Selasa, 21 Juli 2026

Andi Daeng Rajo - KH Abdul Halim

 [16/7 09.39] rudysugengp@gmail.com: 1. Buatkan gambar dan infografis tentang 

Kehidupan Awal Haji Andi Sultan Daeng Raja


H. Andi Sultan Daeng Radja (20 Mei 1894 – 17 Mei 1963) adalah seorang tokoh kemerdekaan Indonesia dan pahlawan nasional dari Sulawesi Selatan. Ia adalah putra pertama pasangan Passari Petta Tanra Karaeng Gantarang dan Andi Ninong.


Masa Kecil dan Pendidikan :


Semasa muda, Sultan Daeng Radja dikenal taat beribadah dan aktif dalam kegiatan Muhammadiyah. Ia merupakan pendiri Masjid Tua di Ponre yang pada zamannya terbesar di Sulawesi Selatan.


Tahun 1902, Sultan Daeng Radja masuk sekolah Volksschool (Sekolah Rakyat) tiga tahun di Bulukumba. Tamat dari Volksschool, dia melanjutkan pendidikannya ke Europeesche Lagere School (ELS) di Bantaeng. Selesai mengenyam pendidikan di ELS, Sultan Daeng Radja melanjutkan pendidikannya di Opleiding School Voor Inlandsche Ambtenaren (OSVIA) di Makassar.


Riwayat Pekerjaan :


Setelan menyelesaikan pendidikannya di OSVIA pada tahun 1913, Sultan Daeng Radja yang saat itu, masih berusia 20 tahun diangkat menjadi juru tulis kantor pemerintahan Onder Afdeling Makassar. Bebeberapa bulan kemudian, dia diangkat menjadi calon jaksa dan diperbantukan di Inl of Justitie Makassar. Tanggal 7 Januari 1915 diangkat menjadi Eurp Klerk pada Kantor Asisten Residen Bone di Pompanua.


Selanjutnya, dia dipindahkan lagi ke Kantor Controleur Sinjai sebagai Klerk. Dari Sinjai ditugaskan ke Takalar dan mendapat jabatan wakil kepala pajak. Selanjutnya ditugaskan ke Enrekang dengan jabatan kepala pajak. Tahun 1918, dia ditugaskan sebagai Inlandsche Besteur Asistant di Campalagian, Mandar.


Tanggal 2 April 1921, pemerintah mengeluarkan surat keputusan mengangkat Sultan Daeng Radja menjadi pejabat sementara Distrik Hadat Gantarang menggantikan Andi Mappamadeng Daeng Malette yang mengundurkan diri karena tidak bisa bekerjasama lagi dengan pemerintah kolonial Belanda. Pengunduran diri Andi Mappamadeng tersebut hingga kini masih menjadi kontroversi, sebab Andi Mappamadeng Daeng Malette merupakan sepupu satu kali dari Sultan Daeng Radja. Pada waktu itu pula, Sultan Daeng Radja mendapat kepercayaan menjadi pegawai pada kantor Pengadilan Negeri (Landraad) Bulukumba.


Kembalinya Andi Sultan Daeng Radja ke Bulukumba, mendorong Dewan Hadat Gantarang (Adat Duapulua) mengadakan rapat memilih calon kepala adat. Rapat tersebut kemudian memutuskan Andi Sultan Daeng Radja menjadi Regen (Kepala Adat) Gantarang. Jabatan ini diembannya hingga pemerintahan Belanda menyatakan pengakuannya atas kedaulatan Republik Indonesia. Pada tahun 1930, Andi Sultan Daeng Radja mendapat kehormatan menjadi Jaksa pada Landraad Bulukumba.

[16/7 09.39] rudysugengp@gmail.com: 2. Buatkan gambar dan infografis tentang 

Perjuangan Haji Andi Sultan Daeng Raja


Riwayat Perjuangan :


Andi Sultan Daeng Radja berjuang menentang penjajahan kolonial Belanda dimulai sejak masih menjadi siswa di Opleiding School Voor Indlandsche Ambtenar (OSVIA) di Makassar. Ketidaksukaan Sultan Daeng Radja terhadap pemerintah kolonial dipicu oleh kesewenangan dan penindasan yang dilakukan Pemerintah Belanda terhadap rakyat Bulukumba.


Semangat untuk membela rakyat dan bangsa Indonesia yang terpateri dalam jiwa Sultan Daeng Radja, semakin berkobar saat dia aktif mengikuti perkembangan dan pertumbuhan organisasi kebangsaan yang muncul di Pulau Jawa seperti Budi Utomo dan Serikat Dagang Islam yang didirikan sebagai wadah perjuangan melawan penjajahan kolonial Belanda.


Semangat Sultan Daeng Radja untuk membebaskan bangsanya dari penjajahan, membuat dia secara diam-diam mengikuti Kongres Pemuda Indonesia pada tanggal 28 Oktober 1928 yang kemudian dikenal dengan nama Sumpah Pemuda. Sepulang mengikuti kongres ini, tekad Sultan Daeng Radja semakin berkobar untuk mengusir kolonial Belanda dari Indonesia.


Bersama Dr. Sam Ratulangi dan Andi Pangerang Pettarani, Andi Sultan Daeng Radja diutus sebagai wakil Sulsel mengikuti rapat Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) di Jakarta. PPKI adalah badan yang bekerja mempersiapkan kemerdekaan Republik Indonesia tanggal 17 Agustus 1945.


Masa Kemerdekaan Indonesia :


Usai mengikuti rapat PPKI, Sultan Daeng Radja, langsung pulang ke Bulukumba untuk memberi penjelasan kepada rakyatnya mengenai hasil rapat PPKI dan menyusun rencana dalam rangka menindaklanjuti persitiwa bersejarah kemerdekaan RI. Kabar kemerdekaan RI yang disampaikan Sultan Daeng Radja, disambut rasa haru dan gembira oleh seluruh rakyat Bulukumba.


Akhir Agustus 1945, Sultan Daeng Radja mengusulkan pembentukan organisasi Persatuan Pergerakan Nasional Indonesia (PPNI). Organisasi ini, dipimpin Andi Panamun dan Abdul Karim. PPNI dibentuk sebagai wadah menghimpun pemuda dalam rangka mengamankan dan membela Negara Indonesia.


Beberapa hari setelah kemerdekaan RI 17 Agustus 1945, tentara sekutu mendarat di Indonesia termasuk di Bulukumba. Kehadiran tentara sekutu, diboncengi tentara Belanda lengkap dengan pemerintahan sipil yang disebut Nederlands Indisch Civil Administration (NICA). Kehadiran NICA sama halnya kehadiran tentara Jepang yaitu ingin menjajah Indonesia. Setelah Proklamasi Kemerdekaan RI 17 Agustus 1945, pemerintah NICA kemudian menuduh Andi Sultan Daeng Radja terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan RI sehingga ia tidak lagi digunakan sebagai pemerintah.


Sepak terjang Andi Sultan Daeng Radja sebelum kemerdekaan RI dan sesudah kemerdekaan dalam memperjuangkan kemerdekaan RI, ternyata membuat khawatir NICA. Apalagi, Sultan Daeng Radja menyatakan tidak bersedia bekerjasama dengan NICA. Tanggal 2 Desember 1945 NICA menangkap Andi Sultan Daeng Radja di kediamannya, Kampung Kasuara, Gantarang.


Andi Sultan Daeng Radja kemudian dibawa ke Makassar untuk ditahan. Pemerintah kolonial berharap, penangkapan Sultan Daeng Radja akan mematikan perlawanan rakyat Bulukumba. Namun, yang terjadi malah sebaliknya. Penangkapan dia semakin membangkitkan perlawanan rakyat Bulukumba terhadap NICA.


Para pejuang Bulukumba, kemudian membentuk organisasi perlawanan bersenjata yang dinamakan Laskar Pemberontak Bulukumba Angkatan Rakyat (PBAR) yang dipimpin Andi Syamsuddin. Dalam organisasi PBAR, Andi Sultan Daeng Radja didudukkan sebagai Bapak Agung. Meski dipenjara, seluruh kegiatan PBAR dipantau oleh Sultan Daeng Radja. Melalui keluarga yang menjenguknya, Sultan Daeng Radja memberi perintah kepada Laskar PBAR.


NICA kemudian menahan dan mengasingkan Sultan Daeng Radja ke Menado, Sulawesi Utara. Tanggal 8 Januari 1950, setelah Konferensi Meja Bundar (KMB) dan pengakuan kedaulatan RI oleh Pemeritah Belanda, Sultan Daeng Radja kemudian dibebaskan oleh Belanda dan kembali ke Bulukumba. Pada 1 Juli 1950 Andi Sultan Daeng Radja mundur dari jabatannya sebagai Kepala Adat Gantarang dan digantikan oleh putranya Andi Sappewali Andi Sultan. Setelah lima tahun di penjara di Makassar, pada tanggal 17 Maret 1949, pengadilan kolonial kemudian mengadili dan memvonis Sultan Daeng Radja dengan hukuman pengasingan ke Menado, Sulawesi Utara hingga 8 Januari 1950.


Kesimpulan Jejak Perjuangan Haji Andi Sultan Daeng Raja


Sumpah Pemuda (1928): 

Beliau aktif dalam pergerakan nasional sejak masa sekolah di OSVIA. Beliau menjadi salah satu pemuda utusan dari Sulawesi Selatan yang menghadiri Kongres Pemuda II di Batavia yang melahirkan ikrar Sumpah Pemuda.


Keanggotaan PPKI (1945): 

Menjelang kemerdekaan, beliau ditunjuk sebagai salah satu delegasi resmi dari Sulawesi bersama Sam Ratulangi dan Andi Pangerang Pettarani untuk menjadi anggota PPKI. Beliau turut hadir dalam perumusan teks proklamasi di Jakarta.


Penyebaran Berita Proklamasi: 

Segera setelah proklamasi dibacakan, beliau kembali ke Sulawesi Selatan untuk mengabarkan berita kemerdekaan Indonesia kepada masyarakat setempat, yang kemudian memicu semangat perlawanan rakyat terhadap kembalinya penjajah.Perlawanan terhadap NICA: Ketika pasukan Sekutu mendarat dengan diboncengi tentara NICA (Belanda), mereka membujuk Andi Sultan Daeng Raja untuk bekerja sama. Beliau menolaknya dengan sangat tegas.


Penjara dan Pengasingan: 

Akibat pembangkangannya, beliau ditangkap oleh tentara Sekutu pada tanggal 2 Desember 1945. Beliau dipenjara selama lima tahun di Makassar sebelum akhirnya diasingkan oleh pengadilan kolonial ke Manado, Sulawesi Utara hingga tahun 1950.


Perjuangan di Balik Jeruji: 

Meski berada di dalam penjara, beliau tetap diangkat menjadi penasihat atau "Bapak Agung" oleh Laskar Pemberontak Bulukumba Angkatan Rakyat (PBAR). Beliau mengirimkan perintah perjuangan secara sembunyi-sembunyi melalui pihak keluarga yang menjenguknya.

[16/7 09.39] rudysugengp@gmail.com: 3. Buatkan gambar dan infografis tentang 

Akhir Hayat dan Penghargaan Haji Andi Sultan Daeng Raja


Setelah mundur dari jabatannya selaku Kepala Adat Gantarang, Menteri Dalam Negeri berdasarkan Surat Keputusan tertanggal 11 Juni 1951 mengangkatnya menjadi bupati pada kantor Gubernur Sulsel. Tanggal 4 April 1955, dia ditugaskan sebagai Bupati Daerah Bantaeng dan diangkat menjadi pegawai negeri tetap.


Tahun 1956, Sultan Daeng Radja diangkat menjadi residen diperbantukan pada Gubernur Sulsel sesuai keputusan presiden. Setahun kemudian dia diangkat menjadi Anggota Konstituante mewakili Fraksi Partai Masyumi.

Andi Sultan Daeng Radja wafat pada 17 Mei 1963 di Rumah Sakit Pelamonia Makassar dalam usia 70 tahun. Semasa hidupnya, Andi Sultan Daeng Radja memiliki empat istri dan 13 anak.


Perjuangan Andi Sultan Daeng Radja dalam melawan penjajahan di Indonesia, akhirnya mendapat penghargaan tinggi dari Pemerintah Indonesia. Berdasarkan Keputusan Presiden RI No. 085/TK/Tahun 2006 tertanggal 3 November 2006, Presiden SBY menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional dan Tanda Kehormatan Bintang Mahaputera Adipradana kepada Andi Sultan Daeng Radja, di Istana Negara pada tanggal 9 November 2006.

[16/7 13.24] rudysugengp@gmail.com: 1. Buatkan gambar dan infografis tentang 

Kehidupan Awal Adenan Kapau Gani


Adnan Kapau Gani atau yang lebih dikenal A.K. Gani (16 September 1905 – 23 Desember 1968) adalah seorang dokter, politikus, aktor, dan tokoh militer Indonesia. Ia pernah menjabat sebagai Wakil Perdana Menteri pada Kabinet Amir Sjarifuddin I dan Kabinet Amir Sjarifuddin II.


Informasi pribadi :


Lahir :

16 September 1905

Palembayan, Agam, Hindia Belanda

Meninggal :

23 Desember 1968 (umur 63)

Palembang, Sumatera Selatan, Indonesia

Makam :

Taman Makam Pahlawan Ksatria Ksetra Siguntang

Istri :

Masturah Kapau Gani

Almamater :

Geneeskundige Hoogeschool te Batavia

School tot Opleiding van Inlandsche Artsen

Profesi :

Dokter

Politikus

Penghargaan sipil :

Pahlawan Nasional Indonesia (2007)

Karier militer :

Dinas/cabang

 TNI Angkatan Darat

Pangkat :

 Mayor Jenderal TNI


Latar belakang :


A.K. Gani lahir di Palembayan, Sumatera Barat, pada tanggal 16 September 1905.

Ia terlahir sebagai putra ranah minang. Ayahnya adalah seorang guru di Sekolah Rakyat yang bernama Abdul Gani Sutan Mangkuto dan ibunya bernama Rabayah, tetapi meninggal tahun 1915 di Sugihwaras. Setelah ibunya meninggal, ayahnya menikah lagi dengan Aminatul Habibi yang berasal dari Sungai Taleh, Palembayan. Ibu sambung inilah yang mengasuh AK. Gani dan keempat saudara kandungnya, yaitu Rohana (kakak wanita) dan adik-adiknya (Anwar, Masri dan Siti Mahyar). Kemudian dari ibu sambungnya, AK. Gani mempunyai delapan saudara. Ia menyelesaikan pendidikan awalnya di Bukittinggi pada tahun 1923. Kemudian ia pergi ke Batavia untuk menempuh pendidikan menengah dan mengambil sekolah kedokteran. Adnan meneruskan ke sekolah tinggi kedokteran STOVIA di Jakarta. Sayangnya, sekolah ini pada 1927 ditutup, sehingga Adnan harus melanjutkan sekolah ke AMS (setingkat SMA zaman Belanda) hingga lulus pada 1928. Setahun kemudian, Adnan masuk Sekolah Tinggi Kedokteran GHS (Geneeskundige Hoge School) Jakarta, dan baru lulus pada 1940.

[16/7 13.24] rudysugengp@gmail.com: 2. Buatkan gambar dan infografis tentang 

Perjuangan Adenan Kapau Gani


Kehidupan :


Para pengurus Jong Sumatranen Bond. Duduk di tengah Mohammad Yamin (ketua) dan di paling kiri A.K. Gani (sekretaris)

Sejak remaja Gani aktif dalam kegiatan politik dan organisasi sosial. Pada era 1920-an, ia giat di berbagai organisasi kedaerahan seperti Jong Sumatranen Bond dan Jong Java dari tahun 1923 sempat memegang jabatan sebagai seketaris pada tahun 1927-1929 ditemani oleh Muhammad Yamin.


Pada tahun 1928 ia terlibat dalam Kongres Pemuda II di Jakarta. Pada tahun 1931 ia bergabung dengan Partindo, yang telah memisahkan diri dari Partai Nasional Indonesia tak lama setelah penangkapan Soekarno oleh pemerintah kolonial.


Adnan Kapau Gani dan Djoewariah dalam film Asmara Moerni

Pada tahun 1941, Gani membintangi sebuah film yang berjudul Asmara Moerni dan berpasangan dengan Djoewariah. Film ini disutradarai Rd. Ariffien dan diproduksi oleh The Union Film Company. Meskipun sebagian kalangan menganggap keterlibatan Gani dalam film telah menodai gerakan kemerdekaan, tetapi ia menganggap perlu untuk meningkatkan kualitas film lokal. Meski mendapat kritikan, film satu-satunya itu sukses secara komersial.


Setelah pendudukan Jepang di Indonesia pada tahun 1942, Gani menolak untuk berkolaborasi. Oleh karena itu ia ditangkap pada bulan September 1943 hingga bulan Oktober tahun berikutnya.


Pemerintahan :


Gani pada 3 Oktober 1946 (umur 41)

Setelah proklamasi dan selama masa revolusi fisik, Gani memperoleh kekuasaan politik dengan bertugas di kemiliteran. Pada tahun 1945, ia menjadi komisaris PNI dan Residen Sumatera Selatan. Dia juga mengoordinasikan usaha militer di provinsi itu. Gani menilai Palembang sebuah lokomotif ekonomi yang layak untuk bangsa yang baru merdeka. Dengan alasan, bahwa dengan minyak Indonesia bisa mengumpulkan dukungan internasional. Ia merundingkan penjualan aset-aset pihak asing, termasuk perusahaan milik Belanda Shell. Gani juga terlibat dalam penyelundupan senjata dan perlengkapan militer. Beberapa koneksinya di Singapura, banyak membantu dalam tugas ini.


Sejak 2 Oktober 1946 hingga 27 Juni 1947, Gani menjabat sebagai Menteri Kemakmuran pada Kabinet Sjahrir III. Ketika menjabat sebagai Menteri Kemakmuran, ia bersama dengan Sutan Sjahrir dan Mohammad Roem menjabat sebagai delegasi Indonesia ke sidang pleno ketiga Perjanjian Linggarjati. Dia juga bekerja untuk membangun jaringan nasional perbankan serta beberapa organisasi perdagangan.


Setelah jatuhnya Kabinet Sjahrir, ia bersama Amir Sjarifuddin dan Setyadjit Soegondo menerima mandat untuk membentuk formatur kabinet baru. Dalam kabinet tersebut, ia menjabat sebagai Wakil Perdana Menteri sekaligus Menteri Kemakmuran. Gani adalah anggota kabinet pertama yang ditangkap pada masa Agresi Militer Belanda I, tetapi kemudian ia dibebaskan. Dalam Kabinet Amir Sjarifuddin II, ia juga duduk pada posisi yang sama hingga kejatuhan kabinet ini pada tanggal 29 Januari 1948.


Setelah revolusi berakhir pada tahun 1949, Gani menjadi Gubernur Militer Sumatera Selatan. Pada tahun 1954, ia diangkat menjadi rektor Universitas Sriwijaya di Palembang. Ia tetap aktif dan tinggal di Sumatera Selatan hingga ia wafat pada tanggal 23 Desember 1968.


Ringkasan Perjuangan :

Sumpah Pemuda (1928): 

Sebagai tokoh pemuda terpelajar, ia terlibat langsung dalam ⁠Kongres Pemuda II yang melahirkan ikrar Sumpah Pemuda, serta menjadi anggota Komisi Besar Indonesia Muda.


Perjuangan Bersenjata & Perang 5 Hari 5 Malam: 

Selepas kemerdekaan, ia menetap di Palembang dan memimpin perjuangan militer. Atas keberaniannya, ia ditunjuk sebagai Residen Palembang sekaligus Gubernur Militer Sumatera Selatan. Di bawah komandonya, pasukan Indonesia dengan gigih mempertahankan wilayah dari gempuran Belanda, termasuk memimpin perlawanan dalam peristiwa bersejarah ⁠Perang 5 Hari 5 Malam di Palembang.


Diplomasi & Pemerintahan: 

Selain bergerilya, A.K. Gani sangat piawai dalam diplomasi ekonomi untuk mencari dukungan internasional dan mengamankan pasokan logistik Republik Indonesia. Kiprah politiknya membawanya menduduki jabatan penting tingkat nasional seperti Menteri Kemakmuran dan Menteri Perhubungan. Selama menjabat di kabinet, ia menjadi anggota kabinet pertama yang ditangkap oleh Belanda saat Agresi Militer Belanda I akibat sikap tegasnya.

[16/7 13.24] rudysugengp@gmail.com: 3. Buatkan gambar dan infografis tentang 

Akhir Hayat dan Penghargaan Adenan Kapau Gani


Akhir Hayat :

dr. A.K. Gani wafat di Rumah Sakit Charitas Palembang pada 23 Desember 1968 dalam usia 63 tahun dan jenazahnya dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Ksatria Ksetra Siguntang, Palembang.

Gani meninggalkan seorang istri Masturah, dan tidak mempunyai anak hingga akhir hayatnya.


Penghargaan 

Gelar dan Tanda Kehormatan


Untuk mengenang jasa-jasanya, pada tanggal 9 November 2007 Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memberikan gelar Pahlawan Nasional Indonesia kepada Adnan Kapau Gani. Gelar ini diterimanya bersama dengan Slamet Rijadi, Ida Anak Agung Gde Agung, dan Moestopo berdasarkan surat Keputusan Presiden Nomor 066/TK/2007. Selain itu namanya juga diabadikan sebagai nama rumah sakit di Palembang yaitu Rumah Sakit dr. A.K. Gani dan nama ruas jalan beberapa kota di Indonesia. Terdapat juga Museum dr. A.K. Gani yang terletak di Kota Palembang.


Adnan Kapau Gani juga dianugerahi berbagai tanda kehormatan. 


* "Bintang Gerilya" emas 24 karat dan gelar "Pemimpin Gerilya Agung" dari Dewan Perwakilan Rakyat Sumatera Selatan, pada Februari 1950.

* Piagam Penghargaan dari Kepala Staf Angkatan Darat.

* Gelar Kehormatan Veteran "Pejuang Kemerdekaan Republik Indonesia" golongan "A" dengan Masa Bakti 4 tahun 4 bulan, NPV. 6.001.620.

* Piagam penghargaan dan Medali Perjuangan Angkatan 45 dari Ketua Umum Dewan Harian Nasional.

* Bintang Mahaputera Adipradana  Agustus 1995)

* Bintang Gerilya Satyalancana G.O.M I 

* Satyalancana G.O.M II


Filmografi :

Tahun 1941, Peran : Asmara Moerni, Catatan : dr. Pardi

[16/7 14.19] rudysugengp@gmail.com: 1. Buatkan gambar dan infografis tentang 

Kehidupan Awal Ide Anak Agung Gde Agung


Informasi pribadi

Lahir :

24 Juli 1921, Gianyar, Keresidenan Bali dan Lombok, Hindia Belanda

Meninggal :

22 April 1999 (umur 77), Gianyar, Bali, Indonesia

Anak :

Anak Agung Gde Agung

Orang tua :

Ide Anak Agung Ngurah Agung (ayah)


Masa Muda :


Ide Anak Agung Gde Agung lahir di Gianyar, Bali, 24 Juli 1921


Ia mengawali pendidikan sekolahnya di Hollandsc Inlandsche School atau setingkat sekolah dasar.  Kemudian, ia melanjutkan pendidikan di Meer Uitgebreid Lagere Onderwijs (MULO) atau setingkat SMP. Setelah lulus dari MULO, Ide Anak Agung Gde Agung melanjutkan sekolah di Algemeene Lagere atau SMA. Setelah itu, ia bersekolah di sekolah tinggi hukum dan mendapat gelar Sarjana Hukum di Rechts Hoge School.


Ide Anak Agung Gde Agung merupakan anak pertama dari empat bersaudara dari Dr. Ida Anak Agung Gde Agung, tokoh yang pernah menjabat sebagai Menteri Dalam Negeri dan Luar Negeri pada masa pemerintahan presiden pertama Indonesia, Ir. Sukarno.


Secara hirarki, dirinya merupakan pewaris langsung tahta Kerajaan Gianyar meskipun dirinya lebih senang disebut sebagai ‘kepala keluarga’ ketimbang raja.


Selain mendapat gelar Doktor dari Universitas Leiden, Anak Agung juga pernah mengenyam pendidikan di Universitas Harvard (USA) dan The Fletcher School of Law and Diplomacy (USA).


Ida Anak Agung Gde Agung adalah ahli sejarah dan tokoh politik Indonesia. Di Bali, beliau menjabat sebagai Raja Gianyar, menggantikan ayahnya, Anak Agung Ngurah Agung.

[16/7 14.19] rudysugengp@gmail.com: 2. Buatkan gambar dan infografis tentang 

Perjuangan Ide Anak Agung Gde Agung


Ide Anak Agung Gde Agung memiliki nilai perjuangan patriotik melalui jalur diplomasi. Memang, diakui selama ini banyak salah kaprah, menganggap sang pahlawan adalah pro kepada Belanda.


Padahal apa yang dilakukan merupakan jalur diplomasi yang juga sangat merugikan Belanda, sama halnya seperti perjuangan fisik. “Saat ini warga condongnya hanya melihat perjuangan fisik, padahal antara fisik dan diplomasi sama pentingnya.


Ide Anak Agung Gde Agung, sambungnya, dipercaya tokoh-tokoh nasional untuk membantu diplomasi, dengan jabatannya sebagai Perdana Menteri Negara Indonesia Timur (NIT). Langkah-langkahnya dipercaya untuk mendekati pihak Belanda, terutama Hubertus Johannes van Mook, Gubernur Jendral Hindia Belanda terakhir setelah Jepang menduduki Indonesia.


Van Mook yang ditugaskan Ratu Belanda untuk memimpin Hindia Belanda memiliki peran sentral yang penting. Akhirnya diplomasi Ide Anak Agung Gde Agung membuat dia dipercaya melakukan langkah-langkah yang mungkin menguntungkan pihak Belanda. “Namun, Van Mook ini tidak tahu bahwa Ide Anak Agung Gde Agung memiliki visi yang sama dengan Ir. Soekarno, Hatta, dan kawan-kawan.


Melalui kepercayaan ini, Ide Anak Agung Gde Agung membentuk BFO (Bijeenkomst voor Federal Overleg), perkumpulan negara ciptaan Belanda. Karena Belanda menciptakan negara federal, di sini kecerdikan Ide Anak Agung Gde Agung. Agar bisa sering bertemu dengan pemimpin negara federal, maka dibentuklah BFO sampai terselenggaranya konferensi antar-Indonesia.


Munculnya Konferensi Antar-Indonesia ini di luar skenario Van Mook, dan dia baru sadar Ide Anak Agung Gde Agung satu visi dengan Soekarno, Hatta, Sutan Sjahrir, Sultan Hamengkubuwono IX dan kawan-kawannya. Ratu Belanda jadi tidak percaya dengan Van Mook, dan akhirnya dipecat.


Sejak itu, Ide Anak Agung Gde Agung bersama kawan-kawan membentuk panitia melaksanakan Konferensi Meja Bundar (KMB). Karena sejak 1945 kedaulatan Indonesia belum diterima, melalui KMB tahun 1949, kedaulatan diserahkan Ratu Belanda.

[16/7 14.19] rudysugengp@gmail.com: 3. Buatkan gambar dan infografis tentang 

Akhir Hayat Penghargaan, dan Karya Ide Anak Agung Gde Agung


Pengakuan perjuangan Ide Anak Agung Gde Agung kali pertama dianugerahi Bintang Mahaputra Adipradana oleh Presiden Soeharto tahun 1995. 


Pahlawan Nasional :

Pada tanggal 6 November 2007 berdasarkan Keputusan Presiden RI Nomor 068/TK/Tahun 2007 almarhum dianugerahi gelar Pahlawan Nasional oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Keputusan tersebut menimbulkan pro-kontra dari beberapa pihak yang menganggap Anak Agung sebagai oportunis dan musuh Republik. Sepak-terjangnya pada masa perjuangan kemerdekaan melawan penjajah dinilai menghancurkan perjuangan republikan.


Spirit yang perlu teladani, jelasnya, adalah selalu menganjurkan memajukan pendidikan. Budaya Puri Agung Gianyar selalu memajukan pendidikan, sampai putri zaman kerajaan, yang dulu tidak boleh keluar puri, Raja menyekolahkan sampai ke Amerika, yakni Anak Agung Istri Muter, sampai mendapat gelar Phd. Selain itu juga penanaman disiplin dan konsisten.


Nama Jalan :

Nama Dr. Mr. Ide Anak Agung Gde Agung diabadikan menjadi nama jalan di wilayah Mega Kuningan, Jakarta yang merupakan kantor 20 konsulat jenderal dari negara sahabat. Ide Anak Agung Gde Agung putra asli Gianyar, Bali yang namanya dikenang sebagai Pahlawan Nasional melalui jalur perjuangan diplomasi. 


Karyanya :

* Agung, Ide Anak Agung Gde (1973). Twenty years Indonesian foreign policy 1945-1965 (dalam bahasa Inggris). The Hague: Mouton.

* Agung, Ide Anak Agung Gde (1993). Kenangan masa lampau: zaman kolonial Hindia Belanda dan zaman pendudukan Jepang di Bali. Yayasan Obor Indonesia. ISBN 978-979-461-156-2.

* Agung, Ide Anak Agung Gde (1995). Persetujuan Linggajati: prolog & epilog. Yayasan Pustaka Nusatama bekerja sama dengan Sebelas Maret University Press. ISBN 978-979-8628-22-1.

* Agung, Ide Anak Agung Gde (1996) [1995]. From the Formation of the State of East Indonesia Towards the Establishment of the United States of Indonesia (dalam bahasa Inggris). Diterjemahkan oleh Linda Owens. Yayasan Obor. ISBN 979-461-216-2.

[16/7 18.21] rudysugengp@gmail.com: 1. Buatkan gambar dan infografis tentang 

Biodata dan Kehidupan Awal

Mustopo 


Informasi pribadi

Lahir : 13 Juni 1913, Ngadiluwih, Kediri, Hindia Belanda

Meninggal : 29 September 1986 (umur 73), Bandung, Jawa Barat, Indonesia

Pekerjaan : Dokter gigi, pendiri Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama)


Lahir di Kediri, Jawa Timur, Moestopo pindah ke Surabaya untuk menempuh pendidikan di Sekolah Kedokteran Gigi di sana. Pekerjaannya sebagai dokter gigi terhenti pada tahun 1942 ketika Jepang menduduki Indonesia dan Moestopo ditangkap oleh Kempeitai karena dianggap mencurigakan. Setelah dibebaskan, ia menjadi dokter gigi untuk Jepang tetapi akhirnya memutuskan mengikuti pelatihan sebagai perwira militer. Setelah lulus dengan predikat cum laude, Moestopo ditugaskan memimpin pasukan Pembela Tanah Air (PETA) di Sidoarjo; ia kemudian dipromosikan menjadi komandan pasukan di Gresik.

[16/7 18.21] rudysugengp@gmail.com: 4. Buatkan gambar dan infografis tentang 

Karier Usai Pertempuran Surabaya 

Mustopo 


Pasukan Terate :

Pada Februari 1946, ketika tentara Belanda telah kembali ke Jawa, ia pergi ke Yogyakarta untuk bekerja sebagai pendidik militer, ia mengajar beberapa saat di akademi militer di sana. Pada pertengahan 1946 Moestopo dikirim ke Subang, di mana dia memimpin Pasukan Terate. Selain dari pasukan militer reguler, Pasukan Terate di bawah Moestopo juga beranggotakan legiun pencopet dan pelacur yang diberi tugas menyebarkan kebingungan dan mengadakan pasokan dari belakang garis Belanda. Moestopo juga menjabat sebagai pendidik politik bagi pasukan militer di Subang. Pada Mei 1947, setelah menjalani periode sebagai kepala Biro Perjuangan di Jakarta, ia dipindahkan ke Jawa Timur setelah terluka dalam pertempuran dengan pasukan Belanda.


Kehidupan lanjut :


Setelah perang, Moestopo pindah ke Jakarta, di mana dia menjabat sebagai Kepala Bagian Bedah Rahang di Rumah Sakit Angkatan Darat (sekarang RSPAD Gatot Subroto Militer). Pada tahun 1952, Moestopo mulai melatih dokter gigi lain di rumahnya saat tidak bertugas. Ia memberikan pelatihan dasar dalam kebersihan, gizi, dan anatomi. Di saat yang sama, ia dipertimbangkan untuk menjabat posisi Menteri Pertahanan dalam Kabinet Wilopo, tetapi akhirnya ia tidak terpilih, bahkan ia memimpin serangkaian demonstrasi menentang sistem parlementer.


Moestopo melegalkan kursus kedokteran gigi rumahnya pada tahun 1957, dan pada tahun 1958 - setelah pelatihan di Amerika Serikat - ia mendirikan Dr Moestopo Dental College, yang terus dikembangkannya sampai menjadi sebuah universitas pada 15 Februari 1961. Pada tahun yang sama, ia menerima gelar doktor dari Universitas Indonesia.

[16/7 18.22] rudysugengp@gmail.com: 3. Buatkan gambar dan infografis tentang 

Pertempuran Surabaya melawan Sekutu (Inggris) Mustopo


Pertempuran Surabaya


Setelah akhir Perang Dunia II, pada 17 Agustus 1945 Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya, Moestopo mengendalikan kekuatan militer yang baru di Surabaya dan melucuti pasukan Jepang dengan hanya dipersenjatai bambu runcing. Pada bulan Oktober tahun itu ia menyatakan dirinya sebagai pejabat sementara Menteri Pertahanan. Pada tanggal 25 Oktober tahun itu, Brigade Infanteri India ke-49 di bawah komando Brigadir Aubertin Walter Sothern Mallaby tiba di Surabaya. Mallaby mengirim petugas intelijennya, Kapten Macdonald, untuk bertemu dengan Moestopo. Menurut laporan Macdonald, Moestopo sangat keberatan atas kedatangan pasukan Inggris di Surabaya.


Ketika pihak Inggris kemudian menemui Gubernur Jawa Timur Soerjo untuk mencari respon yang lebih positif. Para utusan Inggris, yaitu Macdonald dan seorang perwira angkatan laut, mengabarkan bahwa Moestopo menginginkan mereka ditembak saat mereka datang. Akan tetapi, Soeryo menerima deklarasi Inggris bahwa mereka datang dalam damai, ia hanya menolak menemui Mallaby di kapal HMS Waveney. Pasukan Inggris mendarat di Surabaya pada sore hari itu, kemudian Moestopo bertemu dengan Kolonel Pugh. Pugh menekankan bahwa Inggris tidak berniat untuk mengembalikan kekuasaan Belanda, dan Moestopo setuju untuk bertemu dengan Mallaby keesokan harinya.


Pada pertemuan tersebut, Moestopo dengan enggan menyetujui pelucutan pasukan Indonesia di Surabaya. Namun, suasana segera memburuk. Sore itu, Moestopo mungkin telah dipaksa Mallaby membebaskan kapten Belanda Huijer. 

Pada tanggal 27 Oktober, pesawat Douglas C-47 Skytrain dari ibu kota Batavia (saat ini Jakarta) menjatuhkan serangkaian pamflet yang ditandatangani oleh Jenderal Douglas Hawthorn yang menuntut pasukan Indonesia menyerahkan senjata mereka dalam waktu 48 jam atau dieksekusi. 

Karena ini bertentangan dengan kesepakatan dengan Mallaby, Moestopo dan sekutu-sekutunya tersinggung dengan tuntutan tersebut dan menolak untuk mengikuti permintaan Inggris.


Pertempuran di Surabaya pecah pada tanggal 28-30 Oktober setelah Moestopo mengatakan kepada pasukannya bahwa Inggris akan berusaha untuk melucuti paksa mereka, puncak pertempuran ditandai dengan kematian Jendral Mallaby. 

Pihak Inggris kemudian meminta Presiden Soekarno untuk menengahi. Presiden Soekarno mengangkat Moestopo sebagai penasihat dan memerintahkan pasukan Indonesia untuk menghentikan pertempuran. Moestopo yang tidak mau melepaskan kendali atas pasukannya, memilih untuk pergi ke Gresik.


Selama berada di Surabaya, pada masa Revolusi Nasional Indonesia, Moestopo melakukan negosiasi dengan pasukan ekspedisi Inggris yang dipimpin oleh Brigadir Aubertin Walter Sothern Mallaby. Ketika hubungan memburuk dan Presiden Soekarno dipanggil ke Surabaya untuk memperbaikinya, Moestopo ditawari pekerjaan sebagai penasihat tetapi menolaknya. 

Selama perang, ia menjabat beberapa posisi lain, termasuk memimpin skuadron tentara reguler, pencuri, dan pekerja seks untuk menyebarkan kekacauan di barisan pasukan Belanda.

[16/7 18.24] rudysugengp@gmail.com: 2. Buatkan gambar dan infografis tentang 

Perjuangan sebagai Dokter Gigi dan Era Jepang

Mustopo 


Kehidupan awal dan kedokteran gigi


Moestopo lahir di Ngadiluwih, Kediri, Hindia Belanda pada tanggal 13 Juli 1913. Dia adalah anak keenam dari delapan anak Raden Koesoemowinoto. Setelah sekolah dasarnya, Moestopo pergi ke Sekolah Kedokteran Gigi (STOVIT) di Surabaya. Pendidikannya awalnya dibayar oleh kakak-kakaknya, Moestopo kemudian berjualan beras untuk membiayai pendidikan universitas. Setelah mengambil pendidikan lanjutan di Surabaya dan Yogyakarta, pada tahun 1937 ia menjadi asisten dokter gigi di Surabaya. Pada tahun 1941-1942, ia menjadi asisten direktur STOVIT.


Pendudukan Jepang :


Ketika Jepang menduduki Indonesia pada tahun 1942 Moestopo ditangkap oleh Kempeitai karena dicurigai sebagai orang Indo (campuran Eropa dan Indonesia); kecurigaan ini didasarkan pada perawakan besar Moestopo. 

Namun, ia segera dibebaskan, dan setelah melayani sebagai dokter gigi militer bagi Jepang, ia menerima pelatihan militer di Bogor. 

Satu angkatan dengan calon jenderal Sudirman dan Gatot Soebroto, ia selesai terbaik di kelasnya. Selama pelatihan, ia menulis sebuah makalah tentang penerapan militer senjata bambu runcing yang diberi kotoran kuda, dari makalah ini Moestopo menerima nilai tinggi.


Setelah lulus, Moestopo diberi komando pasukan PETA di Sidoarjo. Segera setelah itu, ia dipromosikan menjadi komandan pasukan pribumi Gresik dan Surabaya, ia adalah salah satu dari hanya lima orang Indonesia yang menerima promosi tersebut. Saat di Surabaya, ia menanggulangi naiknya tingkat pengangguran dengan mendirikan bengkel penghasil sabun dan sikat gigi. 

Ia sempat dilaporkan menyuruh anak buahnya untuk memberi kotoran kuda di bambu runcing untuk menyebarkan tetanus dan juga menyuruh mereka makan kucing untuk mendapatkan penglihatan malam yang lebih baik - konon kabarnya sisa-sisa kucing yang dimakan tersebut kemudian dikubur di pemakaman pahlawan.

[16/7 19.02] rudysugengp@gmail.com: 1. Buatkan gambar dan infografis tentang 

Biodata dan Kehidupan Awal Slamet Riyadi 


Informasi pribadi

Lahir : Soekamto, 26 Juli 1927, Surakarta, Hindia Belanda

Meninggal : 4 November 1950 (umur 23),  Ambon, Maluku, Indonesia

Orang tua :

Raden Ngabehi Prawiropralebdo (ayah)

Soetati (ibu)


Kehidupan awal :


Rijadi terlahir dengan nama Soekamto di Surakarta, Jawa Tengah, Hindia Belanda, pada tanggal 26 Juli 1927; ia adalah putra kedua dari pasangan Raden Ngabehi Prawiropralebdo, seorang perwira pada tentara Kasunanan, dan Soetati, seorang penjual buah. Saat Soekamto berusia satu tahun, ibunya menjatuhkannya; ia kemudian jadi sering sakit-sakitan. Untuk membantu menyembuhkan penyakitnya, keluarganya "menjualnya" dalam ritual tradisional suku Jawa kepada pamannya, Warnenhardjo; setelah ritual, nama Soekamto diganti menjadi Slamet. 

Meskipun setelah ritual secara formal ia adalah putra Warnenhardjo, Slamet tetap dibesarkan di rumah orangtuanya. 

Ia menganut agama Katolik, serta dikatakan bahwa sejak kecil Slamet menyukai 'tirakat' berpuasa dan hal-hal 'mistik'".


Slamet umumnya menempuh pendidikan di sekolah milik Belanda. 

Sekolah dasar dilaluinya di Hollandsch-Inlandsche Schooll Ardjoeno, sebuah sekolah swasta yang dimiliki dan dikelola oleh kelompok agamawan Belanda. 

Saat bersekolah di Sekolah Menengah Mangkoenegaran, ia memperoleh nama belakang Rijadi karena ada banyak siswa yang bernama Slamet di sekolah tersebut. Saat di sekolah menengah juga ayahnya kembali "membelinya" dari sang paman. 

Setelah tamat sekolah menengah dan saat Jepang menduduki Hindia Belanda pada tahun 1942, ia melanjutkan pendidikannya ke akademi pelaut di Jakarta. Setelah lulus, ia bekerja sebagai navigator di sebuah kapal laut.


Saat tidak bekerja di laut, Rijadi tinggal di sebuah asrama di dekat Stasiun Gambir, Jakarta Pusat, sesekali ia juga bertemu dengan para pejuang bawah tanah. Pada 14 Februari 1945, setelah Jepang mulai mengalami kekalahan dalam Perang Dunia II, Rijadi beserta rekannya sesama pelaut meninggalkan asrama mereka dan mengambil senjata; Rijadi pulang ke Surakarta dan mulai mendukung gerakan perlawanan di sana. 

Ia tidak ditangkap oleh polisi militer Jepang atau unit lainnya selama masa pendudukan, yang berakhir dengan kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945.

[16/7 19.28] rudysugengp@gmail.com: 2. Buatkan gambar dan infografis tentang 

Perjuangan Slamet Riyadi 


Setelah Jepang menyerah, Belanda berupaya untuk kembali menjajah Indonesia; karena tidak mau dijajah kembali, rakyat Indonesia-pun melawan balik. Rijadi memulai kampanye gerilya melawan Belanda dan dengan cepat memperoleh kenaikan pangkat. Ia bertanggung jawab atas Resimen 26 di Surakarta. Selama Agresi Militer Belanda I, yaitu serangan umum yang dilancarkan oleh Belanda pada pertengahan 1947, Rijadi memimpin pasukan Indonesia di beberapa daerah di Jawa Tengah, termasuk Ambarawa dan Semarang; ia juga memimpin pasukan penyisir di sepanjang Gunung Merapi dan Merbabu.


Pada bulan September 1948, Rijadi dipromosikan dan diserahi kontrol atas empat batalion tentara dan satu batalion tentara pelajar. 

Dua bulan kemudian, Belanda melancarkan serangan kedua, kali ini menyasar kota Yogyakarta, yang saat itu menjadi ibu kota negara. Meskipun Rijadi dan pasukannya melancarkan serangan terhadap tentara Belanda yang berusaha mendekati Solo melalui Klaten, tentara Belanda akhirnya berhasil memasuki kota. Dengan menerapkan kebijakan "berpencar dan menaklukkan", Rijadi mampu menghalau tentara Belanda dalam waktu empat hari.

Setelah itu, Rijadi dikirim ke Jawa Barat untuk melawan Angkatan Perang Ratu Adil bentukan Raymond Westerling.

[16/7 19.28] rudysugengp@gmail.com: 3. Buatkan gambar dan infografis tentang 

Menumpas RMS dan Akhir Hayat Slamet Riyadi


Tak lama setelah berakhirnya perang, Republik Maluku Selatan (RMS) mendeklarasikan kemerdekaannya dari Indonesia yang baru lahir. Rijadi dikirim ke garis depan pada tanggal 10 Juli 1950 sebagai bagian dari Operasi Senopati.

Untuk merebut kembali Pulau Ambon, Rijadi membawa setengah pasukannya dan menyerbu pantai timur, sedangkan sisanya ditugaskan untuk menyerang dari pantai utara. Meskipun pasukan kedua mengobarkan perlawanan dengan sengit, pasukan Rijadi mampu mengambil alih pantai tanpa perlawanan; mereka kemudian mendaratkan lebih banyak infanteri dan kendaraan lapis baja.


Pada tanggal 3 Oktober, pasukan Rijadi, bersama dengan Kolonel Alexander Evert Kawilarang, ditugaskan untuk mengambil alih ibu kota pemberontak di New Victoria. Rijadi dan Kawilarang memimpin tiga serangan; pasukan darat menyerang dari utara dan timur, sedangkan pasukan laut langsung diterjunkan di pelabuhan Ambon. Pasukan Rijadi merangsek mendekati kota melewati rawa-rawa bakau, perjalanan yang memakan waktu selama sebulan. Dalam perjalanan, tentara RMS yang bersenjatakan Jungle Carbine dan Owen Gun terus menembaki pasukan Rijadi, sering kali membuat mereka terjepit.


Tanggal 4 November 1950, saat sedang berusaha menumpas pemberontakan RMS di Gerbang Benteng Victoria, Ambon, pasukan Slamet Riyadi bertemu segerombolan pasukan yang bersembunyi di benteng tersebut dengan mengibarkan bendera merah putih. Melihat bendera tersebut, Riyadi memerintahkan pasukannya untuk menghentikan penyerangan karena ia yakin bahwa mereka adalah Tentara Siliwangi.


Namun dugaan Riyadi salah. Ternyata mereka adalah segerombolan pemberontakan RMS.  


Akhir Hidup 

Saat Slamet Riyadi keluar dari panser (kendaraan perang), ia langsung dihujani tembakan oleh para pasukan RMS. 


Slamet Riyadi pun wafat pada 4 November 1950, setelah perutnya tertembak di depan Gerbang Benteng Victoria di Kota Ambon. 


Setelah dilarikan ke rumah sakit kapal, Rijadi bersikeras untuk kembali ke medan pertempuran. 

Para dokter lalu memberinya banyak morfin dan berupaya untuk mengobati luka tembaknya, tetapi upaya ini gagal. 


Namun, di  Riyadi menghembuskan napas terakhirnya.


Rijadi gugur pada malam itu juga, atas kapal di perairan Tulehu, Maluku Tengah, dan pertempuran berakhir pada hari yang sama.


Jasad Slamet Riyadi dimakamkan di Tulehu, Ambon atas permintaan masyarakat setempat.

[16/7 19.28] rudysugengp@gmail.com: 4. Buatkan gambar dan infografis tentang 

Penghargaan Slamet Riyadi


Sejumlah tempat, jalan, dan benda dinamai untuk menghormati Riyadi. Sebuah jalan utama sepanjang 58-kilometer (36 mi) di Surakarta dinamakan sesuai nama sang brigadir jenderal. 


KRI Slamet Riyadi, sebuah fregat yang dikatakan sebagai salah satu kapal tercanggih yang dimiliki oleh TNI Angkatan Laut, juga dinamai menurut namanya, begitu juga dengan sebuah universitas di Surakarta dan Yayasan Pendidikan Katolik Slamet Riyadi.


Pada 9 November 2007, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menganugerahi Rijadi gelar Pahlawan Nasional Indonesia; ia dikukuhkan sebagai pahlawan bersama dengan Adnan Kapau Gani, Ida Anak Agung Gde Agung, dan Moestopo, berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 66 Tahun 2007.


Untuk menghargai jasa perjuangannya, dibangunlah Monumen Slamet Riyadi di Surakarta, kota kelahirannya.


Monumen Slamet Riyadi diresmikan pada 12 November 2007 oleh Kasad Jenderal TNI Joko Santoso.

[16/7 23.25] rudysugengp@gmail.com: 1. Buatkan gambar dan infografis tentang 

Kehidupan Awal Mohammad Natsir


Mohammad Natsir dilahirkan di Alahan Panjang, Lembah Gumanti, Solok pada 17 Juli 1908 dari pasangan Mohammad Idris Sutan Saripado dan Khadijah. Pada masa kecilnya, yang Natsir sekeluarga hidup di rumah Sutan Rajo Ameh, seorang saudagar kopi yang terkenal di sana. Oleh pemiliknya, rumah itu dibelah menjadi kedua bagian: pemilik rumah beserta keluarga tinggal di bagian kiri dan Mohammad Idris Sutan Saripado tinggal di sebelah kanannya. Ia memiliki 3 orang saudara kandung, masing-masing bernama Yukinan, Rubiah, dan Johanizoen. Jabatan terakhir ayahnya adalah sebagai pegawai pemerintahan di Alahan Panjang, sedangkan kakeknya merupakan seorang ulama. Ia kelak menjadi pemangku adat untuk kaumnya yang berasal dari Maninjau, Tanjung Raya, Agam dengan gelar Datuk Sinaro nan Panjang.


Natsir mulai mengenyam pendidikan di Sekolah Rakyat Maninjau selama dua tahun hingga kelas dua, kemudian pindah ke Hollandsch-Inlandsche School (HIS) Adabiyah di Padang.

Setelah beberapa bulan, ia pindah lagi ke Solok dan dititipkan di rumah saudagar yang bernama Haji Musa. Selain belajar di HIS di Solok pada siang hari, ia juga belajar ilmu agama Islam di Madrasah Diniyah pada malam hari.

Tiga tahun kemudian, ia kembali pindah ke HIS di Padang bersama kakaknya. Pada tahun 1923, ia melanjutkan pendidikannya di Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) lalu ikut bergabung dengan perhimpunan-perhimpunan pemuda seperti Pandu Nationale Islamietische Pavinderij dan Jong Islamieten Bond. Setelah lulus dari MULO, ia pindah ke Bandung untuk belajar di Algemeene Middelbare School (AMS) hingga tamat pada tahun 1930.

Dari tahun 1928 sampai 1932, ia menjadi ketua Jong Islamieten Bond (JIB) Bandung. Ia juga menjadi pengajar setelah memperoleh pelatihan guru selama dua tahun di perguruan tinggi. Ia yang telah mendapatkan pendidikan Islam di Sumatera Barat sebelumnya juga memperdalam ilmu agamanya di Bandung, termasuk dalam bidang tafsir Al-Qur'an, hukum Islam, dan dialektika. Kemudian pada tahun 1932, Natsir berguru pada Ahmad Hassan, yang kelak menjadi tokoh organisasi Persatuan Islam.


Pada 20 Oktober 1934, Natsir menikah dengan Nurnahar di Bandung. Dari pernikahan tersebut, Natsir dikaruniai enam anak. Natsir juga diketahui menguasai berbagai bahasa, seperti Inggris, Belanda, Prancis, Jerman, Arab, dan Esperanto. Natsir juga memiliki kesamaan hobi dan memiliki kedekatan dengan Douwes Dekker, yakni bermain musik. Natsir suka memainkan biola dan Dekker suka bermain gitar. Mohammad Natsir juga sering berbicara dalam bahasa Belanda dengan Dekker dan sering membicarakan musik klasik Ludwig van Beethoven dan tulisan karya Boris Leonidovich Pasternak, novelis kenamaan Rusia pada masa itu. Kedekatannya dengan Dekker, menyebabkan Dekker mau masuk Masyumi. Ide-ide Natsir dengan Dekker tentang perjuangan, demokrasi, dan keadilan dinilai sehaluan dengan Natsir.

[16/7 23.30] rudysugengp@gmail.com: 2. Buatkan gambar dan infografis tentang 

Karier Mohammad Natsir


Natsir banyak bergaul dengan pemikir-pemikir Islam, seperti Agus Salim; selama pertengahan 1930-an, ia dan Salim terus bertukar pikiran tentang hubungan Islam dan negara dalam pemerintahan Indonesia di masa depan yang dipimpin Soekarno. Pada tahun 1938, ia bergabung dengan Partai Islam Indonesia dan diangkat sebagai pimpinan untuk cabang Bandung dari tahun 1940 sampai 1942. Ia juga bekerja sebagai Kepala Biro Pendidikan Bandung sampai tahun 1945. Selama masa pendudukan Jepang, ia bergabung dengan Majelis Islam A'la Indonesia (lalu berubah menjadi Majelis Syuro Muslimin Indonesia atau Masyumi) dan diangkat sebagai salah satu ketua dari tahun 1945 hingga dibubarkannya Masyumi dan Partai Sosialis Indonesia oleh Presiden Soekarno pada tahun 1960.


Setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, ia menjadi anggota Komite Nasional Indonesia Pusat. Sebelum menjadi Perdana Menteri, ia menjabat sebagai menteri penerangan. Pada tanggal 3 April 1950, ia mengajukan Mosi Integral Natsir dalam sidang pleno parlemen. Mohammad Hatta sebagai Wakil Presiden Indonesia yang mendorong semua pihak untuk berjuang dengan tertib, merasa terbantu denga adanya mosi ini. Mosi ini memulihkan keutuhan bangsa Indonesia dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia yang sebelumnya berbentuk serikat, sehingga ia diangkat menjadi Perdana Menteri oleh Presiden Soekarno pada 17 Agustus 1950. Namun ia mengundurkan diri dari jabatannya pada tanggal 26 April 1951 karena perselisihan paham dengan Soekarno, Soekarno yang menganut paham nasionalisme mengkritik Islam sebagai ideologi seraya memuji sekularisasi yang dilakukan Mustafa Kemal Ataturk di Kesultanan Utsmaniyah, sedangkan Natsir menyayangkan hancurnya Kesultanan Utsmaniyah dengan menunjukkan akibat-akibat negatif sekularisasi. Natsir juga mengkritik Soekarno bahwa dia kurang memperhatikan kesejahteraan di luar Pulau Jawa. Menurut Hatta, sebelum pengunduran diri Natsir, Soekarno selaku presiden sekaligus ketua Partai Nasionalis Indonesia (PNI) terus mendesak Manai Sophiaan serta para menteri dan anggota parlemen dari PNI untuk menjatuhkan Kabinet Natsir, dan tidak mendukung kebijakan-kebijakan yang diusulkan oleh Natsir dan Hatta.


Selama era demokrasi terpimpin di Indonesia, ia terlibat dalam pertentangan terhadap pemerintah yang semakin otoriter dan bergabung dengan Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia setelah meninggalkan Pulau Jawa; PRRI yang menuntut adanya otonomi daerah yang lebih luas disalahtafsirkan oleh Soekarno sebagai pemberontakan. Akibatnya, ia ditangkap dan dipenjarakan di Malang dari tahun 1962 sampai 1964, dan dibebaskan pada masa Orde Baru pada tanggal 26 Juli 1966.


Setelah dibebaskan dari penjara, Natsir kembali terlibat dalam organisasi-organisasi Islam, seperti Majelis Ta'sisi Rabitah Alam Islami dan Majelis Ala al-Alami lil Masjid yang berpusat di Mekkah, Pusat Studi Islam Oxford (Oxford Centre for Islamic Studies) di Inggris, dan Liga Muslim se-Dunia (World Muslim Congress) di Karachi, Pakistan.


Di era Orde Baru, ia membentuk Yayasan Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia. Ia juga mengkritisi kebijakan pemerintah, seperti ketika ia menandatangani Petisi 50 pada 5 Mei 1980, yang menyebabkan ia dilarang pergi ke luar negeri. Pada masa-masa awal Orde Baru ini, ia berjasa mengirim nota kepada Tunku Abdul Rahman dalam rangka mencairkan hubungan dengan Malaysia. Selain itu pula, dialah yang mengontak pemerintah Kuwait agar menanam modal di Indonesia dan meyakinkan pemerintah Jepang tentang kesungguhan Orde Baru membangun ekonomi. Soeharto menganggap orang yang mengkritik dirinya sebagai penentang Pancasila. Ia ikut menandatangani Petisi tersebut bersama dengan Jenderal Hoegeng, Letjen Ali Sadikin, Sanusi Hardjadinata, SK Trimurti, dan lain-lain. Akibat dilarangnya ia pergi ke luar negeri, banyak seminar yang tidak bisa diikutinya. Natsir menolak kecurigaan Soeharto terhadap partai-partai, terutama partai Islam dan mengkritik Opsus (Operasi Khusus) yang berada di bawah pimpinan langsung Soeharto. Padahal, badan intel inilah yang meminta Natsir dalam memulai hubungan dengan Malaysia dan Timur Tengah setelah naiknya Soeharto.

[16/7 23.34] rudysugengp@gmail.com: 3. Buatkan gambar dan infografis tentang 

Karya dan Buku Mohammad Natsir


Selama menjalani pendidikannya di AMS, Natsir telah terlibat dalam dunia jurnalistik. Pada 1929, dua artikel yang ditulisnya dimuat dalam majalah Algemeen Indische Dagblad, yaitu berjudul Qur'an en Evangelie (Al-Quran dan Injil)[35] dan Muhammad als Profeet (Muhammad sebagai Nabi). Kemudian, ia bersama tokoh Islam lainnya mendirikan surat kabar Pembela Islam yang terbit dari tahun 1929 sampai 1935. Ia juga banyak menulis tentang pandangannya terhadap agama di berbagai majalah Islam seperti Pandji Islam, Pedoman Masyarakat, dan Al-Manar. Menurutnya, Islam merupakan bagian yang tak terpisahkan dari budaya Indonesia.


Natsir telah menulis sekitar 45 buku atau monograf dan ratusan artikel yang memuat pandangannya tentang Islam. Ia aktif menulis di majalah-majalah Islam sejak karya tulis pertamanya diterbitkan pada tahun 1929. Karya terawalnya umumnya berbahasa Belanda dan Indonesia, yang banyak membahas tentang pemikiran Islam, budaya, hubungan antara Islam dan politik, dan peran perempuan dalam Islam.


Karya-karya selanjutnya banyak yang ditulis dalam bahasa Inggris, dan lebih terfokus pada politik, pemberitaan tentang Islam, dan hubungan antara umat Kristiani dengan Muslim.

Ajip Rosidi dan Haji Abdul Malik Karim Amrullah menyebutkan bahwa tulisan-tulisan Natsir telah menjadi catatan sejarah yang dapat menjadi panduan bagi umat Islam. Selain menulis, Natsir juga mendirikan sekolah Pendidikan Islam pada tahun 1930; sekolah tersebut ditutup setelah pendudukan Jepang di Indonesia.


Sekalipun Natsir memiliki latar belakang pendidikan Belanda, Natsir tidak tergerak sama sekali untuk melakukan westernisasi atau sekularisasi dalam dunia pendidikan Islam. Ia juga peduli akan pengaruh pendidikan Barat terhadap generasi muda.

Sebenarnya, langkahnya ini yang peduli terhadap dunia pendidikan disebabkan setelah dia membaca karangan Snouck Hurgronje yang melawan Islam, seperti Netherland en de Islam yang memaparkan strategi Hurgronje dalam melawan Islam. Buku ini pada akhirnya kemudian membuat Natsir bertekad melawan Belanda lewat jalur pendidikan.

[16/7 23.54] rudysugengp@gmail.com: 4. Buatkan gambar dan infografis tentang 

Akhir Hayat dan Penghormatan Mohammad Natsir


Mohammad Natsir wafat pada tanggal 6 Februari 1993 di Rumah Sakit Cipto Mangun Kusumo (RSCM) Jakarta pada usia 84 tahun. Kepergian tokoh pelopor Mosi Integral NKRI ini meninggalkan duka mendalam bagi bangsa dan dimakamkan di TPU Karet Bivak, Jakarta Pusat.

Di akhir hayatnya, mantan Perdana Menteri Indonesia ini menghabiskan waktu dengan mencurahkan perhatian penuh pada dunia pendidikan dan dakwah Islam. Ia terus aktif membina umat hingga akhir hayatnya melalui lembaga yang ia dirikan pada tahun 1967, yaitu ⁠Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia. 

Meski di masa-masa Orde Baru ruang gerak politiknya sempat dibatasi, konsistensinya memperjuangkan nilai-nilai keislaman dan keutuhan bangsa terus berlanjut tanpa henti. 


Pada tanggal 10 November 2008, Natsir dinyatakan sebagai pahlawan nasional Indonesia, 

berdasarkan Keppres RI No. 41/TK/Tahun 2008, yang ditetapkan pada 6 November 2008 oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.


Natsir dikenal sebagai menteri yang "tak punya baju bagus, jasnya bertambal. 

Dia dikenang sebagai menteri yang tak punya rumah dan menolak diberi hadiah mobil mewah."


Pemerintah Indonesia saat itu, baik yang dipimpin oleh Soekarno maupun Soeharto, sama-sama menuding Mohammad Natsir sebagai pemberontak dan pembangkang, bahkan tudingan tersebut membuatnya dipenjarakan. Sedangkan oleh negara-negara lain, Natsir sangat dihormati dan dihargai, hingga banyak penghargaan yang dianugerahkan kepadanya.


Dunia Islam mengakui Mohammad Natsir sebagai pahlawan yang melintasi batas bangsa dan negara. Bruce Lawrence menyebutkan bahwa Natsir merupakan politikus yang paling menonjol mendukung pembaruan Islam. Pada tahun 1957, ia menerima bintang Nichan Istikhar (Grand Gordon) dari Raja Tunisia, Lamine Bey atas jasanya membantu perjuangan kemerdekaan rakyat Afrika Utara. Penghargaan internasional lainnya yaitu Jaa-izatul Malik Faisal al-Alamiyah pada tahun 1980, dan penghargaan dari beberapa ulama dan pemikir terkenal seperti Syekh Abul Hasan Ali an-Nadwi dan Abul A'la Maududi.


Pada tahun 1980, Natsir dianugerahi penghargaan Faisal Award dari Raja Fahd Arab Saudi melalui Yayasan Raja Faisal di Riyadh, Arab Saudi. Ia juga memperoleh gelar doktor kehormatan di bidang politik Islam dari Universitas Islam Libanon pada tahun 1967. Pada tahun 1991, ia memperoleh dua gelar kehormatan, yaitu dalam bidang sastra dari Universitas Kebangsaan Malaysia dan dalam bidang pemikiran Islam dari Universitas Sains Malaysia. Pemerintah Indonesia baru menghormatinya setelah 15 tahun kematiannya, pada 10 November 2008 Natsir dinyatakan sebagai pahlawan nasional Indonesia. Soeharto enggan memberikan gelar pahlawan kepada salah satu "bapak bangsa" ini.  Pada masa B.J. Habibie, dia diberi penghargaan Bintang Republik Indonesia Adipradana.


Reporter Ramadhian Fadillah melaporkan bahwasanya ia tokoh sederhana sepanjang zaman. Ia juga melaporkan bahwa Natsir "tak punya baju bagus, jasnya bertambal. 

Dia dikenang sebagai menteri yang tak punya rumah dan menolak diberi hadiah mobil mewah." 

George McTurnan Kahin -pengajar di Universitas Cornell- mendapat info dari Agus Salim bahwa ada staf dari Kementerian Penerangan yang hendak mengumpulkan uang untuk Natsir supaya berpakaian lebih layak. Apalagi, kemejanya cuma dua setel dan sudah butut pula. Sewaktu dia mundur sebagai Perdana Menteri pada Maret 1951, sekretarisnya -Maria Ulfa, menyerahkan padanya sisa dana taktis dengan banyak saldo yang sebenarnya juga hak Perdana Menteri. Natsir menolak, dan dana itu dilimpahkan ke koperasi karyawan tanpa sepeser dia ambil. Natsir dikatakan menolak mobil Chevrolet Impala. Padahal, di rumahnya dia hanya memiliki mobil tua, De Soto yang dia beli sendiri untuk mengantar-jemput anak-anaknya. Sebelum dia pindah ke Jalan Jawa, dia berpindah ke Jalan Pegangsaan Timur yang ada di Jakarta. Maka, dikarenakannya ia ikut dalam PRRI, dia masuk penjara satu ke penjara lain selama 1960-66, dan keluarganya kehilangan rumah di Jalan Jawa dan Mobil De Soto tersebut. Hartanya diambil pemerintah.

[17/7 00.16] rudysugengp@gmail.com: Revisi No. 5


5. Buatkan gambar dan infografis tentang 

Karya, Akhir Hayat dan Penghargaan 

Mustopo 


Di Bidang Pendidikan:

Ikut mendirikan “War Correspondence School”

Ikut mendirikan Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia, Universitas Padjajaran, Universitas Trisakti, USU, Fakultas Publisistik (kini Fakultas Ilmu Komunikasi) dan Fakultas Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Padjajaran.

Mendirikan Universitas Prof. dr. Moestopo (Beragama).

Turut membina Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Airlangga yang dulunya Stovit (Sekolah Tinggi Kedokteran Gigi).

Pendiri Post Graduate Study Ilmu Kedokteran Gigi Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama) Jakarta tahun 1972. Turut mendirikan dan memimpin Pendidikan Lanjutan Oral Surgery Fakultas Kedoteran Gigi Universitas Padjajaran.

Pendiri dan Pembina Persatuan Dokter Gigi Indonesia.

Mendirikan Akademi Perawat Gigi, Akademi Pertanian, Sekolah Teknik Gigi Menengah, Kursus Chair Side Assistant/Teknik Gigi/Dental Higienis Ys. UPDM.

Di Bidang Kemiliteran.

Cudanco tahun 1942

Daidanco tahun 1942

Turut mendirikan BKR

Penaggungjawab Revolusi Jawa Timur

Pemimpin Besar Revolusi Jawa Timur /Panglima Teritorial Jawa Timur /Menteri Pertahanan Ad-interin.

Penasihat Agung Militer Presiden R.I., 30 September 1945.

Penasihat Panglima Besar Jenderal Sudirman.

Pemimpin Pertempuran Bandung Utara.

Ahli Perang Gerilya.

Panglima Divisi Siliwangi.

Wakil Komandan Divisi Markas Besar Komando Jawa.

Staf Spesial Duty dan Deputi KASAD.

Wakil Ketua Front Pembebasan Irian Barat.

Turut menyusun organisasi berdirinya militer modern TNI Angkatan Darat.

Anggota Badan Pendiri Yayasan Pembela Tanah Air (PETA) 3 April 1982.

Di Bidang Pemerintahan.

Menjadi Anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS)

Ketua DHN Angkatan 45 bidang Pendidikan, Kebudayaan, Agama dan Kesehatan.

Pembantu Menteri Perguruan Tinggi dan Ilmu Pengetahuan

Turut menyusun Undang-undang No. 22 Tahun 1962 tentang Pendidikan Tinggi di Indonesia.

Di Bidang Sosial: Reklasering merupakan kegiatan merehabilitasi mental,mendidik dan memberikan ketrampilan kepada bekas narapidana, copet,pelacur dan penjahat lainnya. Melalui usaha reklasering ini mereka dibina, diarahkan dan diubah mental serta kepribadiannya sehingga berguna bagi kehidupan dirinya, keluarga, masyarakat, bahkan bagi negara. Usaha reklasering yang dilakukan oleh Prof.Dr.Moestopo, dimulai pada waktu menegakkan dan mempertahankan kemerdekaan copet-copet, penjahat dan pelacur dibebaskan dari rumah tahanan, kemudian dibentuklah pasukan barisan Terate yang diberi tugas untuk menggempur Belanda, baik secara perang terbuka, gerilya maupun mencuri dokumen Belanda. Setelah pengakuan kedaulatan untuk tetap membina barisan Terate, Prof.Dr.Moestopo mendirikan Akademi Reklasering di Yogyakarta dan dari 450 copet, telah berhasil menyelesaikan pendidikanya sebanyak 150 orang yang bekerja di Departemen Kehakiman, Departemen Sosial dan banyak yang telah menjadi perwira TNI. Dari pelacur-pelacur yang dibina oleh Prof. Dr. Moestopo akhirnya telah banyak yang sadar dan menunaikan ibadah haji. Setelah proklamasi kemerdekaan Prof.Dr.Moestopo tetap aktif dalam berbagai usaha kesejahteraan social terutama dibidang kesehatan. Usaha tersebut antara lain memberikan pelayanan kesehatan gigi bagi anggota dan keluarga pejuang yang dipusatkan di Gedung Juang Angkatan, 45, Jl. Menteng Raya Jakarta, serta ia juga sebagai salah satu pendiri dari Yayasan Rumah Sakit Jakarta pada tahun 1953.


Moestopo meninggal dunia pada 29 September 1986m dan dimakamkan di Pemakaman Cikutra, Bandung.


Penghargaan :

Pada tanggal 9 November 2007, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memberi Moestopo gelar Pahlawan Nasional Indonesia. Moestopo mendapat predikat ini bersama dengan Adnan Kapau Gani, Ida Anak Agung UBGde Agung, dan Ignatius Slamet Riyadi berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 66/2007 TK. Pada tahun yang sama ia dianugerahi Bintang Mahaputera Adipradana.

[17/7 00.28] rudysugengp@gmail.com: 1. Buatkan gambar dan infografis tentang 

Biodata dan Kehidupan Awal KH Abdul Halim


Info Pribadi 

K.H. Abdul Halim

Lahir :

26 Juni 1887

Ciborelang, Jatiwangi, Majalengka, Karesidenan Cirebon, Hindia Belanda

Meninggal :

7 Mei 1962 (umur 74)

Majalengka, Jawa Barat, Indonesia

Nama pena :

K.H. Muhammad Syatari (Otong Satori)

Kebangsaan :

Indonesia

Pasangan :

Siti Moerbiyah Halim

Nyai Qona'ah

Anak :

M. Toha Halim (almarhum)

Fatimah Halim

Mahriyyah Halim

Aziz Halim

Halimah Halim

Karim Halim

Taufiq Halim

Orang tua :

K.H. Muhammad Iskandar (ayah)

Siti Mutmainnah (Ibu)


Kehidupan Awal :


Kiai Abdul Halim putra K.H. Muhammad Iskandar, lahir dengan nama Otong Syatori.

Ia merupakan anak terakhir dari delapan bersaudara dari pasangan K.H. Muhammad Iskandar dan Hj. Siti Mutmainah.


Selain mengasuh pesantren, ayahnya juga seorang penghulu di Kawedanan, Jatiwangi, Majalengka. Sebagai anak yang dilahirkan di lingkungan keluarga pesantren, Kiai Halim telah memperoleh pendidikan agama sejak balita dari keluarganya maupun dari masyarakat sekitar. Ayahnya meninggal ketika Kiai Halim masih kecil, sehingga ia banyak diasuh oleh ibu dan kakak-kakaknya. Pada umur 21 tahun, Kiai Halim menikah dengan Siti Murbiyah puteri K.H. Muhammad Ilyas (Penghulu Landraad Majalengka). Pernikahan mereka dikaruniai tujuh orang anak.


Seorang di antara cucunya yang aktif di berbagai organisasi Islam seperti sebagai pengurus BP4 Pusat,[7] Wanita PUI, BMOIWI (Badan Musyawarah Organisasi Islam Wanita Indonesia), GUPPI (Gerakan Usaha Pembaharuan Pendidikan Islam) adalah Dra. Hj. Dadah Cholidah, M.Pd.I. Presidium BMOIWI periode (2015-2016).


Pendidikan :


Sejak kecil Kiai Halim tergolong anak yang gemar belajar. Terbukti ia banyak membaca ilmu-ilmu keislaman maupun ilmu-ilmu kemasyarakatan. Ketika berumur 10 tahun Kiai Halim belajar al-Qur'an dan Hadis kepada K.H. Anwar, yang sekaligus menjadi guru pertamanya di luar keluarganya sendiri. K.H. Anwar merupakan seorang ulama terkenal dari Ranji Wetan, Majalengka. Sebagai penggemar ilmu, Kiai Halim juga mempelajari disiplin ilmu lainnya, tidak pandang apakah yang menjadi gurunya sealiran (Islam) ataupun tidak, asalkan dapat bermanfaat bagi perjuangannya kelak. Hal itu terlihat ketika Kiai Halim belajar bahasa Belanda dan huruf latin kepada Van Hoeven, seorang pendeta dan misionaris di Cideres, Majalengka.


Ketika menginjak usia dewasa, Kiai Halim mulai belajar di berbagai Pondok Pesantren di wilayah Jawa Barat.

Di antara pesantren yang pernah menjadi tempat belajar Kiai Halim adalah:


Pesantren Lontang jaya, Panjalinan lor, Sumberjaya, Majalengka, pimpinan Kiai Abdullah.

Pesantren Bobos, Kecamatan Sumber, Cirebon, Cirebon, asuhan Kiai Sujak.

Pesantren Ciwedus, Timbang, Kecamatan Cilimus, Kuningan, Kabupaten Kuningan, asuhan K.H. Ahmad Shobari.

Dan yang terakhir Abdul Halim berguru kepada K.H. Agus, Kedungwangi, Kenayangan, Pekalongan, sebelum akhirnya kembali memperdalam ilmunya di Pesantren Ciwedus, Cilimus, Kuningan, kabupaten Kuningan.

Di sela-sela kesibukannya belajar di pesantren, Kiai Halim menyempatkan dirinya untuk berdagang. Ia berjualan minyak wangi, batik, dan kitab-kitab pelajaran agama.


Belajar di Mekkah :


Setelah banyak belajar di beberapa pesantren di Indonesia, Kiai Halim memutuskan untuk pergi ke Mekkah untuk melanjutkan mendalami ilmu-ilmu keislaman. Di Mekah, Kiai Halim berguru kepada ulama-ulama besar di antaranya Syeikh Ahmad Khatib al-Minangkabawi, seorang ulama asal Indonesia yang menetap di Mekah dan menjadi ulama besar sekaligus menjadi Imam di Masjidil Haram. Selama menuntut ilmu di Mekkah, Kiai Halim banyak bergaul dengan K.H. Mas Mansur yang kelak menjadi Ketua Umum Muhammadiyah dan K.H. Abdul Wahab Hasbullah yang merupakan salah seorang pendiri Nahdlatul Ulama dan Rais Am Syuriyah (Ketua Umum Dewan Syuro) Pengurus Besar organisasi tersebut setelah Kiai Hasjim Asy'ari meninggal pada tahun 1947. Kedekatan Kiai Halim terhadap kedua orang sahabatnya yang berbeda latar belakang antara pembaharu dan tradisional inilah yang membuatnya terkenal sebagai ulama yang amat toleran.


Selain belajar langsung kepada Syeikh Ahmad Khatib al-Minangkabawi, Kiai Halim juga mempelajari kitab-kitab para ulama lainnya, seperti kitab karya Syeikh Muhammad Abduh, Syeikh Muhammad Rasyid Ridlo, dan ulama pembaharu lainnya. Selain itu Kiai Halim juga banyak membaca majalah al-Urwatul Wutsqo maupun al-Manar yang membahas tentang pemikiran kedua ulama tersebut.

[17/7 00.40] rudysugengp@gmail.com: 2. Buatkan gambar dan infografis tentang 

Perjuangan di Pesantren  KH Abdul Halim


Pesantren Santi Asromo :


Terdapat dua peninggalan K.H. Abdul Halim yang masih bertahan hingga hari ini, yaitu: pesantren Santi Asromo dan organisasi Persatuan Umat Islam (PUI) yang bergerak di bidang agama, pendidikan, sosial dan budaya. Santri Asromo merupakan pendidikan pesantren yang membekali siswa dengan keterampilan. “Belajar di Santi Asromo ada pandai besi, menyuling minyak kayu putih, bertani kopi dan lada serta beternak ayam, kambing dan ikan”, ujar Dadah Cholidah, cucu K.H. Abdul Halim dari putrinya Halimah Halim.


Sang kakek, menurut Dadah Cholidah, memberi pesan agar anak cucunya menjaga Santi Asromo itu. “Karena ketika beliau mendirikan Santi Asromo penuh perjuangan dan ujian," ujar Dadah. Hingga kini bangunan Santi Asromo telah berkembang dan berdiri kokoh di atas tanah seluas 12 hektare dengan fasilitas pondok pesantren, Madrasah Ibtidaiyah PUI, SMP Prakarya dan SMA Prakarya.


Sekretaris Jenderal Persatuan Umat Islam (PUI) periode 2009 - 2014, Ahmadie Thaha menilai, model pendidikan Santri Asromo yang mengajarkan santri entrepreneurship melampaui zamannya. “Waktu itu ada mesin jahit dan percetakan. Jadi bisa dibayangkan zaman itu saja sudah modern”, ujar Ahmadie.

[17/7 00.40] rudysugengp@gmail.com: 3. Buatkan gambar dan infografis tentang 

Perserikatan Ulama Indonesia/Persatuan Umat Islam 

KH Abdul Halim


Setelah tiga tahun belajar di Mekkah, Kiai Halim kembali ke Indonesia untuk mengajar. Pada tahun 1911, ia mendirikan lembaga pendidikan Majlis Ilmi di Majalengka untuk mendidik santri-santri di daerah tersebut. Setahun kemudian setelah lembaga pendidikan tersebut telah berkembang, Kiai Halim mendirikan sebuah organisasi yang bernama Hayatul Qulub, yang kemudian Majlis Ilmi menjadi bagian di dalamnya.


Hayatul Qulub (Hayat al-Qulub) yang didirikan tahun 1912 tersebut tidak hanya bergerak di bidang pendidikan saja, melainkan juga masuk ke bidang perekonomian.

Hal ini disebabkan Kiai Halim ingin memajukan lapangan pendidikan sekaligus perdagangan. Maka anggota organisasinya bukan saja dari kalangan santri, guru, dan kiai, tetapi juga para petani dan pedagang. Namun organisasi yang bergerak di bidang dagang tersebut tentu akan mempunyai saingan dagang, khususnya dengan pedagang Cina yang pada masa itu cenderung lebih berhasil di bidang perdagangan. Karena pemerintah Hindia Belanda lebih banyak membela kepentingan pedagang-pedagang Cina yang diberi status hukum lebih kuat dibanding kelompok pribumi.


Persaingan tersebut memuncak ketika pemerintah Hindia Belanda menuduh organisasi Hayatul Qulub sebagai biang kerusuhan dalam peristiwa penyerangan toko-toko milik orang Cina yang terjadi di Majalengka pada tahun 1915. Akibatnya pemerintah Hindia Belanda membubarkan Hayatul Qulub dan melarang meneruskan segala kegiatannya. Setelah dibubarkannya organisasi tersebut, Kiai Halim memutuskan untuk kembali ke Majlis Ilmi untuk tetap menjaga kepentingan perjuangan Islam, terutama dalam bidang pendidikan.


Pada tanggal 16 Mei 1916, Kiai Halim secara resmi mendirikan lembaga pendidikan baru yang ia beri nama Jam’iyah al-I’anat al-Muta’alimin. Lembaga pendidikan ini lebih baik dari sebelumnya, karena Kiai Halim menerapkan sistem klasikal dengan lama kursus lima tahun dan sistem koedukasi.

Dan bagi yang sudah mencapai kelas tinggi akan menerima pelajaran bahasa Arab.

Setahun kemudian, HOS Cokroaminoto memberi dukungan terhadap lembaga pendidikan tersebut, yang akhirnya dikembangkan dan diubah namanya menjadi Perserikatan Ulama yang lebih dikenal dengan PUI (Perserikatan Ulama Indonesia). Perserikatan tersebut meemiliki panti asuhan, percetakan, dan sebuah pertenunan.


Sekalipun aktif dalam berbagai organisasi itu, Abdul Halim tetap mencurahkan perhatiannya untuk memajukan pendidikan. Hal itu diwujudkannya dengan mendirikan Santi Asromo pada tahun 1932. Dalam lembaga pendidikan ini, para murid tidak hanya dibekali dengan pengetahuan agama dan pengetahuan umum, tetapi juga dengan keterampilan sesuai dengan bakat anak didik, antara lain pertanian, pertukangan, dan kerajinan tangan.


Pada masa awal pendudukan Jepang, beberapa partai dan organisasi politik dibekukan. Organisasi keagamaan yang dibolehkan berdiri hanya Muhammadiyah dan Nahdlatul 'Ulama. PO pun dibekukan. Namun, Abdul Halim tetap berusaha agar organisasi itu dihidupkan kembali. Barulah pada tahun 1944 usahanya berhasil, tetapi namanya diganti menjadi Perikatan Oemat Islam (POI).

Pada tanggal 5 April 1952 di Kota Bogor diadakan rapat tentang penggabungan antara Persatuan Umat Islam dan Persatuan Umat Islam Indonesia. Akhirnya kedua organisasi ini disatukan menjadi Persatuan Ummat Islam dan Abdul Halim dipilih sebagai ketua pertamanya.


Persatuan Umat Islam (PUI) memiliki tujuan pokok antara lain:


Memajukan dan menyiarkan pengetahuan dan pengajaran agama Islam.

Memajukan perihal penghidupan yang didasarkan atas hukum Islam.

Memelihara tali percintaan dan persaudaraan yang kuat dan membangunkan hati supaya suka tolong menolong antara satu dengan lainnya.

PUI melakukan beberapa upaya untuk mewujudkan tujuannya tersebut, di antaranya adalah:


Mendirikan dan memelihara sekolah.

Menerbitkan, menyiarkan, dan menjual buku-buku (kitab-kitab), brosur, majalah, dan surat kabar yang berisi tentang keislaman.

Meningkatkan pertanian, perdagangan dan perekonomian lainnya.

Mendidik pemuda sebagai kader muslim masa mendatang.

Bekerja sama dengan perkumpulan-perkumpulan muslim lainnya demi memajukan Agama Islam.

[17/7 00.46] rudysugengp@gmail.com: 4. Buatkan gambar dan infografis tentang 

Perjuangan Pergerakan dan Akhir Hayat 

KH Abdul Halim


Pergerakan Nasional :


Abdul Halim merupakan salah satu dari enam tokoh muslim yang bergabung dalam salah satu badan penasihat Gunseikan, Cuo Sangi In. Badan ini memiliki anggota berjumlah 43 orang.

Pada bulan Mei 1945, ia diangkat menjadi anggota Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) yang bertugas menyiapkan segala sesuatu yang berhubungan dengan pembentukan negara. Dalam BPUPKI ini Abdul Halim duduk sebagai anggota Panitia Pembelaan Negara.


Sesudah Republik Indonesia berdiri, Abdul Halim diangkat sebagai anggota Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Daerah (PB KNID) Cirebon. Selanjutnya ia aktif membantu perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Pada waktu Belanda melancarkan agresi militer kedua yang dimulai tanggal 19 Desember 1948, Abdul Halim aktif membantu kebutuhan logistik bagi pasukan TNI dan para gerilyawan. Residen Cirebon juga mengangkatnya menjadi Bupati Majalengka.


Pada 1928, ia diangkat menjadi pengurus Majelis Ulama yang didirikan Sarekat Islam bersama-sama dengan K.H.M Anwaruddin dari Rembang dan K.H. Abdullah Siradj dari Yogyakarta. Ia juga menjadi anggota pengurus MIAI (Majlis Islam A’la Indonesia) yang didirikan pada 1937 di Surabaya.


Sesudah perang kemerdekaan berakhir, Abdul Halim tetap aktif dalam organisasi keagamaan dan membina Santi Asromo. Namun, sebagai ulama yang berwawasan kebangsaan dan persatuan, ia menentang gerakan Darul Islam pimpinan Kartosuwiryo, walaupun ia tinggal di daerah yang dikuasai oleh Darul Islam. la juga merupakan salah seorang tokoh yang menuntut pembubaran Negara Pasundan ciptaan Belanda.


Dalam periode tahun 1950-an Abdul Halim pernah menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Jawa Barat dan kemudian menjadi anggota Konstituante.


Akhir Hayat :


K.H. Abdul Halim Ulama besar tanah Pasundan ini menghadap Ilahi 7 Mei 1962 dan dikebumikan di Majalengka dalam usia 74 tahun. “Meninggalkan harta bendanya diwakafkan untuk madrasah dan institusi pendidikan. Bahkan rumah pribadinya diberikan untuk PUI”, ujar Dadah.


Penghargaan :


Atas jasa-jasanya Pemerintah Republik Indonesia, Presiden Susilo Bambang Yudoyono menganugerahi Gelar Pahlawan Nasional berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor: 041/TK/Tahun 2008 tanggal 6 November 2008.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

1 - 216

  PAHLAWAN NASIONAL (1959 - 2025) Presiden 1 (Sukarno) 49 (1  49) No. 1 Nama  : Abdoel Moeis Dasar Penetapan : Keppres No. 218 Tahun 19...