Minggu, 15 Februari 2026

HABIBIE GUS DUR MEGAWATI

 Buatlah Risalah dan Infografis tentang Pahlawan :

Raja Haji Fisabilillah 1727 1784

Nama Lengkap: Raja Haji Fisabilillah ibni Daeng Chelak.

Gelar: Yang Dipertuan Muda Riau-Johor-Pahang IV, Marhum Teluk Ketapang.

Lahir di Ulu Sungai Riau, 1727

Meninggal di dalam pertempuran di Teluk Ketapang, Melaka,   

18 Juni 1784

Pahlawan Nasional Indonesia dari Kepulauan Riau, yang menjabat sebagai Yang Dipertuan Muda Riau IV (1777–1784). Bangsawan Bugis-Melayu ini dikenal gigih melawan Belanda (VOC), memimpin Perang Riau, dan gugur pada 18 Juni 1784 di Teluk Ketapang, Melaka, saat memimpin serangan maritim. 

Makam: Pulau Penyengat, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau.

Orang Tua: Opu Daeng Celak (ayah) dan Encik Hamidah binti Laksamana Abdul Jamil.

Keluarga: Adik dari Raja Lumu (Sultan Salehuddin Shah Selangor) dan kakek dari Raja Ali Haji. 

Riwayat Perjuangan dan Jabatan:

Engku Kelana (1744): Diangkat pada usia 19 tahun untuk mengatur pemerintahan dan keamanan wilayah.

Perang Linggi (1756-1758): Terlibat pertempuran melawan Belanda di Selangor.

Yang Dipertuan Muda IV (1777-1784): Memimpin Riau mencapai puncak kejayaan ekonomi dan pertahanan, serta membangun Pulau Biram Dewa.

Perang Riau (1782-1784): Memimpin laskar Riau melawan VOC dan berhasil mematahkan dominasi Belanda, namun akhirnya gugur di pertempuran Teluk Ketapang. 

Penghargaan:

Dianugerahi gelar Pahlawan Nasional berdasarkan Keputusan Presiden RI No. 072/TK/1997.

Namanya diabadikan sebagai Bandara Internasional Raja Haji Fisabilillah di Tanjungpinang. 

Raja Haji Fisabilillah dikenal sebagai pejuang yang berani, tangguh, dan disegani, yang mendedikasikan hidupnya untuk kedaulatan tanah Melayu melawan kolonialisme.




๐Ÿ“œ Risalah & Infografis Pahlawan Nasional

Raja Haji Fisabilillah (1727–1784)

Nama Lengkap: Raja Haji Fisabilillah ibni Daeng Chelak
Gelar: Yang Dipertuan Muda Riau–Johor–Pahang IV, Marhum Teluk Ketapang
Lahir: Ulu Sungai Riau, 1727
Wafat: Teluk Ketapang, Melaka — 18 Juni 1784 (gugur dalam pertempuran)
Asal: Kepulauan Riau
Makam: Pulau Penyengat, Tanjungpinang


๐Ÿงฌ Identitas Keluarga

  • Ayah: Opu Daeng Celak
  • Ibu: Encik Hamidah binti Laksamana Abdul Jamil
  • Saudara: Raja Lumu (Sultan Selangor)
  • Keturunan: Kakek dari Raja Ali Haji (pujangga Melayu)

⚔️ Perjuangan & Kepemimpinan

▪ Engku Kelana (1744)
Diangkat pada usia muda untuk mengatur pemerintahan dan keamanan wilayah Riau.

▪ Perang Linggi (1756–1758)
Memimpin perlawanan terhadap kekuatan Belanda di wilayah Selangor dan sekitarnya.

▪ Yang Dipertuan Muda Riau IV (1777–1784)

  • Memperkuat pertahanan maritim
  • Mengembangkan ekonomi dan pelabuhan
  • Membangun pusat pertahanan Pulau Biram Dewa

▪ Perang Riau (1782–1784)
Memimpin armada Melayu–Bugis melawan VOC.
Berhasil memukul mundur Belanda dalam beberapa pertempuran laut sebelum akhirnya gugur saat memimpin langsung serangan di Teluk Ketapang.


๐Ÿ›ก️ Ciri Kepahlawanan

  • Pemimpin maritim dan strategi perang laut
  • Gigih melawan kolonialisme VOC
  • Memimpin dari garis depan
  • Simbol persatuan kekuatan Melayu–Bugis
  • Mengutamakan kedaulatan wilayah dan jalur perdagangan

๐Ÿ… Penghargaan

  • Pahlawan Nasional Indonesia
    Keppres RI No. 072/TK/1997

๐Ÿ›️ Warisan Nama

Namanya diabadikan sebagai:
Bandara Internasional Raja Haji Fisabilillah — Tanjungpinang




Buatlah Risalah dan Infografis tentang Pahlawan :

Abdul Haris Nasution

Nama Lengkap: Abdul Haris Nasution (akrab disapa Pak Nas)

Lahir di Hutapungkut, Kotanopan, Mandailing Natal, Sumatera Utara, 3 Desember 1918.

Meninggal di Jakarta, 6 September 2000 (usia 81 tahun)

Pahlawan nasional, tokoh militer, dan konseptor perang gerilya Indonesia. Lahir di Kotanopan, Sumatera Utara, ia menjabat Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) dan Ketua MPRS, serta dikenal sebagai target selamat peristiwa G30S/PKI 1965. 

Agama: Islam

Pangkat Terakhir: Jenderal Besar TNI (Bintang Lima)

Orang Tua: Abdul Halim Nasution (ayah) dan Zahara Lubis (ibu)

Istri: Johanna Sunarti

Anak: Hendrianti Zaharah, Ade Irma Suryani Nasution

Makam: Taman Makam Pahlawan Kalibata 

Peran dan Pendidikan:

Pendidikan: Mengawali karier sebagai guru sebelum menempuh pendidikan militer di CORO KNIL Bandung (1940-1942).

Karier Militer: Memimpin Divisi Siliwangi, menjabat KSAD pertama pada 1950, serta merumuskan strategi perang gerilya.

Peristiwa G30S: Menjadi sasaran penculikan, namun lolos. Putrinya, Ade Irma Suryani, gugur dalam insiden tersebut.

Penghargaan: Dianugerahi pangkat Jenderal Besar pada 5 Oktober 1997 bersama Soeharto dan Soedirman.

Abdul Haris Nasution dikenal sebagai konseptor Dwifungsi ABRI dan merupakan salah satu dari sedikit perwira TNI yang menyandang pangkat Jenderal Besar. 

Jenderal A.H. Nasution menjabat sebagai Ketua MPRS (Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara) pada periode 1966 hingga 1972. 

Peran: Pada masa jabatannya, beliau memimpin sidang istimewa yang menolak pertanggungjawaban Presiden Sukarno (Nawaksara) dan melantik Soeharto sebagai pejabat presiden pada tahun 1967.

Pasca-MPRS: Beliau kemudian tersisih dari panggung politik Orde Baru dan menjadi pengkritik pemerintah melalui Petisi 50. 

Buku Karya A.H. Nasution:

A.H. Nasution dikenal sebagai jenderal pemikir yang mendokumentasikan taktik militer dan sejarah perjuangan, antara lain: 

Strategy of Guerrilla Warfare: Buku ini diakui secara internasional dan menjadi buku wajib di akademi militer dunia seperti West Point, Amerika Serikat.

Pokok-Pokok Gerilya (sering disebut sebagai edisi Indonesia/penyempurnaan dari konsep gerilya).

Sekitar Perang Kemerdekaan Indonesia (seri buku yang mendokumentasikan strategi dan pengalaman lapangan).

TNI: Tentara Nasional Indonesia (Djilid 1) (terbit 1956).

Memenuhi Panggilan Tugas (otobiografi).



RISALAH & INFOGRAFIS PAHLAWAN NASIONAL

ABDUL HARIS NASUTION

(Pak Nas)

Nama Lengkap: Abdul Haris Nasution
Lahir: Hutapungkut, Kotanopan, Mandailing Natal, Sumatera Utara — 3 Desember 1918
Wafat: Jakarta — 6 September 2000 (81 tahun)
Agama: Islam
Pangkat Terakhir: Jenderal Besar TNI (Bintang Lima)
Makam: TMPN Utama Kalibata, Jakarta


IDENTITAS KELUARGA

  • Ayah: Abdul Halim Nasution
  • Ibu: Zahara Lubis
  • Istri: Johanna Sunarti
  • Anak: Hendrianti Zaharah, Ade Irma Suryani Nasution

PENDIDIKAN & AWAL KARIER

  • Mengawali karier sebagai guru
  • Pendidikan militer di CORO KNIL Bandung (1940–1942)
  • Menjadi perwira dengan kemampuan strategi dan analisis perang darat

PERAN MILITER UTAMA

  • Pemimpin Divisi Siliwangi
  • Menjabat Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) pertama (1950)
  • Konseptor utama strategi perang gerilya Indonesia
  • Tokoh perumus sistem pertahanan teritorial
  • Salah satu perwira paling berpengaruh dalam doktrin militer RI

PERISTIWA G30S 1965

  • Menjadi target penculikan pasukan pemberontak
  • Berhasil lolos dari serangan
  • Putrinya, Ade Irma Suryani Nasution, gugur tertembak dalam peristiwa tersebut
  • Peristiwa ini memperkuat posisinya dalam restrukturisasi keamanan negara

JABATAN NEGARA

  • Ketua MPRS (1966–1972)
  • Memimpin sidang yang:
    • Menolak pertanggungjawaban Presiden Soekarno (Nawaksara)
    • Melantik Soeharto sebagai Pejabat Presiden (1967)

PENGHARGAAN

  • Dianugerahi pangkat Jenderal Besar (1997) bersama
    Soeharto dan
    Sudirman
  • Diakui sebagai Pahlawan Nasional
  • Namanya diabadikan sebagai nama jalan dan institusi militer

GAGASAN & DOKTRIN

  • Konseptor Perang Gerilya Modern Indonesia
  • Penggagas awal konsep Dwifungsi ABRI
  • Model strategi teritorialnya dipelajari luas di akademi militer

KARYA BUKU PENTING

  • Strategy of Guerrilla Warfare
    → Dipelajari di akademi militer dunia termasuk
    United States Military Academy
  • Pokok-Pokok Gerilya
  • Sekitar Perang Kemerdekaan Indonesia (seri)
  • TNI: Tentara Nasional Indonesia
  • Memenuhi Panggilan Tugas (otobiografi)

KARAKTER & WARISAN

  • Jenderal pemikir dan penulis strategi
  • Tegas, sistematis, dan konseptual
  • Tokoh militer yang juga dikenal kritis terhadap kekuasaan (Petisi 50)
  • Berperan besar membentuk dasar strategi pertahanan Indonesia modern









Nama

Kelahiran

Kematian

Keterangan

Penetapan


1997 - 2003



104. Raja Haji Fisabilillah 1727 1784

Pejuang dari Riau yang melakukan perlawanan terhadap pasukan kolonial Belanda

1997



1. Adam Malik 1917 1984

Jurnalis dan aktivis kemerdekaan, Wakil Presiden Indonesia ketiga sekaligus Tokoh Muhammadiyah

1998


2. Tjilik Riwut

1918 1987 Prajurit dan politikus, menawarkan pengembangan ekonomi dan budaya di Kalimantan Tengah

1998


3. La Maddukelleng

1700 1765 Bangsawan dari Kesultanan Paser, mengusir pasukan Belanda dari Kerajaan Wajo

1998


4. Syarif Kasim II 1893 1968 Sultan Siak, menawarkan integrasi kerajaan-kerajaan di Sumatra Timur

1998



5. Abdul Kadir 1771 1875

Bangsawan dari Melawi, menawarkan pengembangan ekonomi, melakukan perlawanan terhadap pasukan kolonial Belanda

1999


6. Hazairin 1906 1975

Sarjana legal, aktivis kemerdekaan, menteri pemerintahan, dan pengajar

1999


7. Ilyas Yakoub

1903 1958 Aktivis kemerdekaan, politikus, dan anggota pasukan gerilyawan

1999


8. Fatmawati 1923 1980

Pembuat bendera nasional pertama, aktivis sosial, istri Sukarno sekaligus Tokoh Muhammadiyah

2000


9. Abdul Haris Nasution

P1918 2000 Jenderal Angkatan Darat, dua kali diangkat sebagai Kepala Staf Angkatan Darat

2002


10. Djatikoesoemo

1917 1992 Kepala Staf TNI Angkatan Darat Ke-1 (1948-1949) dan Duta Besar RI untuk Singapura (1958—1960)

2002


11. Iwa Kusumasumantri

1899 1971 Aktivis kemerdekaan, ahli hukum, dan politikus

2002


12. Andi Jemma

1901 1965 Aktivis kemerdekaan, memimpin penyerangan melawan pasukan Belanda saar Revolusi Nasional

2002


13. Pong Tiku 1846 1907 Bangsawan Toraja, melakukan perlawanan terhadap penjajah Belanda

2002


14. Nani Wartabone 1907 1986 Proklamator Hari Patriotik 23 Januari 1942, Aktivis kemerdekaan dan pejuang penumpasan pemberontakan Permesta sekaligus Kader Muhammadiyah dari Gorontalo

2003




21. Ahmad Rifa'i

1786 1870 Pemikir dan penulis Islam yang dikenal karena pernyataan anti-Belandanya

2004


55. Gatot Mangkupraja

1896 1968 Aktivis kemerdekaan dan politikus, menyarankan pembentukan Pembela Tanah Air sekaligus Kader Muhammadiyah

2004


74. Ismail Marzuki

1914 1958 Komposer yang membuat sejumlah lagu kebangsaan

2004


105. Andi Mappanyukki

1885 1967 Bangsawan Bugis, memimpin penyerangan melawan pasukan Belanda pada 1920-an dan 30-an, ayah dari Andi Abdullah Bau Massepe

2004


114. Maskun Sumadireja

1907 1986 Aktivis kemerdekaan dan politikus

2004


147. Raja Ali Haji 1809  1870

Sejarawan dan penyair dari Riau

2004



















Tidak ada komentar:

Posting Komentar

HABIBIE GUS DUR MEGAWATI

 Buatlah Risalah dan Infografis tentang Pahlawan : Raja Haji Fisabilillah 1727 1784 Nama Lengkap: Raja Haji Fisabilillah ibni Daeng Chelak...