Buatlah Risalah dan Infografis tentang Pahlawan :
Ignatius Joseph Kasimo Hendrowahyono
Lahir di Yogyakarta, 10 April 1900
Meninggal di Jakarta, 1 Agustus 1986 (Usia 86 tahun).
Pahlawan Nasional Indonesia, tokoh Katolik, dan pendiri Partai Katolik Indonesia. Lahir di Yogyakarta, ia adalah pejuang kemerdekaan yang dikenal melalui pemikiran nasionalisme, pencetus "Kasimo Plan" untuk swasembada pangan, serta pernah menjabat menteri di era awal kemerdekaan.
Makam: Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta
Agama: Katolik (dibaptis tahun 1913)
Orang Tua: Ronosentika (Prajurit Keraton Yogyakarta) dan Dalikem
Pendidikan: Sekolah Guru Muntilan (asuhan Romo van Lith), Middelbare Landbouw School (Sekolah Pertanian) Bogor
Karier dan Perjuangan:
Politikus: Anggota Volksraad (Dewan Rakyat) 1931-1942
Pendiri Partai: Pendiri Partai Katolik Indonesia dan Ketua Umum (1945–1961)
Menteri: Menjabat sebagai Menteri Muda Kemakmuran (Kabinet Amir Sjarifuddin), Menteri Persediaan Makanan Rakyat (Kabinet Hatta I & II), dan Menteri Perekonomian (Kabinet Burhanuddin Harahap)
Inovasi: Mencetuskan Kasimo Plan (rencana produksi tiga tahun) untuk swasembada pangan
Penghargaan: Gelar Pahlawan Nasional (2011), Bintang Ordo Gregorius Agung dari Paus Yohanes Paulus II (1980)
I.J. Kasimo dikenal sebagai pejuang yang menjunjung tinggi prinsip salus populi suprema lex (kepentingan rakyat/keselamatan umum adalah hukum tertinggi) dalam berpolitik.
RISALAH & INFOGRAFIS PAHLAWAN NASIONAL
Ignatius Joseph Kasimo Hendrowahyono
Nama Lengkap: Ignatius Joseph Kasimo Hendrowahyono
Lahir: Yogyakarta, 10 April 1900
Wafat: Jakarta, 1 Agustus 1986 (usia 86 tahun)
Makam: TMP Kalibata
Gelar: Pahlawan Nasional Indonesia (2011)
Bidang: Politik, pertanian, kebangsaan
Agama: Katolik
๐งพ PROFIL SINGKAT
Ignatius Joseph Kasimo Hendrowahyono adalah tokoh nasionalis Katolik, pejuang kemerdekaan, dan negarawan bidang ekonomi–pangan. Ia dikenal sebagai pencetus Kasimo Plan untuk swasembada pangan serta pendiri Partai Katolik Indonesia. Kiprahnya menonjol dalam perumusan kebijakan kemakmuran rakyat pada masa awal Republik.
๐ PENDIDIKAN
- Sekolah Guru Muntilan (asuhan Romo van Lith)
- Middelbare Landbouw School (Sekolah Pertanian) Bogor
- Pendidikan berbasis pertanian, sosial, dan kepemimpinan rakyat
๐️ KARIER & JABATAN
- Anggota Volksraad (Dewan Rakyat) : 1931–1942
- Pendiri & Ketua Umum Partai Katolik Indonesia : 1945–1961
- Menteri Muda Kemakmuran (Kabinet Amir Sjarifuddin)
- Menteri Persediaan Makanan Rakyat (Kabinet Hatta I & II)
- Menteri Perekonomian (Kabinet Burhanuddin Harahap)
๐พ KASIMO PLAN (PROGRAM TIGA TAHUN)
Tujuan: Mewujudkan swasembada pangan nasional
Pokok Program:
- Intensifikasi pertanian rakyat
- Perluasan lahan tanam
- Perbaikan distribusi bahan pangan
- Pendidikan teknik pertanian
- Penguatan koperasi desa
Program ini menjadi salah satu konsep awal pembangunan ketahanan pangan Indonesia.
๐ฎ๐ฉ PERJUANGAN & GAGASAN
- Aktif memperjuangkan kemerdekaan melalui jalur parlemen dan kebijakan
- Mengusung nasionalisme lintas agama
- Menekankan politik berbasis etika dan kesejahteraan rakyat
- Memegang prinsip: salus populi suprema lex — keselamatan rakyat adalah hukum tertinggi
๐ PENGHARGAAN
- Pahlawan Nasional Indonesia (2011)
- Bintang Ordo Gregorius Agung (1980) dari
Paus Yohanes Paulus II
๐ NILAI KETELADANAN
- Integritas dalam politik
- Fokus pada kesejahteraan rakyat
- Pelopor kebijakan pangan nasional
- Nasionalis religius dan inklusif
- Konsisten membangun dari sektor riil
Jika Anda mau, saya bisa langsung ubah risalah ini menjadi layout poster infografis krem-historis siap cetak seperti seri pahlawan sebelumnya.
Sukarno dan Hatta dapat gelar lagi 2012
*SBY TAHUN 2004*
Ada 6
*SBY TAHUN 2005*
Ada 3
*SBY TAHUN 2006*
Ada 8
ANTARA Nasional
*Presiden Anugerahkan Gelar Pahlawan Nasional Kepada 8 Tokoh Masyarakat*
9 November 2006 11:50 WIB
Jakarta (ANTARA News) - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Istana Negara, Kamis, menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada delapan tokoh masyarakat, atas jasa-jasa mereka yang luar biasa kepada bangsa dan negara ini. Acara penganugerahan gelar kepahlawanan ini dihadiri pula oleh Ibu Negara Ani Yudhoyono, Wakil Presiden Jusuf Kalla dan Ny. Mufidah Kalla, Wakil Ketua DPD Irman Gusman, Menko Polhukam Widodo AS, Menhan Juwono Sudarsono, Sekretaris Kabinet Sudi Silalahi, serta sejumlah menteri dan pejabat tinggi lainnya, serta tampak mantan Menlu Ali Alatas. Gelar tersebut diberikan dalam rangka memperingati Hari Pahlawan 10 November 2006.
Delapan tokoh yang mendapat gelar Pahlawan Nasional itu adalah
1. Teuku Muhammad Hassan (Aceh);
2. Kiai Haji Noer Ali (Bekasi);
3. Raden Mas Tirto Adhi Soeryo (Blora);
4. Pajonga Daeng Ngalle Karaeng Polongbangkeng (Polongbangkeng, Sulsel);
5. Opu Daeng Risadju (Palopo, Sulsel);
6. Andi Sultan Daeng Radja(Sulsel);
7. Izaac Huru Doko(Seba, NTT), serta
8. Pangeran Mangkubumi Sultan Hamengku Buwono I (Yogyakarta).
1. Muhammad Hassan yang lahir di Sigli Aceh merupakan anggota Panitia Persiapan Kemerdekan Indonesia atau PPKI perwakilan Sumatera. Semasa hidupnya dia pernah menjadi Wakil Ketua Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) dan merangkap Menteri Pendidikan dan Pengajaran serta Mendagri.
2. Haji Noer Ali dikenal sebagai pendiri organisasi Persatuan Pelajar Betawi serta menjadi Ketua Komite Nasional Indonesia Daerah (KNID) Kecamatan Babelan, Bekasi.
3. Raden Mas Tirto Adhi Soeryo adalah tokoh pers yang menjadi pionir pers pribumi dengan mendirikan koran "Soenda Berita" di Cianjur. Dia pernah mendapat gelar Perintis Pers dari Dewan Pers tahun 1973.
4. Pajonga Daeng Ngalle Karaeng dikenal sebagai tokoh Sulsel yang ikut merumuskan revolusi mendukung Pemerintah RI di Sulawesi sebagai satu-satunya pemerintah yang sah di Sulawesi.
5. Opu Daeng Risadju dikenal sebagai tokoh perempuan yang merupakan anggota Partai Sarekat Dagang Islam Indonesia( PSII) di Pare-Pare.
6. Andi Daeng Sultan Radja adalah penentang kehadiran penjajah Belanda di Sulawesi Selatan.
7. Izaac Huru Doko merupakan Ketua Partai Perserikatan Kebangsaan Timor di Kupang.
8. Gelar Pahlawan Nasional adalah Hamengku Buwono I yang dikenal gigih membela Indonesia, terutama di wilayah Yogyakarta
*SBY TAHUN 2007*
Ada 4 dan 5 Tokoh
DAFTAR WARGANEGARA REPUBLIK INDONESIA YANG
MENERIMA ANUGERAH GELAR PAHLAWAN NASIONAL DAN
TANDA KEHORMATAN RI DALAM RANGKAIAN
HARI PAHLAWAN NASIONAL TAHUN 2007
1. ADNAN KAPAU GANI, dr (ALMARHUM) MAYOR JENDERAL TNI (PURN). Pejuang Sumatera Selatan. Gelar Pahlawan Nasional Keppres RI No. 066/TK/Tahun 2007. Tgl. 6 November 2007
2. IDE ANAK AGUNG GDE AGUNG, Mr. Dr. (ALMARHUM) Pejuang Bali Gelar Pahlawan Nasional Keppres RI No. 066/TK/Tahun 2007 Tgl. 6 November 2007
3. MOESTOPO, Prof. Dr. (ALMARHUM) MAYOR JENDERAL TNI (PURN) Pejuang Jawa Timur Gelar Pahlawan Nasional dan Bintang Mahaputera Adipradana Keppres RI No. 066/TK/Tahun 2007 Tgl. 6 November 2007
4. IGNATIUS SLAMET RIJADI
(ALMARHUM) BRIGADIR JENDERAL TNI (ANUMERTA) Pejuang Jawa Tengah Gelar Pahlawan Nasional dan Bintang Mahaputera Adipradana Keppres RI No. 066/TK/Tahun 2007 Tgl. 6 November 2007
5. AHMAD DAHLAN RANUWIHARDJO, S.H. (ALMARHUM) Mantan Anggota Dewan Nasional RI (1957)/Mantan Anggota DPR GR/MPRS (1960-1968)/Mantan Wakil Ketua Komisi Hukum/ Dalam Negeri DPR GR (1965-1968)/Mantan Anggota Badan Pekerja MPRSร‚(1966-1968) Bintang Mahaputera Utama Keppres RI No. 067/TK/Tahun 2007 Tanggal 6 November 2007
6. TEUNGKU MUHAMMAD HASBI ASH-SHIDDIEQY, Prof.Dr. (ALMARHUM) Mantan Anggota Konstituante (1955)/ Mantan Rektor Univ. Cokroaminoto, Surakarta (1961-1971)/Mantan Ketua Lembaga Fiqh Islam Indonesia (1961-1971) Bintang Mahaputera Utama Keppres RI No. 067/TK/Tahun 2007 Tanggal 6 November 2007
7. ROHANA KOEDOES (ALMARHUMAH) Bintang Jasa Utama Keppres RI No. 068/TK/Tahun 2007 Tanggal 6 November 2007
8. NYA ABBAS AKUP (ALMARHUM) Sutradara Film dan Penulis Skenario Bintang Budaya Parama Dharma Keppres RI No. 069/TK/Tahun 2007 Tanggal 6 November 2007
9. DAENG SOETIGNA (ALMARHUM) Pendidik/Guru Pengembang dan Pelestari Angklung Keppres RI No. 069/TK/Tahun 2007 Tanggal 6 November 2007
*SBY TAHUN 2008*
Ada 3
Presiden Yudhoyono Anugerahkan Gelar Pahlawan Nasional
7 November 2008 09:45 WIB
Jakarta, (ANTARA News) - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono atas nama negara menganugerahkan gelar pahlwan nasional dan bintang Mahaputera Adipradana kepada mantan
1. Perdana Menteri Dr.Mohammad Natsir, anggota panitia pembelaan tanah air
2. KH Abdul Halim serta tokoh pertempuran 10 November 1945
3. Soetomo atau yang dikenal dengan Bung Tomo.
Penganugerahan gelar pahlawan nasional dan bintang Mahaputera Adipradana tersebut berlangsung Jumat, di Istana Negara Jakarta.Selain itu dianugerahkan pula Bintang Mahaputera Utama pada tokoh pejuang dari Kerajaan Sawitto di Sulawesi Selatan, Petta Lolo La Sinrang.Bintang Budaya Parama Dharma dianugerahkan pada sutrada Wahyu Sihombing dan penulis Marah Rusli.Keseluruhan penerima gelar pahlawan nasional dan bintang Mahaputera serta Bintang Budaya Parama itu sudah wafat.Hadir dalam acara tersebut Ibu Ani Yudhoyono, para pimpinan lembaga negara, menteri kabinet Indonesia Bersatu dan pimpinan TNI serta Polri
*SBY TAHUN 2009*
Ada 3
Dalam Keputusan Presiden (Keppres) No 58/2009, gelar Pahlawan Nasional diberikan kepada tiga pejuang nasional, yaitu
1. almarhum Laksamana Muda TNI (Purn) Daniel Dharma (John Lie) dari Sulawesi Utara,
2. almarhum Prof Dr Ir Herman Johannes dari Nusa Tenggara Timur,
3. Prof Achmad Subardjo dari DKI Jakarta.
*SBY TAHUN 2010*
Ada 2
Tahun ini ada dua orang putra terbaik bangsa menerima gelar Pahlawan Nasional.
1. Pertama adalah Johannes Leimena (Alm), yang merupakan salah satu pemuda Indonesia yang berjasa dalam penyelenggaraan Kongres Pemuda tahun 1928.
2. Yang kedua adalah Johannes Abraham Dimara (Alm), memiliki jasa besar dalam pembebasan Namlea di Maluku, dan dalam perjuangan membebaskan Irian Barat.
Keduanya diangkat menjadi Pahlawan Nasional berdasarkan hasil sidang Dewan Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan pada tanggal 1 November 2010 dan dengan Keputusan Presiden Nomor 52/TK/TAHUN 2010 tanggal 8 November 2010.
*SBY TAHUN 2011*
Ada 7
Presiden Yudhoyono menerbitkan tiga Keputusan Presiden (Keppres), masing-masing Keppres No.113/TK/2011, Keppres No.114/TK/2011, dan Keppres No.115/TK/2011 untuk masing-masing kategori.
Penerima gelar Pahlawan Nasional:
1. Syafruddin Prawiranegara
2. Idham Chalid
3. Haji Abdul Malik Karim Amrullah (Hamka)
4. Ki Sarmidi Mangunsarkoro
5. I Gusti Ketut Pudja
6. Sri Susuhan Pakubuwono X
7. Ignatius Joseph Kasimo Hendrowahyono
*SBY TAHUN 2012*
Ada 2, sebelumnya sudah diangkat sebagai Pahlawan Proklamator era Presiden Soeharto
"Bung Karno dan Bung Hatta merupakan simbol perlawanan terhadap setiap penjajahan, keduanya juga menjadi sumber inspirasi dan kekuatan bagi seluruh Bangsa Indonesia di seluruh pelosok negeri untuk bangkit dan bersatu membela, merebut, dan mempertahankan kemerdekaan dengan tetesan darah, pengorbanan harta-benda, jiwa dan raga," ujar Yudhoyono dalam pidato pemberian gelar pahlawan Soekarno-Hatta, di Istana Negara, Jakarta, Rabu (7/11/2012).
*SBY TAHUN 2013*
Ada 3
Menyambut hari Pahlawan 10 November, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pada Jumat (8/11) pukul 16.00 WIB, di Istana Negara, Jakarta. SBY akan menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada tiga tokoh perjuang bangsa, yaitu
1. Kanjeng Raden Tumenggung (KRT) Radjiman Wedyodiningrat dari Yogyakarta,
2. Lambertus Nicodemus Palar dari Sulawesi Utara dan
3. Letjen TNI (Purn) TB Simatupang dari Sumatera Utara.
1. Radjiman Wedyodiningrat yang lahir di Yogyakarta pada 21 April 1879 merupakan salah satu tokoh pendiri Republik Indonesia. Ia merupakan Ketua Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI).
2. Sementara Lambertus Nicodemus Palar (LN Palar) yang lahir pada 5 Juni 1900 di Rurukan, Tomohon, Sulawesi Utara, tercatat pernah menjabat sebagai wakil Republik Indonesia dalam beberapa posisi diplomatik di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
3. Adapun TB Simatupang, yang lahir pada 28 Januari 1920, di Sidikalang, Sumatera Utara, merupakan tokoh militer Indonesia. Dalam masa perjuangan mempertahankan kemerdekaan, Simatupang turut berjuang melawan penjajahan Belanda. Ia diangkat menjadi Wakil Kepala Staf Angkatan Perang RI (1948-1949) dan kemudian dalam usia yang sangat muda ia menjabat sebagai Kepala Staf Angkatan Perang,RI(1950-1954).
Pada tahun 1954-1959 ia diangkat sebagai Penasihat Militer di Departemen Pertahanan RI. Ia kemudian mengundurkan diri dengan pangkat Letnan Jenderal dari dinas aktifnya di kemiliteran karena perbedaan prinsipnya dengan Presiden Soekarno pada waktu itu.(bhc/ink)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar