Selasa, 29 September 2026

Cakrabirawa

 DARI SEKITAR 3.000 PENGAWAL SOEKARNO, HANYA SEBAGIAN KECIL YANG TERSERET G30S, KESAKSIAN PELAKU, WAKIL KOMANDAN, DAN SEJARAWAN MEMBONGKAR STRUKTUR ASLI CAKRABIRAWA



Kata "Cakrabirawa" hampir selalu berujung pada satu gambaran: pasukan berseragam yang mengetuk pintu rumah para jenderal pada dini hari 1 Oktober 1965. Padahal Cakrabirawa adalah resimen besar dengan ribuan prajurit. Menyamakan semuanya dengan pelaku G30S adalah penyederhanaan, dan di sisi lain, membahas struktur resimen tidak boleh menghapus fakta bahwa tujuh perwira Angkatan Darat menjadi korban.


Resimen Tjakrabirawa dibentuk pada 6 Juni 1962, bertepatan dengan hari ulang tahun Presiden Soekarno, lewat Surat Keputusan Presiden/Panglima Tertinggi ABRI Nomor 211/PLT/1962. Latarnya adalah rangkaian percobaan pembunuhan terhadap Soekarno, yang terakhir terjadi pada 14 Mei 1962. Sebelumnya, pengamanan presiden dipegang Detasemen Kawal Pribadi yang dipimpin Komisaris Besar Polisi Mangil Martowidjojo.


Anggotanya dipilih dari empat angkatan, yaitu Angkatan Darat, Angkatan Laut, Angkatan Udara, dan Kepolisian, dengan kekuatan diperkirakan sekitar 3.000 orang. Nama Tjakrabirawa diambil dari senjata milik Batara Kresna dalam pewayangan. Komandan resimennya Brigjen Mohamad Sabur, dengan wakil Kolonel CPM Maulwi Saelan.


Struktur resimen ini bukan satu kesatuan yang bergerak bersama. Ada Detasemen Kawal Pribadi, Detasemen Pengawal Chusus, dan Batalyon Kawal Kehormatan (KK) yang terdiri dari empat batalyon. Batalyon I berasal dari Angkatan Darat, Batalyon II dari Korps Komando Angkatan Laut (KKO) di bawah Johannes Saminu, Batalyon III dari Pasukan Gerak Tjepat (PGT) Angkatan Udara di bawah Sutoro, dan Batalyon IV dari Brigade Mobil di bawah AKBP M. Satoto. Batalyon I dan II bertugas di Jakarta, sedangkan Batalyon III dan IV menjaga istana di Bogor, Cipanas, Yogyakarta, dan Tampaksiring.


Pada 1965, Batalyon I dipimpin Letnan Kolonel Untung Syamsuri, yang menggantikan Mayor Ali Ebram. Untung adalah komandan satu batalyon, bukan komandan seluruh resimen. Salah satu kompi di bawahnya, Kompi C, dipimpin Letnan Satu Dul Arif, yang kemudian menjadi komandan Pasukan Pasopati, ujung tombak penculikan.


Berapa banyak prajurit Cakrabirawa yang benar-benar terlibat? Jawabannya tidak tunggal. Tirto menyebut sekitar 60 orang yang berhasil dikumpulkan Untung dan Dul Arif, atau sekitar dua persen dari resimen. Brigjen Sabur pada 1965 menyebut 106 anggota Batalyon I, sementara Maulwi Saelan menyebut satu peleton dan Julius Pour menyebut satu kompi. Angkanya berbeda-beda, tetapi semuanya jauh di bawah 3.000. Tirto juga mencatat Kompi C bergabung dengan pasukan dari Batalyon 454 dan Brigif I Jayasakti dalam operasi itu.


Salah satu suara dari lapangan adalah Sersan Mayor Bungkus, ejaan lain Boengkoes, komandan peleton Kompi C yang memimpin 18 orang untuk menjemput Mayjen M.T. Haryono. Ia diwawancarai sejarawan Benedict Anderson dan Arief Djati pada 2002, dan hasilnya terbit di jurnal Indonesia edisi Oktober 2004.


Menurut ingatan Bungkus, Dul Arif memberi briefing bahwa perintah datang dari komandan batalyon dan misinya menggagalkan kudeta Dewan Jenderal. Perintahnya menangkap para jenderal, hidup atau mati. Bagi prajurit di lapangan, ini dipahami sebagai perintah militer lewat jalur komando, bukan tugas partai politik.


Penjelasan ini tidak menghapus tanggung jawab. Bungkus dijatuhi hukuman mati yang tidak pernah dieksekusi, lalu mendekam di Cipinang lebih dari 30 tahun sebelum bebas pada akhir 1990-an. Korban tetap jatuh: Letjen Ahmad Yani, Mayjen R. Soeprapto, Mayjen M.T. Haryono, Mayjen S. Parman, Brigjen D.I. Panjaitan, Brigjen Sutoyo Siswomiharjo, dan Lettu Pierre Tendean yang dikira sasaran utamanya. Jenderal A.H. Nasution selamat, tetapi putrinya, Ade Irma Suryani, terluka dan kemudian meninggal, sementara penjaga rumah Wakil Perdana Menteri Leimena, K.S. Tubun, ikut gugur.


Setelah G30S gagal, nama Cakrabirawa ikut runtuh. Resimen dibubarkan pada 28 Maret 1966, beberapa pekan setelah Supersemar. Tugas pengamanan presiden dialihkan ke Satgas Pomad Para di bawah Polisi Militer Angkatan Darat. Satgas itu kemudian menjadi Pasukan Pengawal Presiden pada 1976, dan pada 1988 berganti nama menjadi Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres). Sejumlah sumber mencatat banyak eks personel Cakrabirawa diburu, diperiksa, dan ditahan setelah pembubaran.


Cakrabirawa adalah satuan resmi negara di bawah struktur militer dan kepolisian, bukan organisasi milik partai mana pun. Peran organisasi lain dalam G30S adalah perdebatan sejarah tersendiri yang tidak dibahas di sini. Yang bisa dikatakan dengan aman: sebagian kecil personel, terutama dari Batalyon I di bawah Untung, terlibat dalam operasi, dan bukan seluruh resimen.


Pelajarannya bukan soal membela atau menyalahkan sebuah nama kesatuan, melainkan soal ketelitian membaca sejarah. Satu institusi bisa memuat ribuan orang dengan peran berbeda, dan tetap ada korban yang harus diingat.


Menurut kamu, apakah nama sebuah kesatuan pantas terus dipikul seluruh anggotanya karena tindakan sebagian kecil personelnya? Tulis pendapatmu di kolom komentar!


#SejarahDDS #Cakrabirawa #G30S #SejarahIndonesia #DesasDesusCerdas

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PMP ?

 Alasan Penting Mengapa Pelajaran Pendidikan Moral Pancasila (PMP) Perlu Diadakan Kembali Di tengah perkembangan zaman yang semakin cepat, k...