Buatlah Risalah dan Infografis tentang Pahlawan :
Komjen Pol. (Purn.) Dr. H. Moehammad Jasin
Lahir di Bau-Bau, Buton, Sulawesi Tenggara, 9 Juni 1920
Meninggal di RS Polri Kramat Jati, dimakamkan di TMP Kalibata, 3 Mei 2012 (usia 91 tahun).
Bapak Brimob Polri dan Pahlawan Nasional (ditetapkan 2015) yang berperan krusial dalam mempertahankan kemerdekaan di Surabaya. Ia memproklamasikan Polisi Istimewa menjadi Polisi Republik Indonesia pada 21 Agustus 1945 dan memimpin perlawanan terhadap Jepang serta Sekutu.
Julukan: Bapak Brimob Indonesia, Arek Boyo, Singa Pejuang
Pendidikan: HIS (Makassar), MULO (Makassar), Sekolah Polisi (Sukabumi, 1941)
Istri: Siti Aliyah Kessing
Peran Penting di Jawa Timur & Kepolisian:
Tokubetsu Keisatsutai: Menjadi instruktur dan komandan Polisi Istimewa bentukan Jepang di Surabaya.
Proklamasi Polisi RI: Pada 21 Agustus 1945, Jasin menyatakan Polisi Istimewa sebagai Polisi Republik Indonesia, melepaskan ikatan kolonial.
Pertempuran Surabaya: Memimpin pasukan dalam Insiden Hotel Yamato (19 Sept 1945) dan Pertempuran 10 November 1945.
Pendiri Brimob: Diangkat sebagai Komandan Mobiele Brigade Besar (MBB) Jawa Timur pada 1946.
Penumpasan Pemberontakan: Berperan dalam menumpas PKI Madiun 1948, APRA, dan DI/TII.
Karier dan Penghargaan:
Duta Besar: Duta Besar RI untuk Tanzania (1967–1970).
Jabatan Lain: Anggota MPR, Anggota DPA, dan Pimpinan Legiun Veteran.
Pahlawan Nasional: Dianugerahi gelar Pahlawan Nasional oleh Presiden Joko Widodo pada 5 November 2015 melalui Keppres No. 116/TK/Tahun 2015.
Jasin dikenal sebagai sosok "Arek Boyo" (Arek Suroboyo) meskipun lahir di Sulawesi, karena dedikasinya yang tinggi dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia di wilayah Jawa Timur.
RISALAH & INFOGRAFIS PAHLAWAN NASIONAL
KOMJEN POL. (PURN.) DR. H. MOEHAMMAD JASIN
Bapak Brimob Indonesia
Nama Lengkap: Komjen Pol. (Purn.) Dr. H. Moehammad Jasin
Lahir: Bau-Bau, Buton, Sulawesi Tenggara — 9 Juni 1920
Wafat: RS Polri Kramat Jati — 3 Mei 2012 (usia 91 tahun)
Makam: TMP Kalibata, Jakarta
Julukan: Bapak Brimob Indonesia, Arek Boyo, Singa Pejuang
IDENTITAS & PENDIDIKAN
- Pendidikan dasar: HIS Makassar
- Pendidikan menengah: MULO Makassar
- Sekolah Polisi Sukabumi (1941)
- Istri: Siti Aliyah Kessing
GELAR & PENGHARGAAN
- Pahlawan Nasional Indonesia (2015)
- Ditetapkan oleh Presiden
Joko Widodo
melalui Keppres No. 116/TK/Tahun 2015 - Dikenal luas sebagai perintis pasukan elite kepolisian Indonesia
PERAN SEJARAH KEPOLISIAN
- Tokoh utama pembentukan cikal bakal
Korps Brigade Mobil - Diangkat sebagai Komandan Mobiele Brigade Besar (MBB) Jawa Timur (1946)
- Meletakkan dasar organisasi, disiplin, dan doktrin pasukan khusus Polri
PERAN KRUSIAL MASA REVOLUSI
Tokubetsu Keisatsutai (Polisi Istimewa)
- Instruktur dan komandan satuan Polisi Istimewa di Surabaya (era Jepang)
Proklamasi Polisi Republik Indonesia — 21 Agustus 1945
- Menyatakan Polisi Istimewa menjadi Polisi Republik Indonesia
- Memutus ikatan dengan struktur kolonial & pendudukan
Pertempuran Surabaya 1945
- Memimpin pasukan dalam:
- Insiden Hotel Yamato (19 September 1945)
- Pertempuran 10 November 1945
- Mengkoordinasikan perlawanan polisi dan laskar rakyat melawan Jepang & Sekutu
OPERASI PENEGAKAN NEGARA
Berperan dalam operasi penting menjaga keutuhan RI:
- Penumpasan PKI Madiun (1948)
- Penindakan APRA
- Operasi terhadap DI/TII
- Pengamanan wilayah rawan pasca-kemerdekaan
KARIER NEGARA & DIPLOMASI
- Duta Besar RI untuk Tanzania (1967–1970)
- Anggota MPR
- Anggota DPA
- Pimpinan Legiun Veteran RI
KARAKTER & WARISAN
- Dijuluki “Arek Boyo” karena pengabdian total di Surabaya & Jawa Timur
- Pemimpin lapangan yang berani dan disiplin
- Menggabungkan semangat tempur dan profesionalisme kepolisian
- Diakui sebagai arsitek kekuatan pasukan khusus Polri modern
Jika diinginkan, saya bisa langsung susunkan versi layout poster krem historis satu halaman agar konsisten dengan seri risalah pahlawan yang sudah Anda buat sebelumnya.
Buatlah Risalah dan Infografis tentang Pahlawan :
I Gusti Ngurah Made Agung, tokoh Bali.
Juga dikenal sebagai Ida Tjokorda Mantuk Ring Rana.
Lahir di Denpasar, Bali, 5 April 1876
Meninggal di Denpasar, 20 September 1906, Gugur di usia 30 tahun dalam Puputan Badung.
Raja Badung ke-VII (memerintah 1902–1906) dan Pahlawan Nasional Indonesia (ditetapkan 5 November 2015) yang gugur dalam pertempuran Puputan Badung melawan Belanda.
Ia dikenal sebagai raja yang pemberani, sastrawan, dan penentang gigih kolonialisme Hindia Belanda di Bali.
Jabatan: Raja Badung VII (memerintah 1902–1906)
Ayah: I Gusti Gede Ngurah Pemecutan (Raja Badung V)
Gelar Pahlawan: Pahlawan Nasional Indonesia (Keppres No. 116/TK/Tahun 2015)
Perjuangan: Menentang Belanda terkait kasus tawan karang dan menolak tunduk pada kolonial
Karya Sastra: Aktif menulis karya sastra penentangan seperti Geguritan Sasana, Geguritan Niti Raja Sasana, dan Kidung Loda.
Latar Belakang Perjuangan
I Gusti Ngurah Made Agung menentang intervensi Belanda yang melanggar adat Bali, termasuk hukum tawan karang (hak raja menyita kapal kandas). Puncaknya, ia menolak ganti rugi atas kandasnya kapal Belanda di Sanur dan memilih berperang habis-habisan (puputan) bersama rakyatnya melawan pasukan Belanda yang mengepung.
Penghormatan
Namanya diabadikan menjadi nama lapangan di pusat Kota Denpasar, yaitu "Lapangan I Gusti Ngurah Made Agung," serta berdirinya patung monumen di perempatan Veteran-Patimura, Denpasar.
๐ Risalah & Infografis Pahlawan Nasional
I Gusti Ngurah Made Agung
(Ida Tjokorda Mantuk Ring Rana)
Lahir: Denpasar, 5 April 1876
Wafat: Denpasar, 20 September 1906 — gugur dalam Puputan Badung (usia 30 tahun)
Kedudukan: Raja Badung VII (1902–1906)
Asal: Bali
Gelar: Pahlawan Nasional Indonesia (Keppres No. 116/TK/2015)
๐ Identitas & Latar Belakang
- Nama lain: Ida Tjokorda Mantuk Ring Rana
- Ayah: I Gusti Gede Ngurah Pemecutan (Raja Badung V)
- Kedudukan: Raja Badung ke-VII
- Dikenal sebagai raja pemberani, intelektual, dan sastrawan Bali
- Memadukan kepemimpinan politik, adat, dan budaya
⚔️ Perjuangan Melawan Kolonial
▪ Penentangan terhadap Intervensi Belanda
Menolak campur tangan pemerintah kolonial Hindia Belanda terhadap hukum adat Bali, khususnya aturan tawan karang (hak kerajaan atas kapal kandas).
▪ Sengketa Kapal Kandas di Sanur
Beliau menolak tuntutan ganti rugi dari Belanda atas kapal kandas. Sikap ini dianggap pembangkangan oleh kolonial dan memicu ekspedisi militer ke Badung.
▪ Puputan Badung (1906)
- Memilih perlawanan habis-habisan (puputan)
- Memimpin rakyat dan bangsawan turun langsung ke medan laga
- Gugur bersama pengikutnya sebagai simbol kehormatan dan kedaulatan
✍️ Karya Sastra & Pemikiran
Selain raja dan pejuang, beliau juga dikenal sebagai sastrawan:
- Geguritan Sasana
- Geguritan Niti Raja Sasana
- Kidung Loda
Isi karya banyak memuat:
- ajaran kepemimpinan
- etika raja
- semangat harga diri dan perlawanan
๐ก️ Nilai Kepahlawanan
- Teguh membela adat dan kedaulatan
- Menolak tunduk pada tekanan kolonial
- Memimpin langsung dari garis depan
- Menggabungkan budaya, sastra, dan perjuangan
- Simbol kehormatan perjuangan Bali
๐ Penghargaan & Penghormatan
- ๐ฎ๐ฉ Pahlawan Nasional Indonesia (2015)
- Nama diabadikan menjadi:
- Lapangan I Gusti Ngurah Made Agung (pusat Denpasar)
- Monumen patung di perempatan Veteran–Patimura Denpasar
Jika diinginkan, saya bisa susun versi teks kotak-kotak infografis siap tempel ke poster krem-historis seperti seri risalah pahlawan yang sebelumnya Anda buat.
Buatlah Risalah dan Infografis tentang Pahlawan :
Mayor Jenderal TNI (Purn.) Raden Mohamad Mangoendiprodjo
Nama Lengkap: Raden Mohamad Mangoendiprodjo (EYD: Mohamad Mangundiprojo).
Lahir di Sragen, Jawa Tengah, 5 Januari 1905
Meninggal di Bandar Lampung, 13 Desember 1988.
Salah satu tokoh kunci dalam pertempuran mempertahankan kemerdekaan di Surabaya. Berkat jasa-jasanya, ia dianugerahi gelar Pahlawan Nasional Indonesia pada 7 November 2014 oleh Presiden Joko Widodo.
Pangkat Terakhir: Mayor Jenderal TNI (Purn.).
Jabatan Penting: Pemimpin Tentara Keamanan Rakyat (TKR) Surabaya dan Residen pertama Lampung.
Perjuangan di Kota Surabaya
Peran HR Mohammad Mangoendiprodjo sangat krusial sebelum dan selama Pertempuran Surabaya 1945:
Pimpinan TKR Surabaya: Beliau menjabat sebagai pimpinan tertinggi kekuatan militer Indonesia di Surabaya (TKR) saat pecahnya konflik dengan tentara Sekutu (Inggris).
Wakil Indonesia di Kontak Biro: Mangoendiprodjo menjadi wakil utama Indonesia yang bernegosiasi langsung dengan pihak Inggris untuk menjaga gencatan senjata.
Insiden Jembatan Merah (Gedung Internatio): Pada 29 Oktober 1945, beliau mendampingi Brigjen Mallaby (pimpinan tentara Inggris) untuk berkeliling kota memantau gencatan senjata.
Penyanderaan & Pemicu Perang: Saat mencoba bernegosiasi di dalam Gedung Internatio, Mangoendiprodjo disandera oleh tentara Gurkha (Inggris). Kejadian ini memicu baku tembak yang berujung pada tewasnya Brigjen Mallaby, yang kemudian menjadi alasan Inggris melancarkan serangan besar-besaran pada 10 November 1945.
Komandan Pertempuran: Pasca insiden tersebut, beliau memimpin koordinasi pertahanan militer di Surabaya melawan gempuran tentara Inggris dalam pertempuran yang kini diperingati sebagai Hari Pahlawan.
Setelah masa perjuangan di Jawa Timur, beliau ditugaskan menjadi Residen Lampung dan mengakhiri masa tugasnya di sana.
๐ Risalah & Infografis Pahlawan Nasional
Raden Mohamad Mangoendiprodjo
Mayor Jenderal TNI (Purn.) R.M. Mangoendiprodjo adalah salah satu tokoh militer penting dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia, khususnya dalam pertempuran besar di Surabaya tahun 1945. Ia dikenal sebagai pemimpin TKR Surabaya dan Residen pertama Lampung.
๐งพ Identitas Singkat
- Nama Lengkap: Raden Mohamad Mangoendiprodjo
(EYD: Mohamad Mangundiprojo) - Lahir: Sragen, Jawa Tengah — 5 Januari 1905
- Wafat: Bandar Lampung — 13 Desember 1988
- Pangkat Terakhir: Mayor Jenderal TNI (Purn.)
- Gelar: Pahlawan Nasional (2014)
- Dianugerahkan oleh: Presiden Joko Widodo
⚔️ Peran Kunci Perjuangan di Surabaya
-
Pimpinan Militer Surabaya
Menjadi pimpinan tertinggi Tentara Keamanan Rakyat (TKR) Surabaya saat konflik dengan pasukan Sekutu. -
Negosiator Gencatan Senjata
Menjadi wakil utama Indonesia dalam perundingan dengan pihak Inggris melalui Kontak Biro. -
Insiden Jembatan Merah – Gedung Internatio (29 Oktober 1945)
- Mendampingi Brigjen Mallaby berkeliling kota memantau gencatan senjata
- Disandera pasukan Gurkha saat proses negosiasi
- Insiden baku tembak terjadi dan memicu eskalasi perang besar
-
Komandan Pertahanan Kota
Memimpin koordinasi pertahanan Indonesia dalam Pertempuran Surabaya yang kemudian diperingati sebagai Hari Pahlawan (10 November).
๐️ Jabatan Setelah Kemerdekaan
- Residen pertama Lampung
- Pejabat pemerintahan wilayah setelah masa revolusi
- Mengakhiri masa pengabdian negara di Lampung
๐ Penghargaan
- Pahlawan Nasional Indonesia — 7 November 2014
- Penghargaan negara atas jasa besar dalam mempertahankan kemerdekaan, khususnya dalam pertempuran di Surabaya.
๐ก Nilai Keteladanan
- Kepemimpinan di medan krisis
- Keberanian dalam negosiasi dan pertempuran
- Tanggung jawab komando
- Pengabdian militer dan sipil
- Loyalitas pada kedaulatan negara
Jika diinginkan, saya bisa ubah risalah ini menjadi format poster krem historis atau layout infografis siap cetak seperti seri pahlawan yang sudah Anda buat sebelumnya.
Buatlah Risalah dan Infografis tentang Pahlawan :
K.H. Abdul Wahab Chasbullah
Lahir di Tambakberas, Jombang, 31 Maret 1888.
Meninggal di Jombang, 29 Desember 1971.
Pahlawan nasional Indonesia dan ulama pendiri Nahdlatul Ulama (NU) asal Jombang yang berjiwa aktivis modern. Beliau merupakan penggerak utama Komite Hijaz, pencipta lagu "Ya Lal Wathan", serta Panglima Laskar Mujahidin (Hizbullah) yang gigih berjuang melawan penjajah.
Orang Tua: KH. Hasbullah Said (Ayah) & Nyai Latifah (Ibu)
Gelar: Pahlawan Nasional (ditetapkan 7 November 2014)
Riwayat Pendidikan & Perjuangan:
Pendidikan: Belajar di Pesantren Langitan, Mojosari, Kademangan (Kiai Kholil Bangkalan), Tebuireng (bersama Hasyim Asy'ari), dan Mekah.
Pendiri NU: Tokoh kunci berdirinya Nahdlatul Ulama pada 1926 bersama KH. Hasyim Asy'ari.
Organisasi Pergerakan: Mendirikan Nahdlatul Wathan (1916), Taswirul Afkar (forum diskusi), dan Nahdlatut Tujjar (gerakan ekonomi santri).
Kiprah Kebangsaan: Menjadi Panglima Laskar Mujahidin (Hizbullah) melawan Jepang dan aktif dalam mempertahankan kemerdekaan.
Pencipta Lagu: Menciptakan lagu kebangsaan Syubbanul Wathan (Ya Lal Wathan) untuk menanamkan rasa cinta tanah air.
Kiai Wahab dikenal sebagai ulama yang modern, pelopor kebebasan berpikir, dan pendukung setia kemerdekaan Indonesia. Beliau wafat dan dimakamkan di Tambakberas, Jombang.
Risalah & Infografis Pahlawan Nasional
K.H. Abdul Wahab Chasbullah
Nama: Abdul Wahab Chasbullah
Lahir: Tambakberas, Jombang — 31 Maret 1888
Wafat: Jombang — 29 Desember 1971
Gelar: Pahlawan Nasional (7 November 2014)
Peran Utama: Ulama pejuang, penggerak organisasi, pendiri NU, panglima laskar perjuangan
๐ Identitas & Latar Keluarga
- Putra dari KH. Hasbullah Said dan Nyai Latifah
- Tumbuh di lingkungan pesantren dan tradisi keilmuan Islam Jawa
- Dikenal sebagai ulama visioner dengan semangat kebangsaan kuat
๐ Pendidikan
Menempuh pendidikan di berbagai pesantren besar:
- Pesantren Langitan
- Pesantren Mojosari
- Pesantren Kademangan (berguru kepada Kiai Kholil Bangkalan)
- Pesantren Tebuireng (bersama Hasyim Asy'ari)
- Memperdalam ilmu di Mekkah
๐ฎ๐ฉ Perjuangan & Organisasi
- Tokoh kunci pendirian Nahdlatul Ulama (1926)
- Penggerak Komite Hijaz untuk memperjuangkan kepentingan umat Islam Nusantara di Tanah Suci
- Mendirikan organisasi:
- Nahdlatul Wathan (1916) — gerakan cinta tanah air
- Taswirul Afkar — forum diskusi pemikiran modern
- Nahdlatut Tujjar — penguatan ekonomi santri
⚔️ Peran Masa Revolusi
- Menjadi Panglima Laskar Mujahidin (Hizbullah)
- Menggerakkan santri dan umat untuk melawan penjajah
- Menyatukan semangat jihad, nasionalisme, dan pertahanan negara
๐ต Karya & Warisan
- Pencipta lagu “Syubbanul Wathan (Ya Lal Wathan)”
→ Lagu kebangsaan santri yang menanamkan cinta tanah air dan persatuan - Pelopor kebebasan berpikir di kalangan pesantren
- Menjembatani tradisi ulama dengan gerakan modern kebangsaan
⭐ Keteladanan
- Ulama organisator dan pemersatu
- Visioner, terbuka pada gagasan baru
- Menggabungkan dakwah, pendidikan, dan perjuangan kemerdekaan
- Konsisten menempatkan agama dan nasionalisme berjalan seiring
Kalau mau, saya bisa susun versi layout poster infografis siap cetak (teks blok per kotak) seperti seri risalah pahlawan yang sebelumnya.
Buatlah Risalah dan Infografis tentang Pahlawan :
Suwarsih Joyopuspito (Ejaan lama: Soewarsih Djojopoespito).
Lahir di Cibatok, Bogor, 20 April 1912.
Meninggal di Yogyakarta, 24 Agustus 1977.
Tokoh sastrawan feminis dan pejuang pendidikan Indonesia yang dikenal karena keberaniannya mengkritik kolonialisme melalui tulisan. Bersama suaminya, Sugondo Djojopuspito (Ketua Kongres Pemuda II), ia aktif dalam pergerakan nasional.
Pendidikan: Sekolah Kartini (Bogor), MULO (Bogor), dan pendidikan guru (Europese Kweekschool) di Surabaya.
Keluarga: Istri dari Sugondo Djojopuspito.
Perjuangan dan Kiprah
Pendidikan Nasional: Ia mendedikasikan diri sebagai guru di berbagai sekolah swasta (sekolah liar/partikelir) seperti sekolah perguruan rakyat di Jakarta dan Bandung untuk memberikan pendidikan bagi pribumi di tengah tekanan pemerintah kolonial.
Sastra sebagai Kritik: Suwarsih menggunakan pena untuk melawan penjajah. Novelnya yang paling fenomenal, Buiten het Gareel (1940) atau diterjemahkan menjadi Manusia Bebas, secara terang-terangan memaparkan nasib rakyat yang dibungkam dan kehidupan pejuang nasionalis di masa itu.
Vokal dalam Sastra Feminis: Ia dianggap sebagai salah satu penulis feminis terpenting di Indonesia yang menyuarakan hak-hak perempuan dan kebebasan berpikir melalui berbagai karya sastra dalam bahasa Belanda, Sunda, dan Indonesia.
Aktivitas Media: Menjadi penyunting dan penulis di berbagai majalah intelektual Belanda seperti Critiec en Opbouw dan Orientatie untuk menyebarkan gagasan pergerakan.
Karya Sastra Terkenal
Buiten het Gareel (1940) – Diterbitkan ulang dalam bahasa Indonesia sebagai Manusia Bebas.
Maryanah (1958) – Novel dalam bahasa Sunda.
Arlina (1975) – Pemenang sayembara mengarang roman DKJ.
Hati Wanita (1964) – Kumpulan cerita pendek.
Risalah & Infografis Pahlawan Pergerakan Sastra & Pendidikan
Suwarsih Joyopuspito
(Ejaan lama: Soewarsih Djojopoespito)
Lahir: Cibatok, Bogor — 20 April 1912
Wafat: Yogyakarta — 24 Agustus 1977
Bidang: Sastra, pendidikan, gerakan perempuan
Dikenal sebagai: Sastrawan feminis & pejuang pendidikan antikolonial
๐ค Identitas Singkat
- Tokoh sastra perempuan pelopor kritik sosial pada masa kolonial
- Aktif dalam pergerakan nasional melalui pendidikan dan tulisan
- Istri dari Sugondo Djojopuspito (Ketua Kongres Pemuda II – 1928)
๐ Pendidikan
- Sekolah Kartini — Bogor
- MULO — Bogor
- Europese Kweekschool (Sekolah Guru) — Surabaya
➡️ Membentuk dasar pemikiran modern, pedagogis, dan humanis
๐ Perjuangan di Bidang Pendidikan
- Mengajar di berbagai sekolah partikelir (sekolah liar) untuk pribumi
- Mengabdi di sekolah rakyat di Jakarta dan Bandung
- Mendorong pendidikan sebagai alat pembebasan dari penindasan kolonial
- Membina kesadaran kritis dan kebebasan berpikir melalui pengajaran
✍️ Sastra sebagai Alat Perlawanan
- Menggunakan karya tulis untuk mengkritik kolonialisme dan ketidakadilan sosial
- Menulis dalam bahasa Belanda, Sunda, dan Indonesia
- Aktif di majalah intelektual seperti Critiec en Opbouw dan Orientatie
- Menyuarakan hak perempuan dan martabat kaum terjajah
๐ Karya Sastra Terkenal
- Buiten het Gareel (1940)
→ Novel kritik kolonial yang berani dan tajam - Manusia Bebas
→ Versi Indonesia, sangat berpengaruh dalam sastra pergerakan - Maryanah (1958) — novel bahasa Sunda
- Hati Wanita (1964) — kumpulan cerpen
- Arlina (1975) — pemenang sayembara roman Dewan Kesenian Jakarta
๐ฉ๐ซ Ciri Pemikiran
- Feminisme humanis — menuntut hak dan martabat perempuan
- Pendidikan sebagai jalan emansipasi
- Sastra sebagai media keberanian moral
- Kritik terbuka terhadap penindasan dan pembungkaman
⭐ Nilai Keteladanan
- Berani bersuara di masa represif
- Konsisten mengajar dan menulis untuk rakyat
- Menggabungkan intelektualitas, aktivisme, dan seni
- Pelopor suara perempuan dalam sastra modern Indonesia
Jika diinginkan, saya bisa langsung susun versi teks kotak infografis poster krem-historis seperti seri risalah pahlawan sebelumnya agar siap dijadikan desain gambar.
Buatlah Risalah dan Infografis tentang Pahlawan :
Dr.(H.C.) A.A. Maramis
Nama Lengkap: Alexander Andries Maramis, S.H.
Dikenal Sebagai: A.A. Maramis
Lahir di Manado, Sulawesi Utara, 20 Juni 1897
Meninggal di Jakarta, 31 Juli 1977 (Usia 80 tahun).
Makam: Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, Jakarta
Gelar: Pahlawan Nasional Indonesia (Dianugerahkan oleh Presiden Joko Widodo pada 8 November 2019)
Keluarga: Berasal dari Minahasa, keponakan dari Maria Walanda Maramis.
Pendidikan
Sekolah Dasar di Manado
Hoogere Burgerschool (HBS), Batavia
Sarjana Hukum, Universiteit Leiden, Belanda (lulus 1924)
Peran dan Jabatan Penting
Anggota BPUPKI & Panitia Sembilan: Aktif merumuskan dasar negara dan Piagam Jakarta (cikal bakal UUD 1945).
Menteri Keuangan Pertama RI: Menjabat sebagai Menteri Keuangan pada Kabinet Amir Sjarifuddin I, II, dan Kabinet Hatta I (1947–1948).
Pelopor Mata Uang RI: Membentuk panitia pencetakan uang kertas Republik Indonesia (ORI) untuk mempertahankan kedaulatan ekonomi.
Diplomat (Duta Besar): Duta Besar Republik Indonesia untuk Filipina (1950-1953), Jerman Barat, dan Uni Soviet.
Pemerintahan Darurat: Diangkat sebagai Menteri Luar Negeri dalam Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) saat berada di India.
Jasa dan Penghargaan
Wajah A.A. Maramis diabadikan pada uang kertas Rupiah edisi lama (tahun 1960-an).
Dianugerahi gelar Pahlawan Nasional pada tahun 2019 atas jasa-jasanya dalam merumuskan dasar negara dan memperkuat fondasi ekonomi Indonesia.
A.A. Maramis dikenal sebagai sosok yang cerdas, sederhana, dan berdedikasi tinggi, terutama dalam mempertahankan eksistensi Republik Indonesia di awal kemerdekaan.
๐ Risalah & Infografis Pahlawan Nasional
A.A. Maramis
Nama Lengkap: Alexander Andries Maramis, S.H.
Gelar: Dr.(H.C.)
Lahir: Manado, 20 Juni 1897
Wafat: Jakarta, 31 Juli 1977 (80 tahun)
Makam: Taman Makam Pahlawan Kalibata
Gelar Pahlawan Nasional: Ditetapkan tahun 2019 oleh Presiden Joko Widodo
Keluarga: Keponakan tokoh emansipasi Minahasa, Maria Walanda Maramis
๐งญ Profil Singkat
A.A. Maramis adalah tokoh perintis negara yang berperan penting dalam perumusan dasar negara, fondasi keuangan Republik, dan diplomasi internasional pada masa awal kemerdekaan. Ia dikenal cerdas, tenang, dan sangat berdedikasi pada kedaulatan Indonesia.
๐ Pendidikan
- Sekolah Dasar di Manado
- HBS Batavia
- Sarjana Hukum – Universiteit Leiden (lulus 1924)
๐️ Peran Penting dalam Negara
๐น Perumus Dasar Negara
- Anggota BPUPKI
- Anggota Panitia Sembilan
- Turut merumuskan Piagam Jakarta → cikal bakal UUD 1945
๐น Menteri Keuangan Awal RI (1947–1948)
- Menteri Keuangan pada Kabinet Amir Sjarifuddin I & II serta Kabinet Hatta I
- Menata sistem keuangan negara muda Indonesia
๐น Pelopor Mata Uang Republik
- Membentuk panitia pencetakan ORI (Oeang Republik Indonesia)
- Menguatkan kedaulatan ekonomi di tengah tekanan Belanda
๐น Diplomat Republik
- Duta Besar RI untuk:
- Filipina (1950–1953)
- Jerman Barat
- Uni Soviet
๐น Pemerintahan Darurat
- Menteri Luar Negeri pada masa Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) saat berada di India
๐ Jasa & Penghargaan
- Gelar Pahlawan Nasional (2019)
- Wajahnya pernah diabadikan pada uang kertas Rupiah edisi 1960-an
- Diakui sebagai arsitek awal sistem keuangan dan diplomasi RI
๐งพ Ringkasan Infografis (Siap Tata Letak Poster)
A.A. Maramis
- ๐️ 1897–1977
- ๐ Lahir: Manado
- ⚖️ Ahli Hukum Leiden
- ๐️ Perumus dasar negara
- ๐ฐ Menteri Keuangan awal RI
- ๐ต Pelopor ORI
- ๐ Diplomat di 3 negara besar
- ⭐ Pahlawan Nasional 2019
Jika diinginkan, saya bisa langsung ubah risalah ini menjadi desain poster infografis warna krem historis seperti seri risalah yang sudah Anda
Buatlah Risalah dan Infografis tentang Perjuangan Tritura oleh Mahasiswa tahun 1966.
RISALAH & INFOGRAFIS PERJUANGAN TRITURA 1966
๐ Peristiwa Tritura (Tiga Tuntutan Rakyat) – Gerakan Mahasiswa 1966
Tritura adalah gerakan tuntutan mahasiswa dan pemuda pada awal tahun 1966 yang menjadi titik penting perubahan politik Indonesia pada akhir masa pemerintahan Soekarno dan awal naiknya peran Soeharto. Aksi ini dipelopori oleh berbagai kesatuan aksi mahasiswa di Jakarta dan kota-kota besar.
๐️ Latar Waktu
- Periode: Januari–Maret 1966
- Lokasi utama: Jakarta
- Situasi: Krisis politik & ekonomi pasca peristiwa G30S 1965
- Kondisi: Inflasi tinggi, instabilitas keamanan, dan konflik ideologi
๐ฏ Isi Tritura (Tiga Tuntutan Rakyat)
1️⃣ Bubarkan PKI
Menuntut pembubaran Partai Komunis Indonesia beserta seluruh organisasi massanya.
2️⃣ Rombak Kabinet Dwikora
Menuntut perombakan kabinet yang dianggap masih dipengaruhi unsur yang terkait G30S.
3️⃣ Turunkan Harga / Perbaiki Ekonomi
Menuntut perbaikan ekonomi dan pengendalian harga kebutuhan pokok.
๐ฅ Penggerak Utama Aksi
- Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI)
- Kesatuan Aksi Pemuda Pelajar Indonesia (KAPPI)
- Kesatuan Aksi Sarjana Indonesia (KASI)
- Organisasi pemuda & pelajar lintas kampus
๐ Bentuk Perjuangan
- Demonstrasi besar di Jakarta
- Long march & mimbar bebas mahasiswa
- Tekanan politik melalui aksi massa
- Pendudukan simbolik gedung pemerintahan
- Pernyataan sikap dan resolusi mahasiswa
⚠️ Peristiwa Penting Terkait
- Aksi mahasiswa di depan Istana Negara
- Bentrokan dengan pasukan pengawal presiden
- Gugurnya mahasiswa Arief Rahman Hakim yang kemudian dikenang sebagai Pahlawan Ampera
- Meningkatnya tekanan politik terhadap pemerintahan lama
๐️ Dampak Tritura
✅ Pembubaran PKI dan pelarangan ideologi komunisme
✅ Perombakan kabinet
✅ Menguatnya posisi militer dalam politik
✅ Lahirnya Orde Baru
✅ Terbitnya Supersemar (Surat Perintah 11 Maret 1966)
✅ Perubahan arah pemerintahan nasional
๐งญ Nilai Sejarah Tritura
- Peran strategis mahasiswa dalam perubahan politik
- Tekanan sipil terhadap kebijakan negara
- Contoh gerakan moral generasi muda
- Momentum transisi kekuasaan nasional
Kalau mau, saya bisa langsung ubah materi ini menjadi poster risalah visual warna krem historis seperti seri pahlawan yang sudah kita buat sebelumnya. Mau versi satu halaman atau dua halaman?
Buatlah Risalah dan Infografis tentang Perjuangan Trikora yang menuntut Pembebasan Irian Barat dari Belanda.
RISALAH & INFOGRAFIS
Perjuangan Trikora – Pembebasan Irian Barat
Trikora (Tri Komando Rakyat) adalah seruan perjuangan nasional untuk membebaskan Irian Barat dari kekuasaan Belanda. Gerakan ini menjadi tonggak penting dalam penyempurnaan wilayah kedaulatan Republik Indonesia pasca kemerdekaan.
๐ RISALAH SINGKAT
Nama Peristiwa: Trikora (Tri Komando Rakyat)
Dikumandangkan: 19 Desember 1961
Tokoh Penggagas: Presiden Sukarno
Tempat Deklarasi: Yogyakarta
Tujuan Utama: Pembebasan Irian Barat dari Belanda dan integrasi ke NKRI
Isi Tri Komando Rakyat:
- Gagalkan pembentukan negara boneka Papua buatan Belanda
- Kibarkan Merah Putih di Irian Barat
- Bersiap untuk mobilisasi umum demi mempertahankan persatuan bangsa
⚔️ LATAR BELAKANG
- Setelah pengakuan kedaulatan 1949, Belanda masih mempertahankan Irian Barat.
- Indonesia menilai wilayah itu bagian sah dari bekas Hindia Belanda.
- Upaya diplomasi bertahun-tahun tidak berhasil.
- Belanda menyiapkan pemerintahan terpisah → memicu ketegangan militer & politik.
๐ช LANGKAH PERJUANGAN
Strategi Nasional:
- Pembentukan Komando Mandala
- Operasi militer infiltrasi & tekanan strategis
- Penguatan diplomasi internasional
- Dukungan persenjataan modern dari luar negeri
Komando Mandala
- Dibentuk awal 1962
- Bertugas merencanakan operasi pembebasan
- Menggabungkan operasi darat, laut, dan udara
๐ค JALUR DIPLOMASI & HASIL
Perjanjian New York (1962):
- Dimediasi PBB dan Amerika Serikat
- Belanda menyerahkan administrasi ke UNTEA (otoritas sementara PBB)
- 1 Mei 1963 → Irian Barat resmi diserahkan ke Indonesia
Tindak Lanjut:
- Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera) 1969
- Wilayah terintegrasi ke Indonesia
๐️ MAKNA SEJARAH
- Menegaskan komitmen NKRI atas keutuhan wilayah
- Contoh kombinasi kekuatan militer + diplomasi
- Meningkatkan posisi Indonesia di forum internasional
- Menjadi simbol mobilisasi nasional era 1960-an
๐ INFOGRAFIS RINGKAS (SIAP JADI POSTER)
TRIKORA – 1961–1963
- ๐ฏ Tujuan: Pembebasan Irian Barat
- ๐ Deklarasi: Yogyakarta, 19 Des 1961
- ๐ค Penggagas: Presiden Sukarno
- ๐ช Pelaksana: Komando Mandala
- ๐ Jalur: Operasi militer + diplomasi PBB
- ๐ Hasil: Penyerahan wilayah 1 Mei 1963
- ๐ฎ๐ฉ Dampak: Integrasi wilayah ke NKRI
Jika diinginkan, saya bisa langsung buatkan gambar poster risalah–infografis gaya krem historis seperti seri risalah pahlawan yang sudah Anda buat sebelumnya. Mau versi poster sekarang?
*47 Pahlawan Nasional Ditetapkan Jokowi Sejak 2014, Termasuk Kakek Anies Baswedan hingga Ratu Kalinyamat*
Siapa saja pahlawan nasional yang ditetapkan pemerintah Jokowi sejak 2014?
Berikut daftar 47 tokoh pahlawan nasional, termasuk kakek Anies Baswedan.
13 November 2023 | 14.33 WIB
Presiden Jokowi berjabat tangan dengan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan saat pemberian gelar pahlawan nasional kepada enam tokoh di Istana Negara, Jakarta, Kamis, 8 November 2018. Salah satu di antaranya adalah kakek dari Anies Baswedan, Abdurrahman Baswedan. TEMPO/Subekti.
TEMPO.CO, Jakarta - Setiap menjelang Hari Pahlawan Nasional, 10 November, pemerintah menetapkan sosok pejuang sebagai pahlawan nasional.
Presiden Joko Widodo atau Jokowi menjabat sejak 2014, tak sedikit yang ia nobatkan tokoh-tokoh sebagai pahlawan nasional, siapa saja?
4
*JOKOWI 2014*
Ada 4
Penganugerahan gelar pahlawan nasional yang dibacakan oleh Sekretaris Militer Presiden RI selaku sekretaris Dewan Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan dikeluarkan melalui Keputusan Presiden Nomor 115/TK/ Tahun 2014 tanggal November 2014.
Anugerah Pahlawan Nasional kepada mereka sebagai penghargaan dan penghormatan yang tinggi atas jasa-jasanya yang luar biasa, yamg semasa hidupnya pernah memimpin dan melakukan perjuangan bersenjata, atau perjuangan politik atau dalam bidang lain untuk mencapai, merebut, dan mempertahankan, dan mengisi kemerdekaan serta mewujudkan persatuan dan kesatuan bangsa, bunyi Keppres tersebut.
Keempat tokoh nasional yang mendapat gelar pahlawan nasional yaitu:
1. Letjen (Purn) Djamin Ginting, tokoh dari Provinsi Tanah Karo, Sumut.
Berhasil dalam melancarkan perang gerilya dan memimpin penumpasan pemberontakan DI/TII di Aceh. Sebagai Kepala Staf Tentara dan Teritorium I Bukit Barisan yang menentang keputusan atasannya untuk menunjukan kewetiaannya pada pemerintah RI, dan menjadikan wilayah komandonya sebagai pangkalan operasi pasukan pemerintah menggempur pasukan PRRI di Sumatera.
2. Sukarni Karto Kartodiwirjo, lahir di Blitar, Jatim.
Berperan dalam merumuskan naskah proklamasi serta mendesak Bung Karno dan Bung Hatta untuk segera memroklamasikan kemerdekaan. Berhasil menghimpun pemuda mendukung pemerintah RI, dan menyelenggarakan rapat raksasa di lapangan Ikada untuk menunjukkan kebulatannya tekad dalam mendukung proklamasi dan mendesak mengambil alih kekuasaan dari pemerintah jepang.
3. Kyai Haji Abdul Wahab Hasbullah, lahir di Jombang.
Berperan dalam merumuskan Resolusi Jihad sebagai dukungan terhadap perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Berjasa dalam meningkatkan dukungan NU kepada Pemerintah Indonesia dalam memenangkan perang melawan Pemerintah Belanda.
4. HR Mohammad Mangoendprojo, lahir di Sragen, Jateng
Berjasa pada peristiwa revolusi di Surabaya, ikut mendesak Panglima Pertahanan Jepang Jenderal Iwabe untul menyerahkan senjata dan menguasai objek vital tahun 1945, berperan besar dalam mengambil alih aset pribadi orang-orang Belanda untuk kepentingan perjuangan.
A. Berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 115/TK/Tahun 2014 tanggal 6 November 2014:
1. Alm. Letnan Jenderal Djamin Ginting, sebagai tokoh dari Sumatera Utara yang berjasa dalam penumpasan gerakan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia di Aceh;
2. Alm. Sukarni Kartodiwirjo, sebagai tokoh dari Jawa Timur yang dianggap berjasa merumuskan naskah Proklamasi dan mendesak proklamasi kemerdekaan Indonesia;
3. Alm. K.H. Abdul Wahab Chasbullah, sebagai tokoh Jawa Timur yang berjasa lantaran meningkatkan dukungan Nahdlatul Ulama terhadap pemerintah Indonesia pada masa kemerdekaan;
4. Alm. Jendral Mayor TKR HR Mohamad Mangoendiprojo, sebagai tokoh dari Jawa Timur yang berjasa merupakan salah seorang tokoh penggerak revolusi dalam peristiwa revolusi kemerdekaan di Surabaya;
B. Berdasarkan Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 116/TK/Tahun 2015:
5
1. Alm. Bernard Wilhem Lapian, tokoh masyarakat Sulawesi Utara.
2. Alm. Mas Isman, tokoh masyarakat Jawa Timur.
3. Alm. Komjen Pol. (Purn.) Dr. H. Moehammad Jasin, tokoh dari Jawa Timur.
4. Alm. I Gusti Ngurah Made Agung, tokoh Bali.
5. Alm. Ki Bagus Hadikusumo, tokoh Muhammadiyah Yogyakarta.
C. Berdasarkan Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 90/TK/Tahun 2016, Tokoh yang dianugerahi gelar pahlawan nasional adalah
1
1. Almarhum Kiai Haji Raden As’ad Syamsul Arifin (putra ulama besar madura, Jawa Timur, KH Syamsul Arifin, pendiri Nahdlatul Ulama).
D. Berdasarkan Surat Keputusan Presiden RI Nomor 115/TK/Tahun 2017 tentang Penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional, tanggal 6 November 2017, ada 4 (empat) tokoh yang memperoleh anugerah Gelar Pahlawan Nasional.
4
Keempat tokoh itu adalah :
1. Almarhum TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid, tokoh dari Provinsi Nusa Tenggara Barat;
2. Almarhumah Laksamana Malahayati, tokoh dari Provinsi DI Aceh;
3. Almarhum Sultan Mahmud Riayat Syah, tokoh dari Provinsi Kepualauan Riau; dan
4. Almarhum Prof. Drs. H. Lafran Pane, tokoh dari Provinsi DI Yogyakarta.
E. Berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia (Keppres) Nomor 123/TK/Tahun 2018 yang ditandatangani pada 6 November 2018, Presiden Joko Widodo menetapkan nama-nama di bawah ini sebagai Pahlawan Nasional:
6
1. Alm. Abdurrahman atau AR Baswedan (tokoh dari DI Yogyakarta), kakek Anies Baswedan
2. Alm. Ir. H. Pangeran Mohammad Noor (tokoh dari Kalimantan Selatan);
3. Almh. Agung Hajjah Andi Depu (tokoh dari Sulawesi Barat);
4. Alm. Depati Amir (tokoh dari Bangka Belitung);
5. Alm. Mr. Kasman Singodimedjo (tokoh dari Jawa Tengah); dan
6. Alm. Brigjen K.H. Syam'un (tokoh dari Banten).
F. Berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia (Keppres) Nomor 120/TK/Tahun 2019 yang ditandatangani pada 7 November 2019 Presiden Jokowi menetapkan nama-nama di bawah ini sebagai Pahlawan Nasional:
6
1. Almarhumah Ruhana Kuddus, tokoh dari Provinsi Sumatera Barat;
2. Almarhum Sultan Himayatuddin Muhammad Saidi (Oputa Yii Ko), tokoh dari Provinsi Sulawesi Tenggara;
3. Almarhum Prof. Dr. M. Sardjito, M.D., M.P.H., tokoh dari Provinsi DI Yogyakarta;
4. Almarhum Prof. K.H. Abdul Kahar Mudzakkir, tokoh dari Provinsi DI Yogyakarta;
5. Almarhum Dr.(H.C.) A.A. Maramis, tokoh dari Provinsi Sulawesi Utara;
6. Almarhum K.H. Masjkur, tokoh dari Provinsi Jawa Timur.
G. Berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia (Keppres) Nomor 117/TK/Tahun 2020 yang ditetapkan pada 6 November 2020, Presiden menetapkan nama-nama di bawah ini sebagai Pahlawan Nasional:
6
1. Almarhum Sultan Baabullah, tokoh dari Provinsi Maluku Utara;
2. Almarhum Macmud Singgirei Rumagesan – Raja Sekar, tokoh dari Provinsi Papua Barat;
3. Almarhum Jenderal Polisi (Purn.) Raden Said Soekanto Tjokrodiatmodjo, tokoh dari Provinsi DKI Jakarta;
4. Almarhum Arnold Mononutu, tokoh dari Provinsi Sulawesi Utara;
5. Almarhum Mr. Sutan Muhammad Amin Nasution, tokoh dari Provinsi Sumatera Utara;
6.Almarhum Raden Mattaher Bin Pangeran Kusen Bin Adi, tokoh dari Provinsi Jambi.
H. Presiden RI Joko Widodo (Jokowi), Rabu (10/11/2021), menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional. Keempat orang tokoh memperoleh gelar pahlawan tersebut adalah Usmar Ismail, dari DKI Jakarta; Raden Aria Wangsakara, dari Banten; Tombolotutu, dari Sulawesi Tengah; dan Sultan Aji Muhammad Idris dari Kalimantan Timur.
4
1. Usmar Ismail, dari DKI Jakarta
2. Raden Aria Wangsakara, dari Banten
3. Tombolotutu, dari Sulawesi Tengah
4. Sultan Aji Muhammad Idris, dari Kalimantan Timur
I. Berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia (Keppres) Nomor 96/TK/Tahun 2022 tentang Penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional yang ditetapkan di Jakarta, pada tanggal 3 November 2022.
5
Kelima tokoh yang diberikan gelar pahlawan nasional dalam rangka Hari Pahlawan Tahun 2022 tersebut adalah:
1. Almarhum Dr. dr. H. R. Soeharto, dari Jawa Tengah;
2. Almarhum KGPAA Paku Alam VIII, dari Daerah Istimewa Yogyakarta;
3. Almarhum dr. R. Rubini Natawisastra, dari Kalimantan Barat;
4. Almarhum H. Salahuddin bin Talabuddin, dari Maluku Utara; dan
5. Almarhum K.H. Ahmad Sanusi, dari Jawa Barat.
J. Berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia (Keppres) Nomor 115/TK/Tahun 2023 tentang Penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional yang ditetapkan di Jakarta, pada tanggal 6 November 2023.
6
Keenam tokoh yang diberikan gelar pahlawan nasional dalam rangka Hari Pahlawan Tahun 2023 tersebut adalah:
1. Almarhum Ida Dewa Agung Jambe, tokoh dari Provinsi Bali;
2. Almarhum Bataha Santiago, tokoh dari Provinsi Sulawesi Utara;
3. Almarhum Mohammad Tabrani, tokoh dari Provinsi Jawa Timur;
4. Almarhumah Ratu Kalinyamat, tokoh dari Provinsi Jawa Tengah;
5. Almarhum K.H. Abdul Chalim, tokoh Provinsi dari Jawa Barat; dan
6. Almarhum K.H. Ahmad Hanafiah, tokoh dari Provinsi Lampung.
(2014 - 2023)
2018
Keenam tokoh bangsa yang mendapat anugerah gelar Pahlawan Nasional berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 123/TK/Tahun 2018 tentang Penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional tertanggal 6 November 2018 itu adalah:
- Almarhum Abdurrahman Baswedan, tokoh dari Provinsi DI Yogyakarta;
- Almarhumah Agung Hajjah Andi Depu, tokoh dari Provinsi Sulawesi Barat;
- Almarhum Depati Amir, tokoh dari Provinsi Bangka Belitung;
- Almarhum Mr. Kasman Singodimedjo, tokoh dari Provinsi Jawa Tengah;
- Almarhum Ir. H. Pangeran Mohammad Noor, tokoh dari Provinsi Kalimantan Selatan; dan
- Almarhum Brigjen KH Syam’un, tokoh dari Provinsi Banten.
2019
- 1. Sultan Himayatuddin Muhammad Saidi (Oputa Yi Koo), tokoh dari Sulawesi Tenggara yang merupakan Sultan Buton ke-16 dan ke-19.
- 2. Prof. Dr. Sardjito, tokoh dari Daerah Istimewa Yogyakarta yang dikenal sebagai rektor pertama Universitas Gadjah Mada (UGM).
- 3. KH. Abdul Chalim Leuwimunding, tokoh dari Jawa Barat, salah satu pendiri Nahdlatul Ulama (NU).
- 4. KH. Ahmad Hanafiah, tokoh dari Lampung yang memimpin perlawanan terhadap penjajah Belanda di wilayahnya.
- 5. Bataha Santiago, tokoh dari Sulawesi Utara, Raja Manganitu di Kepulauan Sangihe yang berjuang melawan VOC.
- 6. Mohammad Tabrani Soerjowitjirto, tokoh dari Jawa Timur yang dikenal sebagai pencetus penggunaan nama "Bahasa Indonesia" dalam Kongres Pemuda I.
Tahun 2020
Berikut profil keempat tokoh tersebut:
Usmar Ismail, dari DKI Jakarta
Usmar Ismail lahir di Bukittinggi tanggal 20 Maret 1921. Usmar merupakan salah satu pelopor di kancah perfilman nasional dan internasional yang menunjukkan sumbangan terbesarnya tentang kepiawaian membuat industri perfilman di Indonesia menjadi maju. Kepeloporannya dalam membangun perfilman nasional yang diakui oleh dunia internasional merupakan kepeloporan dan prestasi yang patut dicatat dalam perjalanan bangsa Indonesia.
Pada tahun 1944, Usmar mendirikan kelompok sandiwara Maya yang juga turut menyebarluaskan berita proklamasi di masa kemerdekaan, Kemudian di tahun 1950, mendirikan perusahaan film pribumi bernama N.V. Perfini (Perusahaan Film Nasional Indonesia) yang kemudian membuat film Darah dan Doa (the long march of Siliwangi). Film ini dianggap sebagai film Indonesia pertama dan kemudian hari pertama pengambilan gambarnya ditetapkan sebagai Hari Film Indonesia.
Tahun 1962, Usmar Ismail aktif mendirikan organisasi Lembaga Seni Budaya Muslim Indonesia (Lesbumi) di bawah Nahdlatul Ulama (NU) sebagai wadah kegiatan kebudayaan, pendidikan, dan penanaman nilai-nilai nasionalisme kepada masyarakat.
Film-film buatan Umar Ismail mengajak dan menawarkan nilai-nilai nasionalisme seperti Darah dan Doa (1950), Enam Jam di Jogja (1961), Kafedo (1953), Lewat Djam Malam (1954), Pedjuang (1960), dan masih banyak lainnya.
Selain itu film Tamu Agung (1956) mendapatkan penghargaan film komedi terbaik di Festival Film Asia Pasifik di Hongkong tahun 1956.
Usmar wafat pada tanggal 2 Januari 1971 dan dimakamkan di Pekuburan Karet, Jakarta.
2. Raden Aria Wangsakara, dari Banten
Raden Aria Wangsakara lahir di Sumedang tahun 1615. Wangsakara bukan hanya tokoh keagamaan dalam Kesultanan Banten pada masanya, tetapi juga tokoh politik dan pemimpin militer yang terus berjuang dalam semangat untuk mengusir penjajah. Melalui latar belakang perjuangannya semasa Kesultanan Banten semasa Sultan Abul Mufakhir dan Sultan Ageng Tirtayasa, Wangsakara menegaskan perannya sebagai sosok yang turut memainkan peranan penting dalam melawan penjajah (VOC).
Pada 1636, Wangsakara diutus Sultan naik haji. Di Mekah, Wangsakara berhasil memperoleh surat pengakuan Banten oleh Syarif Mekah sebagai kepanjangan tangan dari otoritas politik Turki Utsmani (Ottoman). Sekembalinya ke Banten, Wangsakara dia diberi gelar Kiai Mas Haji Wasangraja.
Tahun 1654 ketika terjadi peperangan di Batavia antara Kesultanan Banten dengan VOC, Raden Aria Wangsakara mewakili Kesultanan Banten sebagai juru runding yang membuahkan kesepakatan penghentian perang. Daerah yang dikuasai masing-masing tetap dipertahankan.
Tahun 1658-1659 ketika terjadi peperangan, Raden Aria Wangsakara mendapat mandat dari Sultan Ageng Tirtayasa untuk memimpin perang melawan VOC yang berujung pada perjanjian damai pada tanggal 5 Juli 1659.
Pascaperang, Wangsakara mengubah strategi pertahanan dengan membuat permukiman dan kanal sehingga menjangkau daerah Tangerang pedalaman.
Wangsakara wafat pada tanggal 15 Agustus 1681 dan dimakamkan di Lengkong, Pagedangan, Tangerang atau Taman Makam Pahlawan Kabupaten Tangerang.
3. Tombolotutu, dari Sulawesi Tengah
Tombolotutu lahir di Moutong, Sulawesi Tengah, pada tahun 1857. Tombolotutu adalah tokoh yang sedari awal menentang penindasan Belanda di Moutong. Tombolotutu memimpin dan memperjuangkan hak-hak rakyat Moutong yang dirampas sehingga terjadi pertempuran yang tidak hanya banyak memakan korban namun juga kerugian materiil.
Tombolotutu konsisten menentang penjajahan Belanda. la menolak menandatangani “Lang Contract” sebuah perjanjian yang diajukan Belanda karena dinilai merugikan masyarakat.
Tombolotutu wafat pada 17 Februari 1901 dan dimakamkan di Desa Padang Kecamatan Toribulu, Moutong. Sulawesi Tengah
4. Sultan Aji Muhammad Idris, dari Kalimantan Timur
Sultan Aji Muhammad Idris lahir di Jembayan, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, 1667. Sultan Aji adalah tokoh pemersatu yang dapat menjadi sumber inspirasi bagi bangsa Indonesia. Melalui perubahan sistem pemerintahan menjadi kesultanan, Ia berusaha menjalin hubungan dan menyatukan kekuatan dengan berbagai kesultanan dalam menentang kolonialisme.
Ketika VOC mulai menguasai kerajaan Kutai Kartanegara dan Kerajaan Pasir, Sultan Aji Muhammad Idris sebagai pangeran Kutai terus melakukan perlawanan. Sultan Aji Muhammad Idris konsisten mewujudkan visi mengusir kekuatan VOC dari Kalimantan Timur, Sulawesi Selatan, dan Indonesia secara keseluruhan.
Sultan Aji berhasil mempersatukan kerajaan-kerajaan di wilayah Sulawesi Selatan terutama kerajaan-kerajaan Bugis seperti Wajo, Bone, dan Soppeng.
Sultan Aji wafat pada tahun 1739 dan dimakamkan di pemakaman keluarga Raja Wajo, Sulawesi Selatan.
2022
Presiden Joko Widodo (Jokowi) menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada lima tokoh dari berbagai daerah ini melalui Keputusan Presiden RI Nomor 96.
“Hari ini pemerintah menganugerahkan gelar pahlawan nasional kepada tokoh-tokoh yang telah memberikan kontribusi besar kepada bangsa dan negara,” ujar Presiden dalam keterangan terpisah, Senin (7/11).
Adapun nama lima pahlawan nasional terbaru yang ditetapkan pada tahun 2022 ini sebagai berikut :
1. Dr. dr. H. R. Soeharto dari Provinsi Jawa Tengah;
2. KGPAA Paku Alam VIII dari Daerah Istimewa Yogyakarta;
3. dr. R. Rubini Natawisastra dari Provinsi Kalimantan Barat;
4. H. Salahuddin bin Talabuddin dari Provinsi Maluku Utara, serta
5. KH. Ahmad Sanusi dari Provinsi Jawa Barat.
Acara penganugerahan dihadiri oleh para ahli waris dari para tokoh yang sekaligus mewakili para penerima gelar dan penghargaan.
Berikut profil 5 Pahlawan Nasional yang ditetapkan Jokowi untuk tahun 2022 ini :
1. DR dr HR Soeharto
Ia adalah dokter pribadi Ir Soekarno sebelum kemerdekaan. Mengutip dari laman Pemprov Jateng, pemilik nama lengkap Soeharto Sastrosoeyoso ini lahir pada 24 Desember 1908 di Tegalgondo, Solo, Jawa Tengah.
dr Soeharto sempat menduduki berbagai posisi di pemerintahan di Kabinet Soekarno, mulai dari Menteri Perdagangan, Menteri Perindustrian, hingga Kepala Bappenas.
Selain itu, dr Soeharto juga tercatat sebagai pendiri bank pertama di Indonesia, yaitu Bank Negara Indonesia (BNI). Di tahun 1950, ia tercatat menjadi salah satu penggagas berdirinya Ikatan Dokter Indonesia atau IDI.
Sebelumnya, penyematan gelar Pahlawan Nasional untuk Dokter Soeharto juga sempat diusulkan Megawati Soekarnoputri, mantan presiden kelima RI.
Dan dr Soeharto meninggal pada 30 November tahun 2000.
2. KGPAA Paku Alam VIII
Kanjeng Gusti pangeran Adipati Arya (KGPAA) Paku Alam VIII merupakan Wakil Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) pertama bersama Gubernur DIY pertama Hamengku Buwono IX pasca proklamasi kemerdekaan.
Paku Alam VIII meningkatkan kemajuan pendidikan bagi rakyat di Kadipaten Pakualaman untuk menekan angka buta huruf.
Ia juga mendukung penuh berlangsung pendidikan di Yogyakarta bersama Sultan Hamengku Buwono IX.
Hal tersebut dibuktikan melalui pendirian perguruan tinggi, seperti Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Universitas Gadjah Mada (UGM), dan Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta. Selain kampus, Paku Alam VIII juga mendirikan Sekolah Rakyat dan SMP Puro Pakualaman.
Pada 6 Juni 1979, berdiri sebuah yayasan dengan nama Yayasan Notokusumo. Melalui yayasan tersebut, Paku Alam VIII meresmikan Akademi Administrasi Negara dan Akademi Keperawatan Notokusumo.
3. dr R Rubini Natawisastra
dr R Rubini Natawisastra merupakan seorang dokter sekaligus pemimpin partai politik pada masanya dan berjuang melawan penjajah di Kalimantan Barat. Nama dr Rubini diabadikan sebagai nama RSUD di Kabupaten Mempawah, yakni RSUD dr Rubini Mempawah.
Selain itu, ada juga nama jalan yang menggunakan namanya di Kabupaten Mempawah, Kota Pontianak dan Bandung.
4. H Salahuddin bin Talibuddin
Haji Salahuddin bin Talabuddin merupakan tokoh perjuangan yang berasal dari Maluku Utara. Haji Salahuddin lahir di Desa Gemia, Patani, Maluku Utara pada tahun 1874. Ia merupakan salah satu tokoh perjuangan politik melawan Belanda melalui Organisasi Serikat Islam (SI) Merah di tahun 1928.
Kemudian pada 1941, H Salahuddin bin Talabuddin mengibarkan bendera Merah Putih di Tanjung Ngolopopo, Patani, Halmahera Tengah, Maluku Utara. H Salahuddin wafat pada tahun 1948 di Skep Ternate.
5. KH Ahmad Sanusi
KH Ahmad Sanusi merupakan seorang kiai asal Jawa Barat. Ia lahir pada 18 September 1889 di Desa/Kecamatan Cicantayan, Kabupaten Sukabumi. KH Ahmad Sanusi sempat memperoleh penghargaan Bintang Maha Putera Utama dari Presiden Soeharto pada 1992, kemudian Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) juga menganugerahkan Bintang Maha Putera Adipradana kepadanya di tahun 2009.
Dalam sebuah prasasti yang terletak di Gedung KAA Bandung, nama KH Ahmad Sanusi tersemat di sana. Ia menjadi salah satu anggota Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI). KH Ahmad Sanusi juga mendirikan organisasi Persatuan Umat Islam atau PUI. Dahulu, ia pernah menjadi tahanan Belanda karena terlibat dalam upaya-upaya perlawanan terhadap penjajah.
2023
Mahfud menyebut Kemenko Polhukam memimpin Dewan Gelar Tanda Jasa dan Tanda Kehormatan (DGTK) yang diketuai oleh dirinya sendiri. Menurutnya, bahan-bahan untuk pemberian gelar pahlawan nasional itu dihimpun melalui Kementerian Sosial.
"Sekarang sesudah semua proses ini berjalan, yang tahun ini berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 115-TK-TH2023 tertanggal 6 November 2023, presiden menganugerahkan gelar pahlawan nasional kepada enam orang pejuang-pejuang. Mulai dari perintis kemerdekaan sampai dengan pendobrak dan pejuang kemerdekaan langsung secara fisik dan orang-orang yang berjasa di dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia," jelas Mahfud.
Berikut ini enam nama yang dianugerahkan gelar pahlawan nasional tahun ini:
1. Almarhum Ida Dewi Agung Jambe, Bali
2. Almarhum Bataha Santiago, Sulawesi Utara
3. Almarhum M Tabrani, Jawa Timur
4. Almarhum Ratu Kalinyamat, Jawa Tengah
5. Almarhum KH Abdul Chalim, Jawa Barat
6. Almarhum KH Ahmad Hanafiah, Lampung
2024 kosong
2025
Daftar 10 Pahlawan Nasional 2025
Berikut daftar lengkap tokoh yang ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional oleh Presiden Prabowo Subianto:
1. Soeharto, Presiden ke-2 Republik Indonesia, asal Jawa Tengah.
Soeharto dinilai berjasa besar dalam menjaga stabilitas nasional dan pertumbuhan ekonomi Indonesia pasca-1966. “Beliau adalah figur penting yang memimpin masa transisi sulit menuju pembangunan,” kata Hadi Tjahjanto dikutip dari Antara News.
2. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Presiden ke-4 RI asal Jawa Timur.
Gus Dur dikenal sebagai tokoh pluralisme dan pejuang demokrasi. “Pengakuan ini juga bentuk penghormatan terhadap perjuangan beliau memperkuat toleransi antarumat beragama,” ujar Hadi.
3. Marsinah, aktivis buruh perempuan dari Jawa Timur.
Ia dikenal karena perjuangannya membela hak-hak pekerja hingga akhir hayatnya pada 1993. “Marsinah menjadi simbol perjuangan kaum buruh Indonesia,” tulis Rmol.id dalam laporannya.
4. Mochtar Kusumaatmadja, pakar hukum dan mantan Menteri Luar Negeri asal Jawa Barat.
Ia berperan besar dalam merumuskan Konsep Negara Kepulauan (Archipelagic State Principle) yang diterima dunia internasional. Konsep ini kemudian menjadi dasar hukum laut Indonesia dalam Konvensi Hukum Laut PBB (UNCLOS) 1982.
5. Hj. Rahma El Yunusiyyah, tokoh pendidikan Islam dari Sumatera Barat.
Dikenal sebagai pendiri Diniyah Puteri Padang Panjang, ia memperjuangkan pendidikan perempuan di masa kolonial. Menurut Antara, perjuangannya “telah membuka jalan bagi lahirnya sistem pendidikan Islam modern untuk perempuan Indonesia.”
6. Sarwo Edhie Wibowo, Jenderal TNI (Purn) asal Jawa Tengah.
Ia dikenal sebagai tokoh militer yang berperan dalam penumpasan G30S/PKI dan pembinaan generasi muda melalui Resimen Mahasiswa. “Ketegasan dan nasionalismenya menginspirasi banyak prajurit,” ujar Hadi.
7. Sultan Muhammad Salahuddin, Sultan Bima ke-37 dari Nusa Tenggara Barat.
Beliau dikenal karena menolak penjajahan Belanda dan memperjuangkan hak rakyat Bima. Pemerintah menilai sosok Sultan Salahuddin “mempunyai pengaruh besar dalam penyebaran pendidikan Islam dan perjuangan kemerdekaan di NTB,” dikutip dari Antara News.
8. Syaikhona Muhammad Kholil, ulama besar dari Bangkalan, Madura (Jawa Timur).
Beliau merupakan guru spiritual bagi banyak tokoh pendiri Nahdlatul Ulama (NU), termasuk KH. Hasyim Asy’ari. “Syaikhona Kholil telah menanamkan nilai-nilai kebangsaan dalam dakwahnya, yang berkontribusi pada lahirnya gerakan Islam moderat,” tulis Rmol.id.
9. Tuan Rondahaim Saragih, pejuang dari Sumatera Utara.
Rondahaim dikenal sebagai tokoh perlawanan terhadap Belanda di Tanah Batak. Ia memimpin perjuangan rakyat Simalungun dan mendirikan pemerintahan lokal yang menolak kolonialisme.
10. Zainal Abidin Syah, Sultan Tidore dari Maluku Utara.
Ia merupakan tokoh penting yang membantu diplomasi Indonesia di awal kemerdekaan. “Sultan Zainal Abidin Syah berjasa menjaga keutuhan NKRI di kawasan Timur Indonesia,” ujar Menkopolhukam seperti dikutip dari Antara News.









Tidak ada komentar:
Posting Komentar