Selasa, 21 Juli 2026

Nani Wartabone - Gatot Mangkuprojo

 [13/7 18.54] rudysugengp@gmail.com: 1. Buatkan gambar dan infografis tentang 

Kehidupan Awal dan Sang Proklamator dari Timur Nani Wartabone


Info Pribadi :

Lahir :

30 April 1907

Suwawa, Hindia Belanda

Meninggal :

3 Januari 1986 (umur 78)

Jalan Kasuari No.81, Kota Gorontalo, Indonesia

Makam :

Desa Bube Baru, Kecamatan Suwawa, Kabupaten Bone


Kehidupan Pribadi :

Nani Wartabone adalah putra dari Zakaria Wartabone, seorang aparat yang bekerja untuk Pemerintah Hindia Belanda. Sedangkan ibunya adalah keturunan ningrat dari salah satu Kerajaan di Gorontalo.


Meskipun ayahnya bekerja di Belanda, Ia memiliki pandangan yang berbeda pada penjajah. Ia tak betah bersekolah karena menurutnya guru-gurunya yang berkebangsaan Belanda terlalu mengagung-agungkan bangsa Barat dan merendahkan Bangsa Indonesia.


Nani Wartabone bahkan pernah membebaskan tahanan orangtuanya karena tak sampai hati melihat rakyat dihukum.


Sang Proklamator dari Timur :

Nani Wartabone merupakan seorang pejuang revolusioner kemerdekaan Indonesia di Gorontalo. Semasa hidup, ia berorganisasi dan berjuang melawan kolonialisme di daerahnya pada masa perjuangan kemerdekaan. Ia mulai berjuang dengan mendirikan dan menjadi sekretaris Jong Gorontalo di Surabaya pada 1923. Lima tahun kemudian, ia menjadi Ketua PNI Cabang Gorontalo.


Nani bersama para tokoh pejuang kemerdekaan Gorontalo membentuk Komite 12 yang akhirnya memproklamasikan kemerdekaan Indonesia di Gorontalo 3 (tiga) tahun sebelum proklamasi kemerdekaan Indonesia oleh Soekarno dan Mohammad Hatta.


Peristiwa Proklamasi Gorontalo yang dipimpin dan dibacakan oleh Nani Wartabone menjadi tonggak sejarah dan memotivasi para pejuang nasional, termasuk Soekarno dan Hatta dalam mempercepat perjuangan kemerdekaan dari tangan penjajah.


Proklamasi Gorontalo yang dilakukan oleh Nani Wartabone kemudian dikenal luas dengan nama Hari Patriotik 23 Januari 1942 atau Hari Proklamasi Gorontalo. Dari momen bersejarah inilah kemudian Nani Wartabone dikenal dengan julukan "Sang Proklamator dari Timur" .


Awal Pergerakan Kemerdekaan :

Nani Wartabone mulai aktif memperjuangkan Indonesia sejak bersekolah di Surabaya. Nani kemudian mendirikan organisasi Jong Gorontalo di Surabaya. Pada tahun 1928, Ia kembali ke Gorontalo dan membentuk perkumpulan tani (hulanga). Kepada para anggota hulanga ditanamkan rasa kebangsaan.


Nani Wartabone juga mendirikan cabang PNI dan Partindo. Setelah kedua organisasi itu dibubarkan, Nani Wartabone kemudian aktif di PersyarikatanMuhammadiyah Gorontalo, Sulawesi.


Tokoh Muhammadiyah Sulawesi :

Di Persyarikatan Muhammadiyah Nani Wartabone terbilang aktif dan mampu menggerakan roda organisasi. Dalam buku Biografi Nani Wartabone yang disusun FKIP Unsrat di Gorontalo (1985) disebutkan bahwa sejak tahun 1930, Nani Wartabone bersama Imam A Nadjamuddin berinisiatif mendirikan grup muhammadiyah Suwawa.


Maksud Nani Wartabone masuk Muhammadiyah adalah untuk mengarahkan umat Islam agar sesuai dengan ajaran Islam yang sebenarnya, sehingga pandangan yang merugikan Islam dapat dihilangkan dan rakyat dapat berjuang bersama untuk mencapai kemerdekaan.


Nani menggunakan kesempatan dakwah melalui kegiatan tabligh muhammadiyah di kampung-kampung, selain untuk menyampaikan ajaran islam, juga berusaha menanamkan kesadaran berpolitik rakyat untuk bersatu menggapai Indonesia merdeka.


Masyarakat Gorontalo ternyata sangat suka dengan ceramah-ceramah Nani Wartabone. Apabila masyarakat tahu bahwa yang memberikan dakwah adalah Nani Wartabone, maka mereka akan datang berbondong-bondong untuk menghadiri dan mendengarkan tabligh tersebut.


Oleh sebab itu aktivitas dakwahnya selalu dipantau pihak kepolisian Belanda. Bahkan beberapa kali pemerintah Belanda melalui kakaknya Ayuba Wartabone yang menjabat Wedana Gorontalo, memberikan peringatan kepada Nani Wartabone terkait kegiatan dakwahnya, termasuk ancaman akan diasingkan kalau tetap bergiat dalam persyarikatan.


Peristiwa Hari Patriotik 23 Januari 1942 :

Nani Wartabone kemudian mendengar Jepang telah menduduki Manado di bagian utara Sulawesi. Orang-orang Belanda juga tengah melarikan diri ke Poso, Sulawesi bagian Tengah. Pada titik inilah membuat orang Belanda di Gorontalo menjadi ketakutan dan bersiap pergi. Sebelum meninggalkan Gorontalo, mereka pun tengah bersiap melakukan pembakaran atau upaya membumi-hanguskan daerah yang akan ditinggalkan. Melihat peluang tersebut, Nani Wartabone merasa bahwa inilah saat yang tepat untuk melakukan perlawanan terhadap Belanda.


Pada tanggal 22 Januari 1942, Belanda membakar kapal motor Kalio dan gudang kopra di pelabuhan. Mengetahui hal ini, Nani kemudian menyiapkan senjata dan para pemuda. Jumat pagi, tepat pada tanggal 23 Januari 1942, pasukan yang dipimpin langsung oleh Wartabone berangkat dari Suwawa menuju Kota Gorontalo. Sepanjang perjalanan, banyak rakyat ikut bergabung.


Pukul 09.00 pagi semua pejabat Belanda di Gorontalo berhasil ditangkap. Setelah itu, Ia memimpin rakyat menurunkan bendera Belanda dan mengibarkan bendera Merah Putih yang diiringi lagu Indonesia Raya. Kemudian Ia berpidato:


Pada hari ini, 23 Djanoeari 1942, kita bangsa Indonesia yang berada disini soedah merdeka, bebas, lepas dari pendjadjahan bangsa manapoen djoega. Bendera kita adalah Merah Poetih, lagoe kebangsaan kita adalah Indonesia Raja, pemerintahan Belanda telah diambil alih oleh pemerintahan nasional


Sore harinya, Nani Wartabone memimpin rapat pembentukan Pucuk Pimpinan Pemerintahan Gorontalo (PPPG) yang berfungsi sebagai Badan Perwakilan Rakyat (BPR) dan Nani dipilih sebagai ketuanya. Empat hari kemudian, Nani Wartabone memobilisasi rakyat dalam sebuah rapat raksasa di Tanah Lapang Besar Gorontalo. Tujuannya adalah mempertahankan kemerdekaan yang sudah diproklamasikan itu dengan risiko apapun.


Peristiwa bersejarah ini kemudian dikenal dengan Hari Patriotik 23 Januari 1942 atau Hari Proklamasi Gorontalo.

[13/7 19.04] rudysugengp@gmail.com: 2. Buatkan gambar dan infografis tentang 

Era Jepang dan Kemerdekaan RI Nani Wartabone


Zaman Pendudukan Jepang :

Sebulan sesudah "Proklamasi Kemerdekaan Nasional" di Gorontalo, tentara Jepang mulai mendarat. 

Pada 26 Februari sebuah kapal perang Jepang yang bertolak dari Manado berlabuh di pelabuhan Gorontalo. Nani Wartabone menyambut baik bala tentara Jepang ini dengan harapan kehadiran mereka akan menolong PPPG. Ternyata sebaliknya, Jepang justru melarang pengibaran bendera Merah Putih dan menuntut warga Gorontalo bersedia tunduk pada Jepang.


Nani Wartabone menolak permintaan ini. Namun karena tidak kuasa melawan Jepang, ia kemudian memutuskan meninggalkan kota Gorontalo dan kembali ke kampung kelahirannya Suwawa, tanpa ada penyerahan kedaulatan.


Di Suwawa Nani Wartabone mulai hidup sederhana dengan bertani. Rakyat yang berpihak kepada Nani Wartabone akhirnya melakukan mogok massal sehingga Gorontalo bagaikan kota mati. Melihat situasi ini, Jepang melalui kaki tangannya melancarkan fitnah, bahwa Nani Wartabone sedang menghasut rakyat berontak kepada Jepang.


Akibat fitnah itu, Nani Wartabone akhirnya ditangkap pada 30 Desember 1943 dan dibawa ke Manado. Di sini, Nani Wartabone mengalami berbagai siksaan.


Salah satu siksaan Jepang yang masih melekat dalam ingatan masyarakat Gorontalo hingga saat ini adalah, ketika Nani Wartabone selama sehari semalam ditanam seluruh tubuhnya kecuali bagian kepala di pantai di belakang Kantor Gubernur Sulawesi Utara sekarang. 

Hampir sehari kepala Nani Wartabone dimainkan ombak dan butir-butir pasir.


Nani Wartabone baru dilepaskan Jepang pada 6 Juni 1945, saat tanda-tanda kekalahan Jepang dari Sekutu mulai tampak.


Jepang Kalah terhadap Sekutu :

Setelah menyerah kepada Sekutu, Jepang masih tetap menghormati Nani Wartabone sebagai pemimpin rakyat Gorontalo. Ini terbukti dengan penyerahan pemerintahan Gorontalo dari Jepang kepada Nani Wartabone pada tanggal 16 Agustus 1945. Sejak hari itu Sang Saka Merah Putih kembali berkibar di bumi Gorontalo setelah diturunkan Jepang sejak 6 Juni 1942. Anehnya, setelah penyerahan kekuasaan itu, Nani Wartabone dan rakyat Gorontalo tidak mengetahui telah terjadi Proklamasi Kemerdekaan Indonesia di Jakarta keesokan harinya. Mereka baru mengetahuinya pada 28 Agustus 1945.


Proklamasi Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945 :

Proklamasi Kemerdekaan yang dibacakan oleh Soekarno dan Hatta menjadi tonggak sejarah lepas dan merdekanya seluruh bangsa Indonesia, termasuk bagi rakyat Gorontalo di tanah Sulawesi.


Untuk memperkuat pemerintahan nasional di Gorontalo yang baru saja diambil alih dari tangan Jepang itu, Nani Wartabone kemudian merekrut 500 pemuda untuk dijadikan pasukan keamanan dan pertahanan. Mereka dibekali dengan senjata hasil rampasan dari Jepang dan Belanda.


Pasukan ini dilatih sendiri oleh Nani Wartabone, sedangkan lokasi latihannya dipusatkan di Tabuliti, Suwawa. Wilayah ini sangat strategis, berada di atas sebuah bukit yang dilingkari oleh beberapa bukit kecil, dan bisa memantau seluruh kota Gorontalo. Di tempat ini pula, raja-raja dari Kesultanan di Gorontalo zaman dahulu membangun benteng-benteng pertahanan mereka.


Pembentukan Dewan Nasional :

Setelah menerima berita proklamasi di Jakarta, pada tanggal 1 September 1945 Nani Wartabone kemudian membentuk Dewan Nasional di Gorontalo sebagai perwakilan pemerintahan nasional Indonesia di Gorontalo, termasuk membentuk badan legislatif untuk mendampingi kepala pemerintahan.


Dewan yang beranggotakan 17 orang ini terdiri dari para ulama, tokoh masyarakat dan ketua parpol. Diantaranya adalah G.A. Maengkom yang pernah menjadi Menteri Kehakiman Rl dan Muhammad Ali yang pernah menjadi Kepala Bea Cukai di Tanjung Priok adalah dua dari 17 orang anggota dewan tersebut.






Perjuangan Mempertahankan Kemerdekaan :

Pasca Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945, bangsa Indonesia di Gorontalo turut menghadapi upaya agresi militer Belanda yang ingin kembali menjajah nusantara. Perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia ini tentu harus melewati berbagai pengorbanan, penangkapan dan pengasingan oleh Belanda, termasuk yang dialami oleh Nani Wartabone.


Ditangkap Belanda :

Sayangnya, keadaan ini tidak berlangsung lama karena Sekutu masuk. Bagi Belanda yang memboncengi Sekutu ketika itu, Nani Wartabone adalah ancaman serius bagi niat mereka untuk kembali menjajah Indonesia, khususnya Gorontalo.


Mereka berpura-pura mengundang Nani Wartabone berunding pada 30 November 1945 di sebuah kapal perang Sekutu yang berlabuh di pelabuhan Gorontalo, lalu Belanda menawannya. 

Nani Wartabone langsung dibawa ke Manado.


Hukuman Penjara dan Pengasingan :

Di hadapan Pengadilan Militer Belanda di Manado, Nani Wartabone dijatuhi hukuman penjara selama 15 tahun dengan tuduhan makar pada tanggal 23 Januari 1942. Dari penjara di Manado, Nani Wartabone dibawa ke Morotai yang kemudian dipindahkah ke penjara Cipinang di Jakarta pada bulan Desember 1946.


Hanya sebelas hari di Cipinang, Nani kembali dibawa ke penjara di Morotai. Di sini ia kembali mengalami siksaan fisik yang sangat kejam dari tentara pendudukan Belanda. Dari Morotai, ia dikembalikan lagi ke Cipinang, sampai dibebaskan pada tanggal 23 Januari 1949, setelah pengakuan kedaulatan Indonesia.


Kembali ke Gorontalo :

Tanggal 2 Februari 1950, Nani Wartabone kembali menginjakkan kakinya di Gorontalo, negeri yang diperjuangkan kemerdekaannya. Rakyat dan Dewan Nasional yang berjuang bersamanya menyambut kehadirannya dengan perasaan gembira bercampur haru dan tangis.


Kapal Bateku yang membawa Nani Wartabone disambut di tengah laut oleh rakyat Gorontalo. Nani Wartabone kemudian ditandu dari pelabuhan dibawa keliling kota dengan semangat patriotisme.

[13/7 19.12] rudysugengp@gmail.com: 3. Buatkan gambar dan infografis tentang 

Mempertahankan NKRI dan Menumpas Pemberontakan 

Nani Wartabone



Penolakan terhadap Republik Indonesia Serikat :

Nani Wartabone merupakan salah satu tokoh dari Indonesia Timur yang menentang dibentuknya pemerintahan Republik Indonesia Serikat (RIS).


Dalam konsep Negara Republik Indonesia Serikat, Gorontalo dimasukkan ke dalam Negara Bagian dari Negara Indonesia Timur.


Penolakan keras dari Nani Wartabone dilandasi oleh keyakinannya bahwa RIS hanyalah pemerintahan boneka yang diinginkan Belanda agar Indonesia tetap terpecah dan mudah dikuasai lagi.


Nani Wartabone kembali menggerakkan rakyat Gorontalo dalam sebuah rapat raksasa pada tanggal 6 April 1950. Tujuan rapat raksasa ini adalah menolak untuk bergabung dengan RIS dan memilih untuk bergabung dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).


Peristiwa ini menandakan, bahwa Gorontalo adalah wilayah Indonesia pertama yang menyatakan menolak keberadaan RIS.


Pada periode ini hingga tahun 1953, Nani Wartabone dipercaya mengemban beberapa jabatan penting, di antaranya kepala pemerintahan di Gorontalo, Penjabat Kepala Daerah Sulawesi Utara, dan anggota DPRD Sulawesi Utara. Selepas itu, Nani Wartabone memilih tinggal di desanya, Suwawa. Di sini ia kembali turun ke sawah dan ladang dan memelihara ternak layaknya petani biasa di daerah terpencil.


Perlawanan terhadap PERMESTA :

Kepemimpinan Nani Wartabone sebagai tokoh revolusioner Indonesia Timur kembali terusik, ketika PRRI/PERMESTA mengambil alih kekuasaan di beberapa wilayah di Sulawesi. Di Gorontalo sendiri, pengaruh dari Letkol Ventje Sumual dan kawan-kawannya pun mulai terasa. Ventje Sumual memproklamasikan pemerintahan PRRI/PERMESTA di Manado pada bulan Maret 1957.


Jiwa patriotisme Nani Wartabone kembali bergejolak. la kembali memimpin massa rakyat dan pemuda untuk merebut kembali kekuasaan PRRI/PERMESTA di Gorontalo dan mengembalikannya ke pemerintahan pusat di Jakarta.


Sayangnya, pasukan Nani Wartabone masih kalah kuat persenjataanya dengan pasukan pemberontak. Oleh karena itu, ia bersama keluarga dan pasukannya terpaksa masuk keluar hutan sekadar menghindar dari sergapan tentara pemberontak. Saat bergerilya inilah, pasukan Nani Wartabone digelari "Pasukan Rimba".


Berbagai cara dilakukan Nani Wartabone agar bisa mendapat bantuan senjata dan pasukan dari Pusat. Kemudian pada bulan Ramadhan 1958 datang bantuan pasukan tentara dari Batalyon 512 Brawijaya yang dipimpin oleh Kapten Acub Zaenal dan pasukan dari Detasemen 1 Batalyon 715 Hasanuddin yang dipimpin oleh Kapten Piola Isa.


Berkat bantuan kedua pasukan dari Jawa Timur dan Sulawesi Selatan inilah, Nani Wartabone berhasil merebut kembali pemerintahan di Gorontalo dari tangan PRRI/PERMESTA pada pertengahan Juni 1958.


Residen Sulawesi Utara di Gorontalo :

Setelah PRRI/PERMESTA dikalahkan di Gorontalo itu, Nani Wartabone kembali dipercaya memangku jabatan-jabatan penting mewakili wilayah Sulawesi Utara. Pada saat itu, Gorontalo menjadi ibukota dari wilayah Sulawesi Utara, terpisah dari Manado.


Nani Wartabone kemudian dilantik menjadi Residen Sulawesi Utara di Gorontalo. Selain itu, Wartabone juga pernah dilantik menjadi anggota DPRGR sebagai utusan golongan tani.


Perlawanan terhadap Komunisme :

Pada saat terjadinya peristiwa G30S tahun 1965, Nani Wartabone kembali berdiri di barisan depan rakyat Gorontalo guna mengikis habis akar-akar komunisme di wilayah itu.

[13/7 19.51] rudysugengp@gmail.com: 4. Buatkan gambar dan infografis tentang 

Akhir Hayat dan Warisan Pong Tiku


Perlawanan kedua dan kematian :

Di Tondon Tiku memulai persiapan pemakaman ibunya, persiapan yang dalam budaya Toraja memakan waktu beberapa bulan. Saat mengurus persiapan, dia menyuruh seorang penasihat mengumpulkan senjata secara diam-diam sementara yang lain disuruhnya pergi ke bentengnya di Alla' dan Ambeso. Tiku kemudian membuat persiapan untuk melarikan diri dari tahanan Belanda; dia juga mengembalikan semua properti yang dia ambil sebagai tuan, karena dia tahu dia tidak akan menggunakannya lagi. Selama di Tondon, pasukan Belanda dianggap melecehkan Pong Tiku. Malam sebelum pemakaman ibunya, pada Januari 1907, Tiku dan 300 pengikutnya melarikan diri dari Tondon, menuju selatan.


Setelah dia diberitahu bahwa Belanda telah mengejarnya, Tiku memerintahkan sebagian besar pengikutnya untuk kembali ke Tondon sementara dia dan sekelompok lima belas orang, termasuk dua istrinya, terus ke selatan. Mereka pertama kali tiba di Ambeso, tetapi benteng itu jatuh beberapa hari kemudian, dan saat itu mereka mengungsi ke Alla'. Benteng ini pula jatuh pada akhir Maret 1907 dan Tiku mulai kembali ke Tondon melalui hutan. Dia dan para pemimpin lainnya, baik Bugis maupun Toraja, dikejar oleh pasukan Belanda. Para pemimpin lainnya menyerah kepada Belanda dan dijatuhi hukuman tiga tahun penjara di Makassar atau diasingkan ke Buton. Tiku, sementara itu, tetap bersembunyi di hutan.


Pada tanggal 30 Juni 1907 Tiku dan dua anak buahnya ditangkap oleh pasukan Belanda; dia adalah pemimpin gerilya terakhir yang ditangkap. Setelah beberapa hari di penjara, pada 10 Juli 1907 Tiku ditembak mati oleh tentara Belanda di dekat Sungai Sa'dan; beberapa laporan menyatakan bahwa ia sedang mandi pada saat itu. Ia dimakamkan bersama seluruh keluarganya di Tondol, sementara sepupunya Tandibua' menjadi penguasa Pangala', di bawah Belanda.


Warisan :

Setelah kematian Tiku, pemerintah kolonial berharap dia segera dilupakan, sebuah harapan yang tidak terwujud; Tandibua' memberontak pada tahun 1917, dan pemberontakan lokal lainnya muncul di berbagai daerah di Sulawesi sampai kaburnya Belanda setelah Pendudukan Jepang. Selama pendudukan, pasukan Jepang menggunakan Tiku sebagai simbol perjuangan Toraja melawan agresi kolonial, bekerja untuk menyatukan rakyat melawan Eropa. Walau hal ini kurang diterima di daerah taklukan Tiku seperti Baruppu' dan Sesean. Di sana, Tiku dikenang sebagai pria yang membunuh orang lain untuk mencuri istri mereka. 


Pemerintah Kabupaten Tana Toraja mendeklarasikan Tiku sebagai pahlawan nasional pada tahun 1964. Pada tahun 1970, sebuah monumen untuknya dibangun di tepi sungai Sa'dan. Tiku dinyatakan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia dengan Keputusan Presiden 073/TK/2002 pada tanggal 6 November 2002. Pada peringatan kematian Tiku, upacara peringatan diadakan di ibukota provinsi Makassar.

Selain beberapa jalan, Bandara Pongtiku di Tana Toraja dinamai berdasarkan namanya.

[13/7 19.53] rudysugengp@gmail.com: Nani Wartabone 4

[13/7 19.54] rudysugengp@gmail.com: 1. Buatkan gambar dan infografis tentang 

Kehidupan Awal dan Sang Proklamator dari Timur Nani Wartabone


Info Pribadi :

Lahir :

30 April 1907

Suwawa, Hindia Belanda

Meninggal :

3 Januari 1986 (umur 78)

Jalan Kasuari No.81, Kota Gorontalo, Indonesia

Makam :

Desa Bube Baru, Kecamatan Suwawa, Kabupaten Bone


Kehidupan Pribadi :

Nani Wartabone adalah putra dari Zakaria Wartabone, seorang aparat yang bekerja untuk Pemerintah Hindia Belanda. Sedangkan ibunya adalah keturunan ningrat dari salah satu Kerajaan di Gorontalo.


Meskipun ayahnya bekerja di Belanda, Ia memiliki pandangan yang berbeda pada penjajah. Ia tak betah bersekolah karena menurutnya guru-gurunya yang berkebangsaan Belanda terlalu mengagung-agungkan bangsa Barat dan merendahkan Bangsa Indonesia.


Nani Wartabone bahkan pernah membebaskan tahanan orangtuanya karena tak sampai hati melihat rakyat dihukum.


Sang Proklamator dari Timur :

Nani Wartabone merupakan seorang pejuang revolusioner kemerdekaan Indonesia di Gorontalo. Semasa hidup, ia berorganisasi dan berjuang melawan kolonialisme di daerahnya pada masa perjuangan kemerdekaan. Ia mulai berjuang dengan mendirikan dan menjadi sekretaris Jong Gorontalo di Surabaya pada 1923. Lima tahun kemudian, ia menjadi Ketua PNI Cabang Gorontalo.


Nani bersama para tokoh pejuang kemerdekaan Gorontalo membentuk Komite 12 yang akhirnya memproklamasikan kemerdekaan Indonesia di Gorontalo 3 (tiga) tahun sebelum proklamasi kemerdekaan Indonesia oleh Soekarno dan Mohammad Hatta.


Peristiwa Proklamasi Gorontalo yang dipimpin dan dibacakan oleh Nani Wartabone menjadi tonggak sejarah dan memotivasi para pejuang nasional, termasuk Soekarno dan Hatta dalam mempercepat perjuangan kemerdekaan dari tangan penjajah.


Proklamasi Gorontalo yang dilakukan oleh Nani Wartabone kemudian dikenal luas dengan nama Hari Patriotik 23 Januari 1942 atau Hari Proklamasi Gorontalo. Dari momen bersejarah inilah kemudian Nani Wartabone dikenal dengan julukan "Sang Proklamator dari Timur" .


Awal Pergerakan Kemerdekaan :

Nani Wartabone mulai aktif memperjuangkan Indonesia sejak bersekolah di Surabaya. Nani kemudian mendirikan organisasi Jong Gorontalo di Surabaya. Pada tahun 1928, Ia kembali ke Gorontalo dan membentuk perkumpulan tani (hulanga). Kepada para anggota hulanga ditanamkan rasa kebangsaan.


Nani Wartabone juga mendirikan cabang PNI dan Partindo. Setelah kedua organisasi itu dibubarkan, Nani Wartabone kemudian aktif di PersyarikatanMuhammadiyah Gorontalo, Sulawesi.


Tokoh Muhammadiyah Sulawesi :

Di Persyarikatan Muhammadiyah Nani Wartabone terbilang aktif dan mampu menggerakan roda organisasi. Dalam buku Biografi Nani Wartabone yang disusun FKIP Unsrat di Gorontalo (1985) disebutkan bahwa sejak tahun 1930, Nani Wartabone bersama Imam A Nadjamuddin berinisiatif mendirikan grup muhammadiyah Suwawa.


Maksud Nani Wartabone masuk Muhammadiyah adalah untuk mengarahkan umat Islam agar sesuai dengan ajaran Islam yang sebenarnya, sehingga pandangan yang merugikan Islam dapat dihilangkan dan rakyat dapat berjuang bersama untuk mencapai kemerdekaan.


Nani menggunakan kesempatan dakwah melalui kegiatan tabligh muhammadiyah di kampung-kampung, selain untuk menyampaikan ajaran islam, juga berusaha menanamkan kesadaran berpolitik rakyat untuk bersatu menggapai Indonesia merdeka.


Masyarakat Gorontalo ternyata sangat suka dengan ceramah-ceramah Nani Wartabone. Apabila masyarakat tahu bahwa yang memberikan dakwah adalah Nani Wartabone, maka mereka akan datang berbondong-bondong untuk menghadiri dan mendengarkan tabligh tersebut.


Oleh sebab itu aktivitas dakwahnya selalu dipantau pihak kepolisian Belanda. Bahkan beberapa kali pemerintah Belanda melalui kakaknya Ayuba Wartabone yang menjabat Wedana Gorontalo, memberikan peringatan kepada Nani Wartabone terkait kegiatan dakwahnya, termasuk ancaman akan diasingkan kalau tetap bergiat dalam persyarikatan.


Peristiwa Hari Patriotik 23 Januari 1942 :

Nani Wartabone kemudian mendengar Jepang telah menduduki Manado di bagian utara Sulawesi. Orang-orang Belanda juga tengah melarikan diri ke Poso, Sulawesi bagian Tengah. Pada titik inilah membuat orang Belanda di Gorontalo menjadi ketakutan dan bersiap pergi. Sebelum meninggalkan Gorontalo, mereka pun tengah bersiap melakukan pembakaran atau upaya membumi-hanguskan daerah yang akan ditinggalkan. Melihat peluang tersebut, Nani Wartabone merasa bahwa inilah saat yang tepat untuk melakukan perlawanan terhadap Belanda.


Pada tanggal 22 Januari 1942, Belanda membakar kapal motor Kalio dan gudang kopra di pelabuhan. Mengetahui hal ini, Nani kemudian menyiapkan senjata dan para pemuda. Jumat pagi, tepat pada tanggal 23 Januari 1942, pasukan yang dipimpin langsung oleh Wartabone berangkat dari Suwawa menuju Kota Gorontalo. Sepanjang perjalanan, banyak rakyat ikut bergabung.


Pukul 09.00 pagi semua pejabat Belanda di Gorontalo berhasil ditangkap. Setelah itu, Ia memimpin rakyat menurunkan bendera Belanda dan mengibarkan bendera Merah Putih yang diiringi lagu Indonesia Raya. Kemudian Ia berpidato:


Pada hari ini, 23 Djanoeari 1942, kita bangsa Indonesia yang berada disini soedah merdeka, bebas, lepas dari pendjadjahan bangsa manapoen djoega. Bendera kita adalah Merah Poetih, lagoe kebangsaan kita adalah Indonesia Raja, pemerintahan Belanda telah diambil alih oleh pemerintahan nasional


Sore harinya, Nani Wartabone memimpin rapat pembentukan Pucuk Pimpinan Pemerintahan Gorontalo (PPPG) yang berfungsi sebagai Badan Perwakilan Rakyat (BPR) dan Nani dipilih sebagai ketuanya. Empat hari kemudian, Nani Wartabone memobilisasi rakyat dalam sebuah rapat raksasa di Tanah Lapang Besar Gorontalo. Tujuannya adalah mempertahankan kemerdekaan yang sudah diproklamasikan itu dengan risiko apapun.


Peristiwa bersejarah ini kemudian dikenal dengan Hari Patriotik 23 Januari 1942 atau Hari Proklamasi Gorontalo.

[13/7 19.54] rudysugengp@gmail.com: 2. Buatkan gambar dan infografis tentang 

Era Jepang dan Kemerdekaan RI Nani Wartabone


Zaman Pendudukan Jepang :

Sebulan sesudah "Proklamasi Kemerdekaan Nasional" di Gorontalo, tentara Jepang mulai mendarat. 

Pada 26 Februari sebuah kapal perang Jepang yang bertolak dari Manado berlabuh di pelabuhan Gorontalo. Nani Wartabone menyambut baik bala tentara Jepang ini dengan harapan kehadiran mereka akan menolong PPPG. Ternyata sebaliknya, Jepang justru melarang pengibaran bendera Merah Putih dan menuntut warga Gorontalo bersedia tunduk pada Jepang.


Nani Wartabone menolak permintaan ini. Namun karena tidak kuasa melawan Jepang, ia kemudian memutuskan meninggalkan kota Gorontalo dan kembali ke kampung kelahirannya Suwawa, tanpa ada penyerahan kedaulatan.


Di Suwawa Nani Wartabone mulai hidup sederhana dengan bertani. Rakyat yang berpihak kepada Nani Wartabone akhirnya melakukan mogok massal sehingga Gorontalo bagaikan kota mati. Melihat situasi ini, Jepang melalui kaki tangannya melancarkan fitnah, bahwa Nani Wartabone sedang menghasut rakyat berontak kepada Jepang.


Akibat fitnah itu, Nani Wartabone akhirnya ditangkap pada 30 Desember 1943 dan dibawa ke Manado. Di sini, Nani Wartabone mengalami berbagai siksaan.


Salah satu siksaan Jepang yang masih melekat dalam ingatan masyarakat Gorontalo hingga saat ini adalah, ketika Nani Wartabone selama sehari semalam ditanam seluruh tubuhnya kecuali bagian kepala di pantai di belakang Kantor Gubernur Sulawesi Utara sekarang. 

Hampir sehari kepala Nani Wartabone dimainkan ombak dan butir-butir pasir.


Nani Wartabone baru dilepaskan Jepang pada 6 Juni 1945, saat tanda-tanda kekalahan Jepang dari Sekutu mulai tampak.


Jepang Kalah terhadap Sekutu :

Setelah menyerah kepada Sekutu, Jepang masih tetap menghormati Nani Wartabone sebagai pemimpin rakyat Gorontalo. Ini terbukti dengan penyerahan pemerintahan Gorontalo dari Jepang kepada Nani Wartabone pada tanggal 16 Agustus 1945. Sejak hari itu Sang Saka Merah Putih kembali berkibar di bumi Gorontalo setelah diturunkan Jepang sejak 6 Juni 1942. Anehnya, setelah penyerahan kekuasaan itu, Nani Wartabone dan rakyat Gorontalo tidak mengetahui telah terjadi Proklamasi Kemerdekaan Indonesia di Jakarta keesokan harinya. Mereka baru mengetahuinya pada 28 Agustus 1945.


Proklamasi Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945 :

Proklamasi Kemerdekaan yang dibacakan oleh Soekarno dan Hatta menjadi tonggak sejarah lepas dan merdekanya seluruh bangsa Indonesia, termasuk bagi rakyat Gorontalo di tanah Sulawesi.


Untuk memperkuat pemerintahan nasional di Gorontalo yang baru saja diambil alih dari tangan Jepang itu, Nani Wartabone kemudian merekrut 500 pemuda untuk dijadikan pasukan keamanan dan pertahanan. Mereka dibekali dengan senjata hasil rampasan dari Jepang dan Belanda.


Pasukan ini dilatih sendiri oleh Nani Wartabone, sedangkan lokasi latihannya dipusatkan di Tabuliti, Suwawa. Wilayah ini sangat strategis, berada di atas sebuah bukit yang dilingkari oleh beberapa bukit kecil, dan bisa memantau seluruh kota Gorontalo. Di tempat ini pula, raja-raja dari Kesultanan di Gorontalo zaman dahulu membangun benteng-benteng pertahanan mereka.


Pembentukan Dewan Nasional :

Setelah menerima berita proklamasi di Jakarta, pada tanggal 1 September 1945 Nani Wartabone kemudian membentuk Dewan Nasional di Gorontalo sebagai perwakilan pemerintahan nasional Indonesia di Gorontalo, termasuk membentuk badan legislatif untuk mendampingi kepala pemerintahan.


Dewan yang beranggotakan 17 orang ini terdiri dari para ulama, tokoh masyarakat dan ketua parpol. Diantaranya adalah G.A. Maengkom yang pernah menjadi Menteri Kehakiman Rl dan Muhammad Ali yang pernah menjadi Kepala Bea Cukai di Tanjung Priok adalah dua dari 17 orang anggota dewan tersebut.






Perjuangan Mempertahankan Kemerdekaan :

Pasca Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945, bangsa Indonesia di Gorontalo turut menghadapi upaya agresi militer Belanda yang ingin kembali menjajah nusantara. Perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia ini tentu harus melewati berbagai pengorbanan, penangkapan dan pengasingan oleh Belanda, termasuk yang dialami oleh Nani Wartabone.


Ditangkap Belanda :

Sayangnya, keadaan ini tidak berlangsung lama karena Sekutu masuk. Bagi Belanda yang memboncengi Sekutu ketika itu, Nani Wartabone adalah ancaman serius bagi niat mereka untuk kembali menjajah Indonesia, khususnya Gorontalo.


Mereka berpura-pura mengundang Nani Wartabone berunding pada 30 November 1945 di sebuah kapal perang Sekutu yang berlabuh di pelabuhan Gorontalo, lalu Belanda menawannya. 

Nani Wartabone langsung dibawa ke Manado.


Hukuman Penjara dan Pengasingan :

Di hadapan Pengadilan Militer Belanda di Manado, Nani Wartabone dijatuhi hukuman penjara selama 15 tahun dengan tuduhan makar pada tanggal 23 Januari 1942. Dari penjara di Manado, Nani Wartabone dibawa ke Morotai yang kemudian dipindahkah ke penjara Cipinang di Jakarta pada bulan Desember 1946.


Hanya sebelas hari di Cipinang, Nani kembali dibawa ke penjara di Morotai. Di sini ia kembali mengalami siksaan fisik yang sangat kejam dari tentara pendudukan Belanda. Dari Morotai, ia dikembalikan lagi ke Cipinang, sampai dibebaskan pada tanggal 23 Januari 1949, setelah pengakuan kedaulatan Indonesia.


Kembali ke Gorontalo :

Tanggal 2 Februari 1950, Nani Wartabone kembali menginjakkan kakinya di Gorontalo, negeri yang diperjuangkan kemerdekaannya. Rakyat dan Dewan Nasional yang berjuang bersamanya menyambut kehadirannya dengan perasaan gembira bercampur haru dan tangis.


Kapal Bateku yang membawa Nani Wartabone disambut di tengah laut oleh rakyat Gorontalo. Nani Wartabone kemudian ditandu dari pelabuhan dibawa keliling kota dengan semangat patriotisme.

[13/7 19.54] rudysugengp@gmail.com: 3. Buatkan gambar dan infografis tentang 

Mempertahankan NKRI dan Menumpas Pemberontakan 

Nani Wartabone


Penolakan terhadap Republik Indonesia Serikat :

Nani Wartabone merupakan salah satu tokoh dari Indonesia Timur yang menentang dibentuknya pemerintahan Republik Indonesia Serikat (RIS).


Dalam konsep Negara Republik Indonesia Serikat, Gorontalo dimasukkan ke dalam Negara Bagian dari Negara Indonesia Timur.


Penolakan keras dari Nani Wartabone dilandasi oleh keyakinannya bahwa RIS hanyalah pemerintahan boneka yang diinginkan Belanda agar Indonesia tetap terpecah dan mudah dikuasai lagi.


Nani Wartabone kembali menggerakkan rakyat Gorontalo dalam sebuah rapat raksasa pada tanggal 6 April 1950. Tujuan rapat raksasa ini adalah menolak untuk bergabung dengan RIS dan memilih untuk bergabung dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).


Peristiwa ini menandakan, bahwa Gorontalo adalah wilayah Indonesia pertama yang menyatakan menolak keberadaan RIS.


Pada periode ini hingga tahun 1953, Nani Wartabone dipercaya mengemban beberapa jabatan penting, di antaranya kepala pemerintahan di Gorontalo, Penjabat Kepala Daerah Sulawesi Utara, dan anggota DPRD Sulawesi Utara. Selepas itu, Nani Wartabone memilih tinggal di desanya, Suwawa. Di sini ia kembali turun ke sawah dan ladang dan memelihara ternak layaknya petani biasa di daerah terpencil.


Perlawanan terhadap PERMESTA :

Kepemimpinan Nani Wartabone sebagai tokoh revolusioner Indonesia Timur kembali terusik, ketika PRRI/PERMESTA mengambil alih kekuasaan di beberapa wilayah di Sulawesi. Di Gorontalo sendiri, pengaruh dari Letkol Ventje Sumual dan kawan-kawannya pun mulai terasa. Ventje Sumual memproklamasikan pemerintahan PRRI/PERMESTA di Manado pada bulan Maret 1957.


Jiwa patriotisme Nani Wartabone kembali bergejolak. la kembali memimpin massa rakyat dan pemuda untuk merebut kembali kekuasaan PRRI/PERMESTA di Gorontalo dan mengembalikannya ke pemerintahan pusat di Jakarta.


Sayangnya, pasukan Nani Wartabone masih kalah kuat persenjataanya dengan pasukan pemberontak. Oleh karena itu, ia bersama keluarga dan pasukannya terpaksa masuk keluar hutan sekadar menghindar dari sergapan tentara pemberontak. Saat bergerilya inilah, pasukan Nani Wartabone digelari "Pasukan Rimba".


Berbagai cara dilakukan Nani Wartabone agar bisa mendapat bantuan senjata dan pasukan dari Pusat. Kemudian pada bulan Ramadhan 1958 datang bantuan pasukan tentara dari Batalyon 512 Brawijaya yang dipimpin oleh Kapten Acub Zaenal dan pasukan dari Detasemen 1 Batalyon 715 Hasanuddin yang dipimpin oleh Kapten Piola Isa.


Berkat bantuan kedua pasukan dari Jawa Timur dan Sulawesi Selatan inilah, Nani Wartabone berhasil merebut kembali pemerintahan di Gorontalo dari tangan PRRI/PERMESTA pada pertengahan Juni 1958.


Residen Sulawesi Utara di Gorontalo :

Setelah PRRI/PERMESTA dikalahkan di Gorontalo itu, Nani Wartabone kembali dipercaya memangku jabatan-jabatan penting mewakili wilayah Sulawesi Utara. Pada saat itu, Gorontalo menjadi ibukota dari wilayah Sulawesi Utara, terpisah dari Manado.


Nani Wartabone kemudian dilantik menjadi Residen Sulawesi Utara di Gorontalo. Selain itu, Wartabone juga pernah dilantik menjadi anggota DPRGR sebagai utusan golongan tani.


Perlawanan terhadap Komunisme :

Pada saat terjadinya peristiwa G30S tahun 1965, Nani Wartabone kembali berdiri di barisan depan rakyat Gorontalo guna mengikis habis akar-akar komunisme di wilayah itu.

[13/7 19.54] rudysugengp@gmail.com: 4. Buatkan gambar dan infografis tentang 

Akhir Hayat dan Penghargaan 

Nani Wartabone


Wafat :

Nani Wartabone yang pernah menjadi anggota MPRS Rl, anggota Dewan Perancang Nasional dan anggota DPA itu, akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya bersamaan dengan berkumandangnya azan salat Jumat pada tanggal 3 Januari 1986. Ia meninggal di rumah anak pertamanya, Sarinah Wartabone, yang beralamat di Jalan Kasuari No. 81, Kota Gorontalo, sebelum kemudian dibawa ke Suwawa, Gorontalo, untuk dimakamkan. Sebagai seorang petani di desa terpencil di Suwawa, ia tetap dikenang atas perjuangannya bagi bangsa.


Testimoni Jenderal Besar A. H. Nasution :

Jenderal Besar TNI AD Abdul Haris Nasution pun pada bulan Maret tahun 1986 sempat memberikan testimoni khusus ketika Nani Wartabone wafat, diantaranya sebagai berikut:


“Dengan pimpinan Nani Wartabone dan kawan-kawan menggeser kekuasaan Belanda dengan gilang gemilang, adalah hari yang pantas dicatat di dalam rangkaian ukiran sejarah perjuangan fisik, dan perlu kiranya diketahui oleh seluruh warga negara Indonesia, agar sesuatu yang berharga di tubuh Ibu Pertiwi ini tidak hilang ditelan waktu begitu saja.

"Perlu disadari bahwa di masa lampau dalam situasi dan kondisi waktu itu adalah langka untuk mencari seorang pimpinan yang berani, jujur dan cerdas seperti yang dilahirkan oleh bumi Gorontalo. Semangat 23 Januari 1942 adalah pencerminan watak manusia merdeka yang ikhlas mengorbankan segala-galanya demi untuk kemerdekaan”.

Dalam halaman selanjutnya, Jenderal A. H. Nasution pun kembali menuliskan kesannya terhadap Pahlawan Nasional Nani Wartabone, yaitu:


"Nani Wartabone adalah teladan pejuang yang konsisten. Tak banyak pejuang kita yang demikian, karena itu perjuangannya haruslah disejarahkan kepada generasi-generasi mendatang, karena konsistensi adalah prinsip ke 1 dalam ilmu strategi pejuang”.

“Saya tak menduga bahwa saya akan jadi teman seperjuangan dekat dengan tokoh historis ini, yakni di masa terjadinya pemberontakan PRRI/Permesta yang dibarengi intervensi tertutup Amerika Serikat tahun 1958-1961. ……… Maka kesekian kalinya tampillah pejuang patriot perwira Nani Wartabone dengan prakarsa yang amat saya hargai selaku KASAD/Penguasa Perang yang dewasa itu dapat tugas memulihkan keutuhan dan keamanan seluruh RI”.


Penghargaan :

Pada tanggal 29 Juni 1958, Letnan Jenderal Abdul Haris Nasution selaku KASAD pada saat itu memberikan penghargaan kepada Nani Wartabone.

Nani Wartabone dianugerahi pula gelar adat Pulanga "Ta Lo Duluwa Lo Lipu" dari Persekutuan 5 Kerajaan di Gorontalo, yaitu berarti "Sang Pembela Negeri".

Pada peringatan Hari Pahlawan 2003, Presiden Megawati Soekarnoputri menyerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada Nani Wartabone melalui ahli warisnya yang diwakili oleh salah seorang anak laki-lakinya, H. Fauzi Wartabone, di Istana Negara, pada tanggal 7 November 2003. Wartabone ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional berdasarkan Keputusan Presiden RI Nomor 085/TK/Tahun 2003 tertanggal 6 November 2003.

Untuk mengenang perjuangannya, di Kota Gorontalo dibangun Monumen Nani Wartabone untuk mengingatkan masyarakat Gorontalo akan perjuangannya merebut kemerdekaan dari tangan penjajah.

Pemerintah daerah menetapkan Hari Patriotik 23 Januari atau Hari Proklamasi Gorontalo sebagai hari besar yang wajib diperingati setiap tahunnya dengan melaksanakan upacara bendera, pembacaan teks Proklamasi Gorontalo, dan napak tilas perjuangan para pejuang kemerdekaan, termasuk Nani Wartabone.

Komando Resor Militer 133 oleh TNI AD kemudian diresmikan dan diberi nama Korem 133/Nani Wartabone sebagai bentuk penghargaan atas jasa kepahlawanan beliau dalam mengusir penjajah di bumi Gorontalo.

[13/7 19.54] rudysugengp@gmail.com: Suryopranoto 3

[13/7 19.55] rudysugengp@gmail.com: 1. Buatkan gambar dan infografis tentang 

Kehidupan Awal Suryopranoto


Lahir di Yogyakarta pada 11 Januari 1871, Suryopranoto adalah kakak Suwardi Suryaningrat (Ki Hajar Dewantara), alias putra sulung KPH Suryaningrat. Meski lahir dari keluarga bangsawan, jejak perjuangan Soerjopranoto justru dikenal sebagai pembela rakyat kecil yang tertindas.


Sampai menginjak usia dewasa kebiasaannya tersebut masih terus dilakukan, sehingga kemudian ia terkenal dengan sebutan "Den Mas Iskandar Pendekar Jalanan". Kemudian dengan tubuhnya yang tegap tinggi dan besar, beliau mendapat julukan lagi "Den Mas Landung".


Pendidikan :

Sebagai pemilik status istimewa yaitu sebagai cucu seorang raja, RM. Soeryopranoto berkesempatan menempuh pendidikan formal di sekolah rendah Eropa atau Europeesche Lagere School (ELS). Lulus dari ELS kemudian meneruskan ke Klien Ambtenaren Cursus (Kursus Pegawai Rendah), dan setelah lulus ia diterima sebagai pegawai pada Controleurs-kantoor di Tuban Jawa Timur. Akibat pernah menempeleng seorang Controleur Belanda, maka RM. Soeryopranoto dikeluarkan dan segera kembali ke Yogyakarta. Di Yogyakarta oleh pamannya KPH Suryokusumo diangkat sebagai Wedana Sentana Praja Paku Alaman dengan pangkat Panji dengan tugas mengurusi administrasi kerabat Paku Alaman. Selama di Yogyakarta, RM. Soeryopranoto mendirikan Mardi Kaskaya pada tahun 1900. Satu tahun kemudian juga mendirikan Societeit Soetrohardjo sebuah klub yang identik dengan sebuah kelompok belajar (biblioteek).


Membahayakan Belanda :

Oleh karena kiprah RM. Soeryopranoto ini, dia dipandang membahayakan oleh Belanda, sehingga dengan dalih melanjutkan pendidikan ke Middlebare Londbouw School (MLS) dia harus meninggalkan Yogyakarta dan pergi ke Bogor. 

Tahun 1907 pendidikan di MLS Bogor selesai dan RM. Soeryopranoto berhak atas Landbouw Kundige (Ahli Pertanian), dan Landbouw Leerar (Guru Pertanian). 

Dengan ijazah yang dimilikinya itu ia ditugaskan di Kejajar, Wonosobo sebagai Lanbouw Consulent (Kepala Dinas Pertanian).


Organisasi :

Sewaktu di Wonosobo ini, RM. Soeryopranoto berhasil mendirikan SI (Sarekat Islam) dan dia sendiri menjadi anggota Komisaris Central Sarekat Islam (CSI). Pada tahun 1916, karena ada konflik dengan pejabat Belanda, RM. Soeryopranoto keluar dari pekerjaannya di Wonosobo, ia coba mendirikan Mardi kiswa, suatu koperasi petani, namun gagal. la lalu aktif dalam BO, dan menjadi pemimpin Adhi Dharma.


Adhi Dharma merupakan organisasi para pangeran Pakualaman yang bertujuan meningkatkan kehidupan spiritual, moral, dan intelektual yang serasi. RM. Soeryopranoto berhasil mengubah organisasi itu dari sekedar klub para pangeran menjadi jaringan perlindungan yang diberikan oleh pangeran dan priyayi kepada bermacam-macam orang dan golongan masyarakat (patronage). Program dari Adhi Dharma ini adalah menolong kaum cacat, memberi pinjaman kepada yang memerlukan, memajukan perdagangan, dan mendirikan sekolah.

[13/7 19.55] rudysugengp@gmail.com: 2. Buatkan gambar dan infografis tentang 

Perjuangan  Suryopranoto


Setahun setelah tamat dari MLS, pada 1908, Suryopranoto diperkerjakan sebagai Kepala Dinas Pertanian (Landbouw Consulent) untuk daerah Wonosobo, Dieng, dan Batus dengan tugas mengawasi perkebunan tembakau. Ia juga merangkap sebagai pemimpin sekolah pertanian.


Suatu ketika, pada 1914, rasa keadilannya terusik saat mendapati seorang Asisten Wedana yang dipecat hanya karena menjadi anggota Sarekat Islam. Sebagai protes atas tindakan yang mengekang hak berserikat dan berkumpul itu, Soerjopranoto menyobek ijazah-ijazahnya sendiri dan melemparkannya bersama bundelan kunci di hadapan atasannya (Residen Belanda) sambil meminta berhenti.


Sejak itu, ia bersumpah tidak akan lagi bekerja pada pemerintah penjajah Belanda untuk selama-lamanya, dan memberikan seluruh tenaga dan pikirannya pada perjuangan melawan penjajahan dan menegakkan hak-hak dari kaum tertindas.


Suryopranoto yang aktif di Budi Utomo merasa tidak puas karena organisasi ini tidak bersifat kerakyatan dan tidak revolusioner. Ia minta diri keluar dari organisasi tersebut setelah usulnya untuk membuatnya menjadi pergerakan rakyat ditolak. Selanjutnya, pada 1915, ia mengembangkan aktivitasnya sendiri secara langsung di kalangan rakyat jelata dengan mendirikan Barisan Kerja (Arbeidsleger) Adhi Dharma (kebaktian yang luhur).


Adhi Dharma bergerak dalam bidang pemberdayaan sosial-ekonomi, meliputi tabungan, koperasi, pertukangan, pendidikan, kesehatan, dan advokasi, yang kesemuanya didasarkan atas semangat gotong-royong. Semua aktivitas ini ditujukan untuk: 1) menggugah jiwa rakyat kecil akan kesadaran harga dirinya, 2) merupakan persiapan penggalangan gerakan rakyat jelata, gerakan buruh dan tani.


Ia juga aktif dalam organisasi Sarekat Islam. Karena semangat dan kemampuannya, segera ia menduduki tempat di pucuk pimpinan organisasi tersebut sebagai orang kedua setelah Tjokroaminoto.


Dalam kongres Sarekat Islam di Surabaya pada 1919, Soerjopranoto mengemukakan bahwa perjuangan menjadikan alat-alat produksi menjadi milik umum tidak harus dicapai dengan aksi bersenjata, tetapi bisa dengan aksi moral, lewat protes-protes, dan jika perlu dengan “pemogokan” yang kesemua itu harus dilakukan secara serentak.


Gagasan itu kemudian praktikkan sendiri dengan memimpin pemogokan umum di kalangan pekerja pabrik-pabrik gula yang pertama di tanah air. Sebelumnya, pada 1917, Soerjopranoto bergabung dengan serikat buruh pertama yang didirikan di Indonesia, Personel Fabrieks Bond (PFB), di Jawa Tengah dan Jawa Timur.


Pemogokan Buruh :

Lewat serikat buruh ini, pemogokan buruh pertama kali dilakukan pada 20 Agustus 1920, di pabrik gula Madu Kismo. Pemogokan ini begitu luas dan hebat sehingga oleh De Express disebut sebagai “De Staking Koning” (Raja Pemogokan). Yang dihadapi sebagai lawan pada waktu itu adalah Politiek Economische Bond (PEB), yaitu kumpulan tuan-tuan pabrik di bawah pimpinan Engelenberg dan Brugers.


Selama menjadi pemimpin SI, Soerjopranoto berulang kali masuk penjara karena aktivitas dan tulisan-tulisannya. Sekali ia dipenjarakan di Malang selama 3 bulan (1923), kedua di Semarang selama 6 bulan (1926), dan ketiga kalinya di Bandung (Sukamiskin) selama 16 bulan (1933), dengan peringatan untuk keempat kalinya akan diganjar 4 × 16 bulan.


Pasca-kemerdekaan, ia aktif menjadi guru Taman Siswa, juga sesekali memberikan kursus pada para pemuda. Ia menerbitkan dua buku, tentang sosialisme dan ilmu tata negara. Setelah tahun 1949, ia berhenti dari aktivitas kerja, aktivitasnya hanya menjadi simpatisan PSII dan anggota kehormatan Kongres Rakyat.

[13/7 19.55] rudysugengp@gmail.com: 3. Buatkan gambar dan infografis tentang 

Akhir Hayat dan Penghargaan Suryopranoto


Akhir Hayat :

Suryopranoto meninggal pada 15 Oktober 1959 di usia 88 tahun, di rumah menantunya di Cimahi, Bandung, Jawa Barat. 


Dua hari kemudian yaitu tanggal 17 Oktober 1959, dengan diiringi ribuan pelayat, jenazah R.M. Suryopranoto dimakamkan di makam keluarga "Rachmat Jati", Kotagede, Yogyakarta. Upacara pemakaman jenazah R.M. Suryopranoto dilakukan secara militer sebagai seorang perwira tinggi.


Penghargaan :

Untuk menghargai jasa-jasanya dan perjuangannya dalam merintis kemerdekaan maka dengan Keputusan Presiden RI tanggal 30 November 1959, Nomor : 310, tahun 1959, R.M. Suryopranoto diangkat sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional Republik Indonesia. Kemudian pada tanggal 17 Agustus 1960, Presiden Sukarno menganugerahkan Tanda Kehormatan Bintang Mahaputra Tingkat II kepada Almarhum R.M. Suryopranoto.


Peninggalan :

Mengingat benda mesin ketik tersebut memiliki nilai sejarah dan perlu diselamatkan dan diinformasikan kepada masyarakat, maka pada tanggal 2 Oktober 2002 berdasarkan berita acara serah terima barang nomor 591/SB/UPT/BD/02.X/2002, Mesin Ketik udheng, piring dan sendok tersebut diangkat menjadi salah satu koleksi Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta Unit II (Museum Perjuangan Yogyakarta)

[13/7 19.55] rudysugengp@gmail.com: Sukarjo 3

[13/7 19.59] rudysugengp@gmail.com: 1. Buatkan gambar dan infografis tentang 

Biodata dan Kehidupan Awal Sukarjo Wiryopranoto


Raden Soekardjo Wirjopranoto (ER, EYD: Raden Sukarjo Wiryopranoto; 5 Juni 1903 – 23 Oktober 1962) adalah seorang pejuang kemerdekaan dan Pahlawan Nasional Indonesia asal Cilacap. Ia juga turut menjadi pejuang perebutan kembali Irian Barat ke pangkuan Republik Indonesia (RI).


Informasi pribadi :

Lahir :

Soekardjo Wirjopranoto

5 Juni 1903

Kesugihan, Cilacap, Hindia Belanda

Meninggal :

23 Oktober 1962 (umur 59)

New York, Amerika Serikat

Makam :

TMP Kalibata

Kebangsaan

Jawa, Indonesia

Pekerjaan :

Aktivis kemerdekaan, politisi, kemudian diplomat


Kehidupan awal :

Sukarjo adalah putra dari Wiryodiharjo yang bekerja pada Jawatan Kereta Api pada zaman Hindia Belanda. Ibunya berasal dari Purwokerto, keturunan seorang alim ulama, bernama Kyai Asmadi. Sukarjo dilahirkan di Desa Kasugihan dan mempunyai saudara berjumlah tujuh orang dan ia adalah anak keenam.


Ketika Sukarjo berumur tiga tahun, ayahnya meninggal dunia. Sehingga ia dan saudara-saudaranya dibesarkan oleh sang ibu.


Pada masa sekolah, Sukarjo menempuh pendidikannya di Europeesche Lagere School (ELS) atau Sekolah Dasar zaman Hindia Belanda. Pada tahun 1917, Sukarjo lulus dari ELS. Setelah itu, ia melanjutkan pendidikannya di Sekolah Hukum atau Rechtsschool di Jakarta. Lima tahun kemudian setelah lulus dari Sekolah Hukum, ia mulai bekerja sebagai pegawai negeri.


Awalnya ia bekerja di Pengadilan Negeri Purwokerto. Ketika tahun 1962, Sukarjo dipindahkan ke Magelang. Tidak lama setelah ditempatkan di Magelang, Sukarjo dipindahkan ke Lumajang.


Ketika Sukarjo berada di Lumajang, terjadilah pemberontakan PKI tahun 1926/1927. Sukarjo menjadi salah satu pemuda yang paling berani, karena ia mendatangi rumah seorang dokter bernama dr. Muhammad. Karena putra dari dr. Muhammad, Sunaryo ikut ditangkap dan dibuang ke Digul karena dianggap terlibat pemberontakan PKI. Oleh sebab itulah, banyak orang yang tidak berani mendatangi rumahnya, kecuali Sukarjo. Sukarjo mendatangi rumah dr. Muhammad bersama istrinya, Umaryani untuk berkenalan dan menenangkan dr. Muhammad yang sedang terpukul atas kejadian tersebut.


Perbuatan Sukarjo pada zaman ini dapat dikatakan membahayakan dirinya, namun ia merupakan seorang yang bijaksana. Sukarjo pun mulai tertarik pada pergerakan nasional, sehingga ia menjadi anggota dari Jong Java.

[13/7 19.59] rudysugengp@gmail.com: 2. Buatkan gambar dan infografis tentang 

Perjuangan  Sukarjo Wiryopranoto


Kehidupan politik :

Sukarjo yang menyadari bahwa menjadi pegawai negeri, artinya ia hanya bekerja untuk kepentingan pemerintah kolonial, akhirnya Sukarjo mendirikan kantor pengacaranya sendiri bernama Wisynu. Tujuannya adalah untuk menegakkan kebenaran dan melindungi rakyat yang lemah.


Budi Utomo :

Berkat keaktifannya dalam dunia hukum dan politik, Sukarjo pun tergabung dalam organisasi Budi Utomo dan dipercaya menjadi Ketua Cabang Malang. Selama bergabung dalam Budi Utomo, Sukarjo berusaha keras untuk mempertebal rasa kebangsaan dan harga diri bangsa.


Volksraad (Dewan Rakyat) :

Pada tahun 1937, Sukarjo diangkat menjadi anggota Volksraad sebagai wakil Budi Utomo. Ia tergabung sebagai anggota Fraksi Nasional di bawah pimpinan M.H. Thamrin bersama R.P. Soeroso dan Otto Iskandardinata.


Langkah-langkah politik yang Sukarjo lakukan di dalam Volksraad antara lain adalah membela nasib pegawai rendah. Ia juga mengusulkan agar pengangkatan anggota-anggota Gemeenteraad atau Wali kota bagi orang Indonesia disamakan dengan orang Belanda.


Cita-cita Sukarjo itu terlaksana ketika tahun 1937, Mr. Dr. Subroto diangkat menjadi Wali kota Madiun. Pengangkatan ini menimbulkan kegaduhan di kalangan bangsa Belanda. Dua tahun kemudian Mr. Dr. Sunroto diangkat menjadi Wali kota Bogor, sedangkan Mr. Susanto Tirtoprojo menggantikan sebagai Wali kota Madiun.


Sukarjo aktif dalam pendirian dan perjuangan GAPI (Gabungan Politik Indonesia). Pada tahun 1939, GAPI melancarkan perjuangan dengan semboyan “Indonesia Berparlemen”. Maksudnya agar Volksraad menjadi Dewan Perwakilan Rakyat yang sebenarnya. GAPI, bersama dengan MIAI dan PVPN, mendirikan Madjelis Rakjat Indonesia pada bulan September 1941, di mana Sukarjo juga menjadi pengurus di dalamnya.


Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) :

Sukarjo Wiryopranoto diangkat menjadi anggota Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) atau Dokuritsu Junbi Cosakai. Pada tahun 1943, ia diangkat menjadi ketua muda Jawa Shinbun Kai, yaitu perserikatan surat kabar di Jawa.


Kabinet Syahrir :

Sebelum Agresi Militer II (Desember 1948), Sukarjo Wiryopranoto ditangkap Belanda di Jakarta dan diusir serta dikirim ke Yogyakarta, karena majalah “Mimbar Indonesia” yang dianggap berbahaya bagi politik Belanda. Sesudah majalah tersebut diizinkan terbit kembali pada bulan Februari 1949, ia kembali ke Jakarta. Setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, Sukarjo Wiryopranoto diangkat sebagai juru bicara negara dalam Kabinet Syahrir.


Duta Besar Republik Indonesia :

Bulan Januari 1950, Sukarjo Wirjopranoto sempat menjadi kepala editor majalah Mimbar Indonesia. Pada 27 Februari 1950, ia diangkat menjadi Duta Besar RI di Vatikan dan merangkap sebagai Duta Besar Luar Biasa RI dan Berkuasa Penuh pada Pemerintah Italia.


Kemudian ia ditarik kembali ke tanah air menjabat sebagai kepala Direktorat Asia-Pasifik pada Departemen Luar Negeri. Selanjutnya, ia ditugaskan menjadi Duta Besar Luar Biasa RI dan Berkuasa Penuh pada Pemerintah Republik Rakyat Cina dan merangkap sebagai kepala Perwakilan Diplomatik pada Pemerintah Rakyat Mongolia.

[13/7 19.59] rudysugengp@gmail.com: 3. Buatkan gambar dan infografis tentang 

Akhir Hayat dan Penghargaan Sukarjo Wiryopranoto


Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) :

Empat tahun kemudian, pada tahun 1960, Sukarjo diangkat menjadi Wakil Tetap RI di PBB. Selama menjabat di PBB, ia sibuk memperjuangkan pengembalian Irian Barat ke pangkuan Ibu Pertiwi.


Wafat :

Makam Sukarjo Wirjopranoto di TMP Kalibata, Jakarta

Ketika bangsa Indonesia berhasil memasukkan Irian Barat ke pangkuan Ibu Pertiwi, Sukarjo Wiryopranoto meninggal pada tanggal 23 Oktober 1962 di New York. 

Jenazahnya dikebumikan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta.


Penghargaan :

Pada 29 Oktober 1962, berdasarkan Surat Keputusan Presiden No. 342 Tahun 1962, Sukarjo dianugerahi gelar Tokoh Nasional atau Pahlawan Kemerdekaan Nasional.

[13/7 20.36] rudysugengp@gmail.com: Maskun Sumadireja

[13/7 22.57] rudysugengp@gmail.com: 1. Buatkan gambar dan Infografis tentang 

Biodata dan Kehidupan Awal Maskun Sumadireja


Biodata Pribadi

Nama Lengkap: 

Maskoen Soemadiredja (Ejaan Baru: Maskun Sumadiredja)

Tempat Lahir: 

Bandung, Jawa BaratTanggal Lahir: 25 Mei 1907

Meninggal Dunia: 

Jakarta, 4 Januari 1986 (Usia 78 tahun)

Orang Tua: 

Raden Umar Soemadiredja (Ayah) dan Nyi Raden Umi (Ibu)

Istri: 

Nyi R. Djuhaeni


Sosok pahlawan asal Bandung ini lahir pada 25 Mei 1907. Ia adalah putra pasangan Raden Umar Soemadiredja dan Nyi Raden Umi.


Maskun Sumadireja adalah sosok pahlawan nasional yang berperan penting dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia. Namanya memang jarang terdengar, tetapi jejak kontribusinya dalam pembangunan bangsa tak bisa dilupakan.


Maskoen Soemadiredja adalah seorang aktivis dan politisi yang berasal dari Jawa Barat. Pada 1927, Maskoen telah memulai perjuangannya dengan menyebarluaskan prinsip-prinsip nasionalisme melalui organisasi gerakan politik.  


Akibatnya, tahun 1929, ia bersama tiga tokoh partai lainnya, Soekarno, Gatot Mangkoepradja, dan Suhada ditahan selama delapan bulan di penjara Banceuy.   Kehidupan Maskoen Soemadiredja lahir di Bandung, 25 Mei 1907. Ia adalah putra dari Raden Umar Soemadiredja dan Nyi Raden Umi.

[13/7 22.57] rudysugengp@gmail.com: 2. Buatkan gambar dan infografis tentang 

Perjuangan Maskun Sumadireja 


Mengutip dari laman resmi Kota Bandung, Maskoen Soemadiredja sudah terpapar semangat juang sejak dini. Jejak perjuangannya dimulai pada 1927 melalui Partai Nasional Indonesia (PNI).


Ia bergabung dengan PNI yang saat itu dipimpin Soekarno. Ia bahkan memegang posisi komisaris sekaligus sekretaris II PNI Bandung.


Selama bertugas, Maskoen aktif menyebarkan ide-ide nasionalisme. Ia juga berupaya membangun kesadaran politik di kalangan rakyat.


Maskoen kerap melakukan aksi-aksi propaganda yang membuat pemerintah kolonial geram. Hal tersebut membuat dirinya sempat dipenjara di Penjara Banceuy, Bandung.


Maskoen Soemadiredja dipenjara bersama Soekarno dan dua pemimpin PNI lainnya, Gatot Mangkoepraja dan Soepriadinata. Mereka dipenjara selama delapan bulan mulai Desember 1929.


Setelah keluar dari penjara, Maskoen tak berhenti berjuang. Ia kembali bergelut dalam dunia politik.


Namun pada 1930, ia kembali ditangkap dan dibuang ke Digul. Tempat tersebut terkenal sebagai tempat pengasingan yang keras.


Politik Bawah Tanah :

Selama di pengasingan, ia beserta tokoh-tokoh pergerakan lain mengalami penderitaan yang luar biasa. Meski demikian, Maskoen tetap aktif dalam kegiatan politik bawah tanah.


Pada masa pendudukan Jepang di Indonesia 1942, Maskoen dilarikan ke Australia. Maskoen mendirikan Organisasi Serikat Indonesia Baru di sana untuk menjaga semangat perjuangan di kalangan diaspora Indonesia.


Setelah masa kemerdekaan, Maskoen kembali ke Tanah Air dan aktif dalam berbagai kegiatan sosial-politik. Bersama para mantan tahanan politik lainnya, ia mendirikan Persatuan Perintis Kemerdekaan Bekas Boven Digul (PPKBD).


PPKBD bertujuan untuk memperjuangkan hak-hak mereka dan membangun kembali kehidupan pasca-penjajahan.


Kesimpulan :

Aktivis PNI (1907): 

Bergabung dengan PNI bentukan Bung Karno sejak tahun 1927 dan menjabat sebagai komisaris merangkap Sekretaris II PNI Cabang Bandung.


Penjara Banceuy & Sukamiskin (1929): 

Ditangkap oleh pemerintah kolonial Belanda pada Desember 1929 bersama Soekarno, Gatot Mangkupraja, dan Soepriadinata karena aktivitas politik mereka dianggap mengancam. Kasus inilah yang memicu Bung Karno membacakan pledoi terkenal "Indonesia Menggugat".


Pengasingan Boven Digoel (1934): 

Setelah dibebaskan, ia kembali aktif di pergerakan (Pendidikan Nasional Indonesia) hingga ditangkap lagi oleh Belanda pada 1934 dan diasingkan ke Boven Digoel, Papua, bersama Mohammad Hatta dan Sutan Sjahrir.


Pergerakan di Australia: 

Menjelang invasi Jepang, para tahanan Digoel dipindahkan ke Australia. Di sana, Maskoen mendirikan Organisasi Serikat Indonesia Baru untuk menghimpun pemuda dan terus menyuarakan kemerdekaan Indonesia.

[13/7 22.57] rudysugengp@gmail.com: 3. Buatkan gambar dan infografis tentang 

Akhir Hayat dan Penghargaan Maskun Sumadireja 


Pasca-Kemerdekaan: 

Pasca-proklamasi, ia tetap aktif di dunia politik nasional dan sempat diundang oleh Presiden Soeharto pada tahun 1978 sebagai salah satu pemuka masyarakat dalam pembentukan tim penasihat P4.


Akhir Hidup :

Maskoen Soemadiredja wafat pada 4 Januari 1986 karena jatuh sakit.  Jenazahnya kemudian dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Nasional Kalibata. 


Atas jasanya, Maskoen diberi penghargaan oleh pemerintah Indonesia berupa: Setya Lencana Perintis Kemerdekaan Setya Lencana Perjuangan Kemerdekaan Bintang Maha Putera Utama Kemudian pada 5 November 2004, berdasarkan Keputusan Presiden RI No. 089/TK/TH/2004, Maskoen Soemadiredja dinobatkan menjadi Pahlawan Nasional.

[13/7 23.00] rudysugengp@gmail.com: Raja Ali Haji

[13/7 23.35] rudysugengp@gmail.com: 1. Buatkan gambar dan infografis tentang 

Kehidupan Awal Raja Ali Haji


Raja Ali Haji bin Raja Haji Ahmad atau juga dikenal dengan nama pena Raja Ali Haji (lahir di Pulau Penyengat, Kepulauan Riau, ca 1808 - meninggal di Pulau Penyengat, Kesultanan Lingga, ca adalah ulama, sejarawan, dan pujangga abad 19 keturunan Bugis dan Melayu.

Dia terkenal sebagai pencatat pertama dasar-dasar tata bahasa Melayu lewat buku Pedoman Bahasa; buku yang menjadi standar bahasa Melayu. Bahasa Melayu standar (juga disebut bahasa Melayu baku) itulah yang dalam Kongres Pemuda Indonesia 28 Oktober 1928 ditetapkan sebagai bahasa nasional, bahasa Indonesia. Ia merupakan keturunan kedua (cucu) dari Raja Haji Fisabilillah, Yang Dipertuan Muda IV dari Kesultanan Lingga-Riau dan juga merupakan bangsawan Bugis.


Riwayat hidup :

Raja Ali Haji dilahirkan di Pulau Penyengat, Kepulauan Riau tahun 1808 atau 1809. Dia adalah putra dari Raja Ahmad, yang bergelar Engku Haji Tua setelah melakukan ziarah ke Mekah. Dia adalah cucu Raja Ali Haji Fisabilillah (Yang Dipertuan Muda IV dari Kesultanan Lingga-Riau dan juga merupakan bangsawan Bugis, saudara Raja Lumu). Fisabilillah adalah keturunan keluarga kerajaan Riau, yang merupakan keturunan dari prajurit Bugis yang datang ke daerah tersebut pada abad ke-18. Bundanya Hamidah binti Malik adalah saudara sepupu dari ayahnya dan juga dari keturunan Melayu.


Raji Ali Haji dibesarkan dan banyak menjalani masa hidupnya serta menerima pendidikan di Pulau Penyengat, Kesultanan Lingga, yang pada masa kini merupakan bagian dari Provinsi Kepulauan Riau, Indonesia.


Keluarga :

RAH (Raja Ali Haji) lahir di Pulau Penyengat Kepulauan Riau tahun 1808 atau 1809. Beliau adalah putra dari Raja Ahmad , yang bergelar engku haji tua setelah melakukan ziarah ke Mekkah. Dia adalah cucu raja Ali Haji fisabilillah (yang dipertuan muda IV dari Kesultanan Lingga – Riau dan juga merupakan bangsawan Bugis saudara Raja Lumu. Fisabilillah adalah keturunan keluarga Kerajaan Riau yang merupakan keturunan dari perajurit Bugis yang datang ke daerah tersebut pada abad ke 18. Bundanya Encik Hamidah binti Malik adalah saudara sepupu dari ayahnya dan juga keturunan suku Bugis.


Pendidikan :

Dalam sejarah dunia kependidikannya, Raja Ali Haji mendapatkan pendidikan dasarnya dari ayahnya langsung. Dan di samping itu, beliau juga mendapatkan pendidikan dari lingkungan istana Kesultanan Riau-Lingga di Pulau Penyengat . Di lingkungan kesultanan ini, secara langsung ia mendapatkan pendidikan dari tokoh tokoh terkenal dan terkemuka yang pernah datang dan singgah di istana. Tujuannya tidak hanya untuk mengajar tapi juga untuk belajar dan berguru di istana. Di antara ulama-ulama yang dimaksud adalah Habib Syeikh as-Saqaf, Syeikh Ahmad Jabarti, Syeikh Ismail bin Abdullah al-Minkabawi, Syeikh Abdul Ghafur bin Abbas al-Manduri, dan masih banyak lagi.

[13/7 23.35] rudysugengp@gmail.com: 2. Buatkan gambar dan infografis tentang 

Hasil Karya Raja Ali Haji


Karya :

Mahakarya beliau yaitu: Gurindam Dua Belas (1846), menjadi pembaru arus sastra pada zamannya. Bukunya berjudul Kitab Pengetahuan Bahasa, yaitu Kamus Bahasa Melayu Riau-Lingga penggal yang pertama, merupakan kamus ekabahasa pertama di Nusantara. Ia juga menulis Syair Siti Shianah, Syair Suluh Pegawai, Syair Hukum Nikah, dan Syair Sultan Abdul Muluk. Raja Ali Haji juga patut diangkat jasanya dalam penulisan sejarah Melayu. Buku berjudul Tuhfat al-Nafis ("Hadiah yang Berharga" tentang sejarah Melayu), walaupun dari segi penulisan sejarah sangat lemah karena tidak mencantumkan sumber dan tahunnya, dapat dibilang menggambarkan peristiwa-peristiwa secara lengkap. Meskipun sebagian pihak berpendapat Tuhfat dikarang terlebih dahulu oleh ayahnya yang juga sastrawan, Raja Ahmad. Raji Ali Haji hanya meneruskan apa yang telah dimulai ayahnya. Dalam bidang ketatanegaraan dan hukum, Raja Ali Haji pun menulis Mukaddimah fi Intizam (hukum dan politik). Ia juga aktif sebagai penasehat kerajaan. 


Karya terkenal :

Puisi :

1847: Gurindam Dua Belas


Buku :

1860: Tuhfat al-Nafis (Bingkisan Berharga)

1865: Silsilah Melayu dan Bugis


Karya lain :

1857: Bustan al-Kathibin

1850-an: Kitab Pengetahuan Bahasa (Tidak selesai)

1857: Intizam Waza'if al-Malik

1857: Thamarat al-Mahammah


Raja Ali Haji  bin Raja Haji Ahmad atau biasa dipanggil Raja Ali Haji adalah ulama, sejarawan, sastrawan dan pujangga keturunan bugis dan melayu pada abad ke-19. Raja Ali Haji dikenal sebagai seorang pencatat pertama dasar dasar tata bahasa Melayu lewat buku pedoman bahasa yaitu buku yang menjadi standard bahasa Melayu. Bahasa Melayu standard (juga disebut bahasa Melayu baku) karena itulah dalam Kongres Pemuda Indonesia 28 Oktober ditetapkan sebagai bahasa nasional, bahasa Indonesia.


Gurindam dua belas (1847) merupakan mahakarya Raja Ali Haji yang menjadikan awal dari pembaruan arus sastra pada zamannya. Bukunya berjudul kitab pengetahuan bahasa, yaitu sebuah kamus bahasa Melayu Riau- lingga penggal yang pertama merupakan kamus kabahasan pertama di Nusantara. Ia juga menulis Syair Siti Shianah, Syair Suluh Pegawai, Syair Hukum Nikah, dan Syair Sultan Abdul Muluk.


Raja Ali Haji juga patut diangkat jasanya dalam penulisan sejarah Melayu. Buku berjudul Tuhfat al-Nafis (Bingkisan Berharga tentang sejarah Melayu), walaupun dari segi penulisan sejarah sangat lemah karena tidak mencantumkan sumber dan tahunnya, dapat dibilang menggambarkan peristiwa-peristiwa secara lengkap. Meskipun sebagian pihak berpendapat Tuhfat dikarang terlebih dahulu oleh ayahnya yang juga sastrawan, Raja Ahmad. Raji Ali Haji hanya meneruskan apa yang telah dimulai ayahnya.

[13/7 23.35] rudysugengp@gmail.com: 3. Buatkan gambar dan infografis tentang 

Akhir Hayat dan Penghargaan Raja Ali Haji


Wafat :

Sebagian besar sumber menyatakan bahwa Raja Ali Haji wafat pada tahun 1872 di Pulau Penyengat di Kepulauan Riau, tetapi tanggal kematiannya sedang diperdebatkan setelah bukti-bukti yang tersebar muncul untuk menentang klaim ini. Di antaranya, bukti yang terkenal adalah surat yang ditulis pada tahun 1872 ketika Raja Ali Haji menulis surat kepada Herman Von De Wall, seorang ahli kebudayaan Belanda, yang kemudian meninggal di Tanjung Pinang pada tahun 1873.


Penghargaan :

Pada tanggal 10 November 2004, Raja Ali Haji memperoleh penghargaan gelar pahlawan nasional oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada saat  peringatan Hari Pahlawan 10 November di Istana Negara, gelar pahlawan nasional dikeluarkan pada 5 November 2004 dengan Keppres No. 89/TK/2004, Jakarta.


Buku karya Raja Ali Haji berjudul Kitab Pengetahuan Bahasa (selesai ditulis tahun 1851 M, dicetak di Singapura tahun 1925 M) telah ditetapkan dalam Kongres  Pemuda Indonesia 28 Oktober 1928 sebagai bahasa nasional (Indonesia). Atas  dasar kontribusi yang sangat penting inilah, penghargaan tersebut memang layak diberikan kepada Raja Ali Haji.


Dalam budaya populer :

Dalam film Raja Ali Haji: Mata Pena Mata Hati (2009), Raja Ali Haji diperankan oleh Alex Komang.

Dalam film Raja Ali Haji: Mata Pena Mata Hati (2009), Raja Ali Haji (remaja) diperankan oleh Reiner Manopo.

[13/7 23.36] rudysugengp@gmail.com: KH Ahmad Rifai

[14/7 00.25] rudysugengp@gmail.com: 1. Buatkan gambar dan infografis tentang 

Kehidupan Awal KH Ahmad Rifai


KH Achmad Rifa'i (lahir di Tempuran, Kendal, Jawa Tengah pada tahun 1786; meninggal di Manado, Sulawesi Utara pada tahun 1871) adalah pahlawan nasional Indonesia yang berasal dari Jawa Tengah dan juga seorang ulama, penulis buku semangat perjuangan kemerdekaan.


Biografi :

Ahmad Rifa’i lahir tahun 1786 M atau bertepatan Kamis 9 Muharam 1200 Hijriyah di Desa Tempuran Kendal Jawa Tengah. 

Ayahnya bernama Muhammad Marhum bin KH Abu Sujak Wijaya atau Raden Sudjowidjojo, seorang Penghulu di Kendal yang wafat 1794 M. 

Ia juga keturunan bangsawan keraton Yogyakarta yang dimakamkan di kompleks Masjid Agung Kendal, bersama dengan makam Wali Joko dan Wali Hadi.


Abu Sujak mempunyai lima putera yaitu Nyai Nakiyamah, Kiai Muhammad Marhum, Kiai Bukhari, KH Ahmad Hasan dan Kiai Abu Musthafa. Putra Kedua Abu Sujak yakni Kiai Muhammad Marhum menikah dengan Siti Rahmah alias Umi Radjiyah. Kemudian mereka dikarunia 8 keturunan yakni KH Qomarun, KH Abdul Karim, Kiai Salamah, KH Zakaria, KH Rakhibah, Nyai Radjiyah, Kiai Muhammad Arif dan terakhir KH Ahmad Rifai, yang kelak jadi ulama besar di Tanah Jawa.


Ahmad Rifa’i merupakan anak bungsu dari delapan bersaudara. Sejak ditinggal mati kedua orangtuanya pada usia 7 tahun, ia diasuh oleh kakaknya yang bernama Rojiyah istri Kiai Asy’ari seorang ulama terkenal dan pengasuh pondok pesantren di Kaliwungu, Kendal. Di bawah bimbingan KiaiAsy’ari ia belajar ilmu–ilmu Islam yang lazim diajarkan di Pesantren seperti tafsir Al-Qur’an, Hadis, Nahwu, Sharaf, Manthiq, Fikih dan sebagainya.Setelah dianggap mampu oleh Kiai Asy’ari ia membantu kakak iparnya mengajar di pesantren tersebut (Darban, 1999: 23).


Sejak remaja Ahmad Rifa’i giat melakukan dakwah keliling di wilayah Kendal dan ekitarnya. Dakwah dan pengajiannya cukup menarik dengan menggunakan syair ditambah dengan sikapnya yang anti pemerintah kolonial. Sebelum pengajiannya diketahui pemerintah kolonial, ia telah berhasil menggalang kekuatan dari santri serta simpatisannya sehingga ketika kemudian pindah ke Kalisalak, saat itu beliau sudah mempunyai jaringan pengikut yang tersebar di daerah Kendal dan sekitarnya seperti Wonosobo, Pemalang, Pekalongan dan Batang. Dalam berdakwah ia tidak segan-segan menghujat penguasa kolonial dan birokrat pribumi yang berkolaborasi dengan pemerintah kolonial. Ia memandang pemerintah kolonial Belanda sebagai penguasa kafir dan sumber kerusakan yang terjadi pada masyarakat Jawa pada masa itu. Ia mengobarkan semangat pada masyarakat untuk melakukan perlawanan terhadap pemerintah kolonial dan mengatakan bahwa perang melawan penguasa kafir serta antek-anteknya sebagai perang sabil (jihad fisabilillah), jika gugur akan mati syahid (Jamil, 2001:13).


Dalam usia 30 tahun ia menunaikan ibadah haji atas biaya kakaknya. Selama di Mekkah ia tinggal beberapa tahun untuk menuntut ilmu di sana. Sudah menjadi kebiasaan orang-orang pada masa itu di samping menunaikan ibadah haji juga menuntut ilmu pada ulama setempat. Mekkah dan Madinah atau yang biasa disebut Haramain (dua tempat suci) menduduki posisi yang sangat penting dan menjadi daya tarik tersendiri bagi umat Islam. Mekkah dan Madinah memiliki kedudukan yangberkaitan dengan ibadah haji, kota kelahiran dan pertumbuhan awal Islam maupun pusat ilmu agama Islam. Selama di Mekkah K.H. Ahmad Rifa’i berguru kepada sejumlah ulama di sana. Guru-gurunya antara lain Syaikh Ibrahim al-Bajuri, Syaikh Abdurrahman, Syaikh Isa al-Barawi, danSyaikh Faqih Muhammad bin Abdul Aziz al Jaisyi (Darban, 1999: 29). KalanganRifa’iyah meyakini di Mekkah ia bertemu dengan dua ulama terkenal Jawa yaitu Imam Nawawi dari Banten dan Kiai Kholil dari Madura. (Amin, 1994: 29). Ketiganya sangat prihatin dengan kondisi keagamaan masyarakat di Jawa yang masih jauh dari nilai-nilai Islam. Hal ini diperparah dengan hadirnya penjajah Belanda diJawa. Mereka bertiga mengadakan musyawarah dan hasilnya adalah mereka sepakat untuk mengadakan pembaruan dan pemurnian Islam lewat pengajian, dialog, dan penerjemahan kitab-kitab berbahasa Arab ke dalam bahasa Jawa. Selain itu ketiganya berbagi tugas untuk menulis kitab. K.H. Ahmad Rifa’i mengarang kitabyang membahas fikih, Kiai Nawawi menulis kitab yang membahas ushuluddin, dan Kiai Kholil menyusun kitab tasawuf (Amin, 1994: 29).


Sesudah menuntut ilmu di Mekkah ia pulang ke Kendal dan membantu kakaknya mengajar di pesantren,pada saat itu ia berumur 51 tahun. Kemudian ia pindah ke Kalisalak sebuah desa di Kecamatan Limpung Batang yang pada masa itu masuk dalam keresidenan Pekalongan. Sepulang dari Timur Tengah inilah masa produktif K.H. Ahmad Rifa’idalam menulis kitab tarjamah atau tarojumah, ia mulai menulis kitab ketika berumur 54 tahun (Amin, 1989: 12).


Kitab-kitab karya K.H. Ahmad Rifa’i dinamakan Tarojumah dan ajarannya juga dinamakan ajaran Tarojumah karena memang kitab-kitab karyanya merupakan terjemahan dari beberapa ayat Al-Qur’an,hadis, dan kitab-kitab berbahasa Arab (Amin, 1989: 45). Sebenarnya penamaan kitab Tarojumah sendiri kurang tepat sebab tidak ada satu pun dari karya K.H.Ahmad Rifa’i yang benar-benar merupakan hasil terjemahan dari kitab-kitab berbahasa Arab (Abdullah, 2006: 92). Karya KH. Ahmad Rifa’i merupakan saduran dari kitab-kitab berbahasa Arab hasil tulisan ulama terdahulu ditambah dengan dalil-dalil dari Al-Qur’an dan Hadis. Penamaan Tarojumah bertujuan menghindari konsekuensi politis karena banyak ungkapan yang dinilai berbahaya bagipemerintah kolonial Belanda, nama itu ditampilkan agar terkesan bahwa kitab itu bukanlah pandangan K.H. Ahmad Rifa’i sendiri, tetapi hanya sekadar menyalindari kitab berbahasa Arab (Jamil, 2001: 25). Mengenai berapa jumlah kitab karya K.H. Ahmad Rifa’i masih simpang siur karena ada beberapa pendapat, di antaranya sebagai berikut: 61 buah (Amin 1989: 53), 53 buah (Kartodirdjo dkk, 1976: 301),55 buah (Kuntowijoyo, 1999: 130). 


Perbedaan pendapat ini karena K.H. Ahmad Rifa’i juga menulis tanbih (semacam buletin). Sebagian memasukkannya sebagai kitabkarya K.H.Ahmad Rifa’i sementara sebagian lagi tidak memasukkannya. Sebagian besar kitabTarojumah membahas ushuluddin,fikih, dan tasawuf.


K.H. Ahmad Rifa’i adalah seorang juru dakwah yang pandai, ia mengemas ajarannya dalam kitab-kitab berbahasa Jawa berhuruf Arab (Arab Pegon)dan berbentuk syair yang menarik bagi orang Jawa, sehingga ajaran Islam mudah dihafal dan dipahami oleh masyarakat Jawa pada masa itu (Steenbrink, 1984: 106).Dalam berdakwah ia mengobarkan semangat anti kafir, anti penjajah dangagasannya bisa dikategorikan tajdid (pembaruan) atau purifikasi (pemurnian) dan fikihisasi karena ajarannya bersifat fiqhoriented (Abdullah, 2006: 34). Hal ini tidak mengherankan mengingat K.H.Ahmad Rifa’i pernah belajar dan bermukim beberapa tahun di Haramain (Mekkah danMadinah) yang pada abad ke-19 meskipun secara politis berada di bawah kekuasaan Turki Utsmani (1299-1923), tetapi penguasa Turki tidak mampu membendung pengaruh gerakan ‘pemurnian’ yang dipimpin oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab yang menguasai Jazirah Arabiadalam bidang keagamaan.[3]Gerakan ini sempat pula menguasai kota Mekkah dan Madinah. Gerakan ini amat menekankan pentingnya pemahaman akidah secara murni dan ketaatan pada syari’ah.


Imbas gerakan ini sampai pula di Nusantara, orang-orang yang baru pulang menunaikan ibadah haji dari Mekkah sedikit banyak terpengaruh oleh gerakan ‘pemurnian’ di Jazirah Arab padaabad ke-18 dan 19. Orang, guru agama, dan kiai yang pulang menunaikan ibadah haji diperkirakan memperoleh dan terpengaruh ide-ide pembaruan dan sikap militansi (Kartodirdjo, 1973: 211).Semangat untuk lepas dari penindasan menjadi modal untuk membebaskan diri dari kaum penjajah di Jawa, dalam hal ini adalah Belanda dan antek-anteknya (Steenbrink,1984: 211). Semangat yang sama dengan gerakan ini terlihat pula pada pemikiran K.H. Ahmad Rifa’i yang dicirikan dengan sikapnya yang keras terhadap pelbagai bentuk penyimpangan atas ajaran-ajaran Islam dan terhadap para aparat birokrasi tradisional yang berkolaborasi dengan penguasa kafir. Hal ini wajar mengingat salah satu guru K.H. Ahmad Rifa’i yaitu Syaikh Muhammad bin Abdul Azizal-Jaisyi adalah salah seorang ulama pengikut ajaran Syaikh Muhammad bin AbdulWahab (Abdullah dkk, 2002: 235). Akan tetapi tidak semua paham ‘pemurnian’diambil oleh KH. Ahmad Rifa’i. Hal ini bisa dilihat dari kecenderungannya pada Mazhab Syafi’i dalam bidang fikih – sementara kaum ‘pemurnian’ menganut Mazhab Hanbali- dan sumber hukum ajaran Tarojumah adalah Al-Qur’an, Hadis, Ijma’ dan Qiyas.Ini berbeda dengan paham ‘pemurnian’ yang hanya bersumber pada Al-Qur’an dan Hadis serta menuntut adanya ijtihad dalam menggali dan menetapkan suatuhukum yang belum ditemukan dalam dua sumber utama tersebut serta menolak sikap taklid. Selain itu gerakan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab sangat menolak tasawuf, hal ini berbeda dengan K.H.Ahmad Rifa’i yang meskipun secara eksplisit tidak berkiblat pada tarekat tertentu tetapi menulis sejumlah kitab tentang tasawuf.


Di Kalisalak ia membangun sebuah komunitas pengajian, mula-mula ia mengajar anak-anak membaca Al-Qur’an. Namun lambat laun orang dewasa dari Desa Kalisalak dan sekitarnya tertarik untuk mengaji padanya. Di desa tersebut K.H.Ahmad Rifa’i menikah dengan janda Demang Kalisalak yang bernama Nyai Sujinah. Pernikahan K.H. Ahmad Rifa’i dengan Nyai Sujinah menunjukkan bahwa dirinya mendapat dukungan dari orang yang mempunyai status sosial cukup tinggi yang nantinya dapat memberi manfaat bagi kelangsungan dakwah. Di tempat barunya ini K.H. AhmadRifa’i menyebarkan pemikiran Islam melalui kitab Tarojumah yang ia tulis sendiri. Kitab Tarojumah ini berbentuk nazham atau syair dalam bahasa Jawa dan berhuruf Arab (Arab Pegon). Hal ini tidak lepas dari kondisi sosio-kultural orang Jawa pada abad ke-19 yang tidak memungkinkan untuk mempelajari dan memahami kitab-kitab yang berbahasa Arab. Selain itu agar mudah dihafalkan dan dipahami. Lambat laun komunitas keagamaan yang dibangun oleh K.H. Ahmad Rifa’i di Kalisalak menarik penduduk sekitardan daerah lain menjadi santrinya. Umumnya para santri pengikut K.H. Ahmad Rifa’i adalah masyarakat desa yang mayoritas bekerja sebagai petani. Untuk memfasilitasi minat para santrinya yang ingin tinggal dekat dengannya ia mendirikan masjid dan pondok pesantren di Kalisalak sehingga pengikutnya sering juga disebut Santri Kalisalak. Dalam kaitannya dengan upaya dakwah yang dilakukannya, adatujuh metode dakwah yang dikembangkan K.H. Ahmad Rifa’i sebagai berikut:


Menerjemahkan Al-Qur’an, Hadis dan kitab-kitab berbahasa Arab karangan ulama terdahulu ke dalam bahasa Jawa dengan huruf Arab Pegon berbentuk nazham atau syair;

Mengadakan kunjungan silaturahmi dari rumah ke rumah famili dan masyarakat;

Menyelenggarakan pengajian umum dan dakwah keliling ke daerah yang penduduknya miskin secara materi dan agama guna membendung budaya asing;

Menyelenggarakan dialog di masjid atau di langgar (mushola);

Mengadakan kegiatan kesegaran jasmani bagi pemuda;

Mengadakan gerakan protes sosial keagamaan terhadap birokrat pribumi dan Belanda;

Untuk mempererat hubungan antara guru dengan murid dan antara murid dengan murid, biasa dilakukan pula pernikahan sesama murid, anak guru dengan murid (Amin, 1996: 106).

Di Kalisalak K.H. Ahmad Rifa’i tetap melakukan kecaman dan protes terhadap Pemerintahdan birokrat pribumi. Tindakan ini tentu sangat meresahkan pemerintah kolonial yang menganggap sikap militan K.H. Ahmad Rifa’i sebagai ancaman. Kekhawatiran serupa melanda birokrat pribumi yang khawatir kedudukan dan otoritasnya terancam. Berikut ini adalah kutipan pernyataan K.H. Ahmad Rifa’i dalam Nazham Wiqayah, salah satu kitab karangannya (Darban, 1999: 39):


Slametadunya akherat wajib kinira


Ngalawan raja kafir sakuasane kafikira


Tur perang sabil luwih kadane ukara


Kacukupan tan kanti akeh bala kuncara.


Artinya:


Keselamatan dunia akhirat wajib diperhitungkan


Melawan raja kafir sekemampuannya perlu difikirkan


Demikian juga perang sabil lebih daripada ucapan


Cukup tidak menggunakan pasukan yang besar.


Pernyataan sikap yang serupa juga dikemukakannya terhadap para birokrat pribumi, seperti yang terdapat pada syair dalam Nazham Wiqayah berikutini (Darban, 1999: 41):


Sumerepbadan hina seba ngelangsur


Manfaate ilmu lan amal dimaha lebur


Tinemune priyayi laku gawe gede kadosan


Ratu, Bupati, Lurah, Tumenggung, Kebayan


Maring rojo kafir pada asih anutan


Haji, abdi, dadi tulung maksiyat


Nuli dadi khotib ibadah


Maring alim adil laku bener syareate


Sebab khawatir yen ora nemu derajat


Ikulah lakune wong munafik imane suwung


Anut maksiyat wong dadi Tumenggung


Artinya:


Melihat tubuh hina menghadap dengan tubuh merayap


Manfaatnya ilmu dan amal hilang binasa


Pendapat dan tindakan kaum priyayi membuat dosa besar


Ratu, Bupati, Lurah, Tumenggung, Kebayan


Kepada raja kafir senang jadi pengikut


Termasuk haji abdi, menolong kemaksiatan


Kemudian menjadi kadi khotib ibadah


Kepada alim adil bertindak membenarkan syareat


Sebab khawatir bila tidak mendapat kedudukan


Itulah amalan orang munafik yang kosong imannya


Mengikuti perbuatan maksiat orang yang jadi Tumenggung.

[14/7 00.25] rudysugengp@gmail.com: 2. Buatkan gambar dan infografis tentang 

Perjuangan KH Ahmad Rifai


Protes itu disampaikan kepada santrinya di Pesantren Kalisalak maupun melalui pengajian dan khutbahnya di masjid. Gerakan protes yang dilakukan K.H. Ahmad Rifa’i dengan mengatakan bahwa pemerintah kolonial Belanda sebagai penguasa kafir, penindas, patut diperangi dan sumber kerusakan di Jawa terbukti berhasil menimbulkan kekisruhan yang dapat menimbulkan guncangan stabilitas pemerintahan di Jawa dan dikhawatirkan memunculkan gerakan anti-penjajah, meskipun tidak sampai menimbulkan pemberontakan fisik (Darban, 1990: 5). Hal ini membuat K.H. Ahmad Rifa’i dijadikan musuh bersama oleh Belanda dan aparat birokrasi tradisional. Segala daya dan upaya dilakukan untuk meniadakan K.H. Ahmad Rifa’i dan jama’ahnya dengan tuduhan bahwa ajarannya sesat dan menyesatkan.


Persepsi negatif terhadap K.H. Ahmad Rifa’i dan jamaahnya dapat ditemukan dalam Serat Cebolek karyaRaden Panji Jayasubrata. Dalam Serat Cebolek dikisahkan dua tokoh ulama non-pemerintah yang dianggap mengajarkan ajaran sesat yaitu Syaikh Muhammad Mutamakin dari desa Cebolek-Tuban dan K.H. Ahmad Rifa’i dari Kalisalak (Kuntowijoyo,1999: 123). Syaikh Mutamakin dituduh mengajarkan mistik sesat yaitu ilmukasunyatan dan menganjurkan orang untuk meninggalkan syari’at dan bisa mengganggu ketertiban umum. Mutamakin menjadi tersangka dan Ketib Anom dari Kudus menjadi pahlawan. Mutamakin selamat dari hukuman karena adanya suksesi kekuasaan dari Amangkurat IV kepada Paku Buwono II. Keadaan berbeda dialami K.H.Ahmad Rifa’i yang dituduh mengajarkan ajaran sesat, menyatakan dirinya sebagai satu-satunya ’alim adil, dan tidak mengesahkan salat jum’at di masjid lain selain masjidnya. K.H. Ahmad Rifa’i disuruh berdebat dengan Haji Pinang Penghulu Batang, meskipun awalnya menang tetapi pada akhirnya ia harus menerima kekalahan dan dibuang ke Ambon kemudian dipindahkan ke Manado hingga wafat pada1286 H/1878 M dalam usia 92 tahun (Yayasan Rifa’iyah, 2001: 2).


Tindakan pengasingan yang dilakukan pemerintah kolonial Belanda merupakan usaha preventif untuk mencegah timbulnya bahaya yang bisa mengganggu ketertiban dan keamanan, untuk itu ia harus dijauhkan dari jamaahnya. Meskipun jauh dari pengikutnya ia masih sempat mengirimkan surat dan empat kitab yang dititipkan pada saudagar Semarang yang bernama Abdullah (Darban, 1999: 52). Keempat kitab itu adalah Targhibul Mithalab tentang ushuluddin, Hidayatul Himmah tentang tasawuf, Kaifiyatul Miqshad tentang ibadah dan Nasihatul Haq tentang tasawuf. Surat dariK.H. Ahmad Rifa’i ditujukan kepada menantunya Maufuro, istri dan para santrinya yang isinya antara lain:


Agar para santrinya tetap mantap dan jazem mengamalkan kitab tarojumah dengan jalan menyalin, mendalami, dan mengamalkannya agar selamat dunia akhirat;

Kepada santri yang telah mendalami dan berlaku adil agar menjadi saksi, memberi fatwa dan mengesahkan keislaman orang yang membutuhkan;

Agar santrinya masih ada yang berani melakukan amar ma’ruf nahi munkar. Ia mengkhawatirkan adanya musibah kerusakan agama di Jawa setelah ditinggalkannya;

K.H. Ahmad Rifa’i menganjurkan para santri dan pengikutnya jangan mempunyai rasa belas kasihan terhadap pemerintah kafir;

Wasiat khusus bagi istrinya Sujinah, apabila belum kawin lagi tetap dianggap sebagai istrinya. Namun apabila sudah kawin dengan orang lain ia ridho dan ikhlas. Di samping itu kitab Asnal Miqshad agar diberikan kepadanya.

Jika pesan-pesan tersebut diamati, ia masih mempunyai semangat dan idealisme dalam perjuangan meskipun ia hidup di pengasingan jauh dari para pengikutnya. Hal ini bisa dilihat dari perintahnya agar tetap amar ma’ruf nahi munkar terhadap penguasa zalim (Darban, 1999: 62-63).


Di antara murid-murid generasi pertama K.H. Ahmad Rifa’i adalah K.H.Abdul Qohar (Kendal), K.H. Muhammad Tubo, K. Abu Ilham (Batang), K. Maufuro(Limpung), K. Hasan Dimejo (Wonosobo), K. Abdus Saman (Kendal), K.Abdullah/Dolak (Magelang), Abdul Ghani Wonosobo, Muhammad Toyyib (Wonosobo),Ahmad Hasan (Pekalongan), Nawawi (Batang), dan sebagainya. Murid-muridnya inilah yang menyebarkan ajaran Tarojumah ke berbagai daerah di Jawa Tengah dan sekitarnya (Amin,1989: 22). Sekarang pengikut Jamaah Rifa’iyah dan simpatisannya tersebar dibeberapa daerah di Jawa Tengah dan Jawa Barat bagian utara seperti Kendal,Pekalongan, Batang, Wonosobo, Pati, Magelang, Demak, Purwodadi, Pemalang,Indramayu, Cirebon dan sebagainya bahkan sampai ke Jakarta.


Dikarenakan pandangannya terhadap Belanda, Ahmad Rifa'i pernah dijuluki "Setan Kalisasak" oleh kolonial Belanda dan "Ulama Sesat" oleh ulama yang mendukung Belanda. Meskipun pada akhirnya ia mendapat larangan berdakwah, ia tetap berjuang dengan menulis berbagai kitab dan 55 kitab telah ia hasilkan. Sebuah organisasi dengan nama Rifa'iyah didirikan oleh para pengikutnya dan berpusat di Kedungwuni, Pekalongan, Jawa Tengah.

[14/7 00.30] rudysugengp@gmail.com: 3. Buatkan gambar dan infografis tentang 

Akhir Hayat dan Penghargaan KH Ahmad Rifai


Perjuangan dan Pengasingan: 

Beliau adalah ulama besar dan pendiri gerakan Rifa'iyah yang menentang kolonialisme Belanda. Akibat ajarannya yang dinilai membahayakan pemerintah Belanda, beliau ditangkap dan diasingkan ke Ambon pada 1855, lalu dipindahkan ke Manado hingga akhir hayatnya.


Karya Sastra dan Dakwah: 

Meskipun diasingkan, beliau tetap aktif menulis kitab-kitab keagamaan, seperti kumpulan kitab Tarojumah, yang berisi ajaran fikih dan tasawuf yang disampaikan dengan bahasa Jawa beraksara Arab (pegon) untuk memudahkan pemahaman masyarakat.


Wafat :

KH Achmad Rifa'i akhirnya meninggal dunia pada tahun 1870 pada usia 84 tahun saat diasingkan di Kampung Jawa, Tondano, Manado, dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kyai Mojo.


Setelah lebih dari satu abad akhirnya melalui Kepres Nomor: 089/TK/2004 ia diberi gelar sebagai Pahlawan Nasional oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

[14/7 00.42] rudysugengp@gmail.com: Gatot Mangkupraja

[14/7 00.49] rudysugengp@gmail.com: 2. Buatkan gambar dan infografis tentang 

Perjuangan Gatot Mangkupraja



Karier organisasi dan politik :

Keterlibatan Gatot Mangkoepradja dalam pergerakan nasional diawali ketika ia bergabung dengan Perhimpunan Indonesia (PI). Ketika Partai Nasional Indonesia (PNI) berdiri di Bandung pada tanggal 4 Juli 1927, Gatot Mangkoepradja segera menggabungkan diri dengan organisasi yang dipimpin oleh Ir. Soekarno itu. Akibat menjunjung tinggi konsep revolusi Indonesia, maka pada tanggal 24 Desember 1929 Pemerintah Hindia Belanda mengeluarkan perintah penangkapan terhadap Gatot Mangkoepradja dan para pemimpin PNI lainnya. Penangkapan terhadap Gatot Mangkoepradja baru dapat dilakukan pada tanggal 29 Desember 1929 di Yogyakarta. Gatot ditangkap bersama-sama dengan Ir. Soekarno. Mereka kemudian dibawa ke Bandung dan dijebloskan ke Penjara Banceuy.


Pada tanggal 18 Agustus 1930, Gatot Mangkoepradja mulai dihadapkan ke Landraad Bandung bersama-sama dengan Ir. Soekarno, Maskoen Soemadiredja, dan Soepriadinata. Mereka dijerat dengan tuduhan Pasal 169 bis dan 153 bis Wetboek van Strafrecht (KUHP-nya zaman kolonial). Mereka diadili dengan Hakim Ketua: Mr. Siegenbeek van Heukelom dengan Jaksa Penuntut: R. Soemadisoerja. Peristiwa ini dikenal dengan nama Indonesia Menggugat.


Pada tanggal 25 April 1931, akibat perpecahan PNI menjadi Partindo dan PNI-Baru, maka Gatot Mangkoepradja bergabung dengan Partindo karena ia merasa partai ini mempunyai persamaan ideologi dengan PNI. Namun tak lama, akhirnya ia keluar dari Partindo karena merasa kecewa dengan Soekarno dan bergabung dengan PNI-Baru pimpinan Hatta.


Pada masa penjajahan Jepang, Gatot Mangkoepradja yang telah dikenal baik oleh Jepang diberi wewenang untuk menjalankan Gerakan 3 A yaitu Nippon Pelindung Asia, Nippon Cahaya Asia, Nippon Pemimpin Asia. Akan tetapi usaha Jepang ini gagal karena Gatot Mangkoepradja tidak mau kooperatif. Karena penolakan ini maka ia ditahan oleh Kempeitei.


Setelah keluar dari tahanan, ia mengajukan usul kepada Jepang untuk membentuk Tentara Pembela Tanah Air (PETA). Akhirnya pada tanggal 3 Oktober 1943 dibentuklah secara resmi Pasukan Sukarela Pembela Tanah Air (PETA) melalui Osamu Seirei No. 44 Tahun 1943.


Setelah kemerdekaan Gatot Mangkoepradja kembali bergabung dengan PNI pada tahun 1948. Setahun kemudian ia menjabat Sekretaris Jenderal PNI menggantikan Sabillal Rasjad yang ditarik ke BP KNIP. Ia meninggalkan PNI pada tahun 1955 karena kecewa bahwa anggota PNI tidak boleh turut serta dalam organisasi kedaerahan.


Lalu ada Gerakan Pembela Panca Sila (GPPS) yang dibentuk khusus untuk Pemilu 1955 oleh bekas pimpinan Partai Nasional Indonesia di Jawa Barat ini. Oleh PNI partai ini dianggap sejenis organisasi front. Calon-calon GPPS banyak terdiri dari pejabat pemerintah yang juga anggota PNI.


Setelah peristiwa Gestapu tahun 1965, Gatot Mangkoepradja menyatakan dirinya masuk ke Partai Ikatan Pendukung Kemerdekaan Indonesia karena partai ini berjuang untuk menyelamatkan Pancasila dari ancaman komunisme.

[14/7 01.19] rudysugengp@gmail.com: 1. Buatkan gambar dan infografis tentang 

Biodata dan Kehidupan Awal Gatot Mangkupraja


Biodata : 

Gatot Mangkupraja

Nama Lengkap: Raden Gatot Mangkoepradja

Tempat Lahir: Sumedang, Jawa BaratTanggal 

Lahir: 15 Desember 1898 (beberapa sumber mencatat 25 Desember 1898)

Nama Orang Tua: dr. Saleh Mangkoepradja (ayah, dokter pribumi pertama di Sumedang)

Latar Belakang: Keturunan bangsawan (menak) dari Galuh, Ciamis.

Profesi/Karier: Aktivis politik, wartawan, dan pengacara.

Afiliasi Organisasi:⁠

* Perhimpunan Indonesia (PI)

* Partai Nasional Indonesia (PNI) (angkatan pertama bersama Bung Karno pada 1927)

* Muhammadiyah dan Laskar Hizbullah

* Partai Indonesia (Partindo), GPPS, dan IPKI


Gatot Mangkoepradja (25 Desember 1898 – 4 Oktober 1968). Ayahandanya adalah dr. Saleh Mangkoepradja, dokter pertama asal Sumedang. dan juga beliau merupakan tokoh dari Muhammadiyah .


Gatot Mangkoepradja adalah pendiri pasukan PETA atau Pembela Tanah Air. Ia lahir pada tanggal 15 Desember 1898 di Kampung Citamiang, Panjunan, Sumedang. Ia merupakan keturunan menak dari Galuh, Ciamis. Pendidikan Gatot dimulai dari Frobel School (Taman Kanak-Kanak), Europeesche Lagere School (ELS), Sekolah Dokter Jawa (STOVIA), dan Hogere Burger School (HBS). Gatot pernah bekerja di Statsspoor en Tramwegen (Jawatan Kereta Api).


Setelah itu, Gatot menempuh pendidikan di Hoogere Burger School (HBS) Bandung, tetapi tidak sampai tamat.


Meski begitu, Gatot tetap punya banyak kontribusi dalam aktivitas pergerakan nasional. Hal ini dibuktikan saat baru berumur 14 tahunn Gatot ambil bagian dalam mendirikan Paguyuban Pasundan.


Sempat bekerja di Perusahaan Kereta Api Negara, Gatot memutuskan untuk mengelola bisnis peninggalan sang ayah yakni Studi Klub Bandung.


Di sini, ia bertemu dengan Soekarno muda. Keduanya berkolaborasi mendirikan Perserikatan Nasional Indonesia yang berubah nama menjadi Partai Nasional Indonesia pada tahun 1928. Kala itu, Gatot menjadi sekretaris partai, sedangkan Soekarno menjadi ketua partai.


Namun, akibat gerakan politik ini, Gatot dan Soekarno berakhir di Penjara Banceuy selama dua tahun.


Setelah bebas dari penjara, Gatot bertolak ke Jepang untuk berdagang sekaligus berekreasi. Di sana, Gatot menghadiri acara yang dihadiri oleh tokoh duia seperti Rash Behari Bose dari India dan Aguinaldo dari Filipina.

[14/7 01.20] rudysugengp@gmail.com: 3. Buatkan gambar dan infografis tentang 

Akhir Hayat dan Penghargaan Gatot Mangkupraja


Pascaproklamasi kemerdekaan Indonesia, Gatot yang tengah menjadi pimpinan BKR ditahan oleh sekutu di Pulau Onrust dengan tuduhan kejahatan perang dan kolaborator perang. Tuduhan itu membuatnya dijatuhi hukuman 15 tahun penjara.


Berkat campur tangan Soekarno, Gatot bebas setelah Perjanjian Linggarjati.


Setelah itu, kembali melibatkan diri di PNI dengan menjabat sebagai sekjennya. Namun, dia memutuskan untuk keluar dari PNI pada Pemilihan Umum 1955 dan bergabung dengan Partai Ikatan Pendukung Kemerdekaan Indonesia (IPKI) yang didirikan Kolonel A.H. Nasution, Kolonel Gatot Subroto, dan Kolonel Aziz Saleh.


Pada tahun 1962, Gatot menjabat sebagai anggota MPRS. Namun, kariernya terhenti usai meledaknya peristiwa 30 September 1965. Ia dituduh berafiliasi dengan Soekarno dan PKI.


Akhir Hayat :

Gatot Mangkupraja meninggal dunia pada 4 Oktober 1968 di Bandung, Jawa Barat, dalam usia 69 tahun. 

Ia mengembuskan napas terakhir setelah melewati masa panjang perjuangan kemerdekaan, termasuk masa-masa penahanan oleh Belanda akibat aktivitas politiknya. Jasadnya dimakamkan di Taman Pemakaman Umum (TPU) Sirnaraga, Bandung.


Penghargaan dan Gelar :

Pemerintah Indonesia memberikan apresiasi tinggi terhadap jasa besarnya dalam meletakkan dasar militer pertahanan Indonesia.


Pahlawan Nasional Indonesia: 

Dianugerahi gelar Pahlawan Nasional oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada tahun 2004 melalui Keputusan Presiden RI No. 089/TK/Tahun 2004.


Bapak PETA: 

Secara historis diakui sebagai tokoh utama di balik lahirnya kesatuan milisi Pembela Tanah Air lewat surat permohonan yang ia kirimkan kepada Panglima Militer Jepang (Gunseikan) pada tahun 1943.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

1 - 216

  PAHLAWAN NASIONAL (1959 - 2025) Presiden 1 (Sukarno) 49 (1  49) No. 1 Nama  : Abdoel Moeis Dasar Penetapan : Keppres No. 218 Tahun 19...