Senin, 09 Oktober 2023

SLG Gumul Kediri

 IG


*GUMUL LIMAN*


Lokasi monumen ini berada tepat di tengah pertemuan lima jalan yaitu arah Pare, Kediri, Plosoklaten, Pesantren dan Menang.


Monumen Simpang Lima Gumul atau disebut Monumen SLG atau Tugu SLG adalah bangunan yang menjadi ikon Kabupaten Kediri yang berbentuk bangunan pelengkung. Monumen SLG mulai dibangun pada tahun 2003 dan diresmikan pada tahun 2008, yang digagas oleh Bupati Kediri ke - 23 saat itu, Ir. Soetrisno.


Kenapa dinamakan Simpang Lima Gumul ?


Dinamakan Simpang Lima Gumul karena monumen itu berada di persimpangan jalur lima. Monumen SLG termasuk salah satu tempat di tanah air yang berjuluk 'Indonesia rasa luar negeri'. Sebab, struktur monumen yang megah ini memang mengingatkan pada monumen terkenal di Paris Perancis, Arc de Triomphe.


Bangunan Simpang Lima Gumul adalah monumen raksasa yang memiliki bentuk mirip dengan Arc de Triompe yang berada di Paris. Monumen setinggi 25 meter ini memiliki luas bangunan sekitar 804 meter persegi. Sementara untuk luas areanya sekitar 37 hektare.2


Simpang Lima Gumul menghadap kemana ?


Monumen Simpang Lima Gumul ini memiliki pintu masuk yang berada pada sisi sebelah barat sehingga monumen ini menghadap ke barat. Sama seperti candi yang ada di Jawa Timur. Ciri khas candi di Jawa Timur ini juga menghadap ke barat.

 

Apa arti gumul dalam bahasa Indonesia?


Kosakata kedua adalah Gumul. Menurut KBBI, Gumul artinya bayi yang bentuk tubuhnya bundar seperti bola, sewaktu lahir ke dunia.

#kediriberbudaya #kediri #kedirikekinian

Kamis, 05 Oktober 2023

HARI GURU SEDUNIA ke 29

 *HARI GURU SEDUNIA ke 29*

(5 Oktober 2023)

Berbeda peringatan hari Guru di Indonesia dan HUT PGRI yang diperingati tgl. 25 November. 

Banyak melibatkan siswa dan orang tua, meski hari khusus guru.

Bahkan sejak era kepemimpinan Bapak Barometer Pendidikan, Ikhsan (Kadispendik Surabaya sejak 1 Maret 2012 hingga 7 November 2019) telah mengadakan Apresiasi guru sebanyak 8 kali rotin tiap tahun bersama PGRI). Bulan November 2019 oleh Kadispendik Surabaya, Bp. Soepomo. Tahun 2020-2021 vakum karena masa Pandemi dan diganti APG daring. Tahun 2022, juga masih belum gebyar.

Kita tunggu Hari Guru 2023 di era Kadispendik Surabaya Bapak Yusuf Masruh.

Lebih dari 💯 Negara di dunia memperingati Hari Guru Sedunia setiap tanggal 5 Oktober sejak tahun 1994. 

Tujuan diperingatinya hari ini adalah untuk memberikan dukungan kepada para guru di seluruh dunia dan meyakinkan mereka bahwa keberlangsungan generasi pada masa depan ditentukan oleh guru.

Untuk Indonesia, 5 Oktober sebagai hari ABRI yang di era Orba lebih menonjol dan menjadi milik umum. Usai masa Reformasi, hari ABRI menjadi hari khusus untuk kalangan tertentu.

Menurut UNESCO, Hari Guru Sedunia mewakili sebuah kepedulian, pemahaman, dan apresiasi yang ditampilkan demi peran vital guru, yaitu mengajarkan ilmu pengetahuan dan membangun generasi.

Education International (EI), sebuah federasi yang mewakili pengajaran profesional di seluruh dunia, yakin bahwa Hari Guru Sedunia harus dikenal dan dirayakan di seluruh dunia. EI juga percaya bahwa prinsip-prinsip Rekomendasi 1966 dan 1997 harus dipertimbangkan untuk diimplementasikan ke seluruh dunia.

