Kamis, 30 Juli 2026

210 Mochtar Kusumaatmadja

 1. Buatkan Gambar dan Infografis tentang 

Informasi Pribadi Kehidupan Awal, dan Pendidikan 

Mochtar Kusumaatmadja


Informasi pribadi

Lahir :

17 Februari 1929

Batavia, Hindia Belanda

Meninggal :

6 Juni 2021 (umur 92)

Jakarta, Indonesia

Makam :

Taman Makam Pahlawan Nasional Utama Kalibata

Istri :

Siti Chadidjah

Anak :

3, termasuk Armida Alisjahbana

Kerabat :

Sudarsono Mangoenadikoesoemo (paman)

Sarwono Kusumaatmadja (adik)

Juwono Sudarsono (sepupu)

Almamater :

Universitas Yale

Universitas Chicago

Pekerjaan :

Diplomat - Politikus


Riwayat Hidup :

Ia lahir pada tanggal 17 Februari 1929 di Batavia, Jakarta dari pasangan M. Taslim Kusumaatmaja dan Sulmini Surawisastra. Ayahnya adalah seorang apoteker yang berasal dari Tasikmalaya dan masih memiliki keturunan Wiradadaha, Bupati Sukapura pertama dan ibunya adalah anak dari Bajuri Surawisastra pemilik Pondok Pesantren Balerante Palimanan, Cirebon.

Pada dasarnya, Ia tidak memiliki hak untuk bersekolah di HIS (Hollands Indische School) mengingat posisi ayahnya yang hanya seorang apoteker. Akan tetapi, setelah ibunya berhasil membujuk pihak pengelola sekolah tersebut, maka Ia diizinkan bersekolah di HIS.


Pendidikan :

Sarjana muda Fakultas Sosial Ekonomi Politik, Universitas Nasional, Jakarta, (1953)

S1 Fakultas Hukum Universitas Indonesia, Jakarta (1955)

S2 Sekolah Tinggi Hukum Yale, Amerika Serikat (1958)

S3 Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran, Bandung (1962)

S3 Universitas Chicago, Amerika Serikat (1966)



2. Buatkan Gambar dan Infografis tentang

Perjuangan Perang Kemerdekaan 

Mochtar Kusumaatmadja


Perang Kemerdekaan :

Pada masa perjuangan kemerdekaan, Ia ikut dalam batalyon tentara pelajar yang juga diikuti dengan ayahnya yang berpartisipasi sebagai sukarelawan PMI di daerah Tasikmalaya sementara keluarganya yang lain (ibunya, Sarwono, dan Ade Sudaryati) mengungsi dari Bandung hingga ke Cirebon (tempat keluarga ibunya berasal).

Sebelum kembali ke Cirebon pada tahun 1948, ada kisah menarik ketika keluarganya kedatangan pasukan Belanda yang hendak menawan warga yang berada di sekitar Palimanan, Cirebon. Ketika pimpinan komplotan hendak ingin membumihanguskan kawasan tersebut, Ibunya (Sulmini) mendadak berdiri dan menghardik maksud dari pimpinan batalyon tersebut dengan beralasan bahwa tindakan mereka sama saja dengan tindakan Nazi pada Perang Dunia II yang telah usai.

Dengan sedikit diplomasi, ibunya berhasil meyakinkan batalyon tersebut untuk tidak membumihanguskan serta menawan warga desa yang ada di sana.

Ketika kembali untuk menemui keluarganya pada tahun 1948, Ia belum sadar bahwa Ia telah mempunyai adik bernama Sarwono. Dan, pada saat bertemu Sarwono Ia masih memakai pakaian tentara dengan celana pendek dan kacamata bulat bingkai hitam.



3. Buatkan Gambar dan Infografis tentang 

Karier di Pemerintahan 

Mochtar Kusumaatmadja


Kembali ke Jakarta dan berkuliah :

Setelah itu, Ia menempuh perkuliahan di Universitas Indonesia dan Universitas Nasional. Untuk mendapatkan pendapatan, Ia terkadang berkeliling dari pintu ke pintu bersama dengan pamannya, Sudarsono untuk menawarkan makanan khas Cirebon, membuka bioskop misbar, berjualan valuta asing (dolar), serta menjadi penyiar radio. 

Pada Pemilu 1955, rumahnya pernah menjadi tempat diskusi dan perdebatan mengingat posisi ayahnya yang netral (tidak memihak salah satu partai yang ada).

Tahun 1958-1961, dia telah mewakili Indonesia pada Konperensi Hukum Laut di Jenewa, Colombo, dan Tokyo. Beberapa karya tulisnya juga telah mengilhami lahirnya Undang-Undang Landas Kontinen Indonesia tahun 1970. Dia memang seorang ahli di bidang hukum internasional. Selain memperoleh gelar S1 dari Fakultas Hukum Universitas Indonesia, dia melanjutkan kuliah di Sekolah Tinggi Hukum Yale (Universitas Yale) AS (1955). Kemudian, dia menekuni program doktor (S3) bidang ilmu hukum internasional di Universitas Padjadjaran (lulus 1962).


Pencopotan gelar guru besar (profesor) :

Dari sejak mahasiswa, terutama setelah menjadi dosen di FH Unpad Bandung, mantan Dekan Fakultas Hukum Unpad ini telah menunjukkan ketajaman dan kecepatan berpikirnya. Ketika itu, dia dengan berani sering menkritik pemerintah antara lain mengenai Manifesto Politik Soekarno. 

Kritiknya antara lain "Nehru lebih berpengalaman dari Sukarno dalam soal politik luar negeri" serta Soekarno disebut sebagai, "Sosialis musiman". Tuntutan untuk pemecatan tersebut dilakukan oleh GMNI.[6] Akibatnya, dia dipecat dari jabatan guru besar Unpad. Pemecatan tersebut dilakukan oleh Presiden Soekarno melalui telegram dari Jepang a.n. Menteri Pendidikan Thoyib Hadiwidjaja (1962).

Namun pemecatan dan ketidaksenangan dari Soekarno tersebut tidak membuatnya kehilangan jati diri. Kesempatan itu digunakan dirinya untuk menimba ilmu di Harvard Law School (Universitas Harvard), dan Trade of Development Research Fellowship di Universitas Chicago pada tahun 1964-1966.

Malah, kemudian kariernya semakin melonjak setelah pergantian rezim dari pemerintahan Soekarno ke pemerintahan Soeharto. (Pemerintahan Soeharto memberi batasan pembagian rezim ini sebagai Orde Lama dan Orde Baru).

Dari peristiwa tersebut, Mochtar mendapatkan beberapa pelajaran berharga di kemudian hari antara lain mengurangi ketertarikan dengan politik serta mengubah cara komunikasi.


Menteri era Orde Baru :

Di masa pemerintahan Orde Baru, sebelum menjabat Menteri Luar Negeri Kabinet Pembangunan III ( 29 Maret 1978-19 Maret 1983 ) dan IV (19 Maret 1983-21 Maret 1988) untuk menggantikan ‘Si Kancil’ Adam Malik, Ia terlebih dahulu menjabat sebagai Menteri Kehakiman Kabinet Pembangunan II, 28 Maret 1973-29 Maret 1978.

Ia diangkat sebagai Menteri Luar Negeri pada kabinet berikutnya untuk periode 1978–1983 dan 1983–1988, sehingga total masa jabatannya sebagai menteri luar negeri adalah sepuluh tahun. Selama masa jabatannya, Kusumaatmadja menggalakkan konsep "negara kepulauan" untuk menggambarkan Indonesia. Konsep ini kemudian diakui oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa melalui Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Hukum Laut (UNCLOS) Laut pada tahun 1982.


Ketua Percasi :

Di tengah kesibukannya sebagai Menlu, dia sering kali menyediakan waktu bermain catur kegemarannya, terutama pada perayaan hari-hari besar di departemen yang dipimpinnya. Bahkan pada akhir tahun 1985, ia terpilih menjadi Ketua Umum Persatuan Catur Seluruh Indonesia (Percasi). 

Di samping itu pada tahun 1971, Ia juga mendirikan kantor hukum bernama Mochtar Karuwin Komar (MKK), di mana kantor firma hukum yang Ia dirikan menjadi kantor firma hukum pertama di Indonesia yang memperkerjakan pengacara asing. Saat ini kantor hukum tersebut dipimpin oleh anaknya yang bernama Emir Kusumaatmadja.


Ringkasan Karier :

* Wakil Indonesia pada Konperensi Hukum Laut Jenewa, Colombo, Tokyo (1958—1961)

* Wakil Indonesia pada Sidang PBB mengenai Hukum Laut, Jenewa dan New York

* Guru Besar dan Dekan Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran (Unpad), Bandung

* Menteri Kehakiman Kabinet Pembangunan II (1973—1978)

* Menteri Luar Negeri Kabinet Pembangunan III dan IV (1978—1983 dan 1983—1988)



4. Buatkan Gambar dan Infografis tentang 

Konsep Wawasan Nusantara dan ZEE

Mochtar Kusumaatmadja


Mochtar Kusumaatmadja menapaki karier panjang di persimpangan hukum dan diplomasi. Atas sumbangsihnya bagi Indonesia, ia ditetapkan sebagai pahlawan nasional. Mochtar berkiprah pada masa ketika Indonesia masih membangun fondasi bernegara. Di berbagai forum internasional, ia memperjuangkan pengakuan hukum laut Indonesia—sebuah upaya yang kelak melahirkan konsep Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) dan memperluas wilayah kedaulatan Indonesia.

Meski sudah mengakui kedaulatan wilayah Indonesia lewat Konferensi Meja Bundar, nyatanya kapal-kapal perang Belanda masih seenaknya hilir mudik di Laut Jawa menuju Papua. Kenyataan ini membuat Menteri Veteran Chairul Saleh murka. Dia pun

meminta agar Mochtar Kusumaatmadja memikirkan konsep hukum yang bisa menghentikan aksi-aksi kapal Belanda itu.

"Itulah yang menjadi cikal bakal Indonesia sebagai archipelago atau negara kepulauan melalui konsep Wawasan Nusantara," kata diplomat senior Makarim Wibisono seperti dikutip detikcom dari Majalah Detik edisi 183, Selasa (2/6/2015).

Konsep itu tertuang dalam Deklarasi Djuanda pada 13 Desember 1957. Sebagai konseptor, Mochtar kemudian memimpin perjuangan pada Konferensi Hukum Laut yang diselenggarakan Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) agar mendapat pengakuan dunia.

Perjuangan yang tak mudah karena Sejumlah negara maju bersatu menolak gagasannya. Sebab gagasan dia membatasi kebebasan mereka di laut lepas.

Dengan ketekunan dan kegigihannya 25 tahun kemudian mereka menyerah, dan mengakui konsep yang diperjuangkan Mochtar dalam Konvensi Hukum Laut III di Montego Bay, Jamaica, 10 Desember 1982. Dengan pengakuan itu luas wilayah laut Indonesia bertambah lebih dari dua kali lipat dari semula sekitar dua juta kilomter menjadi lima juta kilometer persegi.

"Karena itu saya mengusulkan agar Pak Mochtar mendapat gelar Pahlawan Nasional karena berkat kekuatan diplomasinya wilayah

NKRI bisa seperti sekarang ini tanpa meletuskan sebutir peluru pun," kata Makarim yang pernah menjadi Duta Besar RI di PBB.

Keberhasilan Mochtar, menurut mantan Menteri Luar Negeri Hassan Wirajuda, bermula dari kejeliannya melihat celah dalam pasal 1 ayat 1 Teritoriale Zee en Maritieme Kringen Ordonantie (TZMKO) atau Ordonansi Laut Teritorial dan Lingkungan

Maritim. Merujuk Undang-undang laut buatan Belanda pada 1939 itu, laut Indonesia hanya berjarak 3 mil dari garis pantai.

Sehingga di luar itu otomatis termasuk laut internasional sehingga semua kapal asing bebas berlayar. Merujuk UU itu juga mengkondisikan pulau-pulau Indonesia tak menjadi kesatuan yang utuh.

Agar pulau-pulau Indonesia tak terpisah oleh laut, Mochtar mengajukan penghitungan baru dengan mengukurnya menjadi 12 mil dari garis pantai. "Ini pemikiran revolusioner," kata Hassan kepada pers pada acara peluncuran buku 'Rekam Jejak Kebangsaan Mochtar Kusuma-Atmadja' pertengahan Februari lalu.



5. Buatkan Gambar dan Infografis tentang 

Akhir Hayat dan Penghargaan 

Mochtar Kusumaatmadja


Beliau wafat pada 6 Juni 2021. Selepas wafatnya, banyak tokoh yang mendukung penetapan dirinya sebagai pahlawan nasional Indonesia.

Harapan tersebut baru terwujud pada 2025, dimana Presiden Prabowo Subianto mengangkat Prof. Mochtar Kusumaatmadja sebagai pahlawan nasional berdasarkan Keppres No. 116/TK/2025 bersama sembilan tokoh bangsa lainnya.

Atas penghargaan terhadap jasa beliau, Pemerintah Provinsi Jawa Barat mengubah nama Jalan Layang Pasupati menjadi Jalan Layang Mochtar Kusumaatmadja.

Ia berjuang di medan diplomasi, di ruang perundingan internasional yang sunyi, untuk memastikan Indonesia diakui sebagai satu kesatuan utuh. 

Dalam hal ini, Mochtar Kusumaatmaja sejajar dengan Pahlawan Nasional lain seperti Abdul Muis, yang juga berjuang dengan pena dan kata-kata. 

Kini, tantangan kita bukan lagi menuntut pengakuan dunia, tetapi menjaga dan mengelola kedaulatan itu dengan bijak.

Saat kita menikmati hasil perjuangan Mochtar Kusumaatmaja berupa laut yang menyatukan bangsa, maka sejatinya kita diingatkan untuk terus menghidupkan semangat yang ia wariskan, yaitu semangat nasional yang melihat laut bukan sebagai sumber konflik, tetapi sebagai sumber kolaborasi, kemakmuran, dan masa depan. 

Akhirnya, selama laut Indonesia tetap biru di bawah langit merah putih, warisan Mochtar Kusumaatmadja akan terus hidup, mengalun di setiap ombak yang menyatukan Indonesia.



0. Buatkan Gambar dan Infografis tentang 

Ringkasan singkat 

Mochtar Kusumaatmadja


Prof. Dr. Mochtar Kusumaatmadja, S.H., LL.M. (17 Februari 1929 – 6 Juni 2021) adalah seorang akademisi dan diplomat Indonesia. Ia pernah menjabat sebagai Menteri Kehakiman dari tahun 1974 sampai 1978 dan Menteri Luar Negeri dari tahun 1978 sampai 1988. Selain itu ia adalah guru besar di Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran Bandung. Definisinya tentang hukum adalah "Hukum adalah keseluruhan asas-asas dan kaidah-kaidah yang mengatur kehidupan masyarakat, termasuk didalamnya lembaga dan proses untuk mewujudkan hukum itu ke dalam kenyataan", dianggap paling relevan dalam menginterpretasikan hukum pada saat ini. Doktrin tersebut menjadi mahzab/prinsip yang dianut di Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran hingga saat ini.


Mochtar Kusumaatmadja

Pria yang memulai karier diplomasi pada usia 29 tahun ini dikenal umum piawai dalam mencairkan suasana dalam suatu perundingan yang amat serius bahkan sering menegangkan. Dia cepat berpikir dan melontarkan kelakar untuk mencairkan suasana. Diplomat penggemar olahraga catur dan berkemampuan berpikir cepat tetapi lugas ini memang suka berkelakar. Alumni S1 Fakultas Hukum Universitas Indonesia (1955) ini berperan banyak dalam perundingan internasional, terutama dengan negara-negara tetangga mengenai batas darat dan batas laut teritorial itu. Wakil Indonesia pada Sidang PBB mengenai Hukum Laut, Jenewa dan New York ini berperan banyak dalam konsep "Wawasan Nusantara" terutama dalam menetapkan batas laut teritorial, batas darat, dan batas landas kontinen Indonesia.Konsep ini pada dasarnya dikembangkan setelah Chairul Saleh tidak senang melihat perairan Indonesia dengan mudah dilewati oleh kapal asing terutama kawasan timur Indonesia sebagai akibat dari wilayah Indonesia yang saat itu hanya 3 mil dari permukaan pantai.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

213 Sultan Mohammad Salahuddin

 1. Buatkan Gambar dan Infografis tentang  Kehidupan Awal Sultan Mohammad Salahuddin Bagi masyarakat Bima, ada dua cita-cita besar yang tela...