Selasa, 21 Juli 2026

Bung Tomo - Abraham Dimara

 [17/7 01.02] rudysugengp@gmail.com: 1. Buatkan gambar dan infografis tentang 

Biodata dan Masa Muda 

Sutomo (Bung Tomo)


Informasi pribadi

Lahir :

3 Oktober 1920

Soerabaja, Hindia Belanda

Meninggal :

7 Oktober 1981 (umur 61)

Gunung Arafat, Arab Saudi

Partai politik :

Gerakan Rakyat Baru

Pemuda Republik Indonesia

Istri :

Sulistina

Pekerjaan :

Jurnalis


Masa muda :


Sutomo dilahirkan di Kampung Blauran, Surabaya. Ayahnya bernama Kartawan Tjiptowidjojo, priyayi golongan menengah yang pernah bekerja sebagai pegawai pemerintah, staf perusahaan swasta, asisten kantor pajak, hingga pegawai perusahan ekspor-impor Belanda. Kartawan mengaku mempunyai pertalian darah dengan beberapa pengikut dekat Pangeran Diponegoro.


Ibu Sutomo bernama Subastita, seorang perempuan berdarah campuran Jawa, Sunda, dan Madura anak seorang distributor lokal mesin jahit SINGER di wilayah Surabaya yang sebelum pindah ke Surabaya pernah jadi polisi kotapraja dan anggota Sarekat Islam.


Sutomo sulung dari 6 orang bersaudara. Adiknya masing-masing bernama Sulastri, Suntari, Gatot Suprapto, Subastuti, dan Hartini.


Walaupun dibesarkan dalam keluarga yang sangat menghargai pendidikan, tetapi pada usia 12 tahun, Sutomo terpaksa meninggalkan bangku MULO akibat dampak Despresi Besar yang melanda dunia. Untuk membantu keluarga, ia mulai bekerja secara serabutan. Meski begitu, belakangan Sutomo bisa masuk HBS secara korespondensi dan tercatat sebagai murid yang dianggap lulus meski tidak secara resmi.


Sutomo lalu bergabung dengan KBI (Kepanduan Bangsa Indonesia). Pada usia 17 tahun, ia berhasil menjadi orang kedua di Hindia Belanda yang mencapai peringkat Pramuka Garuda. Sebelum pendudukan Jepang pada 1942, peringkat ini hanya dicapai oleh tiga orang Indonesia.


Sutomo muda lebih banyak berkecimpung dalam bidang kewartawanan. Ia antaranya menjadi jurnalis lepas untuk harian Soeara Oemoem, harian berbahasa Jawa Ekspres, mingguan Pembela Rakyat, dan majalah Poestaka Timoer.


Keluarga :

Bung Tomo menikahi Sulistina, seorang bekas perawat PMI, pada 19 Juni 1947 di Malang. Pasangan ini dikaruniai empat orang anak, masing-masing bernama Tin "Titing" Sulistami (lahir 29 Juni 1948), Bambang Sulistomo (lahir 22 April 1950), Sri Sulistami (lahir 16 Agustus 1951), dan Ratna Sulistami (12 November 1958).

[17/7 01.07] rudysugengp@gmail.com: 2. Buatkan gambar dan infografis tentang 

Pertempuran 10 November 1945

Sutomo (Bung Tomo)


Pada 1944, ia terpilih menjadi anggota "Gerakan Rakyat Baru" dan pengurus "Pemuda Republik Indonesia" di Surabaya, yang disponsori Jepang. Setelah ia bergabung dengan sejumlah kelompok politik dan sosial, inilah titik awal keterlibatannya dalam Revolusi Nasional Indonesia. Dengan posisinya itu, ia bisa mendapatkan akses radio yang lantas berperan besar untuk menyiarkan orasi-orasinya yang membakar semangat pemuda dan rakyat untuk berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia.


Kemudian, sejak 12 Oktober 1945 Bung Tomo juga menjadi pemimpin "Barisan Pemberontakan Rakyat Indonesia" (BPRI) di Surabaya melawan pasukan Inggris yang membantu pasukan pendudukan Belanda (NICA). Meskipun pada Pertempuran Surabaya 10 November 1945, akhirnya pihak Indonesia kalah, tetapi rakyat Surabaya dianggap berhasil memukul mundur pasukan Inggris untuk sementara waktu (pasukan Inggris mundur dari Indonesia pada November 1946) dan kejadian ini dicatat sebagai salah satu peristiwa terpenting dalam sejarah sebagai titik awal Revolusi Nasional Indonesia dalam mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia dan menjadi simbol nasional atas perlawanan Indonesia terhadap kolonialisme dan Imperialisme.

[17/7 01.52] rudysugengp@gmail.com: 5. Buatkan Gambar dan Infografis tentang 

Debat Bung Tomo yang Dianggap Penjahat Perang di Belanda tahun 2023


sumber : detikJatim


*Debat Soal Bung Tomo yang Dianggap Penjahat Perang Digelar di Amsterdam*


Denza Perdana - detikJatim

Kamis, 09 Nov 2023 13:39 WIB



Surabaya - Dalam historiografi Belanda, Bung Tomo dianggap penjahat perang yang memimpin pembantaian warga Indo Belanda di Balai Pemuda Surabaya. Tudingan ini akan diperdebatkan di De Balie Amsterdam, Belanda.

Dalam debat itu, salah satu pegiat sejarah dari Komunitas Roodebrug Soerabaia Ady Setyawan akan menjadi salah satu panelis yang diberi kesempatan menyampaikan fakta tandingan tentang Bung Tomo.


Ady diundang oleh De Baile, organisasi yang menyajikan program jurnalistik independen berbasis di Amsterdam, Belanda. Dia diundang karena dianggap sebagai tokoh yang memahami rentetan Perang Surabaya dan telah memiliki karya tulis tentang itu.


"Selama ini, kan, Indonesia dan Belanda berkembang dengan historiografi masing-masing, termasuk tentang Bung Tomo, dan belum pernah dihadapkan. Nah malam itu kami akan dihadapkan, kami akan berdebat di sana, sama-sama mengajukan arsip-arsip," ujarnya kepada detikJatim, Rabu (8/11/2023).


Perdebatan yang akan digelar pada Kamis 9 November pukul 19.00 waktu setempat itu penilaian akan mana fakta dan mana mitos terkait sosok Bung Tomo akan diserahkan kepada penilaian masyarakat.


"Acara debat ini diprakarsai De Balie, dari tempat debatnya. Sebelum ini, aku nggak hafal juga, kalau nggak salah dulu pernah diperdebatkan di sana soal pembantaian di Sulawesi Selatan dan Rawa Gede," ujar Ady.


Dalam acara debat itu Ady diberi kesempatan menyampaikan pemaparan pembuka tentang Perang Surabaya yang puncaknya pada 10 November dan hingga kini diperingati sebagai Hari Pahlawan Nasional.


"Nanti aku dikasih waktu 15 menit sebagai opening untuk menyampaikan Perang Surabaya itu seperti apa. Bagaimana itu bermula? 

Bagaimana itu berakhir? 

Dan aku nanti akan menjelaskan bagaimana orang Surabaya menjaga semangat itu lewat parade kemarin, Parade Surabaya Juang," ujarnya.


Ady sendiri sudah berada di Belanda sejak Selasa pekan lalu. Dia mempersiapkan berbagai materi dan bukti-bukti bahwa Bung Tomo bukan seorang pemimpin pembantaian seperti yang ditulis dalam sejarah di Belanda.


Dalam debat itu Ady tidak sendiri. Dia akan menemani rekannya, seorang sejarawan Belanda bernama Marjolein van Pagee yang merupakan penulis buku bertajuk 'Bung Tomo de Revolutie van 1945'.


Peristiwa di Balai Pemuda :


Ady Setyawan mengatakan peristiwa yang dikaitkan dengan Bung Tomo sebagai penjahat perang itu terjadi di Balai Pemuda Surabaya pada sekitaran 15 Oktober 1945. Peristiwa itu terjadi setelah momen perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato pada 19 September 1945.


Saat itu, sejumlah warga Indo Belanda di Surabaya diculik dan diinterogasi di Balai Pemuda Surabaya. Pelakunya adalah Laskar Pemuda Republik Indonesia (PRI) yang diketuai oleh Soemarsono.


"Jadi soal Bung Tomo itu, Belanda itu menyimpan arsip kesaksian yang ngomong kalau Bung Tomo berdiri di Balai Pemuda memerintahkan pembantaian terhadap orang-orang Indo Belanda yang ditangkap, diinterogasi, dan dibunuh dengan kejam," kata Ady.


Narasi itulah yang akan dibantah oleh Ady dan temannya Marjolein van Pagee dalam debat di De Balie malam nanti. Mereka berdua akan berupaya menyampaikan sejumlah argumentasi dan sejumlah bukti penguat untuk meluruskan pemahaman orang Belanda tentang Bung Tomo.


"Karena kalau kita lihat di buku memoarnya Bung Tomo, dia menulis di situ bahwa 'saya diculik dan jadi korban di Balai Pemuda'. Nah orang yang melakukan penculikan di Balai Pemuda, Laskar PRI, ketuanya Soemarsono juga menulis memoar," ujarnya.


"Dalam memoar Soemarsono itu dia mengakui telah menculik Soetomo. Ini kan sangat kuat, orang yang diculik ngomong, yang menculik juga ngomong. Mana mungkin orang yang jadi korban penculikan berdiri memimpin pembantaian? Kan, nggak rasional," kata Ady.


Tidak hanya itu, dalam debat tersebut Ady juga berupaya meyakinkan publik Belanda bahwa dalam historiografi Indonesia peristiwa di Balai Pemuda Surabaya itu bukanlah pembantaian.


"Dari historiografi kita, nggak ada pembunuhan. Penyiksaan iya. Kenapa kok Indo Belanda jadi sasaran?


Sing mengibarkan bendera merah putih biru di Hotel Majapahit (dulu hotel Oranye/Yamato) siapa?


Orang-orang Indo Belanda. Ploegmann itu orang Indo," kata Ady.


"Nah Laskar PRI ini mau melakukan pembersihan orang-orang Indo Belanda itu siapa saja yang jadi kolaborator, yang pro Belanda?


Tetapi apakah semua orang Indo ditangkap? Enggak. 

Kita juga punya catatan orang-orang Indo yang berjuang untuk Indonesia juga ada kok," imbuhnya.


Untuk menghadapi debat itu Ady mengaku telah mengumpulkan sebanyak mungkin memoar yang bisa dijadikan landasan argumentasinya dalam debat. Dia kumpulkan itu selama sepekan berada di Belanda.


"Aku juga launching buku juga November ini, isinya pengalaman-pengalaman dari veteran. Judulnya 'Kesaksian dari Garis Depan'. Jadi itu memoar seperti apa sih perang Surabaya dari para veteran perang yang bukan dari kalangan jenderal, tetapi dari mereka yang menjadi tukang becak, kuli bangunan, dan orang-orang yang nggak punya pekerjaan tetap tapi mereka menulis," katanya.


(dpe/iwd)

[17/7 02.03] rudysugengp@gmail.com: 6. Buatkan Gambar dan Infografis tentang 

Penolakan Sutomo (Bung Tomo) sebagai Pahlawan 


Sumber : detikJatim


*Kisah Bung Tomo Pernah Ditolak Jadi Pahlawan Nasional, Ini 7 Faktanya*


Hilda Rinanda - detikJatim

Selasa, 11 Nov 2025 10:00 WIB


Surabaya - Tak banyak yang tahu, sebelum ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional, nama Bung Tomo sempat ditolak mentah-mentah oleh pemerintah. Penolakan itu bahkan membuat sang istri, Sulistina Sutomo, begitu marah hingga menyobek surat resmi dari Menteri Sosial saat itu.

Kisah mengejutkan ini diungkap langsung oleh Sulistina dalam buku autobiografinya berjudul "Bung Tomo Suamiku, Biar Rakyat yang Menilai Kepahlawananmu" yang terbit pada 1995.


Ia menuliskan dengan jujur bagaimana perjuangan agar sang suami, tokoh penting dalam Pertempuran 10 November 1945 Surabaya, diakui sebagai pahlawan nasional.


Berikut sejumlah faktanya:


1. Usulan Gelar Pahlawan untuk Bung Tomo Ditolak Mentah-mentah

Sekitar dua tahun setelah Bung Tomo wafat pada 7 Oktober 1981, DPRD Jawa Timur mengusulkan agar sang pejuang mendapat gelar Pahlawan Nasional. Namun, usulan itu langsung ditolak oleh Menteri Sosial kala itu, Nani Soedarsono, dengan alasan yang membuat Sulistina geram.


"Namun Menteri Sosial Nani Soedarsono waktu itu mengirimkan surat kepada saya yang isinya menolak usulan tersebut dengan alasan Bung Tomo tidak menjadi pahlawan nasional karena beliau pahlawan lokal," terang Sulistina.


2. Surat Penolakan Disobek karena Emosi

Mengetahui surat resmi dari Menteri Sosial berisi penolakan terhadap usulan tersebut, Sulistina tak kuasa menahan emosi. Ia menyobek-nyobek surat itu, sesuatu yang kemudian ia sesali di kemudian hari.


"Terang saya, waktu itu saya sangat emosi dan marah sekali mendapatkan jawaban itu, aku seperti gelo, surat bersampul amplop cokelat itu aku sobek-sobek," ujar Sulistina.


3. Pertempuran Surabaya Bukan Peristiwa Lokal

Dalam buku yang sama, Sulistina menegaskan bahwa peristiwa 10 November 1945 di Surabaya tidak bisa disebut lokal. Menurutnya, pertempuran itu melibatkan pejuang dari berbagai daerah di Indonesia yang rela datang ke Surabaya demi melawan penjajah.


"Mosok sih, banyak orang Indonesia datang ke Surabaya. Ada orang Aceh, Sunda, orang Kalimantan, Bali, Sulawesi dan lain-lain datang ke sana ikut berjuang kok dikatakan lokal," tegas Sulistina.


4. Peristiwa 10 November Dianggap Hari Pahlawan Nasional, Kok Dibilang Lokal?

Sulistina heran mengapa perjuangan rakyat Surabaya disebut 'lokal', padahal peristiwa itu sudah lama diperingati sebagai Hari Pahlawan secara nasional. Bagi dia, penghargaan negara terhadap pertempuran Surabaya seharusnya otomatis mengangkat nama Bung Tomo.


"Dan peristiwa heroik itu pun telah lama diperingati sebagai hari nasional, Hari Pahlawan. Gitu kok dibilang lokal," cetus Sulistina.


5. Sulistina Akui Menyesal Telah Menyobek Surat Menteri Sosial

Setelah emosinya reda, Sulistina menyadari bahwa tindakannya menyobek surat resmi Menteri Sosial adalah kekeliruan besar. 

Ia mengaku seharusnya surat itu disimpan sebagai bukti sejarah perjuangan Bung Tomo.


"Aku menyadari betapa bodohnya aku. Dengan menyobek-nyobek surat dari menteri sosial itu berarti aku menampakkan kemarahan dan kebodohanku sendiri," ujarnya.


6. Akhirnya Bung Tomo Ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional

Setelah berbagai desakan dan perjuangan panjang, pemerintah akhirnya menetapkan Bung Tomo sebagai Pahlawan Nasional melalui Keputusan Presiden Nomor 041/TK/Tahun 2008. Gelar itu diserahkan langsung oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono kepada Sulistina Sutomo di Istana Negara pada peringatan Hari Pahlawan tahun 2008.


"Mungkin waktu itu otakku terlalu panas dan aku memang kurang dewasa. Mestinya surat itu tetap kusimpan sebagai bukti kenangan," tandas Sulistina.


7. Sulistina Wafat dan Dimakamkan di Samping Bung Tomo

Sembilan tahun setelah gelar itu diberikan, Sulistina meninggal dunia pada 31 Agustus 2016. Ia kemudian dimakamkan di samping pusara Bung Tomo di TPU Ngagel Rejo, Surabaya, tempat beristirahat dua sosok yang bersama memperjuangkan kehormatan sejarah bangsa.


(irb/hil)

[17/7 02.14] rudysugengp@gmail.com: 3. Buatkan gambar dan infografis tentang 

Karier Pascaperang Kemerdekaan

Sutomo (Bung Tomo)


Antara 1950-1956, Bung Tomo masuk dalam Kabinet Perdana Menteri Burhanuddin Harahap sebagai Menteri Negara Urusan Bekas Pejuang Bersenjata/Veteran, merangkap Menteri Sosial (Ad Interim).


Hubungan Bung Tomo dengan Sukarno mulai memburuk di tahun 1952, di mana Sukarno menunjukkan kemarahan terhadap ketidaksetujuan Bung Tomo akan hubungannya dengan Hartini, yang saat itu masih bersuami.

Sukarno dan Hartini kemudian menikah di tahun 1953.


Sejak 1956 Sutomo menjadi anggota anggota Konstituante mewakili Partai Rakyat Indonesia. Ia menjadi wakil rakyat hingga badan tersebut dibubarkan Sukarno lewat Dekrit Presiden 1959. Sutomo memprotes keras kebijakan Sukarno tersebut, termasuk membawanya ke pengadilan meski akhirnya gugatan tersebut ditolak.

Akibatnya perlahan ia menarik diri dari dunia politik dan pemerintahan.


Pada awal Orde Baru, Sutomo kembali muncul sebagai tokoh yang mulanya mendukung Suharto. Namun, sejak awal 1970-an, ia mulai banyak mengkritik program-program Suharto, termasuk salah satunya proyek pembangunan Taman Mini Indonesia Indah. Akibatnya pada 11 April 1978 ia ditangkap dan dipenjara selama setahun atas tuduhan melakukan aksi subversif.


Sekeluar dari penjara Sutomo tampaknya tidak lagi berminat untuk bersikap vokal pada pemerintah dan memilih memanfaatkan waktu bersama keluarga dan mendidik kelima anaknya. Selain itu Sutomo juga menjadi lebih bersungguh-sungguh dalam kehidupan imannya.

[17/7 02.14] rudysugengp@gmail.com: 4. Buatkan gambar dan infografis tentang 

Akhir Hayat, Kepulangan Jenazah, dan Penghargaan 

Sutomo (Bung Tomo)


Pada 7 Oktober 1981, Sutomo meninggal dunia di jalan pandan saat sedang menunaikan ibadah haji. Berbeda dengan tradisi memakamkan jemaah haji yang meninggal di tanah suci, jenazah Bung Tomo dibawa pulang ke tanah air. Sesuai wasiatnya, Bung Tomo tidak dimakamkan di taman makam pahlawan, melainkan di Tempat Pemakaman Umum Ngagel Surabaya.


Kepulangan Jenazah dari Arab Saudi :


Jenazah Bung Tomo dibawa pulang ke Indonesia melalui proses diplomasi khusus dan pembongkaran makam (repatriasi) setelah 8 bulan dimakamkan di Arab Saudi. Beliau wafat saat wukuf di Arafah pada 7 Oktober 1981. 


1. Lobi Tingkat Tinggi: 

Aturan Pemerintah Arab Saudi biasanya melarang pemulangan jenazah jemaah haji ke negara asal. 

Namun, atas permohonan keluarga, mantan Perdana Menteri Indonesia Mohammad Natsir turun tangan menyurati Raja Arab Saudi. 

Natsir menggunakan kedekatan dan posisinya sebagai ketua Rabithah Al Islami (Liga Muslim Dunia).


2. Fatwa MUI & Tim Forensik: 

Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan fatwa yang memperbolehkan pemindahan tersebut. Pemerintah Indonesia juga mengirimkan pakar forensik dari Universitas Indonesia (UI) untuk memastikan identitas jenazah.


3. Pembongkaran Makam: 

Setelah mendapat izin dari otoritas Saudi dan Raja, makam dibongkar pada Februari 1982. 

Jenazah sang Pahlawan Nasional ditemukan masih utuh dengan kain kafan yang tidak rusak.


4. Penerbangan ke Tanah Air: 

Jenazah diterbangkan menggunakan pesawat Hercules milik Pelita Air Service melalui Lapangan Udara Kemayoran, Jakarta.


5. Penerimaan & Pemakaman: 

Tiba di Bandara Juanda, Surabaya, pada pagi hari, jenazah disemayamkan di Gedung Grahadi. 

Sesuai wasiat pribadinya, jenazah dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Ngagel Rejo, Surabaya, berbaur bersama rakyat biasa.


Pahlawan Nasional:


Bung Tomo resmi dikukuhkan menjadi Pahlawan Nasional pada peringatan Hari Pahlawan tahun 2008 di Istana Merdeka. 

Sang istri, Ny. Sulistina, menerima langsung surat keputusan bernomor 041/TK/Tahun 2008 yang diserahkan presiden. Pengangkatan ini buah dari desakan berbagai pihak, termasuk GP Ansor dan Fraksi Partai Golkar DPR.

[17/7 16.30] rudysugengp@gmail.com: 1. Buatkan gambar dan infografis tentang 

Biodata dan Latar Belakang 

John Lie  (Yahya Daniel Dharma)


John Lie atau yang dikenal sebagai Jahja Daniel Dharma (9 Maret 1911 – 27 Agustus 1988) adalah salah seorang perwira tinggi di Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut dari etnis Tionghoa dan Pahlawan Nasional Indonesia.


Informasi pribadi

Nama keren : John Lie

Nama Lahir : Lie Tjeng Tjoan

Nama lain : Jahja Daniel Dharma

Lahir : 9 Maret 1911, Menado, Celebes, Hindia Belanda

Meninggal : 27 Agustus 1988 (umur 77),  Jakarta, Indonesia

Sebab kematian :

Stroke

Istri :

Margaretha Dharma Angkuw


Latar belakang Kehidupan :


Ia lahir pada tanggal 9 Maret 1911 di Kanaka, Manado, Sulawesi Utara, dari pasangan suami isteri Lie Kae Tae dan Oei Tjeng Nie Nio.

Ayahnya (Lie Kae Tae) pemilik perusahaan pengangkutan Vetol (Veem en transportonderneming Lie Kay Thai). Pada usia 7 tahun (1918), ia menempuh pendidikan sekolah dasar di Holland Chinese School (HCS) dan kemudian pindah ke Christelijke Lagere School.


Sebagaimana yang diceritakan oleh Rita Tuwasey Lie—keponakan John Lie—pada usia 17 tahun John Lie kabur ke Batavia karena ingin menjadi pelaut. Di kota ini ia mengikuti kursus navigasi sembari menjadi buruh pelabuhan. Setelah itu, John Lie menjadi klerk mualim III pada kapal Koninklijk Paketvaart Maatschappij, perusahaan pelayaran Belanda. Pada 1942, John Lie bertugas di Khorramshahr,Iran, dan mendapatkan pendidikan militer.


Ketika Perang Dunia II berakhir dan Indonesia merdeka, ia pulang ke Indonesia dengan menumpang kapal Ophir pada bulan April 1946. Ia bergabung dengan Kesatuan Rakyat Indonesia Sulawesi (KRIS) sebelum akhirnya diterima di Angkatan Laut RI pada bulan Mei 1946. Semula ia bertugas di Cilacap, Jawa Tengah, dengan pangkat kapten. Di pelabuhan ini selama beberapa bulan ia berhasil membersihkan ranjau yang ditanam Jepang untuk menghadapi pasukan Sekutu. Atas jasanya, pangkatnya dinaikkan menjadi Mayor. Kemudian dia memimpin misi menembus blokade Belanda guna menyelundupkan senjata, bahan pangan, dan lainnya. Daerah operasinya meliputi Singapura, Penang, Bangkok, Rangoon, Manila, dan New Delhi.

[17/7 16.31] rudysugengp@gmail.com: 2. Buatkan gambar dan infografis tentang 

Karier Perjuangan John Lie  (Yahya Daniel Dharma)


Karier angkatan laut


Sebagai penyelundup :

Ia lalu ditugaskan mengamankan pelayaran kapal yang mengangkut komoditas ekspor Indonesia untuk diperdagangkan di luar negeri dalam rangka mengisi kas negara yang saat itu masih tipis. Pada masa awal (tahun 1947), ia pernah mengawal kapal yang membawa karet 800 ton untuk diserahkan kepada Kepala Perwakilan RI di Singapura, Oetojo Ramelan. Sejak itu, ia secara rutin melakukan operasi menembus blokade Belanda. Karet atau hasil bumi lain dibawa ke Singapura untuk dibarter dengan senjata. Senjata yang mereka peroleh lalu diserahkan kepada pejabat republik yang ada di Sumatra seperti Bupati Riau sebagai sarana perjuangan melawan Belanda. Perjuangan mereka tidak ringan karena selain menghindari patroli Belanda, juga harus menghadang gelombang samudera yang relatif besar untuk ukuran kapal yang mereka gunakan.


Untuk keperluan operasi ini, John Lie memiliki kapal kecil cepat, dinamakan The Outlaw pada bulan September 1947. Operasi perdana The Outlaw melayari rute Singapura, Labuan Bilik dan Port Swattenham pada Oktober 1947. Seperti dituturkan dalam buku yang disunting Kustiniyati Mochtar (1992), paling sedikit sebanyak 15 kali ia melakukan operasi "penyelundupan". Pernah saat membawa 18 drum minyak kelapa sawit, ia ditangkap perwira Inggris. Di pengadilan di Singapura ia dibebaskan karena tidak terbukti melanggar hukum. Ia juga mengalami peristiwa menegangkan saat membawa senjata semi otomatis dari Johor ke Sumatra, ia dihadang pesawat terbang patroli Belanda. John Lie mengatakan kapalnya sedang kandas. Dua penembak, seorang berkulit putih dan seorang lagi berkulit gelap tampaknya berasal dari Maluku, mengarahkan senjata ke kapal mereka. Entah mengapa, komandan tidak mengeluarkan perintah tembak. Pesawat itu lalu meninggalkan the Outlaw tanpa insiden, mungkin persediaan bahan bakar menipis sehingga mereka buru-buru pergi.


Setelah menyerahkan senjata kepada Bupati Usman Effendi dan komandan batalyon Abusamah, mereka lalu mendapat surat resmi dari syahbandar bahwa kapal the Outlaw adalah milik Republik Indonesia dan diberi nama resmi PPB 58 LB. 

Seminggu kemudian John Lie kembali ke Port Swettenham di Malaya untuk mendirikan pangkalan AL yang menyuplai bahan bakar, bensin, makanan, senjata, dan keperluan lain bagi perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.


Akhir karier militer :

Pada awal 1950 ketika ada di Bangkok, ia dipanggil pulang ke Surabaya oleh KASAL, Laksamana TNI R. Soebijakto dan ditugaskan menjadi komandan kapal perang Radjawali.


Pada masa berikutnya ia aktif dalam penumpasan Republik Maluku Selatan (RMS) di Maluku lalu PRRI/Permesta. Ia mengakhiri pengabdiannya di TNI Angkatan Laut pada Desember 1966 dengan pangkat terakhir Laksamana Muda.

[17/7 16.31] rudysugengp@gmail.com: 3. Buatkan gambar dan infografis tentang 

Pangkat, Jabatan, dan Akhir Hayat 

John Lie  (Yahya Daniel Dharma)


Menurut kesaksian Jenderal Besar TNI AH. Nasution pada 1988, prestasi John Lie ”tiada taranya di Angkatan Laut” karena dia adalah ”panglima armada (TNI AL) pada puncak-puncak krisis eksistensi Republik”, yakni dalam operasi-operasi menumpas kelompok-kelompok separatis seperti Republik Maluku Selatan, Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia, dan Perjuangan Rakyat Semesta.


Jabatan :

Komandan KRI PPB 58 LB " The Outlaw " (1946-1949)

Komandan KRI Radjawali (1950-1952)

Staf Kepala Operasi IV Markas Besar ALRI (1952-1954)

Kepala Dinas Angkutan & Logistik ALRI (1953-1955)

Komandan Komando Daerah Maritim Jakarta (1955-1957)

Perwira Siswa di Defense Service Staff College, Wellington, India (1958-1959)

Ketua dan Kepala Inspektorat Pengangkatan Kerangka Kapal Wilayah Perairan Indonesia (1960-1966).

Pensiun (1966)


Riwayat Pangkat :

Mayor Laut (1946-1957)

Letnan Kolonel Laut (1957-1960)

Kolonel Laut (1960-1961)

Komodor Laut (1961-1964)

Laksamana Muda TNI (1964-1966)


Kematian :

Makam John Lie di Taman Makam Pahlawan Kalibata

Kesibukannya dalam perjuangan membuat ia baru menikah pada usia 55 tahun, dengan Pdt. Margaretha Dharma Angkuw. Pada 30 Agustus 1966 John Lie mengganti namanya dengan Yahya Daniel Dharma.


Ia meninggal dunia karena Stroke pada 27 Agustus 1988 dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta. Atas segala jasa dan pengabdiannya, ia dianugerahi Bintang Mahaputera Utama oleh Presiden Soeharto pada 10 November 1995, Bintang Mahaputera Adipradana dan gelar Pahlawan Nasional oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 9 November 2009.


Buku Karya :

Terdapat beberapa buku dan liputan mengenai John Lie, sebagai berikut:


“Guns—And Bibles—Are Smuggled to Indonesia”, yang terbit pada 26 Oktober 1949, oleh Roy Rowan, wartawan majalah Life.

"John Lie Penembus Blokade Kapal-kapal Kerajaan Belanda" yang terbit pada 1988, oleh Solichin Salam.

"Dari Pelayaran Niaga ke Operasi Menembus Blokade Musuh Sebagaimana Pernah Diceritakannya Kepada Wartawan" yang dimuat dalam buku "Memoar Pejuang Republik Indonesia Seputar 'Zaman Singapura' 1945-1950" karya Kustiniyati Mochtar terbitan Gramedia Pustaka Utama, 2002.

"Memenuhi Panggilan Ibu Pertiwi: Biografi Laksamana Muda John Lie" (2008), yang diterbitkan Penerbit Ombak, Yogyakarta dan Yayasan Nabil, oleh M Nursam.

[17/7 16.56] rudysugengp@gmail.com: 1. Buatkan gambar dan infografis tentang 

Biodata dan Kehidupan Awal Herman Yohannes


Informasi pribadi

Herman Yohannes

Lahir :

28 Mei 1912

Keka, Rote Selatan, Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur

Meninggal :

17 Oktober 1992 (umur 80)

Yogyakarta, Indonesia

Kebangsaan

Indonesia

Istri :

Annie Marie Gilbertine Amalo

​(menikah 1955)​

Anak :

4, termasuk Helmi

Almamater :

Technische Hoogeschool te Bandoeng

Universitas Gadjah Mada

Pekerjaan :

Politikus

Profesi :

Ilmuwan


Pendidikan :

Sekolah Melayu, Baa, Rote, NTT, 1921

Europesche Lagere School (ELS), Kupang, NTT, 1922

Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO), Makassar, Sulawesi Selatan, 1928

Algemene Middelbare School (AMS), Batavia, 1931

Technische Hogeschool (THS), Bandung, 1934


Menempuh pendidikan tinggi :

Setelah lulus dari AMS Salemba di Jakarta tahun 1934, Herman Johannes melanjutkan pendidikannya ke Technische Hoogeschool te Bandoeng (THS) pada tahun akademik 1934-1935. Pada bulan Juni 1939, ia sudah lulus tahap candidaat-ingenieur (lulus tingkat III) dan tinggal menyelesaikan tingkat IV - tahap keinsinyurannya, yang jika lancar dapat ditempuh dalam satu tahun untuk mencapai gelar civiel-ingenieur - insinyur sipil, tetapi dengan jatuhnya Hindia Belanda pada tanggal 8 Maret 1942 THS Bandung ditutup, sehingga studinya terpaksa terhenti. Tahun 1944 Jepang membuka kembali sekolah ini dengan nama Bandung Kogyo Daigaku (BKD), setelah proklamasi kemerdekaan tahun 1945 BKD diubah menjadi Sekolah Tinggi Teknik (STT) Bandung yang kemudian hijrah ke Yogyakarta menjadi Sekolah Tinggi Teknik Bandung di Yogyakarta di awal tahun 1946. Sekitar bulan Oktober 1946 Herman Johannes menyelesaikan studinya di STT Bandung di Yogya yang kemudian menjadi cikal bakal Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada di mana dia termasuk salah satu perintisnya.


Pengabdian kepada masyarakat :

Herman Johannes banyak mengabdikan dirinya kepada kepentingan negara dan bangsanya, terutama rakyat kecil. Hingga menjelang akhir hayatnya, ia masih melakukan penelitian yang menghasilkan kompor hemat energi dengan briket arang biomassa. Keprihatinannya akan tingginya harga minyak bumi, selalu mendorongnya untuk mencari bahan bakar alternatif yang bisa dipakai secara luas oleh masyarakat. Herman Johannes pernah meneliti kemungkinan penggunaan lamtoro gung, nipah, widuri, limbah pertanian, dan gambut sebagai bahan bakar.


Kehidupan Pribadi :

Herman Johannes menikah tahun 1955 dengan Annie Marie Gilbertine Amalo (18 Juni 1927 – 12 Juli 2017), seorang putri raja dari wilayah Leli di Pulau Rote. Mereka dikaruniai empat anak: Christine yang menikah dengan Dr. Wisnu Susetyo, seorang petinggi Freeport Indonesia; Henriette yang menikah dengan Robby Mekka, seorang musikus dan dosen musik di Institut Seni Indonesia; Daniel Johannes yang bekerja di Schlumberger Information Solutions; dan Helmi Johannes, seorang presenter berita VOA. Herman Johannes adalah sepupu Pahlawan Nasional Wilhelmus Zakaria Johannes.

[17/7 17.04] rudysugengp@gmail.com: 2. Buatkan gambar dan infografis tentang 

Karier Militer dan Perjuangan di Dunia Pendidikan 

Herman Yohannes


Masa revolusi kemerdekaan :

Meski lebih banyak dikenal sebagai pendidik dan ilmuwan, Herman Johannes tercatat pernah berkarier di bidang militer. 

Tanggal 4 November 1946 Herman Johannes menerima Surat Perintah yang ditadatangani Kapten (Kavaleri) Soerjosoemarno (kemudian menjadi ayah dari Yapto Soerjosoemarno) yang mengatasnamakan Kepala Staf Umum Kementerian Keamanan Rakyat Letjen Urip Sumohardjo, yang isinya agar segera hadir dan melapor ke Markas Tertinggi Tentara di Yogyakarta. Ternyata Herman Johannes diminta membangun sebuah laboratorium persenjataan bagi TNI, karena pemerintah Indonesia saat itu sedang mengalami krisis persenjataan. Permintaan ini diterimanya dengan satu syarat, yakni jika laboratorium itu sudah bisa berdiri dan berproduksi, maka penanganannya harus dilanjutkan orang lain sebab Herman Johannes ingin melanjutkan kariernya di bidang pendidikan. Di bawah pimpinan Herman Johannes, Laboratorium Persenjataan yang terletak di bangunan Sekolah Menengah Tinggi (SMT) Kotabaru ini selama perang kemerdekaan berhasil memproduksi bemacam bahan peledak, seperti bom asap dan granat tangan.


Keahlian Herman Johannes sebagai fisikawan dan kimiawan ternyata berguna untuk memblokade gerak pasukan Belanda selama clash I dan II(Agresi Militer 1 dan 2 ). Bulan Desember 1948, Letkol Soeharto sebagai Komandan Resimen XXII TNI yang membawahi daerah Yogyakarta meminta Herman Johannes memasang bom di jembatan kereta api Sungai Progo. Karena ia menguasai teori jembatan saat bersekolah di THS Bandung, Johannes bisa membantu pasukan Resimen XXII membom jembatan tersebut. Januari 1949, Kolonel GPH Djatikoesoemo meminta Herman Johannes bergabung dengan pasukan Akademi Militer di sektor Sub-Wehrkreise 104 Yogyakarta. Dengan markas komando di Desa Kringinan dekat Candi Kalasan, lagi-lagi Herman Johannes diminta meledakkan Jembatan Bogem yang membentang di atas Sungai Opak. Jembatan akhirnya hancur dan satu persatu jembatan antara Yogya-Solo dan Yogya-Kaliurang berhasil dihancurkan Johannes bersama para taruna Akademi Militer. Aksi gerilya ini melumpuhkan aktivitas pasukan Belanda sebab mereka harus memutar jauh mengelilingi Gunung Merapi dan Gunung Merbabu melewati Magelang dan Salatiga untuk bisa masuk ke wilayah Yogyakarta.


Pengalamannya bergerilya membuat Herman Johannes juga ikut serta dalam Serangan Umum 1 Maret 1949 yang menyerbu kota Yogyakarta di pagi buta dan bisa menduduki ibu kota Republik selama enam jam. Herman Johannes juga menjadi saksi sumbangan Sri Sultan Hamengkubuwono IX kepada perjuangan kemerdekaan Indonesia. Bersama Letnan Soesilo Soedarman dan Letnan Djajadi, Mayor Johannes pernah bertugas ke Wedi, Klaten, untuk melakukan koordinasi perjuangan. Mereka bertiga berangkat memakai seragam baru hadiah dari Sultan Yogya. Sultan pun memberi gaji seratus rupiah Oeang Republik Indonesia (ORI) setiap bulan kepada para taruna Akademi Militer


Pekerjaan :

Guru, Cursus tot Opleiding van Middelbare Bouwkundingen (COMB), Bandung, 1940

Guru, Sekolah Menengah Tinggi (SMT), Jakarta, 1942

Dosen Fisika, Sekolah Tinggi Kedokteran, Salemba, Jakarta, 1943

Lektor, Sekolah Tinggi Teknik (STT) Bandung di Yogyakarta, 1946–1948

Mahaguru, STT Bandung di Yogyakarta, Juni 1948

Dekan Fakultas Teknik UGM, Yogyakarta, 1951–1956

Dekan Fakultas Ilmu Pengetahuan Alam (FIPA) UGM, Yogyakarta, 1955–1962

Rektor, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, 1961–1966[5]

Koordinator Perguruan Tinggi (Koperti), DIJ-Jateng, 1966–1979

Ketua, Regional Science and Development Center (RSDC), Yogyakarta, 1969.


Karier (lain-lain) :

Anggota, Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP), 1945–1946

Menteri Pekerjaan Umum dan Tenaga RI, 1950–1951

Anggota Executive Board UNESCO, Paris, 1954-1957

Anggota Dewan Nasional, 1957–1958

Anggota Dewan Perancang Nasional (Deppernas), 1958–1962

Anggota, Dewan Pertimbangan Agung RI (DPA RI), 1968–1978

Anggota Komisi Empat (Tim Pemberantasan Korupsi), 1970

Anggota, Panitia Istilah Teknik, Departemen Pekerjaan Umum RI, 1969–1975

Anggota, Majelis Bahasa Indonesia-Malaysia (MABIM), 1972–1976

Anggota Pepunas Ristek, Jakarta, 1980–1985

Anggota Dewan Riset Nasional, 1985–1992.


Karier Militer :

Kepala Laboratorium Persenjataan, Markas Tertinggi Tentara, Yogyakarta, 1946

Anggota Pasukan Akademi Militer Yogyakarta, Sektor Sub-Wehrkreise 104, Desember 1948–Juni 1949

Dosen, Akademi Militer Yogyakarta, 1946–1948

Pangkat terakhir: Mayor TNI, 1949

Komandan Resimen Mahakarta, 1962–1965.


Organisasi :

Christen Studenten Vereniging (CSV), Bandung, 1934

Indonesische Studenten Vereniging (ISV), Bandung, 1934

Timorese Jongeren/Ketua Perkumpulan Kebangsaan Timor (PKT), Bandung, 1934

Anggota, Angkatan Muda Pegawai Republik Indonesia (AMPRI), Jakarta, 1945

Ketua, Gerakan Rakyat Indonesia Sunda Kecil (GRISK), 1947

Partai Indonesia Raya (PIR) 1948

Ketua, Yayasan Hatta, 1950–1992

Pernah menjadi Ketua Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada (KAGAMA), 1958-1961, 1973-1981.

Pernah menjadi Ketua Legiun Veteran Yogyakarta

Pernah menjadi pengurus Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) Pusat

Anggota Persatuan Insinyur Indonesia (PII)

[17/7 17.04] rudysugengp@gmail.com: 3. Buatkan gambar dan infografis tentang 

Akhir Hayat, Penghargaan, dan Karya

Herman Yohannes


Dalam sebuah makalahnya Herman Johannes pernah mengemukakan bahwa Sri Sultan dan Paku Alam bersama Komisi PBB menjemput para gerilyawan masuk kota Yogyakarta pada 29 Juni 1949. Pasukan Akademi Militer masuk kota dari arah Pengok dan dijemput langsung Paku Alam VIII, dan Herman Johannes kemudian harus berpisah dengan teman-teman seperjuangannya untuk kembali ke dunia pendidikan. Jasanya di dalam perang kemerdekaan membuat Herman Johannes dianugerahi Bintang Gerilya pada tahun 1958 oleh Pemerintah RI. 


Kematian :

Herman Johannes meninggal dunia pada 17 Oktober 1992 karena kanker prostat. Meski sebagai pemegang Bintang Gerilya dan Bintang Mahaputra almarhum berhak dimakamkan di Taman Makam Pahlawan, tetapi mengingat amanatnya sebelum meninggal, maka keluarganya memakamkannya di Pemakaman Keluarga UGM di Sawitsari, Yogyakarta, bersama dengan para koleganya sesama pendidik bangsa. 


Pada tahun 2003, nama Herman Johannes diabadikan oleh Keluarga Alumni Teknik Universitas Gadjah Mada (KATGAMA), atas prakarsa Ketua Katgama saat itu, Airlangga Hartarto, menjadi sebuah penghargaan bagi karya utama penelitian bidang ilmu dan teknologi: Herman Johannes Award. Sesuai Keputusan Presiden RI (Keppres) No. 80 Tahun 1996, nama Herman Johannes diabadikan sebagai nama Taman Hutan Raya bagi kelompok hutan Sisinemi-Sanam seluas 1.900 hektare di Kabupaten Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Nama Prof Herman Johannes juga diabadikan menjadi nama jalan yang menghubungkan Kampus UGM dengan Jalan Solo dan Jalan Jenderal Sudirman di kota Yogyakarta, serta nama jalan yang menghubungkan Bundaran Merpati dan Jalan Trans Timor di Kupang.


Penghargaan :

Tanda kehormatan

 Bintang Gerilya (1958)

 Bintang Mahaputera Utama (2 Oktober 1963)

 Satyalancana Peringatan Kemerdekaan (1961)

 Satyalancana Wira Karya (1971)

 Bintang Legiun Veteran Indonesia (1981)


Penghargaan lainnya :

Piagam Anugerah Pendidikan, Pengabdian dan Iptek, Mendikbud, 1969

Doktor Honoris Causa, UGM, 1975

Anugerah Sri Sultan Hamengkubuwono IX, 1991.


Herman Johannes mendapat anugerah gelar Pahlawan Nasional dari Presiden Yudhoyono ⁠berdasarkan Keputusan Presiden RI Nomor 058/TK/Tahun 2009, tgl. 6 November 2009.


Pada tanggal 19 Desember 2016, atas jasa jasanya, Pemerintah Republik Indonesia, mengabadikannya di pecahan uang logam rupiah baru, pecahan Rp. 100,-


Beberapa Karya tulis :


Zarrah-zarrah Fisika Modern, (Jajasan Fonds Universitit Negeri Gadjah Mada, 1953)

Pantjasila Seichtisar dalam Kata-Kata Bung Karno, (Universitas Gadjah Mada, 1963)

Teknik Squeeze dalam Bridge, (PT Indira, Jakarta, 1970)

Pengantar Matematika untuk Ekonomi, (bersama Budiono Sri Handoko; Pustaka LP3ES, Jakarta 1974)

Gaya Bahasa Keilmuan, (Universitas Gadjah Mada, 1979)

Membina Bahasa Indonesia Menjadi Bahasa yang Ilmiah, Indah dan Lincah, (Universitas Gadjah Mada, 1980)

Kamus Istilah Ilmu dan Teknologi, (PT Indira, Jakarta, 1981)

Aneka Teknik Sepit, (Penerbit Liberty, Yogyakarta, 1989)

[17/7 18.55] rudysugengp@gmail.com: 1. Buatkan gambar dan infografis tentang 

Biodata dan Kehidupan Awal Johannes Leimena


Informasi pribadi

Johannes Leimena

Lahir :

6 Maret 1905

Ambon, Maluku, Hindia Belanda

Meninggal :

29 Maret 1977 (umur 72)

Jakarta, Indonesia

Makam :

TMPNU Kalibata, Jakarta Selatan, Jakarta

Partai politik :

  Parkindo (hingga 1973)

  PDI (sejak 1973)

Istri :

Tjitjih Wiyarsih Leimena

​(menikah 1933)​

Anak :

8, termasuk Melani Leimena Suharli

Almamater :

STOVIA

Pekerjaan :

Dokter - Politikus

Julukan

"Om Jo"


Masa muda :

Leimena dilahirkan di kota Ambon, Maluku pada tanggal 6 Maret 1905. Ayahnya, Dominggus Leimena, merupakan guru yang diperbantukan ke sekolah dasar di Ambon, dan ibunya Elizabeth Sulilatu juga merupakan seorang guru. Selama kanak-kanak, Leimena biasa tinggal di kota Ambon itu sendiri atau di kampung-kampung asal orangtuanya di Ema atau Lateri. Dominggus Leimena merupakan keturunan dari raja Ema, dan keluarga Leimena merupakan pemeluk agama Kristen. Dominggus meninggal saat Leimena berusia lima tahun dan Elizabeth menikah lagi, sehingga Leimena pindah ke rumah paman dan bibinya sementara ketiga saudaranya tinggal bersama ayah tiri. 

Selama di Ambon, Leimena bersekolah di Ambonsche Burgerschool yang berbahasa Belanda.


Pada tahun 1914, Leimena pindah ke Cimahi, Jawa Barat, karena pamannya diangkat menjadi kepala sekolah di sana. Setelah sembilan bulan, pamannya dipindahkan lagi ke Batavia, sehingga Leimena turut ke sana. Di Batavia, Leimena sempat belajar di Europeesche Lagere School (ELS, setara sekolah dasar), tetapi kemudian pindah ke Paul Krugerschool. Leimena melanjutkan studinya ke salah satu Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO, setara SMP) yang dikhususkan untuk murid Kristen. Selulusnya dari MULO, Leimena berniat untuk lanjut ke Hogereburgerschool (HBS, setara SMA) atau sekolah teknik Koningin Wilhelmina School (KWS), tetapi bibinya melarang masuk HBS dan ia gagal seleksi KWS. Ia juga ditolak saat melamar kerja ke kantor pos dan kantor kereta api, sampai akhirnya ia diterima di sekolah kedokteran STOVIA.


Selama studinya di STOVIA, Leimena aktif dalam organisasi pemuda seperti Jong Ambon dan Christen Studenten Vereniging (Perkumpulan Pelajar Kristen). Ia menjadi tokoh yang berpengaruh dalam organisasi Jong Ambon, pada masa ketika banyak organisasi Ambon yang terbelah antara mendukung gerakan kebangkitan nasional Indonesia atau mendukung pemerintah Hindia Belanda (di bawah Leimena, Jong Ambon awalnya mengambil sikap netral). Karena pergaulannya dengan tokoh-tokoh Sumatra seperti Amir Sjarifuddin dan Mohammad Yamin, Leimena bergabung dengan Perhimpunan Teosofi. Pergeseran pandangan Leimena ke arah mendukung kemerdekaan Indonesia berlangsung selama pertengahan 1920-an, didorong oleh dibentuknya Partai Nasional Indonesia oleh Soekarno dan berkembangnya Perhimpoenan Indonesia di Belanda. Leimena menjadi salah seorang anggota panitia dalam Kongres Pemuda Pertama tahun 1926, dan juga Kongres Pemuda Kedua tahun 1928. Gerakan oikumene yang pada masa itu baru mulai masuk Indonesia juga menarik perhatian Leimena.

Ia lulus dari STOVIA tahun 1930.


Kehidupan pribadi :

Istri Leimena, Wijarsih Prawiradilaga.

Selama bersekolah di STOVIA, Leimena aktif bermain sepakbola dan sering kali ikut dalam tim sepakbola STOVIA dan sejumlah klub lokal pada masanya. Ia bertemu dengan istrinya Wijarsih Prawiradilaga selama bertugas sebagai dokter di Bandung. Pasangan ini memiliki delapan anak yaitu empat anak laki-laki dan empat anak perempuan. Salah seorang putrinya, Melani Leimena Suharli, menjadi Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat periode 2009–2014.


Leimena dikenang keluarganya sebagai sosok sederhana, khususnya dalam hal pakaian. Ia terbiasa memakai kemeja putih dengan gaya yang sama tiap kali.

Menurut Soekarno dalam autobiografinya, Leimena tidak memiliki pakaian formal selama jalannya revolusi, sehingga saat ia dikirim dalam kapasitas diplomasi ia harus meminjam jas dan dasi dari koleganya.

[17/7 18.55] rudysugengp@gmail.com: 9. Buatkan gambar dan infografis tentang 

Ringkasan Perjuangan Johannes Leimena


Ringkasan :

Dr. Johannes Leimena (6 Maret 1905 – 29 Maret 1977) adalah seorang dokter, politikus, dan Pahlawan nasional Indonesia. Ia tercatat sebagai menteri yang menjabat paling lama selama pemerintahan presiden Soekarno, dengan total masa jabatan hampir 20 tahun. Leimena duduk dalam 18 kabinet yang berbeda, dimulai dari Kabinet Sjahrir II (1946) sampai Kabinet Dwikora III (1966), baik sebagai Menteri Kesehatan, Wakil Perdana Menteri, Menko Distribusi, Wakil Menteri Pertama maupun Menteri Sosial. Di luar itu, ia juga menjabat sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat dan Konstituante, dan mengetuai Partai Kristen Indonesia (Parkindo) antara 1951 hingga 1960.


Leimena berasal dari Ambon, Maluku, dari sebuah keluarga Kristen dengan orang tua yang berprofesi sebagai guru. Pada usia dini, ia pindah ke Cimahi tahun 1914 dan tak lama kemudian Batavia untuk melanjutkan sekolahnya. Ia turut serta dalam pergerakan kebangkitan nasional, sebagai anggota Jong Ambon dan sebagai panitia Kongres Pemuda Pertama dan Kedua. Dalam perihal keagamaan, Leimena juga aktif dalam gerakan oikumene. Selulusnya dari STOVIA tahun 1930, ia bekerja di berbagai rumah sakit, mulai di Batavia sebelum pindah ke Bandung. Selama pendudukan Jepang, ia menjabat sebagai direktur rumah sakit di Purwakarta dan Tangerang.


Selama Revolusi Nasional Indonesia, Leimena memulai kariernya dalam pemerintah sebagai wakil menteri kesehatan, lalu sebagai menteri kesehatan. Ia juga merupakan seorang diplomat yang diutus ke perundingan-perundingan seperti Linggarjati, Renville, Roem-Roijen, dan Konferensi Meja Bundar. Leimena membantu pendirian Parkindo selama masa ini, dan mulai menjadi ketua umum sejak 1950. Dalam kariernya sebagai Menkes, Leimena memprioritaskan pencegahan penyakit di wilayah pedesaan dan melandasi sistem Puskesmas yang kini ada. Leimena juga sempat menjabat sebagai Wakil Perdana Menteri dan Menteri Distribusi, sebagai salah satu menteri yang paling dekat ke Presiden Soekarno.


Leimena sangat terdampak oleh peristiwa-peristiwa Gerakan 30 September 1965 mengingat rumahnya sempat diserang. Dalam pertemuan-pertemuan yang berlangsung seusai peristiwa tersebut, Leimena dianggap telah memberikan nasihat yang mencegah pecahnya perang saudara kepada Soekarno. Ia juga menyaksikan penandatanganan Supersemar pada 1966. 

Selama masa Orde Baru, Leimena tidak lagi menjabat menteri, tetapi ia masih aktif dalam politik sebagai anggota Dewan Pertimbangan Agung sementara banyak koleganya yang dipenjarakan. 

Ia wafat pada tahun 1977 dan ditetapkan sebagai Pahlawan nasional Indonesia oleh presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada tanggal 8 November 2010 bersama dengan Johannes Abraham Dimara berdasarkan surat Keputusan Presiden no. 52 tahun 2010 secara resmi.

[17/7 18.56] rudysugengp@gmail.com: 8. Buatkan gambar dan infografis tentang 

Akhir Hayat dan Penghargaan Johannes Leimena


Wafat :

Makam DR. Johannes Leimena di Taman Makam Pahlawan Nasional Utama Kalibata

Leimena meninggal di Jakarta pada tanggal 29 Maret 1977, sekitar pukul 7.30 pagi. Ia sempat mengeluh sakit seusai pulang dari Eropa sebelumnya dan saat kembali ke Indonesia, ia menggunakan kursi roda. Seusai acara pemakamannya, Leimena dikuburkan secara militer di Taman Makam Pahlawan Kalibata.


Penghargaan :

Ia mendapatkan tanda kehormatan, di antaranya;


Dalam Negeri

 Indonesia :

 Bintang Mahaputera Adipradana (1973)

 Bintang Gerilya (1959)

 Satyalancana Pembangunan (1961)

 Satyalancana Peringatan Perjuangan Kemerdekaan

 Satyalancana Karya Satya


Luar negeri :

 Bolivia :

 Grand Cross of the Order of the Condor of the Andes

 Ekuador :

 Grand Cross of the National Order of Merit

 Filipina :

 Commander of the Order of Sikatuna, Rank of Lakan (CS)

 Kamboja :

 Grand Cross of the Royal Order of Sahametrei

 Mexico :

 Grand Cross of the Mexican Order of the Aztec Eagle

 Romania:

 Order of 23 August 2nd Class

 Thailand :

 Knight Grand Cross (First Class) of the Most Exalted Order of the White Elephant (KCE) (1960)

 Yugoslavia :

 Order of the Yugoslav Flag with Sas 


Peninggalan :

Menurut Soekarno dan Mohammad Roem, Leimena merupakan seorang politisi yang jujur dan diplomat yang berbakat. Menurut Sutan Sjahrir, hubungan antara Leimena dan Soekarno berjalan dengan Leimena menyampaikan pikirannya "secara tulus kepada Bung Karno, tetapi dia tak akan pernah melepaskan Bung Karno sendirian." Ia dianggap sebagai tokoh senior oleh sejawatnya, sehingga ia tidak dijuluki "Bung" sebagaimana biasa, tetapi lebih umum dijuluki "Om Jo".


Pada tahun 2010, 33 tahun setelah wafat, Leimena dianugerahi gelar Pahlawan Nasional Indonesia oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, berdasarkan 

S.K. Presiden No. 052/TK/2010 tanggal 8 November 2010.


Di Ambon, RSUP Johannes Leimena mengambil namanya. Di Universitas Pattimura, terdapat patung Leimena yang diresmikan tahun 2012. 


Institut Leimena milik Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia diresmikan pada tahun 2004, dan sebelumnya dikenal sebagai Akademi Leimena sejak tahun 1984.

[17/7 18.57] rudysugengp@gmail.com: 7. Buatkan gambar dan infografis tentang 

Orde Baru dan Pandangan Politik

Johannes Leimena


Orde Baru :

Awalnya Soeharto berniat untuk menjadikan Leimena menteri juga dalam pemerintahannya, tetapi Leimena sendiri menolak secara tidak langsung melalui Hamengkubuwono IX. Maka itu, Leimena ditunjuk sebagai caretaker (pejabat sementara) Wakil Ketua Dewan Pertimbangan Agung (DPA) antara 1966 dan 1968. Seusai masa jabatannya habis, ia tetap menjadi anggota DPA sampai tahun 1973. Dalam ranah ini ia meluruskan isu-isu internal DPA, khususnya dalam perihal perpajakan, pendidikan, dan suksesi presiden. Ia juga ditunjuk sebagai direktur di Rumah Sakit Cikini pada tahun 1968. Selama masa Orde Baru, Leimena menjadi salah satu dari segelintir politisi yang tidak menjauhkan diri dari Soekarno.


Dalam pemilihan umum 1971, Leimena terpilih menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat, tetapi ia tidak dilantik. Seusai fusi antara Parkindo dan Partai Demokrasi Indonesia (PDI) pada tahun 1973, Leimena ditunjuk sebagai wakil ketua dewan pertimbangan pusat PDI.


Pandangan politik :

Tugas seorang Kristen Indonesia adalah memperlihatkan bahwa menjadi Kristen tidak ada sangkut pautnya dengan kolonialisme. Menjadi Kristen berarti hidup dalam dua dunia, sebagai anggota yang hidup dari bangsa sendiri dan juga sebagai anggota persekutuan orang-orang kudus di dalam Kristus.


Sebelum Indonesia merdeka, Leimena beberapa kali berbicara mengenai perbedaan antara gerakan Kristiani di skala internasional dan gerakan kemerdekaan Indonesia di skala nasional. 

Dalam pidato-pidato yang disampaikan dalam pertemuan DGI, Leimena mendorong pandangannya bahwa ada kesamaan kepentingan antara pihak gereja dan pihak negara.


Leimena merupakan seorang tokoh yang secara vokal menolak Darul Islam, separatisme, dan komunisme sehingga ia dinilai sehaluan dengan posisi politik Soekarno yang mendorong negara berdasarkan Pancasila serta dengan sejumlah tokoh Islam yang cenderung sosialis seperti Mohammad Natsir dan Syafruddin Prawiranegara. Menurut Soekarno, Leimena "berjiwa dominee, tetapi ia tak pernah berhenti melawan imperialisme-kolonialisme". Soekarno sendiri sering menyebut Leimena dengan julukan "mijn dominee" (pendetaku).

[17/7 18.58] rudysugengp@gmail.com: 6. Buatkan gambar dan infografis tentang 

G30S dan Supersemar Johannes Leimena


G30S dan Supersemar :


Biarlah saya terus saja disini, saya tidak akan lari, kalau mereka masuk pintu ini... biarkan saya mati, karena anak saya Karel Sadsuitubun telah meninggal dalam rangka tugas pengawalan terhadap diri saya.


— Leimena ke istrinya setelah mendengar berita kematian Sadsuitubun, 1 Oktober 1965.


Pada saat kejadian Gerakan 30 September (G30S) pada 1965, Leimena bertempat tinggal dekat rumah jenderal Abdul Haris Nasution yang menjadi salah satu sasaran utama pihak G30S. 

Pada dini hari itu, ada sekitar seratus orang yang terlibat upaya penculikan Nasution, dan karena Leimena dijaga secara pribadi oleh tiga orang pengawal, para penculik bermaksud untuk memastikan ketiga orang tersebut tidak mengganggu. Baku tembak pun terjadi dan seorang pengawal Leimena Karel Sadsuitubun gugur. 

Seusai kejadian tersebut, rumah Leimana tidak diusik lagi, dan Leimena sendiri tidak disentuh.

Begitu Leimena tahu bahwa pengawalnya terbunuh, ia menolak untuk melarikan diri dan berkeras untuk tinggal di rumah.

Sebelum peristiwa-peristiwa yang berlangsung menjadi jelas, Leimena awalnya dianggap sebagai sasaran utama para penculik dan laporan berita awalnya lebih berfokus ke kejadian di rumah Leimena. Bahkan, awalnya Soeharto (saat itu panglima Kostrad) diberitahu oleh Umar Wirahadikusumah bahwa Leimena telah ikut diculik.


Beberapa jam setelah peristiwa tersebut, masih di tanggal 1 Oktober, Leimena dipanggil oleh Soekarno ke Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma, tempat Soekarno sedang berunding dengan beberapa pimpinan G30S. Sebelum berangkat ke Halim, Leimena berdiskusi dengan Soeharto dan membawakan pesan dari Soeharto yang meminta Soekarno meninggalkan Halim sebelum pukul 16.30. Soeharto sebelumnya telah mengultimatum pihak G30S untuk meletakkan senjata sebelum pukul 16:30 dan mengancam akan menyerbu Halim apabila mereka tidak menyerah. Setelah tiba di Halim, Leimena terus berada di dekat Soekarno sepanjang sore itu. Setelah pembicaraan di sana dan persetujuan Soekarno untuk menggantikan Ahmad Yani yang baru dibunuh dengan Pranoto Reksosamudro sebagai Kepala Staf TNI Angkatan Darat, mereka diberitahukan bahwa Soeharto sedang mempersiapkan penyerbuan ke Halim. Tokoh-tokoh G30S seperti Omar Dhani mencoba meyakinkan Soekarno untuk mengikuti mereka ke Madiun, ke Jawa Timur atau ke Bali, tetapi Leimena berhasil memastikan bahwa Soekarno tidak dibawa pergi. 

Leimena menganggap bahwa apabila Soekarno mengikuti saran Dhani dkk, perang saudara dapat saja pecah. 

Karena Leimena, rencana pihak G30S yang ingin membawa Soekarno ke lokasi yang dikendalikan mereka digagalkan, dan Soekarno sendiri memutuskan untuk kembali ke Istana Bogor sehingga ia tidak dapat dilibatkan dalam rencana-rencana kudeta. 

Sore itu, pihak G30S di bawah Kolonel Untung Syamsuri mengumumkan "Dewan Revolusi Indonesia" yang termasuk Leimena, beserta banyak menteri dan petinggi negara lainnya.


Leimena kemudian ditunjuk sebagai Menteri Perguruan Tinggi dan Ilmu Pengetahuan ad interim dan pada tanggal 3 Maret 1966 ia memerintahkan universitas-universitas ditutup. 

Perintahnya diabaikan oleh kesatuan-kesatuan TNI yang mengawal aktivitas di kampus-kampus. Pada tanggal 11 Maret, Leimena ikut dalam suatu rapat kabinet di Jakarta, ketika sejumlah tentara memosisikan diri di depan Istana Presiden. 

Sore itu, Soekarno beserta ketiga Waperdam (Leimena, Subandrio, dan Chaerul Saleh) bertemu sejumlah jenderal TNI (Amirmachmud, M. Jusuf dan Basuki Rachmat) di Istana Bogor. 

Hasil dari pertemuan tersebut merupakan Surat Perintah Sebelas Maret yang pada dasarnya menyerahkan sejumlah besar kekuasaan darurat ke Soeharto. 

Tak lama kemudian, pada tanggal 16 Maret, pertemuan lain yang diikuti Leimena berlangsung, dan dalam pertemuan itu Soekarno menolak permintaan untuk merombak kabinetnya. 

Akan tetapi, pada tanggal 18 Maret 1966, 15 orang menteri Soekarno ditangkap. 

Meskipun demikian, Leimena tetap menjabat sebagai menteri dan ditunjuk sebagai anggota bagian kabinet beranggotakan lima orang: Leimena, Hamengkubuwono IX, Idham Chalid, Adam Malik, dan Ruslan Abdulgani. 

Ia pada waktu itu sudah menjabat sebagai menteri dalam berbagai kabinet selama hampir dua puluh tahun.

[17/7 18.58] rudysugengp@gmail.com: 5. Buatkan gambar dan infografis tentang 

Demokrasi Terpimpin Johannes Leimena


Demokrasi Terpimpin :

Setelah Kabinet Ali Sastroamidjojo II jatuh, Leimena menyatakan bahwa kabinet-kabinet kedepannya harus bersifat lebih inklusif dan mencakup partai-partai yang sebelumnya tidak masuk dalam pemerintahan. Leimena sendiri diikutsertakan dalam Kabinet Djuanda, awalnya sebagai Menteri Sosial ketika kabinet tersebut diumumkan tanggal 9 April 1957, tetapi ia ditunjuk sebagai Wakil Perdana Menteri (Waperdam) tahun itu juga. Sejak bulan Mei 1957, Leimena menjadi anggota Dewan Nasional dan masih pada tahun itu ia ditunjuk sebagai anggota Panitia 7 orang yang bertugas untuk menangani permasalahan dalam TNI Angkatan Darat beserta Presiden dan Wapres Soekarno dan Mohammad Hatta, Perdana Menteri Djuanda Kartawidjaja, Kasad TNI AD Abdul Haris Nasution, Sultan Hamengkubuwono IX, dan Menkes Abdul Azis Saleh. Leimena dianggap seorang loyalis Soekarno yang masih mendukung Soekarno seusai Dekret Presiden 5 Juli 1959. Dikarenakan kesibukan Leimena dalam pemerintahan, jabatan ketua umum Parkindo didelegasikan ke Albert Mangaratua Tambunan.


Seusai Dekret 1959, Leimena ditunjuk menjadi Menteri Distribusi, lalu kembali menjadi Waperdam. Dalam kapasitasnya sebagai Menteri Distribusi, Leimena memandang pentingnya memperbaiki asupan gizi untuk meningkatkan produktivitas pekerja, sehingga ia bertekad untuk mencapai swasembada beras. Untuk mencapai target ini, ia mendorong memajukan pertanian intensif di pulau Jawa, dan memperluas lahan pertanian di luar Jawa. Meskipun rencana Leimena dianggap ambisius, implementasinya menghadapi masalah karena perlunya koordinasi dengan kementerian-kementerian lainnya.


Selama Operasi Trikora, Leimena menjadi anggota Komando Operasi Tertinggi. Dalam kapasitas ini, ia diberikan pangkat tituler sebagai Laksamana Madya pada tahun 1962 dan Laksamana (bintang empat) pada tahun 1964. Djuanda mendadak wafat pada bulan November 1963, sehingga presiden Soekarno membentuk presidium beranggotakan tiga orang yang terdiri dari Leimena, Subandrio dan Chaerul Saleh untuk memimpin kabinet. Selama masa demokrasi terpimpin ini, Leimena yang dikenal berpihak ke Soekarno dinilai berbakat dalam menangani kalangan politikus dan elite lainnya, meskipun ia tidak begitu sukses dalam menggalang dukungan masyarakat umum. Ia sempat tujuh kali menjabat sebagai penjabat Presiden selama masa ini.

[17/7 18.59] rudysugengp@gmail.com: 4. Buatkan gambar dan infografis tentang 

Sukses sebagai Menkes

Johannes Leimena


Sebagai Menkes :

Leimena (baris kedua, kedua dari kiri) beserta Kabinet Natsir

Ketika perang kemerdekaan sudah usai, kondisi pelayanan kesehatan masyarakat di Indonesia berada di bawah harapan para pemimpin Republik, karena pemerintah kolonial yang kurang peduli, malnutrisi dan pengambilalihan rumah sakit selama pendudukan militer Jepang. Ditambah lagi oleh keributan selama masa perang kemerdekaan. Sebagai Menteri Kesehatan, Leimena memandang kesehatan masyarakat sebagai komponen penting untuk pembangunan Indonesia dan untuk memajukan sosioekonomi masyarakat, karena itu ia berfokus untuk mengembangkan sistem profilaksis (pencegahan) dan kebersihan di wilayah-wilayah pedesaan. Kebijakan ini bertolakbelakang dengan kebijakan zaman kolonial, yang memfokuskan pelayanan kesehatan di wilayah perkotaan.


Pada tahun 1950, pemerintah daerah Bandung merintis proyek kesehatan yang berdasarkan jaringan rumah sakit misionaris seperti tempat Leimena sempat bekerja, dengan sejumlah klinik di pedesaan yang mendukung jalannya pelayanan dari rumah sakit pusat di kota. Sistem ini dijalankan dengan sistemnya sendiri dan diarahkan oleh dokter kepala di tingkatan kabupaten. Sistem ini, yang dikenal dengan istilah "Bandung Plan" (alias "Leimena Plan", didukung oleh Leimena, dan berdasarkan hasil kerjanya di RS Zending Imanuel. Bandung Plan ini awalnya direncanakan akan diimplementasikan di seluruh Indonesia pada tahun 1954, tetapi rencana ini batal karena masalah administratif dan ketersediaan anggaran. Di luar kedua masalah tersebut, ketersediaan dokter menjadi faktor lainnya. Banyak dokter warga Indonesia yang menjadi perwira militer atau politikus sedangkan dokter keturunan Eropa banyak yang meninggalkan Indonesia setelah perang kemerdekaan. Walaupun terhalang oleh rintangan-rintangan tersebut, Bandung Plan menjadi landasan dari sistem Puskesmas yang mulai diluncurkan pada akhir tahun 1960-an.


Selain itu, masalah angka kematian ibu dan anak yang cukup tinggi juga menjadi perhatian Leimena. Pada tahun 1951, statistik di rumah sakit besar menunjukkan angka kematian ibu melahirkan mencapai 12-16%, yang artinya ada 12-16 kematian per 1000 ibu melahirkan. Angka kematian bayi mencapai 115-300%, yang artinya ada 115-300 kematian per 1000 bayi yang dilahirkan. Angka mortalitas ibu dan bayi selain di rumah sakit besar diperkirakan lebih tinggi lagi. Sebagai menteri kesehatan, Leimena menginisiasi pendirian Balai Kesehatan Ibu dan Anak (BKIA) pada 1951.


Di bawah kepemimpinan Leimena, sejumlah UU yang berkaitan dengan kesehatan masyarakat disetujui Dewan Perwakilan Rakyat, termasuk UU yang mencakup aturan yang mewajibkan dokter bekerja sebagai dokter pemerintah minimal tiga tahun sebelum menjadi dokter swasta, memperbolehkan pemerintah melarang klinik-klinik swasta, dan memungkinkan pemerintah untuk mengambil alih jasa medis swasta dalam keadaan genting. Pada tahun 1952, Leimena juga merumuskan peraturan yang membatasi perizinan membuka praktek kesehatan hanya kepada dokter yang memenuhi kualifikasi dan bukan kepada praktisi medis lain seperti perawat atau bidan. Dalam hal gizi, Leimena membentuk Lembaga Makanan Rakyat yang berfungsi mendidik masyarakat mengenai nutrisi.


Pada tahun 1953, Leimena melakukan kunjungan kerja ke Eropa dengan pendanaan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Di Eropa, ia mengamati sistem kesehatan publik di Norwegia, Britania Raya (National Health Service), dan Yugoslavia. Dalam perjalanan pulang, ia juga berkunjung ke Mesir, India, dan Singapura untuk berpartisipasi dalam kuliah dan diskusi publik selain juga mempelajari sistem kesehatan di sana. Leimena terkesan khususnya oleh sistem kesehatan di Norwegia yang mengaitkan pentingnya asupan gizi dan kondisi kerja dalam kesehatan publik. Dalam hal urusan luar negeri, Leimena khawatir akan kemungkinan bantuan kesehatan yang digunakan negara maju untuk memengaruhi kebijakan luar negeri dan politik internal Indonesia, sehingga ia menyerukan agar bantuan kesehatan diberikan tanpa syarat. Periode pertamanya sebagai Menkes berakhir tanggal 30 Juli 1953. Leimena kemudian kembali menjabat sebagai Menkes dalam Kabinet Burhanuddin Harahap pada 12 Agustus 1955.


Dalam bulan-bulan terakhir Kabinet Burhanuddin Harahap, Leimena diutus ke Jenewa untuk merundingkan masalah Irian Barat dengan Belanda. Meskipun delegasinya berhasil mendapatkan persetujuan delegasi Belanda terhadap penghapusan Uni Belanda-Indonesia dan sejumlah konsesi ekonomisi lainnya, pergolakan politik di Indonesia mengakibatkan delegasi tersebut dipanggil kembali. Leimena tinggal di Jenewa selama beberapa waktu dan merasa frustasi, sampai ia sempat mempertimbangkan untuk mundur dari jabatannya karena merasa "seperti nelayan yang sudah menangkap ikan, disuruh dilempar kembali". Setelah jatuhnya Kabinet Burhanuddin Harahap, Ali Sastroamidjojo dengan sengaja tidak mengundang menteri-menteri dalam kabinet tersebut untuk kembali menjadi menteri, sehingga Leimena tidak lagi menjabat sebagai menteri kesehatan. Sekitar waktu itu, Leimena sudah terpilih menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat dari dapil Maluku dan fraksi Parkindo seusai Pemilu 1955. Setelah DPR hasil pemilihan umum tersebut dibubarkan pada tahun 1959, Leimena ditunjuk kembali sebagai anggota DPR transisional oleh Soekarno. Namun, ia tidak hadir dalam pengambilan sumpah jabatan DPR pada tanggal 23 Juli 1959 dan ia pun mengundurkan diri dari DPR beberapa minggu kemudian. Leimena juga terpilih sebagai anggota Konstituante dari dapil Maluku dan menjadi wakil ketua lembaga tersebut, tetapi mengundurkan diri setahun kemudian karena ditunjuk sebagai menteri.


Di luar jabatan menterinya, Leimena turut serta dalam organisasi Dewan Gereja Indonesia (sekarang menjadi Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia, PGI) dan terpilih sebagai wakil ketuanya pada tahun 1950. Jabatan ini dipegang Leimena sampai tahun 1964 dan sejak tahun itu hingga ia wafat, ia memegang jabatan ketua kehormatan. Pada tahun 1950 juga, Leimena mendirikan Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia.

[17/7 19.00] rudysugengp@gmail.com: 3. Buatkan gambar dan infografis tentang 

Revolusi dan RMS

Johannes Leimena


Revolusi dan RMS :

Pada saat Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, Leimana sedang bertugas di Tangerang. Seusai tewasnya 30 orang kadet TKR dalam peristiwa Lengkong, Leimena merawat sejumlah korban luka dan selama menjalankan tugas ini Leimena bertemu Soekarno yang menjenguk korban. Dua bulan setelah peristiwa ini ia diundang untuk menjadi Menteri Muda Kesehatan dalam Kabinet Sjahrir II. Awalnya ia menolak karena tugasnya sebagai dokter, tetapi kawannya Amir Sjarifuddin mendorongnya untuk menerima tawaran tersebut. Leimena ditunjuk sebagai Menteri Kesehatan dalam Kabinet Amir Sjarifuddin I yang dibentuk tanggal 3 Juli 1947, dan terus menjabat sebagai Menkes sampai jatuhnya Kabinet Wilopo pada tahun 1953. Selama periode revolusi, Leimena juga berperan dalam pendirian Parkindo tahun 1947 dan menjadi anggota pimpinan partai. Belakangan Leimena ditunjuk menjadi Ketua Umum Parkindo seusai Kongres III Parkindo April 1950.


Di luar jabatannya sebagai menteri Leimena juga menjabat Ketua Umum organisasi Pemuda Indonesia Maluku (PIM), sebuah organisasi yang didirikan oleh Johannes Latuharhary yang beranggotakan pemuda Ambon yang mendukung kemerdekaan Indonesia. Meskipun kedua tokoh tersebut dihormati oleh anggota-anggota PIM, pengaruh mereka atas kegiatan PIM sehari-hari terbatas karena kurangnya koordinasi PIM (yang bergerak di Indonesia Timur) dengan tokoh-tokoh di pulau Jawa. Selama menjabat menteri, Leimena awalnya tinggal di Jakarta, tetapi pada tahun 1946 ia pindah ke Yogyakarta karena tentara Belanda yang kelamaan semakin banyak di Jakarta. Leimena dikirim sebagai anggota tim perundingan dalam berbagai perjanjian – Perundingan Linggarjati tahun 1946, Perjanjian Renville dan Perjanjian Roem-Roijen tahun 1948, dan Konferensi Meja Bundar tahun 1949 (sebagai anggota delegasi militer). Leimena merupakan salah seorang menteri RI yang tidak tertangkap selama Agresi Militer Belanda II, dan pada bulan Januari 1949 ia turut berunding dengan perwakilan negara-negara bagian Republik Indonesia Serikat di Jakarta.


Setelah kedaulatan diserahkan ke Indonesia, Republik Maluku Selatan dideklarasikan di Ambon, sehingga Leimena diutus sebagai kepala juru runding pemerintah ("misi Leimena") beserta kapal perang KRI Hang Tuah. Sebelumnya, Leimena berencana terbang ke Ambon, tetapi keputusannya dianulir Menteri Pertahanan. Para pemimpin RMS tidak bersedia menerima undangan Leimena untuk berunding di atas kapal Hang Tuah dan meminta agar perundingan dilangsungkan di atas kapal berbendera netral di bawah pengawasan Perserikatan Bangsa-Bangsa. Mereka juga meminta agar dalam perundingan RMS diberlakukan sebagai suatu negara merdeka, dan permintaan ini tidak dapat diterima tim perundingan Indonesia. Setelah beberapa kali gagal, Leimena kembali dikirim pada Juni 1950 untuk mencoba lagi, tetapi kali ini gagal karena tidak adanya jalur transportasi ke Maluku. Pada tanggal 27 September, Leimena diutus kembali ke Namlea, Buru dengan wewenang memberikan amnesti ke pemimpin RMS dan untuk merundingkan otonomi khusus, tetapi sehari kemudian TNI mendarat di Ambon sebelum perundingan dapat bermulai.

[17/7 19.01] rudysugengp@gmail.com: 2. Buatkan gambar dan infografis tentang 

Karier dan Era Jepang Johannes Leimena


Karier dan Era Jepang 

Masa Hindia Belanda

Setelah lulus dari STOVIA, Leimena mulai bekerja di Centraal Burgerlijke Ziekenhuis (sekarang RS Cipto Mangunkusumo). Ia sempat ditugaskan ke Keresidenan Kedu seusai meletusnya Gunung Merapi pada tahun 1930, sebelum pindah ke RS Zending Imanuel di Bandung. Di Bandung ia diberikan tanggung jawab untuk melatih perawat-perawat baru sejak tahun 1936, dan ia bekerja sama dengan sejumlah bidan dan klinik yang beroperasi di sekitar rumah sakit. Karena banyak rakyat Muslim setempat yang ragu untuk berobat ke rumah sakit misionaris Kristen, Leimena memulai sistem pengumpan dengan poliklinik-poliklinik di desa-desa yang dijalankan oleh mantri-mantri setempat untuk menyediakan pelayanan kesehatan, khususnya fungsi pencegahan penyakit.


Selagi menjadi dokter, ia juga melanjutkan studinya dan pada tahun 1939 ia lulus dari Geneeskundige Hoogeschool te Batavia sebagai seorang dokter spesialis penyakit hati. Pada tahun 1941, ia ditunjuk menjadi kepala RS Banyu Asin di Purwakarta. Seusai invasi Jepang, RS Banyu Asin sempat diduduki pasukan Jepang untuk sementara sebelum Leimena diperbolehkan kembali bekerja. Leimena ditahan oleh tentara pendudukan Jepang pada tahun 1943, kemungkinan karena perkawanannya dengan Amir Sjarifuddin atau karena ia merawat tentara Belanda yang terluka dalam Pertempuran Kalijati. Selama enam bulan di dalam tahanan, Leimena dipukuli oleh tentara Jepang. Ia dilepaskan setelah merawat perwira Kenpeitai yang terjangkit malaria sampai sembuh, tetapi tempat kerjanya dipindahkan dari Purwakarta ke Tangerang.

[17/7 19.17] rudysugengp@gmail.com: 1. Buatkan gambar dan infografis tentang 

Kehidupan Awal Achmad Subarjo


Informasi pribadi

Raden Ahmad Soebardjo Djojoadisoerjo

Lahir :

23 Maret 1896

Karawang, Hindia Belanda

Meninggal :

15 Desember 1978 (umur 82)

Jakarta, Indonesia

Istri :

Raden Ayu Poedji Astuti Soebardjo

Almamater :

Universitas Leiden

Profesi :

Diplomat


Awal mula :

Achmad Soebardjo dilahirkan di Teluk Jambe, Karawang, Keresidenan Batavia, pada 23 Maret 1896. Ayahnya bernama Teuku Muhammad Yusuf, masih keturunan bangsawan Aceh dari Pidie. Kakek Achmad Soebardjo dari pihak ayah adalah Ulee Balang dan ulama di wilayah Lueng Putu, sedangkan Teuku Yusuf adalah pegawai pemerintahan dengan jabatan Mantri Polisi di wilayah Teluk Jambe, Karawang. Ibu Achmad Soebardjo bernama Wardinah. Ia keturunan Jawa-Bugis, dan merupakan anak dari Camat di Telukagung, Cirebon.


Ayahnya mulanya memberinya nama Teuku Abdul Manaf, sedangkan ibunya memberinya nama Achmad Soebardjo. Nama Djojoadisoerjo ditambahkannya sendiri setelah dewasa, saat ia ditahan di penjara Ponorogo karena "Peristiwa 3 Juli 1946".


Ia bersekolah di Hogere Burger School, Jakarta (saat ini setara dengan Sekolah Menengah Atas) pada tahun 1917. Ia kemudian melanjutkan pendidikannya di Universitas Leiden, Belanda dan memperoleh ijazah Meester in de Rechten (saat ini setara dengan Sarjana Hukum) di bidang undang-undang pada tahun 1933.

[17/7 19.18] rudysugengp@gmail.com: 2. Buatkan gambar dan infografis tentang 

Perjuangan 

Achmad Subarjo


Riwayat perjuangan :

Semasa masih menjadi mahasiswa, Soebardjo aktif dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia melalui beberapa organisasi seperti Jong Java dan Persatuan Mahasiswa Indonesia di Belanda. Pada 1920 - 1921 ia menjadi Ketua Indische Vereeniging (IV) sebelum berubah menjadi Perhimpunan Indonesia.


Ahmad Subardjo memiliki peran besar dalam menanamkan ide dan arah politik yang kemudian mendorong perubahan nama itu.

Dalam masa kepemimpinannya (1920–1921), ia menegaskan bahwa perjuangan mahasiswa harus mengarah pada kemerdekaan Indonesia, bukan hanya kegiatan sosial.

Ia memperkenalkan istilah “Indonesia” secara konsisten dalam diskusi, tulisan, dan komunikasi organisasi, jauh sebelum nama itu resmi digunakan.

Dengan kata lain, gagasannya mempersiapkan “jiwa” organisasi untuk menjadi Perhimpunan Indonesia.

Beberapa catatan internal organisasi (termasuk testimoni Hatta) menyebut bahwa:

“Nama Perhimpunan Indonesia adalah kelanjutan alami dari arah politik yang sudah ditanamkan oleh Subardjo dan rekan-rekan sebelum 1925.”  

Bulan Februari 1927, ia pun menjadi wakil Indonesia bersama dengan Mohammad Hatta dan para ahli gerakan-gerakan Indonesia pada persidangan antarbangsa "Liga Menentang Imperialisme dan Penindasan Penjajah" yang pertama di Brussels dan kemudiannya di Jerman. Pada persidangan pertama itu juga ada Jawaharlal Nehru dan pemimpin-pemimpin nasionalis yang terkenal dari Asia dan Afrika. Sewaktu kembalinya ke Indonesia, ia aktif menjadi anggota Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), dan kemudian Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI).


Peristiwa Rengasdengklok :


Pada tanggal 16 Agustus 1945 Para pemuda pejuang, termasuk Chaerul Saleh, Sukarni, dan Wikana, Shudanco Singgih, dan pemuda lain, membawa Soekarno dan Moh. Hatta ke Rengasdengklok. Tujuannya adalah agar Ir. Soekarno dan Drs. Moh. Hatta tidak terpengaruh oleh Jepang.Peristiwa ini dinamakan Peristiwa Rengasdengklok.


Di sini, mereka kembali meyakinkan Soekarno bahwa Jepang telah menyerah dan para pejuang telah siap untuk melawan Jepang, apa pun risikonya. Di Jakarta, golongan muda, Wikana, dan golongan tua, yaitu Achmad Soebardjo melakukan perundingan. Achmad Soebardjo menyetujui untuk memproklamasikan kemerdekaan Indonesia di Jakarta. Maka diutuslah Yusuf Kunto untuk mengantar Achmad Soebardjo ke Rengasdengklok. Achmad Soebardjo berhasil meyakinkan para pemuda untuk tidak terburu-buru memproklamasikan kemerdekaan. Bahkan Achmad Soebardjo memberikan jaminan dengan taruhan nyawa bahwa proklamasi kemerdekaan akan diumumkan pada tanggal 17 Agustus 1945 selambat-lambatnya pukul 11.30. Dengan adanya jaminan itu, Komandan Kompi Peta Rengasdengklok Cudanco Subeno bersedia melepaskan Soekarno dan Hatta kembali ke Jakarta.


Naskah proklamasi :

Konsep naskah proklamasi disusun oleh Bung Karno, Bung Hatta, dan Achmad Soebardjo di rumah Laksamana Muda Maeda. Setelah selesai dan beragumentasi dengan para pemuda, dinihari 17 Agustus 1945, Bung Karno pun segera memerintahkan Sayuti Melik untuk mengetik naskah proklamasi.



Masa setelah kemerdekaan :

Pada tanggal 18 Agustus 1945, Soebardjo dilantik sebagai Menteri Luar Negeri pada Kabinet Presidensial, kabinet Indonesia yang pertama, dan kembali menjabat menjadi Menteri Luar Negeri sekali lagi pada tahun 1951 - 1952. Selain itu, ia juga menjadi Duta Besar Republik Indonesia di Switzerland antara tahun-tahun 1957 - 1961.


Beliau pernah ditahan di penjara Ponorogo karena "Peristiwa 3 Juli 1946".

[17/7 19.18] rudysugengp@gmail.com: 3. Buatkan gambar dan infografis tentang 

Akhir Hayat dan Penghargaan 

Achmad Subarjo


Wafat :

Achmad Soebardjo Djojoadisoerjo meninggal dunia dalam usia 82 tahun (15 Desember 1978) di Rumah Sakit Pertamina, Kebayoran Baru, akibat flu yang menimbulkan komplikasi. 

Ia dimakamkan di rumah peristirahatnya di Cipayung, Bogor.


Gelar Pahlawan Nasional untuk Achmad Soebardjo disahkan melalui Keputusan Presiden (Keppres) RI yaitu Keppres Nomor 042/TK/Tahun 2009, yang ditetapkan pada 6 November 2009 di era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.


Tanda Kehormatan

 Indonesia :

 Bintang Republik Indonesia Utama (12 Agustus 1992)

 Bintang Mahaputera Adipradana (19 Mei 1973).


Dalam bidang pendidikan, Soebardjo merupakan profesor dalam bidang Sejarah Perlembagaan dan Diplomasi Republik Indonesia di Fakultas Kesusasteraan, Universitas Indonesia.

[17/7 21.29] rudysugengp@gmail.com: 1. Buatkan gambar dan infografis tentang 

Kehidupan Awal Johannes Abraham Dimara 


Mayor TNI Johannes Abraham Dimara (16 April 1916 – 20 Oktober 2000) adalah salah satu Pahlawan Nasional Indonesia yang berasal dari Papua. Saat ini nama Johannes Abraham Dimara diabadikan menjadi nama Pangkalan Udara TNI AU yang berada di Merauke tepatnya pada tanggal 24 September 2018.


Johannes Abraham Dimara

Lahir :

16 April 1916

Korem, North Biak, Biak Numfor, Hindia Belanda

Meninggal :

20 Oktober 2000 (umur 84)

Jakarta, Indonesia

Dikebumikan :

Kalibata, Jakarta Selatan


Latar belakang :

Johannes Abraham Dimara dilahirkan di Korem, Biak Utara, Papua, pada 16 April 1916. Ia tamat pendidikan dasar di Ambon pada tahun 1930. Ia kemudian masuk Sekolah Pertanian di Laha hingga tahun 1940. Ia kemudian masuk Sekolah Pedidikan Injil, dan setelah lulus ia menjadi seorang guru injil di Pulau Buru.

[17/7 21.30] rudysugengp@gmail.com: 2. Buatkan gambar dan infografis tentang 

Perjuangan Johannes Abraham Dimara 


Pada tahun 1946, ia ikut serta dalam Pengibaran Bendera Merah Putih di Namlea, pulau Buru. Ia turut memperjuangkan pengembalian wilayah Irian Barat ke tangan Republik Indonesia. Pada tahun 1950, ia diangkat menjadi Ketua OPI (Organisasi Pembebasan Irian Barat). Ia pun menjadi anggota TNI dan melakukan infiltrasi pada tahun 1954 yang menyebabkan ia ditangkap oleh tentara Kerajaan Belanda dan dibuang ke Digul, hingga akhhinya dibebaskan tahun 1960.


Ketika Presiden Soekarno mengumandangkan Trikora, ia menjadi contoh sosok orang muda Papua dan bersama Bung Karno ikut menyerukan Trikora di Yogyakarta. Ia juga turut menyerukan seluruh masyarakat di wilayah Irian Barat supaya mendukung penyatuan wilayah Irian Barat ke dalam pangkuan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pada tahun 1962, diadakanlah Perjanjian New York. Ia menjadi salah satu delegasi bersama Menteri Luar Negeri Indonesia. Isi dari perjanjian itu akhirnya mengharuskan pemerintah Kerajaan Belanda untuk bersedia menyerahkan wilayah Irian Barat ke tangan pemerintah Republik Indonesia. Maka mulai dari saat itu wilayah Irian Barat masuk menjadi salah satu bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia.


Ketika pawai 17 Agustus di depan istana, Dimara mengenakan rantai yang terputus. Bung Karno melihat itu dan terinspirasi membuat patung pembebasan Irian Barat. Maka, dibuatlah patung pembebasan Irian Barat di lokasi yang hanya berjarak tidak sampai 1,5 km dari Istana negara, di Lapangan Banteng. Dimara menceritakan hal itu dalam buku yang ditulis oleh Carmelia Sukmawati berjudul, Fai Do Ma, Mai Do Fa, Lintas Perjuangan Putra Papua, J.A. Dimara (2000).


Lintas perjuangan :

Johanes abraham dimara berperan besar dalam memperjuangkan kedaulatan indonesia.pasca proklamasi kemerdekaan indonesia pada 17 agustus 1945 koloniel belanda yang berusaha merebut kembali kendali atas indonesia melaluai operasi NICA (Netherlands Indies Civil Administration).


pada tahun 1949 ia bersama beberapa pemuda melakukan aksi perlawanan terhadap NICA, yang di mulai dengan merebut kontrol atas namlea,pusat administrasi di pulau buru.


Ia kemudian dipenjara oleh otoritas kolonial dan dijatuhi hukuman selama dua puluh tahun. Meski berada di penjara, semangat perjuangan Dimara tidak pernah padam. Ia bahkan berusaha melarikan diri dari penjara di Ambon, tetapi akhirnya ditangkap kembali dan dikirim ke penjara yang lebih ketat di Digul, sebuah penjara yang terkenal untuk tahanan politik selama masa penjajahan Belanda.

[17/7 21.30] rudysugengp@gmail.com: 3. Buatkan gambar dan infografis tentang 

Akhir Hayat dan Penghargaan Johannes Abraham Dimara 


Menjadi Pahlawan Nasional :

Atas segala jasa-jasanya, bersama Dr. J. Leimena ia diangkat menjadi Pahlawan Nasional Indonesia pada tahun 2010. Johanes Abraham dimara diangkat pangkatnya oleh presiden dari penbantu Letnan menjadi mayor.


Kematian :

Johannes Abaraham Dimara meninggal pada tanggal 20 Oktober 2000 di Jakarta. Jenazahnya dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata.


Penghargaan :

Satyalancana Perang Kemerdekaan Kesatu

Satyalancana Peristiwa Perang Kemerdekaan Kedua

Satyalancana Satya Dharma

Satyalancana Bhakti

Satyalancana Gerakan Operasi Militer III

Satyalancana Perintis Pergerakan kemerdekaan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

1 - 216

  PAHLAWAN NASIONAL (1959 - 2025) Presiden 1 (Sukarno) 49 (1  49) No. 1 Nama  : Abdoel Moeis Dasar Penetapan : Keppres No. 218 Tahun 19...