[2/7 23.56] rudysugengp@gmail.com: Usman Janatin
[3/7 00.14] rudysugengp@gmail.com: 1. Buatkan gambar dan infografis tentang
Kehidupan dan Kiprah Militer Usman Janatin
Biodata Singkat Usman Janatin:
Nama Lengkap:
Usman bin Haji Muhammad Ali alias Janatin
Tempat, Tanggal Lahir: Dukuh Tawangsari, Desa Jatisaba, Purbalingga, Jawa Tengah, 18 Maret 1943
Meninggal: 17 Oktober 1968 (umur 25 tahun) di Penjara Changi, Singapura
Makam: Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, Jakarta
Pangkat Terakhir: Sersan Dua KKO (kini Korps Marinir TNI AL)
Gelar Pahlawan: Pahlawan Nasional Indonesia berdasarkan SK Presiden RI No. 050/TK/Tahun 1968.
Kehidupan :
Usman Janatin bin H Moch Ali, lahir 18 Maret 1943 di Dukuh Tawangsari, Desa Jatisaba, Kecamatan/Kabupaten Purbalingga. Nama Usman Janatin sudah tidak asing lagi bagi masyarakat Indoenesia, karena kepahlawananya melakukan penyusupan dalam rangka tugas Dwikora. Ia menamatkan sekolahnya di sekolah menengah. Usman pun melanjutkan pendidikan dengan masuk Korps Marinir Indonesia. Ia pun ditunjuk untuk menjadi salah satu dari tiga sukarelawan untuk bertugas dalam operasi militer Komando Siaga. Komando Siaga sendiri dipimpin oleh Wakil Laksamana Angkatan Udara Omar Dhani. Operasi ini berlangung selama konfrontasi Indonesia-Malaysia. Janatin kemudian ditempatkan di Pulau Sambu, Provinsi Riau.
Kiprah Militer :
Pada 1962, Usman mendaftarkan dirinya ke Sekolah Calon Tamtama KKO-AL di Malang. Setelah melalui berbagai tahapan seleksi, Usman berhasil lolos. Ia pun menjalani berbagai latihan fisik dan mental sampai dinyatakan lulus pada 1 Juni 1962. Usman mendapat pangkat Prajurit III KKO. Tugas pertama yang diemban Usman adalah mengikuti Operasi Sadar di Irian Barat. Ia bertugas untuk memastikan penyerahan kekuasaan berjalan dengan lancar. Usman Janatin pun berhasil menyelesaikan tugasnya di Irian Barat dengan baik. Setelah itu, tugas negara lain juga sudah menanti Usman. Tugas selanjutnya adalah Operasi Dwikora yang dikumandangkan oleh Presiden Soekarno.
[3/7 00.17] rudysugengp@gmail.com: Harun bin Thohir
Lagi
[3/7 00.42] rudysugengp@gmail.com: 1. Buatkan gambar dan infografis tentang
Biodata dan Misi Dwikora Harun bin Thohir
Kopral Dua (Anumerta) Harun Thohir atau Harun bin Said (nama lahir Tahir bin Mandar; 14 April 1947 – 17 Oktober 1968) adalah seorang pelaut Indonesia yang lahir di Pulau Bawean, Jawa Timur, pada tanggal 4 April 1943 dari pasangan Mahdar dan Aswiyani, sementara sumber lain menyebutkan bahwa ia lahir pada tanggal 14 April 1943.
Harun bin Said alias Harun Thohir adalah Pahlawan Nasional Indonesia dari Korps Komando Operasi (KKO) yang gugur dalam masa konfrontasi Indonesia-Malaysia.
Ia dihukum gantung oleh pemerintah Singapura pada Oktober 1968 setelah melakukan operasi sabotase pengeboman gedung MacDonald House di Singapura pada 10 Maret 1965.
Nama lahir : Tahir bin Mandar
Nama lain : Harun bin Said
Lahir : 4 April 1943, Bawean, Hindia Belanda yang diduduki Jepang
Meninggal : 17 Oktober 1968 (umur 25), Penjara Changi, Singapura
Dikebumikan : Taman Makam Pahlawan Nasional Utama Kalibata.
Misi Dwikora:
Selama kampanye "Ganyang Malaysia" yang dipimpin Presiden Soekarno, Harun bersama rekannya Usman Janatin dan Gani bin Arup ditugaskan dalam operasi penyusupan. Mereka tergabung dalam pasukan elite KKO (kini Marinir).
Kehidupan :
Harun bin Said atau Harun Tohir bin Mandar terlahir dengan nama Tohir. Ia merupakan anak dari pasangan Mandar dan Aswiyani dan memiliki empat saudara.
Ia berasal dari keluarga yang sederhana, semejak duduk di bangku sekolah pertama, ia sudah menjadi anak buah kapal dagang Singapura. Kesehariannya berada di Pelabuhan membuatnya sangat hafal daratan dan jalur pelayaran Singapura. Berbekal pengalaman ini, menginjak dewasa ia masuk Angkatan Laut Indonesia.
Di Angkatan Laut Indonesia beliau tumbuh menjadi prajurit pemberani dan sigap membela di medan pertempuran.
[3/7 00.42] rudysugengp@gmail.com: 3. Buatkan gambar dan infografis tentang
Pengadilan, Eksekusi dan Gelar Pahlawan Harun bin Thohir
Gugur :
Sehari sebelum eksekusi hukuman gantung, Harun bin Said menuliskan surat untuk Ibunya.
"Hukuman jang akan diterima oleh Ananda adalah hukuman digantung sampai mati, di sini Ananda harap kepada Ibunda supaya bersabar karena setiap kematian manusia yang menentukan ialah Tuhan Yang Maha Kuasa dan setiap manusia yang ada di dalam dunia ini akan tetap kembali ke Illahi… Mohon Ibunda ampunilah segala dosa-dosa dan kesalahan-kesalahan Ananda selama ini… Ananda tutup surat ini dengan utjapan terima kasih dan selamat tinggal selama-lamanja, amin… Djangan dibalas lagi"
Pengadilan dan Eksekusi:
Dalam persidangan, Usman dan Harun menolak tunduk dan menyatakan diri sebagai tawanan perang.
Meskipun pemerintah Indonesia melakukan berbagai upaya banding diplomatik, termasuk permohonan grasi dari Presiden Soeharto, Singapura tetap menjatuhkan hukuman mati.
Harun dan Usman dihukum gantung di Penjara Changi, Singapura, pada 17 Oktober 1968.
Penghargaan :
Atas jasa-jasanya kepada negara, pangkatnya dinaikan menjadi Kopral KKO TNI Anumerta Harun bin Said alias Thohir bin Mandar. Bendera merah putih setengah tiang dikibarkan oleh masyarakat.
Anggota Korps Komando AL-RI Harun bin Said dianugerahi gelar Pahlawan Nasional berdasarkan SK Presiden RI No.050/TK/Tahun 1968, tanggal 17 Oktober 1968. Ia dimakamkan di TMP Kalibata, Jakarta, dan kini nama ia diabadikan menjadi nama Jalan di depan Markas Korps Marinir (Jalan Prajurit KKO Usman dan Harun), Kwitang, Jakarta Pusat, Kapal Republik Indonesia, KRI Usmman-Harun (359) dan Bandar Udara Harun Thohir di Pulau Bawean, Kabupaten Gresik.
[3/7 00.43] rudysugengp@gmail.com: 2. Buatkan gambar dan infografis tentang
Aksi Sabotase dan Penangkapan Harun bin Thohir
Tugas Negara :
Indonesia-Malaysia tanggal 17 September 1963 menyebabkan pemutusan hubungan diplomasi serta konflik senjata yang melibatkan tentara Nasional. Di situasi ini, Harun yang baru berusia 16 tahun menjadi sukarelawan di Sumbu, Riau dalam melakukan aksi ke Singapura. Pada tanggal 1 November 1963, ia mendapatkan gemblengan di Riau selama lima bulan lamanya. Tanggal 1 April 1964, pangkatnya naik menjadi prajurit KKO II.
Bulan Juli tahun 1964 ia ditugaskan di Tim Brahma I Basis II operasi A KOTI. Bergabung bersama Dwikora, ia dikirim ke Sumbu, Riau untuk menyusup ke Singapura. Dalam misi penyusupan beliau sangat ahli menyamar. Berbekal wajah yang seperti orang Cina dan keahlian bahasa asing, seperti Cina Belanda dan Inggris. Membuatnya tidak kesulitan memasuki area target. Ia sukses memasuki Singapura tanpa hambatan. Sering kali Harun Tohir menyamar sebagai masyarakat biasa atau pelayan kapal.
Dalam misi KOTI basis X, beliau mendapatkan tugas berat bersama tiga teman lainnya yaitu Usman, Gani dan Raoep.
Misinya ialah demolision:
sabotase objek vital militer atau ekonomi Singapura. Tanggal 8 Maret 1965 misi pun dijalankan, pada tanggal tersebut mereka memasuki Singapura saat tengah malam. Bersama teman-temannya mereka mengamati dan merumuskan sasaran yang cocok untuk di jadikan tempat sabotase (peledakan bom). Siang harinya, mereka berhasil menempatkan bom seberat 12,5 kilogram di Basement Hotel Mc Donald, di Orchard Road. Tepat pukul 03:07 shubuh, tanggal 10 Maret bom tersebut meledak.
Tragedi meledaknya Hotel Mac Donald mengegerkan masyarakat dan pemerintah Singapura. Dengan cepat aparat Singapura dikerahkan untuk menyelidiki dan menangkap pelakunya. Setelah beredar berita tersebut, Harun dan teman-temannya berpencar untuk melarikan diri. Harun melarikan diri bersama Usman menuju pelabuhan.
Pada tanggal 13 Maret 1965, Harun Tohir dan Usman melarikan diri dengan motorboat menuju pangkalan militer di Sumbu Riau. Namun sayang, motorboat-nya mogok di tengah laut. Akibatnya, mereka berdua ditangkap oleh petugas patroli laut Singapura. Pukul 09.00 mereka di bawa ke Singapura sebagai tawanan.
Semejak kejadian tersebut mereka mendekam di penjara selama 7 bulan sebelum hukuman resmi dijatuhkan.
Pada akhirnya, tanggal 4 Oktober 1965, kasus peledakan bom oleh Harun Tohir segera digelar di Mahkamah Tinggi Singapura (High Court). Saat pengadilan berlangsung Harun Tohir membela diri, karena pada kenyataannya beliau melakukan hal tersebut dalam rangka tugas negara yang sedang berperang, oleh karena itu Harun Tohir meminta diperlakukan dan diadili sebagai tawanan perang. Namun sayang, pengadilan tinggi Singapura menolak pembelaan diri tersebut. Dua minggu setelah pengadilan, hakim menjatuhi hukuman mati gantung kepada mereka dengan tuduhan pembunuhan terencana dengan aksi sabotase.
Mendengar berita tersebut, pemerintah Indonesia mulai berdiplomasi untuk membujuk Singapura agar meringankan hukuman Harun dan temannya. Beberapa usaha telah dilakukan oleh pemerintahan Indonesia. Pada tanggal 5 Oktober 1966, Indonesia mengajukan banding ke Singapura tetapi ditolak. Selain itu juga, tanggal 17 Februari 1967 Indonesia berusaha membawa kasus ini ke pengadilan internasional di London, tetapi ditolak juga. Usaha mengirimkan Adam Malik sebagai menteri luar negeri pun, tidak membuahkan hasil. Pemerintahan Singapura tetap menetapkan hukuman mati gantung.
Aksi Sabotase:
Pada 10 Maret 1965, mereka meletakkan bahan peledak di MacDonald House di Orchard Road, Singapura. Aksi ini merupakan respons terhadap pembentukan Federasi Malaysia yang dianggap sebagai proyek neo-kolonialisme Inggris dan ancaman bagi Indonesia.
Penangkapan:
Setelah ledakan, mereka berusaha melarikan diri kembali ke Indonesia menggunakan perahu motor.
Namun, perahu mereka mogok di tengah perairan dan mereka ditangkap oleh otoritas keamanan Singapura pada 13 Maret 1965.
[3/7 00.50] rudysugengp@gmail.com: Usman Revisi
2. Buatkan gambar dan infografis tentang Tugas Negara Usman Janatin
Operasi Dwikora : Era 1962 sampai 1966, Indonesia yang dipimpin Presiden Soekarno melakukan konfrontasi dengan Malaysia. Konfrontasi ini terjadi karena Soekarno menolak penggabungan dua koloni Inggris di bagian utara Pulau Kalimantan atau Sabah dan Sarawak menjadi bagian Negara Federasi Malaysia. Bagi Soekarno, penggabungan ini menjadi sebuah bentuk pelanggaran terhadap Persetujuan Manila. Persetujuan Manila adalah sebuah persetujuan berasal dari inisiatif Diosdado Macapagal, politikus Filipina, yang ditandatangani pada 31 Juli 1963. Sementara Malaysia melihat penggabungan ini menjadi masalah dalam negeri, sehingga negara lain tidak seharusnya ikut terlibat. Oleh karena itu, demonstrasi anti-Indonesia pun pecah di Kuala Lumpur. Para demonstran menyerbu gedung KBRI (Kedutaan Besar Republik Indonesia) dan merobek-robek foto Soekarno. Hal inilah yang kemudian menyulut emosi Soekarno. Ia pun mengambil sikap bermusuhan melalui pidatonya yang berjudul Ganyang Malaysia. Soekarno kemudian melakukan penyerangan kepada Malaysia. Serangan ini kemudian dikenal dengan Operasi Dwikora.
Pengeboman Di Singapura : Pada 8 Maret 1965, Usman Janatin dan rekannya, Harun Tohir, serta Gani bin Arup bertugas untuk melakukan sabotase di Singapura. Ia diperintahkan untuk menyusup ke Malaysia dan Singapura. Di sana, Usman bersama rekannya menjalankan misi untuk menciptakan kericuhan dengan meledakkan sejumlah gedung di Singapura. Dengan perahu karet dan 12,5 kg bahan peledak, ketiganya diberitahu untuk membom sebuah rumah tenaga listrik. Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Pada 10 Maret 1965, Usman dan kedua rekannya meledakkan bangunan sipil, bangunan Hong Kong dan Shanghai Bank.
Usman Janatin adalah prajurit Korps Komando Operasi (KKO) yang gugur sebagai Pahlawan Nasional setelah melakukan misi sabotase di Singapura untuk menentang pembentukan Federasi Malaysia. Bersama rekannya, Harun Thohir, ia melakukan pengeboman di MacDonald House pada tahun 1965. Keduanya dihukum gantung oleh pemerintah Singapura pada 17 Oktober 1968.
Pada masa konfrontasi Indonesia-Malaysia (Dwikora), Presiden Soekarno memerintahkan operasi intelijen dan sabotase di wilayah musuh. Usman Janatin bersama Harun Thohir dan Gani bin Arup ditugaskan menyusup ke Singapura. Mereka menanam bahan peledak di gedung MacDonald House yang menyebabkan kerusakan dan korban jiwa, yang memicu penangkapan mereka.
[3/7 00.55] rudysugengp@gmail.com: Revisi Usman
3. Buatkan gambar dan infografis tentang
Eksekusi, Akhir Hayat dan Penghargaan Usman Janatin
Hukum Gantung :
Setelah melakukan pengeboman, Usman bersama rekannya, Harun, mencoba kabur melalui jalur barat, sedangkan Gani memilih jalur lain. Keduanya merampas sebuah perahu motor milik warga dan pergi meninggalkan Pelabuhan Singapura. Namun, di tengah pelarian itu, perahu motor yang mereka kendarai kehabisan bahan bakar. Mereka pun tertangkap oleh pasukan patrol Singapura pada 17 Oktober 1968.
Akhir Hidup :
Setelah tertangkap, Usman dan Harun pun dijatuhi hukuman mati atas tindakan pembunuhan yang mereka lakukan. Mereka dihukum gantung di Penjara Changi, Singapura. Jenazah Usman dan Harun kemudian dipulangkan ke Indonesia. Mereka dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta. Nama Usman sendiri kini diabadikan menjadi nama jalan di depan Markas Korps Marinir, yaitu Jalan Prajurit KKO Usman dan Harun. Sekarang, namanya juga diabadikan menjadi nama sebuah masjid di daerah Cilandak, Jakarta Selatan.
Setelah tertangkap akibat kehabisan bahan bakar saat melarikan diri, Usman ditahan di penjara Changi. Meski pemerintah Indonesia, termasuk Presiden Soeharto, mengajukan grasi, pengadilan Singapura tetap menjatuhkan hukuman mati.
Jenazahnya kemudian dibawa pulang ke Indonesia dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata.
[3/7 00.58] rudysugengp@gmail.com: Mulai Basuki Rahmat
[3/7 01.34] rudysugengp@gmail.com: 1. Buatkan gambar dan infografis tentang
Biodata dan Awal Kehidupan Basuki Rahmat
Biodata :
Lahir : 4 November 1921, Tuban, Hindia Belanda
Meninggal : 9 Januari 1969 (umur 47)
Jakarta, Indonesia
Makam : TMPNU Kalibata, Jakarta Selatan, Jakarta
Awal Kehidupan :
Basuki Rahmat lahir pada tanggal 4 November 1921 di Kecamatan Senori, Kabupaten Tuban, Keresidenan Rembang. Ayahnya, Raden Soedarsono Soemodihardjo, adalah asisten residen (Wedono) setempat. Ibunya, Soeratni, meninggal pada bulan Januari 1925 ketika Basuki memasuki usia empat tahun, Ketika berusia tujuh tahun, Basuki masuk sekolah dasar.
Pada tahun 1932 ayahnya meninggal, sehingga berakibat terhentinya pendidikan Basuki.
Dia dikirim untuk tinggal bersama adik ayahnya dan lulus dari SMP pada tahun 1939 serta dari SMA Muhammadiyah Yogyakarta pada tahun 1942, ketika Jepang mulai menduduki Indonesia.
Raden Basuki Rahmat (EVO: Basoeki Rachmat; 4 November 1921 – 9 Januari 1969) adalah seorang jenderal Indonesia, Pahlawan Nasional, dan saksi penandatanganan dokumen Supersemar yang menyerahkan kekuasaan dari Presiden Soekarno kepada Jenderal Soeharto.
Jenderal TNI Anumerta Basuki Rahmat adalah Pahlawan Nasional asal Tuban, Jawa Timur, yang berjasa besar dalam mempertahankan kemerdekaan melalui pembentukan TKR (cikal bakal TNI), menyadarkan prajurit dari pengaruh PKI sebagai Panglima Kodam VIII/Brawijaya, dan menjadi salah satu saksi kunci penandatanganan Supersemar.
[3/7 01.38] rudysugengp@gmail.com: 2. Buatkan gambar dan infografis tentang
Karier Militer Basuki Rahmat
Pada tahun 1943, selama pendudukan Jepang di Indonesia, Basuki bergabung dengan Tentara Pembela Tanah Air (PETA), yang didirikan oleh tentara Jepang untuk melatih tentara tambahan dalam menghadapi invasi tentara Amerika Serikat ke Pulau Jawa.
Di PETA, Basuki diangkat menjadi Komandan Kompi.
Dengan terjadinya peristiwa Proklamasi Kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945 yang diproklamasikan oleh para pemimpin Nasionalis Soekarno dan Mohammad Hatta, Basuki, seperti kebanyakan pemuda lain bergabung ke kelompok milisi yang dipersiapkan untuk membentuk tentara Angkatan Darat Indonesia.
Pada tanggal 5 Oktober 1945, Tentara Keamanan Rakyat (TKR) terbentuk, dan di bulan yang sama Basuki mendaftar menjadi anggota TKR di kota Ngawi di provinsi asalnya Jawa Timur. Di sana ia ditempatkan di KODAM VII / Brawijaya (kemudian dikenal sebagai Wilayah Militer V/Brawijaya), komando militer bertanggung jawab atas keamanan provinsi Jawa Timur.
Dalam penugasan militernya, Basuki pernah menjabat sebagai Komandan Batalyon di Ngawi (1945–1946), Komandan Batalyon di Ronggolawe (1946–1950), Komandan Resimen di Bojonegoro (1950–1953), Kepala Staf Panglima Tentara dan Teritorium V/Brawijaya (1953–1956), dan Panglima Daerah Militer V/Brawijaya (1956).
Pada bulan September 1956, Basuki dipindahkan ke Melbourne, Australia untuk bertugas sebagai atase militer di Kedutaan Besar Republik Indonesia. Kemudian Basuki kembali lagi ke Indonesia pada bulan November tahun 1959 dan menjabat sebagai Asisten IV / Logistik di bawah Kepala Staf Angkatan Darat Abdul Haris Nasution.
Basuki kembali ke KODAM VII/Brawijaya pada tahun 1960 dan menjabat sebagai Kepala Staf sebelum akhirnya menjadi Panglima pada tahun 1962.
Masa Perang Kemerdekaan: Memulai karier militernya melalui pendidikan militer PETA bentukan Jepang dan ditempatkan di Pacitan. Pasca-Proklamasi, beliau aktif membentuk Badan Keamanan Rakyat (BKR) di wilayah Jawa Timur (seperti di Maospati dan Ngawi) serta berjuang melawan agresi Belanda hingga menjadi Komandan Batalyon.
[3/7 01.39] rudysugengp@gmail.com: 3. Buatkan gambar dan infografis tentang
Pahlawan Revolusi dan Penumpasan PKI Basuki Rahmat
Masa Penumpasan G30S/PKI:
Saat menjabat sebagai Panglima Kodam VIII/Brawijaya di Surabaya, beliau menunjukkan sikap tegas dengan menyadarkan dan mengonsolidasikan prajuritnya agar tidak terhasut oleh propaganda serta gerakan Partai Komunis Indonesia (PKI).
Pembunuhan Jenderal :
Pada tahun 1965, terjadi banyak ketegangan politik di Indonesia, khususnya antara Angkatan Darat dan Partai Komunis Indonesia (PKI). PKI, yang perlahan tetapi pasti mendapatkan pijakan dalam politik Indonesia, mereka siap menjadi partai politik yang paling kuat karena hubungan mereka dengan Presiden Soekarno. Pada bulan September tahun 1965, Basuki menjadi semakin waspada terhadap kegiatan PKI di Jawa Timur dan pergi ke Jakarta untuk melaporkan pengamatannya kepada Panglima Angkatan Darat, Ahmad Yani. Mereka bertemu di malam 30 September di mana Basuki melaporkan kepada Yani tentang peningkatan kegiatan PKI di di provinsinya. Yani memuji laporan Basuki tersebut dan mengajaknya untuk menemani Yani ke pertemuan dengan Presiden keesokan harinya untuk melaporkan tentang kegiatan PKI.
Keesokan paginya pada tanggal 1 Oktober, Basuki dihubungi oleh Markas Besar Angkatan Darat dan diberitahu tentang penculikan para jenderal, termasuk Yani. Mendengar hal ini, Basuki bersama dengan seorang pembantunya masuk mobil dan berkendara di sekitar kota untuk memeriksa apa yang sedang terjadi. Saat ia sedang mengemudi, Basuki melihat pasukannya dari Jawa Timur, Batalion 530 menjaga Istana Kepresidenan dan terkejut mendapati bahwa mereka tidak memakai identitas apa pun.
Setelah mengamati mereka dari jarak dekat bersama ajudannya, Basuki segera kembali ke penginapannya, dan di sana ia diberitahu bahwa ia dibutuhkan di markas Kostrad.
Basuki pergi ke markas Kostrad dan mendapati bahwa Panglima Kostrad, Mayor Jenderal Soeharto telah memutuskan untuk mengambil alih kepemimpinan Angkatan Darat dan mengendalikan situasi. Dari Soeharto, Basuki mengetahui bahwa sebuah gerakan yang menyebut diri mereka sebagai Gerakan September 30 telah menggunakan pasukan dari Batalion 530 untuk menempati titik-titik strategis di Jakarta. Soeharto kemudian memerintahkan Basuki untuk bernegosiasi dengan pasukan tersebut agar mereka menyerahkan diri sebelum pukul 6.00 atau Soeharto akan menindak pasukan tersebut. Basuki menemui pasukan tersebut dan diperlakukan dengan sangat hormat. Ia menyampaikan ultimatum Soeharto dan berhasil bernegosiasi dengan pasukan Batalion 530 sehingga pada pukul 16:00, Batalion 530 menyerahkan diri ke Kostrad.
Siang harinya, Gerakan G30S membuat pengumuman tentang adanya Dewan Revolusi yang bermaksud melakukan makar. Di antara nama-nama yang disebut-sebut dalam dewan tersebut nama Basuki juga termasuk. Namun Basuki bukan satu-satunya Jendral yang namanya dimasukkan dalam dewan tersebut, karena banyak nama jendral anti-komunis seperti Umar Wirahadikusumah dan Amirmachmud yang juga terdaftar dalam dewan ini. Basuki dengan cepat menyangkal keterlibatannya dalam Dewan Revolusi.
Ternyata selama beberapa hari sebelumnya, tanpa sepengetahuan Basuki, diselenggarakan pertemuan antara Soekarno, Panglima Angkatan Udara Omar Dhani, Panglima Angkatan Laut RE Martadinata, dan Kapolri Sucipto Judodiharjo di Halim untuk menunjuk Panglima Angkatan Darat yang baru. Meskipun yang kemudian akan ditunjuk sebagai Panglima Angkatan Darat adalah Mayor Jenderal Pranoto Reksosamudra, tetapi nama Basuki sempat dipertimbangkan. Namun Soekarno segera menghentikan gagasan penunjukkan Basuki tersebut dengan berkelakar bahwa Basuki biasanya akan jatuh sakit pada saat dibutuhkan.
Setelah 1 Oktober, semua pihak menimpakan kesalahan kepada PKI dan di seluruh Indonesia, terutama di Pulau Jawa, terjadi banyak yang dibentuk dengan tujuan untuk menumpas PKI. Sementara itu, Basuki kembali ke Jawa Timur untuk mengawasi gerakan anti-PKI di sana.
Pada tanggal 16 Oktober 1965, sebuah pawai besar diselenggarakan di Surabaya di mana Komando Aksi Bersama yang terdiri dari berbagai partai politik dibentuk.
Meskipun Basuki telah mendorong partai-partai politik untuk bergabung dengan Komando Aksi Bersama, Basuki tidak serta merta memerintahkan pasukannya untuk mengganyang PKI sebagaimana komandan-komando yang lain. Selama minggu-minggu pertama penumpasan PKI di seluruh negeri, tidak ada insiden apa pun di ibu kota Jawa Timur, Surabaya. Kurangnya komitmen untuk menumpas PKI ini dan dimasukkannya nama Basuki sebagai anggota Dewan Revolusi menyebabkan banyak orang yang curiga bahwa Basuki adalah simpatisan PKI. Beberapa stafnya harus memaksa Basuki terlebih dahulu sebelum akhirnya ia membekukan kegiatan-kegiatan pro-PKI di Surabaya dan Jawa Timur.
Pada bulan November tahun 1965, Basuki dipindahkan ke Jakarta dan menjadi anggota staf Soeharto yang pada saat itu menjabat sebagai Panglima Angkatan Darat, dan menduduki jabatan sebagai Deputi Bidang Keuangan dan Hubungan Sipil. Basuki juga aktif sebagai anggota Panitia Sosial Politik (Panitia SosPol), sebuah think-tank politik Angkatan Darat yang dibentuk Soeharto setelah ia menjadi Komandan.
Pada bulan Februari tahun 1966, dalam sebuah Reshuffle Kabinet, Basuki diangkat menjadi Menteri Urusan Veteran.
[3/7 01.39] rudysugengp@gmail.com: 4. Buatkan gambar dan infografis tentang
Supersemar dan Gelar Pahlawan Basuki Rahmat
Supersemar :
Pada tanggal 11 Maret 1966, Basuki menghadiri rapat kabinet yang pertama diadakan setelah Soekarno melakukan reshuffle kabinet di akhir bulan Februari di Istana Presiden. Pertemuan belum lama berlangsung ketika Soekarno tiba-tiba meninggalkan ruangan, setelah menerima catatan dari komandan pengawalnya. Ketika pertemuan itu selesai, Basuki dan Menteri Perindustrian, Mohammad Jusuf, pergi kelu dari Istana Presiden untuk bertemu dengan Amir Machmud, Komandan KODAM V / Jaya. Basuki kemudian diberitahu apa yang telah terjadi dan mendapat informasi bahwa Soekarno telah pergi ke Bogor naik helikopter karena tidak aman di Jakarta.
Jusuf menyarankan agar mereka bertiga pergi ke Bogor untuk memberikan dukungan moral bagi Sukarno. Dua jenderal tersebut setuju dan bersama-sama pergi ke Bogor setelah meminta izin dari Soeharto. Menurut Amir Machmud, Soeharto meminta ketiga jenderal tersebut untuk memberitahu Soekarno mengenai kesiapannya untuk memulihkan keamanan apabila Soekarno memerintahkannya.
Di Bogor, ketiga jendral tersebut bertemu dengan Soekarno yang tidak senang dengan situasi keamanan dan dengan penegasan Amir Machmud bahwa segalanya aman. Soekarno kemudian mulai mendiskusikan pilihan-pilihan yang ada dengan Basuki, Jusuf, dan Amir Machmud sebelum akhirnya bertanya pada mereka bagaimana ia bisa mengendalikan situasi. Basuki dan Jusuf diam, tetapi Amir Machmud menyarankan agar Soekarno memberikan beberapa kewenangan dan bersama-sama memerintah Indonesia sehingga semuanya dapat diamankan. Pertemuan kemudian dibubarkan dan Soekarno mulai mempersiapkan Surat Keputusan Presiden. Waktu pengeluaran Surat Keputusan yang kemudian menjadi Supersemar akhirnya siap dan menunggu tanda tangan dari Soekarno. Soekarno ragu-ragu di detik-detik terakhir tetapi Jusuf dan dua jenderal serta orang-orang terdekat Soekarno dalam Kabinet yang juga telah tiba di Bogor mendorongnya untuk menandatangani. Soekarno akhirnya menandatangani surat itu. Sebagai jendral yang paling senior, Basuki dipercaya untuk membawa surat keputusan tersebut dan diperintahkan untuk menyampaikannya kepada Soeharto. Malam itu, tiga Jenderal segera pergi ke Markas Kostrad dan Basuki menyerahkan surat tersebut kepada Soeharto.
Terdapat kontroversi mengenai peran Basuki dalam peristiwa Supersemar. Ada salah satu versi yang menyatakan bahwa ada empat jenderal yang pergi ke Bogor, di mana jendral yang keempat adalah Maraden Panggabean. Versi ini menyebutkan bahwa Basuki dan Panggabean menodongkan pistol ke Soekarno dan memaksanya untuk menandatangani Supersemar yang telah dipersiapkan dan dibawa oleh Jusuf dalam map berwarna merah muda.
Pada tanggal 13 Maret, Soekarno memanggil Basuki, Jusuf, dan Amir Machmud. Soekarno marah karena Soeharto telah melarang PKI dan menyatakan kepada tiga jendral yang Supersemar tidak memuat perintah semacam itu. Soekarno kemudian memerintahkan agar Surat Keputusan tersebut ditunjukkan padanya untuk memeriksa isi Supersemar, tetapi salinan Surat Keputusan itu tidak pernah diketemukan kecuali salinan yang berada di tangan mantan Duta Besar Kuba, AM Hanafi.
Orde Baru :
Penyerahan Supersemar secara de facto memberi Soeharto kekuasaan eksekutif dan ia segera mulai membentuk Kabinet yang lebih menguntungkan baginya. Basuki menjabat sebagai Menteri Dalam Negeri sejak Kabinet pertama Soeharto pada bulan Maret 1966 hingga ketika Soeharto secara resmi menjadi presiden pada bulan Juni 1968.
Basuki Rahmat meninggal pada tanggal 9 Januari 1969 ketika masih memegang jabatan sebagai Menteri Dalam Negeri. Posisinya digantikan oleh Amir Machmud.
Penghargaan :
Setelah ia meninggal Pemda Jakarta mengubah nama Jalan Proklamasi (Depok Timur) yang terhubung ke Jalan Arif Rahman Hakim (Margonda) menjadi Jalan Basuki Rahmat, serta menamakan juga nama Jalan Basuki Rahmat dan Jalan Jend. Basuki Rachmat di Kota Surabaya. TV Jakarta dan Depok pernah membuat film pendek mengenai riwayat hidupnya.
Tokoh Supersemar :
Peristiwa Supersemar dan Menteri Dalam Negeri:
Menjadi salah satu dari tiga jenderal saksi kunci (bersama Amir Machmud dan M. Jusuf) dalam penandatanganan Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar) pada tahun 1966. Beliau kemudian ditunjuk menjadi Menteri Dalam Negeri dalam Kabinet Ampera dan berjuang menjaga stabilitas politik negara hingga akhir hayatnya.
Beliau wafat secara mendadak pada 8 Januari 1969 saat memimpin rapat di Departemen Dalam Negeri.
Beliau dianugerahi gelar Pahlawan Nasional oleh Pemerintah RI pada keesokan harinya, menjadikannya salah satu tokoh yang paling cepat mendapat gelar pahlawan.
[3/7 01.48] rudysugengp@gmail.com: Lanjutkan AF LASUS
[3/7 10.58] rudysugengp@gmail.com: 1. Buatkan gambar dan infografis tentang
Biodata dan Kehidupan Awal Arie Frederik Lasus
Biodata Singkat
Nama Lengkap: Arie Frederik Lasut
Tempat, Tanggal Lahir: Desa Kapataran, Lembean Timur, Minahasa, 6 Juli 1918
Wafat: Pakem, Sleman, Yogyakarta, 7 Mei 1949 (usia 30 tahun)
Pendidikan: Mendalami ilmu geologi dan pertambangan sejak masa penjajahan Belanda
Keluarga: Putra tertua dari delapan bersaudara; adiknya, Willy Lasut, pernah menjabat sebagai Gubernur Sulawesi Utara
Lasut menikah dengan : Nieke Maramis pada tanggal 31 Desember 1941.
Mereka dikaruniai satu anak perempuan, Winny Lasut
Gelar Pahlawan: Pahlawan Kemerdekaan Nasional (SK Presiden No. 12/T.K/1969)
Pendidikan :
Lasut mulai sekolah di Hollands Inlandsche School (HIS) di Tondano. Ia kemudian mendapat kesempatan untuk sekolah guru di Hollands Inlandsche Kweekschool (HIK) di Ambon karena keberhasilannya menjadi juara dalam kelasnya. Pada tahun 1933 Lasut lulus dari HIK Ambon dan termasuk salah satu siswa yang terpilih untuk melanjutkan sekolah ke HIK Bandung. Namun hanya setahun di Bandung, Lasut berkeputusan untuk tidak menjadi guru dan pindah ke Jakarta untuk mengikuti pelajaran di Algeme(e)ne Middelbare School (AMS).
Pada tahun 1937 Lasut lulus dari AMS dan memulai sekolah kedokteran di Geneeskundige Hooge School yang sekarang adalah Fakultas Kedokteran di Universitas Indonesia. Lasut terpaksa harus berhenti dari sekolah ini karena kesulitan dana.
Pada tahun 1938 Lasut mulai bekerja di Departement van Ekonomische Zaken (Departemen Urusan Ekonomi).
Setahun kemudian Lasut masuk Techniche Hoogeschool te Bandung (Sekolah Teknik Bandung) yang sekarang adalah Institut Teknologi Bandung. Namun, studinya harus dihentikan lagi karena kesulitan dana. Ia kemudian mendaftar dan berhasil mendapat beasiswa dari Dienst van den Mijnbouw (Jawatan Pertambangan) untuk menjadi asisten geolog. Saat itu adalah saat bermulanya Perang Dunia II dan serangan-serangan pasukan Jepang yang akhirnya menuju ke Indonesia pada tahun 1942. Sewaktu di sekolah teknik di Bandung Lasut pernah mendapat latihan untuk menjadi Corps Reserve Officer untuk membantu Belanda melawan Jepang. Lasut turut serta dalam perang melawan Jepang di Ciater di Jawa Barat. Semasa pendudukan Jepang di Indonesia Lasut bekerja di Chorisitsu Chosayo (Jawatan Geologis) di Bandung. Ia bersama dengan R. Sunu Sumosusastro termasuk beberapa orang Indonesia yang diberi posisi dalam jawatan tersebut oleh Jepang.
Arie Frederik Lasut (A.F. Lasut) adalah seorang Pahlawan Nasional Indonesia sekaligus ahli geologi yang gugur demi mempertahankan dokumen rahasia kekayaan tambang Indonesia dari cengkeraman penjajah. Lahir di Minahasa pada 6 Juli 1918, ia dikenal sebagai "Bapak Pertambangan Indonesia" karena kontribusi besarnya dalam merintis institusi kegeologian di awal kemerdekaan.
[3/7 10.59] rudysugengp@gmail.com: 2. Buatkan gambar dan infografis tentang
Perjuangan Pasca Kemerdekaan Arie Frederik Lasus
Pada bulan September 1945, Presiden menginstruksikan untuk mengambilalih instansi-instansi pemerintahan dari Jepang. Lasut ikutserta dalam pengambilalihan jawatan geologis dari Jepang yang berhasil dilakukan secara damai. Jawatan itu kemudian dinamakan Jawatan Pertambangan dan Geologi. Kantor jawatan terpaksa harus dipindah beberapa kali untuk menghindari agresi Belanda setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia. Kantor jawatan sempat pindah ke Tasikmalaya, Magelang, dan Yogyakarta dari tempat semulanya di Bandung.
Sekolah pelatihan geologis juga dibuka selama kepemimpinan Lasut sebagai kepala jawatan saat itu.
Selain usahanya di jawatan, Lasut turut aktif dalam organisasi Kebaktian Rakyat Indonesia Sulawesi (KRIS) yang bertujuan untuk membela kemerdekaan Indonesia.
Dia juga adalah anggota Komite Nasional Indonesia Pusat, awal mula dewan perwakilan di Indonesia.
Mengambil Alih Kantor Pertambangan dari Jepang :
Setelah proklamasi kemerdekaan, A.F. Lasut bersama para pemuda pejuang melakukan aksi berani mengambil alih kantor pertambangan milik pemerintah militer Jepang (Chorisitsu Chosayo) di Bandung. Pada 20 Oktober 1945, lembaga tersebut diubah menjadi Pusat Djawatan Tambang dan Geologi dan ia diangkat sebagai kepalanya.
Mengamankan Dokumen Rahasia Negara :
Saat Belanda melancarkan Agresi Militer, A.F. Lasut terpaksa memindahkan operasional djawatan ke beberapa kota, termasuk Tasikmalaya, Magelang, hingga Yogyakarta.
Di tengah situasi darurat tersebut, ia berhasil menyembunyikan dan menyelamatkan dokumen-dokumen penting mengenai peta bumi dan potensi kekayaan mineral Indonesia agar tidak jatuh ke tangan Belanda.
Memasok Bahan Bom dan Terlibat Diplomasi :
Selain berjuang di bidang geologi, A.F. Lasut juga aktif membantu milisi fisik dengan memasok bahan-bahan kimia dari laboratorium geologi untuk pembuatan bom molotov para pejuang. Ia juga masuk ke dalam struktur Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) dan menjadi anggota delegasi Mohammad Roem dalam perundingan diplomatik dengan Belanda.
[3/7 10.59] rudysugengp@gmail.com: 3. Buatkan gambar dan infografis tentang
Akhir Hayat dan Penghargaan Arie Frederik Lasus
Menolak Bekerja Sama dengan Belanda :
Belanda sangat mengincar pengetahuan A.F. Lasut mengenai letak dan kandungan kekayaan perut bumi Indonesia.
Ia berulang kali dibujuk, diancam, hingga diiming-imingi jabatan, fasilitas mewah, dan uang agar mau menyerahkan dokumen tersebut serta bekerja sama dengan lembaga bentukan Belanda. Namun, ia tegas menolak segala tawaran kolonial demi menjaga kedaulatan energi bangsa.
Gugur sebagai Kusuma Bangsa :
Lasut terus diincar oleh Belanda karena pengetahuannya tentang pertambangan dan geologi di Indonesia, tetapi ia tidak pernah mau bekerjasama dengan mereka.
Pada pagi hari tanggal 7 Mei 1949, Lasut diambil oleh Belanda dari rumahnya dan dibawa ke Pakem, sekitar 7 kilometer di utara Yogyakarta. Di sana ia ditembak mati. Beberapa bulan kemudian jenazahnya dipindahkan ke pekuburan Sasanalaya Jl. Ireda di Yogyakarta di samping isterinya yang telah lebih dulu meninggal pada bulan Desember 1947. Upacara penguburan dihadiri oleh Mr. Assaat, pejabat presiden pada saat itu.
Karena keteguhannya yang tidak bisa disuap, Belanda akhirnya mengambil tindakan kekerasan. Pada pagi hari tanggal 7 Mei 1949, A.F. Lasut diculik oleh tentara khusus Belanda dari kediamannya di Yogyakarta.
Ia dibawa ke daerah Pakem, Sleman, lalu ditembak mati pada usia yang masih sangat muda, yaitu 30 tahun.
Atas jasa-jasanya yang luar biasa, pemerintah RI menganugerahinya gelar Pahlawan Kemerdekaan Nasional pada tahun 1969.
Penghormatan :
Untuk mengenang jasanya, Arie Frederik Lasut dinobatkan sebagai salah satu Bapak Pertambangan Indonesia. Namanya diabadikan di berbagai tempat, mulai dari nama jalan, GOR di Sulawesi, hingga gedung di Museum Geologi Bandung dan universitas ternama di Yogyakarta.
[3/7 11.00] rudysugengp@gmail.com: Saat ini
Sultan Ageng Tirtayasa
[3/7 11.25] rudysugengp@gmail.com: 1. Buatkan gambar dan infografis tentang
Bentuk Perlawanan Militer Sultan Ageng Tirtayasa
Sulthan Maulana Syarif 'Abdul-Fattah al-Mafaqih atau Sultan Ageng Tirtayasa (lahir di Kesultanan Banten, 1631 – meninggal di Batavia, Hindia Belanda, 1692 pada umur 60–61 tahun) adalah sultan Banten ke-6. Ia naik takhta pada usia 20 tahun menggantikan kakeknya, Sultan Abdul Mafakhir yang wafat pada tanggal 10 Maret 1651, setelah sebelumnya ia diangkat menjadi Sultan Muda dengan gelar Pangeran Adipati atau Pangeran Dipati, menggantikan ayahnya yang wafat lebih dulu pada tahun 1650.
Pada tahun 2017 sutradara Darwin Mahesa mengangkat film Tirtayasa The Sultan of Banten bergenre dokudrama yang diproduksi oleh Kremov Pictures.
Keluarga :
Sultan Ageng Tirtayasa memiliki 18 orang putera:
Sultan Abu Nashar Abdulqahar
Pangeran Arya Purbaya
Tubagus Abdul
Tubagus Rajaputra
Tubagus Husaen
Tubagus Ingayudadipura
Raden Mandaraka
Raden Saleh
Raden Rum
Raden Sugiri
Raden Muhammad
Tubagus Rajasuta
Raden Muhsin
Arya Abdulalim
Tubagus Muhammad Athif
Tubagus Wetan
Tubagus Kulon
Raden Mesir
Sejak masa pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa, gelar-gelar kebangsawanan Banten ditertibkan: Sultan untuk raja, Pangeran Ratu untuk putra mahkota atau pewaris takhta pertama, Pangeran Adipati untuk pewaris takhta kedua atau adik Pangeran Ratu. Gelar Pangeran Ratu berkembang menjadi Tubagus sementara Pangeran Adipati berkembang menjadi Adipati MAS. Keturunan Tubagus menyebar di daerah Banten / Jawa Barat sementara keturunan Adipati MAS menyebar di Surabaya / Jawa Timur.
Di Pemakaman Boto Putih pembagian ini menjadi dasar pembagian kawasan Kasepuhan dan Kanoman.
Sultan Ageng Tirtayasa adalah putra dari Sulthan Abul Ma'ali Zakaria (Sultan Banten periode 1640–1650) dan Ratu Martakusuma. Sejak kecil ia bergelar Pangeran Surya, kemudian ketika ayahnya wafat, ia diangkat menjadi Sultan Muda yang bergelar Pangeran Dipati. Setelah kakeknya meninggal dunia pada tanggal 10 Maret 1651, ia diangkat sebagai Sultan Banten ke-6 dengan gelar Sulthan 'Abdul-Fattah al-Mafaqih.
Nama Sultan Ageng Tirtayasa berasal ketika ia mendirikan keraton baru di dusun Tirtayasa (terletak di Kabupaten Serang).
Perjuangan Sultan Ageng Tirtayasa berfokus pada perlawanan gigih terhadap monopoli VOC Belanda dengan menjadikan Banten sebagai pelabuhan internasional terbuka. Ia menerapkan strategi perang gerilya, membangun armada laut yang kuat, dan menolak tunduk pada kolonial.
Perang Gerilya: Melakukan sabotase, membakar kebun tebu, dan menyerang pos militer serta kapal VOC di sekitar Batavia.
Blokade & Armada:
Membangun armada laut yang tangguh untuk mematahkan blokade dan melindungi jalur perdagangan dari gangguan VOC.
[3/7 11.26] rudysugengp@gmail.com: 2. Buatkan gambar dan infografis tentang
Kebijakan Ekonomi & Pembangunan Sultan Ageng Tirtayasa
Pemerintahan :
Pada masa pemerintahannya, Kesultanan Banten mencapai masa kejayaanya. Ia berusaha keras melakukan modernisasi terhadap Banten dan menjadikannya sebagai pusat kegiatan Muslim di Kepulauan Indonesia. Dia mengirim putranya ke Mekah dengan perintah untuk pergi dari sana ke Turki dengan harapan dapat menjalin hubungan baik dengan kekuatan utama Islam. Pada saat itu juga, ia dan putranya mencoba menghimpun pengikut di kalangan para penasihat dan petualang Eropa.
Prestasi terbesar dalam pemerintahannya adalah penataan perdagangan luar negeri. Seperti raja Makassar, ia menyambut baik pedagang dari Britania, Denmark, Prancis di pelabuhan-pelabuhannya. Melalui bantuan-bantuan orang Eropa ini dia mulai melengkapi kapal-kapalnya sendiri yang dibawa nakhoda asal Eropa berlayar ke Filipina, Makau, Benggala, dan Persia. Saudagar-saudagar India, Cina, dan Arab berkumpul di Banten setelah tersingkir dari Malaka dan Makassar. Barang dagangan yang dijual di pasar Batavia sebagian datang dari pelabuhan pesaing di Banten dan gengsi Sultan Tirtayasa naik begitu tinggi sehingga ia menuntut bagian dalam perdagangan pala di Ambon dan dalam perdagangan timah di Semenanjung Malaya, sebuah tuntutan yang ditolak oleh pemerintah di Batavia. Sebelumnya, bahkan bukan pada zaman sebelum kedatangan Portugis, perdagangan yang begitu luas terjadi di suatu pelabuhan Indonesia seperti di Banten pada waktu di mana VOC sedang berada di puncak kekuatannya.
Pelabuhan Terbuka: Menolak perjanjian monopoli dan membuka pelabuhan Banten untuk pedagang dari Eropa, Arab, Persia, hingga India.
Infrastruktur & Pertanian:
Memajukan pertanian dengan membuka lahan sawah baru dan membangun sistem irigasi, yang menjadikan Banten pusat perdagangan lada yang sangat makmur.
[3/7 11.26] rudysugengp@gmail.com: 3. Buatkan gambar dan infografis tentang
Diplomasi & Perang Politik Sultan Ageng Tirtayasa
Perjuangan :
Sultan Ageng Tirtayasa berkuasa di Kesultanan Banten pada periode 1651–1683. Dia memimpin banyak perlawanan terhadap Belanda. Pada masa itu, VOC menerapkan perjanjian monopoli perdagangan yang merugikan Kesultanan Banten. Kemudian Tirtayasa menolak perjanjian ini dan menjadikan Banten sebagai pelabuhan terbuka. Saat itu, Sultan Ageng Tirtayasa ingin mewujudkan Banten sebagai kerajaan Islam terbesar di Indonesia (Nusantara).
Di bidang ekonomi, Tirtayasa berusaha meningkatkan kesejahteraan rakyat dengan membuka sawah-sawah baru dan mengembangkan irigasi.
Di bidang keagamaan, Sultan Ageng Tirtayasa mengangkat Syekh Yusuf sebagai mufti sekaligus penasehat kesultanan. Ia juga memberikan kepercayaan kepada Syekh Yusuf untuk mendidik anak-anaknya tentang agama. Selain itu, Sultan Ageng Tirtayasa juga menikahkan putrinya yang bernama Siti Syarifah dengan Syaikh Yusuf.
Ketika terjadi sengketa dengan putra mahkota, Sultan Haji , Belanda ikut campur dengan cara bersekutu dengan Sultan Haji untuk menyingkirkan Sultan Ageng Tirtayasa. Saat Tirtayasa mengepung pasukan Sultan Haji di Sorosowan (Banten), Belanda membantu Sultan Haji dengan mengirim pasukan yang dipimpin oleh Kapten Tack dan Saint-Martin.
Menghalau Mataram: Memperluas pengaruh Banten ke wilayah Cirebon dan Priangan guna membendung ekspansi Mataram dan membatasi gerak VOC.
Politik Adu Domba VOC: Perjuangan Tirtayasa melemah ketika terjadi konflik internal dengan putranya sendiri, Sultan Haji.
VOC memanfaatkan situasi ini dengan bersekutu bersama Sultan Haji untuk menjatuhkan sang ayah.
Pada tahun 1681, Sultan Ageng Tirtayasa berhasil ditawan oleh VOC dan wafat di Batavia pada tahun 1692.
Sepak terjangnya membawa Kesultanan Banten menuju puncak kejayaan.
Kematian dan penghargaan :
Pada tahun 1683, Sultan Ageng tertangkap dan dipenjarakan di Batavia. Ia meninggal dunia dalam penjara dan dimakamkan di Tirtayasa.
Atas jasa-jasanya pada negara, Sultan Ageng Tirtayasa diberi gelar pahlawan Nasional berdasarkan SK Presiden Republik Indonesia No. 045/TK/Tahun 1970, tanggal 1 Agustus 1970.
Nama Sultan Ageng Tirtayasa juga kemudian diabadikan menjadi nama salah satu perguruan tinggi negeri di Banten, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa.
[3/7 11.26] rudysugengp@gmail.com: 4. Buatkan gambar dan infografis tentang
Hubungan diplomatik Sultan Ageng Tirtayasa
Pada masa pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa, Kesultanan Banten aktif membina hubungan baik dan kerjasama dengan berbagai kesultanan di sekitarnya, bahkan dengan negara lain di luar Nusantara. Banten menjalin hubungan dengan Turki, Inggris, Aceh, Makassar, Arab, dan kerajaan lain.
Banten dan kerajaan Nusantara lain :
Sekitar tahun 1677, Banten mengadakan kerjasama dengan Trunojoyo yang sedang memberontak terhadap Mataram. Tidak hanya itu, Banten juga menjalin hubungan baik dengan Makassar, Bangka, Cirebon dan Inderapura.
Banten dan Denmark :
Sultan Ageng Tirtayasa berhasil menjalin hubungan dagang dan kerja sama dengan pedagang-pedagang Eropa selain Belanda, seperti Inggris, Denmark, dan Prancis.
Sejak pertengahan abad ke-17 melalui surat-surat antara pejabat Kesultanan Banten dengan Denmark. Pada tahun 1642, setidaknya ada tiga surat yang dikirimkan dari pejabat Banten kepada pejabat Denmark. Kiai Dinda Supati mengeluarkan surat tentang perdagangan lada dengan kumendur dan petor, pejabat administrasi Denmark. Surat sultan Banten kepada Denmark tersebut dikirimkan pada tahun 1671. Surat tersebut berisi izin dari sultan atas permintaan raja Denmark, Christian V, untuk memiliki tanah di Banten, dan sebagai imbalannya, sultan meminta Denmark untuk menjual mesiu dan bubuk mesiu. Surat itu juga menyinggung transaksi lada dari Hadhelar, seorang Denmark, yang memesan lada sebanyak 176 bahar kepada dan dengan syahbandar Banten, Ngabehi Cakradana, yang dibuktikan dengan urat yang dikirim Cakradana pada tahun berikutnya. Surat Sultan Abul Fath itu dibalas oleh Christian V yang dikirim pada tahun yang sama, tetapi surat itu tidak dapat diidentifikasi karena berbagai syarat.
Pada tahun 1675, Sultan Abul Fath kembali mengirim dua surat kepada Christian V. Kedua surat tersebut isinya sama, yaitu mengenai pengaduan sultan terhadap perilaku dua petor (administrator) Denmark yang berbuat curang dalam perdagangan. Setelah surat tersebut, hubungan diplomatik tidak ditemukan lagi melalui surat-menyurat antara Banten dan Denmark, salah satunya karena tidak lama setelah surat terakhir Banten dikuasai Belanda. Surat-surat Banten dengan Denmark juga lebih bersifat formal, yaitu hubungan dagang. Hal itu terlihat dari bahasa yang digunakan, bahwa hadiah-hadiah persahabatan tidak menyertai surat-surat tersebut.
Banten dan Prancis :
Pada tahun 1671, Raja Prancis Louis XIV mengutus François Caron, pimpinan Kongsi Dagang Prancis di Asia sekaligus pemimpin armada pelayaran ke Nusantara. Setelah mendarat di pelabuhan Banten, ia diterima oleh Syahbandar Kaytsu, seorang Tionghoa muslim. Pada 16 Juli 1671, raja didampingi oleh beberapa pembesar kerajaan mendatangi kediaman orang-orang Prancis di kawasan Pecinan. Caron meminta izin untuk membuka kantor perwakilan di Banten. Hal itu berangkat dari pengalaman Caron yang pernah bekerja pada VOC dan berambisi membuat kongsi dagang Prancis sebesar VOC. Raja kemudian menanyakan tujuan kongsi dagang mereka, ke mana tujuan kapal-kapal mereka, barang dagangan yang diinginkan, dan jumlah uang tunai yang mereka miliki. Sesudah itu pihak Prancis berusaha menjual barang muatan mereka. Barang-barang dagangan apa saja dapat dijual, kecuali candu yang dilarang keras beredar di Banten.
Caron kembali mengunjungi raja dan menghadiahkan getah damar, dua meja besar (yang dibawa dari Surat, India), dua belas pucuk senapan, dua jenis mortir, beberapa granat, dan hadiah lain.
Caron dan Gubernur Banten kemudian menyetujui perjanjian yang berisi sepuluh kesepakatan mengenai pemberian kemudahan dan hak-hak khusus kepada pihak Prancis, sama dengan yang diberikan kepada pihak Inggris.
Banten dan Inggris :
Hubungan baik antara Inggris dan Banten sudah terjalin sejak lama, salah satunya adalah ketika Sultan Abdul Mafakhir mengirimkan surat ucapan selamat pada tahun 1625 kepada Kerajaan Inggris atas dinobatkannya Charles I sebagai Raja Inggris. Sultan Abdul Mafakhir juga memberikan izin kepada Inggris untuk membuka kantor dagang. Bahkan, Banten menjadi pusat kegiatan dagang Inggris sampai akhir masa penerintahan Sultan Ageng Tirtayasa tahun 1682, karena saat itu terjadi perang saudara antara Sultan dengan putranya, Sultan Haji. Sultan Haji meminta bantuan Belanda, sedangkan Sultan Ageng Tirtayasa diketahui meminta bantuan dari Kerajaan Inggris untuk melawan kekuatan anaknya itu.
Pada 1681, Sultan Haji mengirim surat kepada Raja Charles II. Dalam suratnya, dia berminat membeli senapan sebanyak 4.000 pucuk dan peluru sebanyak 5.000 butir dari Inggris. Sebagai tanda persahabatan, Sultan Haji menghadiahkan permata sebanyak 1757 butir. Surat ini juga merupakan pengantar untuk dua utusan Banten bernama Kiai Ngabehi Naya Wipraya dan Kiai Ngabehi Jaya Sedana. Tidak lama kemudian, Sultan Ageng Tirtayasa mengirim surat kepada Raja Charles II meminta bantuan berupa senjata dan mesiu untuk berperang melawan putranya yang dibantu VOC.
[3/7 14.06] rudysugengp@gmail.com: Sultan Hasanuddin
[3/7 14.54] rudysugengp@gmail.com: 1. Buatkan gambar dan infografis tentang
Biodata dan Masa Muda Sultan Hasanuddin
Biodata :
Kelahiran :
Muhammad Bakir I Mallombasi Daeng Mattawang Karaeng Bonto Mangape
12 Januari 1631
Gowa, Kesultanan Gowa
Kematian :
12 Juni 1670 (umur 39)
Gowa, Hindia Belanda
Keturunan :
Sultan kenneth, Sultan Troy Ali, Sultan Petrus Jalil, Karaeng Galesong
Sultan Hasanuddin (Dijuluki Ayam Jantan dari Timur oleh Belanda) (12 Januari 1631 – 12 Juni 1670) adalah Sultan Gowa ke-16 dan pahlawan nasional Indonesia yang terlahir dengan nama Muhammad Bakir I Mallombasi Daeng Mattawang Karaeng Bonto Mangape. Setelah menaiki takhta, ia diberi gelar Sultan Hasanuddin, setelah meninggal ia digelar Tumenanga Ri Balla Pangkana. Karena keberaniannya, ia dijuluki De Haantjes van Het Osten oleh Belanda yang artinya Ayam Jantan dari Timur. Ia dimakamkan di Katangka, Kabupaten Gowa. Ia diangkat sebagai Pahlawan Nasional dengan Surat Keputusan Presiden No. 087/TK/1973, tanggal 6 November 1973.
Sultan Hasanuddin lahir di Makassar pada 12 Januari 1631. Dia lahir dari pasangan Sultan Malikussaid, Sultan Gowa ke-XV, dengan I Sabbe Lokmo Daeng Takuntu. Jiwa kepemimpinannya sudah menonjol sejak kecil. Selain dikenal sebagai sosok yang cerdas, dia juga pandai berdagang. Karena itulah dia memiliki jaringan dagang yang bagus hingga Makassar, bahkan dengan orang asing.
Hasanuddin kecil mendapat pendidikan keagamaan di Masjid Bontoala. Sejak kecil ia sering diajak ayahnya untuk menghadiri pertemuan penting, dengan harapan dia bisa menyerap ilmu diplomasi dan strategi perang. Beberapa kali dia dipercaya menjadi delegasi untuk mengirimkan pesan ke berbagai kerajaan.
Saat memasuki usia 21 tahun, Hasanuddin diamanatkan jabatan urusan pertahanan Gowa. Ada dua versi sejarah yang menjelaskan kapan dia diangkat menjadi raja, yaitu saat berusia 24 tahun atau pada 1655 atau saat dia berusia 22 tahun atau pada 1653. Terlepas dari perbedaan tahun, Sultan Malikussaid telah berwasiat supaya kerajaannya diteruskan oleh Hasanuddin.
Selain dari ayahnya, dia memperoleh bimbingan mengenai pemerintahan melalui Mangkubumi Kesultanan Gowa, Karaeng Pattingaloang. Sultan Hasanuddin merupakan guru dari Arung Palakka, salah satu Sultan Bone yang kelak akan berkongsi dengan Belanda untuk menjatuhkan Kesultanan Gowa.
[3/7 15.09] rudysugengp@gmail.com: 2. Buatkan gambar dan infografis tentang
Perjuangan Sultan Hasanuddin
Pada 1653-1670, kebebasan berdagang di laut lepas tetap menjadi garis kebijakan Gowa di bawah pemerintahan Sultan Hasanuddin. Hal ini mendapat tantangan dari Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC).
Perusahaan dagang asal Belanda itu memiliki monopoli untuk aktivitas perdagangan di Asia. Pada akhirnya kondisi ini menimbulkan konflik dan perseteruan yang mencapai puncaknya saat Sultan Hasanuddin menyerang posisi Belanda di Buton.
Sultan Hasanuddin mengawali perlawanan dengan VOC pada 1660. Di bawah komando Sultan Hasanuddin, pasukan Kerajaan Gowa yang terkenal dengan ketangguhan armada lautnya mulai mengumpulkan kekuatan bersama kerajaan-kerajaan kecil lainnya untuk menentang dan melawan VOC.
VOC pun membalas. Mereka menjalin kerja sama dengan Kerajaan Bone yang sebelumnya memiliki hubungan yang kurang baik dengan Kerajaan Gowa – dan kondisi itu benar-benar dimanfaatkan VOC untuk melawan Gowa.
Tapi armada militer Kerajaan Gowa sangat tangguh. Pada 1663, pemimpin Kerajaan Bone bernama Arung Palakka melarikan diri ke Batavia untuk menghindari kejaran tentara Gowa.
Di pusat pemerintahan VOC itu, Arung Palakka berlindung sekaligus meminta bantuan VOC untuk menghancurkan Kerajaan Gowa. Setelah tiga tahun berselang, tepatnya 24 November 1966, terjadi pergerakan besar-besaran yang dilakukan pasukan VOC di bawah pimpinan Laksamana Cornelis Janszoon Speelman.
Armada laut VOC itu meninggalkan pelabuhan Batavia menuju ke Somba Opu, yang merupakan ibukota Kesultanan Gowa. Pada 19 Desember 1666, armada VOC sampai di Somba Opu, ibukota sekaligus pelabuhan Kerajaan Gowa.
Pada awalnya, Belanda hanya ingin menggertak Sultan Hasanuddin. Tapi sang sultan tak gentar. Speelman kemudian menyerukan tuntutan agar Kerajaan Gowa membayar segala kerugian – yang berkaitan dengan pembunuhan orang-orang Belanda oleh Makassar.
Gowa tak mengindahkan peringatan VOC. Speelman pun mulai mengadakan tembakan meriam terhadap kedudukan dan pertahanan orang-orang Gowa. Tembakan-tembakan meriam kapal-kapal VOC dibalas juga dengan dentuman-dentuman meriam yang gencar dilancarkan pihak Gowa.
Lalu terjadilah pertempuran sengit itu, duel meriam antara armada kapal-kapal VOC dengan benteng pertahanan Kerajaan Gowa.
Dalam pertempuran itu, armada VOC mendapat bantuan dari pasukan Kerajaan Bone yang berada di bawah komando Arung Palakka. Serangan-serangan itu akhirnya membuat Gowa terdesak. Sultan Hasanuddin pun dipaksa menandatangani Perjanjian Bongaya pada 18 November 1667.
Dengan perjanjian itu, Sultan Hasanuddin harus mengakui monopoli VOC yang selama ini ditentangnya. Tak hanya itu, Sultan Hasanuddin juga harus mengakui Arung Palakka menjadi Raja Bone. Wilayah Kerajaan Gowa pun dipersempit.
Meski begitu, itu semua rupanya tak memadamkan semangat juang Sultan Hasanuddin beserta pasukannya. Perlawanan-perlawanan masih terjadi pasca-Bongaya. Tapi sayang, tidak membuahkan hasil yang maksimal dan sebaliknya, VOC terus mendominasi pertempuran.
Walau tidak dapat mengusir Belanda, hingga akhir hayatnya Sultan Hasanuddin masih bersikukuh tidak mau bekerja sama dengan Belanda. Kegigihan tersebut dia bawa sampai gugur pada 12 Juni 1670 di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan.
Selama perlawanan, Sultan Hasanuddin diberi julukan De Haantjes van Het Oosten yang berarti Ayam Jantan dari Timur. Julukan itu diberikan karena semangat dan keberaniannya dalam menentang monopoli yang dilakukan VOC.
Perang Besar melawan VOC:
Bukti Keberanian Tak Tergoyahkan
Salah satu momen paling heroik dalam sejarah perjuangan Sultan Hasanuddin adalah Perang Makassar (1666–1669). Dalam perang ini, beliau memimpin pasukannya dengan strategi yang cerdas dan semangat pantang menyerah. Meskipun akhirnya Kerajaan Gowa harus menandatangani Perjanjian Bungaya, semangat perjuangan Sultan Hasanuddin tetap hidup sebagai simbol perlawanan terhadap penjajahan.
Pada pertengahan abad ke-17, Kompeni Belanda (VOC) berusaha memonopoli perdagangan rempah-rempah di Maluku setelah berhasil mengadakan perhitungan dengan orang-orang Spanyol dan Portugis. Kompeni Belanda memaksa orang-orang negeri menjual dengan harga yang ditetapkan oleh mereka, selain itu Kompeni menyuruh tebang pohon pala dan cengkeh di beberapa tempat, supaya rempah-rempah jangan terlalu banyak. Maka Sultan Hasanuddin menolak keras kehendak itu, sebab yang demikian adalah bertentangan dengan kehendak Allah katanya. Untuk itu Sultan Hasanuddin pernah mengucapkan kepada Kompeni "marilah berniaga bersama-sama, mengadu untuk dengan serba kegiatan". Namun, Kompeni tidak mau, sebab dia telah melihat besarnya keuntungan di negeri ini, sedang Sultan Hasanuddin memandang bahwa cara yang demikian itu adalah kezaliman.
Pada tahun 1660, VOC Belanda menyerang Makassar, tetapi belum berhasil menundukkan Kesultanan Gowa. Tahun 1667, VOC Belanda di bawah pimpinan Cornelis Speelman beserta sekutunya kembali menyerang Makassar. Pertempuran berlangsung di mana-mana, hingga pada akhirnya Kesultanan Gowa terdesak dan makin lemah, sehingga dengan sangat terpaksa Sultan Hasanuddin menandatangani Perjanjian Bungaya pada tanggal 18 November 1667 di Bungaya. Gowa yang merasa dirugikan, mengadakan perlawanan lagi. Pertempuran kembali pecah pada Tahun 1669. Kompeni berhasil menguasai benteng terkuat Gowa yaitu Benteng Sombaopu pada tanggal 24 Juni 1669. Sultan Hasanuddin wafat pada tanggal 12 Juni 1670 karena penyakit ari-ari.
[3/7 15.09] rudysugengp@gmail.com: 3. Buatkan gambar dan infografis tentang
Penyebab kekalahan dan Akhir Hayat Sultan Hasanuddin
Penyebab kekalahan Sultan Hasanuddin :
Kekalahan Sultan Hasanuddin dari Makassar dalam peperangan melawan VOC disebabkan oleh Belanda mendapat bantuan dari Arung Palakka. Pada 24 Oktober 1666, angkatan laut VOC berangkat ke Makassar di bawah pimpinan Laksamana Cornelis Spelman.
Pada 15 Desember 1666, VOC tiba di Benteng Somba Opu. Mereka membawa sekitar 21 kapal perang serta 600 pasukan. Begitu sampai, Spelman mengutus orangnya menemui Sultan Hasanuddin untuk menyerah dan membayar ganti rugi kepada VOC.
Namun tuntutan tersebut ditolak keras oleh Sultan Hasanuddin, karena VOC tidak memperlihatkan niat baiknya. Menanggapi penolakan dari Sultan Hasanuddin, Laksamana Speelman menyerang Makassar pada 21 Desember 1666.
Serangan VOC tersebut segera dibalas oleh pejuang Makassar dengan gagah berani. Ketika Sultan Hasanuddin melakukan berbagai persiapan, VOC juga melakukan hal yang sama, yakni menjalin aliansi dengan Arung Palakka, pangeran dari Kerajaan Bone.
Arung Palakka sendiri pernah menjadi tahanan bagi Kerajaan Gowa-Tallo bersama keluarganya. Dengan keinginannya untuk membebaskan Bone dari kekuasaan Gowa, dia pun bersekutu dengan VOC.
Setelah mendapat dukungan Arung Palakka, pimpinan VOC, Gubernur Jenderal Maetsuyker memutuskan untuk segera menyerang Gowa. Dikirimlah pasukan ekspedisi yang terdiri atas tentara VOC di bawah pimpinan Cornelis Janszoon Spelman, orang-orang Ambon yang dipimpin Jonker van Manipa, dan pasukan Bugis Bone yang dipimpin oleh Arung Palakka.
Pada 7 Juli 1667, meletus Perang Gowa, di mana kekuatan VOC menyerang pasukan Gowa dari berbagai penjuru. Meski telah berjuang sekuat tenaga, Sultan Hasanuddin tetap kewalahan karena pasukan gabungan musuh dilengkapi dengan peralatan senjata yang lebih lengkap.
Terlebih, VOC juga mendapat bantuan kiriman dari Batavia. Benteng pertahanan tentara Gowa di Barombang akhirnya diduduki Arung Palakka, yang menandai kemenangan pihak VOC.
18 November 1667, Sultan Hasanuddin kemudian dipaksa menandatangani Perjanjian Bongaya, yang salah satu isinya Gowa harus mengakui hak monopoli VOC. Perjanjian Bongaya yang sangat merugikan pihaknya, membuat Sultan Hasanuddin kembali melancarkan serangan.
Pada 1668, Sultan Hasanuddin memimpin perlawanan rakyat Makassar terhadap VOC untuk yang kedua kalinya. Namun, perlawanan ini segera dipadamkan, bahkan benteng pertahanan rakyat Gowa, yang kemudian diberi nama Benteng Rotterdam, jatuh dan dikuasai oleh VOC.
Sewaktu lahir nama beliau diberi nama Muhammad Bakir Daeng Mattawang Karaeng Bonto Mangape, pemberi nama ini oleh Qadi Kesultanan Gowa yang juga adalah kakak iparnya sendiri (suami dari sepupu) yaitu Alhabib Syaikh Alwi Jalaluddin Bafagih (keturunan Imam Maula Aidid diHadramaut yang adalah Keturunan Nabi), kemudian ketika menjabat sebagai Sultan maka beliau mendapat gelar Sultan Hasanuddin. Namanya kini diabadikan untuk Universitas Hasanuddin, Kodam XIV/Hasanuddin dan Bandar Udara Internasional Sultan Hasanuddin di Makassar, KRI Sultan Hasanuddin dan Jl. Sultan Hasanuddin di berbagai kota di Indonesia.
Nilai Kepemimpinan Sultan Hasanuddin : yang Patut Diteladani
Sultan Hasanuddin bukan hanya dikenal karena keberaniannya, tetapi juga karena keteguhannya menjaga martabat dan kedaulatan bangsa. Nilai-nilai seperti:
1. Keberanian melawan ketidakadilan
2. Cinta tanah air
3. Pantang menyerah dalam menghadapi tekanan asing
menjadi warisan moral yang sangat relevan bagi generasi muda Indonesia saat ini.
Warisan dan Pengakuan Nasional :
Atas jasa-jasanya, pemerintah Indonesia menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada Sultan Hasanuddin pada tahun 1973. Namanya kini diabadikan dalam berbagai bentuk, seperti Bandara Internasional Sultan Hasanuddin di Makassar, universitas, hingga jalan-jalan besar di berbagai daerah Indonesia.
Sultan Hasanuddin bukan sekadar nama dalam buku sejarah, melainkan simbol nyata dari semangat perjuangan dan nasionalisme. Kisah keberaniannya mengingatkan kita bahwa kemerdekaan tidak pernah datang dengan mudah — dan bahwa setiap generasi memiliki tanggung jawab untuk menjaga kedaulatan bangsa seperti yang telah beliau perjuangkan.
[3/7 20.00] rudysugengp@gmail.com: 1. Buatkan gambar dan infografis tentang
Biodata dan Masa Muda Tuanku Imam Bonjol
Biodata Singkat
Nama Asli: Muhammad Syahab (dikenal juga sebagai Peto Syarif, Malin Basa, dan Tuanku Imam)
Tempat, Tanggal Lahir: Bonjol, Luhak Agam, Pagaruyung, 1772
Tempat, Tanggal Wafat: Lotta, Pineleng, Minahasa, Sulawesi Utara, 6 November 1864
Gelar Utama: Tuanku Imam Bonjol
Penganugerahan: Pahlawan Nasional Indonesia (1973)
Masa muda :
Nama asli dari Tuanku Imam Bonjol adalah Muhammad Shawab, yang lahir di Bonjol, Luhak Agam, Pagaruyuang pada 1 Januari 1772. Ia merupakan putra dari pasangan Khatib Bayanuddin dan Hamatun.Ayahnya, Khatib Bayanuddin merupakan seorang alim ulama yang berasal dari Sungai Rimbang, Suliki, Lima Puluh Kota.
Ibunya Hamatun dan pamannya Syekh Usman adalah perantau bangsa Arab yang datang ke Alai, Ganggo Mudiak, Bonjol.[6][7] Mereka lalu diterima masuk ke dalam tatanan adat Minangkabau, di mana Syekh Usman menjadi penghulu kaum keturunannya, sebagai bagian klan suku Koto.
Setelah dewasa dan menjadi ulama sekaligus pemimpin, Muhammad Shahab mendapat beberapa gelar dari masyarakat setempat, yaitu Peto Syarif, Malin Basa, Datuk Bagindo Suman, dan terakhir Tuanku Imam.
Tuanku Imam Bonjol tidak terlibat sejak awal dalam Perang Padri. Ia baru terlibat setelah Tuanku nan Renceh dari Kamang, Agam sebagai salah seorang pemimpin Harimau Nan Salapan menunjuknya sebagai imam (pemimpin) bagi kaum Padri di Bonjol.
Ia akhirnya lebih dikenal dengan sebutan Tuanku Imam Bonjol.
Masa Kecil Tuanku Imam Bonjol :
Beliau dilahirkan di kalangan keluarga pedagang dan senang merantau. Inilah yang menyebabkan dirinya pernah dikirim ke Malaysia untuk mendapatkan pendidikan formal Sekolah Rakyat Desa (setingkat Sekolah Dasar) pada 1779.
Setelah dewasa, dia belajar agama Islam kepada Syekh Ibrahim Kumpulan di Bonjol pada 1809–1814.
Selanjutnya, antara tahun 1818 dia memperdalam ilmu Tarekat Naqsyabandiyah di Bonjol. Beliau juga tertarik mempelajari budi bahasa yang luhur, tingkah laku, dan kearifan.
Beberapa Keahlian Tuanku Imam Bonjol :
Imam Bonjol mempunyai keahlian di bidang ilmu Tasawuf dan ilmu Fiqh. Selain itu, beliau juga mempunyai keahlian di bidang pengobatan tradisional.
Beliau dikenal di kalangan masyarakat mampu menyembuhkan berbagai penyakit yang sering dikatakan misterius.
Sebelum menyembuhkan penyakit-penyakit tersebut, beliau melakukan sholat istikhorah dan berdoa kepada Tuhan terlebih dahulu, sehingga para pasiennya juga sembuh seolah-olah secara misterius juga.
Keturunan :
Di antara anak-anak Tuanku Imam Bonjol, yakni Sutan Chaniago dan Sutan Saidi (lain ibu). Ibu Sutan Chaniago berasal dari Alahan Panjang, sedangkan ibu Sutan Saidi berasal dari Koto Lawas, Koto Tinggi. Selepas Perang Padri, Sutan Chaniago diangkat menjadi Kepala Laras Alahan Panjang (1851–1875), sementara Sutan Saidi dibuang bersama Tuanku Imam Bonjol ke Manado dan kembali ke Bonjol setelah sang ayah meninggal.
Putra Imam Bonjol lainnya bernama Mahmud tewas kena tusukan bayonet saat Belanda menaklukkan Benteng Bukit Tajadi pada 1836.
[3/7 20.13] rudysugengp@gmail.com: 3. Buatkan gambar dan infografis tentang
Penangkapan, Pengasingan, Jasa Tuanku Imam Bonjol
Penangkapan :
Tuanku Imam Bonjol menyerah kepada Belanda pada Oktober 1837, dengan kesepakatan bahwa anaknya yang ikut bertempur selama ini, Naali Sutan Chaniago, diangkat sebagai pejabat kolonial Belanda.
Pengasingan :
Imam Bonjol dibuang ke
1. Cianjur, Jawa Barat.
2. Kemudian dipindahkan ke Ambon
3. Akhirnya ke Lotta, Minahasa, dekat Manado.
Di tempat terakhir itu ia meninggal dunia pada tanggal 8 November 1864.
Tuanku Imam Bonjol dimakamkan di tempat pengasingannya tersebut.
Tuanku Imam Bonjol menulis autobiografi yang dinamakan Naskah Tuanku Imam Bonjol yang antara lain berisi penyesalannya atas kekejaman dalam perang Padri.
Tulisan tersebut merupakan karya sastra autobiografi pertama dalam bahasa Melayu yang disimpan oleh keturunan Imam Bonjol serta dipublikasikan tahun 1925 di Berkeley dan tahun 2004 di Padang.
Perjuangan yang telah dilakukan oleh Tuanku Imam Bonjol dapat menjadi apresiasi akan kepahlawanannya dalam menentang penjajahan, sebagai penghargaan dari pemerintah Indonesia yang mewakili rakyat Indonesia pada umumnya, Tuanku Imam Bonjol diangkat sebagai Pahlawan Nasional Indonesia sejak tanggal 6 November 1973.
Selain itu, nama Tuanku Imam Bonjol juga hadir di ruang publik bangsa sebagai nama jalan, nama stadion, nama universitas, bahkan pada lembaran uang Rp5.000 keluaran Bank Indonesia 6 November 2001.
Beberapa Jasa Tuanku Imam Bonjol :
1. Sebagai guru :
Imam Bonjol mendidik dan mengajar di setiap surau, masjid, dan pesantren yang dia bangun di setiap perkampungan, sekaligus menjadi pemimpin para jama’ahnya.
Setelah berjalan lancar, dia kemudian menyerahkannya kepada murid yang paling dipercayainya. Pekerjaan tersebut dilakukannya dengan penuh keikhlasan.
2. Sebagai tokoh panutan :
Sebagai tokoh panutan, beliau sangatlah dekat dengan masyarakat, begitu juga sebaliknya. Inilah yang membuatnya sangat memperhatikan kehidupan masyarakatnya, baik kehidupan jasmaniah maupun kehidupan rohaniahnya.
Jika beliau melihat anggota masyarakatnya yang susah kehidupannya, akan dibantunya dan dianjurkan untuk mencari penghasilan yang lebih menguntungkan.
3. Sebagai pejuang :
Sebagai putra bangsa yang hidup sejak zaman penjajahan Belanda, beliau telah berniat berjuang melawan melalui media agama Islam dengan mendirikan Tarekat Naqsyabandiyah.
Melalui tarekat tersebut, beliau mengajarkan kepada murid-muridnya tentang pelajaran-pelajaran yang berhubungan dengan penjajahan.
[3/7 20.15] rudysugengp@gmail.com: 2. Buatkan gambar dan infografis tentang
Perang Padri Tuanku Imam Bonjol
Perjalanan Perjuangan
Perang Padri:
Awalnya perang ini adalah konflik antara Kaum Padri (ulama) dan Kaum Adat terkait penerapan syariat Islam di Minangkabau. Imam Bonjol ditunjuk oleh Tuanku nan Renceh sebagai pemimpin dan imam Kaum Padri di Bonjol.
Melawan Belanda: Pada 1821, Kaum Adat meminta bantuan Belanda. Ini mengubah arah perang menjadi perlawanan rakyat Minangkabau terhadap kolonialisme Belanda.
Strategi Pertahanan: Di bawah komandonya, daerah Bonjol dijadikan pusat pertahanan dan basis perjuangan yang kuat. Perang Padri menjadi salah satu perang terlama dalam sejarah Nusantara.
Perang Padri :
Perang Padri meninggalkan kenangan heroik sekaligus traumatis di ranah Minangkabau. Selama sekitar 18 tahun pertama perang itu (1803–1821) umumnya yang berperang adalah sesama orang Minang dan Mandailing atau Batak.
Awal Peperangan :
Awal timbulnya peperangan ini didasari keinginan di kalangan pemimpin ulama di kerajaan Pagaruyung untuk menerapkan dan menjalankan syariat Islam sesuai dengan Ahlus Sunnah wal Jamaah (Sunni) yang berpegang teguh pada Al-Qur'an dan sunnah Rasullullah shalallahu 'alaihi wasallam. Pemimpin ulama yang tergabung dalam Harimau nan Salapan meminta Tuanku Lintau untuk mengajak Yang Dipertuan Pagaruyung beserta Kaum Adat untuk meninggalkan beberapa kebiasaan yang tidak sesuai dengan Islam (bid'ah).
Perundingan Gagal antara Padri dan Adat :
Dalam beberapa perundingan tidak ada kata sepakat antara Kaum Padri (penamaan bagi kaum ulama) dengan Kaum Adat. Seiring itu di beberapa nagari dalam kerajaan Pagaruyung bergejolak, dan sampai akhirnya Kaum Padri di bawah pimpinan Tuanku Pasaman menyerang Pagaruyung pada tahun 1815, dan pecah pertempuran di Koto Tangah dekat Batu Sangkar. Sultan Arifin Muningsyah terpaksa melarikan diri dari ibu kota kerajaan ke Lubuk Jambi.
Kaum Adat bekerja dengan Belanda :
Pada 21 Februari 1821, kaum Adat secara resmi bekerja sama dengan pemerintah Hindia Belanda berperang melawan kaum Padri dalam perjanjian yang ditandatangani di Padang.
Sebagai kompensasi, Belanda mendapat hak akses dan penguasaan atas wilayah darek (pedalaman Minangkabau). Perjanjian itu dihadiri juga oleh sisa keluarga dinasti kerajaan Pagaruyung di bawah pimpinan Sultan Tangkal Alam Bagagar yang sudah berada di Padang waktu itu.
Campur tangan Belanda dalam perang itu ditandai dengan penyerangan Simawang dan Sulit Air oleh pasukan Kapten Goffinet dan Kapten Dienema awal April 1821 atas perintah Residen James du Puy di Padang. Dalam hal ini, Belanda beralasan melibatkan diri dalam perang karena "diundang" oleh kaum Adat.
Ajakan Berunding Belanda :
Perlawanan oleh pasukan Padri cukup tangguh sehingga sangat menyulitkan Belanda untuk menundukkannya. Belanda melalui Gubernur Jenderal Johannes van den Bosch lalu mengajak pemimpin Kaum Padri yang kala itu telah dipimpin oleh Tuanku Imam Bonjol untuk berdamai dengan maklumat Perjanjian Masang pada tahun 1824.
Hal ini karena pada saat bersamaan Belanda juga kehabisan dana dalam menghadapi peperangan lain di Eropa dan Jawa, seperti Perang Diponegoro. Namun, kemudian perjanjian ini dilanggar sendiri oleh Belanda dengan menyerang nagari Pandai Sikek.
Kaum Adat dan Padri bersatu melawan Belanda :
Namun, sejak awal 1833 perang berubah menjadi perang antara kaum Adat dan kaum Padri melawan Belanda, kedua pihak bahu-membahu melawan Belanda, Pihak-pihak yang semula bertentangan akhirnya bersatu melawan Belanda.
Di ujung penyesalan muncul kesadaran, mengundang Belanda dalam konflik justru menyengsarakan rakyat Minangkabau itu sendiri.
Bersatunya kaum Adat dan kaum Padri ini dimulai dengan adanya kompromi yang dikenal dengan nama Plakat Puncak Pato di Tabek Patah yang mewujudkan konsensus Adat basandi Syarak, Syarak basandi Kitabullah (Adat berdasarkan Agama, Agama berdasarkan Kitabullah (Al-Qur'an).
Penyesalan Imam Bonjol :
Rasa penyesalan Tuanku Imam Bonjol atas tindakan kaum Padri atas sesama orang Minang, Mandailing dan Batak, terefleksi dalam ucapannya Adopun hukum Kitabullah banyak lah malampau dek ulah kito juo. Baa dek kalian? (Adapun banyak hukum Kitabullah yang sudah terlangkahi oleh kita. Bagaimana pikiran kalian?).
Kemudian semuanya bersorak "ah, saketek indak baã, iyo biktu awak samo awak badusanak" (Bahasa Indonesia: ah, sedikit tidak apa, iya seperti itu jika kita bersaudara).
Penyerangan dan pengepungan benteng kaum Padri di Bonjol oleh Belanda :
dari segala jurusan selama sekitar enam bulan (16 Maret-17 Agustus 1837) yang dipimpin oleh jenderal dan para perwira Belanda, tetapi dengan tentara yang sebagian besar adalah bangsa pribumi yang terdiri dari berbagai suku, seperti Jawa, Madura, Bugis, dan Ambon. Dalam daftar nama para perwira pasukan Belanda, terdapat Mayor Jenderal Cochius, Letnan Kolonel Bauer, Mayor Sous, Kapten MacLean, Letnan Satu Van der Tak, dan Pembantu Letnan Satu Steinmetz. Namun, juga terdapat nama-nama inlandsche (pribumi) seperti Kapitein Noto Prawiro, Luitenant Prawiro di Logo, Karto Wongso Wiro Redjo, Prawiro Sentiko, Prawiro Brotto, dan Merto Poero.
Pada saat penyerangan pertama, Belanda didukung oleh 148 perwira Eropa, 36 perwira pribumi, 1.103 tentara Eropa, dan 4.130 tentara pribumi. Serangan terhadap benteng Bonjol dimulai oleh orang-orang Bugis yang berada di bagian terdepan.
Namun karena pertahanan Padri sangatlah kuat, maka didatangkan lagi tambahan pasukan dari Batavia, di mana pada tanggal 20 Juli 1837 mereka tiba di Padang dengan Kapal Perle. Pasukan tersebut terdiri dari Kapitein Sinninghe, sejumlah orang Eropa dan Afrika, 1 sergeant, 4 korporaals dan 112 flankeurs.
Yang belakangan ini merujuk kepada serdadu Afrika yang direkrut oleh Belanda di kawasan yang sekarang bernama Ghana dan Mali.
Mereka juga disebut Sepoys yang berdinas dalam ketentaraan Belanda.
Masjid Imam Bonjol
Setelah datang bantuan dari Batavia, maka Belanda mulai melanjutkan kembali pengepungannya. Di masa-masa selanjutnya, kedudukan Tuanku Imam Bonjol bertambah sulit. Namun ia masih terus bertahan tak sudi untuk menyerah kepada Belanda. Sehingga sampai tiga kali Belanda mengganti komandan perangnya, barulah pada tanggal 16 Agustus 1837, Benteng Bonjol—benteng dari tanah liat yang di sekitarnya dikelilingi oleh parit-parit—dapat dikuasai setelah sekian lama dikepung.
Kehadiran Sentot Prawirodirjo dalam Perang Padri :
Kehadiran Sentot Prawirodirjo dalam Perang Padri awalnya merupakan siasat dari pihak kolonial. Setelah menyerah pada 1829, Belanda mengirim panglima Perang Diponegoro tersebut ke Sumatera Barat untuk membantu memadamkan pemberontakan kaum Padri.Namun, kehadiran Sentot justru membawa dinamika baru dalam perjuangan Tuanku Imam Bonjol melalui manuver brilian, dengan rincian sebagai berikut:
Siasat Persenjataan:
Sentot menyetujui perintah Belanda bukan untuk mengkhianati perjuangan ulama, melainkan sebagai strategi monumental agar ia dan pasukannya bisa mendapatkan suplai senjata dari kolonial untuk membantu perjuangan Tuanku Imam Bonjol.
Konsolidasi Kekuatan:
Sentot justru menjalin hubungan rahasia dan rapat dengan kaum Padri. Kedua belah pihak sepakat untuk mengesampingkan konflik antara kaum Padri dan kaum Adat, lalu mengarahkan senjata untuk melawan Belanda.
Dukungan Simbolis:
Karena memiliki silsilah keturunan raja dan pengetahuan agama yang luas, Sentot bahkan diangkat oleh Sultan Alam Muning Syah (Raja Minangkabau) sebagai Yang Dipertuan Agung untuk memimpin perlawanan.
Pada akhirnya, siasat Sentot tersebut diketahui oleh Belanda.
Ia ditangkap dan diasingkan ke Bengkulu pada tahun 1833 sebelum sempat memberikan dampak militer yang lebih besar.
[3/7 20.22] rudysugengp@gmail.com: Lanjut Robert Wolter Monginsidi
[3/7 21.09] rudysugengp@gmail.com: 1. Buatkan gambar dan infografis tentang
Biodata dan Awal Mula Robert Wolter Monginsidi
Biodata Singkat
Nama Lengkap:
Robert Wolter Monginsidi
Tempat, Tanggal Lahir:
Malalayang, Manado, 14 Februari 1925
Meninggal:
Pacinang, Makassar, 5 September 1949 (umur 24 tahun)
Gelar:
Pahlawan Nasional (dianugerahkan 6 November 1973)Riwayat Perjuangan
Masa Awal:
Bersekolah di HIS dan MULO Manado. Sempat menjadi guru bahasa Jepang di Makassar sebelum terjun langsung ke medan perjuangan setelah kemerdekaan.
Robert Wolter Mongisidi adalah pahlawan nasional dari Sulawesi Utara yang memimpin perlawanan bersenjata terhadap pasukan NICA/Belanda di Makassar. Ia mendirikan Laskar Pemberontak Rakyat Indonesia Sulawesi (LAPRIS) pada 1946.
Setelah ditangkap, ia meloloskan diri sebelum dieksekusi mati oleh regu tembak Belanda pada 5 September 1949.
Pembentukan LAPRIS:
Bersama pejuang lain seperti Ranggong Daeng Romo, ia membentuk LAPRIS pada 17 Juli 1946 untuk menyerang posisi dan markas pertahanan tentara Belanda di Sulawesi Selatan.
Biografi Wolter Monginsidi
Di buku-buku sejarah yang mengulas mengenai profil Wolter Monginsidi, dikatakan bahwa beliau dilahirkan di Desa Mamayang, Manado pada tanggal 14 Februari 1925. Ayahnya bernama Petrus Monginsidi dan ibunya bernama Lina Suawa. Ia biasa dipanggil dengan nama ‘Bote’.
Meskipun tumbuh di masa-masa sulit, sejak kecil ia dikenal sebagai pemberani dan memegang teguh kebenarannya. Pendidikan Wolter Monginsidi dimulai di HIS (Hollandsch-Inlandsche School). Tamat dari sana ia kemudian belajar di MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) Flater, Manado.
Ketika baru saja naik kelas 2, Perang Pasifik pecah. Tak lama kemudian, ia melanjutkan sekolahnya di Sekolah Pegawai dan Calon Guru Bahasa Jepang di wilayah Tomohon. Tamat dari situ beliau kemudian mulai mengajar bahasa Jepang diberbagai tempat.
Awalnya ia mengajar di Liwutung, Sulawesi Utara kemudian pindah ke Luwuk, Sulawesi Tengah dan terakhir ia ke Makassar, Sulawesi Selatan. Disana ia sudah masuk di SNIP Nasional pada tahun 1945. Disaat itu juga proklamasi kemerdekaan Indonesia dikumandangkan oleh Soekarno dan Mohammad Hatta.
[3/7 21.10] rudysugengp@gmail.com: 2. Buatkan gambar dan infografis tentang
Penangkapan dan Pelolosan Robert Wolter Monginsidi
Berjuang Melawan Belanda
Namun setelah itu, Belanda yang dibonceng oleh NICA kembali ke Indonesia. Perang kemudian terjadi di berbagai tempat termasuk di Sulawesi Selatan. Melihat keadaan tersebut, Wolter Mongisidi terpanggil untuk ikut berjuang dan disinilah semangat patriotnya muncul.
Bersama dengan para pemuda lain, Ia bergabung dalam LAPRIS (LAskar Pemberontak Rakyat Sulawesi Selatan) dibawah kepemimpinan Ranggong Daeng Romo diwilayah Polobangkeng, Makassar.
Oleh Belanda, Wolter Monginsidi sudah dianggap sebagai pemberontak dan gerilyawan. Meskipun begitu, Pasukan Belanda kerap kerepotan terhadap perlawanan dari para pemberontak dan para pemuda lainnya yang menggunakan taktik perang gerilya.
Penangkapan dan Pelolosan:
Ia ditangkap tentara Belanda di SMP Nasional Makassar pada 28 Februari 1947. Ia sempat berhasil meloloskan diri dari penjara melalui cerobong asap dapur pada Oktober 1947, namun kembali tertangkap sepuluh hari kemudian.
[3/7 21.10] rudysugengp@gmail.com: 3. Buatkan gambar dan infografis tentang
Hukuman Mati dan Pesan Terakhir Robert Wolter Monginsidi
Tertangkap Belanda :
Perlawanan Wolter Monginsidi terhadap Belanda akhirnya kandas saat ia tertangkap pada tanggal 28 februari 1947 di SMP Nasional Makassar. Beliau akhirnya dijebloskan ke penjara.
Namun pada bulan Oktober 1947, ia bersama dengan tiga tahanan lain meloloskan diri dari penjara melalui cerobong asap di dapur.
Namun untuk kedua kalinya belia tertangkap dan kemudian dijebloskan kembali ke penjara di tangsi batalyon KNIL Belanda di jalan Mattoangin, Makassar dan dijatuhi vonis hukuman mati pada tanggal 26 maret 1949.
Menurut Drs. Yusuf Bauty yang ketika itu dipenjara bersama Wolter Monginsidi, Belanda ketika itu sempat menawarkan grasi (pengampunan) kepada Wolter Monginsidi namun ia tolak dengan alasan mengajukan grasi sama saja seperti penghianatan bagi teman-temannya dan juga keyakinannya. (majalah Intisari, 1975). Di penjara, Ia lebih banyak membaca buku-buku sejarah dan pelajaran bahasa. Ia juga rajin membaca kitab Injil.
Eksekusi Mati Wolter Monginsidi :
Eksekusi Mati terhadap Wolter Monginsidi dilakukan pada tanggal 5 september 1949 pada pukul 05.00 subuh hari yang berlokasi di wilayah Pacinang, Makassar. Robert Wolter Mongisidi, Putera terbaik bangsa itu gugur di depan regu tembak pasukan Belanda pada usia 24 tahun.
‘Setia hingga terakhir dalam keyakinan‘ adalah kalimat terakhir yang ia tulis dalam secarik kertas dan di selipkan dalam kitab Injil yang ia biasa baca.
Gelar Pahlawan Nasional :
Jenazah Wolter Mongisidi kemudian dimakamkan tak jauh dari tempat eksekusinya di Pacinang. Namun kemudian jasadnya dipindahkan ke Taman Makam Pahlawan Makassar pada tanggal 10 November 1950.
[pullquote]…Jangan takut melihat masa yang akan datang. Saya telah turut membersihkan jalan bagi kalian meskipun belum semua tenagaku kukeluarkan. – Wolter Monginsidi[/pullquote]
Pemerintah Indonesia kemudian memberikan penghargaan berupa Bintang Mahaputra dan menganugerahkan gelar pahlawan nasional kepada Wolter Monginsidi pada tanggal 6 November 1973. Namanya juga banyak digunakan sebagai nama jalan di Indonesia.
Selain itu, nama Wolter Monginsidi juga diabadikan sebagai nama Bandara di Kendari, Sulawesi Tenggara dan juga nama kapal perang KRI Wolter Monginsidi serta nama satuan Yonif 720/Wolter Monginsidi.
Hukuman Mati:
Akibat penolakannya untuk bekerja sama dengan penjajah, Belanda menjatuhkan vonis mati.
Ia dieksekusi oleh regu tembak pada 5 September 1949 di Pacinang, Makassar, dalam usia 24 tahun.
Pesan Terakhir:
Di depan regu tembak, ia menolak ditutup matanya dan memegang kitab suci yang diselipi secarik kertas bertuliskan pesan abadi: "Setia Hingga Terakhir Dalam Keyakinan".
Jenazahnya kini dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Nasional Panaikang Makassar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar