Kamis, 09 Juli 2026

Rec KH ZAINAL MUSTAFA

Kiai Haji Zainal Mustafa adalah salah satu Pahlawan Nasional Indonesia asal Tasikmalaya, Jawa Barat, yang memimpin perlawanan bersenjata terkenal melawan pendudukan militer Jepang di Singaparna pada tahun 1944. Ia dikenal sebagai ulama yang teguh pendirian, berani, dan menolak keras segala bentuk kompromi yang merugikan agama dan martabat bangsanya.
Profil dan Latar Belakang
  • Nama Kecil: Dilahirkan dengan nama Umri, kemudian berganti nama menjadi Hudaemi. Nama Zainal Mustafa digunakan setelah ia menunaikan ibadah haji pada tahun 1927. 
  • Kelahiran: Lahir di Kampung Bageur, Desa Cimerah, Singaparna, Tasikmalaya pada tahun 1899 dari pasangan petani berkecukupan bernama Nawapi dan Ny. Ratmah. 
  • Pendidikan: Menempuh pendidikan dasar formal di Sekolah Rakyat, lalu mendalami ilmu agama selama 17 tahun di berbagai pesantren ternama di wilayah Jawa Barat. 
  • Pendiri Pesantren: Pada tahun 1927, ia mendirikan ⁠Pesantren Sukamanah di Tasikmalaya yang menjadi pusat penyebaran agama sekaligus basis pergerakan kemerdekaan. 
Masa Perjuangan melawan Belanda
Sebelum kedatangan Jepang, KH Zainal Mustafa aktif memanfaatkan mimbar ceramah dan khotbah untuk membangkitkan kesadaran nasionalisme rakyat. Akibat tindakan vokal tersebut, pada 17 November 1941, ia bersama beberapa ulama lainnya ditangkap oleh pemerintah Hindia Belanda atas tuduhan menghasut rakyat untuk memberontak dan ditahan di Penjara Tasikmalaya sebelum dipindahkan ke Sukamiskin, Bandung. Ia baru dibebaskan setelah Belanda jatuh ke tangan Jepang pada tahun 1942. 
Perlawanan Terhadap Jepang (Peristiwa Singaparna)
Perlawanan KH Zainal Mustafa memuncak pada masa pendudukan Jepang akibat kebijakan-kebijakan penjajah yang dinilai menyimpang dari ajaran Islam dan sangat menyengsarakan rakyat. 
  • Penolakan Seikerei: Alasan utama perlawanan adalah penolakan keras terhadap perintah Seikerei, yaitu kewajiban membungkukkan badan ke arah matahari terbit (Tokyo) sebagai bentuk penghormatan kepada Kaisar Jepang (Tenno Heika) yang dianggap syirik oleh para ulama.
  • Penolakan Romusha: Ia juga menentang keras eksploitasi tenaga kerja paksa (romusha) dan pemerasan hasil bumi rakyat oleh tentara Jepang.
  • Pertempuran Sukamanah: Pada tanggal 25 Februari 1944 (1 Rabi'ul Awwal 1363 H), tentara Jepang mengepung Pesantren Sukamanah. KH Zainal Mustafa bersama ratusan santrinya bersenjatakan golok dan bambu runcing melawan pasukan Jepang yang bersenjata modern. Pertempuran tidak seimbang ini menggugurkan puluhan syuhada dari pihak pesantren.
Akhir Hayat dan Penghargaan
Pasca-pertempuran di Singaparna, KH Zainal Mustafa ditangkap bersama puluhan pengikutnya yang tersisa. Setelah mengalami interogasi dan penahanan, ia dijatuhi vonis hukuman mati dan dieksekusi pada 25 Oktober 1944 di kawasan Ancol, Jakarta. 

Misteri Makam :
Misteri keberadaan makamnya baru terungkap pada tahun 1973 di kompleks pemakaman sekitar penjara Ancol. Pada bulan Agustus 1973, kerangka jenazah KH Zainal Mustafa beserta 18 pengikutnya dipindahkan secara militer ke Taman Makam Pahlawan Sukamanah, Tasikmalaya. Atas jasa besar dan keberaniannya, Pemerintah Indonesia menganugerahinya gelar Pahlawan Nasional Indonesia pada 6 November 1972 melalui Keppres RI No. 064/TK/Tahun 1972. [1, 2]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Rec Tengku Amir Hamzah

  Tengku Amir Hamzah adalah salah satu sastrawan terbesar Indonesia dari angkatan Pujangga Baru yang juga dianugerahi gelar Pahlawan Nasio...