1. Buatkan Gambar dan Infografis tentang
Kehidupan Awal
Sultan Mohammad Salahuddin
Bagi masyarakat Bima, ada dua cita-cita besar yang telah mengakar kuat selama berabad-abad yaitu, menyekolahkan anak dan menunaikan ibadah haji. Kedua cita-cita itu tidak dipandang sekadar sebagai capaian sosial, tetapi sebagai bentuk jihad fisabilillah yang menjadi orientasi hidup orang-orang tua Bima. Pandangan ini mencerminkan karakter masyarakat Bima yang religius, pantang menyerah, dan berpegang pada prinsip “harta dan pusaka terbaik adalah kemauan serta kesabaran.”
Dalam kehidupan sehari-hari, prinsip itu terwujud melalui etos kerja yang kuat seperti berdagang, bertani, beternak, bekerja serabutan, atau menjadi buruh tani, selama halal dan dapat mengantarkan keluarga pada pendidikan dan ibadah. Sejarah juga mencatat bahwa jauh sebelum sistem pendidikan modern hadir, masyarakat Bima telah mengirimkan anak-anaknya ke Tanah Arab untuk belajar agama. Tradisi intelektual dan keislaman ini menandai bahwa Bima bukan hanya wilayah pinggiran, tetapi salah satu pusat aktivitas keilmuan dan dakwah Islam di timur Nusantara. Di dalam lingkungan sosial dan religius seperti itulah Sultan Muhammad Salahuddin tumbuh dan kelak memimpin Kesultanan Bima.
Sultan Muhammad Salahuddin lahir pada 14 Juli 1889 (15 Zulhijjah 1306 H) sebagai putra mahkota dari Sultan Ibrahim. Ia memimpin Kesultanan Bima dalam salah satu masa paling dinamis dalam sejarah Nusantara yaitu ketika kolonialisme, pergerakan nasional, dan gagasan pembaruan Islam bertemu dan saling bersinggungan. Setelah wafat pada 11 Juli 1951, Sultan Muhammad Salahuddin diberi gelar Makakidi Agama, yaitu sebuah pengakuan atas kedalaman ilmu agama, komitmen terhadap dakwah, dan kesalehan pribadinya.
Sejak muda, Sultan telah menunjukkan minat yang sangat besar terhadap ilmu agama, politik, dan pemerintahan. Ia mempelajari Al-Qur’an, hadis, tauhid, dan siasat politik dari ulama istana serta dari ulama yang didatangkan khusus dari Batavia dan Mekkah. Ia dikenal rajin membaca, tekun belajar, dan memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, ciri-ciri yang menunjukkan orientasi modernis dalam berpikir, sebuah karakter yang selaras dengan arus pembaruan Islam di awal abad ke-20.
Dalam memimpin, Sultan dikenal sederhana, jujur, dan sangat menghargai nilai-nilai keadilan. Ia meyakini bahwa semua tantangan dapat dihadapi melalui perjuangan dan kesabaran, nilai yang menjadi inti dari etos masyarakat Bima sekaligus prinsip etika Islam.
2. Buatkan Gambar dan Infografis tentang
Perjuangan Pendidikan
Sultan Mohammad Salahuddin
Pendidikan Bima Sebelum Sultan
Sebelum modernisasi pendidikan hadir, sistem pendidikan di Bima didominasi oleh pendidikan non-formal yang berbasis pada tradisi Islam. Pengajaran agama dilaksanakan di rumah-rumah, masjid, langgar, surau, atau musholla. Para mubaligh menjadi motor penyebaran ilmu agama, menyampaikan pelajaran fikih, tauhid, tafsir sederhana, serta tradisi dakwah yang menjangkau desa-desa. Di lingkungan istana, setiap malam Jumat diadakan pengajaran agama khusus bagi keluarga bangsawan. Sistem pendidikan seperti ini mirip dengan tradisi pesantren, meski dalam bentuk yang lebih sederhana. Model tersebut menciptakan fondasi yang kuat bagi lahirnya kecerdasan spiritual masyarakat Bima dan menjadi latar yang subur bagi kehadiran pembaruan pendidikan di masa Sultan Muhammad Salahuddin.
Ketika memasuki abad ke-20, dunia Islam mengalami gelombang pembaruan yang dipimpin tokoh-tokoh seperti Muhammad Abduh di Mesir. Di Nusantara, Muhammadiyah yang berdiri pada tahun 1912 menjadi salah satu pelopor pembaruan pendidikan dengan menekankan rasionalisme, purifikasi akidah, serta pentingnya ilmu pengetahuan modern. Gerakan inilah yang memiliki relevansi kuat dengan model pendidikan yang dikembangkan Sultan Salahuddin. Adapun relevansinya adalah seperti:
1. Pendirian Sekolah Modern
Pada tahun 1921, Sultan Muhammad Salahuddin mendirikan Hollandsch Inlandsche School (HIS) di Raba, yaitu sebuah sekolah modern yang bertujuan agar masyarakat Bima tidak tertinggal dalam ilmu pengetahuan umum. Setahun kemudian, ia mendirikan Sekolah Kejuruan Wanita (Kopschool). Keputusan ini mencerminkan keberanian Sultan dalam memperjuangkan pendidikan perempuan dan hak egalitarian sesame manusia. Nilai yang sangat sejalan dengan gagasan Muhammadiyah yang sejak awal menolak diskriminasi pendidikan berdasarkan jenis kelamin. Untuk pemerataan pendidikan, Sultan juga mendirikan sekolah agama setingkat Ibtidaiyah yang dinamakan “Sakolah Kita” (Sekolah Kitab), serta sekolah umum “Sekolah Desa”, yang kemudian berkembang menjadi Sekolah Rakyat (setingkat SD). Dengan demikian, pendidikan yang dirintis Sultan menyentuh seluruh lapisan masyarakat, baik bangsawan maupun rakyat biasa.
2. Tantangan Sosial dan Respons Cerdas Sultan Muhammad Salahuddin
Masyarakat Bima yang sangat religius awalnya mencurigai pendidikan kolonial Belanda yang dianggap Dou Kafi. Yaitu mereka khawatir pendidikan modern akan menjauhkan anak-anak dari agama. Dalam meredam stigma dan resistensi ini, Sultan mengambil langkah strategis yang visioner yaitu ia mendatangkan guru-guru Muslim berjiwa nasionalis dari Makassar, Jawa, dan daerah lain. Bahkan guru non-Muslim pun dipilih dari kalangan yang memiliki kecintaan pada Indonesia. Langkah ini bukan hanya meredakan kecurigaan masyarakat, tetapi juga menumbuhkan semangat kebangsaan yang tidak membeda-bedakan suku dan agama. Strategi ini sejalan dengan ajaran Muhammadiyah yang memadukan nasionalisme, purifikasi, dan modernisme dalam satu nafas.
3. Keterlibatan Tokoh Muhammadiyah
Hubungan antara Kesultanan Bima dan Muhammadiyah menjadi semakin kuat ketika Abdul Wahid Karim yang merupakan tokoh muda Muhammadiyah asal Sumatra Barat datang ke Bima dan mendirikan Madrasah Darul Tarbiyah pada 1931 bersama Ruma Bicara Abdul Hamid. Sultan tidak hanya mendukung, tetapi turut menyumbang dana dan fasilitas. Ini menjadi bukti bahwa Sultan menyambut baik gerakan modernisme Islam yang ditawarkan Muhammadiyah. Pada tahun 1934, Sultan kembali mendirikan Madrasah Darul Ulum bersama ulama dari Batavia, Syekh Husain Saychab. Dua institusi ini menjadi pusat kajian Islam modern sekaligus tempat lahirnya kader-kader pembaruan yang kelak terlibat dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia.
4. Beasiswa, Kaderisasi, dan Warisan Kemajuan
Di antara kebijakan paling progresif Sultan Muhammad Salahuddin adalah pemberian beasiswa bagi pelajar berprestasi. Beasiswa ini diberikan tanpa memandang status sosial atau jenis kelamin suatu praktik yang sangat revolusioner pada zamannya. Para penerima beasiswa dikirim belajar ke Makassar, Jawa, bahkan hingga Timur Tengah. Banyak dari mereka yang kelak kembali menjadi pemimpin, ulama, pendidik, serta tokoh perjuangan dalam revolusi kemerdekaan. Di sinilah terlihat dengan jelas bahwa model pendidikan Sultan Muhammad Salahuddin tidak hanya mencetak intelektual, tetapi juga membentuk karakter dan kepemimpinan. Inilah Velue yang sejalan dengan visi pendidikan Muhammadiyah.
Walaupun Sultan memajukan pendidikan modern, ia tidak pernah menghilangkan tradisi keagamaan lokal. Sistem “ngaji karo’a” tetap dipertahankan. Sistem ini mengharuskan anak-anak usia 5–6 tahun mempelajari Al-Qur’an selama tiga tahun hingga khatam 30 juz. Puncaknya adalah “khafa karo’a,” yaitu upacara khataman yang sering disertai khitanan. Selain itu, pengajian fikih, tasawuf, dan hukum Islam di masjid dan langgar tetap berjalan dengan baik. Harmoni antara modernisasi dan tradisi inilah yang menjadi kekuatan pendidikan Bima pada masa Sultan Muhammad Salahuddin.
Selain itu, Sultan Muhammad Salahuddin bukan hanya pemimpin politik, tetapi pembaharu pendidikan Islam yang visioner. Ia berhasil memadukan tradisi keislaman lokal dengan modernitas pendidikan yang diusung oleh gerakan-gerakan reformis seperti Muhammadiyah. Jejaknya terlihat dalam sistem pendidikan Bima yang berkembang pesat, keterlibatan ulama-ulama modernis, serta meluasnya semangat kebangsaan dan keilmuan di tengah masyarakat.
3. Buatkan Gambar dan Infografis tentang
Kebijakan “Nika Baronta” dan Penuh Toleransi
Sultan Mohammad Salahuddin
Sultan Muhammad Salahuddin Dikenang karena Kebijakan “Nika Baronta”
Sultan Muhammad Salahuddin juga dikenang karena kebijakan “Nika Baronta” atau kawin berontak pada masa pendudukan Jepang. Saat itu, ia memerintahkan agar para gadis Bima segera dinikahkan untuk menghindari ancaman dijadikan Jugun Ianfu.
“Kebijakan tersebut berhasil menyelamatkan ribuan perempuan Bima dari kekejaman tentara Jepang. Bima menjadi satu-satunya daerah di Nusantara dan bahkan Asia tanpa perempuan yang dijadikan budak seks pada masa itu,” sebutnya.
Selain itu, Sultan juga memperjuangkan pendidikan perempuan. Ia mendirikan Sekolah Kejuruan Wanita (Kopschool) di Raba pada tahun 1922. Sultan juga mendorong lahirnya organisasi perempuan seperti Aisyiyah dan Rukun Wanita.
‘’Dalam bidang pendidikan, Sultan Muhammad Salahuddin dikenal sangat visioner. Ia mendirikan puluhan sekolah di berbagai penjuru Bima, termasuk Sekolah Agama Darul Ulum. Ia juga memberi beasiswa kepada rakyatnya untuk menuntut ilmu ke Makkah, Madinah, Makassar, dan Yogyakarta. Sultan bahkan membeli rumah di Makkah untuk dijadikan asrama bagi pelajar dan jamaah haji asal Bima,” ujarnya.
Warisan intelektualnya masih bisa ditemukan di Museum Samparaja, berupa kitab-kitab dan naskah khutbah Jumat yang ditulis langsung oleh tangan beliau. Salah satu karya pentingnya adalah Kitab Nurul Mubin, yang diterbitkan pada 1932.
Pemimpin yang Menjunjung Tinggi Nilai Toleransi
Sultan Muhammad Salahuddin juga dikenal sebagai pemimpin yang menjunjung tinggi nilai toleransi. “Ia memberikan tanah kesultanan untuk pembangunan gereja di Raba dan mengajarkan rakyatnya untuk saling menghormati perbedaan keyakinan. Wilayah Donggo, yang dikenal sebagai daerah multikepercayaan, hingga kini menjadi simbol harmoni yang diwariskan dari masa kepemimpinannya,” ujar Dewi.
Selain itu, dikatakan juga, ia mendukung berdirinya organisasi keagamaan seperti Nahdlatul Ulama (NU) di Bima pada tahun 1936 bersama Syekh Hasan Syekh Ab dari Batavia. Dia sekaligus menjadi ketua pertamanya di Bima.
4. Buatkan Gambar dan Infografis tentang
Pasca Kemerdekaan
Sultan Mohammad Salahuddin
Sultan Muhammad Salahuddin dikenal sebagai salah satu raja pertama di Indonesia yang secara terbuka menyatakan dukungan kepada Republik Indonesia yang baru berdiri. Pada 22 November 1945, ia mengeluarkan Maklumat Kerajaan Bima. Hal ini menegaskan bahwa Bima adalah daerah istimewa yang berdiri di belakang Pemerintah Republik Indonesia.
Langkah itu menunjukkan keberanian besar di tengah situasi politik yang belum stabil pasca-kemerdekaan. Presiden RI, Soekarno bahkan secara khusus datang ke Bima pada 13 November 1950. Dia menyampaikan terima kasih dan penghargaan atas kesetiaan Sultan dan rakyat Bima terhadap Republik Indonesia.
“Berdasarkan catatan sejarah, Presiden Soekarno dalam kunjungannya mengatakan, kami datang untuk menyampaikan penghargaan. Ini untuk Sultan Muhammad Salahuddin dan rakyat Bima yang setia kepada Republik Indonesia,’’ tutur Dewi Ratna Muchlisa.
5. Buatkan Gambar dan Infografis tentang
Akhir Hayat dan Penghargaan
Sultan Mohammad Salahuddin
Ketika wafat di Jakarta pada 14 Juli 1951, Presiden Soekarno memberikan penghormatan kenegaraan kepada Sultan Muhammad Salahuddin. Jenazahnya disemayamkan di Gedung Proklamasi Pegangsaan Timur 56, tempat bersejarah pembacaan Teks Proklamasi. Presiden Soekarno bahkan menyebutnya sebagai “pahlawan sejati dari Timur Nusantara.”
“Sultan kemudian dimakamkan di TPU Karet Bivak Jakarta. Ia diberi status khusus dan dibebaskan dari pajak makam untuk selamanya. Ia diizinkan memiliki ornamen atap khas kerajaan, sebuah kehormatan yang tak diberikan kepada sembarang tokoh,” tutur Dewi.
Kini, setelah lebih dari tujuh dekade, pengakuan negara datang juga. Sosok Sultan Muhammad Salahuddin bukan sekadar bagian dari sejarah Bima, tapi bagian dari sejarah besar Indonesia.
“Beliau bukan hanya milik Bima, tapi milik seluruh bangsa. Semangat nasionalismenya menjadi teladan abadi bagi generasi muda Indonesia,” tutup Dewi. (Suara NTB)
Penetapan Sultan Muhammad Salahuddin sebagai Pahlawan Nasional oleh Pemerintah Republik Indonesia bukan hanya bentuk penghargaan atas jasa seorang tokoh besar asal Bima, tetapi juga menjadi momentum kebangkitan nilai perjuangan, budaya, dan jati diri masyarakat Mbojo.
Pemerintah Kota Bima menyambut dengan penuh rasa syukur dan bangga keputusan tersebut, karena mengukuhkan peran Bima dalam perjalanan sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Sultan Muhammad Salahuddin dikenal sebagai pemimpin yang visioner, berjiwa nasionalis, dan berperan penting dalam menanamkan nilai kemerdekaan serta semangat pendidikan di tanah Mbojo.
Sultan Muhammad Salahuddin bukan hanya pemimpin politik, tetapi pembaharu pendidikan Islam yang visioner. Ia berhasil memadukan tradisi keislaman lokal dengan modernitas pendidikan yang diusung oleh gerakan-gerakan reformis seperti Muhammadiyah. Jejaknya terlihat dalam sistem pendidikan Bima yang berkembang pesat, keterlibatan ulama-ulama modernis, serta meluasnya semangat kebangsaan dan keilmuan di tengah masyarakat.
Warisan Sultan Muhammad Salahuddin mengajarkan bahwa modernisasi Islam bukan berarti meninggalkan tradisi, tetapi menghidupkan kembali nilai-nilai dasar Islam melalui pendidikan, ilmu pengetahuan, dan kesadaran kebangsaan. Dari timur Nusantara, ia menjadi salah satu figur yang menyalakan cahaya pembaruan Islam, cahaya yang tetap menyala hingga kini. Atas kiprahnya yang luar biasa, pada 10 November 2025, Presiden Prabowo Subianto memberikan gelar Pahlawan Nasional kepada Muhammad Salahuddin, berdasarkan Keputusan Presiden (Keppres) Republik Indonesia Nomor 116/TK/Tahun 2025 yang ditandatangani pada 6 November 2025.
(suara Muhammadiyah)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar