[27/6 02.12] rudysugengp@gmail.com: Yamin 3
[27/6 02.15] rudysugengp@gmail.com: Buatkan gambar dan infografis tentang
Mohammad Yamin Perintis Sumpah Pemuda
Pahlawan Nasional Prof. Mr. Mohammad Yamin adalah pejuang multitalenta yang berjasa besar sebagai pelopor Sumpah Pemuda, perumus dasar negara (Pancasila), dan arsitek konstitusi.
Kiprahnya meliputi pemersatu bahasa, perancang undang-undang, serta budayawan dan sejarawan yang membangkitkan nasionalisme.
Perintis Sumpah Pemuda (1926-1928)
Penggagas Bahasa Persatuan:
Pada Kongres Pemuda I (1926) dan Kongres Pemuda II (1928), Yamin secara radikal mendorong penggunaan Bahasa Melayu/Indonesia (bukan Bahasa Belanda) sebagai bahasa persatuan.
Penulis Ikrar Sumpah Pemuda:
Ia merupakan tokoh sentral di balik lahirnya ikrar Satu Nusa, Satu Bangsa, dan Satu Bahasa yang dibacakan pada 28 Oktober 1928.Sastrawan Pelopor: Melalui karya puisinya seperti "Tanah Air" (1920) dan "Indonesia Tumpah Darahku" (1928), Yamin menyingkirkan bentuk sastra lama (pantun/syair) dan mempopulerkan sastra modern yang membakar semangat nasionalisme.
[27/6 02.17] rudysugengp@gmail.com: Buatkan gambar dan infografis tentang
Mohammad Yamin Peletak Dasar Negara dan Konstitusi UUD 1945
Peletak Dasar Negara (1945)
Gagasan 5 Asas:
Pada sidang BPUPKI (29 Mei 1945), Yamin menjadi pembicara pertama yang mengusulkan lima asas dasar negara Indonesia merdeka, yaitu:
Peri Kebangsaan, Peri Kemanusiaan, Peri Ketuhanan, Peri Kerakyatan, dan Kesejahteraan Sosial.
Anggota Panitia Sembilan:
Ia tergabung dalam Panitia Sembilan yang menyusun dokumen bersejarah Piagam Jakarta (22 Juni 1945), cikal bakal Pembukaan UUD 1945 dan Pancasila.
Arsitek Hukum dan Konstitusi
Penyusun UUD 1945: Sebagai sarjana hukum lulusan Rechtshoogeschool te Batavia (Sekolah Hakim Tinggi) pada 1932, ia berperan vital dalam meletakkan dasar hukum dan merancang UUD 1945 bersama Soekarno dan Soepomo.
[27/6 02.19] rudysugengp@gmail.com: Buatkan gambar dan infografis tentang
Mohammad Yamin Budayawan, Sejarawan, dan Pemerintahan
Yamin menulis sejumlah karya sejarah dan biografi pahlawan nasional untuk menggali kembali kejayaan masa lalu Nusantara (seperti era Sriwijaya dan Majapahit) demi membangun identitas bangsa.
Karyanya yang terkenal antara lain Gajah Mada dan Sejarah Peperangan Dipanegara.
Jabatan di Pemerintahan
Setelah kemerdekaan, ia mengabdi sebagai Menteri Kehakiman (1951), Menteri Pengajaran, Pendidikan, dan Kebudayaan (1953-1955), serta Ketua Dewan Perancang Nasional (1962).
[27/6 02.31] rudysugengp@gmail.com: Buatkan gambar dan infografis tentang
Biodata dan Perjuangan Kartini
Raden Adjeng Kartini (lahir di Jepara, 21 April 1879 – meninggal di Rembang, 17 September 1904) adalah Pahlawan Nasional Indonesia.
Ia dikenal luas sebagai pelopor kebangkitan perempuan pribumi, yang gigih memperjuangkan kesetaraan hak, emansipasi, dan akses pendidikan bagi kaum perempuan di masa kolonial.
1. Latar Belakang dan Pendidikan
Kartini lahir dari kalangan bangsawan (priyayi) Jawa. Ayahnya, Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, adalah seorang Bupati Jepara. Ibunya bernama M.A. Ngasirah.
Berkat jabatan sang ayah, Kartini mendapatkan hak istimewa untuk bersekolah di Europeesche Lagere School (ELS).
Di sekolah Belanda ini, ia belajar bahasa Belanda dan ilmu pengetahuan barat.
2. Masa Pingitan dan Belajar Mandiri
Sesuai dengan tradisi Jawa yang berlaku kala itu, Kartini harus berhenti sekolah pada usia 12 tahun untuk menjalani masa pingitan di dalam rumah sebelum menikah.
Selama dipingit, ia tidak membiarkan pikirannya terkungkung.
Ia rajin membaca buku, koran, dan majalah Eropa.
Kemampuan berbahasa Belandanya dimanfaatkan untuk menjalin korespondensi dengan teman-teman penanya dari Belanda, salah satunya Rosa Abendanon.
3. Pemikiran dan Perjuangan Emansipasi
Melalui surat-suratnya, Kartini sering mencurahkan kegelisahannya mengenai nasib perempuan pribumi yang tertinggal.
Ia menyoroti praktik ketidakadilan sosial, budaya pingitan, dan penolakan terhadap poligami.
Cita-citanya yang besar adalah memajukan perempuan pribumi agar bisa menuntut ilmu, mandiri, dan sederajat dengan kaum pria.
Bersama saudara-saudaranya, ia bahkan memberanikan diri membuka sekolah kecil untuk anak-anak perempuan di lingkungan pendopo kabupaten.
4. Pernikahan dan Wafat
Pada November 1903, Kartini menikah dengan Bupati Rembang, K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat. Sang suami sangat mendukung cita-cita progresif Kartini dan memberinya kebebasan untuk mendirikan sekolah wanita.
Pada September 1904, Kartini melahirkan anak pertamanya, Soesalit Djojoadhiningrat. Sayangnya, empat hari setelah persalinan tersebut, Kartini menghembuskan napas terakhirnya di usia yang masih sangat muda, yaitu 25 tahun.
5. Warisan dan "Habis Gelap Terbitlah Terang"
Sepeninggal Kartini, Mr. J.H. Abendanon (Menteri Kebudayaan, Agama, dan Kerajinan Hindia Belanda) mengumpulkan surat-surat yang pernah dikirimkan Kartini kepada sahabat-sahabatnya. Surat-surat tersebut dibukukan dan diterbitkan pada tahun 1911 dengan judul "Door Duisternis tot Licht".
Buku ini kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu dan dikenal luas di Indonesia dengan judul "Habis Gelap Terbitlah Terang".
Untuk menghargai jasa-jasanya, Presiden Soekarno menetapkan R.A. Kartini sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional melalui Surat Keputusan Presiden No. 108 Tahun 1964. Melalui keputusan yang sama, tanggal kelahirannya yaitu 21 April juga ditetapkan sebagai Hari Kartini yang diperingati setiap tahunnya.
[27/6 02.38] rudysugengp@gmail.com: Buatkan gambar dan infografis tentang
Biodata dan Perjuangan Moh. Yamin
Prof. Mr. Mohammad Yamin, S.H. adalah pahlawan nasional, sastrawan, dan ahli hukum kelahiran Sawahlunto, Sumatra Barat pada 23 Agustus 1903.
Beliau berperan besar sebagai perumus Sumpah Pemuda, pengusul dasar negara Pancasila, serta peletak dasar konstitusi Indonesia, sebelum wafat di Jakarta pada 17 Oktober 1962.
Biodata Pribadi
Nama Lengkap:
Prof. Mr. Mohammad Yamin, S.H.
Tempat, Tanggal Lahir:
Talawi, Sawahlunto, Sumatra Barat, 23 Agustus 1903
Tanggal Wafat:
Jakarta, 17 Oktober 1962
Agama:
Islam
Pasangan: Siti Sundari
Anak: Dang Rahadian Sinayangsih Yamin
PendidikanHIS (Hollandsch-Inlandsche School):
Palembang
AMS (Algemeene Middelbare School):
Yogyakarta (mempelajari bahasa asing dan sejarah)
Rechtshoogeschool te Batavia (Sekolah Tinggi Hukum):
Jakarta, lulus dengan gelar Meester in de Rechten (Sarjana Hukum) pada tahun 1932.
Riwayat Karier dan Perjuangan
Sastrawan:
Dikenal sebagai pelopor puisi modern Indonesia dan tokoh penting pelopor Pujangga Baru.
Sumpah Pemuda (1928):
Berperan sebagai tokoh yang merumuskan ikrar Sumpah Pemuda.
Perumus Dasar Negara:
Sebagai anggota BPUPKI, beliau turut merumuskan dan mengusulkan lima asas dasar negara (Peri Kebangsaan, Peri Kemanusiaan, Peri Ketuhanan, Peri Kerakyatan, dan Kesejahteraan Sosial).
Jabatan Pemerintahan:
Menteri Kehakiman (1951)
Menteri Pengajaran, Pendidikan, dan Kebudayaan (1953–1955)
Ketua Dewan Perancang Nasional (1962)
[27/6 20.39] rudysugengp@gmail.com: Supomo
[27/6 20.43] rudysugengp@gmail.com: Buatkan gambar dan infografis tentang
Kehidupan awal dan pendidikan Supomo
Soepomo dilahirkan pada 22 Januari 1903, di Sukoharjo, Hindia Belanda (sekarang Indonesia).
Ia berasal dari keluarga priyayi; kakek dari pihak ibu dan ayah keduanya adalah pejabat tinggi pemerintah.
Ia memulai pendidikannya pada tahun 1917, ketika ia terdaftar di Europeesche Lagere School (ELS) di Boyolali. Ia lulus pada tahun 1920, dan melanjutkan studinya ke Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) di Surakarta. Pada tahun 1923, ia pindah ke Batavia (sekarang Jakarta) dan bersekolah di Bataviasche Rechtsschool.
Setelah lulus dari sana, ia bekerja di sebuah pengadilan negeri di Surakarta, sebelum berangkat ke Belanda untuk melanjutkan pendidikan. Di Belanda, ia mendaftar di Universitas Leiden, dan belajar hukum di bawah Cornelis van Vollenhoven.
Ia lulus pada tahun 1927, dengan tesisnya yang berjudul "Reformasi Sistem Agraria di Wilayah Surakarta", yang berisi uraian tentang sistem agraria di Surakarta dan kritik terselubung terhadap kolonialisme Belanda.
Sekembalinya ke rumah, ia menjadi pegawai pengadilan di Yogyakarta, kemudian dipindahkan ke Departemen Kehakiman di Batavia.
Saat bertugas di Departemen Kehakiman, ia mengambil pekerjaan sampingan sebagai dosen tamu di Rechtshoogeschool.
Ia kemudian bergabung dengan asosiasi pemuda Jong Java, dan menulis sebuah makalah berjudul "Perempuan Indonesia dalam Hukum", yang ia presentasikan bersama dengan Perdana Menteri di kemudian hari Ali Sastroamidjojo pada Kongres Perempuan 1928.
[27/6 20.45] rudysugengp@gmail.com: Buatkan gambar dan infografis tentang
Arsitek Konstitusi dan Rumusan Dasar Negara Supomo
Pada tanggal 1 Maret 1945, tahun terakhir pendudukan Jepang di Indonesia, pemerintah Jepang membentuk Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) pada tanggal 1 Maret 1945 untuk mengerjakan "persiapan kemerdekaan di wilayah pemerintahan pulau jawa ini". Soepomo menjadi salah satu dari 62 anggota.
Pada sidang pertama yang berlangsung dari 29 Mei hingga 1 Juni, ia menyatakan dukungannya untuk masa depan Indonesia menjadi negara kesatuan yang kuat, dengan alasan bahwa itu sesuai dengan norma-norma masyarakat Indonesia.
Dia juga berbicara menentang gagasan negara Islam.
Pada tanggal 1 Juni 1945, presiden pada masa depan Soekarno berpidato, di mana ia menguraikan dasar negara masa depan, lima sila Pancasila.
Pada masa reses BPUPKI, hal ini kemudian dimasukkan ke dalam pembukaan konstitusi masa depan, Piagam Jakarta oleh Panitia Sembilan, yang tidak termasuk Soepomo.
Ketika BPUPKI bersidang kembali untuk sidang kedua, yang dimulai pada 10 Juli, sebuah komite beranggotakan 19 orang dibentuk untuk menghasilkan rancangan undang-undang, dan Soepomo memainkan peran dominan dalam pembahasannya, yang berlangsung selama tiga hari. Dia sengaja menghasilkan konstitusi yang memiliki pemerintahan pusat yang kuat dengan kekuasaan terkonsentrasi pada presiden, dan tanpa sistem checks and balances yang jelas, sejalan dengan pendapatnya. Secara khusus, ia mendukung totalitarianisme integralis berdasarkan ideologi keluarga dan mengusulkan negara Indonesia dimodelkan pada Nazi Jerman dan Kekaisaran Jepang.
Ia meyakini sistem ini akan menghindari konflik kepentingan antara pemerintah dan masyarakat. Dalam diskusi itu, ia ditentang keras oleh Mohammad Yamin, yang menyerukan demokrasi ala Barat dengan jaminan hak asasi manusia. Wakil presiden masa depan Hatta juga menginginkan deklarasi hak-hak untuk dimasukkan, tetapi Soekarno memihak Soepomo.
Kompromi mencapai Pasal 28 yang menyatakan bahwa hak asasi manusia akan diatur dengan undang-undang.
Setelah diskusi panas, khususnya mengenai peran agama dalam berita negara, rancangan konstitusi dan pembukaannya diterima pada 16 Juli.
Setelah Jepang menyerah, pada tanggal 17 Agustus 1945, Soekarno dan Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Keesokan harinya, Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) yang telah dibentuk pada 7 Agustus, bertemu dan menyetujui rancangan undang-undang yang dihasilkan oleh panitia BPUPKI.
Konstitusi juga memiliki penjelasan yang memberikan informasi lebih lanjut tentang pembukaan dan isi, yang juga ditulis oleh Soepomo.
Karena ini bukan produk BPUPKI atau PPKI, status hukumnya tidak pasti.
[27/6 20.50] rudysugengp@gmail.com: Buatkan gambar dan infografis tentang
Karier Pascakemerdekaan Supomo
Diplomat Ulung:
Beliau menjadi delegasi Indonesia dalam perundingan Konferensi Meja Bundar (KMB) pada tahun 1949 untuk mendapatkan pengakuan kedaulatan Indonesia.
Setelah masa jabatannya sebagai Menteri Kehakiman, Soepomo menjadi dosen di Universitas Gadjah Mada, serta Akademi Polisi Jakarta.
Dia juga Presiden Universitas Indonesia.
Dari tahun 1954 sampai 1956, Soepomo menjadi Duta Besar Indonesia untuk Britania Raya.
Soepomo meninggal dalam usia muda akibat serangan jantung di Jakarta pada 12 September 1958 dan dimakamkan di Solo.[3] Pada 14 Mei 1965, Soepomo secara anumerta dinyatakan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia oleh Presiden Soekarno.
[27/6 20.57] rudysugengp@gmail.com: Supomo ada 3
[27/6 20.59] rudysugengp@gmail.com: Lagi WR SUPRATMAN
[27/6 21.02] rudysugengp@gmail.com: Buatkan gambar dan infografis tentang
Kehidupan awal WR Supratman
Wage Rudolf Soepratman lahir di Meester Cornelis (sekarang Jatinegara), pada 9 Maret 1903.
Ia adalah anak ketujuh dari sembilan bersaudara.
Ayahnya bernama Djoemeno Senen Sastrosoehardjo, seorang tentara KNIL Belanda, dan ibunya bernama Siti Senen. Setelah berusia 6 tahun, ia masuk sekolah Boedi Oetomo di Batavia. Belum sampai dapat menamatkan pelajaran, ibunya meninggal dunia.
Dalam buku berjudul Wage Rudolf Soepratman: meluruskan sejarah dan riwayat hidup pencipta lagu kebangsaan Republik Indonesia "Indonesia Raya" dan pahlawan nasional karya Anthony C. Hutabarat, disebutkan bahwa Djoemeno membesarkan anak-anaknya dengan tata cara Islam. Disebutkan pula bahwa tidak ada satupun anaknya yang tidak beragama Islam. Menurut Anthony, terdapat pihak-pihak tidak bertanggung jawab yang menyelewengkan kabar mengenai hal tersebut.
Pada tahun 1914, Soepratman dibawa oleh kakaknya yang tertua Roekijem Soepratijah dan kakak iparnya Willem van Eldik ke Makassar.
Atas usahanya ia dapat masuk sekolah Belanda, ELS (Europese Lagere School), setelah menambahkan namanya dengan "Rudolf" sebagai suatu siasat, supaya diterima disekolah tersebut.
Karena di jaman penjajahan Belanda dengan adanya politik diskriminasi atau pandang bulu, anak yang tergolong Inlander seperti Soepratman sukar dapat diterima masuk sekolah Belanda. Ia tidak lama dapat belajar disitu, dikeluarkan dari sekolah Belanda, karena diketahui bukan anak kandung Willem van Eldik.
Soepratman yang mempunyai sifat keras hati dan kemauan kuat, dengan diam-diam tanpa sepengetahuan kakaknya, ia masuk sekolah Melayu. Akhirnya kakak-kakaknya pun menyetujui dan merasa bangga.
Soepratman sangat rajin belajar, tiap tahun naik kelas.
[27/6 21.04] rudysugengp@gmail.com: Buatkan gambar dan infografis tentang
Karier dan Karya WR Supratman
Setelah pulang dari sekolah, Soepratman selalu belajar memetik gitar dan menggesek biola. Willem van Eldik selalu mendidiknya dalam hal menggesek biola.
Melihat bakat adiknya, biola Willem van Eldik diberikan kepadanya, sebagai kenang-kenangan dan pendorong untuk mengembangkan bakatnya.
Setelah tamat sekolah Melayu, pada tahun 1917 Soepratman lalu rajin belajar bahasa Belanda di sekolah malam. Pada tahun 1919 ia berhasil lulus ujian Klein Ambtenaar Examen, yang saat itu dikenal dengan diploma K.A.E. Setelah itu melanjutkan ke Normaalschool, yaitu sekolah guru pada waktu itu hingga selesai.
Ketika berumur 20 tahun, ia menjadi guru di Sekolah Angka 2. Dua tahun selanjutnya ia mendapat ijazah Klein Ambtenaar.
Beberapa waktu lamanya ia bekerja pada sebuah perusahaan dagang. Dari Makassar, ia pindah ke Bandung dan bekerja sebagai wartawan di harian Kaoem Moeda dan Kaoem Kita.
Pekerjaan itu tetap dilakukannya walaupun ia telah pindah ke Batavia. Dalam masa tersebut, ia mulai tertarik pada pergerakan nasional dan banyak bergaul dengan tokoh-tokoh pergerakan.
Rasa tidak senang terhadap penjajahan Belanda mulai tumbuh dan akhirnya dituangkan dalam buku Perawan Desa.
Buku itu disita dan dilarang beredar oleh pemerintah Belanda.
Soepratman dipindahkan ke kota Sengkang.
Di situ tidak lama lalu minta berhenti dan pulang ke Makassar lagi. Roekijem sendiri sangat gemar akan sandiwara dan musik. Banyak karangannya yang dipertunjukkan di mes militer. Selain itu Roekijem juga senang bermain biola, kegemarannya ini yang membuat Soepratman juga senang main musik dan membaca-baca buku musik.
Karya dalam seni lagu:
* Indonesia Raya
* Bendera Kita
* Indonesia Ibuku
* Ibu Kita Kartini
* Mars K.B.I
* Di Timur Matahari
* Bangunkah Hai Kawan,
* Matahari Terbit
* Surya Wirawan
* Mars Parindra
Karya dalam seni sastra:
* Perawan Desa
* Darah Muda
* Kaum fanatik
Karya dalam dunia kemasyarakatan:
* Kartu Indonesia
[27/6 21.09] rudysugengp@gmail.com: Buatkan gambar dan infografis tentang
WR Supratman Menciptakan lagu Indonesia Raya dan Ikut Sumpah Pemuda
Sewaktu tinggal di Makassar, Soepratman memperoleh pelajaran musik dari kakak iparnya yaitu Willem van Eldik, sehingga pandai bermain biola dan kemudian bisa menggubah lagu.
Ketika tinggal di Batavia, pada suatu kali ia membaca sebuah karangan dalam majalah Timbul.
Penulis karangan itu menantang ahli-ahli musik Indonesia untuk menciptakan lagu kebangsaan.
Soepratman tertantang, lalu mulai menggubah lagu.
Pada tahun 1924 lahirlah lagu Indonesia Raya.
Pada waktu itu ia berada di Bandung dan berusia 21 tahun.
Pada bulan Oktober 1928 di Batavia dilangsungkan Kongres Pemuda II.
Kongres itu melahirkan Sumpah Pemuda. Pada malam penutupan kongres, tanggal 28 Oktober 1928, Soepratman memperdengarkan lagu ciptaannya secara instrumental di depan peserta umum (secara instrumental dengan biola atas saran Sugondo Djojopuspito berkaitan dengan kondisi dan situasi pada waktu itu).
Pada saat itulah untuk pertama kalinya lagu Indonesia Raya dikumandangkan di depan umum.
Semua yang hadir terpukau mendengarnya. dengan cepat lagu itu terkenal di kalangan pergerakan nasional.
Apabila partai-partai politik mengadakan kongres, maka lagu Indonesia Raya selalu dinyanyikan.
Lagu itu merupakan perwujudan rasa persatuan dan kehendak untuk merdeka.
Sesudah Indonesia merdeka, lagu Indonesia Raya dijadikan lagu kebangsaan, lambang persatuan bangsa. Namun, Soepratman tidak sempat menikmati hidup dalam suasana kemerdekaan.
Peran WR Supratman dalam Sumpah Pemuda
sunting
Saat peristiwa kongres pemuda II, WR Supratman memiliki peran yang cukup penting dalam peristiwa bersejarah kala itu. Beliau menciptakan serta memainkan lagu "Indonesia Raya", Momen tersebut merupakan momen sakral dan bersejarah karena lagu "Indonesia Raya" secara resmi diperdengarkan kepada bangsa Indonesia untuk pertama kalinya.
Tidak hanya itu, kehadiran WR Supratman juga membawa misi penting yaitu meliput jalannya Kongres Pemuda II karena beliau adalah seorang wartawan dari surat kabar Sin Po. Berkat perannya beliau berhasil mengabarkan kepada bangsa Indonesia, terutama kaum pemuda terkait peristiwa kongres pemuda II dan lahirnya sumpah pemuda. Syair "Indonesia Raya" yang disebarkan melalui surat kabar Sin Po hanya satu stanza. Padahal syair "Indonesia Raya" terdapat 3 stanza. Karena lagu tersebut semakin beredar luas, pemerintah kolonial merasa khawatir jika lagu tersebut membangkitkan semangat kemerdekaan.
[27/6 21.22] rudysugengp@gmail.com: Buatkan gambar dan infografis tentang
Akhir Hayat, Penghargaan, dan Kontroversi Kelahiran WR Supratmanm
Akibat menciptakan lagu Indonesia Raya, ia selalu diburu oleh polisi Hindia Belanda sampai jatuh sakit.
Dalam sebuah kutipan tulisan Soejono Tjiptomihardjo dalam buku Kenang-Kenangan 10 Tahun Kabupaten Madiun, disebutkan Soepratman menderita sakit urat saraf akibat lelah bekerja keras.
Ia beristirahat di Cimahi lalu kembali ke Batavia untuk mengikuti aliran Ahmadiyah.
Karena tekanan ekonomi, ia kemudian bercerai dengan sang istri dan tinggal bersama kakaknya di Surabaya.
Namun dalam sakit dan keletihan batin, Ia masih dapat menciptakan lagu Surya Wirawan dan Mars Parindra.
Karena lagu ciptaannya yang terakhir "Matahari Terbit" pada awal Agustus 1938, ia ditangkap ketika menyiarkan lagu tersebut bersama pandu-pandu di NIROM Jalan Embong Malang, Surabaya dan ditahan di penjara Kalisosok, Surabaya.
Dikisahkan sehari sebelum Soepratman meninggal, Ia berpesan kepada Roekijem agar lagu Indonesia Raya diserahkan kepada Badan Kebangsaan. Soepratman meninggal pada 17 Agustus 1938 di TPU Kapas (Kapas Krampung) sebelah utara Kenjeran, Tambaksari Surabaya, dengan nisan yang indah.
Ia dimakamkan secara Islam.
Kemudian oleh panitia monumen dari Departemen Pendidikan, Kebudayaan dan Pengajaran Perwakilan Jawa Timur, makamnya dipindahkan ke Tambak Segaran-Wetan, selatan jalan Kenjeran Tambaksari, Surabaya, pada tanggal 31 Maret 1956.
Penghargaan
Beberapa Gelar WR Soepratman diantaranya :
Gelar Pahlawan Nasional diberikan oleh pemerintah Indonesia melalui surat keputusan presiden RI No.16/SK/1971 tanggal 20 Mei tahun 1971.
Tanda Kehormatan
* Bintang Mahaputra Utama diberikan melalui surat keputusan presiden RI No.017/TK/1974 tanggal 19 Juni 1974.
* Anugerah Bintang Mahaputra Anumerta III diberikan melalui pemerintah RI pada 17 Agustus 1960.
* Lifetime Achievement Award dalam acara Kartini Award 2024.
Kontroversi
Tempat dan tanggal lahir
Hari kelahiran versi pertama Soepratman, 9 Maret, oleh Megawati Soekarnoputri saat menjadi presiden RI, diresmikan sebagai Hari Musik Nasional. Namun tanggal kelahiran ini sebenarnya masih diperdebatkan, karena ada pendapat yang menyatakan Soepratman dilahirkan pada tanggal 19 Maret 1903 di Dukuh Trembelang, Desa Somongari, Kecamatan Kaligesing, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah.
Walaupun kedua tanggal tersebut sama-sama berada pada pasaran Wage, pendapat ini – selain didukung keluarga Soepratman – dikuatkan keputusan Pengadilan Negeri Purworejo pada 29 Maret 2007.
Karena seringnya kesalahpahaman ini, pada 14 Agustus 2024, keturunan Ngadini Soepratini, kakak kelima W.R. Supratman, memastikan bahwa beliau dilahirkan di Jatinegara, Jakarta, pada 9 Maret 1903, dan tidak meninggalkan keturunan langsung. Informasi ini berdasarkan dari keterangan kakak-kakak W.R Supratman, utamanya Rukiyem Supratiyah dan Ngadini Soepratini.
[27/6 21.22] rudysugengp@gmail.com: WR SUPRATMAN ada 4
[27/6 23.13] rudysugengp@gmail.com: Buatkan gambar dan infografis tentang
Biodata Sutan Syahrir
Sutan Sjahrir (Ejaan Van Ophuijsen: Soetan Sjahrir, EYD: Sutan Syahrir; 5 Maret 1909 – 9 April 1966) adalah seorang negarawan dan pemimpin kemerdekaan Indonesia yang menjabat sebagai Perdana Menteri pertama Indonesia dari tahun 1945 hingga 1947.
Ia memainkan peran kunci selama Revolusi Nasional Indonesia dan aktif dalam gerakan nasionalis pada tahun 1930-an.
Sjahrir dikenang sebagai seorang idealis dan intelektual.
Syahrir mendirikan Partai Sosialis Indonesia pada tahun 1948.
Ia meninggal dalam pengasingan sebagai tawanan politik dan dimakamkan di TMP Kalibata, Jakarta. Sutan Sjahrir ditetapkan sebagai salah seorang Pahlawan Nasional Indonesia pada tanggal 9 April 1966 melalui Keppres nomor 76 tahun 1966.
[27/6 23.15] rudysugengp@gmail.com: Buatkan gambar dan infografis tentang
Sutan Syahrir di Masa pendudukan Jepang
Sementara Soekarno dan Hatta menjalin kerja sama dengan Jepang, Syahrir membangun jaringan gerakan bawah tanah anti-fasis. Syahrir yakin Jepang tak mungkin memenangkan perang. Oleh karena itu, kaum pergerakan mesti menyiapkan diri untuk merebut kemerdekaan pada saat yang tepat. Simpul-simpul jaringan gerakan bawah tanah kelompok Syahrir adalah kader-kader PNI Baru yang tetap meneruskan pergerakan dan kader-kader muda yakni para mahasiswa progresif.
Sastra, seorang tokoh senior pergerakan buruh yang akrab dengan Sjahrir, menulis:
Di bawah kepemimpinan Syahrir, kami bergerak di bawah tanah, menyusun kekuatan subjektif, sambil menunggu perkembangan situasi objektif dan tibanya saat-saat psikologis untuk merebut kekuasaan dan kemerdekaan.
Situasi objektif itu pun makin terang ketika Jepang makin terdesak oleh pasukan Sekutu. Syahrir mengetahui perkembangan Perang Dunia dengan cara sembunyi-sembunyi mendengarkan berita dari stasiun radio luar negeri.
Kala itu, semua radio tak bisa menangkap berita luar negeri karena disegel oleh Jepang. Berita-berita tersebut kemudian ia sampaikan ke Hatta.
Sembari itu, Sjahrir menyiapkan gerakan bawah tanah untuk merebut kekuasaan dari tangan Jepang.
Syahrir yang didukung para pemuda mendesak Soekarno dan Hatta untuk memproklamasikan kemerdekaan pada 15 Agustus karena Jepang sudah menyerah. Sjahrir siap dengan massa gerakan bawah tanah untuk melancarkan aksi perebutan kekuasaan sebagai simbol dukungan rakyat. Soekarno dan Hatta yang belum mengetahui berita menyerahnya Jepang, tidak merespon secara positif.
Mereka menunggu keterangan dari pihak Jepang yang ada di Indonesia, dan proklamasi itu mesti sesuai prosedur lewat keputusan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) yang dibentuk oleh Jepang. Sesuai rencana PPKI, kemerdekaan akan diproklamasikan pada 24 September 1945. Sikap Soekarno dan Hatta tersebut mengecewakan para pemuda, sebab sikap itu berisiko kemerdekaan RI dinilai sebagai hadiah Jepang dan RI adalah buatan Jepang. Guna mendesak lebih keras, para pemuda pun menculik Soekarno dan Hatta pada 16 Agustus. Akhirnya, Soekarno dan Hatta memproklamasikan kemerdekaan RI pada 17 Agustus.
[27/6 23.18] rudysugengp@gmail.com: Buatkan gambar dan infografis tentang
Sutan Syahrir di Masa Revolusi Nasional Indonesia
Revolusi menciptakan atmosfer amarah dan ketakutan, karena itu sulit untuk berpikir jernih. Sehingga sedikit sekali tokoh yang punya konsep dan langkah strategis meyakinkan guna mengendalikan kecamuk revolusi.
Saat itu, ada dua orang dengan pemikirannya yang populer kemudian dianut banyak kalangan pejuang republik:
Tan Malaka dan Sutan Syahrir.
Dua tokoh pergerakan kemerdekaan yang dinilai steril dari noda kolaborasi dengan Pemerintahan Fasis Jepang, meski kemudian bertentangan jalan dalam memperjuangan kedaulatan republik.
Pada masa genting itu, Bung Syahrir menulis Perjuangan Kita. Sebuah risalah peta persoalan dalam revolusi Indonesia, sekaligus analisis ekonomi-politik dunia usai Perang Dunia II. Perjuangan Kita muncul menyentak kesadaran. Risalah itu ibarat pedoman dan peta guna mengemudikan kapal Republik Indonesia di tengah badai revolusi.
Tulisan-tulisan Syahrir dalam Perjuangan Kita, membuatnya tampak berseberangan dan menyerang Soekarno. Jika Soekarno amat terobsesi pada persatuan dan kesatuan, Syahrir justru menulis, "Tiap persatuan hanya akan bersifat taktis, temporer, dan karena itu insidental.
Usaha-usaha untuk menyatukan secara paksa, hanya menghasilkan anak banci.
Persatuan semacam itu akan terasa sakit, tersesat, dan merusak pergerakan."
Dan dia mengecam Soekarno. "Nasionalisme yang Soekarno bangun di atas solidaritas hierarkis, feodalistis: sebenarnya adalah fasisme, musuh terbesar kemajuan dunia dan rakyat kita." Dia juga mengejek gaya agitasi massa Soekarno yang menurutnya tak membawa kejernihan.
Perjuangan Kita adalah karya terbesar Syahrir, kata Salomon Tas, bersama surat-surat politiknya semasa pembuangan di Boven Digul dan Bandaneira. Manuskrip itu disebut Indonesianis Ben Anderson sebagai, "Satu-satunya usaha untuk menganalisis secara sistematis kekuatan domestik dan internasional yang memperngaruhi Indonesia dan yang memberikan perspektif yang masuk akal bagi gerakan kemerdekaan pada masa depan."
Terbukti kemudian, pada November ’45 Syahrir didukung pemuda dan ditunjuk Soekarno menjadi formatur kabinet parlementer.
Pada usia 36 tahun, mulailah lakon Sjahrir dalam panggung memperjuangkan kedaulatan Republik Indonesia, sebagai Perdana Menteri termuda di dunia, merangkap Menteri Luar Negeri dan Menteri Dalam Negeri.
Pada masa ini secara ringkasnya menunjukkan bahwa Sjahrir tak selalu harmonis dengan tokoh-tokoh revolusi Indonesia. Dengan Sukarno, yang mengangkatnya sebagai perdana menteri, ia bentrok soal cara berunding dengan Belanda.
Dengan Tan Malaka, ia tak akur perihal ideologi. Dan Soedirman tersinggung karena Sjahrir menyebutnya antek Jepang.
[27/6 23.24] rudysugengp@gmail.com: Buatkan gambar dan infografis tentang
Penculikan Sutan Syahrir
Penculikan Perdana Menteri Syahrir merupakan peristiwa yang terjadi pada 26 Juni 1946 di Surakarta oleh kelompok oposisi Persatuan Perjuangan yang tidak puas atas diplomasi yang dilakukan oleh pemerintahan Kabinet Sjahrir II dengan pemerintah Belanda karena sangat merugikan perjuangan Bangsa Indonesia saat itu.
Kelompok ini menginginkan pengakuan kedaulatan penuh (Merdeka 100%) yang dicetuskan oleh Tan Malaka.
Sedangkan kabinet yang berkuasa hanya menuntut pengakuan kedaulatan atas Jawa dan Madura.
Kelompok Persatuan Perjuangan ini dipimpin oleh Mayor Jendral Soedarsono dan 14 pimpinan sipil, di antaranya Tan Malaka dari Persatuan Perjuangan bersama dengan Panglima besar Jendral Sudirman.
Perdana Menteri Sjahrir ditahan di suatu rumah peristirahatan di Paras.
Presiden Soekarno sangat marah atas aksi penculikan ini dan memerintahkan Polisi Surakarta menangkap para pimpinan kelompok tersebut. Tanggal 1 Juli 1946, ke-14 pimpinan berhasil ditangkap dan dijebloskan ke penjara Wirogunan.
Tanggal 2 Juli 1946, tentara Divisi 3 yang dipimpin Mayor Jendral Soedarsono menyerbu penjara Wirogunan dan membebaskan ke 14 pimpinan penculikan.
Presiden Soekarno marah mendengar penyerbuan penjara dan memerintahkan Letnan Kolonel Soeharto, pimpinan tentara di Surakarta, untuk menangkap Mayjen Soedarsono dan pimpinan penculikan. Lt. Kol. Soeharto menolak perintah ini karena dia tidak mau menangkap pimpinan/atasannya sendiri.
Dia hanya mau menangkap para pemberontak kalau ada perintah langsung dari Kepala Staf militer RI, Jendral Soedirman. Presiden Soekarno sangat marah atas penolakan ini dan menjuluki Lt. Kol. Soeharto sebagai perwira keras kepala (koppig).
Lt. Kol. Soeharto berpura-pura bersimpati pada pemberontakan dan menawarkan perlindungan pada Mayjen Soedarsono dan ke 14 orang pimpinan di markas resimen tentara di Wiyoro.
Malam harinya Lt. Kol. Soeharto membujuk Mayjen Soedarsono dan para pimpinan pemberontak untuk menghadap Presiden RI di Istana Presiden di Jogyakarta.
Secara rahasia, Lt. Kol. Soeharto juga menghubungi pasukan pengawal Presiden dan memberitahukan rencana kedatangan Mayjen Soedarsono dan pimpinan pemberontak.
Tanggal 3 Juli 1946, Mayjen Soedarsono dan pimpinan pemberontak berhasil dilucuti senjatanya dan ditangkap di dekat Istana Presiden di Yogyakarta oleh pasukan pengawal presiden.
Peristiwa ini lalu dikenal sebagai pemberontakan 3 Juli 1946 yang gagal.
[27/6 23.38] rudysugengp@gmail.com: Buatkan gambar dan infografis tentang
Akhir Hayat dan Gelar Pahlawan Sutan Syahrir
Setelah kejadian penculikan Syahrir hanya bertugas sebagai Menteri Luar Negeri, tugas sebagai Perdana Menteri diambil alih Presiden Soekarno. Namun, pada tanggal 2 Oktober 1946, Presiden menunjuk kembali Sjahrir sebagai Perdana Menteri agar dapat melanjutkan Perundingan Linggarjati yang akhirnya ditandatangani pada 15 November 1946.
Tanpa Syahrir, Soekarno bisa terbakar dalam lautan api yang telah ia nyalakan. Sebaliknya, sulit dibantah bahwa tanpa Bung Karno, Syahrir tidak berdaya apa-apa.
Syahrir mengakui Soekarno-lah pemimpin republik yang diakui rakyat. Soekarno-lah pemersatu bangsa Indonesia.
Karena agitasinya yang menggelora, rakyat di bekas teritori Hindia Belanda mendukung revolusi.
Kendati demikian, kekuatan raksasa yang sudah dihidupkan Soekarno harus dibendung untuk kemudian diarahkan secara benar, agar energi itu tak meluap dan justru merusak.
Sebagaimana argumen Bung Hatta bahwa revolusi mesti dikendalikan; tak mungkin revolusi berjalan terlalu lama, revolusi yang mengguncang ‘sendi’ dan ‘pasak’ masyarakat jika tak dikendalikan maka akan meruntuhkan seluruh ‘bangunan’.
Ada satu cerita perihal sikap konsekuen pribadi Syahrir yang anti-kekerasan.
Di pengujung Desember 1946, Perdana Menteri Syahrir dicegat dan ditodong pistol oleh serdadu NICA.
Saat serdadu itu menarik pelatuk, pistolnya macet. Karena geram, dipukullah Syahrir dengan gagang pistol. Berita itu kemudian tersebar lewat Radio Republik Indonesia. Mendengar itu, Syahrir dengan mata sembab membiru memberi peringatan keras agar siaran itu dihentikan, sebab bisa berdampak fatal dibunuhnya orang-orang Belanda di kamp-kamp tawanan oleh para pejuang republik, ketika tahu pemimpinnya dipukuli.
Tahun 1955 PSI gagal mengumpulkan suara dalam pemilihan umum pertama di Indonesia. Setelah kasus PRRI tahun 1958, hubungan Sutan Sjahrir dan Presiden Soekarno memburuk sampai akhirnya PSI dibubarkan tahun 1960.
Tahun 1962 hingga 1965, Sjahrir ditangkap dan dipenjarakan tanpa diadili sampai menderita stroke. Setelah itu Syahrir diizinkan untuk berobat ke Zürich, Swiss.
Salah seorang kawan dekat yang pernah menjabat wakil ketua PSI Sugondo Jojopuspito mengantarkannya ke Bandara Kemayoran dan Syahrir memeluk Sugondo dengan air mata.
Syahrir meninggal di Zurich, Swiss, 9 April 1966 pada usia 57 tahun.
Ia meninggal dalam pengasingan sebagai tawanan politik dan dimakamkan di TMP Kalibata, Jakarta. Syahrir meninggalkan seorang istri, Siti Wahyunah atau lebih dikenal sebagai Poppy Sjahrir, dan dua anak, Kriya Arsjah Syahrir (Buyung ) dan Siti Rabyah (Upik Syahrir).
Sebagai balas jasa ditanggal yang sama tepat ketika Sutan Syahrir meninggal dunia, pemerintah Indonesia menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional Indonesia kepada Sutan Syahrir atas jasa-jasanya sebagai salah satu pendiri Republik Indonesia melalui melalui Keppres nomor 76 tahun 1966.
[27/6 23.39] rudysugengp@gmail.com: Sutan Syahrir ada 4
[27/6 23.55] rudysugengp@gmail.com: Abdurahman Saleh
[27/6 23.59] rudysugengp@gmail.com: Buatkan gambar dan infografis tentang
Masa Kecil Abdulrachman Saleh
Komodor Muda Udara (Anumerta) Abdulrachman Saleh (1 Juli 1909 – 29 Juli 1947) adalah seorang dokter dan penerbang Indonesia yang pesawatnya ditembak jatuh oleh Belanda selama Revolusi Nasional Indonesia. Ia juga merupakan salah satu pendiri Radio Republik Indonesia.
Ia secara anumerta dinyatakan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia pada tahun 1974.
Abdulrachman lahir di Kampung Ketapang (Kwitang Barat), Batavia, Hindia Belanda (sekarang Jakarta, Indonesia) pada tanggal 1 Juli 1909. Orang tuanya adalah Mohammad Saleh, seorang dokter terkenal, dan Emma Naimah Saleh (née Moehsin).
Ia mengikuti jejak ayahnya dan belajar untuk menjadi dokter di sebuah perguruan tinggi kedokteran untuk orang Indonesia,
School Tot Opleiding van Inlandsche Artsen (STOVIA). Karena STOVIA ditutup sebelum ia menyelesaikan studinya, ia melanjutkan studinya di perguruan tinggi kedokteran lain, Geneeskundige Hoge School (GHS).
Karena rambutnya yang keriting, teman-temannya mulai memanggilnya "Karbol" yang diambil dari bahasa Belanda Krullebol yang berarti "rambut keriting".
Selama kuliah kedokteran, ia bergabung dengan berbagai organisasi pemuda seperti Jong Java, organisasi kepanduan Indonesische Padvinderij Organisatie, dan klub olahraga lainnya.
Ia juga mengembangkan minatnya di bidang penyiaran radio dan penerbangan.
Ia bergabung dengan klub penerbangan di Batavia dan berhasil memperoleh lisensi pilot.
[28/6 00.04] rudysugengp@gmail.com: Buatkan gambar dan infografis tentang
Karier Abdulrachman Saleh
Setelah menamatkan pendidikan kedokteran pada tahun 1937, ia melanjutkan pendidikan di bidang fisiologi dan menjadi dosen di perguruan tinggi kedokteran Nederlandsch-Indische Artsen School (NIAS) di Surabaya pada tahun 1942.
Ia kemudian kembali ke Batavia sebagai dosen di almamaternya, GHS, dan dipromosikan menjadi profesor penuh.
Di luar karier medisnya, Saleh juga diangkat sebagai pimpinan organisasi penyiaran radio bernama Vereniging voor Oosterse Radio Omroep (VORO) dan kemudian terlibat dalam pendirian Lembaga Penyiaran Publik Indonesia (Radio Republik Indonesia/RRI) pada tanggal 11 September 1945.
Setelah merasa yakin bahwa lembaga radio Indonesia berada di tangan yang tepat, ia mengundurkan diri dari jabatannya di sana dan bergabung dengan Tentara Nasional Indonesia untuk membantu pembentukan TNI Angkatan Udara bersama Agustinus Adisoetjipto, mantan muridnya di GHS.
Ia kemudian bertugas sebagai instruktur penerbangan di Sekolah Penerbangan yang baru didirikan di Yogyakarta, di Lapangan Udara Maguwo.
Dalam aksi pertama dari dua aksi polisionil Belanda terhadap Republik Indonesia, Agresi Militer Belanda I, Saleh dan Adisoetjipto diperintahkan untuk terbang ke India. Mereka berhasil menembus blokade udara yang dilakukan oleh Angkatan Udara Belanda, yang meliputi wilayah udara dari Indonesia ke India dan Pakistan.
Namun, dalam perjalanan pulang dari Singapura, saat mengangkut bantuan obat-obatan sumbangan dari Palang Merah Malaya di Singapura, pesawat Dakota yang mereka tumpangi ditembak jatuh oleh dua pesawat P-40 Kittyhawk milik Belanda di Dusun Ngoto pada tanggal 29 Juli 1947, padahal Indonesia telah meminta izin dari Belanda untuk mengirimkan bantuan obat-obatan tersebut. Sisa-sisa pesawat Dakota VT-CLA dapat dilihat di Museum Dirgantara Mandala.
Dengan bantuan keluarga bangsawan setempat, ia dimakamkan di Pemakaman Kuncen di Yogyakarta, yang diperuntukkan bagi para bangsawan Jawa.
[28/6 00.11] rudysugengp@gmail.com: Buatkan gambar dan infografis tentang
Pengakuan dan Penghargaan Abdurrahman Saleh
Pada tanggal 17 Agustus 1952, Angkatan Udara Indonesia mengganti nama Pangkalan Udara Abdulrachman Saleh di Malang, Jawa Timur dengan namanya. Pangkalan Angkatan Udara ini juga melayani penerbangan sipil di kota tersebut.
Pada tanggal 5 Desember 1958, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia menganugerahinya sebagai Bapak Fisiologi Indonesia.
Kompetisi Biologi Umum dan Kedokteran tahunan ini disebut Piala Abdulrachman Saleh.
Mulai bulan Agustus 1965, Akademi Angkatan Udara Indonesia secara resmi mengadopsi nama panggilan Saleh yakni Karbol untuk menyebut seluruh taruna Akademi sebagai bentuk penghormatan atas jasanya.
Pada tanggal 9 November 1974, atas jasa-jasanya bagi negara sebelum dan sesudah kemerdekaan Indonesia, Abdulrachman Saleh dipromosikan secara anumerta menjadi Marsekal Muda Udara dan ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia oleh Presiden atas nama negara.
Pada tahun 2000, atas inisiatif TNI Angkatan Udara dan persetujuan keluarga, makamnya dipindahkan dari pemakaman Kuncen ke Ngoto, dekat lokasi jatuhnya pesawat. Banyak sahabat dan pendukung yang datang untuk memakamkannya dan mengucapkan terima kasih atas jasanya.
Makam baru tersebut merupakan bagian dari Monumen Perjuangan TNI AU Ngoto, bersama dengan makam Ny. Ismudiati Abdulrachman Saleh, Agustinus Adisoetjipto, dan Ny. Adisoetjipto.
Di kompleks kantor pusat LPP RRI di Jakarta Pusat, DKI Jakarta, terdapat Auditorium Abdulrachman Saleh di Gedung B yang kerap digunakan untuk acara-acara besar, baik dari RRI maupun eksternal.
[28/6 00.11] rudysugengp@gmail.com: Ada 3 Abdurrahman Saleh
[28/6 00.45] rudysugengp@gmail.com: Buatkan gambar dan infografis tentang
Riwayat hidup KH Zainul Arifin
Masa Kanak-Kanak dan Pendidikan
Zainul Arifin lahir di Barus, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, sebagai anak tunggal dari pasangan Raja Barus, Sultan Ramali bin Tuangku Raja Barus Sultan Sahi Alam Pohan (ayah) dengan ibunya bangsawan asal Kotanopan, Mandailing Natal, Siti Baiyah br. Nasution. Ketika Zainul masih balita, kedua orang tuanya bercerai dan ia dibawa pindah oleh ibunya ke Kotanopan, kemudian ke Kerinci, Jambi.
Di sana ia menyelesaikan Hollandsch-Inlandsche School (HIS) dan sekolah menengah calon guru, Normal School.
Selain itu, Arifin juga memperdalam pengetahuan agama di madrasah dan surau saat menjalani pelatihan seni bela diri Pencak Silat.
Arifin juga seorang pecinta kesenian yang aktif dalam kegiatan seni sandiwara musikal Melayu, Stambul Bangsawan sebagai penyanyi dan pemain biola.
Stambul Bangsawan merupakan awal perkembangan seni panggung sandiwara modern Indonesia. Dalam usia 16 tahun, Zainul merantau ke Batavia (Jakarta).
[28/6 00.56] rudysugengp@gmail.com: Buatkan gambar dan infografis tentang
Karier KH Zainul Arifin
Dari Gemeente ke GP
Berbekal ijazah HIS Arifin diterima bekerja di pemerintahan kotapraja kolonial (Gemeente) sebagai pegawai di Perusahaan Air Minum (PAM) di Pejompongan, Jakarta Pusat.
Di sana ia sempat bekerja selama lima tahun, sebelum akhirnya terkena PHK saat resesi global yang bermula di AS dan berdampak hingga ke wilayah Hindia Belanda. Keluar dari gemeente, Arifin kemudian memilih bekerja sebagai guru sekolah dasar dan mendirikan pula balai pendidikan untuk orang dewasa, Perguruan Rakyat, di kawasan Meester Cornelis (Jatinegara). Zainul juga sering memberi bantuan hukum bagi masyarakat Betawi yang membutuhkan sebagai tenaga Pokrol Bambu, pengacara tanpa latar belakang pendidikan Hukum tetapi menguasai Bahasa Belanda.
Selain itu ia pun aktif kembali dalam kegiatan seni sandiwara musikal tradisional Betawi yang berasal dari tradisi Melayu, Samrah.
Ia sempat mendirikan kelompok Samrah bernama Tonil Zainul. Dari kegiatan kesenian itu, ia berkenalan dan selanjutnya sangat akrab bersahabat dengan tokoh perfilman nasional, Djamaluddin Malik yang kala itu juga bergiat dalam kegiatan Samrah. Keduanya kemudian bergabung dengan Gerakan Pemuda Ansor yang ketika itu memang aktif merekrut tenaga-tenaga muda.
Selama menjadi anggota GP Ansor inilah Arifin kemudian makin meningkatkan pengetahuan agama dan keterampilan berdakwahnya sebagai mubalig muda lewat pelatihan-pelatihan khas Ansor. Kepiawaian Zainul dalam berpidato, berdebat dan berdakwah ternyata menarik perhatian tokoh-tokoh Nahdlatul Ulama, organisasi induk Ansor, termasuk: Wahid Hasyim, Mahfudz Shiddiq, Muhammad Ilyas, dan Abdullah Ubaid.
Hanya dalam beberapa tahun saja, Zainul Arifin sudah menjadi Ketua Cabang NU Jatinegara dan berikutnya sebagai Ketua Majelis Konsul NU Batavia hingga datangnya tentara Jepang tahun 1942. Pada saat itu ia juga bekerja di Perusahaan Air Minum (PAM) pemerintah kotapraja (gemeente).
Di kota ini ia juga sempat menjadi guru sekolah di daerah Jatinegara dan Bukit Duri Tanjakan.
Menjadi Panglima Hizbullah Masyumi
Selama era pendudukan militer Jepang, Zainul Arifin ikut mewakili NU dalam kepengurusan Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi) dan terlibat dalam pembentukan pasukan semi militer Hizbullah.
Untuk menarik simpati warga hingga ke pedesaan, organisasi-organisasi Islam (utamanya NU) diberi kesempatan untuk lebih aktif terlibat dalam pemerintahan di bawah pendudukan militer Jepang.
Zainul Arifin ditugaskan untuk membentuk model kepengurusan tonarigumi, cikal bakal Rukun Tetangga, di kawasan Jatinegara yang kemudian dibentuk hingga pelosok-pelosok desa di Pulau Jawa.
Ketika Perang Asia Pasifik semakin memanas, Jepang mengizinkan dibentuknya laskar-laskar semi militer rakyat. Pemuda-pemuda Islam direkrut lewat jalur tonarigumi membentuk Hizbullah (Tentara Allah). Arifin dipercaya sebagai Panglima Hizbullah dengan tugas utama mengoordinasi pelatihan-pelatihan semi militer di Cibarusah, Bekasi, dekat Bogor.
Dalam puncak kesibukan latihan perang guna mengantisipasi terjadinya Perang Asia Pasifik, Kemerdekaan Indonesia diproklamasikan Sukarno-Hatta pada 17 Agustus 1945 di Jakarta.
Pasca-Proklamasi Kemerdekaan
Zainul kemudian bertugas mewakili partai Masyumi di Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Pusat (BP-KNIP), cikal bakal DPR-MPR, sambil terus memegang tampuk pimpinan Hizbullah yang sudah menjelma menjadi pasukan bersenjata. Selama masa revolusi, selain mengikuti sidang-sidang BP KNIP yang berpindah-pindah tempat karena kegawatan situasi, Arifin juga memimpin gerakan-gerakan gerilya Laskar Hizbullah di Jawa Tengah dan Jawa Timur selama Agresi Militer I dan II.
Dalam memimpin Laskar Hizbullah, Zainul menggunakan jalur tonarigumi atau Rukun Tetangga yang dulu dibinanya hingga meliputi desa-desa terpencil di Jawa. Saat terjadi Agresi Militer Belanda II, Belanda berhasil menduduki Yogyakarta dan menawan Soekarno-Hatta. Dalam keadaan darurat, BP KNIP praktis tidak berfungsi. Arifin lantas terlibat sebagai anggota Komisariat Pemerintah Pusat di Jawa (KPPD), bagian dari Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) yang berkedudukan di Bukit Tinggi, Sumatera Barat.
Tugas utama Zainul melakukan konsolidasi atas badan-badan perjuangan yang melancarkan taktik gerilya di bawah komandan Jenderal Sudirman.
Saat pemerintah melebur segenap pasukan bersenjata ke dalam satu wadah Tentara Nasional Indonesia, Zainul Arifin sempat dipercaya sebagai Sekertaris Pucuk Pimpinan TNI. Namun akhirnya, ketika banyak mantan anggota laskar Hizbullah yang dinyatakan tidak bisa diterima menjadi anggota TNI karena tidak berpendidikan "modern" dan hanya lulusan Madrasah, ia memilih mengundurkan diri dan berkonsentrasi meneruskan perjuangan sipil di jalur politik.
Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia
Sejak proklamasi kemerdekaan Zainul Arifin langsung duduk dalam Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Pusat (BP KNIP), cikal bakal lembaga legislatif MPR/DPR.
Wakil Partai Masyumi di DPRS
Setelah Belanda akhirnya mengakui kedaulatan RI akhir tahun 1949, Zainul Arifin kembali ke Parlemen sebagai wakil Partai Masyumi di DPRS.
Wakil Partai NU
Kemudian menjadi wakil Partai NU ketika akhirnya partai yang dianggap representasi kiai tradisionalis ini memisahkan diri dari Masyumi pada tahun 1952.
Wakil Perdana Menteri (Waperdam) Kabinet Ali Sastroamijoyo I
Zainul Arifin sebagai tokoh NU pertama menjabat sebagai waperdam tahun 1953–1955 kabinet Ali-Arifin - Kabinet Ali Sastroamidjojo I Zainul terlibat dalam badan eksekutif.
Kabinet pada era Demokrasi Parlementer ini sukses menyelenggarakan Konferensi Asia-Afrika di Bandung pada tahun 1955.
Dalam tahun 1955 itu pula Zainul berangkat haji untuk pertama dan terakhir kali ke Tanah Suci bersama Presiden Sukarno.
Di sana ia dihadiahi sebilah pedang berlapis emas oleh Raja Arab Saudi, Raja Saud.
Wakil Ketua I DPR-RI & Majelis Konstituante
Sekembalinya dari sana Zainul merupakan salah satu tokoh penting yang berhasil menempatkan partai NU ke dalam "tiga besar" pemenang Pemilu legislatif 1955, di mana jumlah kursi NU di DPR meningkat dari hanya 8 menjadi 45 kursi.
Pemilu pertama 1955 mengantar Zainul Arifin sebagai anggota Majelis Konstituante sekaligus wakil ketua I DPR RI sampai kedua lembaga dibubarkan Sukarno melalui Dekret Presiden 5 Juli 1959. karena dipandang gagal merumuskan UUD baru.
Pasca Dekrit, Indonesia dinyatakan kembali ke UUD 1945 dan memasuki era Demokrasi Terpimpin. Pada masa itu terjadi pemusatan kekuasaan pada diri Presiden yang berkeras untuk menerapkan paham NASAKOM (Nasionalis, Agama, dan Komunis) yang menyudutkan partai-partai agama yang tidak ingin Partai Komunis Indonesia (PKI) berkembang di Indonesia.
Ketua DPR Gotong Royong (DPRGR)
Memasuki era Demokrasi Terpimpin itu, Arifin bersedia mengetuai DPR Gotong Royong (DPRGR) sebagai upaya partai NU membendung kekuatan Partai Komunis Indonesia (PKI) di parlemen.
[28/6 01.06] rudysugengp@gmail.com: Buatkan gambar dan infografis tentang
Akhir Hayat KH Zainul Arifin
KH Zainul Arifin Tertembak
Pada masa awal demokrasi terpimpin di Indonesia, terjadi beberapa percobaan pembunuhan Presiden Sukarno dengan adanya peningkatan suhu politik saat itu.
Masjid Baiturrahim, Istana Negara14 Mei 1962, saat salat Iduladha Zainul sholat di saf terdepan di samping kiri Presiden Sukarno dan Jenderal Abdul Haris Nasution di samping kanan Presiden Sukarno, Zainul tertembak peluru yang diarahkan seorang pemberontak DI/TII dalam percobaannya membunuh presiden. Penembakan dilakukan dari jarak kurang lebih 5-6 meter dan mengenai bahu kiri Zainul bahkan simpul dasinya terputus karena terkena peluru.
Wafat
Zainul Arifin wafat pada tanggal 2 Maret 1963 setelah menderita luka bekas tembakan di bahunya selama sepuluh bulan.
Ia dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta.
[28/6 01.07] rudysugengp@gmail.com: Zainul.Arifin 3
[28/6 01.19] rudysugengp@gmail.com: Buatkan gambar dan infografis tentang
Kehidupan Awal dan Pendidikan Rasuna Said
Hajjah Rangkayo Rasuna Said adalah Pahlawan Nasional dari Sumatera Barat yang gigih memperjuangkan emansipasi perempuan dan kemerdekaan. Dijuluki "Singa Betina" karena kepiawaiannya berpidato, ia adalah wanita pertama yang dihukum Speek Delict oleh Belanda akibat mengecam kolonialisme di depan umum.
Rasuna Said lahir pada 14 September 1910 di Desa Panyinggahan, Maninjau, Kabupaten Agam, Sumatera Barat.
Ia merupakan keturunan bangsawan Minang. Ayahnya bernama Muhamad Said, seorang saudagar Minangkabau, aktivis pergerakan, dan guru yang menjadi tokoh Taman Siswa.
Keluarga Rasuna Said adalah keluarga beragama Islam yang taat. Dia dibesarkan di rumah pamannya karena pekerjaan ayahnya yang membuat ayahnya sering tidak berada di rumah. Tidak seperti saudara-saudaranya, dia bersekolah di sekolah agama, bukan sekuler, dan kemudian pindah ke Padang Panjang, di mana dia bersekolah di Diniyah School, yang menggabungkan mata pelajaran agama dan mata pelajaran khusus. Pada tahun 1923, ia menjadi asisten guru di Sekolah Diniyah Putri yang baru didirikan, tetapi kembali ke kampung halamannya tiga tahun kemudian setelah sekolah itu hancur karena gempa. Dia kemudian belajar selama dua tahun di sekolah yang terkait dengan aktivisme politik dan agama, dan menghadiri pidato yang diberikan oleh direktur sekolah tentang nasionalisme dan kemerdekaan Indonesia.
Setelah menamatkan jenjang pendidikan Sekolah Dasar (SD), Rasuna Said remaja dikirimkan sang ayah untuk melanjutkan pendidikan di pesantren Ar-Rasyidiyah. Saat itu, ia merupakan satu-satunya santri perempuan. Ia dikenal sebagai sosok yang pandai, cerdas, dan pemberani. Rasuna Said kemudian melanjutkan pendidikan di Diniyah Putri Padang Panjang, dan bertemu dengan Rahmah El Yunusiyyah, seorang tokoh gerakan Thawalib. Gerakan Thawalib adalah gerakan yang dibangun kaum reformis Islam di Sumatera Barat. Banyak pemimpin gerakan ini dipengaruhi oleh pemikiran nasionalis-Islam Turki, Mustafa Kemal Atatürk.[butuh rujukan]
Rasuna Said sangatlah memperhatikan kemajuan dan pendidikan kaum wanita, ia sempat mengajar di Diniyah Putri sebagai guru. Namun pada tahun 1930, Rasuna Said berhenti mengajar karena memiliki pandangan bahwa kemajuan kaum wanita tidak hanya bisa didapat dengan mendirikan sekolah, tetapi harus disertai perjuangan politik. Rasuna Said ingin memasukkan pendidikan politik dalam kurikulum sekolah Diniyah School Putri, tetapi ditolak. Rasuna Said kemudian mendalami agama pada Haji Rasul atau Dr H Abdul Karim Amrullah yang mengajarkan pentingnya pembaruan pemikiran Islam dan kebebasan berpikir yang nantinya banyak memengaruhi pandangan Rasuna Said.
Pendidikan:
Aktif mengajar di sekolah PERMI (Persatuan Muslimin Indonesia), mendirikan Sekolah Thawalib di Padang, dan memimpin Kursus Putri di Bukittinggi.
[28/6 01.21] rudysugengp@gmail.com: Buatkan gambar dan infografis tentang
Politik, Organisasi dan Hukum Rasuna Said
Politik dan Organisasi: Bergabung dengan Sarekat Rakyat (SR) sebagai sekretaris dan mendirikan PERMI pada tahun 1930.
Ia konsisten menyuarakan hak pilih bagi perempuan.
Perjuangan Hukum: Karena keberaniannya mengecam kebijakan kolonial, ia menjadi wanita pertama yang terkena hukum kolonial Belanda (Speek Delict) yang melarang berbicara menentang pemerintah.
[28/6 01.28] rudysugengp@gmail.com: Buatkan gambar dan infografis tentang
Perjuangan Pasca Kemerdekaan dan Akhir Hayat Rasuna Said
Setelah kemerdekaan Indonesia, Rasuna Said aktif di Badan Penerangan Pemuda Indonesia dan Komite Nasional Indonesia. Rasuna Said duduk dalam Dewan Perwakilan Sumatra mewakili daerah Sumatera Barat setelah Proklamasi Kemerdekaan.
Ia diangkat sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia Serikat (DPR RIS), kemudian menjadi anggota Dewan Pertimbangan Agung setelah Dekret Presiden 5 Juli 1959 sampai akhir hayatnya.
Setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945, Rasuna bekerja dengan organisasi-organisasi pro-republik, dan pada tahun 1947 menjadi anggota senior dan ketua bagian perempuan Front Pertahanan Nasional. Dia kemudian bergabung dengan Volksfront, yang merupakan bagian dari Serikat Perjuangan yang didirikan oleh nasionalis-komunis Tan Malaka.
Akibat gesekan antara organisasi ini dengan pemerintah daerah, Rasuna ditempatkan dalam tahanan rumah selama seminggu. Rasuna juga pernah menjadi anggota Dewan Perwakilan Sumatera, dan pada Juli 1947 menjadi anggota Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP), badan legislatif sementara. Menjelang sidang keenam KNIP pada tahun 1949, ia diangkat menjadi Badan Pekerja KNIP mewakili Sumatra. Pada tahun 1950, ia menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat Sementara. Pada tahun 1959 ia diangkat menjadi anggota Dewan Pertimbangan Agung, posisi yang dipegangnya sampai kematiannya di Jakarta pada tahun 1965.
Kampanye hak-hak perempuan
Seorang Muslim yang taat, Rasuna secara aktif berkampanye untuk hak-hak pendidikan dan politik perempuan, percaya bahwa keyakinan reformisnya memberikan dasar untuk mengadvokasi perempuan. Keyakinan agamanya meyakinkannya bahwa perempuan harus terdidik. Ketika dia pindah ke Padang pada tahun 1931, dia kecewa ketika mengetahui bahwa perempuan dilarang mengenyam pendidikan dan politik aktif. Di sana ia mendirikan sekolah dan mendirikan bagian Permi untuk perempuan dan anak perempuan. Pada tahun 1933, Permi, yang didirikan oleh para aktivis muda yang mendukung hak perempuan atas pendidikan agama, memiliki ribuan anggota perempuan. Tidak seperti organisasi Islam lainnya, perempuan tidak dikesampingkan di bagian bawahan, tetapi memiliki peran kunci dalam kepemimpinan partai. Namun, dia membela hukum perkawinan Islam, termasuk poligami, dengan alasan bahwa masalah yang ditimbulkannya adalah akibat dari masalah masyarakat, bukan hukum itu sendiri.
Kehidupan pribadi
Pada tahun 1929, Rasuna menikah dengan Duski Samad, seorang rekan pengajar dan aktivis politik. Orang tuanya tidak merestui pernikahan tersebut. Mereka memiliki seorang putri, tetapi pernikahan itu berakhir dengan perceraian pada awal tahun 1930-an. Dia kemudian diam-diam menikah dengan Bariun AS, meskipun dia mengatakan bahwa perjuangan kemerdekaan lebih penting daripada suaminya.
Meninggal dunia
Rasuna meninggal di Jakarta karena kanker darah pada 2 November 1965. Ia meninggalkan seorang putri (Auda Zaschkya Duski) dan 6 cucu (Kurnia Tiara Agusta, Anugerah Mutia Rusda, Moh. Ibrahim, Moh. Yusuf, Rommel Abdillah dan Natasha Quratul'Ain). Jenazahnya dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta Selatan.
Penghormatan
Pada tanggal 13 November 1974, berdasarkan Surat Keputusan Presiden RI No. 084/TK/Tahun 1974, ia diangkat sebagai Pahlawan Nasional Indonesia atas jasa-jasanya dalam perjuangan kemerdekaan oleh presiden Soeharto, perempuan kesembilan yang dianugerahi kehormatan ini.
Sebuah jalan arteri utama di Jakarta (Jalan HR Rasuna Said), Padang, dan Payakumbuh, dinamai menurut namanya.
Di Jakarta, salah satu turunan nama yang berasal dari Jalan HR Rasuna Said adalah Stasiun LRT Rasuna Said, salah satu stasiun LRT Jabodebek.
[28/6 01.29] rudysugengp@gmail.com: Rasuna Said 3
Tidak ada komentar:
Posting Komentar