1. Pangeran Trunojoyo
Pahlawan nasional dari Madura ini lahir di Sampang, pada tahun 1649 dengan nama kecil Raden Nila Prawata. Beliau adalah cucu dari Pangeran Cakraningrat I, Raja Madura, keturunan dari Kraton Arosbaya Madura yang ditaklukkan oleh Kerajaan Mataram. Ayahnya adalah putra ke 3 Cakraningrat bernama R. Demang Melayakusuma yang memimpin pemerintahan sehari – hari di Madura Barat. Semasa kecil Pangeran Trunojoyo dididik dan dibesarkan di lingkungan Kraton Mataram yang dipimpin oleh putra Sultan Agung yaitu Amangkurat I. Pada tahun 1656 terjadi perselisihan di Mataram yang dipicu oleh pemberontakan Pangeran Alit hingga jatuh korban jiwa. Mereka adalah Pangeran Cakraningrat I dan R. Demang Melayakusuma, ayah Trunojoyo, yang diutus untuk meredakan pemberontakan.
Korban lain adalah Raden Ario Atmojonegoro (putra pertama Cakraningrat I), dan Pangeran Ario/Pangeran Alit (adik Amangkurat I). Pemberontakan terjadi karena pemerintahan Amangkurat yang keras dan bersekutu dengan VOC. Madura kemudian dipimpin oleh Raden Undagan, paman Trunojoyo yang bergelar Panembahan Cakraningrat II. Akan tetapi ia juga lebih banyak berada di Mataram daripada di Madura seperti ayahnya. Putra Mahkota Amangkurat I bernama Adipati Anom ternyata juga menyimpan ketidak puasan kepada ayahnya, namun tidak berani memberontak secara terang – terangan.
Ia meminta bantuan Raden Kajoran/Panembahan Rama, seorang kerabat Mataram dan seorang ulama, yang merupakan mertua Trunojoyo. Pada tahun 1974 Trunojoyo berhasil merebut kekuasaan di Madura dan menyatakan diri sebagai Raja merdeka di Madura Barat, sejajar dengan penguasa Mataram. Rakyat mendukung karena Cakraningrat dianggap mengabaikan pemerintahan. Trunojoyo juga mendapat dukungan dari Panembahan Giri, Surabaya, dan Karaeng Galesong, pemimpin pelarian warga Makassar pendukung Sultan Hasanuddin. Mereka berhasil mendesak pasukan Amangkurat I, tetapi kemudian timbul perselisihan dengan Adipati Anom karena Trunojoyo tidak mau menyerahkan kepemimpinannya dan berhasil mengalahkan pasukan Adipati pada 1676.
Kemudian ia menyerbu Plered, ibukota Mataram dan berhasil mendesak Amangkurat I hingga ke Wonoyoso dan meninggal di Tegal. Trunojoyo lalu mendirikan pemerintahan sendiri dengan gelar Panembahan Maduretno. Adipati Anom yang diangkat menjadi Amangkurat II bersama VOC sepakat melawan Trunojoyo melalui Perjanjian Jepara (September 1677). VOC yang memusatkan kekuatannya bersama Mataram akhirnya berhasil menyudutkan Trunojoyo dan menguasai bentengnya. Amangkurat II menghukum mati Trunojoyo pada 2 Januari 1680. Sejak itu VOC berhasil menancapkan cakarnya pada Mataram dan Madura. Mataram kemudian terpecah belah dalam sejarah perjanjian Giyanti. Ketahui pula nama pahlawan nasional dari Jawa Tengah, pahlawan nasional dari Jawa Timur, dan pahlawan nasional dari Jawa.
KEPALA TRUNOJOYO DI1PENGG4L, JADI KESET KAKI, DITUMBUK HINGGA H4NCUR?
Gak tau kenapa, banyak orang yang tidak suka pada Babad Tanah Jawi.
Katanya, babad itu sejarah bikinan penjajah. Banyak kisah yang dibelokkan.
Tapi kalo ditanya penjajah siapa yang bikin dan kisah mana yang dibelokkan? Mereka diem. Ga ada jawaban.
Juga kalo saya minta naskah lain sebagai pembanding. Naskah yang tidak mengisahkan seperti Babad Tanah Jawi, juga tidak ada jawaban.
Komentar itu muncul waktu saya nulis status tentang Amangkurat Agung.
Mereka ga percaya seorang raja besar melakukan kejahatan besar.
Nah, karena banyak yang ga suka babad, saya jadi semangat untuk membacanya. Karena yakin, yang bilang gitu pasti ga suka baca.
Waktu saya menulis ulang kisah Trunojoyo dalam Babad Tanah Jawi, komentar itu muncul lagi.
Akhirnya saya baca babad lain. Apakah beda dengan pengisahan dalam Babad Tanah Jawi?
Ada 2 naskah babad terkait Trunojoyo yang saya baca. Babad Trunojoyo Suropati dan Serat Trunojoyo.
Saya kutipkan dari buku pertama dulu.
Langsung ke bagian yang intinya.
Adegan pertama, ketika Amangkurat II membunuh Trunojoyo dengan menikam dada hingga tembus punggung. Kemudian memerintahkan adipati untuk menusuk dadanya, lalu mengiris hati dan menelannya.
Pengisahannya ditulis dalam tembang Dandanggula.
"Saking dhadhampar amarepeki, Trunojoyo ginoco jajanya, trus marang walikate, ludire dres sumembur, ya ta wonten parepat alit, anak Ki Antagopa, nututi andudut, graita sagung punggawa, pan sadaya bupati tumut nyuduki, ajur kuwandanira.
"Sri Narendra asru denira ngling, e sabehe pra bupatingwang, padha mangana atine, sigra nulya rinebut, dening sagung pra bupati, atine Trunajaya, kaduman sakuku, mastaka sampun tinigas, apan tansa sinandhing dera narpati, munggeng soring dhadhampar."
Adegan kedua, ketika Amangkurat II menjadikan penggalan kepala Trunojoyo sebagai kesed kaki para selir serta seluruh abdinya. Paginya, memerintahkan agar kepala itu dimasukkan dalam lumpang, kemudian ditumbuk sampai hancur.
Pengisahan masih dalam tembang Dandanggula.
"Ya ta wau kawarnaa enjing, sri narendra miyos siniwaka, siniwi ing wadya ander, angandika sang prabu, mring sagunge kang para nyai, sami kinen nggeploka, ing mustakanipun, Trunajaya lumpang sela, ya ta wau para nyai lawan selir, samya nggeplok mestaka.
"Ajur mumur wus awor lan siti, kang mestaka ..."
Pengisahan dalam Babad Trunojoyo Surapati lebih detil dibanding Babad Tanah Jawi. Namun tidak saya tulis ulang, kawatir ada yang marah-marah lagi.
Silahkan kalo ada teman lain yang punya naskah yang beda.
Siapa tau ada naskah lain, yang pengisahannya tidak keji dan kejam seperti tertulis dalam 3 naskah itu.
Semoga ada.
#books
Versi AI....Arya Wiraraja, seorang tokoh penting dalam sejarah Indonesia, lahir pada tahun 1232 Masehi. Namun, ada beberapa versi tentang tempat kelahirannya, yaitu:
- *Desa Nangkadana, Kauman, Ponorogo*: Menurut keluarga besar trah Sunan Kalijaga, Arya Wiraraja lahir di desa ini.
- *Desa Karang Nangka, Kecamatan Ruberu, Kabupaten Sumenep*: Versi dari penulis Sumenep menyebutkan bahwa Arya Wiraraja lahir di desa ini.
- *Desa Besakih, Rendang, Karangasem, Bali*: Menurut Babad Manik Angkeran, Arya Wiraraja lahir di desa ini.
- *Dusun Nangkaan, Desa Ranu Pakis, Kecamatan Klakah, Kabupaten Lumajang*: Mansur Hidayat, penulis sejarah Lumajang, menyebutkan bahwa Arya Wiraraja lahir di dusun ini.
Arya Wiraraja memiliki nama kecil Banyak Wide, yang berarti "brahmana yang memiliki banyak pengetahuan". Ia menjadi penasehat negara di Kerajaan Singhasari dan memainkan peran penting dalam pendirian Kerajaan Majapahit ¹ ² ³.
Itulah indahnya negara demokrasi
Bisa mati berkali kali(kalah tanding)
Sampai berkuasa
Contoh Prabowo
Bisa dari rakyat jelata jadi ratu/raja contoh pak Jokowi
Dari jenjang karir militer pangkat biasa sampai naik jadi raja contoh SBY
Dari keturunan raja contoh bu Megawati
Dari keturunan ulama contoh Gus Dur
Dari prestasi belajar dan jadi orang yang pintar contoh Habibie
Itulah sifat dasar bangsa ini, tidak mau tampak buruk, mukul dhuwur mendem Jero, akhirnya melanjut ke pemimpinan saat saat ini, walau busuk tetap ada yang bilang wangi, bukan belajar memperbaiki dengan mengambil yang baik dan membuang yang buruk, kalau ada yang berani bilang buruk, pasti ada saja gerombolan yang terus maju minta polisi nangkap, dan jebloskan ke penjara.
Akhirnya kita sebagai bangsa tidak pernah dewasa mensikapi kesalahan para pemimpin, khilaf pada manusia itu wajar, tapi kalau dibiarkan kesalahan itu sampai kalap, tentunya itu tidak wajar.
Setidaknya kalau ada khilaf dan salah, kita harus berpikir dan berbuat supaya kesalahan itu tidak terjadi lagi, dan kesalahan yang sudah terlanjur terjadi diperbaiki semaksimal mungkin.
Barulah itu kita melangkah menjadi bangsa yang dewasa lahir dan batin, siap salah, siap memperbaiki dan siap mencegah kesalahan yang sama terjadi lagi.
Semoga kita makin tercerahkan dengan sejarah yang ada, baik yang emas maupun yang kelam.
Haris Darmawan Begitulah beberapa sifat bangsa, ketika ada hal yg baik maka akan dicari-cari kesalahannya. Ketika tidak ditemukan kesalahannya dan dia menerima konsekuensi dari perbuatannya, dia bertingkah seakan-akan telah menjadi korban. Ditambah dengan narasi-narasi agama yang ditelan mentah-mentah oleh pendukung nya, membuat skenario drama kusut ini seakan-akan adalah perintah Tuhan.
Babad Tanah Jawi itu buku sejarah Kerajaan Kartasura. Isinya bisa dipercaya kalau membahas era Kartasura. Tapi kalau bagian yang membahas Majapahit, Demak, Pajang, Mataram, kita tidak perlu percaya sepenuhnya, karena penulisnya tidak hidup di era tersebut.
Untuk kasus sejarah Majapahit misalnya, Babad Tanah Jawi dan Pararaton isinya sangat berbeda. Dan ternyata Pararaton lebih cocok dengan prasasti, sehingga lebih banyak dipakai oleh sejarawan. Khusus bagian Majapahit lho ya.
Nah, jaman sekarang lucunya banyak orang asal njeplak menyebut Babad Tanah Jawi dan Pararaton adalah buatan Belanda. Padahal Belanda hanya melatinkan dan menerjemahkan saja, tapi malah dituduh mengarang.
[13/12 10.31] rudysugengp@gmail.com: Melvin Kenyataannya ... saya sudah meneliti Pararaton dan menerbitkannya. Banyak isi Pararaton yang cocok dengan prasasti, padahal prasasti-prasasti ini baru ditemukan di era Orde Baru. Jadi, bagaimana caranya Belanda mengarang Pararaton yang bisa cocok dengan prasasti yang belum pernah mereka baca?
[13/12 10.32] rudysugengp@gmail.com: Purwanto Heri Ya, ini betul. Sikap skeptis itu harus dibarengi dengan aksi berikut yaitu pembuktian. Kalau cuma bilang, ah ini karangan penjajah, lalu tdk mencoba untuk mencari tahu yg benarnya spt apa? Itu sih namanya stigmatisasi.
Saya jg ikut berbagai komunitas sejarah sebagian besar untuk memilah mana yg benar dan mana yg salah.
Padahal kalo mau melihat jernih soal pembelokan sejarah. Bisa lihat tentang Keumalahayati (Malahayati) yg sdh jadi Pahlawan Nasional tapi sosok aslinya masih dipertanyakan kejelasannya, karena berbagai literatur tdk ada yg menyebutkan jelas namanya. Bahkan cerita heroik duelnya pun ternyata tdk tercatat.
[13/12 10.33] rudysugengp@gmail.com: Agus Susanto Untuk Brawijaya yang saya temukan di Kidung Ranggalawe tertulis Bhra Wijaya, digunakan sebagai nama panggilan untuk Raden Wijaya, raja pertama Majapahit. Ini berbeda dengan Babad Tanah Jawi dkk yang menyebut Brawijaya sebagai raja terakhir Majapahit.
Tapi perlu diingat bahwa Kidung Ranggalawe adalah sastra Jawa Pertengahan yang ditulis sesudah Majapahit runtuh. Apakah semasa hidupnya Raden Wijaya pernah dipanggil Bhra Wijaya, belum tentu. Bisa jadi ini hanya imajinasi penulis kidung saja.
[13/12 10.34] rudysugengp@gmail.com: Purwanto Heri Nah, itu masalahnya pak. Sumber primernya prasasti, sementara di prasasti yg ada tdk pernah disebutkan soal Brawijaya. Saya soalnya punya prinsip kalau prasasti itu dijadikan sumber primer karena ditulis pada jaman yg sama. Ingatan manusia terbatas, kecuali memang ketiadaan sumber primernya maka sumber sekunder bisa dipakai.
[13/12 10.38] rudysugengp@gmail.com: Bukan dibelokkan, tapi tulisan yang dibuat terlalu bombastis. Yang jika dibaca, ada energi kebencian yang akan terpelihara turun temurun menjadi konflik berkepanjangan.
Konflik berkepanjangan inilah yang ingin dipelihara dan menjadi tujuan Belanda. Untuk tetap melanggengkan kekuasaan dengan cara "devide et impera".
Kebenaran banyak yang tidak tetulis.
Peristiwa tidak sesederhana dalam cerita.
Salam..🙏🏻🙏🏻
Selain pintar menerjemahkan, panjenengan juga harus bijak dalam situasi hari ini yang cenderung mengarah ke dia integrasi bangsa.
Tulisan anda membuka luka lama. Luka karma yang akan terus menjadi hutang bagi keturunannya.
[13/12 10.40] rudysugengp@gmail.com: Aef Tony pahamilah politik proxy war (adu domba).
Cerita Hati Trunojoyo di makan, sama dengan cerita bairawa Tantra makan manusia. 🧘🙏🏻😅.
Pasca perang Diponegoro, adalah masa silent gen atau generasi bersembunyi.
Semua diam, hingga banyak orang tidak tahu leluhurnya, termasuk mungkin anda juga. Mungkin banyak yang tidak tahu data Mbah buyutnya pribadi.
Data Mbah buyutnya aja gak tahu, apalagi data sebuah peristiwa politik yang penuh manipulatif.
Jika pakai babat sebagai rujukan, ya Monggo.. 🙏🏻🙏🏻
[13/12 10.43] rudysugengp@gmail.com: Q ga tahu sejarah, jg ga suka baca sejarah, tp pendapatku jika sejarah yg di tulis adalah pembelokan, di mana sejarah asli, siapa yg menulis, ini pertanyaan mematikan tp jika ini di lakukan secara masif, secara otomatis sejarah asli di hilangkan, orang2 yg tahu sejarah asli di lenyapkan, terus tanya ke siapa? Kepada jin yg tahu sejarah dan ga mati, nanti ada yg bilang tahayul, ada yg bilang jin bohong, ada yg bilang mana ada manusia bisa komunikasi dengan jin, ini akan menjadi njrimet tanpa bukti, seperti kasus AI, jika ada orang menulis di internet 100 data salah dan ada orang yg menulis 5 data benar, AI akan membenarkan 100 data walaupun salah, terus sejarah mana yg benar dan yg salah, tidak usah mengaku benar dan menyalahkan, sejarah yg benar akan datang dengan sendirinya,bersama orang2 yg terpilih, itu hanya pendapat saja
[13/12 10.52] rudysugengp@gmail.com: Sudah sewajarnya Babad tanah jawi diragukan apalagi untuk bagian detailnya. Sumber sekunder, ditulis jauh setelah peristiwa sebenarnya terjadi.
Ini Indonesia, sastra berkembang di istana dan kaum agama saja pada jaman kerajaan. Tidak ada tokoh prajurit yg menulis jurnal ttg perang apa yg dijalaninya, semua diceritakan kembali setelah pulang dari medan perang.
Yg patut diragukan : motif, detail cerita, nama tokoh
Yg bisa diambil : nuansa, tahun/tanggal, peristiwa perang luar negara
[13/12 10.53] rudysugengp@gmail.com: Kisah para jahiliyah ,ketika para Sahid suhada tubuhnya dirobek sebagai alat pelampiasan dendam dan sumpah serapah para kaum jahiliyah,,,,Hindun memakan hati sahabat Rosululloh
Terjadi juga ditempat tempat lain termasuk Jawa yang konon Jawa memuji tata Krama budaya adiluhung betapapun orang yang mengaku agamanya Islam tapi hanya pengakuan,,tetapi tauhid aqidah bahkan ilmu cara beridah yang sesuai tuntunan Rosululloh tidak paham ,,,,,mereka sudah merasa baik dan benar tapi dengan ukuran apa ,,,ketika Trunojoyo seorang Muslim yang bercita cita membebaskan rakyatnya dari penindasan penjajah pada saat itu dan yang membunuh Trunojoyo dengan bangga diri merasa seorang bangsawan dengan keningratannya tetapi hanya hidup diketiak bangsa asing yang sedang menjajah dimana rakyatnya sangat sangat dibuat sengsara dan tertindas ,,,opini cerita sejarah bisa dibuat buat TAPI YANG MAHA MEMBUAT MAHA MELIPUT DAN MAHA MEMBERI KHABAR kepada manusia dari generasi ke generasi
[13/12 10.53] rudysugengp@gmail.com: Devide et empera ! Sampai masuk keranah karya sastra juga "di doktrin" devide et empera ! Belanda ahli konstruksi tehkik sipil yg karyanya masih eksis berabad-abad berdiri mulai dari gedung-gedung di kawasan kota tua jakarta kota hingga kawasan gedung istana negara dan fi kota kota di wilayah indonesia lainya !
Tapi belanda juga ahli dalam strategi politik dan budaya di dalam doktrin devide et impera yang juga di realisasikan dalam bentuk karya sastra yang eksis hingga kini dan seterusnya...termasuk karya sastra yang bertemakan babad yg kredibelitasnya lebih untuk prior kepentingan kelancaran kolonial belanda di jawa dan di kawasan lainya yang di jadikan teritorial kolonial belanda !
Mirip strategi "Manikebu"
Manifesto politik kebudaya'an
[13/12 10.54] rudysugengp@gmail.com: Itulah knapa Sejarah slalu ditulis oleh sang pemenang..
Semua pihak yg kalah dan menang ingin "terlihat" bak Pahlawan bagi pihak nya..
Cuma soal sudut pandang aja..pihak mana yg menceritakan..menulis..
Skalipun bilang tidak ada keterpihakan..netral..ditengah2.. slalu aja 1 pihak akan terlihat "lebih tinggi" dibandingkan 1 pihak yg lain..
Selalu aja akan ada hal yg dilebih lebihkan..
Dan itu wajar krna sifat manusia tidak lepas dr 7 dosa..
[13/12 10.55] rudysugengp@gmail.com: Pertanyaan tentang naskah lain, mungkin perlu riset mendalam. Apakah itu berpindah tangan , di musnahkan atau tersembunyi.
Tetapi hanya menggunakan 1 perspektif sejarah, itu tidak kuat. Apalagi salah satu metode penjajahan adalah devide et impera.
Bisa mulai dari mindset di akhiri pada tindakan.
Membaca sejarah itu bagus, tetapi memastikan sejarah itu benar benar sejarah itu lebih bagus lagi.
Selamat menikmati sejarah.
[13/12 10.56] rudysugengp@gmail.com: Memang Buku Babat kalo dicerna mentah mentah sangat keji,miris,.
Perlu dicoba untuk mengupas dari sisi filosofi.!!!
Mungkin....bisa lho Trunojoyo Sosok Orang pintar,Amangkurat tertarik kecerdikannya Trunojoyo,terus di rekrut dijadikan Abdi( bukan keset), Trunojoyo disuruh mengajari kawulane dan sentananya Amangkurat supaya pandai dan pintar.,,bahkan sampai permaisuri dan dayang diwajibkan menyerap ilmunya Trunajoyo sampai tuntas (kepala Trunojoyo dihancurkan bisa juga berarti kepandaiannya Trunojoyo diperas sampa habis).memang buku/kitab/babat harus perlu tafsir ...leluhur pujangga memang Arif dan bijak dan pintar membuat seni sastra dengan menyembunyikan tragedi maupun kejayaan sesorang melalui sastra.🙏
[13/12 10.57] rudysugengp@gmail.com: Adalah sebuah fakta ketika penguasa di era feodalisme melakukan hal seperti itu.
1. Sebagai penguasa ada pemberontakan bahkan membakar istana, padahal era itu menatap raja saja dianggap deksuro.
2. Kekejaman penguasa sebenarnya nampak dlm bentuk hukuman, picis- diikat dilukai ditaburi garam jeruk nipis.
3. Kesalahan kecil terhadap penguasa pasti mati.
Pendek kata tak ada lawan tak ada yg menentang kekuasaan raja.
[13/12 10.57] rudysugengp@gmail.com: Umumnya para tokoh yang dianggap pengkhianat akan diperlakukan sadis ketika ketangkap. Begitulah sepanjang sejarah dimanapun.
Dan cara memperlakukan seperti itu tidak terlalu dimengerti oleh rakyat jelata, mengapa mereka tega melakukan nya.
Memang begitulah, logika para penguasa seringkali tidak dimengerti oleh orang kebanyakan.
[13/12 10.58] rudysugengp@gmail.com: Sebelumnya saya mohon maaf, saya bukan pemerhati sejarah tapi senang dengan sejarah dan sesekali suka mencari tahu dan membaca tentang sejarah itu sendiri. Kebetulan saya pernah kenal dengan salah satu keturunan dari "Amangkurat Amral" dari Kutowinangun Kebumen. Mereka punya catatan silsilah keluarganya dan beberapa peninggalan "leluhurnya". Maaf, ketika saya singgung tentang sejarah "kekejaman" Amangkurat mereka mengakuinya dan mereka merasa "malu" hingga harus menutupi jati dirinya sebab cerita tersebut menjadi "beban sejarah" bagi kehidupan mereka yang merasa bahwa itu merupakan perbuatan yang tidak "beradab" 🙏🙏
[13/12 10.59] rudysugengp@gmail.com: Ini tentang Trunojoyo kok malah kemana mana sih..kalau setahu saya ya hanya pelajaran sejarah waktu SD yg scr spesifik tdk pernah ada tentang kepala Trunojoyo yg di tumbuk.Trunojoyo ini kan Bangsawan Madura cucu Raden Prasena atau Cakraningrat I
ayah Trunojoyo seorang Demang namanya Melayakusuma.Melayakusuma ini anak dari Cakraningrat I .sedangkan Cakraningrat I ini adalah mantunya Sultan Agung Mataram
jadi Trunojoyo ini masih buyut/cicit sultan Agung Raja mataram.Trunojoyo memberontak karena tdk suka dengan Kepemimpinan Amangkurat I yg bersekutu dengan VOC Belanda.Trunojoyo ketika meninggalkan Madura mengembara ke Kajoran (wilayah klaten selatan ) disini ia menikahi puteri Raden kajoran yg masih keturunan sunan Bayat.
oleh mertuanya yaitu Raden kajoran Trunojoyo ini dikenalkan kepada Raden mAs Rahmad yang tiada lain putra Mangkurat I tetapi Raden mas Rahmad ini sangat membenci ayahnya yaitu Amangkurat I..akhirnya mereka bersekutu memberontak kepada Amangkurat I
[13/12 11.00] rudysugengp@gmail.com: Menggambarkan bagaimana panik penguasa jawa kala itu ketika hadir seorang pemimpin Madura di Tanah jawa, penguasa jawa sadar kalau dia bukan dari kalangan bangsawan, mereka adalah kaum tani yang mendapat anugrah dari sultan Pajang. Penguasa Jawa takut kekuasaannya jatuh ke tangan orang Madura
[13/12 11.00] rudysugengp@gmail.com: menurut saya ada dua kemungkin orang menulis serat tersebut .
1.orang takut membrontak kepada penjajah negara/Belanda.
2 orang takut kepada rajanya sendiri karena kita tahu raja Jawa adalah pemeluk Islam. sedangkan Belanda adalah non muslim. Dengan demikian Belanda memainkan politik *suduk gunting Tatu loro*. artinya Belanda merendahkan martabat pahlawan pribumi sekaligus menghina raja Jawa yg muslim.
[13/12 11.01] rudysugengp@gmail.com: Padahal Di Era Kuno hal seperti itu lumrah , maksudnya hukum zaman itu memang bersifat lokal , membunuh , mencambuk , memotong , di era kuno ada banyak versinya ,,, di timur tengah lebih gelap lagi ,,,
.
BTW Cara baca sejarah itu ya di baca saja Jangan di hakimi , di bandingkan , di resapi di hayati , itu cuma cerita sejarah , mau baik buruk terserah kita baca saja ,,, ngga ada baik buruk dari cerita sejarah ,,, baik buruk itu cuma persepsi lokal , di saat itu tidak pernah sama dengan saat ini ,,,
[13/12 11.02] rudysugengp@gmail.com: Kita Islam,kita muslim orang jepang saja menjajah Indonesia walaupun hanya 3 tahun keterunannya tidak tahu kalau jepang pernah menjajah Indonesia.Karena malu leluhur mereka pernah menjajah Indonesia.Dari ceritanya saja sudah tidak enak dibaca apalagi kalau anak yang baca ,bisa salah paham.Sekarang Australia saja sudah memblokir media sosial untuk anak anak.Cara penyampaiannya juga harus hati hati pada anak anak,,Saya menghargai lelehur dulu kita sudah beda pak ,ikut Al Qur'an,Al Hadist dan Alim Ulama.Saya juga orang Jawa ,difilter dulu karena cerita maaf takut disalah artikan oleh anak anak juga orang Indonesia.Salam santun, ngapunten 🫶🏻🇮🇩🤍🩶♥️🌎🌏🌍🫰🏻🙏🏻💖
[13/12 11.03] rudysugengp@gmail.com: Sejarah dibuat oleh mereka yg menang...
Trunojoyo dan Pangeran Kajoran, menurut saya beliau adalah simbol pahlawan Madura dan Jawa dari kesewenang wenangan Raja Jawa..Amangkurat I, yg membunuh saudara dan para ulama...yg bekerjasama dngn VOC
[13/12 11.03] rudysugengp@gmail.com: Setelah pemberontak Demak yg berporos kepada Kekhalifahan Turkey Ustmaniyah berhasil menghancurkan Majapahit, Nusantara pecah menjadi kesultanan-kesultanan kecil yg saling bersaing. Tidak ada kerajaan yg dituakan & disegani yg bisa menjadi kekuatan pemersatu seperti era Majapahit yg disegani oleh bangsa2 lain seperti kekaisaran Mongol , China, dll.
Akibatnya kesultanan2 kecil ini dgn mudah dibujuk , dirayu , oleh pedagang2 dari Eropa dengan awalnya Monopoli Perdagangan yg akhirnya malah menjadi koloni yg terjajah.
Para Sultan diminta untuk menanam komoditi apa saja yg laku di pasaran Eropa manut, asal dilindungi oleh persenjataan modern dari para saingannya di dalam istana atau diluar istana.
Ketergantungan keamanan dan ekonomi dari para pedagang Eropa, mengakibatkan rakyatnya sendiri dipaksa untuk menanam sesuai pesanan pedagang dari Eropa ( VOC ) selama ratusan tahun.
Rakyat tidak diberikan pendidikan dan dibiarkan bodoh sampai puluhan generasi.
[13/12 11.04] rudysugengp@gmail.com: Saya percaya saja sama kelakuan raja-2 Jawa yg tidak berperikemanusiaan itu.
Makanya saya tidak suka sistem feodal yg berpusat di kerajaan. Karena semua kerajaan-2 tidak ada yg punya visi - misi mensejahterakan rakyat, semua kerajaan penindas rakyat.
Makanya kalau keluarga kerajaan itu gegeran biarin aja, kalau perlu diadu perang dilapangan biar jadi tontonan rakyat ?
[13/12 11.05] rudysugengp@gmail.com: Kalau anda ahli sejarah jangan hanya menbaca dari buku atau kitab saja, apalagi di era itu memang pembelokan sejarah sesuai dg kehendak penguasanya. Kalau anda mau gunakanlah logikanya bahwa: penikaman thd Pangeran Trunojoyo itu di Ngantang Kabupaten Malang disebelah utara Gunung Kelud. Nah apakah mungkin di jaman yg belum ada frezeer dan es batu atau bahan pengawet orang akan bersedia menenteng kepala yg berdarah darah untk dibawa ke pusat kekuasaan Amngkurat II? untuk perlakuan buruk lanjutannya????Saya mngundang anda kalau mau membuat pembuktian dari dimensi yg lainnya yaitu ke TKP terjadinya penikaman itu. Monggo saya tunggu kalau anda mau jadi ahli sejarah sejati.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar