Sebenarnya sebelum peristiwa G 30 s pki meletus, ekonomi negara kita sudah morat-marit. Salah satu penyebabnya adalah pembangunan stadion Gelora Bung Karno.
Pembangunan yang nekat ... yang dilakukan oleh presiden pertama negara Indonesia, yang berjuluk Singa Podium-Bung Karno. Tujuannya membuat stadion itu untuk melawan dunia, menyaingi kemegahan pesta olahraga olimpiade.
Proyek ini dikenal dengan istilah Ganevo. Waktu itu Bung Karno lagi ngambeg pada organisasi olahraga yang terbesar di dunia. Salah satu yang membuat Bung Karno ngambeg adalah dimasukkannya Israel dalam pesta olahraga terbesar di muka bumi tersebut.
Tidak bisa dipungkiri, diantara presiden Indonesia yang pernah ada, Bung Karno lah yang memiliki harga diri paling tinggi. Lelaki flamboyan yang sangat tampan, mampu membuat duni angkat tangan.
Namun, akibat ambisinya menantang dunia dalam bidang olahraga, uang negara terkuras untuk pembangunan itu, inflasi pun terjadi. Rakyat kesulitan untuk mendapatkan sembako dan minyak tanah di masanya.
Ini seharusnya menjadi pelajaran bagi Jokowi presiden Indonesia ke 7, pembangunan ugal-ugalan tanpa perencanaan yang matang akan berimbas pada kehidupan rakyat. Negara terbelit utang, akhirnya rakyatlah yang harus membayarnya. Rakyat dipalak dengan cara menaikan pajak.
Namun, Bung Karno membangun tujuannya untuk mengangkat derajat bangsa. Tapi, entah apa niat Jokowi membangun dengan cara ugal-ugalan seperti itu.
Beberapa jalan tol dan bandar udara sepi, hanya menghabiskan uang negara untuk perawatan. IKN magkrak, kereta api wosssss tersendat dan tidak sesuai dengan rencana awal yang digembar-gemborkan. Begitu juga dengan proyek lain, terkesan asal jadi.
Untuk apakah semua itu?
Apakah benar-benar untuk bangsa, atau hanya sekedar menaikan citra saja? Atau mungkin juga untuk menempatkan seluruh anggota keluarganya jadi penguasa.
Entahlah, hanya kodok bersenandung yang bisa menjawabnya.
Kembali ke topik....
G 30 s pki meletus, kekacauan pun terjadi. Mahasiswa berunjuk rasa, mereka menuntut.
Tuntutan mereka terkenal dengan istilah tritura. Mereka bersatu dalam kesatuan yang bernama amanat penderitaan rakyat atau Ampera.
Mungkin gara-gara nama ini pula orang Minang membuat rumah makan Ampera, dengan harga yang sangat murah. Cikal-bakal Rumah Makan Padang serba 10 ribu 😁😊😊
Upssss ... kembali ke topik.
Tritura atau tiga tuntutan rakyat adalah gerakkan masa, salah dua dari tuntutan mereka adalah, turunan harga barang dan bubarkan PK1.
Mahasiswa bersatu dengan rakyat untuk berunjuk rasa, dalam peristiwa tersebut seorang putra dari Minang kabau gugur sebagai suhada, beliau bernama Arief Rahmad Hakim, yang kemudian dinobatkan sebagai pahlawan Ampera.
Ketika Pak Harto berkuasa, rakyat sedang sengsara karena kekurangan makanan dan bahan bakar. Kebetulan Amerika Serikat jatuh hati pada Indonesia karena keberhasilan Pak Harto menumpas kelompok komunis di Indonesia di akhir tahun 65.
Saat itu hubungan Amerika beserta sekutunya sedang panas dengan negara Unisoviet dan negara-negara lain yang mendukung Unisoviet, seperti Cina.
Waktu partai Pki masuk 4 besar pemilu di Indonesia, Amerika sangat khawatir, mereka takut Indonesia akan dikuasai oleh komunis.
Zaman itu Komunis yang dipimpin Unisoviet adalah musuh terberat Amerika. Persaingan Amerika dan Unisoviet membuat dunia terbagi menjadi dua kelompok. Pro Barat dan pro Timur.
Blok barat dipimpin oleh Amerika dengan Natonya, dan Blok Timur dipimpin oleh Unisoviet dengan Faktawarsawa-nya.
Bung Karno sang singa podium muncul sebagai penengah dengan memprakarsai Gerakan Non Blok, yang menelurkan Ktt Non Blok.
Amerika tidak mau Indonesia dikuasai komunis. Sebab, bila Indonesia dikuasai oleh komunis, maka akan terjadi efek domino. Australia lambat laun pun akan dikuasai oleh komunis, itu artinya komunis akan mudah menguasai Asia.
Maka Amerika berusaha mencari muka dengan menawarkan bantuan pada Indonesia. Tentu saja Pak Harto sangat senang dengan tawaran Amerika tersebut, apalagi keuangan negara waktu itu benar-benar sedang memprihatinkan.
Amerika mau membantu Indonesia tapi hanya dalam bentuk alat perang, yaitu senjata. Pak Harto tahu, Indonesia sangat dibutuhkan oleh Blok Barat dan Blok Timur. Jadi, Beliau langsung menggunakan hak tawarnya.
Pada saat itu juga Pak Harto melihatkan tajinya sebagai seorang pemimpin negara yang sangat besar. Pak Harto tidak mau menerima senjata, Beliau malah meminta beras.
'Bagaimana rakyat kami mau memanggul senjata sedangkan tubuh mereka gemetar karena lapar, yang kami butuhkan saat ini adalah beras. Bila Anda ingin berteman dengan kami, maka berilah kami beras.' Begitu kira-kira narasi Pak Harto waktu itu.
Presiden Amerika berusaha untuk memenuhi permintaan Pak Harto, tapi anggota parlemen Amerika menolak. Namun, karena kegigihan Presiden Amerika waktu itu, dan dia begitu piawai melobi anggota senat, akhirnya parlemen Amerika memenuhi permintaan Pak Harto.
600 ribu ton beras dikirim dari Amerika untuk Indonesia. Maka, selamatlah kakek-nenek, atau uyut kita dari kelaparan.
Andai bantuan beras itu tidak diberikan oleh Amerika, entah berapa ribu orang Indonesia yang akan koit karena lapar.
Bisa saja, salah satu dari orang yang mati karena kelaparan itu adalah nenek atau kakek kita. Itu artinya kita tidak akan pernah lahir ke muka bumi ini.
Bagaimana mau lahir, jika nenek dan kakek yang menjadi mesin produksi orang tua kita keburu meninggal karena lapar.
Pertemanan Indonesia dan Amerika menjadi erat. Ini pula yang membuat emas freport akhirnya dikelola oleh Amerika. Apakah itu salah?
Jawabannya ada pada postingan berikutnya.
Dana yang didapat dari Amerika lewat kerja sama freport, tidak digunakan oleh Pak Harto untuk membangun infrastruktur secara ugal-ugalan. Apalagi, untuk pencitraan. Tapi, Pak Harto me-fokuskan untuk ketahanan pangan.
Padi ... itulah yang akan Beliau tanam. Untuk mereleasasikan keinginan-nya itu, Pak Harto butuh seseorang ahli ekonomi. Ahli ekonomi itu bernama Prof Dr Soemitro Djoyo Hadikusumo, dia adalah Ayah dari Prabowo Subianto, presiden kita sekarang.
Pak Harto meminta Prof Soemitro Djoyo Hadikusumo untuk kembali ke Indonesia, mengajak memperbaiki ekonomi Indonesia yang sedang semerawut.
O,ya. Di era orde lama dibawah kepemimpinan Bung Karno, Soemitro Djoyo Hadikusumo adalah salah satu orang yang sedang diburu oleh pemerintah Soekarno. Pembaruan itu terjadi karena Soemitro Djoyo Hadikusumo terlibat dalam pemberontakan PRRI di Sumatera Barat.
Hasil kerja sama Soemitro Djoyo Hadikusumo dan pak Harto, ekonomi negara kita secara perlahan mulai membaik, dan akhirnya sukses swasembada pangan, dan Pak Harto mendapat penghargaan dari PBB.
Bagaimana kelanjutan kisah ini, yang akhirnya Pak Harto dan Pak Soemitro jadi besan?
Insya Allah akan dilanjutkan pada postingan berikutnya. Agar tidak kelewatan, ikuti akun Seputra. Like end shere.
Terima kasih ... jumpa lagi pada postingan berikutnya....
#Prabowo #suharto #fyp #bawang
BELANDA MEMPENJARANYA KARENA PIDATONYA TERLALU BERBAHAYA DAN DIA MENGGUNAKAN PERSIDANGANNYA UNTUK BERPIDATO LAGI DI DEPAN SELURUH INDONESIA
Ada jenis hukuman yang justru memperkuat orang yang dihukum.
Ketika Belanda menangkap Rasuna Said pada 1932 dan membawanya ke pengadilan atas tuduhan "menebar kebencian" — menggunakan hukum Speek Delict yang mengkriminalisasi siapa pun yang berbicara menentang penjajah — mereka membuat kesalahan strategis yang tidak bisa diperbaiki.
Mereka memberi Rasuna Said podium.
Ruang sidang pengadilan, dengan wartawan dan hadirin yang memenuhinya, dengan laporan yang kemudian disebarkan ke seluruh Hindia Belanda, itu adalah panggung yang lebih besar dari panggung mana pun yang pernah ia gunakan sebelumnya. Dan Rasuna menggunakannya persis seperti yang ia lakukan di setiap podium lain dalam hidupnya: ia menyerukan kemerdekaan.
Persidangan itu membuatnya terkenal secara nasional.
Hajjah Rangkayo Rasuna Said lahir pada 14 September 1910 di Desa Panyinggahan, Maninjau, Agam, Sumatera Barat. Ayahnya, Haji Muhammad Said, adalah seorang tokoh pergerakan di Sumatera Barat sekaligus pengusaha sukses. Dari ayahnya, Rasuna mewarisi dua hal: keberanian berbicara di depan umum dan keyakinan bahwa perubahan hanya bisa datang melalui perjuangan yang aktif.
Pendidikan Rasuna dimulai bukan di sekolah Belanda yang bergengsi, meskipun sebagai anak dari keluarga terpandang ia bisa saja mengaksesnya. Ia memilih sekolah agama, bersekolah dari 1916 hingga 1921, lalu melanjutkan ke Pesantren Ar-Rasyidiyah. Ia tercatat sebagai satu-satunya santri perempuan di sana, mengingat lingkungan pesantren kala itu didominasi anak laki-laki.
Satu-satunya perempuan di antara semua laki-laki. Bukan untuk pertama kalinya ia berdiri sendirian di tempat yang tidak biasa bagi perempuan. Dan bukan untuk terakhir kalinya.
Di pesantren itulah kemampuan berpikirnya diasah. Dari sana ia melanjutkan ke Sekolah Diniyah Putri di Padang Panjang — sekolah yang sudah dirintis oleh Rahmah El Yunusiyah, tokoh perempuan Minang yang juga menjadi salah satu pelopor pendidikan Islam untuk perempuan. Di Diniyah, Rasuna tidak hanya belajar. Ia juga mengajar — kepada murid-murid yang lebih muda, di usia yang sendirinya masih bisa disebut murid.
Kemudian ia menemukan organisasi yang menjadi medan perjuangannya yang sesungguhnya: Persatuan Muslimin Indonesia (Permi) — sebuah organisasi Islam yang menggabungkan semangat keislaman dengan nasionalisme yang eksplisit. Di sinilah bakat orasinya yang selama ini hanya diasah di kelas dan di pesantren akhirnya dilepaskan ke panggung publik.
Gaya bicaranya yang lantang dan penuh semangat mampu menyentuh hati rakyat dan membangkitkan kesadaran nasional mereka. Ia dijuluki "Singa Minangkabau" — atau dalam julukan lain yang diberikan oleh Sally White, "Singa Betina Pergerakan Indonesia Merdeka."
Singa. Dari tanah Minang. Yang suaranya membuat Belanda khawatir ketertiban umum di Sumatera Barat menjadi guncang.
Dalam pidato di Payakumbuh di hadapan seribu orang, ia mengatakan bahwa Al-Qur'an menyebut imperialisme sebagai musuh Islam. Ia memproklamirkan: "Kita harus mencapai kemerdekaan Indonesia, kemerdekaan harus datang."
Tidak lama setelah itu, Belanda bertindak.
Pada tahun 1932, ia ditangkap dan dipenjarakan oleh otoritas Belanda karena dianggap menghasut rakyat untuk melawan penjajahan. Ia bahkan menjadi wanita pertama yang terkena hukum Speek Delict — hukum kolonial Belanda yang menghukum siapa pun yang berbicara menentang Belanda — dan dipenjara selama satu tahun dua bulan.
Lebih dari seribu orang datang ke pelabuhan untuk menyaksikan keberangkatan kapal yang membawanya ke penjara di Semarang, Jawa Tengah.
Seribu orang. Bukan memprotes kepergiannya. Bukan menghalangi kapal. Tapi hadir — sebagai bukti bahwa kata-kata yang sudah ia ucapkan tidak bisa dikubur bersama tubuhnya di dalam penjara. Kata-kata itu sudah berpindah ke dalam dada ribuan orang yang berdiri di dermaga itu.
Di pengadilan, Rasuna menggunakan persidangannya untuk menyerukan kemerdekaan. Tidak membela diri dengan meminta maaf atau menyangkal. Tapi dengan berbicara lebih keras, kepada audiens yang lebih besar dari yang pernah mendengarnya sebelumnya.
Setelah bebas pada 1934, Rasuna sempat meneruskan pendidikannya di Islamic College. Pada 1935, Rasuna menjadi pemimpin redaksi sebuah majalah bernama Raya — majalah yang dikenal radikal dan menjadi tonggak perlawanan rakyat Sumatera Barat terhadap penjajah. Rasuna juga pernah membuat majalah mingguan bernama Menara Poeteri.
Penjara tidak mematikan suaranya. Ia hanya menemukan medium yang berbeda: bukan lagi hanya podium, tapi juga kertas dan tinta. Tulisan-tulisannya dikenal tajam, kupasannya mengena sasaran, dan selalu mengambil sikap lantang antikolonial.
Slogan majalahnya mirip dengan slogan Bung Karno: "Ini dadaku, mana dadamu."
Ketika Jepang masuk dan Indonesia merdeka pada 1945, Rasuna Said tidak berhenti. Ia terlibat dalam Panitia Pembentukan Dewan Perwakilan Nagari yang pada 1946 melahirkan Dewan Perwakilan Sumatera. Ia juga bergabung dengan Komite Nasional Indonesia Daerah Sumatera Barat. Kemudian ia menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat, membawa suaranya dari podium pergerakan ke kursi legislatif republik yang ia perjuangkan.
Rasuna Said wafat pada 2 November 1965 di Jakarta, dalam usia 55 tahun. Pemerintah Republik Indonesia menetapkannya sebagai Pahlawan Nasional pada 13 Desember 1974, melalui Keppres No.084/TK/1974.
Namanya hari ini diabadikan sebagai nama salah satu jalan protokol paling ramai di Jakarta: Jalan HR Rasuna Said di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan — jalan yang setiap hari dilintasi jutaan orang yang mungkin tidak pernah tahu bahwa nama itu mewakili seorang perempuan yang pernah dipenjara karena berbicara terlalu keras tentang kemerdekaan yang mereka nikmati setiap hari.
Perempuan pertama dalam sejarah Indonesia yang dipenjarakan karena kata-katanya. Di negeri yang hari ini punya lebih dari 270 juta jiwa dan lebih dari 50.000 media yang memproduksi kata-kata setiap detiknya.
Dari penjara karena satu pidato, menjadi nama jalan yang dibaca jutaan orang setiap hari. Itu bukan ironi. Itu adalah kemenangan.
Rasuna Said dipenjara karena berbicara lantang tentang keadilan dan kemerdekaan — hal yang menurut Belanda terlalu berbahaya untuk dibiarkan. Tapi suaranya justru semakin keras setelah dipenjara. Tujuh puluh delapan tahun setelah kemerdekaan, kebebasan berbicara masih menjadi tantangan. Menurut data SAFEnet (Southeast Asia Freedom of Expression Network), sepanjang 2023 terdapat 187 kasus kriminalisasi ekspresi digital di Indonesia — sebagian besar menyasar warga biasa yang menyampaikan kritik melalui media sosial. Rasuna Said tidak berhenti bersuara meski diancam dan dipenjara. Pertanyaan untuk kita hari ini: sudahkah ruang untuk bersuara itu benar-benar terbuka lebar bagi semua orang?
#RasunaSaid #SingaBetina #PerempuanPejuang #SejarahIndonesia #AgustusKemerdekaan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar