Selasa, 21 Juli 2026

Diponegoro - Iswahyudi

 [3/7 15.14] rudysugengp@gmail.com: Pangeran Diponegoro

[3/7 16.46] rudysugengp@gmail.com: 1. Buatkan gambar dan infografis tentang 

Biodata dan Kehidupan Awal Pangeran Diponegoro 


Kehidupan awal :

Diponegoro lahir di Yogyakarta pada tanggal 11 November 1785 dari ibu yang merupakan seorang selir (garwa ampeyan), bernama R.A. Mangkarawati, dari Pacitan dan ayahnya bernama Gusti Raden Mas Suraja, yang di kemudian hari naik takhta bergelar Hamengkubuwana III.[4] setelah dewasa menjadi Bendara Raden Mas Antawirya.


Pangeran Diponegoro dikenal sebagai pribadi yang cerdas, banyak membaca, dan ahli di bidang hukum Islam-Jawa.

Dia juga lebih tertarik pada masalah-masalah keagamaan ketimbang masalah pemerintahan keraton dan membaur dengan rakyat. Sang Pangeran juga lebih memilih tinggal di Tegalrejo, berdekatan dengan tempat tinggal eyang buyut putrinya, yakni Gusti Kangjeng Ratu Tegalreja, janda permaisuri Sultan Hamengkubuwana I, daripada tinggal di keraton. Sejak kecil Diponegoro sudah sanggat dekat dengan rakyat dan para santri, dalam Babad Diponegoro dijelaskan bahwa semasa kecil Diponegoro diajarkan menanam padi dan kegiatan rakyat lainnya oleh neneknya di Tegalrejo yang menjadikan Diponegoro muda sangat dekat dengan rakyat dan mengerti penderitaan rakyat jawa di bawah tekanan pemerintah kolonial Hindia Belanda.


Pangeran Diponegoro adalah seorang yang menggemari kuda dan saat di Tegalrejo sebelum perang memiliki lebih dari 60 orang Jawa untuk memelihara kudanya. Bak-bak air besar dari tembok untuk memberi minum kudanya masih terlihat sampai kini (2021). Kandang kuda dan istal Pangeran begitu luas sampai Sentot muda, yang datang untuk hidup di Tegalrejo saat berumur 6 tahun setelah kakak perempuannya, Raden Ayu Maduretno menikah dengan Pangeran, lebih mementingkan belajar naik kuda daripada menjadi santri. Saat mulai pecahnya Perang Jawa, kuda kekar hitam tunggangan Diponegoro, Kiai Gitayu (Gentayu) dan ketangkasannya di atas pelana dicatat oleh komandan kavaleri Belanda. Saat perang, keahlian Pangeran menunggang kuda sangat membantu dirinya untuk selamat ketika sering bisa menghindari pengejaran di medan yang sulit, terutama waktu menyeberang Kali Progo, di mana Pangeran mengetahui semua area dangkal yang bisa dipakai untuk mengarungi sungai lebar itu tanpa dihanyutkan air.


Kehidupan pribadi :

Dalam kehidupan sehari-harinya, Pangeran Diponegoro adalah pribadi yang menyukai sirih dan rokok sigaret Jawa yang dilinting khusus dengan tangan, mengoleksi emas, dan berkebun. Bahkan, di tempat persemediannya di Selarejo dan Selarong, kebun yang dimilikinya ditanami bunga, sayur-sayuran, buah-buahan, ikan, kura-kura, burung tekukur, buaya hingga harimau.


Dia juga dikenal sebagai pria yang romantis,[butuh rujukan] Pangeran Diponegoro setidaknya menikah beberapa kali dalam hidupnya.

 Sang Pangeran pertama kali menikah pada usia 27 tahun dengan Raden Ayu Retno Madubrongto, seorang guru agama dan putri kedua dari Kiai Gede Dadapan. Dari hasil pernikahan ini, Diponegoro memiliki anak laki-laki bernama Putra Diponegoro II.


Pada 27 Februari 1807, Pangeran Diponegoro kembali menikah untuk kedua kalinya dengan putri dari Raden Tumenggung Natawijaya III, seorang bupati dari Panolan Jipang, Kesultanan Yogyakarta, bernama Raden Ajeng Supadmi, itupun atas permintaan Sultan Hamengkubuwana III.

Diponegoro kemudian bercerai tiga tahun setelah pernikahannya tersebut dan dianugerahi seorang anak bernama Pangeran Diponingrat, yang memiliki sifat arogan menurut Putra Diponegoro II.


Pernikahan ketiga terjadi pada tahun 1808 dengan R.A. Retnadewati, seorang putri kiai di wilayah selatan Yogyakarta. Istri pertama dan ketiga Pangeran, yakni Madubrongto dan Retnadewati meninggal ketika Diponegoro masih tinggal di Tegalrejo.


Pangeran kembali menikah keempat kalinya pada 28 September 1814 dengan Raden Ayu Maduretno, putri dari Raden Rangga Prawiradirjo III dengan Ratu Maduretna (putri Hamengkubuwana II). Sang istri, Raden Ayu Maduretno merupakan saudara seayah dengan Sentot Prawiradirdja, tetapi lain ibu. Raden Ayu Maduretno diangkat menjadi permaisuri bergelar Kangjeng Ratu Kedaton I pada 18 Februari 1828, ketika Pangeran Diponegoro dinobatkan sebagai Sultan Abdulhamid. Pada Januari 1828, sang Pangeran kembali menikah untuk kelima kalinya dengan Raden Ayu Retnoningrum, putri Pangeran Penengah atau Dipawiyana II. Pernikahan keenam dengan Raden Ayu Retnaningsih, putri Raden Tumenggung Sumaprawira, seorang bupati Jipang Kepadhangan; pernikahan kedelapan dengan R.A. Retnakumala, putri Kiai Guru Kasongan.


Dari hasil beberapa kali pernikahannya tersebut, Pangeran Diponegoro memiliki 11 putra dan 5 orang putri, yang saat ini seluruh keturunannya tersebut hidup tersebar di berbagai penjuru dunia, di antaranya Jawa, Madura, Sulawesi, Maluku, Australia, Serbia, Jerman, Belanda, dan Arab Saudi.


Pangeran Diponegoro juga dikenal sebagai pribadi yang suka melucu dan bercanda, meski lebih banyak menghabiskan hidup di pengasingan. Terkadang, dia sangat benci dengan komandan tentaranya yang dianggapnya pengecut.


Pangeran Diponegoro memiliki kemampuan berbahasa Jawa meski ia tak pandai menulis aksara Jawa, sedikit bahasa Melayu, dan sedikit bahasa Belanda. Namun, sebisa mungkin ia menghindari berbicara dalam bahasa Melayu, yang menurutnya seperti 'basa pitik' (bahasa ayam) sehingga tak ada satupun pemimpin Jawa yang ingin mendengarnya. 

Dengan kata lain ia memandang rendah status bahasa Melayu yang saat itu digunakan untuk perdagangan dan komunikasi (lingua franca) antara orang pribumi dan orang Eropa.


Nama asli :

Pangeran Diponegoro lahir dengan nama asli Raden Mas Muntahar. Ia menerima nama dewasa dan gelar Bendara Raden Mas Antawirya pada 3 September 1805 di usia 20 tahun.[8] Pada usia itu pula Diponegoro memulai perjalanan spiritual ke Pantai Selatan. Selama perjalanan itu ia mengganti namanya menjadi Syekh Ngabdurahim yang diambil dari bahasa Arab Shaykh 'Abd al-Rahim yang kemungkinan diusulkan oleh penasihat spiritualnya di Tegalrejo. Nama samaran ini digunakannya agar tidak dikenali orang dan sebagai tanda bahwa ia ingin menjadi santri.


Setelah ayahnya naik takhta sebagai Hamengkubuwana III, Bendara Raden Mas Antawirya diwisuda sebagai pangeran dengan nama Bendara Pangeran Harya Dipanegara pada Juli 1812. Gelar Pangeran Dipanegara atau Diponegoro ini sebenarnya gelar yang lumrah diberikan kepada pangeran Jawa. Setidaknya salah seorang putra Pakubuwana I yang memberontak pada masa Perang Suksesi Jawa Kedua dan suami kedua dari putri Hamengkubuwana I yang meninggal pada 1787 pernah menyandang gelar tersebut. Gelar ini juga disandang adik Pakubuwana IV yang meninggal pada 1811. Mengingat hanya satu pangeran yang boleh menyandang gelar tertentu pada satu waktu dan gelar tersebut sudah lama tidak dipakai di Kraton Yogya sejak 1787, maka HB III menganugerahkan gelar itu pada anak tertuanya sekaligus putra kesayangannya. Diponegoro sendiri pada akhirnya mewariskan gelar tersebut ke anak sulungnya, Diponegoro II, sewaktu perjalanan ke pengasingan. Diponegoro memberikan analisis terkait makna namanya tersebut kepada pengawalnya di pengasingan, Julius Knoerle.


Nama Islam :

Nama Islamnya adalah Abdul Hamid atau Ngabdulkamit.

Dalam Babad Dipanegara disebutkan bahwa Diponegoro mendengar suara gaib yang memanggilnya dengan Ngabdulkamit. Nama Ngabdulkamit ini disandang oleh Diponegoro dan digabungkan dengan gelar Sultan Erucokro (Ratu Adil) selama Perang Jawa untuk menampilkan sosok dirinya sebagai Ratu Adil dan pemimpin agama.[13] Gelarnya selama Perang Jawa adalah Sultan Abdul Hamid Erucokro Kabirul Mukminin Sayyidin Paneteg Panatagama Kalifatu Rosulillah ing Tanah Jawa yang berarti Sultan Abdul Hamid (Ngabdulkamit), Ratu Adil (Erucokro), Pemimpin Agama (Sayyidin), Penata Agama Panatagama) dan Khalifah Rasulullah (Kalifatu Rosulillah) di tanah Jawa (ing Tanah Jawa).


Selama pengasingannya di Manado, Diponegoro ingin dipanggil sebagai "Pangeran Ngabdulkamit". Dalam refleksi yang ditulis di Makassar, ia menyebut dirinya sebagai 'fakir' Ngabdulkamit. Pemilihan nama Ngabdulkamit ini mungkin berhubungan dengan Abdul Hamid I, Sultan Turki Utsmani yang menyatakan diri sebagai 'khalifah' atau pemimpin umat Islam di seluruh dunia. Setelah Perang Diponegoro, di mana banyak keluarga dan kerabat Diponegoro yang dicap sebagai pemberontak dan diasingkan oleh pemerintah Belanda, gelar kepangeranan Diponegoro dilarang diberikan kepada seluruh anggota keluarga keraton-keraton Jawa tengah bagian selatan.


Alasan Perang Diponegoro :

Perang Diponegoro atau Perang Jawa diawali dari keputusan dan tindakan Hindia Belanda yang memasang patok-patok di atas lahan milik Diponegoro di Desa Tegalrejo. Tindakan tersebut ditambah beberapa kelakuan Hindia Belanda yang tidak menghargai adat istiadat setempat dan eksploitasi berlebihan terhadap rakyat dengan pajak tinggi, membuat Pangeran Diponegoro semakin muak hingga mencetuskan sikap perlawanan sang Pangeran.


Di beberapa literatur yang ditulis oleh Hindia Belanda, menurut mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Profesor Wardiman Djojonegoro, terdapat pembelokan sejarah penyebab perlawanan Pangeran Diponegoro karena sakit hati terhadap pemerintahan Hindia Belanda dan keraton, yang menolaknya menjadi raja. Padahal, perlawanan yang dilakukan disebabkan sang pangeran ingin melepaskan penderitaan rakyat miskin dari sistem pajak Hindia Belanda dan membebaskan istana dari madat.


Keputusan dan sikap Pangeran Diponegoro yang menentang Hindia Belanda secara terbuka kemudian mendapat dukungan dan simpati dari rakyat. Atas saran dari sang paman, yakni GPH Mangkubumi, Pangeran Diponegoro menyingkir dari Tegalrejo dan membuat markas di Gua Selarong. Saat itu, Diponegoro menyatakan bahwa perlawanannya adalah perang sabil, perlawanan menghadapi kaum kafir. Semangat "perang sabil" yang dikobarkan Diponegoro membawa pengaruh luas hingga ke wilayah Pacitan dan Kedu.


Medan pertempuran Perang Diponegoro mencakup Yogyakarta, Kedu, Bagelen, Surakarta, dan beberapa daerah seperti Banyumas, Wonosobo, Banjarnegara, Weleri, Pekalongan, Tegal, Semarang, Demak, Kudus, Purwodadi, Parakan, Magelang, Madiun, Pacitan, Kediri, Bojonegoro, Tuban, dan Surabaya.


Pajak dan Penderitaan Rakyat: 

Kebijakan kolonial Belanda yang memberatkan serta sistem penyewaan tanah merugikan rakyat kecil dan para petani.


Intervensi Keraton: Campur tangan Belanda yang berlebihan dalam urusan internal Kesultanan Yogyakarta dan merosotnya moral para bangsawan.


Pemasangan Patok di Tegalrejo: Puncak kemarahan terjadi pada 1825 ketika Belanda memasang patok untuk pembangunan jalan yang melintasi makam leluhur Pangeran Diponegoro. 

Beliau mencabut patok tersebut dan menggantinya dengan tombak.

[3/7 16.53] rudysugengp@gmail.com: 3. Buatkan gambar dan infografis tentang 

Tipu Muslihat dan Pengasingan Diponegoro


Benteng Stelsel: 

Untuk mematahkan strategi gerilya Diponegoro, Belanda menerapkan siasat Benteng Stelsel (membangun jaringan benteng pertahanan di setiap daerah yang dikuasai) yang berhasil mempersempit ruang gerak pasukan Diponegoro.


Penangkapan: 

Setelah banyak panglima perang dan pengikutnya yang tertangkap, Pangeran Diponegoro bersedia melakukan perundingan damai di Magelang pada 28 Maret 1830 demi keselamatan pasukannya. 


Pengasingan :

Namun, perundingan tersebut adalah jebakan, dan beliau ditangkap lalu diasingkan ke Manado, kemudian dipindahkan ke Makassar.


Setelah bertemu dengan Jenderal De Kock, Pangeran Diponegoro mengusulkan agar perundingan diundur setelah Idul Fitri (27 Maret 1830) dan disetujui tanggal 28 Maret 1830. Akan tetapi pada tanggal 25 Maret 1830 Jenderal De Kock mengirim surat kepada Letnan Du Perro agar disiapkan pasukan untuk mengepung tempat perundingan. Jika perundingan gagal pasukan diperintahkan untuk menangkap Pangeran Diponegoro dan para pengikutnya. Pada tanggal 28 Maret 1830, Pangeran Diponegoro dan para pengikutnya antara lain Pangeran Diponeogoro Muda (Dipokusumo), Raden Mas Jonet, Raden mas Roub, Raden Basah Mertonegoro dan Kyai Badarudin mengadakan perundingan dengan Jenderal De Kock yang didampingi oleh Residen Valck, Letnan Roest, Mayor de Stuers, dan Kapten Roefs sebagai juru bahasa.


Dalam perundingan tersebut Pangeran Diponegoro menuntut agar didirikan suatu negara yang merdeka yang bersih dari penjajahan dan bersendikan agama Islam. Tuntutan tersebut tidak disetujui oleh Jenderal De Kock dan akhirnya perundingan mengalami kegagalan. Pasukan yang telah disiapkan lebih dulu diperintahkan untuk menangkap Pangeran Diponegoro dan pengikutnya.  Kemudian Pangeran Diponegoro diasingkan ke Manado (3 Mei 1830). Tahun 1834 dipindahkan ke Ujung Pandang hingga wafat pada tanggal 8 Januari 1855.


Penghargaan :

Atas penghormatan terhadap jasa-jasa Diponegoro melawan penjajahan Hindia Belanda, kota-kota besar di Indonesia banyak yang memiliki nama Jalan Pangeran Diponegoro, seperti di Kota Semarang terdapat nama Jalan Pangeran Diponegoro, Stadion Diponegoro, dan Kodam IV/Diponegoro. Selain itu, ada beberapa patung yang dibuat sebagai penghargaan, seperti Patung Diponegoro di Undip Pleburan, Patung Diponegoro di Kodam IV/Diponegoro dan di pintu masuk Undip Tembalang.


Pada masa pemerintahan Presiden Soekarno, pemerintah pernah menyelenggarakan Haul Nasional memperingati 100 tahun wafatnya Pangeran Diponegoro pada tanggal 8 Januari 1955, sedangkan pengakuan sebagai Pahlawan Nasional diperoleh Pangeran Diponegoro pada tanggal 6 November 1973 melalui Keppres No 87/TK/1973.


Penghargaan tertinggi :

Justru diberikan oleh Dunia, pada 21 Juni 2013, UNESCO menetapkan Babad Diponegoro sebagai Warisan Ingatan Dunia (Memory of the World). Babad Diponegoro merupakan naskah klasik yang dibuat sendiri oleh Pangeran Diponegoro ketika diasingkan di Manado, Sulawesi Utara, pada 1832-1833. Babad ini bercerita mengenai kisah hidup Pangeran Diponegoro yang memiliki nama asli Raden Mas Antawirya.


Selain itu, untuk mengenang jasa Pangeran Diponegoro dalam memperjuangkan kemerdekaan, didirikanlah Museum Monumen Pangeran Diponegoro atau yang lebih dikenal dengan sebutan "Sasana Wiratama" di Tegalrejo, Yogyakarta, yang menempati bekas kediaman Pangeran Diponegoro.


Dalam budaya populer :

* Dalam film Pahlawan Goa Selarong (1972), Diponegoro diperankan oleh Ratno Timoer.

* Sementara dalam salah satu episode sinetron Lorong Waktu, Diponegoro diperankan oleh Andra PSP dan dipanggil sebagai "Om Dip" oleh Zidan.


* Sosok Diponegoro juga dimunculkan dalam novel Sang Pangeran dan Janissary Terakhir (2019) karya Salim A. Fillah


* Lukisan S. Sudjojono (1979) :

Pelukis Modern tersohor Indonesia, S. Sudjojono (1913-1985), pernah melukis kekalahan Belanda dalam pertempuran di desa Kejiwan (antara Kalasan dan Prambanan) pada 9 Agustus 1826 dalam sebuah gambar cat minyak yang mengedepankan figur Diponegoro berserban serta berbaju putih dan Mayor Sollewijn berberewok merah.

Gambar berjudul "Pasukan kita yang dipimpin Pangeran Diponegoro" (1979) dijual di Sotheby's Hongkong pada 6 April 2014 dengan harga yang cukup menghebohkan, yaitu 7,5 juta dolar AS, lukisan tersebut memecahkan rekor untuk karya pelukis Asia Tenggara, dalam catatan katalognya, lukisan tersebut dibuat sebagai ajakan bagi masyarakat Indonesia untuk mengenang pahlawan yang telah gugur dan sebagai bentuk keprihatinannya kepada bangsa yang terjebak dalam pertarungan pengaruh asing dan cita-cita revolusioner di kala itu. Lukisan tersebut, dalam laman Sotheby's tertulis, berubah menjadi sebuah kritik sosial tentang kekuatan iman manusia di tengah tirani politik dan emosional dengan memberikan gambaran kesejajaran antara penjajah Belanda dan pemerintah Indonesia.

[3/7 16.56] rudysugengp@gmail.com: 2. Buatkan gambar dan infografis tentang 

Perjuangan (Perang Jawa 1825 - 1830) Diponegoro 


Perjuangan Pangeran Diponegoro (1825–1830), yang juga dikenal sebagai Perang Jawa, adalah perlawanan besar-besaran terhadap penjajahan Belanda. Dipicu oleh intervensi politik, eksploitasi pajak, dan pelecehan budaya, perang ini melibatkan strategi gerilya yang sangat menyulitkan militer kolonial hingga akhirnya beliau ditangkap melalui siasat licik.


Perang Gerilya: Pasukan Diponegoro sangat mahir menggunakan taktik gerilya, yaitu strategi sembunyi, berpindah-pindah, dan melakukan penyergapan mendadak yang membuat Belanda kewalahan.


Dukungan Luas: Perlawanan ini menjadi masif karena mendapat dukungan luas dari berbagai elemen masyarakat, mulai dari kaum ulama, bangsawan daerah, hingga rakyat jelata di berbagai wilayah seperti Yogyakarta, Kedu, Banyumas, hingga Jawa Timur.


Perang Diponegoro terjadi pada tahun 1825-1830. Pemicu terjadinya perang Diponegoro (1825-1830) adalah penancapan tonggak-tonggak pembuatan jalan rel kereta api. Pada masa itu, Belanda tengah giat-giatnya membangun rel kereta api yang melewati daerah Tegalrejo di Jawa Tengah. Rupanya di salah satu sektor, rel kereta api yang dibangun akan tepat melintasi makam dari leluhur Pangeran Diponegoro. Hal inilah yang membuat Pangeran Diponegoro marah luar biasa, dan memutuskan untuk mengangkat senjata melawan Belanda. Namun, penyebab perang tersebut sebenarnya merupakan akumulasi semua permasalahan yang ada, seperti pajak yang tinggi, campur tangan Belanda dalam urusan istana Yogyakarta, hingga permasalahan ketidakpuasan di kalangan istana itu sendiri 


Dalam peperangan ini, metode-metode yang ada dalam perang modern dipakai dan diterapkan. Metode-metode tersebut adalah perang terbuka (open war fare) dan perang gerilya (guerrilla war fare). Perang ini juga dilengkapi dengan taktik urat syaraf (psy-war) yang dilakukan melalui insinuasi dan tekanan-tekanan serta profokasi terhadap pihak lawan (taktik ini dipakai oleh pihak kolonial Belanda terhadap kaum pribumi yang terlibat dalam pertempuran). Selain itu, dalam perang ini juga diterapkan taktik spionase, yaitu sebuah taktik untuk mencari kelemahan lawan (memata-matai lawan).


Selama perang berlangsung sekitar 200.000 penduduk, 8.000 serdadu Eropa dan 7.000 tentara pribumi tewas, dengan memakan dana tidak kurang dari 20 juta gulden. Dengan demikian dapat dibayangkan bahwa Perang Diponegoro merupakan perang besar di Jawa selama periode awal abad 19. Sedemikian hebatnya perlawanan P. Diponegoro sampai-sampai membuat pemerintah kolonial berganti strategi untuk menghadapi peperangan ini. Apabila pada awal perang Strategi Belanda adalah melakukan pengejaran untuk menangkap P. Diponegoro, yang justru menimbulkan banyak korban di pihak Belanda, maka pada fase selanjutnya yaitu memasuki tahun 1827, berdasarkan informasi mata-mata Belanda, Kyai Sentono yang telah diselundupkan ke markas P. Diponegoro sejak Nopember 1826, Belanda merubah strategi. Konsentrasi mereka tidak lagi pada pengejaran P. Diponegoro tetapi pada taktik pengepungan melalui pembangunan benteng dan pos pertahanan Benteng stelsel. Perang Diponegoro juga sekaligus perang besar dan dianggap sebagai fase terakhir keterlibatan tentara Jawa dalam perang.


Sejarah Perang Diponegoro :

Sejarah Perang Diponegoro (The Java War/ De Java Orloog) secara lengkap diabadikan di Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta tepatnya di diorama 1. Salah satu adegan diorama tersebut adalah Adegan Pangeran Diponegoro, bersama dengan Pangeran Mangkubumi, Pangeran Angabei Jayakusumo, Alibasah Sentot Prawiradirja dan Kyai Maja mengatur siasat perlawanan tehadap Belanda, berlokasi di Gua Selarong di Dusun Kembang Putihan, Desa Guwosari Kecamatan Pajangan, Bantul, Juli 1825.


Markas Pangeran Diponegoro :

Selama Pangeran Diponegoro bermarkas di Selarong, Belanda telah mengadakan penyerangan sebanyak 3 kali. Serangan yang pertama dilaksanakakan pada tanggal 25 Juli 1825 oleh pasukan yang dipimpin oleh Kapten Bouwens. Serangan ini merupakan balasan dari aksi perlawanan pasukan Diponegoro di desa Logorok dekat Pisangan, yang mengakibatkan 215 pasukan Belanda dibawah Kapten Kumsius menyerah. Serangan kedua dilaksanakan pada akhir bulan September 1825 dengan dipimpin oleh Mayor Sellewijn dan Letnan Kolonel Achenbach. Selanjutnya  serangan yang ketiga dilaksanakan pada tanggal 4 Oktober 1825. Setiap penyerangan ke Selaraong dilakukan oleh pasukan Belanda, pangeran Diponegoro menghilang di goa-goa sebelah barat perbukitan Selarong yang tidak diketahui oleh Belanda. Setelah pasukan Belanda meninggalkan Selarong, Pangeran Diponegoro muncul lagi demikianlah yang terjadi, sehingga perang frontal tidak terjadi dan penyerangan Belanda tersebut tidak berakibat apa-apa. Selanjutnya pasukan Pangeran Diponegoro melakukan perjuangan secara bergerilya dan dengan giat mengadakan penyerangan terhadap patrol Belanda. Perang berkobar sampai ke wilayah Pacitan, Purwodadi, Banyumas, Pekalongan, Semarang dan Madura. Karena pengaruhnya yang hampir meliputi seluruh Jawa maka perang tersebut dikenal dengan Perang Jawa (De Java-oorlog). 


Gerakan pasukan Pangeran Diponegoro dengan siasat gerilyanya sulit ditaklukkan musuh. Beberapa kali usaha penggempuran markas Pangeran Diponegoro dilakukan, tetapi selalu mengalami kegagalan. Markasnya di desa Panjer (Kedu) diserang oleh Belanda, tetapi Pangeran Diponegoro beserta pasukannya dapat meloloskan diri dan mendirikan markas lagi di desa Crema (Kedu).  Dari desa ini Pangeran Diponegoro dan pasukannya mengadakan serangan terhadap pos-pos Belanda. Tak lama kemudian markas tersebut diketahui oleh Belanda, namun kali ini Belanda tidak menyerangnya tetapi menggunakan taktik baru yaitu menjebak Pangeran Diponegoro dengan jalan perundingan. Jenderal De Kock mengutus Letkol Cleerens untuk menjumpai Pangeran Diponegoro di Desa Crema dan diajak beruding di Magelang.


Dari pembicaraan antara keduanya didapat kesepakatan jika perundingan gagal Pangeran Diponegoro dan pengikutnya tidak akan ditangkap. Pada tanggal 18 Maret 1830 (bertepatan bulan Romadhan) Pangeran Diponegoro beserta pengikutnya tiba di Magelang dan disambut dengan upacara militer oleh Jenderal De Kock. Saat itu Pangeran Diponegoro didampingi oleh para pengikutnya antara lain Pangeran Diponegoro Muda (Dipokusumo), Raden Mas Jonet, Raden Mas Roub, Raden Basah Mertonegoro dan Kyai Badarudin.

[3/7 23.47] rudysugengp@gmail.com: Revisi Diponegoro 4


4. Buatkan gambar dan infografis tentang 

Pendukung dan Pembantu Setia dalam Perang Diponegoro 


*Sumpah Ati Rata*


Sebelum dimulainya perang, Pangeran Dipanegara mendapatkan dukungan dari Sunan Pakubuwana VI (PB VI)/ R.M. Sapardan, dan dibantu oleh Tumenggung Prawiradigdaya/ R.M. Panji Yudha Prawira bupati Gagatan saat itu. Tanggal 23 Mei 1823, Pangeran Dipanegara menggalang kekuatan dengan para alim ulama dan tokoh-tokoh yang berpengaruh di wilayah Mataram. Orang pertama yang dikunjungi adalah Kiai Abdani dan Kiai Anom di Bayat, Klaten, selanjutnya bersama Pangeran Mangkubumi menemui Kiai Maja, kiai kepercayaan Pakubuwana IV. Kemudian dengan diantar Kiai Maja, Pangeran Dipanegara menemui Tumenggung Prawiradigdaya di Gagatan. Tumenggung Gagatan adalah kepercayaan Susuhunan Pakubuwono VI. Pada tahun 1824, atas saran Kiai Maja dan Tumenggung Prawiradigdaya, Pangeran Dipanegara menemui Susuhunan Pakubuwana VI. Ternyata Raja Surakarta ini, sangat mendukung perjuangan pamannya. Ia tidak hanya memberi dukungan dalam bentuk dana perang, tetapi juga pasukan-pasukan Keraton dan para Senopati terpilih disediakan.

Dukungan tersebut dideklarasikan dalam Sumpah Ati Rata (Sumpah Hati Rata) pada Rabu Wage 17 Pasa 1239 H/ 1752 J (5 Mei 1825), bertempat di tempat yang saat ini masuk ke Dk. Gagatan (Ketoyan, Wonosegoro, Boyolali). Ketiganya adalah tokoh penting (tritunggal) di balik siasat Perang Dipanegara. Tempat dilakukannya Sumpah Atirata ini saat ini dinamakan Pesanggrahan Dinrah. Isi Sumpah Atirata adalah: Ha. Setya Bekti Ing Gusti Hangayomi Sapadanig Urip Rila Lega Ing Pati. Na. Hamikukuhi Tan Kena Hamabuang Tilas Tan Gawe Wisuna. Ca. Tan Ngowahi Naluri Tanah Jawa Dadi Raharja.


Dukungan Sunan Pakubuwana VI :


Pakubuwana VI

Perjuangan Pangeran Dipanegara juga didukung oleh Sunan Pakubuwana VI (PB VI) dan Sunan Pakubuwana VI mendukung peperangan dengan menyediakan logistik dan persenjataan, yang diserahkan dengan menyamar sedang bepergian untuk bertapa di berbagai tempat (sehingga dikenal sebagai Pangeran Bangun Tapa), di antaranya di Gua Raja di lereng atas Gunung Merbabu yang masuk wilayah Sela (Sesela, nama kuno wilayah ini yang muncul di kumpulan Naskah Merapi-Merbabu, salah satunya Gita Sinangsaya dan di Alas Krendhawahana. Pertemuan-pertemuan rahasia tersebut untuk membicarakan situasi terkini sekaligus membahas strategi perlawanan terhadap Belanda. Usai ditangkap dan diasingkannya Pangeran Dipanegara, Belanda menangkap Mas Pajangswara juru tulis keraton yang juga orang kepercayaan Pakubawana VI (ayahanda pujangga kenamaan Ranggawarsita), yang kemudian disiksa dan dibunuh karena tidak mau mengaku rahasia keterlibatan Pakubuwana VI dengan Pangeran Dipanegara. Meski tidak mengakui, Belanda memfitnah bahwa Mas Pajangswara membongkar rahasia tersebut, dan dijadikan alasan untuk menangkap Pakubuwana VI yang kemudian dibuang ke Ambon pada 8 Juni 1830 dan wafat pada 2 Juni 1849.


Tumenggung Prawiradigdaya :


Prawiradigdaya

Tumenggung Prawiradigdaya, dengan nama kecil Yudha Prawira (Yudo Prawiro), adalah cucu Ngabehi Prawirasakti (Adimenggala) dari Kadipaten Gagatan (saat ini masuk di wilayah Kecamatan Wonosegoro, Boyolali, Jawa Tengah), putra Raden Surataruna III. Ibunya, Raden Ayu Surataruna adalah putri Adipati Natakusuma (Pangeran Juru), patih kerajaan Surakarta yang dibuang Belanda ke Ceylon. Sejak kecil Yudha diasuh oleh kakeknya, yakni Ngabehi Prawirasakti. Setelah berusia tiga belas tahun dia dikirim ke pondok pesantren Petingan di utara Yogyakarta, menjadi murid Syekh Kaliko Jipang (Syeh Kholik dari Jipang, Penghulu Besar Kraton). Ngabehi Prawirasakti dan Syekh Kalika merupakan orang kepercayaan Pangeran Mangkubumi. Di pondok pesantren ini, bertemu dengan Raden Mas Antawirya (Pangeran Dipanegara) yang saat itu berumur delapan tahun (ketika Syekh Kalika meninggal tahun 1798, Antawirya dikirim ke pondok pesantren Mlangi asuhan Kiyai Taptajani). Sebagai saudara seperguruan, Antawirya lebih menguasai ilmu kepemimpinan, ilmu hukum, tarikh Islam dan filsafat, sedangkan Yudha menguasai pengetahuan Islam dan puncak ilmu kesaktian, yang kemudian menjadi tambahan bekalnya saat menjadi bupati pamajegan (wilayah tanah raja yang menghasilkan pajak) di Gagatan bergelar R.T. Prawiradigdaya.

 Pada masa Pakubuwana VI berkuasa, wilayah Gagatan meliputi Karanggede, Klego, Wonosegoro, hingga Juwangi. Menjelang Perang Jawa, Tumenggung Prawiradigdaya mempersiapkan pertemuan Pangeran Dipanegara bersama Pakubuwana VI melakukan Sumpah Ati Rata. Dalam Perang Jawa, Tumenggung Prawiradigdaya gugur dalam peperangan, dan dimakamkan di tempat pemakaman gurunya, Syekh Kalika, di Blunyah Gedhe di utara Yogyakarta.


Para panglima Diponegoro :


Beberapa tokoh karismatik yang turut bergabung dengan Pangeran Diponegoro adalah Kiai Madja, Pakubuwana VI, dan Raden Tumenggung Prawiradigdaya.[28] Selain itu, ada beberapa ulama pendukung, yakni Kiai Imam Rafi'l (Bagelen), Kiai Imam Nawawi (Ngluning Purwokerto), Kiai Hasan Basori (Banyumas), dan kiai-kiai lainnya.[30]


Kiai Maja :


Kiyai Maja IV (Kiayi Mojo) memiliki nama kecil Muslim Mochamad Khalifah, merupakan buyut Kiyai Mojo I/ RT Citrosoma (1788-1820), cucu Kiayi Mojo II, putra Kiayi Mojo III.[39] Kiayi Maja III yang dikenal sebagai Kyai Baderan I memiliki nama Iman Abdul Arif/ Ngabdul Ngarep mendapat anugerah wilayah Maja (Dk. Mojowetan, Desa Tegalrejo, Kecamatan Sawit, Boyolali) dan Baderan (saat ini masuk wilayah Sidowayah, Polanharjo, Klaten) yang saat itu masuk wilayah Pajang, bagian dari Kasunanan Surakarta. sebagai tanah perdikan dari Pakubuwana IV. Muslim Mochammad Khalifah yang kelahiran Maja meneruskan tugas ayahnya sebagai guru agama di pondok pesantren Maja, dan banyak putra dan putri dari Kraton Surakarta belajar di pesantrennya. Di kemudian hari, beliau terkenal sebagai Kiayi Maja IV. Ibu Kiai Maja, yakni R.A Mursilah, adalah saudara perempuan Sultan Hamengkubuwana III. Jalinan persaudaraan dirinya dengan Pangeran Dipanegara kian erat setelah Kiai Maja menikah dengan janda Pangeran Mangkubumi yang merupakan paman dari Dipanegara. Tak heran, Dipanegara memanggil Kiai Maja dengan sebutan "paman", meski relasi keduanya adalah saudara sepupu.


Kiayi Maja turut bergabung sejak hari pertama pasukan Dipanegara tiba di Gua Selarong. Pengaruh dukungan Kiai Maja terhadap perjuangan Diponegoro begitu kuat karena ia memiliki banyak pengikut dari berbagai lapisan masyarakat. Kiai Maja yang dikenal sebagai ulama penegak ajaran Islam ini bercita-cita, tanah Jawa dipimpin oleh pemimpin yang mendasarkan hukumnya pada syariat Islam. Semangat memerangi Belanda yang merupakan musuh Islam dijadikan taktik Perang Suci. Oleh sebab itu, kekuatan Diponegoro kian mendapat dukungan terutama dari tokoh-tokoh agama yang berafiliasi dengan Kiai Madja.[43] Menurut Peter Carey (2016) dalam Takdir: Riwayat Pangeran Diponegoro 1785-1855 disebutkan bahwa sebanyak 112 kiai, 31 haji, serta 15 syekh dan puluhan penghulu berhasil diajak bergabung.


Pada tanggal 12 November 1828, Kyai Maja dan para pengikutnya disergap di daerah Mlangi, Sleman, dekat Sungai Bedog, kemudian dibawa ke Salatiga. Dalam penahanannya, Kiai Maja meminta agar para pengikutnya dibebaskan dan menerima apapun keputusan Belanda terhadap dirinya. Belanda mengabulkan permintaan tersebut dan hanya menyisakan Kiai Maja beserta orang-orang dekatnya dan beberapa tokoh berpengaruh, sementara sebagian besar pengikutnya dilepaskan. Tanggal 17 November 1828, Kyai Mojo beserta orang-orang yang masih menyertainya dikirim ke Batavia dan diputuskan akan diasingkan ke Tondano, Minahasa, Sulawesi Utara. Di tanah pembuangan, Kyai Maja terus berdakwah hingga wafat pada 20 Desember 1849 di usianya yang ke 57 tahun. Perang Jawa sendiri berakhir dua tahun setelah tidak adanya kubu Kiai Maja dari pasukan Dipanegara.


Sentot Prawirodirjo :


Pendukung lainnya adalah Sentot Ali Basha Abdul Mustopo Prawirodirdjo atau dikenal dengan Sentot Ali Pasha/Sentot Ali Basha, putra dari Ronggo Prawirodirjo III yang menjabat sebagai Bupati Montjonegoro Timur, ipar Sultan Hamengkubuwana IV, yang terbunuh oleh Hindia Belanda pada zaman pemerintahan Gubernur Daendels.


Menurut sejarawan Soekanto, Sentot bergabung pada 28 Juli 1826, sedangkan menurut Peter Carey, Sentot bergabung ketika berumur 17 tahun pada Agustus 1825 di Selarong. Pada Agustus 1828, salah satu panglima Diponegoro bernama Gusti Basah, gugur dan sebelum meninggal, ia meminta sang Pangeran menunjuk Sentot sebagai penggantinya. Setelah diangkat menjadi senopati, Sentot berhasil memukul mundur tentara Sollewijn di Progo Timur pada 5 September 1828. Beberapa minggu kemudian, Sentot juga berhasil memenangkan peperangan di Bagelen dan Banyumas. Strategi perang yang digunakan Sentot adalah penggerebekan dengan menggempur sekeras-kerasnya dengan pasukan penuh. Sentot juga dikenal pandai dalam perang gerilya.


Gelar "Basya" atau "Pasha" diilhami oleh sosok Usamah bin Zaid, panglima Turki yang memimpin perang melawan bangsa Romawi dalam usia 17 tahun juga. Sentot Alibasha juga dijuluki "Napoleon Jawa".[30] Sentot memimpin pasukan sebanyak 1.000 orang dengan menyandang senjata dan mengenakan jubah dan serban. Struktur pasukannya pun mirip seperti pasukan Turki Utsmani.


Sentot juga berhasil memenangkan peperangan di Kroya dan merampas 400 pucuk senjata, meriam berikut mesiunya serta menawan ratusan serdadu Hindia Belanda.


Untuk menangkap Sentot, Jenderal De Kock membujuk bupati Madiun, Prawirodiningrat, yang merupakan kakaknya, agar bersedia berunding dengan Hindia Belanda. Atas bujukan kakaknya tersebut, Sentot kemudian menerima tawaran Belanda untuk datang ke Yogyakarta dan disambut dengan upacara militer seperti seorang jenderal pada 24 Oktober 1829 hingga akhirnya disergap dan ditangkap.


Setelah menyerah dalam Perang Diponegoro, Sentot sempat dikirim ke Salatiga, Batavia, hingga akhirnya Hindia Belanda mengirimnya ke Sumatera Barat untuk membasmi pemberontakan ulama dalam Perang Padri. Namun ini hanya strategi Sentot agar berhasil mendapatkan persenjataan untuk membantu perjuangan Tuanku Imam Bonjol. Sentot akhirnya ditahan Hindia Belanda dan dikirim kembali ke Batavia pada Maret 1833 dan ke Bengkulu pada Agustus 1833 sebelum akhirnya wafat dalam usia 47 tahun dalam pengasingan di Bengkulu pada 17 April 1855.


Kerta Pengalasan :


Kerta Pengalasan, lahir tahun 1795 dan wafat sekitar tahun 1866, adalah salah satu senopati Pangeran Diponegoro. Dia dipercaya oleh Pangeran Diponegoro untuk memperkuat sistem pertahanan pusat negara di Plered.Sebelum perang, Kerta Pengalasan adalah kepala desa di Desa Tanjung, Nanggulan, Kulon Progo. Dia diperintah oleh Pangeran Blitar I, salah satu putra Sultan Hamengkubuwono I untuk mendukung Pangeran Diponegoro.


Para pendamping :


Selain para panglima perang, Pangeran Diponegoro juga didampingi oleh para pendamping yang sering disebut sebagai panakawan (pengiring), yakni Joyosuroto (Roto), Banthengwareng, Sahiman (Rujakbeling), Kasimun (Wangsadikrama), dan Teplak (Rujakgadhung).[45] Mereka para panakawan disebut juga sebagai bocah becik (anak baik) dan berperan bergantian sebagai abdi pengiring, guru, penasihat, peracik obat, pembanyol, hingga penafsir mimpi.


Joyosuroto :

Joyosuroto (dipanggil Roto) adalah panakawan yang selalu ada di setiap perjalanan sang Pangeran sejak awal perjuangan hingga perjalanan sebagai tahanan menuju pengasingan. Roto bahkan ikut dalam kereta kuda residen Kedu menuju Semarang dan bertugas membawa kotak sirih. Roto juga menjaga kamar Pangeran Diponegoro dengan tidur di depan pintu kamarnya ketika sang pangeran telah tiba dan menginap selama seminggu di Wisma Residen Bojong, Semarang. Dia menyajikan roti putih yang dipanggang setiap pagi berikut kentang walanda.


Sebelum bergabung dengan Pangeran Diponegoro, Roto adalah hanya seorang warga desa sekitar Tegalrejo. Setelah perang dimulai, Roto ikut bersama pasukan Diponegoro menuju perbukitan di Selarong pada tahun 1825 dan tinggal di Guwo Secang yang memiliki dapur. Di tempat ini, sang Pangeran kian mendalami ilmu mistik dan agamanya dengan tinggal di gua-gua dan berziarah.


Ketika perang berkecamuk dan sang pangeran menerapkan sistem pemerintahan keraton di Selarong (Oktober 1825) dan di Kemusuk, Kulon Progo (November 1825-Agustus 1826), para panakawan tidak lagi menjadi satu-satunya sahabat karib sang Pangeran. Meski demikian, para panawakan selalu mendampingi setiap langkah sang Pangeran. Bahkan, Roto bersama Banthengwareng, menemani Pangeran Diponegoro ke hutan-hutan di sebelah barat Bagelen ketika meloloskan diri dari kejaran pasukan AV Michiels. Saat itu, kondisi Diponegoro terkena sakit malaria, terpaksa berpindah-pindah dari gubug petani satu ke gubug lainnya dan Roto menghibur sang Pangeran yang sedang sakit dengan banyolan-banyolan yang lucu.


Sosok Roto hadir dalam lukisan Raden Saleh berjudul Penangkapan Pangeran Diponegoro. Dia dilukiskan sedang berdiri di pilar bagian barat, sosoknya tersembunyi di belakang seorang pasukan Hindia Belanda yang tengah memegang senjata, tanpa mengenakan serban, dengan wajah tengah memandang ke arah tuannya.

Roto juga ikut serta ketika Diponegoro diasingkan ke Manado dan tinggal bersama keluarganya selama tiga tahun sebelum pada tahun 1839, pemerintah Hindia Belanda mengirimnya ke Tondano dan bergabung dengan Kiai Modjo.


Banthengwareng :

Banthengwareng yang hidup antara tahun 1810-1858 disebut-sebut sebagai panakawan yang paling setia. Banthengwareng disebut sebagai panakawan yang paling setia, karena dia ikut hingga Pangeran Diponegoro diasingkan ke Makassar.


Namanya tertulis dalam Babad Dipanagara dengan julukan lare bajang, anak muda yang nakal dan cebol. Tubuh cebolnya juga tergambar dalam lukisan koleksi Snouck Hurgronje yang tersimpan di Universitas Leiden, yang menggambarkan Banthengwereng sebagai sosok bertubuh cebol, buncit dan tak berbusana. Di lukisan tersebut, Banthengwereng berdiri di dekat Pangeran Diponegoro dan membantu sang Pangeran mengajarkan ilmu mistik Islam kepada putranya, ketika berada dalam pengasingan tahun 1835-1855.


Roto bersama Banthengwareng, menemani Pangeran Diponegoro ke hutan-hutan di sebelah barat Bagelen ketika meloloskan diri dari kejaran pasukan AV Michiels. Saat itu, kondisi Diponegoro terkena sakit malaria, terpaksa berpindah-pindah dari gubug petani satu ke gubug lainnya dan Roto menghibur sang Pangeran yang sedang sakit dengan banyolan-banyolan yang lucu.


Sejarawan Belanda, George Nypels dalam bukunya yang berjudul De Oorlog in Midden-Java van 1825 tot 1830, menuliskan bahwa Diponegoro ditemani dua pengiringnya dalam kondisi kekurangan, dengan luka di kakinya dan sakit malaria, harus berpindah-pindah terkadang tidak memiliki tempat berteduh dan cukup makanan. Pangeran Diponegoro bersembunyi selama tiga bulan antara pertengahan November 1829 hingga pertengahan Februari 1830.



Strategi perang sang Pangeran :


Pasukan Pangeran Diponegoro dibagi menjadi beberapa batalyon yang diberi nama berbeda-beda, seperti Turkiya, Arkiya, dan lain sebagainya. Setiap batalyon dibekali dengan senjata api dan peluru-peluru yang dibuat di hutan.Pangeran Diponegoro bersama para panglimanya menerapkan strategi perang gerilya yang selalu berpindah-pindah. Markasnya di Selarong sering kali kosong ketika pasukan Belanda menyerang lokasi tersebut. Sang Pangeran dan pasukannya baru kembali ke Selarong setelah pasukan Belanda pergi meninggalkan Selarong.


Pusat pertahanan pasukan Diponegoro kemudian dipindahkan dari Selarang ke Daksa :


Sang Pangeran juga dinobatkan menjadi kepala negara bergelar "Sultan Abdulhamid Herucakra Amirulmukminin Sayidin Panatagama Kalifatullah Tanah Jawa", dengan pusat negara berada di Plered, dengan pertahanan yang kuat. Sistem pertahanan daerah Plered dipercayakan penanganannya kepada Kerta Pengalasan.


Kuatnya pertahanan di Plered dibuktikan dengan gagalnya serangan besar-besaran pasukan Hindia Belanda pada tanggal 9 Juni 1826. Setelah penyerangan tersebut, sang Pangeran mengganti posisi Kerta Pengalasan dengan Ali Basha Prawiradirja dan Prawirakusumah, keduanya masih berusia 16 tahun. Setelah itu, masih pada bulan dan tahun yang sama, pasukan Hindia Belanda menyerang markas Diponegoro di Daksa, tetapi sudah dikosongkan. Ketika pasukan Hindia Belanda kembali dari Daksa menuju Yogyakarta, pasukan Diponegoro menyergap dan membinasakan seluruh pasukan dan menghilang dari Daksa.


Pada Oktober 1826, pasukan Diponegoro menyerang pasukan Hindia Belanda di Gawok dan mendapat kemenangan. Namun, sang Pangeran terluka dan terpaksa harus ditandu ke lereng Gunung Merapi. Pada 17 November 1826, sang Pangeran bertolak ke Pengasih (sebelah barat Yogyakarta) untuk menyerang pasukan Hindia Belanda. Di lokasi ini, sang Pangeran mendirikan keraton di Sambirata sebagai pusat negara baru. Pasukan Belanda sempat menyerang Sambirata, tetapi Diponegoro berhasil meloloskan diri. Perang sempat berhenti akibat gencatan senjata pada 10 Oktober 1827, tetapi perundingan tidak menemui kesepakatan apa pun.


Berkat dukungan dan simpatik rakyat, pasukan Pangeran Diponegoro dapat dengan mudah memindah-mindahkan markasnya dan mendapat pasokan logistik. Selain itu, pasukan Diponegoro dikenal sangat cepat dan lincah berkat semangat perang Sabilillah. Akibatnya, Hindia Belanda banyak mengirimkan jenderal, kolonel dan mayor ke Pulau Jawa, seperti Jenderal De Kock, Jenderal Van Geen, Jenderal Holsman, dan Jenderal Bisschof.


Para senopati menggunakan strategi dengan menjadikan kondisi alam sebagai "senjata" dan tameng yang tak terkalahkan. Hal ini dilakukan dengan melakukan serangan-serangan besar-besaran pada saat bulan-bulan penghujan. Hujan tropis yang deras tersebut sering kali membuat gerak dari pasukan Hindia Belanda terhambat, sehingga para gubernur Hindia Belanda akan melakukan berbagai usaha untuk melakukan gencatan senjata dan berunding. Ancaman lainnya datang dari penyakit malaria, disentri, dan sebagainya, yang menjadi “musuh yang tak tampak” bagi pasukan Hindia Belanda sehingga sering kali melemahkan moral dan kondisi fisik bahkan merenggut nyawa pasukan. Ketika gencatan senjata terjadi, Belanda lantas memanfaatkan situasi dengan mengkonsolidasikan pasukannya dan menyebarkan mata-mata serta provokator di desa-desa dan kota kemudian menghasut, memecah belah dan bahkan menekan anggota keluarga para pengeran dan pemimpin perjuangan rakyat yang berjuang di bawah komando pangeran Diponegoro. Namun, pejuang pribumi tersebut tidak gentar dan tetap berjuang melawan Belanda.



Taktik Hindia Belanda :

Bagi Hindia Belanda, Perang Diponegoro adalah perang terbuka dengan mengerahkan berbagai jenis pasukan mulai dari pasukan infanteri, kavaleri, dan artileri, yang sejak Perang Napoleon selalu menjadi senjata andalan dalam pertempuran frontal. Front pertempuran terjadi di berbagai desa dan kota di seluruh Jawa dan berlangsung sanngat sengit. Penguasaan suatu wilayah selalu silih berganti. Jika ada suatu wilayah dikuasai pasukan Hindia Belanda pada siang hari, maka malam harinya wilayah itu sudah direbut kembali oleh pasukan pribumi, demikian pula sebaliknya.


Jalur-jalur logistik dibangun dari satu wilayah ke wilayah lain untuk menyokong keperluan perang. Berpuluh kilang mesiu dibangun di hutan-hutan dan dasar jurang. Produksi mesiu dan peluru berlangsung terus sementara peperangan berkencamuk. Para telik sandi dan kurir bekerja keras mencari dan menyampaikan informasi yang diperlukan untuk menyusun stategi perang. Informasi mengenai kekuatan musuh, jarak tempuh dan waktu, kondisi medan, curah hujan menjadi berita utama, karena taktik dan strategi yang jitu hanya dapat dibangun melalui penguasaan informasi.


Pada puncak peperangan tahun 1827, Belanda mengerahkan lebih dari 23.000 orang serdadu, suatu hal yang belum pernah ada suatu wilayah yang tidak terlalu luas seperti Jawa Tengah dan sebagian Jawa timur, tetapi dijaga oleh puluhan ribu serdadu. Dari sudut kemiliteran, ini adalah perang pertama yang melibatkan semua metode yang dikenal dalam sebuah perang modern. Baik metode perang terbuka (open warfare), maupun metode perang gerilya (guerilla warfare) yang dilaksanakan melalui taktik hit and run dan pengadangan. Ini bukan sebuah perang suku, melainkan suatu perang modern yang memanfaatkan berbagai siasat yang saat itu belum pernah dipraktikkan. Perang ini juga dilengkapi dengan taktik perang urat saraf (psy-war) melalui insinuasi dan tekanan-tekanan serta provokasi oleh pihak Belanda terhadap mereka yang terlibat langsung dalam pertempuran, dan kegiatan telik sandi (spionase) dengan kedua pihak saling memata-matai dan mencari informasi mengenai kekuatan dan kelemahan lawannya.


Berbagai cara licik juga terus dilakukan Hindia Belanda untuk menangkap Diponegoro. Bahkan sayembara pun dipergunakan dengan mengeluarkan maklumat pada 21 September 1829 bahwa siapapun yang dapat menangap Pangeran Diponegoro baik hidup atau mati, akan diberi hadiah sebesar 50.000 Gulden, beserta tanah dan penghormatan.


Perubahan strategi Hindia Belanda terjadi ketika Gubernur Jenderal De Kock diangkat menjadi panglima seluruh Hindia Belanda tahun 1827. Untuk membatasi ruang gerak dan strategi gerilya Pangeran Diponegoro, De Kock menggunakan strategi perbentengan (Benteng Stelsel). Benteng-benteng dengan kawat berduri didirikan begitu pasukan Hindia Belanda berhasil merebut daerah kekuasaan pasukan Diponegoro. Tujuannya agar pasukan Diponegoro tidak dapat kembali dan mempersempit ruang geraknya. Jarak antar bentang berdekatan dan dihubungkan dengan pasukan gerak cepat.


Perlawanan Pangeran Diponegoro semakin melemah sejak akhir tahun 1828, setelah Kiai Madja, pemimpin spiritual pemberontakan, ditangkap pada 12 Oktober 1828, menyusul kemudian Sentot Prawirodirdjo dan pasukannya pada 16 Oktober 1828, karena kesulitan biaya, dan tertangkapnya istri sang Pangeran yakni R.A Ratnaningsih dan putranya pada 14 Oktober 1829.


Negosiasi dan pengkhianatan :


Pada 16 Februari 1830, Diponegoro setuju untuk bertemu dengan utusan Jenderal De Kock, yakni Kolonel Jan Baptist Clereens dan mengutus Kiai Pekih Ibrahim dan Haji Badaruddin agar Clereens bisa datang ke Remo Kamal, Bagelen (sekarang masuk wilayah Kabupaten Kebumen), di hulu sungai Cingcingguling. Pertemuan pada 20 Februari 1830 tersebut tidak menghasilkan kesepakatan, meski berjalan lancar dan akrab. Akhirnya, Diponegoro ingin bertemu langsung dengan De Kock yang ketika itu berada di Batavia dan bermaksud menunggunya di Bagelen Barat. Namun, Clereens menyarankan agar Diponegoro menunggu De Kock di Menoreh dan sang Pangeran tiba pada 21 Februari 1830 dan dielu-elukan oleh 700 pengikutnya.[12]


Ketika itu, bulan Ramadan berlangsung mulai 25 Februari hingga 27 Maret 1830 dan Pangeran Diponegoro menegaskan kepada De Kock bahwa selama pertemuan pada bulan puasa tidak akan ada diskusi yang serius dan hanya ramah tamah biasa hingga bulan Ramadan berakhir. De Kock menyetujuinya. Selama tinggal di Magelang, seluruh pasukan dan pengikut Pangeran Diponegoro ditandai dengan serban dan jubah hitam yang diberikan oleh Clereens.


Sikap manis ditunjukkan De Kock kepada Pangeran Diponegoro dengan memberikan hadiah seekor kuda berwarna abu-abu dan uang f 10.000 yang dicicil dua kali untuk membiayai para pengikutnya selama bulan puasa. Bahkan, De Kock mengizinkan istri sang Pangeran, ibunya, kedua putra dan putrinya yang masih kecil, yakni Raden Mas Joned dan Raden Mas Raib, putra tertuanya bersama panglima Diponegoro di Kedu Utara, Basah Imam Musbah, hadir dan bergabung di Magelang.


Dalam pikiran De Kock, kedatangan Diponegoro dan pengikutnya secara sukarela menunjukkan Pangeran Diponegoro telah kalah secara de facto. Sementara itu, selama bulan puasa, De Kock bertemu dengan sang Pangeran sebanyak tiga kali, yakni sebanyak dua kali saat jalan subuh di taman karesidenan dan satu kali ketika De Kock datang sendiri ke pesanggarahan sang Pangeran. Namun, mata-mata yang ditanamkan Residen Valck di kesatuan Diponegoro, Tumenggung Mangunkusumo, melaporkan bahwa sang Pangeran tetap bersikeras mendapatkan pengakuan Hindia Belanda sebagai sultan Jawa bagian selatan ataupun sebagai Ratu paneteg panatagama wonten ing Tanah Jawa sedaya (Raja dan pengatur agama di seluruh tanah Jawa atau kepala agama Islam). Setelah itu, pada 25 Maret 1830, De Kock memberi perintah rahasia kepada dua komandannya, yakni Letnan Kolonel Louis du Perron dan Mayor A.V Michels, mempersiapkan perlengkapan militer untuk mengamankan penangkapan sang Pangeran.


Akhirnya pada tanggal 28 Maret 1830, bertepatan dengan Hari Idul Fitri, Jenderal De Kock bertemu dengan Pangeran Diponegoro. Jenderal De Kock didampingi Residen Kedu Valck, Letkol Roest (perwira De Kock), Mayor F.V.H.A de Stuers, dan penerjemah bahasa Jawa, Kapten J.J Roefs. Pangeran Diponegoro didampingi ketiga putranya, penasihat agama, dua punakawan, dan panglima Basah Mertanegara. De Kock memulai pertemuan dengan meminta agar Pangeran Diponegoro tidak usah kembali ke Metesih. Sang Pangeran merasa heran dan mempertanyakan kembali kepada De Kock kenapa tidak diizinkan kembali, padahal dia hanya bersilahturahmi menjelang akhir bulan puasa. De Kock langsung bicara akan menahan Diponegoro dan suasana pun langsung berubah tegang.


Diponegoro langsung meresponsnya dengan menanyakan ada masalah apa sehingga dirinya harus ditahan. Dia merasa tidak bersalah dan tidak menaruh benci kepada siapapun. Mertanegara menyela perbicaraan dan meminta agar masalah politik bisa diselesaikan lain waktu. De Kock langsung memotong perbicaraan dan menegaskan dengan nada tinggi, dengan mengatakan terserah Pangeran setuju atau tidak, dia akan menuntaskan masalah politik hari itu juga. Diponegoro langsung berbicara dan menuding Jenderal De Kock sangat dan hatinya busuk karena keputusannya terburu-buru dan tidak pernah dibicarakan sebelumnya selama bulan puasa. Sang Pangeran langsung berbicara bahwa dia tidak memiliki keinginan lain, kecuali pemerintah Hindia Belanda mengakuinya sebagai kepada agama Islam di Jawa dan gelar sultan yang disandangnya.


Jenderal De Kock kemudian memerintahkan Letkol Roest agar Du Perron menyiapkan pasukan. Diponegoro kemudian berbicara dengan situasi seperti itu dan karena sifat jahatmu, dirinya tidak takut mati. Dia tidak takut dibunuh dan tidak bermaksud menghindarinya. De Kock terhenyak mendengar sikap keras Pangeran Diponegoro dan dengan suara lirih berbicara bahwa dirinya tidak akan membunuh sang Pangeran, tetapi juga tidak akan memenuhi keinginan sang Pangeran. Sempat terbersit dalam benak Diponegoro untuk menghujam keris ke tubuh De Kock, tetapi niatannya diurungkan karena akan merendahkan martabatnya. Setelah meminum teh dan menghampiri pengikutnya, sang Pangeran beranjak keluar dan Pangeran Diponegoro pun berhasil ditangkap oleh pasukan Tulungan asal Minahasa Benyamin Sigar dibawah pimpinan Xaverius Dotulong.


Sewaktu di Unggaran dalam perjalanannya ke Batavia menuju tempat pengasingan dengan dikawal oleh perwira Belanda, Pangeran Diponegoro berbicara cukup panjang dengan Kapten Roeps (dalam bahasa Jawa) tentang berbagai hal mengenai negosiasi yang baru terjadi dan mengatakan bahwa mendapat kesan kalau dalam negosiasi itu dia tidak dapat mencapai kesepakatan dengan Jenderal De Kock, mereka akan mengizinkan dia kembali ke pegunungan (Banyumas) tanpa dihalang-halangi. 

Ini merujuk pada janji yang konon diberikan secara lisan kepada Pangeran Diponegoro dalam negosiasi damai awal di Remokamal (Banyumas) pada 16 Februari 1830 oleh Kolonel Jan-Baptist Cleerens, perwira Belanda yang bertangung jawab atas negosiasi tersebut. Cleerens seakan berjanji kepada Pangeran Diponegoro bahwa Sang Pangeran akan diizinkan untuk kembali ke Pegunungan Banyumas seandainya negosiasi dengan Jenderal De Kock di Magelang tidak membuahkan hasil yang memuaskan baginya. 

Jaminan ini diabaikan oleh Jenderal De Kock ketika dia menahan Pangeran Diponegoro, tetapi Pangeran Diponegoro kemudian secara tidak langsung mengingatkan Cleerens melalui sepucuk surat yang dikirimkannya dari Makasar pada 14 Desember 1835.


Syarat Penyerahan diri :

Sang Pangeran bersedia menyerahkan diri dengan syarat sisa anggota laskarnya dilepaskan. 

Setelah ditangkap di Magelang, Pangeran Diponegoro ditempatkan ke Gedung Karesidenan Semarang, di Ungaran, lalu dibawa ke Batavia pada 5 April 1830 dengan menggunakan kapal Pollux.

Pangeran Diponegoro tiba di Batavia pada 11 April 1830 dan ditahan di Stadhuis (Gedung Museum Fatahillah). Selanjutnya pada 30 April 1830, Pangeran Diponegoro diasingkan ke Manado bersama istri keenamnya bersama Tumenggung Dipasena dan istrinya serta para pengikut lainnya seperti Mertaleksana, Banteng Wereng, dan Nyai Sotaruna. Mereka tiba di Manado pada 3 Mei 1830 dan ditawan di Benteng Nieuw Amsterdam. Tahun 1834, Diponegro dipindahkan ke Makassar hingga wafatnya di Benteng Rotterdam tanggal 8 Januari 1855.


Pangeran Hendrik yang ayahnya kelak menjadi Raja Willem II (1840-49) menulis dalam buku hariannya saat bertemu dengan Pangeran Diponegoro saat dalam penggasingannya di Benteng Rotterdam, pada 7 Maret 1837. Didalamnya dia mengkritik cara pihak Belanda, khususnya Jenderal De Kock, memperlakukan Diponegoro karena memiliki dampak politik yang sangat buruk di daerah Hindia Belanda:


"Jika suatu hari kita menghadapi sebuah kondisi yang tidak diharapkan, yaitu terjadi sebuah perang lagi di Jawa, dimana salah satu diantara kita, entah pihak kita atau orang Jawa akan kalah, tentunya tidak akan ada lagi satu pun pemimpin mereka yang sudi bernegosiasi dengan kita. 

Saya yakin bahwa penyebab kampung Boonjol di Sumatra menolak untuk menyerah tidak lain disebabkan oleh apa yang diucapkan salah seorang pemimpin orang Bonjol (Tuanku Imam Bonjol): "Jika saya bersedia datang untuk berunding dengan Belanda, saya yakin akan diperlakukan seperti Diponegoro." Namun, cukuplah tentang ini semua."


Lukisan Penangkapan Pangeran Diponegoro :

Peristiwa pada tanggal 28 Maret 1830 ditafsirkan berbeda antara pelukis Indonesia yang tinggal di Eropa, Raden Saleh Syarif Bustaman, dengan pelukis Belanda, Nicolaas Pieneman (1809-1860). 

Raden Saleh menggambarkan peristiwa tanggal 28 Maret 1830 sebagai "Penangkapan Diponegoro", sedangkan Pienaman melukisnya sebagai "Penyerahan Diponegoro".


Lukisan "Penangkapan Diponegoro" dibuat oleh Raden Saleh ketika berada di Eropa pada tahun 1856, dari sketsa terlebih dahulu dan lukisan cat minyaknya baru selesai setahun kemudian. 

Pada 12 Maret 1857, Raden Saleh menunjukkan lukisannya tersebut kepada temannya di Jerman, bernama Duke Ernst II, dengan judul "Ein historisches Tableau, die Gefangennahme des javanischen Hauptings Diepo Negoro" (lukisan bersejarah tentang penangkapan seorang pemimpin Jawa Diponegoro). 

Raden Saleh kemudian memberikan lukisannya sebagai hadiah kepada Raja Belanda, Willem III.


Raden Saleh melukis peristiwa tersebut dari sisi kiri gedung, sehingga Bendera Belanda yang dilukiskan oleh Pieneman tidak terlihat. 

Selain itu, Raden Saleh menggambarkan sosok Pangeran Diponegoro ketika ditangkap menggunakan serban hijau berdiri dengan kepala tegak mendongak, tegas, menahan amarah, menunjukkan perlawanan, dan tegar, meskipun para pengikutnya terlihat sedih dan dukacita yang mendalam.


Lukisan "Penyerahan Diponegoro" :

Lukisan karya Nicolaas Pieneman menunjukkan ilustrasi gedung di sisi kanan dengan bendera Belanda terlihat jelas. Sosok Pangeran Diponegoro dalam lukisannya terlihat lesu dan pasrah, meskipun tergambarkan tidak menunduk. 

Sementara itu, sosok Jenderal De Kock dilukiskan lebih tinggi, tegas, garang, dan berwibawa.[55] Sosok sang Pangeran dalam lukisan juga digambarkan terkesan mengikuti perintah De Kock, dengan latar belakang tangisan para pengikutnya.[54] Selain itu, posisi anak tangga tempat berdiri sang Pangeran berada di bawah De Kock yang menyiratkan posisi perbedaan derajat di antara mereka dan posisi tawanan dan penguasa.


Keberlanjutan Perang :

Perang melawan penjajah lalu dilanjutkan oleh para putra Pangeran Diponegoro, yakni Ki Sodewa atau Bagus Singlon, Dipaningrat, Dipanegara Anom, dan Pangeran Joned yang terus-menerus melakukan perlawanan walaupun harus berakhir tragis. 

Empat putra Pangeran Diponegoro dibuang ke Ambon, sedangkan Pangeran Joned dan Ki Sodewa terbunuh dalam peperangan.


Kerugian Perang Diponegoro :

Selama perang, kerugian pihak Belanda tidak kurang dari 15.000 tentara, terdiri atas 8.000 tentara Belanda dan 7.000 tentara pribumi serta kerugian materi sebesar 25 juta gulden.

Berakhirnya Perang Jawa juga merupakan akhir perlawanan bangsawan Jawa. Perang Jawa ini banyak memakan korban di pemerintah Hindia sebanyak 8.000 serdadu berkebangsaan Eropa, 7.000 pribumi, dan 200.000 orang Jawa. 

Dampaknya, setelah perang, jumlah penduduk Yogyakarta menyusut separuhnya.


Ampunan Sri Sultan Hamengku Buwana IX :

Bagi sebagian kalangan di Kesultanan Ngayogyakarta, Pangeran Diponegoro dianggap pemberontak, sehingga konon anak cucunya tidak diperbolehkan lagi masuk ke keraton.


Namun, Sri Sultan Hamengkubuwana IX memberi amnesti bagi keturunan Diponegoro, dengan mempertimbangkan semangat kebangsaan yang dimiliki Diponegoro kala itu. Kini anak cucu Diponegoro dapat bebas masuk keraton, terutama untuk mengurus silsilah bagi mereka, tanpa rasa takut akan diusir.

[4/7 00.03] rudysugengp@gmail.com: Lanjut Yosafat Sudarso

[4/7 00.36] rudysugengp@gmail.com: 1. Buatkan gambar dan infografis tentang 

Biodata dan Awal Mula Yos Sudarso 


Laksamana Madya TNI (Anumerta) Yosaphat "Yos" Sudarso (24 November 1925 – 15 Januari 1962) adalah seorang perwira TNI Angkatan Laut yang gugur dalam Pertempuran Laut Aru. Pada saat kematiannya, Yos Sudarso menjabat sebagai wakil kepala staf TNI Angkatan Laut dan bertanggung jawab atas aksi infiltrasi ke Nugini Belanda. 

Dia dipromosikan menjadi Laksamana Madya secara anumerta.


Nama lahir : Yosaphat Sudarso

Lahir : 24 November 1925, Salatiga, Hindia Belanda

Meninggal : 15 Januari 1962 (umur 36)

Laut Arafura


Yos Soedarso menganut agama Katolik.

Ia menikah dengan Siti Kustini (1935–2006) pada tahun 1955 dan meninggalkan lima orang anak (dua di antaranya meninggal).


Profil dan Biografi Yos Sudarso :

Dalam banyak buku yang mengulas mengenai biografi maupun profil dari Yos Sudarso, beliau dikatakan lahir di wilayah Salatiga, Jawa Tengah pada tanggal 25 November 1925. Ia lahir dengan nama lengkap Yosaphat Soedarso dari pasangan Sukarno Darmoprawiro dan Mariyam. Ayahnya bekerja sebagai seorang polisi ketika masa penjajahan.


Sejak kecil, Yos Sudarso dikenal sebagai sosok yang tenang, cerdas dan juga santun dalam bergaul. Saat masih anak-anak, beliau masuk di sekolah HIS (Hollandsch Inlandsch School) yang setingkat SD, tamat dari situ pada tahun 1940 ia kemudian masuk di MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) di kota Semarang.


Baru lima bulan bersekolah, Jepang kemudian datang menjajah di Indonesia. Ia akhirnya kembali ke Salatiga dan memilih melanjutkan pendidikan SMP nya disana hingga tahun 1943. Tamat dari sana, beliau kemudian masuk di sekolah guru di wilayah Muntilan.



Beranda  Biografi Tokoh Indonesia  Biografi Yos Sudarso, Kisah Pahlawan Nasional Yang Gugur di Laut Arafuru

Biografi Yos Sudarso, Kisah Pahlawan Nasional Yang Gugur di Laut Arafuru

Penulis Nurdyansa - Diperbarui 12 Februari 2026


Biografiku.com | Yos Sudarso dikenal oleh bangsa Indonesia tokoh pahlawan nasional. Nama pahlawan ini banyak abadikan sebagai nama jalan di wilayah Indonesia dan juga sebuah pulau di papua. Salah satu kisahnya yang paling terkenal adalah aksinya dalam misi pembebasan Irian Barat (Papua) melalui pertempuran Laut Aru yang terkenal. Dalam pertempuran laut ini ia melawan armada kapal Belanda. Bagaimana kisahnya? Berikut profil dan biografi Yos Sudarso


Biografi Yos Sudarso

Profil dan Biografi Yos Sudarso

Dalam banyak buku yang mengulas mengenai biografi maupun profil dari Yos Sudarso, beliau dikatakan lahir di wilayah Salatiga, Jawa Tengah pada tanggal 25 November 1925. Ia lahir dengan nama lengkap Yosaphat Soedarso dari pasangan Sukarno Darmoprawiro dan Mariyam. Ayahnya bekerja sebagai seorang polisi ketika masa penjajahan.


Sejak kecil, Yos Sudarso dikenal sebagai sosok yang tenang, cerdas dan juga santun dalam bergaul. Saat masih anak-anak, beliau masuk di sekolah HIS (Hollandsch Inlandsch School) yang setingkat SD, tamat dari situ pada tahun 1940 ia kemudian masuk di MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) di kota Semarang.


Baru lima bulan bersekolah, Jepang kemudian datang menjajah di Indonesia. Ia akhirnya kembali ke Salatiga dan memilih melanjutkan pendidikan SMP nya disana hingga tahun 1943. Tamat dari sana, beliau kemudian masuk di sekolah guru di wilayah Muntilan.


Bergabung  Di Angkatan Laut :

Namun pendidikan disekolah tersebut ia tidak selesaikan karena pada masa itu terjadi peralihan kekuasaan dari Belanda ke Jepang. Akhirnya Yos Sudarso masuk di Sekolah Tinggi Pelayaran di Semarang.


Disana ia tempuh selama setahun dan pendidikan opsir di Goo Osamu Butai dan menjadi lulusan terbaik. Prestasinya tersebut membuat ia kemudian dipekerjakan sebagai mualim di kapal Goo Usamu Butai.


Ketika proklamasi kemerdekaan Indonesia dikumandangkan pada 17 agustus 1945, Ia kemudian bergabung dengan BKR (Badan Keamanan Rakyat) Laut yang kemudian bernama Tentara Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI).


Disini Yos Sudarso  sering mengikuti misi atau operasi militer dalam memadamkan pemberontakan yang terjadi di daerah-daerah ketika itu. Walaupun ketika itu armada kapal laut yang dimiliki Indonesia masih sangat minim sekali.


Di tahun 1950, Belanda mengakui kedaulatan Indonesia. Yos Sudarso pun diangkat sebagai komandan kapal di KRI Alu. Selanjutkan pindah ke KRI Gajah Mada, KRI Rajawali hingga KRI Pattimura.


Yos bahkan sempat menjabat sebagai sebagai hakim pengadilan walaupun hanya 4 bulan saja tepatnya di tahun 1958. Di tahun 1959, pergolakan internal di tubuh Angkatan Laut mencapai puncaknya.


Yos Sudarso berserta kolonel Ali Sadikin dan para perwira lainnya tidak setuju dengan kepemimpinan Laksamana Subiyakto yang ketika itu menjabat sebgai kepala staf angkatan laut.


Konflik tersebut membuat Laksaman Subiyakto akhirnya digantikan oleh Kolonel R.E Martadinata sebagai kepala staf yang baru. Tidak lama setelah itu Yos Sudarso kemudian naik pangkat secara cepat dari Deputi hingga menjadi komodor (laksamana pertama).

[4/7 00.38] rudysugengp@gmail.com: 2. Buatkan gambar dan infografis tentang 

Perjuangan 

Yos Sudarso 


Misi Pembebasan Irian Barat (Trikora): 

Menjabat sebagai Deputi Operasi dalam Komando Mandala yang bertugas menyusupkan sukarelawan ke Irian Barat melalui operasi laut.


Pertempuran Laut Aru: 

Memimpin konvoi tiga kapal cepat torpedo (KRI Macan Tutul, KRI Macan Kumbang, dan KRI Harimau) yang disergap oleh kapal perusak dan pesawat Belanda. 

Beliau dengan gagah berani menjadikan KRI Macan Tutul sebagai perisai agar dua kapal lainnya bisa lolos dari kepungan.


Pertempuran Laut Aru Yang Terkenal

Di tahun 1961, konfrontasi Indonesia dan Belanda dalam hal pembebasan Irian Barat dari tangan Belanda mencapai puncaknya.


Presiden Soekarno ketika itu membentuk Tri Komando Rakyat (Trikora) dan tahun berikutnya 1962, Soekarno membentuk Komando Mandala dalam pembebsan Irian Barat dengan markas di Makassar. Yos Sudarso diserahi tugas sebagai Deputi Operasi.


Tugas yang berat bagi Yos Sudarso. Kisah heroik mengenai pertempuran Yos Sudarso akhirnya terjadi pada tanggal 15 Januari 1962.


Ketika itu Yos Sudarso melakukan patroli dengan membawa tiga kapal yakni KRI Macan Tutul, KRI Macan Kumbang dan KRI Harimau dibawah komandonya.


Operasi senyap tersebut dilakukan di sekitar wilayah perairan laut Aru disekitar wilayah Maluku. Tidak lama kemudian pesawat Neptune Belanda yang melakukan patroli menjatuhkan flare. 


Keadaan yang ketika itu sunyi dan gelap kemudian berubah terang benderang. Tiga kapal Belanda dengan persenjataan lengkap dan ukuran yang lebih besar kemudian muncul membelah langit malam.


Ketiga kapal Belanda tersebut ternyata sudah menunggu mereka. Tembakan peringatan pertama dilepaskan oleh Belanda dan jatuh disamping KRI Harimau. Kolonel Sudomo kemudian memerintahkan tembakan balasan namun meleset.


Yos Sudarso yang sadar bahwa pertempuran ini bakal tidak seimbang dalam hal persenjataan, beliau kemudian memerintahkan ketiga kapal yang ia komandoi untuk mundur sementara.


Manuver 180 derajat kemudian dilakukan ketiga kapal tersebut. Namun naas, KRI Macan Tutul yang ditumpangi oleh Komodor Yos Sudarso macet.


Pihak Belanda mengira bahwa kapal Indonesia akan melakukan manuver untuk menyerang. Belanda kemudian melepaskan tembakan untuk menyerang.


KRI Macan Tutul ketika itu berhadapan dengan kapal perusak Belanda. Yos Sudarso kemudian memerintahkan KRI Macan Tutul untuk pasang badan agar dua kapal lainnya bisa bisa meninggalkan medan pertempuran.


Tembakan pertama yang dilakukan kapal perusak Belanda itu meleset mengenai KRI Macan Tutul. Di kesempatan berikutnya, tembakan yang dilakukan kapal perusak Belanda akhirnya tepat mengenai badan kapal KRI Macan Tutul yang bernomor lambung 650 tersebut.

[4/7 00.38] rudysugengp@gmail.com: 3. Buatkan gambar dan infografis tentang 

Akhir Hayat dan Penghargaan 

Yos Sudarso 


Gugurnya Yos Sudarso :

KRI Macan Tutul buatan Jerman Barat itu akhirnya terbakar dan perlahan-lahan karam ke dasar Samudera bersama 24 kru kapal. Kru lainnya yang selamat menjadi tawanan Belanda.


Kalimat terakhir dari komodor Yos Sudarso sesaat sebelum kapalnya karam yaitu ‘Kobarkan semangat pertempuran’ ia pekikan melalui radio ke dua kapal lainnya yang berhasil selamat.


Komodor Yos Sudarso yang semasa kecil bercita-cita sebagai prajurit itu akhirnya gugur di lautan dalam mempertahankan kedaulatan republik Indonesia.


Gelar Pahlawan Nasional :

Ia meninggalkan seorang istri bernama Siti Kustini dan lima orang anak. Pemerintah Indonesia melalui presiden Soeharto kemudian menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada Yos Sudarso atas jasa-jasanya. Namanya juga diabadikan sebagai nama jalanan di berbagai wilayah di Indonesia.


Banyak tabir yang menyelimuti gugurnya Yos Sudarso dalam pertempuran di laut Arafuru. Mulai dar bocornya operasi rahasia tersebut oleh belanda, kemudian operasi tersebut tersebut tidak diketahui oleh pemerintah seperti presiden Soekarno seperti yang ditulis dalam buku Konspirasi Dibalik Tenggelamnya Matjan Tutul (2011) oleh wartawan Julius Pour.


Selain itu, AURI (Angkatan udara) yang dituding sebagai pihak yang paling bertanggung jawab dalam insiden tersebut karena tidak memberikan bantuan pesawat udara yang berbuntut pada pencopotan KSAU Laksamana Suryadarma yang digantikan oleh Letkol Omar Dhani yang dikisahkan dalam buku Dan Toch Maar! (2009) yang ditulis oleh Sukono.


Gugurnya Sang Komodor: 

Saat KRI Macan Tutul dikepung dan menjadi sasaran utama tembakan musuh, Yos Sudarso dengan gagah berani mengambil alih komando di anjungan. Sebelum kapalnya tenggelam akibat ledakan, ia sempat memekikkan instruksi bersejarah melalui radio kepada dua kapal lainnya untuk "Kobarkan semangat pertempuran".


Gelar Pahlawan Nasional: 

Pengorbanan Yos Sudarso dan anak buahnya tidak sia-sia, karena memicu simpati internasional dan semangat juang yang besar di kalangan rakyat Indonesia untuk membebaskan Irian Barat. 

Atas jasa-jasanya, ia dianugerahi gelar Pahlawan Nasional dan dinaikkan pangkatnya secara anumerta menjadi Laksamana Madya.


Atas pengorbanan dan patriotisme tanpa pamrihnya, pemerintah menganugerahi gelar Pahlawan Nasional melalui Keppres No. 88/TK/1973.

[4/7 00.40] rudysugengp@gmail.com: Dr. Suharso lagi

[4/7 01.05] rudysugengp@gmail.com: 1. Buatkan gambar dan infografis tentang

Biodata dan Awal Mula dr. Suharso


Lahir : 13 Mei 1912, Boyolali, Kasunanan Surakarta, Hindia Belanda

Meninggal : 27 Februari 1971 (umur 58), Surakarta, Indonesia

Istri : Djohar Insiyah

Anak : 3

Kerabat : Arya Dega (cucu)

Almamater :

* Holland Indlandsche School Salatiga

* MULO Surakarta

* Algemenee Middlebare School Afdeeling Yogyakarta

* Nederlandsche Indische Artsen School Surabaya

Profesi : Dokter


Soeharso dilahirkan tanggal 13 Mei 1912 di Desa Kembang Kecamatan Ampel Kabupaten Boyolali, anak ke 4 dari 8 bersaudara putera Raden Sastrosoeharso.


Masuk sekolah tahun 1919 di HIS Salatiga, tamat pada tahun 1926. Tahun 1922 saat Soeharso masih duduk di HIS, ayahanda Raden Sastrosoeharso meninggal dunia. Setamat HIS pada tahun 1926 Soeharso melanjutkan pendidikan pada MULO di Solo dan selesai tahun 1930.


Pada tahun 1930 melanjutkan pendidikan pada AMS Yogyakarta sampai dengan tahun 1933. Ia aktif dalam organisasi Jong Java sejak di MULO dan AMS. Setamat dari AMS Yogyakarta, ia melanjutkan pendidikan di NIAS Surabaya dengan mendapat beasiswa.


Lulus sebagai dokter tahun 1939 dan dikenal dengan gelar Indische Art; bekerja di CBZ (RSU) Surabaya sebagai asisten bedah. Pada tahun 1941 ia pindah ke Pontianak karena mengalami konflik dengan suster dari Belanda.


Tahun 1941 menikah dengan Djohar Insijah, puteri Dr. Agusdjam.


Tahun 1942 Jepang menduduki Indonesia. Di daerah Ketapang Pontianak dan daerah lain, Jepang membunuh para intelektual. Dr. Soeharso dan istri kembali ke Pulau Jawa. Tahun 1945 Dr. Soeharso bersama kawan-kawan membentuk Cabang PMI untuk membantu pejuang-pejuang kemerdekaan. Pada tahun 1946 Dr. Soeharso terpanggil untuk membuat prothesa dan orthosa karena begitu banyaknya pemuda yang cacat akibat perang.

[4/7 01.06] rudysugengp@gmail.com: 2. Buatkan gambar dan infografis tentang 

Perjuangan Kesehatan dr. Suharso


Medis Garis Depan: 

Selama revolusi fisik, Dr. Soeharso aktif mengobati para pejuang gerilya di wilayah utara Ampel, Boyolali, hingga dekat Salatiga. 

Beliau bahkan masuk dalam daftar tokoh yang akan dibunuh oleh tentara Jepang karena perannya yang krusial.


Pendiri Pusat Rehabilitasi (Rehabilitasi Centrum): 

Tergerak oleh kondisi para pejuang yang mengalami cacat permanen akibat perang, beliau mendirikan pusat rehabilitasi penyandang disabilitas pertama di Indonesia pada tahun 1950.


Pelopor Pembuatan Kaki dan Tangan Tiruan: 

Keterbatasan fasilitas tidak menyurutkan langkahnya. 

Bersama para rekannya, beliau bereksperimen membuat protesa dari kayu waru agar ringan dan nyaman digunakan, serta melatih para penderita cacat agar bisa mandiri kembali.


Selanjutnya ia konsisten mengembangkan bidang prosthesis-orthosis serta rehabilitasi medik di Indonesia.


Ia mendapat Diploma INTERNATIONAL COLLEGE OF SURGEON di Geneva tahun 1956. Mendapat Brevet AHLI BEDAH tahun 1957.


Karier dan sumbangsih :

1939 – Asisten di RSUP Surabaya

1939 – Dokter di Ketapang, Kalimantan Barat

1942 – Dokter di RS Jebres, Kota Surakarta

1948 – Mendirikan bengkel pembuatan kaki dan tangan tiruan (prostesis) di RS Umum Surakarta

1951 – Mendirikan Rehabilitasi Centrum Penderita Cacat Tubuh di Surakarta

1953 – Mendirikan Rumah Sakit Ortopedi dan Yayasan Pemeliharaan Anak-anak Cacat di Surakarta (YPAC)

Jabatan yang pernah diemban:


Lektor muda, Lektor sampai dengan Profesor pada Perguruan Tinggi Kedokteran Cabang Surakarta, UGM, UNAIR.

Pemimpin Umum Usaha Prothesa.

Supervisor RC.

Penasehat ahli Mentri Sosial.

Ketua Umum IKABI.

Pemimpin Lembaga Orthopedi dan Prothese oleh Presiden RI (1955).

Penasehat atau Ketua Organisasi-Organisasi, kegiatan-kegiatan LSM baik dalam maupun luar negeri.

Pemimpin atau Penasehat pada lembaga yang didirikan atas prakarsanya.

Member or EXPERT COMMITTEE ON REHABILITATION, WHO selama dua periode yaitu tahun 1958 dan 1963.

Pimpinan delegasi Indonesia di luar negeri.

Mendirikan Organisasi/Lembaga Pelayanan Masyarakat:


PMI tahun 1945.

Usaha pembuatan Prothesa tahun 1946.

Rumah Sakit Orthopedi Solo tahun 1951.

YPAC tahun 1953.

Yayasan Sheltered Workshop Solo tahun 1953.

Sekolah Perawat Fisioterapi tahun 1954 yang dikonversi menjadi Akademi pada tahun 1964.

Yayasan Koperasi Penderita Cacat “Harapan” tahun 1955.

Sheltered Workshop PROMORTO tahun 1957.

Yayasan Pembinaan Olah Raga Penderita Cacat tahun 1962.

Yayasan Balai Penampungan Penderita Paraplegia tahun 1967.

Yayasan Danan Skoliosis Risser tahun 1968.

Federasi Penderita Cacat Mental Indonesia di Yogyakarta tahun 1967.

[4/7 01.06] rudysugengp@gmail.com: 3. Buatkan gambar dan infografis tentang 

Akhir Hayat dan Penghargaan dr. Suharso


Wafat pada tanggal 27 Februari 1971 pukul 19.00 dalam usia 59 tahun di rumah Jl. Slamet Riyadi, Surakarta. Delapan Instansi/Lembaga dan Organisasi yang dirintis olehnya menggunakan namanya. Pengukuhan nama ini ditetapkan oleh:


Menteri Kesehatan Republik Indonesia untuk Rumah Sakit Ortopedi Prof. DR. Soeharso di Solo

Menteri Sosial Republik Indonesia untuk PRSBD.

Yayasan untuk 7 LSM

Pada tahun 2007, namanya diabadikan sebagai nama kapal perang khusus rumah sakit, KRI dr. Soeharso (990) (sebelumnya bernama KRI Tanjung Dalpele (972)).


Warisan Bersejarah: 

Dedikasinya berkembang menjadi ⁠Rumah Sakit Ortopedi Prof. Dr. R. Soeharso di Surakarta, yang kini menjadi rujukan nasional di bidang ortopedi dan rehabilitasi medik.


Penghargaan yang diterima:


Tahun 1954 : World Rehabilitation Prize oleh World Veteran Federation.

Tahun 1956 : Fellow of The International Colelge of Surgeons.

Tahun 1958 : Penghargaan IDI pada Muktamar VII.

Tahun 1961 : Bintang Satya Lencana Pembangunan.

Tahun 1961 : Bintang Satya Lencana Kebaktian Sosial.

Tahun 1968 : Bintang Mahaputra Kelas III.

Tahun 1969 : Albert Marry Lasker Award, Untuk Prof. Dr. R. Soeharso dan Nyonya.

Tahun 1969 : Warga Kehormatan daerah Propinsi Jawa Tengah.

Tahun 1969 : Doctor Honoris Causa dalam Ilmu Kedokteran dari Universitas Airlangga.

Tahun 1969 : University Of California, sebagai Qualified Instruktor Clinical.

Tahun 1970 : Penghargaan dari People To People Program Committee For Handicapped, USA.

Tahun 1974 : Pahlawan Nasional.

Karya Tulis: Sebanyak 86 buku dan ratusan karya-karya lainnya.

[4/7 01.08] rudysugengp@gmail.com: Agustinus Adisucipto yes

[4/7 01.30] rudysugengp@gmail.com: 1. Buatkan gambar dan infografis tentang 

Biodata dan Masa Muda 

Agustinus Adisucipto 


Biodata :

Lahir : 4 Juli 1916

Salatiga, Jawa Tengah, Hindia Belanda

Meninggal : 29 Juli 1947 (umur 31), Ngoto, Bantul, Yogyakarta, Indonesia

Dikebumikan : Ngoto, Bantul, Yogyakarta, Indonesia


Pendidikan :

Adisoetjipto mengenyam pendidikan GHS (Geneeskundige Hoge School) (Sekolah Tinggi Kedokteran) dan lulusan Sekolah Penerbang Militaire Luchtvaart di Kalijati.


Pionir Penerbangan Militer: 

Setelah Jepang menyerah, ia berhasil menguasai pangkalan udara militer Maguwo (sekarang ⁠Bandara Adisutjipto) dari tangan Jepang dan merintis berdirinya AURI (Angkatan Udara Republik Indonesia).

[4/7 01.33] rudysugengp@gmail.com: 2. Buatkan gambar dan infografis tentang 

Perjuangan Pasca Kemerdekaan 

Agustinus Adisucipto 


Aktivitas :

Adisoetjipto menerbangkan pesawat jenis Nishikoren yang dicat merah putih dari Tasikmalaya ke Maguwo, Yogyakarta. Pada 27 Oktober 1945 pula, ia berhasil menerbangkan pesawat Cureng berbendera merah putih di sekitar Yogyakarta. Bukan tanpa sebab ia menerbangkan pesawat ini. Desing pesawat yang ia terbangkan bercat merah putih dimaksudkan untuk membakar semangat rakyat Indonesia melawan penjajahan yang masih terjadi di beberapa wilayah. Inilah penerbangan berbendera merah putih pertama di tanah air dan bukti semangat cinta tanah air yang begitu besar dengan keberanian dan segenap kemampuan yang dimilikinya.


Pada 15 November 1945, Adisoetjipto mendirikan Sekolah Penerbang di Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta tepatnya di Lapangan Udara Maguwo, yang kemudian diganti namanya menjadi Bandara Adisutjipto, untuk mengenang jasanya sebagai pahlawan nasional.


Penerbangan Berbendera Merah Putih: 

Pada masa-masa awal kemerdekaan, ia mencetak sejarah dengan menerbangkan pesawat latih Cureng yang telah diberi tanda Merah Putih, membuktikan kepada dunia bahwa bangsa Indonesia memiliki kemampuan dirgantara.

[4/7 01.33] rudysugengp@gmail.com: 3. Buatkan gambar dan infografis tentang 

Akhir Hayat dan Penghargaan 

Agustinus Adisucipto 


Kematian :

Artikel utama: Dakota VT-CLA

Pada saat Agresi Militer Belanda I, Adisujipto dan Abdulrahman Saleh diperintahkan terbang ke India menggunakan pesawat Dakota VT-CLA. Penerobosan blokade udara Belanda menuju India dan Pakistan berhasil dilakukan. Sebelum pulang ke Indonesia, mereka singgah di Singapura untuk mengangkut bantuan obat-obatan Palang Merah Malaya. Sehingga pesawat baru berangkat kembali pada pukul 13.00, pesawat ini mengangkut total 9 orang, yakni:


Komodor Udara Agustinus Adisoetjipto

Komodor Udara Abdulrachman Saleh

Pilot, Alexander Noel Constantine, warga negara Australia

Ko-pilot, Roy L. C. Hazelhurst, warga negara Britania Raya

Opsir Muda Udara I Adisoemarmo Wirjokusumo

Teknisi, Bhida Ram, warga negara India

Beryl Constantine, warga negara Australia

Zainal Arifin, Atase Perdagangan RI di Singapura

Abdul Gani Handonotjokro

Sementara itu, di Lanud Maguwo, KSAU Soerjadi Soerjadarma telah menunggu kedatangan pesawat ini dan memerintahkan agar pesawat tidak perlu berputar-putar sebelum mendarat, untuk menghindari kemungkinan serangan udara terhadap pesawat tersebut. Ini mengingat bahwa di dalam pesawat, ada dua tokoh penting AURI, yakni Adisutjipto dan Abdul Rahman Saleh.[6]


Saat telah mendekati Lanud Maguwo pada pukul 16.30, pesawat ini pun tetap berputar-putar untuk bersiap mendarat. Tiba-tiba dari arah utara, muncul dua pesawat Kittyhawk[7] milik Belanda yang diawaki oleh Lettu B.J. Ruesink dan Serma W.E. Erkelens, yang langsung menembaki pesawat tersebut. Akibatnya pesawat hilang kendali dan akhirnya pesawat jatuh di perbatasan Desa Ngoto dan Wojo dan langsung terbakar. Semua orang di pesawat meninggal dunia, hanya pesawatnya yang berhasil selamat.


Ia dimakamkan di pemakaman umum Kuncen I dan II, dan kemudian pada 14 Juli 2000 dipindahkan ke Monumen Perjuangan TNI AU di Ngoto, Bangunharjo, Sewon, Bantul, Yogyakarta.


Membendung Blokade Udara Belanda: 

Pada 29 Juli 1947, ia bersama Abdulrachman Saleh gugur dalam misi kemanusiaan menembus blokade udara Belanda di atas Desa Ngoto, Bantul, saat membawa bantuan obat-obatan dari Palang Merah Malaya.


Gelar Pahlawan Nasional: 

Atas jasa-jasanya, ia dianugerahi gelar Pahlawan Nasional melalui Keppres No. 071/TK/1974. 

Kerangka jenazah beliau telah dipindahkan ke Monumen Perjuangan TNI AU Ngoto di Yogyakarta.


Dalam budaya populer :

Dalam film Kadet 1947 (2021), Agustinus Adisoetjipto diperankan oleh Andri Mashadi.

[4/7 01.35] rudysugengp@gmail.com: NYI Ageng Serang besok

[4/7 09.51] rudysugengp@gmail.com: 1. Buatkan gambar dan infografis tentang 

Biodata dan Masa Muda Nyi Ageng Serang 


Lahir :

Raden Ajeng Kustiyah Wulaningsih Retno Edi

1 Oktober 1752

Sragen, Hindia Belanda

Meninggal :

Juli 1828 (umur 1815–1816)

Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat, Hindia Belanda

Nama lain :

Bendara Raden Ayu Kustiyah Wulaningsih Retno Edi


Masa Muda :

Nyai Ageng Serang dilahirkan sekitar tahun 1752 di Desa Serang sekitar 40 km sebelah utara Surakarta dekat Purwodadi, Jawa Tengah. Nyai Ageng Serang masih keturunan Sunan Kalijaga. Ayahnya adalah Pangeran Ronggo seda Jajar yang dijuluki Panembahan Senopati Notoprojo. Pangeran Notoprojo menguasai wilayah terpencil dari Kerajaan Mataram tepatnya di wilayah Serang yang sekarang berada di wilayah perbatasan Grobogan-Sragen. Pangeran Notoprojo juga adalah penguasa wilayah Serang di Jawa Tengah, yang juga menjabat sebagai Panglima Perang di bawah Sultan Hamengku Buwono I.


Ayahnya digambarkan memiliki sikap kritis terhadap dominasi asing dan pengaruh kolonial. Nyai Ageng Serang tumbuh di lingkungan keluarga bangsawan Jawa pada masa ketika kehidupan kraton masih berada dalam situasi kekuasaan tradisional Jawa, sementara pada saat yang sama pengaruh politik dan ekonomi kolonial Belanda semakin meningkat. Dalam struktur sosial Jawa abad ke-19, sikap kalangan bangsawan terhadap kolonialisme tidak seragam, karena sebagian bekerja sama dalam sistem administrasi kolonial, sementara sebagian lainnya menunjukkan penolakan dalam berbagai bentuk, baik secara terbuka maupun tidak langsung. Dalam konteks ini, keluarga dan lingkungan sosial Nyai Ageng Serang dipandang berada dalam kecenderungan sikap yang menolak dominasi kolonial. Sejak masa muda, Nyai Ageng Serang digambarkan memiliki kepekaan terhadap kondisi sosial masyarakat di luar lingkungan kraton, termasuk ketimpangan sosial, penderitaan rakyat, serta dampak kebijakan kolonial terhadap kehidupan sehari-hari. Proses pembentukan kesadaran ini dalam narasi tradisional sering dijelaskan sebagai hasil interaksi antara lingkungan keluarga, pengalaman sosial di kraton, dan pengamatan terhadap kondisi masyarakat Jawa pada awal abad ke-19, yang kemudian berkembang menjadi sikap kritis terhadap struktur yang dianggap berkontribusi terhadap ketidakadilan sosial.


Nyai Ageng Serang (bahasa Jawa: ꦚꦲꦶꦲꦒꦼꦁꦱꦺꦫꦁ, translit. Nyai Ageng Sérang) (1752–1828) atau Raden Ayu Serang adalah pahlawan nasional Indonesia wanita yang memiliki nama kecil Raden Ajeng Retno Kustiyah Edi. Setelah menikah, namanya menjadi Bendara Raden Ayu Kustiyah Wulaningsih Retno Edi. Nyai Ageng Serang merupakan salah satu Pahlawan Nasional Indonesia, diantara keturunannya, salah satunya juga seorang Pahlawan Nasional, yaitu Soewardi Soerjaningrat atau lebih dikenal sebagai Ki Hajar Dewantara.

[4/7 10.07] rudysugengp@gmail.com: 2. Buatkan gambar dan infografis tentang 

Perjuangan Nyi Ageng Serang 


Kehidupan Dewasa :

Nyai Ageng Serang lahir di desa Serang saat musim hujan. ketika berusia tujuh belas tahun, ia dikirim ke Keraton Yogyakarta. Selama di keraton ia memperdalam ilmu agama Islam, aktif membaca buku, berguru pada sarjana keraton, dan juga sesekali mengajarkan ilmu membaca dan menulis baik dengan aksara Jawa maupun dengan huruf Arab. Pada masa mudanya, ia menerima pelatihan militer dan sempat menjadi istri dari Sri Sultan Hamengkubuwana II. Setelah ayahnya wafat, Nyai Ageng Serang menggantikan kedudukan ayahnya. Nyai Ageng Serang menikah dua kali, selain dengan Hamengkubuwana II yang kemudian berpisah, ia menikah dengan Pangeran Serang I (nama asli: Pangeran Mutia Kusumowijoyo). Di Serang, dia melahirkan seorang putra bernama Pangeran Kusumowijoyo atau Sumowijoyo (1794-1852), yang disebut sebagai Pangeran Serang II dalam sumber Belanda. Dicap oleh Jenderal Hendrik Merkus de Kock, sebagai orang yang sangat jahat, tidak berprinsip, dan kecanduan madat.

 Ia juga memiliki seorang putri yang menikah dengan anak Sultan Hamengku Buwono II, Pangeran Mangkudiningrat I (1775-1824), yang diasingkan ke Pulau Pinang (1812-1815) dan Ambon (1816-1824) setelah Inggris menyerang Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. 

Pasangan yang terakhir ini punya seorang putra, Raden Tumenggung Mangkudirjo yang kelak bergelar Pangeran Adipati Notoprojo atau Raden Mas Papak (1803-1855). 

Julukan itu diberikan karena jari-jari tengah-tengah kiri sama rata, tanda kebesaran sebagai calon raja.


Perang Melawan Belanda :

Nyai Ageng Serang terlibat dalam perang melawan Belanda bersama ayahnya, Pangeran Notoprojo. Pada saat itu, Belanda melakukan serangan mendadak terhadap kubu pertahanan yang dipimpin oleh Pangeran Notoprojo. 

Karena faktor usia yang telah lanjut, kepemimpinan pertahanan di Serang kemudian diserahkan kepada Nyai Ageng Serang. 

Selama pertempuran berlangsung, saudara laki-lakinya gugur di medan perang. Nyai Ageng Serang mengambil alih kepemimpinan sepenuhnya dan memimpin pasukan melawan Belanda. Meskipun ia bertempur dengan segala daya upaya, pasukan Serang terdesak oleh kekuatan musuh yang lebih besar, terlebih setelah Pangeran Mangkubumi tidak lagi memberikan dukungan setelah mengadakan perjanjian damai dengan Belanda melalui Perjanjian Giyanti pada 13 Februari 1755.

Awalnya, Nyai Ageng Serang menolak menyerah, tetapi ia akhirnya berhasil ditangkap dan menjadi tawanan Belanda. Dari peristiwa pertempuran di Serang inilah, nama Kustiah dikenal sebagai Nyai Ageng Serang.


Setelah dibebaskan, ia dikirim ke Yogyakarta, di mana ia kemudian lebih banyak menghabiskan waktunya untuk memperkuat kehidupan spiritualnya.


Masa perjuangan Nyai Ageng Serang terus berlanjut. Setelah berpisah dari Hamengkubuwana II, Nyai Ageng Serang kembali ke daerah Purwodadi dan bergabung dalam perjuangan bersama Pangeran Diponegoro selama Perang Jawa (1825–1830) meskipun saat itu ia telah berusia 73 tahun. 

Selama perang tersebut, Nyai Ageng Serang tetap aktif dan gigih melanjutkan perlawanan bersama cucunya, R.M. Papak Nyai Ageng. Dalam Perang Diponegoro, ia memegang posisi strategis sebagai penasihat Pangeran Diponegoro, serta beberapa kali dipercaya memimpin pasukan dalam pertempuran di wilayah Serang, Purwodadi, Gundih, Kudus, Demak, dan Semarang. Nyai Ageng Serang dikenal sebagai ahli strategi militer, terutama dengan taktik yang disebut "strategi lembu," yang memanfaatkan hewan atau daun talas sebagai alat penyamaran dalam peperangan. Selain itu, ia juga pernah memimpin perang gerilya di sekitar Desa Beku, Kabupaten Kulon Progo, Yogyakarta. Atas saran Pangeran Diponegoro, Nyai Ageng Serang kemudian memindahkan markasnya ke Prambanan dan menjadi penasihat Sultan Sepuh, Hamengku Buwono II.


Nyai Ageng Serang meninggal di Yogyakarta tahun 1828 dan dimakamkan di Kalibawang, Kulon Progo. Namun, beberapa orang meyakini bahwa makamnya berada di daerah Grobogan yang kini menjadi lokasi Waduk Kedung Ombo, sehingga dibuatlah sebuah makam terapung di waduk tersebut. Di antara keturunannya, salah satunya juga seorang Pahlawan Nasional yaitu Soewardi Soerjaningrat atau lebih dikenal sebagai Ki Hajar Dewantara.


Sebagai pahlawan nasional, Nyai Ageng Serang cenderung hampir terlupakan. Mungkin karena namanya tak sepopuler R.A. Kartini atau Cut Nyak Dhien. Bagaimanapun warga Kulon Progo mendirikan monumen di tengah kota Wates untuk mengenangnya. Monumen tersebut berupa patung Nyai Ageng Serang yang sedang menaiki kuda dengan membawa tombak.




Nyi Ageng Serang (lahir dengan nama Raden Ajeng Kustiyah) adalah panglima perang dan penasihat strategi kunci bagi Pangeran Diponegoro dalam Perang Jawa (1825–1830). 

Meskipun lanjut usia dan ditandu, ia memimpin pasukan gerilya menggunakan taktik penyamaran daun talas (lumbu) di wilayah Jawa Tengah.Kiprah dan Strategi PerangLahir di Serang, Purwodadi, Jawa Tengah pada 1752, jiwa patriotisme Nyi Ageng Serang sudah terbentuk sejak muda di lingkungan keprajuritan ayahnya, Panembahan Natapraja. Perjuangannya meliputi wilayah utara Jawa seperti Purwodadi, Demak, Semarang, Kudus, hingga Rembang.


Dalam kajian sejarah lokal Jawa, Nyai Ageng Serang dipandang sebagai salah satu tokoh perempuan yang terkait dengan periode pergolakan awal abad ke-19, khususnya pada masa meningkatnya konflik antara kekuasaan kolonial Belanda dan berbagai kekuatan lokal di Jawa. Nyai Ageng Serang merupakan seorang ahli siasat perang dan penentu strategi dalam Perang Jawa (1825–1830), yang dipimpin oleh Pangeran Diponegoro.


Pasukan Semut Ireng: 

Nyi Ageng Serang membentuk pasukan gerilya yang dikenal dengan nama pasukan "Semut Ireng". Pasukan ini sangat lincah dan efektif dalam melancarkan serangan kejutan dan menghancurkan benteng-benteng Belanda.


Taktik Daun Lumbu: 

Salah satu strategi penyamarannya yang paling terkenal adalah menyuruh pasukannya menutupi kepala mereka dengan daun talas (lumbu). 

Dari kejauhan, pasukan tersebut tampak seperti hamparan kebun keladi yang bergerak, sehingga berhasil mengecoh dan menyergap musuh secara tiba-tiba.


Perjuangan Lintas Generasi: 

Walaupun suaminya gugur dalam pertempuran, semangatnya tidak padam. Ia terus memimpin pasukan bersama cucunya yang dikenal sebagai Raden Mas Papak (Basah Notoprodjo)

[4/7 10.08] rudysugengp@gmail.com: 3. Buatkan gambar dan infografis tentang 

Akhir Hayat dan Penghargaan Nyi Ageng Serang 


Perjuangan di Usia Senja :

Pada awal terjadinya Perang Diponegoro tahun 1825, Nyai Ageng Serang yang telah berusia 73 tahun tetap turun ke medan laga. Ia memimpin pasukan dengan menggunakan tandu dan bergabung membantu Pangeran Diponegoro dalam menghadapi pasukan Belanda. 

Selain ikut bertempur, ia juga berperan sebagai penasehat strategi perang dan terlibat dalam perlawanan di berbagai wilayah seperti Purwodadi, Demak, Semarang, Juwana, Kudus, dan Rembang.


Nyai Ageng Serang menempuh pendidikan militer dan mempelajari berbagai taktik peperangan bersama para prajurit laki-laki. Ia meyakini bahwa selama tanah air masih berada di bawah penjajahan, dirinya wajib selalu siap turun ke medan perang untuk melawan. Salah satu taktik yang paling dikenal dari dirinya ialah memanfaatkan daun talas hijau (lumbu) sebagai sarana kamuflase untuk mengecoh musuh.


Ahli strategi :

Setelah periode keterlibatan aktif dalam perang Jawa melalui perjuangan bersenjata, Nyai Ageng Serang menghabiskan masa tuanya di wilayah Notoprajan, Yogyakarta. Pada fase ini, Nyai Ageng Serang tidak lagi terlibat dalam aktivitas militer, melainkan menjalani peran sosial dan spiritual di lingkungan keluarga serta kerabat. Perubahan tersebut mencerminkan pola umum dalam kehidupan tokoh pada masa itu, ketika memasuki usia lanjut akan beralih peran sebagai pemberi nasihat moral dan penjaga nilai dalam lingkungan sosialnya. Kegiatan pada masa ini meliputi pemberian wejangan kepada keluarga, penanaman nilai-nilai moral dan kepemimpinan, serta aktivitas spiritual seperti berdoa dan bertapa, disertai refleksi atas pengalaman hidup dan perjalanan perjuangan yang telah dilalui. 

Dalam konteks budaya Jawa, praktik tersebut dipahami sebagai bagian dari “laku batin”, yaitu upaya spiritual untuk mencapai ketenangan dan penghayatan nilai-nilai kehidupan.


Akhir Hayat dan Penghargaan :


Wafat :

Nyai Ageng Serang meninggal pada tahun 1828 di usia 76 tahun dan dimakamkan di Bukit Traju Mas, Padukuhan Beku, Kalurahan Banjarharjo, Kabupaten Kulon Progo. 


Penghargaan :

Pada tahun 1974, Nyai Ageng Serang diangkat sebagai pahlawan nasional oleh Presiden Soeharto melalui Keputusan Presiden No. 084/TK/1974, tertanggal 13 Desember 1974. 

Namanya juga diangkat sebagai teladan perempuan nasional dalam pidato Hari Ibu Nasional pada tahun yang sama, karena integritas, nasionalisme, dan religiusitas yang ditunjukkan sepanjang hidupnya.

[4/7 10.09] rudysugengp@gmail.com: Abdul Halim Perdanakusuma

[4/7 11.28] rudysugengp@gmail.com: 1. Buatkan gambar dan infografis tentang 

Biodata dan Masa Muda Abdul Halim Perdanakusuma 


Lahir :

18 November 1922

Sampang, Keresidenan Madura, Hindia Belanda


Meninggal :

14 Desember 1947 (umur 25)

Perak, Uni Malaya


Dikebumikan :

Taman Makam Pahlawan Nasional Utama Kalibata.


Biografi :

Halim dilahirkan Sampang, Madura, Hindia Belanda, pada 18 November 1922. Setelah lulus dari SD dan SMP/SMA untuk pribumi Indonesia, ia bergabung dengan Opleidingschool voor Inlandsche Ambtenaren (sebuah sekolah untuk mendidik penduduk pribumi Indonesia untuk pemerintahan) di Magelang. 

Namun pada tahun kedua, ia memutuskan untuk keluar dan bergabung Akademi Angkatan Laut di Surabaya untuk bergabung sebagai tentara Hindia Belanda.

Setelah menamatkan pendidikan di akademi tersebut, ia sempat bergabung dengan tentara KNIL di bagian penerangan.


Selama Perang Dunia 2 dia pernah bertugas di Royal Canadian Air Force dan Royal Air Force sebagai Navigator dengan pangkat Wing Commander dan bertugas di skadron pengebom pesawat Lancaster dan B-24 Liberator. 

Selama bertugas dia telah menjalankan 44 misi pengeboman di seluruh Eropa.

[4/7 11.29] rudysugengp@gmail.com: 2. Buatkan gambar dan infografis tentang 

Perjuangan Masa Kemerdekaan dan Akhir Hayat Abdul Halim

Perdanakusuma.


Gugur dalam tugas :

Semasa perang mempertahankan kemerdekaan Indonesia melawan penjajah Belanda di Sumatra pada tahun 1948, Halim Perdanakusuma dan Marsma Iswahjoedi ditugaskan membeli perlengkapan senjata di Thailand. 

Keduanya ditugaskan dengan pesawat terbang multifungsi Avro Anson RI-003. Pesawat terbang itu dipenuhi dengan berbagai senjata api, di antaranya karabin, bren gun, pistol dan granat tangan.


Dalam perjalanan pulang, pesawat terbang tersebut jatuh karena cuaca buruk. Bangkai pesawat terbang tersebut ditemukan di sebuah hutan berdekatan dengan kota Lumut, Perak, Malaysia (ketika itu masih bernama Uni Malaya). Namun tim penyelamat hanya menemukan jasad Halim, sementara jasad Iswahyudi tidak diketemukan dan tidak diketahui nasibnya hingga sekarang. 

Begitu juga dengan berbagai perlengkapan senjata api yang mereka beli di Thailand, tidak diketahui ke mana rimbanya.


Jasad Halim kemudian sempat dikebumikan di kampung Gunung Mesah, tidak jauh dari Gopeng, Perak, Malaysia. 

Pusat data Tokoh Indonesia mencatat, di daerah Gunung Mesah itu banyak bermukim penduduk keturunan Sumatra. 

Beberapa tahun kemudian, kuburan Halim digali dan jasadnya dibawa ke Jakarta dan dimakamkan kembali di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta.


Pendiri dan Perwira AURI: 

Sekembalinya ke Tanah Air pada akhir 1945, Halim bergabung dengan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) dan membelot dari Sekutu untuk membela Republik Indonesia. 

Beliau diangkat sebagai perwira operasi oleh Komodor Suryadi Suryadarma untuk membangun kekuatan Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI).


Operasi Udara: 

Beliau terlibat aktif dalam berbagai operasi militer, termasuk melakukan serangan udara balasan terhadap markas tentara Belanda (NICA) di Semarang dan Salatiga pada 29 Juli 1947.


Misi Pembelian Senjata: 

Bersama Marsekal Muda Iswahyudi, Halim ditugaskan pemerintah untuk mencari dan mengangkut perlengkapan senjata dari Thailand. 

Dalam perjalanan pulang menerbangkan pesawat Avro Anson, pesawat mereka mengalami insiden di pantai Tanjung Hantu, Perak, Malaysia.


Marsekal Muda TNI (Anumerta) Abdul Halim Perdanakusuma adalah pelopor dan perwira tinggi TNI Angkatan Udara yang gugur saat menjalankan misi diplomasi dan pengadaan senjata untuk mempertahankan kemerdekaan. Beliau gugur dalam kecelakaan pesawat di Tanjung Hantu, Malaysia, pada 14 Desember 1947 akibat cuaca buruk.


Penghormatan dan Penghargaan :

Pemerintah Indonesia memberi penghormatan atas jasa dan perjuangan Halim, dengan menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional dan mengabadikan namanya pada Bandar Udara Internasional Halim Perdanakusuma HLP di Jakarta. Pemerintah juga mengabadikan namanya pada kapal perang KRI Abdul Halim Perdanakusuma.


Bandara Internasional Halim Perdanakusuma menjadi dasar penamaan beberapa lokasi; seperti Kelurahan Halim Perdanakusuma yang menjadi lokasi bandar udara tersebut dan kompleks Stasiun Halim yang berada di utaranya.

[4/7 11.40] rudysugengp@gmail.com: Iswahyudi

[4/7 12.05] rudysugengp@gmail.com: 1. Buatkan gambar dan infografis tentang 

Biodata dan Masa Muda Iswahyudi 


Biodata :


Lahir :

15 Juli 1918

Surabaya, Jawa Timur, Hindia Belanda (kini Indonesia)


Meninggal :

14 Desember 1947 (umur 29)

Tanjung Hantu, Perak, Uni Malaya (kini Malaysia)


Almamater :

Klein Militaire Brevet (1945)


Kehidupan Pribadi :

Iswahjudi Menikah dengan Ny. Suwarti, putri seorang Asisten Wedana di Slawi, Kabupaten Tegal pada tanggal 27 Maret 1944. Suwarti adalah adik dari pejuang dan seniman terkenal R. Iskak. Pasangan ini berjodoh setelah bertemu pada tahun 1943 dalam sebuah permainan tenis di Surabaya. Hingga kecelakaan yang menyebabkan hilangnya Iswahjoedi pada tahun 1947, pasangan ini belum dikaruniai anak.


Pendidikan :

Masa pendidikan Iswahjudi dimulai dari HIS (Hollandsch-Inlandsche School), MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) di Surabaya, dan AMS (Algemeene Middelbare School) di Malang. Ia sempat mengikuti pendidikan untuk menjadi dokter di sekolah dokter NIAS (Nederlandschi Indische Artsen School), tetapi Iswahjudi tidak sempat menamatkan pendidikannya di bidang kesehatan tersebut. Setelah itu, ia memilih meneruskan studi pada bidang penerbangan pada tahun 1941. Iswahyudi mengikuti pendidikan di sekolah penerbang Belanda, Luchtvaart Opleiding School  di Kalijati, Jawa Barat. Ia berhasil memperoleh Klein Militaire Brevet atau tanda keahlian, kepandaian serta kemampuan anggota TNI dalam bidang penerbangan, Iswahjudi menjadi salah satu dari orang pribumi yang berhasil meraih tanda keahlian tersebut.


Komodor Udara (Anumerta) R. Iswahyudi adalah pelopor dan perintis awal TNI Angkatan Udara yang gugur dalam misi diplomatik. 


Perintis Penerbangan: Sebagai mantan penerbang Angkatan Udara Belanda (ML-KNIL) yang ditugaskan sebagai mata-mata untuk Indonesia, Iswahyudi menguasai teknik aviasi yang kemudian ia dedikasikan sepenuhnya untuk memperkuat kekuatan udara Republik yang masih sangat terbatas.

[4/7 12.05] rudysugengp@gmail.com: 2. Buatkan gambar dan infografis tentang 

Perjuangan Masa Kemerdekaan dan Akhir Hayat  Iswahyudi


Karier Militer :

Awal tahun 1947, Iswahjoedi diangkat menjadi Komandan Lanud Maospati Madiun dengan dibantu oleh Wiweko Soepono dan Nurtanio. 

Pada tahun ini juga, kembali Iswahyudi ditugaskan menjadi Komandan di Lanud Gadut Bukittinggi. 

Namun Jenazahnya tidak ditemukan hingga saat ini. Namun Secara simbolik sebagai bentuk penghargaan pangkat keduanya dinaikkan menjadi Komodor Muda Udara (U) Anumerta (kini Marsekal Pertama Anumerta).


Sepanjang hidupnya, ia berjuang dengan membela Tanah Air dari masa pendudukan Jepang, mempertahankan kemerdekaan di Surabaya, hingga ditugaskan mencari bantuan senjata dan obat-obatan ke luar negeri menggunakan pesawat.


Pertempuran Surabaya: 

Bersama para pemuda dan pejuang lainnya, ia ikut terjun langsung dalam insiden perebutan senjata dan pertempuran fisik di Surabaya setelah proklamasi kemerdekaan.


Misi Menembus Blokade: 

Pada Desember 1947, ia bersama Halim Perdanakusuma mendapat tugas berat dari KSAU Soerjadi Soerjadarma untuk terbang ke Bangkok, Thailand. 

Misi ini bertujuan membawa bantuan obat-obatan dan senjata, serta mencari dukungan untuk perjuangan diplomasi Indonesia di dunia internasional.


Gugur dalam Tugas: 

Dalam perjalanan pulang menuju Indonesia pada 14 Desember 1947, pesawat Avro Anson yang dikemudikan Iswahyudi mengalami kecelakaan dan jatuh di lepas pantai Bukit Tanjung Hantu, Perak, Malaya (Malaysia).


Makam dan Penghargaan :

Atas perjuangannya, Iswahjoedi ditempatkan di makam pahlawan TMP Kalibata. 

Pada 10 November 1960, pemerintah Indonesia mengabadikan nama Iswahyudi dengan mengganti nama Lanud Maospati berganti nama menjadi Lanud Iswahyudi,Maospati, Magetan, dan nama jalan, Jalan Marsma TNI (Anumerta) Iswahjudi, dulunya bernama Jalan Raya Madiun-Solo sepanjang 8,6 Kilo Meter yang berada di dua kabupaten, yakni Kabupaten Magetan dan Kabupaten Madiun.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

1 - 216

  PAHLAWAN NASIONAL (1959 - 2025) Presiden 1 (Sukarno) 49 (1  49) No. 1 Nama  : Abdoel Moeis Dasar Penetapan : Keppres No. 218 Tahun 19...