Senin, 14 September 2026

Kata Alamsyah

 Kata Jend. Soemitro dan Letjen Alamsyah Prawiranegara tentang isu korupsi Soeharto


Mantan Menko Kesra Letjen TNI (Purn) Alamsyah Ratuperwiranegara menyebutkan bahwa pada awal tahun 1960 ia bertugas sebagai perwira yang diperbantukan kepada Deputi I KSAD Brigjen TNI Soeharto di MBAD. Pada masa-masa inilah terjalin hubungan yang baik antara dirinya dan Brigjen Soeharto. Keduanya sering bertukar pikiran mengenai pengalaman masing-masing di masa lalu. Alamsyah mengaku sejak awal sudah menaruh simpati pada Soeharto yang disebutnya sebagai seorang yang memiliki pembawaan tenang, memiliki visi yang luas, dan ramah pada bawahan. Ia mengaku selalu memperoleh nilai tambah usai berincang-bincang dengan Soeharto. Menurutnya Soeharto bukan saja sekedar atasan dalam tugas tetapi juga sebagai keluarga sendiri karena ada rasa senasib dan menjadi figur yang dituakan (Suparwan G. Parikesit 1995: 134–135).


Alamsyah menyebutkan bahwa sebagian perwira SUAD terutama yang berasal dari Jawa cenderung menjauhi Soeharto. Hal ini menimbulkan rasa penasaran pada diri Alamsyah untuk mencari tahu penyebabnya. Kelak diketahuinya bahwa hal itu berhubungan dengan masa lalu Soeharto yang pernah menjabat sebagai Panglima Divisi Diponegoro di Jawa Tengah. Soeharto dikenal sebagai figur yang sangat memperhatikan prajurit. Demi kesejahteraan prajurit, ia mendirikan berbagai yayasan di lingkungan Divisi Diponegoro yang justru menjadikan Soeharto sebagai sasaran fitnah. Ia difitnah macam-macam sehingga dicopot dari jabatannya sebagai panglima dan diperintahkan untuk mengikuti Kursus C di Seskoad. Walaupun demikian, persoalan di Divisi Diponegoro tidak berakhir hanya sampai pada pencopotan Soeharto sebagai panglima. Satu-satunya rumah Soeharto di Yogyakarta dan mobil Mercedes tahun 1958 bahkan akan disita oleh Jaksa Agung Muda Bidang Intelijen Kolonel Soenarjo (Suparwan G. Parikesit 1995: 134-135). 


Selain Alamsyah Ratuperwiranegara, mantan Pangkopkamtib Jenderal TNI (Purn) Soemitro juga tidak sependapat bila Soeharto dikatakan korup. Menurutnya Soeharto bukan pihak yang diuntungkan dari barter di Semarang. Soemitro berkata (Ramadhan K.H. 1994: 220):


“Saya tidak melihat Pak Harto korup. Saya tidak sependapat kalau Pak Harto dikatakan korup. Sewaktu beliau jadi panglima di Semarang memang ada barter, tapi yang untung orang lain. Dan beliau bisa membangun asrama untuk satuannya. Rumahnya di Semarang waktu itu, ya itu itu saja.” 


*****

Keterangan gambar: 

Jend. Soemitro saat masih brigjen dan menjabat Pangdam Mulawarman bersama Bung Karno (1965).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kolonel Sarwo Edhie

 Jakarta, dini hari 1 Oktober 1965. Langit masih gelap namun fajar sudah mulai menyingsing. Suara radio RRI menyiarkan pengumuman mengejutka...