Senin, 19 September 2022

SARASEHAN INKLUSI SDN SURABAYA

 Dua hari, 17-18 September 2022 bertemu 50 SDN INKLUSI Surabaya, Purna Tugas dan Mutasi Inklusi sejak 2021 bulan Desember dengan Dispendik Surabaya. Dari DISPENDIK SURABAYA hadir Ibu Kabid Sekdas dan Kasi Peserta Didik. Ketua FKPPI Bengbeng, M.Pd., Ketua Panitia Paino, M.Pd., Ketua Inklusi lama (Matrai), dan wakil Pensiun juga memberikan andil dalam sarasehan dengan berbagai pemikiran. Semua Beaya pelaksanaan kegiatan merupakan urunan bareng dan iuran Bulanan Inklusi sejak Januari 2022.

HASIL SARASEHAN SDN PENYELENGGARA INKLUSI KOTA SURABAYA  

 HOTEL PURNAMA BATU , TANGGAL 17-18 SEPTEMBER 2022


USULAN PERMASALAHAN GURU PEMBIMBING KHUSUS { GPK } SD DI SEKOLAH :

1. Kriteria saat penerimaan siswa inklusi PPDB.

2. Batas usia masing-masing jenjang:

a. - SD berusia 7 – 12 tahun.

    - SMP berusia maksimal 15 tahun.

    - SMA maksimal 21 tahun.

b. Memiliki NIK dan Akta Lahir.

c. Memenuhi standar nilai rapor.

d. Memiliki surat keterangan lulus dari jenjang sebelumnya.

e. Memiliki surat keterangan dari psikolog atau dokter terkait.

2. Rapot inklusi di onlinekan seperti rapot reguler.

3. Pemerataan GPK sesuai dengan siswa inklusi tiap sekolah sesuai domisili GPK.

4. Anggaran khusus untuk kegiatan inklusi.

5. Solusi status GPK di Dapodik jam mengajar 0.

6. Penerbitan NUPTK untuk GPK (penerbitan NUPTK untuk GPK menggunakan SK kepala Dinas).

7. Mutasi siswa reguler ke inklusi harus sesuai dengan aturan yang berlaku.

8. Mutasi masuk siswa inklusi maksimal naik kelas 5 semester 1.

9. Pada saat naik kelas VI siswa inklusi dengan test IQ 80-89 (dengan ketentuan siswa tersebut bisa baca, tulis dan hitung) bisa mengikuti ujian reguler dengan pernyataan orang tua bermaterai.

10. Bagi masyarakat MBR agar difasilitasi test IQ gratis.

Surabaya, 19 September 2022

Ketua : Paino, S.Pd.

Sekretaris : Jasmin, S.Pd. SD

Mengetahui : Ketua FKPPI Bambang, S.Pd. M.M.Pd.


Semoga bermanfaat buat ABK, GPK, dan masyarakat 


Minggu, 18 September 2022

INSIDEN BENDERA DI HOTEL MAJAPAHIT

 DetikPedia

Peristiwa 19 September dalam Sejarah: Perobekan Bendera di Hotel Yamato

Nikita Rosa - detikEdu

Senin, 19 Sep 2022 10:30 WIB

Refleksi perobekan bendera Belanda di Hotel Yamato. Foto: Zainal Effendi/detikcom

Jakarta - Tepat 77 tahun yang lalu, tanggal 19 September 1945 silam, terjadi peristiwa perobekan bendera Belanda oleh pemuda Surabaya.

Disebutkan dalam Modul Sejarah Indonesia Kelas XI oleh Kemendikbud, insiden perobekan bendera terjadi di Hotel Yamato, Jalan Tunjungan, Surabaya. Peristiwa ini terjadi sebelum Pertempuran 10 November meletus.



Sejarah Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato

Pada saat itu, orang-orang Belanda bekas tawanan Jepang menduduki Hotel Yamato dengan dibantu pasukan Sekutu. Di bawah kepemimpinan Victor W. Charles Ploegman, mereka lalu mengibarkan bendera Belanda berwarna merah putih biru di puncak Hotel Yamato.


Menurut buku Ensiklopedia Sejarah Lengkap Indonesia dari Era Klasik sampai Kontemporer oleh Adi Sudirman, tindakan ini memancing amarah para pemuda Surabaya. Mereka beranggapan tindakan orang-orang Belanda itu adalah bentuk penghinaan pada kemerdekaan Indonesia 17 Agustus di tahun yang sama.


Selain itu, tindakan mereka juga dianggap sebagai bentuk simbol Belanda mengembalikan kekuasaannya di Indonesia sekaligus melecehkan gerakan pengibaran bendera Merah Putih yang sedang berlangsung di Surabaya.


Residen Surabaya Sudirman kemudian meminta Belanda menurunkan bendera tersebut, namun Belanda menolaknya. Gagal dalam berunding, Hotel Yamato lalu diserbu para pemuda sehingga terjadi bentrokan.


Beberapa pemuda berhasil memanjat atap hotel dan menurunkan bendera Belanda yang berkibar di puncak Hotel Yamato. Pemuda lalu merobek warna biru di bendera tersebut dan mengibarkan kembali sebagai bendera Merah Putih. Peristiwa itu dikenal sebagai insiden perobekan bendera Belanda.


Faktor Penyebab Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato

1. Belanda dinilai memprovokasi dengan mengibarkan bendera merah putih biru

2. Gagalnya perundingan antara Residen Sudirman dengan Victor W. Charles Ploegman untuk menurunkan bendera Belanda

3. Massa Indonesia mengetahui situasi perundingan tidak berjalan baik sehingga masuk ke Hotel Yamato


Akhir dari Insiden Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato

Kejadian ini semakin diperparah dengan kedatangan Brigadir Jenderal AWS Mallaby dan Brigade 49 di Surabaya pada 25 Oktober 1945. Pasukan ini bertugas melucuti tentara Jepang dan menyelamatkan interniran Sekutu.


Brigjen Mallaby lalu bertemu dengan perwakilan masyarakat Jawa Timur yang dipimpin oleh RMTA Soerjo. Kedua pihak di antaranya sepakat Inggris tidak menyertakan Angkatan Perang belanda di pasukannya, bekerja sama untuk menjamin keamanan dan ketentraman, membentuk kontrak biro kerja sama, dan Inggris hanya akan melucuti senjata tentara Jepang.


Perjanjian itu dilanggar oleh Mallaby dan pasukannya. Konflik bersenjata akhirnya meletus pada 27 Oktober 1945. Pada peristiwa ini, masyarakat Surabaya menyerang pusat kedudukan Inggris.


Insiden perobekan bendera Belanda itu pun berujung pada konflik di bulan Oktober dan memuncak pada pertempuran 10 November 1945.



Pertempuran 10 November terjadi selama tiga minggu dan menewaskan sekitar 6.000 rakyat Surabaya seperti disebut dalam buku Perang dan Revolusi Indonesia dalam Arus Sejarah jilid 6 oleh Imran, Amrin, dkk.


Pertempuran 10 November akhirnya ditetapkan sebagai Hari Pahlawan melalui Keppres Nomor 316 tahun 1959 pada 16 Desember 1959. Dalam Sejarah Nasional Indonesia VI oleh Poesponegoro, Marwati Djoened dan Nugroho Notosusanto, konflik yang dimulai melalui insiden perobekan bendera Belanda itu resmi berakhir pada 28 November 1945 di Gunungsari, Banten.

Minggu, 04 September 2022

SOLO YOGYA AMBARAWA

 TIGA HARI BERSAMA TIM LANSIA WARA KAWURI


Istri TNI telah dikenal jiwa Mandiri. Sering di tinggal tugas berbulan-bulan bagi Angkatan laut, udara, dan darat membuat jiwa disiplin tertanam dalam keseharian. Tidak pernah dan tidak protes dalam segala tindak tanduk kehidupan. "Ngersula" tentunya ada, namun tidak pernah ditunjukkan dalam perbuatan.

Waktu menjadi taruhan utama dalam perjalanan. Diminta datang jam 6.00 pagi, semua sudah siap sebelumnya. Diberi waktu di tempat rekreasi 60 menit, dijawab "siaaap !". Usai makan jam 18.30 berkumpul di bus, sudah siap. Bangun pagi, pukul 6.30, barang sudah siap di bus dan makan dulu, juga dilakukan dengan senang hati. 

Bus Wisata, 2 September 2022 berangkat dari Jl. Isman yang berisi 34 tempat duduk harus dihilangkan 4 tempat duduk untuk diambil dan disesuaikan dengan kondisi kaki yang agak sedikit selonjor. Bangku lain di tata ulang. Ini membutuhkan waktu 1,5 jam. Kehilangan waktu tidak menghambat perjalanan. Tidak ada protes peserta yang diperlihatkan.

Perjalanan pertama hari ke-1 Solo Yogya

Yaitu Heritage Palace yaitu spot foto yang menarik dalam ruangan (Beaya 55.000 hingga 65.000) berupa 3 D. Tapi sebaiknya dengan jasa petugas setempat. RM Bintangan. Taman Breksi yaitu Spot foto di luar ruangan dengan naik Jeep berbayar. Usai sudah menuju RM Grafika (Prambanan) ke Satya Graha Hotel. 

Perjalanan hari ke-2

Awali makan pagi di hotel. Bakpia Pathok 25. Kaliurang. Di tempat ini orang-orang sewa mobil Jeep lagi menuju ke spot foto. Makan siang di RM Bu Shinta ke Pantai Baron, makan malam di Grafika menuju HEHA SKY hotel Satya Graha (nginep ke-2).

Perjalanan ke-3

Ringkas-Ringkas makan di hotel, 6.30 meninggalkan hotel ke Rawa Pening (Gembok Cinta). Ada perahu untuk keliling Rawa. RM Bintangan, ke Kampung Jawa (oleh-oleh khas Semarang) Kampung Rawa ke Dusun Semilir, RM Taman Sari (Ngawi). Pulang.

Beaya 1.100.000 rupiah. 3 makan Siang, 3 makan Malam, 2 makan pagi di hotel, Snack saat berangkat. Tempat tujuan Solo (1), Yogya (4), Ambarawa (3).


Kejadian 3 kali :

1. Ambil kursi 4 buah (waktu hilang 1 jam)

2. Membetulkan AC Mobil di Bengkel jauh dari Rawa Pening, hilang waktu 2 jam.

3. Saat pulang turun di Tol Salatiga, membetulkan AC di pintu keluar Tol.

Selesai.

Minggu, 28 Agustus 2022

27-28 Agustus 2022 Trenggalek


Mencari Sahabat lama Bubutan


Salah satu teman di Kecamatan Bubutan Surabaya yaitu Murjono yang sedang mukim di Trenggalek. 

Berangkat pukul 12.30 dari SDN Bubutan III sebelah Utara BG JUNCTION. Menuju Trenggalek dengan Penumpang 12 orang dan Beaya 405 ribu  rupiah dan makan siang bawa oleh Panitia 🐔pedhas.

Menginap di Hotel Bukit Jaas Permai Trenggalek merupakan salah satu hotel baik. Perjalanan lanjut ke Pantai Pasir Putih Trenggalek. Naik Perahu bersisi semua penumpang untuk keliling 18 lokasi di Laut Beaya 900 ribu dan ditawar 800 ribu rupiah. 

Usai menuju Kebon Blimbing Tulungagung, pulang.

Kamis, 25 Agustus 2022

SIAPA JAKA TINGKIR ?

 Siapa Joko Tingkir? Ramai Disebut karena Lagu Joko Tingkir Ngombe Dawet

Kompas.com, 22 Agustus 2022, 07:48 WIB



Penulis: Wasti Samaria Simangunsong | Editor: Nabilla Tashandra

KOMPAS.com - Lagu Joko Tingkir Ngombe Dawet tengah viral di berbagai media sosial, terutama TikTok.

Lagu ini menjadi sorotan karena nada dan liriknya yang mudah nempel di telinga.

Namun sebagian masyarakat justru menganggap penggunaan nama "Joko Tingkir" dalam judul dan lirik lagu tidak sopan.

Sebab, Joko Tingkir dianggap sebagai tokoh yang berjasa dan dihormati oleh masyarakat Jawa. Lantas, siapa sebenarnya Joko Tingkir ini?

Siapa Joko Tingkir?

Guru Besar Universitas Sebelas Maret (UNS) Profesor Bani Sudardi menjelaskan, Joko Tingkir atau Jaka Tingkir bukanlah nama yang sesungguhnya.

Joko Tingkir adalah sebuah gelar yang dimiliki oleh seorang pria bernama asli Mas Karebet, karena dirinya pernah menjadi anak angkat dari Ki Ageng Tingkir.

"Tingkir adalah nama sebuah wilayah yang saat ini masuk dalam Kabupaten Salatiga. Jadi nama Jaka Tingkir (ejaan aslinya) itu berarti pemuda dari wilayah atau Desa Tingkir," terang Bani kepada Kompas.com, Minggu (21/08/2022).

Joko Tingkir kemudian mengabdi di Kesultanan Demak. Akibat kesuksesannya saat mengabdi, Joko Tingkir pun diangkat menjadi menantu Sultan Trenggana. Itulah mengapa Joko Tingkir masih termasuk keluarga Kesultanan Demak.

Bani melanjutkan, ketika terjadi perebutan kekuasaan di Kesultanan Demak, Joko Tingkir kemudian dapat memenangkannya sehingga ia menjadi Sultan di daerah Pajang, yang saat ini merupakan sebuah Kelurahan di Surakarta (Solo).

"Jaka Tingkir kemudian menjadi Sultan dengan gelar Sultan Hadiwijaya. Di dalam masyarakat Jawa, Jaka Tingkir termasuk tokoh yang dihormati karena beliau adalah seorang yang sakti dan bijaksana," tutur Bani.

Adapun kesaktian Joko Tingkir tampak ketika dirinya bisa melompati kolam Masjid Demak secara mundur. Bahkan, konon ia juga bisa membunuh seekor kerbau menggunakan tangannya dengan cara ditempeleng dan menaklukkan 40 ekor buaya di sebuah sungai yang bernama Kedhung Srengenge.

Dikenal bijaksana

Selain sakti, Joko Tingkir juga terkenal dengan kebijaksanaannya. Hal itu tampak ketika ia hendak dibunuh oleh utusan Arya Penangsang.

Setelah berhasil menangkap para utusan tersebut, bukannya membunuh mereka, Joko Tingkir justru memberikan hadiah dan pakaian. Lalu menyuruh para utusan untuk pulang dengan baik-baik.

"Kebijaksanaan lain Jaka Tingkir yaitu ketika terjadi perselisihan perebutan kekuasaan antara Pajang dan Mataram. Joko Tingkir mengalah tidak memerangi Pajang dan pulang kembali ke istananya," tutur Bani.

Joko Tingkir juga berpesan kepada anaknya, Pangeran Benawa, untuk tidak menjadi raja serta merelakan yang menjadi raja adalah Panembahan Senapati.

Dalam tata budaya Jawa, nama Jaka Tingkir atau Joko Tingkir dinilai perlu dijaga dan disebutkan secara hormat. Sebab, Joko Tingkir adalah salah satu dari sultan yang pernah berkuasa di tanah Jawa ini.

Sedangkan untuk penggunaan nama, Joko Tingkir dalam lirik lagu "Joko Tingkir Ngombe Dawet" menurut Bani bisa diganti dengan beberapa alternatif.

"Sebutan itu misalnya bisa diganti dengan "pergi ke Tingkir ngombe dawet" sehingga tidak menyebut nama tokoh tertentu," kata dia.

Bani menambahkan, hingga saat ini garis keturunan (trah) Joko Tingkir masih tetap eksis. Salah satunya adalah Presiden keempat Republik Indonesia Abdurrahman Wahid atau Gus Dur yang disebut sebagai cucu generasi keenam dari Joko Tingkir.

"Saya kira, menggunakan namanya sebagai bagian dari lagu perlu meminta izin dari trah Jaka Tingkir agar tidak terjadi salah paham dan saling menghormati antar sesama tokoh," pungkas Bani.

Selasa, 23 Agustus 2022

TEMBANG JOKO TINGKIR

Sisi Lain Tembang Sigra Milir

 BY BALAI BAHASA JAWA TIMURDESEMBER 28, 2020ARTIKEL, JULA-JULI

“Sigra milir sang gethek sinangga bajul, kawan dasa kang njageni, ing ngarsa miwah ing pungkur, tanapi ing kanan kering, kang gethek lampahnya alon”.

Demikianlah bunyi tembang macapat bermetrum Megatruh yang berkisah tentang Jaka Tingkir naik rakit di sebuah sungai. Ada yang menyebut sungai itu sebagai Kedung Srengege. Ada pula yang menyebutnya Bengawan Solo. Ia dikawal 40 buaya putih, di depan, di belakang, di samping kanan dan samping kiri. Rakitnya pun bergerak perlahan-lahan.

Tembang itu bagi kanak-kanak Jawa tempo doeloe akrab di telinga. Ia dianggap sebagai puisi lisan Jawa karena sering didendangkan. Tembang itu bernama Sigra Milir.

Sigra Milir disebut sebagai puisi lisan itu wajar, karena tembang itu lebih dikenal versi lisannya, baik dalam tradisi mocopatan, seni ketoprak, bersenandung, dan lainnya. Meski demikian, asal-muasalnya dari versi tulis. Versi tulisnya tersebar pada beberapa babad. Salah satunya adalah Babad Mentaram, yang ditemukan almarhum Suripan Sadi Hutomo (1998) di Mojokerto dalam metrum macapat dan digurat dengan abjad Arab Pegon. Dimungkinkan naskah babonnya ditulis dalam aksara Jawa. Babad lainnya adalah Babad Demak, yang di dalamnya juga ada kisah Jaka Tingkir.

Menurut Hutomo (1998), pada saat ia kecil, banyak anak-anak desa di Jawa yang hapal tembang itu, terutama bagi anak-anak gembala. Ternyata itu tidak hanya berlaku di Jawa Tengah, tepatnya Blora, asal Hutomo. Di Jawa Timur, banyak anak-anak yang juga menembangkannya.

Di Lamongan, realitas kulturalnya agak berbeda. Di kawasan pedalaman, terutama Lamongan selatan, dulu tembang itu pun kondang. Banyak kanak-kanak yang mendendangkannya. Pasalnya, Jaka Tingkir adalah hero lokal dan idola masyarakat. Ia sakti mandraguna, ahli politik, dan berujung sebagai raja Jawa pasca-Kerajaan Demak.

Namun, di kawasan Lamongan yang menjadi lintasan Bengawan Solo –dengan beberapa anak sungainya, salah satu di antaranya bernama Bengawan Jero, yang menjadi urat nadi kehidupan mereka, menembangkan Sigra Milir adalah pantangan. Hal itu berlaku sejak dulu. Diyakini, tembang itu merupakan alat komunikasi super canggih pada sekawanan buaya di kawasan perairan Bengawan Solo.

“Bila sedang menyeberang Bengawan Solo, memang dipantangkan nembang Sigra Milir,. Diyakini tembang itu adalah sarana pengundang buaya putih, yang berdiam di Bengawan,” tutur Drs Achmad Hambali, budayawan Lamongan. “Sejak dulu ada keyakinan begitu. Pernah ada yang lupa dengan itu, pada tahun 1990an, dan berakhir kurang baik” lanjutnya. (MA)

Senin, 22 Agustus 2022

DETIK-DETIK PROKLAMASI 1945

 SINGKAP SEJARAH


Tahukah Anda, Keputusan Out of The Box Justru Merubah Jalannya Proklamasi Kemerdekaan RI?

Bukannya berjalan mulus, Proklamasi Kemerdekaan RI tidak akan dapat terlaksana tanpa kreativitas berpikir para tokoh bangsa saat itu.

17 Aug 2022 09:03

Sumber :

MALANG, NETRALNEWS.COM - Bukannya berjalan mulus, Proklamasi Kemerdekaan RI tidak akan dapat terlaksana tanpa kreativitas berpikir para tokoh bangsa saat itu. Tanpa berpikir dan bertindak “out of the box,” bisa jadi Proklamasi RI akan semakin tertunda atau bahkan tidak akan terlaksana sama sekali.

Apa itu berpikir out of the box? Berpikir out of the box merupakan istilah yang dipakai untuk menggambarkan cara berpikir tanpa batasan diri. Makna “box” adalah batasan diri. Jadi seseorang berpikir out of the box adalah seseorang yang mampu berpikir melampaui batasan diri tersebut sehingga menghasilkan ide yang baru dan tidak terpikirkan orang lain sebelumnya.

Proklamasi kemerdekaan RI merupakan momen puncak kebebasan bangsa Indonesia dari sistem penjajahan negara lain. Sebenarnya di balik peristiwa bersejarah tersebut ada momen yang “semestinya berjalan". Namun berkat keberanian dalam berpikir ala out of the box para tokoh bangsa saat itu, justru “merubah jalannya sejarah” dan menjadikan proklamasi sebagai sebuah keniscayaan.

Ada 3 momen peristiwa yang bisa jadi merupakan hasil dari pemikiran dan keputusan out of the box para tokoh bangsa saat itu. Momen tersebut adalah:

Momen Pertama

Proklamasi kemerdekaan Indonesia seharusnya Hari Kamis, 16 Agustus 1945. Jika kita merujuk pada pendapat Hatta dalam otobiografinya, agenda pada tanggal tersebut adalah rapat oleh Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) di Kantor Dewan Sanyo Kaigi di Pejambon pukul 10.00 untuk membahas proklamasi kemerdekaan Indonesia.

Namun, momen penculikan para pemuda terhadap Sukarno dan Hatta ke Rengasdengklok pada tanggal 16 Agustus 1945 membuyarkan semua rencana tersebut.

Apa tujuan dari penculikan para pemuda tersebut? Sering diungkapkan dalam tulisan sejarah bahwa tujuan para pemuda adalah mengamankan Sukarno dan Hatta dari revolusi rakyat yang akan menyerang Jakarta untuk melucuti Jepang. Kenyataannya bahkan tidak terjadi apa-apa.

Ternyata dari sisi keputusan out of the box para pemuda untuk menculik Sukano dan Hatta ada hasilnya juga. Hal ini merujuk pada usulan Syahrir kepada Sukarno dan Hatta tanggal 14 Agustus 1945.

Syahrir menceritakan bahwa Jepang telah minta damai kepada Sekutu (menyerah tanpa syarat). Sebab itu, pernyataan kemerdekaan janganlah dilakukan oleh PPKI sebab Indonesia merdeka yang lahir semacam itu akan dicap Sekutu sebagai Indonesia buatan Jepang

Sebaiknya, Bung Karno sendiri saja menyatakan sebagai pemimpin rakyat dengan perantaraan corong radio. Namun usulan tersebut ditolak Sukarno karena tidak ingin melangkahi panitia PPKI sedangkan beliau menjabat sebagai ketuanya.

Momen Kedua

Momen ini berlangsung setelah kepulangan Sukarno, Hatta, dan Ahmad Subardjo dari Rengasdengklok. Mereka bertiga berupaya mengatur cara bagaimana meneruskan rapat PPKI yang tidak jadi diadakan paginya.

Hatta selanjutnya meminta Ahmad Subardjo menelepon ke Hotel des Indes untuk menyediakan ruangan untuk rapat tersebut. Namun Hotel des Indes membalas bahwa lewat pukul 22.00 tidak boleh mengadakan kegiatan apa-apa lagi karena sudah menjadi peraturan dari dahulu terkait jam malam.

Seandainya para tokoh kita menyerah terkait jam malam, bisa jadi rapat Proklamasi tertunda esoknya tanggal 17 Agustus 1945 namun serasa terlambat karena masih memulai merancang teks proklamasi. Sedangkan Pemerintah Jepang bisa jadi menolak mendukung dan bahkan membubarkan rapat tersebut mengingat adanya kebijakan baru dari Sekutu terhadap wilayah Indonesia (setelah ini kita bahas di momen ketiga).

Bagaimana menyikapi permasalahan berdasarkan keputusan out of the box? Ahmad Subardjo mengusulkan dan menelepon atasannya Admiral Maeda untuk meminjamkan ruang tengahnya supaya digunakan untuk rapat PPKI. Maeda pun menerima permintaan tersebut.

Selanjutnya, Ahmad Subardjo menelepon anggota-anggota PPKI yang semuanya menginap di Hotel des Indes untuk datang ke rumah Maeda pukul 24.00 guna melanjutkan rapat yang tidak jadi tadi pagi.

Bagaimana jawaban Maeda atas kesediaannya meminjamkan rumahnya? Beliau menjawab “Itu kewajiban saya yang mencintai Indonesia merdeka".

Momen Ketiga

Momen ini terjadi sebelum Sukarno dan Hatta berangkat ke rumah Admiral Maeda. Mereka dihubungi oleh Mayor Jenderal Nishimura selaku pimpinan Jepang untuk menghadap beliau.

Setelah bertemu, Sukarno dan Hatta menyampaikan rencana rapat mereka pada pukul 24.00 di rumah Maeda. Nishimura menjawab “Apabila rapat itu berlangsung tadi pagi (16 Agustus 1945 pagi), akan kami bantu. Akan tetapi, setelah tengah hari (pukul 13.00), kami harus tunduk kepada perintah Sekutu dan tiap-tiap perubahan status quo tidak dibolehkan. Jadi sekarang rapat PPKI itu terpaksa kami larang.”

Betapa kecewanya Sukarno dan Hatta mendengar hal itu. Namun, apakah mereka menyerah mendengar keputusan tersebut?

Untuk menunjukkan perlawanannya terhadap keputusan Jepang sebagai bentuk tindakan out of the box, maka Hatta berkata “Apakah itu janji dan perbuatan samurai? Dapatkah Samurai menjilat musuhnya yang menang untuk memperoleh nasib yang kurang jelek? Apakah Samurai hanya hebat terhadap orang yang lemah di masa jayanya, tetapi hilang semangatnya waktu kalah? Baiklah, kami akan jalan terus apa juga yang akan terjadi. Mungkin kami akan menunjukkan kepada Tuan bagaimana jiwa samurai semestinya menghadapi suasana yang berubah.”

Begitulah sekelumit momen sekitar proklamasi. Patut kita apresiasi para tokoh bangsa mengambil keputusan out of the box dalam upayanya mencari solusi demi kemerdekaan RI.

Selepas dari pertemuan dengan Nishimura, Sukarno dan Hatta lanjut menyusun teks Proklamasi di rumah Maeda dan akhirnya Sejarah menulis tinta emasnya betapa Proklamasi Kemerdekaan berhasil dikumandangkan pada tanggal 17 Agustus 1945.

Dirgahayu Republik Indonesia ke -77 tahun. Semoga Indonesia semakin jaya!

Penulis: Risang Tunggul Manik

Pengajar dan Pemerhati Sejarah

DAFTAR PUSTAKA

1. Adams, Cindy. 2014. Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia. Yayasan Bung Karno. Penerbit Media Pressindo

2. Hatta, Mohammad. 2011. Menuju Gerbang Kemerdekaan 3 (Untuk Negeriku Sebuah Otobiografi). Kompas.

3. www.penerbitbukudeepublish.com

Asal usul Madura

 Asal usul terpisahnya Pulau Madura dari Pulau Jawa dapat dijelaskan melalui dua sudut pandang: proses geologis dan sejarah kultural yang be...