[29/6 06.54] rudysugengp@gmail.com: Buatkan gambar dan infografis tentang
Biodata Agus Salim
Agus Salim (8 Oktober 1884 – 4 November 1954), lahir dengan nama Masjhoedoelhaq Salim (berarti "pembela kebenaran"), adalah seorang pejuang kemerdekaan Indonesia dan juga sebagai bapak pandu Indonesia.
Ia ditetapkan sebagai salah satu pahlawan nasional Indonesia pada tanggal 27 Desember 1961 melalui Keputusan Presiden Indonesia Nomor 657 tahun 1961.
Pekerjaan yang ditekuninya adalah sebagai orator dan penulis.
Agus Salim menguasai 4 bahasa asing di Eropa (bahasa Belanda, bahasa Inggris, bahasa Jerman dan bahasa Prancis), 2 bahasa asing di Timur Tengah (bahasa Arab dan bahasa Turki), serta bahasa Jepang.
Lahir : Masjhoedoelhaq Salim, 8 Oktober 1884, Koto Gadang, Agam, Hindia Belanda
Meninggal : 4 November 1954 (umur 70), Jakarta, Indonesia
Makam : Taman Makam Pahlawan Nasional Utama Kalibata, Jakarta
Partai politik :Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII)
Suami : Zainatun Nahar
Anak : 8
Profesi : Jurnalis-Diplomat
Penghargaan :
Pahlawan Nasional Indonesia
Bintang Republik Indonesia
Bintang Mahaputera
[29/6 07.10] rudysugengp@gmail.com: Buatkan gambar dan infografis tentang
Latar Belakang Kehidupan Agus Salim
Asal usul :
Agus Salim lahir dari pasangan Soetan Salim gelar Soetan Mohamad Salim dan Siti Zainab. Jabatan terakhir ayahnya adalah Jaksa Kepala di Pengadilan Tinggi Riau.
Pendidikan :
Pendidikan dasar ditempuh di Europeesche Lagere School (ELS), sekolah khusus bagi anak-anak Eropa, kemudian dilanjutkan ke Hoogere Burgerschool (HBS) Koning Willem III (Kawedrie) di Batavia. Ketika lulus, ia berhasil menjadi alumnus terbaik di HBS se-Hindia Belanda.
Usai Lulus :
Setelah lulus, Salim bekerja sebagai penerjemah dan pembantu notaris pada sebuah kongsi pertambangan di Indragiri.
Pada tahun 1906, Salim berangkat ke Jeddah, Arab Saudi untuk bekerja di Duta besar Belanda di sana. Pada periode inilah Salim berguru pada Syaikh Ahmad Khatib, yang masih merupakan pamannya.
Usaha/Pekerjaan :
Pada tahun 1912-1915, Salim membuka sekolah dasar berbahasa Belanda, Hollandsch-Inlandsche School (HIS) atau disebut Sekolah Dasar Bumi Putera dengan statusnya sebagai sekolah swasta. Kemudian pada tahun 1915 ia terjun ke dunia jurnalistik di Harian Neratja sebagai Wakil Redaktur.
Setelah itu diangkat menjadi Ketua Redaksi.
Kegiatannya dalam bidang jurnalistik terus berlangsung hingga akhirnya pada tahun 1925 beliau menjadi Pemimpin Harian Hindia Baroe di Jakarta. Pada tahun 1927 Kemudian mendirikan Surat kabar Fadjar Asia bersama HOS Tjokroaminoto.
Dan selanjutnya sebagai Redaktur Harian Moestika di Kota Yogyakarta dan membuka kantor Advies en Informatie Bureau Penerangan Oemoem (AIPO).
Keluarga :
Agus Salim menikah dengan Zaenatun Nahar Almatsier dan dikaruniai 10 orang anak.
Kesepuluh anaknya ini dua diantaranya meninggal sewaktu kecil, sehingga kedelapan anak beliau terdiri dari empat orang anak laki-laki dan empat orang perempuan.
Karya tulis :
* Riwayat Kedatangan
* Islam di Indonesia
* Dari Hal Ilmu Quran
* Muhammad voor en na de Hijrah
* Gods Laatste Boodschap.
* Jejak Langkah Haji Agus Salim (Kumpulan karya Agus Salim yang dikompilasi koleganya, Oktober 1954). Hoekoem yang ke lima
* Tauhid.
Karya terjemahan :
* Menjinakkan Perempuan Garang (dari The Taming of the Shrew karya Shakespeare).
* Cerita Mowgli Anak Didikan Rimba (dari The Jungle Book karya Rudyard Kipling).
* Sejarah Dunia (karya E. Molt).
Karangan beliau banyak di muat di beberapa surat kabar seperti Neraca, Mustika, Fajar Asia Hindia Baru, Keng Po Dunia Islam, Het Licht, Pujangga Baru Hikmah, Mimbar Agama, Moslemse Reveil, Indonesia Revue.
[29/6 07.19] rudysugengp@gmail.com: Buatkan gambar dan infografis tentang
Karier Politik Agus Salim
Pada tahun 1915, H. Agus Salim bergabung dengan Sarekat Islam dan menjadi pemimpin kedua setelah Oemar Said Tjokroaminoto.
Peran H. Agus Salim pada masa perjuangan kemerdekaan Indonesia antara lain:
1. Anggota Volksraad (1921–1924)
2. Anggota Panitia Sembilan dalam Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan yang mempersiapkan UUD 1945
3. Menteri Muda Luar Negeri Kabinet Sjahrir II (1946) dan Kabinet III (1947)
4. Pembukaan hubungan diplomatik Indonesia dengan negara-negara Arab, terutama Mesir pada tahun (1947)
5. Menteri Luar Negeri Kabinet Amir Sjarifuddin I dan Amir Sjarifuddin II (1947–1948)
6. Menteri Luar Negeri Kabinet Hatta I dan Hatta II (1948–1949)
Di antara tahun 1946-1950 ia laksana bintang cemerlang dalam pergolakan politik Indonesia, sehingga kerap kali digelari "Orang Tua Besar" (The Grand Old Man).
Ia pun pernah menjabat Menteri Luar Negeri Indonesia pada kabinet presidensial dan pada tahun 1950 sampai akhir hayatnya dipercaya sebagai Penasehat Menteri Luar Negeri.
Pada tahun 1952, ia menjabat Ketua di Dewan Kehormatan Persatuan Wartawan Indonesia. Biarpun penanya tajam dan kritikannya pedas tetapi Haji Agus Salim dikenal masih menghormati batas-batas dan menjunjung tinggi kode etik jurnalistik.
Setelah mengundurkan diri dari dunia politik, pada tahun 1953 ia mengarang buku dengan judul Bagaimana Takdir, Tawakal dan Tauchid harus dipahamkan? yang lalu diperbaiki menjadi Keterangan Filsafat Tentang Tauchid, Takdir dan Tawakal.
Ia meninggal dunia pada 4 November 1954 di Jakarta dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata. Namanya kini diabadikan untuk stadion sepak bola di Padang.
Dalam budaya populer :
Dalam film Tjokroaminoto: Guru Bangsa (2015), Agus Salim diperankan oleh Ibnu Jamil.
Dalam film Moonrise Over Egypt (2018), Agus Salim diperankan oleh Pritt Timothy.
Dalam film Buya Hamka (2023), Agus Salim diperankan oleh Pritt Timothy.
[29/6 07.38] rudysugengp@gmail.com: Buatkan gambar dan infografis tentang
Biografi Dewi Sartika
Masa Kecil :
Dewi Sartika lahir dari keluarga Sunda yang ternama, yaitu R. Rangga Somanegara dan R. A. Rajapermas di Cicalengka pada, 4 Desember 1884.
Ketika masih kanak-kanak, Dewi Sartika selalu bermain peran menjadi seorang guru ketika seusai sekolah bersama teman-temannya.
Setelah ayahnya meninggal, ia tinggal bersama dengan pamannya.
Ia menerima pendidikan yang sesuai dengan budaya Sunda oleh pamannya, meskipun sebelumnya ia sudah menerima pengetahuan mengenai budaya barat.
Pada tahun 1899, Dewi Sartika pindah ke Bandung.
Kegiatan :
Pada 16 Januari 1904, ia mendirikan Sakola Istri di Pendopo Kabupaten Bandung, berkat dukungan dari kakeknya yang pada saat itu menjabat sebagai Bupati Bandung, Raden Adipati Aria Martanagara, dan Den Hamer, Inspektur Kantor Pengajaran. Sekolah tersebut kemudian direlokasi ke Jalan Ciguriang dan berubah nama menjadi Sakola Kaoetamaan Istri (Bahasa Indonesia: Sekolah Keutamaan Perempuan) pada tahun 1910.
Dewi Sartika mengajarkan para wanita membaca, menulis, berhitung, pendidikan agama dan berbagai keterampilan. Pada tahun 1912, sudah ada sembilan sekolah yang tersebar di seluruh Jawa Barat, kemudian berkembang menjadi satu sekolah di tiap kota maupun kabupaten pada tahun 1920.
Pada September 1929, sekolah tersebut berganti nama menjadi Sakola Radén Déwi.[5]
Sekolah Raden Dewi berkembang dengan pesat. Pada zaman penjajahan Jepang, ada kebijakan bahwa semua sekolah dasar diubah namanya menjadi Sekolah Rakyat. Sekolah Raden Dewi pun ikut dibubah namanya menjadi Sekolah Rakyat Gadis No.29.
Kurikulumnya juga ditetapkan oleh Pemerintah Jepang.
Akan tetapi, masa pendudukan Jepang membuat sekolah tersebut mengalami krisis keuangan dan peralatan.
Pascakemerdekaan : Kesehatan Dewi Sartika mulai menurun.
Ketika terjadi Agresi Militer Belanda dalam masa perang kemerdekaan sehingga terpaksa ikut mengungsi ke Tasikmalaya.
Dewi Sartika meninggal pada 11 September 1947 pukul 09.00 pagi di Cineam dan dimakamkan di Tasikmalaya.
Setelah keadaan aman, makamnya dipindahkan ke Jalan Karang Anyar, Bandung.
[29/6 07.56] rudysugengp@gmail.com: Buatkan gambar dan infografis tentang
Perjuangan Dewi Sartika dalam Membangun Sekolah
Dewi Sartika yang lahir di keluarga patih membuatnya memiliki beberapa privilese yang tidak bisa didapatkan anak sebayanya. Namun hal ini tidak bertahan lama sebab terjadi sebuah peristiwa yang sangat memilukan bagi keluarganya pada tahun 1893.
Kala itu, ayah Dewi Sartika dituduh terlibat dalam pemasangan dinamit, di mana hal ini membuatnya dibuang ke Ternate beserta sang istri, R. A. Rajapermas.
Tak berhenti sampai disitu, pemerintah juga melakukan penyitaan hampir seluruh harta benda milik keluarganya.
Kejadian ini tentunya membuat keluarga Dewi Sartika kehilangan privilese, meski sebelumnya merupakan keluarga patih.
Kejadian ini memaksa Dewi Sartika untuk tinggal dan dititipkan ke kakak kandung dari ibunya, yakni Raden Demang Suria Karta Hadiningrat, Patih Afdeling Cicalengka.
Tumbuh sebagai "anak titipan" membuatnya mendapat perlakuan berbeda, sehingga pendidikannyapun terbatas.
Setelah sekian lama, ibunya kembali dari pengasingan di Ternate, tetapi sayangnya ayah Dewi Sartika telah meninggal.
Setelah dapat berkumpul kembali dengan ibunya, Dewi Sartika pindah ke Bandung dari Cicalengka.
Sejak itulah ia bertekad besar untuk mendirikan sekolah khusus gadis-gadis remaja.
Ia belajar dar penderitaan ibunya yang tidak berdaya saat suaminya diasingkan ke Ternate.
Tak tanggung-tanggung, guna mewujudkan ambisi besarnya, ia menghadap langsung ke bupati Bandung, R.A.A. Martanegara. Untungnya beliau merupakan sosok yang cukup progresif sehingga menyetujui ide dewi Sartika. Akhirnya pada 16 Januari 1904, Dewi Sartika berhasil mendirikan sekolah khusus perempuan di Pendopo kantor Kabupaten Bandung.
[29/6 07.56] rudysugengp@gmail.com: Buatkan gambar dan infografis tentang
Peninggalan dan Penghargaan
Dewi Sartika
Kata Mutiara :
"Hanya dengan Pendidikan kita bisa tumbuh menjadi suatu bangsa." - Dewi Sartika -
Peninggalan :
Sekolah Kautamaan Istri adalah salah satu tonggak penting dalam sejarah pendidikan perempuan di Indonesia, khususnya di Jawa Barat.
Sekolah ini didirikan oleh Dewi Sartika, seorang pahlawan nasional Indonesia yang terkenal atas perjuangannya dalam memajukan pendidikan bagi perempuan.
Sejak kecil Dewi Sartika, ia telah menunjukkan ketertarikannya pada pendidikan.
Terinspirasi oleh pendidikan Barat yang diperkenalkan oleh penjajah Belanda. Dewi Sartika mulai menyadari pentingnya pendidikan bagi perempuan, yang pada masa itu masih sangat terbatas.
Perempuan sering kali hanya diajarkan keterampilan domestik tanpa akses pada ilmu pengetahuan formal.
Pada 16 Januari 1904, Dewi Sartika mendirikan Sekolah Kautamaan Istri di rumah orang tuanya di Bandung yang merupakan sekolah pertama di Jawa Barat khusus untuk perempuan pribumi. Sekolah ini memberikan pendidikan dasar, termasuk membaca, menulis, berhitung, dan keterampilan rumah tangga seperti menjahit, memasak, dan mengelola keuangan keluarga. Tujuannya adalah untuk membekali perempuan dengan pengetahuan dan keterampilan yang berguna dalam kehidupan sehari-hari dan mempersiapkan mereka untuk menjadi istri dan ibu yang cerdas dan mandiri.
Sekolah Kautamaan Istri mendapatkan sambutan hangat dari masyarakat dan dalam beberapa tahun jumlah murid terus bertambah. Dengan dukungan masyarakat dan pemerintah Hindia Belanda, sekolah ini berkembang pesat dan membuka cabang di beberapa kota di Jawa Barat.
Pada tahun 1910, Sekolah Kautamaan Istri telah menjadi model pendidikan perempuan yang banyak diadopsi di daerah wilayah lain di Indonesia.
Keberhasilan Dewi Sartika dalam mendirikan dan mengelola Sekolah Kautamaan Istri merupakan bukti nyata dari komitmennya terhadap kemajuan pendidikan perempuan. Lewat sekolah ini, ia berhasil membuka jalan bagi generasi perempuan Indonesia untuk mendapatkan hak pendidikan yang setara dengan laki-laki, sekaligus berperan aktif dalam pembangunan masyarakat. Dewi Sartika wafat pada 11 September 1947, tetapi warisannya dalam bidang pendidikan perempuan tetap hidup dan dikenang hingga saat ini.
Yayasan Dewi Sartika :
Yayasan Dewi Sartika didirikan sebagai lembaga yang bertujuan melanjutkan cita-cita pendidikan yang telah dirintis oleh Dewi Sartika.
Gagasan pembentukannya muncul pada peringatan Dewi Sartika di Bandung tahun 1949 atas usul Mohammad Sumardi, yang saat itu menjabat sebagai inspektur sekolah di wilayah Priangan dan Cirebon, dengan tujuan agar peringatan tersebut disertai kegiatan nyata di bidang pendidikan. Yayasan ini resmi berdiri pada 17 April 1951 berdasarkan akta notaris, dengan kepengurusan awal yang melibatkan tokoh-tokoh perempuan seperti Utari Sacadijaya dan Neno Ratnawinadi.
Dalam perkembangannya, yayasan menyelenggarakan berbagai lembaga pendidikan, antara lain Sekolah Guru B (SGB) Puteri yang dibuka pada tahun 1952 untuk mempersiapkan tenaga pengajar sekolah dasar. Seiring kebijakan pemerintah yang menghapus SGB, lembaga tersebut ditutup pada tahun 1960 dan kemudian dialihkan menjadi Sekolah Kepandaian Puteri (SKP), yang selanjutnya berkembang menjadi Sekolah Kesejahteraan Keluarga tingkat pertama.
Selain itu, sejak tahun 1968 yayasan juga mengelola sekolah dasar yang menempati gedung bersejarah di Jalan Kautamaan Istri, Bandung.
Kegiatan yayasan didukung oleh iuran anggota, sumbangan, serta usaha lain, dan diarahkan untuk mendukung pendidikan perempuan sesuai dengan tujuan awal pendiriannya.
Dalam pelaksanaannya, yayasan menyesuaikan program pendidikan dengan perkembangan kebijakan pemerintah, sekaligus mempertahankan fokus pada pendidikan perempuan sebagaimana yang dirintis oleh Dewi Sartika.
Penghargaan :
Dewi Sartika menulis sebuah karya berjudul De Inlandsche Vrouw (Wanita Bumiputera), yang memuat gagasannya mengenai pentingnya pendidikan bagi perempuan. Dalam tulisannya, Dewi Sartika menekankan bahwa pendidikan berperan dalam membentuk kekuatan dan kesehatan anak, baik secara jasmani maupun rohani, yang dalam istilah Sunda disebut “cageur bageur,” yakni sehat lahir dan batin serta berperilaku baik. Selain itu, ia juga mengemukakan unsur pendidikan susila, pendidikan kejuruan, serta gagasan mengenai persamaan hak antara laki-laki dan perempuan.
Atas tulisan tersebut Dewi Sartika dianugerahi gelar Orde van Oranje-Nassau pada ulang tahun ke-35 Sekolah Kaoetamaan Isteri sebagai penghargaan atas jasanya dalam memperjuangkan pendidikan.
Penganugerahan gelar Pahlawan Nasional kepada Dewi Sartika dilakukan oleh Pemerintah Republik Indonesia sebagai pengakuan atas perannya di bidang pendidikan.
Usulan pengangkatannya telah diajukan sejak Kongres Wanita Indonesia (Kowani) di Palembang pada tahun 1955 oleh berbagai organisasi perempuan, termasuk Pasundan Istri dan Budi Istri, dengan mempertimbangkan jasa-jasanya dalam mendirikan Sekolah Istri pada tahun 1904 di Jawa Barat serta kontribusinya dalam pendidikan perempuan. Penetapan resmi sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional dilakukan melalui Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 252 tertanggal 1 Desember 1966 yang ditandatangani oleh Presiden Soekarno.
[29/6 19.51] rudysugengp@gmail.com: Mulai Cipto 4
[29/6 19.54] rudysugengp@gmail.com: Buatkan gambar dan infografis tentang
Biodata Cipto Mangunkusumo
dr. Tjipto Mangoenkoesoemo (EBI: Cipto Mangunkusumo, Aksara Jawa: ꦕꦶꦥ꧀ꦠꦩꦔꦸꦤ꧀ꦏꦸꦱꦸꦩ) (Pecangaan, Jepara, 4 Maret 1886 – Batavia, 8 Maret 1943) adalah seorang tokoh pergerakan kemerdekaan Indonesia. Bersama dengan Ernest Douwes Dekker dan Ki Hajar Dewantara ia dikenal sebagai "Tiga Serangkai" yang banyak menyebarluaskan ide pemerintahan sendiri dan kritis terhadap pemerintahan penjajahan Hindia Belanda. Ia adalah tokoh dalam Indische Partij, suatu organisasi politik yang pertama kali mencetuskan ide pemerintahan sendiri di tangan penduduk setempat, bukan oleh Belanda.
Pada tahun 1913 ia dan kedua rekannya diasingkan oleh pemerintah kolonial ke Belanda akibat tulisan dan aktivitas politiknya, dan baru kembali 1917.
Dokter Cipto menikah dengan seorang Indo pengusaha batik, sesama anggota organisasi Insulinde, bernama Marie Vogel pada tahun 1920.
Berbeda dengan kedua rekannya dalam "Tiga Serangkai" yang kemudian mengambil jalur pendidikan, Cipto tetap berjalan di jalur politik dengan menjadi anggota Volksraad. Karena sikap radikalnya, pada tahun 1927 ia dibuang oleh pemerintah penjajahan ke Banda.
Ia wafat pada tahun 1943 dan dimakamkan di TMP Ambarawa. Pada tanggal 19 Desember 2016, atas jasa-jasanya, Pemerintah Republik Indonesia, mengabadikan beliau dia pecahan uang logam rupiah baru, pecahan Rp200.
[29/6 20.11] rudysugengp@gmail.com: Buatkan gambar dan infografis tentang
Karier Politik Cipto Mangunkusumo
Budi Utomo :
Terbentuknya Budi Utomo pada 20 Mei 1908 disambut baik Cipto sebagai bentuk kesadaran pribumi akan dirinya.
Pada kongres pertama Budi Utomo di Yogyakarta, jati diri politik Cipto makin tampak.
Walaupun kongres diadakan untuk memajukan perkembangan yang serasi bagi orang Jawa, tetapi pada kenyataannya terjadi keretakan antara kaum konservatif dan kaum progesif yang diwakili oleh golongan muda. Keretakan ini sangat ironis mengawali suatu perpecahan ideologi yang terbuka bagi orang Jawa.
Dalam kongres yang pertama terjadi perpecahan antara Cipto dan Radjiman Wedyodiningrat.
Cipto menginginkan Budi Utomo sebagai organisasi politik yang harus bergerak secara demokratis dan terbuka bagi semua rakyat Indonesia.
Organisasi ini harus menjadi pimpinan bagi rakyat dan jangan mencari hubungan dengan atasan, bupati, dan pegawai tinggi lainnya.
Sedangkan Radjiman ingin menjadikan Budi Utomo sebagai suatu gerakan kebudayaan yang bersifat Jawa.
Cipto tidak menolak kebudayaan Jawa, tetapi yang ia tolak adalah kebudayaan keraton yang feodalis. Cipto mengemukakan bahwa sebelum persoalan kebudayaan dapat dipecahkan, terlebih dahulu diselesaikan masalah politik. Pernyataan-pernyataan Cipto bagi zamannya dianggap radikal. Gagasan Cipto menunjukkan rasionalitasnya yang tinggi, serta analisis yang tajam dengan jangkauan masa depan, belum mendapat tanggapan luas.
Untuk membuka jalan bagi timbulnya persatuan di antara seluruh rakyat di Hindia Belanda yang mempunyai nasib sama di bawah kekuasaan asing, ia tidak dapat dicapai dengan menganjurkan kebangkitan kehidupan Jawa. Sumber keterbelakangan rakyat adalah penjajahan dan feodalisme.
Meskipun diangkat sebagai pengurus Budi Utomo, Cipto akhirnya mengundurkan diri dari Budi Utomo yang dianggap tidak mewakili aspirasinya. Sepeninggal Cipto tidak ada lagi perdebatan dalam Budi Utomo akan tetapi Budi Utomo kehilangan kekuatan progesifnya.
Indische Partij :
Setelah mengundurkan diri dari Budi Utomo, Cipto membuka praktik dokter di Solo.
Ia juga berandil besar dalam pemberantasan wabah pes di Malang pada 1911.
Berkat jasanya itulah, Dokter Tjipto mendapat bintang emas, penghargaan dari pemerintah kolonial Hindia Belanda.
Meskipun demikian, Cipto tidak meninggalkan dunia politik sama sekali.
Di sela-sela kesibukan melayani pasien, Cipto mendirikan Raden Ajeng Kartini Klub yang bertujuan memperbaiki nasib rakyat. Perhatiannya pada politik makin menjadi setelah dia bertemu dengan Douwes Dekker dan Soewardi Soerjaningrat untuk mendirikan Indische Partij pada tahun 1912.
Cipto melihat Douwes Dekker sebagai kawan seperjuangan. Kerja sama dengan Douwes Dekker telah memberinya kesempatan untuk melaksanakan cita-citanya, yakni gerakan politik bagi seluruh rakyat Hindia Belanda.
Bagi Cipto, Indische Partij merupakan upaya mulia mewakili kepentingan-kepentingan semua penduduk Hindia Belanda, tidak memandang suku, golongan, dan agama.
Pada tahun 1912 Cipto pindah dari Solo ke Bandung, dengan dalih agar dekat dengan Douwes Dekker.
Ia kemudian menjadi anggota redaksi penerbitan harian de Express dan majalah het Tijdschrijft. Perkenalan antara Cipto dan Douwes Dekker yang sehaluan itu sebenarnya telah dijalin ketika Douwes Dekker bekerja pada Bataviaasch Nieuwsblad.
Douwes Dekker sering berhubungan dengan murid-murid STOVIA.
Pada November 1913, Belanda memperingati 100 tahun kemerdekaannya dari Prancis.
Peringatan tersebut dirayakan secara besar-besaran, juga di Hindia Belanda. Perayaan tersebut menurut Cipto sebagai suatu penghinaan terhadap rakyat bumiputra yang sedang dijajah.
Cipto dan Suwardi Suryaningrat kemudian mendirikan suatu komite perayaan seratus tahun kemerdekaan Belanda dengan nama Komite Bumi Putra.
Dalam komite tersebut Cipto dipercaya untuk menjadi ketuanya. Komite tersebut merencanakan akan mengumpulkan uang untuk mengirim telegram kepada Ratu Wilhelmina, yang isinya meminta agar pasal pembatasan kegiatan politik dan membentuk parlemen dicabut. Komite Bumi Putra juga membuat selebaran yang bertujuan menyadarkan rakyat bahwa upacara perayaan kemerdekaan Belanda dengan mengerahkan uang dan tenaga rakyat merupakan suatu penghinaan bagi bumiputra.
Aksi Komite Bumi Putra mencapai puncaknya pada 19 Juli 1913, ketika harian De Express menerbitkan suatu artikel Suwardi Suryaningrat yang berjudul “Als Ik Een Nederlander Was” (Andaikan Saya Seorang Belanda).
Pada hari berikutnya dalam harian De Express, Cipto menulis artikel yang mendukung Suwardi untuk memboikot perayaan kemerdekaan Belanda. Tulisan Cipto dan Suwardi sangat memukul Pemerintah Hindia Belanda, pada 30 Juli 1913 Cipto dan Suwardi dipenjarakan. Pada 18 Agustus 1913, keluar surat keputusan untuk membuang Cipto bersama Suwardi Suryaningrat dan Douwes Dekker ke Belanda karena kegiatan propaganda anti-Belanda dalam Komite Bumi Putra.
Selama masa pembuangan di Belanda, bersama Suwardi dan Douwes Dekker, Cipto tetap melancarkan aksi politiknya dengan melakukan propaganda politik berdasarkan ideologi Indische Partij. Mereka menerbitkan majalah De Indier yang berupaya menyadarkan masyarakat Belanda dan Indonesia yang berada di Belanda akan situasi di tanah jajahan. Majalah De Indier menerbitkan artikel yang menyerang kebijaksanaan Pemerintah Hindia Belanda.
Kehadiran tiga pemimpin tersebut di Belanda ternyata telah membawa pengaruh yang cukup berarti terhadap organisasi mahasiswa Indonesia di Belanda.
Indische Vereeniging, pada mulanya adalah perkumpulan sosial mahasiswa Indonesia, sebagai tempat saling memberi informasi tentang tanah airnya. Akan tetapi, kedatangan Cipto, Suwardi, dan Douwes Dekker berdampak pada konsep-konsep baru dalam gerakan organisasi ini. Konsep “Hindia bebas dari Belanda dan pembentukan sebuah negara Hindia yang diperintah rakyatnya sendiri mulai dicanangkan oleh Indische Vereeniging. Pengaruh mereka makin terasa dengan diterbitkannya jurnal Indische Vereeniging yaitu Hindia Poetra pada 1916.
Insulinde :
Oleh karena alasan kesehatan, pada tahun 1914 Cipto diperbolehkan pulang kembali ke Jawa dan sejak saat itu dia bergabung dengan Insulinde, suatu perkumpulan yang menggantikan Indische Partij. Sejak itu, Cipto menjadi anggota pengurus pusat Insulinde untuk beberapa waktu dan melancarkan propaganda untuk Insulinde, terutama di daerah pesisir utara pulau Jawa.
Selain itu, propaganda Cipto untuk kepentingan Insulinde dijalankan pula melalui majalah Indsulinde yaitu Goentoer Bergerak, kemudian surat kabar berbahasa Belanda De Beweging, surat kabar Madjapahit, dan surat kabar Pahlawan.
Akibat propaganda Cipto, jumlah anggota Insulinde pada tahun 1915 yang semula berjumlah 1.009 meningkat menjadi 6.000 orang pada tahun 1917.
Jumlah anggota Insulinde mencapai puncaknya pada Oktober 1919 yang mencapai 40.000 orang.
Insulinde di bawah pengaruh kuat Cipto menjadi partai yang radikal di Hindia Belanda. Pada 9 Juni 1919 Insulinde mengubah nama menjadi Nationaal-Indische Partij (NIP).
Pada tanggal 18 Mei 1918 Pemerintah Hindia Belanda membentuk Volksraad (Dewan Rakyat).
Pengangkatan anggota Volksraad dilakukan dengan dua cara. Pertama, calon-calon yang dipilih melalui dewan perwakilan kota, kabupaten dan provinsi. Sedangkan cara yang kedua melalui pengangkatan yang dilakukan oleh Pemerintah Hindia Belanda. Gubernur Jenderal Van Limburg Stirum mengangkat beberapa tokoh radikal dengan maksud agar Volksraad dapat menampung berbagai aliran sehingga sifat demokratisnya dapat ditonjolkan.
Salah seorang tokoh radikal yang diangkat oleh Limburg Stirum adalah Cipto.
Bagi Cipto pembentukan Volksraad merupakan suatu kemajuan yang berarti, Cipto memanfaatkan Volksraad sebagai tempat untuk menyatakan pemikiran dan kritik kepada pemerintah mengenai masalah sosial dan politik.
Meskipun Volksraad dianggap Cipto sebagai suatu kemajuan dalam sistem politik, tetapi Cipto tetap menyatakan kritiknya terhadap Volksraad yang dianggapnya sebagai lembaga untuk mempertahankan kekuasaan penjajah dengan kedok demokrasi.
Pada 25 November 1919 Cipto berpidato di Volksraad, yang isinya mengemukakan persoalan tentang persekongkolan Sunan dan residen dalam menipu rakyat.
Cipto menyatakan bahwa pinjaman 12 gulden dari sunan ternyata harus dibayar rakyat dengan bekerja sedemikian lama di perkebunan yang apabila dikonversi dalam uang ternyata menjadi 28 gulden.
[29/6 20.17] rudysugengp@gmail.com: 4. Buatkan gambar dan infografis tentang
Akhir Hayat Cipto Mangunkusumo
Pengasingan :
Melihat kenyataan itu, Pemerintah Hindia Belanda menganggap Cipto sebagai orang yang sangat berbahaya, sehingga Dewan Hindia (Raad van Nederlandsch Indie) pada 15 Oktober 1920 memberi masukan kepada Gubernur Jenderal untuk mengusir Cipto ke daerah yang tidak berbahasa Jawa.
Akan tetapi, pada kenyataannya pembuangan Cipto ke daerah Jawa, Madura, Aceh, Palembang, Jambi, dan Kalimantan Timur masih tetap membahayakan pemerintah.
Oleh sebab itu, Dewan Hindia berdasarkan surat kepada Gubernur Jenderal mengusulkan pengusiran Cipto ke Kepulauan Timor.
Pada tahun itu juga Cipto dibuang dari daerah yang berbahasa Jawa tetapi masih di pulau Jawa, yaitu ke Bandung dan dilarang keluar kota Bandung. Selama tinggal di Bandung, Cipto kembali membuka praktik dokter. Selama tiga tahun Cipto mengabdikan ilmu kedokterannya di Bandung, dengan sepedanya ia masuk keluar kampung untuk mengobati pasien.
Di Bandung, Cipto dapat bertemu dengan kaum nasionalis yang lebih muda, seperti Sukarno yang pada tahun 1923 membentuk Algemeene Studieclub. Pada tahun 1927 Algemeene Studieclub diubah menjadi Partai Nasional Indonesia (PNI). Meskipun Cipto tidak menjadi anggota resmi dalam Algemeene Studieclub dan PNI, Cipto tetap diakui sebagai penyumbang pemikiran bagi generasi muda.
Misalnya Sukarno dalam suatu wawancara pers pada 1959, ketika ditanya siapa di antara tokoh-tokoh pemimpin Indonesia yang paling banyak memberikan pengaruh kepada pemikiran politiknya, tanpa ragu-ragu Sukarno menyebut Cipto Mangunkusumo.
Pada akhir tahun 1926 dan tahun 1927 di beberapa tempat di Indonesia terjadi pemberontakan komunis. Pemberontakan itu menemui kegagalan dan ribuan orang ditangkap atau dibuang karena terlibat di dalamnya.
Dalam hal ini Cipto juga ditangkap dan didakwa turut serta dalam perlawanan terhadap pemerintah.
Hal itu disebabkan suatu peristiwa, ketika pada bulan Juli 1927 Cipto kedatangan tamu seorang militer pribumi yang berpangkat kopral dan seorang kawannya. Kepada Cipto tamu tersebut mengatakan rencananya untuk melakukan sabotase dengan meledakkan persediaan-persediaan mesiu, tetapi dia bermaksud mengunjungi keluarganya di Jatinegara, Jakarta, terlebih dahulu.
Untuk itu dia memerlukan uang untuk biaya perjalanan.
Cipto menasihati agar orang itu tidak melakukan tindakan sabotase, dengan alasan kemanusiaan Cipto kemudian memberikan uangnya sebesar 10 gulden kepada tamunya.
Setelah pemberontakan komunis gagal dan dibongkarnya kasus peledakan gudang mesiu di Bandung, Cipto dipanggil pemerintah untuk menghadap pengadilan karena dianggap telah memberikan andil dalam membantu anggota komunis dengan memberi uang 10 gulden dan ditemukannya nama-nama kepala pemberontakan dalam daftar tamu Cipto. Sebagai hukumannya Cipto kemudian dibuang ke Banda, Maluku pada tanggal 19 Desember 1927.
Akhir hidup :
Dalam pembuangan, penyakit asmanya kambuh.
Beberapa kawan Cipto kemudian mengusulkan kepada pemerintah agar Cipto dibebaskan. Ketika Cipto diminta untuk menandatangani suatu perjanjian bahwa dia dapat pulang ke Jawa dengan melepaskan hak politiknya, Cipto secara tegas mengatakan bahwa lebih baik mati di Banda daripada melepaskan hak politiknya.
Cipto kemudian dialihkan ke Bali, Makasar, dan pada tahun 1940 Cipto dipindahkan ke Sukabumi. Tjipto meninggal dunia pada 8 Maret 1943 akibat penyakit asma.
[29/6 20.28] rudysugengp@gmail.com: 2. Buatkan gambar dan infografis tentang
Perjalanan Hidup dan Pendidikan Cipto Mangunkusumo
Perjalanan hidup :
Cipto Mangunkusumo dilahirkan pada 4 Maret 1886 di Pecangaan, Kabupaten Jepara, Keresidenan Jepara.
Ia adalah putra tertua dari Mangunkusumo, seorang priyayi rendahan dalam struktur masyarakat Jawa. Karier Mangunkusumo diawali sebagai guru bahasa Melayu di sebuah sekolah dasar di Ambarawa, kemudian menjadi kepala sekolah pada sebuah sekolah dasar di Semarang dan selanjutnya menjadi pembantu administrasi pada Dewan Kota di Semarang.
Sementara, sang ibu adalah keturunan dari tuan tanah di Mayong, Jepara.
Meskipun keluarganya tidak termasuk golongan priyayi birokratis yang tinggi kedudukan sosialnya, Mangunkusumo berhasil menyekolahkan anak-anaknya pada jenjang yang tinggi. Cipto beserta adik-adiknya yaitu Gunawan, Budiardjo, dan Syamsul Ma’arif bersekolah di STOVIA, sementara Darmawan, adiknya bahkan berhasil memperoleh beasiswa dari pemerintah Belanda untuk mempelajari ilmu kimia industri di Universitas Delft, Belanda.
Si bungsu, Sujitno terdaftar sebagai mahasiswa Rechtshoogeschool te Batavia.
Penanganan Wabah Pes di Malang :
Pada tahun 1910, saat wabah pes meluas di Malang, Cipto secara sukarela masuk kembali ke dinas pemerintahan.
Ia mempertaruhkan nyawanya untuk merawat dan menyembuhkan rakyat jelata yang ditelantarkan oleh dokter-dokter Eropa, sehingga ia mendapat julukan sebagai "Dokter nRakyat".
Pendidikan :
Ketika menempuh pendidikan di STOVIA, Cipto mulai memperlihatkan sikap yang berbeda dari teman-temannya. Teman-teman dan guru-gurunya menilai Cipto sebagai pribadi yang jujur, berpikiran tajam, dan rajin. “Een begaafd leerling”, atau murid yang berbakat adalah julukan yang diberikan oleh gurunya kepada Cipto.
Di STOVIA, Cipto juga mengalami perpecahan antara dirinya dan lingkungan sekolahnya. Berbeda dengan teman-temannya yang suka pesta dan bermain, Cipto lebih suka menghadiri ceramah-ceramah orang, baca buku, dan main catur . Penampilannya pada acara khusus, tergolong eksentrik, ia senantiasa memakai surjan dengan bahan lurik dan merokok kemenyan. Ketidakpuasan terhadap lingkungan sekelilingnya, senantiasa menjadi topik pidatonya. Baginya, STOVIA adalah tempat untuk menemukan dirinya, dalam hal kebebasan berpikir, lepas dari tradisi keluarga yang kuat, dan berkenalan dengan lingkungan baru yang diskriminatif.
Beberapa peraturan di Stovia menimbulkan ketidakpuasan pada dirinya, seperti semua mahasiswa Jawa dan Sumatra yang bukan Kristen diharuskan memakai pakaian tradisional bila sedang berada di sekolah. Bagi Cipto, peraturan berpakaian di STOVIA merupakan perwujudan politik kolonial yang arogan dan melestarikan feodalisme.
Pakaian Barat hanya boleh dipakai dalam hierarki administrasi kolonial, yaitu oleh pribumi yang berpangkat bupati. Masyarakat pribumi dari wedana ke bawah dan yang tidak bekerja pada pemerintahan, dilarang memakai pakaian Barat.
Akibat dari kebiasaan ini, rakyat cenderung untuk tidak menghargai dan menghormati masyarakat pribumi yang memakai pakaian tradisional.
Keadaan ini senantiasa digambarkannya melalui De Locomotief, surat harian kolonial yang sangat berkembang pada waktu itu, di samping Bataviaasch Nieuwsblad. Sejak tahun 1907 Cipto sudah menulis di harian De Locomotief.
Tulisannya berisi kritikan, dan menentang keadaan masyarakat yang dianggapnya tidak sehat. Cipto sering mengkritik hubungan feodal maupun kolonial yang dianggapnya sebagai sumber penderitaan rakyat. Rakyat umumnya terbatas ruang gerak dan aktivitasnya, sebab banyak kesempatan yang tertutup bagi mereka.
Kondisi kolonial lainnya yang ditentang oleh Cipto adalah diskriminasi ras. Sebagai contoh, orang Eropa menerima gaji yang lebih tinggi dari orang pribumi untuk suatu pekerjaan yang sama. Diskriminasi membawa perbedaan dalam berbagai bidang misalnya, peradilan, perbedaan pajak, kewajiban kerja rodi dan kerja desa.
Dalam bidang pemerintahan, politik, ekonomi, dan sosial, bangsa Indonesia menghadapi garis batas warna.
Tidak semua jabatan negeri terbuka bagi bangsa Indonesia. Demikian juga dalam perdagangan, bangsa Indonesia tidak mendapat kesempatan berdagang secara besar-besaran, tidak sembarang anak Indonesia dapat bersekolah di sekolah Eropa.
Tulisan-tulisannya di harian De Locomotief, mengakibatkan Cipto sering mendapat teguran dan peringatan dari pemerintah. Untuk mempertahankan kebebasan dalam berpendapat Cipto kemudian keluar dari dinas pemerintah dengan konsekuensi mengembalikan sejumlah uang ikatan dinasnya yang tidak sedikit.
Selain dalam bentuk tulisan, Cipto juga sering melancarkan protes dengan bertingkah melawan arus. Misalnya larangan memasuki sociteit bagi bangsa Indonesia tidak diindahkannya. Dengan pakaian khas yakni kain batik dan jas lurik, ia masuk ke sebuah sociteit yang penuh dengan orang-orang Eropa.
Cipto kemudian duduk dengan kaki dijulurkan, hal itu mengundang kegaduhan di sociteit. Ketika seorang opas (penjaga) mencoba mengusir Cipto untuk keluar dari gedung, dengan lantangnya, Cipto memaki-maki sang opas serta orang-orang berada di dekatnya dengan mempergunakan bahasa Belanda. Kewibawaan Cipto dan penggunaan bahasa Belanda-nya yang fasih membuat orang-orang Eropa terperangah.
[29/6 20.53] rudysugengp@gmail.com: Buatkan gambar dan infografis tentang
Biodata Dokter Sutomo
Dokter Sutomo lahir di Desa Ngepeh, Jawa Timur pada tanggal 30 Juli 1888 dan meninggal umur 49 tahun di Surabaya , Jawa Timur pada tanggal 30 Mei 1938.
Beliau yang semula bernama Subroto kemudia berganti nama menjadi Sutomo adalah tokoh pendiri Budi Utomo, organisasi pergerakan yang pertama di Indonesia. Pada tahun 1903, Sutomo menempuh pendidikan kedoteran di School tot Opleiding van Inlandsche Artsen (STOVIA).
Pada waktu belajar di STOVIA ia sering bertukar pikiran dengan pelajar-pelajar lain tentang penderitaan rakyat akibat penjajahan Belanda.
Terkesan oleh saran dr. Wahidin untuk memajukan pendidikan sebagai jalan untuk membebaskan bangsa dari penjajah.
[29/6 21.27] rudysugengp@gmail.com: 3. Buatkan gambar dan infografis tentang
Akhir Hayat dan Warisan Dokter Sutomo
Pada tahun 1924 Sutomo mendirikan Indonesische Studie Club (ISC) yang merupakan wadah bagi kaum terpelajar Indonesia.
ISC berhasil mendirikan sekolah tenun, bank kredit, koperasi, dan sebagainya. Pada tahun 1931 ISC berganti nama menjadi Persatuan Bangsa Indonesia (PBI). Di bawah pimpinan Sutomo PBI cepat berkembang. Sementara itu, tekanan-tekanan dari pemerintah Belanda terhadap pergerakan nasional semakin keras.
Karena itu, pada bulan Desember 1935 Budi Utomo dan PBI digabungkan menjadi satu dengan nama Partai Indonesia Raya (Parindra).
Sutomo diangkat menjadi ketua. Parindra berjuang untuk mencapai Indonesia merdeka.
Selain bergerak di bidang politik dan kedokteran, dr. Sutomo giat pula di bidang kewartawanan dan memimpin beberapa buah surat kabar.
Ia meninggal dunia di Surabaya pada tanggal 30 Mei 1938 dan dimakamkan disana.
Untuk maksud itu pada tanggal 11 Juli 1924 Sutomo mendirikan ”Indonesische Studie Club ” (ISC). Tujuan ISC ialah mempelajari dan memperhatikan kebutuhan rakyat.
Organisasi ini ternyata menarik perhatian kaum terpelajar, bukan saja cendekiawan Indonesia, tetapi juga cendekiawan Belan¬da, yakni Koch dan Tilleman yang terkenal berpendirian progresif.
Kegiatan dan kedudukan Sutomo dalam masyarakat membawa beliau ke jenjang politik praktis.
la diangkat menjadi anggota Dewan Kota (Gemeen-teraad) Surabaya. Dalam dewan ini beliau memperjuangkan nasib rakyat antara lain mengusulkan perbaikan kesehatan dan nasib mereka, tetapi usul-usulnya selalu dikalahkan oleh suara terbanyak yang tidak berorientasi kepada rakyat, tetapi kepada pemerintah kolonial. Ketika usulnya mengenai perbaikan kampung ditolak, sedangkan usul menambah kebersihan dan perbaikan tempat kediaman orang-orang Belanda diterima, dr. Sutomo langsung meminta berhenti dari keanggotaan Dewan Kota.
la berpikir tidak ada gunanya bekerja di dewan yang hanya menjadi alat kolonial itu. Langkah dr. Sutomo diikuti pula teman-temannya, RH.M. Suyono, M. Sunjoto, dan Asmowinangun.
Perhatiannya terhadap ISC tidak pernah ditinggalkannya.
Berkat pimpinannya, organisasi ini giat melakukan usaha-usaha yang berguna di bidang ekonomi dan sosial.
Mendirikan Bank dan GNI :
Bersama teman-teman lain, dr. Sutomo memprakarsai berdirinya Bank Bumiputera yang dalam tahun 1929 menjadi Bank Nasional. Selain itu didirikan pula Yayasan Gedung Nasional (GNI) yang langsung dipimpin oleh dr. Sutomo. Gedung ini didirikan secara gotong royong berupa bantuan dari segala lapisan masyarakat, pegawai negeri, swasta, buruh, pedagang, petani, nelayan, bahkan seniman dan seniwati yang tergabung dalam ludruk Cak Durasin pun ikut menyumbangkan tenaga.
Pada tanggal 11 Oktober 1930 ISC berkembang menjadi partai, yakni ”Persatuan Bangsa Indonesia” (PBI) yang langsung diketuai oleh dr. Sutomo, partai ini berhaluan moderat dan cepat sekali berkembang, terutama di daerah Jawa Timur.
Dengan terbentuknya partai ini maka kegiatan di bidang sosial ekonomi semakin menonjol.
Hasil-hasilnya dapat dilihat dengan berdirinya Rukun Tani, Rukun Pelayaran, Serikat Buruh, Koperasi, Bank Kredit, Pemeliharaan yatim-piatu.
Pemberantasan Pengangguran dan lain-lain. Di bidang pengajaran: merencanakan Sekolah Taman Kanak-kanak, mengusahakan bacaan untuk anak-anak SD, pemberantasan buta huruf dan lain-lain. Di bidang politik dan pers: memberikan kursus-kursus politik, kursus kader dan lain-lain.
Menerbitkan Surat Kabar dan Majalah :
Dokter Sutomo menerbitkan surat kabar harian (Soeara Oemoem) dan mingguan (Penyebar Semangat).
Dapat dikatakan kegiatan PBI meliputi semua kebutuhan manusia Indonesia, lahir dan batin untuk dapat menjadi bangsa yang mampu berdikari dalam mencapai tujuan memuliakan nusa dan bangsa Indonesia. Pedomannya. ”Kebenaran dan Keadilan dengan bekerja atas dasar cinta kepada nusa dan bangsa Indonesia”.
Mendirikan PBI, PPPKI dan Parindra :
Sebelum berkembang menjadi PBI, terlebih dahulu ISC sudah menggabungkan diri ke dalam PPPKI (Permufakatan Perhimpunan-perhimpunan Politik Kebangsaan Indonesia) yang dibentuk pada langgal 17 Desember 1927.
Didalam Kongres PPPKI yang pertama tanggal 30 Agustus – 2 September 1930, dr. Sutomo dipilih menjadi ketua dengan sekretaris Ir. Anwari. Kemudian dalam kongresnya bulan Maret 1932 ketua/sekretaris di Surabaya dipindahkan ke Jakarta dengan ketua M.H. Thamrin dan sekretaris Otto Iskandardinata.
Pada bulan Desember 1933 Kongres Indonesia Raya di Sala yang diselenggarakan oleh PPPKI dilarang, karena Partindo pimpinan Ir. Sukarno dan Mr. Sartono yang dinyatakan sebagai partai terlarang adalah anggota PPPKI.
Pembatalan itu diberikan oleh penguasa hanya beberapa hari sebelum kongres. Pemimpin-pemimpin partai sudah hadir di Sala, termasuk dr. Sutomo. Kesempatan itu oleh dr. Sutomo dimanfaatkan dengan mengadakan penjajagan kepada ”Budi Utomo” pimpinan K.R.M.H. Wuryaningrat untuk berfusi dengan Persatuan Bangsa Indonesia-Utomo-PersatuanBangsa Indonesia terlaksana dalam bulan Desember 1935 dan berganti nama menjadi ”Partai Indonesia Raya” (Parindra).
Dokter Sutomo terpilih menjadi ketua dengan wakil ketuanya K.R.M.H. Wuryaningrat.
Kegiatan dr. Sutomo di dalam Parindra meningkat, baik di bidang politik maupun di bidang sosial ekonomi. Haluan partai tetap moderat dan membenarkan anggota-anggotanya duduk di dalam Dewan-dewan. M.H. Thamrin, Sukarjo Wiryopranoto, Otto Iskandardinata, RJP, Suroso adalah anggota Parindra yang duduk di dalam Volksraad (Dewan Rakyat).
Sebagai dokter, Sutomo penuh perikemanusiaan, beliau tidak menetapkan tarif pembayaran penderita, kecuali mempersilahkan siapa saja yang berobat untuk mengisi kotak yang sudah tersedia. Rakyat kecil yang tidak mampu di bebaskan dari pembayaran, bahkan seringkali diberinya uang untuk ongkos pulang. Dalam hal perikemanusiaan beliau tidak membeda-bedakan bangsa apa saja, sedang dalam tugas politiknya beliau gigih berjuang mencapai kemuliaan tanah air dan bangsanya dengan tidak segan-segan menentang penguasa kolonial.
Sutomo mempunyai banyak kawan di segala golongan dan lapisan masyarakat.
Kawan dekatnya di golongan agama adalah Kyai Haji Mas Mansur.
Karena persahabatan itu Sutomo banyak membantu Muhammadiyah Jawa Timur yang dipimpin oleh K.H. Mas Mansur dengan mendirikan poliklinik dan sebagainya.
Isterinya, seorang wanita Belanda, dicintai sepenuh jiwanya.
Karena isteri itu sakit-sakitan, maka didirikanlah rumah untuknya di Claket di lereng pegunungan Penanggungan, daerah Malang.
Segala sesuatu dilakukannya untuk menyembuhkan isterinya, namun tidak berhasil. Pada tanggal 17 Februari 1934 Sutomo mendapat musibah; isterinya meninggal dunia.
Musibah itu dirasakan berat oleh dr. Sutomo seperti beliau lukiskan dalam bukunya ”Kenang-kenangan”.
Empat tahun kemudian, Sutomo jatuh sakit dan baru sekali itu beliau sakit sejak masa dewasanya. Sakitnya makin hari makin parah dan jiwanya tidak tertolong. Pada tanggal 30 Mei 1938 pukul 16.15 dr. Sutomo pu¬lang ke rahmatullah. Jenazahnya dikebumikan di belakang ”Gedung Nasional Indonesia”, Bubutan Surabaya, atas permintaannya sendiri.
Seorang yang berjiwa besar dan banyak sekali jasanya kepada bangsa dan tanah air Indonesia serta prikemanusiaan, dr. Sutomo telah pergi untuk selama-lamanya.
Pemerintah RI menghargai jasa-jasa Sutomo, berdasarkan Surat Keputusan Presiden Rl No.657 Tahun 1961 tanggal 27 Desember 1961 dr. Sutomo dianugerahi gelar Pahlawan Kemerdekaan Nasional.
[29/6 21.42] rudysugengp@gmail.com: 2. Buatkan gambar dan infografis tentang
Dokter Sutomo mendirikan Budi Utomo
Gagasan Wahidin Sudirohusodo :
Sudirohusodo singgah di Jakarta, beliau sedang melakukan perjalanan ke berbagai daerah dalam rangka mempropagandakan gagasannya tentang pembentukan sebuah badan yang akan menyediakan bea siswa untuk anak-anak Indonesia yang cerdas tetapi tidak mampu membiayai sekolahnya.
Gagasan Wahidin itu sudah tersebar agak luas, juga di kalangan pelajar STOV1A (School tot Opleiding voor Inlandsche Artsen). Dua orang di antara para pelajar itu mendapat kesempatan bertemu dan berbicara dengan Wahidin.
Mereka sangat tertarik mendengar cita-cita Wahidin, salah seorang di antara pelajar itu mengatakan kepada Wahidin, ”Punika satunggiling pedamelan sae sarta nelakaken budi utama” (itu suatu perbuatan baik dan menunjukkan budi yang utama).Pelajar STOVIA yang mengucapkan kata-kata itu adalah Sutomo yang kemudian terkenal dengan nama dokter Sutomo.
Awal Organisasi Budi Utomo :
Tetapi sebelum itu, Sutomo telah melakukan sesuatu yang membuat namanya akan tercatat dalam sejarah bangsanya.
Kurang lebih empat bulan sesudah bertemu dengan dokter Wahidin, beliau memimpin pertemuan yang dihadiri oleh para pelajar STOVIA.
Sutomo berpidato dengan tenang tanpa emosi, menjelaskan gagasannya secara singkat, terang dan jelas. Pertemuan yang bersejarah itu dilangsungkan di salah satu ruang STOVIA pada tanggal 20 Mei 1908.
Dalam pertemuan itu mereka sepakat membentuk sebuah organisasi yang diberi nama ”Budi Utomo”. Sutomo dipilih sebagai ketuanya.
Organisasi itu adalah organisasi modern pertama yang didirikan di Indonesia.
Hari lahirnya, 20 Mei, kini diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional, karena ternyata Budi Utomo telah mendorong berdirinya organisasi-organisasi bahkan partai-partai politik di kemudian hari. Gedung STOVIA di mana Budi Utomo lahir sekarang menjadi ”Gedung Kebangkitan Nasional”.
Budi Utomo tidak lahir begitu saja dan Sutomo tidak bekerja seorang diri.
Bersama Sutomo terdapat nama-nama lain seperti Suraji, yang ikut bersama Sutomo menemui dr. Wahidin, Moh. Saleh, Sarwono, Gunawan, Gumbrek dan Angka yang kelak semuanya menjadi dokter.
Berbulan-bulan lamanya mereka merencanakan pembentukan sebuah organisasi.
Mereka pergi dari ruang kelas yang satu ke ruang kelas yang lain di STOVIA untuk memperkenalkan gagasan mendirikan organisasi, dalam kegiatan itu Sutomo lah yang banyak berbicara.
Berdirinya Budi Utomo dapat dianggap sebagai realisasi gagasan Wahidin.
Tetapi jangkauan organisasi itu melebihi dari apa yang dimaksud oleh Wahidin.
Budi Utomo tidak hanya ingin memajukan pelajaran, tetapi juga pertanian, pertukangan kayu, kulit dan lain-lain, disamping memajukan kebudayaan Jawa serta mempererat persahabatan penduduk Jawa dan Madura.
Di bidang pendidikan Budi Utomo bertujuan untuk mendirikan sekolah-sekolah, rumah-rumah sewaan untuk anak-anak sekolah/asrama dan mendirikan perpustakaan-perpustakaan.
Untuk merealisasi maksud dan tujuan itu, Sutomo dan kawan-kawannya mengadakan hubungan dengan pelajar-pelajar dari kota-kota lain. Dengan cara demikian berdirilah cabang-cabang Budi Utomo di Bogor, Bandung dan Magelang. Hubungan diadakan pula dengan orang-orang Indonesia yang menduduki jabatan dalam pemerintahan di daerah-daerah untuk menarik simpati mereka, antara lain dengan Bupati Temanggung, Bupati Japara, Banten, dan P.A.A. Kusumojudo yang tinggal di Jakarta.
Organisasi yang semula dipimpin oleh anak-anak muda yang idealis ini akhirnya dipimpin oleh golongan tua, sebagai hasil keputusan Kongres yang pertama pada awal Oktober 1908 di Yogyakarta. Dalam kongres itu sudah nampak perbedaan pendapat antara golongan muda yang radikal dengan golongan tua yang terlalu berhati-hati, karena itu gerak organisasi menjadi lamban.
Dalam Kongresnya yang kedua pada bulan Oktober 1909 Sutomo masih nampak hadir, tetapi setelah itu namanya hampir-hampir tidak disebut-sebut lagi di dalam Budi Utomo.
Agaknya beliau merasa kecewa melihat perkembangan Budi Utomo, karena itu beliau lebih memusatkan perhatian kepada pelajaran. Dalam tahun 1911 Sutomo berhasil menyelesaikan pendidikannya di STOVIA dan sejak saat itu pula beliau berhak memakai gelar dokter, maka mulailah tugasnya sebagai dokter.
Mula-mula beliau ditempatkan di Semarang, tetapi kemudian berpindah-pindah ke tempat-tempat lain seperti Tuban, Lubuk Pakam (Sumatera Timur), Malang, Blora dan Baturaja (Sumatera Selatan).
Dalam tahun 1919 beliau mendapat kesempatan belajar di Negeri Belanda. kemudian di Jerman Barat dan Austria.
Sewaktu di Negeri Belanda Sutomo menggabungkan diri ke dalam ”Indische Vereeniging”’, perkumpulan pelajar-pelajar Indonesia yang kemudian berganti nama menjadi ”Indonesische Vereniging” dan akhirnya menjadi Perhimpunan Indonesia.
Ketua PI di Belanda :
Beliau pernah menjadi ketua organisasi ini, yakni tahun 1920-1921.
Sekembalinya dari Negeri Belanda, Sutomo bekerja sebagai dosen di NIAS (Nederlandsch Indische Artsen School) di Surabaya.
Budi Utomo tidak lagi menarik perhatiannya, walaupun pernah diancam akan dikeluarkan dari STOVIA gara-gara mendirikan organisasi tersebut.
[30/6 00.08] rudysugengp@gmail.com: Mulai KHD
[30/6 00.10] rudysugengp@gmail.com: 1. Buatkan gambar dan infografis tentang
Biodata Ki Hajar Dewantara
Ki Hajar Dewantara, seorang pahlawan nasional yang lahir dengan nama Raden Mas Soewardi Soerjaningrat, merupakan tokoh penting dalam sejarah pendidikan Indonesia. Lahir pada 2 Mei 1889 di Yogyakarta, ia adalah cucu dari Sri Paku Alam III dan anak dari GPH Soerjaningrat. Kiprahnya yang luas di dunia pendidikan dan politik membawa pengaruh besar bagi kemerdekaan dan pembentukan sistem pendidikan nasional Indonesia.
Beliau adalah aktivis revolusi nasional Indonesia, politisi, yang diakui sebagai pelopor perjuangan pendidikan yang berpihak pada rakyat pribumi di masa penjajahan Belanda. Pada 1959, Beliau di anugerahi sebagai Bapak Pendidikan Nasional oleh Presiden Soekarno.
Serta untuk mengenang dan menghargai jasa-jasanya.
Tanggal kelahirannya kini diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) yang diperingati setiap tanggal 02 Mei.
Selain itu, Beliau juga menciptakan semboyan dengan nama “Tut Wuri Handayani” yang memiliki arti “dibelakang memberi dorongan”. Makna tersirat yang terkandung didalamnya yang berupa peran seorang pendidik untuk memberikan dukungan moral dan semangat kepada peserta didik dari belakang, serta membantu mereka untuk membentuk pribadi yang berkembang, mandiri, utuh serta bertanggung jawab pada diri mereka sendiri. Slogan tersebut kini menjadi slogan Kementerian Pendidikan Nasional Indonesia.
Pendidikan Ki Hadjar Dewantara
Sebagai seorang bangsawan Jawa, Ki Hadjar Dewantara mendapatkan kesempatan belajar di beberapa sekolah terkemuka, dimulai dari Europeesche Lagere School (ELS), sekolah rendah untuk anak-anak Eropa. Ia juga sempat melanjutkan ke School tot Opleiding voor Inlandsche Artsen (STOVIA) di Jakarta, namun tidak menyelesaikan pendidikannya di sana karena alasan kesehatan.
Meskipun tidak menamatkan pendidikannya di STOVIA, Soewardi yang kemudian dikenal sebagai Ki Hadjar Dewantara, memperoleh wawasan luas tentang pendidikan dan kebudayaan lokal. Ia menggabungkan pendidikan formalnya dengan nilai-nilai tradisional Jawa, yang kelak menjadi dasar perjuangannya untuk kesetaraan dalam pendidikan.
[30/6 00.14] rudysugengp@gmail.com: 3. Buatkan gambar dan infografis tentang
Ki Hajar Dewantara mendirikan Taman Siswa dan Filosofi Pendidikan
Perjuangan Mendirikan Taman Siswa :
Setelah mengalami pembuangan ke Belanda akibat tulisan kritisnya berjudul "Als ik eens Nederlander was" (“Seandainya Aku Seorang Belanda”), Ki Hajar Dewantara kembali ke tanah air dengan tekad kuat membangun pendidikan bagi bangsanya. Pada tahun 1922, beliau mendirikan Perguruan Taman Siswa, lembaga pendidikan yang mengedepankan nilai kebebasan berpikir dan semangat nasionalisme.
Melalui sistem pendidikan Taman Siswa, ia menanamkan semangat cinta tanah air dan kemandirian kepada generasi muda, di tengah keterbatasan akses pendidikan bagi pribumi pada masa itu. Selain itu awal mula didirikannya Taman Siswa tersebut yaitu karena ketidakpuasan Ki Hajar Dewantara terhadap sistem Pendidikan kolonial belanda yang diskriminatif dan tidak merata, Selain itu Taman siswa tersebut memiliki tujuan Ketika awal pembentukannya yaitu; Melawan Diskriminasi Pendidikan, Mengajarkan Nasionalisme, Mengembangkan Pendidikan yang merakyat. Memperjuangkan kesetaraan gender dan Memperkuat rasa solidarisme antar Masyarakat.
Filosofi Pendidikan Ki Hajar Dewantara :
Salah satu warisan paling berharga dari Ki Hajar Dewantara adalah semboyannya yang terkenal:
"Ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani."
Artinya: “Di depan memberi teladan, di tengah memberi semangat, di belakang memberi dorongan.”
Semboyan ini menjadi fondasi utama sistem pendidikan nasional Indonesia, bahkan hingga kini masih dipegang teguh dalam dunia pendidikan.
Warisan dan Pengaruh bagi Generasi Muda :
Pemikiran Ki Hajar Dewantara tak hanya menekankan aspek intelektual, tetapi juga moral dan kebangsaan berupa menanamkan semangat perjuangan dan Nasionalisme. Ia percaya bahwa pendidikan sejati harus membentuk manusia seutuhnya cerdas, berkarakter, dan berjiwa merdeka. Selain itu pengaruh didirikannya Taman siswa oleh Ki Hajar Dewantara yaitu membangun dan membentuk daya saing bagi para pemuda dan pemudi agar dapat bersaing dengan negara lain serta menghargai budaya lokal dengan menekankan pentingnya Pendidikan yang berbasis kebudayaan agar para generasi muda dapat mempertahankan nilai-nilai budaya luhur Indonesia sambil tetap terbuka terhadap pengaruh budaya luar yang sesuai.
Hingga kini, nilai-nilai perjuangannya terus relevan dan menjadi inspirasi bagi generasi muda dalam menuntut ilmu serta berkontribusi bagi kemajuan bangsa.
[30/6 00.33] rudysugengp@gmail.com: 2. Buatkan gambar dan infografis tentang
Perjuangan Ki Hajar Dewantara di Bidang Politik
Profesi dan Perjuangan Melalui Media :
Selain berperan sebagai pendidik, Ki Hadjar Dewantara juga dikenal sebagai jurnalis. Ia menulis di berbagai surat kabar seperti Sediotomo, De Express, dan Oetoesan Hindia, di mana tulisannya berisi kritik tajam terhadap pemerintahan kolonial Belanda. Artikel-artikelnya penuh dengan semangat kebangsaan dan menjadi alat propaganda untuk membangkitkan kesadaran masyarakat Indonesia tentang pentingnya persatuan dan kemerdekaan.
Tulisan fenomenalnya, “Als Ik Eens Nederlander Was” (Seandainya Aku Seorang Belanda perjuangannya.
Mendirikan Indische Partij :
Selain ulet sebagai seorang wartawan muda, ia juga aktif dalam organisasi sosial dan politik. Sejak berdirinya Boedi Oetomo (BU) tahun 1908, ia aktif di seksi propaganda untuk menyosialisasikan dan menggugah kesadaran masyarakat Indonesia (terutama Jawa) pada waktu itu mengenai pentingnya persatuan dan kesatuan dalam berbangsa dan bernegara.
Kongres pertama BU di Yogyakarta juga diorganisasi olehnya.
Soewardi muda juga menjadi anggota organisasi Insulinde, suatu organisasi multietnik yang didominasi kaum Indo yang memperjuangkan pemerintahan sendiri di Hindia Belanda, atas pengaruh Ernest Douwes Dekker (DD). Ketika DD mendirikan Indische Partij, Soewardi juga ikut diajak. Partai yang berdiri pada 6 September 1912 itu bagi Soewardi sangat berguna karena tidak membedakan golongan, agama, ras, dan suku. Rawe-rawe rantas malang-malang putus menjadi semboyan yang tertulis pada lencana. Semboyan itu merupakan gambaran semangat yang tidak mengenal kata menyerah dan siap menghadapi hambatan dan rintangan.
Pada tahun 1912, bersama Cipto Mangunkusumo dan Danudirdja Setyabudi (Douwes Dekker), Ki Hadjar Dewantara mendirikan Indische Partij, partai politik pertama yang beraliran nasionalis di Indonesia. Partai ini memiliki tujuan utama memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Namun, upaya tersebut mendapatkan penolakan dari pemerintah kolonial Belanda yang khawatir dengan gerakan nasionalisme ini.
Meski mendapatkan banyak tantangan, termasuk penolakannya oleh pemerintah Belanda, semangat Ki Hadjar Dewantara dalam memperjuangkan hak rakyat Indonesia tidak pernah padam.
Dalam Pengasingan :
Dalam pengasingan di Belanda, Soewardi aktif dalam organisasi para pelajar asal Indonesia, Indische Vereeniging (Perhimpunan Hindia). Tahun 1913 ia mendirikan Indonesisch Pers-bureau, "kantor berita Indonesia". Ini adalah penggunaan formal pertama dari istilah "Indonesia", yang diciptakan tahun 1850 oleh ahli bahasa asal Inggris George Windsor Earl dan pakar hukum asal Skotlandia James Richardson Logan.
Di sinilah ia kemudian merintis cita-citanya memajukan kaum pribumi dengan belajar ilmu pendidikan hingga memperoleh Europeesche Akta, suatu ijazah pendidikan yang bergengsi yang kelak menjadi pijakan dalam mendirikan lembaga pendidikan yang didirikannya. Dalam studinya ini Soewardi terpikat pada ide-ide sejumlah tokoh pendidikan Barat, seperti Froebel dan Montessori, serta pergerakan pendidikan India, Santiniketan, oleh keluarga Tagore. Pengaruh-pengaruh inilah yang mendasarinya dalam mengembangkan sistem pendidikannya sendiri.
[30/6 00.41] rudysugengp@gmail.com: 4. Buatkan gambar dan infografis tentang
Pengabdian Ki Hajar Dewantara di Era Indonesia Merdeka
Tanggal 17 Agustus 1946 ditetapkan sebagai Maha Guru pada Sekolah Polisi Republik Indonesia bagian Tinggi di Mertoyudan Magelang, oleh P.J.M. Presiden Republik Indonesia.
Pada masa pemerintahan Presiden Indonesia yaitu Soekarno, tepatnya di tahun 1945, Ki Hadjar Dewantara diangkat sebagai Menteri Pendidikan Indonesia yang pertama.
Lalu, pada tanggal 19 Desember 1956, ia juga mendapatkan gelar Doktor Honoris Causa dari Universitas Gadjah Mada.
Ki Hadjar Dewantara juga diditetapkan sebagai Bapak Pendidikan Nasional atas jasa-jasanya dalam mengembangkan pendidikan di Indonesia.
Selain itu, tanggal 2 Mei yang merupakan hari kelahirannya, ditetapkan sebagai Hari Pendidikan Nasional.
Ketetapan hari tersebut disahkan dalam Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 305 Tahun 1959 bersamaan dengan penetapannya sebagai Pahlawan Nasional Indonesia.
Surat keputusan tersebut diterbitkan tanggal 28 November 1959.
Akhir Hayat :
Ki Hadjar Dewantara meninggal dunia di Kota Yogyakarta pada 26 April 1959, di kediamannya di Padepokan Ki Hadjar Dewantara.
Jenazahnya kemudian disimpan di Pendapa Agung Taman Siswa untuk kemudian dimakamkan di Taman Wijaya Brata pada tanggal 29 April 1959. Upacara pemakamannya dipimpin oleh Soeharto yang bertindak sebagai inspektur upacara.
[30/6 01.09] rudysugengp@gmail.com: 1. Buatkan gambar dan infografis tentang
Biodata H. Fakhruddin
Indonesia pada awal abad ke-20 adalah medan perjuangan yang penuh tekanan. Di tengah dinamika politik dan sosial yang sulit, muncul seorang pahlawan tanpa tanda jasa yang membawa perubahan besar bagi Muhammadiyah dan pergerakan kemerdekaan Indonesia. Nama tersebut adalah Haji Fachruddin, atau sering dipanggil Muhammad Jazuli. Meskipun tak pernah merasakan pendidikan formal, kecerdasan dan semangatnya membawa perubahan signifikan di dunia pers, dakwah, dan pendidikan.
Lahir di Yogyakarta pada tahun 1890, Fachruddin tidak hanya dikenal sebagai jurnalis ulung, tetapi juga sebagai aktivis Muhammadiyah yang gigih. Awalnya, pengetahuan agamanya diperoleh dari ayahnya, H. Hasyim, dan beberapa ulama terkemuka di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Namun, semangat dan dedikasinya membawa ia ke tempat yang lebih tinggi.
Namun, kegigihan Fachruddin tak terlepas dari pengorbanan besar. Kesibukannya dalam mengurus Muhammadiyah dan misi-misinya membuatnya mengabaikan kesehatannya. Ketika menjelang Kongres Muhammadiyah di Yogyakarta pada tahun 1929, ia jatuh sakit parah. Pada tanggal 28 Februari 1929, Fachruddin akhirnya meninggal dunia di Yogyakarta, meninggalkan warisan perjuangan yang tak terlupakan bagi Muhammadiyah dan Indonesia.
[30/6 01.10] rudysugengp@gmail.com: 2. Buatkan gambar dan infografis tentang
Kiprah Perjuangan Internasional
H. Fakhruddin
Misi Haji :
Fachruddin adalah tokoh serba bisa dalam Muhammadiyah.
Ia bertanggung jawab atas berbagai tugas penting, termasuk dakwah, pengelolaan taman pustaka, dan pengajaran.
Namun, prestasinya tak berhenti di situ.
Pada tahun 1921, ia diutus ke Mekah selama 8 tahun untuk menyelidiki nasib jemaah haji Indonesia yang sering mendapat perlakuan buruk dari pejabat-pejabat setempat.
Setelah kembali, ia memprakarsai pembentukan Badan Penolong Haji, menunjukkan kepeduliannya terhadap umat Islam Indonesia yang hendak menunaikan ibadah haji.
Misi Konperensi Islam di Kairo :
Namun, bukan hanya dalam skala nasional, Fachruddin juga dikenal di kancah internasional. Ia diutus ke Kairo sebagai wakil umat Islam Indonesia untuk menghadiri Konferensi Islam, menegaskan posisi dan peran penting Indonesia dalam konteks umat Islam global.
[30/6 01.10] rudysugengp@gmail.com: 3. Buatkan gambar dan infografis tentang
Warisan Perjuangan
H. Fakhruddin
Peninggalan Haji Fachruddin dalam dunia jurnalistik dan pergerakan sosial adalah bukti nyata semangat dan dedikasi yang tak tergoyahkan. Ia adalah pionir dalam menyuarakan kebenaran, keadilan, dan kemanusiaan melalui pena. Warisannya membawa inspirasi bagi generasi-generasi selanjutnya, memotivasi mereka untuk terus memperjuangkan nilai-nilai luhur Islam dan meraih kemerdekaan yang telah dicita-citakan oleh para pendahulunya.
Sebagai tokoh Muhammadiyah sejati, Haji Fachruddin adalah contoh nyata dari keberanian dan ketabahan yang harus dijunjung tinggi oleh setiap anak bangsa Indonesia.
Gerakan Literasi :
Salah satu kontribusi paling signifikan dari Haji Fachruddin terhadap Muhammadiyah dan masyarakat Indonesia adalah perannya dalam gerakan literasi, terutama melalui penerbitan di majalah Suara Muhammadiyah. Majalah ini menjadi wahana penting bagi penyebaran gagasan-gagasan ilmiah, keagamaan, dan sosial yang membangun kesadaran dan pemahaman di kalangan masyarakat.
Haji Fachruddin, dengan kepiawaiannya dalam penulisan, menjadi salah satu tulang punggung redaksi Suara Muhammadiyah. Melalui artikel-artikelnya, ia membahas berbagai isu yang relevan dengan kehidupan masyarakat pada masanya. Bahasan-bahasan yang dia angkat mencakup sejarah Islam, pemikiran ilmiah, pendidikan, dan keadilan sosial. Tulisannya tidak hanya berbasis pada ilmu agama, tetapi juga memasukkan wawasan keilmuan dari berbagai bidang lainnya. Dalam hal ini, ia berperan penting dalam membentuk pemikiran kritis dan intelektualitas masyarakat Muhammadiyah.
Majalah Suara Muhammadiyah :
Pada tahun 1915, di tengah kondisi sosial yang penuh tantangan akibat jauhnya masyarakat Islam dari ajaran agama dan dominasi kolonialisme Belanda, muncullah Majalah Suara Muhammadiyah. Inisiatif pendirian majalah ini adalah respons dari kepedulian KH. Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah, terhadap kondisi umat Islam dan keinginannya untuk menyebarkan dakwah amar ma’ruf nahi munkar (mendorong kebaikan dan mencegah kemungkaran) kepada masyarakat.
Melalui penulisannya, ia menyajikan pandangan-pandangan Islam yang moderat, inklusif, dan progresif. Artikel-artikelnya tidak hanya berbicara tentang ajaran agama, tetapi juga membahas isu-isu sosial, politik, dan pendidikan yang relevan dengan kehidupan masyarakat Indonesia saat itu.
Haji Fachruddin menggunakan majalah ini sebagai sarana untuk membangun kesadaran dan pengetahuan masyarakat Muslim pribumi.
Dalam tulisannya, ia menggali isu-isu penting seperti pentingnya pendidikan, kemandirian ekonomi, dan kesetaraan sosial. Dengan membangun pemahaman yang kuat tentang Islam yang moderat dan inklusif, ia memberdayakan masyarakat dengan pengetahuan yang mendalam tentang agama mereka, sekaligus membantu mereka memahami relevansi agama dalam konteks kehidupan sehari-hari.
Lebih dari sekadar memberikan informasi, Majalah Suara Muhammadiyah yang diisi dengan kontribusi tulisan-tulisan Haji Fachruddin juga berperan sebagai alat pembentukan opini. Tulisannya menggugah kebangkitan intelektual di kalangan umat Islam pribumi dan mendorong mereka untuk berpikir kritis. Dengan demikian, majalah ini berfungsi sebagai platform penting yang membantu membentuk identitas dan kesadaran kolektif masyarakat Islam Indonesia pada masa itu.
H. Fakhruddin membantu membentuk mentalitas dan nilai-nilai yang kemudian menjadi landasan bagi gerakan kemerdekaan Indonesia. Ia membuka pintu untuk pemikiran progresif dan inklusif di kalangan masyarakat Muslim, menginspirasi generasi setelahnya untuk memperjuangkan keadilan, kebebasan, dan kemandirian. Dengan demikian, peran Haji Fachruddin di dalam Majalah Suara Muhammadiyah tidak hanya sekadar sebagai jurnalis, tetapi juga sebagai arsitek utama dalam membentuk kesadaran nasional di tengah tekanan kolonialisme Belanda.
[30/6 01.11] rudysugengp@gmail.com: Sam Ratulangi
[30/6 01.24] rudysugengp@gmail.com: 1. Buatkan gambar dan infografis tentang
Biodata Sam Ratulangi
Gerungan Saul Samuel Jacob Ratulangi (5 November 1890 – 30 Juni 1949), atau lebih dikenal dengan nama Sam Ratulangi, adalah seorang politikus, jurnalis, dan guru dari Sulawesi Utara, Indonesia. Ia adalah seorang Pahlawan Nasional Indonesia. Ratulangi juga sering disebut sebagai tokoh multidimensional. Ia dikenal dengan filsafatnya: "Si tou timou tumou tou" yang artinya: manusia baru dapat disebut sebagai manusia, jika sudah dapat memanusiakan manusia. Ratulangi termasuk anggota Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia yang menghasilkan Undang-Undang Dasar Republik Indonesia dan merupakan Gubernur Sulawesi pertama.
Asal usul :
Ratulangi lahir pada tanggal 5 November 1890 di Tondano, Minahasa yang pada saat itu merupakan bagian dari Hindia Belanda. Ia merupakan putra dari Jozias Ratulangi dan Augustina Gerungan.
Jozias adalah seorang guru di Hoofden School (sekolah menengah untuk anak-anak dari kepala-kepala desa) di Tondano.
Ia menerima pelatihan guru di Haarlem, Belanda sekitar tahun 1880.
Augustina adalah putri dari Jacob Gerungan, Kepala Distrik (Mayoor ) Tondano-Touliang.
Pendidikan :
Ratulangi mengawali pendidikannya di sekolah dasar Belanda (Europeesche Lagere School), lalu ia melanjutkannya di Hoofden School, keduanya di Tondano.
Pada tahun 1904, ia berangkat ke Jawa untuk masuk Sekolah Pendidikan Dokter Hindia (STOVIA) setelah menerima beasiswa dari sekolah tersebut. Namun sesampainya di Batavia (sekarang Jakarta), ia berubah pikiran dan memutuskan untuk belajar di sekolah menengah teknik Koningin Wilhelmina. Ratulangi lulus pada tahun 1908 dan mulai bekerja pada konstruksi rel kereta api di daerah Priangan selatan di Jawa Barat.
Di sana ia mengalami perlakuan yang tidak adil dalam hal upah dan penginapan karyawan dibandingkan dengan karyawan Indo (Eurasia).
Keluarga :
Ratulangi menikah dua kali. Ia menikah dengan Emilie Suzanne Houtman dan memiliki dua anak, Corneille Jose Albert 'Odie' Ratulangi dan Emilia Augustina 'Zus' Ratulangi. Ratulangi dan Houtman bercerai pada tahun 1926. Ratulangi menikah dengan Maria Catharina Josephine 'Tjen' Tambajong pada tahun 1928. Mereka memiliki tiga anak, Milia Maria Matulanda 'Milly' Ratulangi, Everdina Augustina 'Lani' Ratulangi, dan Wularingan Manampira 'Uki' Ratulangi.
Kedua saudara perempuan Ratulangi, Wulan Kayes Rachel Wilhelmina Ratulangi dan Wulan Rachel Wilhelmina Maria Ratulangi, mencapai prestasi tinggi. Wulan Kayes adalah wanita Indonesia pertama yang lulus ujian klein-ambtenaars untuk pekerjaan pemerintah tingkat rendah pada tahun 1898. Nilai ujiannya lebih tinggi daripada laki-laki yang mengikuti ujian yang sama. Wulan Rachel adalah wanita Indonesia pertama yang menerima sertifikat dasar hulpacte untuk pendidikan dasar di Belanda pada tahun 1912.
[30/6 01.34] rudysugengp@gmail.com: 2. Buatkan gambar dan infografis tentang
Sam Ratulangi Belajar di Eropa dan Aktivitas Nasional
Pendidikan di Belanda dan Swiss :
Pada tahun 1911, Ratulangi kembali ke Minahasa, karena ibunya sakit parah. Ibunya meninggal pada tanggal 19 November 1911.
Ayahnya sudah meninggal waktu ia berada di Jawa. Setelah kematian ibu mereka, Ratulangi dan kedua saudara perempuannya membagi warisan orang tua mereka. Ratulangi berencana menggunakan uang yang dia terima untuk membiayai pendidikannya di Eropa.
Dia tiba di Amsterdam pada tahun 1912 dan melanjutkan studinya yang dimulainya di Jawa, tetapi tidak selesai karena sakit ibunya.
Pada tahun 1913, ia menerima sertifikat untuk mengajar matematika untuk tingkat sekolah menengah (Middelbare Acte Wiskunde en Paedagogiek).
Ratulangi melanjutkan studinya di universitas di Amsterdam selama dua tahun lagi.
Namun, ia tidak dapat menyelesaikan studinya, karena ia tidak diperbolehkan mengikuti ujian.
Aturan dari universitas mengharuskan ia memiliki sertifikat tingkat SMA. Sertifikat tersebut tidak dimiliki Ratulangi, karena ia tidak pernah menyelesaikan studinya di Hogere Burgerschool (HBS) atau Algemene Middelbare School (AMS).
Atas saran Mr. Abendanon, seorang Belanda yang bersimpati kepada orang-orang dari Indonesia (yang disebut Hindia pada waktu itu), Ratulangi mendaftarkan diri dan diterima di Universitas Zurich di Swiss.
Pada tahun 1919, ia memperoleh gelar Doktor der Natur-Philosophie (Dr. Phil.) untuk Ilmu Pasti dan Ilmu Alam dari universitas tersebut.
Aktivisme nasional :
Selama berada di Amsterdam, Ratulangi sering bertemu dengan Sosro Kartono (saudara RA Kartini) dan tiga pendiri National Indische Partij, Ernest Douwes Dekker, Tjipto Mangoenkoesoemo, dan Soewardi Soerjaningrat.
Ratulangi juga aktif dalam organisasi Perhimpunan Indonesia (Indische Vereeniging). Dia terpilih sebagai ketua Perhimpunan Indonesia pada tahun 1914.
Pada masa kepemimpinannya, Ratulangi mengundang pembicara-pembicara yang bersimpati pada perjuangan Indonesia, seperti Conrad Theodore van Deventer dan Jacques Henrij Abendanon.
Di Swiss, ia aktif di Asosiasi Mahasiswa Asia (Associations d'étudiants asiatiques) di mana ia bertemu Jawaharlal Nehru dari India.
Aktif Menulis :
Ratulangi juga aktif dalam menulis artikel-artikel.
Dalam satu artikel berjudul "Sarekat Islam" yang diterbitkan di Onze Kolonien (1913), Ratulangi menulis tentang pertumbuhan koperasi pedagang lokal Sarekat Islam dan juga memuji gerakan Boedi Oetomo di Indonesia. Menjelang akhir artikel tersebut, Ratulangi menulis:
"Sejarah tidak memiliki catatan tentang bangsa yang dijajah selamanya. Diharapkan bahwa pemisahan yang tak terelakkan (Hindia dan Belanda) akan berlangsung secara damai, yang seharusnya akan memungkinkan interaksi yang baik dari unsur-unsur budaya antara Hindia dan Belanda, yang telah terjalin selama berabad-abad dalam sejarah, bisa dilanjutkan."
[30/6 01.47] rudysugengp@gmail.com: 3. Buatkan gambar dan infografis tentang
Perjuangan Pergerakan Nasional
Sam Ratulangi
Kembali ke Indonesia :
Sekembalinya ke Indonesia pada tahun 1919, Ratulangi pindah ke Yogyakarta untuk mengajar matematika dan sains di sekolah teknik Prinses Juliana School.
Setelah tiga tahun mengajar, ia pindah ke Bandung dan memulai perusahaan asuransi Assurantie Maatschappij Indonesia dengan Roland Tumbelaka, seorang dokter yang juga berasal dari Minahasa. Ini adalah contoh pertama yang diketahui dari kata "Indonesia" yang digunakan dalam dokumen resmi.
Ada yang mencatat bahwa Soekarno pertama kali bertemu Ratulangi ketika ia mengunjungi Bandung untuk sebuah konferensi. Dia melihat nama perusahaan Ratulangi dengan kata "Indonesia". Dia penasaran dengan pemilik usaha ini dan bertemu dengan Ratulangi.
Kembali ke Minahasa :
Pada tahun 1923, Ratulangi dicalonkan oleh partai Perserikatan Minahasa untuk menjadi sekretaris badan perwakilan daerah Minahasa di Manado (Minahasa Raad). Dia memegang posisi ini dari tahun 1924 hingga 1927. Selama di Minahasa Raad, Ratulangi memperjuangkan hak-hak yang lebih banyak untuk orang-orang Minahasa. Dia secara luas dikreditkan dengan membuat pemerintah kolonial menghapuskan kerja paksa (Herendiensten) di Minahasa.
Dia juga berperan dalam pembukaan daerah Modoinding dan Kanarom di Minahasa Selatan untuk transmigrasi dan pembentukan yayasan untuk membiayai pendidikan siswa-siswa yang membutuhkan.
Pada tanggal 16 Agustus 1927, Ratulangi dan R. Tumbelaka memulai partai Persatuan Minahasa.
Pada waktu itu, keanggotaan Perserikatan Minahasa termasuk orang-orang sipil dan militer. Beberapa anggota militer memberontak melawan Belanda dan karena tindakan mereka, mereka dilarang untuk berpartisipasi dalam organisasi politik. Ratulangi dan Tumbelaka memutuskan untuk membentuk partai baru, Persatuan Minahasa, yang hanya memiliki anggota sipil.
Keberadaan partai ini yang mewakili suatu wilayah di Sulawesi memberikan identitas lokal kepada anggota-anggotanya, tetapi juga mempunyai tujuan untuk mempromosikan persatuan secara nasional.
Partai ini "menyerukan 'solidaritas semua kelompok penduduk Indonesia'".
Pada tahun 1939, Persatuan Minahasa adalah salah satu partai politik yang membentuk Gabungan Politik Indonesia.
Partai-partai yang lainnya adalah Gerindo, Parindra, Pasundan, PPKI (Persatuan Partai Katolik Indonesia), dan PSII (Persatuan Sarekat Islam Indonesia).
Anggota Volksraad :
Ratulangi diangkat menjadi anggota Dewan Rakyat (Volksraad) pada tahun 1927 untuk mewakili rakyat di Minahasa. Ia terus mengusik hak-hak rakyat dan mendukung nasionalisme Indonesia dengan menjadi anggota Fraksi Kebangsaan yang dimulai oleh Mohammad Husni Thamrin.
Dia adalah salah satu sponsor dari Petisi Soetardjo yang menyatakan keinginan untuk sebuah negara merdeka melalui reformasi bertahap dalam waktu sepuluh tahun.
Petisi ini melewati Volksraad, tetapi tidak diterima oleh pemerintah kolonial. Tanggapan terhadap petisi inilah yang memprakarsai pembentukan GAPI (yang telah dijelaskan sebelumnya).
Ratulangi tidak ragu untuk mengkritik pemerintah kolonial dan akhirnya dianggap sebagai risiko bagi mereka.
Dia terus melayani di Volksraad sampai 1937, ketika dia ditangkap karena pandangan politiknya.
Dia dipenjarakan selama beberapa bulan di Sukamiskin di Bandung.
Pada tahun 1932, Ratulangi adalah salah satu pendiri Persatuan Cendekiwan Indonesia (Vereniging van Indonesische Academici).
Ia juga termasuk dalam kelompok pemimpin gereja dan nasionalis (termasuk di antaranya BW Lapian dan AA Maramis) yang menginginkan sebuah denominasi gereja yang bebas dan terpisah dari lembaga gereja resmi Hindia Belanda yang disebut Protestantsche Kerk di Nederlandsch-Indie atau Indische Kerk. Pada bulan Maret 1933, Kerapatan Gereja Protestan Minahasa (KGPM) didirikan.[26]
Menulis Buku :
Pada bulan Juni 1937, buku Ratulangi "Indonesia in de Pacific" diterbitkan.
Buku itu dianggap visioner dalam isinya, di mana Sam Ratulangi memperingatkan terhadap militerisasi Jepang dan meramalkan kemungkinan bahwa Jepang mungkin menyerang kepulauan Indonesia karena sumber daya alamnya yang tidak dimiliki Jepang.
Dia menggambarkan peran utama Indonesia dan negara-negara lain di Asia Tenggara di sekitar Lingkar Pasifik dapat bermain di mana Samudra Pasifik bisa menyamai pentingnya Samudra Atlantik.
Setelah dibebaskan dari penjara pada tahun 1938, Ratulangi menjadi editor Nationale Commentaren, sebuah majalah berita berbahasa Belanda.
Ia menggunakan majalah ini untuk menulis pendapat-pendapat yang menentang tindakan tidak adil pemerintah kolonial dan juga untuk membuat sesama orang Indonesia sadar akan keadaan pada saat itu. Pelanggan majalah itu termasuk kantor Perdana Menteri Belanda, Kementerian Kolonial Belanda, dan Gubernur Jenderal Hindia Belanda.
Pendudukan Jepang :
Setelah Belanda menyerah kepada Jepang, pada 20 Maret 1942, pihak Jepang melarang segala jenis kegiatan politik di Indonesia.
Karena semua organisasi politik dibubarkan, Ratulangi berpartisipasi dalam upaya bantuan keluarga tentara kolonial Belanda (KNIL).
Pada tahun 1943, Ratulangi ditugaskan sebagai penasihat untuk pemerintah militer pendudukan. Pada tahun 1944, ia dipindahkan ke Sulawesi Selatan untuk menjadi penasihat pemerintah militer di Makassar, yang termasuk wilayah timur yang dikendalikan oleh Angkatan Laut Jepang.
Pada bulan Juni 1945, Ratulangi mendirikan sebuah organisasi bernama Sumber Darah Rakyat (SUDARA). Ia menggunakan organisasi ini untuk membangkitkan sentimen nasionalis di Sulawesi dalam mengantisipasi kemungkinan kemerdekaan dalam waktu dekat.
[30/6 02.01] rudysugengp@gmail.com: 4. Buatkan gambar dan infografis tentang
Perjuangan Setelah Kemerdekaan
Sam Ratulangi
Setelah Kemerdekaan :
Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia
Pada awal Agustus 1945, Ratulangi diangkat sebagai salah satu anggota Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) mewakili Sulawesi.
Pada saat Soekarno memproklamasikan Kemerdekaan Indonesia, Ratulangi hadir dalam upacara tersebut karena Ratulangi baru saja tiba di Batavia bersama para anggota PPKI lainnya dari wilayah timur untuk mengikuti rapat PPKI.
Rapat PPKI yang diadakan pada hari berikutnya menghasilkan Undang-Undang Dasar Republik Indonesia dan pengangkatan secara aklamasi Soekarno dan Mohammad Hatta sebagai Presiden dan Wakil Presiden. Rapat-rapat itu juga membagi Indonesia ke dalam wilayah-wilayah administratif di mana Ratulangi diangkat menjadi Gubernur Sulawesi.
Gubernur Sulawesi :
Setelah kembali ke Makassar dan secara resmi mengumumkan proklamasi kemerdekaan, Ratulangi dihadapkan pada situasi yang sangat sulit.
Jepang pada awalnya belum siap menyerahkan senjata mereka.
Pasukan Sekutu di bawah pimpinan Brigadir Jenderal Australia Ivan Dougherty tiba pada bulan September 1945. Dougherty ditunjuk sebagai Gubernur Militer oleh pimpinan Sekutu.
Kedatangannya mengikutsertakan unsur-unsur pemerintah sipil Hindia Belanda (NICA) dan KNIL yang siap untuk mengambil alih daerah Hindia Belanda seperti sebelum perang. Dengan masuknya semua orang-orang asing tersebut, pemuda daerah di Sulawesi bersiap untuk berjuang dengan segala cara untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Bersamaan dengan ini, Ratulangi menerima dukungan dari raja-raja adat termasuk dari Kesultanan Bone dan Kedatuan Luwu yang menyatakan dukungan kepada Republik yang baru didirikan.
Ratulangi mampu mengadakan negosiasi dengan pihak-pihak terkait dalam upaya menjaga perdamaian, tetapi keadaan damai hanya bertahan selama dua bulan.
Ia mampu membentuk pemerintah daerah yang beroperasi selama sembilan bulan.
Pada 5 April 1946, Ratulangi dan beberapa stafnya diambil dari rumah mereka dan ditahan oleh polisi militer Belanda.
Mereka dipenjara selama tiga bulan kemudian diasingkan ke Pulau Serui di Kepulauan Yapen di Papua Barat.
Pengasingan di Serui :
Ratulangi diasingkan ke Serui bersama enam stafnya dan keluarga mereka: Josef Latumahina, Lanto Daeng Pasewang, Willem Sumampouw Tanod 'Wim' Pondaag, Suwarno, IP Lumban Tobing, dan Intje Saleh Daeng Tompo.
Di Serui, mereka berinteraksi dengan masyarakat setempat dengan mendirikan sekolah lokal dan organisasi sosial untuk membantu para wanita dalam komunitas. Secara politik, Ratulangi terlibat dalam pembentukan Partai Kemerdekaan Irian Indonesia yang dipimpin oleh Silas Papare dengan Ratulangi sebagai penasihat.
Pada 23 Maret 1948, setelah penandatanganan Perjanjian Renville, Belanda melepaskan Ratulangi dan rekan-rekannya.
Mereka dipindahkan ke Surabaya dan kemudian dikawal ke garis demarkasi dekat Mojokerto dan Jombang di mana mereka menuju ke ibu kota republik di Yogyakarta.
Mereka disambut dengan hangat oleh masyarakat di Yogyakarta dan sebuah acara penyambutan diadakan oleh Soekarno.
Ratulangi ditunjuk sebagai penasihat khusus untuk pemerintah Indonesia dan anggota delegasi Indonesia dalam negosiasi dengan Belanda.
Dia juga mengunjungi pasukan di Jawa Timur dan menghadiri konferensi keuangan di Kaliurang.
Sekitar waktu ini, ia sudah mulai mengalami masalah dengan kesehatannya.
Pada tanggal 10 November 1948, sebuah manifesto diumumkan oleh Radio Republik Indonesia yang mendesak rakyat Indonesia di bagian timur yang berada di bawah kendali Belanda untuk menjaga persatuan mereka dengan Republik Indonesia agar suatu hari Indonesia secara sepenuhnya akan menjadi merdeka. Manifesto ini disebut Manifes Ratulangie atau Manifes Djokja. Yang ikut menandatangani manifesto ini adalah TST. Diapari, I Gusti Ketut Pudja, Pangeran Muhammad Noor, WST. Pondaag, dan Sukarjo Wiryopranoto.
Titik pertama dari manifesto ini berbunyi:
"Bahwa perjuangan yang dilakukan oleh Republik Indonesia tidak hanya mengenai kepentingan lahir dan batin bagi bangsa Indonesia, yang tergabung dalam Republik Indonesia, akan tetapi juga meliputi kemerdekaan dan kehormatan bangsa Indonesia seluruhnya, serta pengakuan hak dasar rakyat itu untuk hidup bebas dan merdeka atas bumi, bagian dari dunia ini yang dikaruniakan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa kepada mereka."
[30/6 02.12] rudysugengp@gmail.com: 5. Buatkan gambar dan infografis tentang
Penghargaan dan Warisan
Sam Ratulangi
Saat Agresi Militer Belanda II :
Pada waktu Agresi Militer Belanda II, Yogyakarta dikuasai Belanda dan para pemimpin Indonesia termasuk Soekarno dan Hatta ditangkap dan diasingkan ke Bangka. Ratulangi ditangkap oleh Belanda pada tanggal 25 Desember 1948.
Dia dipindahkan ke Jakarta pada tanggal 12 Januari 1949 untuk kemudian dipindahkan ke Bangka.
Namun, karena masalah kesehatannya, ia diizinkan tinggal di Jakarta sebagai tahanan rumah.
Ratulangi meninggal pada tanggal 30 Juni 1949.
Ratulangi dimakamkan sementara di Tanah Abang.
Pada tanggal 23 Juli 1949, jenazahnya diangkut ke Manado dengan kapal KPM Swartenhondt.
Kapal itu sampai di Manado pada tanggal 1 Agustus 1949.
Pada hari berikutnya, jenazah Ratulangi dibawah dan dimakamkan di kampung halamannya di Tondano.
Penghargaan :
Pada bulan Agustus 1961, Ratulangi secara anumerta dianugerahi gelar Pahlawan Nasional Indonesia oleh Soekarno.
Ia juga menerima secara anumerta Bintang Gerilya pada tahun 1958, Bintang Mahaputra Adipradana pada tahun 1960, dan Bintang Satyalancana pada tahun 1961.
Warisan :
Ratulangi sangat terkenal di Minahasa. Jalan-jalan besar atau utama di semua kota di Minahasa (Bitung, Manado, Tomohon, dan Tondano) diberi nama Jalan Sam Ratulangi. Namanya juga dipakai untuk bandar udara internasional Manado seperti halnya universitas negeri di Manado.
Patung-patung tentang Ratulangi terdapat di persimpangan antara Jalan Sam Ratulangi dan Jalan Bethesda di Manado, di kampus Universitas Sam Ratulangi, di samping makam Ratulangi di Tondano, di Jakarta dan Serui, dan bahkan di sebuah taman kota di Davao (Filipina) yang terletak di utara pulau Sulawesi.
Mata Uang Kertas :
Pada tahun 2016, Kementerian Keuangan mengeluarkan uang baru seri 2016 di mana pecahan Rp. 20.000 menggambarkan Ratulangi di bagian depan.
[30/6 02.19] rudysugengp@gmail.com: Selingan
[30/6 02.22] rudysugengp@gmail.com: Buatlah gambar dan infografis tentang
Tokoh-tokoh Sumpah Pemuda
Sumpah Pemuda (28 Oktober 1928) dirumuskan oleh para pemuda dari berbagai latar belakang suku dan organisasi kedaerahan melalui Kongres Pemuda II.
Tokoh utamanya meliputi Soegondo Djojopoespito (Ketua), Mohammad Yamin (Sekretaris & penggagas ikrar), dan W.R. Supratman (pencipta lagu Indonesia Raya).
1. Soegondo Djojopoespito: Ketua panitia Kongres Pemuda II dari Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia (PPPI) yang memimpin jalannya kongres hingga ikrar dibacakan.
2. Mohammad Yamin: Sekretaris kongres sekaligus tokoh dari Jong Sumatranen Bond yang menggagas teks atau ikrar Sumpah Pemuda ("Satu Nusa, Satu Bangsa, dan Satu Bahasa").
3. R.M. Djoko Marsaid: Wakil ketua kongres yang berasal dari organisasi Jong Java.
4. Amir Sjarifoeddin Harahap: Bendahara kongres sekaligus tokoh dari Jong Bataks Bond yang banyak menyumbangkan ide pemikiran selama perumusan.
5. Wage Rudolf Soepratman (W.R. Supratman): Wartawan dan komponis yang memainkan lagu kebangsaan "Indonesia Raya" untuk pertama kalinya dengan biola pada penutupan kongres.
6. Johannes Leimena: Tokoh pemuda dari Jong Ambon yang menjadi panitia dan perwakilan pemuda dari wilayah Indonesia Timur.
7. Soenario Sastrowardoyo: Penasihat panitia Kongres Pemuda II yang juga memberikan pidato mengenai pentingnya nasionalisme dan pergerakan pemuda.
8. Kartini Kartaradjasa: Tokoh perempuan satu-satunya yang aktif dan hadir dalam kepanitiaan kongres tersebut.
9. Sarmidi Mangunsarkoro: Aktivis pendidikan yang menyampaikan pandangannya mengenai perlunya pendidikan kebangsaan bagi rakyat Indonesia.
[30/6 17.28] rudysugengp@gmail.com: Supeno
[30/6 17.54] rudysugengp@gmail.com: 1. Buatkan gambar dan infografis tentang
Biografi Supeno
Soepeno (12 Juni 1916 – 24 Februari 1949) adalah Menteri Pembangunan dan Pemuda pada Kabinet Hatta I, dan juga tokoh pemuda pada saat Pergerakan Nasional.
Lahir :
Soepeno lahir di Pekalongan pada 12 Juni 1916.
Meninggal :
24 Februari 1949 (umur 32)
Dusun Ganter, Desa Ngliman, Kecamatan Sawahan, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, Indonesia.
Dia meninggal dunia sewaktu masih menjabat dalam jabatan tersebut akibat Agresi Militer Belanda II.
Asal usul :
Dia merupakan anak dari Soemarno, seorang pegawai rendah yang bekerja di perusahaan kereta api milik pemerintah kolonial Hindia Belanda di Stasiun Tegal.
Keluarga :
Soepeno menikah dengan Kamsitin Wasiyatul Chakiki Danoesiswojo atau Tien Soepeno, wanita kelahiran Banjarnegara, yang lahir tahun 1923. Mereka menikah di Klampok Banjarnegara, Agustus 1943.
Dari pernikahan tersebut, mereka dikaruniai putri satu-satunya, Soepeni Rokoetiningajoe Judianingsih (lahir pada tahun 1944).
Pendidikan :
Setelah lulus dari Sekolah Menengah Atas di Algemeene Middelbare School (AMS) Semarang, ia melanjutkan pendidikannya ke Sekolah Tinggi Teknik (Technische Hogeschool te Bandoeng) di Bandung.
Hanya dua tahun ia menuntut ilmu di sekolah itu karena ia pindah ke Sekolah Tinggi Hukum (Rechtshoogeschool te Batavia) di Batavia.
Ia menuntut ilmu di Sekolah Tinggi Hukum (Rechtshoogeschool te Batavia) selama empat tahun.
Organisasi :
Di kota yang menjadi pusat pemerintahan kolonial inilah Soepeno semakin tertarik untuk turut ambil bagian dalam era pergerakan nasional.
Ia memimpikan bangsa Indonesia bisa lepas dari penjajahan Belanda.
Di kota itu juga, Soepeno bergabung dengan Perkumpulan Pelajar-Pelajar Indonesia (PPPI), lalu oleh rekan-rekannya, ia terpilih sebagai ketua. Ia juga memimpin Badan Permusyawaratan Pelajar-Pelajar Indonesia (BAPERPPI) sejak 1941.
Selama di Jakarta, Soepeno menetap tinggal di asrama Perkumpulan Pelajar-Pelajar Indonesia (PPPI) di Jalan Cikini Raya 71, ia juga menjadi ketua asrama/pondokan tersebut. Di asrama itulah, untuk pertama kalinya Soepeno bertemu langsung dengan Mohammad Hatta.
Menurut Rosihan Anwar dalam bukunya, Soepeno: Pejuang Politik dan Gerilyawan disebutkan bahwa Soepeno pernah menjadi anggota Indonesia Moeda.
Ia juga sempat mendirikan dan diangkat sebagai Ketua Balai Pemuda di Solo.
Menurut Julinar Said dkk, Soepeno menjadi anggota Indonesia Moeda selama di Pekalongan dan Tegal.
Menurut Sejarawan Benedict R. O'G Anderson, tidak hanya di Indonesia Moeda Pekalongan dan Tegal, Soepeno juga aktif di Indonesia Moeda Semarang dan Bandung.
Ia juga terlibat dalam mempromosikan PPPI melawan saingannya, Unitas Studiosorum Indonesiensis, organisasi pelajar berkebangsaan Belanda yang penurut.
Istri Soepeno, Kamsitin Wasiyatul Chakiki Danoesiswojo atau Tien Soepeno menyebutkan, pada masa-masa awal kemerdekaan, ia juga menjadi konseptor sejumlah lembaga negara seperti Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP), yang merupakan lembaga legislatif pertama sekaligus menjadi anggota lembaga tersebut.
Rosihan Anwar dalam In Memoriam: Mengenang yang Wafat (2002: 135) menyebut Soepeno merupakan sosok yang tangguh dan sederhana. "Soepeno, orang yang suka bekerja keras.
Dia mirip dengan workaholic.
Di asrama Badan Pekerja KNIP di Purworejo, Soepeno makan apa adanya, tidur di atas tikar, hidup sederhana. Dia bagaikan keranjingan dengan kerja sehingga kadang-kadang melalaikan keluarganya.”, tulis Rosihan.
[30/6 17.55] rudysugengp@gmail.com: 2. Buatkan gambar dan infografis tentang
Perjuangan Supeno Pasca Kemerdekaan
Pada akhir tahun 1945 (dalam rapat pada 20 Desember 1945) diangkat dan dipilihlah 25 orang dalam Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP), dan Soepeno (anggota Partai Sosialis) terpilih sebagai ketua Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Pusat.
Pada tahun 1946, terjadi krisis dalam pemerintahan Kabinet Sjahrir III, karena dianggap menjual negara dengan menyetujui perundingan Linggarjati. Perundingan Linggarjati menimbulkan pro dan kontra di kalangan masyarakat Indonesia, contohnya beberapa partai seperti Partai Masyumi, PNI, Partai Rakyat Indonesia, dan Partai Rakyat Jelata. Partai-partai tersebut menyatakan bahwa perundingan itu adalah bukti lemahnya pemerintahan Indonesia untuk mempertahankan kedaulatan negara Indonesia. Untuk menyelesaikan permasalahan ini, pemerintah mengeluarkan Peraturan Presiden No. 6/1946 ditetapkan pada tanggal 28 Desember 1946, dimana bertujuan menambah anggota Komite Nasional Indonesia Pusat agar pemerintah mendapat suara untuk mendukung perundingan Linggarjati. Peraturan Presiden No. 6/1946 berisi tentang penyempurnaan susunan Komite Nasional Indonesia Pusat, berbentuk penambahan jumlah anggotanya dari 200 menjadi 514 orang. Di samping itu supaya lebih dapat mencakup semua lapisan dan golongan yang ada. Dalam Sidang Komite Nasional Indonesia Pusat pada 2 Maret 1947 menyetujui tindakan Presiden Soekarno menambah jumlah anggota Komite Nasional Indonesia Pusat tersebut.
Dalam persetujuan penambahan anggota KNIP, maka Badan Pekerja KNIP yang lama dibubarkan.
Pada Sidang KNIP tanggal 3 Maret 1947 disusun dan dipilih Badan Pekerja KNIP yang baru.
Jumlah anggota Badan Pekerja KNIP meningkat dari 25 orang menjadi 47 orang.
Partai Sosialis memperoleh lima (menempatkan lima orang perwakilan) dari 47 kursi di Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Pusat tersebut, dan salah satu perwakilannya sebagai anggota adalah Soepeno.
Ia juga kemudian bergabung ke dalam partai bentukan Hatta-Syahrir, PNI-Pendidikan (PNI-Baru) setelah PNI Soekarno dilarang oleh Pemerintah Kolonial Hindia Belanda pada tahun 1932.
Pada tanggal 19 November 1945, anggota Pendidikan Nasional Indonesia atau PNI-Pendidikan mengadakan pertemuan di Grand Hotel, Cirebon. Syahrir tidak hadir dan hanya mengutus pengikutnya, Subadio Sastrosatomo, L.M. Sitorus, T.B. Simatupang serta salah satunya adalah Soepeno.
Dalam pertemuan tersebut mereka bersepakat mendukung Kabinet Sutan Sjahrir-Amir Sjarifuddin, yang telah dilantik lima hari sebelumnya. Untuk menyesuaikan dengan situasi politik yang baru semasa revolusi, PNI-Pendidikan menjadi partai politik yang baru. Karena situasi politik yang baru haruslah membutuhkan nama baru. Maka dalam pertemuan itu juga diputuskan nama PNI-Pendidikan diubah menjadi Partai Rakyat Sosialis atau Paras.
Pada 16-17 Desember 1945, Partai Rakyat Sosialis dan Partai Sosialis Indonesia (Parsi) bentukan Amir mengadakan kongres fusi di Cirebon. Hasil dari kongres tersebut, kedua partai setuju untuk bergabung, dan terbentuklah Partai Sosialis.
Dalam komposisi kepengurusan Partai Sosialis, Soepeno duduk dalam Dewan Pimpinan Pusat Partai Sosialis.
Ia juga merupakan orang yang dekat dengan Sutan Syahrir. Ketika terjadi keretakan antara kelompok Syahrir dengan kelompok Amir Syarifuddin sesudah jatuhnya Kabinet Amir Syarifuddin II, Syahrir memilih untuk membentuk partai baru, yaitu Partai Sosialis Indonesia (PSI), pada tanggal 12 Februari 1948 di Yogyakarta dan memberikan dukungan kepada Kabinet Hatta I dengan mengikutsertakan anggotanya yakni Soepeno duduk dalam Kabinet Hatta I. Menurut dr. A. Halim (simpatisan PSI, tetapi bukan anggota partai), pendirian PSI pada 12 Februari 1948 terjadi dalam pertemuan di rumah Ibu Soebadio Sastrosatomo di Kliteran.
Hadir dalam rapat itu kira-kira sepuluh orang, Soebadio Sastrosatomo, Soepeno, Djohan Sjahroezah, Sugondo Djojopuspito, Iskandar Tedjasukmana, dan lain-lain (termasuk dr. A. Halim).
Beberapa anggota Kelompok Syahrir, seperti Soepeno, Kusno, Djohan Sjahroezah, Soebadio Sastrosatomo, L.M. Sitorus, Soedarsono, Sugondo Djojopuspito, dan lain-lain juga keluar dari Partai Sosialis dan ikut mendirikan Partai Sosialis Indonesia bersama Syahrir.
[30/6 17.55] rudysugengp@gmail.com: 3. Buatlah gambar dan infografis tentang
Akhir Hayat Supeno
Menjadi menteri :
Pada tahun 1948, Soepeno pergi ke Sumatra untuk mengkonsolidasi Republik di Sumatra (Bukittinggi) dan mempersiapkan kemungkinan-kemungkinan terjadinya perang kembali serta pindahnya pemerintahan ke Sumatra.
Menurut Rosihan Anwar (2002: 135), ia diutus dalam sebuah tim ke Bukittinggi untuk melancarkan Balai Pemuda di Sumatera. Kemudian pada 29 Januari 1948 ia dipanggil kembali ke Jawa, ia diangkat menjadi Menteri Pembangunan dan Pemuda dalam Kabinet Hatta I (Kabinet Presidentil I).
Ia adalah satu-satunya anggota sayap kiri yang duduk di Kabinet Hatta I atas nama perseorangan.
Selain itu, Ia adalah menteri yang paling muda dalam pemerintahan Mohammad Hatta (Kabinet Hatta I).
Meninggal :
Sewaktu Belanda menyerang Indonesia pada 19 Desember 1948 yang dikenal sebagai Agresi Militer Belanda II, membuat Ibu kota NKRI, Yogyakarta berhasil dikuasai Belanda.
Presiden Soekarno, Perdana Menteri Mohammad Hatta dan sejumlah pejabat pemerintahan ditangkap.
Saat itu Soepeno menjadi Menteri Pemuda dan Pembangunan RI. Setelah Yogyakarta jatuh, Soepeno ikut bergerilya dan pasukan Belanda terus memburunya.
Soepeno lolos karena sedang bertugas di luar Yogyakarta, tepatnya di Cepu, Jawa Tengah. Dikisahkan oleh Djoeir Moehamad & Abrar Yusra dalam Memoar Seorang Sosialis (1997: 208),
Soepeno saat itu sebenarnya dalam perjalanan pulang ke ibu kota dari Cepu.
Saat sampai di Prambanan, sisi timur Yogyakarta, ia merasa ada yang tidak beres. Ternyata benar, pusat pemerintahan telah diduduki Belanda.
Dari Prambanan, Soepeno mengarahkan mobilnya balik jalan, menuju Tawangmangu, dekat Solo.
Di sana, ia akan bergabung dengan para pejabat negara lainnya yang lolos dari penangkapan. Setelah berkoordinasi di Tawangmangu, diputuskan bahwa masing-masing pejabat akan turut bergerilya, berpindah-pindah lokasi, hingga situasi terkendali.
Soepeno dan beberapa orang lainnya diarahkan menuju timur, ke suatu tempat di lereng Gunung Wilis di mana Panglima Besar Jenderal Soedirman dan pasukannya bermarkas.
Rombongan kecil ini berangkat dengan berjalan kaki dari kampung ke kampung, dari hutan ke hutan, dalam ancaman yang setiap saat bisa saja hadir.
Bersama Soesanto Tirtoprodjo, kedua "Menteri Gerilya" itu berkelana di daerah pegunungan Jawa Timur menggerakkan rakyat berjuang terus melawan Belanda. Seorang wanita ikut dalam rombongan mereka, yaitu Nyonya Susilowati Rikerk, anggota Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) dari Partai Sosialis Indonesia (PSI).
Hampir tiga pekan berjalan, rombongan Soepeno tiba di Desa Wayang, Ponorogo.
Di desa itu, mereka bertemu dengan Kapten Soepardjo Roestam, ajudan Jenderal Soedirman yang memang diutus untuk mencari keberadaan para pejabat RI (Departemen Penerangan RI, Djendral Soedirman Pahlawan Sedjati, 1950: 45). Setelah memberi tahu di mana posisi pasukan Jenderal Soedirman kendati tetap saja cukup sulit untuk menemukan tempat itu, Kapten Soepardjo pamit karena harus melanjutkan tugas. Soepeno dan rombongan juga meneruskan perjalanan. Medan liar yang amat sulit dan harus berkali-kali memutar jalan agar terhindar dari sergapan musuh membuat perjalanan yang ditempuh memakan waktu semakin lama. Sementara itu, tentara Belanda kian gencar mengejar.
Pada 20 Februari 1949, Soepeno dan kawan-kawan menjejakkan kaki di Dusun Ganter, Nganjuk. Di dusun ini, mereka menginap di rumah warga dan berniat menetap selama beberapa hari sebelum melanjutkan perjalanan yang entah kapan akan berakhir.
Setelah berbulan-bulan bergerilya, Soepeno dan rombongannya tertangkap Belanda di Desa Ganter, Dukuh Ngliman, Nganjuk setelah Belanda menyerang wilayah Ganter pada 24 Februari 1949.
Tentara Belanda menyuruhnya jongkok dan mengintrogasi dia.
Belanda juga berhasil menangkap seluruh pembesar sipil di Jawa Timur.
Soepeno mengatakan bahwa ia adalah penduduk daerah tersebut tetapi Belanda tidak percaya.
Gugur di tembak :
Akhirnya, pelipisnya ditembak dan Soepeno tewas seketika.
Belanda kemudian mengeksekusi rombongan Soepeno yang terdiri dari enam orang, termasuk ajudan Soepeno, Mayor Samudro juga ditembak mati.
Eksekusi-eksekusi dilakukan di depan umum, menurut laporan TNI, sebagai alat untuk mengintimidasi penduduk.
Soepeno pun kemudian dimakamkan di Nganjuk.
Setahun kemudian, pada Februari 1950 makamnya dipindahkan ke Taman Makam Pahlawan Semaki, Yogyakarta.
Istri Soepeno, Tien Soepeno, mengaku karena kurangnya informasi, baru mengetahui kabar suaminya tewas dieksekusi Belanda sebulan kemudian.
Makam Menteri Soepeno berada di sisi kanan tempat peristirahatan terakhir Jenderal Oerip Soemohardjo yang berdampingan dengan nisan Panglima Besar Jenderal Soedirman (Solichin Salam, Djenderal Soedirman Pahlawan Kemerdekaan, 1963: 95).
Sesuai surat keputusan pemerintah, Surat Keputusan Presiden RI No. 039/TK/Th. 1970 tgl. 13 Juli 1970, pada pertengahan tahun 1970, atas segala pengorbanan yang telah dia berikan kepada perjuangan kemerdekaan, Soepeno ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional. la dianugerahi pula Tanda Kehormatan Bintang Mahaputra Kelas III secara anumerta, yakni sebagai penghargaan atas sifat-sifat kepahlawanannya serta atas keberanian dan ketebalan tekad melampaui dan melebihi panggilan kewajiban dalam pelaksanaan tugasnya yang telah disumbangkan terhadap Negara dan Bangsa Indonesia. Masyarakat mengenangnya sebagai menteri gerilya.
Rekan seperjalanannya, Mr. Soesanto Tirtoprodjo tidak melupakan peristiwa sedih itu kemudian menceritakan pengalamannya bergerilya dalam sebuah buku kecil, ditulis dalam bahasa Jawa, berjudul Nayoko Lelono.
Ia merekam eksekusi tersebut dan melukiskan pendapat serta perasaannya dalam sebuah syair yang digubah menjadi sepuluh pupuh tembang Jawa, Durma (Durmo):
"Duk semana Pak Soepeno nekad koerban,
Pahlawan loehoer jekti
Koesoemaning bangsa,
Lila ngetohken djiwa
Mrih kawanira basoeki,
Aroem asmanja,
Langgeng cinathet pasthi."
Dalam terjemahan bebas, yang dilakukan oleh perintis kemerdekaan sekaligus sastrawan Jawa dengan nama pena Kamadjaja, makna tembang tersebut sebagai berikut:
"Pada waktu itu, Pak Soepeno dengan sengaja telah berkorban, sebagai layaknya seorang pahlawan dengan budi luhur. Selain itu, sebagai kusuma bangsa, ia rela mengorbankan nyawanya dengan tidak pernah mengaku (sebagai menteri dan bisa membahayakan jiwa rekan-rekannya). Dengan demikian namanya tetap harum dan abadi, untuk dikenang..."
Menurut Tien Soepeno, jejak sejarah Soepeno lebih banyak dibangun di Semarang, walaupun Soepeno selama hidupnya lebih banyak dihabiskan di Jakarta dan Yogyakarta.
Kini namanya diabadikan menjadi nama jalan di Kota Semarang dan juga di beberapa kota lainnya di Indonesia.
Tak hanya itu, patungnya juga dibangun di Kompleks Stadion Jatidiri, Semarang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar