Jumat, 12 Desember 2025

Kedatangan Bangsa portugis di Indonesia

 

Kedatangan Bangsa portugis di Indonesia

1511

Kedatangan Bangsa portugis di Indonesia

Alfonso d’Albuquerque berhasil menduduki Malaka yang menjadi tempat penting bagi perdagangan rempah-rempah. Dalam perkembangannya, penguasaan Portugis terhadap Malaka memicu berbagai perlawanan rakyat Indonesia. Beberapa perlawanan terhadap Portugis, yaitu:

Rakyat Aceh

Rakyat Maluku

Perlawanan rakyat aceh terhadap portugis

1511

Perlawanan rakyat aceh terhadap portugis

Pada abad XV Aceh merupakan salah satu bandar perdagangan penting di wilayah Kepulauan Indonesia bagian barat. Kedudukan Aceh sebagai bandar perdagangan tidak terlepas dari jatuhnya Malaka ke tangan Portugis pada 1511. Perkembangan Aceh menjadi bandar perdagangan dipandang Portugis sebagai

ancaman. Oleh karena itu, Portugis ingin memonopoli dan menaklukkan Aceh. Menanggapi aksi Portugis tersebut, rakyat Aceh melakukan perlawanan.

Advertisements


Kedatangan Bangsa Spanyol di Indonesia

1519

Kedatangan Bangsa Spanyol di Indonesia

Ambisi Portugis yang ingin memonopoli perdagangan di wilayah Aceh.

Portugis melarang orang-orang Aceh berlayar untuk berdagang melewati Laut Merah.

Penangkapan kapal-kapal Aceh oleh Portugis.

Latar belakang terjadinya perlawanan rakyat Aceh terhadap Portugis

1523

Latar belakang terjadinya perlawanan rakyat Aceh terhadap Portugis

Ambisi Portugis yang ingin memonopoli perdagangan di wilayah Aceh.

Portugis melarang orang-orang Aceh berlayar untuk berdagang melewati Laut Merah.

Penangkapan kapal-kapal Aceh oleh Portugis.

Upaya pertahanan diri kapal-kapal dagang Aceh

1523

Upaya pertahanan diri kapal-kapal dagang Aceh

Melengkapi kapal-kapal dagang Aceh dengan persenjataan seperti meriam dan menempatkan prajurit untuk pengawalan.

Mendatangkan bantuan persenjataan, tentara, dan tenaga-tenaga ahli dari Turki.

Mendatangkan bantuan persenjataan dari Kalikut (India) dan Jepara.

Portugis menyerang Aceh

1523

Portugis menyerang Aceh

Pada 1523 dan 1524 Portugis melancarkan serangan ke Aceh. Akan tetapi, kedua serangan tersebut mengalami kegagalan. Kegagalan dalam kedua serangan tersebut menjadikan Portugis terus mencari

cara melemahkan posisi Aceh sebagai pusat perdagangan.

Advertisements


Aceh melawan Portugis

1529

Aceh melawan Portugis

Pasukan Aceh di bawah pimpinan Sultan Iskandar Muda kembali melakukan serangan terhadap Portugis . Serangan dilakukan secara besar-besaran sehingga membuat Portugis kewalahan dan harus mengerahkan semua kekuatan untuk menghadapi pasukan Sultan Iskandar Muda. Meskipun demikian, serangan pasukan Iskandar Muda belum berhasil mengusir Portugis dari Malaka. Sepeninggal Sultan Iskandar Muda, Kesultanan Aceh dipimpin oleh Sultan Iskandar Thani yang kurang cakap, sehingga mengalami kemunduran.

Perlawanan Rakyat Ternate

1533

Perlawanan Rakyat Ternate

Pada awalnya, Ternate bekerjasama dengan bangsa Portugis untuk memerangi Tidore. Namun, koalisi ini akhirnya mengalami perpecahan. Peperangan mulai dilancarkan oleh rakyat Ternate pada 1530-an, ketika sultan-sultan mereka dilanggar kedaulatannya oleh Portugis.

Advertisements


Perlawanan Rakyat Hitu

1537

Perlawanan Rakyat Hitu

Pasukan Hitu bersama pasukan bantuan dari Jepara menyerang Hatiwe terlebih dulu. Dalam pertempuran ini, pihak Portugis kembali menderita kekalahan di mana pasukannya banyak yang tewas dan senjatanya dirampas oleh pejuang Hitu. Pada 1537 M dan 1570 M, pasukan Hitu dan Portugis kembali terlibat dalam pertempuran sengit. Setelah sempat terdesak oleh kekuatan Portugis, Hitu akhirnya mampu mengusir Portugis pada 1574 M, dibantu oleh pasukan dari Seram Barat.

Perlawanan Sultan Khairun

1565

Perlawanan Sultan Khairun

Di Ternate, salah satu tokoh perlawanan yang paling terkenal adalah Sultan Khairun, yang mulai melakukan serangan pada 1565 M. Sultan Khairun terus menggempur benteng-benteng Portugis hingga membuat kedudukannya terdesak. Menghadapi situasi itu, Portugis menangkap dan mengasingkan Sultan Khairun di sebuah benteng.

Portugis meninggalkan Ternate

1576

Portugis meninggalkan Ternate

pemberontakan terjadi dimana-mana dengan menjadikan bangsa Portugis sebagai sasaran. Akhirnya, sebelum tahun 1576, wilayah Ternate sudah ditinggalkan oleh para bangsa Portugis.

Kekuasaan Portugis telah runtuh

1605

Kekuasaan Portugis telah runtuh

Seluruh kekuasaan Portugis yang ada di Maluku telah jatuh dan suku-suku kerajaan pribumi juga mendukung aksi perebutan kekuasaan tersebut. Hingga akhirnya, hanya tersisa benteng Sao Paulo yang masih dalam pengepungan. Selama lima tahun lamanya, orang-orang Portugis hidup menderita di dalam benteng dan terputus dari dunia luar, sebagai balasan atas pengkhianatan mereka terhadap Sultan Khairun.

Advertisements


Perlawanan di era Sultan Iskandar Muda

1607

Perlawanan di era Sultan Iskandar Muda

Dalam upaya melawan Portugis di Malaka, Sultan Iskandar Muda berusaha melipatgandakan kekuatan pasukannya. Angkatan Laut Aceh diperkuat dengan kapal-kapal besar yang dapat memuat 600–800 prajurit. Pasukan kavaleri dilengkapi dengan kuda-kuda dari Persia. Aceh juga membentuk pasukan gajah dan milisi infanteri. Sementara itu, untuk mengamankan wilayahnya, Aceh menempatkan pasukan pengawas di jalur-jalur perdagangan.

Blokade Perdagangan


1634

Blokade Perdagangan

Untuk melumpuhkan kekuatan bangsa Portugis, Kesultanan Aceh melakukan blokade perdagagan. Yaitu, melarang rakyat Aceh untuk menjual lada dan timah kepada Portugis. Tapi, hasil tersebut tidak begitu sempurna dikarenakan penguasa kecil Malaka secara sembunyi-sembunyi menjual lada dan timah kepada bangsa Portugis.



Latar belakang perlawanan Rakyat Maluku terhadap Portugis

1635

Latar belakang perlawanan Rakyat Maluku terhadap Portugis

Hubungan baik antara rakyat Maluku dan Portugis mulai retak karena adanya politik monopoli perdagangan rempah. Keserakahan Portugis yang ditunjukkan dengan mematok rendah harga cengkih, membuat rakyat Ternate bahkan Maluku sengsara. Praktik monopoli juga dilakukan dengan melarang penduduk berdagang rempah dengan bangsa lain dan menangkap kapal-kapal dagang penduduk. Selain itu, bangsa Portugis juga kerap menyebarkan agama Katolik melalui paksaan, dan mencampuri urusan internal kerajaan.

Latar belakang Perlawanan Rakyat Minahasa


1644

Latar belakang Perlawanan Rakyat Minahasa

Sejarah perlawanan rakyat Minahasa, Sulawesi Utara terhadap Spanyol terjadi tahun 1644 hingga 1654. Perang ini disebabkan oleh ketidaksenangan rakyat Minahasa terhadap usaha monopoli perdagangan yang dilakukan oleh Spanyol. selain itu, bangsa spanyol masuk ke Minahasa untuk melanjutkan upaya bangsa portugis dalam menyebarkan ajaran Nasrani.

Puncak perlawanan Rakyat Minahasa


1644

Puncak perlawanan Rakyat Minahasa

Ketidaksenangan rakyat atas perilaku tentara Spanyol memuncak pada 1644. Tentara Spanyol yang sedang memasuki desa memukul dan melukai salah seorang pemimpin rakyat Minahasa yang ada di Tomohon. Rakyat Minahasa menganggap perbuatan itu sudah keterlaluan dan menurunkan martabat serta harga diri pemimpin yang dihormati oleh seluruh rakyat. Peristiwa ini pun menjadi tanda dimulainya perlawanan rakyat Minahasa terhadap Spanyol.

Perlawanan Rakyat Minahasa di Tomohon


1644

Perlawanan Rakyat Minahasa di Tomohon

Perlawanan dimulai di Tomohon. Rakyat Minahasa mengangkat senjata untuk melawan pasukan Spanyol.

Pemimpin Minahasa kemudian meminta bantuan Belanda untuk mengusir Spanyol. Kondisi yang demikian membuat pasukan Spanyol semakin terdesak. Spanyol pun harus mundur sampai ke Benteng Manado, karena kekuatan rakyat Minahasa yang dibantu Belanda semakin kuat.

1645

Terusirnya Spanyol dari Minahasa

Pada akhirnya, Spanyol berhasil dikalahkan dan keluar dari Minahasa. Akan tetapi, keluarnya Spanyol menjadi era baru masuknya Belanda dengan era penjajahan yang baru pula.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Chat Gpt 12 Mei-31 Mei