Selasa, 24 Oktober 2023

Koes Plus, Grup Musik Legendaris Asal Tuban



 *Koes Plus, Grup Musik Legendaris Asal Tuban*

Savira Oktavia - detikJatim

Selasa, 24 Okt 2023 19:35 WIB

Daftar Isi

Mengenal Koes Plus:

1. Awal Berdirinya Koes Bersaudara

2. Sejarah Kelam Koes Bersaudara

3. Pergantian Nama Koes Bersaudara Menjadi Koes Plus

4. Akhir Perjalanan Koes Plus

Tuban - 'Bukan lautan hanya kolam susu'. Masyarakat dari berbagai kalangan pasti pernah mendengar lagu ini.

Lagu bertajuk Kolam Susu tersebut dipopulerkan grup musik kondang bernama Koes Plus pada 1973. Hingga saat ini, lagu itu masih dinikmati banyak pendengar.

Koes Plus adalah grup musik paling legendaris asal Tuban, yang beranggotakan kakak-beradik keluarga Koeswoyo. Pada era 1970-1975, lagu-lagu Koes Plus menghiasi industri musik Tanah Air.

Mereka berhasil menciptakan ratusan lagu mulai dari versi pop, pop Jawa, pop Melayu (dangdut), qosidah, natal, pop anak-anak, dan masih banyak lagi. Bahkan, namanya diabadikan sebagai grup musik dengan lagu terbanyak di Museum Rekor Indonesia (Muri).

Mengenal Koes Plus:

Berikut ini sejarah grup musik Koes Plus yang legendaris, seperti dikutip dari Buku Koes Plus karya Budi Santosa.

_1. Awal Berdirinya Koes Bersaudara_

Sekitar tahun 1962, sang penggerak roda Koes Bersaudara, yakni Tonny Koeswoyo mengawali perjalanan karier musiknya dengan membawakan lagu-lagu barat bersama Koes Bersaudara atau Koes Brothers.

Di tengah maraknya grup musik barat, Tonny mulai menciptakan lagu sendiri menggunakan bahasa Indonesia. Dua lagu yang dihasilkannya diberi judul Weni dan Terpesona. Kakaknya bernama Djon bertugas merekam. Kemudian, rekaman itu dikirim ke perusahaan rekaman PT Irama.

Mereka pun diberikan kesempatan membuat lagu dan berakhir mendapatkan pujian dari sang pemilik perusahaan rekaman, Jack Lesmana. Dibentuklah formasi pertama rekaman dengan nama Koes Bersaudara, terdiri atas Djon Koeswoyo (Bass), Tonny Koeswoyo (Melodi Guitar), Yon Koeswoyo (Vokalis), Yok Koeswoyo (Vokalis, Rhythm Guitar), dan Nomo Koeswoyo (Drum).

Pada 1963, Koes Bersaudara mengeluarkan piringan hitam berisikan lagu-lagu yang sangat populer hingga saat ini, seperti Angin Laut, Senja, Bis Sekolah, Telaga Sunyi, Dewi Rindu, dan sebagainya. Lagu-lagu ini mulai disiarkan di berbagai siaran radio. Baik dalam negeri maupun luar negeri.

Ketika grup musik asal Inggris, The Beatles semakin menarik perhatian para pencinta musik, Koes Bersaudara pun mengikuti gaya The Beatles. Bahkan, beberapa lagu mereka terinspirasi dari Beatles.

Lagu-lagu itu seperti Termenung Lesu, Diana, dan Pemain Kecapi. Koes Bersaudara sering tampil di beberapa panggung hiburan dan menjadi band terpopuler pada 1965.

_2. Sejarah Kelam Koes Bersaudara_

Pada 29 Juni 1965, Koes Bersaudara ditahan pihak kepolisian karena tertangkap sedang menyanyikan lagu-lagu barat yang saat itu dilarang Presiden Soekarno. Bahkan, kepolisian juga memutus peredaran lagu-lagu Koes Bersaudara di industri Tanah Air.

Di tengah menjalani kehidupan di penjara, Koes Bersaudara kembali menciptakan lagu yang bercerita tentang hubungan manusia dengan Tuhan, bakti kepada orang tua. Seperti lagunya bertajuk Di Dalam Bui, Jadikan Aku Dombamu, Untuk Ayah dan Ibumu.

Pada peringatan 17 Agustus 1965, nama Koes Bersaudara disebut dalam pidato Presiden Soekarno karena dianggap lebih mencintai produk barat. Namun, menurut pengakuan Yok Koeswoyo, alasan mereka ditahan adalah untuk menjadikan Koes Bersaudara sebagai intelijen tandingan (counter intelligence di Malaysia ketika Indonesia sedang berkonfrontasi dengan Malaysia).

