TAMANSARI 2007
Tamansari Keraton Yogyakarta hancur parah akibat gempa tektonik pada tahun 1867, yang menyebabkan kompleks ini terbengkalai dan sebagian besar bangunannya rusak parah, serta dihuni penduduk liar, namun renovasi besar-besaran baru dimulai tahun 1977 dan gempa besar tahun 2006 kembali merusak, memaksa renovasi lanjutan hingga kini.
Kronologi Kerusakan Utama:
- 1803: Gempa akibat letusan Gunung Guntur merusak pondasi dan mengeringkan sumber air.
- 1812: Agresi Inggris menjadikan Tamansari bengkel senjata dan mesiu.
- 1867: Gempa bumi besar di Yogyakarta merusak parah Tamansari, sebagian besar bangunan terbengkalai dan menjadi lokasi hunian penduduk.
- 2006: Gempa bumi tektonik kembali menyebabkan kerusakan signifikan, sehingga renovasi dan revitalisasi kembali dilakukan.
Renovasi:
- Renovasi besar dimulai tahun 1977, membongkar puing dan memulihkan sebagian bangunan.
- Setelah gempa 2006, renovasi dipercepat untuk memperbaiki dan memperkuat bangunan yang tersisa, menjadikan Tamansari asri kembali meski terhimpit permukiman.
Kondisi Saat Ini:
- Saat ini, sisa-sisa bangunan Tamansari yang dapat dikunjungi hanya sekitar 10% dari kompleks aslinya yang luas, namun tetap menjadi objek wisata budaya yang menarik.
Oleh Kraton Yogyakarta
FB KAPITAYAN
Narasi “Bandung Bondowoso membangun 1000 candi dalam semalam dibantu jin” memang sering dianggap sebagai cerita rakyat biasa, tapi sebagian kalangan (terutama para pemerhati sejarah dan nasionalis budaya) melihatnya sebagai bentuk “penyembunyian” yang disengaja terhadap kehebatan peradaban leluhur kita di masa lalu.
Mengapa narasi itu dianggap bermasalah?
1. Menyederhanakan prestasi teknik yang luar biasa
Candi Prambanan (dikenal juga sebagai Candi Roro Jonggrang atau Candi Siwa) dibangun sekitar abad ke-9 Masehi oleh Dinasti Sanjaya (Kerajaan Mataram Kuno). Kompleks ini terdiri dari 240 candi (bukan 1000), dengan candi utama setinggi 47 meter, menggunakan teknik interlock (tanpa semen), relief yang sangat detail, dan perhitungan astronomis yang presisi.
Membuat kompleks sebesar itu dalam waktu puluhan tahun saja sudah sangat sulit dengan teknologi abad ke-9. Kalau dikatakan “cuma semalam dan dibantu jin”, maka prestasi insinyur, tukang batu, dan seniman Jawa kuno jadi seperti tidak ada.
2. Pola yang sama terulang di banyak situs lain
- Candi Borobudur → “dibangun oleh raksasa dalam semalam”
- Gunung Padang → ada yang bilang “dibuat jin”
- Candi Sukuh/Cetho → dikaitkan dengan cerita mistis
Pola ini membuat masyarakat modern menganggap situs-situs warisan itu “ajaib”, bukan hasil kecerdasan dan kerja keras nenek moyang.
3. Diduga bagian dari strategi kolonial
Sejarawan seperti Agus Aris Munandar dan beberapa peneliti lain menyatakan bahwa selama kolonial Belanda (VOC dan pemerintah Hindia Belanda), cerita-cerita mistis ini sengaja dipopulerkan lewat buku pelajaran, folklor yang dikumpulkan, dan cerita wayang yang dimodifikasi. Tujuannya:
- Mengaburkan fakta bahwa pribumi pernah memiliki peradaban tinggi (agar tidak menimbulkan rasa bangga yang bisa jadi bahan perlawanan).
- Membuat masyarakat pribumi merasa “tergantung” pada pihak luar (dulu Belanda, sekarang narasi serupa tetap hidup).
4. Fakta arkeologi justru menunjukkan kehebatan manusia Jawa kuno
- Ada prasasti-prasasti dari abad ke-9 yang menyebut nama raja dan pembangun candi (misalnya Rakai Pikatan dan Pramodhawardhani).
- Teknik konstruksi menunjukkan pengetahuan matematika, astronomi (arah candi sesuai titik balik matahari), dan organisasi sosial yang sangat maju.
- Bekas-bekas pemukiman pekerja, alat-alat batu, dan sistem irigasi di sekitar Prambanan membuktikan itu proyek manusia selama puluhan tahun, bukan semalam.
Jadi, siapa yang pertama kali menyebarkan versi “Bandung Bondowoso dan jin”?
Versi cerita yang paling populer sekarang berasal dari naskah babad dan serat abad ke-18–19 (era Mataram Islam), tapi bentuknya sudah banyak berubah. Kemungkinan besar cerita itu “diperkaya” unsur mistisnya pada masa kolonial agar sesuai dengan kepentingan politik saat itu.
Intinya:
Ya, banyak orang yang kini percaya bahwa legenda Roro Jonggrang-Bandung Bondowoso adalah salah satu bentuk “penutupan sejarah” yang membuat kita lupa bahwa nenek moyang kita dulu benar-benar hebat — tanpa perlu bantuan jin sekalipun.
Kalau kamu ingin, saya bisa kasih daftar sumber bacaan atau prasasti yang membuktikan proses pembangunan Prambanan oleh manusia biasa (tapi luar biasa cerdasnya). #jawa #budaya #spiritual














Tidak ada komentar:
Posting Komentar