Jumat, 07 Maret 2025

SUNAN KALIJAGA Kompas.com

 *Biografi Sunan Kalijaga, Wali Songo dari Tuban*

Kompas.com, 7 Agustus 2024, 18:00 WIB

Yulisha Kirani Rizkya Pangestuti, 

Widya Lestari Ningsih 

Tim Redaksi

Sumber: Kompas.com

KOMPAS.com - Sunan Kalijaga adalah salah satu tokoh Wali Songo yang terkenal dengan metode dakwahnya melalui kesenian. 

Metode dakwah yang sangat toleran terhadap budaya lokal dengan melalui kesenian seperti wayang, nyanyian, dan gamelan, tidak lepas dari pengaruh guru Sunan Kalijaga, yakni Sunan Bonang. 

Selama menjalankan dakwah Islam, karya kesenian yang diciptakan oleh Sunan Kalijaga antara lain Serat Dewo Ruci, Suluk Ling-Lung, Kidung Rumekso Ing Wengi, serta beberapa tembang. 

Berikut ini sejarah Sunan Kalijaga dari lahir hingga wafat. 

*Silsilah Sunan Kalijaga*

 Kisah-kisah Sunan Kalijaga semasa hidupnya terkadang terdapat beberapa versi, karena sumber sejarah yang orisinal memang tidak ada. 

Umumnya, para penyusun biografi Sunan Kalijaga berpatokan pada Babad Tanah Jawi dan kisah-kisah mengenai sang sunan di masyarakat yang mungkin telah terdistorsi. 

Para ahli berpendapat bahwa Sunan Kalijaga dilahirkan di Tuban, Jawa Timur, pada tahun 1450. 

Nama asli Sunan Kalijaga adalah Raden Said. Ia merupakan putra dari Adipati Tuban, Tumenggung Wilatikta, dan Dewi Nawangrum. 

Dalam Babad Tuban, disebutkan bahwa Tumenggung Wilatikta adalah anak dari Arya Teja, yang nama aslinya Abdurrahman, seorang ulama keturunan Arab yang mengislamkan Bupati Tuban, Arya Dikara. 

Abdurrahman bahkan menjadi menantu Arya Dikara dan menggatikan mertuanya menjadi Bupati Tuban. Sejak itu, ia dikenal sebagai Arya Teja, yang menamai putranya Arya Wilatikta. 

Dari pernikahan sebelumnya, Arya Teja memiliki putri bernama Nyai Ageng Manila, yang kemudian dipersunting oleh Sunan Ampel, yang menetap di Surabaya. 

Menurut sejarah, Sunan Kalijaga memiliki tiga istri, yaitu Siti Zaenab, Dewi Sarah, dan Siti Hafsah. Dari Siti Zaenab, Sunan Kalijaga memiliki keturunan yang dinamai Watiswara (Sunan Panggung), Watiswari, dan Ratu Champaka. 

Dari pernikahannya dengan Dewi Sarah, keturunan Sunan Kalijaga adalah Raden Umar Said (Sunan Muria), Dewi Rukayah, dan Dewi Sofiah.

*Nama lain Sunan Kalijaga*

 Selain Raden Said, Sunan Kalijaga dikenal dengan beberapa nama lain, seperti Syaikh Malaya, Pangeran Tuban, Ki Dalang Sida Brangti, Berandal Lokajaya, dan Raden Abdurrahman. 

Terkait asal-usul nama Kalijaga sendiri terdapat beberapa versi cerita. Ada yang menafsirkan kata "kalijaga" berasal dari bahasa Arab "qadizakka". Kata "qadi" berarti pelaksana, penjaga, atau pemimpin, dan "zakka" berarti membersihkan, sehingga Kalijaga dapat diartikan seorang pemimpin yang suci atau menegakkan kebenaran dalam agama Islam. 

Ada pula yang menafsirkan nama Kalijaga berasal dari bahasa Jawa, yakni kali (sungai) dan jaga (menjaga). 

Penafsiran ini berasal dari kisah dalam Babad Tanah Jawi, yang menyebut Sunan Kalijaga pernah bertapa di tepi sungai, seakan-akan sedang menjaga sungai. 

Di samping itu, terdapat argumen bahwa Kalijaga adalah nama sebuah wilayah atau desa. 

 Pendapat ini diperkuat fakta bahwa nama Sunan Giri, Sunan Bonang, Sunan Ngudung, Syekh Lemah Abang, yang semuanya diambil berdasarkan tempat tinggal mereka. 

Ada dua versi cerita pula terkait masa muda Sunan Kalijaga dan julukan Berandal Lokajaya. 

Versi pertama mengatakan bahwa rasa solidaritas dan simpati Raden Said terhadap rakyat Tuban mendorongnya untuk mencuri bahan makanan dari gudang kadipaten untuk dibagikan secara diam-diam kepada masyarakat.

Aksi ini akhirnya diketahui, yang menyebabkan Raden Said dihukum dengan cara diusir dari Tuban. Setelah diusir, Raden Said mengembara tanpa tujuan pasti, tetapi masih membantu rakyat kecil dengan cara merampok orang-orang kaya. 

Versi kedua menyebutkan bahwa sejak kecil, Raden Said dikenal sebagai anak nakal, bahkan pernah merampok dan membunuh. 

Meski terdapat perbedaan versi cerita, dari situlah lahir julukan Berandal Lokajaya, yang artinya berandal penguasa daerah.

*Dakwah Sunan Kalijaga*

Sejak kecil, Sunan Kalijaga telah mendapatkan pendidikan agama, serta mempelajari kesenian dan kebudayaan Jawa. 

Konon, ia berhenti menjadi seorang perampok yang hasilnya bukan untuk dinikmati sendiri, tetapi untuk rakyat kecil, setelah bertemu sang guru. 

Guru Sunan Kalijaga adalah Sunan Bonang, yang mengajarinya ilmu-ilmu agama Islam dan spiritual. 

Selain itu, ia pernah belajar agama Islam dari Syekh Siti Jenar, Syekh Sutabaris, Sunan Ampel, Sunan Giri, Sunan Gunung Jati, dan pernah berguru ke Pasai serta berdakwah hingga Patani di Thailand.  

Sunan Kalijaga memulai dakwahnya di Cirebon, Jawa Barat, tepatnya di Desa Kalijaga. 

Dari sana, ia melanjutkan menyebarkan ajaran Islam di daerah Pamanukan dan Indramayu. Sunan Kalijaga terkenal dengan metode dakwahnya yang menggunakan pendekatan seni dan budaya. 

Salah satu cara yang paling populer adalah melalui pertunjukan wayang, yang sangat disukai oleh masyarakat pada saat itu. 

Keberhasilan strategi dakwah ini disebabkan oleh pertunjukan yang tidak memungut biaya, sehingga siapa saja bisa menikmatinya. 

Selain wayang, Sunan Kalijaga juga memanfaatkan bentuk seni lainnya seperti ukiran, gamelan, nyanyian, dan pakaian, sebagai media dakwah. 

Dalam seni ukir, ia menggantikan motif ukir manusia dan hewan dengan ukiran dedaunan. 

Sunan Kalijaga menciptakan gong sekaten yang dinamakan Syahadatain, serta menciptakan berbagai lagu seperti Lir-Ilir, Gundul-Gundul Pacul, Kidung Rumeksa ing Wengi, Lingsir Wengi, dan Suluk Linglung.

Dalam seni berpakaian, Sunan Kalijaga diyakini sebagai pencipta baju takwa yang menjadi bagian dari budaya Jawa, yang ditandai dengan penggunaan blangkon dan surjan. 

Penampilan yang sederhana dan dekat dengan rakyat membuatnya lebih mudah diterima dibandingkan para wali lainnya yang berdakwah dengan memakai jubah. 

Sunan Kalijaga juga menyisipkan beberapa falsafah Islam ke dalam nilai-nilai budaya setempat, salah satunya adalah filosofi "Urip Iku Urup," yang berarti hidup harus memberi manfaat bagi orang di sekitar. 

Pendekatan dakwahnya yang menghargai adat istiadat setempat membuat ajaran Islam mudah diterima oleh masyarakat yang masih menganut kepercayaan lama. 

Dari Jawa Barat, Sunan Kalijaga mengembara ke Demak, Jawa Tengah, untuk membantu Raden Patah yang diutus oleh Sunan Ampel dari Jawa Timur. 

Bersama beberapa Wali Songo, Sunan Kalijaga memiliki peran penting di Kerajaan Demak, kerajaan Islam pertama di Jawa, yang didirikan oleh Raden Patah. 

Sunan Kalijaga juga berperan dalam pendirian Masjid Demak. Salah satu tiang besar di dalam masjid yang disebut tiang tatal, diyakini sebagai salah satu karomah Sunan Kalijaga yang dapat menjadikan serpihan-serpihan kayu tatal menjadi tiang yang kokoh. 

Sunan Kalijaga juga berjasa dalam menentukan arah kiblat masjid. 

*Wafatnya Sunan Kalijaga*

 Untuk menghargai jasa Sunan Kalijaga di Kerajaan Demak, Raden Patah memberinya wilayah Kadilangu di Demak. 

Sunan Kalijaga menetap di Kadilangu hingga akhir hayatnya dan dimakamkan di sana. 

Tidak diketahui pasti kapan Sunan Kalijaga meninggal. Sebagian berpendapat bahwa Sunan Kalijaga hidup sejak era akhir Kerajaan Majapahit, sepanjang kekuasaan Kesultanan Demak, hingga awal berdirinya Kerajaan Pajang dan Kerajaan Mataram Islam. 

Referensi: Hariwijaya. (2006). Islam Kejawen. Yogyakarta: Gelombang Pasang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Perjanjian Lawas

 Buatlah Risalah dan Infografis tentang Perjanjian Kerajaan di  Indonesia yaitu : Perjanjian Giyanti. Ditandatangani pada 13 Februari 1755, ...