Asal usul terpisahnya Pulau Madura dari Pulau Jawa dapat dijelaskan melalui dua sudut pandang: proses geologis dan sejarah kultural yang berkembang dalam teks kuno serta cerita rakyat.
Fakta Geologis (Proses Alam)
Secara struktur bumi, Pulau Madura pada dasarnya tidak pernah berdiri sendiri. Pulau ini merupakan kelanjutan dari sistem sesar dan lipatan batu kapur di jalur utara Jawa Timur, yang membentang dari Rembang, Madura, Kangean, hingga perairan Sakala.
Terpisahnya Madura dari daratan utama Jawa bukan disebabkan oleh pergeseran lempeng tektonik atau gempa bumi besar. Pemisahan ini murni merupakan hasil dari perubahan eustatik (susut-genang air laut) pasca-Zaman Es.
• Ketika suhu bumi berangsur memanas, es di wilayah kutub mencair drastis.
• Dataran rendah yang awalnya menghubungkan daratan Jawa dan Madura perlahan tergenang air laut akibat proses erosi dan naiknya volume laut.
• Genangan yang membelah kedua daratan tersebut kini dikenal sebagai Selat Madura. Karena dulunya adalah daratan yang tergenang di atas Paparan Sunda, Selat Madura termasuk perairan yang dangkal dengan kedalaman rata-rata hanya 49 meter.
Catatan Sejarah (Kitab Negarakertagama)
Jejak pemisahan kedua pulau ini ternyata sempat direkam dalam literatur termasyhur peninggalan Kerajaan Majapahit, yaitu Kitab Negarakertagama karya Mpu Prapanca (ditulis pada 1365 M).
Dalam Pupuh XV ayat 2 teks tersebut, disebutkan secara spesifik bahwa daratan Jawa dan Madura terpisah pada tahun 124 Saka (sekitar 202 Masehi). Kitab ini menggunakan gaya bahasa kiasan "lautan menantang bumi" untuk menggambarkan sebuah peristiwa meluapnya air laut atau air pasang berskala besar yang akhirnya mengisolasi daratan Madura dari daratan utama Jawa.
Mitos dan Legenda (Raden Segoro)
Dalam Babad Madura dan tradisi lisan masyarakat setempat, asal mula pulau ini dibalut oleh kisah legenda dari Kerajaan Medang Kamulan.
Kisah ini berawal dari seorang putri raja bernama Raden Ayu Tunjung Sekar yang bermimpi didatangi bulan purnama dan tiba-tiba mengandung tanpa memiliki suami. Raja yang murka dan tak mempercayainya akhirnya mengutus patih untuk membuang sang Putri ke tengah laut menggunakan rakit atau getek.
• Asal Mula Nama Madura: Rakit tersebut terdampar di sebuah gugusan bukit (kini diyakini sebagai kawasan Gunung Geger, Bangkalan) yang daratannya baru terlihat saat laut surut, namun kembali tenggelam saat air pasang. Tempat itu disebut "Lemah Dhuro" (tanah yang tidak sungguhan). Versi legenda lain menyebutkan sang Putri berteduh di Ara-ara (tanah lapang yang luas) dan bertahan hidup dengan meminum madu, sehingga daerah itu dinamakan Madu-ra.
• Kelahiran Leluhur Madura: Di daratan sunyi itulah, sang Putri melahirkan bayi laki-laki tampan yang diberi nama Raden Segoro (Segoro berarti lautan). Raden Segoro diyakini sebagai penduduk atau leluhur pertama pulau tersebut. Ia kelak tumbuh menjadi kesatria sakti dengan pusaka tombak Kyai Nenggolo dan Kyai Aluquro, yang ironisnya kembali untuk menyelamatkan Kerajaan Medang Kamulan (kerajaan kakeknya) dari serangan musuh.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar