tengku Muhammad Nurdin. Rondahaim belajar bahasa Melayu dan ilmu pemerintahan selama tinggal di Kerajaan Padang. Pada tahun 1840, saat Rondahaim berusia 12 tahun, ayahnya meninggal dunia. Kekuasaan ayahnya kemudian digantikan oleh pamannya, Tuan Murmahata Saragih Garingging gelar Tuan Sinondang, sebagai pemangku raja. Tuan Murmahata juga menikahi ibu Rondahaim. 




2. Buatkan Gambar dan Infografis tentang 

Perjuangan melawan Belanda

Tuan Rondahaim Saragih


Selama berkuasa, Tuan Rondahaim aktif memperluas wilayah kekuasaannya sekaligus menentang aneksasi oleh Pemerintah Kolonial Belanda di daerah Sumatera Timur. Tuan Rondahaim mempersatukan raja-raja di Simalungun untuk melawan Pemerintah Kolonial yang saat itu melakukan ekspansi perkebunan.


Pada tahun 1860-an, Belanda sedang melakukan ekspansi perkebunan di daerah Sumatera Timur dengan membuka hutan belantara lalu mengubahnya menjadi perkebunan tembakau, karet, kakao, kopi, dan lain sebagainya. Seiring ekspansi perkebunan ini, intervensi birokrasi kekuasaan kolonial pun semakin meningkat di daerah Sumatera Timur. Belanda melakukan tekanan politik kepada kekuasaan-kekuasaan tradisional. Bahkan, apabila ingin melakukan sirkulasi kekuasaan politik, para raja lokal harus mendapat persetujuan Belanda, baik melalui residen maupun asisten residen. Raja-raja di Sumatera Timur pun menjadi bagian dalam birokrasi kolonial. Perusahaan perkebunan Belanda memberikan semacam konsesi yang dibayar kepada kekuasaan lokal. Bayaran itu menjadi sumber pendapatan para raja lokal.


Di tengah ekspansi ini, Tuan Rondahaim dengan tegas menolak tunduk pada Belanda. Ia justru mempersatukan raja-raja lokal dan panglima perang di Simalungun yang waktu itu terpecah-pecah menjadi bagian kecil. Raja-raja yang berhasil dipersatukan antara lain Raja Siantar, Bandar, Sidamanik, Tanah Jawa, Pane, Raya, Purba, Silimakuta, dan Dolok Silau.


Saat itu, Tuan Rondahaim bergelar Raja Goraha, semacam panglima perang kerajaan. Pada tahun 1880-an, Tuan Rondahaim mengadakan pertemuan dengan para raja Simalungun untuk memikirkan ancaman Hindia Belanda yang hendak menguasai Simalungun. Para raja di Simalungun lalu bersepakat untuk menentang Belanda.


Tuan Rondahaim lalu menggalang kekuatan rakyat yang siap bertempur, sekaligus menjaling jejaring politik di Semenanjung Melayu. Ia juga membangun koneksi dengan pialang senjata modern di Penang. Senjata modern dibarter dengan lada, komoditas laris dari pantai timur Sumatera.


Tuan Rondahaim membentuk pasukan tempur dengan dipimpin Panglima Besar Torangin Damanik yang berasal dari Kerajaan Sidamanik. Setelah berhasil melakukan konsolidasi kekuatan, Tuan Rondahaim menyusun strategi perang. Pasukannya mulai menyerang markas-markas Belanda pada waktu-waktu tertentu. Dengan gerilya malam, pasukan Tuan Rondahaim muncul tiba-tiba di hadapan pasukan Belanda. Pasukannya juga melancarkan Perang Raya pada 1887, dengan membakar dan memusnahkan gudang-gudang perkebunan Belanda. Pertempurannya melawan upaya aneksasi Belanda terhadap wilayah kekuasaannya, antara lain terjadi pada 21 Oktober 1887 di Dolok Merawan dan 12 Oktober 1889 di Bandar Padang. Tuan Rondahaim sangat ditakuti Belanda hingga mendapat julukan "Napoleon der Bataks," yang berarti Napoleon-nya orang-orang Batak.


Suatu ketika, Belanda mengajak Tuan Rondahaim untuk berunding di Pelabuhan Matapao. Tuan Rondahaim mencurigai ajakan tersebut. Lalu, ia mengumpulkan pasukannya dan memilih orang yang paling mirip dengannya. Orang itu juga dipakaikan baju raja.


Sesaat sebelum sampai di tempat perundingan, orang yang menyamar menjadi Tuan Rondahaim itu ditembak mati oleh tentara Belanda.



3. Buatkan Gambar dan Infografis tentang 

Akhir Hayat dan Penghargaan 

Tuan Rondahaim Saragih


Pada tahun 1887, pasukan kolonial Belanda berhasil memukul mundur pasukan Partuanan Raya. Sejak serangan ke Bajalinggei pada bulan Februari 1888, tidak ada lagi konflik terbuka antara pasukan kolonial Belanda dengan pasukan Tuan Rondahaim. Selain itu, Tuan Rondahaim juga menghadapi pemberontakan internal di wilayah kekuasaannya. Ada dua orang bangsawan yang menduduki beberapa kampung di wilayah kekuasannya dan melakukan kontak dengan Belanda. Kesehatan Tuan Rondahaim pun berangsur-angsur memburuk. Sekujur tubuhnya membengkak dan tidak dapat diobati oleh satu pun tabib di Raya. 

Pada Juli 1891, Tuan Rondahaim meninggal dunia di Rumah Bolon Raya. Menurut catatan Jaulung Wismar Saragih, kematian Tuan Rondahaim diratapi oleh semua orang di Raya.


Sampai akhir hayatnya, Tuan Rondahaim tidak pernah ditangkap dan tidak pernah menyerah pada kekuasaan Belanda. Namun, setelah Tuan Rondahaim meninggal, tidak ada lagi perlawanan besar dari Simalungun. Raja-raja lokal di Simalungun akhirnya menyatakan tunduk pada Belanda, menjadi bagian dari birokrasi kolonial dan akhirnya menerima uang konsesi dari hasil perkebunan yang digarap perusahaan Belanda.


Penghargaan :


Perwakilan marga Saragih Garingging, Bungaran Saragih, menerima plakat dari Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto (kanan).

Setelah lima tahun diusulkan, Tuan Rondahaim akhirnya ditetapkan menjadi pahlawan nasional di bidang angkatan bersenjata pada 10 November 2025, berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 116/TK/Tahun 2025, yang ditandatangani pada tanggal 6 November 2025.


Bintang Jasa :


Atas jasa-jasanya dalam melawan kolonialisme di Sumatera Timur, Tuan Rondahaim mendapatkan tanda kehormatan berupa Bintang Jasa Utama dari Presiden B.J. Habibie pada 13 Agustus 1999 berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 077/TK/Tahun 1999.


Rumah sakit :


Pemerintah Kabupaten Simalungun menamai rumah sakit daerahnya dengan nama Rumah Sakit Umum Daerah Tuan Rondahaim Saragih untuk mengenang jasa-jasa Tuan Rondahaim.


Nama jalan :


Salah satu ruas jalan di Kota Pematangsiantar dinamai dengan nama Tuan Rondahaim untuk mengenang jasa-jasanya.

214 Syaikhona Muhammad Kholil

 1. Buatkan Gambar dan Infografis tentang 

Kehidupan Awal

Syaikhona Muhammad Kholil


Syaikhona Muhammad Kholil Bangkalan merupakan salah satu ulama besar di Nusantara. Ia lahir pada Rabu malam Kamis, 09 Safar 1252 H/25 Mei 1835 M di Kampung Senenan, Kemayoran, Bangkalan, Madura, Jawa Timur.

Putra dari pasangan KH Abdul Latif dan Nyai Siti Khadijah ini datang ke dunia disambut penuh rasa syukur, terutama karena ayahnya berharap kelak ia dapat meneruskan perjuangan para leluhur yang berkhidmat kepada Islam, termasuk nasab keluarganya yang tersambung hingga Sunan Gunung Jati dan Rasulullah SAW.

Sejak kecil, kecerdasan Syaikhona Kholil tampak menonjol. Di bawah asuhan langsung sang ayah, ia mempelajari dasar-dasar ilmu agama dan akhlak. Kemampuannya menghafal dan memahami teks-teks berat membuatnya berbeda dari anak-anak seusianya.

Dalam usia muda, ia sudah mampu menghafal seribu bait nadzam Alfiyah Ibnu) Malik sekaligus menguasai ilmu nahwu, sharaf, dan fikih dengan sangat cepat. Melihat potensi besar itu, KH Abdul Latif kemudian mengirim putranya ke berbagai pesantren ternama di Madura dan Jawa untuk memperdalam keilmuan.

(Jatim.NU.or.id)


Silsilah Nasab Syaikhona Kholil :

Berdasarkan manuskrip tulisan tangan Syaikhona Kholil, ia menulis silsilah keluarganya hanya sampai 4 generasi di atasnya, yaitu:

1. KH Muharrom

2. KH Abdul Karim

3. KH Hamim

4. KH Abdul Latif

5. Syaikhona Kholil



2. Buatkan Gambar dan Infografis tentang 

Perjalanan Menuntut Ilmu 

Syaikhona Muhammad Kholil


Pendidikan Syaikhona Kholil terbagi dalam dua fase besar. Pertama, Fase Madura-Jawa, di mana ia berguru kepada banyak ulama besar di pesantren-pesantren tradisional. Kedua, Fase Makkah, di mana ia mendalami berbagai cabang ilmu agama kepada para masyayikh di Tanah Suci.

Di Makkah, kecerdasannya semakin diakui. Ia dikenal tekun, disiplin, dan produktif menyalin kitab bahkan dikisahkan ia menyalin Alfiyah untuk menghidupi kebutuhan sehari-hari selama belajar di sana.

Pada 1863 M, berdasarkan perintah gurunya, Syaikhona Kholil pulang ke Madura. Ia kemudian menetap di Jengkebuan, Bangkalan, dan mendirikan pondok pesantren yang kelak menjadi pusat pendidikan Islam.

Santri dari berbagai daerah berdatangan untuk menimba ilmu. Setelah pesantren tersebut berkembang, kepemimpinan dipasrahkan kepada menantunya, KH Muntaha, setelah menikahi putri Syaikhona Kholil, Nyai Hj Hatimah.

Syaikhona Kholil kemudian pindah ke Desa Kademangan (Demangan) yang berjarak sekitar 200 meter dari Alun-alun Bangkalan. Di tempat baru ini, ia membangun kobong, masjid, dan majelis yang menjadi pusat aktivitas dakwah dan pengajaran bagi masyarakat.



3. Buatkan Gambar dan Infografis tentang 

Mahaguru Nusantara dan Karya

Syaikhona Muhammad Kholil


Kedalaman dan keluasan ilmunya membuat Syaikhona Kholil dijuluki Syaikh al-Jawiyyin, mahaguru orang-orang Jawa. Tidak hanya menguasai gramatika Arab, fikih, dan hadis, ia juga dikenal memiliki kepribadian yang kharismatik serta keberkahan (barakah) yang diyakini oleh banyak muridnya.

Sepanjang hidupnya, diperkirakan sekitar 500.000 santri pernah belajar di bawah bimbingannya. Dari jumlah tersebut, tiga ribu lebih menjadi tokoh ulama, kiai, pemimpin masyarakat, serta pendiri pesantren di berbagai wilayah Jawa, Sumatera, dan Madura. Bahkan, lebih dari 200 muridnya berasal dari keturunan Arab mendapat gelar al-‘Allamah, al-Faqih atau al-‘Arif billah, sebagai bukti kedalaman ilmu yang diwariskan kepada mereka.


Karya dan Kontribusi

Syaikhona Kholil tidak hanya dikenal sebagai guru ulama, tetapi juga sebagai penulis yang produktif. Kitab-kitab tersebut masih digunakan dalam pengajian pesantren dan menjadi warisan penting bagi generasi berikutnya.

Beberapa karyanya yang masih dapat dilacak dan dikaji hingga kini antara lain:

 

1. Al-Matnu as-Syarif, kitab fikih ibadah yang ditulis pada 17 Rajab 1299 H dan dicetak di Mesir.

2. As-Silah fi Bayan an-Nikah, panduan fikih tentang pernikahan.

3. Ratib Syaikhona Kholil, wirid dan doa yang disusun dan disebarkan oleh murid-muridnya.

4. Isti’dad al-Maut, kitab yang membahas fikih jenazah dan amal-amal persiapan menghadapi kematian, dan kitab-kitab lainnya.

Kontribusi terbesar Syaikhona Kholil terhadap sejarah Islam Indonesia adalah perannya sebagai inspirator pendirian Nahdlatul Ulama (NU). Meski ia wafat setahun sebelum NU resmi berdiri pada 1926, perannya sangat vital dalam mengarahkan, merestui, dan memberikan pondasi pemikiran bagi para pendiri NU seperti KH M Hasyim Asy’ari, KH Abdul Wahab Hasbullah, hingga KH As’ad Syamsul Arifin.

Pada sekitar tahun 1920, sebanyak 66 ulama se-Nusantara berkumpul di Bangkalan untuk meminta petunjuk kepada Syaikhona Kholil terkait kemunculan aliran baru yang dianggap mengancam ajaran Ahlussunnah wal Jamaah. Pandangan, sikap, dan restu Syaikhona Kholil inilah yang kemudian menjadi kekuatan lahirnya organisasi NU sebagai benteng ajaran Islam moderat khas Nusantara.



4. Buatkan Gambar dan Infografis tentang 

Akhir Hayat 

Syaikhona Muhammad Kholil


Syaikhona Muhammad Kholil wafat pada 29 Ramadhan 1343 H / 1925 M. Wafatnya meninggalkan duka mendalam bagi umat Islam di Nusantara. Lebih dari 500.000 orang hadir mengiringi prosesi pemakamannya. Makamnya di kompleks Martajasah hingga kini menjadi salah satu tempat ziarah ulama, santri, dan masyarakat luas.

Syaikhona Muhammad Kholil Bangkalan adalah ulama agung yang ilmu, karya, dan pengaruhnya melintasi zaman. Sebagai guru besar ulama Nusantara, inspirator lahirnya Nahdlatul Ulama, pendidik ribuan tokoh masyarakat, serta penopang ajaran Ahlussunnah wal Jamaah di Nusantara, ia sangat layak dikenang dan dihormati sebagai Pahlawan Nasional, melalui Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 116/TK/Tahun 2025 yang disahkan pada 6 November 2025 dan diumumkan oleh Presiden Prabowo Subianto pada 10 November 2025. 

Beliau adalah ulama besar asal Bangkalan, Madura, yang sangat berjasa besar bagi dunia pendidikan Islam di Indonesia.

213 Sultan Mohammad Salahuddin

 1. Buatkan Gambar dan Infografis tentang 

Kehidupan Awal

Sultan Mohammad Salahuddin


Bagi masyarakat Bima, ada dua cita-cita besar yang telah mengakar kuat selama berabad-abad yaitu, menyekolahkan anak dan menunaikan ibadah haji. Kedua cita-cita itu tidak dipandang sekadar sebagai capaian sosial, tetapi sebagai bentuk jihad fisabilillah yang menjadi orientasi hidup orang-orang tua Bima. Pandangan ini mencerminkan karakter masyarakat Bima yang religius, pantang menyerah, dan berpegang pada prinsip “harta dan pusaka terbaik adalah kemauan serta kesabaran.”


Dalam kehidupan sehari-hari, prinsip itu terwujud melalui etos kerja yang kuat seperti berdagang, bertani, beternak, bekerja serabutan, atau menjadi buruh tani, selama halal dan dapat mengantarkan keluarga pada pendidikan dan ibadah. Sejarah juga mencatat bahwa jauh sebelum sistem pendidikan modern hadir, masyarakat Bima telah mengirimkan anak-anaknya ke Tanah Arab untuk belajar agama. Tradisi intelektual dan keislaman ini menandai bahwa Bima bukan hanya wilayah pinggiran, tetapi salah satu pusat aktivitas keilmuan dan dakwah Islam di timur Nusantara. Di dalam lingkungan sosial dan religius seperti itulah Sultan Muhammad Salahuddin tumbuh dan kelak memimpin Kesultanan Bima.


Sultan Muhammad Salahuddin lahir pada 14 Juli 1889 (15 Zulhijjah 1306 H) sebagai putra mahkota dari Sultan Ibrahim. Ia memimpin Kesultanan Bima dalam salah satu masa paling dinamis dalam sejarah Nusantara yaitu ketika kolonialisme, pergerakan nasional, dan gagasan pembaruan Islam bertemu dan saling bersinggungan. Setelah wafat pada 11 Juli 1951, Sultan Muhammad Salahuddin diberi gelar Makakidi Agama, yaitu sebuah pengakuan atas kedalaman ilmu agama, komitmen terhadap dakwah, dan kesalehan pribadinya.


Sejak muda, Sultan telah menunjukkan minat yang sangat besar terhadap ilmu agama, politik, dan pemerintahan. Ia mempelajari Al-Qur’an, hadis, tauhid, dan siasat politik dari ulama istana serta dari ulama yang didatangkan khusus dari Batavia dan Mekkah. Ia dikenal rajin membaca, tekun belajar, dan memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, ciri-ciri yang menunjukkan orientasi modernis dalam berpikir, sebuah karakter yang selaras dengan arus pembaruan Islam di awal abad ke-20.


Dalam memimpin, Sultan dikenal sederhana, jujur, dan sangat menghargai nilai-nilai keadilan. Ia meyakini bahwa semua tantangan dapat dihadapi melalui perjuangan dan kesabaran, nilai yang menjadi inti dari etos masyarakat Bima sekaligus prinsip etika Islam.



2. Buatkan Gambar dan Infografis tentang 

Perjuangan Pendidikan 

Sultan Mohammad Salahuddin


Pendidikan Bima Sebelum Sultan


Sebelum modernisasi pendidikan hadir, sistem pendidikan di Bima didominasi oleh pendidikan non-formal yang berbasis pada tradisi Islam. Pengajaran agama dilaksanakan di rumah-rumah, masjid, langgar, surau, atau musholla. Para mubaligh menjadi motor penyebaran ilmu agama, menyampaikan pelajaran fikih, tauhid, tafsir sederhana, serta tradisi dakwah yang menjangkau desa-desa. Di lingkungan istana, setiap malam Jumat diadakan pengajaran agama khusus bagi keluarga bangsawan. Sistem pendidikan seperti ini mirip dengan tradisi pesantren, meski dalam bentuk yang lebih sederhana. Model tersebut menciptakan fondasi yang kuat bagi lahirnya kecerdasan spiritual masyarakat Bima dan menjadi latar yang subur bagi kehadiran pembaruan pendidikan di masa Sultan Muhammad Salahuddin.


Ketika memasuki abad ke-20, dunia Islam mengalami gelombang pembaruan yang dipimpin tokoh-tokoh seperti Muhammad Abduh di Mesir. Di Nusantara, Muhammadiyah yang berdiri pada tahun 1912 menjadi salah satu pelopor pembaruan pendidikan dengan menekankan rasionalisme, purifikasi akidah, serta pentingnya ilmu pengetahuan modern. Gerakan inilah yang memiliki relevansi kuat dengan model pendidikan yang dikembangkan Sultan Salahuddin. Adapun relevansinya adalah seperti:


1. Pendirian Sekolah Modern


Pada tahun 1921, Sultan Muhammad Salahuddin mendirikan Hollandsch Inlandsche School (HIS) di Raba, yaitu sebuah sekolah modern yang bertujuan agar masyarakat Bima tidak tertinggal dalam ilmu pengetahuan umum. Setahun kemudian, ia mendirikan Sekolah Kejuruan Wanita (Kopschool). Keputusan ini mencerminkan keberanian Sultan dalam memperjuangkan pendidikan perempuan dan hak egalitarian sesame manusia. Nilai yang sangat sejalan dengan gagasan Muhammadiyah yang sejak awal menolak diskriminasi pendidikan berdasarkan jenis kelamin. Untuk pemerataan pendidikan, Sultan juga mendirikan sekolah agama setingkat Ibtidaiyah yang dinamakan “Sakolah Kita” (Sekolah Kitab), serta sekolah umum “Sekolah Desa”, yang kemudian berkembang menjadi Sekolah Rakyat (setingkat SD). Dengan demikian, pendidikan yang dirintis Sultan menyentuh seluruh lapisan masyarakat, baik bangsawan maupun rakyat biasa.


2. Tantangan Sosial dan Respons Cerdas Sultan Muhammad Salahuddin


Masyarakat Bima yang sangat religius awalnya mencurigai pendidikan kolonial Belanda yang dianggap Dou Kafi. Yaitu mereka khawatir pendidikan modern akan menjauhkan anak-anak dari agama. Dalam meredam stigma dan resistensi ini, Sultan mengambil langkah strategis yang visioner yaitu ia mendatangkan guru-guru Muslim berjiwa nasionalis dari Makassar, Jawa, dan daerah lain. Bahkan guru non-Muslim pun dipilih dari kalangan yang memiliki kecintaan pada Indonesia. Langkah ini bukan hanya meredakan kecurigaan masyarakat, tetapi juga menumbuhkan semangat kebangsaan yang tidak membeda-bedakan suku dan agama. Strategi ini sejalan dengan ajaran Muhammadiyah yang memadukan nasionalisme, purifikasi, dan modernisme dalam satu nafas.


3. Keterlibatan Tokoh Muhammadiyah


Hubungan antara Kesultanan Bima dan Muhammadiyah menjadi semakin kuat ketika Abdul Wahid Karim yang merupakan tokoh muda Muhammadiyah asal Sumatra Barat datang ke Bima dan mendirikan Madrasah Darul Tarbiyah pada 1931 bersama Ruma Bicara Abdul Hamid. Sultan tidak hanya mendukung, tetapi turut menyumbang dana dan fasilitas. Ini menjadi bukti bahwa Sultan menyambut baik gerakan modernisme Islam yang ditawarkan Muhammadiyah. Pada tahun 1934, Sultan kembali mendirikan Madrasah Darul Ulum bersama ulama dari Batavia, Syekh Husain Saychab. Dua institusi ini menjadi pusat kajian Islam modern sekaligus tempat lahirnya kader-kader pembaruan yang kelak terlibat dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia.


4. Beasiswa, Kaderisasi, dan Warisan Kemajuan


Di antara kebijakan paling progresif Sultan Muhammad Salahuddin adalah pemberian beasiswa bagi pelajar berprestasi. Beasiswa ini diberikan tanpa memandang status sosial atau jenis kelamin suatu praktik yang sangat revolusioner pada zamannya. Para penerima beasiswa dikirim belajar ke Makassar, Jawa, bahkan hingga Timur Tengah. Banyak dari mereka yang kelak kembali menjadi pemimpin, ulama, pendidik, serta tokoh perjuangan dalam revolusi kemerdekaan. Di sinilah terlihat dengan jelas bahwa model pendidikan Sultan Muhammad Salahuddin tidak hanya mencetak intelektual, tetapi juga membentuk karakter dan kepemimpinan. Inilah Velue yang sejalan dengan visi pendidikan Muhammadiyah.


Walaupun Sultan memajukan pendidikan modern, ia tidak pernah menghilangkan tradisi keagamaan lokal. Sistem “ngaji karo’a” tetap dipertahankan. Sistem ini mengharuskan anak-anak usia 5–6 tahun mempelajari Al-Qur’an selama tiga tahun hingga khatam 30 juz. Puncaknya adalah “khafa karo’a,” yaitu upacara khataman yang sering disertai khitanan. Selain itu, pengajian fikih, tasawuf, dan hukum Islam di masjid dan langgar tetap berjalan dengan baik. Harmoni antara modernisasi dan tradisi inilah yang menjadi kekuatan pendidikan Bima pada masa Sultan Muhammad Salahuddin.


Selain itu, Sultan Muhammad Salahuddin bukan hanya pemimpin politik, tetapi pembaharu pendidikan Islam yang visioner. Ia berhasil memadukan tradisi keislaman lokal dengan modernitas pendidikan yang diusung oleh gerakan-gerakan reformis seperti Muhammadiyah. Jejaknya terlihat dalam sistem pendidikan Bima yang berkembang pesat, keterlibatan ulama-ulama modernis, serta meluasnya semangat kebangsaan dan keilmuan di tengah masyarakat.




3. Buatkan Gambar dan Infografis tentang 

Kebijakan “Nika Baronta” dan Penuh Toleransi 

Sultan Mohammad Salahuddin


Sultan Muhammad Salahuddin Dikenang karena Kebijakan “Nika Baronta”


Sultan Muhammad Salahuddin juga dikenang karena kebijakan “Nika Baronta” atau kawin berontak pada masa pendudukan Jepang. Saat itu, ia memerintahkan agar para gadis Bima segera dinikahkan untuk menghindari ancaman dijadikan Jugun Ianfu.


“Kebijakan tersebut berhasil menyelamatkan ribuan perempuan Bima dari kekejaman tentara Jepang. Bima menjadi satu-satunya daerah di Nusantara dan bahkan Asia tanpa perempuan yang dijadikan budak seks pada masa itu,” sebutnya.


Selain itu, Sultan juga memperjuangkan pendidikan perempuan. Ia mendirikan Sekolah Kejuruan Wanita (Kopschool) di Raba pada tahun 1922. Sultan juga mendorong lahirnya organisasi perempuan seperti Aisyiyah dan Rukun Wanita.


‘’Dalam bidang pendidikan, Sultan Muhammad Salahuddin dikenal sangat visioner. Ia mendirikan puluhan sekolah di berbagai penjuru Bima, termasuk Sekolah Agama Darul Ulum. Ia juga memberi beasiswa kepada rakyatnya untuk menuntut ilmu ke Makkah, Madinah, Makassar, dan Yogyakarta. Sultan bahkan membeli rumah di Makkah untuk dijadikan asrama bagi pelajar dan jamaah haji asal Bima,” ujarnya.


Warisan intelektualnya masih bisa ditemukan di Museum Samparaja, berupa kitab-kitab dan naskah khutbah Jumat yang ditulis langsung oleh tangan beliau. Salah satu karya pentingnya adalah Kitab Nurul Mubin, yang diterbitkan pada 1932.


Pemimpin yang Menjunjung Tinggi Nilai Toleransi


Sultan Muhammad Salahuddin juga dikenal sebagai pemimpin yang menjunjung tinggi nilai toleransi. “Ia memberikan tanah kesultanan untuk pembangunan gereja di Raba dan mengajarkan rakyatnya untuk saling menghormati perbedaan keyakinan. Wilayah Donggo, yang dikenal sebagai daerah multikepercayaan, hingga kini menjadi simbol harmoni yang diwariskan dari masa kepemimpinannya,” ujar  Dewi.


Selain itu, dikatakan juga, ia mendukung berdirinya organisasi keagamaan seperti Nahdlatul Ulama (NU) di Bima pada tahun 1936 bersama Syekh Hasan Syekh Ab dari Batavia. Dia sekaligus menjadi ketua pertamanya di Bima.





4. Buatkan Gambar dan Infografis tentang 

Pasca Kemerdekaan 

Sultan Mohammad Salahuddin


Sultan Muhammad Salahuddin dikenal sebagai salah satu raja pertama di Indonesia yang secara terbuka menyatakan dukungan kepada Republik Indonesia yang baru berdiri. Pada 22 November 1945, ia mengeluarkan Maklumat Kerajaan Bima. Hal ini menegaskan bahwa Bima adalah daerah istimewa yang berdiri di belakang Pemerintah Republik Indonesia.


Langkah itu menunjukkan keberanian besar di tengah situasi politik yang belum stabil pasca-kemerdekaan. Presiden RI, Soekarno bahkan secara khusus datang ke Bima pada 13 November 1950. Dia menyampaikan terima kasih dan penghargaan atas kesetiaan Sultan dan rakyat Bima terhadap Republik Indonesia.


“Berdasarkan catatan sejarah, Presiden Soekarno dalam kunjungannya mengatakan, kami datang untuk menyampaikan penghargaan. Ini untuk Sultan Muhammad Salahuddin dan rakyat Bima yang setia kepada Republik Indonesia,’’ tutur Dewi Ratna Muchlisa.




5. Buatkan Gambar dan Infografis tentang 

Akhir Hayat dan Penghargaan 

Sultan Mohammad Salahuddin


Ketika wafat di Jakarta pada 14 Juli 1951, Presiden Soekarno memberikan penghormatan kenegaraan kepada Sultan Muhammad Salahuddin. Jenazahnya disemayamkan di Gedung Proklamasi Pegangsaan Timur 56, tempat bersejarah pembacaan Teks Proklamasi. Presiden Soekarno bahkan menyebutnya sebagai “pahlawan sejati dari Timur Nusantara.”


“Sultan kemudian dimakamkan di TPU Karet Bivak Jakarta. Ia diberi status khusus dan dibebaskan dari pajak makam untuk selamanya. Ia diizinkan memiliki ornamen atap khas kerajaan, sebuah kehormatan yang tak diberikan kepada sembarang tokoh,” tutur Dewi.


Kini, setelah lebih dari tujuh dekade, pengakuan negara datang juga. Sosok Sultan Muhammad Salahuddin bukan sekadar bagian dari sejarah Bima, tapi bagian dari sejarah besar Indonesia.


“Beliau bukan hanya milik Bima, tapi milik seluruh bangsa. Semangat nasionalismenya menjadi teladan abadi bagi generasi muda Indonesia,” tutup Dewi. (Suara NTB)


Penetapan Sultan Muhammad Salahuddin sebagai Pahlawan Nasional oleh Pemerintah Republik Indonesia bukan hanya bentuk penghargaan atas jasa seorang tokoh besar asal Bima, tetapi juga menjadi momentum kebangkitan nilai perjuangan, budaya, dan jati diri masyarakat Mbojo.


Pemerintah Kota Bima menyambut dengan penuh rasa syukur dan bangga keputusan tersebut, karena mengukuhkan peran Bima dalam perjalanan sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Sultan Muhammad Salahuddin dikenal sebagai pemimpin yang visioner, berjiwa nasionalis, dan berperan penting dalam menanamkan nilai kemerdekaan serta semangat pendidikan di tanah Mbojo.


Sultan Muhammad Salahuddin bukan hanya pemimpin politik, tetapi pembaharu pendidikan Islam yang visioner. Ia berhasil memadukan tradisi keislaman lokal dengan modernitas pendidikan yang diusung oleh gerakan-gerakan reformis seperti Muhammadiyah. Jejaknya terlihat dalam sistem pendidikan Bima yang berkembang pesat, keterlibatan ulama-ulama modernis, serta meluasnya semangat kebangsaan dan keilmuan di tengah masyarakat.


Warisan Sultan Muhammad Salahuddin mengajarkan bahwa modernisasi Islam bukan berarti meninggalkan tradisi, tetapi menghidupkan kembali nilai-nilai dasar Islam melalui pendidikan, ilmu pengetahuan, dan kesadaran kebangsaan. Dari timur Nusantara, ia menjadi salah satu figur yang menyalakan cahaya pembaruan Islam, cahaya yang tetap menyala hingga kini. Atas kiprahnya yang luar biasa, pada 10 November 2025, Presiden Prabowo Subianto memberikan gelar Pahlawan Nasional kepada Muhammad Salahuddin, berdasarkan Keputusan Presiden (Keppres) Republik Indonesia Nomor 116/TK/Tahun 2025 yang ditandatangani pada 6 November 2025.