Selasa, 03 Oktober 2023

Sejumlah Wilayah Jawa Timur Akan Mengalami Hari Tanpa Bayangan, Ini Jadwalnya



Selasa, 3 Oktober 2023, 14:09 WIB

Penulis : Nanda Putu


 (beritajatim.com) – BMKG Juanda melaporkan waktu kulminasi utama di Jawa Timur akan terjadi mulai dari tanggal 11 hingga 14 Oktober 2023.


Menurut BMKG Juanda, kulminasi adalah fenomena ketika Matahari tepat berada di posisi paling tinggi di langit. Saat deklinasi Matahari sama dengan lintang pengamat, fenomenanya disebut sebagai Kulminasi Utama.


Pada saat itu, Matahari akan tepat berada di atas kepala pengamat atau titik zenit. Akibatnya bayangan benda tegak akan terlihat ‘menghilang’ karena bertumpuk dengan benda itu sendiri. Oleh karena itu, hari kulminasi utama dikenal juga sebagai hari tanpa bayangan.


Dikutip dari X BMKG Juanda, berikut ini waktu kulminasi utama tahun 2023 di sejumlah wilayah Jawa Timur :


11 Oktober 2023


Sumenep, 11.11 WIB


Bangkalan, 11.15 WIB


Tuban, 11.18 WIB


12 Oktober 2023


Pamekasan, 11.12 WIB


Sampang, 11.13 WIB


Sidoarjo, 11.15 WIB


Surabaya, 11.15 WIB


Gresik, 11.16 WIB


Mojokerto, 11.16 WIB


Lamongan, 11.16 WIB


Bojonegoro, 11.19 WIB


Ngawi, 11.20 WIB


13 Oktober 2023


Situbondo, 11.10 WIB


Probolinggo, 11.13 WIB


Pasuruan, 11.14 WIB


Jombang, 11.17 WIB


Kediri, 11.18 WIB


Nganjuk, 11.19 WIB


Madiun, 11.20 WIB


Magetan, 11.21 WIB


14 Oktober 2023


Banyuwangi, 11.08 WIB


Bondowoso, 11.10 WIB


Jember, 11.11 WIB


Lumajang, 11.13 WIB


Malang, 11.15 WIB


Batu, 11.16 WIB


Blitar, 11.17 WIB


Tulungagung, 11.18 WIB


Trenggalek, 11.19 WIB


Ponorogo, 11.20 WIB


Pacitan, 11.21 WIB


Itulah laporan waktu kulminasi utama di Jatim tahun 2023 dari BMKG Juanda. (nap)

GURU AGAMA di POLISI kan

 *Guru Agama Dipolisikan, PGRI dan AGPAII Galang Dukungan ke DPRD KSB*

by ArkiFM Friendly RadioOktober 2, 2023



Sumbawa Barat. Radio Arki – Kasus guru Pendidikan Agama Islam yang dipolisikan oleh salah satu wali siswa di SMKN 1 Taliwang terus berlanjut. Tidak adanya itikad damai dari pihak pelapor, membuat proses hukum guru honorer bernama Akbar Sorasa terus berlanjut di meja hijau. Puluhan guru yang tergabung dalam Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) dan Asosiasi Guru Pendidikan Agama Islam Indonesia (AGPAII) Kabupaten Sumbawa Barat (KSB), menindaklanjutinya dengan menggelar audiensi dengan DPRD KSB, Senin (2/10).

Ketua PGRI KSB, Muhammad Nasir, S.Pd., M.Pd mengatakan, kedatangan puluhan guru ke gedung wakil rakyat, sebagai bentuk harapan agar anggota DPRD KSB lebih memperhatikan kondisi dunia pendidikan hari ini, terutama berkaitan dengan kasus guru agama yang dipolisikan. “Kami kesini menggalang dukungan sekaligus menyampaikan aspirasi yang tertuang dalam pernyatakan sikap. Hal ini kami sampaikan, karena upaya mediasi yang dilakukan berkali-kali melibatkan pihak sekolah, kepolisian, hingga Sekretaris Daerah menemui jalan buntu,” katanya.

Dalam pernyataan sikapnya, perwakilan PGRI KSB, Salimsyah, S.Pd menyampaikan enam poin tuntutan. Pertama, menolak segala bentuk kriminalisasi terhadap guru. Kedua, lindungi profesi guru dari segala bentuk ketidakadilan. Ketiga, penegakan hukum harus objektif dan selektif dalam menangani kasus yang behubungan dengan guru.

Selain itu, dalam poin keempat ia mengimbau kepada orang tua untuk lebih kooperatif bersama sekolah dalam memberikan pendidikan yang layak untuk mewujudkan manusia yang berakhlak. Poin kelima menuntut pemda untuk memberikan perhatian kepada kasus hukum yang terjadi di dunia pendidikan, serta poin keenam meminta APH membebaskan Akbar Sorasa dari segala tuntutan.

Sementara itu, Ketua AGPAII KSB, Nurjihad, S.Ag., M.Pd, menyampaikan permohonan maaf yang sedalam-dalamnya atas kekhilafan guru PAI SMKN 1 Taliwang yang melakukan pemukulan terhadap siswa yang tidak segera beranjak untuk menunaikan sholat zuhur berjamaah. “Kejadian itu terjadi, setelah sebelumnya beberapa kali mengajak siswa bersama-sama menuju masjid, namun tidak dihiraukan. Hal itu kemudian menimbulkan keberatan orang tua siswa yang bersangkutan,” kata dia, memulai pernyataan sikap AGPAII KSB.

Dalam poin selanjutnya, AGPAII menyesalkan sikap orang tua murid yang cenderung tidak kooperatif terhadap upaya perdamaian dan penyelesaian kasus secara kekeluargaan oleh pihak sekolah dan keluarga guru yang bersangkutan.

“Kami mengutuk sikap orang tua murid yang bersemangat menuntut dan memenjarakan guru anaknya sendiri. Sementara orang tua dan siswa tersebut tidak menunjukkan sikap sebagai pembelajar yang baik, tidak mendukung program pemerintah daerah tentang wajib belajar 12 tahun. Hal ini ditunjukkan dengan terjadinya pembiaran untuk tidak bersekolah hingga memasuki semester ke-3 siswa yang bersangkutan dalam kondisi sehat,” jelasnya.

AGPAII juga mengkritik sikap orang tua murid yang menyodorkan nilai nominal harga damai yang sangat tidak masuk akal dibandingkan dengan kerugian yang dialami oleh siswa selaku korban dan tidak mempertimbangkan kemampuan guru yang bersangkutan untuk memenuhinya. “Bagi AGPAII KSB, sikap yang ditunjukkan orang tua korban adalah bentuk ketidakadilan dan telah melanggar Permendikbud No 10 Tahun 2017 tentang Perlindungan Pendidik dan Tenaga Kependidikan,” jelasnya.

Ia juga berharap para penegak hukum agar melihat kasus ini secara adil dan proporsional. Jika putusan hakim tidak bisa membebaskan guru PAI tersebut, maka AGPAII Sumbawa Barat akan meneruskan konsolidasi ini kepada kemendikbudristek dan Kementerian Agama RI, sesuai pasal 3 ayat 2 Permendikbud no 10 tahun 2017. “Kami juga mengimbau kepada seluruh masyarakat agar menghargai profesi guru agama yang ditugaskan oleh Negara untuk mengajarkan ilmu agama, mengembangkan karakter dan moral, serta membimbing siswa untuk taat beragama sesuai kepercayaannya masing-masing,” tandasnya.

Pernyataan sikap PGRI dan AGPAII kemudian diserahkan secara tertulis kepada Wakil Ketua DPRD KSB, Merliza, S.Sos.I, MM. Politisi Partai Gerindra itu menyampaikan dukungan mendukung gerakan PGRI dan AGPAII secara moril. “Secara pribadi saya mendukung apa yang disuarakan oleh teman-teman, agar semuanya mendapatkan keadilan sebagaimana mestinya. Berkaitan dengan respon DPRD KSB secara kelembagaan, saya meminta waktu dua hari untuk membahas hal ini dengan anggota DPRD lainnya,” tandasnya. (Enk. Radio Arki)

KTS Surabaya

Saat menjadi guru, saya sudah mengajak siswa berkunjung ke Tugu Pahlawan (tahun 1986), Hotel Majapahit, Museum Mpu Tantular yang masih di Wonokromo dengan mengajukan perizinan yang cukup jlimet.

Saat itu, siswa masih dapat naik ke atas Tugu Pahlawan.

Ke Hotel Majapahit, belum ada siswa SD yang pernah ke situ. 

Biasanya : Pelajar SMA dan Mahasiswa.

Bahkan manajemen, akhirnya membuatkan Cerita dalam bentuk selebaran.

Siswa diajak naik ke dekat Tiang Penyobekan Bendera Belanda (lantai 2). Di ajak masuk kamar yang biasanya digunakan oleh Presiden Sukarno dan Suharto bila ke Jatim (Surabaya).

Museum Mpu Tantular juga masih belum digemari siswa SD.

Untuk Luar kota (masih diijinkan)

Tahun 1990 mengajak siswa berkemah (Matsamin) ke Pendopo Trowulan dengan penjelajahan ke Makam Panjang (Troloyo), Candi Badut, Candi Tikus, Candi Menakjinggo, Candi Sumur Upas, Petilasan Raden Wijaya, dan Candi Brahu di Bejijong.

Terus ke tahun-tahun dengan pindah tempat.

Tahun 2005, mengajak siswa belajar IPA (PERKEMBANGAN TUMBUHAN) ke Kebun Raya Purwodadi, lanjut ke Candi Jawi.

Untuk area Malang : siswa diajak ke Candi Wendit, Candi Jago,  Candi Kidal, Candi Singasari, Candi Songgoriti kurun waktu bergantian tahun.

Kalau Yogjakarta, pastinya teman-teman mengajak siswa ke Candi Prambanan.

Saya menambahkan dengan Candi Kalasan, Candi Ratu Boko, dan Candi Sewu.

Jika ke Jateng pastinya ke Candi Borobudur.

Saya tambahkan Candi Pawon dan Wendit.

Jika ke Bali, juga ke Candi di samping wisata pantai dan gunung.

Untuk yang Beragama Islam: ambil Wali Limo (Ampel, Giri, Malik Ibrahim, Bonang, dan Drajat).

Waktu itu : bahagia, bebas merdeka.

Sejak Surabaya memberikan Bopda, mulailah larangan ke luar kota terutama sejak 2012 dan di tambah ada beberapa laka siswa yang ke luar kota.

Historiografi Pemberontakan PKI di Indonesia

Hendra Fokker

Pegiat Sosial - Pegiat Sosial

Buruh Kognitif yang suka jalan-jalan sambil mendongeng tentang sejarah dan budaya untuk anak-anak di jalanan dan pedalaman. Itu Saja.

2 Oktober 2023   05:45 Diperbarui: 2 Oktober 2023   05:45 827 15 2

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Menuliskan ulang mengenai peristiwa Gerakan 30 September 1965 memang dapat dilakukan melalui berbagai tafsir atau teori. Banyak alasan yang kiranya dapat menjadi refleksi untuk mengkisahkannya melalui sudut pandang yang realisits. Tentunya melalui berbagai metode komparasi data validnya. Selain dari verifikasi secara langsung dari penelitian yang dapat dipertanggung jawabkan.

Berbagai versi, yang menjelaskan mengenai latar belakangnya, pun tak luput dari perhatian realitas politik kala itu. Perseteruan antar golongan, konflik ideologi, atau bahkan adu jago dalam kekuatan massa, menjadi hal lumrah para panggung pemerintahan. Konsep Nasakom, memang akhirnya digadang-gadang oleh Presiden Soekarno, untuk "memfasilitasi" perbedaan tersebut.

Walaupun di lapangan, banyak konflik sosial yang terjadi sebagai konsekuensi politis antar partai melalui basis massa pendukungnya. Inilah relevansi yang dapat dikaitkan sebagai pemantik terjadinya revolusi sosial di berbagai daerah. Selain dari realitas politik dunia, yang tengah memasuki masa Perang Dingin.

Perseteruan antara Blok Barat (kapitalis) dengan Blok Timur (sosialis/komunis), memang membuat negara-negara di kawasan Asia Tenggara memanas. Memperebutkan pengaruh, dan intervensi terhadap negara dunia ketiga, menjadi agenda para negara adidaya yang menganggap dirinya sebagai pemenang Perang Dunia II.

Pun di Indonesia, khususnya selama kurun waktu tahun 1948 hingga 1965. Dimana klimaksnya adalah meletusnya peristiwa G 30 S/PKI. Selama rentang waktu yang panjang itulah, berbagai peristiwa terjadi, seperti rangkuman historiografi dibawah ini:

_Awal Tahun 1948_

Bangsa Indonesia yang kala itu tengah menghadapi Belanda, justru dihadapkan dengan upaya pemberontakan FDR/PKI dibawah Amir Syarifuddin dan Musso. Disebutkan muasalnya adalah gagalnya Perjanjian Renville, yang kala itu dipimpin oleh Amir Syarifuddin. Hal inilah yang kemudian membuatnya meletakkan jabatan sebagai Perdana Menteri pada 23 Januari 1948.  

_Februari 1948_

Sebagai pimpinan kelompok sayap kiri, Amir Syarifuddin akhirnya berkolaborasi dengan kelompok oposisi untuk melampiaskan rasa kecewa terhadap Pemerintah RI. Kabinet Hatta, sebagai penggantinya, menjadi target utamanya. Serangan terhadap kebijakan Hatta, terkait Rekonstruksi dan Rasionalisasi Tentara, membuat Amir mendirikan Front Demokrasi Rakyat (FDR) pada Februari 1948.

_Maret-Juni 1948_

FDR mulai menghimpun kekuatan tentara dan milisi yang menentang Program Rera Hatta. Seperti dari Divisi Penembahan Senopati, TNI-Masyarakat, Pemuda Sosialis, Pesindo, SOBSI, dan elemen dari Partai Komunis Indonesia (PKI). Puncaknya adalah mobilisasi kekuatan dalam melakukan aksi pemogokan di Delanggu pada 23 Juni 1948.

_Juli 1948_

Mulai terjadi ketegangan antara pasukan Republik dengan FDR di Surakarta. Posisi saling intimidasi, ancam, bahkan penculikan telah marak antar pasukan. Ditambah dengan hadirnya Divisi Siliwangi ke berbagai kota di Jawa Tengah, yang "hijrah" dari Jawa Barat usai Perundingan Renville diberlakukan.

_Agustus 1948_

Musso kembali ke Indonesia, usai pelariannya dari luar negeri. Dengan gagasan membentuk "Jalan Baru" sebagai upaya sikap oposisi terhadap pemerintah. Kehadiran Musso, membuat para pimpinan dari milisi sosialis/komunis bersatu. Termasuk Amir Syarifuddin dengan FDR-nya. Serta merta, Musso pun didapuk menjadi pempinan PKI bersama FDR sebagai basis kekuatan bersenjata.

_September 1948_

Konflik yang terjadi di Surakarta akhirnya menimbulkan "perang saudara". Aksi saling culik dan serang antar pasukan dan milisi bersenjata terjadi dimana-mana. Khususnya antara pasukan Republik dengan pasukan oposisi. Hingga membuat Kolonel Gatot Soebroto mengeluarkan perintah harian, untuk menindak tegas para pengacau di Surakarta.

Huru-hara di Surakarta membuat pasukan FDR/PKI memilih untuk memusatkan kekuatan di Madiun. Pemerintahan Soviet Madiun pun dideklarasikan pada 18 September 1948. Selama pendudukan Madiun, terjadi pembantaian terhadap lawan politik FDR/FDR. Seperti terhadap para santri dan kaum nasionalis di Magetan.

Rata-rata para korban kebiadaban FDR/PKI ditemukan dalam sumur-sumur tua. Bahkan ada yang diketemukan pada sebuah gudang di Pabrik Gula Gorang-Gareng. Dikishkan pula bahwa Gubernur pertama Jawa Timur R.M. Soerjo juga menjadi korban pada peristiwa di Madiun. Hingga membuat Jenderal Soedirman bergidik ketika melihat pembantaian disana.

_Oktober 1948_

Aksi FDR/PKI pun akhirnya ditumpas dengan tegas oleh pemerintah. Khususnya terhadap para pemimpin pemberontakan, seperti Musso yang ditembak mati, dan Amir Syarifuddin dengan vonis hukuman mati usai tertangkap. Sisanya, "diberitakan" melarikan diri ke luar negeri seperti D.N. Aidit dan Lukman. Sedangkan Soemarsono dan Nyoto, memilih melarikan diri ke wilayah Belanda.

_Tahun 1950_

Kala itu, pemerintah sudah tidak lagi menganggap PKI bermasalah. Kecamuk Perang Dingin semakin mempengaruhi iklim politik di Indonesia, hingga tahun 1955. Dimana PKI mulai bangkit dengan jargon "anti kapitalisme"nya, targetnya tentu saja gelaran pemilu di tahun 1955. Dengan mayoritas massa pendukungnya dari kalangan bawah/rakyat jelata.

Pada dasawarsa ini, konstelasi Perang Dingin, memang menjadi pemicu lahirnya semangat perlawanan terhadap bangsa barat. Sedangkan posisi Indonesia secara politis lebih condong ke bangsa timur, lantaran kebijakan luar negeri bangsa barat justru banyak menghasilkan konflik antar negara di Asia Tenggara, seperti di Korea dan Vietnam.

_Tahun 1955_

Gelar pemilu dimenangkan oleh partai-partai yang memiliki jumlah suara besar. Dimana PKI berhasil menjadi partai ke 4 dengan perolehan 6 juta suara. Semangat anti penjajahan pun kembali mengemuka, dengan wacana revolusi nasional sebagai counter dalam pengaruh kepentingan politik global. Disinilah PKI berhasil memainkan peran sentranya dalam kebijakan pemerintahan.

Kuatnya pengaruh PKI inilah yang kemudian menjadi cikal bakal perseteruan antar partai di parlemen. Serta memantik lahirnya aksi perlawanan bersenjata di beberapa daerah, seperti PRRI/Permesta.

_Tahun 1960_

Dekrit Presiden 1959 sebenarnya jadi awal PKI memaksimalkan pengaruhnya di pemerintahan. Tak terkecuali di daerah-daerah basis massa PKI, yang telah menebar konflik sosial terhadap lawan politiknya. Seperti di Klaten dan Boyolali, aksi sepihak massa PKI telah memakan korban jiwa dari penduduk. Targetnya adalah kaum santri, ulama, dan pamong praja.

_Tahun 1961_

Seperti yang dijelaskan oleh Rosihan Anwar, bahwa organisasi sayap PKI telah membuat berbagai huru-hara sosial-budaya. Puncak perseteruannya makin jelas pada tahun 1961, antara Lekra vs Manikebu. Selain itu organisasi sayap di kalangan mahasiswa CGMI juga melakukan perseteruan dengan HMI. Tuntutan kerasnya adalah pembubaran HMI kepada Presiden Soekarno.

Peristiwa Djengkol di Kediri meletus, kala organisasi sayap PKI, BTI melakukan penyerobotan tanah negara. Kala itu, banyak korban jiwa dari kedua belah pihak. Tak terkecuali rakyat, yang kemudian merasa terancam atas aksi-aksi sepihak BTI disana.

_Tahun 1962_

Pertentangan antara Presiden Soekarno dengan TNI semakin mengemuka. Lantaran TNI dianggap menentang kebijakan-kebijakan yang pro terhadap PKI. Apalagi kala PRRI/Permesta meletus, banyak anggota TNI yang memilih untuk menentang pemerintah. Bahkan mantan Wakil Presiden Moh. Hatta kediamannya diteror oleh massa PKI di Jakarta.

_Tahun 1963_

Terjadi penangkapan terhadap tokoh-tokoh agama, seperti Buya Hamka, Isa Anshari, hingga Ghazali Sahlan. Mereka yang terlibat dalam Masyumi pun tidak luput dari amuk massa PKI. Selain dari memanasnya hubungan luar negeri antara Indonesia dengan Malaysia. Dimana keputusan untuk melakukan konfrontasi dengan Malaysia pun memantik reaksi dunia.

_Tahun 1964_

Chaerul Saleh, pimpinan Partai Murba mengemukakan bahwa PKI hendak melakukan kudeta. Hal ini terkait dengan upaya mobilisasi kekuatan bersenjata yang pro PKI agar dapat "diatur" oleh D.N. Aidit. Selain dari upaya mempersenjatai buruh dan tani yang menjadi organisasi sayap PKI.

_Tahun 1965_

Pertentangan PKI dengan TNI makin menjadi, sebagai dampak dari upaya membentuk angkatan kelima. Jenderal Ahmad Yani secara tegas menentang upaya mempersenjatai buruh dan tani. Walaupun Indonesia tengah memasuki masa genting dalam menghadapi Malaysia. Di tahun yang sama, Partai Murba akhirnya dibekukan, karena sikap pertentangan Chaerul Saleh kepada pemerintah.

Huru-hara di tahun 1965 pun semakin menjadi di berbagai daerah. Khususnya antara massa PKI dengan golongan santri, peristiwa Kanigoro kiranya dapat menjadi saksi yang dapat mengkisahkan konflik sosial berlatar politik tersebut. Belum lagi di Sumatera dan Bali, aksi sepihak yang ditujukan kepada golongan nasionalis pun berakhir dengan tragis.

Puncaknya tentu saja peristiwa di malam 1 Oktober 1965. Tujuh jenderal TNI diculik dan dibunuh di Lubang Buaya oleh massa PKI, serta dua perwira TNI di Jogjakarta pada 2 Oktober 1965. D.N. Aidit bersama Syam Kamaruzaman disebut-sebut sebagai aktor dibalik aksi tersebut. Melalui Letkol Untung dari Resimen Tjakrabirawa yang menjadi eksekutor lapangannya.

Sejarah panjang perilaku politik PKI memang memberi kesan tersendiri dalam panggung sejarah Indonesia. Tak lain karena sikap pertentangannya terhadap kepentingan nasional. Dengan berbagai pendekatan historis yang sama-sama dapat memberi abstraksi secara positif atau negatif. Kiranya kurang lebih ada jutaan nyawa meninggal selama konflik tersebut terjadi.

Pun terhadap realitas sosial-politik pasca peristiwa 1 Oktober terjadi. Dimana rentetan peristiwa yang kemudian terjadi merupakan dampak dari konflik politik dan ideologi. Jatuhnya pemerintahan Soekarno dan digantikan oleh Soeharto, adalah bunga rampai masa Orde Baru dengan beragam realitanya.

Semoga kita selalu dapat belajar dari sejarah bangsa ini. Salam damai, dan terima kasih.

Senin, 02 Oktober 2023

Kisah Hidup Bung Karno, Dari Kusno Mejadi Soekarno Hingga Achmed Soekarno

Reporter: Tim Redaksi RM | Editor: Amris | Selasa 03-10-2023,05:00 WIB

RADARMUKOMUKO.COM - Orang Indonesia bahkan dunia, tidak ada yang tidak tahu dengan sosok Soekarno. Ia adalah bapak bangsa Indonesia atau presiden pertama Republik Indonesia bersama Dr. Drs. H. Mohammad Hatta. Keduanya tokoh utama kemerdekaan yang membacakan tek proklamasi 17 Agustus 1945.

Soekarno lahir di Blitar pada 6 Juni 1901 dengan nama kecil Kusno, anak dari pasangan Raden Soekemi Sosrodihardjo dan Ida Ayu Nyoman Rai.

Melansir dari pdiperjuangan-jatim.com, Sejak usia kurang dari 6 tahun, Sukarno harus berpisah dengan bapak dan ibunya. Soekarno tinggal di Tulungagung, di tempat kakek dan neneknya, orang tua dari Raden Soekemi Sosrodihardjo.

Kepindahan Kusno atas permintaan sang nenek seperti diakui Sukarno dalam buku Penyambung Lidah Rakyat Indonesia, karya Cindy Adams.

“Saat itu aku memasuki usia kanak-kanak, nenek dari pihak bapak berkata: Berikanlah anak itu kepadaku untuk sementara. Aku akan memeliharanya.”

Bersama kakek dan neneknya di Tulungagung  Sukarno kecil tidaklah bergelimang harta. Namun, juga tidak terlalu kekurangan, sebab sang nenek mempunyai usaha di bidang batik.

“Setidak-tidaknya dia sanggup memberiku makan,” kata Bung Karno.

Namun kemudian pada 1909, Kusno kembali tinggal dengan bapak dan ibunya di Mojokerto. Sang ayah ditugaskan sebagai kepala Eerste Inlandse School dan Soekarno sekolah disana. 

Setelah bersama orang tuanya, Soekarno mengganti namanya dari Kusno menjadi Soekarno, alasannya agar dirinya tidak sakit-sakitan lagi dan dapat tumbuh dengan sehat.

Dilansir dari wikipedia, nama tersebut diambil dari seorang panglima perang dalam kisah Bharata Yudha yaitu Karna. Nama "Karna" menjadi "Karno" karena dalam bahasa Jawa huruf "a" berubah menjadi "o" sedangkan awalan "su" memiliki arti "baik"

Diketahui, sejak kecil Soekarno memang sudah menjadi anak yang berprestasi bahkan mampu menguasai banyak bahasa, makanya kecerdasan Soekarno dikenal oleh dunia.

Semasa sekolah dasar hingga tamat, Soekarno indekos di rumah Haji Oemar Said Tjokroaminoto (HOS Tjokroaminoto) yang merupakan politisi kawakan pendiri Syarikat Islam. 

Kemudian melanjutkan sekolah di Hogere Burger School (HBS). Seiring waktu Soekarno telah memupuk rasa nasionalisme dalam sanubarinya. 

Setelah dari HBS pada tahun 1920, Soekarno pindah ke ibukota Jawa Barat dan melanjut ke Technische Hoogeschool (TSH) atau sekolah Teknik Tinggi yang sekarang disebut sebagai Institut Teknologi Bandung hingga berhasil meraih gelar insinyur pada 25 Mei 1926.

Sebetulnya sebelumnya Soekarno sudah turun politik, pertama kali pada tahun 1915 saat menjadi anggota Jong Java Cabang Surabaya. 

Soekarno kemudian mendirikan Algemeene Studie (ASC) di Bandung pada tahun 1926 yang merupakan hasil inspirasi dari Dr. Soetomo di Indonesische Studie Club.

Organisasi ASC inilah yang menjadi cikal bakal berdirinya partai besar di Indonesia, Partai Nasional Indonesia yang lahir tahun 1927.

Berkat aktif di organisasi PNI itulah Soekarno beberapa ditangkap Belanda karena dianggap membahayakan pemerintah kolonial.

Diketahui, juga di beberapa negara Barat, nama Soekarno kadang-kadang ditulis Achmed Soekarno. Dimana terjadi karena ketika Soekarno pertama kali berkunjung ke Amerika Serikat, sejumlah wartawan bertanya-tanya, "Siapa nama kecil Soekarno?". 

Karena mereka tidak mengerti kebiasaan sebagian penamaan di Indonesia, terutama nama Jawa, yang hanya menggunakan satu nama saja atau tidak memiliki nama keluarga.

Soekarno menyebutkan bahwa nama Achmed didapatnya ketika menunaikan ibadah haji. Dalam beberapa versi lain, disebutkan pemberian nama Achmed di depan nama Soekarno, dilakukan oleh para diplomat muslim asal Indonesia yang sedang melakukan misi luar negeri dalam upaya untuk mendapatkan pengakuan kedaulatan negara Indonesia oleh negara-negara Arab.

Dalam buku Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia dijelaskan bahwa namanya hanya "Sukarno" saja, karena dalam masyarakat Indonesia bukan hal yang tidak biasa memiliki nama yang terdiri satu kata.*

Asal usul Madura

 Asal usul terpisahnya Pulau Madura dari Pulau Jawa dapat dijelaskan melalui dua sudut pandang: proses geologis dan sejarah kultural yang be...