Buatlah Risalah dan Infografis Kitab sastra yaitu :
Arjuna Wiwaha oleh Mpu Kanwa, jaman Airlangga.
Kitab sastra paling terkenal dan monumental yang lahir pada zaman pemerintahan Raja Airlangga (kerajaan Kahuripan/Medang) di Jawa Timur adalah Kakawin Arjunawiwaha.
Berikut adalah rincian mengenai karya sastra tersebut:
Kakawin Arjunawiwaha
Pengarang: Mpu Kanwa.
Waktu Pembuatan: Ditulis sekitar tahun 1030 M, pada masa pemerintahan Raja Airlangga.
Isi & Alegori: Kakawin ini mengadaptasi kisah Mahabharata tentang perjalanan spiritual Arjuna saat bertapa di Gunung Indrakila. Karya ini merupakan bentuk alegori atau kiasan yang menggambarkan perjuangan Raja Airlangga sendiri dalam menata kembali kerajaannya yang runtuh (Pralaya) dan mencapai kejayaan.
Makna: Kitab ini menggambarkan Airlangga sebagai sosok raja ideal, mirip dengan Arjuna yang berhasil mengalahkan raksasa Niwatakawaca setelah mendapat anugerah dewa.
Selain Kakawin Arjunawiwaha, peninggalan tertulis penting pada masa ini adalah prasasti-prasasti, di mana yang paling lengkap menceritakan riwayat hidup Raja Airlangga adalah Prasasti Pucangan (berangka tahun 1037 M).
RISALAH KITAB SASTRA KLASIK
KAKAWIN ARJUNAWIWAHA
Karya Mpu Kanwa – Zaman Raja Airlangga
Identitas Karya
- Judul Karya : Kakawin Arjunawiwaha
- Pengarang : Mpu Kanwa
- Tahun Penulisan : ± 1030 Masehi
- Masa Pemerintahan : Raja Airlangga
- Kerajaan : Kahuripan (Medang Timur)
- Bentuk Sastra : Kakawin (puisi Jawa Kuna berbahasa Sanskerta-Jawa Kuna)
Latar Sejarah
Kakawin Arjunawiwaha lahir pada masa kebangkitan kembali Jawa Timur setelah masa kehancuran besar (Pralaya) pasca runtuhnya Medang. Raja Airlangga, sebagai penguasa baru, menata kembali wilayah, pemerintahan, dan tatanan sosial-politik.
Dalam konteks inilah Mpu Kanwa menggubah Arjunawiwaha sebagai karya sastra istana yang tidak hanya bersifat religius, tetapi juga politis dan ideologis.
Isi Cerita
Kakawin ini mengadaptasi kisah Arjuna dari epos Mahabharata, khususnya:
- Pertapaan Arjuna di Gunung Indrakila
- Ujian godaan para bidadari
- Pertempuran melawan raksasa Niwatakawaca
- Kemenangan Arjuna berkat anugerah para dewa
Makna Alegoris
Cerita Arjuna bukan sekadar kisah kepahlawanan, melainkan alegori perjalanan Raja Airlangga, yaitu:
- Arjuna → Raja Airlangga
- Pertapaan → Masa pengasingan dan perjuangan politik
- Niwatakawaca → Kekuatan kekacauan dan musuh kerajaan
- Kemenangan → Keberhasilan Airlangga memulihkan negeri
Dengan demikian, Arjunawiwaha menggambarkan konsep raja ideal:
Raja yang kuat secara spiritual, bijaksana, mampu mengendalikan hawa nafsu, dan membawa kemakmuran bagi rakyat.
Nilai Filosofis
- Dharma: Kewajiban raja menjaga keseimbangan dunia
- Tapa Brata: Pengendalian diri sebagai sumber kekuatan sejati
- Legitimasi Kekuasaan: Raja berkuasa atas kehendak dan restu para dewa
Hubungan dengan Prasasti
Selain Arjunawiwaha, riwayat hidup Raja Airlangga juga direkam dalam:
- Prasasti Pucangan (1037 M)
Prasasti ini memperkuat bahwa kakawin tersebut memang berkaitan langsung dengan sosok dan perjalanan hidup Airlangga.
Signifikansi Sejarah dan Budaya
- Kakawin Arjunawiwaha adalah karya sastra monumental Jawa Kuna
- Menjadi model sastra istana bagi masa-masa berikutnya (Kediri–Majapahit)
- Membuktikan bahwa sastra digunakan sebagai alat legitimasi politik dan ideologi kerajaan
INFOGRAFIS (STRUKTUR ISI)
Judul Besar
KAKAWIN ARJUNAWIWAHA – Karya Mpu Kanwa
Panel Utama
- Ilustrasi Arjuna bertapa di gunung (paralel dengan Airlangga)
- Raja Airlangga sebagai raja ideal
Panel Informasi
- Pengarang: Mpu Kanwa
- Tahun: ±1030 M
- Kerajaan: Kahuripan
Panel Makna
- Alegori Arjuna = Airlangga
- Sastra sebagai legitimasi kekuasaan
Panel Warisan
- Sastra klasik terbesar era Airlangga
- Fondasi kebudayaan Jawa Kuna
Buatlah Risalah dan Infografis Kitab sastra yaitu :
Bharatayudha oleh Mpu Sedah dan Mpu Panuluh jaman Kerajaan Kediri.
Kitab Bharatayuddha Salah satu karya sastra yang terkenal di Kerajaan Kediri adalah Kitab Bharatayuddha, yang ditulis oleh Mpu Sedah dan Mpu Panuluh pada zaman kekuasaan Raja Jayabaya (1135-1159). Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+ Cerita Kitab Bharatayudha merupakan penggalan dari Kitab Mahabharata, yang mengisahkan tentang perang 18 hari antara Pandawa dan Kurawa di Padang Kuruksetra yang dikenal sebagai Perang Bharatayuddha. Dalam gubahan Kitab Bharatayuddha, nama Jayabaya kerap disebut sebagai bentuk sanjungan terhadap raja. Kitab ini selesai ditulis pada 6 November 1157.
RISALAH KITAB SASTRA
Bharatayuddha
Karya Mpu Sedah & Mpu Panuluh
Kerajaan Kediri (Abad XII Masehi)
Identitas Karya
- Judul Kitab : Bharatayuddha
- Pengarang : Mpu Sedah (penggagas awal), dilanjutkan dan diselesaikan oleh Mpu Panuluh
- Kerajaan : Kediri
- Raja Pelindung : Sri Maharaja Jayabaya
- Tahun Selesai : 6 November 1157 M
- Bahasa & Aksara : Jawa Kuno (Kawi)
- Jenis Karya : Kakawin (puisi epik klasik)
Latar Sejarah
Kitab Bharatayuddha ditulis pada masa kejayaan Kerajaan Kediri, ketika Raja Jayabaya dikenal sebagai raja adil, bijaksana, dan pelindung sastra. Karya ini menjadi bukti bahwa Kediri bukan hanya pusat kekuasaan politik, tetapi juga pusat peradaban intelektual dan sastra Jawa Kuno.
Penulisan kakawin ini berfungsi sebagai:
- legitimasi kekuasaan raja,
- sarana pendidikan moral,
- simbol kejayaan budaya Kediri.
Isi Pokok Kitab
Kitab Bharatayuddha merupakan gubahan dari epos Mahabharata, khususnya bagian:
- Perang Bharatayuddha
- Perang besar selama 18 hari antara:
- Pandawa (simbol kebenaran, dharma)
- Kurawa (simbol keserakahan, adharma)
- Lokasi perang: Padang Kuruksetra
Dalam versi Jawa Kuno, cerita tidak sekadar terjemahan, melainkan adaptasi budaya Nusantara dengan nilai lokal.
Sanjungan kepada Raja Jayabaya
Nama Jayabaya kerap disebut dalam kakawin ini sebagai:
- raja pelindung sastra,
- pemimpin adil yang disejajarkan dengan tokoh utama Pandawa,
- simbol raja ideal yang menegakkan dharma.
Hal ini menunjukkan fungsi sastra sebagai alat legitimasi kekuasaan raja.
Makna Filosofis
Kitab Bharatayuddha mengajarkan:
- pertarungan abadi antara dharma (kebenaran) dan adharma (kejahatan),
- pentingnya kesetiaan, pengorbanan, dan keadilan,
- bahwa kemenangan sejati bukan hanya fisik, tetapi moral dan spiritual.
INFOGRAFIS (TEKS RINGKAS VISUAL)
KITAB BHARATAYUDDHA – KEDIRI
- 📜 Kakawin Jawa Kuno
- ✍️ Mpu Sedah & Mpu Panuluh
- 👑 Zaman Raja Jayabaya
- 📅 Selesai 1157 M
- ⚔️ Perang Pandawa vs Kurawa (18 hari)
- 🧭 Adaptasi Mahabharata
- 🌾 Sastra sebagai legitimasi raja
- 🕉️ Nilai dharma, kepemimpinan, keadilan
Kesimpulan
Kitab Bharatayuddha adalah mahakarya sastra Jawa Kuno yang menunjukkan tingginya peradaban Kerajaan Kediri. Karya ini tidak hanya menyampaikan kisah epik, tetapi juga menjadi media pendidikan moral, legitimasi politik, dan warisan budaya Nusantara yang bernilai tinggi hingga kini.
Buatlah Risalah dan Infografis Kitab sastra yaitu :
Lubdaka oleh Mpu Tanakung jaman Kerajaan Kediri.
Kitab Lubdaka Kitab Lubdaka peninggalan Kerajaan Kediri ditulis oleh Mpu Tanakung pada zaman Raja Kameswara, yang berkuasa antara 1190-1200. Kitab ini bercerita tentang seorang pemburu bernama Lubdaka yang mengadakan pemujaan terhadap Dewa Syiwa sehingga rohnya yang semestinya masuk neraka menjadi masuk surga.
Asli 2 Gb.
RISALAH KITAB SASTRA LUBDAKA
Karya Mpu Tanakung – Zaman Kerajaan Kediri
Identitas Karya
- Judul: Lubdaka
- Pengarang: Mpu Tanakung
- Kerajaan: Kediri
- Masa Penulisan: Zaman Raja Kameswara (± 1190–1200 M)
- Bentuk Karya: Kakawin (sastra Jawa Kuno)
- Aliran Keagamaan: Siwaisme
Latar Sejarah
Kitab Lubdaka merupakan salah satu karya sastra religius penting pada masa Kerajaan Kediri. Ditulis oleh Mpu Tanakung, kakawin ini mencerminkan kuatnya pengaruh ajaran Siwa (Hindu) dalam kehidupan spiritual masyarakat Jawa Timur abad ke-12. Karya ini menekankan nilai ketulusan, pengabdian, dan kasih sayang ilahi.
Sinopsis Cerita
Lubdaka adalah seorang pemburu miskin yang hidup di hutan. Pada malam Siwaratri, malam suci pemujaan Dewa Siwa, Lubdaka tanpa sengaja melakukan tapa brata.
Karena takut diserang binatang buas, ia bermalam di atas pohon bilwa. Untuk tetap terjaga, ia memetik daun-daun bilwa dan menjatuhkannya ke bawah. Tanpa disadari, daun-daun tersebut jatuh tepat di atas lingga Siwa.
Meskipun perbuatannya tidak diniatkan sebagai ibadah, ketulusannya berjaga semalam penuh membuat Dewa Siwa berkenan. Saat Lubdaka meninggal, para utusan neraka hendak menjemputnya, namun dihalau oleh utusan Siwa. Roh Lubdaka akhirnya dibawa ke surga.
Isi Pokok Cerita
- Kehidupan Lubdaka sebagai pemburu sederhana
- Malam Siwaratri sebagai momen spiritual
- Tindakan tanpa niat yang menjadi pemujaan sejati
- Pertentangan antara utusan neraka dan surga
- Anugerah Dewa Siwa atas ketulusan batin
Makna dan Nilai Filosofis
- Ketulusan Lebih Utama dari Status
Keselamatan tidak ditentukan oleh kasta atau profesi. - Kasih Sayang Dewa Siwa
Siwa Maha Pengasih, menerima ibadah dari siapa pun. - Pelepasan dan Pembebasan Jiwa (Moksa)
Setiap manusia memiliki kesempatan mencapai keselamatan. - Makna Siwaratri
Malam perenungan diri dan pembersihan jiwa.
Makna Simbolik
- Lubdaka: Manusia biasa dengan dosa dan keterbatasan
- Daun Bilwa: Simbol pemujaan Siwa
- Pohon: Jalan pertapaan dan pengendalian diri
- Siwaratri: Kegelapan batin yang diterangi kesadaran
Nilai Penting Kitab Lubdaka
- Karya sastra religius Kediri yang sarat ajaran moral
- Menjadi dasar tradisi perayaan Siwaratri di Nusantara
- Bukti toleransi dan kedalaman spiritual sastra Jawa Kuno
- Menunjukkan fungsi sastra sebagai media pendidikan rohani
Kutipan Nilai
“Ketulusan sekecil apa pun, bila dilakukan dengan hati bersih, akan mendapat tempat di hadapan Yang Mahakuasa.”
Buatlah Risalah dan Infografis Kitab sastra yaitu :
Kresnayana oleh Mpu Triguna jaman Kerajaan Kediri.
Kitab Kresnayana Kitab Kresnayana ditulis oleh Mpu Triguna pada masa pemerintahan Raja Jayaswara, yang memerintah Kediri antara 1104-1115. Isi kitab ini menceritakan tentang perkawinan antara Kresna dan Dewi Rukmini.
**RISALAH KITAB SASTRA
KRESNAYANA**
Identitas Karya
- Judul Kitab : Kresnayana
- Pengarang : Mpu Triguna
- Kerajaan : Kediri
- Raja Pelindung : Sri Jayaswara
- Masa Penulisan : Awal abad XII M
- Periode Pemerintahan Raja : ± 1104–1115 M
- Bahasa & Aksara : Jawa Kuno (Kawi)
- Bentuk Karya : Kakawin (puisi epik)
Latar Sejarah
Kitab Kresnayana lahir pada masa kejayaan awal Kerajaan Kediri, ketika sastra istana berkembang pesat sebagai sarana legitimasi kekuasaan dan pendidikan moral. Pada masa Raja Jayaswara, para pujangga mendapat perlindungan penuh untuk menggubah karya sastra berbasis kisah epos India yang diolah dengan nilai-nilai Jawa Kuno.
Mpu Triguna menggubah Kresnayana sebagai kakawin yang menonjolkan kisah cinta, dharma, dan kesetiaan, dengan latar tokoh utama Dewa Kresna, salah satu figur sentral dalam wiracarita Mahabharata.
Isi Pokok Kitab
Kitab Kresnayana mengisahkan:
- Perjalanan cinta Kresna dengan Dewi Rukmini
- Usaha Kresna membebaskan Rukmini dari pernikahan paksa
- Perkawinan suci Kresna–Rukmini sebagai lambang dharma dan kebijaksanaan
- Perjuangan moral melawan kekuasaan yang lalim
Kisah ini tidak hanya romantis, tetapi juga sarat makna kepemimpinan dan etika.
Makna Filosofis
Kitab Kresnayana mengajarkan bahwa:
- Cinta sejati harus berpijak pada dharma
- Pemimpin ideal bersikap tegas namun penuh welas asih
- Kesetiaan dan keberanian adalah fondasi keharmonisan hidup
- Perkawinan bukan sekadar ikatan jasmani, tetapi penyatuan nilai luhur
Nilai Budaya dan Sastra
- Menunjukkan kuatnya akulturasi budaya India–Jawa
- Menjadi contoh kakawin bertema romantika religius
- Memperkuat citra raja sebagai pelindung dharma
- Memperkaya khazanah sastra Jawa Kuno Kediri
INFOGRAFIS (TEKS RINGKAS VISUAL)
KRESNAYANA – KAKAWIN KEDIRI
- ✍️ Mpu Triguna
- 👑 Zaman Raja Jayaswara
- 📍 Kerajaan Kediri
- 📜 Abad XII M
- ❤️ Kisah Kresna & Dewi Rukmini
- 🕉️ Tema: Dharma, cinta, kesetiaan
- 📝 Bahasa: Jawa Kuno (Kawi)
- 🎭 Genre: Kakawin epik-romantis
Kesimpulan
Kitab Kresnayana merupakan karya sastra penting Kerajaan Kediri yang memadukan kisah cinta ilahi, nilai moral, dan legitimasi kekuasaan raja. Karya ini menegaskan bahwa sastra Jawa Kuno bukan hanya hiburan, tetapi sarana pendidikan etika dan spiritual yang berpengaruh hingga kini.
Buatlah Risalah dan Infografis Kitab sastra yaitu :
Smaradahana oleh Mpu Darmaja jaman Kerajaan Kediri.
Kitab Smaradahana Karya sastra pada masa Kerajaan Kediri yang berisi tentang pemujaan Raja Kediri adalah Kitab Smaradhana.
Kitab ini menceritakan tentang sepasang suami istri, Smara dan Rati, yang menggoda Dewa Syiwa yang sedang bertapa. Smara dan Rati akhirnya terkena kutukan dan mati terbakar oleh api (dahana) karena kesaktian Dewa Syiwa.
Akan tetapi, mereka dihidupkan kembali dan menjelma sebagai Kameswara dan permaisurinya. Kitab Smaradahana ditulis pada zaman Raja Kameswara (1190-1200) oleh Mpu Darmaja, yang juga terkenal dengan karyanya Cerita Panji.
RISALAH KITAB SASTRA SMARADAHANA
Karya Mpu Darmaja – Zaman Kerajaan Kediri
Identitas Karya
- Judul Kitab: Smaradahana
- Pengarang: Mpu Darmaja
- Kerajaan: Kediri
- Masa Penulisan: Zaman Raja Kameswara (± 1190–1200 M)
- Bentuk Sastra: Kakawin (sastra Jawa Kuno)
- Latar Keagamaan: Hindu (Siwaisme)
Latar Sejarah
Kitab Smaradahana merupakan karya sastra penting dari masa Kerajaan Kediri yang berfungsi sebagai karya pujian (puja sastra) terhadap Raja Kameswara. Melalui kisah mitologis, kitab ini menampilkan pengagungan raja sebagai perwujudan dewa cinta, sebuah konsep yang lazim dalam tradisi sastra Jawa Kuna.
Mpu Darmaja, pengarangnya, dikenal sebagai pujangga istana Kediri dan juga pencipta kisah-kisah Panji yang sangat berpengaruh dalam sastra Nusantara.
Sinopsis Cerita
Kakawin Smaradahana mengisahkan Dewa Smara (Kamajaya) dan istrinya Dewi Rati, lambang cinta dan asmara.
Suatu ketika, Dewa Smara dan Dewi Rati berusaha menggoda Dewa Siwa yang sedang bertapa mendalam. Usaha tersebut membuat Dewa Siwa murka. Dari mata ketiganya memancar api sakti yang membakar Smara hingga lenyap—peristiwa ini disebut dahana (terbakar).
Dewi Rati meratapi kepergian suaminya dengan kesedihan mendalam. Namun, atas kehendak ilahi, Smara dan Rati akhirnya dihidupkan kembali dan menjelma ke dunia sebagai Raja Kameswara dan permaisurinya, menjadikan pasangan raja tersebut sebagai perwujudan cinta ilahi di bumi.
Isi Pokok Cerita
- Pemujaan terhadap Dewa Cinta (Smara)
- Pertapaan Dewa Siwa sebagai simbol kesempurnaan spiritual
- Murka dan api sakti Siwa (dahana)
- Kematian dan kebangkitan kembali Smara dan Rati
- Penjelmaan sebagai Raja Kameswara dan permaisuri
Makna dan Nilai Filosofis
- Pengendalian Diri
Nafsu dan godaan tidak mampu menggoyahkan kesucian spiritual. - Kematian dan Kelahiran Kembali
Kehancuran bukan akhir, melainkan jalan menuju kesempurnaan baru. - Raja sebagai Perwujudan Dewa
Raja Kameswara digambarkan sebagai manifestasi cinta ilahi di dunia. - Keselarasan Kosmis
Cinta, kekuasaan, dan spiritualitas harus seimbang.
Makna Simbolik
- Smara (Kamajaya): Cinta dan hasrat duniawi
- Rati: Kesetiaan dan pengabdian cinta
- Api Siwa (Dahana): Pemurnian dan kehancuran ego
- Penjelmaan Kameswara: Cinta suci yang telah dimurnikan
Nilai Penting Kitab Smaradahana
- Sastra puja raja (puja sastra) khas Kediri
- Dasar mitologis pengagungan Raja Kameswara
- Perpaduan nilai religius, politik, dan estetika sastra
- Berpengaruh besar pada perkembangan sastra Jawa Kuna dan kisah Panji
Kutipan Nilai
“Cinta yang telah dimurnikan oleh api kesadaran akan menjelma menjadi kekuatan yang luhur.”
Kesimpulan
Kitab Smaradahana bukan sekadar kisah mitologi, tetapi merupakan simbol legitimasi kekuasaan Raja Kameswara sebagai perwujudan cinta ilahi. Karya ini memperlihatkan bagaimana sastra pada masa Kediri berfungsi sebagai sarana spiritual, politik, dan budaya sekaligus.
Buatlah Risalah dan Infografis Kitab sastra yaitu :
Sumanasantaka oleh Mpu Monaguna jaman Kerajaan Kediri.
Kitab Sumanasantaka adalah sebuah puisi (kakawin) berbahasa Jawa Kuno yang ditulis oleh Mpu Monaguna pada masa Sri Jayawarsa (1104-1115). Mpu Monaguna menggubah karyanya ini berdasarkan kitab milik penyair terkenal dari India. Kitab Sumanasantaka berisi lebih dari 1.100 bait, yang terdiri atas bait pemujaan, narasi, dan epilog.
📜 RISALAH KITAB SASTRA
SUMANASANTAKA
1. Identitas Karya
- Judul Kitab: Sumanasantak
- Pengarang: Mpu Monaguna
- Kerajaan: Kediri
- Raja Pelindung: Sri Jayawarsa
- Masa Penulisan: Awal abad XII M
- Periode Pemerintahan Raja: ± 1104–1115 M
- Bahasa & Aksara: Jawa Kuno (Kawi)
- Bentuk Sastra: Kakawin (puisi epik)
2. Latar Sejarah
Kitab Sumanasantaka lahir pada masa kejayaan awal Kerajaan Kediri, ketika sastra istana berkembang pesat sebagai sarana legitimasi kekuasaan, pendidikan moral, dan penghalusan budi.
Mpu Monaguna menggubah kakawin ini dengan mengadaptasi kisah dari sastra India klasik, lalu menyesuaikannya dengan nilai, estetika, dan pandangan hidup Jawa Kuno.
3. Isi Pokok Kitab
Sumanasantaka berisi lebih dari 1.100 bait, tersusun atas:
- Bait pembuka (manggala): Pemujaan kepada dewa dan restu ilahi
- Bagian narasi utama:
Mengisahkan perjalanan hidup tokoh utama, kisah cinta, cobaan, kesetiaan, dan takdir manusia - Epilog: Penegasan pesan moral dan spiritual
Tema utama dalam kitab ini meliputi:
- Cinta dan pengorbanan
- Kesetiaan dan kesabaran
- Dharma dan karma
- Keteguhan manusia menghadapi takdir
4. Makna Filosofis
Kitab Sumanasantaka mengajarkan bahwa:
- Kehidupan manusia tidak lepas dari hukum karma
- Cinta sejati menuntut kesetiaan dan pengendalian diri
- Penderitaan adalah bagian dari perjalanan menuju kebijaksanaan
- Keselarasan antara kehendak manusia dan kehendak ilahi adalah kunci kebahagiaan
5. Nilai Budaya dan Sastra
- Menunjukkan kematangan sastra Jawa Kuno pada masa Kediri
- Memperkaya khazanah kakawin bertema romantis-filosofis
- Menjadi bukti kuat pengaruh sastra India yang diolah secara kreatif di Nusantara
- Berfungsi sebagai media pendidikan moral bangsawan dan masyarakat
6. Kesimpulan
Kitab Sumanasantaka karya Mpu Monaguna merupakan mahakarya sastra Kediri yang memadukan keindahan bahasa, kedalaman filsafat, dan pesan moral universal.
Kakawin ini menegaskan bahwa sastra Jawa Kuno bukan sekadar hiburan istana, melainkan sarana pembentukan karakter, pemahaman hidup, dan refleksi spiritual yang bernilai tinggi hingga kini.
🖼️ KONSEP INFOGRAFIS (Ringkas & Visual)
Judul Besar:
SUMANASANTAKA – Kakawin Agung Kerajaan Kediri
Elemen Infografis:
- Ikon pena lontar → Mpu Monaguna
- Ikon mahkota → Raja Sri Jayawarsa
- Ikon kitab → Kakawin Jawa Kuno
- Ikon hati & bunga → Cinta, kesetiaan, penderitaan
- Timeline abad XII M
- Ringkasan: Tema – Nilai – Makna
Nuansa Visual:
- Warna krem–cokelat (lontar & manuskrip kuno)
- Ornamen Jawa klasik
- Ilustrasi tokoh kakawin bergaya relief atau wayang halus
Buatlah Risalah dan Infografis Kitab sastra yaitu :
Hariwangsa oleh Mpu Panuluh jaman Kerajaan Kediri.
Selain Kitab Bharatayuddha, Mpu Panuluh sendiri juga menggubah Kitab Hariwangsa ketika Raja Jayabaya (1135-1159) berkuasa.
Kitab ini menceritakan kisah ketika Prabu Kresna, yang merupakan titisan Batara Wisnu, yang menikah dengan Dewi Rukmini, titisan Dewi Sri.
RISALAH KITAB SASTRA HARIWANGSA
Judul Karya
Hariwangsa (atau Harivamsa)
Pengarang
Mpu Panuluh
Masa dan Kerajaan
- Kerajaan Kediri
- Ditulis pada masa pemerintahan Raja Jayabaya
(berkuasa ± 1135–1159 M)
Bentuk Sastra
- Kakawin (puisi Jawa Kuna)
- Menggunakan metrum klasik India
- Berbahasa Jawa Kuna dengan pengaruh Sanskerta
Latar Belakang dan Sejarah
Mpu Panuluh merupakan pujangga istana Kediri yang juga menggubah Kakawin Bharatayuddha.
Kitab Hariwangsa ditulis sebagai karya sastra puja raja (puja sastra) yang mengangkat figur Raja Jayabaya melalui alegori tokoh Prabu Kresna, titisan Batara Wisnu.
Karya ini menegaskan legitimasi kekuasaan raja sebagai wakil dewa di dunia (dewaraja concept), sekaligus memperkuat nilai religius dan politik Kerajaan Kediri.
Isi Pokok Cerita
Kakawin Hariwangsa mengisahkan:
- Prabu Kresna, titisan Batara Wisnu
- Pernikahan Kresna dengan Dewi Rukmini, titisan Dewi Sri
- Kisah cinta suci yang disatukan oleh kehendak para dewa
- Perjuangan Kresna menjemput Rukmini sebagai simbol dharma dan kesetiaan
Makna Simbolik
- Kresna (Wisnu)
→ Lambang pelindung dunia, ketertiban, dan kekuasaan ilahi - Rukmini (Dewi Sri)
→ Lambang kesuburan, kemakmuran, dan kesejahteraan rakyat - Pernikahan Suci
→ Persatuan kekuasaan dan kemakmuran sebagai dasar kejayaan kerajaan
Nilai Filosofis
- Kepemimpinan raja harus berlandaskan dharma
- Kekuasaan yang sah berasal dari kehendak ilahi
- Raja ideal adalah pelindung, pengayom, dan sumber kesejahteraan rakyat
Nilai Penting Kitab Hariwangsa
- Karya sastra puja raja khas Kediri
- Memperkuat ideologi raja sebagai titisan dewa
- Menjadi bagian penting perkembangan sastra Jawa Kuna
- Mempengaruhi kisah Panji dan sastra Jawa selanjutnya
RINGKASAN INFOGRAFIS (KONSEP VISUAL)
Judul Poster:
KAKAWIN HARIWANGSA – MPU PANULUH
Elemen Visual Utama:
- Ilustrasi Prabu Kresna dan Dewi Rukmini
- Atribut Wisnu (cakra, sangkha)
- Ornamen floral dan padi (simbol Dewi Sri)
- Nuansa warna emas–coklat–biru langit (gaya Kediri klasik)
Bagian Infografis:
- Identitas Karya
- Latar Sejarah Kediri
- Sinopsis Cerita
- Makna Simbolik
- Nilai Filosofis
- Pengaruh Sastra
Buatlah Risalah dan Infografis Kitab sastra yaitu :
Gatotkacasraya oleh Mpu Panuluh jaman Kediri
Kitab Gatotkacasraya merupakan karya Mpu Panuluh pada masa Raja Kertajaya (1200-1222). Isi kitab ini menceritakan tentang perkawinan putra Arjuna yang bernama Abimanyu dan Siti Sundhari dengan bantuan Gatotkaca.
RISALAH KITAB SASTRA
GATOTKACASRAYA
Kakawin Kepahlawanan Kerajaan Kediri
Identitas Karya
- Judul Kitab : Gatotkacasraya
- Pengarang : Mpu Panuluh
- Kerajaan : Kediri
- Raja Pelindung : Raja Kertajaya
- Masa Pemerintahan : ± 1200–1222 M
- Bahasa & Aksara : Jawa Kuno (Kawi)
- Bentuk Sastra : Kakawin (puisi epik)
Latar Sejarah
Kitab Gatotkacasraya lahir pada masa akhir kejayaan Kerajaan Kediri, ketika sastra istana berkembang pesat sebagai sarana legitimasi kekuasaan, pendidikan moral, dan hiburan bangsawan.
Mpu Panuluh, pujangga besar Kediri, dikenal piawai menggubah kisah Mahabharata dengan sentuhan nilai lokal Jawa.
Isi Pokok Kitab
Kitab ini mengisahkan:
- Perkawinan Abimanyu, putra Arjuna, dengan Siti Sundhari
- Peran penting Gatotkaca sebagai tokoh penolong, pelindung, dan simbol kekuatan ksatria
- Intrik, rintangan, dan perjuangan demi tercapainya pernikahan suci
- Peneguhan nilai kesetiaan, keberanian, dan dharma ksatria
Tokoh-Tokoh Utama
- Gatotkaca – Pahlawan sakti, pelindung Pandawa
- Abimanyu – Putra Arjuna, ksatria muda
- Siti Sundhari – Putri bangsawan, lambang kesetiaan dan kemurnian
- Arjuna – Ayah Abimanyu, tokoh Pandawa
Makna Filosofis
- Kepahlawanan sejati bukan hanya kekuatan fisik, tetapi pengorbanan
- Perkawinan sakral sebagai simbol keharmonisan kosmis
- Kesetiaan dan keberanian sebagai nilai utama kehidupan ksatria
- Gatotkaca melambangkan pelindung dunia dan penjaga keadilan
Nilai Budaya dan Sastra
- Menunjukkan kematangan sastra Jawa Kuno masa Kediri
- Bukti kreativitas lokal dalam mengolah epos India
- Memperkaya khazanah kakawin bertema kepahlawanan dan keluarga Pandawa
- Menjadi sumber nilai etika, moral, dan kepemimpinan Jawa klasik
Kesimpulan
Gatotkacasraya karya Mpu Panuluh adalah kakawin penting Kerajaan Kediri yang menonjolkan sosok Gatotkaca sebagai pahlawan pelindung, serta menegaskan nilai kesetiaan, dharma, dan kepahlawanan. Karya ini memperlihatkan kejayaan sastra istana Kediri pada masa Raja Kertajaya.
INFOGRAFIS (RINGKAS & VISUAL)
Judul: Gatotkacasraya – Kakawin Kepahlawanan Kediri
- 👑 Raja: Kertajaya
- ✍️ Mpu: Panuluh
- 📜 Abad: XIII M
- ⚔️ Tokoh Utama: Gatotkaca
- 💍 Kisah: Pernikahan Abimanyu & Siti Sundhari
- 📖 Bahasa: Jawa Kuno (Kawi)
- 🌺 Nilai: Kepahlawanan, kesetiaan, dharma
Buatlah Risalah dan Infografis Kitab sastra yaitu :
Wertasancaya oleh Mpu Tanakung jaman Kediri
Pada masa kekuasaan Raja Kameswara (1190-1200), lahirlah Kitab Wertasancaya karangan Mpu Tanakung. Kitab ini merupakan buku puisi yang berisi petunjuk tentang cara membuat syair yang baik.
Asli Gb. 2
RISALAH KITAB SASTRA
WERTASANCAYA
Karya Mpu Tanakung – Zaman Kerajaan Kediri
Identitas Karya
- Judul Kitab: Wertasancaya
- Pengarang: Mpu Tanakung
- Masa Penulisan: Zaman Raja Kameswara
- Tahun Pemerintahan: ± 1190–1200 M
- Kerajaan: Kediri
- Bahasa: Jawa Kuno
- Bentuk Sastra: Kakawin / Kitab teori puisi
Latar Belakang Sejarah
Pada masa kejayaan Kerajaan Kediri, sastra Jawa Kuna berkembang sangat pesat. Selain karya naratif dan epos, lahir pula kitab-kitab teoretis yang berfungsi sebagai pedoman kesusastraan.
Salah satu karya penting tersebut adalah Wertasancaya, yang ditulis oleh Mpu Tanakung, pujangga besar Kediri yang juga dikenal melalui karya Lubdaka.
Isi Pokok Kitab Wertasancaya
Kitab Wertasancaya bukanlah cerita, melainkan buku panduan kepenyairan, yang memuat:
- Aturan pembuatan syair (kakawin)
- Penjelasan tentang metrum (wirama)
- Pemilihan kata (diksi) yang indah dan tepat
- Keselarasan bunyi, makna, dan irama
- Etika dan kehalusan rasa dalam karya sastra
Kitab ini berfungsi sebagai rujukan utama para pujangga istana dalam menggubah kakawin.
Fungsi dan Tujuan Penulisan
- Menjadi pedoman teknis sastra Jawa Kuna
- Menjaga mutu dan standar estetika kakawin
- Melatih calon pujangga agar memahami keindahan bahasa dan struktur puisi
- Mendukung peran sastra sebagai media puja raja dan legitimasi kekuasaan
Nilai Filosofis
- Sastra adalah ilmu dan laku, bukan sekadar keindahan
- Keindahan lahir dari keteraturan, ketekunan, dan penguasaan rasa
- Seorang pujangga harus memiliki kecerdasan, etika, dan spiritualitas
Makna Penting dalam Sejarah Sastra
- Salah satu kitab teori sastra tertua di Nusantara
- Bukti bahwa sastra Jawa Kuna telah memiliki sistem dan kaidah baku
- Menunjukkan tingginya intelektualitas pujangga Kediri
- Menjadi dasar perkembangan sastra kakawin pada masa Singasari–Majapahit
INFOGRAFIS RINGKAS
WERTASANCAYA – MPU TANAKUNG
- 📜 Jenis: Kitab teori puisi
- 👑 Zaman: Raja Kameswara (Kediri)
- ✍️ Isi: Pedoman menulis kakawin
- 🎼 Fokus: Metrum, irama, keindahan bahasa
- 🧠 Nilai: Disiplin, estetika, dan kebijaksanaan sastra
- 🏛️ Peran: Fondasi tradisi sastra Jawa Kuna
RISALAH KITAB PARARATON
(Serat Pararaton / Pustaka Raja)
Identitas Karya
- Judul Kitab : Pararaton
- Nama Lain : Serat Pararaton, Pustaka Raja
- Masa Penulisan : Disusun pada masa kemudian (sekitar abad ke-15 M), berdasarkan tradisi lisan dan catatan sejarah lebih awal
- Latar Zaman : Kerajaan Singasari dan Majapahit
- Bahasa : Jawa Kuno – Jawa Tengahan
- Bentuk Karya : Historiografi tradisional (babad/sejarah istana)
Latar Belakang Sejarah
Kitab Pararaton merupakan salah satu sumber sejarah penting Nusantara yang memuat kisah raja-raja Singasari dan Majapahit. Walaupun naskah yang sampai kepada kita ditulis pada masa Majapahit akhir, isinya merekam peristiwa penting sejak berdirinya Kerajaan Singasari tahun 1222 M.
Pararaton menjadi jembatan antara sejarah, legenda, dan mitos politik kekuasaan Jawa Timur abad ke-13 hingga ke-14.
Isi Pokok Kitab Pararaton
- Asal-usul Ken Arok dari rakyat biasa hingga menjadi raja
- Kisah keris Mpu Gandring dan siklus kutukan kekuasaan
- Berdirinya Kerajaan Singasari (1222 M)
- Intrik politik, perebutan tahta, dan pembunuhan antar raja
- Peralihan kekuasaan dari Singasari ke Majapahit
- Silsilah raja-raja Singasari dan Majapahit awal
Tokoh-Tokoh Penting
- Ken Arok – Pendiri Kerajaan Singasari
- Ken Dedes – Permaisuri yang dianggap membawa wahyu kekuasaan
- Tunggul Ametung – Akuwu Tumapel
- Anusapati, Tohjaya, Ranggawuni, Kertanegara – Raja-raja Singasari
- Raden Wijaya – Pendiri Majapahit (dalam bagian akhir)
Nilai Filosofis dan Makna
- Kekuasaan sering lahir dari ambisi, konflik, dan intrik
- Raja dipandang sebagai sosok yang memiliki wahyu dan legitimasi kosmis
- Kekuasaan yang diraih dengan kekerasan akan berbuah penderitaan
- Sejarah dipahami sebagai pelajaran moral, bukan sekadar catatan peristiwa
Makna Penting dalam Sejarah Indonesia
- Sumber utama sejarah Singasari selain Nagarakretagama
- Menunjukkan cara penulisan sejarah tradisional Jawa
- Menggambarkan transisi kekuasaan menuju Majapahit
- Mencerminkan pandangan politik dan kosmologi Jawa Kuna
Kesimpulan
Kitab Pararaton bukan hanya kitab sejarah, tetapi juga cermin cara orang Jawa memaknai kekuasaan, takdir, dan kepemimpinan. Di dalamnya, sejarah, legenda, dan filsafat menyatu dalam narasi yang membentuk ingatan kolektif Nusantara.
“Sejarah raja-raja bukan hanya tentang kemenangan, tetapi tentang akibat dari setiap pilihan.”
Buatlah Risalah dan Infografis Kitab sastra yaitu :
Kakawin Negarakertagama oleh Mpu Prapanca jaman Majapahit.
Negarakertagama (Desawarnana) karya Empu Prapanca (1365 M): Memuat sejarah, silsilah raja, dan keadaan pemerintahan Majapahit masa Hayam Wuruk.
Pokok-pokok Isi Utama:
Pujian dan Keagungan Raja:
Memuji Prabu Hayam Wuruk sebagai raja adil dan bijaksana, serta menggambarkan puncak kejayaan Majapahit.
Wilayah Kekuasaan:
Menggambarkan wilayah kekuasaan Majapahit yang sangat luas mencakup hampir seluruh Nusantara (Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Papua) dan negara-negara lain yang berelasi seperti Campa, Kamboja, Siam.
Kehidupan Istana:
Mendeskripsikan kehidupan di keraton Majapahit, termasuk birokrasi, upacara keagamaan, dan kehidupan keluarga raja.
Silsilah Raja: Menjelaskan silsilah raja-raja Majapahit dari pendiri hingga Hayam Wuruk.
Perjalanan Raja:
Mengisahkan perjalanan Prabu Hayam Wuruk ke Lumajang dan hutan Nandawa.
Kondisi Sosial dan Keagamaan:
Memberikan gambaran tentang sistem kemasyarakatan, hukum, dan kepercayaan, termasuk konsep Pancasila (Panca-sila) versi Majapahit.
Patih Gajah Mada: Menceritakan peran penting dan kematian Patih Gajah Mada dalam menyatukan Nusantara.
Bentuk dan Struktur:
Ditulis dalam bentuk kakawin (syair Jawa Kuno) dengan 98 pupuh (bait) yang terstruktur rapi berdasarkan temanya.
Secara keseluruhan, Negarakertagama adalah catatan sejarah yang kaya akan informasi tentang Majapahit pada masa keemasannya, yang ditulis dengan tujuan memuji raja dan kebesaran negerinya.
RISALAH KITAB SASTRA
NEGARAKERTAGAMA (DESAWARNANA)
Kakawin Sejarah Kerajaan Majapahit
Identitas Karya
- Judul Kitab : Negarakertagama (Desawarnana)
- Pengarang : Mpu Prapanca
- Kerajaan : Majapahit
- Raja Pelindung : Sri Rajasanagara (Prabu Hayam Wuruk)
- Tahun Penulisan : 1365 Masehi
- Bahasa & Aksara : Jawa Kuno (Kawi)
- Bentuk Sastra : Kakawin (puisi epik)
Latar Belakang Penulisan
Kitab Negarakertagama digubah oleh Mpu Prapanca, seorang pujangga istana Majapahit, pada masa puncak kejayaan Kerajaan Majapahit di bawah pemerintahan Prabu Hayam Wuruk dengan dukungan Patih Gajah Mada.
Kitab ini ditulis sebagai bentuk pujian terhadap raja dan sebagai catatan resmi keadaan kerajaan, wilayah kekuasaan, serta tata kehidupan negara Majapahit.
Pokok-Pokok Isi Utama
1. Pujian dan Keagungan Raja
Negarakertagama memuliakan Prabu Hayam Wuruk sebagai raja yang adil, bijaksana, dan menjadi pusat keharmonisan dunia. Raja digambarkan sebagai pelindung rakyat dan penegak dharma.
2. Wilayah Kekuasaan Majapahit
Kitab ini mencatat luasnya wilayah Majapahit yang meliputi hampir seluruh Nusantara:
- Sumatra
- Jawa
- Kalimantan
- Sulawesi
- Maluku
- Papua
Serta wilayah sahabat dan berelasi seperti Campa, Kamboja, dan Siam.
3. Kehidupan Istana
Dijelaskan secara rinci kehidupan di keraton Majapahit, termasuk:
- Sistem birokrasi kerajaan
- Upacara kenegaraan dan keagamaan
- Kehidupan keluarga raja dan bangsawan
4. Silsilah Raja
Negarakertagama memuat silsilah raja-raja Majapahit sejak pendirinya hingga masa pemerintahan Hayam Wuruk, sebagai legitimasi kekuasaan dinasti.
5. Perjalanan Raja
Mengisahkan perjalanan Prabu Hayam Wuruk ke berbagai daerah, seperti Lumajang dan Hutan Nandawa, yang menunjukkan perhatian raja terhadap wilayah kekuasaannya.
6. Kondisi Sosial dan Keagamaan
Kitab ini menggambarkan:
- Struktur masyarakat
- Sistem hukum dan adat
- Kehidupan beragama Hindu-Buddha
- Konsep Pancasila (Panca-sila) versi Majapahit sebagai dasar moral dan etika pemerintahan
7. Peran Patih Gajah Mada
Negarakertagama mencatat peran besar Gajah Mada dalam menyatukan Nusantara melalui Sumpah Palapa, serta mengisahkan wafatnya sang patih sebagai kehilangan besar bagi kerajaan.
Bentuk dan Struktur Karya
- Ditulis dalam bentuk kakawin
- Terdiri dari 98 pupuh (bait panjang)
- Setiap pupuh disusun secara tematis dan sistematis
- Mencerminkan kecanggihan sastra dan pemikiran politik Majapahit
Nilai Penting Kitab Negarakertagama
- Sumber sejarah utama Kerajaan Majapahit
- Bukti tertulis kejayaan Nusantara abad ke-14
- Warisan sastra klasik Jawa Kuno
- Diakui UNESCO sebagai Memory of the World
Pesan Utama
Negarakertagama bukan sekadar karya sastra, melainkan dokumen sejarah, politik, dan kebudayaan yang merekam kejayaan Majapahit sebagai kerajaan besar pemersatu Nusantara.
Buatlah Risalah dan Infografis Kitab sastra yaitu :
Sutasoma oleh Mpu Tantular jaman Majapahit.
Kakawin Sutasoma karya Empu Tantular: Terkenal dengan ajaran toleransi beragama dan semboyan "Bhinneka Tunggal Ika".
Pengarang:
Mpu Tantular, seorang pujangga pada masa Kerajaan Majapahit.
Waktu Penulisan: Diperkirakan antara tahun 1365 dan 1389, saat Majapahit di bawah pemerintahan Raja Hayam Wuruk.
Jenis Karya:
Kakawin (syair Jawa Kuno dengan irama India).
Isi Utama:
* Mengajarkan toleransi dan persatuan antara agama Hindu Siwa dan Buddha, yang hidup berdampingan di Majapahit.
* Mengandung frasa "Bhinneka Tunggal Ika, Tan Hana Dharma Mangrwa" yang berarti "Berbeda-beda tetapi tunggal, tidak ada kebenaran yang mendua".
* Menceritakan petualangan Pangeran Sutasoma yang melarikan diri untuk hidup sebagai pertapa Buddha dan bertemu berbagai makhluk, termasuk raja jahat yang akhirnya bertobat karena pengorbanan Sutasoma.
Makna:
Menjadi simbol penting persatuan bangsa Indonesia, menunjukkan upaya leluhur mencari titik temu di tengah perbedaan.
📜 RISALAH KITAB SUTASOMA
Kakawin Sutasoma – Zaman Kerajaan Majapahit
Identitas Karya
- Judul Kitab: Kakawin Sutasoma
- Pengarang: Mpu Tantular
- Masa Penulisan: ± 1365–1389 M
- Zaman: Kerajaan Majapahit
- Raja Berkuasa: Hayam Wuruk
- Bahasa: Jawa Kuno
- Aksara: Jawa Kuno (berbasis Pallawa)
- Bentuk Karya: Kakawin (puisi epik berirama India)
Latar Belakang Penulisan
Kakawin Sutasoma ditulis pada masa kejayaan Majapahit, ketika kehidupan keagamaan Hindu Siwa dan Buddha berkembang berdampingan. Mpu Tantular menggubah karya ini sebagai ajaran moral dan spiritual yang menekankan persatuan dalam perbedaan, sebuah nilai penting dalam kehidupan masyarakat Majapahit yang majemuk.
Isi Pokok Cerita
- Mengisahkan Pangeran Sutasoma, seorang pangeran yang meninggalkan istana untuk menjalani kehidupan sebagai pertapa Buddha.
- Dalam pengembaraannya, Sutasoma menghadapi berbagai rintangan, makhluk buas, dan raja kejam.
- Dengan pengorbanan, welas asih, dan kebijaksanaan, Sutasoma mampu menyadarkan musuh-musuhnya hingga bertobat.
- Kisah ini menekankan kemenangan dharma (kebenaran) melalui kasih, bukan kekerasan.
Ajaran Utama Kitab Sutasoma
- Toleransi Beragama
Menyatukan ajaran Hindu Siwa dan Buddha tanpa saling meniadakan. - Persatuan dalam Keberagaman
Termuat frasa terkenal:“Bhinneka Tunggal Ika, Tan Hana Dharma Mangrwa”
(Berbeda-beda tetapi satu jua, tidak ada kebenaran yang mendua) - Pengorbanan dan Welas Asih
Kebenaran sejati lahir dari kasih dan pengendalian diri.
Makna dan Nilai Penting
- Menjadi fondasi filosofis toleransi Nusantara.
- Menggambarkan Majapahit sebagai kerajaan besar yang menjunjung harmoni dan kebijaksanaan.
- Semboyan Bhinneka Tunggal Ika diambil dari kitab ini dan diangkat menjadi motto Negara Kesatuan Republik Indonesia.
🖼️ INFOGRAFIS (TEKS ISI POSTER)
Judul Besar
KAKAWIN SUTASOMA
Karya Mpu Tantular – Majapahit
Poin Visual Utama
- Ikon kitab lontar
- Figur Pangeran Sutasoma sebagai pertapa
- Simbol Siwa & Buddha berdampingan
- Kutipan Bhinneka Tunggal Ika
Ringkasan Cepat
- 📖 Kakawin Jawa Kuno
- 🕉️☸ Harmoni Hindu–Buddha
- 👑 Era Hayam Wuruk
- 🇮🇩 Sumber semboyan nasional
Buatlah Risalah dan Infografis Kitab sastra yaitu :
Kutara Manawa jaman Majapahit.
Kutara Manawa (Dharmasastra): Kitab hukum atau tata negara yang diberlakukan di Majapahit.
Fungsi dan Sumber:
Digunakan sebagai hukum positif pada masa Majapahit, kitab ini berakar dari tradisi hukum Hindu, khususnya Manawa Dharmasastra dan Kutarasastra, yang diadaptasi dengan kebudayaan lokal.
Isi Hukum:
Mengatur berbagai perkara pidana (pembunuhan, pencurian) dan perdata (perkawinan, hutang-piutang, warisan).
Contohnya, pencurian ternak didenda 2 laksa kepada raja dan ganti rugi 2 kali lipat kepada korban.
Keunikan:
Sanksi dalam kitab ini sering menitikberatkan pada denda uang yang disetorkan ke raja, serta ganti rugi kepada pihak yang dirugikan. Kitab ini juga sudah mengatur mengenai perlindungan perempuan dan batas usia anak dalam pertanggungjawaban pidana.
Peninggalan dan Relevansi:
Ditemukan dalam naskah beraksara Jawa dan Bali. Kutara Manawa tercantum dalam Prasasti Bendasari dan Trowulan (masa Hayam Wuruk) serta sering disitir dalam kitab Negarakretagama.
Kitab ini merupakan salah satu bukti tingginya peradaban hukum di Majapahit dan menjadi salah satu acuan sejarah hukum di Indonesia.
RISALAH KITAB SASTRA & HUKUM
KUTARA MANAWA
Kitab Hukum Kerajaan Majapahit
Identitas Kitab
- Nama Kitab : Kutara Manawa
- Jenis : Kitab hukum (Dharmasastra / Tata Negara)
- Zaman : Kerajaan Majapahit
- Masa Berlaku : Terutama pada masa pemerintahan Prabu Hayam Wuruk
- Bahasa & Aksara : Jawa Kuno (Kawi), dilestarikan dalam aksara Jawa dan Bali
- Kedudukan : Hukum positif Kerajaan Majapahit
Pengertian dan Fungsi
Kutara Manawa adalah kitab hukum resmi yang digunakan sebagai dasar penyelenggaraan keadilan dan ketertiban negara di Kerajaan Majapahit.
Kitab ini berfungsi sebagai pedoman bagi raja, pejabat kerajaan, dan aparat hukum dalam menangani perkara pidana maupun perdata.
Sumber dan Dasar Hukum
Kutara Manawa berakar dari tradisi hukum Hindu, khususnya:
- Manawa Dharmasastra
- Kutarasastra
Namun, ajaran hukum tersebut diadaptasi dengan kebudayaan dan kondisi lokal Nusantara, sehingga mencerminkan karakter hukum Majapahit yang praktis dan berkeadilan sosial.
Isi Pokok Hukum Kutara Manawa
1. Hukum Pidana
Mengatur berbagai tindak kejahatan, antara lain:
- Pembunuhan
- Pencurian
- Perusakan harta
- Pelanggaran kesusilaan
Contoh aturan:
Pencurian ternak dikenai denda 2 laksa kepada raja dan ganti rugi dua kali lipat kepada korban.
2. Hukum Perdata
Mengatur hubungan sosial dan ekonomi masyarakat, meliputi:
- Perkawinan dan perceraian
- Hutang-piutang
- Warisan
- Hak dan kewajiban keluarga
Keunikan Sistem Hukum Kutara Manawa
- Sanksi lebih menekankan denda uang, bukan hukuman fisik
- Denda dibagi dua fungsi:
- Setoran kepada raja sebagai simbol keadilan negara
- Ganti rugi kepada korban sebagai pemulihan sosial
- Sudah mengenal:
- Perlindungan terhadap perempuan
- Batas usia anak dalam pertanggungjawaban pidana
Hal ini menunjukkan bahwa hukum Majapahit telah memiliki konsep keadilan restoratif sejak abad ke-14.
Peninggalan dan Bukti Historis
- Dikenal melalui naskah kuno beraksara Jawa dan Bali
- Disebut dalam:
- Prasasti Bendasari
- Prasasti Trowulan (masa Hayam Wuruk)
- Sering disitir dalam Kitab Negarakertagama
Nilai dan Relevansi Sejarah
- Bukti tingginya peradaban hukum Majapahit
- Menunjukkan sistem negara yang teratur dan berlandaskan hukum
- Menjadi salah satu rujukan penting sejarah hukum Indonesia
- Membuktikan bahwa Nusantara telah memiliki sistem hukum tertulis jauh sebelum kolonialisme
Kesimpulan
Kitab Kutara Manawa bukan hanya kitab hukum, melainkan cerminan kematangan berpikir, keadilan sosial, dan tata kelola negara Kerajaan Majapahit. Kitab ini menegaskan bahwa Majapahit adalah kerajaan besar dengan sistem hukum yang maju dan beradab.
Buatlah Risalah dan Infografis Kitab sastra yaitu :
Arjuna Wijaya oleh Mpu Tantular jaman Majapahit.
Kakawin Arjunawijaya adalah karya sastra Jawa Kuno berbentuk kakawin yang digubah oleh Empu Tantular pada masa kerajaan Majapahit (abad ke-14, pemerintahan Hayam Wuruk). Kitab ini mengisahkan peperangan antara Arjuna Sahasrabhahu (raja titisan Wisnu) melawan Rahwana, yang diadaptasi dari Uttara Kanda, bagian terakhir Ramayana.
Detail Utama Kakawin Arjunawijaya:
Pengarang: Empu Tantular.
Isi: Menguraikan tentang Raja Arjuna Sahasrabhahu yang berhasil mengalahkan Rahwana. Cerita ini juga populer dengan sebutan Lampahan Arjuna Sasrabahu dalam wayang.
Konteks: Merupakan bagian dari sastra klasik Jawa Kuno yang memuat nilai-nilai religi, etika, dan estetika.
Versi: Selain bentuk kakawin Jawa Kuno, terdapat versi Jawa Baru berbentuk tembang yang digubah oleh Raden Ngabehi Sindusastra dari Surakarta.
Penting untuk Dibedakan:
Arjunawijaya (Empu Tantular): Raja Arjuna Sasrabahu vs Rahwana.
Arjunawiwaha (Empu Kanwa): Arjuna bertapa di Indrakila, ditulis masa Raja Airlangga (abad ke-11).
Arjunawijaya diterbitkan oleh Balai Pustaka pada 1930 dan juga dipelajari melalui terjemahan serta kajian akademis.
RISALAH KITAB SASTRA
Kakawin Arjunawijaya
Karya Empu Tantular – Zaman Kerajaan Majapahit
Identitas Karya
- Judul Kitab: Kakawin Arjunawijaya
- Pengarang: Empu Tantular
- Zaman: Kerajaan Majapahit
- Masa Penulisan: Abad ke-14 M
- Raja Berkuasa: Sri Hayam Wuruk
- Bentuk Karya: Kakawin (puisi epik Jawa Kuno)
- Bahasa & Aksara: Bahasa Jawa Kuno, aksara Jawa Kuno (Pallawa)
Latar Belakang Penulisan
Kakawin Arjunawijaya digubah pada masa kejayaan Majapahit, ketika sastra istana berkembang sebagai sarana legitimasi moral, politik, dan spiritual kekuasaan raja. Empu Tantular, pujangga besar Majapahit, menyusun karya ini dengan mengadaptasi kisah dari Uttara Kanda Ramayana, bagian akhir epos Ramayana.
Karya ini sekaligus mencerminkan ideologi kepemimpinan Majapahit yang menjunjung dharma, keberanian, dan keadilan kosmis.
Isi Pokok Cerita
- Mengisahkan Raja Arjuna Sahasrabhahu, penguasa sakti dan titisan Dewa Wisnu.
- Arjuna Sahasrabhahu berperang melawan Rahwana, raja raksasa dari Alengka.
- Dalam peperangan besar tersebut, Rahwana berhasil dikalahkan oleh Arjuna Sahasrabhahu.
- Kisah ini dikenal luas dalam tradisi pewayangan dengan nama Lampahan Arjuna Sasrabahu.
Cerita menekankan bahwa kekuatan sejati harus disertai kebijaksanaan dan kebenaran (dharma).
Nilai dan Makna Filosofis
- Kepemimpinan Ideal: Raja sebagai titisan dewa yang bertugas menjaga keseimbangan dunia.
- Dharma dan Kekuasaan: Kekuasaan sah hanya bila digunakan untuk menegakkan keadilan.
- Simbol Politik: Arjuna Sahasrabhahu dipandang sebagai alegori raja ideal Majapahit.
- Religiusitas: Perpaduan nilai Hindu Wisnuistik dengan etika ksatria Jawa Kuna.
Tradisi dan Versi Teks
- Versi asli berbentuk kakawin Jawa Kuno.
- Terdapat versi Jawa Baru berbentuk tembang, digubah oleh Raden Ngabehi Sindusastra (Surakarta).
- Naskah Arjunawijaya diterbitkan oleh Balai Pustaka (1930) dan menjadi objek kajian filologi dan sastra klasik.
Penting untuk Dibedakan
| Karya | Pengarang | Isi Utama | Zaman |
|---|---|---|---|
| Arjunawijaya | Empu Tantular | Arjuna Sasrabahu vs Rahwana | Majapahit (abad XIV) |
| Arjunawiwaha | Empu Kanwa | Arjuna bertapa di Indrakila | Airlangga (abad XI) |
Kesimpulan
Kakawin Arjunawijaya adalah mahakarya sastra Majapahit yang menggabungkan epos Ramayana, filsafat kekuasaan, dan estetika Jawa Kuno. Kitab ini memperkuat gambaran Majapahit sebagai kerajaan besar yang berlandaskan dharma, kebijaksanaan, dan harmoni kosmis.
Buatlah Risalah dan Infografis Kitab sastra yaitu :
Kakawin Kunjarakarna jaman Majapahit.
Naskah ini, yang salah satunya disimpan di Universitas Leiden, memuat ajaran moral yang kuat tentang karma.
Isi Cerita:
Kunjarakarna bertemu Wairocana (dewa Buddha tertinggi) dan diizinkan melihat neraka. Ia menemukan bahwa temannya, Purnawijaya, akan mati dan disiksa, sehingga Kunjarakarna meminta keringanan dan memberikan kesempatan Purnawijaya berpamitan dengan istrinya, Kusumagandawati.
Ajaran:
Teks ini menekankan pada ajaran Karmaphala (hasil perbuatan), keharusan menghindari kejahatan, dan perjalanan spiritual untuk mencapai pencerahan.
Bentuk:
Terdapat dua versi utama, yaitu versi prosa Jawa Kuno (prosaik) dan versi kakawin (puisi) yang disebut Kuñjarakarna Dharmakathana.
Konteks Sosial:
Berkembang pada era Jawa Kuno (sekitar abad ke-9 hingga ke-14 M), sastra ini mencerminkan sinkretisme ajaran Hindu-Buddha yang lazim pada masanya.
Kunjarakarna sering dianggap sebagai kisah didaktis yang mendidik pembacanya untuk hidup bijak dan takut akan perbuatan buruk.
RISALAH KITAB SASTRA
KAKAWIN KUNJARAKARNA (DHARMAKATHANA)
Zaman Majapahit – Sastra Moral Hindu–Buddha
Identitas Karya
- Judul Kitab: Kunjarakarna Dharmakathana
- Bentuk Sastra:
- Versi prosa Jawa Kuno (prosaik)
- Versi kakawin (puisi)
- Zaman: Jawa Kuno – berkembang luas pada masa Majapahit (± abad IX–XIV M)
- Bahasa & Aksara: Jawa Kuno (Kawi)
- Aliran Kepercayaan: Buddha Mahayana–Tantrayana dengan unsur Hindu
- Naskah Penting: Salah satu naskah tersimpan di Universitas Leiden, Belanda
Ringkasan Isi Cerita
Kisah ini mengisahkan Kunjarakarna, seorang yaksa (makhluk setengah dewa) yang ingin memperoleh pencerahan dan kehidupan yang lebih baik.
Dalam perjalanannya, Kunjarakarna bertemu Dewa Wairocana, Buddha tertinggi. Ia diizinkan melihat alam neraka dan menyaksikan berbagai bentuk siksa sebagai akibat perbuatan buruk manusia.
Di neraka, Kunjarakarna mengetahui bahwa sahabatnya, Purnawijaya, akan segera meninggal dan mendapat hukuman berat akibat karma buruknya. Dengan penuh belas kasih, Kunjarakarna memohon keringanan agar Purnawijaya diberi kesempatan:
- kembali ke dunia,
- berpamitan kepada istrinya Kusumagandawati,
- serta memperbaiki perbuatannya sebelum ajal tiba.
Ajaran dan Pesan Moral
Kitab Kunjarakarna mengandung ajaran etika dan spiritual yang kuat, antara lain:
- Karmaphala
Setiap perbuatan, baik maupun buruk, pasti membawa akibat. - Dasa Mala
Sepuluh perbuatan jahat yang harus dihindari manusia. - Kesadaran Spiritual
Manusia harus hidup bijaksana untuk menghindari penderitaan setelah mati. - Belas Kasih dan Pertobatan
Kesempatan memperbaiki diri selalu ada sebelum kematian.
Nilai Budaya dan Konteks Sejarah
- Mencerminkan sinkretisme Hindu–Buddha yang berkembang pesat di Jawa.
- Menjadi sastra didaktis, berfungsi sebagai tuntunan moral masyarakat.
- Digunakan sebagai sarana pendidikan etika, keagamaan, dan kebijaksanaan hidup.
- Menunjukkan tingginya tradisi intelektual dan sastra pada masa Majapahit.
Makna Filosofis
Kakawin Kunjarakarna menegaskan bahwa:
- kehidupan dunia bersifat sementara,
- perbuatan manusia menentukan nasibnya setelah mati,
- keselamatan spiritual hanya dapat dicapai melalui kebajikan dan kesadaran diri.
Kesimpulan
Kakawin Kunjarakarna Dharmakathana adalah karya sastra agung Jawa Kuno yang mengajarkan hukum karma, pertobatan, dan kebijaksanaan hidup. Kitab ini menjadi bukti bahwa sastra Majapahit tidak hanya indah secara bahasa, tetapi juga dalam makna dan ajaran moralnya.
Buatlah Risalah dan Infografis Kitab sastra yaitu :
Kidung Sundayana
Lamaran dan Diplomasi:
Hayam Wuruk dari Majapahit melamar Dyah Pitaloka (Putri Sunda) untuk memperkuat aliansi, sebuah pernikahan yang awalnya baik.
Pengkhianatan Gajah Mada:
Gajah Mada, patih Majapahit, menolak karena menganggap Sunda sebagai bawahan, bukan setara, sehingga memaksa rombongan Sunda di Bubat untuk tunduk.
Perang Bubat:
Terjadi pertempuran tidak seimbang di Bubat, tempat rombongan Sunda mendarat, yang berakhir dengan pembantaian seluruh rombongan Sunda, termasuk Dyah Pitaloka yang gugur.
Karakteristik dan Signifikansi:
Bahasa dan Penemuan: Ditulis dalam bahasa Jawa Pertengahan, naskahnya ditemukan di Bali, diduga oleh penulis Jawa yang mengembara ke Bali.
Sumber Sejarah: Menggambarkan konflik geopolitik dan politik identitas antara Jawa (Majapahit) dan Sunda pada abad ke-14, dengan persepsi yang berbeda dari sudut pandang Sunda.
Politik Identitas: Menjadi studi kasus penting untuk memahami dinamika hubungan antar etnis dan luka sejarah yang masih membekas, serta dipakai untuk memahami konflik politik identitas di Indonesia modern.
Perbedaan dengan Sumber Lain:
Kidung Sundayana tidak menyinggung Perang Bubat seperti dalam Pararaton, sehingga beberapa pihak menganggapnya sebagai cerita tambahan atau versi yang "dipalsukan" untuk tujuan tertentu (seperti adu domba).
RISALAH KITAB SASTRA
KIDUNG SUNDAYANA
Sastra Sejarah Jawa Pertengahan – Tragedi Bubat
Identitas Karya
- Judul: Kidung Sundayana
- Bentuk: Kidung (puisi naratif)
- Bahasa: Jawa Pertengahan
- Periode: Abad ke-14 M (era Majapahit)
- Latar Sejarah: Masa pemerintahan Prabu Hayam Wuruk
- Tempat Penemuan Naskah: Bali
- Pengarang: Tidak diketahui (anonim), diduga pujangga Jawa yang bermukim atau mengembara ke Bali
Latar Cerita
Kidung Sundayana mengisahkan tragedi diplomatik dan politik yang berujung pada Peristiwa Bubat, konflik besar antara Kerajaan Majapahit dan Kerajaan Sunda.
Cerita ini dituturkan dari sudut pandang yang sangat simpatik terhadap pihak Sunda, berbeda dengan sumber Jawa lainnya.
Alur Cerita Utama
1. Lamaran dan Diplomasi
Prabu Hayam Wuruk, Raja Majapahit, melamar Dyah Pitaloka Citraresmi, Putri Kerajaan Sunda.
Lamaran ini dimaksudkan sebagai:
- pernikahan politik,
- penguatan aliansi dua kerajaan besar,
- hubungan setara antar negara.
Rombongan Sunda dipimpin langsung oleh Prabu Maharaja Linggabuana dan tiba di Lapangan Bubat, dekat ibu kota Majapahit.
2. Sikap Gajah Mada
Patih Gajah Mada menolak konsep pernikahan setara tersebut.
Ia menganggap:
- Kerajaan Sunda adalah bawahan Majapahit,
- Dyah Pitaloka bukan calon permaisuri, melainkan simbol penyerahan diri (upeti).
Penolakan ini menciptakan ketegangan besar dan penghinaan terhadap martabat Sunda.
3. Tragedi Perang Bubat
Konflik berujung pada pertempuran tidak seimbang:
- Pasukan Sunda jauh lebih kecil,
- Terjadi pembantaian rombongan Sunda,
- Prabu Linggabuana gugur,
- Dyah Pitaloka melakukan bela pati (bunuh diri kehormatan).
Tragedi ini meninggalkan luka mendalam dalam ingatan kolektif Sunda.
Karakteristik Sastra
- Ditulis dengan gaya kidung naratif penuh emosi dan tragedi
- Menonjolkan:
- kehormatan,
- harga diri,
- kesetiaan,
- duka dan pengorbanan
- Sarat nilai kepahlawanan dan etika feodal
Signifikansi Sejarah dan Budaya
1. Sumber Sejarah Alternatif
Kidung Sundayana menjadi sumber penting karena:
- menghadirkan perspektif non-Jawa-Majapahit,
- memberi suara pada pihak Sunda yang jarang dominan dalam historiografi Jawa.
2. Politik Identitas
Karya ini sering digunakan untuk:
- memahami konflik identitas Jawa–Sunda,
- menelusuri akar trauma sejarah,
- kajian hubungan antar-etnis di Nusantara.
3. Luka Sejarah
Tragedi Bubat dalam Kidung Sundayana:
- membentuk memori kolektif masyarakat Sunda,
- menjadi simbol kehormatan yang dilanggar,
- berpengaruh hingga wacana budaya modern.
Perbedaan dengan Sumber Lain
- Pararaton: Menyebut Perang Bubat secara eksplisit
- Kidung Sundayana:
- tidak selalu menyebut detail perang seperti Pararaton,
- dianggap oleh sebagian pihak sebagai versi sastra yang bersifat interpretatif,
- bahkan pernah dituduh sebagai kisah “tambahan” atau politis.
Namun demikian, para sejarawan menilai Kidung Sundayana tetap penting sebagai dokumen sastra sejarah dan ingatan budaya.
Kesimpulan
Kidung Sundayana bukan sekadar karya sastra, melainkan:
- refleksi konflik geopolitik Majapahit–Sunda,
- cermin politik identitas Nusantara abad ke-14,
- pengingat bahwa kesalahpahaman diplomatik dapat berujung pada tragedi besar.
Karya ini memperkaya pemahaman sejarah Indonesia melalui sudut pandang yang emosional, manusiawi, dan penuh makna.
Buatlah Risalah dan Infografis Kitab Sastra yaitu :
Sanghyang Kamahayanikan.
Kitab ini merupakan panduan ajaran Buddha yang disusun pada masa Mpu Sindok, meskipun beliau dikenal beragama Hindu Siwa, menunjukkan sikap toleransi yang tinggi.
Penyusun:
Kitab ini ditulis oleh pujangga Sri Sambhara Suryawarana (atau Mpu Shri Sambhara Surya Warama) pada masa pemerintahan Mpu Sindok.
Kandungan:
Terdiri dari 129 ayat yang menjelaskan tata cara pertapaan, filosofi, serta penempatan arca-arca di Candi Borobudur.
Signifikansi:
Meskipun Mpu Sindok beragama Hindu Siwa, ia mendukung penulisan kitab ini, yang menunjukkan tingginya toleransi beragama pada masa tersebut.
Keberadaan Sang Hyang Kamahayanikan menjadi dokumen penting bagi studi sejarah agama dan kebudayaan di Jawa Timur pada abad ke-10.
RISALAH & INFOGRAFIS KITAB SASTRA
SANGHYANG KAMAHAYANIKAN
Identitas Karya
- Judul Kitab: Sanghyang Kamahayanikan
- Jenis Karya: Kitab ajaran agama Buddha Mahayana
- Bahasa: Jawa Kuno
- Aksara: Jawa Kuno (turunan Pallawa)
- Jumlah Ayat: ±129 ayat
Penyusun dan Zaman
- Penyusun: Sri Sambhara Suryawarana
(dikenal juga sebagai Mpu Shri Sambhara Surya Warama) - Zaman Penulisan: Abad ke-10 Masehi
- Masa Pemerintahan: Raja Mpu Sindok
(Dinasti Isyana, Jawa Timur)
Latar Sejarah
Sanghyang Kamahayanikan disusun pada masa pemerintahan Mpu Sindok, seorang raja yang dikenal beragama Hindu Siwa, namun memberi dukungan penuh terhadap pengembangan ajaran Buddha Mahayana.
Dukungan ini menunjukkan bahwa pada abad ke-10 Masehi, kehidupan keagamaan di Jawa Timur telah berkembang dalam suasana toleransi, sinkretisme, dan kebijaksanaan politik spiritual.
Isi dan Kandungan Utama
Kitab ini berisi:
- Tata cara pertapaan dan meditasi dalam ajaran Buddha Mahayana
- Filsafat pencerahan (bodhicitta) dan jalan menuju kebuddhaan
- Petunjuk ritual keagamaan dan pemujaan
- Penempatan arca dan simbol kosmologis, yang sangat berkaitan dengan:
- Struktur dan filosofi Candi Borobudur
- Konsep mandala dan alam semesta Buddhis
Makna Filosofis
- Mengajarkan jalan tengah menuju pencerahan
- Menekankan keselarasan batin, kebijaksanaan, dan welas asih
- Menjadi jembatan pemikiran antara:
- Buddha Mahayana
- Tradisi spiritual Jawa Kuna
Nilai Toleransi Beragama
Keistimewaan Sanghyang Kamahayanikan terletak pada konteks sejarahnya:
- Ditulis dan dilestarikan di bawah pemerintahan raja Hindu Siwa
- Membuktikan bahwa:
- Negara tidak memaksakan satu agama
- Ilmu dan spiritualitas dihargai lintas keyakinan
Hal ini menjadi bukti kuat bahwa toleransi beragama telah menjadi fondasi peradaban Nusantara sejak abad ke-10.
Signifikansi Sejarah dan Budaya
- Dokumen penting studi:
- Sejarah agama Buddha di Jawa
- Sinkretisme Hindu–Buddha
- Menjadi referensi utama dalam:
- Kajian Borobudur
- Kosmologi dan ikonografi Buddhis
- Menguatkan posisi Jawa Timur sebagai pusat kebudayaan besar pasca runtuhnya Mataram Kuno di Jawa Tengah
Kesimpulan
Sanghyang Kamahayanikan bukan sekadar kitab ajaran agama, melainkan:
Cermin peradaban Nusantara yang matang, toleran, dan berwawasan spiritual tinggi.
Kitab ini menegaskan bahwa kejayaan budaya Jawa Kuna dibangun di atas kebijaksanaan, keseimbangan, dan penghormatan terhadap keberagaman keyakinan.
Buatlah Risalah dan Infografis Kitab Sastra yaitu :
Kakawin Ramayana era Mpu Sindok.
Sering dikaitkan juga dengan penulisan atau penyalinan kembali pada periode peralihan Jawa Tengah ke Jawa Timur ini.
Kitab Ramayana Kakawin diyakini digubah pada masa pemerintahan Mpu Sindok di Kerajaan Mataram Kuno (sekitar abad ke-9 hingga ke-10 M), ditulis dalam bahasa Jawa Kuno dengan metrum kakawin.
Sastra ini beradaptasi dari kisah wiracarita Ramayana India namun disesuaikan dengan budaya lokal, seringkali menjadi bahan relief candi.
Adaptasi Budaya:
Kakawin Ramayana Jawa Kuno bukan terjemahan langsung dari Ramayana karya Walmiki, melainkan saduran yang memiliki struktur dan gaya bahasa khas Jawa Kuno.
Peninggalan Sastra:
Meskipun Mpu Sindok lebih dikenal memindahkan pusat kerajaan ke Jawa Timur dan mendirikan Wangsa Isyana, perkembangan sastra kakawin seperti Ramayana berlanjut pesat pada masa itu.
Isi Cerita:
Mengisahkan kepahlawanan Sang Rama dari Ayodhya dalam menyelamatkan Shinta dari Rahwana, yang nilai-nilainya selaras dengan ajaran raja dan kebajikan di Jawa Kuno.
Relief Candi:
Pengaruh kisah ini terlihat pada relief candi di Jawa Tengah yang dibangun tak jauh dari masa tersebut, seperti di Candi Prambanan.
RISALAH KITAB SASTRA
KAKAWIN RAMAYANA
Era Mpu Sindok – Peralihan Jawa Tengah ke Jawa Timur
1. Identitas Karya
- Judul: Kakawin Ramayana
- Bentuk: Kakawin (puisi naratif bermetrum)
- Bahasa: Jawa Kuno
- Periode: Abad IX–X M
- Masa Sejarah: Pemerintahan Mpu Sindok
- Kerajaan: Mataram Kuno (Wangsa Isyana)
- Pengarang: Tidak diketahui (anonim)
- Fungsi: Sastra istana, pendidikan moral, legitimasi kekuasaan
2. Latar Sejarah Penulisan
Kakawin Ramayana diyakini digubah atau disalin kembali pada masa Mpu Sindok, raja yang memindahkan pusat kekuasaan dari Jawa Tengah ke Jawa Timur.
Periode ini menandai kelanjutan tradisi sastra Jawa Kuno, bukan kemunduran, meskipun terjadi perubahan politik dan geografis.
Kakawin Ramayana menjadi bukti bahwa:
- Tradisi intelektual tetap hidup
- Sastra digunakan sebagai sarana pembentukan nilai raja dan masyarakat
3. Adaptasi Budaya Lokal
Kakawin Ramayana bukan terjemahan langsung dari Ramayana karya Walmiki (India), melainkan:
- Saduran kreatif
- Disesuaikan dengan kosmologi Jawa Kuno
- Mengandung nilai lokal seperti dharma raja, kesetiaan, dan keseimbangan kosmis
Gaya bahasanya menampilkan:
- Metafora alam Nusantara
- Struktur kakawin khas Jawa
- Penekanan pada etika kepemimpinan
4. Isi Cerita Utama
- Sang Rama, pangeran Ayodhya, melambangkan raja ideal
- Shinta diculik oleh Rahwana, raja Alengka
- Rama dibantu Laksmana dan pasukan kera pimpinan Hanoman
- Perang besar berakhir dengan kemenangan dharma atas adharma
Cerita ini dipahami sebagai:
Alegori kepemimpinan, kesetiaan istri, pengendalian nafsu, dan kewajiban raja menjaga keseimbangan dunia.
5. Nilai dan Ajaran
- Dharma: Kewajiban moral penguasa
- Kesetiaan: Rama–Shinta sebagai teladan
- Kepahlawanan: Berbasis pengabdian, bukan ambisi
- Tatanan kosmis: Raja sebagai penjaga harmoni alam
Nilai-nilai ini selaras dengan ideologi kerajaan Jawa Kuno.
6. Relief Candi dan Warisan Visual
Pengaruh Kakawin Ramayana tampak jelas pada:
- Relief Candi Prambanan
- Adegan Rama–Shinta–Hanoman
- Narasi visual sebagai “kitab batu”
Relief ini menunjukkan:
- Sastra → seni → agama → politik menyatu
- Ramayana menjadi medium edukasi publik
7. Signifikansi Sastra
- Bukti kesinambungan sastra Jawa Kuno
- Menjadi fondasi berkembangnya kakawin besar masa Kediri–Majapahit
- Menghubungkan tradisi India dengan identitas Nusantara
Kakawin Ramayana adalah jembatan peradaban, bukan sekadar kisah kepahlawanan.
INFOGRAFIS – RINGKASAN VISUAL
Judul Utama:
🪔 KAKAWIN RAMAYANA – Era Mpu Sindok
Panel 1 – Identitas
📜 Kakawin | Jawa Kuno | Abad IX–X M
👑 Mpu Sindok – Wangsa Isyana
Panel 2 – Adaptasi Budaya
🌾 Saduran Ramayana India
🌋 Bernuansa Jawa Kuno
⚖️ Dharma & kepemimpinan
Panel 3 – Alur Cerita
👑 Rama – 🕊️ Shinta – 🦁 Rahwana
🐒 Hanoman – ⚔️ Perang Alengka
Panel 4 – Relief Candi
🏛️ Prambanan
🪨 Sastra menjadi relief batu
Panel 5 – Makna Historis
📚 Sastra istana
🧠 Pendidikan moral
🌏 Warisan Nusantara
Buatlah Risalah dan Infografis Kitab Sastra yaitu :
Kidung Harsawijaya di era Majapahit.
Karya sastra Jawa Pertengahan berbentuk puisi (kidung) yang mengisahkan keruntuhan Kerajaan Singasari akibat serangan Jayakatwang dari Kediri dan perjuangan Raden Wijaya mendirikan Kerajaan Majapahit. Naskah ini menonjolkan kecerdasan dan keberanian Raden Wijaya, termasuk taktik memanfaatkan pasukan Mongol, dalam membangun kekuatan baru di hutan Tarik.
Tema Utama:
Perjuangan Raden Wijaya dari masa pelarian setelah jatuhnya Singasari hingga menjadi raja pertama Majapahit bergelar Kertarajasa Jayawardhana.
Konteks Sejarah:
Menggambarkan konflik pasca-Singasari, di mana Raden Wijaya berpura-pura tunduk pada Jayakatwang sebelum akhirnya mengalahkannya.
Elemen Sastra:
Sebagai naskah sastra, Kidung Harsawijaya mengandung unsur epik dan mitologis yang memperindah sejarah berdirinya Majapahit.
Sumber Sejarah:
Bersama dengan Kidung Panji Wijayakrama dan Prasasti Butak (1294 M),
Kidung Harsawijaya menjadi sumber primer penting yang menguraikan transisi kekuasaan dari Singasari ke Majapahit.
Kidung ini memberikan gambaran naratif yang dramatis mengenai pembabatan hutan Tarik dan pendirian pusat kekuatan baru yang menjadi cikal bakal Kerajaan Majapahit.
RISALAH KITAB SASTRA
KIDUNG HARSAWIJAYA
Karya Sastra Jawa Pertengahan Era Majapahit
Identitas Karya
- Judul: Kidung Harsawijaya
- Bentuk Karya: Kidung (puisi naratif Jawa Pertengahan)
- Zaman: Kerajaan Majapahit (awal abad ke-14)
- Bahasa: Jawa Pertengahan
- Genre: Epik-sejarah dengan unsur mitologis
Latar Belakang
Kidung Harsawijaya lahir pada masa awal Kerajaan Majapahit sebagai karya sastra yang merekam peristiwa runtuhnya Kerajaan Singasari dan perjuangan Raden Wijaya mendirikan kekuasaan baru. Kidung ini menjadi penghubung penting antara sejarah Singasari dan berdirinya Majapahit.
Isi dan Alur Cerita
Kidung ini mengisahkan:
-
Keruntuhan Singasari
Kerajaan Singasari hancur akibat serangan Jayakatwang dari Kediri. Raja Kertanegara gugur, menandai berakhirnya kekuasaan Singasari. -
Pelarian Raden Wijaya
Raden Wijaya, menantu Kertanegara, berhasil meloloskan diri dan berpura-pura tunduk kepada Jayakatwang untuk menyusun kekuatan. -
Strategi dan Kecerdikan
Raden Wijaya memanfaatkan kedatangan pasukan Mongol untuk mengalahkan Jayakatwang, lalu berbalik mengusir pasukan Mongol dari Jawa. -
Pembabatan Hutan Tarik
Raden Wijaya membuka hutan Tarik sebagai pusat kekuatan baru. -
Berdirinya Majapahit
Raden Wijaya naik tahta sebagai raja pertama Majapahit dengan gelar Kertarajasa Jayawardhana.
Tema Utama
- Perjuangan dan keteguhan hati
- Kecerdikan politik dan strategi perang
- Kebangkitan dari kehancuran
- Legitimasi kekuasaan Majapahit
Elemen Sastra
- Narasi epik dan heroik
- Unsur mitologi dan simbolik
- Penggambaran tokoh ideal pemimpin Jawa
- Perpaduan sejarah dan sastra
Nilai dan Makna
Kidung Harsawijaya menampilkan Raden Wijaya sebagai sosok pemimpin cerdas, berani, dan visioner. Karya ini menegaskan bahwa Majapahit lahir bukan semata karena kekuatan militer, tetapi juga karena kecerdikan, diplomasi, dan keberanian moral.
Konteks Sejarah
Kidung ini menggambarkan masa transisi kekuasaan dari Singasari ke Majapahit, termasuk konflik politik Jawa Timur akhir abad ke-13.
Sumber Sejarah Penting
Bersama dengan:
- Kidung Panji Wijayakrama
- Prasasti Butak (1294 M)
Kidung Harsawijaya menjadi sumber utama penulisan sejarah awal Majapahit.
Signifikansi
- Sumber sejarah sastra penting Nusantara
- Landasan naratif berdirinya Majapahit
- Contoh sastra sejarah Jawa Pertengahan
TEKS RINGKAS INFOGRAFIS
Judul Besar:
KIDUNG HARSAWIJAYA
Subjudul:
Epos Perjuangan Raden Wijaya dan Lahirnya Majapahit
Poin Infografis:
- 📜 Bentuk: Kidung (puisi naratif)
- 🏛 Zaman: Majapahit Awal
- 👑 Tokoh Utama: Raden Wijaya
- ⚔ Peristiwa: Runtuhnya Singasari – Berdirinya Majapahit
- 🌳 Lokasi Penting: Hutan Tarik
- 📖 Nilai: Kepemimpinan, strategi, keberanian
Kutipan Makna:
Majapahit lahir dari kecerdikan, keteguhan, dan keberanian seorang pemimpin.
Buatlah Risalah dan Infografis Kitab Sastra yaitu :
Kidung Panji Wijayakrama (atau Panjiwijayakrama).
Karya sastra Jawa Pertengahan (dugaan penyusunan tahun 1334 M) berbentuk kidung yang menceritakan sejarah berdirinya Kerajaan Majapahit, perjuangan Raden Wijaya, hingga pemberontakan Rangga Lawe. Kidung ini berfokus pada taktik Raden Wijaya menghadapi Jayakatwang dan mendirikan Majapahit.
Isi dan Kisah:
Kidung ini menceritakan kekalahan Raden Wijaya dari Kediri, pelariannya ke Madura, tipu muslihatnya terhadap Jayakatwang (dengan pura-pura takluk), hingga berhasil membangun pemukiman di hutan Tarik yang menjadi cikal bakal Kerajaan Majapahit.
Konteks Sejarah: Berbeda dengan Kakawin Nagarakretagama yang merupakan puji-pujian, Kidung Panji Wijayakrama memberikan narasi naratif yang kuat mengenai awal dinasti Majapahit.
Tokoh Utama:
Raden Wijaya (Kertarajasa Jayawardhana), Arya Wiraraja, dan Rangga Lawe.
Perbedaan dengan Kidung Harsawijaya:
Meskipun keduanya menceritakan berdirinya Majapahit, Kidung Panji Wijayakrama sering dikaitkan dengan Kidung Harsawijaya, yang juga menarasikan jatuhnya Singasari ke tangan Jayakatwang.
Pemberontakan Rangga Lawe: Kidung ini, bersama dengan Kidung Ranggalawe, mencatat bahwa pemberontakan Rangga Lawe terjadi pada masa pemerintahan Raden Wijaya, bukan pada masa Jayanagara, memberikan perspektif historis yang berbeda dari Pararaton.
Kidung ini merupakan sumber penting untuk mempelajari sejarah awal Majapahit dari sudut pandang sastra.
RISALAH KITAB SASTRA
Kidung Panji Wijayakrama (Panjiwijayakrama)
Sastra Sejarah Awal Majapahit
Identitas Karya
- Judul: Kidung Panji Wijayakrama
- Bentuk: Kidung (puisi naratif Jawa Pertengahan)
- Bahasa: Jawa Pertengahan
- Perkiraan Tahun: ± 1334 M
- Periode: Awal Kerajaan Majapahit (abad XIV)
- Genre: Sastra sejarah – kepahlawanan
Latar Sejarah Penulisan
Kidung Panji Wijayakrama disusun untuk merekam peristiwa runtuhnya Singasari dan lahirnya Kerajaan Majapahit melalui narasi sastra yang hidup dan dramatik. Berbeda dengan kakawin istana yang bersifat pujian, kidung ini menampilkan kisah penuh intrik, strategi politik, dan konflik kekuasaan.
Isi dan Alur Cerita Utama
- Kekalahan Raden Wijaya dari Jayakatwang (Kediri)
- Pelarian ke Madura dan perlindungan Arya Wiraraja
- Strategi tipu daya: Raden Wijaya berpura-pura tunduk pada Jayakatwang
- Pembukaan Hutan Tarik, cikal bakal Majapahit
- Pemanfaatan serangan Mongol untuk menjatuhkan Jayakatwang
- Berdirinya Kerajaan Majapahit dan penobatan Raden Wijaya
Tokoh-Tokoh Penting
- Raden Wijaya (Kertarajasa Jayawardhana) – pendiri Majapahit
- Arya Wiraraja – penasihat dan pendukung strategis
- Jayakatwang – Raja Kediri, penumbang Singasari
- Rangga Lawe – tokoh pemberontakan awal Majapahit
Pemberontakan Rangga Lawe
Kidung Panji Wijayakrama mencatat bahwa pemberontakan Rangga Lawe terjadi pada masa pemerintahan Raden Wijaya, bukan Jayanagara. Catatan ini berbeda dengan Pararaton, sehingga memberikan perspektif alternatif tentang konflik politik awal Majapahit.
Perbandingan dengan Karya Sezaman
- Berbeda dengan Negarakertagama
→ Negarakertagama bersifat puja-istana
→ Panji Wijayakrama bersifat naratif dan dramatik - Berkaitan dengan Kidung Harsawijaya
→ Sama-sama mengisahkan jatuhnya Singasari dan lahirnya Majapahit
Nilai dan Makna Penting
- Menunjukkan kecerdikan politik dan strategi kekuasaan
- Menggambarkan awal dinasti Majapahit dari sudut pandang rakyat & sastra
- Menjadi sumber alternatif sejarah selain prasasti dan kakawin istana
Signifikansi Historis
Kidung Panji Wijayakrama merupakan dokumen sastra penting untuk memahami:
- Dinamika politik pasca-Singasari
- Strategi pendirian Majapahit
- Konflik internal elite awal kerajaan
Karya ini menegaskan bahwa sejarah Majapahit tidak hanya ditulis sebagai kejayaan, tetapi juga sebagai hasil perjuangan, siasat, dan konflik manusiawi.
INFOGRAFIS (RINGKAS – SIAP VISUAL)
Judul: Kidung Panji Wijayakrama
Ikon Utama: Raden Wijaya – Hutan Tarik – Jayakatwang – Rangga Lawe
Poin Visual:
- 📜 Sastra Jawa Pertengahan (±1334 M)
- ⚔️ Kekalahan → Pelarian → Tipu Daya
- 🌳 Hutan Tarik → Majapahit
- 👑 Raden Wijaya sebagai pendiri
- 🔥 Pemberontakan Rangga Lawe
- 📚 Sumber sejarah sastra awal Majapahit
Buatlah Risalah dan Infografis Kitab Sastra yaitu :
Kitab Kidung Ronggolawe.
Karya sastra Jawa Pertengahan berbentuk puisi (kidung) yang mengisahkan pemberontakan Ranggalawe, Adipati Tuban, terhadap pemerintahan awal Majapahit.
Naskah ini menceritakan kisah perjuangan, kekecewaan Ranggalawe karena tidak diangkat menjadi Patih Hamangkubhumi, serta gugurnya dalam pertempuran di Sungai Tambak Beras pada 1295 M.
Isi Utama:
Kidung ini fokus pada pemberontakan pertama di Majapahit, yang dipicu oleh rasa ketidakadilan Ranggalawe atas pengangkatan Nambi sebagai Patih, bukan dirinya.
Karakter:
Ranggalawe digambarkan sebagai sosok pemuda pemberani, anak dari Arya Wiraraja, yang berjasa besar dalam pendirian Majapahit.
Kematian Ranggalawe: Kidung ini menceritakan duel sengit antara Ranggalawe dan Kebo Anabrang di Sungai Tambak Beras, di mana Ranggalawe akhirnya tewas.
Versi Sejarah:
Berbeda dengan Pararaton yang menempatkan kejadian ini belakangan, Kidung Ranggalawe dan Kidung Panji Wijayakrama menekankan bahwa pemberontakan ini terjadi pada masa pemerintahan Raden Wijaya.
Konteks Sastra:
Kidung Ranggalawe merupakan salah satu sumber historis-sastra yang menggambarkan dinamika internal dan konflik kekuasaan setelah runtuhnya Kerajaan Kadiri dan berdirinya Majapahit.
Kidung ini menonjolkan nilai-nilai kepahlawanan namun juga tragedi, di mana para tokoh yang berjasa akhirnya saling berhadapan satu sama lain.
RISALAH KITAB SASTRA
KIDUNG RONGGOLAWE
Kidung Pemberontakan Awal Majapahit
Identitas Karya
- Judul: Kidung Ronggolawe
- Bentuk Karya: Kidung (puisi naratif Jawa Pertengahan)
- Zaman: Awal Kerajaan Majapahit
- Bahasa: Jawa Pertengahan
- Genre: Sastra sejarah – epik tragis
Latar Belakang
Kidung Ronggolawe merupakan karya sastra Jawa Pertengahan yang merekam konflik internal pertama dalam sejarah Kerajaan Majapahit. Kidung ini mengisahkan pemberontakan Ranggalawe, Adipati Tuban, terhadap pemerintahan Raja Raden Wijaya (Kertarajasa Jayawardhana), tidak lama setelah Majapahit berdiri.
Isi dan Alur Cerita
Kidung ini berfokus pada peristiwa-peristiwa berikut:
-
Jasa Ranggalawe
Ranggalawe adalah putra Arya Wiraraja, tokoh penting pendukung Raden Wijaya dalam mendirikan Majapahit. Ia dikenal sebagai pemuda gagah berani dan setia. -
Kekecewaan Politik
Ranggalawe merasa diperlakukan tidak adil ketika jabatan Patih Hamangkubhumi diberikan kepada Nambi, bukan kepadanya. -
Pemberontakan Terbuka
Rasa kecewa berubah menjadi perlawanan terhadap pemerintah pusat Majapahit, menjadikannya pemberontakan pertama dalam sejarah kerajaan tersebut. -
Pertempuran di Sungai Tambak Beras (1295 M)
Puncak kisah adalah duel sengit antara Ranggalawe dan Kebo Anabrang. Dalam pertempuran itu, Ranggalawe gugur sebagai kesatria.
Karakter Tokoh
-
Ranggalawe
Digambarkan sebagai pemuda pemberani, idealis, dan setia, namun terluka oleh ketidakadilan politik. -
Arya Wiraraja
Ayah Ranggalawe, tokoh senior yang berperan besar dalam pendirian Majapahit. -
Nambi
Patih Hamangkubhumi yang pengangkatannya menjadi pemicu konflik. -
Kebo Anabrang
Kesatria Majapahit yang menjadi lawan Ranggalawe dalam duel terakhir.
Tema Utama
- Ketidakadilan dan kekecewaan politik
- Loyalitas dan pengkhianatan
- Kepahlawanan dan tragedi
- Konflik internal pasca berdirinya kerajaan
Nilai dan Makna
Kidung Ronggolawe menampilkan sisi gelap pendirian kerajaan: bahwa kemenangan politik sering dibarengi pengorbanan dan perpecahan. Karya ini menekankan bahwa tokoh-tokoh yang berjasa pun dapat tersingkir oleh dinamika kekuasaan.
Versi dan Perbandingan Sejarah
-
Kidung Ronggolawe & Kidung Panji Wijayakrama
Menegaskan bahwa pemberontakan terjadi pada masa pemerintahan Raden Wijaya. -
Pararaton
Menempatkan peristiwa ini pada waktu yang berbeda dan lebih belakangan.
Perbedaan ini menunjukkan sifat sastra sejarah Jawa yang menggabungkan fakta, interpretasi, dan nilai moral.
Konteks Sastra dan Sejarah
Kidung ini menjadi sumber historis-sastra penting untuk memahami:
- Konflik internal Majapahit awal
- Hubungan antara jasa dan kekuasaan
- Ketegangan politik pasca runtuhnya Kadiri dan Singasari
Signifikansi
- Salah satu kidung terpenting Majapahit awal
- Menggambarkan tragedi kepahlawanan Nusantara
- Sumber penting studi sejarah dan sastra Jawa Pertengahan
TEKS RINGKAS INFOGRAFIS
Judul Utama:
KIDUNG RONGGOLAWE
Subjudul:
Tragedi Pemberontakan Pertama Majapahit
Poin Infografis:
- 📜 Bentuk: Kidung (puisi naratif)
- 🏛 Zaman: Majapahit Awal
- 👑 Raja: Raden Wijaya
- ⚔ Tokoh Utama: Ranggalawe (Adipati Tuban)
- 📍 Lokasi Penting: Sungai Tambak Beras
- 📆 Tahun: 1295 M
- ⚖ Tema: Ketidakadilan, loyalitas, tragedi
Kutipan Makna:
Dalam berdirinya sebuah kerajaan, tidak semua pahlawan berakhir sebagai pemenang.
Buatlah Risalah dan Infografis Kitab Sastra yaitu :
Kidung Sunda.
Kidung Sunda ditemukan di Bali, sementara Kidung Sundayana sering disebut sebagai bagian dari naskah yang sama atau varian cerita yang berbeda.
Kidung Sunda: Lebih menitikberatkan pada sisi romantis kisah cinta Raja Hayam Wuruk dari Majapahit yang ingin meminang Putri Dyah Pitaloka Citraresmi dari Sunda, yang kemudian berujung pada tragedi. Kidung ini cenderung menggambarkan tokoh-tokoh Sunda dengan sangat baik (bahkan terkesan lebih unggul dalam perang).
Kidung Sunda: Diterbitkan oleh sejarawan Belanda, C.C. Berg, pada tahun 1927, dan diyakini berasal dari Bali.
Kidung Sunda menggambarkan detail kepergian rombongan dari Sunda ke Bubat dengan suasana sukacita dan romantis.
Kedua naskah ini sama-sama berkisah tentang tragedi di Bubat, di mana pengantin Sunda, Putri Dyah Pitaloka, meninggal dunia akibat adu domba atau perbedaan pandangan mengenai kedudukan kerajaan Sunda di mata Majapahit.
Singkatnya, Kidung Sunda cenderung lebih romantis-tragis, sedangkan Kidung Sundayana lebih pada narasi sejarah militer tragis.
**RISALAH KITAB SASTRA
KIDUNG SUNDA**
Identitas Karya
- Judul: Kidung Sunda
- Bentuk: Kidung (puisi Jawa Pertengahan)
- Bahasa: Jawa Pertengahan (tradisi Bali)
- Asal Naskah: Bali
- Zaman: Kerajaan Majapahit (abad ke-14 M)
- Tokoh Utama:
- Raja Hayam Wuruk (Majapahit)
- Dyah Pitaloka Citraresmi (Putri Kerajaan Sunda)
Latar Belakang Karya
Kidung Sunda merupakan karya sastra Jawa Pertengahan yang mengisahkan peristiwa Tragedi Bubat, sebuah episode kelam dalam hubungan antara Kerajaan Majapahit dan Kerajaan Sunda.
Naskah ini ditemukan dan berkembang dalam tradisi sastra Bali, serta diterbitkan dan dikaji oleh sejarawan Belanda C.C. Berg pada tahun 1927. Berbeda dengan versi lain, Kidung Sunda lebih menonjolkan nuansa romantis, emosional, dan tragis dibandingkan pendekatan sejarah-militer.
Isi dan Alur Cerita
-
Lamaran Romantis
Raja Hayam Wuruk berniat meminang Putri Dyah Pitaloka dari Kerajaan Sunda. Hubungan ini digambarkan penuh harapan, cinta, dan kebahagiaan antar dua kerajaan besar. -
Keberangkatan ke Bubat
Rombongan Kerajaan Sunda berangkat menuju Majapahit dengan suasana sukacita. Kidung Sunda menggambarkan perjalanan ini secara detail dan penuh keindahan sastra. -
Tragedi di Lapangan Bubat
Perbedaan pandangan politik mengenai kedudukan Kerajaan Sunda di hadapan Majapahit memicu konflik. Peristiwa ini berujung pada perang dan kematian rombongan Sunda, termasuk gugurnya Dyah Pitaloka. -
Akhir Tragis
Putri Dyah Pitaloka memilih wafat sebagai bentuk kehormatan dan kesetiaan, menjadikan kisah ini simbol cinta, martabat, dan tragedi sejarah.
Karakterisasi Tokoh
-
Tokoh Sunda
Dalam Kidung Sunda, tokoh-tokoh dari Kerajaan Sunda digambarkan sangat mulia, gagah, dan bermartabat, bahkan sering terlihat lebih unggul dalam pertempuran. -
Tokoh Majapahit
Digambarkan lebih kompleks, dengan konflik internal dan kebijakan politik yang menjadi pemicu tragedi.
Perbandingan dengan Kidung Sundayana
-
Kidung Sunda
- Lebih romantis–tragis
- Penekanan pada emosi, cinta, dan kehormatan
- Tokoh Sunda digambarkan sangat luhur
-
Kidung Sundayana
- Lebih naratif–militeristis
- Fokus pada kronologi konflik dan perang
- Bernuansa sejarah tragis-politik
Keduanya mengisahkan peristiwa yang sama, namun dengan sudut pandang dan penekanan yang berbeda.
Makna dan Nilai Historis
- Menggambarkan rapuhnya hubungan politik yang dicampur dengan cinta dan gengsi kekuasaan
- Menjadi simbol tragedi akibat kesalahpahaman diplomasi
- Mencerminkan nilai kehormatan, pengorbanan, dan martabat kerajaan dalam budaya Nusantara
- Menjadi sumber penting sastra-sejarah tentang hubungan Majapahit–Sunda
Kesimpulan
Kidung Sunda adalah karya sastra epik-tragis yang memadukan cinta, politik, dan kehormatan. Kisah ini tidak hanya merekam peristiwa sejarah, tetapi juga memperlihatkan bagaimana sastra menjadi medium untuk menyuarakan duka, kritik, dan empati terhadap tragedi masa lampau.
Buatlah Risalah dan Infografis Kitab Sastra yaitu :
Kitab kuno utama yang memuat sejarah Bali adalah Usana Bali, yaitu lontar atau naskah tradisional yang mengisahkan sejarah kerajaan-kerajaan di Bali, terutama penaklukan Bali oleh Kerajaan Majapahit.
Isi Utama:
Usana Bali menceritakan tentang masa lampau Bali, termasuk kedatangan ekspedisi Majapahit, penaklukan raja-raja Bali (seperti Bedahulu), dan penataan struktur pemerintahan serta keagamaan setelah ditaklukkan oleh Majapahit.
Konteks Sejarah:
Seringkali berfokus pada peran Gajah Mada dalam menundukkan Bali.
Isi Tambahan:
Selain narasi sejarah, lontar Usana Bali sering diawali dengan uraian tentang stana Dewa Nawa Sanga (dewa penguasa sembilan arah mata angin).
Bentuk:
Naskah ini berbentuk lontar (manuskrip tulisan tangan) yang diwariskan turun-temurun.
Usana Bali sering dikaitkan atau memiliki kemiripan isi dengan Usana Jawa yang juga menceritakan penaklukan Bali oleh Majapahit.
RISALAH KITAB SASTRA
USANA BALI
Sumber Sejarah Kuno Bali Era Majapahit
1. Identitas Karya
- Judul Naskah: Usana Bali
- Bentuk: Lontar (naskah tradisional Bali)
- Bahasa & Aksara: Jawa Kuno – Bali
- Genre: Sastra sejarah (historis–religius)
- Periode: Akhir Bali Kuna – awal pengaruh Majapahit (abad XIV M)
2. Kedudukan dalam Sejarah Bali
Usana Bali merupakan kitab kuno utama yang memuat narasi sejarah Bali, terutama masa peralihan ketika Bali ditaklukkan dan ditata ulang oleh Kerajaan Majapahit. Naskah ini menjadi rujukan penting dalam kajian sejarah, politik, dan keagamaan Bali.
3. Isi Utama Usana Bali
a. Sejarah Penaklukan Bali
- Mengisahkan ekspedisi Majapahit ke Bali
- Penaklukan kerajaan-kerajaan Bali, khususnya Bedahulu
- Peneguhan kekuasaan Majapahit atas Bali
b. Peran Tokoh Majapahit
- Patih Gajah Mada sering disebut sebagai tokoh sentral
- Digambarkan sebagai pelaksana kebijakan penyatuan wilayah Nusantara
c. Penataan Pemerintahan & Agama
- Penataan ulang sistem kekuasaan lokal
- Penguatan struktur keagamaan Hindu-Siwa-Buddha
- Integrasi adat Bali dengan sistem Majapahit
4. Unsur Religius & Kosmologi
Sebelum narasi sejarah, Usana Bali biasanya diawali dengan:
- Uraian tentang Dewa Nawa Sanga
- Konsep kosmologi sembilan penjuru mata angin
- Penegasan kesakralan tatanan alam dan pemerintahan
Hal ini menunjukkan bahwa sejarah dalam Usana Bali tidak terpisah dari pandangan religius dan kosmologis masyarakat Bali.
5. Bentuk dan Tradisi Penulisan
- Ditulis pada daun lontar, disalin secara manual
- Diwariskan turun-temurun oleh pendeta dan keluarga bangsawan
- Memiliki variasi versi antar daerah di Bali
6. Hubungan dengan Usana Jawa
- Usana Bali memiliki kemiripan isi dengan Usana Jawa
- Keduanya sama-sama menuturkan penaklukan Bali oleh Majapahit
- Menunjukkan kesinambungan tradisi historiografi Jawa–Bali
7. Signifikansi Historis
- Menjadi sumber primer sejarah Bali pasca-Majapahit
- Menjelaskan asal-usul struktur sosial, politik, dan keagamaan Bali
- Membantu memahami integrasi Bali dalam konsep Nusantara Majapahit
8. Kesimpulan
Usana Bali bukan sekadar catatan penaklukan, melainkan naskah legitimasi sejarah dan spiritual yang menjelaskan bagaimana Bali dibentuk ulang secara politik, budaya, dan religius setelah masuk dalam pengaruh Majapahit. Kitab ini menjadi fondasi penting bagi pemahaman identitas Bali hingga kini.

























Tidak ada komentar:
Posting Komentar