Rabu, 28 Januari 2026

SEJARAH KEBUDAYAAN D

MerahPutih.com

Sejarah Kebudayaan dan Kesenian Masa Kerajaan Mataram Kuno, Dari Sastra, Musik, Hingga Relief Candi

Sabtu, 22 Februari 2025 - Hendaru Tri Hanggoro

Sejarah Kebudayaan dan Kesenian Masa Kerajaan Mataram Kuno, Dari Sastra, Musik, Hingga Relief Candi

MerahPutih.com Halo, Guys! Pernah enggak sih kamu kepikiran bagaimana jadinya hidup tanpa budaya dan seni?

Bayangin deh, enggak ada musik buat menemani perjalanan, enggak ada film buat chill pada akhir pekan, atau enggak ada pameran seni buat cuci mata. Rasanya pasti hampa banget, kan?

Di dunia yang serba cepat ini, kadang kita lupa betapa pentingnya kebebasan berekspresi. Tapi coba bayangin kalau semua bentuk seni tiba-tiba dilarang.

Enggak ada lagi konser, enggak ada street art, dan enggak ada pertunjukan teater. Duh, seram banget!

Nah, balik ke masa lalu, tepatnya di Kerajaan Mataram Kuno Jawa Tengah dan Jawa Timur (abad ke 8-11 M), budaya dan seni sudah jadi bagian penting dari kehidupan mereka.

Budaya dan seni itu ibarat darah dan udara mereka.

Meskipun enggak ada TikTok atau Instagram buat pamer karya, masyarakat di sana punya cara keren buat mengekspresikan diri lewat berbagai bentuk kesenian.

Di artikel ini, kita bakal telusuri bagaimana asyiknya kehidupan budaya dan kesenian di Mataram Kuno. Mulai dari tari-tarian yang epik, karya sastra penuh makna sampai relief candi yang bikin takjub.

Kita bakal lihat bagaimana seni jadi bagian dari identitas mereka.

Siap buat perjalanan waktu? Yuk, kita eksplor bareng-bareng dan cari inspirasi dari masa lalu buat kehidupan kita sekarang!

 

Sastra Mataram Kuno

Kesusastraan punya tempat khusus dan terhormat di Kerajaan Mataram Kuno. Penciptaan karya sastra berkaitan dengan tiga tujuan: pelipur lara, tugas keagamaan (pemujaan terhadap dewa), dan pengagungan buat raja.

Tujuan pertama dan kedua sering kali enggak disebutkan secara terang di karya sastra, tapi tujuan ketiga kerap ditonjolkan secara jelas.

Meski terdapat tiga tujuan berbeda, ketiganya saling berkaitan, yaitu penanaman nilai-nilai tradisi besar.

"Pelbagai karya sastera digubah dengan bersumberkan tradisi sastera India, terutama dari kitab-kitab Ramayana dan Mahabharata," tulis arkeolog Supratikno Raharjo dalam buku Peradaban Jawa dari Mataram Kuno sampai Majapahit Akhir.

Kakawin Ramayana
Contoh Ramayana Kakawin yang ditulis di atas Lontar di Bali. (Foto: bl.uk/manuscripts)

Ramayana adalah kisah kepahlawanan Rama menyelamatkan istrinya Sinta dari tangan raksasa Rahwana. Sedangkan Mahabharata adalah epos kepahlawanan tentang keluarga Pandawa yang melawan keluarga Kurawa.

Lewat karya sastra, nilai-nilai kepahlawanan dan kepemimpinan ideal disebarkan. Sebab, prasasti enggak memuat sama sekali tentang gagasan kepahlawanan dan kepemimpinan ideal.

"Di dalam prasasti-prasasti masa Mataram yang sampai kepada kita, tidak pernah kita jumpai bagian yang menyebut sifat-sifat ideal seorang raja," sebut arkeolog legendaris Boechari dalam artikel "Kerajaan Mataram Sebagaimana Terbayang dari Data Prasasti" yang termuat di buku Melacak Sejarah Kuno Indonesia Lewat Prasasti.

Ramayana dibuat di Mataram Kuno pada sekitar abad ke-10 atau masa pemerintahan Dyah Balitung di Jawa Tengah. Sedangkan Mahabharata menyusul pada abad ke-11, ketika ibukota Mataram Kuno pindah ke Jawa Timur. Begitu keterangan yang tersua dalam prasasti Wukajana (908 M).

Dua kitab itu ditulis di atas daun lontar yang enggak bisa bertahan lama sampai berabad-abad.

"Dan waktu masyarakat Jawa sudah memeluk agama Islam, naskah-naskah tadi tidak lagi mendapat perhatian. Maka akhirnya kita-kita lontar (kropak) itu lenyap," urai R. Soekmono dalam buku Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia 2.

Meskipun bersumber dari India, pujangga Mataram Kuno saat itu enggak menyalin plek-ketiplek karya Ramayana. Ada beberapa bagian yang diubah dan disesuaikan dengan kondisi masyarakat Mataram Kuno.

Pujangganya menyadur kisah itu dari bahasa aslinya, Sanskerta, ke bahasa Jawa Kuno yang umum dipakai oleh masyarakat Mataram Kuno. Kitab Ramayana yang terbit di Mataram Kuno disebut sebagai Ramayana Kakawin.

Bahasa Sanskerta kala itu hanyalah bahasa yang dikuasai oleh kalangan terpelajar dan elite. Meski begitu, enggak semua orang dari kelompok itu punya kemampuan menyadur bahasa Sanskerta ke bahasa Jawa Kuno.

Kualitas penyaduran kedua kitab tersebut bisa dikatakan sangat baik.

"Ramayana Kakawin ternyata amat indah bahasanya. Sang Pujangga mampu untuk menerapkan ilmu persajakan bahasa Sanskerta dalam bahasa Jawa-Kuna yang masuk keluarga bahasa yang lain dari bahasa Sanskerta," sebut Ayatrohaedi dkk. dalam buku Sejarah Nasional Indonesia Jilid II.

Titi Nastiti, arkeolog Universitas Indonesia, pernah mencatat beberapa karya sastra dari Mataram Kuno selain Ramayana Kakawin dan Mahabharata dalam tesisnya Peranan Pasar Di Jawa pada Masa Mataram Kuna (Abad VIII-XI Masehi).

Karya tersebut antara lain Canda Karana (tentang pendirian Candi Kalasan oleh Raja Dinasti Syailendra), Sang Hyang Kamahayanikan (tentang ajaran agama Buddha Mahayana), Brahmandapurana, dan Agastyaparwa.

Beberapa arkeolog menduga bahwa karya sastra tersebut mungkin lebih banyak lagi. Terutama dari masa Mataram Kuno di Jawa Tengah. Namun, karena ada letusan Gunung Merapi pada awal abad ke-10, kitab-kitab itu musnah.

"Dapat dibayangkan bahwa raja dan kaum kerabatnya dan golongan elite yang lain yang mungkin mempunyai koleksi karya-karya sastra mengungsi ke Jawa Timur tanpa sempat membawa koleksinya itu," terang Ayatrohaedi dkk.

 

Musik, Tarian, dan Wayang untuk Rakyat Jelata Mataram Kuno

Kebanyakan karya sastra tersebut hanya dibaca oleh kalangan terpelajar dan elite. Sebab hanya merekalah yang mampu membaca. Rakyat jelata sedikit sekali yang mampu membaca ketika itu.

Karena itulah, cara penyampaian nilai-nilai kepada rakyat jelata berbeda, yaitu melalui seni pertunjukan musik, tarian, dan wayang.

Prasasti Sangsang (907 M) menyebutkan bahwa pertunjukan wayang kulit dan tari Kicaka digelar buat upacara penetapan sima (desa yang dibebaskan dari besaran pajak tertentu karena ada bangunan suci di dalamnya).

Pertunjukan wayang kulit dan tari Kicaka mengambil cerita dari kitab Mahabharata India.

Relief Candi Borobudur tentang pemain musik
Para pemusik Mataram Kuno yang diabadikan dalam relief Candi Borobudur. (Foto: Rahasia di Kaki Borobudur)

Cerita Bhima Kumara berkisar tentang perjalanan Bhima, tokoh dalam agama Hindu. Sedangkan cerita Kicaka mengangkat perjalanan seorang lelaki (Kicaka) yang sedang mabuk asmara pada seorang perempuan (Drupadi).

Dalam kedua pertunjukan itu, alat musik gamelan juga membersamainya. Seorang pesinden atau penyanyi ikut meramaikan pertunjukan tersebut.

Prasasti Waharu I (873 M) menyebut istilah mangidung yang berarti widu mangidung, atau penyanyi perempuan.

Profesi ini ternyata termasuk dalam golongan abdi dalem yang digaji oleh keraton. Jadi, bisa dibilang mereka adalah artis istana!

Selain Kicaka, ada tarian lain buat penetapan sima.

"Sayang sekali kita belum dapat mengenali jenis-jenis tarian itu," sebut Ayatrohaedi dkk.

Tarian yang teridentifikasi dari prasasti dan relief candi antara lain tarian yang dibawakan oleh laki-laki dan perempuan, orang-orang tua, dan tarian khusus seperti tuwung, bungkuk, ganding, dan rawanahasta.

Beberapa alat musik yang mengiringinya adalah gendang, kecer atau simbal, gambang, saron, kenong, kecapi, seruling, dan gong.

Prasasti Waharu I mencatat adanya mapadahi atau pengendang. Mereka adalah abdi dalem yang digaji keraton.

Ada kelompok pengendang yang tampil dalam upacara penetapan sima. Salah satu tokoh terkenal adalah Si Kuwuk, pimpinan pengendang yang hadir dalam upacara tersebut.

Di istana, ada jabatan Rakryan Demang yang bertugas memastikan sang raja selalu gembira. Mereka mengatur musik, tarian, dan keindahan lainnya di istana.

Dari semua itu, penyajian kisah Ramayana India dalam pertunjukan kesenian di desa menandakan bahwa nilai-nilai besar telah menjadi bagian enggak terpisahkan dari kehidupan masyarakat perdesaan.

Relief Penari di Candi Borobudur
Relief penari istana Mataram Kuno di Candi Borobudur. (Foto: Repro buku Sejarah Nasional Indonesia Jilid II)

"Melalui saluran kesenian ini pula segi-segi lain dari tradisi keraton disebarkan, misalnya nilai-nilai kepemimpinan ideal dan bahkan mungkin nama-nama Sanskerta yang tumbuh menjadi simbol status sosial," catat Supratikno.

Oya, tahukah kamu bahwa nama-nama orang Mataram Kuno sebelum kedatangan pengaruh India?

Ini contohnya: Si Gorotong, Si Kloteng, Si Guwar, Si Wadag, Si Keni, dan Si Kasih.

Sementara nama-nama Sanskerta adalah Si Brahma, Si Ramya, Si Ananta, dan lain-lain.

 

Relief Candi Sarat Makna

Jenis kesenian terakhir adalah relief candi. Dua relief candi yang paling kesohor dari masa Mataram Kuno adalah relief Borobudur dan Prambanan.

Relief candi bukan hanya buat menampilkan ragam hias, tapi juga menyampaikan pesan cerita. Karena itulah, ada yang bilang relief candi itu semacam komik kuno.

Meskipun beberapa orang menyatakan keberataannya jika relief disebut komik. Sebab relief dan komik dua bentuk kesenian yang berbeda.

Relief candi lebih bertujuan khusus dalam penyampaian nilai-nilai yang bersumber dari agama besar ketika itu, yaitu Hindu dan Buddha.

Relief Ramayana di Candi Prambanan
Relief Ramayana di Candi Prambanan buat menyampaikan pesan-pesan keagamaan. (Foto: Delpher)

"Relief cerita dimaksudkan untuk menyampaikan pesan moral kepada masyarakat berupa ajaran keagamaan maupun ajaran kebenaran," tulis Hari Lelono dalam artikel "Penggambaran Relief Cerita Pada Beberapa Candi di Jawa Tengah dan Timur (Makna Simbolis dan Edukatif", yang termuat di Berkala Arkeologi Volume 24 No 1, Tahun 2004.

Ada pula relief candi yang menggambarkan suatu objek atau fenomena masyarakat pada masa lalu. Misalnya kehidupan di dalam istana, pertunjukan seni, dan perdagangan. Bahkan jenis-jenis hewan dan tetumbuhan.

Maka relief sering juga dapat digunakan sebagai sumber sejarah buat mengetahui kehidupan masyarakat pada zaman candi berdiri.

Relief candi dibuat di atas batu andesit atau batu bata, dua bahan yang lazim dalam pembangunan candi.

Secara bentuk, candi terdiri dari tiga bagian utama: kaki candi, badan candi, dan puncak candi.

Biasanya relief ditempatkan pada bagian kaki dan badan candi. Cara membaca relief candi ada dua: dari kiri ke kanan searah jarum jam (pradaksina) atau dari kanan ke kiri berlawanan arah jarum jam (prasawya).

Dari situ, kelihatan bahwa para arsitek atau pembuat candi sudah memperhitungkan secara seksama jumlah dan isi relief sehingga membentuk suatu kesatuan cerita dan meninggalkan makna bagi para pembacanya.

"Karya-karya seni tersebut tentunya dibuat seindah mungkin mengingat bahwa candi adalah sebagai tempat suci sakral untuk melangsungkan upacara-upacara agama dan pemujaan," lanjut Hari Lelono.

Cerita dalam relief candi bersumber dari kitab kesusasteraan atau karya tulis lain yang sezaman.

"Namun, berlainan dengan kitab sastera yang umumnya karya individual, relief yang dipahat pada candi merupakan karya kolektif yang hanya dibuat sekali sehingga tidak memberikan kemungkinan untuk mengalami perubahan pada masa-masa berikutnya," urai Supratikno.

Jadi, dari cerita-cerita ini, kita bisa lihat betapa kaya dan beragamnya kehidupan budaya dan kesenian di Mataram Kuno.

Mereka enggak cuma sekadar hiburan, tapi juga bagian penting dari identitas dan kehidupan sosial masyarakat saat itu. (dru)



Sumber : Jernih.co


Menelisik Wayang sebagai Seni Bayang-Bayang

Relief Durga Ra Nini Marah pada Sadewa pada Teras Candi Sukuh (foto: Dok. Arkenas

Ada orang melihat wayang menangis, kagum serta sedih hatinya, walaupun sudah mengerti bahwa yang dilihat itu hanya kulit dipahat berbentuk orang dapat bergerak dan berbicara. Ia tidak mengerti bahwa semua itu hanyalah bayangan seperti sulapan, sesungguhnya hanya semu saja (kakawin Arjuna Wiwaha –Mpu Kanwa)

Jernih.co — Secara umum wayang merupakan seni kalangenan yang sangat akrab bagi sebagian besar masyarakat Indonesia terutama masyarakat pulau Jawa. Keberadaan wayang dala bentuk kesenian dan ritus terus berdenyut dalam nadi budaya bangsa Indonesia.

Wayang dalam bentuk pagelarannya merupakan karya cipta asli bangsa Indonesia yang diakui oleh UNESCO sebagai karya adiluhung dunia. Tahun 1988 di pulau Jawa terdapat kurang lebih 40 jenis  wayang yang digolongkan menurut ceritanya, cara pentas dan cara pembuatannya. Namun kini, hampir sepertiganya telah punah.  

Menyusuri keberadaan wayang seiring dengan sejarah perkembangan agama Hindu di Indonesia. Bukti awal tentang keberadaan seni wayang  termaktub diantaranya dalam prasasti Kuti  yang bertahun 840 M ( 762 Saka ) pada lempengan IVa tertera kalimat hanapuk warahan kecaka tarimba hatapukan haringgit abañol salahan.

Kata hanapuk merujuk pada topeng, kata haringgit berarti wayang dan  abañol artinya lawak. Ketiganya termasuk kelompok mangilala drbya haji‘,  yaitu pejabat kraton yang memperoleh gaji dari kraton.

Tukang wayang atau aringgit ini juga dikenal dengan nama “jurubrata” yaitu orang yang mampu  medar lalakon turunan Barata, sama halnya dengan sebutan jurupantun yaitu orang yang mampu medar cerita pantun. Padanan kata ’haringgit’ adalah kata ’awayang’ yang dapat dijumpai dalam prasasti Tajigunung 910 M

Prasasti Wukajana, tanpa angka tahun namun jenis aksaranya berasal dari masa Dyah Balitung (899–911 M) menuliskan : hinyunakan tontonan mamidu sang tangkil hyang si nalu macarita bhimma kumara mangigal kica-ka si jaluk macarita ramayana mamirus mabañol si mungmuk si galigi mawayang buatt hyang macarita ya kumara.

Artinya : diadakan pertunjukan yaitu menyanyi oleh sang Tangkil hyang si Nalu bercerita Bhima Kumara dan menariKicaka, si Jaluk bercerita Ramayana, menari topeng (mamirus) dan melawak dilakukan oleh si Mungmuk, si Galigi memainkan wayang untuk hyang (roh nenek moyang) dengan cerita Bhimakumara.

Adapun ungkapan ‘mawayang buat hyang’ dapat berarti ‘pertunjukan wayang untuk arwah nenek moyang. Kemudian dalam prasasti Bebetin (896 M) menyebutkan beberapa kelompok kesenian, diantaranya yang disebut parbwayang, atau pertunjukan wayang. Prasasti ini dibuat pada pemerintahan raja Ugrasena di Bali.  

Keberadaan wayang, terutama wayang kulit telah ada sebelumnya dan sering menampilkan  cerita tentang roh nenek moyang, selanjutnya setelah datang agama Hindu cerita Ramayana dan Mahabharata mulai populer.

Kedua epos besar tersebut diterjemahkan dari bahasa Sanskrit ke bahasa Jawa kuno pada abad 9 M. Kitab Ramayana dialihbahasakan pada zaman Raja Dyah Balitung sedangkan kitab Mahabarata disalin ke dalam bahasa Jawa kuno pada zaman Raja Dwamawangsa Teguh.

Melacak lebih dalam lagi, diketahui bahwa epos Ramayana dan Mahabharata sudah dikenal sejak jaman kutai dan Tarumanagara di abad 4 M. Di Prasasti Yupa pada abad 4 M disebutkan  Raja Mulawarman mengadakan upacara Aswamedha dengan melepas ribuan kuda dan menyumbang ribuan sapi.

Upacara ini ternyata hanya disebutkan dalam kisah Mahabharata dan tidak disebutkan dalam kitab suci Wedha. Dalam Mahabharata, Aswamedha diadakan oleh Yudhistira untuk menandai luas wilayah Kerajaan Indraprastha di empat penjuru mata angin.

Prasasti Kebon Kopi dari era Tarumanagara pada zaman pemerintahan Raja Purnawarman, terdapat pahatan telapak kaki gajah yang diasosiasikan dengan telapak kaki Gajah Airavata (Erawana sebagai kendaraan Dewa Indra). Erawana adalam simbol kekuatan dalam Bhagavad Gita, bagian penting dalam perang Bharatayudha.

Demikian pula dari sisi bahasa sankrit/sangsekerta dan hurup pallawa yang kemungkinan digunakan sebagai teks Mahabharata dan Ramayana pertama kali tertulis di prasasti-prasasti Kutai dan Tarumanagara.

Jadi tidak menutup kemungkinan bahwa seni wayang yang bermula dari dua kitab kuno tersebut, sudah ada di masa Kutai dan Tarumanagara.

Sumber lain tentang wayang adalah relief candi yang memuat dari kisah-kisah wayang. Penggambaran relief pada Candi jago, Candi Penataran dan Candi Surawana dengan ciri-ciri seperti relief dipahat rendah, penggambaran tokoh yang tidak proporsional, kaki dan  posisi hadap en profile, menyerupai wayang kulit.  

Cerita yang digambarkannya juga cukup beragam, tidak melulu bersumber dari Ramayana dan Mahabharata saja, melainkan kisah sadurannya seperti Arjuna Wiwaha dan Sudhamala. Bahkan terdapat pula kisah gubahan pujangga jawa seperti kisah Sri Tanjung, Panji atau Bhubuksah-Gagangaking.  

Fragmen-fragmen tersebut merupakan substansi ide yang akhirnya mendorong para  seniman pada waktu itu untuk memvisualkannya dalam bentuk lainnya.

Menurut perkiraan para dalang, berdasarkan cerita turun temurun, wayang kulit pertama kali terbuat dari kulit kayu dengan dengan cerita berdasarkan Mahabharata yaitu cerita Bhima Kumara

Sedangkan gambaran otentik tentang pertunjukan wayang tercatat dalam naskah Kakawin Arjuna Wiwaha yang ditulis Mpu Kanwa tahun 1030 M, yaitu pada jaman Dharmawangsa Teguh di Kediri.

Pada bait 59 tertulis : ”Hanonton Ringgit manangis asekel muda hidepan huwus wruh towin jan walulang inukir molah angucap hatur ning wang tresneng wisaya malaha tan wihikana Ri tatwan jan maya sahan-haning bhawa siluman”

Terjemahan : Ada orang melihat wayang menangis, kagum serta sedih hatinya, walaupun sudah mengerti bahwa yang dilihat itu hanya kulit dipahat berbentuk orang dapat bergerak dan berbicara, yang melihat wayang itu umpamanya orang yang nafsu dalam keduniawian yang serba nikmat, mengakibatkan kegelapan hati. Ia tidak mengerti bahwa semua itu hanyalah bayangan seperti sulapan, sesungguhnya hanya semu saja.

Pada jaman itulah pertunjukan wayang kulit dengan semua kelengkapanya mulai terbentuk, termasuk tatabeuhan dengan laras salendro dan awal penggunaan kakawen yang begitu berpengaruh kepada perkembangannya. Hal itu menandakan bahwa seni wayang saat itu telah berkembang dan berpengaruh serta sangat digandrungi oleh masyarakat.

Selanjutnya muncul Wayang Lontar, yaitu kisah wayang yang digambar di daun lontar yang saat ini disebut prasi dan  masih berkembang di Bali. Dalam cerita Jawa, yang memiliki wayang lontar adalah Sri Jayabaya, ketika bertahta di Mamongan, Kediri (1135-1157 M).  Terbuat dari daun tal dan menggambarkan wajah para dewa, manusia jaman purba atau purwa yang meniru dari bentuk arca.

Kemunculan  wayang kulit yang kemudian diikuti oleh pertumbuhan Wayang Lontar dan wayang kertas atau wayang beber (sekitar 1140 M), menjadi awal morfologi dimensi dari perupaan wayang di masa berikutnya.

Pada tahun 1315 Raja Brawijaya V menciptakan Wayang Krucil atau Wayang Klitik. Jenis ini merupakan boneka dengan bahan dasar kayu namun bentuknya pipih, mendekati bentuk wayang kulit, sedangkan raut tokoh-tokohnya merupakan tiruan dari raut wayang beber. Wayang tiga dimensi baru muncul pada awal abad ke 16 yang disebut golek.

Perubahan ideologi agama dari masa Hindu dan Budha  ke masa Islam juga berpengaruh kuat terhadap tatacara pagelaran wayang. 

Tahun 1515 M, Raden Patah yang berkuasa di  Demak  merubah bentuk wayang agar tidak mirip manusia (karena diharamkan dalam ajaran Islam). Penokohan wayang satu persatu dipisahkan mandiri dan tidak di beberkan.

Wayang tersebut terbuat dari kulit dan diberi sampurit (jepitan) untuk menancabkan wayang. Namun belum ditatah, hanya diberi warna saja untuk membedakan tokoh.

Raden Patah dibantu oleh para wali diantaranya Sunan Giri menciptakan keragaman tokoh wanara pada lakon Ramayana. Sunan Bonang menciptakan bentuk-bentuk binatang seperti gajah, kuda, garuda dll.

Sunan Kalijaga mengatur kelir, gebog dan belincong. Sedangkan Raden Patah sendiri selain merubah gambar wayangnya juga menciptakan Gugunungan serta mengatur janturan wayang.

Kayon atau gunungan yang diberi gambar api menyala oleh Sunan Kalijaga memiliki sengkalan geni dadi sucining jagat yang berarti 1443 Saka (1521 M).

Penciptaan karakter wayang kulit berlangsung di tahun-tahun berikutnya seperti  Buto Cakil dibuat dengan sengkalan : tangan  yakso satataning  jalma (1552 saka/1630 M). Buta Terong dibuat dengan sengkalan buto lima angoyak jagad, menunjuk pada tahun (1655 Saka/1733 M).

Karena ide Sunan Kalijaga yang menciptakan kelir, gebog dan belincong yang menimbulkan efek bayangan sehingga timbul anggapan bahwa wayang  dimaknai sebagai bayang-bayang manusia adalah berkat jasanya Sunan Kalijaga.

Saat itu wayang kulit mencapai masa keemasannya. Bahkan oleh para wali sering pagelaran wayang pergunakan sebagai media ampuh penyebaran agama Islam. 

Menurut cerita, sunan Kalijaga mempunyai cara yang jitu untuk mengislamkan masyarakat  yaitu dengan menggratiskan setiap pagelaran. Dan penonton hanya diwajibkan mengucapkan kalimah syahadat sebagai syarat menonton pagelaran.  (Pandu Radea/Jernih.co)




Negara Kertagama


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Perjanjian Lawas

 Buatlah Risalah dan Infografis tentang Perjanjian Kerajaan di  Indonesia yaitu : Perjanjian Giyanti. Ditandatangani pada 13 Februari 1755, ...