[12/7 22.40] rudysugengp@gmail.com: 1. Buatkan gambar dan infografis tentang
Biodata dan Kehidupan Awal Iwa Kusumasumantri
Informasi pribadi
Lahir :
31 Mei 1899
Ciamis, Hindia Belanda
Meninggal :
27 November 1971 (umur 72)
Jakarta, Indonesia
Kehidupan awal :
Iwa lahir di Ciamis, Jawa Barat, pada tanggal 31 Mei 1899. Setelah menyelesaikan pendidikan dasar di sekolah yang dikelola oleh pemerintah kolonial Belanda, ia berangkat ke Bandung, di mana ia masuk di Sekolah Pegawai Pemerintah Pribumi (Opleidingsschool Voor inlandse Ambtenaren, atau OSVIA ). Tidak mau mengadaptasi budaya Barat dalam menuntut ilmu di sekolah, ia keluar dan pindah ke Batavia (sekarang Jakarta) untuk masuk di sekolah hukum, sementara ketika di ibu kota kolonial tersebut, ia juga bagian dari Jong Java, sebuah organisasi untuk pemuda Jawa.
Iwa lulus pada tahun 1921 dan melanjutkan studinya di Universitas Leiden di Belanda. Di negara itu ia bergabung dengan Serikat Indonesia (Indonesische Vereeniging), sebuah kelompok nasionalis para intelektual Indonesia. Dia menekankan bahwa Indonesia harus bekerja sama, terlepas dari ras, keyakinan, atau kelas sosial, untuk memastikan kemerdekaan dari Belanda; ia menyerukan tentang non-kerjasama dengan kekuatan-kekuatan kolonial. Pada tahun 1925 ia pindah ke Uni Soviet untuk menghabiskan setengah tahun belajar di Universitas Komunis kaum tertindas dari Timur di Moskow. Di Uni Soviet ia sempat menikah dengan seorang wanita Ukraina bernama Anna Ivanova; keduanya memiliki seorang putri, bernama Sumira Dingli.
Setelah kembali ke Hindia tahun 1927, Iwa bergabung dengan Partai Nasional Indonesia dan bekerja sebagai pengacara. Dia kemudian pindah ke Medan, Sumatera Utara, di mana ia mendirikan surat kabar Matahari Terbit; koran yang mengaspirasi hak-hak pekerja dan mengkritik perkebunan milik Belanda yang besar di daerah itu. Karena tulisan-tulisannya, dan mengikuti upaya untuk mengorganisasi serikat dagang, pada 1929 Iwa ditangkap oleh pemerintah kolonial Belanda dan menghabiskan satu tahun di penjara sebelum dibuang ke Banda Neira, di Kepulauan Banda, untuk jangka waktu sepuluh tahun. Dan pada tahun 1929 tersebut Iwa memimpin media Matahari Indonesia.
Pembela Buruh dan Tokoh Pers:
Ia mendirikan Sarekat Kaoem Boeroeh Indonesia (SKBI) di Medan dan menerbitkan surat kabar Matahari Indonesia untuk memperjuangkan nasib kaum tertindas.
Masa Pengasingan:
Akibat ideologinya, ia ditangkap dan diasingkan oleh pemerintah kolonial Belanda ke Bandanaira dan Makassar selama 10 tahun.
[12/7 22.41] rudysugengp@gmail.com: 2. Buatkan gambar dan infografis tentang
Perjuangan Iwa Kusumasumantri
Era Jepang :
Sementara ketika di Banda Iwa menjadi seorang Muslim yang taat, namun ia terus percaya pada nilai Marxisme. Dia juga bertemu beberapa tokoh nasionalis terkemuka yang juga ada di pengasingan, termasuk Muhammad Hatta, Sutan Sjahrir, dan Tjipto Mangunkusumo. Iwa kemudian kembali ke Batavia dan, selama pendudukan Jepang (1942-1945) dioperasikan sebuah firma hukum di sana. Ia juga memberikan beberapa kuliah tentang penyebab nasionalis, di bawah pengawasan ketat pasukan pendudukan Jepang.
Pasca-kemerdekaan :
Sebagai akibat dari kekalahan Jepang di Asia Pasifik yang semakin jelas, pemimpin nasionalis Indonesia mulai mempersiapkan kemerdekaan. Iwa menyarankan penggunaan istilah proklamasi, yang akhirnya digunakan, dan membantu menyusun UUD 1945, Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus 1945.
Selama bulan-bulan awal revolusi yang kemudian diikuti dengan proklamasi, Iwa bekerja sama dengan elemen baru, pribumi, dan pemerintah. Pada tanggal 31 Agustus ia terpilih sebagai Menteri Sosial dalam kabinet pertama di bawah Presiden Soekarno. Dia menjabat sampai November 1945. Ia kemudian bergabung dengan Persatuan Perjuangan, yang dipimpin oleh Tan Malaka. Ia dituduh terlibat dan sempat ditahan karena didakwa terlibat dalam Peristiwa 3 Juli 1946, yang menyebabkan pemerintah Indonesia memenjarakannya; tahanan lainnya termasuk Muhammad Yamin, Achmad Soebardjo, dan Tan Malaka.
Belanda mengakui kemerdekaan Indonesia pada tahun 1949, dan di Republik Indonesia Serikat yang baru ini, Iwa menjabat sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat hingga 1950.
Pada tahun 1953 Iwa terpilih sebagai Menteri Pertahanan Pertama di Kabinet Ali Sastroamidjojo, di bawah Perdana Menteri Ali Sastroamidjojo; masa jabatannya berlangsung sampai tahun 1955.
Pada tahun 1957 Iwa menjadi rektor di Universitas Padjadjaran di Bandung. Istilah politik terakhir, 1963-1964, adalah sebagai menteri untuk Kabinet Kerja IV.
Perumus UUD:
Sebagai anggota PPKI, Iwa mengusulkan pasal yang mengatur tentang perubahan Undang-Undang Dasar, yang kemudian diakomodasi oleh Soepomo
[12/7 22.41] rudysugengp@gmail.com: 3. Buatkan gambar dan infografis tentang
Pengabdian, Akhir Hayat, dan Penghargaan Iwa Kusumasumantri
Pengabdian Pasca-Kemerdekaan:
Ia menjabat sebagai Menteri Sosial pada kabinet pertama RI dan Menteri Pertahanan (1953-1955), serta menjadi Presiden/Rektor pertama Universitas Padjadjaran (Unpad) di Bandung.
Peran Akademik dan Intelektual :
Setelah tidak lagi menjabat di pemerintahan, Iwa aktif sebagai akademisi dan dilantik sebagai Rektor pertama Universitas Padjadjaran (Unpad) di Bandung pada tahun 1957. Ia juga menjadi Menteri Perguruan Tinggi dan Ilmu Pengetahuan pada 1961 serta menjabat di Dewan Pertimbangan Agung (DPA).
Iwa dikenal sebagai penulis produktif. Karyanya meliputi tema-tema hukum, sejarah perjuangan, hingga filsafat politik. Beberapa karya pentingnya antara lain:
1. Revolusionalisasi Hukum di Indonesia (1958),
2. Pokok-pokok Ilmu Politik (1964), (Muamalah Politik).
3. Sejarah Revolusi Indonesia (trilogi)
Akhir Hayat :
Iwa Kusumasumantri wafat di Jakarta pada 27 November 1971.
Ia dimakamkan di TPU Karet Bivak.
Pada tanggal 6 November 2002, Presiden Megawati Soekarnoputri menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional Republik Indonesia atas jasa dan dedikasinya bagi bangsa, berdasarkan Keppres No. 073/TK/2002.
Menurut sejarawan Indonesia Asvi Warman Adam, ini adalah sebuah proses, karena afiliasi Iwa dengan Tan Malaka dan kepentingan komunis lainnya, upaya yang sebelumnya tidak didukung oleh pemerintahan Orde Baru di bawah rezim Presiden Soeharto.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar