Selasa, 29 September 2026

MBAH IDHAM

 DITAHAN BELANDA, MBAH IDHAM MALAH SHALAT HAJAT 85 RAKAAT DI PENJARA



Malam itu, tubuh KH Idham Chalid sudah tidak berdaya.


Beliau berada di dalam tahanan Belanda. Tubuhnya telah mengalami berbagai penyiksaan. Ditendang, disetrum, bahkan penglihatannya sempat terganggu akibat perlakuan para penjajah.


Tetapi ada satu hal yang tidak berhasil mereka ambil dari dirinya:


keteguhan untuk beribadah.


Pada 27 Maret 1949, KH Idham Chalid ditangkap tentara Belanda karena dituduh terlibat dalam perjuangan melawan mereka. Ia kemudian menjalani penahanan selama sekitar 40 hari dan mengalami berbagai penyiksaan. Dampaknya bahkan dirasakan sampai usia lanjut, berupa tulang punggung yang bengkok. Kisah ini ia ceritakan dalam memoarnya, *Napak Tilas Pengabdian Idham Chalid*. 


Ada satu malam yang sangat berat.


Seorang penjaga penjara Belanda bahkan menakut-nakuti Idham:


“Besok Guru akan kita kirim ke akhirat.”


Idham memahami maksudnya.


Ia mengira dirinya akan ditembak mati.


Tetapi daripada larut dalam ketakutan, ia memilih melakukan sesuatu yang sangat khas seorang santri:


beribadah.


Selepas Isya, ia melakukan shalat hajat.


Bukan dua rakaat.


Bukan empat rakaat.


Menurut riwayat yang dimuat NU Online, beliau melakukan shalat hajat **41 kali**.


Karena setiap shalat hajat dikerjakan dua rakaat, berarti:


41 × 2 = 82 rakaat.


Kemudian ditutup dengan shalat witir tiga rakaat.


Totalnya:


**85 RAKAAT.**


Dan semua itu dilakukan di dalam penjara.


Untuk menghitung rakaatnya, beliau menggunakan **batu-batu kecil atau kerikil yang ada di dalam sel**.


Selama kurang lebih tiga sampai empat jam beliau beribadah.


Bayangkan suasananya.


Tidak ada sajadah yang nyaman.


Tidak ada lampu masjid yang terang.


Tidak ada suara imam.


Tidak ada santri yang menemani.


Yang ada hanya sebuah sel tahanan, tubuh yang sedang sakit, penjagaan tentara Belanda, dan kemungkinan bahwa pagi berikutnya ia akan ditembak.


Tetapi justru di tempat seperti itulah seorang santri menunjukkan kepada kita arti tawakal.


Beliau tidak tahu apa yang akan terjadi esok hari.


Tetapi beliau tahu apa yang harus dilakukan malam itu:


menghadap Allah.


Setelah menyelesaikan ibadahnya, Idham kemudian beristirahat.


Dalam memoarnya, ia menceritakan pengalaman mimpi setelah itu. Ia bermimpi bertemu Rasulullah ﷺ setelah diajak oleh sepupunya, Abdul Manan.


Dalam mimpi tersebut, Rasulullah ﷺ menyampaikan kepadanya:


**“Anak! Kamu selamat.”**


Pagi harinya, Idham memang tidak jadi ditembak mati. Ia dipindahkan ke penjara Kandangan.


Kisah mimpi tersebut tentu merupakan **pengalaman pribadi yang diceritakan dalam riwayat hidup beliau**, bukan sesuatu yang perlu kita klaim sebagai fakta yang dapat diverifikasi secara lahiriah.


Tetapi ada satu bagian yang tidak membutuhkan penafsiran macam-macam:


ketika tubuhnya disiksa, beliau tetap berusaha menjaga shalat dan doa.


Dan mungkin justru di situlah letak pelajaran terbesarnya.


Kita sering berdoa ketika keadaan sulit.


Tetapi ketika kesulitan datang, kita kadang justru kehilangan ketenangan.


Mbah Idham menunjukkan sesuatu yang berbeda.


Ketika manusia membuatnya takut, beliau menghadap Allah.


Ketika tubuhnya tidak berdaya, beliau memperbanyak ibadah.


Ketika masa depan tidak jelas, beliau tetap menjalankan apa yang bisa dilakukan pada malam itu.


Allah berfirman:


وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ


“Mohonlah pertolongan dengan sabar dan shalat.”


(QS. Al-Baqarah: 45)


Kisah ini juga mengingatkan kita bahwa keberanian seorang ulama tidak selalu terlihat dalam bentuk perlawanan fisik.


Kadang keberanian itu justru terlihat ketika seseorang sendirian di dalam sel, tidak tahu apakah besok masih hidup atau tidak, tetapi tetap mampu berdiri menghadap kiblat.


Belanda bisa menahan tubuhnya.


Belanda bisa menyiksanya.


Bahkan penglihatannya sempat terganggu.


Tetapi mereka tidak berhasil membuatnya berhenti berdoa.


Itulah keteguhan seorang santri.


Bukan berarti tidak takut.


Tetapi ketika rasa takut datang, ia tahu kepada siapa harus kembali.


**Malam itu Mbah Idham tidak tahu apakah esok akan hidup atau mati.**


Tetapi beliau memilih menghabiskan malamnya dengan shalat.


Semoga kita yang hidup dalam keadaan jauh lebih aman ini tidak kalah kuat dalam beribadah.


اللَّهُمَّ ثَبِّتْ قُلُوبَنَا عَلَى دِينِكَ، وَأَعِنَّا عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ.


Ya Allah, teguhkan hati kami di atas agama-Mu dan bantulah kami untuk selalu mengingat-Mu, mensyukuri nikmat-Mu, dan memperbaiki ibadah kami.


آمِينَ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PMP ?

 Alasan Penting Mengapa Pelajaran Pendidikan Moral Pancasila (PMP) Perlu Diadakan Kembali Di tengah perkembangan zaman yang semakin cepat, k...