Minggu, 15 Februari 2026

39 Pahlawan oleh SBY

Buatlah Risalah dan Infografis tentang Pahlawan :

Ignatius Joseph Kasimo Hendrowahyono

Lahir di Yogyakarta, 10 April 1900

Meninggal di Jakarta, 1 Agustus 1986 (Usia 86 tahun).

Pahlawan Nasional Indonesia, tokoh Katolik, dan pendiri Partai Katolik Indonesia. Lahir di Yogyakarta, ia adalah pejuang kemerdekaan yang dikenal melalui pemikiran nasionalisme, pencetus "Kasimo Plan" untuk swasembada pangan, serta pernah menjabat menteri di era awal kemerdekaan. 

Makam: Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta

Agama: Katolik (dibaptis tahun 1913)

Orang Tua: Ronosentika (Prajurit Keraton Yogyakarta) dan Dalikem

Pendidikan: Sekolah Guru Muntilan (asuhan Romo van Lith), Middelbare Landbouw School (Sekolah Pertanian) Bogor 

Karier dan Perjuangan:

Politikus: Anggota Volksraad (Dewan Rakyat) 1931-1942

Pendiri Partai: Pendiri Partai Katolik Indonesia dan Ketua Umum (1945–1961)

Menteri: Menjabat sebagai Menteri Muda Kemakmuran (Kabinet Amir Sjarifuddin), Menteri Persediaan Makanan Rakyat (Kabinet Hatta I & II), dan Menteri Perekonomian (Kabinet Burhanuddin Harahap)

Inovasi: Mencetuskan Kasimo Plan (rencana produksi tiga tahun) untuk swasembada pangan

Penghargaan: Gelar Pahlawan Nasional (2011), Bintang Ordo Gregorius Agung dari Paus Yohanes Paulus II (1980) 

I.J. Kasimo dikenal sebagai pejuang yang menjunjung tinggi prinsip salus populi suprema lex (kepentingan rakyat/keselamatan umum adalah hukum tertinggi) dalam berpolitik.

RISALAH & INFOGRAFIS PAHLAWAN NASIONAL

Ignatius Joseph Kasimo Hendrowahyono

Nama Lengkap: Ignatius Joseph Kasimo Hendrowahyono
Lahir: Yogyakarta, 10 April 1900
Wafat: Jakarta, 1 Agustus 1986 (usia 86 tahun)
Makam: TMP Kalibata
Gelar: Pahlawan Nasional Indonesia (2011)
Bidang: Politik, pertanian, kebangsaan
Agama: Katolik


๐Ÿงพ PROFIL SINGKAT

Ignatius Joseph Kasimo Hendrowahyono adalah tokoh nasionalis Katolik, pejuang kemerdekaan, dan negarawan bidang ekonomi–pangan. Ia dikenal sebagai pencetus Kasimo Plan untuk swasembada pangan serta pendiri Partai Katolik Indonesia. Kiprahnya menonjol dalam perumusan kebijakan kemakmuran rakyat pada masa awal Republik.


๐ŸŽ“ PENDIDIKAN

  • Sekolah Guru Muntilan (asuhan Romo van Lith)
  • Middelbare Landbouw School (Sekolah Pertanian) Bogor
  • Pendidikan berbasis pertanian, sosial, dan kepemimpinan rakyat

๐Ÿ›️ KARIER & JABATAN

  • Anggota Volksraad (Dewan Rakyat) : 1931–1942
  • Pendiri & Ketua Umum Partai Katolik Indonesia : 1945–1961
  • Menteri Muda Kemakmuran (Kabinet Amir Sjarifuddin)
  • Menteri Persediaan Makanan Rakyat (Kabinet Hatta I & II)
  • Menteri Perekonomian (Kabinet Burhanuddin Harahap)

๐ŸŒพ KASIMO PLAN (PROGRAM TIGA TAHUN)

Tujuan: Mewujudkan swasembada pangan nasional

Pokok Program:

  • Intensifikasi pertanian rakyat
  • Perluasan lahan tanam
  • Perbaikan distribusi bahan pangan
  • Pendidikan teknik pertanian
  • Penguatan koperasi desa

Program ini menjadi salah satu konsep awal pembangunan ketahanan pangan Indonesia.


๐Ÿ‡ฎ๐Ÿ‡ฉ PERJUANGAN & GAGASAN

  • Aktif memperjuangkan kemerdekaan melalui jalur parlemen dan kebijakan
  • Mengusung nasionalisme lintas agama
  • Menekankan politik berbasis etika dan kesejahteraan rakyat
  • Memegang prinsip: salus populi suprema lex — keselamatan rakyat adalah hukum tertinggi

๐Ÿ… PENGHARGAAN

  • Pahlawan Nasional Indonesia (2011)
  • Bintang Ordo Gregorius Agung (1980) dari
    Paus Yohanes Paulus II

๐Ÿ“Œ NILAI KETELADANAN

  • Integritas dalam politik
  • Fokus pada kesejahteraan rakyat
  • Pelopor kebijakan pangan nasional
  • Nasionalis religius dan inklusif
  • Konsisten membangun dari sektor riil



Buatlah Risalah dan Infografis tentang Pahlawan :

Maskoen Soemodiredja 

Lahir di Bandung, Jawa Barat, 25 Mei 1907.

Meninggal di Jakarta, 4 Januari 1986.

Orang Tua: Putra dari pasangan Raden Umar Soemadiredja dan Nyi Raden Umi.

Maskoen Soemadiredja (1907–1986) adalah seorang pahlawan nasional Indonesia yang dikenal sebagai tokoh pergerakan politik yang setia mendampingi perjuangan Soekarno di masa kolonial. 

Jejak Perjuangan

1. Aktivisme Politik di PNI: Maskoen mulai aktif dalam dunia politik sejak tahun 1927. Ia bergabung dengan Partai Nasional Indonesia (PNI) yang dipimpin oleh Soekarno dan dipercaya menjabat sebagai komisaris sekaligus Sekretaris II PNI Cabang Bandung.

2. Penangkapan dan Penjara Banceuy: Karena aktivitas politiknya yang dianggap membahayakan pemerintah kolonial Belanda, ia ditangkap bersama Soekarno, Gatot Mangkoepradja, dan Soepriadinata pada akhir 1929. Ia turut dipenjara di Penjara Banceuy, Bandung.

3. Pengasingan ke Boven Digoel dan Australia: Setelah dibebaskan, ia kembali ditangkap karena kegiatannya di Pendidikan Nasional Indonesia (PNI-Baru) dan diasingkan ke Boven Digoel, Papua. Saat pecah Perang Dunia II, ia termasuk dalam kelompok tahanan politik yang dipindahkan oleh Belanda ke Australia untuk menghindari jatuh ke tangan Jepang.

4. Pasca-Kemerdekaan: Setelah Indonesia merdeka, ia melanjutkan pengabdiannya di pemerintahan, antara lain pernah menjabat sebagai Residen Jakarta dan aktif di Departemen Sosial. 

Perjuangannya menitikberatkan pada kesetiaan ideologi nasionalisme dan keteguhan hati menghadapi pembuangan demi cita-cita kemerdekaan bangsa Indonesia.


Berikut Risalah & Infografis Pahlawan Nasional yang telah disusun rapi dan siap dijadikan bahan poster atau cetak:


RISALAH PAHLAWAN NASIONAL

MASKOEN SOEMODIREDJA

๐Ÿ“ Lahir : Bandung, Jawa Barat, 25 Mei 1907
๐Ÿ“ Wafat : Jakarta, 4 Januari 1986


Sekilas Tentang Maskoen Soemodiredja

Maskoen Soemodiredja (1907–1986) adalah tokoh pergerakan nasional yang dikenal sebagai pejuang setia yang mendampingi perjuangan Soekarno pada masa kolonial Belanda.

Ia dikenal sebagai sosok nasionalis yang teguh, berani menghadapi penjara dan pengasingan demi cita-cita kemerdekaan Indonesia.


Identitas Singkat

  • Nama Lengkap: Maskoen Soemodiredja
  • Orang Tua: Raden Umar Soemadiredja & Nyi Raden Umi
  • Asal: Bandung, Jawa Barat
  • Bidang Perjuangan: Politik & Pergerakan Nasional
  • Karakter Perjuangan: Ideologis, setia pada nasionalisme, tahan uji dalam pengasingan

Jejak Perjuangan

1️⃣ Aktivisme Politik di PNI (1927)

Maskoen mulai aktif dalam dunia politik sejak 1927 dengan bergabung dalam:

Partai Nasional Indonesia

PNI dipimpin oleh Soekarno dan menjadi wadah utama perjuangan kemerdekaan berbasis nasionalisme.

Di PNI Cabang Bandung, Maskoen dipercaya sebagai:

  • Komisaris
  • Sekretaris II

Perannya menunjukkan kepercayaan besar terhadap integritas dan militansinya.


2️⃣ Penangkapan & Penjara Banceuy (1929)

Pada akhir 1929, pemerintah kolonial Belanda menangkap para tokoh PNI karena dianggap mengancam kekuasaan kolonial.

Maskoen ditangkap bersama:

  • Soekarno
  • Gatot Mangkoepradja
  • Soepriadinata

Ia dipenjara di Penjara Banceuy, Bandung, tempat yang menjadi saksi lahirnya pledoi terkenal Soekarno “Indonesia Menggugat”.


3️⃣ Pengasingan ke Boven Digoel & Australia

Setelah bebas, Maskoen kembali aktif dalam gerakan nasional melalui Pendidikan Nasional Indonesia (PNI-Baru).

Akibatnya, ia kembali ditangkap dan diasingkan ke:

๐Ÿ“ Boven Digoel, Papua – tempat pembuangan tahanan politik paling keras pada masa kolonial.

Saat Perang Dunia II pecah, Belanda memindahkan sejumlah tahanan politik, termasuk Maskoen, ke Australia, untuk mencegah mereka jatuh ke tangan Jepang.

Pengasingan ini menunjukkan keteguhan hatinya menghadapi penderitaan demi kemerdekaan.


4️⃣ Pengabdian Pasca-Kemerdekaan

Setelah Indonesia merdeka, Maskoen tetap mengabdi kepada negara, antara lain sebagai:

  • Residen Jakarta
  • Pejabat di Departemen Sosial Republik Indonesia

Ia melanjutkan perjuangan melalui jalur pemerintahan untuk membangun bangsa yang baru merdeka.


Nilai Perjuangan

✔ Setia pada ideologi nasionalisme
✔ Konsisten mendampingi perjuangan Soekarno
✔ Tahan uji dalam penjara dan pengasingan
✔ Mengutamakan pengabdian daripada kepentingan pribadi
✔ Berjuang tanpa pamrih demi kemerdekaan


Kesimpulan

Maskoen Soemodiredja adalah simbol keteguhan dan kesetiaan dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Ia bukan hanya pejuang di garis depan politik, tetapi juga pribadi yang rela menanggung penderitaan panjang demi cita-cita bangsa.

Perjuangannya membuktikan bahwa kemerdekaan Indonesia lahir dari pengorbanan banyak tokoh yang tetap teguh meski dibuang, dipenjara, dan diasingkan.


Jika Anda ingin, saya bisa:

  • Membuat versi infografis hitam putih vintage siap cetak
  • Membuat versi poster ringkas satu halaman A4
  • Membuat versi timeline kronologi kehidupan
  • Membuat versi naskah pidato Hari Pahlawan



Buatlah Risalah dan Infografis tentang Pahlawan :

Gatot Mangkupraja 

Lahir di Sumedang, Jawa Barat, 25 Desember 1898.

Meninggal di Bandung, Jawa Barat, 4 Oktober 1968 (Dimakamkan di TPU Sirnaraga, Bandung).

Gatot Mangkupraja (25 Desember 1898 – 4 Oktober 1968) adalah pahlawan nasional Indonesia asal Sumedang, Jawa Barat, yang dikenal sebagai inisiator pembentukan milisi Pembela Tanah Air (PETA) pada masa pendudukan Jepang. Ia merupakan pejuang pergerakan nasional yang aktif di Perhimpunan Indonesia, PNI, serta tokoh Muhammadiyah yang berperan dalam Laskar Hizbullah. 

Perjuangan dan Sepak Terjang

1. Masa Pergerakan Nasional: Aktif di Perhimpunan Indonesia dan pernah dipenjara oleh Belanda di penjara Sukamiskin, Bandung, bersama Soekarno, Maskoen, dan Supriadinata pada tahun 1930-an.

2. Masa Pendudukan Jepang: Menjadi pengurus Gerakan 3A. Namun, inisiatif utamanya adalah mengajukan usul kepada Jepang untuk membentuk PETA (Pembela Tanah Air) pada 3 Oktober 1943, yang menjadi cikal bakal Tentara Nasional Indonesia (TNI).

3. Masa Pertahanan Kemerdekaan: Terlibat aktif dalam Laskar Hizbullah untuk melawan kembalinya Belanda.

4. Pasca Kemerdekaan: Terus aktif dalam dunia politik dan organisasi, termasuk bergabung dengan PNI kembali pada 1948 dan mendirikan Gerakan Pembela Panca Sila (GPPS) untuk Pemilu 1955.

Perjuangan di Perhimpunan Indonesia (Belanda)

Berdasarkan catatan sejarah, Gatot Mangkoepradja adalah bagian dari generasi intelektual muda yang giat berjuang melawan kolonialisme.

Aktivis Pergerakan: Sebelum masa pendudukan Jepang, Gatot aktif dalam pergerakan nasional di Indonesia.

Fokus Perjuangan: Perjuangannya di Belanda (melalui perhimpunan pelajar/aktivis) berfokus pada diplomasi dan penanaman semangat kebangsaan untuk menuntut kemerdekaan Indonesia dari penjajahan Belanda. Beliau sering kali menyuarakan perlunya perlawanan sistematis terhadap pemerintah kolonial.

Koneksi Pemikiran: Bersama tokoh seperti Bung Karno, ia berfokus pada penggalangan persatuan pemuda untuk melepaskan diri dari belenggu kolonial.

Perjuangan di Masa Penjajahan Jepang (PETA)

Ini adalah puncak perjuangan yang paling dikenal dari Gatot Mangkoepradja:

Ide Pembentukan PETA: Pada tahun 1943, di tengah situasi Perang Asia Timur Raya, Gatot Mangkoepradja mengirimkan surat kepada Gunseikan (Pemimpin Tertinggi Tentara Jepang) yang berisi permohonan agar dibentuk tentara sukarela yang terdiri dari pemuda Indonesia.

Bapak PETA: Gagasan ini didasari keinginan agar pemuda Indonesia memiliki kemampuan militer untuk mempertahankan tanah airnya. Usulan tersebut diterima, dan berdirilah Tentara Sukarela Pembela Tanah Air (PETA) yang kelak menjadi inti Tentara Nasional Indonesia (TNI).

Aktivis Muhammadiyah: Selain di militer, beliau dikenal sebagai kader Muhammadiyah yang berperan dalam perjuangan Islam dan nasionalisme di Jawa Barat.

Perjuangan Setelah Kemerdekaan

Setelah proklamasi, beliau terus berkontribusi dalam pemerintahan dan pertahanan.

Beliau aktif dalam mendukung pemerintahan Republik Indonesia yang baru berdiri.


RISALAH PAHLAWAN NASIONAL

Gatot Mangkupraja

25 Desember 1898 – 4 Oktober 1968

Lahir: Sumedang, Jawa Barat
Wafat: Bandung, Jawa Barat
Dimakamkan: TPU Sirnaraga, Bandung

Gatot Mangkupraja adalah Pahlawan Nasional Indonesia yang dikenal sebagai penggagas pembentukan PETA (Pembela Tanah Air) pada masa pendudukan Jepang. Gagasannya menjadi fondasi penting lahirnya kekuatan militer nasional yang kemudian berkembang menjadi Tentara Nasional Indonesia (TNI).

Ia merupakan tokoh pergerakan nasional yang aktif di berbagai organisasi perjuangan, memperjuangkan kemerdekaan melalui jalur diplomasi, organisasi politik, dan pembinaan kekuatan pertahanan rakyat.


I. MASA PERGERAKAN NASIONAL

Gatot Mangkupraja aktif dalam dunia pergerakan sejak masa kolonial Belanda.

  • Terlibat dalam Perhimpunan Indonesia
  • Aktif di Partai Nasional Indonesia (PNI)
  • Dipenjara di Sukamiskin pada 1930-an bersama:
    • Soekarno
    • Maskoen
    • Supriadinata

Fokus Perjuangan

  • Menanamkan semangat nasionalisme
  • Menggalang persatuan pemuda
  • Melawan kolonialisme melalui gerakan politik dan intelektual

II. MASA PENDUDUKAN JEPANG (1942–1945)

Pada masa pendudukan Jepang, Gatot sempat menjadi pengurus Gerakan 3A.

Namun peran terbesarnya adalah:

✦ Penggagas PETA (1943)

Pada 3 Oktober 1943, Gatot mengajukan usul kepada pemerintah militer Jepang agar dibentuk tentara sukarela Indonesia.

Hasilnya lahirlah:

Pembela Tanah Air (PETA)

PETA menjadi:

  • Sarana pelatihan militer pemuda Indonesia
  • Cikal bakal terbentuknya TNI
  • Fondasi pertahanan nasional pasca kemerdekaan

Karena peran inilah beliau dikenal sebagai “Bapak PETA.”


III. PERJUANGAN ISLAM & HIZBULLAH

Gatot Mangkupraja juga merupakan tokoh aktif di Muhammadiyah.

Ia berperan dalam pengorganisasian kekuatan umat melalui:

Laskar Hizbullah

Perannya memadukan nilai keislaman dan nasionalisme dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan.


IV. MASA PERTAHANAN KEMERDEKAAN

Setelah Proklamasi 17 Agustus 1945:

  • Aktif mempertahankan Republik Indonesia
  • Mendukung konsolidasi kekuatan militer nasional
  • Berkontribusi dalam organisasi politik pasca kemerdekaan

Pada 1948 ia kembali bergabung dengan PNI dan kemudian mendirikan:

Gerakan Pembela Pancasila (GPPS)

untuk menghadapi Pemilu 1955.


INFOGRAFIS RINGKAS

Nama: Gatot Mangkupraja
Lahir: 25 Desember 1898 – Sumedang
Wafat: 4 Oktober 1968 – Bandung

Peran Utama:

✔ Penggagas PETA (1943)
✔ Tokoh Pergerakan Nasional
✔ Aktivis Muhammadiyah
✔ Pejuang Pertahanan Kemerdekaan

Kontribusi Besar:

  • Meletakkan dasar kekuatan militer nasional
  • Menggalang persatuan pemuda
  • Mengintegrasikan nilai Islam dan nasionalisme
  • Mendukung pemerintahan Republik Indonesia

NILAI KEPAHLAWANAN

• Visioner dalam strategi perjuangan
• Berani mengambil inisiatif di masa sulit
• Nasionalis dan religius
• Konsisten memperjuangkan kemerdekaan hingga akhir hayat


Jika Anda ingin, saya bisa membuat versi poster infografis hitam-putih atau versi berwarna siap cetak (A4/A3) dari risalah ini.



133

Buatlah Risalah dan Infografis tentang Pahlawan :

Pajonga Daeng Ngalie

Gelar Adat: Karaeng Polongbangkeng ke-12 (diangkat tahun 1934).


Lahir di Takalar, Sulawesi Selatan, tahun 1901.


Meninggal di Takalar, Sulawesi Selatan, 23 Februari 1958.


Haji Pajonga Daeng Ngalle Karaeng Polongbangkeng (1901–1958) adalah pahlawan nasional dari Takalar, Sulawesi Selatan, yang dikenal karena keteguhannya mempertahankan kemerdekaan Indonesia melawan Belanda.


Perjuangan Melawan Penjajah

1. Pajonga Daeng Ngalle memainkan peran krusial dalam menyatukan kekuatan pejuang di wilayah Sulawesi Selatan:

2. Penyatuan Bangsawan: Pada Oktober 1945, ia memprakarsai konferensi para raja dan bangsawan Sulawesi Selatan untuk menyatakan dukungan penuh kepada Republik Indonesia di bawah Gubernur Sam Ratulangi.

3. Pembentukan Laskar: Ia mendirikan laskar perlawanan bernama Laskar Gerakan Muda Bajoang untuk melakukan perjuangan bersenjata melawan tentara NICA/Belanda yang kembali masuk ke wilayahnya.

4. Menolak Kerjasama dengan Belanda: Meskipun wilayah Polongbangkeng mendapat tekanan hebat, ia secara konsisten menolak tawaran kerja sama dengan Belanda demi kedaulatan bangsa.

Pusat Perjuangan: Menjadikan wilayah Polongbangkeng sebagai basis pertahanan para pejuang dari berbagai daerah di Sulawesi Selatan untuk menyusun strategi perang gerilya.



RISALAH PAHLAWAN NASIONAL

Pajonga Daeng Ngalie

Gelar Adat: Karaeng Polongbangkeng ke-12 (diangkat 1934)
Lahir: Takalar, Sulawesi Selatan, 1901
Wafat: Takalar, 23 Februari 1958

Haji Pajonga Daeng Ngalle Karaeng Polongbangkeng adalah Pahlawan Nasional dari Takalar, Sulawesi Selatan, yang dikenal karena keteguhan dan keberaniannya mempertahankan kemerdekaan Indonesia dari upaya kembalinya penjajah Belanda pasca Proklamasi 1945.

Sebagai bangsawan sekaligus pemimpin rakyat, ia memadukan kepemimpinan adat, semangat nasionalisme, dan perjuangan bersenjata demi tegaknya Republik Indonesia.


I. KEDUDUKAN & PERAN ADAT

Pada tahun 1934, ia diangkat sebagai:
Karaeng Polongbangkeng ke-12

Sebagai pemimpin adat, ia memiliki pengaruh besar dalam:

  • Menyatukan bangsawan dan rakyat
  • Menggerakkan kekuatan sosial dan militer
  • Menjadikan wilayah Polongbangkeng sebagai pusat perjuangan

II. PERJUANGAN MELAWAN PENJAJAH

✦ Penyatuan Bangsawan (Oktober 1945)

Pajonga Daeng Ngalle memprakarsai konferensi raja dan bangsawan Sulawesi Selatan untuk:
✔ Menyatakan dukungan kepada Republik Indonesia
✔ Mengakui kepemimpinan Gubernur Sulawesi saat itu,
Sam Ratulangi

Langkah ini memperkuat legitimasi Republik di wilayah Indonesia Timur.


✦ Pembentukan Laskar Perlawanan

Ia mendirikan:

Laskar Gerakan Muda Bajoang

Tujuannya:

  • Melawan tentara NICA/Belanda
  • Mengorganisasi perjuangan bersenjata rakyat
  • Melaksanakan strategi perang gerilya

✦ Menolak Kerja Sama dengan Belanda

Meskipun mendapat tekanan militer dan politik yang berat:
• Ia menolak tawaran kompromi dengan Belanda
• Tetap setia kepada Republik Indonesia
• Mengutamakan kedaulatan bangsa di atas kepentingan pribadi


III. POLONGBANGKENG: BASIS PERTAHANAN

Wilayah Polongbangkeng dijadikan:

  • Pusat konsolidasi pejuang Sulawesi Selatan
  • Tempat penyusunan strategi perang gerilya
  • Markas perlawanan terhadap pasukan NICA

Keputusan ini menjadikan Takalar sebagai salah satu titik penting perjuangan mempertahankan kemerdekaan di kawasan timur Indonesia.


INFOGRAFIS RINGKAS

Nama: Haji Pajonga Daeng Ngalle
Gelar: Karaeng Polongbangkeng XII
Lahir: 1901 – Takalar
Wafat: 23 Februari 1958 – Takalar

Peran Utama:

✔ Pemimpin adat pejuang kemerdekaan
✔ Penggagas konferensi bangsawan pro-Republik (1945)
✔ Pendiri Laskar Gerakan Muda Bajoang
✔ Basis pertahanan gerilya di Polongbangkeng


NILAI KEPAHLAWANAN

• Teguh mempertahankan kedaulatan
• Berani menolak kompromi dengan penjajah
• Mampu menyatukan bangsawan dan rakyat
• Nasionalis dan religius
• Pemimpin adat yang berpihak pada Republik


Jika Anda ingin, saya bisa membuat versi poster infografis hitam-putih bergaya klasik atau versi berwarna siap cetak (A4/A3) tentang Pajonga Daeng Ngalie.

 Sukarno dan Hatta dapat gelar lagi 2012




134

Buatlah Risalah dan Infografis tentang Pahlawan :

Opu Daeng Risadju 

Nama Kecil: Famajjah.

Gelar: Opu Daeng Risadju (gelar kebangsawanan Luwu).

Lahir di Palopo, Sulawesi Selatan, 1880

Meninggal di Palopo, Sulawesi Selatan, 10 Februari 1964.

Opu Daeng Risadju (1880–1964) adalah pahlawan nasional wanita asal Palopo, Sulawesi Selatan, yang dikenal sebagai ketua PSII pertama yang memimpin perlawanan anti-Belanda. Sebagai bangsawan, ia menggerakkan rakyat, menyebarkan semangat nasionalisme, dan disiksa oleh Belanda hingga tuli, namun tetap gigih memperjuangkan kemerdekaan melalui jalur politik. 

Orang Tua: Opu Daeng Mawellu dan Muhammad Abdullah To Barengseng.

Pendidikan: Tidak menempuh sekolah formal, hanya belajar mengaji Alquran dan ilmu agama.

Suami: Haji Muhammad Daud.

Perjuangan Opu Daeng Risadju

1. Aktivis PSII: Pada tahun 1930, ia mendirikan dan memimpin Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII) cabang Palopo, menjadikannya wanita pertama di Indonesia yang menjadi pucuk pimpinan partai politik yang berasaskan Islam.

2. Melawan Penjajahan: Perjuangannya di PSII menentang Belanda dan NICA di Luwu, Sulawesi Selatan, melalui agitasi politik dan mobilisasi rakyat.

3. Disiksa dan Dipenjara: Akibat kegiatannya, Belanda menangkap dan memenjarakannya selama 14 bulan. Ia disiksa secara fisik, termasuk dipaksa berjalan kaki sejauh 40 km, dan gendang telinganya dipecahkan dengan senapan oleh tentara NICA, menyebabkannya tuli seumur hidup.

4. Menanggalkan Kebangsawanan: Ia rela melepaskan hak istimewanya sebagai bangsawan dan memilih berjuang bersama rakyat biasa.

Penyiksaan Belanda hingga Tuli:

Opu Daeng Risadju disiksa hingga tuli seumur hidup oleh Belanda (dan anteknya, Kepala Distrik Bajo Ladu Kalapita) saat ditahan di Bone-Bajo. Penyiksaan dilakukan dengan memaksanya berdiri tegak di bawah terik matahari, kemudian pelaku meletakkan laras senapan di pundak/dekat telinga dan menembakkannya berkali-kali. Akibatnya, gendang telinga beliau pecah dan menjadi tuli, namun ia tetap teguh dalam pendirian. 

Ia juga dipaksa jalan kaki 40 km.

Ia disiksa secara kejam hingga tuli seumur hidup setelah tertangkap NICA pada masa revolusi (sekitar 1946–1947), dan sebelumnya pernah dipenjara 14 bulan pada 1934 karena perjuangan politiknya.

Dampak: Akibat penyiksaan tersebut, beliau menjadi tuli seumur hidup.

Penahanan: Ditahan selama kurang lebih 11 bulan di penjara Bone, Sengkang, dan Bajo sebelum dibebaskan tanpa diadili. 

Opu Daeng Risadju wafat pada tahun 1964 dan dimakamkan di pemakaman raja-raja Lokkoe di Palopo.



Berikut Risalah & Infografis Pahlawan Nasional yang telah disusun rapi dan siap dijadikan bahan poster atau cetak:


RISALAH PAHLAWAN NASIONAL

OPU DAENG RISADJU

(Nama Kecil: Famajjah)

๐Ÿ“ Lahir : Palopo, Sulawesi Selatan, 1880
๐Ÿ“ Wafat : Palopo, 10 Februari 1964
๐Ÿ“ Dimakamkan : Kompleks Makam Raja-Raja Lokkoe, Palopo


Sekilas Tentang Opu Daeng Risadju

Opu Daeng Risadju adalah pahlawan nasional perempuan asal Luwu, Sulawesi Selatan. Ia dikenal sebagai bangsawan yang menanggalkan hak istimewanya demi memimpin perjuangan rakyat melawan penjajahan Belanda.

Ia menjadi perempuan pertama di Indonesia yang memimpin partai politik Islam, serta tetap teguh berjuang meskipun disiksa hingga tuli seumur hidup.


Identitas Singkat

  • Nama Kecil: Famajjah
  • Gelar: Opu Daeng Risadju (gelar kebangsawanan Luwu)
  • Orang Tua: Opu Daeng Mawellu & Muhammad Abdullah To Barengseng
  • Suami: Haji Muhammad Daud
  • Pendidikan: Belajar mengaji Al-Qur’an dan ilmu agama (tanpa sekolah formal)
  • Daerah Perjuangan: Luwu, Sulawesi Selatan

Jejak Perjuangan

1️⃣ Aktivis PSII (1930)

Pada tahun 1930, ia mendirikan dan memimpin cabang:

Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII) di Palopo.

Ia menjadi ketua perempuan pertama partai politik Islam di Indonesia.

Melalui PSII, ia:

  • Menyebarkan semangat nasionalisme
  • Menggerakkan rakyat Luwu
  • Mengkritik kebijakan kolonial Belanda

2️⃣ Melawan Penjajahan Belanda & NICA

Perjuangannya dilakukan melalui:

  • Agitasi politik
  • Mobilisasi rakyat
  • Seruan perlawanan terhadap kolonialisme

Ia menentang Belanda dan NICA di wilayah Luwu dengan keberanian luar biasa sebagai seorang bangsawan perempuan.


3️⃣ Penangkapan & Penyiksaan

Akibat aktivitas politiknya:

๐Ÿ“Œ Tahun 1934
Ia dipenjara selama 14 bulan oleh pemerintah kolonial Belanda.

๐Ÿ“Œ Masa Revolusi (1946–1947)
Ia kembali ditangkap oleh NICA dan ditahan di Bone, Sengkang, dan Bajo selama ±11 bulan tanpa pengadilan.

Penyiksaan Kejam

  • Dipaksa berjalan kaki sejauh 40 km
  • Dipaksa berdiri di bawah terik matahari
  • Laras senapan ditembakkan berulang kali di dekat telinganya

Akibatnya, gendang telinganya pecah dan ia menjadi tuli seumur hidup.

Meski demikian, ia tidak pernah menyerah dan tetap teguh pada perjuangan kemerdekaan.


4️⃣ Menanggalkan Kebangsawanan

Sebagai bangsawan Luwu, ia sebenarnya memiliki hak istimewa.

Namun, Opu Daeng Risadju memilih:
✔ Hidup bersama rakyat
✔ Meninggalkan kenyamanan bangsawan
✔ Berjuang untuk kemerdekaan Indonesia


Nilai Keteladanan

✔ Berani melawan penjajah
✔ Teguh meski disiksa
✔ Rela kehilangan pendengaran demi bangsa
✔ Pemimpin perempuan pelopor politik Islam
✔ Setia pada cita-cita kemerdekaan


Dampak & Warisan

Perjuangannya menjadikan Opu Daeng Risadju sebagai:

  • Simbol perlawanan perempuan Sulawesi Selatan
  • Inspirasi kepemimpinan perempuan Indonesia
  • Teladan keberanian dan keteguhan hati

Ia wafat pada 10 Februari 1964 dan dimakamkan di kompleks makam raja-raja Lokkoe di Palopo.


Kesimpulan

Opu Daeng Risadju membuktikan bahwa perjuangan kemerdekaan tidak mengenal batas gender maupun status sosial.

Meskipun disiksa hingga kehilangan pendengaran, semangat nasionalismenya tidak pernah padam. Ia adalah simbol keberanian, keteguhan, dan pengorbanan perempuan Indonesia dalam merebut kemerdekaan.


Jika Anda ingin, saya bisa membuat:

  • Versi infografis hitam putih vintage siap cetak
  • Versi poster A4 ringkas
  • Versi naskah pidato Hari Pahlawan
  • Versi timeline kronologi kehidupan beliau




149

Buatlah Risalah dan Infografis tentang Pahlawan :

Johannes Abraham Dimara

Lahir di Korem, Biak Utara, Papua, 16 April 1916.

Meninggal di Jakarta, 20 Oktober 2000 (usia 84 tahun). 

Dimaksudkan di TMP Kalibata, Jakarta.

  • Julukan: Mutiara Hitam dari Papua.

Pangkat Terakhir: Mayor TNI.

Johannes Abraham Dimara adalah pahlawan nasional asal Papua yang menjadi tokoh kunci dalam perjuangan integrasi Irian Barat ke Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). 

Perjuangan dan Jasa Utama

1. Pelopor Pembebasan Irian Barat: Pada tahun 1950, ia memimpin Organisasi Pemberantasan Irian Barat (OPI) untuk melawan pendudukan Belanda.

2. Operasi Militer: Terlibat langsung dalam operasi militer Trikora untuk membebaskan tanah kelahirannya.

3. Diplomasi Internasional: Menjadi anggota delegasi Indonesia dalam perundingan Perjanjian New York 1962 di markas PBB, yang akhirnya memaksa Belanda menyerahkan Irian Barat kepada Indonesia.

4. Inspirasi Patung Pembebasan Irian Barat: Penampilannya saat pawai kemerdekaan dengan rantai terputus di tangan dan kaki menginspirasi Presiden Soekarno untuk membangun Monumen Pembebasan Irian Barat di Lapangan Banteng, Jakarta.

Atas dedikasinya, namanya diabadikan sebagai nama Pangkalan Udara Militer (Lanud) di Merauke sebagai bentuk penghormatan negara terhadap jasanya.


Bentuk Perjuangan & Aksi Angkat Senjata

Dimara tidak hanya berjuang melalui diplomasi, tetapi juga melalui perlawanan fisik yang berisiko tinggi: 

1. Gerilya di Hutan Papua: Pada tahun 1946, ia melakukan aksi gerilya di hutan-hutan Papua Barat untuk melawan pasukan Belanda. Karena aksi ini, ia ditangkap dan dipenjara oleh otoritas kolonial selama beberapa tahun.

2. Operasi Militer Pembebasan: Ia terlibat aktif dalam berbagai operasi militer untuk membebaskan Irian Barat. Salah satu peran ikoniknya adalah memimpin Organisasi Pemberantasan Irian Barat (OPI) pada tahun 1950 untuk menggalang perlawanan bersenjata terhadap Belanda.

3. Infiltrasi Teluk Etna: Dimara ikut serta dalam operasi infiltrasi ke wilayah Papua melalui jalur laut untuk menyusupkan pasukan Indonesia.

4. Kampanye Trikora: Bersama Presiden Soekarno, ia menyerukan Tri Komando Rakyat (Trikora) di Yogyakarta pada tahun 1961 untuk memobilisasi kekuatan militer nasional guna merebut Irian Barat. 


Fakta Menarik

Inspirator Patung Pembebasan: Penampilan Dimara saat pawai kemerdekaan—mengenakan seragam tentara dengan rantai terputus di tangan dan kaki sebagai simbol lepasnya Papua dari penjajahan—menginspirasi Soekarno untuk membangun Patung Pembebasan Irian Barat di Lapangan Banteng, Jakarta.

Diplomat: Selain di medan tempur, ia menjadi anggota delegasi Indonesia dalam perundingan Perjanjian New York 1962 di markas PBB, yang secara resmi mengakhiri kekuasaan Belanda di tanah kelahirannya. 


Perjuangan Saat PEPERA (1969)

Pada saat Penentuan Pendapat Rakyat (PEPERA) tahun 1969, yang bertujuan menentukan apakah Irian Barat ingin bergabung dengan Indonesia atau tidak, perjuangan Dimara berfokus pada integrasi penuh.

1. Menjamin Suara Papua: Sebagai tokoh Papua yang disegani dan loyal terhadap NKRI, Dimara berperan aktif dalam memastikan bahwa PEPERA berjalan sesuai harapan pemerintah Indonesia, yaitu Papua tetap menjadi bagian dari NKRI.

2. Melawan Propaganda Belanda: Ia bergerak di kalangan masyarakat Papua untuk melawan kampanye Belanda yang ingin mendirikan negara Papua merdeka.

3. Hasil Akhir: Berkat perjuangannya bersama tokoh lainnya, hasil PEPERA 1969 memutuskan bahwa Papua resmi bergabung dengan Indonesia, yang kemudian disahkan oleh PBB pada 19 November 1969. 


Kesimpulan

Johannes Abraham Dimara adalah pejuang lengkap (militer dan diplomat) yang mendedikasikan seluruh hidupnya untuk kembalinya Papua ke pangkuan NKRI. Perjuangannya tidak hanya melalui perlawanan fisik bersenjata tetapi juga diplomasi internasional.


RISALAH PAHLAWAN NASIONAL

Johannes Abraham Dimara

Julukan: Mutiara Hitam dari Papua
Lahir: Korem, Biak Utara, Papua – 16 April 1916
Wafat: Jakarta – 20 Oktober 2000
Dimakamkan: Taman Makam Pahlawan Kalibata
Pangkat Terakhir: Mayor TNI

Johannes Abraham Dimara adalah pahlawan nasional asal Papua yang menjadi tokoh kunci dalam perjuangan integrasi Irian Barat ke dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Ia dikenal sebagai pejuang lengkap: militer gerilya, organisator perlawanan, sekaligus diplomat internasional.


I. PELopor PEMBEBASAN IRIAN BARAT

✦ Organisasi Pemberantasan Irian Barat (1950)

Pada tahun 1950, Dimara memimpin:

Organisasi Pemberantasan Irian Barat (OPI)

Tujuan:
✔ Menggalang perlawanan rakyat Papua
✔ Melawan pendudukan Belanda
✔ Menegaskan bahwa Irian Barat bagian dari Indonesia


II. PERJUANGAN BERSENJATA

Dimara tidak hanya bergerak dalam diplomasi, tetapi juga terjun langsung di medan tempur.

1. Gerilya di Hutan Papua (1946)

  • Melakukan perlawanan terhadap Belanda
  • Ditangkap dan dipenjara oleh otoritas kolonial

2. Infiltrasi Teluk Etna

  • Menyusupkan pasukan Indonesia melalui jalur laut
  • Mendukung operasi militer pembebasan wilayah

3. Kampanye Trikora (1961)

Bersama Presiden
Soekarno
ia menyerukan:

Tri Komando Rakyat (Trikora)

Di Yogyakarta, Trikora menjadi seruan nasional untuk merebut Irian Barat melalui kekuatan militer dan politik.


III. DIPLOMASI INTERNASIONAL

Dimara juga menjadi anggota delegasi Indonesia dalam:

Perjanjian New York (1962)

Perundingan di markas PBB ini menghasilkan kesepakatan bahwa Belanda harus menyerahkan Irian Barat kepada Indonesia.

Ia membuktikan bahwa perjuangan kemerdekaan tidak hanya melalui senjata, tetapi juga melalui meja diplomasi.


IV. PERJUANGAN SAAT PEPERA (1969)

Dalam pelaksanaan:

Penentuan Pendapat Rakyat (PEPERA)

Peran Dimara meliputi:

✔ Menjamin dukungan masyarakat Papua terhadap NKRI
✔ Melawan propaganda Belanda
✔ Menguatkan integrasi penuh Papua ke Indonesia

Hasil PEPERA kemudian disahkan oleh PBB pada 19 November 1969.


V. INSPIRATOR MONUMEN PEMBEBASAN IRIAN BARAT

Penampilan Dimara dalam pawai kemerdekaan—mengenakan seragam tentara dengan rantai terputus di tangan dan kaki—menginspirasi Presiden Soekarno membangun:

Monumen Pembebasan Irian Barat

di Lapangan Banteng, Jakarta.

Monumen tersebut menjadi simbol terbebasnya Papua dari penjajahan.


VI. PENGHORMATAN NEGARA

Namanya diabadikan sebagai:

Lanud Johannes Abraham Dimara

di Merauke sebagai bentuk penghormatan atas jasanya.


INFOGRAFIS RINGKAS

Nama: Johannes Abraham Dimara
Julukan: Mutiara Hitam dari Papua
Pangkat: Mayor TNI
Lahir: 16 April 1916 – Biak Utara
Wafat: 20 Oktober 2000 – Jakarta

Peran Utama:

✔ Pemimpin OPI (1950)
✔ Pejuang Gerilya Papua
✔ Tokoh Trikora
✔ Delegasi Perjanjian New York 1962
✔ Penggerak integrasi Papua (PEPERA 1969)


NILAI KEPAHLAWANAN

• Patriotisme tinggi terhadap NKRI
• Berani berjuang di medan perang dan diplomasi
• Konsisten memperjuangkan integrasi Papua
• Simbol pembebasan dan persatuan bangsa


Jika Anda ingin, saya bisa membuat versi poster infografis hitam-putih bergaya klasik, versi modern minimalis, atau format siap cetak A3/A4 tentang Johannes Abraham Dimara.


145

Buatlah Risalah dan Infografis tentang Pahlawan :

Jahja Daniel Dharma 

Nama Lahir/Populer: Lie Tjeng Tjoan / John Lie.

Nama Islam/Indonesia: Jahja Daniel Dharma, 

diberikan saat menjadi perwira TNI.

Menikah dengan Pdt. Margaretha Dharma Angkuw pada 1966.

Lahir di Manado, Sulawesi Utara, 9 Maret 1911.

Meninggal di Jakarta, 27 Agustus 1988.

.Dimakamkan di TMP No Kalibata.

Pangkat Terakhir: Laksamana Muda TNI.


Laksamana Muda TNI (Purn) Jahja Daniel Dharma, atau lebih dikenal sebagai John Lie, adalah pahlawan nasional keturunan Tionghoa kelahiran Manado (9 Maret 1911 - 27 Agustus 1988) yang dijuluki "Hantu Selat Malaka". Ia berjasa menembus blokade laut Belanda menggunakan kapal The Outlaw untuk menyelundupkan senjata dan logistik demi mempertahankan kemerdekaan RI. 



Perjuangan dan Peran

1. Awal Karier: Memulai karier sebagai buruh pelabuhan di Batavia dan mualim di perusahaan Belanda (KPM), lalu bergabung dengan Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pada 1946.

2. Hantu Selat Malaka: Selama masa revolusi (1947), John Lie bertugas menembus blokade laut Belanda di Selat Malaka untuk membawa senjata dan bahan pangan dari luar negeri ke Indonesia menggunakan kapal The Outlaw.

3. Operasi Militer: Berperan dalam penumpasan pemberontakan Republik Maluku Selatan (RMS) pada 1950 sebagai komandan eskader ALRI, serta penumpasan PRRI/Permesta.

4. Komandan Kapal: Pernah menjabat sebagai Komandan Kapal RI Rajawali dan Komandan Kapal Bendera RI Gajah Mada sebelum pensiun pada Desember 1966.


Benarkah Pak Harto Minta Tunggu?


1. Berdasarkan kesaksian dan catatan sejarah, ketika John Lie meninggal dunia pada 27 Agustus 1988, Presiden Soeharto sedang melakukan kunjungan kerja/kegiatan di luar negeri atau luar kota (beberapa sumber menyebutkan Makassar/luar kota, namun intinya Pak Harto sedang tidak di Jakarta dan ingin memberikan penghormatan terakhir secara langsung). 

2. Presiden Soeharto sangat menghormati dedikasi John Lie.

3. Pak Harto meminta pihak keluarga untuk menunda pemakaman selama satu hari agar beliau bisa hadir melayat.

4. John Lie akhirnya dimakamkan dengan penghormatan militer penuh di TMP Kalibata. 

Tambahan: Pemakaman John Lie di Kalibata adalah hal yang istimewa karena merupakan salah satu dari sedikit pahlawan dari etnis Tionghoa yang dimakamkan di sana pada era tersebut, membuktikan besarnya pengakuan negara atas jasanya.

John Lie dikenal sebagai pelaut berani yang berdedikasi tinggi, yang mengabdikan hidupnya dari masa kemerdekaan hingga masa mempertahankan kedaulatan Indonesia.

RISALAH PAHLAWAN NASIONAL

John Lie

(Nama lahir: Lie Tjeng Tjoan | Nama TNI: Jahja Daniel Dharma)

Lahir: Manado, 9 Maret 1911
Wafat: Jakarta, 27 Agustus 1988
Dimakamkan: Taman Makam Pahlawan Kalibata
Pangkat Terakhir: Laksamana Muda TNI (Purn.)
Julukan: Hantu Selat Malaka


Profil Singkat

Laksamana Muda TNI (Purn.) Jahja Daniel Dharma, lebih dikenal sebagai John Lie, adalah pahlawan nasional keturunan Tionghoa yang mengabdikan hidupnya untuk kemerdekaan dan kedaulatan Republik Indonesia.

Keberaniannya menembus blokade laut Belanda pada masa Revolusi Fisik menjadikannya legenda Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI).

Ia menikah dengan Pdt. Margaretha Dharma Angkuw pada tahun 1966.


PERJUANGAN & PERAN STRATEGIS

1️⃣ Awal Karier

  • Pernah bekerja sebagai buruh pelabuhan di Batavia
  • Menjadi mualim di perusahaan pelayaran Belanda (KPM)
  • Bergabung dengan Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pada 1946

Pengalaman pelayaran internasionalnya menjadi modal besar dalam operasi laut revolusi.


2️⃣ “Hantu Selat Malaka” (1947)

Pada masa Agresi Militer Belanda, Belanda melakukan blokade laut terhadap Republik Indonesia.

Dengan kapal The Outlaw, John Lie:

  • Menembus blokade di Selat Malaka
  • Menyelundupkan senjata dan amunisi
  • Mengangkut logistik penting dari luar negeri
  • Mengamankan jalur suplai bagi Republik

Keberaniannya membuat Belanda menjulukinya “The Phantom of Malacca Strait” — Hantu Selat Malaka.


3️⃣ Operasi Militer Setelah Revolusi

John Lie juga berperan dalam:

  • Penumpasan pemberontakan Republik Maluku Selatan (1950)
  • Operasi menghadapi PRRI/Permesta
  • Menjadi Komandan Kapal RI Rajawali
  • Menjadi Komandan Kapal Bendera RI Gajah Mada

Ia pensiun pada Desember 1966 dengan pangkat Laksamana Muda.


Kisah Pemakaman & Penghormatan Negara

Saat beliau wafat pada 27 Agustus 1988, Presiden
Soeharto
sedang berada di luar Jakarta.

Berdasarkan sejumlah kesaksian:

  • Presiden meminta keluarga menunda pemakaman satu hari
  • Beliau ingin memberikan penghormatan terakhir secara langsung
  • John Lie dimakamkan dengan upacara militer penuh

Pemakaman di TMP Kalibata menjadi simbol pengakuan negara atas jasanya — terlebih sebagai salah satu tokoh Tionghoa yang dimakamkan di sana pada masa itu.


INFOGRAFIS SINGKAT

๐Ÿ“Œ IDENTITAS

  • Nama Lahir: Lie Tjeng Tjoan
  • Nama TNI: Jahja Daniel Dharma
  • Lahir: 9 Maret 1911 – Manado
  • Wafat: 27 Agustus 1988 – Jakarta
  • Pangkat: Laksamana Muda TNI

⚓ AKSI HEROIK

  • Menembus blokade laut Belanda
  • Menggunakan kapal The Outlaw
  • Dijuluki “Hantu Selat Malaka”
  • Operasi RMS & PRRI/Permesta

๐Ÿ… WARISAN

  • Simbol keberanian pelaut Indonesia
  • Dedikasi lintas etnis untuk NKRI
  • Dimakamkan dengan penghormatan militer di TMP Kalibata

NILAI KETELADANAN

✔ Keberanian strategis
✔ Loyalitas pada negara
✔ Profesionalisme militer
✔ Nasionalisme tanpa memandang latar belakang etnis


Jika Anda ingin, saya bisa langsung membuatkan poster hitam-putih gaya vintage revolusi laut, atau infografis modern bertema maritim (biru-abu, gaya militer ALRI).




*SBY TAHUN 2004*

Ada 6


*SBY TAHUN 2005*

Ada 3


*SBY TAHUN 2006*

Ada 8


ANTARA Nasional

*Presiden Anugerahkan Gelar Pahlawan Nasional Kepada 8 Tokoh Masyarakat*


 9 November 2006 11:50 WIB

     

Jakarta (ANTARA News) - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Istana Negara, Kamis, menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada delapan tokoh masyarakat, atas jasa-jasa mereka yang luar biasa kepada bangsa dan negara ini. Acara penganugerahan gelar kepahlawanan ini dihadiri pula oleh Ibu Negara Ani Yudhoyono, Wakil Presiden Jusuf Kalla dan Ny. Mufidah Kalla, Wakil Ketua DPD Irman Gusman, Menko Polhukam Widodo AS, Menhan Juwono Sudarsono, Sekretaris Kabinet Sudi Silalahi, serta sejumlah menteri dan pejabat tinggi lainnya, serta tampak mantan Menlu Ali Alatas. Gelar tersebut diberikan dalam rangka memperingati Hari Pahlawan 10 November 2006.


Delapan tokoh yang mendapat gelar Pahlawan Nasional itu adalah 

1. Teuku Muhammad Hassan (Aceh); 

2. Kiai Haji Noer Ali (Bekasi); 

3. Raden Mas Tirto Adhi Soeryo (Blora); 

4. Pajonga Daeng Ngalle Karaeng Polongbangkeng (Polongbangkeng, Sulsel); 

5. Opu Daeng Risadju (Palopo, Sulsel); 

6. Andi Sultan Daeng Radja(Sulsel); 

7. Izaac Huru Doko(Seba, NTT), serta 

8. Pangeran Mangkubumi Sultan Hamengku Buwono I (Yogyakarta). 


1. Muhammad Hassan yang lahir di Sigli Aceh merupakan anggota Panitia Persiapan Kemerdekan Indonesia atau PPKI perwakilan Sumatera. Semasa hidupnya dia pernah menjadi Wakil Ketua Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) dan merangkap Menteri Pendidikan dan Pengajaran serta Mendagri. 

2. Haji Noer Ali dikenal sebagai pendiri organisasi Persatuan Pelajar Betawi serta menjadi Ketua Komite Nasional Indonesia Daerah (KNID) Kecamatan Babelan, Bekasi. 

3. Raden Mas Tirto Adhi Soeryo adalah tokoh pers yang menjadi pionir pers pribumi dengan mendirikan koran "Soenda Berita" di Cianjur. Dia pernah mendapat gelar Perintis Pers dari Dewan Pers tahun 1973. 

4. Pajonga Daeng Ngalle Karaeng dikenal sebagai tokoh Sulsel yang ikut merumuskan revolusi mendukung Pemerintah RI di Sulawesi sebagai satu-satunya pemerintah yang sah di Sulawesi.

5. Opu Daeng Risadju dikenal sebagai tokoh perempuan yang merupakan anggota Partai Sarekat Dagang Islam Indonesia( PSII) di Pare-Pare. 

6. Andi Daeng Sultan Radja adalah penentang kehadiran penjajah Belanda di Sulawesi Selatan.

7. Izaac Huru Doko merupakan Ketua Partai Perserikatan Kebangsaan Timor di Kupang. 

8. Gelar Pahlawan Nasional adalah Hamengku Buwono I yang dikenal gigih membela Indonesia, terutama di wilayah Yogyakarta


*SBY TAHUN 2007*

Ada 4 dan 5 Tokoh


DAFTAR WARGANEGARA REPUBLIK INDONESIA YANG

MENERIMA ANUGERAH GELAR PAHLAWAN NASIONAL DAN

TANDA KEHORMATAN RI DALAM RANGKAIAN

HARI PAHLAWAN NASIONAL TAHUN 2007


1. ADNAN KAPAU GANI, dr (ALMARHUM) MAYOR JENDERAL TNI (PURN). Pejuang Sumatera Selatan. Gelar Pahlawan Nasional Keppres RI No. 066/TK/Tahun 2007. Tgl. 6 November 2007

2. IDE ANAK AGUNG GDE AGUNG, Mr. Dr. (ALMARHUM) Pejuang Bali Gelar Pahlawan Nasional Keppres RI No. 066/TK/Tahun 2007 Tgl. 6 November 2007

3. MOESTOPO, Prof. Dr. (ALMARHUM) MAYOR JENDERAL TNI (PURN) Pejuang Jawa Timur Gelar Pahlawan Nasional dan Bintang Mahaputera Adipradana Keppres RI No. 066/TK/Tahun 2007 Tgl. 6 November 2007

4. IGNATIUS SLAMET RIJADI

 (ALMARHUM) BRIGADIR JENDERAL TNI (ANUMERTA) Pejuang Jawa Tengah Gelar Pahlawan Nasional dan Bintang Mahaputera Adipradana Keppres RI No. 066/TK/Tahun 2007 Tgl. 6 November 2007

5. AHMAD DAHLAN RANUWIHARDJO, S.H. (ALMARHUM) Mantan Anggota Dewan Nasional RI (1957)/Mantan Anggota DPR GR/MPRS (1960-1968)/Mantan Wakil Ketua Komisi Hukum/ Dalam Negeri DPR GR (1965-1968)/Mantan Anggota Badan Pekerja MPRSรƒ‚(1966-1968) Bintang Mahaputera Utama Keppres RI No. 067/TK/Tahun 2007 Tanggal 6 November 2007

6. TEUNGKU MUHAMMAD HASBI ASH-SHIDDIEQY, Prof.Dr. (ALMARHUM) Mantan Anggota Konstituante (1955)/ Mantan Rektor Univ. Cokroaminoto, Surakarta (1961-1971)/Mantan Ketua Lembaga Fiqh Islam Indonesia (1961-1971) Bintang Mahaputera Utama Keppres RI No. 067/TK/Tahun 2007 Tanggal 6 November 2007

7. ROHANA KOEDOES  (ALMARHUMAH) Bintang Jasa Utama Keppres RI No. 068/TK/Tahun 2007 Tanggal 6 November 2007

8. NYA ABBAS AKUP (ALMARHUM) Sutradara Film dan Penulis Skenario Bintang Budaya Parama Dharma Keppres RI No. 069/TK/Tahun 2007 Tanggal 6 November 2007

9. DAENG SOETIGNA (ALMARHUM) Pendidik/Guru Pengembang dan Pelestari Angklung Keppres RI No. 069/TK/Tahun 2007 Tanggal 6 November 2007


*SBY TAHUN 2008*

Ada 3


Presiden Yudhoyono Anugerahkan Gelar Pahlawan Nasional

 7 November 2008 09:45 WIB

     

Jakarta, (ANTARA News) - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono atas nama negara menganugerahkan gelar pahlwan nasional dan bintang Mahaputera Adipradana kepada mantan 

1. Perdana Menteri Dr.Mohammad Natsir, anggota panitia pembelaan tanah air 

2. KH Abdul Halim serta tokoh pertempuran 10 November 1945 

3. Soetomo atau yang dikenal dengan Bung Tomo.


Penganugerahan gelar pahlawan nasional dan bintang Mahaputera Adipradana tersebut berlangsung Jumat, di Istana Negara Jakarta.Selain itu dianugerahkan pula Bintang Mahaputera Utama pada tokoh pejuang dari Kerajaan Sawitto di Sulawesi Selatan, Petta Lolo La Sinrang.Bintang Budaya Parama Dharma dianugerahkan pada sutrada Wahyu Sihombing dan penulis Marah Rusli.Keseluruhan penerima gelar pahlawan nasional dan bintang Mahaputera serta Bintang Budaya Parama itu sudah wafat.Hadir dalam acara tersebut Ibu Ani Yudhoyono, para pimpinan lembaga negara, menteri kabinet Indonesia Bersatu dan pimpinan TNI serta Polri


*SBY TAHUN 2009*

Ada 3


Dalam Keputusan Presiden (Keppres) No 58/2009, gelar Pahlawan Nasional diberikan kepada tiga pejuang nasional, yaitu 

1. almarhum Laksamana Muda TNI (Purn) Daniel Dharma (John Lie) dari Sulawesi Utara, 

2. almarhum Prof Dr Ir Herman Johannes dari Nusa Tenggara Timur, 

3. Prof Achmad Subardjo dari DKI Jakarta.


*SBY TAHUN 2010*

Ada 2


Tahun ini ada dua orang putra terbaik bangsa menerima gelar Pahlawan Nasional. 

1. Pertama adalah Johannes Leimena (Alm), yang merupakan salah satu pemuda Indonesia yang berjasa dalam penyelenggaraan Kongres Pemuda tahun 1928. 

2. Yang kedua adalah Johannes Abraham Dimara (Alm), memiliki jasa besar dalam pembebasan Namlea di Maluku, dan dalam perjuangan membebaskan Irian Barat.


Keduanya diangkat menjadi Pahlawan Nasional berdasarkan hasil sidang Dewan Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan pada tanggal 1 November 2010 dan dengan Keputusan Presiden Nomor 52/TK/TAHUN 2010 tanggal 8 November 2010.

*SBY TAHUN 2011*

Ada 7


Presiden Yudhoyono menerbitkan tiga Keputusan Presiden (Keppres), masing-masing Keppres No.113/TK/2011, Keppres No.114/TK/2011, dan Keppres No.115/TK/2011 untuk masing-masing kategori.


Penerima gelar Pahlawan Nasional:

1. Syafruddin Prawiranegara

2. Idham Chalid

3. Haji Abdul Malik Karim Amrullah (Hamka)

4. Ki Sarmidi Mangunsarkoro

5. I Gusti Ketut Pudja

6. Sri Susuhan Pakubuwono X

7. Ignatius Joseph Kasimo Hendrowahyono


*SBY TAHUN 2012*

Ada 2, sebelumnya sudah diangkat sebagai Pahlawan Proklamator era Presiden Soeharto 


"Bung Karno dan Bung Hatta merupakan simbol perlawanan terhadap setiap penjajahan, keduanya juga menjadi sumber inspirasi dan kekuatan bagi seluruh Bangsa Indonesia di seluruh pelosok negeri untuk bangkit dan bersatu membela, merebut, dan mempertahankan kemerdekaan dengan tetesan darah, pengorbanan harta-benda, jiwa dan raga," ujar Yudhoyono dalam pidato pemberian gelar pahlawan Soekarno-Hatta, di Istana Negara, Jakarta, Rabu (7/11/2012).


*SBY TAHUN 2013*

Ada 3


Menyambut hari Pahlawan 10 November, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pada Jumat (8/11) pukul 16.00 WIB, di Istana Negara, Jakarta. SBY akan menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada tiga tokoh perjuang bangsa, yaitu 

1. Kanjeng Raden Tumenggung (KRT) Radjiman Wedyodiningrat dari Yogyakarta, 

2. Lambertus Nicodemus Palar dari Sulawesi Utara dan 

3. Letjen TNI (Purn) TB Simatupang dari Sumatera Utara.


1. Radjiman Wedyodiningrat yang lahir di Yogyakarta pada 21 April 1879 merupakan salah satu tokoh pendiri Republik Indonesia. Ia merupakan Ketua Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI).


2. Sementara Lambertus Nicodemus Palar (LN Palar) yang lahir pada 5 Juni 1900 di Rurukan, Tomohon, Sulawesi Utara, tercatat pernah menjabat sebagai wakil Republik Indonesia dalam beberapa posisi diplomatik di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).


3. Adapun TB Simatupang, yang lahir pada 28 Januari 1920, di Sidikalang, Sumatera Utara, merupakan tokoh militer Indonesia. Dalam masa perjuangan mempertahankan kemerdekaan, Simatupang turut berjuang melawan penjajahan Belanda. Ia diangkat menjadi Wakil Kepala Staf Angkatan Perang RI (1948-1949) dan kemudian dalam usia yang sangat muda ia menjabat sebagai Kepala Staf Angkatan Perang,RI(1950-1954).


Pada tahun 1954-1959 ia diangkat sebagai Penasihat Militer di Departemen Pertahanan RI. Ia kemudian mengundurkan diri dengan pangkat Letnan Jenderal dari dinas aktifnya di kemiliteran karena perbedaan prinsipnya dengan Presiden Soekarno pada waktu itu.(bhc/ink)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Chat Gpt 12 Mei-31 Mei