[30/6 21.06] rudysugengp@gmail.com: Abdul Wahid Hasyim
[30/6 21.33] rudysugengp@gmail.com: 1. Buatkan gambar dan infografis tentang
Biodata Abdul Wahid Hasyim
K.H. Abdul Wahid Hasyim (1 Juni 1914 – 19 April 1953) adalah Menteri Agama pertama dalam pemerintahan Presiden Soekarno di Indonesia, jabatan yang dipegangnya pada tahun 1945, dan dari tahun 1949 hingga 1952.
Ia adalah putra Hasyim Asy'ari, pendiri Nahdlatul Ulama, dan kemudian memimpin organisasi tersebut. Putranya, Abdurrahman Wahid, kemudian juga memegang jabatan yang sama di NU, dan kemudian terpilih sebagai Presiden ke-4 Indonesia pada tahun 1999.
Lahir : 1 Juni 1914
Jombang, Hindia Belanda
Meninggal : 19 April 1953 (umur 38)
Cimahi, Jawa Barat, Indonesia
Sebab kematian : Kecelakaan lalu lintas
Istri dan Anak :
KH Abdul Wahid Hasyim menikah di usia 25 tahun dengan Nyai Hj. Sholichah Munawwaroh, putri KH. Bisri Syansuri, dan dikaruniai enam anak, yaitu: Abdurrahman Wahid. Presiden Republik Indonesia keempat, Aisyah Hamid, Sholahuddin Wahid, Umar Wahid, Lily Wahid, dan Hasyim Wahid.
Orang tua :
Hasyim Asy'ari (ayah)
Nyai Nafiqah (ibu)
Salah satu jalan utama di Jakarta Pusat, Jalan K.H. Wahid Hasyim, dinamai menurut namanya.
Pendidikan :
Abdul Wahid Hasyim saat berusia 12 tahun
Abdul Wahid Hasyim tidak menempuh pendidikan sekolah dasar di sekolah yang didirikan oleh pemerintah Hindia Belanda, yaitu Hollandsch-Inlandsche School. Ini terjadi karena ayahnya yaitu Hasyim Asy'ari, dikenal sebagai tokoh anti-sekolah yang didirikan oleh penjajah.
[30/6 21.33] rudysugengp@gmail.com: 4. Buatkan gambar dan infografis tentang
Peran Pasca Kemerdekaan dan Akhir Hayat Abdul Wahid Hasyim
Peran dalam perpolitikan Indonesia
Menteri Agama Republik Indonesia :
Wahid Hasyim menjadi Menteri Negara Republik Indonesia periode 1945–1949. Jabatan ini merupakan hasil penunjukan langsung oleh Presiden Soekarno.
Kemudian ia menjadi Menteri Agama selama tiga periode kabinet secara berurutan. Periode pertama yaitu Kabinet Hatta mulai pada 20 Desemnber 1949 hingga 6 September 1950.
Periode kedua yaitu Kabinet Natsir sejak 6 September 1950 hingga 27 April 1951. Periode ketiga dalam Kabinet Sukiman mulai 27 April 1951 hingga 3 April 1952.
Ketua Partai Masyumi :
Pada tahun 1939, Nahdlatul Ulama menjadi anggota MIAI (Majelis Islam A'la Indonesia), sebuah badan federasi partai dan ormas Islam pada zaman pendudukan Belanda.
Saat pendudukan Jepang yaitu tepatnya pada tanggal 24 Oktober 1943 ia ditunjuk menjadi Ketua Partai Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi) menggantikan MIAI. Selaku pemimpin Masyumi ia merintis pembentukan Barisan Hizbullah yang membantu perjuangan umat Islam mewujudkan kemerdekaan.
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama :
Pada Muktamar Nahdlatul Ulama ke-19 di Palembang pada tahun 1951, Wahid Hasyim terpilih sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama dengan Rais 'Aam KH. A. Wahhab Hasbullah.
Karya :
Artikel “Abdullah Ubaid Sebagai Pendidik”. Berisi tentang bagaimana sebaiknya mendidik anak dan pengamatannya terhadap Abdullah Ubaid dalam mendidik anak.
Artikel “Kemadjuan Bahasa, Berarti Kemadjuan Bangsa”. Berisi tentang cara-cara menumbuhkan rasa kebangsaan dengan mendorong anak bangsa untuk menggunakan Bahasa Indonesia.
“Nabi Muhammad dan Persaudaraan Manusia”.
Merupakan pidatonya pada perayaan Maulid Nabi Muhammad di Istana Negara Jakarta, pada 2 Januari 1950.
“Kebangkitan Dunia Islam”. Merupakan tulisannya di media Mimbar Agama edisi No. 3-4 Maret April 1951.
“Beragamalah Dengan Sungguh dan Ingatlah Kebesaran Tuhan”. Merupakan semacam pidato untuk perayaan Hari Raya Idul Fitri yang pada saat itu Indonesia masih berbentuk RIS (Republik Indonesia Serikat).
“Hari Raya Sebagai Ukuran Maju Mundur Umat”. Masuk dalam Berita Nahdlatul Ulama, No. 3, Th. Ke 7 Desember 1937, hlm 2-5.
“Arti dan Isi al-Fatihah”. Masuk dalam Berita Nahdlatul Ulama, No. 14, Th. VII, 15 Mei 1938, hlm 1-3.
“Islam Agama Fitrah (Dasar Manusia)”. Masuk dalam Suara Muslimin Indonesia, No. 7, Th. Ke II, April 1944, hlm 2-4.
“Latihan Lapar adalah Kebahagiaan Hidup Perdamaian”. Masuk dalam Penyiaran Kementerian Agama No. 4, 1309, hlm 3-4.
“Perkembangan Politik Masa Pendudukan Jepang dan Nota Politik". (November 1945).
Wafat :
Abdul Wahid Hasyim meninggal dunia akibat kecelakaan mobil di jalan antara Cimindi (Cimahi) dan Bandung saat perjalanan menuju pertemuan Nahdlatul Ulama di Sumedang pada tanggal 18 April 1953. Kecelakaan tersebut terjadi karena mobil yang dikendarainya selip di jalan licin akibat hujan deras dan kabut tebal, sehingga menabrak bak belakang truk yang sedang berhenti di jalan tersebut.
Penghargaan :
Bintang Mahaputera Utama
Dalam budaya populer
Dalam budaya populer :
Dalam film Sang Kiai (2013), Abdul Wahid Hasyim diperankan oleh Agus Kuncoro.
[30/6 21.34] rudysugengp@gmail.com: 3. Buatkan gambar dan infografis tentang
Perjuangan Mencapai Kemerdekaan Abdul Wahid Hasyim
Peran dalam pendidikan Islam di Indonesia
Mendirikan sekolah :
Selain keaktifannya dalam gerakan politik dan sumbangsihnya terhadap perjuangan melawan penjajah secara diplomatis, pada tahun 1944 ia mendirikan sebuah Sekolah Tinggi Islam di Jakarta yang saat itu pengasuh sekaligus pimpinannya dipegang oleh oleh KH. A. Kahar Moezakkir.
Mengembangkan dunia pesantren :
Wahid mengawali kiprah kemasyarakatannya pada usia relatif muda. Setelah menimba ilmu agama ke berbagai pondok pesantren di Jawa Timur dan Mekah, pada usia 21 tahun Wahid membuat “gebrakan” baru dalam dunia pendidikan pada zamannya.
Dengan semangat memajukan pesantren, Wahid memadukan pola pengajaran pesantren yang menitikberatkan pada ajaran agama dengan pelajaran ilmu umum.
Sistem klasikal diubah menjadi sistem tutorial. Selain pelajaran Bahasa Arab, murid juga diajari Bahasa Inggris dan Belanda. Itulah madrasah nidzamiyah. Meskipun ayahandanya, Hadratush Syaikh Hasyim Asyari, pendiri Nahdlatul Ulama, butuh waktu beberapa tahun bagi Wahid Hasjim untuk menimbang berbagai hal sebelum akhirnya memutuskan aktif di NU.
Pada usia 25 tahun Wahid bergabung dengan Majelis Islam A’la Indonesia (MIAI), federasi organisasi massa dan partai Islam saat itu. Setahun kemudian Wahid menjadi ketua MIAI.
Peran dalam kemerdekaan Indonesia
Anggota BPUPKI dan PPKI :
Menjelang kemerdekaan tahun 1945 di usianya yang masih 30 tahun, ia menjadi anggota BPUPKI dan PPKI. Wahid Hasyim dengan segudang pemikiran tentang agama, negara, pendidikan, politik, kemasyarakatan, NU, dan pesantren, telah menjadi lapisan sejarah ke-Islaman dan ke-Indonesiaan yang tidak dapat tergantikan oleh siapapun.
Penggagas sila "Ketuhanan Yang Maha Esa" :
Rumusan "Ketuhanan Yang Maha Esa" dalam Pancasila sebagai pengganti dari bunyi rumusan "Kewajiban Menjalankan Syariat Islam bagi Pemeluknya" tidak terlepas dari peran seorang Wahid Hasyim. Pada mulanya rumusan sila pertama tersebut ditolak oleh penduduk Indonesia yang beragama non-muslim, karena tidak hanya umat Islam saja yang ikut berperan dalam kemerdekaan Bangsa Indonesia, tetapi dari berbagai pihak. Kemudian Wahid mengusulkan diubahnya sila pertama yang berbunyi "Kewajiban Menjalankan Syariat Islam bagi Pemeluknya" menjadi "Ketuhanan Yang Maha Esa". Wahid memang dikenal sebagai tokoh yang moderat, substantif, dan inklusif.
[30/6 21.34] rudysugengp@gmail.com: 2. Buatkan gambar dan infografis tentang
Masa Muda Abdul Wahid Hasyim
Sejak kecil, Abdul Wahid Hasyim belajar di Madrasah Salafiyah di Pondok Pesantren Tebuireng. Ia telah berhasil mengkhatamkan Al Quran di usia 7 tahun. Kemudian setelah lulus dari madrasah, ia diminta oleh ayahnya untuk membantu mengajar adik-adik dan santri-santri pesantren seusianya.
Pada usia 13 tahun, ia belajar pendidikan Islam di Pondok Pesantren Siwalan Panji di Kabupaten Sidoarjo. Namun, ia hanya dapat bertahan selama sebulan. Ia kemudian pindah belajar ke Pondok Pesantren Lirboyo. Di pondok pesantren ini pun, ia hanya bertahan dalam waktu yang singkat. Akhirnya, pulang untuk belajar mandiri di rumahnya sendiri. Abdul Wahid Hasyim mempelajari bahasa Arab hingga mahir. Setelahnya ia mempelajari alfabet Latin sekaligus belajar bahasa Belanda dan bahasa Inggris.
Pada tahun 1932 ia belajar di Makkah bersama sepupunya, Muchammad Ilyas, ialah yang mengajari Wahid dalam belajar Bahasa Arab hingga ia fasih berbahasa Arab. Sehingga ia menguasai tiga bahasa asing, yakni Arab, Inggris, dan Belanda.
Sejak usia dini, K.H. Abdul Wahid Hasyim telah menunjukkan semangat belajar yang luar biasa. Ia belajar membaca Al-Qur'an langsung dari ayahnya, kemudian melanjutkan pendidikan di Madrasah Salafiyah Tebuireng. Pada usia tujuh tahun, ia mulai mendalamui berbagai kitab klasik Islam, seperti Fathul Qorib, Minhajul Qawin, dan Mutammimah. Tidak pernah merasa puas dengan ilmu yang dimilikinya, ia terus berpindah dari satu pesantren ke pesantren lain untuk memperluas wawasan.
Bahkan , ia rela merantau jauh ke Mekkah demi memperdalam ilmu agama dan memperluas pandangannya tentang dunia Islam.
[30/6 21.45] rudysugengp@gmail.com: Lanjut Supriyadi
[30/6 23.06] rudysugengp@gmail.com: 2. Buatkan gambar dan infografis tentang
Supriyadi Bergabung dengan PETA :
Seperti banyak orang Indonesia, Soeprijadi pada awalnya cukup setia kepada Jepang dan berharap bahwa invasi mereka mengganggu pemerintahan kolonial Belanda serta akan menciptakan kondisi untuk pembangunan negara yang lebih makmur di masa mendatang terutama untuk penentuan nasib sendiri politiknya. Sentimen seperti itu secara aktif dipupuk dengan propaganda Jepang.
Saat masih belajar di kursus di Tangerang, ia mengikuti kelas pelatihan militer yang diadakan oleh militer Jepang dan setelah menyelesaikan kursus itu pada bulan Oktober 1943, ia secara sukarela bergabung dengan barisan PETA (Pembela Tanah Air) — milisi militer yang dibentuk oleh penguasa di kalangan pribumi Indonesia. Setelah pelatihan di sekolah perwira PETA di Tangerang ia menerima pangkat komandan peleton PETA.
Ada kenangan para instruktur Jepang tentang Soeprijadi yang menganggapnya sebagai seorang kadet yang sangat cakap dan seorang pemuda yang cerdik dan cerdas.
Pada awal tahun 1944, ia dikirim untuk mengabdi di kota Blitar, Jawa Timur. Pada saat itu, ayahnya, Raden Darmadi, memegang salah satu jabatan penting di pemerintahan kabupaten di Blitar.
4. Buatlah gambar dan infografis tentang
Pemberontakan Peta Supriyadi
Persiapan pemberontakan PETA :
Pejuang PETA dalam latihan awal tahun 1945
Di Batalion PETA Blitar, yang dibentuk di antara unit-unit pertama milisi pada akhir tahun 1943, Soeprijadi diangkat menjadi komandan peleton. Tugas utama batalion, yang baraknya terletak di dekat pinggiran selatan kota adalah untuk melindungi para romusha (pekerja paksa Indonesia yang dieksploitasi oleh pemerintahan pendudukan Jepang dalam pembangunan benteng, jalan, dan berbagai fasilitas infrastruktur lainnya). Untuk tujuan ini, peleton batalion terus-menerus dipindahkan ke berbagai daerah di Jawa Timur.
Kondisi kerja dan kehidupan romusha yang sangat sulit menyebabkan kematian yang tinggi di antara mereka.
Situasi paling tragis terjadi dalam pembangunan struktur hidrolik di Tulungagung, Jawa Timur.
Di sana, peleton Soeprijadi sering dikirim. Menyaksikan nasib rekan senegaranya yang demikian, Soeprijadi segera mengubah sikap setianya terhadap Jepang.
Selain dari penderitaan romusha perubahan radikal dalam pandangannya juga disebabkan oleh banyaknya kasus pemaksaan gadis-gadis Jawa untuk menjadi ianfu yaitu pelacur di tempat-tempat hiburan tentara Jepang, serta perlakuan menghina yang dialami oleh para pejuang PETA oleh militer Jepang. Umpamanya, para perwira milisi, terlepas dari pangkatnya, wajib memberi hormat kepada sersan dan bintara Jepang. Lebih dari itu mereka bersama dengan orang biasa, dapat dicambuk di depan umum bahkan untuk pelanggaran kecil. Hal mana sangat memalukan bagi orang-orang dari keluarga bangsawan Jawa, yang selain Soeprijadi sendiri, termasuk banyak perwira batalion Blitar.
Menurut ibu tiri Soeprijadi, "jerami terakhir" yang akhirnya mengubah pandangan Soeprijadi tentang pendudukan Jepang adalah pengiriman ayahnya Raden Darmadi ke kursus pelatihan ulang untuk pegawai administrasi sipil. Kelas-kelas di kursus ternyata sangat melelahkan, dan sikap orang Jepang terhadap karyawan Indonesia sangat keras dan sombong. Menurut penuturan sang ayah, keadaannya yang kurus kering dan tertekan sangat membekas bagi Soeprijadi.
Akibatnya pada pertengahan tahun 1944, perwira muda itu menjadi penentang keras pemerintah Jepang dan mulai menetaskan gagasan pemberontakan bersenjata melawan penjajah.
Soekarno yang pada awal 1945 mencoba mencegah Soeprijadi dari pemberontakan
Pada bulan September 1944, Soeprijadi mengungkapkan rencananya kepada beberapa rekan perwira, yang dengan antusias mendukungnya.
Setelah itu, para konspirator mulai mengadakan pertemuan rahasia. Lama-kelamaan lingkaran mereka meluas.
Dalam beberapa bulan, mereka berhasil memenangkan sebagian besar perwira dan bintara serta sebagian lumayang besar dari tamtama batalion.
Terlepas dari kenyataan bahwa perwira berpangkat lebih tinggi termasuk di antara para konspirator, Soeprijadi mempertahankan peran sebagai pemimpin informal dan ideologis perlawanan.
Menurut memoar rekan-rekannya, ia menikmati otoritas tinggi di antara mereka, walaupun sifatnya yang lembut, sederhana, dan tidak banyak bicara.
Pada pertemuan-pertemuan rahasia, Soeprijadi muncul dalam pakaian sipil yaitu sarung nasional khas Jawa, dipersenjatai dengan pistol dan keris berkelok-kelok yang banyak dianggap oleh orang Jawa sebagai makna sakral dan spiritual.
4. Buatlah gambar dan infografis tentang
Pemberontakan Peta Supriyadi
Pada awal 1945, Soeprijadi bersama beberapa rekannya berbagi rencana pemberontakan dengan Soekarno, pemimpin gerakan pembebasan nasional Indonesia, yang pada waktu itu berada di Blitar: Soekarno secara berkala mengunjungi orang tuanya yang tinggal di kota ini. Soekarno mengambil sikap agak skeptik tentang gagasan perwira muda tersebut — singkatnya pemberontakan yang dipersiapkannya tidak tepat waktu dan tak mampu memobilisasi kekuatan yang cukup.
Diketahui bahwa salah satu rekan Soeprijadi setuju dengan pendapat Soekarno tentang kemungkinan kekalahan pemberontakan. Perwira PETA itu meminta dia terlebih dahulu untuk melawan pemberontak, mengingat bahwa sesaat sebelum ini Soekarno berhasil mendapatkan kepemimpinan pemerintah pendudukan untuk menghapus hukuman mati sosialis Indonesia Amir Syarifudin, bakal calon perdana menteri negara, yang ditangkap oleh Jepang karena kegiatan subversif. Namun Soekarno mengingatkan para perwira bahwa tidak seperti Syarifudin yang seorang warga sipil jika ditangkap mereka akan menghadapi vonis pengadilan militer yang tidak dapat ia pengaruhi. Namun demikian, semua argumen ini tak membuat Soeprijadi membatalkan rencananya untuk memberontak: waktu meninggalkan wisma Soekarno, Soeprijadi terus meyakinkan Soekarno bahwa dia tidak ragu tentang kemenangan pemberontakan.
Diketahui, Soeprijadi berharap dapat menghubungi bagian lain dari PETA yang ditempatkan di Jawa Timur untuk membujuk mereka untuk bertindak secara bersamaan. Dalam hal ini, ia menaruh harapan khusus pada latihan gabungan sepuluh batalion PETA di provinsi itu, yang direncanakan oleh komando Jepang pada 5 Februari. Namun hanya beberapa jam sebelum waktu yang diharapkan, latihan ini dibatalkan. Alasannya menurut sejarawan Indonesia adalah ketidakpuasan yang ditunjukkan oleh unit-unit milisi sehubungan dengan beberapa insiden. Dengan demikian, diketahui bahwa suasana hati batalion PETA dipengaruhi secara negatif oleh penemuan mayat pekerja romusha di lokasi latihan, yang diduga mati karena kelaparan serta kematian seorang tamtama PETA dalam keadaan yang tak jelas.
Pada saat yang sama pada awal Februari 1945, Soeprijadi mulai mendapat kesan bahwa Jepang mulai menebak-nebak rencana pemberontakan.
Kesan itu menjadi kepercayaan pasti setelah salah satu instruktur Jepang langsung menuduhnya memiliki niat berontak. Selain itu, para konspirator mengetahui kedatangan pasukan Kempeitai (polisi militer Jepang) tambahan dari Semarang di Blitar yang mereka artikan sebagai persiapan penyerangan. Semua keadaan ini memaksa Soeprijadi untuk membuat pilihan untuk segera memulai pemberontakan dengan kekuatan satu batalion saja.
Pada tanggal 9 Februari, Soeprijadi mengunjungi penceramah Muslim terkenal Ahmad Kasan Bendo di Blitar yang sering bergaul dengannya dan bahkan ia sebut "bapak spiritual", untuk meminta restunya atas pemberontakan. Kasan Bendo menganggap gagasan pemberontakan itu terlalu dini dan dengan gigih berusaha mendesak muridnya untuk menahan diri dan menunda aksi bersenjata selama beberapa bulan. Namun pada akhirnya, penceramah itu diduga mengizinkan Soeprijadi untuk menunjukkan kemampuan bersenjatanya, dan menegaskan bahwa pertentangan melawan Jepang adalah perkara yang saleh.
Pada tanggal 13 Februari, dalam pertemuan para konspirator terakhir yang dihadiri oleh 25 perwira dan bintara batalion, diputuskan untuk memulai pertunjukan pada pagi hari berikutnya. Rencana yang dikembangkan menyerukan penghapusan semua personel militer Jepang yang bertugas di Blitar, serta pembebasan semua tahanan Indonesia yang ditahan di penjara kota. Setelah itu, para pemberontak harus meninggalkan kota untuk melancarkan operasi partisan di pedesaan sekitarnya dan mengumpulkan penduduk di sekitarnya untuk melawan Jepang. Pada saat yang sama, atas desakan Soeprijadi, kekerasan apapun terhadap personel batalion PETA yang menolak berpartisipasi dalam pemberontakan, serta terhadap orang Indonesia manapun dinyatakan tak dapat diterima.
4. Buatlah gambar dan infografis tentang
Pemberontakan Peta Supriyadi
Pemberontakan dan penghilangan Soeprijadi :
Pemberontakan yang terjadi pada tanggal 14 Februari 1945 adalah yang terbesar dari semua pemberontakan anti-Jepang oleh PETA yang terjadi di Indonesia pada tahap akhir Perang Dunia II.
Sebagian besar batalion Blitar mengambil bagian di dalamnya yaitu setidaknya 360 orang.
Jam setengah empat pagi para pemberontak mengibarkan bendera merah-putih di atas barak dan mulai menyita semua senjata dan amunisi yang ada di lokasi unit. Sebelum meninggalkan unit, mereka menembakkan mortir dan senapan mesin ke gedung markas Kempeitai yang terletak di sekitar barak, serta Hotel Sakura, yang menampung sebagian besar perwira dan pejabat sipil Jepang yang berada di Blitar pada waktu itu. Namun setelah penembakan, ternyata kedua bangunan itu kosong: sehingga akhirnya dipastikan bahwa Jepang telah mengetahui persiapan pemberontakan sebelumnya.[10][22][24] Setelah itu, para pemberontak yang terbagi menjadi 4 kelompok, mulai bergerak keluar kota ke berbagai arah. Soeprijadi tidak memimpin salah satu kelompok, tetapi bertanggung jawab juga untuk mengkoordinasikan tindakan di antara dua dari empat kelompok itu yang masing-masing maju ke arah utara dan timur.
Berbeda dengan semua rekan-rekannya yang meninggalkan barak dengan berseragam, Soeprijadi hanya mengenakan pakaian sipil dengan sarung khas Jawa.
Salah satu kelompok masuk ke gedung penjara kota di sepanjang jalan dan membebaskan semua tahanan yang ditahan disana sekitar 285 orang, yang sebagian besar dihukum berdasarkan pasal pidana. Tak ada bentrokan di kota, tetapi para pemberontak membunuh beberapa orang tentara Jepang yang mereka temui di pagi hari di berbagai bagian kota serta beberapa orang Indonesia yang mereka tuduh menjadi mata-mata Jepang. Maka dengan demikian larangan Soeprijadi atas kekerasan terhadap rekan senegaranya dilanggar oleh beberapa rekannya.
3. Buatlah gambar dan infografis tentang
Pemberontakan Peta Supriyadi
Pada sore hari tanggal 14 Februari, pada saat pasukan utama pemberontak telah meninggalkan Blitar, pasukan Jepang dan unit PETA, yang dikerahkan untuk menekan pemberontakan, sudah mendekati kota dari beberapa arah. Di antara pasukan PETA yang dimobilisasi komando Jepang, ada juga personel batalion Blitar yang menolak untuk berpartisipasi dalam pemberontakan. Dalam upaya untuk menghindari kerugian militer dan untuk menstabilkan situasi sesegera mungkin, komando Jepang lebih suka melakukan negosiasi dengan kelompok pemberontak masing-masing. Selama dua hari berikutnya, sebagian besar dari mereka dibujuk untuk kembali ke barak. Beberapa orang milisi melawan dan terbunuh. Kelompok yang dipimpin oleh komandan peleton Moeradi, salah satu rekan utama Soeprijadi, yang meninggalkan kota ke arah barat laut dan bercokol di lereng gunung Kelud semula menghindari negosiasi.
Pada saat yang sama, pasukan Muradi juga hengkang dari bentrokan. Fakta bahwa sebagian besar pasukan yang menentang mereka bukanlah orang Jepang, tetapi pejuang PETA memiliki efek yang sangat negatif pada moral para pemberontak: mereka yakin akan kurangnya dukungan dari rekan-rekan mereka di milisi. Terlebih lagi, sesuai dengan pesan Soeprijadi, sebagian besarnya tidak menganggapnya mungkin untuk bertarung dengan rekan senegaranya. Akibatnya, Muradi akhirnya setuju untuk melakukan negosiasi dengan Kolonel Katagiri (bahasa Jepang: 片桐), yang memerintahkan operasi untuk menekan pemberontakan.
Setelah Kolonel Katagiri setuju dengan tuntutan Muradi untuk pengampunan semua peserta pemberontakan dan membiarkan mereka kembali ke barak tanpa pengawalan dengan senjata di tangan mereka, kelompok terakhir batalion PETA Blitar meninggalkan posisi mereka. Diketahui bahwa sebelum pindah ke barak, beberapa pejuang yang tidak setuju untuk menyerah kepada Jepang, dengan izin Muradi memisahkan diri dari pasukan dan bersembunyi di hutan.
Persyaratan menyerah dipenuhi oleh Katagiri sendiri, tetapi pada hari yang sama persyaratan itu diingkari oleh komando Angkatan Darat ke-16 Jepang, yang wilayah pendudukannya meliputi Pulau Jawa. Akibatnya, para pejuang pasukan Muradi seperti sebagian besar peserta pemberontakan lainnya ditangkap dan diinterogasi secara intensif selama beberapa minggu. Setelah itu, menurut berbagai sumber, dari 68 hingga 78 pemberontak dipindahkan ke Jakarta. Pada 14-16 April 1945, mereka dihadapkan ke pengadilan militer tingkat tertinggi.
55 orang dinyatakan bersalah atas kejahatan dengan tingkat keparahan yang berbeda-beda,[28] 8 di antaranya dijatuhi hukuman mati. Dua dari mereka yang dihukum kemudian diringankan menjadi penjara seumur hidup, sementara 6 lainnya ditembak di wilayah lapangan terbang militer di kawasan Ancol pinggiran Jakarta pada 16 Mei 1946 serta 47 sisanya dijatuhi hukuman penjara mulai dari beberapa bulan hingga seumur hidup.
Pemberontakan Soeprijadi, meskipun durasinya singkat dan keberhasilannya sedikit dari sudut pandang militer, memiliki dampak psikologis yang cukup signifikan baik pada personel PETA di bagian lain negara itu maupun pada Jepang. Setelah peristiwa itu, kepercayaan administrasi pendudukan pada milisi pribumi dirusak secara signifikan sehingga rencana penggunaannya dalam permusuhan disesuaikan secara signifikan dan staf perwiranya menjalani pembersihan yang serius. Batalion PETA Blitar dibubarkan dan prajuritnya yang tak dihukum akan dipindahkan ke unit lain.
Kebanyakan dari mereka mengikuti pelatihan ulang yang dipimpin oleh Soeharto, yang kelak menjadi presiden kedua Indonesia dan pada waktu itu menjabat sebagai perwira senior dalam formasi PETA di Jawa Timur.
Soeprijadi sendiri menghilang pada siang hari 14 Februari 1945. Menurut kesaksian beberapa pasukan pemberontakan Blitar, ia terakhir kali terlihat dalam keadaan hidup di lereng selatan Gunung Kelud di antara pasukan Muradi. Tidak ada bukti kematiannya atau penangkapannya oleh Jepang serta bukti yang dapat diandalkan tentang keberhasilannya keluar dari pengepungan Jepang. Diketahui secara pasti Soeprijadi tak muncul dalam daftar terdakwa dalam sidang pengadilan militer Jepang di Jakarta.
Pengangkatan kemiliteran ke posisi senior :
Susunan pemerintahan pertama Indonesia, diterbitkan setelah absennya Soeprijadi. Menteri Pertahanan tercantum sebagai "beloem diangkat"v
Setelah proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945, Soekarno yang menjabat sebagai presiden mulai membentuk otoritas dan lembaga dasar negara baru. Pada 19 Agustus, komposisi pemerintahan pertama Republik diumumkan. Dalam kabinet itu Soeprijadi diberi jabatan Menteri Keamanan Nasional.
Pada tanggal 5 Oktober, setelah pembentukan angkatan bersenjata reguler di Indonesia, yang pada awalnya disebut Tentara Keamanan Rakyat, ia juga diangkat menjadi panglima tertinggi TKR.
Para peneliti sepakat bahwa alasan pengangkatan perwira yang begitu muda pada jabatan yang begitu tinggi karena ia merupakan kenalan pribadi Soekarno selama tinggal di Blitar pada awal 1945. Diusulkan pula bahwa dengan penunjukan ini, Presiden Indonesia ingin memaksa Soeprijadi yang hilang untuk tampil di khalayak umum. Namun ini tak terjadi: Soeprijadi tidak pernah muncul dan tak menduduki posisi menteri dan panglima. Akibatnya setelah beberapa minggu absen, jabatan menteri secara resmi dinyatakan kosong (jabatan itu sendiri diubah namanya dari Menteri Keamanan Rakyat menjadi Menteri Pertahanan). Pada 20 Oktober 1945, Mohammad Suliyoadikusumo diangkat sebagai kepala sementara departemen militer dan pada 14 November, Amir Syarifudin diangkat menjadi menteri pertahanan. Sedangkan Ketua Staf Umum Angkatan Darat, Urip Sumohardjo menjadi panglima sementara Tentara Keamanan Rakyat sejak hari pertama ketidakhadiran Soeprijadi. Pada tanggal 12 November, Soedirman resmi ditunjuk untuk posisi ini.
Meskipun Soeprijadi tak hadir untuk menduduki jabatan-jabatan militer senior dan hanya bersifat formal untuk waktu yang singkat, ia terdaftar sebagai kepala departemen pertahanan pertama dan sebagai panglima tertinggi pertama angkatan bersenjata Indonesia dalam sumber-sumber resmi Indonesia.
Versi nasib selanjutnya
Nasib Soeprijadi lebih lanjut tetap menjadi subyek berbagai hipotesis hingga hari ini sehingga dianggap salah satu misteri paling signifikan dalam sejarah Indonesia modern. Secara resmi dia terus terdaftar sebagai orang hilang. Menurut pendapat paling umum, yang dianut oleh sebagian besar kerabat dan rekan pemimpin pemberontakan Blitar, ia tewas dalam pertempuran di lereng Gunung Kelud pada 14 Februari 1945 atau pada hari berikutnya. Hal ketidakhadirannya dari daftar terdakwa dalam sidang pengadilan militer Jepang di Jakarta diperkirakan sebagai bukti buat gagasan ini. Sebagai argumen tambahan yang mendukung versi itu, faktanya adalah bahwa negosiasi dengan Kolonel Katagiri, perwira senior Jepang, tidak dilakukan oleh pemimpin pemberontak itu sendiri, tetapi oleh sekutunya, Muradi.
Sejarawan militer Indonesia terkemuka Nugroho Notosusanto, penulis salah satu studi pertama tentang pemberontakan PETA, berdasarkan wawancara dengan puluhan pihak terkait dan saksi mata peristiwa Februari 1945, dengan yakin menunjukkan bahwa Soeprijadi bisa saja ditangkap oleh orang Jepang dan kemudian meninggal akibat siksaan sebelum dimulainya persidangan pengadilan militer di Jakarta. Menurut pendapatnya juga, Jepang dapat menyembunyikan fakta ini karena takut kematian pemimpin pemberontakan akan meningkatkan suasana protes di antara pejuang PETA. Untuk mendukung versinya, Nugroho merujuk pada fakta bahwa beberapa pemberontak yang ditangkap oleh Jepang meninggal di penjara sebelum persidangan dan beberapa peserta dalam proses Jakarta berada dalam keadaan yang sangat parah karena pemukulan dan kondisi penahanan yang kejam.
Menurut salah satu versi, Soeprijadi terbunuh di lereng Gunung Wilis.
Ada yang beranggapan bahwa Soeprijadi mati terbunuh atau mati karena sebab alamiah setelah penumpasan pemberontakan, waktu bersembunyi dari Jepang di wilayah Gunung Kelud atau sudah berada pada jarak yang cukup jauh dari tempat-tempat tersebut.[16][36][37][38] Mendukung versi ini, mereka menafsirkan fakta bahwa sejumlah pemberontak termasuk beberapa orang dari pasukan Muradi menolak untuk kembali ke barak dan mencoba bersembunyi, meskipun sebagian besar darim mereka ditemukan dan ditangkap oleh tentara Jepang dalam beberapa hari.
Pada tahun 1971 dalam "Vidya Yudha" yaitu buletin yang diterbitkan departemen sejarah dan kearsipan Departemen Pertahanan dan Keamanan Indonesia, sebuah artikel dipublikasikan oleh Mayor Soebardjo. Dengan menutip kenangan salah satu mantan rekannya, Soebardjo mengklaim bahwa Soebardjo berhasil menghindari Jepang dan bersembunyi dari mereka selama beberapa bulan. Namun pada bulan Agustus 1945, beberapa hari sebelum kemerdekaan Indonesia, pemimpin pemberontak Blitar diduga ditemukan dan dibunuh oleh patroli militer Jepang hampir 100 kilometer barat laut Kota Blitar, di lereng Gunung Wilis.
Kemudian, Kementerian Sosial Republik Indonesia menerbitkan sebuah pamflet tentang pemberontakan Blitar yang juga memberikan bukti bahwa Soeprijadi diduga tetap hidup setidaknya untuk beberapa waktu setelah penindasan pembangkangan PETA. Dengan demikian, Harjosemiarso, kepala desa Sumberagung yang bermukim pada jarak 20 km dari sebelah utara Blitar, mengklaim bahwa dia menyembunyikan Soeprijadi dari Jepang di rumahnya selama beberapa hari. Sedangkan Roromejo, kepala desa Ngliman yang terletak persis di lereng utara Gunung Kelud tersebut, mengklaim membantu Soeprijadi bersembunyi di sebuah gua dan bahkan menemani ayahnya — Raden Darmadi — ke sana, yang mengunjungi putranya dalam persembunyian.
Pada bulan April 1975, sekelompok wartawan Indonesia bertemu di Singapura dengan kepala cabang lokal perusahaan teknik dan konstruksi Jepang Taisei Corporation Nakajima (bahasa Jepang: 中島) yang selama Perang Dunia II bertugas di salah satu unit intelijen militer Jepang di Pulau Jawa. Pada tahun 1943, ia menjabat sebagai instruktur di kursus perwira PETA di Tangerang — justru waktu Soeprijadi dilatih di sana — dan kemudian ditugaskan ke kota Salatiga di Jawa Tengah.
Menurut Nakajima, pada akhir Februari atau awal Maret 1945 yaitu sekitar 2 minggu setelah pemberontakan PETA di Blitar, Soeprijadi datang ke rumahnya di Salatiga bersama dua rekannya. Nakajima bersimpati pada Soeprijadi sejak kenalannya di sekolah Tangerang. Karena itu dia mengizinkan dia dan teman-temannya bermalam di rumahnya. Keesokan paginya, saat mengucapkan selamat tinggal, Soeprijadi memberitahu Nakajima bahwa dia akan pergi ke Bayah, sebuah desa pertambangan besar yang terletak di barat daya Jawa.
Menurut Nakajima, dia memberi uang kepada mantan kadetnya untuk perjalanan dan memberinya pistol. Para peneliti menekankan bahwa justru pada saat inilah Tan Malaka, salah satu pemimpin gerakan pembebasan nasional Indonesia, tinggal di Bayah.
Tak lama setelah publikasi wawancara Nakajima, seorang warga desa Bayah bernama Mukandar menyatakan bahwa pada Juli 1945 ia merawat seorang pemuda bernama Soeprijadi, yang menderita disentri dalam keadaan yang sangat parah, di rumahnya.
Menurutnya, orang asing itu meninggal beberapa hari kemudian dan dimakamkan di dekat rumah Mukandar. Dalam foto pahlawan nasional yang diperlihatkan oleh wartawan, Mukandar dengan percaya diri mengenali orang yang meninggal itu.
Berdasarkan kesaksian Mukandar, Kementerian Sosial Republik Indonesia memerintahkan penggalian jenazah seorang pria yang dimakamkan di desa Bayah.
Di tempat yang ditunjukkan oleh Mukandar, tak ditemukan sisa-sisa manusia, tetapi dari penggalian yang dilakukan di daerah sekitarnya, ditemukan kerangka seorang pria yang waktu penguburannya sesuai dengan kesaksian Mukandar.
Untuk mempelajari sisa-sisa tersebut, sebuah komisi dibentuk, yang mencakup spesialis khusus dari fakultas kedokteran Universitas Gajah Mada Yogyakarta. Mereka berhasil mengembalikan perkiraan penampakan wajah orang yang dikebumikan dari tengkoraknya, tetapi gambar itu tak sesuai dengan gambaran penampakan Soeprijadi yang disampaikan kerabatnya.
Akibatnya, Soeprijadi resmi tetap dianggap hilang.
Pada Agustus 2018, diterbitkan sejumlah publikasi media mengenai pemberontakan Blitar yang memberikan data baru tentang keadaan hilangnya Soeprijadi, dengan mengutip dua orang saksi. Yang pertama ialah seorang rekan prajurit pahlawan nasional berusia 91 tahun bernama Sukiyarno yang disebut-sebut sebagai orang terakhir yang masih hidup dalam pemberontakan Blitar sedangkan yang kedua adalah Darsono yang berusia 89 tahun yang diduga seperti Soeprijadi, adalah pengikut pendakwah Blitar Ahmad Kasan Bendo.
Sukiyarno mengatakan bahwa terakhir kali dia melihat Soeprijadi adalah pada malam 14 Februari 1945: dia berbicara menentang menyerah kepada Jepang dan berencana untuk keluar dari pengepungan ke arah barat.
Beberapa waktu kemudian, Sukiyarno yang setelah pemberontak menyerah, melarikan diri dengan hanya beberapa hari ditangkap, mendengar desas-desus bahwa Soeprijadi adalah bagian dari brigade romusha yang bekerja di tambang batu bara desa Bayah.
Informasi ini ditafsirkan sebagai kemungkinan konfirmasi dari bukti yang sudah diketahui tentang tinggalnya Supriyadi di desa Bayah.
Darsono, yang pada tahun 1945 berusia 16 tahun, melaporkan bahwa ia hadir pada pertemuan terakhir Soeprijadi dengan Ahmad Kasan Bendo, seorang ustadz Blitar yang berusaha kmembujuk perwira muda tersebut untuk memulai pemberontakan karena menganggapnya terlalu dini dan dapat dikalahkan dengan mudah. Setelah tidak berhasil meyakinkan Soeprijadi, Bendo diduga menginstruksikan Darsono dan 3 murid mudanya untuk membantu menyembunyikan pemimpin pemberontak dari Jepang setelah perlawanan dipatahkan. Mengikuti instruksi sang guru, Darsono dan kawan-kawan berhasil membawa Soeprijadi pada malam 14 Februari ke tempat penampungan di lereng timur Gunung Kelud, tempat mereka bermalam dan di pagi hari terus bergerak melalui hutan bersama. Pada sore hari tanggal 15 Februari, di sebuah perhentian, Soeprijadi meminta rekan-rekannya untuk berdoa untuk keselamatan bersama mereka dengan mata tertutup dan ketika para pemuda itu menyelesaikan doa, petugas pemberontak itu tidak lagi berada di samping mereka. Murid-murid Bendo mengira bahwa Soeprijadi bersembunyi di sebuah gua yang terletak tak jauh dari tempat peristirahatannya, tetapi mereka tidak mengikutinya.
Anggapan bahwa Soeprijadi selamat meninggalkan Blitar didukung oleh para sejarawan Jepang yang umumnya tak menilai tinggi persiapan pemberontakan dan dampaknya terhadap penguasa pendudukan. Umpamanya, Shigeru Sato (bahasa Jepang: 茂 佐藤), penulis beberapa karya tentang sejarah Indonesia selama masa pendudukan Jepang dan pembentukan kemerdekaan negara, percaya bahwa Soeprijadi melarikan diri dari medan perang dan kemungkinan mencapai Jawa Barat.
Pada gilirannya, hampir semua kerabat dan kolega Soeprijadi menganggap dengan apriori skeptis setiap versi yang menunjukkan kelangsungan hidup Soeprijadi setelah penindasan pemberontakan. Beberapa orang peserta peristiwa Blitar Februari 1945 pernah menekankan bahwa mereka menganggap Soeprijadi sebagai pahlawan justru karena keyakinan akan kematiannya di medan perang.
Jika fakta menyelamatkan pemimpin pemberontakan dikonfirmasi, reputasi kepahlawanannya menurut mereka akan hancur total dan rekan-rekan seperjuangannya tidak dapat memandangnya selain sebagai pengecut, pengkhianat, dan pembelot.
[30/6 23.06] rudysugengp@gmail.com: 1. Buatkan gambar dan infografis tentang
Biodata Supriyadi
Soeprijadi (13 April 1923 – 14 Februari 1945) adalah seorang tokoh militer Indonesia sekaligus pahlawan nasional Indonesia. Pada bulan Februari 1945, selama masa pendudukan Jepang di Indonesia, ia menjadi penggerak dan pemimpin pemberontakan milisi PETA (pemberontakan bersenjata terbesar Indonesia melawan Jepang) di kota Blitar, Jawa Timur.
Setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, ia diangkat menjadi Menteri Pertahanan Republik Indonesia yang pertama dan Panglima Angkatan Bersenjata Republik Indonesia yang pertama, tetapi gagal dilantik karena ia hilang waktu pemberontakan yang dikepalainya dipadamkan oleh pasukan Jepang.
Setelah Proklamasi Kemerdekaan, ia diangkat sebagai Menteri Keamanan Rakyat yang pertama pada 19 Agustus 1945. Karena ia tak pernah muncul, pada 20 Oktober 1945 ia dicopot dari jabatan itu dan digantikan oleh Raden Imam Muhammad Soelijoadikoesoemo yang saat itu merangkap sebagai Wakil Residen Malang. Supriyadi adalah satu-satunya orang yang dipilih menjadi menteri saat masih berusia kepala dua.
Lahir : 13 April 1923
Trenggalek, Hindia Belanda
Orang tua : R. Darmadi (ayah), Rahayu (ibu)
Menghilang :?
14 Februari 1945 (pada umur 21 tahun), Blitar, Pendudukan Jepang
Status :
Dinyatakan meninggal secara in absentia.
Nasib Soeprijadi selanjutnya tetap menjadi subjek dari berbagai dugaan dan hipotesis dan dianggap sebagai salah satu misteri paling signifikan dalam sejarah Indonesia modern. Menurut pendapat yang paling umum, dia meninggal di tangan Jepang: baik terbunuh saat melawan di lereng gunung Kelud di utara Blitar atau mati akibat penyiksaan saat berada di penangkaran.
Pada saat yang sama, ada sejumlah catatan saksi mata yang diduga bertemu dengannya setelah penindasan pemberontakan Blitar dicatat.
Berulang kali, orang-orang muncul menyaru sebagai Soeprijadi yang masih hidup. Kasus paling bergema semacam ini terjadi pada tahun 2008.
Terlepas dari kenyataan bahwa orang yang mengklaim identitas Soeprijadi tak diakui oleh kerabat dan rekan pahlawan nasional, ada sejumlah sejarawan Indonesia serta perwakilan media dan publik Indonesia, yang cenderung mengakui keabsahan klaimnya.
Masa muda :
Supriyadi lahir pada tanggal 13 April 1923 di pemukiman Trenggalek tepatnya di pantai selatan Jawa Timur. Dia adalah anak sulung dalam keluarga bangsawan: baik ayahnya Darmadi dan ibunya Rahayu memiliki gelar bangsawan Jawa yaitu raden. Pada saat kelahiran putra sulungnya, Raden Darmadi menduduki jabatan di pemerintahan Kabupaten Blitar, yang saat itu termasuk wilayah Trenggalek. Ketika Soeprijadi genap berusia dua tahun, ibunya meninggal dan setahun kemudian pada tahun 1926, Darmadi menikah lagi dengan seorang wanita bernama Susilih, yang menjadi ibu dari 11 adik laki-laki Soeprijadi. Satu-satunya saudara kandung Soeprijadi adalah Wiyono yang lahir dari Rahayu setahun sebelum kematiannya.
Setelah kematian ibunya, kakeknya, ayah Rahayu, memainkan peran penting dalam pengasuhannya. Lambat laun di antara Soeprijadi dan ibu tirinya terjalin hubungan yang cukup baik dan saling percaya. Waktu sudah dewasa dan hidup terpisah dari keluarganya, ia melakukan surat menyurat dengan Susilih. Dalam suratnya pada ibu tirinya, ia berbagi banyak ide dan impian dengannya.[1][2] Keluarganya sangat religius dan Soeprijadi tumbuh ajaran orang yang sangat saleh sampai akhir hayatnya. Ia rajin memenuhi semua ajaran Islam tentang salat dan puasa.
Pendidikan :
Soeprijadi mengenyam pendidikan yang sangat baik untuk orang Indonesia pada tahun-tahun itu: ia berturut-turut lulus dari sekolah dasar Belanda untuk pribumi (bahasa Belanda: Europeesche Lagere School) dan sekolah menengah tingkat pertama (bahasa Belanda: Meer Uitgebreid Lager Onderwijs), setelah itu yang ia masuki sekolah menengah kedua yang terletak di Magelang (bahasa Belanda: Middelbare Opleiding School voor Inlandsche Ambtenaren), yang melatih pegawai junior untuk administrasi kolonial.
Pendidikannya yang terakhir terputus pada Februari 1942 dikarenakan invasi Jepang ke Indonesia, tetapi pada tahun berikutnya, Soeprijadi dapat menyelesaikan pendidikan menengahnya, setelah dilatih di kursus yang diselenggarakan oleh administrasi pendudukan di Tangerang.
[30/6 23.11] rudysugengp@gmail.com: 3. Buatlah gambar dan infografis tentang
Misteri Keberadaan Supriyadi
Kemungkinan keberadaan Soeprijadi :
Pada tahun-tahun berikutnya, agak sering muncul orang-orang yang mengklaim sebagai Soeprijadi yang diduga masih hidup.
Raden Darmadi sendiri, ayah Soeprijadi yang meninggal tahun 1973 sempat bertemu sedikitnya 5 orang yang mengklaim dirinya sebagai anaknya. Menurut beberapa kerabat Soeprijadi, jumlah penyaru tersebut mencapai puluhan.
Dalam kebanyakan kasus, pemalsuan terungkap dengan cukup mudah dan cepat.
Kadang-kadang terjadi insiden yang sungguh aneh: misalnya, pada Juni 1965 sebuah kabar diterbitkan di pers Indonesia tentang seorang perwira salah satu unit militer, Letnan Sain yang menyatakan bahwa dirinya kesurupan roh Soeprijadi.
Namun, Letnan Sain itu tidak mengklaim dirinya menjadi Soeprijadi: dengan mengatasnamakan roh mendiaminya, ia menceritakan bahwa pemimpin pemberontakan Blitar tersebut telah dibunuh dan kepalanya dipenggal oleh Jepang.
Pada pertengahan 1990-an, Kolonel Angkatan Udara Indonesia Wiguno bertemu dengan seorang pria yang mengaku sebagai Soeprijadi di Provinsi Lampung.
Wiguno melaporkan hal ini dalam sebuah surat kepada Wakil Presiden Indonesia, Tri Sutrisno yang memerintahkan pemeriksaan resmi. Pria tersebut kemudian dibawa ke Yogyakarta untuk bertemu Utomo Darmadi, salah satu adik Soeprijadi, yang tinggal di sana. Setelah berbicara dengan orang yang dikenalkannya, Utomo Darmadi mencelanya sebagai penyaru dengan alasan dia tidak bisa berbahasa Belanda atau Jepang, sedangkan Supriyadi yang belajar di sekolah Belanda dan kursus sipil dan militer Jepang, hampir fasih berbahasa Belanda dan bersumbangsih dengan bahasa Jepang tingkat menengah.
Sebagian besar kasus klaim atas kepribadian Soeprijadi tak menimbulkan minat media dan masyarakat yang serius. Namunm pada tahun 2008, terjadi insiden yang cukup lama menyita perhatian media nasional, kalangan jurnalistik dan ilmiah luas: tabib berusia 88 tahun asal Semarang Andaryoko Wisnu Prabu menyatakan dirinya sebagai Soeprijadi.
Tak seperti para pendahulunya, kisah-kisahnya sangat rinci dan cukup masuk akal dari banyak aspek.
Andaryoko dengan sangat akurat menuturkan alur pemberontakan Blitar. Menurut tabib tua tersebut, ia berhasil menghindari Jepang setelah penindasan pemberontakan dan bersembunyi dari mereka selama lebih dari 3 bulan di hutan pegunungan Jawa Timur.
Pada akhir Mei 1945, ia diduga bisa sampai ke Jakarta dan bertemu Soekarno disana yang memperkenalkan perwira muda yang dikenalnya dari Blitar itu ke lingkaran dalamnya. Setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia dan pembentukan pemerintahan pertama Republik, ia memang mengambil jabatan Menteri Keamanan Rakyat yang ditawarkan kepadanya, tetapi setelah beberapa hari ia diduga dipindahkan ke posisi Pembantu Utama Presiden yang khusus didirikan untuknya. Pekerjaannya dalam posisi ini sepenuhnya dirahasiakan, sehingga hanya Soekarno sendiri dan beberapa orang terdekat presiden yang mengetahuinya.
Menurut Andaryoko, ia sendiri minta Soekarno untuk menggantikan jabatannya dari posisi menteri ke posisi pembantu rahasia. Alasannya adalah suatu kejadian saat ia berkeliaran di hutan Jawa Timur untuk bersembunyi dari Jepang: katanya, dia mendapatkan wisik — yaitu petunjuk dari atas — agar tidak main di atas panggung, yang ia sendiri tafsirkan sebagai larangan terlibat dalam kegiatan politik publik.
Tugas pokok pembantu utama presiden menurut tabib itu adalah untuk mengetahui suasana hati massa.
Untuk melaksanakan tugas itu ia secara sistematis mengunjungi berbagai wilayah negara terutama di Pulau Jawa. Ia berkomunikasi penyamaran dengan orang-orang biasa dan justru saat itulah katanya, dia menggunakan nama samaran Andaryoko.
Pada pergantian tahun 1940-an dan 1950-an, Andaryoko alias Soeprijadi diduga mulai menyatakan ketidaksetujuannya dengan kebijakan Soekarno di banyak bidang.
Hasil Konferensi Meja Bundar di Den Haag, serta transisi Indonesia pada tahun 1950 dari bentuk pemerintahan presidensial ke parlementer, diduga menyebabkan penolakan terbesar dari "pembantu utama Presiden". Setelah sia-sia berupaya mempengaruhi garis politik internal dan kebijakan luar negeri, ia memundurkan diri dari kegiatan negara dan menetap di Semarang. Di sana, untuk beberapa waktu, ia memegang posisi di pemerintahan kabupaten dan kemudian sebagai manajer salah satu perusahaan Belanda yang dinasionalisasi. Waktu pensiun ia mulai berlatih ilmu kedokteran. Namun sementara itu ia sesekali terus berkomunikasi dengan beberapa negarawan dan posisi "pembantu utama Presiden" secara resmi dipertahankan olehnya sampaib pengunduran diri Soekarno pada tahun 1967. Soeharto, yangn menggantikan Soekarno di kursi kepresidenan, tak tahu apa-apa tentang pekerjaan rahasia Soeprijadi alias Andaryoko dan seperti kebanyakan orang sangat yakin akan kematian pemimpin pemberontakan Blitar pada tahun 1945.
Meskipun Soeharto mengangkat Soeprijadi menjadi pahlawan nasional, Andaryoko memilih untuk tak menyatakan dirinya karena takut dipenjarakan atas kerjasamanya yang erat dengan Soekarno: memang pula adan banyak pejabat pemerintah Soekarno yang mengalami represi politik setelah Soeharto berkuasa. Andaryoko memutuskan untuk mengungkapkan rahasianya hanya di usia tuanya, dia diduga termotivasi untuk mencerahkan para pemuda yang konon mulai melupakan era heroik perjuangan kemerdekaan.
Menurut kesaksian anggota keluarga dukun Semarang, untuk pertama kalinya ia mulai berbicara tentang dirinya sebagai Soeprijadi pada tahun 2003.
Klaim Andaryoko ditanggapi dengan sangat serius oleh pemerintah Kota Blitar dan Kabupaten Blitar. Wali Kota Djarot Saiful Hidayat yang di kemudian hari menjadi Gubernur Daerah Khusus Ibukota Jakarta dan Anggota Dewan Perwakilan Rakyat membicarakannya secara pribadi dengan kerabat dan rekan prajurit Soeprijadi. Pimpinan pemerintah kabupaten membentuk komisi untuk mempelajari keadaan yang berkaitan dengan nasib komandan pemberontak Blitar itu. Di Blitar dan di sejumlah kota lain, serangkaian pertemuan publik dengan Andaryoko berlangsung, yang melibatkan kerabat dan teman Soeprijadi, sejarawan dan jurnalis.
Akibatnya, tidak ada kerabat dan saudara prajurit yang mengenali dukun Semarang Soeprijadi.
Selain itu, beberapa veteran dari batalion PETA yang memberontak meminta dia untuk diadili karena pencemaran nama baik dan pemalsuan. Penilaian komisi yang dipimpin oleh kepala dinas pers administrasi Blitar, juga bersaksi tidak mendukung "Soeprijadi yang baru muncul", meskipun secara resmi perwakilan pemerintah daerah tak memberikan kesimpulan bulat. Anggota komisi dan banyak skeptis lainnya mencatat beberapa inkonsistensi dalam narasi Andaryoko, serta pengetahuannya yang buruk tentang bahasa Belanda dan ketidaktahuan sama sekali tentang bahasa Jepang.
Ditegaskan pula bahwa tidak kegiatan Pembantu Utama Presiden tidak sesekalipun disebutkan dalam memoar pejabat pemerintah Indonesia atau dalam arsip negara. Kesenjangan antara usia Andaryoko dan usia pemimpin pemberontakan Blitar yang terkenal itu juga ditegaskan: Soeprijadi, kalau masih hidup seharusnya 3 tahun lebih muda dari sesepuh Semarang. Selain itu, kerabat Soeprijadi berbicara tentang surat yang dikirim ke rumah mereka sesaat sebelum pemberontakan Blitar. Di dalamnya, perwira muda itu memperingatkan kerabatnya tentang kemungkinan perubahan tajam dalam nasibnya dan berjanji untuk memberitahukan mengenai keberadaanya dalam waktu 5 tahun. Katanya, tak adanya berita yang lebih lama berarti kematiannya.
Ada dugaan bahwa dukun Semarang itu adalah salah satu rekan Soeprijadi ini, hal mana menurut para skeptis dapat menjelaskan pengetahuannya yang baik tentang jalannya pemberontakan Blitar dan beberapa detail kehidupan pribadi Soeprijadi.
Versi ini menjadi sangat populer setelah penyelidikan mengungkapkan bahwa dua orang bernama Soeprijadi bertugas di batalion PETA Blitar. Adik-adik pemimpin pemberontakan Blitar mendesak Andaryoko untuk menjalani pemeriksaan genetik untuk memastikan hubungannya dengan mereka.
Setelah reaksi negatif dari kerabat Soeprijadi, tabib tua itu segera mengoreksi kesaksiannya secara signifikan.
Yang paling penting, Andaryoko menyatakan bahwa ia sebenarnya tidak berhubungan dengan orang yang dianggap saudara kandungnya, karena ia bukan anak kandung Raden Darmadi dan Rahayu.
Menurut versi baru, ia dilahirkan bukan di Trenggalek, tetapi di Salatiga tempat tinggalnya hingga awal pendudukan Jepang. Pada tahun 1943, ia memutuskan untuk bergabung dengan PETA, tetapi kehendak ini ditentang oleh orang tuanya.
Akibatnya ia melarikan diri dari kota asalnya ke Blitar.
Di sana, ia menyamar sebagai penduduk asli setempat untuk menggabung sama batalion PETA: konon, ketika merekrut unit PETA, Jepang lebih menyukai penduduk lokal.
Selain itu, untuk meningkatkan peluangnya untuk mendaftar di PETA, ia mengurangi usianya: sebagai tahun kelahirannya yang diunjukkannya bukan tahun 1920, tetapi 1923 ini, hak mana menentukan perbedaan antara usia sebenarnya dan usia Soeprijadi yang dikenal publik. Selama bertugas di Blitar, ia diduga bertemu dengan Raden Darmadi (ayah Soeprijadi) yang saat itu menjabat di pemerintahan kabupaten dan sering mengunjungi lokasi batalion PETA Blitar. Lama-kelamaan Raden Darmadi bersahabat dengan perwira muda itu sehingga memperlakukannya seperti anaknya sendiri dan bahkan menyatakan kesiapannya untuk mengadopsi.
Dengan demikian, Andaryoko justru mengalihkan tuduhan pemalsuan itu kepada lawan-lawannya dan kerabat Soeprijadi.
Namun, versi baru biografinya hanya memperkuat kecurigaan skeptis: banyak yang menganggapnya sebagai tipuan untuk membenarkan ketidaktahuan Andaryoko tentang banyak detail kehidupan keluarga Soeprijadi dan untuk menghilangkan pemeriksaan genetik.
Selanjutnya, kredibilitas narasi Andaryoko semakin menurun setelah ia mulai berbicara tentang partisipasinya dalam peristiwa sejarah Indonesia yang paling penting dan dipelajari baik, termasuk proklamasi kemerdekaan Indonesia dan turunnya Presiden Soekarno dari jabatan. Namun demikian, cerita Andaryoko yang agak rinci dan masih cukup masuk akal dianalisis dengan cermat oleh banyak jurnalis dan sejarawan Indonesia, beberapa di antaranya akhirnya mengakui kemungkinan korespondensi mereka dengan kenyataan.
Penelitian paling mendalam tentang hal ini dilakukan oleh Baskara Tulus Wardaya, Profesor Asosiasi di Fakultas Sejarah Universitas Sanata Dharma yang pada tahun 2008 menerbitkan monografi besar Mencari Soeprijadi: Kesaksian Pembantu Utama Bung Karno. Di dalamnya, ia menahan diri dari kesimpulan tegas yang mendukung klaim Andaryoko, tetapi menekankan logika argumennya dan pengetahuan yang baik tentang realitas sejarah yang relevan, dan juga secara kritis memeriksa argumen para penentang dukun Semarang.
Andaryoko meninggal mendadak pada Juni 2009, tetapi kepribadiannya terus membangkitkan minat beberapa media Indonesia bahkan setelah itu.
Sejak anumerta, sejumlah program televisi pusat, serta publikasi di media cetak nasional dan daerah, dikhususkan untuk klaimnya tentang kepribadian Soeprijadi.
Pada Agustus 2018, muncul penyaru lain yang mengaku sebagai Soeprijadi, seorang lansia warga desa Tamansari di Kabupaten Jember, Jawa Timur bernama Waris Yono.
Dia mengklaim bahwa pada hari pertama pemberontakan Blitar dia terluka parah, setelah itu dia dirawat selama 3 bulan di rumah salah satu mantan gurunya.
Waris Yono tak menjelaskan versi rinci tentang nasib masa berikutnya.
Menurutnya, sejak itu ia telah hidup dengan berbagai nama palsu dan berpindah dari satu tempat ke tempat lain setiap beberapa tahun.
Dia juga tidak menjelaskan alasan yang membuatnya bersembunyi begitu hati-hati selama lebih dari 7 dekade.
Kerabat Soeprijadi bereaksi sangat cepat terhadap laporan media terkait, tanpa ragu-ragu menyatakan Waris Yono adalah penyaru.
Peninggalan Soeprijadi di Indonesia modern :
Patung Supriyadi di Museum Pembela Tanah Air (PETA), Bogor.
Baik pada masa kepresidenan Soekarno dan sesudahnya, citra Soeprijadi secara aktif dipahlawan oleh propaganda Indonesia. Dalam historiografi resmi Indonesia, pemberontakan PETA Blitar ditampilkan sebagai salah satu peristiwa terpenting dalam konteks perjuangan kemerdekaan nasional dan hari jadinya diperingati secara khidmat di Blitar. Jalan di Kota Blitar yang tempat letaknya gedung-gedung bekas barak batalion pemberontak berada (saat ini, terdapat 3 sekolah berada di gedung-gedung ini yang dibangun pada tahun 1910), dinamai Jalan Soeprijadi.
Ayah Soeprijadi, Raden Darmadi, setelah kemerdekaan Indonesia diangkat sebagai kepala pemerintahan kabupaten Blitar (ia memegang posisi ini dua kali, pada tahun 1945-1947 dan pada tahun 1950-1956).
Pada tanggal 9 Agustus 1975, melalui SK Presiden Soeharto No. 063/TK/1975, Soeprijadi diangkat menjadi Pahlawan Nasional Indonesia.
Setahun setelah pemberontakan, pada bulan Juli 1946, sebuah monumen berupa prasasti batu kecil diresmikan oleh Panglima Angkatan Bersenjata Republik Indonesia, Jenderal Soedirman, di dekat bangunan barak PETA, tempat para pemberontak mengibarkan bendera Indonesia.
Pada tanggal 14 Februari 1998, dalam sebuah upacara resmi yang didedikasikan untuk peringatan pemberontakan Blitar berikutnya, sebuah monumen berupa patung tinggi Soeprijadi di atas alas diresmikan di depan bekas barak. Pada tahun 2007-2008, monumen ini mengalami pemugaran dan diperluas secara signifikan: di kedua sisi Soeprijadi, 6 rekannya yang dieksekusi oleh Jepang ditambahkan ke tumpuan. Dalam bentuk baru, komposisi patung dibuka kembali pada upacara resmi yang didedikasikan untuk peringatan peristiwa 14 Februari 1945.
[30/6 23.13] rudysugengp@gmail.com: Selanjutnya Thamrin
[30/6 23.22] rudysugengp@gmail.com: 1. Buatkan gambar dan infografis tentang
Kehidupan Awal MH Thamrin
Mohammad Husni Thamrin (Ejaan Van Ophuijsen: Mohammad Hoesni Thamrin, 16 Februari 1894 – 11 Januari 1941) adalah seorang pemikir politik dan nasionalis Indonesia berdarah campuran Eurasia-Betawi yang memperjuangkan kemerdekaan koloni Belanda di Hindia Belanda.
Setelah kematiannya, ia dianggap sebagai Pahlawan Nasional Indonesia.
Thamrin lahir di Weltevreden, Batavia (sekarang Jakarta), Hindia Belanda, pada 16 Februari 1894.
Ayahnya, Thamrin Mohd. Tabri, adalah anak seorang pengusaha Inggris yang memiliki Hotel Ort di Batavia dengan gundiknya yang berkebangsaan Indonesia.
Tabri kemudian diadopsi dan dibesarkan oleh pamannya yang berasal dari Jawa.
Oleh karena itu, Thamrin lahir dalam kelas neo-priayi dan pada tahun 1906, ayahnya menjadi bupati (wedana) di bawah Gubernur Jenderal Johan Cornelis van der Wijck.
Setelah lulus dari Koning Willem III, Thamrin bekerja di beberapa pekerjaan pemerintahan sebelum bekerja selama sepuluh tahun di perusahaan pelayaran Koninklijke Paketvaart-Maatschappij.
Munculnya Mohammad Husni Thamrin sebagai tokoh pergerakan yang berkaliber nasional tidaklah mudah.
Untuk mencapai tingkat itu ia memulai dari bawah, dari tingkat lokal.
Dia memulai geraknya sebagai seorang tokoh (lokal) Betawi. Sebagaimana telah disinggung pada bab terdahulu, Mohammad Husni Thamrin sejak muda telah memikirkan nasib masyarakat Betawi yang sehari-hari dilihatnya.
Sebagai anak wedana, dia tidaklah terpisah dari rakyat jelata. Malah, dia sangat dekat dengan mereka. Sebagaimana anak-anak sekelilingnya, yang terdiri dari anak-anak rakyat jelata, dia pun tidak canggung-canggung untuk mandi-mandi bersama di Sungai Ciliwung.
Dia tidak canggung-canggung untuk tidur bersama mereka, sebagaimana yang pernah disaksikan oleh ayahnya sendiri. Kelincahannya sebagai pemimpin agaknya telah menampak sejak ia masih berusia remaja.
[30/6 23.26] rudysugengp@gmail.com: 2. Buatkan gambar dan infografis tentang
Karier MH Thamrin
Pada tahun 1929 telah terjadi suatu insiden penting di dalam Gemeenteraad, yaitu yang menyangkut pengisiari lowongan jabatan wakil wali kota Betawi (Batavia). Tindakan pemerintah kolonial ketika itu memang sangat tidak bijaksana, karena ternyata lowongan jabatan itu diberikan kepada orang Belanda yang kurang berpengalaman, sedang untuk jabatan itu ada orang Betawi yang jauh lebih berpengalaman dan pantas untuk jabatan itu.
Tindakan pemerintah ini mendapat reaksi keras dari fraksi nasional. Bahkan mereka mengambil langkah melakukan pemogokan, ternyata usaha mereka berhasil dan pada akhirnya Mohammad Husni Thamrin diangkat sebagai wakil wali kota Batavia.
Dua tahun sebelum kejadian di atas, Mohammad Husni Thamrin memang telah melangkahkan kakinya ke medan perjuangan yang lebih berat, karena dia ditunjuk sebagai anggota lembaga yang lebih luas jangkauannya dan lebih tinggi martabatnya.
Pada tahun 1927 ditunjuk sebagai anggota Volksraad untuk mengisi lowongan yang dinyatakan kosong oleh Gubernur Jenderal. Pada mulanya kedudukan itu ditawarkan kepada H.O.S. Tjokroaminoto, tetapi ditolak. Kemudian, ditawarkan lagi kepada dr. Sutomo, tetapi juga dia menolak. Dengan penolakan kedua tokoh besar ini, maka dibentuklah suatu panitia, yaitu panitia Dr. Sarjito yang akan memilih seorang yang dianggap pantas untuk menduduki kursi Volksraad yang lowong. Panitia Dr. Sarjito akhirnya menjatuhkan pilihannya kepada Mohammad Husni Thamrin.
Alasan yang dikemukakannya ialah bahwa Mohammad Husni Thramrin cukup pantas menduduki kursi itu mengingat pengalamannya sebagai anggota Gemeenteraad.
Pada tahun pengangkatannya sebagai anggota Volksraad, keadaan di Hindia Belanda mengalami perubahan yang sangat penting yakni adanya sikap pemerintah kolonial yang keras, lebih bertangan besi. Ini adalah salah satu akibat yang paling buruk yang lahir dari terjadinya pemberontakan 1926 dan 1927.
Akan tetapi di lain pihak ketika memasuki tahun 1927 itu pula, langkah pergerakan nasional kita juga mengalami perubahan sebagai akibat dari didirikannya PNI dan munculnya Bung Karno sebagai npemimpin utamanya.
Husni Thamrin dikenal sebagai salah satu tokoh Betawi (dari organisasi Kaoem Betawi) yang pertama kali menjadi anggota Volksraad ("Dewan Rakyat") di Hindia Belanda.
Ia mewakili kelompok Inlanders ("pribumi").[butuh rujukan] Pada tahun 1939, Husni Thamrin menjadi pemimpin fraksi nasional di dalam Volksraad.
Thamrin juga salah satu tokoh penting dalam dunia sepak bola Hindia Belanda (sekarang Indonesia), karena pernah menyumbangkan dana sebesar 2000 Gulden pada tahun 1932 untuk mendirikan lapangan sepak bola khusus untuk rakyat Hindia Belanda pribumi yang pertama kali di daerah Petojo, Batavia (sekarang Jakarta).
Pada tanggal 11 Januari 1941, Mohammad Husni Thamrin wafat setelah sakit beberapa waktu lamanya.
Akan tetapi, beberapa saat sebelum kewafatannya, pemerintah kolonial telah melakukan tindakan "sangat kasar" terhadap dirinya.
Dalam keadaan sakit, ia harus menghadapi perlakuan kasar itu, yaitu rumahnya digeledah oleh polisi-polisi rahasia Belanda (PID).
Ia memprotesnya, akan tetapi tidak diindahkan. Sejak itu rumahnya dijaga ketat oleh PID dan tak seorangpun dari rumahnya yang diperbolehkan meninggalkan rumah tanpa seizin polisi, juga termasuk anak perempuannya yang masih kecil juga tidak diperkenankan meninggalkan rumahnya, sekalipun utntuk pergi ke sekolah. Tindakan polisi Belanda itu tentulah sangat menekan perasaannya dan menambah parah sakitnya.
Wafatnya Mohammad Husni Thamrin tentulah sangat besar artinya bagi bangsa Indonesia. Bangsa Indonesia telah kehilangan salah seorang pemimpinnya yang cerdas dan berwibawa.
Pada bulan Mei 1939, Thamrin mempelopori upaya menyatukan delapan organisasi nasionalis, termasuk Partai Indonesia Raya (Parindra), ke dalam Federasi Politik Indonesia (Gaboengan Politiek Indonesia, atau GAPI).
Kelompok ini memiliki empat tujuan utama: penentuan nasib sendiri Indonesia, persatuan nasional, partai yang dipilih secara demokratis dan bertanggung jawab terhadap rakyat Indonesia, dan solidaritas antara masyarakat Indonesia dan Belanda untuk memerangi fasisme.
Menurut laporan resmi, ia dinyatakan bunuh diri. Jenazahnya dimakamkan di TPU Karet, Jakarta.
Di saat pemakamannya, lebih dari 10.000 pelayat mengantarnya yang kemudian berdemonstrasi menuntuk penentuan nasib sendiri dan kemerdekaan dari Belanda.
[30/6 23.29] rudysugengp@gmail.com: 3. Buatkan gambar dan infografis tentang
Warisan dan Penghargaan MH Thamrin
Pemerintah Indonesia menganugerahi Thamrin sebagai pahlawan nasional pada tanggal 28 Juli 1960.
Salah satu lokasi perjuangannya, Gedung Mohammad Hoesni Thamrin di Jakarta Pusat, kini dijadikan museum.
Namanya diabadikan sebagai salah satu jalan protokol di Jakarta, yang kemudian menjadi dasar penamaan sejumlah tempat di sekitar jalan tersebut. Di antaranya halte Transjakarta, stasiun MRT Jakarta yang sedang dibangun, Thamrin City, hingga Thamrin Nine, kompleks properti yang memiliki menara tertinggi di belahan Bumi selatan.
Proyek MHT, proyek perbaikan kampung besar-besaran di Jakarta pada tahun 1970-an, dan sebuah universitas di Jakarta juga dinamai dari M.H. Thamrin.
Selain itu, nama Thamrin Plaza di Medan, Sumatera Utara diambil dari jalan yang dinamai dengan namanya.
Pada tanggal 19 Desember 2016, Bank Indonesia mengabadikannya di pecahan uang kertas rupiah pecahan Rp2.000,00 yang baru.
[30/6 23.39] rudysugengp@gmail.com: Mas Mansur
[30/6 23.49] rudysugengp@gmail.com: 1. Buatkan gambar dan infografis tentang
Kehidupan Awal Mas Mansur
K.H. Mas Mansoer (ER, EYD: Mas Mansur; 25 Juni 1896 – 25 April 1946) adalah seorang tokoh agama Indonesia yang menjabat sebagai ketua Muhammadiyah ke-4 dari tahun 1937 hingga 1942. Ia dinyatakan sebagai pahlawan nasional oleh Presiden Soekarno pada tahun 1964.
Keluarga :
Ibunya bernama Raudhah, seorang wanita kaya yang berasal dari keluarga Hasan Gipo.
Ayahnya bernama K.H. Mas Achmad Marzoeqi berasal dari Keluarga Pesantren Sidoresmo, Wonokromo, Surabaya yang merupakan seorang pionir Islam, ahli agama yang terkenal di Jawa Timur pada masanya.
Dia berasal dari keturunan bangsawan Asta Tinggi Sumenep, Madura. Dia dikenal sebagai imam tetap dan khatib di Masjid Ampel, suatu jabatan terhormat pada saat itu.
Pendidikan :
Nyantri pada Kyai Kholil Bangkalan
Masa kecilnya dilalui dengan belajar agama pada ayahnya sendiri. Di samping itu, dia juga belajar di Pesantren Sidoresmo, dengan Kiai Muhammad Thaha sebagai gurunya.
Pada tahun 1906, ketika Mas Mansur berusia sepuluh tahun, dia dikirim oleh ayahnya ke Pondok Pesantren Demangan, Bangkalan, Madura.
Di sana, dia mengkaji Al-Qur'an dan mendalami kitab Alfiyah Ibnu Malik kepada Kiai Khalil. Belum lama dia belajar di sana kurang lebih dua tahun, Kiai Khalil meninggal dunia, sehingga Mas Mansur meninggalkan pesantren itu Raka
Belajar di Mekkah dan Mesir :
Sepulang dari Pondok Pesantren Demangan pada tahun 1908, oleh orang tuanya disarankan untuk menunaikan ibadah haji dan belajar di Makkah pada Kiai Mahfudz yang berasal dari Pondok Pesantren Termas Pacitan Jawa Timur. Setelah kurang lebih empat tahun belajar di sana, situasi politik di Saudi memaksanya pindah ke Mesir. Penguasa Arab Saudi, Syarif Hussein, mengeluarkan instruksi bahwa orang asing harus meninggalkan Makkah supaya tidak terlibat sengketa itu. Pada mulanya ayah Mas Mansoer tidak mengizinkannya ke Mesir, karena citra Mesir (Kairo) saat itu kurang baik di mata ayahnya, yaitu sebagai tempat bersenang-senang dan maksiat.
Meskipun demikian, Mas Mansoer tetap melaksanakan keinginannya tanpa izin orang tuanya. Kepahitan dan kesulitan hidup karena tidak mendapatkan kiriman uang dari orang tuanya untuk biaya sekolah dan biaya hidup harus dijalaninya.
Oleh karena itu, dia sering berpuasa Senin dan Kamis dan mendapatkan uang dan makanan dari masjid-masjid.
Keadaan ini berlangsung kurang lebih satu tahun, dan setelah itu orang tuanya kembali mengiriminya dana untuk belajar di Mesir.
Di Mesir, dia belajar di Universitas Al-Azhar pada Syaikh Ahmad Maskawih.
Suasana Mesir pada saat itu sedang gencar-gencarnya membangun dan menumbuhkan semangat kebangkitan nasionalisme dan pembaruan.
Banyak tokoh memupuk semangat rakyat Mesir, baik melalui media massa maupun pidato. Mas Mansoer juga memanfaatkan kondisi ini dengan membaca tulisan-tulisan yang tersebar di media massa dan mendengarkan pidato-pidatonya.
Ia berada di Mesir selama kurang lebih dua tahun.
Sebelum pulang ke tanah air, terlebih dulu dia singgah dulu di Makkah selama satu tahun dan pada tahun 1915 dia pulang ke Indonesia.
Menikah :
Sepulang dari belajar di Mesir dan Makkah, ia menikah dengan puteri Haji Arif yaitu Siti Zakijah yang tinggalnya tidak jauh dari rumahnya.
Dari hasil pernikahannya itu, mereka dikaruniai enam orang anak, yaitu Nafiah, Ainoerrafiq, Aminah, Mohammad Noeh, Ibrahim dan Loek-loek.
Di samping menikah dengan Siti Zakijah, dia juga menikah dengan Halimah. Dia menjalani hidup dengan istri kedua ini tidak berlangsung lama, hanya dua tahun, karena pada tahun 1939 Halimah meninggal dunia.
[30/6 23.58] rudysugengp@gmail.com: 2. Buatkan gambar dan infografis tentang
Perjuangan Masa Pergerakan Mas Mansur
Bergabung dengan Sarekat Islam :
Langkah awal Mas Mansoer sepulang dari belajar di luar negeri ialah bergabung dalam Sarekat Islam. Peristiwa yang dia saksikan dan alami baik di Makkah, yaitu terjadinya pergolakan politik, maupun di Mesir, yaitu munculnya gerakan nasionalisme dan pembaruan merupakan modal baginya untuk mengembangkan sayapnya dalam suatu organisasi.
Pada saat itu, SI dipimpin oleh Oemar Said Tjokroaminoto, dan terkenal sebagai organisasi yang radikal dan revolusioner. Ia dipercaya sebagai Penasihat Pengurus Besar SI.
Taswir Al-Afkar :
Di samping itu, Mas Mansoer juga membentuk majelis diskusi bersama Abdul Wahab Chasbullah yang diberi nama Taswir al-Afkar (Cakrawala Pemikiran). Terbentuknya majelis ini diilhami oleh Masyarakat Surabaya yang diselimuti kabut kekolotan.
Masyarakat sulit diajak maju, bahkan mereka sulit menerima pemikiran baru yang berbeda dengan tradisi yang mereka pegang. Taswir al-Afkar merupakan tempat berkumpulnya para ulama Surabaya yang sebelumnya mereka mengadakan kegiatan pengajian di rumah atau di surau masing-masing. Masalah-masalah yang dibahas berkaitan dengan masalah-masalah yang bersifat keagamaan murni sampai masalah politik perjuangan melawan penjajah.
Aktivitas Taswir al-Afkar itu mengilhami lahirnya berbagai aktivitas lain di berbagai kota, seperti Nahdhah al-Wathan (Kebangkitan Tanah Air) yang menitikberatkan pada pendidikan. Sebagai kelanjutan Nahdhah al-Wathan, Mas Mansur dan Abdul Wahab Hasbullah mendirikan madrasah yang bernama Khitab al-Wathan (Mimbar Tanah Air), kemudian madrasah Ahl al-Wathan (Keluarga Tanah Air) di Wonokromo, Far'u al-Wathan (Cabang Tanah Air) di Gresik dan Hidayah al-Wathan (Petunjuk Tanah Air) di Jombang.
Kalau diamati dari nama yang mereka munculkan, yaitu wathan yang berarti tanah air, maka dapat diketahui bahwa kecintaan mereka terhadap tanah air sangat besar. Mereka berusaha mencerdaskan bangsa Indonesia dan berusaha mengajak mereka untuk membebaskan tanah air dari belenggu penjajah.
Pemerintahan sendiri tanpa campur tangan bangsa lain itulah yang mereka harapkan.
Taswir al-Afkar merupakan wadah yang diskusinya mau tidak mau permasalahan yang mereka diskusikan merembet pada masalah khilafiyah, ijtihad, dan madzhab. Terjadinya perbedaan pendapat antara Mas Mansoer dengan Abdul Wahab Chasbullah mengenai masalah-masalah tersebut yang menyebabkan Mas Mansoer keluar dari Taswir al-Afkar.
Kepenulisan :
Mas Mansoer juga banyak menghasilkan tulisan-tulisan yang berbobot. Pikiran-pikiran pembaruannya dituangkannya dalam media massa. Majalah yang pertama kali diterbitkan bernama Soeara Santri. Kata santri digunakan sebagai nama majalah, karena pada saat itu kata santri sangat digemari oleh masyarakat.
Oleh karena itu, Soeara Santri mendapat sukses yang gemilang. Djinem merupakan majalah kedua yang pernah diterbitkan oleh Mas Mansoer.
Majalah ini terbit dua kali sebulan dengan menggunakan bahasa Jawa dengan huruf Arab. Kedua majalah tersebut merupakan sarana untuk menuangkan pikiran-pikirannya dan mengajak para pemuda melatih mengekspresikan pikirannya dalam bentuk tulisan. Melalui majalah itu Mas Mansoer mengajak kaum muslimin untuk meninggalkan kemusyrikan dan kekolotan.
Di samping itu, Mas Mansoer juga pernah menjadi redaktur Kawan Kita di Surabaya.
Tulisan-tulisan Mas Mansur pernah dimuat di Siaran dan Kentoengan di Surabaya; Pengandjoer dan Islam Bergerak di Jogjakarta; Pandji Islam dan Pedoman Masyarakat di Medan dan Adil di Solo.
Di samping melalui majalah-majalah, Mas Mansoer juga menuliskan ide dan gagasannya dalam bentuk buku, antara lain yaitu Hadits Nabawijah; Sjarat Sjahnja Nikah; Risalah Tauhid dan Sjirik; dan Adab al-Bahts wa al-Munadlarah. Beberapa dari tulisan-tulisan K. H. Mas Mansoer yang tersebar di banyak media tersebut kemudian dihimpun oleh Amir Hamzah Wirjosukarto dalam sebuah Buku Rangkaian Mutu Manikam Kyai Hadji Mas Mansur yang diterbitkan oleh Penjebar Ilmu dan Al-Ichsan pada tahun 1968.
[1/7 00.11] rudysugengp@gmail.com: 3. Buatkan gambar dan infografis tentang
Bergabung dengan Muhammadiyah hingga Akhir Hayat Mas Mansur
Kegiatan di Muhammadiyah
Mulai aktif di Muhammadiyah :
Di samping aktif dalam bidang tulis-menulis, dia juga aktif dalam organisasi, meskipun aktivitasnya dalam organisasi menyita waktunya dalam dunia jurnalistik.
Pada tahun 1921, Mas Mansoer masuk organisasi Muhammadiyah. Aktivitas Mas Mansoer dalam Muhammadiyah membawa angin segar dan memperkukuh keberadaan Muhammadiyah sebagai organisasi pembaruan. Tangga-tangga yang dilalui Mas Mansur selalu dinaiki dengan mantap.
Hal ini terlihat dari jenjang yang dilewatinya, yakni setelah Ketua Cabang Muhammadiyah Surabaya, kemudian menjadi Konsul Muhammadiyah Wilayah Jawa Timur. Puncak dari tangga tersebut adalah ketika Mas Mansur menjadi Ketua Pengurus Besar Muhammadiyah
Terpilih menjadi Ketua PB Muhammadiyah :
Mas Mansoer dikukuhkan sebagai Ketua Pengurus Besar Muhammadiyah dalam Kongres Muhammadiyah ke-26 di Jogjakarta pada bulan Oktober 1937. Banyak hal pantas dicatat sebelum Mas Mansoer terpilih sebagai Ketua Pengurus Besar Muhammadiyah. Suasana yang berkembang saat itu ialah ketidakpuasan angkatan muda Muhammadiyah terhadap kebijakan Pengurus Besar Muhammadiyah yang terlalu mengutamakan pendidikan, yaitu hanya mengurusi persoalan sekolah-sekolah Muhammadiyah, tetapi melupakan bidang tabligh (penyiaran agama Islam). Angkatan Muda Muhammadiyah saat itu berpendapat bahwa Pengurus Besar Muhammadiyah hanya dikuasai oleh tiga tokoh tua, yaitu K. H. Hisjam (Ketua Pengurus Besar), K. H. Moechtar (Wakil Ketua), dan K. H. Sjuja' sebagai Ketua Majelis PKO (Pertolongan Kesedjahteraan Oemoem).
Situasi bertambah kritis ketika dalam Kongres Muhammadiyah ke-26 di Jogjakarta pada tahun 1937, ranting-ranting Muhammadiyah lebih banyak memberikan suara kepada tiga tokoh tua tersebut.
Kelompok muda di lingkungan Muhammadiyah semakin kecewa. Namun setelah terjadi dialog, ketiga tokoh tersebut ikhlas mengundurkan diri.
Setelah mereka mundur lewat musyawarah, Bagoes Hadikoesoemo diusulkan untuk menjadi Ketua Pengurus Besar Muhammadiyah, namun ia yang menolak.
Kiai Hadjid juga menolak ketika ia dihubungi untuk menjadi Ketua Pengurus Besar Muhammadiyah. Perhatian pun diarahkan kepada Mas Mansoer (Konsul Muhammadiyah Daerah Surabaya).
Pada mulanya Mas Mansoer menolak, tetapi setelah melalui dialog panjang ia bersedia menjadi Ketua Pengurus Besar Muhammadiyah.
Pergeseran kepemimpinan dari kelompok tua kepada kelompok muda dalam Pengurus Besar Muhammadiyah tersebut menunjukkan bahwa Muhammadiyah saat itu sangat akomodatif dan demokratis terhadap aspirasi kalangan muda yang progresif demi kemajuan Muhammadiyah, bukan demi kepentingan perseorangan.
Bahkan Pengurus Besar Muhammadiyah pada periode Mas Mansoer juga banyak didominasi oleh angkatan muda Muhammadiyah yang cerdas, tangkas, dan progresif.
Gaya kepemimpinan :
Terpilihnya Mas Mansoer sebagai Ketua Pengurus Besar Muhammadiyah meniscayakannya untuk pindah ke Jogjkarta bersama keluarganya. Untuk menopang kehidupannya, Muhammadiyah tidak memberikan gaji, melainkan ia diberi tugas sebagai guru di Madrasah Muallimin Muhammadiyah Yogyakarta, sehingga ia mendapatkan penghasilan dari sekolah tersebut. Sebagai Ketua Pengurus Besar Muhammadiyah, Mas Mansoer juga bertindak disiplin dalam berorganisasi. Sidang-sidang Pengurus Besar Muhammadiyah selalu diadakan tepat pada waktunya. Demikian juga dengan para tamu Muhammadiyah dari daerah-daerah. Berbeda dari Pengurus Besar Muhammadiyah sebelumnya yang sering kali menyelesaikan persoalan Muhammadiyah di rumahnya masing-masing, Mas Mansoer selalu menekankan bahwa kebiasaan seperti itu tidak baik bagi disiplin organisasi, karena Pengurus Besar Muhammadiyah telah memiliki kantor sendiri beserta segenap karyawan dan perlengkapannya. Namun ia tetap bersedia untuk menerima silaturrahmi para tamu Muhammadiyah dari daerah-daerah itu di rumahnya untuk urusan yang tidak berkaitan dengan Muhammadiyah.
Kepemimpinannya ditandai dengan kebijaksanaan baru yang disebut Langkah Muhammadiyah 1938-1949. Ada duabelas langkah yang dicanangkannya. Selain itu, Mas Mansoer juga banyak membuat gebrakan dalam hukum Islam dan politik ummat Islam saat itu. Yang perlu untuk pula dicatat, Mas Mansoer tidak ragu mengambil kesimpulan tentang hukum bank, yakni haram, tetapi diperkenankan, dimudahkan, dan dimaafkan, selama keadaan memaksa untuk itu. Ia berpendapat bahwa secara hukum bunga bank adalah haram, tetapi ia melihat bahwa perekonomian ummat Islam dalam kondisi yang sangat memprihatinkan, sedangkan ekonomi perbankan saat itu sudah menjadi suatu sistem yang kuat di masyarakat. Oleh karena itu, jika ummat Islam tidak memanfaatkan dunia perbankan untuk sementara waktu, maka kondisi perekonomian ummat Islam akan semakin turun secara drastis. Dengan demikian, dalam kondisi keterpaksaan tersebut dibolehkan untuk memanfaatkan perbankan guna memperbaiki kondisi perekonomian ummat Islam.
Kegiatan politik :
Dalam perpolitikan ummat Islam saat itu, Mas Mansoer juga banyak melakukan gebrakan.
Sebelum menjadi Ketua Pengurus Besar Muhammadiyah, Mas Mansoer sebenarnya sudah banyak terlibat dalam berbagai aktivitas politik ummat Islam.
Setelah menjadi Ketua Pengurus Besar Muhammadiyah, ia pun mulai melakukan gebrakan politik yang cukup berhasil bagi ummat Islam dengan memprakarsai berdirinya Majelis Islam A'la Indonesia (MIAI) bersama Hasyim Asy'ari dan Wahab Hasboellah yang keduanya dari Nahdlatul Ulama (NU). Ia juga memprakarsai berdirinya Partai Islam Indonesia (PII) bersama Dr. Sukiman Wiryasanjaya sebagai perimbangan atas sikap non-kooperatif dari Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII). Demikian juga ketika Jepang berkuasa di Indonesia, Mas Mansoer termasuk dalam empat orang tokoh nasional yang sangat diperhitungkan, yang terkenal dengan empat serangkai, yaitu Soekarno, Mohammad Hatta, Ki Hadjar Dewantara, dan Mas Mansur.
Keterlibatannya dalam empat serangkai mengharuskannya pindah ke Jakarta, sehingga Ketua Pengurus Besar Muhammadiyah diserahkan kepada Ki Bagoes Hadikoesoemo. Namun kekejaman pemerintah Jepang yang luar biasa terhadap rakyat Indonesia menyebabkannya tidak tahan dalam empat serangkai tersebut, sehingga ia memutuskan untuk kembali ke Surabaya, dan kedudukannya dalam empat serangkai digantikan oleh Ki Bagoes Hadikoesoemo.
Meninggal dunia :
Ketika pecah perang kemerdekaan, Mas Mansoer belum sembuh benar dari sakitnya.
Namun ia tetap ikut berjuang memberikan semangat kepada barisan pemuda untuk melawan kedatangan tentara Belanda (NICA). Akhirnya ia ditangkap oleh tentara NICA dan dipenjarakan di Kalisosok.
Di tengah pecahnya perang kemerdekaan yang berkecamuk itulah, Mas Mansur meninggal di tahanan pada tanggal 25 April 1946. Jenazahnya dimakamkan di Langgar Gipo Surabaya.
Pahlawan nasional :
Atas jasa-jasanya, oleh Pemerintah Republik Indonesia ia diangkat sebagai Pahlawan Nasional Indonesia bersama rekan seperjuangannya, yaitu K.H. Fakhruddin.
[1/7 00.34] rudysugengp@gmail.com: 2. Buatkan gambar dan infografis tentang
Supriyadi Bergabung dengan PETA :
Seperti banyak orang Indonesia, Soeprijadi pada awalnya cukup setia kepada Jepang dan berharap bahwa invasi mereka mengganggu pemerintahan kolonial Belanda serta akan menciptakan kondisi untuk pembangunan negara yang lebih makmur di masa mendatang terutama untuk penentuan nasib sendiri politiknya. Sentimen seperti itu secara aktif dipupuk dengan propaganda Jepang.
Saat masih belajar di kursus di Tangerang, ia mengikuti kelas pelatihan militer yang diadakan oleh militer Jepang dan setelah menyelesaikan kursus itu pada bulan Oktober 1943, ia secara sukarela bergabung dengan barisan PETA (Pembela Tanah Air) — milisi militer yang dibentuk oleh penguasa di kalangan pribumi Indonesia. Setelah pelatihan di sekolah perwira PETA di Tangerang ia menerima pangkat komandan peleton PETA.
Ada kenangan para instruktur Jepang tentang Soeprijadi yang menganggapnya sebagai seorang kadet yang sangat cakap dan seorang pemuda yang cerdik dan cerdas.
Pada awal tahun 1944, ia dikirim untuk mengabdi di kota Blitar, Jawa Timur. Pada saat itu, ayahnya, Raden Darmadi, memegang salah satu jabatan penting di pemerintahan kabupaten di Blitar.
Pejuang PETA dalam latihan awal tahun 1945
Di Batalion PETA Blitar, yang dibentuk di antara unit-unit pertama milisi pada akhir tahun 1943, Soeprijadi diangkat menjadi komandan peleton.
Tugas utama batalion, yang baraknya terletak di dekat pinggiran selatan kota adalah untuk melindungi para romusha (pekerja paksa Indonesia yang dieksploitasi oleh pemerintahan pendudukan Jepang dalam pembangunan benteng, jalan, dan berbagai fasilitas infrastruktur lainnya). Untuk tujuan ini, peleton batalion terus-menerus dipindahkan ke berbagai daerah di Jawa Timur.
Kondisi kerja dan kehidupan romusha yang sangat sulit menyebabkan kematian yang tinggi di antara mereka.
Situasi paling tragis terjadi dalam pembangunan struktur hidrolik di Tulungagung, Jawa Timur.
Di sana, peleton Soeprijadi sering dikirim.
Menyaksikan nasib rekan senegaranya yang demikian, Soeprijadi segera mengubah sikap setianya terhadap Jepang.
Selain dari penderitaan romusha perubahan radikal dalam pandangannya juga disebabkan oleh banyaknya kasus pemaksaan gadis-gadis Jawa untuk menjadi ianfu yaitu pelacur di tempat-tempat hiburan tentara Jepang, serta perlakuan menghina yang dialami oleh para pejuang PETA oleh militer Jepang. Umpamanya, para perwira milisi, terlepas dari pangkatnya, wajib memberi hormat kepada sersan dan bintara Jepang. Lebih dari itu mereka bersama dengan orang biasa, dapat dicambuk di depan umum bahkan untuk pelanggaran kecil. Hal mana sangat memalukan bagi orang-orang dari keluarga bangsawan Jawa, yang selain Soeprijadi sendiri, termasuk banyak perwira batalion Blitar.
Menurut ibu tiri Soeprijadi, "jerami terakhir" yang akhirnya mengubah pandangan Soeprijadi tentang pendudukan Jepang adalah pengiriman ayahnya Raden Darmadi ke kursus pelatihan ulang untuk pegawai administrasi sipil. Kelas-kelas di kursus ternyata sangat melelahkan, dan sikap orang Jepang terhadap karyawan Indonesia sangat keras dan sombong.
Menurut penuturan sang ayah, keadaannya yang kurus kering dan tertekan sangat membekas bagi Soeprijadi.
Akibatnya pada pertengahan tahun 1944, perwira muda itu menjadi penentang keras pemerintah Jepang dan mulai menetaskan gagasan pemberontakan bersenjata melawan penjajah.
Soekarno yang pada awal 1945 mencoba mencegah Soeprijadi dari pemberontakan
Pada bulan September 1944, Soeprijadi mengungkapkan rencananya kepada beberapa rekan perwira, yang dengan antusias mendukungnya.
Setelah itu, para konspirator mulai mengadakan pertemuan rahasia. Lama-kelamaan lingkaran mereka meluas.
Dalam beberapa bulan, mereka berhasil memenangkan sebagian besar perwira dan bintara serta sebagian lumayang besar dari tamtama batalion.
Terlepas dari kenyataan bahwa perwira berpangkat lebih tinggi termasuk di antara para konspirator, Soeprijadi mempertahankan peran sebagai pemimpin informal dan ideologis perlawanan.
Menurut memoar rekan-rekannya, ia menikmati otoritas tinggi di antara mereka, walaupun sifatnya yang lembut, sederhana, dan tidak banyak bicara.
Pada pertemuan-pertemuan rahasia, Soeprijadi muncul dalam pakaian sipil yaitu sarung nasional khas Jawa, dipersenjatai dengan pistol dan keris berkelok-kelok yang banyak dianggap oleh orang Jawa sebagai makna sakral dan spiritual.
Pada awal 1945, Soeprijadi bersama beberapa rekannya berbagi rencana pemberontakan dengan Soekarno, pemimpin gerakan pembebasan nasional Indonesia, yang pada waktu itu berada di Blitar:
Soekarno secara berkala mengunjungi orang tuanya yang tinggal di kota ini. Soekarno mengambil sikap agak skeptik tentang gagasan perwira muda tersebut — singkatnya pemberontakan yang dipersiapkannya tidak tepat waktu dan tak mampu memobilisasi kekuatan yang cukup.
Diketahui bahwa salah satu rekan Soeprijadi setuju dengan pendapat Soekarno tentang kemungkinan kekalahan pemberontakan. Perwira PETA itu meminta dia terlebih dahulu untuk melawan pemberontak, mengingat bahwa sesaat sebelum ini Soekarno berhasil mendapatkan kepemimpinan pemerintah pendudukan untuk menghapus hukuman mati sosialis Indonesia Amir Syarifudin, bakal calon perdana menteri negara, yang ditangkap oleh Jepang karena kegiatan subversif. Namun Soekarno mengingatkan para perwira bahwa tidak seperti Syarifudin yang seorang warga sipil jika ditangkap mereka akan menghadapi vonis pengadilan militer yang tidak dapat ia pengaruhi. Namun demikian, semua argumen ini tak membuat Soeprijadi membatalkan rencananya untuk memberontak: waktu meninggalkan wisma Soekarno, Soeprijadi terus meyakinkan Soekarno bahwa dia tidak ragu tentang kemenangan pemberontakan.
Diketahui, Soeprijadi berharap dapat menghubungi bagian lain dari PETA yang ditempatkan di Jawa Timur untuk membujuk mereka untuk bertindak secara bersamaan. Dalam hal ini, ia menaruh harapan khusus pada latihan gabungan sepuluh batalion PETA di provinsi itu, yang direncanakan oleh komando Jepang pada 5 Februari. Namun hanya beberapa jam sebelum waktu yang diharapkan, latihan ini dibatalkan. Alasannya menurut sejarawan Indonesia adalah ketidakpuasan yang ditunjukkan oleh unit-unit milisi sehubungan dengan beberapa insiden. Dengan demikian, diketahui bahwa suasana hati batalion PETA dipengaruhi secara negatif oleh penemuan mayat pekerja romusha di lokasi latihan, yang diduga mati karena kelaparan serta kematian seorang tamtama PETA dalam keadaan yang tak jelas.
Pada saat yang sama pada awal Februari 1945, Soeprijadi mulai mendapat kesan bahwa Jepang mulai menebak-nebak rencana pemberontakan.
Kesan itu menjadi kepercayaan pasti setelah salah satu instruktur Jepang langsung menuduhnya memiliki niat berontak. Selain itu, para konspirator mengetahui kedatangan pasukan Kempeitai (polisi militer Jepang) tambahan dari Semarang di Blitar yang mereka artikan sebagai persiapan penyerangan. Semua keadaan ini memaksa Soeprijadi untuk membuat pilihan untuk segera memulai pemberontakan dengan kekuatan satu batalion saja.
Pada tanggal 9 Februari, Soeprijadi mengunjungi penceramah Muslim terkenal Ahmad Kasan Bendo di Blitar yang sering bergaul dengannya dan bahkan ia sebut "bapak spiritual", untuk meminta restunya atas pemberontakan. Kasan Bendo menganggap gagasan pemberontakan itu terlalu dini dan dengan gigih berusaha mendesak muridnya untuk menahan diri dan menunda aksi bersenjata selama beberapa bulan.
Namun pada akhirnya, penceramah itu diduga mengizinkan Soeprijadi untuk menunjukkan kemampuan bersenjatanya, dan menegaskan bahwa pertentangan melawan Jepang adalah perkara yang saleh.
Pada tanggal 13 Februari, dalam pertemuan para konspirator terakhir yang dihadiri oleh 25 perwira dan bintara batalion, diputuskan untuk memulai pertunjukan pada pagi hari berikutnya. Rencana yang dikembangkan menyerukan penghapusan semua personel militer Jepang yang bertugas di Blitar, serta pembebasan semua tahanan Indonesia yang ditahan di penjara kota. Setelah itu, para pemberontak harus meninggalkan kota untuk melancarkan operasi partisan di pedesaan sekitarnya dan mengumpulkan penduduk di sekitarnya untuk melawan Jepang.
Pada saat yang sama, atas desakan Soeprijadi, kekerasan apapun terhadap personel batalion PETA yang menolak berpartisipasi dalam pemberontakan, serta terhadap orang Indonesia manapun dinyatakan tak dapat diterima.
[1/7 00.34] rudysugengp@gmail.com: 3. Buatlah gambar dan infografis tentang
Pemberontakan Peta Supriyadi
Pemberontakan dan penghilangan Soeprijadi :
Pemberontakan yang terjadi pada tanggal 14 Februari 1945 adalah yang terbesar dari semua pemberontakan anti-Jepang oleh PETA yang terjadi di Indonesia pada tahap akhir Perang Dunia II.
Sebagian besar batalion Blitar mengambil bagian di dalamnya yaitu setidaknya 360 orang.
Jam setengah empat pagi para pemberontak mengibarkan bendera merah-putih di atas barak dan mulai menyita semua senjata dan amunisi yang ada di lokasi unit. Sebelum meninggalkan unit, mereka menembakkan mortir dan senapan mesin ke gedung markas Kempeitai yang terletak di sekitar barak, serta Hotel Sakura, yang menampung sebagian besar perwira dan pejabat sipil Jepang yang berada di Blitar pada waktu itu. Namun setelah penembakan, ternyata kedua bangunan itu kosong: sehingga akhirnya dipastikan bahwa Jepang telah mengetahui persiapan pemberontakan sebelumnya.
Setelah itu, para pemberontak yang terbagi menjadi 4 kelompok, mulai bergerak keluar kota ke berbagai arah. Soeprijadi tidak memimpin salah satu kelompok, tetapi bertanggung jawab juga untuk mengkoordinasikan tindakan di antara dua dari empat kelompok itu yang masing-masing maju ke arah utara dan timur.
Berbeda dengan semua rekan-rekannya yang meninggalkan barak dengan berseragam, Soeprijadi hanya mengenakan pakaian sipil dengan sarung khas Jawa.
Salah satu kelompok masuk ke gedung penjara kota di sepanjang jalan dan membebaskan semua tahanan yang ditahan disana sekitar 285 orang, yang sebagian besar dihukum berdasarkan pasal pidana. Tak ada bentrokan di kota, tetapi para pemberontak membunuh beberapa orang tentara Jepang yang mereka temui di pagi hari di berbagai bagian kota serta beberapa orang Indonesia yang mereka tuduh menjadi mata-mata Jepang. Maka dengan demikian larangan Soeprijadi atas kekerasan terhadap rekan senegaranya dilanggar oleh beberapa rekannya.
Pada sore hari tanggal 14 Februari, pada saat pasukan utama pemberontak telah meninggalkan Blitar, pasukan Jepang dan unit PETA, yang dikerahkan untuk menekan pemberontakan, sudah mendekati kota dari beberapa arah. Di antara pasukan PETA yang dimobilisasi komando Jepang, ada juga personel batalion Blitar yang menolak untuk berpartisipasi dalam pemberontakan. Dalam upaya untuk menghindari kerugian militer dan untuk menstabilkan situasi sesegera mungkin, komando Jepang lebih suka melakukan negosiasi dengan kelompok pemberontak masing-masing. Selama dua hari berikutnya, sebagian besar dari mereka dibujuk untuk kembali ke barak. Beberapa orang milisi melawan dan terbunuh. Kelompok yang dipimpin oleh komandan peleton Moeradi, salah satu rekan utama Soeprijadi, yang meninggalkan kota ke arah barat laut dan bercokol di lereng gunung Kelud semula menghindari negosiasi.
Pada saat yang sama, pasukan Muradi juga hengkang dari bentrokan. Fakta bahwa sebagian besar pasukan yang menentang mereka bukanlah orang Jepang, tetapi pejuang PETA memiliki efek yang sangat negatif pada moral para pemberontak: mereka yakin akan kurangnya dukungan dari rekan-rekan mereka di milisi. Terlebih lagi, sesuai dengan pesan Soeprijadi, sebagian besarnya tidak menganggapnya mungkin untuk bertarung dengan rekan senegaranya. Akibatnya, Muradi akhirnya setuju untuk melakukan negosiasi dengan Kolonel Katagiri (bahasa Jepang: 片桐), yang memerintahkan operasi untuk menekan pemberontakan.
Setelah Kolonel Katagiri setuju dengan tuntutan Muradi untuk pengampunan semua peserta pemberontakan dan membiarkan mereka kembali ke barak tanpa pengawalan dengan senjata di tangan mereka, kelompok terakhir batalion PETA Blitar meninggalkan posisi mereka. Diketahui bahwa sebelum pindah ke barak, beberapa pejuang yang tidak setuju untuk menyerah kepada Jepang, dengan izin Muradi memisahkan diri dari pasukan dan bersembunyi di hutan.
Persyaratan menyerah dipenuhi oleh Katagiri sendiri, tetapi pada hari yang sama persyaratan itu diingkari oleh komando Angkatan Darat ke-16 Jepang, yang wilayah pendudukannya meliputi Pulau Jawa. Akibatnya, para pejuang pasukan Muradi seperti sebagian besar peserta pemberontakan lainnya ditangkap dan diinterogasi secara intensif selama beberapa minggu. Setelah itu, menurut berbagai sumber, dari 68 hingga 78 pemberontak dipindahkan ke Jakarta. Pada 14-16 April 1945, mereka dihadapkan ke pengadilan militer tingkat tertinggi.
55 orang dinyatakan bersalah atas kejahatan dengan tingkat keparahan yang berbeda-beda,[28] 8 di antaranya dijatuhi hukuman mati. Dua dari mereka yang dihukum kemudian diringankan menjadi penjara seumur hidup, sementara 6 lainnya ditembak di wilayah lapangan terbang militer di kawasan Ancol pinggiran Jakarta pada 16 Mei 1946 serta 47 sisanya dijatuhi hukuman penjara mulai dari beberapa bulan hingga seumur hidup.
Pemberontakan Soeprijadi, meskipun durasinya singkat dan keberhasilannya sedikit dari sudut pandang militer, memiliki dampak psikologis yang cukup signifikan baik pada personel PETA di bagian lain negara itu maupun pada Jepang. Setelah peristiwa itu, kepercayaan administrasi pendudukan pada milisi pribumi dirusak secara signifikan sehingga rencana penggunaannya dalam permusuhan disesuaikan secara signifikan dan staf perwiranya menjalani pembersihan yang serius. Batalion PETA Blitar dibubarkan dan prajuritnya yang tak dihukum akan dipindahkan ke unit lain.
Kebanyakan dari mereka mengikuti pelatihan ulang yang dipimpin oleh Soeharto, yang kelak menjadi presiden kedua Indonesia dan pada waktu itu menjabat sebagai perwira senior dalam formasi PETA di Jawa Timur.
Soeprijadi sendiri menghilang pada siang hari 14 Februari 1945. Menurut kesaksian beberapa pasukan pemberontakan Blitar, ia terakhir kali terlihat dalam keadaan hidup di lereng selatan Gunung Kelud di antara pasukan Muradi. Tidak ada bukti kematiannya atau penangkapannya oleh Jepang serta bukti yang dapat diandalkan tentang keberhasilannya keluar dari pengepungan Jepang. Diketahui secara pasti Soeprijadi tak muncul dalam daftar terdakwa dalam sidang pengadilan militer Jepang di Jakarta.
Pengangkatan kemiliteran ke posisi senior :
Susunan pemerintahan pertama Indonesia, diterbitkan setelah absennya Soeprijadi. Menteri Pertahanan tercantum sebagai "beloem diangkat"v
Setelah proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945, Soekarno yang menjabat sebagai presiden mulai membentuk otoritas dan lembaga dasar negara baru. Pada 19 Agustus, komposisi pemerintahan pertama Republik diumumkan. Dalam kabinet itu Soeprijadi diberi jabatan Menteri Keamanan Nasional.
Pada tanggal 5 Oktober, setelah pembentukan angkatan bersenjata reguler di Indonesia, yang pada awalnya disebut Tentara Keamanan Rakyat, ia juga diangkat menjadi panglima tertinggi TKR.
Para peneliti sepakat bahwa alasan pengangkatan perwira yang begitu muda pada jabatan yang begitu tinggi karena ia merupakan kenalan pribadi Soekarno selama tinggal di Blitar pada awal 1945. Diusulkan pula bahwa dengan penunjukan ini, Presiden Indonesia ingin memaksa Soeprijadi yang hilang untuk tampil di khalayak umum. Namun ini tak terjadi: Soeprijadi tidak pernah muncul dan tak menduduki posisi menteri dan panglima. Akibatnya setelah beberapa minggu absen, jabatan menteri secara resmi dinyatakan kosong (jabatan itu sendiri diubah namanya dari Menteri Keamanan Rakyat menjadi Menteri Pertahanan). Pada 20 Oktober 1945, Mohammad Suliyoadikusumo diangkat sebagai kepala sementara departemen militer dan pada 14 November, Amir Syarifudin diangkat menjadi menteri pertahanan. Sedangkan Ketua Staf Umum Angkatan Darat, Urip Sumohardjo menjadi panglima sementara Tentara Keamanan Rakyat sejak hari pertama ketidakhadiran Soeprijadi. Pada tanggal 12 November, Soedirman resmi ditunjuk untuk posisi ini.
Meskipun Soeprijadi tak hadir untuk menduduki jabatan-jabatan militer senior dan hanya bersifat formal untuk waktu yang singkat, ia terdaftar sebagai kepala departemen pertahanan pertama dan sebagai panglima tertinggi pertama angkatan bersenjata Indonesia dalam sumber-sumber resmi Indonesia.
Versi nasib selanjutnya
Nasib Soeprijadi lebih lanjut tetap menjadi subyek berbagai hipotesis hingga hari ini sehingga dianggap salah satu misteri paling signifikan dalam sejarah Indonesia modern. Secara resmi dia terus terdaftar sebagai orang hilang. Menurut pendapat paling umum, yang dianut oleh sebagian besar kerabat dan rekan pemimpin pemberontakan Blitar, ia tewas dalam pertempuran di lereng Gunung Kelud pada 14 Februari 1945 atau pada hari berikutnya. Hal ketidakhadirannya dari daftar terdakwa dalam sidang pengadilan militer Jepang di Jakarta diperkirakan sebagai bukti buat gagasan ini. Sebagai argumen tambahan yang mendukung versi itu, faktanya adalah bahwa negosiasi dengan Kolonel Katagiri, perwira senior Jepang, tidak dilakukan oleh pemimpin pemberontak itu sendiri, tetapi oleh sekutunya, Muradi.
Sejarawan militer Indonesia terkemuka Nugroho Notosusanto, penulis salah satu studi pertama tentang pemberontakan PETA, berdasarkan wawancara dengan puluhan pihak terkait dan saksi mata peristiwa Februari 1945, dengan yakin menunjukkan bahwa Soeprijadi bisa saja ditangkap oleh orang Jepang dan kemudian meninggal akibat siksaan sebelum dimulainya persidangan pengadilan militer di Jakarta. Menurut pendapatnya juga, Jepang dapat menyembunyikan fakta ini karena takut kematian pemimpin pemberontakan akan meningkatkan suasana protes di antara pejuang PETA. Untuk mendukung versinya, Nugroho merujuk pada fakta bahwa beberapa pemberontak yang ditangkap oleh Jepang meninggal di penjara sebelum persidangan dan beberapa peserta dalam proses Jakarta berada dalam keadaan yang sangat parah karena pemukulan dan kondisi penahanan yang kejam.
Menurut salah satu versi, Soeprijadi terbunuh di lereng Gunung Wilis.
Ada yang beranggapan bahwa Soeprijadi mati terbunuh atau mati karena sebab alamiah setelah penumpasan pemberontakan, waktu bersembunyi dari Jepang di wilayah Gunung Kelud atau sudah berada pada jarak yang cukup jauh dari tempat-tempat tersebut.[16][36][37][38] Mendukung versi ini, mereka menafsirkan fakta bahwa sejumlah pemberontak termasuk beberapa orang dari pasukan Muradi menolak untuk kembali ke barak dan mencoba bersembunyi, meskipun sebagian besar darim mereka ditemukan dan ditangkap oleh tentara Jepang dalam beberapa hari.
Pada tahun 1971 dalam "Vidya Yudha" yaitu buletin yang diterbitkan departemen sejarah dan kearsipan Departemen Pertahanan dan Keamanan Indonesia, sebuah artikel dipublikasikan oleh Mayor Soebardjo. Dengan menutip kenangan salah satu mantan rekannya, Soebardjo mengklaim bahwa Soebardjo berhasil menghindari Jepang dan bersembunyi dari mereka selama beberapa bulan. Namun pada bulan Agustus 1945, beberapa hari sebelum kemerdekaan Indonesia, pemimpin pemberontak Blitar diduga ditemukan dan dibunuh oleh patroli militer Jepang hampir 100 kilometer barat laut Kota Blitar, di lereng Gunung Wilis.
Kemudian, Kementerian Sosial Republik Indonesia menerbitkan sebuah pamflet tentang pemberontakan Blitar yang juga memberikan bukti bahwa Soeprijadi diduga tetap hidup setidaknya untuk beberapa waktu setelah penindasan pembangkangan PETA. Dengan demikian, Harjosemiarso, kepala desa Sumberagung yang bermukim pada jarak 20 km dari sebelah utara Blitar, mengklaim bahwa dia menyembunyikan Soeprijadi dari Jepang di rumahnya selama beberapa hari. Sedangkan Roromejo, kepala desa Ngliman yang terletak persis di lereng utara Gunung Kelud tersebut, mengklaim membantu Soeprijadi bersembunyi di sebuah gua dan bahkan menemani ayahnya — Raden Darmadi — ke sana, yang mengunjungi putranya dalam persembunyian.
Pada bulan April 1975, sekelompok wartawan Indonesia bertemu di Singapura dengan kepala cabang lokal perusahaan teknik dan konstruksi Jepang Taisei Corporation Nakajima (bahasa Jepang: 中島) yang selama Perang Dunia II bertugas di salah satu unit intelijen militer Jepang di Pulau Jawa. Pada tahun 1943, ia menjabat sebagai instruktur di kursus perwira PETA di Tangerang — justru waktu Soeprijadi dilatih di sana — dan kemudian ditugaskan ke kota Salatiga di Jawa Tengah.
Menurut Nakajima, pada akhir Februari atau awal Maret 1945 yaitu sekitar 2 minggu setelah pemberontakan PETA di Blitar, Soeprijadi datang ke rumahnya di Salatiga bersama dua rekannya. Nakajima bersimpati pada Soeprijadi sejak kenalannya di sekolah Tangerang. Karena itu dia mengizinkan dia dan teman-temannya bermalam di rumahnya. Keesokan paginya, saat mengucapkan selamat tinggal, Soeprijadi memberitahu Nakajima bahwa dia akan pergi ke Bayah, sebuah desa pertambangan besar yang terletak di barat daya Jawa.
Menurut Nakajima, dia memberi uang kepada mantan kadetnya untuk perjalanan dan memberinya pistol. Para peneliti menekankan bahwa justru pada saat inilah Tan Malaka, salah satu pemimpin gerakan pembebasan nasional Indonesia, tinggal di Bayah.
Tak lama setelah publikasi wawancara Nakajima, seorang warga desa Bayah bernama Mukandar menyatakan bahwa pada Juli 1945 ia merawat seorang pemuda bernama Soeprijadi, yang menderita disentri dalam keadaan yang sangat parah, di rumahnya.
Menurutnya, orang asing itu meninggal beberapa hari kemudian dan dimakamkan di dekat rumah Mukandar. Dalam foto pahlawan nasional yang diperlihatkan oleh wartawan, Mukandar dengan percaya diri mengenali orang yang meninggal itu.
Berdasarkan kesaksian Mukandar, Kementerian Sosial Republik Indonesia memerintahkan penggalian jenazah seorang pria yang dimakamkan di desa Bayah.
Di tempat yang ditunjukkan oleh Mukandar, tak ditemukan sisa-sisa manusia, tetapi dari penggalian yang dilakukan di daerah sekitarnya, ditemukan kerangka seorang pria yang waktu penguburannya sesuai dengan kesaksian Mukandar.
Untuk mempelajari sisa-sisa tersebut, sebuah komisi dibentuk, yang mencakup spesialis khusus dari fakultas kedokteran Universitas Gajah Mada Yogyakarta. Mereka berhasil mengembalikan perkiraan penampakan wajah orang yang dikebumikan dari tengkoraknya, tetapi gambar itu tak sesuai dengan gambaran penampakan Soeprijadi yang disampaikan kerabatnya.
Akibatnya, Soeprijadi resmi tetap dianggap hilang.
Pada Agustus 2018, diterbitkan sejumlah publikasi media mengenai pemberontakan Blitar yang memberikan data baru tentang keadaan hilangnya Soeprijadi, dengan mengutip dua orang saksi. Yang pertama ialah seorang rekan prajurit pahlawan nasional berusia 91 tahun bernama Sukiyarno yang disebut-sebut sebagai orang terakhir yang masih hidup dalam pemberontakan Blitar sedangkan yang kedua adalah Darsono yang berusia 89 tahun yang diduga seperti Soeprijadi, adalah pengikut pendakwah Blitar Ahmad Kasan Bendo.
Sukiyarno mengatakan bahwa terakhir kali dia melihat Soeprijadi adalah pada malam 14 Februari 1945: dia berbicara menentang menyerah kepada Jepang dan berencana untuk keluar dari pengepungan ke arah barat.
Beberapa waktu kemudian, Sukiyarno yang setelah pemberontak menyerah, melarikan diri dengan hanya beberapa hari ditangkap, mendengar desas-desus bahwa Soeprijadi adalah bagian dari brigade romusha yang bekerja di tambang batu bara desa Bayah.
Informasi ini ditafsirkan sebagai kemungkinan konfirmasi dari bukti yang sudah diketahui tentang tinggalnya Supriyadi di desa Bayah.
Darsono, yang pada tahun 1945 berusia 16 tahun, melaporkan bahwa ia hadir pada pertemuan terakhir Soeprijadi dengan Ahmad Kasan Bendo, seorang ustadz Blitar yang berusaha kmembujuk perwira muda tersebut untuk memulai pemberontakan karena menganggapnya terlalu dini dan dapat dikalahkan dengan mudah. Setelah tidak berhasil meyakinkan Soeprijadi, Bendo diduga menginstruksikan Darsono dan 3 murid mudanya untuk membantu menyembunyikan pemimpin pemberontak dari Jepang setelah perlawanan dipatahkan. Mengikuti instruksi sang guru, Darsono dan kawan-kawan berhasil membawa Soeprijadi pada malam 14 Februari ke tempat penampungan di lereng timur Gunung Kelud, tempat mereka bermalam dan di pagi hari terus bergerak melalui hutan bersama. Pada sore hari tanggal 15 Februari, di sebuah perhentian, Soeprijadi meminta rekan-rekannya untuk berdoa untuk keselamatan bersama mereka dengan mata tertutup dan ketika para pemuda itu menyelesaikan doa, petugas pemberontak itu tidak lagi berada di samping mereka. Murid-murid Bendo mengira bahwa Soeprijadi bersembunyi di sebuah gua yang terletak tak jauh dari tempat peristirahatannya, tetapi mereka tidak mengikutinya.
Anggapan bahwa Soeprijadi selamat meninggalkan Blitar didukung oleh para sejarawan Jepang yang umumnya tak menilai tinggi persiapan pemberontakan dan dampaknya terhadap penguasa pendudukan. Umpamanya, Shigeru Sato (bahasa Jepang: 茂 佐藤), penulis beberapa karya tentang sejarah Indonesia selama masa pendudukan Jepang dan pembentukan kemerdekaan negara, percaya bahwa Soeprijadi melarikan diri dari medan perang dan kemungkinan mencapai Jawa Barat.
Pada gilirannya, hampir semua kerabat dan kolega Soeprijadi menganggap dengan apriori skeptis setiap versi yang menunjukkan kelangsungan hidup Soeprijadi setelah penindasan pemberontakan. Beberapa orang peserta peristiwa Blitar Februari 1945 pernah menekankan bahwa mereka menganggap Soeprijadi sebagai pahlawan justru karena keyakinan akan kematiannya di medan perang.
Jika fakta menyelamatkan pemimpin pemberontakan dikonfirmasi, reputasi kepahlawanannya menurut mereka akan hancur total dan rekan-rekan seperjuangannya tidak dapat memandangnya selain sebagai pengecut, pengkhianat, dan pembelot.
[1/7 00.58] rudysugengp@gmail.com: Lanjut Sudirman ada 4
[1/7 01.14] rudysugengp@gmail.com: 2. Buatkan gambar dan infografis tentang
Sudirman Menjadi Guru
Mengajar :
Setelah lulus dari Wirotomo, Soedirman belajar selama satu tahun di Kweekschool (sekolah guru) yang dikelola oleh Muhammadiyah di Surakarta, tetapi berhenti karena kekurangan biaya.
Pada 1936, ia kembali ke Cilacap untuk mengajar di sebuah sekolah dasar Muhammadiyah, setelah dilatih oleh guru-gurunya di Wirotomo.
Pada tahun yang sama, Soedirman menikahi Alfiah, mantan teman sekolahnya dan putri seorang pengusaha batik kaya bernama Raden Sastroatmojo.
Setelah menikah, Soedirman tinggal di rumah mertuanya di Cilacap agar ia bisa menabung untuk membangun rumah sendiri.[24] Pasangan ini kemudian dikaruniai tiga orang putra; Ahmad Tidarwono, Muhammad Teguh Bambang Tjahjadi, dan Taufik Effendi, serta empat orang putri; Didi Praptiastuti, Didi Sutjiati, Didi Pudjiati, dan Titi Wahjuti Satyaningrum.
Sebagai guru, Soedirman mengajarkan murid-muridnya pelajaran moral dengan menggunakan contoh dari kehidupan para rasul dan kisah wayang tradisional.
Salah seorang muridnya menyatakan bahwa Soedirman adalah guru yang adil dan sabar yang akan mencampurkan humor dan nasionalisme dalam pelajarannya; hal ini membuatnya populer di kalangan muridnya.
Meskipun bergaji kecil, Soedirman tetap mengajar dengan giat.
Menjadi Kepala Sekolah :
Akibatnya, dalam beberapa tahun Soedirman diangkat menjadi kepala sekolah meskipun tidak memiliki ijazah guru.
Sebagai hasilnya, gaji bulanannya meningkat empat kali lipat dari tiga gulden menjadi dua belas setengah gulden. Sebagai kepala sekolah, Soedirman mengerjakan berbagai tugas-tugas administrasi, termasuk mencari jalan tengah di antara guru yang berseteru.
Seorang rekan kerjanya mengisahkan bahwa Soedirman adalah seorang pemimpin yang moderat dan demokratis.
Ia juga aktif dalam kegiatan penggalangan dana, baik untuk kepentingan pembangunan sekolah ataupun untuk pembangunan lainnya.
Bergabung dengan Pemuda Muhammadiyah :
Selama waktu-waktu itu Soedirman juga terus bergiat sebagai anggota Kelompok Pemuda Muhammadiyah.
Dalam kelompok ini, ia dikenal sebagai negosiator dan mediator yang lugas, berupaya untuk memecahkan masalah antar para anggota; ia juga berdakwah di masjid setempat.
Soedirman terpilih sebagai Ketua Kelompok Pemuda Muhammadiyah Kecamatan Banyumas pada akhir 1937. Selama menjabat, ia memfasilitasi seluruh kegiatan dan pendidikan para anggota, baik dalam bidang agama ataupun sekuler.
Ia kemudian mengikuti seluruh kegiatan Kelompok Pemuda di Jawa Tengah dan menghabiskan sebagian besar waktu luangnya dengan melakukan perjalanan dan berdakwah, dengan penekanan pada kesadaran diri.
Alfiah juga aktif dalam kegiatan kelompok putri Muhammadiyah Nasyiatul Aisyiyah.
[1/7 02.03] rudysugengp@gmail.com: 4. Buatkan gambar dan infografis tentang
Perang Gerilya dan Akhir Hayat Sudirman
Perang gerilya :
Sebelum memulai gerilya, Soedirman pertama-tama pergi ke rumah dinasnya dan mengumpulkan dokumen-dokumen penting, lalu membakarnya untuk mencegahnya jatuh ke tangan Belanda. Soedirman, bersama sekelompok kecil tentara dan dokter pribadinya, mulai bergerak ke arah selatan menuju Kretek, Parangtritis, Bantul. Setibanya di sana, mereka disambut oleh bupati pada pukul 18.00. Selama di Kretek, Soedirman mengutus tentaranya yang menyamar ke kota yang telah diduduki oleh Belanda untuk melakukan pengintaian, dan meminta istrinya menjual perhiasannya untuk membantu mendanai gerakan gerilya.
Setelah beberapa hari di Kretek, ia dan kelompoknya melakukan perjalanan ke timur di sepanjang pantai selatan menuju Wonogiri. Sebelum Belanda menyerang, sudah diputuskan bahwa Soedirman akan mengontrol para gerilyawan dari Jawa Timur, yang masih memiliki beberapa pangkalan militer. Sementara itu, Alfiah dan anak-anaknya diperintahkan untuk tinggal di Kraton.[109] Sadar bahwa Belanda sedang memburu mereka, pada tanggal 23 Desember Soedirman memerintahkan pasukannya untuk melanjutkan perjalanan ke Ponorogo.
Di sana, mereka berhenti di rumah seorang ulama bernama Mahfuz; Mahfuz memberi sang jenderal sebuah tongkat untuk membantunya berjalan, meskipun Soedirman terus dibopong dengan menggunakan tandu di sepanjang perjalanan. Mereka kemudian melanjutkan perjalanan ke timur.
Di dekat Trenggalek, Soedirman dan kelompoknya dihentikan oleh prajurit TNI dari Batalion 102.
Para tentara ini diberitahu bahwa Soedirman—yang saat itu berpakaian sipil dan dan tidak dikenali oleh tentara yang menghentikan mereka—adalah tahanan dan menolak untuk melepaskan Soedirman dan kelompoknya; mereka mencurigai konvoi Soedirman yang membawa peta dan catatan militer Indonesia, benda yang mungkin dimiliki oleh mata-mata.
Ketika sang komandan, Mayor Zainal Fanani, datang untuk memeriksa keadaan, ia menyadari bahwa orang itu adalah Soedirman dan segera meminta maaf. Fanani beralasan bahwa tindakan anak buahnya sudah tepat karena menjaga wilayah dengan saksama.
Ia juga menyebutkan tentang sebuah pos di Kediri dan menyediakan mobil untuk mengangkut Soedirman dan pasukannya. Setelah beberapa saat di Kediri, mereka melanjutkan perjalanan lebih jauh ke timur; setelah mereka meninggalkan kota pada tanggal 24 Desember, Belanda berencana untuk menyerang Kediri.
Serangan Belanda yang berkelanjutan menyebabkan Soedirman harus mengganti pakaiannya dan memberikan pakaian lamanya pada salah seorang prajuritnya, Letnan Heru Kesser—yang memiliki kemiripan dengan Soedirman.
Kesser diperintahkan untuk menuju selatan bersama sekompi besar tentara, mengganti pakaiannya, dan diam-diam kembali ke utara, sedangkan Soedirman menunggu di Karangnongko. Pengalihan ini berhasil, dan pada 27 Desember, Soedirman dan anak buahnya bergerak menuju Desa Jambu dan tiba pada 9 Januari 1949.
Di sana, Soedirman bertemu dengan beberapa menteri yang tidak berada di Yogyakarta saat penyerangan: Supeno, Susanto Tirtoprojo, dan Susilowati.
Bersama para politikus ini, Soedirman berjalan ke Banyutuwo sambil memerintahkan beberapa tentaranya untuk menahan pasukan Belanda.
Di Banyutuwo, mereka menetap selama seminggu lebih.
Namun, pada 21 Januari, tentara Belanda mendekati desa. Soedirman dan rombongannya terpaksa meninggalkan Banyutuwo, berjuang menembus jalan dalam hujan lebat.
Soedirman dan pasukannya terus melakukan perjalanan melewati hutan dan rimba, akhirnya tiba di Sobo, di dekat Gunung Lawu, pada tanggal 18 Februari. Selama perjalanannya ini, Soedirman menggunakan sebuah radio untuk memberi perintah pada pasukan TNI setempat jika ia yakin bahwa daerah itu aman.
Merasa lemah karena kesulitan fisik yang ia hadapi, termasuk perjuangannya melewati hutan dan kekurangan makanan, Soedirman yakin bahwa Sobo aman dan memutuskan untuk menggunakannya sebagai markas gerilya.
Komandan tentara setempat, Letnan Kolonel Wiliater Hutagalung, berperan sebagai perantara antara dirinya dengan pemimpin TNI lain. Mengetahui bahwa opini internasional yang mulai mengutuk tindakan Belanda di Indonesia bisa membuat Indonesia menerima pengakuan yang lebih besar, Soedirman dan Hutagalung mulai membahas kemungkinan untuk melakukan serangan besar-besaran.
Sementara itu, Belanda mulai menyebarkan propaganda yang mengklaim bahwa mereka telah menangkap Soedirman; propaganda tersebut bertujuan untuk mematahkan semangat para gerilyawan.
Ide Serangan Besar-besaran pakai Seragam Tentara :
Soedirman memerintahkan Hutagalung untuk mulai merencanakan serangan besar-besaran, dengan prajurit TNI berseragam akan menyerang Belanda dan mununjukkan kekuatan mereka di depan wartawan asing dan tim investigasi PBB. Hutagalung, bersama para prajurit dan komandannya, Kolonel Bambang Sugeng, serta pejabat pemerintahan di bawah pimpinan Gubernur Wongsonegoro, menghabiskan waktu beberapa hari dengan membahas cara-cara untuk memastikan agar serangan itu berhasil.
Pertemuan ini menghasilkan rencana Serangan Umum 1 Maret 1949; pasukan TNI akan menyerang pos-pos Belanda di seluruh Jawa Tengah. Pasukan TNI di bawah komando Letnan Kolonel Soeharto berhasil merebut kembali Yogyakarta dalam waktu enam jam, menjadi unjuk kekuatan yang sukses dan menyebabkan Belanda kehilangan muka di mata internasional; Belanda sebelumnya menyatakan bahwa TNI sudah diberantas.
Namun, siapa tepatnya yang memerintahkan serangan ini masih belum jelas: Soeharto dan Hamengkubuwono IX sama-sama mengaku bertanggung jawab atas serangan ini, sedangkan saudara Bambang Sugeng juga menyatakan bahwa dia lah yang telah memerintahkan serangan tersebut.
Karena makin meningkatnya tekanan dari PBB, pada 7 Mei 1949 Indonesia dan Belanda menggelar perundingan, yang menghasilkan Perjanjian Roem-Royen. Perjanjian ini menyatakan bahwa Belanda harus menarik pasukannya dari Yogyakarta, beserta poin-poin lainnya;
Belanda mulai menarik pasukannya pada akhir Juni, dan para pemimpin Indonesia di pengasingan kembali ke Yogyakarta pada awal Juli. Soekarno lalu memerintahkan Soedirman untuk kembali ke Yogyakarta, tetapi Soedirman menolak untuk membiarkan Belanda menarik diri tanpa perlawanan; ia menganggap pasukan TNI pada saat itu sudah cukup kuat untuk mengalahkan pasukan Belanda.
Meskipun ia dijanjikan akan diberi obat-obatan dan dukungan di Yogyakarta, Soedirman menolak untuk kembali ke kalangan politikus, yang menurutnya telah sepaham dengan Belanda.
Soedirman baru setuju untuk kembali ke Yogyakarta setelah menerima sebuah surat, yang pengirimnya masih diperdebatkan.
Pada tanggal 10 Juli, Soedirman dan kelompoknya kembali ke Yogyakarta, mereka disambut oleh ribuan warga sipil dan diterima dengan hangat oleh para elite politik di sana.
Wartawan Rosihan Anwar, yang hadir pada saat itu, menulis pada 1973 bahwa "Soedirman harus kembali ke Yogyakarta untuk menghindari anggapan adanya keretakan antar pemimpin tertinggi republik".
Pascaperang :
Pada awal Agustus, Soedirman mendekati Soekarno dan memintanya untuk melanjutkan perang gerilya; Soedirman tidak percaya bahwa Belanda akan mematuhi Perjanjian Roem-Royen, belajar dari kegagalan perjanjian sebelumnya. Soekarno tidak setuju, yang menjadi pukulan bagi Soedirman. Soedirman menyalahkan ketidakkonsistenan pemerintah sebagai penyebab penyakit tuberkulosisnya dan kematian Oerip pada 1948, ia mengancam akan mengundurkan diri dari jabatannya, tetapi Soekarno juga mengancam akan melakukan hal yang sama.
Setelah ia berpikir bahwa pengunduran dirinya akan menyebabkan ketidakstabilan, Soedirman tetap menjabat, dan gencatan senjata di seluruh Jawa mulai diberlakukan pada tanggal 11 Agustus 1949.
Soedirman terus berjuang melawan TBC dengan melakukan pemeriksaan di Panti Rapi.
Ia menginap di Panti Rapi menjelang akhir tahun, dan keluar pada bulan Oktober; ia lalu dipindahkan ke sebuah sanatorium di dekat Pakem.
Akibat penyakitnya ini, Soedirman jarang tampil di depan publik.
Ia dipindahkan ke sebuah rumah di Magelang pada bulan Desember.
Pada saat yang bersamaan, pemerintah Indonesia dan Belanda mengadakan konferensi panjang selama beberapa bulan yang berakhir dengan pengakuan Belanda atas kedaulatan Indonesia pada 27 Desember 1949. Meskipun sedang sakit, Soedirman saat itu juga diangkat sebagai panglima besar TNI di negara baru bernama Republik Indonesia Serikat.
Pada 28 Desember, Jakarta kembali dijadikan sebagai ibu kota negara.
Warisan :
Opini modern yang berkembang di Indonesia mengenai Soedirman cenderung berupa pujian. Sardiman, seorang profesor sejarah di Universitas Negeri Yogyakarta, menulis bahwa Soedirman hidup sebagai pembicara seperti Soekarno, yang dikenal karena pidatonya yang berapi-api, dan pemimpin yang berbakti dan tidak bisa disuap.
Sejarawan Indonesia dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nugroho Notosusanto menggambarkan Soedirman sebagai "satu-satunya idolanya", menyatakan bahwa masa-masa gerilya sang jenderal adalah asal esprit de corps TNI.
Kampanye gerilya Soedirman lebih ditekankan dalam biografinya karena pada masa ini, angkatan perang memiliki peran yang lebih besar jika dibandingkan dengan pemimpin politik di pengasingan.
Napak Tilas Calon Taruna Militer :
Sejak 1970-an, semua taruna militer harus menelusuri kembali rute gerilya Soedirman sepanjang 100-kilometer (62 mil) sebelum lulus dari Akademi Militer, bentuk "ziarah" yang bertujuan untuk menanamkan rasa perjuangan. Makam Soedirman juga menjadi tujuan ziarah, baik dari kalangan militer ataupun masyarakat umum.
Menurut Katharine McGregor dari Universitas Melbourne, militer Indonesia telah memuliakan status Soedirman menjadi semacam orang suci.
Soedirman telah menerima berbagai tanda kehormatan dari pemerintah pusat secara anumerta, termasuk Bintang Sakti, Bintang Gerilya, Bintang Mahaputra Adipurna, Bintang Mahaputra Pratama, Bintang Republik Indonesia Adipurna, dan Bintang Republik Indonesia Adipradana.
Pada 10 Desember 1964, Soedirman ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia melalui Keputusan Presiden No. 314 Tahun 1964.
Oerip juga dinyatakan sebagai Pahlawan Nasional oleh keputusan yang sama.
Soedirman dipromosikan menjadi Jenderal Besar pada tahun 1997.
Menurut McGregor, militer memanfaatkan sosok Soedirman sebagai simbol kepemimpinan setelah mereka meraih kekuasaan politik. Gambar Soedirman ditampilkan dalam seri uang kertas rupiah terbitan 1968. Soedirman juga ditampilkan sebagai karakter utama dalam beberapa film perang, termasuk Janur Kuning (1979) dan Serangan Fajar (1982).
Terdapat banyak museum yang didedikasikan untuk Soedirman. Rumah masa kecilnya di Purbalingga saat ini menjadi Museum Soedirman, sedangkan rumah dinasnya di Yogyakarta dijadikan Museum Sasmitaloka Jenderal Soedirman.
Rumah kelahirannya di Magelang juga dijadikan Museum Soedirman, yang didirikan pada tanggal 18 Mei 1967 dan menyimpan barang-barang milik sang jenderal.
Museum lainnya, termasuk Monumen Yogya Kembali di Yogyakarta dan Museum Satria Mandala di Jakarta, memiliki ruangan khusus yang didedikasikan untuk dirinya.
Sejumlah jalan juga dinamai sesuai namanya, termasuk sebuah jalan utama di Jakarta; McGregor menyatakan bahwa hampir setiap kota di Indonesia memiliki jalan bernama Soedirman.
Patung dan monumen yang didedikasikan untuk dirinya juga tersebar di seluruh negeri, sebagian besarnya dibangun setelah tahun 1970.
Universitas Jenderal Soedirman di Purwokerto, Banyumas, didirikan pada 1963 dan dinamai sesuai namanya.
Dalam budaya populer :
Dalam film Janur Kuning (1979), Soedirman diperankan oleh Deddy Sutomo.
Dalam film Jenderal Soedirman (2015), Soedirman diperankan oleh Adipati Dolken.
[1/7 02.19] rudysugengp@gmail.com: 1. Buatkan gambar dan infografis tentang
Kehidupan Awal Sudirman
Biodata :
Lahir : 24 Januari 1916[
Bodaskarangjati, Purbalingga, Hindia Belanda.
Meninggal :29 Januari 1950 (umur 34)
Magelang, Jawa Tengah, Indonesia
Makam : TMP Kusuma Negara, Kota Yogyakarta, Yogyakarta
Istri : Siti Alfiah
Raden Soedirman (EYD: Sudirman; 24 Januari 1916 – 29 Januari 1950) adalah seorang perwira tinggi Indonesia pada masa Revolusi Nasional Indonesia.
Sebagai Panglima Besar Tentara Nasional Indonesia pertama, ia adalah sosok yang dihormati secara luas di Indonesia dan pada tanggal 10 Desember 1964 dengan adanya surat Keputusan Presiden No. 314 tahun 1964 secara resmi ditetapkan sebagai Pahlawan nasional Indonesia.
Kehidupan awal :
Soedirman lahir dari pasangan Karsid Kartawiraji dan Siyem saat pasangan ini tinggal di rumah saudari Siyem yang bernama Tarsem di Bodaskarangjati, Rembang, Purbalingga. Tarsem sendiri bersuamikan seorang camat bernama Raden Cokrosunaryo.
Menurut catatan keluarga, Soedirman—dinamai oleh pamannya—lahir pada Minggu pon di bulan Maulud dalam penanggalan Jawa; pemerintah Indonesia kemudian menetapkan 24 Januari 1916 sebagai hari ulang tahun Soedirman. Karena kondisi keuangan Cokrosunaryo yang lebih baik, ia mengadopsi Soedirman dan memberinya gelar Raden, gelar kebangsawanan pada suku Jawa.
Soedirman tidak diberitahu bahwa Cokrosunaryo bukanlah ayah kandungnya sampai ia berusia 18 tahun.
Setelah Cokrosunaryo pensiun sebagai camat pada akhir 1916, Soedirman ikut dengan keluarganya ke Manggisan, Cilacap.
Di tempat inilah ia tumbuh besar.
Di Cilacap, Karsid dan Siyem memiliki seorang putra lain bernama Muhammad Samingan. Karsid meninggal dunia saat Soedirman berusia enam tahun, dan Siyem menitipkan kedua putranya pada saudara iparnya dan kembali ke kampung halamannya di Parakan Onje, Ajibarang.
Soedirman dibesarkan dengan cerita-cerita kepahlawanan, juga diajarkan etika dan tata krama priyayi, serta etos kerja dan kesederhanaan wong cilik.
Untuk pendidikan agama, ia dan adiknya mempelajari Islam di bawah bimbingan kiai haji Qahar; Soedirman adalah anak yang taat agama dan selalu salat tepat waktu.
Ia dipercaya untuk mengumandangkan azan dan ikamah.
Saat berusia tujuh tahun, Soedirman terdaftar di sekolah pribumi ([hollandsch inlandsche school] Meskipun hidup berkecukupan, keluarga Soedirman bukanlah keluarga kaya.
Selama menjabat sebagai camat, Cokrosunaryo tidak mengumpulkan banyak kekayaan, dan di Cilacap ia bekerja sebagai penyalur mesin jahit Singer.
Pada tahun kelimanya bersekolah, Soedirman diminta untuk berhenti sekolah sehubungan dengan ejekan yang diterimanya di sekolah milik pemerintah; permintaan ini awalnya ditolak, tetapi Soedirman dipindahkan ke sekolah menengah milik Taman Siswa pada tahun ketujuh sekolah.
Pada tahun kedelapan, Soedirman pindah ke Sekolah Menengah Wirotomo, setelah sekolah Taman Siswa ditutup oleh Ordonansi Sekolah Liar karena diketahui tidak terdaftar.
Kebanyakan guru Soedirman di Wirotomo adalah nasionalis Indonesia, yang turut memengaruhi pandangannya terhadap penjajah Belanda. Soedirman belajar dengan tekun di sekolah; gurunya Suwarjo Tirtosupono menyatakan bahwa Soedirman sudah mempelajari pelajaran tingkat dua pada saat kelas masih mempelajari pelajaran tingkat satu.
Meskipun lemah dalam pelajaran kaligrafi Jawa, Soedirman sangat pintar dalam pelajaran matematika, ilmu alam, dan menulis, baik bahasa Belanda maupun Indonesia. Soedirman juga menjadi makin taat agama di bawah bimbingan gurunya, Raden Muhammad Kholil.
Teman-teman sekelasnya memanggilnya "haji" karena ketaatannya dalam beribadah, dan Soedirman juga memberikan ceramah agama kepada siswa lain.
Selain belajar dan beribadah, Soedirman juga berpartisipasi dalam kelompok musik sekolah dan bergabung dengan tim sepak bola sebagai bek.
Kematian Cokrosunaryo pada tahun 1934 menyebabkan keluarganya jatuh miskin, tetapi ia tetap diizinkan untuk melanjutkan sekolahnya tanpa membayar sampai ia lulus pada akhir tahun.
Setelah kepergian ayah tirinya, Soedirman mencurahkan lebih banyak waktunya untuk mempelajari Sunnah dan doa.
Pada usia 19 tahun, Soedirman menjadi guru praktik di Wirotomo.
Saat bersekolah di Wirotomo, Soedirman adalah anggota Perkumpulan Siswa Wirotomo, klub drama, dan kelompok musik.
Ia membantu mendirikan cabang Hizboel Wathan, sebuah organisasi kepanduan putra milik Muhammadiyah. Soedirman menjadi pemimpin Hizboel Wathan cabang Cilacap setelah lulus dari Wirotomo; tugasnya adalah menentukan dan merencanakan kegiatan kelompoknya. Soedirman menekankan perlunya pendidikan agama, bersikeras bahwa kontingen dari Cilacap harus menghadiri konferensi Muhammadiyah di seluruh Jawa.
Ia mengajari para anggota muda Hizboel Wathan tentang sejarah Islam dan pentingnya moralitas, sedangkan pada anggota yang lebih tua ia berlakukan disiplin militer.
[1/7 02.36] rudysugengp@gmail.com: 3. Buatkan gambar dan infografis tentang
Sudirman masuk Tentara
Jaman Jepang :
Ketika Perang Dunia II pecah di Eropa, diperkirakan bahwa Jepang, yang telah bergerak mendekati Tiongkok daratan, akan berupaya menginvasi Hindia. Sebagai tanggapan, pemerintah kolonial Belanda—yang sebelumnya membatasi pelatihan militer bagi pribumi—mulai mengajari rakyat cara-cara menghadapi serangan udara. Menindaklanjuti hal ini, Belanda kemudian membentuk tim Persiapan Serangan Udara. Soedirman, yang disegani oleh masyarakat, diminta untuk memimpin tim di Cilacap. Selain mengajari warga setempat mengenai prosedur keselamatan untuk menghadapi serangan udara, Soedirman juga mendirikan pos pemantau di seluruh daerah. Ia dan Belanda juga menangani pesawat udara yang menjatuhkan material untuk menyimulasikan pengeboman; hal ini bertujuan untuk mempertinggi tingkat respons.[35]
Jepang mulai menduduki Hindia pada awal 1942 setelah memenangkan beberapa pertempuran melawan pasukan Belanda dan tentara Koninklijk Nederlands-Indische Leger (KNIL) yang dilatih oleh Belanda. Pada 9 Maret 1942, Gubernur Jenderal Tjarda van Starkenborgh Stachouwer dan Jenderal KNIL Hein ter Poorten menyerah. Peristiwa ini menimbulkan perubahan drastis dalam pemerintahan Nusantara dan makin memperburuk kualitas hidup warga non-Jepang di Hindia, banyak masyarakat pribumi yang menderita dan mengalami pelanggaran hak asasi manusia di tangan Jepang.[36] Di Cilacap, sekolah tempat Soedirman mengajar ditutup dan dialih fungsikan menjadi pos militer;[37] ini adalah bagian dari upaya pemerintah untuk menutup sekolah-sekolah swasta.[g][38] Setelah Soedirman berhasil meyakinkan Jepang untuk membuka kembali sekolah, ia dan guru lainnya terpaksa menggunakan perlengkapan standar. Selama periode ini, Soedirman juga terlibat dalam beberapa organisasi sosial dan kemanusiaan, termasuk sebagai ketua Koperasi Bangsa Indonesia.[37] Hal ini membuatnya makin dihormati di kalangan masyarakat Cilacap.[39
Pada awal 1944, setelah menjabat selama satu tahun sebagai perwakilan di dewan karesidenan yang dijalankan oleh Jepang (Syu Sangikai),[40] Soedirman diminta untuk bergabung dengan tentara Pembela Tanah Air (PETA). Jepang sendiri mendirikan PETA pada Oktober 1943 untuk membantu menghalau invasi Sekutu,[40][41] dan berfokus dalam merekrut para pemuda yang belum "terkontaminasi" oleh pemerintah Belanda.[42] Meskipun sempat ragu-ragu, terutama karena cedera lutut yang dialaminya ketika masih remaja, Soedirman akhirnya setuju untuk memulai pelatihan di Bogor, Jawa Barat. Sehubungan dengan posisinya di masyarakat, Soedirman dijadikan sebagai komandan (daidanco) dan dilatih bersama orang lain dengan pangkat yang sama. Di Bogor, ia dilatih oleh para perwira dan tentara Jepang, para taruna dipersenjatai dengan peralatan yang disita dari Belanda. Setelah empat bulan pelatihan, Soedirman ditempatkan di batalion Kroya, Banyumas, Jawa Tengah, tidak jauh dari Cilacap.[h][40][41][43][44]
Jabatan Soedirman sebagai komandan PETA berlalu tanpa banyak peristiwa hingga tanggal 21 April 1945, ketika tentara PETA di bawah komando Kusaeri mulai melancarkan pemberontakan terhadap Jepang. Diperintahkan untuk menghentikan pemberontakan tersebut, Soedirman setuju untuk melakukannya dengan syarat agar pemberontak PETA tidak dibunuh, dan lokasi persembunyian mereka tidak dimusnahkan; syarat ini diterima oleh komandan Jepang, dan Soedirman beserta pasukannya mulai mencari para pemberontak. Meskipun anak buah Kusaeri berhasil menembak komandan Jepang, Soedirman melalui pengeras suara mengumumkan bahwa mereka tidak akan dibunuh, dan para pemberontak pun mundur.[45] Kusaeri menyerah pada tanggal 25 April.[i] Peristiwa ini meningkatkan dukungan terhadap Soedirman di kalangan tentara Jepang, meskipun beberapa perwira tinggi Jepang menyatakan keprihatinannya atas dukungan Soedirman bagi kemerdekaan Indonesia. Soedirman dan anak buahnya kemudian dikirim ke sebuah kamp di Bogor dengan alasan akan dilatih; tetapi sebenarnya mereka dipekerjakan sebagai pekerja kasar dalam upaya untuk mencegah pemberontakan lebih lanjut, dan desas-desus mengatakan bahwa perwira PETA akan dibunuh.[46]
Awal Kemerdekaan
Panglima Besar :
Setelah berita tentang pengeboman Hiroshima dan Nagasaki mencapai Hindia pada awal Agustus 1945, yang kemudian diikuti oleh proklamasi kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus,[46] kontrol Jepang sudah mulai melemah. Soedirman memimpin pelarian dari pusat penahanan di Bogor. Meskipun rekannya sesama tahanan ingin menyerang tentara Jepang, Soedirman menentang hal itu. Setelah memerintahkan yang lainnya untuk kembali ke kampung halamannya, Soedirman berangkat menuju Jakarta dan bertemu dengan Presiden Soekarno, yang memintanya untuk memimpin perlawanan terhadap pasukan Jepang di kota. Karena tidak terbiasa dengan lingkungan Jakarta, Soedirman menolaknya, ia malah menawarkan diri untuk memimpin pasukan di Kroya. Soedirman bergabung dengan pasukannya pada tanggal 19 Agustus 1945.[47][48] Pada saat yang bersamaan, pasukan Sekutu sedang dalam proses merebut kembali kepulauan Indonesia untuk Belanda,[j] tentara Inggris pertama kali tiba pada tanggal 8 September 1945.[49]
Pada tanggal 22 Agustus 1945, Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) dalam sidangnya memutuskan untuk membentuk tiga badan sebagai wadah untuk menyalurkan potensi perjuangan rakyat. Badan tersebut adalah Komite Nasional Indonesia (KNI), Partai Nasional Indonesia (PNI), dan Badan Keamanan Rakyat (BKR).[50] BKR merupakan bagian dari Badan Penolong Keluarga Korban Perang (BPKKP) yang semula bernama Badan Pembantu Prajurit, dan kemudian menjadi Badan Pembantu Pembelaan (BPP). BPP sudah ada sejak zaman Jepang dan bertugas memelihara kesejahteraan anggota-anggota tentara PETA dan Heihō.[50] Pada tanggal 18 Agustus 1945, Jepang membubarkan PETA dan Heihō. Tugas untuk menampung mantan anggota PETA dan Heihō ditangani oleh BPKKP.[51] Pembentukan BKR merupakan perubahan dari hasil sidang PPKI pada tanggal 19 Agustus 1945 yang telah memutuskan untuk membentuk Tentara Kebangsaan, yang diumumkan oleh Presiden Soekarno pada tanggal 23 Agustus 1945.[50] BKR ini berfungsi sebagai organisasi kepolisian,[52] terutama karena pemimpin politik saat itu yang berniat memanfaatkan diplomasi sebagai sarana penggalangan bantuan internasional terhadap negara baru, dan juga untuk memungkinan tentara Jepang melihatnya sebagai sebuah ancaman bersenjata sehingga mencegah kemunculan tentara Jepang yang masih ada di nusantara.[53]
Soedirman dan beberapa rekannya sesama tentara PETA mendirikan cabang BKR di Banyumas pada akhir Agustus, setelah sebelumnya singgah di Kroya dan mengetahui bahwa batalion di sana telah dibubarkan. Dalam pertemuannya dengan komandan wilayah Jepang, Saburo Tamura, dan Residen Banyumas, Iwashige, Soedirman dan Iskak Cokroadisuryo memaksa Jepang untuk menyerahkan diri dan memberikan senjata mereka, sementara kerumunan warga Indonesia bersenjata mengepung kamp Jepang. Sebagian besar senjata ini kemudian digunakan oleh unit BKR Soedirman, menjadikan unitnya sebagai salah satu unit dengan senjata terbaik di Indonesia; sisa senjata juga dibagikan kepada batalion lain.[54][55][56][57]
Sebagai negara yang baru merdeka dan belum memiliki militer yang profesional, pada tanggal 5 Oktober 1945 Soekarno mengeluarkan dekret pembentukan Tentara Keamanan Rakyat (TKR, sekarang dikenal dengan Tentara Nasional Indonesia). Sebagian besar personelnya adalah mantan tentara KNIL, sedangkan perwira tinggi berasal dari PETA dan Heihō.[58] Dekret mengangkat Soeprijadi sebagai Panglima Besar TKR, tetapi ia tidak muncul,[k] dan kepala staff Letnan Jenderal Oerip Soemohardjo ditetapkan sebagai pemimpin sementara.[59] Pada bulan Oktober, pasukan Inggris, yang bertugas melucuti senjata tentara Jepang dan memulangkan tawanan perang Belanda, tiba di Semarang, dan kemudian bergerak menuju Magelang. Ketika Inggris mulai mempersenjatai kembali tentara Belanda yang menjadi tawanan perang dan sepertinya sedang mempersiapkan sebuah pangkalan militer di Magelang, Soedirman—yang sekarang menjadi kolonel—mengirim beberapa pasukannya di bawah pimpinan Letnan Kolonel Isdiman untuk mengusir mereka; misi ini berhasil, dan tentara Eropa menarik diri dari Ambarawa, di tengah-tengah Magelang dan Semarang.[60] Pada 20 Oktober, Soedirman membawahi Divisi V[l] setelah Oerip membagi Pulau Jawa menjadi divisi militer yang berbeda.[61]
Pada tanggal 12 November 1945, dalam pertemuan pertama TKR, Soedirman terpilih sebagai pemimpin TKR setelah melalui pemungutan suara buntu dua tahap. Pada tahap ketiga, Oerip mengumpulkan 21 suara, sedangkan Soedirman unggul dengan 22 suara; para komandan divisi Sumatra semuanya memilih Soedirman.[m][62][63][64] Soedirman, yang saat itu berusia 29 tahun, terkejut atas hasil pemilihan dan menawarkan diri untuk melepas posisi tersebut kepada Oerip, tetapi para peserta rapat tidak mengizinkannya. Oerip, yang telah kehilangan kendali dalam pertemuan bahkan sebelum pemungutan suara dimulai, merasa senang karena tidak lagi bertanggung jawab atas TKR. Soedirman tetap menunjuk Oerip sebagai kepala staff. Sesuai dengan jabatan barunya, Soedirman dipromosikan menjadi Jenderal.[65][66][67] Setelah pertemuan, Soedirman kembali ke Banyumas sembari menunggu persetujuan pemerintah dan mulai mengembangkan strategi mengenai bagaimana mengusir tentara Sekutu.[66][68] Rakyat Indonesia khawatir bahwa Belanda, yang diboncengi oleh Nederlandsch Indië Civil Administratie (NICA), akan berupaya untuk merebut kembali nusantara. Tentara gabungan Belanda–Inggris telah mendarat di Jawa pada bulan September, dan pertempuran besar telah terjadi di Surabaya pada akhir Oktober dan awal November.[69] Ketidakstabilan ini, serta keraguan Soekarno atas kualifikasi Soedirman,[n] menyebabkan terlambatnya pengangkatan Soedirman sebagai pemimpin TKR.[70]
Sambil menunggu pengangkatan, pada akhir November Soedirman memerintahkan Divisi V untuk menyerang pasukan Sekutu di Ambarawa, sekali lagi dikomandoi oleh Isdiman; kota itu dianggap penting secara strategis karena memiliki barak militer dan fasilitas pelatihan yang sudah ada sejak zaman penjajahan. Serangan ini dilumpuhkan oleh serangan udara dan tank-tank Sekutu, yang memaksa divisi untuk mundur, Isdiman sendiri tewas dalam pertempuran, terbunuh oleh pemberondong P-51 Mustang.[71][72] Soedirman kemudian memimpin Divisi dalam serangan lain terhadap pasukan Sekutu; tentara Indonesia dipersenjatai dengan berbagai senjata, mulai dari bambu runcing dan katana sitaan sebagai senjata, sedangkan tentara Inggris dipersenjatai dengan peralatan modern. Soedirman memimpin di barisan depan sambil memegang sebuah katana.[73] Sekutu, yang fasilitas serangan udaranya telah musnah saat tentara gerilya menyerang Lapangan Udara Kalibanteng di Semarang, berhasil dipukul mundur dan bersembunyi di Benteng Willem. Pada 12 Desember, Soedirman memimpin pengepungan empat hari, yang menyebabkan pasukan Sekutu mundur ke Semarang.[o][68][74
Pertempuran Ambarawa membuat Soedirman lebih diperhatikan di tingkat nasional,[55] dan membungkam bisik-bisik yang menyatakan bahwa ia tidak layak menjadi pemimpin TKR karena kurangnya pengalaman militer dan pekerjaannya sebelumnya adalah guru sekolah.[75] Pada akhirnya, Soedirman dipilih karena kesetiaannya yang tidak diragukan, sementara kesetiaan Oerip kepada Belanda dipandang dengan penuh kecurigaan. Soedirman dikukuhkan sebagai panglima besar TKR pada tanggal 18 Desember 1945.[70] Posisinya sebagai kepala Divisi V digantikan oleh Kolonel Sutiro,[61] dan mulai berfokus pada masalah-masalah strategis.[76] Hal yang dilakukannya antara lain dengan membentuk dewan penasihat, yang bertugas memberikan saran mengenai masalah-masalah politik dan militer.[p] Oerip sendiri menangani masalah-masalah militer.[77]
Bersama-sama, Soedirman dan Oerip mampu mengurangi perbedaan dan rasa ketidakpercayaan yang tumbuh di antara mantan tentara KNIL dan PETA, meskipun beberapa tentara tidak bersedia tunduk kepada militer pusat, dan lebih memilih untuk mengikuti komandan batalion pilihan mereka. Pemerintah mengganti nama Angkatan Perang sebanyak dua kali pada Januari 1946, yang pertama adalah Tentara Keselamatan Rakjat, kemudian diganti lagi menjadi Tentara Repoeblik Indonesia (TRI).[78][79][80] Pergantian nama ini diakhiri dengan membentuk secara resmi angkatan laut dan angkatan udara pada awal 1946.[79] Sementara itu, pemerintah Indonesia memindahkan pusat pemerintahan dari Jakarta—yang berada di bawah kontrol Belanda—ke Yogyakarta pada bulan Januari; delegasi yang dipimpin oleh Perdana Menteri Sutan Sjahrir melakukan negosiasi dengan Belanda pada bulan April dan Mei terkait dengan pengakuan kedaulatan Indonesia, tetapi tidak berhasil.[81] Pada tanggal 25 Mei, Soedirman dikukuhkan kembali sebagai panglima besar setelah reorganisasi dan perluasan militer.[79][78][82] Dalam upacara pengangkatannya, Soedirman bersumpah untuk melindungi republik "sampai titik darah penghabisan."[q][83] Menteri Pertahanan yang berhaluan kiri, Amir Sjarifoeddin, memperoleh kekuasaan yang lebih besar setelah reorganisasi militer. Ia mulai mengumpulkan para tentara sosialis dan komunis di bawah kontrolnya, termasuk unit paramiliter (laskar) sayap kiri yang setia dan didanai oleh berbagai partai politik.[r] Sjarifuddin melembagakan program pendidikan politik di tubuh angkatan perang, yang bertujuan untuk menyebarkan ideologi sayap kiri. Memanfaatkan militer sebagai alat manuvering politik tidak disetujui oleh Soedirman dan Oerip, yang pada saat itu disibukkan dengan penerapan perlakuan yang sama bagi tentara dari latar belakang militer berbeda.[84][85][86] Namun, rumor yang beredar mengabarkan bahwa Soedirman sedang mempersiapkan sebuah kudeta;[87] upaya kudeta tersebut terjadi pada awal Juli 1946, dan peran Soedirman, kalaupun ada, tidak dapat dipastikan.[s][88] Pada bulan Juli, Soedirman mengonfirmasi rumor ini melalui pidato yang disiarkan di Radio Republik Indonesia (RRI), menyatakan bahwa ia, seperti semua rakyat Indonesia, adalah abdi negara,[87] dan jika dirinya ditawari jabatan presiden, ia akan menolaknya.[89] Di kemudian hari, ia menyatakan bahwa militer tidak memiliki tempat dalam politik, begitu juga sebaliknya.[90]
Negosiasi dengan Belanda :
Sementara itu, Sjahrir terus berusaha bernegosiasi dengan pasukan Sekutu. Pada tanggal 7 Oktober 1946, Sjahrir dan mantan Perdana Menteri Belanda, Wim Schermerhorn, sepakat untuk melakukan gencatan senjata. Perundingan ini dimoderatori oleh diplomat Inggris Lord Killearn, dan juga melibatkan Soedirman. Ia berangkat ke Jakarta dengan menggunakan kereta khusus pada tanggal 20 Oktober. Namun, ia diperintahkan untuk kembali ke Yogyakarta setelah tentara Belanda tidak mengizinkan dirinya dan anak buahnya memasuki Jakarta dengan bersenjata. Soedirman merasa bahwa perintah tersebut melanggar harga dirinya; Belanda kemudian meminta maaf, menyatakan bahwa peristiwa ini hanyalah kesalahpahaman. Soedirman berangkat dengan kereta lainnya pada akhir Oktober, dan tiba di Stasiun Gambir pada tanggal 1 November. Di Jakarta, ia disambut oleh kerumunan besar.[91][92] Perundingan di Jakarta berakhir dengan perumusan Perjanjian Linggarjati pada tanggal 15 November; perjanjian ini disahkan pada 25 Maret 1947, meskipun ditentang oleh para nasionalis Indonesia.[93][94] Soedirman secara lantang juga menentang perjanjian tersebut karena ia tahu bahwa perjanjian itu akan merugikan kepentingan Indonesia,[95] tetapi menganggap dirinya juga wajib mengikuti perintah.[96]
Pada awal 1947, kondisi sudah relatif damai setelah Perjanjian Linggarjati. Soedirman mulai berupaya untuk mengonsolidasikan TKR dengan berbagai laskar. Dalam upayanya ini, Soedirman mulai melaksanakan reorganisasi militer; kesepakatan baru bisa tercapai pada Mei 1947, dan pada 3 Juni 1947, Tentara Nasional Indonesia (TNI) diresmikan. TNI terdiri dari TKR dan tentara dari berbagai kelompok laskar,[95] yang berhasil dirangkul Soedirman setelah mengetahui bahwa mereka dimanfaatkan oleh partai-partai politik.[97] Namun, gencatan senjata yang berlangsung pasca Perjanjian Linggarjati tidak bertahan lama. Pada tanggal 21 Juli 1947, tentara Belanda—yang telah menduduki wilayah peninggalan Inggris selama penarikan mereka—melancarkan Agresi Militer, dan dengan cepat berhasil menguasai sebagian besar Jawa dan Sumatra. Meskipun demikian, pemerintahan pusat di Yogyakarta tetap tak tersentuh.[98] Soedirman menyerukan kepada para tentara untuk melawan dengan menggunakan semboyan "Ibu Pertiwi memanggil!,[t][99] dan kemudian menyampaikan beberapa pidato melalui RRI, tetapi upayanya ini gagal mendorong tentara untuk berperang melawan Belanda.[100] Terlebih lagi, tentara Indonesia sedang tidak siap dan pertahanan mereka ditaklukkan dengan cepat.[101]
Setelah ditekan oleh PBB, yang memandang situasi di bekas Hindia dengan remeh, pada 29 Agustus 1947 Belanda menciptakan Garis Van Mook. Garis ini membagi wilayah-wilayah yang dikuasai oleh Belanda dan Indonesia. Di sepanjang garis ini, gencatan senjata diberlakukan.[103] Soedirman memanggil para gerilyawan Indonesia yang bersembunyi di wilayah taklukan Belanda, memerintahkan mereka agar kembali ke wilayah yang dikuasai Indonesia. Untuk tetap mengobarkan semangat mereka, ia menyebut penarikan ini dengan hijrah, merujuk pada perjalanan nabi Muhammad ke Madinah pada tahun 622 M, dan meyakinkan bahwa mereka akan kembali.[104] Lebih dari 35.000 tentara meninggalkan Jawa bagian barat dan berangkat menuju Yogyakarta dengan menggunakan kereta dan kapal laut.[105] Perbatasan ini diresmikan melalui Perjanjian Renville pada 17 Januari 1948; penandatangan perjanjian ini di antaranya adalah Amir Sjarifuddin, yang pada saat itu menjabat sebagai perdana menteri.[103] Pada saat yang bersamaan, Sjarifuddin mulai merasionalisasi TNI (Program Re-Ra) dengan memangkas jumlah pasukan.[106] Pada saat itu, tentara reguler terdiri dari 350.000 personel, dan lebih dari 470.000 terdapat di laskar.[107]
Dengan adanya program ini, pada tanggal 2 Januari 1948 Presiden Soekarno mengeluarkan Keputusan Presiden No.1 Tahun 1948, yang memecah pucuk pimpinan TNI menjadi Staf Umum Angkatan Perang dan Markas Besar Pertempuran. Staf Umum dimasukkan ke dalam Kementerian Pertahanan di bawah seorang Kepala Staf Angkatan Perang (KASAP). Sementara itu, Markas Besar Pertempuran dipimpin oleh seorang Panglima Besar Angkatan Perang Mobil. Pucuk pimpinan TNI dan Staf Gabungan Angkatan Perang beserta seluruh perwira militer dihapus, dan pangkatnya diturunkan satu tingkat. Presiden kemudian mengangkat Soerjadi Soerjadarma sebagai Kepala Staf Angkatan Perang dengan Kolonel T.B. Simatupang sebagai wakilnya. Sebagai Panglima Besar Angkatan Perang Mobil diangkat Soedirman. Staf Umum Angkatan Perang bertugas sebagai perencana taktik dan siasat serta berkoordinasi dengan Kementerian Pertahanan, sedangkan Staf Markas Besar Angkatan Perang Mobil adalah pelaksana taktis operasional.[108
Keputusan Presiden ini menimbulkan reaksi di kalangan angkatan perang. Pada tanggal 27 Februari 1948, presiden mengeluarkan Ketetapan Presiden No.9 Tahun 1948 yang membatalkan ketetapan yang lama. Dalam ketetapan yang baru ini, Staf Angkatan Perang tetap di bawah Soerjadi Soerjadarma, sedangkan Markas Besar Pertempuran tetap di bawah Soedirman, ditambah wakil panglima yaitu Djenderal Major[u] A.H. Nasution. Angkatan perang berada di bawah seorang Kepala Staf Angkatan Perang (KASAP) yang membawahi Kepala Staf Angkatan Darat (KASAD), Kepala Staf Angkatan Laut (KASAL), dan Kepala Staf Angkatan Udara (KASAU). Dalam penataannya, organisasi ini dibagi menjadi 2 bagian; penataan kementerian dan pimpinan tertinggi ditangani oleh KASAP, sementara mengenai pasukan serta daerah-daerah pertahanan ditangani oleh Wakil Panglima Besar Angkatan Perang.
Tak lama setelah itu, Sjafruddin digulingkan dalam mosi tidak percaya atas keterlibatannya dalam Perjanjian Renville, dan perdana menteri yang baru, Mohammad Hatta, berupaya untuk menerapkan program rasionalisasi.[109][106][110] Hal ini menimbulkan perdebatan di antara kelompok yang pro dan anti-rasionalisasi. Soedirman menjadi tempat mengadu dan pendorong semangat bagi para tentara, termasuk sejumlah komandan senior yang menentang program rasionalisasi. Soedirman secara resmi dikembalikan ke posisinya pada tanggal 1 Juni 1948. Untuk menyelesaikan penataan organisasi ini, Soedirman membentuk sebuah panitia yang anggotanya ditunjuk oleh Panglima sendiri. Anggota panitia terdiri dari Djenderal Major Soesalit Djojoadhiningrat (mantan PETA dan laskar), Djenderal Major Suwardi (mantan KNIL) dan Djenderal Major A.H. Nasution dari perwira muda. Penataan organisasi TNI selesai pada akhir tahun 1948, setelah Panglima Tentara dan Teritorium Sumatra, Kolonel Hidajat Martaatmadja, menyelesaikan penataan organisasi tentara di Pulau Sumatra.[111]
Setelah program rasionalisasi mereda, Sjarifuddin mulai mengumpulkan tentara dari Partai Sosialis, Partai Komunis, dan anggota Sentral Organisasi Buruh Seluruh Indonesia untuk mengobarkan revolusi proletar di Madiun, Jawa Timur, yang berlangsung pada tanggal 18 September 1948. Soedirman, yang saat itu sedang sakit, mengirim Nasution untuk memadamkan revolusi;[112] Soedirman juga mengirim dua perwira lainnya sebagai antena perdamaian sebelum serangan. Meskipun pemimpin revolusi, Muso, telah sepakat untuk berdamai,[113] Nasution dan pasukannya berhasil menumpas pemberontakan pada 30 September.[v][112] Soedirman mengunjungi Madiun tidak lama setelah pertempuran; ia mengatakan kepada istrinya bahwa ia tidak bisa tidur di sana karena pertumpahan darah yang terjadi.[114]
Pemberontakan di Madiun, dan ketidakstabilan politik yang sedang berlangsung, melemahkan kondisi kesehatan Soedirman. Pada tanggal 5 Oktober 1948, setelah perayaan hari jadi TNI ketiga, Soedirman pingsan. Setelah diperiksa oleh berbagai dokter, ia didiagnosis mengidap tuberkulosis (TBC). Pada akhir bulan, ia dibawa ke Rumah Sakit Umum Panti Rapih dan menjalani pengempesan paru-paru kanan, dengan harapan bahwa tindakan ini akan menghentikan penyebaran penyakit tersebut. Selama di rumah sakit, ia melimpahkan sebagian tugas kepada Nasution. Mereka berdua terus mendiskusikan rencana untuk berperang melawan Belanda, dan Soedirman secara rutin menerima laporan. Mereka sepakat bahwa perang gerilya, yang telah diterapkan di wilayah taklukan Belanda sejak bulan Mei, adalah perang yang paling cocok bagi kepentingan mereka; untuk mewujudkan hal ini, Soedirman mengeluarkan perintah umum pada 11 November,[115][116] dan persiapannya ditangani oleh Nasution.[w][117] Soedirman dipulangkan dari rumah sakit pada tanggal 28 November 1948.[115][116]
Meskipun ia terus mengeluarkan perintah, Soedirman baru kembali aktif bertugas pada tanggal 17 Desember. Seiring dengan makin meningkatnya ketegangan antara tentara Indonesia dan Belanda, ia memerintahkan TNI untuk meningkatkan kewaspadaan;[118] ia juga memerintahkan latihan militer skala besar dalam upayanya–yang gagal–untuk meyakinkan Belanda bahwa TNI terlalu kuat untuk diserang.[119] Dua hari kemudian, diumumkan bahwa mereka tak lagi terikat dengan Perjanjian Renville. Pada 19 Desember, Belanda melancarkan Agresi Militer Kedua untuk merebut ibu kota Yogyakarta. Pukul 07.00 Waktu Indonesia Barat, lapangan udara di Maguwo berhasil diambil alih oleh pasukan Belanda di bawah pimpinan Kapten Eekhout. Soedirman, yang telah menyadari serangan itu, memerintahkan stasiun RRI untuk menyiarkan pernyataan bahwa para tentara harus melawan karena mereka telah dilatih—sebagai gerilyawan.[120]
Perintah Kilat[x]
No. 1/PB/D/48
Kita telah diserang.
Pada tanggal 19 Desember 1948 Angkatan Perang Belanda menyerang kota Yogyakarta dan lapangan terbang Maguwo.
Pemerintah Belanda telah membatalkan persetujuan Gencatan Senjata.
Semua Angkatan Perang menjalankan rencana yang telah ditetapkan untuk menghadapi serangan Belanda.
Pidato radio Soedirman, dari (Imran 1980, hlm. 55)
Soedirman kemudian mengunjungi Istana Presiden di Yogyakarta, tempat para pemimpin pemerintahan sedang mendiskusikan ultimatum yang menyatakan bahwa kota itu akan diserbu kecuali para pemimpin menerima kekuasaan kolonial. Soedirman mendesak presiden dan wakil presiden agar meninggalkan kota dan berperang sebagai gerilyawan, tetapi sarannya ini ditolak. Meskipun dokter melarangnya, Soedirman mendapat izin dari Soekarno untuk bergabung dengan anak buahnya. Pemerintah pusat dievakuasi ke Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat atas desakan Sultan Hamengkubuwono IX, tetapi mereka tertangkap dan diasingkan.[121
[1/7 08.31] rudysugengp@gmail.com: Lanjutkan Urip
[1/7 08.35] rudysugengp@gmail.com: 1. Buatkan gambar dan infografis tentang
Biodata Urip Sumoharjo
Jenderal TNI (Anumerta) Raden Oerip Soemohardjo (EYD: Urip Sumoharjo; 22 Februari 1893 – 17 November 1948) adalah seorang jenderal dan kepala staf umum Tentara Nasional Indonesia pertama pada masa Revolusi Nasional Indonesia, dan pada tanggal 10 Desember 1964 dengan adanya surat Keputusan Presiden no. 314 tahun 1964 secara resmi ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia bersama dengan Jenderal Besar Soedirman.
Lahir : Muhammad Sidik
22 Februari 1893, Purworejo, Hindia Belanda
Meninggal : 17 November 1948 (umur 55), Yogyakarta, Indonesia
Makam : TMP Kusuma Negara, Kota Yogyakarta, Yogyakarta
Istri : Rohmah Soebroto
Pendidikan :
Opleiding School Voor Inlandsche Ambtenaren
Lahir di Purworejo, Hindia Belanda, Oerip kecil adalah anak nakal yang sudah memperlihatkan kemampuan memimpin sejak usia dini. Orangtuanya menginginkan dirinya untuk mengikuti jejak kakeknya sebagai bupati, oleh sebab itu, setamat sekolah dasar, ia dikirim ke Sekolah Pendidikan Pegawai Pribumi (OSVIA) di Magelang. Ibunya wafat saat ia menjalani tahun kedua di sekolah, dan Oerip berhenti sekolah untuk mengikuti pelatihan militer di Meester Cornelis, Batavia (kini Jatinegara, Jakarta). Setelah lulus pada tahun 1914, ia menjadi letnan di Koninklijk Nederlands-Indische Leger (KNIL), tentara pemerintah kolonial Belanda. Bertugas selama hampir 25 tahun, ia ditempatkan di tiga pulau berbeda dan dipromosikan beberapa kali, dan akhirnya menjadi perwira pribumi dengan pangkat tertinggi di KNIL.
Raden Oerip Soemohardjo mengundurkan diri dari jabatannya sekitar tahun 1938 setelah berselisih dengan Bupati Purworejo, tempat ia ditempatkan. Oerip dan istrinya, Rohmah, kemudian pindah ke sebuah desa di dekat Yogyakarta. Di sana, mereka membangun sebuah vila dan kebun bunga yang luas. Setelah Jerman Nazi menginvasi Belanda pada bulan Mei 1940, Oerip dipanggil kembali untuk bertugas. Ketika Kekaisaran Jepang menduduki Hindia dua tahun kemudian, Oerip ditangkap dan ditahan di kamp tawanan perang selama tiga setengah bulan. Ia melalui sisa masa pendudukan Jepang di vilanya.
Pada tanggal 14 Oktober 1945, beberapa bulan setelah Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya, Oerip ditetapkan sebagai kepala staf dan pemimpin sementara angkatan perang yang baru dibentuk. Oerip berupaya untuk menyatukan kekuatan kelompok-kelompok militer yang terpecah-pecah di Indonesia. Pada 12 November 1945, Jenderal Soedirman terpilih sebagai panglima angkatan perang setelah melalui dua tahap pemungutan suara buntu. Oerip tetap menjabat sebagai kepala staf, dan mereka berdua sama-sama mengawasi pembangunan angkatan perang pada masa Revolusi Nasional Indonesia. Merasa muak atas kurangnya kepercayaan pemerintah terhadap militer dan manuver politik yang terjadi di tubuh militer, Oerip akhirnya mengundurkan diri pada awal 1948. Mengidap lemah jantung, kondisi kesehatannya memburuk dan ia wafat karena serangan jantung beberapa bulan kemudian. Berpangkat letnan jenderal pada saat kematiannya, Oerip secara anumerta dipromosikan menjadi jenderal penuh. Ia menerima beberapa penghargaan dari pemerintah Indonesia, termasuk gelar Pahlawan Nasional Indonesia pada tahun 1964.
[1/7 08.42] rudysugengp@gmail.com: 2. Buatkan gambar dan infografis tentang
Kehidupan Awal Urip Sumoharjo
Oerip Soemohardjo lahir dengan nama Muhammad Sidik ("Muhammad Kecil") di rumah keluarganya di Sindurjan, Purworejo, Hindia Belanda, pada tanggal 22 Februari 1893.
Ia adalah putra pertama dari pasangan Soemohardjo, seorang kepala sekolah dan putra tokoh Muslim setempat, dan istrinya, putri dari Raden Tumenggung Widjojokoesoemo, bupati Trenggalek; pasangan ini kemudian memiliki dua putra lagi, Iskandar dan Soekirno,
serta tiga orang putri.
Putra-putranya sebagian dibesarkan oleh pembantu, dan pada usia muda Sidik mulai menunjukkan kualitas pemimpin, ia memimpin kelompok anak-anak di lingkungannya ketika memancing dan bermain sepak bola. Ketiga saudara ini bersekolah di sekolah untuk suku Jawa yang dikepalai oleh ayah mereka, oleh sebab itu mereka menerima perlakuan khusus. Hal ini menyebabkan mereka menjadi nakal dan berpuas diri.
Pada tahun kedua sekolahnya, Sidik jatuh dari pohon kemiri dan kehilangan kesadaran.
Setelah sadar, ibunya mengirim surat kepada Widjojokoesoemo, mengungkapkan bahwa nama Sidik adalah penyebab perilaku buruknya.
Sebagai balasan, Widjojokoesoemo menyarankan bahwa Sidik harus diganti dengan Oerip, yang berarti "hidup".
Saat ia sembuh, keluarganya memutuskan untuk menamainya kembali dengan nama Oerip, meskipun kelakuannya tetap saja buruk. Ia kemudian dikirim ke Sekolah Putri Belanda ([Europese Lagere Meisjesschool], sekolah untuk putra sudah penuh dan orangtuanya berharap bahwa sekolah putri akan meningkatkan kemampuan Oerip dalam berbahasa Belanda, juga mengubah temperamennya. Setelah belajar satu tahun di sekolah putri, Oerip menjadi lebih kalem, ia lalu dikirim ke sekolah Belanda untuk putra.
Meskipun demikian, nilai akedemiknya tetap buruk.
Pada tahun terakhirnya di sekolah dasar, ia sering mengunjungi teman ayahnya, seorang mantan tentara yang pernah bertugas di Aceh selama dua puluh tahun, untuk mendengarkan cerita dari pria tua itu. Hal ini kemudian menginspirasi Oerip untuk bergabung dengan Koninklijk Nederlands-Indische Leger (KNIL).
Setelah lulus ujian calon pegawai negeri dan persiapan selama beberapa bulan, Oerip pindah ke Magelang pada tahun 1908 untuk melanjutkan pendidikan ke Sekolah Pendidikan Pegawai Pribumi ([Opleidingsschool Voor Inlandse Ambtenaren], orangtuanya ingin Oerip menjadi bupati seperti kakeknya.
Setahun kemudian, adik-adiknya menyusulnya ke OSVIA.
Setelah ibunya meninggal dunia pada tahun 1909, Oerip tenggelam dalam depresi selama berbulan-bulan[6] dan berubah menjadi penyendiri.
Pada tahun terakhirnya di OSVIA, Oerip memutuskan untuk mendaftar ke akademi militer di Meester Cornelis, Batavia (kini Jatinegara, Jakarta). Ia berangkat ke sana langsung dari Magelang, dan mengatakan kepada adik-adiknya untuk memberi tahu ayah mereka, yang tidak setuju dengan pilihan putranya.
Soemohardjo pada awalnya berusaha untuk membujuk putranya agar kembali ke OSVIA dengan memberinya uang 1.000 gulden, tetapi akhirnya menyetujui pilihan Oerip untuk masuk akademi militer.
Setelah pelatihan, yang menurutnya menyenangkan, Oerip lulus dari akademi militer pada bulan Oktober 1914 dan menjadi letnan dua di KNIL.
[1/7 09.32] rudysugengp@gmail.com: 3. Buatkan gambar dan infografis tentang
Perjuangan hingga Akhir Hayat Urip Sumoharjo
Masuk KNIL :
Setelah mengunjungi ayahnya di Purworejo selama beberapa hari, Oerip kembali ke Meester Cornelis, tempat ia menjabat di Batalion XII.
Meskipun ia adalah pria terkecil dan satu-satunya pribumi di unitnya, ia diserahi jabatan pemimpin. Satu setengah tahun kemudian, ia dikirim ke Banjarmasin, Borneo.
Setelah melewati masa-masa berpatroli di belantara Puruk Cahu dan Muara Tewe, ia dikirim ke Tanah Grogot, kemudian ke Balikpapan. Saat ditempatkan di sana, Oerip dipromosikan menjadi letnan satu, tetapi menghadapi diskriminasi dari tentara Belanda karena ia berasal dari kalangan pribumi. Di Banjarmasin, ia meyakinkan komandannya untuk mengeluarkan peraturan yang memperbolehkan perwira non-Belanda bergabung dengan tim sepak bola, dan pada tahun 1917 ia telah menerima status hukum yang sama dengan tentara Belanda.
Setelah Balikpapan, Oerip dikirim ke Samarinda, Tarakan, dan terakhir ke Malinau.
Di Malinau, Oerip berpatroli di perbatasan Kerajaan Sarawak (kini bagian dari Malaysia) yang dikuasai oleh Hindia Belanda dan Inggris; ia juga bertugas mencegah konflik dan pengayauan antar suku Dayak.
Suatu hari, tujuh tahun setelah tiba di Borneo, Oerip baru saja selesai berpatroli dan menemukan rumahnya sudah dibakar. Atas rekomendasi seorang dokter, Oerip kembali ke Jawa, melalui Tarakan dan Surabaya, dan tiba di Cimahi. Di Cimahi, Oerip mengistirahatkan diri selama beberapa bulan.
Pernikahan :
Setelah pulih total, pada tahun 1923 Oerip ditempatkan di kampung halamannya, Purworejo.
Pada September 1925, Oerip dipindahkan ke Magelang dan bertugas di Maréchaussée te Voet, sebuah unit militer bentukan KNIL.[29] Meski awalnya Oerip diketahui adalah pria yang kerap menghindari wanita, di bawah tekanan untuk segera menikah, Oerip berkenalan dengan Rohmah Soebroto, putri dari Soebroto, mantan guru bahasa Jawa dan Melayu-nya, yang juga kerabat jauh tokoh emansipasi wanita Kartini.
Sejoli ini bertunangan pada tanggal 7 Mei 1926 dan menikah pada 30 Juni pada tahun yang sama.
Di Magelang, Oerip menggunakan nama ayahnya sebagai nama belakang untuk berurusan dengan Belanda.
Setelah itu, ia mulai menyebut dirinya dengan nama lengkap Oerip Soemohardjo, meskipun orang lain terus memanggilnya Oerip.
Setahun setelah pernikahannya, Oerip dan istrinya ditempatkan di Ambarawa. Di sana, Oerip ditugaskan untuk membangun kembali unit KNIL yang telah dibubarkan sebelumnya.
Sambil melatih prajurit lokal menggantikan komandan Belanda yang belum tiba, Oerip dipromosikan menjadi kapten.
Setelah komandan Belanda tiba, pada Juli 1928 Oerip diberi cuti satu tahun, yang ia manfaatkan untuk melakukan perjalanan wisata ke seluruh Eropa bersama istrinya. Sekembalinya ke Hindia, ia ditempatkakan di Meester Cornelis.
Di Meester Cornelis, Oerip mulai menjalankan latihan militer; saat ditempatkan di sana, ayahnya meninggal dunia.[34] Pada 1933, ia dikirim ke Padang Panjang di Sumatra untuk menangani kerusuhan yang menewaskan beberapa perwira Belanda. Di Padang Panjang, ia melalui hari-harinya tanpa banyak peristiwa, dan bulan Juli 1935 ia diberi cuti untuk bepergian ke Eropa sekali lagi. Oerip juga dipromosikan menjadi mayor pada saat itu, yang menjadikannya sebagai perwira pribumi dengan pangkat tertinggi di KNIL. Setahun kemudian, setelah kembali ke Hindia, ia ditempatkan di Purworejo.
Pada pertengahan 1938, setelah berselisih dengan bupati setempat, Oerip dipindahkan ke Gombong; ia menolaknya, dan kemudian keluar dari KNIL dan pindah ke rumah mertuanya di Yogyakarta.
Warga sipil dan pendudukan Jepang :
Di Yogyakarta, Oerip yang tidak bekerja menghabiskan waktunya dengan berkebun anggrek. Setiba di Yogyakarta, istrinya membeli sebuah vila di Gentan, di sebelah utara kota. Meskipun vilanya kecil, pasangan tersebut memanfaatkan lahan seluas 2 hektare (4,9 ekar) untuk berkebun bunga, dengan biaya hidup berasal dari uang pensiun Oerip di KNIL.[42] Di vilanya, yang bernama KEM (Klaarheid en Moed)/ "Kemurnian dan Keberanian"), Oerip kerap menerima tamu, baik yang berasal dari kalangan militer maupun warga sipil. Lewat tamu-tamu ini, ia menerima informasi mengenai peristiwa terkini dan memberikan saran tentang masalah-masalah militer dan politik.
Pada tahun 1940, pasangan ini mengadopsi seorang gadis Belanda berusia empat tahun bernama Abby dari sebuah panti asuhan di Semarang.
Tak lama kemudian, pada tanggal 10 Mei 1940, setelah Jerman Nazi menginvasi Belanda, Oerip dipanggil kembali untuk bertugas. Tiga hari setelah melapor kepada Kolonel Pik di Magelang, ia berangkat ke markas KNIL di Bandung.
Di sana, ia menjadi perwira pensiunan pertama yang melapor.[46] Setelah itu, Oerip bersama keluarganya dipindahkan ke Cimahi, dan ia ditugaskan untuk membangun depot batalion baru. beberapa perwira pribumi ditempatkan di bagian utara Hindia pada tahun 1941 untuk berjaga-jaga jika Kekaisaran Jepang menyerang, tetapi Oerip tetap berada di Cimahi.
Setelah Jepang menduduki Hindia pada awal 1942, Oerip ditangkap dan dijebloskan ke kamp penahanan tawanan perang di Cimahi. Setelah dibebaskan tiga setengah bulan kemudian, Oerip menolak untuk membentuk pasukan kepolisian baru yang disponsori oleh Jepang, dan kembali ke KEM.
Di KEM, ia dan istrinya menyewa sawah dan menanaminya dengan padi sambil terus melanjutkan kegiatan berkebun. Untuk melindungi lahan mereka, Oerip melindungi tanah dan rumahnya dengan pagar bambu yang tinggi.[50] Meskipun tak lagi aktif di militer, Oerip sesekali juga menerima tamu mantan anggota KNIL di vilanya, termasuk Abdul Haris Nasution dan Sunarmo, yang membawa kabar terkini mengenai peristiwa yang terjadi di luar desa. Pasangan ini terus melanjutkan aktivitas mereka sebagai warga sipil, kadang diganggu dan diawasi oleh orang Jepang dan orang Indonesia yang pro-Jepang, sampai pengeboman Hiroshima dan Nagasaki pada awal Agustus 1945, yang menandakan bahwa Jepang akan segera mundur dari Indonesia.
Selama periode ini, Oerip mulai mengalami masalah jantung.
Revolusi Nasional :
Setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945, Oerip dan keluarganya meninggalkan KEM dan pindah ke rumah orangtua Rohmah di Yogyakarta.
Setelah Badan Keamanan Rakyat (BKR) didirikan pada tanggal 23 Agustus, Oerip memimpin sekelompok komandan militer mengajukan petisi untuk membentuk formasi militer nasional.
Sementara itu, kelompok terpisah yang dipimpin oleh politikus Oto Iskandar di Nata menginginkan agar BKR menjadi organisasi kepolisian.
Para pemimpin politik, yang terdiri dari Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Muhammad Hatta, sepakat untuk berunding; BKR akhirnya ditetapkan sebagai organisasi kepolisian, tetapi sebagian besar anggotanya pernah bertugas di militer, baik Pembela Tanah Air (PETA) maupun Heihō.
Pada 14 Oktober 1945 – sembilan hari setelah Tentara Keamanan Rakyat didirikan secara resmi – Oerip ditetapkan sebagai Kepala Staf dan panglima sementara, dan segera berangkat menuju Jakarta.
Dalam rapat kabinet keesokan harinya, Oerip diperintahkan untuk membentuk angkatan perang nasional yang bermarkas di Yogyakarta, dalam persiapan untuk menghadapi serangan yang mungkin akan dilancarkan oleh pasukan Belanda untuk merebut kembali Hindia.
Ia berangkat ke Yogyakarta pada 16 Oktober, dan tiba keesokan harinya. Oerip pertama-tama mendirikan markas di sebuah kamar di Hotel Merdeka, yang digunakannya sampai Sultan Yogyakarta Hamengkubuwono IX menyumbangkan tanah dan bangunan untuk digunakan oleh para tentara.
Karena BKR tersebar di bawah pimpinan para komandan independen di seluruh negeri, angkatan perang yang baru dibentuk, Tentara Keamanan Rakyat (TKR, sekarang dikenal dengan Tentara Nasional Indonesia), berupaya untuk merangkul perwira pribumi yang berasal dari mantan anggota KNIL.
Namun, para perwira ini dipandang dengan penuh kecurigaan oleh para nasionalis Indonesia karena pernah bertugas di angkatan perang Belanda. Sementara itu, jajaran anggota TKR diambil dari sejumlah kelompok, termasuk mantan tentara PETA, para pemuda, dan BKR. Meskipun Oerip berhasil memusatkan komando, pada kenyataannya hierarki angkatan perang bersifat kedaerahan dan sangat bergantung pada kekuatan unit daerah.
Sesuai keputusan pemerintah pada tanggal 20 Oktober, Oerip menjadi bawahan dari Menteri Pertahanan Soeljoadikoesoemo dan Panglima Angkatan Perang Soeprijadi. Namun, Soeprijadi tidak muncul untuk mengemban tugas-tugasnya. Soeprijadi adalah seorang tentara PETA yang memimpin pemberontakan terhadap pasukan Jepang di Blitar pada bulan Februari 1945, dan diyakini sudah tewas.
Posisi Soeljohadikosomo juga tak terisi, dan pemimpin gerilya Moestopo menyatakan dirinya sebagai Menteri Pertahanan.
Dengan demikian, Oerip merasa agak diawasi dan ditekan untuk segera membentuk struktur militer yang stabil. Pada tanggal 2 November, ia menunjuk komandan untuk menangani operasi militer di berbagai daerah di Indonesia: Didi Kartasasmita di Jawa Barat, Soeratman di Jawa Tengah, Muhammad di Jawa Timur, dan Soehardjo Hardjowardojo di Sumatra; masing-masing komandan ini diberi pangkat mayor jenderal. Oerip juga mulai menyalurkan senjata ke berbagai unit TKR. Ia mengambil alih senjata yang disita dari Jepang dan medistribusikannya sesuai kebutuhan. Namun, hasilnya kurang sesuai dengan yang ia harapkan. PETA telah dikelola secara kedaerahan pada masa pendudukan Jepang, dan para anggotanya tidak bersedia menerima kepemimpinan pusat.
Oerip dengan lantang menentang hasil Perjanjian Renville; perjanjian tersebut menyebabkan ditariknya 35.000 tentara Indonesia dari Jawa Barat dan diresmikannya Garis Van Mook, yang memisahkan wilayah kekuasaan Belanda dan Indonesia. Ia memandang perjanjian tersebut, yang disahkan pada 17 Januari 1948, sebagai taktik mengulur-gulur yang memberi Belanda kesempatan untuk memperkuat pasukannya.
Sementara itu, Amir Sjarifuddin – yang saat itu menjabat sebagai perdana menteri – mulai merekrut tentara yang berhaluan kiri. Muak dengan sikap pemerintah yang menurutnya kurang percaya pada militer, Oerip mengajukan pengunduran dirinya,[79] tetapi tetap bertugas sebagai penasihat Menteri Pertahanan sekaligus Wakil Presiden, Muhammad Hatta.
Wafat :
Setelah beberapa bulan berada dalam kondisi lemah dan menjalani perawatan dari Dr. Sim Ki Ay, pada malam 17 November 1948 Oerip ambruk dan wafat di kamarnya di Yogyakarta akibat serangan jantung.
Setelah disemayamkan selama semalam, ia dikebumikan keesokan harinya di Taman Makam Pahlawan Semaki dan secara anumerta dipromosikan sebagai jenderal.
Saat Soedirman mengancam akan mengundurkan diri pada tahun 1949, ia menyalahkan ketidak-konsistenan pemerintah selama revolusi-lah yang menyebabkan kematian Oerip, dan juga penyebab penyakit TBC yang diidapnya.
Oerip meninggalkan seorang istri dan putri angkat bernama Abby. Abby meninggal dunia karena malaria pada Januari 1951, dan Rohmah wafat pada tanggal 29 Oktober di Semarang; ia dimakamkan di Ungaran.
Warisan :
Oerip menerima sejumlah tanda kehormatan dari pemerintah secara anumerta, termasuk Bintang Sakti (1959), Bintang Mahaputra (1960), Bintang Republik Indonesia Adipurna (1967), dan Bintang Kartika Eka Pakçi Utama (1968).[k][2] Pada tanggal 10 Desember 1964, Oerip ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia melalui Keputusan Presiden No. 314 Tahun 1964. Soedirman juga dinyatakan sebagai pahlawan nasional oleh keputusan yang sama.
Pada tanggal 22 Februari 1964, akademi militer Indonesia di Magelang mendedikasikan sebuah tugu untuk dirinya, dan menggambarkan Oerip sebagai "seorang putra Indonesia yang mengagungkan karya daripada kata, yang mengutamakan Dharma daripada minta."
Gereja Katolik di akademi tersebut juga menyimpan piala dari Paus Paulus VI yang dibawa oleh Kardinal Monsinyur Darmojuwono pada natal 1964, yang bertuliskan "In memori ducis militum Benedicti Oerip Soemohardjo pro Aede sacra Pro aede sacra, Academiae militaris, Indonesianae, D.D., Anno MCMLXIV" dan sejak tahun 1965 disimpan sebagai dedikasi untuk Oerip, yang berawal dari perbincangan antara Rohmah dan teman misionarisnya. Beberapa jalan juga dinamakan untuk menghormati Oerip, termasuk di kampung halamannya Purworejo, [94] di Yogyakarta, dan di ibu kota Jakarta.
[1/7 10.31] rudysugengp@gmail.com: Buatkan gambar dan infografis tentang
Kongres Perempuan I di Indonesia
Kongres Perempuan Indonesia I yang diselenggarakan pada 22-25 Desember 1928 di Yogyakarta menjadi tonggak lahirnya Hari Ibu.
Perhelatan bersejarah ini digagas dan dipimpin oleh tiga tokoh penggerak utama:
Sujatin Kartowijono: Penggagas sekaligus aktivis muda yang memunculkan ide awal kongres.
R.A. Sukonto:
Ketua panitia Kongres Perempuan Indonesia I.
Nyi Hajar Dewantara: Wakil ketua panitia yang berperan aktif menyatukan berbagai organisasi wanita.
[1/7 23.20] rudysugengp@gmail.com: 1. Buatkan gambar dan infografis tentang
Biodata Laksamana Malahayati
Untuk kegunaan lain, lihat Malahayati (disambiguasi).
Keumalahayati atau Malahayati (1 Januari 1550 – 30 Juni 1606) adalah seorang pejuang perempuan Aceh yang berasal dari Kesultanan Aceh. Nama "Malahayati" kemungkinan besar berasal dari bahasa Arab "Hayati" yang berarti kehidupan.
Lahir :
1 Januari 1550
Aceh Besar, Kesultanan Aceh
Meninggal :
30 Juni 1606 (umur 56)
Tanjung Krueng Raya, Kesultanan Aceh
Dikebumikan :
Krueng Raya, Lamreh, Aceh Besar
Pengabdian :
Kesultanan Aceh
Dinas/cabang
Inong Balee
Lama dinas :
1585–1606
Pangkat :
Laksamana TNI
Perang/pertempuran
Perang Aceh–Belanda (1599)
Pertempuran Aceh (1599)
Konflik Aceh–Portugal
Penyerangan Melaka (1575)
Pertempuran Tanjung Parit :
Ekspedisi Aceh (1606)
Pahlawan Nasional Indonesia
S.K. Presiden No. 115/TK/2017 tanggal 6 November 2017.
Ia dibesarkan dalam lingkungan yang mengutamakan pendidikan militer dan strategi perang, yang kelak membentuknya menjadi seorang panglima angkatan laut. Ayahnya bernama Laksamana Mahmud Syah. Kakeknya dari garis ayahnya adalah Laksamana Muhammad Said Syah, putra dari Sultan Salahuddin Syah yang memerintah sekitar tahun 1530–1539 M. Adapun Sultan Salahuddin Syah adalah putra dari Sultan Ibrahim Ali Mughayat Syah (1513–1530 M), yang merupakan pendiri Kerajaan Aceh Darussalam.
Pada tahun 1585–1604, dia memegang jabatan Kepala Barisan Pengawal Istana Panglima Rahasia dan Panglima Protokol Pemerintah dari Sultan Saidil Mukammil Alauddin Riayat Syah IV.
Malahayati memimpin 2.000 orang pasukan Inong Balee (janda-janda pahlawan yang telah syahid) berperang melawan kapal-kapal dan benteng-benteng Belanda tanggal 11 September 1599 sekaligus membunuh Cornelis de Houtman dalam pertempuran satu lawan satu di geladak kapal. Dia mendapat gelar Laksamana untuk keberaniannya ini, sehingga ia kemudian lebih dikenal dengan nama Laksamana Malahayati. Saat meninggal dunia, jasad Malahayati dikebumikan di bukit Krueng Raya, Lamreh, Aceh Besar.
Laksamana Malahayati meninggal dunia pada tahun 1615. Makamnya terletak di Desa Lamreh, Kecamatan Krueng Raya, Kabupaten Aceh Besar. Laksamana Malahayati mendapatkan gelar sebagai Pahlawan Nasional pada tanggal 9 November 2017 bersama dengan 3 orang lainnya.
Makam Malahayati di bukit Krueng Raya, Aceh Besar
[1/7 23.21] rudysugengp@gmail.com: 2. Buatkan gambar dan infografis tentang
Perjuangan Melawan Penjajah.
Pendidikan Angkatan Laut :
Laksamana Malahayati dikenal juga dengan nama Keumalahayati. Ia dilahirkan di Aceh Besar pada tahun 1550. Pada masa kanak-kanak dan remaja ia mendapat pendidikan istana. Malahayati masih berkerabat dengan Sultan Aceh. Ayah dan kakeknya berbakti di Kesultanan Aceh sebagai Panglima Angkatan Laut. Dari situlah semangat kelautan Malahayati muncul. Ia kemudian mengikuti jejak ayah dan kakeknya dengan menempuh pendidikan militer jurusan angkatan laut di akademi Baitul Maqdis.
Malahayati menempuh pendidikan militer di Ma’had Baitul Maqdis, yaitu akademi militer Kesultanan Aceh yang secara khusus melatih calon perwira dan pemimpin militer. Di lembaga ini, ia mempelajari berbagai keterampilan penting seperti strategi perang, taktik maritim, serta seni pelayaran dan pertempuran di lautan. Pada masa itu, Kesultanan Aceh memiliki hubungan yang erat dengan dunia Islam, sehingga sistem pendidikan militernya juga dipengaruhi dan mengadopsi teknik serta strategi dari Kesultanan Utsmaniyah dan kawasan Timur Tengah. Dalam beberapa sumber, lembaga ini juga disebut sebagai Pusat Pendidikan Asykar Baitul Makdis, tempat para calon prajurit Aceh dilatih secara terstruktur oleh para perwira dari Turki sebagai bagian dari kerja sama antara Kesultanan Aceh Darussalam dan Kesultanan Utsmaniyah.
Memimpin Inong Balee :
Pasukan Inong Balee terbentuk pada masa Sultan Alaydin Ali Riayat Syah IV Saydil Muqammil yang memerintah Kerajaan Aceh pada 997 hingga 1011 M (1589-1604). Inong Balee memiliki pasukan sejumlah 2.000 orang, pasukan ini ditakuti oleh perairan pesisir Aceh Besar serta Selat Malaka. Sultan juga membekali pasukan Inong Balee dengan 100 unit kapal perang ukuran besar berkapasitas masing-masing 400 pasukan. Pasukan Inong Balee mulai dilibatkan dalam beberapa peperangan melawan Portugis dan Belanda.
Perjuangan Malahayati dalam melawan penjajah dimulai setelah terjadinya pertempuran laut di Teluk Aru (sering juga disebut Teluk Haru), pada masa pemerintahan Sultan Alaidin Riayat Syah Al Mukamil. Dalam pertempuran tersebut, armada laut Kesultanan Aceh yang dipimpin langsung oleh Sultan dengan bantuan dua orang laksamana berhasil menghadapi armada Portugis di kawasan Selat Malaka. Pertempuran itu berakhir dengan hancurnya armada Portugis, meskipun sekitar seribu prajurit Aceh dan dua laksamana gugur. Salah satu laksamana yang gugur adalah Laksamana Zainal Abidin, yang merupakan suami Malahayati. Saat itu, Malahayati juga menjabat sebagai Komandan Protokol Istana Darud Dunia. Kemenangan besar tersebut membawa kegembiraan bagi Kesultanan Aceh, tetapi bagi Malahayati hal itu bercampur dengan duka mendalam karena kehilangan suaminya di medan perang.
Dalam keadaan berduka, sekaligus diliputi rasa marah dan tekad untuk melanjutkan perjuangan, Malahayati kemudian mengusulkan kepada Sultan agar dibentuk sebuah pasukan khusus yang beranggotakan para janda prajurit Aceh yang gugur dalam pertempuran Teluk Aru. Usulan tersebut disetujui oleh Sultan. Dari keputusan itu lahirlah Armada Inong Balee (Armada Wanita Janda), yaitu armada yang terdiri dari para janda pejuang. Malahayati dipercaya menjadi pemimpin armada tersebut dengan pangkat Laksamana, menjadikannya perempuan Aceh pertama yang menyandang pangkat itu. Armada Inong Balee kemudian bermarkas di Teluk Krueng Raya dan menjadi salah satu kekuatan penting dalam pertahanan maritim Kesultanan Aceh.
Pasukan Inong Balee : berhasil menghancurkan dua kapal dagang Belanda. Dalam sebuah duel satu lawan satu di atas kapal musuh pada 11 September 1599, Laksamana Malahayati berhadapan dengan Cornelis de Houtman, penjelajah dan penjajah Belanda. Nyawa Cornelis pun melayang karena Keumalahayati.
Keberhasilan ini tidak hanya menunjukkan kemampuan militer mereka tetapi juga mengukuhkan posisi Aceh sebagai kekuatan maritim yang disegani pada masa itu. Pasukan Inong Balee ikut serta dalam beberapa perang melawan Portugis dan Belanda. Wilayah pertempuran mereka tidak hanya terbatas di Selat Malaka, tetapi juga meluas hingga pantai timur Sumatera dan Malaya. Mereka pun membangun Benteng Inong Balee di atas bukit tak jauh dari pesisir Teluk Ramleh di Kluen Raya, Kecamatan Mesjid Raya Kabupaten Aceh Besar.
Benteng Inong Balee berada di daerah Lamreh, Kecamatan Mesjid Raya, Kabupaten Aceh Besar, Provinsi Aceh. Selain berfungsi sebagai benteng dan tempat melatih para Inong Balee, tempat ini juga digunakan untuk akomodasi para janda yang suaminya tewas dalam pertempuran. Di benteng itulah, Inong Balee tumbuh menjadi laskar perang yang ditakuti oleh musuh di perairan pesisir Aceh Besar serta Selat Malaka. Malahayati bersama pasukan Inong Balee juga mendirikan sebuah pangkalan di Teluk Lamreh Krueng Jaya untuk menghadapi musuh-musuhnya.
Perjuangan Melawan Belanda :
Salah satu kontribusi Laksamana Malahayati adalah dalam mengorganisasi armada laut Aceh. Pada masa Aceh menghadapi ancaman kolonial khususnya Belanda, Malahayati sebagai pemimpin armada laut berhasil mengorganisasi pasukannya dengan baik hingga mendapat julukan "Panglima Perang Laut".
Laksamana Malahayati dan pasukannya bertugas melindungi pelabuhan pelabuhan dagang di Aceh. Pada tanggal 21 Juni 1599, Laksamana Malahayati berhadapan dengan kapal Belanda yang mencoba memaksakan kehendaknya. Laksamana Malahayati dan pasukannya tentu saja tidak dapat menerimanya. Mereka mengadakan perlawanan. Dalam peristiwa itu Cornelis de Houtman dan beberapa pelaut Belanda tewas. Frederick de Houtman, wakil komandan armada Belanda, ditangkap oleh pihak Aceh. Keberhasilan Laksamana Malahayati dan Inong Balee berhasil memperkuat posisi Aceh sebagai kekuatan maritim nusantara.
[1/7 23.21] rudysugengp@gmail.com: 3. Buatkan gambar dan infografis tentang
Akhir Hayat dan Penghargaan Laksamana Malahayati
Perundingan Damai :
Laksamana Malahayati merupakan salah satu tokoh yang juga berperan dalam urusan pemerintahan dan diplomasi di Kesultanan Aceh. Ketika Kerajaan Belanda berupaya memperbaiki hubungan dengan Kesultanan Aceh, mereka mengirim utusan yang membawa surat resmi dari Pangeran Maurits, pemimpin Belanda pada masa itu. Untuk perundingan tersebut, Sultan Aceh menunjuk Malahayati sebagai wakil. Hasil perundingan ini dinilai berhasil, termasuk adanya kesepakatan yang membuka hubungan diplomatik lebih lanjut antara kedua pihak, yang kemudian berkembang hingga dibukanya perwakilan atau kedutaan Aceh di Belanda dengan Duta Besar pertama Abdul Hamid.
Sebelumnya, pada 1599 terjadi konflik antara armada Belanda yang dipimpin Cornelis dan Frederik de Houtman dengan pihak Aceh, yang berujung pada tewasnya Cornelis de Houtman dan ditawannya Frederick de Houtman. Dalam perundingan yang berlangsung sekitar tahun 1600, Belanda meminta pembebasan tawanan tersebut. Malahayati memimpin proses negosiasi, dan pembebasan disetujui dengan syarat Belanda membayar ganti rugi kepada Kesultanan Aceh. Selain dengan Belanda, Malahayati juga terlibat dalam hubungan diplomatik dengan Inggris. Pada tahun 1602, utusan Ratu Elizabeth I, James Lancaster, datang ke Aceh untuk membuka hubungan dagang. Sebelum bertemu Sultan, ia terlebih dahulu berunding dengan Malahayati. Dalam pembicaraan tersebut dibahas permintaan kerja sama perdagangan serta sikap terhadap Portugis. Setelah persyaratan dipenuhi sesuai ketentuan pihak Aceh, Lancaster diizinkan melanjutkan pertemuan dengan Sultan Aceh, yang kemudian menjadi awal hubungan dagang antara Aceh dan Inggris.
Simbol Kekuatan Wanita dalam Sejarah Indonesia :
Laksamana Malahayati berperan besar dalam memperkuat posisi perempuan dalam struktur sosial dan budaya masyarakat Aceh.
Melalui kiprahnya dalam perjuangan melawan kolonialisme, ia mampu membuktikan bahwa peran perempuan tidak terbatas pada aspek domestik sebagaimana perspektif masyarakat pada masa itu. Malahayati berhasil menunjukkan bahwa wanita dapat berkontribusi dalam bidang pertahanan dan strategi militer.
Laksamana Malahayati hidup pada masa laki-laki memiliki dominasi yang kuat dalam seluruh aspek kehidupan. Namun ia berhasil mematahkan stigma tersebut dan menunjukkan bahwa perempuan dapat memegang peran penting dalam perjuangan dan kepemimpinan, menembus batas-batas yang ada dan mengubah pandangan masyarakat tentang peran gender. Laksamana Malahayati berhasil menunjukkan bahwa perempuan dapat memegang peran aktif dalam perjuangan menuju kemerdekaan.
Keberanian dan kepemimpinan Malahayati dalam bidang pertahanan dan strategi militer menjadi inspirasi bagi banyak pejuang perempuan setelahnya, seperti Cut Nyak Dhien, Cut Nyak Meutia , dan Martha Christina Tiahahu . Mereka mengikuti jejak Malahayati dalam melawan penjajah dengan semangat pantang menyerah.
Penghargaan :
Laksamana Malahayati pada pranko Indonesia tahun 2018.
Selain dinamakan sebagai nama jalan di berbagai wilayah di Indonesia, nama Malahayati juga banyak diabadikan dalam berbagai hal.
Pelabuhan laut di Teluk Krueng Raya, Aceh Besar dinamakan dengan Pelabuhan Malahayati.
Salah satu kapal perang jenis Perusak Kawal Berpeluru Kendali (fregat) kelas Fatahillah milik TNI Angkatan Laut yang dinamakan KRI Malahayati. Kapal perang ini dibuat di galangan kapal Wilton-Fijenoord, Schiedam, Belanda pada tahun 1980, khusus untuk TNI-AL.
Dalam dunia pendidikan, terdapat Perguruan tinggi seperti Politeknik Pelayaran Malahayati yang terdapat di Aceh Besar dan Universitas Malahayati yang terdapat di Bandar Lampung.
Sebuah serial film Laksamana Malahayati yang menceritakan riwayat hidup Malahayati telah dibuat pada tahun 2007.[18]
Nama Malahayati juga dipakai oleh Ormas Nasional Demokrat sebagai nama divisi wanitanya dengan nama lengkap Garda Wanita Malahayati.
Selain dikukuhkan bergelar Pahlawan Perintis Kemerdekaan Indonesia di 2017 , hari lahirnya pun dijadikan hari perayaan dunia internasional atas pengajuan Pemerintah Indonesia di forum UNESCO pada 2023 di Perancis.
Atas jasa-jasanya Pemerintah Republik Indonesia, Presiden Joko Widodo menganugerahi Gelar Pahlawan Nasional berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 115/TK/Tahun 2017 tanggal 6 November 2017.
[2/7 15.34] rudysugengp@gmail.com: Gatot Subroto
[2/7 15.48] rudysugengp@gmail.com: 1. Buatkan gambar dan infografis tentang
Biodata dan Perjuangan Gatot Subroto sebelum Kemerdekaan
Gatot Soebroto (10 Oktober 1907 – 11 Juni 1962) adalah seorang prajurit satu tentara keamanan rakyat Indonesia yang dimulai karier militernya di Tentara Kerajaan Hindia Belanda (KNIL).
Lahir : 10 Oktober 1907
Purwokerto, Banyumas, Hindia Belanda
Meninggal : 11 Juni 1962 (umur 54)
Jakarta, Indonesia
Dikebumikan : Ungaran, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, Indonesia
Pendidikan dan Karier :
Setamat pendidikan dasar di Hollandsch-Inlandsche School (HIS), Gatot Soebroto tidak melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi, tetapi memilih menjadi pegawai.
Namun tak lama kemudian pada tahun 1923 memasuki sekolah militer Tentara Kerajaan Hindia Belanda (KNIL) di Magelang. Sempat menjadi sersan kelas II saat dikirim di Padang Panjang selama lima tahun, Gatot Soebroto kemudian dikirim ke Sukabumi untuk mengikuti pendidikan lanjutan, pendidikan masose. Gatot Soebroto dikenal sebagai tentara yang solider terhadap rakyat kecil meski tengah bekerja sebagai tentara kependudukan Belanda dan Jepang. Ia dianggap contoh seorang pemimpin yang layak diapresiasi berkat jasa-jasanya. Bergabung dengan KNIL membuat Gatot Soebroto paham dan mengerti bagaimana seorang tentara harus bertindak.
Era Jepang :
Setelah Jepang menduduki Indonesia, serta merta Gatot Soebroto pun mengikuti pendidikan Pembela Tanah Air (PETA), organisasi militer milik Jepang yang merekrut tentara pribumi untuk berperang, di Bogor. Di sanalah karier Gatot Soebroto mulai merangkak naik. Selepas lulus dari pendidikan Peta, ia diangkat menjadi komandan kompi di Banyumas sebelum akhirnya ditunjuk menjadi komandan batalyon. Setelah kemerdekaan, Gatot Soebroto memilih masuk Tentara Keamanan Rakyat (TKR) dan kariernya berlanjut hingga dipercaya menjadi Panglima Divisi II, Panglima Corps Polisi Militer, dan Gubernur Militer Daerah Surakarta dan sekitarnya.
Gatot Soebroto dikenal sebagai tentara yang solider terhadap rakyat kecil meski tengah bekerja sebagai tentara kependudukan Belanda dan Jepang. Ia dianggap contoh seorang pemimpin yang layak diapresiasi berkat jasa-jasanya.
Sering Ditegur Atasan :
Bergabung dengan KNIL membuat Gatot Soebroto paham dan mengerti bagaimana seorang tentara harus bertindak.
Selama menjabat sebagai komandan kompi dan komandan batalyon, Gatot Soebroto dinilai sering memihak kepada rakyat pribumi.
Hal itulah yang sering kali membuat ia ditegur oleh atasannya.
Namun, bukan berarti sering mendapat teguran dari atasan membuat Gatot Soebroto kapok dan patuh terhadap perintah.
Justru hal itulah yang membuat Gatot Soebroto mendapatkan angin segar untuk sekadar 'menakuti dan mengancam' pihak Jepang.
Saat itu, ia mengancam bahwa dirinya mengundurkan diri sebagai komandan kompi dengan melemparkan atribut senjata perangnya. Melihat tindakan berani Gatot Soebroto, atasannya kemudian meluluskan apa yang dikerjakan Gatot Soebroto, yakni memihak pribumi terlebih rakyat kecil.
Ia juga menentang Jepang jika berbuat semena-mena dan kasar terhadap anak buahnya.
[2/7 15.57] rudysugengp@gmail.com: 2. Buatkan gambar dan infografis tentang
Perjuangan Gatot Subroto Pasca Kemerdekaan
Setelah kemerdekaan Indonesia berhasil didapat, Gatot Soebroto kemudian membentuk Tentara Keamanan Rakyat (TKR) yang merupakan cikal bakal nama Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang ada kini.
TKR dipimpin oleh Kol. Soedirman di mana saat itu Gatot Soebroto menjabat sebagai Kepala Siasat dan berganti menjadi Komandan Devisi dengan pangkat Kolonel setelah prestasinya yang dianggap gemilang dalam pertempuran Ambarawa.
Menumpas PKI Madiun :
Pada tahun 1948 terdapat Peristiwa Madiun atau Madiun Affairs yang melibatkan pihak Partai Komunis Indonesia (PKI) dan Tentara Nasional Indonesia. Pemberontakan tersebut berada di wilayah Madiun, Jawa Timur, yang kemudian berakhir diatasi dengan baik oleh TKR di bawah pimpinan Gatot Soebroto.
Saat melawan PKI, Gatot Soebroto melancarkan operasi militer agar dapat memulihkan keamanan. Di sebelah barat, Gatot yang diangkat menjadi Gubernur Militer Wilayah II (Semarang-Surakarta) tanggal 15 September 1948, serta pasukan dari Divisi Siliwangi, sedangkan dari timur diserang oleh pasukan dari Divisi I, di bawah pimpinan Kolonel Soengkono, yang diangkat menjadi Gubernur Militer Jawa Timur, tanggal 19 September 1948, serta pasukan Mobil Brigade Besar (MBB) Jawa Timur, di bawah pimpinan M. Yasin.
Panglima Besar Soedirman menyampaikan kepada pemerintah, bahwa TNI dapat menumpas pasukan-pasukan pendukung Musso dalam waktu 2 minggu. Memang benar, kekuatan inti pasukan-pasukan pendukung Muso dapat dihancurkan dalam waktu singkat.
Tanggal 30 September 1948, Madiun dapat dikuasai seluruhnya. Pasukan Republik yang datang dari arah timur dan pasukan yang datang dari arah barat, bertemu di hotel Merdeka di Madiun. Namun pimpinan kelompok kiri beserta beberapa pasukan pendukung mereka, lolos dan melarikan diri ke beberapa arah, sehingga tidak dapat segera ditangkap.
Baru pada akhir bulan November 1948 seluruh pimpinan dan pasukan pendukung Musso tewas atau dapat ditangkap. Sebelas pimpinan kelompok kiri, termasuk Amir Sjarifoeddin, mantan Perdana Menteri Republik Indonesia, dieksekusi pada 20 Desember 1948 di makam Ngalihan, atas perintah Kol. Gatot Soebroto.
Menumpas KGSS di Sulawesi Selatan :
Tak berbeda jauh dengan pemberontakan yang ada di Jawa, di Sulawesi Selatan juga terdapat pemberontakan Kesatuan Gerilya Sulawesi Selatan (KGSS) yang dipimpin oleh Abdul Kahar Muzakkar pada tahun 1952.
Lagi-lagi karena dinilai pandai dalam memasang strategi, Gatot Soebroto diserahi untuk menumpas pasukan pemberontak dan kembali pulang dengan membawa kemenangan.
Tak hanya sekadar kemenangan, para pemberontak pun juga berhasil dibujuknya agar kembali dalam barisan TKR.
Berkat usahanya tersebut, Gatot Soebroto diangkat menjadi Panglima Tentara & Teritorium (T & T) IV Diponegoro pada tahun yang sama.
Undur diri :
Selama memimpin, Gatot Soebroto dikenal sebagai pemimpin yang disiplin, tegas, berani, dan membela kaum yang tertindas.
Maka, pada tahun 1953, ketika terjadi kerusuhan di istana negara akibat tuntutan rakyat atas pembubaran parlemen ditolak, Gatot Soebroto yang dituduh sebagai dalang kerusuhan tersebut langsung mengundurkan diri dari jabatannya sekaligus dari dinas militer.
Pada 1953, ia mengundurkan diri dari dinas militer, tetapi tiga tahun kemudian diaktifkan kembali sekaligus diangkat menjadi Wakil Kepala Staf Angkatan Darat (Wakasad) pada tahun 1956.
Menumpas PRRI-Permesta di Sumatera :
Melalui tangannya, ia berhasil melumpuhkan pemberontakan
Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia-Perjuangan Rakyat Semesta yang ada di Sumatra dan Sulawesi Utara.
Akhir Hayat :
Pada tanggal 11 Juni 1962, Gatot Soebroto meninggal di usia 54 tahun.
Pangkat terakhir yang disandangnya adalah Letnan Jenderal. Ia adalah penggagas akan perlunya sebuah akademi militer gabungan (Angkatan Darat, Angkatan Udara, Angkatan Laut) untuk membina para perwira muda.
Gagasan tersebut diwujudkan dengan pembentukan Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia pada tahun 1965.
Melengkapi pangkatnya, seminggu setelah ia dimakamkan di desa Mulyoharjo, Ungaran, Jawa Tengah, gelar Pahlawan Kemerdekaan Nasional menurut Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia No.283 tanggal 18 Juni 1962 disematkan kepadanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar