3000
Masjid Agung Demak
Lokasi : kota Demak, Jawa Tengah.
Masjid Agung Demak (abjad Pegon: مَسْجِد اَڮَوڠ دَمَق) memiliki nilai historis yang sangat penting bagi bukti perkembangan agama Islam di Nusantara. Masjid ini juga termasuk salah satu masjid tertua yang berada di Nusantara hingga saat ini. Masjid ini dulu dibangun oleh Raden Fatah beserta bantuan dari Walisongo. Di Masjid ini, dipercayai pernah menjadi tempat berkumpulnya Walisongo yang menyebarkan agama islam di tanah Jawa.
Sejarah Masjid Agung Demak berkaitan erat dengan sejarah Kesultanan Demak Bintoro, diawali dari lahirnya seorang putra mahkota Kerajaan Majapahit, yang lahir di Palembang 1448 M di kediaman Raden Ario Damar yang saat itu menjabat Adipati Palembang, dan diberi nama oleh Ibundanya dengan Raden Jinbun, Raden Ario Damar memberi nama Raden Hasan.
Bangunan utama dari Masjid Agung Demak memiliki luas 31 kali 31 meter, sedangkan serambi masjid berukuran 31 kali 15 meter dengan panjang keliling 35 kali 2,35 meter. Serambi masjid berbentuk bangunan yang terbuka. Bangunan masjid disangga dengan 4 tiang utama (saka guru), tiang penyangga bangunan masjid berjumlah 50 buah, tiang penyangga serambi berjumlah 28 buah, dan tiang kelilingnya berjumlah 16 buah.
Salah satu saka guru dikenal sebagai saka tatal (sisi timur-utara), karena dipercaya pada ruas saka tersebut disusun dari serpihan-serpihan kayu (Jawa: tatal) oleh Sunan Kalijaga.
Atap serambi berbentuk limas ditopang delapan tiang yang disebut Saka Majapahit. Atap bangunan utama berbentuk limas susun tiga (atap tumpang) sebagai gambaran tingkat kesalehan normatif kaum muslim yaitu iman, Islam, dan ihsan.
Berdasarkan dokumen yang berada di Museum Masjid Agung Demak, ada beberapa obyek cagar budaya yaitu:
1. Bangunan masjid konstruksi kayu dan atap limas susun/tumpang tiga,
2. Delapan tiang serambi Majapahit,
3. Bedhug dan kenthongan masjid,
4. Situs kolam wudhu,
5. Dhampar kencana,
6. Lawang bledheg,
7. Piringan keramik (65 buah),
8. Simbol kesultanan Demak (Surya Majapahit),
9. Mushola wanita (pawestren),
10. Kaligrafi glass in lood,
11. Maksurah / khalwat,
12. Ukiran kaligrafi Illahiah,
13. Menara adzan.
Tahap pembangunan Masjid Demak :
a) Tahap pertama, terjadi pada tahun 1466. Ketika itu masih berupa bangunan Pondok Pesantren Glagahwangi dibawah asuhan Sunan Ampel dan Raden Fattah. Dengan berhasilnya dakwah yang dilakukan oleh Raden Jinbun/sebutan lain Raden Fattah, datanglah para Wali Songo untuk membicarakan rencana pembangunan masjid yang pertama yaitu pada tahun 1466. Tahun itu pula Raden Jinbun diberi nama oleh para Wali Songo dengan nama Raden Fattah. Masjid yang dibangun pertama kali diberi nama Masjid Glagahwangi.
b) Tahap kedua, pada tahun 1477 dibangun kembali sebagai Masjid Kadipaten Glagahwangi Demak.
c) Tahap ketiga dilakukan pembangunan/renovasi pada tahun 1478 dan bersamaan dengan pengangkatan Raden Fatah sebagai Sultan pertama di Kesultanan Demak.
Diringkas dari : MasjidAgungDemak.org.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar