Kisah Keren
Lagi naik motor pelan. Nglewatin toko gadget, showroom kendaraan, apotek, resto fast food dan lahan sawah yg sekarang jadi perumahan. Tiba2 pikiranku melayang. Aku ngebayangin sebuah ruangan. Di lantai tertinggi sebuah gedung. Di dalamnya, para 'pemilik' dunia ngumpul.
Mereka ga lagi ngebahas saham. Ga jg ngebahas ekspansi bisnis. Mereka ngumpul buat ngebahas satu masalah: makanan.
Di luar sana, populasi manusia makin meledak. Lahan pangan makin nyusut. Harga kebutuhan pokok meroket. Orang2 miskin mulai kelaparan. Mereka mulai berdemo. Mulai ngerusak. Mulai nyuri dari lumbung2 orang kaya.
"Ini ga bisa dibiarin," kata salah satu dari mereka. "Kalo mereka terus nambah, makanan kita yg habis."
Seorang tokoh kapitalis tua angkat bicara. "Masalahnya sederhana. Populasi manusia terlalu banyak. Kalo dibiarin, mereka akan terus berebut makanan dgn kita. Kita ganti dg Robot. Mesin ga butuh makan. Manusia? Mereka terus nggerogotin persediaan kita."
CEO perusahaan gadget dan otomotif nyela, "Tapi mereka berguna buat marketku. Kalo mereka mati, siapa yg beli ponsel dan mobilku? Siapa yg akan bekerja di pabrik2ku?"
Si kapitalis tua tersenyum sinis. "Ponselmu ga bisa dimakan. Mobilmu ga bisa dimakan. Kalo mereka kelaparan. Mereka akan nekat menjarah harta bendamu untuk kemudian ditukar dg makanan."
Ruangan hening.
CEO perusahaan farmasi ngangguk. "Bener. Aku setuju. Populasi harus dikurangin. Kita ciptain wabah aja. Sebarin di Afrika. Di sana udah banyak yg kelaparan. Hidup mereka ga punya masa depan. Kurangin aja. Nanti, buat yg punya duit... beli vaksinku."
CEO perusahaan senjata langsung nyamber. "Itu sih keuntungan cuma buat kamu. Curang. Aku juga mau untung. Kita ciptain perang aja. Adu domba. Biar mereka saling bunuh. Populasi berkurang. Pasokan pangan aman buat kita. Aku untung dari jual senjata."
CEO perusahaan tambang dan energi nimbrung, suaranya dingin. "Kalo populasi berkurang, siapa yg akan nambang buatku? Siapa yg akan bayar listrikku? Robot mahal. Manusia murah. Mereka bisa kupake sampe sekarat, lalu kutinggalin. Aku butuh mereka tetep miskin. Tapi cukup kaya buat bayar tagihanku."
CEO perusahaan property ikut bicara, nadanya lebih sinis. "Kalo mereka mati, siapa yg akan nyewa apartemenku? Aku ga butuh gedung kosong. Aku butuh mereka yg terus beranak-pinak, biar mereka terus ngontrak, terus berhutang."
CEO perusahaan asuransi, dgn senyum tipis, ikut angkat bicara. "Justru kita harus bikin mereka tetep hidup. Tapi hidup dalam ketakutan. Takut sakit. Takut mati. Takut masa depan. Dari situlah kita ngerauk untung."
CEO perusahaan makanan cepat saji, retail, dan distribusi pangan angkat bicara. Suaranya tenang, tapi nusuk. "Kalian terlalu ribet. Perang, wabah... terlalu mahal. Aku punya cara yg lebih murah. Biarin mereka hidup. Tapi kasih makanan murah. Penuh gula. Penuh lemak. Kenyang instan, mati pelan2. Bikin mereka sakit pelan2. Biar perusahaan farmasi bisa jual obat. Biar kami bisa jual 'kenikmatan'. Mereka cukup kenyang buat bekerja besok, cukup sakit buat beli obat lusa. Dan yg terpenting... mereka ga akan pernah kuat buat memberontak."
CEO perusahaan media dan teknologi, yg dari tadi cuma diem, akhirnya bicara. "Biar semua rencana itu berjalan. Tapi kita butuh kendali penuh atas narasi. Akan kuciptain algoritma yg bikin mereka kecanduan. Bikin mereka terpecah belah. Bikin mereka saling benci. Bikin mereka sibuk sendiri. Selama mereka sibuk bertengkar, mereka ga akan sadar siapa musuh sebenarnya. Mereka akan sibuk nonton, sambil nunggu ajal."
Si kapitalis tua itu nghela napas. "Kalian masih belum paham. Aku ga peduli dgn gadgetmu. Ga peduli dgn propertimu. Ga peduli dgn asuransimu. Yg kupeduliin cuma satu: makanan. Kalo populasi manusia ga dikurangin, mereka akan terus berebut pangan dgn kita. Dan saat itu terjadi, ga ada gadget, ga ada mobil, ga ada apartemen yg bisa nyelamatin kalian. Sebab persamaan antara kita dan mereka adalah kita sama2 butuh makan. Ini menyakitkan."
Ruangan hening. Rapat ga mencapai mufakat. Masing2 CEO mempertahanin kepentingannya sendiri. Mereka bubar dgn rencana masing2.
Tapi malam belum berakhir.
Jauh dari hingar-bingar kota, di tengah Samudra Atlantik, ada sebuah pulau terpencil. Ga ada dalam peta resmi. Citra satelitnya sengaja diburamkan. Pulau ini bernama Black House.
Cuma segelintir orang yg tahu. Lebih rahasia dari Gedung Putih. Lebih berkuasa dari kongres manapun. Di sinilah para penguasa tertinggi dunia ngumpul. Mereka yg ga dikenal publik. Mereka yg namanya ga pernah muncul di majalah. Mereka yg bener2 megang kendali.
"Rapat di kota tadi gagal," kata salah satu dari mereka. "Masing2 egois."
Penguasa tertinggi itu angkat bicara. Suaranya tenang. "Ga apa2. Biarin mereka bersaing. Tapi tujuan kita harus tercapai. Pengurangan populasi ga bisa ditunda."
"Lalu gimana dgn mereka yg ngeyel? Yg ga setuju?"
"Kita patungan. Bikin holding. Perusahaan investasi. Kita beli saham perusahaan2 mereka yg ngeyel itu. Satu per satu. Pelan2. Sampe kita bisa ngendaliin mereka. Kalo mereka ga mau dijual? Kita bikin perusahaan saingan. Kita gulung mereka. Biarin mereka hidup. Biarin mereka bertahan. Tapi jangan biarin mereka jd mayoritas. Dalam hal apapun."
Semua ngangguk.
Lalu penguasa itu melanjutkan, suaranya lebih dingin. "Tapi ada satu musuh terbesar kita. Yg lebih berbahaya dari para CEO yg ngeyel tadi."
Semua nunggu.
"Pendidikan."
Ruangan hening.
"Selama masih ada lembaga pendidikan yg nyetak manusia unggul, manusia yg berpikir kritis, manusia yg berani nanya... kita ga akan pernah aman. Mereka adalah ancaman terbesar bagi kekuasaan kita."
"Lalu apa yg harus kita lakuin?"
"Kita beli sekolah2 itu. Atau kita bikin saingan. Atau lebih baik lagi... kita atur kurikulumnya. Biarin pendidikan cuma nyetak pekerja yg patuh. Pekerja yg ga nanya. Pekerja yg cuma bisa ngejalanin perintah. Jangan ajari mereka filsafat. Jangan ajari mereka berpikir. Ajari mereka keterampilan. Itu aja. Cukup buat bikin mereka bekerja. Jangan biarkan mereka punya waktu buat berpikir."
Semua ngangguk.
"Lalu, beli semua tokoh masyarakat. Beli tokoh agama, biar mereka ngajarin buat selalu bersyukur dan ga mempertanyakan. Bayar politisi, biar mereka bikin aturan yg nguntungin kita. Bayar akademisi, biar mereka nyebarin gagasan bahwa hidup adalah perlombaan. Bahwa mereka harus bekerja lebih keras. Bahwa mereka harus bersaing satu sama lain. Bikin mereka sibuk. Bikin mereka lelah. Bikin mereka ga punya waktu buat berpikir."
Ruangan itu hening. Semua terpana.
"Intinya, bikin sistem serapih mungkin. Bikin masyarakat berhenti berpikir kritis. Bikin mereka berhenti nanyain sesuatu. Kerahin semua alat yg kita milikin. Uang. Media. Agama. Politik. Pendidikan. Semua. Buat ngelanggengin kekuasaan kita di dunia."
Aku berhenti ngebayangin.
Hari itu terasa sunyi. Dan entah kenapa, aku ngerasa... mungkin ini bukan sekadar imajinasi.
Apa kamu pernah ngerasa, bahwa hidup kita ini kaya udah diatur oleh seseorang di atas sana?
#DongengMalam #RefleksiDiri #CurhatGuru #RuangAman #PenguasaDunia
Tidak ada komentar:
Posting Komentar