Usmar Suharto
[25/7 01.25] rudysugengp@gmail.com: 1. Buatkan Gambar dan Infografis tentang
Biodata dan Pendidikan
Sarjito
Ringkasan :
Pada masa perang kemerdekaan, ia ikut serta dalam proses pemindahan Institute Pasteur dari Bandung ke Klaten. Selanjutnya ia menjadi Presiden Universiteit (sekarang disebut rektor) Universitas Gadjah Mada (UGM) yang pertama dari awal berdirinya UGM tahun 1949 sampai 1961, selanjutnya menjadi Rektor ketiga Universitas Islam Indonesia (UII).
Namanya diabadikan sebagai nama sebuah rumah sakit umum pusat rujukan provinsi di Daerah Istimewa Yogyakarta yaitu Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Sardjito.
Pada tanggal 8 November 2019, Sardjito dianugerahi gelar Pahlawan Nasional Indonesia oleh Presiden Joko Widodo dalam sebuah upacara di Istana Negara. Yang menerima penghargaan mewakili keluarga ahli waris adalah Dyani Poedjioetomo, Cucu dari Sardjito.
Informasi pribadi
Lahir :
13 Agustus 1889
Purwodadi, Magetan, Keresidenan Madiun, Hindia Belanda
Meninggal :
5 Mei 1970 (umur 80)
Yogyakarta, Indonesia
Istri :
RAy. Soeko Emi
Anak : 1
Almamater :
STOVIA
Universitas Amsterdam
Pendidikan :
* Sekolah Rakyat di Purwodadi dan Lumajang (1895—1901)
* Sekolah Belanda di Lumajang (1901—1907)
* Sekolah STOVIA di Jakarta (1907—1915)
* Fakultas Kedokteran Universitas Amsterdam (1921—1922)
* Mempelajari penyakit-penyakit iklim panas di Leiden (memperoleh gelar Dokter, 1923).
[25/7 01.25] rudysugengp@gmail.com: 3. Buatkan gambar dan infografis tentang
Akhir Hayat dan Penghargaan KH Zainal Mustofa
Para santri yang gugur dalam pertempuran itu berjumlah 86 orang. Meninggal di Singaparna karena disiksa sebanyak 4 orang. Meninggal di penjara Tasikmalaya karena disiksa sebanyak 2 orang. Meninggal di Penjara Sukamiskin Bandung sebanyak 38 orang, dan yang mengalami cacat (kehilangan mata atau ingatan) sebanyak 10 orang.
Sehari setelah peristiwa itu, antara 700-900 orang ditangkap dan dimasukkan ke dalam penjara di Tasikmalaya. Sementara itu, KH. Zaenal Mustofa sempat memberi instruksi secara rahasia kepada para santri dan seluruh pengikutnya yang ditahan agar tidak mengaku terlibat dalam pertempuran melawan Jepang, termasuk dalam kematian para opsir Jepang, dan pertanggungjawaban tentang pemberontakan Singaparna dipikul sepenuhnya oleh KH. Zaenal Mustofa. Akibatnya, sebanyak 23 orang yang dianggap bersalah, termasuk KH. Zaenal Mustofa sendiri, dibawa ke Jakarta untuk diadili. Namun mereka hilang tak tentu rimbanya.
Besarnya pengaruh KH Zaenal Mustofa dalam pembentukan mental para santri dan masyarakat serta peranan pesantrennya sebagai lembaga pendidikan dan pembinaan umat membuat pemerintah Jepang merasa tidak bebas jika membiarkan pesantren ini tetap berjalan. Maka, setelah peristiwa pemberontakan tersebut, pesantren ini ditutup oleh Jepang dan tidak diperbolehkan melakukan kegiatan apapun.
Belakangan, Kepala Ereveld Ancol, Jakarta, memberi kabar bahwa KH. Zaenal Mustofa telah dieksekusi pada 25 Oktober 1944 dan dimakamkan di Taman Pahlawan Belanda Ancol, Jakarta. Melalui penelusuran salah seorang santrinya, Kolonel Syarif Hidayat, pada tahun 1973 keberadaan makamnya itu ditemukan di daerah Ancol, Jakarta Utara, bersama makam-makam para santrinya yang berada di antara makam-makam tentara Belanda. Lalu, pada 25 Agustus 1973, semua makam itu dipindahkan ke Sukamanah, Tasikmalaya.
Diangkat menjadi pahlawan :
Pada tanggal 6 Nopember 1972, KH. Zaenal Mustofa diangkat sebagai Pahlawan Pergerakan Nasional dengan Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 064/TK/Tahun 1972.
[26/7 00.12] rudysugengp@gmail.com: 1. Buatkan Gambar dan Infografis tentang
Biodata dan Kehidupan awal
Usmar Ismail
Informasi Pribadi
Lahir :
20 Maret 1921
Bukittinggi, Hindia Belanda
Meninggal :
2 Januari 1971 (umur 49)
Jakarta, Indonesia
Makam :
TPU Karet Bivak
Kebangsaan
Indonesia
Almamater :
Universitas California, Los Angeles
Pekerjaan :
Sutradara, produser film, penulis
Tahun aktif
1950–1970
Istri :
Sonja Hermien Sanawi
Anak :
Irwan Usmar Ismail
Fadia Ayesha Ismail
Heidy Hermia Ismail
Nina Surachman
Nureddin Ismail
Kerabat :
Abu Hanifah (kakak)
Kehidupan awal :
Usmar Ismail lahir sebagai anak dari Datuk Tumenggung Ismail, guru Sekolah Kedokteran di Padang, dan Siti Fatimah. Keluarganya berasal dari Lintau, Sumatera Barat. Ia mempunyai seorang kakak yang juga terjun ke dunia sastra, yakni Dr. Abu Hanifah yang menggunakan nama pena, El Hakim.
Usmar menempuh pendidikan di HIS Batusangkar, lalu melanjutkan ke MULO Simpang Haru, Padang, dan kemudian ke AMS-A Yogyakarta (sekarang SMA Negeri 1 Yogyakarta). Setamat dari AMS, ia berkuliah lalu memperoleh B.A. di bidang sinematografi dari Universitas California, Los Angeles, Amerika Serikat pada tahun 1952.
Usmar sudah menunjukkan bakat sastranya sejak masih duduk di bangku SMP. Saat itu, ia bersama teman-temannya, antara lain Rosihan Anwar, ingin tampil dalam acara perayaan hari ulang tahun putri mahkota, Ratu Wilhelmina, di Pelabuhan Muara, Padang. Usmar ingin menyajikan suatu pertunjukan dengan penampilan yang gagah, unik, dan mengesankan. Ia bersama teman-temannya hadir di perayaan itu dengan menyewa perahu dan pakaian bajak laut. Sayang, acara yang direncanakan itu gagal karena mereka baru sampai saat matahari tenggelam dan mereka hampir pingsan karena kelelahan mengayuh perahu menuju Pelabuhan Muara. Akan tetapi, acara yang gagal itu dicatat Rosihan Anwar sebagai tanda bahwa Usmar Ismail memang berbakat menjadi sutradara, yang mempunyai daya khayal untuk menyajikan tontonan yang menarik dan mengesankan.
Setelah duduk di bangku SMA di Yogyakarta, Usmar semakin banyak terlibat dengan dunia sastra. Ia memperdalam pengetahuan dramanya dan aktif dalam kegiatan drama di sekolahnya. Ia juga mulai mengirimkan karangan-karangannya ke berbagai majalah.
[26/7 00.15] rudysugengp@gmail.com: 2. Buatkan Gambar dan Infografis tentang
Karier dan Perjuangan
Usmar Ismail
Bakatnya kian berkembang saat bekerja di Keimin Bunka Sidosho (Kantor Besar Pusat Kebudayaan Jepang). Di tempat itu, ia bersama Armijn Pane dan budayawan lainnya bekerja sama untuk mementaskan drama.
Pada 1943, ia mendirikan dan menjadi ketua Sandiwara Penggemar "Maya" bersama Abu Hanifah, Rosihan Anwar, Cornel Simanjuntak, Sudjojono, H.B. Jassin, dan lain-lain.
Sesudah masa proklamasi kemerdekaan, Usmar menjalani dinas militer dan aktif di dunia jurnalistik di Jakarta. Ketika Belanda kembali bersama tentara Sekutu, ia menjadi anggota TNI di Yogyakarta dengan pangkat mayor. Bersama dua rekannya, Sjamsuddin Sutan Makmur dan Rinto Alwi, mereka mendirikan surat kabar yang diberi nama Rakyat. Dalam bidang keredaksian dan kewartawanan, Usmar pernah menjadi pendiri dan redaktur Harian Patriot, redaktur majalah bulanan Arena, Yogyakarta (1948), "Gelanggang", Jakarta (1966-1967). Ia juga pernah menjadi ketua Persatuan Wartawan Indonesia (1946-1947).
Saat menjalankan profesi sebagai wartawan itulah, Usmar pernah dijebloskan ke penjara oleh Belanda karena dituduh terlibat kegiatan subversi. Saat itu ia bekerja sebagai wartawan politik di Kantor Berita Antara dan sedang meliput perundingan Belanda—RI di Jakarta. Peristiwa itu terjadi pada tahun 1948.
Pada perkembangan selanjutnya, Usmar mulai menaruh minatnya yang lebih serius pada perfilman. Ia aktif sebagai pengurus lembaga yang berkaitan dengan teater dan film. Ia pernah menjadi ketua Badan Permusyawaratan Kebudayaan Yogyakarta (1946-1948), ketua Serikat Artis Sandiwara Yogyakarta (1946-1948), ketua Akademi Teater Nasional Indonesia, Jakarta (1955-1965), dan ketua Badan Musyawarah Perfilman Nasional (BMPN). BMPN mendorong pemerintah melahirkan "Pola Pembinaan Perfilman Nasional" pada tahun 1967. Ia dikenal sebagai pendiri Perusahaan Film Nasional Indonesia bersama Djamaluddin Malik dan para pengusaha film lainnya. Lalu, ia menjadi ketuanya sejak 1954 sampai 1965.
Ia pernah aktif dalam bidang politik. Ia menjadi ketua umum Lembaga Seniman Muslimin Indonesia (Lesbumi) (1962-1969), anggota Pengurus Besar Nahdatul Ulama (1964-1969), serta anggota DPRGR/MPRS (1966-1969).
Setelah sempat membantu Andjar Asmara menyutradarai Gadis Desa pada 1949, ia memulai debut penyutradaraan film lewat film Harta Karun. Ia dikenal luas secara internasional setelah menyutradarai film berjudul Pedjuang pada tahun 1961, yang mendokumentasikan kemerdekaan Indonesia dari Belanda. Film ini ditayangkan dalam Festival Film Internasional Moskwa ke-2, dan menjadi film karya anak negeri pertama yang diputar dalam festival film internasional.
Di luar bidang-bidang tersebut, pada Tahun 1968 ia dipercaya sebagai General Manager untuk mengelola sebuah restoran eksklusif (Dinning Hall) oleh PT Ria Sari Restaurant, salah satu anak Usaha dari Sarinah yakni Miraca Sky, di puncak gedung Sarinah pada akhir tahun 1960-an. Selain itu, ia juga pernah menjadi pemimpin PT. Triple T.
[26/7 00.30] rudysugengp@gmail.com: 3. Buatkan Gambar dan Infografis tentang
Kerjasama Gagal, Akhir Hayat, dan Pengakuan Pahlawan
Usmar Ismail
Kerjasama Gagal :
Pada tahun 1970, Usmar Ismail yang menjabat sebagai direktur Perfini, mengadakan kerja sama dengan perusahaan Italia untuk memproduksi film Adventures in Bali. Namun, proses dan pasca-produksi film ini bermasalah. Rosihan Anwar mengatakan, dalam perjanjian awalnya, nama Usmar sebagai sutradara akan dicantumkan dalam versi film ini yang diedarkan di Eropa. Namun, ketika Usmar berkunjung ke Roma melihat penyelesaian film itu, namanya sama sekali tidak disebut. Menurut Rosihan, Usmar ditipu oleh produser Italia. Filmnya tetap dirilis dengan judul Bali pada 1971, tetapi kurang laku di pasaran.
Akhir Hayat :
Di tengah kesulitan, Usmar tetap berjuang mempertahankan Perfini dan menggaji karyawannya. Namun, tak lama kemudian Usmar jatuh sakit di rumahnya akibat pendarahan otak. Usmar Ismail meninggal pada tanggal 2 Januari 1971 di Jakarta. Ia dimakamkan di TPU Karet Bivak, Jakarta.
Menjelang akhir hayatnya, ia masih aktif berkarya dan sempat menerima penghargaan Anugerah Seni dari pemerintah pusat pada tahun 1969.
Pengakuan Pahlawan :
Ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia oleh Presiden Joko Widodo pada 10 November 2021.
Penganugerahan tersebut resmi termuat dalam Keppres No. 109/TK/2021 tanggal 6 November 2021.
Penghargaan penting lainnya semasa hidup dan anumerta meliputi Piagam Wijayakusuma dari Presiden Soekarno (1962) serta Bintang Mahaputera Utama (1996).
Ia dianggap sebagai pelopor perfilman di Indonesia. Ia dikenal sebagai pelopor drama modern di Indonesia dan juga Bapak Film Indonesia.
Usmar meninggal dunia karena stroke.
[26/7 00.31] rudysugengp@gmail.com: 4. Buatkan Gambar dan Infografis tentang
Karya Tulis dan Filmografi
Usmar Ismail
Karya Tulis
Drama :
Mutiara dari Nusa Laut (1943)
Mekar Melati (1945)
Sedih dan Gembira (1950)
Kumpulan Puisi :
Puntung Berasap (1950)
Karya lainnya :
Pengantar ke Dunia Film
Usmar Ismail Membawa Film (editor J.E. Siahaan) (1983)
Filmografi :
Harta Karun (diangkat dari karya Moliere) (1949)
Tjitra (berdasarkan naskah dramanya) (1949)
Darah dan Doa (1950)
Enam Djam di Djogja (1951)
Dosa Tak Berampun (1951)
Terimalah Laguku (1952)
Kafedo (1953)
Krisis (1953)
Lewat Djam Malam (1954)
Lagi-Lagi Krisis (1955)
Tamu Agung (1955)
Tiga Dara (1956)
Delapan Pendjuru Angin (1957)
Asrama Dara (1958)
Pedjuang (1960)
Toha, Pahlawan Bandung Selatan (1961)
Amor dan Humor (1961)
Anak Perawan di Sarang Penjamun (1962)
Bajangan di Waktu Fadjar (1962)
Holiday in Bali (1963)
Anak-Anak Revolusi (1964)
Liburan Seniman (berdasarkan naskah dramanya) (1965)
Ja, Mualim (1968)
Big Village (1969)
Ananda (1970)
[26/7 00.59] rudysugengp@gmail.com: 1. Buatkan Gambar dan Infografis tentang
Biografi
Raden Aria Wangsakarta
Kelahiran :
1615
Sumedang
Kematian :
1681
Pemakaman :
Pagedangan, Banten
Ayah :
Wiraradja I
Agama :
Islam
Pekerjaan :
Ulama & Kepala Daerah
Biografi Aria Wangsakara yang tepat sulit untuk dipastikan karena kisah-kisah kontradiktif yang muncul dalam teks yang berbeda, dan kurangnya bukti langsung. Ia muncul dalam sejumlah naskah adat antara lain Babad Tangerang dan Babad Banten. Di dalamnya ia disebutkan lahir sekitar tahun 1615 di Sumedang, dan merupakan putra dari Wiraraja I, anak dari prabu Kusumadinata II dan Harisbaya. Ia juga masih keturunan dari Syarif Abdulrohman dari Cirebon. Narasi tradisional menyatakan bahwa, ketika Perusahaan Hindia Timur Belanda semakin berpengaruh di wilayah tersebut, Aria Wangsakara menolak kerjasama keluarganya dengan mereka dan pergi dengan dua kerabat pada tahun 1632, yakni Aria Santika dan Aria Yuda Negara, untuk pergi ke wilayah yang sekarang dikenal sebagai Tangerang di tepi Sungai Cisadane, di mana ia diberi izin untuk melindungi daerah ini oleh Sultan Abul Mafakhir. Di sana ia mendirikan pemukiman baru, yakni Kesultanan Lengkong Sumedang, di tepi barat Sungai Cisadane dengan dirinya sebagai sultan daerah dengan nama Sultan Lengkong. Selama dia memerintah di sana, dia dikatakan telah bekerja untuk menyebarkan Islam di wilayah sekitarnya, mendirikan pesantren baru pada tahun 1640-an. Pada awal 1650-an, Perusahaan Hindia Timur Belanda membangun sebuah benteng di tepi seberang dari pemukimannya untuk menandakan batas wilayah kekuasaan mereka di daerah tersebut. Wangsakara diperkirakan meninggal pada tahun 1681 dan dimakamkan di Pagedangan,
Kecamatan Pagedangan, Kabupaten Tangerang, Banten.
2. Buatkan Gambar dan Infografis tentang
Perjuangan melawan Belanda
Raden Aria Wangsakarta
Di Angke itu, masing-masing pasukan awalnya hanya menahan diri meski dekat dan saling berhadap-hadapan. Baru pada hari ke delapan pertempuran keduanya pecah. Wangsakara di situ tulisnya memimpin doa agar pasukan Banten memenangkan perang dan menghancurkan kompeni.
Setelah perang sehari, kedua pasukan kemudian jeda selama tiga hari. Pasukan Banten kemudian sepakat menggunakan strategi perang dadali dengan menyebar pasukan mengelilingi daerah musuh. Ada yang ke arah timur mengelilingi Jakarta bahkan ada yang bertugas membakar perkebunan.
Strategi ini rupanya berhasil dan pasukan Banten dapat merebut beberapa benteng pertahanan milik Belanda. Ada yang menguasai benteng belanda di Sudimara, hingga ada yang bisa menerobos ke timur Ciangke.
Pertempuran itu berakhir begitu ada perjanjian damai pada Juli 1659. Salah satu perjanjian itu menyepakati batas wilayah kekuasaan antara Kesultanan Banten dan kompeni Belanda yang menguasai Batavia.
3. Buatkan Gambar dan Infografis tentang
Akhir Hayat, Penghargaan, dan Warisan
Raden Aria Wangsakarta
Akhir Hayat
Gugur dalam Pertempuran:
Raden Aria Wangsakara wafat pada tahun 1720 (sebagian sumber tradisi menyebut 1681) setelah terlibat dalam konflik bersenjata terus-menerus melawan VOC di wilayah Ciledug.
Lokasi Pemakaman: Jasad beliau dimakamkan di Lengkong Kyai, Kecamatan Pagedangan, Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten. Makam ini kini menjadi situs religi dan cagar budaya yang sering diziarahi oleh masyarakat.
Penghargaan Pemerintah
Gelar Pahlawan Nasional:
Presiden Joko Widodo resmi menganugerahi gelar Pahlawan Nasional kepada Raden Aria Wangsakara pada 10 November 2021, berdasarkan Keppres RI Nomor 109/TK/Tahun 2021, bersama Tombolotutu, Aji Muhammad Idris, dan Usmar Ismail,
atas jasa besar beliau memimpin pertempuran mempertahankan kedaulatan wilayah dari cengkeraman penjajah.
Penghormatan Nama Jalan:
Pemerintah daerah mengabadikan namanya sebagai nama jalan utama, yaitu Jalan Arya Wangsakara di Tangerang, guna merawat ingatan publik atas kepahlawanannya.
Warisan Sejarah
Cikal Bakal Tangerang:
Bersama dua kerabatnya (Aria Santika dan Aria Yuda Negara), beliau mendirikan wilayah pemerintahan Tigaraksa, yang menjadi fondasi berdirinya Kabupaten dan Kota Tangerang saat ini.
Sebagai pendiri Tangerang, sebuah jalan besar di kota ini dinamai menurut namanya (Jalan Arya Wangsakara). Makamnya, yang dikelilingi oleh makam ulama lain dari daerah itu, juga dijadikan situs sejarah resmi oleh Kabupaten Tangerang dan telah lama dikunjungi secara rutin oleh para peziarah.
Banyak penduduk Banten juga mengaku sebagai keturunannya, termasuk sejumlah ulama yang mengaku sebagai keturunannya dan kelompok pengikut aslinya.
Penyebaran Agama Islam:
Beliau meninggalkan warisan religius kuat melalui pendirian pesantren di tepian Sungai Cisadane, mengukuhkan Tangerang sebagai kawasan yang agamis.
Strategi Pertahanan Militer:
Membentuk pasukan pertahanan air bernama Pasukan Kurawaci yang berhasil memukul mundur ekspansi ekonomi dan militer benteng VOC selama berbulan-bulan.
Benda Pusaka:
Beberapa dokumen sejarah, naskah keagamaan (seperti terjemahan kitab Insan Kamil), serta peninggalan fisik lainnya masih dirawat dengan baik oleh ahli waris keturunan kesembilan dan disimpan di museum keluarga.
[26/7 01.24] rudysugengp@gmail.com: 1. Buatkan Gambar dan Infografis tentang
Kehidupan Awal
Tombolotutu
Tombolotutu berasal dari Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah. Pada tahun 1877, Tombolotutu menjadi pewaris tahta Kerajaan Moutong ke empat. Jabatan raja diemban pada saat Tombolotutu menginjak usia 20 tahun.
Saat menjadi raja, Tombolotutu dikenal keras dengan Belanda yang saat itu ingin menguasai Sulawesi. Belanda sudah berupaya membujuk Raja Tombolotutu melalui Perjanjian Panjang (Lang Contrak), Perjanjian Pendek (Korte Verklaring), hingga memberikan jaminan kepada Kerajaan Moutong. Namun, Tombolotutu tidak mengubah sikapnya menolak kehadiran Belanda di tanah Sulawesi.
Upaya Belanda membuat Tombolotutu marah hingga terjadi perang antara pada Oktober 1898. Belanda bahkan mengerahkan Marsose, pasukan khusus Belanda saat Perang Diponegoro dan Perang Aceh.
Kehidupan Awal dan Latar Belakang
Kelahiran:
Lahir pada tahun 1857 di daerah Moutong.Asal Daerah: Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah.
Asal-usul:
Terlahir dari garis keturunan bangsawan Kerajaan Moutong.
Gelar Adat:
Menyandang gelar kehormatan adat Pua Darawati.
Naik Takhta
Usia Muda:
Menjadi pewaris takhta keempat Kerajaan Moutong pada tahun 1877 saat berumur 20 tahun.
Sikap Politik:
Menolak keras segala bentuk kerja sama dan kontrak politik dengan pihak Belanda.
[26/7 01.24] rudysugengp@gmail.com: 2. Buatkan Gambar dan Infografis tentang
Perjuangan Melawan Belanda
Tombolotutu
Hingga saat ini Tombolotutu masih jadi tokoh pertama dan satu-satunya asal Sulawesi Tengah (Sulteng) yang mendapatkan gelar pahlawan nasional.
Mayoritas anak zaman kiwari mungkin lebih familiar dengan sosok ini lantaran Tombolotutu dijadikan nama jalan di Kelurahan Talise yang menghubungkan antara Jalan Yos Sudarso dengan pertigaan Jl. Lagarutu, Jl. Soekarno-Hatta, dan Jl. Sisingamangaraja.
Ada satu buku yang bisa menjadi rujukan bagi siapa pun yang ingin mengetahui sepak terjang sosok bangsawan asal Kerajaan Moutong itu. Sebab masa lampau turut membentuk apa yang terjadi dan kita nikmati sekarang. Pun merupakan guru dan teladan bagi kehidupan manusia. Olehnya Bung Karno pernah berpesan, “Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah.”
Keberanian dan kegigihan Tombolotutu bersama para pasukannya melawan penjajah Belanda termaktub dalam buku berjudul Bara Perlawanan di Teluk Tomini: Perjuangan Melawan Belanda.
Buku setebal 256 halaman hasil cetakan penerbit Ombak pada 2017 ditulis oleh dosen sejarah di Universitas Tadulalo, Palu, Lukman Nadjamuddin, bersama Wilman D. Lumangino, Mohammad Sairin, Idrus A. Rore, Sunarto Amus, dan Fatma.
Lukman dan kawan-kawan berhasil menelusuri aneka sumber tertulis penting untuk merekonstruksi perlawanan Tombolotutu atau Pua Darawati dalam membebaskan rakyat Moutong dari ketidakadilan dan intervensi Belanda pada awal abad ke-20.
Sumber tertulis yang dimaksud antara lain dalam bentuk Besluit van Gouverneur (Keputusan Gubernur), Algemeen verslag van het Residentie Manado (Laporan Umum Kediaman Manado), koran, dan majalah yang terbit pada masa peristiwa tersebut terjadi.
Buku ini tak hanya mengulas tentang aksi heroik Tombolotutu dalam berbagai medan peperangan, mulai dari Lobu, Lebiti, Bolano, hingga berakhir di Toribulu, tapi juga menggambarkan kondisi sosial, politik, dan ekonomi Kerajaan Moutong pada akhir abad ke-19. Kondisi yang kemudian membuat Tombolotutu bersama para pengikut setianya mengibarkan bendera perang melawan penjajah.
Cerita dalam buku ini diawali dengan potensi ekonomi yang terhampar di kawasan Teluk Tomini. Kerajaan Moutong, meski dengan permukaan bentang lahan yang tidak rata, dikenal sebagai wilayah dengan potensi kekayaan alam melimpah.
Perbukitan dengan batuan granit di wilayah tersebut memiliki kandungan logam mulia seperti emas, perak, dan platina yang bernilai ekonomi tinggi. Hal ini awalnya disadari oleh penduduk lokal yang tinggal di sepanjang aliran sungai ketika menemukan kandungan emas yang bercampur dengan butiran pasir.
Memasuki abad ke-19 bersamaan dengan terungkapnya potensi kekayaan alam terutama emas di kawasan Teluk Tomini, Belanda mulai mengarahkan perhatian ke daerah tersebut, khususnya di wilayah Moutong.
Syahwat ingin menguasai emas di Moutong tak hanya milik Belanda, melainkan juga pelaut-pelaut Bugis dan Mandar. Perebutan emas ini juga diikuti oleh penguasa lokal dari Gorontalo dan Palu.
Untuk memuluskan aksinya, Pemerintah Hindia Belanda pada 25 Februari 1899 menyodorkan kontrak pelengkap kepada Daeng Malino, yang kelak menjadi pewaris tahta Kerajaan Moutong.
Isinya memuat tentang kesediaan penguasa Moutong dan para bangsawan untuk mengakui dan bersedia menerima kehadiran perusahaan-perusahaan pertambangan asal Belanda sepanjang ada jaminan pemerintah bahwa penguasa dan bangsawan memperoleh bagian keuntungan yang menjadi haknya.
Kontrak itu diterima dan ditandatangani oleh Daeng Malino, yang pada 11 Juni 1989 ditahbiskan sebagai Raja Moutong menggantikan takhta Raja Pondatu.
Jika merujuk tradisi Suku Kaili yang lebih memprioritaskan kebangsawanan dari garis keturunan pihak ibu (matrilineal), Tombolotutu yang juga kemenakan Raja Pondatu sama seperti Daeng Malino seharusnya lebih berhak menjadi raja.
Campur tangan Belanda yang kemudian mengerek Daeng Malino menuju singgasana kepemimpinan karena dianggap lebih akomodatif. Sebuah keputusan yang mendapat kritik dari anggota parlemen Belanda karena mengakibatkan ongkos politik yang besar berupa perang.
Intervensi Belanda yang mengacaukan tatanan sosial politik di Kerajaan Moutong karena hendak menguasai sumber daya alam di wilayah tersebut menjadi awal perlawanan Tombolotutu.
Mengusung semboyan “natuvu naberoka, namate maupa” yang berarti hidup penuh berkah, mati meninggalkan nama, Tombolotutu mulai bergerilya untuk menunjukkan ketidakpuasannya terhadap kondisi baru yang terbentuk akibat intervensi kolonial.
Bagi Tombolotutu, sikap Daeng Malino yang menerima kontrak politik dan juga eksploitasi pertambangan oleh perusahaan Belanda menjadi simbol jatuhnya wibawa Kerajaan Moutong. Sebuah coreng yang tidak bisa dibiarkan dan harus secepatnya dihapuskan apa pun caranya, termasuk dengan mengobarkan peperangan.
Tombolotutu dengan didampingi para tadulako kepercayaannya lantas bersiasat melakukan gerilya berbekal sumpit, tombak, dan parang sebagai senjata. Sementara Pemerintah Kolonial Belanda mengerahkan Korps Marechaussee te Voet alias Marsose, pasukan berisi serdadu-serdadu terbaik yang terkenal sejak Perang Aceh. Persenjataan mereka lebih modern dan lengkap.
Selama mengobarkan peperangan, Tombolotutu yang kerap berpindah-pindah juga bertemu dan meminta bantuan para penguasa setempat untuk bersama melawan Belanda. Termasuk ketika sedang berada di Toribulu yang menjadi wilayah kekuasaan mertuanya Raja Sapewali. Di tempat inilah Tombolotutu mengembuskan napas terakhir setelah mengobarkan perangnya yang terakhir. Loliba’i, tadulako atau panglima perang kesayangan Tombolotutu, turut gugur dalam peristiwa tersebut.
Fragmen yang menamatkan perjuangan Tombolotutu bersama pasukannya itu diilustrasikan secara rinci dan penuh emosi dalam buku ini. Begitu juga dengan alur penceritaannya. Pembaca seolah hadir dalam setiap episode perjalanan sang pahlawan. Membuatnya jadi buku sejarah yang tidak membosankan.
Masa berganti, namun perjuangan yang dilakukan Tombolotutu bersama para pengikutnya masih terasa relevan. Mencuplik pernyataan Jefrianto dari Komunitas Historia Sulteng, semangat pantang menyerah, cinta tanah air, teguh dalam pendirian, antikorupsi, kolusi, dan nepotisme harus menjadi tulang punggung dalam membangun Sulteng hari ini.
[26/7 01.39] rudysugengp@gmail.com: 3. Buatkan Gambar dan Infografis tentang
Kontroversi Kematian dan Penghargaan
Tombolotutu
Kontroversi Kematian
Terdapat perbedaan versi terkait peristiwa pengepungan Tombolotutu di pegunungan Ujularit yang menurut sumber Belanda mengakibatkan gugurnya Tombolotutu bersama tiga orang pengawalnya, tetapi terdapat sumber lain menyebutkan bahwa Tombolotutu berhasil menyelamatkan diri dan membangun relasi dengan beberapa tokoh perlawanan antara lain Magau Dolo, Datu Pamusu yang memberi perlindungan kepada Tombolotutu hingga dinyatakan wafat di Desa Kaleke pada Tahun 1938.
Berbeda dengan versi tersebut, Dr, Lukman Nadjamuddin dalam bukunya “Bara Perlawanan di Teluk Tomini” menyebutkan bahwa Tombolotutu meninggal pada tahun 17 Agustus 1901, merujuk pada data pada surat kabar Belanda.
Sementara pada buku yang ditulis sejarawan Haliadi Sadi, SS, M.Hum., Ph.D, Tombolotutu masih terlibat perang Sojol pada 1905. Data tersebut sejalan dengan yang tercantum dalam buku “Tadulako Mitos atau Fakta” yang ditulis Danrem 132 Tadulako, Brigjen TNI Farid Makruf, MA bersama tim yang terbit tahun 2021. Dalam buku tersebut dicantumkan, bahwa perjuangan Tombolotutu antara tahun 1898 hingga 1938.
Raja Tombolotutu gugur dalam pertempuran melawan pasukan elite Belanda (Marsose) pada tanggal 17 Agustus 1901 di Pegunungan Ujularit, setelah bertahun-tahun memimpin perang gerilya demi mempertahankan wilayahnya.
Akhir Hayat Tombolotutu
Menolak Tunduk:
Sebagai Raja Moutong sejak tahun 1877, beliau dengan tegas menolak segala bentuk kerja sama maupun kontrak politik dengan pihak Belanda.
Perang Frontal:
Belanda yang geram meluncurkan operasi militer besar-besaran pada Oktober 1898 di wilayah Moutong.
Taktik Gerilya:
Setelah ibu kota kerajaan jatuh, beliau memindahkan pasukannya ke dalam hutan dan wilayah kepulauan untuk melancarkan perang gerilya.
Pasukan Marsose:
Belanda sampai harus mengerahkan Marsose, yaitu pasukan khusus elite mereka, khusus untuk memburu keberadaan Tombolotutu.
Gugur Berstatus Bebas: Beliau memilih terus bertempur dan mengungsikan keluarganya daripada harus menyerah, hingga akhirnya mengembuskan napas terakhir di medan laga.
Lokasi Makam:
Jasad sang raja dikebumikan di wilayah Kecamatan Toribulu, Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah
Penghargaan Pahlawan Nasional
Atas kegigihan perjuangannya tersebut, beliau dianugerahi gelar Pahlawan Nasional Indonesia oleh Presiden Joko Widodo pada tanggal 10 November 2021, berdasarkan Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 109/TK/Tahun 2021.
Pionir dari Sulteng:
Menjadi tokoh pejuang pertama dan satu-satunya dari Provinsi Sulawesi Tengah yang berhasil meraih gelar kehormatan tertinggi ini.
Proses Panjang:
Pengusulan nama beliau telah diperjuangkan oleh pemerintah daerah dan masyarakat setempat sejak era 1900-an melalui berbagai riset sejarah.
[26/7 10.07] rudysugengp@gmail.com: 1. Buatkan Gambar dan Infografis tentang
Kehidupan, Keturunan, dan Cucu
Sultan Aji Muhammad Idris
Kehidupan :
Saat naik takhta ia menyadari bahwa VOC merupakan salah satu ancaman terbesar bagi kerajaannya. Ia turut membantu mertuanya, La Madukelleng, raja Makassar dalam perlawanan melawan VOC. Bahkan pada 1736-1737 ia turun langsung memimpin perlawanan melawan pasukan VOC.
Keturunan :
Sultan Adji Muhammad Idris memiliki permaisuri beserta selir dan mempunyai 7 orang putra putri:
KDYMM Ratu Permaisuri
KDYMM Seri Paduka Baginda Ratu Permaisuri Andi Rianjeng atau Andin Duyah atau Aji Putri Doyah gelar I Doya Aji Putri Agung Putri dari Andi Petta To Sibengareng Bin Andi La Maddukelleng Dan Andin Anjang Binti Sultan Aji Muhammad Alamsyah dari Paser melahirkan :
Aji Putri Intan alias Aji Kengsan gelar Adji Putri Intan gelar Petta Laburanti digilirang Paniki Wajo lahir pada tahun 1736.
Aji Imbut gelar Sultan Aji Muhammad Muslihudin alias Meruhum Aji Kembang Mawar menjadi Sultan ke 15 di Kesultanan Kutai Kartanegara memindahkan pusat pemerintahan dari Pamerangan (Jembayan) ke Tepian Pandan (Tenggarong) lahir pada tahun 1737.
Aji Pangeran Berajanata
Aji Dayang
KDYMM Ratu Mahadewi
KDYMM Seri Paduka Baginda Ratu Mahadewi Dayang Sungka Binti Tan Panjang Bin Adipati Maharaja Marga Nata Kusuma adalah Adipati Kerajaan Kutai Mulawarman di wilayah Muara Gelumbang Ma-Bengkal, melahirkan:
Aji Pangeran Megan gelar Aji Pangeran Maharaja Nata Kusuma menjadi Adipati di Muara Gelumbang dan Muara Bengkal.
Aji Pangeran Amjah Mas Aria Gelar Aji Pangeran Sri Bangun I Menjadi Adipati Kota Bangun inilah disebut dengan Raja Seri Bangun.
Selir Sang Nata
Aji Endot merupakan Selir dari Sultan Aji Muhammad Idris dan melahirkan:
Aji Rembati
Aji Siti Berawan
Dari Selir lainnya, Sultan Aji Muhammad Idris berputri:
Aji Galuh Besar
Cucu :
Aji Putri Intan Gelar Petta Laburanti Digilirang Paniki Wajo menikah dengan La Maliungeng Arung Paniki, Putra dari La Parusi Petta Buranti: Belum diketahui keturunannya
Sultan Aji Muhammad Muslihuddin berputra-putri dari 2 isteri :
KDYMM Seri Paduka Baginda Ratu Permaisuri Aji Ratu Tatin berputra :
Aji Kuncar gelar Sultan Aji Muhammad Salehuddin I
Aji Pangeran Praboe Kusuma Ningrat
KDYMM Seri Paduka Baginda Ratu Mahadewi Ratu Pua Areng Putri Raja Bugis berputra-putri :
Aji Kondang
Aji Kupang
Aji Unuk
Aji Seman
Aji Pangeran Beranata, nama isteri belum diketahui dan berputri :
KDYMM Seri Paduka Baginda Ratu Leko Aji Ratu Zuziah. Isteri Ketiga dari .Sultan Aji Muhammad Salehuddin I
Aji Pangeran Megan Gelar Aji Pangeran Marga Nata Kesuma menjadi Adipati Di Muara Gelumbang dan Muara Bengkal : Belum diketahui keturunannya
Aji Pangeran Amjas Mas Aria gelar Aji Pangeran Seri Bangun I menjadi Adipati Kota Bangun inilah disebut sebagai Raja Seri Bangun berputra dari 1 orang isteri :
Nama Isteri belum diketahui asalnya dari Orang Keluaran berputra :
Aji Pangeran Raga gelar Aji Pangeran Seri Bangun II atau Aji Pangeran Singa Merdan menjadi Adipati Kota Bangun beristeri Sim Luan Nio dan berputri : YM Selir Sang Nata Aji Soja Ibunda Aji Pangeran Mangkunegara (Selir Sultan Sultan Aji Muhammad Sulaiman)
Aji Rembati menikah dengan Aji Pangeran Dipati Kusumaningrat Bin Pangeran Suryanata Bin Ratu Agung Bin Aji Geger Gelar Sultan Aji Muhammad Alamsyah (Adipati Kerakup di Kesultanan Kutai Kartanegara) dari Kesultanan Paser (dimakamkan di Kerakup, Muara Kedang, Bongan) berputra:
Aji Pangeran Lemper salah satu Adipati diwilayah Kesultanan Kutai Kartanegara dan diangkat oleh Sultan Aji Muhammad Muslihuddin pada tahun 1780 menjadi Adipati Lemper.
Aji Pangeran Kuning gelar Aji Pangeran Lemiang merupakan salah satu Adipati diwilayah Kesultanan Kutai Kartanegara dan diangkat oleh Sultan Aji Muhammad Muslihuddin sebagai Adipati Lemiang pada tahun 1760 (dimakamkan di Lemiang, Bongan, Kutai Barat), berputra:
Aji Siti Berawan, merupakan salah satu pahlawan perempuan terkenal di Kesultanan Kutai karena Aji Siti Berawan sangat terkenal jiwa kepahlawananya, dia memimpin Benuaq Sungai Ohong memerangi Suku Hiban di perbatasan Kerajaan di Banjarmasin dan Sungai Buhang (Kalsel), setelah wafatnya dikebumikan di Kampung Lakum di Perigi (Tanjung Isui).
Aji Galuh Besar menikah dengan Raja Berau Ke 14 yakni Sultan Muhammad Zainal Abidin. Dari pernikahan ini tidak mendapatkan keturunan dan Aji Galuh Besar bercerai secara resmi dengan Sultan Muhammad Zainal Abidin. Kemudian Aji Galuh Besar pulang ke Kesultanan Kutai Kartanegara.
2. Buatkan Gambar dan Infografis tentang
Perjuangan Melawan
Sultan Aji Muhammad Idris
Pertempuran :
Sultan Aji Muhammad Idris yang merupakan menantu dari Sultan Wajo La Madukelleng berangkat ke tanah Wajo, Sulawesi Selatan untuk turut bertempur melawan VOC bersama rakyat Bugis. Dengan gagah berani Sultan Aji Muhammad Idris menggepur VOC dan akhirnya beliau gugur sebagai syuhada di medan perang, Pemerintahan Kesultanan Kutai Kartanegara untuk sementara dipegang oleh Dewan Perwalian.
Latar Belakang dan Awal Perjuangan
Menjadi penguasa Kutai Kartanegara dan menyadari ancaman besar VOC terhadap kedaulatan Nusantara.Menikah dengan putri La Madukelleng, Raja Wajo, yang memperkuat aliansi militer dan politik antardaerah.Mengirim ratusan pasukan dari Kalimantan ke Sulawesi Selatan pada tahun 1736 untuk bergabung melawan penindasan kompeni Belanda.
Puncak Perlawanan dan Gugur di Medan Laga
Memimpin langsung pasukan gabungan di garis depan pertempuran sengit di wilayah Wajo, Sulawesi Selatan.Gugur sebagai syuhada di medan perang pada tahun 1739 demi mempertahankan kehormatan dan kemerdekaan sekutunya.
Aji Muhammad Idris juga disebut sebagai raja pertama Kutai Kertanegara yang membangun relasi dengan kerajaan tetangga. Hubungan ekonomi dan politiknya dirangkai dalam pola pikir anti-kolonial. Nasir menulis, Aji Muhamad Idris menjadi sosok yang menginisiasi model pemerintahan Kutai menjadi kesultanan. Dialah pangeran pertama yang diangkat sebagai pemimpin kerajaan bergelar sultan.
Prof Andi Ima Kesuma yang menjadi pembicara kedua dalam seminar ini memberikan penjelasan tambahan. Menurutnya, sebagai kesultanan, Kutai Kertanegara harus menunaikan kelengkapan infrastruktur dan suprastruktur. Persisnya, suprastruktur adalah mengajak kerajaan tetangga untuk menjadi kesultanan pula. Orientasi ini berhubungan dengan upaya memperkuat persatuan antarkesultanan untuk melawan praktik dominasi Belanda. Kelengkapan suprastruktur terpenuhi ketika Kerajaan Paser dan Berau berstatus kesultanan.
"Inilah yang disebut sebagai visi Kesultanan Kutai. Konteksnya dapat menjelaskan keterlibatan Sultan Aji Muhammad Idris turun ke medan peperangan melawan Belanda di Sulawesi Selatan bersama La Maddukelleng," terang guru besar bidang sejarah dan pariwisata dari UNM itu.
Sultan Adji Muhammad Idris yang Disebut Aktif Melawan VOC dan Sinyal Kuat Pahlawan Nasional dari Kaltim
Sultan Adji Muhammad Idris yang Disebut Aktif Melawan VOC dan Sinyal Kuat Pahlawan Nasional dari Kaltim
Nama Sultan ke-14 Kutai Kertanegara, Aji Muhammad Idris, diusulkan sebagai pahlawan nasional. Disebut aktif dalam pertempuran melawan VOC di Sulawesi Selatan.
Oleh Samuel Gading
9 April 2021 04:56
·
6 menit baca.
Lukisan Sultan Adji Muhammad Idris karya Bachtiar Hafid.
Lukisan Sultan Adji Muhammad Idris karya Bachtiar Hafid.
kaltimkece.id Satu nama lagi dari Kaltim diusung sebagai pahlawan nasional. Selain Abdoel Moeis Hassan, terdapat nama Sultan Aji Muhammad Idris. Pemimpin ke-14 dari Kesultanan Kutai Kertanegara itu disebut berpeluang besar menjadi pahlawan nasional. Lagi pula, dari daftar 190 pahlawan nasional, tak seorang pun yang berasal dari Kaltim.
Kamis, 8 April 2021, Dinas Sosial Kaltim mengadakan seminar calon pahlawan nasional di sebuah hotel berbintang di Jalan Pangeran Diponegoro, Samarinda. Acara dihadiri sejumlah akademikus, tokoh masyarakat, hingga politikus. Ada mantan gubernur Kaltim Awang Faroek Ishak serta Wakil Gubernur Kaltim Hadi Mulyadi.
Kepala Bidang Pemberdayaan Sosial, Dinsos Kaltim, Juraidi, mengatakan bahwa Sultan Aji Muhammad Idris dikenal aktif melawan dominasi Perusahaan Hindia Timur Belanda atau Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC). Juriadi mengatakan, seminar tersebut bertujuan mengkaji upaya perjuangan Sultan Adji Muhammad Idris secara historis.
Dalam jurnal Kesultanan Pertama Kukar (2020) yang ditulis Nasihin, sejarawan dari Universitas Negeri Makassar (UNM), sosok Aji Muhammad Idris diceritakan. Adji Muhammad Idris adalah penerus takhta Raja Aji Sinum Panji Mendapa ing Martadipura. Ketika berkuasa pada 1735-1778, Aji Muhamamad Idris mengaplikasikan dua undang-undang yang telah disusun Raja Aji Sinum Panji. Kedua produk hukum itu adalah Panji Selaten dan Beraja Niti. Panji Selaten terdiri dari 39 pasal yang mengatur tentang sistem pemerintahan. Sementara itu, Beraja Niti terdiri dari 14 pasal yang mengatur tata tertib bagi masyarakat Kutai. Keduanya menjadi dasar pelembagaan masyarakat melalui pranata sosial dan hukum.
"Sehingga segala sesuatu tindakan diukur melalui tata aturan yang jelas. Proses penyelesaian permasalahan pun dijelaskan dan dijalankan sesuai prosedur hukum," tulis Nasir.
Aji Muhammad Idris juga disebut sebagai raja pertama Kutai Kertanegara yang membangun relasi dengan kerajaan tetangga. Hubungan ekonomi dan politiknya dirangkai dalam pola pikir anti-kolonial. Nasir menulis, Aji Muhamad Idris menjadi sosok yang menginisiasi model pemerintahan Kutai menjadi kesultanan. Dialah pangeran pertama yang diangkat sebagai pemimpin kerajaan bergelar sultan.
Prof Andi Ima Kesuma yang menjadi pembicara kedua dalam seminar ini memberikan penjelasan tambahan. Menurutnya, sebagai kesultanan, Kutai Kertanegara harus menunaikan kelengkapan infrastruktur dan suprastruktur. Persisnya, suprastruktur adalah mengajak kerajaan tetangga untuk menjadi kesultanan pula. Orientasi ini berhubungan dengan upaya memperkuat persatuan antarkesultanan untuk melawan praktik dominasi Belanda. Kelengkapan suprastruktur terpenuhi ketika Kerajaan Paser dan Berau berstatus kesultanan.
"Inilah yang disebut sebagai visi Kesultanan Kutai. Konteksnya dapat menjelaskan keterlibatan Sultan Aji Muhammad Idris turun ke medan peperangan melawan Belanda di Sulawesi Selatan bersama La Maddukelleng," terang guru besar bidang sejarah dan pariwisata dari UNM itu.
La Maddukelleng adalah bangsawan dari Wajo, Sulawesi Selatan, yang merantau hingga menjadi Sultan Paser di Kalimantan. Ia disebut rekan seperjuangan Sultan Aji Muhammad Idris. Keduanya memiliki hubungan erat karena Sultan Aji Muhammad Idris menikahi putri La Maddukelleng pada 1732. Pernikahan tersebut menandai penyatuan visi politik dan ekonomi kedua kerajaan. Secara ekonomi, kedua kerajaan ini disebut mampu memainkan peran penting di timur Nusantara. Armada La Maddukelleng juga dikenal kuat karena menguasai perairan selat Makassar hingga Melayu. Kerajaan Paser dan Kutai pun dapat membendung pengaruh Belanda via blokade laut.
Menurut Didik Pradjoko dari Departemen Sejarah, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Indonesia, Universitas Indonesia, kedua sahabat ini mulai berkonfrontasi dengan VOC pada 1736. Sultan Aji Muhammad Idris dan La Maddukelleng waktu itu mempertahankan ibu kota Wajo dari gempuran perusahaan dagang Belanda. Pada 1737, keduanya berhasil merebut Palakka, pusat perdagangan di daerah Bone, termasuk Sidenreng dan Soppeng. Serangan terus berlanjut hingga jantung pertahanan VOC yakni Fort Rotterdam di Makassar namun gagal.
Ajal menjemput Sultan Aji Muhammad Idris ketika bersama pasukannya menuju Sidenreng. Kuda yang ia tunggangi disebut jatuh dalam jebakan musuh. “Meskipun Sultan telah tiada, pasukannya bertahan untuk membantu La Maddukelleng melawan VOC dan sekutu,” imbuh Prof Andi Ima Kesuma.
Sang sultan akhirnya digelari masyarakat Bone sebagai La Darise Denna Parewosi Petta Arung Kutek Petta Matinroe ri Kawane. Artinya, “Idris, kakak Parewosi, tuan kita, Sultan Kutai yang beradu tidur di Kawane.”
3. Buatkan Gambar dan Infografis tentang
Akhir Hayat, Penghargaan, dan Usulan Pahlawan
Sultan Aji Muhammad Idris
Proses Administrasi
Juriadi dari Dinsos Kaltim menyatakan, proses administrasi usulan pahlawan nasional dalam waktu dekat dikirimkan kepada pemerintah pusat. Lagi pula, sambungnya, pusat sudah memberi sinyal kuat. Ada komitmen untuk membawa nama tersebut karena sudah dikaji dalam arsip nasional maupun Belanda.
“Bahwasanya, beliau (Aji Muhammad Idris) tidak pernah sama sekali cacat syarat, tidak pernah berkhianat maupun bersekutu kepada Belanda," jelasnya.
Dari total syarat administrasi, Juriadi menambahkan, 80 persen sudah disiapkan. Biografi Aji Muhammad Idris juga sudah ada. Nama Sultan Muhammad Idris pun sudah disepakati untuk dipakai UIN di Kaltim dan sekarang tinggal menunggu keputusan Presiden Joko Widodo. Dinsos Kaltim tinggal memenuhi syarat formal dan resmi. Di antaranya surat resmi dari kesultanan mengenai ahli waris, foto autentik, serta rekomendasi dan testimoni pejabat setempat.
"Kami juga menunggu surat dukungan dari pemerintah Sulawesi Selatan dan Kesultanan Wajo," ucapnya.
Seluruh berkas dikirim pada Rabu 16 April 2021 kepada pemerintah pusat. Jika Sultan Muhammad Idris ditetapkan sebagai pahlawan pada 10 November, figur dan tokoh lain yang layak menjadi pahlawan nasional turut diajukan. "Seperti Abdoel Moeis Hassan, Awang Long, dan sebagainya. Yang penting cuma satu, tidak pernah berkhianat dari Indonesia. Yang jelas, Sultan Aji Muhammad Idris ini dulu," paparnya.
Wafat :
Pada tahun 1739, Sultan Aji Muhammad Idris gugur di medan perang. Sepeninggal Sultan Aji Muhammad Idris, terjadilah perebutan tahta kerajaan oleh Aji Kado. Putera mahkota kerajaan Aji Imbut yang saat itu masih kecil kemudian dilarikan ke Wajo. Aji Kado kemudian meresmikan namanya sebagai Sultan Kutai Kartanegara dengan menggunakan gelar Sultan Aji Muhammad Aliyeddin.
Sultan Aji Muhammad Idris dimakamkan bersama mertua sekaligus rekan seperjuangan beliau, yakni La Madukelleng di Wajo. Sultan Aji Muhammad Idris salah satu Pahlawan yang dikenang oleh masyarakat Wajo atas perjuangan beliau dan kawula Kutai mengusir penjajah dari tanah Wajo. Masyarakat setempat pun menggelari Sultan Aji Muhammad Idris sebagai La Darise Denna Parewosi Petta Arung Kutek Petta Matinroe ri Kawane, yang berarti “Idris, kakak Parewosi, tuan kita, Sultan Kutai yang beradu tidur di Kawane.”
Penghargaan :
Penganugerahaan Gelar Pahlawan Nasional Oleh Pemerintah Republik Indonesia Berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 109/TK/TH 2021 tanggal 25 Oktober 2021.
Untuk mengenang jasa dan perjuangan Sultan Aji Muhammad Idris maka nama beliau diabadikan menjadi nama Universitas di Kalimantan Timur yakni Universitas Islam Negeri Sultan Aji Muhammad Idris Samarinda di Samarinda. Nama beliau diabadikan menjadi nama sebuah Rumah Sakit yakni Rumah Sakit Umum Daerah Aji Muhammad Idris di Muara Badak, Kabupaten Kutai Kartanegara.
[26/7 13.54] rudysugengp@gmail.com: 1. Buatkan Gambar dan Infografis tentang
Biodata, Kehidupan awal dan Pendidikan
dr. H.R. Suharto Sastrosuyoso
Informasi pribadi
Lahir :
24 Desember 1908
Tegalgondo, Wonosari, Klaten, Kasunanan Surakarta, Hindia Belanda
Meninggal :
30 November 2000 (umur 91)
Jakarta, Indonesia
Istri :
R. Ay. Sinta Lente Tejasukmana
Hubungan :
Alamsyah Ratu Perwiranegara (besan)
Mimi Mariani (menantu)
Panca Wijaya Akbar (cucu menantu)
Almamater :
Sekolah Tinggi Kedokteran Jakarta
Pekerjaan :
Dokter - Politisi
Kehidupan awal dan pendidikan :
Soeharto mengenyam pendidikan dasarnya di Europese Lagere School (ELS) Solo dan Madiun. Ia kemudian melanjutkan ke Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) Madiun dan lulus pada 16 Mei 1925, sebelum menyelesaikan pendidikan menengahnya di Algemeene Middelbare School (AMS) B di Yogyakarta pada 16 Mei 1928.
Ketertarikannya pada dunia medis membawanya masuk ke Fakultas Medica Bataviensis di Sekolah Tinggi Kedokteran Jakarta (STK). Ia berhasil meraih gelar *Arts* (dokter) pada 25 Mei 1935. Setelah lulus, ia sempat bekerja sebagai asisten di STK hingga awal 1937, sembari magang pada sore dan malam hari di Poliklinik Umum dan Klinik Bersalin Pasar Senen di bawah bimbingan Dr. Tumbelaka serta para dokter senior lainnya. Pada 14 April 1937, Soeharto mencatatkan sejarah dengan menjadi alumnus pertama yang meraih gelar ilmiah *Medicinae Doctorem* (Doktor) dari Fakultas Medica Bataviensis.
Selama masa studinya, Soeharto aktif dalam berbagai gerakan pemuda. Ia tercatat sebagai anggota Jong Java hingga duduk di Pengurus Besar terakhir pada tahun 1928, anggota Jong Islamieten Bond (1926–1928), anggota Indonesia Muda (1929–1931), serta anggota Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia (PPPI) (1931–1936).
[26/7 13.55] rudysugengp@gmail.com: 2. Buatkan Gambar dan Infografis tentang
Karier kedokteran - masa kemerdekaan, dan politik - pemerintahan
dr. H.R. Suharto Sastrosuyoso
Karier kedokteran dan masa kemerdekaan :
Antara tahun 1937 hingga 1942, Soeharto menjalankan praktik kedokteran keluarga (huisarts) dan mengelola sebuah klinik bersalin kecil di kawasan Kramat, Jakarta. Memasuki masa pendudukan Jepang (1942–1945), ia dipercaya menjadi dokter pribadi bagi dua tokoh utama pergerakan nasional, Bung Karno dan Bung Hatta.
Oleh Bung Karno, ia ditugaskan memimpin Bagian Kesehatan Pusat Tenaga Rakyat (Putera) di bawah arahan Empat Serangkai. Sementara itu, Bung Hatta menugasinya memberikan pelayanan kesehatan bagi calon pegawai Pangreh Praja se-Jawa serta ribuan abang becak di Jakarta. Dalam bidang keuangan pergerakan, Soeharto juga dipercaya menjabat sebagai Bendahara yang kemudian menjadi Wakil Ketua Fonds Kemerdekaan Indonesia (FKI) Pusat.
Sebagai orang dekat Dwi Tunggal, Soeharto mendampingi perjalanan penting Soekarno-Hatta, termasuk saat menemui Laksamana Shibata di Singaraja, Bali, hingga penerbangan ke Dalat, Indochina, untuk bertemu Marsekal Terauchi dalam rangka persiapan kemerdekaan. Ia turut menyaksikan langsung pembacaan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945. Pada akhir Agustus 1945, ia dilantik sebagai anggota Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) dan diangkat menjadi anggota Pusat Bank Indonesia pada Oktober 1945.
Saat ibu kota pindah ke Yogyakarta pada periode 1946–1948, Soeharto diangkat menjadi Kepala Administrasi Pusat (AMP) Kementerian Pertahanan dengan pangkat Mayor Jenderal Kehormatan, sekaligus merangkap jabatan sebagai dokter pribadi Presiden. Ia sempat nonaktif pada pertengahan 1948 hingga akhir 1949 akibat menderita kelumpuhan parsial, sebelum akhirnya kembali bertugas penuh sebagai dokter pribadi Presiden dari tahun 1950 hingga 1966.
Di luar tugas kepresidenan, ia ikut terlibat sebagai anggota Staf Front Pembebasan Irian Barat pada tahun 1958 dengan pangkat Kolonel Kehormatan, yang kemudian dinaikkan menjadi Brigadir Jenderal pada 1961, dan Mayor Jenderal Kehormatan TNI-AD pada 1964.
Karier politik dan pemerintahan :
Karier Soeharto di pemerintahan dimulai pada masa Demokrasi Terpimpin di bawah Kabinet Kerja I hingga Kabinet Dwikora. Ia berturut-turut ditunjuk menduduki sejumlah pos menteri, antara lain:
Menteri Muda/Menteri Perindustrian Rakyat (13 Juli 1959 – 5 Maret 1962)
Menteri Perdagangan (6 Maret 1962 – 13 November 1963)
Menteri Urusan Perencanaan Pembangunan Nasional merangkap Urusan Penerbitan Bank dan Modal Swasta (13 November 1963 – 1 Agustus 1964)
Menteri Koordinator Urusan Perencanaan Pembangunan Nasional (27 Agustus 1964 – 25 Juli 1966), dengan sempat merangkap tugas sebagai Menko Keuangan pada awal 1966.
Selama menjabat sebagai menteri, Soeharto juga mengemban beberapa posisi strategis non-kabinet. Ia merupakan Direktur Utama pertama PT Department Store Sarinah (1962–1967), Wakil Bendahara Panitia Monumen Nasional dan Masjid Istiqlal, serta Ketua Panitia Penyusun buku sejarah "20 Tahun Indonesia Merdeka". Ia resmi pensiun dari jabatan menteri pada 3 Oktober 1966 dan diberhentikan dengan hormat dari tim dokter kepresidenan pada Agustus 1967.
[26/7 13.56] rudysugengp@gmail.com: 3. Buatkan Gambar dan Infografis tentang
Aktivitas Organisasi, Masa Pensiun, dan Akhir Hayat
dr. H.R. Suharto Sastrosuyoso
Aktivitas organisasi dan masa pensiun :
Pasca-pensiun dari pemerintahan, Soeharto kembali membuka praktik kedokteran hingga tahun 1978 dan mencurahkan waktunya pada organisasi profesi serta sosial. Ia merupakan salah satu tokoh kunci yang memprakarsai fusi antara Perkumpulan Thabib Indonesia dan Perkumpulan Dokter Indonesia menjadi Ikatan Dokter Indonesia (IDI) pada tahun 1950. Di dalam struktur IDI, ia pernah menjabat sebagai Sekretaris, Ketua Umum PB IDI, dan terpilih sebagai Ketua Dewan Penyantun pada Muktamar IDI 1982. Di ranah internasional, ia memimpin delegasi IDI ke berbagai konferensi medis dunia di London dan Den Haag, serta memprakarsai berdirinya Confederation of Medical Associations in Asia and Oceania (CMAAO).
Selain IDI, Soeharto juga memprakarsai berdirinya Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) pada akhir tahun 1957 dan bertindak sebagai Ketua Pengurus pertama. Di luar dunia medis, ia aktif memimpin Lions Club Indonesia sebagai District Governor 307 (1978–1979), menjadi penasihat OISCA (Organization of Industrial, Social, Cultural Advancement) chapter Indonesia, serta bergabung dengan Partai Demokrasi Indonesia (PDI) sebagai anggota Badan Penelitian dan Pengembangan pada tahun 1984.
Penghargaan :
Atas jasa-jasanya selama masa perang kemerdekaan dan pemerintahan, Soeharto menerima berbagai penghargaan, antara lain:
Pangkat Kapten Kehormatan dan Cincin Siliwangi dari Panglima Divisi Siliwangi.
Satyalancana Perang Kemerdekaan I.
Tunjangan kehormatan sebagai anggota KNIP dari BAKN (1982).
Penghargaan dari Direksi BNI 46 atas kontribusi masa awal kemerdekaan (1976).
Berbagai bintang kehormatan asing dari kunjungan kenegaraan, termasuk Ordo Aquila Azteca dari Pemerintah Meksiko, sekaligus dianugerahi status Warga Kehormatan Acapulco.
Gelar Pahlawan Nasional Indonesia yang dianugerahkan oleh Pemerintah Republik Indonesia.
Akhir Hayat
Wafat di Jakarta pada tanggal 30 November 2000 pada usia 91 tahun.
Tempat pemakaman terakhir berada di TPU Tanah Kusir, Jakarta (Blok AAI Blad 048 Petak 0296).
Keputusan Presiden (Keppres) Gelar Pahlawan
Ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional melalui Keputusan Presiden Nomor 96/TK/Tahun 2022 yang ditandatangani pada 3 November 2022.
Penganugerahan tersebut diserahkan langsung oleh Presiden Joko Widodo di Istana Negara pada 7 November 2022.
Warisan dan Jasa
Kesehatan & Medis:
Menjadi dokter pribadi Presiden Soekarno sejak 1942, ikut merawat para pemimpin bangsa, serta menjadi salah satu pendiri Ikatan Dokter Indonesia (IDI) pada tahun 1950.
Pelopor Kependudukan: Menjadi pelopor dan penggagas program Keluarga Berencana (KB) di Indonesia serta ketua pertama Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI).
Pemerintahan & Pembangunan: Pernah mengemban posisi penting sebagai Menteri Perdagangan, Menteri Perindustrian, hingga Kepala Bappenas pada masa Demokrasi Terpimpin.
Infrastruktur Nasional: Terlibat dalam gagasan dan pembangunan sejumlah proyek penting negara seperti Hotel Indonesia, pusat perbelanjaan Sarinah, hingga pendirian Bank Indonesia.
[26/7 14.14] rudysugengp@gmail.com: 1. Buatkan Gambar dan Infografis tentang
Biodata dan Kehidupan Awal
KGPAA Paku Alam VIII
Informasi Pribadi
Gusti Raden Mas Sularso Kunto Suratno
Lahir :
10 April 1910
Keadipatian Pakualaman,
Hindia Belanda
Kematian :
11 September 1998 (umur 88)
Yogyakarta, Indonesia
Pasangan :
Kanjeng Raden Ayu Ratnaningrum
Kanjeng Raden Ayu Purnamaningrum
Keturunan :
8, termasuk Paku Alam IX
Ayah :
Paku Alam VII
Ibu :
Gusti Bendara Raden Ayu Ratna Purwasa
Keluarga :
Ia memiliki dua istri, yaitu;
Dari KRAy. Ratnaningrum:
Ir. GPH. H. Probokusumo
GBRAy. Retno Sundari
GBRAy. Retno Sewayani
GPH. Anglingkusumo
GPH. Songkokusumo
GBRAj. Retno Pudjawati (wafat ketika bayi)
GPH. Ndoyokusumo
GPH. Wijoyokusumo
Dari KRAy. Purnamaningrum:
GPH. Ambarkusumo (KGPAA Paku Alam IX)
GBRAy. Retno Martani
GPH. Gondhokusumo
GBRAy. Retno Suskamdani
GBRAy. Retno Rukmini
GPH. H. Tjondrokusumo
GBRAy. Hj. Retno Widanarni
GPH. Indrokusumo
Pendidikan :
Pendidikan yang ditempuh adalah Europesche Lagere School Yogyakarta, Christelijke MULO Yogyakarta, AMS B Yogyakarta, Rechtshoogeschool te Batavia (Sekolah Tinggi Hukum di Jakarta - sampai tingkat candidaat). Pada 13 April 1937 ia ditahtakan sebagai Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Ario Prabu Suryodilogo menggantikan mendiang ayahnya. Setelah kedatangan Bala Tentara Jepang pada tahun 1942 ia mulai menggunakan gelar Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Ario Paku Alam VIII.
2. Buatkan Gambar dan Infografis tentang
Perjuangan Pasca Kemerdekaan Indonesia
KGPAA Paku Alam VIII
Pada 19 Agustus 1945 bersama Hamengkubuwono IX, Paku Alam VIII mengirimkan telegram kepada Sukarno dan Hatta atas berdirinya RI dan terpilihnya mereka sebagai Presiden dan Wakil Presiden. Pada 5 September 1945 secara resmi KGPAA Paku Alam VIII mengeluarkan amanat/maklumat (semacam dekret kerajaan) bergabungnya Kadipaten Pakualaman dengan Negara Republik Indonesia. Sejak saat itulah kerajaan terkecil pecahan Mataram ini menjadi daerah istimewa. Melalui Amanat Bersama antara Hamengkubuwono IX dan Paku Alam VIII dan dengan persetujuan Badan Pekerja Komite Nasional Daerah Yogyakarta pada tanggal 30 Oktober tahun yang sama, ia berdua sepakat untuk menggabungkan Daerah Kasultanan dan Kadipaten dengan nama Daerah Istimewa Yogyakarta.
Jabatan yang dipangku selanjutnya adalah Wakil Kepala Daerah Istimewa, Wakil Ketua Dewan Pertahanan DIY (Oktober 1946), Gubernur Militer DIY dengan pangkat Kolonel (1949 setelah agresi militer II). Mulai tahun 1946-1978 Paku Alam VIII sering menggantikan tugas sehari-hari Hamengkubuwono IX sebagai kepala daerah istimewa karena kesibukan Hamengkubuwono IX sebagai menteri dalam berbagai kabinet RI. Selain itu ia juga menjadi Ketua Panitia Pemilihan Daerah DIY dalam pemilu tahun 1951, 1955, dan 1957; Anggota Konstituante dari Partai IP-KI (November 1956); Anggota MPRS (September 1960) dan terakhir adalah Anggota MPR RI masa bakti 1997-1999 Fraksi Utusan Daerah.
Setelah Hamengkubuwono IX mangkat pada tahun 1988, Paku Alam VIII menggantikan sang mendiang menjadi Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta sampai akhir hayatnya pada tahun 1998. Perlu ditambahkan bahwa pada 20 Mei 1998 ia bersama Hamengkubuwono X mengeluarkan Maklumat untuk mendukung Reformasi Damai untuk Indonesia. Maklumat tersebut dibacakan di hadapan masyarakat dalam acara yang disebut Pisowanan Agung. Beberapa bulan setelahnya ia menderita sakit dan meninggal pada tahun yang sama. Sri Paduka Paku Alam VIII tercatat sebagai wakil Gubernur terlama (1945-1998) dan Pelaksana Tugas Gubernur terlama (1988-1998) serta Pangeran Paku Alaman terlama (1937-1998).
3. Buatkan Gambar dan Infografis tentang
Akhir Hayat, Penghargaan l, dan Warisan
KGPAA Paku Alam VIII
Wafat dan Persemayaman
Wafat:
11 September 1998.
Masa Jabatan: Berkuasa selama 61 tahun (1937–1998), menjadikannya Adipati Pakualaman terlama.
Pemakaman: Dimakamkan di Kompleks Makam Girigondo, Kulon Progo, Yogyakarta.
Pahlawan Nasional :
Pada tanggal 7 November 2022 di Istana Negara, Presiden Joko Widodo menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada Paku Alam VIII. Dia diberi gelar Pahlawan Nasional dikarenakan jasanya mengintegrasikan diri pada awal kemerdekaan Republik Indonesia sehingga NKRI menjadi utuh hingga saat ini. Selain berjasa dalam perang kemerdekaan, dia juga dianggap berjasa dalam bidang pendidikan. Hal itu terbukti melalui pendirian perguruan tinggi seperti, UGM, UNY, IAIN. Selain itu, juga mendirikan Sekolah Rakyat (sekarang SD Puro Pakualaman) dan SMP Puro Pakualaman. Tak hanya itu, 1979 didirikan Yayasan Notokusumo yang mana melalui yayasan ini, Paku Alam VIII meresmikan Akademi Administrasi Negara dan Akademi Keperawatan Notokusumo.
Warisan Utama bagi Bangsa Indonesia
Integrasi Wilayah: Mengeluarkan amanat penyatuan Kadipaten Pakualaman dengan Republik Indonesia pada 5 September 1945 bersama Sri Sultan Hamengku Buwono IX.
Dukungan Fisik dan Logistik:
Mengizinkan penggunaan Puro Pakualaman sebagai kantor darurat pusat pemerintahan Republik Indonesia saat situasi darurat di masa revolusi.
Stabilitas Pemerintahan Daerah:
Menjabat sebagai Wakil Gubernur DIY terlama (1950–1998) serta Pelaksana Tugas Gubernur DIY (1988–1998).
Pengawalan Reformasi:
Mengeluarkan maklumat bersama Sultan Hamengku Buwono X pada Mei 1998 untuk mendukung jalannya reformasi secara damai.
[26/7 14.43] rudysugengp@gmail.com: 1. Buatkan Gambar dan Infografis tentang
Latar Belakang Keluarga dan Pendidikan
Rubini Natawisastra
Latar Belakang Keluarga dan Pendidikan
Raden Rubini Natawisastra dilahirkan di Bandung pada tanggal 31 Agustus 1906 dari keluarga bangsawan etnis Menak Sunda yang terpelajar. Ayahnya bernama Raden Natawisastra yang bekerja sebagai guru Normal School, sedangkan ibunya bernama Ni Raden Endung Lengkamirah yang merupakan keturunan Keraton Sumedang.
Setelah lulus dari Hollandsch Inlandsche School (HIS) pada tahun 1919, ia melanjutkan pendidikannya di School Tot Opleiding van Indische Artsen (STOVIA). Ia berhasil menamatkan pendidikan kedokteran tersebut dan resmi meraih gelar Indische Arts (dokter bumiputera) pada tahun 1930.
Selama menjadi mahasiswa, dr Rubini sangat aktif berolahraga hingga pernah membela klub sepak bola profesional 'Oliveo' pada tahun 1927. Di masa kuliah ini pula, ia mulai bersinggungan dengan pergerakan politik nasional melalui interaksinya dengan organisasi Paguyuban Pasundan (PP).
2. Buatkan Gambar dan Infografis tentang
Mengabdi di Pontianak
Rubini Natawisastra
Mengabdi di Pontianak
Pasca lulus, dr Rubini mengabdikan diri di Jakarta pada tahun 1930 hingga 1934 dengan mengawali karier di Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Grogol untuk mendalami penyakit saraf. Ia juga sempat ditugaskan meneliti wabah malaria di Pontianak pada 1932 sebelum akhirnya ditempatkan di Centrale Burgerljk Ziekenhuis (CBZ) guna mempelajari penyakit paru.
Pada tahun 1934, ia bersama istrinya, Ny Amalia, dipindahtugaskan ke Kalimantan Barat dan kelak diangkat menjadi Kepala Kesehatan Pontianak. Di wilayah tersebut, dr Rubini ditugaskan di Military Ziekenhuis (Rumah Sakit Tentara) serta ditunjuk mengepalai bagian bedah hingga menjadi kepala di Rumah Sakit Umum Sungai Jawi.
Sebagai dokter yang dekat dengan rakyat, ia rutin berkeliling memberikan pengobatan ke daerah terpencil di pedalaman tanpa membedakan status sosial masyarakatnya. Untuk menekan tingginya angka kematian ibu dan anak akibat persalinan tradisional, ia beserta sang istri membuka praktik dokter dan kebidanan berijazah di kediaman mereka.
3. Buatkan Gambar dan Infografis tentang
Latar Belakang Kiprah Pergerakan Politik Nasional
Rubini Natawisastra
Kiprah Pergerakan Politik Nasional
Di tengah kesibukan medisnya, dr Rubini meluangkan waktu bergabung dengan Soos Medan Sepakat dan menjadi pengurus wilayah Partai Indonesia Raya (Parindra) demi memupuk jiwa patriotisme. Melalui organisasi politik tersebut, ia berhasil mendorong berbagai program kemajuan untuk rakyat seperti pendirian sekolah, koperasi, kelompok kesenian, dan klub olahraga.
Ketika balatentara Jepang berkuasa pada 1942, dr Rubini menolak dievakuasi oleh Belanda karena memilih tetap tinggal untuk menolong korban pengeboman dan merawat wanita korban kekerasan tentara pendudukan. Untuk menyiasati pembekuan partai politik oleh Jepang, ia bersama para tokoh pergerakan membentuk organisasi Nissinkai sebagai kedok agar bisa terus berkoordinasi secara rahasia.
Setelah Nissinkwai dibubarkan Jepang, dr Rubini memimpin gerakan perlawanan bawah tanah dengan membentuk pasukan penyerbuan bersenjata yang dinamakan 'Soeka Rela' pada Juni 1943. Rencana pemberontakan yang dijadwalkan pada 8 Desember 1943 itu sayangnya tercium oleh Jepang, sehingga dr Rubini beserta rekan-rekannya tertangkap melalui sebuah jebakan pada bulan Oktober 1943.
Dokter Rubini, sang istri, dan puluhan tokoh penting lainnya dieksekusi mati oleh tentara Jepang pada 28 Juni 1944 dan jasadnya disemayamkan di kuburan massal Mandor. Gugurnya dr Rubini meninggalkan duka mendalam bagi kelima putrinya (Rubinneta, Aminetty, Marlina, Martini, dan Maryetty), sekaligus memicu perlawanan bersenjata suku Dayak di bawah pimpinan Pangsuma.
4. Buatkan Gambar dan Infografis tentang
Akhir Hayat, Gelar Pahlawan, dan Penghargaan
Rubini Natawisastra
Akhir Hayat
Gugur dalam Peristiwa Mandor:
Dr. Rubini diculik dan dieksekusi mati oleh tentara penjajah Jepang.
Eksekusi Bersama Istri:
Ia dihukum mati bersama istrinya, Amalia Rubini, karena kegigihan mereka dalam gerakan bawah tanah anti-Jepang.
Dr. Raden Rubini Natawisastra wafat secara tragis setelah dieksekusi mati oleh tentara Angkatan Laut Jepang pada 28 Juni 1944 dalam tragedi Peristiwa Mandor.
Korban Pembantaian Massal:
Ia menjadi salah satu dari ribuan tokoh intelektual dan warga Kalimantan Barat yang dihabisi dalam pembantaian massal tersebut.
Dianugerahi Gelar Pahlawan
Untuk mengenang jasa-jasanya, masyarakat dan pemerintah meresmikan perubahan nama Rumah Sakit Umum Mempawah menjadi "Rumah Sakit Dokter Rubini" melalui SK Bupati tertanggal 6 Agustus 1984.
Inisiator Pengusulan: Gelar ini diperjuangkan atas usulan Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat bersama Kongres Wanita Indonesia (KOWANI).
Puncak penghormatan bagi dedikasi sang patriot ini terwujud ketika dr Rubini secara resmi dianugerahi gelar Pahlawan Nasional oleh Presiden Republik Indonesia pada tanggal 7 November 2022, berdasarkan Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 96/TK/Tahun 2022
Penghargaan dan Penghormatan
Abadi sebagai Nama Rumah Sakit:
Namanya diabadikan menjadi RSUD dr. Rubini Mempawah di Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat sejak tahun 1984.
Abadi sebagai Nama Jalan:
Pemerintah daerah di Kalimantan Barat mengabadikan namanya sebagai nama jalan protokol untuk mengenang jasanya.
Simbol Kesetaraan Gender:
KOWANI mengenangnya sebagai pejuang kemanusiaan yang peduli pada perlindungan serta keselamatan hak-hak perempuan pada masa penjajahan.
[26/7 17.40] rudysugengp@gmail.com: 1. Buatkan Gambar dan Infografis tentang
Biografi Awal
Salahuddin bin Talabuddin
Haji Salahuddin bin Talabuddin merupakan tokoh pada era pergerakan nasional yang berkali-kali ditangkap dan diasingkan oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda hingga dihukum mati pada masa perang mempertahankan kemerdekaan RI.
“Beliau pernah dibuang ke Boven Digoel tahun 1942 dan juga dibuang ke Sawahlunto tahun 1918-1923,” ungkap Mahfud MD, Kamis (3/11/2022), dilansir laman resmi Presiden RI.
M. Adnan Amal dalam Kepulauan Rempah-rempah (2016) menyebutkan, Salahuddin bin Talabuddin dilahirkan pada 1874 di Gemia, Patani, Halmahera Tengah, Maluku Utara.
Haji Salahuddin adalah anggota dari Sarekat Islam Merah yang merupakan pecahan dari Sarekat Islam (SI) di bawah pimpinan H.O.S. Tjokroaminoto. Ketika terjadi perlawanan terhadap pemerintah kolonial Hindia Belanda pada 1928, Haji Salahuddin berhasil lolos dari penangkapan.
Tahun 1938, Haji Salahuddin bergabung dengan Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII) serta duduk dalam kepengurusan Gabungan Politik Indonesia (GAPI). Namun, tak lama kemudian, Haji Salahuddin ditangkap aparat kolonial karena aktivitas politiknya yang dianggap meresahkan.
Haji Salahuddin kemudian dikirim ke Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah, untuk dipenjara. Tahun 1941, ia dipindahkan ke Boven Digoel, Papua.
Menyerahnya Belanda kepada Jepang pada 1942 dalam Perang Dunia II membuat Haji Salahuddin bebas. Ia tidak kembali ke Jawa, melainkan tetap di Papua. Haji Salahuddin memilih menyepi di Sorong dan Raja Ampat, sebelum pulang ke Maluku Utara.
2. Buatkan Gambar dan Infografis tentang
Perjuangan Salahuddin bin Talabuddin hingga Hukuman Mati oleh Belanda
Ketika Indonesia merdeka pada 17 Agustus 1945, Haji Salahuddin turut mendukung kemerdekaan tersebut. Pada 1946, di Pulau Gebe, Halmahera Timur, Maluku Utara, ia mendirikan organisasi bernama Sarikat Jamiatul Iman wal Islam.
Tujuan Sarikat Jamiatul Iman wal Islam adalah mempertahankan agama Islam dan Negara Republik Indonesia di bawah kepemimpinan Bung Karno dan Bung Hatta yang baru saja diproklamasikan. Haji Salahuddin bersama organisasinya menyebarluaskan proklamasi kemerdekaan RI.
Tak lama setelah Indonesia merdeka, pasukan Belanda bersama Sekutu yang baru saja memenangkan Perang Dunia II kembali ke wilayah Nusantara, termasuk Maluku Utara. Terjadilah rangkaian polemik pada masa perang mempertahankan kemerdekaan itu.
Salah satu dampaknya adalah munculnya Negara Indonesia Timur (NIT) yang merupakan bagian dari Republik Indonesia Serikat (RIS).
NIT dibentuk setelah dilaksanakan Konferensi Malino pada 16-22 Juli 1946 dan Konferensi Denpasar pada 7-24 Desember 1946 yang bertujuan untuk membahas gagasan berdirinya negara bagian tersendiri di wilayah Indonesia bagian timur oleh Belanda.
Wilayah NIT meliputi Sulawesi, Sunda Kecil (Bali dan Nusa Tenggara) dan Kepulauan Maluku, termasuk Maluku Utara, dengan ibu kota di Makassar. Dari sinilah masalah kembali menyambangi Haji Salahuddin yang selalu menyerukan kemerdekaan Republik Indonesia di bawah pimpinan Sukarno-Hatta.
Pada 17 Februari 1947, Haji Salahuddin ditangkap dengan tuduhan penghasutan kepada rakyat untuk melakukan makar. Haji Salahuddin dan para pengikutnya kemudian ditahan di Ternate untuk diadili.
Di pengadilan, Haji Salahuddin yang merupakan pendukung setia Republik Indonesia menyatakan pledoinya. Haji Salahuddin menegaskan bahwa ia hanya patuh kepada pemerintah RI, tidak kepada yang lain, termasuk Kesultanan Ternate, Kesultanan Tidore, apalagi kepada NIT yang dipengaruhi Belanda.
Pengadilan pada 13 September 1947 memutuskan bahwa Haji Salahuddin dan 6 orang pengikutnya dinyatakan bersalah. Haji Salahuddin dijatuhi hukuman mati, sedangkan ke-6 pengikutnya divonis penjara selama 6-12 tahun.
"Menyelamatkan RI berarti menyelamatkan Islam, mengkhianati RI berarti mengkhianati Islam!" lantang Haji Salahuddin dalam pledoinya.
Tanggal 6 Juni 1948, eksekusi terhadap Haji Salahuddin dilakukan. Haji Salahuddin dibawa ke lapangan tembak militer di Ternate, dan tepat pada jam 06.00 pagi, ia dieksekusi oleh regu tembak. Jenazah Haji Salahuddin kemudian dikebumikan di pemakaman Islam di Ternate.
3. Buatkan Gambar dan Infografis tentang
Akhir Hayat dan Penghargaan Salahuddin bin Talabuddin
Seperti diketahui, pemerintah menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada lima tokoh pejuang dan pengisi kemerdekaan Republik Indonesia, termasuk Haji Salahuddin bin Talabuddin.
Penganugerahan gelar Pahlawan Nasional itu diberikan oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang digelar di Istana Negara pada tanggal 7 November 2022.
Alasan :
Alasan H Salahuddin bin Talabuddin Diberi Gelar Pahlawan Nasional
Alasan pemerintah menganugerahkan gelar pahlawan nasional kepada lima tokoh yang dipilih berdasarkan usulan masyarakat ini karena dinilai telah ikut berjasa dalam perjuangan mendirikan NKRI. Termasuk Haji Salahuddin bin Talabuddin.
Mahfud menjelaskan kelima tokoh itu telah melalui sejumlah proses seleksi.
Adapun alasan Haji Salahuddin bin Talabuddin dianugerahi gelar Pahlawan Nasional di tahun 2022 adalah karena almarhum Salahuddin bin Talibuddin dinilai telah berjuang dan turut membangun Indonesia berdasarkan Pancasila.
"Beliau pernah dibuang ke Boven Digul tahun 1942 dan juga dibuang ke Sawahlunto tahun 1918-1923," terang Mahfud.
Akhir Hayat
Hukuman Mati:
Dieksekusi oleh regu tembak tentara Belanda pada tahun 1948.Penyebab: Teguh menolak tunduk kepada pemerintahan kolonial (NICA).
Keteguhan Iman:
Gugur saat mengumandangkan takbir dengan belasan peluru bersarang di tubuhnya.
Fatwa Kebangsaan:
Ditangkap karena mengeluarkan fatwa bahwa umat Islam wajib membela NKRI.
Masa Pengasingan: Sebelum dieksekusi, ia sering dibuang ke berbagai penjara terpencil termasuk Nusakambangan dan Boven Digoel.
Penghargaan Resmi
Pahlawan Nasional: Dianugerahi gelar Pahlawan Nasional oleh Presiden Joko Widodo pada 7 November 2022.
Pengakuan Negara:
SK Presiden menegaskan jasanya memimpin perlawanan di Halmahera selama lebih dari 32 tahun.
Apresiasi Daerah:
Pemerintah Kabupaten Halmahera Tengah mengusulkan namanya secara konsisten demi menghormati perjuangannya.
Warisan Sejarah
Nasionalisme Religius:
Menjadi simbol integrasi gerakan Islam dan semangat kebangsaan Indonesia.
Historiografi Lokal: Kisah hidupnya ditulis ke dalam buku sejarah daerah dan diajarkan di sekolah-sekolah Maluku Utara.
Regulasi Pelestarian:
Pemerintah daerah menyusun peraturan untuk menjaga situs sejarah terkait perjuangannya.
Inspirasi Pemuda: Nama beliau digunakan sebagai teladan moral untuk memupuk cinta tanah air di kalangan generasi muda.
[26/7 18.04] rudysugengp@gmail.com: 1. Buatkan Gambar dan Infografis tentang
Biografi, Mendirikan Pesantren, Belajar di Mekkah Agama
Ahmad Sanusi
Kiai Sanusi adalah putera dari Ajengan Haji Abdurrahim bin Yasin, pengasuh Pesantren Cantayan di Sukabumi. Sebagai putera seorang ajengan (kiai), ia telah belajar ilmu-ilmu keislaman sejak ia masih kanak-kanak, selain ia juga banyak belajar dari para santri senior di pesantren ayahnya.
Menginjak usia dewasa, Kiai Sanusi mulai mengaji di beberapa pesantren di Jawa Barat. Pada usia 20 tahun, ia menikah dengan Siti Juwariyah binti Haji Afandi yang berasal dari Kebon Pedes, Baros, Sukabumi. Setelah menikah, ia dikirim ayahnya ke Mekah untuk menunaikan ibadah haji sekaligus memperdalam ilmu-ilmu keislaman. Ia belajar di Mekah selama tujuh tahun. Disana Kiai Sanusi mendapat gelar imam besar Masjidil Haram. ia berguru kepada ulama-ulama terkenal, khususnya dari kalangan al-Jawi (Melayu).
Mendirikan Pesantren :
Pada tahun 1915, sepulang belajar dari Mekah, Kiai Sanusi kembali ke Indonesia untuk membantu ayahnya mengajar di Pesantren Cantayan.
Setelah tiga tahun membantu ayahnya, ia mulai merintis pembangunan pondok pesantrennya sendiri yang terletak di Kampung Genteng, sebelah utara desa Cantayan, sehingga ia kemudian dikenal dengan sebutan Ajengan Genteng. Pesantrennya tersebut ia beri nama Pondok Pesantren Babakan Sirna Genteng.
Belajar di Mekkah :
Ketika belajar di Mekah, Kiai Sanusi telah mengenal ide-ide pembaruan dari Syeikh Muhammad 'Abduh, Syeikh Muhammad Rasyid Ridla, dan Jamaluddin al-Afghani, melalui buku-buku dan majalah aliran pembaruan di Mesir, sehingga pengaruh tersebut menjadikannya ulama pembaharu ketika pulang ke Indonesia.
Namun demikian, ia tetap tidak meninggalkan mahzabnya, ia tetap mengikuti mazhab Syafi'i sebagaimana yang dilakukan kedua gurunya, Syeikh Ahmad Khatib dan Syeikh Mukhtar at-Tarid. Bahkan dalam bidang ilmu fikih yang juga merupakan keahliannya, Kiai Sanusi terkenal sangat kritis terhadap dalam menentukan hukum Islam.
Dalam bidang ilmu al-Qur'an, Kiai Sanusi berpendapat bahwa terdapat empat kategori hukum dalam al-Qur'an, yaitu:
* Berkaitan dengan keimanan dan kebebasan beragama dalam memilih dan menjalankan ketentuan-ketentuan agama
* Berkaitan dengan rumah tangga dan pergaulannya seperti pernikahan dan perceraian, keturunan dan kewarisan
* Berkaitan dengan prinsip kerjasama antarsesama umat manusia seperti jual-beli, sewa-menyewa, gadai dan lain-lain
* Berkaitan dengan pemeliharaan kehidupan, yaitu berupa peraturan pidana dan perdata untuk menghukum di antara sesama manusia yang melakukan kesalahan.
[26/7 18.05] rudysugengp@gmail.com: 2. Buatkan Gambar dan Infografis tentang
Perjuangan Politik dan Kemasyarakatan
Ahmad Sanusi
Aktif di Dunia Politik
Sebagai seorang pemikir dan pejuang yang gigih dalam menentang kekuasaan Belanda, Ahmad Sanusi juga melibatkan dirinya dalam merumuskan berdirinya negeri. Sejarah mencatat, Ahmad Sanusi diangkat sebagai anggota BPUPKI dan berjuang bersama tokoh-tokoh lainnya.
Pernyataan penting Ahmad Sanusi dalam sidang-sidang BPUPKI terdapat dalam sidang pleno 10 Juli 1945 ketika membahas bentuk negara kelak setelah Indonesia merdeka. Saat itu, Ahmad Sanusi mengusulkan bentuk negara Indonesia adalah imamat, yang tak lain bentuk Republik.
Usulan itu diambil dari perspektif Al-Qur'an. Menurutnya, sebaiknya Negara Indonesia ini berbentik Imamat yang dipimpin oleh imam, dengan kata lain berbentuk Republik yang dipimpin oleh seorang Presiden.
Ahmad Sanusi juga diangkat sebagai anggota KNIP (Komite Nasional Indonesia Pusat), anggota Dewan Penasehat Daerah Bogor (Giin Nogor Shu Sangi Kai) dan Wakil Residen Bogor (Fuku Syucokan).
Dia juga yang membentuk Tentara PETA (Pembela Tanah Air), BKR (Badan Keamanan Rakyat) Sukabumi, KNID (Komite Nasional Indonesia Daerah) Kotapraja Sukabumi dan bersama Mr. Syamsuddin diangkat sebagai pengurus Jawa Hokokai (Kebangkitan Jawa).
Kiprah di Bidang Kemasyarakatan :
Di tengah kesibukannya di dunia politik, Ahmad Sanusi tetap menjalankan tugasnya sebagai Kyai pesantren. Perjuangannya berlanjut ketika ia terlibat dalam kegiatan politik dengan menjadi anggota Sarikat Islam Cabang Sukabumi dan pendiri organisasi AII (Al-Ittihad Al-Islamiyah) yang sempat dibubarkan Jepang dan berdiri lagi dengan nama Persatoean Oemat Islam Indonesia (POII) atau yang lebih dikenal Persatuan Umat Islam (PUI).
AII ini berazaskan Islam dengan tujuan "Menuju Kebahagiaan Umat dengan mamakai jalan atau madzhab Ahl al-Sunnah wa al-Jama'ah." Kegiatan AII diisi dengan pengajian, tabligh, dan mendorong para kyai untuk mendirikan madrasah-madrasah.
[26/7 18.07] rudysugengp@gmail.com: 3. Buatkan Gambar dan Infografis tentang
Hasil Karya
Ahmad Sanusi
Kiai Sanusi dikenal sebagai ulama ahli tafsir dan fikih yang telah mengasilkan banyak karya.
Bidang Fikih :
Tahdzir al-‘Awam fi Mufiariyat Cahaya Islam
Al-Mufhamat fi Daf’I al-Khayalat
At-Tanbih al-Mahir fi al-Mukhalith
Tarjamah Fiqh al-Akbar as-Syafi’i
Al-Jauhar al-Mardliyah fi Mukhtar al-Furu as-Syafi’iyah
Nurul Yaqin fi Mahwi Madzhab al-Li’ayn wa al-Mutanabbi’in wa al-Mubtadi’in
Tasyfif al-Auham fi ar-Radd’an at-Thaqham
Bidang Tasawuf :
Mathla’ul al-Anwar fi Fadhilah al-Istighfar
Al-Tamsyiyah al-Islam fi Manaqib al-Aimmah
Fakh al-Albab fi Manaqib Quthub al-Aqthab
Siraj al-Adzkiya fi Tarjamah al-Azkiya
Al-Audiyah as-Syafi’iyah fi Bayan Shalat al-Hajah wa al-Istikharah
Siraj al-Afkar
Dalil as-Sairin
Jauhar al-Bahiyah fi Adab al-Mar’ah al-Mutazawwiyah
Bidang Kalam :
Miftah al-Jannah fi Bayan ahl as-Sunnah wa al-Jama’ah
Tauhid al-Muslimin wa ‘Aqaid al-Mu’minin
Alu’lu an-Nadhid
Al-Mufid fi Bayan ‘ilm al-Tauhid
Siraj al-Wahaj fi al-Isra wa al-Mi’raj
Al-‘Uhud wa al-Hudud
Bahr al-Midad fi Tarjamah Ayyuha al-Walad
Haliyat al-‘Aql wa al-Fikr fi Bayan Muqtadiyat as-Syirk wa al-Fikr
Thariq as-Sa’adah fi al-Farq al-Islamiyah
Maj’ma al-Fawaid fi Qawaid al-‘Aqaid
Tanwir ad-Dzalam fi Farq al-Islam
Majalah :
majalah al-Hidayah al-Islamiyah (Petunjuk Islam)
majalah at-Tabligh al-Islami (Dakwah Islam)
[26/7 18.08] rudysugengp@gmail.com: 4. Buatkan Gambar dan Infografis tentang
Akhir Hayat dan Penghargaan
Ahmad Sanusi
Akhir Hayat K.H. Ahmad Sanusi
Wafat pada tahun 1951 dalam usia 63 tahun di Sukabumi, Jawa Barat.Tetap konsisten membela NKRI dan dunia pendidikan Islam hingga akhir hayatnya.
Penghargaan dan Gelar Pahlawan
Bintang Mahaputera Utama (1992):
Dianugerahi oleh Presiden Soeharto sebagai bentuk penghargaan atas jasa perintis kemerdekaan.
Bintang Maha Putra Adipradana dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 10 November 2009.
Gelar Pahlawan Nasional (2022):
Dikukuhkan resmi oleh Presiden Joko Widodo melalui Keputusan Presiden No. 96/TK/2022 atas jasanya sebagai anggota BPUPKI dan tokoh penggusur kompromi dasar negara Pancasila.
Namanya diabadikan oleh Pemerintah Kota Sukabumi menjadi salah satu nama Terminal dan jalan di kota Sukabumi, yang menghubungkan antara jalan Cigunung sampai Degung dengan nama jalan KH. A. Sanusi.
Meninggalkan warisan besar berupa Pondok Pesantren Syamsul Ulum serta ratusan karya tulis.
[27/7 00.53] rudysugengp@gmail.com: 1. Buatkan Gambar dan Infografis tentang
Informasi Pribadi dan Kehidupan Awal
Ida Dewa Agung Jambe
Info Pribadi
Ida Dewa Agung Gde Jambe
Lahir :
1855
Semarapura
Kematian :
28 April 1908 (umur 52–53)
Semarapura
Pemakaman :
Didharmakan pada bangunan meru beratap 3 pada kompleks Pura Pedharman Dalem Kepakisan, Besakih
Pasangan :
Ni Gusti Ayu Pacung
Keturunan :
Ida I Dewa Agung Istri Pacung
Ida I Dewa Agung Madhya Wirya
Ida I Dewa Agung Wirya Anom Sirikan
Ida I Dewa Agung Wuruju Wirya
Wangsa :
Kepakisan-Klungkung
Ayah :
Ida Dewa Agung Sri Surawirya Putra III
Ibu :
Ida Dewa Agung Istri Rajadani Muter (angkat)
Ida Dewa Agung Istri Ukiran (biologis)
Agama :
Hindu Bali
Kehidupan awal
Ida I Dewa Agung Jambe merupakan seorang pangeran dari Kerajaan Gelgel, putra dari Dalem Di Made dan ibunya, Gusti Agung Ayu Jambe dari Puri Nambangan, Badung. Ia lahir dan dibesarkan di Puri Agung Sweca Linggarsapura di Gelgel. Namanya disebutkan dalam sejumlah naskah babad seperti Babad Dalem, Babad Semarapura, Babad Klungkung, dan Babad Dalem Sukawati.
Ia dikenal sebagai adik bungsu dari Ida Dewa Agung Pemayun, Dewa Pacekan, dan Dewa Ketut Guliang. Ia juga memiliki sejumlah saudara tiri dari istri-istri lain Dalem Di Made. Saat memasuki usia remaja, pada tahun 1651 terjadi pergolakan politik di Gelgel yang menyebabkan ayahnya dikudeta dan diturunkan dari takhta. Dalam kondisi ini, keluarga kerajaan, termasuk Dewa Agung Jambe, mengungsi ke Guliang, sementara Gelgel dikuasai oleh pihak pemberontak di bawah pimpinan Gusti Agung Maruti.
Dilansir dari situs Kabupaten Klungkung, Ida Dewa Agung Jambe merupakan seorang raja dari Kerajaan Klungkung pada tahun 1686. Ia merupakan penerus Dinasti Gelgel.
Ida Dewa Agung Jambe adalah anak dari raja Kerajaan Gelgel sebelumnya, Dalem Di Made yang memindahkan puri kerajaan ke Klungkung. Proses ini menyebabkan pembagian permanen Pulau Bali menjadi beberapa kerajaan kecil pada abad ke-17 Masehi.
Diketahui, Kerajaan Klungkung adalah penerus dari Kerajaan Gelgel yang berdiri setelah Sagung Maruti dapat dikalahkan. Sagung Maruti adalah seorang petinggi kerajaan Gelgel, yang mengkudeta rajanya sendiri, lalu menyatakan dirinya sebagai Raja Gelgel. Ia sempat menikmatinya kekuasaannya sebagai Raja Gelgel dalam beberapa tahun. Namun, akhirnya Maruti dapat dikalahkan oleh pasukan koalisi sehingga berdirilah Kerajaan Klungkung.
Ida Dewa Agung Jambe adalah Raja Klungkung yang menjadi penerus Dinasti Gelgel. Agung Jambe gugur saat perang puputan melawan Belanda pada 28 April 1908. Puputan adalah istilah rakyat Bali untuk menyebut perang habis-habisan. Sejarah mencatat lima kali perang puputan terjadi di Bali, termasuk salah satunya Puputan Klungkung.
Peristiwa itu kelak disebut sebagai Hari Puputan Klungkung dan menjadi hari ulang tahun (HUT) Kota Semarapura, Klungkung. Kepahlawanan Agung Jambe juga diperkuat dengan keberadaan monumen Puputan Klungkung yang dibangun sejak 1992.
2. Buatkan Gambar dan Infografis tentang
Hidup Pengasingan
Ida Dewa Agung Jambe
Menurut catatan tradisi babad, pengasingan keluarga kerajaan disamakan dengan kisah Panca Pandawa yang mengungsi ke Negeri Wirata. Di Guliang, Dewa Agung Jambe tumbuh besar bersama kakak-kakak tirinya dan sebagian anggota keluarga kerajaan. Sementara itu, saudara-saudaranya yang lain berpencar ke berbagai daerah di Bali, dan adik bungsunya bahkan dibawa mengungsi ke Lombok.
Selama masa pengasingan, Dalem Di Made masih menjalin hubungan erat dengan sejumlah bangsawan lokal (anglurah) dan adipati yang masih setia kepadanya. Di antara mereka terdapat keturunan Arya Kuta Waringin, seperti Ki Gusti Ngurah Abiantubuh (Ki Jumbuh), Ki Gusti Ngurah Kuntang Gurna, Ki Gusti Ngurah Tubuh Nyanyap dan Kyai Gusti Madya Karang Tubuh, ia memimpin kerajaannya dari Guliang.
Setelah wafatnya Dalem Di Made di Guliang, diadakan upacara ngaben sesuai tata cara raja besar. Seusai upacara, Dewa Agung Jambe memutuskan meninggalkan Guliang dan menuju ke wilayah barat, yakni ke Desa Sidemen (atau disebut juga Singarsa), sementara kakaknya, Dewa Agung Pemayun, memilih bermukim ke barat di Tampaksiring. Rakyat dan harta peninggalan kerajaan juga dibagi dua; sebagian besar senjata pusaka kerajaan dibawa oleh Dewa Agung Jambe, sedangkan Dewa Agung Pemayun hanya membawa satu keris sebagai simbol identitasnya sebagai pangeran Gelgel.
Kepergiannya ke Sidemen juga berkaitan dengan undangan dari sepupunya, Ida Dewa Anom Pemayun, keturunan dari Dalem Anom Pemayun yang sebelumnya menanggalkan tahta Kerajaan Gelgel. Ia mengutus Kyai Anglurah Singarsa untuk menjemput Dewa Agung Jambe dan membawanya ke Sidemen.
Di Sidemen, Karangasem, Dewa Agung Jambe akhirnya dikukuhkan sebagai pemimpin setempat. Disana ia kemudian mulai bersurat dan menjalin komunikasi dengan para bangsawan yang masih setia kepada keturunan Wangsa Kepakisan. Dari sinilah ia mulai menyusun strategi dan kekuatan untuk melawan balik pemberontakan yang dipimpin oleh Gusti Agung Maruti.
3. Buatkan Gambar dan Infografis tentang
Perjuangan
Ida Dewa Agung Jambe
Sosok dan Kiprah Raja Klungkung II Ida Dewa Agung Jambe
Ida Dewa Agung Jambe tak hanya dikenal sebagai pemimpin bagi masyarakat saat era Kerajaan Klungkung. Semangatnya membela tanah air juga menjadi teladan lantaran menempatkan kedaulatan dan kehormatan di atas segala-galanya.
Pada April 1908, Kerajaan Klungkung konon terlibat ketegangan selama berhari-hari sebelum perang besar melawan kolonial Belanda berkecamuk. Musababnya, Kerajaan Klungkung ketika itu menjadi wilayah yang belum takluk oleh Kolonial Belanda.
Suatu hari, pasukan kolonial Belanda menggelar operasi keamanan di wilayah Kerajaan Klungkung. Kebijakan kolonial Belanda itu membuat petinggi Kerajaan Klungkung marah. Mereka merasa pasukan kolonial telah melanggar kedaulatan kerajaan.
Kemarahan petinggi Kerajaan Klungkung itu diikuti dengan penyerangan terhadap pasukan kolonial oleh rakyat di wilayah Gelgel. Aksi itu akhirnya memperuncing ketegangan antara kedua belah pihak. Kolonial Belanda lantas memberi ultimatum kepada Kerajaan Klungkung agar segera menyerah.
Namun, Agung Jambe tak menghiraukan ultimatum tersebut. Singkat cerita, pasukan Belanda berlabuh di Klungkung pada 21 April 1908. Mereka kemudian menyerang sejumlah wilayah yang dikuasai Kerajaan Klungkung. Perang pun meletus. Bersenjatakan tombak dan keris, rakyat kerajaan menghalau serangan meriam dari kolonial.
4. Buatkan Gambar dan Infografis tentang
Masa Pemerintahan
Ida Dewa Agung Jambe
Masa Pemerintahan
Menurut sumber-sumber tradisional Bali, setelah berhasil merebut kembali kekuasaan dari Gusti Agung Maruti dan menerima penolakan dari kakaknya, Dewa Agung Pemayun, untuk naik takhta, maka I Dewa Agung Jambe secara resmi diabhiseka atau dinobatkan sebagai raja pertama Kerajaan Klungkung.
Meskipun tidak banyak sumber yang mencatat secara rinci masa pemerintahannya, beberapa catatan dalam babad serta dokumen VOC memberikan gambaran penting mengenai aktivitas politik dan militer yang dilakukan oleh Dewa Agung Jambe. Salah satu catatan mencatat bahwa ia, bersama Raja Mengwi, Cokorda Sakti Blambangan dan Raja Buleleng, Gusti Anglurah Panji Sakti dari Buleleng, pernah mengirimkan sekitar 900 prajurit ke Blambangan untuk ikut intervensi dalam sengketa suksesi kerajaan tersebut. Pasukan ini berlabuh di pesisir Tanjung Jajang, selatan Banyuwangi, dan hasil dari intervensi tersebut adalah pengangkatan Mas Purba, yang saat itu baru berusia delapan tahun, sebagai raja Blambangan dengan gelar Pangeran Danureja.
Pada tahun 1710, I Dewa Agung Jambe terlibat konflik dengan Cokorda Sakti Blambangan, Raja Mengwi, dua penguasa berpengaruh di Bali pada masa itu. Wilayah kekuasaan Raja Mengwi bahkan mencapai perbatasan Alas Rangkan (kini wilayah Banjarangkan). Dalam legenda Bali, dikisahkan bahwa muncul seorang balian (dukun) sakti dari Batur yang dikenal sebagai Ki Balian Batur. Ia populer karena kemampuan mengobati masyarakat melalui ilmu usadha (pengobatan). Namun, karena anaknya difitnah oleh seorang prajurit Mengwi yang cintanya ditolak, Ki Balian Batur murka dan menyebarkan wabah penyakit di ibu kota Mengwi.
Sebuah wangsit menyebut bahwa satu-satunya senjata yang dapat membunuh Ki Balian Batur adalah senjata api kuno milik Klungkung bernama Ki Narantaka, dengan peluru khusus bernama Ki Seliksik. Untuk memperoleh senjata ini, Raja Mengwi harus melepas egonya dan tunduk meminta bantuan kepada I Dewa Agung Jambe. Permintaan itu dikabulkan, tetapi yang menembakkan senjata tersebut haruslah putra kedua Dewa Agung Jambe, yakni Dewa Agung Anom Sirikan. Setelah rumah Ki Balian Batur dikepung, ia akhirnya menyerah dengan syarat bahwa dirinya hanya bersedia dibunuh oleh pangeran Klungkung tersebut.
Setelah kematian sang balian, wabah pun mereda dan keamanan kembali pulih di Mengwi. Sebagai bentuk penghormatan dan untuk meredakan ketegangan antara dua kerajaan besar tersebut, Raja Mengwi menyerahkan wilayah Sukawati kepada Dewa Agung Anom Sirikan. Penyerahan ini diterima oleh Dewa Agung Jambe dan juga oleh putra sulungnya. Kerajaan baru yang dipimpin oleh Dewa Agung Anom Sirikan tersebut kemudian dikenal dengan nama Kerajaan Sukawati. Dalam versi lain yang lebih bersifat folkloristik, disebut bahwa Sang Pangeran jatuh cinta pada keindahan alam Sukawati dan sering berkata "suka hatiku", yang kemudian diabadikan menjadi nama daerah tersebut.
5. Buatkan Gambar dan Infografis tentang
Akhir Hayat dan Penghargaan
Ida Dewa Agung Jambe
Gugurnya Raja Klungkung II Ida Dewa Agung Jambe
Perang masih masih berkecamuk pada hari-hari setelahnya. Bahkan, kolonial menambah pasukan di wilayah Klungkung pada 27 April 1908.
Puncaknya, pada 28 April 1908 Belanda memborbadir pertahanan Kerajaan Klungkung dan menyusup ke dalam istana. Aksi kolonial tersebut membuat keluarga dan rakyat kerajaan semakin tersulut. Mereka akhirnya menyerukan untuk bertempur habis-habisan atau puputan.
Saat itulah, Agung Jambe tampil heroik dan menjalankan kewajibannya sebagai seorang ksatria. Dengan gagah berani, ia maju ke medan laga dan ikut berperang.
Karena persenjataan yang tidak seimbang, Agung Jambe dan rakyatnya gugur di depan depan Pamedal Agung yang kelak menjadi saksi bisu perang heroik tersebut. Permaisuri dan putra mahkota juga gugur di medan laga.
Perjuangan Mendapat Gelar Pahlawan Nasional
Kepala Dinas Sosial Klungkung I Gusti Agung Putra Mahajaya mengatakan butuh perjuangan agar Ida Dewa Agung Jambe mendapatkan gelar pahlawan nasional. Menurutnya, pengusulan sudah dilakukan sejak awal 2020 dan baru masuk daftar tunggu di meja presiden pada 2022.
"Tahun awal pengusulan saat itu mulai COVID-19, tapi tetap kencang prosesnya, pengusulan, rapat secara daring, kemudian ada seminar daring juga digelar. Berikut juga penggantian nama lapangan menjadi Alun-Alun Ida Dewa Agung Jambe," beber Putra Mahajaya kepada detikBali, Rabu (8/11/2023).
Dia mengungkapkan mantan Bupati Klungkung I Nyoman Suwirta bersama Ida Dalem Smara Putra sempat datang langsung ke Jakarta untuk memastikan gelar pahlawan pada 2020. Mereka bertemu sejumlah petinggi negara. Antara lain, Kepala Biro Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan (GTK) Setmilpress Brigjen TNI (Mar) Ludi Prastyono, serta Koordinator Staf Khusus Presiden saat itu, AAGN Ari Dwipayana.
"Untuk mendapat gelar pahlawan nasional sudah memenuhi syarat dan sesuai mekanisme, Ida Dewa Agung Jambe sudah masuk daftar calon pahlawan nasional yang diusulkan Kemensos, namun keputusan pemberian gelar ini merupakan hak prerogatif presiden," terang Putra Mahajaya.
Sementara itu, Ida Dalem Smara Putra sebagai Raja Klungkung XII, berterima kasih kepada presiden atas gelar pahlawan Ida Dewa Agung Jambe. Menurutnya, keris pusaka yang dikembalikan dari Belanda menambah bukti sejarah kepahlawanan Agung Jambe.
"Keris yang dikembalikan dari Belanda saat ini disimpan di Museum Nasional Jakarta, saya belum sempat melihatnya akan tetapi itu menjadi salah satu bukti sejarah akan kejadian itu benar-benar terjadi, memang kalau ditanya kuburan tidak ada, karena di Bali dilaksanakan proses ngaben jadi tidak ada bukti kuburannya," papar Smara Putra.
Ida Dewa Agung Jambe, telah mendapat gelar pahlawan nasional asal Provinsi Bali yang gelarnya ditetapkan jelang momen Hari Pahlawan 2023. Penetapan Ida Dewa Agung Jambe sebagai pahlawan nasional dilakukan berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 115-TK-TH-2023 tertanggal 6 November 2023.
[27/7 01.20] rudysugengp@gmail.com: 1. Buatkan Gambar dan Infografis tentang
Informasi Pribadi dan Kehidupan Awal
Bataha Santiago
Bataha Santiago merupakan salah satu tokoh masyarakat yang berasal dari Sangihe Talaud, Ia merupakan raja ketiga Kerajaan Manganitu. Don Jugov (Jogolov) Sint Santiago adalah nama lengkapnya ("Bataha" berarti sakti).
Ia lahir di desa Bowongtiwo-Kauhis, Manganitu pada tahun 1622.
Ia merupakan satu-satunya raja di Kepulauan Sangihe yang keras kepala dan menolak menandatangani perjanjian dagang dengan VOC (Vereenigde Oost Indische Compagnie) Belanda.
Informasi Pribadi
Bataha Santiago
Raja Manganitu ke-3
Berkuasa :
1670–1675
Kelahiran :
Don Jugov Santiago
1622
Bowongtiwo-Kauhis, Manganitu
Kematian :
1675 (umur 52–53)
Tanjung Tahuna
Pemakaman :
1675
Desa Karatung I, Kecamatan Manganitu, Kabupaten Kepulauan Sangihe
Ayah :
Tompoliu
Agama :
Katolik
Riwayat hidup :
Dia disekolahkan oleh ayahnya di Universitas Santo Thomas Manila, Filipina pada tahun 1666 (saat itu dia sudah berumur 44 tahun) dan menyelesaikan kuliahnya empat tahun kemudian. Sepulangnya dari Filipina, dia lalu dinobatkan sebagai raja di Kerajaan Manganitu dan selama lima tahun ia memegang tampuk kekuasaan.
2. Buatkan Gambar dan Infografis tentang
Perjuangan melawan Belanda
Bataha Santiago
Hubungan dengan VOC
VOC beberapa kali memaksa Santiago untuk menandatangani kontrak panjang (lange Contract). Dia menolaknya dan mengumumkan perang terhadap VOC. Isi lange Contract yang ditolak antara lain instruksi untuk melenyapkan tanaman cengkih dan semua benda yang dianggap kafir oleh VOC. Mereka memanfaatkan Sultan Kaitjil Sibori, anak Sultan Mandarsyah, untuk membujuk Santiago supaya menandatangai kontrak. Namun Santiago tetap tidak mau menandatanganinya. Sultan Kaitjil Sibori pulang ke daerahnya tanpa hasil. Hal tersebut telah mengecewakan dan membuat marah VOC. Santiago pun telah siap dengan segala akibatnya. Kalimatnya yang terkenal yang disampaikan ketika ia mengumpulkan para pejabat kerajaan dan semua pihak yang terkait maupun yang akan melibatkan diri melawan VOC adalah “I kite mendiahi wuntuang ‘u seke, nusa kumbahang katumpaeng.” Kalimat itu berarti kita harus menyiapkan pasukan perang, negeri kita jangan dimasuki musuh.
VOC lalu mengutus Sultan Kaitjil Sibori ke Sangihe untuk mempersunting Maimuna, putri raja VI Tabukan, supaya VOC dan sekutunya masuk ke Sangihe. Pasukan VOC dan pasukan kerajaan Manganitu yang dipimpin oleh Santiago berperang di laut. Korban di kedua belah pihak sangat banyak. VOC mundur dan menghentikan perang yang sengit itu karena kerugian yang besar. Kemudian, VOC meminta bantuan Sasebohe dan Bawohanggima, sahabat dekat Santiago, agar membujuknya menyerah, tetapi tetap gagal. Pertempuran antara VOC dan pasukan Santiago terjadi lagi dan Sasebohe dan Bawohanggima terus membujuk Santiago.
Tercatat VOC melancarkan tiga kali serangan ke Manganitu. Sementara itu, penduduk Manganitu tidak tinggal diam, mereka membuat markas pertahanan di Paghulu (kini desa Karatung) dan Batu Bahara. Dua kali serangan VOC berhasil digagalkan pasukan Manganitu yang dipimpin oleh adik Santiago, Diamanti alias Don Carlos, dan dibantu saudara-saudaranya yang lain. Namun, serangan VOC yang ketiga berhasil melumpuhkan pertahanan di Paghulu dan Batu Bahara. Akibat serangan ini, VOC mengajak Santiago berunding.
3. Buatkan Gambar dan Infografis tentang
Akhir Hayat dan Penghargaan
Bataha Santiago
Kematian :
Santiago akhirnya berhasil dibawa ke kantor VOC di Tahuna untuk berunding, tetapi ini hanya strategi VOC untuk menangkapnya. Ia dipaksa lagi untuk menandatangani kontrak. Namun, Santiago tetap memegang teguh prinsipnya. VOC menyiapkan satu tim tembak. Mereka menembak. Tapi tidak ada satu pun peluru berhasil melukai tubuh Santiago. Mereka takut dan heran, lalu membawa Santiago ke Tannjung Tahuna dan menggantungnya.
Sultan Kaitjil Sibori tidak yakin tubuh Santiago yang tak bisa ditembus peluru dapat tewas dengan tali. Diperintahkannya salah seorang anggota pasukannya untuk memenggal kepala Santiago. Sebelum matahari terbit, adik Santiago yang bernama Sapela, datang mengambil jenasah saudaranya. Ia hanya bisa membawa kepala Santiago dan menguburkannya di antara akar pepohonan besar, beberapa meter di atas pantai dan menandai tempat itu dengan tumpukan batu di Nento di desa Karatung-Paghul pada 1675. Kubur kepala Santiago yang dirahasiakan terungkap pada tahun 1950. Sedangkan tubuhnya diduga dikuburkan di tempat ia dihukum mati, di kelurahan Santiago saat ini.
Makam Santiago di Desa Karatung berbentuk persegi dan dilapisi keramik putih berukuran 2,5 x 3,25 m. Terdapat tanda salib di makamnya dan di prasasti makam tertulis kutipan kalimat Santiago, "Biar saya mati digantung, tidak akan tunduk kepada Belanda." Di samping makamnya, terletak makam saudara perempuannya. Kompleks makam ini sudah dua kali dipugar, yakni pada 1975 dan 1993.
Penghargaan :
Sebagai wujud penghargaan, diabadikan sebuah patung di Miangas di daerah perbatasan antara Indonesia dan Filipina. Namanya juga diabadikan sebagai nama markas Kodim 1301/Sangihe dan Korem 131/Santiago di Manado, Sulawesi Utara.
Atas jasa-jasanya untuk negara, berdasarkan surat Keputusan Presiden no. 115/TK/2023 dicantumkan tanggal 6 November 2023 secara resmi disahkan dan pada tanggal 10 November 2023, dengan diresmikan menjadi Pahlawan Nasional Indonesia bersama dengan Ida Dewa Agung Jambe, M Tabrani, Ratu Kalinyamat, Abdul Chalim, dan Ahmad Hanafiah.
[27/7 01.49] rudysugengp@gmail.com: 1. Buatkan Gambar dan Infografis tentang
Informasi Pribadi dan Kehidupan Awal
Mohammad Tabrani Soerjowitjirto
M.Tabrani merupakan anak ketiga dari sembilan bersaudara dari pasangan R.Panji Soeradi Soerowitjitro dan R.Ayu Siti Aminah.
Dasar pendidikan Tabrani cukup kuat yaitu MULO dan OSVIA, Bandung. Minat jurnalistik Tabrani muncul ketika ia menamatkan OSVIA.
Pada tahun 1925, Tabrani sudah memimpin harian Hindia Baroe.[ Sewaktu belajar di Eropa, di Universitas Köln (Universität zu Köln), dia membantu beberapa surat kabar di Indonesia pada periode 1926 hingga 1930. Pada waktu itu, masih jarang pemuda Indonesia yang menuntut pelajaran ilmu jurnalistik di luar negeri dan hanya terdapat beberapa orang seperti, Djamaluddin Adinegoro, Jusuf Jahja dan Tabrani.
Ringkasan :
Mohammad Tabrani Soerjowitjirto atau disingkat M. Tabrani S (10 Oktober 1904 – 12 Januari 1984) adalah jurnalis dan politikus Indonesia. M. Tabrani boleh digolongkan sebagai wartawan dari angkatan tua sekaligus pelopor pemakaian bahasa Indonesia. Sepanjang pergerakan nasional Indonesia, nama M. Tabrani selalu tercatat.
Ia dikenal sebagai salah satu tokoh Jong Java dan pemimpin redaksi Harian Pemandangan pada periode Juli 1936 hingga Oktober 1940.
Ia meninggal dunia pada tanggal 12 Januari 1984.
2. Buatkan Gambar dan Infografis tentang
Perjuangan
Mohammad Tabrani Soerjowitjirto
Sekembalinya ke tanah air, karier jurnalistik Tabrani mulai menanjak.
Usulan Bahasa Indonesia :
Momen paling dikenal adalah usulan dirinya terkait penggunaan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan yang mematahkan argumen M. Yamin yang ingin menggunakan bahasa Melayu.
Ketua Kongres Pemuda I :
Tabrani menjabat sebagai Ketua Kongres Pemuda I yang dilaksanakan pada 30 April - 2 Mei 1926 di Loge Ster in Het Oosten (Loji Bintang Timur), Batavia.
Ketika itu, Tabrani menyebut bahasa Indonesia sebagai bahasa pergaulan bangsa. Konsep kebangsaan yang muncul tersebut merujuk pada kondisi nyata keberagaman manusia Indonesia yang masih bersifat kedaerahan atau kesukuan dan masih mengutamakan kepentingan suku ataupun daerahnya masing-masing sebagaimana terbentuknya organisasi-organisasi pemuda pada masa itu.
Dalam Kongres Pemuda I tersebut, Tabrani berbeda pendapat dengan Mohammad Yamin yang ingin menggunakan Bahasa Melayu.
Menurut Tabrani pada saat itu, jika sudah mempunyai Tanah Air Indonesia, yaitu Bangsa Indonesia maka bahasanya juga harus Bahasa Indonesia.
Jurnalis :
Tabrani menjadi pemimpin majalah Reveu Politik di Jakarta dari tahun 1930 hingga 1932, lalu menjadi pemimpin surat kabar Sekolah Kita di Pamekasan dari tahun 1932-1936, dan menjadi direktur sekaligus pemimpin Harian Pemandangan dan Mingguan Pembangoenan. Ketika memimpin Reveu Politik, Tabrani membawakan kepentingan PRI atau Partai Rakyat Indonesia yang ia dirikan.
Surat kabar Pemandangan tidak dapat dipisahkan dengan nama M.Tabrani. Selain dibesarkan oleh surat kabar itu, Tabrani juga menjabat sebagai pemimpin redaksi selama dua periode, yaitu Juli 1936 hingga Oktober 1940 dan Juli 1951 hingga April 1952.
Melalui surat kabar Pemandangan, Tabrani memperjuangakan Petisi Sutardjo yang berisi tuntutan kepada Pemerintah Hindia Belanda agar Indonesia diberi kesempatan membentuk parlemen sendiri pada tahun 1936.
Pada tahun 1940, Tabrani bergabung dengan Dinas Penerangan Pemerintah bagian Jurnalistik dan selanjutnya pindah ke bagian kartotek dan dokumentasi.
Pada tahun yang sama, Tabrani menjabat sebagai ketua umum PERDI atau Persatuan Djurnalis Indonesia di Jakarta periode 1939 hingga 1940.
Ketika Indonesia Merdeka, ia sempat mengelola koran Suluh Indonesia milik Partai Nasional Indonesia.
Dalam perjalanan hidupnya, Tabrani ikut mendirikan Institut Jurnalistik dan Pengetahuan Umum bersama Mr. Wilopo di Jakarta. Murid-muridnya antara lain Anwar Tjokroaminoto dan Sjamsuddin Sutan Makmur.
3. Buatkan Gambar dan Infografis tentang
Akhir Hayat dan Penghargaan
Mohammad Tabrani Soerjowitjirto
Ia wafat di Jakarta, 12 Januari 1984 pada usia 80 tahun dan dimakamkan di Taman Pemakaman Umum (TPU) Tanah Kusir, Jakarta Selatan.
Dasar kajian yang telah dilakukan oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa itu pada 6 Agustus 2019, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia menyampaikan piagam penghargaan sebagai Penggagas Bahasa Persatuan Indonesia kepada Mohammad Tabrani Soerjowitjitro. Kemudian, Bupati Pamekasan dan Gubernur Jawa Timur mengusulkan gelar kepahlawanan M. Tabrani atas nama pemerintah daerah hingga akhirnya, tahun 2023 ini, Presiden Republik Indonesia melalui putusannya memberi gelar Pahlawan Nasional kepada M. Tabrani.
Pada tanggal 10 November 2023, Joko Widodo memberikan gelar pahlawan nasional kepada Tabrani.
Penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional dalam Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 115/TK/2023.
Alasan Kepahlawanan
Mohammad Tabrani Suryowicirto
Kepahlawanan dapat kita lihat dari ketokohannya.
1. Tabrani adalah tokoh pertama yang mengemukakan perlunya melahirkan bahasa Indonesia untuk keperluan penyatuan dan persatuan bangsa.
2. Tabrani juga tokoh yang mengusulkan perubahan atas rumusan putusan Kongres Pemuda Pertama, yaitu mengganti istilah bahasa Melayu menjadi bahasa Indonesia dalam butir ketiga rumusan hasil Kongres Pemuda Pertama yang disusun oleh M. Yamin.
3. Tabrani juga konsisten memperjuangkan pemakaian bahasa Indonesia di dalam sidang dewan kota.
4. Tabrani juga ikut menyumbangkan pemikiran rintisan dalam upaya melahirkan pengembangan gagasan bahasa Indonesia dengan ikut aktif menjadi pemberi saran dalam Kongres Bahasa Indonesia I.
Dengan demikian, sangat layaklah gelar Pahlawan Nasional bagi Mohammad Tabrani Soerjowitjitro.
[27/7 02.16] rudysugengp@gmail.com: 1. Buatkan Gambar dan Infografis tentang
Informasi Pribadi dan Kehidupan Awal
Ratu Kalinyamat
Informasi Pribadi
Retno Kencana
Gelar :
Ratu Kalinyamat
Nasab :
bin Sultan Trenggono
Nisbah :
Al Fatah
Lahir :
Retna Kencana
1520
Demak, Kesultanan Demak
Meninggal :
1579
Jepara, Kalinyamat
Dimakamkan di
Mantingan, Tahunan, Jepara
Kebangsaan :
- Kesultanan Demak
- Kesultanan Kalinyamat
Pekerjaan :
Ratu Kalinyamat (1549 - 1579)
Denominasi :
Sunni
Murid dari :
Sultan Trenggono, Ratu Pembayun Dan Guru-guru lainnya
Latar belakang :
Ratu Kalinyamat memiliki nama asli Retna Kencana, juga dikenal sebagai Ratu Pembayun atau Ratna Kencana. Ia adalah putri Sultan Trenggana (memerintah 1521–1546), raja Demak ketiga, sekaligus cucu Raden Patah, pendiri Kesultanan Demak. Sebagai anggota keluarga inti Dinasti Demak, Retna Kencana tumbuh dalam lingkungan elite politik dan keagamaan Jawa pesisir yang memiliki pengaruh besar dalam perdagangan dan dakwah Islam.
Pada usia remaja, Retna Kencana dinikahkan dengan Pangeran Kalinyamat, yang kemudian bergelar Pangeran Hadiri atau Susuhunan Kalinyamat. Melalui pernikahan ini, ia tidak langsung naik takhta, melainkan mendampingi suaminya sebagai penguasa Jepara, sebuah wilayah penting di pesisir utara Jawa yang berfungsi sebagai pelabuhan utama Demak.
Asal-usul Pangeran Kalinyamat :
Pangeran Kalinyamat dikenal sebagai sosok yang datang dari luar Pulau Jawa, meski asal-usulnya memiliki berbagai versi. Berdasarkan tradisi Jepara, Pangeran Kalinyamat awalnya bernama Win-tang, seorang pedagang dari Tiongkok yang terseret ombak hingga terdampar di pesisir Jepara. Setelah itu, ia menuntut ilmu di bawah arahan Sunan Kudus.
Menurut versi lain, Win-tang berasal dari Aceh dengan nama lahir Pangeran Toyib, putra Sultan Mughayat Syah (1514–1528). Ia pernah mengunjungi Tiongkok dan diangkat sebagai anak oleh seorang menteri bernama Tjie Hwio Gwan, yang memberinya nama baru, Tjie Bin Thang. Dalam catatan Jawa, nama itu kemudian dikenal sebagai Win-tang.
Win-tang beserta ayah angkatnya akhirnya berpindah ke Jawa, di mana ia mendirikan sebuah pemukiman yang kelak dikenal sebagai desa Kalinyamat, sekarang termasuk Kecamatan Kalinyamatan. Dari tempat inilah ia memperoleh julukan Pangeran Kalinyamat. Ia menikahi Retna Kencana, putri Sultan Demak yang kemudian dikenal sebagai Ratu Kalinyamat, yang kemudian membuatnya resmi menjadi bagian dari keluarga kerajaan Demak dan dianugerahi gelar Pangeran Hadiri.
Dalam pemerintahan di Jepara, Pangeran Kalinyamat dan Ratu Kalinyamat memerintah bersama. Ayah angkatnya, Tjie Hwio Gwan, diangkat sebagai patih dengan gelar Sungging Badar Duwung, yang turut memperkenalkan dan mengajarkan seni ukir kepada masyarakat setempat, membentuk dasar perkembangan budaya lokal Jepara.
Kematian Pangeran Kalinyamat :
Pada tahun 1549, Sunan Prawata, raja keempat Kesultanan Demak, dibunuh oleh utusan Arya Penangsang, sepupunya yang menjabat sebagai adipati Jipang. Setelah peristiwa tersebut, Ratu Kalinyamat menemukan keris Kyai Betok milik Sunan Kudus menancapkannya pada tubuh kakaknya. Bersama suaminya, Pangeran Kalinyamat, ia pergi ke Kudus untuk menuntut penjelasan. Sunan Kudus, pendukung Arya Penangsang dalam perebutan takhta Demak pasca wafatnya Sultan Trenggana (1546), menyatakan bahwa tindakan itu merupakan balasan atas kematian ayah Arya Penangsang yang dibunuh oleh Sunan Prawata. Kecewa dengan jawaban tersebut, Ratu Kalinyamat dan Pangeran Kalinyamat memutuskan kembali ke Jepara. Dalam perjalanan, mereka diserang oleh pengikut Arya Penangsang, dan Pangeran Kalinyamat tewas. Lokasi kematiannya kemudian dikenal sebagai Desa Prambatan, karena jenazahnya konon merambat di tanah sebelum berhenti.
Ratu Kalinyamat melanjutkan perjalanan membawa jenazah Pangeran Kalinyamat, melewati sejumlah wilayah yang kemudian memperoleh nama berdasarkan peristiwa tersebut. Di sebuah sungai, darah jenazah mengubah warna air menjadi ungu, sehingga daerah itu dikenal sebagai Kaliwungu. Ia kemudian melewati Pringtulis dan Mayong, dinamai demikian karena Ratu Kalinyamat berjalan sempoyongan atau moyang-moyong. Selanjutnya jenazah melewati Purwogondo, tempat awal tercium bau jenazah, lalu Pecangaan, sebelum akhirnya tiba di Mantingan. Peristiwa ini menjadi bagian dari cerita rakyat yang menghubungkan perjalanan Ratu Kalinyamat dengan penamaan sejumlah wilayah di Jepara.
[27/7 02.24] rudysugengp@gmail.com: 2. Buatkan Gambar dan Infografis tentang
Masa Pemerintahan
Ratu Kalinyamat
Kenaikan takhta :
Setelah kematian suaminya, Retna Kencana melakukan pertapaan di Watu Gilang, Bukit Donorojo.
Tradisi Jawa menggambarkan pertapaan tersebut sebagai “telanjang”, yang dipahami secara simbolik sebagai sumpah hidup prihatin dan penolakan terhadap kemewahan hingga kematian Arya Penangsang, yang bertanggung jawab atas kematian suami dan saudara laki-lakinya.
Naskah babad dan tradisi lisan menyebutkan bahwa selama masa pertapaan tersebut, Retna Kencana berada dalam ancaman sehingga berpindah ke tempat yang lebih aman dan terhindar dari upaya pembunuhan.
Setelah Arya Penangsang tewas, Retna Kencana diangkat sebagai penguasa Jepara dengan gelar Ratu Kalinyamat.
Penulis-penulis Jawa tradisional kerap menggunakan tamsil atau perumpamaan dalam penyampaian peristiwa sejarah. Oleh karena itu, kisah pertapaan “telanjang” tidak dipahami secara harfiah, melainkan sebagai simbol tekad Ratu Kalinyamat. Dalam Babad Tanah Jawi, penekanan diberikan pada sikap dan keteguhan Ratu Kalinyamat yang memilih meninggalkan pemerintahan sementara untuk bertapa dan memohon petunjuk Tuhan, sebelum memperoleh dukungan dari Sultan Pajang dengan bantuan Ki Pemanahan dan Ki Penjawi.
Kejayaan Jepara :
Ratu Kalinyamat memerintah wilayah jepara pada periode 1546–1579. Selama masa pemerintahannya, ia memegang otoritas politik dan militer serta terlibat dalam berbagai ekspedisi militer melawan kekuatan Portugis. Sumber Portugis, terutama catatan Meilink-Roelofsz, menyebut Jepara sebagai pusat perdagangan yang ramai dan makmur. Pada kurun waktu antara 1549 hingga 1579, Kesultanan Kalinyamat mencapai puncak pengaruhnya dalam dunia maritim. Pada masa ini, kerajaan mengembangkan pelabuhan-pelabuhan dan melaksanakan sejumlah ekspedisi laut. Meskipun ekspedisi tersebut tidak menghasilkan penguasaan wilayah secara berkelanjutan, sumber-sumber sejarah mencatat keterlibatan berkelanjutan Ratu Kalinyamat dalam perlawanan terhadap Portugis, termasuk ekspedisi ke Ambon pada tahun 1565. Masa pemerintahannya berlangsung dalam konteks sejarah ketika penguasa perempuan juga memegang peranan penting di wilayah lain, seperti Aceh dan kawasan pesisir utara Jawa.
Wilayah Kesultanan Kalinyamat pada masa pemerintahan Ratu Kalinyamat, meliputi Jepara, Kudus, Pati, Juwana, Rembang, dan Mataram. Jepara juga menjalin hubungan dagang dengan daerah lain seperti Malaka, Bali, Maluku, Makassar, dan Banjarmasin. Kota ini menjadi pusat produksi dan distribusi komoditas maritim serta kerajinan, termasuk seni ukir yang kelak menjadi identitas Jepara.
[27/7 02.24] rudysugengp@gmail.com: 3. Buatkan Gambar dan Infografis tentang
Menyerang Portugis di Malaka
Ratu Kalinyamat
Serangan Pertama :
Ratu Kalinyamat kembali menjabat sebagai bupati Jepara. Setelah wafatnya Arya Penangsang pada tahun 1549. Pada saat itu wilayah Demak, Jepara, dan Jipang berada di bawah kekuasaan Pajang yang dipimpin oleh Raja Hadiwijaya. Meskipun demikian, Hadiwijaya tetap menghormati Ratu Kalinyamat sebagai sosok senior yang berpengaruh.
Seperti bupati Jepara sebelumnya yaitu Pati Unus, Ratu Kalinyamat memiliki kebijakan yang menentang kehadiran Portugis. Pada tahun 1550, ia mengerahkan sekitar 4.000 prajurit Jepara yang menaiki 40 kapal untuk memenuhi permintaan Sultan Johor dalam upaya merebut kembali Malaka dari kekuasaan Eropa, yang pada masa itu merupakan pusat perdagangan rempah-rempah.
Pasukan Jepara kemudian bergabung dengan armada Persekutuan Melayu, membentuk kekuatan sekitar 200 kapal perang. Serangan gabungan dari arah utara berhasil merebut sebagian wilayah Malaka, meskipun Portugis melakukan perlawanan. Pasukan Persekutuan Melayu terpaksa mundur, sementara pasukan Jepara tetap bertahan. Setelah pemimpin pasukan gugur, tentara Jepara akhirnya ditarik mundur. Pertempuran lanjutan di laut dan pantai menewaskan sekitar 2.000 prajurit Jepara. Angin badai menyebabkan dua kapal mereka kandas di pantai Malaka dan jatuh ke tangan Portugis. Dari seluruh pasukan yang berangkat, hanya kurang dari separuh yang berhasil kembali ke Jawa. Ratu Kalinyamat tetap gigih dalam perlawanan terhadap Portugis. Pada tahun 1565, Ratu Kalinyamat memenuhi permintaan masyarakat Hitu di Ambon untuk menghadapi gangguan dari Portugis dan kelompok Hative.
Serangan Kedua :
Pada tahun 1564, Sultan Alauddin Al - Qahhar dari Kesultanan Aceh meminta bantuan Demak untuk menyerang Portugis di Malaka. Saat itu, Demak dipimpin Arya Pangiri, putra Sunan Prawata, yang dikenal mudah curiga, sehingga utusan Aceh dibunuh. Aceh kemudian tetap melancarkan serangan ke Malaka pada 1567 tanpa dukungan Jawa, namun serangan tersebut gagal.
Pada 1573, Sultan Aceh kembali meminta bantuan, kali ini kepada Ratu Kalinyamat.
Ia mengirim 300 kapal berisi sekitar 15.000 prajurit Jepara, dipimpin oleh Ki Demang Laksamana. Pasukan baru tiba di Malaka pada Oktober 1574, setelah pasukan Aceh sebelumnya telah dikalahkan Portugis. Jepara menembaki Malaka dari Selat Malaka, mendarat, dan membangun pertahanan, tetapi akhirnya pertahanannya ditembus Portugis. Sekitar 30 kapal terbakar dan enam kapal perbekalan direbut. Dalam kondisi semakin lemah, pasukan Jepara memutuskan kembali ke Jawa, dengan hanya sekitar sepertiga dari jumlah awal yang selamat.
Meskipun mengalami kekalahan, Ratu Kalinyamat tercatat sebagai pemimpin wanita yang gagah berani.
Portugis menyebutnya rainha de Japara, senhora poderosa e rica, de kranige Dame, yang berarti “Ratu Jepara, wanita kaya dan berkuasa, perempuan pemberani".
[27/7 02.32] rudysugengp@gmail.com: 4. Buatkan Gambar dan Infografis tentang
Anak Angkat dan Pengganti
Ratu Kalinyamat
Anak Angkat
Ratu Kalinyamat tidak memiliki anak kandung. Ia mengasuh beberapa kerabat sebagai anak angkat, antara lain Pangeran Timur Rangga Jumena, Arya Pangiri, dan Pangeran Arya Jepara, yang masing-masing memiliki peran penting dalam politik Jawa pasca-Demak.
Pangeran Timur Rangga Jumena
Pangeran Timur Rangga Jumena adalah putra bungsu dari Sultan Trenggana yang kemudian menjabat sebagai bupati Madiun.
Arya Pangiri
Arya Pangiri adalah putra dari Sunan Prawoto, raja keempat Kesultanan Demak, yang kemudian menjadi penguasa Demak sebelum berkuasa di Pajang. Ia awalnya menjabat sebagai adipati (bupati) Demak setelah menikah dengan Ratu Pembayun, putri Sultan Hadiwijaya dari Pajang. Setelah Sultan Hadiwijaya mangkat pada tahun 1583, terjadi perebutan kekuasaan di Pajang antara putra mahkota, Pangeran Benawa, dan Arya Pangiri, serta dukungan ulama pesisir. Dalam konflik ini Arya Pangiri berhasil menyingkirkan Pangeran Benawa dan naik takhta Pajang dengan gelar Sultan Ngawantipura pada tahun tersebut. Pemerintahannya dikenal lebih fokus pada ambisi militer, terutama konflik dengan kerajaan Mataram, sehingga mengabaikan kesejahteraan rakyat. Kekuasaan Arya Pangiri berakhir pada tahun 1586 ketika Pangeran Benawa bersekutu dengan Sutawijaya dari Mataram menyerbu Pajang. Arya Pangiri dikalahkan dan kemudian dikembalikan ke Demak, sementara Pangeran Benawa mengambil alih kepemimpinan Pajang.
Pangeran Arya Jepara
Pangeran Arya Jepara merupakan anak dari Maulana Hasanuddin, sultan pertama Kesultanan Banten, dan seorang anggota keluarga keraton Demak melalui ibunya, Ratu Ayu Kirana, saudara perempuan Sultan Trenggana. Pangeran ini diangkat dan dibesarkan di lingkungan istana Kalinyamat, di mana ia diperlakukan seperti anggota keluarga kerajaan dan kelak menjadi penguasa Jepara setelah wafatnya Ratu Kalinyamat. Setelah kematian Sultan Maulana Yusuf dari Banten pada sekitar tahun 1580, putra mahkota Banten masih di bawah umur. Pangeran Arya Jepara kemudian berupaya merebut takhta Kesultanan Banten, yang memicu konflik bersenjata di wilayah tersebut. Dalam peristiwa pertempuran tersebut, pasukan yang dipimpin Arya Jepara harus menarik diri setelah Ki Demang Laksamana, komandan militernya, gugur dalam pertempuran melawan Patih Mangkubumi dari Kesultanan Banten. Setelah gagal dalam perebutan kekuasaan di Banten, Arya Jepara kembali ke Kalinyamat. Namun, pada akhir abad ke‑16, kerajaan Kalinyamat diserang oleh pasukan Panembahan Senopati dari Kesultanan Mataram yang memperluas pengaruhnya di Jawa. Dalam serangan tersebut, kota Jepara berhasil diduduki dan pusat pemerintahan Kalinyamat mengalami kehancuran, menandai berakhirnya otonomi politik kerajaan tersebut di bawah kekuasaan Mataram.
Pengganti Ratu Kalinyamat
Ratu Kalinyamat meninggal dunia sekitar tahun 1579 dan dimakamkan tidak jauh dari pusara Pangeran Kalinyamat, tepatnya di Desa Mantingan, Kecamatan Tahunan, Kabupaten Jepara.[28] Selama memimpin, Ratu Kalinyamat juga berperan dalam membimbing sejumlah tokoh muda yang kemudian menjadi figur penting dalam politik Jawa dan Banten. Tokoh pertama adalah adiknya, Pangeran Timur Rangga Jumena, putra bungsu Sultan Trenggana, yang kemudian memegang jabatan sebagai bupati Madiun. Tokoh kedua, Arya Pangiri, adalah keponakannya dari Sunan Prawata, yang kelak menjadi bupati Demak. Sementara itu, sepupunya, Pangeran Arya Jepara, putra Ratu Ayu Kirana (saudara perempuan Sultan Trenggana), juga mendapat bimbingan dari Ratu Kalinyamat.
[27/7 02.33] rudysugengp@gmail.com: 5. Buatkan Gambar dan Infografis tentang
Akhir Hayat dan Penghargaan
Ratu Kalinyamat
Pada masa pemerintahannya, Jepara berkembang sebagai salah satu kekuatan maritim di pesisir utara Jawa.
Ratu Kalinyamat juga tercatat terlibat dalam upaya perlawanan Jepara terhadap kekuasaan Portugis di Malaka.
Ratu Kalinyamat meninggal dunia sekitar tahun 1579 dan dimakamkan tidak jauh dari pusara Pangeran Kalinyamat, tepatnya di Desa Mantingan, Kecamatan Tahunan, Kabupaten Jepara.
Proses Pengusulan: Melalui perjalanan panjang dan pengajuan berulang oleh pemerintah daerah serta yayasan sosial hingga bukti sejarah arsip Portugis ("Rainha de Jepara") diterima lengkap.
Pemerintah Indonesia menyematkan gelar pahlawan nasional kepada Ratu Kalinyamat pada peringatan Hari Pahlawan, 10 November 2023, berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 115-TK-TH-2023 pada tanggal 6 November 2023.
Pujian Musuh Asing: Mendapat julukan De Kranige Dame dari sejarawan Portugis yang artinya wanita pemberani dan penguasa yang sangat ditakuti.
[27/7 03.01] rudysugengp@gmail.com: 1. Buatkan Gambar dan Infografis tentang
Kehidupan Awal dan Pendidikan
Abdul Chalim
Keturunan Sunan Gunung Djati
Sosok KH Abdul Chalim merupakan ulama yang berasal dari Jawa Barat. Ia lahir pada 2 Juni 1898 di Leuwimunding, Majalengka dan wafat pada 12 Juni 1972.
KH Abdul Chalim adalah anak dari Kepala Desa bernama Kedung Wangsagama dan ibu bernama Satimah. Sama seperti ayahnya, sang kakek pun merupakan Kepala Desa Kertagaman kala itu.
Kakek dari KH Abdul Chalim merupakan putra dari Buyut Liuh. Buyutnya tersebut adalah anak dari seorang Pangeran Cirebon.
Jika ditelusuri lebih dalam, KH Abdul Chalim memiliki silsilah yang bersambung dengan keturunan Syarif Hidayatullah atau lebih dikenal sebagai Sunan Gunung Djati.
Pendidikan KH Abdul Chalim
KH Abdul Chalim menempuh pendidikan di sekolah Hollandsch Inlandsche School (HIS). Sejak remaja, KH Abdul Chalim telah memiliki ketertarikan terhadap pendidikan agama.
Setelah lulus dari sekolah HIS, ia melanjutkan pendidikan di Pesantren daerah Leuwimunding dan Rajagaluh. Beberapa pesantren tersebut antara lain Pondok Pesantren Banda, Pondok Pesantren al-Fattah Trajaya, dan Pondok Pesantren Nurul Huda al Ma'arif Pajajar.
Pada tahun 1913, KH Abdul Chalim pergi ke Makkah untuk melanjutkan pendidikan. Perjuangan KH Abdul Chalim untuk kemerdekaan Indonesia ia lakukan sepulang dari Makkah.
2. Buatkan Gambar dan Infografis tentang
Perjuangan Memerdekakan Indonesia dan Kiprah di NU
Abdul Chalim
Perjuangan Memerdekakan Indonesia
Pulang menyelesaikan pendidikan dari Makkah, ia bergabung dengan kawannya yakni KH Abdul Wahab Hasbullah. Mereka berkomitmen untuk mengusahakan kemerdekaan Indonesia.
Ia juga memiliki kiprah yang cukup besar dalam pergerakkan organisasi. Ia telah membantu banyak organisasi seperti Nahdlatul Wathan yang berubah nama menjadi Syubbanul Wathon.
Walaupun beberapa usahanya dilakukan untuk mengorganisasikan ulama-ulama, namun tujuannya adalah untuk mencapai kemerdekaan Indonesia. KH Abdul Chalim bersama KH Abdul Wahab membentuk Komite Hijaz untuk menyatukan ulama di Jawa dan Madura.
Ia menulis surat undangan bagi seluruh ulama di pesantren Jawa dan Madura. Surat tersebut berisikan undangan untuk hadir dalam Komite Hijaz pada 31 Januari 1926.
Bukan hanya sebagai agenda keagamaan, pertemuan tersebut bertujuan untuk menekankan bahwa kemerdekan Indonesia mendapatkan respons yang luar biasa dari para ulama. Terhitung sebanyak 65 ulama hadir dalam agenda tersebut.
Berperan dalam Berdirinya NU
Organisasi Islam terbesar yakni Nahdlatul Ulama (NU) bisa dikatakan dapat berdiri berkat usaha dari KH Abdul Chalim. Dari Komite Hijaz dihasilkan keputusan dari beberapa ulama besar untuk membentuk organisasi NU.
Pemimpin awal NU saat itu dipegang oleh KH Hasyim Asyari dengan sekretaris KH Abdul Wahab Hasbullah. Sedangkan KH Abdul Chalim sendiri sebagai Katib Tsani atau Sekretaris kedua dalam kepengurusan PBNU periode pertama.
Tak hanya berperan dalam pendirian PBNU, KH Abdul Chalim pun aktif menjadi pembina organisasi keislaman lainnya. Seperti organisasi semi militer Hizbullah sekaligus sebagai pendiri dan pejuang Hizbullah di wilayah Majalengka, Cirebon, dan Surabaya.
3. Buatkan Gambar dan Infografis tentang
Akhir Hayat dan Penghargaan
Abdul Chalim
KH. Abdul Chalim wafat di Leuwimunding pada tanggal 12 Juni 1972 di Leuwimunding.
K.H. Abdul Chalim ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional melalui Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 115/TK/Tahun 2023 yang ditandatangani oleh Presiden Joko Widodo.
Diabadikan Jadi Nama Perguruan Tinggi
Atas dedikasinya terhadap organisasi Islam, ia mendapat gelar Muharrikul Afkar yang artinya penggerak dan pembangkit semangat perjuangan. Tak hanya itu, ia juga mendapat julukan Mushlikhu Dzatil Bain atau pendamai dari kedua pihak yang berselisih.
Dalam pemerintahan, KH Abdul Chalim pun sempat menjabat sebagai anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS). Namanya kini diabadikan sebagai nama perguruan tinggi di Mojokerto yakni Institut Pesantren KH Abdul Chalim Mojokerto.
Saat ini institut tersebut tengah berproses untuk mengganti namanya menjadi Universitas Pesantren KH Abdul Chalim Mojokerto.
[27/7 18.09] rudysugengp@gmail.com: 1. Buatkan Gambar dan Infografis tentang
Kehidupan Awal, Biografi, dan Karya
Ahmad Hanafiah
Kehidupan
K.H. Ahmad Hanafiah memiliki nama lengkap Ahmad Hanafiah (Al Fiah) bin KH. Muhammad Nur. Ia lahir pada 1905 dengan latar belakang keluarga santri. Ayahnya, Muhammad Nur, merupakan seorang ulama di Sukadana, Lampung. Ia mendalami ilmu agama dari orang tuanya dan menyelesaikan Alquran pada usia 5 tahun. Ia lulus sekolah Gouvernment di Sukarta pada 1916. Setelah itu ia menempuh pendidikan di pesantren Jamiatul Chair di Jakarta (1916-1919) dan di Kelantan, Malaysia pada 1925-1930. Ahmad Hanafiah kemudian melanjutkan kuliah di Mekkah, Arab Saudi (1930-1936). Selama di sana ia menjadi Ketua Himpunan Pelajar Islam Lampung.
Biografi singkat :
Ahmad Hanafiah, atau dikenal juga sebagai KH Ahmad Alfiah, lahir pada tahun 1905 di Sukadana, sebuah kampung di Lampung yang dibangun oleh leluhur Abung. Ia tumbuh dalam lingkungan keluarga yang dikenal sebagai penyiar Islam dan merupakan keturunan dari Ki Masputra, seorang ulama utusan Sultan Banten. Sejak usia dini, kecerdasan dan ketekunan Hanafiah telah terlihat. Ia berhasil khatam Al-Qur’an pada usia lima tahun, menunjukkan kedalaman spiritualitas dan ketekunan belajar. Pendidikan formalnya diawali di Hollandsch-Inlandsche School (HIS) di Sukadana, dan setelah itu, ia melanjutkan pendidikan agama di berbagai tempat, seperti di Jamiatul Chair di Batavia, Malaysia, dan akhirnya menimba ilmu di Makkah. Selama di Makkah, KH Ahmad Hanafiah aktif dalam Himpunan Pelajar Islam Lampung dan bahkan dipercaya untuk mengajar di Masjidil Haram, sebuah bukti pengakuan atas kapabilitas keilmuannya (Hamid, 2024).
Setelah kembali ke Indonesia, KH Ahmad Hanafiah berdakwah di Lampung dengan cara yang khas. Ia menulis dua kitab penting dalam keislaman, yakni Sirr al-Dahr dan al-Hujjah. Kitab-kitab ini menjadi kontribusi signifikan dalam literatur keagamaan Islam di nusantara. Dalam Sirr al-Dahr, Hanafiah menafsirkan surat Al-‘Ashr dengan pendekatan yang mendalam, mengajarkan bahwa waktu adalah anugerah yang bisa memuliakan atau menghancurkan manusia, tergantung pada amalnya. Sedangkan, dalam al-Hujjah, ia membahas berbagai persoalan fiqih yang relevan bagi masyarakat lokal, menunjukkan kepeduliannya pada kebutuhan umat dan penguasaan ilmu agama yang mendalam. Melalui kedua karya ini, KH Ahmad Hanafiah tidak hanya menyebarkan ajaran Islam, tetapi juga memperkaya bahasa Melayu yang kemudian menjadi cikal bakal bahasa Indonesia. Pandangannya yang kontekstual dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat adalah warisan intelektual yang sangat berharga (Jamaluddin et al., 2020).
Karya :
Ahmad Hanafiah menyusun dua buah kitab yang berjudul Hujjah dan Tafsir Ad Dohri.
Kitab-kitab tersebut dicetak dan disebarluasakan kepada murid-muridnya serta masyarakat Lampung.
2. Buatkan Gambar dan Infografis tentang
Perjuangan
Ahmad Hanafiah
Sejak tahun 1920, Ahmad Hanafiah mengajar agama di Sukadana. Ia lalu menjadi pimpinan Pondok Pesantren Al-Ikhlas pada 1942-1945. Selain sebagai tokoh agama, Hanafiah juga menjadi Ketua Syarekat Dagang Islam di Kawedanan Sukadana.
Pada masa penjajahan Jepang, Hanafiah diangkat menjadi anggota Sa-ngi-kai Keresidenan Lampung. Selama periode 1945-1946, ia menjadi Ketua Komite Nasional Indonesia Kawedanan Sukadana. Ia menjabat sebagai Ketua Partai Masyumi dan Pimpinan/Panglima Laskar Hizbullah Kawedanan Sukadana. Kemudian, ia menjadi wedana Kawedanan Sukadana. Pada 1946-1947 ia terpilih sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Keresidenan Lampung. Terakhir, ia menjabat sebagai Wakil Kepala sekaligus Kepala Bagian Islam pada Kantor Keresidenan Lampung saat tinggal di Tanjung Karang.
Melawan Penjajah Belanda :
Agresi Belanda yang terjadi pada tahun 1947 melancarkan serangan serentak terhadap sejumlah daerah di Indonesia, salah satunyaSumatera Selatan. Kala itu, Belanda mulai menyerang Lampung yang masih menjadi bagian dari Karesidenan Sumatera Selatan melalui jalur darat dari Palembang.
Mereka sempat mendapat perlawanan dari TNI tetapi pada akhirnya Kota Baturaja dapat dikuasai Belanda. Agresi yang terjadi menyebabkan perlawanan laskar rakyat bersama TNI terhadap Belanda dalam front Belanda di Kemarung, yang merupakan suatu tempat hutan belukar terletak di dekat Baturaja ke arah Martapura, Sumatera Selatan.
Perlawanan antara laskar rakyat melawan Belanda juga terjadi di sana. Perlawanan laskar rakyat tergabung dalam barisan Hizbullah dan Sabilillah yang bersenjata golok.
TNI dan Laskar Hizbullah yang merencanakan untuk menyerang Baturaja telah dibocorkan mata-mata. Dengan demikian, personel TNI mundur ke Martapura sementara pasukan Laskar Hizbullah yang tengah beristirahat di Kemarung disergap Belanda yang memicu pertempuran.
Banyak anggota Laskar Hizbullah yang tertawan dan gugur. Sedangkan, Ahmad Hanifah ditangkap hidup-hidup. Dia disebutkan mendapatkan penyiksaan untuk memberi informasi soal kekuatan laskar pejuang, hingga akhirnya dieksekusi di Sungai Ogan.
Ahmad Hanafiah dapat diteladani sebagai semangat cinta tanah air yang terwujud dalam tindakan nyata. Pada tahun 1947, ketika bangsa Indonesia baru saja merdeka, Belanda berusaha merebut kembali wilayah nusantara, termasuk Lampung. Dalam pertempuran di Baturaja, KH Ahmad Hanafiah memimpin laskar rakyat dengan semangat jihad. Meskipun pasukan yang dipimpinnya hanya bersenjatakan golok Ciomas, Hanafiah tidak gentar menghadapi pasukan Belanda yang memiliki persenjataan lebih lengkap. Semangatnya yang berapi-api menunjukkan bahwa cinta tanah air bukan sekadar slogan atau kata-kata, tetapi pengorbanan yang nyata demi kedaulatan bangsa.
3. Buatkan Gambar dan Infografis tentang
Pertempuran, Akhir Hayat dan Penghargaan
Ahmad Hanafiah
Pertempuran Front Kemarung dan Akhir Hayat
Puncak heroisme K.H. Ahmad Hanafiah terjadi saat menghadapi Agresi Militer Belanda I pada tahun 1947.
Saat pasukan Belanda menyerang lewat jalur darat dari Palembang menuju Lampung, ia memimpin pasukan gabungan TNI dan Laskar Rakyat menuju Baturaja, Sumatera Selatan.
Pasukan bentukannya terkenal dengan sebutan Laskar Bergolok karena maju ke medan perang dengan bersenjatakan golok. Mereka menghadang infanteri modern Belanda di Front Kemarung dekat Baturaja. Meskipun kalah dari segi teknologi persenjataan, mereka bertempur habis-habisan demi mencegah musuh masuk ke tanah Lampung.
Tepat menjelang peringatan kemerdekaan, pada 17 Agustus 1947, K.H. Ahmad Hanafiah terkepung dan ditangkap hidup-hidup oleh tentara Belanda saat sedang beristirahat di wilayah Kamarung.
Ia dieksekusi secara kejam dengan cara dimasukkan ke dalam karung, lalu ditenggelamkan ke dalam Sungai Ogan.
Jasad sang ulama tidak pernah ditemukan, dan ia gugur sebagai syuhada demi mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Kematian :
Ahmad Hanafiah gugur dalam pertempuran untuk merebut Kota Baturaja dari tangan Belanda. Ia meninggal dunia pada malam 17 Agustus 1947 di Kemerung, Baturaja, Sumatera Selatan.
Pahlawan Lokal :
KH Ahmad Hanafiah juga dikenal atas keteguhan hatinya yang tak tergoyahkan. Ketika tertangkap, ia mengalami penyiksaan oleh tentara Belanda. Meskipun demikian, ia tetap teguh dalam keyakinannya dan tidak gentar menghadapi maut. Hanafiah akhirnya gugur dalam pertempuran tanpa meninggalkan makam, namun perjuangannya tetap abadi dalam ingatan masyarakat Lampung. Sebagai penghormatan atas jasa-jasanya, ia diakui sebagai Pahlawan Daerah Lampung pada tahun 2015.
Pahlawan Nasional :
K.H. Ahmad Hanafiah resmi dianugerahi gelar Pahlawan Nasional oleh Presiden Joko Widodo berdasarkan Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 115/TK/Tahun 2023 yang diterbitkan pada tanggal 6 November 2023. Beliau merupakan tokoh ulama karismatik sekaligus pejuang kemerdekaan asal Sukadana, Lampung. Pengorbanannya mencapai puncak ketika memimpin perlawanan bersenjata tradisional melawan Agresi Militer Belanda demi mempertahankan kedaulatan Republik Indonesia di wilayah Lampung dan Sumatera Selatan.
[27/7 18.25] rudysugengp@gmail.com: 1. Buatkan Gambar dan Infografis tentang
Informasi Pribadi, Kehidupan Awal dan Pendidikan
KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur)
Informasi pribadi
Abdurrahman ad-Dakhil
Lahir :
7 September 1940
Jombang, Hindia Belanda
Meninggal :
30 Desember 2009 (umur 69)
Jakarta, Indonesia
Sebab kematian
Penyakit jantung koroner
Partai politik :
PKB
Istri :
Sinta Nuriyah (menikah 1968)
Anak :
Alissa Qotrunnada
Zannuba Ariffah Chafsoh
Anita Hayatunnufus
Inayah Wulandari
Orang tua :
Wahid Hasjim (ayah)
Siti Sholehah (ibu)
Pendidikan :
Universitas Al-Azhar
Universitas Baghdad
Pekerjaan :
Ulama - Politikus
Penghargaan sipil :
Pahlawan Nasional Indonesia (2025)
Julukan :
Gus Dur
Abdurrahman Wahid merupakan anak dari pasangan Wahid Hasyim dan Siti Salihah. Ia lahir pada tanggal 7 September 1940. Meskipun ia lahir pada tanggal 7 September, sejumlah orang malah merayakan hari ulang tahunnya pada 4 Agustus. Tempat kelahirannya di pesantren milik kakek dari pihak ibunya yang bernama Bisri Syansuri. Pesantren ini terletak di Denanyar Jombang, Jawa Timur. Pada awalnya, ia dilahirkan dengan nama Abdurrahman ad-Dakhil, yang diambil dari nama Abdurrahman I, Amir Umayyah di Kordoba yang bergelar "ad-Dakhil".
Julukan populernya, 'Gus Dur' berasal dari gelar Gus, sebuah kehormatan umum untuk putra kyai dan kependekan dari bagus dalam bahasa Jawa; dan Dur yang merupakan kependekan dari namanya, Abdurrahman.
Pendidikan :
Pada tahun 1944, Gus Dur pindah dari Jombang ke Jakarta, tempat ayahnya terpilih menjadi Ketua pertama Partai Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi), sebuah organisasi yang berdiri dengan dukungan tentara Jepang yang saat itu menduduki Indonesia. Setelah deklarasi kemerdekaan Indonesia tanggal 17 Agustus 1945, Gus Dur kembali ke Jombang dan tetap berada di sana selama Revolusi Nasional Indonesia melawan Belanda.
Pada akhir perang tahun 1949, Gus Dur pindah ke Jakarta dan ayahnya ditunjuk sebagai Menteri Agama. Gus Dur belajar di Jakarta, masuk ke SD KRIS sebelum pindah ke SD Matraman Perwari. Gus Dur juga diajarkan membaca buku non-Muslim, majalah, dan koran oleh ayahnya untuk memperluas pengetahuannya.
Gus Dur terus tinggal di Jakarta dengan keluarganya meskipun ayahnya sudah tidak menjadi menteri agama pada tahun 1952.
Pada April 1953, ayah Gus Dur meninggal dunia akibat kecelakaan mobil.
Pendidikan Gus Dur berlanjut dan pada tahun 1954, ia masuk ke Sekolah Menengah Pertama (SMP). Pada tahun itu, ia tidak naik kelas. Ibunya lalu mengirim Gus Dur ke Yogyakarta untuk meneruskan pendidikannya dengan mengaji kepada K.H. Ali Maksum, seorang kyai di Pondok Pesantren Krapyak dan belajar di SMP. Pada tahun 1957, setelah lulus dari SMP, Wahid pindah ke Magelang untuk memulai Pendidikan Muslim di Pesantren Tegalrejo. Ia mengembangkan reputasi sebagai murid berbakat, menyelesaikan pendidikan pesantren dalam waktu dua tahun (seharusnya empat tahun). Pada tahun 1959, Wahid pindah ke Pesantren Tambakberas di Jombang. Di sana, sementara melanjutkan pendidikannya sendiri, Abdurrahman Wahid juga menerima pekerjaan pertamanya sebagai guru dan nantinya sebagai kepala sekolah madrasah.
Gus Dur juga dipekerjakan sebagai jurnalis majalah seperti Horizon dan Majalah Budaya Jaya.
Pendidikan di luar negeri :
Pada tahun 1963, Wahid menerima beasiswa dari Kementerian Agama untuk belajar Studi Islam di Universitas Al Azhar di Kairo, Mesir. Ia pergi ke Mesir pada November 1963. Meskipun ia mahir berbahasa Arab, Gus Dur diberitahu oleh pihak universitas bahwa ia harus mengambil kelas remedial sebelum belajar Islam dan bahasa Arab. Karena tidak mampu memberikan bukti bahwa ia memiliki kemampuan bahasa Arab, Wahid terpaksa mengambil kelas remedial.
Abdurrahman Wahid menikmati hidup di Mesir pada tahun 1964; ia suka menonton film Eropa dan Amerika, dan juga menonton pertandingan sepak bola. Wahid juga terlibat dengan Asosiasi Pelajar Indonesia dan menjadi jurnalis majalah asosiasi tersebut. Pada akhir tahun, ia berhasil lulus kelas remedial Arabnya. Ketika ia memulai belajarnya dalam Islam dan bahasa Arab tahun 1965, Gus Dur kecewa; ia telah mempelajari banyak materi yang diberikan dan menolak metode belajar yang digunakan Universitas.
Di Mesir, Wahid dipekerjakan di Kedutaan Besar Indonesia. Pada saat ia bekerja, peristiwa Gerakan 30 September (G30S) terjadi. Mayor Jenderal Soeharto menangani situasi di Jakarta dan upaya pemberantasan komunis dilakukan. Sebagai bagian dari upaya tersebut, Kedutaan Besar Indonesia di Mesir diperintahkan untuk melakukan investigasi terhadap pelajar universitas dan memberikan laporan kedudukan politik mereka. Perintah ini diberikan pada Gus Dur, yang ditugaskan menulis laporan.
Gus Dur mengalami kegagalan di Mesir. Ia tidak setuju akan metode pendidikan serta pekerjaannya setelah G30S sangat mengganggu dirinya.[14] Pada tahun 1966, ia diberitahu bahwa ia harus mengulang belajar. Pendidikan prasarjana Gus Dur diselamatkan melalui beasiswa di Universitas Baghdad. Gus Dur pindah ke Irak dan menikmati lingkungan barunya. Meskipun ia lalai pada awalnya, Gus Dur dengan cepat belajar. Gus Dur juga meneruskan keterlibatannya dalam Asosiasi Pelajar Indonesia dan juga menjadi salah satu penulis untuk majalah asosiasi tersebut.
Setelah menyelesaikan pendidikannya di Universitas Baghdad tahun 1970, Abdurrahman Wahid pergi ke Belanda untuk meneruskan pendidikannya. Gus Dur ingin belajar di Universitas Leiden, tetapi kecewa karena pendidikannya di Universitas Baghdad kurang diakui, dari Belanda, Gus Dur pergi ke Jerman dan Prancis sebelum kembali ke Indonesia tahun 1971.
[27/7 18.30] rudysugengp@gmail.com: 2. Buatkan Gambar dan Infografis tentang
Karier Awal
KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur)
Gus Dur kembali ke Jakarta mengharapkan bahwa ia akan pergi ke luar negeri lagi untuk belajar di Universitas McGill Kanada. Ia membuat dirinya sibuk dengan bergabung ke Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES), organisasi yg terdiri dari kaum intelektual muslim progresif dan sosial demokrat. LP3ES mendirikan majalah Prisma dan Gus Dur menjadi salah satu kontributor utama majalah tersebut. Selama bekerja sebagai kontributor LP3ES, ia juga melakukan tur ke pesantren dan madrasah di seluruh Pulau Jawa. Itu adalah masa ketika pesantren sangat ingin mendapatkan pendanaan negara dengan mengadopsi kurikulum yang didukung negara dan Gus Dur khawatir bahwa nilai-nilai tradisional pesantren akan rusak karena perubahan ini. Ia juga prihatin dengan kemiskinan pesantren yang dilihatnya selama perjalanannya. Pada saat yang sama mendorong pesantren untuk mengadopsi kurikulum yang didukung negara, Pemerintah juga mendorong pesantren sebagai agen perubahan dan membantu pemerintah dalam pembangunan ekonomi Indonesia. Pada saat itulah ia akhirnya memutuskan untuk membatalkan rencana studi di luar negeri demi memajukan pengembangan pesantren.
Abdurrahman Wahid melanjutkan kariernya sebagai jurnalis, menulis untuk majalah Tempo dan Kompas, sebuah surat kabar terkemuka di Indonesia. Artikel-artikelnya diterima dengan baik, dan dia mulai mengembangkan reputasi sebagai komentator sosial. Popularitas Gus Dur sedemikian rupa sehingga saat ini ia diundang untuk memberikan ceramah dan seminar, sehingga mengharuskannya bolak-balik antara Jakarta dan Jombang, tempat ia tinggal bersama keluarganya.
Meski memiliki karier yang sukses hingga saat itu, Abdurrahman Wahid masih kesulitan memenuhi kebutuhan hidup, dan ia bekerja untuk mendapatkan penghasilan tambahan dengan menjual kacang dan mengantarkan es untuk digunakan dalam bisnis es lilin milik istrinya.
Pada tahun 1974, ia mendapatkan pekerjaan tambahan di Jombang sebagai guru Ilmu Hukum Muslim di Pesantren Tambakberas dan segera mengembangkan reputasi yang baik. Setahun kemudian, Gus Dur menambah pekerjaanya sebagai guru yang mengajar Kitab al-Hikam, sebuah teks Sufisme klasik.
Pada tahun 1977, Abdurrahman Wahid bergabung dengan Universitas Hasyim Asyari sebagai Dekan Fakultas Akidah dan Pengamalan Islam. Sekali lagi dia unggul dalam pekerjaannya dan universitas ingin dia mengajar mata pelajaran tambahan seperti pedagogi, syariah, dan misiologi.
Namun, keunggulannya menimbulkan kebencian dari kalangan universitas dan dia dilarang mengajar mata pelajaran tersebut. Saat melakukan semua usaha ini, ia juga secara rutin menyampaikan pidato selama Ramadan kepada komunitas Muslim di Jombang.
[27/7 18.49] rudysugengp@gmail.com: 3. Buatkan Gambar dan Infografis tentang
Kiprah di NU
KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur)
Nahdlatul Ulama
Awal keterlibatan :
Latar belakang keluarga Gus Dur segera berarti. Ia diminta untuk memainkan peran aktif dalam menjalankan NU. Permintaan ini berlawanan dengan aspirasi Gus Dur sebagai intelektual publik dan ia dua kali menolak tawaran bergabung dengan Dewan Penasihat Agama NU. Namun, Gus Dur akhirnya bergabung dengan Dewan tersebut setelah kakeknya, Bisri Syansuri, memberinya tawaran ketiga. Karena mengambil pekerjaan ini, Gus Dur juga memilih untuk pindah dari Jombang ke Jakarta dan menetap di sana. Sebagai anggota Dewan Penasihat Agama, Gus Dur menjadikan dirinya sebagai reforman NU.
Pada saat itu, Abdurrahman Wahid juga mendapat pengalaman politik pertamanya.
Pada pemilihan umum legislatif 1982, Wahid berkampanye untuk Partai Persatuan Pembangunan (PPP), sebuah Partai Islam yang dibentuk sebagai hasil gabungan 4 partai Islam termasuk NU. Gus Dur menyebut bahwa Pemerintah mengganggu kampanye PPP dengan menangkap orang seperti dirinya.
Namun, Gus Dur selalu berhasil lepas karena memiliki hubungan dengan orang penting seperti Jenderal Benny Moerdani.
Mereformasi NU :
Pada saat itu, banyak orang yang memandang NU sebagai organisasi dalam keadaan stagnasi/terhenti. Setelah berdiskusi, Dewan Penasihat Agama akhirnya membentuk Tim Tujuh (termasuk Gus Dur) untuk mengerjakan isu reformasi dan membantu menghidupkan kembali NU. Reformasi dalam organisasi termasuk perubahan kepemimpinan.
Pada 2 Mei 1982, pejabat-pejabat tinggi NU bertemu dengan Ketua NU Idham Chalid dan meminta agar ia mengundurkan diri. Idham, yang telah memandu NU pada era transisi kekuasaan dari Soekarno ke Soeharto awalnya melawan, tetapi akhirnya mundur karena tekanan. Pada 6 Mei 1982, Gus Dur mendengar pilihan Idham untuk mundur dan menemuinya, lalu ia berkata bahwa permintaan mundur tidak konstitusional. Dengan himbauan Gus Dur, Idham membatalkan kemundurannya dan Gus Dur bersama dengan Tim Tujuh dapat menegosiasikan persetujuan antara Idham dan orang yang meminta kemundurannya.
Pada tahun 1983, Soeharto dipilih kembali sebagai presiden untuk masa jabatan ke-4 oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) dan mulai mengambil langkah untuk menjadikan Pancasila sebagai Ideologi Negara. Dari Juni 1983 hingga Oktober 1983, Gus Dur menjadi bagian dari kelompok yang ditugaskan untuk menyiapkan respons NU terhadap isu tersebut. Gus Dur berkonsultasi dengan bacaan seperti Al-Qur'an dan Hadis untuk pembenaran dan akhirnya, pada Oktober 1983, ia menyimpulkan bahwa NU harus menerima Pancasila sebagai Ideologi Negara. Untuk lebih menghidupkan kembali NU, Gus Dur juga mengundurkan diri dari PPP dan partai politik. Hal ini dilakukan sehingga NU dapat fokus dalam masalah sosial daripada terhambat dengan terlibat dalam politik.
Terpilih sebagai ketua dan masa jabatan pertama :
Reformasi Gus Dur membuatnya sangat populer di kalangan NU.
Pada saat Musyawarah Nasional 1984, banyak orang yang mulai menyatakan keinginan mereka untuk menominasikan Gus Dur sebagai ketua baru NU. Gus Dur menerima nominasi ini dengan syarat ia mendapatkan wewenang penuh untuk memilih para pengurus yang akan bekerja di bawahnya. Gus Dur terpilih sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama pada Musyawarah Nasional tersebut, dengan Anwar Nurris selaku sekjen PBNU. Namun, persyaratannya untuk dapat memilih sendiri para pengurus di bawahnya tidak terpenuhi. Pada hari terakhir Munas, daftar anggota Gus Dur sedang dibahas persetujuannya oleh para pejabat tinggi NU termasuk Ketua PBNU sebelumnya, Idham Chalid.
Gus Dur sebelumnya telah memberikan sebuah daftar kepada Panitia Munas yang sedianya akan diumumkan hari itu. Namun, Panitia Munas, yang bertentangan dengan Idham, mengumumkan sebuah daftar yang sama sekali berbeda kepada para peserta Munas.
Terpilihnya Gus Dur dilihat positif oleh Soeharto dan rezim Orde Baru.
Penerimaan Gus Dur terhadap Pancasila bersamaan dengan citra moderatnya menjadikannya disukai oleh pejabat pemerintahan. Pada tahun 1985, Soeharto menjadikan Gus Dur indoktrinator Pancasila.
Pada tahun 1987, Gus Dur menunjukan dukungan lebih lanjut terhadap rezim tersebut dengan mengkritik PPP dalam pemilihan umum legislatif 1987 dan memperkuat Partai Golkar Soeharto.
Ia kemudian menjadi anggota MPR mewakili Golkar.
Meskipun ia disukai oleh rezim, Gus Dur mengkritik pemerintah karena proyek Waduk Kedung Ombo yang didanai oleh Bank Dunia. Hal ini merenggangkan hubungan Gus Dur dengan pemerintah, tetapi saat itu Soeharto masih mendapat dukungan politik dari NU.
Selama masa jabatan pertamanya, Gus Dur fokus dalam mereformasi sistem pendidikan pesantren dan berhasil meningkatkan kualitas sistem pendidikan pesantren sehingga dapat menandingi sekolah sekuler.
Pada tahun 1987, Gus Dur juga mendirikan kelompok belajar di Probolinggo, Jawa Timur untuk menyediakan forum individu sependirian dalam NU untuk mendiskusikan dan menyediakan interpretasi teks muslim. Gus Dur pernah pula menghadapi kritik bahwa ia mengharapkan mengubah salam muslim "assalamualaikum" menjadi salam sekuler "selamat pagi".
Masa jabatan kedua dan melawan Orde Baru :
Gus Dur terpilih kembali untuk masa jabatan kedua Ketua NU pada Musyawarah Nasional 1989. Pada saat itu, Soeharto, yang terlibat dalam pertempuran politik dengan ABRI, mulai menarik simpati muslim untuk mendapat dukungan mereka.
Pada Desember 1990, Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) dibentuk untuk menarik hati Intelektual muslim. Organisasi ini didukung oleh Soeharto, diketuai oleh Baharuddin Jusuf Habibie dan di dalamnya terdapat intelektual muslim seperti Amien Rais dan Nurcholish Madjid sebagai anggota. Pada tahun 1991, beberapa anggota ICMI meminta Gus Dur bergabung. Gus Dur menolak karena ia mengira ICMI mendukung sektarianisme dan akan membuat Soeharto tetap kuat.
Pada tahun 1991, Gus Dur melawan ICMI dengan membentuk Forum Demokrasi, organisasi yang terdiri dari 45 intelektual dari berbagai komunitas religius dan sosial. Organisasi ini diperhitungkan oleh pemerintah dan pemerintah menghentikan pertemuan yang diadakan oleh Forum Demokrasi saat menjelang pemilihan umum legislatif 1992.
Pada Maret 1992, Gus Dur berencana mengadakan Musyawarah Besar untuk merayakan ulang tahun NU ke-66 dan mengulang pernyataan dukungan NU terhadap Pancasila.
Gus Dur merencanakan acara itu dihadiri oleh paling sedikit satu juta anggota NU. Namun, Soeharto menghalangi acara tersebut, memerintahkan polisi untuk mengembalikan bus berisi anggota NU ketika mereka tiba di Jakarta.
Akan tetapi, acara itu dihadiri oleh 200.000 orang. Setelah acara, Gus Dur mengirim surat protes kepada Soeharto menyatakan bahwa NU tidak diberi kesempatan menampilkan Islam yang terbuka, adil dan toleran.
Selama masa jabatan keduanya sebagai ketua NU, ide liberal Gus Dur mulai mengubah banyak pendukungnya menjadi tidak setuju. Sebagai ketua, Gus Dur terus mendorong dialog antar agama dan bahkan menerima undangan mengunjungi Israel pada Oktober 1994.
Masa jabatan ketiga dan menuju reformasi :
Menjelang Musyawarah Nasional 1994, Gus Dur menominasikan dirinya untuk masa jabatan ketiga. Mendengar hal itu, Soeharto ingin agar Wahid tidak terpilih. Pada minggu-minggu sebelum munas, pendukung Soeharto, seperti Habibie dan Harmoko berkampanye melawan terpilihnya kembali Gus Dur. Ketika musyawarah nasional diadakan, tempat pemilihan dijaga ketat oleh ABRI dalam tindakan intimidasi.
Terdapat juga usaha menyuap anggota NU untuk tidak memilihnya.
Namun, Gus Dur tetap terpilih sebagai ketua NU untuk masa jabatan ketiga. Selama masa ini, Gus Dur memulai aliansi politik dengan Megawati Soekarnoputri dari Partai Demokrasi Indonesia (PDI). Megawati yang menggunakan nama ayahnya memiliki popularitas yang besar dan berencana tetap menekan rezim Soeharto.
Wahid menasihati Megawati untuk berhati-hati dan menolak dipilih sebagai Presiden untuk Sidang Umum MPR 1998.
Megawati mengacuhkan sarannya, tetapi kemudian ia harus membayar mahal ketika pada Juli 1996 markas PDI-nya diambil alih oleh pendukung Ketua PDI yang didukung pemerintah, Soerjadi.
Melihat apa yang terjadi terhadap Megawati, Gus Dur berpikir bahwa pilihan terbaiknya sekarang adalah mundur secara politik dengan mendukung pemerintah.
Pada November 1996, Wahid dan Soeharto bertemu pertama kalinya sejak pemilihan kembali Gus Dur sebagai ketua NU dan beberapa bulan berikutnya diikuti dengan pertemuan dengan berbagai tokoh pemerintah yang pada tahun 1994 berusaha menghalangi pemilihan kembali Gus Dur. Pada saat yang sama, Gus Dur membiarkan pilihannya untuk melakukan reformasi tetap terbuka dan pada Desember 1996 bertemu dengan Amien Rais, anggota ICMI yang kritis terhadap kebijakan-kebijakan pemerintah.
Juli 1997 merupakan awal dari Krisis Finansial Asia. Soeharto mulai kehilangan kendali atas situasi tersebut.
Gus Dur didorong untuk melakukan reformasi dengan Megawati dan Amien, tetapi ia terkena stroke pada Januari 1998.
Dari rumah sakit, Wahid melihat situasi terus memburuk dengan pemilihan kembali Soeharto sebagai Presiden dan protes mahasiswa yang menyebabkan terjadinya kerusuhan Mei 1998 setelah penembakan enam mahasiswa di Universitas Trisakti. Pada tanggal 19 Mei 1998, Gus Dur, bersama dengan delapan pemimpin penting dari komunitas Muslim, dipanggil ke kediaman Soeharto. Soeharto memberikan konsep Komite Reformasi yang ia usulkan. Sembilan pemimpin tersebut menolak untuk bergabung dengan Komite Reformasi. Gus Dur memiliki pendirian yang lebih moderat dengan Soeharto dan meminta demonstran berhenti untuk melihat apakah Soeharto akan menepati janjinya.
Hal tersebut tidak disukai Amien, yang merupakan oposisi Soeharto yang paling kritis pada saat itu. Namun, Soeharto mengumumkan pengunduran dirinya pada tanggal 21 Mei 1998. Wakil Presiden B.J. Habibie menjadi presiden menggantikan Soeharto.
[27/7 18.52] rudysugengp@gmail.com: 4. Buatkan Gambar dan Infografis tentang
Era Reformasi
KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur)
Pembentukan PKB dan Pernyataan Ciganjur :
Salah satu dampak jatuhnya Soeharto adalah pembentukan partai politik baru. Di bawah rezim Soeharto, hanya terdapat tiga partai politik: Golkar, PPP dan PDI. Dengan jatuhnya Soeharto, partai-partai politik mulai terbentuk, dengan yang paling penting adalah Partai Amanat Nasional (PAN) bentukan Amien dan Partai Demokrasi Indonesia-Perjuangan (PDI-P) bentukan Megawati. Pada Juni 1998, banyak orang dari komunitas NU meminta Gus Dur membentuk partai politik baru. Ia tidak langsung mengimplementasikan ide tersebut. Namun pada Juli 1998 Gus Dur mulai menanggapi ide tersebut karena mendirikan partai politik merupakan satu-satunya cara untuk melawan Golkar dalam pemilihan umum. Wahid menyetujui pembentukan PKB dan menjadi Ketua Dewan Penasihat dengan Matori Abdul Djalil sebagai ketua partai. Meskipun partai tersebut didominasi anggota NU, Gus Dur menyatakan bahwa partai tersebut terbuka untuk semua orang.
Pada November 1998, dalam pertemuan di Ciganjur, Gus Dur, bersama dengan Megawati, Amien, dan Sultan Hamengkubuwono X kembali menyatakan komitmen mereka untuk reformasi. Pada 7 Februari 1999, PKB secara resmi menyatakan Gus Dur sebagai kandidat pemilihan presiden.
Pemilu 1999 dan Sidang Umum MPR :
Pada Juni 1999, partai PKB ikut serta dalam arena pemilu legislatif. PKB memenangkan 12% suara dengan PDI-P memenangkan 33% suara. Dengan kemenangan partainya, Megawati diperkirakan akan memenangkan pemilihan presiden pada Sidang Umum MPR. Namun, PDI-P tidak memiliki kursi mayoritas penuh, sehingga membentuk aliansi dengan PKB. Pada Juli, Amien Rais membentuk Poros Tengah, koalisi partai-partai Muslim. Poros Tengah mulai menominasikan Gus Dur sebagai kandidat ketiga pada pemilihan presiden dan komitmen PKB terhadap PDI-P mulai berubah.
Pada 7 Oktober 1999, Amien dan Poros Tengah secara resmi menyatakan Abdurrahman Wahid sebagai calon presiden. Pada 19 Oktober 1999, MPR menolak pidato pertanggungjawaban Habibie dan ia mundur dari pemilihan presiden. Beberapa saat kemudian, Akbar Tanjung, ketua Golkar dan ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) menyatakan Golkar akan mendukung Gus Dur. Pada 20 Oktober 1999, MPR kembali berkumpul dan mulai memilih presiden baru. Abdurrahman Wahid kemudian terpilih sebagai Presiden Indonesia ke-4 dengan 373 suara, sedangkan Megawati hanya 313 suara.
Tidak senang karena calon mereka gagal memenangkan pemilihan, pendukung Megawati mengamuk dan Gus Dur menyadari bahwa Megawati harus terpilih sebagai wakil presiden. Setelah meyakinkan jenderal Wiranto untuk tidak ikut serta dalam pemilihan wakil presiden dan membuat PKB mendukung Megawati, Gus Dur pun berhasil meyakinkan Megawati untuk ikut serta. Pada 21 Oktober 1999, Megawati ikut serta dalam pemilihan wakil presiden dan mengalahkan Hamzah Haz dari PPP.
[27/7 19.04] rudysugengp@gmail.com: 5. Buatkan Gambar dan Infografis tentang
Presiden ke-4
KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur)
Pemerintah Awal :
Kabinet pertama Gus Dur, Kabinet Persatuan Nasional, adalah kabinet koalisi yang meliputi anggota berbagai partai politik: PDI-P, PKB, Golkar, PPP, PAN, dan Partai Keadilan (PK). Non-partisan dan TNI juga ada dalam kabinet tersebut. Wahid kemudian mulai melakukan dua reformasi pemerintahan. Reformasi pertama adalah membubarkan Departemen Penerangan, senjata utama rezim Soeharto dalam menguasai media. Reformasi kedua adalah membubarkan Departemen Sosial yang korup.
Pada November 1999, Wahid mengunjungi negara-negara anggota ASEAN, Jepang, Amerika Serikat, Qatar, Kuwait, dan Yordania. Setelah itu, pada bulan Desember, ia mengunjungi Republik Rakyat Tiongkok.
Setelah satu bulan berada dalam Kabinet Persatuan Nasional, Menteri Koordinator bidang Pengentasan Kemiskinan (Menko Taskin), Hamzah Haz mengumumkan pengunduran dirinya pada bulan November. Muncul dugaan bahwa pengunduran dirinya diakibatkan karena Gus Dur menuduh beberapa anggota kabinet melakukan korupsi selama ia masih berada di Amerika Serikat. Beberapa menduga bahwa pengunduran diri Hamzah Haz diakibatkan karena ketidaksenangannya atas pendekatan Gus Dur dengan Israel.
Rencana Gus Dur adalah memberikan Aceh referendum. Namun referendum ini menentukan otonomi dan bukan kemerdekaan seperti referendum Timor Timur. Gus Dur juga ingin mengadopsi pendekatan yang lebih lembut terhadap Aceh dengan mengurangi jumlah personel militer di Negeri Serambi Makkah tersebut. Pada 30 Desember, Gus Dur mengunjungi Jayapura di provinsi Irian Jaya. Selama kunjungannya, Abdurrahman Wahid berhasil meyakinkan pemimpin-pemimpin Papua bahwa ia mendorong penggunaan nama Papua.
Pertengahan kepresidenan :
Pada Januari 2000, Gus Dur melakukan perjalanan ke luar negeri lainnya ke Swiss untuk menghadiri Forum Ekonomi Dunia dan mengunjungi Arab Saudi dalam perjalanan pulang menuju Indonesia. Pada Februari, Wahid melakukan perjalanan luar negeri ke Eropa lainnya dengan mengunjungi Inggris, Prancis, Belanda, Jerman, dan Italia. Dalam perjalanan pulang dari Eropa, Gus Dur juga mengunjungi India, Korea Selatan, Thailand, dan Brunei Darussalam. Pada bulan Maret, Gus Dur mengunjungi Timor Leste. Pada bulan April, Wahid mengunjungi Afrika Selatan dalam perjalanan menuju Kuba untuk menghadiri pertemuan G-77, sebelum kembali melewati Kota Meksiko dan Hong Kong. Pada bulan Juni, Wahid sekali lagi mengunjungi Amerika, Jepang, dan Prancis dengan Iran, Pakistan, dan Mesir sebagai tambahan baru ke dalam daftar negara-negara yang dikunjunginya.
Pencopotan para menteri :
Ketika Gus Dur berkelana ke Eropa pada bulan Februari, ia mulai meminta Jenderal Wiranto mengundurkan diri dari jabatan Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan. Gus Dur melihat Wiranto sebagai halangan terhadap rencana reformasi militer dan juga karena tuduhan pelanggaran HAM di Timor Timur terhadap Wiranto. Ketika Gus Dur kembali ke Jakarta, Wiranto berbicara dengannya dan berhasil meyakinkan Gus Dur agar tidak menggantikannya. Namun, Gus Dur kemudian mengubah pikirannya dan memintanya mundur. Pada April 2000, Gus Dur memecat Menteri Negara Perindustrian dan Perdagangan Jusuf Kalla dan Menteri Negara BUMN Laksamana Sukardi. Alasan yang diberikan Wahid adalah bahwa keduanya terlibat dalam kasus korupsi, meskipun Gus Dur tidak pernah memberikan bukti yang kuat. Hal ini memperburuk hubungan Gus Dur dengan Golkar dan PDI-P.
Negosiasi di Aceh :
Pada Maret 2000, pemerintahan Gus Dur mulai melakukan negosiasi dengan Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Dua bulan kemudian, pemerintah menandatangani nota kesepahaman dengan GAM hingga awal tahun 2001, saat kedua penandatangan akan melanggar persetujuan.
Gus Dur juga mengusulkan agar TAP MPRS No. XXIX/MPR/1966 yang melarang Marxisme-Leninisme dicabut.
Kebijakan rekonsiliasi :
Pada bulan Maret 2000, Abdurrahman Wahid menyarankan agar resolusi Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS) tahun 1966 tentang pelarangan Marxisme–Leninisme dicabut.
Abdurrahman Wahid juga bergerak untuk menjalin hubungan komersial dengan Israel, yang menimbulkan kemarahan banyak kelompok Muslim Indonesia. Hal ini merupakan salah satu isu yang muncul dalam pengarahan yang diberikan kepada delegasi parlemen Palestina pada tahun 2000 oleh Riddhi Awad, duta besar mereka untuk Indonesia. Isu lainnya adalah keanggotaan Gus Dur di Yayasan Shimon Peres. Baik Abdurrahman Wahid maupun menteri luar negerinya Alwi Shihab tersinggung atas penggambaran presiden Indonesia yang tidak akurat, dan Alwi menyerukan penggantian Awad. Namun, Nurcholish Madjid menegaskan bahwa netralitas pribadi Gus Dur terhadap Konflik Israel–Palestina harusnya tunduk pada perasaan "mayoritas" masyarakat Indonesia yang mendukung Palestina. Tercatat, Gus Dur mengunjungi Israel sebanyak enam kali. Dalam sebuah wawancara dengan media Israel dia berkata,
"Saya pikir ada persepsi yang salah bahwa Islam bertentangan dengan Israel. Hal ini disebabkan oleh propaganda Arab. Kita harus membedakan antara orang Arab dan Muslim. Beberapa orang di Indonesia mengklaim bahwa saya adalah antek Barat, tetapi fakta bahwa saya semakin populer seiring berjalannya waktu menghilangkan anggapan ini, dan menunjukkan bahwa ini hanyalah pandangan segelintir elit. Saya selalu mengatakan bahwa Tiongkok dan Uni Soviet menggunakan ateisme sebagai bagian dari konstitusi mereka, tetapi kami memiliki hubungan jangka panjang dengan kedua negara ini. Jadi Israel mempunyai reputasi sebagai bangsa yang menjunjung tinggi Tuhan dan agama—oleh karena itu tidak ada alasan kita harus melawan Israel."
Hubungan dengan TNI :
Dalam usaha mereformasi militer dan mengeluarkan militer dari ruang sosial-politik, Gus Dur menemukan sekutu, yaitu Agus Wirahadikusumah, yang diangkatnya menjadi Panglima Kostrad pada bulan Maret. Pada Juli 2000, Agus mulai membuka skandal yang melibatkan Dharma Putra, yayasan yang memiliki hubungan dengan Kostrad. Melalui Megawati, anggota TNI mulai menekan Wahid untuk mencopot jabatan Agus. Gus Dur mengikuti tekanan tersebut, tetapi berencana menunjuk Agus sebagai Kepala Staf Angkatan Darat. Petinggi TNI merespon dengan mengancam untuk pensiun, sehingga Gus Dur kembali harus menurut pada tekanan.
Hubungan Gus Dur dengan TNI makin memburuk ketika Laskar Jihad tiba di Maluku dan dipersenjatai oleh TNI. Laskar Jihad pergi ke Maluku untuk membantu orang Muslim dalam konflik dengan orang Kristen. Wahid meminta TNI menghentikan aksi Laskar Jihad, tetapi mereka tetap berhasil mencapai Maluku dan dipersenjatai oleh senjata TNI.
Buloggate dan Bruneigate :
Muncul pula dua skandal pada tahun 2000, yaitu skandal Buloggate dan Bruneigate. Pada bulan Mei, Badan Urusan Logistik (Bulog) melaporkan bahwa $4 juta menghilang dari persediaan kas Bulog. Tukang pijit pribadi Gus Dur mengklaim bahwa ia dikirim oleh Gus Dur ke Bulog untuk mengambil uang.Meskipun uang berhasil dikembalikan, musuh Gus Dur menuduhnya terlibat dalam skandal ini. Skandal ini disebut skandal Buloggate. Pada waktu yang sama, Gus Dur juga dituduh menyimpan uang $2 juta untuk dirinya sendiri. Uang itu merupakan sumbangan dari Sultan Brunei untuk membantu di Aceh. Namun, Gus Dur gagal mempertanggungjawabkan dana tersebut. Skandal ini disebut skandal Bruneigate. Setelah pemakzulannya, pada tahun 2003, Kejaksaan Agung kemudian menyatakan bahwa Gus Dur tidak terlibat dalam dua skandal ini.
Sidang Tahunan MPR 2000 dan perombakan kabinet :
Sidang Umum MPR 2000 hampir tiba, popularitas Gus Dur masih tinggi. Sekutu Wahid seperti Megawati, Akbar dan Amien masih mendukungnya meskipun terjadi berbagai skandal dan pencopotan menteri. Pada Sidang Umum MPR, pidato Gus Dur diterima oleh mayoritas anggota MPR. Selama pidato, Wahid menyadari kelemahannya sebagai pemimpin dan menyatakan ia akan mewakilkan sebagian tugas. Anggota MPR setuju dan mengusulkan agar Megawati menerima tugas tersebut. Pada awalnya MPR berencana menerapkan usulan ini sebagai TAP MPR, akan tetapi Keputusan Presiden dianggap sudah cukup. Pada 23 Agustus, Gus Dur mengumumkan kabinet baru meskipun Megawati ingin pengumuman ditunda. Megawati menunjukan ketidaksenangannya dengan tidak hadir pada pengumuman kabinet. Kabinet baru lebih kecil dan meliputi lebih banyak non-partisan. Tidak terdapat anggota Golkar dalam kabinet baru Gus Dur.
Kerusuhan regional :
Pada September, Gus Dur menyatakan darurat militer di Maluku karena kondisi di sana makin memburuk. Pada saat itu makin jelas bahwa Laskar Jihad didukung oleh anggota TNI dan juga kemungkinan didanai oleh Fuad Bawazier, menteri keuangan terakhir Soeharto. Pada bulan yang sama, bendera bintang kejora berkibar di Papua Barat. Gus Dur memperbolehkan bendera bintang kejora dikibarkan asalkan berada di bawah bendera Indonesia. Ia dikritik oleh Megawati dan Akbar karena hal ini. Pada 24 Desember 2000, terjadi serangan bom terhadap gereja-gereja di Jakarta dan delapan kota lainnya di seluruh Indonesia.
Oposisi politik :
Pada akhir tahun 2000, terdapat banyak elite politik yang kecewa dengan Abdurrahman Wahid. Orang yang paling menunjukan kekecewaannya adalah Amien. Ia menyatakan kecewa mendukung Gus Dur sebagai presiden tahun lalu. Amien juga berusaha mengumpulkan oposisi dengan meyakinkan Megawati dan Gus Dur untuk merenggangkan otot politik mereka. Megawati melindungi Gus Dur, sementara Akbar menunggu pemilihan umum legislatif tahun 2004. Pada akhir November, 151 anggota DPR menandatangani petisi yang meminta pemakzulan Gus Dur.
Maklumat dan kejatuhan :
Pada Januari 2001, Gus Dur mengumumkan bahwa Tahun Baru Imlek menjadi hari libur fakultatif. Tindakan ini diikuti dengan pencabutan larangan penggunaan huruf Tionghoa. Gus Dur lalu mengunjungi Afrika Utara dan juga Arab Saudi untuk naik haji. Abdurrahman Wahid melakukan kunjungan terakhirnya ke luar negeri sebagai presiden pada Juni 2001 ketika ia mengunjungi Australia.
Pada pertemuan dengan rektor-rektor universitas pada 27 Januari 2001, Gus Dur menyatakan kemungkinan Indonesia masuk ke dalam anarkisme. Ia lalu mengusulkan pembubaran DPR jika hal tersebut terjadi.[64] Pertemuan tersebut menambah gerakan anti-Wahid. Pada 1 Februari, DPR bertemu untuk mengeluarkan nota terhadap Gus Dur. Nota tersebut berisi diadakannya Sidang Khusus MPR di mana pemakzulan Presiden dapat dilakukan. Anggota PKB hanya bisa walk out dalam menanggapi hal ini. Nota ini juga menimbulkan protes di antara NU. Di Jawa Timur, anggota NU melakukan protes di sekitar kantor regional Golkar. Di Jakarta, oposisi Gus Dur turun menuduhnya mendorong protes tersebut. Gus Dur membantah dan pergi untuk berbicara dengan demonstran di Pasuruan. Namun, demonstran NU terus menunjukkan dukungan mereka kepada Gus Dur dan pada bulan April mengumumkan bahwa mereka siap untuk mempertahankan Gus Dur sebagai presiden hingga mati.
Pada bulan Maret, Gus Dur mencoba membalas oposisi dengan melawan disiden pada kabinetnya. Menteri Kehakiman dan Hak Asasi Manusia Yusril Ihza Mahendra dicopot dari kabinet karena ia mengumumkan permintaan agar Gus Dur mundur. Menteri Kehutanan Nurmahmudi Ismail juga dicopot dengan alasan berbeda visi dengan Presiden, berlawanan dalam pengambilan kebijakan, dan diangap tidak dapat mengendalikan Partai Keadilan, yang pada saat itu massanya ikut dalam aksi menuntut Gus Dur mundur. Dalam menanggapi hal ini, Megawati mulai menjaga jarak dan tidak hadir dalam inaugurasi penggantian menteri. Pada 30 April, DPR mengeluarkan nota kedua dan meminta diadakannya Sidang Istimewa MPR pada 1 Agustus.
Gus Dur mulai putus asa dan meminta Menteri Koordinator Politik, Sosial, dan Keamanan (Menko Polsoskam) Susilo Bambang Yudhoyono untuk menyatakan keadaan darurat. Yudhoyono menolak dan Gus Dur memberhentikannya dari jabatannya beserta empat menteri lainnya dalam reshuffle kabinet pada tanggal 1 Juni 2001. Akhirnya pada 20 Juli, Amien Rais menyatakan bahwa Sidang Istimewa MPR akan dimajukan pada 23 Juli. TNI menurunkan 40.000 tentara di Jakarta dan juga menurunkan tank yang menunjuk ke arah Istana Negara sebagai bentuk penunjukan kekuatan. Pada 23 Juli 2001 Pukul 01.05 WIB, Gus Dur mengumumkan pemberlakuan maklumat yang berisi (1) pembubaran MPR/DPR, (2) mengembalikan kedaulatan ke tangan rakyat dengan mempercepat pemilu (3) dalam waktu satu tahun, dan membekukan Partai Golkar sebagai bentuk perlawanan terhadap Sidang Istimewa MPR. Namun maklumat tersebut tidak memperoleh dukungan dan dalam Sidang Istimewa pada hari itu, MPR secara resmi memakzulkan Gus Dur dan menggantikannya dengan Megawati Soekarnoputri. Abdurrahman Wahid terus bersikeras bahwa ia adalah presiden dan tetap tinggal di Istana Negara selama beberapa hari, tetapi akhirnya pada tanggal 25 Juli ia pergi ke Amerika Serikat karena masalah kesehatan.
[27/7 19.21] rudysugengp@gmail.com: 6. Buatkan Gambar dan Infografis tentang
Pasca Kepresidenan
KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur)
Perpecahan pada tubuh PKB :
Sebelum Sidang Khusus MPR, anggota PKB setuju untuk tidak hadir sebagai lambang solidaritas. Namun, Matori Abdul Djalil, ketua PKB, bersikeras hadir karena ia adalah Wakil Ketua MPR. Dengan posisinya sebagai Ketua Dewan Syuro, Gus Dur menjatuhkan posisi Matori sebagai Ketua PKB pada tanggal 15 Agustus 2001 dan melarangnya ikut serta dalam aktivitas partai sebelum akhirnya mencabut keanggotaan Matori pada bulan November.
Pada tanggal 14 Januari 2002, Matori mengadakan Munas Khusus yang dihadiri oleh pendukungnya di PKB. Munas tersebut memilihnya kembali sebagai ketua PKB. Gus Dur membalasnya dengan mengadakan Munasnya sendiri pada tanggal 17 Januari, sehari setelah Munas Matori selesai Musyawarah Nasional memilih kembali Gus Dur sebagai Ketua Dewan Penasihat dan Alwi Shihab sebagai Ketua PKB. PKB Gus Dur lebih dikenal sebagai PKB Kuningan sementara PKB Matori dikenal sebagai PKB Batutulis.
Pemilihan umum 2004 :
Pada April 2004, PKB berpartisipasi dalam Pemilihan Umum Anggota DPR, DPD, dan DPRD Indonesia 2004, memperoleh 10.6% suara. Untuk Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden Indonesia 2004, di mana rakyat akan memilih secara langsung, PKB memilih Wahid sebagai calon presiden.
Namun, Gus Dur gagal
melewati pemeriksaan medis sehingga Komisi Pemilihan Umum menolak memasukkannya sebagai calon. Gus Dur lalu mendukung Solahuddin yang merupakan pasangan dari Wiranto.
Pada 5 Juli 2004, Wiranto dan Solahuddin kalah dalam pemilu.
Untuk pemilihan kedua antara pasangan Yudhoyono-Kalla dengan Megawati-Muzadi, Gus Dur menyatakan golput.
Oposisi terhadap pemerintahan SBY
Pada Agustus 2005, Gus Dur menjadi salah satu pemimpin koalisi politik yang bernama Koalisi Nusantara Bangkit Bersatu. Bersama dengan Try Sutrisno, Wiranto, Akbar Tanjung dan Megawati, koalisi ini mengkritik kebijakan pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono, terutama mengenai pencabutan subsidi BBM yang akan menyebabkan naiknya harga BBM.
[27/7 19.24] rudysugengp@gmail.com: 7. Buatkan Gambar dan Infografis tentang
Kehidupan Pribadi dan Kesehatan
KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur)
Keluarga :
Gus Dur adalah putra pertama dari enam bersaudara. Gus Dur lahir dalam keluarga yang sangat terhormat dalam komunitas Muslim Jawa Timur. Kakek dari ayahnya adalah Hasyim Asyari, pendiri organisasi masyarakat Nahdlatul Ulama (NU) dan salah satu tokoh yang diakui sebagai Pahlawan nasional, sementara kakek dari pihak ibu, Bisri Syansuri, adalah pengajar pesantren pertama yang mengajarkan kelas pada perempuan. Ayah Gus Dur, Wahid Hasyim, terlibat dalam Gerakan Nasionalis dan menjadi Menteri Agama tahun 1949. Ibunya, Salihah, adalah putri pendiri Pondok Pesantren Denanyar Jombang. Saudaranya adalah Salahuddin Wahid dan Lily Wahid. Ia menikah dengan Sinta Nuriyah dan dikaruniai empat putri: Alisa, Yenny, Anita, dan Inayah.
Gus Dur secara terbuka pernah menyatakan bahwa ia memiliki darah Tionghoa.
Gus Dur juga mengaku bahwa ia adalah keturunan dari Tan Kim Han yang menikah dengan Tan A Lok, saudara kandung Raden Patah (Tan Eng Hwa), pendiri Kesultanan Demak.
Tan A Lok dan Tan Eng Hwa ini merupakan anak dari Putri Campa, putri Tiongkok yang merupakan selir Brawijaya V.
Tan Kim Han sendiri kemudian berdasarkan penelitian seorang peneliti Prancis, Louis-Charles Damais diidentifikasikan sebagai Syekh Abdul Qodir al-Shini yang makamnya ditemukan di Trowulan.
Kesehatan :
Gus Dur memiliki masalah penglihatan selama masa kepresidenannya,[ meski banyak yang menyatakan bahwa ia masih mampu melihat tanpa bantuan. Meskipun demikian, saat dilantik sebagai presiden, ia dibantu oleh seorang perwira TNI yang berperan sebagai asisten dengan membacakan kembali teks sumpah presiden saat pelantikannya. Penglihatannya mulai memburuk karena glaukoma sejak tahun 1985, hal ini diperparah dengan sebuah kecelakaan di mana Gus Dur tertabrak mobil yang mengakibatkan ia kehilangan retinanya. Alhasil, ia dibantu oleh beberapa asisten tepercaya yang berperan sebagai "matanya".
Dia juga diduga mengidap gangguan tidur karena dia kadang-kadang ketahuan tertidur selama rapat kabinet penting. Meskipun begitu, ketika ia bangun, ia dapat dengan mudah menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan kepadanya.
[27/7 20.44] rudysugengp@gmail.com: 8. Buatkan Gambar dan Infografis tentang
Akhir Hayat, Warisan, dan Penghargaan
KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur)
Akhir Hayat :
Pada akhir Desember 2009, meskipun kesehatannya buruk dan baru-baru ini mengunjungi rumah sakit, Gus Dur meminta untuk dibawa mengunjungi Rembang (terletak di Jawa Tengah) dan Jombang.
Selama perjalanan kesehatannya memburuk dan Gus Dur dirawat di rumah sakit di Jombang pada tanggal 24 Desember 2009.
Ia dipindahkan ke Rumah Sakit Dr. Cipto Mangunkusumo di Jakarta Pusat keesokan harinya untuk menjalani cuci darah.
Ia juga menjalani operasi gigi pada 28 Desember setelah mengeluh sakit gigi.
Gus Dur meninggal dunia pada tanggal 30 Desember sekitar pukul 18.45 waktu setempat (UTC+7) karena komplikasi gangguan ginjal, penyakit jantung, dan diabetes.
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengunjungi Gus Dur sesaat sebelum kematiannya. Pemakaman kenegaraan diadakan untuk Gus Dur pada tanggal 31 Desember, dan bendera dikibarkan setengah tiang selama tujuh hari.
Ia dimakamkan di samping kakek dan neneknya serta orang tuanya di tempat kelahirannya, Jombang, Jawa Timur.
Warisan :
Ketika Gus Dur pertama kali berkuasa di Indonesia, terdapat kekhawatiran mengenai arah kebijakan luar negeri Indonesia. Namun kenyataannya, kebijakan luar negeri Gus Dur lebih "ortodoks" dibandingkan retorikanya sebelumnya. Indonesia berhasil mendapatkan jaminan dari dunia internasional akan keutuhan wilayahnya. ASEAN juga tetap menjadi pusat pandangan kebijakan luar negeri Jakarta. Persoalan Timor Timur masih menjadi isu krusial antara Indonesia dan sejumlah negara Barat. Amerika Serikat, khususnya, enggan mendorong Indonesia terlalu jauh karena diyakini bahwa kepresidenan Gus Dur adalah alternatif yang paling tidak diinginkan dalam kebijakan dalam dan luar negeri.
Selama pemerintahannya, Gus Dur dikenal pemikirannya yang visioner dan kebijakannya menjadikan dirinya sebagai salah satu tokoh yang kontroversial pasa masa itu. Pengaruhnya terhadap Reformasi Indonesia mencakup pembebasan pers yang lebih besar, hal ini ditandai dengan pembubaran Kementerian Penerangan pada 1999.
Ia cenderung membela hak-hak minoritas dan selalu mengambil keputusan yang dinilai tidak menentu. Pada masa pemerintahannya, orang Tionghoa diperbolehkan merayakan Imlek dan dianggap membebaskan orang Tionghoa dari penindasan yang telah mereka rasakan sejak lama. Karena itulah, ia juga dinobatkan sebagai "Bapak Tionghoa" oleh beberapa tokoh Tionghoa.
Sebagai seorang ulama, ia dihormati tidak hanya oleh pengikutnya, tetapi juga dari penganut agama lain bahkan ateis.
Foto dirinya melambaikan tangan kepada para pendukungnya di beranda Istana Merdeka pasca dimakzulkan adalah salah satu foto paling fenomenal sepanjang sejarah Indonesia.
Karena pemikiran dan pemerintahannya yang mendukung hak-hak minoritas, ia diberikan gelar “Bapak Pluralisme”.
Ucapannya yang terkenal, "Gitu aja kok repot", telah menjadi ikon dalam acara bincang-bincang politik di Indonesia. Ucapan tersebut menunjukkan betapa ia bisa dengan mudah menyelesaikan masalah meski keputusannya sempat memicu kemarahan orang lain.
Pada Agustus 2021, Menko Polhukam, Mahfud MD, memberikan pernyataan terkait pemakzulan Gus Dur. Dalam pernyataan Mahfud yang disampaikannya di saluran YouTube Nahdlatul Ulama, disebutkan bahwa pemakzulan Wahid adalah inkonstitusional dan merupakan tindakan melawan hukum. Mahfud MD menyatakan bahwa pemakzulan Gus Dur pada tahun 2001 tidak sesuai dengan Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat No.III Tahun 1978 tentang Kedudukan dan Tata Kerja Badan Tertinggi Negara. Lembaga dengan/atau Lembaga Tinggi Negeri.
Mahfud juga mengutarakan, pemakzulan Gus Dur melalui Sidang Khusus MPR mempunyai perkara yang berbeda antara nota I, II, dan III.
Pada tanggal 25 September 2024, MPR secara resmi mencabut Ketetapan MPR No. II/MPR/2001 yang digunakan sebagai instrumen untuk mencabut jabatan presiden Abdurrahman Wahid dan sekaligus memulihkan nama baiknya secara anumerta.
Pada hari yang sama, MPR juga membenarkan Soeharto dengan mencabut sebagian Ketetapan MPR No. XI/MPR/1998. Pencabutan ini juga membuka jalan bagi Soeharto untuk memperoleh gelar Pahlawan Nasional.
Penghargaan :
Selain penghargaan di dalam negeri, juga mendapatkan penghargaan dari luar negeri.
Penghargaan luar negeri :
Pada tahun 1993, Gus Dur menerima Ramon Magsaysay Award, sebuah penghargaan yang cukup prestisius untuk kategori Community Leadership.
Ia mendapat penghargaan dari Simon Wiesenthal Center, sebuah yayasan yang bergerak di bidang penegakan Hak Asasi Manusia. Wahid mendapat penghargaan tersebut karena menurut mereka ia merupakan salah satu tokoh yang peduli terhadap persoalan HAM.
Gus Dur kemudian juga memperoleh penghargaan dari Mebal Valor yang berkantor di Los Angeles karena Wahid dinilai memiliki keberanian membela kaum minoritas, salah satunya dalam membela umat beragama Konghucu di Indonesia dalam memperoleh hak-haknya yang sempat terpasung selama era Orde Baru. Wahid juga memperoleh penghargaan dari Universitas Temple. Namanya diabadikan sebagai nama kelompok studi Abdurrahman Wahid Chair of Islamic Study. Pada 21 Juli 2010, meskipun telah meninggal, ia memperoleh Lifetime Achievement Award dalam Liputan 6 Awards 2010. Penghargaan ini diserahkan langsung kepada Sinta Nuriyah, istri Gus Dur.
Gelar Pahlawan Nasional :
Pada 10 November 2025, Presiden Prabowo Subianto memberikan gelar Pahlawan Nasional kepada Abdurrahman Wahid, melalui Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 116/TK/Tahun 2025 yang ditetapkan pada 10 November 2025.
Tasrif Award-AJI :
Pada 11 Agustus 2006, Gadis Arivia dan Gus Dur mendapatkan Tasrif Award-AJI sebagai Pejuang Kebebasan Pers 2006.
Penghargaan ini diberikan oleh Aliansi Jurnalis Independen (AJI). Gus Dur dan Gadis dinilai memiliki semangat, visi, dan komitmen dalam memperjuangkan kebebasan berekpresi, persamaan hak, semangat keberagaman, dan demokrasi di Indonesia. Gus Dur dan Gadis dipilih oleh dewan juri yang terdiri dari budayawan Butet Kertaradjasa, pemimpin redaksi The Jakarta Post Endy Bayuni, dan Ketua Komisi Nasional Perempuan Chandra Kirana. Mereka berhasil menyisihkan 23 kandidat lain. Penghargaan Tasrif Award bagi Gus Dur menuai protes dari para wartawan yang hadir dalam acara jumpa pers itu. Seorang wartawan mengatakan bahwa hanya karena upaya Gus Dur menentang RUU Anti Pornoaksi dan Pornografi, ia menerima penghargaan tersebut. Sementara wartawan lain seperti Ati Nurbaiti, mantan Ketua Umum AJI Indonesia dan wartawan The Jakarta Post membantah dan mempertanyakan hubungan perjuangan Wahid menentang RUU APP dengan kebebasan pers.
Doktor kehormatan
Gus Dur juga banyak memperoleh gelar Doktor Kehormatan (Doktor Honoris Causa) dari berbagai lembaga pendidikan:
* Doktor Kehormatan bidang Filsafat Hukum dari Universitas Thammasat, Bangkok, Thailand (2000)
* Doktor Kehormatan dari Asian Institute of Technology, Bangkok, Thailand (2000)
* Doktor Kehormatan bidang Ilmu Hukum dan Politik, Ilmu Ekonomi dan Manajemen, dan Ilmu Humaniora dari Pantheon Universitas Sorbonne, Paris, Prancis (2000)
* Doktor Kehormatan dari Universitas Chulalongkorn, Bangkok, Thailand (2000)
* Doktor Kehormatan dari Universitas Twente, Belanda (2000)
* Doktor Kehormatan dari Universitas Jawaharlal Nehru, India (2000)
* Doktor Kehormatan dari Universitas Soka Gakkai, Tokyo, Jepang (2002)
* Doktor Kehormatan bidang Kemanusiaan dari Universitas Netanya, Israel (2003)
* Doktor Kehormatan bidang Hukum dari Universitas Konkuk, Seoul, Korea Selatan (2003)
[27/7 20.56] rudysugengp@gmail.com: 1. Buatkan Gambar dan Infografis tentang
Informasi Pribadi dan Kehidupan Awal
Marsinah
Informasi Pribadi
Marsinah
Lahir :
10 April 1969
Nglundo, Nganjuk, Jawa Timur, Indonesia
Menghilang :
5 Mei 1993 (pada umur 24 tahun)
Tanggulangin, Sidoarjo, Jawa Timur, Indonesia
Status :
Hilang dari 5 – 8 Mei 1993 (3 hari)
Sebab meninggal :
Pembunuhan
Penemuan jasad :
8 Mei 1993
Wilangan, Nganjuk, Jawa Timur, Indonesia
Pendidikan :
SMA Muhammadiyah 1 Nganjuk
Pekerjaan :
Pekerja pabrik - serikat pekerja
Penghargaan :
Penghargaan Yap Thiam Hien (1993)
Pahlawan Pekerja Nasional oleh Muhammadiyah (1993)
Pahlawan Nasional Indonesia (2025)
Kehidupan awal :
Marsinah merupakan anak kedua dari tiga bersaudara, dari pasangan Sumini dan Mastin. Marsinah dibesarkan di bawah asuhan neneknya, Puirah, dan bibinya, Sini, di Nglundo, Jawa Timur. Ia bersekolah di Sekolah Dasar Negeri Karangasem 189, kemudian melanjutkan ke Sekolah Menengah Pertama Negeri 5 Nganjuk. Masa kecilnya diwarnai dengan kegiatan berdagang, menjual makanan ringan untuk membantu menambah penghasilan nenek dan bibinya. Tahun-tahun terakhir sekolahnya dihabiskan di pondok pesantren Muhammadiyah, tetapi pendidikannya terhenti karena kekurangan biaya.
[27/7 21.03] rudysugengp@gmail.com: 2. Buatkan Gambar dan Infografis tentang
Buruh Pabrik dan Penghilangan Nyawa
Marsinah
Buruh pabrik :
Tidak berhasil menemukan pekerjaan di Nglundo, Marsinah kemudian mengalihkan perhatiannya ke kota-kota besar, mengirimkan lamaran kerja ke Surabaya, Mojokerto, dan Gresik. Ia diterima bekerja di pabrik sepatu Bata di Surabaya pada tahun 1989, kemudian pindah setahun setelahnya ke pabrik jam tangan Catur Putra Surya (sebelumnya bernama Empat Putra Surya) di Sidoarjo. Setelah dilakukan pemindahan ke pabrik mereka di Porong, Marsinah akhirnya dikenal sebagai juru bicara bagi rekan-rekan sesama pekerjanya.
Kematian
Latar belakang :
Marsinah adalah salah seorang karyawati PT Catur Putra Surya yang aktif dalam aksi unjuk rasa buruh. Keterlibatan Marsinah dalam aksi unjuk rasa tersebut antara lain terlibat dalam rapat yang membahas rencana unjuk rasa pada tanggal 2 Mei 1993 di Tanggulangin, Sidoarjo.
Awal tahun 1993, Gubernur KDH TK I Jawa Timur Soelarso mengeluarkan Surat Edaran No. 50/Th. 1992 yang berisi imbauan kepada pengusaha agar menaikkan kesejahteraan karyawannya dengan memberikan kenaikan gaji sebesar 20% gaji pokok. Imbauan tersebut tentunya disambut dengan senang hati oleh karyawan, Namun, di sisi pengusaha berarti tambahnya beban pengeluaran perusahaan. Pada pertengahan April 1993, PT Catur Putra Surya (PT CPS) Porong membahas surat edaran tersebut dengan resah. Akhirnya, karyawan PT CPS memutuskan untuk unjuk rasa tanggal 3 dan 4 Mei 1993 menuntut kenaikan upah dari Rp1.700 per hari menjadi Rp2.250 per hari dan unit lokal dari serikat buruh yang dikendalikan negara, SPSI, dibubarkan..
Di bawah rezim Orde Baru yang militeristik, Presiden Soeharto membangun landasan hukum untuk mengawasi serta mengendalikan aksi protes buruh. Hal ini antara lain diwujudkan melalui Surat Keputusan Bakorstanas No. 02/Satnas/XII/1990 dan Keputusan Menteri Tenaga Kerja No. 342/Men/1986. Melalui regulasi tersebut, jika terjadi perselisihan antara buruh dan pengusaha, aparat militer diberi kewenangan untuk bertindak sebagai mediator atau pihak penengah.
Garis waktu :
Pada 3 Mei 1993, para buruh mencegah teman-temannya bekerja. Komando Rayon Militer (Koramil) setempat turun tangan mencegah aksi buruh. Di hari itu, koordinator aksi mogok, Yudo Prakoso, ditangkap dan dibawa ke Kantor Koramil 0816/04 Porong. Ia diinterogasi dan dituduh melakukan protes dengan cara yang mirip aksi PKI. Saat Yudo Prakoso ditahan, Marsinah kemudian yang mengendali kepimpinan protes buruh.
Pada masa pemogokan, Marsinah diketahui pergi ke Departemen Tenaga Kerja untuk memperoleh salinan instruksi gubernur mengenai kenaikan upah minimum, yang sebelumnya telah diterbitkan sebagai dasar kebijakan kenaikan gaji buruh. Dokumen tersebut hendak disampaikan kepada manajemen PT Catur Putra Surya untuk mendukung posisi perundingan para karyawan.
Kemudian pada 4 Mei 1993, para buruh mogok total mereka mengajukan 12 tuntutan, isi dari tuntutan tersebut sebagai berikut:
1. Kenaikan upah sesuai kebutuhan buruh
2. Asuransi Tenaga Kerja yang ditanggung perusahaan
3. Penghitungan lembur sesuai Kepmen
4. Jaminan kesehatan karyawan
5. Kenaikan uang makan dan transport
6. THR satu bulan gaji sesuai dengan imbauan pemerintah
7. Penyesuaian cuti haid dengan upah minimum
8. Tunjangan cuti hamil yang tepat waktu
9. Upah karyawan baru disamakan dengan yang sudah setahun bekerja
10. Peniadaan pencabutan hak karyawan yang sudah diberikan
11. Pengusaha dilarang memutasi, mengintimidasi, dan mem-PHK karyawan yang menuntut haknya
12. Bubarkan SPSI
PT CPS lalu bernegosiasi dengan 15 orang perwakilan buruh, termasuk Marsinah, Departemen Tenaga Kerja, petugas Kecamatan Siring, serta perwakilan polisi dan Koramil. Akhirnya, semua tuntutan dikabulkan, kecuali membubarkan SPSI di tingkat pabrik karena dianggap menjadi kewenangan internal SPSI.
Di hari yang sama, Yudo Prakoso diminta datang ke kantor Kodim 0816 Sidoarjo untuk mencatat nama-nama buruh yang terlibat dalam perencanaan 12 tuntutan dan aksi mogok kerja.
Sampai dengan tanggal 5 Mei 1993, Marsinah masih aktif bersama rekan-rekannya dalam kegiatan unjuk rasa dan perundingan-perundingan. Marsinah menjadi salah seorang dari 15 orang perwakilan karyawan yang melakukan perundingan dengan pihak perusahaan. Siang hari tanggal 5 Mei, tanpa Marsinah, 13 buruh yang dianggap menghasut unjuk rasa digiring ke Komando Distrik Militer 0816/Sidoarjo. Di tempat itu, Yudo Prakoso dan 12 buruh lainnya dipaksa mengundurkan diri dari PT Catur Putra Surya oleh aparat Kodim Sidoarjo. Seorang Perwira Seksi Intel Kodim, Kamadi, bersama Kapten Sugeng, menuduh mereka menggelar rapat ilegal untuk merencanakan 12 tuntutan dan aksi mogok kerja, serta menyebarkan provokasi agar karyawan lain tidak masuk kerja. Surat pengunduran diri telah disiapkan oleh pihak Kodim, dan di bawah tekanan, ke-13 buruh itu dipaksa menandatanganinya dengan dalih bahwa tenaga mereka tidak lagi dibutuhkan perusahaan.
Pemaksaan pengunduran diri inilah yang membuat Marsinah marah besar. Ia mendatangi Kodim Sidoarjo untuk menanyakan keberadaan rekan-rekannya dan meminta salinan surat pengunduran diri serta dokumen kesepakatan perundingan dengan manajemen PT CPS, yang berisi larangan mutasi, intimidasi, atau pemutusan hubungan kerja setelah aksi mogok. Namun, setelah kunjungan itu, sekitar pukul 10 malam tanggal 5 Mei 1993, Marsinah lenyap. Ia diperkosa dan dibunuh.
Mulai tanggal 6 hingga 8, keberadaan Marsinah tidak diketahui oleh rekan-rekannya sampai akhirnya ditemukan telah menjadi mayat pada tanggal 8 Mei 1993 di daerah Jegong, Wilangan, Nganjuk, sekitar 100 kilometer dari Sidoarjo, dengan kondisi tubuh penuh siksaan.
[27/7 21.08] rudysugengp@gmail.com: 3. Buatkan Gambar dan Infografis tentang
Proses Penyelidikan Kematian
Marsinah
Penyelidikan forensik :
Setelah jasad Marsinah ditemukan, tubuhnya menjalani dua kali otopsi. Hasil visum kedua yang dilakukan tim dari Dr. Soetomo mengungkap kerusakan parah pada panggul dan alat kelaminnya. Tulang panggul bagian depan hancur, tulang kemaluan kiri patah berkeping-keping, tulang kemaluan kanan patah, tulang usus kanan retak hingga terpisah, dan tulang selangkangan kanan patah seluruhnya. Labia minora kiri robek dan terdapat serpihan tulang. Di bagian dalam alat kelamin terdapat luka sepanjang tiga sentimeter, disertai pendarahan di rongga perut.
Abdul Mun'im Idries, ahli forensik, menyatakan bahwa kematian Marsinah bukan disebabkan oleh hantaman balok tumpul, melainkan tembakan senjata api yang mengenai rongga kemaluan, sehingga menghancurkan tulang di sekitarnya. Menurutnya, pelaku kemungkinan adalah seseorang yang memiliki akses terhadap senjata api di masa Orde Baru.
Penyelidikan hukum :
Tanggal 30 September 1993, telah dibentuk Tim Terpadu Bakorstanasda Jatim untuk melakukan penyelidikan dan penyidikan kasus pembunuhan Marsinah. Sebagai penanggung jawab Tim Terpadu adalah Kapolda Jatim dengan Dan Satgas Kadit Reserse Polda Jatim dan beranggotakan penyidik/penyelidik Polda Jatim serta Den Intel Brawijaya.
Delapan petinggi PT CPS ditangkap secara diam-diam dan tanpa prosedur resmi, termasuk Mutiari selaku Kepala Personalia PT CPS dan satu-satunya perempuan yang ditangkap, mengalami siksaan fisik maupun mental selama diinterogasi di sebuah tempat yang kemudian diketahui sebagai Kodam V Brawijaya. Setiap orang yang diinterogasi dipaksa mengaku telah membuat skenario dan menggelar rapat untuk membunuh Marsinah. Pemilik PT CPS, Yudi Susanto, juga termasuk salah satu yang ditangkap.
Baru 18 hari kemudian, akhirnya diketahui mereka sudah mendekam di tahanan Polda Jatim dengan tuduhan terlibat pembunuhan Marsinah. Pengacara Yudi Susanto, Trimoelja D. Soerjadi, mengungkap adanya rekayasa oknum aparat kodim untuk mencari kambing hitam pembunuh Marsinah.
Secara resmi, Tim Terpadu telah menangkap dan memeriksa 10 orang yang diduga terlibat pembunuhan terhadap Marsinah. Salah seorang dari 10 orang yang diduga terlibat pembunuhan tersebut adalah Anggota TNI.
Hasil penyidikan polisi ketika menyebutkan, Suprapto (pekerja di bagian kontrol CPS) menjemput Marsinah dengan motornya di dekat rumah kos Marsinah. Dia dibawa ke pabrik, lalu dibawa lagi dengan Suzuki Carry putih ke rumah Yudi Susanto di Jalan Puspita, Surabaya. Setelah tiga hari Marsinah disekap, Suwono (satpam CPS) mengeksekusinya.
Di pengadilan, Yudi Susanto divonis 17 tahun penjara. Namun melalui banding di Pengadilan Tinggi Surabaya, Yudi Susanto dinyatakan bebas.[9] Sedangkan sejumlah staf PT CPS yang lain divonis antara empat hingga 12 tahun penjara. Tidak seperti Yudi Susanto, seluruh vonis terhadap staf PT CPS dikuatkan oleh Pengadilan Tinggi Surabaya. Mereka mengajukan permohonan kasasi ke Mahkamah Agung Republik Indonesia. Hasil kasasi tersebut membebaskan para terdakwa dari segala dakwaan (bebas murni). Putusan Mahkamah Agung RI tersebut, setidaknya telah menimbulkan ketidakpuasan sejumlah pihak sehingga muncul tuduhan bahwa penyelidikan kasus ini adalah "direkayasa".
Pemilik dan petugas keamanan PT CPS mengaku dipaksa mengaku di bawah siksaan dan penganiayaan oleh aparat militer. Kesembilan orang tersebut kemudian dibebaskan oleh Mahkamah Agung karena tidak terbukti bersalah membunuh Marsinah. Amnesty Internasional menilai persidangan tersebut justru dimaksudkan untuk menutupi tanggung jawab militer atas pembunuhan Marsinah.
Tiga puluh tahun berlalu, pelaku pembunuhan Marsinah hingga kini belum pernah diungkap oleh pengadilan.
[27/7 21.11] rudysugengp@gmail.com: 4. Buatkan Gambar dan Infografis tentang
Kampanye untuk Pengadilan
Marsinah
Polisi Indonesia berupaya menutupi kasus pembunuhan Marsinah. Sejumlah individu diadili atas pembunuhannya, tetapi kemudian dibebaskan setelah diketahui bahwa pengakuan mereka diperoleh melalui paksaan. Meskipun militer terlibat dalam pengamanan pabrik dan terdapat bukti yang menunjukkan keterlibatan militer dalam pembunuhannya, para pelaku tidak pernah dibawa ke pengadilan.
Kelompok perempuan dan kelompok hak asasi manusia memberikan tekanan, dan berbagai kalangan masyarakat Indonesia memperingati kemartiran Marsinah. Kampanye yang dilakukan oleh organisasi perempuan Indonesia, organisasi buruh, serta kelompok hak asasi manusia menampilkan sosok Marsinah. Media Indonesia lambat melaporkan insiden di pabrik jam tangan tersebut. Dua minggu berlalu sebelum Surabaya Post memberitakan insiden itu. Sebuah tim pencari fakta independen dari pemerintah dibentuk oleh Forum Solidaritas Buruh (FORSOL) dua minggu setelah penemuan jenazahnya. Dalam waktu sebulan, dibentuk Komite Solidaritas Untuk Marsinah (KSUM), sebuah komite solidaritas yang dibentuk oleh 20 organisasi nonpemerintah. KSUM adalah komite yang didirikan oleh 10 LSM. KSUM merupakan lembaga yang ditujukan khusus untuk mengadvokasi dan investigasi kasus pembunuhan aktivis buruh Marsinah oleh Aparat Militer. KSUM melakukan berbagai aktivitas untuk mendorong perubahan dan menghentikan intervensi militer dalam penyelesaian perselisihan perburuhan. Munir menjadi salah seorang pengacara buruh PT CPS melawan Kodam V/Brawijaya, Depnaker Sidoarjo dan PT CPS Porong atas pemutus hubungan kerja sepihak yang dilakukan oleh aparat kodim sidoarjo terhadap 22 buruh PT. CPS Porong yang dianggap sebagai dalang unjuk rasa. Pembunuhan Marsinah juga dimanfaatkan oleh kelompok hak asasi manusia untuk menekan Amerika Serikat agar mencegah pembaruan status negara dengan perlakuan paling disukai bagi Indonesia.
Pada tahun 2002, Presiden Indonesia Megawati Sukarnoputri menyetujui dilakukannya penyelidikan oleh Komisi Nasional Hak Asasi Manusia.
[27/7 21.26] rudysugengp@gmail.com: 5. Buatkan Gambar dan Infografis tentang
Warisan, Dampak Perjuangan, dan Pahlawan Nasional
Marsinah
Upaya untuk menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada Marsinah telah dilakukan oleh berbagai kalangan masyarakat sipil, terutama organisasi buruh dan lembaga hak asasi manusia. Marsinah dianggap sebagai simbol perjuangan buruh perempuan dan korban pelanggaran hak asasi manusia pada masa Orde Baru. Setiap perayaan Hari Buruh Internasional yang diperingati tanggal 1 Mei, para buruh, khususnya di Jawa Timur, selalu mengenang perjuangan Marsinah. Para buruh pun telah mengusulkan kepada pemerintah agar Marsinah diberi gelar Pahlawan Nasional, tetapi belum ada tindak lanjut hingga kini.
Pada Hari Buruh 2025, Presiden Prabowo Subianto menyatakan dukungan terhadap usulan pemberian gelar Pahlawan Nasional kepada Marsinah. Pernyataan tersebut disambut baik oleh Kementerian Sosial, yang menyatakan siap memfasilitasi proses administratif sesuai prosedur pengusulan gelar Pahlawan Nasional.
Pemerintah Kabupaten Nganjuk, tempat kelahiran Marsinah, membentuk tim khusus untuk mengkaji dan menyiapkan dokumen pendukung pengusulan gelar tersebut.
Usulan tersebut juga didukung oleh berbagai organisasi buruh nasional, termasuk Partai Buruh, yang menilai Marsinah layak mendapat pengakuan negara atas perjuangannya melawan ketidakadilan terhadap pekerja.
Menteri Sosial Saifullah Yusuf menyatakan bahwa pengusulan gelar Marsinah masih dalam tahap awal di tingkat daerah dan kemungkinan besar belum akan diputuskan pada tahun 2025.
Wakil Menteri Sosial Agus Jabo Priyono berziarah ke makam Marsinah di Nganjuk, Jawa Timur, pada 10 Oktober 2025, seiring dengan meningkatnya dorongan masyarakat agar Marsinah diangkat sebagai pahlawan nasional. Agus Jabo menyampaikan bahwa Presiden Prabowo Subianto telah menyetujui dan memerintahkan Kementerian Sosial untuk segera memproses pengusulan tersebut, mengingat jasa besar Marsinah dalam memperjuangkan hak-hak buruh dan kebebasan berekspresi.
Ziarah tersebut dilakukan bersama Wakil Bupati Nganjuk, Trihandy Cahyo Saputro, setelah digelarnya seminar dan uji publik bertajuk "Marsinah: Perjuangan, Kemanusiaan, dan Pengakuan Negara" oleh Kemensos dan Pemda Nganjuk. Kegiatan ini menjadi bagian dari tahapan resmi pengusulan Marsinah sebagai pahlawan nasional yang kini dimulai dari tingkat daerah.
Penobatan :
Pada Senin, 10 November 2025, bertepatan dengan Hari Pahlawan, Marsinah ditetapkan sebagai pahlawan nasional di bidang perjuangan sosial dan kemanusiaan. Marsini (kakak Marsinah) dan Wijiati (adik Marsinah) diundang ke Istana Negara untuk menghadiri upacara penganugerahan gelar pahlawan nasional. "Saya mengucapkan terima kasih kepada Bapak Presiden Prabowo. Terima kasih banget, terima kasih sebesar-besarnya untuk anugerah yang diberikan untuk adik saya, Marsinah," kata Marsini. Menteri Sosial Saifullah Yusuf menerangkan, Pemerintah memberikan tunjangan kehormatan sebesar Rp 57 juta per tahun bagi keluarga penerima gelar pahlawan nasional sebagai bentuk penghormatan negara kepada para pejuang bangsa.
Pemerintah Provinsi Jawa Timur menggelar syukuran atas penganugerahan gelar pahlawan Nasional untuk Marsinah di Gedung Negara Grahadi, Selasa, 11 November 2025.
Acara yang dipimpin Gubernur Khofifah Indar Parawansa itu dihadiri oleh kakak Marsinah, Marsini. Dalam sambutannya, Khofifah mengenang perjuangan panjang untuk mengakui Marsinah sebagai pahlawan. Ia menuturkan, proses pengusulan berjalan cepat berkat doa masyarakat dan kerja keras mencari data primer peristiwa Mei 1993 itu. "Data primer itu menjadi penguat dari proses pencalonan Pahlawan Nasional seorang ibu Marsinah," ujar Khofifah.
"Alhamdulillah, apa yang kami usulkan membawa berkah dan barokah. Kami senang dan bersyukur, akhirnya Marsinah diakui sebagai pahlawan nasional," ujar Bupati Nganjuk, Marhaen Djumadi, saat menghadiri Tasyakuran Pemberian Gelar Pahlawan Nasional kepada Marsinah di Gedung Negara Grahadi, Surabaya. Sebelumnya, Pemkab Nganjuk bersama keluarga Marsinah mengusulkan nama Marsinah sebagai pahlawan nasional. Setelah dibahas oleh Tim Peneliti dan Pengkaji Gelar Daerah (TP2GD) Kab Nganjuk, usulan itu diteruskan kepada Pemprov Jatim. Lalu, Pemprov Jatim menyampaikan usulan tersebut kepada Kementerian Sosial. Usai dikaji Kemensos, usulan itu diajukan kepada Dewan Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan (GTK), kemudian ditetapkan oleh Presiden. Marhaen juga menyampaikan terima kasih kepada seluruh tim yang telah bekerja keras dalam menyiapkan dokumen, data, serta melakukan presentasi hingga tingkat nasional. "Nanti ada renovasi makam, termasuk patung-patung Marsinah kita benahi. Kemudian, kami juga akan membuat museum Marsinah, agar semangat perjuangan Marsinah bisa menjadi inspirasi," ujar Marhaen.
Pada saat yang sama, Menteri Hak Asasi Manusia, Natalius Pigai, mengabadikan nama Marsinah sebagai nama ruang pelayanan HAM di lantai satu kantor Kementerian Hak Asasi Manusia RI. Pigai menyebut semangat Marsinah sebagai "semangat kemanusiaan", dan dengan penamaan ini kementeriannya ingin memastikan "dedikasi dan pengorbanannya tidak hilang ditelan waktu".
Film dan lagu :
Cerita Marsinah diangkat pada film Marsinah, Cry Justice pada tahun 2001 yang diproduksi oleh PT Gedam Sinemuda Perkasa dan disutradarai oleh Slamet Rahardjo Djarot.
Film berbiaya sekitar Rp 4 miliar itu sempat menimbulkan kontroversi. Salah satu penyebabnya adalah munculnya permintaan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Jacob Nuwa Wea yang meminta pemutaran film itu ditunda.
Sebuah band beraliran anarko-punk yang berasal dari Jakarta bernama Marjinal, menciptakan sebuah lagu berjudul Marsinah, yang didedikasikan khusus untuk perjuangan Marsinah. Lagu ini dibawakan sekaligus dalam 2 albumnya, yaitu album termarjinalkan dan album terbaru mereka bertajuk predator, masing-masing dalam versi yang berbeda.
Seniman Surabaya dengan koordinasi penyanyi keroncong senior Mus Mulyadi meluncurkan album musik dengan judul Marsinah.
Lagu ini diciptakan oleh komponis MasGat untuk mengenang jasa-jasa Marsinah.
Monumen :
Monumen Pahlawan Buruh Marsinah dibangun sebagai pahlawan buruh nasional di Nganjuk, Jawa Timur.
Pentas drama monolog Marsinah Menggugat :
Pada 26 November 1997 malam, pentas drama monolog Marsinah Menggugat oleh Ratna Sarumpaet dan Teater Satu Merah Panggung di gedung Cak Durasim Taman Budaya Jawa Timur (TBJ), Jl. Gentengkali, Surabaya, dilarang pihak kepolisian. Sebelumnya pentas sudah dilakukan di tujuh kota, terakhir dua hari sebelumnya pentas tersebut sukses di Malang. Pentas ini digelar oleh panitia pertunjukan dari Korp Puteri Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (Kopri PMII).
Sebelumnya pihak panitia melayangkan surat pemberitahuan ke Polda Jatim pada 12 November 1997. Menurut Petunjuk Pelaksanaan (juklak) POLRI yang dikeluarkan oleh KAPOLRI, pertunjukan kebudayaan semacam teater atau drama, tidak memerlukan izin, hanya pemberitahuan. Surat izin pemakaian gedung juga sudah dikeluarkan Taman Budaya Jatim tertanggal 20 November 1997.
Pukul 15.00 WIB, pihak panitia diminta menemui langsung Kasat IPP di Polwiltabes.
Pukul 16.00, pintu ditutup aparat dan dijaga ketat. Mereka yang datang untuk menonton Marsinah Menggugat, dilarang masuk.
Sekitar pukul 19.00, para peonton sudah berdatangan. Mereka bergerombol di depan pintu masuk ditutup dan dijaga beberapa petugas. Sementara Ratna Sarumpaet dengan beberapa panitia tetap bertahan di panggung pertunjukan. Ia bersikeras tetap di tempat itu sampai jadwal sewa gedung untuk pertunjukan selesai, pukul 23.00 WIB.
Pukul 19.20 Ketua PMII Jawa Timur dan Ketua Panitia Kegiatan dengan didampingi beberapa aktivis FKMS bernegosiasi dengan aparat untuk meminta izin masuk, tetapi gagal.
Sekitar pukul 20.00, Ratna meminta maaf kepada penonton yang datang bergerombol di depan pintu. Ratna dengan memanjat pagar, mengucapkan maafnya dan kemudian menyanyikan lagu Indonesia Raya.
Sekitar pukul 21.00, penonton yang tidak bergeming, mulai dihalau petugas. Pengamanan pintu TBJ ditambah dengan puluhan Polisi Unit Reaksi Cepat (URC) Polwiltabes, Satuan Perintis Polresta Surabaya, Brimob, dan beberapa aparat dari KODAM V Brawijaya serta sejumlah besar satuan intelejen.
Setelah penonton pulang, sekitar pukul 23.00, Ratna bersama panitia keluar dan terus dikawal petugas.
Penghargaan :
* Penghargaan Yap Thiam Hien Tahun 1993
* Pahlawan Pekerja Nasional oleh Muhammadiyah Tahun 1993
* Marsinah adalah pahlawan nasional dari kalangan buruh yang berjuang menuntut hak upah layak, lalu ditetapkan melalui Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 116/TK Tahun 2025, oleh presiden Prabowo Subianto pada 10 November 2025.
[27/7 22.05] rudysugengp@gmail.com: 1. Buatkan Gambar dan Infografis tentang
Ringkasan Kehidupan
H.M Suharto
Suharto dilahirkan di Kemusuk, dekat kota Yogyakarta, pada masa kolonial Belanda. Dia tumbuh dalam lingkungan yang sederhana. Orang tuanya bercerai tidak lama setelah ia lahir, dan ia tinggal bersama orang tua angkatnya selama sebagian besar masa kecilnya. Selama pendudukan Jepang di Hindia Belanda, Soeharto bertugas di pasukan keamanan Indonesia yang diorganisasi oleh Jepang. Selama perjuangan kemerdekaan Indonesia, ia bergabung dengan Tentara Indonesia yang baru dibentuk dan naik pangkat menjadi mayor jenderal beberapa waktu setelah kemerdekaan penuh Indonesia tercapai.
Upaya kudeta oleh pasukan Cakrabirawa pada tanggal 30 September dan 1 Oktober 1965 digagalkan oleh pasukan yang dipimpin Soeharto. Tentara kemudian memimpin pembersihan antikomunis yang brutal di seluruh negeri. Sejarawan menyebutkan, setidaknya 500.000 nyawa rakyat Indonesia yang dianggap beraliran kiri dan komunis dibunuh atas orkestrasi Tentara dan Soeharto.
Pada bulan Maret 1967, MPRS mengangkat Soeharto sebagai pejabat Presiden, dan ia dilantik sebagai Presiden pada tahun berikutnya. Ketika Suharto berkuasa, inflasi mencapai lebih dari 650%.
Ia menunjuk kelompok penasihat ekonomi yang menerapkan kebijakan pasar bebas, dan pada tahun 1969 negara tersebut memasuki periode stabilitas harga. Soeharto memerintahkan invasi Timor Timur pada tahun 1975, diikuti oleh pendudukan negara itu dan genosida yang mematikan selama 23 tahun.
Di bawah pemerintahan Orde Baru-nya, Soeharto membangun pemerintahan yang kuat, tersentralisasi, dan didominasi militer.
Apa yang dimulai sebagai oligarki kediktatoran militer berkembang menjadi rezim otoriter personalistik yang berpusat di sekelilingnya. Kemampuannya untuk menjaga stabilitas di Indonesia yang luas dan beragam serta sikapnya yang tegas anti-komunis membuatnya memperoleh dukungan ekonomi dan diplomatik dari Barat selama Perang Dingin.
Periode Orde Baru ditandai dengan stabilitas, baik dalam ekonomi, politik, maupun keamanan negara. Sekolah, jalan, irigasi, sampai bendungan banyak dibangun pada masa itu. Televisi bicara soal pembangunan dan capaian pemerintah Soeharto. Namun dibalik ketenangan tersebut, kekuasaan terkonsentrasi kepada keluarga Soeharto. Nilai kekayaan tidak sah Soeharto dan keluarganya ditaksir mencapai US$ 15-35 miliar, setara Rp 400-1000 triliun dalam nilai rupiah Rp 16.000.
Birokrasi yang sekarang panjang dan koruptif merupakan warisan pemerintahan Orde Baru.
Inefisiensi birokrasi dan pemerintahan oleh banyak ahli dianggap menghambat pertumbuhan ekonomi nasional. Menurut simulasi ekonomi, jika pemerintahan pada saat itu bersih, Indonesia sudah menjadi negara maju pada awal 2000-an. Potensi yang hilang pada periode tersebut setara 7.000-8.000 triliun rupiah dalam nilai rupiah Rp.16.000.
Selama sebagian besar masa jabatannya, Indonesia mengalami industrialisasi yang signifikan, pertumbuhan ekonomi, peningkatan taraf pendidikan, dan kebangkitan kewirausahaan dalam negeri.
Oleh karena itu, pada tahun 1982, ia ditetapkan sebagai “Bapak Pembangunan” oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR).
Pada tahun 1986, Soeharto dianugerahi Medali Ceres oleh FAO atas upayanya mencapai swasembada beras.
Pada tahun 1990-an, meningkatnya otoritarianisme Orde Baru dan dugaan korupsi yang meluas, menjadi sumber ketidakpuasan, dan setelah krisis keuangan Asia 1997 yang menyebabkan kerusuhan yang meluas, ia mengundurkan diri pada Mei 1998.
Soeharto meninggal pada bulan Januari 2008 dan menerima pemakaman militer kenegaraan dengan penghormatan penuh. Pemerintah Indonesia mengumumkan masa berkabung nasional selama seminggu dan banyak pemimpin dunia memberikan penghormatan terakhir kepadanya.
Masa jabatan presiden Soeharto selama 31 tahun dan warisannya sangat memecah belah, terutama tekanan Soeharto terhadap etnis China dan masyarakat minoritas. Sampai saat ini, ia tetap menjadi tokoh kontroversial di kalangan masyarakat umum Indonesia.
Ia dipuji karena menjadikan Indonesia sebagai kisah sukses ekonomi, membawa stabilitas ke kawasan tersebut, khususnya selama periode Perang Dingin, dan memimpin Indonesia ketika negara itu memainkan peran penting dalam urusan internasional.
Namun, ada pula yang mengecam pemerintahan otoriternya, dugaan korupsi, dan pelanggaran hak asasi manusia yang luas (seperti pembersihan antikomunis yang kejam sebelum pemerintahannya dan penindasan budaya Tionghoa di Indonesia).
Rencana pemberian gelar Pahlawan Nasional kepada Soeharto dipertimbangkan oleh Pemerintah Indonesia, serta menuai pro dan kontra. Pada 10 November 2025, Presiden Prabowo Subianto, menantunya memberikan gelar Pahlawan Nasional kepada Soeharto.
[27/7 22.12] rudysugengp@gmail.com: 2. Buatkan Gambar dan Infografis tentang
Keluarga
H.M Suharto
Orang tua :
Soeharto lahir pada tanggal 8 Juni 1921 dari seorang wanita yang merupakan ibunya, yang bernama Sukirah di Dusun Kemusuk, Desa Argomulyo, Kecamatan Sedayu, Bantul, Yogyakarta. Kelahiran itu dibantu dukun beranak bernama Mbah Kromodiryo yang juga adalah adik kakek Sukirah, Mbah Kertoirono.
Dalam autobiografinya, Pikiran, Ucapan dan Tindakan Saya, yang disusun G. Dwipayana, Sukirah digambarkan oleh Soeharto sebagai ibu muda yang sedang sulit memikirkan masalah-masalah rumah tangga. Namun, banyak catatan di buku-buku sejarah Soeharto lain yang banyak menyebutkan Sukirah sedang mengalami masalah mental yang amat sulit. Sebelum Soeharto (yang lahir 8 Juni 1921) berumur 40 hari, Sukirah harus menghadapi talak suaminya, Kertosudiro.
Kertosudiro, seorang mantri ulu-ulu (pengatur irigasi) miskin yang kelak sebagai ayah Soeharto, tidak memainkan peran banyak dalam kehidupan Soeharto. Bahkan, banyak pengamat Soeharto, seperti R.E. Elson, beberapa biografer dan orang dekatnya, termasuk mantan Menteri Penerangan yang dekat dengan Soeharto, Mashuri, meyakini bahwa Kertosudiro bukanlah ayah kandung Soeharto. Pada tahun 1974, pernah muncul pemberitaan yang menghebohkan dari majalah gosip bernama ‘POP’ dengan liputan yang menurunkan kisah lama yang beredar bahwa Soeharto adalah anak dari Padmodipuro, seorang bangsawan dari trah Hamengkubowono II.
Soeharto kecil yang berumur 6 tahun dibuang ke desa dan diasuh oleh Kertosudiro. Hal ini kemudian dibantah keras oleh Soeharto. Dengan separuh murka, Soeharto mengadakan konferensi pers di Bina Graha bahwa liputan mengenai asal-usul dirinya yang anak bangsawan bisa saja merupakan tunggangan untuk melakukan subversif. Soeharto dengan caranya sendiri ingin mengesankan bahwa dia adalah anak desa.
Ketidakjelasan asal-usul Soeharto secara genealogi sampai sekarang masih belum terpecahkan. Namun, dari semua itu, bayi Soeharto berada di dunia dengan kondisi keluarga yang kurang menguntungkan. Sukirah yang tertekan dan senang bertapa pernah ditemukan hampir mati di suatu tempat karena memaksa dirinya berpuasa ngebleng (tidak makan dan minum selama 40 hari) di suatu tempat yang tersembunyi, dan hilangnya sempat pernah membuat panik penduduk desa Kemusuk sehingga para penduduk mencarinya. Sadar dengan kondisi Sukirah yang kurang baik, keluarga Sukirah akhirnya memutuskan untuk menyerahkan pengurusan bayi Soeharto kepada kakak perempuan Kertosudiro.
Sukirah menikah lagi dengan Pramono dan dikaruniai tujuh anak, termasuk putra kedua, Probosutedjo.
Istri dan anak-anak :
Pada bulan Oktober 1947, Soeharto didatangi oleh keluarga Prawirowihardjo yang tidak lain merupakan paman sekaligus orang tua angkatnya. Mereka berencana menjodohkan Soeharto dengan Raden Ayu Siti Hartinah, anak KRMT Soemoharyomo. Soemoharyomo adalah seorang Wedana di Solo. Soeharto yang kala itu sudah berusia 26 tahun mengaku belum memiliki calon, bahkan ia juga belum pernah menjalin hubungan asmara dengan wanita manapun. Keluarganya khawatir jika Soeharto bakal menjadi bujang lapuk, mengingat mereka telah lama mengenal sifat Soeharto yang sangat pendiam, pasif dan cenderung pemalu. Akhirnya, rencana perjodohan keluarga Prawirodihardjo tersebut berjalan dengan lancar.
Tanpa melalui proses pacaran, perkawinan antara Letnan Kolonel (Letkol) Soeharto dengan Siti Hartinah (yang kemudian dikenal dengan Tien Soeharto) segera dilangsungkan pada 26 Desember 1947 di Solo. Ketika itu, usia Soeharto 26 tahun, sedangkan Siti Hartinah berusia 24 tahun.
Pasangan ini dikarunia enam putra-putri, yaitu Siti Hardiyanti Hastuti (Tutut), Sigit Harjojudanto, Bambang Trihatmodjo, Siti Hediati Harijadi (Titiek), Hutomo Mandala Putra (Tommy), dan Siti Hutami Endang Adiningsih (Mamiek).
[27/7 23.08] rudysugengp@gmail.com: 3. Buatkan Gambar dan Infografis tentang
Masa Kecil dan Pendidikan
H.M Suharto
Masa kecil dan pendidikan :
Soeharto tidak seperti anak desa lainnya yang harus bekerja di sawah. Dalam usia yang sangat muda, ia disekolahkan oleh Kertosudiro.
Tidak ada berita-berita mengenai masa Soeharto di Sekolah Rakyat (setingkat SD). Kesan Soeharto pada masa SD itu hanya pada ingatannya tentang kerbau-kerbaunya. Dunia Soeharto hanya berkutat pada penggembalaan kerbau, jauh dari cerita-cerita anak yang didapat dari buku-buku yang kerap dibaca anak-anak SD. Hal ini berbeda misalnya dengan cerita Soekarno sewaktu dia masih di SD yang banyak berkisah tentang masa sekolahnya dan apa yang dibacanya, begitu juga dengan Hatta dan Sjahrir yang sejak kecil sudah akrab dengan Karl May atau cerita dari novel-novel Charles Dickens.
Masa kecil Soeharto begitu banyak menyimpan kenangan pahit. Bukan hanya pahit, tetapi juga menyakitkan hatinya. Seperti yang dialaminya saat SD, Soeharto kerap menjadi korban perundungan dari kawan-kawannya. Kelak, walau sudah berpuluh-puluh tahun perundungan itu masih terekam dikepalanya. Seperti, ejekan "Den Bagus tahi mabul! Den Bagus tahi mabul" dan "Harto sirah gede!". Hal tersebut membuat Soeharto kecil dikenal sebagai siswa yang sangat pendiam dan tertutup, bahkan paling pendiam di antara kawan-kawan sekolahnya pada kala itu. Selain dengan kawan-kawannya, kenangan menyakitkan juga ia alami dengan buyutnya, Mbah Notosudiro yang memperlakukan Soeharto kecil berbeda dari saudara-saudaranya yang lain. Kenangan pahit dan menyakitkan yang dialami Soeharto kecil, membuatnya bertekad keras untuk menjadi orang yang kaya dan berkedudukan tinggi pada masa depan.
Ketika semakin besar, Soeharto tinggal bersama kakeknya, Mbah Atmosudiro, ayah dari ibunya. Soeharto sekolah ketika berusia delapan tahun, tetapi sering berpindah. Semula disekolahkan di Sekolah Dasar (SD) di Desa Puluhan, Godean. Lalu, pindah ke SD Pedes (Yogyakarta) lantaran ibu dan ayah tirinya, Pramono, pindah rumah ke Kemusuk Kidul. Kertosudiro kemudian memindahkan Soeharto ke Wuryantoro, Wonogiri, Jawa Tengah. Soeharto dititipkan di rumah bibinya yang menikah dengan seorang mantri tani bernama Prawirowihardjo. Soeharto diterima sebagai putra paling tua dan diperlakukan sama dengan putra-putri Prawirowihardjo. Soeharto kemudian disekolahkan dan menekuni semua pelajaran, terutama berhitung. Dia juga mendapat pendidikan agama yang cukup kuat dari keluarga bibinya.
Kegemaran bertani tumbuh selama Soeharto menetap di Wuryantoro. Di bawah bimbingan pamannya yang mantri tani, Soeharto menjadi paham dan menekuni pertanian. Sepulang sekolah, Soeharto belajar mengaji di langgar bersama teman-temannya, bahkan dilakukan sampai semalam suntuk. Ia juga aktif di kepanduan Hizbul Wathan dan mulai mengenal para pahlawan seperti Raden Ajeng Kartini dan Pangeran Diponegoro dari sebuah koran yang sampai ke desa.
Setamat Sekolah Rendah (SR) empat tahun, Soeharto disekolahkan oleh orang tuanya ke sekolah lanjutan rendah di Wonogiri. Setelah berusia 14 tahun, Soeharto tinggal di rumah Hardjowijono. Hardjowijono adalah teman ayahnya yang merupakan pensiunan pegawai kereta api. Hardjowijono juga seorang pengikut setia Kiai Darjatmo, tokoh agama terkemuka di Wonogiri waktu itu.
Karena sering diajak, Soeharto sering membantu Kiai Darjatmo membuat resep obat tradisional untuk mengobati orang sakit. Pada tahun 1935 Soeharto kembali ke kampung asalnya, Kemusuk, untuk melanjutkan sekolah di Sekolah Menengah Pertama (SMP) Muhammadiyah di Yogyakarta. Hal tersebut dilakukannya karena di sekolah itu siswanya boleh mengenakan sarung dan tanpa memakai alas kaki (sepatu). Pada masa ini Soeharto yang kulino meneng (pendiam) hanya memiliki satu sahabat karib, yaitu Sulardi, adik sepupunya, saudara kandung Sudwikatmono dan teman sekelas Ibu Tien Soeharto saat bersekolah di Ongko Loro. Sulardi setia menemaninya bermain dan berpetualang seperti anak desa di waktu itu.
4. Buatkan Gambar dan Infografis tentang
Riwayat pekerjaan
H.M Suharto
Setamat SMP pada tahun 1938, Soeharto sebenarnya ingin melanjutkan ke sekolah yang lebih tinggi. Apa daya, ayah dan keluarganya yang lain tidak mampu membiayai karena kondisi ekonomi. Soeharto pun berusaha mencari pekerjaan ke sana ke mari, tetapi gagal. Ia kembali ke rumah bibinya di Wuryantoro. Ia pun mendapatkan pekerjaan sebagai pembantu klerek/ clerk (pegawai) pada sebuah Bank Desa (Volks Bank), Soeharto pun bekerja dengan mengikuti sang klerek berkeliling kampung menggunakan sepeda dan pakaian Jawa lengkap, kain blankon serta baju beskap. Kariernya sebagai pembantu klerek pun tamat dalam waktu singkat ketika kainnya sobek usai turun dari sepeda yang sudah reot. Kain itu tersangkut pada sadel yang menonjol keluar. Padahal itu adalah satu-satunya kain yang bisa dipakainya untuk bekerja. Saat itu dia dicela klerek dan dimarahi sang bibi, Ibu Prawirowihardjo. Sejak itu, Soeharto yang kelak memimpin Indonesia menjadi pengangguran lagi.
Hari-harinya diisi dengan kegiatan gotong-royong, membantu keluarga dan sesekali bekerja serabutan. Ia terus mencoba untuk melamar berbagai pekerjaan, seperti melamar menjadi pegawai kereta api hingga melamar sebagai pegawai bank milik Belanda di Semarang, tetapi hasilnya selalu gagal. Pada masa inilah Soeharto terus mengasah kemampuan spiritualnya dengan cara menjalani tirakat, seperti berpuasa sebagai wujud laku prihatin.
Setelah bertahun-tahun mencari pekerjaan, Soeharto di ajak seorang temannya dari Wonogiri untuk mendaftar pada Angkatan Laut Kerajaan Belanda dengan posisi sebagai juru masak kapal, ia tidak terlalu tertarik pada posisi tersebut, terlebih pada saat yang bersamaan, yaitu awal tahun 1940 ia mendengar kabar akan di buka lowongan pendidikan Corps Opleiding Reserve Officieren (CORO) Koninklijk Nederlands Indisce Leger (KNIL) atau Korps Pendidikan Perwira Cadangan di Bandung. Ia mencoba mendaftar, tetapi gagal. Cita-citanya menjadi perwira kandas pada saat itu, Soeharto pun kembali menganggur.
Soeharto tak putus asa, suatu hari pada pertengahan tahun 1940 ia membaca pengumuman penerimaan Bintara KNIL di Gombong, Jawa Tengah. Ia mendaftarkan diri dan diterima, ia resmi menjadi tentara pada usia 21 tahun (1942). Waktu itu, ia hanya sempat bertugas tujuh hari dengan pangkat sersan karena Belanda menyerah kepada Jepang. Sersan Soeharto kemudian pulang ke Dusun Kemusuk. Justru di sinilah, karier militernya dimulai.
5. Buatkan Gambar dan Infografis tentang
Karier militer
H.M Suharto
Pada 1 Juni 1940, ia diterima sebagai siswa di sekolah militer di Gombong, Jawa Tengah. Setelah enam bulan menjalani latihan dasar, ia tamat sebagai lulusan terbaik dan menerima pangkat kopral. Ia terpilih menjadi prajurit teladan di Sekolah Bintara, Gombong. Soeharto resmi bergabung dengan pasukan kolonial Belanda, KNIL saat Perang Dunia II sedang berkecamuk. Ia dikirim ke Bandung untuk menjadi tentara cadangan di Markas Besar Angkatan Darat selama seminggu dengan pangkat sersan.
Nasib Soeharto kembali apes, tanggal 8 Maret 1942, Belanda menyerah pada Jepang. Berakhir pulalah kiprahnya di KNIL. Soeharto pun kembali menumpang di rumah bibinya di Wuryantoro, ia kembali menganggur. Pada rentang waktu ini, Soeharto terserang penyakit malaria yang menyebabkan dirinya harus dirawat lama di rumah sakit. Setelah pulih, karena tak memiliki uang dan tidak enak hanya sekadar menumpang, Soeharto meminta bantuan sang paman, Prawirowihardjo yang berprofesi sebagai penyuluh (mantri) tani untuk mencarikannya pekerjaan. Namun, sang paman hanya dapat memberikannya pekerjaan sekadar untuk mendampingi dan mempersiapkan keperluan pekerjaan pamannya sebagai penyuluh pertanian. Soeharto menerima dan menjadikannya sebagai kesempatan untuk mempelajari Ilmu Pertanian dari sang paman, meski dalam waktu yang singkat.
Bosan menganggur, Soeharto mencoba mendaftar jadi Keibuho atau polisi Jepang pada November 1942. Ia mengaku sedikit takut jika identitasnya sebagai bekas tentara Belanda ketahuan. Namun, akhirnya memberanikan diri mendaftar dan diterima. Dengan cerdik dan hati-hati ia berusaha keras untuk menyembunyikan identitasnya sebagai bekas tentara Belanda. Soeharto lulus pendidikan polisi sebagai salah satu lulusan terbaik. Jelas saja, ia sudah mahir karena pernah mengikuti pendidikan bintara KNIL Belanda.
Saat itulah atasan Soeharto di kepolisian memberi tahu ada pendaftaran Tentara Pembela Tanah Air (PETA), pasukan militer yang disponsori Jepang. Perwira Jepang itu menyarankan Soeharto mendaftar masuk PETA, ia kemudian menjadi perwira magang/pembantu letnan yang berdinas di Karanganyar, Kebumen. Setelah masa percobaannya selesai dan dianggap layak, ia pun mengikuti pendidikan militer lanjutan di Bogor, Jawa Barat, ia diangkat menjadi Chudancho (komandan kompi ). Di asrama Peta Bogor ia tinggal bersama-sama dengan Shodancho Singgih, Putra Panji Singgih teman seperjuangan Soekarno. Berikutnya sebagai Chudanco di Seibu, markas besar PETA di Solo, kemudian dimutasi ke Kaki Gunung Wilis di desa Brebeg Selatan Madiun untuk melatih prajurit PETA.
Pada 17 Agustus 1945 Indonesia resmi mengumumkan kemerdekaan, Soeharto kemudian secara resmi diangkat menjadi anggota TNI per 5 Oktober 1945 dengan pangkat letnan. Tidak lama kemudian, berkat reputasi dan pengalamannya di PETA, Ia kemudian ditunjuk sebagai komandan batalion dengan pangkat mayor. Pada tahun 1946, pangkatnya kembali naik menjadi komandan resimen yang berpangkat letnan kolonel atau overste.
Setelah Perang Kemerdekaan berakhir, ia tetap menjadi Komandan Brigade Garuda Mataram dengan pangkat letnan kolonel. Ia memimpin Brigade Garuda Mataram dalam operasi penumpasan pemberontakan Andi Azis di Sulawesi. Kemudian, ia ditunjuk sebagai Komadan APRIS (Angkatan Perang Republik Indonesia Serikat) Sektor Kota Makassar yang bertugas mengamankan kota dari gangguan eks KNIL/KL.
Pada 1 Maret 1949, ia ikut serta dalam serangan umum yang berhasil menduduki Kota Yogyakarta selama enam jam. Inisiatif itu muncul atas saran Sri Sultan Hamengkubuwono IX kepada Panglima Besar Soedirman bahwa Brigade X pimpinan Letkol Soeharto segera melakukan serangan umum di Yogyakarta dan menduduki kota itu selama enam jam untuk membuktikan bahwa Republik Indonesia (RI) masih ada.
Pada usia sekitar 32 tahun, tugasnya dipindahkan ke Markas Divisi dan diangkat menjadi Komandan Resimen Infenteri 15 dengan pangkat letnan kolonel (1 Maret 1953). Pada 3 Juni 1956, ia diangkat menjadi Kepala Staf Panglima Tentara dan Teritorium IV/Diponegoro di Semarang. Dari Kepala Staf, ia diangkat sebagai pejabat Panglima Tentara dan Teritorium IV/Diponegoro. Pada 1 Januari 1957, pangkatnya dinaikkan menjadi kolonel.
Lembaran hitam juga sempat mewarnai perjalanan militernya. Ia pernah dipecat oleh Jenderal Nasution sebagai Pangdam Diponegoro. Peristiwa pemecatan terjadi pada 17 Oktober 1959 tersebut akibat ulahnya yang diketahui menggunakan institusi militernya untuk meminta uang dari perusahaan-perusahan di Jawa Tengah. Kasusnya hampir dibawa ke pengadilan militer oleh Kolonel Ahmad Yani.
Atas saran Jenderal Gatot Soebroto saat itu, dia dibebaskan dan dipindahkan ke Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat (Seskoad) di Bandung, Jawa Barat. Pada usia 38 tahun, ia mengikuti kursus C SSKAD (Sekolah Staf dan Komando AD) di Bandung. Sebenarnya, secara kepangkatan Soeharto sudah terlambat untuk mengikuti kursus tersebut, pada saat itu Kursus SSKAD biasanya di ikuti oleh perwira yang berpangkat Letnan Kolonel (Letkol) yang akan naik pangkat menjadi Kolonel.
Lembaran hitam juga sempat mewarnai perjalanan militernya. Ia pernah dipecat oleh Jenderal Nasution sebagai Pangdam Diponegoro. Peristiwa pemecatan terjadi pada 17 Oktober 1959 tersebut akibat ulahnya yang diketahui menggunakan institusi militernya untuk meminta uang dari perusahaan-perusahan di Jawa Tengah. Kasusnya hampir dibawa ke pengadilan militer oleh Kolonel Ahmad Yani.
Atas saran Jenderal Gatot Soebroto saat itu, dia dibebaskan dan dipindahkan ke Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat (Seskoad) di Bandung, Jawa Barat. Pada usia 38 tahun, ia mengikuti kursus C SSKAD (Sekolah Staf dan Komando AD) di Bandung. Sebenarnya, secara kepangkatan Soeharto sudah terlambat untuk mengikuti kursus tersebut, pada saat itu Kursus SSKAD biasanya di ikuti oleh perwira yang berpangkat Letnan Kolonel (Letkol) yang akan naik pangkat menjadi Kolonel.
Pangkat Soeharto dinaikkan menjadi brigadir jenderal pada 1 Januari 1960. Ia berhasil meraih bintang di pundaknya, meski sebelum lulus kursus di SSKAD hanya pernah mengenyam pendidikan militer setingkat bintara. Banyak para Jenderal kala itu meragukan kualitas intelektualnya untuk menjadi Jenderal. Namun, Soeharto juga dikenal sebagai seorang perwira lapangan yang handal selama masa perjuangan dengan kekuatannya, yaitu pengalaman, kecerdikan, intuisi, kepemimpinan, kecerdasan emosi hingga kejelian/keberuntungannya dalam membaca setiap kesempatan, meskipun Ia tidak pernah mengenyam pendidikan formal/informal yang memadai atau kursus militer di luar negeri. Akhirnya, atas peran Letnan Jenderal Gatot Soebroto Ia diangkat sebagai Deputi I Kepala Staf Angkatan Darat.
Pada 1 Oktober 1961, jabatan rangkap sebagai Panglima Korps Tentara I Caduad (Cadangan Umum AD) yang telah diembannya ketika berusia 40 tahun bertambah dengan jabatan barunya sebagai Panglima Kohanudad (Komando Pertahanan AD). Pada tahun 1961 tersebut, ia juga mendapatkan tugas sebagai Atase Militer Republik Indonesia di Beograd (Yugoslavia), Paris (Perancis), dan Bonn (Jerman Barat). Di usia 41 tahun, pangkatnya dinaikkan menjadi mayor jenderal (1 Januari 1962) dan menjadi Panglima Komando Mandala Pembebasan Irian Barat dan merangkap sebagai Deputi Wilayah Indonesia Timur di Makassar. Sepulang dari kawasan Indonesia Timur, Soeharto yang telah naik pangkat menjadi mayor jenderal, ditarik ke markas besar ABRI oleh Jenderal Abdul Haris Nasution.
Di pertengahan tahun 1962, Soeharto diangkat sebagai Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Kostrad) hingga 1965. Sekitar setahun kemudian, tepatnya, 2 Januari 1962, Brigadir Jenderal Soeharto diangkat sebagai Panglima Komando Mandala Pembebasan Irian Barat. Kemudian ia diangkat sebagai Panglima Komando Strategis Angkatan Darat (Kostrad) pada 1 Mei 1963. Mayor Jenderal Soeharto lalu dilantik sebagai Menteri Panglima Angkatan Darat dan segera membubarkan Partai Komunis Indonesia (PKI) dan ormas-ormasnya. Ia membentuk Komando Operasi Pemulihan Keamanan dan Ketertiban (Kopkamtib) untuk mengimbangi G-30-S yang berkecamuk pada 1 Oktober 1965. Dua hari kemudian, tepatnya 3 Oktober 1965, Mayjen Soeharto diangkat sebagai Panglima Kopkamtib. Jabatan ini memberikan wewenang besar untuk melakukan pembersihan terhadap orang-orang yang dituduh sebagai pelaku G-30-S/PKI.
6. Buatkan Gambar dan Infografis tentang
Presiden (1966–1998)
H.M Suharto
Pada pagi hari 1 Oktober 1965, beberapa pasukan pengawal Kepresidenan, Tjakrabirawa di bawah Letnan Kolonel Untung Syamsuri bersama pasukan lain menculik dan membunuh enam orang jenderal. Pada peristiwa itu Jenderal A.H. Nasution yang menjabat sebagai Menteri Koordinator bidang Hankam dan Kepala Staf Angkatan Bersenjata berhasil lolos. Satu yang terselamatkan, yang tidak menjadi target dari percobaan kudeta adalah Mayor Jenderal Soeharto. Mayor Jenderal Soeharto tidak masuk target Gerakan 30 September 1965 atau G-30-S PKI karena dia bukan termasuk Jenderal yang secara terbuka menolak permintaan PKI untuk mempersenjatai angkatan ke-5, selain itu Soeharto adalah Jenderal yang tidak diperhitungkan baik oleh pimpinan PKI maupun rekannya di militer ia hanya dianggap sebagai pengikut Jenderal A.H. Nasution yang tidak memiliki potensi untuk memukul percobaan kudeta tersebut. Dalam pandangan DN Aidit, Soeharto hanyalah seorang Jenderal pendiam, penganut kejawen, tidak mengerti politik, opportunis dan tidak punya banyak kawan maupun jaringan, terlebih taraf internasional. Pandangan tersebut beralasan, karena banyak orang memandang Soeharto sebagai Jenderal berpendidikan rendah dibanding Jenderal lainnya yang bahkan banyak di sekolahkan ke luar negeri oleh Soekarno atau A.H. Nasution. Presiden Soekarno pun awalnya memandang remeh Soeharto sebagai seorang Jenderal yang sekadar keras kepala, kaku, kuno, dan sangat pendiam. Hal tersebut di buktikan Soekarno yang sebenarnya memilih Mayjen Pranoto Reksosamudro sebagai pengganti Jenderal Ahmad Yani, ketimbang Soeharto yang lebih senior dari Pranoto.
Beberapa sumber mengatakan, motif Pasukan Tjakrabirawa yang terlibat itu menyatakan bahwa mereka mencoba menghentikan kudeta militer yang didukung oleh CIA yang direncalanakan untuk menyingkirkan Presiden Soekarno dari kekuasaan pada "Hari ABRI", 5 Oktober 1965 oleh badan militer yang lebih dikenal sebagai Dewan Jenderal. Peristiwa ini segera ditanggapi oleh Mayjen Soeharto untuk segera mengamankan Jakarta, menurut versi resmi sejarah pada masa Orde Baru, terutama setelah mendapatkan kabar bahwa Letjen Ahmad Yani, Menteri / Panglima Angkatan Darat tidak diketahui keberadaannya. Hal ini sebenarnya berdasarkan kebiasaan yang berlaku di Angkatan Darat bahwa bila Panglima Angkatan Darat berhalangan hadir, maka Panglima Kostrad yang menjalankan tugasnya. Tindakan ini diperkuat dengan turunnya Surat Perintah yang dikenal sebagai Surat Perintah 11 Maret (Supersemar) dari Presiden Soekarno yang memberikan kewenangan dan mandat kepada Soeharto untuk mengambil segala tindakan untuk memulihkan keamanan dan ketertiban. Keputusan yang diambil Soeharto adalah segera membubarkan Partai Komunis Indonesia (PKI) sekalipun sempat ditentang Presiden Soekarno, penangkapan sejumlah menteri yang diduga terlibat G-30-S (Gerakan 30 September). Tindakan ini menurut pengamat internasional dikatakan sebagai langkah menyingkirkan Angkatan Bersenjata Indonesia yang pro-Soekarno dan pro-Komunis yang justru dialamatkan kepada Angkatan Udara Republik Indonesia di mana jajaran pimpinannya khususnya Panglima Angkatan Udara Laksamana Udara Omar Dhani yang dinilai pro-Soekarno dan Komunis, dan akhirnya memaksa Soekarno untuk menyerahkan kekuasaan eksekutif. Tindakan pembersihan dari unsur-unsur komunis (PKI) membawa tindakan penghukuman mati anggota Partai Komunis di Indonesia yang menyebabkan pembunuhan sistematis sekitar 500 ribu "tersangka komunis", kebanyakan warga sipil, dan kekerasan terhadap minoritas Tionghoa Indonesia. Soeharto dikatakan menerima dukungan CIA dalam penumpasan komunis. Diplomat Amerika 25 tahun kemudian mengungkapkan bahwa mereka telah menulis daftar "operasi komunis" Indonesia dan telah menyerahkan sebanyak 5.000 nama kepada militer Indonesia. Been Huang, bekas anggota kedutaan politik AS di Jakarta mengatakan di 1990 bahwa: "Itu merupakan suatu pertolongan besar bagi Angkatan Bersenjata. Mereka mungkin membunuh banyak orang, dan saya kemungkinan memiliki banyak darah di tangan saya, tetapi tidak seburuk itu. Ada saatnya di mana anda harus memukul keras pada saat yang tepat." Howard Fenderspiel, ahli Indonesia di State Department's Bureau of Intelligence and Research di 1965: "Tidak ada yang peduli, selama mereka adalah komunis, bahwa mereka dibantai. Tidak ada yang bekerja tentangnya."1 Dia mengakhiri konfrontasi dengan Malaysia dalam rangka membebaskan sumber daya di militer.
Setelah dilantik sebagai Menteri Panglima Angkatan Darat pada 14 Oktober 1965, ia segera membubarkan PKI dan ormas-ormasnya. Tepat 11 Maret 1966, dia menerima Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar) dari Presiden Soekarno melalui tiga jenderal, yaitu Basuki Rachmat, Amir Machmud, dan M Jusuf. Isi Supersemar sampai saat ini diperdebatkan oleh sejarawan, tetapi pada akhirnya surat ini dianggap memberikan kekuasaan kepada Soeharto untuk dan atas nama Presiden/Panglima Tertinggi/Panglima Besar Revolusi agar mengambil tindakan yang dianggap perlu demi terjaminnya keamanan, ketenangan, serta kestabilan jalannya pemerintahan dan jalannya revolusi. Sehari kemudian, 12 Maret 1966, Menpangad Letjen Soeharto membubarkan PKI dan menyatakan sebagai partai terlarang di Indonesia.
Karena situasi politik yang memburuk setelah meletusnya G-30-S, Sidang Istimewa MPRS pada Maret 1967, Soeharto yang telah menerima kenaikan pangkat sebagai jenderal bintang empat pada 1 Juli 1966 ditunjuk sebagai pejabat presiden berdasarkan Tap MPRS No XXXIII/1967 pada 22 Februari 1967. Selaku pemegang Ketetapan MPRS No XXX/1967, Soeharto kemudian menerima penyerahan kekuasaan pemerintahan dari Presiden Soekarno. Melalui Sidang Istimewa MPRS, pada 7 Maret 1967, Soeharto ditunjuk sebagai pejabat presiden sampai terpilihnya presiden oleh MPR hasil pemilihan umum.
Jenderal Soeharto ditetapkan sebagai pejabat presiden pada 12 Maret 1967 setelah pertanggungjawaban Presiden Soekarno (NAWAKSARA) ditolak MPRS. Kemudian, Soeharto menjadi presiden sesuai hasil Sidang Umum MPRS (Tap MPRS No XLIV/MPRS/1968) pada 27 Maret 1968. Selain sebagai presiden, ia juga merangkap jabatan sebagai Menteri Pertahanan/Keamanan. Pada 1 Juni 1968 Lama. Mulai saat ini dikenal istilah Orde Baru. Susunan kabinet yang diumumkan pada 10 Juni 1968 diberi nama Kabinet Pembangunan "Rencana Pembangunan Lima Tahun" I. Pada 15 Juni 1968, Presiden Soeharto membentuk Tim Ahli Ekonomi Presiden yang terdiri atas Prof Dr Widjojo Nitisastro, Prof Dr Ali Wardhana, Prof Dr Moh Sadli, Prof Dr Soemitro Djojohadikusumo, Prof Dr Soebroto, Dr Emil Salim, Drs Frans Seda, dan Drs Radius Prawiro.
Pada 3 Juli 1971, presiden mengangkat 100 anggota DPR dari Angkatan Bersenjata dan memberikan 9 kursi wakil Provinsi Irian Barat untuk wakil dari Golkar. Setelah menggabungkan kekuatan-kekuatan partai politik, Soeharto dipilih kembali menjadi presiden oleh Sidang Umum MPR (Tap MPR No IX/MPR/1973) pada 23 Maret 1973 untuk jabatan yang kedua kali. Saat ini, Sri Sultan Hamengku Buwono IX mendampinginya sebagai wakil presiden.
Pada usia 55 tahun, Soeharto memasuki masa pensiun dari dinas militer (Keppres No 58/ABRI/1974). Pencapaian puncak di dunia politik turut melengkapi kisahnya hidupnya sebagai seorang penguasa. Setelah mencapai posisi pucuk di republik, geliat kekuasaanya mulai metampakkan taringnya. Pada 20 Januari 1978, Presiden Soeharto melarang terbit tujuh surat kabar, yaitu Kompas, Sinar Harapan, Merdeka, Pelita, The Indonesian Times, Sinar Pagi, dan Pos Sore. Beberapa di antaranya kemudian meminta maaf kepada Soeharto.
Pada 22 Maret 1978, Soeharto dilantik kembali presiden untuk periode ketiga kalinya dan Adam Malik sebagai wakil presiden. Sidang Umum MPR 1 Maret 1983 memutuskan memilih kembali Soeharto sebagai presiden dan Umar Wirahadikusumah sebagai wakil presiden. Melalui Tap MPR No V tahun 1983, MPR mengangkat Soeharto sebagai Bapak Pembangunan Republik Indonesia. Pada 16 Maret 1983, Presiden Soeharto mengumumkan susunan Kabinet Pembangunan IV yang terdiri atas 21 menteri, tiga menteri koordinator, delapan menteri muda, dan tiga pejabat setingkat menteri. Pada 1 Januari 1984, Presiden Soeharto mengisi formulir keanggotaan Golkar dan sejak itu ia resmi menjadi anggota Golkar.
Beberapa pengamat politik baik dalam maupun luar negeri mengatakan bahwa Soeharto membersihkan parlemen dari komunis, menyingkirkan serikat buruh dan meningkatkan sensor. Dia juga memutuskan hubungan diplomatik dengan Republik Rakyat Tiongkok dan menjalin hubungan dengan negara barat dan PBB. Dia menjadi penentu dalam semua keputusan politik.
Jenderal Soeharto dikatakan meningkatkan dana militer dan mendirikan dua badan intelijen: Komando Pemulihan Keamanan dan Ketertiban (Kopkamtib) dan Badan Koordinasi Intelijen Nasional (Bakin). Sekitar 2 juta orang dieksekusi dalam pembersihan massal dan lebih dari 200.000 ditangkap hanya karena dicurigai terlibat dalam kudeta. Banyak komunis, tersangka komunis dan yang disebut "musuh negara" dihukum mati (meskipun beberapa hukuman ditunda hingga 1990).
Diduga bahwa daftar tersangka komunis diberikan ke tangan Soeharto oleh CIA. Sebagai tambahan, CIA melacak nama dalam daftar ini ketika rezim Soeharto mulai mencari mereka. Dukungan yang tidak dibicarakan ini dari Pemerintah Amerika Serikat untuk rezim Soeharto tetap diam sampai invasi Timor Timur, dan terus berlangsung sampai akhir 1990-an. Karena kekayaan sumber daya alamnya dan populasi konsumen yang besar, Indonesia dihargai sebagai rekan dagang Amerika Serikat dan begitu juga pengiriman senjata tetapi dipertahankan ke rezim Soeharto. Ketika Soeharto mengunjungi ke Washington pada 1995 pejabat administratif Clinton dikutip di New York Times mengatakan bahwa Soeharto adalah "orang seperti kita" atau "orang golongan kita".
Pada 12 Maret 1967 Soeharto diangkat sebagai Pejabat Presiden Indonesia oleh MPR Sementara. Setahun kemudian, pada 27 Maret 1968 dia resmi diangkat sebagai Presiden untuk masa jabatan lima tahun yang pertama. Dia secara langsung menunjuk 20% anggota MPR. Partai Golkar menjadi partai favorit dan satu-satunya yang diterima oleh pejabat pemerintah. Indonesia juga menjadi salah satu pendiri ASEAN.
Ekonomi Indonesia benar-benar amburadul di pertengahan 1960-an. Soeharto pun kemudian meminta nasihat dari tim ekonom hasil didikan Barat yang banyak dikenal sebagai "mafia Berkeley". Tujuan jangka pendek pemerintahan baru ini adalah mengendalikan inflasi, menstabilkan nilai rupiah, memperoleh hutang luar negeri, serta mendorong masuknya investasi asing. Dan untuk satu hal ini, kesuksesan mereka tidak bisa dimungkiri. Peran Soedjono Hoemardani sebagai asisten finansial besar artinya dalam pencapaian ini.
Di bidang sosial politik, Soeharto menyerahkannya kepada Ali Moertopo sebagai asisten untuk masalah-masalah politik. Menghilangkan oposisi dengan melemahkan kekuatan partai politik dilakukan melalui fusi dalam sistem kepartaian.
Di Roma, Italia, 14 November 1985. Musim dingin yang membekap Kota Roma ketika itu turut menggigit tubuh setiap peserta Konferensi ke-23 Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO). Tidak kurang dari 165 negara anggota mengirimkan wakilnya ke perhelatan yang membetot perhatian mata dunia terhadap Indonesia kala itu. Presiden Soeharto yang sukses mengantarkan Indonesia dari pengimpor beras terbesar di dunia menjadi swasembada didapuk maju ke podium untuk memberikan pidatonya. Dia menyerahkan bantuan satu juta ton padi kering (gabah) dari para petani untuk diberikan kepada rakyat Afrika yang mengalami kelaparan.
“Jika pembangunan di bidang pangan ini dinilai berhasil, itu merupakan kerja raksasa dari seluruh bangsa Indonesia,” kata Presiden Soeharto dalam pidatonya. Karena itu, FAO mengganjar keberhasilan itu dengan penghargaan khusus berbentuk medali emas pada 21 Juli 1986. Prestasi Soeharto di bidang pertanian memang fantastik atau dahsyat. Indonesia mengecap swasembada besar mulai 1984. Produksi besar pada tahun itu mencapai 25,8 juta ton. Padahal, data 1969 beras yang dihasilkan Indonesia hanya 12,2 juta ton. Hasil itu memaksa Indonesia mengimpor beras minimal 2 juta ton.
Sebab itu, pada 10 Maret 1988, Soeharto kembali terpilih sebagai presiden oleh MPR yang kelima kalinya. Posisi wakil presiden diserahkan kepada Sudharmono setelah bersaing dengan DR H Jaelani Naro SH Ketua Umum DPP PPP Sekali lagi, mata dunia tertuju lagi kepada seorang Soeharto.
Sebab itu, pada 14 September 1991, Presiden Soeharto menolak permintaan Amerika Serikat untuk memperoleh pangkalan militer di Indonesia setelah pindah dari Filipina. Soeharto dipilih oleh MPR sebagai presiden untuk yang keenam kalinya pada 10 Maret 1993. Kali ini, Try Sutrisno sebagai wakil presiden. Setelah enam kali berturut-turut ditetapkan MPR sebagai presiden, Soeharto mulai menyatakan jika dirinya tidak berambisi menjadi presiden seumur hidup (12 Maret 1994). Pada kepemimpinannya periode ini, Presiden Soeharto memberhentikan Prof Dr Satrio Budiharjo Joedono selaku Menteri Perdagangan sebelum akhir masa jabatan (6 Desember 1995).
Soeharto yang mengawali kekuasaannya sebagai pejabat presiden pada 12 Maret 1967 dan menjadi presiden pada 27 Maret 1968 terus menggenggam jabatan itu selama 31 tahun. Semula ada yang memperkirakan bahwa Soeharto akan menolak pencalonannya kembali sebagai presiden untuk periode yang keenam pada tahun 1998 setelah istrinya meninggal dunia pada 28 April 1996. Perkiraan itu ternyata keliru. Ketika usianya mencapai 75 tahun, ia bukan saja bersedia untuk dicalonkan kembali tetapi menerima untuk diangkat kembali sebagai presiden untuk periode 1998–2003. Ia menerima penganugerahan Bintang Lima atau Pangkat Jenderal Besar saat berusia 76 tahun (29 September 1997).
Pada 25 Juli 1996, Presiden Soeharto menerima PDI pimpinan Soerjadi dan menolak kepemimpinan Megawati Soekarnoputri untuk memimpin Partai Demokrasi Indonesia (PDI). Dua hari kemudian terjadi Peristiwa 27 Juli.
7. Buatkan Gambar dan Infografis tentang
Upaya mengatasi krisis dan meredam oposisi
H.M Suharto
Upaya mengatasi krisis dan meredam oposisi :
Krisis moneter yang melanda Asia pada tahun 1997 menerpa juga ke Indonesia. Bahkan, krisis itu menerjang juga sektor krisis ekonomi. Pada 8 Oktober 1997, Presiden meminta bantuan IMF dan Bank Dunia untuk memperkuat sektor keuangan dan menyatakan badai pasti berlalu. Presiden minta seluruh rakyat tetap tabah dalam menghadapi gejolak krisis moneter (29 November 1997).
Di tengah krisis ekonomi yang parah dan adanya penolakan yang cukup tajam, pada 10 Maret 1998, MPR mengesahkan Soeharto sebagai presiden untuk ketujuh kalinya. Kali ini, Prof Ing BJ Habibie sebagai wakil presiden. Pada 17 Maret 1998, ia menyumbangkan seluruh gaji dan tunjangannya sebagai presiden dan meminta kerelaan para pejabat tinggi lainnya untuk menyerahkan gaji pokoknya selama satu tahun dalam rangka krisis moneter.
Menghadapi tuntutan untuk mundur, pada 1 Mei 1998, Soeharto menyatakan bahwa reformasi akan dipersiapkan mulai tahun 2003. Ketika di Mesir pada 13 Mei 1998, Presiden Soeharto menyatakan bersedia mundur kalau memang rakyat menghendaki dan tidak akan mempertahankan kedudukannya dengan kekuatan senjata. Sebelas menteri bidang ekonomi dan industri (ekuin) Kabinet Pembangunan VII mengundurkan diri (20 Mei 1998). Krisis moneter dan ekonomi benar-benar menggerogoti sistem kepemimpinannya. Dampaknya, Soeharto tidak bisa bertahan di pucuk kepemimpinan negeri.
Hanya berselang 70 hari setelah diangkat kembali menjadi presiden untuk periode yang ketujuh kalinya, Soeharto terpaksa mundur dari jabatannya sebagai presiden. Presiden Soeharto lengser tepat 21 Mei 1998. Tepat pukul 09.00 WIB (Waktu Indonesia Barat), Soeharto berhenti dari jabatannya sebagai presiden. Layar kaca televisi saat itu menyiarkan secara langsung detik per detik proses pengunduran dirinya.
Tanggal 12-20 Mei 1998 menjadi periode yang teramat panjang. Bagaimanapun, masa-masa itu kekuasaannya semakin tergerus oleh berbagai aksi dan peristiwa. Aksi mahasiswa menyebar ke seantero negeri. Ribuan mahasiswa menggelar aksi keprihatinan di berbagai tempat. Mahasiswa Trisakti, Jakarta menggelar aksinya tidak jauh dari kampus mereka. Peserta aksi mulai keluar dari halaman kampus dan memasuki jalan arteri serta berniat datang ke Gedung MPR/DPR yang memang sangat stategis. Tanggal 12 Mei 1998 sore, terdengar siaran berita meninggalnya empat mahasiswa Trisakti.
Sehari kemudian, tanggal 13 Mei 1998, jenasah keempat mahasiswa yang tewas diberangkatkan ke kediaman masing-masing. Mahasiswa yang hadir menyanyikan lagu Gugur Bunga. Tewasnya para mahasiswa disiarkan secara luas melalui pemberitaan radio, televisi, dan surat kabar. Tewasnya keempat mahasiswa seakan sebagai ledakan suatu peristiwa yang lebih besar. Kamis, 14 Mei 1998, ibu kota negara (Jakarta) dilanda kerusuhan hebat. Tanggal 15 Mei 1998, pesawat yang membawa Presiden Soeharto dan rombongan mendarat menjelang pukul 05.00 WIB pagi di pangkalan udara utama TNI AU Halim Perdanakusuma dari kunjungan ke Kairo, Mesir untuk mengikuti Konfrensi Tingkat Tinggi (KTT) Kelompok 15 (Group 15/G-15).
Tanggal 16 Mei 1998, Presiden mengadakan serangkaian pertemuan termasuk berkonsultasi dengan unsur pimpinan DPR. Tanggal 17 Mei 1998, Menteri Pariwisata, Seni, dan Budaya Abdul Latief mengajukan surat pengunduran diri sebagai menteri. Tanggal 18 Mei 1998, ribuan mahasiswa mendatangi Gedung MPR/DPR. Aksi tersebut berakhir seiring dengan mundurnya Presiden Soeharto pada 21 Mei 1998.
Mereka yang tewas adalah dua mahasiswa angkatan 1995 dan dua mahasiswa angkatan 1996. Angkatan 1995 terdiri dari Hery Hartanto (Fakultas Teknik Industri Jurusan Mesin) dan Hafidhin Alifidin Royan (Fakultas Teknik Industri Jurusan Mesin). Sedang, mahasiswa yang tewas angkatan 1996 adalah Elang Mulia Lesmana (Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Jurusan Arsitektur) dan Hendriawan Sie (Fakultas Ekonomi Jurusan Manajemen) .
Soeharto membangun dan memperluas konsep "Jalan Tengah"-nya Jenderal Nasution menjadi konsep dwifungsi untuk memperoleh dukungan basis teoretis bagi militer untuk memperluas pengaruhnya melalui pejabat-pejabat pemerintahan, termasuk cadangan alokasi kursi di parlemen dan pos-pos utama dalam birokrasi sipil. Peran dwifungsi ini adalah peran militer di bidang politik yang permanen.
Sepak terjang Ali Murtopo dengan badan inteligennya mulai mengancam Soeharto. Persaingan antara Ali Moertopo dan Sumitro dipergunakan untuk menyingkirkan Ali. Namun Sumitro pun segera ditarik dari jabatannya dan kendali Kopkamtib dipegang langsung oleh Soeharto karena dianggap potensial mengancam. Beberapa bulan setelah peristiwa Malari sebanyak 12 surat kabar ditutup dan ratusan rakyat Indonesia termasuk mahasiswa ditangkap dan dipenjarakan.
Pada 1978 untuk mengeliminir gerakan mahasiswa maka segera diberlakukannya NKK/BKK (Normalisasi Kehidupan Kampus/Badan Koordinasi Kemahasiswaan). Kebijakan ini ditentang keras oleh banyak organisasi mahasiswa. Hubungan kegiatan mahasiswa dengan pihak kampus hanyalah kepada mereka yang diperbolehkan pemerintah lewat mekanisme kontrol dekanat dan rektorat.
Mulut pers pun dibungkam dengan lahirnya UU Pokok Pers No. 12 tahun 1982. UU ini mengisyaratkan adanya restriksi atau peringatan mengenai isi pemberitaan ataupun siaran. Organisasi massa yang terbentuk harus memperoleh izin pemerintah dengan hanya satu organisasi profesi buatan pemerintah yang diperbolehkan berdiri. Sehingga organisasi massa tak lebih dari wayang-wayang Orde Baru.
Kemudian pada tahun 1979–1980 muncul sekelompok purnawirawan perwira tinggi angkatan bersenjata dan tokoh-tokoh sipil yang dikenal kritis, yang tergabung dalam Petisi 50, mengeluarkan serial selebaran yang mengeluhkan sikap politik pemerintah Orde Baru yang menjadikan Angkatan Darat sebagai pendukung kemenangan Golkar, serta menuntut adanya reformasi politik. Sebagai balasannya, pemerintah mencekal mereka. Kelompok ini pun gagal serta tak pernah mampu tampil lagi sebagai kelompok oposisi yang efektif terhadap pemerintahan Orde Baru.
8. Buatkan Gambar dan Infografis tentang
Puncak Orde Baru
H.M Suharto
Pada masa pemerintahannya, Presiden Soeharto menetapkan pertumbuhan ekonomi sebagai pokok tugas dan tujuan pemerintah. Dia mengangkat banyak teknokrat dan ahli ekonomi yang sebelumnya bertentangan dengan Presiden Soekarno yang cenderung bersifat sosialis. Teknokrat-teknokrat yang umumnya berpendidikan barat dan liberal (Amerika Serikat) diangkat adalah lulusan Berkeley sehingga mereka lebih dikenal di dalam klik ekonomi sebagai Mafia Berkeley di kalangan Ekonomi, Industri dan Keuangan Indonesia. Pada masanya, Indonesia mendapatkan bantuan ekonomi dan keuangan dari negara-negara donor (negara-negara maju) yang tergabung dalan IGGI yang diseponsori oleh pemerintah Belanda. Namun pada tahun 1992, IGGI dihentikan oleh pemerintah Indonesia karena dianggap turut campur dalam urusan dalam negeri Indonesia, khususnya dalam kasus Timor Timur pasca Insiden Dili. Peran IGGI ini digantikan oleh lembaga donor CGI yang disponsori Prancis. Selain itu, Indonesia mendapat bantuan dari lembaga internasional lainnya yang berada di bawah PBB seperti UNICEF, UNESCO dan WHO. Namun sayangnya, kegagalan manajemen ekonomi yang bertumpu dalam sistem trickle down effect (menetes ke bawah) yang mementingkan pertumbuhan dan pengelolaan ekonomi pada segelintir kalangan serta buruknya manajemen ekonomi perdagangan industri dan keuangan (EKUIN) pemerintah, membuat Indonesia akhirnya bergantung pada donor Internasional terutama paska Krisis 1997. Dalam bidang ekonomi juga, tercatat Indonesia mengalami swasembada beras pada tahun 1984. Namun prestasi itu ternyata tidak dapat dipertahankan pada tahun-tahun berikutnya. Kemudian kemajuan ekonomi Indonesia saat itu dianggap sangat signifikan sehingga Indonesia sempat dimasukkan dalam negara yang mendekati negara-negara Industri Baru bersama dengan Malaysia, Filipina dan Thailand, selain Singapura, Republik Tiongkok, dan Korea Selatan.
Di bidang politik, Presiden Soeharto melakukan penyatuan partai-partai politik sehingga pada masa itu dikenal tiga partai politik yakni Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Golongan Karya (Golkar) dan Partai Demokrasi Indonesia (PDI) dalam upayanya menyederhanakan kehidupan berpolitik di Indonesia sebagai akibat dari politik masa presiden Soekarno yang menggunakan sistem multipartai yang berakibat pada jatuh bangunnya kabinet dan dianggap penyebab mandeknya pembangunan. Kemudian dikeluarkannnya UU Politik dan Asas tunggal Pancasila yang mewarnai kehidupan politik saat itu. Namun dalam perjalanannya, terjadi ketimpangan dalam kehidupan politik di mana muncullah istilah "mayoritas tunggal" di mana Golkar dijadikan partai utama dan "mengebiri" dua parpol lainnya dalam setiap penyelenggaraan pemilu. Berbagai ketidakpuasan muncul, tetapi dapat diredam oleh sistem pada masa itu.
Seiring dengan naiknya taraf pendidikan pada masa pemerintahannya karena pertumbuhan ekonomi, muncullah berbagai kritik dan ketidakpuasan atas ketimpangan ketimpangan dalam pembangunan. Kesenjangan ekonomi, sosial dan politik memunculkan kalangan yang tidak puas dan menuntut perbaikan. Kemudian pada masa pemerintahannya, tercatat muncul peristiwa kekerasan di masyarakat yang umumnya sarat kepentingan politik, selain memang karena ketidakpuasan dari masyarakat.
9. Buatkan Gambar dan Infografis tentang
Mundur dari jabatan presiden
H.M Suharto
Mundur dari jabatan presiden :
Pada 1997, menurut Bank Dunia, 20 sampai 30% dari dana pengembangan Indonesia telah disalahgunakan selama bertahun-tahun. Krisis finansial Asia pada tahun yang sama tidak membawa hal bagus bagi pemerintahan Presiden Soeharto ketika ia dipaksa untuk meminta pinjaman, yang juga berarti pemeriksaan menyeluruh dan mendetail dari IMF. Foto Direktur Pelaksana IMF Michel Camdessus bersedekap di samping Soeharto yang menandatangani Letter of Intent pinjaman USD 43 miliar dari IMF menjadi viral karena menunjukkan keangkuhan yang seakan memberi makna kalau Indonesia tak berdaya dan telah jatuh ke tangan IMF.
Meskipun sempat menyatakan untuk tidak dicalonkan kembali sebagai Presiden pada periode 1998–2003, terutama pada acara Golongan Karya, Soeharto tetap dipilih kembali oleh MPR dalam Sidang Umum pada bulan Maret 1998. Setelah beberapa demonstrasi, kerusuhan dan pembantaian rakyat, tekanan politik dan militer, dan berpuncak pada pendudukan gedung DPR/MPR, Soeharto mengundurkan diri pada 21 Mei 1998 untuk menghindari perpecahan dan meletusnya ketidakstabilan di Indonesia. Pemerintahan dilanjutkan oleh Wakil Presiden B. J. Habibie, yang menjadi presiden.
Dalam pemerintahannya yang berlangsung selama 32 tahun lamanya, telah terjadi penyalahgunaan kekuasaan termasuk korupsi dan pelanggaran HAM. Hal ini merupakan salah satu faktor berakhirnya era Soeharto.
Di Credentials Room Istana Merdeka, Jakarta, Presiden Soeharto membacakan pidato yang terakhir kali sebagai berikut:
*"Sejak beberapa waktu terakhir, saya mengikuti dengan cermat perkembangan situasi nasional kita, terutama aspirasi rakyat untuk mengadakan reformasi di segala bidang kehidupan berbangsa dan bernegara. Atas dasar pemahaman saya yang mendalam terhadap aspirasi tersebut dan terdorong oleh keyakinan bahwa reformasi perlu dilaksanakan secara tertib, damai, dan konstitusional.*
*Demi terpeliharanya persatuan dan kesatuan bangsa serta kelangsungan pembangunan nasional, saya telah menyatakan rencana pembentukan Komite Reformasi dan mengubah susunan Kabinet Pembangunan VII.* *Namun, kenyataan hingga hari ini menunjukkan Komite Reformasi tersebut tidak dapat terwujud karena tidak adanya tanggapan yang memadai terhadap rencana pembentukan komite tersebut.*
*Dalam keinginan untuk melaksanakan reformasi dengan cara sebaik-baiknya tadi, saya menilai bahwa dengan tidak dapat diwujudkannya Komite Reformasi, maka perubahan susunan Kabinet Pembangunan VII menjadi tidak diperlukan lagi.*
*Dengan memperhatikan keadaan di atas, saya berpendapat sangat sulit bagi saya untuk dapat menjalankan tugas pemerintahan negara dan pembangunan dengan baik. Oleh karena itu, dengan memperhatikan ketentuan Pasal 8 UUD 1945 dan secara sungguh-sungguh memperhatikan pandangan pimpinan DPR dan pimpinan fraksi-fraksi yang ada di dalamnya, saya memutuskan untuk menyatakan berhenti dari jabatan saya sebagai Presiden RI terhitung sejak saya bacakan pernyataan ini pada hari Kamis, 21 Mei 1998.*
*Pernyataan saya berhenti dari jabatan sebagai Presiden RI saya sampaikan di hadapan saudara-saudara pimpinan DPR dan juga adalah pimpinan MPR pada kesempatan silaturahmi. Sesuai Pasal 8 UUD 1945, maka Wakil Presiden RI, Prof. Dr. Ing. BJ Habibie yang akan melanjutkan sisa waktu jabatan Presiden/Mandataris MPR 1998–2003. Atas bantuan dan dukungan rakyat selama saya memimpin negara dan bangsa Indonesia ini saya ucapkan terima kasih dan minta maaf bila ada kesalahan dan kekurangan-kekurangannya semoga bangsa Indonesia tetap jaya dengan Pancasila dan UUD 1945.*
*Mulai hari ini pula Kabinet Pembangunan VII demisioner dan kepada para menteri saya ucapkan terima kasih. Oleh karena keadaan tidak memungkinkan untuk menyelenggarakan pengucapan sumpah di hadapan DPR, maka untuk menghindari kekosongan pimpinan dalam menyelenggarakan pemerintahan negara, kiranya saudara wakil presiden sekarang juga akan melaksanakan sumpah jabatan presiden di hadapan Mahkamah Agung RI.”*
Sesaat kemudian, Presiden Soeharto menyerahkan pucuk pimpinan negeri kepada Prof. Dr. Ing. BJ Habibie. Setelah melaksanakan sumpah jabatan, akhirnya BJ Habibie resmi memangku jabatan presiden ke-3 RI. Ucapan selamat datang mulai dari mantan Presiden Soeharto, pimpinan dan wakil-wakil pimpinan MPR/DPR, para menteri serta siapa saja yang turut dalam pengucapan sumpah jabatan presiden ketika itu.
Tak berselang terlalu lama, Menteri Pertahanan Keamanan merangkap Panglima ABRI Jenderal TNI Wiranto membacakan pernyataan sikap, demikian: pertama, memahami situasi yang berkembang dan aspirasi masyarakat, ABRI mendukung dan menyambut baik permintaan berhenti Bapak Soeharto sebagai Presiden RI serta berdasarkan konstitusi mendukung Wakil Presiden Bapak BJ Habibie sebagai Presiden RI.
Kedua, ABRI yang tetap kompak dan satu berharap dan mengajak kepada seluruh rakyat Indonesia untuk menerima kehendak pribadi Presiden Soeharto tersebut yang telah sesuai dengan konstitusi, yakni Pasal 8 UUD 1945.
Ketiga, dalam hal ini, ABRI akan tetap berperan aktif guna mencegah penyimpangan dan hal-hal lain yang dapat mengancam keutuhan bangsa.
Keempat, menjunjung tinggi nilai luhur budaya bangsa, ABRI akan tetap menjaga keselamatan dan kehormatan para mantan Presiden/Mandataris MPR termasuk Bapak Soeharto beserta keluarganya.
Kelima, ABRI mengajak semua pihak agar bersikap tenang, mencegah terjadinya kerusuhan dan tindak kekerasan yang akhirnya akan merugikan masyarakat sendiri.
[27/7 23.19] rudysugengp@gmail.com: 10. Buatkan Gambar dan Infografis tentang
Kontroversi,
Kasus dugaan korupsi
H.M Suharto
Kasus dugaan korupsi :
Setelah Soeharto resmi mundur dari jabatannya sebagai presiden, berbagai elemen masyarakat mulai menuntut agar digelar pengusutan dan pengadilan atas mantan presiden yang bekuasa paling lama di Indonesia itu. Pada 1 September 1998, tim Kejaksaan Agung mengumumkan adanya indikasi penggunaan uang yayasan di bawah pemerintahan mantan Presiden Soeharto. Melalui Televisi Pendidikan Indonesia (TPI) pada 6 September 1998, Soeharto muncul dan menyatakan bahwa dia tidak mempunyai kekayaan di luar negeri.
Jaksa Agung AM Ghalib dan Menko Wasbang/PAN Hartarto menemuinya di Jalan Cendana (Jakarta) untuk mengklarifikasi penyataan tersebut (21 September 1998). Pada 21 November 1998, Fraksi Karya Pembangunan (FKP) mengusulkan kepada pemerintah agar menetapkan mantan Presiden Soeharto sebagai tahanan kota. Ini merupakan tindak awal pengusutan harta dan kekayaan Soeharto yang diduga berasal dari Kolusi, Korupsi, dan Nepotisme (KKN).
Pada 3 Desember 1998, Presiden BJ Habibie menginstruksikan Jaksa Agung AM Ghalib segera mengambil tindakan hukum memeriksa mantan Presiden Soeharto. Pada 9 Desember 1998, Soeharto diperiksa tim Kejaksaan Agung di Kejaksaan Tinggi Jakarta sehubungan dengan dana yayasan, program mobil nasional, kekayaan Soeharto di luar negeri, dan kasus Tapos. Majalah Time melansir berita tentang kekayaan Soeharto di luar negeri yang mencapai US$15 miliar (22 Mei 1999). Pada 27 Mei 1999, Soeharto menyerahkan surat kuasa khusus kepada Jaksa Agung AM Ghalib untuk menelisik kekayaannya di Swiss dan Austria, seperti diberitakan Majalah Time. Pada 2 Juni 1999, Soeharto mengadukan Majalah Time ke Markas Besar Kepolisian Republik Indonesia atas tuduhan memfitnah pada pemberitaannya. Soeharto menuntut ganti rugi sekitar 27 miliar dollar AS.
Dalam persidangan gugatan akhirnya Mahkamah Agung (MA) memenangkan gugatan mantan Presiden Soeharto terhadap Majalah TIME Asia. Dalam putusan majelis hakim agung yang diketuai Ketua Muda Militer MA, Mayor Jenderal TNI Purnawirawan German Hoediarto dan beranggotakan Bahauddin Qoudry serta M. Taufik, tanggal 31 Agustus 2007 itu, Majalah TIME Asia diperintahkan membayar ganti rugi immateriil senilai Rp 1 triliun kepada HM Soeharto.MA Menangkan Soeharto Lawan Majalah TIME Asia
Soeharto memiliki dan mengetuai tujuh buah yayasan, yaitu Yayasan Dana Sejahtera Mandiri, Yayasan Supersemar, Yayasan Dharma Bhakti Sosial (Dharmais), Yayasan Dana Abadi Karya Bhakti (Dakab), Yayasan Amal Bhakti Muslim Pancasila, Yayasan Dana Gotong Royong Kemanusiaan, Yayasan Trikora. Pada 1995, Soeharto mengeluarkan Keputusan Presiden Nomor 90 Tahun 1995. Keppres ini menghimbau para pengusaha untuk menyumbang 2 persen dari keuntungannya untuk Yayasan Dana Mandiri.
Hasil penyidikan kasus tujuh yayasan Soeharto menghasilkan berkas setebal 2.000-an halaman. Berkas ini berisi hasil pemeriksaan 134 saksi fakta dan 9 saksi ahli, berikut ratusan dokumen otentik hasil penyitaan dua tim yang pernah dibentuk Kejaksaan Agung, sejak tahun 1999.
Menurut Transparency International, Soeharto menggelapkan uang dengan jumlah terbanyak dibandingkan pemimpin dunia lain dalam sejarah dengan perkiraan 15–35 miliar dolar A.S. selama 32 tahun masa pemerintahannya.
Pada 12 Mei 2006, bertepatan dengan peringatan sewindu Tragedi Trisakti, Jaksa Agung Abdul Rahman Saleh mengeluarkan pernyataan bahwa pihaknya telah mengeluarkan Surat Keputusan Penghentian Penuntutan (SKPP) perkara mantan Presiden Soeharto, yang isinya menghentikan penuntutan dugaan korupsi mantan Presiden Soeharto pada tujuh yayasan yang dipimpinnya dengan alasan kondisi fisik dan mental terdakwa yang tidak layak diajukan ke persidangan. SKPP itu dikeluarkan Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan pada 11 Mei 2006, tetapi SKPP ini lalu dinyatakan tidak sah oleh Pengadilan Negeri Jakarta Selatan pada 12 Juni 2006.
11. Buatkan Gambar dan Infografis tentang
Beberapa catatan atas tindakan represif Orde Baru
H.M Suharto
Presiden Soeharto dinilai memulai penekanan terhadap suku Tionghoa, melarang penggunaan tulisan Tionghoa tertulis di berbagai material tertulis, dan menutup organisasi Tionghoa karena tuduhan simpati mereka terhadap komunis. Selain itu hak-hak politik etnis Tionghoa dibatasi dan agama Kong Hu Cu tidak diakui keberadaannya.
Pada 1970 Soeharto melarang protes pelajar setelah demonstrasi yang meluas melawan korupsi. Sebuah komisi menemukan bahwa korupsi sangat umum. Soeharto menyetujui hanya dua kasus dan kemudian menutup komisi tersebut. Korupsi kemudian menjadi sebuah endemik.
Dia memerintah melalui kontrol militer dan penyensoran media. Dia menguasai finansial dengan memberikan transaksi mudah dan monopoli kepada saudara-saudaranya, termasuk enam anaknya. Dia juga terus memainkan faksi berlainan di militer melawan satu sama lain, dimulai dengan mendukung kelompok nasionalis dan kemudian mendukung unsur Islam.
Pada 1973 dia memenangkan jangka lima-tahun berikutnya melalui pemilihan "electoral college". dan juga terpilih kembali pada 1978, 1983, 1988, 1993, dan 1998. Soeharto mengubah UU Pemilu dengan mengizinkan hanya tiga partai yang boleh mengikuti pemilihan, termasuk partainya sendiri, Golkar. Oleh karena itu semua partai Islam yang ada diharuskan bergabung menjadi Partai Persatuan Pembangunan, sementara partai-partai non-Islam (Katolik dan Protestan) serta partai-partai nasionalis digabungkan menjadi Partai Demokrasi Indonesia.
Pada 1975, dengan persetujuan bahkan permintaan Amerika Serikat dan Australia, ia memerintahkan pasukan Indonesia untuk memasuki bekas koloni Portugal Timor Timur setelah Portugal mundur dan gerakan pro-komunis Fretilin memegang kuasa yang menimbulkan kekacauan di masyarakat Timor Timur sendiri, serta kekhawatiran Amerika Serikat atas tindakan Fretilin yang mendapat dukungan politik Uni Soviet dalam perebutan pengaruh dua negara adikuasa di periode Perang Dingin yang juga memanas di sekitar kawasan Vietnam. Kemudian pemerintahan pro integrasi dipasang oleh Indonesia, dengan bantuan presiden Gerald Ford, yang meminta wilayah tersebut berintegrasi dengan Indonesia untuk menghindari berkembangnya pengaruh komunis di Asia Tenggara. Pada 15 Juli 1976, Timor Timur secara menjadi salah satu provinsi di NKRI sampai wilayah tersebut dialihkan ke administrasi PBB pada 1999.
Korupsi menjadi beban berat pada 1980-an. Pada 5 Mei 1980 sebuah kelompok yang kemudian lebih dikenal dengan nama Petisi 50 menuntut kebebasan politik yang lebih besar. Kelompok ini terdiri dari anggota militer, politisi, akademik, dan mahasiswa. Media Indonesia menekan beritanya dan pemerintah mecekal penandatangannya. Setelah pada 1984 kelompok ini menuduh bahwa Soeharto menciptakan negara satu partai, beberapa pemimpinnya dipenjarakan.
Catatan hak asasi manusia Soeharto juga semakin memburuk dari tahun ke tahun. Pada 1993 Komisi HAM PBB membuat resolusi yang mengungkapkan keprihatinan yang mendalam terhadap pelanggaran hak-hak asasi manusia di Indonesia dan di Timor Timur. Presiden AS Bill Clinton mendukungnya.
Pada 1996 Soeharto berusaha menyingkirkan Megawati Soekarnoputri dari kepemimpinan Partai Demokrasi Indonesia (PDI), salah satu dari tiga partai resmi. Pada bulan Juni, pendukung Megawati menduduki markas besar partai tersebut. Setelah pasukan keamanan menahan mereka, kerusuhan pecah di Jakarta pada tanggal 27 Juli 1996 (peristiwa Sabtu Kelabu) yang dikenal sebagai "Peristiwa Kudatuli" (Kerusuhan Dua Tujuh Juli).
[27/7 23.31] rudysugengp@gmail.com: 12. Buatkan Gambar dan Infografis tentang
Peninggalan, Akhir Hayat, dan Penghargaan
H.M Suharto
Bidang politik :
Sebagai presiden Indonesia selama lebih dari 30 tahun, Soeharto telah banyak memengaruhi sejarah Indonesia. Dengan pengambil alihan kekuasaan dari Soekarno, Soeharto dengan dukungan dari Amerika Serikat memberantas paham komunisme dan melarang pembentukan partai komunis. Dijadikannya Timor Timur sebagai provinsi ke-27 (saat itu) juga dilakukannya karena kekhawatirannya bahwa partai Fretilin (Frente Revolucionaria De Timor Leste Independente / Front Revolusi untuk Kemerdekaan Timor Timur) akan berkuasa di sana bila dibiarkan merdeka.
Hal ini telah mengakibatkan menelan ratusan ribu korban jiwa sipil.
Sistem otoriter yang dijalankan Soeharto dalam masa pemerintahannya membuatnya populer dengan sebutan "Bapak", yang pada jangka panjangnya menyebabkan pengambilan keputusan-keputusan di DPR kala itu disebut secara konotatif oleh masyarakat Indonesia sebagai sistem "ABS" atau "Asal Bapak Senang".
Bidang kesehatan :
Untuk mengendalikan jumlah penduduk Indonesia, Soeharto memulai kampanye Keluarga Berencana yang menganjurkan setiap pasangan untuk memiliki secukupnya 2 anak. Hal ini dilakukan untuk menghindari ledakan penduduk yang nantinya dapat mengakibatkan berbagai masalah, mulai dari kelaparan, penyakit sampai kerusakan lingkungan hidup.
Kematian :
Pada tanggal 27 Januari 2008 pukul 13.10 WIB, Soeharto meninggal dunia di Rumah Sakit Pusat Pertamina, Jakarta Selatan. Kemudian sekitar pukul 14.35, jenazah mantan Presiden Soeharto diberangkatkan dari RSPP menuju kediaman di Jalan Cendana nomor 8, Menteng, Jakarta. Ambulans yang mengusung jenazah Pak Harto diiringi sejumlah kendaraan keluarga dan kerabat serta pengawal. Sejumlah wartawan merangsek mendekat ketika iring-iringan kendaraan itu bergerak menuju Jalan Cendana, mengakibatkan seorang wartawati televisi tertabrak.
Di sepanjang jalan Tanjung dan Jalan Cendana ribuan masyarakat menyambut kedatangan iringan kendaraan yang membawa jenazah Pak Harto. Rangkaian kendaraan yang membawa jenazah mantan Presiden Soeharto memasuki Jalan Cendana, sekitar pukul 14.55, Minggu (27/1).
Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono didampingi Wakil Presiden Jusuf Kalla dan beberapa menteri yang tengah mengikuti rapat kabinet terbatas tentang ketahanan pangan, menyempatkan mengadakan jumpa pers selama 3 menit dan 28 detik di Kantor Presiden, Jakarta, Minggu (27/1). Presiden menyampaikan belasungkawa yang mendalam atas kematian Soeharto.
Minggu sore pukul 16.00 WIB, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Wakil Presiden Jusuf Kalla, lebih dulu melayat ke Cendana.
Pemakaman :
Jenazah Soeharto diberangkatkan dari rumah duka di Jalan Cendana, Jakarta, Senin, 28 Januari 2008, pukul 07.30 WIB menuju Bandara Halim Perdanakusuma. Selanjutnya jenazah Soeharto akan diterbangkan dari Bandara Halim Perdanakusuma ke Solo pukul 10.00 WIB untuk kemudian dimakamkan di Astana Giri Bangun, Karanganyar, Senin (28/1). Jenazah Soeharto tiba di Astana Giri Bangun siang itu sebelum pukul 12.00 WIB. Upacara pemakaman Soeharto tersebut dipimpin oleh inspektur upacara Susilo Bambang Yudhoyono.
Warisan :
Rumah masa kecil Soeharto di Kemusuk, Bantul saat ini dijadikan museum Memorial Jenderal Besar HM Soeharto. Sebuah patung dirinya berdiri di depan museum. Museum tersebut dibangun oleh Probosutedjo dan diresmikan pada tahun 2013.
FELDA Soeharto, sebuah kampung di Selangor, Malaysia, dinamakan menurut Soeharto pada tahun 1977 – sebelumnya ia berkunjung ke kampung tersebut pada tahun 1970 sebagai bagian dari kunjungan bersejarah untuk menormalkan hubungan Indonesia-Malaysia.
Pada tahun 2013, muncul slogan bahasa Jawa Isih penak jamanku to (bahasa Indonesia: Masih enak zaman saya kan) atau Piye kabare, isih penak jamanku to (bahasa Indonesia: Bagaimana kabarnya, masih enak zaman saya kan) di stiker, kaos, dan internet yang menyatakan bahwa zaman pemerintahan Soeharto lebih baik ketimbang zaman sekarang.
Mantan Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad berkata:
Sebelum saya bertemu langsung dengan Presiden Soeharto, saya selalu mengikuti perkembangan dari berbagai kebijakan yang dijalankan oleh pemerintahan beliau. Saya merencanakan apabila nanti diangkat menjadi Perdana Menteri, maka kunjungan luar negeri saya yang pertama kali adalah kepada Presiden Soeharto.
Saya melihat setiap ucapan dan tindakan yang dilakukan Pak Harto benar-benar menunjukkan kualitasnya sebagai seorang pemimpin. Walaupun Pak Harto memiliki latar belakang sebagai tentara, ia tidak menunjukkan sikap yang sombong dan kalimat-kalimat yang keras. Bahasanya juga baik sekali.
Saya biasa dengan dia. Setelah menjadi Perdana Menteri, saya beberapa kali bertemu dengannya. Kita ada perbincangan antara sahabat. Dekat.
Saya menghormati Bapak Soeharto karena dia mengubah Indonesia dari negara yang mempunyai banyak masalah di zaman Soekarno. Dia dapat menguatkan perpaduan di kalangan banyak suku di Indonesia. Ini bukan suatu negara yang mudah diperintah, tapi setelah Soeharto mengambil alih, Indonesia tidak terpecah.
Ada masalah sedikit di Aceh, tapi umumnya dia berhasil mengganti citra Indonesia menjadi lebih maju. Ya, memang ada hal yang tak benar dilakukan. Di mana-mana pemimpin juga begitu.
-Mahathir-
H.M. Soeharto dianugerahi gelar Pahlawan Nasional melalui Keputusan Presiden Nomor 116/TK/Tahun 2025 pada 10 November 2025, oleh Presiden Prabowo.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar