Rabu, 30 September 2026

DI PANJAITAN

 JENDERAL YANG BERPAKAIAN LENGKAP MENUJU MAUT



Kronologi Penculikan, Kesaksian, dan Fakta Visum Brigjen D.I. Panjaitan


BAGIAN 1 — BERPAKAIAN RAPI UNTUK SEBUAH "UPACARA"


Subuh, 1 Oktober 1965, sekitar pukul 04.00 WIB. Dua truk berisi sekitar lima puluh personel gabungan Resimen Tjakrabirawa dan Batalyon 454 Diponegoro, di bawah pimpinan Sersan Mayor Soekardjo, mengepung rumah dua lantai milik Brigadir Jenderal Donald Isaac Panjaitan di Jalan Hasanuddin, Blok M, Kebayoran Baru, dari segala penjuru.


Panjaitan salah mengira kedatangan mereka sebagai panggilan resmi untuk menghadap Presiden Soekarno. Dengan tenang, ia justru berpakaian rapi dan lengkap — mengenakan seragam dinas beserta topi, layaknya hendak menghadiri sebuah upacara kenegaraan, bukan menghadapi maut.


Namun di luar dugaannya, pasukan itu mulai menembaki barang-barang di rumahnya hingga berantakan. Sebagai seorang yang taat beragama, Panjaitan menolak menggunakan kekuatan para penjaga bersenjata di rumahnya sendiri, meski sempat diperingatkan berkali-kali oleh orang-orang terdekatnya. Ia percaya sepenuhnya bahwa hanya Tuhan yang akan melindunginya malam itu.


BAGIAN 2 — DIPUKUL DAN DITEMBAK DI HALAMAN RUMAHNYA SENDIRI


Begitu keluar rumah dengan seragam lengkapnya, Panjaitan langsung dihadapkan pada kekerasan yang tidak terduga. Ia dipukuli terlebih dahulu oleh pasukan yang menjemputnya, sebelum akhirnya ditembak mati tepat di halaman rumahnya sendiri — menjadikannya salah satu dari tiga jenderal yang tidak sempat dibawa hidup-hidup ke Lubang Buaya, bersama Ahmad Yani dan M.T. Haryono.


Jasadnya kemudian diangkut bersama dua jenderal lain yang gugur di rumah masing-masing, dibawa menuju kawasan Lubang Buaya, Jakarta Timur, untuk digabungkan dengan empat korban lain yang diculik hidup-hidup.


BAGIAN 3 — SUMUR YANG SAMA, NASIB YANG SAMA


Seperti keenam rekannya, jasad Panjaitan dibuang ke sebuah sumur tua berkedalaman sekitar 12 meter dengan mulut sumur hanya selebar 0,75 meter, yang kemudian ditimbun sampah kering dan dedaunan agar tersamar sebagai tanah kosong biasa.


Sumur itu baru ditemukan pada 3 Oktober 1965, setelah kesaksian seorang polisi bernama Sukitman yang berhasil lolos dari Lubang Buaya dan melapor ke Markas RPKAD di Cijantung. Proses evakuasi yang rumit karena sempitnya sumur baru dituntaskan keesokan harinya, 4 Oktober, oleh pasukan Para Amfibi KKO-AL — dan dari catatan sejarah, jenazah D.I. Panjaitanlah yang terakhir berhasil diangkat ke permukaan dari ketujuh korban.


BAGIAN 4 — APA YANG DIKATAKAN FILM, APA YANG DIKATAKAN VISUM


Narasi Orde Baru menggambarkan proses kematian para jenderal — termasuk Panjaitan — dengan adegan penyiksaan sadis: dipukuli beramai-ramai, tubuh disayat, sebelum akhirnya ditembak di depan mata penonton yang mengamuk.


Namun dokumen visum et repertum RSPAD dan UI mencatat gambaran yang lebih presisi dan berbeda dari dramatisasi itu — kematian Panjaitan memang melibatkan kekerasan fisik, tapi bentuknya jauh lebih spesifik daripada mutilasi yang selama ini digambarkan.


BAGIAN 5 — YANG SEBENARNYA TERTULIS DI VISUM D.I. PANJAITAN


Tim forensik mencatat empat luka tembak di kepalanya: satu di alis kanan, satu di kepala bagian atas kanan, satu di kepala kanan belakang, dan satu lagi di kepala belakang kiri — pola yang konsisten dengan tembakan dari berbagai sudut saat ia sudah roboh di halaman rumahnya.


Selain luka tembak, ditemukan pula luka iris akibat senjata tajam di kedua tangannya, kanan dan kiri — pola luka yang umumnya muncul ketika seseorang berusaha menangkis serangan atau melindungi kepalanya dengan tangan kosong, sejalan dengan kesaksian bahwa ia dipukuli sebelum ditembak.


Sama seperti keenam rekannya, pemeriksaan menyeluruh pada jenazahnya tidak menemukan satu pun bukti mutilasi kelamin atau mata yang dicongkel paksa.


BAGIAN 6 — PENUTUP


D.I. Panjaitan menghadapi detik-detik terakhirnya dengan cara paling tenang dari semua korban — berpakaian rapi, percaya penuh bahwa Tuhan akan melindunginya, menolak perlindungan senjata dari para penjaganya sendiri. Empat peluru di kepala dan luka tangkisan di kedua tangannya mengakhiri hidupnya tepat di halaman rumah yang ia tinggali bersama keluarganya.


Jasadnya menjadi yang terakhir diangkat dari sumur Lubang Buaya, setelah tersimpan di sana bersama enam rekan lain selama hampir tiga hari — mengungkap kebenaran yang jauh lebih tenang dan jauh lebih manusiawi dari kisah kekejaman yang diceritakan berpuluh tahun kemudian.


Sumber:

1. Tribunnewswiki.com — "G30S 1965 - Penculikan Brigjen DI Pandjaitan"

2. Tribunnews.com — "Sejarah G30S 1965: Penculikan Brigjen DI Pandjaitan, Dipukul dan Ditembak Mati di Halaman Rumah"

3. Beritamerdeka.net — "Peristiwa G30S/PKI: Malam Kelam Penculikan Tujuh Jenderal"

4. Kompas.com — "Dokumen Otopsi Ungkap Tidak Ada Luka Penyiksaan pada Jenderal dan Korban G30S"


Foto :

Restorasi AI, Brigjen D. I Panjaitan


#SejarahIndonesia #G30SPKI #JangkauanLuas

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PMP ?

 Alasan Penting Mengapa Pelajaran Pendidikan Moral Pancasila (PMP) Perlu Diadakan Kembali Di tengah perkembangan zaman yang semakin cepat, k...