[8/7 22.35] rudysugengp@gmail.com: 1. Buatkan gambar dan infografis tentang
Kehidupan Awal Abdul Kadir Gelar Raden Temenggung Setia
Abdul Kadir Gelar Raden Temenggung Setia Pahlawan (lahir: Sintang, Kalimantan Barat, 1771 - wafat: Tanjung Suka Dua, Melawi, 1875) adalah seorang pahlawan nasional Indonesia dari Melawi. Pada tahun 1845, ia diangkat sebagai Kepala Pemerintahan Melawi yang merupakan bagian dari Kerajaan Sintang. Sebagai pejabat kerajaan ia mendapat gelar Raden Temenggung. Ia berhasil mengembangkan potensi perekonomian wilayah ini dan mempersatukan suku Dayak dengan Melayu. Selain itu ia juga berjuang menentang Belanda yang ingin menguasai wilayah ini.
Asal Usul :
Abdul Kadir Raden Tumenggung Setia Pahlawan lahir di Sintang, Kalimantan Barat pada tahun 1771 Masehi. Ayahnya bernama Oerip dan ibunya bernama Siti Safriyah. Ayah Abdul Kadir bekerja sebagai hulubalang atau pemimpin pasukan Kerajaan Sintang.
Masa Muda :
Abdul Kadir sudah mengabdi sebagai pegawai Kerajaan Sintang pada saat usianya masih sangat muda. Selama mengabdi di Kerajaan Sintang, ia mampu melaksanakan tugasnya dengan baik. Ia pernah mendapat tugas dari Raja Sintang untuk mengamankan Kerajaan Sintang dari gangguan pengacau dan perampok. Tugas tersebut dapat dilaksanakannya dengan baik. Abdul Kadir kemudian diangkat menjadi pembantu ayahnya yang menjabat sebagai Kepala Pemerintahan kawasan Melawi. Setelah ayahnya wafat, pada tahun 1845, ia diangkat sebagai kepala pemerintahan Melawi menggantikan kedudukan ayahnya. Karena jabatannya itu Abdul Kadir mendapatkan gelar Raden Tumenggung yang diberikan oleh Raja Sintang.
[8/7 22.35] rudysugengp@gmail.com: 2. Buatkan gambar dan infografis tentang
Perjuangan Abdul Kadir Gelar Raden Temenggung Setia
Dalam perjuangannya, ia berhasil mempersatukan suku-suku Dayak dengan Melayu serta dapat mengembangkan potensi ekonomi daerah Melawi. Namun, ia juga berjuang keras menghadapi ambisi Belanda (datang di Sintang pada tahun 1820) yang ingin memperluas wilayah kekuasaannya ke daerah Melawi. Dalam menghadapi Belanda, ia memakai strategi peran ganda, yaitu sebagai pejabat pemerintah Melawi ia tetap bersikap setia pada Raja Sintang yang berarti setia pula pada pemerintahan Belanda. Namun, secara diam-diam ia juga menghimpun kekuatan rakyat untuk melawan Belanda. Ia membentuk kesatuan-kesatuan bersenjata di daerah Melawi dan sekitarnya untuk menghadapi pasukan Belanda. Pada tahun 1866, Belanda memberikan hadiah uang dan gelar Setia Pahlawan kepada Abdul Kadir Raden Tumenggung agar sikapnya melunak dan mau bekerjasama dengan Belanda. Namun Abdul Kadir tidak mengubah sikap dan pendiriannya. Ia tetap melakukan persiapan untuk melawan pemerintahan Belanda. Pada akhirnya di daerah Melawi sering terjadi gangguan keamanan terhadap Belanda yang dilakukan oleh pengikut Abdul Kadir Raden Tumenggung. Pada tahun 1868, Belanda yang marah akibat sering mendapat gangguan keamanan kemudian melancarkan operasi militer ke daerah Melawi. Pertempuran pun tidak bisa dihindari antara pasukan Belanda melawan pengikut Abdul Kadir Raden Tumenggung. Dalam menghadapi Belanda, Abdul Kadir tidak memimpin pertempuran secara langsung, melainkan ia hanya mengatur strategi perlawanan. Sebagai kepala pemerintahan Melawi, ia bisa memperoleh berbagai informasi tentang rencana-rencana operasi militer pemerintah Belanda. Berkat informasi itulah, para pemimpin perlawanan dapat mengacaukan operasi militer Belanda.
[8/7 22.35] rudysugengp@gmail.com: 3. Buatkan gambar dan infografis tentang
Akhir Hayat Abdul Kadir Gelar Raden Temenggung Setia
Akhir Hidup :
Selama tujuh tahun (1868-1875) Abdul Kadir Raden Tumenggung berhasil menerapkan strategi peran ganda, tetapi akhirnya pemerintah Belanda mengetahuinya. Pada tahun 1875 ia ditangkap dan dipenjarakan di Benteng Saka Dua milik Belanda di Nanga Pinoh. Tiga minggu kemudian ia meninggal dunia dalam usia 104 tahun. Jenazahnya dimakamkan di Natali Mangguk Liang daerah Melawi. Abdul Kadir Raden Tumenggung Setia Pahlawan adalah satu satunya pahlawan yang meninggal dunia pada usia di atas 100 tahun. Tokoh pejuang yang mampu menghimpun serta menggerakkan rakyat untuk melawan Belanda. Pemikirannya untuk melawan penjajah Belanda menjadi contoh bagi perlawanan rakyat selanjutnya.
Atas jasa-jasanya dalam perjuangan menghadapi penjajah Belanda, maka pada tahun 1999 berdasarkan Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 114/TK/Tahun 1999 tertanggal 13 Oktober 1999, pemerintah Indonesia menganugerahkan Abdul Kadir Raden Tumenggung Setia Pahlawan sebagai Pahlawan Nasional.
[10/7 00.47] rudysugengp@gmail.com: 1. Buatkan gambar dan infografis tentang
Kehidupan Awal I Gusti Ketut Jelantik
I Gusti Ketut Jelantik (Aksara Bali: ᬇᬕᬸᬲ᭄ᬢᬶᬓᭂᬢᬸᬢ᭄ᬚᭂᬮᬦ᭄ᬢᬶᬓ᭄, meninggal tahun 1849) adalah pahlawan nasional Indonesia yang berasal dari Karangasem, Bali. Ia merupakan patih Kerajaan Buleleng. Ia berperan dalam Perang Bali I, Perang Jagaraga, dan Perang Bali III yang terjadi di Bali pada tahun 1849.
Ia gugur ketika peperangan berakhir, yaitu pada tahun 1849.
Biodata :
I Gusti Ketut Jelantik
ᬇᬕᬸᬲ᭄ᬢᬶᬓᭂᬢᬸᬢ᭄ᬚᭂᬮᬦ᭄ᬢᬶᬓ᭄
Lahir : 1800, Tukadmungga, Buleleng, Buleleng
Meninggal : 1849, Jagaraga, Buleleng
Pengabdian : Buleleng
Pangkat : Patih
Perang/pertempuran
Perang Jagaraga
Penghargaan : Pahlawan Nasional Indonesia
Pasangan :
I Gusti Ayu Made Geria
I Gusti Ayu Kompyang
Gusti Biyang Made Saji
Jero Sekar
Anak :
I Gusti Ayu Jelantik
I Gusti Ayu Made Sasih
I Gusti Bagus Weda Tarka
Kehidupan Pribadi :
Dalam satu keterangan disebutkan I Gusti Ketut Jelantik saat muda sering berkunjung ke Desa Kalibukbuk. Di desa itu terdapat sebuah kerajaan kecil dengan aktivitas utama masyarakatnya yaitu bertani.
Produktivitas pertanian I Gusti Ketut Jelantik cukup tinggi, sehingga dia mampu membangun pura yang bernama Pura Bukit Sari. Pada tahun 1828, I Gusti Ketut Jelantik diangkat menjadi Patih Agung Kerajaan Buleleng Bali.
[10/7 00.47] rudysugengp@gmail.com: 2. Buatkan gambar dan infografis tentang
Perjuangan I Gusti Ketut Jelantik Mengusir Penjajah
Riwayat Perjuangan :
I Gusti Ketut Jelantik menjadi pemimpin dalam perlawanan terhadap invasi Belanda ke Bali, perlawanan tersebut terjadi beberapa kali di Bali utara selama tahun 1846, 1848, dan 1849.
Perlawanan ini bermula karena pemerintah kolonial Hindia Belanda ingin menghapuskan tawan karang yang berlaku di Bali, yaitu hak bagi raja-raja yang berkuasa di Bali untuk mengambil kapal yang kandas di perairannya beserta seluruh isinya.
Pada kala itu, Belanda berusaha memanipulasi rempah rempah Bali dan melalui pelayaran Hongi, kapal Belanda karam di Bali utara. Kapal tersebut langsung ditawan oleh Kerajaan Buleleng. Ucapannya yang terkenal ketika itu ialah "Apapun tidak akan terjadi. Selama aku hidup, aku tidak akan mengakui kekuasaan Belanda di negeri ini".
Perang Bali I :
Pada tahun 1841, terjadi kesepakatan antara pemerintah Hindia Belanda dan kerajaan-kerajaan lokal di Bali. Namun, kesepakatan ini tidak diterima oleh sebagian besar masyarakat Bali, termasuk Kerajaan Buleleng. Belanda akhirnya melihat kesempatan untuk menyerang Bali dengan memanfaatkan hukum adat Tawan Karang, yang memberikan hak bagi Bali untuk menguasai kapal yang karam di pesisirnya.
Pada tahun 1846, pecah pertempuran antara masyarakat Bali dan Belanda, yang dikenal sebagai Perang Bali I. Perang ini melibatkan puluhan ribu prajurit. Dari pihak Belanda, terdapat 1.280 prajurit yang diangkut dengan 23 kapal perang. Sementara itu, dari pihak Bali, yaitu Kerajaan Buleleng dan Kerajaan Karangasem, terdapat lebih dari 10.000 prajurit.
Dalam perang ini, Belanda berhasil menaklukkan ibu kota Singaraja, yang kemudian diikuti dengan penawaran damai dari pihak Karangasem dan Buleleng.
Peristiwa ini menandai awal dari rangkaian konflik antara Belanda dan kerajaan-kerajaan di Bali yang berlangsung hingga akhir abad ke-19, dengan tujuan memperluas kekuasaan kolonial Belanda di wilayah tersebut.
Perang Jagaraga :
Perjanjian antara Belanda dengan Kerajaan Buleleng dan Karangasem akhirnya disepakati. Dalam perjanjian tersebut, masyarakat Bali harus segera menyelesaikan segala kewajiban mereka terhadap pemerintah Hindia Belanda. Namun, perjanjian ini tidak bertahan lama. Perang kembali meletus yang dikenal dengan Perang Jagaraga atau Perang Bali II. Perang ini disebut Perang Jagaraga karena I Gusti Ketut Jelantik memusatkan benteng pertahanan di Jagaraga.
Perang Jagaraga terjadi pada tahun 1848, dipimpin oleh I Gusti Ketut Jelantik dengan 16.000 prajurit Bali, termasuk 1.500 orang yang bersenjata senapan api. Di pihak Belanda, terdapat 2.400 prajurit yang berasal dari berbagai daerah, termasuk koloni Belanda di luar negeri. Dalam pertempuran ini, masyarakat Bali berhasil memukul mundur pihak Belanda. Tercatat sebanyak 200 prajurit Belanda tewas, dan sisanya melarikan diri dengan kapal.
Perang Jagaraga menjadi simbol perlawanan masyarakat Bali terhadap penjajahan Belanda, dan menunjukkan keberanian serta semangat juang tinggi dari rakyat Bali dalam mempertahankan tanah air mereka.
Perang Bali III :
Kekalahan dalam Perang Jagaraga menyebabkan pemimpin militer Hindia Belanda mengundurkan diri dari jabatannya. Namun, Belanda kembali menyusun pasukan untuk menyerang Bali demi mempertahankan reputasinya. Perang Bali III terjadi pada tahun 1849. Pasukan Belanda terdiri dari 5.000 prajurit terlatih, 3.000 pelaut, dan 100 kapal. Sementara itu, masyarakat Bali memiliki 33.000 prajurit yang dipimpin oleh I Gusti Ketut Jelantik dan Gusti Ngurah Made Karangasem.
Hindia Belanda yang telah belajar dari dua perang sebelumnya menyusun strategi yang berbeda. Mereka memilih memusatkan serangan di Bali Selatan dengan mendarat di Dusun Padang dan menyerang Klungkung. Selain itu, Belanda juga menjalin koalisi dengan Kerajaan Lombok saat itu dikuasai Karangasem yang dikenal bermusuhan dengan Buleleng. Pada tahun 1849, Raja Buleleng melarikan diri dari serangan Belanda di Buleleng. Bersama penguasa Buleleng, ia pergi ke Karangasem untuk mencari perlindungan, tetapi akhirnya terbunuh oleh pasukan dari Lombok, yang merupakan sekutu Belanda. Perang ini berakhir dengan puputan, di mana seluruh anggota kerajaan dan rakyatnya berjuang hingga titik darah penghabisan untuk mempertahankan daerah mereka.
[10/7 00.47] rudysugengp@gmail.com: 3. Buatkan gambar dan infografis tentang
Akhir Hayat dan Penghargaan I Gusti Ketut Jelantik
Hingga akhirnya pada 16 April 1849, Kerajaan Buleleng resmi jatuh ke tangan Hindia Belanda. Setelah peristiwa tersebut, Raja Buleleng harus mundur ke Gunung Batur di Kintamani. Di tempat inilah perjuangannya berakhir dengan gugurnya Raja. Setelah wafatnya, perjuangan para raja Bali mulai mengalami kemunduran. Seluruh wilayah Bali dengan mudah dikuasai oleh Belanda, kecuali Bali Selatan yang masih melakukan perlawanan. Dalam Perang Bali III, I Gusti Ketut Jelantik dan Raja Buleleng gugur dalam pertempuran. Sementara itu, Penguasa Karangasem memilih melakukan ritual bunuh diri. I Gusti Ketut Jelantik meninggal pada tahun 1849 di Perbukitan Bale Pundak, Gunung Batur, Kintamani, Bali.
Pahlawan Nasional :
Berdasarkan perjuangan yang telah dilakukan oleh I Gusti Ketut Jelantik dalam melawan invasi Belanda di Bali, ia ditetapkan sebagai pahlawan nasional Indonesia berdasarkan SK Presiden RI No. 077/TK/Tahun 1993 pada 14 September 1993.
[10/7 01.15] rudysugengp@gmail.com: 1. Buatkan gambar dan infografis tentang
Kehidupan Awal Sultan Nuku Muhammad Amiruddin
Muhammad Amiruddin atau lebih dikenal dengan nama Sultan Nuku adalah seorang sultan dari Kesultanan Tidore yang dinobatkan pada tanggal 13 April 1779, dengan gelar “Sri Paduka Maha Tuan Sultan Saidul Jehad el Ma’bus Amiruddin Syah Kaicil Paparangan” Selama masa perang dengan VOC, Nuku disebut juga sebagai Jou Barakati, artinya Tuan Yang Diberkahi.
Biodata :
Sultan Nuku Muhammad Amiruddin
Berkuasa : 1797–1805
Pendahulu : Sultan Kamaluddin
Kelahiran : 1738, Soasiu, Tidore
Kematian : 14 November 1805 (umur 66–67), Tidore
Ayah : Sultan Jamaluddin
Sultan Nuku Muhamad Amiruddin adalah putra kedua Sultan Jamaluddin (1757–1779) dari Kesultanan Tidore. Dilahirkan pada tahun 1738, nama kecilnya adalah Kaicil Syaifuddin.
Pada zaman pemerintahan Nuku (1797 – 1805), Kesultanan Tidore mempunyai wilayah kerajaan yang luas yang meliputi Pulau Tidore, Halmahera Tengah, pantai Barat dan bagian Utara Irian Barat serta Seram Timur. Sejarah mencatat bahwa hampir 25 tahun, Nuku bergumul dengan peperangan untuk mempertahankan tanah airnya dan membela kebenaran.
[10/7 01.15] rudysugengp@gmail.com: 2. Buatkan gambar dan infografis tentang
Perjuangan Sultan Nuku Muhammad Amiruddin Mengusir Penjajah
Dari satu daerah, Nuku berpindah ke daerah lain, dari perairan yang satu menerobos ke perairan yang lain, berdiplomasi dengan Belanda maupun dengan Inggris, mengatur strategi dan taktik serta terjun ke medan perang. Semuanya dilakukan hanya dengan tekad dan tujuan yaitu membebaskan rakyat dari cengkeraman penjajah dan hidup damai dalam alam yang bebas merdeka. Cita-citanya membebaskan seluruh kepulauan Maluku terutama Maluku Utara (Maloko Kie Raha) dari penjajah bangsa asing.
Sebagaimana di seluruh wilayah jajahannya di Indonesia, Belanda senantiasa turut campur dalam penentuan siapa yang berhak bertakhta dalam sebuah kerajaan di Nusantara. Sosok yang bisa diajak bekerja sama biasanya akan ditunjuk sebagai penguasa dan sosok yang dianggap berbahaya, sekalipun pewaris sah takhta, akan disingkirkan. Begitu juga di kesultanan Tidore, di mana Sultan Jamaluddin adalah penguasa kesultanan Tidore. Karena dianggap berbahaya bagi kedudukan Belanda, Sultan Jamaluddin ditangkap dan diasingkan ke Batavia pada tahun 1779.
Berdasarkan tradisi kerajaan Tidore, pengangkatan raja baru harus berdasarkan silsilah (sesuai garis keturunan). Yang berhak menjadi Sultan Tidore waktu itu adalah Nuku, melanjutkan takhta Sultan Jamaluddin, ayahandanya. Namun Belanda tidak menghendaki Nuku naik takhta. Perlawanan Nuku Muhammad Amiruddin diawali ketika ia dan adiknya Kamaluddin menentang pengangkatan Kaicil Gay Jira oleh Belanda sebagai Sultan Tidore. Secara nyata Belanda menginjak-injak tradisi kesultanan Tidore, terlebih lagi setelah Belanda menurunkan Sultan Kaicil Gay Jira dan menunjuk putra Kaicil, Patra Alam, sebagai sultan Tidore yang baru.
Sebagai bentuk perlawanan, Nuku Muhammad Amiruddin pun menggalang kekuatan untuk melawan kompeni Belanda. Ia membangun armada Kora-kora di daerah sekitar Pulau Seram dan Irian Jaya dengan mendirikan basis pertahanan di Seram Timur pada tahun 1781. Mereka membangun benteng-benteng di pesisir pantai, menyebar ranjau di lautan, dan memasang meriam tempur
Belanda kembali menunjukkan kesewenang-wenangannya dalam penentuan pemegang takhta kesultanan Tidore sekaligus menerapkan politik adu dombanya dengan mengangkat adik kandung Nuku Muhammad Amiruddin, Kamaluddin, Sebagai Sultan Tidore setelah menurunkan Sultan Patra Alam. Pada tahun 1787, pasukan Belanda menyerbu Seram timur untuk melumpuhkan perlawanan Nuku. Basis pertahanan Nuku di Seram Timur berhasil direbut. Nuku Muhammad Amiruddin pun mengalihkan basis pertahanan pasukannya di Pulau Gorong dan menjalin hubungan baik dengan pasukan Inggris atas dasar hubungan timbal balik yang sangat menguntungkan kedua belah pihak.
Strategi Diplomasi dan Adu Domba:
Nuku memanfaatkan rivalitas antara kekuatan kolonial Belanda (VOC) dan Inggris. Ia menjalin aliansi dengan Inggris untuk membantu mengusir Belanda dari wilayahnya.
Aliansi Lintas Wilayah:
Berhasil menyatukan kekuatan suku-suku di Maluku hingga ke Papua, serta menjalin hubungan dagang dengan bangsa Tionghoa untuk memperkuat logistik dan armadanya.
[10/7 01.15] rudysugengp@gmail.com: 3. Buatkan gambar dan infografis tentang
Akhir Hayat dan Penghargaan Sultan Nuku Muhammad Amiruddin
Panglima Perang Tak Terkalahkan:
Menggunakan taktik gerilya laut yang sangat brilian, beliau memiliki armada kapal kora-kora yang tangguh. Inggris bahkan menjulukinya sebagai The Lord Of Fortune karena ia tidak pernah kalah dalam setiap pertempuran melawan Belanda.
Membebaskan Tidore dan Ternate:
Puncak perjuangannya terjadi antara tahun 1797 hingga 1801, di mana pasukan Nuku berhasil merebut kembali takhtanya dan membebaskan Tidore serta Ternate dari cengkeraman penjajah.
Sebagai seorang keturunan Raja Tidore, ia menjadi seorang pejuang yang tidak bisa diajak kompromi dan pengaruhnya yang kuat di wilayah Maluku. Hingga usia senja, semangat dan perjuangannya tidak berhenti. Sultan Nuku sulit ditaklukan, ia bertempur melawan Belanda di darat maupun di laut. Untuk menghadapi Belanda, Sultan Nuku meniru siasat devide et impera yang sering digunakan oleh Belanda. Sultan Nuku menghasut orang-orang Inggris agar mengusir orang-orang Belanda, yang setelah berhasil segera digempurnya. Pasukan Nuku semakin kuat setelah mendapat berbagai perlengkapan perang dari Inggris dan memenangkan banyak pertempuran melawan Belanda.
Menderita banyak kekalahan di berbagai medan peperangan, VOC mengajukan tawaran berunding dengan Nuku Muhammad Amiruddin dan menawarkan kekuasaan kepadanya jika bersedia berunding dengan Sultan Kamaluddin. Nuku menolak secara tegas siasat Belanda dan semakin menggiatkan serangan pasukannya terhadap pasukan Belanda yang dibantu pasukan kesultanan Tidore yang setia terhadap Sultan Kamaluddin. Pada tahun 1796, pasukan Nuku berhasil merebut dan menguasai Pulau Banda. Setahun kemudian, mereka mampu merebut Tidore dan membuat Sultan Kamaluddin melarikan diri ke Ternate. Sepeninggal Sultan Kamaluddin, rakyat Tidore secara bulat menunjuk Nuku Muhammad Amiruddin menjadi sultan Tidore. Sultan Nuku terus menggempur kekuatan Belanda di Ternate hingga tahun 1801 Ternate dapat dibebaskan dari cengkraman Belanda. Ia meninggal dalam usia 67 tahun pada tahun 1805.
Gelar Pahlawan :
Sultan Nuku wafat pada 14 November 1805 dan dianugerahi gelar Pahlawan Nasional Indonesia pada tahun 1995 melalui Keputusan Presiden RI No. 71/TK/Tahun 1995, tanggal 7 Agustus 1995.
[10/7 02.04] rudysugengp@gmail.com: 1. Buatkan gambar dan infografis tentang
Kehidupan Awal Untung Surapati
Untung Surapati (Bahasa Jawa: Untung Suropati) (terlahir Surawiraaji, lahir di Gelgel, Bali, 1660 – meninggal dunia di Bangil, Pasuruan, Mataram, 5 Desember 1706 pada umur 45/46 tahun) adalah seorang tokoh dalam sejarah Nusantara yang dicatat dalam Babad Tanah Jawi.
Kisahnya menjadi legendaris karena mengisahkan seorang anak rakyat jelata dan budak VOC yang menjadi seorang bangsawan dan Tumenggung (Bupati) Pasuruan dengan gelar Tumenggung Wiranegara.
Biodata :
Untung Surapati : Bupati Pasuruan ke - 5
Kelahiran : 1660, Gelgel, Bali
Kematian : 5 Desember 1706, Bangil, Mataram
Pasangan :
Raden Ayu Gusik Kusuma
Keturunan :
Raden Pengantin
Raden Surapati
Raden Suradilaga
Mas Ayu Gendhing (istri Prabu Danurejo, Raja Blambangan)
Nama asli :
Surawiraaji
Agama : Islam
Karier militer
Pangkat : Kapten (1686)
Perang/pertempuran :
Perang Saudara Banten
Penyergapan di Cikalong (1684)
Pertempuran Kartasura (1686)
Perang Takhta Jawa Pertama
Pertempuran Pasuruan
Latar belakang
Asal-usul Untung :
Untung Suropati sebagai pelayan Pieter Cnoll dan Cornelia van Nijenroode
Untung Surapati, Nama aslinya Surawiraaji. Menurut Babad Tanah Jawi ia berasal dari Bali yang ditemukan oleh Kapten van Beber, seorang perwira VOC yang ditugaskan di Makasar. Kapten van Beber kemudian menjualnya kepada perwira VOC lain.[butuh rujukan] Untung Surapati akhirnya dibeli oleh van Moor di Bali untuk dibawa bersamanya ke Batavia. Saat menjadi budak, Untung berusia tujuh tahun. Sejak memiliki budak baru, karier dan kekayaan Moor meningkat pesat. Anak kecil itu dianggap pembawa keberuntungan sehingga diberi nama "Si Untung".
Ketika Untung berumur 20 tahun, ia dimasukkan penjara oleh Moor karena menjalin hubungan dengan putrinya yang bernama Suzane. Untung kemudian menghimpun para tahanan dan berhasil kabur dari penjara dan menjadi buronan.
[10/7 02.06] rudysugengp@gmail.com: 2. Buatkan gambar dan infografis tentang
Perjuangan Untung Surapati
Mendapat nama Surapati :
Penyergapan di Cikalong (1684)
Pada tahun 1683, Sultan Ageng Tirtayasa raja Banten dikalahkan VOC. Putranya yang bernama Pangeran Purbaya (Banten) melarikan diri ke Gunung Gede. Ia memutuskan menyerah tetapi hanya mau dijemput perwira VOC pribumi.
Kapten Ruys (pemimpin benteng Tanjungpura) berhasil menemukan kelompok Untung. Mereka ditawari pekerjaan sebagai tentara VOC daripada hidup sebagai buronan. Untung pun dilatih ketentaraan, diberi pangkat letnan, dan ditugasi menjemput Pangeran Purbaya.
Untung menemui Pangeran Purbaya untuk dibawa ke Tanjungpura. Datang pula pasukan Vaandrig Kuffeler yang memperlakukan Pangeran Purbaya dengan kasar. Untung tidak terima dan menghancurkan pasukan Kuffeler di Sungai Cikalong, 28 Januari 1684.
Pangeran Purbaya tetap menyerah ke Tanjungpura, tetapi istrinya yang bernama Gusik Kusuma meminta Untung mengantarnya pulang ke Kartasura. Untung kini kembali menjadi buronan VOC. Antara lain ia pernah menghancurkan pasukan Jacob Couper yang mengejarnya di desa Rajapalah.
Ketika melewati Kesultanan Cirebon, Untung berkelahi dengan Raden Surapati, anak angkat sultan. Setelah diadili, terbukti yang bersalah adalah Surapati. Surapati pun dihukum mati. Sejak itu nama "Surapati" oleh Sultan Cirebon diserahkan kepada Untung.
Terbunuhnya Kapten Tack :
Pertempuran Kartasura (1686)
Lukisan tradisional Jawa karya Tirto dari Grisek menggambarkan terbunuhnya Kapten François Tack oleh Surapati di Kartasura (1686) di bawah Susuhunan Amangkurat II.
Untung alias Surapati tiba di Kartasura mengantarkan Raden Ayu Gusik Kusuma pada ayahnya, yaitu Patih Nerangkusuma. Nerangkusuma adalah tokoh anti VOC yang gencar mendesak Amangkurat II agar membatalkan perjanjiannya dengan bangsa Belanda tersebut. Nerangkusuma juga menikahkan Gusik Kusuma dengan Surapati.
Kapten François Tack (perwira VOC senior yang ikut berperan dalam penumpasan Trunajaya dan Sultan Ageng Tirtayasa) tiba di Kartasura bulan Februari 1686 untuk menangkap Surapati. Amangkurat II yang telah dipengaruhi Nerangkusuma, pura-pura membantu VOC.
Pertempuran pun meletus di halaman keraton. Pasukan VOC hancur. Sebanyak 75 orang Belanda tewas. Kapten Tack sendiri tewas di tangan Untung. Tentara Belanda yang masih hidup menyelamatkan diri ke benteng mereka.
Bergelar Tumenggung Wiranegara :
Amangkurat II takut pengkhianatannya terbongkar. Ia merestui Surapati dan Nerangkusuma merebut Pasuruan. Di kota itu, Surapati mengalahkan bupatinya, yaitu Anggajaya, yang kemudian melarikan diri ke Surabaya. Bupati Surabaya bernama Adipati Jangrana tidak melakukan pembalasan karena ia sendiri sudah kenal dengan Surapati di Kartasura.
Untung Surapati pun mengangkat diri menjadi bupati Pasuruan dan bergelar Tumenggung Wiranegara.
Pada tahun 1690 Amangkurat II pura-pura mengirim pasukan untuk merebut Pasuruan. Tentu saja pasukan ini mengalami kegagalan karena pertempurannya hanya bersifat sandiwara sebagai usaha mengelabui VOC.
[10/7 02.07] rudysugengp@gmail.com: 3. Buatkan gambar dan infografis tentang
Akhir Hayat dan Penghargaan Untung Surapati
Kematian Untung Surapati :
Sepeninggal Amangkurat II tahun 1703, terjadi perebutan takhta Kartasura antara Amangkurat III melawan Pangeran Puger. Pada tahun 1704 Pangeran Puger mengangkat diri menjadi Pakubuwana I dengan dukungan VOC. Tahun 1705 Amangkurat III diusir dari Kartasura dan berlindung ke Pasuruan.
Pada bulan September 1706 gabungan pasukan VOC, Mataram, Madura, dan Surabaya dipimpin Mayor Goovert Knole menyerbu Pasuruan. Pertempuran di benteng Bangil akhirnya menewaskan Untung Surapati alias Wiranegara tanggal 17 Oktober 1706. Namun ia berwasiat agar kematiannya dirahasiakan. Makam Surapati pun dibuat rata dengan tanah. Perjuangan dilanjutkan putra-putranya dengan membawa tandu berisi Surapati palsu.
Pada tanggal 18 Juni 1707 Herman de Wilde memimpin ekspedisi mengejar Amangkurat III. Ia menemukan makam Surapati yang segera dibongkarnya. Jenazah Surapati pun dibakar dan abunya dibuang ke laut.
Kisah Untung Surapati yang legendaris dan perjuangannya melawan kolonialisme VOC di Pulau Jawa membuatnya dikenal sebagai pahlawan nasional Indonesia. Ia telah ditetapkan sebagai pahlawan nasional Indonesia berdasarkan S.K. Presiden No. 106/TK/1975 tanggal 3 November 1975.
Taman Burgemeester Bisschopplein di Batavia (sekarang Jakarta) pasca kemerdekaan Indonesia diubah namanya menjadi "Taman Suropati" untuk mengabadikan nama Untung Surapati.
[10/7 02.07] rudysugengp@gmail.com: 4. Buatkan gambar dan infografis tentang
Putra putri Untung Surapati meneruskan Perjuangan
Perjuangan putra-putra Surapati ;
Penggambaran oleh seniman tak dikenal tentang penyerangan Untung Suropati terhadap Kapten Tack di Kartasura
Putra-putra Untung Surapati, antara lain Raden Pengantin, Raden Surapati, dan Raden Suradilaga memimpin pengikut ayah mereka (campuran orang Jawa dan Bali). Sebagian dari mereka ada yang tertangkap bersama Amangkurat III tahun 1708 dan ikut dibuang ke Srilangka.
Sebagian pengikut Untung Surapati bergabung dalam pemberontakan Arya Jayapuspita di Surabaya tahun 1717. Pemberontakan ini sebagai usaha balas dendam atas dihukum matinya Adipati Jangrana yang terbukti diam-diam memihak Surapati dalam perang tahun 1706.
Setelah Jayapuspita kalah tahun 1718 dan mundur ke Mojokerto, pengikut Surapati masih setia mengikuti. Mereka semua kemudian bergabung dalam pemberontakan Pangeran Blitar menentang Amangkurat IV yang didukung VOC tahun 1719. Pemberontakan ini berhasil dipadamkan tahun 1723. Putra-putra Untung Surapati dan para pengikutnya dibuang VOC ke Srilangka.
Salah satu keturunan Untung Suropati yang berjuang melawan VOC adalah Adipati Malayakusuma. Bersama dengan anak keturunan Suropati lainnya, putra Tumenggung Kartonegoro ini mempertahankan wilayah Malang pada dari serbuan VOC sejak tahun 1762 hingga 1768. Setelah Malang takluk maka perjuangan anak keturunan Untung Suropati terhenti. Sebagian besar tertangkap sementara yang lainnya bersembunyi di Pegunungan Tengger.
Sumber lain menyebutkan keturunan Untung Suropati ada delapan putra putri di antaranya yaitu bernama Raden Tumenggung Surawidjojo, Raden Suragen, Raden Surapati, Raden Suradilaga, Raden Surataruna, Roro Badingin, Raden Titranagara dan yang terakhir Raden Bagus Ibrahim (keturunan ke 1) atau mungkin sering disebut dengan nama lain Brahim dan Makamnya kemungkinan di Polokarto, Sukoharjo. Raden Bagus Ibrahim menurunkan anak Wanasraja (keturunan ke 2), Makamnya kemungkinan di Sembung, Bekonang, Mojolaban, Sukoharjo dan Wanasraja menurunkan anak Wanakrama (keturunan ke 3). Selanjutnya Wanakrama menurunkan anak Soikromo (keturunan ke -4)
Soikromo menurunkan Putra-putri Kertosono bermukim di Karsana. Ny Kasandikromo bermukim di Dresa, Desa Kayuapak, Polokarto, Sukoharjo. Imanrejo bermukim di Kampung Sewu, Wirun, Mojolaban, Sukoharjo. Djodikromo bermukim di Jethis. Mangundikromo bermukim di Mandungan. Trunodikromo bermukim di Sembung, Bekonang, Mojolaban, Sukoharjo. Usup Hardjowikromo bermukim di Tipes, Kota Surakarta.
Dalam karya sastra dan media lain :
Kisah perjalanan hidup Untung Surapati yang legendaris, selain sekarang menjadi nama jalan yang umum di Indonesia, juga cukup banyak ditulis dalam bentuk sastra. Salah satunya dalam Babad Tanah Jawa. Kisah Untung juga diceritakan dalam Babad Trunajaya-Surapati. Dalam babad ini, Untung diceritakan memiliki sifat yang ramah, pemberani dan berhati baik.
Penulis Hindia Belanda Melati van Java (nama samaran dari Nicolina Maria Sloot) juga pernah menulis roman berjudul Van Slaaf Tot Vorst, yang terbit pada tahun 1887. Karya ini kemudian diterjemahkan oleh FH Wiggers dan diterbitkan tahun 1898 dengan judul Dari Boedak Sampe Djadi Radja. Penulis pribumi yang juga menulis tentang kisah ini adalah sastrawan Abdul Muis dalam novelnya yang berjudul Surapati.
[10/7 10.41] rudysugengp@gmail.com: 1. Buatkan gambar dan infografis tentang
Kehidupan Awal Robert Wolter Monginsidi
Ini adalah nama patrilineal Minahasa (Bantik), marganya adalah Mongisidi
Robert Wolter Mongisidi atau sering salah ditulis sebagai Robert Wolter Monginsidi (14 Februari 1925 – 5 September 1949) adalah seorang pejuang kemerdekaan Indonesia sekaligus pahlawan nasional Indonesia.
Biodata Robert Wolter Mongisidi :
Lahir :
14 Februari 1925
Malalayang, Manado, Hindia Belanda
Meninggal :
5 September 1949 (umur 24)
Makassar, Indonesia
Tempat pemakaman :
Taman Makam Pahlawan Panaikang Makassar
Biografi :
Robert Wolter Mongisidi dilahirkan di Malalayang (sekarang bagian dari Manado), anak ke-4 dari Petrus Mongisidi dan Lina Suawa pada tanggal 14 Februari 1925. Panggilan akrab Robert Wolter Mongisidi semasa kecil adalah Bote. Dia memulai pendidikannya pada 1931 di sekolah dasar (bahasa Belanda: Hollands Inlandsche School atau (HIS), yang diikuti sekolah menengah (bahasa Belanda: Meer Uitgebreid Lager Onderwijs atau MULO) di Frater Don Bosco di Manado. Mongisidi lalu dididik sebagai guru Bahasa Jepang pada sebuah sekolah di Tomohon. Setelah studinya, dia mengajar Bahasa Jepang di Liwutung, Minahasa, dan Luwuk, sebelum ke Makassar, Celebes.
[10/7 10.42] rudysugengp@gmail.com: 2. Buatkan gambar dan infografis tentang
Perjuangan Robert Wolter Monginsidi
Kemerdekaan Indonesia diproklamasikan saat Mongisidi berada di Makassar. Namun, Belanda berusaha untuk mendapatkan kembali kendali atas Indonesia setelah berakhirnya Perang Dunia II. Mereka kembali melalui NICA (Netherlands Indies Civil Administration/Administrasi Sipil Hindia Belanda). Mongisidi yang tidak menerima kedatangan Belanda, menjadi terlibat dalam perjuangan melawan NICA di Makassar.
Laskar Pemberontak Rakyat Indonesia :
Pada tanggal 17 Juli 1946, Mongisidi dengan Ranggong Daeng Romo dan lainnya membentuk Laskar Pemberontak Rakyat Indonesia Sulawesi (LAPRIS), yang selanjutnya melakukan perlawanan dan menyerang posisi Belanda. Dia ditangkap oleh Belanda pada 28 Februari 1947, tetapi berhasil kabur pada 27 Oktober 1947. Belanda menangkapnya kembali dan kali ini Belanda menjatuhkan hukuman mati kepadanya. Mongisidi dieksekusi oleh tim penembak pada 5 September 1949. Jasadnya dipindahkan ke Taman Makam Pahlawan Panaikang Makassar pada 10 November 1950.
Memimpin Barisan Angkatan Muda Pelajar :
Wolter Monginsidi bersama Maulwi Saelan dan teman-temannya juga sempat memimpin Barisan Angkatan Muda Pelajar yang terus memberi perlawanan kepada Belanda.
Sampai tanggal 17 Oktober 1945, di bawah koordinasinya, semua kekuatan para pemuda pejuang yang ada di Ujung Pandang dipusatkan untuk mengadakan serangan umum pada musuh.
Penyerbuan dilakukan ke Tangsi Belanda di Mariso, Stasiun Pemancar Radio Makassar, dan lokasi lain milik Belanda. Barisan ini pun merebut berbagai tempat strategis, gedung-gedung penting, dan bangunan vital yang sudah diduduki tentara Belanda.
Tergabung dalam Pasukan Ronggeng Daeng Rono :
Wolter Monginsidi juga pernah menggabungkan diri dengan pasukan Ronggeng Daeng Rono. Markas pasukan ini ada di Plongbangkeng. Monginsidi bertugas sebagai penyidik karena kemampuannya dalam berbahasa asing dan wajahnya yang dinilai mirip orang Indo-Belanda. Bukan hanya itu, dia pun sering memasuki kota Ujung Pandang sendiri dan menyamar sebagai tentara Belanda.
Dia menghentikan mobil jeep tentara Belanda untuk ikut menumpang. Namun, di tengah jalan Monginsidi akan menodongkan pistol pada pengemudi hingga membuatnya tak berdaya. Ia lantas merampas senjata dan mobilnya.
Chris Soumokil, Menteri Kehakiman Indonesia Timur saat itu. Dia memberikan hukuman mati kepada Mongisidi dan menolak permintaan amnesti oleh rekan-rekan dan keluarganya. Soumokil kemudian akan menghadapi nasib yang sama seperti Mongisidi, dieksekusi oleh regu tembak pada 12 Maret 1966.
[10/7 10.42] rudysugengp@gmail.com: 3. Buatkan gambar dan infografis tentang
Akhir Hayat dan Penghargaan Robert Wolter Monginsidi
Akhir Hayat :
Sepak terjangnya berakhir ketika ia ditangkap oleh tentara Belanda di SMP Nasional Makassar pada 28 Februari 1947. Meski berhasil meloloskan diri melalui cerobong asap penjara bersama tiga rekan lainnya pada Oktober 1947, ia kembali tertangkap sepuluh hari kemudian dan dijatuhi hukuman mati.
Sebelum menghadapi regu tembak di Pacinang, Makassar, ia menuliskan pesan dan puisi dalam kitab Injilnya dengan kalimat terakhir yang sangat legendaris: "Setia Hingga Terakhir Dalam Keyakinan".
Jasadnya lantas dipindahkan ke Taman Makam Pahlawan Panaikang Makassar tanggal 10 November 1990.
Wolter Monginsidi yang dikenal sebagai sosok pemberani dan pantang menyerah. Ia dianugerahi gelar sebagai Pahlawan Nasional oleh pemerintah Indonesia pada 6 November 1973.
Penghargaan :
Dia juga mendapatkan penghargaan tertinggi negara Indonesia, Bintang Mahaputera (Adipradana), pada 10 November 1973. Ayahnya, Petrus, yang berusia 80 tahun pada saat itu, menerima penghargaan tersebut. Bandara Wolter Mongisidi (kini Bandar Udara Haluoleo) di Kendari, Sulawesi Tenggara dinamakan sebagai penghargaan kepada Mongisidi, seperti kapal TNI Angkatan Laut, KRI Wolter Mongisidi dan Rumah Sakit TNI Angkatan Darat Robert Wolter Mongisidi di Manado.
Dalam budaya populer :
Dalam film Tapak-Tapak Kaki Wolter Mongisidi (1982), Robert Wolter Mongisidi diperankan oleh Roy Marten.
[10/7 15.22] rudysugengp@gmail.com: 1. Buatkan gambar dan infografis tentang
Kehidupan Awal KH Zainal Mustofa
Kyai Haji Zainal Mustafa (lahir di Bageur, Cimerah, Singaparna, Tasikmalaya, 1899 – meninggal di Jakarta, 28 Oktober 1944) adalah salah satu pahlawan nasional Indonesia. Ia dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Tasikmalaya.
Biodata K. H. Zainal Musthofa :
Lahir : 1899, Belanda Singaparna, Tasikmalaya, Hindia Belanda
Meninggal : 28 Oktober 1944 (umur 45), Kekaisaran Jepang Ancol, Jakarta
Tempat pemakaman : Taman Makam Pahlawan Tasikmalaya
Nama lain : Hudaemi
Pekerjaan : Pimpinan Pesantren
Zaenal Mustofa adalah pemimpin sebuah pesantren di Tasikmalaya dan pejuang Islam pertama dari Jawa Barat yang mengadakan pemberontakan terhadap pemerintahan Jepang. Nama kecilnya Hudaemi. Lahir dari keluarga petani berkecukupan, putra pasangan Nawapi dan Ny. Ratmah, di kampung Bageur, Desa Cimerah, Kecamatan Singaparna (kini termasuk wilayah Desa Sukarapih Kecamatan Sukarame) Kabupaten Tasikmalaya (ada yang menyebut ia lahir tahun 1901 dan Ensiklopedia Islam menyebutnya tahun 1907, sementara tahun yang tertera di atas diperoleh dari catatan Nina Herlina Lubis, Ketua Masyarakat Sejarawan Indonesia Cabang Jawa Barat). Namanya menjadi Zaenal Mustofa setelah ia menunaikan ibadah haji pada tahun 1927.
Latar Belakang :
Hudaemi memperoleh pendidikan formal di Sekolah Rakyat. Dalam bidang agama, ia belajar mengaji dari guru agama di kampungnya. Kemampuan ekonomis keluarga memungkinkannya untuk menuntut ilmu agama lebih banyak lagi. Pertama kali ia melanjutkan pendidikannya ke pesantren di Gunung Pari di bawah bimbingan Dimyati, kakak sepupunya, yang dikenal dengan nama KH. Zainal Muhsin. Dari Gunung Pari, ia kemudian mondok di Pesantren Cilenga, Leuwisari, dan di Pesantren Sukamiskin, Bandung. Selama kurang lebih 17 tahun ia terus menggeluti ilmu agama dari satu pesantren ke pesantren lainnya. Karena itulah ia mahir berbahasa Arab dan memiliki pengetahuan keagamaan yang luas.
Lewat ibadah haji, ia berkenalan dengan ulama-ulama terkemuka. Ia pun mengadakan tukar pikiran soal keagamaan dan berkesempatan melihat pusat pendidikan keagamaan di Tanah Suci. Kontak dengan dunia luar itu mendorongnya untuk mendirikan sebuah pesantren. Maka sekembalinya dari ibadah haji, tahun 1927, ia mendirikan pesantren di Kampung Cikembang dengan nama Sukamanah. Sebelumnya, di Kampung Bageur tahun 1922 telah berdiri pula Pesantren Sukahideng yang didirikan KH. Zainal Muhsin. Melalui pesantren ini ia menyebarluaskan agama Islam, terutama paham Syafi’i yang dianut oleh masyarakat Indonesia pada umumnya dan umat Islam Jawa Barat pada khususnya.
Di samping itu, ia juga mengadakan beberapa kegiatan keagamaan ke pelosok-pelosok desa di Tasikmalaya dengan cara mengadakan ceramah-ceramah agama. Maka sebutan kiai pun menjadi melekat dengan namanya. KH. Zaenal Mustofa terus tumbuh menjadi pemimpin dan anutan yang karismatik, patriotik, dan berpandangan jauh ke depan. Tahun 1933, ia masuk Jamiyyah Nahdhatul Ulama (NU) dan diangkat sebagai wakil ro’is Syuriah NU Cabang Tasikmalaya.
[10/7 15.23] rudysugengp@gmail.com: 2. Buatkan gambar dan infografis tentang
Perjuangan KH Zainal Mustofa Menentang Penjajah
Perlawanan kepada penjajah :
Pelajari selengkapnya
Bab atau bagian ini tidak memiliki referensi atau sumber tepercaya sehingga isinya tidak bisa dipastikan.
Sejak tahun 1940, KH. Zaenal Mustofa secara terang-terangan mengadakan kegiatan yang membangkitkan semangat kebangsaan dan sikap perlawanan terhadap pendudukan penjajah. Ia selalu menyerang kebijakan politik kolonial Belanda yang kerap disampaikannya dalam ceramah dan khutbah-khutbahnya. Atas perbuatannya ini, ia selalu mendapat peringatan, dan bahkan, tak jarang diturunkan paksa dari mimbar oleh kiai yang pro Belanda.
Ditangkap dan dipenjara oleh Belanda :
Pada saat Perang Dunia II, tepatnya pada 17 November 1941, KH. Zaenal Mustofa bersama KH. Ruhiat (dari Pesantren Cipasung), Haji Syirod, dan Hambali Syafei ditangkap Belanda dengan tuduhan telah menghasut rakyat untuk memberontak terhadap pemerintah Hindia Belanda. Mereka ditahan di Penjara Tasikmalaya dan sehari kemudian dipindahkan ke penjara Sukamiskin Bandung, dan baru bebas 10 Januari 1942.
Kendati sudah pernah ditahan, aktivitas perlawanannya terhadap penjajah tidak surut. Akhir Februari 1942, KH. Zaenal Mustofa bersama Kiai Rukhiyat kembali ditangkap dan dimasukkan ke penjara Ciamis. Kedua ulama ini menghadapi tuduhan yang sama dengan penangkapannya yang pertama. Hingga pada waktu Belanda menyerah kepada Jepang, ia masih mendekam di penjara.
Dibebaskan dan dibunuh Jepang :
Pada tanggal 8 Maret 1942 kekuasaan Hindia Belanda berakhir dan Indonesia diduduki Pemerintah Militer Jepang. Oleh penjajah yang baru ini, KH. Zaenal Mustofa dibebaskan dari penjara, dengan harapan ia akan mau membantu Jepang dalam mewujudkan ambisi fasisnya, yaitu menciptakan Lingkungan Kemakmuran Bersama Asia Timur Raya. Akan tetapi, apa yang menjadi harapan Jepang tidak pernah terwujud karena KH. Zaenal Mustofa dengan tegas menolaknya. Dalam pidato singkatnya, pada upacara penyambutan kembali di Pesantren, ia memperingatkan para pengikut dan santrinya agar tetap percaya pada diri sendiri dan tidak mudah termakan oleh propaganda asing. Ia malah memperingatkan bahwa fasisme Jepang itu lebih berbahaya dari imperialisme Belanda.
Pasca perpindahan kekuasaan dari Belanda ke Jepang, sikap dan pandangannya itu tidak pernah berubah. Bahkan, kebenciannya semakin memuncak saja manakala menyaksikan sendiri kezaliman penjajah terhadap rakyat.
Pada masa pemerintahan Jepang ini, ia menentang pelaksanaan seikeirei, cara memberi hormat kepada kaisar Jepang dengan menundukkan badan ke arah Tokyo. Ia menganggap perbuatan itu bertentangan dengan ajaran Islam dan merusak tauhid karena telah mengubah arah kiblat.
Dengan semangat jihad membela kebenaran agama dan memperjuangkan bangsa, KH. Zaenal Mustofa merencanakan akan mengadakan perlawanan terhadap Jepang pada tanggal 25 Februari 1944 (1 Maulud 1363 H). Mula-mula ia akan menculik para pembesar Jepang di Tasikmalaya, kemudian melakukan sabotase, memutuskan kawat-kawat telepon sehingga militer Jepang tidak dapat berkomunikasi, dan terakhir, membebaskan tahanan-tahanan politik. Untuk melaksanakan rencana ini, KH. Zaenal Mustofa meminta para santrinya mempersiapkan persenjataan berupa bambu runcing dan golok yang terbuat dari bambu, serta berlatih pencak silat. Kiai juga memberikan latihan spiritual (tarekat) seperti mengurangi makan, tidur, dan membaca wirid-wirid untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt.
Persiapan para santri ini tercium Jepang. Segera mereka mengirim camat Singaparna disertai 11 orang staf dan dikawal oleh beberapa anggota polisi untuk melakukan penangkapan. Usaha ini tidak berhasil. Mereka malah ditahan di rumah KH. Zaenal Mustofa. Keesokan harinya, pukul 8 pagi tanggal 25 Februari 1944, mereka dilepaskan dan hanya senjatanya yang dirampas.
Tiba-tiba, sekitar pukul 13.00, datang empat orang opsir Jepang meminta agar KH. Zaenal Mustofa menghadap pemerintah Jepang di Tasikmalaya. Perintah tersebut ditolak tegas sehingga terjadilah keributan. Hasilnya, tiga opsir itu tewas dan satu orang dibiarkan hidup. Yang satu orang ini kemudian disuruh pulang dengan membawa ultimatum. Dalam ultimatum itu, pemerintah Jepang dituntut untuk memerdekakan Pulau Jawa terhitung mulai 25 Februari 1944. Dalam insiden itu, tercatat pula salah seorang santri bernama Nur menjadi korban, karena terkena tembakan salah seorang opsir. Setelah kejadian tersebut, menjelang waktu salat Asar (sekitar pukul 16.00) datang beberapa buah truk mendekati garis depan pertahanan Sukamanah. Suara takbir mulai terdengar, pasukan Sukamanah sangat terkejut setelah tampak dengan jelas bahwa yang berhadapan dengan mereka adalah bangsa sendiri. Rupanya Jepang telah mempergunakan taktik adu domba. Melihat yang datang menyerang adalah bangsa sendiri, Zaenal Mustofa memerintahkan para santrinya untuk tidak melakukan perlawanan sebelum musuh masuk jarak perkelahian. Setelah musuh mendekat, barulah para santri menjawab serangan mereka. Namun, dengan jumlah kekuatan lebih besar, ditambah peralatan lebih lengkap, akhirnya pasukan Jepang berhasil menerobos dan memorak-porandakan pasukan Sukamanah. Peristiwa ini dikenal dengan Pemberontakan Singaparna.
[10/7 15.23] rudysugengp@gmail.com: 3. Buatkan gambar dan infografis tentang
Akhir Hayat dan Penghargaan KH Zainal Mustofa
Para santri yang gugur dalam pertempuran itu berjumlah 86 orang. Meninggal di Singaparna karena disiksa sebanyak 4 orang. Meninggal di penjara Tasikmalaya karena disiksa sebanyak 2 orang. Meninggal di Penjara Sukamiskin Bandung sebanyak 38 orang, dan yang mengalami cacat (kehilangan mata atau ingatan) sebanyak 10 orang.
Sehari setelah peristiwa itu, antara 700-900 orang ditangkap dan dimasukkan ke dalam penjara di Tasikmalaya. Sementara itu, KH. Zaenal Mustofa sempat memberi instruksi secara rahasia kepada para santri dan seluruh pengikutnya yang ditahan agar tidak mengaku terlibat dalam pertempuran melawan Jepang, termasuk dalam kematian para opsir Jepang, dan pertanggungjawaban tentang pemberontakan Singaparna dipikul sepenuhnya oleh KH. Zaenal Mustofa. Akibatnya, sebanyak 23 orang yang dianggap bersalah, termasuk KH. Zaenal Mustofa sendiri, dibawa ke Jakarta untuk diadili. Namun mereka hilang tak tentu rimbanya.
Besarnya pengaruh KH Zaenal Mustofa dalam pembentukan mental para santri dan masyarakat serta peranan pesantrennya sebagai lembaga pendidikan dan pembinaan umat membuat pemerintah Jepang merasa tidak bebas jika membiarkan pesantren ini tetap berjalan. Maka, setelah peristiwa pemberontakan tersebut, pesantren ini ditutup oleh Jepang dan tidak diperbolehkan melakukan kegiatan apapun.
Belakangan, Kepala Ereveld Ancol, Jakarta, memberi kabar bahwa KH. Zaenal Mustofa telah dieksekusi pada 25 Oktober 1944 dan dimakamkan di Taman Pahlawan Belanda Ancol, Jakarta. Melalui penelusuran salah seorang santrinya, Kolonel Syarif Hidayat, pada tahun 1973 keberadaan makamnya itu ditemukan di daerah Ancol, Jakarta Utara, bersama makam-makam para santrinya yang berada di antara makam-makam tentara Belanda. Lalu, pada 25 Agustus 1973, semua makam itu dipindahkan ke Sukamanah, Tasikmalaya.
Diangkat menjadi pahlawan :
Pada tanggal 6 Nopember 1972, KH. Zaenal Mustofa diangkat sebagai Pahlawan Pergerakan Nasional dengan Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 064/TK/Tahun 1972.
[11/7 00.14] rudysugengp@gmail.com: 1. Buatkan gambar dan infografis tentang
Kehidupan Awal Tuanku Tambusai
Nama kecil :
Muhammad Saleh
Lahir :
5 November 1784
Tambusai, Rokan Hulu, Riau
Meninggal :
12 November 1882 (umur 98)
Negeri Sembilan, Malaya Britania
Nama lain :
-De Padrische Tijger van Rokan atau Harimau Paderi dari Rokan
Latar belakang :
Tuanku Tambusai lahir di Dalu-dalu, nagari Tambusai, Rokan Hulu, Riau. Tuanku Tambusai memiliki nama kecil Muhammad Saleh, yang setelah pulang haji, dipanggilkan orang Tuanku Haji Muhammad Saleh.
Tuanku Tambusai merupakan anak dari pasangan Tuanku Imam Maulana Kali dan Munah. Ayahnya berasal dari nogori Rambah dan merupakan seorang guru agama Islam. Oleh Raja Tambusai ayahnya diangkat menjadi imam dan kemudian menikah dengan perempuan setempat. Ibunya berasal dari nagari Tambusai yang bersuku Kandang Kopuh. suku ini diturunkannya kepada Tuanku Tambusai.
Sewaktu kecil Muhammad Saleh telah diajarkan ayahnya ilmu bela diri, termasuk ketangkasan menunggang kuda, dan tata cara bernegara.
[11/7 00.15] rudysugengp@gmail.com: 2. Buatkan gambar dan infografis tentang
Tuanku Tambusai dalam Gerakan Padri Mengusir Belanda
Gerakan Paderi :
Untuk memperdalam ilmu agama, Tuanku Tambusai pergi belajar ke Bonjol dan Rao di Sumatera Barat. Disana ia banyak belajar dengan ulama-ulama Islam yang berpaham Paderi, hingga dia mendapatkan gelar fakih. Ajaran Paderi begitu memikat dirinya, sehingga ajaran ini disebarkan pula di tanah kelahirannya. Disini ajarannya dengan cepat diterima luas oleh masyarakat, sehingga ia banyak mendapatkan pengikut. Semangatnya untuk menyebarkan dan melakukan pemurnian Islam.
Melawan Belanda :
Perjuangannya dimulai di daerah Rokan Hulu dan sekitarnya dengan pusat di benteng Dalu-dalu. Kemudian ia melanjutkan perlawanan ke wilayah Natal pada tahun 1823. Tahun 1824, ia memimpin pasukan gabungan Dalu-dalu, Lubuksikaping, Padanglawas, Angkola, Mandailing, dan Natal untuk melawan Belanda. Dia sempat menunaikan ibadah haji dan juga diminta oleh Tuanku Imam Bonjol untuk mempelajari perkembangan Islam di Tanah Arab.
Dalam kurun waktu 15 tahun, Tuanku Tambusai cukup merepotkan pasukan Belanda, sehingga sering meminta bantuan pasukan dari Batavia. Berkat kecerdikannya, Fort Amerongen sebuah benteng milik Belanda dapat dihancurkan. Bonjol yang telah jatuh ke tangan Belanda dapat direbut kembali walaupun tidak bertahan lama. Tuanku Tambusai tidak saja menghadapi Belanda, tetapi juga sekaligus pasukan Raja Gedombang (regent Mandailing) dan Tumenggung Kartoredjo yang berpihak kepada Belanda. Oleh Belanda ia digelari “De Padrische Tijger van Rokan” (Harimau Paderi dari Rokan) karena amat sulit dikalahkan, tidak pernah menyerah, dan tidak mau berdamai dengan Belanda. Keteguhan sikapnya diperlihatkan dengan menolak ajakan Kolonel Elout untuk berdamai. Pada tanggal 28 Desember 1838, benteng Dalu-dalu jatuh ke tangan Belanda. Lewat pintu rahasia, ia meloloskan diri dari kepungan Belanda dan sekutu-sekutunya.
[11/7 00.16] rudysugengp@gmail.com: 3. Buatkan gambar dan infografis tentang
Akhir Hayat dan Penghargaan Tuanku Tambusai
Tak Kenal Menyerah:
Ia menolak tawaran damai dengan Belanda dan memilih untuk terus bertempur dari satu benteng ke benteng lainnya.
Tuanku Tambusai juga selalu berpindah-pindah sewaktu bergerilya melawan Penjajah Belanda untuk menghilangkan jejak. Kuburan Tuanku Tambusai yang palsu ada 6 tempat yang diketahui. Demikian Tuanku Tambusai memilih namanya Datuk Baginda Ilang yang dapat bercerita panjang tentang kehidupan dan perjalanannya.
Bentuk keteguhannya juga dapat dibuktikan ketika pemimpin Fort Amerongen menawarkan perdamaian padanya, ajakan itu ditolaknya mentah-mentah. Hal tersebut menunjukkan keteguhannya dalam menjaga prinsip. Hal serupa juga terjadi pada tahun 1832, saat itu Letkol Elout mengajaknya berdamai di Padang Matinggo, Rao. Dengan tegas ia berpesan pada Elout agar tidak mencampuri urusan dalam negeri orang lain.
Mendengar hal itu, Elout membalasnya dengan mengatakan bahwa di mana ada Belanda di sana ia membuat kuburan. Dengan lantang Tuanku Tambusai menjawab "Jika begitu sediakan bedil!"
Perjuangan Akhir: Setelah Benteng Dalu-dalu akhirnya jatuh ke tangan Belanda pada 1838, ia tidak tertangkap melainkan berhasil meloloskan diri ke Negeri Sembilan, Malaya (sekarang Malaysia), dan wafat di sana pada tahun 1882.
Jejak Tuanku Tambusai dapat ditemukan di Sungai Rokan. Dimana di sungai tersebut terdapat sampan kecil milik Tuanku Tambusai bersamaan dengan barang-barang miliknya seperti cincin stempel, Al-Quran, serta beberapa buku yang dibawanya dari Mekkah. Di usianya yang telah cukup renta, 98 tahun, ia kemudian mengungsi ke Seremban, Malaysia.
Penganugerahan Tuanku Tambusai sebagai Pahlawan, 7 Agustus 1995, lebih tua dari usia Kabupaten Rokan Hulu itu sendiri, karena Rokan Hulu baru terbentuk 12 Oktober 1999. Sehingga jiwa perjuangan dan jiwa kepahlawanan Tuanku Tambusai menjadi salah satu inspirasi besar masyarakat, penyemangat dan motivasi sekaligus kebanggaan bagi masyarakat Rokan Hulu khususnya dan masyarakat Provinsi Riau pada umumnya.
[11/7 00.58] rudysugengp@gmail.com: 1. Buatkan gambar dan infografis tentang
Kehidupan Awal Syekh Yusuf Tajul Khalwati
Masa muda :
Syekh Yusuf lahir dari pasangan Abdullah dengan Aminah.
Ketika lahir ia dinamakan Abadin Tadia Tjoessoep (bahasa Arab: عابدين تاجة يوسف) atau Muhammad Yusuf, suatu nama yang diberikan oleh Sultan Alauddin (berkuasa sejak 1593 - wafat 15 Juni 1639, penguasa Gowa pertama yang muslim), raja Gowa, yang juga adalah kerabat ibu Syekh Yusuf.
Pendidikan :
Syekh Yusuf lalu berguru ke Pesantren Asyaqalain Baharun Nur (di Kampung Cikoang Takalar) kepada Sayyid Syaikh Alwi Jalaluddin bin Ahmad (qunyah Muhammad Wahid) bin Abu Bakar Bafaqih dari keturunan Imam Muhammad Maula Aidid(sanad dari Keturunan Ulama Ahlu Sunnah Hadramaut). Beliau belajar syariat, tasawuf ma'rifat serta hubbul Wathan(cinta tanah air)(kitab manaqib syekh yusuf) kepada Gurunya tersebut.
Kembali dari Cikoang, Syekh Yusuf menikah dengan putri Sultan Gowa, lalu pada usia 18 tahun, Syekh Yusuf pergi ke Banten. Di Banten ia bersahabat dengan Pangeran Surya (Sultan Ageng Tirtayasa), yang kelak menjadikannya mufti Kesultanan Banten.
Pada tahun 1644, Syech Yusuf menunaikan ibadah haji dan tinggal di Mekkah untuk beberapa lama, di mana Ia belajar kepada ulama terkemuka di Mekkah dan Madinah.
Syekh Yusuf juga sempat mencari ilmu ke Yaman, berguru pada Syekh Abdullah Muhammad bin Abd Al-Baqi, dan ke Damaskus untuk berguru pada Syekh Abu Al-Barakat Ayyub bin Ahmad bin Ayyub Al-Khalwati Al-Quraisyi. Syech Yusuf mempelajari Islam sekitar 20 tahun di Timur Tengah.
[11/7 00.59] rudysugengp@gmail.com: 2. Buatkan gambar dan infografis tentang
Perjuangan Syekh Yusuf Tajul Khalwati
Ketika Kesultanan Gowa mengalami kalah perang terhadap Belanda, Syekh Yusuf pindah ke Banten dan diangkat menjadi mufti di sana. Pada periode ini Kesultanan Banten menjadi pusat pendidikan agama Islam, dan Syekh Yusuf memiliki murid dari berbagai daerah, termasuk 400 orang asal Makassar yang dipimpin oleh Ali Karaeng Bisai.
Perang Melawan VOC:
Ketika terjadi konflik internal antara Sultan Ageng Tirtayasa dan putranya, Sultan Haji, yang didukung oleh VOC, Syekh Yusuf berdiri teguh membela Sultan Ageng Tirtayasa.
Perang Gerilya:
Setelah Sultan Ageng Tirtayasa ditangkap oleh tipu daya VOC, Syekh Yusuf tidak menyerah. Beliau memimpin sekitar 5.000 pasukan Banten dan Nusantara lainnya untuk bergerilya melawan gabungan pasukan VOC dan Sultan Haji.
Ketika pasukan Sultan Ageng dikalahkan Belanda tahun 1682, Syekh Yusuf ditangkap dan diasingkan ke Srilanka pada bulan September 1684.
[11/7 00.59] rudysugengp@gmail.com: 3. Buatkan gambar dan infografis tentang
Masa Pembuangan Syekh Yusuf Tajul Khalwati
Sri Lanka :
Di Sri Lanka, Syekh Yusuf aktif dalam menyebarkan agama Islam. Ia memiliki murid ratusan, yang umumnya berasal dari India Selatan. Salah satu ulama besar India, Syekh Ibrahim ibn Mi'an, termasuk mereka yang berguru pada Syekh Yusuf.
Melalui jamaah haji yang singgah ke Sri Lanka, Syekh Yusuf masih dapat berkomunikasi dengan para pengikutnya di Nusantara, sehingga akhirnya oleh Belanda, ia diasingkan ke lokasi lain yang lebih jauh dari Ceylon Sri Lanka ke , Afrika Selatan, pada 22 Desember 1694.
Afrika Selatan :
Di Afrika Selatan, Syekh Yusuf tetap berdakwah, dan memiliki banyak pengikut. Ketika ia wafat pada tanggal 23 Mei 1699, pengikutnya menjadikan hari wafatnya sebagai hari peringatan. Bahkan, Nelson Mandela, mantan presiden Afrika Selatan, menyebutnya sebagai 'Salah Seorang Putra Afrika Terbaik'.
[11/7 00.59] rudysugengp@gmail.com: 4. Buatkan gambar dan infografis tentang
Akhir Hayat dan Penghargaan Syekh Yusuf Tajul Khalwati
Syekh Yusuf Abul Mahasin Tajul Khalwati Al-Makassari Al-Bantani (3 Juli 1626 – 23 Mei 1699) adalah salah seorang pahlawan nasional Indonesia.
Ia juga digelari Tuanta Salamaka ri Gowa ("tuan guru penyelamat kita dari Gowa") oleh pendukungnya di kalangan rakyat Sulawesi Selatan.
Akhir Hidup Syekh Yusuf meninggal dunia pada 23 Mei 1699. Para pengikut Yusuf pun menjadikan hari wafatnya sebagai hari peringatan.
Bahkan, Nelson Mandela, mantan presiden Afrika Selatan menyebutnya sebagai Salah Seorang Putra Afrika Terbaik.
Jenazah Syekh Yusuf Tajul Khalwati dibawa ke Gowa atas permintaan Sultan Abdul Jalil (1677-1709) dan dimakamkan kembali di Lakiung, pada April 1705.
Kemudian Syekh Yusuf Allahu yarham dianugerahi gelar Pahlawan Nasional oleh Presiden Soeharto dengan SK Presiden : Keppres No. 071/TK/1995, Tgl. 7 Agustus 1995.
Pada tahun 2005, Syekh Yusuf dianugerahi penghargaan Supreme Companion of OR Tambo in gold, for heads of state and, in special cases, heads of government (SCOT) pada 27 September 2005 kepada ahli warisnya yang disaksikan oleh Wapres RI. M. Yusuf Kalla di Pretoria Afrika Selatan.
[11/7 01.56] rudysugengp@gmail.com: 1. Buatkan gambar dan infografis tentang
Kehidupan Awal Siti Hartinah (Tien Suharto)
Biodata
Siti Hartinah
Nama Lengkap:
Raden Ayu Siti Hartinah
Lahir:
23 Agustus 1923, Jaten, Karanganyar, Jawa Tengah
Wafat:
28 April 1996, Jakarta
Pasangan:
Jenderal Besar TNI (Purn) Soeharto
Makam :
Astana Giribangun
Orang tua :
K. P. H Soemoharjomo (bapak)
K. R. Ay. Hatmanti Hatmohoedojo (ibu)
Anak :
Siti Hardijanti Rukmana (Tutut)
Sigit Harjojudanto (Sigit)
Bambang Trihatmodjo (Bambang)
Siti Hediati Hariyadi (Titiek)
Hutomo Mandala Putra (Tommy)
Siti Hutami Endang Adiningsih (Mamiek)
Gelar Pahlawan:
Ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional melalui Keppres No. 060/TK/1996
Masa kecil :
Siti Hartinah lahir pada 23 Agustus 1923 sebagai putri kedua (dari sebelas bersaudara) pasangan KPH Sumoharyomo dan K.RAy Hatmanti Hatmohoedojo. Ia merupakan canggah Mangkunegara III dari garis ibu. Ayahnya seorang Wedana, yang bekerja di istana Mangkunegaran. Saat itu, pegawai istana harus mempunyai darah biru atau keturunan priyayi. Meski begitu, kehidupan masa kecilnya mencerminkan kondisi Indonesia pra-kemerdekaan yang masih serba terbatas.
Hidupnya berpindah-pindah mengikuti penempatan tugas ayahnya sebagai pamong praja. Ia sempat mengenyam pendidikan Hollandsch-Inlandsche School (HIS), sekolah dasar untuk bangsawan bumiputera. Semasa sekolah ia juga ikut dalam organisasi Kepramukaan Puteri Javaansche Padvinders Organisatie (JPO).
Waktu kecil, Siti Hartinah mempunyai impian untuk menjadi seorang dokter. Akan tetapi, menjadi perempuan dengan kondisi bangsa yang tengah berada di bawah penjajahan Belanda, serta lingkungan keluarga Jawa yang tradisional, tidak memberikan Siti Hartinah banyak kesempatan untuk mengenyam pendidikan. Mengingat juga, walaupun ia datang dari keluarga yang cukup terpandang dan disegani, mereka tidak kaya. Mereka tidak mampu mengirimkan Hartinah ke sekolah lanjutan, sebagaimana telah diberikan kepada kakaknya.
Ketika ayahnya pensiun, adik-adik Siti Hartinah masih berusia kecil. Siti Hartinah berinisiatif dan turut memikirkan bagaimana caranya meringankan beban orang tua, walaupun pada saat itu masih dianggap aneh bagi seorang gadis untuk bekerja di luar rumah. Dengan kepandaiannya dalam seni Jawa, seperti membatik dan mencelup, beberapa dari kain batik buatannya dijual dan hasilnya untuk membayar uang kursus mengetik di Solo, untuk bekal mencari pekerjaan.
Di masa pendudukan Jepang, Siti Hartinah menjadi anggota Barisan Pemuda Puteri di bawah Fujinkai, satu-satunya organisasi wanita yang diperbolehkan berdiri oleh Jepang. Waktu kemerdekaan Indonesia diproklamasikan di tahun 1945, gadis remaja yang patriotik ini turut berjuang dalam Laskar Puteri. Ia ikut serta membantu perang kemerdekaan di dapur umum dan Palang Merah Indonesia, yang menjadi salah satu alasan pengangkatannya sebagai Pahlawan Nasional pada tahun 1996.
[11/7 02.00] rudysugengp@gmail.com: 2. Buatkan gambar dan infografis tentang
Siti Hartinah (Tien Suharto) Menikah dengan Suharto hingga menjadi Ibu Negara
Pernikahan Siti Hartinah dengan Soeharto diprakarsai oleh ibu angkat Soeharto, Nyonya Bei Prawirowihardjo. Pada saat itu, Soeharto berpangkat Letnan Kolonel dan bertugas sebagai Komandan di Yogyakarta. Siti Hartinah dan Soeharto sebelumnya pernah bertemu, saat ia berteman sekelas dengan salah satu sepupu Soeharto di Wonogiri.
Upacara nontoni (pertemuan antara yang akan melamar dan yang dilamar) dilangsungkan.
Soeharto sendiri meragukan, apakah orang tua Siti Hartinah siap untuk mengizinkan putri mereka dinikahkan dengan seorang biasa.
Betapa pun, "mereka orang ningrat". Soeharto juga merasa ragu sebab sudah lama ia tidak melihat Hartinah dan "apakah dia akan benar-benar suka kepada saya". Meski demikian, orang tua Siti Hartinah tidak keberatan dan menerima Soeharto sebagai menantu.
Ibu Tien pernah bercerita, bahwa sebelum upacara nontoni, ia baru saja sembuh dari sakit yang diderita selama dua bulan. Ia merasa telah “menipu” Soeharto pada saat bertemu, karena berat badannya berkurang dan wajahnya terlihat pucat, sehingga terlihat lebih cantik.
Siti Hartinah menikahi Suharto pada 26 Desember 1947 di Solo. Pada saat itu Soeharto berumur 26 tahun, Siti Hartinah berumur 24 tahun.
Acara pernikahan di sore hari itu disaksikan oleh keluarga dan teman-teman Hartinah, sedangkan dari sisi Soeharto hanya dua anggota keluarga yang dapat hadir. Acara selamatan pada malam hari juga hanya bisa diterangi beberapa buah lilin. Karena kota Solo waktu itu harus digelapkan, untuk mencegah terjadinya bahaya besar seandainya Belanda melakukan serangan udara lagi.
Pernikahan ini bukan merupakan cerita cinta pada pandangan pertama. Soeharto menulis di dalam biografinya bahwa cintanya kepada Ibu Tien berkembang sejalan dengan berjalannya waktu yang mereka lalui bersama. Dalam tradisi Jawa ada ungkapan “witing tresno jalaran soko kulino” (datangnya cinta karena bergaul dari dekat).
Tiga hari setelah pernikahan, Siti Hartinah dan Soeharto pindah ke Yogyakarta untuk kembali menjalankan tugas militer. Siti Hartinah kemudian mulai dengan tugasnya sebagai istri Komandan Resimen.
Adalah ciri kehidupan keluarga militer, bahwa tiga dari anak mereka lahir ketika sang suami sedang bertugas dan berpisah dari keluarganya.
Anak pertama mereka lahir ketika Soeharto sedang bertempur dalam perang gerilya di luar kota Yogyakarta. Sang suami tidak melihat putri pertama mereka selama tiga bulan setelah dilahirkan.
Anak yang kedua, seorang anak laki-laki, lahir selagi Soeharto bertugas di Sulawesi Selatan.
Dan anak kelima mereka, lahir ketika Soeharto bertindak sebagai Panglima Mandala pembebasan Irian Barat.
Sebagai Ibu Negara :
Ketika Soeharto pertama dilantik sebagai presiden, pasangan suami-istri ini memutuskan untuk tidak menjadikan Istana Merdeka sebagai tempat kediaman, tetapi memutuskan untuk pindah dari Jalan Haji Agus Salim ke Jalan Cendana di daerah Menteng.
Rumah di Jalan Cendana itu sendiri tidak mencerminkan kemewahan seperti rumah-rumah orang berada pada umumnya.
Salah satu alasan untuk pindah adalah faktor keamanan. Di belakang rumah mereka yang lama di Jalan Haji Agus Salim ada gedung tinggi. Soeharto tidak mau tinggal di Istana Merdeka karena ia ingin anak-anaknya lebih bebas bergerak. “Untuk kepentingan anak-anak, agar tidak terpisahkan dari masyarakat”.
Saat itu, anak-anak mereka masih kecil, yang tertua berusia 18 tahun, sementara yang termuda baru berusia 3 tahun.
[11/7 02.00] rudysugengp@gmail.com: 3. Buatkan gambar dan infografis tentang
Perjuangan lain Siti Hartinah (Tien Suharto)
Pramuka :
Ibu Tien Soeharto banyak memberikan sumbangsih dalam dunia Pramuka Indonesia. Sebagai Ibu Negara, ia memberikan perhatian khusus terhadap pramuka. Ibu Tien beberapa kali menjabat Wakil Ketua Kwarnas Gerakan Pramuka pada masa bakti 1970—1974, 1974—1978, 1978—1983, 1983—1988 dan 1988—1993. Pada awal 1970-an, Ibu Tien mengusulkan lahan dan menginisiasi pembangunan pusat perkemahan pramuka nasional di Cibubur, Jakarta Timur. Sampai saat ini, bumi perkemahan ini dikenal dengan nama Bumi Perkemahan dan Graha Wisata (Buperta) Wiladatika Cibubur. Karya lain Ibu Tien untuk Gerakan Pramuka adalah prakarsanya membangun gedung Kwartir Nasional yang hingga saat ini menjadi kantor pusat Kwartir Nasional Gerakan Pramuka.
Pelarangan poligami :
Ibu Tien berpengaruh dalam pelarangan poligami bagi pejabat di Indonesia. Sebagai penggerak Kongres Wanita Indonesia, ia mendesak perlunya larangan poligami yang akhirnya keluar dalam wujud Peraturan Pemerintah Nomor 10 tahun 1983 yang tegas melarang PNS untuk berpoligami dan juga UU Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan
Soeharto sendiri menegaskan kesetiaan kepadanya
"Hanya ada satu Nyonya Soeharto dan tidak ada lagi yang lainnya. Jika ada, akan timbul pemberontakan yang terbuka di dalam rumah tangga Soeharto"
Aktivitas lain :
Ibu Tien juga memengaruhi rencana suksesi Soeharto pada akhir tahun 1990—an, dengan menyarankan petinggi Golkar agar tidak lagi mencalonkan suaminya.
Walaupun saran ini akhirnya terlambat dilakukan. Siti Hartinah meninggal pada tahun 1996 dan Soeharto kembali dicalonkan
Meski demikian ada peninggalan dan gagasannya yang terwujud untuk bangsa, sebagai contoh Taman Mini Indonesia Indah, Taman Buah Mekarsari, Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, RSAB Harapan Kita, dan lainnya.
Pengabdian Kemanusiaan dan Sosial :
Selain menyokong logistik, ia juga aktif di Palang Merah Indonesia (PMI) dengan terjun langsung merawat para pejuang yang terluka akibat pertempuran melawan penjajah.
Perhatiannya terhadap korban perang dan keluarga pejuang sangat besar.
Pemrakarsa Proyek Kebudayaan :
Sebagai Ibu Negara yang mendampingi Presiden Soeharto selama puluhan tahun, ia menjadi sosok di balik gagasan pembangunan sarana pelestarian budaya dan pendidikan, seperti pemrakarsa berdirinya Taman Mini Indonesia Indah (TMII), pembangunan rumah sakit, dan berbagai gerakan sosial kemasyarakatan yang berfokus pada kesejahteraan keluarga.
[11/7 02.00] rudysugengp@gmail.com: 4. Buatkan gambar dan infografis tentang
Akhir Hayat dan Penghargaan Siti Hartinah (Tien Suharto)
Meninggal dunia :
Berawal saat Siti Hartinah terbangun akibat sakit jantung yang menimpanya, lalu ia dilarikan ke RSPAD Gatot Subroto, Jakarta. Siti Hartinah meninggal dunia pada Minggu, 28 April 1996, jam 05.10 WIB yang bertepatan dengan peringatan Hari Raya Idul Adha 1416 Hijriyah.
Siti Hartinah dimakamkan di Astana Giri Bangun, Jawa Tengah. Upacara pemakaman tersebut dipimpin oleh inspektur upacara yaitu Ketua DPR/MPR saat itu, Wahono dan Komandan upacara Kolonel Inf Getson Manurung, Komandan Brigade Ifanteri 6 Kostrad saat itu.
Sedangkan sebelumnya saat pelepasan almarhumah, bertindak sebagai inspektur upacara, Letjen TNI (Purn) Achmad Tahir dan Komandan Upacara Kolonel Inf Sriyanto Muntasram, Komandan Grup 2 Kopassus Kartasura.
Pada tanggal 30 Juli 1996, presiden Soeharto menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional bagi Siti Hartinah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar