[6/3 16.22] rudysugengp@gmail.com: *Wayang Sunan Kudus*
Sunan Kudus memiliki warisan wayang golek dan wayang klithik.
A. Wayang golek
1. Wayang golek merupakan warisan budaya Indonesia dari tanah Sunda.
2. Sunan Kudus memperkenalkan wayang golek pada tahun 1583 untuk menyebarkan agama Islam.
3. Wayang golek pertama yang dibuat Sunan Kudus terbuat dari kayu.
4. Wayang golek dimainkan dengan membawakan cerita kehidupan sehari-hari yang bernilai Islam.
5. Wayang golek diselingi dengan humor untuk menarik perhatian penonton.
6. Wayang golek mulai populer di tanah Sunda pada masa pemerintahan Panembahan Ratu, cicit Sunan Kudus.
B. Wayang klithik
1. Wayang klithik merupakan warisan Sunan Kudus yang terbuat dari kayu.
2. Wayang klithik memiliki ukiran Islam Nusantara.
3. Salah satu dalang wayang klithik Kudus adalah Sutikno yang tinggal di Desa Wonosoco, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus.
[6/3 16.26] rudysugengp@gmail.com: *KRUCIL atau KLITHIK*
Wayang krucil dan wayang klithik adalah nama yang sama untuk pertunjukan wayang yang menggunakan wayang kayu pipih.
A. Ciri-ciri wayang krucil :
1. Wayang krucil terbuat dari kayu pipih yang diukir dan diberi warna
2. Lengan dan tangan wayang krucil terbuat dari kulit
3. Ketebalan wayang krucil sekitar 2-3 cm
4. Kelir wayang krucil berlobang di tengahnya
5. Wayang krucil memiliki bentuk yang lebih fleksibel daripada wayang purwa
6. Wayang krucil menyebar dan berkembang di sepanjang daerah aliran Sungai Brantas dan Bengawan Solo
B. Ciri-ciri wayang klithik
1. Wayang klithik memiliki bentuk yang hampir sama dengan wayang kulit
2. Wayang klithik terbuat dari bahan kayu
3. Dalang menggunakan bayangan saat pementasan wayang klitik
4. Kata “klitik” berasal dari suara kayu yang ditimbulkan pada saat wayang dimainkan
C. Cerita wayang krucil
Cerita yang dimainkan dalam pementasan wayang krucil bersumber dari berbagai kisah, biasanya mengambil cerita pada zaman Panji Kudalaleyan di Pajajaran hingga Prabu Brawijaya di Majapahit
[6/3 17.45] rudysugengp@gmail.com: kumparan.com
*Biografi Sunan Kudus, Asal-usul dan Peninggalannya*
4 September 2024 2:51 WIB.
Biografi Sunan Kudus menjadi sorotan akhir-akhir ini. Ia dikenal dengan nama asli Ja'far Ash-Shadiq, adalah salah satu tokoh penting dalam sejarah penyebaran Islam di Jawa.
Ia tidak hanya dikenal sebagai seorang ulama, tetapi juga sebagai panglima perang di Kesultanan Demak, yang merupakan salah satu kerajaan Islam pertama di Jawa. Sunan Kudus termasuk dalam kelompok Wali Songo, sebuah dewan ulama yang berperan besar dalam proses Islamisasi di Jawa pada masa itu.
Lahir dari keluarga yang memiliki hubungan darah dengan para tokoh agama terkemuka, Sunan Kudus adalah putra dari Syarif Sabil dan Nyai Ageng Manyuran. Nyai Ageng Manyuran adalah putri dari Sayyid Ali Murtadho, yang merupakan bagian dari garis keturunan keluarga Nabi Muhammad.
Daftar isi
Asal Usul Sunan Kudus
Cara Berdakwah Sunan Kudus
Karya Sunan Kudus
Peninggalan Sunan Kudus
Sikap Teladan Sunan Kudus
*A. Asal Usul Sunan Kudus*
Ja'far Shadiq, yang juga dikenal dengan nama Raden Undung, lahir pada 9 September 1400 Masehi. Sosok yang kemudian dikenal luas sebagai Sunan Kudus ini mendapatkan julukan tersebut karena ia memilih kota Kudus sebagai tempat dakwah utamanya.
Di kota ini, Sunan Kudus menghabiskan banyak waktu untuk menyebarkan ajaran Islam hingga menjadi salah satu pusat perkembangan agama Islam di Jawa.
Sunan Kudus merupakan putra dari Raden Usman Haji, seorang tokoh yang juga berperan penting dalam penyebaran Islam di wilayah Jipang Panolan, Blora, Jawa Tengah.
Warisan keilmuan dan semangat dakwah dari ayahnya menginspirasi Sunan Kudus untuk melanjutkan misi penyebaran Islam di tanah Jawa.
Sebagai seorang ulama yang sangat terpelajar, Sunan Kudus dikenal dengan julukan wali al-ilmi, yang berarti "wali yang berilmu".
Gelar ini mencerminkan penguasaannya yang mendalam terhadap berbagai cabang ilmu agama, termasuk tafsir Al-Qur’an, fikih, usul fikih, tauhid, hadits, serta logika.
Kemampuan intelektualnya yang luar biasa membuatnya dihormati oleh banyak orang, baik di kalangan ulama maupun masyarakat umum.
Salah satu aspek yang paling menonjol dari Sunan Kudus adalah sikap toleransi yang tinggi terhadap agama lain. Pada masa itu, banyak masyarakat di Jawa yang masih memeluk agama Hindu-Buddha.
Sunan Kudus memahami pentingnya pendekatan yang bijaksana dalam berdakwah, sehingga beliau berusaha mendekatkan ajaran-ajaran Islam dengan keyakinan Hindu-Buddha yang sudah dikenal masyarakat.
Salah satu contohnya adalah ketika beliau membangun Masjid Menara Kudus, yang hingga kini terkenal karena mengandung unsur-unsur arsitektur yang terinspirasi dari kebudayaan Hindu-Buddha.
Keberhasilan dakwah Sunan Kudus di Kudus membuatnya mendapatkan kepercayaan untuk memimpin daerah tersebut. Beliau tidak hanya berperan sebagai pemimpin agama, tetapi juga dipercaya untuk mengendalikan pemerintahan di daerah Kudus.
Peran ganda ini menjadikan Sunan Kudus sebagai Bupati Kudus sekaligus pemimpin agama di wilayah tersebut. Di bawah kepemimpinannya, Kudus berkembang menjadi pusat keagamaan dan kebudayaan yang penting di Jawa Tengah.
Sunan Kudus dikenal sebagai sosok yang bijaksana dan mampu memimpin dengan adil, sehingga masyarakat Kudus hidup dalam keharmonisan yang mencerminkan nilai-nilai Islam yang diajarkannya. Karya-karya dan ajaran Sunan Kudus terus diwariskan dan dihormati oleh generasi-generasi berikutnya.
Sunan Kudus wafat pada tahun 1550 di kota yang menjadi pusat dakwahnya, yaitu Kudus. Makamnya berada di dalam kompleks Masjid Menara Kudus, sebuah tempat yang hingga kini menjadi salah satu destinasi ziarah penting bagi umat Islam di Indonesia.
Warisan spiritual dan kultural yang ditinggalkan oleh Sunan Kudus tetap hidup dalam masyarakat, menjadikannya salah satu wali yang paling dihormati dalam sejarah penyebaran Islam di Jawa.
*Cara Berdakwah Sunan Kudus*
Dikutip dari laman idsejarah.net, dalam upayanya menyebarkan ajaran Islam di Kudus, Sunan Kudus menerapkan pendekatan yang unik dengan memanfaatkan simbol-simbol yang akrab bagi masyarakat setempat, khususnya unsur-unsur dari agama Hindu dan Buddha.
Ini terlihat jelas dalam arsitektur Masjid Kudus yang menampilkan ciri-ciri khas dari kedua agama tersebut, seperti menara, gerbang, dan pancuran (padasan) yang digunakan sebagai tempat berwudhu. Pancuran tersebut, misalnya, melambangkan delapan jalan Buddha.
Pendekatan ini merupakan bentuk kompromi yang dilakukan Sunan Kudus dalam proses Islamisasi di wilayah Kudus, dengan menghormati tradisi dan kepercayaan masyarakat Hindu dan Buddha yang sudah ada.
Salah satu kisah menarik yang menggambarkan pendekatan Sunan Kudus adalah ketika ia mengundang masyarakat sekitar untuk mendengarkan tabligh di masjidnya. Untuk menarik perhatian, Sunan Kudus menambatkan sapinya yang bernama Kebo Gumarang di halaman masjid.
Sapi memiliki tempat khusus dalam agama Hindu, dan tindakan Sunan Kudus ini membuat orang-orang Hindu merasa tertarik dan bersimpati. Mereka pun mendekati masjid dan dengan penuh minat mendengarkan tabligh yang disampaikan oleh Sunan Kudus.
Pada kesempatan itu, Sunan Kudus menjelaskan tentang surat Al-Baqarah, yang berarti "sapi betina". Hal ini semakin mempererat hubungan antara ajaran Islam dengan kepercayaan lokal, sehingga masyarakat Hindu tidak merasa terancam, melainkan justru tertarik untuk mendalami ajaran Islam.
Hingga saat ini, masyarakat Kudus masih menjaga tradisi untuk tidak menyembelih sapi, sebagai bentuk penghormatan terhadap simbol yang telah diangkat oleh Sunan Kudus.
Selain itu, Sunan Kudus juga dikenal dengan cara dakwahnya yang kreatif melalui cerita-cerita tentang ketauhidan yang disampaikan dalam setiap tablighnya.
Cerita-cerita tersebut disusun dalam bentuk seri yang saling berkaitan, sehingga menimbulkan rasa penasaran di kalangan masyarakat.
Setiap kali masyarakat datang untuk mendengarkan tabligh, mereka ingin mengetahui kelanjutan dari cerita yang telah disampaikan sebelumnya.
Metode ini mirip dengan pendekatan yang digunakan dalam cerita "1001 Malam" dari masa Kekhalifahan Abbasiyah, di mana cerita berkesinambungan digunakan untuk menarik perhatian dan minat pendengar.
Dengan cara ini, Sunan Kudus berhasil mengajak masyarakat secara perlahan-lahan untuk mempelajari dan memahami ajaran Islam, tanpa paksaan dan dengan pendekatan yang halus.
Melalui strategi yang cerdas dan penuh toleransi, Sunan Kudus berhasil menyebarkan ajaran Islam di wilayah yang mayoritas penduduknya memeluk agama Hindu dan Buddha.
Pendekatan yang mengedepankan penghormatan terhadap keyakinan lokal inilah yang menjadi kunci keberhasilan dakwah Sunan Kudus, menjadikan Kudus sebagai salah satu pusat pengembangan Islam di Jawa pada masa itu.
Peninggalan arsitektur dan tradisi yang ditinggalkannya masih dapat dilihat hingga sekarang, menjadi saksi bisu dari kebijaksanaan dan kecerdikan Sunan Kudus dalam menyebarkan ajaran Islam.
*Karya Sunan Kudus*
Pada tahun 1530, Sunan Kudus mendirikan sebuah masjid di desa Kerjasan, yang kini dikenal sebagai Masjid Agung Kudus. Masjid ini, yang terletak di alun-alun kota Kudus, Jawa Tengah, telah bertahan hingga saat ini dan menjadi salah satu peninggalan bersejarah yang penting.
Selain masjid, Sunan Kudus juga meninggalkan warisan berupa permintaan khusus kepada masyarakat Kudus terkait perayaan Idul Adha.
Ia meminta agar masyarakat tidak memotong sapi sebagai hewan kurban, untuk menghormati para penganut agama Hindu yang menganggap sapi sebagai hewan suci. Sebagai gantinya, Sunan Kudus menganjurkan agar kurban dilakukan dengan memotong kerbau.
Pesan ini masih diikuti oleh banyak masyarakat Kudus hingga sekarang, menunjukkan toleransi dan penghargaan terhadap keragaman agama di wilayah tersebut.
*Peninggalan Sunan Kudus*
Dikutip dari laman idsejarah.net, salah satu warisan paling terkenal dari Sunan Kudus adalah Masjid Raya Kudus, yang juga dikenal dengan nama Masjid Menara Kudus. Masjid ini menjadi simbol penting dalam sejarah dan budaya Kabupaten Kudus.
Menurut kisah yang berkembang, Sunan Kudus pernah melakukan perjalanan ke tanah Arab untuk menunaikan ibadah haji sekaligus mendalami ilmu agama. Selama di sana, ia juga mengajar dan menjadi seorang guru agama yang dihormati.
Pada suatu waktu, terjadi wabah berbahaya yang menyebar di tanah Arab, mengancam banyak nyawa. Sunan Kudus, dengan kebijaksanaan dan pengetahuannya, berhasil menemukan cara untuk mengatasi wabah tersebut, sehingga banyak orang terselamatkan.
Sebagai tanda terima kasih, amir setempat ingin memberikan hadiah besar kepada Sunan Kudus sebagai bentuk penghargaan atas jasa-jasanya.
Namun, Sunan Kudus yang dikenal dengan kerendahan hatinya, menolak hadiah tersebut dan hanya meminta sebuah batu sebagai kenang-kenangan.
Batu yang diminta oleh Sunan Kudus konon berasal dari Baitul Makdis, atau Yerusalem, yang merupakan salah satu kota suci bagi umat Islam. Setelah menerima batu tersebut, Sunan Kudus membawanya kembali ke tanah Jawa.
Setibanya di tempat asalnya, ia mendirikan sebuah masjid yang kini dikenal sebagai Masjid Menara Kudus. Masjid ini tidak hanya menjadi pusat ibadah, tetapi juga menjadi simbol penting dalam penyebaran agama Islam di wilayah tersebut.
Sebagai penghormatan dan untuk mengabadikan nama kota asalnya, Sunan Kudus memberikan nama "Kudus" kepada daerah tersebut, yang kini menjadi Kabupaten Kudus. Nama ini diambil sebagai penghormatan kepada kota suci Baitul Makdis, mengingat batu yang dibawanya berasal dari sana.
Masjid Menara Kudus hingga kini masih berdiri kokoh dan menjadi salah satu peninggalan bersejarah yang terus dikagumi, tidak hanya karena arsitekturnya yang unik, tetapi juga karena nilai sejarah dan spiritual yang melekat padanya.
*Sikap Teladan Sunan Kudus*
Sunan Kudus dikenal sebagai Guru Akbar dengan gelar Waliyyul Ilmi karena keilmuannya yang sangat tinggi. Banyak murid yang datang untuk menimba ilmu darinya.
Sebagai seorang ulama, Sayyid Ja'far Shadiq, atau Sunan Kudus, sangat peduli terhadap pendidikan dan santri yang dia ajar. Kepedulian ini sejalan dengan visi umum Wali Songo yang melihat pendidikan sebagai tugas dan panggilan agama.
Bagi generasi milenial, ilmu pengetahuan adalah kunci untuk menjadi individu yang bermartabat. Pendidikan formal hanyalah salah satu cara untuk memperoleh ilmu, namun yang terpenting adalah keilmuan itu sendiri sebagai bekal untuk bersaing dalam kehidupan yang semakin kompetitif.
Selain memiliki ilmu yang mendalam, Sunan Kudus juga dikenal sebagai seorang saudagar yang ulet. Ia menanamkan semangat berdagang kepada masyarakat Kudus agar mereka bisa mandiri.
Hal ini dilakukan karena lahan pertanian di Kudus tidak luas dan wilayah ini tidak memiliki pantai yang dapat dimanfaatkan.
Akibatnya, usaha kecil dan menengah berkembang pesat di sekitar kompleks makam Sunan Kudus, dan hingga kini Kudus menjadi salah satu pusat industri dan perdagangan terbesar di Jawa Tengah.
Generasi milenial bisa belajar dari karakter Sunan Kudus dengan mendidik diri untuk menjadi mandiri, terutama melalui wirausaha. Apalagi, teknologi saat ini sangat mendukung pengembangan bisnis.
Sunan Kudus juga dikenal sebagai tokoh pluralis dan multikulturalis, yang terlihat dari pendekatan dakwahnya yang menggunakan pendekatan kultural.
Ia menghormati dan mentoleransi nilai-nilai lama masyarakat, seperti yang tercermin dalam arsitektur Menara Kudus yang menggabungkan unsur Islam, Hindu, dan Tionghoa.
Contoh lainnya adalah larangan menyembelih sapi yang masih dipatuhi hingga kini, sebagai bentuk penghormatan terhadap masyarakat Hindu setempat.
Sunan Kudus juga dikenal sebagai patriot yang rela berjuang demi bangsanya. Ia pernah memimpin pasukan melawan Portugis di Malaka, menunjukkan disiplin dan keberanian yang tinggi.
Karakter patriotis ini patut dicontoh oleh pemuda Indonesia, terutama dalam menghadapi tantangan budaya asing dan ideologi transnasional yang dapat mengikis semangat nasionalisme.
Salah satu karya terbesar Sunan Kudus adalah arsitektur Menara Kudus, yang menjadi kebanggaan tidak hanya bagi umat Islam tetapi juga masyarakat umum. Menara ini merupakan bukti keahlian Sunan Kudus sebagai arsitek handal.
Kelima karakter Sunan Kudus, keilmuan, kemandirian, pluralisme, patriotisme, dan keahlian seni, tidak harus dimiliki oleh setiap generasi milenial.
Namun, setidaknya salah satu dari karakter ini dapat menjadi keunggulan yang bermanfaat bagi banyak orang, sehingga generasi milenial dapat memajukan bangsa dan negara di masa depan. Itulah biografi Sunan Kudus, semoga membantu dan bermanfaat. (KIKI)
[6/3 18.37] rudysugengp@gmail.com: *Karomah Sunan Kudus*
Sunan Kudus memiliki beberapa karomah, di antaranya:
1. Memiliki rompi ajaib yang bisa mengeluarkan jutaan tikus untuk menaklukkan musuh Demak
2. Mampu menyembuhkan wabah penyakit di Arab
Sunan Kudus adalah salah satu Wali Songo yang menyebarkan agama Islam di Jawa. Ia dikenal sebagai ahli agama, ilmu tauhid, ilmu hadist, dan ilmu fiqh. Sunan Kudus juga dikenal sebagai sosok yang menyebarkan agama Islam dengan pendekatan kebudayaan tanpa kekerasan.
[6/3 18.43] rudysugengp@gmail.com: Wayang Thengul
"Kan masyhur itu, (Sunan) Kalijaga saking inginnya berdakwah di daerah Pajang, daerah sini lho, mulai Pajang daerah sini, di Sragen sampai ke sini. Sampai membuat wayang thengul, wayang thengul itu wayang orang," kata Gus Baha.
"Sunan Giri tidak terima. (Sunan Giri berkata) 'Itu haram membuat patung. Kalau membuat patung itu nanti di akhirat disuruh memberi nyawa'. Sunan Kalijaga tidak begitu banyak ngaji orang mantan preman jadi wali. Ngaji fashlun itu, nggak begitu banyak ngaji," ujar Gus Baha.
"Walhasil akhirnya ditengah-tengahi oleh Sunan Kudus yang lebih alim, lebih senior. (Kata Sunan Kudus) 'Sudah gini aja, wayangnya itu dipenyetkan jadi wayang kulit, karena kalau wayang thengul itu (berbentuk) patung. Tapi kalau gepeng (seperti) kulit sudah tidak bisa dikasih nyawa, sudah penyet semua," kisah Gus Baha sembari tertawa. Dipipihkannya wayang thegul menjadi wayang kulit untuk menghindari keharaman.
[6/3 19.03] rudysugengp@gmail.com: kumparan.com
*Tokoh Wali Songo yang Menggunakan Wayang Kulit untuk Menyebarkan Islam*
Penulis
27 September 2022 20:26 WIB
Wali Songo sangat berperan aktif sebagai pionir orang-orang yang mendapatkan keutamaan untuk menyebarkan ajaran Agama Islam di Indonesia. Wali Songo menyebarkan ajaran Islam dalam dengan media dakwah. Tak terkecuali dengan media wayang kulit digunakan oleh wali untuk menyebarkan Islam. Wayang kulit digunakan oleh wali untuk menyebarkan islam dilakukan oleh Sunan Kalijaga. Mengapa menggunakan wayang? Simak ulasan berikut.
*Sunan Kalijaga Tokoh Wali Songo yang Menyebarkan Islam dengan Media Wayang*
Tokoh Wali Songo biasa juga disebut dengan 9 Wali. Peran Wali Songo dalam Sejarah Kebudayaan Islam (SKI), berandil besar untuk pertumbuhan persebaran ajaran Agama Islam di sejumlah daerah di Nusantara. Tak ayal, materi pelajaran tentang Wali Songo terus dipelajari oleh siswa-siswi dari sekolah maupun tingkat perguruan tinggi.
Tokoh Wali Songo disebut dengan panggilan "Sunan". Para Sunan ini, berupaya semaksimal mungkin untuk mendekati masyarakat Indonesia, dengan berbagai cara-cara yang santun, bahkan dapat dikatakan menyesuaikan dengan keanekaragaman budaya di Indonesia. Salah satunya adalah Sunan Kalijaga, tokoh Wali Songo yang menggunakan wayang kulit untuk menyebarkan Islam.
Mengutip buku Bahagia Bersama Gus Baha karya Khoirul Anam (31:2022), diceritakan oleh Gus Baha, ketika Sunan Kalijaga menciptakan wayang untuk mendakwahkan Islam, Sunan Giri bereaksi keras dengan menyebut bahwa wayang haram hukumnya dalam Islam. Kala itu, wayang yang digunakan Sunan Kalijaga berbentuk menyerupai manusia. Masyarakat Jawa menyebut wayang yang demikian dengan wayang tenghul.
Saat itu Sunan Giri tidak menerima hal tersebut, menurutnya membuat wayang hukumnya haram. Saat itu, Sunan Kalijaga pertama kali menciptakan wayang dari kulit lembu. Sunan Giri mengungkapkan, dikhawatirkan nantinya wayang yang berbentuk menyerupai manusia tersebut akan meminta nyawa kelak nanti di akhirat.
Dalam suasana perdebatan tersebut, Sunan Kudus menengahi keadaan dengan memberikan solusi agar wayang dibuat dengan bentuk yang pipih atau gepeng seperti halnya wayang kulit.
*Mengapa Wayang Digunakan sebagai Sarana Penyebaran Agama Islam?*
Dikutip dari Buku Intisari SKI (Sejarah Kebudayaan Islam) karya Siti Wahidoh (68:2020) kesenian wayang kulit yang awalnya berisi kisah-kisah cerita Hindu, oleh Sunan Kalijaga, kisah-kisah tersebut diganti dengan kisah-kisah yang berisikan ajaran islam.
Alasan mengapa wayang digunakan sebagai media penyebaran Agama Islam ialah karena pada saat itu, masyarakat Indonesia sangat menyukai pertunjukan wayang. Hal tersebut diperkirankan sengaja dibuat oleh Sunan Kalijaga untuk memperkenalkan ajaran Islam kepada masyarakat Jawa, yang kala itu masih memeluk agama Hindu dan Budha. Cara itu terbukti menarik masyarakat Jawa yang masih mengenal animisme dan dinamisme untuk mengenal Islam.
Dalam mementaskan wayang, Sunan Kalijaga yang memilili nama asli Raden Syahid ini populer dengam lakon yang kisah-kisah carangan (improvisasi dari pakem). Beberapa yang terkenal adalah lakon Dewa Ruci, yang ditafsirkan sebagai kisah Nabi Khidir as. Berikut adalah lakon wayang yang dijadikan topik dakwah oleh Sunan Kalijaga:
1. Jimat Kalimasada tak lain merupakan perlambang dari kalimat syahadat.
2. Pandawa lima ditafsirkan sebagai rukun Islam.
3. Adat kebiasaan kenduri pun dijadika sarana syiar.
4. Puja-puji dalam sesaji kebiasaan Agama Hindu dan Agama Budha diganti dengan doa dan bacaan dari kitab suci al-Quran.
Kembali kepada jalan tengah yang diambil Sunan Kudus ketika menengahi perdebatan soal penggunaan media wayang untuk berdakwah, hal ini dianggap sebagai bahwa hukum-hukum fikih bisa dimodifikasi atau disesuaikan demi kebaikan bersama. Dalam hal ini ialah, agama sejak awal dimaksudkan untuk menanamkan kebaikan.
Demikian ulasan tentang wayang kulit digunakan oleh wali untuk menyebarkan Islam yang dilakukan oleh Sunan Kalijaga. Semoga ulasan di atas dapat bermanfaat. (ANG)
[6/3 19.13] rudysugengp@gmail.com: JawaPos.com
*Ukiran Islam Nusantara di Wayang Klithik Warisan Sunan Kudus*
Miftakhul F.S
Senin, 5 Juni 2017 | 19:10 WIB.
Warisan Sunan Kudus bukan hanya menara dan masjid yang berada di depan Desa Kauman. Banyak pula warisan dalam bentuk budaya nonbenda. Salah satunya wayang klithik.
M. Salsabyl Ad'n, Kudus
SENJA sudah jatuh di Desa Wonosoco, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus. Tak beda dengan desa lain, keramaian desa itu langsung menghilang bersama dengan sinar matahari. Salah satu desa paling selatan Kudus itu berbatasan dengan Kabupaten Purwodadi. Perjalanan dari pusat kota Kudus di Desa Kauman ke desa itu memerlukan waktu hingga satu jam.
Namun, perjalanan tersebut memang harus ditempuh untuk melacak jejak salah satu warisan Sunan Kudus. Yakni wayang klithik. Di Kota Kretek tersebut, Desa Wonosoco merupakan satu-satunya tempat pagelaran wayang.
Satu-satunya dalang wayang klithik Kudus, Sutikno, tinggal di desa tersebut. Pria yang sehari-hari bekerja sebagai kuli bangunan itu menjadi dalang generasi kedelapan setelah diwarisi mendiang ayahnya, Sumarlan. Sayang, dia hanya diwarisi dua lakon, Damar Wulan dan Mbangun Sigit Swarga Bandhang.
Dua lakon itu memang satu-satunya ilmu yang tersisa dari berbagai lakon yang seharusnya bisa disajikan. Memang masih banyak kisah kerajaan Hindu-Buddha di Jawa yang diperankan dalam pagelaran wayang klithik. Namun, dua pakem itulah yang lestari. Semua itu disebabkan tradisi resik sendang.
Resik sendang adalah tradisi Desa Wonosoco yang dilakukan pada pertengahan tahun. Tepatnya pada Kamis Pon dan Jumat Kliwon. Pada kesempatan itu, warga harus membersihkan Sendang Dewot dan Sendang Gading sebagai wujud rasa syukur.
Dua lakon itu dipentaskan di tiap-tiap sendang. Damar Wulan disajikan di Sendang Dewot dan Mbangun Sigit Swarga Bandhang dipentaskan di Sendang Gading.
Anak kedua Sumarlan itu masih melihat adanya percik-percik ajaran Islam dalam lakon yang dipentaskannya tiap tahun tersebut. Misalnya lakon Mbangun Sigit Swarga Bandhang. Lakon tersebut mengisahkan adik utusan Damar Wulan yang disuruh membangun masjid di Kadipaten Sukodono.
Menurut versi Sutikno, wayang klithik di Kudus memang diawali Sayyid Ja'far Shadiq Azmatkhan alias Sunan Kudus. Karena ingin menerapkan cara syiar yang mengena kepada masyarakat, Sunan Kudus menggunakan kesenian sebagai alat.
Dia pun bekerja sama dengan tokoh lain yang dikenal sebagai Kiai Telingsing untuk membuat wayang dari kayu. Kiai Telingsing memang dikenal sebagai tokoh yang pandai membuat ukiran. Kisah tersebut dikuatkan pakar sejarah Kudus Edy Supratno. ”Menurut catatan saya, Telingsing merupakan pendatang dari Yunnan, Tiongkok. Kiai yang juga punya nama asli Sun Gin An itu memang disebut ahli mengukir,” ungkapnya.
Humas Yayasan Masjid Menara dan Makam Sunan Kudus Denny Nurhakim menambahkan, Sunan Kudus yang masuk ke generasi akhir Wali Sanga memang memilih media seni dan budaya dalam melakukan ceramah agama. Karena itulah, wayang klithik sebagai salah satu alat syiarnya akhirnya menarik masyarakat untuk mendengarkan ceramahnya.
Selain wayang, Sunan Kudus juga mewariskan banyak kesenian lain yang mengandung nilai Islami. Misalnya tembang macapat maskumambang yang menekankan welas asih. Juga mijil yang menceritakan pedoman hidup. ”Semua itu dikemas dengan bahasa yang mudah dimengerti oleh masyarakat lokal,” jelas dia. (*/c11/dos)
[7/3 13.01] rudysugengp@gmail.com: Pemkabkudus.com
Berita
home berita
PROFIL KUDUS
Profil Kabupaten Kudus dapat dilihat melalui beberapa menu berikut ini
Sejarah Singkat
Geografis
Pemerintahan
Indeks Kepuasan Masyarakat
Sejarah Kota Kudus
Sejarah Kota Kudus tidak terlepas dari Sunan Kudus. Karena keahlian dan ilmunya, maka Sunan Kudus diberi tugas memimpin para Jamaah Haji, sehingga beliau mendapat gelar “Amir Haji” yang artinya orang yang menguasai urusan para Jama’ah Haji. Beliau pernah menetap di Baitul Maqdis untuk belajar agama Islam. Ketika itu disana sedang berjangkit wabah penyakit, sehingga banyak orang yang mati. Berkat usaha Ja’far Shoddiq, wabah tersebut dapat diberantas. Atas jasa-jasanya, maka Amir di Palestina memberikan hadiah berupa Ijazah Wilayah, yaitu pemberian wewenang menguasai suatu daerah di Palestina. Pemberian wewenang tersebut tertulis pada batu yang ditulis dengan huruf arab kuno, dan sekarang masih utuh terdapat di atas Mihrab Masjid Menara Kudus.
Peran Sunan Kudus
Sunan Kudus memohon kepada Amir Palestina yang sekaligus sebagai gurunya untuk memindahkan wewenang wilayah tersebut ke pulau Jawa. Permohonan tersebut dapat disetujui dan Ja’far Shoddiq pulang ke Jawa. Setelah pulang, Ja’far Shoddiq mendirikan Masjid di daerah Kudus pada tahun 1956 H atau 1548 M. Semula diberi nama Al Manar atau Masjid Al Aqsho, meniru nama Masjid di Yerussalem yang bernama Masjidil Aqsho. Kota Yerussalem juga disebut Baitul Maqdis atau Al-Quds. Dari kata Al-Quds tersebut kemudian lahir kata Kudus, yang kemudian digunakan untuk nama kota Kudus sekarang. Sebelumnya mungkin bernama Loaram, dan nama ini masih dipakai sebagai nama Desa Loram sampai sekarang. Masjid buatan Sunan Kudus tersebut dikenal dengan nama masjid Menara di Kauman Kulon. Sejak Sunan Kudus bertempat tinggal di daerah itu, jumlah kaum muslimin makin bertambah sehingga daerah disekitar Masjid diberi nama Kauman, yang berarti tempat tinggal kaum muslimin.
Cerita Rakyat
Ada cerita rakyat di Kudus tentang "apa sebab masyarakat Kudus sampai sekarang tidak menyembelih sapi?". Sebelum kedatangan Islam, daerah Kudus dan sekitarnya merupakan Pusat Agama Hindu. Dahulu Sunan Kudus ketika dahaga pernah ditolong oleh seorang pendeta Hindu dengan diberi air susu sapi. Maka sebagai rasa terima kasih, Sunan Kudus waktu itu melarang menyembelih binatang sapi dimana dalam agama Hindu, sapi merupakan hewan yang dimuliakan.
Hari Jadi Kota Kudus
Hari Jadi Kota Kudus di tetapkan pada tanggal 23 September 1549 M dan diatur dalam Peraturan Daerah (PERDA) No. 11 tahun 1990 tentang Hari Jadi Kudus yang di terbitkan tanggal 6 Juli 1990 yaitu pada era Bupati Kolonel Soedarsono. Hari jadi Kota Kudus dirayakan dengan parade, upacara, tasyakuran dan beberapa kegiatan di Al Aqsa / Masjid Menara yang dilanjutkan dengan ritual keagamaan seperti doa bersama dan tahlil.
Copyright © Bappeda Kabupaten Kudus 2021. All Rights Reserved. Jual Beli Saldo Paypal, Top Up Paypal Terpercaya
[7/3 13.09] rudysugengp@gmail.com: Kompas.com Stori Biografi Sunan Kudus, Wali yang Berilmu Luas Kompas.com, 10 Juni 2024, 11:00 WIB Baca di App Ini Tanjung Tani, Widya Lestari Ningsih Tim Redaksi Lihat Foto KOMPAS.com - Sunan Kudus adalah salah satu Wali Songo yang menyebarkan agama Islam di wilayah Jawa Tengah, khususnya di Kudus dan sekitarnya. Peran Sunan Kudus tidak hanya sebagai ulama, tetapi juga panglima perang sekaligus penasihat Kerajaan Demak. Prestasi Sunan Kudus membuatnya mendapat julukan Waliyul Ilmi atau Wali al-Ilmi, yang berarti orang yang berilmu luas. Salah satu peninggalan Sunan Kudus yang terkenal adalah Masjid Menara Kudus, yang dibangun pada tahun 1549 Masehi (956 Hijriah). DPR Minta Pengangkatan CPNS dan PPPK 2024 Dipercepat agar Tidak Banyak yang Menganggur Berikut biografi singkat Sunan Kudus. Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+ Baca juga: Biografi Sunan Gresik, Wali Songo Pertama yang Berdakwah di Jawa Islamic Arts Biennale 2025, dari Kiswah Kabah hingga Wayang Sadat dan Batik Artikel Kompas.id Asal-usul dan nama Sunan Kudus Tidak diketahui pasti tempat dan tanggal lahir Sunan Kudus. Ia diperkirakan lahir di Jawa Tengah pada sekitar tahun 1400. Nama asli Sunan Kudus adalah Ja’far Shadiq. Ia merupakan putra dari Sunan Ngudung atau Raden Usman Haji, saudara kandung Sunan Ampel. Apabila ditelusuri silsilahnya, Sunan Kudus merupakan cucu buyut dari Syekh Ibrahim As-Samarqandi, keturunan Rasulullah jalur Husein bin Fatimah binti Nabi Muhammad SAW. Sunan Kudus dikenal sebagai Waliyul Ilmi di antara sembilan wali, karena menguasai berbagai bidang ilmu, seperti ilmu tauhid, hadis, tafsir, sastra, mantiq (logika), dan fikih. Selain bidang tersebut, Sunan Kudus juga merupakan seorang pujangga. Salah satu karyanya berupa tembang macapat, yakni Maskumambang dan Mijil. Baca juga: Strategi Dakwah Wali Songo Wilayah dakwah Sunan Kudus Melansir Kompas.com, Sunan Kudus mulanya aktif memperluas wilayah Kerajaan Demak sebagai pusat pengembangan Islam masa akhir Majapahit. Ketika Kerajaan Demak mulai dipenuhi konflik usai wafatnya Sultan Trenggono, ia memutuskan pindah ke Kudus dan mulai fokus menyebarkan agama Islam di sana. Baca juga: Kenaikan Pangkat Mayor Teddy Jadi Letkol Dinilai Janggal Sebelum berdakwah, Sunan Kudus berguru kepada ayahnya di Jipang Panolan, dekat Blora, Jawa Tengah. Selain berguru kepada ayahnya, Sunan Kudus belajar kepada beberapa ulama terkenal, seperti Kyai Telingsing, Ki Ageng Ngerang, dan Sunan Ampel. Ketika berdakwah di sekitar daerah Kudus, strategi yang diterapkan Sunan Kudus tidak jauh berbeda dari para Wali Songo lainnya. Sunan Kudus juga membumikan Islam sesuai dengan adat budaya dan kepercayaan penduduk melalui sinkrentisisasi dan asimilasi. Sunan Kudus memilih pendekatan sosial dan budaya dengan menyebarkan Islam melalui kesenian wayang. Baca juga: Masjid Kudus, Asimilasi Budaya Islam dan Hindu Jenis wayang yang dipilih oleh Sunan Kudus untuk berdakwah adalah wayang klithik atau wayang krucil yang terbuat dari kayu. Dalam berdakwah, Sunan Kudus menciptakan tembang-tembang seperti Maskumambang dan Mijil, dan memasukkan pesan-pesan moral serta keagamaan di dalamnya. Sunan Kudus berdakwah di tengah kondisi masyarakat yang masih memeluk kepercayaan lama dan memegang teguh adat-istiadat. Baca juga: Jawaban Lucu Ganjar Saat Ditanya Puan di Ceramah Masjid Kampus UGM Sunan Kudus juga tidak melakukan perlawanan terhadap budaya yang sudah berkembang dan melekat di masyarakat. Untuk mendekati umat Hindu, Sunan Kudus menggunakan sapi yang diletakan di depan masjid. Cara ini menarik umat Hindu berdatangan karena ingin menyaksikan bagaimana Sunan Kudus memperlakukan sapi tersebut. Perlu diketahui, sapi merupakaan hewan yang dihormati dan dianggap suci oleh masyarakat Hindu, sehingga dilarang untuk disembelih. Baca juga: Metode Dakwah Sunan Kudus Setelah masyarakat Hindu berdatangan ke depan masjid, Sunan Kudus hanya membiarkan sapi dalam kondisi terikat dan tidak boleh disembelih. Sunan Kudus kemudian memberikan ceramah di hadapan umat Hindu. Sebagai bentuk penghormatan dan penghargaan kepada umat Hindu, Sunan Kudus melakukan strategi dengan tidak menyembelih sapi pada saat Idul Adha. Baca juga: Satpol-PP Tak Berdaya, Warga Rebut Alat Berat dan Bongkar Paksa Hibisc Fantasy Bogor Sunan Kudus juga membangun masjid yang mengadopsi arsitektur pura, atau tempat ibadah umat Hindu. Masjid yang dikenal sebagai Masjid Menara Kudus tersebut bangunannya memiliki lima buah pintu di sebelah kanan dan lima buah pintu di sebelah kiri. Masjid Menara Kudus menjadi sebuah simbol akulturasi antara ajaran Islam dengan kebudayaan Hindu. Baca juga: Respons Melly Mono Tahu Namanya Ramai Disebut Jadi Inspirasi Lagu "Yang Terdalam" Ciptaan Ariel NOAH Bahkan beberapa ornamen lainya juga menunjukkan akulturasi dengan agama Buddha dan Konghucu. Di samping menyampaikan ajaran Islam, Sunan Kudus juga mengajarkan beberapa keterampilan kepada masyarakat seperti membuat berbagai alat pertukangan. Ia juga dikenal sebagai pedagang yang kaya. Meski belum diketahui secara pasti apa yang diperdagangkan Sunan Kudus saat itu, beberapa sumber mengatakan bahwa barang yang diperdagangkan adalah kain. Baca juga: Metode Dakwah Sunan Gunung Jati Akhir hidup Tidak diketahui secara pasti kapan perjuangan Sunan Kudus dalam berdakwah harus berhenti. Beberapa sumber menyebut bahwa Sunan Kudus wafat pada tahun 1550. Sunan Kudus dimakamkan di bagian belakang Masjid Agung Kudus di kota Kudus, Jawa Tengah. Makam Sunan Kudus hingga kini masih ramai didatangi para peziarah dari berbagai daerah. Referensi: Institutional Repository UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. (2018). Sunan Kudus: Dinamika Ajaran, Tradisi dan Budaya di Kudus Jawa Tengah Tahun 1990-2015 [Unpublished doctoral dissertation]. UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
[7/3 13.12] rudysugengp@gmail.com: Sejarah Kota Kudus
Sejarah Kota Kudus tidak terlepas dari Sunan Kudus. Karena keahlian dan ilmunya, maka Sunan Kudus diberi tugas memimpin para Jamaah Haji, sehingga beliau mendapat gelar “Amir Haji” yang artinya orang yang menguasai urusan para Jama’ah Haji. Beliau pernah menetap di Baitul Maqdis untuk belajar agama Islam. Ketika itu disana sedang berjangkit wabah penyakit, sehingga banyak orang yang mati. Berkat usaha Ja’far Shoddiq, wabah tersebut dapat diberantas. Atas jasa-jasanya, maka Amir di Palestina memberikan hadiah berupa Ijazah Wilayah, yaitu pemberian wewenang menguasai suatu daerah di Palestina. Pemberian wewenang tersebut tertulis pada batu yang ditulis dengan huruf arab kuno, dan sekarang masih utuh terdapat di atas Mihrab Masjid Menara Kudus.
[7/3 13.25] rudysugengp@gmail.com: Potongan akhir Sunan Kudus dibuang
Sikap Teladan Sunan Kudus :
1. Sunan Kudus dikenal sebagai Guru Akbar dengan gelar Waliyyul Ilmi karena keilmuannya yang sangat tinggi. Banyak murid yang datang untuk menimba ilmu darinya.
2. Selain memiliki ilmu yang mendalam, Sunan Kudus juga dikenal sebagai seorang saudagar yang ulet. Ia menanamkan semangat berdagang kepada masyarakat Kudus agar mereka bisa mandiri.
Usaha kecil dan menengah berkembang pesat di sekitar kompleks makam Sunan Kudus.
3. Ia menghormati dan mentoleransi nilai-nilai lama masyarakat, seperti yang tercermin dalam arsitektur Menara Kudus yang menggabungkan unsur Islam, Hindu, dan Tionghoa.
4. Contoh lainnya adalah larangan menyembelih sapi yang masih dipatuhi hingga kini, sebagai bentuk penghormatan terhadap masyarakat Hindu setempat.
5. Sunan Kudus juga dikenal sebagai patriot yang rela berjuang demi bangsanya. Ia pernah memimpin pasukan melawan Portugis di Malaka, menunjukkan disiplin dan keberanian yang tinggi.
Kelima karakter Sunan Kudus, keilmuan, kemandirian, pluralisme, patriotisme, dan keahlian seni, tidak harus dimiliki oleh setiap generasi milenial.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar