Dini hari, 1 Oktober 1965, ketenangan di kediaman Menteri/ Panglima Angkatan Darat, Jenderal Ahmad Yani, di Jalan Lembang No. 58, Jakarta, pecah berkeping-keping. Rumah itu dikepung oleh Pasukan Cakrabirawa, resimen elit pengawal Presiden yang telah disusupi konspirasi G30S/PKI.
Putra bungsu sang jenderal, Irawan Sura Eddy yang saat itu masih berusia 7 tahun, dibangunkan paksa dan diminta memanggil ayahnya. Jenderal Yani keluar menemui pasukan berbaju loreng tersebut dengan raut tenang, mengira panggilan tugas biasa ke Istana.
Namun, ketenangan itu berubah menjadi ketegangan hebat ketika Sersan Tumiran melarang sang jenderal untuk mandi dan berganti pakaian dinas. Tersinggung atas kelancangan prajurit bawahannya, Jendral Yani menempeleng salah satu prajurit, Praka Dokrin, hingga terjatuh.Sang Jenderal kemudian mengucapkan kalimat terakhirnya "Tahu apa kau prajurit!"
Di bawah tekanan situasi yang kacau, panik, dan takut kehilangan targetnya, Sersan Dua (Serda) Giyadi kehilangan kendali diri.
Tanpa berpikir panjang, ia langsung melepaskan serentetan tembakan beruntun dari senjata otomatis Thompson-nya menembus pintu kaca.
Tujuh peluru panas merobek tubuh sang jenderal dari arahbelakang. Jenderal Ahmad Yani gugur seketika di lantai rumahnya, bersimbah darah di depan mata anak-anaknya yang masih kecil.
Dalam persidangan Mahkamah Militer Luar Biasa (Mahmillub), Serda Giyadi mengakui bahwa tindakan brutalnya tersebut bukanlah rencana awal. Pasukan Cakrabirawa tidak diperintahkan untuk langsung membunuh, melainkan membawa sang jenderal dalam keadaan hidup-hidup ke Lubang Buaya. Kepanikan mendadak akibat gertakan wibawa Jenderal Yani lah yang merusak skenario awal mereka, mengubah misi penculikan menjadi sebuah pembantaian berdarah yang mengubah sejarah Indonesia selamanya. Serda Giyadi akhirnya divonis mati dan dieksekusi oleh regu tembak pada 16 April 1988.
#JenderalAhmadYani #Sejarahlndonesia

Tidak ada komentar:
Posting Komentar