Selasa, 11 Agustus 2026

WR SUPRATMAN

 Jika pejuang lain melawan Belanda menggunakan bambu runcing atau senapan,

pemuda kurus berkacamata ini memilih jalan yang jauh lebih elegan namun mematikan.

Senjatanya adalah sebuah biola,

dan pelurunya adalah rentetan nada.

Namanya Wage Rudolf Supratman.


Puncak perlawanannya terjadi pada malam

penutupan Kongres Pemuda II, 28 Oktober 1928. Di tengah tatapan tajam para intelijen PID (Politieke Inlichtingen Dienst) Belanda yang berjaga, Supratman maju ke depan.

Untuk pertama kalinya, ia menggesek biolanya

dan melantunkan mahakaryanya: Indonesia Raya.


Meskipun malam itu dimainkan tanpa lirik

untuk menghindari penangkapan, saat lirik "Indonesia Raya" akhirnya tersebar

pemerintah kolonial Hindia Belanda

panik bukan main. Kata "Merdeka, Merdeka"

di dalam lagu itu dianggap sebagai bentuk subversi dan pemberontakan paling nyata.


Sejak saat itu, hidup Supratman tak pernah tenang. Karya musiknya dilarang keras,

dan ia dicap sebagai ancaman negara.

Supratman menjadi target operasi intelijen Belanda. la kemudian diburu, diawasi setiap gerak-geriknya, dan terpaksa hidup

berpindah-pindah dalam kemiskinan

demi menghindari penangkapan.


Puncaknya terjadi pada awal Agustus 1938.

Saat Supratman menciptakan lagu "Matahari Terbit" dan menyiarkannya bersama pandu-pandu (pramuka) di studio Radio NIROM Surabaya, Belanda yang paranoid langsung menangkapnya. la sempat dijebloskan

ke penjara Kalisosok sebelum akhirnya dibebaskan karena tidak terbukti mendukung Kekaisaran Jepang.


Kondisi fisik Supratman yang sudah lama mengidap tuberkulosis (TBC) semakin hancur

di balik jeruji besi. Beberapa hari setelah dilepaskan karena kondisinya yang sekarat, sang maestro menghembuskan napas terakhirnya di usia 35 tahun pada 17 Agustus 1938.


la meninggal tepat tujuh tahun sebelum Soekarno-Hatta memproklamasikan

kemerdekaan RI. Sang pencipta lagu kebangsaan itu tak pernah sekalipun

mendengar mahakaryanya dinyanyikan secara resmi di atas tanah air yang merdeka

dari cengkeraman penjajah.

#foto #fbpro #fotos

#sejarah


#history #sejarah #tempodulu #wrsupratman #indonesiaraya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

WR SUPRATMAN

 Jika pejuang lain melawan Belanda menggunakan bambu runcing atau senapan, pemuda kurus berkacamata ini memilih jalan yang jauh lebih elegan...