Pada 29 September 1965, mereka dibebaskan. Keadaan pun kembali seperti semula. Koes Bersaudara aktif mengisi beberapa panggung hiburan. Mereka juga menolak menyanyikan lagu The Beatles. Jadwal pertunjukan semakin padat.

Pada Agustus 1966, Koes Bersaudara melakukan pertunjukan keliling Jawa dan Bali. Hingga pada 1967, mereka mengeluarkan dua buah piringan hitam bertajuk Jadikan Aku Dombamu dan To The So Called The Guilties yang terdiri atas 24 lagu.

_3. Pergantian Nama Koes Bersaudara_ Menjadi Koes Plus

Tahun 1969, salah satu anggota mereka yaitu Nomo Koeswoyo memutuskan keluar dan digantikan Murry sebagai drummer. Hal ini sempat menjadi perdebatan karena Yok merasa keberatan apabila Murry yang bukan berasal dari keluarga mereka menjadi anggota Koes Bersaudara. Akhirnya, nama Koes Bersaudara diubah menjadi Koes Plus, di mana kata "Plus" berarti Koes Bersaudara ditambah Murry.

Koes Plus kembali merilis lagu-lagu terbaru mereka. Di antara deretan lagu ciptaan mereka, Lagu Nusantara I, Oh Kasihku, Mari-Mari, Diana, dan Kolam Susu menjadi musik pop yang sangat populer.

Bahkan, mereka sempat dijadikan inspirasi oleh grup-grup musik seangkatan lainnya seperti Panbers, D'Lloyd, Favourites, dan Mercy's. Mereka juga sempat mengambil pekerjaan sebagai bintang iklan hingga aktor. Tahun 1976, mereka berhasil mengeluarkan 10 album.

Namun popularitas mereka sempat meredup di akhir tahun karena pergantian generasi. Koes Plus pun memutuskan rehat dari dunia permusikan dan Murry digantikan oleh Nomo.

Nomo mendirikan studio rekaman Yukawi dan Liemen. Ia juga membuat grup No Koes dan Nobo, kemudian memulai karier sebagai penyanyi solo. Tahun 1977, ia sempat kembali menciptakan album bersama Koes Bersaudara.

Salah satu capaian terbesar Koes Plus adalah ketika berhasil mengeluarkan album bertajuk Another Song for You yang terdiri atas 12 lagu berbahasa Inggris. Sejak 1960, Koes Bersaudara berhasil menciptakan 203 lagu dalam 17 album.

Sedangkan periode Koes Plus sebanyak 750 lagu dalam 72 album. Atas jasa mereka dalam perkembangan industri musik di tanah air, masyarakat memberikan penghargaan kepada mereka melalui Legend BASF Award pada 1992.

_4. Akhir Perjalanan Koes Plus_

Pada akhir tahun 70-an, tren musik mulai didominasi oleh pop kreatif, jazz, dan lain-lain. Seiring berjalannya waktu, Koes Plus semakin meredup. Namun, keadaan ini tidak membuat Koes Plus berhenti berkarya.

Setidaknya 10 album genre pop rock diciptakan untuk mempertahankan kecintaan penggemar terhadap musik rock. Pada 27 Maret 1987, Tonny Koeswoyo sebagai pemimpin Koes Plus dinyatakan meninggal dunia. Namanya pun dikenal sebagai Bapak Pop Progresif Indonesia.

Artikel ini ditulis oleh Savira Oktavia, peserta Magang Bersertifikat Kampus Merdeka di detikcom.

Kisah Lahirnya Hari Santri dari Malang

 Hari Santri 2023

*Kisah Lahirnya Hari Santri dari Malang : Ada Nama Ahmad Basarah dan Gus Thariq bin Ziyad*

Imadudin Muhammad

Selasa, 24 Oktober 2023 - 15:48 |  27.89k



TIMESINDONESIA, MALANG – Perjuangan menetapkan Hari Santri Nasional (HSN) tidak lepas dari dua nama besar; Wakil Ketua MPR RI Ahmad Basarah dan Gus Thariq bin Ziyad.

Ada juga nama Syaifudin Zuhri, tokoh muda, dan Abdurahman, tokoh masyarakat Kabupaten Malang. 

Cerita ini bermula saat kedatangan Capres PDI Perjuangan Joko Widodo (Jokowi) pada Pilpres 2014. Kala itu dengan ditemani Ahmad Basarah, anggota DPR RI dapil Malang Raya, Jokowi hadir di Ponpes Babussalam, asuhan KH Thariq bin Ziyad (Gus Thariq). 

Dalam pertemuan itu, Jokowi disodori kontrak politik, jika menjadi presiden maka Jokowi harus menetapkan hari Santri. Jokowi pun mengiyakan dan menandatangani kontrak politik itu. 

"Nah, saat Peringatan HSN ke-9 yang diadakan di Tugu Pahlawan, Presiden Jokowi bercerita dan mengenang kembali kunjungannya ke Malang sebelum menjadi presiden. Saat berkunjung ke pesantren itu Pak Jokowi mengaku didesak oleh para kiai, jika menjadi presiden tolong tetapkan Hari Santri," jelas Basarah menirukan Presiden Jokowi. 

Basarah hadir dalam seminar Hari Santri Nasional kerjasama MPR RI dan Pemkab Malang, di Pendapa Kabupaten Malang, Selasa (24/10/2023). 

Dalam kesempatan itu, Ahmad Basarah juga menyampaikan bahwa tidak ada peristiwa heroik 10 November, atau hari pahlawan, tanpa adanya resolusi jihad dari rois akbar PBNU Hadratusy Syekh Hasyim Asy’ari.

Basarah menjelaskan bahwa ada dua momentum sejarah penting bagi bangsa ini, yaitu Hari Pancasila dan Hari Pahlawan. Pancasila dijelaskan sebagai kalimatun sawa', pertemuan antara bingkai Indonesia dan Ketuhanan Yang Maha Esa. Kedua momentum tersebut menjadi lengkap dengan ditetapkannya 10 November sebagai Hari Pahlawan dan 1 Juni sebagai hari Pancasila.

Sebelum terpilih menjadi presiden, tepatnya pada 27 Juni 2014, ada suatu kontrak politik yang ditandatangani oleh Jokowi, yang dibuat Gus Thariq bin Ziyad. Kontrak ini adalah komitmen untuk menetapkan Hari Santri jika terpilih menjadi presiden. Ini mencerminkan dedikasi dan komitmen yang tinggi dari para pemimpin untuk menghargai peran santri dalam sejarah dan pembentukan bangsa.

*Terus Berjuang tanpa Lelah*

Pemikiran dan perjuangan Ahmad Basarah dan Gus Thariq bin Ziyad terus mengalir dalam upaya mengukuhkan Hari Santri Nasional. Keduanya, dengan semangat yang berkobar-kobar, berupaya untuk membuat hari ini tidak hanya sekedar simbol, tetapi juga sebagai refleksi dan penghargaan yang mendalam terhadap peran santri dalam sejarah dan kehidupan berbangsa dan bernegara.

Ahmad Basarah mengajak kita untuk melihat lebih dalam bagaimana sejarah Hari Pahlawan dan Hari Pancasila tidak bisa dipisahkan dari peran serta santri. Kontribusi santri sangat kentara dalam melawan penjajah dan menjaga nilai-nilai luhur bangsa. Basarah mengingatkan kita bahwa lahirnya Hari Santri adalah suatu bentuk komitmen politik yang telah disepakati sejak awal, mencerminkan harapan dan kepercayaan besar terhadap peran santri dalam perjalanan bangsa ini.

Sementara itu, Gus Thariq bin Ziyad, dengan penuh ketekunan dan kebijaksanaan, ikut serta menuliskan kontrak politik yang menjadi landasan penetapan Hari Santri. "Kontrak ini menjadi saksi bisu dari sebuah perjuangan dan keseriusan dalam memastikan bahwa peran santri mendapatkan tempat yang terhormat dalam tapestry sejarah Indonesia," ujarnya. 

Kolaborasi dan sinergi antara Ahmad Basarah dan Gus Thariq bin Ziyad, beserta dukungan dari berbagai pihak, telah menjadikan Hari Santri lebih dari sekedar perayaan. Ini menjadi momentum untuk merefleksikan, menghargai, dan terus menginspirasi generasi muda untuk melanjutkan perjuangan dan dedikasi santri dalam menjaga nilai-nilai keindonesiaan.

Menurut Gus Thariq, perjuangan membuat Hari Santri telah ia mulai sejak 2009 saat era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Perjuangan itu terus berlanjut hingga era Presiden Jokowi hingga lahirnya Keppres 22 tahun 2015 tentang penetapan tanggal 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional. (*)

Minggu, 22 Oktober 2023

Resolusi Jihad 22 Oktober 1945: Isi Naskah dan Cikal Bakal Hari Santri



 *Resolusi Jihad 22 Oktober 1945: Isi Naskah dan Cikal Bakal Hari Santri*

Tim detikcom - detikNews

Minggu, 22 Okt 2023 14:26 WIB

Jakarta - Resolusi Jihad 22 Oktober 1945 menjadi cikal bakal diperingatinya Hari Santri Nasional (HSN) setiap tanggal 22 Oktober. Fatwa Resolusi Jihad Nahdlatul Ulama (NU) diserukan KH Hasyim Asy'ari pada 22 Oktober 1945.

Diserukannya Resolusi Jihad bertujuan untuk membangkitkan semangat rakyat Indonesia, terutama di kalangan kiai dan santri, dalam mempertahankan kemerdekaan yang hendak direbut kembali oleh para penjajah.

*Sejarah Resolusi Jihad 22 Oktober 1945*

Menurut laman resmi Kementerian Agama (Kemenag), sejarah perumusan fatwa 'Resolusi Jihad' yang dipimpin oleh KH Hasyim Asy'ari diserukan pada 22 Oktober 1945. Resolusi Jihad ini berisi kewajiban berjihad untuk mempertahankan Kemerdekaan Indonesia dengan melawan penjajah yang masih berada di Indonesia.

Bermula pada tanggal 17 September 1945, KH Hasyim Asy'ari mengeluarkan fatwa jihad di kalangan kiai dan santri pesantren, untuk melawan para penjajah demi mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Fatwa itu kemudian melahirkan Resolusi Jihad yang disepakati dalam rapat di Kantor Pengurus Besar NU di Bubutan, Surabaya pada 21-22 Oktober 1945.

*Isi Naskah Resolusi Jihad 22 Oktober 1945*

Dikutip dari laman resmi NU, berikut isi naskah teks Resolusi Jihad 22 Oktober 1945, yang sudah disesuaikan dengan ejaan yang disempurnakan (EYD):

_Bismillahirrahmanirrahim_

_Resolusi_

_Rapat besar wakil-wakil daerah (Konsul-konsul) Perhimpunan Nahdlatul Ulama seluruh Jawa-Madura pada tanggal 21-22 Oktober 1945 di Surabaya._

_Mendengar:_

_Bahwa di tiap-tiap daerah di seluruh Jawa-Madura ternyata betapa besarnya hasrat ummat Islam dan Alim ulama di tempatnya masing-masing untuk mempertahankan dan menegakkan AGAMA, KEDAULATAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA MERDEKA._

_Menimbang:_

_a. Bahwa untuk mempertahankan dan menegakkan Negara Republik Indonesia menurut hukum AGAMA ISLAM, termasuk sebagai suatu kewajiban bagi tiap-tiap orang Islam_

_b. Bahwa di Indonesia ini warga Negaranya adalah sebagian besar terdiri dari ummat Islam._

_Mengingat:_

_a. Bahwa oleh pihak Belanda (NICA) dan Jepang yang datang dan berada di sini telah banyak sekali dijalankan banyak kejahatan dan kekejaman yang mengganggu ketenteraman umum._

_b. Bahwa semua yang dilakukan oleh semua mereka itu dengan maksud melanggar Kedaulatan Republik Indonesia dan Agama, dan ingin kembali menjajah di sini, maka di beberapa tempat telah terjadi pertempuran yang mengorbankan beberapa banyak jiwa manusia._

_c. Bahwa pertempuran-pertempuran itu sebagian besar telah dilakukan ummat Islam yang merasa wajib menurut hukum agamanya untuk mempertahankan Kemerdekaan Negara dan Agamanya._

_d. Bahwa di dalam menghadapi sekalian kejadian-kejadian itu belum mendapat perintah dan tuntutan yang nyata dari Pemerintah Republik Indonesia yang sesuai dengan kejadian-kejadian tersebut._

_Memutuskan:_

_1. Memohon dengan sangat kepada Pemerintah Republik Indonesia supaya menentukan suatu sikap dan tindakan yang nyata serta sepadan terhadap usaha-usaha yang akan membahayakan kemerdekaan Agama dan Negara Indonesia, terutama terhadap pihak Belanda dan kaki tangan._

_2. Supaya memerintahkan melanjutkan perjuangan bersifat "sabilillah" untuk tegaknya Negara Republik Indonesia Merdeka dan Agama Islam._

_Surabaya, 22 Oktober 1945_

*NAHDLATUL ULAMA*

*Cikal Bakal Hari Santri Nasional 22 Oktober*

Resolusi Jihad 22 Oktober 1945 tersebut menjadi cikal bakal lahirnya Hari Santri setiap tanggal 22 Oktober. Penetapan ini berdasarkan dikeluarkannya Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 22 Tahun 2015 tentang Hari Santri.

Keppres itu diresmikan oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) di Jakarta, pada 15 Oktober 2015. Sejak saat itu, pada tanggal 22 Oktober diperingati sebagai Hari Santri Nasional setiap tahunnya untuk memperingati Resolusi Jihad.

"Saya ingat tahun 2015. Saat itu saya berkunjung ke Jawa Timur, kemudian masuk di sebuah pondok pesantren di Kabupaten Malang, ada usulan dari para kiai, dan para santri, untuk memutuskan adanya Hari Santri. Tapi, saat itu saya belum presiden," kata Jokowi dalam sambutan di Apel Hari Santri Nasional, di Tugu Pahlawan, Surabaya, Minggu (22/10/2023).

"Kemudian setelah terpilih menjadi presiden, permohonan yang saya ingat betul dari sebuah pondok pesantren di Kabupaten Malang, kita kaji dan kita tindak lanjuti, kemudian kita putuskan adanya Hari Santri lewat Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 2015. Dan sejak saat itulah kita memiliki yang namanya Hari Santri. Seneng nggak?" kata Jokowi dijawab 'senang' oleh santri.

Menurut Jokowi, semangat Hari Santri harus terus digelorakan dengan melihat konteks kekinian. Terlebih, dunia saat ini mendapat ancaman krisis karena perang di Ukraina dan Palestina.

"Semangat hari santri harus dibangun dengan konteks saat ini. Di mana, ada krisis ekonomi akibat perang, adanya krisis pangan akibat perang, krisis energi juga akibat perang," katanya.

"Sebelumnya, satu di Ukraina, sekarang tambah lagi perang di Palestina dan Israel," katanya.

(wia/idn)

5 Pahlawan Nasional Turut Memperjuangkan Pendidikan di Nusantara

 


*5 Pahlawan Nasional Turut Memperjuangkan Pendidikan di Nusantara*

Berita / 03/05/2021 / Oleh Admin SMP

 Dilihat 24,688 pengunjung

Halo Sobat SMP! Setiap tanggal 2 Mei kita selalu memperingati Hari Pendidikan Nasional. Hari Pendidikan Nasional ditetapkan pada tanggal 2 Mei, tanggal yang sama dengan hari kelahiran Bapak Pendidikan Nasional, Suwardi Suryaningrat atau yang lebih dikenal dengan Ki Hajar Dewantara.

Kiprah Ki Hajar Dewantara di bidang pendidikan Tanah Air memang sudah tidak bisa diragukan lagi. Kepeduliannya terhadap pendidikan di Indonesia melahirkan Perguruan Nasional Taman Siswa, cikal bakal sistem pendidikan di Indonesia.

Namun selain Ki Hajar Dewantara, ternyata ada lho tokoh-tokoh pahlawan nasional lain yang juga berjuang di jalur pendidikan. Penasaran siapa saja tokoh-tokoh tersebut? Yuk simak artikel ini untuk informasi selengkapnya!

1. K. H. Ahmad Dahlan

Ahmad Dahlan dan organisasi Muhammadiyah adalah dua hal yang tidak bisa dilepaskan. Pria yang lahir pada 1 Agustus 1868 ini mendirikan organisasi Muhammadiyah untuk menciptakan pembaharuan Islam di bidang pendidikan. 

Ahmad Dahlan atau Muhammad Darwis merasa kurang setuju dengan sistem pendidikan kolonialisme yang menuju ke arah sekularisme dan westernisasi. Menurut Ahmad Dahlan, pendidikan Islam hendaknya diarahkan pada usaha membentuk manusia muslim yang berbudi pekerti luhur, alim dalam agama, luas pandangan dan paham masalah ilmu keduniaan, serta bersedia berjuang untuk kemajuan masyarakatnya.

2. R. A. Kartini

Raden Ajeng Kartini lebih dikenal dengan tokoh emansipasi wanita di Indonesia. Wanita yang lahir pada 21 April 1879 di Jepara. Kartini memperjuangkan hak-hak wanita pribumi yang tidak mendapatkan kesetaraan dengan kaum laki-laki.

Tidak hanya emansipasi, Kartini juga peduli terhadap pendidikan wanita-wanita pribumi yang kala itu tidak bisa mengenyam bangku pendidikan. Di akhir hayatnya, Beliau mendirikan Sekolah Wanita di Rembang untuk wanita pribumi supaya bisa merasakan pendidikan.

3. Dewi Sartika

Dewi Sartika adalah pahlawan wanita asal Bumi Parahyangan. Beliau lahir pada 4 Desember 1884 di Cicalengka, Jawa Barat. Selain Kartini, Dewi Sartika adalah tokoh pahlawan wanita yang memperjuangkan hak wanita, khususnya di bidang pendidikan.

Komitmen Dewi Sartika dibuktikan dengan mendirikan Sekolah Istri pada 1904. Sekolah ini diperuntukkan bagi wanita-wanita yang ingin mengenyam pendidikan. Sekolah Istri mengajarkan para wanita berbagai hal, seperti menjahit, merenda, menyulam, memasak, mengasuh bayi, dan juga agama.

4. K. H. Hasyim Asy’ari

Satu lagi tokoh pahlawan muslim yang berjuang di jalur pendidikan. Hasyim Asy’ari adalah ulama dan pahlawan nasional yang lahir pada 14 Februari 1871. Hasyim Asy’ari pemrakarsa dari berdirinya salah satu organisasi massa Islam terbesar di Indonesia, yaitu Nahdlatul Ulama (NU).

Beliau cukup peduli dengan pendidikan, terutama pendidikan umat muslim. Sepulangnya menimba ilmu di Makkah pada 1899, Beliau pun mendirikan pesantren Tebu Ireng yang menjadi pesantren terbesar dan terpenting di Pulau Jawa pada abad ke-20.

5. Rohana Kudus

Rohana Kudus ditetapkan Presiden Joko Widodo sebagai pahlawan nasional pada 2019 silam. Wanita yang lahir pada 20 Desember 1884 di Agam, Sumatra Barat ini adalah seorang pers wanita yang peduli dengan dunia pendidikan bagi wanita.

Rohana Kudus menunjukkan kepeduliannya dengan mendirikan Sekolah Kerajinan Amai Setia (KAS) di Koto Gadang pada 1911. Sekolah keterampilan khusus ini diperuntukkan bagi perempuan. Mereka diajarkan baca-tulis, mengelola keuangan, pendidikan agama, budi pekerti, dan bahasa Belanda.

Jadi, itulah tadi 5 pahlawan nasional yang berjuang di jalur pendidikan selain Ki Hajar Dewantara. Semoga generasi penerus bangsa dapat menghargai jasa para pahlawan tersebut dengan semangat belajar untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. 

Penulis: Pengelola Web Direktorat  SMP

Referensi:

Buku Dewi Sartika terbitan Departemen Kebudayaan dan Pariwisata tahun 2009

Buku Kyai Haji Hasyim Asy’ari Riwayat Hidup dan Pengabdiannya terbitan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan tahun 1985

http://tvrisumbar.co.id/berita/detil/2530/rohana-kudus-jadi-pahlawan-nasional.html

https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/mkn/ahmad-dahlan-dalam-pemikirannya-mengenai-pendidikan-islam-di-indonesia/

https://lpmpriau.kemdikbud.go.id/r-a-kartini-tokoh-emansipasi-wanita/

Sabtu, 21 Oktober 2023

Jejak dan Sejarah Lahirnya Hari Santri

 *Jejak dan Sejarah Lahirnya Hari Santri*

Hilda Rinanda - detikJatim

Sabtu, 21 Okt 2023 

14:35 WIB



Surabaya - Hari Santri Nasional diperingati setiap tanggal 22 Oktober. Di tahun ini, puncak Hari Santri Nasional akan digelar di Surabaya. Rencananya, Presiden Joko Widodo akan menghadiri kegiatan ini.

Namun, tahukah detikers, ternyata lahirnya Hari Santri memiliki sejarah cukup panjang. Peringatan Hari Santri juga tidak terlepas dari peristiwa perjuangan mempertahankan kemerdekaan.

Hari Santri Nasional diresmikan Presiden Joko Widodo melalui Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 2015. Kepres diputuskan pada 15 Oktober 2015 yang didasari pada sejarah santri saat masa kemerdekaan. Ulama dan santri pondok pesantren berperan besar dalam perjuangan Indonesia mempertahankan kemerdekaan.

Hari Santri menjadi momentum dalam meneladani dan melanjutkan semangat perjuangan, dengan jalan jihad yang digelorakan ulama pada 1945. Peringatan Hari Santri 22 Oktober sebagai pengingat peristiwa bersejarah pada 22 Oktober 1945.

Pahlawan Nasional KH Hasyim Asy'ari memberikan seruan kepada umat Islam untuk berperang alias jihad melawan Sekutu. Di mana saat itu, Sekutu masih melakukan perlawanan bersenjata dalam penolakan kedaulatan Indonesia.

Seruan itu bermaksud menggerakkan para santri, ulama, masyarakat untuk melakukan pergerakan melawan tentara Inggris, yang kala itu mengambil alih wilayah jajahan Jepang sebagai hadiah memenangkan Perang Dunia II. Tentara Inggris membonceng Belanda sebagai sekutunya untuk kembali menduduki Indonesia sehingga kembali jatuh dalam jajahan Belanda.

Hal lain yang melatarbelakangi peringatan Hari Santri, yaitu pengakuan pemerintah Indonesia atas peran umat Islam dan pemuka agama, yang telah merevisi catatan sejarah nasional pada masa Orde Baru.

Catatan sejarah itu menutupi dan menghilangkan gerakan umat Islam dalam berkontribusi terhadap kemerdekaan Indonesia. Gerakan melawan Sekutu oleh santri, ulama, dan masyarakat Muslim berlangsung setelah tercetusnya Resolusi Jihad 22 Oktober 1945, hingga momentum pertempuran Surabaya pada 10 November 1945.

Resolusi Jihad

Melansir situs Nahdlatul Ulama, Resolusi Jihad yang dicetuskan Rais Akbar KH Hasyim Asy'ari berisi pemanggilan ulama dan santri di pondok pesantren berbagai wilayah Indonesia untuk jihad fi sabilillah.

Dalam arti sempit berarti berperang di jalan Allah. Namun panggilan yang dicetuskan lebih dari sekadar berperang, tetapi juga segala gerakan aktivitas terpuji yang mampu menyokong Indonesia melawan Sekutu. Berikut cetusan Rais Akbar Hasyim.

"Berperang menolak dan melawan penjajah itu fardhu ain yang harus dikerjakan setiap orang Islam, laki-laki, perempuan, anak-anak, bersenjata maupun tidak, bagi yang berjarak 94 kilometer dari tempat masuk dan kedudukan musuh. Bagi orang-orang yang berada di luar jarak lingkaran tadi, kewajiban itu menjadi fardhu kifajah".

Resolusi ini dikumandangkan di seluruh masjid hingga musala saat bulan-bulan setelah proklamasi kemerdekaan. Resolusi ini sangat kental penyebarannya di Jawa Timur, terutama saat melawan masalah interniran balatentara Inggris hingga peristiwa pertempuran Surabaya.

Menurut ulama dan pengamat agama, terdapat tiga poin pokok Resolusi Jihad yang dicetuskan KH Hasyim Asy'ari pada 22 Oktober 1945. Ketiga poin pokok resolusi jihad tersebut yaitu sebagai berikut.

• Hukum memerangi orang kafir yang merintangi untuk mencapai kemerdekaan Indonesia adalah fardhu ain bagi setiap orang Islam yang berdaya maupun dari kalangan fakir.

• Sebagai pengingat kembali umat Muslim (merujuk pemuka agama, santri, masyarakat), kala itu hukum orang yang meninggal dalam peperangan melawan musuh dalam kitab Al-Qur'an adalah mati syahid.

• Sebagai bentuk penyadaran hukum, untuk orang yang memecah belah persatuan Indonesia pada saat itu (merujuk sekutu) wajib dibunuh.

Dikutip dari situs Kemenag, Resolusi Jihad yang merupakan cikal bakal peringatan Hari Santri Nasional menjadi resolusi yang mampu dimaknai secara historis maupun kontekstual.

Saat ini resolusi jihad dimaknai sebagai momen kebangkitan santri ke arah yang lebih maju dan berkembang dalam jiwa nasionalisme. Resolusi santri masa kini menggambarkan gerakan santri untuk memerangi disinformasi di era digital.

(hil/sun)

Kamis, 19 Oktober 2023

Negara Ini Ternyata Tidak Miliki Satupun Masjid di Wilayahnya

*Negara Ini Ternyata Tidak Miliki Satupun Masjid di Wilayahnya* 

Kamis, 19 Oktober 2023 - 07:00 WIB Oleh : Deddy Setiawan 

VIVA Edukasi – Masjid menjadi tempat ibadah yang sangat penting bagi umat Islam. Selain itu, masjid juga jadi bagian tempat bersejarah dan ada hubungannya dengan pembangunan peradaban di setiap negara. Sekalipun di negara mayoritas non-muslim. 

Namun ternyata, ada beberapa negara yang tidak memiliki masjid lho!. Hal ini lantaran mayoritas penduduknya adalah non-muslim, hingga keterbatasan wilayah. Serta di antaranya karena kebijakan dari pemerintahan negara itu sendiri. Berikut VIVA rangkumkan lima negara yang tidak memiliki satupun masjid di wilayahnya: 

1. Monako 

Negara yang tidak memiliki masjid di wilayahnya yang pertama adalah Monako. Jika dilihat dari susunan peta, Monako ini termasuk negara terkecil di dunia. Sebuah negara kota berdaulat, yang terletak di Cote d'Azur di Eropa Barat.  

Selain itu, agama resmi Monako adalah Katolik Roma, dengan kebebasan beragama lain yang dijamin oleh konstitusi. Di negara ini ada lima gereja paroki Katolik Roma di Monako dan satu Katedral, di mana merupakan tempat kedudukan uskup agung di Monako. Umat Kristen dianut oleh 83,2 persen penduduk Monako. 

Nah untuk umat Islam sendiri memang terbilang sangat kecil di Monako. Untuk itu bagi muslim yang ingin beribadah, ia hanya bisa melakukannya di tempat masing-masing. Sementara jika ingin salat ke masjid, mereka harus ke luar wilayah Monako lebih dulu dan negara terdekatnya adalah Prancis. 

2. Vatikan 

Selanjutnya adalah Vatikan. Negara terkecil di dunia ini juga tidak memiliki masjid di dalamnya, lho. Selain dengan alasan luas wilayah negaranya sangatlah kecil, mayoritas masyarakat Vatikan adalah Katolik.

Letaknya di jantung Kota Roma, dan menjadi sumber nafas kehidupan bagi umat Katolik. Setiap tahunnya jutaan peziarah datang ke negara ini untuk beribadah, dan mencari berkat dari Paus. 
Maka hingga saat ini di negara Vatikan tidak pernah ada masjid. Jadi bagi umat Islam yang ingin pergi ke masjid, dan beribadah harus keluar negara ini terlebih dahulu. Negara tetangga yang paling dekat adalah ke Italia. 

3. Uruguay 

Kemudian ada Uruguay, negara yang tidak memiliki masjid di wilayahnya. Bahkan musala terkecil pun tidak akan ditemukan di sini. Lokasinya terletak di tenggara Amerika Selatan, dan negara ini memang tidak ada penduduk muslim di dalamnya. 
Perbatasan Uruguay di bagian Utara adalah Rio Grande do Sul, Brasil , di barat adalah Sungai Uruguay , di barat daya adalah muara Rio de la Plata dengan Argentina, dan di bagian selatan adalah Samudera Atlantik. 

Akan tetapi kedutaan Mesir dii Uruguay, menyediakan tempat salat bagi umat Islam yang ingin melaksanakan ibadah. Semacam musala yang letaknya ada di dalam kedutaan itu sendiri. 

4. Estonia 

Negara ini terletak di timur laut Eropa dan berbatasan dengan Laut Baltik, antara Swedia dan Rusia. Estonia merupakan salah satu negara Eropa dengan populasi muslim terkecil. Tak heran jika anda tidak akan menemukan satupun masjid berdiri di sana. 

Adapun umat muslim lazimnya mendatangi Pusat Kebudayaan Islam Turath di ibu kota Estonia, Tallinn untuk menunaikan ibadah salat berjamaah. 

5. Slovakia 

Terakhir adalah Slovakia yang merupakan negara pegunungan yang terkurung daratan di Eropa Tengah. Berbatasan dengan Polandia di utara, Hongaria di selatan, Ukraina di timur, Austria di barat daya, dan Republik Ceko di barat. 

Di Slovakia Anda tidak akan menemukan bangunan masjid satu pun. Hal ini lantaran, ini adalah negara dengan hukum paling ketat terhadap agama Islam. Di mana mereka bahkan memiliki undang-undang yang sah, sehingga membuat Islam tidak bisa diterima sebagai salah satu agama resmi negara.

Rabu, 18 Oktober 2023

14 Contoh Hikayat Melayu dan Jawa yang Terkenal

14 Contoh Hikayat Melayu dan Jawa yang Terkenal

Kompas.com, 16 Oktober 2023, 22:00 WIB  Retia Kartika Dewi Penulis


KOMPAS.com - Hikayat merupakan  satu warisan budaya nenek moyang kita. Sudah sepantasnya kita melestarikannya dengan cara membaca, menganalisis, dan mengambil pesan moral di dalamnya. 

Contoh-contoh hikayat Dilansir dari buku Sejarah Nasional Indonesia (2013) oleh Edi Hernadi, ada beberapa contoh hikayat-hikayat yang terkenal, misalnya:

1. Hikayat Iskandar Zulkarnain 

2. Hikayat Raja-Raja Pasai 

3. Hikayat Khaidir 

4. Hikayat si Miskin 

5. Hikayat 1001 Malam

6. Hikayat Bayan Budiman 

7. Hikayat Amir Hamzah

8. Hikayat Hang Tuah 

9. Hikayat Anggun Cik Tunggal 

10. Hikayat Panji Semirang 

11. Hikayat Dalang Indra Kusuma 

12. Hikayat Ramayana 

13. Hikayat Panca Tantra 

14. Hikayat Kalila dan Dimina  

Sebagai informasi, sebuah hikayat dibacakan sebagai hiburan, pelipur lara atau hanya untuk membangkitkan semangat juang.

Pengertian hikayat Berdasarkan buku Mengenal Karya Sastra Lama Indonesia (2020) oleh Kusinwati, hikayat berasal dari bahasa Arab "hikayah" yang berarti kisah, cerita, riwayat, atau dongeng.

Pengertian mengenai hikayat dapat ditelusuri dari tradisi Arab dan Melayu Lama. Dalam sastra Melayu Lama, hikayat dapat diartikan sebagai cerita rekaan berbentuk prosa panjang, berbahasa Melayu, yang menceritakan tentang kehebatan orang ternama lengkap dengan keanehan, kesaktian, serta mukjizatnya.

Itulah penjelasan mengenai contoh-contoh hikayat yang terkenal, beserta pengertian hikayat.

Asal usul Madura

 Asal usul terpisahnya Pulau Madura dari Pulau Jawa dapat dijelaskan melalui dua sudut pandang: proses geologis dan sejarah kultural yang be...