[6/7 01.58] rudysugengp@gmail.com: 1. Buatkan gambar dan Infografis tentang
Riwayat KGPAA Mangkunegara I
Biodata :
Nama : Bandara Raden Mas Said
Kelahiran : 7 April 1726, Kartasura
Kematian : 28 Desember 1795 (umur 70), Surakarta
Pemakaman :
Astana Mangadeg, Matesih, Karanganyar
Permaisuri :
Kangjeng Ratu Bandara, BRAy. Kusumapatahati
Pasangan :
Garwa Padmi :
Kangjeng Ratu Bandara; BRAy. Kusumapatahati.
Selir (ampil) :
Nyi Ajeng Megatsari
Nyi Ajeng Wirasari
Nyi Ajeng Kertasari
Nyi Ajeng Wangsasari
Nyi Ajeng Puspasari
Nyi Ajeng Marliyah
Keturunan : 25
Ayah : KPA. Mangkunagara
Ibu : R.Ay. Wulan
Agama : Islam
Riwayat :
RM. Said lahir di Kartasura dengan ayah KPA. Mangkunegara (Kartasura), yang merupakan putra tertua Susuhunan Amangkurat IV, raja Mataram ke-8. Dengan demikian, sebenarnya dialah yang memiliki hak sebagai pewaris tahta.
Namun KPA. Mangkunegara secara politik terang-terangan menyatakan sikap anti-VOC, dan sikap ini dianut pula oleh adik lain ibu yang bernama, RM. Sujana / Pangeran Mangkubumi, dan RM. Said sendiri selaku anak sendiri.
Sikap politik ini juga yang membuat KPA Mangkunegara diasingkan oleh VOC ke Ceylon, Srilanka. Sejak saat itu RM.
Said diasuh oleh neneknya yang bernama BRAy. Kusumanarsa dan diharapkan kelak akan membuat perubahan besar bagi Karaton Kartasura.
Memiliki nama julukan sebagai Pangeran Sambernyawa oleh Nicolaas Hartingh selaku perwakilan Gubernur VOC untuk Pantai Timur Jawa[5] karena di dalam berbagai pertempuran RM. Said nyaris tidak pernah kalah dan selalu membawa kematian bagi musuh-musuhnya.
Selain itu bilamana dicermati, di manapun tempat termasuk Pura Mangkunegaran, tidak akan dijumpai suatu gambar yang melukiskan wajah KGPAA.Mangkunegara I. Hal ini dikarenakan sesuai wasiatnya yang tidak ingin dilukis atau digambar untuk menghindari pengkultusan pribadi. Sehingga ia berpesan kepada seluruh anak cucu maupun kawulanya agar jangan ada yang menggambar tentang dirinya. Sehingga di lingkup Pura Mangkunegaran pun tidak akan terdapat gambar potretnya. Sebagai gantinya, ia cukup dilukiskan secara simbolis dengan tulisan "MN" dalam bingkai Surya Sumirat seperti gambar di samping ini.
[6/7 02.22] rudysugengp@gmail.com: 3. Buatkan gambar dan infografis tentang
Perjanjian Salatiga dan Gelar Pahlawan KGPAA Mangkunegara I
Perjanjian Salatiga / Perjanjian Kalicacing :
Tak seorang pun yang berhasil menjamah RM. Said. Melihat kenyataan tersebut, Nicholas Hartingh mendesak Susuhunan Pakubuwana III agar membujuk RM. Said ke meja perdamaian. Kemudian Susuhunan Pakubuwana III mengirim utusan untuk menemui RM. Said di markasnya. Singkat cerita dia menyatakan bersedia berunding dengan Susuhunan Pakubuwana III dengan syarat tanpa melibatkan VOC.
Singkatnya RM. Said pun berkenan menemui Susuhunan Pakubuwana III dengan dikawal 120 prajuritnya. Pertemuan pun berlangsung di Desa Jemblung, Wonogiri yang mana selain Sunan Surakarta itu memberikan dana bantuan logistik sebesar 500 real untuk prajurit Pangeran Mangkunegara, dia juga memohon kepada RM. Said untuk berkenan membimbingnya di karaton sebagai kamasdalem (saudara tua). Disitu terjadilah kesepakatan damai antara Susuhunan Pakubuwana III dan RM. Said yang akan diformalkan dalam Perjanjian Salatiga, 17 Maret 1757 nanti.
Ketika mencapai harinya, Susuhunan Pakubuwana III pun menjemput RM. Said di Desa Tunggon yang berada di sebelah timur Sungai Bengawan Solo. Ketika sampai di Kalicacing, Salatiga maka perjanjian damai dimulai dengan hanya melibatkan Susuhunan Pakubuwana III, Sultan Hamengkubuwana I dan beberapa perwakilan VOC. Disitu disepakati bahwa RM. Said diangkat sebagai Pangeran Miji alias mandiri dan berwenang memakai gelar "Kangjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara" dengan ketentuan tidak diperkenan membuat dhampar kencana (singgasana dari logam emas), tidak diperkenankan membuat alun-alun dan beringin kurung, tidak diperkenankan pula membuat Bangsal Witana (karena merupakan tempat pengambilan sumpah sebagai raja), serta tidak diperkenankan lagi membalas hutang nyawa yang sudah lalu. RM. Said pun menyanggupi, tetapi dia juga memiliki permintaan bahwa dia akan diperkenankan memakai busana seperti raja walaupun tidak memakai kuluk kanigaran dan boleh duduk sama rata dengan Susuhunan Pakubuwana III serta wilayah yang pernah diduduki menjadi wilayah berdaulat milik RM. Said. Setelah semua mufakat dan sepakat, maka pertemuan tersebut pun diakhiri dengan penandatanganan Perjanjian Salatiga yang memulai perjalanan Pura Mangkunegaran.
Lalu untuk menetapkan wilayah kekuasaan Mangkunegaran dalam perjanjian tersebut disebutkan bahwa wilayah Keduwang, Matesih, Honggobayan, Sembuyan, Kedu Gunung Kidul, sebagian kecil Ngawen, dan Pajang sebelah utara menjadi milik RM. Said atau KGPAA. Mangkunegara I. Sesuai kesepakatan pula, bahwa RM. Said berkenan menempati Kepatihan dan inilah yang mengakibatkan Kepatihan Surakarta harus bergeser ke timur di wilayah Keprabon sekarang. Lalu sembari menunggu Kepatihan ditata ulang, RM. Said bertempat tinggal di tempat Patih Sindureja yang bernama Ndalem Mangkuyudan. Dia bertahta selama 40 tahun dan kemudian wafat pada hari Senin Pon tanggal 16 Jumadilakir tahun Jimakir 1722 atau tanggal 28 Desember 1795.
Membentuk Prajurit Estri (Ladrang Mangungkung) :
KGPAA. Mangkunegara I tercatat sebagai salah satu pemimpin yang melibatkan wanita dalam angkatan perang. Selama menjalankan pemerintahannya, dia menerapkan prinsip Tridarma. Selain itu KGPAA. Mangkunegara I membentuk kesatuan prajurit berjumlah 150 wanita muda yang dikenal sebagai Prajurit Estri atau Ladrang Mangungkung. Tugas prajurit putri ini adalah sebagai pengawal ketika bertemu dengan tamu. Pembentukan prajurit wanita bukanlah hal yang baru dalam tradisi kerajaan jawa. Sebelumnya pada masa Susuhunan Agung Hanyakrakusuma juga pernah memiliki kesatuan prajurit wanita yang bertugas sebagai ajudan raja.
Prajurit Estri dikenal akan kemahirannya dalam memainkan senjata dan menunggang kuda. Selain itu mereka juga dilatih untuk menyanyi, menari dan memainkan alat musik. Pada suatu kesempatan Prajurit Estri ditugaskan untuk menyambut seorang gubernur dari timur laut. Mereka tampil dengan baju adat Bali yang dihiasi dengan ikat pinggang berbordir emas dan hiasan daun-daun dengan bordiran emas. Mereka tampil berjalan kaki dengan busur dan panah. Selain itu mereka juga melakukan tembakan salvo prajurit sebanyak tiga kali. Pertunjukkan ini diakhiri dengan menaiki kuda dan pergi meninggalkan penonton.
Gelar pahlawan nasional :
Pada tahun 1983, pemerintah Republik Indonesia mengangkat KGPAA. Mangkunegara I sebagai pahlawan nasional atas jasa-jasa kepahlawanannya dengan mendapat penghargaan Bintang Mahaputra.
[6/7 02.28] rudysugengp@gmail.com: 4. Buatkan gambar dan infografis tentang
Pergeseran makna dari Putra Mahkota / Pangeran Pati
Tradisi Karaton Mataram mengenai Putra Mahkota yang memakai gelar "Mangkunegara" dimulai saat putra sulung Susuhunan Amangkurat Jawi (Amangkurat IV) yaitu RM. Sura / KPA. Mangkunegara Kartasura dijadikan sebagai Pangeran Pati dengan gelar "Kangjeng Pangeran Adipati Arya Mangkunegara".
Namun ketika terjadi penggeseran kedudukan putra mahkota yang dilakukan oleh kelompok GRM. Prabasuyasa (kelak menjadi Susuhunan Pakubuwana II). Maka kedudukan gelar pangkat Pangeran Pati yang memakai nama Mangkunegara tidak dilepas, hanya saja bagian "Arya" diganti menjadi "Anom" yang berarti muda.
Penggantian nama ini sekaligus menggeser kedudukan Putra Mahkota yang tadinya harus bersyarat sebagai "Arya" yang berarti harus menguasai ilmu keprajuritan, menjadi "Anom" yang artinya tidak harus mengharuskan menguasai ilmu keprajuritan alias awam soal kemiliteran. Dan nama "Mangkunegara" pun sedikit ditambah menjadi "Hamengkunegara / Amangkunegara".
Kendati demikian, penggeseran kedudukan putra mahkota ini tidak menghilangkan jabatan di kerajaan, karena posisi KPA. Mangkunegara di Karaton Mataram tetap menjabat sebagai penasihat kerajaan seperti biasa. Namun tetap saja keberadaan KPA. Mangkunegara sebagai penasihat ini oleh kelompok oposisi poltiknya terus diupayakan penjegalan dan yang paling parah adalah berusaha melenyapkan sebagai pewaris yang sah.
Keberhasilan para oposan dalam menyingkirkan KPA. Mangkunegara selaku putra mahkota yang sah ini selanjutnya akan dibayar mahal oleh bangsawan Mataram yang begitu saja rela menyerahkan tampuk pemerintahan pada raja yang lemah dan suka ragu-ragu dalam mengambil keputusan. Hohendorf sendiri sebagai kepala garnisun di Surakarta pernah menyampaikan kepada Susuhunan Pakubuwana II sendiri, bahwa kondisi Karaton Mataram selama dalam pemerintahannya tidak pernah stabil dan terus digoyang oleh ketidakstabilan dalam segi apapun.
Di satu sisi, pernyataan kepala garnisun Belanda itu juga termasuk kontroversial karena dia sendiri sebagai seorang militer Belanda melihat sesuatu yang stabil adalah kejelekan yang tidak menguntungkan kantong pribadinya. Sehingga dari peristiwa penggeseran putra mahkota Mataram ini sudah dapat dicatat adanya suatu kelompok yang akan bertahan sampai pada batas limit perjuangan.
Karaton Mataram yang akhirnya terpecah itu akhirnya menerima nasib dibagi menjadi tiga pecahan pada waktu itu. Bahkan dalam percaturan politik Jawa, dua karaton (Kasunanan dan Kasultanan) dan VOC atau Belanda itu sendiri mau tidak mau harus menerima posisi Pura Mangkunegaran sebagai neraca keseimbangan poltik. Meski posisi diatas kertas kedudukan Pura Mangkunegaran diposisikan di bawah kerajaan karena statusnya yang hanya Kadipaten, akan tetapi secara de facto politik tidak hanya show dan pamer kemegahan semata. Politik dan kekuasaan adalah perwujudan wahyu yang harus dijaga sekaligus merupakan hasil kecerdasan dan skill dalam permainan. Barang siapa yang tidak mampu dalam permainan itu, sejarah akan tetap mencatat prestasi masing-masing.
[6/7 02.35] rudysugengp@gmail.com: 2. Buatkan gambar dan Infografis tentang
Perjuangan melawan Belanda KGPAA Mangkunegara I
Awal Perjuangan :
Perjuangan RM. Said dimulai dengan pemberontakan di Karaton Kartasura pada 30 Juni 1742 yang dipimpin oleh Raden Mas Garendi (juga disebut Sunan Kuning) yang mengakibatkan tembok benteng Karaton Kartasura setinggi 4 meter itu roboh. Susuhunan Pakubuwana II, raja Mataram ketika itu pun menyelamatkan diri dengan mengungsi ke Ponorogo.
Waktu itu RM. Said masih berumur 19 tahun. Dia bergabung bersama-sama untuk menuntut keadilan dan kebenaran atas harkat dan martabat rakyat Mataram yang ketika itu tertindas oleh Kompeni Belanda (VOC) dan Rajanya sendiri Susuhunan Pakubuwana II. Kemudian mereka menggempur Karaton Kartasura yang dianggap sebagai kerajaan boneka dari Belanda.
Sejak pasukan mengepung Karaton Kartasura pada awal 1741, para bangsawan pun mulai meninggalkan Karaton Kartasura untuk mencari selamat.
RM. Said juga membangun pertahanan di Randulawang sebelah utara Surakarta, dan bergabung dengan laskar Sunan Kuning dalam melawan VOC. RM. Said diangkat sebagai panglima perang bergelar Pangeran Prangwadana.
Adapun Pangeran Mangkubumi justru lari ke Semarang untuk menemui penguasa Belanda dan meminta dirinya dirajakan. Jelas VOC langsung menolak permintaan itu. Lalu kemudian bergabung dengan Pangeran Puger di Sukowati (kini Sragen). Dengan bantuan Belanda, seluruh pasukan Cina bisa diusir dari Karaton Kartasura, lalu enam bulan kemudian Susuhunan Pakubuwana II kembali ke Kartasura, tetapi mendapatkan istananya telah rusak parah. Kemudian memerintahkan untuk pindah tempat dari Kartasura ke Desa Sala atas petunjuk para pujangganya.
Namun kebijakan raja dalam meminta bantuan asing itu jelas tidak gratis dan harus dibayar mahal dengan wilayah pantai utara mulai Rembang, Pasuruan, Surabaya dan Madura harus diserahkan pada VOC. Selain itu setiap ada pengangkatan pejabat tinggi di karaton wajib mendapat persetujuan dari VOC terlebih dahulu. Sehingga posisi raja tak lebih dari "Leenman" atau “peminjam kekuasaan Belanda”.
Ketika Pangeran Mangkubumi menyatakan ikut memberontak Belanda dan bergabung dengan laskar RM. Said, ia memilih bergerilya melawan Belanda di pedalaman yang kini bernama Yogyakarta. RM. Said menikah dengan RAy. Kusumapatahati putri dari Kyai Kasan Nuriman. Lalu pada usia 22 tahun, dinikahkan lagi untuk kedua kalinya dengan Raden Ayu Inten (kelak bernama Kangjeng Ratu Bandara), seorang putri Pangeran Mangkubumi. Dan setelah putus hubungan dengan laskar RM. Garendi, kemudian RM. Said yang kini memakai nama Pangeran Mangkunegara bermarkas di Panambangan dan menyatakan diri sebagai pemimpin dengan memakai gelar "Sultan Adiprakosa Senapati Ngayuda Lêlana Jayamisesa Prawira Adiningrat", tetapi tak berselang lama ketika hendak duduk di singgasana, singgasana tersebut tersambar petir.
Hal itu menandakan bahwa RM. Said tidak boleh menjadi raja atau berlebihan seperti layaknya raja di karaton, sehingga ia dengan ikhlas menggunakan lagi nama lamanya, Pangeran Mangkunegara.
Nama Mangkunegara diambil dari nama ayahnya, KPA. Mangkunegara Kartasura yang ditangkap karena sudut pandang politiknya dinilai melawan Susuhunan Pakubuwana II yang dilindungi VOC sekaligus akibat fitnah keji dari Raden Adipati Danureja selaku Pepatihdalem Karaton Kartasura waktu itu hingga akhirnya diasingkan ke Ceylon, Srilanka ketika RM. Said masih berusia dua tahun. Sehingga tidak heran bila RM. Said berjuang mati-matian melawan Belanda bahkan termasuk Mataram secara bergerilya dan berpindah-pindah tempat.
Ketika mendengar kabar bahwa Susuhunan Pakubuwana II wafat. RM. Said menemui Pangeran Mangkubumi yang berada di Banaran dan meminta mertuanya itu menjadi raja Mataram sebelum pengangkatan raja dari putra dari Pakubuwana II. Pangeran Mangkubumi memproklamirkan diri dengan gelar "Sinuhun Kangjêng Sultan Hamangkubuwana, Senapati ing Ngalaga Ngabdurrahman Sayidin Panatagama Kalipattolah" dan disebut sebagai "Sultan ing Kabanaran". Penobatan ini terjadi pada tahun 1675 Jawa atau 1749 Masehi. RM. Said atau Pangeran Mangkunegara ini diangkat sebagai panglima perang dan istrinya, Raden Ayu Inten, diganti namanya menjadi Kanjeng Ratu Bandara. Namun tentu pemerintahan Pangeran Mangkubumi yang berpusat di Banaran ini tidak diakui oleh VOC. Berbagai dinamika telah terjadi, setelah sekian lama berjuang bersama melawan kekuasaan Mataram dan VOC, Pangeran Mangkubumi dan Pangeran Mangkunegara malah berselisih paham dan berujung konflik yang bermula dari pertempuran melawan Adipati Ponorogo yang bernama Raden Adipati Suradiningrat di Kalidemung dan pembagian harta rampasan perang yang dinilai tidak utuh.
Perjanjian Giyanti :
RM. Said berperang sepanjang 16 tahun melawan kekuasaan Mataram dan VOC dengan rincian : tahun 1741-1742 ia memimpin laskar Tionghoa melawan Belanda, lalu tahun 1743-1752 bergabung dengan Pangeran Mangkubumi melawan Mataram dan Belanda, dan sisanya hingga tahun 1757 ia berjuang sendiri melawan VOC dan Mataram yang sudah dipecah menjadi dua bagian dalam Perjanjian Giyanti pada 13 Februari 1755 menjadi Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta sebagai hasil rekayasa Belanda. Perjanjian ini juga sangat ditentang oleh RM. Said karena bersifat memecah belah rakyat Mataram dan menyayangkan paman sekaligus mertuanya yang dianggapnya berkhianat karena dirajakan oleh VOC.
Dan dalam kurun waktu 16 tahun, pasukan Mangkunegara melakukan kurang lebihnya 250 kali pertempuran dengan gemilang. Tidak heran karena dalam membina kesatuan tentaranya, RM. Said memiliki motto "tiji tibèh" yang merupakan kependekan dari mati siji, mati kabèh, mukti siji, mukti kabèh (gugur satu, gugur semua, sejahtera satu, sejahtera semua). Dengan motto ini tentu rasa kebersamaan maupun kesolidan pasukannya selalu terjaga dan berhasil membina pasukan yang militan. Dari sinilah ia dijuluki “Pangeran Sambernyawa”, karena dianggap oleh musuh-musuhnya sebagai penyebar maut. Kehebatan RM. Said dalam strategi perang bukan hanya dipuji pengikutnya melainkan juga disegani lawannya. Bahkan Gubernur Pesisir Jawa bagian timur yang bernama Baron van Hohendorff memuji kehebatan Pangeran Mangkunegara. Pangeran yang satu ini sudah sejak mudanya terbiasa dengan perang dan menghadapi kesulitan. Sehingga tidak mau bergabung dengan Belanda dan keterampilan perangnya diperoleh selama pengembaraan di daerah pedalaman.
*Tiga pertempuran dahsyat terjadi pada periode 1752-1757.*
1. Yang pertama, ketika pasukan RM. Said bertempur melawan pasukan Sultan Hamengkubuwana I di desa Kasatriyan yang berada di barat daya kota Ponorogo.
Perang itu terjadi pada hari Jumat Kliwon, tanggal 16 Syawal tahun Je 1678 atau 1752 Masehi. Desa Kasatriyan menjadi benteng pertahanan RM. Said setelah berhasil menguasai daerah Madiun, Magetan dan Ponorogo.
2. Yang kedua, RM. Said bertempur melawan dua detasemen VOC :
Dengan komandan Kapten Van der Pol dan Kapten Beiman di sebelah selatan Rembang yang berbatasan dengan Blora, tepatnya di Hutan Sitakepyak yang melawan pasukan VOC dalam jumlah besar untuk menghancurkan pertahanan Pangeran Mangkunegara di utara. Besarnya pasukan itu dilukiskan bagaikan semut yang berjalan beriringan tiada putus. Kendati jumlah pasukan Pangeran Mangkunegara itu lebih kecil tetapi nyatanya dapat memukul mundur musuhnya dan diklaim hanya kehilangan 3 orang prajurit tewas dan 29 orang menderita luka-luka, sementara di pihak lawan sekitar 600 prajurit tewas. Peristiwa ini terjadi pada hari Kamis Pahing tanggal 17 Sura tahun Wawu 1681 atau 23 Oktober 1755. Dalam pertempuran ini pula RM. Said berhasil menebas kepala Kapten Van der Pol dengan tangan kirinya dan diserahkan pada salah satu istrinya sebagai hadiah perkawinan.
3. Yang ketiga, penyerbuan benteng Vredeburg Belanda dan Kasultanan Yogyakarta
Hari Rabu Pahing tanggal 3 Sapar tahun Jimakir 1682 atau tanggal 27 Oktober 1756. Peristiwa itu dipicu oleh kekalutan tentara VOC yang mengejar RM. Said sambil membakar dan menjarah harta benda penduduk desa yang membuat RM. Said menjadi murka. Kemudia membalik serangan kepada pasukan VOC dan Yogyakarta secara diam-diam dengan membawa pasukan mendekat ke Karaton Kasultanan Yogyakarta. Benteng Vredeburg sebagai benteng VOC letaknya hanya beberapa puluh meter dari karaton langsung diserang. Lima tentara VOC tewas dan ratusan lainnya melarikan diri ke Karaton Kasultanan Yogyakarta. Karena dinilai melindungi VOC, maka selanjutnya pasukan RM. Said pun menyerang Karaton Kasultanan Yogyakarta hingga berlangsung sehari penuh. Bahkan karaton yang masih baru dan belum sepenuhnya jadi itu sempat dibakar oleh pasukan RM. Said sehingga mengakibatkan kerusakan yang fatal. Pada waktu menjelang malam barulah RM. Said menarik mundur seluruh pasukan yang tersisa. Tak ayal, serbuan pasukan RM. Said ke Karaton Kasultanan Yogyakarta ini pun mengundang amarah Sultan Hamengkubuwana I, bahkan ia menawarkan hadiah 500 real serta kedudukan sebagai Bupati bagi siapa saja yang dapat menangkap RM. Said. Tidak hanya itu, VOC yang tidak berhasil membujuk RM. Said ke meja perundingan pun menjanjikan pula hadiah 1.000 real bagi siapapun yang dapat membunuh Pangeran Mangkunegara.
[6/7 12.30] rudysugengp@gmail.com: 4. Buatkan gambar dan infografis tentang
RP Suroso sebagai Bapak Koperasi Pegawai
Bapak KPRI :
Soeroso adalah salah satu Pahlawan Nasional yang pernah memperjuangkan kesejahteraan pegawai negeri dalam hal ini para pegawai negeri dapat membeli rumah dinas dengan cara mengangsur. Ia juga dikenal sebagai Pendiri Koperasi Pegawai Negeri Republik Indonesia, sehingga ia juga dijuluki Bapak Koperasi Pegawai Negeri Republik Indonesia.
Bapak Koperasi:
Sebagai Menteri Sosial pada tahun 1952, ia mempelopori pendirian koperasi pegawai di berbagai instansi. Perjuangannya memajukan kesejahteraan pegawai negeri dan masyarakat membuatnya diakui sebagai Bapak Koperasi Pegawai Negeri.
5. Buatkan gambar dan infografis tentang
Akhir Hayat dan Penghargaan RP Suroso
Akhir Hidup :
RP Soeroso wafat pada 16 Mei 1981. Ia memiliki seorang putra bernama Raden Pandji Soejono, seorang ahli purbakala atau arkeolog senior di Indonesia. Untuk mengenang jasa Soeroso, melalui SK Presiden No. 81/TK/1986, ia dinobatkan menjadi Pahlawan Nasional Indonesia.
Penghargaan Perintis Kemerdekaan Indonesia :
Selanjutnya, pada 1956, Soeroso terpilih menjadi Ketua Badan Koordinasi Pusat Koperasi Pegawai Negeri Seluruh Indonesia.
Penghargaan :
Selain menjabat dan menduduki berbagai posisi penting di pemerintahan Republik Indonesia, R.P. Soeroso juga menerima banyak tanda penghargaan bintang maupun lencana dari pemerintahan Republik Indonesia.
Antara lain adalah:
1. Bintang Mahaputera Adipradana;
2. Bintang Gerilya;
3. Bintang Perintis Kemerdekaan RI;
4. Lencana Satya Karya KL. 1;
5. Lencana Kemerdekaan;
6. Lencana Pembangunan.
[6/7 12.30] rudysugengp@gmail.com: Mulai Suroso
[6/7 12.30] rudysugengp@gmail.com: 1. Buatkan gambar dan infografis tentang
Biodata dan Masa Muda RP Suroso
Lahir :
Raden Pandji Soeroso lahir pada tanggal 3 Nopember 1893 di Porong, Sidoarjo. Beliau mulai menempuh pendidikan di HIS (Hollands Inlandse School) di Sidoarjo dan dilanjutkan ke sekolah guru (kweekschool) di Probolinggo selama 6 tahun, namun saat menjelang ujian akhir ia dikeluarkan dari sekolah tersebut karena memimpin pemogokan murid-murid sekolah yang tidak puas dengan Direktur Sekolah yang menghina bangsa Indonesia.
Bela Rakyat :
Pada tahun 1913 R.P. Soeroso yang baru berusia 20 tahun telah aktif dalam berbagai organisasi pergerakan dengan menjadi Ketua Serikat Islam di Probolinggo. Hingga pada tahun 1919, beliau pindah dan menjadi Ketua Serikat Islam di Mojokerto (1919-1924) sekaligus merangkap jabatan locoburgemeester (wakil walikota). Gerakan yang dilakukan oleh R.P. Soeroso adalah upaya perbaikan ekonomi rakyat, terutama dalam pemenuhan kebutuhan pokok masyarakat. Perjuangannya di tiga kota, Sidoarjo, Mojokerto dan Jombang fokus pada pemilik warung-warung yang akan digusur, perbaikan upah dan nasib pegawai pabrik, serta perbaikan nasib petani.
Masa Muda :
Soeroso pernah memimpin aksi pemogokan siswa yang protes terhadap kepala sekolah mereka (seorang Belanda). Sang kepala sekolah dianggap telah menghina bangsa Indonesia.
Akibatnya, Soeroso dipecat dari sekolah tersebut.
Kemudian pada 1917, Soeroso telah berhasil memperjuangkan nasib para pemilik warung pribumi di pinggir Jalan Probolinggo agar tidak dibongkar.
Keluarga :
Salah seorang putranya adalah Raden Pandji Soejono (1926 - 2011) seorang ahli purbakala atau arkeolog senior di Indonesia.
Soejono adalah mahaguru arkeologi khususnya bidang prasejarah di beberapa universitas di Indonesia.
Antara lain: UI, UGM dan Universitas Udayana. Sempat menjadi Kepala Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (1974 - 1989).
[6/7 12.34] rudysugengp@gmail.com: 2. Buatkan gambar dan infografis tentang
Perjuangan Pergerakan Kemerdekaan RP Suroso
Pada tahun 1913, RP Soeroso yang baru berusia 20 tahun aktif dalam berbagai organisasi pergerakan dengan menjadi Ketua Serikat Islam di Probolinggo. Hingga pada tahun 1919, ia pindah dan menjadi Ketua Serikat Islam di Mojokerto (1919-1924) sekaligus merangkap jabatan locoburgemeester (wakil walikota).
Gerakan yang dilakukan oleh R Soeroso adalah upaya perbaikan ekonomi rakyat, terutama dalam pemenuhan kebutuhan pokok masyarakat.
Perjuangannya di tiga kota, Sidoarjo, Mojokerto dan Jombang fokus pada pemilik warung-warung yang akan digusur, perbaikan upah dan nasib pegawai pabrik, serta perbaikan nasib petani.
R. P. Soeroso adalah salah satu Pahlawan Nasional Indonesia yang lahir di Sidoarjo pada 3 November 1893. Sejak muda beliau aktif di Boedi Oetomo dan Sarekat Islam, serta menunjukkan sikap kritis pada pemerintah kolonial dengan memimpin aksi mogok kaum buruh di Mojokerto tahun 1921, dan mendirikan surat kabar Kemadjoean Hindia pada 1923.
Beliau memulai karier politik dengan menjadi anggota Volksraad pada 1924 mewakili Parindra. Beliau tercatat sebagai pribumi pertama yang berani berpidato mengkritisi kebijakan Pemerintah Hindia Belanda di sidang Volksraad, termasuk menentang pemberlakuan pajak tanah di Sumatera Barat.
Masa Pergerakan & Hak Buruh:
Ia berani memimpin pemogokan siswa menentang kepala sekolah Belanda pada tahun 1912. Ia juga aktif memperjuangkan nasib pedagang pribumi agar tidak digusur dan menjadi pemimpin serikat buruh.
Kiprah :
Tidak berhenti di situ, pada 1921, Soeroso dipilih menjadi Ketua Personil Pabrik Bon Daerah Mojokerto. Di sana ia memimpin pemogokan buruh di Pabrik Gula di Mojokerto milik seorang Belanda.
Pada 1921 sampai 1923, Soeroso juga berhasil memperjuangkan kaum tani sebagai pengolah tanah dalam melawan tindakan semena-mena dari pabrik gula tersebut.
Memasuki tahun 1924, Soeroso sudah mulai aktif dalam dunia politik.
Pada tahun yang sama, Soeroso diangkat menjadi anggota volksraad atau Dewan Rakyat.
Menjabat sebagai Dewan Rakyat, Soeroso berhasil menolak pajak Landrente di Sumatera Barat.
Sewaktu pejabat Jepang di Magelang mengumpulkan 400 orang Bekasi untuk dijadikan perawat dalam, PMI dibubarkan. Pada dasarnya pengumpulan 400 orang ini untuk mempersiapkan kekuatan bersenjata untuk menyerang Republik Indonesia. Ketika rakyat menaikkan bendera merah putih di Gunung Tidar, Jepang berusaha menahan. Keadaan pun mulai memanas dan semakin menegangkan saat Jepang mulai menembak hingga dua pemuda menjadi korban.
Emosi rakyat semakin memuncak.
Soeroso yang mengetahui hal ini segera menenangkan rakyat yang akan menyerang markas Jepang.
Lalu, Soeroso pergi menemui Jenderal Tanaka untuk memintanya menghukum Kempetai atau polisi tentara Jepang.
Jenderal Tanaka mengabulkan permintaan Soeroso.
Anggota Volksraad :
Pada tahun 1924, Soeroso diangkat menjadi anggota Volksraad.
[6/7 12.45] rudysugengp@gmail.com: 3. Buatkan gambar dan infografis tentang
RP Suroso era Jepang dan Proklamasi Kemerdekaan
Wakil Ketua BPUPKI :
Wakil Ketua BPUPKI:
Pada tahun 1945, ia ditunjuk sebagai Wakil Ketua Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) mendampingi Dr. K.R.T Radjiman Wediodiningrat. Ia kemudian menjadi anggota PPKI yang berjasa mempersiapkan dasar negara.
Lalu, selama sidang Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), Soeroso dipilih oleh pemerintah pendudukan Jepang sebagai Kepala Tata Usaha. Sementara wakilnya adalah Abdoel Gaffar Pringgodigdo. Sidang-sidang BPUPKI diadakan di Jakarta, sementara Soeroso tinggal di Kota Magelang. Karenanya, urusan tata usaha harian diserahkan kepada Abdoel Gaffar.
Lanjut Wakil Ketua PPKI :
Setelahnya, Soeroso ditetapkan sebagai Wakil Ketua Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia yang diketuai oleh Radjiman Wedyodiningrat.
Gubernur Jateng pertama :
Setelah Indonesia memperoleh kemerdekaan pada tahun 1945, Soeroso dipilih oleh Soekarno selaku Presiden Indonesia untuk menjadi Gubernur Jawa Tengah yang pertama.
Mendagri :
Lalu Soeroso menjabat sebagai Menteri Dalam Negeri pada tahun 1949. Jabatan ini diperolehnya setelah Agresi Militer Belanda II di Yogyakarta berakhir pada akhir bulan Juni 1949.
Pejuang Fisik:
Ia juga turun langsung memimpin perlawanan bersenjata menghadapi tentara Inggris di Cianjur pada awal 1946.
Ketua Badan Koordinasi KPN/KPRI :
Pada tahun 1956, Soeroso terplilih menjadi Ketua Badan Koordinasi Pusat Koperasi Pegawai Negeri Seluruh Indonesia.
Badan Koordinasi Pusat Koperasi Pegawai Negeri Seluruh Indonesia akhirnya berganti naman menjadi Induk Koperasi Pegawai Negeri pada tahun 1960.
Anggota Pertimbangan Penghargaan Perintis Kemerdekaan :
Kemudian pada bulan Agustus 1958, Soeroso diangkat oleh Soekarno untuk menjadi anggota Pertimbangan Penghargaan Perintis Kemerdekaan Indonesia.
[6/7 14.03] rudysugengp@gmail.com: 4. Buatkan gambar dan infografis tentang
Akhir Hayat dan Penghargaan RP Suroso
Bapak KPRI :
Sebagai Menteri Sosial pada tahun 1952, ia mempelopori pendirian koperasi pegawai di berbagai instansi. Perjuangannya memajukan kesejahteraan pegawai negeri dan masyarakat membuatnya diakui sebagai Bapak Koperasi Pegawai Negeri.
Soeroso pernah memperjuangkan kesejahteraan pegawai negeri dalam hal ini para pegawai negeri dapat membeli rumah dinas dengan cara mengangsur.
Ia juga dikenal sebagai Pendiri Koperasi Pegawai Negeri Republik Indonesia, sehingga ia juga dijuluki Bapak Koperasi Pegawai Negeri Republik Indonesia.
Raden Panji (R.P.) Soeroso, Pahlawan Nasional dan Bapak Koperasi Pegawai Negeri, pernah memprakarsai dan merintis pembangunan 188 unit rumah dinas bagi pegawai negeri sipil.
Proyek ini dilakukan melalui Koperasi Pegawai Negeri.
Fakta menarik terkait pembangunan rumah tersebut:
Lokasi:
Pembangunan perumahan untuk pegawai negeri ini berlokasi di Desa Bintaro, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan.
Tipe Rumah:
Rumah yang dibangun memiliki tipe bervariasi yakni tipe 25, 45, 54, dan 70.
Tujuan Program: Pembangunan ini bertujuan memberikan kemudahan kepada pegawai negeri agar dapat memiliki tempat tinggal. R.P. Soeroso memberikan fasilitas kredit atau angsuran jangka panjang dan pendek, sehingga sangat membantu pegawai yang sudah memiliki lahan namun belum mampu membangun rumah.
Akhir Hidup :
RP Soeroso wafat pada 16 Mei 1981. Ia memiliki seorang putra bernama Raden Pandji Soejono, seorang ahli purbakala atau arkeolog senior di Indonesia. Untuk mengenang jasa Soeroso, melalui SK Presiden No. 81/TK/1986, ia dinobatkan menjadi Pahlawan Nasional Indonesia.
Penghargaan Perintis Kemerdekaan Indonesia :
Selanjutnya, pada 1956, Soeroso terpilih menjadi Ketua Badan Koordinasi Pusat Koperasi Pegawai Negeri Seluruh Indonesia.
Penghargaan :
Selain menjabat dan menduduki berbagai posisi penting di pemerintahan Republik Indonesia, R.P. Soeroso juga menerima banyak tanda penghargaan bintang maupun lencana dari pemerintahan Republik Indonesia.
Antara lain adalah:
1. Bintang Mahaputera Adipradana;
2. Bintang Gerilya;
3. Bintang Perintis Kemerdekaan RI;
4. Lencana Satya Karya KL. 1;
5. Lencana Kemerdekaan;
6. Lencana Pembangunan.
[6/7 14.43] rudysugengp@gmail.com: 1. Buatkan gambar dan infografis tentang
Masa Kecil dan Pendidikan Sri Sultan Hamengku Buwana IX
Masa kecil :
Potret kedua orang tua Dorodjatun dikelilingi oleh abdi dalem.
Lahir di Ngasem, Sompilan, Yogyakarta dengan nama Gusti Raden Mas Dorodjatun, Hamengkubuwana IX merupakan anak kesembilan.
Gusti Pangeran Puruboyo dari istri utamanya, Raden Ajeng Kustilah.
Pada tahun 1914, ketika Dorodjatun belum genap tiga tahun, Gusti Pangeran Puruboyo diangkat menjadi Putra Mahkota Yogyakarta. Karena suaminya menjadi Putra Mahkota, Raden Ajeng Kustilah mendapat gelar Kanjeng Raden Ayu Adipati Anom pada tahun 1915.
Meskipun demikian, KRA Adipati Anom tidak sempat menjadi Ratu Yogyakarta. Ia dipulangkan ke rumah ayahnya sekitar tahun 1918–1919. Monfries serta Roem dkk. menuliskan bahwa penyebab pemulangan ini adalah retaknya hubungan antara KRA Adipati Anom dengan mertuanya; sementara Romo Tirun mengatakan bahwa penyebabnya adalah KRA Adipati Anom merupakan keturunan Untung Suropati yang merupakan musuh Belanda, sehingga kejadian ini bermaksud untuk melindungi KRA Adipati Anom.
Ketika berumur empat tahun, Dorodjatun diperintah ayahnya untuk mulai tinggal terpisah dari keraton. Dorodjatun kecil menangis keras dan terus memeluk salah satu tiang di keraton sebelum dapat dipisahkan. Ia tinggal bersama keluarga Mulder, orang Belanda yang menjabat sebagai Kepala Sekolah Neutrale Hollands Javaansche Jongens School dan tinggal di daerah Gondokusuman. Ketika tinggal bersama keluarga Mulder, Dorodjatun diberi nama panggilan Henkie ("Henk kecil") yang diambil dari nama Pangeran Hendrik dari Belanda. Nama panggilan ini terus ia gunakan hingga bersekolah dan kuliah di Belanda, serta oleh teman-teman dekatnya tetap digunakan sampai masa tuanya sebagai Hamengkubuwana IX.
Pendidikan :
Henkie mendapatkan pendidikan pertamanya di taman kanak-kanak Frobel School kemudian Eerste Europese Lagere School B untuk pendidikan dasarnya. Setahun kemudian, ia pindah ke kediaman keluarga Cock dan bersekolah di Neutrale Europeesche Lagere School hingga lulus pada bulan Juli 1925.
Ayahnya diangkat menjadi Hamengkubuwana VIII ketika ia duduk di kelas III sekolah tersebut, yaitu pada bulan Februari 1921. Di sekolah tersebut, Dorodjatun bertemu dan berteman dengan Sultan Hamid II yang dijuluki Mozes saat itu.
Dorodjatun mengenyam pendidikan menengahnya di Hoogere Burgerschool (HBS) Semarang mulai bulan Juli 1925. Ia tinggal bersama keluarga Voskuil, seorang sipir penjara di Semarang. Karena iklim Semarang yang cukup panas, Dorodjatun merasa tidak cocok dan kemudian dipindahkan oleh ayahnya ke HBS Bandoeng pada tahun 1928. Di sana, ia bersama kakaknya, BRM Tinggarto, tinggal bersama dengan seorang tentara militer Belanda, Letnan Kolonel De Boer.
Sebelum menyelesaikan pendidikan menengahnya di HBS Bandung, ayah Dorodjatun dan Tinggarto memerintahkan mereka untuk belajar ke Belanda.
Mereka berangkat melalui jalur laut bulan Maret 1930 dengan ditemani oleh keluarga Hofland, seorang direktur pabrik gula di Gesikan. Mereka berdua bersekolah di Gymnasium atau Lyceum Haarlem yang merupakan gabungan dari dua lembaga berbeda, yaitu Hoogere Burgerschool B (HBS-B) dan Stedelijk Gymnasium. Di Haarlem, mereka tinggal di kediaman kepala sekolah mereka, Mourik Broekman. Dorodjatun kerap dipanggil Sultan Henk ketika menuntut ilmu di sekolah tersebut. Karena perbedaan kualitas pendidikan dengan Hindia Belanda, ia harus turun dua kelas di Haarlem. Ia bukanlah siswa yang istimewa maupun cemerlang di sana. Meskipun beberapa nilainya tergolong baik, Dorodjatun harus mengulang di beberapa mata pelajaran, terutama hingga dua kali di pelajaran geometri dan trigonometri. Kakaknya, Tinggarto, juga mengalami hal yang sama di Haarlem. Keduanya berhasil lulus dari sekolah ini pada tahun 1934.
Dorodjatun dan kakaknya kemudian pindah ke Leiden. Mereka masuk ke perguruan tinggi Rijksuniversiteit Leiden, kini Universitas Leiden. Dorodjatun mengambil studi Indologi, studi yang mempelajari administrasi kolonial, etnologi, dan kesusastraan di Hindia Belanda; sementara Tinggarto memilih studi yang lebih populer, yakni bidang hukum. Belum sempat menyelesaikan tesis untuk gelar doktorandusnya, Dorodjatun bersama saudara-saudaranya yang berada di luar negeri dipanggil oleh keluarga di Jogja untuk kembali ke Hindia Belanda setelah terjadinya Penyerbuan Jerman ke Polandia tahun 1939. Tesis yang hampir selesai tersebut dibawa ke Jawa bersamanya dalam bentuk manuskrip dan belum pernah dikumpulkan.
Naskah itu hilang dan hanya diketahui judulnya saja, yaitu "Kontrak Politik antara Sunan Solo dan Pemerintah Belanda". Hingga akhir hayatnya, Hamengkubuwana IX belum mendapatkan gelar apapun dari universitas karena belum sempat mengikuti wisuda kelulusannya.
[6/7 15.12] rudysugengp@gmail.com: 2. Buatkan gambar dan infografis tentang
Pengangkatan Sri Sultan Hamengku Buwana IX menjadi Raja Yogyakarta
Pulang dari Belanda :
Setelah tiba di Batavia pada bulan Oktober 1939, GRM Dorodjatun dijemput oleh keluarganya di Pelabuhan Tanjung Priok. Paman-paman yang menjemputnya bersikap hormat serta menggunakan krama inggil untuk menegurnya, bukan ngoko seperti biasanya. Dorodjatun beserta rombongan penjemputnya kemudian pergi menuju Hotel des Indes, tempat ayah dan anggota keluarga lainnya menginap di Batavia.
Ketika seorang penguasa swapraja sedang berada di Batavia, umumnya ada banyak agenda kegiatan yang harus dipenuhi. Salah satu acara yang dihadiri keluarga kerajaan bersama Dorodjatun di Batavia adalah undangan santapan malam di Istana Gubernur Jenderal Hindia Belanda.
Keris Mahkota Kyai Joko Piturun :
Pada saat bersiap untuk menghadiri undangan tersebut, Dorodjatun disematkan keris Kyai Jaka Piturun oleh ayahnya.
Keris ini umumnya diwariskan kepada putra penguasa yang dikehendaki menjadi putra mahkota. Oleh karena itu, penyematan ini menandakan bahwa Dorodjatun adalah pewaris takhta Kesultanan Yogyakarta.
Setelah menghadiri agenda selama tiga hari di Batavia, keluarga kerajaan beserta Dorodjatun kembali ke Yogyakarta menggunakan Kereta api Eendaagsche Express.
Dalam perjalanan, Hamengkubuwana VIII jatuh sakit hingga tak sadarkan diri. Sesampainya di Yogyakarta, ia segera dilarikan ke Rumah Sakit Onder de Bogen dan dirawat hingga wafat pada tanggal 22 Oktober 1939.
Kontrak politik :
Sejak abad ke-18, para Penguasa Mataram diharuskan menandatangani kontrak politik baru dengan Pemerintah Kolonial Belanda sebelum naik takhta. Hal ini juga terjadi ketika Dorodjatun akan naik takhta. Sebelum pejabat Belanda dapat melakukan negosiasi dengan calon Sultan baru, proses suksesi di internal keluarga kerajaan harus diselesaikan terlebih dahulu.
Dengan ini, Dorodjatun sebagai putra mahkota kemudian mengumpulkan para saudara dan pamannya untuk bermusyawarah siapa yang akan menjadi Sultan selanjutnya.
Kesemua kerabatnya tidak keberatan jika Dorodjatun sebagai Sultan selanjutnya. Banyak penulis dan sejarawan yang mengatakan bahwa secara de facto dari sini Dorodjatun sebenarnya sudah menjadi Sultan Yogyakarta ke-9, tepatnya sekitar tanggal 26 Oktober 1939, dua hari setelah pemakaman ayahnya.
Untuk membuat kontrak baru, Dorodjatun harus bernegosiasi dengan Gubernur Yogyakarta Lucien Adam sebagai perwakilan Pemerintah Hindia Belanda. Lucien Adam merupakan seorang pejabat senior Hindia Belanda dan seorang Javanicus (ahli adat istiadat Jawa). Monfries mencatat bahwa Gubernur Adam ingin segera membentuk hubungan yang baik dengan Dorodjatun dalam laporan-laporannya kepada pemerintah pusat di Batavia. Mereka berdua pun memiliki satu kesamaan, yaitu pernah mengambil studi di Universitas Leiden, meskipun terpaut umur yang cukup jauh. Adam, yang umurnya sudah mendekati 50 tahun, merasa harus menjadi seperti figur ayah yang bertanggung jawab bagi Dorodjatun. Keduanya sebenarnya termasuk cukup akrab bahkan sering saling meminjam buku bacaan satu sama lain.
Hampir setiap hari Dorodjatun harus bertemu dengan Gubernur Adam sejak awal November 1939 untuk merundingkan kontrak politiknya. Perjanjian ini digunakan untuk memperbarui kontrak politik yang ditandatangani pada masa Hamengkubuwana VIII berkuasa dan memiliki isi yang lebih detail. Perundingan tersebut berlangsung alot. Menurut buku Takhta untuk Rakyat, pembicaraan mengenai jabatan Patih Danurejo yang selain bertanggung jawab kepada Sultan juga menjadi pegawai Belanda, adanya dewan penasihat dari Pemerintah Hindia Belanda, serta prajurit keraton yang diminta agar berada di bawah KNIL menjadi penyebabnya.
Sementara itu, Monfries, mengutip laporan-laporan Gubernur Adam, menuliskan bahwa Adam mengalami kesulitan dalam perundingan di bidang anggaran sipil, kepolisian, hutan, dan jangkauan otoritas hukum Sultan atas rakyat-rakyatnya. Monfries berpendapat bahwa sangat sulit menemukan penjelasan dari bukti-bukti yang ada atas perbedaan yang sangat besar dari versi Hamengkubuwana dengan laporan-laporan Gubernur Adam.
Di lain hal, Gubernur Adam, dalam laporannya kepada pemerintah pusat di Batavia, mengatakan bahwa Dorodjatun memiliki perilaku yang baik. Ia menambahkan bahwa Dorodjatun telah mengubah sistem perbelanjaan di keraton dengan cepat. Rencana kebijakan lain yang disorot oleh Adam adalah reformasi besar-besaran di keraton oleh Dorodjatun, yaitu dalam hal tingkat kekuasaan kepada rakyatnya, pembagian antara kekayaan keraton dan kesultanan yang lebih jelas, dan pengaturan pembayaran gaji kepada anggota keluarganya. Selain itu, Dorodjatun ingin mengurangi jumlah pegawai negeri sembari menaikkan gaji mereka, juga mengubah peran tentara dengan menambahkan tugas jaga kepada mereka.
Setelah empat bulan berunding dengan alot, Dorodjatun tiba-tiba menyetujui kontrak politik tersebut secara langsung tanpa adanya penolakan atas isi-isinya sebagaimana yang telah ia sampaikan dalam perundingan-perundingan sebelumnya.
Ia mengaku melakukannya setelah mendapatkan wisik (bisikan) dari almarhum ayahnya yang mendatanginya dalam mimpi.
Mimpi Ajaib :
"Wis, Tholé, tèkena waé. Landa bakal lunga saka bumi kéné.
(Sudahlah, Nak, tanda tangani saja. Belanda akan pergi dari bumi sini.)"
— Wisik yang diterima Dorodjatun.
Kegiatan perundingan selesai lebih cepat daripada laporan Gubernur Adam tanggal 18 Februari 1940 yang menyatakan bahwa perundingan mungkin selesai pada bulan April sebelum Grebeg diadakan.
Dengan demikian, prosesi upacara penobatan dilaksanakan sebulan lebih cepat daripada pelaksanaan Grebeg. Kontrak politik yang terdiri atas 17 bab dan 59 pasal tersebut kemudian ditandatangani oleh kedua pihak pada tanggal 12 Maret 1940 meskipun dalam surat tertanggal 18 Maret 1940.
Penobatan :
GRM Dorodjatun dinobatkan sebagai Sri Sultan Hamengkubuwana IX pada tanggal 18 Maret 1940, sesuai dengan tanggal berlakunya kontrak politik dengan Pemerintah Hindia Belanda. Gubernur Adam menobatkan GRM Dorodjatun untuk dua gelar sekaligus. Gelar pertama adalah gelar Pangeran Adipati Anom Hamengku Negara Sudibya Raja Putra Narendra Mataram, gelarnya sebagai Putra Mahkota. Setelahnya, dinobatkanlah Sri Sultan Hamengkubuwana IX dengan gelar Sampéyan Dalem Ingkang Sinuwun Kangjeng Sultan Hamengkubuwana Sénapati ing Ngalaga Abdurrahman Sayidin Panatagama Kalifatullah ingkang Jumeneng Kaping Sanga.
Upacara ini dihadiri oleh Sri Paku Alam, KGPAA Mangkunegara, serta dua pangeran dari Solo. Beberapa pejabat senior Belanda seperti H.J. van Mook, Gubernur Semarang, dan Gubernur Solo juga hadir. Dalam upacara ini, Hamengkubuwana IX menyampaikan pidato yang bernada progresif dan teguh pendirian serta menegaskan identitasnya sebagai orang Jawa.
[6/7 15.41] rudysugengp@gmail.com: 3. Buatkan gambar dan infografis tentang
Sikap Sultan Hamengku Buwana IX terhadap Jepang
Perang Dunia II :
Belanda diduduki oleh Jerman :
Panglima Angkatan Laut Kerajaan Belanda rencananya akan menghadiri perayaan naik takhta Hamengkubuwana IX di Yogyakarta yang dilaksanakan pada tanggal 8 Mei 1940. Belum sempat sampai di Yogyakarta, Panglima dipanggil kembali ke Belanda. Dua hari setelah perayaan dilangsungkan, Jerman menduduki Belanda.
Belanda minta Sumbangan untuk Perang :
Pemerintah Hindia Belanda berusaha untuk mengumpulkan dana perang;
Gubernur Adam di Yogyakarta mengadakan Komite Dukungan dengan sumbangan sebesar 2.000 gulden dari Hamengkubuwana IX, 3.000 gulden dari Kesultanan Yogyakarta, dan 1.500 gulden dari Pakualaman.
Meskipun demikian, otoritas Belanda agak kecewa kepada Hamengkubuwana karena hanya sedikit berbicara untuk hal ini, berbeda dengan Paku Alam yang menyatakan dukungannya kepada Gubernur Adam.
Pada bulan April–Mei 1941, Menteri Koloni Charles Walter sempat berkunjung ke Hindia Belanda, tetapi tidak mengunjungi Vorstenlanden meskipun telah didesak oleh pers lokal. Tanggal 6 Desember 1941, Gubernur Jenderal Alidius Tjarda van Starkenborgh Stachouwer menyatakan perang terhadap Jepang setelah terjadinya Pengeboman Pearl Harbor.
Gubernur Adam dalam pertemuannya dengan Gubernur Jenderal di Batavia menyusun rencana apabila Jepang menyerang Hindia Belanda. Monfries mengungkapkan bahwa empat penguasa Vorstenlanden rencananya akan dibawa oleh Belanda untuk mengungsi ke Jakarta atau Bandung; sementara Sultan mengatakan bahwa keempat penguasa akan dibawa oleh Belanda untuk mengungsi ke Australia.
Hamengkubuwana menolak ajakan tersebut dan menyatakan akan tetap berada di Yogyakarta. Dalam beberapa catatan dan wawancara, ia juga mengatakan bahwa Belanda memiliki rencana untuk menculiknya dan menjadikannya tawanan, tetapi pergerakan tentara Jepang yang sangat cepat menyebabkan rencana ini gagal.
Apa pun yang akan terjadi, saya tak akan meninggalkan Yogya. Justru bila bahaya memuncak, saya wajib berada di tempat demi keselamatan Keraton dan rakyat.
Pendudukan Jepang :
Tanggal 5 Maret 1942, Yogyakarta diduduki oleh Jepang. Tentara Jepang yang datang kemudian menyerahkan kekuasaan di Yogyakarta kepada Gubernur Adam untuk sementara. Gubernur Adam dan Hamengkubuwana IX selalu aktif memberikan pesan publik agar tidak terjadi kepanikan di masyarakat. Setelah keadaan Yogyakarta lebih tenang, Sultan Hamengkubuwana bersama Patih Danurejo mengunjungi beberapa daerah kekuasaannya. Sultan menyimpulkan bahwa rakyat tetap tenang dan tidak terlalu terganggu dengan keadaan perang. Hamengkubuwana yang mudah mengadaptasikan pemerintahannya dengan tentara Jepang, ditambah Gubernur Adam dan Patih Danurejo yang sangat aktif dalam mengumumkan dan mengimplementasikan sebagian besar isi dekret pemerintahan militer Jepang, membuat atmosfer pendudukan di Yogyakarta terasa lebih damai. Terlepas dari itu, Adam diturunkan jabatannya menjadi residen pada akhir bulan Maret dan diasingkan secara tiba-tiba pada tanggal 21 April oleh tentara Jepang.
Hak Otonomi :
Sultan Hamengkubuwana IX diberi otonomi untuk menjalankan pemerintahan di daerahnya di bawah Pemerintah Kolonial Jepang. Jabatan Pepatih Dalem yang sebelumnya harus bertanggung jawab kepada Sultan dan Pemerintah Kolonial Belanda kini hanya bertanggung jawab kepada Sultan saja. Pada tanggal 1 Agustus 1942, Panglima Besar Tentara Pendudukan Jepang di Jakarta menjadikan Yogyakarta sebuah Kooti atau Kochi, sementara Hamengkubuwana IX menjadi Koo (penguasa) wilayah tersebut. Jepang menganggap Sunan Pakubuwana sebagai primus inter pares di antara keempat penguasa Vorstenlanden; ketika ada undangan pertemuan dengan petinggi tentara Jepang, Sunan sering mewakili tiga penguasa lainnya. Jika Sunan dan Sultan bersama-sama hadir, Sunan mewakili Surakarta dan Mangkunegaran, sementara Sultan mewakili Yogyakarta dan Pakualaman.
Bulan September 1944, Pakubuwana XI jatuh sakit, Hamengkubuwana IX menggantikannya menjadi perwakilan di antara para penguasa Vorstenlanden. Peran ini kemudian diambil kembali oleh Pakubuwana XII ketika naik takhta menggantikan ayahnya yang mangkat.
Di tengah banyaknya pengambilan penduduk menjadi romusa, banyak catatan mengatakan bahwa Sultan mampu mencegahnya dengan memanipulasi data statistik produktivitas pertanian dan peternakan.
Sultan mengajukan pembangunan sebuah kanal irigasi yang menghubungkan Kali Progo dan Kali Opak agar pengairan sawah dapat dilakukan sepanjang tahun dari yang sebelumnya masih bersistem tadah hujan. Usulan ini diterima oleh pihak Jepang. Monfries mencatat bahwa pemerintah kolonial bahkan membantu pendanaan pembangunannya sebanyak satu juta gulden. Pembangunan saluran irigasi ini kemudian dijadikan alasan agar tidak banyak romusa yang diambil dari Yogyakarta, sehingga masyarakat lebih difokuskan di sini. Saluran irigasi ini kemudian disebut Selokan Mataram, sementara dalam bahasa Jepang dinamakan Gunsei Hasuiro atau Gunsei Yosuiro (Kanal Yosuiro).
Saluran ini dinilai berhasil, ditandai dengan meningkatnya produktivitas pertanian sehingga sumbangan bahan pangan kepada tentara Jepang juga meningkat.
Meskipun telah berhasil mengurangi jumlah romusa yang diambil kolonial, Romo Tirun mengungkapkan bahwa tetap ada penduduk yang diambil menjadi romusa, tetapi jika dibandingkan dengan daerah lain maka jumlah di Yogyakarta lebih sedikit. Klaim ini dibantah oleh Monfries yang menuliskan bahwa walaupun memang jumlahnya lebih kecil daripada keseluruhan Jawa, laporan tahun 1944 mengatakan bahwa jumlah romusa yang dikirim malah melebihi jumlah yang diminta Jepang.
Reformasi Birokrasi :
Selama masa pendudukan Jepang ini, Hamengkubuwana IX melakukan beberapa reformasi di Kesultanan. Pada akhir bulan Juli 1942, ia mengganti nama-nama lembaga pemerintahan daerah yang sebelumnya berbahasa Belanda menjadi berbahasa Jawa. Pada tahun 1944, ia membuat layanan publik dapat diakses dari kelas dan kelompok masyarakat mana pun sehingga banyak pegawai negeri yang diterima dari kalangan biasa, membentuk komite daerah untuk membantu para panewu (camat), juga mengeluarkan instruksi agar pelatihan pegawai negeri dilakukan lebih intensif.
Selain itu, ia menghapus distrik dan menjadikan kapanewon (kecamatan) sebagai lembaga administratif terbawah, juga menghapus pengadilan khusus bagi bangsawan.
Selo Soemardjan mengungkapkan bahwa sebagian besar reformasi itu adalah uji coba, sehingga tidak semuanya berjalan dengan sukses.
Patih mengundurkan diri :
Akhir tahun 1944, kesehatan Patih Danurejo yang merupakan sepupu ayah Sultan mulai menurun.
Pada tanggal 17 Juli 1945, Patih Danurejo mengundurkan diri dengan alasan umur yang sudah lanjut dan telah mengabdi selama 12 tahun di jabatan tersebut. Hamengkubuwana IX mengambil alih tugas-tugasnya sejak 1 Agustus 1945 dan berkantor di Kepatihan, tempat para patih bekerja. Meskipun dalam dekret pembentukan Kooti dijelaskan bahwa Pemerintahan Tentara Jepang harus menunjuk seorang Somutyokan (Patih), pemerintah saat itu tidak mempermasalahkan hal ini. Sejak saat itu, jabatan Patih Danurejo dihapuskan.
[6/7 16.51] rudysugengp@gmail.com: 4. Buatkan gambar dan infografis tentang
Perjuangan Sri Sultan Hamengku Buwana IX di Era Kemerdekaan Indonesia
Bergabung dengan Indonesia :
Sehari setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, Hamengkubuwana IX dan Sri Paku Alam VIII mengirimkan telegram ucapan selamat kepada Soekarno, Mohammad Hatta, dan Radjiman Wedyodiningrat atas kemerdekaan Indonesia.
Pada tanggal 20 Agustus 1945, dikirimkan lagi telegram oleh Hamengkubuwana IX sebagai Ketua Badan Kebaktian Rakyat (Hokokai) Yogyakarta, menegaskan bahwa Yogyakarta "sanggup berdiri di belakang pimpinan"; diikuti oleh Paku Alam VIII. Peristiwa ini menjadikan Yogyakarta sebagai kerajaan di Indonesia pertama yang bergabung dengan Republik Indonesia. Pada tanggal 5 September 1945, Sultan mengeluarkan amanat posisi Yogyakarta sebagai daerah istimewa dengan Sultan sebagai pemimpinnya yang bertanggung jawab langsung kepada Presiden Republik Indonesia. Paku Alam VIII juga menyatakan amanat setelahnya atas Kadipaten Pakualaman dan menjadi wakil pemimpin Yogyakarta. Amanat ini diterima dengan baik oleh pemerintah pusat, ditandai dengan tibanya Mr. Sartono dan Mr. A.A. Maramis di Yogyakarta sebagai perwakilan pemerintah pusat untuk menyerahkan piagam penetapan kedudukan Yogyakarta.
Piagam ini ditandatangani Soekarno pada tanggal 19 Agustus 1945, sehari setelah telegram dari Yogyakarta tiba, menandakan bahwa Yogyakarta telah menjadi bagian Indonesia.
Awal masa Revolusi Nasional :
Karena banyaknya jumlah laskar pemuda setelah kemerdekaan, termasuk di Yogyakarta, Hamengkubuwana IX meminta para pemuda melapor kepadanya di kantornya (Kepatihan) agar lebih mudah mengorganisasikan mereka.
Ia kemudian membentuk Laskar Rakyat Mataram, yang kemudian dikenal dengan sebutan Tentara Rakyat Mataram, gabungan dari laskar-laskar yang telah ada. Sri Sultan menjadi panglimanya, sementara Selo Soemardjan menjadi kepala stafnya. Setelahnya, Hamengkubuwana diterima menjadi perwira kehormatan senior Tentara Keamanan Rakyat, menjadi anggota dewan tertinggi tentara bersama tiga penguasa Catur Sagotra yang lain, serta menerima pangkat jenderal kehormatan pada bulan November 1945.
Ke Surabaya :
Bulan November 1945, saat Pertempuran Surabaya terjadi, Sri Sultan melawat ke Surabaya. Ia bertemu dengan Gubernur Soerjo di Mojokerto sebelum tiba di pinggiran Kota Surabaya.
Sultan mengatakan kepada wartawan bahwa pertempuran ini menunjukkan kekejaman Inggris serta kebijakan diplomasi bukanlah hal yang tepat untuk kasus ini. Terdapat cerita terkenal dari kunjungan ini, yaitu ketika Sultan mencapai daerah sekitar Madiun, ia dicegat sekelompok warok yang menanyakan, "Mana Dorodjatun?" Sultan menjawab, "Saya Suyono," dan lolos.
Yogyakarta menjadi ibu kota negara :
Pada tanggal 3 Januari 1946, sidang kabinet memutuskan ibu kota dipindahkan dari Jakarta ke Yogyakarta. Pemindahan ini pada awalnya merupakan tawaran Sri Sultan dalam sebuah surat yang dikirimkan melalui kurir ke Jakarta.
Sore tanggal 4 Januari 1946, Soekarno, Mohammad Hatta, dan para pejabat negara kala itu berangkat dengan perjalanan kereta luar biasa ke Yogyakarta. Kedatangan mereka di Stasiun Tugu disambut oleh Sri Sultan.
Untuk kebutuhan pemerintahan RI, banyak gedung di Yogyakarta dijadikan kantor-kantor pemerintah. Salah satunya adalah Gedung Agung menjadi kantor presiden yang hingga saat ini masih menjadi Istana Presiden Indonesia.
Selama Yogyakarta menjadi ibu kota, Sultan Hamengkubuwana membantu pendanaan operasional pemerintahan RI.
Reformasi Bahasa :
Selama Yogyakarta menjadi ibu kota, Hamengkubuwana memulai beberapa reformasi.
Ia menetapkan seluruh bisnis resmi dilakukan dengan bahasa Indonesia, bukan lagi bahasa Jawa. Ia memberikan sebagian keraton untuk digunakan Universitas Gadjah Mada (UGM), juga menghibahkan lahan di Bulaksumur yang menjadi kampus UGM saat ini. Ia dinilai berhasil mengantisipasi adanya revolusi—seperti yang terjadi di Surakarta dan sebagian besar Sumatra—di Yogyakarta yang dikhawatirkan akan melengserkan dirinya.
Awal karier di kabinet :
Hamengku buwana ditunjuk menjadi Menteri Negara di Kabinet Sjahrir III, pertama kalinya ia masuk ke dalam jajaran kabinet.
Kala itu, ia ditugasi dalam urusan mengenai daerah istimewa di Indonesia. Semasa menjabat jabatan tersebut, ia memberi saran dan mencoba memecahkan masalah yang terjadi di daerah-daerah istimewa yang lain. Ia mengunjungi Surakarta setelah terjadinya pergolakan antarpihak pemerintahan di sana pada bulan Oktober 1946. Ia juga mengunjungi beberapa kota di Sumatra pada bulan Maret 1946 untuk melihat keadaan pemimpin adat dan keluarga mereka yang ditahan oleh revolusionis di sana. MBulan April 1947, ia kembali lagi ke Sumatra mengunjung Pematangsiantar, Bukittinggi, dan Medan. Ia mencoba menyelesaikan masalah revolusi sosial Sumatra, yang disebutkan Monfries sebagai "usaha yang hampir mustahil". Dalam kunjungannya ke Pematangsiantar, Hamengkubuwana sempat menegaskan bahwa Perundingan Linggarjati tidak menjamin kemerdekaan sepenuhnya, menekankan bahwa perlu adanya kesatuan antara tentara, pemerintah, dan masyarakat.
Pemberontakan PKI Madiun :
Pada tahun 1948, Hamengkubuwana IX ditunjuk menjadi Menteri Negara Koordinator Keamanan dalam Kabinet Hatta I. Hatta pada awalnya menginginkannya menjadi Menteri Pertahanan, tetapi ia menolak sehingga Hatta yang mengisi jabatan itu.
Bulan September 1948, terjadi Pemberontakan PKI di Madiun. Sri Sultan kemudian berdiskusi dengan Soekarno dan mengutus Abdul Haris Nasution ke Madiun. Nasution menganggap pemberontakan tersebut harus cepat ditumpaskan, ia khawatir komandan-komandan lain di Jawa Tengah dan Jawa Timur akan bergabung dengan pemberontak.
Pada pertemuan kabinet setelahnya, Soedirman diberikan kuasa "untuk mengambil tindakan yang diperlukan demi menjaga negara". Soedirman menempatkan Nasution dalam komando strategis operasi itu. Hamengkubuwana IX membuat siaran agar rakyat mendukung Soekarno dan pemerintahan Hatta, menegaskan bahwa pemerintahan ini dibentuk untuk membangun negara dan pihak komunis hanya ingin menghancurkannya. Hamengkubuwana, Gubernur Soerjo, dan Kepala Kepolisian Provinsi Jawa Timur lantas pergi ke Madiun. Hamengkubuwana IX jauh di depan meninggalkan mobil Gubernur Soerjo dan Kepala Kepolisian yang kemudian diketahui terbunuh di Walikukun.
Hamengkubuwana IX mengatakan bahwa ia dilaporkan hal tersebut oleh seorang kurir setengah jam setelah melewati daerah tersebut, kontras dengan klaim Nasution yang menyebutkan bahwa pembunuhan tersebut baru diketahui olehnya dua hari setelah jasad mereka ditemukan.
Masalah Surakarta :
Dalam kapasitasnya sebagai Menteri Negara Koordinator Keamanan, Hamengkubuwana IX mengusulkan bentuk pemerintahan baru di Surakarta. Ia secara terbuka menyamakan Surakarta sebagai 'Barat yang Liar' (The Wild West). Ia melapor kepada Hatta bahwa pendekatan terbaik untuk menyelesaikan masalah di sana adalah dengan menggunakan organ administratif yang masih layak dengan tetap memasukkan para pangeran agar kalangan monarki tidak menjadi "kekuatan antirevolusioner".
Ia mengusulkan Daerah Istimewa Surakarta dengan identitasnya sendiri tetapi dipandu undang-undang yang diberlakukan di Jawa Tengah.
Struktur pemerintahan yang ada adalah daerah tersebut akan dipimpin seorang gubernur yang dipilih Presiden; dibantu tujuh orang dewan pemerintahan: lima orang dipilih badan legislatif daerah, satu dipilih Sunan Surakarta, dan satu dipilih Adipati Mangkunegara; dan juga dibantu oleh Dewan Penasihat yang terdiri atas Sunan dan Adipati.
Keputusan ini dianggap lumayan memuaskan Republiken yang antifeodal tanpa menghilangkan pengaruh monarki demi menarik sentimen lokal karena penggabungan Surakarta ke Jawa Tengah yang belum begitu umum bagi rakyat Surakarta.
Agresi Militer II :
Pada tanggal 19 Desember 1948, Belanda kembali melancarkan agresi militernya. Aksi militer ini diawali dengan penyerbuan Lapangan Terbang Maguwo. Tentara Belanda mulai menyebar ke Yogyakarta dan mengepung kota. Soekarno segera melaksanakan sidang kabinet darurat. Sebelum sidang dimulai, Soekarno memberi tahu Sultan Hamengkubuwana IX bahwa ia tetap akan keluar kota untuk menghindari penangkapan Belanda.
Perdana Menteri Mohammad Hatta sedang berada di Kaliurang untuk bertemu dengan Komisi Tiga Negara; karena tak kunjung datang di Gedung Agung, Sultan diminta Soekarno untuk menjemputnya. Sultan ditemani dengan Sjahrir berangkat ke Kaliurang, singgah sebentar di Kepatihan untuk memerintahkan persiapan pengungsian sementara bagi pemimpin pemerintahan di Gunungkidul, dan di tengah perjalanan menjumpai Hatta yang telah berjalan kembali ke kota. Mereka kembali ke Yogyakarta; ketika tiba di Gedung Agung, sidang telah selesai diputuskan. Soekarno memutuskan untuk tidak jadi keluar kota, membiarkan dirinya ditangkap oleh Belanda, dan memberikan kekuasaan kepada Syafruddin Prawiranegara di Bukittinggi.
Syafruddin diberitahukan keputusan ini melalui siaran radio, tetapi ia tak mengetahuinya. Meskipun demikian, Syafruddin telah berinisiasi membentuk pemerintahan serupa di sana, sehingga keputusan ini telah dilaksanakan meskipun tanpa konsultasi dengan pemerintah pusat.
Pengepungan Yogyakarta :
Siang hari tanggal 19 Desember 1948, Tentara Belanda telah sampai di tengah kota Yogya. Sultan Hamengkubuwana IX memerintahkan untuk menutup seluruh gerbang keraton agar tidak ada mata-mata Belanda yang masuk. Ia tidak menerima tamu kecuali rakyat yang telah mengungsi di keraton sebelum perintah penutupan gerbang dikeluarkan. Sultan sempat bertemu dengan Kolonel van Langen dan Westerhof, seorang pejabat Belanda, yang menunjukkannya sebuah peta Yogyakarta yang telah diberi tanda-tanda tertentu. Peta tersebut memiliki arti bahwa Sultan bebas bergerak tetapi hanya di dalam area keraton.
Penangkapan Pemimpin RI :
Satu demi satu pemimpin negara diasingkan. Soekarno, Sjahrir, dan Agus Salim diberangkatkan ke Berastagi, sebelum kemudian disatukan kembali bersama Hatta, Mohamad Roem, Ali Sastroamidjojo, dan Assaat di Bangka. Beberapa pemimpin negara yang selamat dapat meloloskan diri ke luar kota maupun hidup dalam penyamaran.
Mengundurkan diri :
Bulan Januari 1949, Sultan Hamengkubuwana IX dan Sri Paku Alam VIII mengundurkan diri dari jabatan Gubernur dan Wakil Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta.
Hal ini dimaksudkan agar urusan keamanan diserahkan kepada tentara Belanda. Selain itu, karena tidak lagi mengemban tanggung jawab pemerintah daerah, mereka tidak dapat melakukan apa pun untuk bekerja sama dengan Belanda, membuktikan bahwa rumor mereka bekerja sama dengan Belanda adalah salah.
Belanda yang menyadari masih kuatnya pengaruh Sultan terhadap rakyatnya berusaha untuk merangkulnya.
Letnan Gubernur Jenderal van Mook kemudian digantikan oleh Komisaris Tinggi Beel.
Utusan-utusan Belanda dari kalangan bangsa Indonesia seperti Hussein Jayadiningrat dan Sultan Hamid II, juga pejabat-pejabat Belanda seperti Residen E.M. Stok, Dr. Berkhuis, dan Kolonel van Langen yang satu persatu datang ke keraton, semuanya ditolak.
Pada masa itu, Menteri Koloni Maan Sassen merencanakan sebuah negara bagian Indonesia yang baru di Jawa Tengah yang mungkin akan dipimpin oleh Sultan.
Sultan dibujuk dengan tawaran daerah kekuasaan di Kedu dan Banyumas, tambahan wilayah di Jawa Timur, kemudian seluruh Jawa dan Madura sebagai "Super Wali Negara", dan bahkan sebagai Deputi (Wakil) Gubernur Jenderal Hindia Timur. Tak hanya itu, Sultan juga ditawari saham perusahaan kereta api hingga sejumlah besar uang. Meskipun demikian, utusan-utusan tersebut hanya dapat bertemu saudara Sultan seperti Prabuningrat, Mudaningrat, dan Bintoro dengan alasan bahwa ia sedang sakit. Mereka menerima utusan-utusan tersebut tetapi tidak memberikan jawaban atau balasan atas tawaran yang ada. Tak peduli dengan itu, Kabinet Belanda masih tetap berharap Hamengkubuwana akan memihak kepada mereka.
Serangan Umum 1 Maret 1949 :
Karena kondisi perang yang berkepanjangan, Sultan Hamengkubuwana IX memandang rakyatnya makin menderita dan melihat semangat para pejuang makin memudar.
Dewan Keamanan PBB memutuskan resolusi atas Indonesia pada tanggal 28 Januari 1949. Sultan mengetahui bahwa pada awal bulan Maret, sebuah rapat Dewan Keamanan PBB mengenai Indonesia akan diadakan kembali. Ia mengambil kesempatan ini dengan mengusulkan kepada Soedirman sebuah serangan agar dunia tahu bahwa Republik Indonesia masih ada. Soedirman menyetujuinya dan menyarankan Sultan berbicara dengan komandan setempat, Letkol Soeharto.
Pada tanggal 14 Februari 1949, Letkol Soeharto bertemu dengan Sultan. Ia menyamar sebagai seorang abdi dalem.
Pertemuan yang membahas rencana Serangan Umum 1 Maret ini, diadakan di tempat tinggal Prabuningrat, kakak Sultan.
Pada tanggal 22 Februari 1949, kompleks Kepatihan, kantor Sultan, dijarah oleh tentara Belanda. Mereka membawa beberapa dokumen, termasuk naskah tesis Sultan yang belum sempat dikumpulkan, dan menemukan beberapa instruksi rahasia.
Oleh karenanya, para pejabat Belanda mulai tidak sabar. Mereka mulai berencana menggulingkan Sultan. Menteri Luar Negeri Belanda van Maarseveen setuju bahwa Komisaris Tinggi Beel dapat "menduduki keraton dan mengganti Sultan" jika situasinya memburuk.
Beberapa sumber mencatat bahwa beberapa anggota keluarga Sultan sempat terbujuk, tetapi tidak berlangsung lama.
Pada tanggal 1 Maret 1949 pukul enam pagi, ditandai dengan bunyi sirene berakhirnya jam malam yang ditetapkan Belanda, pasukan Indonesia menyerang Yogyakarta secara serentak. Setelah serangan berlangsung selama enam jam, pasukan berhasil menduduki tempat-tempat yang telah direncanakan, kemudian dikomando untuk menarik diri dan kembali ke pangkalan masing-masing.
Ketika bala bantuan Belanda datang dari Magelang, para pejuang sudah menarik diri.
Sore harinya, Kolonel van Langen dan Residen Stok datang, menuduh bahwa ada tembakan dari dalam keraton selama Serangan Umum. Mereka juga memberi tahu bahwa Jenderal Meijer, Komandan Umum Jawa Tengah, akan datang menemui Sultan.
Keesokan harinya, 2 Maret 1949, Jenderal Meijer datang. Sultan ditemani Prabuningrat menerima mereka dengan pakaian sederhana, untuk menunjukkan keterpaksaannya, hingga taraf sesuatu yang tidak sopan untuk menerima tamu dalam adat Jawa.
Di sini Sultan sempat berkata, "Saya tidak meminta Tuan-Tuan datang ke Yogya," yang dimaksudkan kepada seluruh tamu yang datang.
Selain itu, Sultan bahkan telah menyiapkan satu tas penuh pakaian, karena menduga akan ditangkap, dan akan turun takhta apabila berbagai provokasi Belanda makin menjadi-jadi.
Namun, Sultan meminta agar ia "ditinggalkan dalam kedamaian" dan bila Belanda akan mengacak-acak keraton, "Lebih baik saya mati dulu!"
Rombongan tersebut akhirnya meninggalkan keraton dengan tenang dan sopan.
Penyerahan kedaulatan Indonesia :
Pada tanggal 3 Maret 1949, Majelis Permusyawaratan Federal (BFO) mengeluarkan resolusi yang menyerukan pemulangan pemimpin-pemimpin Republik dari pengasingan.
Pada tanggal 23 Maret, Dewan Keamanan PBB mengeluarkan Resolusi Kanada, yang dinilai berkekuatan lemah, tetapi memperkuat resolusi bulan Januari. Perundingan Roem-Roijen dimulai pada pertengahan April 1949; mencapai kesepakatan Persetujuan Roem-Roijen yang ditandatangani pada tanggal 7 Mei 1949.
Hamengkubuwana IX membuka kembali kantor-kantor Kesultanan pada pertengahan bulan Mei.
Tentara Belanda ditarik dari Yogyakarta dimulai dari Bantul tanggal 24 Juni, dari Kota Yogyakarta tanggal 29 Juni, hingga dari DIY sepenuhnya pada tanggal 30 Juni 1949; kekuasaan atas Yogyakarta dikembalikan kepada Hamengkubuwana IX.
Pada tanggal 6 Juli 1949, Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Moh. Hatta tiba di Yogyakarta dari Bangka.
Syafruddin Prawiranegara mengembalikan kekuasaan dari PDRI kepada Presiden Soekarno pada tanggal 13 Juli 1949.
Pada tanggal 24 Juli 1949, dibentuk susunan delegasi Konferensi Meja Bundar. Persetujuan mengenai penyerahan kedaulatan Indonesia ditandatangani di Den Haag pada tanggal 2 November 1949. Di Amsterdam, dilakukan upacara penyerahan kedaulatan di Istana Dam oleh Ratu Juliana dengan Moh. Hatta. Di Jakarta, upacara serupa dilakukan di Istana Koningsplein oleh A.H.J. Lovink dengan Hamengkubuwana IX.
Upacara dilanjutkan dengan penurunan Bendera Belanda dan penaikan Bendera Indonesia di Istana Koningsplein. Karena teriakan "merdeka" yang bersahutan di sana, Istana Koningsplein atau Istana Gambir kemudian mulai disebut sebagai Istana Merdeka.
[6/7 17.10] rudysugengp@gmail.com: 6. Buatkan gambar dan infografis tentang
Akhir Hayat dan Penghargaan Sri Sultan Hamengku Buwana IX
Pasca-Revolusi Nasional :
Sejak 1946 ia pernah beberapa kali menjabat menteri pada kabinet yang dipimpin Presiden Sukarno.
Jabatan resminya pada tahun 1966 adalah ialah Menteri Utama di bidang Ekuin.
Pada tahun 1973 ia diangkat sebagai Wakil Presiden. Pada akhir masa jabatannya pada tahun 1978, ia menolak untuk dipilih kembali sebagai wakil presiden dengan alasan kesehatan.
Namun, ada rumor yang mengatakan bahwa alasan sebenarnya ia mundur adalah karena tak menyukai Presiden Soeharto yang represif seperti pada Peristiwa Malari dan hanyut pada KKN.
Mangkat :
Sultan Hamengkubuwana IX bersama KRA Nindyakirana berkunjung ke Washington, D.C. pada tanggal 27 September 1988. Di sana, Sultan bersama KRA Nindyakirana menginap di Hotel Embassy Row, tepat di depan KBRI Washington. Pada tanggal 28 September, Sultan menjalankan pemeriksaan kesehatan di Rumah Sakit Walter Reed. Ia juga menjadwalkan pemeriksaan kesehatan mata di Boston pada tanggal 3 Oktober.
Sore hari Minggu, 2 Oktober 1988 waktu setempat, Sri Sultan diketahui muntah-muntah di hotel tempatnya menginap. 15 menit kemudian ambulans datang; Sultan dilarikan ke unit gawat darurat George Washington University Hospital.
Tidak ada pengantar yang dapat masuk ke tempat perawatan gawat darurat Sultan. Pada pukul 20.05 waktu setempat, tim dokter menyatakan Hamengkubuwana IX telah meninggal dunia.
Kabar meninggalnya Hamengkubuwana IX disampaikan oleh Menteri Sekretaris Negara Moerdiono kepada Presiden Soeharto pukul 07.00 WIB di kediaman Presiden di Jalan Cendana. Presiden Soeharto memutuskan untuk melakukan upacara pemakaman kenegaraan dan menetapkan masa berkabung selama seminggu. Beberapa saat kemudian, datang Duta Besar Amerika Serikat Paul Wolfowitz menyampaikan surat belasungkawa Presiden Ronald Reagan. Ia juga menyampaikan bahwa AS telah menyiapkan pesawat Air Force Two untuk menerbangkan jenazah Sultan hingga ke Jakarta.
Soeharto berterima kasih atas bantuan AS, tetapi ia ingin pesawat Indonesia yang menjemput jenazah Sultan.
Pada akhirnya disepakati Air Force Two akan terbang dari Pangkalan Udara Bersama Andrew, Maryland ke Pangkalan Udara Hickam, Honolulu.
Pesawat Garuda Indonesia DC-10 kemudian membawa jenazah dari Honolulu ke Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta.
Kamis, 6 Oktober 1988, jenazah telah sampai di Jakarta. Dilakukan upacara penerimaan dengan inspektur upacara Jenderal Benny Moerdani. Setelah disemayamkan sebentar di Kantor Perwakilan DIY di Jakarta, jenazah dilepas oleh Wakil Presiden Soedharmono dan diterbangkan ke Bandara Adisutjipto dengan pesawat Hercules milik TNI AU.
Pemakaman :
Jumat, 7 Oktober 1988, jenazah Sultan telah sampai di Yogyakarta dan disemayamkan di Bangsal Kencono, Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Pada pukul 10.30 WIB, dilaksanakan pernikahan massal empat putra Sultan yang sebenarnya akan dilaksanakan tanggal 5 November.
Pangeran Pakuningrat, Cakraningrat, Candraningrat, dan Yudhaningrat dinikahkan oleh Penghulu Keraton di depan peti jenazah Sultan. Keraton dibuka sejak pukul 14.00 hingga pukul 06.00 keesokan harinya dan langsung diramaikan oleh masyarakat yang berkumpul untuk menyaksikan.
Prosesi pemakaman Hamengkubuwana IX dimulai pada Sabtu, 8 Oktober 1988. Jenazah dilepas dari gerbang Magangan oleh Presiden Soeharto, Pangeran Purubojo (kakak Sultan), dan Pangeran Mangkubumi (putra sulung Sultan). Iring-iringan pembawa jenazah dipimpin oleh Pangeran Yudhaningrat. Di belakang kereta pembawa jenazah, kuda kesayangan Sultan dibiarkan berjalan tanpa penunggang mengikuti iring-iringan. Sesuai dengan tradisi, kereta Kyai Rata Pralaya yang membawa jenazah Sultan Hamengkubuwana dilewatkan di antara dua beringin kembar di Alun-Alun Selatan lalu di bawah Gerbang Nirbaya keluar dari kompleks keraton.
Pada pukul 15.00, iring-iringan tiba di Astana Imogiri, pemakaman kerajaan Wangsa Mataram. Jenazah disalatkan di Masjid Pajimatan sebelum dibawa dan dimakamkan di Astana Saptorenggo, tempat makam Sultan yang telah disiapkan sebelumnya. Pemakaman Sultan dihadiri oleh Ketua BPK Jenderal M. Jusuf; Kepala Staf Angkatan Darat, Angkatan Udara, dan Angkatan Laut; Kapolri; serta Duta Besar AS Paul Wolfowitz dan Duta Besar Australia Bill Morrisson.
Peninggalan :
Seni dan budaya
Gedung Museum Hamengkubuwana IX
Meskipun sibuk di bidang pemerintahan, Hamengkubuwana IX juga peduli akan seni dan budaya di Yogyakarta. Ia mewariskan Tari Golek Menak yang terinspirasi dari cerita wayang golek dan Serat Menak yang bersumber kepada Hikayat Amir Hamzah. Ia juga mewariskan Tari Bedhaya Sapta yang dimainkan oleh tujuh orang, tidak seperti Tari Bedhaya pada umumnya yang dimainkan sembilan orang. Selain itu, ada pula Tari Bedhaya Sangaskara atau Bedhaya Manten yang dimainkan enam orang pada saat pernikahan putra-putrinya. Tari Bedhaya Arya Penangsang dan Bedhaya Damarwulan juga diciptakan olehnya.
Selain menekuni bidang tari, Sultan juga menekuni bidang fotografi.
Ada dua kamera yang senantiasa dipakainya yang kini disimpan di Museum Hamengkubuwana IX, Keraton Yogyakarta. Beberapa hasil potret Hamengkubuwana IX adalah ketika Mohammad Hatta bersalaman dengan pemain sepak bola asal Mozambik pada tahun 1955.
Pada tahun yang sama, ia juga sempat memotret atlet kejuaraan atletik Ikada (Ikatan Atletik Djakarta) di Stadion Ikada, Jakarta.
Pada tahun 1972, ia juga sempat memotret Candi Borobudur sebelum dipugar.
Gelar :
Atas jasa-jasanya kepada Republik Indonesia, Sri Sultan Hamengkubuwana IX dianugerahi gelar pahlawan nasional pada tanggal 30 Juli 1990, berdasarkan Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 53/TK/Tahun 1990.
Hamengkubuwana IX juga dianugerahi berbagai tanda kehormatan dari dalam maupun luar negeri.
[6/7 17.16] rudysugengp@gmail.com: 5. Buatkan gambar dan infografis tentang
Sri Sultan Hamengku Buwana IX sebagai Bapak Pramuka Indonesia
Kepramukaan :
Sejak usia muda Hamengkubuwana IX telah aktif dalam organisasi pendidikan kepanduan. Menjelang tahun 1960-an, Hamengkubuwana IX telah menjadi Pandu Agung (Pemimpin Kepanduan). Pada tahun 1961, ketika berbagai organisasi kepanduan di Indonesia berusaha disatukan dalam satu wadah, Sri Sultan Hamengkubuwana IX memiliki peran penting di dalamnya. Presiden RI saat itu, Sukarno, berulang kali berkonsultasi dengan Sri Sultan tentang penyatuan organisasi kepanduan, pendirian Gerakan Pramuka, dan pengembangannya.
Pada tanggal 9 Maret 1961, Presiden Sukarno membentuk Panitia Pembentukan Gerakan Pramuka. Panitia ini beranggotakan Sri Sultan Hamengkubuwana IX, Prof. Prijono (Menteri P dan K), Dr.A. Azis Saleh (Menteri Pertanian), dan Achmadi (Menteri Transmigrasi, Koperasi dan Pembangunan Masyarakat Desa). Panitia inilah yang kemudian mengolah Anggaran Dasar Gerakan Pramuka dan terbitnya Keputusan Presiden RI Nomor 238 Tahun 1961, tanggal 20 Mei 1961.
Pada tanggal 14 Agustus 1961, yang kemudian dikenal sebagai Hari Pramuka, selain dilakukan penganugerahan Panji Kepramukaan dan defile, juga dilakukan pelantikan Mapinas (Majelis Pimpinan Nasional), Kwarnas dan Kwarnari Gerakan Pramuka. Sri Sultan Hamengkubuwana IX menjabat sebagai Ketua Kwarnas sekaligus Wakil Ketua I Mapinas (Ketua Mapinas adalah Presiden RI).
Sri Sultan bahkan menjabat sebagai Ketua Kwarnas (Kwartir Nasional) Gerakan Pramuka hingga empat periode berturut-turut, yakni pada masa bakti 1961-1963, 1963-1967, 1967-1970 dan 1970-1974.
Sehingga selain menjadi Ketua Kwarnas yang pertama kali, Hamengkubuwana IX pun menjadi Ketua Kwarnas terlama kedua, yang menjabat selama 13 tahun (4 periode) setelah Letjen. Mashudi yang menjabat sebagai Ketua Kwarnas selama 15 tahun (3 periode).
Keberhasilan Sri Sultan Hamengkubuwana IX dalam membangun Gerakan Pramuka dalam masa peralihan dari “kepanduan” ke “kepramukaan”, mendapat pujian bukan saja dari dalam negeri, tetapi juga dari luar negeri. Dia bahkan akhirnya mendapatkan Bronze Wolf Award dari World Organization of the Scout Movement (WOSM) pada tahun 1973.
Bronze Wolf Award merupakan penghargaan tertinggi dan satu-satunya dari World Organization of the Scout Movement (WOSM) kepada orang-orang yang berjasa besar dalam pengembangan kepramukaan. Atas jasa tersebutlah, Musyawarah Nasional (Munas) Gerakan Pramuka pada tahun 1988 yang berlangsung di Dili (Ibu kota Provinsi Timor Timur, sekarang negara Timor Leste), mengukuhkan Sri Sultan Hamengkubuwana IX sebagai Bapak Pramuka Indonesia. Pengangkatan ini tertuang dalam Surat Keputusan nomor 10/MUNAS/88 tentang Bapak Pramuka.
Bapak Pandu Pramuka :
Pada tahun 1961, Presiden Sokarno beberapa kali konsultasi dengan Sri Sultan HB IX mengenai penyatuan organisasi kepanduan. Sehingga pada Maret 1961 terbentuklah panitia pembentukan Gerakan Pramuka yang beranggotakan ri Sultan Hamengkubuwana IX, Prof. Prijono (Menteri P dan K), Dr.A. Azis Saleh (Menteri Pertanian), dan Achmadi (Menteri Transmigrasi, Koperasi dan Pembangunan Masyarakat Desa). Panitia ini bertugas sebagai penyusun penyatuan organisasi kepanduan, pendirian Gerakan Pramuka, dan pengembangannya. Tanggal 14 Agustus tercetus Gerakan pramuka, sehingga tanggal tersebut dikenal dengan Hari Pramuka. Beliau didapuk sebagai ketua Kwartir Nasional, bahkan masa jabatan beliau 4 periode berturut-turut.
Jasa beliau untuk Gerakan Pramuka ini diapresiasi baik secara nasional maupun internasional. Tahun 1973 Beliau mendapatkan Bronze Wolf Award dari World Organization of the Scout Movement (WOSM). Bronze Wolf Award merupakan penghargaan tertinggi dan satu-satunya dari World Organization of the Scout Movement (WOSM) kepada orang-orang yang berjasa besar dalam pengembangan kepramukaan. Tahun 1988 beliau didapuk sebagai Bapak Pramuka Indonesia.
[6/7 17.29] rudysugengp@gmail.com: A. Buatkan gambar dan infografis tentang
Perjuangan Sri Sultan Hamengku Buwana IX di Awal Kemerdekaan hingga Tertangkapnya Presiden oleh Belanda.
Bergabung dengan Indonesia :
Sehari setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, Hamengkubuwana IX dan Sri Paku Alam VIII mengirimkan telegram ucapan selamat kepada Soekarno, Mohammad Hatta, dan Radjiman Wedyodiningrat atas kemerdekaan Indonesia.
Pada tanggal 20 Agustus 1945, dikirimkan lagi telegram oleh Hamengkubuwana IX sebagai Ketua Badan Kebaktian Rakyat (Hokokai) Yogyakarta, menegaskan bahwa Yogyakarta "sanggup berdiri di belakang pimpinan"; diikuti oleh Paku Alam VIII. Peristiwa ini menjadikan Yogyakarta sebagai kerajaan di Indonesia pertama yang bergabung dengan Republik Indonesia. Pada tanggal 5 September 1945, Sultan mengeluarkan amanat posisi Yogyakarta sebagai daerah istimewa dengan Sultan sebagai pemimpinnya yang bertanggung jawab langsung kepada Presiden Republik Indonesia. Paku Alam VIII juga menyatakan amanat setelahnya atas Kadipaten Pakualaman dan menjadi wakil pemimpin Yogyakarta. Amanat ini diterima dengan baik oleh pemerintah pusat, ditandai dengan tibanya Mr. Sartono dan Mr. A.A. Maramis di Yogyakarta sebagai perwakilan pemerintah pusat untuk menyerahkan piagam penetapan kedudukan Yogyakarta.
Piagam ini ditandatangani Soekarno pada tanggal 19 Agustus 1945, sehari setelah telegram dari Yogyakarta tiba, menandakan bahwa Yogyakarta telah menjadi bagian Indonesia.
Awal masa Revolusi Nasional :
Karena banyaknya jumlah laskar pemuda setelah kemerdekaan, termasuk di Yogyakarta, Hamengkubuwana IX meminta para pemuda melapor kepadanya di kantornya (Kepatihan) agar lebih mudah mengorganisasikan mereka.
Ia kemudian membentuk Laskar Rakyat Mataram, yang kemudian dikenal dengan sebutan Tentara Rakyat Mataram, gabungan dari laskar-laskar yang telah ada. Sri Sultan menjadi panglimanya, sementara Selo Soemardjan menjadi kepala stafnya. Setelahnya, Hamengkubuwana diterima menjadi perwira kehormatan senior Tentara Keamanan Rakyat, menjadi anggota dewan tertinggi tentara bersama tiga penguasa Catur Sagotra yang lain, serta menerima pangkat jenderal kehormatan pada bulan November 1945.
Ke Surabaya :
Bulan November 1945, saat Pertempuran Surabaya terjadi, Sri Sultan melawat ke Surabaya. Ia bertemu dengan Gubernur Soerjo di Mojokerto sebelum tiba di pinggiran Kota Surabaya.
Sultan mengatakan kepada wartawan bahwa pertempuran ini menunjukkan kekejaman Inggris serta kebijakan diplomasi bukanlah hal yang tepat untuk kasus ini. Terdapat cerita terkenal dari kunjungan ini, yaitu ketika Sultan mencapai daerah sekitar Madiun, ia dicegat sekelompok warok yang menanyakan, "Mana Dorodjatun?" Sultan menjawab, "Saya Suyono," dan lolos.
Yogyakarta menjadi ibu kota negara :
Pada tanggal 3 Januari 1946, sidang kabinet memutuskan ibu kota dipindahkan dari Jakarta ke Yogyakarta. Pemindahan ini pada awalnya merupakan tawaran Sri Sultan dalam sebuah surat yang dikirimkan melalui kurir ke Jakarta.
Sore tanggal 4 Januari 1946, Soekarno, Mohammad Hatta, dan para pejabat negara kala itu berangkat dengan perjalanan kereta luar biasa ke Yogyakarta. Kedatangan mereka di Stasiun Tugu disambut oleh Sri Sultan.
Untuk kebutuhan pemerintahan RI, banyak gedung di Yogyakarta dijadikan kantor-kantor pemerintah. Salah satunya adalah Gedung Agung menjadi kantor presiden yang hingga saat ini masih menjadi Istana Presiden Indonesia.
Selama Yogyakarta menjadi ibu kota, Sultan Hamengkubuwana membantu pendanaan operasional pemerintahan RI.
Reformasi Bahasa :
Selama Yogyakarta menjadi ibu kota, Hamengkubuwana memulai beberapa reformasi.
Ia menetapkan seluruh bisnis resmi dilakukan dengan bahasa Indonesia, bukan lagi bahasa Jawa. Ia memberikan sebagian keraton untuk digunakan Universitas Gadjah Mada (UGM), juga menghibahkan lahan di Bulaksumur yang menjadi kampus UGM saat ini. Ia dinilai berhasil mengantisipasi adanya revolusi—seperti yang terjadi di Surakarta dan sebagian besar Sumatra—di Yogyakarta yang dikhawatirkan akan melengserkan dirinya.
Awal karier di kabinet :
Hamengku buwana ditunjuk menjadi Menteri Negara di Kabinet Sjahrir III, pertama kalinya ia masuk ke dalam jajaran kabinet.
Kala itu, ia ditugasi dalam urusan mengenai daerah istimewa di Indonesia. Semasa menjabat jabatan tersebut, ia memberi saran dan mencoba memecahkan masalah yang terjadi di daerah-daerah istimewa yang lain. Ia mengunjungi Surakarta setelah terjadinya pergolakan antarpihak pemerintahan di sana pada bulan Oktober 1946. Ia juga mengunjungi beberapa kota di Sumatra pada bulan Maret 1946 untuk melihat keadaan pemimpin adat dan keluarga mereka yang ditahan oleh revolusionis di sana. MBulan April 1947, ia kembali lagi ke Sumatra mengunjung Pematangsiantar, Bukittinggi, dan Medan. Ia mencoba menyelesaikan masalah revolusi sosial Sumatra, yang disebutkan Monfries sebagai "usaha yang hampir mustahil". Dalam kunjungannya ke Pematangsiantar, Hamengkubuwana sempat menegaskan bahwa Perundingan Linggarjati tidak menjamin kemerdekaan sepenuhnya, menekankan bahwa perlu adanya kesatuan antara tentara, pemerintah, dan masyarakat.
Pemberontakan PKI Madiun :
Pada tahun 1948, Hamengkubuwana IX ditunjuk menjadi Menteri Negara Koordinator Keamanan dalam Kabinet Hatta I. Hatta pada awalnya menginginkannya menjadi Menteri Pertahanan, tetapi ia menolak sehingga Hatta yang mengisi jabatan itu.
Bulan September 1948, terjadi Pemberontakan PKI di Madiun. Sri Sultan kemudian berdiskusi dengan Soekarno dan mengutus Abdul Haris Nasution ke Madiun. Nasution menganggap pemberontakan tersebut harus cepat ditumpaskan, ia khawatir komandan-komandan lain di Jawa Tengah dan Jawa Timur akan bergabung dengan pemberontak.
Pada pertemuan kabinet setelahnya, Soedirman diberikan kuasa "untuk mengambil tindakan yang diperlukan demi menjaga negara". Soedirman menempatkan Nasution dalam komando strategis operasi itu. Hamengkubuwana IX membuat siaran agar rakyat mendukung Soekarno dan pemerintahan Hatta, menegaskan bahwa pemerintahan ini dibentuk untuk membangun negara dan pihak komunis hanya ingin menghancurkannya. Hamengkubuwana, Gubernur Soerjo, dan Kepala Kepolisian Provinsi Jawa Timur lantas pergi ke Madiun. Hamengkubuwana IX jauh di depan meninggalkan mobil Gubernur Soerjo dan Kepala Kepolisian yang kemudian diketahui terbunuh di Walikukun.
Hamengkubuwana IX mengatakan bahwa ia dilaporkan hal tersebut oleh seorang kurir setengah jam setelah melewati daerah tersebut, kontras dengan klaim Nasution yang menyebutkan bahwa pembunuhan tersebut baru diketahui olehnya dua hari setelah jasad mereka ditemukan.
Masalah Surakarta :
Dalam kapasitasnya sebagai Menteri Negara Koordinator Keamanan, Hamengkubuwana IX mengusulkan bentuk pemerintahan baru di Surakarta. Ia secara terbuka menyamakan Surakarta sebagai 'Barat yang Liar' (The Wild West). Ia melapor kepada Hatta bahwa pendekatan terbaik untuk menyelesaikan masalah di sana adalah dengan menggunakan organ administratif yang masih layak dengan tetap memasukkan para pangeran agar kalangan monarki tidak menjadi "kekuatan antirevolusioner".
Ia mengusulkan Daerah Istimewa Surakarta dengan identitasnya sendiri tetapi dipandu undang-undang yang diberlakukan di Jawa Tengah.
Struktur pemerintahan yang ada adalah daerah tersebut akan dipimpin seorang gubernur yang dipilih Presiden; dibantu tujuh orang dewan pemerintahan: lima orang dipilih badan legislatif daerah, satu dipilih Sunan Surakarta, dan satu dipilih Adipati Mangkunegara; dan juga dibantu oleh Dewan Penasihat yang terdiri atas Sunan dan Adipati.
Keputusan ini dianggap lumayan memuaskan Republiken yang antifeodal tanpa menghilangkan pengaruh monarki demi menarik sentimen lokal karena penggabungan Surakarta ke Jawa Tengah yang belum begitu umum bagi rakyat Surakarta.
Agresi Militer II :
Pada tanggal 19 Desember 1948, Belanda kembali melancarkan agresi militernya. Aksi militer ini diawali dengan penyerbuan Lapangan Terbang Maguwo. Tentara Belanda mulai menyebar ke Yogyakarta dan mengepung kota. Soekarno segera melaksanakan sidang kabinet darurat. Sebelum sidang dimulai, Soekarno memberi tahu Sultan Hamengkubuwana IX bahwa ia tetap akan keluar kota untuk menghindari penangkapan Belanda.
Perdana Menteri Mohammad Hatta sedang berada di Kaliurang untuk bertemu dengan Komisi Tiga Negara; karena tak kunjung datang di Gedung Agung, Sultan diminta Soekarno untuk menjemputnya. Sultan ditemani dengan Sjahrir berangkat ke Kaliurang, singgah sebentar di Kepatihan untuk memerintahkan persiapan pengungsian sementara bagi pemimpin pemerintahan di Gunungkidul, dan di tengah perjalanan menjumpai Hatta yang telah berjalan kembali ke kota. Mereka kembali ke Yogyakarta; ketika tiba di Gedung Agung, sidang telah selesai diputuskan. Soekarno memutuskan untuk tidak jadi keluar kota, membiarkan dirinya ditangkap oleh Belanda, dan memberikan kekuasaan kepada Syafruddin Prawiranegara di Bukittinggi.
Syafruddin diberitahukan keputusan ini melalui siaran radio, tetapi ia tak mengetahuinya. Meskipun demikian, Syafruddin telah berinisiasi membentuk pemerintahan serupa di sana, sehingga keputusan ini telah dilaksanakan meskipun tanpa konsultasi dengan pemerintah pusat.
Pengepungan Yogyakarta :
Siang hari tanggal 19 Desember 1948, Tentara Belanda telah sampai di tengah kota Yogya. Sultan Hamengkubuwana IX memerintahkan untuk menutup seluruh gerbang keraton agar tidak ada mata-mata Belanda yang masuk. Ia tidak menerima tamu kecuali rakyat yang telah mengungsi di keraton sebelum perintah penutupan gerbang dikeluarkan. Sultan sempat bertemu dengan Kolonel van Langen dan Westerhof, seorang pejabat Belanda, yang menunjukkannya sebuah peta Yogyakarta yang telah diberi tanda-tanda tertentu. Peta tersebut memiliki arti bahwa Sultan bebas bergerak tetapi hanya di dalam area keraton.
Penangkapan Pemimpin RI :
Satu demi satu pemimpin negara diasingkan. Soekarno, Sjahrir, dan Agus Salim diberangkatkan ke Berastagi, sebelum kemudian disatukan kembali bersama Hatta, Mohamad Roem, Ali Sastroamidjojo, dan Assaat di Bangka. Beberapa pemimpin negara yang selamat dapat meloloskan diri ke luar kota maupun hidup dalam penyamaran.
[6/7 17.30] rudysugengp@gmail.com: B. Buatkan gambar dan infografis tentang
Perjuangan Sri Sultan Hamengku Buwana IX saat Serangan Umum 1 Maret 1949 hingga Penyerahan Kedaulatan
Mengundurkan diri :
Bulan Januari 1949, Sultan Hamengkubuwana IX dan Sri Paku Alam VIII mengundurkan diri dari jabatan Gubernur dan Wakil Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta.
Hal ini dimaksudkan agar urusan keamanan diserahkan kepada tentara Belanda. Selain itu, karena tidak lagi mengemban tanggung jawab pemerintah daerah, mereka tidak dapat melakukan apa pun untuk bekerja sama dengan Belanda, membuktikan bahwa rumor mereka bekerja sama dengan Belanda adalah salah.
Belanda yang menyadari masih kuatnya pengaruh Sultan terhadap rakyatnya berusaha untuk merangkulnya.
Letnan Gubernur Jenderal van Mook kemudian digantikan oleh Komisaris Tinggi Beel.
Utusan-utusan Belanda dari kalangan bangsa Indonesia seperti Hussein Jayadiningrat dan Sultan Hamid II, juga pejabat-pejabat Belanda seperti Residen E.M. Stok, Dr. Berkhuis, dan Kolonel van Langen yang satu persatu datang ke keraton, semuanya ditolak.
Pada masa itu, Menteri Koloni Maan Sassen merencanakan sebuah negara bagian Indonesia yang baru di Jawa Tengah yang mungkin akan dipimpin oleh Sultan.
Sultan dibujuk dengan tawaran daerah kekuasaan di Kedu dan Banyumas, tambahan wilayah di Jawa Timur, kemudian seluruh Jawa dan Madura sebagai "Super Wali Negara", dan bahkan sebagai Deputi (Wakil) Gubernur Jenderal Hindia Timur. Tak hanya itu, Sultan juga ditawari saham perusahaan kereta api hingga sejumlah besar uang. Meskipun demikian, utusan-utusan tersebut hanya dapat bertemu saudara Sultan seperti Prabuningrat, Mudaningrat, dan Bintoro dengan alasan bahwa ia sedang sakit. Mereka menerima utusan-utusan tersebut tetapi tidak memberikan jawaban atau balasan atas tawaran yang ada. Tak peduli dengan itu, Kabinet Belanda masih tetap berharap Hamengkubuwana akan memihak kepada mereka.
Serangan Umum 1 Maret 1949 :
Karena kondisi perang yang berkepanjangan, Sultan Hamengkubuwana IX memandang rakyatnya makin menderita dan melihat semangat para pejuang makin memudar.
Dewan Keamanan PBB memutuskan resolusi atas Indonesia pada tanggal 28 Januari 1949. Sultan mengetahui bahwa pada awal bulan Maret, sebuah rapat Dewan Keamanan PBB mengenai Indonesia akan diadakan kembali. Ia mengambil kesempatan ini dengan mengusulkan kepada Soedirman sebuah serangan agar dunia tahu bahwa Republik Indonesia masih ada. Soedirman menyetujuinya dan menyarankan Sultan berbicara dengan komandan setempat, Letkol Soeharto.
Pada tanggal 14 Februari 1949, Letkol Soeharto bertemu dengan Sultan. Ia menyamar sebagai seorang abdi dalem.
Pertemuan yang membahas rencana Serangan Umum 1 Maret ini, diadakan di tempat tinggal Prabuningrat, kakak Sultan.
Pada tanggal 22 Februari 1949, kompleks Kepatihan, kantor Sultan, dijarah oleh tentara Belanda. Mereka membawa beberapa dokumen, termasuk naskah tesis Sultan yang belum sempat dikumpulkan, dan menemukan beberapa instruksi rahasia.
Oleh karenanya, para pejabat Belanda mulai tidak sabar. Mereka mulai berencana menggulingkan Sultan. Menteri Luar Negeri Belanda van Maarseveen setuju bahwa Komisaris Tinggi Beel dapat "menduduki keraton dan mengganti Sultan" jika situasinya memburuk.
Beberapa sumber mencatat bahwa beberapa anggota keluarga Sultan sempat terbujuk, tetapi tidak berlangsung lama.
Pada tanggal 1 Maret 1949 pukul enam pagi, ditandai dengan bunyi sirene berakhirnya jam malam yang ditetapkan Belanda, pasukan Indonesia menyerang Yogyakarta secara serentak. Setelah serangan berlangsung selama enam jam, pasukan berhasil menduduki tempat-tempat yang telah direncanakan, kemudian dikomando untuk menarik diri dan kembali ke pangkalan masing-masing.
Ketika bala bantuan Belanda datang dari Magelang, para pejuang sudah menarik diri.
Sore harinya, Kolonel van Langen dan Residen Stok datang, menuduh bahwa ada tembakan dari dalam keraton selama Serangan Umum. Mereka juga memberi tahu bahwa Jenderal Meijer, Komandan Umum Jawa Tengah, akan datang menemui Sultan.
Keesokan harinya, 2 Maret 1949, Jenderal Meijer datang. Sultan ditemani Prabuningrat menerima mereka dengan pakaian sederhana, untuk menunjukkan keterpaksaannya, hingga taraf sesuatu yang tidak sopan untuk menerima tamu dalam adat Jawa.
Di sini Sultan sempat berkata, "Saya tidak meminta Tuan-Tuan datang ke Yogya," yang dimaksudkan kepada seluruh tamu yang datang.
Selain itu, Sultan bahkan telah menyiapkan satu tas penuh pakaian, karena menduga akan ditangkap, dan akan turun takhta apabila berbagai provokasi Belanda makin menjadi-jadi.
Namun, Sultan meminta agar ia "ditinggalkan dalam kedamaian" dan bila Belanda akan mengacak-acak keraton, "Lebih baik saya mati dulu!"
Rombongan tersebut akhirnya meninggalkan keraton dengan tenang dan sopan.
Penyerahan kedaulatan Indonesia :
Pada tanggal 3 Maret 1949, Majelis Permusyawaratan Federal (BFO) mengeluarkan resolusi yang menyerukan pemulangan pemimpin-pemimpin Republik dari pengasingan.
Pada tanggal 23 Maret, Dewan Keamanan PBB mengeluarkan Resolusi Kanada, yang dinilai berkekuatan lemah, tetapi memperkuat resolusi bulan Januari. Perundingan Roem-Roijen dimulai pada pertengahan April 1949; mencapai kesepakatan Persetujuan Roem-Roijen yang ditandatangani pada tanggal 7 Mei 1949.
Hamengkubuwana IX membuka kembali kantor-kantor Kesultanan pada pertengahan bulan Mei.
Tentara Belanda ditarik dari Yogyakarta dimulai dari Bantul tanggal 24 Juni, dari Kota Yogyakarta tanggal 29 Juni, hingga dari DIY sepenuhnya pada tanggal 30 Juni 1949; kekuasaan atas Yogyakarta dikembalikan kepada Hamengkubuwana IX.
Pada tanggal 6 Juli 1949, Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Moh. Hatta tiba di Yogyakarta dari Bangka.
Syafruddin Prawiranegara mengembalikan kekuasaan dari PDRI kepada Presiden Soekarno pada tanggal 13 Juli 1949.
Pada tanggal 24 Juli 1949, dibentuk susunan delegasi Konferensi Meja Bundar. Persetujuan mengenai penyerahan kedaulatan Indonesia ditandatangani di Den Haag pada tanggal 2 November 1949. Di Amsterdam, dilakukan upacara penyerahan kedaulatan di Istana Dam oleh Ratu Juliana dengan Moh. Hatta. Di Jakarta, upacara serupa dilakukan di Istana Koningsplein oleh A.H.J. Lovink dengan Hamengkubuwana IX.
Upacara dilanjutkan dengan penurunan Bendera Belanda dan penaikan Bendera Indonesia di Istana Koningsplein. Karena teriakan "merdeka" yang bersahutan di sana, Istana Koningsplein atau Istana Gambir kemudian mulai disebut sebagai Istana Merdeka.
[6/7 18.55] rudysugengp@gmail.com: 3. Buatkan gambar dan infografis tentang
Akhir Hayat dan Penghargaan Sultan Iskandar Muda
Makam Sultan Iskandar Muda :
Selama 30 tahun masa pemerintahannya (1606 - 1636 SM) Sultan Iskandar Muda telah membawa Kerajaan Aceh Darussalam dalam kejayaan. Saat itu, kerajaan ini telah menjadi kerajaan Islam kelima terbesar di dunia setelah kerajaan Islam Maroko, Isfahan, Persia dan Agra. Seluruh wilayah semenanjung Melayu telah disatukan di bawah kerajaannya dan secara ekonomi Kerajaan Aceh Darussalam telah memiliki hubungan diplomasi perdagangan yang baik secara internasional.
Rakyat Aceh pun mengalami kemakmuran dengan pengaturan yang mencakup seluruh aspek kehidupan, yang dibuat oleh Iskandar Muda. pada tanggal 14 September 1993, pemerintah Republik Indonesia menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada Sultan Iskandar Muda atas jasa dan kejayaannya membangun dasar-dasar penting hubungan ketatanegaraan dan atas keagungan beliau.
Penghargaan :
Bahkan beberapa tempat menggunakan nama Sultan Iskandar Muda, antara lain ;
Bandar Udara Internasional Sultan Iskandar Muda
Komando Daerah Militer Iskandar Muda
Universitas Iskandar Muda
Pupuk Iskandar Muda
KRI Sultan Iskandar Muda
Taman Iskandar Muda
Yayasan Perguruan Iskandar Muda
Nama Ruas Jalan
[6/7 19.05] rudysugengp@gmail.com: 1. Buatkan gambar dan infografis tentang
Biodata dan Masa Muda
Sultan Iskandar Muda
Iskandar Muda ( 1583 – 27 Desember 1636 adalah Sultan Aceh kedua belas, yang memerintah pada tahun 1607 hingga kematiannya pada 1636. Di bawah kekuasaanya, Kesultanan Aceh mencapai puncak terluasnya dan menjadi negara terkuat dan terkaya yang mendominasi kepulauan Indonesia bagian barat dan Selat Malaka.
Biodata :
Berkuasa : 4 April 1607 – 27 Desember 1636
Pendahulu : Ali Ri'ayat Syah III
Penerus : Iskandar Tsani
Kelahiran : 1583, Banda Aceh, Kesultanan Aceh
Kematian : 27 Desember 1636, Banda Aceh, Kesultanan Aceh
Pasangan :
1. Putroe Tsani (Permaisuri)
2. Putroe Meuligoe (Putroe Al Habsy dari Habasya)
3. Kamaliah dari Pahang (Putroe Phang)
4. Siti Ungu Putri Inai (Asahan)
Keturunan :
Tuanku Maharaja Hitam (Panglima Polim I
Putra Mahkota Meurah Pupok
Putri Sri Alam
Raja Abdul Jalil Syah I dari Asahan
Ayah :
Sultan Mansur Syah
Ibu :
Puteri Raja Inderabangsa
S.K. Presiden No. 077/TK/Tahun 1993, tanggal 14 September, 1993
"Iskandar Muda" secara harfiah berarti "Alexander muda," dan penaklukannya sering dibandingkan dengan penaklukan Alexander Agung.
Selain penaklukan-penaklukannya yang luar biasa, pada masa pemerintahannya, Aceh dikenal sebagai pusat pembelajaran Islam dan perdagangan internasional. Ia adalah Sultan Aceh terakhir yang merupakan keturunan langsung dari Ali Mughayat Syah, pendiri Kesultanan Aceh. Meninggalnya Iskandar Muda mengakibatkan punahnya dinasti pendiri Kesultanan Aceh, yakni Wangsa Meukuta Alam dan digantikan oleh dinasti lain.
Keluarga dan masa kecil :
Asal-usul :
Dari pihak leluhur ibu, Iskandar Muda adalah keturunan dari Raja Darul-Kamal, dan dari pihak leluhur ayah merupakan keturunan dari keluarga Raja Makota Alam. Darul-Kamal dan Makota Alam dikatakan dahulunya merupakan dua tempat permukiman bertetangga (yang terpisah oleh sungai) dan yang gabungannya merupakan asal mula Aceh Darussalam. Iskandar Muda seorang diri mewakili kedua cabang itu, yang berhak sepenuhnya menuntut takhta.
Ibunya, bernama Putri Raja Indra Bangsa, yang juga dinamai Paduka Syah Alam, adalah anak dari Sultan Alauddin Riayat Syah, Sultan Aceh ke-10; di mana sultan ini adalah putra dari Sultan Firman Syah, dan Sultan Firman Syah adalah anak atau cucu (menurut Djajadiningrat) Sultan Inayat Syah, Raja Darul-Kamal.
Putri Raja Indra Bangsa menikah dengan upacara besar-besaran dengan Sultan Mansur Syah, putra dari Sultan Abdul-Jalil, di mana Abdul-Jalil adalah putra dari Sultan Alauddin Riayat Syah al-Kahhar, Sultan Aceh ke-3.[3] Sampai dengan meninggalnya Sultan Iskandar Muda pada tahun 1636, beliau merupakan penguasa Aceh keturunan terakhir dari Dinasti Meukuta Alam pendiri Kesultanan Aceh yang bertakhta.
Pernikahan :
Sri Sultan Iskandar Muda kemudian menikah dengan seorang Putri dari Kesultanan Pahang. Putri ini dikenal dengan nama Putroe Phang. Konon, karena terlalu cintanya sang Sultan dengan istrinya, Sultan memerintahkan pembangunan Gunongan di tengah Medan Khayali (Taman Putroe Phang) sebagai tanda cintanya. Kabarnya, sang puteri selalu sedih karena memendam rindu yang amat sangat terhadap kampung halamannya yang berbukit-bukit. Oleh karena itu Sultan membangun Gunongan untuk mengubati rindu sang puteri. Hingga saat ini Gunongan masih dapat disaksikan dan dikunjungi.[7][8]
Putri Pahang dalam istana Darud Dunia tidak hanya sebagai Permaisuri, juga menjadi penasihat bagi suaminya Sultan Iskandar Muda. Salah satunya nasihatnya adalah pembentukan Majelis Syura (Parlemen) yang beranggotakan 73 orang sebagai perwakilan penduduk dalam kerajaan Aceh.
Gunongan yang dibangun oleh Sultan Iskandar Muda untuk Putroe Phang (Isterinya)
Sebagai penghormatan kepada Putroe Phang sebuah Hadih Maja (Kata-kata berhikmat) yang berbunyi:
Adat bak Poteu Meureuhom, Hukom bak Syiah Kuala, Kanun bak Putroe Phang, Reusam bak Laksamana, Hukom ngon adat lagee zat ngon sifuet,
Hadih Maja ini adalah ajaran tentang pembagian kekuasaan dalam kerajaan Aceh Darussalam3), yang bermakna:
Kekuasaan eksekutif berupa kekuasaan politik/adat berada di tangan Sultan sebagai Kepala Pemerintahan. Sultan Iskandar Muda menciptakan sistem ini, maka dibangsakan kepadanya (Poteu Meureuhom);
Kekuasaan yudikatif atau pelaksanaan hukum berada di tangan ulama. Syekh Abdurrauf Syiah Kuala merupakan seorang ahli hukum dan Kadi Malikul Adil yang paling menonjol, maka pelaksanaan yudikatif ini dibangsakan kepadanya;
Kekuasaan legislatif atau pembuatan undang-undang dibangsakan kepada Putroe Phang karena ia yang memberi nasihat untuk membentuk Majelis Syura (Parlemen);
Peraturan keprotokolan atau reusam berada di tangan Laksamana sebagai Panglima Angkatan Perang Aceh dibangsakan kepada Laksamana Malahayati;
Baris kelima adalah sintesis dari silogisme empat baris sebelumnya, yaitu: Dalam keadaan bagaimanapun, adat, kanun, dan reusam tidak boleh dipisahlan dari hukum/ajaran Islam sebagai penuntun jalan setiap orang yang memegang kekuasaan di Kesultanan Aceh Darussalam.
[6/7 19.19] rudysugengp@gmail.com: 2. Buatkan gambar dan infografis tentang
Perjuangan Sultan
Iskandar Muda Mengusir Penjajah
Masa kekuasaan :
Masa kekuasaan Sultan Iskandar Muda yang dimulai pada tahun 1607 sampai 1636, merupakan masa paling gemilang bagi Kesultanan Aceh, walaupun di sisi lain kontrol ketat yang dilakukan oleh Iskandar Muda, menyebabkan banyak pemberontakan di kemudian hari setelah mangkatnya Sultan.
Aceh merupakan negeri yang amat kaya dan makmur pada masa kejayaannya. Menurut seorang penjelajah asal Prancis yang tiba pada masa kejayaan Aceh pada zaman Sultan Iskandar Muda Meukuta Perkasa Alam.
Ketika Iskandar Muda mulai berkuasa pada tahun 1607, ia segera melakukan ekspedisi angkatan laut yang menyebabkan ia mendapatkan kontrol yang efektif di daerah barat laut Indonesia. Kendali kerajaan terlaksana dengan lancar di semua pelabuhan penting di pantai barat Sumatra dan di pantai timur, sampai ke Asahan di selatan. Pelayaran penaklukannya dilancarkan sampai jauh ke Penang, di pantai timur Semenanjung Melayu, dan pedagang asing dipaksa untuk tunduk kepadanya. Kerajaannya kaya raya, dan menjadi pusat ilmu pengetahuan.
Kontrol di dalam negeri :
Menurut tradisi Aceh, Iskandar Muda membagi wilayah Aceh ke dalam wilayah administrasi yang dinamakan ulèëbalang dan mukim; ini dipertegas oleh laporan seorang penjelajah Prancis bernama Beauliu, bahwa "Iskandar Muda membabat habis hampir semua bangsawan lama dan menciptakan bangsawan baru." Mukim1 pada awalnya adalah himpunan beberapa desa untuk mendukung sebuah masjid yang dipimpin oleh seorang Imam (Aceh: Imeum). Ulèëbalang (Melayu: Hulubalang) pada awalnya barangkali bawahan-utama Sultan, yang dianugerahi Sultan beberapa mukim, untuk dikelolanya sebagai pemilik feodal. Pola ini djumpai di Aceh Besar dan di negeri-negeri taklukan Aceh yang penting.
Persaingan Dengan Imperialis Eropa :
Kekuasaan Imperialisme Eropa yang pertama datang ke Asia Tenggara adalah Portugis, pada tahun 1511 menaklukkan Malaka. Portugis kemudian menaklukkan Samudera Pasai (1521) dan memperluas pengaruhnya di Selat Malaka. Akan tetapi dari Utara Sumatera muncul lawan sepadan Aceh Darussalam, konflik berlangsung ratusan tahun dan akhirnya Sultan Aceh terbesar Iskandar Muda lahir dan pertarungan kian dahsyat. Sebagaimana diceritakan dalam Sejarah Pahang.
“Dalam bulan Juli 1613, Sultan Iskandar Muda Mahkota Alam, Raja Aceh yang masyhur gagah perkasanya itu, telah menghantar suatu angkatan perang laut yang besar datang menyerang dan mengalahkan Negeri Johor, Batu Sawar dan Kota Seberang. Bandar-bandar utama di Negeri Johor masa itu telah diduduki oleh orang-orang Aceh. Mengikut setengah sumber, Iskandar Muda sendiri mengepalakan Angkatan Perang Aceh yang menyerang Negeri Johor itu. Sultan Alauddin Riayat Syah III, adinda baginda Raja Abdullah serta Bendahara (Perdana Menteri) Johor Tun Sri Lanang dan beberapa ramai pengiring-pengiring Sultan Johor telah ditawan dan dibawa ke Negeri Aceh…”
Setelah beberapa tahun di Aceh, Sultan Alauddin Riayat Syah III berjanji tidak akan lagi membantu Portugis yang telah menduduki Malaka, maka Sultan Iskandar Muda membebaskan Sultan Alauddin dan diantar kembali serta ditabalkan kembali sebagai Sultan Johor. Akan tetapi ternyata Sultan Alauddin Riayatsyah III ternyata berkhianat dan bekerjasama dengan Portugis untuk memperluas jajahan mereka di Semenanjung Melayu.
Alauddin membantu Portugis untuk mengangkat Raja Bujang menjadi Raja Pahang. Raja Bujang sebelumnya adalah seorang pangeran Pahang yang telah bersumpah setia kepada Portugis.
Maka, September 1615. Sultan Iskandar Muda menyerang Johor kembali dengan angkatan perang yang besar, Sultan Alauddin ditangkap dan dibawa (lagi) ke Aceh sampai meninggal. Serangan armada Aceh Darussalam dilanjutkan ke Pahang sebagaimana yang dituliskan oleh Haji Buyong Adil:
“Oleh sebab orang Portugis telah menolong Sultan Johor menaikkan Raja Bujang menduduki Kerajaan Negeri Pahang, pada tahun 1617 Sultan Aceh telah mengeluarkan Angkatan Perang Aceh menyerang Negeri Pahang dan laskar-laskar Aceh yang datang itu telah membinasakan daerah di Negeri Pahang. Raja Bujang melarikan diri, sementara ayah mertuanya, Raja Ahmad, dan putranya yang bermana Raja Mughal serta 10.000 rakyat negeri Pahang ditawan ditahan dan dibawa ke Negeri Aceh. Seorang pitri dari keluarga diraja Pahang, yang bernama Putri Kamaliah, juga turut dibawa ke Aceh, yang kemudian diperistri oleh Sultan Iskandar Muda Meukuta Alam, dan Putri Pahang itu termasyur dalam sejarah Aceh karena kebijaksanaannya dan disebut oleh orang-orang Aceh Putroe Phang…”
Hubungan dengan bangsa asing :
Pada abad ke-16, Ratu Inggris, Elizabeth I, mengirimkan utusannya bernama Sir James Lancester kepada Kerajaan Aceh dan mengirim surat yang ditujukan: "Kepada Saudara Hamba, Raja Aceh Darussalam." serta seperangkat perhiasan yang tinggi nilainya. Sultan Aceh kala itu menerima maksud baik "saudarinya" di Inggris dan mengizinkan Inggris untuk berlabuh dan berdagang di wilayah kekuasaan Aceh. Bahkan Ratu Elizabeth I juga mengirim hadiah-hadiah yang berharga termasuk sepasang gelang dari batu rubi dan surat yang ditulis di atas kertas yang halus dengan tinta emas. Sir James pun dianugerahi gelar "Orang Kaya Putih".
Sultan Aceh pun membalas surat dari Ratu Elizabeth I. Berikut cuplikan isi surat Sultan Aceh, yang masih disimpan oleh pemerintah kerajaan Inggris, tertanggal tahun 1585:
I am the mighty ruler of the Regions below the wind, who holds sway over the land of Aceh and over the land of Sumatra and over all the lands tributary to Aceh, which stretch from the sunrise to the sunset.
(Hambalah sang penguasa perkasa Negeri-negeri di bawah angin, yang terhimpun di atas tanah Aceh dan atas tanah Sumatra dan atas seluruh wilayah wilayah yang tunduk kepada Aceh, yang terbentang dari ufuk matahari terbit hingga matahari terbenam).
Hubungan yang mesra antara Aceh dan Inggris dilanjutkan pada masa Raja James I dari Inggris dan Skotlandia. Raja James mengirim sebuah meriam sebagai hadiah untuk Sultan Aceh. Meriam tersebut hingga kini masih terawat dan dikenal dengan nama Meriam Raja James.
Belanda :
Selain Kerajaan Inggris, Pangeran Maurits – pendiri dinasti Oranje– juga pernah mengirim surat dengan maksud meminta bantuan Kesultanan Aceh Darussalam. Sultan menyambut maksud baik mereka dengan mengirimkan rombongan utusannya ke Belanda. Rombongan tersebut dipimpin oleh Tuanku Abdul Hamid.
Rombongan inilah yang dikenal sebagai orang Indonesia pertama yang singgah di Belanda. Dalam kunjungannya Tuanku Abdul Hamid sakit dan akhirnya meninggal dunia. Ia dimakamkan secara besar-besaran di Belanda dengan dihadiri oleh para pembesar-pembesar Belanda.
Namun karena orang Belanda belum pernah memakamkan orang Islam, maka ia dimakamkan dengan cara agama Nasrani di pekarangan sebuah gereja.
Kini di makam ia terdapat sebuah prasasti yang diresmikan oleh Mendiang Yang Mulia Pangeran Bernhard suami mendiang Ratu Juliana dan Ayah Yang Mulia Ratu Beatrix.
Utsmaniyah Turki :
Pada masa Iskandar Muda, Kerajaan Aceh mengirim utusannya untuk menghadap Sultan Utsmaniyah yang berkedudukan di Konstantinopel. Karena saat itu Sultan Utsmaniyah sedang gering maka utusan Kerajaan Aceh terluntang-lantung demikian lamanya sehingga mereka harus menjual sedikit demi sedikit hadiah persembahan untuk kelangsungan hidup mereka. Lalu pada akhirnya ketika mereka diterima oleh sang Sultan, persembahan mereka hanya tinggal Lada Sicupak atau Lada sekarung. Namun sang Sultan menyambut baik hadiah itu dan mengirimkan sebuah meriam dan beberapa orang yang cakap dalam ilmu perang untuk membantu kerajaan Aceh. Meriam tersebut pula masih ada hingga kini dikenal dengan nama Meriam Lada Sicupak. Pada masa selanjutnya Sultan Ottoman mengirimkan sebuah bintang jasa kepada Sultan Aceh.
Prancis :
Kerajaan Aceh juga menerima kunjungan utusan Kerajaan Prancis. Utusan Raja Prancis tersebut semula bermaksud menghadiahkan sebuah cermin yang sangat berharga bagi Sultan Aceh. Namun dalam perjalanan cermin tersebut pecah. Akhirnya mereka mempersembahkan serpihan cermin tersebut sebagai hadiah bagi sang Sultan. Dalam bukunya, Denys Lombard mengatakan bahwa Sultan Iskandar Muda amat menggemari benda-benda berharga.
Pada masa itu, Kerajaan Aceh merupakan satu-satunya kerajaan Melayu yang memiliki Balee Ceureumeen atau Aula Kaca di dalam Istananya.
Menurut Utusan Prancis tersebut, Istana Kesultanan Aceh luasnya tak kurang dari dua kilometer. Istana tersebut bernama Istana Dalam Darud Donya (kini Meuligoe Aceh, kediaman Gubernur). Di dalamnya meliputi Medan Khayali dan Medan Khaerani yang mampu menampung 300 ekor pasukan gajah. Sultan Iskandar Muda juga memerintahkan untuk menggali sebuah kanal yang mengaliri air bersih dari sumber mata air di Mata Ie hingga ke aliran Sungai Krueng Aceh di mana kanal tersebut melintasi istananya, sungai ini hingga sekarang masih dapat dilihat, mengalir tenang di sekitar Meuligoe. Di sanalah sultan acap kali berenang sambil menjamu tetamu-tetamunya.
[8/7 22.35] rudysugengp@gmail.com: 1. Buatkan gambar dan infografis tentang
Kehidupan Awal Abdul Kadir Gelar Raden Temenggung Setia
Abdul Kadir Gelar Raden Temenggung Setia Pahlawan (lahir: Sintang, Kalimantan Barat, 1771 - wafat: Tanjung Suka Dua, Melawi, 1875) adalah seorang pahlawan nasional Indonesia dari Melawi. Pada tahun 1845, ia diangkat sebagai Kepala Pemerintahan Melawi yang merupakan bagian dari Kerajaan Sintang. Sebagai pejabat kerajaan ia mendapat gelar Raden Temenggung. Ia berhasil mengembangkan potensi perekonomian wilayah ini dan mempersatukan suku Dayak dengan Melayu. Selain itu ia juga berjuang menentang Belanda yang ingin menguasai wilayah ini.
Asal Usul :
Abdul Kadir Raden Tumenggung Setia Pahlawan lahir di Sintang, Kalimantan Barat pada tahun 1771 Masehi. Ayahnya bernama Oerip dan ibunya bernama Siti Safriyah. Ayah Abdul Kadir bekerja sebagai hulubalang atau pemimpin pasukan Kerajaan Sintang.
Masa Muda :
Abdul Kadir sudah mengabdi sebagai pegawai Kerajaan Sintang pada saat usianya masih sangat muda. Selama mengabdi di Kerajaan Sintang, ia mampu melaksanakan tugasnya dengan baik. Ia pernah mendapat tugas dari Raja Sintang untuk mengamankan Kerajaan Sintang dari gangguan pengacau dan perampok. Tugas tersebut dapat dilaksanakannya dengan baik. Abdul Kadir kemudian diangkat menjadi pembantu ayahnya yang menjabat sebagai Kepala Pemerintahan kawasan Melawi. Setelah ayahnya wafat, pada tahun 1845, ia diangkat sebagai kepala pemerintahan Melawi menggantikan kedudukan ayahnya. Karena jabatannya itu Abdul Kadir mendapatkan gelar Raden Tumenggung yang diberikan oleh Raja Sintang.
[8/7 22.35] rudysugengp@gmail.com: 2. Buatkan gambar dan infografis tentang
Perjuangan Abdul Kadir Gelar Raden Temenggung Setia
Dalam perjuangannya, ia berhasil mempersatukan suku-suku Dayak dengan Melayu serta dapat mengembangkan potensi ekonomi daerah Melawi. Namun, ia juga berjuang keras menghadapi ambisi Belanda (datang di Sintang pada tahun 1820) yang ingin memperluas wilayah kekuasaannya ke daerah Melawi. Dalam menghadapi Belanda, ia memakai strategi peran ganda, yaitu sebagai pejabat pemerintah Melawi ia tetap bersikap setia pada Raja Sintang yang berarti setia pula pada pemerintahan Belanda. Namun, secara diam-diam ia juga menghimpun kekuatan rakyat untuk melawan Belanda. Ia membentuk kesatuan-kesatuan bersenjata di daerah Melawi dan sekitarnya untuk menghadapi pasukan Belanda. Pada tahun 1866, Belanda memberikan hadiah uang dan gelar Setia Pahlawan kepada Abdul Kadir Raden Tumenggung agar sikapnya melunak dan mau bekerjasama dengan Belanda. Namun Abdul Kadir tidak mengubah sikap dan pendiriannya. Ia tetap melakukan persiapan untuk melawan pemerintahan Belanda. Pada akhirnya di daerah Melawi sering terjadi gangguan keamanan terhadap Belanda yang dilakukan oleh pengikut Abdul Kadir Raden Tumenggung. Pada tahun 1868, Belanda yang marah akibat sering mendapat gangguan keamanan kemudian melancarkan operasi militer ke daerah Melawi. Pertempuran pun tidak bisa dihindari antara pasukan Belanda melawan pengikut Abdul Kadir Raden Tumenggung. Dalam menghadapi Belanda, Abdul Kadir tidak memimpin pertempuran secara langsung, melainkan ia hanya mengatur strategi perlawanan. Sebagai kepala pemerintahan Melawi, ia bisa memperoleh berbagai informasi tentang rencana-rencana operasi militer pemerintah Belanda. Berkat informasi itulah, para pemimpin perlawanan dapat mengacaukan operasi militer Belanda.
[8/7 22.35] rudysugengp@gmail.com: 3. Buatkan gambar dan infografis tentang
Akhir Hayat Abdul Kadir Gelar Raden Temenggung Setia
Akhir Hidup :
Selama tujuh tahun (1868-1875) Abdul Kadir Raden Tumenggung berhasil menerapkan strategi peran ganda, tetapi akhirnya pemerintah Belanda mengetahuinya. Pada tahun 1875 ia ditangkap dan dipenjarakan di Benteng Saka Dua milik Belanda di Nanga Pinoh. Tiga minggu kemudian ia meninggal dunia dalam usia 104 tahun. Jenazahnya dimakamkan di Natali Mangguk Liang daerah Melawi. Abdul Kadir Raden Tumenggung Setia Pahlawan adalah satu satunya pahlawan yang meninggal dunia pada usia di atas 100 tahun. Tokoh pejuang yang mampu menghimpun serta menggerakkan rakyat untuk melawan Belanda. Pemikirannya untuk melawan penjajah Belanda menjadi contoh bagi perlawanan rakyat selanjutnya.
Atas jasa-jasanya dalam perjuangan menghadapi penjajah Belanda, maka pada tahun 1999 berdasarkan Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 114/TK/Tahun 1999 tertanggal 13 Oktober 1999, pemerintah Indonesia menganugerahkan Abdul Kadir Raden Tumenggung Setia Pahlawan sebagai Pahlawan Nasional.
[10/7 00.47] rudysugengp@gmail.com: 1. Buatkan gambar dan infografis tentang
Kehidupan Awal I Gusti Ketut Jelantik
I Gusti Ketut Jelantik (Aksara Bali: ᬇᬕᬸᬲ᭄ᬢᬶᬓᭂᬢᬸᬢ᭄ᬚᭂᬮᬦ᭄ᬢᬶᬓ᭄, meninggal tahun 1849) adalah pahlawan nasional Indonesia yang berasal dari Karangasem, Bali. Ia merupakan patih Kerajaan Buleleng. Ia berperan dalam Perang Bali I, Perang Jagaraga, dan Perang Bali III yang terjadi di Bali pada tahun 1849.
Ia gugur ketika peperangan berakhir, yaitu pada tahun 1849.
Biodata :
I Gusti Ketut Jelantik
ᬇᬕᬸᬲ᭄ᬢᬶᬓᭂᬢᬸᬢ᭄ᬚᭂᬮᬦ᭄ᬢᬶᬓ᭄
Lahir : 1800, Tukadmungga, Buleleng, Buleleng
Meninggal : 1849, Jagaraga, Buleleng
Pengabdian : Buleleng
Pangkat : Patih
Perang/pertempuran
Perang Jagaraga
Penghargaan : Pahlawan Nasional Indonesia
Pasangan :
I Gusti Ayu Made Geria
I Gusti Ayu Kompyang
Gusti Biyang Made Saji
Jero Sekar
Anak :
I Gusti Ayu Jelantik
I Gusti Ayu Made Sasih
I Gusti Bagus Weda Tarka
Kehidupan Pribadi :
Dalam satu keterangan disebutkan I Gusti Ketut Jelantik saat muda sering berkunjung ke Desa Kalibukbuk. Di desa itu terdapat sebuah kerajaan kecil dengan aktivitas utama masyarakatnya yaitu bertani.
Produktivitas pertanian I Gusti Ketut Jelantik cukup tinggi, sehingga dia mampu membangun pura yang bernama Pura Bukit Sari. Pada tahun 1828, I Gusti Ketut Jelantik diangkat menjadi Patih Agung Kerajaan Buleleng Bali.
[10/7 00.47] rudysugengp@gmail.com: 2. Buatkan gambar dan infografis tentang
Perjuangan I Gusti Ketut Jelantik Mengusir Penjajah
Riwayat Perjuangan :
I Gusti Ketut Jelantik menjadi pemimpin dalam perlawanan terhadap invasi Belanda ke Bali, perlawanan tersebut terjadi beberapa kali di Bali utara selama tahun 1846, 1848, dan 1849.
Perlawanan ini bermula karena pemerintah kolonial Hindia Belanda ingin menghapuskan tawan karang yang berlaku di Bali, yaitu hak bagi raja-raja yang berkuasa di Bali untuk mengambil kapal yang kandas di perairannya beserta seluruh isinya.
Pada kala itu, Belanda berusaha memanipulasi rempah rempah Bali dan melalui pelayaran Hongi, kapal Belanda karam di Bali utara. Kapal tersebut langsung ditawan oleh Kerajaan Buleleng. Ucapannya yang terkenal ketika itu ialah "Apapun tidak akan terjadi. Selama aku hidup, aku tidak akan mengakui kekuasaan Belanda di negeri ini".
Perang Bali I :
Pada tahun 1841, terjadi kesepakatan antara pemerintah Hindia Belanda dan kerajaan-kerajaan lokal di Bali. Namun, kesepakatan ini tidak diterima oleh sebagian besar masyarakat Bali, termasuk Kerajaan Buleleng. Belanda akhirnya melihat kesempatan untuk menyerang Bali dengan memanfaatkan hukum adat Tawan Karang, yang memberikan hak bagi Bali untuk menguasai kapal yang karam di pesisirnya.
Pada tahun 1846, pecah pertempuran antara masyarakat Bali dan Belanda, yang dikenal sebagai Perang Bali I. Perang ini melibatkan puluhan ribu prajurit. Dari pihak Belanda, terdapat 1.280 prajurit yang diangkut dengan 23 kapal perang. Sementara itu, dari pihak Bali, yaitu Kerajaan Buleleng dan Kerajaan Karangasem, terdapat lebih dari 10.000 prajurit.
Dalam perang ini, Belanda berhasil menaklukkan ibu kota Singaraja, yang kemudian diikuti dengan penawaran damai dari pihak Karangasem dan Buleleng.
Peristiwa ini menandai awal dari rangkaian konflik antara Belanda dan kerajaan-kerajaan di Bali yang berlangsung hingga akhir abad ke-19, dengan tujuan memperluas kekuasaan kolonial Belanda di wilayah tersebut.
Perang Jagaraga :
Perjanjian antara Belanda dengan Kerajaan Buleleng dan Karangasem akhirnya disepakati. Dalam perjanjian tersebut, masyarakat Bali harus segera menyelesaikan segala kewajiban mereka terhadap pemerintah Hindia Belanda. Namun, perjanjian ini tidak bertahan lama. Perang kembali meletus yang dikenal dengan Perang Jagaraga atau Perang Bali II. Perang ini disebut Perang Jagaraga karena I Gusti Ketut Jelantik memusatkan benteng pertahanan di Jagaraga.
Perang Jagaraga terjadi pada tahun 1848, dipimpin oleh I Gusti Ketut Jelantik dengan 16.000 prajurit Bali, termasuk 1.500 orang yang bersenjata senapan api. Di pihak Belanda, terdapat 2.400 prajurit yang berasal dari berbagai daerah, termasuk koloni Belanda di luar negeri. Dalam pertempuran ini, masyarakat Bali berhasil memukul mundur pihak Belanda. Tercatat sebanyak 200 prajurit Belanda tewas, dan sisanya melarikan diri dengan kapal.
Perang Jagaraga menjadi simbol perlawanan masyarakat Bali terhadap penjajahan Belanda, dan menunjukkan keberanian serta semangat juang tinggi dari rakyat Bali dalam mempertahankan tanah air mereka.
Perang Bali III :
Kekalahan dalam Perang Jagaraga menyebabkan pemimpin militer Hindia Belanda mengundurkan diri dari jabatannya. Namun, Belanda kembali menyusun pasukan untuk menyerang Bali demi mempertahankan reputasinya. Perang Bali III terjadi pada tahun 1849. Pasukan Belanda terdiri dari 5.000 prajurit terlatih, 3.000 pelaut, dan 100 kapal. Sementara itu, masyarakat Bali memiliki 33.000 prajurit yang dipimpin oleh I Gusti Ketut Jelantik dan Gusti Ngurah Made Karangasem.
Hindia Belanda yang telah belajar dari dua perang sebelumnya menyusun strategi yang berbeda. Mereka memilih memusatkan serangan di Bali Selatan dengan mendarat di Dusun Padang dan menyerang Klungkung. Selain itu, Belanda juga menjalin koalisi dengan Kerajaan Lombok saat itu dikuasai Karangasem yang dikenal bermusuhan dengan Buleleng. Pada tahun 1849, Raja Buleleng melarikan diri dari serangan Belanda di Buleleng. Bersama penguasa Buleleng, ia pergi ke Karangasem untuk mencari perlindungan, tetapi akhirnya terbunuh oleh pasukan dari Lombok, yang merupakan sekutu Belanda. Perang ini berakhir dengan puputan, di mana seluruh anggota kerajaan dan rakyatnya berjuang hingga titik darah penghabisan untuk mempertahankan daerah mereka.
[10/7 00.47] rudysugengp@gmail.com: 3. Buatkan gambar dan infografis tentang
Akhir Hayat dan Penghargaan I Gusti Ketut Jelantik
Hingga akhirnya pada 16 April 1849, Kerajaan Buleleng resmi jatuh ke tangan Hindia Belanda. Setelah peristiwa tersebut, Raja Buleleng harus mundur ke Gunung Batur di Kintamani. Di tempat inilah perjuangannya berakhir dengan gugurnya Raja. Setelah wafatnya, perjuangan para raja Bali mulai mengalami kemunduran. Seluruh wilayah Bali dengan mudah dikuasai oleh Belanda, kecuali Bali Selatan yang masih melakukan perlawanan. Dalam Perang Bali III, I Gusti Ketut Jelantik dan Raja Buleleng gugur dalam pertempuran. Sementara itu, Penguasa Karangasem memilih melakukan ritual bunuh diri. I Gusti Ketut Jelantik meninggal pada tahun 1849 di Perbukitan Bale Pundak, Gunung Batur, Kintamani, Bali.
Pahlawan Nasional :
Berdasarkan perjuangan yang telah dilakukan oleh I Gusti Ketut Jelantik dalam melawan invasi Belanda di Bali, ia ditetapkan sebagai pahlawan nasional Indonesia berdasarkan SK Presiden RI No. 077/TK/Tahun 1993 pada 14 September 1993.
[10/7 01.15] rudysugengp@gmail.com: 1. Buatkan gambar dan infografis tentang
Kehidupan Awal Sultan Nuku Muhammad Amiruddin
Muhammad Amiruddin atau lebih dikenal dengan nama Sultan Nuku adalah seorang sultan dari Kesultanan Tidore yang dinobatkan pada tanggal 13 April 1779, dengan gelar “Sri Paduka Maha Tuan Sultan Saidul Jehad el Ma’bus Amiruddin Syah Kaicil Paparangan” Selama masa perang dengan VOC, Nuku disebut juga sebagai Jou Barakati, artinya Tuan Yang Diberkahi.
Biodata :
Sultan Nuku Muhammad Amiruddin
Berkuasa : 1797–1805
Pendahulu : Sultan Kamaluddin
Kelahiran : 1738, Soasiu, Tidore
Kematian : 14 November 1805 (umur 66–67), Tidore
Ayah : Sultan Jamaluddin
Sultan Nuku Muhamad Amiruddin adalah putra kedua Sultan Jamaluddin (1757–1779) dari Kesultanan Tidore. Dilahirkan pada tahun 1738, nama kecilnya adalah Kaicil Syaifuddin.
Pada zaman pemerintahan Nuku (1797 – 1805), Kesultanan Tidore mempunyai wilayah kerajaan yang luas yang meliputi Pulau Tidore, Halmahera Tengah, pantai Barat dan bagian Utara Irian Barat serta Seram Timur. Sejarah mencatat bahwa hampir 25 tahun, Nuku bergumul dengan peperangan untuk mempertahankan tanah airnya dan membela kebenaran.
[10/7 01.15] rudysugengp@gmail.com: 2. Buatkan gambar dan infografis tentang
Perjuangan Sultan Nuku Muhammad Amiruddin Mengusir Penjajah
Dari satu daerah, Nuku berpindah ke daerah lain, dari perairan yang satu menerobos ke perairan yang lain, berdiplomasi dengan Belanda maupun dengan Inggris, mengatur strategi dan taktik serta terjun ke medan perang. Semuanya dilakukan hanya dengan tekad dan tujuan yaitu membebaskan rakyat dari cengkeraman penjajah dan hidup damai dalam alam yang bebas merdeka. Cita-citanya membebaskan seluruh kepulauan Maluku terutama Maluku Utara (Maloko Kie Raha) dari penjajah bangsa asing.
Sebagaimana di seluruh wilayah jajahannya di Indonesia, Belanda senantiasa turut campur dalam penentuan siapa yang berhak bertakhta dalam sebuah kerajaan di Nusantara. Sosok yang bisa diajak bekerja sama biasanya akan ditunjuk sebagai penguasa dan sosok yang dianggap berbahaya, sekalipun pewaris sah takhta, akan disingkirkan. Begitu juga di kesultanan Tidore, di mana Sultan Jamaluddin adalah penguasa kesultanan Tidore. Karena dianggap berbahaya bagi kedudukan Belanda, Sultan Jamaluddin ditangkap dan diasingkan ke Batavia pada tahun 1779.
Berdasarkan tradisi kerajaan Tidore, pengangkatan raja baru harus berdasarkan silsilah (sesuai garis keturunan). Yang berhak menjadi Sultan Tidore waktu itu adalah Nuku, melanjutkan takhta Sultan Jamaluddin, ayahandanya. Namun Belanda tidak menghendaki Nuku naik takhta. Perlawanan Nuku Muhammad Amiruddin diawali ketika ia dan adiknya Kamaluddin menentang pengangkatan Kaicil Gay Jira oleh Belanda sebagai Sultan Tidore. Secara nyata Belanda menginjak-injak tradisi kesultanan Tidore, terlebih lagi setelah Belanda menurunkan Sultan Kaicil Gay Jira dan menunjuk putra Kaicil, Patra Alam, sebagai sultan Tidore yang baru.
Sebagai bentuk perlawanan, Nuku Muhammad Amiruddin pun menggalang kekuatan untuk melawan kompeni Belanda. Ia membangun armada Kora-kora di daerah sekitar Pulau Seram dan Irian Jaya dengan mendirikan basis pertahanan di Seram Timur pada tahun 1781. Mereka membangun benteng-benteng di pesisir pantai, menyebar ranjau di lautan, dan memasang meriam tempur
Belanda kembali menunjukkan kesewenang-wenangannya dalam penentuan pemegang takhta kesultanan Tidore sekaligus menerapkan politik adu dombanya dengan mengangkat adik kandung Nuku Muhammad Amiruddin, Kamaluddin, Sebagai Sultan Tidore setelah menurunkan Sultan Patra Alam. Pada tahun 1787, pasukan Belanda menyerbu Seram timur untuk melumpuhkan perlawanan Nuku. Basis pertahanan Nuku di Seram Timur berhasil direbut. Nuku Muhammad Amiruddin pun mengalihkan basis pertahanan pasukannya di Pulau Gorong dan menjalin hubungan baik dengan pasukan Inggris atas dasar hubungan timbal balik yang sangat menguntungkan kedua belah pihak.
Strategi Diplomasi dan Adu Domba:
Nuku memanfaatkan rivalitas antara kekuatan kolonial Belanda (VOC) dan Inggris. Ia menjalin aliansi dengan Inggris untuk membantu mengusir Belanda dari wilayahnya.
Aliansi Lintas Wilayah:
Berhasil menyatukan kekuatan suku-suku di Maluku hingga ke Papua, serta menjalin hubungan dagang dengan bangsa Tionghoa untuk memperkuat logistik dan armadanya.
[10/7 01.15] rudysugengp@gmail.com: 3. Buatkan gambar dan infografis tentang
Akhir Hayat dan Penghargaan Sultan Nuku Muhammad Amiruddin
Panglima Perang Tak Terkalahkan:
Menggunakan taktik gerilya laut yang sangat brilian, beliau memiliki armada kapal kora-kora yang tangguh. Inggris bahkan menjulukinya sebagai The Lord Of Fortune karena ia tidak pernah kalah dalam setiap pertempuran melawan Belanda.
Membebaskan Tidore dan Ternate:
Puncak perjuangannya terjadi antara tahun 1797 hingga 1801, di mana pasukan Nuku berhasil merebut kembali takhtanya dan membebaskan Tidore serta Ternate dari cengkeraman penjajah.
Sebagai seorang keturunan Raja Tidore, ia menjadi seorang pejuang yang tidak bisa diajak kompromi dan pengaruhnya yang kuat di wilayah Maluku. Hingga usia senja, semangat dan perjuangannya tidak berhenti. Sultan Nuku sulit ditaklukan, ia bertempur melawan Belanda di darat maupun di laut. Untuk menghadapi Belanda, Sultan Nuku meniru siasat devide et impera yang sering digunakan oleh Belanda. Sultan Nuku menghasut orang-orang Inggris agar mengusir orang-orang Belanda, yang setelah berhasil segera digempurnya. Pasukan Nuku semakin kuat setelah mendapat berbagai perlengkapan perang dari Inggris dan memenangkan banyak pertempuran melawan Belanda.
Menderita banyak kekalahan di berbagai medan peperangan, VOC mengajukan tawaran berunding dengan Nuku Muhammad Amiruddin dan menawarkan kekuasaan kepadanya jika bersedia berunding dengan Sultan Kamaluddin. Nuku menolak secara tegas siasat Belanda dan semakin menggiatkan serangan pasukannya terhadap pasukan Belanda yang dibantu pasukan kesultanan Tidore yang setia terhadap Sultan Kamaluddin. Pada tahun 1796, pasukan Nuku berhasil merebut dan menguasai Pulau Banda. Setahun kemudian, mereka mampu merebut Tidore dan membuat Sultan Kamaluddin melarikan diri ke Ternate. Sepeninggal Sultan Kamaluddin, rakyat Tidore secara bulat menunjuk Nuku Muhammad Amiruddin menjadi sultan Tidore. Sultan Nuku terus menggempur kekuatan Belanda di Ternate hingga tahun 1801 Ternate dapat dibebaskan dari cengkraman Belanda. Ia meninggal dalam usia 67 tahun pada tahun 1805.
Gelar Pahlawan :
Sultan Nuku wafat pada 14 November 1805 dan dianugerahi gelar Pahlawan Nasional Indonesia pada tahun 1995 melalui Keputusan Presiden RI No. 71/TK/Tahun 1995, tanggal 7 Agustus 1995.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar