Sabtu, 25 Juli 2026

Usmar - Tombolotutu

Sarjito dan KH ZAINAL MUSTAFA 

[25/7 01.25] rudysugengp@gmail.com: 1. Buatkan Gambar dan Infografis tentang 

Biodata dan Pendidikan 

Sarjito 


Ringkasan :

Pada masa perang kemerdekaan, ia ikut serta dalam proses pemindahan Institute Pasteur dari Bandung ke Klaten. Selanjutnya ia menjadi Presiden Universiteit (sekarang disebut rektor) Universitas Gadjah Mada (UGM) yang pertama dari awal berdirinya UGM tahun 1949 sampai 1961, selanjutnya menjadi Rektor ketiga Universitas Islam Indonesia (UII).


Namanya diabadikan sebagai nama sebuah rumah sakit umum pusat rujukan provinsi di Daerah Istimewa Yogyakarta yaitu Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Sardjito.


Pada tanggal 8 November 2019, Sardjito dianugerahi gelar Pahlawan Nasional Indonesia oleh Presiden Joko Widodo dalam sebuah upacara di Istana Negara. Yang menerima penghargaan mewakili keluarga ahli waris adalah Dyani Poedjioetomo, Cucu dari Sardjito.


Informasi pribadi

Lahir :

13 Agustus 1889

Purwodadi, Magetan, Keresidenan Madiun, Hindia Belanda

Meninggal :

5 Mei 1970 (umur 80)

Yogyakarta, Indonesia

Istri :

RAy. Soeko Emi

Anak : 1

Almamater :

STOVIA

Universitas Amsterdam


Pendidikan :

* Sekolah Rakyat di Purwodadi dan Lumajang (1895—1901)

* Sekolah Belanda di Lumajang (1901—1907)

* Sekolah STOVIA di Jakarta (1907—1915)

* Fakultas Kedokteran Universitas Amsterdam (1921—1922)

* Mempelajari penyakit-penyakit iklim panas di Leiden (memperoleh gelar Dokter, 1923).

[25/7 01.25] rudysugengp@gmail.com: 3. Buatkan gambar dan infografis tentang 

Akhir Hayat dan Penghargaan KH Zainal Mustofa 


Para santri yang gugur dalam pertempuran itu berjumlah 86 orang. Meninggal di Singaparna karena disiksa sebanyak 4 orang. Meninggal di penjara Tasikmalaya karena disiksa sebanyak 2 orang. Meninggal di Penjara Sukamiskin Bandung sebanyak 38 orang, dan yang mengalami cacat (kehilangan mata atau ingatan) sebanyak 10 orang.


Sehari setelah peristiwa itu, antara 700-900 orang ditangkap dan dimasukkan ke dalam penjara di Tasikmalaya. Sementara itu, KH. Zaenal Mustofa sempat memberi instruksi secara rahasia kepada para santri dan seluruh pengikutnya yang ditahan agar tidak mengaku terlibat dalam pertempuran melawan Jepang, termasuk dalam kematian para opsir Jepang, dan pertanggungjawaban tentang pemberontakan Singaparna dipikul sepenuhnya oleh KH. Zaenal Mustofa. Akibatnya, sebanyak 23 orang yang dianggap bersalah, termasuk KH. Zaenal Mustofa sendiri, dibawa ke Jakarta untuk diadili. Namun mereka hilang tak tentu rimbanya.


Besarnya pengaruh KH Zaenal Mustofa dalam pembentukan mental para santri dan masyarakat serta peranan pesantrennya sebagai lembaga pendidikan dan pembinaan umat membuat pemerintah Jepang merasa tidak bebas jika membiarkan pesantren ini tetap berjalan. Maka, setelah peristiwa pemberontakan tersebut, pesantren ini ditutup oleh Jepang dan tidak diperbolehkan melakukan kegiatan apapun.


Belakangan, Kepala Ereveld Ancol, Jakarta, memberi kabar bahwa KH. Zaenal Mustofa telah dieksekusi pada 25 Oktober 1944 dan dimakamkan di Taman Pahlawan Belanda Ancol, Jakarta. Melalui penelusuran salah seorang santrinya, Kolonel Syarif Hidayat, pada tahun 1973 keberadaan makamnya itu ditemukan di daerah Ancol, Jakarta Utara, bersama makam-makam para santrinya yang berada di antara makam-makam tentara Belanda. Lalu, pada 25 Agustus 1973, semua makam itu dipindahkan ke Sukamanah, Tasikmalaya.


Diangkat menjadi pahlawan :

Pada tanggal 6 Nopember 1972, KH. Zaenal Mustofa diangkat sebagai Pahlawan Pergerakan Nasional dengan Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 064/TK/Tahun 1972.



 [26/7 00.12] rudysugengp@gmail.com: 1. Buatkan Gambar dan Infografis tentang 

Biodata dan Kehidupan awal

Usmar Ismail 


Informasi Pribadi 


Lahir :

20 Maret 1921

Bukittinggi, Hindia Belanda

Meninggal :

2 Januari 1971 (umur 49)

Jakarta, Indonesia

Makam :

TPU Karet Bivak

Kebangsaan

Indonesia

Almamater :

Universitas California, Los Angeles

Pekerjaan :

Sutradara, produser film, penulis

Tahun aktif

1950–1970

Istri :

Sonja Hermien Sanawi

Anak :

Irwan Usmar Ismail

Fadia Ayesha Ismail

Heidy Hermia Ismail

Nina Surachman

Nureddin Ismail

Kerabat :

Abu Hanifah (kakak)


Kehidupan awal :


Usmar Ismail lahir sebagai anak dari Datuk Tumenggung Ismail, guru Sekolah Kedokteran di Padang, dan Siti Fatimah. Keluarganya berasal dari Lintau, Sumatera Barat. Ia mempunyai seorang kakak yang juga terjun ke dunia sastra, yakni Dr. Abu Hanifah yang menggunakan nama pena, El Hakim.


Usmar menempuh pendidikan di HIS Batusangkar, lalu melanjutkan ke MULO Simpang Haru, Padang, dan kemudian ke AMS-A Yogyakarta (sekarang SMA Negeri 1 Yogyakarta). Setamat dari AMS, ia berkuliah lalu memperoleh B.A. di bidang sinematografi dari Universitas California, Los Angeles, Amerika Serikat pada tahun 1952.


Usmar sudah menunjukkan bakat sastranya sejak masih duduk di bangku SMP. Saat itu, ia bersama teman-temannya, antara lain Rosihan Anwar, ingin tampil dalam acara perayaan hari ulang tahun putri mahkota, Ratu Wilhelmina, di Pelabuhan Muara, Padang. Usmar ingin menyajikan suatu pertunjukan dengan penampilan yang gagah, unik, dan mengesankan. Ia bersama teman-temannya hadir di perayaan itu dengan menyewa perahu dan pakaian bajak laut. Sayang, acara yang direncanakan itu gagal karena mereka baru sampai saat matahari tenggelam dan mereka hampir pingsan karena kelelahan mengayuh perahu menuju Pelabuhan Muara. Akan tetapi, acara yang gagal itu dicatat Rosihan Anwar sebagai tanda bahwa Usmar Ismail memang berbakat menjadi sutradara, yang mempunyai daya khayal untuk menyajikan tontonan yang menarik dan mengesankan.


Setelah duduk di bangku SMA di Yogyakarta, Usmar semakin banyak terlibat dengan dunia sastra. Ia memperdalam pengetahuan dramanya dan aktif dalam kegiatan drama di sekolahnya. Ia juga mulai mengirimkan karangan-karangannya ke berbagai majalah.

[26/7 00.15] rudysugengp@gmail.com: 2. Buatkan Gambar dan Infografis tentang 

Karier dan Perjuangan 

Usmar Ismail 


Bakatnya kian berkembang saat bekerja di Keimin Bunka Sidosho (Kantor Besar Pusat Kebudayaan Jepang). Di tempat itu, ia bersama Armijn Pane dan budayawan lainnya bekerja sama untuk mementaskan drama.


Pada 1943, ia mendirikan dan menjadi ketua Sandiwara Penggemar "Maya" bersama Abu Hanifah, Rosihan Anwar, Cornel Simanjuntak, Sudjojono, H.B. Jassin, dan lain-lain.


Sesudah masa proklamasi kemerdekaan, Usmar menjalani dinas militer dan aktif di dunia jurnalistik di Jakarta. Ketika Belanda kembali bersama tentara Sekutu, ia menjadi anggota TNI di Yogyakarta dengan pangkat mayor. Bersama dua rekannya, Sjamsuddin Sutan Makmur dan Rinto Alwi, mereka mendirikan surat kabar yang diberi nama Rakyat. Dalam bidang keredaksian dan kewartawanan, Usmar pernah menjadi pendiri dan redaktur Harian Patriot, redaktur majalah bulanan Arena, Yogyakarta (1948), "Gelanggang", Jakarta (1966-1967). Ia juga pernah menjadi ketua Persatuan Wartawan Indonesia (1946-1947).


Saat menjalankan profesi sebagai wartawan itulah, Usmar pernah dijebloskan ke penjara oleh Belanda karena dituduh terlibat kegiatan subversi. Saat itu ia bekerja sebagai wartawan politik di Kantor Berita Antara dan sedang meliput perundingan Belanda—RI di Jakarta. Peristiwa itu terjadi pada tahun 1948.


Pada perkembangan selanjutnya, Usmar mulai menaruh minatnya yang lebih serius pada perfilman. Ia aktif sebagai pengurus lembaga yang berkaitan dengan teater dan film. Ia pernah menjadi ketua Badan Permusyawaratan Kebudayaan Yogyakarta (1946-1948), ketua Serikat Artis Sandiwara Yogyakarta (1946-1948), ketua Akademi Teater Nasional Indonesia, Jakarta (1955-1965), dan ketua Badan Musyawarah Perfilman Nasional (BMPN). BMPN mendorong pemerintah melahirkan "Pola Pembinaan Perfilman Nasional" pada tahun 1967. Ia dikenal sebagai pendiri Perusahaan Film Nasional Indonesia bersama Djamaluddin Malik dan para pengusaha film lainnya. Lalu, ia menjadi ketuanya sejak 1954 sampai 1965.


Ia pernah aktif dalam bidang politik. Ia menjadi ketua umum Lembaga Seniman Muslimin Indonesia (Lesbumi) (1962-1969), anggota Pengurus Besar Nahdatul Ulama (1964-1969), serta anggota DPRGR/MPRS (1966-1969).


Setelah sempat membantu Andjar Asmara menyutradarai Gadis Desa pada 1949, ia memulai debut penyutradaraan film lewat film Harta Karun. Ia dikenal luas secara internasional setelah menyutradarai film berjudul Pedjuang pada tahun 1961, yang mendokumentasikan kemerdekaan Indonesia dari Belanda. Film ini ditayangkan dalam Festival Film Internasional Moskwa ke-2, dan menjadi film karya anak negeri pertama yang diputar dalam festival film internasional.


Di luar bidang-bidang tersebut, pada Tahun 1968 ia dipercaya sebagai General Manager untuk mengelola sebuah restoran eksklusif (Dinning Hall) oleh PT Ria Sari Restaurant, salah satu anak Usaha dari Sarinah yakni Miraca Sky, di puncak gedung Sarinah pada akhir tahun 1960-an. Selain itu, ia juga pernah menjadi pemimpin PT. Triple T.

[26/7 00.19] rudysugengp@gmail.com: 2. Buatkan Gambar dan Infografis tentang 

Pengaruh, Tanggapan Publik,  dan Penghargaan 

Usmar Ismail 


Pengaruh :


Ketika mempersiapkan Kafedo, Usmar memberi kesempatan dan mendidik anak muda yang berminat dalam penyutradaraan film. Melalui program inilah Nya Abbas Acup masuk ke dunia film. Ia juga dikenal sebagai pencetak bintang. Nurnaningsih dan Indriati Iskak adalah dua contoh pemeran wanita yang kariernya melejit lewat tangan dinginnya.


Darah dan Doa dianggap sebagai film nasional pertama di Indonesia.


Tanggapan Publik :


Kritikus film menganggap karya-karyanya, seperti Enam Djam di Jogja dan Dosa Tak Berampun, mengandung ciri Indonesiawi. Pada masa penayangannya di Metropole, Krisis menarik penonton berjubel selama lima minggu.


Anak Perawan di Sarang Penyamun sempat diboikot peredarannya pada tahun 1962 oleh Partai Komunis Indonesia.


Penghargaan :


Tahun 1962 ia mendapatkan Piagam Wijayakusuma dari Presiden Soekarno. Pada tahun 1969 ia menerima Anugerah Seni dari Pemerintah RI. Setelah meninggal, dia diangkat menjadi Warga Teladan DKI. Namanya diabadikan sebagai pusat perfilman Jakarta, yakni Pusat Perfilman H. Usmar Ismail. Selain itu, sebuah ruang konser di Jakarta, yakni Usmar Ismail Hall, merupakan tempat pertunjukan opera, musik, dan teater, yang dinamai sesuai namanya.


Pada 20 Maret 2018, Google merayakan ulang tahunnya yang ke-97 dengan Google Doodle. Pada 30 Oktober 2021, Ia dianugerahi gelar Pahlawan Nasional Indonesia.

[26/7 00.30] rudysugengp@gmail.com: 3. Buatkan Gambar dan Infografis tentang 

Kerjasama Gagal,  Akhir Hayat, dan Pengakuan Pahlawan 

Usmar Ismail 


Kerjasama Gagal :


Pada tahun 1970, Usmar Ismail yang menjabat sebagai direktur Perfini, mengadakan kerja sama dengan perusahaan Italia untuk memproduksi film Adventures in Bali. Namun, proses dan pasca-produksi film ini bermasalah. Rosihan Anwar mengatakan, dalam perjanjian awalnya, nama Usmar sebagai sutradara akan dicantumkan dalam versi film ini yang diedarkan di Eropa. Namun, ketika Usmar berkunjung ke Roma melihat penyelesaian film itu, namanya sama sekali tidak disebut. Menurut Rosihan, Usmar ditipu oleh produser Italia. Filmnya tetap dirilis dengan judul Bali pada 1971, tetapi kurang laku di pasaran.


Akhir Hayat :


Di tengah kesulitan, Usmar tetap berjuang mempertahankan Perfini dan menggaji karyawannya. Namun, tak lama kemudian Usmar jatuh sakit di rumahnya akibat pendarahan otak. Usmar Ismail meninggal pada tanggal 2 Januari 1971 di Jakarta. Ia dimakamkan di TPU Karet Bivak, Jakarta.


Menjelang akhir hayatnya, ia masih aktif berkarya dan sempat menerima penghargaan Anugerah Seni dari pemerintah pusat pada tahun 1969.


Pengakuan Pahlawan :


Ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia oleh Presiden Joko Widodo pada 10 November 2021.


Penganugerahan tersebut resmi termuat dalam Keppres No. 109/TK/2021 tanggal 6 November 2021.


Penghargaan penting lainnya semasa hidup dan anumerta meliputi Piagam Wijayakusuma dari Presiden Soekarno (1962) serta Bintang Mahaputera Utama (1996).


Ia dianggap sebagai pelopor perfilman di Indonesia. Ia dikenal sebagai pelopor drama modern di Indonesia dan juga Bapak Film Indonesia.

Usmar meninggal dunia karena stroke.

[26/7 00.31] rudysugengp@gmail.com: 4. Buatkan Gambar dan Infografis tentang 

Karya Tulis dan Filmografi

Usmar Ismail 


Karya Tulis 


Drama :

Mutiara dari Nusa Laut (1943)

Mekar Melati (1945)

Sedih dan Gembira (1950)


Kumpulan Puisi :

Puntung Berasap (1950)


Karya lainnya :

Pengantar ke Dunia Film

Usmar Ismail Membawa Film (editor J.E. Siahaan) (1983)


Filmografi :


Harta Karun (diangkat dari karya Moliere) (1949)

Tjitra (berdasarkan naskah dramanya) (1949)

Darah dan Doa (1950)

Enam Djam di Djogja (1951)

Dosa Tak Berampun (1951)

Terimalah Laguku (1952)

Kafedo (1953)

Krisis (1953)

Lewat Djam Malam (1954)

Lagi-Lagi Krisis (1955)

Tamu Agung (1955)

Tiga Dara (1956)

Delapan Pendjuru Angin (1957)

Asrama Dara (1958)

Pedjuang (1960)

Toha, Pahlawan Bandung Selatan (1961)

Amor dan Humor (1961)

Anak Perawan di Sarang Penjamun (1962)

Bajangan di Waktu Fadjar (1962)

Holiday in Bali (1963)

Anak-Anak Revolusi (1964)

Liburan Seniman (berdasarkan naskah dramanya) (1965)

Ja, Mualim (1968)

Big Village (1969)

Ananda (1970)

[26/7 00.59] rudysugengp@gmail.com: 1. Buatkan Gambar dan Infografis tentang 

Biografi 

Raden Aria Wangsakarta


Kelahiran :

1615

Sumedang

Kematian :

1681

Pemakaman :

Pagedangan, Banten 

Ayah :

Wiraradja I

Agama :

Islam

Pekerjaan :

Ulama & Kepala Daerah


Biografi Aria Wangsakara yang tepat sulit untuk dipastikan karena kisah-kisah kontradiktif yang muncul dalam teks yang berbeda, dan kurangnya bukti langsung. Ia muncul dalam sejumlah naskah adat antara lain Babad Tangerang dan Babad Banten. Di dalamnya ia disebutkan lahir sekitar tahun 1615 di Sumedang, dan merupakan putra dari Wiraraja I, anak dari prabu Kusumadinata II dan Harisbaya. Ia juga masih keturunan dari Syarif Abdulrohman dari Cirebon. Narasi tradisional menyatakan bahwa, ketika Perusahaan Hindia Timur Belanda semakin berpengaruh di wilayah tersebut, Aria Wangsakara menolak kerjasama keluarganya dengan mereka dan pergi dengan dua kerabat pada tahun 1632, yakni Aria Santika dan Aria Yuda Negara, untuk pergi ke wilayah yang sekarang dikenal sebagai Tangerang di tepi Sungai Cisadane, di mana ia diberi izin untuk melindungi daerah ini oleh Sultan Abul Mafakhir. Di sana ia mendirikan pemukiman baru, yakni Kesultanan Lengkong Sumedang, di tepi barat Sungai Cisadane dengan dirinya sebagai sultan daerah dengan nama Sultan Lengkong. Selama dia memerintah di sana, dia dikatakan telah bekerja untuk menyebarkan Islam di wilayah sekitarnya, mendirikan pesantren baru pada tahun 1640-an. Pada awal 1650-an, Perusahaan Hindia Timur Belanda membangun sebuah benteng di tepi seberang dari pemukimannya untuk menandakan batas wilayah kekuasaan mereka di daerah tersebut. Wangsakara diperkirakan meninggal pada tahun 1681 dan dimakamkan di Pagedangan, 

Kecamatan Pagedangan, Kabupaten Tangerang, Banten.


2. Buatkan Gambar dan Infografis tentang 

Perjuangan melawan Belanda  

Raden Aria Wangsakarta


Di Angke itu, masing-masing pasukan awalnya hanya menahan diri meski dekat dan saling berhadap-hadapan. Baru pada hari ke delapan pertempuran keduanya pecah. Wangsakara di situ tulisnya memimpin doa agar pasukan Banten memenangkan perang dan menghancurkan kompeni.


Setelah perang sehari, kedua pasukan kemudian jeda selama tiga hari. Pasukan Banten kemudian sepakat menggunakan strategi perang dadali dengan menyebar pasukan mengelilingi daerah musuh. Ada yang ke arah timur mengelilingi Jakarta bahkan ada yang bertugas membakar perkebunan.


Strategi ini rupanya berhasil dan pasukan Banten dapat merebut beberapa benteng pertahanan milik Belanda. Ada yang menguasai benteng belanda di Sudimara, hingga ada yang bisa menerobos ke timur Ciangke.


Pertempuran itu berakhir begitu ada perjanjian damai pada Juli 1659. Salah satu perjanjian itu menyepakati batas wilayah kekuasaan antara Kesultanan Banten dan kompeni Belanda yang menguasai Batavia.



3. Buatkan Gambar dan Infografis tentang 

Akhir Hayat, Penghargaan, dan Warisan 

Raden Aria Wangsakarta


Akhir Hayat


Gugur dalam Pertempuran: 

Raden Aria Wangsakara wafat pada tahun 1720 (sebagian sumber tradisi menyebut 1681) setelah terlibat dalam konflik bersenjata terus-menerus melawan VOC di wilayah Ciledug.


Lokasi Pemakaman: Jasad beliau dimakamkan di Lengkong Kyai, Kecamatan Pagedangan, Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten. Makam ini kini menjadi situs religi dan cagar budaya yang sering diziarahi oleh masyarakat.


Penghargaan Pemerintah


Gelar Pahlawan Nasional: 

Presiden Joko Widodo resmi menganugerahi gelar Pahlawan Nasional kepada Raden Aria Wangsakara pada 10 November 2021, berdasarkan ⁠Keppres RI Nomor 109/TK/Tahun 2021, bersama Tombolotutu, Aji Muhammad Idris, dan Usmar Ismail, 

atas jasa besar beliau memimpin pertempuran mempertahankan kedaulatan wilayah dari cengkeraman penjajah.


Penghormatan Nama Jalan: 

Pemerintah daerah mengabadikan namanya sebagai nama jalan utama, yaitu Jalan Arya Wangsakara di Tangerang, guna merawat ingatan publik atas kepahlawanannya.


Warisan Sejarah


Cikal Bakal Tangerang: 

Bersama dua kerabatnya (Aria Santika dan Aria Yuda Negara), beliau mendirikan wilayah pemerintahan Tigaraksa, yang menjadi fondasi berdirinya Kabupaten dan Kota Tangerang saat ini.


Sebagai pendiri Tangerang, sebuah jalan besar di kota ini dinamai menurut namanya (Jalan Arya Wangsakara). Makamnya, yang dikelilingi oleh makam ulama lain dari daerah itu, juga dijadikan situs sejarah resmi oleh Kabupaten Tangerang dan telah lama dikunjungi secara rutin oleh para peziarah. 

Banyak penduduk Banten juga mengaku sebagai keturunannya, termasuk sejumlah ulama yang mengaku sebagai keturunannya dan kelompok pengikut aslinya.


Penyebaran Agama Islam: 

Beliau meninggalkan warisan religius kuat melalui pendirian pesantren di tepian Sungai Cisadane, mengukuhkan Tangerang sebagai kawasan yang agamis.


Strategi Pertahanan Militer: 

Membentuk pasukan pertahanan air bernama Pasukan Kurawaci yang berhasil memukul mundur ekspansi ekonomi dan militer benteng VOC selama berbulan-bulan.


Benda Pusaka: 

Beberapa dokumen sejarah, naskah keagamaan (seperti terjemahan kitab Insan Kamil), serta peninggalan fisik lainnya masih dirawat dengan baik oleh ahli waris keturunan kesembilan dan disimpan di museum keluarga.

[26/7 01.24] rudysugengp@gmail.com: 1. Buatkan Gambar dan Infografis tentang 

Kehidupan Awal

Tombolotutu


Tombolotutu berasal dari Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah. Pada tahun 1877, Tombolotutu menjadi pewaris tahta Kerajaan Moutong ke empat. Jabatan raja diemban pada saat Tombolotutu menginjak usia 20 tahun.


Saat menjadi raja, Tombolotutu dikenal keras dengan Belanda yang saat itu ingin menguasai Sulawesi. Belanda sudah berupaya membujuk Raja Tombolotutu melalui Perjanjian Panjang (Lang Contrak), Perjanjian Pendek (Korte Verklaring), hingga memberikan jaminan kepada Kerajaan Moutong. Namun, Tombolotutu tidak mengubah sikapnya menolak kehadiran Belanda di tanah Sulawesi.


Upaya Belanda membuat Tombolotutu marah hingga terjadi perang antara pada Oktober 1898. Belanda bahkan mengerahkan Marsose, pasukan khusus Belanda saat Perang Diponegoro dan Perang Aceh.


Kehidupan Awal dan Latar Belakang


Kelahiran: 

Lahir pada tahun 1857 di daerah Moutong.Asal Daerah: Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah.


Asal-usul: 

Terlahir dari garis keturunan bangsawan Kerajaan Moutong.


Gelar Adat: 

Menyandang gelar kehormatan adat Pua Darawati.


Naik Takhta

Usia Muda: 

Menjadi pewaris takhta keempat Kerajaan Moutong pada tahun 1877 saat berumur 20 tahun.


Sikap Politik: 

Menolak keras segala bentuk kerja sama dan kontrak politik dengan pihak Belanda.

[26/7 01.24] rudysugengp@gmail.com: 2. Buatkan Gambar dan Infografis tentang 

Perjuangan Melawan Belanda 

Tombolotutu


Hingga saat ini Tombolotutu masih jadi tokoh pertama dan satu-satunya asal Sulawesi Tengah (Sulteng) yang mendapatkan gelar pahlawan nasional.


Mayoritas anak zaman kiwari mungkin lebih familiar dengan sosok ini lantaran Tombolotutu dijadikan nama jalan di Kelurahan Talise yang menghubungkan antara Jalan Yos Sudarso dengan pertigaan Jl. Lagarutu, Jl. Soekarno-Hatta, dan Jl. Sisingamangaraja.


Ada satu buku yang bisa menjadi rujukan bagi siapa pun yang ingin mengetahui sepak terjang sosok bangsawan asal Kerajaan Moutong itu. Sebab masa lampau turut membentuk apa yang terjadi dan kita nikmati sekarang. Pun merupakan guru dan teladan bagi kehidupan manusia. Olehnya Bung Karno pernah berpesan, “Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah.”


Keberanian dan kegigihan Tombolotutu bersama para pasukannya melawan penjajah Belanda termaktub dalam buku berjudul Bara Perlawanan di Teluk Tomini: Perjuangan Melawan Belanda.


Buku setebal 256 halaman hasil cetakan penerbit Ombak pada 2017 ditulis oleh dosen sejarah di Universitas Tadulalo, Palu, Lukman Nadjamuddin, bersama Wilman D. Lumangino, Mohammad Sairin, Idrus A. Rore, Sunarto Amus, dan Fatma.


Lukman dan kawan-kawan berhasil menelusuri aneka sumber tertulis penting untuk merekonstruksi perlawanan Tombolotutu atau Pua Darawati dalam membebaskan rakyat Moutong dari ketidakadilan dan intervensi Belanda pada awal abad ke-20.


Sumber tertulis yang dimaksud antara lain dalam bentuk Besluit van Gouverneur (Keputusan Gubernur), Algemeen verslag van het Residentie Manado (Laporan Umum Kediaman Manado), koran, dan majalah yang terbit pada masa peristiwa tersebut terjadi.


Buku ini tak hanya mengulas tentang aksi heroik Tombolotutu dalam berbagai medan peperangan, mulai dari Lobu, Lebiti, Bolano, hingga berakhir di Toribulu, tapi juga menggambarkan kondisi sosial, politik, dan ekonomi Kerajaan Moutong pada akhir abad ke-19. Kondisi yang kemudian membuat Tombolotutu bersama para pengikut setianya mengibarkan bendera perang melawan penjajah.


Cerita dalam buku ini diawali dengan potensi ekonomi yang terhampar di kawasan Teluk Tomini. Kerajaan Moutong, meski dengan permukaan bentang lahan yang tidak rata, dikenal sebagai wilayah dengan potensi kekayaan alam melimpah.


Perbukitan dengan batuan granit di wilayah tersebut memiliki kandungan logam mulia seperti emas, perak, dan platina yang bernilai ekonomi tinggi. Hal ini awalnya disadari oleh penduduk lokal yang tinggal di sepanjang aliran sungai ketika menemukan kandungan emas yang bercampur dengan butiran pasir.


Memasuki abad ke-19 bersamaan dengan terungkapnya potensi kekayaan alam terutama emas di kawasan Teluk Tomini, Belanda mulai mengarahkan perhatian ke daerah tersebut, khususnya di wilayah Moutong.


Syahwat ingin menguasai emas di Moutong tak hanya milik Belanda, melainkan juga pelaut-pelaut Bugis dan Mandar. Perebutan emas ini juga diikuti oleh penguasa lokal dari Gorontalo dan Palu.


Untuk memuluskan aksinya, Pemerintah Hindia Belanda pada 25 Februari 1899 menyodorkan kontrak pelengkap kepada Daeng Malino, yang kelak menjadi pewaris tahta Kerajaan Moutong.


Isinya memuat tentang kesediaan penguasa Moutong dan para bangsawan untuk mengakui dan bersedia menerima kehadiran perusahaan-perusahaan pertambangan asal Belanda sepanjang ada jaminan pemerintah bahwa penguasa dan bangsawan memperoleh bagian keuntungan yang menjadi haknya.


Kontrak itu diterima dan ditandatangani oleh Daeng Malino, yang pada 11 Juni 1989 ditahbiskan sebagai Raja Moutong menggantikan takhta Raja Pondatu.


Jika merujuk tradisi Suku Kaili yang lebih memprioritaskan kebangsawanan dari garis keturunan pihak ibu (matrilineal), Tombolotutu yang juga kemenakan Raja Pondatu sama seperti Daeng Malino seharusnya lebih berhak menjadi raja.


Campur tangan Belanda yang kemudian mengerek Daeng Malino menuju singgasana kepemimpinan karena dianggap lebih akomodatif. Sebuah keputusan yang mendapat kritik dari anggota parlemen Belanda karena mengakibatkan ongkos politik yang besar berupa perang.


Intervensi Belanda yang mengacaukan tatanan sosial politik di Kerajaan Moutong karena hendak menguasai sumber daya alam di wilayah tersebut menjadi awal perlawanan Tombolotutu.


Mengusung semboyan “natuvu naberoka, namate maupa” yang berarti hidup penuh berkah, mati meninggalkan nama, Tombolotutu mulai bergerilya untuk menunjukkan ketidakpuasannya terhadap kondisi baru yang terbentuk akibat intervensi kolonial.


Bagi Tombolotutu, sikap Daeng Malino yang menerima kontrak politik dan juga eksploitasi pertambangan oleh perusahaan Belanda menjadi simbol jatuhnya wibawa Kerajaan Moutong. Sebuah coreng yang tidak bisa dibiarkan dan harus secepatnya dihapuskan apa pun caranya, termasuk dengan mengobarkan peperangan.


Tombolotutu dengan didampingi para tadulako kepercayaannya lantas bersiasat melakukan gerilya berbekal sumpit, tombak, dan parang sebagai senjata. Sementara Pemerintah Kolonial Belanda mengerahkan Korps Marechaussee te Voet alias Marsose, pasukan berisi serdadu-serdadu terbaik yang terkenal sejak Perang Aceh. Persenjataan mereka lebih modern dan lengkap.


Selama mengobarkan peperangan, Tombolotutu yang kerap berpindah-pindah juga bertemu dan meminta bantuan para penguasa setempat untuk bersama melawan Belanda. Termasuk ketika sedang berada di Toribulu yang menjadi wilayah kekuasaan mertuanya Raja Sapewali. Di tempat inilah Tombolotutu mengembuskan napas terakhir setelah mengobarkan perangnya yang terakhir. Loliba’i, tadulako atau panglima perang kesayangan Tombolotutu, turut gugur dalam peristiwa tersebut.


Fragmen yang menamatkan perjuangan Tombolotutu bersama pasukannya itu diilustrasikan secara rinci dan penuh emosi dalam buku ini. Begitu juga dengan alur penceritaannya. Pembaca seolah hadir dalam setiap episode perjalanan sang pahlawan. Membuatnya jadi buku sejarah yang tidak membosankan.


Masa berganti, namun perjuangan yang dilakukan Tombolotutu bersama para pengikutnya masih terasa relevan. Mencuplik pernyataan Jefrianto dari Komunitas Historia Sulteng, semangat pantang menyerah, cinta tanah air, teguh dalam pendirian, antikorupsi, kolusi, dan nepotisme harus menjadi tulang punggung dalam membangun Sulteng hari ini.

[26/7 01.39] rudysugengp@gmail.com: 3. Buatkan Gambar dan Infografis tentang 

Kontroversi Kematian dan Penghargaan 

Tombolotutu


Kontroversi Kematian


Terdapat perbedaan versi terkait peristiwa pengepungan Tombolotutu di pegunungan Ujularit yang menurut sumber Belanda mengakibatkan gugurnya Tombolotutu bersama tiga orang pengawalnya, tetapi terdapat sumber lain menyebutkan bahwa Tombolotutu berhasil menyelamatkan diri dan membangun relasi dengan beberapa tokoh perlawanan antara lain Magau Dolo, Datu Pamusu yang memberi perlindungan kepada Tombolotutu hingga dinyatakan wafat di Desa Kaleke pada Tahun 1938.


Berbeda dengan versi tersebut, Dr, Lukman Nadjamuddin dalam bukunya “Bara Perlawanan di Teluk Tomini” menyebutkan bahwa Tombolotutu meninggal pada tahun 17 Agustus 1901, merujuk pada data pada surat kabar Belanda.


Sementara pada buku yang ditulis sejarawan Haliadi Sadi, SS, M.Hum., Ph.D, Tombolotutu masih terlibat perang Sojol pada 1905. Data tersebut sejalan dengan yang tercantum dalam buku “Tadulako Mitos atau Fakta” yang ditulis Danrem 132 Tadulako, Brigjen TNI Farid Makruf, MA bersama tim yang terbit tahun 2021. Dalam buku tersebut dicantumkan, bahwa perjuangan Tombolotutu antara tahun 1898 hingga 1938.


Raja Tombolotutu gugur dalam pertempuran melawan pasukan elite Belanda (Marsose) pada tanggal 17 Agustus 1901 di Pegunungan Ujularit, setelah bertahun-tahun memimpin perang gerilya demi mempertahankan wilayahnya. 


Akhir Hayat Tombolotutu


Menolak Tunduk: 

Sebagai Raja Moutong sejak tahun 1877, beliau dengan tegas menolak segala bentuk kerja sama maupun kontrak politik dengan pihak Belanda.


Perang Frontal: 

Belanda yang geram meluncurkan operasi militer besar-besaran pada Oktober 1898 di wilayah Moutong.


Taktik Gerilya: 

Setelah ibu kota kerajaan jatuh, beliau memindahkan pasukannya ke dalam hutan dan wilayah kepulauan untuk melancarkan perang gerilya.


Pasukan Marsose: 

Belanda sampai harus mengerahkan Marsose, yaitu pasukan khusus elite mereka, khusus untuk memburu keberadaan Tombolotutu.


Gugur Berstatus Bebas: Beliau memilih terus bertempur dan mengungsikan keluarganya daripada harus menyerah, hingga akhirnya mengembuskan napas terakhir di medan laga.


Lokasi Makam: 

Jasad sang raja dikebumikan di wilayah Kecamatan Toribulu, Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah


Penghargaan Pahlawan Nasional


Atas kegigihan perjuangannya tersebut, beliau dianugerahi gelar Pahlawan Nasional Indonesia oleh Presiden Joko Widodo pada tanggal 10 November 2021, berdasarkan Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 109/TK/Tahun 2021. 


Pionir dari Sulteng: 

Menjadi tokoh pejuang pertama dan satu-satunya dari Provinsi Sulawesi Tengah yang berhasil meraih gelar kehormatan tertinggi ini.


Proses Panjang: 

Pengusulan nama beliau telah diperjuangkan oleh pemerintah daerah dan masyarakat setempat sejak era 1900-an melalui berbagai riset sejarah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Usmar - Tombolotutu

Sarjito dan KH ZAINAL MUSTAFA  [25/7 01.25] rudysugengp@gmail.com: 1. Buatkan Gambar dan Infografis tentang  Biodata dan Pendidikan  Sarjito...