[14/7 01.27] rudysugengp@gmail.com: Ismail Marzuki
[14/7 01.54] rudysugengp@gmail.com: 1. Buatkan gambar dan infografis tentang
Biodata dan Kehidupan Awal Ismail Marzuki
Ismail Marzuki (11 Mei 1914 – 25 Mei 1958) adalah salah seorang komponis besar Indonesia. Namanya sekarang diabadikan sebagai suatu pusat seni di Jakarta yaitu Taman Ismail Marzuki (TIM) di kawasan Cikini, Jakarta Pusat.
Biodata Ismail Marzuki
Nama Asli:
Ismail bin Marzuki
Nama Panggilan/Alias:
Bang Ma'ing
Tempat, Tanggal Lahir: Jakarta, 11 Mei 1914
Meninggal :
25 Mei 1958 (umur 44)
Jakarta, Indonesia
Orang Tua:
Marzuki (ayah) dan Solechah (ibu)
Istri:
Eulis Zuraidah (menikah pada 1940)
Anak:
Rachmi Aziah (anak angkat)
Karier Musik:
Menjadi anggota orkes ternama Lief Java (1936) sebagai pemain gitar, saksofon, dan harmonium.
Aktif menggubah ratusan lagu dan memimpin Orkes Studio Jakarta.
Tahun aktif :
1931–1958
Latar belakang :
Ismail Marzuki lahir dan besar di Jakarta dari keluarga Betawi.
Nama sebenarnya adalah Ismail, sedangkan ayahnya bernama Marzuki, sehingga nama lengkapnya menjadi Ismail bin Marzuki. Namun, kebanyakan orang memanggil nama lengkapnya Ismail Marzuki, bahkan di lingkungan teman-temannya kerap dipanggil Mail, Maing, atau Bang Maing.
Ia dilahirkan di Kampung Kwitang, tepatnya di kecamatan Senen, wilayah Jakarta Pusat, pada tanggal 11 Mei 1914. Tiga bulan setelah Ismail dilahirkan, ibunya meninggal dunia. Sebelumnya Ismail Marzuki juga telah kehilangan dua orang kakaknya bernama Yusuf dan Yakup yang telah mendahului saat dilahirkan. Kemudian ia tinggal bersama ayah dan seorang kakaknya yang masih hidup bernama Hamidah, yang umurnya lebih tua 12 tahun dari Ismail.
[14/7 01.55] rudysugengp@gmail.com: 2. Buatkan gambar dan infografis tentang
Karier Musik Ismail Marzuki
Ismail Marzuki memulai debutnya di bidang musik pada usia 17 tahun, ketika untuk pertama kalinya ia berhasil mengarang lagu "O Sarinah” pada tahun 1931.
Ismail mempunyai ketertarikan yang mendalam pada bidang seni. Tahun 1936, Ismail memasuki perkumpulan orkes musik Lief Java sebagai pemain gitar, saxophone, dan harmonium pompa.
Pada tahun 1940, Ismail Marzuki menikah dengan Eulis Zuraidah, seorang primadona dari klub musik yang ada di Bandung di mana Ismail Marzuki juga tergabung di dalamnya. Pasangan ini kemudian mengadopsi seorang anak bernama Rachmi, yang sebenarnya masih keponakan Eulis.
Pada masa penjajahan Jepang, Ismail Marzuki turut aktif dalam orkestra radio pada Hozo Kanri Keyku Radio Militer Jepang. Ketika masa kependudukan Jepang berakhir, Ismail Marzuki tetap meneruskan siaran musiknya di RRI.
Selanjutnya ketika RRI kembali dikuasai Belanda pada tahun 1947, Ismail Marzuki yang tidak mau bekerja sama dengan Belanda memutuskan untuk keluar dari RRI.
Ismail Marzuki baru kembali bekerja di radio setelah RRI berhasil diambil alih.
Ia kemudian mendapat kehormatan menjadi pemimpin Orkes Studio Jakarta. Pada saat itu ia menciptakan lagu Pemilihan Umum dan diperdengarkan pertama kali dalam Pemilu 1955.
Beberapa karya Ismail Marzuki yang cukup dikenal antara lain:
- Tahun 1931, untuk pertama kalinya Ismail menciptakan lagu yang berjudul “Oh Sarinah” yang syairnya dibuat dalam bahasa Belanda...
- Tahun 1935, sewaktu berusia 21 tahun muncul karyanya dalam bentuk keroncong yang berjudul Keroncong Serenata.
- Tahun 1936, mencipta Roselani, judul ini membawa kita ke suasana romantis alam Hawaii di Samudra Pasifik.
- Tahun 1937, muncul lagu-lagu yang mengambil latar belakang “Hikayat 1001 Malam” berjudul Kasim Baba saat Ismail berusia 23 tahun; dan mencipta gubahan keroncong yang berjudul keroncong sejati bermodus minor bernafaskan melodi yang melankolis.
- Tahun 1938, mengisi ilustrasi musik film berjudul “Terang Bulan”. Di dalamnya ada 3 buah lagu, antara lain: Pulau Saweba, Di Tepi Laut, Duduk Termenung. Film ini dibintangi oleh Miss Roekiah, Kartolo, Raden Mochtar, dan lain-lain. Ismail turut berperan dalam film tersebut, yakni bermain musik dengan rekan-rekannya sebagai pelengkap skenario. Film ini diputar di Malaya. Ismail bernyanyi untuk adegan Raden Mochtar sewaktu menyanyi.
- Tahun 1939, keluar ciptaan sebanyak 8 buah lagu, di mana 2 lagu di antaranya berbahasa Belanda, yaitu: Als de Ovehedeen dan Als’t Meis is in de tropen. Sedang lagu-lagu Indonesianya adalah Bapak Kromo, Bandaneira, Olee lee di Kutaraja, Rindu Malam, Lenggang Bandung, Melancong ke Bali. Dalam periode ini Ismail belum menciptakan lagu-lagu perjuangan.
- Tahun 2021, atau tepat setelah 63 tahun Ismail Marzuki meninggal, lagu ini juga kerap dijadikan kolaborasi pencipta lagu instrumental terakhir ini kembali dirilis, yang diciptakannya bersama almarhum Glenn Fredly, tetapi dengan kampanye versi instrumental bagi yang dibawakan bersama perusahaan Wings Surya Group pencipta lagu Erwin Gutawa, Guruh Soekarnoputra, Yok Koeswoyo dan Candra Darusman. Ini berarti versi tersebut tidak menampilkan penyanyi, melainkan fokus pada instrumen musik yang dimainkan oleh Wings Surya Group, Erwin Gutawa, Guruh Soekarnoputra, Yok Koeswoyo dan Candra Darusman terinspirasi dengan iklan "Mie Sedaap (Ariel Noah dan Nidji)", "Zinc Shampoo (Rossa)", "Teh Javana (Zamrud Khatulistiwa)", "Emeron Shampoo (Ikke Nurjanah)", "Power F (Cita Citata)" dan "Cream Ekonomi (Vina Panduwinata)", pada tahun 2025 lagu instrumental Satu Indonesiaku untuk iklan kampanye tanpa jingle produk Wings Surya Group oleh Erwin Gutawa, Guruh Soekarnoputra, Yok Koeswoyo dan Candra Darusman dengan mengubah judulnya menjadi "Life Keeps Getting Better".
[14/7 01.55] rudysugengp@gmail.com: 3. Buatkan gambar dan infografis tentang
Akhir Hayat dan Penghargaan Ismail Marzuki
Akhir Hayat :
Kondisi kesehatan Ismail Marzuki mulai menurun akibat penyakit paru-paru. Meski dalam keadaan sakit, ia terus berkarya dan menciptakan lagu-lagu legendaris. Pada 25 Mei 1958, Ismail Marzuki menghembuskan napas terakhirnya di Jakarta pada usia 44 tahun.
Jenazahnya kemudian dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Karet Bivak, Jakarta Pusat.
Penghargaan dan Penghormatan :
Atas dedikasi dan jasanya dalam membakar semangat perjuangan rakyat Indonesia melalui karya musik, pemerintah memberikan berbagai penghargaan, di antaranya:
Pahlawan Nasional Indonesia:
Diberikan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 5 November 2004.
Pembangunan Pusat Kesenian:
Namanya diabadikan menjadi nama pusat kebudayaan dan kesenian di Menteng, Jakarta Pusat, yaitu Taman Ismail Marzuki (TIM).
Karya lagu :
Gugur Bunga
Melati di Tapal Batas
Rayuan Pulau Kelapa
Sepasang Mata Bola
Hari Lebaran
Halo, Halo Bandung
Sabda Alam
Indonesia Pusaka
Payung Fantasi
Hanya Semalam (karya terakhir yang diciptakannya bersama Bing Slamet)
Satu Indonesiaku (yang merupakan kolaborasi lagu ciptaan terakhir dari almarhum Glenn Fredly, diciptakannya bersama Erwin Gutawa, Guruh Soekarnoputra, Yok Koeswoyo dan Candra Darusman instrumental milik perusahaan Wings Surya Group)
Prestasi dan pengakuan :
1. Diabadikan oleh majalah Rolling Stone Indonesia sebagai salah satu dari The Immortals: 25 Artis Indonesia Terbesar Sepanjang Masa pada tahun 2008
2. Komponis musik klasik Indonesia Ananda Sukarlan telah menciptakan beberapa concerto (karya orkes dengan solois) berdasarkan lagu-lagu Ismail Marzuki berjudul "Concerto Marzukiana" untuk solois piano, biola dan harpa. Selain itu Ananda Sukarlan juga telah mencipta karya-karya virtuosik untuk piano solo seperti "Variations on Rayuan Pulau Kelapa" dan "I Wish Pavarotti Had Known Marzuki" yang menjadi bagian penting dari repertoar musik klasik dan dimainkan oleh para pianis dalam dan luar negeri.
3.
[14/7 22.39] rudysugengp@gmail.com: 1. Buatkan gambar dan infografis tentang
Kehidupan Awal Andi Mappanyukki
Andi Mappanyukki (lahir 1885 - meninggal 18 April 1967) adalah salah tokoh pejuang dan seorang bangsawan di Sulawesi Selatan. Ia adalah Putra dari Raja Gowa ke XXXIV yaitu I'Makkulau Daeng Serang Karaengta Lembang Parang Sultan Husain Tu Ilang ri Bundu’na (Somba Ilang) dan I Cella We'tenripadang Arung Alita, putri tertua dari La Parenrengi Paduka Sri Sultan Ahmad, Arumpone Bone (Raja Bone). Ia pulalah yang memimpin raja raja di Sulawesi Selatan untuk bersatu dan bergabung dengan NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia) pada tahun 1950.
Informasi pribadi
Lahir :
1885, Gowa, Celebes, Indonesia.
Meninggal :
18 April 1967,
Makassar, Sulawesi Selatan, Indonesia.
Riwayat Hidup :
Ia sejak berusia 20 tahun sudah mengangkat senjata untuk berperang mengusir kolonial Belanda, perang yang dilakoni pada masa muda itu takala mempertahankan pos pertahanan kerajaan Gowa di daerah Gunung Sari.
Pernikahan & Keturunan :
Andi Mappanyukki memiliki permaisuri bernama I Mane'ne Karaengta Balla Sari & juga memiliki beberapa istri diantaranya I Batasai Daeng Taco, Besse Bulo (I Rakiyah Bau Baco Karaeng Balla Tinggi).
Ia juga mempunyai beberapa anak antara lain :
Andi Pangerang Petta Rani (L) dari Pernikahannya dengan I Batasi Daeng Taco
Andi Abdullah Bau Massepe(L) dari Pernikahannya dengan Besse Bulo (Putri La Sadapotto Addatuang Sidenreng XVI )
Andi Bau Tenri Padang Opu Datu (P) Istri dari Andi Djemma Datu Luwu
Andi Bau Datu Cella Bone (P)
Andi Bau Tenri Datu Bau (p)
Andi Bau Parenrengi Datu Lolo (L)
Andi Bau To'Appo Datu Appo (L)
Andi Bau Datu Sawa (L).
Salah satu cucu dari Andi Mappanyukki adalah Mayor Jenderal TNI (Purn.) Andi Muhammad Bau Sawa Mappanyukki, S.H., M.H. atau sering disebut A.M. Bau Sawa Mappanyukki (lahir 7 Agustus 1964) adalah seorang purnawirawan perwira tinggi TNI-AD yang terakhir menjabat sebagai Panglima Komando Daerah Militer XIV/Hasanuddin.
[14/7 22.39] rudysugengp@gmail.com: 2. Buatkan gambar dan infografis tentang
Perjuangan Andi Mappanyukki
Raja Bone :
Pada tahun 1931 Kamis tanggal 12 April, atau 13 Syawal 1349H. atas usulan dewan adat ia diangkat menjadi Raja Bone ke-32 dengan gelar Sultan Ibrahim, sehingga ia bernama lengkap Andi Mappanyukki Sultan Ibrahim. Gelar Sultan Ibrahim sendiri merupakan gelar yang diberikan kepadanya manakala menjabat Raja Bone kala itu (mangkauE Ri Bone). Pada masanyalah Kompeni Belanda di Celebes Selatan bernama Tuan L.J.J. Karon serta Raja Belanda di Nederland pada waktu itu bernama A.C.A de Graff.
Pada masa pemerintahan La Mappanyukki di Bone, Perang Dunia II pecah dan melibatkan seluruh negara-negara besar di Eropa. Negeri Belanda diserbu oleh Jerman, Ratu Belanda Wilhelmina melarikan diri bersama seluruh keluarganya ke Inggris untuk minta perlindungan.
La Mappanyukki (Penyebutan La merupakan gelar bangsawan Bugis, sedangkan I Mappanyukki merupakan gelar dari bangsawan Gowa) diangkat menjadi Arung MangkauE’ (Untuk istilah raja di Kerajaan Bone bernama Arung MangkauE') di Kerajaan Bone menggantikan pamannya yaitu sepupu satu kali ayahnya, karena jelas bahwa dia adalah cucu dari MappajungE. Dia merupakan turunan La Tenri Tappu MatinroE ri Rompegading. Dengan demikian Hadat Tujuh Bone dianggap tidak salah pilih dalam menentukan pengganti La Pawawoi Karaeng Sigeri sebagai Mangkau’ di Kerajaan Bone.
Karena menolak bersekutu dengan Belanda Ia pun “di turunkan” dari sebagai raja Bone oleh kekuatan dan kekuasaan Belanda, kemudian di asingkan bersama Istri (permaisuri) nya I' Mane'ne Karaengta Ballasari" dan Putra Putrinya selama 3,5 tahun di Rantepao, Tana Toraja. Ia pernah diangkat memimpin kerajaan suppa tahun 1902 s/d 1906.
Pada masa jabatan Andi sebagai Raja Bone, banyak konflik yang terjadi dengan kolonial Belanda. Saat itu Belanda menawarkan kerjasama dengan Andi Mappanyukki akan tetapi Ia menolaknya sehingga membuat Andi Mappanyukki diturunkan jabatannya dari Raja Bone oleh kekuatan kekuasaan Belanda. Setelah itu, Ia diasingkan bersama istri Permaisurinya, I'Mane'ne Karaengta Ballasari dan juga bersama dengan anak-anaknya selama 3,5 tahun di Rantepao, Tana Toraja.
Pada tanggal 21 Desember 1957, atas usulan Panglima Daerah Militer Sulsel, Andi Mappanyukki dilantik sebagai Kepala Daerah Bone yang juga masih bergelar sebagai Raja Bone. Pelantikan Kepala Daerah ini dilakukan secara adat dan dihadiri oleh Syamsul Rizal Gubernur DKI Jakarta sebagai perwakilan pemerintah pusat, Kementerian Dalam Negeri. Dalam pelaksanaan tugas sehari-hari, Raja Bone yang sekaligus Kepala Daerah dibantu oleh seorang wakil kepala daerah yaitu Bupati Andi Patoppoi untuk bidang eksekutif dan lima orang anggota Dewan Pemerintah Daerah untuk bidang legislatif.
[14/7 22.39] rudysugengp@gmail.com: 3. Buatkan gambar dan infografis tentang
Akhir Hayat dan Penghargaan Andi Mappanyukki
Wafat :
Ia Mangkat pada tanggal 18 April 1967 di Jongaya (Jl. Kumala no.160 Makassar dan masih terjaga dan terawat sampai sekarang sebagai Rumah Ex. Raja Bone Andi Mappanyukki), di mana daerah ia juga dilahirkan.
Makamnya tidak diletakkan di pemakaman raja-raja Gowa atau Bone lazimnya, tetapi oleh masyarakat dan pemerintah Republik Indonesia Makamnya di letakkan di Taman makam Pahlawan Panaikang Makassar (Ujung Pandang) dengan upacara kenegaraan.
Pahlawan Nasional RI
berdasarkan SK Presiden: Keppres No. 089/TK/2004, Tgl. 5 November 2004, Andi Mappanyuki diangkat sebagai pahlawan nasional.
Menjelang proklamasi, ia juga bertindak sebagai penasihat BPUPKI. Setelah Indonesia merdeka, ia menyatakan bahwa Kerajaan Bone merupakan bagian dari Republik Indonesia. Pada masa Republik Indonesia Serikat, ia ikut menuntut peleburan Negara Indonesia Timur ke dalam RI. Keteladanan dan keteguhan hati ia dalam berjuang diikuti oleh putra-putranya, yaitu Andi Pangerang Petta Rani dan Andi Abdullah Bau Massepe.
[14/7 22.58] rudysugengp@gmail.com: 1. Buatkan gambar dan infografis tentang
Kehidupan Awal Kiras Bangun (Garamata)
Kiras Bangun (1852 – 22 Oktober 1942), juga dikenal dengan julukan Garamata (berarti "bermata merah"), adalah salah seorang Pahlawan Nasional Indonesia yang berasal dari Desa Batukarang, Kec. Payung, Kabupaten Karo, Sumatera Utara. Kiras Bangun menggalang kekuatan lintas agama di Sumatera Utara dan Karo untuk menentang penjajahan Belanda.[1] Kiras berhasil mengumpulkan kurang lebih 3000 pasukan. Kiras merupakan ayah kandung dari Payung Bangun, tokoh militer yang memimpin pasukan Barisan Harimau Liar (BHL).
Masa Muda :
Kiras Bangun pada waktu muda tidak pernah menempuh pendidikan formal. Meskipun begitu beliau berhasil menguasai bahasa Melayu dan aksara Karo. Tak hanya itu beliau juga mampu menulis dan membaca huruf latin. Kiras Bangun juga pernah diangkat sebagai Ketua Adat Karo Lima Senina hingga kemudian menjadi Penghulu Lima Senina di Batu Karang.
[14/7 22.58] rudysugengp@gmail.com: 2. Buatkan gambar dan infografis tentang
Perjuangan Kiras Bangun (Garamata)
Kiras Bangun lahir pada tahun 1852, di kampung Batu Karang, Kecamatan Payung, Kabupaten Karo, Sumatera Utara. Semasa mudanya, ia bekelana dari satu urung (desa) ke urung lain untuk memelihara norma, adat dan budaya. Kerja sama antar desa yang digalang tersebut menghasilkan pasukan yang disebut pasukan Urung, yang beberapa kali terlibat pertempuran dengan Belanda di Tanah Karo sejak tahun 1905. Kiras juga memimpin gerakan bawah tanah di daerah tersebut. Sementara itu tentara Belanda menggunakan taktik oportuniteit beginsel yang membuatnya keluar dari persembunyian dan menangkap serta membuangnya ke Riung. Pada tahun 1909, ia dilepaskan, meskipun masih dalam pengawasan Belanda. Dari tahun 1919 sampai 1926, ia dibantu oleh kedua putranya memimpin pemberontakan di Tanah Karo. Kiras yang juga dikenal dengan nama Garamata itu bersama kedua anaknya akhirnya dibuang ke Cipinang di mana ia terus berjuang melawan penjajahan Belanda dalam bidang kemanusiaan.
Kronologi Perjuangan Melawan Belanda
Penolakan Kolonisasi (1902):
Belanda ingin memperluas perkebunan ke Tanah Karo dan mencoba mendekati Kiras Bangun. Ia menolak dengan tegas dan berhasil mengusir utusan Belanda bernama Guillaume (Gulame) keluar dari wilayahnya.
Perang Karo (1900–1905):
Menjadi puncak perlawanan fisik bersenjata. Kiras Bangun menggalang pasukan gabungan yang disebut Pasukan Urung berjumlah sekitar 3.000 prajurit.
Aliansi Lintas Etnis & Agama:
Beliau berhasil menyatukan kekuatan lintas agama serta lintas etnis (meliputi suku Karo, Gayo, Alas, dan Singkil) di wilayah Sumatera Utara dan Aceh untuk mengepung basis Belanda.
Taktik Perang Gerilya: Menggunakan taktik gerilya jarak dekat dan memimpin gerakan bawah tanah yang membuat militer Belanda kewalahan.
[14/7 22.59] rudysugengp@gmail.com: 3. Buatkan gambar dan infografis tentang
Akhir Hayat dan Penghargaan Kiras Bangun (Garamata)
Pengasingan dan Akhir Hayat
Pembuangan Pertama (1905):
Belanda menggunakan taktik sandera (opportuniteit beginsel) untuk memaksa Kiras menyerah, lalu membuangnya ke Riung hingga tahun 1909.
Pemberontakan Kedua (1919–1926):
Setelah bebas, ia kembali memimpin pemberontakan di Tanah Karo bersama kedua anak kandungnya.
Pembuangan ke Cipinang:
Akibat pemberontakan tersebut, ia dan anak-anaknya ditangkap kembali lalu dibuang ke Penjara Cipinang, Jakarta.
Gugur (1942):
Kiras Bangun wafat pada tanggal 22 Oktober 1942, tidak lama setelah masa pendudukan Jepang dimulai. Jenazahnya dimakamkan di tempat kelahirannya, Desa Batukarang, Kabupaten Karo, Sumatera Utara.
Kiras Bangun dianugerahi gelar Pahlawan Nasional Indonesia oleh presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 9 November 2005 dalam rangka peringatan Hari Pahlawan 10 November 2005.
[14/7 23.07] rudysugengp@gmail.com: 3. Buatkan gambar dan infografis tentang
Akhir Hayat dan Penghargaan Ismail Marzuki
Akhir Hayat :
Kondisi kesehatan Ismail Marzuki mulai menurun akibat penyakit paru-paru. Meski dalam keadaan sakit, ia terus berkarya dan menciptakan lagu-lagu legendaris. Pada 25 Mei 1958, Ismail Marzuki menghembuskan napas terakhirnya di Jakarta pada usia 44 tahun.
Jenazahnya kemudian dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Karet Bivak, Jakarta Pusat.
Penghargaan dan Penghormatan :
Atas dedikasi dan jasanya dalam membakar semangat perjuangan rakyat Indonesia melalui karya musik, pemerintah memberikan berbagai penghargaan, di antaranya:
Pahlawan Nasional Indonesia:
Diberikan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 5 November 2004.
Pembangunan Pusat Kesenian:
Namanya diabadikan menjadi nama pusat kebudayaan dan kesenian di Menteng, Jakarta Pusat, yaitu Taman Ismail Marzuki (TIM).
Karya lagu :
Gugur Bunga
Melati di Tapal Batas
Rayuan Pulau Kelapa
Sepasang Mata Bola
Hari Lebaran
Halo, Halo Bandung
Sabda Alam
Indonesia Pusaka
Payung Fantasi
Hanya Semalam (karya terakhir yang diciptakannya bersama Bing Slamet)
Satu Indonesiaku (yang merupakan kolaborasi lagu ciptaan terakhir dari almarhum Glenn Fredly, diciptakannya bersama Erwin Gutawa, Guruh Soekarnoputra, Yok Koeswoyo dan Candra Darusman instrumental milik perusahaan Wings Surya Group)
Prestasi dan pengakuan :
1. Diabadikan oleh majalah Rolling Stone Indonesia sebagai salah satu dari The Immortals: 25 Artis Indonesia Terbesar Sepanjang Masa pada tahun 2008
2. Komponis musik klasik Indonesia Ananda Sukarlan telah menciptakan beberapa concerto (karya orkes dengan solois) berdasarkan lagu-lagu Ismail Marzuki berjudul "Concerto Marzukiana" untuk solois piano, biola dan harpa. Selain itu Ananda Sukarlan juga telah mencipta karya-karya virtuosik untuk piano solo seperti "Variations on Rayuan Pulau Kelapa" dan "I Wish Pavarotti Had Known Marzuki" yang menjadi bagian penting dari repertoar musik klasik dan dimainkan oleh para pianis dalam dan luar negeri.
3.
[14/7 23.07] rudysugengp@gmail.com: 1. Buatkan gambar dan infografis tentang
Kehidupan Awal Frans Kaisiepo
Frans Kaisiepo (10 Oktober 1921 – 10 April 1979) adalah seorang politikus Papua dan nasionalis Indonesia. Ia menjabat sebagai Gubernur Provinsi Papua keempat.
Informasi pribadi
Lahir :
10 Oktober 1921
Biak, Departemen Nugini, Hindia Belanda
Meninggal :
10 April 1979 (umur 57)
Jayapura, Papua, Indonesia
Kebangsaan
Indonesia
Istri :
Anthomina Arwam (m. 1938)
Maria Magdalena Moorwahyuni
(menikah 1973)
Anak :
6, termasuk Manuel Kaisiepo
Biografi :
Kaisiepo lahir di Pulau Biak pada tanggal 10 Oktober 1921, tepatnya di Kampung Wardo, Dustrik Biak Barat. Ia belajar di Sekolah Guru Normal di Manokwari. Kaisiepo, dan kemudian mengikuti kursus Administrasi Sipil di Sekolah Layanan Sipil di Nugini. Ayah Frans Kaisiepo merupakan pemimpin suku Biak Numfor. Ayahnya adalah seorang tukang besi. Ibu Frans meninggal dunia saat dia berumur dua tahun. Frans kemudian diserahkan kepada bibinya sehingga ia besar bersama sepupunya, Markus. Walaupun Frans tumbuh di desa Wardo yang berada di pedalaman Biak, ia beruntung memperoleh pendidikan di sekolah yang menerapkan sistem pendidikan Belanda.
Keluarga :
Kaisiepo menikah dengan Anthomina Arwam dan memiliki tiga orang anak. Pasangan itu tetap bersama sampai kematian Arwam. Pada 12 November 1973, ia menikah dengan Maria Magdalena Moorwahyuni, perempuan keturunan keluarga ningrat Tjondronegoro, kakek buyutnya merupakan Bupati di Kudus, Jawa Tengah. Mereka memiliki satu anak laki-laki dan kemudian mengadopsi seorang anak perempuan.
[14/7 23.07] rudysugengp@gmail.com: 2. Buatkan gambar dan infografis tentang
Perjuangan Frans Kaisiepo
Nasionalisme Indonesia :
Pada 1945, Frans bertemu Sugoro Atmoprasodjo di Sekolah Kursus Pegawai. Mereka dengan cepat menemukan titik temu karena dukungan bersama mereka untuk kemerdekaan Indonesia. Kaisiepo sering mengadakan pertemuan rahasia untuk membahas aneksasi Nugini Belanda oleh Republik Indonesia.
Pada 31 Agustus 1945, ketika Papua masih diduduki Belanda, Frans termasuk salah satu orang menegakkan eksistensi Republik Indonesia dan orang pertama yang mengibarkan Bendera Merah Putih dan menyanyikan lagu Indonesia Raya di Papua.
Pada Juli 1946, Frans menjadi utusan Nugini Belanda dan satu-satunya orang asli Papua pada Konferensi Malino di Sulawesi Selatan.
Sebagai Juru Bicara, dia menyarankan wilayah itu disebut "Irian", menjelaskan kata itu berarti "tempat yang panas" dalam bahasa aslinya, Biak.
Pada bulan yang sama, Partai Indonesia Merdeka didirikan oleh Frans di Biak, dengan Lukas Rumkorem sebagai pemimpin terpilih partai tersebut.
Pada Agustus 1947, Silas Papare memimpin pengibaran bendera merah putih Indonesia untuk memperingati Hari Kemerdekaan Indonesia. Tindakan ini mengakibatkan penangkapan semua peserta oleh polisi Belanda. Mereka dikurung selama lebih dari tiga bulan. Selama itu Frans dan Johans Ariks mengambil peran Papare. Johans kemudian mengetahui rencana untuk mengintegrasikan Irian Barat sebagai wilayah Indonesia, alih-alih mengembangkan otonominya.
Frans terlibat dalam pemberontakan di Biak pada Maret 1948, memprotes pemerintahan Belanda. Pada tahun 1949, ia menolak penunjukan sebagai pemimpin delegasi Nugini Belanda dalam Konferensi Meja Bundar Belanda-Indonesia, karena ia merasa Belanda berusaha mendikte dia. Karena perlawanannya, dia dipenjarakan dari tahun 1954 hingga 1961.
Karier politik :
Setelah dibebaskan dari penjara pada tahun 1961, ia mendirikan Partai Irian yang berupaya menyatukan Nugini Belanda dengan Republik Indonesia. Untuk membayangkan dekolonisasi Nugini Belanda, Presiden Sukarno berpidato yang mendirikan Trikora (Tri Komando Rakyat) pada 19 Desember 1961 di Yogyakarta.
Tujuan komando itu adalah:
1. membatalkan pembentukan "negara Papua" yang diciptakan oleh kekuasaan kolonial Belanda
2. mengibarkan bendera Indonesia di Irian Barat, dengan demikian menegaskan kedaulatan Indonesia di daerah tersebut
3. mempersiapkan mobilisasi untuk "mempertahankan kemerdekaan dan penyatuan tanah air"
Sebagai hasil dari pidato bersejarah ini, banyak yang memilih untuk mendaftar di angkatan bersenjata, sebagai bagian dari Operasi Trikora.[butuh rujukan]
Karena Aksi Trikora, Pemerintah Belanda terpaksa menandatangani perjanjian yang dikenal sebagai Perjanjian New York pada 15 Agustus 1962 pukul 12:01.
Pengalihan penyelenggaraan pemerintahan ke UNTEA terjadi pada 1 Oktober 1962. Pengalihan Irian Barat ke Indonesia dilakukan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa pada tahun berikutnya pada 1 Mei 1963. Sementara itu, pemerintah Indonesia akan diserahi tugas untuk mengembangkan wilayah tersebut dari tahun 1963 hingga 1969, dan pada akhir tahun itu orang Papua harus memutuskan apakah akan bergabung dengan Indonesia atau tetap otonom atau tidak.
Gubernur Irian yang pertama adalah Eliezer Jan Bonay, yang menjabat kurang dari setahun (1963–1964). Bonay pada awalnya berpihak pada orang Indonesia.
Namun, pada tahun 1964 ia menggunakan Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera) di Irian Jaya untuk menyerukan kemerdekaan Irian Barat sebagai negara yang terpisah; permintaan ini diteruskan ke Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Tindakannya tersebut menyebabkan dia mengundurkan diri dari jabatannya pada tahun 1964, ketika Frans Kaisiepo menggantikannya sebagai gubernur.
Pengunduran dirinya tanpa penggantinya mengecewakan Bonay dan mendorongnya untuk bergabung dengan Organisasi Papua Merdeka yang beroperasi di pengasingan di Belanda, menjadi salah satu tokoh terkemuka dalam prosesnya.
Masa jabatan Kaisiepo sebagai gubernur Irian berupaya untuk mempromosikan Papua sebagai bagian dari Indonesia. Hal ini mendorong dukungan di dalam negara untuk opsi Penentuan Pendapat Rakyat untuk penyatuan, sebagai lawan dari kemerdekaan penuh, meskipun ada tentangan besar dari sebagian besar penduduk asli Papua. Pada tahun 1969, Irian diterima di Indonesia sebagai Provinsi Irian Jaya (kemudian Papua). Atas upayanya mempersatukan Papua dengan Indonesia, ia terpilih menjadi anggota parlemen untuk Papua pada pemilihan Majelis Permusyawaratan Rakyat tahun 1973 dan diangkat menjadi Dewan Pertimbangan Agung pada tahun 1977 sebagai wakil untuk urusan Papua.
[14/7 23.07] rudysugengp@gmail.com: 3. Buatkan gambar dan infografis tentang
Akhir Hayat dan Penghargaan Frans Kaisiepo
Kematian :
Makam Pahlawan Nasional Frans Kaisiepo di Kampung Mokmer, Pulau Biak, Papua, Indonesia
Kaisiepo meninggal dunia pada 10 April 1979 karena serangan jantung. Ia dimakamkan di sebuah lahan di seberang jalan Taman Makam Pahlawan Cendrawasih di Kampung Mokmer, Kabupaten Biak Numfor, yang sekarang menjadi Makam Pahlawan Nasional Indonesia Frans Kaisiepo. Makam beliau dan TMP Cendrawasih terletak beberapa kilometer ke arah timur Bandara Internasional Frans Kaisiepo.
Pahlawan Nasional Frans Kaisiepo :
Pada tahun 1993, Kaisiepo secara anumerta dinyatakan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia,
S.K. Presiden No. 077/TK/1993 tanggal 14 September 1993,
atas usahanya seumur hidup untuk menyatukan Irian Barat dengan Indonesia. Sebagai wakil provinsi Papua, ia terlibat dalam Konferensi Malino, di mana pembentukan
Republik Indonesia Serikat dibahas.
Peninggalan :
Uang kertas 10.000 rupiah bergambar Frans Kaisiepo
Atas pengabdian jasanya, Frans Kaisiepo dianugerahi Bintang Mahaputra Adipradana Kelas Dua oleh pemerintah Indonesia. Frans Kaisiepo menginginkan persatuan nasional, dan bekerja untuk tujuan itu sepanjang hidupnya. Dia diangkat secara anumerta sebagai Pahlawan Nasional Indonesia pada peringatan 30 tahun penyerahan Papua ke Indonesia pada tahun 1993.
Ia juga merupakan nama bandara lokal yang melayani Kabupaten Biak Numfor dan Supiori, yang dikenal sebagai Bandar Udara Internasional Frans Kaisiepo.
Kaisiepo juga merupakan salah satu tokoh sejarah yang terpilih untuk digambarkan dalam uang kertas rupiah Indonesia edisi 2016 baru-baru ini, khususnya uang kertas senilai Rp10.000.
Selain itu namanya juga diabadikan di salah satu KRI yaitu KRI Frans Kaisiepo.
[14/7 23.07] rudysugengp@gmail.com: 1. Buatkan gambar dan infografis tentang
Kehidupan Awal Silas Papare
Silas Papare (18 Desember 1918 – 7 Maret 1978 adalah seorang pejuang penyatuan Irian Jaya (Papua) ke dalam wilayah Indonesia. Ia adalah seorang pahlawan nasional Indonesia. Namanya diabadikan menjadi salah satu Kapal Perang Korvet kelas Parchim TNI AL KRI Silas Papare dengan nomor lambung 386, dan juga namanya diabadikan menjadi nama Pangkalan Udara TNI Angkatan Udara di Sentani, Jayapura menjadi Lanud Silas Papare Jayapura. Selain itu didirikan Monumen Silas Papare di dekat pantai dan pelabuhan laut Serui. Sementara di Jayapura, namanya diabadikan sebagai nama Sekolah Tinggi Ilmu Sosial Politik (STISIPOL) Silas Papare, yang berada di Jalan Diponegoro dan Pangkalan TNI AU Silas Papare, Sedangkan di kota Nabire, nama Silas Papare dikenang dalam wujud nama jalan.
Informasi pribadi
Lahir :
18 Desember 1918
Hindia Belanda Serui, Nugini Belanda
Meninggal :
7 Maret 1978 (umur 59)
Indonesia Jakarta, Indonesia.
Makam :
Taman Makam Pahlawan (TMP) Newi Serui, Kepulauan Yapen, Papua, Indonesia
Partai politik :
Partai Kemerdekaan Indonesia Irian
Istri :
Regina Aibui
Hubungan :
Alfred Papare (cucu)
Perjuangan Awal :
Ia menyelesaikan pendidikan di Sekolah Juru Rawat pada tahun 1935 dan bekerja di rumah sakit Serui, sebelum pindah ke rumah sakit milik perusahaan minyak NNGPM di Sorong sejak tahun 1936 di mana menjadi ketua perawat. Sekitar tahun 1940 dia dipindahkan ke Serui karena kekurangan personel, hingga awal 1942 ketika Jepang masuk. Pada tahun 1944, ia direkrut sebagai mata-mata Amerika Serikat dan pemerintah Belanda, NEFIS untuk membantu perlawanan terhadap tentara Jepang di Papua terutama berhubungan dengan mantan pemberontakan Koreri yang sebelumnya memberontak terhadap pemerintah Belanda kemudian terhadap pemerintah Jepang. Ketika Belanda berusaha kembali menduduki Papua setelah Perang Dunia II berakhir, Silas Papare mulai berhubungan dengan Corinus Krey ajudan Soegoro Atmoprasodjo akibat praktiknya di Kampung Harapan, dan juga Marthen Indey dari Batalyon Papua. Dia menjadi salah satu pendiri organisasi kesiswaan bersama Lukas Rumkorem, Yan Waranu, G. Sawari, S.D. Kawab, dan Corinus Krey. Pada Desember 1945, Sugoro beserta kelompoknya melancarkan pemberontakan pertamanya dari Kampung Harapan bersama anggota KNIL, bekas anggota Kempeitai dan anggota Batalyon Papua untuk memberontak pada Desember 1945. Usaha tersebut gagal karena ada satu anggota Batalyon Papua yang melaporkan ke pihak Belanda. Lantas pemerintah Belanda mengirim pasukan KNIL dari Kloofkamp dan juga Rabaul, sekitar 250 orang ditangkap seperti Silas Papare yang dihukum oleh Belanda dan dipenjarakan di Jayapura.
[14/7 23.07] rudysugengp@gmail.com: 2. Buatkan gambar dan infografis tentang
Perjuangan Silas Papare
Perjuangan Melawan Belanda :
Belanda yang tadinya akan mengirim Silas Papare karena terkenal anti-Indonesia sebelumnya mengganti dengan Frans Kaisiepo pada Konferensi Malino, walau ternyata Kaisiepo menggunakan kesempatannya untuk mempopulerkan nama "Irian".
Papare dipindahkan ke Serui dari Hollandia dikarenakan terjadi beberapa pemberontakan lanjutan oleh kelompok Sugoro agar mereka tidak bisa berhubungan.
Semasa menjalani masa tahanan di Serui, Silas berkenalan dengan Dr. Sam Ratulangi, Gubernur Sulawesi yang diasingkan oleh Belanda ke tempat tersebut. Perkenalannya tersebut semakin menambah keyakinannya bahwa Papua harus bebas dan bergabung dengan Republik Indonesia. Akhirnya, ia mendirikan Partai Kemerdekaan Indonesia Irian (PKII) pada November 1946. Pada tahun 1949, jumlah anggota PKII terus meningkat hingga mencapai 4.000 orang, walau PKII dinyatakan ilegal oleh Belanda dan bergerak secara diam-diam.
Silas kembali ditangkap oleh otoritas Belanda karena mendirikan PKII dan dipenjarakan di Biak dengan alasan hilang ingatan. Menggunakan alasan yang sama, Silas Papare berhasil melarikan diri dan pergi menuju Yogyakarta.
Pada bulan Oktober 1949 di Yogyakarta, ia mendirikan Badan Perjuangan Irian di Yogyakarta dalam rangka membantu pemerintah Republik Indonesia untuk memasukkan wilayah Irian Barat ke dalam wilayah RI. Silas Papare yang ketika itu aktif dalam Front Nasional Pembebasan Irian Barat (FNPIB) dan juga ikut dalam Konferensi Cibogo, Bogor yang dilaksanakan pada tanggal 13-15 April 1961 oleh pemuda-pemuda Papua yang kabur dari Nugini Belanda untuk upaya pembebasan Irian Barat. Ia juga diminta oleh Presiden Soekarno menjadi delegasi Indonesia dalam Perjanjian New York bersama Albert Karubuy sebagai perwakilan PKII, delegasi yang asal Papua lainnya adalah Johannes Abraham Dimara, Marthen Indey, Frits Kirihio, dan Efraim Somisu. Perjanjian tersebut ditandatangani pada 15 Agustus 1962, yang mengakhiri konfrontasi Indonesia dengan Belanda perihal Irian Barat. Setelah penyatuan Irian Barat, ia kemudian diangkat menjadi anggota MPRS.
[14/7 23.07] rudysugengp@gmail.com: 3. Buatkan gambar dan infografis tentang
Akhir Hayat dan Penghargaan Silas Papare
Akhir Hayat Silas Papare
Waktu Wafat:
Menutup usia pada 7 Maret 1978 (beberapa catatan sejarah menuliskan tahun 1979).
Lokasi Wafat:
Mengembuskan napas terakhir setelah berjuang melawan sakit.
Tempat Peristirahatan:
Jenazahnya dimakamkan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kusuma Trikora, Serui, Papua.
Gelar Pahlawan Nasional :
Berkat perjuangan dan jasa-jasanya tersebut dalam mengusahakan Irian Jaya menjadi bagian dari Republik Indonesia dan membantu mengusir penjajah maka pemerintah Indonesia menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional pada tanggal 14 September 1993 dengan Keppres No.77/TK/1993.
Penghargaan dan Penghormatan
Pemerintah Republik Indonesia dan berbagai lembaga memberikan apresiasi tinggi terhadap dedikasi politik serta militansi Silas Papare:
Bintang Tanda Jasa: Dianugerahi Bintang Mahaputera Adipradana (Kelas II) beserta Piagam Pahlawan Nasional.
Penghargaan Militer Sekutu:
Menerima penghargaan dari bagian OPS Perang Pasifik atas keberhasilannya membantu tentara Sekutu melawan Jepang di Papua semasa Perang Dunia II.
KRI Silas Papare:
Namanya diabadikan menjadi nama kapal perang korvet kelas Parchim milik TNI Angkatan Laut (KRI Silas Papare-386).
Pangkalan Udara TNI AU:
Namanya disematkan menjadi nama Lanud Silas Papare di Jayapura, Papua.
Fasilitas Publik:
Namanya banyak digunakan untuk nama jalan utama serta Sekolah Tinggi Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (STISIP) Silas Papare di Jayapura.
[14/7 23.07] rudysugengp@gmail.com: 1. Buatkan gambar dan infografis tentang
Kehidupan Awal Marthen Indey
Dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia, nama Marthen Indey menempati posisi istimewa sebagai salah satu tokoh asal Papua yang memiliki peran besar dalam memperjuangkan kemerdekaan dan persatuan Indonesia. Di tengah situasi politik yang kompleks pada masa penjajahan dan pasca kemerdekaan, Marthen Indey tampil sebagai sosok berani, tegas, dan visioner. Ia bukan hanya pejuang kemerdekaan, tetapi juga simbol persatuan dan penghubung antara masyarakat Papua dan pemerintah pusat.
Dedikasinya dalam memperjuangkan agar Papua menjadi bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) menjadikannya salah satu figur penting dalam sejarah nasional. Semangat dan perjuangannya terus dikenang sebagai wujud cinta tanah air dari ujung timur Indonesia.
Profil dan Latar Belakang Marthen Indey :
Marthen Indey adalah salah satu pahlawan nasional Indonesia asal Papua yang dikenal sebagai tokoh penting dalam memperjuangkan kemerdekaan serta integrasi Papua ke dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Ia lahir pada tahun 1912 di Doromena, Jayapura, Papua. Sebelum terjun ke dunia perjuangan politik dan diplomasi, Marthen Indey bekerja sebagai anggota polisi Belanda (Bestuur Politie), posisi yang memberinya wawasan luas tentang sistem kolonial dan ketidakadilan yang dialami masyarakat pribumi.
Namun, semangat nasionalisme yang tumbuh di hatinya membuat ia berbalik arah dari kepentingan kolonial. Ia memilih untuk berpihak kepada perjuangan rakyat Indonesia, terutama ketika semangat kemerdekaan mulai menyebar ke seluruh pelosok Nusantara.
[14/7 23.07] rudysugengp@gmail.com: 2. Buatkan gambar dan infografis tentang
Perjuangan Marthen Indey
Awal Perjuangan dan Peran di Masa Penjajahan Belanda :
Pada masa pendudukan Belanda, Marthen Indey menjadi saksi langsung bagaimana kekuasaan kolonial menindas masyarakat pribumi di tanah Papua. Ia menyadari bahwa kebebasan hanya bisa diperoleh melalui perjuangan.
Sekitar tahun 1940-an, Marthen mulai aktif berhubungan dengan kelompok nasionalis pro-Indonesia. Ia berperan penting dalam menyebarkan semangat kebangsaan di kalangan orang Papua, meskipun menghadapi risiko besar. Karena aktivitasnya itu, ia sempat ditangkap dan dipenjara oleh Belanda di Tanah Merah, Boven Digoel, tempat yang terkenal sebagai lokasi pembuangan para pejuang politik Indonesia.
Di sana, Marthen berinteraksi dengan banyak tokoh nasionalis dari berbagai daerah Indonesia, yang semakin memperkuat keyakinannya bahwa Papua adalah bagian yang tidak terpisahkan dari Indonesia.
Kontribusi Marthen Indey dalam Memperjuangkan Integrasi Papua ke Indonesia :
Setelah keluar dari penjara, Marthen Indey kembali ke Jayapura dan semakin aktif dalam kegiatan politik. Ia mendukung gerakan Papua pro-Indonesia, yang menentang upaya Belanda memisahkan Papua dari Indonesia pasca Proklamasi 1945.
Pada 1950-an, ketika situasi politik di Papua semakin memanas, Marthen bersama sejumlah tokoh lokal membentuk jaringan perjuangan yang bertujuan memperkuat kesadaran nasional di kalangan masyarakat Papua. Ia berperan dalam mengorganisir rakyat agar memahami arti penting integrasi Papua dengan NKRI.
Marthen juga dikenal sebagai mediator dan penghubung antara pemerintah Indonesia dan masyarakat Papua. Sikapnya yang tegas namun diplomatis membuatnya dihormati, baik oleh tokoh-tokoh Indonesia di Jakarta maupun oleh kalangan adat di Papua.
Perjuangan Diplomasi dan Hubungan dengan Pemerintah Belanda :
Selain sebagai aktivis lokal, Marthen Indey juga memainkan peran penting dalam diplomasi Papua di hadapan Belanda. Ia kerap dilibatkan dalam pertemuan-pertemuan penting antara perwakilan Indonesia, Belanda, dan masyarakat Papua.
Dalam berbagai kesempatan, ia menolak keras wacana "Papua Merdeka" yang dimotori oleh pihak Belanda menjelang Konferensi Meja Bundar (KMB) dan masa-masa sesudahnya. Ia menegaskan bahwa Papua memiliki kesamaan sejarah perjuangan dan semangat kebangsaan dengan seluruh wilayah Indonesia.
Keteguhan sikap Marthen ini membantu memperkuat posisi diplomasi Indonesia dalam perundingan mengenai status Papua, hingga akhirnya pada tahun 1969 melalui Pepera (Penentuan Pendapat Rakyat), Papua resmi bergabung ke dalam NKRI.
[14/7 23.07] rudysugengp@gmail.com: 3. Buatkan gambar dan infografis tentang
Akhir Hayat dan Penghargaan Marthen Indey
Kematian :
Dia meninggal pada 17 Juli 1986, di Jayapura. Makamnya terletak di Sabron Yaru, Kampung Dosai, distrik Sentani Barat, Kabupaten Jayapura, dan diakui menjadi lokasi bersejarah.
Pada 14 September 1993, Marthen Indey diakui dan di gelar sebagai Pahlawan Nasional Indonesia,
berdasar SK Presiden No.077 /TK/ 1993 tertanggal 14 September 1993 bersama dengan dua putra Papua lainnya yaitu Frans Kaisiepo dan Silas Papare.
Rumah sakit tentara di Jayapura, yang sebelumnya bernama Rumah Sakit Dr. Aroyoko, diganti menjadi Rumah Sakit Marthen Indey 1998. kota Jayapura juga memiliki monumen untuk Marthen Indey di tengah kota.
Warisannya untuk Papua :
Namanya kini diabadikan di berbagai tempat di Papua, termasuk pada Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Marthen Indey di Jayapura.
Warisan perjuangannya bukan hanya dalam bentuk sejarah, tetapi juga semangat nasionalisme yang terus hidup di kalangan generasi muda Papua. Ia menjadi simbol bahwa semangat kebangsaan Indonesia tidak terbatas oleh geografis, melainkan oleh rasa persaudaraan dan cita-cita bersama untuk merdeka dan bersatu.
[15/7 00.22] rudysugengp@gmail.com: Bagindo Azizchan
[15/7 00.31] rudysugengp@gmail.com: 1. Buatkan gambar dan infografis tentang
Kehidupan Awal Bagindo Azizchan
Bagindo Aziz Chan atau juga ditulis dengan ejaan Bagindo Azizchan (30 September 1910 – 19 Juli 1947) adalah seorang guru dan pejuang kemerdekaan Indonesia. Ia merupakan Wali Kota Padang kedua setelah kemerdekaan, yang dilantik pada tanggal 15 Agustus 1946 menggantikan Mr. Abubakar Jaar.
Informasi pribadi
Lahir :
30 September 1910
Padang, Pantai Barat Sumatra, Hindia Belanda
Meninggal :
19 Juli 1947 (umur 36)
Padang, Sumatera Barat
Partai politik ;
Persatuan Muslimin Indonesia (sampai 1937)
Partai Syarikat Islam Indonesia (1945-1947)
Istri :
Raden Entis Atisah[2]
Hj. Siti Zaura Oesman
Anak :
8
Almamater :
Rechtshoogeschool te Batavia
Profesi :
Guru - politikus
Kehidupan pribadi :
Bagindo Azizchan memiliki dua orang istri, yakni R. Atisah Adiwirya asal Sunda dan Siti Zaura Oesman (1912-1996) asal Padang.
Dari istri pertama, ia dikaruniai tujuh orang anak, yakni Roswita Azizchan, Bagindo Radhi Azizchan, Upy Azumar Azizchan, Bagindo Azir Azizchan, Andoda Nushati Azizchan, Huriah Pratiwi Azizchan, dan Bagindo Rendra Azizchan. Di antara cucunya yakni Jeanne Noveline Tedja, Aryanti W. Puspokusumo, dan Ayu Suzanne AW Puspokusumo. Adapun dari istri kedua, ia memiliki anak bernama Fatiha Aidilfitrini (Ineke Azizchan). Dari Ineke, lahir tiga cucu yaitu Yoice Clarissa Nafis, Yoditha Yudith Nafis, dan Yola Tri Ovelia Nafis.
Kehidupan awal dan pendidikan :
Bagindo Aziz Chan lahir di Kampung Alang Laweh, Kota Padang pada 30 September 1910. Ia adalah anak keempat dari enam bersaudara, buah pernikahan Bagindo Montok dan Djamilah.
Lahir pada 30 September 1910, Baginda Abdul Azizchan mengenyam pendidikan HIS di Padang, MULO di Surabaya, dan AMS di Batavia. Ia sempat dua tahun duduk di Rechtshoogeschool te Batavia (RHS) danmembuka praktik pengacara. Ia juga aktif di beberapa organisasi, di antaranya sebagai anggota pengurus Jong Islamieten Bond di bawah pimpinan Agus Salim.
Kembali ke kampung halamannya pada tahun 1935, ia mengabdi sebagai guru di beberapa sekolah di Padang dan berkali-kali pindah mengajar ke luar kota. Ia sempat aktif di Persatuan Muslim Indonesia (Permi) sampai organisasi itu dibubarkan pada tahun 1937.
Dari pernikahannya dengan Siti Zaura Oesman, Bagindo Aziz dikaruniai anak Ineke Azizchan Nafis.
[15/7 00.39] rudysugengp@gmail.com: 2. Buatkan gambar dan infografis tentang
Perjuangan Bagindo Azizchan
Perjuangan :
Setelah proklamasi kemerdekaan, ia ditunjuk sebagai Wakil Wali Kota Padang pada 24 Januari 1946 dan pada 15 Agustus 1946 dilantik sebagai wali kota menggantikan Mr. Abubakar Jaar, yang pindah tugas menjadi residen di Sumatera Utara.
Di tengah situasi pasca-kedatangan Sekutu di Padang pada 10 Oktober 1945, ia menolak tunduk terhadap kekuatan militer Belanda yang berada di belakang tentara Sekutu. Ia terus melakukan perlawanan dengan menulis di surat kabar perjuangan Tjahaja Padang, bahkan turun langsung memimpin perlawanan terhadap Belanda sampai akhirnya meninggal pada tanggal 19 Juli 1947. Ia juga berpidato di depan umum, "Langkahilah dulu mayatku, baru Kota Padang saya serahkan".
[15/7 00.39] rudysugengp@gmail.com: 3. Buatkan gambar dan infografis tentang
Akhir Hayat dan Penghargaan Bagindo Azizchan
Meninggal dunia :
Pada 19 Juli 1947 sore hari, Bagindo dan keluarga bertolak dari Padang menuju Padang Panjang. Di daerah Purus, rombongannya dicegat oleh Letnan Kolonel Van Erps yang memberitahukan telah terjadi insiden di Nanggalo yang merupakan daerah garis demarkasi Belanda.
Menurut versi Belanda, ketika Bagindo turun itu dari mobil Jeep yang mengantarkannya di daerah Nanggalo itu, ia tertembak di lehernya dan dibawa ke sebuah rumah sakit di Padang.
Namun, menurut hasil visum yang dilakukan oleh 4 dokter Indonesia di Bukittinggi, Bagindo meninggal karena kepala belakangnya dipukul dengan barang berat sehingga tulang kepalanya hancur. Selain itu, terdapat tiga bekas tembakan di wajahnya yang dilakukan tentara Belanda setelah ia menjadi mayat.
Jenazah Bagindo Aziz Chan dimakamkan pada 20 Juli 1947 pukul 02.00 dalam sebuah upacara besar yang dihadiri pejabat sipil dan militer di Taman Makam Pahlawan Bahagia, Bukittinggi. Keesokan harinya Belanda melancarkan Agresi Militer Belanda I.
Penghormatan :
Untuk menghormati jasa-jasa dan pengorbanannya, nama Bagindo Aziz Chan diabadikan menjadi nama jalan di beberapa kota, seperti Padang dan Bukittinggi. Di Padang, sebuah monumen berbentuk kepalan tinju didirikan di persimpangan Jalan Gajah Mada dan Jalan Jhoni Anwar, Kampung Olo, Nanggalo. Meskipun diresmikan sebagai Monumen Bagindo Aziz Chan oleh Wali Kota Padang Syahrul Ujud pada 19 Juli 1983, monumen ini berikut persimpangan lebih dikenal sebagai tugu Simpang Tinju.
Monumen lainnya, terletak di Taman Melati dalam kompleks Museum Adityawarman, hasil karya pemahat Arby Samah. Momumen ini memiliki tinggi 2,75 meter. Diresmikan oleh Wali Kota Padang Hasan Basri Durin pada 19 Juli 1973.
Ia meninggal dalam usia 36 tahun setelah terlibat dalam sebuah pertempuran melawan Belanda. Jasadnya dikebumikan di Taman Makam Pahlawan Bahagia, Bukittinggi. Melalui Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 082/TK/2005, tanggal 7 November 2005, Bagindo Aziz Chan menerima Bintang Mahaputera Adipradana dan Gelar Pahlawan Nasional Indonesia pada 9 November 2005.
[15/7 00.42] rudysugengp@gmail.com: Andi Abdullah Bau Massepe
[15/7 01.03] rudysugengp@gmail.com: 1. Buatkan gambar dan infografis tentang
Kehidupan Awal Andi Abdullah Bau Massepe
Informasi Pribadi :
Lahir :
Nama : Andi Abdullah Bau Massepe
Lahir :
1918, Massepe, Kabupaten Sidenreng Rappang, Hindia Belanda
Meninggal :
2 Februari 1947
Suppa, Pinrang, Sulawesi
Nama lain :
Datu Suppa
Biografi
Kelahiran :
Andi Abdullah Bau Massepe adalah putra dari Andi Mappanyukki (salah satu pahlawan Nasional dari Sulawesi Selatan) dan ibunya Besse Arung Bulo (putri Raja Sidenreng, anak dari La Sadapotto Addatuang Sidenreng dengan Baeda Addatuang Sawitto) di daerah Massepe, Kabupaten Sidenreng Rappang. (Massepe dahulunya merupakan salah satu pusat kerajan Addatuang (kerajaan) Sidenreng.
Dia adalah pewaris takhta dari dua kerajaan besar di Sulawesi Selatan yaitu Kerajaan Bone dan Gowa. Ia juga merupakan pewaris takhta dari lima kerajaan di sebelah barat Danau Sidenreng yaitu Suppa, Allita, Sidenreng Rappang dan Sawito.
Keturunan raja/bangsawan ;
Bau Massepe merupakan anak Raja dari Kerajaan Bone yakni Andi Mappanyukki yang juga seorang pejuang dari Sulawesi Selatan pada tanggal 10 November 2004 oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mendapat penghargaan sebagai Pahlawan Nasional.
Perkawinan :
Semasa hidupnya Abdullah Bau Massepe pernah tiga kali beristri.
Istri yang pertama bernama Andi Maccaya melahirkan putri bernama Andi Habibah,
Istri yang kedua bernama Linge Daeng Singara melahirkan
seorang putra yang bernama Andi Ibrahim dan
seorang putri bernama Andi Subaedah Bau te’ne.
Pada tahun 1933 menikah dengan Andi Bau Soji Datu Kanjenne yang kemudian dianugerahi putra-putri yang masing-masing bernama:
Bau Kuneng, (Datu Lolo)
Bau Amessangeng, (Datu Iccang)
Bau Dala Uleng (datu Uleng) dan
Bau Fatimah. (datu Toeng)
Pendidikan :
Semasa hidupnya pernah mengecap pendidikan formal pada Sekolah Rakyat selama 1 tahun (1924), HIS (Hollands Inslander School (selesai 1932). Selain itu Dia juga memperoleh pendidikan dilingkungan kerajaan yang dikenal dengan pangngadereng dikalangan budaya Bugis Makassar.
[15/7 01.04] rudysugengp@gmail.com: 2. Buatkan gambar dan infografis tentang
Perjuangan Andi Abdullah Bau Massepe
Raja-raja di Sulawesi Selatan :
Andi Abdullah Bau Massepe merupakan Datu Suppa ke 25 berdasarkan silsilah Dia adalah ana' mattola di Suppa. Dia adalah pewaris takhta dari dua kerajaan besar di Sulawesi Selatan yaitu Kerajaan Bone dan Gowa. Ia juga merupakan pewaris takhta dari lima kerajaan di sebelah barat Danau Sidenreng yaitu Suppa, Allita, Sidenreng Rappang dan Sawito.
Kepemimpinan :
Jabatan pada organisasi yang pernah dipimpin oleh dia antara lain:
Panglima Pertama TRI Divisi Hasanuddin dengan pangkat Letnan Jenderal
Ketua Bunken Kanrekan Pare-Pare, Ketua Organisasi SUDARA afderling Pare-Pare
Ketua Pusat Keselamatan Rakyat Penasehat Pemuda/Pandu Nasional Indonesia
Ketua Umum BPRI (Badan Penunjang Republik Indonesia)
Kordinator perjuangan bersenjata bagi pemuda di Sulawesi Selatan.
[15/7 01.04] rudysugengp@gmail.com: 3. Buatkan gambar dan infografis tentang
Akhir Hayat dan Penghargaan Andi Abdullah Bau Massepe
Kematian :
Andi Abdullah Bau Massepe tewas ditembak oleh pasukan Mayor Raymond Westerling -Korps Speciale Troepen Belanda- pada tanggal 2 Februari 1947 setelah ditahan selama 160 hari. Wafat 10 hari sesudah konferensi Pacekke (tanggal 20 Januari 1947). Makam dia dapat ditemukan di Taman Makam Pahlawan kota Pare-Pare (110 kilometer utara Kota Makassar). Perihal kematiannya dalam wawancara pihak keluarga (Hajjah Andi Habibah, putri tertua dia) menyatakan tidak ditembak mati oleh Westerling, tetapi diduga dibunuh dengan menyumbat pernapasannya. Kematiannya pun disembunyikan oleh pihak Belanda dan tidak adapun saksi mata yang melihat dia terbunuh.
Pejuang yang teguh :
Dia diakui sebagai pejuang yang teguh pendirian dan berani berkorban demi tegaknya NKRI. Hal ini diakui oleh Raymond Westerling yang disampaikan kepada istrinya, A. Sodji Petta Kandjenne, dia berkata; “Soeamimoe adalah djantan dan laki-laki pemberani. Ia bertanggoeng djawab atas semoea tindakannja, tidak maoe mengorbankan orang lain demi kepentingan sendiri, sikap djantan ini sangat saja hormati.”
Tanda Jasa :
Piagam Gelar Pahlawan Nasional dari President Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono pada 7 November 2005
Bintang Mahaputra Adipradana dari President RI, Susilio Bambang Yudhoyono, pada tahun 2005
Angugerah Bintang Gerilja Setjara Anumerta dari President RI, Ir.Soekarno, nomor 175, 12 Agustus 1959.
Pesan-pesan pahlawan :
Beberapa pesan dia yang sangat heroik yang dapat dijadikan inspirasi bagi generai muda sekarang dalam melanjutkan pembangunan negara ini antara lain:
"Lebih baik ditembak mati daripada menyerah kepada Belanda" Pesan kepada Andi Pangerang Petta Rani, merupakan saudara tiri, yang menjadi Gubernur Sulawesi pertama
"Tetaplah memelihara anak kita, sekolahkan semuanya, karena kalau bukan saya yang menikmati hasil perjuangan ini, maka anak-anak serta pemuda-pemuda yang sedang tumbuh yang akan menikmatinya". (pesan kepada istrinya Andi Soji Datu Kanjenne sewaktu dia di penjara KIS di Makassar)
"Jangan nikahi dengan keluarga atau golongan orang-orang Belanda dan antek-anteknya. Lebih baik memelihara dan bersahabat dengan anjing daripada bersahabat dengan orang Belanda dan orang-orang anti republik" (dimuat di Harian Fajar, 17 April 2003)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar