[28/6 01.31] rudysugengp@gmail.com: Wahidin Sudirohusodo
[28/6 01.36] rudysugengp@gmail.com: Buatkan gambar dan infografis tentang
Biodata Wahidin Sudirohusodo
dr. Wahidin Soedirohoesodo (7 Januari 1852 – 26 Mei 1917, EYD: Wahidin Sudirohusodo) adalah seorang dokter dan reformis pendidikan di Hindia Belanda yang ikut mendirikan organisasi pengembangan diri Jawa, Boedi Oetomo. Oleh karena itu, ia terkadang dianggap sebagai tokoh awal Kebangkitan Nasional Indonesia.
Pada tahun 1973 ia dinyatakan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia.
Lahir :
7 Januari 1852
Mlati, Sleman, Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat, Hindia Belanda.
Meninggal :
26 Mei 1917 (umur 65)
Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat, Hindia Belanda
Kerabat :
Radjiman Wedyodiningrat (saudara)
Karaeng Galesong (Buyut)
Sultan Hasanuddin (Buyut)
Pendidikan
Sekolah Dasar di Yogyakarta
Europeesche Lagere School di Yogyakarta
Sekolah Dokter Djawa di Jakarta.
[28/6 01.39] rudysugengp@gmail.com: Buatkan gambar dan infografis tentang
Perjuangan dan Penghargaan Wahidin Sudirohusodo
Perjuangan :
Memperluas pendidikan dan pengajaran dan memupuk kesadaran kebangsaan.
Menurut dokter lulusan STOVIA ini, cara untuk membebaskan diri dari penjajahan, rakyat harus cerdas. Untuk itu, rakyat harus diberi kesempatan mengikuti pendidikan di sekolah-sekolah.
Ia sering berkeliling kota-kota besar di Jawa mengunjungi tokoh-tokoh masyarakat sambil memberikan gagasannya tentang “dana pelajar” untuk membantu pemuda-pemuda cerdas yang tidak dapat melanjutkan sekolahnya.
Di hadapan para pelajar STOVIA di Jakarta, ia melontarkan sebuah gagasan akan pentingya sebuah organisasi untuk memajukan pendidikan dan meninggikan martabat bangsa. Gagasan ini akhirnya disambuat antusias para pelajar, sehingga pada tanggal 20 Mei 1908 lahirlah Budi Utomo.
Dalam kurun waktu tersebut, Boedi Oetomo menjadi organisasi modern pertama kali lahir di Indonesia. Sekarang hari lahir Boedi Oetomo diperingati sebagai hari Hari Kebangkitan Nasional.
Penghargaan :
Pada tahun 1973, ia dinyatakan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia. Sebuah masjid agung di Kabupaten Sleman yang selesai dibangun pada tahun 1990, dinamai menurut namanya.
Diabadikan :
Pada tanggal 14 Januari 2022, kapal rumah sakit yang menggunakan namanya, KRI dr. Wahidin Sudirohusodo (991), mulai beroperasi di TNI Angkatan Laut dan sebuah rumah sakit kampus yaitu Rumah Sakit dr. Wahidin Soedirohoesodo di Universitas Hasanuddin Makassar.
[28/6 01.42] rudysugengp@gmail.com: Buatkan gambar dan infografis tentang
Wahidin Sudirohusodo Penggagas Lahirnya Boedi Oetomo
Lahirnya Boedi Oetomo :
Wahidin Sudirohusodo sering berkeliling kota-kota besar di Jawa mengunjungi tokoh-tokoh masyarakat sambil memberikan gagasannya tentang "dana pelajar" untuk membantu pemuda-pemuda cerdas yang tidak dapat melanjutkan sekolahnya.
Akan tetapi, gagasan ini kurang mendapat tanggapan.
Gagasan itu juga dikemukakannya pada para pelajar STOVIA di Jakarta tentang perlunya mendirikan organisasi yang bertujuan memajukan pendidikan dan meninggikan martabat bangsa.
Gagasan ini ternyata disambut baik oleh para pelajar STOVIA tersebut.
Akhirnya pada tanggal 20 Mei 1908, lahirlah Boedi Oetomo.
[28/6 01.50] rudysugengp@gmail.com: Berikutnya KH AHMAD DAHLAN
[28/6 01.54] rudysugengp@gmail.com: Buatkan gambar dan infografis tentang
Biodata KH Ahmad Dahlan
Beliau adalah putra keempat dari tujuh bersaudara dari keluarga K.H. Abu Bakar. K.H. Abu Bakar adalah seorang ulama dan khatib terkemuka di Masjid Besar Kasultanan Yogyakarta pada masa itu, dan ibu dari K.H. Ahmad Dahlan adalah putri dari H. Ibrahim yang juga menjabat penghulu Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat pada masa itu.
Nama Ahmad Dahlan diberikan oleh Sayyid Bakri Syatha ketika Muhammad Darwis berangkat haji dan menuntut ilmu di Mekkah pada 1890-an. “Muhammad Darwisy pun tidak ketinggalan ikut serta dalam rombongannya; ia menuju ziarah kepada pengikut Imam Syafii, Sayid Bakri Syatha. Dan dapat ijazah nama Haji Ahmad Dahlan,” begitu tulis Kyai Syuja', salah satu murid KH Ahmad Dahlan.
Nama kecil K.H. Ahmad Dahlan adalah Muhammad Darwis. Beliau merupakan anak keempat dari tujuh orang bersaudara yang keseluruhan saudaranya perempuan, kecuali adik bungsunya. Beliau termasuk keturunan yang kedua belas dari Maulana Malik Ibrahim, salah seorang yang terkemuka di antara Walisongo, yaitu pelopor penyebaran agama Islam di Jawa.[3] Silsilahnya tersebut ialah Maulana Malik Ibrahim, Maulana Ishaq, Maulana 'Ainul Yaqin, Maulana Muhammad Fadlullah (Sunan Prapen), Maulana Sulaiman Ki Ageng Gribig (Djatinom), Demang Djurung Djuru Sapisan, Demang Djurung Djuru Kapindo, Kyai Ilyas, Kyai Murtadla, K.H. Muhammad Sulaiman, K.H. Abu Bakar, dan Muhammad Darwis (Ahmad Dahlan).
Nasab dari Syaikh Maulana Malik Ibrahim bersambung kepada Nabi Muhammad.
Kehidupan pribadi :
Pada tahun 1889, beliau menikah dengan Siti Walidah, sepupunya sendiri, anak Kyai Penghulu Haji Fadhil, yang kelak dikenal dengan Nyai Ahmad Dahlan, seorang Pahlawan Nasional dan pendiri Aisyiyah. Dari perkawinannya dengan Siti Walidah, Dahlan mendapat enam orang anak yaitu Djohanah, Siradj Dahlan, Siti Busyro, Irfan Dahlan, Siti Aisyah, Siti Zaharah.[3] Di samping itu, Dahlan pernah pula menikahi Nyai Abdullah, janda H. Abdullah.
Dia juga pernah menikahi Nyai Rum, adik Kyai Munawwir Krapyak. Dahlan juga mempunyai putra dari perkawinannya dengan Nyai Aisyah (adik Adjengan Penghulu) Cianjur yang bernama Dandanah.
Dia pernah pula menikah dengan Nyai Yasin Pakualaman Yogyakarta.
[28/6 02.08] rudysugengp@gmail.com: Buatkan gambar dan infografis tentang
Karier KH Ahmad Dahlan
Karier agama
Lazimnya anak yang lahir dalam keluarga ulama, Ahmad Dahlan juga didorong untuk melaksanakan ibadah haji. Tepat beberapa bulan setelah pernikahannya dengan Siti Walidah, Ahmad Dahlan pergi ke Mekkah. “Karena itu pada tahun 1890 saat Darwis berusia 22 tahun, ia dikirim ayahnya ke Mekah untuk menunaikan haji dan memperdalam pengetahuannya tentang Islam."
Pada periode ini, Ahmad Dahlan mulai belajar agama dengan melandaskan pemikiran-pemikiran pembaharu dalam Islam, seperti Muhammad Abduh, Jamaluddin al-Afghani, Rasyid Ridha, dan Ibnu Taimiyyah.
Ketika pulang kembali ke kampungnya tahun 1891, ia berganti nama menjadi Ahmad Dahlan.
Muhammadiyah
Pada tahun 1903, beliau bertolak kembali ke Makkah dan menetap selama dua tahun. Pada masa ini, dia sempat berguru kepada Syekh Ahmad Khatib yang juga guru dari pendiri NU, K.H. Hasyim Asyari dan pendiri PERTI, Syekh Sulaiman Arrasuli. Pada tahun 1912, ia mendirikan Muhammadiyah di kampung Kauman, Yogyakarta. Muhammadiyah didirikan untuk mencapai cita-cita pembaruan Islam di bumi Nusantara.
Ahmad Dahlan ingin mengadakan suatu pembaruan dalam cara berpikir dan beramal menurut tuntunan agama Islam.
Dia ingin mengajak umat Islam Indonesia untuk kembali hidup menurut tuntunan al-Qur'an dan hadits. Perkumpulan ini berdiri bertepatan pada tanggal 18 November 1912.
Dan sejak awal Dahlan telah menetapkan bahwa Muhammadiyah bukan organisasi politik tetapi bersifat sosial dan bergerak di bidang pendidikan.
Sebagai seorang yang aktif dalam kegiatan bermasyarakat dan mempunyai gagasan-gagasan cemerlang, Dahlan juga dengan mudah diterima dan dihormati di tengah kalangan masyarakat, sehingga dia juga dengan cepat mendapatkan tempat di organisasi Jam'iyatul Khair, Budi Utomo, Syarikat Islam dan Comite Pembela Kanjeng Nabi Muhammad.
Gagasan pendirian Muhammadiyah oleh Ahmad Dahlan ini juga mendapatkan resistensi, baik dari keluarga maupun dari masyarakat sekitarnya. Berbagai fitnahan, tuduhan dan hasutan datang bertubi-tubi kepadanya.
Beliau dituduh hendak mendirikan agama baru yang menyalahi agama Islam. Ada yang menuduhnya kyai palsu, karena sudah meniru-niru bangsa Belanda yang Kristen, mengajar di sekolah Belanda, serta bergaul dengan tokoh-tokoh Budi Utomo yang kebanyakan dari golongan priyayi, dan bermacam-macam tuduhan lain.
Saat itu Ahmad Dahlan sempat mengajar agama Islam di sekolah OSVIA Magelang, yang merupakan sekolah khusus Belanda untuk anak-anak priyayi. Bahkan ada pula orang yang hendak membunuhnya.
Namun beliau berteguh hati untuk melanjutkan cita-cita dan perjuangan pembaruan Islam di tanah air bisa mengatasi semua rintangan tersebut.
Pada tanggal 20 Desember 1912, Ahmad Dahlan mengajukan permohonan kepada Pemerintah Hindia Belanda untuk mendapatkan badan hukum. Permohonan itu baru dikabulkan pada tahun 1914, dengan Surat Ketetapan Pemerintah No. 81 tanggal 22 Agustus 1914.
Izin itu hanya berlaku untuk daerah Yogyakarta dan organisasi ini hanya boleh bergerak di daerah Yogyakarta.
Dari Pemerintah Hindia Belanda timbul kekhawatiran akan perkembangan organisasi ini. Maka dari itu kegiatannya dibatasi.
Walaupun Muhammadiyah dibatasi, tetapi di daerah lain seperti Srandakan, Wonosari, Imogiri dan lain-Iain telah berdiri cabang Muhammadiyah. Hal ini jelas bertentangan dengan keinginan pemerintah Hindia Belanda.
Untuk mengatasinya, maka K.H. Ahmad Dahlan menyiasatinya dengan menganjurkan agar cabang Muhammadiyah di luar Yogyakarta memakai nama lain. Misalnya Nurul Islam di Pekalongan, Al-Munir di Ujung Pandang, Ahmadiyah di Garut. Sedangkan di Solo berdiri perkumpulan Sidiq Amanah Tabligh Fathonah (SATF) yang mendapat pimpinan dari cabang Muhammadiyah. Bahkan dalam kota Yogyakarta sendiri ia menganjurkan adanya jama'ah dan perkumpulan untuk mengadakan pengajian dan menjalankan kepentingan Islam.
Berbagai perkumpulan dan jama'ah ini mendapat bimbingan dari Muhammadiyah, di antaranya ialah Ikhwanul-Muslimin, Taqwimuddin, Cahaya Muda, Hambudi-Suci, Khayatul Qulub, Priya Utama, Dewan Islam, Thaharatul Qulub, Thaharatul-Aba, Ta'awanu alal birri, Ta'ruf bima kanu wal- Fajri, Wal-Ashri, Jamiyatul Muslimin, Syahratul Mubtadi.
Dahlan juga bersahabat dan berdialog dengan tokoh agama lain seperti Pater Frans van Lith pada 1914-1918. Van Lith adalah pastur pertama yang diajak dialog oleh Dahlan. Pater Frans van Lith di Muntilan yang merupakan tokoh di kalangan keagamaan Katolik. Pada saat itu Kyai Dahlan tidak ragu-ragu masuk gereja dengan pakaian hajinya.
Gagasan pembaruan Muhammadiyah disebarluaskan oleh Ahmad Dahlan dengan mengadakan tabligh ke berbagai kota, di samping juga melalui relasi-relasi dagang yang dimilikinya. Gagasan ini ternyata mendapatkan sambutan yang besar dari masyarakat di berbagai kota di Indonesia. Ulama-ulama dari berbagai daerah lain berdatangan kepadanya untuk menyatakan dukungan terhadap Muhammadiyah. Muhammadiyah makin lama makin berkembang hampir di seluruh Indonesia. Oleh karena itu, pada tanggal 7 Mei 1921 Dahlan mengajukan permohonan kepada pemerintah Hindia Belanda untuk mendirikan cabang-cabang Muhammadiyah di seluruh Indonesia. Permohonan ini dikabulkan oleh pemerintah Hindia Belanda pada tanggal 2 September 1921.
Sebagai seorang yang demokratis dalam melaksanakan aktivitas gerakan dakwah Muhammadiyah, Dahlan juga memfasilitasi para anggota Muhammadiyah untuk proses evaluasi kerja dan pemilihan pemimpin dalam Muhammadiyah. Selama hidupnya dalam aktivitas gerakan dakwah Muhammadiyah, telah diselenggarakan dua belas kali pertemuan anggota (sekali dalam setahun), yang saat itu dipakai istilah AIgemeene Vergadering (persidangan umum).
Karier lain
Di samping aktif dalam menggulirkan gagasannya tentang gerakan dakwah Muhammadiyah, Beliau juga dikenal sebagai seorang wirausahawan yang cukup berhasil dengan berdagang batik yang saat itu merupakan profesi wiraswasta yang cukup menggejala di masyarakat.
[28/6 02.12] rudysugengp@gmail.com: Buatkan gambar dan infografis tentang
Kematian dan warisan
KH Ahmad Dahlan
Makam K.H. Ahmad Dahlan di pemakaman Karangkajen
Dahlan meninggal pada tahun 1923 dan dimakamkan di pemakaman Karangkajen, Yogyakarta.
Atas jasa-jasa K.H. Ahmad Dahlan dalam membangkitkan kesadaran bangsa Indonesia melalui pembaruan Islam dan pendidikan, maka Pemerintah Republik Indonesia menetapkannya sebagai Pahlawan Nasional dengan surat Keputusan Presiden no. 657 tahun 1961. Dasar-dasar penetapan itu ialah sebagai berikut:
K.H. Ahmad Dahlan telah mempelopori kebangkitan ummat Islam untuk menyadari nasibnya sebagai bangsa terjajah yang masih harus belajar dan berbuat;
Dengan organisasi Muhammadiyah yang didirikannya, telah banyak memberikan ajaran Islam yang murni kepada bangsanya. Ajaran yang menuntut kemajuan, kecerdasan, dan beramal bagi masyarakat dan umat, dengan dasar iman dan Islam;
Dengan organisasinya, Muhammadiyah telah mempelopori amal usaha sosial dan pendidikan yang amat diperlukan bagi kebangkitan dan kemajuan bangsa, dengan jiwa ajaran Islam; dan
Dengan organisasinya, Muhammadiyah bagian wanita (Aisyiyah) telah mempelopori kebangkitan wanita Indonesia untuk mengecap pendidikan dan berfungsi sosial, setingkat dengan kaum pria.
Dalam budaya populer :
Sang Pencerah
Kisah hidup dan perjuangan Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah diangkat ke layar lebar dengan judul Sang Pencerah (2010) yang disutradarai oleh Hanung Bramantyo. Tidak hanya menceritakan tentang sejarah kisah Ahmad Dahlan, film ini juga bercerita tentang perjuangan dan semangat patriotisme anak muda dalam merepresentasikan pemikiran-pemikirannya yang dianggap bertentangan dengan pemahaman agama dan budaya pada masa itu, dengan latar belakang suasana Kebangkitan Nasional. Naskah film ini kemudian dialihmediakan menjadi novel berjudul sama yang ditulis oleh Akmal Nasery Basral.
[28/6 02.12] rudysugengp@gmail.com: Belum terakhir Ahmad Dahlan ada 3
[28/6 20.16] rudysugengp@gmail.com: Mulai lagi KH Samanhudi
[28/6 20.17] rudysugengp@gmail.com: Buatkan gambar dan infografis tentang
KH Samanhudi mendirikan SDI
K. H. Samanhudi tercatat sejarah sebagai pendiri organisasi pergerakan nasional tertua di Indonesia, yakni Sarekat Dagang Islam (SDI).
Beliau lahir di Surakarta pada 8 Oktober 1868.
Saat muda beliau sempat menimba ilmu agama di beberapa pondok pesantren, baik di Jawa Tengah hingga Jawa Barat, termasuk di ponpes K. H. Zainal Musthofa Tasikmalaya.
Ketika mulai berdagang, muncul kesadaran pada diri beliau bahwa penjajah Belanda melalui pemerintah Hindia Belanda menerapkan diskriminasi terhadap para pedagang pribumi.
Hal tersebut yang mendorong beliau mendirikan Sarekat Dagang Islam (SDI) pada 16 Oktober 1905, dengan tujuan untuk menghimpun dan membela kepentingan para pedagang pribumi yang sebagian besar adalah pemeluk agama Islam.
[28/6 20.33] rudysugengp@gmail.com: Buatkan gambar dan infografis tentang
KH Samanhudi mengubah SDI menjadi SI, berakhir ke PSII
Pada kongres SDI di 10 September 1912 diadakan perubahan nama SDI menjadi Sarekat Islam (SI), dengan pertimbangan bahwa keanggotaannya tidak lagi terbatas hanya dari golongan pedagang. Pada akhirnya SI akan berkembang pesat, bukan hanya menjadi organisasi pergerakan agama, ekonomi dan sosial, namun juga dalam bidang politik yang mengobarkan semangat juang rakyat dalam melawan penindasan kolonialisme dan imperialisme.
Salah satu bentuk perjuangan SI adalah dengan menerbitkan surat kabar Oetoesan Hindia yang menyuarakan banyak catatan kritis terhadap pemerintahan Hindia Belanda.
Pada tahun 1916, SI dengan tegas menyatakan bahwa mereka bercita-cita menyatukan seluruh penduduk Indonesia sebagai suatu bangsa yang berdaulat (merdeka).
Ketika pemerintah Hindia Belanda mulai mengizinkan berdirinya partai politik pada tahun 1917, SI berhasil mengirim 2 tokohnya yakni H. O. S. Tjokroaminoto dan Abdoel Moeis untuk duduk di Volksraad (parlemen Hindia Belanda).
SI makin berkembang setelah berubah nama menjadi Partai Sarekat Islam (PSI) pada kongres tahun 1923, dan menjadi Partai Sarekat Islam Indonesia (PSII) pada kongres tahun 1929. Salah satu tokoh populernya saat itu adalah H. Agus Salim dan Abikoesno Tjokrosoejoso (suatu saat menjadi Anggota Panitia Sembilan BPUPKI dan Menteri Perhubungan RI pertama).
PSII inilah yang tercatat sejarah turut menjadi peserta Pemilu 1955 di era Orde Lama, hingga Pemilu 1971 di era Orde Baru.
K. H. Samanhudi wafat di Sukoharjo pada 28 Desember 1956 dan dianugerahi gelar pahlawan nasional pada 9 November 1961.
[28/6 20.37] rudysugengp@gmail.com: Buatkan gambar dan infografis tentang
Biodata dan Belajar Agama KH Samanhudi
Samanhudi atau sering disebut Kyai Haji Samanhudi (lahir di Laweyan, Surakarta, Kasunanan Surakarta, 1868; meninggal di Klaten, Surakarta, 28 Desember 1956) adalah pendiri Sarekat Dagang Islam, sebuah organisasi massa di Indonesia yang awalnya merupakan wadah bagi para pengusaha batik di Surakarta.
Nama kecilnya ialah Sudarno Nadi.
Pondok Pesantren yang pernah ia datangi untuk menimba ilmu di dalamnya adalah:
1. Pontren KM Sayuthy (Ciawigebang),
2. Pontren KH Abdur Rozak (Cipancur),paman ia,
3. Pontren Sarajaya (Kab Cirebon),
4. Pontren (di Kab Tegal, Jateng),
5. Pontren Ciwaringin (Kab. Cirebon) dan
6. Pontren KH Zaenal Musthofa (Tasikmalaya.)
Ia sangat tadzim terhadap guru-gurunya. Terlebih terhadap Asysyahid K.H. Zainal Mushtofa (Pahlawan Nasional). Ia banyak bercerita tentang heroisme perjuangan gurunya yang satu ini ketika berjuang melawan penjajah Jepang hingga dia gugur sebagai pahlawan kusuma bangsa di depan regu tembak serdadu Jepang ketika makbaroh gurunya ini telah dipindahkan ke Taman Pahlawan Sukamanah, Tasikmalaya.
Ia dimakamkan di Banaran, Grogol, Sukoharjo.
Dalam film Tjokroaminoto: Guru Bangsa (2015), Samanhudi diperankan oleh Rukman Rosadi.
[28/6 20.46] rudysugengp@gmail.com: Berikut Nyai Ahmad Dahlan
[28/6 20.52] rudysugengp@gmail.com: Buatkan gambar dan infografis tentang
Biodata Nyai Ahmad Dahlan (Siti Walidah)
Siti Walidah (3 Januari 1872 – 31 Mei 1946) adalah tokoh emansipasi perempuan. Ia merupakan istri dari Ahmad Dahlan yang merupakan pendiri organisasi Muhammadiyah dan pahlawan nasional Indonesia.
Siti Walidah dipanggil pula sebagai Nyai Ahmad Dahlan.
Masa muda :
Siti Walidah dilahirkan pada tahun 1872 di Kauman, Yogyakarta.
Ia adalah putri dari seorang ulama dan bangsawan dari Kesultanan Yogyakarta bernama Kyai Haji Muhammad Fadli. Lingkungan tempat tinggal dari Siti Walidah dihuni oleh para tokoh agama dari keraton.
Dia bersekolah di rumah, diajarkan berbagai aspek tentang Islam, termasuk bahasa Arab dan Al-Qur'an. Dia membaca Al-Qur'an dalam naskah Jawi.
Siti Walidah menikah dengan sepupunya yakni Ahmad Dahlan. Saat Ahmad Dahlan sedang sibuk-sibuknya mengembangkan Muhammadiyah saat itu, Siti Walidah mengikuti suaminya dalam perjalanannya.
Namun, karena beberapa dari pandangan Ahmad Dahlan tentang Islam dianggap radikal, pasangan ini kerap kali menerima ancaman.
Misalnya, sebelum perjalanan yang dijadwalkan ke Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur mereka menerima ancaman pembunuhan dari kaum konservatif di sana.
Siti Walidah memiliki enam orang anak dengan Ahmad Dahlan.
Berikut nama putra putri Siti Walidah dan Ahmad Dahlan:
Djohanan,
Siradj Dahlan,
Siti Busyro,
Irfan Dahlan,
Siti Aisyah, dan
Siti Zaharah.
[28/6 20.58] rudysugengp@gmail.com: Buatkan gambar dan infografis tentang
Perjuangan Nyai Ahmad Dahlan (Siti Walidah)
Mendirikan Sopo Tresno dan Aisyiyah :
Pada tahun 1914, Siti Walidah mendirikan Sopo Tresno.
Siti Walidah bersama Ahmad Dahlan bergantian memimpin kelompok tersebut dalam membaca Al-Qur'an dan mendiskusikan maknanya.
Siti Walidah mulai berfokus pada ayat-ayat Al-Qur'an yang membahas isu-isu perempuan.
Dengan mengajarkan membaca dan menulis melalui Sopo Tresno, pasangan ini memperlambat kristenisasi di Jawa melalui sekolah yang didukung oleh pemerintah Hindia Belanda.
Bersama suami dan beberapa pemimpin Muhammadiyah lainnya, Siti Walidah membahas peresmian Sopo Tresno sebagai kelompok perempuan.
Menolak proposal pertama, Fatimah, mereka memutuskan mengganti nama menjadi Aisyiyah, berasal dari nama istri Nabi Muhammad, yakni Aisyah.
Kelompok baru ini, diresmikan pada tanggal 22 April 1917, dengan Siti Walidah sebagai ketuanya.
Lima tahun kemudian organisasi ini menjadi bagian dari Muhammadiyah.
Melalui Aisyiyah, Siti Walidah mendirikan sekolah-sekolah putri dan asrama, serta keaksaraan dan program pendidikan Islam bagi perempuan.
Kemudian pada tahun 1922, ia mendirikan mushola Aisyiyah pertama yang digunakan untuk sholat berjamaah para perempuan.
Mushola ini juga memfasilitasi jemaahnya untuk belajar membaca, berdoa, dan sholat dengan fasih serta memberikan pengetahuan seputar keagamaan.
Menentang Kawin Paksa :
Dia juga berkhotbah menentang kawin paksa.
Dia juga mengunjungi cabang-cabang di seluruh Jawa.
Berbeda dengan tradisi masyarakat Jawa yang patriarki, Siti Walidah berpendapat bahwa perempuan dimaksudkan untuk menjadi mitra suami mereka.
Sekolah Aisyiyah dipengaruhi oleh ideologi pendidikan Ahmad Dahlan yakni Catur Pusat: pendidikan di rumah, pendidikan di sekolah, pendidikan di masyarakat, dan pendidikan di tempat-tempat ibadah.
[28/6 21.03] rudysugengp@gmail.com: Buatkan gambar dan infografis tentang
Kehidupan Lanjutan dan Warisan Nyai Ahmad Dahlan (Siti Walidah)
Kepemimpinan dan kehidupan selanjutnya :
Setelah Ahmad Dahlan meninggal dunia pada 1923, Siti Walidah terus aktif di Muhammadiyah dan Aisyiyah.
Pada tahun 1926, dia memimpin Kongres Muhammadiyah ke-15 di Kota Surabaya.
Dia adalah wanita pertama yang memimpin konferensi seperti itu.
Sebagai hasil dari liputan luas media jmassa di koran-koran seperti Pewarta Soerabaia dan Sin Tit Po, banyak perempuan terpengaruh untuk bergabung ke dalam Aisyiyah, sementara cabang-cabang lainnya dibuka di pulau-pulau lain di Nusantara.
Di tahun yang sama pula, ia menerbitkan majalah Suara Aisyiyah yang banyak membahas mengeni isu-isu seputar perempuan.
Siti Walidah terus memimpin Aisyiyah sampai tahun 1934. Selama masa pendudukan Jepang di Indonesia, Aisyiyah dilarang oleh militer Jepang di Jawa dan Pulau Madura pada 10 September 1943, dia kemudian bekerja di sekolah-sekolah dan berjuang untuk menjaga siswa dari paksaan untuk menyembah matahari dan menyanyikan lagu-lagu Jepang.
Selama masa Revolusi Nasional Indonesia, dia memasak sup dari rumahnya bagi para tentara dan mempromosikan dinas militer di antara mantan murid-muridnya.
Meski sering sakit akibat faktor usia, dia juga berpartisipasi dalam diskusi tentang perang bersama Jenderal Soedirmanv dan Presiden Indonesia, Soekarno.
Siti Walidah meninggal pada pukul 01:00 siang pada tanggal 31 Mei 1946 dan dimakamkan di belakang Masjid Gedhe Kauman, Yogyakarta empat jam kemudian.
Sekretaris Negara, Abdoel Gaffar Pringgodigdo dan Menteri Agama, Mohammad Rasjidi mewakili pemerintah pada saat pemakamannya.
Warisan :
Pada 10 November 1971, Siti Walidah dinyatakan sebagai salah satu pahlawan nasional Indonesia oleh Presiden Indonesia kedua, Soeharto.
Ini sesuai dengan Keputusan Presiden Nomor 42/TK Tahun 1971; Ahmad Dahlan telah diangkat sebagai salah satu pahlawan nasional Indonesia sepuluh tahun sebelumnya. Penghargaan tersebut diterima oleh cucunya, M. Wardan.
Dia telah dibandingkan dengan pembela hak perempuan, Kartini dan gerilyawan, Cut Nyak Dhien dan Cut Nyak Meutia.
Dalam film Sang Pencerah yang dirilis pada tahun 2010 dan disutradarai oleh Hanung Bramantyo, Siti Walidah diperankan oleh Zaskia Adya Mecca sementara Ahmad Dahlan diperankan oleh Lukman Sardi.
Kemudian pada tahun 2017, kisah hidup Siti Walidah diangkat ke film Nyai Ahmad Dahlan.
Dalam film yang disutradarai oleh Olla Atta Adonara tersebut, Siti Walidah diperankan oleh Tika Bravani sementara Ahmad Dahlan diperankan oleh David Chalik.
[28/6 21.07] rudysugengp@gmail.com: Maria Walanda Maramis
[28/6 21.12] rudysugengp@gmail.com: Buatkan gambar dan infografis tentang
Biodata Maria Walanda Maramis
Maria Walanda Maramis (lahir 1 Desember 1872 – meninggal 22 April 1924), lahir dengan nama Maria Josephine Catherine Maramis, adalah seorang tokoh perempuan Minahasa yang dikenal sebagai pelopor emansipasi wanita di Indonesia pada awal abad ke-20. Ia berperan penting dalam peningkatan pendidikan dan kesadaran sosial bagi perempuan, sehingga diakui sebagai Pahlawan Nasional Indonesia.
Maria Walanda Maramis dikenang setiap 1 Desember oleh masyarakat Minahasa melalui Hari Ibu Maria Walanda Maramis, sebagai penghargaan terhadap perjuangannya melawan batasan tradisional terhadap perempuan.
Dalam publikasi Nederlandsche Zendeling Genootschap (1981), Nicolaas Graafland menilai Maria memiliki kemampuan belajar dan berpikir yang unggul, serta sering menunjukkan prestasi yang melampaui kaum laki-laki di zamannya.
Pemerintah Indonesia menganugerahi Maria gelar Pahlawan Pergerakan Nasional dan menetapkannya sebagai Pahlawan nasional Indonesia melalui Keputusan Presiden No. 012/TK/1969 pada 20 Mei 1969.
Untuk mengenang jasanya, sebuah patung peringatan dibangun di Kelurahan Komo Luar, Kecamatan Wenang, Manado, yang menjadi titik edukasi sejarah perjuangan perempuan di Minahasa.
Maria Josephine Catherine Maramis lahir di Kema, sebuah desa yang saat ini termasuk dalam Kecamatan Kema (yang merupakan hasil pemekaran dari Kecamatan Kauditan), Kabupaten Minahasa Utara, Provinsi Sulawesi Utara. Maramis merupakan anak bungsu dari tiga bersaudara, dengan kakak perempuan bernama Antje dan kakak laki-laki bernama Andries.
Orang tuanya adalah Bernadus Maramis dan Sarah Rotinsulu. Kakaknya, Andries Maramis, memiliki peran penting dalam sejarah Indonesia sebagai ayah dari Alexander Andries Maramis, yang terlibat dalam perjuangan kemerdekaan dan kemudian menjabat sebagai menteri serta duta besar pada masa awal pemerintahan Indonesia.
Maramis menjadi yatim piatu pada usia enam tahun setelah kedua orang tuanya meninggal karena sakit dalam waktu yang singkat. Setelah itu, pamannya, Mayor Ezau Rotinsulu, yang saat itu menjabat kepala distrik di Maumbi, membawa Maria beserta saudara-saudaranya ke Maumbi untuk diasuh dan dibesarkan di sana.[5] Selama menetap di Maumbi, Maria menjalin pergaulan dengan kalangan terpelajar, termasuk seorang pendeta bernama Jan Ten Hoeve. Maria dan kakak perempuannya kemudian didaftarkan ke Sekolah Melayu Maumbi, yang mengajarkan kemampuan dasar membaca, menulis, serta pengetahuan umum dan sejarah. Sekolah ini menjadi satu-satunya pendidikan formal yang diterima Maria, karena pada masa itu perempuan umumnya hanya dipersiapkan untuk menikah dan mengurus rumah tangga.
[28/6 21.19] rudysugengp@gmail.com: Buatkan gambar dan infografis tentang
Perjuangan Maria Walanda Maramis
Kondisi Minahasa abad 20-an :
Pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20, wilayah Minahasa terbagi menjadi delapan kelompok etnis atau walak,[9] yang sedang mengalami proses integrasi menuju satu kesatuan geopolitik yang dikenal sebagai Minahasa dalam kerangka kolonial Hindia Belanda.
Seiring dengan perkembangan ini, pemerintah kolonial melakukan reorganisasi birokrasi dengan mengangkat pejabat-pejabat tradisional setempat menjadi pegawai pemerintah bergaji yang berada di bawah pengawasan seorang residen.
Perkembangan ekonomi juga berlangsung pesat akibat komersialisasi agraria.
Perkebunan kopi dan kopra menjadi sektor utama, mendorong pertumbuhan ekspor dan menarik penanaman modal dalam jumlah besar. Aktivitas ekonomi ini turut memacu perkembangan kota-kota di Minahasa, seperti Tondano, Tomohon, Kakaskasen, Sonder, Remboken, Kawangkoan, dan Langowan.
PIKAT :
Setelah menetap di Manado, Maria Walanda Maramis mulai menulis artikel opini di surat kabar lokal Tjahaja Siang, menekankan peranan penting ibu dalam keluarga, termasuk kewajiban mereka dalam mengasuh anak dan menjaga kesehatan keluarga, serta memberikan pendidikan awal kepada anak-anak. Menyadari perlunya perempuan muda memperoleh bekal untuk menjalankan peran mereka sebagai pengasuh keluarga, Maramis bersama beberapa tokoh lainnya mendirikan organisasi Percintaan Ibu Kepada Anak Temurunannya (PIKAT) pada 8 Juli 1917.
Organisasi ini bertujuan mendidik perempuan yang telah menamatkan pendidikan dasar, menyediakan wadah untuk berinteraksi, membangun jaringan sosial, dan membiasakan perempuan menyampaikan pendapat serta gagasan secara bebas. Selain itu, PIKAT berperan dalam membentuk masa depan pemuda Minahasa melalui peran aktif perempuan dalam keluarga dan masyarakat.
Di bawah kepemimpinan Maramis, PIKAT berkembang pesat dengan pembukaan cabang-cabang di Minahasa, antara lain di Maumbi, Tondano, dan Motoling, serta di luar Minahasa, seperti Sangihe-Talaud, Poso, Gorontalo, dan Ujung Pandang.[13] Cabang di Jawa juga berdiri, misalnya di Batavia, Bogor, Bandung, Cimahi, Magelang, dan Surabaya.
Pada 2 Juni 1918, PIKAT membuka Sekolah Manado, yang mengajarkan keterampilan rumah tangga seperti memasak, menjahit, merawat bayi, dan pekerjaan tangan lainnya. Maria Walanda Maramis tetap aktif memimpin dan mengembangkan PIKAT hingga wafat pada 22 April 1924.
Hak pilih wanita di Minahasa :
Pada tahun 1919 dibentuk sebuah badan perwakilan daerah di Minahasa yang dinamakan Minahasa Raad.
Pada tahap awal, para anggotanya ditunjuk, tetapi kemudian direncanakan adanya pemilihan oleh rakyat untuk menentukan wakil-wakil berikutnya. Pada masa itu, keanggotaan badan tersebut hanya terbuka bagi laki-laki.
Meskipun demikian, Maramis memperjuangkan agar perempuan juga diberi hak untuk memilih wakil-wakil yang akan duduk dalam Minahasa Raad.
Upaya tersebut membuahkan hasil pada tahun 1921, ketika keputusan dari Batavia memperbolehkan perempuan memberikan suara dalam pemilihan anggota Minahasa Raad.
Minahasa Raad merupakan dewan daerah yang bertugas memberikan pendapat dan saran, serta membantu residen dalam mencari solusi atas berbagai persoalan yang dihadapi pemerintahan setempat.
Walaupun perempuan telah memperoleh hak untuk memilih dan memiliki peluang untuk mencalonkan diri sebagai anggota dewan, dalam praktiknya mereka belum memperoleh dukungan suara yang signifikan dari masyarakat.
Pada tahun 1922, komposisi anggota Minahasa Raad masih didominasi pria. Berdasarkan Regerings Almanak 1922, beberapa anggota yang tercatat antara lain: Theodorus E. Gerungan, Alber W.R. Inkiriwang, Apeles J.H.W. Kawilarang, B. Lalamentik, J.E. Lucas, dan beberapa tokoh lain.
Dominasi laki-laki ini mencerminkan pandangan masyarakat saat itu, yang menempatkan perempuan dalam posisi yang kurang setara dan menganggap pria lebih pantas untuk menjalankan peran publik serta politik.
[28/6 21.23] rudysugengp@gmail.com: Buatkan gambar dan infografis tentang
Akhir Hayat Maria Walanda Maramis
Kehidupan Keluarga :
Maramis menikah dengan Joseph Frederick Calusung Walanda, seorang guru bahasa pada tahun 1890.
Setelah pernikahannya dengan Walanda, ia lebih dikenal sebagai Maria Walanda Maramis.
Mereka mempunyai tiga anak perempuan.
Dua anak mereka dikirim ke sekolah guru di Betawi (Jakarta). Salah satu anak mereka, Anna Matuli Walanda, kemudian menjadi guru dan ikut aktif dalam PIKAT bersama ibunya.
Akhir Hayat :
Pada tahun 1924, kondisi kesehatan Maria Walanda semakin menurun.
Atas anjuran dr. Andu, ia dipindahkan ke Manado dan dirawat di salah satu ruangan Sekolah Tituwungen.
Setiap hari dr. Andu memantau keadaannya. Dalam perkembangannya, muncul usulan agar ia dirawat di rumah sakit. Dr. Kisman mendukung langkah tersebut dan bahkan menyarankan tindakan operasi. Namun, karena seluruh tempat tidur di rumah sakit telah terisi, perawatan tetap dilakukan di Sekolah Tituwungen.
Selama masa sakitnya, sejumlah kerabat dan tokoh masyarakat datang menjenguk, termasuk Ny. Loing Kalangi. Dalam pertemuan pada 11 April 1924, Maria Walanda menyampaikan berbagai rencana yang telah ia susun.
Salah satu gagasan utamanya adalah mendirikan sekolah keahlian bagi perempuan.
Sekolah ini dirancang berbeda dari Sekolah Rumah Tangga karena ditujukan untuk memberikan ijazah resmi, seperti sertifikat modiste atau memasak.
Ia mencontohkan sekolah kepandaian putri yang didirikan pemerintah di Manado serta lembaga serupa di Batavia sebagai model pendidikan lanjutan yang diakui pemerintah. Rencana tersebut kemudian mendapat perhatian serius dan pada tahun 1932 berhasil diwujudkan. Sekolah itu berdiri di Sarlo dan dipimpin oleh Ny. W.J. Tuata sebagai direktur pertama.
Tidak lama setelah pertemuan tersebut, Maria Walanda akhirnya dipindahkan ke rumah sakit.
Namun sebelum tindakan medis lanjutan dilakukan, ia wafat pada 22 April 1924 menjelang matahari terbenam pada usia 52 tahun. Kepergiannya menimbulkan duka mendalam di kalangan masyarakat Manado, yang mengenangnya sebagai tokoh perempuan dengan jasa besar.
Setelah wafatnya, kepemimpinan organisasi diteruskan oleh Ny. Loing Kalangi. Pada masa awal peralihan, situasi organisasi sempat mengalami ketidakpastian karena besarnya peran Maria Walanda sebelumnya. Steun Comité, yang melibatkan dr. Andu dan dr. Sam Ratulangi, kemudian mengambil langkah untuk menata kembali kepengurusan secara resmi.
Rapat umum yang diadakan pada 8 Juli menghasilkan susunan pengurus baru dengan Ny. Loing Kalangi sebagai ketua. Sejak saat itu, organisasi PIKAT memasuki tahap perkembangan berikutnya, dengan semangat dan gagasan Maria Walanda tetap menjadi bagian dari arah perjuangannya.
[28/6 21.27] rudysugengp@gmail.com: Hasyim Asy'ari
[28/6 21.48] rudysugengp@gmail.com: Buatkan gambar dan infografis tentang
Biodata dan Karya KH Hasyim Asy'ari
K.H. Muhammad Hasyim Asy'ari (14 Februari 1871 – 25 Juli 1947) adalah seorang ulama, pahlawan nasional, serta merupakan pendiri sekaligus Rais Akbar (pimpinan tertinggi pertama) organisasi massa Islam, Nahdlatul Ulama.
Dikenal juga sebagai Pendiri dan Pengasuh pertama salah satu ponpes tertua di Indonesia, yaitu Pondok Pesantren TebuIreng di Kabupaten Jombang, Jawa Timur.
Pasangan :
Khadijah
Nyai Nafiqah
Nyai Masyruroh
Anak :
Hannah, Khoiriyah, Aisyah, Azzah, Abdul Wahid, Abdul Hakim (Abdul Kholiq), Abdul Karim, Ubaidillah, Mashurroh, Muhammad Yusuf
Abdul Qodir, Fatimah, Chotijah, Muhammad Ya’kub
Dikenal karena :
Pendiri Nahdlatul Ulama
Nama lain :
K.H. Hasyim Asy'ari
Ia memiliki julukan Hadratussyaikh yang berarti mahaguru dan telah hafal Kutub At-Tis'ah (9 kitab hadis), serta memiliki gelar Syaikhu al-Masyayikh yang berarti Gurunya Para Guru.
Ia adalah putra dari pasangan K.H. Asy'ari dengan Ny. H. Halimah, dilahirkan di Desa Tambakrejo, Jombang, Jawa Timur, dan memiliki salah satu anak bernama K.H. A Wahid Hasyim yang juga merupakan pahlawan nasional perumus Piagam Jakarta, serta cucunya yakni K.H. Abdurrahman Wahid, merupakan Presiden RI ke-4.
Karya :
1. Risalah Ahlussunnah wal Jama'ah: Fi Hadistil Mauta wa Asyrathissa'ah wa Bayani Mafhumissunnah wal Bid'ah
(Paradigma Ahlussunah wal Jama'ah: Pembahasan tentang Orang-orang Mati, Tanda-tanda Zaman, Penjelasan Sunnah dan Bid'ah). Karya K.H. Hasyim Asy’ari yang satu ini banyak membahas tentang bagaimana sebenarnya penegasan antara sunnah dan bid’ah.
Secara tidak langsung, kitab tersebut banyak membahas persoalan-persoalan yang akan muncul di kemudian hari, terutama saat ini.
2. Muqaddimah Al Qanun Al Asasi li Jam’iyyah Nahdlatul Ulama (Anggaran Dasar Organisasi Nahdlatul Ulama).
Kitab ini berisikan pemikiran K.H. Hasyim Asy’ari yang berkaitan dengan NU. Dalam kitab tersebut, K.H. Hasyim Asy’ari mengutip beberapa ayat dan hadis yang menjadi landasannya dalam mendirikan NU.
3. Risalah fi Ta’kidul Akhdzi bi Mazhabil A’immatul Arba’ah
(Risalah untuk memperkuat pegangan atas madzhab empat). Dalam kitab ini, K.H. Hasyim Asy’ari tidak sekadar menjelaskan pemikiran empat imam madzhab (Imam Syafi’i, Imam Malik, Imam Abu Hanifah, Imam Ahmad bin Hanbal). Namun, beliau juga memaparkan alasan-alasan kenapa pemikiran di antara keempat imam itu patut kita jadikan rujukan.
4. Arba’ina Hadisan Tata’allaqu bi Mabadi’ Jam’iyyah Nahdlatul Ulama.
Sebagaimana judulnya, kitab ini berisi empat puluh hadis pilihan yang sangat tepat dijadikan pedoman oleh warga NU. Hadis yang dipilih oleh K.H. Hasyim Asy’ari terutama berkaitan dengan hadis-hadis yang mejelaskan pentingnya memegang prinsip dalam kehidupan yang penuh dengan rintangan dan hambatan ini.
5. Adabul 'alim wal Muta’alim fi ma Yahtaju Ilaihil Muta’allim fi Maqamati Ta’limihi
(Etika Pengajar dan Pelajar dalam Hal-hal yang Perlu Diperhatikan oleh Pelajar Selama Belajar). Pada dasarnya, kitab ini merupakan ringkasan dari kitab Adab al-Mu’allim karya Syekh Muhamad bin Sahnun, Ta’limul Muta’allim fi Thariqah at-Ta’allum karya Syekh Burhanuddin az-Zarnuji, dan Tadzkiratus Syaml wal Mutakalli fi Adabil 'Alim wal Muta’allim karya Syekh Ibnu Jama'ah. Meskipun merupakan bentuk ringkasan dari kitab-kitab tersebut, tetapi dalam kitab tersebut kita dapat mengetahui betapa besar perhatian K.H. Hasyim Asy’ari terhadap dunia pendidikan.
Kitab-kitab Beliau tersebut ditulis dan dicetak oleh cucu Beliau KH Ishomuddin Hadziq.
[28/6 21.55] rudysugengp@gmail.com: Buatkan gambar dan infografis tentang
KH Hasyim Asy'ari mendirikan NU
Mendirikan NU
Nahdlatul Ulama (NU) adalah organisasi keagamaan Islam terbesar di Indonesia yang didirikan pada 31 Januari 1926 di Surabaya.
Layaknya organisasi lain di Indonesia pada abad ke-20 awal, Nahdlatul Ulama terbentuk oleh rasa patriotisme dan nasionalisme sebagai bentuk perlawanan secara moderat terhadap kolonialisme.
Pendirian organisasi ini juga dipengaruhi oleh dinamika sosial-politik internasional pada awal abad ke-20, termasuk penghapusan sistem kekhalifahan di Turki serta menguatnya gerakan Wahabi di Arab Saudi. Para ulama pendiri, antara lain K.H. Hasyim Asy’ari, K.H. Wahab Hasbullah, dan K.H. Bisri Syansuri, membentuk NU dengan tujuan menjaga tradisi Ahlussunnah wal Jama’ah dan mengembangkan ajaran Islam sesuai konteks masyarakat Indonesia.
Setelah melakukan pertimbangan mengenai ide pendirian organisasi, Kyai Hasyim kemudian pergi menghadap Syaikhona Kholil Bangkalan untuk berkonsultasi.
Maka Kyai Hasyim mendapatkan restu mengenai ide pendirian organisasi ini.
Kemudian pada tahun 1924, Syaikhona Kholil mengutus Kiai As'ad yang saat itu berumur 27 tahun untuk mengantarkan sebuah tongkat sebagai simbol restu kepada Kiai Hasyim Asy'ari di Tebuireng, Jombang dan memintanya untuk menghafalkan Surat Thaha ayat 17-23 guna dibacakan di hadapan Kyai Hasyim.
Kyai As'ad kemudian berangkat dengan sepeda serta uang bekal pemberian Syaikhona Kholil sebagai akomodasi perjalanan.
Setibanya di Tebuireng, Kiai As’ad menghadap Kiai Hasyim Asy'ari dan menyerahkan tongkat itu. Kiai Hasyim bertanya “Apakah ada pesan dari Syaikhona?” Lalu Kiai As’ad membaca Surat Thaha ayat 17-23 sesuai dengan arahan Syaikhona Kholil.
Beberapa hari kemudian, Syaikhona Kholil kembali mengutus Kiai As'ad untuk mengantarkan sebuah tasbih kepada Kiai Hasyim sebagai sebuah simbol restu yang kedua.
Syaikhona Kholil berpesan agar Kiai As'ad membaca "Yaa Jabbar Yaa Qahhar" hingga sampai Tebuireng dan membacanya di hadapan Kiai Hasyim.
K.H. Hasyim Asy'ari dengan dua barang yang telah diterima tersebut, mengartikan bahwa Syaikhona Kholil memang telah merestuinya untuk mendirikan organisasi. Maka, setahun kemudian, pada tanggal 31 Januari 1926 M / 16 Rajab 1344 H di Surabaya berkumpul para ulama se-Jawa-Madura. Mereka bermusyawarah dan sepakat mendirikan organisasi Islam Nahdlatul Ulama.
Pemikiran :
Pemikiran dari K.H. Hasyim Asy'ari tentang Ahlussunnah wal Jama’ah adalah ulama dalam bidang tafsir Al Qur'an, Sunnah Nabi Muhammad, dan Fiqih yang tunduk pada tradisi Rasulullah dan Khulafaur Rasyidin. Selanjutnya beliau menyatakan bahwa sampai sekarang ulama tersebut termasuk "mereka yang mengikuti Mazhab Imam Abu Hanifah, Imam Maliki, Imam Syafi'i, dan Imam Hambali". Pemikiran inilah yang diterapkan oleh Jam'iyah Nahdlatul Ulama yang menyatakan sebagai pengikut, penjaga, pelestari, dan penyebar paham Ahlussunnah wal Jama’ah
Ahlussunnah wal Jama’ah dalam pandangan K.H. Hasyim Asy'ari tidak memiliki makna tunggal, tergantung perspektif yang digunakan.
Paling tidak terdapat dua perspektif yang digunakan untuk mendefinisikan Ahlussunnah wal Jama’ah, yaitu teologi dan fiqih. Namun, jika ditelusuri lebih lanjut melalui karya-karya K.H. Hasyim Asy'ari, maka sebenarnya dapat diambil sebuah kesimpulan yaitu bahwa Ahlussunnah wal Jama’ah pada dasarnya lebih kepada pola keberagaman bermadzhab kepada generasi muslim masa lalu yang cukup otoritatif secara religius.
[28/6 22.03] rudysugengp@gmail.com: Buatkan gambar dan infografis tentang
KH Hasyim Asy'ari Resolusi Jihad
Resolusi Jihad adalah suatu hasil dari perenungan dan penghayatan nilai-nilai Islam kebangsaan.
Tak lama setelah merdeka, Indonesia kembali mendapat teror Belanda yang ingin kembali masuk menguasa Indonesia dari tangan Jepang.
Presiden Soekarno mengutus Bung Tomo untuk menghadap KH Hasyim Asy’ari untuk meminta nasihat dan pendapat bagaimana kiranya hukumnya umat Islam menghadapi ancaman tersebut.
Menanggapi hal itulah K.H. Hasyim Asy’ari mengeluarkan fatwa yang kemudian diputuskan dalam rapat para konsul NU se-Jawa Madura.
Berikut isi teks asli fatwa tersebut.
Bismillahirrochmanir Rochim
Mendengar :
Bahwa di tiap-tiap Daerah di seloeroeh Djawa-Madoera ternjata betapa besarnja hasrat Oemmat Islam dan ‘Alim Oelama di tempatnja masing-masing oentoek mempertahankan dan menegakkan AGAMA, KEDAOELATAN NEGARA REPOEBLIK INDONESIA MERDEKA.
Menimbang :
a. Bahwa oentoek mempertahankan dan menegakkan Negara Repoeblik Indonesia menurut hoekoem Agama Islam, termasoek sebagai satoe kewadjiban bagi tiap-tiap orang Islam.
b. Bahwa di Indonesia ini warga negaranja adalah sebagian besar terdiri dari Oemmat Islam.
Mengingat:
1. Bahwa oleh fihak Belanda (NICA) dan Djepang jang datang dan berada di sini telah banjak sekali didjalankan kedjahatan dan kekedjaman jang menganggoe ketentraman oemoem.
2. Bahwa semoea jang dilakoekan oleh mereka itu dengan maksoed melanggar kedaoelatan Negara Repoeblik Indonesia dan Agama, dan ingin kembali mendjadjah di sini maka beberapa tempat telah terdjadi pertempoeran jang mengorbankan beberapa banjak djiwa manoesia.
3. Bahwa pertempoeran2 itu sebagian besar telah dilakoekan oleh Oemmat Islam jang merasa wadjib menoeroet hoekoem Agamanja oentoek mempertahankan Kemerdekaan Negara dan Agamanja.
4. Bahwa di dalam menghadapai sekalian kedjadian2 itoe perloe mendapat perintah dan toentoenan jang njata dari Pemerintah Repoeblik Indonesia jang sesoeai dengan kedjadian terseboet.
Memoetoeskan :
1. Memohon dengan sangat kepada Pemerintah Repoeblik Indonesia soepaja menentoekan soeatoe sikap dan tindakan jang njata serta sepadan terhadap oesaha2 jang akan membahajakan Kemerdekaan dan Agama dan Negara Indonesia teroetama terhadap fihak Belanda dan kaki tangannja.
2. Soepaja memerintahkan melandjoetkan perdjoeangan bersifat “sabilillah” oentoek tegaknja Negara Repoeblik Indonesia Merdeka dan Agama Islam.
Soerabaja, 22 Oktober 1945
[28/6 22.20] rudysugengp@gmail.com: Buatkan gambar dan infografis tentang
Akhir Hayat KH Hasyim Asy'ari
Kiai Hasyim meninggal dunia pada tanggal 25 Juli 1947 M atau 7 Ramadan 1366 H, saat itu di Kiai Hasyim menerima kedatangan utusan Panglima Besar Jenderal Sudirman dan Bung Tomo yang hendak mengabarkan keadaan negara setelah terjadinya Agresi Militer I pada 21 Juli 1947.
Kiai Hasyim kaget sebab mendengar cerita dari utusan tersebut bahwa Singosari telah direbut oleh Jenderal Spoor.
Mendengar kabar itu, Kiai Hasyim sangat kaget hingga beliau jatuh pingsan, sempat didatangkan dokter namun nyawanya tak bisa diselamatkan lagi, ia dimakamkan di komplek Pondok Pesantren Tebuireng, Diwek, Jombang.
KH Hasyim Asy'ari wafat pada 25 Juli 1947 (7 Ramadan 1366 H) di usia 72 tahun.
Beliau menghembuskan napas terakhir setelah mengalami pendarahan otak akibat pingsan saat mendengar kabar jatuhnya Kota Malang ke tangan Belanda dalam masa Agresi Militer.
Berikut adalah rangkuman detik-detik akhir hayat pendiri Nahdlatul Ulama (NU) ini:
Penerimaan Surat Darurat:
Pada malam hari tanggal 7 Ramadan, beliau menerima surat dari Bung Tomo dan Jenderal Sudirman yang memohon dikeluarkannya komando jihad untuk umat Islam.
Mendengar Berita Agresi:
Ketika sedang mengajar ngaji di Pesantren Tebuireng, beliau mendapatkan laporan bahwa tentara Belanda telah berhasil menduduki wilayah Singosari dan Malang.
Wafat:
Mendengar berita jatuhnya wilayah tersebut, beliau jatuh pingsan dan tidak sadarkan diri hingga akhirnya wafat pada dini hari sekitar pukul 03.00 WIB.
Makam:
Jenazah beliau dimakamkan di lingkungan kompleks Pondok Pesantren Tebuireng, Kabupaten Jombang, Jawa Timur.
Penasihat Militer & Tokoh:
Menjadi penasihat dan rujukan bagi para tokoh nasional seperti Jenderal Soedirman dan Bung Tomo.
Beliau juga memimpin atau menginspirasi berbagai laskar rakyat seperti Hizbullah dan Sabilillah.
Gelar Pahlawan:
Ditetapkan sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional melalui Keputusan Presiden pada tahun 1964.
Dalam film Sang Kiai (2013), Hasyim Asy'ari diperankan oleh Ikranagara.
[29/6 00.09] rudysugengp@gmail.com: Douwes Dekker
[29/6 00.14] rudysugengp@gmail.com: Buatkan gambar dan infografis tentang
Kehidupan pribadi Douwes Dekker
Ernest François Eugène Douwes Dekker (8 Oktober 1879 – 28 Agustus 1950), juga dikenal sebagai Danudirja Setiabudi setelah kemerdekaan Indonesia, adalah seorang nasionalis Indonesia-Belanda dan politikus keturunan Indo.
Ia berkerabat dengan penulis terkenal anti-kolonialisme Belanda Eduard Douwes Dekker.
Di masa mudanya, dia bertempur di Perang Boer Kedua di Afrika Selatan di pihak Boer. Pemikirannya sangat berpengaruh pada tahun-tahun awal gerakan kemerdekaan Indonesia.
Douwes Dekker terlahir di Pasuruan pada tanggal 8 Oktober 1879, sebagaimana yang dia tulis pada riwayat hidup singkat saat mendaftar di Universitas Zurich, September 1913. Ayahnya, Auguste Henri Eduard Douwes Dekker, adalah seorang agen di bank kelas kakap Nederlandsch Indisch Escomptobank. Auguste memiliki darah Belanda dari ayahnya, Jan (adik Eduard Douwes Dekker alias Multatuli) dan dari ibunya, Louise Bousquet.
Sementara itu, ibu Douwes Dekker, Louisa Neumann, lahir di Pekalongan dari pasangan Jerman-Jawa.
DD terlahir sebagai anak ke-3 dari 4 bersaudara, dan keluarganya pun sering berpindah-pindah. Kakak perempuan dan laki-laki, yakni Adeline (1876) dan Julius (1878) lahir sewaktu keluarga Dekker berada di Surabaya, sedangkan adik laki-lakinya Guido (1883) lahir di Meester Cornelis, Batavia (sekarang Jatinegara, Jakarta Timur.
Dari situ, keluarga Dekker berpindah lagi ke Pegangsaan, Jakarta Pusat.
Douwes Dekker menikah dengan Clara Charlotte Deije (1885-1968), anak dokter campuran Jerman-Belanda pada tahun 1903, dan mendapat lima anak, namun dua di antaranya meninggal sewaktu bayi (Edouard dan Sigmund, keduanya laki-laki), dan yang bertahan hidup semuanya perempuan (Louisa, Hedwig, dan Sieglinde).
Perkawinan ini kandas pada tahun 1919 dan keduanya bercerai.
Kemudian Douwes Dekker menikah lagi dengan Johanna Petronella Mossel (1905-1978), seorang Indo keturunan Yahudi, pada tahun 1927. Johanna adalah guru yang banyak membantu kegiatan kesekretariatan Ksatrian Instituut (KI), sekolah yang didirikan Douwes Dekker. Dari perkawinan ini mereka tidak dikaruniai anak.
Di saat Douwes Dekker dibuang ke Suriname pada akhir tahun 1941 pasangan ini harus berpisah, dan kemudian Johanna menikah dengan Djafar Kartodiredjo, yang juga merupakan seorang Indo (sebelumnya dikenal sebagai Arthur Kolmus).
Meskipun Johanna menikahi Djafar tanpa surat perceraian resmi dikarenakan DD sudah dibuang ke Suriname, DD sebelumnya sudah mengizinkan Johanna untuk menikahi Djafar yang merupakan salah satu guru di KI dan kenalan DD.
Sewaktu Douwes Dekker diungsikan dari Suriname dan menetap sebentar di Belanda di tahun 1946, ia menjadi dekat dengan perawat yang mengasuhnya, Nelly Alberta Geertzema (née Kruymel), seorang Indo yang berstatus janda beranak satu.
Nelly kemudian menemani Douwes Dekker yang menggunakan nama samaran "kabur" ke Indonesia agar tidak ditangkap intelijen Belanda.
Mengetahui bahwa Johanna telah menikah dengan Djafar, Douwes Dekker tidak lama kemudian menikahi Nelly pada 8 Maret 1947.
Douwes Dekker kemudian menggunakan nama Danoedirdja Setiabuddhi dan Nelly menggunakan nama Haroemi Wanasita, nama-nama yang diusulkan oleh Sukarno. Sepeninggal Douwes Dekker, Haroemi menikah dengan Wayne E. Evans, mantan kapten Angkatan Udara AS, pada tahun 1964 dan tinggal di Amerika Serikat sampai sekarang.
Walaupun mencintai anak-anaknya, Douwes Dekker tampaknya terlalu berfokus pada perjuangan idealismenya sehingga perhatian pada keluarga agak kurang dalam. Ia pernah berkata kepada kakak perempuannya, Adeline, kalau yang ia perjuangkan adalah untuk memberi masa depan yang baik kepada anak-anaknya kelak di Hindia yang merdeka. Pada kenyataannya, semua anaknya meninggalkan Indonesia menuju ke Belanda ketika Jepang masuk.
Demikian pula semua saudaranya, tidak ada yang memilih menjadi warga negara Indonesia.
[29/6 00.23] rudysugengp@gmail.com: Buatkan gambar dan infografis tentang
Riwayat Hidup Douwes Dekker
Masa muda :
Pendidikan dasar ditempuh di Pasuruan. Sekolah lanjutan pertama-tama diteruskan ke HBS di Surabaya, lalu pindah ke Gymnasium Koning Willem III School, sekolah elit setingkat HBS di Batavia.
Selepas lulus sekolah ia bekerja di perkebunan kopi "Soember Doeren" di Malang, Jawa Timur. Di sana ia menyaksikan perlakuan semena-mena yang dialami pekerja kebun, dan sering kali membela mereka. Tindakannya itu membuat ia kurang disukai rekan-rekan kerja, tetapi disukai pegawai-pegawai bawahannya.
Akibat konflik dengan manajernya, ia dipindah ke perkebunan tebu Pabrik Gula Padjarakan di Kraksaan, Probolinggo sebagai laboran.
Sekali lagi, dia terlibat konflik dengan manajemen karena urusan pembagian irigasi untuk perkebunan tebu dan padi petani.
Akibatnya, ia dipecat.
Perang Boer :
Menganggur dan kematian mendadak ibunya, membuat Nes memutuskan berangkat ke Afrika Selatan pada tahun 1899 untuk ikut dalam Perang Boer Kedua melawan Inggris.
Ia bahkan menjadi warga negara Republik Transvaal.
Beberapa bulan kemudian kedua saudara laki-lakinya, Julius dan Guido, menyusul.
Nes tertangkap oleh pasukan Inggris dan dipenjara di suatu kamp di Ceylon (sekarang Sri Lanka).
Di sana ia mulai berkenalan dengan sastra India, dan perlahan-lahan pemikirannya mulai terbuka akan perlakuan tidak adil pemerintah kolonial Hindia Belanda terhadap warganya.
Sebagai wartawan yang kritis dan awal aktivitas nasionalis :
DD dipulangkan ke Hindia Belanda pada tahun 1902, dan bekerja sebagai agen pengiriman Koninklijke Paketvaart Maatschappij, perusahaan pengiriman milik negara. Penghasilannya yang lumayan membuatnya berani menyunting Clara Charlotte Deije, putri seorang dokter asal Jerman yang tinggal di Hindia Belanda, pada tahun 1903.
Kemampuannya menulis laporan pengalaman peperangannya di surat kabar terkemuka membuat ia ditawari menjadi reporter koran Semarang terkemuka, De Locomotief.
Di sinilah ia mulai merintis kemampuannya dalam berorganisasi. Tugas-tugas jurnalistiknya, seperti ke perkebunan di Lebak dan kasus kelaparan di Indramayu, membuatnya mulai kritis terhadap kebijakan kolonial. pKetika ia menjadi staf redaksi Bataviaasch Nieuwsblad, 1907, tulisan-tulisannya menjadi semakin pro kaum Indo dan pribumi. Dua seri artikel yang tajam dibuatnya pada tahun 1908. Seri pertama artikel dimuat Februari 1908 di surat kabar Belanda Nieuwe Arnhemsche Courant setelah versi bahasa Jermannya dimuat di koran Jerman Das Freie Wort, "Het bankroet der ethische principes in Nederlandsch Oost-Indie" ("Kebangkrutan prinsip etis di Hindia Belanda") kemudian pindah di Bataviaasche Nieuwsblad. Sekitar tujuh bulan kemudian di akhir Agustus, seri tulisan panas berikutnya muncul di surat kabar yang sama, "Hoe kan Holland het spoedigst zijn koloniën verliezen?" ("Bagaimana caranya Belanda dapat segera kehilangan koloni-koloninya?", versi Jermannya berjudul "Hollands kolonialer Untergang") yang kembali mengkritik kebijakan politik etis. Tulisan-tulisan ini membuatnya mulai masuk dalam radar intelijen penguasa.
Di saat yang sama, rumah DD yang terletak di dekat STOVIA menjadi tempat berkumpul para perintis gerakan kebangkitan nasional Indonesia, seperti Soetomo dan Tjipto Mangoenkoesoemo, untuk belajar dan berdiskusi. Boedi Oetomo (BO), organisasi yang diklaim sebagai organisasi nasional pertama, lahir atas bantuannya. Ia bahkan menghadiri kongres pertama BO di Yogyakarta.
Aspek pendidikan tak luput dari perhatian DD. Pada 8 Maret 1910 ia turut membidani lahirnya Indische Universiteit Vereeniging (IUV), suatu badan penggalang dana untuk memungkinkan dibangunnya lembaga pendidikan tinggi (universitas) di Hindia Belanda.
Di dalam IUV terdapat orang Belanda, orang-orang Indo, aristokrat Banten dan perwakilan dari organisasi pendidikan kaum Tionghoa THHK.
[29/6 00.28] rudysugengp@gmail.com: 4. Buatkan gambar dan infografis tentang
Perjuangan masa Revolusi Kemerdekaan dan akhir hayat Douwes Dekker
Perjuangan pada masa Revolusi Kemerdekaan dan akhir hayat :
Tak lama setelah kembali, DD segera terlibat dalam posisi-posisi penting di sisi Republik Indonesia. Pertama-tama ia menjabat sebagai menteri negara tanpa portofolio dalam Kabinet Sjahrir III, yang hanya bekerja dalam waktu hampir 9 bulan. Selanjutnya berturut-turut DD menjadi anggota delegasi negosiasi dengan Belanda sebagai konsultan dalam komite bidang keuangan dan ekonomi, anggota Dewan Pertimbangan Agung, pengajar di Akademi Ilmu Politik (sekarang Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada), dan terakhir sebagai kepala seksi penulisan sejarah (historiografi) di bawah Kementerian Penerangan. Di mata beberapa pejabat Belanda yang konservatif, DD dianggap "komunis" dikarenakan pandangannya yang pro-Republik, meskipun ini sama sekali tidak benar dikarenakan DD bergabung dengan Partai Masyumi.
Pada periode ini DD sempat tinggal satu rumah dengan Sukarno, tetapi segera setelah ia dan Haroemi menikah dan dikarenakan kondisi kesehatannya, ia menempati salah satu rumah di Kaliurang. Dari rumah di Kaliurang inilah pada tanggal 21 Desember 1948 ia diciduk tentara Belanda yang tiba dua hari sebelumnya di Yogyakarta dalam "Operatie Kraai" (Agresi Militer Belanda II). Setelah diinterogasi singkat, ia lalu dikirim ke Jakarta untuk diinterogasi kembali. Tak lama kemudian DD dibebaskan karena kondisi fisiknya yang lemah, dan setelah berjanji tak akan melibatkan diri dalam kegiatan politik ia dibawa ke Bandung atas permintaannya, Haroemi kemudian menyusulnya.
Setelah renovasi, mereka lalu menempati rumah lama keluarga DD (dijulukinya "Djiwa Djuwita") di Jalan Lembang (Lembangweg).
Di Bandung DD terlibat kembali dengan aktivitas di Ksatrian Instituut. Kegiatannya yang lain adalah mengumpulkan material bersama Haroemi untuk penulisan autobiografinya (70 jaar konsekwent, terbit pada tahun 1950) dan merevisi buku sejarah tulisannya.
Ernest Douwes Dekker wafat pada dini hari tanggal 28 Agustus 1950 (tertulis di batu nisannya dan menurut berita-berita; 29 Agustus 1950 menurut perhitungan Barat[14]) dan dimakamkan di TMP Cikutra, Bandung.
Penghargaan :
Douwes Dekker dalam perangko Indonesia tahun 1962
Jasa DD dalam perintisan kemerdekaan diekspresikan dalam banyak hal.
Di setiap kota besar dapat dijumpai jalan yang dinamakan menurut namanya: Setiabudi. Jalan Lembang di Bandung Utara, tempat rumahnya berdiri, sekarang bernama Jalan Setiabudi.
Di Jakarta bahkan namanya dipakai sebagai nama suatu kecamatan, yakni Kecamatan Setiabudi di Jakarta Selatan.
Di Belanda, nama DD juga dihormati sebagai orang yang berjasa dalam meluruskan arah kolonialisme, meskipun hampir sepanjang hidupnya ia berseberangan posisi politik dengan pemerintah kolonial Belanda; bahkan dituduh sebagai "pengkhianat".
[29/6 00.38] rudysugengp@gmail.com: 3. Buatkan gambar dan infografis tentang
Perjuangan sebelum Kemerdekaan
Douwes Dekker
Indische Partij :
Karena menganggap BO terbatas pada masalah kebudayaan (Jawa), DD tidak banyak terlibat di dalamnya. Sebagai seorang Indo, ia terdiskriminasi oleh orang Belanda murni ("totok" atau trekkers). Sebagai contoh, orang Indo tidak dapat menempati posisi-posisi kunci pemerintah karena tingkat pendidikannya, tetapi mereka dapat mengisi posisi-posisi menengah dengan gaji lumayan tinggi. Untuk posisi yang sama, mereka mendapat gaji yang lebih tinggi daripada pribumi. Namun, akibat politik etis, posisi mereka dipersulit karena pemerintah koloni mulai memberikan tempat pada orang-orang pribumi untuk posisi-posisi yang biasanya diisi oleh Indo. Pemberi gaji merasa tidak keberatan dengan kewajiban tersebut karena kelompok pribumi dibayar lebih rendah.
Keprihatinan orang Indo ini dimanfaatkan oleh DD untuk memasukkan idenya tentang pemerintahan sendiri Hindia Belanda oleh orang-orang asli Hindia Belanda (Indiërs) yang bercorak inklusif dan mendobrak batasan ras dan suku.
Pandangan ini dapat dikatakan orisinal, karena semua orang pada masa itu lebih aktif pada kelompok ras atau sukunya masing-masing.
Berangkat dari organisasi kaum Indo, Indische Bond dan Insulinde, ia menyampaikan gagasan suatu "Indië" (Hindia) baru yang dipimpin oleh warganya sendiri, bukan oleh pendatang. Ironisnya, di kalangan Indo ia mendapat sambutan hangat hanya di kalangan kecil saja, karena sebagian besar dari mereka lebih suka dengan status quo, meskipun kaum Indo direndahkan oleh kelompok orang Eropa "murni", mereka masih dianggap lebih tinggi daripada kaum pribumi.
Tidak puas karena Indische Bond dan Insulinde tidak bisa bersatu, pada tahun 1912 Nes bersama-sama dengan Cipto Mangunkusumo dan Suwardi Suryaningrat mendirikan partai berhaluan nasionalis inklusif bernama Indische Partij ("Partai Hindia").
Kampanye ke beberapa kota menghasilkan anggota berjumlah sekitar 5000 orang dalam waktu singkat. Semarang mencatat jumlah anggota terbesar, diikuti Bandung.
Partai ini sangat populer di kalangan orang Indo, dan diterima baik oleh kelompok Tionghoa dan pribumi meskipun tetap dicurigai pula karena gagasannya yang radikal. Partai yang anti-kolonial dan bertujuan akhir kemerdekaan Indonesia ini dibubarkan oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda setahun kemudian, pada tahun 1913 karena dianggap menyebarkan kebencian terhadap pemerintah.
Akibat munculnya tulisan terkenal Soewardi di De Expres, "Als Ik Een Nederlander Was" (Seandainya Aku Seorang Belanda) yang dibela oleh DD dan Tjipto, ketiganya lalu diasingkan ke Belanda.
Dalam pembuangan di Eropa :
Masa di Eropa dimanfaatkan oleh Nes untuk mengambil program doktor di Universitas Zürich, Swiss, dalam bidang ekonomi.
Di sini ia tinggal bersama-sama keluarganya. Gelar doktor diperoleh secara agak kontroversial dan dengan nilai "serendah-rendahnya", menurut istilah salah satu pengujinya. Karena di Swis ia terlibat konspirasi dengan kaum revolusioner India, ia ditangkap di Hong Kong dan diadili, kemudian ia ditahan di Singapura pada tahun 1918.
Setelah dua tahun dipenjara, ia pulang ke Hindia Belanda pada tahun 1920.
Kegiatan jurnalistik dan Peristiwa Polanharjo :
Sekembalinya ia ke Batavia setelah dipenjara DD aktif kembali dalam dunia jurnalistik dan organisasi.
Ia menjadi redaktur organ informasi Insulinde yang bernama De Beweging.
Ia menulis beberapa seri artikel yang banyak menyindir kalangan pro-koloni serta sikap kebanyakan kaumnya: kaum Indo.
Targetnya sebetulnya adalah de-eropanisasi orang Indo, agar mereka menyadari bahwa demi masa depan mereka berada di pihak pribumi, bukan berpihak ke Belanda seperti yang terjadi pada saat itu. Organisasi kaum Indo yang baru dibentuk, Indisch Europeesch Verbond (IEV), dikritiknya dalam seri tulisan "De tien geboden" (Sepuluh Perintah Tuhan) dan "Njo Indrik" (Sinyo Hendrik).
Pada seri yang disebut terakhir, IEV dicap olehnya sebagai "liga yang konyol dan kekanak-kanakan".
Sejumlah pamflet lepas yang cukup dikenal juga ditulisnya pada periode ini, seperti "Een Natie in de maak" (Suatu Bangsa tengah terbentuk) dan "Ons volk en het buitenlandsche kapitaal" (Bangsa kita dan modal asing).
Pada rentang masa ini dibentuk pula Nationaal Indische Partij (NIP), sebagai organisasi lanjutan dari Indische Partij yang telah dilarang.
Pembentukan NIP menimbulkan perpecahan di kalangan anggota Insulinde antara yang moderat (kebanyakan kalangan Indo) dan yang progresif (menginginkan pemerintahan sendiri, kebanyakan orang Indonesia pribumi). NIP akhirnya bernasib sama seperti IP: tidak diizinkan oleh Pemerintah.
Pada tahun 1919, DD terlibat (atau tersangkut) dalam peristiwa protes dan kerusuhan petani/buruh tani di perkebunan tembakau Polanharjo, Klaten. Ia terkena kasus ini karena dianggap menghasut para petani dalam pertemuan mereka dengan orang-orang Insulinde cabang Surakarta, yang ia hadiri pula. Pengadilan dilakukan pada tahun 1920 di Semarang.
Hasilnya, ia dibebaskan; tetapi kasus baru menyusul dari Batavia: ia dituduh menulis hasutan di surat kabar yang dipimpinnya. Kali ini ia harus melindungi seseorang (sebagai redaktur De Beweging) yang menulis suatu komentar yang di dalamnya tertulis "Membebaskan negeri ini adalah keharusan! Turunkan penguasa asing!".
Yang membuatnya kecewa adalah ternyata alasan penyelidikan bukanlah semata tulisan itu, melainkan "mentalitas" sang penulis yang dituduhkan atas hasutan DD. Setelah melalui pembelaan yang panjang, DD divonis bebas oleh pengadilan.
Aktivitas pendidikan dan Ksatrian Instituut :
Sekeluarnya dari tahanan dan rentetan pengadilan, DD cenderung meninggalkan kegiatan jurnalistik dan menyibukkan diri dalam penulisan sejumlah buku semi-ilmiah dan melakukan penangkaran anjing gembala Jerman dan aktif dalam organisasinya. Prestasinya cukup mengesankan karena salah satu anjingnya, Achim von Potsdam, memenangi kontes dan bahkan mampu menjawab beberapa pertanyaan berhitung dan menjawab beberapa pertanyaan tertulis.
Atas dorongan Soewardi Soerjaningrat yang saat itu sudah mendirikan Sekolah Taman Siswa, DD kemudian ikut berkecimpung dalam dunia pendidikan dengan mendirikan sekolah "Ksatrian Instituut" (KI) di Bandung.
Ia banyak membuat materi pelajaran sendiri yang instruksinya diberikan dalam bahasa Belanda. KI kemudian mengembangkan pendidikan bisnis, tetapi di dalamnya diberikan pelajaran sejarah Indonesia dan sejarah dunia yang materinya ditulis oleh DD sendiri. Akibat isi pelajaran sejarah ini yang anti-kolonial dan pro-Jepang, pada tahun 1933 buku-bukunya disita oleh pemerintah Keresidenan Priangan dan kemudian dibakar. Pada saat itu Jepang mulai mengembangkan kekuatan militer dan politik di Asia Timur dengan politik ekspansi ke Korea dan Tiongkok. DD kemudian juga dilarang mengajar oleh pemerintah meskipun masih berada di struktur organisasi KI.
Kegiatan sebelum pembuangan :
Karena dilarang mengajar, DD kemudian mencari penghasilan dengan bekerja di kantor Kamar Dagang Jepang di Jakarta. Ini membuatnya dekat dengan Mohammad Husni Thamrin, seorang wakil pribumi di Volksraad. Pada saat yang sama, pemerintah Hindia Belanda masih trauma akibat pemberontakan komunis (ISDV) tahun 1927, memecahkan masalah ekonomi akibat krisis keuangan 1929, dan harus menghadapi perkembangan fasisme ala Nazi di kalangan warga Eropa (Europaeer) dengan munculnya Nationaal-Socialistische Beweging (NSB) cabang Hindia.
Serbuan Jerman ke Denmark dan Norwegia, dan akhirnya ke Belanda, pada awal tahun 1940 mengakibatkan ditangkapnya ribuan orang Jerman di Hindia Belanda, berikut orang Belanda anggota NSB dan orang Eropa lain yang diduga berafiliasi Nazi. DD yang sudah dipantau oleh pemerintah kolonial akhirnya ikut dipenjara karena dianggap sebagai kolaborator Jepang, yang pada bulan September 1940 mulai menyerang Indochina Prancis.
Ia juga dituduh sebagai komunis, tuduhan yang juga dikenakan oleh pemerintah Belanda dan pemerintah kolonial kepada aktivis-aktivis pro-kemerdekaan Indonesia.
Pengasingan di Suriname :
DD dibuang ke Suriname pada tahun 1941 melalui Afrika Selatan. Di sana ia ditempatkan di suatu kamp jauh di pedalaman Sungai Suriname yang bernama Jodensavanne ("Padang Yahudi").[8] Tempat itu pada abad ke-17 hingga ke-19 pernah menjadi tempat permukiman orang Yahudi yang kemudian ditinggalkan karena kemudian banyak pendatang yang membuat keonaran.
Kondisi kehidupan di kamp sangat memprihatinkan, sampai-sampai DD, yang waktu itu sudah memasuki usia 60-an, sempat kehilangan kemampuan melihat. Di sini kehidupannya sangat tertekan karena ia sangat merindukan keluarganya. Surat-menyurat dilakukannya melalui Palang Merah Internasional dan harus melalui sensor pemerintah.
Ketika kabar berakhirnya perang berakhir, para interniran (buangan) di sana tidak segera dibebaskan. Baru menjelang pertengahan tahun 1946 sejumlah orang buangan dikirim ke Belanda, termasuk DD. Di Belanda ia bertemu dengan Nelly Albertina Gertzema, seorang perawat.
Nelly kemudian menemaninya kembali ke Indonesia. Kepulangan ke Indonesia juga melalui petualangan yang mendebarkan karena DD harus mengganti nama dan menghindari petugas intelijen pemerintah Hindia di Pelabuhan Tanjung Priok.
Akhirnya mereka berhasil tiba di Yogyakarta, ibu kota Republik Indonesia pada waktu itu, pada tanggal 2 Januari 1947.
[29/6 01.26] rudysugengp@gmail.com: Buatkan gambar dan infografis tentang
Biodata HOS Cokroaminoto
Kehidupan Pribadi :
Cokroaminoto adalah anak kedua dari 12 bersaudara dari ayah bernama R.M. Tjokroamiseno, salah seorang pejabat wedana Kleco, Magetan, pada saat itu Kakeknya, R.M. Adipati Tjokronegoro, pernah juga menjabat sebagai Bupati Ponorogo, Mertuanya adalah R.M. Mangoensoemo yang merupakan wakil bupati Ponorogo.
Beliau adalah keturunan langsung dari Kiai Ageng Hasan Besari dari Pondok Pesantren Tegalsari Ponorogo.
Setelah lulus dari sekolah rendah, ia melanjutkan pendidikannya di sekolah pamong praja Opleiding School voor Inlandsche Ambtrnaren (OSVIA) di Magelang. Setelah lulus, ia bekerja sebagai juru tulis patih di Ngawi. Tiga tahun kemudian, ia berhenti. Tjokromaninoto pindah dan menetap di Surabaya pada 1906.
Di Surabaya, ia bekerja sebagai juru tulis di firma Inggris Kooy & Co dan melanjutkan pendidikannya di sekolah kejuruan Burgerlijk Avondschool, jurusan Teknik Mesin.
Salah satu trilogi darinya yang termasyhur adalah Setinggi-tinggi ilmu, semurni-murni tauhid, sepintar-pintar siasat. Ini menggambarkan suasana perjuangan Indonesia pada masanya yang memerlukan tiga kemampuan pada seorang pejuang kemerdekaan. Dari berbagai muridnya yang paling ia sukai adalah Soekarno hingga ia menikahkan Soekarno dengan anaknya yakni Siti Oetari, istri pertama Soekarno.
Pesannya kepada Para murid-muridnya ialah "Jika kalian ingin menjadi Pemimpin besar, menulislah seperti wartawan dan bicaralah seperti orator".
Perkataan ini membius murid-muridnya hingga membuat Soekarno setiap malam berteriak belajar pidato hingga membuat kawannya, Muso, Alimin, S.M. Kartosuwiryo, Darsono, dan yang lainnya terbangun dan tertawa menyaksikannya.
Tempat kelahiran : Cokroaminoto menuai Polemik karena terdapat dua versi, yakni di Ponorogo dan Madiun.
Bila di Ponorogo Cokroaminoto lahir di Tegalsari sedangkan di Madiun sendiri terdapat dua tempat yakni Bakur dan Bukur.
Namun tempat lahir Cokroaminoto yang diakui adalah yang di Ponorogo setelah melalui penelitian dan berbagai literasi buku sejarah seperti Buku Sejarah Sarekat Islam dan Pendidikan Bangsa, HOS. Cokroaminoto. Rekonstruksi Pemikiran Dan Perjuangannya, Hadji Oemar Said Cokroaminoto:
Pendiri Dan Pembangunan Kebangkitan Umat Islam Indonesia, SK Kepresidenan Pahlawan.
Selain itu telah disahkannya sebuah Jalan HOS Cokroaminoto di Ponorogo yang diajukan Bupati Ponorogo, Ipong Muchlisoni kepada Pemerintah Pusat karena nama jalan merupakan putra daerah Ponorogo, kemudian dilanjutkan oleh Bupati Ponorogo selanjutnya Giri Sancoko membuat monumen HOS Cokroaminoto di sepanjang jalan tersebut.
Sedangkan nama Cokroaminoto di Kota Madiun dijadikan nama jalan yang legendaris . Terdapat juga sebuah lembaga pendidikan di Kota Madiun yang terkenal memakai namanya.
Serta oleh-oleh khas dan favorit, Bluder Cokro.
Wafat :
Cokroaminoto meninggal di Yogyakarta, Indonesia, 17 Desember 1934 pada umur 52 tahun.
Ia dimakamkan di TMP Pekuncen, Yogyakarta, setelah jatuh sakit sehabis mengikuti Kongres SI di Banjarnegara.
Jabatannya di PSII digantikan oleh saudaranya Abikusno Tjokrosujoso.
HOS Cokroaminoto diangkat menjadi Pahlawan Nasional oleh Presiden Indonesia Soekarno pada tahun 1961 berdasarkan Nomer Surat Keputusan SK/590/Tahun/1961 pada tanggal 09 November 1961 lahir di Ponorogo dan wafat dimakamkan di Yogyakarta.
[29/6 01.35] rudysugengp@gmail.com: Buatkan gambar dan infografis tentang
Pembentukan Serikat Islam HOS Cokroaminoto
Sarekat Dagang Islam :
Samanhudi mendirikan Sarekat Dagang Islam (SDI) atau Serikat Buruh Islam, pada akhir tahun 1905, di Surakarta. Cokroaminoto diminta menyiapkan peraturan yang diperlukan organisasi dan menangani kepengurusannya.
Akta tersebut dibuat dan disahkan di Notaris di Surabaya pada tanggal 10 September 1906.
Sarekat Islam :
Atas saran Cokroaminoto, kata perdagangan dalam nama organisasi tersebut dihapus dan SDI menjadi Sarekat Islam (SI) atau Persatuan Islam. Ketuanya adalah H. Samanhudi, sedangkan Cokroaminoto menjadi wakil ketuanya. Beberapa hari kemudian, undang-undangnya dikirim ke Gubernur Jenderal untuk disahkan menjadi lembaga hukum.
Sebuah komite pusat dibentuk dengan Samanhudi sebagai ketua dan Cokroaminoto sebagai wakil ketua.
Dalam menjelaskan tujuan organisasinya, Cokroaminoto menyatakan SI tidak akan menentang pemerintah Hindia Belanda.
Demi kepentingan organisasi, ia dan pengurus lainnya menemui Gubernur Jenderal saat itu Alexander Willem Frederik Idenburg pada tanggal 29 Maret 1913. Idenburg menyatakan bahwa demi kepentingan umum (Belanda: algemeen belang), pengesahan SI tidak dapat diberikan, tetapi serikat Islam setempat dapat diberikan status badan hukum.
Keanggotaan SI meningkat pesat, menjadi sekitar dua setengah juta.
Sarekat Islam Pusat :
Karena pesatnya perkembangan serikat Islam lokal, maka perlu dibentuk serikat Islam pusat yang mengoordinasikannya. Pada tahun 1915, Sarekat Islam Pusat atau Centraal Sarekat Islam (CSI) didirikan dengan Cokroaminoto sebagai ketuanya, Abdoel Moeis sebagai wakil ketuanya, dan Samanhoedi sebagai ketua kehormatan. Sejak itu, Cokroaminoto terus menjadi ketua atau anggota pengurus SI hingga kematiannya.
Kongres nasional CSI yang pertama sekaligus kongres SI yang ketiga pada masa kepemimpinannya diadakan di Bandung pada bulan Juni 1916. Penggunaan kata nasional menandakan persoalan yang disuarakan Cokroaminoto, yaitu perlunya persatuan seluruh rakyat Indonesia.
SI memperoleh pengakuan atas kekuasaannya dengan dilantiknya Cokroaminoto dan Abdoel Moeis sebagai anggota Volksraad yang baru dibuka pada tahun 1918.
SI di bawah Tjokroaminoto berkembang, tetapi muncul pertentangan dari dalam, sementara kepercayaan pemerintah kolonial menurun.
Tantangan terberat datang dari faksi Marxis/Leninis pimpinan Semaun yang berhadapan dengan Tjokroaminoto. Akhirnya faksi Marxis–Leninis pecah dan membentuk SI-Merah (“SI-Merah”), yang kemudian bergabung dengan Partai Komunis Indonesia.
Pada tahun 1921, Tjokroaminoto ditangkap atas tuduhan pembunuhan oleh SI-afd. B di Cimareme, Garut, Jawa Barat. Dia dibebaskan sekitar 9 bulan kemudian tanpa pengadilan pada bulan Agustus 1922.
Partai Sarekat Islam :
CSI menjadi lemah, dan namanya diubah menjadi Partai Sarekat Islam (PSI) pada bulan Februari 1923. Cokroaminoto melakukan upaya untuk mempersatukan kelompok luar Jawa. Setelah serangan propaganda dilancarkan, pemberontakan terjadi di mana-mana, hingga ia dan Abdoel Moeis dilarang mengunjungi beberapa daerah. Pada saat itu, Pan-Islamisme dilancarkan. Cokroaminoto dan Mas Mansoer menunaikan ibadah haji.
Usulan politik hijrah atau “migrasi” dengan sikap tidak kooperatif terhadap pemerintah kolonial akhirnya diterima Kongres, yang menyebabkan penolakan Cokroaminoto ketika ia akan terpilih menjadi anggota Volksraad pada tahun 1927. Sebuah Komite Ulama juga didirikan untuk membahas tafsir Al-Quran kontroversial Cokroaminoto pada tahun 1928.
Partai Syarikat Islam Indonesia :
Kemudian PSI diubah menjadi Partai Persatuan Islam Indonesia atau Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII) pada awal tahun 1929. Terjadi konfrontasi antara Soekiman yang nasionalis dan Cokroaminoto yang religius yang menyebabkan keluarnya Soekiman untuk membentuk partai baru, Partai Islam Indonesia.
[29/6 01.38] rudysugengp@gmail.com: Buatkan gambar dan infografis tentang
HOS Cokroaminoto
Gelar "Raja Jawa Tanpa Mahkota"
Oleh orang Belanda, Cokroaminoto dijuluki sebagai De Ongekroonde Koning van Java atau "Raja Jawa Tanpa Mahkota", Cokroaminoto adalah salah satu pelopor pergerakan di Indonesia dan sebagai guru para pemimpin-pemimpin besar di Indonesia. Berangkat dari pemikirannya pula yang melahirkan berbagai macam ideologi bangsa Indonesia pada saat itu. Rumahnya sempat dijadikan rumah kost para pemimpin besar untuk menimbah ilmu padanya, yaitu Semaoen, Alimin, Muso, Ananda Hirdan, Imran Halomoan, bahkan Fajri Hamonangan pernah berguru padanya. Ia adalah orang yang pertama kali menolak untuk tunduk pada Belanda.
Setelah ia meninggal pada tahun 17 Desember 1934, lahirlah warna-warni pergerakan Indonesia yang dibangun oleh murid-muridnya, yakni kaum sosialis/komunis yang dianut oleh Semaoen, Muso, Alimin. Soekarno yang nasionalis, dan Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo yang Islam merangkap sebagai sekretaris pribadi.
Namun, ketiga muridnya itu saling berselisih menurut paham masing-masing. Pengaruh kekuatan politik pada saat itu memungkinkan para pemimpin yang sekawanan itu saling berhadap-hadapan hingga terjadi Pemberontakan Madiun 1948 yang dilakukan Partai Komunis Indonesia karena memproklamasikan "Republik Soviet Indonesia" yang dipimpin Muso.
Dengan terpaksa Presiden Soekarno mengirimkan pasukan TNI yakni Divisi Siliwangi yang mengakibatkan "abang", sapaan akrab Soekarno kepada Muso, pemimpin Partai komunis pada saat itu tertembak mati pada 31 Oktober 1948.
Pemberontakan kemudian dilakukan oleh Negara Islam Indonesia (NII) yang dipimpin oleh S.M. Kartosuwiryo dan akhirnya hukuman mati yang dijatuhkan oleh Soekarno kepada kawannya Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo pada 12 September 1962.
Dalam budaya populer :
1. Dalam film Soekarno (2013), Tjokroaminoto diperankan oleh Rukman Rosadi.
2. Dalam film Cokroaminoto: Guru Bangsa (2015), Cokroaminoto diperankan oleh Reza Rahadian.
3. Dalam film Cokroaminoto: Guru Bangsa (2015), Cokroaminoto (kecil) diperankan oleh Christoffer Nelwan.
4. Dalam film Buya Hamka (2023), Cokroaminoto diperankan oleh Reza Rahadian.
[29/6 01.39] rudysugengp@gmail.com: HOS Cokroaminoto 3
Tidak ada komentar:
Posting Komentar