(suara Muhammadiyah)

212 Sarwo Edhie Wibowo

 1. Buatkan Gambar dan Infografis tentang

Biodata, Awal kehidupan, dan Keluarga 

Sarwo Edhie Wibowo


Informasi pribadi

Lahir :

25 Juli 1927

Purworejo, Hindia Belanda

Meninggal :

9 November 1989 (umur 62)

Jakarta, Indonesia

Makam :

Pangenjurutengah, Purworejo, Jawa Tengah

Istri :

Sunarti Sri Hadiyah ​(menikah 1949)​

Hubungan :

Susilo Bambang Yudhoyono (menantu)

Erwin Sudjono (menantu)

Hadi Utomo (menantu)

Anak :

7, termasuk Kristiani Herrawati, Pramono Edhie Wibowo, Hartanto Edhie Wibowo

Orang tua :

Raden Kartowilogo (ayah)

Raden Ayu Sutini (ibu)

Pekerjaan

Perwira Angkatan Darat -  Diplomat


Awal kehidupan :

Ia lahir pada tanggal 25 Juli 1927 di Pangenjuru, Purworejo dari pasangan Raden Kartowilogo dan Raden Ayu Sutini berasal dari keluarga PNS bekerja untuk Pemerintah Kolonial Belanda. dan kemudian diberi nama Edhie. Namun karena sering sakit sakitan sesuai dengan adat Jawa, nama Edhie pundi ditambah Dengan Sarwo. Dan akhirnya namanya menjadi Sarwo Edhie, bahkan setelah menikah namanya menjadi Sarwo Edhie Wibowo. Sesuai pesan ayahnya, dengan harapan kelak ia memiliki kewibawaan. Meski berdarah bangsawan. Edhie tak segan-segan mengikuti permainan anak desa. Orangtuanya tidak pernah mengajarkan perbedaan kedudukan dengan orang lain. Sebagai seorang anak, ia belajar silat sebagai bentuk pertahanan diri. Saat ia tumbuh, Sarwo Edhie membentuk kekaguman terhadap Tentara Jepang dan kemenangan mereka melawan Pasukan Sekutu yang ditempatkan di Pasifik dan Asia.

Pada tahun 1942, ketika Jepang menguasai Indonesia, Sarwo Edhie pergi ke Surabaya untuk mendaftarkan diri sebagai prajurit Pembela Tanah Air (PETA), yang merupakan kekuatan tambahan Jepang yang terdiri dari tentara Indonesia.

Sarwo Edhie kecewa karena tugas-tugasnya selama periode ini sebagian besar hanya memotong rumput, membersihkan toilet, dan membuat tempat tidur bagi perwira Jepang. 

Ketika dia berlatih, Sarwo Edhie harus menggunakan senjata kayu. Setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945, Sarwo Edhie bergabung dengan BKR, sebuah organisasi milisi yang akan menjadi cikal bakal ABRI (Tentara Nasional Indonesia saat ini) dan membentuk batalion. Namun, usaha itu gagal dan batalion bubar.

Teman satu kampung halamannya, Ahmad Yani yang mendorongnya untuk terus menjadi seorang tentara dan mengundangnya untuk bergabung dengan Batalion di Magelang, Jawa Tengah.


Kehidupan pribadi :

Sarwo Edhie menikah dengan Sunarti Sri Hadiyah binti Danu Sunarto, mereka mempunyai 7 anak: Widjiasih Tjahjasasi, Wirahasti Tjendrawasih, Kristiani Herrawati, Mastuti Rahaju, Pramono Edhie Wibowo, Retno Tjahjaningtyas dan Hartanto Edhie Wibowo. 

Susilo Bambang Yudhoyono, Presiden keenam Republik Indonesia, adalah menantunya yang menikah dengan Kristiani Herrawati.



2. Buatkan Gambar dan Infografis tentang

Karier militer

Sarwo Edhie Wibowo


Karier hingga 1965 :

Karier Sarwo Edhie di ABRI, dia pernah menjadi Komandan Batalion di Divisi Diponegoro (1945—1951), Komandan Resimen Divisi Diponegoro (1951—1953), Wakil Komandan Resimen di Akademi Militer Nasional (1959—1961), Kepala Staf Resimen Pasukan Komando (RPKAD) (1962—1964), dan Komandan RPKAD (1964—1967).

RPKAD adalah usaha Indonesia untuk menciptakan sebuah unit pasukan khusus (yang kemudian akan menjadi Kopassus) dan pengangkatan Sarwo Edhie sebagai komandan unit elit ini berkat Ahmad Yani. Pada tahun 1964, Yani telah menjadi Kepala Staf Angkatan Darat dan menginginkan seseorang yang bisa dia percaya sebagai Komandan RPKAD.


Gerakan G30S :

Selama Sarwo Edhie menjadi Komandan RPKAD Gerakan 30 September terjadi.

Pada pagi hari tanggal 1 Oktober 1965, enam jenderal, termasuk Ahmad Yani diculik dari rumah mereka dan dibawa ke Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma. Sementara proses penculikan sedang dieksekusi, sekelompok pasukan tak dikenal menduduki Monumen Nasional (Monas), Istana Kepresidenan, Radio Republik Indonesia (RRI), dan gedung telekomunikasi.

Hari dimulai seperti biasanya bagi Sarwo Edhie dan pasukan RPKAD yang sedang menghabiskan pagi mereka di markas RPKAD di Cijantung, Jakarta. 

Kemudian Kolonel Herman Sarens Sudiro tiba. Sudiro mengumumkan bahwa ia membawa pesan dari markas Kostrad dan menginformasikan kepada Sarwo Edhie tentang situasi di Jakarta. Sarwo Edhie juga diberitahu oleh Sudiro bahwa Mayor Jenderal Soeharto yang menjabat sebagai Panglima Kostrad diasumsikan akan menjadi pimpinan Angkatan Darat. 

Setelah memberikan banyak pemikirannya, Sarwo Edhie mengirim Sudiro kembali dengan pesan bahwa ia akan berpihak dengan Soeharto.

Setelah Sudiro pergi, Sarwo Edhie dikunjungi oleh Brigjen Sabur, Komandan Cakrabirawa. Sabur meminta Sarwo Edhie untuk bergabung dengan Gerakan G30S. 

Sarwo Edhie mengatakan kepada Sabur dengan datar bahwa ia akan memihak Soeharto.

Pada pukul 11:00 siang hari itu, Sarwo Edhie tiba di markas Kostrad dan menerima perintah untuk merebut kembali gedung RRI dan telekomunikasi pada pukul 06:00 petang (batas waktu dimana pasukan tak dikenal diharapkan untuk menyerah). Ketika pukul 06:00 petang tiba, Sarwo Edhie memerintahkan pasukannya untuk merebut kembali bangunan yang ditunjuk. Hal ini dicapai tanpa banyak perlawanan, karena pasukan itu mundur ke Halim dan bangunan diambil alih pada pukul 06:30 petang.

Dengan situasi di Jakarta yang aman, mata Soeharto ternyata tertuju ke Pangkalan Udara Halim. 

Pangkalan Udara adalah tempat para Jenderal yang diculik dan dibawa ke basis Angkatan Udara yang telah mendapat dukungan dari gerakan G30S. Soeharto kemudian memerintahkan Sarwo Edhie untuk merebut kembali Pangkalan Udara. 

Memulai serangan mereka pada pukul 2 dinihari pada 2 Oktober, Sarwo Edhie dan RPKAD mengambil alih Pangkalan Udara pada pukul 06:00 pagi.


Genosida 1965 :

Pada tanggal 19 November 1965, Kedutaan Australia dengan bangga melaporkan aksi pembunuhan terhadap 3.000.000 (tiga juta) -pengakuan Kolonel Sarwo Edhi Wibowo sendiri- yang dipimpin oleh perwira lulusan latihan Australia, lulusan angkatan 1964 setelah 18 bulan latihan di Staf Akademi Militer di Wueensliff, dekat Melbourne.

Hanya satu tahun setelah lulus latihan dari Australia, Barack Obama menulis dalam The Audicity of Hope: Thoughts on Reclaiming the American Dream (2006) bahwa Sarwo Edhi memimpin 400 pasukan RPKAD (Resimen Para Komando Angkatan Darat, sekarang dikenal sebagai Kopassus-Komando Pasukan Khusus), melakukan pembersihan di Jawa Tengah untuk memburu dan menghabisi lawan-lawannya.

Ada banyak perkiraan mengenai jumlah orang yang tewas selama berbulan-bulan. Jumlah perkiraan awal sedikitnya setengah juta orang dan satu juta orang paling banyak menjadi korban.

Pada bulan Desember 1965, angka yang diberikan kepada Soekarno adalah 78.000 meskipun setelah ia jatuh, hal itu direvisi menjadi 780.000. 

Angka 78.000 itu adalah sebuah cara untuk menyembunyikan jumlah korban tewas dari Soekarno. Spekulasi terus berlanjut sepanjang tahun, mulai dari 60.000 sampai 1.000.000. 

Meskipun konsensus tampaknya telah menetapkan sekitar 400.000 jiwa.

Akhirnya, pada tahun 1989, sebelum kematiannya, Sarwo Edhie memberi pengakuan kepada anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) bahwa 3 juta orang tewas dalam pertumpahan darah ini.


Transisi dari Orde Lama ke Orde Baru :

Setelah mengambil alih Pangkalan Udara Halim, Sarwo Edhie bergabung dengan Soeharto karena keduanya dipanggil ke Bogor oleh Presiden Soekarno. 

Sementara Soeharto diperingatkan oleh Soekarno karena mengabaikan perintahnya, Sarwo Edhie terkejut dengan ketidakpekaan Soekarno dengan kematian enam Jenderal. 

Sarwo Edhi bertanya "Di mana para Jenderal?", Sukarno menjawab "Bukankah ini hal yang normal dalam revolusi?".

Pada tanggal 4 Oktober 1965, pasukan Sarwo Edhie memimpin penggalian dari mayat para jenderal dari sumur Lubang Buaya.

Pada tanggal 16 Oktober 1965, Soeharto diangkat menjadi Panglima Angkatan Darat oleh Soekarno. Pada saat itu, Partai Komunis Indonesia (PKI) telah dituduh sebagai penyebab dari G30S dan sentimen anti-Komunis telah membangun cukup untuk mendapatkan momentum. 

Sarwo Edhie diberi tugas melenyapkan anggota PKI di lahan subur komunis di Jawa Tengah. 

Hal ini akan mengakibatkan terjadinya pembunuhan massal pada bulan Oktober-Desember 1965 di Jawa, Bali, dan beberapa bagian dari Sumatra.

Pada awal tahun 1966, sentimen anti-Komunis dikombinasikan dengan tingkat inflasi yang tinggi menyebabkan Soekarno mulai kehilangan popularitasnya di mata Rakyat. 

Saat itu terjadi protes anti-Soekarno, yang dipimpin oleh gerakan pemuda seperti dari Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI). 

Pada 10 Januari 1966, KAMI mengeluarkan tiga tuntutan kepada Soekarno. Mereka ingin PKI harus dilarang, simpatisan PKI dalam Kabinet ditangkap, dan harga-harga harus diturunkan.

Soeharto menyadari pentingnya dalam menyelaraskan Angkatan Darat dengan para pengunjuk rasa. Selama bulan-bulan pertama tahun 1966, Sarwo Edhie bersama-sama dengan Kepala Staf Kostrad, Kemal Idris aktif menyelenggarakan dan mendukung protes sementara membuat nama untuk dirinya sendiri di antara para pengunjuk rasa KAMI dalam proses.

Pada 26 Februari 1966, KAMI secara resmi dilarang oleh Soekarno tetapi dengan dorongan dari Sarwo Edhie dan Kemal mereka masih terus memprotes. Dalam menunjukkan solidaritas dengan mahasiswa, Sarwo Edhie terdaftar di Universitas Indonesia.

Meskipun ia tumbuh menjadi lawan politik terbesar Soekarno, Soeharto, seorang tradisionalis Jawa yang kuat, selalu berhati-hati untuk menghindari menantang Soekarno secara langsung.

Namun pada Maret 1966, ia siap untuk memaksa Soekarno. Pada awal bulan, ia memerintahkan RPKAD untuk menangkap simpatisan PKI dalam kabinet Soekarno. Suharto berubah pikiran di menit terakhir, berpikir bahwa keamanan Soekarno mungkin dapat dikompromikan. Namun, itu sudah terlambat untuk menarik perintah.

Pada pagi hari 11 Maret 1966, pada saat rapat kabinet di mana Soeharto tidak hadir, Sarwo Edhie dan pasukannya mengepung Istana Presiden tanpa identifikasi. Soekarno, takut dirinya dievakuasi ke Bogor. Kemudian pada hari itu juga ia mentransfer kekuasaan eksekutifnya kepada Soeharto melalui surat yang disebut Supersemar.

Pada tahun 1967, Sarwo Edhie dipindahkan ke Sumatra dan menjadi Panglima Kodam II/Bukit Barisan. Di Sumatra, Sarwo Edhie lanjut melemahkan kekuasaan Soekarno dengan melarang Partai Nasional Indonesia (PNI) di seluruh pulau.


Penentuan Pendapat Rakyat :

Untuk hal ini, Sarwo Edhie dipindahkan ke Irian Barat untuk menjadi Panglima Kodam XVII/Cendrawasih. Ia memimpin di sana hingga terselenggaranya "Penentuan Pendapat Rakyat", di mana Indonesia menganeksasi wilayah tanpa memegang referendum penuh, Sarwo Edhie memainkan peran utama dalam menghancurkan resistensi Papua.



3. Buatkan Gambar dan Infografis tentang

Akhir Hayat dan Penghargaan 

Sarwo Edhie Wibowo


Sarwo Edhie meninggal pada 9 November 1989 pada usia 62 tahun karena penyebab alami. Ia dimakamkan di daerah asalnya di tempat pemakaman keluarga Purworejo tepatnya di Kampung Ngupasan, Kelurahan Pangenjurutengah, Purworejo, Jawa Tengah.

Ia memiliki peran yang sangat besar dalam penumpasan Pemberontakan Gerakan 30 September dan bertanggungjawab terhadap Genosida 1965 di beberapa daerah di Jawa Tengah dan Timur dalam posisinya sebagai panglima RPKAD (atau disebut Kopassus pada saat ini). Selain itu ia pernah menjabat juga sebagai Ketua BP-7 Pusat, Duta besar Indonesia untuk Korea Selatan serta menjadi Gubernur AKABRI.

Pada 10 November 2025, Presiden Prabowo Subianto memberikan gelar Pahlawan Nasional kepada Sarwo Edhie Wibowo, dalam bidang Perjuangan Bersenjata melalui Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 116/TK/Tahun 2025.


Penerima Penghargaan :

Menko Infrastruktur dan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menilai penganugerahan gelar pahlawan nasional terhadap kakeknya, Sarwo Edhie Wibowo, sebagai bentuk kehormatan luar biasa. AHY berterima kasih kepada Presiden Prabowo Subianto.

"Kami keluarga besar Sarwo Edhie Wibowo mengucapkan terima kasih yang setinggi-tingginya kepada Bapak Presiden Prabowo Subianto dan pemerintah yang telah menganugerahkan anugerah Pahlawan Nasional ini. Ini adalah sebuah kehormatan yang luar biasa atas jasa dan pengabdian beliau sebagai seorang prajurit," kata AHY kepada wartawan di kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (10/11/2025, 

(Kutipan detikNews).

AHY menyebut kakeknya memiliki peran penting dalam penumpasan G30S PKI. Sarwo Edhie bahkan memimpin langsung operasi penumpasan di Jakarta dan Jawa Tengah.

"Dan ketika itu, beliau memiliki jasa yang penting dalam pemberantasan G30S PKI. Ini sudah tentunya menjadi pengingat kepada kami semua keluarga besar dan generasi penerus untuk bisa melanjutkan segala legacy dan sekaligus cita-cita dan nilai-nilai perjuangan beliau semasa hidupnya," ujarnya.

AHY mengungkap sosok Sarwo Edhie yang sederhana tetapi memiliki nilai dan prinsip yang kuat baik dalam kepemimpinan maupun dalam memaknai kehidupan. Dia lantas mengingat pesan kakeknya itu untuk berani dalam menegakkan kebenaran.

"Beliau selalu mengajarkan kepada kami anak cucunya untuk terus menegakkan kebenaran di atas jalan Tuhan. Itu kalimat yang selalu terkenal dalam hati dan pikiran kami semua. Menegakkan kebenaran di atas jalan Tuhan artinya kita harus memiliki keberanian untuk memperjuangkan kebenaran dan keadilan untuk negeri ini untuk masyarakat," ujarnya.

Sarwo Edhie Wibowo telah diusulkan menerima gelar pahlawan sejak tahun 2013, khususnya masyarakat dan pemerintah daerah Purworejo, Jawa Tengah.

211 Hj. Rahmah El Yunusiyyah

1. Buatkan Gambar dan Infografis tentang 

Kehidupan awal,  keluarga, dan Pendidikan 

Hajjah Rahmah El Yunusiyyah


Informasi Pribadi 

Lahir :

26 Oktober 1900

Nagari Bukit Surungan, Padang Panjang, Hindia Belanda

Meninggal :

26 Februari 1969 (umur 68)

Padang Panjang, Sumatera Barat, Indonesia

Dikenal atas :

Pendiri Diniyah Putri

Partai politik :

Masyumi

Orang tua :

Muhammad Yunus (ayah)

Rafia (ibu)

Kerabat :

Zainuddin Labay El Yunusy (abang)

Isnaniah Saleh (sepupu)


Kehidupan awal dan keluarga

Rahmah El Yunusiyah lahir pada 26 Oktober 1900 [Kalender Hijriyah: 1 Rajab 1318] di Nagari Bukit Surungan, Padang Panjang.

Ia adalah anak bungsu dari pasangan Muhammad Yunus al-Khalidiyah bin Imanuddin dan Rafia, memiliki dua kakak perempuan dan dua kakak laki-laki.

Keluarga itu adalah penganut agama yang taat. Yunus adalah seorang ulama yang pernah menuntut ilmu di Makkah selama empat tahun. Ia bekerja sebagai qadi di Pandai Sikek.

Istri Yunus, Rafia masih keturunan Haji Miskin, pemimpin Perang Padri pada awal abad ke-19. Rafia memiliki saudara seorang bidan bernama Kudi Urai, yang membantunya saat melahirkan Rahmah.

Mengikuti adat matrilineal, Rahmah bersuku Sikumbang yang dikepalai Datuk Bagindo Marajo. Nenek moyangnya berasal dari Nagari Ampek Angkek.

Dalam usia 60 tahun, Yunus wafat meninggalkan Rahmah yang masih berusia enam tahun. Keluarganya memilihkan salah seorang murid Yunus sebagai guru mengaji Rahmah. Dua abangnya yang pernah belajar di Sekolah Desa mengajarkan Rahmah baca tulis Arab dan Latin. Di bawah asuhan ibu dan kakak-kakaknya, Rahmah tumbuh sebagai anak yang keras hati dan memiliki kemauan kuat. Lewat kepandaian membaca, ia mempelajari buku-buku yang dimiliki dan ditulis abangnya, Zainuddin Labay El Yunusy. Menginjak usia 10 tahun, Rahmah sudah gemar mendengarkan kajian yang diadakan di beberapa surau di Padang Panjang. Ia mengambil perbandingan dari kajian-kajian yang diikutinya, berpindah-pindah dari satu surau ke surau lainnya.

Lantaran jarang bergaul dengan teman sebayanya, Rahmah remaja menjadi gadis pendiam dan pemalu. Ketiadaan ayah membuat Rahmah banyak memikirkan dan menyelesaikan sendiri urusannya. 

Ia menjahit baju sendiri dan menyenangi berbagai macam kerajinan tangan. Mengikuti kebiasaan kala itu, Rahmah dalam usia 16 tahun dinikahkan oleh keluarganya dengan Bahauddin Lathif, seorang ulama dari Sumpur. Pernikahan mereka berlangsung pada 15 Mei 1916 dan berakhir pada 22 Juni 1922 tanpa meninggalkan anak. Sepupunya dari keluarga ibu, Isnaniah Saleh, kelak meneruskan kepemimpinannya di Diniyah Putri.


Pendidikan :

Seiring arus pembaruan Islam yang dibawa oleh para ulama Minangkabau usai menuntut ilmu di Timur Tengah pada awal abad ke-20, sejumlah sekolah agama berdiri di berbagai daerah Minangkabau menggantikan sistem pendidikan tradisional berbasis surau. Pada 10 Oktober 1915, Zainuddin Labay El Yunusy membuka sekolah agama Islam Diniyah School yang memasukkan pelajaran umum dalam kurikulum dan dijalankan dengan cara pendidikan modern, menggunakan alat peraga dan memiliki perpustakaan. Sekolah ini menerima murid perempuan di kelas yang sama dengan murid laki-laki, hal yang baru bagi sekolah agama saat itu.

Rahmah ikut mendaftar, diterima duduk di bangku kelas tiga (setara tsanawiyah) oleh pihak sekolah menyesuaikan dengan kemampuannya.

Selain belajar di kelas pada pagi hari di Diniyah School, Rahmah memimpin kelompok belajar di luar kelas pada sore hari. Ia melihat, dengan bercampurnya murid laki-laki dan perempuan dalam kelas yang sama, perempuan tidak bebas mengutarakan pendapat dan betanya. Ia mengamati banyak masalah perempuan, terutama dalam perspektif fikih, tidak dijelaskan secara rinci oleh guru yang notabene laki-laki, sementara murid perempuan enggan bertanya.

Bersama tiga temannya, Rasuna Said, Sitti Nansiah, dan Djawana Basyir, Rahmah mempelajari fikih kepada Abdul Karim Amrullah di Surau Jembatan Besi. Mereka tercatat sebagai murid perempuan pertama yang ikut belajar di Surau Jembatan Besi, sebagaimana dicatat oleh Hamka.

Saat bersekolah di Diniyah School, Rahmah bergabung dengan Persatuan Murid-Murid Diniyah School (PMDS). Ketika duduk di bangku kelas VI, Rahmah merundingkan gagasannya untuk mendirikan sekolah khusus perempuan kepada teman-teman perempuannya di PMDS. Ia menginginkan agar perempuan memperoleh pendidikan yang sesuai dengan fitrah mereka dan dapat diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Kepada Zainuiddin, ia mengatakan, "Kalau saya tidak mulai dari sekarang, maka kaum saya akan tetap terbelakang. Saya harus mulai, dan saya yakin akan banyak pengorbanan yang dituntut dari diri saya. Jika kakanda bisa, kenapakah saya, adiknya, tidak bisa. Jika lelaki bisa, kenapa perempuan tidak bisa."

Sembari memimpin sekolah, Rahmah meluaskan penguasaannya dalam berbagai ilmu terapan. Melalui mak tuo-nya (bibi), ia belajar ilmu kebidanan. Ia juga mengikuti kursus ilmu kesehatan dan P3K kepada dokter-dokter yang ada di Sumatera Barat, yakni dr. Sofjan Rassat dan dr. Tazar (Kayutanam), dr. A. Saleh (Bukittinggi), dr . Arifin (Payakumbuh), serta dr. Rasidin dan dr. A. Sani (Padang Panjang). Bersama Sitti Akmar, ia mempelajari olahraga dan senam dengan seorang guru asal Belanda yang mengajar di Guguk Malintang. Ia juga belajar bertenun dengan alat tradisional dan berbagai keterampilan lain. Berbagai ilmu dan keterampilan tersebut ia ajarkan pada murid-muridnya dan mewarnai kurikulum di Diniyah Putri.



2. Buatkan Gambar dan Infografis tentang 

Mendirikan Diniyah Putri

Hajjah Rahmah El Yunusiyyah


Pada 1 November 1923, Rahmah membuka Madrasah Diniyah Li al-Banat sebagai bagian dari Diniyah School yang dikhususkan untuk murid-murid putri. Ia mengatur kegiatan belajar mengajar di masjid yang berseberangan dengan rumah kediamannya di Jalan Lubuk Mata Kucing (sekarang Jalan Abdul Hamid Hakim). Tiga teman Rahmah, Rasuna Said, Sitti Nansiah, dan Djawana Basyir, termasuk guru terawal, sementara Rahmah merangkap sebagai guru dan pimpinan.

Mulanya terdapat 71 orang murid yang kebanyakan adalah ibu-ibu muda.

Pelajaran diberikan selama 2,5 jam meliputi dasar pengetahuan agama, gramatika bahasa Arab, dan ilmu alat.

Para murid duduk di lantai mengelilingi guru secara berkelompok. Para guru memakai buku-buku berbahasa Arab dan menerangkan dengan bahasa Melayu. Ilmu pengetahuan umum belum diajarkan pada tahun pertama. Oleh karena itu, Rahmah mengarahkan murid-muridnya bergabung dengan PMDS. Dengan hadirnya bagian putri, Diniyah School peninggalan Zainuddin berangsur-angsur hanya dihadiri oleh murid-murid putra. Madrasah Diniyah Li al-Banat yang didirikan Rahmah menjadi populer sebagai Diniyah Putri.

Ketika Zainuddin meninggal secara mendadak pada 10 Juli 1924, banyak orang menyangka bahwa usaha yang baru dirintis Rahmah akan hilang di tengah jalan, sebagaimana dicatat oleh Isnaniah Saleh.

Dalam suatu rapat pengurus Diniyah Putri yang diadakan oleh Rahmah beberapa hari setelah Zainuddin meninggal, majelis guru sepakat untuk meningkatkan sistem pengajaran Diniyah Putri lengkap dengan sarana.

Pada 1925, Rahmah menyewa rumah bertingkat dua di Pasar Usang untuk dijadikan ruangan kelas dan asrama Diniyah Putri. Ia mengupayakan sendiri mencari perlengkapan seperti bangku, meja, dan papan tulis. Sedikitnya 60 orang murid menempati asrama pada tahun pertama.

Selain Diniyah Putri, Rahmah membuka kelas pemberantasan buta huruf untuk kalangan ibu-ibu yang lebih tua pada 1926 bernama "Sekolah Menyesal". 

Kelas diikuti oleh 125 orang ibu-ibu pada mulanya, tetapi terpaksa dihentikan setelah Diniyah Putri binasa oleh gempa bumi sehingga sekolah itu menuntut perhatian sepenuhnya dari Rahmah.

Seiring pertambahan murid Diniyah Putri, Rahmah mengatur pembagian waktu belajar remaja-remaja perempuan pada sore hari dan ibu-ibu rumah tangga pada malam hari. Pada awal 1926, karena kapasitas asrama tidak mencukupi, pembangunan gedung baru mulai dilakukan seacara gotong royong. 

Dalam buku Peringatan 55 Tahun Diniyah Putri dicatat, para murid Diniyah Putri bersama pelajar dari Diniyah School dan Thawalib mengangkat batu kali dari sungai yang berjarak 2,5 km dari sekolah mereka untuk fondasi. Namun, gempa bumi berkekuatan 7,6 skala Richter mengguncang Padang Panjang pada 28 Juni 1926, meruntuhkan gedung lama beserta fondasi gedung yang sedang dibangun. Nanisah, salah seorang guru, wafat karena tertimpa runtuhan bangunan.

Gempa bumi mengakibatkan kegiatan belajar-mengajar Diniyah Putri berhenti. Gedung dan peralatan mengajar hancur. Bersama separuh penduduk Padang Panjang, seluruh murid mengungsi keluar kota.

Rahmah menyaksikan penduduk meninggalkan kota "seolah-olah sekumpulan kafilah di gurun Sahara, berbondong-bondong membawa bebannya masing-masing." 

40 hari setelah gempa bumi, kelas darurat didirikan. Kelas dibangun di atas sebidang tanah wakaf dari ibunya, terbuat dari bambu dengan atap daun rumbia berlantaikan tanah. Sambil melanjutkan kegiatan belajar-mengajar di kelas darurat, para guru beserta wali murid membentuk komite untuk mencari dana pembangunan kembali gedung sekolah yang runtuh.

Rahmah menjual perhiasannya dan berkeliling ke berbagai daerah menghimpun donasi. Surat kabar Sinar Sumatra mencatat, Rahmah berhasil mengumpulkan 1.500 gulden selama tiga bulan penggalangan di Sumatera Timur dan Aceh pada akhir 1927. Pembangunan gedung permanen dimulai pada Desember 1927 dan ditempati pada Oktober 1928. Gedung baru terdiri dari dua tingkat dan merupakan gedung utama yang masih berdiri sampai saat ini. Total biaya pembangunan mencapai 7.000 gulden.

Diniyah Putri memiliki sedikitnya 200 murid pada 1928. Jumlah itu, dicatat oleh Deliar Noer, meningkat menjadi 350 pada 1930, dan 400 pada 1935. 

Mereka berasal dari Minangkabau, Bengkulu, Tapanuli, Deli, Aceh, dan Selangor.

Seorang lulusan Diniyah Putri Aishah Ghani menyebut kehidupan Diniyah Putri sangat terkungkung dan diawasi secara ketat. "Mereka benar-benar mempersiapkan murid-murid perempuan menjadi perempuan, dengan mengajarkan menenun, ilmu kerumahtanggaan, dan membuat murid-murid mengetahui segala sesuatu dan memiliki rasa tanggung jawab."

Seiring meningkatnya kebutuhan tenaga pengajar, Rahmah membuka Kulliyyatul Mualimat el Islamiyyah (KMI) pada 1 Februari 1937 sebagai sekolah guru untuk putri dengan lama pendidikan tiga tahun. KMI tercatat sebagai sekolah menengah swasta pertama di Padang Panjang. Diniyah Putri telah memiliki 500 murid pada 1941. Saat pendudukan Jepang di Sumatera Barat, kampus utama Diniyah Putri sempat menjadi tempat perawatan korban kecelakaan, sedangkan cabang Diniyah Putri di Jakarta ditutup.

Dalam pembangunan gedung Diniyah Putri, Rahmah sempat megajukan pinjaman kepada Abdul Gani, seorang pengusaha di Padang. Namun, pada batas waktu yang disepakati, utang masih tersisa sebanyak 1.300 gulden. Pada 21 April 1935, Abdul Gani menggugat Rahmah ke pengadilan. Pada September 1935, lantaran tidak bisa memenuhi hasil keputusan pengadilan untuk melunasi utang dalam waktu tiga hari, bangunan Diniyah Putri disita, tapi siswa masih diizinkan belajar. Untuk melunasi utang, masyarakat menyalurkan sumbangan melalui komite penolong yang dibentuk di beberapa daerah. Di Jakarta, sejumlah tokoh Minang mengumpulkan sumbangan melalui Komite Penolong Usaha Rahmah Minangkabau. Siswa INS Kayutanam mengadakan teater di Padang Panjang pada November 1935, disertai pameran hasil karya siswa. Seluruh hasil bersih dari dua kegiatan tersebut disumbangkan untuk Diniyah Putri. Dalam waktu kurang dari satu tahun, sumbangan yang terkumpul berhasil melunasi utang Diniyah Putri, bahkan masih menyisakan 602,86 gulden. Sisa dana digunakan untuk membangun gedung Sekolah Tenun (yang kelak berubah fungsi menjadi asrama, tapi dibongkar tahun 1983 dibongkar dan di atasnya kini berdiri masjid di kompleks perguruan).

Pada 1947, dalam rangka menyesuaikan pembagian jenjang pendidikan yang ada di Indonesia, Diniyah Putri dibagi ke dalam Diniyah Rendah dan Diniyah Menengah Pertama. Diniyah Rendah setara SD dengan lama pendidikan tujuh tahun, sedangkan Diniyah Menengah Pertama setara SLTP dengan lama pendidikan berdasarkan peruntukannya. DMP-B dengan lama pendidikan empat tahun diperuntukkan bagi lulusan SD. Lulusannya disetarakan dengan SLTP dan dipersiapkan untuk melanjutkan ke KMI atau perguruan lanjutan lainnya. Adapun DMP-C dengan lama pendidikan dua tahun diperuntukan bagi tamatan SLTP yang tidak sempat mendalami agama dan bahasa Arab pada jenjang pendidikan sebelumnya. Lulusan DMP-C dapat melanjutkan pendidikan ke KMI sebagaimana lulusan DMP-B.



3. Buatkan Gambar dan Infografis tentang 

Kepemimpinan

Hajjah Rahmah El Yunusiyyah


Majalah Aboean Goeroe-Goeroe milik perkumpulan para guru di Sumatera Barat pada Mei 1930 menyebut Rahmah sebagai orang pertama yang berkiprah "untuk kemajuan anak-anak perempuan di Minangkabau". Rahmah dipuji sebagai sosok yang "sedikit bicara dan tertawa, tetapi banyak bekerja". Lewat usahanya mendirikan Diniyah Putri dengan seluruh tenaga pengajar dari perempuan, Rahmah ingin memperlihatkan bahwa perempuan yang selama ini dipandang lemah dan rendah derajatnya dapat berbuat sebagaimana laki-laki.

Ia mengusahakan pendanaan Diniyah Putri secara mandiri, termasuk dengan menjual perhiasannya. 

Ia juga melakukan penggalangan dana tanpa bergantung pada laki-laki. Hamka mencatat, perwakilan Muhammadiyah di Padang Panjang pernah datang kepada Rahmah pada 1928, menganjurkan agar pengelolaan Diniyah Putri diserahkan kepada Muhammadiyah. Rahmah menolak dan mengungkapkan bahwa dirinya “tetap percaya kepada kekuatan yang diberikan Allah kepada dirinya sendiri”.

Ia mengatakan, "buat sementara golongan putri akan mencoba melayarkan sendiri pencalangnya sampai ke tanah tepi" sampai "tenaga putri tidak sanggup lagi".


"...Bagaimana keras hatinya buat memajukan agama Islam ada susah pula buat bandingnya sesama kaum perempuan.." — Sinar Sumatra.


Sebagai pemimpin Diniyah Putri, ia sering berpergian ke luar daerah. Dalam rangka penggalangan dana, Rahmah melakukan perjalanan ke sejumlah daerah Minangkabau dan luar Minangkabau pada pengujung 1927.

Ia menemui beberapa tokoh pemimpin Muslim, menyampaikan cita-cita dan program Diniyah Putri. Di tiap-tiap daerah yang dikunjunginya, ia berpidato di mimbar untuk menggairahkan umat Muslim berkorban bagi pembangunan Islam, "terutama untuk putri-putri Islam mempelajari agama Islam yang mereka cintai". Kegiatannya ini telah membentuk dirinya sebagai orator sekaligus meluaskan keterkenalan Diniyah Putri di Sumatra. Dalam rangka pengembangan kurikulum, ia mengadakan studi banding ke sekolah-sekolah agama di Sumatra dan Jawa pada 1931. Selain itu, ia mengirim beberapa tamatan Diniyah Putri untuk mengajar di berbagai daerah hingga Semenanjung Malaya. Dalam dua kali perjalanannya ke Semenanjung Malaya pada 1933 dan 1935, ia tercatat mengunjungi Pinang, Terengganu, Johor, Negeri Sembilan, Selangor, Perak, Pahang, Kelantan, dan Kedah. Di Kesultanan Siak, ia memberikan bimbingan dan melakukan pengawasan untuk Madrasah Annisa. Dalam berbagai kunjungannya, ia tampil memperkenalkan Diniyah Putri dan menghimpun dana kelanjutan pembangunan sekolah.

Selama pemerintahan kolonial Belanda, Rahmah cenderung menghindari aktivitas di jalur politik untuk melindungi kelangsungan sekolah yang dipimpinnya. Ia memilih tidak bekerja sama dengan pemerintah jajahan.

Ketika pemerintah kolonial Belanda melalui Van Straten, sekretaris atau controleur Padang Panjang menawarkan kepada Rahmah agar Diniyah Putri didaftarkan sebagai lembaga pendidikan terdaftar sehingga dapat menerima subsidi dari pemerintah, Rahmah menolak. Ia mengungkapkan bahwa Diniyah Putri adalah sekolah kepunyaan umat, dibiayai oleh umat, dan tidak memerlukan perlindungan selain perlindungan Allah. Subsidi dari pemerintah akan mengakibatkan keleluasaan pemerintah dalam memengaruhi pengelolaan Diniyah Putri.

Ketika kegiatan politik merebak di lembaga-lembaga pendidikan Minangkabau dengan berdirinya Partai Persatuan Muslim Indonesia (Permi) pada 1930, seorang guru sekaligus lulusan Diniyah School, Rasuna Said mulai mengemukakan pandangan politiknya melalui pelajaran yang ia berikan di dalam kelas. Ia memandang murid-murid perlu mendapatkan wawasan politik sebagai upaya keluar dari belenggu penjajahan. Rahmah menolak usulan Rasuna, berpendapat bahwa dasar Islam yang murid-murid terima telah menjadi dasar bagi upaya mereka dalam kegiatan politik. Menurut Rahmah, masalah politik dengan sendirinya akan dapat diketahui oleh para pelajar saat mereka terlibat di dalamnya setelah mereka tamat. Ia mendasari pandangannya dari pemimpin politik di Minangkabau saat itu yang memperoleh pelajaran agama di lembaga pendidikan yang mereka ikuti, meskipun tidak mendapat pelajaran khusus tentang politik. Namun, kepopuleran Rasuna di kancah politik saat itu telah menarik sejumlah murid Diniyah Putri dalam kegiatan politik. Saat ditegur Rahmah, Rasuna menyatakan tetap dengan pendiriannya; ia akhirnya menarik diri dan pindah ke Padang.

Pada 1931, Muchtar Lutfhi dan Mahmud Yunus pernah menawarkan kepada Rahmah agar Diniyah Putri bernaung di bawah Permi.

Permi melihat modernisasi sekolah agama berkembang pesat, tetapi tidak ada keseragaman program atau buku standar yang digunakan. Untuk itu, perlu adanya penggabungan seluruh sekolah dan perguruan agama ke dalam suatu wadah tunggal. Rahmah menolak Diniyah Putri bergabung. Menurutnya, lebih baik memelihara satu saja tapi terawat daripada bergabung tapi porak poranda. "Jika terjadi sesuatu dengan wadah tersebut, tidak perlu pula seluruh sekolah yang dinaunginya bubar." Ketika Permi membentuk Dewan Pengajaran Permi untuk menyatukan pelajaran sekolah-sekolah Islam, Rahmah membuat wadah sendiri bagi pengajar Diniyah Putri bernama Perserikatan Guru-Guru Agama Putri Islam (PGAPI) pada 1933.

Pada 1933, Rahmah memimpin panitia penolakan Ordonansi Sekolah Liar (yang akan mengakibatkan sekolah tak berizin dari pemerintah ditutup) di Padang Panjang.

Aktivismenya ini membuat ia dituduh membicarakan politik sehingga mengakibatkannya didenda 100 gulden oleh pengadilan. Pada tahun yang sama, Belanda melalui Politieke Inlichtingen Dienst menggeledah Diniyah Putri. Tiga orang guru Diniyah Putri: Kanin RAS, Chasjiah AR, dan Siti Adam Addarkawi dikenakan larangan mengajar. 

Pada 1935, Rahmah menghadiri Kongres Perempuan Indonesia di Batavia sebagai utusan Serikat Kaum Ibu Sumatra (SKIS). Di sana, ia mengemukakan idenya untuk mengembangkan pendidikan agama ke berbagai kota. Idenya mendapat sambutan sehingga, dengan bantuan beberapa pedagang asal Minangkabau dan lulusan lembaga pendidikan agama di Padang Panjang, ia dapat membuka cabang Diniyah Putri di Kwitang dan Tanah Abang pada 2 dan 7 September 1936. Selain itu, Rahmah dalam kongres memperjuangkan penggunaan ciri khas budaya Islam ke dalam kebudayaan Indonesia seperti penggunaan kerudung dalam busana perempuan.

Pada 1938, ia hadir dalam rapat umum di Bukittinggi untuk menentang Ordonansi Kawin Bercatat. Pada April 1940, Rahmah menghadiri undangan Kongres Persatuan Ulama Seluruh Aceh di Kotaraja, Aceh. Ia dipandang oleh ulama-ulama Aceh sebagai ulama perempuan terkemuka di Sumatra.



4. Buatkan Gambar dan Infografis tentang 

Pendudukan Jepang

Hajjah Rahmah El Yunusiyyah


Kedatangan tentara Jepang di Minangkabau pada Maret 1942 membawa berbagai perubahan dalam pemerintahan dan mengurangi kualitas hidup penduduk non-Jepang. Selama pendudukan Jepang, Rahmah ikut dalam berbagai kegiatan Anggota Daerah Ibu (ADI) yang bergerak di bidang sosial. Dalam situasi perang, para anggota ADI mengumpulkan bantuan makanan dan pakaian bagi penduduk yang kekurangan. Rahmah memotivasi penduduk yang masih bisa makan untuk menyisakan beras genggam setiap kali memasak untuk dibagikan bagi penduduk yang kekurangan makanan. Kepada murid-muridnya, ia menginstruksikan bahwa seluruh taplak meja dan kain pintu yang ada pada Diniyah Putri dijadikan pakaian untuk penduduk.

Selain itu, Rahmah bersama para anggota ADI menuntut pemerintah Jepang untuk menutup rumah bordil dan menentang pengerahan perempuan Indonesia sebagai jugun ianfu atau wanita penghibur. Tuntutan ini dipenuhi oleh pemerintah Jepang dan tempat prostitusi di kota-kota Sumatera Barat berhasil ditutup.

Dalam politik, Rahmah bergabung dengan Majelis Islam Tinggi Minangkabau yang berkedudukan di Bukittinggi. Ia menjadi Ketua Haha No Kai di Padang Panjang untuk membantu perjuangan perwira yang terhimpun dalam Giyugun. Seiring memuncaknya ketegangan di Padang Panjang, Rahmah membawa sekitar 100 orang muridnya mengungsi untuk menyelamatkan mereka dari serbuan tentara Jepang. Selama pengungsian, ia menanggung sendiri semua keperluan murid-muridnya. Ketika terjadi kecelakaan kereta api pada 25 Desember 1944 dan 23 Maret 1945 di Padang Panjang, Rahmah menjadikan bangunan sekolah Diniyah Putri sebagai tempat perawatan korban kecelakaan.[66] Hal ini membuat Diniyah Putri mendapatkan piagam penghargaan dari pemerintah Jepang. Menjelang berakhirnya pendudukan, Jepang membentuk Cuo Sangi In yang diketuai oleh Muhammad Sjafei. Rahmah duduk sebagai salah seorang anggota peninjau Cuo Sangi In.



5. Buatkan Gambar dan Infografis tentang 

Revolusi Nasional Indonesia

Hajjah Rahmah El Yunusiyyah


Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945. Setelah mendapatkan berita tentang proklamasi kemerdekaan langsung dari Ketua Cuo Sangi In Muhammad Sjafei, Rahmah segera menggerek bendera Merah Putih di halaman perguruan Diniyah Putri. Ia tercatat sebagai salah seorang pertama yang mengibarkan bendera Merah Putih di Sumatera Barat. Berita bahwa bendera Merah Putih berkibar di Diniyah Putri menjalar ke seluruh pelosok kota dan daerah Batipuh. Ketika Komite Nasional Indonesia terbentuk sebagai hasil sidang Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) pada 22 Agustus 1945, Soekarno yang melihat kiprah Rahmah mengangkatnya sebagai salah seorang anggota. Namun, dalam sidang KNPI di Malang, Rahmah tidak hadir karena tak bisa meninggalkan ibunya yang sedang sakit di Padang Panjang.

Pada 5 Oktober 1945, Soekarno mengeluarkan dekret pembentukan Tentara Keamanan Rakyat (TKR). Pada 12 Oktober 1945, Rahmah memelopori berdirinya unit perbekalan TKR untuk Padang Panjang dan sekitarnya. Ia mengusahakan logistik dan pembelian beberapa kebutuhan alat senjata dari harta yang dimilikinya. Bersama dengan bekas anggota Haha No Kai, Rahmah mengatur dapur umum di kompleks perguruan Diniyah Putri untuk kebutuhan TKR. Anggota-anggota TKR ini menjadi tentara inti dari Batalyon Merapi di bawah pimpinan Anas Karim.

Ketika Belanda melancarkan Agresi Militer Belanda II, Belanda menangkap sejumlah pemimpin-pemimpin Indonesia di Padang Panjang. Rahmah meninggalkan kota dan bersembunyi di lereng Gunung Singgalang. Namun, ia ditangkap Belanda pada 7 Januari 1949 dan dijebloskan ke tahanan wanita di Padang Panjang.[66] Setelah tujuh hari, ia dibawa ke Padang dan ditahan di satu ruangan bekas SPG Negeri Putri Padang. Ia melewatkan tiga bulan di Padang sebagai tahanan rumah (huis arrest), sebelum diringankan sebagai tahanan kota (stad arrest) selama lima bulan berikutnya. Ia meninggalkan Kota Padang untuk memenuhi undangan Kongres Pendidikan II Indonesia di Yogyakarta pada 15-20 Oktober 1949. Di kota yang sama, ia hadir dalam Kongres Muslimin Indonesia yang diselenggarakan pada 20–25 Desember 1949.



6. Buatkan Gambar dan Infografis tentang 

Pasca-revolusi

Hajjah Rahmah El Yunusiyyah


Setelah Belanda mengakui kemerdekaan Indonesia berdasarkan hasil Konferensi Meja Bundar di Den Haag, Rahmah kembali ke Padang Panjang pada Januari 1950 untuk memimpin Diniyah Putri setelah tiga belas bulan ia tinggalkan.

Pada 1951, Rahmah bergabung dalam panitia pendirian Balai Perguruan Tinggi Hukum Pancasila (cikal bakal Universitas Andalas) di bagian perpustakaan bersama Diyar Karim, Rasyid Manggis, Abdul Hamid, dan Sadudin Djambek.

Di bidang politik, Rahmah bergabung ke partai Islam Masyumi. Sekitar tahun 1952–1954, ia menjadi anggota Dewan Partai Masyumi di Jakarta. Selanjutnya, ia menjadi penasihat Masyumi Muslimat di Sumatra Tengah hingga 1955. Dalam Muktamar VII Masyumi di Surabaya pada 27 Desember 1954, ia turut hadir selaku anggota Masyumi Muslimat. Ia dicalonkan untuk pemilu 1955 dan terpilih sebagai anggota DPR mewakili Sumatra Tengah. Melalui DPR, Rahmah membawa aspirasinya tentang pendidikan dan pelajaran Islam.

Pada 15 Agustus 1955, Imam Besar Al-Azhar Abdurrahman Taj berkunjung ke Indonesia dan atas undangan Muhammad Natsir berkunjung ke berbagai tempat untuk melihat perkembangan pendidikan Islam di Indonesia, termasuk Diniyah Putri. Abdurrahman Taj mengungkapkan kekagumannya pada Diniyah Putri, sementara Al-Azhar sendiri saat itu belum memiliki bagian khusus perempuan.

Pada Juni 1957, Rahmah berangkat ke Timur Tengah. Usai menunaikan ibadah haji, ia mengunjungi Mesir dan melakukan kunjungan balasan ke Universitas Al-Azhar. Dalam satu Sidang Senat Luar Biasa, ia mendapat gelar kehormatan "Syekhah"; kali pertama Al-Azhar memberikan gelar kehormatan syekh pada perempuan.

Hamka mencatat, Diniyah Putri memengaruhi pimpinan Al-Azhar untuk membuka Kulliyatul Banat, bagian Universitas Al-Azhar yang dikhususkan untuk putri pada 1962.

Sebelum kepulangannya ke Indonesia, Rahmah sempat mengunjungi Suriah, Lebanon, Yordania, dan Irak.

Sekembali dari kunjungan ke berbagai negara di Timur Tengah, Rahmah merasa bahwa Soekarno telah terbawa arus kuat PKI. Tidak nyaman berjuang di Jakarta, ia memilih kembali pulang ke Padang Panjang.[80] Rahmah melihat bahwa mencurahkan perhatiannya untuk memimpin perguruannya akan lebih bermanfaat daripada duduk di kursi parlemen "yang sudah dikuasai komunis".

Ketika Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) di Sumatra Tengah dideklarasikan pada akhir 1958 akibat ketidaksetujuan atas sepak terjang Soekarno, Rahmah dilaporkan bergabung dengan Dewan Banteng. Selama masa pergolakan, ia bergerilya di tengah rimba bersama tokoh-tokoh PRRI dan rakyat yang mendukungnya. Dengan beberapa anggota keluarganya, ia berpindah-pindah dari satu desa ke satu desa sampai ke hutan-hutan yang cukup jauh dari pemukiman penduduk. Fasli Jalal mencatat Rahmah mengungsi ke Lintau. Pada Agustus 1961, satu rombongan yang terdiri dari beberapa anggota keluarga dan pemuda berangkat menjemput Rahmah di tempat terakhir pengembaraannya, melalui jalan darat yang rusak dan menyeberangi beberapa sungai.



7. Buatkan Gambar dan Infografis tentang 

Akhir Hayat, Penghargaan, dan Pandangan 

Hajjah Rahmah El Yunusiyyah


Pada 1961, Rahmah kembali memimpin perguruannya setelah tiga tahun ia tinggalkan pasca-pergolakan PRRI. Pada 1964, Rahmah menjalani operasi tumor payudara di RS Pirngadi, Medan. Pada Desember 1967, Rahmah berkunjung ke Jakarta untuk terakhir kali dalam rangka pembentukan Dewan Kurator Perguruan Tinggi Diniyah Putri. Pada Juli 1968, dengan kondisi fisik yang makin lemah, Rahmah berangkat menuju Kelantan ditemani keponakannya Isnaniah Saleh. Mereka menemui alumni Diniyah Putri di beberapa negara bagian Malaysia didampingi Datin Sakinah, alumni Diniyyah Putri asal Perak yang tinggal di Kelantan bersama suaminya, Dato' Mohammad Asri yang merupakan Menteri Besar Kelantan. Mereka menyinggahi Penang, Perak, Kuala Terengganu, dan Kuala Lumpur. Namun, dalam kunjungannya itu, ia tidak dapat bicara banyak karena kesehatannya yang menurun.

Rahmah meninggal mendadak dalam usia 68 tahun dalam keadaan berwudu hendak salat Magrib pada 26 Februari 1969. Jenazahnya dimakamkan di pekuburan keluarga yang terletak di samping rumahnya. Sehari sebelum ia wafat, Rahmah sempat menemui Gubernur Sumatera Barat saat itu, Harun Zain, mengharapkan pemerintah memperhatikan sekolahnya. Dalam pertemuannya dengan Harun Zain, ia mengatakan, "Pak Gubernur, napas ini sudah hampir habis, rasanya sudah sampai dileher. Tolonglah Pak Gubernur dilihat-lihat dan diperhatikan Sekolah Diniyah Putri."

Setelah Rahmah wafat, kepimpinan Diniyah Putri dilanjutkan oleh Isnaniah Saleh sampai 1990. Saat ini, Diniyah Putri dipimpin oleh Fauziah Fauzan sejak September 2006 dan telah memiliki jenjang pendidikan mulai dari TK hingga perguruan tinggi.

Dalam bukunya Islam dan Adat Minangkabau, Hamka menyinggung kiprah Rahmah di dunia pendidikan dan pembaruan Islam di Minangkabau. Dalam sejarah Universitas Al-Azhar, baru Rahmah seoranglah perempuan yang diberi gelar Syekhah. Sementara itu, Azyumardi Azra daam esainya menyebut perkembangan Islam modern dan pergerakan Muslimah di Indonesia tidak bisa dilepaskan dari nama Rahmah sebagai perintis.

Pemerintah Indonesia menganugerahkannya tanda kehormatan Bintang Mahaputera Pratama pada 1999 dan Bintang Mahaputera Adipradana pada 2013 secara anumerta, serta gelar Pahlawan Nasional pada 10 November 2025, berdasarkan ⁠Keppres No. 116/TK/2025 pada November 2025 oleh Presiden Prabowo Subianto.

Ia dikenal sebagai pelopor pendidikan Islam perempuan, pejuang kemerdekaan, dan tokoh yang mendapat gelar kehormatan Syaikhah dari Universitas Al-Azhar.


Pandangan tentang Pendidikan :

Rahmah memperoleh pendidikan atas inisiatifnya sendiri, pada saat masyarakat memandang kurang perlunya pendidikan bagi perempuan. Ia melihat bahwa perempuan tertinggal dari laki-laki, berada dalam kebodohan dan kepasrahan pada keadaan sehingga masyarakat pada umumnya—termasuk perempuan sendiri—mengganggap diri mereka makhluk yang lemah dan terbatas. Ia menginginkan setiap wanita menjadi ibu yang baik dalam rumah tangga dan masyarakat. Hal itu menurutnya hanya dapat dicapai melalui pendidikan. Meski menolak pembatasan mencari ilmu bagi perempuan, Rahmah menolak emansipasi seperti yang digaungkan oleh feminis. Sarah Larasati Mantovani dari Universitas Muhammadiyah Surakarta menulis, Rahmah ingin perempuan tetap pada fitrahnya dan anak didiknya menjadi ibu yang baik untuk anak-anaknya kelak. Ia tetap memasukkan pendidikan rumah tangga seperti menjahit, memasak dan keterampilan rumah tangga lainnya ke dalam kurikulum sekolahnya.

Sepanjang hidupnya, Rahmah menampilkan dirinya dengan pakaian baju kurung dan mudawarah. Anggota Konstituante Zamzami Kimin menulis bagaimana Rahmah memberikan perumpamaan menutup aurat dengan membandingkan dua orang berjualan di tepi jalan raya. Penjual yang satu membiarkan jualannya terbuka sementara penjual yang satu lagi menutupi jualannya itu dengan rapi, takut dihinggapi debu yang beterbangan. "Kalau sekiranya saudara ingin membeli jualan itu yang manakah yang akan saudara beli," tulis Zamzami menirukan ucapan Rahmah. Selain itu, Rahmah telah menampilkan ciri khas anak-anak putri dengan pakaian khas Diniyah, kerudung putih yang mereka lilitkan di kepala, baik di ruangan kelas maupun di halaman sekolah. "Bila masyarakat melihat gadis-gadis atau wanita-wanita memakai mudawarah, baju kurung membalut tubuh,... sehingga yang kelihatan hanya tangan, muka, dan kaki, maka dengan spontan mereka menyebut, itulah dia murid-murid Rahmah El Yunusiyah," tulis Zamzami.

1 - 216

  PAHLAWAN NASIONAL 1959 - 2025 Presiden 1 (Sukarno) 49 (1  49) No. 1 Nama  : Abdoel Moeis Lahir : Sungai Puar Agam, Sumatera Barat, 3...