Selasa, 21 Juli 2026

Untung Surapati - Adam Malik

 [10/7 02.04] rudysugengp@gmail.com: 1. Buatkan gambar dan infografis tentang 

Kehidupan Awal Untung Surapati 


Untung Surapati (Bahasa Jawa: Untung Suropati) (terlahir Surawiraaji, lahir di Gelgel, Bali, 1660 – meninggal dunia di Bangil, Pasuruan, Mataram, 5 Desember 1706 pada umur 45/46 tahun) adalah seorang tokoh dalam sejarah Nusantara yang dicatat dalam Babad Tanah Jawi. 

Kisahnya menjadi legendaris karena mengisahkan seorang anak rakyat jelata dan budak VOC yang menjadi seorang bangsawan dan Tumenggung (Bupati) Pasuruan dengan gelar Tumenggung Wiranegara.


Biodata :

Untung Surapati : Bupati Pasuruan ke - 5

Kelahiran : 1660, Gelgel, Bali

Kematian : 5 Desember 1706, Bangil, Mataram

Pasangan :

Raden Ayu Gusik Kusuma

Keturunan :

Raden Pengantin

Raden Surapati

Raden Suradilaga

Mas Ayu Gendhing (istri Prabu Danurejo, Raja Blambangan)


Nama asli :

Surawiraaji

Agama : Islam

Karier militer

Pangkat : Kapten (1686)

Perang/pertempuran :

Perang Saudara Banten

Penyergapan di Cikalong (1684)

Pertempuran Kartasura (1686)

Perang Takhta Jawa Pertama

Pertempuran Pasuruan


Latar belakang 

Asal-usul Untung :

Untung Suropati sebagai pelayan Pieter Cnoll dan Cornelia van Nijenroode

Untung Surapati, Nama aslinya Surawiraaji. Menurut Babad Tanah Jawi ia berasal dari Bali yang ditemukan oleh Kapten van Beber, seorang perwira VOC yang ditugaskan di Makasar. Kapten van Beber kemudian menjualnya kepada perwira VOC lain.[butuh rujukan] Untung Surapati akhirnya dibeli oleh van Moor di Bali untuk dibawa bersamanya ke Batavia. Saat menjadi budak, Untung berusia tujuh tahun. Sejak memiliki budak baru, karier dan kekayaan Moor meningkat pesat. Anak kecil itu dianggap pembawa keberuntungan sehingga diberi nama "Si Untung".


Ketika Untung berumur 20 tahun, ia dimasukkan penjara oleh Moor karena menjalin hubungan dengan putrinya yang bernama Suzane. Untung kemudian menghimpun para tahanan dan berhasil kabur dari penjara dan menjadi buronan.

[10/7 02.06] rudysugengp@gmail.com: 2. Buatkan gambar dan infografis tentang 

Perjuangan Untung Surapati 

 

Mendapat nama Surapati :

Penyergapan di Cikalong (1684)

Pada tahun 1683, Sultan Ageng Tirtayasa raja Banten dikalahkan VOC. Putranya yang bernama Pangeran Purbaya (Banten) melarikan diri ke Gunung Gede. Ia memutuskan menyerah tetapi hanya mau dijemput perwira VOC pribumi.


Kapten Ruys (pemimpin benteng Tanjungpura) berhasil menemukan kelompok Untung. Mereka ditawari pekerjaan sebagai tentara VOC daripada hidup sebagai buronan. Untung pun dilatih ketentaraan, diberi pangkat letnan, dan ditugasi menjemput Pangeran Purbaya.


Untung menemui Pangeran Purbaya untuk dibawa ke Tanjungpura. Datang pula pasukan Vaandrig Kuffeler yang memperlakukan Pangeran Purbaya dengan kasar. Untung tidak terima dan menghancurkan pasukan Kuffeler di Sungai Cikalong, 28 Januari 1684.


Pangeran Purbaya tetap menyerah ke Tanjungpura, tetapi istrinya yang bernama Gusik Kusuma meminta Untung mengantarnya pulang ke Kartasura. Untung kini kembali menjadi buronan VOC. Antara lain ia pernah menghancurkan pasukan Jacob Couper yang mengejarnya di desa Rajapalah.


Ketika melewati Kesultanan Cirebon, Untung berkelahi dengan Raden Surapati, anak angkat sultan. Setelah diadili, terbukti yang bersalah adalah Surapati. Surapati pun dihukum mati. Sejak itu nama "Surapati" oleh Sultan Cirebon diserahkan kepada Untung.


Terbunuhnya Kapten Tack :

Pertempuran Kartasura (1686)


Lukisan tradisional Jawa karya Tirto dari Grisek menggambarkan terbunuhnya Kapten François Tack oleh Surapati di Kartasura (1686) di bawah Susuhunan Amangkurat II.

Untung alias Surapati tiba di Kartasura mengantarkan Raden Ayu Gusik Kusuma pada ayahnya, yaitu Patih Nerangkusuma. Nerangkusuma adalah tokoh anti VOC yang gencar mendesak Amangkurat II agar membatalkan perjanjiannya dengan bangsa Belanda tersebut. Nerangkusuma juga menikahkan Gusik Kusuma dengan Surapati.


Kapten François Tack (perwira VOC senior yang ikut berperan dalam penumpasan Trunajaya dan Sultan Ageng Tirtayasa) tiba di Kartasura bulan Februari 1686 untuk menangkap Surapati. Amangkurat II yang telah dipengaruhi Nerangkusuma, pura-pura membantu VOC.


Pertempuran pun meletus di halaman keraton. Pasukan VOC hancur. Sebanyak 75 orang Belanda tewas. Kapten Tack sendiri tewas di tangan Untung. Tentara Belanda yang masih hidup menyelamatkan diri ke benteng mereka.


Bergelar Tumenggung Wiranegara :

Amangkurat II takut pengkhianatannya terbongkar. Ia merestui Surapati dan Nerangkusuma merebut Pasuruan. Di kota itu, Surapati mengalahkan bupatinya, yaitu Anggajaya, yang kemudian melarikan diri ke Surabaya. Bupati Surabaya bernama Adipati Jangrana tidak melakukan pembalasan karena ia sendiri sudah kenal dengan Surapati di Kartasura.


Untung Surapati pun mengangkat diri menjadi bupati Pasuruan dan bergelar Tumenggung Wiranegara.


Pada tahun 1690 Amangkurat II pura-pura mengirim pasukan untuk merebut Pasuruan. Tentu saja pasukan ini mengalami kegagalan karena pertempurannya hanya bersifat sandiwara sebagai usaha mengelabui VOC.

[10/7 02.07] rudysugengp@gmail.com: 3. Buatkan gambar dan infografis tentang 

Akhir Hayat dan Penghargaan Untung Surapati


Kematian Untung Surapati :

Sepeninggal Amangkurat II tahun 1703, terjadi perebutan takhta Kartasura antara Amangkurat III melawan Pangeran Puger. Pada tahun 1704 Pangeran Puger mengangkat diri menjadi Pakubuwana I dengan dukungan VOC. Tahun 1705 Amangkurat III diusir dari Kartasura dan berlindung ke Pasuruan.


Pada bulan September 1706 gabungan pasukan VOC, Mataram, Madura, dan Surabaya dipimpin Mayor Goovert Knole menyerbu Pasuruan. Pertempuran di benteng Bangil akhirnya menewaskan Untung Surapati alias Wiranegara tanggal 17 Oktober 1706. Namun ia berwasiat agar kematiannya dirahasiakan. Makam Surapati pun dibuat rata dengan tanah. Perjuangan dilanjutkan putra-putranya dengan membawa tandu berisi Surapati palsu.


Pada tanggal 18 Juni 1707 Herman de Wilde memimpin ekspedisi mengejar Amangkurat III. Ia menemukan makam Surapati yang segera dibongkarnya. Jenazah Surapati pun dibakar dan abunya dibuang ke laut.


Kisah Untung Surapati yang legendaris dan perjuangannya melawan kolonialisme VOC di Pulau Jawa membuatnya dikenal sebagai pahlawan nasional Indonesia. Ia telah ditetapkan sebagai pahlawan nasional Indonesia berdasarkan S.K. Presiden No. 106/TK/1975 tanggal 3 November 1975.


Taman Burgemeester Bisschopplein di Batavia (sekarang Jakarta) pasca kemerdekaan Indonesia diubah namanya menjadi "Taman Suropati" untuk mengabadikan nama Untung Surapati.

[10/7 02.07] rudysugengp@gmail.com: 4. Buatkan gambar dan infografis tentang 

Putra putri Untung Surapati meneruskan Perjuangan 


Perjuangan putra-putra Surapati ;

Penggambaran oleh seniman tak dikenal tentang penyerangan Untung Suropati terhadap Kapten Tack di Kartasura

Putra-putra Untung Surapati, antara lain Raden Pengantin, Raden Surapati, dan Raden Suradilaga memimpin pengikut ayah mereka (campuran orang Jawa dan Bali). Sebagian dari mereka ada yang tertangkap bersama Amangkurat III tahun 1708 dan ikut dibuang ke Srilangka.


Sebagian pengikut Untung Surapati bergabung dalam pemberontakan Arya Jayapuspita di Surabaya tahun 1717. Pemberontakan ini sebagai usaha balas dendam atas dihukum matinya Adipati Jangrana yang terbukti diam-diam memihak Surapati dalam perang tahun 1706.


Setelah Jayapuspita kalah tahun 1718 dan mundur ke Mojokerto, pengikut Surapati masih setia mengikuti. Mereka semua kemudian bergabung dalam pemberontakan Pangeran Blitar menentang Amangkurat IV yang didukung VOC tahun 1719. Pemberontakan ini berhasil dipadamkan tahun 1723. Putra-putra Untung Surapati dan para pengikutnya dibuang VOC ke Srilangka.


Salah satu keturunan Untung Suropati yang berjuang melawan VOC adalah Adipati Malayakusuma. Bersama dengan anak keturunan Suropati lainnya, putra Tumenggung Kartonegoro ini mempertahankan wilayah Malang pada dari serbuan VOC sejak tahun 1762 hingga 1768. Setelah Malang takluk maka perjuangan anak keturunan Untung Suropati terhenti. Sebagian besar tertangkap sementara yang lainnya bersembunyi di Pegunungan Tengger.


Sumber lain menyebutkan keturunan Untung Suropati ada delapan putra putri di antaranya yaitu bernama Raden Tumenggung Surawidjojo, Raden Suragen, Raden Surapati, Raden Suradilaga, Raden Surataruna, Roro Badingin, Raden Titranagara dan yang terakhir Raden Bagus Ibrahim (keturunan ke 1) atau mungkin sering disebut dengan nama lain Brahim dan Makamnya kemungkinan di Polokarto, Sukoharjo. Raden Bagus Ibrahim menurunkan anak Wanasraja (keturunan ke 2), Makamnya kemungkinan di Sembung, Bekonang, Mojolaban, Sukoharjo dan Wanasraja menurunkan anak Wanakrama (keturunan ke 3). Selanjutnya Wanakrama menurunkan anak Soikromo (keturunan ke -4)


Soikromo menurunkan Putra-putri Kertosono bermukim di Karsana. Ny Kasandikromo bermukim di Dresa, Desa Kayuapak, Polokarto, Sukoharjo. Imanrejo bermukim di Kampung Sewu, Wirun, Mojolaban, Sukoharjo. Djodikromo bermukim di Jethis. Mangundikromo bermukim di Mandungan. Trunodikromo bermukim di Sembung, Bekonang, Mojolaban, Sukoharjo. Usup Hardjowikromo bermukim di Tipes, Kota Surakarta.


Dalam karya sastra dan media lain :


Kisah perjalanan hidup Untung Surapati yang legendaris, selain sekarang menjadi nama jalan yang umum di Indonesia, juga cukup banyak ditulis dalam bentuk sastra. Salah satunya dalam Babad Tanah Jawa.  Kisah Untung juga diceritakan dalam Babad Trunajaya-Surapati. Dalam babad ini, Untung diceritakan memiliki sifat yang ramah, pemberani dan berhati baik.


Penulis Hindia Belanda Melati van Java (nama samaran dari Nicolina Maria Sloot) juga pernah menulis roman berjudul Van Slaaf Tot Vorst, yang terbit pada tahun 1887. Karya ini kemudian diterjemahkan oleh FH Wiggers dan diterbitkan tahun 1898 dengan judul Dari Boedak Sampe Djadi Radja. Penulis pribumi yang juga menulis tentang kisah ini adalah sastrawan Abdul Muis dalam novelnya yang berjudul Surapati.

[10/7 10.41] rudysugengp@gmail.com: 1. Buatkan gambar dan infografis tentang 

Kehidupan Awal Robert Wolter Monginsidi 


Ini adalah nama patrilineal Minahasa (Bantik), marganya adalah Mongisidi

Robert Wolter Mongisidi atau sering salah ditulis sebagai Robert Wolter Monginsidi (14 Februari 1925 – 5 September 1949) adalah seorang pejuang kemerdekaan Indonesia sekaligus pahlawan nasional Indonesia.


Biodata Robert Wolter Mongisidi :


Lahir :

14 Februari 1925

Malalayang, Manado, Hindia Belanda

Meninggal :

5 September 1949 (umur 24)

Makassar, Indonesia

Tempat pemakaman :

Taman Makam Pahlawan Panaikang Makassar


Biografi :

Robert Wolter Mongisidi dilahirkan di Malalayang (sekarang bagian dari Manado), anak ke-4 dari Petrus Mongisidi dan Lina Suawa pada tanggal 14 Februari 1925. Panggilan akrab Robert Wolter Mongisidi semasa kecil adalah Bote. Dia memulai pendidikannya pada 1931 di sekolah dasar (bahasa Belanda: Hollands Inlandsche School atau (HIS), yang diikuti sekolah menengah (bahasa Belanda: Meer Uitgebreid Lager Onderwijs atau MULO) di Frater Don Bosco di Manado. Mongisidi lalu dididik sebagai guru Bahasa Jepang pada sebuah sekolah di Tomohon. Setelah studinya, dia mengajar Bahasa Jepang di Liwutung, Minahasa, dan Luwuk, sebelum ke Makassar, Celebes.

[10/7 10.42] rudysugengp@gmail.com: 2. Buatkan gambar dan infografis tentang 

Perjuangan Robert Wolter Monginsidi 


Kemerdekaan Indonesia diproklamasikan saat Mongisidi berada di Makassar. Namun, Belanda berusaha untuk mendapatkan kembali kendali atas Indonesia setelah berakhirnya Perang Dunia II. Mereka kembali melalui NICA (Netherlands Indies Civil Administration/Administrasi Sipil Hindia Belanda). Mongisidi yang tidak menerima kedatangan Belanda, menjadi terlibat dalam perjuangan melawan NICA di Makassar.


Laskar Pemberontak Rakyat Indonesia :

Pada tanggal 17 Juli 1946, Mongisidi dengan Ranggong Daeng Romo dan lainnya membentuk Laskar Pemberontak Rakyat Indonesia Sulawesi (LAPRIS), yang selanjutnya melakukan perlawanan dan menyerang posisi Belanda. Dia ditangkap oleh Belanda pada 28 Februari 1947, tetapi berhasil kabur pada 27 Oktober 1947. Belanda menangkapnya kembali dan kali ini Belanda menjatuhkan hukuman mati kepadanya. Mongisidi dieksekusi oleh tim penembak pada 5 September 1949. Jasadnya dipindahkan ke Taman Makam Pahlawan Panaikang Makassar pada 10 November 1950.


Memimpin Barisan Angkatan Muda Pelajar :

Wolter Monginsidi bersama Maulwi Saelan dan teman-temannya juga sempat memimpin Barisan Angkatan Muda Pelajar yang terus memberi perlawanan kepada Belanda. 


Sampai tanggal 17 Oktober 1945, di bawah koordinasinya, semua kekuatan para pemuda pejuang yang ada di Ujung Pandang dipusatkan untuk mengadakan serangan umum pada musuh.


Penyerbuan dilakukan ke Tangsi Belanda di Mariso, Stasiun Pemancar Radio Makassar, dan lokasi lain milik Belanda. Barisan ini pun merebut berbagai tempat strategis, gedung-gedung penting, dan bangunan vital yang sudah diduduki tentara Belanda.


Tergabung dalam Pasukan Ronggeng Daeng Rono :

Wolter Monginsidi juga pernah menggabungkan diri dengan pasukan Ronggeng Daeng Rono. Markas pasukan ini ada di Plongbangkeng. Monginsidi bertugas sebagai penyidik karena kemampuannya dalam berbahasa asing dan wajahnya yang dinilai mirip orang Indo-Belanda. Bukan hanya itu, dia pun sering memasuki kota Ujung Pandang sendiri dan menyamar sebagai tentara Belanda. 


Dia menghentikan mobil jeep tentara Belanda untuk ikut menumpang. Namun, di tengah jalan Monginsidi akan menodongkan pistol pada pengemudi hingga membuatnya tak berdaya. Ia lantas merampas senjata dan mobilnya.


Chris Soumokil, Menteri Kehakiman Indonesia Timur saat itu. Dia memberikan hukuman mati kepada Mongisidi dan menolak permintaan amnesti oleh rekan-rekan dan keluarganya. Soumokil kemudian akan menghadapi nasib yang sama seperti Mongisidi, dieksekusi oleh regu tembak pada 12 Maret 1966.

[10/7 10.42] rudysugengp@gmail.com: 3. Buatkan gambar dan infografis tentang 

Akhir Hayat dan Penghargaan Robert Wolter Monginsidi


Akhir Hayat :

Sepak terjangnya berakhir ketika ia ditangkap oleh tentara Belanda di SMP Nasional Makassar pada 28 Februari 1947. Meski berhasil meloloskan diri melalui cerobong asap penjara bersama tiga rekan lainnya pada Oktober 1947, ia kembali tertangkap sepuluh hari kemudian dan dijatuhi hukuman mati.


Sebelum menghadapi regu tembak di Pacinang, Makassar, ia menuliskan pesan dan puisi dalam kitab Injilnya dengan kalimat terakhir yang sangat legendaris: "Setia Hingga Terakhir Dalam Keyakinan".


Jasadnya lantas dipindahkan ke Taman Makam Pahlawan Panaikang Makassar tanggal 10 November 1990.


Wolter Monginsidi yang dikenal sebagai sosok pemberani dan pantang menyerah. Ia dianugerahi gelar sebagai Pahlawan Nasional oleh pemerintah Indonesia pada 6 November 1973.


Penghargaan :

Dia juga mendapatkan penghargaan tertinggi negara Indonesia, Bintang Mahaputera (Adipradana), pada 10 November 1973. Ayahnya, Petrus, yang berusia 80 tahun pada saat itu, menerima penghargaan tersebut. Bandara Wolter Mongisidi (kini Bandar Udara Haluoleo) di Kendari, Sulawesi Tenggara dinamakan sebagai penghargaan kepada Mongisidi, seperti kapal TNI Angkatan Laut, KRI Wolter Mongisidi dan Rumah Sakit TNI Angkatan Darat Robert Wolter Mongisidi di Manado.


Dalam budaya populer :

Dalam film Tapak-Tapak Kaki Wolter Mongisidi (1982), Robert Wolter Mongisidi diperankan oleh Roy Marten.

[10/7 15.22] rudysugengp@gmail.com: 1. Buatkan gambar dan infografis tentang 

Kehidupan Awal KH Zainal Mustofa 


Kyai Haji Zainal Mustafa (lahir di Bageur, Cimerah, Singaparna, Tasikmalaya, 1899 – meninggal di Jakarta, 28 Oktober 1944) adalah salah satu pahlawan nasional Indonesia. Ia dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Tasikmalaya.


Biodata K. H. Zainal Musthofa :


Lahir : 1899, Belanda Singaparna, Tasikmalaya, Hindia Belanda

Meninggal : 28 Oktober 1944 (umur 45), Kekaisaran Jepang Ancol, Jakarta

Tempat pemakaman : Taman Makam Pahlawan Tasikmalaya

Nama lain : Hudaemi

Pekerjaan : Pimpinan Pesantren


Zaenal Mustofa adalah pemimpin sebuah pesantren di Tasikmalaya dan pejuang Islam pertama dari Jawa Barat yang mengadakan pemberontakan terhadap pemerintahan Jepang. Nama kecilnya Hudaemi. Lahir dari keluarga petani berkecukupan, putra pasangan Nawapi dan Ny. Ratmah, di kampung Bageur, Desa Cimerah, Kecamatan Singaparna (kini termasuk wilayah Desa Sukarapih Kecamatan Sukarame) Kabupaten Tasikmalaya (ada yang menyebut ia lahir tahun 1901 dan Ensiklopedia Islam menyebutnya tahun 1907, sementara tahun yang tertera di atas diperoleh dari catatan Nina Herlina Lubis, Ketua Masyarakat Sejarawan Indonesia Cabang Jawa Barat). Namanya menjadi Zaenal Mustofa setelah ia menunaikan ibadah haji pada tahun 1927.



Latar Belakang :

Hudaemi memperoleh pendidikan formal di Sekolah Rakyat. Dalam bidang agama, ia belajar mengaji dari guru agama di kampungnya. Kemampuan ekonomis keluarga memungkinkannya untuk menuntut ilmu agama lebih banyak lagi. Pertama kali ia melanjutkan pendidikannya ke pesantren di Gunung Pari di bawah bimbingan Dimyati, kakak sepupunya, yang dikenal dengan nama KH. Zainal Muhsin. Dari Gunung Pari, ia kemudian mondok di Pesantren Cilenga, Leuwisari, dan di Pesantren Sukamiskin, Bandung. Selama kurang lebih 17 tahun ia terus menggeluti ilmu agama dari satu pesantren ke pesantren lainnya. Karena itulah ia mahir berbahasa Arab dan memiliki pengetahuan keagamaan yang luas.


Lewat ibadah haji, ia berkenalan dengan ulama-ulama terkemuka. Ia pun mengadakan tukar pikiran soal keagamaan dan berkesempatan melihat pusat pendidikan keagamaan di Tanah Suci. Kontak dengan dunia luar itu mendorongnya untuk mendirikan sebuah pesantren. Maka sekembalinya dari ibadah haji, tahun 1927, ia mendirikan pesantren di Kampung Cikembang dengan nama Sukamanah. Sebelumnya, di Kampung Bageur tahun 1922 telah berdiri pula Pesantren Sukahideng yang didirikan KH. Zainal Muhsin. Melalui pesantren ini ia menyebarluaskan agama Islam, terutama paham Syafi’i yang dianut oleh masyarakat Indonesia pada umumnya dan umat Islam Jawa Barat pada khususnya.


Di samping itu, ia juga mengadakan beberapa kegiatan keagamaan ke pelosok-pelosok desa di Tasikmalaya dengan cara mengadakan ceramah-ceramah agama. Maka sebutan kiai pun menjadi melekat dengan namanya. KH. Zaenal Mustofa terus tumbuh menjadi pemimpin dan anutan yang karismatik, patriotik, dan berpandangan jauh ke depan. Tahun 1933, ia masuk Jamiyyah Nahdhatul Ulama (NU) dan diangkat sebagai wakil ro’is Syuriah NU Cabang Tasikmalaya.

[10/7 15.23] rudysugengp@gmail.com: 2. Buatkan gambar dan infografis tentang 

Perjuangan KH Zainal Mustofa Menentang Penjajah 


Perlawanan kepada penjajah :

Pelajari selengkapnya

Bab atau bagian ini tidak memiliki referensi atau sumber tepercaya sehingga isinya tidak bisa dipastikan.

Sejak tahun 1940, KH. Zaenal Mustofa secara terang-terangan mengadakan kegiatan yang membangkitkan semangat kebangsaan dan sikap perlawanan terhadap pendudukan penjajah. Ia selalu menyerang kebijakan politik kolonial Belanda yang kerap disampaikannya dalam ceramah dan khutbah-khutbahnya. Atas perbuatannya ini, ia selalu mendapat peringatan, dan bahkan, tak jarang diturunkan paksa dari mimbar oleh kiai yang pro Belanda.



Ditangkap dan dipenjara oleh Belanda :


Pada saat Perang Dunia II, tepatnya pada 17 November 1941, KH. Zaenal Mustofa bersama KH. Ruhiat (dari Pesantren Cipasung), Haji Syirod, dan Hambali Syafei ditangkap Belanda dengan tuduhan telah menghasut rakyat untuk memberontak terhadap pemerintah Hindia Belanda. Mereka ditahan di Penjara Tasikmalaya dan sehari kemudian dipindahkan ke penjara Sukamiskin Bandung, dan baru bebas 10 Januari 1942.


Kendati sudah pernah ditahan, aktivitas perlawanannya terhadap penjajah tidak surut. Akhir Februari 1942, KH. Zaenal Mustofa bersama Kiai Rukhiyat kembali ditangkap dan dimasukkan ke penjara Ciamis. Kedua ulama ini menghadapi tuduhan yang sama dengan penangkapannya yang pertama. Hingga pada waktu Belanda menyerah kepada Jepang, ia masih mendekam di penjara.



Dibebaskan dan dibunuh Jepang :

Pada tanggal 8 Maret 1942 kekuasaan Hindia Belanda berakhir dan Indonesia diduduki Pemerintah Militer Jepang. Oleh penjajah yang baru ini, KH. Zaenal Mustofa dibebaskan dari penjara, dengan harapan ia akan mau membantu Jepang dalam mewujudkan ambisi fasisnya, yaitu menciptakan Lingkungan Kemakmuran Bersama Asia Timur Raya. Akan tetapi, apa yang menjadi harapan Jepang tidak pernah terwujud karena KH. Zaenal Mustofa dengan tegas menolaknya. Dalam pidato singkatnya, pada upacara penyambutan kembali di Pesantren, ia memperingatkan para pengikut dan santrinya agar tetap percaya pada diri sendiri dan tidak mudah termakan oleh propaganda asing. Ia malah memperingatkan bahwa fasisme Jepang itu lebih berbahaya dari imperialisme Belanda.


Pasca perpindahan kekuasaan dari Belanda ke Jepang, sikap dan pandangannya itu tidak pernah berubah. Bahkan, kebenciannya semakin memuncak saja manakala menyaksikan sendiri kezaliman penjajah terhadap rakyat.


Pada masa pemerintahan Jepang ini, ia menentang pelaksanaan seikeirei, cara memberi hormat kepada kaisar Jepang dengan menundukkan badan ke arah Tokyo. Ia menganggap perbuatan itu bertentangan dengan ajaran Islam dan merusak tauhid karena telah mengubah arah kiblat.


Dengan semangat jihad membela kebenaran agama dan memperjuangkan bangsa, KH. Zaenal Mustofa merencanakan akan mengadakan perlawanan terhadap Jepang pada tanggal 25 Februari 1944 (1 Maulud 1363 H). Mula-mula ia akan menculik para pembesar Jepang di Tasikmalaya, kemudian melakukan sabotase, memutuskan kawat-kawat telepon sehingga militer Jepang tidak dapat berkomunikasi, dan terakhir, membebaskan tahanan-tahanan politik. Untuk melaksanakan rencana ini, KH. Zaenal Mustofa meminta para santrinya mempersiapkan persenjataan berupa bambu runcing dan golok yang terbuat dari bambu, serta berlatih pencak silat. Kiai juga memberikan latihan spiritual (tarekat) seperti mengurangi makan, tidur, dan membaca wirid-wirid untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt.


Persiapan para santri ini tercium Jepang. Segera mereka mengirim camat Singaparna disertai 11 orang staf dan dikawal oleh beberapa anggota polisi untuk melakukan penangkapan. Usaha ini tidak berhasil. Mereka malah ditahan di rumah KH. Zaenal Mustofa. Keesokan harinya, pukul 8 pagi tanggal 25 Februari 1944, mereka dilepaskan dan hanya senjatanya yang dirampas.


Tiba-tiba, sekitar pukul 13.00, datang empat orang opsir Jepang meminta agar KH. Zaenal Mustofa menghadap pemerintah Jepang di Tasikmalaya. Perintah tersebut ditolak tegas sehingga terjadilah keributan. Hasilnya, tiga opsir itu tewas dan satu orang dibiarkan hidup. Yang satu orang ini kemudian disuruh pulang dengan membawa ultimatum. Dalam ultimatum itu, pemerintah Jepang dituntut untuk memerdekakan Pulau Jawa terhitung mulai 25 Februari 1944. Dalam insiden itu, tercatat pula salah seorang santri bernama Nur menjadi korban, karena terkena tembakan salah seorang opsir. Setelah kejadian tersebut, menjelang waktu salat Asar (sekitar pukul 16.00) datang beberapa buah truk mendekati garis depan pertahanan Sukamanah. Suara takbir mulai terdengar, pasukan Sukamanah sangat terkejut setelah tampak dengan jelas bahwa yang berhadapan dengan mereka adalah bangsa sendiri. Rupanya Jepang telah mempergunakan taktik adu domba. Melihat yang datang menyerang adalah bangsa sendiri, Zaenal Mustofa memerintahkan para santrinya untuk tidak melakukan perlawanan sebelum musuh masuk jarak perkelahian. Setelah musuh mendekat, barulah para santri menjawab serangan mereka. Namun, dengan jumlah kekuatan lebih besar, ditambah peralatan lebih lengkap, akhirnya pasukan Jepang berhasil menerobos dan memorak-porandakan pasukan Sukamanah. Peristiwa ini dikenal dengan Pemberontakan Singaparna.

[10/7 15.23] rudysugengp@gmail.com: 3. Buatkan gambar dan infografis tentang 

Akhir Hayat dan Penghargaan KH Zainal Mustofa 


Para santri yang gugur dalam pertempuran itu berjumlah 86 orang. Meninggal di Singaparna karena disiksa sebanyak 4 orang. Meninggal di penjara Tasikmalaya karena disiksa sebanyak 2 orang. Meninggal di Penjara Sukamiskin Bandung sebanyak 38 orang, dan yang mengalami cacat (kehilangan mata atau ingatan) sebanyak 10 orang.


Sehari setelah peristiwa itu, antara 700-900 orang ditangkap dan dimasukkan ke dalam penjara di Tasikmalaya. Sementara itu, KH. Zaenal Mustofa sempat memberi instruksi secara rahasia kepada para santri dan seluruh pengikutnya yang ditahan agar tidak mengaku terlibat dalam pertempuran melawan Jepang, termasuk dalam kematian para opsir Jepang, dan pertanggungjawaban tentang pemberontakan Singaparna dipikul sepenuhnya oleh KH. Zaenal Mustofa. Akibatnya, sebanyak 23 orang yang dianggap bersalah, termasuk KH. Zaenal Mustofa sendiri, dibawa ke Jakarta untuk diadili. Namun mereka hilang tak tentu rimbanya.


Besarnya pengaruh KH Zaenal Mustofa dalam pembentukan mental para santri dan masyarakat serta peranan pesantrennya sebagai lembaga pendidikan dan pembinaan umat membuat pemerintah Jepang merasa tidak bebas jika membiarkan pesantren ini tetap berjalan. Maka, setelah peristiwa pemberontakan tersebut, pesantren ini ditutup oleh Jepang dan tidak diperbolehkan melakukan kegiatan apapun.


Belakangan, Kepala Ereveld Ancol, Jakarta, memberi kabar bahwa KH. Zaenal Mustofa telah dieksekusi pada 25 Oktober 1944 dan dimakamkan di Taman Pahlawan Belanda Ancol, Jakarta. Melalui penelusuran salah seorang santrinya, Kolonel Syarif Hidayat, pada tahun 1973 keberadaan makamnya itu ditemukan di daerah Ancol, Jakarta Utara, bersama makam-makam para santrinya yang berada di antara makam-makam tentara Belanda. Lalu, pada 25 Agustus 1973, semua makam itu dipindahkan ke Sukamanah, Tasikmalaya.


Diangkat menjadi pahlawan :

Pada tanggal 6 Nopember 1972, KH. Zaenal Mustofa diangkat sebagai Pahlawan Pergerakan Nasional dengan Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 064/TK/Tahun 1972.

[11/7 00.14] rudysugengp@gmail.com: 1. Buatkan gambar dan infografis tentang 

Kehidupan Awal Tuanku Tambusai 


Nama kecil :

Muhammad Saleh

Lahir :

5 November 1784

Tambusai, Rokan Hulu, Riau

Meninggal :

12 November 1882 (umur 98)

Negeri Sembilan, Malaya Britania

Nama lain :

-De Padrische Tijger van Rokan atau Harimau Paderi dari Rokan


Latar belakang :

Tuanku Tambusai lahir di Dalu-dalu, nagari Tambusai, Rokan Hulu, Riau. Tuanku Tambusai memiliki nama kecil Muhammad Saleh, yang setelah pulang haji, dipanggilkan orang Tuanku Haji Muhammad Saleh.


Tuanku Tambusai merupakan anak dari pasangan Tuanku Imam Maulana Kali dan Munah. Ayahnya berasal dari nogori Rambah dan merupakan seorang guru agama Islam. Oleh Raja Tambusai ayahnya diangkat menjadi imam dan kemudian menikah dengan perempuan setempat. Ibunya berasal dari nagari Tambusai yang bersuku Kandang Kopuh. suku ini diturunkannya kepada Tuanku Tambusai.


Sewaktu kecil Muhammad Saleh telah diajarkan ayahnya ilmu bela diri, termasuk ketangkasan menunggang kuda, dan tata cara bernegara.

[11/7 00.15] rudysugengp@gmail.com: 2. Buatkan gambar dan infografis tentang 

Tuanku Tambusai dalam Gerakan Padri Mengusir Belanda


Gerakan Paderi :

Untuk memperdalam ilmu agama, Tuanku Tambusai pergi belajar ke Bonjol dan Rao di Sumatera Barat. Disana ia banyak belajar dengan ulama-ulama Islam yang berpaham Paderi, hingga dia mendapatkan gelar fakih. Ajaran Paderi begitu memikat dirinya, sehingga ajaran ini disebarkan pula di tanah kelahirannya. Disini ajarannya dengan cepat diterima luas oleh masyarakat, sehingga ia banyak mendapatkan pengikut. Semangatnya untuk menyebarkan dan melakukan pemurnian Islam.


Melawan Belanda :

Perjuangannya dimulai di daerah Rokan Hulu dan sekitarnya dengan pusat di benteng Dalu-dalu. Kemudian ia melanjutkan perlawanan ke wilayah Natal pada tahun 1823. Tahun 1824, ia memimpin pasukan gabungan Dalu-dalu, Lubuksikaping, Padanglawas, Angkola, Mandailing, dan Natal untuk melawan Belanda. Dia sempat menunaikan ibadah haji dan juga diminta oleh Tuanku Imam Bonjol untuk mempelajari perkembangan Islam di Tanah Arab.


Dalam kurun waktu 15 tahun, Tuanku Tambusai cukup merepotkan pasukan Belanda, sehingga sering meminta bantuan pasukan dari Batavia. Berkat kecerdikannya, Fort Amerongen sebuah benteng milik Belanda dapat dihancurkan. Bonjol yang telah jatuh ke tangan Belanda dapat direbut kembali walaupun tidak bertahan lama. Tuanku Tambusai tidak saja menghadapi Belanda, tetapi juga sekaligus pasukan Raja Gedombang (regent Mandailing) dan Tumenggung Kartoredjo yang berpihak kepada Belanda. Oleh Belanda ia digelari “De Padrische Tijger van Rokan” (Harimau Paderi dari Rokan) karena amat sulit dikalahkan, tidak pernah menyerah, dan tidak mau berdamai dengan Belanda. Keteguhan sikapnya diperlihatkan dengan menolak ajakan Kolonel Elout untuk berdamai. Pada tanggal 28 Desember 1838, benteng Dalu-dalu jatuh ke tangan Belanda. Lewat pintu rahasia, ia meloloskan diri dari kepungan Belanda dan sekutu-sekutunya.

[11/7 00.16] rudysugengp@gmail.com: 3. Buatkan gambar dan infografis tentang 

Akhir Hayat dan Penghargaan Tuanku Tambusai 


Tak Kenal Menyerah: 

Ia menolak tawaran damai dengan Belanda dan memilih untuk terus bertempur dari satu benteng ke benteng lainnya.


Tuanku Tambusai juga selalu berpindah-pindah sewaktu bergerilya melawan Penjajah Belanda untuk menghilangkan jejak. Kuburan Tuanku Tambusai yang palsu ada 6 tempat yang diketahui. Demikian Tuanku Tambusai memilih namanya Datuk Baginda Ilang yang dapat bercerita panjang tentang kehidupan dan perjalanannya. 


Bentuk keteguhannya juga dapat dibuktikan ketika pemimpin Fort Amerongen menawarkan perdamaian padanya, ajakan itu ditolaknya mentah-mentah. Hal tersebut menunjukkan keteguhannya dalam menjaga prinsip.  Hal serupa juga terjadi pada tahun 1832, saat itu Letkol Elout mengajaknya berdamai di Padang Matinggo, Rao. Dengan tegas ia berpesan pada Elout agar tidak mencampuri urusan dalam negeri orang lain. 


Mendengar hal itu, Elout membalasnya dengan mengatakan bahwa di mana ada Belanda di sana ia membuat kuburan. Dengan lantang Tuanku Tambusai menjawab "Jika begitu sediakan bedil!"


Perjuangan Akhir: Setelah Benteng Dalu-dalu akhirnya jatuh ke tangan Belanda pada 1838, ia tidak tertangkap melainkan berhasil meloloskan diri ke Negeri Sembilan, Malaya (sekarang Malaysia), dan wafat di sana pada tahun 1882.


Jejak Tuanku Tambusai dapat ditemukan di Sungai Rokan. Dimana di sungai tersebut terdapat sampan kecil milik Tuanku Tambusai bersamaan dengan barang-barang miliknya seperti cincin stempel, Al-Quran, serta beberapa buku yang dibawanya dari Mekkah. Di usianya yang telah cukup renta, 98 tahun, ia kemudian mengungsi ke Seremban, Malaysia. 


Penganugerahan Tuanku Tambusai sebagai Pahlawan, 7 Agustus 1995, lebih tua dari usia Kabupaten Rokan Hulu itu sendiri, karena Rokan Hulu baru terbentuk 12 Oktober 1999.  Sehingga jiwa perjuangan dan jiwa kepahlawanan Tuanku Tambusai menjadi salah satu inspirasi besar masyarakat, penyemangat dan motivasi sekaligus kebanggaan bagi masyarakat Rokan Hulu khususnya dan masyarakat Provinsi Riau pada umumnya.

[11/7 00.58] rudysugengp@gmail.com: 1. Buatkan gambar dan infografis tentang 

Kehidupan Awal Syekh Yusuf Tajul Khalwati 


Masa muda :

Syekh Yusuf lahir dari pasangan Abdullah dengan Aminah. 

Ketika lahir ia dinamakan Abadin Tadia Tjoessoep (bahasa Arab: عابدين تاجة يوسف) atau Muhammad Yusuf, suatu nama yang diberikan oleh Sultan Alauddin (berkuasa sejak 1593 - wafat 15 Juni 1639, penguasa Gowa pertama yang muslim), raja Gowa, yang juga adalah kerabat ibu Syekh Yusuf.


Pendidikan :

Syekh Yusuf lalu berguru ke Pesantren Asyaqalain Baharun Nur (di Kampung Cikoang Takalar) kepada Sayyid Syaikh Alwi Jalaluddin bin Ahmad (qunyah Muhammad Wahid) bin Abu Bakar Bafaqih dari keturunan Imam Muhammad Maula Aidid(sanad dari Keturunan Ulama Ahlu Sunnah Hadramaut). Beliau belajar syariat, tasawuf ma'rifat serta hubbul Wathan(cinta tanah air)(kitab manaqib syekh yusuf) kepada Gurunya tersebut.


Kembali dari Cikoang, Syekh Yusuf menikah dengan putri Sultan Gowa, lalu pada usia 18 tahun, Syekh Yusuf pergi ke Banten. Di Banten ia bersahabat dengan Pangeran Surya (Sultan Ageng Tirtayasa), yang kelak menjadikannya mufti Kesultanan Banten.


Pada tahun 1644, Syech Yusuf menunaikan ibadah haji dan tinggal di Mekkah untuk beberapa lama, di mana Ia belajar kepada ulama terkemuka di Mekkah dan Madinah. 

Syekh Yusuf juga sempat mencari ilmu ke Yaman, berguru pada Syekh Abdullah Muhammad bin Abd Al-Baqi, dan ke Damaskus untuk berguru pada Syekh Abu Al-Barakat Ayyub bin Ahmad bin Ayyub Al-Khalwati Al-Quraisyi. Syech Yusuf mempelajari Islam sekitar 20 tahun di Timur Tengah.

[11/7 00.59] rudysugengp@gmail.com: 2. Buatkan gambar dan infografis tentang 

Perjuangan Syekh Yusuf Tajul Khalwati 


Ketika Kesultanan Gowa mengalami kalah perang terhadap Belanda, Syekh Yusuf pindah ke Banten dan diangkat menjadi mufti di sana. Pada periode ini Kesultanan Banten menjadi pusat pendidikan agama Islam, dan Syekh Yusuf memiliki murid dari berbagai daerah, termasuk 400 orang asal Makassar yang dipimpin oleh Ali Karaeng Bisai.


Perang Melawan VOC: 

Ketika terjadi konflik internal antara Sultan Ageng Tirtayasa dan putranya, Sultan Haji, yang didukung oleh VOC, Syekh Yusuf berdiri teguh membela Sultan Ageng Tirtayasa.


Perang Gerilya: 

Setelah Sultan Ageng Tirtayasa ditangkap oleh tipu daya VOC, Syekh Yusuf tidak menyerah. Beliau memimpin sekitar 5.000 pasukan Banten dan Nusantara lainnya untuk bergerilya melawan gabungan pasukan VOC dan Sultan Haji.


Ketika pasukan Sultan Ageng dikalahkan Belanda tahun 1682, Syekh Yusuf ditangkap dan diasingkan ke Srilanka pada bulan September 1684.

[11/7 00.59] rudysugengp@gmail.com: 3. Buatkan gambar dan infografis tentang 

Masa Pembuangan Syekh Yusuf Tajul Khalwati 


Sri Lanka :

Di Sri Lanka, Syekh Yusuf aktif dalam menyebarkan agama Islam. Ia memiliki murid ratusan, yang umumnya berasal dari India Selatan. Salah satu ulama besar India, Syekh Ibrahim ibn Mi'an, termasuk mereka yang berguru pada Syekh Yusuf.


Melalui jamaah haji yang singgah ke Sri Lanka, Syekh Yusuf masih dapat berkomunikasi dengan para pengikutnya di Nusantara, sehingga akhirnya oleh Belanda, ia diasingkan ke lokasi lain yang lebih jauh dari Ceylon Sri Lanka ke , Afrika Selatan, pada 22 Desember 1694.


Afrika Selatan :

Di Afrika Selatan, Syekh Yusuf tetap berdakwah, dan memiliki banyak pengikut. Ketika ia wafat pada tanggal 23 Mei 1699, pengikutnya menjadikan hari wafatnya sebagai hari peringatan. Bahkan, Nelson Mandela, mantan presiden Afrika Selatan, menyebutnya sebagai 'Salah Seorang Putra Afrika Terbaik'.

[11/7 00.59] rudysugengp@gmail.com: 4. Buatkan gambar dan infografis tentang 

Akhir Hayat dan Penghargaan Syekh Yusuf Tajul Khalwati


Syekh Yusuf Abul Mahasin Tajul Khalwati Al-Makassari Al-Bantani (3 Juli 1626 – 23 Mei 1699) adalah salah seorang pahlawan nasional Indonesia. 

Ia juga digelari Tuanta Salamaka ri Gowa ("tuan guru penyelamat kita dari Gowa") oleh pendukungnya di kalangan rakyat Sulawesi Selatan.


Akhir Hidup Syekh Yusuf meninggal dunia pada 23 Mei 1699.  Para pengikut Yusuf pun menjadikan hari wafatnya sebagai hari peringatan. 


Bahkan, Nelson Mandela, mantan presiden Afrika Selatan menyebutnya sebagai Salah Seorang Putra Afrika Terbaik.   


Jenazah Syekh Yusuf Tajul Khalwati dibawa ke Gowa atas permintaan Sultan Abdul Jalil (1677-1709) dan dimakamkan kembali di Lakiung, pada April 1705.


Kemudian Syekh Yusuf Allahu yarham dianugerahi gelar Pahlawan Nasional oleh Presiden Soeharto dengan SK Presiden : Keppres No. 071/TK/1995, Tgl. 7 Agustus 1995. 


Pada tahun 2005, Syekh Yusuf dianugerahi penghargaan Supreme Companion of OR Tambo in gold, for heads of state and, in special cases, heads of government (SCOT) pada 27 September 2005 kepada ahli warisnya yang disaksikan oleh Wapres RI. M. Yusuf Kalla di Pretoria Afrika Selatan.

[11/7 01.56] rudysugengp@gmail.com: 1. Buatkan gambar dan infografis tentang 

Kehidupan Awal Siti Hartinah (Tien Suharto)


Biodata

Siti Hartinah

Nama Lengkap: 

Raden Ayu Siti Hartinah

Lahir: 

23 Agustus 1923, Jaten, Karanganyar, Jawa Tengah

Wafat: 

28 April 1996, Jakarta

Pasangan: 

Jenderal Besar TNI (Purn) Soeharto

Makam :

Astana Giribangun

Orang tua :

K. P. H Soemoharjomo (bapak)

K. R. Ay. Hatmanti Hatmohoedojo (ibu)

Anak :

Siti Hardijanti Rukmana (Tutut)

Sigit Harjojudanto (Sigit)

Bambang Trihatmodjo (Bambang)

Siti Hediati Hariyadi (Titiek)

Hutomo Mandala Putra (Tommy)

Siti Hutami Endang Adiningsih (Mamiek)

Gelar Pahlawan: 

Ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional melalui Keppres No. 060/TK/1996


Masa kecil :

Siti Hartinah lahir pada 23 Agustus 1923 sebagai putri kedua (dari sebelas bersaudara) pasangan KPH Sumoharyomo dan K.RAy Hatmanti Hatmohoedojo. Ia merupakan canggah Mangkunegara III dari garis ibu. Ayahnya seorang Wedana, yang bekerja di istana Mangkunegaran. Saat itu, pegawai istana harus mempunyai darah biru atau keturunan priyayi. Meski begitu, kehidupan masa kecilnya mencerminkan kondisi Indonesia pra-kemerdekaan yang masih serba terbatas.


Hidupnya berpindah-pindah mengikuti penempatan tugas ayahnya sebagai pamong praja. Ia sempat mengenyam pendidikan Hollandsch-Inlandsche School (HIS), sekolah dasar untuk bangsawan bumiputera. Semasa sekolah ia juga ikut dalam organisasi Kepramukaan Puteri Javaansche Padvinders Organisatie (JPO).


Waktu kecil, Siti Hartinah mempunyai impian untuk menjadi seorang dokter. Akan tetapi, menjadi perempuan dengan kondisi bangsa yang tengah berada di bawah penjajahan Belanda, serta lingkungan keluarga Jawa yang tradisional, tidak memberikan Siti Hartinah banyak kesempatan untuk mengenyam pendidikan. Mengingat juga, walaupun ia datang dari keluarga yang cukup terpandang dan disegani, mereka tidak kaya. Mereka tidak mampu mengirimkan Hartinah ke sekolah lanjutan, sebagaimana telah diberikan kepada kakaknya.


Ketika ayahnya pensiun, adik-adik Siti Hartinah masih berusia kecil. Siti Hartinah berinisiatif dan turut memikirkan bagaimana caranya meringankan beban orang tua, walaupun pada saat itu masih dianggap aneh bagi seorang gadis untuk bekerja di luar rumah. Dengan kepandaiannya dalam seni Jawa, seperti membatik dan mencelup, beberapa dari kain batik buatannya dijual dan hasilnya untuk membayar uang kursus mengetik di Solo, untuk bekal mencari pekerjaan.


Di masa pendudukan Jepang, Siti Hartinah menjadi anggota Barisan Pemuda Puteri di bawah Fujinkai, satu-satunya organisasi wanita yang diperbolehkan berdiri oleh Jepang. Waktu kemerdekaan Indonesia diproklamasikan di tahun 1945, gadis remaja yang patriotik ini turut berjuang dalam Laskar Puteri. Ia ikut serta membantu perang kemerdekaan di dapur umum dan Palang Merah Indonesia, yang menjadi salah satu alasan pengangkatannya sebagai Pahlawan Nasional pada tahun 1996.

[11/7 02.00] rudysugengp@gmail.com: 2. Buatkan gambar dan infografis tentang 

Siti Hartinah (Tien Suharto) Menikah dengan Suharto hingga menjadi Ibu Negara 


Pernikahan Siti Hartinah dengan Soeharto diprakarsai oleh ibu angkat Soeharto, Nyonya Bei Prawirowihardjo. Pada saat itu, Soeharto berpangkat Letnan Kolonel dan bertugas sebagai Komandan di Yogyakarta. Siti Hartinah dan Soeharto sebelumnya pernah bertemu, saat ia berteman sekelas dengan salah satu sepupu Soeharto di Wonogiri.


Upacara nontoni (pertemuan antara yang akan melamar dan yang dilamar) dilangsungkan.

Soeharto sendiri meragukan, apakah orang tua Siti Hartinah siap untuk mengizinkan putri mereka dinikahkan dengan seorang biasa.

Betapa pun, "mereka orang ningrat". Soeharto juga merasa ragu sebab sudah lama ia tidak melihat Hartinah dan "apakah dia akan benar-benar suka kepada saya". Meski demikian, orang tua Siti Hartinah tidak keberatan dan menerima Soeharto sebagai menantu.


Ibu Tien pernah bercerita, bahwa sebelum upacara nontoni, ia baru saja sembuh dari sakit yang diderita selama dua bulan. Ia merasa telah “menipu” Soeharto pada saat bertemu, karena berat badannya berkurang dan wajahnya terlihat pucat, sehingga terlihat lebih cantik.


Siti Hartinah menikahi Suharto pada 26 Desember 1947 di Solo. Pada saat itu Soeharto berumur 26 tahun, Siti Hartinah berumur 24 tahun.

Acara pernikahan di sore hari itu disaksikan oleh keluarga dan teman-teman Hartinah, sedangkan dari sisi Soeharto hanya dua anggota keluarga yang dapat hadir. Acara selamatan pada malam hari juga hanya bisa diterangi beberapa buah lilin. Karena kota Solo waktu itu harus digelapkan, untuk mencegah terjadinya bahaya besar seandainya Belanda melakukan serangan udara lagi.


Pernikahan ini bukan merupakan cerita cinta pada pandangan pertama. Soeharto menulis di dalam biografinya bahwa cintanya kepada Ibu Tien berkembang sejalan dengan berjalannya waktu yang mereka lalui bersama. Dalam tradisi Jawa ada ungkapan “witing tresno jalaran soko kulino” (datangnya cinta karena bergaul dari dekat).

Tiga hari setelah pernikahan, Siti Hartinah dan Soeharto pindah ke Yogyakarta untuk kembali menjalankan tugas militer. Siti Hartinah kemudian mulai dengan tugasnya sebagai istri Komandan Resimen.


Adalah ciri kehidupan keluarga militer, bahwa tiga dari anak mereka lahir ketika sang suami sedang bertugas dan berpisah dari keluarganya. 

Anak pertama mereka lahir ketika Soeharto sedang bertempur dalam perang gerilya di luar kota Yogyakarta. Sang suami tidak melihat putri pertama mereka selama tiga bulan setelah dilahirkan. 

Anak yang kedua, seorang anak laki-laki, lahir selagi Soeharto bertugas di Sulawesi Selatan. 

Dan anak kelima mereka, lahir ketika Soeharto bertindak sebagai Panglima Mandala pembebasan Irian Barat.


Sebagai Ibu Negara :

Ketika Soeharto pertama dilantik sebagai presiden, pasangan suami-istri ini memutuskan untuk tidak menjadikan Istana Merdeka sebagai tempat kediaman, tetapi memutuskan untuk pindah dari Jalan Haji Agus Salim ke Jalan Cendana di daerah Menteng.

Rumah di Jalan Cendana itu sendiri tidak mencerminkan kemewahan seperti rumah-rumah orang berada pada umumnya.

Salah satu alasan untuk pindah adalah faktor keamanan. Di belakang rumah mereka yang lama di Jalan Haji Agus Salim ada gedung tinggi. Soeharto tidak mau tinggal di Istana Merdeka karena ia ingin anak-anaknya lebih bebas bergerak. “Untuk kepentingan anak-anak, agar tidak terpisahkan dari masyarakat”. 

Saat itu, anak-anak mereka masih kecil, yang tertua berusia 18 tahun, sementara yang termuda baru berusia 3 tahun.

[11/7 02.00] rudysugengp@gmail.com: 3. Buatkan gambar dan infografis tentang 

Perjuangan lain Siti Hartinah (Tien Suharto)


Pramuka :

Ibu Tien Soeharto banyak memberikan sumbangsih dalam dunia Pramuka Indonesia. Sebagai Ibu Negara, ia memberikan perhatian khusus terhadap pramuka. Ibu Tien beberapa kali menjabat Wakil Ketua Kwarnas Gerakan Pramuka pada masa bakti 1970—1974, 1974—1978, 1978—1983, 1983—1988 dan 1988—1993. Pada awal 1970-an, Ibu Tien mengusulkan lahan dan menginisiasi pembangunan pusat perkemahan pramuka nasional di Cibubur, Jakarta Timur. Sampai saat ini, bumi perkemahan ini dikenal dengan nama Bumi Perkemahan dan Graha Wisata (Buperta) Wiladatika Cibubur. Karya lain Ibu Tien untuk Gerakan Pramuka adalah prakarsanya membangun gedung Kwartir Nasional yang hingga saat ini menjadi kantor pusat Kwartir Nasional Gerakan Pramuka.


Pelarangan poligami :

Ibu Tien berpengaruh dalam pelarangan poligami bagi pejabat di Indonesia. Sebagai penggerak Kongres Wanita Indonesia, ia mendesak perlunya larangan poligami yang akhirnya keluar dalam wujud Peraturan Pemerintah Nomor 10 tahun 1983 yang tegas melarang PNS untuk berpoligami dan juga UU Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan 


Soeharto sendiri menegaskan kesetiaan kepadanya


"Hanya ada satu Nyonya Soeharto dan tidak ada lagi yang lainnya. Jika ada, akan timbul pemberontakan yang terbuka di dalam rumah tangga Soeharto"


Aktivitas lain :

Ibu Tien juga memengaruhi rencana suksesi Soeharto pada akhir tahun 1990—an, dengan menyarankan petinggi Golkar agar tidak lagi mencalonkan suaminya. 

Walaupun saran ini akhirnya terlambat dilakukan. Siti Hartinah meninggal pada tahun 1996 dan Soeharto kembali dicalonkan 


Meski demikian ada peninggalan dan gagasannya yang terwujud untuk bangsa, sebagai contoh Taman Mini Indonesia Indah, Taman Buah Mekarsari, Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, RSAB Harapan Kita, dan lainnya.


Pengabdian Kemanusiaan dan Sosial :

Selain menyokong logistik, ia juga aktif di Palang Merah Indonesia (PMI) dengan terjun langsung merawat para pejuang yang terluka akibat pertempuran melawan penjajah. 

Perhatiannya terhadap korban perang dan keluarga pejuang sangat besar.


Pemrakarsa Proyek Kebudayaan :

Sebagai Ibu Negara yang mendampingi Presiden Soeharto selama puluhan tahun, ia menjadi sosok di balik gagasan pembangunan sarana pelestarian budaya dan pendidikan, seperti pemrakarsa berdirinya Taman Mini Indonesia Indah (TMII), pembangunan rumah sakit, dan berbagai gerakan sosial kemasyarakatan yang berfokus pada kesejahteraan keluarga.

[11/7 02.00] rudysugengp@gmail.com: 4. Buatkan gambar dan infografis tentang 

Akhir Hayat dan Penghargaan Siti Hartinah (Tien Suharto)


Meninggal dunia :

Berawal saat Siti Hartinah terbangun akibat sakit jantung yang menimpanya, lalu ia dilarikan ke RSPAD Gatot Subroto, Jakarta. Siti Hartinah meninggal dunia pada Minggu, 28 April 1996, jam 05.10 WIB yang bertepatan dengan peringatan Hari Raya Idul Adha 1416 Hijriyah.


Siti Hartinah dimakamkan di Astana Giri Bangun, Jawa Tengah. Upacara pemakaman tersebut dipimpin oleh inspektur upacara yaitu Ketua DPR/MPR saat itu, Wahono dan Komandan upacara Kolonel Inf Getson Manurung, Komandan Brigade Ifanteri 6 Kostrad saat itu.


Sedangkan sebelumnya saat pelepasan almarhumah, bertindak sebagai inspektur upacara, Letjen TNI (Purn) Achmad Tahir dan Komandan Upacara Kolonel Inf Sriyanto Muntasram, Komandan Grup 2 Kopassus Kartasura.


Pada tanggal 30 Juli 1996, presiden Soeharto menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional bagi Siti Hartinah.

[11/7 03.41] rudysugengp@gmail.com: 1. Buatkan gambar dan infografis tentang 

Kehidupan Awal Raja Haji Fi'sabilillah 


Biodata :

Nama Lengkap: 

Raja Haji Fisabilillah

Tempat, Tahun Lahir: 

Kota Lama, Ulu Sungai, Riau, sekitar 1725 atau 1727

Wafat: 

18 Juni 1784, Teluk Ketapang, Melaka


Orang Tua: Opu Daeng Celak (Ayah) dan Encik Hamidah binti Laksamana / Tengku Puan Manda (Ibu)

Jabatan: 

Yang Dipertuan Muda Riau Lingga Johor Pahang (1777–1784)


Gelar Pahlawan Nasional: 

Ditetapkan melalui SK Presiden RI No. KM.14/PW.007/MKP/2004 tanggal 23 Maret 2004

Makam: 

Pulau Penyengat, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau


Silsilah Raja Haji Fisabilillah :

Raja Haji Fisabilillah yang berdarah bangsawan Melayu dan Bugis lahir di Hulu Riau sekitar tahun 1727.


Orangtuanya adalah Daeng Celak (Yang Dipertuan Muda Riau II) dan Tengku Mandak, adik dari Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah (Yang Dipertuan Muda Riau I).


Setelah Daeng Celak meninggal dunia, digantikan oleh pamannya Daeng Kamboja, yang bergelar Yang di-Pertuan Muda Riau III.


Raja Haji Fisabilillah dibina oleh pamannya itu dan diangkat sebagai Sultan Kelana, yang merupakan jabatan resmi di pemerintahan.


Dalam jabatan tersebut Raja Haji Fisabilillah memiliki tugas menjaga keamanan dan keutuhan segenap wilayah kekuasaan kerajaan Riau. Kemudian Ia juga bertugas mengunjungi negeri-negeri tetangga.


Ketika berkunjung ke Selangor pada tahun 1757, Raja Haji Fisabilillah terlibat perang dengan Belanda, yaitu Perang Linggi.

[11/7 03.42] rudysugengp@gmail.com: 3. Buatkan gambar dan infografis tentang 

Akhir Hayat dan Penghargaan Raja Haji Fi'sabilillah 


Dalam Perang Linggi, Raja Haji Fisabilillah mengalami luka. Namun Ia berhasil mengamankan Selangor dari rongrongan Belanda dan sekutu-sekutunya.


Pada tahun 1777, Raja Haji Fisabilillah diangkat sebagai Yang Dipertuan Muda Riau IV menggantikan Daeng Kamboja yang meninggal dunia.


"Beliau ini raja Kerajaan Riau-Lingga. Banyak dekade pemerintahan kerajaan Riau. Ada sebelumnya Kerajaan Johor, Pahang, Riau, Lingga. Terakhir Riau-Lingga," 


Sebagai pemimpin kerjaan, Raja Haji Fisabilillah bertanggung jawab penuh atas kelancaran pemerintahan, keamanan dan kemakmuran rakyat wilayah kerajaan Riau.


Raja Haji Fisabilillah memiliki watak pemberani, cerdas dan peka.


Di tahun 1874, Raja Haji Fisabilillah gugur dalam pertempuran melawan Penjajah Belanda di Teluk Ketapang. Ia dikuburkan di Pulau Penyengat, Kota Tanjungpinang, Provinsi Kepri.


Pada bulan Agustus 1997, Raja Haji Fisabilillah diangkat sebagai Pahlawan Nasional berdasarkan keputusan Presiden RI nomor: 072/TK/1997.


Bahkan namanya disematkan di Bandara Kota Tanjungpinang, yaitu Bandara RHF (Raja Haji Fisabilillah).

[11/7 03.43] rudysugengp@gmail.com: 2. Buatkan gambar dan infografis tentang 

Perjuangan Raja Haji Fi'sabilillah melawan Penjajah 


Belanda sangat membenci Raja Haji Fisabilillah.


Penjajah Belanda sampai memberinya gelar sebagai perompak, lanun, avinturir, raja api ataupun gelar-gelar sejenis lainnya.


Bahkan Belanda juga menyamakan Raja Haji Fisabilillah dan angkatan perangnya seperti bangsa Viking yang disebut sebagai penjarah laut di kawasan Eropa Utara.


Di sisi lain, gelar-gelar yang diberikan Belanda membuktikan kebesaran dan kehebatannya menentang penjajahan Belanda.


Raja Haji Fisabilillah dipandang Belanda sebagai tokoh sangat berbahaya karena pengaruhnya di sepanjang Selat Malaka yang merupakan jalur strategis perdagangan ataupun pelayaran.


Raja Haji Fisabilillah mengikuti dengan cermat tindakan dari Belanda. Ia juga mencermati segala tipu daya Belanda.


Pemimpin kerajaan Riau-Lingga itu mengikuti kegiatan politik dan ekonomi Belanda di sepanjang selat Malaka.


Raja Haji Fisabilillah sangat anti dengan Bangsa Belanda yang serakah dan tak tau diri serta ingin mencampuri dan mengambil hak yang sah di setiap kerajaan.


Dia semakin anti dengan sikap Belanda yang menjadikan Perang Linggi sebagai alasan untuk menuntut kerajaan Riau membayar ganti rugi.


Sikap Belanda itu seperti ungkapan dalam tradisi lisan di Kerajaan Melayu, "seperti Belanda minta tanah, dapat tanah minta rumah".


Penyebab perlawanan berupa perang yang dilakukan oleh Raja Haji Fisabilillah karena Belanda melanggar perjanjian.


Sebelum Raja Haji Fisabilillah berkuasa, Belanda bersama tiga negeri pernah membuat perjanjian di Port Filipina pada tanggal 1 Januari 1758, atau di akhir Perang Linggi.


Perjanjian itu lebih dikenal sebagai perjanjian persabatan, perdamaian dan teman serikat. Ditandatangani oleh Daeng Kamboja atas nama Riau, Raja Tua atas nama Klang dan Raja Adil atas nama Rembau.


Perjanjian dengan Belanda juga dibuat di saat Raja Haji Fisabilillah berkuasa. Diantara isinya adalah pembagian harta rampasan yang harus dibagi dua.


Namun Belanda melanggar perjanjian hingga dan dirasa tidak menghormati hak-hak Kerajaan Riau yang berdaulat.


Di mana pada tahun 1782, pihak Belanda melakukan perampasan terhadap kapal Inggris, yang saat itu merupakan musuh Belanda, bernama Betsy yang bermuatan 1.154 peti candu.


Sebelum perampasan, Raja Haji Fisabilillah telah melaporkan kehadiran kapal Betsy kepada Gubernur VOC di Malaka, Pieter gerendus de Bruijin.


Setelah perampasan, kapal Betsy dan muatannya dibawa ke Batavia.


Tindakan tanpa sepengetahuan dan seizin kerjaan Riau yang menyebabkan kemarahan Raja Haji Fisabilillah.


Raja Haji Fisabilillah mengirimkan surat protes kepada gubernur Malaka. Karena suratnya tidak dijawab, Ia kemudian berangkat ke Johor karena suratnya tidak dijawab.


Gubernur Melaka mengatakan pernapasan kapal dilakukan tanpa bantuan Kerajaan Riau. Sejumlah alasan lain juga disampaikan ke Raja Haji Fisabilillah.


Namun Raja Haji Fisabilillah tetap menganggap tindakan Belanda telah melanggar kedaulatan Kerajaan Riau.


Raja Haji Fisabilillah kemudian mengembalikan surat perjanjian yang telah ditandatangani bersama sebelumnya kepada Belanda. Bahkan dikatakan surat tersebut disobek oleh Raja Haji Fisabilillah.


Sikap yang ditunjukkan Raja Haji Fisabilillah juga membuat Belanda tersinggung.


Raja Haji Fisabilillah kemudian kembali dan memperkuat diri untuk persiapan berperang. Pertahanan diperkuat dengan membangun beberapa kubu startegis dan menambah armada serta senjata.


Tak sebatas itu saja, pasukan laut Kerajaan Riau-Lingga mulai melakukan gangguan perdagangan Belanda di Selat Melaka, dengan memaksa pedagang yang akan ke Melaka agar berbalik ke Riau. Bagi yang membangkang akan dirampas atau ditenggelamkan.


Kondisi ini membuat Belanda geram dan membuat meletusnya perang.


Pada tanggal 18 Juni 1873 Gubernur Melaka mengirim ekspedisinya ke Riau dengan jumlah 910 personil. Tapi Raja Haji Fisabilillah dapat mematahkannya.


Kompeni Belanda kembali menambahkan bantuan dengan mengerahkan sejumlah kapal untuk melakukan pengepungan di Perairan Riau.


Lebih kurang 7 bulan mengepung perairan Riau, Belanda tetap tidak mampu menundukkan kekuatan pasukan Kerajaan Riau-Lingga.


Belanda sempat membujuk Raja Haji Fisabilillah untuk menyelesaikan persoalan melalui perundingan. Tapi tawaran itu ditolak mentah-mentah oleh Raja Haji Fisabilillah. Ia men hal itu hanya sebuah siasat licik Belanda.


Akhirnya Belanda memutuskan untuk melakukan serangan umum besar besaran ke benteng benteng pertahanan kerajaan Riau. Diantaranya Pulau Penyengat, Teluk Keriting, Senggarang, Tanjungpinang, Pulau Bayan dan beberapa lokasi lain.


Serangan dilancarkan menjelang pagi pada tanggal 6 Januari 1784. Kapal-kapal perang Belanda menyerang jalan masuk Negeri Riau dan juga dibalas oleh sarang-sarang meriam Kerajaan Riau.


Sebelum siang hari, Belanda berhasil membungkam sarang meriam di Pulau Penyengat. Sejumlah perahu pasukan Kerajaan Riau juga berhasil ditenggelamkan Belanda.


Bahkan satu dentasemen serdadu Perancis yang bersekutu dengan Belanda berhasil melakukan pendaratan dan merebut sebuah bukit, Stoppelaarsberg di Tanjungpinang.


Namun pasukan Kerajaan Riau berhasil menghancurkan kapal terbesar Belanda, bernama Malaka's Welvaren.


Hal ini membuat kapal-kapal Belanda lain mundur. Detasemen Perancis yang sebelumnya berhasil mendarat juga kocar-kacir dan banyak yang menjadi korban.


Dengan begitu serangan umum Belanda ke Kerajaan Riau gagal.


Tak sampai disitu saja, tindakan Raja Haji Fisabilillah kembali mengejutkan Belanda. Tanggal 13 Februari 1784 Raja Haji Fisabilillah bersama 1.000 pasukannya mendarat di teluk Ketapang lebih kurang 5 km sebelah timur kota Melaka.


Bersama dengan Sultan Ibrahim dari Selangor Malaysia, Raja Haji Fisabilillah melakukan serangan menggempur Melaka. Gempuran ini membuat Belanda di Melaka terdesak.


Di saat itulah satuan armada kerajaan Belanda yang melakukan perjalanan ke Makasar dan Maluku diperintahkan Pemerintah Tinggi DI Batavia ke Melaka.


Armada dipimpin oleh Jacob Pieter Van Braam dengan kekuatan 9 kapal perang, 2.130 personel dan 327 pucuk meriam kemudian ikut berperang melawan Raja Haji Fisabilillah.


Pada tanggal 18 Juni 1784, sebanyak 734 pasukan bersenjata lengkap menggempur kubu pertahanan Raja Haji Fisabilillah di Teluk Ketapang.


Perangpun berkecamuk. Raja Haji Fisabilillah bersama seluruh panglima perang dan sekitar 500 pasukan Kerajaan Riau gugur dalam pertempuran itu.

[11/7 07.38] rudysugengp@gmail.com: Adam Malik

[11/7 08.35] rudysugengp@gmail.com: 1. Buatkan gambar dan infografis tentang 

Kehidupan Awal Adam Malik 


Informasi pribadi

Lahir :

22 Juli 1917

Pematangsiantar, Sumatera Timur, Hindia Belanda

Meninggal :

5 September 1984 (umur 67)

Bandung, Jawa Barat, Indonesia

Makam :

Taman Makam Pahlawan Nasional Utama Kalibata

Partai politik :

Golkar

Afiliasi politik

lainnya :

PartindoGerindoMurba

Istri :

Nelly Ilyas 

Anak : 5

Orang tua :

Abdul Malik Batubara (ayah)

Salamah Lubis (ibu)

Pekerjaan :

Politikus Legislator Diplomat Jurnalis


Latar Belakang  :

Adam Malik adalah anak dari pasangan Abdul Malik Batubara dan Salamah Lubis. Ayahnya, Abdul Malik, adalah seorang pedagang kaya di Pematangsiantar. Adam Malik adalah anak ketiga dari sepuluh bersaudara. Adam Malik menempuh pendidikan dasarnya di Hollandsch-Inlandsche School Pematangsiantar. Ia melanjutkan di Sekolah Agama Madrasah Sumatera Thawalib Parabek di Bukittinggi, tetapi hanya satu setengah tahun saja karena kemudian pulang kampung dan membantu orang tua berdagang.


Keinginannya untuk maju dan berbakti kepada bangsa mendorong Adam Malik untuk pergi merantau ke Jakarta. Pada usia 20 tahun, ia bersama dengan Abdul Hakim, Djohan Sjahroezah, Soemanang, Albert Manumpak Sipahutar, dan Pandu Kartawiguna memelopori berdirinya Kantor Berita Antara.

[11/7 08.36] rudysugengp@gmail.com: 2. Buatkan gambar dan infografis tentang 

Perjuangan dan Karier Adam Malik 


Adam Malik juga aktif dalam pergerakan kebangsaan yang dilakukannya secara autodidak. Pada masa mudanya, ia sudah aktif ikut pergerakan nasional memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. 


Pada tahun 1934-1935, ia memimpin Partai Indonesia (Partindo) Pematang Siantar dan Medan.


Pada tahun 1940 hingga 1941, Adam Malik merupakan anggota Dewan Pimpinan Gerakan Rakyat Indonesia (Gerindo) di Jakarta. Bersamaan dengan itu, ia mengawali karier dengan bekerja sebagai wartawan di Jakarta dan merupakan salah satu pendiri Kantor Berita Antara.

Kantor Berita Antara didirikan di Buiten Tijgerstraat 38 Noord Batavia (Jl. Pinangsia II Jakarta Utara) kemudian pindah JI. Pos Utara 53 Pasar Baru, Jakarta Pusat. Sebagai Direktur diangkat Mr. Soemanang, dan Adam Malik menjabat Redaktur merangkap Wakil Direktur. 

Dengan modal satu meja tulis tua, satu mesin tulis tua, dan satu mesin roneo tua, mereka menyuplai berita ke berbagai surat kabar nasional. Sebelumnya, ia sudah sering menulis antara lain di koran Pelita Andalas dan Majalah Partindo. Tahun 1941 sebagai utusan Mr. Soemanang bersama Djohan Sjahroezah datang ke rumah Sugondo Djojopuspito minta agar Soegondo bersedia menjadi Direktur Antara, dan Adam Malik tetap sebagai Redaktur merangkap Wakil Direktur.


Era Jepang :

Di zaman penjajahan Jepang, Adam Malik juga aktif bergerilya melawan Pemerintahan Jepang dalam gerakan pemuda memperjuangkan kemerdekaan. Pada 1945, menjadi anggota Pimpinan Gerakan Pemuda untuk persiapan Kemerdekaan Indonesia di Jakarta. 


Rengasdengklok :

Menjelang 17 Agustus 1945, bersama Sukarni, Chaerul Saleh, dan Wikana, ia pernah membawa Bung Karno dan Bung Hatta ke Rengasdengklok untuk memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Demi mendukung kepemimpinan Soekarno-Hatta, ia menggerakkan rakyat berkumpul di lapangan Ikada, Jakarta.


Mewakili kelompok pemuda, Adam Malik sebagai pimpinan Komite Van Aksi, terpilih sebagai Ketua III Komite Nasional Indonesia Pusat (1945-1947) yang bertugas menyiapkan susunan pemerintahan. Selain itu, Adam Malik adalah pendiri dan anggota Partai Rakyat, pendiri Partai Murba, dan anggota parlemen. Tahun 1945-1946 ia menjadi anggota Badan Persatuan Perjuangan di Yogyakarta. Kariernya semakin menanjak ketika menjadi Ketua II Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP), sekaligus merangkap jabatan sebagai anggota Badan Pekerja KNIP. Pada tahun 1946, Adam Malik mendirikan Partai Rakyat, sekaligus menjadi anggotanya. 1948-1956, ia menjadi anggota dan Dewan Pimpinan Partai Murba. Pada tahun 1956, ia berhasil memangku jabatan sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR-RI) yang lahir dari hasil pemilihan umum.


Karier di Dunia Internasional :

Karier Adam Malik di dunia internasional terbentuk ketika diangkat menjadi Duta Besar luar biasa dan berkuasa penuh untuk negara Uni Soviet dan Polandia. 

Pada tahun 1962, ia menjadi Ketua Delegasi Republik Indonesia untuk perundingan Indonesia dengan Belanda mengenai wilayah Irian Barat di Washington D.C, Amerika Serikat. Yang kemudian pertemuan tersebut menghasilkan Persetujuan Pendahuluan mengenai Irian Barat. Pada bulan September 1962, ia menjadi anggota Dewan Pengawas Lembaga di lembaga yang didirikannya, yaitu Kantor Berita Antara. Pada tahun 1963, Adam Malik pertama kalinya masuk ke dalam jajaran kabinet, yaitu Kabinet yang bernama Kabinet Kerja IV sebagai Menteri Perdagangan sekaligus menjabat sebagai Wakil Panglima Operasi ke-I Komando Tertinggi Operasi Ekonomi (KOTOE).


Trio Sayap Kanan :

Pada masa semakin menguatnya pengaruh Partai Komunis Indonesia, Adam Malik bersama Roeslan Abdulgani dan Jenderal Abdul Haris Nasution dianggap sebagai musuh PKI dan dicap sebagai trio sayap kanan yang kontra-revolusi.


Trio Awal Orde Baru :

Ketika terjadi pergantian rezim pemerintahan Orde Lama, posisi Adam Malik yang berseberangan dengan kelompok kiri justru malah menguntungkannya. Tahun 1966, Adam disebut-sebut dalam trio baru Soeharto-Sultan-Malik. Pada tahun yang sama, lewat televisi, ia menyatakan keluar dari Partai Murba karena pendirian Partai Murba, yang menentang masuknya modal asing. Empat tahun kemudian, ia bergabung dengan Golkar. 

Pada tahun 1964, ia mengemban tanggung jawab sebagai Ketua Delegasi untuk Komisi Perdagangan dan Pembangunan di Perserikatan Bangsa-Bangsa. 

Pada tahun 1966, kariernya semakin gemilang ketika menjabat sebagai Wakil Perdana Menteri II (Waperdam II) sekaligus sebagai Menteri Luar Negeri Republik Indonesia di kabinet Dwikora II.


Karier murninya sebagai Menteri Luar Negeri dimulai di kabinet Ampera I pada tahun 1966. Pada tahun 1967, ia kembali memangku jabatan Menteri Luar Negeri di kabinet Ampera II. Pada tahun 1968, Menteri Luar Negeri dalam kabinet Pembangunan I, dan tahun 1973 kembali memangku jabatan sebagai Menteri Luar Negeri untuk terakhir kalinya dalam kabinet Pembangunan II. 


Ketua Majelis Umum PBB :

Pada tahun 1971, ia terpilih sebagai Ketua Majelis Umum PBB ke-26, orang Indonesia pertama dan satu-satunya sebagai Ketua SMU PBB. 

Saat itu dia harus memimpin persidangan PBB untuk memutuskan keanggotaan RRC di PBB yang hingga saat ini masih tetap berlaku.


Wapres ke-3 RI :

Karier tertingginya dicapai ketika berhasil memangku jabatan sebagai Wakil Presiden RI yang diangkat oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) pada tahun 1978. 

Ia merupakan Menteri Luar Negeri RI di urutan kedua yang cukup lama dipercaya untuk memangku jabatan tersebut setelah Dr. Soebandrio. 

Sebagai Menteri Luar Negeri dalam pemerintahan Orde Baru, Adam Malik berperanan penting dalam berbagai perundingan dengan negara-negara lain termasuk penjadwalan ulang utang Indonesia peninggalan Orde Lama.


Pembentukan Asean :

Pada tanggal 5-8 Agustus 1967, Adam Malik menjadi perwakilan Indonesia di tingkat menteri untuk pertemuan lima negara yang diadakan di Bangkok. Selain Adam Malik, pertemuan ini dihadiri oleh Tun Abdul Razak (Malaysia), Narciso Ramos (Filipina), Thanat Khoman (Thailand) dan S. Rajaratnam (Singapura). Pertemuan ini menghasilkan sebuah kesepakatan pembentukan Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara oleh kelima negara pada tanggal 8 Agustus 1967. Kesepakatan ini kemudian disebut Deklarasi Bangkok.


Semua Bisa Diatur :

Sebagai seorang diplomat, wartawan bahkan birokrat, Adam Malik sering mengatakan “semua bisa diatur”. Sebagai diplomat ia memang dikenal selalu mempunyai 1001 jawaban atas segala macam pertanyaan dan masalah yang dihadapkan kepadanya. Tapi perkataan “semua bisa diatur” itu juga sekaligus sebagai lontaran kritik bahwa di negara ini “semua bisa di atur” dengan uang.

[11/7 08.38] rudysugengp@gmail.com: 3. Buatkan gambar dan infografis tentang 

Akhir Hayat dan Penghargaan Adam Malik 


Meninggal dunia :

Setelah mengabdikan diri demi bangsa dan negaranya, H. Adam Malik meninggal di Bandung pada 5 September 1984 karena kanker hati. Jenazahnya  dikebumikan di Taman Makam Pahlawan Kalibata. 

Kemudian, isteri dan anak-anaknya mengabadikan namanya dengan mendirikan Museum Adam Malik.


Penghargaan :

Pada tahun 1982, Adam Malik menerima Dag Hammarskjöld Award dari PBB.

Ia juga ditetapkan menjadi pahlawan nasional pada tahun 1998 berdasarkan Keputusan Presiden Indonesia Nomor 107/TK/1998. Keputusan ini diterbitkan pada tanggal 6 Nopember tahun 1998. 


Nama Adam Malik berada dalam urutan ke-105 dari 156 pahlawan nasional hingga tahun 2010 berdasarkan rilisan oleh Kementerian Sosial Republik Indonesia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

1 - 216

  PAHLAWAN NASIONAL (1959 - 2025) Presiden 1 (Sukarno) 49 (1  49) No. 1 Nama  : Abdoel Moeis Dasar Penetapan : Keppres No. 218 Tahun 19...