Profesi Masa Kuna Eps 1
CITRALEKHA, JURU TULIS???
Kalau zaman sekarang kita mengenal tukang ketik, admin, editor, sampai tukang bikin caption Facebook... maka pada masa lalu ada yang namanya Citralékha ... Mereka inilah orang yang bertugas menuliskan teks prasasti sebelum akhirnya diabadikan pada batu, logam, atau media lain yang tahan lama...
Menariknya, citralekha ini bukan sekadar orang yang bisa memahat huruf lalu selesai... sebab tulisan pada prasasti ternyata juga mempunyai karakter masing-masing... Sama seperti tulisan tangan kita sekarang... meskipun sama-sama belajar aksara yang sama, tulisan si A bisa saja miring ke kiri, si B terlalu besar, sedangkan si C seperti tulisan dokter yang membuat pembacanya harus bertapa dulu sebelum bisa membaca...Belum lagi kalau ada perang, saking terburu-buru bisa salah pahat atau sangat tipis guratannya.
Karena itu, bentuk aksara menjadi salah satu hal penting dalam kajian epigrafi... Seorang epigraf tidak hanya membaca bunyi dan arti sebuah prasasti, tetapi juga memperhatikan bagaimana setiap aksara dibentuk... bentuk kepala aksara, lengkungan, proporsi, jarak, hingga kebiasaan tertentu dalam menuliskannya... Dari sini karakter seorang citralekha kadang dapat dikenali dan dibandingkan dengan prasasti lainnya...
Sebelum teks diguratkan secara permanen pada batu atau logam, tentu ada tahap persiapannya... Teks dapat terlebih dahulu dibuat sebagai rancangan blueprint kayane... Setelah dianggap benar, barulah tulisan tersebut diguratkan menggunakan tatah atau alat pemahat lainnya... Jadi, prasasti yang sekarang kita lihat sebagai benda kuna sebenarnya bukan pekerjaan asal congkel batu lalu jadi... ada proses penulisan, pemeriksaan, dan pemahatan di belakangnya...
Yang lebih menarik lagi... beberapa prasasti bahkan menyebut nama atau identitas orang yang terlibat dalam proses tersebut, seperti pada prasasti Mantyasih tertulis Punta Tarka (apale ya gur ini soale)... Artinya, citralekha tidak selalu menjadi manusia anonim yang hilang ditelan zaman... kadang namanya ikut masuk ke dalam catatan prasasti yang justru ia bantu tulis sendiri...
Dan sebagai manusia yang bekerja... tentu ada bayarannya juga... Dalam beberapa prasasti dikenal pemberian pasek-pasek (hadiah atau pisungsung atau berkatan lah), yang dapat berupa uang perak maupun sepasang wdihan, yaitu kain bernilai yang diberikan sebagai bentuk penghargaan... Jadi jangan dibayangkan citralekha bekerja hanya bermodalkan idealisme dan cinta kepada aksara kuna... ternyata sejak zaman dahulu pun kerja profesional mengenal istilah... "honornya mana"...
Dengan demikian... sebuah prasasti sebenarnya bukan cuma batu yang penuh coretan aksara kuna... di baliknya ada orang yang menyusun teks, ada citralekha yang menuliskannya, ada orang yang memahatnya, ada pihak yang memberikan penghargaan, dan tentu saja ada pejabat atau penguasa yang merasa perlu memastikan perkataannya tidak hilang begitu saja... Bedanya dengan zaman sekarang hanya satu... kalau kita salah ketik tinggal tekan tombol hapus... kalau salah pahat di batu... ya kemungkinan besar harus pasrah kepada arkeolog beberapa abad kemudian...
Dah ah, saya mau kabur saja sebelum dibandem tatah sama sang Citrakekha itu... Ssttt jangan bilang-bilang lho yess, nek ndak bolo ndak saya kandani ini.
#KaburAjaDulu
Sumber :
Brandes, J. L. A. 1913. Oud-Javaansche Oorkonden. Batavia: Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen.
Boechari. 2012. Melacak Sejarah Kuno Indonesia Lewat Prasasti. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.
Damais, Louis-Charles. 1970. Études d’épigraphie indonésienne. Paris: École française d’Extrême-Orient.
Holt, Claire. 1967. Art in Indonesia: Continuities and Change. Ithaca: Cornell University Press.
Krom, N. J. 1923. Inleiding tot de Hindoe-Javaansche Kunst. Den Haag: Martinus Nijhoff.
Sarkar, H. B. 1971. Corpus of the Inscriptions of Java, Volume I: Up to 928 A.D. Calcutta: Firma K. L. Mukhopadhyay.
Zoetmulder, P. J. 1982. Old Javanese-English Dictionary. 2 jilid. The Hague: Martinus Nijhoff.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar