Kamis, 09 Juli 2026

Rec Sultan Ageng Tirtayasa

 Sultan Ageng Tirtayasa (lahir di Banten, 1631 – wafat di Batavia, 1692) adalah Sultan Banten ke-6 yang berhasil membawa Kesultanan Banten mencapai puncak kejayaan. Ia memerintah pada tahun 1651–1683 dan dikenal sebagai salah satu pahlawan nasional Indonesia yang paling gigih melawan penjajahan Vereeniging Oostindische Compagnie (VOC) Belanda. 


Profil Singkat
  • Nama Asli: Nama kecilnya adalah Pangeran Surya, dan ia memiliki gelar resmi Sultan Abdul Fath Abdul Fattah.
  • Asal-usul Nama: Julukan "Tirtayasa" berasal dari nama keraton/dusun tempat tinggalnya di Serang, di mana ia membuat sistem pengairan (tirta berarti air).
  • Naik Takhta: Ia naik takhta pada usia 20 tahun (1651) menggantikan kakeknya, Sultan Abdul Mafakhir. 
Puncak Kejayaan Kesultanan Banten
Di bawah kepemimpinannya, Banten berkembang menjadi pelabuhan internasional yang mandiri dan bersaing ketat dengan Batavia milik VOC. Keberhasilan utamanya meliputi: 
  • Sektor Ekonomi: Menjadikan lada sebagai komoditas utama dan membuka perdagangan bebas dengan pedagang dari Inggris, Prancis, Denmark, Arab, Persia, India, dan Tiongkok.
  • Pertanian & Irigasi: Membangun kanal-kanal air besar untuk mengairi ribuan hektar sawah sekaligus mempermudah jalur transportasi.
  • Kekuatan Militer: Membangun armada laut yang kuat untuk melindungi jalur perdagangan Nusantara. 
Perlawanan Terhadap VOC
Sultan Ageng Tirtayasa dengan tegas menolak kerja sama dan monopoli perdagangan yang ditawarkan oleh VOC. Strategi perlawanannya meliputi: 
  • Melakukan taktik sabotase dan perang gerilya darat.
  • Membakar perkebunan tebu dan merusak pos-pos militer milik VOC di sekitar Batavia.
  • Membantu perjuangan tokoh daerah lain, seperti menyokong pemberontakan Trunojoyo di Mataram. 
Akhir Perjuangan dan Pengkhianatan
Tragisnya, keruntuhan takhta Sultan Ageng bukan runtuh akibat serangan luar, melainkan karena politik adu domba (devide et impera) VOC terhadap keluarganya: 
  • Konflik Internal: Putranya sendiri, Sultan Haji (Abu an-Nasr), merasa cemas takhtanya akan direbut dan memilih bersekutu dengan VOC untuk mengudeta ayahnya. 
  • Penangkapan: Setelah perang saudara yang melelahkan, Sultan Ageng Tirtayasa berhasil ditangkap oleh VOC pada tahun 1681. 
  • Wafat: Beliau dibawa ke Batavia, dipenjara hingga akhir hayatnya pada tahun 1692, dan dimakamkan di Kompleks Pemakaman Raja-Raja Banten.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Rec Tengku Amir Hamzah

  Tengku Amir Hamzah adalah salah satu sastrawan terbesar Indonesia dari angkatan Pujangga Baru yang juga dianugerahi gelar Pahlawan Nasio...