Selasa, 21 Juli 2026

Teuku Moh. Hasan - HB I

 [15/7 01.20] rudysugengp@gmail.com: 5. Buatkan gambar dan infografis tentang 

Akhir Hayat dan Penghargaan Teuku Mohammad Hasan


Akhir Hayat 

Memasuki masa Orde Baru, Teuku Mohammad Hasan terkesan menjauh dari keterlibatan di dalam dunia politik. Ia memutuskan kembali ke dunia pendidikan yang telah cukup lama ditinggalkannya dengan merintis pendirian Universitas Serambi Mekkah di Banda Aceh pada 21 Maret 1984. Ia juga menulis beberapa buku. Salah satu bukunya adalah Sejarah Perminyakan di Indonesia (diterbitkan oleh Yayasan Sari Pinang Sakti, 1985).


Teuku Mohammad Hasan meninggal dunia pada tanggal 21 September 1997 di Jakarta. Jasadnya dikebumikan di Taman Makam Pahlawan Nasional Utama Kalibata, Jakarta Selatan.


Penghargaan 

Doktor Kehormatan :

Pada tahun 1990, Universitas Sumatera Utara menganugerahkan gelar Doctor Honoris Causa.


Pahlawan Nasional :

Mr. Teuku Muhammad Hasan dinobatkan sebagai Pahlawan Nasional oleh Pemerintah Republik Indonesia dengan Surat Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 085/TK/Tahun 2006 tertanggal 3 November 2006.


Eponim :

Sebuah jalan di Banda Aceh dinamakan Jalan Mr. Teuku Muhammad Hasan.

[15/7 01.27] rudysugengp@gmail.com: 4. Buatkan gambar dan infografis tentang 

Nasionalisasi Perusahaan Perminyakan

Teuku Mohammad Hasan 


Pada tahun 1951, sebagai ketua Komisi Perdagangan dan Industri DPRS (Dewan Perwakilan Rakyat Sementara), Mr. T. M Hasan mengadakan suatu penelitian yang akhirnya menyimpulkan dua hal penting:


Terdapat alasan kuat bahwa jika dilakukan nasionalisasi, hasil minyak Sumatera Utara bisa dipakai sebagai alat pembayaran.

Indonesia tidak memperoleh bagian yang wajar dari perusahaan minyak asing berdasarkan Let Alone Agreement dan sistem pembayaran pajak yang berlaku.

Hasil penelitiannya tersebut kemudian diusulkan dalam sebuah mosi yang didukung oleh kabinet dan diterima secara aklamasi pada tanggal 2 Agustus 1951.


Mosi tersebut berbunyi antara lain:


Mendesak kepada pemerintah untuk dalam jangka waktu satu bulan membentuk sebuah Komisi Negara tentang masalah minyak, dengan tugas:

Segera melakukan penyelidikan terhadap masalah pengolahan minyak, timah, batu bara, emas, perak, dan hasil tambang lainnya.

Membuat rencana undang-undang perminyakan yang serasi dengan keadaan yang berlaku sekarang.

Membantu pemerintah dengan usul-usul pendapat mengenai sikap yang patut diambil pemerintah berkenaan dengan status tambang minyak di Sumatera Utara pada khususnya dan pertambangan lain pada umumnya.

Membantu pemerintah dengan usul-usul pertambangan di Indonesia.

Membantu pemerintah dengan usul-usul pendapat mengenai pajak produksi bahan minyak dan ketentuan harga.

Mengajukan usul-usul lain berkenaan dengan masalah pertambangan guna meningkatkan penghasilan negara, menyelesaikan tugasnya dalam waktu tiga bulan dan menyerahkannya kepada pemerintah dan parlemen.

Mendesak kepada pemerintah supaya menunda pemberian konsesi dan izin eksplorasi baru sampai tugas yang diberikan kepada Komisi Negara tentang masalah pertambangan selesai.


Dalam mosi tersebut juga diusulkan agar pemerintah dalam waktu singkat meninjau kembali Indische Mijn Wet 1899, undang-undang kolonial yang masih tetap dipakai sebagai dasar pengelolaan minyak di Indonesia. IMW dianggap tidak sesuai lagi dengan asas-asas pokok pemikiran bangsa Indonesia.


Untuk memenuhi mosi tersebut pada tanggal 13 September 1951 pemerintah membentuk Panitia Negara Urusan Pertambangan (PNUP) yang bertugas menyelidiki masalah-masalah pertambangan termasuk pertambangan minyak dan gas bumi dan menyusun rancangan undang-undang untuk menggantikan IMW 1899.


Hasan, dalam pidatonya mengenai mosi tersebut mengatakan bahwa kelompok Tiga Besar (Shell, Stanvac dan Caltex) pada hakikatnya menerima lima kali lebih banyak daripada yang dilaporkannya. Ia berpendapat bahwa hal itu disengaja agar harga minyak mentah lebih murah dari yang semestinya, dan sebagai bukti dia mengutip sebuah penawaran dari suatu kelompok perusahaan minyak Jepang yang bersedia membayar minyak mentah Rp.950 per ton, dibandingkan dengan Rp.100 per ton yang dilaporkan perusahaan-perusahaan yang beroperasi di Indonesia dalam kaitannya dengan pembayaran pajak. Kedua, menurut Mr. T. M Hasan, perusahaan-perusahaan minyak itu dengan sengaja mempertinggi ongkos operasinya secara tidak wajar.


Yang menarik di sini adalah pembicaraan yang dilakukan oleh Hasan dengan para pejabat perusahaan minyak asing tidak lama setelah isi mosi itu diumumkan. Mereka mengusulkan pembagian keuntungan berdasarkan pola 50:50. Hal ini dijawab Hasan bahwa dengan pola demikian dikhawatirkan biaya operasi akan bisa di mark-up menjadi lebih tinggi. Ia kemudian mengajukan usul balasan agar hasil produksi minyak di Indonesia dibagi saja antara pemerintah Indonesia dengan perusahaan minyak asing atas dasar sama banyak. Usulan Hasan tersebut membuat para bos perusahaan minyak asing tercengang dan tidak berani bersuara.


Efek dari mosi ini adalah dibentuknya Panitia Negara Urusan Pertambangan (PNUP), dan pada Maret 1956 Mr. T.M. Hasan ditunjuk sebagai ketua, dan berhasil menasionalisasi beberapa perusahan minyak asing menjadi Permina (1957) dan Pertamin (1961). Kedua perusahaan ini pada tahun 1968 digabung menjadi Pertamina.

[15/7 01.31] rudysugengp@gmail.com: 3. Buatkan gambar dan infografis tentang 

Perjuangan PDRI 

Teuku Mohammad Hasan 


Setelah kemerdekaan Indonesia, Mr. Teuku Muhammad Hasan diangkat menjadi Gubernur Sumatra I pada tanggal 22 Agustus 1945 dengan ibu kota provinsi di Medan.


Pemerintahan Darurat Republik Indonesia :


Tidak lama setelah ibu kota RI di Yogyakarta dikuasai Belanda dalam Agresi Militer Belanda II, mereka berulangkali menyiarkan berita bahwa RI sudah bubar. Karena para pemimpinnya, seperti Soekarno, Hatta dan Syahrir sudah menyerah dan ditahan.


Mendengar berita bahwa tentara Belanda telah menduduki ibu kota Yogyakarta dan menangkap sebagian besar pimpinan Pemerintahan Republik Indonesia, tanggal 19 Desember sore hari, Mr. Syafruddin Prawiranegara bersama Kol. Hidayat, Panglima Tentara dan Teritorium Sumatra, mengunjungi Mr. Teuku Mohammad Hasan, Gubernur Sumatra/Ketua Komisaris Pemerintah Pusat di kediamannya, untuk mengadakan perundingan. Malam itu juga mereka meninggalkan Bukittinggi menuju Halaban, perkebunan teh 15 Km di selatan kota Payakumbuh.


Sejumlah tokoh pimpinan republik yang berada di Sumatera Barat dapat berkumpul di Halaban, dan pada 22 Desember 1948 mereka mengadakan rapat yang dihadiri antara lain oleh Mr. Syafruddin Prawiranegara, Mr. Teuku Muhammad Hasan, Mr. Sutan Mohammad Rasjid, Kolonel Hidayat, Mr. Lukman Hakim, Ir. Indracahya, Ir. Mananti Sitompul, Maryono Danubroto, Direktur BNI Mr. A. Karim, Rusli Rahim dan Mr. Latif. Walaupun secara resmi kawat Presiden Soekarno belum diterima, tanggal 22 Desember 1948, sesuai dengan konsep yang telah disiapkan, maka dalam rapat tersebut diputuskan untuk membentuk Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI), dengan susunan sebagai berikut:


Mr. Syafruddin Prawiranegara, Ketua PDRI/Menteri Pertahanan/ Menteri Penerangan/Menteri Luar Negeri ad interim

Mr. Teuku Muhammad Hasan, Wakil Ketua PDRI/Menteri Dalam Negeri/Menteri PPK/Menteri Agama,

Mr. Sutan Mohammad Rasjid, Menteri Keamanan/Menteri Sosial, Pembangunan, Pemuda,

Mr. Lukman Hakim, Menteri Keuangan/Menteri Kehakiman,

Ir. M. Sitompul, Menteri Pekerjaan Umum/Menteri Kesehatan,

Ir. Indracaya, Menteri Perhubungan/Menteri Kemakmuran.

[15/7 01.34] rudysugengp@gmail.com: 2. Buatkan gambar dan infografis tentang 

Perjuangan Awal Teuku Mohammad Hasan 


Pada tahun 1933, Mr. T.M Hasan kembali ke Indonesia. Setiba di pelabuhan Ulee Lheue, Kutaraja, buku-bukunya disita untuk pemeriksaan karena dicurigai terdapat buku paham pergerakan yang akan membahayakan kedudukan pemerintah kolonial Belanda, khususnya di Aceh. Selama di Kutaraja, Hasan menjadi Pegiat di bidang Agama dan Pendidikan.


Di bidang agama, ia bergabung dengan organisasi Islam Muhammadiyah sebagai konsul di bawah pimpinan R.O. Armadinata. Pada era ini, Muhammadiyah berhasil mendirikan perkumpulan perempuan yakni Aisyiyah, Hizbul Wathan, dan sebuah lembaga pendidikan setingkat Hollandsch-Inlandsche School atau HIS. Perkembangan selanjutnya, Muhammadiyah juga mendirikan cabang-cabang di beberapa kota lain di Aceh. Tercatat pada masa akhir Pemerintahan Belanda di Aceh (1942), jumlah cabang Muhammadiyah di Aceh sebanyak 8 (delapan) buah.


Selain aktif di Muhammadiyah, Hasan juga aktif dalam dunia pendidikan. Ia ikut mempelopori berdirinya organisasi Atjehsche Studiefonds (Dana Pelajar Aceh) yang bertujuan untuk membantu anak-anak Aceh yang cerdas tetapi tidak mampu untuk sekolah.


Selain itu, Hasan juga menjadi komisaris organisasi pendidikan yang bernama Perkumpulan Usaha Sama Akan Kemajuan Anak (PUSAKA). Tujuan organisasi ini adalah untuk mendirikan sebuah sekolah rendah berbahasa Belanda seperti Hollandsch-Inlandsche School.


Aktivitas kependidikan Hasan yang lain ialah mendirikan Perguruan Taman Siswa di Kutaraja pada tanggal 11 Juli 1937. Dalam kepengurusan lembaga yang diprakarsai oleh Ki Hajar Dewantara ini, Hasan menjadi ketua dengan sekretaris Teuku Nyak Arief. Sesaat setelah pembentukannya, Hasan mengirim utusannya yaitu, Teuku M. Usman el Muhammady untuk menemui Ki Hajar Dewantara di Yogyakarta. Tujuannya adalah memohon agar Taman Siswa memperluas jaringannya, yakni dengan mendirikan cabang di Aceh. Berdasarkan permohonan tersebut, Majelis Luhur Taman Siswa mengirim tiga orang guru ke Aceh, yaitu Ki Soewondo Kartoprojo beserta istrinya yang juga sebagai guru dan Soetikno Padmosoemarto. Dalam waktu yang relatif singkat, Hasan dan pengurus Taman Siswa di Kutaraja berhasil membuka 4 (empat) sekolah Taman Siswa di Kutaraja, yaitu sebuah Taman Anak, Taman Muda, Taman Antara dan Taman Dewasa.


Berkat pengalaman di bidang pendidikan tersebut, Hasan memutuskan pergi ke Batavia dan bekerja sebagai pengawai di Afdeling B, Departemen Van Van Onderwijsen Eiredeienst (Departemen Pendidikan). Selain itu, ia juga pernah menjadi pegawai di kantor Voor Bestuurshervarming Buintengewesten. Kemudian pada tahun 1938, Hassan kembali lagi ke Medan untuk bekerja pada kantor Gubernur Sumatra sampai tahun 1942. Pada era penjajahan Jepang ini, yakni antara tahun 1942 sampai 1945, Hasan tetap berada di Medan dan bekerja sebagai Ketua Koperasi Ladang Pegawai Negeri di Medan, kemudian menjadi Penasihat dan Pengawas Koperasi Pegawai Negeri di Medan dan Pemimpin Kantor Tinzukyoku (Kantor permohonan kepada Gunsaibu) di Medan. Ketika Jepang hendak angkat kaki dari Aceh tahun 1945, Hasan adalah sedikit dari tokoh-tokoh Aceh yang memiliki kesadaran kebangsaan dan bersedia bergabung dengan para nasionalis di Jakarta.


Pada 7 Agustus 1945 Mr. Teuku Muhammad Hasan dipilih menjadi anggota Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) yang diketuai oleh Ir. Soekarno.

[15/7 01.41] rudysugengp@gmail.com: 1. Buatkan gambar dan infografis tentang 

Biodata dan Kehidupan Awal Teuku Mohammad Hasan


Kabinet Darurat adalah Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI), yang secara efektif merupakan pemerintahan Indonesia dalam pengasingan, yang dibentuk di Bukittinggi, Sumatera Barat, setelah Agresi Militer Belanda II ketika ibu kota republik Yogyakarta direbut dan sebagian besar anggota kabinet membiarkan diri mereka ditangkap dengan harapan menarik simpati dari dunia luar.


Informasi pribadi

Teuku Mohammad Hasan

Lahir :

4 April 1906

Belanda Pidie, Aceh, Hindia Belanda

Meninggal :

21 September 1997 (umur 91)

Indonesia Jakarta, Indonesia

Makam :

Taman Makam Pahlawan Nasional Utama Kalibata

Almamater :

Leiden University


Kehidupan Awal :

Teuku Muhammad Hasan dilahirkan tanggal 4 April 1906 sebagai Teuku Sarong, di Sigli, Aceh. Ayahnya, Teuku Bintara Pineung Ibrahim adalah Ulèë Balang di Pidie (Ulèë Balang adalah bangsawan yang memimpin suatu daerah di Aceh). Ibunya bernama Tjut Manyak.


Sekolah :

Dia bersekolah di Sekolah Rakyat (Volksschool) di Lampoeh Saka 1914-1917. Pada tahun 1924 bersekolah di sekolah berbahasa Belanda Europeesche Lagere School (ELS), dilanjutkan ke Koningen Wilhelmina School (KWS) di Batavia (sekarang Jakarta). Kemeudian ia masuk Rechtschoogeschool (Sekolah Tinggi Hukum).


Masa-masa di Belanda :

Pada usia 25 tahun, T.M Hasan memutuskan untuk bersekolah di Leiden University, Belanda. Selama di Belanda, ia bergabung dengan Perhimpunan Indonesia yang dipelopori oleh Muhammad Hatta, Ali Sastroamidjojo, Abdul Madjid Djojodiningrat dan Nasir Datuk Pamuntjak. Selain kesibukannya sebagai mahasiswa, Hasan juga menjadi aktivis yang mengadakan kegiatan-kegiatan organisasi baik di dalam kota maupun di kota-kota lain di Belanda.


Hasan mendapatkan gelar Meester in de Rechten (Master of Laws) tahun 1933.

[15/7 17.00] rudysugengp@gmail.com: 1. Buatkan gambar dan infografis tentang 

Kehidupan Awal Tirta Adhi Suryo


Tirto Adhi Soerjo dikenal sebagai Bapak Pers Nasional, dan merupakan salah satu pahlawan paling berpengaruh di Indonesia. Beliau wafat pada 7 Desember 1918.


Tahun 1880, satu keluarga bangsawan di Blora, Jawa Tengah, sedang berbahagia. Istri dari Raden Ngabehi Hadji Moehammad Chan Tirtodhipoero, yang merupakan pegawai kantor pajak, melahirkan seorang putera, dan diberi nama Djokomono.


Karena Djokomono adalah cucu dari seorang bupati, maka ia diberi gelar raden mas di depan namanya. Kakeknya yang bernama Raden Mas Tumenggung Tirtonoto, adalah seorang Bupati Bojonegoro.


Ketika mulai beranjak dewasa, RM Djokomono merubah namanya menjadi RM Tirto Adhi Soerjo. Bagi keluarga bangsawan yang masih terhitung keturunan raja-raja Jawa, perubahan nama anak saat menjelang dewasa adalah hal yang lazim. Nama barunya bisa pemberian dari sang ayah, atau kakeknya.


Pendidikan Tirto Adhi Soerjo :

Gelarnya sebagai anak bangsawan, membuat Tirto mudah mendapatkan akses pendidikan. Tirto pun masuk ke sekolah dasar di Rembang. Setelah menamatkan sekolah dasarnya itu, ia melanjutkan sekolahnya ke Hogere Burger School (HBS) yang berada di Betawi. Ya, di umur yang masih sangat muda itu, Tirto merantau.


Setelah lulus dari HBS, Tirto pun diterima di sekolah dokter bumiputera, School tot Opleiding van Inlandsche Artshen (STOVIA) di Batavia. Saat itu, Tirto memang sedang memiliki ketertarikan pada dunia kedokteran.


Padahal, kalau dipikir-pikir nih ya, dengan statusnya sebagai anak dari keluarga bangsawan, mudah aja buat Tirto meniti karir sebagai abdi pemerintah, dan tentunya masa depannya sudah terjamin akan cerah. Tapi Tirto menolak itu, ia sama sekali tidak tertarik untuk menjadi abdi pemerintah.


Alih-alih bekerja sebagai abdi pemerintah, Tirto justru menjadi seorang penulis yang sangat diperhitungkan oleh pemerintah kolonial. Semua itu dimulai saat awal-awal bersekolah di STOVIA. Saat itu Tirto mulai jatuh cinta pada dunia penulisan dan jurnalistik.

[15/7 17.00] rudysugengp@gmail.com: 2. Buatkan Gambar dan Infografis tentang 

Karier Tirto Adhi Suryo 


Karir Tirto Adhi Soerjo sebagai Jurnalis

Sejak awal masuk, ia sudah aktif mengirimkan tulisan-tulisannya ke berbagai surat kabar yang cukup besar, seperti Pewarta Priangan, Pembrita Betawi, Chabar Hindia Olanda, juga Bintang Betawi.


Tulisan-tulisan Tirto pun mulai banyak dimuat di surat kabar. Melalui tulisannya, Tirto mengutarakan keresahannya pada kondisi sosial politik yang tengah terjadi di bumiputera. Semakin lama, kritik-kritiknya pada pemerintah kolonial semakin tajam.


Ketajaman Tirto dalam menulis, tidak serta merta muncul begitu saja. Sebagai seorang yang baru terjun dalam dunia jurnalistik, Tirto banyak belajar dari jurnalis senior yang juga menjadi pemimpin redaksi di Niews van den Dag, namanya Karel Wijbrands.


Kalau kamu pernah membaca buku Sang Pemula karya Pramoedya Ananta Toer, di sana diceritakan kalau hubungan mereka cukup singkat, tapi sangat intensif. Maka dari itu, Tirto bisa mendapatkan banyak pelajaran dari Wijbrands.


Sebagai seorang jurnalis senior, tentunya Wijbrands juga memberikan banyak pengetahuan kepada Tirto, tentang dunia jurnalistik. Bahkan, Tirto sampai diajarkan dan dibimbing untuk kemudian bisa memiliki media terbitan sendiri.


Banyak saran yang diberikan oleh Wijbrands kepada Tirto hingga akhirnya ia dikenal sebagai orang yang membuka keran kebebasan pers.


Tirto diminta mempelajari hukum, disarankan untuk mempelajari tata pemerintahan agar ia memahami dan menjadi jeli saat menilai kekuasaan, juga ditekankan bahwa menjadi seorang jurnalis, harus selalu membawa kepentingan publik.


Selain itu, Tirto juga merupakan pembaca karya-karya Multatuli, yang merupakan nama penulis Eduard Douwes Dekker.


Serangkaian pelajaran, bimbingan, juga saran yang diberikan, membuat Tirto berhasil menerbitkan sebuah surat kabar. Surat kabar pertama di Indonesia yang benar-benar independen. Karena dikelola, diterbitkan, dan dimodali oleh bumiputera sendiri dan menyuarakan kepentingan publik. Surat kabar ini bernama Soenda Berita, berdiri pada tahun 1903.


Kritik terhadap Pemerintahan Kolonial :


Tahun 1905 Tirto melakukan penjelajahan ke Maluku, wilayah yang menjadi titik mula penjajahan Belanda atas Nusantara. Selama di sana ia menemukan banyak cerita dan fakta tentang praktik-praktik penjajahan bangsa kolonial. Setelah itu, tulisan-tulisan Tirto pun semakin tajam dan lugas dalam mengkritik pemerintahan Belanda.


Pada 1 Januari 1907, dengan bantuan dari bangsawan lokal, Tirto kembali mendirikan surat kabar bernama Medan Prijaji. Di Medan Prijai ini Tirto juga menjadi editor sekaligus administrator.


Menurut salah satu peneliti sejarah, Muhidin Dahlan, Medan Prijai ini menjadi salah satu corong aspirasi dan kritik dari salah satu organisasi pergerakan yang didirikan Tirto pada tahun 1906, yang bernama Sarekat Prijai. Kemudian model seperti ini diikuti oleh banyak organisasi pergerakan berikutnya.


Bersama Medan Prijai, Tirto semakin garang. Ia menciptakan gaya jurnalistik baru, yang tajam, juga dipenuhi oleh berbagai macam sindiran. Kebanyakan tulisannya mengungkap berbagai macam praktik kesewenang-wenangan dan penyelewengan yang dilakukan pemerintah kolonial, dan para pejabat bumiputera.


Dari mana Tirto mendapatkan informasi tentang praktik kesewenang-wenangan dan penyelewengan? Menurut Muhidin Dahlan, ia adalah wartawan yang selalu bepergian, bertualang. Karena bagi Tirto, berita itu harus dicari, tanpa harus menunggu datangnya kabar dari kantor berita Hindia Belanda.


Kegigihan Tirto dalam memberitakan suara-suara masyarakat yang dirugikan, yang selalu dicurangi, dan yang dicuri hak-haknya, membuat pemerintah kolonial Belanda dan pejabat bumiputera merasa resah.


Tirto pun mulai sering berurusan dengan pengadilan. Pertama kali ia dijatuhi hukuman pembuangan ke Lampung selama 2 bulan. Ya karena tulisannya itu.


Kemudian, selama Medan Prijai eksis menerbitkan berita-berita dari tahun 1907 sampai 1912, Tirto tetap konsisten pada perjuangannya dalam jurnalistik. Namun lagi-lagi, surat kabar yang didirikan Tirto ini menghadapi masalah finansial. Pada 22 Agustus tahun 1912, Medan Prijai benar-benar bangkrut.


Karena banyaknya tunggakan yang tidak bisa dilunasi, akhirnya Tirto berurusan dengan pengadilan dan dinyatakan bersalah. Semua aset dan harta miliknya pun disita oleh negara. Ditambah lagi, tahun 1913 Tirto dijatuhi hukuman pembuangan ke Ambon, setelah ia membongkar kasus korupsi Bupati Rembang.

[15/7 17.00] rudysugengp@gmail.com: 3. Buatkan Gambar dan Infografis tentang 

Akhir Hayat dan Penghargaan Tirto Adhi Suryo 


Akhir Riwayat Tirto Adhi Soerjo :

Tirto pun kembali dari pembuangan dengan situasi dan kondisi yang sangat berbeda. Ia benar-benar kehilangan pengaruh. Teman-temannya pun pergi meninggalkannya. Selama di Batavia, ia tinggal di salah satu kamar hotel Medan Prijaji. Hotel bekas miliknya, yang kini sudah dimiliki oleh rekannya.


Tirto mengalami depresi dengan kesendiriannya. Ia juga terjangkit penyakit disentri, yang membuat kondisi kesehatannya semakin memburuk.


Pada akhirnya, Bapak Pers Nasional kita, sang pemula pers bumiputera ini pun tidak lagi kuat menghadapi depresi akut dan penyakitnya itu. 

Ia tutup usia pada 7 Desember 1918, di usia 38 tahun. Di usia yang muda dengan pengaruh yang sangat besar pada bangsanya.


Pemerintah baru mengakui Tirto sebagai Bapak Pers Nasional pada tahun 1973. Melalui Keppres No. 85/TK/2006, negara akhirnya resmi menobatkan Tirto sebagai Pahlawan Nasional.


Tirto Adhi Soerjo akhirnya diberi gelar pahlawan nasional dan Tanda Kehormatan Bintang Maha Putra Adipradana pada 10 November 2006.


Pandangan orang lain terhadap Tirto Adhi Suryo :

Takashi Shiraishi lewat buku Zaman Bergerak menyebut Tirto Adhi Soerjo sebagai orang bumiputra pertama yang menggerakkan bangsa melalui bahasanya lewat Medan Prijaji.


Tirto Adhi Soerjo juga mendapat tempat yang banyak pula dalam laporan-laporan pejabat-pejabat Hindia Belanda, terutama laporan Dr. Rinkes. Ini disebabkan karena Tirto memegang peranan pula dalam pembentukan Sarekat Dagang Islam di Surakarta bersama Haji Samanhudi, yang merupakan asal mula Sarikat Islam yang kemudian berkembang ke seluruh Indonesia. Anggaran Dasar Sarikat Islam yang pertama mendapat persetujuan Tirto Adi Soerjo sebagai ketua Sarikat Islam di Bogor dan sebagai redaktur suratkabar Medan Prijaji di Bandung.


Tirto mendorong kolaborasi dalam meningkatkan pengetahuan mengenai memberikan informasi atau berita. Adaptasi metodenya dengan memnfaatkan replikasi dari politik etis atau politik balas budi. Sehingga dalam mendapatkan sumber primer, mudah menggali informasi secara mendalam.


Ketika menulis buku kenang-kenangannya pada tahun 1952, Ki Hajar Dewantara mencatat tentang diri Tirtohadisoerjo sebagai berikut: "Kira-kira pada tahun berdirinya Boedi Oetomo ada seorang wartawan modern, yang menarik perhatian karena lancarnya dan tajamnya pena yang ia pegang. Yaitu almarhum R.M. Djokomono, kemudian bernama Tirtohadisoerjo, bekas murid STOVIA yang waktu itu bekerja sebagai redaktur harian Bintang Betawi (yang kemudian bernama Berita Betawi) lalu memimpin Medan Prijaji dan Soeloeh Keadilan. Ia boleh disebut pelopor dalam lapangan journalistik."


Sudarjo Tjokrosisworo dalam bukunya Sekilas Perjuangan Suratkabar (terbit November 1958) menggambarkan Tirtohadisoerjo sebagai seorang pemberani. "Dialah wartawan Indonesia yang pertama-tama menggunakan suratkabar sebagai pembentuk pendapat umum, dengan berani menulis kecaman-kecaman pedas terhadap pihak kekuasaan dan menentang paham-paham kolot. Kecaman hebat yang pernah ia lontarkan terhadap tindakan-tindakan seorang kontrolir, menyebabkan Tirtohadisoerjo disingkirkan dari Jawa, dibuang ke Pulau Bacan," tulis Tjokrosisworo.


Dalam budaya populer


Novel Bumi Manusia :

Tokoh Minke dalam novel Bumi Manusia karangan Pramoedya Ananta Toer mengacu kepada sosok Tirto Adhi Soerjo. Novel ini merupakan salah satu seri dari Tetralogi Pulau Buru.

Pada 24 Mei 2018, diselenggarakan konferensi pers yang mengumumkan bahwa Bumi Manusia akan difilmkan oleh Falcon Pictures dengan Hanung Bramantyo sebagai sutradara. Sosok Minke akan diperankan oleh Iqbaal Ramadhan, Annelies Mellema akan diperankan oleh Mawar de Jongh, dan Sha Ine Febriyanti sebagai Nyai Ontosoroh.


Media daring Tirto.id :

Sebuah media daring, Tirto.id, mendedikasikan nama medianya untuk menghormati sosok Tirto Adhi Soerjo. Hal ini tertuang dalam halaman tentang kami pada laman situsnya.


Warisan :

Pada 10 November 2021, nama R.M. Tirto Adhi Soerjo diabadikan sebagai nama jalan di Kota Bogor, dan diresmikan oleh wali kota Bima Arya.

[15/7 22.59] rudysugengp@gmail.com: Noer Alie

[15/7 23.39] rudysugengp@gmail.com: 1. Buatkan gambar dan infografis tentang 

Kehidupan Awal KH. Nur Alie 


Biodata KH. Nur Alie 


Nama Lengkap: 

KH. Nur Alie 

Tempat, Tanggal Lahir: 

Kampung Ujung Malang, Bekasi, Jawa Barat, 15 Juli 1914

Orang Tua: 

H. Anwar (Ayah) dan Hj. Maimunah (Ibu)

Istri: 

Hj. Rahmah dan Hj. Rohmanih

Pendidikan Agama:

* Berguru pada ulama lokal di Bekasi (seperti Guru Mughni)

* Berguru pada Guru Ahmad Marzuki di Cipinang Muara, Klender (1931)

* Menimba ilmu di Madrasah Darul Ulum, Mekkah (1934-1940)


Biografi KH. Nur Alie :


KH. Nur Alie lahir pada tahun 1914 dari pasangan bernama Anwar bin Layu dan Maimunah binti Tarbin. Beliau berasal dari keluarga yang sederhana.


Ayahnya merupakan seorang petani yang memiliki tanah seluas 1 hektare. Sementara ibunya adalah seorang ibu rumah tangga. KH Nur Alie lahir sebagai anak keempat dari 10 bersaudara.


Sejak kecil KH. Nur Alie sudah memiliki cita-cita untuk menjadi pemimpin agama.


Pada umurnya yang menginjak 8 tahun, beliau telah belajar mengeja dan membaca bahasa Arab, mengaji dan menghafal surah dalam Al-Qur’an, hingga mempelajari pengetahuan keislaman lainnya.


Beranjak dewasa, KH. Nur Alie terus memperdalam ilmu agama Islam. Beliau pernah belajar kepada Guru Mughni di Ujung Malang dan belajar mengenai tauhid. Saat belajar ini, beliau disebut sebagai santri paling cerdas dan diakui oleh sang guru.


Selama proses pembelajaran, KH. Nur Alie juga melihat secara langsung kondisi kehidupan masyarakat yang ada di Indonesia.


Terdapat ketimpangan ilmu dengan realita yang ada di masyarakat. Hal inilah yang membangkitkan semangat cinta Tanah Air dalam dirinya.


Kemudian KH. Nur Alie sempat mengenyam pendidikan di pesantren dengan Guru KH Marzuki. Di pondok pesantren inilah beliau mulai mempelajari menggunakan senapan hingga mahir menggunakannya.


KH. Nur Alie tidak pernah berhenti belajar, hingga akhirnya pergi ke Mekkah pada tahun 1934. Di Mekkah beliau belajar tentang keislaman dan memperdalam ilmu agama.

[15/7 23.40] rudysugengp@gmail.com: 2. Buatkan gambar dan infografis tentang 

Perjuangan KH. Nur Alie


Akhirnya pada tahun 1939 KH. Nur Alie pulang ke Indonesia dan mendirikan pondok pesantren pada tahun 1940. Kehadiran KH. Nur Alie di Indonesia membuat pemerintah kolonial menjadi risau.


Kemudian pada tahun 1942, KH. Nur Alie masuk ke dalam daftar ulama yang harus bekerja sama dengan penjajah Jepang. Namun, dengan tegas KH Noer Ali menolak hal tersebut karena beliau tidak ingin pondok pesantrennya tidak terurus.


Hingga akhirnya pada masa sebelum kemerdekaan, KH. Nur Alie mempersiapkan para santrinya untuk masuk ke latihan kemiliteran yang dibentuk Jepang dan ada pula yang disalurkan ke Pasukan Pembela Tanah Air agar tidak ikut berperang.


KH. Nur Alie mulai memimpin laskar-laskar rakyat untuk bertempur di medan perang demi meraih kemerdekaan. Beliau bahkan pernah menjadi Komandan Batalyon Tentara Hizbullah Bekasi dan menjadi pemimpin di berbagai organisasi lainnya.


Perjuangan KH. Nur Alie :


Dalam masa perjuangan kemerdekaan, KH. Nur Alie turut serta membantu dalam meraih kemerdekaan bangsa Indonesia. 


Pada pertempuran melawan tentara penjajah Belanda yang terjadi pada tahun 1947 tersebut,  memerintahkan para warga dan pasukannya untuk membuat bendera merah putih ukuran kecil untuk dipasang di setiap pohon dan tiang.


Tujuan pemasangan bendera ini untuk menyatakan bahwa Indonesia masih ada dan siap mempertahankan kemerdekaan. Sebagai ulama, beliau juga pernah memimpin laskar-laskar rakyat untuk bertempur. Bahkan KH. Nur Alie pernah dijadikan sebagai Komandan Batalyon Tentara Hizbullah Bekasi.


Militer: 

Menjadi komandan lapangan dan panglima Laskar Hizbullah-Sabilillah di front Bekasi dan Karawang pada 1945, yang sangat ditakuti oleh pasukan Belanda dan Jepang.


Politik: 

Pernah aktif sebagai anggota parlemen di Konstituante mewakili Partai Masyumi.

[15/7 23.40] rudysugengp@gmail.com: 3. Buatkan gambar dan infografis tentang 

Julukan, Akhir Hayat dan Penghargaan KH. Nur Alie


Julukan untuk KH. Nur Alie :


Sebagai sosok pejuang yang membela Tanah Air, KH. Nur Alie memiliki julukan yang berbeda dari yang lain. Beliau disebut dengan julukan “Singa Karawang-Bekasi” karena keberaniannya saat berada di medan perang.


Selain itu, beliau juga berasal dari Bekasi dan menjadikannya memiliki julukan tersebut. Keberanian KH. Nur Alie dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan bangsa membuatnya seperti singa yang gagah dan berani.


Akhir Hayat dan Makam :

Akhir Hayat: 

Setelah mengalami kondisi kesehatan yang menurun drastis pada 1991, KH. Noer Alie wafat pada hari Rabu, 29 Januari 1992 pukul 19.00 WIB. 

Beliau wafat pada usia 77 tahun dan meninggalkan warisan besar dalam bidang pendidikan dan perjuangan kemerdekaan.


Makam: 

Jenazah beliau disemayamkan dan dimakamkan di area Pondok Pesantren Attaqwa, Desa Ujung Harapan Bahagia, Kecamatan Babelan, Kabupaten Bekasi.


Lokasi ini kini menjadi salah satu destinasi wisata ziarah sejarah yang ramai dikunjungi masyarakat.


KH. Nur Alie merupakan ulama sekaligus pahlawan nasional di Indonesia. Beliau dianugerahi sebagai Pahlawan Nasional Indonesia melalui SK Presiden: Keppres No. 085/TK/2006 pada tanggal 3 November 2006.


Dalam budaya populer :

Dalam film Singa Karawang-Bekasi (2003), KH Nur Alie diperankan oleh Rendi Khrisna.

[15/7 23.41] rudysugengp@gmail.com: Pajongga Daeng Ngalie

[16/7 00.17] rudysugengp@gmail.com: 1. Buatkan gambar dan infografis tentang 

Kehidupan Awal Pajonga Daeng Ngalie


Nama: 

Pajonga Daeng Ngalie

Lahir: 

Takalar, 1901

Meninggal: 

Sulawesi Selatan, 23 Februari 1958

Ibu:

Hajina Daeng Massaung Kareng Ilangari Mangkura

Ayah: 

Hapipah Daeng Ngintang


Pajonga Daeng Ngalie (lahir di Takalar, Sulawesi Selatan, 1901; meninggal dunia di Takalar, Sulawesi Selatan, 23 Februari 1958) adalah salah seorang pahlawan nasional Indonesia dan juga seorang Karaeng Polongbangkeng ke 12 pada tahun 1934. Ia lahir dari pasangan Hajina Daeng Massaung Karaeng Ilangari Mangkura dan Hapipah Daeng Ngintang, bangsawan dari Polongbangkeng.


Biografi Singkat  Pajonga Daeng Ngalie :

Pajonga Daeng Ngalie terkenal sebagai sosok pahlawan yang mampu membangkitakan semangat para pemuda Indonesia. Kehadirannya menjadi salah satu tonggak utama dalam melawan kekejaman kolonial Belanda. 


Pajonga Daeng Ngalie terlahir di Takalar, Sulawesi Selatan pada tahun 1901. Ia merupakan putra dari pasangan Hajina Daeng Massaung Karaeng Ilangari Mangkura dan Hapipah Daeng Ngintang. Kedua orang tuanya merupakan kalangan bangsawan dari Polongbangkeng. 


Pajonga Daeng Ngalie merupakan sosok teladan yang baik. Ia memiliki rasa semangat yang besar, berpendirian teguh, ikhlas, dan jujur. Sifatnya ini selalu terlihat bagi siapa saja yang mengenalnya. 


Sewaktu masih muda, Pajonga Daeng Ngalie Ngalle telah memiliki rasa semangat juang yang tinggi. Sifatnya ini terlihat dari keinginannya yang begitu besar, yakni untuk memerdekakan bangsa dan negaranya. 


Ada sebuah kisah menarik dalam sejarah, di mana wilayah Indonesia Timur akan diberikan kemerdekaan oleh bangsa Belanda. Bagi sebagian orang, hal ini memberikan ruang lega setelah melalui perjalanan pemberontakan yang begitu panjang.


Namun, lain halnya dengan tokoh Pajonga Daeng Ngalie. Memiliki jiwa patriotisme yang begitu besar, ia menolak mentah-mentah pengakuan tersebut. 


Penolakan ini sejalan dengan arti kemerdekaan Indonesia yang merupakan hasil dari perjuangan darah. Bukan semata-mata hasil dari pemberian bangsa Belanda.   


Saat itu, Pajonga Daeng Ngalie secara tegas menolak pengakuan atas Negara Indonesia Timur. Nama tersebut merupakan hasil gagasan Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Hubertus Johannes van Mook. Menanggapi hal tersebut, Pajonga Daeng Ngalie memilih untuk membentuk laskar perlawanan terhadap tentara Belanda.

[16/7 00.18] rudysugengp@gmail.com: 2. Buatkan gambar dan infografis tentang 

Perjuangan Pajonga Daeng Ngalie


Pada bulan Oktober 1945, ia bersama dengan seluruh bangsawan Sulawesi Selatan seperti Andi Mappanyukki, Andi Pangerang Petta Rani, Andi Abdullah Bau Massepe, dan Andi Djemma mengikuti konferensi raja-raja Sulawesi Selatan. Konferensi ini memutuskan satu tekad untuk mendukung pemerintahan Republik Indonesia di Sulawesi sebagai satu-satunya pemerintah yang sah di bawah Gubernur Sam Ratulangi. Pajonga Daeng Ngalie mengumumkan bahwa daerahnya merupakan bagian dari wilayah Indonesia, selain itu ia juga mendirikan organisasi Laskar Gerakan Muda Bajoang yang berpusat di Polongbangkeng, Takalar untuk melawan pasukan sekutu dan Belanda.


Sejarah Perjuangan Pajonga Daeng Ngalie :


Pajonga Daeng Ngalie merupakan seorang pejuang pembentukan Republik Indonesia dalam Revolusi Nasional. Saat itu, ia menjabat sebagai Ketua Laskar Gerakan Muda Bajoang dan Koordinator Serangan di Sulawesi Selatan.


Pada tahun 1934, Pajonga Daeng Ngalie menjadi kepala pemerintahan distrik. Kemudian, tahun 1945, pahlawan asal Sulawesi ini mengikuti konferensi raja-raja untuk mendukung pemerintah RI. Ia datang bersama beberapa bangsawan seperti Andi Mappanyukki, Andi Djemma, Andi Bau Massepe, dan Andi Pettarani.


Setelah itu, Pajonga Daeng Ngalie menjadikan Polongbangkeng sebagai pusat gerakan yang menggantikan posisi Makassar. Ia mempersatukan tokoh pemuda perjuangan dari berbagai wilayah termasuk Makassar, Takalar, Gowa, dan Bantaeng. 


Dalam sejarahnya, Pajonga Daeng Ngalie mempertahankan proklamasi dengan membentuk Laskar Gerakan Muda Bajoang. Kelompok ini menjadi wadah perjuangan bersenjata yang sangat penting.


Pada bulan juli 1946, Van Mook yang merupakan pimpinan Belanda menggelar Konferensi Melano. Konferensi tersebut berlangsung untuk membentuk Negara Indonesia Timur. 


Mengetahui hal ini, Pajonga Daeng Ngalie langsung membuat strategi untuk melangsungkan konferensi antar laskar di Sulawesi Selatan. Hal ini bertujuan untuk menyatukan kelompok, guna membangun visi strategis dalam menggelar pertempuran. 


Sebagai informasi, pertemuan dalam konferensi ini dihadiri oleh 19 laskar. Kelompok yang ada kemudian membentuk LAPRIS atau Laskar Pemberontak Rakyat Indonesia Sulawesi. 


Hasil konferensi memutuskan satu tekad untuk mendukung pemerintah RI sebagai satu satunya pemerintahan yang sah. Pemerintahan ini di bawah binaan dari Gubernur Sam Ratulangi. 


Pajonga Daeng Ngalie kemudian memberikan pengumuman yang sangat penting. Ia menyatakan bahwa daerahnya merupakan bagian dari wilayah Indonesia. 


Dalam Sejarahnya, Pajonga Daeng Ngalie tak pernah berhenti berjuang meskipun Indonesia telah dinyatakan merdeka. Ia terus menjadi kebanggaan warga Takalar, berkat keberanian dan kegigihannya dalam memberikan perlawanan terhadap kolonial Belanda.

[16/7 00.18] rudysugengp@gmail.com: 3. Buatkan gambar dan infografis tentang 

Akhir Hayat dan Penghargaan Pajonga Daeng Ngalie


Pajonga Daeng Ngalie wafat di Takalar, Sulawesi Selatan, 23 Februari 1958. Berkat jasanya, ia ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono berdasarkan Surat Keputusan Presiden RI No. 085/TK/Tahun 2006 tanggal 9 November 2006.


Ia juga mendapat penghargaan sebagai Bintang Maha Putra Adipradana, selain itu ia juga diabadikan menjadi patung di Kabupaten Takalar.


Abadi sebagai Nama Jalan & Fasilitas: Nama beliau diabadikan menjadi nama jalan protokol serta fasilitas publik di Sulawesi Selatan untuk mengenang pergerakan Laskar Gerakan Muda Bajoang yang dipimpinnya.


Pajonga Daeng Ngalie Polobangkeng juga diabadikan menjadi patung di Kabupaten Takalar.

[16/7 00.30] rudysugengp@gmail.com: Opu Daeng Risadju

[16/7 00.58] rudysugengp@gmail.com: 1. Buatkan gambar dan infografis tentang 

Kehidupan Awal Opu Daeng Risaju


Biodata Opu Daeng Risaju


Nama Kecil: Famajjah

Gelar: Opu Daeng Risadju (Gelar kebangsawanan Kerajaan Luwu yang diberikan setelah menikah)

Lahir: Palopo, Sulawesi Selatan, tahun 1880

Orang Tua: Muhammad Abdullah to Barengseng (Ayah) dan Opu Daeng Mawellu (Ibu)

Suami: Haji Muhammad Daud (Ulama asal Bone)

Organisasi: Ketua PSII Cabang Palopo (1930)


Opu Daeng Risadju (EYD. Opu Daeng Risaju)

adalah pejuang wanita asal Sulawesi Selatan yang menjadi Pahlawan Nasional Indonesia. Opu Daeng Risadju memiliki nama kecil Famajjah. Opu Daeng Risaju itu sendiri merupakan gelar kebangsawanan Kerajaan Luwu yang disematkan pada Famajjah memang merupakan anggota keluarga bangsawan Luwu. Opu Daeng Risaju merupakan anak dari pasangan Opu Daeng Mawellu dengan Muhammad Abdullah to Barengseng yang lahir di Palopo pada 1880.

Opu Daeng Risadju adalah seorang keturunan dari Raja Bone XXII, La Temmasonge Matimoeri Malimongeng.


Masa Muda :

Famajjah terlahir pada 1880, sebagai anak dari Muhammad Abdullah To Baresseng dan Opu Daeng Mawellu. Keluarga ini dianggap keluarga bangsawan. Seperti kebanyakan orang Islam pada masanya, Famajjah hanya belajar mengaji Alquran tanpa sekolah formal. Ia lantas menikah dengan Haji Muhammad Daud, dan dikenal dengan nama Opu Daeng Risadju. Keluarga ini pernah tinggal di Parepare, sebuah kota pelabuhan lain di Sulawesi Selatan yang menghadap Selat Makassar.


Sejak kenal H. Muhammad Yahya, Opu Daeng Risadju mulai aktif di Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII). Yahya adalah pedagang Sulawesi Selatan yang pernah bermukim lama di Jawa dan mendirikan PSII di Pare-Pare. Setelah bergabung, Opu Daeng Risadju dan suaminya membuka PSII cabang di Malangke, Palopo pada 14 Januari 1930.


Peresmian PSII Palopo disertai rapat akbar di Pasar Lama Palopo (sekarang Jalan Landau). Rapat dihadiri pemerintah Kerajaan Luwu, pengurus PSII pusat, pemuka masyarakat, dan masyarakat umum. Hasil rapat meresmikan Opu Daeng Risadju sebagai ketua. Sedangkan saudaranya, Mudehang, sebagai sekretaris. Mudehang dipilih karena dia tamatan sekolah dasar lima tahun yang bisa membaca dan menulis.


Opu Daeng Risaju dilahirkan di Palopo Luwu tahun 1880. Terlahir dengan nama Famajjah. Ayahnya Bernama Muhammad Abdullah To Bareseng dan ibunya Bernama Opu Daeng Mawellu. Rupanya darah kebangsawanan diperolehnya dari ibunya, karena ibunya Opu Daeng Mawellu adalah keturunan langsung (cicit) Raja Bone ke 22 La Temmasonge Matimoeri Malimongeng, memerintah tahun 1749-75. Bagi masyarakat Luwu gelar Opu adalah sebuah Titulatur kebangsawanan yang diberikan kepada seseorang setelah menikah. Gelar Opu yang diberikan kepada seseorang yang secara struktur menduduki jabatan dalam Birokrasi Kerajaan. Sebagai seorang bangsawan Opu Daeng Risaju, memperoleh tempat tersendiri dalam masyarakat seperti halnya para bangsawan tinggi lainnya, yang sekalipun tidak menduduki jabatan dalam Birokrasi Kerajaan, tetapi titulahir Opu yang disandangnya menjadikan dirinya menempati kedudukan yang terhormat di mata masyarakat. Dengan predikat itulah Opu Daeng Risaju dapat bergerak secara leluasa kemanapun dan dapat menemui semua orang dari lapisan masyarakat manapun.


Opu Daeng Risaju, secara formal tidak pernah mengikuti pendidikn dalam arti sekolah, karena sejak kecil ia hanya diajarkan Pendidikan agama oleh pengasuhnya. Hari-harinya dimasa kanak-kanak diisi dengan belajar mengaji Al-Qur’an hingga tamat 30 juz. Ia juga belajar dan memperoleh Pendidikan agama oleh pengasuhnya. Selama itu ia juga belajar Fiqih, Nahwu, Syaraf dan Balaghah dari beberapa orang guru agama dan ulama di Sabang Paru, Luwu. Pengetahuannya tentang Nahwu, Syaraf dan Balaghah adalah pengetahuan dalam pengkajian ilmu-ilmu agama yang lebih tinggi.


Dasar Pendidikan yang diperolehnya memang tidak setinggi pengetahuan agama yang dimilikinya. Hal ini disebabkan karena pandangan masyarakat tradisional Ketika itu tentang Pendidikan yang hanya memberi kesempatan terbatas untuk anak perempuan dan dianggap cukup hingga ke tingkat kepandaian membaca dan menulis huruf latin saja. Hal yang sama juga dialami oleh Opu Daeng Risaju yang kemampuan ilmu agama dimilikinya pun melampaui kepandaianny dalam pengetahuan umum. Setelah beranjak dewasa Opu Daeng Risaju dinikahkan dengan seorang ulama dari Bone yakni H. Muhammad Daud dan pada waktu itulah ia mendapatkan gelarnya yakni Opu Daeng Risaju, sesuai dengan tradisi masyarakat Luwu. Suami Opu Daeng Risaju, H. Muhammad Daud adalah seorang ulama yang pernah bermukim di Mekkah. Ia adalah anak dari rekan dagang ayahnya. H. Muhammad Daud kemudian diangkat menjadi imam masjid istana Kerajaan Luwu karena menikah dengan keluarga bangsawan dan memiliki pengetahuan yang luas tentang agama.

[16/7 00.59] rudysugengp@gmail.com: 2. Buatkan gambar dan infografis tentang 

Perjuangan Opu Daeng Risaju


Akan tetapi, pada masa pendudukan Jepang, tidak banyak kegiatan yang Opu Daeng Risaju lakukan di PSII. Ini disebabkan karena pemerintahan Jepang melarang adanya kegiatan politik Organisasi Pergerakan Kebangsaan, termasuk PSII. Opu Daeng Risaju mulai kembali aktif pada masa revolusi di Luwu.


Karena dukungan dari rakyat yang sangat besar, pihak Belanda mulai menahan Opu agar tidak melanjutkan perjuangannya di PSII. Pihak Belanda yang bekerja sama dengan controleur afdeling Masamba menganggap Opu menghasut rakyat dan melakukan tindakan provolatif agar rakyat tidak lagi percaya kepada pemerintah. Akhirnya, Opu diadili dan dicabut gelar kebangsawanannya. Tidak hanya itu, tekanan juga diberikan kepada suami dan pihak keluarga Opu agar menghentikan kegiatannya di PSII.


Pada tahun 1905 Belanda melakukan Ekspedisi terhadap seluruh kerajaan di Sulawesi Selatan, tak terkecuali kerajaan Luwu. Pada waktu itu Opu Daeng Risaju bersama suami kemudian meninggalkan Palopo dan menetap di Pare-pare. Di pare-pare inilah Opu Daeng Risaju mulai akatif di organisasi Partai Syerekat Islam Indonesia (PSII). Pada tahun 1927 Opu Daeng Risaju mulai aktif di organisasi PSII cabang pare-pare yang merupakan organisasi yang bergerak dibidang politik untuk menentang kaum penjajah. Keaktifan Opu Daeng Risaju dalam organisasi PSII di pare-pare memberikan pengalaman kepadanya. Opu Daeng Risaju tercatat dalam sejarah sebagai Wanita pertama di Indonesia yang menjadi pucuk pimpinan partai politik yang berasaskan Islam yakni PSII. Sebagai seorang putri keturunan bangsawan, Opu Daeng Risaju dalam dirinya telah tertanam sikap dan jiwa patriotism serta daya karismatik terhdap masyarakat. Opu Daeng Risaju dalam melakukan perjuangannya dalam menyebarkan ajaran Islam di Tanah Luwu mendapatkan kendala baik dari pihak Belanda maupun pihak keluarga. Hal itu tidak menyurutkan semangat perjuangan Opu Daeng Risaju untuk terus membangun PSII. Oleh sebab itu Belanda datang untuk menangkap Opu Daeng Risaju beserta pengikutnya. Setelah menjalani masa tahanan dukunganpun datang dari berbagai utusan dan undangan yang memintanya untuk mendirikan ranting PSII ditanah Luwu seperti di Maili dan Patampanua. Opu Daeng Risaju bersama dengan suaminya dibawa ke Palopo melalui jalan laut dengan pengawalan yang cukup ketat dan tangan diborgol karena dianggap membahayakan.


Pada waktu itu pemborgolan terhadap kaum bangsawan merupakan bentuk pelecehan terhadap kaum bangsawan dan keluarganya. Perlakuan tersebut mendapatkan protes keras dari Pemangku Adat Luwu, salah satunya ialah Opu Balirante yang memiliki hubunngan darah dengan Opu Daeng Siraju. Sejak pemborgolan terhadap Opu Daeng Risaju yang dilakukan oleh pihak Belanda menjadi awal dari tantangan Opu Daeng Risaju terhadap pihak keluarganya dan adat Luwu. Opu Daeng Risaju memang pejuang yang tak kenal menyerah. Walaupun sudah mendapatkan tekanan yang sangat berat baik dari pihak Kerajaan Luwu maupun pemerintah Kolonial Belanda, tetapi ia tidak mau menghentikan aktivitasnya. Bahkan Opu Daeng Risaju menerima hukuman oleh pihak Belanda dan Ketua Ditrik Bajo saat itu untuk lari mengelilingi lapangan bola pada siang hari dengan letusan senapan di dekatnya. Bahkan, sebuah senapan diletuskan di samping telinganya persis. Hukuman tersebut membuat gendang telinga Opu Daeng Rasudju pecah dan menjadi tuli seumur hidup.

[16/7 00.59] rudysugengp@gmail.com: 3. Buatkan gambar dan infografis tentang 

Akhir Hayat dan Penghargaan Opu Daeng Risaju


Opu Daeng Risaju kemudian tertangkap oleh tentara NICA di Lantoro dan dibawa menuju Watampone dengan cara berjalan kaki sepanjang 40 km. Opu Daeng Risaju lalu ditahan di penjara Bone selama satu bulan tanpa diadili, kemudian dipindahkan ke penjara Sengkan, lalu dipindahkan lagi ke Bajo. Opu Daeng Risaju kemudian dibebaskan tanpa diadili setelah 11 bulan menjalani tahanan. Opu Daeng Risaju kemudian kembali ke Bua dan menetap di Belopa. Pada tahun 1949, Opu Daeng Risaju pindah ke Pare-Pare mengikuti anaknya, Haji Abdul Kadir Daud. Beliau menghembuskan napas terakhirnya dan dimakamkan di kompleks makam raja-raja Lakkoe di Palopo, 

tanpa ada upacara kehormatan.


Opu Daeng Risaju wafat dalam usia 84 tahun, pada 10 Februari 1964.


Pada tanggal 3 November 2006 Opu Daeng Risaju diangkat menjadi Pahlawan Nasional Indonesia, 

Pahlawan Nasional Indonesia (Berdasarkan SK Presiden RI No. 085/TK/Tahun 2006).


Kisah perjuangan Opu Daeng Rasudju akan terus menjadi inspirasi bagi perempuan Sulawesi Selatan dan masyarakat Indonesia pada umumnya.

[16/7 01.10] rudysugengp@gmail.com: Izaak Huru Doko

[16/7 01.37] rudysugengp@gmail.com: 1. Buatkan gambar dan infografis tentang 

Kehidupan Awal Izaak Huru Doko


Informasi pribadi

Lahir :

20 November 1913

Belanda Sawu, Keresidenan Timor, Hindia Belanda

Meninggal :

29 Juli 1985 (umur 71)

Indonesia Kupang, Nusa Tenggara Timur, Indonesia

Makam :

TPU Damai, Kupang

Partai politik :

Parkindo

Istri :

Dorkas Toepoe

Anak :

Benny Doko, Paul J. A. Doko, Victor W. F. Doko, Isayati M. Doko

Orang tua :

Kitu Huru Doko (ayah)

Loni Doko (ibu)

Julukan :

Cak Doko


Ia bersekolah di Hollandsch Indlandsche Kweekschool (HIK, Sekolah Guru Bantu untuk Bumiputra) di Bandung, Jawa Barat. Bersama Herman Johannes, ia memimpin Timorsche Jongeren (Pemuda Timor) dengan tujuan mempersatukan para pelajar Timor dan memiliki beberapa cabang yang tersebar di kota-kota besar di Indonesia.[2] Ia juga merintis berdirinya partai politik bernama Perserikatan Kebangsaan Timor dan menjadi ketua pada partai tersebut.


Pada saat pendudukan Jepang di Indonesia, ia diangkat menjadi Kepala Bunkyo Kakari (Pengajaran/Penerangan) yang menangani pendidikan, kesehatan, penerangan dan keagamaan sejak tahun 1942 hingga 1945. Di sisi lain, ia mengasuh surat kabar Timor Syuho untuk memelihara cita-cita kemerdekaan Indonesia.


Pahlawan nasional Indonesia asal Nusa Tenggara Timur (NTT) pertama ini dikenal aktif dalam memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan RI. Selama penjajahan Jepang, ia turut memperjuangkan kemerdekaan Indonesia melalui surat kabar asuhannya, Timor Syuho.


Dukungan terhadap kedaulatan RI setelah proklamasi ditunjukkan saat ia terlibat sebagai anggota parlemen dan menteri Negara Indonesia Timur (NIT).


Izaak Huru Doko lahir di Seba, Pulau Sabu, Nusa Tenggara Timur, pada 20 November 1913. Hidup di kota terpencil yang belum tersentuh sarana pendidikan yang layak membuat dia harus meninggalkan kampung halaman ke Pulau Timor untuk menuntut ilmu. Ia kemudian mendapat beasiswa masuk MULO di Ambon.


Cak, begitu ia biasa dipanggil, juga dengan bekal beasiswa memilih menuntut ilmu di Kota Bandung, Jawa Barat, di HIK (Hollandsche Inlandsche Kweekschool) atau Sekolah Guru. Selain belajar, dia juga aktif berorganisasi.


Bersama Herman Johannes, seorang mahasiswa Technische Hogeschool (sekarang ITB), ia memimpin perkumpulan Pemuda Timor (Timorsche Jongeren) yang memiliki cabang yang tersebar di kota-kota besar di seluruh Indonesia. Bahkan, jabatan Ketua Partai Politik Perserikatan Kebangsaan Timor di Kupang juga pernah dipercayakan padanya.


Partai yang berasaskan nasionalisme kebangsaan itu mempunyai tujuan mencapai Indonesia merdeka. Saat Jepang menduduki Tanah Air, ia diangkat menjadi Kepala Bunkyo Kakari (Pengajaran/Penerangan) di Kupang terhitung sejak 1 Maret 1942 hingga 1945.


Meskipun bekerja pada penjajah, pahlawan asal Timor ini tetap memelihara cita-cita kemerdekaan Indonesia melalui surat kabar Timor Syuho.

[16/7 01.38] rudysugengp@gmail.com: 2. Buatkan gambar dan infografis tentang 

Perjuangan Izaak Huru Doko


Setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia, Izaak Huru Doko mendirikan Partai Demokrasi Indonesia yang memiliki cabang di Flores, Sumba dan Sumbawa. Dalam hal ini, Ia diberi mandat oleh Partai Demokrasi Indonesia untuk memperjuangkan zelfbeschikkingsrecht (hak menentukan nasib sendiri) bagi bangsa Indonesia dan mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia serta menghapuskan Korte Verklaring (Plakat Pendek) dan daerah-daerah Swapraja.

Selain itu, ia mengajukan tuntutan agar Karesidenan Timor digabungkan bersama dengan Bali dan Lombok.


Jejak Izaak Huru Doko di Dunia Organisasi dan Politik :


Ketika rezim pemerintahan Jepang di Indonesia tumbang dan kemerdekaan berhasil diproklamasikan, pemerintahan NICA beserta kaki tangannya terus melancarkan tekanan politik. Untuk mengatasi hal itu, ia bersama Tom Pello memimpin para pejuang.


Sikap pantang menyerahnya dalam memperjuangkan cita-cita kemerdekaan bagi Indonesia diwujudkan pada 1946 saat ia menjadi penasihat (adviseur) utusan Timor ke Konferensi Malino.


Dalam konferensi itu pula, Partai Demokrasi Indonesia Timor (PDI Timor) memberinya mandat untuk memperjuangkan zelfbeschikkingsrecht (hak menentukan nasibnya sendiri) bagi bangsa Indonesia dan mempertahankan Negara Kesatuan RI serta menghapuskan Korte Verklaring (Plakat Pendek, otonomi) dari daerah-daerah Swapraja.


Karena kegigihan dan keteguhan dalam memperjuangkan aspirasi untuk merdeka dalam Negara Kesatuan RI, van Mook (Gubernur Jenderal) menamakannya "Ayam Jantan dari Timor".


Ia juga mengisi posisi dalam jajaran pemerintahan sejak Indonesia masih berbentuk federal. Pada November 1947, ia terpilih sebagai salah satu anggota parlemen Negara Indonesia Timur (NIT). Kiprahnya dalam dunia politik saat itu semakin terlihat saat parlemen mengangkatnya sebagai Menteri Muda Penerangan dari 15 Desember 1947 hingga 14 Maret 1950.


Dengan didukung sejumlah fraksi progresif di parlemen, NIT terus melakukan perjuangan dalam BFO (Bijeenkomst Voor Federaal Overleg) untuk meraih kemerdekaan bersama RI. Tak hanya itu, NIT juga membantu perjuangan RI serta mengembalikan Presiden beserta wakilnya dan pemerintah RI ke Yogyakarta. Pemerintah RI pun mengakui secara resmi perjuangan NIT.


Izak sering kali bertindak sebagai Wakil Perdana Menteri dalam Kabinet NIT keempat dalam lingkungan RIS. Di tengah kesibukannya sebagai pejabat di negara bagian, ia tak melupakan perjuangan saudara sebangsanya di daerah lain. Ia bahkan masih meluangkan waktunya sebagai pengurus Gabungan Perjuangan Kemerdekaan Indonesia (GAPKI) di Makassar pimpinan seorang Pahlawan Nasional, Arnold Mononutu.


Tercatat, sejumlah jabatan penting pernah diembannya setelah kedaulatan Indonesia diakui.


Jabatan itu antara lain, Referendaris pada Kantor Inspeksi Pengajaran Provinsi Sunda Kecil di Singaraja sejak 10 Mei 1950 sampai dengan 25 Oktober 1950, Inspektur SR (Sekolah Rakyat) Provinsi Sunda Kecil, Kepala Inspeksi SR Provinsi Sunda Kecil, Kepala Dinas PP dan K Provinsi Sunda Kecil, dan yang terakhir Koordinator Inspeksi Pengajaran Provinsi Sunda Kecil (25 Oktober 1958-1 September 1958).


Pengabdian Izaak Huru Doko di dunia Pendidikan :


Pada 1956, di sela-sela kegiatannya, pemerintah RI mengirim Izaak ke Australia dalam rangka Colombo Plan untuk mempelajari sistem One Teacher School dan Area School selama delapan bulan.


Keputusan Izaak Huru Doko untuk mengabdikan diri pada dunia pendidikan membuat Izaak mengundurkan diri ketika namanya diusulkan Partindo untuk menjadi calon anggota Konstituante. Dengan alasan yang sama pula, ia menolak desakan beberapa partai politik, seperti Parkindo, PNI, dan lain-lan yang mencalonkannya sebagai gubernur pertama NTT.


Meski demikian, ia masih menjalankan perannya sebagai anggota Perutusan Sunda Kecil pada Musyawarah Nasional tahun 1957 dengan agenda mempersatukan kembali Dwitunggal Proklamator RI, Sukarno-Hatta.


Terhitung sejak 1 September 1959 hingga 1 Februari 1971, ia dipindahkan ke Kupang untuk menjabat sebagai Kepala Perwakilan Departemen P & K Provinsi NTT, dengan pangkat terakhir Pegawai Utama, golongan IV/D. Izaak mengembuskan napas terakhirnya pada usia 67 tahun, tepatnya 29 Juli 1985 di Kupang.


Menurut hasil kajian Dinas Sosial NTT, Izaak Huru Doko terlibat dalam enam kegiatan/aktivitas yang mengarah kepada perjuangan kemerdekaan RI sebelum Proklamasi Kemerdekaan RI, 17 Agustus 1945.

[16/7 01.38] rudysugengp@gmail.com: 3. Buatkan gambar dan infografis tentang 

Akhir Hayat dan Penghargaan Izaak Huru Doko


Setelah proklamasi, ia menggeluti 23 jenis kegiatan yang berbasis mempertahankan kemerdekaan RI sehingga jasa-jasanya dianggap luar biasa bagi bangsa dan negara.


Adapun jasanya dalam bidang pendidikan, Pemerintah Indonesia melalui Departemen Sosial menganugerahkannya Bintang Sosial dengan gelar Pahlawan Pendidikan.


Izaak Huru Doko dinobatkan sebagai pahlawan nasional pada tahun 2006 atas sumbangannya kemerdekaan Indonesia bersatu.

Ia juga dianugerahi Tanda Kehormatan Bintang Mahaputera Adipradana berdasarkan Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 085/TK/2006 pada tanggal 3 November 2006. Selain itu, namanya juga diabadikan pada salah satu ruas jalan di Kota Kupang.


Karya Tulis :

* Pahlawan-Pahlawan Suku Timor. Jakarta: Balai Pustaka, 1981.

* Perjuangan Kemerdekaan Indonesia di Nusa Tenggara Timur. Jakarta: Balai Pustaka, 1981.

* Timor Pulau Gunung Fatuleu, Batu Keramat. Jakarta: Balai Pustaka, 1982.

[16/7 02.02] rudysugengp@gmail.com: Sri Sultan Hamengku Buwana I

[16/7 02.20] rudysugengp@gmail.com: 1. Buatkan gambar dan infografis tentang 

Asal usul Sri Sultan Hamengku Buwana I


Nama aslinya adalah Raden Mas Sujana setelah dewasa bergelar Pangeran Mangkubumi ( Jogjakarta) . Ia merupakan putra Amangkurat IV susuhunan Mataram kedelapan, yang lahir dari selir bernama Mas Ayu Tejawati pada tanggal 6 Agustus 1717.


Pada tahun 1740 terjadi pemberontakan orang-orang Tionghoa di Batavia yang menyebar sampai ke seluruh Jawa. Pada mulanya, Pakubuwana II (kakak Mangkubumi) mendukung pemberontakan tersebut. Namun, ketika menyaksikan pihak VOC unggul, Pakubuwana II pun berubah pikiran.


Pada tahun 1742 Keraton Kartasura diserbu kelompok pemberontak. Pakubuwana II terpaksa membangun istana baru di Surakarta, sedangkan pemberontakan tersebut akhirnya dapat ditumpas oleh VOC dan Cakraningrat IV dari Madura.


Sisa-sisa pemberontak yang dipimpin oleh Pangeran Sambernyawa (keponakan Pakubuwana II dan Mangkubumi) berhasil merebut tanah Sukawati. Pakubuwana II mengumumkan sayembara berhadiah tanah seluas 3.000 cacah untuk siapa saja yang berhasil merebut kembali Sukawati. Mangkubumi dengan berhasil mengusir Sambernyawa pada tahun 1746, tetapi ia dihalang-halangi Patih Pringgalaya yang menghasut PB II supaya membatalkan perjanjian sayembara.


Datang pula Baron van Imhoff gubernur jenderal VOC yang makin memperkeruh suasana. Ia mendesak Pakubuwana II supaya menyewakan daerah pesisir kepada VOC seharga 20.000 real untuk melunasi hutang keraton terhadap Belanda. Hal ini ditentang Mangkubumi. Akibatnya, terjadilah pertengkaran di mana Baron van Imhoff menghina Mangkubumi di depan umum.


Mangkubumi yang sakit hati meninggalkan Surakarta pada bulan Mei 1746 dan menggabungkan diri dengan Mas Said sebagai pemberontak.Sebagai ikatan gabungan Mangkubumi mengawinkan Raden Mas Said dengan puterinya yaitu Rara Inten atau Gusti Ratu Bendoro.

[16/7 02.20] rudysugengp@gmail.com: 5. Buatkan gambar dan infografis tentang 

Akhir Hayat dan Penghargaan Sri Sultan Hamengku Buwana I


Hamengkubuwana I meninggal dunia tanggal 24 Maret 1792. Kedudukannya sebagai raja Yogyakarta digantikan putranya yang bergelar Hamengkubuwana II.


Hamengkubuwana I adalah peletak dasar-dasar Kesultanan Yogyakarta. Ia dianggap sebagai sultan terbesar Yogyakarta layaknya Sultan Agung. Yogyakarta memang negeri baru tetapi kebesarannya waktu itu telah berhasil mengungguli Surakarta. Angkatan perangnya bahkan lebih besar daripada jumlah tentara VOC di Jawa.


Hamengkubuwana I tidak hanya seorang sultan bijaksana yang ahli dalam strategi perang, tetapi juga seorang pecinta keindahan. Karya arsitektur pada jamannya yang monumental adalah Taman Sari Yogyakarta. Taman Sari Yogyakarta di rancang oleh orang berkebangsaan Portugis yang terdampar di laut selatan dan menjadi ahli bangunan kesultanan dengan nama Jawa Demang Tegis.


Meskipun permusuhannya dengan Belanda berakhir damai namun bukan berarti ia berhenti membenci bangsa asing tersebut. Hamengkubuwana I pernah mencoba memperlambat keinginan Belanda untuk mendirikan sebuah benteng di Yogyakarta. Ia juga berusaha keras menghalangi pihak VOC untuk ikut campur dalam urusan pemerintahannya. Pihak Belanda sendiri mengakui bahwa perang melawan pemberontakan Pangeran Mangkubumi adalah perang terberat yang pernah dihadapi VOC di Jawa (sejak 1619 - 1799).


Rasa benci Hamengkubuwana I terhadap penjajah asing ini kemudian diwariskan kepada Hamengkubuwana II, raja selanjutnya. Maka, tidaklah berlebihan jika pemerintah Republik Indonesia menetapkan Hamengkubuwana I sebagai pahlawan nasional pada tanggal 10 November 2006 beberapa bulan sesudah gempa melanda wilayah Yogyakarta.


Akhir Hayat Sri Sultan Hamengku Buwono I

Wafat: 

Mangkat pada tanggal 24 Maret 1792 setelah memimpin Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat sejak tahun 1755.


Persemayaman Terakhir: 

Jenazah beliau disemayamkan di kompleks pemakaman raja-raja Mataram di Astana Kasuwargan, Pajimatan, Imogiri, Bantul, Yogyakarta.


Warisan Sejarah: Semasa hidupnya, beliau dikenal sebagai arsitek ulung (a great builder). 

Beliau merancang tata ruang dan filosofi spiritual Keraton Yogyakarta, serta berhasil menyatukan wilayah kerajaan di tengah dinamika perpecahan Mataram.


Penghargaan dan Gelar Kehormatan

Pahlawan Nasional: Pemerintah Republik Indonesia secara resmi menetapkan Sri Sultan Hamengkubuwana I sebagai Pahlawan Nasional pada November 2006.

 [Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 073/TK/Tahun 2006].


Diserahkan oleh pemerintah pusat kepada pihak keraton (diwakili oleh Sri Sultan Hamengku Buwono X) pada awal November 2006.


Penghargaan ini diberikan untuk menghargai perjuangan, pengorbanan, dan dedikasi beliau dalam mendirikan serta mempertahankan kedaulatan Yogyakarta.


Julukan Sejarah: 

Oleh para sejarawan, beliau juga dijuluki sebagai a great builder karena kehebatannya dalam merancang bangunan monumental dan tata kota Keraton yang sarat makna filosofis.

[16/7 02.22] rudysugengp@gmail.com: 4. Buatkan gambar dan infografis tentang 

Mengembalikan Mataram Islam 

Sri Sultan Hamengku Buwana I


Usaha Menaklukkan Surakarta


Hamengkubuwana I meskipun telah berjanji damai namun tetap saja berambisi ingin mengembalikan Mataram menjadi kerajaan yang utuh. Surakarta saat itu dipimpin oleh Pakubuwana III yang mendapat perlindungan dari Belanda sehingga niat Hamengkubuwana I untuk memerangi Surakarta sulit diwujudkan, apalagi masih ada kekuatan ketiga yaitu Mangkunagara I yang memiliki ambisi yang sama, sehingga cita cita menyatukan kembali Mataram yang utuh bukan monopoli seorang saja.


Pada tahun 1788 Pakubuwana IV naik takhta. Ia merupakan raja yang jauh lebih cakap daripada ayahnya. Pakubuwana IV sebagai susuhunan memiliki kesamaan dengan Hamengkubuwana I. Pakubuwana IV juga berambisi mengembalikan keutuhan Mataram. Dalam langkah politiknya Pakubuwana IV mengabaikan atas berdirinya Yogyakarta dengan mengangkat saudaranya menjadi Pangeran Mangkubumi, hal yang menyebabkan ketegangan dengan Hamengkubuwana I. Setelah pengangkatan saudaranya menjadi pangeran, Pakubuwana IV juga tidak mengakui hak waris takhta adipati anom (putra mahkota) Yogyakarta. Pihak VOC mulai resah menghadapi raja baru tersebut karena ancaman perang terbuka di Jawa kembali bisa menyebabkan keuangan VOC terkuras.


Pakubuwana IV mengambil langkah konfrontatif dengan Yogyakarta dengan tidak mau mencabut nama Mangkubumi untuk saudaranya. Memang dalam Perjanjian Giyanti tidak diatur secara permanen soal suksesi Kesultanan Yogyakarta, sehingga sikap konfrontatif Pakubuwana IV ini dapat dimengerti bahwa penguasa Surakarta memahami tanggung jawab kerajaan.


Sikap konfrontatif Pakubuwana IV ini beriring dengan munculnya penasihat penasihat spiritual yang beraliran keagamaan dan ini yang meresahkan VOC dan dua penguasa lainnya, karena ancaman perang yang meluluh lantahkan Jawa bisa terulang kembali.


Pada tahun 1790 Hamengkubuwana I dan Mangkunegara I kembali bersekutu bersama untuk pertama kalinya sejak zaman pemberontakan dulu. Mereka bersama VOC bergerak mengepung Pakubuwana IV di Surakarta karena Pakubuwana IV memiliki penasihat spiritual yang membuat khawatir VOC. Pakubuwana IV akhirnya menyerah untuk membiarkan penasihat spiritualnya dibubarkan oleh VOC. Ini adalah kerja sama dalam kepentingan yang sama yaitu mencegah bersatunya penasihat spiritual dengan golongan bangsawan yang merupakan ancaman potensial pemberontakan kembali.


Hamengkubuwana I pernah berupaya agar putranya dikawinkan dengan putri Pakubuwana III dengan tujuan untuk mempersatukan kembali Mataram namun gagal. Pakubuwana IV yang merupakan pewaris takhta Pakubuwana III lahir untuk menggantikan peran ayahnya.

[16/7 02.23] rudysugengp@gmail.com: 3. Buatkan gambar dan infografis tentang 

Mendirikan Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwana I


Sejak Perjanjian Giyanti wilayah kerajaan Mataram dibagi menjadi dua. Pakubuwana III sebagai susuhunan tetap melanjutkan pemerintahan di Surakarta, sedangkan Mangkubumi bergelar Hamengkubuwana I menjadi sultan di Yogyakarta. Kemudian, Mangkubumi resmi menjadi sultan tetapi ia belum mendirikan keraton untuk tempat pemerintahnya. Untuk mendirikan keraton Mangkubumi kepada VOC mengajukan uang persekot sewa pantai utara Jawa tetapi VOC saat itu belum memiliki yang diminta oleh Mangkubumi.


Pada bulan April 1755 Hamengkubuwana I (HB I) memutuskan untuk membuka Hutan Pabringan sebagai ibu kota Kerajaan yang menjadi bagian kekuasaannya. Sebelumnya, di hutan tersebut pernah terdapat pesanggrahan bernama Ayogya sebuah dalem yang bernama Dalem Garjiwati; lalu dinamakan ulang oleh Pakubuwana II sebagai Dalem Ayogya. Oleh karena itu, ibu kota baru dari kerajaan yang menjadi bagiannya tersebut pun diberi nama Ngayogyakarta Hadiningrat (kota/karta yang ayogya/penuh-kedamaian).


Pangeran Mangkubumi (HB I) mula-mula diangkat sebagai raja di desa Banaran (Kabanaran yang sekarang ditandai dengan adanya jembatan Kabanaran) pada Jumat Legi tanggal 1 Suro tahun Alip 1675, atau pada 11 Desember 1749 (sumber lain mengatakan pada 12 Desember 1749). Para pengikutnya mengakui sang raja baru dengan gelar Sampeyan Dalem Sinuwun Kanjeng Susuhunan Senapati ing Ngalaga Ngabdurrahman Sayidin Panatagama Khalifatullah. Dalam sumber lain disebutkan bahwa gelarnya adalah Susuhunan Adi Senapati Ngalaga ing Banaran, atau disingkat Sunan Kabanaran. Sejak tanggal 7 Oktober 1756 Hamengkubuwana I pindah dari desa Banaran menuju Yogyakarta yang sekarang. Seiring berjalannya waktu nama Yogyakarta sebagai ibu kota kerajaannya menjadi lebih populer. Kesultanan yang dipimpin oleh Hamengkubuwana I kemudian lebih dikenal dengan nama Kesultanan Yogyakarta.

[16/7 02.25] rudysugengp@gmail.com: 2. Buatkan gambar dan infografis tentang 

Perlawanan dan Perselisihan Sri Sultan Hamengku Buwana I


Perlawanan :

Perang antara Mangkubumi dan Sambernyawa melawan kedudukan Pakubuwana II yang disebut para sejarawan disebut sebagai Perang Takhta Jawa III. Pada tahun 1747 diperkirakan kekuatan Mangkubumi mencapai 13.000 orang prajurit.


Pertempuran demi pertempuran dimenangkan oleh Mangkubumi, misalnya pertempuran di Demak dan Grobogan. Pada akhir tahun 1749, Pakubuwana II sakit parah dan merasa kematiannya sudah dekat. Ia pun menyerahkan kedaulatan Mataram kepada VOC untuk melindungi segenap keluarganya pada tanggal 11 Desember.


Sementara itu Mangkubumi telah mengangkat diri sebagai susuhunan bergelar Pakubuwana III tanggal 12 Desember di basis pertahanannya, sedangkan VOC mengangkat putra Pakubuwana II yang bernama Raden Mas Suryadi sebagai Pakubuwana III tanggal 15. Dengan demikian terdapat dua orang Pakubuwana III. Raden Mas Suryadi disebut Susuhunan Surakarta, sedangkan Mangkubumi disebut Susuhunan Kabanaran, karena bermarkas di desa Banaran di daerah Sukawati? (sekarang Kulon Progo yang ditandai dengan nama Jembatan Kabanaran).


Perang kembali berlanjut. Pertempuran besar terjadi di tepi Sungai Bogowonto tahun 1751 di mana Mangkubumi menghancurkan pasukan VOC yang dipimpin Kapten de Clerck. Orang Jawa menyebutnya Kapten Klerek.


Perselisihan :


Pada tahun 1752 Mangkubumi dengan Sambernyawa terjadi perselisihan. Perselisihan ini berfokus pada keunggulan supremasi tunggal atas Mataram yang tidak terbagi.


Tawaran Mangkubumi untuk bergabung mengalahkan Sambernyawa akhirnya diterima VOC tahun 1754. Pihak VOC diwakili Nicolaas Hartingh, yang menjabat gubernur wilayah pesisir utara Jawa. Perudingan-perundingan dengan Mangkubumi mencapai kesepakatan, Mangkubumi bertemu Hartingh secara langsung pada bulan September 1754.


Perundingan dengan Hartingh mencapai kesepakatan. Mangkubumi mendapatkan setengah wilayah kerajaan Pakubuwana III, sedangkan ia merelakan daerah pesisir disewa VOC seharga 20.000 real dengan kesepakatan 20.000 real dibagi dua 10.000 real untuk Mangkubumi dan 10.000 real untuk Pakubuwana III.


Akhirnya pada tanggal 13 Februari 1755 dilakukan penandatanganan naskah Perjanjian Giyanti yang mengakui Mangkubumi sebagai Sultan Hamengkubuwana I. Wilayah Mataram yang dikuasai Pakubuwana III dibagi menjadi dua. Mangkubumi mendapat setengah bagian. Perjanjian Giyanti ini juga merupakan perjanjian persekutuan baru antara kelompok Mangkubumi bergabung dengan Pakubuwana III dan VOC menjadi persekutuan untuk menghancurkan pemberontakan kelompok Pangeran Sambernyawa.


Bersekutunya Mangkubumi dengan Pakubuwana III adalah permulaan menuju kesepakatan pembagian Mataram menjadi Surakarta dan Yogyakarta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

1 - 216

  PAHLAWAN NASIONAL (1959 - 2025) Presiden 1 (Sukarno) 49 (1  49) No. 1 Nama  : Abdoel Moeis Dasar Penetapan : Keppres No. 218 Tahun 19...